Anda di halaman 1dari 16

RESUME

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

KELAS A – KELOMPOK 1 :

RINITA MUTIARASANI 1613010043

RIRIN CINTHIA M. 1613010046

VINA MULIA D. 1613010072

JIMMY WIRAHATI K. 1613010110

MEIDY TIARA N. SAUSAN 1613010223

ALFIAH N. AULIAH 1613010230

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR


2018/2019
BAB 1 : MANUSIA DAN ALAM SEMESTA

HAKIKAT KEBENARAN

Untuk memahami mengapa berbagai disiplin ilmu dan teknologi tidak sepenuhnya dapat
menjelaskan dan memecahkan berbagai permasalahan di dunia saat ini, maka perlu kita
renungkan terlebih dahulu apa yang dinyatakan oleh E.F.Schumacher (dalam Eko Wijayanto
dkk.,2002) sebagai empat kebenaran besar yaitu :

a. Kebenaran (hakikat) tentang eksistensi (dunia/alam semesta)


b. Kebenaran tentang alat (tools) yang dipakai untuk memahami dunia
c. Kebenaran tentang cara belajar tentang dunia
d. Yang dimaksud dengan hidup di dunia
Kebenaran tentang eksistensi menyangkut tentang adanya empat tingkat eksistensi yaitu
benda, tumbuh – tumbuhan, hewan, manusia. Yang membedakan adalah unsur dari keempat
eksistensi tersebut. Kebenaran tentang alat maksudnya ketepatan dalam penggunaan alat yang
dipakai untuk memahami keempat tingkat eksistensinya. Kebenaran tentang cara hidup di dunia
akan berbeda untuk empat bidang pengetahuan : (1) saya – batin, (2) saya – lahiriah, (3) dunia –
batin, (4) dunia – lahiriah material. Dalam hidup di dunia dijumpai dua corak permasalahan yaitu
yang pertama masalah konvergen (bertitik temu adalah sesuatu yang dipecahkan secara
menyeluruh. Dan yang kedua masalah divergen (bertitikpisah) adalah seuatu yang berlawanan.
Intinya adalah ada berbagai tingkat eksistensi alam dan tingkat eksistensi kesadaran. Oleh
karena itu, untuk menemukan hakikat kebenaran tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan
pendekatan ilmiah/rasional.
HAKIKAT EKSISTENSI ( DUNIA / ALAM SEMESTA )

Ada kecenderungan yang disodorkan oleh saintisme modern yaitu suatu paham yang
sering disebt sebagai materialistik, mekanistik, dan deterministik, yang memandang dunia
fisik/dunia murni sebagai satu – satunya yang diakui oleh ilmu pengetahuan. Alam semesta
dianggap sebagai mesin raksasa yang bekerja secara mekanistik. Alam semesta dilihat sebagai
materi / substansi yang terbentang luas dan tidak bernyawa, yang misterinya mampu dipecahkan
dengan pendekatan ilmiah dan rasional. Namun Scumacher telah mengingatkan para ilmuwan
tentang adanya tingkatan eksistensi alam semesta sebagai berikut :

1. Benda =P
2. Tumbuh - Tumbuhan =P+X
3. Hewan =P+X+Y
4. Manusia =P+X+Y+Z

Dengan memberikan simbol P untuk benda mati, X untuk unsur hidup, Y untuk
kesadaran, dan Z untuk kesadaran diri. Maka dapat dikatakan bahwa eksistensi alam semesta
memiliki empat tingkat yaitu :

a. Tingkat pertama adalah benda mati, yang hanya unsur P (substansi, materi).
b. Tingkat kedua adlah tumbuh – tumbuhan, yang mempunyai unsur P dan X
(kehidupan).
c. Tingkat ketiga adlah golongan hewan, yang memiliki unsur P, X, Y (kesadran).
d. Tingkat keempat adalah golongan manusia, yang mempunyai semua unsur P, X, Y, Z
(unsur kesadaran ttransendental / spiritual).

