Anda di halaman 1dari 2

14.

SYAIKH MUHAMMAD BABA AS-SAMASI

Abu Madian Syekh Muhammad Baba as-Samasi dilahirkan di Sammas, sebuah desa di
pinggiran Ramitan, tiga mil dari Bukhara. Beliau mengalami kemajuan dalam perjalanannya
dengan memahami Ilmu dalam al-Qur‟an, menghafalkan al-Qur‟an dan Hadits Rasulullah
saw. Kemudian beliau mulai mempelajari Teologi Spekulatif, Logika, Filosofi („ilm al-
Kalam) dan Sejarah, sampai beliau dijuluki ensiklopedia berjalan bagi segala bidang ilmu dan
seni. Beliau mengikuti Syaikh Ali ar-Ramitani al-‟Azizan dan terus-menerus berperang
melawan dirinya sendiri. Beliau melakukan khalwat setiap hari sampai mencapai maqam
kemurnian sehingga Syaikhnya diizinkan untuk memberikan ilmu hakikat ke dalam hatinya.
Beliau menjadi sangat terkenal dengan kekuatan ajaib dan ketinggian maqam kewaliannya.
Syaikh „Ali Ramitani memilih beliau sebagai penerusnya sebelum beliau meninggal dan
memerintahkan semua murid untuk mengikutinya.
Beliau pernah berkata ketika melewati sebuah desa di Qasr al-„Arifan, “Dari tempat ini
Aku mencium wangi seorang walil yang akan muncul dan dari namanyalah seluruh thariqat
ini akan dikenal.” Suatu hari beliau melewati desa itu dan berkata, “Aku mencium aroma
yang sangat kuat, seolah-olah wali itu telah lahir.” Tiga hari berselang, kakek dari seorang
anak mengunjungi Syekh Muhammad Baba as-Samasi dan berkata, “Ini adalah cucuku.”
Beliau lalu berkata kepada para pengikutnya, “Bayi ini adalah Pemegang Ilmu tarekat telah
kuceritakan kepada kalian. Aku lihat di masa depan dia akan menjadi pemimpin ummat
manusia. Rahasianya akan menggapai seluruh orang-orang shaleh. Ilmu laduni dan Ilmu
hakikat yang telah dicurahkan oleh Allah kepadanya akan memasuki setiap rumah di Asia
Tengah. Nama Allah swt akan terukir (Naqsh) dalam hatinya. Dan thariqat ini akan dinamai
dengan ukiran tersebut.”
Syekh Muhammad Baba as-Samasi berkata”Para ahli tarekat harus selalu berusaha
untuk mematuhi Perintah Allah swt, dan dia harus selalu berada dalam keadaan suci. Pertama
dia harus mempunyai hati yang bersih sehingga tidak akan berpaling kepada apa pun kecuali
Allah . Selanjutnya dia harus menjaga agar bagian dalam tubuhnya tetap suci, dan tidak
diperlihatkan kepada orang lain. Yaitu melihat dengan pandangan yang benar. Kesucian dada
(sadr), terdiri atas harapan dan kepuasan terhadap Kehendak Ilahi. Kemudian kesucian jiwa,
yang terdiri atas kesederhanaan dan penghormatan yang tinggi. Kemudian kesucian perut
dengan hanya memakan makanan yang halal. Diikuti dengan kesucian badan yaitu dengan
meninggalkan keinginan. Diikuti dengan kesucian tangan yang terdiri atas keshalehan dan
ikhtiar. Kemudian kesucian dari dosa yaitu dengan menyesali kesalahan yang telah
dilakukan. Selanjutnya kesucian lidah, yang terdiri atas zikir dan istighfar. Kemudian dia
harus mensucikan dirinya dari kelalaian dan kealfaan, dengan mengembangkan ketakutan
terhadap Akhirat.” ”Kita harus selalu beristighfar, berhati-hati dalam segala urusan,
mengikuti langkah orang-orang yang shaleh, dan menjaga hati dari segala godaan.” ”Jadilah
orang yang terbimbing dengan ajaran Syaikhmu, sebab ajaran itu dapat menyembuhkanmu
secara langsung dan lebih efektif daripada membaca buku.” ”Kalian harus menjaga hubungan
baik dengan seorang Wali. Dalam hubungan itu kalian harus menjaga hatimu dari gosip dan
tidak boleh berbicara di tengah kehadirannya dengan suara yang keras, kalian juga tidak perlu
menyibukkan diri dengan shalat dan ibadah sunnah ketika sedang bersamanya. Jagalah
