Anda di halaman 1dari 65

BAB II

KAJIAN PUSTAKAN
2.1 Saluran Tertutup
Aliran dalam pipa adalah aliran zat cair atau fluida pada saluran tertutup
yang biasanya berpenampang lingkaran yang digunakan untuk mengalirkan fluida denganta
mpang aliran penuh. Fluida atau zat cair (termasuk zat cair dan gas) dibedakan dari benda
padat karena kemampuannya untuk mengalir. Fluida lebih mudah mengalir karena ikatan
molekul dalam fluida jauh lebih kecil dari ikatan molekul dalam zat padat, akibatnya fluida
mempunyai hambatan yang relatif kecil pada perubahan bentuk karenagesekan. Zat padat
mempertahankan suatu bentuk dan ukuran yang tetap, sekalipun suatugaya yang besar
diberikan pada zat padat tersebut, zat padat tidak mudah berubah bentuk maupun
volumenya, sedangkan zat cair dan gas, zat cair tidak mempertahankan bentuk yang tetap,
zat cair mengikuti bentuk wadahnya dan volumenya dapat diubah hanya jika diberikan
padanya gaya yang sangat besar dan gas tidak mempunyai bentuk dan maupun volume
yang tetap, gas akan berkembang mengisi seluruh wadah. Karena fase cair dan gas tidak
mempertahankan suatu bentuk yang tetap, keduanya mempunyai kemampuanuntuk
mengalir. Dengan demikian kedua-duanya seiring secara kolektif disebut sebagai fluida.

2.1.1 Aliran dalam saluran tertutup


Aliran fluida dapat dibedakan menjadi dua, yaitu aliran dalam saluran dan aliran
sekitar benda. Aliran dalam saluran adalah aliran yang dibatasi permukaan – permukaan
keras, sedangkan aliran sekitar benda adalah aliran yang dikelilingi fluida yang selanjutnya
tidak terbatas. Perbedaan demikian adalah hanya untuk memudahkan peninjauan saja,
karena gejala dasar dan kelakuan fluida berlaku pada kedua keadaan tersebut. Aliran
melalui pipa dipilih untuk mewakili bentuk penampang lain karena di lapangan secara garis
besar dapat kita jumpai di aplikasi lapangan.

Gambar 1 Aliran Pipa


Aliran viskos adalah aliran zat cair yang mempunyai kekentalan (viskositas). Viskositas
terjadi pada temperature tertentu. Tabel 1 memberikaan sifat air (viskositas kinematik) pada
tekanan atmosfer dan beberapa temperature. Kekentalan adalah sifat zat cair yang dapat
menyebabkan terjadinya tegangan geser pada waktu bergerak. Tegangan geser ini akan
mengubah sebagian energi aliran dalam bentuk energi lain seperti panas, suara, dan
sebagainya. Perubahan bentuk energi tersebut menyebabkan terjadinya kehilangan energy.

Table 1 sifat air (viskositas kinematik) pada tekanan atmosfer

Suhu Viskositas Kinematik (V) Suhu Viskositas Kinematik (V)


2/
˚C m dt ˚C m2/dt
-6
0.0 1.795 × 10 50.0 0.556 × 10-6
5.0 1.519 × 10-6 60.0 0.477 × 10-6
-6
10.0 1.308 × 10 70.0 0.415 × 10-6
20.0 1.007 × 10-6 80.0 0.367 × 10-6
-6
30.0 0.804 × 10 90.0 0.328 × 10-6
40.0 0.661 × 10-6 100.0 0.290 × 10-6
Sumber : Bambang Triatmojo 1996:15
Aliran dalam pipa dibagi menurut sifat kekentalan/ viskositas fluida. Berikut adalah
sifat aliran berdasarkan sifat kekentalan/ Viskositas fluida :
1. Turbulen, bilangan Reynold > 6000. Aliran turbulen adalah suatu aliran yang
seakan-akan tiap partikel dari zat yang mengalir, saling bercampur
(bertumpukan)
2. Laminer, bila bilangan Re < 1500.Aliran Laminer adalah suatu aliran yang
seakan-akan setiap partikel dari zat yang mengalir, bergerak sendiri-sendiri.
Peralihan (transisi),bila bilangan Re antara 1500 – 6000. Aliran transisi
adalah aliran yang dapat berubah dari laminer menjadi turbulen atau
sebaliknya (Suripin ,2001).
2.2.Saluran Terbuka

2.2.1 Pengertian saluran terbuka


Saluran terbuka adalah saluran dimana air mengalir dengan muka air bebas.
Pada semua titik di sepanjang saluran, tekanan di permukaan air adalah sama, yang
biasanya adalah tekanan atmosfir. Pengaliran melalui suatu pipa (saluran tertutup)
yang tidak penuh (masih ada muka air bebas) masih termasuk aliran melalui saluran
terbuka (Triatmodjo, 2003).

2.2.2 Klasifikasi Saluran terbuka


Menurut penjelasan Suripin (2004) aliran saluran terbuka diklasifikasikan
menjadi dua kategori yaitu :
1. Aliran permanen/tunak (steady flow)
a. Seragam (uniform),
b. Berubah (non-uniform/varied).
1) Berubah lambat laun (gradually),

2) Berubah tiba-tiba (rapidly).


2. Aliran tidak permanen/tidak tunak (unsteady flow)
a. Seragam (uniform),
b. Berubah (non-uniform/varted)
Menurut penjelasan Ven Te Chow (1992) jenis aliran digolongkan menjadi beberapa
jenis diuraikan dengan beberapa cara :
1. Waktu sebagai kriteria :
a. Aliran tunak (steady flow) merupakan aliran dalam saluran terbuka yang
memiliki kedalaman aliran tidak berubah atau bisa dikatakan konstan dalam
suatu selang waktu tertentu.
b. Aliran tak tunak (unsteady flow) merupakan aliran dalam saluran terbuka yang
memiliki kedalaman aliran berubah sesuai dengan waktu.
2. Ruang sebagai kiteria :
a. Aliran seragam (uniform flow) merupakan aliran dalam saluran terbuka yang
memiliki kedalaman aliran sama pada setiap penampang saluran.
b. Aliran berubah (non-uniform flow/varied flow) merupakan aliran dalam saluran
terbuka yang memiliki kedalaman aliran berubah sepanjang saluran.
1) Berubah tiba-tiba (rapidly varied) aliran yang kedalaman alirannya berubah
tiba-tiba pada jarak yang cukup pendek.
2) Berubah lambat laun (gradually varied) aliran yang kedalaman alirannya
berubah lambat laun pada jarak yang relatif panjang.

2.2.3 Aliran dalam saluran terbuka


Aliran dalam saluran terbuka maupun saluran tertutup yang mempunyai permukaaan
bebas disebut dengan aliran permukaan bebas (free surface flow) atau aliran saluran terbuka
(open channel flow). Permukaan bebas memiliki tekanan yang sama dengan tekanan atmosfir.
Jika pada pada aliran tidak terdapat permukaan bebas dan aliran dalam saluran penuh, maka
aliran yang terjadi disebut aliran dalam pipa (Suripin, 2004).
Gambar 2 Aliran permukaan bebas pada saluran terbuka (a), aliran
permukaan bebas pada saluran tertutup (b), aliran tertekan pada saluran
pipa (c)

Pada gambar 2 di atas menjelaskan tekanan yang ditimbulkan oleh air pada setiap
penampang saluran stinggi y di atas dasar saluran. Jumlah energy dalam aliran berdasarkan
suatu garis persamaan adalah jumlah tinggi tempat z diukur dari dasar saluran, tinggi tekanan
y dan kecepatan V2/2g, dengan V adalah kecepatan rata-rata aliran. Energi ini dinyatakan
dalam gambar dengan suatu garis derajat energi (energy grade line) atau disingkat garis
energi (energy line). Energi yang hilang ketika pengaliran terjadi dari penampang (1) ke
penampang (2) dinyatakan hf. Secara umum, persamaan dasar yang dipakai untuk
menganalisa debit (Q) aliran pada saluran terbuka yang berlaku untuk suatu penampang
saluran dapat dilihat dalam rumus berikut:
Q=V.A……………………….…………………………………(2.1)
Dengan :
Q = debit (m3/dtk)
V = Kecepatan rata-rata (m/dtk)
A = Luas penampang saluran (m2/dtk)
Untuk menghitung luas penampang saluran, dapat menggunakan rumus sebagai
berikut:
A=b.h………………………………………………………………… (2.2)

Dengan,
A = Luas penampang saluran (m2)
b = Lebar saluran (m)
h = Tinggi saluran (m)
Untuk keceptan rata-rata, digunakan rumus:
V=
Q/(b.h)……………………………………………………… ……..(2.3)
Menurut V.T Chow (1985) saluran terbuka merupakan saluran yang mengalirkan air
dengan suatu permukaan bebas. Berdasarkan asal saluran dapat digolongkan menjadi saluran
alamiah (natural) yang meliputi semua alur air yang terdapat secara alamiah dipermukaan
bumi dan saluran buatan (artificial) yang meliputi semua alur air hasil buatan manusia seperti
drainase, gorong-gorong, terusan dan lain – lain. Saluran terbuka menurut B.Triadmodjo
(1996) adalah saluran dimana air mengalir dengan permukaan bebas. Pada saluran terbuka,
saluran alamiah (sungai), variabel aliran sangat tidak teratur terhadap ruang dan waktu.
Variabel tersebut adalah tampang lintang saluran, kekasaran, kemiringan dasar, belokan,
debit, dan lain sebagainya. Zat cair yang mengalir pada saluran terbuka mempunyai bidang
kontak hanya pada dinding dan dasar saluran. Saluran terbuka dapat berupa saluran alamiah
atau buatan, galian tanah dengan atau tanpa lapisan penahan, terbuat dari pipa, beton, batu,
bata, atau material lain, dapat berbentuk persegi, segitiga, trapesium, lingkaran, tapal kuda,
atau tidak beraturan.

