Anda di halaman 1dari 134

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH PERSEPSI MANFAAT, PERSEPSI


KEMUDAHAN PENGGUNAAN, PERSEPSI RISIKO TERHADAP
REPURCHASE INTENTION PENGGUNA LAYANAN FINANCIAL
TECHNOLOGY (Studi Kasus Layanan Go-Pay “Go-jek” Di Kota Bandung)

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi


Pada Program Studi Manajemen

Oleh:
Melinda Andini Berliana Daulay
41033402151050

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
2019
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
TANDA PELAKSANAAN UJIAN SIDANG SKRIPSI

Nama : Melinda Andini Berliana Daulay


Nim : 41033402151050
Hari/Tanggal Lulus : Jum’at/19 Juli 2019
Mata Kuliah Skripsi : Manajemen Pemasaran
Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan
Penggunaan, Persepsi Risiko Terhadap Repurchase
Intention Pengguna Layanan Financial Technology
(Studi Kasus Layanan Go-Pay “Go-Jek” Di Kota
Bandung)

Mengetahui/Menyetujui
Penguji I Penguji II

Ida Farida Oesman, SE., M.Si Yulianita Rahayu, SE.,MBA


NIP. 300212 NIP.300494

Penguji III

Wahdi Suardi, SE.M.Si


NIP.200060

ii
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS PENGARUH PERSEPSI MANFAAT, PERSEPSI


KEMUDAHAN PENGGUNAAN, PERSEPSI RISIKO TERHADAP
REPURCHASE INTENTION PENGGUNA LAYANAN FINANCIAL
TECHNOLOGY (Studi Kasus Pengguna Go-Pay “Go-Jek” Di Kota
Bandung)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Nusantara

Melinda Andini Berliana Daulay


41033402151050

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Ida Farida Oesman,SE.,M.Si Yupi Yuliawati,S.Pd., MM


NIP.300212 NIP.300450

Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Program Studi Manajemen


Universitas Islam Nusantara Fakultas Ekonomi UNINUS

Ahmad M Ryad,SE.,Ak.,M.MPd Ida Farida Oesman,SE.,M.Si


NIP.200158 NIP.300212

iii
PERNYATAAN INTEGRITAS

Yang bertanda tangan dibawah ini,


Nama : Melinda Andini Berliana Daulay
NIM : 41033402151050
Program Studi : Manajemen
Fakultas : Ekonomi
Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi
Kemudahan Penggunaan, Persepsi Risiko
Terhadap Repurchase Intention Pengguna
Layanan Financial Technology (Studi Kasus
Layanan Go-Pay “Go-Jek” Di Kota
Bandung)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar hasil saya
sendiri. Sepanjang sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat
yang ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan
mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Bandung, 17 Juli 2019


Penulis,

Melinda Andini Berliana Daulay


NIM.41033402151050

iv
ANALISIS PENGARUH PERSEPSI MANFAAT, PERSEPSI
KEMUDAHAN PENGGUNAAN, PERSEPSI RISIKO TERHADAP
REPURCHASE INTENTION PENGGUNA LAYANAN FINANCIAL
TECHNOLOGY
(Studi Kasus Layanan Go-Pay “Go-jek” Di Kota Bandung)

Oleh:
Melinda Andini Berliana Daulay
41033402151050

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi


kemudahan penggunaan, persepsi manfaat dan persepsi resiko terhadap
repurchase intention pengguna Go-Pay di Kota Bandung. Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data berupa kuesioner.
Total sampel dalam penelitian ini adalah 102 responden. Metode analisis yang
digunakan adalah analisis regresi linear berganda, korelasi berganda, dan
koefisien determinasi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Persepsi manfaat berpengaruh
tidak signifikan namun positif terhadap repurchase intention pengguna Go-Pay di
Kota Bandung. Persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap repurchase intention pengguna Go-Pay di Kota Bandung.
Persepsi risiko berpengaruh negatif dan signifikan terhadap repurchase
intention pengguna Go-Pay di Kota Bandung.
Kata kunci : Persepsi kemudahan pengguanaan, persepsi manfaat, persepsi
resiko, repurchase intention

v
ANALYSIS THE EFFECT OF PERCEIVED OF USEFULNESS,
PERCEIVED EASE OF USE, PERCEIVED OF RISK TOWARD
REPURCHASE INTENTION FINANCIAL TECHNOLOGY’S USER
(Case Study Go-Pay “Go-Jek”in Bandung City)
By:
Melinda Andini Berliana Daulay
41033402151050

