Anda di halaman 1dari 46

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gastritis
2.1.1 Pengertian Gastritis
Gastritis adalah inflamasi atau peradangan mukosa
lambung yang bersifat akut maupun kronis (Overdorf, 2002 dalam
Wijaya & Putri, 2013).
Gastritis adalah suatu peradangan mukosa yang dapat
bersifat akut maupun kronik, difus atau lokal. Menurut penelitian,
sebagian besar gastritis disebabkan oleh infeksi bakteri mukosa,
lambung yang kronis, selain itu beberapa bahan yang sering
dimakan dapat menyebabkan peningkatan asam lambung yang
dapat menyebabkan rusaknya mukosa pelindung lambung (Wijaya
& Putri, 2013).
Gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa
lambung, peradangan ini dapat mengakibatkan pembekakan pada
lapisan mukosa lambung sampai terlepasnya epitel mukosa
superfisial lambung, dimana pelepasan epitel inilah yang menjadi
penyebab terpenting dalam gangguan saluran pencernaan.
Pelepasan sel epitel lambung akan menyebabkan atau merangsang
timbulnya proses inflamasi pada lambung (Sukarmin, 2013).
Gastritis merupakan peradangan atau inflmasi pada
mukosa dinding lambung yang dapat bersifat akut maupun kronis.
Gastritis Akut merupakan penyakit yang sering ditemukan pada
masyarakat, biasanya penyakit ini bersifat ringan atau dapat
sembuh sendiri, gastritis akut ini merupakan respon mukosa
lambung dari suatu iritan lokal dimana iritan tersebut salah satunya
disebabkan oleh pola makan yang buruk, kafein, alkohol dan obat-
obat aspirin dapat menyebabkan iritan (Price, 2005).
2.1.2 Klasifikasi Gastritis
Gastritis secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua
klasifikasi yaitu gastritis akut dan gastritis kronis :

1
A. Gastritis Akut
Gastritis akut adalah peradangan mukosa akut
pada dinding lambung yang biasanya bersifat transien atau
sementara, pada gastritis akut dapat disertai dengan
perdarahan kedalam mukosa dan pada kasus yang lebih
parah akan terjadi pelepasan sel epitel mukosa superfisial
sehingga gastritis akut bersifat erosif, bentuk erosif yang
parah adalah salah satu penyebab utama perdarahan yang
yang terjadi pada masalah-masalah saluran cerna (Kumar
Dkk, 2007).
Gastritis Akut merupakan penyakit yang sering
ditemukan pada masyarakat, biasanya penyakit ini bersifat
ringan atau dapat sembuh sendiri, gastritis akut ini
merupakan respon mukosa lambung dari suatu iritan lokal
dimana iritan tersebut salah satunya disebabkan oleh pola
makan yang buruk, kafein, alkohol dan obat-obat aspirin
dapat menyebabkan iritan (Price, 2005)
Konsurnsi makanan yang terlalu asam atau
mengandung bakteri, pola makan yang tidak baik,
pemakaian obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)
terutama aspirin, konsumsi alkohol yang berlebihan,
contoh tersebut merupakan faktor yang mengakibatkan
peningkatan asam lambung meningkat sehingga dapat
mengakibatkan asam ini akan dapat merusak atau
mengerosi epitel lambung, beberapa penyebab lainnya
yaitu gangguan lapisan mukosa, berkurangnya aliran darah
pada lambung, kerusakan lapisan epitel secara langsung
dan sebagainya (Kumar Dkk, 2007).
Pada gastritis akut biasanya akan ditemukan
terjadinya perdarahan pada saluran cerna ini dapat dilihat
dari pemeriksaan edoskopi, tetapi tanda pasti telah terjadi
gastritis adalah edema atau pembengkakan pada mukosa

2
dinding lambung, tetapi gastritis akut bersifat transien
sehingga gastritis akut mungkin akan cepat lenyap atau
menghilang beberapa hari (Kumar Dkk, 2007).
B. Gastritis Kronis
Gastritis kronis adalah suatu peradangan pada
bagian permukaan lambung yang bersifat menahun,
gastritis kronis ditandai dengan terjadinya atrofi progresif
pada epitel kelenjar lambung disertai dengan kelilangan
sel parietal. Gastritis kronis terjadi diakibatkan oleh
produksi HCL, pepsin, dan faktor instrinsik menurun,
contohnya pada produksi HCL akan meningkat sehingga
kadar asam dalam lambung akan meningkat kejadian ini
akan menyebabkan lambung menjadi tipis, dan mukosa
tidak rata seperti semula. Gastritis kronis sering
dihubungkan dengan anemia pernisiosa, ulkus peptikum
dan kanker lambung (Wijaya & Putri, 2013).
Menurut Chidrasoma & Taylor (2006) derajat
paling ringan dari gastritis kronis adalah gastiris
superfisial kronis, dimana gastritis ini mengenai bagian
sub epitel disekitar cekungan lambung. Kasus yang lebih
parah adalah gastritis atrofi kronis dimana gastritis ini
berhubungan dengan kejadian atrofi kelenjar dan
metaplasia intestinal. Kemudian Chidrasoma & Taylor
mengungkapkan ada 2 tipe gastritis kronis yaitu tipe A dan
tipe B, gastritis kronis tipe A merupakan gastritis auto
imun yang terutama mengenai tubuh dan berkaitan dengan
anemia persinosa yang disebabkan oleh kegagalan
absorbsi vitamin B12 karena kekurangan faktor intrinsik
akibat gastritis auto imun yang menyerang parietal pada
fundus dan korpus, reaksi autoimun ini menyebabkan
fundus dan korpus menjadi tipis dan biasanya akan terjadi
metaplasia intestinal, pada akhirnya akan terjadi atofi pada

3
mukosa lambung. Gastritis kronis tipe B adalah gastritis
yang dikarenakan atau berkaitan dengan infeksi bakteri
Helicobacter Pylori, tetapi menurut Chidrasoma & Taylor
terdapat beberapa gastritis kronis yang tidak tergolong
pada dua tipe tersebut.
Bakteri Helicobacter Pylori adalah organisme
yang kecil dan melengkung, seperti vibrio, yang muncul
pada apisan mukus permukaan yang menutupi permukaan
epitel dan lumen kelenjar, keberadaan bakteri
Helicobacter Pylori berkaitan erat dengan terjadinya
peradangan aktif. Gastritis kronis berkaitan dengan
berbagai macam penyakit, seperti ulkus duodenum dimana
hampir 100% berkaitan, ulkus lambung (75%), dan kanker
lambung (>80%) (Chidrasoma & Taylor, 2006).
Seseorang yang mempunyai gastritis kronis
biasanya memperlihatkan perbaikan gejala setelah
dilakukan pengobatan yang baik dan mendapat terapi
antimikroba, kekambuhan gastritis dilaporkan berkaitan
dengan kemunculan kembali Helicobater Pylori,
perbaikan pada gastritis kronis mungkin memerlukan
waktu yang jauh lebih lama, tentunya kemunculan bakteri
ini dapat dicegah dengan beberapa cara contohnya
menjaga pola makan, tidak terlalu stress dan sebagainya
(Kumar Dkk, 2007).
2.1.3 Etiologi Gastritis
Menurut Sukarmin (2013) berbagai kasus terjadinya
gastritis sering berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
A. Pemakaian obat antiinflamasai nonsteroid (NSAID)
Obat antiinflamasi nonsteroid contohnya adalah
aspirin, asam amfenamat, dan sebagainya, obat
antiinflamasi nonstreoid ini dapat memicu kenaikan
produksi produksi asam lambung yang berlebihan sehingga

