Anda di halaman 1dari 20

Makalah

Tubektomi, Vasektomi dan Rujukan Akseptor Bermasalah

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok SCL mata kuliah Kesehatan Perempuan dan
Perencanaan Keluarga

Dosen Pembimbing :

Sri Soleha, SST

Disusun oleh:

Febby Yonika 018.201.1.008

Devi Savana 018.201.1.007

Melawati 018.201.1.019

Tiara Oktaviani 018.201.1.030

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA SUBANG

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PRODI D3 KEBIDANAN

2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas semua
limpahan Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu dan mengerti tentang
“Kontrasepsi Tubektomi, Kontrasepsi Vasektomi dan Rujukan Akseptor Bermasalah”.
Penyusun juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing SCL mata
kuliah Kesehatan perempuan dan perencanaan keluarga, Ibu Sri Soleha, SST

Penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan pengetahuan


dan kemampuan. Atas dasar kekurangan dan kelemahan kami dalam menyelesaikan makalah
ini, kamipun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, saran dan masukan dari berbagai pihak sangat penyusun harapkan.
Akhir kata saya ucapkan Terima Kasih semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Subang, Mei 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................i

DAFTAR ISI .....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................................1


1.2 Tujuan .....................................................................................................................2
1.3 Rumusan Masalah....................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Kontrasepsi Tubektomi............................................................................................3


2.2 Kontrasepsi Vasektomi............................................................................................7
2.3 Rujukan Akseptor Bermasalah..............................................................................12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...........................................................................................................15


3.2 Saran .....................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keluarga  berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri
untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang
memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu
saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah
anak dalam keluarga (Suratun, 2008).
Metode kontrasepsi mantap terdiri dari dua macam, yaitu: Medis Operatif
Wanita (MOW) dan Medis Operatif Pria (MOP). Medis Operatif Wanita sering
disebut dengan Tubektomi (sterilisasi) karena prinsip metode ini adalah memotong
atau mengikat saluran tuba fallopijadi menghindari pertemuan antara sel telur dan
sperma. Sementara Medis Operatif Pria yaitu sering disebut dengan vasektomi yaitu
memotong atau mengikat saluran vasdeferens jadi sperma tidak diejakulasi.
Angka prevalensi metode kontrasepsi jangka panjang khususnya tubektomi
masih sangat rendah dibandingkan dengan kontrasepsi lainnya. Mekanisme kerja
Medis Operatif wanita yaitu dengan mencapai tuba fallopi, jadi spermatozoa tidak
bisa bertemu dengan telur.
Dengan meningkatnya peserta KB dengan metode kontrasepsi efektif terpilih
tersebut, maka dituntut pelayanan yang lebih tinggi kualitasnya serta pengayoman
yang lebih baik. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan serta pengayoman
ini, system rujukan merupakan salah satu hal yang penting, yang perlu diketahui oleh
setiap petugas atau setiap unsur yang ikut serta dalam gerakan KB Nasional
khususnya maupun oleh setiap peserta atau calon peserta KB pada umumnya.
Semakin rapi system rujukan, semakin meningkat pula mampu pelayanan serta
pengayoman, sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta KB dengan metode
kontrasepsi tersebut.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan pengertian kontrasepsi MOW
(tubektomi) dan MOP (vasektomi)
2. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan keuntungan dang kerugian
kontrasepsi MOW (tubektomi) dan MOP (vasektomi)

1
3. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis kontrasepsi MOW (tubektomi) dan MOP
(vasektomi)
4. Mahasiswa mengetahui efek samping yang akan timbul dari penggunaan
kontrasepsi MOW (tubektomi) dan MOP (vasektomi)
5. Mahasiswa mengerti dan mampu memberi penilaian dalam penanganan efek
samping yang timbul pada pengguanaan kontrasepsi MOW (tubektomi) dan
MOP (vasektomi)
6. Mahasiswa mengetahui bagaimana rujukan akseptor KB yang bermasalah

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Tubektomi
2.1.1 Pengertian
Sterilisasi pada wanita disebut tubektomi atau Tubal Ligation. Caranya
ialah dengan memotong kedua saluran sel telur (tuba palupi) dan menutup
kedua-duanya sehingga sel telur tidak dapat keluar dan sel sperma tidak dapat
pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan.
Adapun syarat-syarat menjadi akseptor (pengguna) tubektomi adalah
sebagai berikut:
1. Sukarela.
2. Mendapatkan keterangan dari dokter atau petugas pelayanan kontrasepsi
3. Pasangannya harus memberikan persetujuan secara tertulis.

