Anda di halaman 1dari 59

MAKALAH TENTANG PROMOSI KESEHATAN,PENDIDIKAN KESEHATAN,RUANG

LINGKUP PROMOSI KESEHATAN,DAN PENGERTIAN DOMAIN PERILAKU SERTA


PROSES PERILAKU

Di susun oleh :
NAMA:ROSVITA INDRIAWATI
NPM:019.01.3650
PRODI:S1 KEPERAWATAN
SEMESTER:II

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

MATARAM

TAHUN AKADEMIK 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT,karena dengan rahmat dan karunia-Nya
kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan,oleh sebab
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan
selesainya makalah  ini dapat bermanfaat bagi pembaca.. Amin

Mataram, 15 April 2020.

penulis

2
DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………………………...i

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................5

A. Latar Belakang.....................................................................................................................5

B. Tujuan Promosi Kesehatan..................................................................................................6

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................7

A. Pengertian PromosiKesehatan...........................................................................................7

B. Sasaran Promosi Kesehatan................................................................................................7

C. Strategi Promosi Kesehatan................................................................................................9

D. Metode Promosi Kesehatan..............................................................................................13

E. Media Promosi Kesehatan................................................................................................14

F. Jenis Media Promosi Kesehatan.......................................................................................15

G. Rancangan Pengembangan Media...................................................................................16

H. Langkah-Langkah Pelaksanaan Promosi Kesehatan.......................................................18

BAB III PEMBAHASAN……………………………………………………………………..29

A. Pengertian Pendidikan Kesehatan…………………………………………………….31

B.Prinsip-prinsip Pendidikan Kesehatan…………………………………………………32


C.Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan………………………………………………..32
D.Pengertian Perilaku Kesehatan………………………………………............................32

3
E.Domain Perilaku Kesehatan……………………………………………………………..34
BAB IV PEMBAHASAN………………………………………………………......................35
A.      Pengertian Ruang Lingkup…………………………………………………………38
B.      Pengertian Promosi Kesehatan……………………………………………………..38
C.      RUANG LINGKUP PROMOSI KESEHATAN…………………………………..39

BAB V PEMBAHASAN………………………………………………………………………43

A. Domain Perilaku……………………………………………………………………….43

B. Hubungan Perilaku Dengan Kebiasaan.......................................................................52


C.       Usaha-Usaha Untuk Memperbaiki Perilaku Negatif............................................54
D. Mode-mode prilaku preventif........................................................................................55

BAB VI PENUTUP...................................................................................................................54

A. KESIMPULAN................................................................................................................54

B. SARAN............................................................................................................................56

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................58

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dari konsep pendidikan
kesehatan, yang berlangsung sejalan dengan perubahan paradigm kesehatan masyarakat (public
health). Perubahan paradigma kesehatan masyarakat terjadi antara lain akibat berubahnya pola
penyakit, gaya hidup, kondisi kehidupan, lingkungan kehidupan, dan demografi. Pada awal
perkembangannya, kesehatan masyarakat difokuskan pada faktor-faktor yang menimbulkan
risiko kesehatan seperti udara, air, penyakit-penyakit bersumber makanan seperti penyakit
penyakit lain yang berhubungan dengan kemiskinan dan kondisi kehidupan yang buruk. Dalam
perkembangan selanjutnya, disadari bahwa kondisi kesehatan juga dipengaruhi oleh gaya hidup
masyarakat (Depkes RI., 2004).Aktivitaspromosi kesehatan menurut Piagam Ottawa adalah
advokasi (advocating),pemberdayaan (enabling) dan mediasi (mediating). Selain itu, juga
dirumuskan 5komponen utama promosi kesehatan yaitu: 1) membangun kebijakan public
berwawasan kesehatan (build healthy public policy), 2) menciptakan lingkunganyang
mendukung (create supportive environments), 3) memperkuat gerakanmasyarakat (strengthen
community action), 4) membangun keterampilan individu(develop personal skill), dan 5)
reorientasi pelayanan kesehatan (reorient healthservices). Berdasarkan Piagam Ottawa tersebut,
dirumuskan strategi dasarpromosi kesehatan, yaitu empowerment (pemberdayaan masyarakat),
socialsupport (bina suasana), dan advocacy (advokasi) (WHO, 2009).
Sesuai dengan perkembangan promosi kesehatan tersebut di atas, padatahun 2009 WHO
memberikan pengertian promosi kesehatan sebagai prosesmengupayakan individu-individu dan
masyarakat untuk meningkatkankemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan,sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya. Bertolak dari
pengertian yangdirumuskan WHO tersebut, di Indonesia pengertian promosi
kesehatandirumuskan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
melaluipembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapatmenolong
dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber dayamasyarakat, sesuai dengan

5
budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Depkes RI.,
2004).
Upaya yang dapat dilakukan seorang apoteker di fasilitas kesehatan primer dapatberupa
pelayanan kesehatan promotive (promosi kesehatan), preventive (pencegahan penyakit),
curative (pengobatan penyakit) dan rehabilitation. Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan
yang optimal dibutuhkan tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan, dan sarana
prasarana yang berkualitas (pemulihan kesehatan).Apoteker sebagai salah satu tenaga
kesehatan yang diakui oleh pemerintah, memiliki peran dalam pembangunan kesehatan
terutama kesehatan masyarakat. Apoteker sebagai profesi kesehatan yang memiliki kompetensi
dan keahlian di bidang kefarmasian (sediaan farmasi dan alat kesehatan) bertanggung jawab
dalam penjaminan kualitas dan ketepatan obat pada seluruh proses terkait sediaan farmasi (IAI,
2010).

B. Tujuan Promosi Kesehatan


Tujuan umum dari promosi kesehatan adalah meningkatakan kemampuan individu,
keluarga, kelompok masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang
bersumber dari masyarakat serta terciptanya lingkungan yang kondusif untuk mendorong
terbentuknya kemampuan tersebut.

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian PromosiKesehatan

Promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan kesehatan, yang dilakukan dengan


menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu
dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan sesuatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan (Azwar,1983 ; Machfoedz,etal.,2005).
Tujuan promosi kesehatan sendiri adalah mengubah perilaku masyarakat ke arah
perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, tentunya perubahan perilaku yang
diharapakan setelah menerima promositidak dapat terjadi sekaligus (Herijulianti, 2002).
Menurut (Machfoedz, etal., 2005), Promosi kesehatan merupakan proses perubahan, yang
bertujuan mengubah individu, kelompok dan masyarakat menuju hal-hal yang positif
secara terencana melalui proses belajar. Perubahan tersebut mencakup antara lain
pengetahuan, sikap dan keterampilan melalui proses promosi keseahatan. Adapun tujuan
promosi jangka panjang adalah terciptanya perilaku sehat dan tujuan jangka menengah
adalah terciptanya pengertian, sikap, norma, dan sebagainya. Sedangkan tujuan jangka
pendek ialah tentang jangkauan kelompok sasaran atau bisa juga menyangkut
terlaksananya kegiatan-kegiatan penyuluhan.
B. Sasaran Promosi Kesehatan
Dalam pelaksanaan promosi kesehatan dikenal adanya 3 (tiga)jenis sasaran, yaitu (1)
sasaran primer, (2) sasaran sekunder dan (3)sasaran tersier.
1. Sasaran Primer

Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya adalah pasien, individu
sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagaikomponen dari masyarakat. Mereka ini
diharapkan mengubahperilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat
menjadiperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Akan tetapi disadari bahwamengubah

7
perilaku bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahanperilaku pasien, individu sehat dan
keluarga (rumah tangga) akansulit dicapai jika tidak didukung oleh:Sistem nilai dan norma-
norma sosial serta norma-norma hukum yangdapat diciptakan/dikembangkan oleh para
pemuka masyarakat, baikpemuka informal maupun pemuka formal.

Keteladanan dari para pemuka masyarakat, baik pemuka informalmaupun pemuka


formal, dalam mempraktikkan PHBS.Suasana lingkungan sosial yang kondusif (social
pressure) darikelompok-kelompok masyarakat dan pendapat umum (publicopinion).

Sumber daya dan atau sarana yang diperlukan bagi terciptanyaPHBS, yang dapat
diupayakan atau dibantu penyediaannya olehmereka yang bertanggung jawab dan
berkepentingan (stakeholders),khususnya perangkat pemerintahan dan dunia usaha.

2. Sasaran Sekunder

Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka informal (misalnya
pemuka adat, pemuka agama dan lain-lain) maupun pemuka formal (misalnya
petugaskesehatan, pejabat pemerintahan dan lain-lain), organisasikemasyarakatan dan
media massa. Mereka diharapkandapat turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS
pasien,individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara:Berperan sebagai panutan
dalam mempraktikkan PHBS.Turut menyebarluaskan informasi tentang PHBS
danmenciptakan suasana yang kondusif bagi PHBS.Berperan sebagai kelompok penekan
(pressure group) gunamempercepat terbentuknya PHBS.

3. Sasaran Tersier

Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yangberupa peraturan perundang-
undangan di bidang kesehatandan bidang-bidang lain yang berkaitan serta mereka
yangdapat memfasilitasi atau menyediakan sumber daya. Merekadiharapkan turut serta
dalam upaya meningkatkan PHBSpasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga)
dengancara:

 Memberlakukan kebijakan/peraturan perundang undangan yang tidak merugikan


kesehatan masyarakat dan bahkan mendukung terciptanya PHBS dankesehatan masyarakat.

8
 Membantu menyediakan sumber daya (dana, sarana dan lain-lain) yang dapat
mempercepat terciptanya PHBS di kalangan pasien, individu sehat dan keluarga (rumah
tangga) pada khususnya serta masyarakat luas padaumumnya.

C. Strategi Promosi Kesehatan

Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perludilaksanakan strategi promosi


kesehatan paripurna yangterdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh (2)
binasuasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4)kemitraan.

Pemberdayaan adalah pemberian informasi danpendampingan dalam mencegah dan


menanggulangimasalah kesehatan, guna membantu individu, keluarga ataukelompok-
kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu,mau dan mampu mempraktikkan PHBS.

Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungansosial yang kondusif dan


mendorong dipraktikkannya PHBSserta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi
PHBSdan melestarikannya.

Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasiterhadap pihak-pihak tertentu yang


diperhitungkan dapatmendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segimateri
maupun non materi

9
Gambar 1. Strategi Promosi Kesehatan

1. Pemberdayaan

Dalam upaya promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakatmerupakan bagian yang


sangat penting dan bahkan dapat dikatakansebagai ujung tombak. Pemberdayaan adalah
proses pemberianinformasi kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secaraterus-
menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembanganklien, serta proses membantu
klien, agar klien tersebut berubahdari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek
knowledge), daritahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi
mampumelaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Olehsebab itu, sesuai
dengan sasaran (klien)nya dapat dibedakan adanya(a) pemberdayaan individu, (b)
pemberdayaan keluarga dan (c)pemberdayaan kelompok/masyarakat.

Dalam mengupayakan agar klien tahu dan sadar, kuncinyaterletak pada keberhasilan
membuat klien tersebut memahamibahwa sesuatu (misalnya Diare) adalah masalah baginya
danbagi masyarakatnya. Sepanjang klien yang bersangkutan belummengetahui dan
menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah,maka klien tersebut tidak akan bersedia
menerima informasi apa punlebih lanjut. Saat klien telah menyadari masalah yang
dihadapinya,maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjuttentang masalah
yang bersangkutan.

Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai denganmenyajikan fakta-fakta dan
mendramatisasi masalah. Tetapi selainitu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah
tersebut bias dicegah dan atau diatasi. Di sini dapat dikemukakan fakta yangberkaitan
dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan (misalnyatentang seorang tokoh agama
yang dia sendiri dan keluarganya takpernah terserang Diare karena perilaku yang
dipraktikkannya).

Bilamana seorang individu atau sebuah keluarga sudah akanberpindah dari mau ke
mampu melaksanakan, boleh jadi akanterkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini
kepada yangbersangkutan dapat diberikan bantuan langsung. Tetapi yangseringkali
dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pemberdayaan
kelompok/masyarakat melalui pengorganisasian masyarakat (community organization) atau

10
pembangunan masyarakat(community development). Untuk itu, sejumlah individu dan
keluargayang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasamamemecahkan
kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini punmasih juga memerlukan bantuan
dari luar (misalnya dari pemerintahatau dari dermawan). Di sinilah letak pentingya
sinkronisasi promosikesehatan dengan program kesehatan yang didukungnya danprogram-
program sektor lain yang berkaitan. Hal-hal yang akandiberikan kepada masyarakat oleh
program kesehatan dan programlain sebagai bantuan, hendaknya disampaikan pada fase ini,
bukansebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yangdibutuhkan
masyarakat.

Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melaluikemitraan serta


menggunakan metode dan teknik yang tepat. Padasaat ini banyak dijumpai lembaga-
lembaga swadaya masyarakat(LSM) yang bergerak di bidang kesehatan atau peduli
terhadapkesehatan. LSM ini harus digalang kerjasamanya, baik di antaramereka maupun
antara mereka dengan pemerintah, agar upayapemberdayaan masyarakat dapat berdayaguna
dan berhasilguna.Setelah itu, sesuai ciri-ciri sasaran, situasi dan kondisi, laluditetapkan,
diadakan dan digunakan metode dan media komunikasiyang tepat.

2. Bina Suasana

Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yangmendorong individu


anggota masyarakat untuk mau melakukanperilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan
terdorong untuk maumelakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia
berada(keluarga di rumah, organisasi siswa/mahasiswa, serikat pekerja/karyawan, orang-
orang yang menjadi panutan/idola, kelompokarisan, majelis agama dan lain-lain, dan
bahkan masyarakat umum)menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena
itu,untuk memperkuat proses pemberdayaan, khususnya dalam upayameningkatkan para
individu dari fase tahu ke fase mau, perludilakukan bina suasana.Terdapat tiga kategori
proses bina suasana, yaitu (a) bina suasanaindividu, (b) bina suasana kelompok dan (c) bina
suasana publik.

11
3. Advokasi

Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencanauntuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yangterkait (stakeholders). Pihak-pihak yang
terkait ini berupa tokoh-tokohmasyarakat (formal dan informal) yang umumnya
berperansebagai narasumber (opinion leader), atau penentu kebijakan(norma) atau
penyandang dana. Juga berupa kelompok-kelompokdalam masyarakat dan media massa
yang dapat berperan dalammenciptakan suasana kondusif, opini publik dan dorongan
(pressure)bagi terciptanya PHBS masyarakat. Advokasi merupakan upayauntuk
menyukseskan bina suasana dan pemberdayaan atau prosespembinaan PHBS secara umum.

Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakanmelalui advokasi jarang
diperoleh dalam waktu singkat. Pada dirisasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-
tahapan, yaitu(1) mengetahui atau menyadari adanya masalah, (2) tertarik untukikut
mengatasi masalah, (3) peduli terhadap pemecahan masalahdengan mempertimbangkan
berbagai alternatif pemecahan masalah,(4) sepakat untuk memecahkan masalah dengan
memilih salah satualternatif pemecahan masalah dan (5) memutuskan tindak
lanjutkesepakatan. Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukansecara terencana,
cermat dan tepat. Bahan-bahan advokasi harusdisiapkan dengan matang, yaitu:

 Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi


 Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
 Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
 Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
 Dikemas secara menarik dan jelas
 Sesuai dengan waktu yang tersedia

Sebagaimana pemberdayaan dan bina suasana, advokasi jugaakan lebih efektif bila
dilaksanakan dengan prinsip kemitraan.Yaitu dengan membentuk jejaring advokasi atau
forum kerjasama.Dengan kerjasama, melalui pembagian tugas dan saling-dukung,maka
sasaran advokasi akan dapat diarahkan untuk sampai kepadatujuan yang diharapkan.
Sebagai konsekuensinya, metode dan mediaadvokasi pun harus ditentukan secara cermat,
sehingga kerjasamadapat berjalan baik.

12
4. Kemitraan

Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaanmaupun bina suasana dan
advokasi guna membangun kerjasamadan mendapatkan dukungan. Dengan demikian
kemitraan perludigalang antar individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintahyang
terkait dengan urusan kesehatan (lintas sektor), pemuka atautokoh masyarakat, media massa
dan lain-lain. Kemitraan harusberlandaskan pada tiga prinsip dasar, yaitu (a) kesetaraan,
(b)keterbukaan dan (c) saling menguntungkan.

D. Metode Promosi Kesehatan

Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik Komunikasi,


Sasaran yang dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi.

1. Berdasarkan Teknik Komunikasi


a. Metode penyuluhan langsung.
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan
sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan diskusi
(FGD),pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
b. Metode yang tidak langsung.
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka
dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara (media).
Umpamanya publikasi dalam bentuk media cetak, melaluipertunjukan film, dsb
2. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai
a. Pendekatan Perorangan
Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak
langsung dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah, hubungan
telepon dan lain-lain
b. Pendekatan Kelompok

Dalam pendekatan ini petugas promosi berhubungan dengan sekolompok


sasaran. Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain :
Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain-lain

13
c. Pendekatan Masal
Petugas Promosi Kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepada
sasaran yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan
iniadalah :Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran
tulisan/poster/mediacetak lainnya, Pemutaran film, dll.

3. Berdasarkan Indera Penerima


a. Metode MELIHAT/MEMPERHATIKAN. Dalam hal ini pesan diterima sasaran
melaluiindera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan
Gambar/Photo,Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film
b. Metode PENDENGARAN. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui
inderapendengar, umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll
c. Metode “KOMBINASI”. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat,
didengar,dicium, diraba dan dicoba)
E. Media Promosi Kesehatan

Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai alat
bantu untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium,
untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi. Media promosi
kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi
yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik
(TV, radio, komputer, dan lain-lain) dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat
meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya kearah
positif terhadap kesehatannya.
Adapun tujuan media promosi kesehatan diantaranya (Notoatmodjo, 2005) :
a. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.
b. Media dapat menghindari kesalahan persepsi.
c. Dapat memperjelas informasi
d. Media dapat mempermudah pengertian.
e. Mengurangi komunikasi yang verbalistik
f. Dapat menampilkan obyek yang tidak bisa ditangkap dengan mata.
g. Memperlancar komunikasi.

14
F. Jenis Media Promosi Kesehatan
a. Berdasarkan bentuk umum penggunaan (Notoatmodjo, 2005)
1) Bahan bacaan : Modul, buku rujukan/bacaan, folder, leaflet, majalah, buletin,
dan sebagainya.
2) Bahan peragaan : Poster tunggal, poster seri, plipchart, tranparan, slide, film,
dan seterusnya.
b. Berdasarkan cara produksinya, media promosi kesehatan dikelompokkan menjadi:
1) Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual.
Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau
foto dalam tata warna. Fungsi utama media cetak ini adalah memberi informasi
dan menghibur. Adapun macam-macamnya adalah poster, leaflet, brosur,
majalah, surat kabar, lembar balik, sticker, dan pamflet.
 Kelebihan media cetak diantaranya adalah : a) Tahan lama, b) Mencakup
banyak orang, c) Biaya tidak tinggi, d) Tidak perlu listrik, e) Dapat dibawa
ke mana-mana, f) Dapat mengungkit rasa keindahan, g) Meningkatkan
gairah belajar.
 Kelemahan media cetak yaitu : a) Media ini tidak dapat menstimulir efek
suara dan efek gerak, b) Mudah terlipat (Notoatmodjo, 2005).
2) Media elektronika yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan
didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika.
Adapun macam-macam media tersebut adalah TV, radio, film, video film,
cassete, CD, VCD.
 Kelebihan media elektronika diantaranya : a) Sudah dikenal masyarakat, b)
Mengikutsertakan semua panca indra, c) Lebih mudah dipahami, d) Lebih
menarik karena ada suara dan gambar bergerak, e) Bertatap muka, f)
Penyajian dapat dikendalikan, g) Jangkauan relatif lebih besar, h) Sebagai
alat diskusi dan dapat diulang-ulang.
 Kelemahan media elektronika diantaranya : a) Biaya lebih tinggi, b) Sedikit
rumit, c) Perlu listrik, d) Perlu alat canggih untuk produksinya dan persiapan
matang, e) Peralatan selalu berkembang dan berubah serta perlu

15
keterampilan penyimpanan, f) Perlu terampil dalam pengoperasian
(Notoatmodjo, 2005).
3) Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar ruang
secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis, misalnya: Papan
reklame yaitu poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat secara umum di
perjalanan, spanduk yaitu suatu pesan dalam bentuk tulisan dan disertai gambar
yang dibuat di atas secarik kain dengan ukuran tergantung kebutuhan dan
dipasang di suatu tempat yang strategi agar dapat dilihat oleh semua orang,
pameran, banner dan TV layar lebar (DEPKES RI, 2006).
 Kelebihan media luar ruang diantaranya : a) Sebagai informasi umum dan
hiburan, b) Mengikutsertakan semua panca indra, c) Lebih mudah dipahami,
d) Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak, e) Bertatap muka,
f) Penyajian dapat dikendalikan, g) Jangkauan relatif lebih besar, h) Dapat
menjadi tempat bertanya lebih detail, i) Dapat menggunakan semua panca
indra secara langsung, dan lain-lain.
 Kelemahan media luar ruang diantaranya : a) Biaya lebih tinggi, b) Sedikit
rumit, c) Ada yang memerlukan listrik, d) Ada yang memerlukan alat
canggih untuk produk¬smya, e) Perlu persiapan matang, f) Peralatan selalu
berkembang dan berubah, g) Perlu keterampilan penyimpanan, h) Perlu
keterampil dalam pengoperasian (DEPKES RI, 2006).
G. Rancangan Pengembangan Media
Pada tahap ini dirancang atau direncanakan berbagai strategi dan model intervensi
yang menjelaskan beberapa komponen utama, yaitu :
a. Menetapkan tujuan
Tujuannya adalah suatu pernyataan tentang suatu keadaan di masa datang yang akan
dicapai melalui pelaksanaan kegiatan tertentu (Notoatmodjo,2005).
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan harus :
1) Realistis, artinya bisa dicapai bukan hanya angan-angan.
2) Jelas dan dapat diukur.
3) Apa yang akan diukur.
4) Siapa sasaran yang akan diukur.

