Anda di halaman 1dari 19

RESUME BUKU FALSAFAT AGAMA

HARUN NASUTION 3rd EDITION (TAHUN TERBT 1973)


FILSAFAT AGAMA || DR IRWANDRA M.A

Disusun oleh : Afina Binti Mohammad Borhan (11830325292)


Prodi : Studi Agama-Agama
Kelas : SAA/4B
Fakultas : Usuluddin

BAB I
FALSAFAT AGAMA || EPISTIMOLOGI || WAHYU

            Falsafah agama adalah untuk membincangkan pemikiran mengenai

kebenaran asas agama sehingga dapat memberi pengertian yang dapat diterima

kepada orang yang tidak mempercayai wahyu dan hanya berpegang pada

pendapat akal. Dalam hal ini, pemikir tidak dapat dipisahkan dari perasaan

agamanya. Pengertian berdasarkan logik dan memberi kepuasan kepada perasaan,

tetapi begitu juga pendekatan rasional terhadap agama akan memperkuatkan iman

seseorang.

BAB 2
EPISTIMOLOGI

            Epistimologi adalah ilmu yang membahas apa itu pengetahuan dan

bagaimana vcara memperoleh pengetahuan? Menurut pandangan Harun Nasution

semua teori-teori yang ada di ranah epistimologi sebenarnya tidak membawa

1
kepada pengetahuan yang benar-benar menguatkan pada keyakinan bahwa apa

yang diketahui adalah benar-benar sesuai dengan fakta-fakta yang nyata.

pengetahuan tentang alam materi, kebenarannya masih diragukan oleh banyak

filosof yang skeptis. Sehingga menurut Al-Ghazali akal tidak dapat

mengantarkannya pada keyakinan, akan tetapi qalb lah yang dapat

mengantarkannya sampai pada keyakinan (Makrifat) dalam paham tasawuf.

BAB 3:
PENGETAHUAN AGAMA

Pengetahuan agama diperoleh dengan mempergunakan bahan bahan materi seperti

berikut:-

1. Bukti-bukti historis

            Bukti-bukti yang dimaksud adalah keterangan-keterangan penulis sejarah

yang diakui keahlian dan dipercayai kebenarannya dan sejarah itu ditulis pada

saman mereka masih hidup atau tidak lama sesudah zaman mereka. Apabila tidak

ada bukti-bukti historis maka figur yang dimaksud dapat diragukan kebenarannya.

2. Argumen-argumen rasional

            Dalam memperoleh pengetahuan keagamaan mengenai wujud Tuhan,

hidup sesudah mati, kekekalan hidup manusia dan lain-lain mengunakan argumen

2
rasional. Dan tidak sependapat jika pengetahauan keagamaan hanya berdasar pada

wahyu dan tradisi.

3. Pengalaman pribadi

            Pengalaman ini terjadi pada kalangan mistik dengan latihan tertentu yang

dapat mempertajam kekuatan, sehingga dengan hati nurani mereka dapat melihat

dan berkomunikasi dengan Tuhan. Pengalaman ini berlaku pada semua agama,

juga tidak hanya satu orang saja yang dapat mengalaminya sehingga tidak mudah

menolak kebenarannya.

BAB 4

WAHYU DAN AL-QUR’AN || KEBENARAN WAHYU

Agama Islam membuktikan kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu dengan

keterangan-keterangan yaitu

a. Al-Qur’an tidak dapat ditiru oleh manusia yang diterangkan dalam Q.S AL-

Baqarah: 23-24.

3
b. Gaya dan bahasa hadits Nabi tidak dapat menandingi ketingian dan kemurnian

Al-Qur’an

c. Ramalan-ramalan dalam Al-Qur’an, seperti keterangan ilmu pengetahaun

Sebagai memperkukuhkan lagi penyataan tersebut, kebenaran fakta-fakta ini

dibuktikan ilmu pengetahuan modern, sekiranya hal-hal ini tidak diwahyukan oleh

Allah Swt, maka Nabi tidak akan mengetahui fakta-fakta tersebut.

BAB 5

KONSEP KETUHANAN

            Konsep tentang Tuhan berbagai rupa, oleh sebab itu falsafat agama merasa

penting mempelajari perkembangan paham-paham yang berbeda-beda itu.

pembahasan ini dimulai oleh falsafat agama dengan mempelajari paham kekuatan

gaib yang ada dalam agama-agama primitif.

