Anda di halaman 1dari 4

31.

SYEKH MAULANA IBRAHIM AL KHALIDI – KUMPULAN

Syekh Ibrahim al-Khalidi (selanjutnya disebut Ibrahim) lahir pada tahun 1764 M. di
Kampung Sawah Laweh Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman sekarang. Nama lengkapnya
adalah Abdul Wahab Ibrahim al-Khalidi bin Pahat bin Lindungdung. Gelar al-Khalidi
diperoleh Ibrahim sebagai pemberian gurunya pada sebuah sekte tareqat naqsyabandiah
Khalidiyah setelah memperoleh ijazah dari gurunya di Jabal Kubis Mekkah.
A. Sketsa Biografi
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa al-Khalidi pada nama Ibrahim tersebut
adalah yang dinisbahkan kepada nama gurunya, Khalid Kurdi. Ayah dan ibunya berasal dari
keluarga sederhana. Ibunya bernama Putri Asa (Sari Aso) yang kawin dengan Pahat. Mereka
memiliki empat orang anak, masing-masing Ibrahim al-Khalidi, Haji Abdullah, Haji
Muhammad dan Siti Zahara. Ibrahim al-Khalidi bersuku Melayu dan saat sekarang ini,
keturunan Melayu dari pihak Ibrahim al-Khalidi telah berkembang di Kumpulan.
Berdasarkan data-data diperoleh, keluarga Ibrahim al-Khalidi diasumsikan berasal dari
Pagaruyung.
Masa kecil yang dilalui oleh Ibrahim al-Khalidi seluruhnya berada di kampung
halamannya, Kumpulan. Masa-masa kecilnya tersebut dilaluinya seperti masa-masa kecil
orang-orang lainnya di Kumpulan pada masa itu. Namun yang jelas, Ibrahim al-Khalidi sejak
kecil dikenal sebagai pribadi yang memiliki kemauan keras untuk maju, pribadi yang mudah
beradaptasi dan mudah bergaul dengan kawan-kawannya. Sebagaimana halnya tradisi-
kultural Minangkabau, pada masa Ibrahim al-Khalidi kecil, surau menjadi tempatnya
bersama-sama dengan dengan kawan-kawannya untuk melakukan interaksi intelektual-
kultural dan sosial. Ibrahim al-Khalidi melewati masa kecilnya tersebut secara normal
menurut ukuran tempat dan kecenderungan nilai social pada masanya tersebut dan tidak
ditemukan catatan-catatan “hitam” masa kecilnya.
Ketika Ibrahim al-Khalidi menginjak remaja, keinginannya untuk menuntut ilmu
pengetahuan dan menambah wawasan semakin kuat. Kumpulan – dengan segala dinamika
surau dan masyarakatnya – bagi beliau terlampau sederhana, beliau ingin keluar dari ”in-
group”-nya untuk menambah wawasan, ilmu dan sudut pandangnya. Keinginannya yang kuat
tersebut terlihat ketika beliau berusia 15 tahun, ia berangkat ke Kenagarian Pasir Laweh
Agam untuk belajar pada salah seorang murid Syekh Burhanuddin Ulakan. Di Surau murid
Syekh Burhanuddin ini, Ibrahim al-Khalidi belajar ilmu agama dengan murid Syekh
Burhanuddin tersebut (tidak didapatkan keterangan nama murid Syekh Burhanuddin Ulakan
tempat Ibrahim al-Khalidi belajar ini). Ibrahim al-Khalidi belajar di Surau tersebut
menghabiskan waktu lebih kurang 25 tahun, dengan tentunya diselingi pulang-pergi
Kumpulan-Agam. Disamping di surau murid Syekh Burhanuddin ini, Ibrahim al-Khalidi juga
belajar tentang ajaran ilmu syari’at Islam mazhab Syafii di Cangking Empat Angkat
Canduang.
Selain belajar di luar Kumpulan, Ibrahim al-Khalidi juga belajar pada Syekh
Muhammad Said di Padang Bubus Bonjol. Dengan ulama inilah, untuk kali pertamanya
Ibrahim al-Khalidi belajar tentang tareqat, hakikat dan ma’rifat. Selanjutnya, ketika beliau
pergi menunaikan ibadah haji, Ibrahim al-Khalidi menetap di Mekkah ini selama 7 tahun dan
belajar dengan beberapa orang ulama disana, salah satunya beliau belajar pada Maulana
Syekh Khalid Kurdi di Jabal Qubis. Tidak didapatkan keterangan, nama-nama ulama tempat
beliau belajar di Mekkah tersebut selain Khalid Kurdi tersebut. Bersama Syekh Khalid Kurdi
ini, Ibrahim al-Khalidi menamatkan pelajarannya dan memperoleh ijazah serta mendapat
gelar Maulana Syekh Ibrahim al-Khalidi.
