Anda di halaman 1dari 9

ISOLASI, PEMURNIAN, DAN IDENTIFIKASI JAMUR

Nama : Apriyanti
NIM : B1A017151
Rombongan :I
Kelompok :1
Asisten : Insaaniy Mahdiyatul Haqq

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2020
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suatu mikroorganisme dalam kehidupannya tidak hanya tumbuh berdiri
sendiri, namun saling berdampingan dengan mikroorganisme atau organisme
lainnya. Semisalnya dalam 1 wadah media bias saja tumbuh beberapa
mikroorganisme secara bersamaan. Sehingga dalam wadah tersebut saling
terkontaminasi oleh adanya mikroorganisme lain. Untuk bisa mengetahui
adanya suatu mikroorganisme tertentu dalam suatu bahan maka dilakukanlah
isolasi (Ibrahim et al. 2015).
Isolasi merupakan suatu teknik yang dilakukan untuk mendapatkan
kultur yang murni. Hal ini berawal dari bahan yang mengandung
mikroorganisme (misalnya jamur) yang masih bercampur dengan yang lainnya
dilakukan penanaman dengan menggunakan media yang spesifik untuk
memacu pertumbuhan mikroorganisme yang kita inginkan. Setelah
mikroorganisme tersebut tumbuh (misalnya jamur) maka didapatkanlah kultur
murni dari suatu jamur. Sehingga dalam teknik isolasi ini bertujuan agar
penanaman mikroorganisme mendapatkan kultur yang spesifik
Identifikasi merupakan usaha untuk mengetahui identitas suatu
mikroorganisme. Prinsipnya adalah upaya mencocokkan suatu jenis makhluk
hidup dengan kategori tertentu yang telah diklasifikasikan dan diberi nama
secara ilmiah oleh para ahli. Identifikasi jamur artinya mencocokan jenis
jamur hasil isolasi dan pemurnian yang belum diketahui ke dalam takson
tertentu.Identifikasi membutuhkan sarana identifikasi diantaranya seperti
kunci identifikasi (kunci dikotomis), pertelaan, atau buku-buku identifikasi
(Hartanto, 2012).

B. Tujuan
Tujuan acara praktikum Isolasi, Pemurnian, Dan Identifikasi Jamur adalah:

1. Mengetahui teknik isolasi, peremajaan, serta pemurnian jamur pada media


PDA
2. Mengatahui dan memahami identifikasi jamur hasil isolasi dengan tepat.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari
lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni
ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal.
Isolasi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode cawan tuang dan metode
cawan gores. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba
tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.
Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu
sel tunggal. Ada berbagai cara untuk mengisolasi jamur dalam biakan murni yaitu,
cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau penggoresan, cara
penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan (Waluyo, 2007).
Ada beberapa metode atau teknik yang digunakan pada isolasi jamur , yaitu
metode tuang (pour plate), metode sebar (spread plate), metode goresan (streak
plate), pengenceran (dilution method), serta micromanipulator (teh
micromanipulator method). Metode tuang adalah suatu teknik dalam menumbuhkan
mikroorganisme di dalam media agar dengan cara mencampurkan media agar yang
masih cair dengan stok kultur bakteri. Dimana kelebihan metode ini adalah
mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada media agar, metode ini
cocok untuk isolasi mikroba yang bersifat anaerob. Kekurangan metode ini adalah
kurang cocok apabila digunakan untuk isolasi mikroba yang bersifat aerob (Sadiqul,
2010).
Pemurnian merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba
tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.
Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu
sel tunggal (Suriawiria, 2005). Sedangkan Identifikasi merupakan usaha untuk
mengetahui identitas suatu mikroorganisme. Prinsipnya adalah upaya mencocokkan
suatu jenis makhluk hidup dengan kategori tertentu yang telah diklasifikasikan dan
diberi nama secara ilmiah oleh para ahli. Identifikasi jamur artinya mencocokan jenis
jamur hasil isolasi dan pemurnian yang belum diketahui ke dalam takson
tertentu.Identifikasi membutuhkan sarana identifikasi diantaranya seperti kunci
identifikasi (kunci dikotomis), pertelaan, atau buku-buku identifikasi (Hartanto,
2012).
Jamur atau fungi banyak kita temukan di lingkungan sekitar kita, jamur tumbuh
subur terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembab. Akan
tetapi jamur juga dapat ditemukan hampir disemua tempat dimana ada materi
organic. Jika lingkungan di sekitarnya mengering, jamur akan mengalami tahapan
istirahat atau menghasilkan spora. Cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang
jamur disebut mikologi. Kebanyakan jamur termasuk dalam kelompok kapang.
Tubuh vegetative kapang berfilamen panjang bercabang yang seperti benang, yang
disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat
(tempat hidup jamur). Hifa-hifa membentuk jaring-jaring benang kusut, disebut
mesellium (Hadioetomo, 1993).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu cawan petri, jarum ose, bor
gabus, plastik wrap, pembakar bunsen, sprayer, drugalsky, pipet ukur, tabung reaksi,
skalpel, pinset, mikroskop, object glass, cover glass, LAF, dan kamera.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sampel, isolat hasil
pemurnian, PDA, kloramfenikol, korekapi, alkohol 70 %, akuades steril, tissue steril,
kapas, plastik, label.
B. Metode