ABSTRACT
This study aims to determine the effect of perceived usefulness,
perceived ease of use, perceived risk toward repurchase intention Go-Pay’s
User in Bandung. This study focus on financial technology. This research is
quantitative. The number of samples required for this research is 102
respondents. Data analysis method used multiple linear regression, multiple
correlation and coefficient of determination.
The result of this research is Perceived usefulness have not significant but
positive influence toward repurchase intention Go-pay’s user in bandung.
perceived ease of use have positive and significant influence toward repurchase
intention Go-Pay’s user in Bandung. Perceived of risk have negative and
significant influence toward repurchase intention Go-Pay’s user.
Keywords: perceived of usefulness, perceived ease of use, perceived of risk,
repurchase intention

vi
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah-SWT yang Maha-Pengasih lagi Maha-


Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta-alam., atas rahmat dan karunia-
Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat serta salam
semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, tak lupa
kepada keluarga-Nya, para sahabat-Nya, tabi’in dan tabi’at-Nya, dan kita selaku
umatnya-Nya.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat
bimbingan,dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun
materil, sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Persepsi Manfaat,
Persepsi Kemudahan Penggunaan, Persepsi Risiko Terhadap Repurchase
Intention Dalam Menggunakan Layanan Financial Technology (Studi Kasus
Layanan Go-Pay “Gojek” Di Kota Bandung) akhirnya dapat diselesaikan. Pada
kesempatan ini dengan ketulusan hati yang paling dalam, penulis mengucapkan
terima kasih yang begitu besar kepada:
1. Dr. H. Suhendra Yusuf, MA. Selaku Rektor Universitas Islam Nusantara
Bandung.
2. Bapak Ahmad M Ryad,SE,Ak,M.M.Pd selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Nusantara,
3. Ibu Nani Ernawati, SE., MM selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Nusantara dan wali dosen penulis,
4. Ida Farida Oesman, S.E.,M.Si selaku ketua Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Nusantara dan pembimbing I yang
telah memberikan waktu, arahan, masukan, saran serta tambahan ilmu
dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini,
5. Ibu Yupi Yuliawati, S.Pd., MM selaku Pembimbing II yang mana beliau
telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, masukan, ilmu dan
bimbingan dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini.
6. Seluruh dosen beserta staff administrasi Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Nusantara.

vii
7. Orang Tua terutama Mamah yang sangat penulis cintai dan selalu berdoa
dan memotivasi penulis
8. Adik tersayang Pasha Habib Daulay yang selalu menjadi penyemangat
penulis
9. Ibu Liana dan Ramli Ferizal yang selalu mendukung, mengarahkan serta
memotivasi penulis dalam semua hal
10. Sahabat tersayang Bella Agustin yang meskipun jauh selalu mendukung
penulis
11. Sahabat tersayang dan terdekat Nadya Mariam Sari dan Yuni Nuraeni yang
selalu mendukung penulis dan berada disuka dan duka penulis.
12. Sahabat sejak SMP Retno Ariyanti dan Yulinar Triani yang telah menemani
penulis
13. Teman-teman ( Riri, Suci, Dian, Reicha, Adel ) yang telah ikut serta
membantu dan mendukung penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
14. Teman-teman Fakultas Ekonomi Angkatan Tahun 2015 khususnya kelas
reguler B untuk semua suka dan duka selama kuliah.
15. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, atas dukungan dan
bantuan yang telah diberikan dalam penyusunan skripsi.
Dalam menulis skripsi, penulis menyadari masih banyak terdapat
kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu dengan kerendahan hati, penulis
mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak guna penulis jadikan sebagai
bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas diri dimasa yang akan datang.
Akhir kata, dengan segala kerendahan hati penulis ucapkan terima
kasih yang tidak terhingga pada semua pihak yang terlibat, dengan
harapan semoga penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bandung,17 Juli 2019

