Anda di halaman 1dari 9

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan :Peningkatan Jalan


Pekerjaan : Rehabilitasi Jalan Ngraho - Luwihaji Kec. Ngraho (SK Bupati No. : 188/246/KEP/412,013/2017; Ruas No. : 59)
Sumber Dana :APBD 2019
Lokasi :Kecamatan Ngraho
Kabupaten Bojonegoro

N URAIAN ISI
O
I PENDAHULUAN Dalam Proyek ini Paket Pekerjaan yang dikerjakan meliputi :
1. Umum
2. Pelebaran Perkerasan Dan Bahu Jalan
3. Pekerjaan Berbutir
4. Pekerjaan Perkerasan Aspal
5. Struktur

Waktu Pelaksanaan

Untuk pekerjaan diatas, kami memperhitungkan Waktu Pelaksanaan Pembangunan Rehabilitasi Jalan Ngraho - Luwihaji Kec. Ngraho (SK Bupati
No.
: 188/246/KEP/412,013/2017; Ruas No. : 59) selama 100 (Seratus) hari sejak SPMK diterbitkan.
• Didalam pelaksanaan pekerjan selain mengacu pada RKS yang sudah ditetapkan , kami juga menerapkan metodologi pelaksanaan terhadap
program kerja yang berhubungan dengan :
• Target waktu
• Kendala site
• Material dan tenaga kerja
• Prosedur dan peralatan

II MAKSUD DAN Terciptanya Hasil Karya Perencanaan Rehabilitasi Jalan Ngraho - Luwihaji Kec. Ngraho (SK Bupati No. : 188/246/KEP/412,013/2017; Ruas No. :
TUJUAN 59)
yang representative sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna jalan.
N URAIAN ISI
O

III METODE 1. PROGRAM KERJA TERHADAP TARGET WAKTU


PENYELESAIAN 1.1 Persiapan
PEKERJAAN Sebelum pekerjaan fisik dimulai, terlebih dahulu harus dilakukan pekerjaan pendahuluan. Pekerjaan ini meliputi survey ringan dan identifikasi
site . Selain itu diperlukan juga sosialisasi terhadap warga sekitar.
Pekerjaan survey ini meliputi:
- Topografi di dalam dan di sekitar proyek
- Kondisi di sekitar lokasi proyek
- Posisi dan lokasi jalan yang akan diperbaiki
- Perijinan / IMB, dalam hal ini dibutuhkan koordinasi dengan Direksi atau Konsultan Pengawas.
1.2. Pengadaan Material
- Agar pelaksanaan pekerjaan di lapangan dapat berjalan sesuai rencana kerja, semua pengadaan material yang membutuhkan fabrikasi
akan dikerjakan terlebih dahulu (pararelsitas method) termasuk jadwal mobilisasi materialnya.
- Sedangkan material product pabrik akan dipesan terlebih dahulu walaupun belum waktunya dipasang di lapangan
- Pengadaan dan Pengaturan penempatan material di lapangan akan diatur sesuai urutan dan prioritas pekerjaan
- Koordinasi dengan Konsultan Pengawas sebagai bentuk disetujuinya / approval material.

Perlu disampaikan disini bahwa ada beberapa hal yang akan dilakukan dalam hal rencana pelaksanaan dan menjadi tolok ukur dalam
pencapaian target waktu yaitu:
1. Pemilihan Suplier sangat perlu diperhatikan antara lain:
a. Proses Penyedian Bahan Baku (Row Material)
b. Proses Produksi Row Material (Fabrikasi)
c. Proses Distribusi
d. Proses Instalasi (Pemasangan).
Hal ini akan sangat berpengaruh pada schedule kerja kita.
2. Seluruh material yang melalui proses produksi pabrik akan dilakukan terlebih dahulu, misalnya material Plafon,Kusen,Kaca, M/E Panel,
dll.

1.3. Pengadaan Alat Kerja


a. Pemakaian alat kerja secara proporsional akan sangat membantu kelancaran proses pekerjaan dilapangan.

1.4. Pengadaan Tenaga Kerja


N URAIAN ISI
O
- Pengadaan tenaga kerja akan disediakan sesuai dengan kebutuhan dan keahlian yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.
- Tenaga kerja yang nantinya digunakan untuk proyek ini adalah tenaga kerja inti dan tenaga pendukung (supporting) dari tenaga kerja lokal,
akan tetap dilakukan sebagai kolaborasi agar tidak terjadi kesenjangan sosial.

