Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN

TIMBANG TERIMA

DosenPembimbing :

Dosen Pembimbing :
Duwi Basuki, S, Kep, Ns. M. Kep

Disusun Oleh Kelompok 01:

1. Mega Dwi Purnama 201701005

2. Kristina Rumatora 201701006

3. Michelle C S Tiven 201701015

4. Hesty Giyana Mulyati 201701021

5. Anita Rumahenga 201701025

6. Maria Goreci Thunggal 201701034

7. Marlina Batmomolin 201601197

STIKES Bina Sehat PPNI Kabupaten Mojokerto

2020/2021
KATA PENGANTAR

Pujisyukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa


yang telah melimpahkan rahmat taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan dan menyajikan makalah yang berjudul “TIMBANG TERIMA “ini
dengan baik. Penyusunan makalah ini imaksudkan agar pembaca memperoleh informasi
tentang model praktik keperawatan professional pada metode fungsional. Selain itu juga
untuk memenuhi mata kuliah Managemen

Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan makalah  ini. Kami juga berharap dengan adanya makalah ini
dapat menjadi salah satu sumber literature atau sumber informasi pengetahuan bagi
pembaca.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami memohon maaf jika adahal-hal yang kurang berkenan dan kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menjadikan ini lebih sempurna.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................................3
BAB I.............................................................................................................................4
PENDAHULUAN..........................................................................................................4
1.1 LATAR BELAKANG.............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................5
1.3 Tujuan......................................................................................................................5
BAB II............................................................................................................................6
PEBAHASAN................................................................................................................6
2.1. Pengertian Timbang Terima....................................................................................6
2.2. Tujuan timbang terima............................................................................................7
2.3. Manfaat timbang terima..........................................................................................8
2.4. Prinsip timbang terima............................................................................................9
2.5. Jenis timbang terima.............................................................................................11
2.6. Macam-macam timbang terima.............................................................................12
2.7 Metode dalam Timbang Terima.............................................................................13
2.8. Faktor-faktor dalam Timbang Terima...................................................................14
2.9. Langkah-langkah pelaksanaan timbang terima.....................................................15
2.10 Pelaksanaan Timbang terima...............................................................................15
2.11. Pemilihan tempat untuk pelaksanaan timbang terima........................................16
2.12 Prosedur timbang terima......................................................................................16
2.13. Tahapan dan bentuk pelaksanaan timbang terima..............................................18
2.14 Hambatan dalam pelaksanaan timbang terima.....................................................19
2.15 Efek timbang terima.............................................................................................19
2.16. Dokumentasi dalam Timbang Terima.................................................................20
2.17 Skema Timbang Terima.......................................................................................22
2.18 Mekanisme Timbang Terima...............................................................................23
2.19 Evaluasi dalam Timbang Terima.........................................................................25
2.30. Komunikasi SBAR..............................................................................................26
BAB III.........................................................................................................................28
DIALOG TIMBANG TERIMA..................................................................................28
3.1 Contoh Kominikasi Efektif SBAR Antar Shift Dinas / Serah Terima...................28

3
BAB 1V........................................................................................................................35
PENUTUP....................................................................................................................35
4.1 KESIMPULAN......................................................................................................35
4.2. SARAN.................................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................36

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Manajemen merupakan pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam


menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Manajemen mencakup kegiatan koordinasi dan
supervise staf serta sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. Manajemen
keperawatan sebagai proses bekerja melalui anggota staf untuk memberikan asuhan
keperawatan secara professional. Proses manajemen keperawatan sejalan dengan
keperawatan sebagai salah satu metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara
professional. Sehingga keduanya diharapkan dapat saling mendukung.

Adanya tuntutan pengembangan pelayanan kesehatan oleh masyarakat umum


merupakan salah satu factor yang harus dicermaati dan diperhatikan oleh tenaga perawat.
Dengan demikian, perawat harus mampu berkiprah secara nyata dan diterima dalam
memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan sesuia dengan ilmu dan kiat serta
kewenangan yang dimiliki. Salah satu strategi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi
perawat dalam pelayanan keperawatan adalah pembenahan dalam manajemen
keperawatan dengan harapan adanya factor kelola yang optimal, sehingga mampu
menjadi wahana peningkatn keefektifan pembagian pelayanan keperawatan.

Sekaligus lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.


Ruangan sebagai bangsal salah sau unit terkecil pelayanan kesehatan merupakan tempat
yang memungkinkan bagi perawat untuk menerapkan ilmu dan kiatnya secara optimal.
Namun, perlu disadari, tanpa adanya tata kelola yang memadai, kemampuan manajemen
keperawatan harus terus dikembangkan sebagai tuntutan pengembangan ilmu
keperawatan yang lebih professional.

Timbang terima sering disebut dengan operan atau over hand. Operan adalah suatu
cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan klien. Harus dilakukan seefektif mungkin dengan secara singkat, jelas dan
lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah
dilakukan/belum dan perkembangan saat itu  Informasi yang disampaikan harus akurat,
sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna.

5
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian timbang terima ?


2. Bagaimana tujuan timbang terima ?
3. Bagaimana manfaat timbang terima ?
4. Bagaimana prinsip timbang terima ?
5. Bagaimana macam-macam timbang terima ?
6. Bagimana langkah-langkah timbang terima ?
7. Bagimana pelaksanaan timbang terima ?
8. Bagaimana prosedur timbang terima ?
9. Bagimana tahapan timbang terima ?
10. Apa saja hambatan timbang terima ?
11. Apa efek timbang terima ?
12. Bagaimana dokumentasi timbang terima ?
13. Bagaimana skema timbang terima ?
14. Bagaimana mekanisme timbang terima ?
15. Bagiamana evaluasi timbang terima ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian timbang terima


2. Untuk mengetahui tujuan timbang terima
3. Untuk mengetahui manfaat timbang trima
4. Untuk mengetahui prinsip timbang terima
5. Untuk mengetahui macam-macam timbang terima
6. Untuk mengetahui langkah-langkah timbang terima
7. Untuk mengetahui pelaksanaan timbang terima
8. Untuk mengetahui prosedur timbang terima
9. Untuk mengetahui tahapan timbang terima
10. Untuk mengetahui hambatan dalam timbag terima
11. Untuk mengetahui efek timbang terima
12. Untuk mengetahui dokumentasi saat timbang terima
13. Untuk mengetahui skema timbang terima
14. Untuk mengetahui mekanisme timbang terima
15. Untuk mengetahui evaluasi timbang terima

6
BAB II

PEBAHASAN

2.1. Pengertian Timbang Terima

Timbang terima memiliki beberapa istilah lain. Beberapa istilah itu diantaranya
handover, handoffs, shift report, signout, signover dan cross coverage. Handover adalah
komunikasi oral dari informasi tentang pasien yang dilakukan oleh perawat pada
pergantian shift jaga. Friesen (2008) menyebutkan tentang definisi dari handover adalah
transfer tentang informasi (termasuk tanggungjawab dan tanggunggugat) selama
perpindahan perawatan yang berkelanjutan yang mencakup peluang tentang pertanyaan,
klarifikasi dan konfirmasi tentang pasien. Handoffs juga meliputi mekanisme transfer
informasi yang dilakukan, tanggungjawab utama dan kewenangan perawat dari perawat
sebelumnya ke perawat yang akan melanjutnya perawatan.

