Anda di halaman 1dari 5

30.

SYEKH KHALID AL BAGHDADI AL USTMANI AS SULAYMANI

Beliau lahir pada tahun 1193 H/ 1779 M di desa Karada, kota Sulaymaniyyah, Iraq.
Beliau mempunyai gelar ustmani karena beliau adalah keturunan Sayyidina Ustman bin
Affan, Khalifah ketiga dari Rasulullah saw. Beliau tumbuh dan belajar di sekolah-sekolah
dan masjid yang tersebar di koa itu. Pada saat itu kota Sulaymaniyyah dianggap sebagai kota
pendidikan utama.
Beliau berkelana di dunia Allah dan menguasai segala macam pengetahuan yang
tersedia di jamannya. Belajar berguru pada dua cendikiawan besar di masanya, yaitu Syekh
Abdul Karam Al Barzinji dan Syekh Abdur Rahim Al Barzinji. Kemudian beliau kembali ke
Sulaymaniyyah dan di sana mempelajari ilmu matematika, filosofi, dan logika. Lalu beliau
kembali ke Baghdad dan mempelajari Mukhtasar Al Muntaha Fil Usul, sebuah ensklopedia
tentang jurisprudensi.
Selanjutnya beliau mempelajari karya-karya Ibnu Hajar, Suyuti, dan Haytami. Beliau
dapat menghafal Tafsir Al Qur‟an dari Baydawi. Beliau juga mampu menemukan pemecahan
atas segala pertanyaan sulit mengenai jurisprudensi.
Beliau juga adalah Hafidz, beliau hafal Al Qur‟an dengan 14 cara membaca yang
berbeda, dan menjadi sangat terkenal karena hal ini. Pangeran Ihsan Ibrahim Pasha, gubenur
daerah Baban, berusaha membujuknya untuk mengasuh sekolah di kerajaannya. Namun
beliau menolak dan malah pergi ke kota Sanandaj, untuk mempelajari ilmu matematika,
teknik, astronomi dan kimia. Guru beliau di idang ini adalah Muhammad Al Qosim A
Sanandaji. Setelah menyelesaikan pelajaran ilmu-ilmu sekuler, beliau kembali ke kota
Sulaymaniyaah.
Menyusul wabah penyakit di kota itu pada tahun 1213 H/ 1798 M, beliau mengambil
alih sekolah syekhnya Abdul karam Barzinji. Beliau , mengajar ilmu-ilmu modern. Meneliti
dan mentelaah persamaan-persmaan yang sulit di bidang astronomi dan kimia.
Kemudian beliau berkhalwat, meninggalkan segala yang telah dipelajarinya, dan
datang ke pintu Allah dengan segala perbuatan yang sholeh dan memperbanyak dzkir baik
keras maupun di dalam hati. Beliau tidak lagi mengunjungi sultan, tetapi tetap menjalin
hubungan dengan murid-muridnya hingga tahun 1220 H/ 1806 M. ketika beliau memutuskan
untuk naik haji dan menemui makam Rosululloh saw.
Berliau meninggal kan segalanya dan pergi ke Hijaz melewati kota-kota Mosul,
yarkibir, Ar Raha, Aleppo dan Damaskus, di sana beliau menemui para cendikiawan dan
mengikuti syekhnya, yang merupakan ahli ilmu-ilmu kuno dan modern dan juga pengajar
hadist., Syekh Muhammad Al Kuzbara.