Gambar 3 Bentuk-bentuk potongan melintang saluran terbuka

2.3 Pengukuran debit pada saluran tertutup

2.3.1 Hukum-Hukum yang digunakan dalam Saluran Tertutup

2.3.1.1 Konsep Aliran Melalui Pipa


Ada tiga persamaan dasar dalam Mekanika Fluida dan Hidrolika yang berkaitan
dengan pengaliran air dalam pipa yaitu persamaan Kontinuitas. Momentum dan persamaan
Energi. Untuk aliran mantap dan satu dimensi persamaan energi dapat disederhanakan
menjadi persamaan Bernoulli. Ketiga bentuk persamaan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Persamaan Kontinuitas
Hukum kekekalan massa disebut juga sebagai prinsip kontinuitas (Principle of
Continuity). Prinsip tersebut menyatakan bahwa laju perubahan massa fluida yang terdapat
dalam ruang yang ditinjau pada selang waktu dt harus sama dengan perbedaan antara laju
massa yang masuk (influx) dan laju massa yang keluar (efflux) ke dan dari elemen fluida
yang ditinjau. Prinsip kontinuitas menyatakan kekekalan massa dalam ruang berisi fluida
yang ditinjau. Hubungan kekontinuitasan diproleh dari pertimbangan bahwa perubahan
massa fluida di dalam suatu volume elemen fluida (dx dy dz) selama waktu dt sama dengan
perbedaan antara laju massa yang masuk (influx) dan keluar (efflux), ked an dari, elemen
fluida yang sedang ditinjau dalam selang waktu yang sama (dt). Aliran fluida pada sebuah
pipa yang mempunyai diameter berbeda, seperti tampak pada gambar di bawah.
Gambar 4 Aliran Fluida

Gambar ini menujukan aliran fluida dari kiri ke kanan (fluida mengalir dari pipa
yang diameternya besar menuju diameter yang kecil). Garis putus-putus merupakan garis
arus.
Keterangan gambar :
A1 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter besar,
A2 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter kecil,
v1 = laju aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter besar,
v2 = laju aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter kecil,
L = jarak tempuh fluida.
Pada aliran tunak, kecepatan aliran partikel fluida di suatu titik sama dengan
kecepatan aliran partikel fluida lain yang melewati titik itu. Aliran fluida juga tidak saling
berpotongan (garis arusnya sejajar). Karenanya massa fluida yang masuk ke salah satu
ujung pipa harus sama dengan massa fluida yang keluar di ujung lainnya. Jika fluida memiliki
massa tertentu masuk pada pipa yang diameternya besar,

𝑄=𝐴1.V1= 𝐴2.𝑉2=𝐾𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
b. Persamaan Bernouli
Penurunan persamaan Bernoulli untuk aliran sepanjang garis arus didasarkan pada
hukum II tentang gerak persamaan ini diturunkan berdasarkan anggapan sebagai berikut
(Triatmodjo, 1993):
1. Zat cair adalah ideal, jadi tidak mempunyai kekentalan (kehilangan
energy akibat gesekan adalah nol).
2. Zat cair adalah homogen dan tidak termampatkan (rapat massa zat
cair adalah konstan).
3. Aliran adalah kontinyu dan sepanjang garis arus.
4. Kecepatan aliran adalah merata dalam suatu penampang.
5. Gaya yang bekerja hanya gaya berat dan tekanan persamaan
Bernoulli adalah persamaan yang menjelaskan gerakan fluida melalui
suatu penampang. Bentuk umumnya yaitu (Marthen, 2006):
c. Persamaan Momentum

𝐹=(𝑉2−𝑉1)

2.3.1.2 Kehilangan Energi (Headloss)


Headloss adalah kerugian energi per satuan berat fluida dalam pengaliran cairan
dalam sistem perpipaan. Atau headloss dapat didefinisikan sebagai kehilangan energi
mekanik persatuan massa fluida. Sehingga satuan headloss adalah satuan panjang yang
setara dengan satu tekanan energi yang dibutuhkan untuk memindahkan satu satuan
massa fluida setinggi satu satuan panjang yang bersesuaian. Headloss terdiri dari :
a. Kehilangan Energi Mayor (Mayor Loss)
Kerugian dalam pipa atau mayor lossadalah kerugian pada aliran pipa yang
disebabkan oleh friksi yang terjadi disepanjang aliran fluida yang mengalir terhadap dinding
pipa.Kehilangan energi sepanjang satu satuan panjang akan konstan selama kekasaran dan
diameter tidak berubah. Besarnya Mayor Loss ditentukan oleh fungsi f (friction factor), V
(rata-rata kecepatan fluida), L (panjang pipa), D (diameter pipa), e (nilai kekasaran pipa),
miu (viskositas fluida), rho (densitas fluida). Kerugian gesekan untuk perhitungan aliran di
dalam pipa pada umumnya dipakai persamaan (Fox dan Mc. Donald, 1995).

L. ν ²
hL mayor = ƒ
D. 2 g

Dimana :
hL = Kerugian gesek dalam pipa (m)
f = Faktor gesekan
L = Jarak pressure tube (m)
D = Diameter dalam pipa (m)
v = Kecepatan aliran fluida (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)

Untuk aliran laminer dan turbulen terdapat rumus yang berbeda. Sebagai

patokan apakah suatu aliran itu laminer atau turbulen, dipakai bilangan Reynolds :

VD
Re =
ν
Dengan :
Re = bilangan Reynolds
V = kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa (m/s)
D = diameter dalam pipa (m)
v = viskositas kinematic cairan (m2/s)
Untuk Re < 2000, aliran bersifat laminer
Untuk 2000 < Re < 4000, aliran bersifat transisi
Untuk Re > 4000, aliran bersifat turbulen

 Aliran Laminer
64
ƒ=

 Aliran Turbuler
Untuk menghitung koefisien gesek f dapat dihitung dengan
menggunakan rumus Darcy. Untuk mengetahui nilai f harus diketahui
kekasaran pipa (𝜺) dan diameter pipa (d). Haaland memberikan suatu
formula yang menyempurnakan persamaan yang ditemukan oleh Colebrook
untuk menentukan nilai f :

1 6,9 ε /d
ƒ
̴̰ - 1,8 log ℜ +
1
2 d 3.7[ ( ) ]
1,11

Persamaan diatas oleh Moody pada tahun 1944 digrafikkan yang terkenal dengan
nama Diagram Moody untuk gesekan pipa. Dengan diagram inilah dapat diketahui nilai
koefisien gesekan pipa.

b. Kehilangan Energi Minor (Minor Loss)


Merupakan kerugian yang akan terjadi apabila ukuran saluran, bentuk penampang
atau aliran berubah. Misalnya, terjadi pada pembesaran penampang, pengecilan
penampang, belokan atau tikungan. Kehilangan energi sekunder atau meningkatnya
gesekan karena turbulensi serta tidak seragamnya distribusi kecepatan pada suatu
penampang pipa. Adanya lapisan batas terpisah dari dinding pipa maka akan terjadi olakan
atau pusaran air. Adanya olakan ini akan mengganggu pola aliran laminer sehingga akan
menaikan tingkat turbulensi. Secara umum kerugian ini dapat dihitung dengan persamaan
berikut :

ν2
hL minor = k
2g
Dimana :
hL = Kerugian gesek dalam pipa (m)
k = Koefisien kerugian
L = Panjang (m)
v = Kecepatan aliran fluida (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
2.3.1.3 Hukum Newton Tentang Kekentalan Zat Cair
Kekentalan zat cair menyebabkan terbentuknya gaya-gaya geser antara 2 (dua)
elemen. Keberadaan kekentalan ini menyebabkan terjadinya kehilangan energi selama
pengaliran atau diperlukan energi untuk menjamin adanya pengaliran.
Hukum newton tentang kekentalan menyatakan bahwa tegangan geser antara 2
(dua) partikel zat cair yang berdampingan adalah sebanding dengan perbedaan kecepatan
dari kedua partikel (gradient kecepatan) seperti :
dv
τ=μ
dy
Dengan 𝜏 = Tegangan Geser dan 𝜇 = Viskositas Molekuler Dinamik

Gambar 5 Gambar tegangan geser

Apabila dua elemen zat cair yang berdampingan dan bergerakk dengan kecepatan
berbeda, elemen yang lebih cepat akan diperlambat dan yang lebih lambat akan
dipercepat. Tegangan geser pada lapis satu bagian bawah mempunyai arah ke kiri karena
bagian tersebut tertahan oleh lapis dibawahnya yang mempunyai kecepatan lebih rendah.
Sedangkan lapis dua bagian atas bekerja tegangan geser dalam arah ke kanan bagian
tersebut tertarik oleh lapis di atasnya yang mempunyai kecepatan lebih besar.
Pada permukaan antara dinding batas dari aliran zat cair juga terjadi tegangan
geser dengan arah berlawanan dengan arah aliran. Tegangan geser pada dinding batas ini
cukup besar karena gradient kecepatan tersebut sangat besar.

2.3.1.4 Bilangan Reynolds


Pada tahun 1884, Osborn Reynolds (Triatmojo, 1996) melakukan percobaan untuk
menunjukkan sifat-sifat aliran laminer dan aliran turbulen. Alat yang digunakan terdiri dari
pipa kaca yang dapat melewatkan air dengan berbagai kecepatan. Aliran tersebut diatur
katub A. Pipa kecil B yang berasal dari tabung berisi zat warna C. Ujung yang lain berada
pada lubang masuk pipa kaca.

Gambar 6 Alat Obsborn Reynolds


Reynolds menunjukkan bahwa untuk kecepatan aliran yang kecil di dalam aliran
kaca, zat warna akan mengalir dalam suatu garis lurus benang yang sejajar dengan sumbu
pipa. Apabila katub dibuka sedikit demi sedikit, kecepatan akan bertambah besar dan
benang warna mulai berlubang yang akhirnya pecah dan menyebar pada saluran aliran
dalam pipa.

Gambar 7 Aliran laminar (a), kritik (b), dan turbulen (c)

Menurut Reynolds (Re), besarnya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :


ρdv
Re =
μ
Dimana :
𝜌 = Massa jenis fluida (kg/m3)
𝑑 = Diameter dalam pipa (m)
𝑣 = Kecepatan aliran rata-rata fluida (m/s)
μ = Viskositas dinamik fluida (Pa.s)
Karena viskositas dinamik dibagi dengan massa jenis fluida merupakan viskositas
kinematic (v) maka bilangan Reynold, dapat juga dinyatakan :
μ dv
𝑣= sehingga Re =
ρ v
Reynolds juga menetapkan bahwa untuk angka Reynolds dibawah 2000, gangguan
aliran dapat diredam oleh kekentalan zat cair, dan aliran pada kondisi tersebut adalah
laminer. Aliran akan turbulen apabila angka Reynolds lebih besar dari 4000. Apabila angka
Reynolds berada diantara kedua nilai tersebut 2000 < Re < 4000 aliran adalah transisi.
Angka Reynolds pada kedua nilai di atas (Re=2000 dan Re=4000) disebut dengan batas kritik
bawah dan atas.
2.4 Jenis bangunan pengukur debit dan motode pengukur debit

2.4.1 Pengukuran debit dengan ambang tajam segitiga


2.4.1.1 Pertimbangan Penggunaan

a Ambang tajam segitiga merupakan bangunan ukur sederhana yang dapat


digunakan untuk mengukur debit aliran di saluran terbuka dengan mudah dan
cukup teliti. Dengan menerapkan desain bentuk bagian limpasan yang tepat,
berdasarkan hasil percobaan dapat ditentukan rentang besar debit pengukuran,
yaitu sebagai berikut:
θ
1. Bentuk ambang dengan sudut celah θ = 90˚ atau tan =1, mempunyai
2
rentang debit pengukuran dari 0,802 I/s sampai dengan 122,940 /s.
θ
2. Bentuk ambang dengan sudut celah θ= 52, 12˚ atau tan = 0,5, mempunyai
2
rentang debit pengukur dari 0,406 I/s ≤Q ≤62,150 I/s.
θ
3. Bentuk ambang dengan sudut celah θ = 28,07˚atau =0,25 , mempunyai
2
rentangdebit pengukur dari 0,215 I/s ≤Q ≤21,477/s.
b Bangunan ukur ambang tajam baik untuk digunakan pada lokasi jika
dimungkinkan untuk memperoleh perbedaan tinggi muka air udik dan hilir yang
cukup sehingga kondisi aliran yang terjadi selalu aliran sempurna.