Sekembalinya beliau dari Mekkah, ia kemudian menikah. Ibrahim al-Khalidi memiliki
beberapa orang istri dan anak. Istri pertamanya bersala dari daerah Sawah Laweh (tidak
didapatkan data tentang nama istrinya ini). Pernikahannya dengan istri pertamanya ini,
Ibrahim al-Khalidi memiliki satu orang anak. Istri keduanya berasal dari Kampung Hangus,
Aminah namanya. Dengan istrinya ini, Ibrahim al-Khalidi tidak memiliki anak. Sementara
istri ketiga dan keempatnya, berasal dari daerah Simpang dan Lubuk Sikaping. Tidak
diketahui nama-nama istri ke tiga dan ke empat Ibrahim al-Khalidi.
Ibrahim al-Khalidi meninggal dunia pada tahun 1914 M. Bertepatan pada tanggal 21
Zulqa’edah 1335 H. Beliau meninggal dalam usia yang sangat tua, lebih 150 tahun, setelah
menderita sakit selama lebih kurang 15 hari. Sewaktu beliau meninggal dunia, Kampung
Koto Tuo penuh sesak oleh masyarakat, dari hampir seluruh lapisan, bahkan tidak hanya
berasal dari Kumpulan saja. Menurut sahibul hikayat, ketika hari Ibrahim al-Khalidi
meninggal dunia, di Kumpulan penuh dengan kabut-kabut putih dan kupu-kupu kuning.
Cukup membuat masyarakat Kumpulan terkejut dan tercengang dengan fenomena alam yang
terjadi ini. Namun umumnya, masyarakat Kumpulan menganggap bahwa fenomena alam
tersebut memiliki korelasi dengan meninggalnya Ibrahim al-Khalidi. Setelah berlalu selama
lebih kurang 40 hari, kabut putih dan kupu-kupu kuning tersebut menghilang. Ibrahim al-
Khalidi dimakamkan di sebelah Barat mihrab Surau Batu sesuai dengan wasiatnya sebelum
beliau meninggal dunia. Sampai saat sekarang, makam Ibrahim al-Khalidi masih sering
diziarahi oleh masyarakat banyak, baik yang berasal dari Pasaman maupun dari luar
Pasaman.
C. Peranan Ulama dan Peranan Sosial Politik Ibrahim al-Khalidi
Sekembalinya Ibrahim al-Khalidi dari menuntut ilmu di Mekkah, beliau kembali ke
kampung halamannya di Kumpulan. Di kampung halamannya yang telah ditinggalkan dalam
waktu yang cukup lama untuk menuntut ilmu agama di Mekkah ini, Ibrahim al-Khalidi
melihat kondisi sosial kegamaan sangat memprihatinkan. Kehidupan masyarakat Kumpulan
pada masa itu familiar dengan kebiasaan-kebiasaan maksiat seperti bermain judi, menyabung
ayam, menghisap madat, mabuk-mabukkan dan lain sebagainya. Beberapa kegiatan-kegiatan
maksiat ini ”seakan-akan” memiliki justifikasi dan legitimasi sejarah dan adat Minangkabau.
Kondisi ini yang kemudian membuat Ibrahim al-Khalidi merasa terpanggil untuk mengajak
masyarakat Kumpulan meninggalkan tradisi yang bertentangan dengan ajaran agama Islam
tersebut.
Disamping beberapa tradisi yang berpotensi maksiat tersebut, Ibrahim al-Khalidi juga
menemukan masih banyaknya pemahaman-pemahaman mistik-bid’ah yang ditemui Ibrahim
al-Khalidi di kampung halamannya ini. Salah seorang generasi keempat Ibrahim al-Khalidi,
Haji Nasrul mengatakan bahwa kondisi masyarakat Kumpulan yang pada saat Ibrahim al-
Khalidi pulang dari Mekkah – dan ini diasumsikan juga terjadi pada masa sebelum beliau
lahir dan sebelum beliau keluar dari Kumpulan untuk menuntut ilmu agama – sangat
mengkhawatirkan. Kondisi ini membuat Ibrahim al-Khalidi merasa terpanggil untuk
“meluruskan” dan memberikan pencerahan kepada masyarakat di Kumpulan tersebut.
Langkah pertama yang dilakukannya adalah mendirikan institusi sebagai tempat beliau
beraktifitas. Ibrahim al-Khalidi mendirikan surau yang kemudian beliau beri nama Surau
Kaciak, sesuai dengan bentuk dan besarnya yang masih bersifat seadanya. Dari surau inilah,
Ibrahim al-Khalidi mulai mengajak masyarakat Kumpulan kembali mempedomani al-Qur’an
dan Sunnah Rasulullah SAW.