Cara kerja :

1. Sebelum operasi, dokter akan memeriksa kesehatan lebih dahulu, untuk


memastikan cocok atau tidak.
2. Operasi dilakukan oleh dokter.
3. Saluran telur yang membawa sel telur dalam rahim akan dipotong atau
diikat. Setelah operasi yang dihasilkan akan diserap kemabali oleh tubuh
tanpa menimbulkan penyakit.
4. Perawat tubektomi hanya 6 jam setelah operasi untuk menunggu reaksi anti
bius saja. Luka yang diakibatkan sebaiknya tidak kena air selama 3-4 hari.
5. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter, setelah 1 minggu, 1 bulan, 3
bulan, 6 bulan dan 1 tahun setelah operasi dilakukan.

Kelebihan :

1. Tidak mengganggu ASI.


2. Jarang ada keluhan sampingan.
3. Angka kegagalan hampir tidak ada.
4. Tidak mengganggu gairah seksual.

3
Kekurangan :

1. Tindakan operatif, seringkali menakutkan.


2. Definitif, kesuburan tidak dapat kembali lagi.

2.1.2 Bentuk-bentuk Tubektomi


Sterilisasi pada perempuan disebut tubektomi/sterilisasi pada perempuan ini
memiliki beberapa bentuk, antara lain:
1. Laparotomi Mini Suprarubik
Yaitu membuat sayatan pada dinding perut tepat di atsa rambut kemaluan
sepanjang 2,5 cm, kemudian tuba di cari tindakan pada tuba ialah lidasi dan
eksisi serta reseksi sebagian.
2. Kolkotomi Posterior
Yaitu membuat sayatan pada puncak vagina belakang sepanjang 2,5 cm.
tindakan pada tuba ialah lugasi dan eksisi reseksi sebagian. Cara ini sudah
jarang digunakan.
3. Kuldoskopi
Yaitu membuat sayatan pada puncak vagian belakang dan trokar. Alat
khusus yang dipakai ialah puldoskop. Tindakan pada tuba ialah ligasiu dan
eksisi sebagain cara inipun sudah jarang digunakan.
4. Laparoskop
Yaitu membuat sayatan pada dinding perut tepat dibawah pusat dengan
trokar. Alat khusus yang dipakai ialah laparoskop yang dimasukkan dalam
rongga perut melalui trokar. Tindakan pada tuba ialah oklusi dengan cincin
falope atau kauterisasi.
5. Histerokopi
Yaitu alat khusus yang dipakai ielah histeroskop yang dimasukkan ke dalam
rongga rahim (uterus) melalui mulut leher rahim. Tindakan pada tuba ialah
kauterisasi muara tuba pada rongga.
6. Laporotomi Mini Paska Persalinan
Yaitu dibuat sayatan pada dinding perut tepat dibawah pusar sepanjang 2,5
cm tindakan pada tuba ialah lidasi dan eksisi serta reseksi sebagian.

4
2.1.3 Indikasi dan Kontra Indikasi Tubektomi
1. Indikasi tubektomi :
a. Perempuan yang berusia lebih dari 26 tahun
b. Perempuan dengan paritas lebih dari 2
c. Perempuan yang yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai
dengan kehendaknya
d. Perempuan yang pada kehamilannya akan menimbulkan resiko
kesehatan yang serius
e. Perempuan pasca persalinan dan pasca keguguran
2. Kontra Indikasi tubektomi
a. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
b. Menderita tekanan darh tinggi
c. Kencing manis (diabetes)
d. Penderita  penyakit jantung
e. Penderita penyakit paru-paru
f. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi)
g. Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan
atau dikontrol)
h. Ibu yang tidak boleh menjalani pembedahan
i. Belum memberikan persetujuan tertulis