4
1. DINAMISME

            Memperoleh mana sebanyak-banyaknya dengan memakan benda-benda

yang disangka mempunyai mana atau ahli sihir dengan berbagai mana. Jadi,

kepercayaan ini beranggapan dengan keyakinan terhadap suatu benda yang

memiliki kekuatan luar biasa atau gaib.

2. ANIMISME

             Kepercayaan terhadap roh nenek moyang atau gaib sehingga dilakukanlah

seruntut persembahan, sesajen atau pemberian korban untuk arwahnya, guna

menjalin persahabatan supaya roh tersebut tidak marah terhadap penganutnya.

Dalam animisme, roh tersebut masih samar alias tidak jelas.

3. POLITEISME

Menyembah atau mempercayai Tuhan lebih dari satu atau sebanyak-

banyaknya. Sebut saja dewa-dewa dengan tugasnya masing-masing dan

kedudukannya yang berbeda-beda. Sehingga bentuk dan sifatnya lebih jelas serta

memiliki kepribadian setiap dewanya.

4.   HENOTEISME

5
            Paham tuhan utama atau paling tertinggi kedudukannya dibandingkan

tuhan yang lainnya. Paham tuhan utama ini meningkat menjadi satu, paham ini

tidak mengingkari adanya tuhan-tuhan lain bagi agama-agama lain. Akan tetapi,

paham ini menganggap tuhan-tuhan lain sebagai musuh atau saingan dari

tuhannya. Paham ini merupakan kaum Yahudi.

5. MONOTEISME

            Mempercayai tuhan-tuhan agama lain tidak diakui lagi, sehingga hanya

tuhannya lah yang patut disembah, karena menganggap tuhan lain adalah sebagai

syaitan.

6. DEISME

            Tuhan hanya menciptakan alam dan kemudian meninggalkan alam, lalu

beroperasi menurut hukum-hukum alam yang telah ditentukannya. Apabila alam

rusak, maka alam perlu tuhan untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Menurut

deisme bahwa akal seharusnya sesuai dengan wahyu dan karena itu wahyu tidak

perlu dan manusia tidak berhajat padanya. Akal dapat mengetahui apa yang baik

dan buruk. Sehingga orang tidak perlu berdo’a dan meminta bantuan Tuhan untuk

mengurus kehidupannya di dunia.

7. FANTEISME

6
            Semua yang ada dalam keseluruhan alam ini adalah Tuhan dan Tuhan

adalah semua yang ada dalam keseluruhannya. Segala sesuatu yang ditangkap

oleh pancaindera adalah bagian dari Tuhan.

8. TEISME
            Berkeyakinan bahwa Tuhan adalah dasar dari segala sesuatu yang ada dan

terjadi di alam ini. oleh sebab itu, teisme mengakui adanya mukjizat.

9. NATURALISME

            Alam berdiri sendiri dengan sempurna, beredar dan beroperasi menurut

sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya sendiri. Alam ini tidak berasal dari dan

tidak bergantung pada kekuatan gaib.

10. ATEISME

            Kepercayaan bahwa tuhan itu tidak ada. Karena mengapa segala sesuatu

diciptakan jika pada akhirnya dihancurkan, terjadinya kekacauan dan kejahatan di

muka bumi. Jadi berpendapat bahwa alam ini ada karena dengan sendirinya dan

beredar menurut peraturan yang ada dalam dirinya.

11. AGNOTEISME

            Paham yang dengan tegas mengatakan bahwa tuhan itu ada dan paham

dengan tegas bahwa tuhan itu tidak ada, ada pula paham yang ragu-ragu tentang

adanya tuhan.

7
BAB 6
PERKEMBANGAN PAHAM TUHAN DALAM MASYARAKAT ARAB

JAHILIYAH

            Masyarakat Arab sebelum memeluk Islam, sejarah menjelaskan bahwa

terdapat paham animisme, politeisme dan monoteisme. Dalam uraian yang dapat

disimpulkan bahwa paham kaum hanif adalah tuhan seluruh manusia dan tuhan

seluruh alam. Perkembangan paham ketuhanan masyarakat Arab Jahiliyah tidak

meningkat dari politeisme kepada henoteisme, tetapi langsung kepada

monoteisme. Paham monoteisme dibawa agama hanifah atau Nabi Ibrahim As

yang disempurnakan dan disucikan kembali segala kesamaran-kesamaran dengan

wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw.