16
5) Seberapa banyak perubahan yang akan diukur.
6) Berapa lama dan di mana pengukuran dilakukan.
Penetapan tujuan adalah sebagai dasar untuk merancang media promosi kesehatan
dan dalam merancang evaluasi. Jika tujuan yang ditetapkan tidak jelas dan tidak
operasional maka program menjadi tidak fokus dan tidak efektif
(Notoatmodjo,2005).
b. Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan
dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan. Tujuannya adalah
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan memberikan kepuasan pada
masing-masing segmen. Dapat juga untuk menentukan ketersediaan, jumlah dan
jangkauan produk. Selain itu juga dapat menghitung jenis media dan menempatkan
media yang mudah diakses oleh khalayak sasaran. Sebelum media promosi
kesehatan diluncurkan hendaknya perIu mengumpulkan data sasaran seperti : 1)
Data karakteristik perilaku khalayak sasaran, 2) Data epidemiologi, 3) Data
demografi, 4) Data geografi, 5) Data psikologi (Notoatmodjo,2005).
c. Mengembangkan posisioning pesan
Posisioning adalah suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk
perusahaan, individu atau apa saja dalam alam pikiran mereka yang dianggap
sebagai sasaran atau konsumennya. Posisioning bukan sesuatu yang dilakukan
terhadap produk tetapi sesuatu yang dilakukan terhadap otak calon konsumen atau
khalayak sasaran. Hal ini bukan strategi produk tetapi strategi komunikasi. Di sini
berhubungan dengan bagaimana calon konsumen menempatkan produk kesehatan di
dalam otaknya (Notoatmodjo,2005).
d. Menentukan strategi posisioning
Pada prinsipnya seseorang yang ingin melakukan kegiatan posisioning memerlukan
suatu ketekunan dan kejernihan berpikir dalam memandang produk dan pasar yang
tengah diusahakan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan (Notoatmodjo, 2005).
1) Identifikasi para pesaing.
Tujuannya adalah melakukan identifikasi atas sejumlah pesaing yang ada di
masyarakat.

17
2) Persepsi konsumen.
Tujuannya adalah memperoleh sejumlah atribut yang dianggap penting oleh
khalayak sasaran.
3) Menentukan posisi pesaing.
Mengetahui posisi yang diduduki oleh pesaing dilihat dari berbagai sudut
pandang.
4) Menganalisis preferensi khalayak sasaran.
Mengetahui posisi yang dikehendaki oleh khalayak sasaran terhadap suatu
produk tertentu.
5) Menentukan posisi merek produk sendiri.
Penentuan posisi merek yang akan kita jual harus mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut : analisis ekonomi, komitmen terhadap segmen pasar, jangan
mengadakan perubahan yang penting, pertimbangkan simbol-simbol produk.
6) Ikuti perkembangan posisi.
Secara bersekala posisi produk harus ditinjau dan dinilai kembali apakah masih
cocok dengan keadaan.

e. Memilih Media Promosi Kesehatan.


Pemilihan media adalah jabaran saluran yang akan digunakan untuk menyampaikan
pesan pada khalayak sasaran. Yang perlu diperhatikan di sini adalah :
1) Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran, bukan pada selera
pengelola program.
2) Media yang djpilih harus memberikan dampak yang luas.
3) Setiap media akan mempunyai peranan yang berbeda.
4) Penggunaan beberapa media secara serempak dan terpadu akan meningkatkan
cakupan, frekuensi dan efektifitas pesan (DEPKES RI, 2006).

H. Langkah-Langkah Pelaksanaan Promosi Kesehatan


Langkah-langkah pelaksanaaan promosi kesehatan dibedakan atas dua kelompok,
yaitu (1) langkah-langkah promosi kesehatan di Puskesmas, dan (2) langkah-langkah
promosi kesehatan di masyarakat.

18
1. Langkah-langkah promosi kesehatan di Puskesmas
Pelaksanaan promosi kesehatan diPuskesmas pada dasarnya adalahpenerapan
strategi promosi kesehatan,yaitu pemberdayaan, bina suasana, danadvokasi di tatanan
sarana kesehatan,khususnya Puskesmas. Oleh karenaitu, langkah awalnya adalah berupa
penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas Puskesmas agar
mampu mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang disandang
pasien/klienPuskesmas dan menyusun rencana untuk menanggulanginya darisisi
promosi kesehatan. Setelah itu, barulah dilaksanakan promosi kesehatan sesuai dengan
peluang-peluang yang ada, yaitu peluangpeluangdi dalam gedung Puskesmas dan
peluang-peluang di luargedung Puskesmas.Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis
dari dinas kesehatankabupaten/kota . Oleh karena itu, keberhasilan pelaksanaanpromosi
kesehatan di Puskesmas juga merupakan tanggung jawab dari dinas kesehatan
kabupaten/kota. Dengan demikian, sangatdiperlukan keterlibatan dinas kesehatan
kabupaten/kota dalampelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas, khususnya dalam
langkah penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas
Puskesmas. Petugas Puskesmas harus mendapatpendampingan oleh fasilitator dari dinas
kesehatan kabupaten/kotaagar mampu melaksanakan: (1) Pengenalan Kondisi
Puskesmas,(2) Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas,
(3)Musyawarah Kerja, (4) Perencanaan Partisipatif, (5) PelaksanaanKegiatan dan (6)
Pembinaan Kelestarian.
1) Pengenalan Kondisi Masyarakat

Pengenalan kondisi institusi kesehatan untuk memperoleh data dan informasi


tentang PHBS di Puskesmas tersebut, sebagai data dasar(baseline data). Yang
digunakan sebagai standar adalah persyaratanPuskesmas yang Ber-PHBS (8 indikator
proksi). Pengenalan kondisiPuskesmas ini dilakukan oleh fasilitator dengan dukungan
dariKepala dan seluruh petugas Puskesmas.Pengenalan kondisi Puskesmas dilakukan
melalui pengamatan(observasi), penggunaan daftar periksa (check list),
wawancara,pemeriksaan lapangan atau pengkajian terhadap dokumen-dokumenyang
ada.

2) Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas

19
Pengenalan kondisi Puskesmas dilanjutkan dengan identifikasimasalah, yaitu
masalah-masalah kesehatan yang saat ini dideritaoleh pasien/pengunjung dan masalah-
masalah kesehatan yangmungkin akan terjadi (potensial terjadi) jika tidak diambil
tindakanpencegahan.Masalah-masalah kesehatan yang sudah diidentifikasi
kemudiandiurutkan berdasarkan prioritas untuk penanganannya.

3) Musyawarah Kerja

Musyawarah Kerja yang diikuti oleh seluruh petugas/karyawanPuskesmas,


diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai MawasDiri, sehingga masih menjadi tugas
fasilitator untuk mengawalnya.

4) Perencanaan Partisipatif

Setelah diperolehnya kesepakatan, fasilitator mengadakan pertemuan-pertemuan


secara intensif dengan petugas kesehatanguna menyusun rencana pemberdayaan pasien
dalam tugas masing-masing.Pembuatan rencana dengan menggunakan tabel berikut:

Di luar itu, fasilitator juga menyusun rencana bina suasana yangakan


dilakukannya di Puskesmas, baik dengan pemanfaatan mediamaupun dengan
memanfaatkan pemuka/tokoh. Untuk bina suasanadengan memanfaatkan pemuka/tokoh
digunakan tabel berikut.

5) Pelaksana Kegiatan

20
Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biayaoperasional
seperti pemberdayaan pasien/pengunjung dan advokasidapat dilaksanakan. Sedangkan
kegiatan-kegiatan lain yangmemerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana,
apakah itudana dari Puskesmas, dari pihak donatur atau dari pemerintah.Pembinaan
PHBS di Puskesmas dilaksanakan dengan pemberdayaan,yang didukung oleh bina
suasana dan advokasi.

2. Langkah Promosi Kesehatan Di Masyarakat

Langkah-langkah promosi kesehatan di masyarakat mencakup: (1)Pengenalan


Kondisi Wilayah, (2) Identifikasi Masalah Kesehatan,(3) Survai Mawas Diri, (4)
Musyawarah Desa atau Kelurahan,(5) Perencanaan Partisipatif, (6) Pelaksanaan
Kegiatan dan (7)Pembinaan Kelestarian.

1) Pengenalan Kondisi Wilayah

Pengenalan kondisi wilayah dilakukan oleh fasilitator dan petugasPuskesmas


dengan mengkaji data Profil Desa atau Profil Kelurahandan hasil analisis situasi
perkembangan desa/kelurahan. Data dasaryang perlu dikaji berkaitan dengan
pengenalan kondisi wilayahadalah : Data geografi dan demografi (jumlah RT/RW,
Tingkat pendidikan, Jumlah desa, wilayah dsb), Data Kesehatan (Jumlah kematian bayi,
jumlah ibu hamil, menyusui dan bersalin, jumlah penyakit ISPA, TBC dsb),

2) Survei Mawas Diri

Sebagai langkah pertama dalam upaya membina peransertamasyarakat, perlu


diselenggarakan Survai Mawas Diri, yaitu sebuahsurvai sederhana oleh para pemuka
masyarakat dan perangkat desa/kelurahan, yang dibimbing oleh fasilitator dan petugas
Puskesmas.Selain untuk mendata ulang masalah kesehatan, mendiagnosispenyebabnya
dari segi perilaku dan menggali latar belakangperilaku masyarakat, survai ini juga
bermanfaat untuk menciptakankesadaran dan kepedulian para pemuka masyarakat
terhadapkesehatan masyarakat desa/kelurahan, khususnya dari segi PHBS. Dalam
survai ini akan diidentifikasi dan dirumuskan bersama hal-hal seperti: Masalah-masalah
kesehatan yang masih diderita/dihadapi danmungkin (potensial) dihadapi masyarakat

21
serta urutan prioritas penanganannya, Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-
masalahkesehatan, baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisiperilaku masyarakat.
Dari sisi perilaku, setiap perilaku digalifaktor-faktor yang menjadi latar belakang
timbulnya perilakutersebut.