Beliau menceritakan pengalamannya, “aku sedang mencari orang saleh yang sangat
langka untuk dimintai nasehat ketika aku melihat Syekh di sebelah kanan makam yang
diberkati (Rawdatusy Syarifah). Aku lalu meminta nasehat kepadanya, dan berkonsultasi
dengannya. Beliau menasehatiku agar tidak berkeluh kesah terhadap segala masalah yang
mungkin bertentangan dengan syariah ketika memasuki Mekkah. Aku dianjurkan agar tetap
tenang dan diam. Akhirnya akupun tiba di Mekkah, dan nasehat tadi benar-benar ku pegang
dalam hati. Aku pergi ke masjid Suci pada pagi hari di hari Jum‟at. Aku duduk dekat Ka‟bah
dan membaca Dalail al Khairat, ketika aku melihat seseorang dengan janggut hitam bersandar
pada sebuah pilar dan matanya menatapku. Terlintas dalam hatiku bahwa orang ini tidak
memberikan penghormatan yang layak kepada ka‟bah, tetapi aku tidak berbicara apapun
mengenai hal itu. “dia melihatku dan menegurku dengan berkata, “hei orang bodoh, apakah
kamu tidak tahu bahwa kemulyaan hati orang mukmin lebih berarti dari pada kemulyaan
ka‟bah? Mengapa kamu mengkritik aku dalam hatimu megenai cara berbaringku ini, dengan
membelakangi Ka‟bah dan mengarahkan wajahku padamu. Apakah kamu tidak mendengar
nasehat Syekhku di Madinah yang berkata padamu agar tidak mengkritik sesuatu?” Aku
berlari kepadanya dan memohon maaf, mencium tangan dan meminta bimbingannya kepada
Allah. Dia lalu berkata, “wahai anakku, harta kekayaanmu dan kunci hatimu tidak berada di
sini, melainkan di India. Syekhmu ada di sana. Pergilah ke sana dan beliau akan
menunjukkan apa yang harus kamu lakukan.
Aku tidak menemukan orang lain yang lebih baik di semua sudut masjidil Kharam.
Namun dia juga tidak mengatakan padaku ke mana aku harus pergi di India, jadi aku pulang
kembali ke Syam dan berasosiasi dengan cendikiawan di sana.
Beliau lalu kembali ke Sulaymaniyyah dan kembali mengajar tentang pengangkalan
diri. Beliau lalu mencari orang yang dapat menunjukkan jalan baginya. Akhirnya, seseorang
datang ke Sulaymaniyyah, dia adalahSyekh Mawlana Mirza Rahimullah Ad Dawish Al
Ma‟ruf Qs yang dikenal juga dengan nama Muhammad Ad darwish Abdul Azim Al Abadi
Qs, salah seorang khalifah Qutb Al Azam, Abdullah Ad Dehlawi Qs. Beliau bertemu
dengannya. Memberinya hormat dan meminta petunjuk yang benar yang dapat menerangi
jalannya. Dia berkata kepadanya, “ada seorang syekh yang sempurna, seorang cendikiawan
dan orang yang mengetahui banyak hal, yang menunjukkan para pencari kepada Raja dari
raja. Ahli dalam segala hal, mengikuti tarekat Naqsybandi, dan mempunyai karakter
Rosululloh saw, seorang pembimbing dalam ilmu tentang spiritualitas. Ikutlah bersamaku ke
Jehanabad. Beliau telah berpesan kepadaku sebelum aku pergi, “kamu akan bertemu
seseorang, bawa dia bersamamu.”
Syekh Khalid pindah ke India pada tahun 1224 H/ 1809 M melalui kota Ray, lalu
Teheran, dan beberapa propinsi di Iran di mana beliau bertemu dengan cendikiawan besar
Ismail Al Kashi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke Kharqan, Samnan, dan
Nisapar. Beliau juga mengunjungi guru dari induk segala tarekat di Bistam, Syekh Bayazid
Al Bistami Qs, dan beliau memberikan penghormatan di makamnya.
Kemudian beliau memasuki kota jam dan mengunjungi Ash Syaikh Ahmad An Namiqi
Al Jami dan memberikan penghormatan. Beliau lalu memasuki kota Herat di Afganistan, lalu
Kandahar, Kabul, dan Peshawar. Di semua kota ini cendikiawan besar yang ditemuinya
selalu menguji pengetahuannya tentang Syariat dan ma‟rifat, ilmu-ilmu logika, metematika,
dan astronomi. Mereka menyebutnya seperti sungai yang luas, mengalir dengan ilmu, atau
seperti samudra tanpa pantai.