4
asam lambung ini akan mengiritasi mukosa lambung karena
terjadinya difusi balik ion hidrogen ke epitel lambung.
Selain merangsang produksi asam obat antiinfiamasi
nonstreoid juga dapat langsung merusak epitel lambung
karena bersifat iritatif dan bersifat asam.
B. Pola hidup
 Merokok
Rokok mengandung asam nikotinat yang dapat
meningkatkan adhesi trombus yang berkontribusi
dalam penyempitan pembuluh darah termasuk
pembuluh darah pada lambung sehinga suplai darah
ke lambung mengalami penurunan. Penurunan ini
berdampak pada produksi mukus pada lambung
dimana mukus ini melindungi lambung dari iritasi,
selain itu asam nikotinat dapat menanamkan
rangsangan pada pusat lapar sehingga orang yang
mengkonsumsi rokok akan tahan lapar bila orang
tidak makan dengan baik termasuk jadwal makan
maka lambung akan kosong, jika kosong maka asam
lambung dapat langsung mencerna mukosa
lambungnya bukan makanan karena tidak ada
makanan yang masuk.
 Minum alkohol
Alkohol mengandung bahan etanol dimana etanol ini
merupakan salah satu bahan yang dapat mengiritasi
lambung karena bersifat iritan.
 Pola makan tidak sehat
Pola makan merupakan berbagai informasi
yang memberikan gambaran macam dan frekuensi
penggunaan bahan makanan yang dikonsumsi oleh
seseorang pada waktu tertentu (FKUI, 2010)
Pola makan yang tidak sehat mengakibatkan

5
seseorang menderita gastritis contohnya saja bila
seseorang memakan jenis makanan yang banyak maka
asam ini akan mengiritasi lambung, contoh lain adalah
bila frekuensi atau jadwal makan kita tidak teratur
misalnya terlalu lama tidak makan maka lambung
akan kosong, seperti yang dijelaskan sebelumnya
pada merokok, hal ini sama yaitu asam lambung akan
mencerna mukosa lambungnya.
 Stress berat
Stress akan meningkatkan aktivitas syaraf
simpatik yang mana kejadian ini akan meningkatkan
produksi asam lambung. Peningkatan asam
lambung/HCL dapat dirangsang oleh mediator kimia
yaitu oleh neuron simpatik seperti epinefrin.
 Diet
Diet yang tidak sehat akan mempengaruhi
lambung seseorang bila seseorang diet terlalu
berlebihan tidak makan dalam waktu yang lama
contohnya maka lambung akan mengalami
kekosongan dan ini tidak baik untuk lambung.
C. Pemberian obat kemoterapi
Obat-obatan kemoterapi adalah obat yang pada
dasarnya merusak sel yang perturnbuhannya abnormal,
perusakan ini ternyata dapat juga mengenai epitel mukosa
lambung sehingga menyebabkan iritasi.
D. Uremia
Ureum yang ada pada darah dapat mempengaruhi proses
metabolisme di dalam tubuh terutama saluran pencernaan
(gastrointestinal uremik). Perubahan tersebut dapat memicu
kerusakan pada epitel mukosa lambung.
E. Infeksi sitemik

6
Infeksi diakibatkan oleh mikroba, mikroba ini akan
meningkatkan laju metabolisme pada tubuh manusia
dikarenakan mekanisme bertahan oleh tubuh manusia itu
sendiri, peningkatan metabolisme akan mempengarahi
pengingkatan aktivitas lambung dalam mencerna makanan
sehingga akan meningkatkan produksi asam lambung untuk
mempercepat proses pencernaan dalam lambung, hal ini
akan menimbulkan perlukaan/iritasi pada lambung.
F. Iskemia dan syok
Kondisi iskemia dan syok hipovolemik mengancam
mukosa lambung karena penurunan perfusi jaringan pada
lambung yang dapat mengakibatkan nekrosis pada lapisan
lambung.
G. Konsumsi kimia secara oral atau makan-makanan yang
bersifat terlalu asam.
Hal ini sama halnya dengan konsumsi alkohol dan
konsumsi makanan yang mengandung asam berlebihan,
contoh lain dari bahan kimia adalah thinner, obat-obatan
serangga dan sebagainya.
H. Trauma mekanik
Trauma mekanik yang mengenai/melukai daerah
abdomen seperti benturan saat kecelakaan dapat menjadi
penyebab gangguan keutuhan jaringan lambung,
kemungkinan akan terjadi kerusakan pada mukosa lambung
tetapi juga terjadi perdarahan yang berkaitan dengan
jaringan otot dan pembuluh darah pada lambung yang
mengalami kerusakan, trauma juga bisa tertelan benda asing
yang cukup keras.
I. Infeksi organisme
Koloni bakteri yang menghasilkan toksik/racun
dapat merangsang pelapasan gastrin dan peningkatan
sekresi asam lambung, contoh yang paling sering adalah

7
infeksi dari bakteri Helicobacter Pylori.
Penyebab gastritis juga merupakan penyebab dari
kekambuhan penyakit gastritis, faktor-faktor yang menyebabkan
hampir sama seperti yang disebukan diatas. Menurut Coleman
(1983) dalam bukunya tentang stress dan lambung mengungkapkan
frekuensi kekambuhan gastritis yaitu sekitar tiga hari, ini
berdasarkan pengalamannya menjadi dokter dalam mengatasi
gastritis dengan antasid dan menurut Coleman ini juga dipengaruhi
oleh faktor stress dan sebagainya.
Sedangkan menurut Sulastri Dkk (2012) dalam
penelitiannya menyebutkan bahwa mereka menggolongkan frekuensi
kekambuhan gastritis menjadi sering dan jarang, sering yaitu
frekuensi kekambuhan dalam sebulan lebih atau sama dengan 2 kali,
dan jarang yaitu frekuensi kekambuhan kurang atau sama dengan 2
kali dalam sebulan, hasilnya adalah dengan pola makan yang baik
30% mengalami kekambuhan jarang dan 70% mengalami
kekambuhan sering, sedangkan dengan pola makan kurang baik
24,2% megalami frekuensi kekambuhan jarang dan 75,8%
mengalami frekuensi kekambuhan sering.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kekambuhan gastritis dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang telah disebutkan
sebelumnya yaitu pemakaian obat, pola hidup dan sebagainya, dan
juga bila seseorang mengalami gastritis dikarenakan Helicobacter
Pylori bila penanganan tidak begitu baik maka bakteri ini akan
muncul kembali setelah beberapa hari, beberapa dokter menyarankan
pengobatan yang dikarenakan Helicobacter Pylori akan memakan
waktu sekitar 7 hari tergantung pada tingkat reaksi dan tingkat
kesembuhan dari gejala gastritis seorang individu, terkadang selama
7 hari bakteri ini hilang tetapi efek dari gangguan lambung akan
muncul kembali (Mariyono, & Astriani, 2013).

8
2.1.4 Tanda dan Gejala Gastritis
Menurut Wijaya & Putri (2013) tanda dan gejala gastritis
adalah sebagai berikut :
A. Gastritis Akut
· Keluhan dapat bervariasi, tetapi terkadang tidak ada
keluhan tententu sebelumnya, sebagian hanya
mengeluh nyeri epigastrum/uluhati.
· Nausea dan vomitus.
· Gejala bila parah/berat :
o Nyeri epigestrum/ulu hati yang berat bila
parah.
o Perdarahan.
o Vomitus.
o hematemisis
B. Gastritis Kronis
· Perasaan penuh pada abdomen.
· Nyeri ulu hati.
· Keluhan-keluhan anemia.
· Anorexia dan nausea
Sedangkan menurut Sukarmin (2013) tanda dan gejala
gastritis adalah sebagai berikut
A. Gastritis akut
Gejala pada gastritis akut sangat bervariasi, mulai dari
sangat ringan asimtomatik, berat dan dapat menimbulkan
kematian, penyebab kematian adalah adanya perdarahan
pada lambung. Gejala yang sangat menonjol pads gastritis
akut adalah sebagai berikut :
· Pada sebagian besar kasus mengeluh nyeri ulu hati.
· Mual dan muntah.
· Perdarahan saluran cerna.