3) Muswarah Desa/Kelurahan

Musyawarah Desa/Kelurahan diselenggarakan sebagai tindaklanjut Survai


Mawas Diri, sehingga masih menjadi tugas fasilitatordan petugas Puskesmas untuk
mengawalnya. Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan:

 Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatanyang masih


diderita/dihadapi masyarakat.
 Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalah masalahkesehatan yang hendak
ditangani.
 Mencapai kesepakatan tentang UKBM-UKBM yang hendakdibentuk baru atau
diaktifkan kembali.
 Memantapkan data/informasi potensi desa atau potensi kelurahan serta
bantuan/dukungan yang diperlukan danalternatif sumber bantuan/dukungan tersebut.
 Menggalang semangat dan partisipasi warga desa atau kelurahan untuk mendukung
pengembangan kesehatanmasyarakat desa/kelurahan.
 Musyawarah Desa/Kelurahan diakhiri dengan dibentuknya Forum Desa, yaitu sebuah
lembaga kemasyarakatan di mana para pemuka masyarakat desa/kelurahan berkumpul
secara rutin untuk membahas perkembangan dan pengembangan kesehatanmasyarakat
desa/kelurahan.
 Dari segi PHBS, Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan untuk menjadikan masyarakat
desa/kelurahan menyadari adanya sejumlah perilaku yang menyebabkan terjadinya
berbagai masalah kesehatan yang saat ini dan yang mungkin (potensial)mereka hadapi.
4) Perencanaan

Setelah diperolehnya kesepakatan dari warga desa atau kelurahan,Forum Desa


mengadakan pertemuan-pertemuan secara intensifguna menyusun rencana

22
pengembangan kesehatan masyarakatdesa/kelurahan untuk dimasukkan ke dalam
Rencana PembangunanDesa/Kelurahan

5) Pelaksana Kegiatan

Sebagai langkah pertama dalam pelaksanaan kegiatan promosikesehatan,


petugas Puskesmas dan fasilitator mengajak ForumDesa merekrut atau memanggil
kembali kader-kader kesehatanyang ada. Selain itu, juga untuk mengupayakan sedikit
dana (danadesa/kelurahan atau swadaya masyarakat) guna keperluan pelatihankader
kesehatan. Selanjutnya, pelatihan kader kesehatan olehfasilitator dan petugas
Puskesmas dapat dilaksanakan.

Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biayaoperasional


seperti penyuluhan dan advokasi dapat dilaksanakan.Sedangkan kegiatan-kegiatan lain
yang memerlukan dana dilakukanjika sudah tersedia dana, apakah itu dana dari swadaya
masyarakat,dari donatur (misalnya pengusaha), atau dari pemerintah, termasukdari
desa /kelurahan.

Promosi kesehatan dilaksanakan dengan pemberdayaan keluargamelalui Dasawisma,


yang didukung oleh bina suasana dan advokasi.

6) Evaluasi dan Pembinaan Kelestarian

Evaluasi dan pembinaan kelestarian merupakan tugas dari KepalaDesa/Lurah


dan perangkat desa/kelurahan dengan dukungan dariberbagai pihak, utamanya
pemerintah daerah dan pemerintah.Kehadiran fasilitator di desa dan kelurahan sudah
sangat minimal,karena perannya sudah dapat sepenuhnya digantikan oleh
kaderkaderkesehatan, dengan supervisi dari Puskesmas.

Perencanaan partisipatif dalam rangka pembinaan kesehatanmasyarakat desa/kelurahan,


sudah berjalan baik dan rutin sertaterintegrasi dalam proses perencanaan pembangunan
desa ataukelurahan dan mekanisme Musrenbang. Kemitraan dan dukungansumber daya
serta sarana dari pihak di luar pemerintah juga sudahtergalang dengan baik dan
melembaga.Pada tahap ini, selain pertemuan-pertemuan berkala serta

23
kursuskursuspenyegar bagi para kader kesehatan, juga dikembangkancara-cara lain
untuk memelihara dan meningkatkan pengetahuandan keterampilan para kader tersebut.

Pembinaan kelestarian juga dilaksanakan terintegrasi denganpenyelenggaraan Lomba


Desa dan Kelurahan yang diselenggarakansetiap tahun secara berjenjang sejak dari
tingkat desa/kelurahansampai ke tingkat nasional.

Dalam rangka pembinaan kelestarian juga diselenggarakanpencatatan dan pelaporan


perkembangan kesehatan masyarakatdesa/kelurahan, termasuk PHBS di Rumah
Tangga, yang berjalansecara berjenjang dan terintegrasi dengan Sistem
InformasiPembangunan Desa yang diselenggarakan oleh Kementerian DalamNegeri.

 Contoh promosi kesehatan

Contoh Promosi Kesehatan

Perilaku Menyikat Gigi Yang Baik dan Benar


Menyikat adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membersihkan gigi dengan
menggunakan sikat gigi dan pastagigiyangmengandungfluoride. Menyikat gigi bertujuan untuk
membersihkan gigi dari sisa makanan, mencegah dan membersihkan plak, membersihkan
pewarnaan yang menempel pada permukaan gigi, mengaplikasikan pasta gigi yang
mengandung fluor pada gigi serta memijat gusi.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menyikat gigi yaitu :

24
1. Bentuk sikat gigi yang baik.
Bentuk sikat gigi yang baik untuk digunakan adalah bulu sikat gigi lembut dan datar serta
kepala sikat gigi ramping, sehingga mudah mencapai daerah paling belakang. Bulu sikat
gigi yang keras dapat merusakkan gigi dan gusi, sedangkan kepala sikat gigi yang lebar
akan sulit menjangkau daerah paling belakang.

2. Frekuensi menyikat gigi dalam sehari.


Menyikat gigi sebaiknya dilakukan secara teratur 2 kali sehari yaitu pagi sesudah makan
dan malam sebelum tidur menggunakan pasta gigi berfluoride dengan tekanan yang ringan
dan gerakan yang lembut. Pasta gigi berperan penting dalam membersihkandan
melindungi gigi dari kerusakan karena pasta gigi mengandung fluoride.Penggunaan
pastagigitidakperluberlebihankarena yang
terpentingdalammembersihkangigiadalahcaramenyikatgigi.

3. Cara menyikat gigi yang benar.


Menyikat gigi yang benar harus dapat membersihkan semua permukaan gigi agar bebas
dari plak. Menyikat gigi yang terlalu cepat tidak akan efektif membersihkan plak.Menyikat
gigi dengan tekananyangringan dan gerakan yang lembut sudah dapat membersihkan plak
karena plak hanya lapisan lunak. Menyikat gigi dengan tekan terlalu kuat dan gerakan yang
cepat akan merusakkan gigi dan gusi. Menyikat gigi yang tepat dibutuhkan waktu minimal
2 menit. Semua permukaan gigi harus disikat sebanyak 5-10 kali gerakan dengan cara
sebagai berikut :
a. Permukaan gigi yang menghadap ke bibir dan pipi untuk rahang atas disikat dengan
gerakan searah ke bawah dan rahang bawah dengan gerakan searah ke atas.

25
b. Permukaan gigi belakang rahang atas yang menghadap ke langit-langit disikat dengan
gerakan searah ke bawah.

c. Permukaan gigi depan rahang atas yang menghadap ke langit-langit disikat dengan
gerakan menarik ke bawah.

d. Permukaan gigi belakang rahang bawah yang menghadap ke lidah disikat dengan
gerakan searah ke atas.

e. Permukaan gigi depan rahang bawah yang menghadap ke lidah disikat dengan gerakan
menarik ke atas.

f. Semua dataran pengunyah pada gigi rahang atas dan rahang bawah disikat dengan
gerakan maju mundur.

4. Cara memelihara sikat gigi setelah digunakan.


Kebersihansikatgigi harus diperhatikan karena
sikatgigiadalahsalahsatusumbermenempelnya bakteri. Cara pemeliharaan sikat gigi yang
baik setelah digunakan adalah dicuci bersih dan disimpan di tempat yang kering dengan
kepala sikat gigi menghadap ke atas agar bulu sikat gigi cepat kering karena bakteri sangat
menyukai tempat yang lembab. Gantikan sikat gigi 3-4 bulan sekali atau jika bulu sikat

26
gigi sudah rusak. Sikat gigi yang terlalu lama tidak diganti dapat menjadi tempat
berkembangbiaknya bakteri. Apabilakerusakansikat gigiterjadi sebelumberusia3
bulanmerupakantandabahwakita menyikatgigi dengan tekananterlalukuat.