Penulis

viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ........................................................... iii
PERNYATAAN INTEGRITAS .......................................................................... iv
ABSTRAK ............................................................................................................. v
ABSTRACT ........................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ......................................................................................... vii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL............................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 11
1.3 Maksud & Tujuan Penelitian ......................................................... 12
1.3.1 Maksud Penelitian .......................................................................... 12
1.3.2 Tujuan Penelitian ........................................................................... 13
1.4 Kerangka Penelitian ...................................................................... 14
1.5 Jadwal Penelitian........................................................................... 18
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 19
2.1 TAM (Technology Acceptance Model) ......................................... 19
2.1.1 Persepsi Manfaat ........................................................................... 20
2.1.1.1 Indikator Persepsi Manfaat ........................................................... 21
2.1.2 Persepsi Kemudahan Penggunaan................................................. 22
2.1.2.1 Indikator Persepsi Kemudahan Penggunaan ................................. 23
2.2 Persepsi Risiko .............................................................................. 24
2.2.1 Indikator Persepi Risiko ................................................................ 25
2.3 Repurchase Intention..................................................................... 26
2.3.1 Indikator Repurchase Intention ..................................................... 27
2.4 Definisi Financial Technology (Fintech) ...................................... 28
2.4.1 Jenis-Jenis Fintech ........................................................................ 29
2.5 Hubungan Antar Variabel ............................................................. 31
2.5.1 Hubungan Antara Persepsi Manfaat dengan Repurchase
Intention......................................................................................... 31

ix
2.5.2 Hubungan Antara Persepi Kemudahan Penggunaaan Dengan
Repurchase Intention ..................................................................... 32
2.5.3 Hubungan Antara Persepsi Risiko Dengan Repurchase Intention 32
2.6 Penelitian Terdahulu ..................................................................... 33
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 34
3.1 Jenis Penelitian ............................................................................. 34
3.1.1 Variabel Penelitian ....................................................................... 34
3.1.2 Operasionalisasi Variabel............................................................. 36
3.2 Populasi dan Sampel .................................................................... 37
3.2.1 Populasi ........................................................................................ 37
3.2.2 Sample .......................................................................................... 37
3.3 Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 38
3.3 Analisis Data ................................................................................ 39
3.4 Uji Asumsi Klasik ........................................................................ 40
3.4.1 Uji Normalitas .............................................................................. 41
3.4.2 Uji Multikolinearitas .................................................................... 41
3.4.3 Uji Heterokedastisitas .................................................................. 42
3.4.4 Uji Autokolerasi ........................................................................... 42
3.4.5 Uji Linearitas................................................................................ 43
3.5 Analisis Deskriptif ....................................................................... 44
3.6 Rancangan Pengujian Hipotesis ................................................... 45
3.6.1 Analisis Regresi Linier Sederhana ............................................... 45
3.6.2 Anlisis Regresi Linier Berganda .................................................. 45
3.6.3 Korelasi sederhana ....................................................................... 46
3.6.4 Korelasi Ganda ............................................................................. 47
3.6.5 Koefisien Determinasi .................................................................. 48
3.6.6. Uji t............................................................................................... 49
3.6.7. Uji F ............................................................................................. 49
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 51
4.1 Sejarah Singkat PT. Gojek Indonesia.......................................... 51
4.1.1 Visi dan Misi ............................................................................... 53
4.2 Profil Responden ......................................................................... 54
4.2.1 Profil Responden Menurut Jenis Kelamin dan Usia ................... 55
4.2.2 Profil Responden Menurut Pendidikan ....................................... 56

