Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Keluarga


1. Pengertian
1) (Bailon dan Maglaya dalam Susanto, 2012)
Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih
yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau
adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi
satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan
mempertahankan suatu budaya.
2) (Stanhope dan Lancester dalam Susanto, 2012)
keluarga adalah dua atau lebih individu yang berasal
dari kelompok keluarga yang sama atau yang berbeda dan
saling mengikutsertakan dalam kehidupan yang terus
menerus, biasanya bertempat tinggal dalam satu rumah,
mempunyai ikatan emosional dan adanya pembagian tugas
antara satu dengan yang lainnya.
3) (Allender dan Spradley dalam Susanto, 2012)
keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal
bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan
mengembangkan dalam interaksi sosial, peran dan tugas.
2. Ciri- ciri keluarga
1) Diikat dalam suatu tali perkawinan
2) Ada hubungan darah
3) Ada ikatan batin
4) Ada tanggung jawab masing-masing anggota
5) ‘Adanya pengambilan keputusan
6) Kerjasama diantara anggota keluarga
7) Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
8) Tinggal dalam satu rumah
3. Tujuan Dasar Keluarga
Tujuan dasar pembentukan keluarga yaitu :
1) Keluarga merupakan unit dasar yang memiliki pengaruh kuat
terhadap perkebangan individu.
2) Keluarga sebagai perantara bagi kebutuhan dan harapan
anggota keluarga dengan kebutuhan dan tuntunan masyarakat.
3) Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
anggota keluarga dan menstabilkan kebutuhan kasih sayang,
sosio-ekonomi dan kebutuhan seksual.
4) Keluarga memiliki pengaruh yang penting terhadap
pembentukan identitas seorang individu dan perasaan harga
diri (Susanto, 2012).
4. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga (menurut Friedman, Bowden, & jones
dalam Susanto 2012) dibagi menjadi lima yaitu :
1) Fungsi afektif dan koping : keluarga memberikan kenyamanan
emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk
identitas dan mempertehankan saat terjadi stress.
2) Fungsi sosialisasi : keluarga sebagai guru, menanamkan
kepercayaan, nilai, sikap, dan mekanisme koping;
memberikan feed back; dan memberikan petunjuk dalam
pemecahan masalah.
3) Fungsi reproduksi : keluarga meahirkan anaknya.
4) Fungsi ekonomi : keluarga memberikan financial untuk
anggota keluarganya dan kepentingan di masyarakat.
5) Fungsi fisik dan perawatan kesehatan : keluarga memberikan
keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan, perkembanga dan istirahat termasuk untuk
penyembuhan dari sakit.
5. Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal
dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan
perkembangan sosial, maka tipe keluarga berkembang
mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta
keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan, maka perawat
perlu memahami dan mengetahui berbagai tipe keluarga
(Friedman, Bowden & Jones dalam Susanto, 2012).
1) Tipe Keluarga Tradisional
a) Keluarga inti : suatu rumah tangga yang terdiri dari
suami, istri, dan anak (kandung/angkat).
b) Keluarga besar : keluarga inti ditambah keluarga lain
yang mempunyai hubungan darah misal kakak, nenek,
paman, bibi.
c) Single parent : suatu rumah tangga yang terdiri dari
satu orang tua dengan anak (kandung/angkat). Kondisi
ini dapat disebabkan oleh kematian/ perceraian.
d) Single adult : suatu rumah tangga yang terdiri dari
satu orang dewasa.
e) Keluarga lanjut usa : terdiri dari suami istri lanjut
usia.
2) Tipe keluarga non tradisonal
a) Commune family : lebih satu keluarga tanpa pertalian
darah hidup serumah.
b) Orang tua (ayah ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan
dan anak hidup bersama dalam satu rumah tangga.
c) Homosexual : dua individu yang sejenis hidup bersama
dalam satu rumah tangga.
6. Struktur Keluarga
1) Struktur keluarga terdiri atas bermacam-macam,
diantaranya adalah :
a) Patrilineal
Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri atas
sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana
hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
b) Matrilineal
Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri atas
sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana
hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c) Matrilokal
Matrilokal adalah sepasang suami isteri yang tinggal
bersama keluarga saudara suami.
a) Patrilokal
Patrilokal adalah sepasang suami isteri yang tinggal
bersama keluarga saudara suami.
b) Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan keluarga dan beberapa sanak.
2) Ciri-ciri struktur keluarga
a) Terorganisasi, yaitu saling berhubungan, saling
ketergantungan antara anggota keluarga.
b) Ada keterbatasan, dimana setiap anggota memiliki
kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan
dalam menjalakan fungsi dan tugasnya masing-masing.
c) Ada perbedaan dan kekhususan yaitu setiap anggota
keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-
masing.
Friedman, Bowden, & Jones dalam Susanto (2012)
membagi struktur keluarga menjadi empat elemen
yaitu :
a) Pola Komunikasi Keluarga
b) Pola Peran Keluarga
c) Pola Norma dan Nilai Keluarga
d) Pola Kekuatan Keluarga