Gambar 8 Skematisasi ambang tajam bentuk segitiga


Gambar 9 Sudut celah ambang tajam segitiga

2.4.1.2 Syarat

1. Kondisi ambang ukur dengan aliran terkontraksi sebagian sebaiknya hanya


diterapkan pada sistem dengan saluran udik berbentuk persegi panjang.
h P
2. Karena data hasil kalibrasi pengaruh dan di laboratorium terhadap rumus-
p B
rumus debit pelimpah terbatas, pengukuran dengan kondisi aliran terkontraksi
sebagian hanya diterapkan pada ambang tajam segitiga dengan sudut θ = 90˚
3. Ambang ukur debit dengan kondisi terkonsentrasi penuh dapat diterapkan pada
sistem dengan saluran pendekat berbentuk bukan empat persegi panjang,
dengan syarat luas penampang melintang saluran pendekat lebih besar daripada
luas basah penampang empat persegi dengan kondisi aliran yang diuraikan pada
Tabel 2.

Table 2 korelasi keadaan aliran tidak sempurna

Rasio Qs/Q
o
Terendam h/p 90 Tekukan segitiga
0 1,000
0,1 0.999
0,2 0,992
0,2 0,981
0,4 0,960
0,5 0,928
0,6 0,882
0,7 0,816
0,8 0,721
0,9 0,569
2.4.1.3 Rumus pengukuran debit

Debit aliran yang melimpas di atas mercu ambang tajam segitiga yang didesain
dengan memenuhi persyaratan yang tercantum pada Sub-Pasal 4.1 dan kondisi aliran
menuju ambang ukur memenuhi persyaratan seperti diuraikan pada Sub Pasal 6.1
dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut:

Q= ( 158 ) √ 2 g.C .tan( θ2 )(H )


d ef
5/2

Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Hef = tinggi energi efektif (m)
Cd = koefisien debit
Tinggi energi efektif, Hef diberikan oleh persamaan :
Hef = h + δHt
Keterangan:
δHt adalah koreksi pengaruh efek kombinasi dari viskositas dan tegangan
permukaan untuk temperatur air 4 °C ~ 20°C, besar nilai Ht untuk berbagai
sudut celah diberikan pada Gambar 2.

Gambar 10 Korelasi tinggi energy δHt untuk ambang tajam segitiga dengan berbagai
keadaan sudut celah θ

h P
Nilai koefisien debit efektif, Cef merupakan fungsi dari tiga variable , ,θ
p B

Cef= ƒ( hp , PB , θ)
Bila kondisi aliran yang terjadi adalah kontraksi penuh, nilai koefisien debit
efektif, Cef hanya bergantung pada besar sudut celah ambang segitiga saja, θ,
sehingga nilai koefisien debit, Cd, untuk keadaan kontraksi penuh pada ambang
tajam segitiga, ditentukan berdasarkan grafik yang ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 11 koefisisen debit CD, ambang tajam segitiga untuk kondisi kontaksi penuh

2.4.2 Pengukuran debit dengan ambang tajam persegi panjang


2.4.2.1 Pertimbangan Penggunaan
1. Ambang tajam persegi panjang merupakan bangunan ukur sederhana
yang dapat digunakan untuk mengukur debit aliran di saluran terbuka
dengan mudah dan cukup teliti. Dengan menerapkan desain bentuk
bagian limpasan yang tepat berdasarkan hasil percobaan, dapat
ditentukan rentang besar debit pengukuran 0,22 l/s sampai dengan
1400 l/s.
2. Alat ukur debit ambang tajam baik untuk digunakan pada lokasi yang
dimungkinkan untuk memperoleh perbedaan tinggi muka air udik dan
hilir yang cukup sehingga kondisi aliran yang terjadi selalu aliran
sempurna

Gambar 12 Skematisasi ambang tajam bentuk persegi panjang

2.4.2.2 Syarat
Pemakaian metode ini harus memperhitungkan adanya kontraksi aliran pada
ambang. Kontraksi pada ambang sengaja dibuat dengan cara menyusun tata letak
tembok sisi dan dasar saluran pengarah cukup jauh dari sisi-sisi dan mercu ambang
sedemikian, sehingga terbentuk kondisi aliran yang terkontraksi penuh dengan aerasi
yang sempurna sehingga aliran yang terjadi tenang dan tidak terpengaruh oleh
kondisi di udik dan dasar saluran. Jika jarak antara sisi ambang terhadap dasar atau
dinding sisi atau kedua-duanya tidak cukup jauh, maka aliran hanya berkontraksi
sebagian dan kondisi ini akan menghasilkan pengukuran yang kurang tepat.
Persyaratan kontraksi dapat diuraikan sebagai berikut.
a) Ambang lebar penuh, yaitu kondisi yang lebar ambang
pelimpah ukurnya diambil selebar saluran. Jika kondisi ini yang
digunakan, panjang dinding saluran harus dibuat dengan lebar
yang sama sehingga minimum 0,2 H ke hilir lokasi ambang.
b) Ambang empat persegi panjang dengan kontraksi penuh jika
kondisi-kondisi berikut terpenuhi:
h
1. ≤ 0,5
p
h
2. ≤ 0,5
b
3. 0,08m ≤ h≤ 0,6m
4. b≥ 0,2m
5. p≥ 0,2 m

(B−b)
6. ≥ 2h
2
Keterangan :
h= tinggi muka air yang terukur (m)
p= tinggi mercu di atas dasar saluran (m)
b= lebar mercu (m)
B= lebar saluran (m)
Untuk pengukuran pada kondisi aliran tidak sempurna diperlukan data
tambahan yaitu tinggi muka air relatif terhadap mercu yang diukur di bagian hilir
ambang, sehingga tingkat redaman, yaitu perbandingan tinggi muka air bagian hilir
terhadap tinggi muka air udik dapat ditentukan. Besar Q dihitung berdasarkan tinggi
muka air udik dengan anggapan bahwa aliran yang terjadi adalah aliran sempurna,
dapat diperoleh dari tabel 2. Untuk ambang persegi panjang, ketelitian yang diberikan
h
hanya berkisar 95% untuk harga yang rendah.
p

Table 3 Koreksi aliran tidak sempurna

Rasio
Qs/Q
Redaman
0 1,000
0,1 1,007
0,2 0,978
0,2 0,929
0,4 0,895
0,5 0,842
0,6 0,778
0,7 0,698
0,8 0,589
0,9 0,425

Debit aliran yang melimpas di atas mercu ambang tajam empat persegi panjang
dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut

2.4.2.3 Rumus pengukuran debit


a. Aliran tanpa kontraksi ambang
Rumus debit ambang tajam persegi panjang Kinsvater – Carter (Rumus dasar) :
2
Q=( )√ 2 g.Cd. ba.(hef)3/2
3

keterangan:
g = percepatan gravitasi (m/s 2)
hef = tinggi muka air (m)
ba = panjang bentang mercu ambang efektif (m)
Cd = koefisien debit (-)
Tinggi muka air efektif, hef dihitung berdasarkan muka air terukur, h dengan
persamaan :
hef=h + δh
Keterangan:
δh adalah kondisi yang terkait dengan kekentalan fluida dan tegangan
permukaan yang ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan di
laboratorium. Untuk air pada suhu normal, 4 – 20 oC, nilai koreksi ini dapat
diambil tetap sebesar 0,001 m.
Panjang bentang mercu aktual, ba dihitung berdasarkan panjang
terukur, b menggunakan rumus :
ba = b + δb
Keterangan:
b
δ b adalah faktor koreksi yang merupakan fungsi . Untuk kondisi suhu air
B
normal, harga δ b dapat ditentukan berdasarkan gambar 6.
h
Nilai koefisien debit, Cd dapat ditentukan berdasarkan harga seperti
p
ditunjukkan pada gambar 14.

Gambar 13 Penyesuaian panjang efektif mercu ambang,δ L

Gambar 14 Nilai koefisien debit Cd, ambang tajam empat persegi panjang

Batasan penerapan untuk Rumus Kinsvater-Carter:

h
1) < 2,0
p
2) h > 0,02 m
3) b > 0,15 m
4) p > 0,1 m
Secara prinsip, persamaan 1 dapat juga diterapkan pada ambang yang cukup
panjang. Namun demikian, persamaan tersebut dihasilkan berdasarkan hasil
percobaan dengan kondisi bentang mercu ≤ 1,2 m dan tinggi aliran di atas mercu, h
= 0,6 m. penggunaan persamaan tersebut dianjurkan hanya untuk kisaran nilai-nilai
tersebut.

1) Rumus debit ambang tajam persegi panjang Rehbock (yang umum digunakan):
2 h
Q= √ 2 g (0,602 + 0,0822 ) b (h + 0.00125)3/2
3 p
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h = tinggi muka air (m)
b = panjang bentang mercu ambang efektif (m)
p = tinggi mercu di atas dasar saluran (m)

Batasan penerapan untuk Rumus Rehbock:

h
1) < 1,0
p
2) 0,02 m < h < 0,75 m
3) b > 0,2 m
4) p > 0,2 m
2)Rumus debit ambang tajam persegi panjang Francis:
v 2 2/2 v 2 2/2
Q = 0,587 √ g .b ([h + ] –[ ])
2g 2g
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h = tinggi muka air (m)
b = panjang bentang mercu ambang (m)
v = kecepatan air di udik ambang (m/s)
3)Rumus debit ambang tajam persegi panjang Swiss S.I.A:
2 0,000615 h 2
Q= √ 2 g (0,615 + ) (1 + 0,5 [ ] (b h2/2)
3 h+0,0016 h+ p
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h = tinggi muka air (m)
b = panjang bentang mercu ambang (m)
p = tinggi mercu di atas dasar saluran (m)

Batasan penerapan untuk Rumus Swiss S.I.A:

h
1) < 1,0
p
2) 0,025 m < h < 0,8 m
5) b > 0,2 m
6) p > 0,2 m
4) Rumus debit ambang tajam persegi panjang I.M.F.T (Institut de Mecanique des
Fluides de Touluse):
2 h
Q= √ 2 (0,627 + 0,018 ) b √ g h2 /2
3 p
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h = tinggi muka air (m)
b = panjang bentang mercu ambang (m)
p = tinggi mercu di atas dasar saluran (m)

Batasan penerapan untuk Rumus I.M.F.T (Institut de Mecanique des Fluides de


Touluse):

h
1) < 2,5
p
2) h > 0,02 m
3) b > 0,2 m
4) p > 0,1 m
b. Aliran dengan kontraksi penuh