Timbang terima sering disebut dengan operan atau overhand. Operan adalah suatu
cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan klien. Harus dilakukan seefektif mungkin dengan secara singkat, jelas dan
lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah
dilakukan/belum dan perkembangan saat itu Informasi yang disampaikan harus akurat,
sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna

Nursalam (2008), menyatakan timbang terima adalah suatu cara dalam


menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien. Handover adalah
waktu dimana terjadi perpindahan atau transfer tanggungjawab tentang pasien dari
perawat yang satu ke perawat yang lain.Tujuan dari handover adalah menyediakan
waktu, informasi yang akurat tentang rencana perawatan pasien, terapi, kondisi terbaru,
dan perubahan yang akan terjadi dan antisipasinya.

Timbang terima adalah salah satu kegiatan yang aman bagi perawat dengan
menyampaikan informasi penting, sampai saat ini masih ada kesalahan pelaksanaan
timbang terima yang mengakibatkan penurunan kesehatan pada pasien seperti prosedur
yang dijalankan tidak sesuai standar serta kurangnya komunikasi pada saat timbang
terima dikutip dari penelitian (Manopo, 2013).

7
Menurut Nursalam (2011) definisi timbang terima adalah suatu cara dalam
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien.
Timbang terima merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian dinas.
Selain laporan antar dinas, dapat disampaikan juga informasi yang berkaitan dengan
rencana kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan.

Timbang terima merupakan sistem kompleks yang didasarkan pada perkembangan


sosio-teknologi dan nilai-nilai yang dimiliki perawat dalam berkomunikasi. Timbang
terima dinas berperan penting dalam menjaga kesinambungan layanan keperawatan
selama 24 jam (Kerr, 2002). Menurut Australian Medical Association/AMA (2006),
timbang terima merupakan pengalihan tanggung jawab profesional dan akuntabilitas
untuk beberapa atau Semua aspek perawatan pasien, atau kelompok pasien, kepada orang
lain atau kelompok profesional secara sementara atau permanen.

Timbang terima merupakan komunikasi yang terjadi pada saat perawat melakukan
pergantian dinas, dan memiliki tujuan yang spesifik yaitu mengomunikasikan informasi
tentang keadaan pasien pada asuhan keperawatan sebelumnya.

2.2. Tujuan timbang terima

Tujuan umum : mengkomunikasikan keadaan pasien dan menyampaikan informasi yang


penting

Tujuan khusus:

1. Menyampaikan kondisi dan keadaan pasien (data fokus)


2. Menyampaikan hal yang sudah dan belum dilakukan dalam asuhan keperawatan
kepada pasien
3. Menyampaikan hal yang penting yang harus ditindaklanjuti oleh perawat dinas
berikutnya
4. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya

Timbang terima (handover) memiliki tujuan untuk mengakurasi, mereliabilisasi


komunikasi tentang tugas perpindahan informasi yang relevan yang digunakan untuk
kesinambungan dalam keselamatan dan keefektifan dalam bekerja.Timbang terima
(handover) memiliki 2 fungsi utama yaitu:

8
a. Sebagai forum diskusi untuk bertukar pendapat dan mengekspresikan perasaan
perawat.
b. Sebagai sumber informasi yang akan menjadi dasar dalam penetapan
keputusan dan tindakan keperawatan
Menurut Australian Health Care and Hospitals Association/ AHHA (2009)
tujuan timbang terima adalah untuk mengidentifikasi, mengembangkan dan
meningkatkan timbang terima klinis dalam berbagai pengaturan kesehatan.
Menurut Nursalam (2011) tujuan dilaksanakan timbang terima adalah:
1. Menyampaikan kondisi atau keadaan pasien secara umum.
2. Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh
dinasberikutnya.
3. Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya.

2.3. Manfaat timbang terima

Manfaat timbang terima menurut AHHA (2009) adalah:

1. Peningkatan kualitas asuhan keperawatan yang berkelanjutan. Misalnya,


penyediaan informasi yang tidak akurat atau adanya kesalahan yang dapat
membahayakan kondisi pasien.
2. Selain mentransfer informasi pasien, timbang terima juga merupakan sebuah
kebudayaan atau kebiasaan yang dilakukan oleh perawat. Timbang terima
mengandung unsur-unsur kebudayaan, tradisi, dan kebiasaan. Selain itu, timbang
terima juga sebagai dukungan terhadap teman sejawat
2. dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan selanjutnya.
3. Timbang terima juga memberikan “manfaat katarsis” (upaya untuk melepaskan
beban emosional yang terpendam), karena perawat yang mengalami kelelahan
emosional akibat asuhan keperawatan yang dilakukan bisa diberikan kepada
perawat berikutnya pada pergantian dinasdan tidak dibawa pulang. Dengan kata
lain, proses timbang terima dapat mengurangi kecemasan yang terjadi pada
perawat.
4. Timbang terima memiliki dampak yang positif bagi perawat, yaitu memberikan
motivasi, menggunakan pengalaman dan informasi untuk membantu perencanaan
pada tahap asuhan keperawatan selanjutnya (pelaksanaan asuhan keperawatan
terhadap pasien yang berkesinambungan), meningkatkan kemampuan komunikasi

9
antar perawat, menjalin suatu hubungan kerja sama dan bertanggung jawab antar
perawat, serta perawat dapat mengikuti perkembangan pasien secara
komprehensif.
5. Selain itu, timbang terima memiliki manfaat bagi pasien diantaranya, pasien
mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal, dan dapat menyampaikan
masalah secara langsung bila ada yang belum terungkap. Bagi rumah sakit,
timbang terima dapat meningkatkan pelayanan keperawatan kepada pasien secara
komprehensif.
Menurut Nursalam (2011)timbangterima memberikan manfaat bagi perawat dan
bagi pasien. Bagi perawat manfaat timbang terima adalah meningkatkan
kemampuan komunikasi antar perawat, menjalin hubungan kerjasama dan
bertanggung jawab antar perawat, pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap
pasien yang berkesinambungan, perawat dapat mengikuti perkembangan pasien
secara paripurna. Sedangkan bagi pasien, saat timbang terima pasien dapat
menyampaikan masalah secara langsung bila ada yang belum terungkap.