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga


1. Pengertian
Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah satu area
pelayanan keperawatan yang dapat dilaksanakan di masyarakat.
Pelayaanan keperawatan keluarga yang saat ini dikembangkan
merupakan bagian dari pelayanan keperawatan masyarakat
(Perkesmas) perawatan kesehatan masyarakat merupakan salah
satu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesehatan
masyarakat. (Keputusan Menteri Kesehatan No. 908 tentang
Pelayanan Keperawatan Keluarga)
Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan
yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran
keluarga, pada tatanan komunitas yang bertujuan untuk
menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan, berlandaskan pada
etika dan etiket keperawatan, dalam lingkup wewenang serta
tanggung jawab keperawatan (Kelompok Kerja Keperawatan CHS,
1994; Mc Closkey & Grace, 2001).
2. Tujuan Asuhan Keperawatan Keluarga
Secara umum tujuan pelayanan keperawatan keluarga adalah
mengoptimalkan fungsi dan kemampuan keluarga dalam mengatasi
masalah kesehatan dan mempertahankan status kesehatan
anggotanya. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah
peningkatan kemampuan keluarga dalam :
1. Keluarga mampu melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan
keluarga dan menangani masalah kesehatan meliputi :
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga
b. Memutuskan tindakan yang cepat dan tepat untuk
mengatasi masalah kesehatan keluarga
c. Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat
kepada anggota keluarga yang sakit, mempunyai gangguan
fungsi tubuh dan/atau keluarga yang membutuhkan bantuan
sesuai dengan kemampuan keluarga
d. Memelihara dan memodifikasi lingkungan keluarga (fisik,
psikis dan sosial) sehingga dapat meningkatkan
kesehatan keluarga
e. Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat untuk
memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
keluarga
2. Keluarga memperoleh pelayanan keperawatan sesuai kebutuhan
3. Keluarga mampu berfungsi optimal dalam memelihara hidup
sehat anggota keluarganya
(Keputusan Menteri Kesehatan No. 908 tentang Pelayanan
Keperawatan Keluarga)
3. Sasaran Asuhan Keperawatan Keluarga
Sasaran asuhan keperawatan keluarga adalah :
1. Keluarga sehat, memerlukan antisipasi terkait dengan
siklus perkembangan manusia dan tahapan tumbang, fokus
pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
2. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu
keluarga dengan: ibu hamil yang belum ANC, ibu nifas yang
persalinannya ditolong oleh dukun dan neonatusnya, balita
tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa
diintervensi oleh program, penyakit endemis, penyakit
kronis tidak menular atau keluarga dengan kecacatan
tertentu (mental atau fisik).
3. Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu
hamil yang memiliki masalah gizi, seperti anemia gizi
berat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang Energi Kronis
(KEK), keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti
perdarahan, infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita
dengan BGM, keluarga dengan neonates BBLR, keluarga dengan
usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan
bunuh diri.
4. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan
4. Ruang Lingkup Asuhan Keperawatan Keluarga
Pelayanan keperawatan keluarga mencakup Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang
diberikan kepada klien sepanjang rentang kehidupan dan sesuai
tahap perkembangan keluarga. Berbagai bentuk upaya pelayanan
kesehatan baik upaya promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif, maupun resosialitatif.
a) Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan
keluarga dengan melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan,
peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan baik individu
maupun semua anggota keluarga, pemeliharaan kesehatan
lingkungan, olahraga teratur, rekreasi dan pendidikan seks.
b) Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan
gangguan kesehatan terhadap keluarga melalui kegiatan
imunisasi, pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu,
puskesmas dan kunjungan rumah, pemberian vitamin A, iodium,
ataupun pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan
menyusui.
c) Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga
yang sakit atau masalah kesehatan melalui kegiatan perawatan
orang sakit dirumah, perawatan orang sakit sebagai
tindaklanjut dari Pukesmas atau rumah sakit, perawatan ibu
hamil dengan kondisi patologis, perawatan buah dada, ataupun
perawatan tali pusat bayi baru lahir
d) Upaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang
dirawat dirumah atau keluarga-keluarga yang menderita
penyakit tertentu seperti TBC, kusta dan cacat fisik lainnya
melalui kegiatan latihan fisik pada penderita kusta, patch
tulang dan lain sebagainya, kegiatan fisioterapi pada
penderita stroke, batuk efektif pada penderita TBC, dll.
e) Upaya resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan
penderita (anggota keluarga) ke masyarakat yang karena
penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti, penderita
AIDS, kusta dan wanita tuna susila.
5. Kegiatan Pokok Asuhan Keperawatan Keluarga
Berdasarkan dengan lingkup pelayanan keperawtan keluarga, maka
kegiatan pelayanan keperawatan yang dilakukan mencakup :
1. Melaksanakan tindakan keperawatan (nursing treatment) sesuai
kebutuhan perkembangan keluarga.
2. Melakukan tindakan kolaborasi dengan tim kesehatan terkait,
seperti tim medik, gizi, fisioterapi, dan lain-lain.
3. Melakukan observasi (pengamatan) dan pemantauan status
kesehatan seluruh anggota keluarga.
4. Melakukan tindakan kedaruratan dalam pelayanan keperawatan
keluarga.
5. Melakukan kontrol infeksi (infection control) dirumah.
6. Melakukan konseling baik yang bersifat dorongan maupun
kritikal.
7. Melibatkaan keluarga dalam penanganan masalah kesehatan
