Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PELAYANAN MEDIS DASAR DAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

Dosen Pengampu : Rohuna. BSc., SKM, M.Pd.

Disusun oleh :
A’assalehah ( 191081001 )
Adetia Indarti ( 191081002 )
Alya Syafiqoh Azhari ( 191081003 )
Amalia ( 191081004 )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
A. Influenza

 Pengertian
Influenza tergolong infeksi saluran napas akut (ISPA) yang biasanya terjadi
dalam bentuk epidemi. Disebut common cold atau selesma bila gejala di
hidung lebih menonjol, sementara “influenza” dimaksudkan untuk kelainan
yang disertai faringitis dengan tanda demam dan lesu yang lebih nyata.
 Penyebab
Banyak macam virus penyebabnya, antara lain Rhinovirus, Coronavirus,
virus Influenza A dan B, Parainfluenza, Adenovirus. Biasanya penyakit ini
sembuh sendiri dalam 3 – 5 hari.
 Gejala
Gejala flu antara lain demam, pilek, hidung tersumbat, dan sakit kepala.
Meskipun sama dengan gejala batuk pilek biasa, gejala flu terasa lebih parah
dan sering kali menyerang tiba-tiba.
Segeralah berobat ke dokter jika gejala di atas tidak kunjung membaik
setelah dua minggu, atau membaik namun kemudian memburuk. Tindakan
darurat perlu dilakukan bila gejala flu disertai sesak napas atau penurunan
kesadaran.
 Penatalaksanaan
- Anjuran istirahat dan banyak minum sangat penting pada influenza ini.
Pengobatan simtomatis diperlukan untuk menghilangkan gejala yang terasa
berat atau mengganggu. - Parasetamol 500 mg 3 x sehari atau asetosal 300
– 500 mg 3 x sehari baik untuk menghilangkan nyeri dan demam. - Untuk
anak, dosis parasetamol adalah : 10 mg/kgBB/kali, 3 – 4 kali sehari -
Antibiotik hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder. Pedoman Pengobatan
Dasar di Puskesmas 2007 114 KANDIDIASIS Kompetensi : 4 Laporan
Penyakit : 2001 ICD X : L.00-L.08 Definisi Infeksi Candida albicans ini
menyerang kulit, mukosa maupun alat dalam. Beberapa faktor predisposisi
seperti kehamilan, obesitas, DM, pemakaian antibiotik, antiseptik atau
kortikosteroid yang lama, penyakit kronik (TBC, tumor ganas), kurang gizi,
serta kulit yang kotor, lembab, dan basah mempermudah terjadinya
kandidiasis (kandidosis) ini. Penyebab Agen penyebab paling sering dari
kandidiasis murni adalah Candida albicans. Bayi dapat terinfeksi melalui
vagina saat dilahirkan, atau karena dot yang tidak steril. Gambaran Klinis -
Kandidosis pada kulit memberikan keluhan gatal dan perih. Kelainannya
berupa bercak merah dengan maserasi di daerah sekitar mulut, di lipatan
(intertriginosa) dengan bercak merah yang terpisah di sekitarnya (satelit). -
Bentuk kronik ditemukan di sela-sela jari kaki, sekitar anus dan di kuku
(paronikia atau onikomikosis) - Pada penderita DM biasanya terdapat
sebagai vulvo vaginitis. - Tampilan di mukosa mulut dikenal sebagai guam
atau oral thrush yang diselaputi pseudomembran. Daya kecap penderita
berkurang disertai rasa metal. - Tampilan di usus dapat berupa diare. - Sel
ragi dapat dilihat di bawah mikroskop dalam pelarut KOH 10% atau
pewarnaan Gram. Diagnosis Bercak merah dengan maserasi dan bercak
satelit. Penatalaksanaan - Faktor predisposisi yang dapat diatasi dihilangkan
dahulu dan kebersihan perorangan diperbaiki karena kalau tidak penyakit ini
akan bersifat kronikresidif. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007
115 - Obat terpilih untuk kandidiasis kulit atau mukosa mulut adalah larutan
gentian violet 1% (dibuat segar/baru) atau larutan nistatin 100.000 – 200.000
IU/ml yang dioleskan 2 – 3 kali sehari selama 3 hari. - Untuk kandidiasis di
saluran cerna : nistatin oral 500.000 IU 3 x sehari selama 7–14 hari. Dosis
pada anak 100.000 IU dalam 4 kali pem.