Keberadaan Ibrahim al-Khalidi di Kumpulan dengan Surau Kaciak-nya ini, kemudian
“didengar” oleh masyarakat lainnya di luar Kumpulan. Karena pertimbangan kapasitas
kepribadian dan keilmuan Ibrahim al-Khalidi yang cukup tinggi dan bagus pada masa itu,
membuat banyak orang yang ingin belajar padanya. Makin lama, Surau Kaciak semakin
banyak dikunjungi orang. Keadaan seperti terus berlangsung dari hari ke hari untuk waktu
yang lama. Mengingat banyak orang-orang yang berdatangan dari Pauah Datar, Agam,
Palembayan, Talu, Tapanuli, Mandahiling dan daerah-daerah lainnya untuk belajar pada
Ibrahim al-Khalidi, membuat Surau Kaciak tidak bisa lagi menampung para pelajar ini.
Akhirnya atas inisiatif Ibrahim al-Khalidi dengan dibantu para murid dan masyarakat,
memperlebar Surau Kaciak tersebut.
Menurut van Bruinessen, Ibrahim al-Khalidi termasuk salah seorang ulama ”garis
depan” dalam menyebarkan tareqat Naqsyabandiah-Khalidiyah. Beliau juga dianggap sebagai
ulama yang memiliki pengaruh cukup signifikan dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah
Batak-Mandahiling, disamping Syekh Abdul Wahab Rokan. Ajaran tareqat naqsyabandiah
yang dikembangkan oleh Ibrahim al-Khalidi di kUmpulan tidak lebih dari untuk peningkatan
kualitas kepribadian dan keberagamaan masyarakat Kumpulan yang ada saat itu masih
memakai praktek-praktek ritual agama yang dekat dengan ”bid’ah” dan memiliki potensi
syirik. Disamping itu, keinginan Ibrahim al-Khalidi untuk mengembangkan tareqat untuk kali
pertamanya di daerah Kumpulan ini adalh untuk menjadi ”wadah perekat” (silaturrahim)
antar anggota yang nantinya justru memiliki imbas pada masyarakat.
Ibrahim al-Khalidi termasuk generasi awal penyebar tareqat nagsyabandiah di
Minangkabau. Melalui tareqat naqsyabandiah yang diajarkannya kepada para murid-
muridnya tersebut, cukup memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan
Islam, khususnys tareqat naqsyabandiah di Minangkabau dan diluar Minangkabau. Hal ini
tidak bisa dilepaskan dari ”diaspora” ajaran Ibrahim al-Khalidi yang dibawa oleh para murid-
muridnya ke daerah mereka masing-masing. Di Surau Kaciak-nya, Ibrahim al-Khalidi
membina para murid-muridnya sebagai pendakwah Islam dengan mengajarkan juga beberapa
ilmu ke-Islaman seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq dan tasawuf. Dan yang paling utama
sekali adalah Ibrahim al-Khalidi mengajarkan para murid-muridnya untuk menjadi guru
tareqat naqsyabandiah kelak. Jadi tidaklah mengherankan apabila beberapa peneliti –
khususnya peneliti mengenai sejarah tareqat di Indonesia – menganggap Ibrahim al-Khalidi
sebagai penyebar tareqat naqsyabandiah yang sangat kontributif di Indonesia. Hal ini tidak
bisa kita lepaskan dari ”jas” beliau mengkondisikan dan menciptakan kader-kader (murid)
beliau yang nantinya menjadi ”mata rantai” potensial dalam menyebarkan ajaran tareqat
naqsyabandiah, terutama di daerah mereka masing-masing.
Ibrahim al-Khalidi bukan hanya dikenal sebagai ulama yang selalu berkutat di “menara
gading” surau-nya saja. Ibrahim al-Khalidi juga dikenal sebagai seorang ulama yang ikut
melakukan perlawanan serius terhadap penjajah kolonial Belanda. Pada masa akhir abad ke-
XVIII dan XIX M. Kumpulan pernah menjadi tempat ataupun pusat kegiatan-kegiatan politik
Tuanku Nan Barampek (Tuanku Nan Hitam, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Khalwat dan
Tuanku Nan Gapuak). Mereka ini dianggap sebagai simbol perjuangan politik masyarakat
Kumpulan – Pasaman secara umum – terhadap dominasi penjajah kolonial Belanda. Ibrahim
al-Khalidi turut mendukung perjuangan menolak dominasi penjajah kolonial Belanda ini.