A. Persiapan
Hal yang perlu dipersiapkan dalam promosi untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku
masyarakat tentang menyikat gigi yang baik dan benar adalah :
1. Advokasi kepada pihak-pihak terkait
a. Dinas Kesehatan Kota Kupang
Dinas Kesehatan Kota Kupang agar dapat membantu memperbanyak media promosi
yang sudah dipersiapkan agar dapat menjangkau lebih banyak siswa/I yang melihat
dan membaca, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan perilaku dalam
menyikat gigi secara baik dan benar.
b. Dinas Pendidikan Nasional Kota Kupang
Dapat memasukan materi kesehatan gigi dan mulut diantaranya tentang cara
menyikat gigi yang baik dan benar kedalam kurikulum sekolah.
c. Sekolah Dasar
Pihak sekolah dasar khususnya guru-guru agar dapat membantu mengarahkan
kepada seluruh siswa/I tentang tujuan dan manfaat dari media yang diberikan untuk
dilihat dan dibaca, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan perubahan
perilaku dalam menyikat gigi secara baik dan benar.
2. Tenaga
Petugas kesehatan gigi yang bertugas untuk memberikan promosidan memasang media
promosi disekolah-sekolah dasar.
3. Media
Media yang dipersiapkan dan digunakan dalam promosi ini adalah menggunakan poster
yang berisi gambar-gambardan petunjuk singkat tentang langkah-langkah menyikat gigi
secara baik dan benar.
4. Tempat

27
Media yang telah dipersiapkan (poster), selanjutnya di pasang pada tempat yang
strategis di seluruh sekolah dasar di Kota Kupang, sehingga mudah untuk dilihat dan
dibaca oleh seluruh siswa/I, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan perubahan
perilaku dalam menyikat gigi secara baik dan benar.
B. Pelaksanaan
1. Petugas kesehatan gigi meminta beberapa siswa/I untuk memperagakan cara menyikat
gigi yang biasanya dilakukan dirumah menggunakan alat peraga yang sudah
dipersiapkan (model gigi dan sikat gigi).
2. Petugas kesehatan gigi memberikan promosikepada siswa/I tentang cara menyikat gigi
secara baik dan benar menggunakan alat peraga (model gigi dan sikat gigi).
3. Petugas kesehatan gigi memasang poster yang sudah dipersiapkan pada tempat yang
strategis.
4. Petugas kesehatan menginstruksikan kepada siswa/I agar dapat melihat poster yang
telah dipasang.
C. Evaluasi
Evaluasi program promosiini dilakukan untuk menilai hasil yang dicapai
dibandingkan dengan sumber daya (input) yang digunakan. Evaluasi merupakan
serangkaian kegiatan untuk membandingkan realisasi masukan (input), pencapaian keluaran
(output) dan dampak (outcome) dengan standar atau indikator yang direncanakan. Hasil
evaluasi dapat memberikan gambaran sejauh mana program promosi kesehatan gigi
mencapai tujuannya. Selain itu, hasil evaluasi ini dapat merupakan umpan balik atau
masukan untuk perbaikan atau peningkatan program. Evaluasi mencakup empat hal yakni :
a. Apa yang di evaluasi
Hal yang perlu di evaluasi adalah “output” dan “outcome”.
b. Cara evaluasi
 Membandingkan “output” yang direncanakan dengan “output” yang dicapai.
 Membandingkan “outcome” yang direncanakan dengan “outcome” yang dicapai.
c. Pelaksana evaluasi
Evaluasi dapat dilakukan secara :
 Internal : Kepala Sekolah atau Guru yang diberi wewenang.

28
 Eksternal : Kepala Puskesmas, Tim Pembina Program Promosi Kesehatan Gigi
tingkat Kecamatan, Kabupaten atau Provinsi.

d. Waktu evaluasi
 Untuk evaluasi output dilakukan setahun sekali
 Untuk evaluasi outcome dilakukan 2 tahun sekali.

BAB III
PEMBAHASAN

A.Pengertian Pendidikan Kesehatan


Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol dam
memperbaiki kesehatan individu. Kesempatan yang direncanakan untuk individu, kelompok
atau masyarakat agar belajar tentang kesehatan dan melakukan perubahan-perubahan secara
suka rela dalam tingkah laku individu (Entjang, 1991)
Wood dikutip dari Effendi (1997), memberikan pengertian pendidikan kesehatan merupakan
sejumlah pengalaman yang berpengaruh menguntungkan secara kebiasaan, sikap dan
pengetahuan ada hubungannya dengan kesehatan perseorangan, masyarakat, dan bangsa.

29
Kesemuanya ini, dipersiapkan dalam rangka mempermudah diterimanya secara suka rela
perilaku yang akan meninhkatkan dna memelihara kesehatan.
Menurut Stewart dikutip dari Effendi (1997), unsur program ksehatan dan kedoktern yang
didalamnya terkandung rencana untuk merubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan
tujuan untuk membantu tercapainya program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit
dan peningkatan kesehatan.
Menurut Ottawwa Charter (1986) yang dikutip dari Notoatmodjo S, memberikan pengertian
pendidikan kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang
sempurna, baik fisik, mental dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal dan
mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial, budaya,
dan sebagainya).
Dapat dirumuskan bahwa pengertian pendidikan kesehatan adalah upaya untuk memengaruhi,
dan atau memengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, agar
melaksanakan perilaku hidup sehat. Sedangkan secara operasional, pendidikan kesehatan
merupakan suatu kegiatan untuk memberikan dn atau meningkatkan pengetahuan, sikap, an
praktik masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri
(Notoatmodjo, 2003)

B.Prinsip-prinsip Pendidikan Kesehatan


Pendidikan kesehatan sangat penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain.
Akan tetapi pernyatan ini tidak didukung dengan kenyataan yang ada. karena program
pelayanan kesehatan yang ada kurang melibatkan pendidikan kesehatan. Pendidikan merupakan
‘behavior investment’ jangka panjang. Artinya pendidikan kesehatan baru dapat dilihat
beberapa tahun kemudian. Dalam waktu yang pendek, pendidikan kesehatan hanya
menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan masyarakat. Sedangkan peningkatan
pengetahuan saja belum akan berpengaruh langsung terhadap indikator kesehatan.
Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh terhadap perilaku sebagai hasil jangka menengah dari
pendidikan kesehatan. Selanjutnya akan berpengaruh pada peningkatan indikator kesehatan
masyarakat sebagai keluaran pendidikan kesehatan.

30
C.Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi
sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya, dan dimensi tingkat
pelayanan kesehatan. Dimensi sasaran pendidikan kesehatan dibagi menjadi 3 kelompok :
1)      Pendidikan kesehatan individual
2)      Pendidikan kesehatan kelompok
3)      Pendidikan kesehatan masyarakat
Dimensi tempat pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung di berbagai tempat,
misal disekolah, rumah sakit, tempat kerja, dll. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan dapat
dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan :
1)      Promosi kesehatan (health promotion)
2)      Perlindungan khusus (specific protection)
3)      Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
4)      Pembatasan cacat (disability limitation)
5)      Rehabilitasi (rehabilitation)
D.Pengertian Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang      berkaitan dengan
sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan,  makanan,serta   lingkungan. Bentuk     dari
perilaku tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku   pasif merupakan respon internal dan
hanya dapat dilihat oleh diri sendiri sedangkan    perilaku aktif dapat dilihat oleh orang lain.   
Masyarakat memiliki beberapa macam    perilaku terhadap kesehatan. Perilaku tersebut
umumnya dibagi menjadi dua, yaitu   perilaku sehat dan perilaku sakit. Perilaku sehat yang
dimaksud yaitu perilaku seseorang yang sehat dan meningkatkan kesehatannya tersebut.
Perilaku sehat mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindari dari penyakit
dan  penyebab penyakit atau masalah, atau penyebab masalah (perilaku preventif).
Contoh     dari perilaku sehat ini antara lain makan makanan dengan gizi seimbang, olah
raga        secara teratur, dan menggosok gigi sebelum tidur.
Yang kedua adalah perilaku sakit. Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit atau telah
terkena masalah kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah
kesehatannya. Perilaku ini disebut perilaku pencarian  pelayanan kesehatan (health   seeking

31
behavior). Perilaku ini mencakup tindakan- tindakan yang diambil seseorang bila terkena
masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan melalui sarana pelayanan kesehatan seperti
puskesmas dan rumah sakit.
Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang berhubungan   dengan
kesehatan menjadi tiga, yaitu:
1)      Perilaku kesehatan : hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatannya. Contoh : memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang
dapat mencegah penyakit.
2)      Perilaku sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang
merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Contoh
pengetahuan individu untuk memperoleh keuntungan.
3)      Perilaku peran sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang
sedang sakit untuk memperoleh kesehatan.
Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan  paradigma sehat.
Paradigma sakit adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah  sakit adalah tempatnya
orang sakit. Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk ke  rumah sakit. Ini adalah paradigma
yang salah yang menitikberatkan kepada aspek kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan paradigma
sehat Menitikberatkan pada aspek   promotif dan preventif, berpandangan bahwa tindakan
pencegahan itu lebih baik dan  lebih murah dibandingkan pengobatan.
                   
E.Domain Perilaku Kesehatan
Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.
Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologis pendidikan membagi perilaku manusia itu ke
dalam 3 domain. Pembagian ini dilakukan untuk tujuan  pendidikan. Bahwa dalam suatu
pendidikan adalah mengembangkan atau    meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut,
yakni:
1)      Kognitif
2)      Afektif
3)      Psikomotor
Dalam perkembangannya, Teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan
kesehatan yakni:

32
1)     Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.
Faktor yang memengaruhi pengetahuan seseorang :
1)      Faktor internal : faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat, kondisi fisik
2)      Faktor eksternal : faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, sarana
3)      Faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam
pembelajaran

Ada enam tingkatan domain pengetahuan, yaitu :


1)      Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.
2)      Memahami (Comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
diintepretasikan materi tersebut secara benar.
3)      Aplikasi
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
dan kondisi yang sebenarnya.
4)      Analisis
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-
komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.
5)      Sintesa
Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian
dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
6)      Evaluasi
Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi/objek.

2)   Sikap (Attitude)

33
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus
atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok :
1)      Kepercayaan (keyakinan), ide konsep terhadap suatu objek
2)      Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3)      Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :
1)      Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memerhatikan stimulus yang diberikan
(objek).
2)      Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan
adalah suatu indikasi dari sikap.
3)      Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu
indikasi sikap tingkat tiga.
4)      Bertanggungjawab (Responsible)
Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan
sikap yang paling tinggi.

3.      Praktik atau Tindakan (Practice)


Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik
ini mempunyai beberapa tingkatan :
1)      Persepsi (Perception)
Mengenal dna memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah
merupakan praktik tingkat pertama.
2)      Respon terpimpin (Guide response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah
merupakan praktik tingkat kedua.
3)      Mekanisme (Mecanism)

34
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu
itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.
4)      Adaptasi (Adaptation)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya
tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu. pengukuran
juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan
responden.
Menurut penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku
baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni :
1)      Kesadaran (Awareness)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
(objek).
2)      Tertarik (Interest)
Dimana orang mulai tertarik pada stimulus,
3)      Evaluasi (Evaluation)
Menimbang-nimbang terhadap baik an tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti
sikap responden sudah lebih baik lagi.
4)      Mencoba (Trial)
Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5)      Menerima (Adoption)
Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya
terhadap stimulus.

BAB IV

PEMBAHASAN

35
A.      Pengertian Ruang Lingkup

Dalam sebuah penelitian ruang lingkup bisa berarti pembatasan variable yang digunakan,
berapa banyak subjek yang akan diteliti, luas lokasi penelitian, materi yang dikaji, dan
sebagainya. adanya pembatasan atau ruang lingkup dalam sebuah penelitian penting adanya
karena akan mempengaruhi validitas dari hasil penelitian itu sendiri.