B. Tonsilitis

 Pengertian
Kelenjar getah bening di mulut bagian belakang (di puncak tenggorokan)
yang berfungsi membantu menyaring bakteri dan mikroorganisme lainnya
sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsilitis adalah suatu
peradangan pada tonsil (amandel) yang dapat menyerang semua golongan
umur. Pada anak, tonsilitis akut sering menimbulkan komplikasi. Bila tonsilitis
akut sering kambuh walaupun penderita telah mendapatkan pengobatan
yang memadai, maka perlu diingat kemungkinan terjadinya tonsilitis kronik.
Faktor-faktor berikut ini mempengaruhi berulangnya tonsilitis : rangsangan
menahun (misalnya rokok, makanan tertentu), cuaca, pengobatan tonsilitis
yang tidak memadai, dan higiene rongga mulut yang kurang baik. Tonsilitis
kronik dapat tampil dalam bentuk hipertrofi hiperplasia atau bentuk atrofi.
Pada anak, tonsilitas kronik sering disertai pembengkakan kelenjar
submandibularis adenoiditis, rinitis dan otitis media.
 Penyebab
infeksi bakteri streptokokus atau infeksi virus (lebih jarang).
 Gejala
 Radang tenggorokan
 Kesulitan atau sakit saat menelan
 Suara yang serak
 Batuk
 Demam yang disertai dengan menggigil
 Napas bau (halitosis)
 Kehilangan nafsu makan
 Sakit kepala
 Leher kaku
 Sakit perut
 Nyeri pada rahang dan leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening
 Amandel yang tampak berwarna merah dan bengkak
 Amandel yang memiliki bercak putih atau kuning
 Kesulitan membuka mulut
 Kelelahan

 Penatalaksanaan
− Jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik per oral selama 10
hari. Jika anak mengalami kesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk
suntikan.
§ Penisilin V 1,5 juta IU 2 x sehari selama 5 hari atau 500 mg 3 x sehari.
§ Pilihan lain adalah eritromisin 500 mg 3 x sehari atau amoksisilin 500 mg 3
x sehari yang diberikan selama 5 hari. Dosis pada anak : eritromisin 40
mg/kgBB/ hari, amoksisilin 30 – 50 mg/kgBB/hari.
− Tak perlu memulai antibiotik segera, penundaan 1 – 3 hari tidak
meningkatkan komplikasi atau menunda penyembuhan penyakit.
− Antibiotik hanya sedikit memperpendek durasi gejala dan mengurangi
risiko demam rematik. − Bila suhu badan tinggi, penderita harus tirah baring
dan dianjurkan untuk banyak minum. Makanan lunak diberikan selama
penderita masih nyeri menelan.
− Analgetik (parasetamol dan ibuprofen adalah yang paling aman) lebih
efektif daripada antibiotik dalam menghilangkan gejala. Nyeri faring bahkan
dapat diterapi dengan spray lidokain.
− Pasien tidak lagi menularkan penyakit sesudah pemberian 1 hari antibiotik.
− Bila dicurigai adanya tonsilitis difteri, penderita harus segera diberi serum
anti difteri (ADS), tetapi bila ada gejala sumbatan nafas, segera rujuk ke
rumah sakit.
− Pada tonsilitis kronik, penting untuk memberikan nasihat agar menjauhi
rangsangan yang dapat menimbulkan serangan tonsilitis akut, misalnya
rokok, minuman/makanan yang merangsang, higiene mulut yang buruk, atau
penggunaan obat kumur yang mengandung desinfektan.
− Segera rujuk jika terjadi : § Tonsilitis bakteri rekuren (> 4x/tahun) tak peduli
apa pun tipe bakterinya
§ Komplikasi tonsilitis akut: abses peritonsiler, septikemia yang berasal dari
tonsil.
§ Obstruksi saluran nafas yang disebabkan oleh tonsil (yang dapat hampir
saling bersentuhan satu sama lain), apneu saat tidur, gangguan oklusi gigi
§ Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.
C. Bronchitis