9
· Hemetemesis dan melena yang dapat berlangsung
sangat hebat jika parah dan bahkan bisa terjadi
renjatan karena kehilangan darah.
· Pada kasus yang ringan perdarahan bermanifestasi
sebagai darah samar pada tinja.
· Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan
kelainan kecuali mereka yang mengalami
perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda
dan gejala gangguan hemodinamik seperti hipotensi,
pucat, keringat dingin, takikardi, bahkan sampai
gangguan kesadaran.
B. Gastritis Kronis
· Gejalanya bervariasi antara satu orang dengan
lainnya, dan tidak jelas.
· Perasaan penuh, anoreksia.
Perasaan penuh diakibatkan oleh sekresi yang
berlebihan pada lambung ketika ada makanan yang
masuk. Sehingga kapasitas makanan menjadi
menurun karena sebagian besar diisi oleh mukus dan
cairan hasil sekresi.
· Distress epigastrik yang tidak nyata.
· Cepat kenyang.
· Nyeri epigastrik/uluhati.
· Tanda dan gejala anemia.
· Mual dan muntah
2.1.5 Cara pencegahan penyakit gastritis
Cara pencegahan gastritis adalah menghindari apa yang
menyebabkan gastritis, seperti yang dijelaskan oleh Sukarmin
(2013) tentang berbagai penyebab gastritis, sehingga cara
pencegahan penyakit gastritis adalah sebagai berikut :
A. Kurangi menggunakan atau mengkonsumsi obat
andinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin, asam

10
amfenamat, dan sebagal-1-1ya d.-lam 'mmiah yang besar
atau sering.
B. Hindari mengkonsumsi alkohol.
C. Menjaga pola hidup sehat
· Tidak merokok
· Menjaga pola makan yang terdiri dari jenis
makanan, frekuensi makanan, dan jumlah makanan
yang dikonsumsi. Jenis makanan yang dimaksud
adalah tidak memperberat kerja lambung atau jenis
makanan yang dapat mengiritasi lambung seperti
contohnya jenis makanan yang pedas atau jenis
makanan yang terlalu asam akan memperberat kerja
lambung dan bisa juga mengiritasi lambung.
Frekuensi makanan atau biasa disebut jadual makan
atau jarak waktu makan seseorang, bila lambung
mengalarni kekosongan atau jarak waktu makan
terlalu lama maka akan menimbulkan asam lambung
akan mencerna mukosa, lambung itu sendiri karena
kekosangan pada lambung. Jumlah makanan harus
seimbang tidak boleh terlalu banyak maupun terlalu
sedikit.
· Menghindari stress berat atau terlalu berfikir keras.
Stress berat banyak dialami oleh orang-orang
yang berumur produktif yaitu 15-49 tahun dimana
seorang individu yang produktif menginginkan
untuk bekerja dan mencapai target tertentu sehingga
ini menimbulkan pikiran/beban yang berat sehingga
menimbulkan stress.
· Menghindari diet yang buruk.
Diet banyak dilakukan pada kalangan-
kalangan muda/remaja karena ingin mempunyai
tubuh yang bagus, tetapi terkadang seorang individu

11
melakukan diet dengan kurang baik misalnya tidak
makan sama sekali selama satu hari penuh, kejadian
ini akan menimbulkan kekosongan pada lambung
sehingga akan menimbulkan asam lambung
mencerna mukosa lambung itu sendiri.
· Berolahraga
Olahraga selain dapat membuat tubuh sehat,
olahraga juga dapat untuk sarana rekreasi agar
seorang individu tidak jenuh atau tidak stress dengan
masalah yang dialami.
D. Menjaga kebersihan lingkungan dan bahan
makanan.
Menjaga kebersihan lingkungan dan bahan makanan
sangat perlu dilakukan agar lingkungan bersih
sehingga meminimalisir salah satu penyebab
gastritis yaitu bakteri Helicobacter Pylori, bila
lingkungan bersih maka populasi bakteri ini akan
menurun sehingga salah satu penyebab dari gastritis
dapat dihindari.

2.2 Konsep Perilaku


2.2.1 Pengertian Perilaku
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu
sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas contohnya :
berjalan, berbicara, marah, tertawa, makan, membaca dan
sebagainya, perilaku manusia juga dapat diartikan sebagai seluruh
kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung
misalnya berbicara, makan dan sebagainya maupun yang tidak
dapat diamati langsung contohnya berfikir, merasakan, dan
berdoa misalnya seseorang sebelun menghadapi ujian akan
berdoa semoga dapat dilancarkan ujiannya tetapi orang disekitar
tidak mengetahui apa yang dikatakan orang tersebut

12
(Notoatmodjo, 2003).
2.2.2 Teori Perilaku
1. Teori perilaku menurut Burrhus Frederic (B. F.) Skinner
(1990) dalam Achmadi (2014).
B. F. Skinner dalam teorinya membuat tiga asumsi dasar
tentang perilaku yaitu :
a. Perilaku terjadi menurut hukum tertentu (behaviour
is lawfull).
b. Perilaku dapat diramalkan atau diprediksi (behaviour
can be predicted). Menurut skinner perilaku
ditentukan oleh kejadian-kejadian masa lalu dan
sekarang sehingga dapat diprediksi.
c. Perilaku manusia dapat dikontrol (Behaviour can be
controlled). Menurut skinner perilaku dapat
dijelaskan hanya berkenaan dengan kejadian atau
situasi-situasi sosial dan situasi lingkungan.
Menurut B. F. Skinner membedakan perilaku menjadi
dua kelompok yaitu :
a. Perilaku tertutup (Convert Behaviour )
Yaitu suatu respon dimana seseorang berespon
tertutup saat diberikan suatu simulus, respon tersebut
terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan,
kesadaran, dan sikap sehingga belum dapat diamati
dengan jelas.
b. Perilaku terbuka (Overt Behaviour)
Yaitu suatu respon dimana seseorang langsung
melakukan tindakan nyata saat diberikan stimulus,
respon tersebut jelas dalam bentuk tindakan
sehingga mudah diamati.

13
Menurut F. Skinner (1990) dalam Notoatmodjo
(2012) prosedur pembentukan perilaku adalah sebagai
berikut :
a. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang
merupakan penguat atau biasa disebut reinfocer
berupa hadiah atau reward.
b. Melakukan analisis untuk mengidentfikasi
komponen-komponen kecil yang akan
membentuk perilaku yang dikehendaki.
c. Menggunakan atau mengurutkan komponen-
komponen tersebut sebagai tujuan sementara.
d. Melakukan pembentukan perilaku dengan
menggunakan urutan komponen yang telah
tesusun. Apabila komponen pertama sudah
dilakukan maka akan diberikan reward yang
sebelumnya telah disiapkan kemudian perilaku
tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
2. Teori Preceed-Proceed menurut Lawrence W. Green (1991)
dalam Notoatmodjo (2003).
Menurut Green perilaku manusia dimulai dari tingkat
kesehatan seseorang, dimana kesehatan seseorang
dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor perilaku dan
faktor diluar perilaku.
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh
beberapa faktor antara lain
a. Faktor presdiposisi
Faktor ini terwujud daiam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor pendukung
Faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedianya layanan sosial dan kesehatan.
c. Faktor pendorong

14
Faktor ini terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau petugas lain dalam
mendorong seorang individu.
3. Teori Thought and Feeling Menurut WHO (1984) dalam
Notoatmodjo (2005).
WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan
seseorang berperilaku tertentu adalah karena adanya empat
alasan pokok, yaitu :
a. Pemahaman dan pertimbangan (thought and
feeling).
Pemahaman dan pertimbangan seseorang
dapat dijabarkan dalam bentuk pengetahuan, sikap,
kepercayaan-kepercayaan, dan penilaian seseorang
terhadap suatu objek.
· Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari
pengalaman itu sendiri atau pengalaman
orang lain.
· Kepercayaan
Kepercayaan sering diperoleh dari
keluarga atau orang terdekat, seseorang
menerima kepercayaan berdasarkan
keyakinan tanpa adanya pembuktian terlebih
dahulu, misalnya wanita hamil tidak boleh
makan telur agar tidak kesulitan waktu
melahirkan
· Sikap
Sikap mengambarkan suka atau tidak
suka seseorang terhadap suatu objek, dimana,
sikap itu diperoleh dari pengalaman diri
sendiri atau orang lain. Sikap postif terhadap
nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud

15
dalam suatu yang nyata, hal ini
disebabkan karena beberapa hal seperti
situasi, sikap yang akan dilakukan mengacu
pada pengalaman orang lain yang buruk,
nilai.
b. Orang penting/tokoh masyarakat/agama sebagai
referensi
Apabila seseorang menganggap orang
tersebut dapat dipercaya, maka apa yang ia katakan
atau perilaku cenderung dicontoh.
c. Sumber daya
Sumberdaya mencangkup fasilitas, uang,
waktu, tenaga, dan sebagainya, pengaruh
sumberdaya dalam perlaku dapat berpengaruh positif
maupun negatif.
d. Kebudayaan
Kebudayaan itu sendiri terdari dari kebiasaan
yang ada disekitar, nilai-nilai yang ada disekitar,
tradisi-tradisi, yang kemudian kebudayaan tersebut
dapat memberntuk atau mempengaruhi pola hidup
(way of life) yang umumnya disebut kebudayaan.
Kebudayaan itu sendiri terbentuk dalam waktu yang
lama sebagai akibat dari kehidupan suatu
masyarakat itu sendiri.
4. Teori snehandu B. Kar (1983) dalam Achmadi (2014).
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan
dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi
dari:
a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan
kesehatan atau perawatan kesehatannya (behaviour
intention).

16
b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya
(social-support).
c. Ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau
fasilitas kesehatan (accessebility of information).
d. Otonomi pribadi seseorang untuk mengambil
keputusan atau, tindakan (personal autonomy).
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau
tidak bertindak (action situation).
2.2.3 Teori Perubahan Perilaku
Menurut Edberg (2007) perubahan perilaku dapat dibagi
menjadi dua model yaitu model transteoritis dan model pencegahan
adopsi, lebih lanjut sebagai berikut
1. Model Transteoretis
Model ini sering disebut dengan model tahapan
perubahan, tahap-tahap dari model transteoretis ini yaitu
sebagai berikut:
a. Tahap satu : Prankontemplasi
Tahap ini adalah tahap dimana seseorang
tidak berniat untuk melakukan tindakan,
kemungkinan dikarenakan seseorang tersebut tidak
mengetahui tentang masalahnya, ataupun karena
seseorang tersebut tidak tertarik atau tidak terdorong
untuk berubah.
b. Tahap dua : Kontemplasi
Tahap ini merupakan tahap seseorang
berfikir tentang merubah sesuatu diwaktu yang akan
datang serta seseorang tersebut telah
mempertimbangkan pro dan kontra terhadap
tindakan perubahan tersebut, ditahapan inilah yang
menentukan apakah seseorang akan berubah atau
tidak.
c. Tahap tiga : Persiapan

17
Tahap ini merupakan tahapan selanjutnya
yang mana seseorang tersebut telah mempersiapkan
tentang perubahan yang akan dilakukan.
d. Tahap empat : Tindakan
Tahap ini merupakan tahap dimana
seseorang sudah melakukan tindakan-tindakan yang
sudah direncakan sebelumnya.
e. Tahap lima : Pemeliharaan
Tahap lima ini merupakan tahapan dimana
sudah terdapat perubahan pada perilaku seseorang
tetapi apakah seseorang tersebut dapat
mempertahankan perubahan perilaku tersebut agar
tetap berjalan dan tidak kembali kepada perilaku
yang buruk sebelumnya.
f. Tahap enam : Terminasi
Tahap ini adalah tahap terakhir dimana
seseorang pada tahap ini sudah benar-benar berubah,
tahap ini merupakan tahapan yang susah dilalui
karena kebanyakan orang akan bertahan pada tahap
pemeliharaan.
2. Model Proses Pencegahan Adopsi
Tahapan tahapan pada model ini adalah sebagai
berikut :
a. Tahap satu : Tidak menyadari adanya isu
Pada tahap ini seeorang tidak akan mengubah
perilaku kesehatannya bila seseorang tersebut belum
mendengar atau melihat adanya masalah kesehatan
yang terkait atau sering disebut dengan
ketidaktahuan atau ketidaksadaran.
b. Tahap dua : Tidak terlibat dalam isu
Pada tahap ini tedapat dua tipe seseorang yaitu
seorang individu yang mengetahui tentang resiko

18
terkait perilaku kesehatan yang dilakukan dan
seorang individu yang benar-benar tidak mengetahui
tentang resiko perilaku kesehatan yang dilakukan.
c. Tahap tiga : Memtuskan tentang tindakan
Tahap ini adalah tahap pertengahan dimana
seseorang sadar akan perilakunya sehingga pada
tahap ini seseorang memulai membuat keputusan
apakah seorang individu berniat untuk mengubah
perilakunya atau tidak.
d. Tahap empat : Memutuskan tidak bertindak
Pada tahap ini seseorang yang telah memikirkan
tentang perubahan perilakunya memutuskan untuk
tidak bertindak.
e. Tahap lima: memutuskan bertindak
Pada tahap ini seseorang yang telah memikirkan
tentang perubahan perilakunya memutuskan untuk
bertindak.
f. Tahap enam : Bertindak
Tahap ini adalah dimana seseorang sudah
melakukan tindakan untuk pertama kalinya dan
belum bisa memelihara perlaku tersebut.
g. Tahap tujuh : Pemeliharaan
Tahapan pemeliharaan sama dengan model
perubahan perilaku sebelumnya yaitu apakah
seseorang tersebut dapat teruss melakukan perliku
kesehatan yang berkeanjutan ataukah seseorang
tersebut gagal memelihara sehingga kembali kepada
perilaku yang buruk.

2.2.4 Domain Perilsku


Menurut Achmadi (2014) Domain perilaku dapat dibagi
menjadi tiga domain/kawasan/ranah yaitu yang terdiri dari ranah

19
kognitif (kognitiff domain), ranah afektif (afffective domain), dan
ranah psikomotor (psikomotor domain). Dalam selanjutnya ketiga
domain dapat diukur dari :
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil dari ketahuan seseorang
dan ini terjadi setelah seseorang melakukan suatu
penginderaan misalnya melihat dan sebagainya terhadap
suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan seseorang tidak
mempunyai dasar untuk mengambil keputusan, bertindak
dan atau berperilaku. Ada enam tingkatan pengetahuan
a. Tahu (know)
b. Memahami (comprehension)
c. Aplikasi
d. Analisis
e. Sintesis
f. Evalunsi
2. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek,
sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi ditafsirkan, salah
seorang ahli psikologis menyatakan bahwa sikap adalah
kesiapan dan ketersediaan seorang individu untuk bertindak
dan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap itu masih
merupakan reaksi tertutup, Diagram dibawah ini
menjelaskan tentang sikap.

20
Gambar : hubungan perilaku dengan sikap

Sikap mempunyai tiga komponen pokok


· Kepercayaan
· Kehidupan emosional atau evalussi terhadap suatu
objek
· Kecenderungan untuk bertindak
Terdapat 4 tingkatan sikap yaitu :
a. Menerima (receiving)
a. Merespon (responding)
b. Menghargai (valuing)
c. Bertanggung jawab (responsible)
3. Praktik atau tindakan (Practice)
Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu
tindakan, untuk mewujudkan sikap mejadi suatu tindakan
yang nyata diperlukan faktor yang mendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan yaitu fasilitas dan faktor
pendukung. Praktik mempunyai beberapa tingkatan yaitu :
a. Persepsi (perception)
b. Respon terpemimpin
c. Mekanisme
d. Adopsi/adaptasi
Suatu perilaku dapat diukur dengan melakukan cara
langsung seperti wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah
dilakukan beberapa jam, hari, ataupun bulan yang lalu (recall),

21
dapat juga melalui observasi tindakan atau kegiatan responder
secara langsung.