Kemudian ruang lingkup secara khusus juga digunakan untuk membatasi materi dari
sebuah ilmu. Misalnya saja ilmu psikologi  memiliki ruang lingkup psikologi dasar, psikologi
kepribadian, psikologi kesehatan, psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi dewasa, dan
sebagainya. dalam setiap cabang dapat dibeberkan ruang lingkupnya masing-masing. Misalnya
psikologi kesehatan memiliki ruang lingkup kesehatan jiwa, psikologi pasien di rumah sakit,
psikologi kehamilan, gangguan psikologi, dan sebagainya. dari contoh di atas dapat diambil
pelajaran mengenai makna ruang lingkup secara khusus.

B.      Pengertian Promosi Kesehatan

Menurut WHO, Promosi kesehatan adalah proses atau upaya pemberdayaan masyarakat
untuk dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Untuk mencapai keadaan sehat, seseorang atau kelompok harus mampu mengidentifikasi dan
menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah atau mengendalikan lingkungan
(Piagam Ottawwa, 1986).

            Jadi, ruang lingkup promosi kesehatan adalah suatu proses atau upaya pemberdayaan
masyarakat untuk dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya dalam suatu batasan –
batasan baik ilmu maupun subjeknya.

C.      RUANG LINGKUP PROMOSI KESEHATAN

Secara sederhana ruang lingkup promosi kesehatan diantaranya sebagai berikut :

36
a.                Promosi kesehatan mencakup pendidikan kesehatan (health education) yang
penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan
dan kemampuan.

b.               Promosi kesehatan mencakup pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya


pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye.

c.                Promosi kesehatan adalah upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang
tekanannya pada penyebaran informasi.

d.               Promosi kesehatan merupakan upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada


upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

e.                Promosi kesehatan mencakup upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk
mempengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan
kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana dan lain-lain di
berbagai bidang /sektor, sesuai keadaan).

f.                Promosi kesehatan adalah juga pengorganisasian masyarakat (community organization),


pengembangan masyarakat (community development), penggerakan masyarakat (social
mobilization), pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll

Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoadmodjo, ruang


lingkup promosi kesehatan dapat dilihat dari dimensi aspek pelayanan kesehatan, dimensi
tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi kesehatan dan dimensi tingkat pelayanan.

a.      Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan

Secara umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup empat aspek pokok, yakni:
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif

1.  Pelayanan promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan), adalah pelayanan bagi
kelompok masyarakat yang sehat, agar kelompok itu tetap sehat bahkan meningkat status
kesehatannya.

37
2.   Pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitative (pemulihan kesehatan), adalah pelayanan
kelompok masyarakat yang sakit, agar kelompok ini sembuh dari sakitnya dan menjadi pulih
kesehatannya.

b.  Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Berdasarkan Tatanan Pelaksanaan

Ruang lingkup promosi kesehatan ini dikelompokkan menjadi :

1.      Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)


Keluarga merupakan tempat dasar berkembangnya perilaku manusia. Dalam pelaksanaan
promosi kesehatan di keluarga sasaran utamanya adalah orang tua (ibu), dimana ibu merupakan
seseorang yang memberikan perilaku sehat kepada anak-anaknya sejak lahir 

2.      Promosi kesehatan pada tatanan sekolah


Sasaran promosi kesehatan di sekolah adalah guru, karena guru merupakan pengganti orang tua
pada waktu di sekolah. Sekolah merupakan tempat utuk memberikan perilaku kesehatan kepada
anak. Sekolah dan lingkungan sekolah yang sehat sangat tepat untuk berperilaku sehat bagi
anak

3.      Promosi kesehatan ditempat kerja.

Sasaran promosi kesehatan adalah karyawan, yang berperan sebagai promotor kesehatan adalah
pemimpin perusahaan dan sektor kesehatan. Salah satunya dengan memberikan fasilitas tempat
kesehatan yang baik bagi prilaku sehat karyawan atau pekerjanya.

4.      Promosi kesehatan di tempat-tempat umum

Di tempat-tempat umum (seperti pasar, terminal bus, stasiun) perlu dilaksanakan promosi
kesehatan, yaitu dengan cara menyediakan fasilitas yang dapat mendukung perilaku sehat
pengunjungnya, bisa dengan memberikan poster dan selebaran mengenai cara-cara menjaga
kebersihan.

5.      Pendidikan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan

Tempat-tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, poliklinik, dsb,


merupakan tempat yang strategis untuk melakukan pelayanan kesehatan. Pelaksanaan promosi

38
kesehatan ini dapat dilakukan secara individual oleh para petugas kesehatan kepada pasien atau
keluarga yang ada di tempat pelayanan kesehatan tersebut.

c. Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan

Pada ruang lingkup tingkat pelayanan kesehatan promosi kesehatan dapat dilakukan
berdasarkan lima tingkat pencegahan (five level of prevention) dari Leavel and Clark.

1.      Promosi kesehatan ( health promotion)

Dalam tingkat ini dilakukan pendidikan kesehatan, misalnya dalam peningkatan gizi,
kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan seperti penyediaan air rumah tangga yang baik,
perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran, air limbah, hygiene perorangan, rekreasi, sex
education, persiapan memasuki kehidupan pra nikah dan persiapan menopause. Usaha ini
merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya.
Beberapa usaha di antaranya :

a.  Penyediaan makanan sehat cukup kwalitas maupun kwantitasnya.

b. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan,seperti : penyediaan air rumah tangga yang
baik,perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran dan air limbah dan sebagainya.

c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat

d. Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang baik.

2.   Perlindungan khusus (specific protection)

Program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus, pendidikan


kesehatan. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai
perlindungan terhadap penyakit pada dirinya maupun anak-anaknya masih rendah. Selain itu
pendidikan kesehatan diperlukan sebagai pencegahan terjadinya kecelakaan baik ditempat-
tempat umum maupun tempat kerja. Penggunaan kondom untuk mencegah penularan
HIV/AIDS, penggunaan sarung tangan dan masker saat bekerja sebagai tenaga kesehatan.
Beberapa usaha lain di antaranya :

a. Vaksinasi untuk mencegah penyakit-penyakit tertentu.

39
b. Isolasi penderitaan penyakit menular .

c. Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat-tempat umum maupun di tempat kerja.

3.   Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)

Karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan


penyakit, maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di masyarakat. Bahkan
kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Hal ini
dapat menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatn yang layak. Oleh sebab
itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan dalam tahap ini. Pemeriksaan pap smear,
pemeriksaan IVA, sadari sebagai cara mendeteksi dini penyakit kanker. Bila dengan deteksi ini
ditemui kelainan maka segera dilakukan pemeriksaan diagnostic untuk memastikan diagnosa
seperti pemeriksaan biopsy, USG atau mamografi atau kolposcopy. Tujuan utama dari usaha ini
adalah :

a. Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepat-cepatnya dari setiap jenis penyakit sehingga
tercapai penyembuhan yang sempurna dan segera.

b. Pencegahan penularan kepada orang lain, bila penyakitnya menular.

      c. Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan sesuatu penyakit.

     Beberapa usaha deteksi dini di antaranya :

a.       Mencari penderita di dalam masyarakat dengan jalam pemeriksaan : misalnya pemeriksaan


darah,roentgent paru-paru dan sebagainya serta segera memberikan pengobatan.

b.      Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit yang telah
berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact person) untuk diawasi agar derita
penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan dan tindakan-tindakan lain yang perlu
misalnya isolasi,desinfeksi dan sebagainya.

c.       Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala penyakit pada
tingkat awal dan segera mencari pengobatan. Masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau

40
tindaknya usaha pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta keahlian
tenaga kesehatannya,melainkan juga tergantung pada kapan pengobatan itu diberikan.

   Pengobatan yang terlambat akan menyebabkan :

Usaha penyembuhan menjadi lebih sulit,bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi misalnya
pengobatan kanker (neoplasma) yang terlambat.

a.       Kemungkinan terjadinya kecacatan lebih besar.

b.      Penderitaan sakit menjadi lebih lama.

c.       Biaya untuk perawatan dan pengobatan menjadi lebih besar

4. Pembatasan cacat (disability limitation)

Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan
penyakit, maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan
kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan cacat atau ketidak mampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga
diperlukan pada tahap ini. Penanganan secara tuntas pada kasus-kasus infeksi organ reproduksi
menjegah terjadinya infertilitas.

5. Rehabilitasi (rehabilitation)

Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat, untuk
memeulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan latihan tertentu. Oleh karena
kurangnya pengetian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak akan segan melakukan latihan-
latihan yang dianjurkan. Disamping itu orang yang cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang-
kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima
mereka sebagai anggota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan
diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu pendidikan kesehatan

41
pada  masyarakat. Pusat-pusat rehabilitasi bagi korban kekerasan, rehabilitasi PSK, dan korban
narkoba. Rehabilitasi ini terdiri atas :

a.       Rehabilitasi fisik

Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimal-maksimalnya.


Misalnya,seseorang yang karena kecelakaan,patah kakinya perlu mendapatkan rehabilitasi dari
kaki yang patah ini sama dengan kaki yang sesungguhnya.

b.      Rehabilitasi mental

Yaitu agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri dalam hubungan perorangan dan social
secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badaniah muncul pula
kelainan-kelainan atau gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan
bimbingan kejiwaan sebelumm kembali ke dalam masyarakat.

c.       Rehabilitasi sosial vokasional

Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat dengan
kapasitas kerja yang semaksimal-maksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak
mampuannya.

d.      Rehabilitasi aesthesis

Usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan untuk mengembalikan rasa keindahan,walaupun


kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya :
penggunaan mata palsu.

Usaha mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat,memerlukan bantuan dan


pengertian dari segenap anggota masyarakat untuk dapat mengerti dan memahami keadaan
mereka (fisik,mental dan kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses
penyesuaian dirinya dalam masyarakat,dalam keadaannya yang sekarang. Sikap yang
diharapkan dari warga masyarakat adalah sesuai dengan falsafah pancasila yang berdasarkan
unsur kemanusiaan yang sekarang ini. Mereka yang direhabilitasi ini memerlukan bantuan dari
setiap warga masyarakat,bukan hanya berdasarkan belas kasihan semata-mata,melainkan juga
berdasarkan hak asasinya sebagai manusia.