ARGUMEN-ARGUMEN ADANYA TUHAN


BAB 7: ARGUMEN ONTOLOGIS

            Manusia mampu berpikir tentang sesuatu atau zat yang tidak ada satupun

dari yang ada dapat melebihi dan mengatasi kebesarannya. Zat yang demikian

harus mempunyai wujud dalam hakikat tidak cukup hanya mempunyai wujud

dalam pikiran. Sebab bila hanya mempunyai wujud dalam pikiran, zat tersebut

tidak lebih besar dan tidak lebih sempurna dari yang lain. Berwujud dalam alam

hakikat lebih besar dan lebih sempurna daripada hanya berwujud dalam alam

pikiran. Zat yang Mahabesar dan Mahasempurna tersebut tak lain adalah Tuhan

8
dan karena sesuatu yang terbesar dan tersempurna tidak boleh tidak harus

mempunyai wujud (dalam hakikat), maka Tuhan mesti ada.

BAB 8
ARGUMEN KOSMOLOGIS

            Argumen sebab-akibat. Sesuatu yang terjadi di alam ini, pasti ada

sebabnya. Sebab itulah yang menjadikan adanya atau terjadinya sesuatu itu. Sebab

alam lebih wajib dan ada daripada alam itu sendiri. Sesuatu yang menyebabkan

terjadinya alam ini, bisa dipastikan Yang Kuasa, Maha Besar atau disebut juga to

aperion. Yang Kuasa (Sebab Utama) ini tidak disebabkan oleh sebab yang lain.

Dia bersifat qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Kritik. Tuhan itu mesti ada

dalam arti wajib al wujud atau necessary beng, pertanyaannya “Adakah Tuhan?”

tidak ada pula artinya Tuhan mesti ada, bahwa wujud Tuhan itu tidak berhajat

pada bukti. Ini adalah suatu hal yang jelas dengan sendirinya, tidak memerlukan

bukti.

BAB 9
ARGUMEN TEOLOGIS

            Kesimpulan dari argumen ini adalah alam ini mempunyai tujuan dalam

evolusinya. Alam sendiri tidak bisa menentukan tujuan itu, yang harus

menentukannya suatu zat yang lebih tinggi dari alam itu sendiri, yaitu Tuhan.

Terdapat kritikkan alam tidak mempunyai tujuan atau alasan-alasannya sebagai

berikut.

9
 Permukaan bumi ada yang subur, ada padang tandus. Apa perlunya?

 Dalam diri manusia ada usus buntu yang tidak ada perlunya bahkan berbahaya

 Anak-anak banyak mati semasa kecl? Apa perlunya?

 Gempa bumi, bahaya kelaparan, perang, penyakit menular dan sebagainya,

apa perlunya semua ini?

 Bangsa-bangsa musnah dari permukaan bumi, seperti India Amerika. Apa

perlunya?

 Ringkasnya: apa perlunya kejahatan yang ada dalam alam?

BAB 10
ARGUMEN MORAL
            Inti sederhananya yaitu apabila manusia merasa dalam dirinya terdapat

bisikan atau perintah mutlak untuk mengerjakan yang baik dan meninggalkan

yang buruk dan perintah tersebut telah ada sejak lahir bukan berasal dari

pengalaman empiris, maka pastilah perintah itu berasal dari zat yang mengetahui

baik dan buruk. Zat tersebut tentu adalah Tuhan.

            Kritik bertolak pangkal pada adanya perasaan moral yang tertanam dalam

jiwa manusia dan yang berasal dari luar manusia. Tetapi tidak semua orang

percaya dengan pendapat ini, karena ada yang tidak percaya terhadap norma-

norma moral tertentu atau yang objektif.