Dengan memanfaatkan pengetahuan fisika kuantum, Erbe Sentanu (2007)


mengemukakan lapisan / tingkat keberadaan suatu benda (alam semesta) dikaitkan
dengan alam kehidupan manusia seperti gambar dibawah ini.
Tampak ( Fisika Newton )

Benda Nasib

Molekul Karakter

Atom Kebiasaan

Partikel Tindakan

Kuanta Pikiran

Alam Energi Perasaan

Tindak Tampak ( Fisika Kuantum )

Benda adalah sesuatu tampak, sedangkan alam energi adlah sesuatu yang tidak tampak.
Nasib seseorang adalah sesuatu yang tampak, tapi perasaan seseorang adalah sesuatu yang tidak
tampak.tindakan seseorang ditentukan dari pikirannya, sedangkan pikiran seseorang sangat
dipengaruhi oleh perasaannya dan pada akhirnya tingkat kematangan emosi/perasaan seseorang
akan mencerminkan tingkat kematangan kesadaran (spiritual) seseorang.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hakikat keberadaan alam semesta
tidak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik. Dengan adanya kemajuan ilmu fisika para
ilmuwan mulai tertarik untuk mengkaji hal – hal spiritual secara lebih rasional, maka mulai
diyakini bahwa hal – hal yang tidak tampak oleh pancaindra juga merupakan bagian tak
terpisahkan dari hakikat keberdaaan. Disamping itu, makin dapat dibuktikan bahwa terdapat
tingkatan – tingkatan keberadaan alam semesta dari yang kasat mata sampai yang tidak kasat
mata dan sangat halus, seperti : pikiran, perasaan, dan kesadaran murni ( bisa juga disebut
potensi tak terbatas, kesadaran murni, roh, spirit, Tuhan, atau sebutan lainnya).
HAKIKAT MANUSIA

Stevenson dan Haberman (2001) mengatakan bahwa meski ada begitu banyak hal yang
sangat bergantung pada konsep tentang hakikat manusia, namun terdapat begitu banyak
ketidaksepakatan mengenai apa itu hakikat manusia. Adanya ketidaksepakatan ini karena ada
banyak pihak hanya melihat hakikat manusia secara sepotong – potong tanpa mendudukannya
dalam konteks keseluruhan yang utuh. Karl Mars, misalnya (dalam Stevenson dan Haberman,
2001) mengatakan bahwa hakikat riil manusia adalah keseluruhan hubungan sosial dengan
menolak adanya Tuhan dan menganggap bahwa tiap pribadi adalah produk dari tahapan
ekonomis tertentu dari masyarakat manusia tempat manusia itu hidup.

Untuk memahami hakikat manusia secara utuh, ada baiknya memahami kembali
pendapat Schumacher tentang empat tingkat eksistensi kehidupan sebagaimana telah disinggung
sebelumnya, yang terdiri dari benda, tumbuh – tumbuhan, hewan, dan manusia. Manusia
merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang menduduki tingkat eksistensi tertinggii karena memiliki
semua unsur yang dimiliki oleh tingkat eksistensi yang lebih rendah, namun sekaligus juga
memiliki unsur Z yang tidak ada pada tingkat eksistensi yang lebih rendah.

Manusia adalah bagian darikeberdaan alam semesta. Segala sesuatu yang ada di alam
semesta (makrokosmos) juga ada di alam manusia (mikrokosmos). Oleh karena itu, alam semesta
dan alam manusia sebenarnya sama – sama mempunyai tiga lapisan keberdaa, yaitu : fisik
(body), energi pikiran (mind), dan kesadaran murni (roh,soul,spirit).

HAKIKAT OTAK (BRAIN) KECERDASAN (INTELEGENCY)