2.4. Prinsip timbang terima

Friesen, White dan Byers (2009) memperkenalkan enam standar prinsip timbang
terima pasien, yaitu :

1. Kepemimpinan dalam timbang terima pasien


Semakin luas proses timbang terima (lebih banyak peserta dalam kegiatan
timbang terima), peran pemimpin menjadi sangat penting untuk mengelola
timbang terima pasien di klinis. Pemimpin harus memiliki pemahaman yang
komprehensif dari proses timbang terima pasien dan perannya sebagai pemimpin.
Tindakan segera harus dilakukan oleh pemimpin pada eskalasi pasien yang
memburuk.
2. Pemahaman tentang timbang terima pasien
Mengatur sedemikian rupa agar timbul suatu pemahaman bahwa timbang terima
pasien harus dilaksanakan dan merupakan bagian penting dari pekerjaan sehari-
hari dari perawat dalam merawat pasien. Memastikan bahwa staf bersedia untuk
menghadiri timbang terima pasien yang relevan untuk mereka. Meninjau jadwal
dinas staf klinis untuk memastikan mereka hadir dan mendukung kegiatan

10
timbang terima pasien. Membuat solusi-solusi inovatif yang diperlukan untuk
memperkuat pentingnya kehadiran staf pada saat timbang terima pasien.
3. Peserta yang mengikuti timbang terima pasien
Mengidentifikasi dan mengorientasikan peserta, melibatkan mereka dalam
tinjauan berkala tentang proses timbang terima pasien. Mengidentifikasi staf yang
harus hadir, jika memungkinkan pasien dan keluarga harus dilibatkan dan
dimasukkan sebagai peserta dalam kegiatan timbang terima pasien. Dalam
timmultidisiplin, timbang terima pasien harus terstruktur dan memungkinkan
anggota multiprofesi hadir untuk pasiennya yang relevan.
4. Waktu timbang terima pasien
Mengatur waktu yang disepakati, durasi dan frekuensi untuk timbang terima
pasien. Hal ini sangat direkomendasikan, dimana strategi ini memungkinkan
untuk dapat memperkuat ketepatan waktu. Timbang terima pasien tidak hanya
pada pergantian jadwal kerja, tapi setiap kali terjadi perubahan
tanggung jawab misalnya ketika pasien diantar dari bangsal ke tempat lain untuk
suatu pemeriksaan. Ketepatan waktu timbang terima sangat penting untuk
memastikan proses perawatan yang berkelanjutan, aman dan efektif.
5. Tempat timbang terima pasien
Sebaiknya, timbang terima pasien terjadi secara tatap muka dan di sisi tempat
tidur pasien. Jika tidak dapat dilakukan, maka pilihan lain harus dipertimbangkan
untuk memastikan timbang terima pasien berlangsung efektif dan aman. Untuk
komunikasi yang efektif, pastikan bahwa tempat timbang terima pasien bebas dari
gangguan misalnya kebisingan di bangsal secara umum atau bunyi alat
telekomunikasi.
6. Proses timbang terima pasien
a. Standar protocol
Standar protokol harus jelas mengidentifikasi pasien dan peran peserta,
kondisi klinis dari pasien, daftar pengamatan/pencatatan terakhir yang
paling penting, latar belakang yang relevan tentang situasi klinis pasien,
penilaian dan tindakan yang perlu dilakukan.
b. Kondisi pasien memburuk
Pada kondisi pasien memburuk, meningkatkan pengelolaan pasien secara
cepat dan tepat pada penurunan kondisi yang terdeteksi.
c. Informasi kritis lainnya
11
Prioritaskan informasi penting lainnya, misalnya: tindakan yang luar
biasa, rencana pemindahan pasien, kesehatan kerja dan risiko keselamatan
kerja atau tekanan yang dialami oleh staf.

2.5. Jenis timbang terima

Menurut Hughes (2008) beberapa jenis timbang terima pasien yang berhubungan
dengan perawat, antara lain:

1. Timbang terima pasien antar dinas


Metode timbang terima pasien antar dinas dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai metode, antara lain secara lisan, catatan tulisan tangan,
dilakukan di samping tempat tidur pasien, melalui telepon atau rekaman,
nonverbal, dapat menggunakan laporan elektronik, cetakan computer atau
memori.
2. Timbang terima pasien antar unit keperawatan
Pasien mungkin akan sering ditransfer antar unit keperawatan selama mereka
tinggal di rumah sakit.
3. Timbang terima pasien antara unit perawatan dengan unit pemeriksaan
diagnostik.
4. Pasien sering dikirim dari unit keperawatan untuk pemeriksaan diagnostik
selama rawat inap. Pengiriman unit keperawatan ke tempat pemeriksaan
diagnostik telah dianggap sebagai kontributor untuk terjadinya kesalahan.
5. Timbang terima pasien antar fasilitas kesehatan
Pengiriman pasien dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas yang lain sering
terjadi antara pengaturan layanan yang berbeda. Pengiriman berlangsung antar
rumah sakit ketika pasien memerlukan tingkat perawatan yang berbeda.
6. Timbang terima pasien dan obat-obatan
Kesalahan pengobatan dianggap peristiwa yang dapat dicegah, masalah tentang
obat-obatan sering terjadi, misalnya saat mentransfer pasien, pergantian dinas,
dan cara pemberitahuan minum obat sebagai faktor yang berkontribusi terhadap
kesalahan pengobatan dalam organisasi perawatan kesehatan.

12
2.6. Macam-macam timbang terima

Secara umum terdapat empat jenis timbang terima diantaranya:

1. Timbang terima secara verbal


Scovell (2010) mencatat bahwa perawat lebih cenderung untuk membahas
aspek psikososial keperawatan selama laporan lisan.
2. Rekaman timbang terima
Hopkinson (2002) mengungkapan bahwa rekaman timbang terima dapat
merusak pentingnya dukungan emosional. Hal ini diungkapkan pula oleh
Kerr(2002) bahwa rekaman timbang terima membuat rendahnya tingkat fungsi
pendukung.
3. Bedside timbang terima
Menurut Rush (2012) tahapan bedside timbang terima diantaranya adalah:
a. Persiapan (pasien dan informasi).
b. Timbang terima berupa pelaporan, pengenalan staf masuk, pengamatan,
dan penjelasan kepada pasien.
c. Setelah timbang terima selesai maka tulis di buku catatan pasien.
4. Menurut Caldwell (2012) yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan bedside
timbang terima adalah:
a. Menghindari informasi yang hilang dan memungkinkan staf yang tidak
hadir pada timbang terima untuk mengakses informasi.
b. Perawat mengetahui tentang situasi pasien dan apa saja yang perlu
disampaikan, bagaimana melibatkan pasien, peran penjaga dan anggota
keluarga, bagaimana untuk berbagi informasi sensitif, apa yang tidak
dibahas di depan pasien, dan bagaimana melindungi privasi pasien.
5. Timbang terima secara tertulis
Scovell (2010) timbang terima tertulis diperkirakan dapat mendorong
pendekatan yang lebih formal. Namun, seperti rekaman timbang terima, ada
potensi akan kurangnya kesempatan untuk mengklarifikasi pertanyaan tertentu.