1.5. Program Kerja


- Program Kerja harus bisa menciptakan efisiensi baik secara waktu, mutu, dan biaya. Pada pekerjaan ini yang akan dipakai adalah
penerapan system kerja secara paralel.
- Bentuk pengendalian dari program kerja yang nantinya akan dipakai pada saat pelaksanaan adalah: schedule ( Microsoft Project ),
Rencana kerja harian dan mingguan (detail dari penjabaran schedule makro), dan Net Work Planning sebagai kontrol pekerjaan
terhadap garis kritis pekerjaan sebagai antisipasi dari seluruh permasalahan yang akan timbul.
2. PROGRAM KERJA TERHADAP KENDALA SITE
Selain program kerja terhadap kendala waktu, hal yang berhubungan dengan kendala site / kondisi site harus juga menjadi perhatian. Karena
apabila hal ini terjadi, akan mengganggu jalannya proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Hal – hal yang perlu mendapat perhatian antara lain:
a. Ijin Pelaksanaan Terhadap Lingkungan Kerja
- Selain ijin resmi dari instansi terkait, komunikasi dengan warga sekitar harus tetap terjaga dengan baik, hal ini untuk menghindari
kesalahpahaman yang dapat menghambat proses pelaksanaan dilapangan
- Pemakaian tenaga kerja lokal akan membantu hubungan dengan lingkungan sekitar lokasi kerja
- Fasilitas sekitar lokasi kerja yang kemungkinan akan rusak harus diberitahukan pada saat permintan ijin yang disertai bahwa kita akan
memperbaikinya saat pekerjaan hampir selesai.
b. Transportasi / mobilisasi material ke site
- Untuk pengiriman jenis material tertentu akan dilakukan pada saat /watu yang aman,nyaman untuk menghindari kemacetan lalu lintas
atau alur jalan umum.
c. Gudang Material / Barak Kerja dan Tempat Tinggal Pekerja
- Pembuatan gudang material dikoordinasikan dengan Konsultan Pengawas. Penempatan jangan sampai mengganggu aktifitas yang
ada karena berada dilokasi gedung existing yang sudah beroperasi. Bila tidak mencukupi akan dicarikan gudang diluar lokasi.
d. Ruang Kerja
- Aktifitas selama pekerjaan berlangsung harus diberi pagar pengaman / batas antara lokasi proyek dengan utilitas yang masih
operasional. Pengaturan ruang kerja dimaksud untuk memudahkan proses pekerjaan.
e. Koordinasi dengan Pengawas
- Dengan adanya pengawas di lapangan maka semua permasalahan di lapangan dapat dikoordinasikan dengan baik, sehingga target
pekerjaan dapat selesai sesuai target.

3. PROGRAM KERJA TERHADAP PROSEDUR DAN PERALATAN


N URAIAN ISI
O
Dari program kerja terhadap target waktu dan kendala site tidak akan berjalan dengan baik apabila pelaksanaan pekerjaan tidak didukung
dengan prosedur dan peralatan.
Yang dimaksud disini adalah :
1. Pengurusan K3 untuk keselamatan kerja , jamsostek dan asuransi.
2. Pengaturan space area kerja terhadap peralatan yang dipakai yang mengacu pada kondisi site dan waktu.

4. PROSES PENGERJAAN
a. Umum
Dalam waktu 7 hari setelah Penandatangan Kontrak, di adakan Rapat Pra Pelaksanaan (Pre Construction Meeting) yang dihadiri Pemilik,
Direksi Pekerjaan, Wakil Direksi Pekerjaan untuk membahas semua hal baik yang teknis maupun yang non teknis dalam proyek ini, serta
menyampaikan rencana mobilisasi alat,rencana tempat pembangunan direksi keet, Barak Kerja serta Laboratorium.Setelah semua disetujui
dilakukan rekayasa lapangan guna melihat secara langsung langkah- langkah yang akan dikerjakan, serta metode-metode yang digunakan.
Terdiri dari pekerjaan
- Mobilisasi Peralatan pekerjaan yang terdiri dari concrete mixer kapasitas 0,3-0,6 m3, concrete vibrator serta dump truck 2 buah dilakukan
kurang lebih 7 hari setelah mendapatkan Surat Perintah Mulai Kerja..
- Pembuatan Direksi Keet, Bangsal Kerja serta Laboratorium Pembuatan Direksi keet bertujuan untuk kantor baik untuk direksi lapangan
maupun pengawas lapangan dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk kantor maupun tempat rapat antara direksi lapangan,
pengawas lapangan.Pembuatan Bangsal kerja digunakan untuk menyimpan material agar terlindung dari hujan dan aman,
- Pembuatan Papan Nama Proyek. Pembuatan Papan Nama proyek dipasang ditempat yang dapat dilihat dengan jelas, berisikan Data
pekerjaan tersebut

