Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

SENYAWA METABOLIT SEKUNDER

CAPSAICIN

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah : Fitoterapi

Dosen Pengampu : Moh Taufik Ismullah M,Farm., Apt

Kelompok III

Fatmawati Umar
Lila Muliani
Mita Kurniawati
Tia Fitria Tamrin

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITA BINA MANDIRI GORONTALO
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang
senyawa capsaicin yang merupakan salah satu tugas besar.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari kerjasama dari teman-teman yang
sudah banyak membantu. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini kami
mengucapkan banyak terima kasih.
Saya juga menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, dengan senang hati kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari teman-teman, agar kami dapat membuat makalah yang lebih
baik lagi.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua

Gorontalo. Mei 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................
B. Rumusan Masalah...................................................................................
C. Tujuan.....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Cabai.....................................................................................
B. Senyawa Capsaicin..................................................................................
C. Aksi mukosa lambung.............................................................................
D. Dosis Capsaicin.......................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................
B. Saran........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman obat di Indonesia telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
sebagai bahan baku pembuatan jamu dan obat tradisional (Rostiana et al.,
1994). Pengembangan budidaya tanaman obat memiliki dampak positif bagi
masyarakat yaitu meningkatkan produksi, pendapatan petani dan pelestarian
sumber daya hayati (biodiversitas) dari tanaman obat itu sendiri (Djauhariya et
al., 2009). Salah satu tanaman obat yang saat ini sedang dikembangkan adalah
cabai. Tanaman cabai menjadi salah satu bahan yang sering dijadikan bumbu
pada makanan tradisional Indonesia sehingga tidak mengherankan bila volume
peredaran di pasar berada dalam jumlah yang besar. Data yang tercatat oleh
BPS (2015) menunjukkan bahwa produksi cabai pada tahun 2014 mengalami
peningkatan sebesar 4,8% dan tahun 2015 peningkatannya sebesar 8,04%
sehingga produksi cabai merah ini diperkirakan akan terus mengalami
peningkatan di tahun-tahun berikutnya.
Cabai (Capsicum) merupakan tanaman budidaya yang buahnya bersifat
iritan (Cairns, 2004) dan mempunyai rasa pedas. Sifat iritan memberikan
sensasi seperti terbakar (burning sensation) jika kontak dengan mata atau
membran mukus yang lain. Walaupun demikian, buah cabai yang bersifat
iritan berguna sebagai analgesik jika dioleskan pada kulit (Anogianaki, 2006).
Menurut Cairns (2004), sifat iritan di dalam buah-buahan Berbagai jenis cabai
tersebut dikarenakan adanya kandungan capsaicin. Capsaicin merupakan salah
satu metabolit sekunder pada tanaman cabai. Capsaicin terdapat pada plasenta
buah, tempat melekatnya biji (Astawan dan Kasih, 2008). Manfaat capsaicin
telah diteliti, antara lain digunakan sebagai pestisida kumbang kentang
Colorado (Maliszewska and Tegowska, 2011), sebagai antibiotik Helicobacter
pylori (Zeyrek and Oguz, 2005), sebagai antifungal Phytophthora capsici Leo.
(Mojica-Marín et al., 2011).
Produksi capsaicin skala industri memegang peranan penting dalam dunia
industri (farmasi, makanan) berdasarkan potensi pemanfaatan capsaicin.
Produksi capsaicin dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, capsaicin
dapat diproduksi melalui ekstrak buah cabai (Caribbean Export Development
Agency, 2004). Ekstraksi capsaicin dari buah cabai yang dihasilkan dengan
metode ini masih berupa campuran dari capsaicin, norhidrocapsaicin,
dihidrocapsaicin, homocapsaicin, dan homodihidrocapsaicin. (Chanda et al.,
2008). Kedua, produksi capsaicin dengan sintesis kimiawi. Salah satu cara
sintesis kimia capsaicin adalah menggunakan asam lemak diklorinasi dan
amina pada suhu 140 – 170 oC (Kaga et al., 1996). Ketiga, capsaicin dapat
diproduksi via sel atau jaringan (Johnsonet al., 1996).
B. Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud dengan cabai ?
B. Apa yang dimaksud dengan senyawa capsaicin ?
C. Apa aksi pada mukosa lambung ?
D. Jelaskan Dosis Capsaicin ?
C. Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tanaman Cabai