x
4.2.3 Profil Responden Menurut Pekerjaan dan Jumlah Pengeluaran
Perbulan....................................................................................... 57
4.3 Analisis Data ................................................................................ 58
4.3.1 Uji Validitas ................................................................................. 58
4.3.2 Uji Reliabilitas ............................................................................. 62
4.4 Uji Asumsi Klasik ........................................................................ 64
4.4.1 Uji Normalitas Data ..................................................................... 65
4.4.2 Uji Multikolinearitas .................................................................... 66
4.4.3 Uji Heterokedastisitas .................................................................. 67
4.4.4 Uji Autokorelasi ........................................................................... 68
4.4.5 Uji Linearitas................................................................................ 68
4.5 Analisa Deskriptif ........................................................................ 69
4.5.1 Indikator Variabel Persepsi Manfaat............................................ 70
4.5.1.1 Dengan Menggunakan Go-Pay Transaksi Pembayaran Menjadi
Lebih Cepat ................................................................................. 70
4.5.1.2 Transaksi Menggunakan Go-Pay Tidak Bertele-Tele ................. 71
4.5.1.3 Go-Pay Memberikan Ketelitian Nominal Dalam Bertransaksi
Yang Lebih Baik ......................................................................... 72
4.5.1.4 Menggunakan Go-Pay Menghemat Waktu Saya ........................ 73
4.5.1.5 Go-Pay Mempermudah Saya Saat Bertransaksi ......................... 74
4.5.1.6 Go-Pay Lebih Efisien Dibanding Tunai...................................... 74
4.5.1.7 Layanan Go-Pay Sangat Bermanfaat Untuk Bertransaksi .......... 75
4.5.1.8 Go-Pay Praktis Untuk Digunakan ............................................... 76
4.5.2 Variabel Persepsi Kemudahan Penggunaan ................................ 78
4.5.2.1 Sistem Kerja Go-Pay mudah saya mengerti................................ 78
4.5.2.2 Cara Penggunaan Go-Pay Mudah Saya Pahami ......................... 79
4.5.2.3 Go-Pay Selalu Berfungsi Dengan Baik Saat Saya Melakukan
Transaksi Pembayaran ................................................................ 80
4.5.2.4 Menggunakan Go-Pay Mengendalikan Perilaku Saya Saat
Bertransaksi ................................................................................. 80
4.5.2.5 Go-Pay Menampilkan Setiap Menu Pada Aplikasi Dengan
Jelas ............................................................................................. 81
4.5.2.6 Saya Tahu Setiap Menu Yang Ada Pada Layanan Go-Pay ........ 82
4.5.2.7 Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Mudah Dibawa
Kemanapun ................................................................................. 83

xi
4.5.2.8 Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Dapat Digunakan
Kapan Saja ................................................................................ 84
4.5.2.9 Outlet Yang Melayani Transaksi Menggunakan Go-Pay
Dekat Dengan Tempat Tinggal Saya ........................................ 84
4.5.2.10 Sudah Banyak Outlet Yang Menerima Transaksi
Menggunakan Go-Pay .............................................................. 85
4.5.3 Indikator Variabel Persepsi Risiko............................................ 87
4.5.3.1 Saya Tidak Bisa Bertransaksi Saat Layanan Go-Pay Error ...... 88
4.5.3.2 Saya Merasa Membutuhkan Koneksi Internet Yang Stabil
Ketika Menggunakan Go-Pay.................................................. 88
4.5.3.3 Biaya Admin Go-Pay Merugikan Saya Secara Finansial ......... 88
4.5.3.4 Saldo Go-Pay Yang Membuat Uang Saya Tertahan Dan
Menimbulkan Kerugian ............................................................ 90
4.5.3.5 Mengisi Go-Pay Saat Akan Melakukan Transaksi
Pembayaran Menghabiskan Waktu Saya .................................. 90
4,5.4 Variabel Repurchase Intention .................................................. 92
4.5.4.1 Saya Akan Menggunakan Go-Pay Kembali Saat Melakukan
Transaksi Pembayaran .............................................................. 92
4.5.4.2 Go-Pay Merupakan Pilihan Saya Jika Saya Akan Ber-
transaksi Lagi ............................................................................ 94
4.5.4.3 Saya Akan Merekomendasikan Teman/Saudara Untuk
Menggunakan Go-Pay .............................................................. 94
4.5.4.4 Saya Akan Memberitahukan Teman/Saudara Untuk
Menggunakan Go-Pay .............................................................. 95
4.5.4.5 Saya Memilih Go-Pay Sebagai Pilihan Utama Dalam
Melakukan Pembayaran Dibandingkan Tunai Maupun
Financial Technology Berjenis Payment Lainnya .................... 95
4.5.4.6 Saya Akan Menggunakan Go-Pay Saat Melakukan Transaksi
Pembayaran Apapun ................................................................. 96
4.6 Rancangan Pengujian Hipotesi ................................................. 98
4.6.1 Analisis Regresi Linier Berganda ............................................. 99
4.6.2 Uji t.......................................................................................... 101
4.6.2.1 Pengaruh Persepsi Manfaat Terhadap Repurchase Intention
Pengguna Layanan Fintech Go-Pay Di Kota Bandung ......... 102
4.6.2.2 Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan Terhadap
Repurchase Intention Pengguna Layanan Fintech Go-Pay
Di Kota Bandung .................................................................... 102
4.6.2.3 Pengaruh Persepsi Risiko Terhadap Repurchase Intention
Pengguna Layanan Fintech Go-Pay Di Kota Bandung ......... 103

