Anda di halaman 1dari 10

Aksioma

Vol. 9, No. 1, Juli 2018


e-ISSN 2579-7646

Pengaruh Kecemasan Matematika (mathematics Anxiety)


Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Smp

Tatiana, Nerru Pranuta Murnaka, dan Wiwik Wiyanti


Pendidikan Matematika, STKIP Surya Tangerang
email korespondensi : nerru.pranuta@stkipsurya.ac.id

Abstrak
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang
mempengaruhi adalah faktor sikap siswa. Faktor ini merupakan faktor yang berasal
dari dalam diri siswa (internal). Salah satu sikap siswa dalam pembelajaran
matematika adalah siswa yang merasa cemas terhadap matematika itu sendiri.
Kecemasan yang dialami siswa dalam pembelajaran matematika disebut dengan
kecemasan matematika (mathematics anxiety). Sikap cemas ini merupkan respon
negatif yang membuat seseorang menghindari pembelajaran matematika serta
ketidakmampuan dalam belajar matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah 1)
Untuk menyelidiki seberapa besar pengaruh kecemasan matematika terhadap hasil
belajar matematika siswa; 2) Untuk menyelidiki seberapa tinggi tingkat keeratan
hubungan linier antara kecemasan matematika dengan hasil belajar matematika
siswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis penelitian
korelasional karena bertujuan untuk mengetahui hubungan suatu variabel terhadap
variabel lain. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Dharma Siswa, dengan subyek
penelitiannya siswa kelas VII yang berjumlah 188 siswa. Dari hasil penelitian ini
diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0.0204 = 2,04%. Hal ini menunjukkan
bahwa hanya sebesar 2.04% kecemasan matematika mempengaruhi hasil belajar
matematika siswa. Sedangkan 2) Nilai koefisien korelasi antara kecemasan
matematika dengan hasil belajar matematika adalah r = – 0,1428. Dengan demikian,
diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang negatif antara kecemasan matematika
(math anxiety) terhadap hasil belajar matematika, namun keeratan hubungan antara
keduanya berada pada kategori sangat lemah

Kata kunci: kecemasan matematika (mathematics anxiety), hasil belajar matematika,


korelasional

Abstract
Learning outcomes are the most important part of learning. Student learning outcomes
are influenced by several factors. One of the influencing factors is student attitude
factor. This factor is a factor that comes from within the student (internal). One of the
attitudes of students in learning mathematics is the students who feel anxious about
the math itself. Anxiety experienced by students in learning mathematics is called
mathematical anxiety (math anxiety). This anxious attitude is a negative response that
makes one avoid learning mathematics and incompetence in learning mathematics.
The purposes of this research are 1) To investigate how much mathematical anxiety
affects students’ mathematics learning outcomes. 2) To investigate how high the level
of closeness of the linear relationship between mathematical anxiety with students'
mathematics learning outcomes. This research uses descriptive method with
correlational research type because it aims to know the relationship of a variable to
another variable. This research was conducted at SMP DHARMA SISWA, with the
subjects of research class VII students amounting 188 students. From the results of this
study obtained 1) coefficient of determination of 0.0204 = 2.04%. This shows that only
2.04% mathematical anxiety affects students’ mathematics learning outcomes. While 2)
The value of correlation coefficient between mathematical with mathematics learning
result is r = - 0.1428. Thus, obtained the result that there is a negative relationship

124
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

between mathematical anxiety (math anxiety) on the results of learning mathematics,


but the tightness of the relationship between the two is in a very weak category.

Keywords : mathematical anxiety(math anxiety), the result of learning mathematics,


correlational

A. Pendahuluan

Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang memegang


peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, matematika
dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari siswa mulai
dari jenjang sekolah dasar (Depdikbud, 2014 ;Depdiknas, 2006; Suherman, 2003).
Melalui pembelajaran matematika ini seseorang akan mampu terbiasa untuk
berpikir secara sistematis, ilmiah, logis, kritis serta mampu meningkatkan daya
kreativitas (Maulana 2013).

