Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN FRAKTUR COLLES

DOSEN PENGAMPU:

PAK RUDI

KELAS : 3 E

ANGGOTA KELOMPOK 2

1. SINDY APRILIA (201701


2. ARIQ PRATAMA P E (201701
3. SITI SHOLIKHA (201701
4. ROSSALIA DWI A (201701
5. VIRA AGUSTIN A (201701200)
6. ADITYA ARNOFA (201701206)
7. SITI KHOLIFAH (201701208)
8. FAHMI LAILATUL (201701210)
9. AJI KURNIAWAN (201701
10. RASTRA LIKA (201601

STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO

2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur terlimpahkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan tugas makalah Asuhan Keperawatan pada Pasien Fraktur Collles.

Dalam menyelesaikan penulisan makalah Asuhan Keperawatan


Gastroenteritis Pada Anak. Selanjutnya tidak lupa kami mangucapkan terima
kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan tugas makalah
ini, khususnya kepada:
1. Ana Zakiyah.,M.Kep selaku Ketua Prodi S1 Keperawatan
2. Pak Rudi selaku Dosen Keperawatan Medikal Bedah III
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan
dan kesalahan serta kelemahan bagaikan pepatah mengatakan “Tiada Gading
yang tak retak”, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak akan sangat
berguna untuk penyempurnaan makalah ini dan semoga usaha kami ini mendapat
ridho dari Allah SWT. Amin.

Mojokerto, September 2019

Penulis
KONSEP DASAR

A. LAPORAN PENDAHULUAN
1. Definisi
Fraktur collee adalah terputusnya hubungan secara melintang pada
radius tepat diatas pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal
fragmen distal. Fraktur ini adalah fraktur yang paling sering ditemukan
pada lansia, insidennya yang tinggi berhubungan dengan permulaan
osteoporosis pascamenopause. Oleh sebab itu, klien biasanya adalah
wanita yang memiliki riwayat jatih pada tangan yang terlentang.
Mekanisme trauma pada fraktur colles terjadi akibat benturan
mengenai sepanjang lengan bawah dengan posisi pergelangan tangan
berekstensi. Tulang mengalami fraktur pada sambungan
kortikokanselosa dan fragmen distal remuk kedalam ekstensi dan
pergeseran dorsal. Kondisi fraktur colles memungkinkan adanya
gangguan sirkulasi darah pada jari, terdapat pembengkakan dan nyeri
tekan pada sendi - sendi jari, serta kekakuan pada pergelangan tangan
dampak dari terapi imobilisasi.
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan
(dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka
dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi).
Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar
(eksorotasi/supinasi).

2. Etiologi
a. Trauma langsung atau tidak langsung

b. Kekerasan akibat tarikan otot

c. Fraktur karena suatu penyakit (fraktur patologis)


3. Manifestasi Klinis
a. Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari
permukaan sendi distal radius
b. Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal
c. Subluksasi sendi radioulnar distal
d. Avulsi prosesus stiloideus ulna.

4. Patofisiologi
Fraktur colles terjadi akibat benturan yang mengenai sepanjang
lengan bawah dengan posisi pergelangan tangan ekstensi. Tulang
mengalami fraktur pada sambungan kortikokanselosa dan fragmen
distal remuk dalam posisi ekstensi dan pergeseran dorsal. Kondisi
fraktur colles memungkinkan adanya gangguan sirkulasi darah pada
jari, pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi di jari dan kekakuan
pada pergelangan tangan akibat terapi imobilisasi.
Kondisi klinis fraktur colles menimbulkan berbagai masalah
keperawatan pada klien, meliputi respons nyeri hebat akibat kompres
saraf, risiko tinggi trauma dan hambatan mobilitas lengan sekunder
akibat kerusakan fragmen tulang, dan risiko tinggi infeksi sekunder
akibat port de entree luka pasca - bedah. Intervensi medis dengan
penatalaksanaan pemasangan fiksasi interna menimbulkan masalah
risiko tinggi infeksi pasca-bedah, nyeri akibat trauma jaringan lunak,
risiko tinggi trauma sekunder akibat pemasangan traksi dan gips
sirkular, ansietas sekunder akibat rencana bedah dan prognosis
penyakit.
5. Pathway

6. Klasifikasi

7. Komplikasi

a) Kekakuan jari

b) Kekakuan bahu

c) Malunion (salah menyambung)