ROH

10
BAB 11
KEABADIAN PERIBADI ATAU HIDUP SESUDAH MATI

            Tidak ada bukti-bukti bahwa otak bersifat produktif dengan kata lain

bahwa otak itulah sebenarnya yang berpikir. Karena tidak ada bukti ini,

kemungkinan timbul bahwa otak bersifat transmissif, tegasnya, yang berpikir itu

bukanlah otak tetapi sesuatu kekuatan di belakang otak yang mempunyai wujud,

tersendiri, tidak mestilah akal atau jiwa itu hancur dengan matinya badan. Karena

tidaklah harus hancur dan matinya badan, ada kemungkinan bagi akal atau jiwa

untuk hidup terus. Dengan kata lain, keabadian pribadi manusia tidaklah mati

bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern karena masalah ini terletak pada

luar bidang ilmu pengetahuan.

            Pendapat agama jiwalah yang merupakan kepribdian kekal dengan

jelasnya lagi bahwa jiwalah yang akan hidup kekal sesudah mati, perlunya

dipelajari teori-teori jiwa yang ada dalam filsafat. Dan pemahaman filsadat

umumnya sepemahaman dengan agama.

BAB 12:
KONSEP ROH DALAM FALSAFAT YUNANI

 Anaximenes ( ± 585 - ± 528 SM).

Roh adalah udara yang halus sekali yang memelihara keutuhan

badan, badan akan hancur, tentunya dengan perlahan-lahan.

11
 Heraclitus ( ± 540 - ± 460 SM).

Roh manusia tersusun dari api yang halu sekali. Kualitas roh

bergantung pada keadaan api yang menjadi dasarnya, jika roh terdiri api

yang sekeirng-keringnya maka roh tersebut roh sebersih-bersihnya.

 Democritus (± 460 - ± 360 SM).

Roh tersusun dari atom yang sehalus-halusnya dan sebersih-

bersihmya, berbentuk bundar dan licin dan tersebar di seluruh badan

manusia. Setelah manusia mati, atom tersusun menjadi roh itu tercerai berai

dan bersebar di undara hingga suatu ketika berkumpul lagi menjadi roh

dalam tubuh manusia yang lain.

 Plato (± 460 - ± 347 SM)

Roh manusia tidak tersusun dari zat materi yang halus, melainkan

dari zat yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera. Setelah ruh bersatu

dengan badan mempunyai tiga bagian: pertama bagian yang mempunyai

nafsu keduniaan dan bertempat diperut, kedua bagian yang mempunyai sifat

keberanian dan bertempat di dada, dan ketiga bagian rasional yang

mempunyai fungsi berfikir dan bertempat di kepala.

 Aristoteles (± 384 - ± 322 SM)

Roh terdapat tiga macam; ruh tumbuh-tumbuhan (vegetative soul),

ruh binatang (animal soul), dan ruh manusia (human soul). Sehingga ruh

adalah prinsip hidup dan kekuatan yang menggerakan badan. Masing-masing

12
dari ketiga macam ruh tersebut mempunyai daya (kekuatan) tertentu. Ruh

tumbuh-tumbuhan mempunyai daya makan dan berkembang biak, ruh

binatang juga daya yang pada tumbuhan serta daya bergerak dan daya

menangkap, sedangkan ruh manusia juga memiliki daya yang dimiliki

binatang dan tumbuhan juga memiliki daya berpikir.

 Plotinus (203-269 M).

Berpendapat bahwa konsep roh mempunyai hubungan erat dengan

teorinya mengenai emanasi. Esensi roh adalah kekal karena badan tidak

mempunyai pengaruh pada roh dan yang tersebut akhir ini akan kembali

untuk selama-lamanya ke alam roh. Karena tidak tersusun dari materi dan

tiduk juga bentuk dari materi.

BAB 13

KONSEP ROH DALAM FALSAFAT ISLAM

 Al-farabi (872-952). 

Pahamnya terpengaruh oleh filsafat Plato, Aristotetles dan plotinus.

Menurut pendapatnya mengenai 10 akal juga berpikir tentang Yang Maha

Satu dan tentang dirinya sendiri. Tetapi di sini berhentilah wujud akal.