anggotanya dan pemantauaan keteraturan atau kepatuhan klien
dan keluarga melaksanakan intervensi keperawatan dan
pengoban.
8. Memfasilitasi pemanfaatan sumber-sumber dikomunitas guna
menunjang penanganaan masalah kesehatan anggota keluarga.
9. Melakukan rujukan terutama kasus kontak serumah.
10. Melakukan perawatan tindak lanjut (follow up care)
serta penilaian hasil.
11. Melakukan kolaborasi lintas program dan lintas sektor
untuk meningkatkan pelayanan keperawatan keluarga.
12. Melakukan keperawatan kesehatan dirumah (home health
nursing).
13. Melakukan pendokumentasian pelayanan dan asuhan
keperawatan keluarga.
(Keputusan Menteri Kesehatan No. 908 tentang Pelayanan
Keperawatan Keluarga)
6. Peran Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan Keluarga
Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan
keluarga diantaranya adalah:
a. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)
Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah
keperawatan yang ada, merencanakan tindakan keperawatan,
melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi pelayanan
yang telah diberikan kepada keluarga.
b. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and
Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga secara
terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat,
sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan
dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari
dan mengatasi tatanan psikologis atau masalah sosial untuk
membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk
meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan
dukungan emosional dan intelektual.
Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu :
pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini
sejalan dengan proses keperawatan dalam fase pengkajian
seorang perawat mengkaji kebutuhan pembelajaran bagi pasien
dan kesiapan untuk belajar. Selama perencanaan perawat
membuat tujuan khusus dan strategi pengajaran. Selama
pelaksanaan perawat menerapkan strategi pengajaran dan
selama evaluasi perawat menilai hasil yang telah didapat
(Mubarak, 2005).
c. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan
contoh yang baik dalam bidang kesehatan kepada keluarga
tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru
dan dicontoh oleh anggota keluarga
d. Sebagai pembela (Client Advocate)
Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan
fungsinya melalui pelayanan sosial yang ada dalam
masyarakat. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-
hak klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa
yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien
terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005).
Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung
jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan
informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam
memberikan informasi hal lain yang diperlukan untuk
mengambil persetujuan (Informed Concent) atas tindakan
keperawatan yang diberikan kepadanya.
Tugas yang lain adalah mempertahankan dan melindungi
hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit dan
dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak
petugas kesehatan (Mubarak, 2005).
e. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)
Perawat kesehatan keluarga diharapkan dapat mengelola
berbagai kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan
masyarakat sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab yang
dibebankan kepadanya.
f. Sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan
dengan cara bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik
dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi, dan lain-lain
dalam kaitanya membantu mempercepat proses penyembuhan klien
Tindakan kolaborasi atau kerjasama merupakan proses
pengambilan keputusan dengan orang lain pada tahap proses
keperawatan. Tindakan ini berperan sangat penting untuk
merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan (Mubarak,
2005).
g. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)
Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang
telah menjalani perawatan di suatu instansi kesehatan atau
rumah sakit. Perencanaan ini dapat diberikan kepada
keluarga yang sudah mengalami perbaikan kondisi kesehatan.
h. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi pada keluarga yang menyangkut masalah-masalah
kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak
terhadap status kesehatan melalui kunjungan rumah, observasi
dan pengumpulan data.
i. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain
mengarahkan, merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada klien. Pelayanan dari semua
anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari
banyak profesional (Mubarak, 2005).
j. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent
and Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang
berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat
perubahan pada dirinya atau pada sistem. Marriner torney
mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang
mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan
klien untuk berubah, menunjukkan alternative, menggali
kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya,
menunjukkan peran membantu, membina dan mempertahankan
hubungan membantu, membantu selama fase dari proses
perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini
(Mubarak, 2005).
Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial
dari perawatan. Dengan menggunakan proses keperawatan,
perawat membantu klien untuk merencanakan, melaksanakan dan
menjaga perubahan seperti : pengetahuan, ketrampilan,
perasaan dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan
(Mubarak, 2005).
k. Fasilitator
Membantu keluarga menghadapi kendala dengan memfasilitasi
kebutuhan keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan derajat
kesehatan.
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. MODEL Family Center Nursing FRIEDMAN 1998