Otak merupakan tubuh yang paling kompleks. Otak memiliki kemampuan yang sangat
luar biasa, antara lain : memproduksi pikiran sadar, melakukan pilihan bebas, menyimpan
ingatan, memungkinkan memiliki perasaan, menjembatani kehidupan spiritual dengan kehidupan
materi atau fisik, kemampuan perabaan, persentuhan, penglihatan, penciuman,
berbahasa,mengendalikan berbagai organ tubuh dan sebagainya.
Spiritualitas berhubungan dengan upaya pencarian makna kehidupan melalui hubungan
langsung antara diri dengan Tuhan (kekuatan tak terbatas, potensi murni). Hal tersebut dapat
disimpulkan sbb:
1. Pada awalnya para ilmuan hanya mengenal kecerdasan intelektual (IQ) dengan
kecerdasan ini, manusia dianggap mamapu mengatasi berbagai persoalan hidup. Namun
belakangan baru disadari bahwa sebenarnya manusia mempunyai banyak kecerdasan
(multipel intelejense).
2. Meskipun manusia mempunyai banyak kecerdasan, pada hakikatnya semua kecerdasan
itu dapat dikelompokan dalam tiga jenis yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan
emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).
3. Ketiga jenis kecerdasan tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, dengan
SQ sebagai pondasinya.
4. Etika adalah cabang ilmu yang membahas tentang prilaku manusia, mengenai apa yang
baik dan apa yang tidak baik dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia
dengan manusia lain, dan manusia dengan alam.

HAKIKAT PIKIRAN (MIND) DAN KESADARAN (CONSCIOUSNESS)

Persepsi adalah proses pemberian makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh
pengetahuan baru. Memori adalah proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali.
Berfikir adalah mengolah informasi dan memanipulasi informasi untuk memenuhi kebutuhan
atau kebutuhan respon.
Lapisan sadar berhubungan dengan dunia luar dalam wujud sensasi dan berbagai
pengalaman yang didasari setiap saat. Lapisan prasadar  sering disebut  memori (ingatan) yang
tersedia menyangkut pengalaman – pengalaman yang tidak disadari pada saat pengalaman
tersebut terjadi, dengan mudah dapat muncul kembali menjadi kesadaran secara spontan atau
dengan sedikit usaha. Lapisan tidak sadar yang merupakan lapisan yang paling dalam dari
pikaran manusia, menyimpan semua dorongan insting  primitif serta emosi dan memori  yang
mngancam pikiran sadar yang telah sedemikian ditekan, atau secara tidak disadari telah didorong
ke dalam lapisan yang paling dalam pada pikiran manusia.

Menurut Khrisna kesadaran manusia terbagi menjadi lima tingkat / lapisan yaitu :
1. Lapisan kesadaran fisik, yang ditentukan oleh makanan.
2. Lapisan kesadaran psikis, yang didasarkan atas energi dari udara yang disalurkan melalui
pernapasan.
3. Lapisan kesadaran pikiran, yang merupakan kesadaran pikiran rasional dan emosional.
Bila pikiran kacau atau dalam keadaan marah, maka napas akan lebih cepat. Dan
sebalikanya jika pikiran tenang maka napas kita juga tenang , karena seluruh kepribadian
kita ditentukan oleh pikiran .
4. Lapisan intelegensia (bukan Intelek ), menyangkut kesadaran hati nurani atau budi
pekerti. Lapisan ini yang menyebabkan manusia menjadi bijak.
5. Lapisan kesadaran murni (kesadaran transendental), merupakan hasil akhir pemekaran
kepribadian manusia, yang merupakan tingkat kesadaran tertinggi yang dapat dicapai
oleh manusia.

Manusia telah memiliki kesadaran mental atau emosional yang telah berkembang,
sementara hewan belum mencapai tingkat atau lapisan kesadaran ini.

TUJUAN DAN MAKNA KEHIDUPAN

Siapa pun pasti sependapat dan tidak ada yang membantah bahwa tujuan hidup umat
manusia adalah untuk memperoleh kebahagian. Bahkan Jalaluddin Rahmad (2004) mengatakan
secara agama, filsafat, ilmu pengetahuan, orang harus bahagia. Namun dalam kehidupan era
dewasa ini dipenuhi oleh filsafat materialisme, makin banyak orang yang merasa tidak bahagia.
Kebahagian seolah – olah menjadi barang langka yang sulit dijangkau. Hal ini terjadi karena
adanya perbedaan pemahaman tentang cara untuk mencapai kebahagian itu sendiri. Perbedaan
pemahaman tentang hidup ini sangat berpengaruh pada evolusi kesdaran seseorang.