Akal yang dipancarkan ialah roh-roh dan benda-benda yang ada di bawah

bulan, termasuk dalam roh manusia. Roh manusia timbul sebagai pancaran

dari Yang Maha Satu, sama dengan Aristoteles bahwa roh manusia

mempunyai daya-daya, makan, memelihara, dan berkembang tersimpul

dalam daya gerak. Selanjutny adaya menangkap dengan panca indera dan

13
imajinasi yang tersimpul dalam daya mengetahui serta daya akal praktis

dan daya akal teoritis. Mengenai kekekalan roh sebenarnya tidak jelas,

terbukti dari argumennya yang menyatakan roh yang mempunyai daya

perolehan (daya teoritis) yang akan kekal. Ada pun jiwa masih ada

tingkatan material, akan hancur dengan hancurnya badan,

 Ibnu Sina (980-1037) 

Pemikiran yang seiring dengan pemikiran Aritoteles dan Al-Farabi.

Menurut pendapatnya roh manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan

mempunyai wujud terlepas dari badan. Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama

dengan jiwa (nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena

dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang

nyata. Jiwa (ruh) merupakan kesempurnaan awal, artinya, jiwa merupakan

kesempurnaan awal bagi tubuh. Sebab, tubuh sendiri merupakan prasyarat

bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa jika aktual di dalam tubuh

dengan satu perilaku dari berbagai perilaku  dengan mediasi alat-alat tertentu

yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh yang melaksanakan

berbagai fungsi psikologis.

 Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) 

Nafs yang mencapai kesempuraan di dunia akan hidup senang

(masuk surga) di akhirat. Ada pun nafs yang berpisah dengan badan sebelum

14
mencapai kesempurnaan yaitu nafs yang masih terikat dengan kehendak

jasm

BAB 14

KONSEP ROH DALAM FALSAFAH KRISTIAN || BARAT || MODERN

A. Kristen

            St. Augustine berpendapat bahwa baginya badan adalah penjara bagi roh

dan sumber dari segala kejahatan. Roh diciptakan Tuhan dsn bersipat hidup kekal.

Senang dan susahnya roh setelah kematian tergantung kedekatan seseorang

dengan Tuhan.

            Thomas Acquinus berpendapat bahwa baginya roh tidak bersifat materi.

Roh tidak akan mati dengan matinya badan dan akan terus hidup aktif. Setelah

berpisah dengan badan, roh manusia akan membentuk badan baru yang bersifat

spiritual bagi dirinya dan dengan badan baru inilah roh akan hidup kekal.

B. Barat

            Francis Bacon membagi roh dalam dua bagian, kesatu bersifat ilahi dan

rasional, dan yang kedua bersifat  sensitif. Bersifat ilahi tidak menjadi

pembahasan ilmu pengetahuan tetapi khusus menjadi urusan agama. Roh yang

bersifat sensitiflah masuk dalam bidang ilmu pengetahuan, roh ini memiliki unsur

materi tetapi karena halusnya sehingga tidak dapat dilihat. Pusatnya ialah kepala

manusia.

15
            Descrates berpendapat bahwa roh adalah bagian dari Tuhan sebagai zat

absolut sehingga tidak hancur karena hancurnya badan. Artinya roh tidak tunduk

terhadap badan sekali pun hancur, maka hal ini dapat menjawab persoalan

mengenai roh dan ilmu pengetahuan modern.

            Spinoza berpendapat bahwa Tuhan adalah satu-satunya substansi, roh

hanya merupakan satu aspek dari Tuhan. Karena itu, roh tidak akan hancur, sebab

roh hanya tunduk pada hukum spiritua bukan ilmu pengetahuan modern.

            Immanuel Kant berpendapat roh tidak dapat dibuktikan oleh ilmu

pengetahuan modern tetapi akal tidak dapat menolak adanaya roh. Adanya roh

penting untuk teori hukum moral yang memerintah manusia berbuat baik, akan

tetapi puncak kebaikan itu tidak dapat dicapai di dunia, melainkan kehidupan

sesudah mati. Untuk hidup kekal perlu adanya roh dan juga roh harus bersifat

kekal.

            Modern berpendapat bahwa manusia tersusun semata-mata dari materi,

yang berpikir dalam diri manusia bukanlah roh atau akal, tetapi adalah otak

manusia yang bersifat materi.

BAB 15

KONSEP ROH DALAM AL-QUR’AN

            Pendapat para filsuf tentang roh dengan tegas Allah Swt menjawab dengan

firman-Nya Q.S Al-Isra: 85 ertinya: 

“Mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah: “Roh adalah

urusan Tuhan dan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit”.