2.7 Metode dalam Timbang Terima

1. Timbang terima dengan metode tradisional

13
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kassesan dan Jagoo (2005) di
sebutkan bahwa operan jaga (handover) yang masih tradisional adalah:
a. Dilakukan hanya di meja perawat.
b. Menggunakan satu arah komunikasi sehingga tidak memungkinkan
munculnya pertanyaan atau diskusi.
c. Jika ada pengecekan ke pasien hanya sekedar memastikan kondisi secara
umum.
d. Tidak ada kontribusi atau feedback dari pasien dan keluarga, sehingga
proses informasi dibutuhkan oleh pasien terkait status kesehatannya
tidak up to date.
2. Timbang terima dengan metode bedside handover Menurut Kassean dan Jagoo
(2005) handover yang dilakukan sekarang sudah menggunakan model bedside
handover yaitu handover yang dilakukan di samping tempat tidur pasien dengan
melibatkan pasien atau keluarga pasien secara langsung untuk mendapatkan
feedback.
Secara umum materi yang disampaikan dalam proses operan jaga baik secara
tradisional maupun bedside handover tidak jauh berbeda, hanya pada handover
memiliki beberapa kelebihan diantaranya:
a. Meningkatkan keterlibatan pasien dalam mengambil keputusan terkait kondisi
penyakitnya secara up to date.
b. Meningkatkan hubungan caring dan komunikasi antara pasien dengan perawat.
Mengurangi waktu untuk melakukan klarifikasi ulang pada kondisi pasien
secara khusus. Bedside handover juga tetap memperhatikan aspek tentang
kerahasiaan pasien jika ada informasi yang harus ditunda terkait adanya
komplikasi penyakit atau persepsi medis yang lain
Timbang terima memiliki beberapa metode pelaksanaan diantaranya:

a. Menggunakan Tape recorder


Melakukan perekaman data tentang pasien kemudian diperdengarkan kembali
saat perawat jaga selanjutnya telah datang. Metode itu berupa one way
communication.
a. Menggunakan komunikasi Oral atau spoken
b. Melakukan pertukaran informasi dengan berdiskusi.
c. Menggunakan komunikasi tertulis –written
14
Melakukan pertukaran informasi dengan melihat pada medical record saja atau
media tertulis lain. Berbagai metode yang digunakan tersebut masih relevan
untuk dilakukan bahkan beberapa rumah sakit menggunakan ketiga metode
untuk dikombinasi.
Menurut Joint Commission Hospital Patient Safety, menyusun pedoman
implementasi untuk timbang terima, selengkapnya sebagai berikut:
1. Interaksi dalam komunikasi harus memberikan peluang untuk adanya
pertanyaan dari penerima informasi tentang informasi pasien.
2. Informasi tentang pasien yang disampaikan harus up to date meliputi
terapi, pelayanan, kodisi dan kondisi saat ini serta yang harus
diantipasi.
3. Harus ada proses verifikasi tentang penerimaan informasi oleh perawat
penerima dengan melakukan pengecekan dengan membaca, mengulang
atau mengklarifikasi.
4. Penerima harus mendapatkan data tentang riwayat penyakit, termasuk
perawatan dan terapi sebelumnya.
5. Handover tidak disela dengan tindakan lain untuk meminimalkan
kegagalan informasi atau terlupa.

2.8. Faktor-faktor dalam Timbang Terima

1. Komunikasi yang objective antar sesama petugas kesehatan.

2. Pemahaman dalam penggunaan terminology keperawatan.

3. Kemampuan menginterpretasi medical record.

4. Kemampuan mengobservasi dan menganalisa pasien.

5. Pemahaman tentang prosedur klinik.

2.9. Langkah-langkah pelaksanaan timbang terima

Menurut Nursalam (2011) langkah-langkah dalam pelaksanaan timbang terima


adalah:

1. Kedua kelompok dinas dalam keadaan sudah siap.

15
2. Dinas yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal-hal
apa yang akan disampaikan.
3. Perawat primer menyampaikan kepada penanggung jawab dinas yang
selanjutnya meliputi:
a. Kondisi atau keadaan pasien secara umum.
b. Tindak lanjut untuk dinas yang menerima timbang terima.
c. Rencana kerja untuk dinas yang menerima timbang terima.
d. Penyampaian timbang terima harus dilakukan secara jelas dan tidak
terburu-buru.
e. Perawat primer dan anggota kedua dinas bersama-sama secara langsung
melihat keadaan pasien.

2.10 pelaksanaan Timbang terima

1. yang baik dan benar Menurut AMA (2006) pelaksanaan timbang terima yang baik
dan benar diantaranya:
2. Timbang terima dilakukan pada setiap pergantian dinas dengan waktu yang cukup
panjang agar tidak terburu-buru.
3. Pelaksanaan timbang terima harus dihadiri semua perawat, kecuali dalam keadaan
darurat yang mengancam kehidupan pasien.
4. Perawat yang terlibat dalam pergantian dinas harus diberitahukan untuk
mengetahui informasi dari dinas selanjutnya.
5. Timbang terima umumnya dilakukan di pagi hari, namun timbang terima juga
perlu dilakukan pada setiap pergantian dinas.
6. Timbang terima pada dinas pagi memungkinkan tim untuk membahas penerimaan
pasien rawat inap dan merencanakan apa yang akan dikerjakan.
7. Timbang terima antar dinas, harus dilakukan secara menyeluruh, agar peralihan ini
menjamin perawatan pasien sehingga dapat dipertahankan jika perawat absen
untuk waktu yang lama, misalnya selama akhir pekan atau saat mereka pergi
berlibur.

2.11. Pemilihan tempat untuk pelaksanaan timbang terima

AMA (2006) menyatakan bahwa tempat yang tepat pada saat akandilakukan
pelaksanaan timbang terima adalah:

16
1. Idealnya dilakukan di ruang perawat atau nurse station.
2. Tempatnya luas dan besar sehingga memberikan kenyamanan dan
memungkinkan semua staf menghadiri dalam pelaksanaan timbang terima.
2. Bebas dari gangguan sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesulitan
untuk mendengar laporan dan dapat mengakibatkan penerimaan informasi yang
tidak tepat.
3. Terdapat hasil lab, X-ray, informasi klinis lainnya.