kebersamaanya dalam segala hal. Jangan berbicara ketika mereka sedang berbicara.
Dengarkan apa yang mereka katakan. Jangan melihat apa yang mereka miliki di rumah,
terutama di kamar dan dapurnya. Jangan berpaling kepada Syaikh yang lain tetapi yakinlah
bahwa Syaikhmu akan membuatmu tiba di tujuanmu. Jangan menyambungkan hatimu
dengan Syaikh yang lain, bisa saja kalian akan terluka karena melakukan hal itu.
”Suatu ketika Aku bertemu dengan Syaikhku, Syaikh „Ali ar-Ramitani . Ketika Aku
memasuki menemuinya, beliau berkata kepadaku, „Wahai anakku, Aku kirimkan keinginan
mi‟raj ke dalam hatimu‟ Segera setelah beliau mengatakan hal itu beliau menempatkan diriku
ke dalam keadaan dengan panorama spiritual, di mana Aku melihat diriku berjalan siang dan
malam, dari negriku menuju Masjid al-Aqsa, Aku memasuki masjid dan Aku melihat
seseorang yang bepakaian serba hijau di sana. Beliau berkata kepadaku, „Selamat datang,
kami telah menantimu sejak lama.‟ Aku berkata, „Wahai Syaikhku, Aku meninggalkan
negriku pada tanggal sekian. Tanggal berapa sekarang?‟ Beliau menjawab, „Hari ini adalah
27 Rajab.‟ Aku sadar bahwa Aku telah melakukan perjalanan selama 3 bulan untuk mencapai
masjid itu, dan yang membuatku terkejut adalah bahwa Aku tiba di malam yang sama dengan
malam isra mi‟raj Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, „Syaikhmu, Sayyid „Ali ar-
Ramitani telah menantimu sejak lama di sini.‟ Aku masuk ke dalam, dan Syaikhku sudah siap
untuk menjadi Imam dalam rangkaian shalat malam. Setelah menyelesaikan shalatnya beliau
menoleh kepadaku dan berkata, „Wahai anakku, Aku telah diperintahkan oleh Rasulullah saw
untuk menemanimu dari Masjid Kubah ke Sidratul Muntaha, tempat yang sama di mana
beliau mengalami mi‟raj.‟ Ketika beliau selesai berbicara orang yang serba hijau itu
membawa dua makhluk yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kami menunggangi kedua
makhluk tersebut dan mengangkasa. Setiap kali kami naik, kami mendapatkan pengetahuan
yang terdapat di tingkat antara Bumi dan Surga itu. Mustahil melukiskan apa yang kami lihat
dan kami pelajari dalam mi‟raj itu, karena kata-kata tidak bisa mengekspresikan apa yang
berhubungan dengan hati, kata-kata tidak bisa mengungkapkannya kecuali dengan merasakan
dan mengalaminya sendiri. Kami melanjutkan mi‟raj kami sampai tiba di maqam al-haqiqat
al-Muhammadiyya, yang berada dihadirat Ilahi. Setelah kami memasuki tingkatan ini,
Syaikhku lenyap, Aku pun lenyap. Kami melihat bahwa tidak ada lagi yang eksis di alam
semesta ini kecuali Rasulullah saw sendiri. Kami rasa tidak ada yang berada di maqam
selanjutnya kecuali Allah swt sendiri. “ Kemudian Aku mendengar suara Rasulullah saw
berkata kepadaku, “Wahai Muhammad Baba as-Samasi, Wahai anakku, jalur tempat engkau
berada adalah jalur yang paling mulia, dan orang-orang yang telah terpilih untuk menjadi
bintang dan penunjuk bagi ummat manusia akan diterima di jalur tersebut. Kembalilah, dan
Aku akan mendukungmu dengan segala kekuatanku, dan Allah swt mendukungku dengan
Kekuatan-Nya. Layanilah Syaikhmu.” Ketika suara Rasulullah saw menghilang, Aku
menemukan diriku berdiri di tengah Syaikhku. Itu adalah sebuah karunia yang besar, berada
dekat dengan Syaikh yang sangat kuat, yang bisa membawamu ke Kehadirat Ilahi. Syekh
Muhammad Baba as-Samasi q.s. meninggal dunia di Samas pada tanggal 10 Jumada al-
Akhir, tahun 755 H. Beliau mempunyai empat khalifah, tetapi Rahasia dari Ahli Silsilah
hanya diteruskan kepada Sayyid Amir Kulal ibn as-Sayyid Hamza q.s.