Menyadari pentingnya peranan matematika, maka setiap sekolah selalu


mengupayakan agar siswa – siswinya mampu memperoleh hasil belajar
matematika yang baik. Namun, terkadang upaya tersebut tidak selalu berhasil
dicapai dalam suatu pembelajaran. Hal ini dikarenakan terdapat suatu kendala
yang menjadi permasalahan dalam mencapai tujuan itu sendiri. Hal ini sesuai
dengan pendapat Wasliman (dalam Susanto, 2013) yang mengemukakan bahwa
hasil belajar yang dicapai siswa merupakan hasil hubungan antara berbagai
faktor yang saling memengaruhi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain faktor yang
berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun luar diri siswa (eksternal)
(Susanto, 2013; Ekawati, 2015). Faktor internal meliputi kecerdasan, minat dan
perhatian, motivasi, ketekunan, sikap, kebiasaan serta kondisi fisik dan
kesehatan. Adapun faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat
(Susanto, 2013). Berdasarkan faktor internal, sikap juga termasuk ke dalam
faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Salah satu sikap siswa
yang berpengaruh dalam pembelajaran adalah sikap cemas. Sikap cemas ini
merupakan sikap negatif siswa terhadap pembelajaran Susanto (2013).

Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang
berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek
ancaman yang tidak begitu jelas. Setiap siswa memiliki tingkat kecemasan yang
berbeda – beda dalam menghadapi pelajaran. Tingkat kecemasan tersebut dapat
diketahui dan diukur, salah satunya yaitu dengan melihat perolehan nilai siswa
setelah dilaksanakan ujian / ulangan. Pelaksanaan ujian / ulangan dapat
menimbulkan kecemasan baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat negatif.
Kecemasan yang bersifat positif dapat menjadikan motivasi bagi siswa untuk
lebih giat belajar, sedangkan kecemasan yang bersifat negatif merupakan
kebalikannya.

125
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

Kecemasan yang dialami siswa dalam pembelajaran matematika disebut


dengan kecemasan matematika atau mathematics anxiety (Anita 2014). Menurut
Richardson & Suinn (dalam Mahmood & Khatoon, 2011) ialah perasaan tegang
dan cemas yang mengganggu seseorang dalam memanipulasi masalah
matematika, baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam proses
pembelajaran. Kemudian Ashcraft (2002) mendefinisikan kecemasan matematika
sebagai perasaan tegang atau ketakutan yang mengganggu kinerja dalam belajar
matematika. Sehingga, siswa yang merasa cemas, bosan dan takut terhadap
matematika, seringkali akan menghindari pelajaran matematika (Mahmood &
Khatoon, 2011). Selain itu, Anita (2014) mengemukakan bahwa siswa yang
mengalami kecemasan matematika merasa bahwa dirinya tidak mampu dan
tidak bisa mempelajari materi matematika serta mengerjakan soal-soal
matematika. Dapat disimpulkan bahwa kecemasan matematika merupakan
respon negatif yang membuat seseorang menghindari pembelajaran matematika
serta ketidakmampuan dalam belajar matematika.

Leonard (dalam Sistyaningtyas, 2013) mengemukakan bahwa kecemasan


dapat memberikan dampak positif serta negatif. Kecemasan dikatakan dapat
memberikan dampak positif apabila dapat mendorong seseorang untuk
mengambil langkah dalam membangun pertahanan diri demi mengurangi rasa
cemas itu sendiri. Leonard (dalam Sistyaningtyas, 2013) juga mengemukakan
bahwa kecemasan dikatakan berdampak negatif apabila menimbulkan gejala
fisik yang berpengaruh buruk terhadap hasil belajar. Oleh karena itu, peneliti
menduga bahwa kecemasan matematika dapat mempengaruhi hasil belajar
matematika siswa. Dugaan peneliti dipertegas oleh hasil penelitian Zakaria &
Nordin (2008) yang menemukan bahwa tingkat prestasi belajar siswa yang
mengalami kecemasan matematika lebih rendah daripada siswa yang tidak
terindikasi kecemasan matematika.