22
1.2.5 Pengertian Perilaku Sehat
Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit
atau penyakit, sistem palayanan kesehatan, makanan, minuman
serta lingkungan yang berpengaruh pada rnasalah kesehatan
(Notoatmodjo, 2003).
2.2.6 Klasifikasi Perilaku Kesehatan
Menurut Notoatmodjo (2005) perilaku kesehatan dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu :
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintance)
Perilaku ini adalah perilaku seseorang untuk
memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit
ataupun perilaku seseorang dalam penyembuhan apabila
seseorang tersebut sakit. Perilaku ini sendiri terdiri dari tiga
aspek, yaitu :
a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan
penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan
bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang
dalam keadaan sehat maka perlu diberikan sebuah
penjelasan agar kesehatan seseorang tersebut
meningkat atau optimal.
c. Perilaku, gizi (makanan) dan minuman. Makanan
dan minuman adalah salah satu faktor yang dapat
meningkatkan ataupun bahkan menurunkan suatu
derajat kesehatan seseorang hal ini sangat tergantung
pada perilaku orang tersebut terhadap makanan dan
minuman tersebut.
2. Perilaku pencarian fasilitas kesehatan (health seeking
behavior)
Perilaku ini adalah perilaku yang menyangkut upaya
atau tindakan seseorang saat menderita suatu penyakit

23
apakah seseorang tersebut mencari dan menggunakan
pelayanan kesehatan yang ada untuk menyembuhkan
penyakitnya.
3. Perilaku kesehatan lingkungan
Perilaku ini adalah perilaku dimana seseorang
merespon terhadap lingkungannnya, apakah seseorang
memelihara lingkungannya dengan baik atau tidak, dimana
lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik maupun
sosial budaya dan sebagainya.

Menurut Skinner (1990) dalam Achmadi (2014) perilaku


kesehatan dapat terbagi ke dalam:
1. Perilaku pencegahan (preventif)
Perilaku adalah perilaku yang mengambarkan
bagaimana masyarakat melakukan upaya-upaya atau
tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit.
2. Perilaku penyembuhan (kuratif)
Perilaku ini contohnya adalah perilaku seseorang
untuk mencari pelayanan kesehatan atau mencari
pengobatan.
3. Perilaku pemulihan (rehabilitatif)
Perilaku ini dibutuhkan kemauan dan disiplin
berulang-ulang agar dapat kembali seperti sediakala dengan
cara rehabilitatif.
4. Perilaku peningkatan kesehatan (premotif)
Perilaku ini menggambarkan apakah masyarakat atau
individu mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan atau
mencari tentang informasi kesehatan.
5. Perilaku yang berhubungan dengan gaya hidup (life style)
Contoh dari perilaku ini adalah seperti perilaku
makan, olahraga, tidur/istirahat dan sebagainya.

24
6. Perilaku yang berhubungan dengan lingkungan
(environmental behaviour)
Perilaku ini adalah perilaku bagaimana seseorang
memlihara lingkungannya, memanfaatkan lingkungannya
dan sebagainya sebagai contoh cara masyarakat membuang
sampah, perilaku bersin dan sebagainya.
Menurut Achmadi (2014) perilaku yang berkaitan
dengan kesehatan dapat dklasifikasikan atas :
1. Perilaku kesehatan, yaitu segala tindakan seseorang dalam
memelihara kesehatanpya sendiri maupun orang lain.
2. Perilaku sakit, yaitu segala tindakan yang dilakukan
seseorang saat merasa sakit bisa berupa mengenal atau
mengidentifikasi penyakitnya, ataupun mencegah penyakit
yang dirasa akan muncul.
3. Perilaku peran sakit, yaitu segala tindakan seseorang yang
sedang menderita sakit untuk memperoleh kesembuhan
2.2.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Perilaku
Kesehatan Individu
Menurut achamadi (2014) faktor-faktor pembentuk perilaku
kesehatan dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu
1. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam
individu itu sendiri yaitu berupa kecerdasan, persepsi,
motivasi, minat, emosi dan sebagainya.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berada
diluar individu uang besangkutan yang meliputi objek
orang, kelompok, lingkungan dan hasil-hasil kebudayaan
yang ada disekitar orang tersebut yang dapat mewujudkan
terbentuknya perilaku.
Sedangkan menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo
(2003) perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama :

25
1. Faktor presdisposisi
Faktor-faktor ini mencangkup pengetahuan dan sikap
masyarakat terhadap kesehatannya, tradisi, dan kepercayaan
masyarakat terhadap semua hal yang berkaitan dengan
kesehatan.
2. Faktor pemungkin (enabling factor)
Faktor-faktor ini terdari dari cakupan ketersediaan
sarana dan prasarana atau fasilitas atau palayanan kesehatan
bagi masyarakat setempat.
3. Faktor penguat (reionforcing factor)
Faktor-faktor ini meliputi sikap dan perilaku tokoh
masyarakat, tokoh agama dan perilaku para petugas
kesehatan setempat, kepala keluarga dalam memberikan
dukungan atau support dalam meningkatkan perilaku
kesehatan.
Sedangkan menurut Mubarak & Chayatin (2009) faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang
adalah faktor internal dan eksternal, adapun faktor internal adalah
sebagai berikut :
1. Keturunan
Seseorang berperilaku tertentu karena memang
sudah berasal dari keluarga (orang tua), sifat-sifat yang
dimiliki adalah sifat-sifat yang diperoleh dari orang tua atau
neneknya, kakeknya dan sebagainnya seperti cara makan,
dan sebagainya.
2. Motif
Manusia berbuat sesuatu karena adanya dorongan
atau kepentingan/motif tertentu, motif muncul karena
didasari oleh kebutuhan dasar manusia menurut marslow
yaitu :
a. Kebutuhan biologis

26
Kebutuhan dasar atau fisiollogis mencangkup
kebutuhan akan makan dan minum, rumah, seks, dan
sebagainya
b. Kebutuhan sosial (rasa aman)
Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan mencangkup
kebutuhan akan perlindungan, bergaul, kasih sayang,
pengakuan, keselamatan, keamanan, dan perlindungan
hukum, serta kebutuhan spiritual yaitu kebutuhan akan
agama dan pendidikan
c. Kebutuhan rasa cinta, memiliki, dan dimiliki.
Kebutuhan ini meliputi mendambakan kasih
sayang, ingin diterima, keakraban dan sebagainya.
d. Kebuthan harga diri
Kebutuhan ini meliputi ingin dihargai,
toleransi, penghargaan, dan privasi.
e. Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan untuk
diakui, ingin berhasil, ingin menonjol dan sebagainya.
Sedangkan faktor eksternalnya meliputi
a. Pengetahuan
Pengetahuan tentang suatu penyakit, tindakan
dan sebagainya.
b. Kepercayaan (keyakinan)
Kepercayaan seseorang tentang manfaat dan
kebenaran dari apa yang akan dilakukan.
c. Sarana
Sarana untuk mendukung suatu
tindakan/perilaku kesehatan tersebut.
d. Motivasi

27
Motivasi atau dorongan untuk berbuat atau
bertindak atau berperilaku.
Sedangkan menurut Edberg (2007) faktor-faktor yang
mempegaruhi perubahan perilaku kesehatan individu adalah
sebagai berikut :
1. Faktor Individu
· Kesadaran dan pengetahuan individu tentang resiko
kesehatan, cara pencagahan suatu masalah kesehatan,
dan sebagainya ).
· Karakteristik biofisik misalnya keturunan/genetika
dan sebagainya.
· Sikap dan motivasi seorang individu terhadap
kesehatan.
· Tahap-tahap perkembangan misalnya remaja dewasa,
tua.
· Sosialisasi perilaku/kebiasaan misalnya perilaku dari
orang tua atau keluarga
2. Faktor sosia budaya/kelompok
· Pola hidup suatu kelompok sosial atau kelompok yang
diikuti oleh seorang individu misalnya kelompok
pekerja keras pola hidupnya (makan) kurang teratur
dan sebagainya
· Sikap/kepercayaan terhadap budaya misalnya pada
budaya jawa kuno seorang yang mengalami luka tidak
boleh memakan telur dan protein hewani sedangkan
menurut kesehatan protein hewani sangat disarankan
untuk penyembuhan luka dan sebagainya.
· Tingkat dukungan atau motivasi sosial.
3. Faktor sosio ekonomi dan struktural
· Kemiskinan atau tingkat ekonomi seorang individu.
· Tingkat pendidikan seorang individu.