Ibrahim al-Khalidi mengerahkan para pengikutnya untuk mem-backup perjuangan Tuanku
Imam Bonjol. Bahkan Tuanku Imam Bonjol pernah menyuruh Ibrahim al-Khalidi menanam
ranjau (tidak ada keterangan bentuk ranjau, mungkin ranjau konvensional-sangat sederhana)
di jalan tempat yang akan dilalui oleh tentara Belanda di Bukit Talang Kenagarian Limo
Koto.
Pemasangan ranjau ini dilakukan Ibrahim al-Khalidi bersama-sama dengan murid-
muridnya dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Selama melakukan kegiatan memasang
ranjau ini, Ibrahim al-Khalidi dan para murid-muridnya ini membawa bekal (beras). Ini
menunjukkan keseriusan dan keikhlasan Ibrahim al-Khalidi mendukung perjuangan Tuanku
Imam Bonjol dalam menentang penjajah Belanda. Namun tidak didapatkan sumber tertulis,
apakah Ibrahim al-Khalidi turut serta dalam perang ”fisik-frontal” melawan Belanda. Namun,
kontribusi Ibrahim al-Khalidi terhadap perjuangan Tuanku Imam Bonjol dianggap signifikan.
Ibrahim al-Khalidi juga sering melakukan interaksi dengan Tuanku Imam Bonjol. Perintah
Tuanku Imam Bonjol pada Ibrahim al-Khalidi untuk memasang ranjau-ranjau disepanjang
jalan yang berpotensi dilalui oleh tentara Belanda menunjukkan bahwa Tuanku Imam Bonjol
telah memiliki kepercayaan terhadap Ibrahim al-Khalidi dan ini berarti, kepercayaan tersebut
pasti tumbuh dan berkembang setelah melalui proses interaksi yang cukup intens-kontiniu
antara Ibrahim al-Khalidi dengan Tuanku Imam Bonjol.

D. Nama-Nama Murid Ibrahim al-Khalidi


Ibrahim al-Khalidi memiliki banyak murid, diantaranya terdapat beberapa nama yang
dianggap sebagai ulama tareqat naqsyabandiah yang sangat berpengaruh pada di tempat
mereka masing-masing. Bahkan ada beberapa orang muridnya kemudian dikenal sebagai
”mata rantai penyebar” tareqat naqsyabandiah di Sumatera Barat dan diluar Sumatera Barat
dikemudian hari. Diantara murid-murid beliau tersebut antara lain :
1. Syekh Syahbuddin dari daerah Tapanuli Sumatera Utara
2. Syekh Ismail dari Pasir Pangaraiyan Riau
3. Syekh Muhammad Basir dari Lubuk Landur Pasaman
4. Syekh Hasanuddin dari Bayur Maninjau Agam
5. Syekh Yunus Tuanku Sasak dari Pasaman.
6. Syekh Abdullah dari Sarasah Talu Pasaman
7. Syekh Mudo dari Durian Tibarau Kinali Pasaman
8. Syekh Haji Muhammad Nur dari Baruah Gunung 50 Kota
9. Syekh Daud dari Durian Gunjo Malampah Pasaman
10. Syekh Abdul Jabbar dari Kumpulan Bonjol Pasaman
11. Syekh Ahmad dari Agam
12. Syekh Muhammad Sa’id dari Bonjol
13. Syekh Abdurrahman bin Syekh Hussein dari Kuran-Kuran Agam.
14. Syekh Muhammad Zen Alahan Mati dari Kumpulan Pasaman.
KHALIFAH-KHALFAH YANG MENERUSKAN ILMU BELIAU
1. Setelah Beliau Wafat pada tahun 1914, sebagai pengganti Beliau adalah :Syehk Abdul
Jabbar, kemenakan dan Khalifah Beliau sendiri yang diresmikan untuk meneruskan
pekerjaan Beliau.
2. Pada tahun 1931 Beliau Syehk Abdul Jabar wafat, maka untuk melanjutkan pekerjaan
Beliau, diresmikan pula Tuanku Ibrahim cucu Beliau yang pertama.
3. Pada tahun 1964, Beliau Tuanku Ibrahim meninggal dunia, maka diresmikan pula
Sulaiman Tuanku Saidina Ibrahim, sebagai penerus pekerjaan Beliau. Beliau ini
adalah cicit dari Beliau yang pertama.
4. Pada tanggal 22 Juli 1986, Beliau Sulaiman Tuanku Saidina Ibrahim meninggal
dunia, sebagai penerus pekerjaan Beliau adalah Nasrul Tuanku Saidina Ibrahim.
5. Pada tanggal 8 Juli 2004, meninggal pula Nasrul Tuanku Saidina Ibrahim dan diganti
oleh, H Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahin Bin Abdul Latief bin Syekh Husin.