b. Pelebaran Perkerasan Dan Bahu Jalan


Pekerjaan Utama Pada paket pekerjaan ini Pekerjaan Utama adalah Pekerjaan Perkerasan Jalan beton Selain Pekerjaan Utama terdapat
juga pekerjaan Pendukung yang terdiri dari:
a. Pekerjaan Timbunan Puddel (Levaransir)
b. Penghamparan Plastik Filter
Langkah –langkah Pekerjaan di Lapangan
Pembuatan mal (bekesting): Bahannya dari plat besi atau kayu dengan model persegi panjang dengan lebar separuh lebar jalan dan dengan
panjang disesuaikan. Ukuran tinggi mal sesuai dengan ketabalan rabat beton rencana, Hanya saja ukuran ketebalan mal melintang dibuat
miring mengikuti kemiringan melintang normal jalan sebesar 2 % Sedangkan ukuran mal memanjang mengikuti ketinggian pada kedua
ujung mal melintang. Hal ini dilakukan agar kemiringan jalan yang dikehendaki sesuai dengan rencana kemiringan jalan.
Pemasangan mal kotak ini dilakukan di atas tanah asli hanya pada satu sisi jalan saja sehingga bagian atau sisi lainnya dapat dilewati oleh
kendaraan ringan dengan model papan catur (nanti setelah pengecoran selesai baru berpindah ke sisi lainnya) sekaligus dapat dilewati oleh
kendaraan maupun alat-alat kerja.
N URAIAN ISI
O
Setelah pemasangan kotak mal selesai dilakukan maka:
- Pemasangan/penggelaran plastik dengan maksud sebagai breaker di atas tanah agar tidak terjadi perlekatan antara tanah dan pasir
alas . Plastik itu juga dilekatkan pada mal kotak slab dan secara rapat melekat pada tanah.
- Penghamparan Pasir alas dengan ketebalan sesuai rencana, setelah dihampar dilakukan perataan pasir lalu dilakukan penyiraman
pasir tersebut. Tujuan penyiraman adalah untuk mendapatkan kepadatan pasir yang maksimal.

