Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIK PENGUKURAN RANGE OF MOTION (ROM)

1.      Metode pengukuran ROM


Metode dalam pengukuran ROM dapat dilakukan secara :
a. Aktif ROM
Gerakan sendi yang sepenuhnya dikontrol oleh otot pada sendi yang bersangkutan sehingga
dikenal dengan internal force ROM.
b. Pasif ROM
Gerakan sendi yang sepenuhnya ditimbulkan oleh usaha dari luar dengan bantuan orang
lain/fisioterapis, pengaruh gravitasi, dan atau alat tertentu, sehingga dinyatakan
sebagai eksternal force ROM.
c. Aktif-Assistif ROM
Perubahan ruang lingkup gerak sendi yang terjadi karena selain dikontrol oleh otot disekitar
sendi juga dibantu dari luar/fisioterapis.
2.      Jenis Pengukuran ROM
a. ZSP (zero starting position)
Posisi awal gerakan (sendi lurus) dikatakan sebagai 0 derajat bukan 180 derajat,
berarti awal gerakan dimulai dan menjauhi tubuh ke arah mendekati tubuh.
Metode tersebut dikenal juga dengan sebutan ISOM (International Standard
Orthopedic Measurement). Beberapa kekhususan metode pengukuran ROM dengan ISOM
adalah :
1)     Cara penulisan yang disingkat : F 0 . 0 . 135° akhir gerakan ke arah mendekati tubuh
(dibuat dalam 3 kategori angka numerik).
a)   Huruf F menunjukkan bidang gerak yaitu frontal
b)   Angka numerik 0 yang pertama menunjukkan angka hiperekstensi, contoh -15°
adalah hiperekstensi elbow joint
c)    Angka numerik 0 yang kedua menunjukkan angka posisi netral elbow joint
d)    Angka numerik yang ketiga (misalnya 135°) menunjukkan full fleksi elbow
joint.
2)      Makna dari penulisan
a)    Ada atau tidaknya hiperekstensi
b)    Ada atau tidaknya stiffness joint yang dinyatakan dalam derajat tertentu.
c)    Ada atau tidaknya posisi lingkup gerak sendi yang ada yang dinyatakan dalam
derajat tertentu
3)      Makna dari cara pengukuran
Diukur berdasarkan derajat-derajat dari limitasi dan atau lingkup gerak sendi
yang ada, sehingga pengukuran ZSP/ISOM tersebut praktis namun memiliki multi
interpretasi.
b. Metode pengukuran konvensional
Pengukuran ROM yang dimulai dan diakhiri sesuai dengan arah dan bidang gerak
sendi. Misalnya dari arah fleksi elbow ke ekstensi dan atau arah ekstensi elbow ke fleksi,
sehingga cara membacanya harus selalu dicantumkan arah gerakan sendi, misalnya arah
gerakan dari ekstensi ke fleksi elbow atau dari fleksi ke ekstensi elbow. Pada metode
pengukuran tersebut ditentukan lingkup ROM yang limitasi yang kemudian digabung dengan
lingkup ROM yang tersedia serta tidak ditentukan bidang gerak sendi yang ada.

c. Metode pengukuran lingkup multisendi


Metode pengukuran lingkup multisendi berdasarkan teori dari Djohan Aras. Metode
pengukuran beberapa sendi yang dilakukan sekaligus secara bersamaan dengan menggunakan
meteran untuk mengetahui seberapa besar perubahan lingkup sendi yang terjadi secara
bersama-sama. Pada umumnya digunakan pada sekumpulan sendi yang posisinya saling
berdekatan misalnya pada kolumna verttebralis, karena pada kolumna vertebralis sulit diukur
lingkup sendinya pada setiap ruas sendi vertebra. Contoh pengukuran lingkup sendi fleksi
pada regio lumbosakral.
3.      Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengukuran ROM
a.       Rehabilitas :
Hilangkan faktor penghambat seperti pakaian, variasi posisi, jam, dsb.
b.      Umur:
1) Pada umur 20-30 tahun terjadi perubahan ROM
2) ROM stabil pada usia >30-60 tahun dalam artian perubahan lingkup gerak sendi
relatif stabil
3) Usia >60 tahun akan terjadi perubahan-perubahan berupa penurunan ROM karena
faktor degeneratif.
c.       Jenis Kelamin:
Wanita cenderung lebih besar ROMnya dibandingkan pria
d.      Sisi dominan:
Normal gerak sendi tidak ada perbedaan kanan dan kiri
e.       Tipe gerakan:
Gerakan yang dilakukan apakah gerakan aktif, pasif, ataupun aktif-assistif
f.       Validitas alat ukur:
Alat ukur yang digunakan adalah goniometer yang sesuai dengan ciri sendi. Misalnya
sendi yang besar menggunakan goniometer yang besar, dsb.
g.      Tingkat pengetahuan dan penguasaan fisioterapis
Melakukan pengukuran dengan cara menentukan titik ukur yang akurat, dan melakukan
interpretasi berdasarkan parameter alat ukur ROM yang baku pada setiap sendi.
4.      Prinsip pengukuran ROM
a. Positioning pasien
b. Ketersediaan alat ukur (jenis-jenis goniometer) dan parameter
c. Akurasi fisioterapis yang melakukan pengukuran