28
· Akses ke layanan kesehatan dan akses untuk
informasi kesehatan.
4. Faktor politik
· Kebijakan dan pendanaan untuk progam promosi
kesehatan.
· Asuransi kesehatan (kebijakan, biaya, dan
ketersedian).
· Perundang-undangan atau peraturan yang ada dalam
kehidupan sehari-hari.
5. Faktor lingkungan
· Faktor resiko dilingkungan seperti polusi udara dan
air
· Bencana alam
· Kondisi yang memungkinkan penyebaran penyakit
menular/endemi
2.2.8 Perilaku di Usia Produktif
Menurut Theslimmerz (2014) kontributor pertama
terjadinya penyakit kronis pada usia produktif adalah pola hidup
yang tidak sehat seperti pola makan, aktivitas fisik, kegemukan,
merokok, stress dan lain-lainnya. Faktor-faktor utama yang
mendukung penyakit degeneratif dan penyakit kronis di usia
produktif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pola Makan.
Pada jaman yang serba modern ini dan
bertambahnya kesibukan pada usia yang produktif terutama
dimasyarakat dengan kota besar, para ibu rumah tangga
maupun pekerja lebih memilih menyediakan makanan yang
siap saji contohnya sosis, nugget dan sebagainya, dan juga
makanan cepat saji juga dirasakan lebih enak dan praktis,
tidak perlu waktu lama untuk memasak. Makanan cepat saji
rata-rata makanan yang tidak menggunakan gizi lengkap
bahkan terdapat banyak bahan penyedap sehingga itu

29
menimbulkan kerugian pada kesehatan seseorang.
Selain itu pada orang dengan usia produktif lebih
mengutamakan untuk bekerja daripada mengatur pola
makannya yang bagus baik jenis, frekuensi, dan jumlah
makanan, orang yang produktif akan memikirkan bahwa
makanan cepat saji adalah pilihan yang paling tepat karena
tidak memerlukan waktu untuk membuat dan faktor-faktor
lain yang menganggu pekerjaannya.
2. Aktivitas Fisik.
Pada masyarakat yang modern ini terutama di usia
yang produktif, seseorang akan berfokus kepada karirnya
atau pekerjaannya sehingga melupakan tentang olahraga
selain itu dijaman yang modern ini seseorang akan
digampangkan dengan berbagai teknologi untuk menunjang
aktivitas fisiknya sehingga aktivitas seseorang lebih sedikit
dan ini tidak baik untuk kesehatan.
3. Faktor Stress.
Pada jaman yang modern ini jam bekerja telah
ditambah daripada jaman dahulu dan pada seseorang yang
berusia produktif akan lebih mungutamakan karirnya
sehingga beban dan jam kerja yang bertambah ini akan
menimbulkan stress yang kemudian stress ini dapat memicu
beberapa penyakit.
4. Degeneratif.
Tidak dapat dipungkiri beberapa penyakit dapat
dikarenakan oleh faktor keturunan, sehingga perlu
diwaspadai oleh seorang individu yang mana mempunyai
risiko penyakit degeneratif lebih besar daripada orang
disekitarnya.

30
2.3 Konsep Pendidikan Kesehatan
2.3.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan
Menurut stuart (1968) dalam Suliha dkk (2002)
mendefinisikan pendidikan kesehatan adalah komponen program
kesehatan dan kedokteran yang terdiri atasupaya terencana untuk
mengubah perilaku individu, kelompok maupun masyarakat yang
merupakan perubahan cara berfikir, bersikap, dan berbuat dengan
tujuan membantu pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit
dan promosi hidup sehat.
Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan
perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah ataupun
mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen
pengetahuan, sikap, ataupun praktik yang berhubungan dengan
terciptanya kehidupan yang sehat baik secara individu, kelompok
maupun masyarakat, serta pendidikan kesehatan merupakan
komponen dari program-program promosi kesehatan (Suliha Dkk,
2002).
Menurut Grene (1972) dalam Suliha dkk (2002)
mengemukakan bahwa pendidikan kesehatan adalah istilah yang
diterapkan pada penggunaan proses pendidikan secara terencana
untuk mencapai tujuan kesehatan yang meliputi beberapa
kombinasi dan kesempatan untuk pembelajaran.
Menurut Committe President on Health Education (1977)
dalam Suliha. dkk (2002) pendidikan kesehatan adalah proses
menjembatani kesenjangan antara informasi kesehatan dan praktik
kesehatan, sehingga pendidikan kesehatan yang memotivasi
seseorang untuk berbuat dengan diberikannya informasi sehingga
dapat menjaga dirinya dan orang lain menjadi lebih sehat dengan
menghindari kebiasaan yang buruk dan membentuk kebiasaan yang
lebih sehat dan menguntungkan untuk dirinya sendiri dan orang
lain.

31
Sedangkann menurut Suliha dkk (2002) Pendidikan
kesehatan merupakan proses perubahan perilaku secara terencana
pada diri individu, kelompok maupun masyrakat untuk dapat lebih
mandiri dalam mencapai tujuan hidup yang sehat, dan pendidikan
kesehatan merupakan proses belajar dari individu, kelompok
maupun masyarakat dari yang semula tidak tahu menjadi tahu dan
dari tidak mampu mengatasi masalah kesehatan menjadi mampu
dengan mandiri mengatasi masalah kesehatan serta pendidikan
kesehatan merupakan usaha/kegiatan untuk membantu seorang
individu, kelompok, maupun masyarakat dalam meningkatkan
kemampuan baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan/praktik
untuk mencapai hidup sehat secara optimal.
Dalam keperawatan, pendidikan kesehatan merupakan satu
bentuk intervensi keperawatan uang mandiri untuk membentuk
klien baik individu, kelompok maupun masyarakat dalam
mengatasi masalah kesehatannya, pendidikan kesehatan dapat
dilakukan dengan kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat
berperan sabagai perawat pendidik atau edukator, pelaksanaan
pendidikan kesehatan dalam keperawatan dengan langkah-langkah,
yang pertama pengkajian kebutuhan belajar, penegakan diagnosa,
perencanaan pendidikan kesehatan, implementasi pendidikan
kesehatan, evaluasi pendidikan kesehatan dan dokumentasi yang
terakhir (Suliha dkk, 2002).
2.3.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan
Menurut Undang-undang kesehatan No. 23 Tahun 1992
maupun WHO (1954) dalam Mubarak & Chayatin (2009) tujuan
pendidikan kesehatan adalah rneningkatkan kemampuan
masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan,
baik fisik, mental dan sosial, sehingga seorang individu, kelompok
maupun masyarakat dapat profuktif secara ekonomi maupun secara
social, pendidikan kesehatan dilakukan disemua program kesehatan
baik pemberantasan penyakit, sanitasi, lingkungan, pencegahan

32
penyakit, gizi masyarakat, maupun program kesehatan lainnya.
Tujuan ini dapat terperinci sebagai berikut :
1. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di
masyarakat.
2. Mendorong individu agar mampu secara mandiri atau
berkelmpok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan
hidup sehat.
3. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat
sarana pelayanan kesehatan yang ada.
Sedangkan menurut Wong (1974) dalam Suliha (2002)
tujuan pendidikan kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Agar penderita (masyarakat) memiliki tanggung jawab yang
lebih besar pada kesehatan (dirinya), keselamatan
lingkungan serta masyarakat.
2. Agar seorang individu, kelompok, maupun masyarakat
melakukan langkah-langkah positif dalam mencegah
terjadinya sakit dan mencegah berkembangnya sakit
menjadi lebih parah dan mencegah keadaan ketergantungan
menjadi mandiri.
3. Agar seseorang individu, kelompok, maupun masyarakat
memliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi dan
perubahan-perubahan sistem dan cara memanggatkannya
dengan efisien dan seefektif mungkin.
4. Agar orang mempelajari apa yang dapat ia lakukan sendiri
tanpa selalu meminta bantuan kepada sistem pelayanan
kesehatan.
Sehinga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pendidikan
kesehatan adalah untuk mengubah pemahaman seorang individu,
kelompok, maupun masyarakat dalam hal kesehatan agar menjadi
kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai, mandiri dalam mencapai
hidup yang lebih sehat serta dapat menggunakan fasilitas kesehatan
dengan tepat.