Kemudian beliau pindah lagi ke Lahore, dimana beliau bertemu dengan Syekh
Thana‟ullah An Naqsybandi dan meminta doa darinya. Beliau mengatakan, “malam itu aku
bermalam di Lahore dan aku bermimpi bahwa Syekh Thana‟ullah An Naqsybadi menarikku
dengan giginya. Ketika aku terbagun aku ingin mengatakan mimpi itu kepadanya, tetapi dia
mengatakan, “jangan menceritakan mimpi itu kepadaku, kami telah mengetahuinya. Itu
adalah tanda untuk bergerak dan segera menemui saudara dan syekhku Sayyidina Abdullah
Ad dahlawi Qs.” Hatimu akan dibuka olehnya. Kamu akan melakukan baiat dalam tarekat
Naqsybandi. Lalu aku mulai merasakan daya tarik spiritual dari Syekh. Aku meninggalkan
Lahore, menyebrangi pegunungan dan lembah, hutan dan padang pasir sampai tiba di
Kesultanan Delhi yang dikenal dengan Jehanabad. Perjalanan itu memakan waktu satu tahun.
40 hari sebelum aku tiba, dia berkata kepada para pengikutnya, “penerusku akan datang.”
Malam saat beliau memasuki kota Jahanabad beliau menuliskan puisi dalam bahasa
arab, merenungkan kembali perjalanannya dan memuji Syekhnya. Lalu beliau memberi
penghormatan kepadanya dengan puisi Persia yang mengejutkan semua orang karena
keelokannya. Beliau menyerahkan semua barang yang dibawanya dan segala yang ada di
kantongnya kepada fakir miskin. Kemudian beliau melakukan baiat dengan syekhnya, syekh
Abdullah Ad Dahlawi. Beliau menjadi pelayan di zawiyah (madrasah dan masjid) syekhnya
dan mencapai perkembangan yang pesat dalam berperang melawan nafsunya.
Beliau diizinkan oleh Syekh Abdullah Qs untuk kembali ke Iraq. Syekh memberinya
izinuntuk membaiat tertulis dalam lima Tarekat : yang pertama adalah Tarekat Naqsybandi,
yang ke dua adalah tarekat Qodiri melalui Sayyidina Ahmad Al Faruqi Syekh Shah As
Sakandar, dari sana kepada Sayyidina Syeh Abdul Qodir Al Jailani, al Junayd, As Sirra As
Saqati, Musa Al Kazim, Ja‟far As Sadiq. Imam Baqir, Zain Al Abidin, Al Husayn, Al Hasan,
Ali bin Abi Tholib da Sayyidina Muhammad. Tarekat ketiga adalah As Suhrawardiyya, yang
mempunyai silsilah yang sama dengan Tarekat Qodiriyah sampai Al Junaid, yang
mengembalikan kembali ke HASAN Al Basri dari sana ke Sayyidina Ali dan Rosululloh saw.
Syekh Abdullah juga memberinya otoritas untuk tarekat Kubrawiyya, yang mempunyai jalur
sama dengan Tarekat Qodiri tetapi melalui Syekh Najmuddin Al Kubro Qs. Akhrnya, beliau
diberi otoritas untuk Tarekat Chisshti melalui garis yang dapat ditelusuri kembali dari
Abdullah Ad Dahlawi dan Jan Janan kepada Sayydina Ahmad Al Faruqi lalu melalui banyak
Syekh kepada Syekh Mawrad Chishti, Nasir Chishti, Muhammad Chishti, dan Ahmad
Chishti kepada Ibrahim ibn Adham, Fudayl Ibn Al Iyad, Hasan Al basri, Sayyidina Ali,
Rosululloh saw. Syekh juga memberi otoritas untuk mengajarkan semua ilmu-ilmu Hadist,
Tafsir, Sufisme, dan amalan Harian (award). Beliau Hafal isi buku Athna‟Ashari (dua belas
imam), buku pegangan tentang ilmu pengetahuan dari para penerus Sayyidina Ali ra.