2.1.4 Yang perlu  diingat :


1. Bagi  wanita usia subur berumur diatas 26 tahun , dan  sudah punya anak
cukup ( 2 anak ), anak terkecil harus berusia minimal 5 tahun.
2. Puasa mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6
jam sebelum operasi. Bagi calon akseptor yang menderita Maag (kelaianan
lambung agar makan obat maag sebelum dan sesudah puasa
3. Mandi dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai
bersih, dan juga daerah perut bagian bawah
4. Tidak memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dan lain sebagainya
5. Membawa surat persetujuan dari suami yang sudah ditandatangani atau di
cap jempol
6. Menjelang operasi harus kencing terlebih dahulu

5
7. Datang ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan ditemani anggota
keluarga; sebaiknya suami.

2.1.5 Efek Samping


Tubektomi adalah tindakan yang dilakukan pada kedua tuba faloppi wanita
yang mengakibatkan bersangkutan tidak dapat hamil atau tidak menyebabkan
kehamilan lagi.
Efek samping :
1. Infeksi luka
2. Demam pasca operasi (> 380 C)
3. Luka pada kandung kemih, intestinal (jarang terjadi)
4. Hematoma (subkutan)

2.1.6 Penilaian efek samping yang timbul :


1. Perubahan pola haid : Pola haid abnormal setelah kontap wanita merupakan
tanda/bagian dari “post tubal ligation syndrome” tetapi pola tersebut belum
dapat dibuktikan.
2. Rasa sakit / kejang perut yang tidak berlangsung lama yang mungkin
disebabkan oleh iskemia avaskuler loop tuba fallopii

2.1.7 Penanganan Efek samping sesuai keluhan


Penanganan :
1. Infeksi luka : apabila terlihat infeksi luka, obati dengan antibiotik, bila
terdapat abses lakukan drainase dan obati seperti yang terindikasi
2. Demam pasca (> 380 C): obati infeksi berdasarkan apa yang ditemukan
3. Luka pada kandung : mengacu ke tingkat asuhan yang tepat, apabila
kandung kemih, intestinal, atau usus luka dan diketahui sewaktu operasi,
lakukan reparasi primer, apabila ditemukan pasca operasi, dirujuk ke rumah
sakit.
4. Hematoma : gunakan packs yang hangat dan lembab di tempat tersebut,
biasanya akan berhenti dengan berjalannya waktu dan dapat membutuhkan
drainase bila ekstensif

6
2.2 Vasektomi
2.2.1 Pengertian
Vasektomi adalah istilah dalam ilmu bedah yang terbentuk dari dua
kata yaitu vas dan ektomi. Vas atau vasa deferensia artinya adalah saluran benih
yaitu saluran yang menyalurkan sel benih jantan (spermatozoa) keluar dari buah
zakar (testis) yaitu tempat sel benih itu diproduksi menuju kantung mani
(vesikulaseminalis) sebagai tempat penampungan sel benih jantan sebelum
dipancarkan keluar pada saat puncak sanggama (ejakulasi). 
Ektomi atau ektomia artinya pemotongan sebagian. Jadi vasektomi
artinya adalah pemotongan sebagian (0.5 cm – 1 cm) saluran benih sehingga
terdapat jarak diantara ujung saluran benih bagian sisi testis dan saluran benih
bagian sisi lainya yang masih tersisa dan pada masing-masing kedua ujung
saluran yang tersisa tersebut dilakukan pengikatan sehingga saluran menjadi
buntu/tersumbat.
Vasektomi adalah tindakan operasi ringan dengan cara mengikat dan
memotong saluran sperma sehingga sperma tidak dapat lewat dan air mani tidak
mengandung spermatozoa, dengan demikian tidak terjadi pembuahan, operasi
berlangsung kurang lebih 15 menit dan pasien tak perlu dirawat. Operasi dapat
dilakukan di Puskesmas, tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dokter
ahli bedah, pemerintah dan swasta, dan karena tindakan vasektomi murah dan
ringan sehingga dapat dilakukan di lapangan (Siswosudarmo, 2007).
Vasektomi adalah prosedur pembedahan kecil dimana deferentia vasa
manusia yang terputus, dan kemudian diikat / ditutup dengan cara seperti itu
untuk mencegah sperma dari memasuki aliran mani (ejakulasi).
Vasektomi dilakukan dengan cara pemotongan Vas Deferens sehingga
saluran transportasi sperma terhambat dan proses penyatuan dengan ovum tidak
bekerja. Seorang pria yang sudah divasektomi, volume air maninya sekitar 0,15
cc yang tertahan tidak ikut keluar bersama ejakulasi karena scrotum yang
mengalirkannya sudah dibuat buntu. Sperma yang sudah dibentuk tidak akan
dikeluarkan oleh tubuh, tetapi diserap & dihancurkan oleh tubuh.
Adapun Syarat-syarat menggunakan vasektomi :
1) Sukarela, bahagia, sehat jasmani dan rohani.