 Pengertian
peradangan yang terjadi pada saluran utama pernapasan atau bronkus.
Bronkus berfungsi sebagai saluran yang membawa udara dari dan menuju paru-
paru. Seseorang yang menderita bronkitis biasanya ditandai dengan munculnya
gejala batuk yang berlangsung selama satu minggu atau lebih.
Secara umum, bronkitis terbagi menjadi dua tipe, yakni:
 Bronkitis akut. Kondisi ini umumnya dialami oleh anak berusia di bawah 5
tahun. Bronkitis tipe akut biasanya pulih dengan sendirinya dalam waktu satu
minggu hingga 10 hari. Namun, batuk yang dialami dapat berlangsung lebih
lama.
 Bronkitis kronis. Bronkitis tipe ini biasanya dialami oleh orang dewasa
berusia 40 tahun ke atas. Bronkitis kronis dapat berlangsung hingga 2 bulan,
dan merupakan salah satu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Bronkitis yang memburuk dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat,
berpotensi menimbulkan komplikasi berupa pneumonia. Pneumonia adalah
peradangan pada satu atau kedua kantung paru-paru. Seseorang yang
sudah mencapai tahap ini akan merasakan gejala berupa:
 Nyeri dada ketika batuk bahkan bernapas.
 Badan terasa lelah.
 Linglung, atau terjadi penurunan kesadaran.
 Mual dan muntah.
 Diare.
 Gejala dan Penyebab Bronkitis
Gejala bronkitis adalah batuk, yang dapat disertai sesak napas dan sakit
tenggorokan. Pada kasus yang parah, batuk dapat menyebabkan nyeri dada
bahkan penurunan kesadaran. Bronkitis disebabkan oleh infeksi virus, dan
lebih rentan menyerang perokok dan orang dengan sistem kekebalan tubuh
lemah.
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang
terkena bronkitis, antara lain:
 Tidak menerima vaksin influenza atau pneumonia.
 Sering terpapar zat-zat berbahaya, seperti debu atau amonia.
 Berusia di bawah 5 tahun atau lebih dari 40 tahun.
 Penatalaksanaan
Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita
diberikan aspirin atau acetaminophen; kepada anak-anak sebaiknya hanya
diberikan acetaminophen. Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak
cairan.Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan
bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau
hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki
penyakit paru-paru.Kepada penderita dewasa diberikan trimetoprim-
sulfametoksazol, tetracyclin atau ampisilin.Erythromycin diberikan walaupun
dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae.Kepada penderita
anak-anak diberikan amoxicillin.Jika penyebabnya virus, tidak diberikan
antibiotik.

D. Pharingitis

 Pengertian
Faringitis adalah peradangan pada selaput lendir yang melapisi bagian
belakang tenggorokan atau faring. Peradangan ini bisa menyebabkan
ketidaknyamanan, kekeringan, dan kesulitan menelan. Faringitis dapat
disebabkan akibat infeksi maupun non-infeksi. Faringitis adalah kondisi
umum yang jarang berkembang menjadi penyakit serius. Peradangan ini
biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih
seminggu.
 Penyebab Pharingitis
Bakteri dan virus merupakan penyebab terjadinya faringitis. Kebanyakan
disebabkan oleh virus. Faringitis karena virus dan bakteri sangat sering
terjadi. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup,
korinebakterium, arkanobakterium, neisseria gonorrhoeae, atau chlamydia
pneumonia.
 Gejala Pharingitis
Masa inkubasi faringitis adalah jarak waktu sejak terpapar infeksi sampai
gejala-gejala pertama kali muncul berlangsung sekitar 2-5 hari. Gejala
faringitis yang muncul bisa bervariasi, tergantung pada kondisi yang
menyebabkannya. Selain itu, gatal dan sakit tenggorokan, gejala flu juga bisa
menjadi pertanda faringitis, seperti bersin-bersin, hidung berair, sakit kepala,
batuk, kelelahan, nyeri otot, dan demam. Terkadang gejala yang muncul juga
bisa berupa rasa nyeri di telinga. Jika laring menyerang suara, pengidap
akan mengalami suara serak.