42
BAB V
PEMBAHASAN

       A. Domain Perilaku
Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.
Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologis pendidikan membagi perilaku manusia itu ke
dalam 3 domain. Pembagian ini dilakukan untuk tujuan pendidikan. Bahwa dalam suatu
pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yakni:
1. Kognitif
2. Afektif
3. Psikomotor
Dalam perkembangannya, Teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan
kesehatan yakni:
1. Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan. (knowledge)
2. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang
diberikan. (attitude)
3. Tindakan atau praktek yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi
pendidikan yang diberikan. (practice)
Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada domain
kognitif, dalam arti subjek tahu lebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek
di luarnya. Oleh karena itu menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan
selanjutnya menimbulkan respons batin dalam bentuk sikap si subjek terhadap objek yang
diketahui itu. Pada akhirnya, rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari
sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa
tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tadi. Akan tetapi, di
dalam kenyataan stimulus yang diterima oleh subjek dapat langsung menimbulkan tindakan,

43
artinya, seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru dengan mengetahui terlebih dahulu
terhadap makna stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain, tindakan (practice) seseorang
tidak harus disadari oleh pengetahuan atau sikap.
1.       Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia
yakni, indra penglihatan, pendengaran, penciuman, raba dan rasa. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang. Proses yang terjadi pada saat seseorang mengadopsi perilaku baru secara berurutan (
Rogers, 1974), yaitu:
1. Awareness (kesadaran), orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih
dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah
mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial (mencoba), subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai denbgan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
5. Adoption (berperilaku baru), subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Penerimaan perilaku baru yang didasari oleh pengetahuan akan menyebabkan perilaku baru
yang bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak disadari oleh
pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama.
a. Tingkat pengetahuan di Dalam Domain Kognitif.
1. Tahu (know)
 Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari .

 Termasuk tingkat pengetahuan yang paling rendah yakni mengingat kembali terhadap
suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

44
 Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: 
menyebutkan,menguraikan, mendefinisikan,  menyatakan.

 Contoh : menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dari protein pada anak balita.

2. Memahami (comprehension).
 Merupakan kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan 
dapat menginterpretasikan  materi tersebut secara benar.

 Orang yang telah paham harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,


menyimpulkan.

 Contoh : dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan yang bergizi.

3. Aplikasi (aplication)
 Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi
real (sebenarnya).

 Dapat diartikan  sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode dan
prinsip.

 Misalnya: Dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan hasil penelitian, dapat
menggunakan prinsip siklus pemecahan masalah di dalam pemecahan masalah kesehatan dari
kasus yang diberikan.
4. Analisis (analysis)
 Merupakan kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitan satu sama lain.

 Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja :

  dapat menggambarkan (membuat bagan)


  membedakan
  memisahkan
  mengelompokan.
5. Sintesis (synthesis)
 Merupakan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di
dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.( menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi
yang ada).

45
 Misalnya :  dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan dan menyesuaikan terhadap
suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
 Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi  atau
objek.

 Penilaian berdasarkan kriteria sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.

 Misalnya :        Dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak
kekurangan gizi.
Dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat.
Dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB.
b. Pengukuran pengetahuan
Pengetahuan dapat diukur berdasarkan isi materi dan kedalaman pengetahuan. Isi
materi dapat diukur dengan metode wawancara atau angket sedangkan kedalaman pengetahuan
dapat diukur berdasarkan tingkatan pengetahuan.
2. Sikap
Sikap masih merupakan reaksi tertutup, tidak dapat langsung dilihat , merupakan
kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas.
Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat dikutipkan sebagai berikut :
“An enduring system of positive or negative evaluations, emotional feelings and pro or
conection tendencies will respect to social object” (Krech et al, 1982)
“An individual’s social attitude is an syndrome of respons consistency with regard to social
objects.” (Cambell, 1950)
“A mental and neural state of rediness, organized through expertence, exerting derective or
dynamic influence up on the individual’s respons to all objects and situations with which it is
related”. (Allpor, 1954)
“Attitute entails an existing predisposition to respons to social abjects which in interaction with
situational and other dispositional variables, guides and direct the obert behavior of the
individual.” (Cardno, 1955)
Dari batasan-batasan diatas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat
langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.

46
Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus
sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan
kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup bukan
merupakan reaksi terbuka tingkah laku yang terbuka. Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap
merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap
objek. (Lihat diagram)
Sikap terdiri dari 3 komponen pokok, Allport (1954):
1. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu obyek

2. Kehidupan emosional  terhadap suatu obyek

3. Kecenderungan untuk bertindak

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total


attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi
memegang peranan penting. Suatu contoh seorang ibu telah mendengarkan penyakit polio
(penyebabnya, akibatnya, pencegahannya, dan sebagainya). Pengetahuan ini akan membawa
ibu untuk berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena polio.
Dalam berpikir ini, komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut
berniat akan mengimunisasikan anaknya untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena polio.
Sehingga ibu ini mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang berupa penyakit polio ini.
a. Tingkatan Sikap.
1.         Menerima (receiving).
Orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang  diberikan (objek).
Misalnya : Sikap orang terhadap gizi dapat terlihat dari kesediaan dan
perhatian terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.
2.         Merespon (responding).
Merespon yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas
yang diberikan. Usaha tersebut menunjukkan bahwa orang  menerima ide.
3.         Menghargai (valuing).

47
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
Misalnya :  Seorang ibu mengajak ibu lainnya (tetangga, saudara dsb) untuk pergi
menimbangkan anaknya  ke posyandu.
Berdasarkan contoh diatas, ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap  gizi anak.
4.         Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko.
Bertanggung jawab merupakan sikap yang paling tinggi.
Misalnya : seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari mertua
atau orang tuanya
b. Pengukuran sikap :
 Secara langsung  dapat ditanyakan bagaimana  pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek.
Misalnya : bagaimana pendapat Anda tentang pelayanan di Rumah Sakit ?.
 Secara tidak langsung dapat dibuat pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian
ditanyakan pendapat responden.
Contoh :Apabila rumah ibu luas, apakah boleh dipakai untuk kegiatan  posyandu ? Jawaban :
( setuju , tidak setuju )
3. Tindakan (Praktek)
Tindakan merupakan suatu perbuatan nyata yang dapat diamati atau dilihat. Suatu
sikap belum otomatis terwujud dalam bentuk tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya
sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang
memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Sikap ibu yang sudah positif terhadap imunisasi tersebut harus mendapat konfirmasi
dari suaminya, dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai, agar ibu tersebut
mengimunisasikan anaknya. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan
(support) dari pihak lain, misalnya suami atau isteri, orang tua atau mertua sangat penting untuk
mendukung praktek keluarga berencana.
a. Tingkatan praktek
1.    Persepsi (perception)
Persepsi merupakan mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan  yang 
akan diambil.

48
Misalnya : Ibu dapat memilih makanan yang bergizi untuk                            anak balitanya.
2.     Respon terpimpin (guided response).
Respon terpimpin yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan  sesuai
dengan contoh.
Misalnya : Ibu memasak sayur dengan benar, yaitu mulai dari cara mencuci, memotong dan
lamanya memasak.
3.      Mekanisme (mecanism).
Mekanisme yaitu dapat melakukan  dengan benar, secara otomatis/ kebiasaan
Misalnya : Mengimunisasikan bayinya tanpa  perintah atau ajakan
orang lain.
4.       Adopsi (adoption).
Adopsi merupakan tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Dengan kata lain, dapat
memodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Misalnya : ibu dapat memilih dan memasak makanan yang bergizi
tinggi berdasarkan bahan- bahan yang murah dan sederhana
b. Pengukuran praktek :
1.      Tidak langsung : wawancara terhadap kegiatann yang telah dilakukan beberapa jam,hari
atau bulan yang lalu.
2.      Langsung :mengobservasi  tindakan atau kegiatan  responden.

B. Hubungan Perilaku Dengan Kebiasaan


a.        Perilaku

Perilaku adalah sebuah rangkayan tindakan yang dilakukan oleh seorang individu demi
menyikapi stimulus dari luar tubuhnya sebagai respon dari rangsangan yang dia terima.
Perilaku juga menjadi kajian ilmu psikologi dikarenakan perilaku merupakan tingkah laku
manusia yang paling bisa diamati dan diukur secara langsung.
Hal-hal yang mempengaruhi perilaku atau kebiasaan:
1.        Pengalaman pribadi

49
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus
meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila
pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan
emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2.        Kebudayaan
B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan)
dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang
konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki.
Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan
perilaku yang lain.
3.        Orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang
yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk
berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting
tersebut.
4.        Media massa. Sebagai sarana komunikasi
berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam
pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan
sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam
mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5.        Institusi Pendidikan dan Agama
Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam
pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral
dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh
dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-
ajarannya.
6.        Faktor emosi dalam diri
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi
seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi
yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme

50
pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah
hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama.
contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.

b.        Kebiasaan

Kebiasaan adalah sebuah pola perilaku yang sudah tertata sesuai dengan karakteristik
seseorang yang dimana ditanamkan oleh seorang individu dalam dirinya atau memang sudah
ada demi menghadapi masalah atau persoalan yang dihadapinya. Kebiasaan juga merupakan
serangkayan pola perilaku yang khas dan berulang-ulang. Perilaku dan kebiasaan sangatlah erat
keterkaitannya, yang dimana sebuah kebiasaan tidak akan dibentuk tanpa adanya sebuah pola
perilaku yang dilakukan secara beruang-ulang dan teratur.
Hal-hal yang mempengaruhi faktor kebiasaan samahalnya dengan perilaku, akan tetapi
jika sebuah perilaku itu tidak dilakukan secara teratur dan berulang dalam sebuah tindakan
menghadapi sesuatu, maka hal tersebut tidak akan menjadi sebuah pola kebiasaan seseorang.
Misalkan seorang anak yang berperilaku baik dan sopan karena berhadapan dengan seorang
guru atas dasar kebutuhan sesaat saja, maka perilaku itu tidak akan menjadi sebuah kebiasaan
jika dia tidak menganggap sikap itu penting untuk selalu diterapkan dalam kehidupannya. Akan
tetapi jika seorang anak berperilaku sopan kepada seorang guru karena memang dia
menganggap hal tersebut penting terhadap seseorang yang seharusnya dia hargai maka hal itu
akan menjadi kebiasaan dia untuk berperilaku sopan didepan gurunya atau orang lain yang dia
hargai.