7
2) Mengikuti konseling atau bimbingan tatap muka.
3) Menandatangani formulir persetujuan tindakan medik (operasi).
Kelebihan
a. Teknik operasi kecil yang sederhana dapat dikerjakan kapan saja.
b. Komplikasi yang dijumpai sedikit dan ringan
c. Biaya murah dan terjangkau oleh masyarakat
d. Vasektomi akan mengalami klimaktorium dalam suasana alami (Manuaba,
1998)
e. Baik yang dilakukan pada laki-laki yang tidak ingin punya anak.
f. Vasektomi lebih murah dan lebih sedikit komplikasi dari sterilisasi tubulus.
g. Laki-laki memiliki kesempatan untuk mengubah kontrasepsi dengan
istrinya.
h. Tidak mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menikmati hubungan
seksual.

Kekurangan
a. Cara ini tidak langsung efektif, perlu menunggu beberapa waktu setelah
benar-benar sperma tidak ditemukan berdasarkan analisa sperma.
b. Masih merupakan tindakan operasi maka pria masih merasa takut.
c. Beberapa laki-laki takut vasektomi akan mempengaruhi kemampuan seks
atau menyebabkan masalah ereksi.
d. Ada sedikit rasa sakit dan ketidaknyamanan beberapa hari setelah operasi,
rasa sakit ini biasanya dapat lega oleh konsumsi obat-obatan lembut.
e. Seringkali harus melakukan dengan kompres es selama 4 jam untuk
mengurangi pembengkakan, perdarahan dan rasa tidak nyaman dan harus
memakai celana yang dapat mendukung skrotum selama 2 hari.
f. Pasien diminta untuk memakai kondom terlebih dahulu untuk membersihkan
tabung dari sisa sperma yang ada. Untuk mengetahui yang steril atau tidak,
pemeriksaan mikroskopis biasanya dilakukan 20-30 kali setelah ejakulasi.
g. Vasektomi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular seksual
termasuk HIV.
h. Penyesalan setelah vasektomi lebih besar jika orang itu masih di bawah usia
25 tahun, telah terjadi perceraian atau anak yang meninggal.

8
i. Dibutuhkan 1-3 tahun untuk benar-benar menentukan apakah vasektomi
dapat bekerja efektif 100 persen atau tidak.
j. Walaupun vasektomi dinilai paling efektif untuk mrngontrol kesuburan pria
namun masih mungkin di jumpai suatu kegagalan.

2.2.2 Jenis-Jenis Vasektomi


Jenis-jenis vasektomi antara lain adalah sbb :
1. Vasektomi Tanpa Pisau (VTP atau No-scalpel Vasectomy)
Vasectomi tanpa pisau (diciptakan Key-Hole), di mana hemostat
tajam, bukan pisau bedah, digunakan untuk tusuk skrotum dapat mengurangi
waktu penyembuhan serta menurunkan kesempatan infeksi (sayatan).
2. Vasektomi dengan insisi skrotum (tradisional)
Vasektomi dengan insisi skrotum, dimana dilakukan pembedahan
kecil pada deferentia vasa manusia yang terputus, dan kemudian diikat /
ditutup dengan cara seperti itu untuk mencegah sperma dari memasuki aliran
mani (ejakulasi).
3. Vasektomi semi permanen
Vasektomi Semi Permanen yakni vas deferen yang diikat dan bisa
dibuka kembali untuk berfungsi secara normal kembali dan tergantung
dengan lama tidaknya pengikatan vas deferen, karena semakin lama
vasektomi diikat, maka keberhasilan semakin kecil, sebab vas deferen yang
sudah lama tidak dilewati sperma akan menganggap sperma adalah benda
asing dan akan menghancurkan benda asing.