33
2.3.3 Ruang lingkup Pendidikan Kesehatan
Menurut Mubarak & Chayatin (2009) Ruang lingkup
pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara
lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau
aplikasinya, dan dimensi tongkat pelayanan kesehatan.
1. Dimensi sasaran pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi
tiga kelompok yaitu:
a. Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran
individu.
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran
kelompok.
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran
masyarakat luas.
2. Dimensi tempat pelaksaaan pendidikan kesehatan:
Pendidikan kesehatan dapat berlangsung dimana
saja, sehingga dengan sendirinya sasarannya juga berbeda-
beda. Misalnya:
a. Pendidikan kesehatan disekolah, dilakukan
disekolah dengan sasaran murid.
b. Pendidikan kesehatan dirumah sakit, dilakukan di
rumah sakit dengan sasaran keluarga pasien dan
sebagainya.
c. Pendidikan kesehatan ditempat kerja, dilakukan
ditempat kerja dengan sasaran para karyawan yang
bersangkutan.
d. Dan sebagainya
3. Dimensi tingkat pelayanan pendidikan kesehatan

34
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan
lima tingkat pencegahan, menurut leavel dan clark adalah
sebagai berikut :
a. Peningkatan kesehatan (Helath promotion).
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan
menentukan peningkatan status kesehatan seseorang,
pendidikan kesehatan pada tingkat dapat dilakukan
melalui beberapa kegiatan:
· Penyuluhan.
· Pengamatan tumbuh kembang.
· Pengadaan rumah sehat.
· Pendidikan kesehatan.
· Pengendalian lingkungan.
· Program P2M.
· Stimulasi dan bimbingan dini dalam
kesehatan keluarga.
b. Perlindungan umum dan khusus (general & specific
protection).
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan
diperlukan untuk memberikan perlindungan umum
dan khusus kepada masyarakat dan juga pada tingkat
ini pendidikan kesehatan diperlukan untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya kesehatan, bentuk perlindungan dan
penyadaran itu adalah sebagai berikut :
· Imunisasi dan personal hygiene.
· Perlindungan diri dari kecelekaan.
· Kesehatan kerja.
· Pengendalian sumber-sumber
pencemaran lingkungan.
· Menjaga pola makan sehat, dan
sebagainya.

35
c. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early
diagnosis and prompt treatment)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan
diperlukan karena rendahnya pengetahuan dan
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan
penyakit sehingga sering kesulitan mendeteksi
penyakit yang terjadi di masyarakat, karena
pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang kurang
maka masyarakat tidak mau diperiksa dan diobati
penyakitnya, hal ini menyebabkan masyarakat tidak
memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal,
bentuk usaha kegiatan pada tingkat ini adalah
sebagai berikut :
· Penemuan kasus secara dini.
· Pemeriksaan umum lengkap.
· Pemeriksaan massal (mass screening).
· Survei terhadap kontak, sekolah, rumah
dan sebagainya.
· Penanganan kasus dan pengobatan
adekuat.
4. Pembatasan kecacaran (disability limitation)
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
juga menyebabkan masyarakat tidak melanjutkan
pengobatan maupun perilaku sehat yang telah masyarakat
lakukan sebelumnya, atau tidak melaksanakan pengobatan
secara tuntas, oleh karena itu pendidikan kesehatan
diperlukan pada tahap ini, bentuk pendidikan kesehatan
pada tahap ini antara lain sebagai berikut:
a. Penyempurnaan dan intensifikasi terapi lanjutan.
b. Pencegahan komplikasi.
c. Perbaikan fasilitas kesehatan.

36
d. Pencegahan komplikasi yang lebih lanjut, dan
sebagainya.
5. Rehabilitasi (rehabilitation)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan
karena setelah sembuh dari penyakit tertentu, seseorang
kadang menjadi cacat atau perlu penanganan lebih lanjut.
Oleh karena itu, kurangnya pengetahuam dan kesadaran
masyarakat tidak mau atau senggan melakukan latihan-
latihan yang telah dianjurkan guna menyempurnakan
kesembuhannya, oleh sebab itu pendidikan kesehatan
diperlukan pada tahap ini.
Tujuan pendidikan kesehatan dalam dunia keperawatan
adalah untuk meningkatakan status kesehatan, mencegah
timbulnya penyakit, mencegah bertambahnya masalah kesehatan
lainnya, mempertahankan derajat kesehatan yang sudah ada, dan
memaksimalkan fungsi dan peran pasien salama sakit, serta
membantu pasien dan keluarga mengatasi masalah kesehatannya
(Suliha Dkk,2002).
Pentingnya pendidikan kesehatan dalam keperawatan
menurut Notoatmodjo (1997) dalam Suliha Dkk (2002) pendidikan
kesehatan berhubungan dengan status kesehatan, dan perilaku
kesehatan, Green (1991) dalam Suliha Dkk (2002) mengambarkan
hubungan tersebut dengan skema sebagai berikut.

37
Gambar: Skema hubungan status kesehatan dan perilaku
Skema tersebut mengambarkan empat faktor yang
mempengaruhi status kesehatan individu, kelompok, maupun
masyarakat, faktor-faktor yang mempengaruhi dan saling
berinteraksi satu sarna lain yaitu:
1. Faktor keturunan.
Faktor keturunan merupakan kondisi yang ada pada
manusia serta organ manusia yang ada.
2. Faktor pelayanan kesehatan.
Petugas kesehatan berupaya dan bertanggung jawab
untuk memberikan pelayanan kesehatan pada individu atau
masyarakat, sehingga mutu pelayanan kesehatan akan
mempengaruhi status kesehatan.
3. Faktor perilaku.

38
Perilaku kesehatan seseorang individu, kelompok
maupun masyarakat dapat mempengaruhi status
kesehatannya
4. Faktor lingkungan.
Faktor lingkungan adalah kondisi atau keadaan
lingkungan yang menggambarkan lingkungan kehidupan
manusia yang dihubungkan dengan status kesehatan.
misalnya : peyediaan air bersih, sanitasi, pengelolaan
limbah dan sebagainya.
Selanjutnya Green (1991) dalam Suliha Dkk (2002)
menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu
faktor presdiposisi (presdiposing factors), faktor pemungkin
(enabling factors), dan faktor pendorong atau. penguat (reinforcing
factors), dalam hal ini pendidikan kesehatan sebagai faktor upaya
intervensi keperawatan diarahkan pada faktor presdiposisi, faktor
pemungkin, dan faktor pendorong.
2.3.4 Proses Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoatmodjo (1997) dalam Suliha Dkk (2002)
Prinsip utama dalam proses pendidikan kesehatan adalah proses
belajar pada individu, kelompok maupun masyarakat, apabila
proses pendidikan kesehetan dilihat sebagai sistem, maka proses
belajar dalam kegiatan pendidikan kesehatan menyangkut aspek
masukan, proses, dan keluaran, berikut ini adalah gambaran dari
ketiga aspek tersebut :