2.12 Prosedur timbang terima

Nursalam (2011) menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu


diperhatikan dalam prosedur timbang terima pasien, yaitu:

1. Persiapan
a. Kedua kelompok yang akan melakukan timbang terima sudah dalam keadaan
siap.
b. Kelompok yang akan bertugas atau yang akan melanjutkan dinas sebaiknya
menyiapkan buku catatan.
2. Pelaksanaan
a. Timbang terima dilaksanakan pada setiap pergantian dinas.
b. Di nurse station (ruang perawat) hendaknya perawat berdiskusi untuk
melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif hal-hal
yang berkaitan tentang masalah keperawatan pasien, rencana tindakan yang
sudah ada namun belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya
b. yang perlu dibicarakan.
c. Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap
sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diberikan kepada perawat
jaga berikutnya.
d. Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah:

1) Identitas pasien dan diagnosis medis.

2) Masalah keperawatan yang mungkin masih muncul.

3) Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan.

4) Intervensi kolaboratif dan dependensi.

17
5) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya, diantaranya operasi, pemeriksaan laboratorium, atau
pemeriksaan penunjang lainnya, persiapan untuk konsultasi atau prosedur
lainnya yang tidak dilaksanakan secara rutin.

6) Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi,


tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang dilakukan pada
saat timbang terima dan berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang
jelas.

7) Penyampaian pada saat timbang terima secara singkat dan jelas.

8) Lamanya waktu timbang terima untuk setiap pasien tidak lebih dari 5
menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang
lengkap dan terperinci.

9) Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku


laporan ruangan oleh perawat primer. Menurut Yasir (2009) saat
pelaksanaan timbang terima juga dapat:

a. Menggunakan tape recorder. Melakukan perekaman data tentang


pasien kemudian diperdengarkan kembali saat perawat jaga
selanjutnya telah datang. Metode itu berupa one way
communication atau komunikasi satu arah.
b. Menggunakan komunikasi oral atau spoken atau melakukan
pertukaran informasi dengan berdiskusi.
c. Menggunakan komunikasi tertulis atau written. Yaitu melakukan
pertukaran informasi dengan melihat pada medical record saja atau
media tertulis lain.

2.13. Tahapan dan bentuk pelaksanaan timbang terima

Lardner (1996) proses timbang terima memiliki 3 tahapan yaitu:

1. Persiapan yang dilakukan oleh perawat yang akan melimpahkan tanggung


jawab meliputi faktor informasi yang akan disampaikan oleh perawat jaga
sebelumnya.

18
2. Pertukaran dinas jaga, dimana antara perawat yang akan pulang dan datang
melakukan pertukaran informasi. Waktu terjadinya timbang terima itu sendiri
yang berupa pertukaran informasi yang memungkinkan adanya komunikasi dua
arah antara perawat yang dinas sebelumnya kepada
3. perawat yang datang.
Pengecekan ulang informasi oleh perawat yang datang tentang tanggung jawab
dan tugas yang dilimpahkan merupakan aktivitas dari perawat yang menerima
timbang terima untuk melakukan pengecekan dan informasi pada medical
record dan pada pasien langsung.

2.14 Hambatan dalam pelaksanaan timbang terima

Engesmo dan Tjora (2006); Scovell (2010) dan Sexton, et al., (2004)
menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat dalam
pelaksanaan timbang terima, diantaranya adalah:

1. Perawat tidak hadir pada saat timbang terima


2. Perawat tidak peduli dengan timbang terima, misalnya perawat yang keluar
masuk pada saat pelaksanaan timbang terima
3. Perawat yang tidak mengikuti timbang terima maka mereka tidak dapat
memenuhi kebutuhan pasien mereka saat ini

2.15 Efek timbang terima

Timbang terima memiliki efek-efek yang sangat mempengaruhi diri seorang


perawat sebagai pemberi layanan kepada pasien. Efek-efek dari timbang terima
menurut Yasir (2009) adalah sebagai berikut:

1. Efek Fisiologis
Kualitas tidur termasuk tidur siang tidak seefektif tidur malam, banyak
gangguan dan biasanya diperlukan waktu istirahat untuk menebus kurang tidur
selama kerja malam. Menurutnya kapasitas fisik kerja akibat timbulnya
perasaan mengantuk dan lelah menurunnya nafsu makan dan gangguan
pencernaan.

19
2. Efek Psikososial
Efek ini berpengaruh adanya gangguan kehidupan keluarga, efek fisiologis
hilangnya waktu luang, kecil kesempatan untuk berinteraksi dengan teman, dan
mengganggu aktivitas kelompok dalam masyarakat.
3. Efek Kinerja
Kinerja menurun selama kerja dinas malam yang diakibatkan oleh efek
fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan
kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku kewaspadaan
pekerjaan seperti kualitas rendah dan pemantauan.
4. Efek Terhadap Kesehatan
Dinas kerja menyebabkan gangguan gastro intestinal, masalah ini cenderung
terjadi pada usia 40-50 tahun, dinas kerja juga dapat menjadi masalah terhadap
keseimbangan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes.
5. Efek Terhadap Keselamatan Kerja
Survei pengaruh dinas kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang
dilakukan Smith et al dalam Wardana (1989), melaporkan bahwa frekuensi
kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi dinas kerja (malam) dengan
ratarata jumlah kecelakaan 0,69 % per tenaga kerja. Tetapi tidak semua
penelitian menyebutkan bahwa kenaikan tingkat kecelakaan industri terjadi pada
dinasmalam. Terdapat suatu kenyataan bahwa kecelakaan cenderung banyak
terjadi selama dinas pagi dan lebih banyak terjadi pada dinas malam.

2.16. Dokumentasi dalam Timbang Terima

Dokumentasi adalah salah satu alat yang sering digunakan dalam komunikasi
keperawatan. Hal ini digunakan untuk memvalidasi asuhan keperawatan, sarana
komunikasi antar tim kesehatan, dan merupakan dokumen pasien dalam pemberian
asuhan keperawatan. Ketrampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat
untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa
yang sudah, sedang, dan akan dikerjakan oleh perawat. Yang perlu di dokumentasikan
dalam timbang terima antara lain:

a. Identitas pasien.
b. Diagnosa medis pesien.
c. Dokter yang menangani.

20
d. Kondisi umum pasien saat ini.
e. Masalah keperawatan.
f. Intervensi yang sudah dilakukan.
g. Intervensi yang belum dilakukan.
h. Tindakan kolaborasi.
i. Rencana umum dan persiapan lain.
j. Tanda tangan dan nama terang.