16
            Manusia akan mempunyai kehidupan kedua dan akan mempunyai tubuh

dalam Q.S Al-Isra: 49-51 artinya: 

“Dan mereka berkata: “Apakah jika kami telah menjadi tulang dan

hancur akan dibangkitkan kembali menjadi ciptaan baru? Katakan:

“Jadilah batu atau besi atau ciptaan lain besar yang ada dalam

pikiranmu.” Mereka akan berkata: “Siapa yang akan mengembalikan

kami?” Katakan: “Yang menciptakan kamu pertama kali.”

Di samping itu Q.S Al-Fajr: 27-30 mengatakan bahwa rohlah yang akan masuk

syurga artinya: 

“Hai jiwa yang tentram. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa se

nang dan disenangi. Masuklah ke antara hamba-hamba-Ku. Masuklah ke

dalam Surga-Ku.”

           

SOAL KEJAHATAN DAN KEMUTLAKAN TUHAN

BAB 16 : SOAL KEJAHATAN

            Kejahatan terdapat dalam alam, ada dua macam mengenai kejahatan yaitu

yang ditimbulkan oleh natur seperti bencana alam dan yang ditimbulkan oleh

tingkah laku manusia seperti perbuatan jahat.  Kejahatan ini memberikan dampak

terhadap persoalan filosofis bahwa Tuhan bukanlah sebenarnya bersifat baik atau

Tuhan tidak berkuasa untuk menentang dan meniadakan kejahatan. Sehingga

pemikiran manusia menyimpulkan bahwa Tuhan itu tidak ada sebagai pencipta

alam. Bagi falsafat Yunani, Aristoteles berpendapat bahwa Tuhan itu bukan

17
pencipta tapi penggerak utama. Adanya alam bersamaan dengan adanya Tuhan.

Jadi, kejahatan dalam alam tidak dipermasalahkan.

 Agama Zoroaster berkeyakinan bahwa alam itu dikuasai oleh dua Tuhan,

keduanya saling terjadi peperangan di mana salah satu Tuhan selalu

membawa pada hal kebaikan, keselamatan dan kesehatan, sedangkan Tuhan

yang satunya lagi terus berupaya pada hal keburukan, kehancuran dan

penyakit. Oleh paham dualisme ini, kejahatan tidak begitu dipersoalkan

karena memang hal itu diwujudkan oleh salah satu Tuhan.

 Menurut Monoteisme Tuhan berkuasa mutlak bahwa tidak suatu pun yang

tidak dapat dibuat oleh Tuhan. Kejahatan sebenarnya hanya sebuah ilusi dan

khayalan manusia semata, Tuhan tidak bisa berbuat jahat karena segala

sesuatu yang datang adalah Yang Maha Baik.

 Evolusionisme memandang bahwa kejahatan itu perlu ada unntuk mencapai

kebaikan dan kesempurnaan artinya kerusakan atau kehancuran dibina yang

baru di atasnya.

 Panteisme mengatakan bahwa segala sesuatu hakikatnya sama, artinya tidak

ada yang baik dan buruk karena konsep tersebut dibuat oleh manusia.

            Tuhan bersifat infinit bahwa segala-galanya terdapat Tuhan, hakikatnya

adalah tidak ada perbedaan terhadap semua yang ada. Sifat-sifat terbatas tidak

dapat diletakkan pada diri Tuhan karena sifat baik dan jahat diciptakan oleh

manusia. Jadi Tuhan tidak dapat dikatakan baik dan jahat

18
            Tuhan memberikan kemerdekaan dan pertanggungjawa kepada manusia.

Kejahatan mesti ada di dunia di samping dengan kebaikan, karena manusia dapat

memilih antara surga dan neraka antara baik dan jahat.

BAB 17

KEKUASAAN SERTA KEHENDAK MUTLAK TUHAN DAN

KEBEBASAN MANUSIA

            Jadi, kaum free will Barat sependapat dengan Qadariyah dan Mu’tazillah

Islam dalam memandang Tuhan sebagai bersifat terbatas kehendak-Nya atau

Finit. Dalam mengatasi persoalan yang ditimbukan keyakinan mereka bahwa

manusia mempunyai kebebasan dalam kehendak dan perbuatan,

19