Beliau pendah ke Baghdad pada tahun 1228 H/ 1813 M untuk kedua kalinya dan
tinggal di sana di sekolah Ahsa‟iyya Isfahaniyyah. Beliau mengisinya dengan pengetahuan
tentang Allah dan Jalan untuk mengingatNya. Tetapi sekelompok orang yang iri menulis
sebuah surat tentang hal yang bertentangan mengenai beliau dan dikirimkan ke Sultan Sa‟ad
Pasha, Gubenur Baghdad. Mereka mengkrtiknya, mengecapnya sebagai orang yang sesat dan
banyak lagi hal lain yang tidak bisa diulangi. Ketika Gubenur membaca surat itu, dia berkata
“jika Syekh Khalid AL Baghdadi bukan seorang mukmin, lalu siapa yang mukmin”, Gubenur
lalu mengusir mereka dan memenjarakannya.
Syekh meninggalkan Baghdad selama beberapa waktu lalu kembali lagi untuk ketiga
kalinya. Beliau kembali ke sekolah yang sama telah dipugar untuk menyambut
kedatangannya. Beliau mulai menyebarkan segala macam ilmu spiritual dan ilmu surgawi.
Beliau membuka rahasia ke hadirat Ilahi, menerangi hati orang-orang demgan cahaya Allah
yang diberikan ke dalam hatinya, hingga gubenur, para cendikiawan, guru-guru, pekerja dan
orang-orang segala bidang pekerjaan menjadi pengikutnya.
Pada masanya kota Baghdad sangat terkenal dengan pengetahuannya, sehingga kota itu
dinamakan, “tempat dari dua ilmu pengetahuan.” Dan “tempat dari dua matahari”. Serupa
dengan itu, beliu juga dikenal dengan sebutan, “orang dengan dua sayap (Dhul Janahayn),
sebuah perumpamaan karena penguasaannya di bidang ilmu Syariat dan hakikat. Beliau
mengirimkan Khalifahnya ke mana saja, mulai dari Hijaz ke Iraq, dari Syam (Syiria) ke
Turki, dari Iran ke India dan transoxania untuk menyebarkan jalan leluhurnya dalam tarekat
Naqsybandi.
Kemanapun beliau pergi, orang akan mengundang ke rumahnya, dan rumah seperti
apapun yang dia kunjungi, akan mendapat berkah dan menjadi makmur. Suatu hari beliau
mengunjungi kubah batu di Jerussalem dengan para pengikutnya. Beliau sampai di tempat itu
dan khalifahnya, Abdullah Al fardi, datang menemuinya dengan kerumunan orang. Beberapa
orang Kristen memintanya untuk masuk ke Gereja Kumama agar mendapat berkah dengan
kehadirannya. Lalu beliau melanjutkan perjalanannya ke Khalil (hebron), kota nabi Ibrohim,
ayah dari semua nabi dan Rosul, di sana disambut oleh semua orang. Beliau memasuki
Masjid Ibrohim Al Khalil dan mengambil Berkah dari temboknya.
Beliau pergi lagi ke Hijaz untuk mengunjungi Baitullah (Ka‟bah yang Suci) pada tahun
1241 H / 1826 M. Banyak sekali murid dan khalifahnya yang menemani. Warga kota dengan
para cendikiawan dan wali juga mendatangi dan semuanya melakukan baiat dengannya.
Mereka memberinya kunci untuk memasuk dua Kota suci dan mereka mengangkatnya
sebagai Syekh Spiritual untuk kedua kota terseut.