Manfaat pendokumentasian adalah:

a. Dapat digunakan lagi untuk keperluan yang bermanfaat.


b. Mengkomunikasikan kepada tenaga perawat dan tenaga kesehatan lainnya
tentang apa yang sudah dan akan dilakukan kepada pasien.
c. Bermanfaat untuk pendataan pasien yang akurat karena berbagai informasi
mengenai pasien telah dicatat. (Suarli & Yayan B, 2009)

21
2.17 Skema Timbang Terima

PASIEN

Diagnose medis Diagnose

Masalah keperawatan

Rencana

Tindakan

Yang telah Yang akan

Dilakukan Dilakukan

Perkembangan

Keadaan

Pasien

Masalah :

Teratasi

Belum

Sebagian

22
2.18 Mekanisme Timbang Terima

Tabel 3.1 : Mekanisme kegiatan timbang terima

TAHAP KEGIATAN WAKT TEMPA PELAKSAN


U T A
Pra a. Kedua kelompok dinas 10 menit Nurse Karu
Timbang sudah siap dan berkumpul di Stasion PP
Terima Nurse Station 2. PA
b.Karu mengecek
kesiapan timbang terima tiap PP
c.
c. Kelompok yang akan
bertugas menyiapkan catatan
(Work Sheet), PP yang akan
mengoperkan, menyiapkan buku
timbang terima & nursing kit 4.
d. Kepala ruangan
membuka acara timbang terima
dilanjutkan dengan doa
Pelaksanaan PP dinas pagi melakukan 20 menit Nurse Karu
Timbang timbang terima kepada PP dinas Stasion PP
Terima sore. Hal-hal yang perlu PA
disampaikan PP pada saat
timbang terima :
1. Identitas klien dan
diagnosa medis termasuk hari
rawat keberapa atau post op hari
keberapa.
2. Masalah keperawatan.
3. Data yang mendukung.
4. Tindakan keperawatan
yang sudah/belum dilaksanakan.
5. Rencana umum yang
perlu dilakukan: Pemeriksaan

23
penunjang, konsul, prosedur
tindakan tertentu.
6. Karu membuka dan Di
memberi salam kepada klien, PP samping
pagi menjelaskan tentang klien, tempat
PP sore mengenalkan anggota 20 tidur
timnya dan melakukan klien
validasi data.
7. Lama timbang terima
setiap klien kurang lebih 5 menit,
kecuali kondisi khusus yang
memerlukan keterangan lebih
rinci.
Post Klarifikasi hasil validasi 5 menit Nurse Karu
Timbang data oleh PP sore. Stasion PP
Terima 1.Penyampaian alat- alat PA
kesehatan
2.Laporan timbang terima
ditandatangani oleh kedua PP dan
mengetahui Karu (kalau pagi
saja).
4.Reward Karu terhadap
perawat yang akan dan selesai
bertugas.
5. Penutup oleh karu

Hal-hal yang perlu diperhatikan

1. Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift.


2. Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab atau penanggung
3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas
4. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis, dan menggambarkan
kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan pasien.
5. Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan pasien.

24
6. Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume yang cukup
sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang rahasia bagi klien.
Sesuatu yang dianggap rahasia sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung di dekat
klien.
7. Sesuatu yang mungkin membuat pasien terkejut dan shock sebaiknya dibicarakan di
nurse station (Nursalam, 2008)

2.19 Evaluasi dalam Timbang Terima

a. Evaluasi Struktur
Pada timbang terima, sarana dan prasarana yang menunjang telah tersedia
antara lain : Catatan timbang terima, status klien dan kelompok shift timbang
terima. Kepala ruangan memimpin kegiatan timbang terima yang dilaksanakan
pada pergantian shift yaitu pagi ke sore. Sedangkan kegiatan timbang terima
pada shift sore ke malam dipimpin oleh perawat primer.
b. Evaluasi Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan dan dilaksanakan
oleh seluruh perawat yang bertugas maupun yang akan mengganti shift. Perawat
primer malam menyerahkan ke perawat primer berikutnya yang akan mengganti
shift. Timbang terima pertama dilakukan di nurse station kemudian ke bed klien
dan kembali lagi ke nurse station. Isi timbang terima mencakup jumlah klien,
masalah keperawatan, intervensi yang sudah dilakukan dan yang belum dilakukan
serta pesan khusus bila ada. Setiap klien dilakukan timbang terima tidak lebih
dari 5 menit saat klarifikasi ke klien.
c. Evaluasi Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap perawat
dapat mengetahui perkembangan klien. Komunikasi antar perawat berjalan
dengan baik.

2.30. Komunikasi SBAR

Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah


komunikasi SBAR (Situation,Background,Assesment,Recommendation), metode
komunikasi ini digunakan pada saat perawat melakukan hand over ke pasien.

25
Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas
kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien.

SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi


penting yang membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap
eskalasi yang yang efektif dan meningkatkan keselamatan pasien. SBAR juga dapat
digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf
didaerah klinis yang sama atau berbeda. Melibatkan semua anggota tim kesehatan
untuk memberikan masukan dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi.
SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim
kesehatan lainnya.

Keuntungan dari penggunaan metode SBAR adalah kekuatan perawat


berkomunikasi secara efektif :

- Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham


kondisi pasien.

- Memperbaiki komunikasi sama dengan memperbaiki keamanan pasien.

Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu  Situation, Background,


Assessment ,Recommendation.

Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan oleh semua tenag kesehatan,


diharapkan semua tenaga kesehatan maka dokumentasi tidak terpecah sendiri-sendiri.
Diharapkan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik,
sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien. Mealaui :

1. Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/ dilaporkan

• Mengidentifikasi nama diri petugas dan pasien


• Diagnosa medis
• Apa yang terjadi dengan pasien yang memprihatinkan

2. Background  : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan


situasi

• obat saat ini dan alergi


• Tanda- tanda vital terbaru

26
 Hasillaboratorium :
tanggaldanwaktutesdilakukandanhasiltessebelumnyauntukperbandingan
 Riwayatmedis
 Temuanklinisterbaru

3. Assessment :Berbagihasilpenelitianklinisperawatan

 Apatemuanklinis ?
 Apaanalisadanpertimbanganperawat ?
 Apakahmasalahiniparahataumengancamkehidupan ?

4. Recommendation :apa yang perawatinginkanterjadidankapan ?

 Apatindakan / rekomendasi yang di perlukanuntukmemperbaikimasalah ?


 Apasolusi yang bisaperawattawarkandokter ?
 Apa yang perawatbutuhkandaridokteruntukmemperbaikikondisipasien ?
 Kapanwaktu yang perawatharpkantindakaniniterjadi ?