2.2.3 Indikasi Dan Kontra Indikasi Vasektomi


1. Indikasi Vasektomi
Indikasi vasektomi adalah :
a. Menunda kehamilan
b. Mengakhiri kesuburan
c. Membatasi kehamilan
d. Setiap pria, suami dari suatu pasangan usia subur yang telah memiliki
jumlah anak cukup dan tidak ingin menambah anak.
2. Kontra Indikasi Vasektomi
Kontraindikasi vasektomi adalah :

9
a. Peradangan dalam rongga panggul
b. Peradangan liang senggama akut (vaginatis-servisitis akut)
c. Obesitas berlebihan
d. Penyakit kardiovaskuler berat, penyakit paru berat atau penyakit paru
lain.
e. Peradangan kulit atau jamur pada kemaluan.
f. Peradangan pada alat kelamin pria.
g. Penyakit kencing manis.
h. Kelainan mekanisme pembekuan darah.
i. Infeksi didaerah testis (buah zakar) dan penis
j. Hernia (turun bero)
k. Varikokel (varises pada pembuluh darah balik buah zakar)
l. Buah zakar membesar karena tumor
m. Hidrokel (penumpukan cairan pada kantong zakar)
n. Buah zakar tidak turun (kriptokismus)
o. Penyakit kelainan pembuluh darah

2.2.4 Yang harus diingat :


1. Untuk laki-laki usia subur sudah punya anak cukup ( 2 anak ) dan istri
beresiko tinggi.
2. Tidur dan istirahat cukup
3. Mandi dan memebersihkan daerah sekitar kemaluan
4. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke klinik
5. Datang ke klinik tempat operasi dengan pengantar
6. Jangan lupa membawa surat persetujuan isteri yang ditandatangani atau cap
jempol
7. Boleh bersenggama setelah 2-3 hari setelah operasi dengan menggunakan
kondom, penggunaan kondom dilanjutkan sampai 20 kali ejakulasi atau 3
bulan setelah operasi.

2.2.5 Efek Samping Vasektomi


Vasektomi tidak memiliki efek yang bersifat merugikan. Sperma yang
diproduksi tubuh pria namun tidak bisa disalurkan karena prows vasektomi
tersebut, akan kembali diserap tubuh tanpa menyebabkan gangguan

10
metabolisme. Beberapa orang yang menggunakan vasektomi mengeluh tentang
gangguan terhadap gairah seksual mereka, tetapi itu hanya bersifat psikologis
bukan gejala fisiologis. 
Rasa nyeri atau ketidaknyamanan akibat pembedahan yang biasanya hanya
berlangsung beberapa hari. Pembentukan granuloma relatif jarang dan
merupakan keluhan yang nantinya hilang sendiri
Efek sampingnya Vasektomi hampir tidak ada kecuali infeksi apabila
perawatan pasca operasinya tidak bagus dapat menimbulkan abses pada bekas
luka dan juga dapat menyebabkan hematoma atau membengkaknya kantung biji
zakar karena pendarahan. Vasektomi juga tidak ada pengaruhnya terhadap
kemampuan pria untuk melakukan hubungan badan malah beberapa kasus
disebutkan potensi pria lebih baik karena pengaruh dari psikologis terhindar dari
kecemasan terjadinya kehamilan dari istri.
Oleh karena itu, seseorang untuk memutuskan divasektomi harus ada
persiapan baik itu fisik maupun mental dan tentunya konsultasi karena yg
dipotong/diikat adalah saluran yg mengeluarkan sel sperma bukan cairan
semennya. Waktu pembedahan juga singkat hanya sekitar 1 - 2 jam , setelah
pembedahan akan terasa sedikit membengkak sekitar 3-5 hari.
Selain itu komplikasi dari vasektomi yakni perdarahan dan dapat juga
peradangan bila sterilisasi atau alat proses kurang.