xii
4.6.3 Uji F .......................................................................................... 103
4.6.4 Koefisien Determinasi ............................................................... 104
4.7 Pembahasan Hasil Penelitian .................................................... 105
4.7.1 Pengaruh Persepsi Manfaat Terhadap Repurchase Intention
Pengguna Fintech Go-Pay di Kota Bandung ............................ 106
4.7.2 Pengaruh Persepsi Kemudahan Terhadap Repurchase Intention
Pengguna Fintech Go-Pay di Kota Bandung ............................ 107
4.7.4 Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan Penggunaan,
Persepsi Risiko Terhadap Repurchase Intention....................... 108
BAB V KESIMPULAN..................................................................................... 111
5.1 Kesimpulan................................................................................ 111
5.2 Saran ......................................................................................... 112
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................114
LAMPIRAN ...................................................................................................... 114

xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jadwal Penelitian................................................................................ 18
Tabel 1.2 Penelitian Terdahulu .......................................................................... 33
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel .................................................................. 36
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian ............................................................................... 44
Tabel 4.1 Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ............................................. 55
Tabel 4.2 Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan .................................... 56
Tabel 4.3 Pekerjaan dan Jumlah Pengeluaran Perbulan..................................... 57
Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas X1 ........................................................................ 59
Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas X2 ........................................................................ 60
Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas X3 ........................................................................ 61
Tabel 4.7 Hasil Uji Validitas Y .......................................................................... 61
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas X1 .................................................................... 62
Tabel 4.9 Hasil Uji Reliabilitas X2 .................................................................... 63
Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas X3 .................................................................... 63
Tabel 4.11 Hasil Uji Reliabilitas Y ...................................................................... 64
Tabel 4.12 Uji Normalitas Data ........................................................................... 65
Tabel 4.13 Uji Multikolinearitas .......................................................................... 66
Tabel 4.14 Uji Spearman...................................................................................... 67
Tabel 4.15 Uji Autokolerasi ................................................................................. 68
Tabel 4.16 Uji Linearitas X1*Y ........................................................................... 68
Tabel 4.17 Uji Linearitas X2*Y ........................................................................... 69
Tabel 4.18 Uji Linearitas X3*Y ........................................................................... 69
Tabel 4.19 Dengan Menggunakan Go-Pay Transaksi Pembayaran
Menjadi Lebih Cepat .......................................................................... 70
Tabel 4.20 Transaksi Menggunakan Go-Pay Tidak Bertele-Tele........................ 71
Tabel 4.21 Go-Pay Memberikan Ketelitian Nominal Dalam Bertransaksi Yang
Lebih Baik .......................................................................................... 72
Tabel 4.22 Menggunakan Go-Pay Menghemat Waktu Saya ............................... 73
Tabel 4.23 Go-Pay Mempermudah Saya Saat Bertransaksi ............................... 74
Tabel 4.24 Go-Pay Lebih Efisien Dibanding Tunai............................................ 74
Tabel 4.25 Layanan Go-Pay Sangat Bermanfaat Untuk Bertransaksi ................ 75
Tabel 4.26 Go-Pay praktis untuk digunakan ....................................................... 76
Tabel 4.27 Analisa Deskriptif Variabel Persepsi Manfaat .................................. 77