ALAM SEMESTA SEBAGAI SATU KESATUAN SISTEM

Alam semesta beserta isinya sebenarnya merupakan kesatuan sistem. Pengertian sistem
menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta (1976) adalah :

a. Sekelompok bagian (alat dan sebagainya) yang bekerja sama untuk melakukan suatu
maksud, misalnya urat syaraf dalam tubuh.
b. Sekelompok pendapat, peristiwa, kepercayaan, dan sebagainya yang disusun dan diatur
dengan baik, misalnya filsafat.
c. Cara (metode) yang teratur untuk melakukan sesuatu, misalnya pengajaran bahasa.
Jogiyanto (1988) menyebutkan bahwa setiap sistem mempunyai karakteristik sebagai
beriikut :

a. Mempunyai komponen – komponen


b. Ada batas suatu sistem
c. Ada lingkungan luar sistem
d. Ada penghubung
e. Ada masukan, proses, dan keluaran
f. Ada sasarann atau tujuan.

Inti dari pemahaman konsep sistem adalah bahwa setiap elemen saling bekerja sama,
saling mendukung, saling memerlukan, dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dalam
rangka mencapai tujuan keseluruhan sistem. Oleh karena itu, adanya gangguan pada satu elemen
sekecil apapun gangguan tersebut akan mempengaruhipola interaksi denga elemen lainnya. Dan
pada akhirnya, hal tersebut akan berpengaruh pada pencapaian tujuan secara keseluuruhan
sebagai satu kesatuan.

SPIRITUALITAS DAN ETIKA

Sebenarnya, kajian etika erat kaitannya dengan pengembangan karakter. Namun


pengembanngan karakter harus dilakukan melalui pengembangan keempat kecerdasan manusia
(PQ, IQ, EQ, SQ) secara seimbang dan utuh. Banyak pakar etika yang masih membedakan antara
etika dengan spiritualitas., padahal keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak
dapat dipilah – pilah. Menurut mereka etika adalah adat, kebiasaan, ilmu, yang mempelajari
hubungan perilaku manusia yang bersifat horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia,
hubungan manusia denganlembaga/intitusi, manusia dengan alam, dan lembaga dengan lembaga.
Sementara itu, spiritualitas berhubungan dengan perilaku manusia yang bersifat vertikal, dalam
arti hubungan manusia dengan Tuha/ kekuatan tak terbatas. Menurut mereka, spiritulitas bukan
merupakan bidang kajian etika.
Setiap manusia harus menyadari bahwa kesempatan hidup di dunia ini hendaknya
dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai tingkat kesadaran Tuhan. Bila kesadaran spiritual
telah tercapai, maka kesadaran etis dengan sendirinya tercapai. Namun dalam perjalanan
mendaki puncak spiritual ini, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah orang yang besangkutan
harus menjalankan perilaku hidup yang etis dan hidup sesuai dengan norma – norma moral yang
telah diajarkan oleh semua agama. Pada tahap awal, perilaku etis akan mempengaruhi kesadaran
spiritual seseorang. Namun pada langkah – langkah selanjutnya, kesadaran spiritual akan
menentukan tingkat kesadaran etis seseorang.
BAB 2 : FILSAFAT, AGAMA, ETIKA, DAN HUKUM

HAKIKAT FILSAFAT

Filsafat bersal dari dua kata yunani phlio dan sophia, yang mana phlio berarti berarti cinta
dan sophia berarti bijaksana. Dengan demikian philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan.
(puad farid ismail dan abdul hamid mutawalli 2003).

Karaktereristik utama berpikir filsafat adalah sifatnya yang menyeluruh, sangat


mendasar, dan spekulatif.sifatnya yang menyeluruh artinya mempertanyakan hakikat keberadaan
dan kebenaran tentang keberadaan itu sendiri sebagai satu kesatuan secara keseluruhan, bukan
dariperspektif bidang perbidang, atau sepotong-sepotong. Sifatnya yang mendasar bearti bahwa
filsafat tidak begitu saja percaya bahwa ilmu adalah benar .Sifat yang spekulatif karna filsafat
selalu ingin mencari jawab bukan sja pada suatu hal yang sudah di ketahui tetapi juga pada suatu
hal yang belum di ketahui.