2.2.6 Penilaian Efek samping


Penilaian efek samping yang timbul :
1. Hematoma : Biasanya terjadi bila daerah skrutum diberi beban yang
berlebihan, misal naik sepeda, duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan
jalanan yang rusak dan sebagainya
2. Granuloma sperma : Dapat terjadi pada ujung proksimal vas atau pada
epidimis. Gejalanya : benjulan kenyak, nyeri.

2.2.7 Penanganan Efek samping sesuai keluhan


Beberapa hal yang dapat menimbulkan kontra indikasi dan cara penanganannya:
1. Perdarahan
Apabila perdarahan sedikit, cukup dengan pengamatan saja. Bila banyak,
hendaknya dirujuk segera ke fasilitas kesehatan lain yang lebih lengkap. Di

11
sini akan dilkukan operasi kembali dengan anestesi umum, membuka luka,
mengeluarkan bekuan-bekuan darah dan kemudian mencari sumber
perdarahan serta menjepit dan mengikatnya. Setiap keluhan pembengkakan
isi skrotum pascavasektomi hendaknya dicurigai sebagai perdarahan dan
dilakukan pemeriksaan yang seksama. Bekuan darah di dalam skrotum yang
tidak dikeluarkan akan mengundang kuman-kuman dan menimbulkan
infeksi.
2. Hematoma
Biasanya terjadi bila daerah skrotum diberi beban yang berlebihan, misal
naik sepeda, duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan jalanan yang rusak
dan sebagainya.
3. Infeksi
Infeksi pada kulit skrotum cukup dengan mengobati menurut prinsip
pengobatan luka kulit. Apabila basah, dengan kompres (dengan zat yang
tidak merangsang). Apabila kering dengan salep antibiotika. Apabila terjadi
infiltrat di dalam kulit skrotum di tempat vasektomi sebaiknya segera
dirujuk ke rumah sakit. Di sini pasien akan diistirahatkan dengan berbaring,
kompres es pemberian antibiotika, dan analgetika.
4. Granuloma sperma
Dapat terjadi pada ujung proksimal vas atau rpidemilis. Gejalanya
merupakan benjolan kenyal dengan kadang – kadang keluhan nyeri.
Granuloma sperma dapat terjadi 1 – 2 minggu setelah vasektomi. Pada
keadaan ini dilakukan eksisi granuloma dan mengikat kembali vas deferens.
Terjadi pada 0.1 – 30 % kasus.

2.3 Rujukan Akseptor Bermasalah


System rujukan dalam mekanisme pelayanan MKET merupakan suatu system
pelimpahan tanggung jawab timbal balik baik secara vertical maupun horizontal atau
kasus atau masalah yang berhubungan dengan MKET. Unit pelayanan yang dimaksud
disini yaitu menurut tingkat kemampuan dari yang paling sederhana berturut – turut
ke unit pelayanan yang paling mampu.
2.3.1 Tujuan Rujukan
Tujuan rujukan adalah meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi
pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Rujukan upaya

12
kesehatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas
masalah yang timbul, baik secara vertikal maupun horizontal kepada fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten terjangkau dan rasional. Merujuk adalah
meminta pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu
sehingga jiwanya dapat terselamatkan dengan demikiand dapat menurunkan
AKI dan AKB.
1. Pelayanan merujuk
Fasilitas pelayanan kontrasepsi dikomunitas dapat merujuk kasus ke
fasilitas pelayanan yang lebih mampu setelah melakukan proses
pemeriksaan penunjang diagnostik dengan hasil berikut :
a. Berdasarkan pemeriksaan penunjang diagnostik kasus tersebut tidak
dapat diatasi
b. Perlu pemeriksaan penunjang diagnostik yang lebih lengkap
c. Setelah dirawat dan diobati ternyata penderita masih memerlukan
perawatan dan pengobatan ke fasilitas yang lebih mampu.
2. Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan
a. Setelah melakukan pemeriksaan penunjang diagnostik dapat
mengirimkan kembali penderita ke fasilitas pelayanan yang merujuk
untuk pembinaan lebih lanjut.
b. Setelah melakukan perawatan dan pengobatan, dapat mengirimkan
kembali penderita ke fasilitas pelayanan yang merujuk untuk
pembinaan lebih lanjut