Gambar 15 Contoh gambar dimensi ambang tajam persegi


panjang pada kondisi kontraksi penuh

1) Rumus debit ambang tajam persegi panjang Kinsvater-Carter:


h
Q = 0,554 (1 – 0,0025 ) (b + 0,0025) √ g (h + 0.001)2/2
p
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h = tinggi muka air (m)
b = panjang bentang mercu ambang (m)
p = tinggi mercu di atas dasar saluran (m)
b
1) ≥ 0,2
B
h
2) <2
p
3) h > 0,02 m
5) b > 0,15 m
6) p > 0,1 m
2) Rumus debit ambang tajam persegi panjang Hemilton Smith:
H'
Q = 0,581 (1 – 0,1 ) b √ g H’2/2
b
v2
H’ = h + 1,4
2g
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h = tinggi muka air (m)
H’ = tinggi tekanan hidraulik terkontraksi (m)
v = kecepatan air di udik ambang (m/s)
b = panjang bentang mercu ambang (m)
p = tinggi mercu di atas dasar saluran (m)

Batasan penerapan untuk Rumus Hemilton Smith:

1) Pengukuran muka air udik, h dilakukan pada lokasi ≥ 2 h di udik ambang


h
2) < 0,5
p
h
3) > 0,5
L
4) 0,075 m < h < 0,60 m
5) b > 0,2 m
6) p > 0,2 m
Tinggi muka air udik, h diukur sebagai kedalaman di atas elevasi celah mercu.
Pengukuran tinggi muka air udik harus dilakukan pada lokasi 4h maks-5hmaks di udik
ambang, dengan hmaks adalah tinggi muka air udik maksimum yang diizinkan untuk
mendapatkan hasil pengukuran yang teliti.

2.4.3 Pengukuran debit dengan ambang lebar


Ambang lebar merupakan bangunan ukur sederhana dengan bentuk
penampang pelimpah berbentuk empat persegi. Mercu ambang standar harus rata.
Lebar mercu dalam arah tegak lurus terhadap arah aliran diambil sama dengan lebar
saluran tempat ambang. Ujung udik dan hilir harus licin, permukaan rata, dengan
tembok sisi tegak lurus terhadap dasar saluran lokasi ambang.

Berikut merupakan gambar dari ambang lebar.


Gambar 16 Skematisasi bentuk ambang lebar

Persyaratan pengukuran debit melalui ambang lebar yaitu:

a. Pada saluran alami, lokasi bangunan dipilih pada penampang melintang yang
teratur, seragam, dengan panjang bagian saluran yang lurus sekitar 5x lebar
muka air. Hal ini diperlukan untuk menjamin keteraturan distribusi kecepatan.
b. Pada saluran buatan, penampang melintang harus seragam dan lurus, dengan
panjang bagian lurus minimum 10x lebar muka air.
c. Bila saluran menuju bangunan ukur melalui belokan, penampang mengecil atau
bersudut, diperlukan saluran pengarah yang lebih panjang untuk penyesuaian
distribusi kecepatan.
d. Sirip-sirip pengarah aliran tidak boleh diletakkan pada jarak lebih dekat 10x
tinggi tekan maksimum.
e. Dalam kondisi tertentu, gelombang muka air dapat terjadi di udik alat duga air,
misalnya bila saluran pengarah curam. Pada kondisi ini pengukuran aliran
dilakukan pada jarak tidak kurang dari 20x tinggi tekan maksimum di udik
bangunan ukur, dengan tujuan untuk mendapatkan penyebaran kecepatan yang
seragam di lokasi pengukuran dan dengan nilai bilangan Froude di lokasi
v
tersebut kurang dari 0,2. Bilangan Froude =
√g . h
Debit aliran yang melimpas di atas mercu ambang lebar dapat dihitung
berdasarkan persamaan berikut.
2 3/2
Q=( ) √ g .b.C.h13/2 = 1,705.b.c. h13/2
3
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
b = lebar ambang tegak lurus arah aliran (m)
C = koefisien pengaliran debit
h1 = tinggi tekan hidraulik di udik, terhadap elevasi ambang (m)
Koefisien C merupakan fungsi dan dapat diperoleh dari grafik h 1/L dan h1/p
pada gambar 10 dan tabel 3. L adalah panjang ambang dalam arah aliran dan p adalah
nilai tengah-tengah, C, didapat dengan interpolasi linier. Nilai koefisien debit, C, akan
tetap sebesar 0,85 untuk 0,1 ≤ h1/L ≤ 0,2 dan h1/p < 0,15.
Rumus koefisien C dapat diperoleh dari:

C = Cd.Cv

Dengan,

Q Q
Cd = 3/ 2 1 /2 3 /2 = =
2/3 g b . Cv . h1 1.705. b . Cv . h 13/ 2

H 1 3/2
Cv = ( )
h1

Table 4 Variasi C dengan h1/L

Gambar 17 Contoh gambar koefisisen debit C ditentukan dari h/L dan h/p
Batasan-batasan yang perlu diperhatikan untuk menghindari hal-hal yang
dapat mempengaruhi ketelitian pengukuran:

a) Untuk menghindari tegangan permukaan dan pengaruh kekentalah: h 1 ≥ 0,06


m, b ≥ 0,20 m, dan p ≥ 0,15 m.
b) Kalibrasi hasil pengukuran dilakukan dalam batasan 0,1 < L/p < 4,0 dan 0,1 h 1/L
< 1,6.
c) Untuk menghindari ketidakstabilan muka air, perlu dibatasi kondisi
pengukuran: h1/p < 1,6.
Tinggi muka air, h diukur sebagai kedalaman di atas elevasi mercu. Pengukuran
harus dilakukan pada lokasi di bagian udik ambang dengan jarak 2h maks-4hmaks dengan
hmaks adalah tinggi muka air udik maksimum.

2.4.4 Pengukuran debit dengan Lorong Parshall


Lorong Parshall merupakan bangunan ukur sederhana dengan bentuk
penampang melintang berbentuk empat persegi. Terdiri dari masukan yang
menyempit, leher saluran dan pengeluaran yang melebar (dipresentasikan pada
gambar 11). Lantai pemasukan datar arah memanjang dan ke arah samping. Tembok
sisi vertikal pada sudut tetap 11º19’ atau mempunyai penyempitan 1:5 terhadap
sumbu flume.

Lorong Parshall mempunyai bentuk tertentu yang secara geometrik antara satu
dengan lainnya tidak sama. Oleh sebab itu, penggunaan dan pembangunan flume
harus sesuai dengan dimensi-dimensi yang ditentukan. Dimensi lain dari flume-flume
ini dihitung menurut persamaan berikut (dalam m).

a) Lebar penampang melintang masuk flume, b 1;


b1 = 1,2 b + 0,48
b) Panjang sumbu pemasukan, L1;
L1 = 0,5 b + 1,2
c) Panjang dinding pertemuan, Le;
Le = 1,02 L1
d) Panjang dinding antara bagian puncak mercu dan pengukuran tinggi air, L a;
La = 2 Le / 2
e) Lebar penampang melintang pengeluaran flume, b 2;
b2 = b + 0,20
f) Tinggi dinding sisi dari pemasukan;
hc = hamax + (0,15 a 0,20)
Satu-satunya dimensi yang dapat ditentukan secara analitis adalah panjang
dinding, La, yaitu jarak antara puncak lantai dan pemasukan pipa tabung pengukur
yang digunakan pengukuran tinggi air, h a. Panjang dinding (La), dalam m, dengan
persamaan:
b
La = + 0,812
3
Pertimbangan pengunaan Parshall Flume:
a. Parshall Flume berpenampang melintang empat persegi panjang dan lebar leher
saluran bervariasi dari (0,152 m-15 m atau lebih) dan digunakan untuk pengukuran
debit antara 0,16 m2/s – 92,0 m2/s.
b. Lorong Parshall berukuran medium dengan lebar leher antara ± 0,15 m dan ± 2,5
m yang tepat untuk pengukuran debit antara 0,0015 m 2/s – 4,0 m2/s.
c. Parshall Flume besar dengan lebar leher antara ± 2 m - ± 15 m, dengan desain yang
berbeda tergantung pada ukuran flume, tepat untuk pengukuran debit antara 0,16
m2/s – 92,0 m2/s.
Berikut merupakan gambar dari Dimensi Lorong Parshall.

Gambar 18 Dimensi lorong Parshall

Persyaratan pengukuran debit melalui ambang Lorong Parshall yaitu:

a. Bangunan harus stabil dan kedap air serta harus mampu menahan kondisi aliran
banjir tanpa terjadi kerusakan oleh erosi sekeliling atau dari bagian hilir.
b. Sumbu saluran harus sejajar dengan arah aliran dalam saluran di bagian udik.
c. Permukaan flume khususnya pada pemasukan dan leher saluran harus licin.
Flume dapat dibuat dari beton dengan lapisan akhir semen yang licin atau dapat
diberi lapirsan dengan bahan non-korosif yang licin. Untuk penggunaan
labolatorium, tingkat kelicinan lapisan akhir harus sama dengan lembaran logam
atau kayu yang telat diserut, diampelas, dan dicat.
d. Lapisan permukaan bentuk prisma dari leher saluran berkisar antara profil 0,5
hmax di bagian udik dan hilir leher saluran.
Debit aliran Lorong Parshall dapat dihitung dengan melihat kondisi aliran dan
pengukuran kedalaman air.
a. Aliran sempurna
Rumus debit yang mengalir melalui Lorong Parshall yang beroperasi dalam
kondisi aliran sempurna:
Q = CD.b.han
Keterangan:
Q = debit aliran (m2/s)
ha = tinggi tekan air pada pemasukan (m)
b = lebar leher saluran (m)
CD = koefisien pengaliran debit
n = eksponen yang tergantung pada b
Debit melalui Lorong Parshall standar pada tabel 4 yang beroperasi pada
kondisi aliran sempurna, diperoleh dari persamaan berikut:
h( a) 1.569b^0.026
Q = 0,372 b ( )
0,305
Dengan CD = 0,272 dan n = 1,579b 0,026 ; untuk Lorong Parshall standar
nomor 1; CD = 0,284 dan n mempunyai nilai yang sama seperti diatas. Maka
persamaan debit untuk setiap Lorong Parshall standar adalah C = CD b (2,279)n
Debit melalui Lorong Parshall besar yang terpresentase pada tabel 5, kolom
1, nomor 14-21 yang beroperasi dalam kondisi aliran sempurna (yaitu σ < σ c),
diperoleh pesamaan:
Q = (2,292b + 0,48) ha1,6 ≈ (2,2b + 0,48) ha1,6
Dengan CD = 2,2 + 0,48/b dan n = 1,6 ; Maka persamaan debit untuk setiap
Lorong Parshall besar adalah C = CD b

Table 5 Karakteristik debit untuk Lorong Parshall standart


Table 6 Karakteristik debit untuk Lorong Parshall besar

b. Aliran tidak sempurna


Debit yang mengalir melalui Lorong Parshall yang beroperasi dalam kondisi
aliran tidak sempurna dipengaruhi oleh tekan air hilr. Dengan demikian, dapat
diperoleh dengan cara penyesuaian terhadap debit aliran sempurna:
Qdr = Q – QE
Keterangan:
Qdr = debit aliran tidak sempurna
Q = debit aliran sempurna
QE = pengurangan debit sebagai hasil keadaan aliran tidak sempurna
Untuk mengevaluasi QE untuk Lorong Parshall staundar, persamaan empirik harus
digunakan. Untuk Parshall Flume besar prosedur QE adalah sebagai berikut.