c. Pekerjaan Beton
Lingkup Pekerjaan
Meliputi Pekerjaan :
a. Cor Beton Fc 10 untuk pekerjaan lantai Kerja.
b. Cur Beton Fc 25 untuk pekerjaan Badan Jalan
Persyaratan Umum
- Beton terdiri dari suatu campuran yang sebanding (proporsional) antara semen, air dan agregat bergradasi. Campuran beton akan
mengendap dan mengeras menurut bentuk yang diminta/disyaratkan dan membentuk satu bahan yang padat, keras dan tahan lama
(awet), yang memiliki karakteristik tertentu
- Agregat meliputi yang bergradasi kasar maupun yang bergradasi halus, tetapi jumlah agregat halus akan dipertahankan sampai
jumlah minimum yang diperlukan, yang apabila dicampur dengan semen akan cukup untuk mengisi rongga-rongga antara agregat
kasar serta memberikan suatu permukaan akhir yang halus
- Untuk mencapai beton yang kuat dengan keawetan yang optimum, volume air yang dimasukkan ke dalam campuran harus
dipertahankan sampai jumlah minimum yang diperlukan untuk memudahkan pengerjaan selama pencampuran
- Bahan tambahan kepada campuran beton seperti memasukkan udara (air entraining) atau bahan kimia untuk memperlambat atau
mempercepat waktu pengerasan, tidak diperbolehkan kecuali diminta demikian di dalam persyaratan kontrak khusus
- Peraturan (Code) Beton Persyaratan-persyaratan Peraturan Beton Bertulang Indonesia – PBI Tahun 1971 atau perbaikan yang
terakhir harus sepenuhnya diterapkan kepada semua pekerjaan beton, terkecuali dinyatakan secara lain atau yang mengacu kepada
pemeriksaan AASHTO dan spesifikasi khusus yang tidak disebut dalam PBI 1971.
Persyaratan Bahan
- Semen Portland
1. Semen yang dipakai harus portland semen yang telah disetujui oleh Direksi Proyek, dan memenuhi syarat S.400 menurut
Standar Semen Indonesia (NI -8-1972).
2. Untuk seluruh pekerjaan harus menggunakan mutu semen yang baik dari satu jenis merk atas persetujuan Konsultan
Pengawas/Direksi Lapangan.
3. Semen yang telah mengeras sebagian/seluruhnya tidak diperkenankan untuk dipergunakan
4. Penyimpanan semen portland harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban dimana gudang tempat
penyimpanannya mempunyai ventilasi cukup dan tidak kena air, diletakkan pada tempat yang ditinggikan paling sedikit 30 cm
N URAIAN ISI
O
diatas lantai. Tidak boleh ditumpuk sampai tingginya melebihi 2 m sesuai syarat penumpukan semen dan setiap pengiriman
semen baru dipisahkan dari semen yang lama dan diberi tanda dengan maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan
pengiriman
- Pasir
1. Pasir harus bersih dari bahan organik, lumpur, zat – zat alkali dan substansi – substansi yang dapat merusak beton. Pasir tidak
boleh mengandung segala jenis substansi tersebut lebih dari 5 %.
2. Pasir laut tidak boleh digunakan untuk beton.
- Air
1. Air yang digunakan untuk adukan dan merawat beton harus tawar, bersih, tidak mengandung minyak, asam, alkali dan bahan –
bahan organis dan bahan lain yang dapat merusak mutu beton maupun mempengaruhi daya lekat semen dan harus memenuhi NI-3
- Agregat
1. Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari campuran agregat kasar dan halus, berisi batu pecah yang bersih, keras dan awet
atau kerikil sungai alam atau kerikil dan pasir dari sumber yang disaring, semua agregat alam harus dicuci
2. Agregat harus memenuhi persyaratan gradasi yang diberikan dan dengan keadaan mutu (sifat) yang diberikan pada Ukuran
maximum agregat kasar tidak boleh lebih dari tiga perempat ruang bebas minimum diantara batang-batang tulangan atau antara
batang tulangan dan cetakan. (acuan)
3. Agregat halus bergradasi baik dari kasar sampai halus hampir seluruh partikel lolos saringan 4,75 mm.
4. Semua agregat halus, harus bebas dari jumlah cacat kotoran organik, dan jika dimintakan demikian oleh Direksi Teknik harus
diadakan pengujian kandungan organik menggunakan pengujian colorimetric AASHTO T21. Setiap agregat yang gagal pada test
warna, harus ditolak.
5. Pasir laut tidak boleh digunakan untuk beton konstruksi
Persyaratan Pelaksanaan

1. Kelas dan mutu dari beton harus sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia l991.Bilamana tidak ditentukan lain kuat tekan dari
beton adalah selalu kekuatan tekan hancur dari contoh kubus yang bersisi 15 ( 0,06 ) cm diuji pada umur 28 hari
2. Beton harus dibentuk dari semen portland, pasir, kerikil, dan air seperti yang ditentukan sebelumnya Bahan beton
dicampur dalam perbandingan yang serasi dan diolah sebaik-baiknya sampai pada kekentalan yang baik/tepat
3. Untuk mendapatkan mutu beton yang sesuai dengan yang ditentukan dalam spesifikasi ,dipakai "campuran yang
direncanakan" (Designed Mix).Campuran yang direncanakan dihasilkan dari percobaan-percobaan campuran yang memenuhi
kekuatan karakteristik yang disyaratkan
- Pengadukan Beton
Bahan-bahan pembentuk beton dicampur dan diaduk dalam mesin pengaduk beton yaitu ‘MOLEN'. Tim Direksi berwenang untuk
menambah waktu pengadukan jika pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil adukan dengan
susunan kekentalan dan warna yang merata/seragam dalam komposisi dan konsistensi dari adukan ke adukan, kecuali bila
N URAIAN ISI
O
diminta adanya perubahan dalam komposisi atau konsistensi
- Pengangkutan Beton
Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton sedemikian rupa sehingga beton dengan komposisi dan
kekentalan yang diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan, tanpa adanya pemisahan dan kehilangan bahan yang
menyebabkan perubahan nilai slump.