xiv
Tabel 4.28 Sistem Kerja Go-Pay Mudah Saya Mengerti ................................... 78
Tabel 4.29 Cara Penggunaan Go-Pay Mudah Saya Pahami .............................. 79
Tabel 4.30 Go-Pay Selalu Berfungsi Dengan Baik Saat Saya Melakukan
Transaksi Pembayaran ..................................................................... 80
Tabel 4.31 Menggunakan Go-Pay Mengendalikan Perilaku Saya Saat
Bertransaksi ..................................................................................... 80
Tabel 4.32 Go-Pay Menampilkan Setiap Menu Pada Aplikasi Dengan Jelas ... 81
Tabel 4.33 Saya Tahu Setiap Menu Yang Ada Pada Layanan Go-Pay ............. 82
Tabel 4.34 Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Mudah
Dibawa Kemanapun ......................................................................... 83
Tabel 4.35 Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Dapat Digunakan
Kapan Saja ....................................................................................... 84
Tabel 4.36 Outlet Yang Melayani Transaksi Menggunakan Go-Pay Dekat
Dengan Tempat Tinggal Saya .......................................................... 84
Tabel 4.37 Sudah Banyak Outlet Yang Menerima Transaksi Menggunakan
Go-Pay ............................................................................................. 85
Tabel 4.38 Analisa Deskriptif Variabel Persepsi Kemudahan Penggunaan ...... 86
Tabel 4.39 Saya Tidak Bisa Bertransaksi Saat Layanan Go-Pay Error ............ 87
Tabel 4.40 Saya Merasa Membutuhkan Koneksi Internet Yang Stabil Ketika
Menggunakan Go-Pay ..................................................................... 88
Tabel 4.41 Biaya Admin Go-Pay Merugikan Saya Secara Finansial ................ 89
Tabel 4.42 Saldo Go-Pay Yang Membuat Uang Saya Tertahan Dan
Menimbulkan Kerugian ................................................................... 90
Tabel 4.43 Mengisi Go-Pay Saat Akan Melakukan Transaksi Pembayaran
Menghabiskan Waktu Saya ............................................................. 91
Tabel 4.44 Analisa Deskriptif Persepsi Risiko .................................................. 92
Tabel 4.45 Saya Akan Menggunakan Go-Pay Kembali Saat Melakukan
Transaksi Pembayaran ..................................................................... 93
Tabel 4.46 Go-Pay Merupakan Pilihan Saya Jika Saya Akan
Bertransaksi Lagi ............................................................................. 93
Tabel 4.47 Saya Akan Merekomendasikan Teman/Saudara Untuk
Menggunakan Go-Pay ..................................................................... 94
Tabel 4.48 Saya Akan Memberitahukan Teman/Saudara Untuk
Menggunakan Go-Pay ..................................................................... 95
Tabel 4.49 Saya Memilih Go-Pay Sebagai Pilihan Utama Dalam Melakukan
Pembayaran Dibandingkan Tunai Maupun Financial Technology
Berjenis Payment Lainnya ............................................................... 96

xv
Tabel 4.50 Saya Akan Menggunakan Go-Pay Saat Melakukan Transaksi
Pembayaran Apapun ........................................................................ 97
Tabel 4.51 Analisa Deskriptif Repurchase Intention ......................................... 97
Tabel 4.52 Koefisien X1,X2,X3 Terhadap Y .................................................... 99
Tabel 4.53 Model Summary X1,X2,X3 Terhadap Y ....................................... 101
Tabel 4.54 Output Uji t .................................................................................... 101
Tabel 4.55 Output Uji F ................................................................................... 104
Tabel 4.56 Output Koefisien Determinasi ...................................................... 105

xvi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Data Pengguna Fintech Lending 2018 .............................................3


Gambar 1.2 Data Pengguna Fintech Payments ................................................... 4
Gambar 1.3 Paradigma Penelitian ..................................................................... 17

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Gaya hidup bermasyarakat di Indonesia saat ini telah didominasi oleh

pengguna teknologi informasi sebagai tuntutan hidup yang serba cepat. Bahkan

teknologi informasi ini telah memberikan perubahan baik dibidang sosial, ekonomi,

maupun budaya. Perkembangan teknologi yang semakin maju juga berpengaruh pada

bidang finansial. Dalam era sekarang sangat penting bagi perekonomian untuk

memberikan inovasi teknologi kedalamnya agar masyarakat pengguna ekonomi

digital dapat dengan mudah melakukan transaksi secara efektif dan efisien. Saat ini

telah hadir inovasi finansial dibidang jasa dengan sentuhan teknologi modern yang

disebut Financial Technology (fintech)

Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 fintech merupakan

penggunaan teknologi sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan,

teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter,

stabilitas sistem keuangan, efisiensi, kelancaran, keamanan dan keandalan sistem

pembayaran. Tercatat, ada beberapa jenis layanan yang termaktub dalam fintech

seperti Payments, Clearing & Settlements Deposits, Lending & Capital Raising,

Market Provisioning, dan Investment Management. Di Indonesia, pengguna fintech

terus bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan hasil survey DailySocial id pada tahun

1
2

2018 dari 1419 responden, 58.14% diantaranya adalah fintech users, sisanya adalah

non users. Angka ini bertambah dari tahun 2016 yang hanya 18,46% users.