d) Subluksasi residual dari sendi radioulnar


e) Sudeck’s reflex sympathetic dystrophy

f) Late rupture of the tendon of the extensor pollicis longus

8. Pemeriksaan penunjang
Pada hasil pemeriksaan rontgen terdapat fraktur radius melintang
pada sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering
putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2)
bergeser dan miring ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang - kadang
pada fragmen distal mengalami permukaan dan kominutif yang hebat.
Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya
dislokasi. Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan
pertengahan radius. Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000),
adalah :
a. Pemeriksaan rontgen
b. Scan CT/MRI
c. Kreatinin
d. Hitung darah lengkap
e. Arteriogram
9. Penatalaksanaan
Menurut Appley (1995), pada fraktur tidak bergeser (atau hanya
sedikit sekali bergeser), fraktur didebat dalam slab gips yang
dibalutkan disekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan
dibalut kuat dalam posisinya. Fraktur yang bergeser harus direduksi
dibawah pengaruh anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan tarikan
dilakukan disepanjang tulang (kadang - kadang dengan ekstensi
pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen); fragmen distal
kemudian didorong ke tempatnya dengan menekan kuat - kuat pada
dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan dalam posisi fleksi,
deviasi ulnar, dan pronasi.
Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Jika posisi memuaskan,
dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat dibawah siku sampai
leher metakarpal dan dua pertiga keliling dari pergelangan tangan
tersebut. Slab ini dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain
krep. Posisis fleksi dan deviasi ulnar yang ekstrem harus dihindari; 20
detajat saja pada setiap arah. Lengan tetap ditinggikan selama satu atau
dua hari berikutnya; latihan bahu dan jari segera dimulai setelah klien
sadar. Jika jari - jari membengkak, mengalami sianosis atau nyeri,
harus tidak ada keraguan untuk membuka pembalut.
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a) Pemeriksaan Fisik
1. Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan
2. Pembengkakan
3. Pemendekan ekstremitas yang sakit
4. Paralysis
5. Angulasi ekstremitas yang sakit
6. Krepitasi
7. Spasme otot
8. Parestesia
9. Tidak ada denyut nadi pada bagian distal pada lokasi fraktur bila
aliran darah arteri terganggu oleh fraktur
10. Kulit terbuka atau utut
11. Perdarahan, hematoma
b) Pemeriksaan Diagnostik
Foto sinar X dari ekstremitas yang sakit dan lokasi fraktur
c) Pengkajian kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan
jaringan lunak
b.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan,
imobilisasi
c. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan
dengan imobilisasi, penurunan sirkulasi, fraktur terbuka
d.Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan dan hasil
akhir pembedahan
e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx Intervensi Rasional
1 Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri Untuk menentukan tindakan
keperawatan yang tepat
Imobilisasi bagian yang sakit Untuk mempertahankan posisi
fungsional tulang
Tingikan dan dukung ekstremitas Untuk memperlancar arus balik vena
yang terkena
Dorong menggunakan teknik Agar klien rileks
manajemen relaksasi
Berikan obat analgetik sesuai Untuk mengurangi nyeri
indikasi
2 Kaji derajat imobilisasi yang Untuk menentukan tindakan
dihasilkan oleh cedera keperawatan yang tepat
Dorong partisipasi pada aktivitas Melatih kekuatan otot klien
terapeutik
Bantu dalam rentang gerak Melatih rentang gerak aktif/pasif klie
pasif/aktif yang sesuai secara bertahap
Ubah posisi secara periodik Untuk mencegah terjadinya dekubitus
K Melatih rentang gerak aktif/pasif klien
olaborasi dengan ahli terapis/okupasi secara bertahap
dan atau rehabilitasi medic
3 Kaji kulit untuk luka terbuka Memberikan informasi mengenai
terhadap benda asing, kemerahan, keadaan kulit klien saat ini
perdarahan, perubahan warna
Massage kulit, pertahankan tempat
tidur kering dan bebas kerutan Menurunkan tekanan pada area yang
Ubah posisi dengan sering peka dan berisiko rusak
Bersihkan kulit dengan air Untuk mencegah terjadinya dekubitus
hangat/NaCl Mengurangi kontaminasi dengan agen
luar
Lakukan perawatan luka secara steril Untuk mengurangi resiko gangguan
integritas kulit

4 Kaji tingkat kecemasan klien (ringan, Untuk mengetahui tingkat kecemasaan


sedang, berat, panik) klien
Dampingi klien Agar klien merasa aman dan nyaman
Beri support system dan motivasi Meningkatkan pola koping yang efektif
klien Agar klien dapat menerima kondisinya
Beri dorongan spiritual saat ini
Informasi dapat menurunkan ansietas
Jelaskan jenis prosedur dan tindakan
pengobatan
5 Inspeksi kulit adanya iritasi atau Untuk mengkaji adanya iritasi atau
robekan kontinuitas robekan kontinuitas
Kaji kulit yang terbuka terhadap Untuk mengetahui ada/tidaknya tanda-
peningkatan nyeri, rasa terbakar, tanda infeksi
edema, eritema dan drainase/bau tak
sedap Untuk mengurangi resiko infeksi
Berikan perawatan kulit dengan steril
dan antiseptik
Tutup dan ganti balutan dengan Untuk mengurangi resiko penyebaran
prinsip steril setiap hari infeksi
Berikan obat antibiotic sesuai Untuk mencegah terjadinya infeksi
indikasi
di 22.37 Label: asuhan keperawatan pasien dengan Fraktur Radius Ulna
Diposkan oleh Boma ana Lokasi:indonesia Jembatan Kembar, Gerung, Indonesia