E. Tuberkulosi

 Pengetian
Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama
menyerang penyakit parenkim paru. Nama Tuberkulosis berasal dari tuberkel
yang berarti tonjolan
kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok
mengelilingi bakteri dalam paru. Tb paru ini bersifat menahun dan secara
khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis
jaringan. Tb paru dapat menular melalui udara, waktu seseorang dengan Tb
aktif pada paru batuk, bersin atau bicara.
Pengertian Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang
disebabkan karena kuman TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. Mayoritas
kuman TB menyerang paru, akan tetapi kuman TB juga dapat menyerang
organ Tubuh yang lainnya.Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung
yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) (Werdhani,
2011).
Tuberkulosis atau biasa disingkat dengan TBC adalah penyakit kronis yang
disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium Tuberculosis yang
ditularkan melalui dahak (droplet) dari penderita TBC kepada individu lain
yang rentan (Ginanjar, 2008).
Bakteri Mycobacterium Tuberculosis ini adalah basil tuberkel yang
merupakan batang ramping, kurus, dan tahan akan asam atau sering disebut
dengan BTA (bakteri tahan asam). Dapat berbentuk lurus ataupun bengkok
yang panjangnya sekitar 2-4 μm dan lebar 0,2 –0,5 μm yang bergabung
membentuk rantai. Besar bakteri ini tergantung pada kondisi lingkungan
(Ginanjar, 2010).
 Penyebab penyakit tuberkulosis
Penyebab penyakit TBC adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini memiliki kekerabatan dekat spesies mikobakterial lainnya yang
juga bisa menyebabkan tuberkulosis, yaitu M. bovis, M. africanum, M.
microti, M. caprae, M. pinnipedii, M. canetti, dan M. mungi. Namun sebagian
besar kasus tuberkolosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
penyakit ini juga dapat menyebar ke bagian tubuh yang lainnya, seperti
ginjal, tulang belakang, dan otak.
 Gejala Tuberkulosis
Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita
TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:
a) Demam
b) Lemas
c) Berat badan turun
d) Tidak nafsu makan
e) Nyeri dada
f) Berkeringat di malam hari

 Penatalaksanaan penderita Tuberkulosis paru


a. Pengobatan TBC Paru
Pengobatan tetap dibagi dalam dua tahap yakni:
1) Tahap intensif (initial), dengan memberikan 4–5 macam obat anti TB per
hari dengan tujuan mendapatkan konversi sputum dengan cepat (efek
bakteri sidal), menghilangkan keluhan dan mencegah efek penyakit lebih
lanjut,mencegah timbulnya resistensi obat
2) Tahap lanjutan (continuation phase), dengan hanya memberikan 2 macam
obat per hari atau secara intermitten dengan tujuan menghilangkan bakteri
yang tersisa (efek sterilisasi), mencegah kekambuhan pemberian dosis diatur
berdasarkan berat badan yakni kurang dari 33 kg, 33 – 50 kg dan lebih dari
50 kg. Kemajuan pengobatan dapat terlihat dari perbaikan klinis (hilangnya
keluhan,nafsu makan meningkat, berat badan naik dan lain-lain),
berkurangnya kelainan radiologis paru dan konversi sputum menjadi negatif.
Kontrol terhadap sputum BTA langsung dilakukan pada akhir bulan ke-2, 4,
dan 6. Pada yang memakai paduan obat 8 bulan sputum BTA diperiksa pada
akhir bulan ke-2, 5, dan 8. BTA dilakukan pada permulaan, akhir bulan ke-2
dan akhir pengobatan. Kontrol terhadap pemeriksaan radiologis dada,
kurang begitu berperan dalam evaluasi pengobatan. Bila fasilitas
memungkinkan foto dapat dibuat pada akhir pengobatan sebagai
dokumentasi untuk perbandingan bila nantsi timbul kasus kambuh.
b. Perawatan bagi penderita tuberkulosis
Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberculosis adalah :
1) Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang
terdekat yaitu keluarga.
2) Mengetahui adanya gejala efek samping obat dan merujuk bila diperlukan
3) Mencukupi kebutuhan gizi seimbang penderita
4) Istirahat teratur minimal 8 jam per hari
5) Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua,
kelima
dan enam
6) Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang
baik

F. Covid 19

 Pengertian
Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-
CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena
infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan
ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian.
Coronavirus / covid 19 merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan
penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit
yang serius seperti MERS dan SARS - Penularannya dari hewan ke manusia
(zoonosis) dan penularan dari manusia ke manusia sangat terbatas.