Kecemasan matematika juga dapat berdampak pada pemilihan karir siswa di


masa mendatang. Ashcraft (2002) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami
kecemasan matematika ditunjukkan dengan menghindari lingkungan dan karir
yang membutuhkan pemanfaatan keterampilan matematika. Selain itu
konsekuensi lain dari kecemasan matematika menurut Betz, Burton, Donady &
Tobias, Hendel, Richardson & Suinn (Mahmood & Khatoon, 2011) adalah
ketidakmampuan dalam matematika, penurunan prestasi matematika,
menghindari mata pelajaran matematika, keterbatasan dalam memilih jurusan
kuliah maupun karir di masa depan, dan perasaan negatif seperti merasa
bersalah dan malu.

Berdasarkan uraian mengenai dampak serta konsekuensi dari kecemasan


matematika, maka peneliti menganggap bahwa penelitian mengenai kecemasan
matematika perlu dilakukan di sekolah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
apakah siswa-siswi di sekolah tersebut mengalami gejala kecemasan matematika.

Selanjutnya apabila ditemukan adanya gejala, maka perlu diketahui seberapa


besar pengaruhnya terhadap hasil belajar matematika siswa-siswi itu sendiri,
126
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

sehingga hasil penelitian dapat berguna bagi pihak sekolah untuk dijadikan
sebagai bahan evaluasi dalam mencapai hasil belajar yang maksimal.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka tujuan dari


penelitian ini yaitu : 1) Untuk menyelidiki seberapa besar pengaruh kecemasan
matematika (math anxiety) terhadap hasil belajar matematika siswa; 2) Untuk
menyelidiki seberapa tinggi tingkat keeratan hubungan linier antara kecemasan
matematika (math anxiety) dengan hasil belajar matematika siswa.

B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis penelitian
korelasional karena bertujuan untuk mengetahui hubungan suatu variabel
terhadap variabel lain (Sukmadinata, 2010).
Desain dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

X Y

Gambar 1 Ilustrasi pengaruh variabel kecemasan matematika terhadap


variabel hasil belajar matematika siswa
Keterangan:
X = Variabel kecemasan matematika (math anxiety)
Y = Variabel hasil belajar matematika siswa
= Pengaruh variabel X terhadap variabel Y

Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yang digunakan yaitu variabel
prediktor dan variabel respon. Menurut Weiss (2012) variabel prediktor
merupakan variabel yang digunakan untuk memprediksi atau menjelaskan nilai-
nilai dari variabel respon. Sementara itu, variabel respon merupakan variabel
yang akan diukur atau diamati. Variabel prediktor dalam penelitian ini yaitu
kecemasan matematika sedangkan variabel respon yang digunakan yaitu hasil
belajar matematika siswa.
1. Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Dharma Siswa yaitu pada waktu 21
Maret hingga 4 April 2018 tahun ajaran 2017/2018 semester genap. Subjek
penelitian menurut Moeliono (Sumiati, 2015) adalah orang yang diamati
sebagai sasaran penelitian. Adapun subjek yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu seluruh siswa kelas VIII SMP Dharma Siswa yang berjumlah 188
siswa dan terdiri dari 5 kelas yakni kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, dan
VI .

127
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

2. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
menggunakan angket kecemasan matematika yang diadopsi dari Himmi &
Azni (2017) dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan Kesiapan Belajar
Dan Kecemasan Matematika Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa
SMP” yang diukur dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert
merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap maupun pendapat
seseorang tentang suatu kejadian (Thoifah, 2015). Skala Likert tersebut
terdiri dari 5 poin yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu (RG), Tidak
Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).