PENGKAJIAN KELUARGA PENGKAJIAN


 Identifikasi data demografi ANGGOTA
 Pengumpulan data
dan sosiokultural
KELUARGA
 Riwayat & tahap  Validasi data
perkembangan keluarga  Fisik
 Lingkungan  Pengorganisasian 
data Mental
 Struktur keluarga  Emosional
 Pencatatan data  Sosial
 Fungsi keluarga
 Stres dan mekanisme koping  Spiritual
 Pemfis (head to toe)
 Harapan keluarga

 Analisis data
DIAGNOSIS KEP
 Merumuskan diagnosis
KELUARGA
 Validasi diagnosis
 Prioritas

PERENCANAAN
1. Menetapkan tujuan
2. Identifikasi sumber daya keluarga
3. Memilih intervensi yang sesuai
4. Prioritaskan intervensi

IMPLEMENTASI
Melalui sumber-sumber yang dimiliki keluarga

EVALUASI
1. Kemampuan keluarga melakukan 5 tugas kesehatan keluarga
2. Tingkat kemandirian keluarga
3. Budaya hidup sehat keluarga
Gambar 1 Bagan proses keperawatan sebagai kerangka kerja askep
keluarga
STANDAR ASKEP PPNI
1. Standar praktik profesional
a. Standar I Pengkajian
- Pengkajian tahap I :

 Biodata anggota keluarga

 Memeriksa fisik anggota keluarga.

 Memeriksa keluhan utama.

 Mengkaji bentuk lingkungan (fisik, sosial,


simbolik) yang mempengaruhi kesehatannya saat ini.
 Mengkaji bentuk keluarga.

 Mengkaji struktur keluarga.

 Mengkaji fase tumbuh-kembang keluarga.

 Mengkaji pola komunikasi keluarga.

 Memeriksa tugas perkembangan keluarga yang telah


dilaksanakan.
 Mengkaji budaya keluarga dalam mengatasi kesehatan
mereka selama ini.
 Menentukan masalah keperawatan keluarga.
- Melakukan pengkajian tahap II:

 Mengkaji tugas kesehatan keluarga yang telah


dilakukan.
 Mengkaji potensi sumber-sumber pendukung dan risiko
penghambat yang dimiliki keluarga.
 Menentukan etiologi masalah keperawatan keluarga.

 Membuat skoring.

 Melakukan analisis masalah keperawatan keluarga.