Pilih nilai QE2 (untuk lebar leher saluran b = 2,05 m) yang sama dengan rasio
aliran tidak sempurna σ dan tinggi tekanan air udik ha flume.
c. Pengukuran kedalaman air
Besaran debit melalui Lorong Parshall ditentukan oleh kedalaman air pada
pemasukan (tinggi dibagian udik, h a) dan bagian leher saluran (tinggi di bagian hilir,
hb). Pengukuran satu atau kedua tinggi tergantung pada keadaan aliran dalam
flume.

2.4.5 Pengukuran debit dengan bangunan ujung hulu bulat (Romijn)


Bentuk bangunan ukur ini terdiri atas mercu dengan elevasi yang benar dan
horizontal yang berada di antara dinding pangkal bangunan. Ujung hulu dibulatkan agar
tidak terjadi pemisahan aliran, dan hilir ambang horizontal dapat dibuat bulat, miring ke
bawah, atau muka tegak. Ambang harus ditempatkan dengan arah tegak lurus terhadap
arah aliran di saluran pengarah.
Jari-jari, r, pada mercu hulu tidak boleh kurang dari 0,2 H maks. Panjang mercu
ambang horizontal tidak kurang dari 1,75 H maks atau panjang total mercu dan jari-jari
ujung hulunya tidak kurang dari 2,25 H maks.
Gambar 19 Susunan umum bangunan ukur ujung hulu bulat

Rumus dasar debit aliran yang melimpasi ambang lebar dapat dihitung
berdasarkan rumus berikut.
2 3/2
Q=( ) .CD.b.√ g .H3/2
3
Keterangan:
Q = debit (m2/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
b = lebar mercu ambang (m)
CD = koefisien pengaliran debit
H = total tinggi energi
2 3/2
( ) adalah konstanta yang tidak mengandung kesalahan (-)
3
Karena tinggi energi total H, tidak dapat diukur langsung, maka persamaan debit dalam
kaitan dengan tinggi muka air teramati, h, terhadap elevasi mercu ditulis sebagai berikut.
2 3/2
Q=( ) .CD.Cv.b.√ g .h3/2
3
Keterangan:
Cv = koefisien tanpa dimensi yang mengikuti pengaruh kecepatan aliran datang
elevasi muka air di hulu ambang
h = tinggi muka air di atas mercu ambang, (m)
Menurut definisi:
H 3/2
Cv = ( )
h
Tinggi energi total berhubungan dengan tinggi muka air teramati yang diberikan dengan
persamaan.
V −2
H=h+α
2g
Keterangan:
v = kecepatan rata-rata di saluran pengarah pada penampang melintang tempat tinggi
muka air diukur (m/s)
α = koefisien (energi kinetik atau koefisien Coriolis)
Koefisien ini memperhitungkan kenyataan bahwa tinggi energi kinetik lebih besar dari
2
v /2g jika distribusi kecepatan melintang saluran teratur, tetapi tidak seragam. Dalam
penerapan persamaan ini α dapat diambil sama dengan satu. Dari persamaan berikut,
diperoleh:
2.Cd . b . h
3 √ 3 ¿¿ ¿ =
A
Keterangan:
A = luas penampang melintang basah (m2)
Cd . b .h
Maka Cv dapat dinyatakan sebagai fungsi .
A
Ada dua metode yang umum digunakan untuk menghitung besarnya debit dari hasil
pembacaan tinggi muka air. Metode pertama menggunakan teknik pendekatan dan
persamaan dasar tinggi energi total. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan
komputer dan akan efisien bila perhitungannya rumit dan berulang-ulang. Metode kedua
menggunakan hubungan yang diperoleh dari hasil pengukuran dan tinggi energi total untuk
tipe ambang dan geometri aliran tertentu. Koefisien pada kecepatan aliran datang C v pada
persamaan debit diperoleh dari tabel-tabel dan grafik-grafik.
Persamaan dasar debit dapat diuraikan dengan menggunakan faktor-faktor tinggi
energi total dengan tinggi energi terukur. Untuk air pada temperatur biasa, C d merupakan
fungsi tinggi muka air, h, panjang mercu ambang dalam arah aliran, kekerasan permukaan
mercu, dan perbandingan h/b yang dinyatakan dalam persamaan.
2. x . L x . L 3/2
Cd = (1 - ) (1 - )
b h
Keterangan:
x = δ / L adalah faktor karena pengaruh lapisan batas pada mercu
δ = tebal lapisan batas (m)
L = panjang penampang horizontal pada ambang searah aliran (m)
Pada ambang yang dibangun dengan permukaan yang halus nilai δ / L secara praktis
terletak antara 0,002-0,004. Mengingat bahwa 4000 < L/k < 105 (k adalah nilai kekasaran)
dan Re > 2.105 (Re adalah bilangan Reynolds). δ / L dianggap sama dengan 0,002 dengan
tidak memberikan kesalahan yang berarti. Persamaan menjadi:
0.006 . L 0.003 . L 3/2
Cd = (1 - ) (1 - )
b h
Nilai Cv berlaku baik untuk mercu dengan bagian hulu tertutup (mercu tetap) maupun
mercu dengan bagian hulu terbuka (mercu gerak).Batas bawah dari h mempunyai kaitan
dengan besarnya pengaruh sifat-sifat fluida dan kekasaran lapis batas. Batas bawah yang
disarankan adalah 0,06 m atau 0,01 L, diambil yang besar.
Pembatasan H/p muncul akibat kesulitan-kesulitan yang dialami, bila Bilangan Froude
dari saluran pengarah lebih dari 0,5, dikaitkan dengan keterbatasan hasil percobaan pada
nilai-nilai H/p yang tinggi. Batas atas yang disarankan adalah H/p = 1,5.
H/L tidak boleh lebih dari 0,57 dan pembatasan H/L muncul karena perlunya menjamin
aliran sejajar pada penampang kritis di atas mercu. Tinggi ambang, p, tidak boleh kurang
dari 0,15 m. Lebar mercu, b, tidak boleh kurang dari 0,2 m atau tidak kecil dari H maks atau
tidak lebih kecil dari L/5.
BAB III

METODE PENELITIAN
3.1 Aliran dalam pipa

3.1.1 Pengukuran debit, alat, bahan, dan metode

3.1.1.1 Metode Pelaksanaan


 Metode pencarian data dilaksanakan dengan cara :
a. Pengumpulan data dari pihak yang terkait.
b. Pelaksanaan studi literatur.
c. Pengamatan atau survey lapangan di Sistem Penyediaan Air dari Sumber
Artetis pada Perumahan Villa Pinus, Pudak Payung, Semarang
survey lapangan dilakukan dengan cara :
1. Mengukur jarak pipa dengan google eart dan diameter pipa
dengan meteran
2. Mengukur elevansi reservoir menggunakan GPS
3. Mengukur elevansi outlet 1-4
4. Mengukur debit outlet sesuai scenario

Table 7 Skenario penelitian aliran dalam pipa

Dari tiga metode pengumpulan data tersebut, maka data yang diperoleh dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
a. Data Primer
Data yang diperoleh dengan melakukan pengamatan dan wawancara
langsung dengan pihak – pihak terkait. Data tersebut meliputi :
1.) Keadaan umum lokasi perencanaan
2.) Keadaan sumber air existing dan reservoir
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak terkait. Data
tersebut meliputi antara lain :
1.) Perumahan Villa Pinus, Pudakpayung, Banyumanik, Semarang
2.) Peta wilayah Perumahan Villa Pinus
3.) Keadaan sumber air existing dan reservoir

 Metode Pengolahan Data


1. Setelah pengambilan data, hitunglah Debit, Luas Penampang Pipa, dan
Kecepatan Aliran headloss pada setiap outlet pipadan EGL maupun HGL.

2. Hitunglah Headloss mayor dan Headloss minor pada pipa di Outlet 1,


Percobaan 1, Percobaan 2, dan Percobaan 3
3. Hitunglah Headloss mayor dan Headloss minor pada pipa di Outlet 2,
Percobaan 1, Percobaan 2, dan Percobaan 3

4. Hitunglah Headloss mayor dan Headloss minor pada pipa di Outlet 3,


Percobaan 1, Percobaan 2, dan Percobaan 3

5. Hitunglah Headloss total pada di Outlet 1 Percobaan 1, Percobaan 2, dan


Percobaan 3

6. Hitunglah Headloss total pada di Outlet 2 Percobaan 1, Percobaan 2, dan


Percobaan 3

7. Hitunglah Headloss total pada di Outlet 3 Percobaan 1, Percobaan 2, dan


Percobaan 3

3.1.1.2 Alat dan bahan


1.Alat ukur (mistar)
2.Alat tulis
3.GPS (Aplikasi Google Earth)
4.Ember 20 L
5.Pipa sambungan

3.1.1.3 Perhitungan Debit


Penelitian yang dilakukan merupakan penilaian kuantitatif sehingga data yang
dihasilkan berupa angka yang dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika
atau statistika. Salah satu perhitungan tersebut yaitu menghitung debit di setiap outlet.
Debit air merupakan ukuran banyaknya volume air yang dapat mengalir atau
dapat ditampung dalam suatu tempat tiap satuan waktu. Satuan debit dinyatakan
dalam satuan meter kubik per detik (m 3/s). Debit aliran juga dapat dinyatakan dalam
persamaan Q = A × v, dimana A adalah luas penampang (m 2) dan v adalah kecepatan
aliran (m/s). Lebih jelasnya untuk mengetahui besarnya debit air, dapat dirumuskan
sebagai berikut:
V
Q=
∆t
atau,
Q = A.v
Keterangan:
Q = debit air (m3/s atau l/s)
V = volume air (m3 atau liter)
∆t = waktu (s)
A = luas penampang (m2)
v = kecepatan fluida (m/s)
Selain menghitung debit, kita juga menghitung kerugian gesek (headloss) akibat
gesekan yang terjadi antara fluida dengan pipa menggunakan metode Darcy-Weisbach.
Headloss pada aliran pipa terdapat dua yaitu headloss mayor dan headloss minor.
Headloss mayor adalah kehilangan energi yang terjadi dalam pipa akibat
gesekan air dengan pipa selama pengaliran baik pada pipa lurus maupun pada pipa
membelok. Persamaan headloss mayor dapat ditulis sebagai berikut: Persamaan ini
dapat ditulis sebagai berikut:
L V2
hf = f
D 2g
dimana,
64
f=

Keterangan:
h = tinggi kehilangan energi
v = viskositas zat cair
g = percepatan gravitasi
D = diameter pipa
V = kecepatan aliran

Sementara headloss minor adalah kehilangan energi yang terjadi dalam pipa
karena perubahan bentuk aliran dan perubahan arah aliran. Persamaan headloss minor
akibat perbesaran penampang dapat ditulis sebagai berikut:
V 1²−V 2²
he = k’ -
2g
Keterangan:
he = kehilangan energi akibat perbesaran penampang
k’ = koefisien perbesaran penampang
v1 = kecepatan aliran pada pipa 1 (m/s)
v2 = kecepatan aliran pada pipa 2 (m/s)
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s2)

3.1.2 Garis Tenaga (EGL) dan Garis Tekanan (HGL) pada Jaringan Pipa
Berdasarkan persamaan Bernoulli, tinggi tenaga total di suatu titik pada pipa
merupakan jumlah dari tinggi elevasi, tinggi tekanan dan tinggi kecepatan. Garis yang
menghubungkan titik-titik tinggi tenaga disebut garis tenaga (garis energi). Sedangkan garis
yang menghubungkan titik-titik tinggi tekanan disebut sebagai garis tekanan. Garis tekanan
terletak di bawah garis tenaga sebesar tinggi kecepatan dalam pipa.
Garis Energi (EGL) dan Garis Tekanan (HGL) dedefinisikan sebagai :

p v²
EGL = z + +
γ 2g

p
HGL = z +
γ
EGL menunjukkan tinggi tekan total Bernoulli sedangkan HGL adalah tinggi air pada
tabung piezometric yang dipasang pada pipa .