1. Isolasi
a. Metode Perangkap

Cawan yang berisi medium PDA yang telah ditambahkan kloramfenikol dibuka
selama 5 menit, lalu diinkubasi 3 x 24 jam pada suhu ruang.
b. Metode Semai

Cawan yang berisi medium PDA yang telah ditambahkan kloramfenikol


disiapkan. Kemudian sampel ditaburkan di media lalu dihomogenkan
menggunakan Drugalsky.
c. Metode Pengenceran

Sampel cair sebanyak 1 mL disiapkan, kemudian dilakukan pengenceran


menggunakan akuades dengan perbandingan sampel dan akuades adalah 1:9
sebanyak 3 tabung. Setelah itu di platting ke medium PDA sebanyak 0,1 mL dan
diinkubasi 3 x 24 jam pada suhu ruang.
d. Metode Tanam Langsung

Sampel dipotong dengan ukuran 1x1 cm, kemudian ditetesi alkohol 70%.
Dibilas menggunakan akuades lalu ditiriskan. Setelah itu ditanam pada medium
dan diinkubasi 3 x 24 jam pada suhu ruang.
e. Metode Khusus

Sampel dipotong dengan ukuran 1x1 cm, lalu dilubangi dengan bor gabus
yang steril. Kemudian diisi dengan tanah dan tudengan kemdian ditutup dengan
plastik. Inkubasi 3 x 24 jam pada suhu ruang.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Table 4.1. Karakteristik Morfologi Makroskopis dalam Identifikasi Fungi


Rombongan I
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4

Warna koloni Putih Putih Putih Hijau zaitun

Warna sebalik Putih susu Kekuningan Putih kekuningan


kekuningan
koloni
Tepi koloni Bergerigi Rata Bergelombang Rata

Pola penyebaran Konsentris Konsentris Konsentris Konsentris

Permukaan Berkapas Berkapas Berkapas Berkapas

Table 4.2. Karakteristik Morfologi Mikroskopis dalam Identifikasi Fungi


Rombongan I
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4
Hifa Septat Aseptat Septat Septat
Rhizoid Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada
Bentuk/warna Memanjang/hija Bulat/coklat Konidium/hija Bulat,
spora u keabu-abuan u daun kuning/hijau
keabu-abuan

Table 4.3.Nama spesies dalam Identifikasi Fungi Rombongan I


Kelompok 1 Fusarium oxysporum
Kelompok 2 Rhizopus stolonifer
Kelompok 3 Penicillium sp.
Kelompok 4 Aspergillus flavus

Gambar 4.1. Pengamatan Struktur Gambar 4.2. Pengamatan Struktur


Makroskopis Fusarium oxysporum Mikroskopis Fusarium oxysporum
B. Pembahasan

Pengamatan secara makroskopis pada kelompok 1 rombongan 1 didapat sampel


Fusarium oxysporum dengan melihat warna koloni, bentuk koloni, warna sebalik
koloni, tepi koloni, pola pertumbuhan / penyebaran koloni, dan permukaan koloni.
Pengamatan makromorfologi menghasilkan warna koloni putih, warna sebalik koloni
putih susu, tepi koloni bergerigi, pola pertumbuhan / penyebaran koloni konsentris,
dan permukaan koloni berkapas. Sedangkan adapun pengamatan secara mikroskopis,
dengan melihat hifa, rhizoid, dan bentuk/warna spora. Pengamatan mikromorfologi
menghasilkan hifa berseptat, rhizoid tidak ada, dan bentuk/warna spora
memanjang/hijau.