C.       Usaha-Usaha Untuk Memperbaiki Perilaku Negatif

Perilaku negatif
Perilaku negative adalah sebuah tindakan atau kebiasaan yang menyimpang dari aturan
moral atau norma yang terdapat dalam lingkungan tersebut yang dipandang kurang baik.
Adapun faktor yang menyebabkan perilaku negative diantaranya ada fakto internal dan
eksternal:

51
Faktor imternal:
1.        Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri individu memungkinkan terjadinya dua
bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya.
Kedua, tercapainya identitas peran. Adapun orang yang berperilaku negatif adalah orang yang
gagal dalam  pencapaian integrasi ke dua.
2.        Kontrol diri yang lemah
individu yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat
diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku negatif. Begitupun bagi
individu yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa
mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya..
adapun faktor eksternal adalah faktor-faktor keseharian yang bisa didapat oleh indifidu dalam
kehidupanya:
1. Lingkungan keluarga
2. Teman interaksi
3. Lingkungan dimana dia tinggal

D. Mode-mode prilaku preventif

1.      Meneladani seorang figure yang baik


Sepertihalnya perilaku  negatif yang sebagian besar didapat dari teman interaksi, maka
demikian pula untuk mengatasi hal ini yaitu dengan meneladani atau mencontoh individu lain
yang memiliki karakter positif.
2.      Motifasi dari luar
Motifasi atau dorongan mental dari luar mungkin diperlukan untuk dukungan individu
melakukan perilaku yang positif, dimana individu akan lebih percaya diri dan terdorong untuk
melakukan hal yang lebih baik.
3.      Memilih atau menentukan lingkungan sosial

52
Kita ketahui lingkukngan sosialah yang mengambil perannan penting dalam pembentukan
sikap seseorang. Dengan memilih lingkungan yang lebih baik, tentunya akan mendorong
individu lain untuk menyesuaikan kearah yang lebih baik pula.
4.      Keinginan dan motifasi diri
Bagi seseorang yang sudah bertekad dan memotifasi dirinya untuk meninggalkan perilaku
negatif, dia pasti akan terdorong dari segi moralnya dan akan berusaha untuk mengubah
sikapnya melalui diri sendirinya dan akan memilih pula interaksi yang mendorong niatnya.
5.      Mengefektifkan fungsi dan peranan lembaga-lembaga sosial 
Lembaga-lembaga sosial yang dimaksud adalah polisi, pengadilan, sistem adat dan tokoh
masyarakat. Lembaga-lembaga sosial ini ber- fungsi mengawasi setiap tindakan masyarakat
agar senantiasa sesuia dengan nilai dan norma.
6.      Memberikan pendidikan baik formal atau formal di keluarga dan dimasyarakat. 
Pendidikan formal berbentuk sekolah. Sekolah hendaknya menjadi bagian integral dari
masyarakat sekitarnya. Seseuai dengan asas pendidikan seumur hidup, sekolah hendaknya
memiliki dwifungsi yaitu mampu memberikan formal dan pendidikan nonformal yang 102
Sosiologi untuk SMA dan MA kelas X z berorientasikan pada pembangunan dan kemajuan
sehingga dapat menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai
bekal hidupnya.
7.      Meningkatkan pendidikan moral dan etika. 
Pendidikan moral tujuannya yaitu untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma baik yang
dianut secara kelompok ataupun secara masyarakat.

53
BAB VI

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan mempunyai peranan penting
dalam promosi kesehatan dengan tujuan mengubah perilaku masyarakat ke arah
perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.Strategi
promosi kesehatan yang dapat diakukan diantaranya adalah dengan dilakukanya (1)
pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi
oleh semangat (4)kemitraan. Diharapkan melalui promosi kesehatan yang dilakukan
dapat meningkatkan pengetahuan dan kesehatan masyarakat.

54
Adapun kesimpulan dari makalh diatas adalah sebagai berikut :
1.      Bahwa peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku
sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilia-nilai kesehatan.
2.      konsep pendidikan kesehatan adalah proses belajar pada individu, kelompok stsu
msdyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu
mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu, dan lain sebagainya.
3.      Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku menjadi 3 domain
yaitu :
§  Pengetahuan
§  Sikap atau tanggapan
§  Praktek
4.      Bentuk perilaku kesehatan :
§  Pasif, artinya mengetahui namun belum melaksanakan
§  Aktif, artinya mengetahui dan melaksanakannya serta dapat diobservasi
                
Ruang lingkup dapat diartikan sebagai suatu pembatasan variable, luas maupun
subjek. Sedangkan promosi kesehatan adalah proses atau upaya pemberdayaan masyarakat
untuk dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Jadi ruang lingkup promosi
kesehatan adalah suatu proses atau upaya pemberdayaan masyarakat untuk dapat memelihara
dan meningkatkan kesehatannya dalam batasan – batasan baik ilmu maupun subjeknya.

Dalam ruang lingkup promosi kesehatan dapat dibagi menjadi tiga yaitu, ruang lingkup
berdasarkan aspek kesehatan, ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan
pelaksanaan, ruang lingkup berdasarkan tingkat pelayanan. Berdasarkan aspek kesehatan dibagi
menjadi empat aspek yaitu promotif, preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan
rehabilitative. Berdasarkan tatanan pelaksaan dikelompokan menjadi, promosi kesehatan pada
tatanan keluarga (rumah tangga), pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah, pendidikan
kesehatan di tempat kerja, pendidikan kesehatan di tempat-tempat umum, pendidikan kesehatan
pada fasilitas pelayanan kesehatan. Sedangkan berdasarkan tingkat pelayanan dibagi menjadi
lima tingkat pencegahan yaitu, promosi kesehatan, perlindungan khusus (specific protection),

55
diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat
(disability limitation), rehabilitasi (rehabilitation).

Domain Perilaku
Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologis pendidikan membagi perilaku
manusia itu ke dalam 3 domain. Pembagian ini dilakukan untuk tujuan pendidikan.
1. Kognitif
2. Afektif
3. Psikomotor
Dalam perkembangannya, Teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan
kesehatan yakni:
1. Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan. (knowledge)
2. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang
diberikan. (attitude)
3. Tindakan atau praktek yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi
pendidikan yang diberikan. (practice)
Hubungan Perilaku Dengan Kebiasaan
Perilaku adalah sebuah rangkayan tindakan yang dilakukan oleh seorang individu demi
menyikapi stimulus dari luar tubuhnya sebagai respon dari rangsangan yang dia terima.
Kebiasaan adalah sebuah pola perilaku yang sudah tertata sesuai dengan karakteristik
seseorang yang dimana ditanamkan oleh seorang individu dalam dirinya atau memang sudah
ada demi menghadapi masalah atau persoalan yang dihadapinya.
Usaha-Usaha Untuk Memperbaiki Perilaku Negatif
faktor yang menyebabkan perilaku negative:
1.      Krisis identitas
2.      Kontrol diri yang lemah
3.      Lingkungan keluarga
4.      Teman interaksi
5.      Lingkungan dimana dia tinggal
Mode-mode prilaku preventif

56
1. Meneladani seorang figure yang baik
2. Motifasi dari luar
3. Memilih atau menentukan lingkungan sosial
4. Keinginan dan motifasi diri
5. Mengefektifkan fungsi dan peranan lembaga-lembaga sosial 
6. Memberikan pendidikan baik formal atau formal di keluarga dan dimasyarakat. 
7. Meningkatkan pendidikan moral dan etika. 

B. SARAN
Promosi kesehatan yang dilakukan apoteker dapat dilakukan secara berkala
sehingga masyarakat dapat mengetahui informasi kesehatan yang terbaru. Selain itu,
promosi kesehatan yang dilakukan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Promosi kesehatan juga dapat melibatkan organisasi, lembaga maupun perusahaan
swasta sehingga lebih massal dan cepat dalam penyebaran informasi kepada
masyarakat.

      Saran yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa pendidikan kesehatan itu perlu untuk
diterapkan dalam masyarakat Indonesia. Dengan adanya pendidikan kesehatan, masyarakat
Indonesia dapat bertindak sesuai dengan ketentuan dalam kesehatan sehingga dapat mencegah
terjadinya penyakit-penyakit yang membahayakan diri sendiri.
      Meskipun hasilnya akan terlihat dalam beberapa tahun kedepan, namun pendidikan ini baik
adanya untuk membantu masyarakat Indonesia terlepas dari serangan penyakit serta terhindar
dari tindakan pencegahan yang membahayakan.

57
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI.,2004, Pusat Promosi Kesehatan, Pengembangan Media Promosi


Kesehatan, Jakarta
Departemen Kesehatan RI.,2008,Pusat Promosi Kesehatan, Panduan Pelatihan Komunikasi
Perubahan Perilaku,Untuk KIBBLA, Jakarta
Departemen Kesehatan RI.,2008,Pusat Promosi Kesehatan, Pedoman Pengelolaan Promosi
Kesehatan, DalamPencapaian PHBS, Jakarta Depkes RI., 2004,
PedomanPenyelenggaraan Usaha Kesehatan mencuci tangan Sekolah, Dirjen Yan
Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

58
Depkes RI., 2008, Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Machfoedz, I.; Suryani, E ; Sutrisno ; Santoso, S., 2005, Pendidikan Kesehatan Bagian dari
Promosi Kesehatan, Fitramaya, Yogyakarta.
Notoatmodjo, S., 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, S.; Hassan, A.; Hadi, E. N.; Krianto, T., 2012, Promosi Kesehatan Di Sekolah,
Rineka Cipta, Jakarta.
WHO., 1992, Pendidikan Kesehatan; Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar (terj.), ITB,
Bandung.

http://siskaningtyasp.blogspot.co.id/2014/04/makalah-tentang-pendidikan-kesehatan.html
http://mhs.blog.ui.ac.id/putu01/2012/06/01/perilaku-masyarakat-terhadap-kesehatan/
http://luv2dentisha.wordpress.com/2010/05/08/domain-perilaku/
http://ciciimutblog.blogspot.com/2011/11/pendidikan-dan-perilaku/
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2,
Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

Effendy,nasrul.1998.Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran EGC

Maulana, Herry.( 2007 ). Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC

Notoatmodjo, Soekidjo.(2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Jakarta : Rineka Cipta. EGC

Mubarak. Nurul. Khoirul. Supradi. 2007. Proomosi kesehatan. Graha Ilmu. Yogyakarta

Astiti, Dwi.(2012).Promosi Kesehatan. (diakses tanggal 30 Agustus 2014 pukul 20.00 wita)

Andessi.(2012).Makalah Promkes. (diakses tanggal 30 Agustus 2014 pukul 20.00 wita)

Dian.Husada.(2012).Ruang Lingkup Promosi Kesehatan. (diakses tanggal 30 Agustus 2014 pukul


20.00 wita)

59