Gambar 20 Persamaan Bernoulli

3.2 Aliran pada saluran terbuka

3.2.1 Pengukuran debit, alat, bahan, dan metode

3.2.1.1 Metode Pelaksanaan


 Metode pencarian data dilaksanakan dengan cara :
a. Pengumpulan data dari pihak yang terkait.
b. Pelaksanaan studi literatur.
c. Pengamatan atau survey lapangan.
Survey lapangan dilakukan dengan cara :
1. Mengukur lebar spillway dengan meteran
2. Menukur kedalaman air dengan meteran yang menempel pada spillway
3. Mengukur elevasi dengan menggunakan GPS yang dihubungkan dengan
kolam olak
4. Didapat data unruk menghitung debit yang mengalir di spillway
Dari tiga metode pengumpulan data tersebut, maka data yang diperoleh dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
a. Data Primer
Data yang diperoleh dengan melakukan pengamatan dan wawancara
langsung dengan pihak – pihak terkait. Data tersebut meliputi :
1.) Panjang, lebar, tinggi, maupun tinggi air pada bangunan spillway
2.) Elevasi bangunan spillway
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak terkait. Data
tersebut meliputi antara lain :
1.) Kondisi wilayah Waduk Diponegoro, Semarang
2.) Peta Waduk Dipinegoro
 Metode Pengolahan Data
1. Setelah pengambilan data, hitunglah Debit, EGL maupun HGL.,dan
menganalisa aliran subkritis, kritis, dan super kritis

3.2.1.2 Alat dan bahan


1. Meteran
2. GPS
3. Camera
4. Buku dan alat tulis

3.2.1.3 Perhitungan Debit


Penelitian yang dilakukan merupakan penilaian kuantitatif sehingga data yang
dihasilkan berupa angka yang dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau
statistika. Salah satu perhitungan tersebut yaitu menghitung debit pada Waduk Diponegoro.
Debit air merupakan ukuran banyaknya volume air yang dapat mengalir atau
dapat ditampung dalam suatu tempat tiap satuan waktu. Satuan debit dinyatakan dalam
satuan meter kubik per detik (m 3/s). Debit aliran juga dapat dinyatakan dalam persamaan
Q=A×v
Dimana A adalah luas penampang (m2) dan v adalah kecepatan aliran (m/s).

Salah satu perhitungan tersebut yaitu menghitung spillway debit pada Waduk
Diponegoro. Ambang adalah salah satu jenis bangunan air yang dapat digunakan untuk
menaikkan tinggi muka air serta menentukan debit aliran. Setiap bangunan ambang
memiliki sifat-sifat atau karakteristik aliran yang melewatinya. Ambang yang digunakan pada
perhitungan debit Waduk Diponegoro menggunakan ambang lebar dan tajam. Bentuk
ambang ini memiliki energi potensial yang lebih besar sehingga dapat dialirkan ke tempat
yang lebih jauh dan dapat mengairi daerah yang lebih luas.
Rumus dasar debit aliran yang melimpasi ambang lebar dapat dihitung
berdasarkan rumus berikut:
2 3/2
Q=( ) .CD.Cv.b.√ g .h3/2
3
Keterangan:
Cv = koefisien tanpa dimensi yang mengikuti pengaruh kecepatan aliran datang
elevasi muka air di hulu ambang
h = tinggi muka air di atas mercu ambang, (m)

Dan untuk debit air yang mengalir melalui bendung ambang tajam (SWC) dapat
dihitung dengan rumus :
Q = 1.86 BH3/2
Dimana :
Q = Debit (m3 /det)
B = lebar ambang
H = muka air dihulu diatas sekat
Terdapat perbedaan bentuk fisik antara ambang lebar dan ambang tajam, sehingga
mempengaruhi jatuhnya aliran. Pada ambang lebar air akan jatuh lebih lunak dari ambang
tajam, meskipun tinggi dan lebar ambang sama. Perbedaan bentuk fisik antara ambang
lebar dan ambang tajam dapat dilihat pada dibawah ini.

Dalam percobaan ini akan diamati karakteristik aliran yang melalui ambang dengan
tipe karakteristik sebagai berikut:
1. Keadaan loncat
Keadaan ketika tinggi muka air di hulu saluran tidak dipengaruhi oleh tinggi muka
air di hiliran saluran.
2. Keadaan peralihan
Keadaan ketika tinggi muka air di hulu saluran mulai dipengaruhi oleh tinggi
muka air di hilir saluran.
3. Keadaan tenggelam
Keadaan ketika tinggi muka air di hulu saluran dipengaruhi oleh tinggi muka air di
hilir saluran.
Dari percobaan ini dapat diperoleh gambaran mengenai sifat aliran, berupa bentuk
atau profil aliran melalui analisis model fisik dari sifat aliran yang diamati. Dalam kondisi
nyata di lapangan, ambang ini berguna untuk meninggikan muka air di waduk. Selain itu,
ambang juga dapat digunakan untuk menentukan debit.

Gambar 2 1 Ambang Tajam

Gambar 2 2 Gambar ambang lebar


Profil pelimpah pada aliran akan menentukan bentuk tirai luapan (flow nappe) yang
akan terjadi di atas ambang tersebut. Tirai luapan ini dianggap mengalami pengudaraan,
yaitu keadaan saat permukaan atas dan bawah tirai luapan tersebut memiliki tekanan udara
luar sepenuhnya.
Namun, pengudaraan di bawah tirai luapan kurang sempurna. Hal ini berarti terjadi
pengurangan tekanan di bawah tirai luapan akibat udara yang tergantikan oleh pancaran air.
Pengurangan tekanan ini menimbulkan koefisien (C) yang berbeda-beda pada setiap
ambang.
Debit aliran yang melalui ambang dengan tipe WES dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Q = C.L.H3/2
dengan C dapat dihitung dengan: 𝐶=(2/3)1.5 𝑔0.5
Maka untuk menghitung debit di atas ambang dapat menggunakan persamaan: 𝑞𝑐=𝑄/𝐵
Keterangan:
Q = debit (m3/s)
C = koefisien debit
L = lebar efektif ambang (m)
H = tinggi tekan di atas ambang
g = percepatan gravitasi (m/s2)
B = lebar spillway (m)
qc = debit di atas ambang pelimpah (m3/s)
Selanjutnya menghitung ketinggian kritis pada ambang batas.Untuk menghitung
berapa ketinggian kritis di ambang pelimpah maka kita dapat menggunakan persamaan:
Yc = √𝑞 𝑥 𝑞3√𝑔
Untuk mendapatkan nilai Fr maka menggunakan persamaan:
Fr = 𝑣√𝑦.𝑔
Dan menentukan tipe aliran kita menggunakan prinsip bilangan Froude, dimana:
 Fr = 1 merupakan tipe aliran kritis dan adanya gangguan permukaan akibat riak yang
terjadi jika sebuah batu di lempar ke dalam sungai, maka tidak akan bergerak /
menyebar melawan arah arus.
 Fr < 1 merupakan tipe aliran subkritis yang memiliki kedalaman lebih besar dan
kecepatan aliran rendah (semua riak yang timbul dapat bergerak melawan arus). V
air < V gelombang hulu aliran dipengaruhi pengendali hilir.
 Fr > 1 merupakan tipe aliran superkritis yang memiliki kedalaman lebih kecil dan
kecepatan relatif tinggi (segala riak yang ditimbulkan dari suatu gangguan akan
mengikuti arah arus). V air > V gelombang hulu aliran tidak dipengaruhi pengendali
hilir.

3.2.2 Garis Energi dan Garis Hidrolisis


a. Garis Energi
Berdasarkan persamaan Bernoulli, tinggi tenaga total di suatu titik pada pipa
merupakan jumlah dari tinggi elevasi, tinggi tekanan dan tinggi kecepatan. Garis yang
menghubungkan titik-titik tinggi disebut garis tenaga (garis energi).