 Membuat prioritas masalah keperawatan kelurga.


b. Standar II Diagnosa Keperawatan
1) Merumuskan diagnosis keperawatan keluarga secara
akurat yang meliputi diagnosis actual, risiko, dan
potensial/bersifat meningkatkan perbaikan.
2) Menentukan prioritas diagnosis keperawatan keluarga
utama yang sesuai dengan day apendukung keluarga.
3) Klarifikasi data pendukung kepada keluarga, apakah
masalah tersebut sesuai dengan apa yang dirasakan
keluarga saat ini.
c. Standar III Perencanaan
1) Menentukan tujuan jangka panjang yang berorientasi
pada keluarga.
2) Menentukan tujuan jangka pendek yang berorientasi
pada keluarga.
3) Menentukan criteria keberhasilan yang memungkinkan
untuk dicapai keluarga.
4) Menentukan strategi intervensi meliputi:
a. Menguatkan budaya keluarga yang mendukung
kesehatan keluarga saat ini,
b. Menegosiasikan budaya keluarga yang lebih
menguntungkan kesehatan keluarga,
c. Merestrukturisasi budaya keluarga yang merugikan
kea rah yang menguntungkan kondisi kesehatan
keluarga.
5) Menentukan bentuk terapi keperawatan keluarga yang
paling dibutuhkan saat ini.
6) Menentukan bentuk kolaborasi dan rujukan yang
diperlukan dalam rangka mengoptimalkan Perilaku Hidup
Bersih Sehat dan Berbudaya (PHBSB).
d. Standar IV Pelaksanaan Tindakan (Implementasi)
1) Pengkajian lanjutan untuk memastikan bahwa intervensi
yang direncanakan masih sesuai dan dapat dilaksanakan
saat ini.
2) Memulai strategi implementasi sesuai budaya keluarga
yang mendukung keadaan kesehatannya, dilanjutkan
dengan negosiasi budaya dan restrukturisasi budaya
yang sangat diperlukan sesuai kondisi kesehatannya
saat ini.
3) Melakukan terapi keperawatan keluarga meliputi aspek
berikut.
a. Kognitif, keluarga mampu meningkatkan
pengetahuan.
b. Afektif, keluarga mampu menilai keberhasilan atau
adanya tanda-tanda bahaya dalam diri mereka
sendiri dan menentukan skap untuk bertindak.
c. Psikomotor, keluarga mampu mendemonstrasikan,
menunjukkan perilaku atau budaya sehari-hari yang
harus dilakukan sebagai gaya hidupnya.
4) Pemanfaatan potensi sumber-sumber pendukung lokal
yang dimiliki keluarga dan keluarga besarnya termasuk
lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, simbolik)
dengan arif dan bijaksana.
5) Memerhatikan tumbuh-kembang keluarga, struktur
keluarga, dan keinginan keluarga.
6) Meminimalkan risiko hambatan yang dapat menimbulkan
komplikasi atau putus obat.
7) Menerapkan manajemen risiko terhadap terapi
keperawatan yang diberikan kepada keluarga.
e. Standar V Evaluasi
1) Tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai keluaraga.
2) Keluarga mampu menjelaskan tanda dan gejala dari
masalah kesehatan yang dihadapi.
3) Keluarga mampu memprediksi komplikasi yang akan
terjadi.
4) Keluarga telah merawat anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatan.
5) Keluarga telah memodifikasi lingkungan (fisik, sosial,
simbolik) sehingga mendukung upaya kesehatan.
6) Keluarga telah memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk
mengatasi masalah kesehatannya.
7) Keluarga memiliki perilaku hidup bersih, sehat, dan
berbudaya.
8) Keluarga dapat mandiri dalam mengatasi masalah
kesehatannya.
2. Standar kinerja profesional
a. Standar I Jaminan Mutu
b. Standar II Pendidikan
c. Standar III Penilaian Kerja
d. Standar IV Kesejawatan (collegial)
e. Standar V Etik
f. Standar VI Kolaborasi
g. Standar VII Riset
h. Standar VIII Pemanfaatan sumber-sumber
C. Konsep Dasar Penyakit
a. Pengertian

Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension)


adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka
systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada
pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan
darah yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun
alat digital lainnya (Pudiastuti, 2013). Hipertensi atau
tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal
tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus
menerus lebih dari satu periode. Menurut WHO, batasan
tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg,
sedangkan tekanan darah ≥160/95 mmHg dinyatakan sebagai
hipertensi. Tekanan darah diantara normotensi dan hipertensi
disebut borderline hypertension (Garis Batas Hipertensi).
Batasan WHO tersebut tidak membedakan usia dan jenis kelamin.
b. Klasifikasi hipertensi
Penyakit darah tinggi atau hipertensi dikelompokkan
dalam 2 tipe klasifikasi, (Pudiastuti, 2013) yaitu :
1) Hipertensi Primary
Hipertensi primary adalah suatu kondisi dimana
terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari
gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang
pola makananya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan
berat badan atau obesitas, hal ini merupakan pemicu awal
ancaman penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula seseorang
yang berada dalam lingkungan atau kondisi stressor tinggi,
sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi,
termasuk pula orang yang kurang olahraga pun dapat mengalami
tekanan darah tinggi.
2) Hipertensi Secondary
Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana
terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat
seseorang mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal
jantung, gagal ginjal, atau kerusakan system hormone tubuh.

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Dewasa di Atas 18 Tahun


Klasifikasi tekanan darah Tekanan sisolik dan
tinggi diastolic
(mmHg)

Normal Sistole <120 dan


diastolik <80
Prehipertensi Sistole 120-139 dan
diastolik 80-89
Hipertensi stadium I Sistole 140-159 dan
diastolik 90-99
Hipertensi stadium II Sistole >160 dan
diastolik >100
Sumber: JNC 7 ( The Seventh Report Of The Joint National Committee On
Prevention, Detection, Evaluation, And Treatment Of High Blood
Pressure).
Tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal setidaknya
diukur pada tiga kesempatan dengan perbedaan waktu. Menurut
WHO dan ISH (2010) batas hipertensi ditetepkan > 140/90
mmHg.
c. Penyebab Hipertensi
Penyebab hipertensi dibagi 3 (Pudiastuti, 2013) yaitu :
1) Secara genetis menyebabkan kelainan berupa :
a) Gangguan fungsi barostat renal.
b) Sensitifitas terhadap konsumsi garam.
c) Abnormalitas transportasi natrium kalium.
d) Respon SPP (system saraf pusat) terhadap stimulasi
psoki-sosial.
e) Gangguan metabolism (glukosa, lipid, dan resistensi
insulin ).
2) Faktor lingkungan
a) Faktor psikososial : kebiasaan hidup, pekerjaan,
stress mental, aktivitas fiski, status sosial ekonomi,
keturunan, kegemukan, dan konsumsi minuman keras.
b) Faktor konsumsi garam
c) Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid
(cortison) dan beberapa obat hormon , termasuk
beberapa obat anti radang (anti-inflamasi) secara
terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan
darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu
factor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah
tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin.
Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah
satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan
darah tinggi. Stop menjadi alcoholic
3) Adaptasi structural jantung serta pembuluh darah
a) Pada jantung : terjadi hypertropi dan hyperplasia
miosit.
b) Pada pembuluh darah : terjadi vaskuler hypertropi.
d. Gejala Hipertensi
Gejaa hipertensi sangat bervariasi, pada sebagian
penderita tidak menimbulkan gejala ( tanpa gejala), atau
dengan keluhan ringan. Menurut (Wijoyo P.M., 2011) gejala
hipertensi yaitu :
1) Pusing-pusing
2) Sakit kepala
3) Tegang-tegang di belakang leher
4) Sesak nafas
5) Mudah lelah
6) Mual dan muntah
7) Gelisah
8) Pandangan menjadi kabur
e.Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Hipertensi
Menurut Pudiastuti (2013), faktor resiko yang mempengaruhi
hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol, antara lain
:
1)Faktor Resiko Yang Tidak Dapat Dikontrol
a) Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama
dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit
kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum
mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen
yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi
merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya
proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen
dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita
pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai
kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang
selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan.
Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen
tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur
wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada
wanita umur 45-55 tahun. Dari hasil penelitian
didapatkan hasil lebih dari setengah penderita
hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%.
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila
terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak
menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60%
penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering
dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause.
b) Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi
tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung
mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang
berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus
ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia
tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu
dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat.
Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi banyak
terjadi pada usia lanjut. Pada wanita, hipertensi
sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini
disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah
menopause.
Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi
lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut
cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian
sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan
elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah
meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Peningkatan kasus hipertensi akan berkembang pada umur
lima puluhan dan enampuluhan. Dengan bertambahnya
umur, dapat meningkatkan risiko hipertensi.

b) Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita
hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan
kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara
potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua
dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih
besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang
tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.
Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial
dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Anggraini
dkk, 2009). Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih
besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya
adalah penderita hipertensi.
Tekanan darah tinggi cenderung diwariskan dalam
keluarganya. Jika salah seorang dari orang tua anda
ada yang mengidap tekanan darah tinggi, maka anda akan
mempunyai peluang sebesar 25% untuk mewarisinya selama
hidup anda. Jika kedua orang tua mempunyai tekanan
darah tingi maka peluang anda untuk terkena penyakit
ini akan meningkat menjadi 60%.
2)Faktor Resiko Yang Dapat Dikontrol
a) Obesitas
Pada usia pertengahan ( + 50 tahun ) dan dewasa
lanjut asupan kalori sehingga mengimbangi penurunan
kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu
sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat
memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia karena
dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti
artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi.
b) Kurang olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan
penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan
teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan
menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan
melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila
jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat
karena adanya kondisi tertentu.
Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan
darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi
gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung
mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung
mereka harus bekerja lebih keras pada setiap
kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus
memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak
arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-
60 menit setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga
jantung dan peredaran darah. Bagi penderita tekanan
darah tinggi, jantung atau masalah pada peredaran
darah, sebaiknya tidak menggunakan beban waktu jalan.
Riset di Oregon Health Science kelompok laki-laki
dengan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan
kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan
sekitar 6,5% kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein)
faktor penting penyebab pergeseran arteri.
c) Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah.
Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan
insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya
stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.
Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S
Bowman dari Brigmans and Women’s Hospital,
Massachussetts terhadap 28.236 subyek yang awalnya
tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak
merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek
merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang
merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus
diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan
dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi
terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan
merokok lebih dari 15 batang perhari.
d) Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu World Health
Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi
garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya
hipertensi. Kadar yodium yang direkomendasikan adalah
tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram yodium
atau 6 gram garam) perhari. Konsumsi natrium yang
berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya
cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume
cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume
cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya
volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya
hipertensi.
e) Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat
merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk
pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan
termasuk salah satu faktor resiko hipertensi.
f) Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu
cangkir kopi mengandung 75 – 200 mg kafein, di mana
dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan
tekanan darah 5 -10 mmHg.
g) Stress
Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga
melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf
dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu). Stress yang berkepanjangan dapat
mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun
hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di
masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan
di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh
stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal
di kota. Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh
darah perifer dan curah jantung sehingga akan
menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stress
ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial,
ekonomi, dan karakteristik personal
f.Komplikasi Hipertensi
Orang yang mengidap penyakit tekanan darah tinggi
berpotensi penyakit-penyakit berikut (Pudiastuti, 2013)
antara lain :
1) Stroke
2) Serangan jantung
3) Gagal ginjal
4) Kebutaan
5) Payah jangtung
g.Perawatan Pada Penderita Hipertensi
1) Secara Nonfarmakologis :
a)Mengurangi garam
Kurang asupan garam sampai kurang dari 100 mmol
perhari atau kurang dari 2,3 gram natrium atau kurang dari
6 gram NaCl. Pendarita hipertensi dianjurkan juga untuk
menjaga asupan kalsium magnesium (Pudiastuti, 2013).
Mengurangi konsumsi garam terbukti dapat menurunkan
tekanan darah. Sebagai contoh, mengurangi garam dapur
sekitar 3 gram (kurang dari satu sendok teh) sehari
dapat mengurangi terjadinya stroke (26%) dan serangan
janung (15%) akibat tersumbatnya pebuluh darah
(Widharto, 2009).
b)Mengendalikan berat badan
Bagaimanapun juga orang gemuk jelas kurang menarik
dari segi penampilan. Jadia atau dua keuntungan jika
penderita hipertensi dapat mengendalikan berat badannya,
yaitu menjaga kesehatan dan memperbaiki penampilan.
Mengendalikan berat badan dapat dilakukan dengan berbagai
cara. Misalnya mengurangi porsi makan makanan yang masuk
tubuh atau mengimbangi dengan melakukan banyak aktivitas
(Widharto, 2009).
c)Olahraga secara teratur
Seseorang penderita hipertensi buakn dilarang
berolahraga, tetepi justru dianjurkan berolahraga teratur.
Memang ada beberapa jenis olahraga yang tidak dianjurkan,
bahkan dilarang oleh pendderita hipertensi, yaitu jenis
olahraga keras seperti tinju, karate, gulat dan olahraga
sejenisnya. Jenis olahraga tersebut justru akan
memperparah hipertensi yang dialaminya. Bagi penderita
hipertensi semua bentuk olahraga baik, asal tidak
menyebabkan kelelahan fisik. Bagi mereka cukuplah olahraga
ringan untuk sedikit meningkatkan denyut jantung dan
keluarnya keringat. Beberapa jenis olahraga yang dapat
dipilih diantaranya : gerak jalan, senam (aerobic),
bersepeda atau berenang (Widharto, 2009)
d)Stop merokok
Merokok tidak berhubungan langsung dengan hipertensi
tetapi merupakan faktor utama penyebab kardiovaskuar.
Penderita hipertensi sebaiknya dianjurkan untuk berhenti
merokok (Pudiastuti, 2013).
e)Mengendalikan (kopi dan alkohol)
Beberapa referensi kesehatan menyatakan kopi tidak
baik bagi penderita tekanan darah tinggi. Senyawa kofein
yang terdapat pada kopi dapat memacu meningkatnya danyut
jantung yang berdampak pada peningkatan tekanan darah. Ada
yang member batasan bahwa 3 cangkir kopi kental sedah
cukup menyebabkan jantung berdetak semakin kencang.
Tentang minuman beralkohol, terdapat bukti yang kuat dapat
menyebabkan naiknya tekanan darah. Jika minuman beralkohol
itu diminum sekali tentu akan meningkatkan resiko
hipertensi dan stroke. Selain itu, konsumsi alkohol yang
berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan organ hati dan
system saraf (Widharto, 2009).