Cara penulisan ROM menggunakan penulisan ISOM :


a. Semua gerakan ditulis dalam 3 kelompok angka.
b. Ekstensi dan semua gerakan yang menjauhi tubuh ditulis pertama.
c. Fleksi dan semua gerakan yang mendekati tubuh ditulis terakhir.
d. Posisi awal dituliskan di tengah.
e. Lateral fleksi/rotasi spine ke kiri ditulis pertama, ke kanan ditulis terakhir.
f. Semua gerakan diukur dan posisi awal netral atau posisi anatomis
g. Posisi awal normal ditulis dengan 0, tetapi dalam keadaan patologis berubah
h. Semua posisi yan mengunci atau tidak ada gerakan sama sekali (ankylosis)
hanya ditulis dengan 2 kelompok angka.
Contoh penulisan ROM menggunakan notasi ISOM
Sendi shoulder
S.45° - 0° - 40° , berarti gerakan ekstensi 45o dan gerakan fleksi 40 o
dengan posisi awal 0 o

F.45° - 0° - 45°, berarti gerakan abduksi 45 o dan adduksi 45 o dengan


posisi awal 0 o

R.50° - 0° - 50°, berarti gerakan eksternal rotasi 50 o dan internal rotasi 50o

Dengan posisi awal 0o

Metode Pencatatan :
▷ PICTORIAL CHART
Sagital – Frontal – Tranversak – Rotation
· Dikembangkan oleh Gerhart dan Russe yang dilakukan dengan melakukan
pencatatan awal gerak pada suatu bidang untuk dua gerakan yang berlawanan.
Contoh:
Ekstensi – fleksi shoulder (50 ˚– 170 ˚) pada bidang sagital
Shoulder S : 50° – 0° - 170°
Hip Abd (45 ˚) dan Add (15 ˚) pada bidang frontal
Hip F : 45° – 0° - 15°
· Penulisan 2 kelompok angka pada sistem SFTR yang menunjukkan sendi
dalam keadaan terkunci.
Contoh :
Elbow: S 0 -10, artinya sendi siku terkunci/ kaku pada 10 ˚ F.
R 10- 0, artinya sendi siku terkunci pada 10˚ Sup.
R 0 -15, artinya sendi siku terkunci pada 15˚ Pronasi

· Posisi deformitas dengan mudah digambarkan melalui penulisan tersebut:


Contoh :
Knee : F 10° - 0° (Genu valgus)
F 0° - 10° (genu varus)
S 10° – 0° – 130° (genu recurvatum)
· Jika angka di tengah tidak 0 ˚ berarti ada kekakuan sendi di awal gerakan.
Contoh :
Elbow: S 0° - 10° - 135°
Artinya kaku pada posisi 10˚ ke arah fleksi 135˚.

PROSEDUR PENGUKURAN RANGE OF MOTION

Alat dan Kelengkapan


1. Universal Goniometer
2. Formulir Hasil Pengukuran
3. Alat tulis berwarna.

Pelaksanaan Pengukuran
- Persiapan Alat
1. Menyiapkan meja/bed/kursi untuk pemeriksaan.
2. Menyiapkan goniometer
3. Menyiapkan alat pencatat hasil pengukuran LGS

Persiapan Terapis
1. Membersihkan tangan sebelum melakukan pengukuran  
2. Melepas semua perhiasan/asesoris yang ada di tangan.
3. Memakai pakaian yang bersih dan rapih.