Gambar: Proses Pendidikan Kesehatan

39
1. Masukan dalam pendidikan kesehatan
Masukan dalam proses belajar individu adalah invidu,
kelompok, keluarga, dan masyarakat yang akan menjadi
sasaran dalam pendidikan kesehatan. Dalam kegiatan belajar,
sasaran atau subjek pendidikan kesehatan mempunyai perilaku
yang belum sehat sehingga diperlukan pendidikan kesehatan,
subjek belajar dalam proses pendidikan kesehatan dipengaruhi
oleh latar belakang pendidikan subjek, sosial budaya dari
subjek belajar, kesiapan fisik dan psikologis dari subjek.
2. Proses dalam pendidikan kesehatan
Proses dalam pendidikan kesehatan merupakan
mekanisme dan interaksi yang memungkinkan perubahan
perilaku pada subjek belajar, dalam proses belajar diperlukan
interaksi antara subjek belajar dengan pengajar (petugas
kesehatan) serta dalam proses ini dipengaruhi oleh metode
pengajaran yang digunakan petugas kesehatan, alat bantu
belajar, dan materi belajar.
Proses pendidikan kesehatan dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu materi/bahan pendidikan kesehatan,
lingkungan belajar, perangkat pendidikan kesehatan (perangkat
lunak dan keras) serta subjek belajar. Materi dapat berupa
materi baru dan materi lama yang telah dilengkapi.
Lingkungan belajar dapat berupa tatanan atau suasana belajar
misalnya dikelas, atau tempat lainnya serta situasi atau suasana
saat belajar. Perangkat lunak berupa kurikulum, buku materi,
leaflet, peraturan dan sebagainya sedangkan perangkat keras
berupa alat bantu pengajaran misalnya alat peraga, alat audio
visual, dan sebagainya.
3. Keluaran dalam pendidikan kesehatan
Keluaran dalam proses pendidikan kesehatan adalah
kemampuan sebagai hasil perubahan perilaku yaitu perilaku
sehat.

40
2.3.5 Metode Pendidikan Kesehatan
Pendidikan daam rangka meningkatakan pengetahuan
terhadap kesehatan dapat dilakukan dengan bebrbagai cara,
menurut Achmadi (2014) metode pendidikan kesehatan yang
paling umum dilakukan adalah sebagai berikut
1. Metode Individual
Metode individual adalah metode yang bersifat
individual atau hanya satu orang saja. Metode ini biasanya
menggunakan cara ceramah atau bisa juga menggunakan
cara bimbingan (conseling).
2. Metode Kelompok
a. Kelompok besar.
Cara yang biasanya digunakan dalam metode
kelompok besar adalah ceramah dan atau seminar
b. Kelompok kecil.
Untuk kelompok kecil cara yang biasanya
digunakan adalah :
· Diskusi kelompok.
· Bola salju.
· Bermain peran.
· Permainan simulasi.
3. Metode Pendidikan Massa
Cara yang sering dilakukan pada metode ini adalah:
a. Ceramah umum (public speaking).
b. Talk show.
c. Dialog yang membahas masalah kesehatan dalam
suatu program TV ataupun radio.
d. Drama, sinetron, atau film yang bernuansa
kesehatan.
e. Aitikel-artikel kesehatan.
f. Spanduk dan poster tentang kesehatan.

41
2.4. Kerangka Konsep

Gastritis Kekambuhan pencegahan Pendidikan kesehatan


gastritis kekambuhan
gastritis
Dipengaruhi Kurangi obat
oleh : NSAID
Akut kronis Pola hidup Pola hidup
Pemaikaian sehat Perilaku pencegahan
obat Tidak kekambuhan gastritis
Trauma merokok
Infeksi Pola makan
Dan baik
sebagainya Diet yang
baik.
Olahraga
Perilaku tertutup :
Kebersihan
Pengetahuan tentang
terjaga
pencegahan karies gigi.
Hindari
Sikap dalam
stress
Faktor yang pencegahan
mempengaruhi perilaku : Perilaku terbuka :
Presidiposisi Tindakan/kegiatan
Pendukung sehari-hari.
Pendorong

42
Kategori Pengetahuan :
•Baik : 76% - 100%
•Cukup : 56% - 75% Pengertian, penyebab, tanda
•Buruk : <56 % gejala, proses terjadinya, pengetahuan
pencegahan gastritis

Kategori sikap: Sikap tentang frekuensi


•Positif = 50% - 100% makan, jenis makanan, sikap
jumlah makanan, stress diet,
•Negatif = < 50% olahraga, kebersihan,

Kategori tindakan : Kegiatan sehari-hari yang


•Baik : 76% - 100% dilakukan seorang individu Tindakan
•Cukup : 56% - 75% untuk mencegah atau
•Buruk : <56 % menimbulkan kekambuhan
Serta hasil wawancara akan
dijelaskan secara naratif
Keterangan :

Diteliti

Tidak diteliti

43
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, U.F.2014. Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Chidrasoma, S, & Taylor, C.R. 2006. Ringkasan Pataiogi Anatomi (Concise


Patology). Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Coleman, Vernon. 1985. Stress dan Lambung Anda. Jakarta: Arcan.

Dinas Kesehatan Jawa Timur. 2011. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
(http://www.depkes.go.id), (Online), Diakses pads 10 Oktober 2016.

Dinas Kesehatan Kota Batu. 2013. Profil Kesehatan Kota Batu Tahun 2013.
(http://www.depkes.go.id), (Online), Diakses pads 10 Oktober 2016.

Dinas Kesehatan Kota Malang. 2004. Profil Kesehatan Kota Malang Tahun 2004.
(http://www.depkes.go.id), (Online), Diakses pads 10 Oktober 2016.

Dinas Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Profil Kesehatan Indonesia Tahun


2009. (http://www.depkes.go.id), (Online), Diakses pads 10 Oktober 2016.

Dinas Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Data Sasaran Program 2015-2019.


(http://www.depkes.go.id), (Online), Diakses pads 18 Oktcber 2016.

Edberg, Mark. 2007. Buku Ajar Kesehatan Masyarakat: Teori Sosial dan Perilaku.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC

FKUI. 2000. Kapita Selecta Kedokteran Edisi III Jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapis.

Hadi. S. 2002. Gastroenterologi Edisi Ketujuh. Bandung: P. T. Alumni.

Hartati. S, Utomo. W, & Jumaini. 2014. Hubungan Pola Makan Dengan Resiko
Gastritis Pada Mahasiswa Yang Menjalani Sistem KBK.
(http://jom.unri.ac.id), (online), Diakses pads 10 Oktober 2016.

44
Hartati. S., & Cahyaningsih. E. 220-1-1. 3. Hubungan Perilaku Makan dengan
Kejadian Gastrits pada Mahasiswa Akper Manggala Husada Jakarta Tahun
2013. (http://id.portalgaruda.org), (online), Dinkses pada 18 Oktober 2016.

Jauhari. R. 2014. Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Di Puskesmas


Pulubala Kecamatan Pulubala Kabupaten Gorontalo. (http-//kim.ung.ac.id),
(online), Diakses pada 10 Oktober 2016.

Kumar, V., Cotan, R.S, & Robbins, S.L. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Mariyono, H.H, & Astriani, Y. 2013. Gastritis: Berapa Lama Umunya Pengobatan
Helicobacter Pylori. (http://meetdoctor.com), (online), Diakses pada 12
November 2016.

Mubarak, W.I. & Chayatin, N. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan
Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:


Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesahatan.


Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmojo. S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesetiaan. Jakarta: Rineka Cipta.

Price, S.A & Wilson, K.M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Volume 1 Edisi 6. Jakarta: EGC.

Sukarmin. 2013. Keperawatan pada Sistem Pencernaan. Yogyakarta: Pustaka


Belajar.

Sulastri, et al. 2012. Gambaran Pola Makan Penderita Gastritis diwilayah Kerja
Puskesmas Kampar Kiri Hulu Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten
Kampar Ria Tahun 2012. (http://id.portalgaruda.org), (online), diakses pada
18 Oktober 2016

45
Suliha, U., Herawani, & Resnayati, Y. 2002. Pendidikan Kesehatan Dalam
Keperawatan. Jakarta: EGC.

Sumangkut, et al. 2014. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan tentang Gastritis


Terhadap Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan Gastritis pada Remaja di
SMA Negeri 7 Manado. (http://id.portalgaruda.org), (online), Diakses pada
18 Oktober 2016.

Theslimmerz. 2014. Diet Sehat di Usia Produktif. (http://www.theslimmerz.com),


(Online), Diakses pada 12 November 2016.

Wijaya, A.S, & Putri, Y.M. 2013. KMB : Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta: Nuha Medika.

46