C. Hasil dan Pembahasan


Dalam penelitian ini terdapat 2 jenis data yang diperoleh, yaitu 1) data yang
berupa skala ordinal, data ini diperoleh dari angket kecemasan matematika. 2
data yang berupa skala Interval, data ini diperoleh dari hasil belajar siswa.
Oleh karena itu, data yang berupa skala ordinal perlu dilakukan konversi atau
transformasi data dari skala ordinal ke interval. Metode yang akan
digunakan untuk mengubah data ordinal ke bentuk interval yaitu menggunakan
Method of Successive Interval (MSI).

1. Transformasi Data Kecemasan Matematika (Math Anxiety)


Tabel 1 berikut ini menunjukkan hasil transformasi data dari skala
ordinal ke interval.
Tabel 1. Hasil Transformasi Data Kecemasan Matematika (Math
Anxiety) Menggunakan Method of Succesive Interval (MSI)
Skala Data Pilihan Jawaban Angket Kecemasan Matematika

Skala Ordinal 1 2 3 4 5

Skala Interval 1.00 1.79 2.22 2.48 2.65

Setelah diperolehnya hasil dari tranformasi data, maka masing-masing


data dari variabel kecemasan matematika (math anxiety) dan hasil belajar
matematika yang sudah sama-sama berskala interval tersebut kemudian
diukur pemusatan serta keragaman datanya. Hasil pengolahan data dari
pengukuran pemusataan data (central tendency) serta keragaman data
(dispersi) kecemasan matematika (KM) dan hasil
belajar matematika (HBM) seluruh siswa kelas VIII SMP Dharma Siswa
disajikan dalam Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Pengukuran Central Tendency dan Dispersi Data
Central Tendency Dipersi
Data
Mean Median Modus Range Variasi St. Deviasi

KM 77.49 77.98 61.07 32.66 59,09 7.68

HBM 40,48 35,00 25,00 100.00 572.64 23.93

128
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

Ket : KM = Kecemasan Matematika; dan


HBM = Hasil Belajar Matematika

Pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang cukup
besar antara pemusatan data kecemasan matematika dengan hasil belajar
matematika. Selain itu perolehan nilai median yang dekat dengan nilai rata-
ratanya menunjukkan bahwa pemusatan data kecemasan matematika siswa
terletak di sekitar skor 77.49,
sedangkan pemusatan data hasil belajar matematika siswa terletak di
sekitar skor 40.48. Berdasarkan perhitungan dispersi atau keragaman data,
diperoleh bahwa nilai standar deviasi baik itu dari data kecemasan
matematika maupun hasil belajar matematika yang lebih kecil dari nilai
rata-ratanya. Hal ini mengindikasikan bahwa
terdapat variasi data yang kecil dimana pola umum data kecemasan
matematika bervariasi sekitar 7.68 dari nilai mean 77.49 sedangkan pola
umum data hasil belajar matematika bervariasi sekitar 23.93 dari nilai
mean 40.48.

2. Data Kecemasan Matematika (Math Anxiety)


Berdasarkan perhitungan untuk menentukan kategori tingkat
kecemasan matematika (math anxiety), maka diperoleh hasil pada Tabel 3
berikut.
Tabel 3. Kategori Tingkat Kecemasan Matematika (Math Anxiety)
Frekuensi Kategori
Interval
Jumlah Prosentase

Skor  87.58 17 9% Sangat Tinggi

75.15 ≤ Skor < 87.58 109 58 % Tinggi

62.73 ≤ Skor < 75.15 49 26 % Sedang

50.30 ≤ Skor < 62.73 13 7% Rendah

Skor < 50.30 0 0% Sangat Rendah

Berdasarkan Tabel 3 diatas, maka tingkat kategori kecemasan


matematika (math anxiety) siswa disajikan dalam bentuk diagram
lingkaran pada Gambar 1.

129
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

Gambar 2. Diagram Lingkaran Data Kecemasan Matematika

Berdasarkan gambar 2, terlihat bahwa kategori tingkat kecemasan


matematika siswa kelas VIII SMP Dharma Siswa cukup beragam, namun
sebagian besar tingkat kecemasan matematika siswa tersebut berada pada
kategori tinggi. Hal ini dilihat dari persentase kategori tingkat kecemasan
matematika siswa yang tinggi yaitu sebesar 58% artinya sebanyak 58% dari
keseluruhan siswa mengalami kecemasan matematika yang tinggi.