Persiapan Pasien
1. Mengatur posisi pasien yang nyaman, segmen tubuh yang diperiksa mudah
dijangkau pemeriksa.
2. Segmen tubuh yang akan diperiksa bebas dari pakaian, tetapi secara umum pasien
masih berpakaian sesuai dengan kesopanan
Pelaksanaan Pemeriksaan
1. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri dan meminta persetujuan pasien secara
lisan.
2. Menjelaskan prosedur & kegunaan hasil pengukuran LGS kepada pasien.
3. Memposisikan pasien pada posisi tubuh yang benar (anatomis), kecuali gerak rotasi
(Bahu, HIP, Lengan bawah).
4. Sendi yang diukur diupayakan terbebas dari pakaian yang menghambat gerakan.
5. Menjelaskan dan memperagakan gerakan yang hendak dilakukan pengukuran kepada
pasien.
6. Melakukan gerakan pasif 2 atau 3 kali pada sendi yang diukur, untuk mengantisipasi
gerakan kompensasi.
7. Memberikan stabilisasi pada segmen bagian proksimal sendi yang diukur, bilamana
diperlukan.
8. Menentukan aksis gerakan sendi yang akan diukur.
9. Meletakkan goniometer :
a. Aksis goniometer pada aksis gerak sendi.
b. Tangkai statik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal segmen tubuh
yang statik.
c. Tangkai dinamik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal
10. Membaca besaran LGS pada posisi awal pengukuran dan mendokumentasikannya
dengan notasi ISOM
11. Menggerakkan sendi yang diukur secara pasif, sampai LGS maksimal yang ada
12. Memposisikan goniometer pada LGS maksimal sebagai berikut:
a. Aksis goniometer pada aksis gerak sendi
b. Tangkai statik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal segmen tubuh
yang statik
c. Tangkai dinamik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal segmen tubuh
yang bergerak
13. Membaca besaran LGS pada posisi LGS maksimal dan mendokumentasikannya
dengan notasi International Standard Orthopedic Measurement (ISOM).
LETAK AXIS DAN NILAI NORMAL ROM

GERAKAN LETAK GONIOMETER ROM NORMAL

CERVICAL

 Ekstensi/Fleksi Temporomandibular joint S.45° - 0° - 40°

 Lateral Fleksi Destra/Sinistra F.45° - 0° - 45°


Garis tengah proc.mastoideus

 Rotasi Destra/Sinistra Garis tengah hidung R.50° - 0° - 50°

THORACAL & LUMBAL

 Ekstensi/Fleksi Garis tengah tubuh S.30° - 0° - 85°

 Lat,Fleksi Destra/Sinistra Garis tengah vertebra F.30° - 0° - 30°

 Rotasi Destra/Sinistra Garis tengah sutura frontalis R.45° - 0° - 45°

SHOULDER

 Ekstensi/fleksi Titik tengah aspek lat.acromion S.50° - 0° - 170°

 Abduksi/Adduksi Titik tengah aspek ant.acromion F.170° - 0° - 75°

 Abd/Add Horizontal Titik tengah aspek lat.acromion T.30° - 0° - 135°

 Ekso/Endorotasi Olecranon os ulna R.90° - 0° - 80°

ELBOW

 Ekstensi/fleksi Epicondylus lateran humerus S.0° - 0° - 150°

Supinasi/Pronasi Jari ke tiga R.90° - 0 - 80°

WRIST

 Ekstensi/Fleksi Os Triquetrum S.50° - 0° - 60°


 Radial/ulnar Deviasi Os capitatum F.20° - 0° - 30°

CARPOMETACARPAL

 Ekstensi/Fleksi Proc. Styloideus radi S.0° - 0° - 50°

 Abduksi/Adduksi Proc. Styloideus radi F.30° - 0 - 70°

METACARPAL PHALANGS

 Ekstensi/fleksi Tumb Bagian dorsum MCP S,90° - 0° - 55°

 Ekstensi/Fleksi Jari 2-5 Bagian dorsum MCP S.45° - 0° - 90°

 Abduksi/Adduksi Bagian dorsum MCP F.30° - 0° - 0°

PROKS. INTERPHALANGS

 Ekstensi/fleksi tumb Bagian dorsum IP S.5° - 0° - 90°

 Ekstensi/fleksi jari 2-5 Bagian dorsum IP S.0° - 0° - 115°

DIS, INTERPHALANGS

 Ekstensi/fleksi jari 2 – 5 Bagian dorsum IP S.20° - 0° - 90°

HIP

 Ekstensi/fleksi Trokhantor mayor S.15° - 0° -125°

 Abd/Adduksi SIAS F.45° - 0° - 15°

 Ekso/Endorotasi Titik tengah Os.Patella R.45° - 0° - 45°

KNEE

 Ekstensi/Fleksi Epicondylus Lat.Femur S.0° - 0° - 135°

 Ekso/Endorotasi Calcaneus R.40° - 0° - 35°

ANKLE
 Plantar/Dorso fleksi Maleolus Lat.Fibula S.20° - 0° - 35°

 Eversi/Inversi Garis tengah jari kedua R.30° - 0° - 20°

METATARSAL PHALANGS

 Ekstensi/Fleksi Bagian dorsum MTP S.40° - 0° - 40°

Anda mungkin juga menyukai