Cabai rawit merupakan tanaman buah yang termasuk ke dalam
genus Capsicum. Sifat dari tanaman cabai dapat digunakan untuk
membedakan antar varietas seperti percabangan tanaman, perbungaan
tanaman, ukuran ruas, dan tipe buahnya. Genus Capsicum memiliki
banyak spesies dan banyak varietas dalam tiap spesiesnya sehingga sangat
menarik jika diklasifikasikan berdasarkan anatomi buah dan bijinya. Cabai
rawit merupakan tanaman berkayu dengan panjang batang utama berkisar
antara 20-28 cm dan diameter batang antara 1,5-2,5 cm. Batang tanaman
membentuk banyak percabangan. Akar tanaman Capsicum frutescens L.
cukup kuat yang terdiri dari akar tunggang, akar cabang dan akar serabut.
Tanaman ini dapat hidup menahun sehingga perakarannya pun
dapat berkembang dan tumbuh kuat untuk menopang berdirinya tanaman
Daun Capsicum frustences L. berbentuk bulat telur, bagian dasar lebih
lebar, dan bagian ujung meruncing. Panjang daun berkisar antara 1 cm-10
cm dan lebar antara 0,5 cm-5 cm. Sedangkan buah dari tanaman ini
memiliki panjang antara 1-3 cm dan garis tengah antara 0,5-1 cm. Buah
berbentuk kerucut, bagian ujung meruncing, berdiri tegak, dan bertangkai
agak panjang. Buah muda berwarna kekuningan atau hijau dan setelah
matang berwarna kuning kemerahan, oranye, atau putih kekuningan, serta
mengkilap.
Capsicum frutescens L merupakan tanaman perdu yang tumbuh
semusim dengan tinggi tanaman mencapa 1,5 meter. Tanaman ini dapat
hidup 2 sampai 3 tahun di dataran tinggi maupun dataran rendah. Hanya
saja, periode panennya akan lebih sedikit apabila ditanam di dataran tinggi
jika dibandingkan dengan ditanam di dataran rendah Capsicum frutescens
L. dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah, daerah tropis
maupun subtropis asalkan drainase dan aerasinya baik. Tanah yang paling
ideal untuk menanam cabai rawit adalah yang mengandung bahan organik
sekurang-kurangnya 15% dan mempunyai pH 6.0-6.5. Suhu udara yang
optimum untuk pertumbuhan dan pembungaannya antara 21-27oC.
B. Senyawa Capsaicin
Rasa pedas yang ditimbulkan dari cabai rawit (Capsicum
frutescens L.) disebabkan oleh sebuah senyawa yang dikenal dengan nama
capsaicinoid. Capsaicinoid primer yang terdapat dalam buah cabai adalah
capsaicin, diikuti oleh dihydrocapsaicin nordihydrocapsaicin,homodihydrocap
saicin dan homocapsaicin. Kapsaisin dan dihydrocapsaicin merupakan
90% dari capsaicinoid yang terdapat dalam buah cabai.
Studi terbaru menunjukkan bahwa kapsaisin sebagian besar
ditemukan pada vesikel atau vakuola dari sel epidermal plasenta dalam
pod. Konsetrasi kapsaisin tertinggi ditemukan pada buah dan yang paling
rendah ditemukan pada biji. Biji bukanlah sumber dari rasa pedas tapi
mereka terkadang menyerap kapsaisin karena berada dekat dengan lapisan
plasenta buah. Tingkat kepedasan dipengaruhi dari berbagai faktor seperti
kondisi cuasa dan keadaan panas daerah tempat menanam dan tingkat
kematanga buah. Tingkat kepedasan akan meningkat dengan semakin
matangnya buah B tersebut Secara kimia, kapsaisin merupakan senyawa
fenol yang larut dalam lemak yang menyebabkan rasa pedas bahkan ketika
zat ini diencerkan satu bagian dalam sebelas juta bagian aquades.
Kapsaisin (trans-8methyl-N-vanillyl-6-noneamide) adalah senyawa
alkaloid kristal, lipofilik, tidak berwarna dan tidak berbau dengan rumus
molekul (C18H27NO3). Capsaisin memiliki berat molekul 305,40 gram/mol
yang terdiri dari berat lemak, alkohol dan minyak larut. Titik leleh dari
kapsaicin adalah 65oC , titik didih pada 0,01 mmHg adalah 210-220oC, dan
menyublim pada 115oC. Sifat kimia lain dari kapsaisin adalah sedikit larut
dalam karbon disulfida dan air panas, praktis tidak larut dalam air, bebas
larut dalam alkohol, eter, benzene dan kloroform. Hal inilah yang
menyebabkan kapsaisin tahan terhadap asam dan larutan alkali pada suhu
kamar.
Mekanismenya adalah capsaicin menimbulkan sesuai panas yang
selanjutnya akan merangsang saraf nyeri untuk berhenti melepaskan mediator
nyeri.