3. Hasil Belajar Matematika


Adapun perolehan kategori tingkat hasil belajar matematika dapat
dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut.
Tabel 4 Kategori Tingkat Hasil Belajar Matematika
Tabel 3. Kategori Tingkat Kecemasan Matematika (Math Anxiety)
Frekuensi Kategori
Interval
Jumlah Prosentase

Skor  80.00 24 13 % Sangat Tinggi

60.00 ≤ Skor < 80.00 17 9% Tinggi

40.00 ≤ Skor < 60.00 42 22 % Sedang

20.00 ≤ Skor < 40.00 75 40 % Rendah

Skor < 20.00 30 16 % Sangat Rendah

Dari tabel 4 terlihat bahwa sebagaian besar siswa yang mendapatkan


nilai antara 20.00 s/d 40.00. Dan banyaknya siswa yang mendapat nilai
dibawah 60 ada sebesar 78%.

4. Persamaan Regresi Linier


Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (Least Square), maka
persamaan regresi yang diperoleh merupakan persamaan regresi terbaik
dimana persamaan tersebut memiliki jumlah errors (ei) seminimal mungkin.
Adapun bentuk persamaan regresi linier yang diperoleh dalam penelitian
yaitu Y  0, 4444 x  74,9192 .
Dari persamaan tersebut, diperoleh konstanta benilai positif 74.9192
serta koefisien regresi yang merupakan besarnya kemiringan garis regresi
benilai negatif 0.4444 yang berarti bahwa setiap meningkatnya 1 poin skor
kecemasan matematika, maka akan menyebabkan penurunan skor hasil
belajar matematika siswa sebesar 0.4444.

130
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

5. Menghitung Koefisien Korelasi Linier


Nilai koefisien korelasi dari persamaan regresi linier
Y  0, 4444 x  74,9192 . Dengan demikian, diperoleh nilai koefisien korelasi
sebesar negatif 0.1428. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
negatif antara kecemasan matematika dengan hasil belajar matematika
siswa kelas VIII SMP Dharma Siswa. Semakin tinggi skor kecemasan
matematika maka diiringi dengan semakin rendah hasil belajar
matematika. Demikian sebaliknya, semakin rendah skor kecemasan
matematika akan diiringi dengan semakin tinggi hasil
belajar matematika siswa.
Tabel 5 Tingkat Keeratan Hubungan Dua Variabel
Nilai Koefisien Korelasi Kategori

0.00 – 0.20 Sangat Lemah

0.21 – 0.40 Lemah

0.41 – 0.70 Kuat

0.71 – 0.80 Sangat Kuat

0.91 – 0.99 Kuat Sekali

1.00 Sempurna

Dilihat dari tabel 5 kategori tingkat keeratan hubungan dua variabel.


Maka nilai koefisien korelasi sebesar 0.1428 menunjukkan bahwa keeratan
hubungan antara variabel X dan Y berada pada kategori sangat lemah. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kecemasan
matematika dengan hasil belajar matematika kelas VIII SMP Dharma Siswa
memiliki hubungan
linier dengan tingkat keeratan hubungan yang sangat lemah.

6. Koefisien Determinasi (R2)


Adapun besarnya koefisien determinasi dari persamaan
Y  0, 4444 x  74,9192 . yaitu sebesar 0.0204 = 2,04%. Hal ini berarti bahwa
kecemasan matematika (math anxiety) berpengaruh sangat kecil terhadap
hasil belajar matematika. Sementara itu, 97.96% hasil belajar matematika
disebabkan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Berdasarkan paparan di atas, dapat diketahui bahwa hasil penelitian ini