 Penyebab
Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu
kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar
kasus, coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai
sedang, seperti flu. Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi
pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory
Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).Ada
dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia.
Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia
ke manusia. Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara,
yaitu:
a) Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita
COVID-19 batuk atau bersin.
b) Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah
menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19
c) Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19
Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih
berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil,
orang yang memiliki penyakit tertentu, perokok, atau orang yang daya tahan
tubuhnya lemah, misalnya pada penderita kanker.
Karena mudah menular, virus Corona juga berisiko tinggi menginfeksi para
tenaga medis yang merawat pasien COVID-19. Oleh karena itu, para tenaga
medis dan orang-orang yang memiliki kontak dengan pasien COVID-19 perlu
menggunakan alat pelindung diri (APD).

 Gejala Penyakit
infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu
demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu,
gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita dengan
gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan
berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul
ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.
Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang
terinfeksi virus Corona, yaitu:
a) Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)
b) Batuk kering
c) Sesak napas

Ada beberapa gejala lain yang juga bisa muncul pada infeksi virus
Corona meskipun lebih jarang, yaitu
a) Diare
b) Sakit kepala
c) Konjungtivitis
d) Hilangnya kemampuan mengecap rasa atau mencium bau
e) Ruam di kulit
Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2
minggu setelah penderita terpapar virus Corona.
 Penatalaksaannya
Penatalaksanaan pasien COVID-19 bergantung pada tingkat keparahannya.
Pada pasien dengan gejala ringan, isolasi dapat dilakukan di rumah. Pada
pasien dengan penyakit berat atau risiko pemburukan, maka dapat dilakukan
rawat inap.
 Terapi Suportif untuk Gejala Ringan
Pada pasien COVID-19 dengan gejala ringan, isolasi dapat dilakukan di
rumah. Pasien disarankan untuk menggunakan masker terutama saat
melakukan kontak dengan orang lain. Beberapa terapi suportif, seperti
antipiretik, antitusif, dan ekspektoran, dapat digunakan untuk meringankan
gejala pasien.
Antipiretik/Analgetik
Pemberian antipiretik/analgetik diberikan apabila pasien memiliki temperatur
≥38 °C, nyeri kepala, atau mialgia. Pilihan terapi antipiretik/analgetik yang
dapat diberikan ketika dibutuhkan adalah paracetamol 500–1000 mg PO
setiap 4-6 jam, dengan maksimum dosis 4000 mg/hari atau ibuprofen 200–
400 mg PO setiap 4-6 jam, dengan maksimum dosis 2400 mg/hari. pada
pasien COVID-19, paracetamol lebih disarankan penggunaannya daripada
ibuprofen karena ibuprofen memiliki luaran yang lebih buruk.[6,20]

Antitusif & Ekspektoran


Pemberian antitusif dan ekspektoran berfungsi untuk menurunkan gejala
batuk pada pasien COVID-19. Apabila pasien mengalami batuk berdahak,
maka pemberian ekspektoran dapat diberikan untuk mengencerkan sputum.
Pilhan antitusif yang dapat diberikan pada pasien adalah dextromethorphan
60 mg setiap 12 jam atau 30 mg setiap 6-8 jam PO. Terapi ekspektoran yang
dapat diberikan adalah guaifenesin 200-400 mg setiap 4 jam PO, atau 600-
1200 mg setiap 12 jam PO, atau ambroxol 30-120 mg setiap 8-12 jam PO.
[6,20]
Terapi Suportif untuk Gejala Berat
Pasien COVID-19 dengan gejala sedang-berat perlu dirawat inap.
Pengendalian infeksi dan terapi suportif merupakan prinsip utama dalam
manajemen pasien COVID-19 dengan keadaan buruk.
Intubasi dan Ventilasi Mekanik Protektif
Intubasi endotrakeal dilakukan pada keadaan gagal napas hipoksemia.
Tindakan ini dapat dilakukan oleh petugas terlatih dengan memperhatikan
kemungkinan transmisi airborne. Preoksigenasi dengan fraksi oksigen (FiO2)
100% selama 5 menit dapat diberikan dengan bag-valve mask, kantong
udara, high flow nasal oxygen, dan non-invasive ventilation. Ventilasi
mekanik dilakukan dengan volume tidal yang lebih rendah (4–8 ml/kg berat
badan) dan tekanan inspirasi rendah (tekanan plateau < 30 cmH 2O).[1,20]
DAFTAR PUSTAKA

Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007


https://www.halodoc.com/kesehatan/bronkitis