Gambar 2 3 Aliran Luar

Dalam Saluran Terbuka, garis energi adalah garis yang menyatakan ketinggian
dari jumlah tinggi aliran. Jumlah tinggi energi pada penampung 1 di hulu akan sama dengan
jumlah tinggi energi pada penampang 2 di hilir, hal ini dinyatakan dengan:

v1 v2
z1 + y1 + α 1 = z2 + y2 + α2
2g 2g

Jika α1 = α2 = 1 dan hf = 0, maka persamaan diatas menjadi:

v1 v2
z1 + y1 + = z2 + y2 + = konstan
2g 2g

Saat energi konstan, maka garis energi berupa garis lurus.

b. Garis Hidrolis
Dengan menghitung (energi) tekanan air pada suatu aliran air di dalam pipa kita
dapat mengetahui (energi) tekanan air pada titik tersebut. Hal ini dapat dipermudah apabila
kita memahami gradien hidrolika. Garis tekanan merupakan garis yang menggambarkan
besarnya tekanan air pada titik tersebut. Garis tekanan ini umumnya disebut garis gradien
hidrolika atau garis kemiringan hidrolis. Gradien hidrolika pada saluran terbuka adalah
sama/berimpit dengan garis permukaan air. Garis Tekanan (HGL) didefinisikan sebagai:

HGL = 𝑧+ 𝑝𝛾

Gradien hidrolika pada saluran terbuka adalah sama/berimpit dengan garis


permukaan air.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Aliran Dalam Pipa

4.1.1 Perhitungan Debit


Table 8 Data Pengamatan Resevoir

Keterangan Hasil Pengukuran Satuan


Tinggi tandon 1.2 m
Tinggi Air 1 m
Tinggi permukaan 3.15 m
Kedalaman airtesis dalam tanah 80 m
ΔH Reservoir 288.5 m
Diameter Pipa Inlet 5.08 cm
Diameter Pipa Outlet 1 10.16 cm
Diameter Pipa Outlet 2 10.16 cm
Ketinggian (G.Earth) 284 mdpl

 Outlet 1
Table 9 Data Pengamatan Outlet 1 Di Villa Pinus Gedawang

Elevasi : 268,7 m
Diameter Pipa : 2 inchi (5,08 cm) Panjang Pipa 4”: 44 cm Belokan : 3 buah
Volume Ember: 20 Liter Panjang pipa 2”: 44 cm Jenis Pipa : PVC
Kran Buka Penuh Kran Buka Setengah
Waktu (s) Volume (m3) Waktu (s) Volume (m3)

Percobaan 1 2,46 0,011 3,8 0,016


Percobaan 2 2,58 0,012 4,12 0,018
Percobaan 3 2,52 0,013 3,64 0,016
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
V 0,011
Q= = =0,00447 m 3 /s
t 2,46
 Percobaan 2
V 0,012
Q= = =0,00465 m3 /s
t 2,58
 Percobaan 3
V 0,013
Q= = =0,00515 m 3 /s
t 2,52
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
V 0,016
Q= = =0,00421 m3 / s
t 3,8
 Percobaan 2
V 0,018
Q= = =0,00437 m3 / s
t 4,12
 Percobaan 3
V 0,016
Q= = =0,00439 m 3 /s
t 3,64

 Outlet 2
Table 10 Data Pengamatan Outlet 2 Di Villa Pinus Gedawang

Elevasi : 253 m
Diameter Pipa : 3 cm 35 cm
Panjang Pipa 4”: Jenis Pipa : PVC
Volume Ember: 20 Liter Panjang pipa 2”: 80 cm
Kran Buka Penuh Kran Buka Setengah
Waktu (s) Volume (m3) Waktu (s) Volume (m3)
Percobaan 1 8,14 0,015 13,35 0,015
Percobaan 2 9,03 0,018 15,27 0,018
Percobaan 3 9,12 0,018 13,8 0,018

1. Kran Buka Penuh


 Percobaan 1
V 0,015
Q= = =0,00184 m 3 /s
t 8,14
 Percobaan 2
V 0,018
Q= = =0,00199 m 3 /s
t 9,03
 Percobaan 3
V 0,018
Q= = =0,00197 m3 / s
t 9,12
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
V 0,015
Q= = =0,00112 m 3 /s
t 13,35
 Percobaan 2
V 0,018
Q= = =0,00117 m3 / s
t 15,27
 Percobaan 3
V 0,018
Q= = =0,00130 m 3 /s
t 13,8

 Outlet 3
Table 11 Data Pengamatan Outlet 3 Di Villa Pinus Gedawang

Elevasi : 251 m
Diameter Pipa : 5,08 cm Panjang Pipa 4”: 35 cm Belokan : 3 buah
Volume Ember: 16 Liter Panjang pipa 2”: 80 cm Jenis Pipa : PVC
Kran Buka Penuh Kran Buka Setengah
Waktu (s) Volume (m3) Waktu (s) Volume (m3)
Percobaan 1 2,36 0,013 4,43 0,019
Percobaan 2 2,28 0,015 6,47 0,019
Percobaan 3 1,76 0,012 7,83 0,017
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
V 0,013
Q= = =0,00550 m 3 /s
t 2,36
 Percobaan 2
V 0,015
Q= = =0,00658 m 3 /s
t 2,28
 Percobaan 3
V 0,012
Q= = =0,00681 m3 / s
t 1,76
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
V 0,019
Q= = =0,00429 m 3 /s
t 4,43
 Percobaan 2
V 0,019
Q= = =0,00294 m 3 /s
t 6,47
 Percobaan 3
V 0,017
Q= = =0,00217 m 3 /s
t 7,83

 Outlet 4
Table 12 Data Pengamatan Outlet 4 Di Villa Pinus Gedawang

Elevasi : 242,011 m
Diameter Pipa : 6 cm Belokan : 3 buah
Panjang Pipa 4”: 195 cm
Volume Ember: 16 Liter Jenis Pipa : PVC
Kran Buka Penuh Kran Buka Setengah
Waktu (s) Volume (m3) Waktu (s) Volume (m3)
Percobaan 1 2,51 0,016 3,21 0,016
Percobaan 2 2,13 0,016 3,83 0,016
Percobaan 3 2,51 0,016 3,55 0,016
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
V 0,016
Q= = =0,00637 m 3 /s
t 2,51
 Percobaan 2
V 0,016
Q= = =0,00751 m3 / s
t 2,13
 Percobaan 3
V 0,016
Q= = =0,00637 m 3 /s
t 2,51
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
V 0,016
Q= = =0,00498 m 3 /s
t 3,21
 Percobaan 2
V 0,016
Q= = =0,00418 m 3 /s
t 3,83
 Percobaan 3
V 0,016
Q= = =0,00451 m3 / s
t 3,55

4.1.2 Perhitungan kehilangan energy

 Outlet 1
Luas Pipa
1
A= π D 2
4
1
A= π ( 0,0508)2
4
A=0,002025 m2
Faktor kekasaran pipa PVC dapat dilihat dengan grafik Moody didapat 0,014.
e atau k = 0,0000015 m
Panjang Pipa 4” = 44 m
Panjang Pipa 2” = 44 m
g = 9,8 m2/s
Headloss yang dihitung pada aliran pipa terdapat dua yaitu headloss mayor dan
headloss minor.
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00447
V= = =2,20 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,20)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,246
h f =2,98
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,20)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=3,69 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,20)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,246
h f =2,98
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 2,98 + 2,79.10-7 + 2,98
= 5,96
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00465
V= = =2,29 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 (2,29)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,267
h f =¿ 3,23
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,29)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=4,0 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 (2,29)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,267
h f =¿ 3,23
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 3,23 + 4,0.10-7 + 3,23
= 6,46
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00515
V= = =2,54 m/ s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 (2,54)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,329
h f =¿ 3,98
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,54)2
h=0,0000015 x
2( 9,8)
h=4,93 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,35)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,329
h f =¿ 3,98
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 3,98 + 4,93.10-7 + 3,98
= 7,96
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00421
V= = =2,07 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,07)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,218
h f =2,64
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,07)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=3,27 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,07)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,218
h f =2,64
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 2,64 + 3,71.10-7 + 2,64
= 5,28
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00437
V= = =2,15 m/ s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,15)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,236
h f =¿ 2,86
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,15)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=3,54 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,15)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,236
h f =¿ 2,86
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 2,86 + 3,54.10-7 + 2,86
= 5,72
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00439
V= = =2,17 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,17)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,24
h f =¿ 2,91
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,17)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=3,6 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
44 ( 2,17)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 866,14 x 0,24
h f =¿ 2,91
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 2,91 + 3,6 .10-7 + 2,91
= 5,82

 Outlet 2
Luas Pipa
1
A= π D 2
4
1
A= π ( 0,03)2
4
A=0,0007065 m2
Faktor kekasaran pipa PVC dapat dilihat dengan grafik Moody didapat 0,05.
e atau k = 0,0000015 m
Panjang Pipa 4” = 35 m
Panjang Pipa 2” = 80 m
g = 9,8 m2/s
Headloss yang dihitung pada aliran pipa terdapat dua yaitu headloss mayor dan
headloss minor.
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00184
V= = =2,6 m/s
A 0,0007065
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
35 ( 2,6)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 1.166,67 x 0,345
h f =20,13
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,6)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=5,17 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
80 ( 2,6)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 2.666,67 x 0,345
h f =46
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 20,13 + 5,18.10-7 + 46
= 66,13
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00199
V= = =2,82 m/s
A 0,0007065
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
35 (2,82)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 1.166,67 x 0,405
h f =23,63
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,82)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=6,07 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
80 (2,97)
h f =0,05 x x
0,03 2( 9,8)
h f =0,05 x 2.666,67 x 0,405
h f =54
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 23,63 + 6,07.10-7 + 54
= 77,63
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00197
V= = =2,79 m/s
A 0,0007065
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
35 (2,79)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 1.166,67 x 0,397
h f =23,15
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,79)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=5,95 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
80 (2,79)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 2.666,67 x 0,397
h f =52,93
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 23,15 + 5,95.10-7 + 52,93
= 76,08
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00112
V= = =1,59 m/s
A 0,0007065
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
35 (1,59)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 1.166,67 x 0,129
h f =7,53
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(1,59)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=1,94 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
80 (1,59)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 2.666,67 x 0,129
h f =17,2
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 7,53 + 1,94.10-7 + 17,2
= 24,73
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00117
V= = =1,66 m/s
A 0,0007065
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
35 (1,66)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 1.166,67 x 0,141
h f =8,22
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(1,66)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=2,11 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
80 (1,66)
h f =0,05 x x
0,03 2(9,8)
h f =0,05 x 2.666,67 x 0,141
h f =18 , 80
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 8,22 + 2,11.10-7 + 18,80
= 27,02
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00130
V= = =1,84 m/ s
A 0,0007065
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
35 (1,84)
h f =0,05 x x
0,03 2( 9,8)
h f =0,05 x 1.166,67 x 0,173
h f =10,1
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(1,84)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=2,59 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
2
80 (1,84)
h f =0,05 x x
0,03 2( 9,8)
h f =0,05 x 2.666,67 x 0,173
h f =23,06
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 10,1 + 2,59.10-7 + 23,06
= 33,16