27
BAB III

DIALOG TIMBANG TERIMA

3.1 Contoh Kominikasi Efektif SBAR Antar Shift Dinas / Serah Terima

Pasien Pertama

1. Situation

- Nama Pasien : Ny.Helisa

- Ruangan : Persalinan 4

- Tgl Masuk : 20 Februari 2019

- Diagnosa Masuk : Post Sectio Secaria

- Masalah Keperawatan : Gangguan Rasa Nyaman Nyeri

2. Background

- Pasien tidak ada riwayat penyakit masa lalu dan tidak ada riwayat alergi

- Dokter Penanggung jawab menginstruksikan untuk melanjutkan terapi yang

sudah di berikan

3. Assessment

- Keluhan : Masi merasakan Nyeri Bekas Luka Operasi

- Tingkat Kesadaran : Compesmentis

- TTV : Normal

4. Recomendation

- Edukasi Pemberian ASI

- Edukasi Cara Menyusui

- Membantu Mobilisasi Pasien (Miring Kiri-Kanan)

- Instuksi Dokter Pemberian Terapi Oral

- Mengganti Balutan Luka

28
- Pemasangan Infus kembali

Pasien Kedua

1. Situation

- Nama Pasien : Ny.Dewi puspita sari

- Ruangan : Persalinan 1

- Diagnosa Masuk : Abortus Iminen

- Masalah Keperawatan : Resiko Perdarahan

2. Background

- Pasien tidak ada riwayat penyakit masa lalu dan tidak ada riwayat alergi

- Dokter Penanggung jawab menginstruksikan untuk melanjutkan terapi yang

sudah diberikan

3. Asessment

- Keluhan : Masi ada bercak darah pada pembalut

- Tingkat Kesadaran : Compesmentis

- TTV : Normal

4. Recomendation

- Menanjurkan Pasien untuk tetap badress

- Memantau Perdarahan setiap 4 jam sekali

- Memantau keadaan umum pasien

- Dilakukan USG jam 15.00

DIALOG TIMBANG TERIMA

Peran Roll Play

1. Kepala Ruangan : Nazila Nazla

2. Ketua Tim 1 : Erlinda Sari

29
3. Ketua Tim 2 : Tri ulan hediyanti saragih

4. Perawat Pelaksana pagi : Yaumil hapsani, Ruth Reliance

5. Perawat Penangguang jawab sore : Miftahul Khoiriyah Siregar

6. Perawat Pelaksana Sore : Devi Marsya, Ghadati fildzah, Mirnati dwi

PROLOG

Diruangan Persalinan Jam 14.15 WIB terdapat 4 perawat shift pagi yang sedamg

bertugas, terlihat juga kepala ruangan yang diruangnya. Tiba saat untuk pergantian

shift diruangan tersebut dan 4 perawat shift sore sudah tiba diruangan. Semua

perawat diruangan tersebut bersiap-siap untuk melakukan kegiatan Timbang-

Terima yang sudah menjadi kegiatan rutin setiap pergantian shift diruangan

tersebut. seluruh perawat shift pagi, shift sore dan kepala ruangan berkumpul di

nurse station untuk melakukan timbang terima.

Sesi I (Di Nurse Station)

 Kepala Ruangan : Assalamualaikum wr.wb, selamat siang semuanya ...?

 perawat ruangan : slamat siang.

 kepala ruangan : baiklah kita akan melakukan operan dari sif pagi ke sif sore,

bagaimana tim 1 apakah anggotanya sudah siap??

 perawat pagi TIM 1 : untuk tim 1 sudah lengkap...

 kepala ruangan : bagaimana dengan tim 2??

 perawat pagi TIM 2 : sudah lengkap bu..

 kepala ruangan : bagaimana yang sif sore apakah sudah lengkap??

 perawat sore :udah lengkap bu...

30
 kepala ruangan : baikalah, sebelum kita mulai kegiatan kita marilah kita mulai

dengan berdoa.

 kepala ruangan : baiklah, untuk tim 1 dipersilakan untuk melaporkan asuhan

keperawatan yang sudah diberikan.

 perawat pagi TIM 1 : baik, saya akan melaporkan kondisi pasien diruangan. untuk

tim 1 hanya ada 1 pasien lama dan tidak ada pasien baru.

(S = SITUATION ) Pasien kita yaitu ibu. H , ibu.H sekarang berada pada ruangan

persalinan 4 , masuk dengan Diagnosa medis post SC. Pada tgl 20 februari 2018.

kemudian masalah keperawatan yang kita ambil pada ibu. H yaitu Gangguan

Rasa Nyaman (NYERI KRONIS) Setelah kami kaji tadi pagi ibu H masi

merasakan nyeri pada bagian luak oprasi.

(B = BACKGROUND) berdasarkan hasil pengkajan ibu. H tidak memiliki

riwayat penyakit dahulu dan tidk mempunyai riwayat alergi. kemudian dr.

penanggung jawab mengisntruksikan bahwa terapi yang diberikan tetap

dipertahankan.

(A = ASSESSMENT ) untuk tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital sesuai

kondisi pasien saat ini dalam bataras normal tidak ada masalah.

(R = RECOMENDATION) Terapi keperawatan yang sudah kami berikan yaitu,

memberikan edukasi kepada pasien , bagaimana cara memberikan

asi,memobilisasikan pasien miring kiri miring kanan ,dan untuk instruksi terapi

yang diberikan dari dokter yaitu terapi obat oral, dan menganti balutan luka.

tadi pagi Ibu H juga telah aff’kan infus karna bengkak pada pergelangan tanggan

ibu H , jadi sekedar mengingatkan untuk yang sif sore untuk memasang infus

kembali. baiklah itu saja laporan dari TIM 1 saya kembalikan kepada kepala

ruangan.

31
 kepala ruangan : trimakasih perawat TIM 1 ,bagaimana perawat sif sore, apakah

ada yang ingin diklarifikasi?

 perawat sore : trimakasih kepala ruangan, disini saya ingin menanyakan pada

TIM 1 berapa cairan yang dibutuhkan oleh ibu ?

 perawat pagi TIM 1 : untuk terapi cairan masi tetap sama sesuai instruksi yang

diberikan oleh dr.

 perawat sore : trimakasih, kami sif sore akan segera memasang infus kembali pada

ibu H. saya kembalikan ikan kepada kepala ruangan.

 kepala ruangan : baiklah , untuk perawat TIM 2 silakan melaporkan hasil asuhan

keperawatan yang telah du berikan pada pasien.

 perawat pagi TIM 2 : baiklah ibu karu, baiklah disini saya dari TIM 2 akan

melaporkan kondisi pasien TIM 2, jumlah pasien pada TIM 2 1 pasien lama 1 dan

pasien baru tidak ada.

(S = SITUATION ) Nama pasien ibu D diruangan persalinan 1 dengan diagnosa

masuk yaitu Abortus Iminen dan masalah keperawatanya Resiko Perdarahan.