Payments dan Lending & Capital Raising merupakan jenis fintech yang paling

populer di Indonesia. Hingga hari ini, terdapat 33 perusahaan pemegang izin fintech

berjenis Payments, khususnya perusahaan penerbit uang elektronik. Sementara itu,

ada 73 perusahaan pemegang izin fintech berjenis Lending & Capital Raising.

Keberadaan fintech, mengubah perilaku masyarakat bertransaksi. Untuk

bertransaksi keuangan misalnya, alih-alih menggunakan cara konservatif dengan

memanfaatkan layanan transfer perbankan seperti yang dilakukan generasi "lama",

masyarakat masa kini populer menggunakan layanan Payments, yang terbentuk

melalui dompet digital atau uang elektronik sebagai dorongan dari masyarakat dan

regulator “cash less society”. Cash less Society berarti di masa depan masyarakat

cenderung melakukan transaksi keuangan sehari-hari secara non-tunai sebagai

revolusi gaya hidup di era ekonomi digital.

Dalam hitung-hitungan Bank Indonesia, di tahun 2017 silam, terakumulasi

transaksi uang elektronik senilai Rp 12,3 Triliun. Jumlah tersebut meningkat 43

persen dibanding setahun sebelumnya yakni berada di angka $7 Triliun. Adapun,

total transaksi di tahun 2018 diprediksi lebih tinggi dibandingkan 2017. Pada bulan

November 2018 saja, telah tercatat transaksi uang elektronik senilai Rp 5,2 Triliun.

Pada fintech berjenis lending atau pembiayaan, data dari Otoritas Jasa Keuangan

(OJK) menyebutkan bahwa uang sebesar Rp16 Triliun telah dipinjam masyarakat

memanfaatkan layanan fintech pada Oktober 2018 saja. Angka itu meningkat dari

2
3

Rp.14 Triliun sebulan sebelumnya. 84% dari pinjaman tersebut berasal dari transaksi

di Pulau Jawa dan sisanya 14% diluar Pulau Jawa. Ini berarti masyarakat pulau Jawa

cenderung lebih memanfaatkan fintech berjenis pembiayaan daripada masyarakat di

pulau lainnya (OJK, 2018)

Gambar 1.1
Data Pengguna Fintech Lending 2018
Sumber: (OJK, 2018)

Sedangkan fintech berjenis payments di Indonesia, mulai dari Go-Pay, OVO,

Dana, Paytren, LinkAja dll kini tengah menggunakan strategi ”Bakar Uang” di

restaurant, ritel, toko klontong, kedai, e-commerce dll untuk berlomba-lomba

memikat hati para pengguna layanan pembayaran digital.

Dari survei yang dilakukan oleh DailySocial id (2018) melibatkan 825

responden, secara peringkat pengguna Go-Pay berada di urutan pertama sebesar

79,39%, disusul oleh OVO 58.42%, Tcash 55,52%, Dana 34,18%, PayTren 19,27%,

3
4

lain-lain 0,97%, dan 3,70% sisanya tidak menggunakan e-money. Ini berarti dari 825

responden terdapat responden yang menggunakan lebih dari satu e-money.

Gambar 1.2

Data Pengguna Fintech Berjenis Payments di Indonesia

Sumber: DailySocialid (2018)

Namun diantara beberapa fintech berjenis payments diatas, yang paling

mendominasi pemberitaan akhir-akhir ini adalah Go-Pay & OVO. Hampir di semua

merchant yang menawarkan promo, Go-Pay dan OVO berlomba-lomba untuk

memberikan promo terbaik agar pelanggan tertarik.

Go-Pay saat ini menguasai fintech Indonesia dibidang payments. Layanan ini

berasal dari aplikasi Go-Jek yang merupakan pencetus layanan transportasi online di

4
5

Indonesia mulai dari transportasi orang, pengiriman barang/paket/dokumen, pesan

antar makanan, dan lain-lain yang bentuk transaksinya menggunakan tunai maupun

nontunai. Layanan non tunai inilah yang diperkenalkan Go-Jek dengan nama Go-Pay.