 Outlet 3
Luas Pipa
1
A= π D 2
4
1
A= π ( 0,0508)2
4
A=0,00203 m2
Faktor kekasaran pipa PVC dapat dilihat dengan grafik Moody didapat 0,015.
e atau k = 0,0000015 m
Panjang Pipa 4” = 35 m
Panjang Pipa 2” = 80 m
g = 9,8 m2/s
Headloss yang dihitung pada aliran pipa terdapat dua yaitu headloss mayor dan
headloss minor.
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00550
V= = =2,71 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
35 (2,71)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 688,98 x 0,375
h f =3,88
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,71)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=5,62 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
80 (2,71)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 1574,8 x 0,375
h f =8,86
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 3,88 + 5,62 .10-7 + 8,86
= 12,74
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00658
V= = =3,25 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
35 (3,25)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 688,98 x 0,539
h f =5,57
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(3,25)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=8,08 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
80 (3,25)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 1574,8 x 0,539
h f =12,73
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 5,57 + 8,08.10-7 + 12,73
= 18,3
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00681
V= = =3,36 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
35 (3,36)2
h f =0,015 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,015 x 688,98 x 0,576
h f =5,95
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(3,36)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=8,64 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
80 (3.36)2
h f =0,015 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,015 x 1574,8 x 0,576
h f =13,61
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 5,95 + 8,64.10-7 + 13,61
= 19,56
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00429
V= = =2,11 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
35 (2,11)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 688,98 x 0,228
h f =2,36
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(2,11)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=3,42 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
80 (2,11)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 1574,8 x 0,228
h f =5,39
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 2,36 + 3,42.10-7 + 5,39
= 7,75
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00294
V= = =1,45 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
35 (1,45)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 688,98 x 0,107
h f =1,11
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(1,45)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=1,61 x 10−7
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
80 (1,45)2
h f =0,015 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,015 x 1574,8 x 0,107
h f =2,53
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 1,11 + 1,61.10-7 + 2,53
= 3,64
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00217
V= = =1,07 m/s
A 0,002025
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
35 (1,07)2
h f =0,015 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,015 x 688,98 x 0,058
h f =0,6
Headloss Minor
V2
h=k x
2g
(1,07)2
h=0,0000015 x
2(9,8)
h=8,7 x 10−8
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
80 (1,47)2
h f =0,015 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,015 x 1574,8 x 0,058
h f =1,37
Headloss total = headloss mayor + headloss minor + headloss mayor
= 0,6 + 8,7.10-8 + 1,37
= 1,97
 Outlet 4
Luas Pipa
1
A= π D 2
4
1
A= π ( 0,06)2
4
A=0,00283 m2
Faktor kekasaran pipa PVC dapat dilihat dengan grafik Moody didapat 0,014.
Panjang Pipa 4” = 195 m
g = 9,8 m2/s
Headloss yang dihitung pada aliran pipa terdapat hanya headloss mayor.
1. Kran Buka Penuh
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00637
V= = =2,25 m/s
A 0,00283
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
195 ( 2,25)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 3.838,58 x 0,258
h f =13,88
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00751
V= = =2,65 m/s
A 0,00283
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
195 ( 2,65)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 3.838,58 x 0,359
h f =19,31
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00637
V= = =2,25 m/s
A 0,00283
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
195 ( 2,25)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 3.838,58 x 0,258
h f =13,88
2. Kran Buka Setengah
 Percobaan 1
Kecepatan
Q 0,00498
V= = =1,76 m/s
A 0,00283
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
195 (1,76)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 3.838,58 x 0,158
h f =8,49
 Percobaan 2
Kecepatan
Q 0,00418
V= = =1,48 m/ s
A 0,00283
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
195 (1,48)2
h f =0,014 x x
0,0508 2( 9,8)
h f =0,014 x 3.838,58 x 0,112
h f =6,02
 Percobaan 3
Kecepatan
Q 0,00451
V= = =1,59 m/s
A 0,00283
Headloss Mayor
L V2
h f =f x x
D 2g
195 (1,59)2
h f =0,014 x x
0,0508 2(9,8)
h f =0,014 x 3.838,58 x 0,13
h f =6,99

4.1.3 Penggambaran garis energy dan garis hidrolis

Gambar 2 4 Penggambaran EGL dan HGL Outlet 1

Analisis :

Dari penggambaran EGL dan HGL pada gambar diatas dapat disimpulkan bahwa
pendistribusian air dari reservoir ke outlet 1 mengalami kehilangan tenaga atau headloss
mayor pada pipa dengan elevasi Z1 akibat tingkat kekasaran pipa, dan mengalami headloss
minor pada pipa dengan elevasi Z2 akibar perubahan diameter pipa.

Gambar 2 5 Penggambaran EGL dan HGL Outlet 2


Analisis :

Dari penggambaran EGL dan HGL pada gambar diatas dapat disimpulkan
bahwapendistribusian air dari reservoir ke outlet 2 mengalami kehilangan tenaga atau
headloss mayor pada pipa dengan elevasi Z1 dan pipa dengan elevasi Z2 akibat tingkat
kekasaran pipa, dan mengalami headloss minor pada pipa dengan elevasi Z3 akibat
perubahan diameter pipa.

Gambar 2 6 Penggambaran EGL dan HGL Outlet 3

Analisis :

Dari penggambaran EGL dan HGL pada gambar diatas dapat disimpulkan
bahwapendistribusian air dari reservoir ke outlet 3 mengalami kehilangan tenaga atau
headloss mayor pada pipa dengan elevasi Z1 dan pipa dengan elevasi Z2 akibat tingkat
kekasaran pipa, dan mengalami headloss minor pada pipa dengan elevasi Z3 akibat
perubahan diameter pipa.
Gambar 2 7 Penggambaran EGL dan HGL Outlet 4

Analisis :

Dari penggambaran EGL dan HGL pada gambar diatas dapat disimpulkan bahwa
pendistribusian air dari reservoir ke outlet 4 hanya mengalami kehilangan tenaga atau
headloss mayor pada pipa dengan elevasi Z1 dan Z2 akibat tingkat kekasaran pipa.

4.2 Aliran Pada Saluran Terbuka

4.2.1 Perhitungan debit pada bangunan pengukur debit

4.2.1.1 Data pengamatan


Dari hasil literature suatu praktikum pengukuran debit pada bangunan pengukur
debit di Waduk Diponegoro diperoleh data sebagai berikut :

 Elevasi + 254,00 meter


 Lebar efektif mercu pelimpah 24 meter
 Tinggi Spillway 3,58 meter
 Jarak vertikal dari titik ambang menurut Lengkung Harold 3 meter
 Jarak horizontal dari titik ambang menurut Lengkung Harold 4, 674 meter

4.2.1.2 Analisa data


Dari data yang telah didapatkan, akan mencari nilai dari debit yang mengalir
melalui bangunan pengukur debit ambang lebar tipe BCW dan ambang tajam tipe SCW.

Dasar teori penghitungan debit air pada Waduk Diponegoro dengan bangunan
pengukur ambang lebar, yaitu menggunakan rumus :
2 3/2
Q=( ) .CD. b.√ g .H3/2
3
Keterangan:
Cv = koefisien tanpa dimensi yang mengikuti pengaruh kecepatan aliran datang
elevasi muka air di hulu ambang
h = tinggi muka air di atas mercu ambang, (m)
Maka, diketahui:
L = 24 meter
H = 3,58 meter
Cd= 1,03
B = 15 meter

Perhitungan :

2 3/2
Q=( ) .CD.b.√ g .h3/2
3
2
Q = ( )3/2. 1,03 . 15. √ 9,8 . (3.58)3/2
3
Q = 178,337 m3/s

Maka dari perhitungan diatas, diperoleh nilai debit dari bangunan pengukur
ambang lebar sebesar 246,853 m3/s.
Kemudian, untuk menghitung debit air yang mengalir melalui bendung ambang tajam
(SWC) dapat dihitung dengan rumus :
Q = 1.86 B.H3/2

Dimana :
Q = Debit (m3 /det)
B = lebar ambang
H = muka air dihulu diatas sekat

Pertitungan :
Q = 1.86 BH3/2
Q = 1.86 . 15. (3,58)3/2
Q = 188,995 m3/s

Sehingga diperoleh nilai debit pada bangunan ukur ambang tajam di Waduk
Diponegoro yaitu 188,995 m3/s.
4.2.2 Perhitungan debit pada saluran terbuka/sungai

4.2.2.1 Data pengamatan


Dari hasil literature suatu praktikum pengukuran debit pada spillway di Waduk
Diponegoro diperoleh data sebagai berikut :

 Elevasi + 254,00 meter


 Lebar efektif mercu pelimpah 24 meter
 Tinggi Spillway 3,58 meter
 Jarak vertikal dari titik ambang pelimpah 0,527 meter

4.2.2.2 Analisa data


Dari data yang telah didapatkan, akan mencari nilai dari debit yang
mengalir melalui spillway, dan mencari tipe aliran yang mengalir melalui
spillway tersebut (apakah aliran subkritis, kritis, atau superkritis), yang tentunya
akan menggunakan hukum-hukum Darcy, Reynould, hingga Froude.
Secara dasar, teori untuk mencari debit yaitu menggunakan rumus:
Q = A.V
Dimana:
Q: Debit (m3/s)
A: Luas Penampang air yang mengalir (m2)
V: Kecepatan aliran (m/s)
Namun, dikarenakan pada percobaan tidak menggunakan current meter
yang sebenarnya untuk menemukan data kecepatan aliran, maka digunakanlah
rumus alternative yang tidak menggunakan data kecepatan aliran, yaitu rumus
Debit yang lewat ambang bebas dengan rumus :
Q = C . L . H3/2
Dimana:
Q: Debit (m3/s)
C: koefisien limpahan (m0,5/dt)
L: lebar efektif mercu pelimpah (m)
H: Tinggi spillway (m)

Maka, diketahui:
L = 24 meter
H = 3,58 meter
C = 1,704 m0,5/dt
Perhitungan:
Q = C . L . H3/2
Q = 1, 03. 24 . 3.583/2
Q = 277,029 m3/det
Dengan demikian, ditemukan data debit air secara teori tanpa
memperhitungkan dari tingkat kekritisan yang terjadi pada spillway. Untuk
mencari debit kritis, dapat dicari dengan menggunakan rumus:
Q
Qc =
B
Dimana:
Qc: Debit kritis (m3/s)
Q: Debit umum
B: Lebar Ambang

Maka, diketahui:
Q = 277,029 m3/det
B = 15 m
Perhitungan:
Q
Qc =
B
277,029
Qc =
15
Qc = 18,468 m3/s

Maka dari itu, debit kritis yang dihasilkan yaitu sebesar 18,468 m3/s.
Kemudian, akan dicari Yc atau yang sering disebut sebagai tinggi kritis. Berikut
rumus untuk mencari nilai Yc:
2
Yc = 3 Qc
√ g
Dengan :
Yc: Tinggi kritis (m)
Qc: Debit kritis (m3/s)
g: Gravitasi (m/s2)
Maka, diketahui:
Qc: 18,468 m3/s
g: 9,8 m/s2
Perhitungan:
2
Yc = 3 18,468
√ 9,8
Yc = 3,264 m
Dengan demikian, tinggi kritis dari aliran pada spillway ditemukan sebesar
3,264 m. Setelah itu, dapat dicari bilangan Froude untuk menentukan karakteristik
aliran apakah subkritis, kritis, ataupun superkritis. Hukum Froude berbunyi:
v
Fr =
√ gy
Dimana:
V : Kecepatan aliran (m/s)
g: Gravitasi (m/s2)
y: Jarak vertikal dari titik ambang pelimpah (m)
Maka, perhitungannya dimulai dari:
Q=AxV
Q
V=
A
277,029
V=
15. 0,527
V = 35,044 m/s
Oleh karena itu, dapat dicari bilangan Froudenya dengan menggunakan
rumus yang sudah disebutkan diatas:
35,044
Fr =
√ 9,8. 0.527
Fr = 15,42
Sehingga, bilangan Froude bernilai `15,42 dimana >1, maka dapat disimpulkan
bahwa aliran yang mengalir pada ambang dapat dikatakan sebagai aliran
superkritis.

Anda mungkin juga menyukai