PROSES PELAKSANAAN PENGECORAN BETON

1. Beton yang berasal dari molen dituang ke dalam kotak (mal) yang telah disiapkan lalu diratakan secara manual kemudian selanjutnya
diratakan dan diadakan dengan menggunakan concrete vibrator. Proses perataan dan pemadatan terjadi karena alat concrete vibrator tersebut
selain meratakan juga bergetar sehingga terjadi pemadatan sedangkan pada bagian ujung (dekat) mal, pemadatan dibantu dengan
menggunakan vibrator beton, kemudian dilakukan perataan manual
2. Kotak yang pertama dicor kemudian pengecoran dilanjutkan pada kotak berikutnya
3. Setelah slab beton selesai dipadatkan maka pelat beton tersebut ditutupi dengan atap plastik untuk menghindari sinar matahari secara
langsung yang dapat membuat beton mengering tidak secara alamiah juga untuk mencegah terjadinya retak rambut.
4. Membuatan alur (grooving) dilakukan secara manual setelah beton dalam keadaansetengah mengeras ± 3 - 4 jam sesudah pengecoran
5. Pada hari kedua setelah pengecoran selesai, dilakukan proses curing dengan menggelar karung goni di atas plat beton dan disiram dengan
air 3 kali sehari selama seminggu
6. Pada hari ketiga setelah pengecoran maka mal (bekesting) samping dibuka dilanjutkan dengan pemasangan mal memanjang (samping)
tanpa memasang mal melintang karena pelat beton yang sudah dicor berfungsi sebagai mal melintang
7. Kemudian sebagai pemisah antara dua pelat beton (yang sudah dicor dengan hendak dicor) dilekatkan gabus (styro foam) dengan tebal 0,5
cm untuk membentuk deletasi (celah) untuk muai dan susut plat beton.
8. Demikianlah sistem pengecoran tersebut dilakukan pada satu sisi jalan dengan lebar 2.25m dan diselesaikan sesuai dengan panjang rencana
jalan itu.
9. Setelah pengecoran pada sisi kiri selesai sesuai dengan panjang jalan rencana,pemasangan mal (bekesting) pada sisi kanan jalan tersebut
dilakukan lagi. Hanya saja mal memanjang pada salah satu sisi sudah tidak diperlukan lagi karena sudah ada pelat beton yang telah dicor.
Pengecoran dilanjutkan dengan memakai sistem yang sama hanya pada sisi memanjang
10. Kemudian pada saat pengecoran akan dilakukan, disisipkan/dilekatkan gabus (styro foam) di antara kedua pelat beton (antara pelat beton
lama dan yang baru yang akan dicor) pada sisi/sambungan memanjang agar tidak terjadi lekatan dan membuat dilatasi (celah) untuk muai
susut pelat beton.
N URAIAN ISI
O
KENDALI MUTU

1. Pengendalian mutu mulai dari proses pencampuran di batching plant dilakukan oleh pengawas teknik kontraktor, staf teknis dinas, dan
pengawas teknik konsultan terhadap komposisi dan berat masing-masing agregat sesuai dengan job mix formula.
2. Sedangkan pada pengecoran di lapangan dilakukan pengambilan sampel 2 kubus tiap 5 m3 campuran. lalu dilakukan perendaman di lokasi
pekerjaan.
3. Setelah itu dilakukan pengetesan terhadap kuat tekan kubus beton dengan umur 7, 14, dan 28 hari) dengan menggunakan fasilitas peralatan
laboratorium beton Fakultas Teknik Jurusan Sipil

KESIMPULAN :

Dengan metode pelaksanaan yang baik maka semua masalah yang berkencenderungan menjadi potensi masalah akan dapat diselesaikan sebelum
waktu krisis terjadi, hal ini bisa dicapai pula dengan system koordinasi dan kerjasama yang baik dan terarah dengan semua pihak yang terkait
sehingga semua target yang direncanakan baik waktu, mutu, dan biaya bisa tercapai dengan baik.

IV PENUTUP 1. Apabila dalam rencana kerja dan syarat ( RKS ) ini untuk uraian bahan , pekerjaan , tidak disebut perkataan atau kalimat diselenggarakan
oleh Penyedia Jasa Konstruksi maka hal ini harus dianggap seperti disebutkan.
2. Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan hasil pekerjaan yang baik maka Kontraktor membuat Direksi Keet dan perlengkapannya, guna
untuk menyimpan peralatan seperti gambar kerja, RKS, Berita Acara, Aanwizjing, laporan dan untuk penyiapan bahan bahan yang akan
dipergunakan.
3. Guna mendapatkan hasil pekerjaan yang baik, maka bagian yang nyata termasuk dalam pekerjaan ini tetapi tidak dimasukkan atau disebut
kata demi kata dalam RKS ini, haruslah diselenggarakan oleh kontraktor dan diterima sebagai hal yang disebutkan.
4. Hal yang tidak tercantum dalam peraturan ini akan ditentukan lebih lanjut oleh Pemimpin Kegiatan atau Konsultan Pengawas, bilamana perlu
diadakan perbaikan dalam peraturan ini.

BOJONEGORO, 24 JULI 2019


CV WAHANA KARYA
AGUS TULUS WIDODO.ST
Direktur