Fusarium oxysporum adalah jamur patogen yang dapat menginfeksi tanaman


dengan kisaran inang sangat luas. Jamur ini menyerang jaringan bagian vaskuler dan
mengakibatkan kelayuan pada tanaman inangnya dengan cara menghambat aliran air
pada jaringan xylem (De Cal et al., 2000). Fusarium oxysporum dapat bertahan secara
alami di dalam tanah dan pada akar-akar tanaman sakit. Apabila terdapat tanaman
peka, melalui akar yang luka dapat segera menimbulkan infeksi. Sehingga
perkembangan klamidospora dirangsang oleh keadaan akar tanaman yang lemah,
pelukaan pada akar akan memproduksi zat-zat (seperti asam amino, gulamin) yang
dapat mendorong pertumbuhan spora. Selain itu penyebaran cendawan yang luas
secara alami dapat disebabkan oleh adanya curah hujan dan angin, selain oleh bantuan
bibit atau partikel tanah. Adanya curah hujan yang tinggi akan membantu sebaran
cendawan patogen tular tanah ke daerah lain yang lebih jauh, baik karena percikan
maupun ikut aliran air. Jamur Fusarium sp membentuk sporangium yang berperan di
dalam sebaran patogen karena hujan, selain karena angin (Halo et al. 2018).

Metode yang digunakan untuk memperoleh isolat Fusarium oxysporum


diantaranya Sampel dipotong dengan ukuran 1x1 cm, kemudian ditetesi alkohol 70%.
Dibilas menggunakan akuades lalu ditiriskan. Setelah itu ditanam pada medium dan
diinkubasi 3 x 24 jam pada suhu ruang.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Teknik isolasi mikroorganisme mencakup metode isolasi khusus dan umum,


metode khusus berupa perangkap, semai, pengenceran dan tanam langsung.
Metode umum berupa pancing. Pengisolasian merupakan suatu cara untuk
memisahkan suatu mikroba tertentu dari lingkungannya sehingga diperoleh
kultur murni. Pemurnian yaitu suatu metode untuk mendapatkan koloni
tunggal hasil isolasi. Peremajaan adalah suatu metode untuk memindahkan
isolat hasil pemurnian dari medium lama ke medium baru. Alasan dilakukan
peremajaan ialah pembaruan nutrisi, biakan memerlukan inokulum dan guna
mendapat isolat tunggal.
2. Identifikas adalah proses untuk menentukan identifikasi jamur dan
membandingkan dengan buku identifikasi dengan melihat karakter
makromorfolog dan karakter mikromorfologi.

B. Saran
Saran dari praktikum kali ini yaitu praktikan sebaiknya melakukan visualisas
perlakuan.
DAFTAR REFERENSI

De Cal A, Garcia-Lepe R & Melgarejo P. 2000. Induced resistance by Penicillium oxalicum


against F. oxysporum f.sp. lycopersici: Histological studies of infected and induced
tomato stem. Phytopathology 90: 260-268.

Ibrahim, A., Ilyas, S., & Manohara, D. 2015. Perlakuan Benih Cabai (Capsicum annuum L.)
dengan Rizobakteri untuk Mengendalikan Phytophthora capsici, Meningkatkan Vigor
Benih dan Pertumbuhan Tanaman.Agrohorti. 2(1), pp. 22-30.

Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar
Laboratorium. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Halo, B. A., Al-Yahyai, R.A & Al-Sadi, A.M. 2018. Aspergillus terreus Inhibits Growth and
Induces Morphological Abnormalities in Pythium aphanidermatum and Suppresses
Pythium-Induced Damping-Off of Cucumber. Frontiers in Microbiology, 9(2):1-12.
Hartanto, S. 2012. Keragaman Sekuen Gen Nrps 14 Isolat Actinomycetes Laut Yang
Berpotensi Menghasilkan Senyawa Antikanker. Yogyakarta: Universitas Gadjahmada.
Sadiqul, M. 2010. Laporan Praktikum Laboratorium Lingkungan Isolasi Dan Pemurnian
Mikrobia. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung
Mangkurat, Banjarbaru.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.

Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press

Anda mungkin juga menyukai