2.3.2 Jenis Rujukan


Rujukan MKET dapat dibedakan atasa 3 jenis yaitu sebagai berikut :

1. Pelimpahan kasus
2. Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan
3. Pelimpahan bahan – bahan penunjang diagnostic

2.3.3 Sasaran Rujukan


a. Sasaran Obyektif
1. PUS yang akan memperoleh pelayanan MKET

13
2. Peserta KB yang akan ganti cara ke MKET
3. Peserta KB MKET untuk mendapatksn pengamatan lanjutan.
b. Sasaran subyektif
Petugas – petugas pelayanan MKET disemua tingkat wilayah.
2.3.4 Jaringan Rujukan
1. Dokter / BPS , rumah bersalin
2. Unit pelayanan MKET tingkat kecamatan
3. Unit pelayanan MKET tingkat kabupaten
4. Unit pelayanan MKET tingkat provinsi
5. Unit pelayanan MKET tingkat pusat

Contoh akseptor yang akan dirujuk :

Klien datang untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu pasca operasi


dengan keluhan adanya demam, rasa nyeri dan merah pada daerah insersi setelah
dilakukan pemeriksaan ternyata terjadi infildrat di dalam kulit skrotum di tempat
vasektomi dikhawatirkan hal seperti ini klien harus dirujuk ke rumah sakit karena
kemungkinan akan terjadi epididi mistis, orkitis atau epididimoorkitis.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 MOW atau Tubektomi
MOW atau Tubektomi merupakan alat kontrasepsi modern sterilisasi pada
wanita atau juga merupakan alat kontarsepsi mantap yaitu penutupan terhadap
kedua saluran telur kanan dan kiri, yang menyebabkan sel telur tidak dapat
melewati sel telur, dengan demikian sel telur tidak dapat bertemu dengan
sperma laki-laki sehingga tidak terjadi kahamilan. Adapun keuntungan dan
kerugian dari kontrasepsi MOW ini salah satunya yaitu Perlindungan terhadap
terjadinya kehamilan sangat tinggi dan tidak dapat dipulihkan kembali.
Sedangkan teknik melakukan kontrasepsi ini yaitu ada berbagai cara:
penyinaran, operatif, dan penyumbatan tuba secara kimiawi.
3.1.2 MOP atau Vasektomi
MOP atau vasektomi merupakan alat kontrasepsi mantap pada laki-laki yaitu
dengan memotong saluran mani (vasdeverens) kemudian kedua ujungnya di
ikat, sehingga sel sperma tidak dapat mengalir keluar penis (urethra). Kerugian
dari kontrasepsi ini yaitu salah satunya yaitu belum memberi perlindungan total
sampai semua spermatozoa yang sudah ada didalam sistem reproduksi distal
dari tempat oklusi vas deferens dikeluarkan.
Teknik melakukan kontrasepsi ini ada berbagai cara yaitu: operatif,
penyumbatan vas deverens, dan penyumbatan vas deferens kimiawi
3.1.3 Akseptor KB bermasalah
Akseptor Keluarga Barencana (KB) adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
menggunakan salah satu alat/obat kontrasepsi.Termasuk pada Akseptor KB
tubektomi dan vasektomi yang bermasalah

15
System rujukan dalam mekanisme pelayanan MKET merupakan suatu system
pelimpahan tanggung jawab timbal balik baik secara vertical maupun horizontal
atau kasus atau masalah yang berhubungan dengan MKET.

3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini. Penyusun banyak berharap para pembaca
yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penyusun
demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan –
kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya
juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Biran, dkk. 2016. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasesi Edisi 4. Jakarta : PT.
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Komalasari Renata. 2010. Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC.

Sulistyawati, Ari. 2014. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika.

Sulistyawati, Ari . 2011.Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika

Bari Abdul, Saifudin. 2006. Buku Panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka.

Notodiharjo, Riono. 2002. Reproduksi, Kontrasepsi, dan Keluarga Berencana. Jakarta:


Yayasan bina pustaka

Wikhjosastro, Hanifa. 2005.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo.

17