Untuk keluhaan terbaru bahwa ibu ini mengeluhkan masi ada bercak pada

pembalut

(B = BACKGROUND) berdasarkan hasil pengkajan ibu. H tidak memiliki

riwayat penyakit dahulu dan tidk mempunyai riwayat alergi. kemudian dr.

penanggung jawab mengisntruksikan bahwa terapi yang diberikan tetap

dipertahankan.

(A = ASSESSMENT ) untuk tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital sesuai

kondisi pasien saat ini dalam bataras normal tidak ada masalah.

(R = RECOMENDATION) Untuk terapi dari Dokter penangguang jawab pasien

sama seperti terapi sebelumnya kemudian untuk tindakan asuhan keperawatan

32
yang sudah dilakukan kami perawat dinas pagi sudah mengajurkan Ibu D untuk

bedress dan tetap memantau perdarahan yang terjadi pada ibu D. Kemudian untuk

instruksi dr selanjutnya ibu D harus tetap pantau keadaan umum dan dilakukan

USG nnti pukul 15.00 dan pantau perdarahanya setiap 4 jam. Demikian Kondisi

pasien dari TIM 2 yang dapat saya laporkan dan saya kembalikan ke ibu karu

 kepala ruangan : ya terimakasih, bagaimana untuk perawat shift sore apakah ada

yang ingin diklarifikasi dari pasien TIM 2 ?

 perawat Sore : Baiklah untuk TIM 2 yang sore sudah jelas

 kepala ruangan : baiklah untuk mengklarifikasi lebih lanjut alangkah baiknya kita

melakukan timbang terima ke bed pasien. Mari kita ke pasien

Sesi II (Di Ruangan Perawatan Pasien)

Semua Perawat Shif pagi dan sore menuju Ruangan perawatan pasien

 Perawat pagi TIM 1 : siang bu H, kami mau operan dulu ya bu, disini perawat

shift sorenya ada mifta, devi sebagai perawat sore ada mirnati dan niadati

 Perawat sore : Halo bu H apakah masi ada keluhan ?

 Pasien Bu H : Gak ada suster

 Perawat Sore : apakah nyerinya masi ada ?

 Pasien Bu H : masi ada suster

 Perawat sore : terus, ASI nya lancar gak ?

 Pasien Bu H : Lancar Suster

 Perawat Sore : ASI nya selalu diberikan kepada bayinya ya bu tanpa ada batasan

 Pasien Bu H : iya suster

 Perawat Sore : baiklah bu, disini tadikan infusnya dilepas karena tanganya

bengkak jadi nanti mungkin bisa dibantu sama keluarga dikompres pakai air

33
hangat bu supaya bengkaknya berkurang dan jika bengkaknya sudah berkurang

akan dibantu perawat shift sore untuk dipasang kembali infusnya, ada yang ingin

ditanyakan lagi bu, jika ibu perlu bantuan bisa hubungi kami perawat sore di

ruangan, terima kasih ya bu ...

 Pasien Bu H : Iya suster

Sesi III (Di Nurse Station)

Kembali ke Nurse station dan mendiskusikan tentang keadaan pasien yang

bersifat rahasia setelah proses timbang terima selesai dilakukan, maka semua

perawat menandatangani laporan timbang terima dengan diketahui oleh kepala

ruangan.

 Kepala Ruangan : Baiklah,operan kita pada sore hari ini sudah selesai, sebelum

kita menutup operan kita ada baikmya kita berdoa, berdoa menurut agama dan

kepercayaan masing-masiang doa dimulai.. bedoa selesai

SEKIAN !!!

34
BAB 1V

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Pada model metode praktik keperawatan professional harus mampu memberikan

asuhan keperawatan professional dan untuk itu diperlukan penataan 3 komponen utama:

Tenaga perawat (M1), Sarana, Prasarana (M2), Metode pemberian asuhan keperawatan (M3)

Sumber Daya Mnausia (M1), Struktur organisasi, Jumlah tenaga d Ruang perawatan ,

Tingkat ketergantungan paien dan kebutuhan tenaga perawat ,Sarana dan Prasarana (M2-

Material) ,Lokasi dan denah ruangan ,Peralatan dan fasilitas , Administrasi penunjang,

Metode Asuhan Keperawatan (M3-Method), Penerapan model MAK , Timbang Terima ,

Ronde Keperawatan , Pengelolaan Sentralisasi Obat , Supervisi , Discharge Planning ,

Dokumentasi Keperawatan

Data focus dalam timbang terima terdiri dari: Pra: masalah pasien, tinadakan yang

sudah dan rencana yang belum dilakukan: perhatian khusus , Pelaksaan: mekanisme timbang

terima , Pasca: klarifikasi, tindak lanjut tindakan

4.2. SARAN

Dalam aplikasi timbang terima harus dipahami alur overran, dan point-point yang

harus diklarifikasi oleh PP dan PA yang sedang berdinas saat itu.

35
DAFTAR PUSTAKA

AHHA (AustralianHealthcare& Hospitals Association). (2009). ClinicalHandover: System


cange, LeadershipandPrinciples.

Anderson dan Kerr, C. 2002. Customer Relationship Management. New York: Mc-Graw-
Hill.

Australian Medical Association. (2006). Safe handoversafepatiebts, By The Australian


Medical Association Limited. ABN: 370084267932006.

Friesen, M.A.White,V.S&Byers F.J ( 2008 ).Handsoffs : Implication For Nurse.


Http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2649/. Di unduh 6 Maret 2016.

Friesen, M.A, White, S.V, &Byers, J.F. (2009). Handoff: ImplicationsforNurses, Nurses
First, Volume 2, Issue 3 May/June 2009.

Kaasean M, Jagoo ZB. (2005). Managing change in the nursing handover fromt raditional to
bedside handover- a case study from Mauritius. BMC Nursing 4 ( 1 ) : 1.

Lardner, R. (1996). a literaturereview. Effective shif thandover.

Manopo, Quiteria., Marasmis, Frangky R.R., Sinolungan, Jehosua S.V., 2013, Hubungan
Antara Penerapan Timbang Terima Pasien dengan Keselamatan Pasien oleh Perawat
Pelaksanaan Di RSU GMIM KalooranAmurang, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Sam Ratulangi,Manado h.1-2.

Nursalam (2002). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. (2008). Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional.(Edisi 2). Jakarta : salemba Medika.

Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan (3 ed.). Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam, 2012, Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek Keperawatan


Profesional, 3rd edn., Salemba Medika, Jakarta.

Nursalam., 2013, Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik,3rd edn.,
Salemba Medika, Jakarta.

36
Scovell, S. (2010). Roleof The NursetoNurseHandover In PatientCare. Nursing Standard. 24
(30) : 35 - 39.

Suarli, S. & Yayan, B. (2009). Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis. Jakarta :
Erlangga MedicalSeries.

37