Setelah haji dan kunjungannya kepada makam Rosululloh saw, beliau kembali ke Syam
Ash Sharif. Beliau sangat dihormati oleh Sultan OTTOMAN. Mahmud Khan, ketika beliau
memasuki Syam, penyambutan yang meriah diadakan dan sebanyak 250.000 orang
menyambutnya di pintu kota. Semua cendikiawan, menteri, Syekh, fakir miskin dan orang-
orang kaya datang untuk mendapatkan berkah dan meminta doa darinya. Benar-benar
merupakan suatu perayaan.
Dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan 1242 H/ 1827 M beliau memutuskan untuk
mengunjungi Quds (jerussalem) dari damaskus, para pengikutnya sangat gembira dan
berkata, “Alhamdulillah, kami akan melakukannya bila Allah memanjangkan umur kami,
setelah Ramadhan, awal bulan Syawal”. Mungkin itu adalah suatu tanda bahwa beliau akan
meninggalkan dunia ini.
Pada hari pertama di bulan Syawal, wabah penyakit mulai menyebar dengan cepat di
kota Syam (damaskus). Salah satu pengikutnya meminta beliau untuk mendoakan dia agar
diselamatkan dari wabah tersebut dan menambahkan dan untukmu juga, Syekh. Beliau
berkata, “Aku merasa malu kepada Allah, karena niatku memasuki Syam adalah untuk
meninggal di Tanah Suci ini.”
Orang pertama yang meninggal karena wabah ini adalah putra beliau, Bahauddin. Pada
jum‟at malam dan beliau berkata “Alhamdulillah, ini adalah jalan kita” lalu beliau
menguburkkannya di Gunung Qosiyun. Dia baru berusia lima tahun lewat beberapa hari.
Anak itu sangat fasih dalam 3 bahasa, Persia, arab dan kurdi, dan dia juga pandai membaca
Al Qur‟an.
Lalu pada tanggal 9 Dhul Qoidah, anak lainnya, Abdur Rahman meninggal dunia. Dia
lebih tua dari saudaranya satu tahun. Mawlana Khalid Qs memerintahkan murid-muridnya
untuk menggali makam kembali untuk menguburkan anak keduanya. Beliau berkata, “Dari
pengikutku akan banyak yang meninggal dunia.”
Beliau memerintahkan untuk menggali banyak lubang untuk para pengikutnya yang
jumlahnya banyak, termasuk istri dan anak perempuannya, dan beliau memerintahkan untuk
menyirami daerah itu dengan air. Lalu beliau berkata, “Aku memberi otoritas kepada Syekh
Ismail Ash Shirwani untuk menggantikan aku di Tarekat Naqsybandi” beliau mengucapkan
hal ini pada tahun terakhirya 1242 H/ 1827 M.
Suatu hari beliau berkata, “aku mendapat sebuah pemandangan yang luar biasa
kemarin. Aku melihat Sayyidina Ustman Dhun Nurayn seolah-olah dia telah meninggal dan
aku melakukan shalat untuknya. Dia lalu membuka matanya dan berkata, “ini dari anak-
anakku”. Dia menarikku dengan tangannya, membawaku kepada rosululloh, dan mengatakan
kepadaku untuk membawa seluruh pengikut Naqsybandi di masa sekarang dan yang akan
datang sampai imam Mahdi , lalu dia memberi berkah untuk mereka semua. Setalah keluar
dari pemandangan itu, aku melakukan shalat Maghrib dengan para pengikut dan anak-
anakku.
Apapun rahasia yang kumiliki, telah kuberikan kepada wakilku Ismail Ash Shirwani.
Siapa saja yang tidak menerimanya berarti bukan golonganku. Jangan beragumen tetapi
satukanlah pikiranmu dan ikuti pendapat Syekh Ismail. Aku menjamin siapapun yang
mengikutinya akan bersamaku dan bersama Rosululloh.