Objek filsafat bersifat universal dan mencakup segala sesuatu yang dialami manusia.
Selanjutnya abdulkadir muhamad menjelaskan filsafat dengan melihat unsur-unsur sebagai
berikut :

a. Kegiatan intelektual (pemikiran)


b. Mencari makna yang hakiki (interpretasi)
c. Segala fakta dengan gejala.(obek)
d. Dengan cara refleksi, metodis dan sistematis.
e. Untuk kebahagian manusia (tujuan)
Perbedaan filsafat dengan ilmu

No Aspek Filsafat Ilmu


1 Ontologis Segala sesuatu yang bersifat Segala sesuatu yang bersifat
fisik dan nonfisik, baik yang fisik dan yang dapat di
dapat di rekam melalui indra rekam melalui indra.
maupun yang tidak
2 Epistemologis Pendekatanyang bersifat Pendekatan ilmiah,
reflektif atau rasional-dedukatif menggunakan pendekatan
dedukatifdan indukatif
secara saling melengkapi.
3. Aksiologis Sangat abstrak bermanfaat Sangat konkret, langsung
tetapi tidaksecara langsung dapat dimanfaaatkan bagi
bagi umat manusia. kepentingan umat manusia.

HAKIKAT AGAMA

Rumusan pengertian agama berdasarkan unsur-unsur penting sebagai berikut :


1. Hubungan manusia dengan sesuatu yang tak terbatas, yang transdental Tuhan Yang Maha
Esa.
2. Berisi pedoman tingkah laku, nilai-nilai, dan norma-norma yang diwahyukan oleh Tuhan
melalui Nabi.
3. Untuk kebahagian hidup manusia di dunia dan hidup kekal di akhirat.
Dalam pengertian beragama mencakup unsur-unsur utama sebagai berikut :
1. Ada kitab suci .
2. Kitab yang di tulis oleh nabi berdasarkan wahyu langsung dari tuhan.
3. Ada suatu lembaga yang membina menuntun manusia, dan menafsirkan kitab suci bagi
kepentingan umatnya.
4. Setiap agama berisi ajaran dan pedoman tentang :
a. Taqwa, dogma, doktrin, atau filsafat tentang ketuhanan.
b. Susila, moral, atau etika.
c. Ritual upacara atau tata cara beribadat.
d. Tujuan agama.
HAKIKAT ETIKA

Etika berasal dari kata yunani ethos (bentuk tunggal) yang berarti tempat tinggal, padang
rumput, kandang, kebiasaan, adat watak persaaan, sikap dan cara berfikir.
a. Etika secara etimologi dapat di artikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa di lakukan
atau ilmu tentang adat kebiasaan yang berkenaan dengan hidup yang baika dan yang
buruk (kanter 2001).
b. Menurut lawrence weber dan post (2005) etika adalah suatu konsepsi tentang prilaku
yang benar dan salah. Etika menjelaskan prilaku bermoral atau tidak dan berkaitan
dengan hubungan kemanusiaan yang fundamental.
Sehingga dapat di simpulkan bahwa :
a. Etika sebagai praktis sama dengan moral atau moralitas yang berarti adat isti adat,
kebiasaan, nilai-nilai, dan norma-norma yang berlaku dalam kelompok atau masyarakat.
b. Etika sebagai suatu ilmu atau tata susila adalah pemikiran/penilain moral.

HAKIKAT NILAI

Nilai uang (harga) yang dibayar untuk memperoleh barang tersebut sering disebut
sebagai nilai ekonomis.

1. Doni Koesoema A. (2007) nilai sebagai kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat
disukai, diinginkan, berguna, dan dihargai sehingga dapat menjadi semacam objek bagi
kepentingan tertentu.
2. Fuad Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2003) nilai sebagai standar atas ukuran
(norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesatu
3. Sorokin dalam Capra (2002) menggunakan tiga system nilai dasar yang melandasi semua
manifestasi suatu kebudayaan, yaitu: nilai indriawi, ideasional, dan idealistis. System
nilai indriawi menekankan bahwa nilai-nilai indriawi (materi) merupakan realitas akhir
(ultima), dan bahwa fenomena spiritual hanyalah suatu manifestasi dari materi.
Dari penjelasan tentang nilai, sebenarnya dapat disimpulkan tiga hal, yaitu:

a. Nilai selalu dikaitkan dengan sesuatu (benda, orang, hal)


b. Ada bermacam-macam (gugus) nilai selain nilai uang (ekonomis) yang sudah cukup
dikenal
c. Gugus-gugus nilai itu membentuk semacam hierarki dari yang terendah sampai dengan
yang tertinggi.