f)Menghindari stress
Suatu penelitian yang dilakukan oleh cornell medical
college menyatakan bahwa seseorang yang mengalami tekanan
jiwa (stress) selama bertahun-tahun di tempat kerja dapat
mengalami risiko hipertensi sebanyak tiga kali lebih
besar. Sebaiknya orang-orang yang berfikiran positif dan
optimis mempunyai peluang lebih kecil terkena hipertensi.
Namun, demikian jika tidak mungkin keluar dari bidang
kerja yang selalu mengalami tekanan, perlu dalakukan
perubahan pola berpikir, agar tekanan darahnya stabil.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari
stress, di antaranya dengan melakukan rekreasi atau
meditasi serta berusaha dan membina hidup yang positif
(Widharto, 2009).
2) Secara Farmakologi
Pengobatan farmakologis pada setiap penderita
hipertensi memerlukan pertimbangan bergbagai faktor seperti
beratnya hipertesi, kelainan organ dan faktor resiko lain.

Hipertensi dapat diatasi dengan memodifikasi gaya


hidup. Pengobatan dengan anti hipertensi diberikan jika
modifikasi gaya hidup tidak berhasil. Dokter pun memiliki
alasan dalam memberikan obat mana yang sesuai dengan kondisi
pasien saat menderita hipertensi. Tujuan pengobatan
hipertensi untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
tekanan darah tinggi. Artinya tekanan darah harus diturunkan
serendah mungkin yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak,
jantung, maupun kualitas hidup sambil dilakukan pengendalian
faktor resiko kardiovaskular.
Berdasarkan cara kerjanya, obat hipertensi terbagi
menjadi beberapa golongan, yaitu deuretik yang dapat
mengurangi curah jantung, beta bloker, penghambat ACE,
antagonis kalsium yang dapat mencegah vasokonstriksi.
Mayoritas pasien dengan tekanan darah tinggi akan memerlukan
obat-obatan selama hidup mereka untuk mengontrol tekanan
darah mereka. pada beberapa kasus, dua atau tiga obat
hipertensi dapat diberikan (Pudiastuti, 2013).