Beliau memerintahkan meeka untuk tidak menangisinya, dan meminta mereka untuk
mengorbankan hewan dan memberi makan orang miskin demi kecintaan Allah dan
kemulyaan Syekh. Beliau juga meminta mereka untuk mengirimkan hadiah berupa
pembacaan AL Qur‟an dan bacaan dalam shalat. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak
menulis apapun di makamnya kecuali “ini adalah makam orang asing, Khalid”
Setelah Shalat Isya‟ Syekh Khalid Qs memasuki rumahnya, memanggil seluruh
anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, “aku akan meninggal dunia pada hari
Jum‟at”. Mereka tinggal bersamanya sepanjang malam. Sebelum subuh beliau bangun,
berwudlu dan melakukan Shalat. Lalu beliau memasuki kamarnya dan berkata, “tidak ada
yang boleh memasuki kamarku kecuali orang yang telah kuperintahkan.” Beliau berbaring di
sisi kananya, menghadap kiblat dan berkata, “aku telah terkena wabah penyakit. Aku
membawa tangannya dan berdoa, “siapapun yang terkena wabah itu, biarlah wabah itu
mengenaiku dan bebaskan orang-orang di Syam.”
Kamis tiba dan seluruh kalifahnya memasuki kamarnya. Sayyidina Isma‟il Ash
Shirwani bertanya kepadanya, “bagaimana keadaanmu?” beliau berkata, Allah telah
menjawab doaku. Aku akan membawa semua wabah yang melanda orang-orang di Syam dan
aku sendiri akan meninggal dunia pada hari jum‟at. Mereka menawarkan air, namun beliau
menolak dan berkata, “aku meninggalkan dunia ini untuk bertemu Alllah, aku telah bersedia
menanggung wabah dan membebaskan orang-orang di Syam yang telah terkena wabah itu.
Aku akan meninggal dunia pada hari jum‟at.”
Beliau membuka matanya dan berkata, “Allahu Haqq, Allahu Haqq, Allahu Haqq,”
yang merupakan sumpah dalam baiat tarekat nashbandi, lalu beliau membaca ayat 27-30 dari
AL Qur‟an surat Al Fajr. “wahai jiwa yang tenag dan tentram. Kembalilah kepada Tuhanmu-
merasa senang dan disenangi. Masuklah dalam hamba-hambaKu! Masuklah ke dalam
SurgaKu!”
Kemudian beliau menyerahkan nyawanya kepada Allah dan meninggal dunia, seperti
yang telah diprediksi sebelumnya, pada hari jum‟at 13 Dzul Qaidah 1242 H/ 1827 M. mereka
membawanya ke sekolah dan membasuhnya dengan air penuh cahaya. Mereka
mengkafaninya sementara yang lain berzikir , khususnya Syekh Isma‟il Ash Shirwani, Syekh
Muhammad, dan Syekh Aman. Mereka membaca Al Qur‟an dan pagi harinya mereka
membawa jenazahnya ke Masjid di Yulbagha.
Syekh Isma‟il Ash Shirwani meminta Syekh Aman „Abdin untuk melakukan shalat
jenazah baginya. Masjid itu tidak cukup untuk menampung seluruh orang yang hadir. Lebih
dari 30.000 orang shalat di belakangnya. Syekh Isma‟il berjanji kepada mereka yang tidak
dapat melakukan shalat jenazah di masjid itu, bahwa dia akan melakukan shalat jenazah yang
kedua kalinya di makam.
Mereka yang memandikannya ikut pula mengantarkan ke makamnya. Hari berikutnya,
Sabtu, seakan-akan terjadi keajaiban di Syam, wabah penyakit tiba-tiba menghilang dan tidak
ada lagi orang yang meninggal dunia. Mawlana Khalid Qs menyerahkan rahasianya kepada
penerusnya, Syekh Isma‟il Ash Shirwani dan Syekh maulana Ibrahim kumpulan