tidaklah sejalan dengan Ekawati (2015) yang menemukan bahwa ada pengaruh
yang kuat antara kecemasan terhadap hasil belajar matematika. Pada penelitian
ini diketahui bahwa pengaruh antara kecemasan matematika terhadap hasil
belajar matematika sangatlah lemah yang ditunjukkan dari nilai koefisien
korelasi sebesar 0.1428 serta nilai koefisien determinasi sebesar 2.04%.
Rendahnya nilai koefisien tersebut mengindikasikan bahwa siswa yang
131
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

mengalami kecemasan matematika tinggi belum tentu memiliki hasil belajar


yang rendah begitu pula sebaliknya. Sehingga bisa dikatakan bahwa faktor
utama yang memiliki pengaruh besar terhadap pencapaian hasil belajar siswa
ialah kemampuan yang dimiliki oleh siswa itu sendiri (Susanto, 2013). Dengan
demikian, dapat diketahui bahwa masih terdapat faktor-faktor lain yang
memiliki pengaruh besar terhadap hasil belajar matematika siswa seperti
kemampuan berpikir dan lain-lain

D. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1) Perolehan nilai koefisien determinasi sebesar 0.0204 menunjukkan bahwa
hanya sebesar 2.04% kecemasan matematika mempengaruhi hasil belajar
matematika siswa. Sementara itu, terdapat faktor lain yang mempengaruhi
sebesar 97.96% yang tidak diteliti dalam penelitian ini yang diduga memiliki
pengaruh lebih besar terhadap hasil belajar matematika;
2) Nilai koefisien korelasi antara kecemasan matematika dengan hasil belajar
matematika adalah r = – 0,1428. Dengan demikian, diperoleh hasil bahwa
terdapat hubungan yang negatif antara kecemasan matematika (math
anxiety) terhadap hasil belajar matematika, namun keeratan hubungan
antara keduanya berada pada kategori sangat lemah.

E. Daftar Pustaka

Ekawati,Aminah. 2015. Pengaruh Kecemasan Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas
VII SMPN 13 Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Matematika “Math Didactic”. Banjarmasin.
STKIP PGRI Banjarmasin

Anita, I. Wahyu. 2014. Pengaruh Kecemasan Matematika Terhadap Kemampuan Koneksi


Matematis Siswa SMP. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika. Bandung: STKIP
Siliwangi.

Ashcraft, M. H. 2002. Math Anxiety: Personal, Educational, and Cognitive


Consequenses. Blackwell Publishing Inc.

Depdikbud. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia


Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama dan
Madrasah Tsanawiyah. Berita Negara Republik Indonesia. Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22


Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lampiran: Standar Keterampilan dan Keterampilan Dasar Mata Pelajaran
Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI). Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.

132
Aksioma
Vol. 9, No. 1, Juli 2018
e-ISSN 2579-7646

Ekawati, A. 2015. Pengaruh Kecemasan Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas
VII SMPN 13 Banjarmasin. STKIP PGRI Banjarmasin.

Mahmood, T & Khatoon, S. 2011. Development and Validation of the Mathematics Anxiety
Scale for Secondary and Senior Secondary School Students. British
Journal of Arts and Social Science.

Maulana, A. Sulton. 2013. Penerapan Strategi REACT Untuk Meningkatkan


Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMP. Universitas Pendidikan Indonesia.

Sistyaningtyas, F. 2013. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Prestasi


Belajar Matematika Siswi Kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Kayen Pati. Skripsi.
Surakarta: Universitas Muhammadiyah.

Sudjana, N. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

Suherman, E. 2003. Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: Jica.

Sumiati, E. 2015. Model Pemberdayaan Masyarakat dalam Mempertahankan


Kearifan Lokal. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Susanto, H. Purnomo. 2016. Analisis Hubungan Kecemasan, Aktivitas, dan Motivasi


Berprestasi Dengan Hasil Belajar Matematika Siswa. Pacitan: STKIP PGRI.

Weiss, N. A. 2012. Elementary Statistics. United States of America: Pearson


Education.

Zakaria, E., Nordin, N. Mohd. 2008. The Effects of Mathematics Anxiety on


Matriculation Student as Related to Motivation and Achievement. Eurasia
Journal of Mathematics, Science, & Technology Education

133