HUBUNGAN AGAMA, ETIKA DAN NILAI

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi berkat kelebihan akal/pikiran
yang diberikan Tuhan kepada manusia. Manusia mampu memperoleh ilmu tentang hakikat
beradaan melalui proses penalaran serta mampu menyadari adanya kekuatan tak terbatas dari
luar dirinya yang menciptakan dan mengatur eksistensi alam raya.

Semua agama melalui kitab sucinya masing-masing mengajarkan tentang tiga hal pokok,
yaitu:

1. Hakikat Tuhan (God, Allah, Gustu Allah, Budha, Brahma, Kekuatan tak terbatas, dan
lain-lain)
2. Etika, tata susila
3. Ritual, tata cara beribadat
Tujuan semua agama adalah untuk merealisasikan nilai tertinggi, yaitu hidup kekal di akhirat.

KARAKTER DAN KEPRIBADIAN

Karakter adalah sisi kepribadian yang didapat dari pengalaman, pendidikan, dan
lingkungan sehingga bisa dikatakan bahwa karakter adalah bagian dari kepribadian.

a. Karakter adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang


b. Karakter menentukan keberhasilan seseorang
c. Karakter dapat diubah, dibentuk, dipelajari melalui pendidikan dan pelatihan tiada henti
serta memalui pengalaman hiduo
d. Tingkat keberhasilan seseorang ditentukan oleh tingkat kecocokan karakter yang
dimilikinya dengan tuntutan kenyataan.

KECERDASAN, KARAKTER, DAN ETIKA

Etika dan Karakter

3 Golongan Etika Karakter Utama

1. Teo Etika 9. takwa


Saling ketergantungan
8. Ikhlas
Masalah aku dengan Tuhan
7. Tawakal

2. Sosio Etika 6.Silaturahmi


Ketergantungan
5.Amanah
Masalah aku dengan orang lain
4.Husnuzan

3. Psiko Etika 3.Tawaduk


Kemandirian
2.Syukur
Masalah aku dengan aku
1.Sabar

Konsep etika selama ini hanya dipahami sebatas hubungan antara manusia dengan manusia
lainnya, sedangkan konsep etika Nafis berdasarkan paradigm manusia utuh yaitu masalah
manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain dan alam, serta manusia dengan
Tuhan.

MODEL PEMBANGUNAN MANUSIA UTUH


Kecerdasan yang dikembangkan hanya IQ dan kesehatan fisik sehingga praktis kurang
atau bahkan lupa mengembangkan EQ dan SQ. karakter positif hanya dapat dikembangkan
melalui pengembangan hakikat manusia secara utuh. Dalam pengembangan manusia utuh, perlu
dikembangkan juga secara seimbang kecerdasan emosional dan spiritual di samping kecerdasan
intelektual dan kesehatan fisik.

Pola hidup masyarakat modern dewasa ini dilandasi oleh paradigma hakikat manusia
yang tidak utuh. Manusia lebih berorientasi mengejar kekayaan materi, kesenangan indriawi, dan
kekuasan sehingga kurang atau lupa untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan
kecerdasan spiritual. Manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari telah bertindak secara tidak
etis. Sikap dan perilaku tidak etis ini mengakibatkan terbentuknya karakter negative umat
manusia sebagai konsekuensinya.

Untuk mengatasi hal ini, perlu dikembangkan paradigm hakikat manusia seutuhnya
dengan mengembangkan sikap dan perilaku hidup etis dalam arti luas, yaitu dengan memadukan
dan menyeimbangkan kualitas kesehatan fisik, pengetahuan intelektual, kematangan emosional
dan kerukunan sosial.

Anda mungkin juga menyukai