C. Aksi Pada Mukosa Lambung


Sifat capsaicin yang larut dalam lemak memudahkan capsaicin menembus
taut kedap yang dibentu oleh membran epitel yang melapisi mukosa
lambung. Pada mukosa lambung terdapat ujung saraf bebas neuron aferen
yang mempunyai reseptor capsaicin atau sering disebut sebagai reseptor
vanilloid. Rangsangan capsaicin pada ujung saraf ini menimbulkan rasa
perih dan panas.
Neuron aferon primer yang sensitif terhadap capsaicin dan ujung-ujung
sarafnya mengekspresikan TRPV-1/VR-1 reseptor vaniloid. Simulasi
termu=inal saraf kemoreseptif ini oleh H+ dan bradikin akan diikuti oleh
pelepasan takinin, somastatin, dan CGRP (Calcitonin-gene related peptide)
yang akan meningkatkan produksi NO yang berfungsi untuk
meningkatkan ketahanan mukosa lambung dan membantu proses
penyembuhan ulkus.
Dinding arteri pada lambung menerima serat peptidergik ini dalam jumlah
yang banyak, dan capsaicin menimbulkan vasodilatasi neurogenik yang
diikuti peningkatan aliran darah mukosal. Hiperemia yang disebabkan
neuropeptida sensorik dari CGRP neurokinin A dengan NO terlibat dalam
neuron-mediated gastroprotection.
Pada dosis yang relatif kecil (Dosis eksitatorik) capsaicin memberikan
pengaruh yang baik bagi mukosa lambung yaitu terjadi peningkatan aliran
darah mukosa lambung, peningkatan sekresi mukus, dan peningkatan
sekresi HCO3-. Namun pada dosis yang besar (dosis neurotoksis)
capsaicin justru mengakibatkan kerusakan neuron aferen yang berperan
dalam menjaga keutuhan mukosa lambung.
D. Dosis Capsaicin
Dosis eksitatorik peroral berkisar antara 0,25-0,5 mg/kg berat
badan, sedangkan dosis neurotoksik adalah lebih besar dari 100 mg/kg
berat badan.
Pada dosis eksitatorik, capsaicin berikatan dengan reseptor VR1
dan menimbulkan reaksi pembukaan kanal kation. Pembukaan kanal ini
mengakibatkan terjadinya influks ion calcium (Ca2+) dan kemudian terjadi
depolarisasi membran. Apabila depolarisasi membran yang terjadi
melampaui nilai ambang batas rangsang maka timbul aksi potensial di
sepanjang neuron aferen. Aksi potensial inilah yang akan menyebabkan
tercetusnya pelepasan CGRP dari ujung saraf bebas.
Dosis neurotoksik capsaicin dapat merusak neuron yang terdapat
pada ganglion akar spinal. Pada masa neonatal dosis neurotoksik capsaicin
mengakibatkan penghentian transport aksonal NGF (Neonatal Growth
Factor) dari perifer ke pusat. Hal ini menyebabkan terjadinya kematian
sel-sel saraf. Pada saat dewasa dosis neurotoksik capsaicin mengakibatkan
influks Ca++ intrasel yang berlebih sehingga menimbulkan kerusakan
neuron.