Go-Pay merupakan uang elektronik atau dompet digital atau dompet virtual berupa

saldo GO-JEK dan dapat digunakan untuk membayar berbagai layanan GO-JEK (Go-

jek.com). Semula layanan ini diberi nama Gojek Credit kemudian diperbaharui pada

tahun 2016 dan berubah nama menjadi Go-Pay. Berkat keberhasilan dalam

mendorong transaksi nontunai melalui fitur dompet digital, Bank Indonesia telah

menobatkan Go-Jek sebagai Perusahaan Fintech Teraktif Pendukung Gerakan

Nasional Non Tunai (GNNT) Inklusi dan Edukasi Keuangan serta Pemberdayaan

UMKM Tahun 2017.

Dalam putaran pendanaan tahap pertama Seri F, Go-Jek mengumumkan

beberapa data-data keuangan. Dalam rilis perusahaan tertanggal 1 Februari 2019,

sepanjang tahun 2018, gross transaction value (GTV) atau transaksi pengguna di Go-

Jek mencapai US$9 Miliar atau setara Rp 125 Triliun. Ini adalah transaksi di seluruh

pasar di mana Go-Jek beroperasi. Adapun transaksi penggunaan Go-Pay mencapai

US$6,3 Miliar atau setara Rp 87 Triliun. Angka ini setara dengan 69,6% dari

transaksi keseluruhan Go-Jek.

Selain itu adapun pesaing utama Go-Pay adalah OVO yang merupakan fintech

payment milik perusahaan grup Lippo. OVO merupakan pesaing Go-Pay yang paling

kuat. Harianto Gunawan, Director OVO mengungkapkan bahwa OVO mencatat sejak

Nopember 2017 hingga Desember 2018, basis pengguna OVO telah tumbuh lebih

5
6

dari 400% dengan transaksi besar di sektor transportasi, ritel, dan e-commerce.

Kerjasama dengan Grab, penyedia layanan ride hailing terdepan di Asia Tenggara,

dan Tokopedia, e-commerce terkemuka di Indonesia, menjadikan OVO sebagai

platform pembayaran digital pertama di Indonesia yang diterima dijaringan ritel,

warung, e-commerce, hingga jasa online dan on-demand, dengan lebih dari 500,000

gerai offline. OVO semakin memperkuat posisinya sebagai platform fintech terdepan

di Indonesia. Di bulan Oktober dan November 2018, OVO telah mencatatkan

pertumbuhan jumlah merchant lebih dari 70%. Menutup tahun 2018, OVO menjadi

platform pembayaran digital dengan total volume pembayaran terbesar, dan terluas

dengan menjangkau 98% wilayah di Indonesia.

Tahun 2018, OVO juga berfokus untuk mengembangkan Quick Responce

Code (QR Code). QR Code adalah suatu jenis kode matriks atau kode batang dua

dimensi untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respons yang

cepat pula (Wikipedia, 2019). Dalam hal ini OVO mengembangkan QR Code untuk

mendukung pemberdayaan UMKM. Terhitung bulan Agustus 2018, total 9.000

UMKM telah bekerjasama dengan OVO. Saat ini pengguna OVO dapat melakukan

pembayaran di hampir 180.000 merchant UMKM di berbagai wilayah di Indonesia

dengan QR code.

Kuatnya perang digital antara Go-Pay dan OVO cukup membuat ketar-ketir

pesaing lain sehingga membuat BUMN (Badan Usaha Milik Negara) meluncurkan

produk serupa dengan nama LinkAja yang dioperasikan oleh PT.Fintek Karya

Nusantara (FINARYA). FINARYA ini dibentuk oleh tujuh BUMN, yakni Telkomsel,

6
7

Bank BRI, Bank BNI, Bank BTN, Bank Mandiri, Pertamina, dan Asuransi Jiwasraya

untuk meramaikan pembayaran digital yang kini di kuasai oleh Go-Pay dan OVO.

Peleburan ini patut diwaspadai karena LinkAja memiliki pelanggan yang berasal dari

7 perusahaan BUMN dengan rincian T-cash 30 juta pelanggan, telkomsel, 200 juta

pelanggan, dan bank BUMN rata-rata memiliki jumlah nasabah diatas 10 juta orang

(www.Finance.detik.com, 2019). Ini berarti potensi customer base di lingkungan

BUMN cukup besar.

Jika dilihat dari statistik perkembangan beberapa fintech di atas, meskipun

Go-Pay disebut menguasai fintech di Indonesia namun Go-Pay harus mulai waspada

pada perkembangan OVO dan LinkAja yang kini mulai mengikuti strategi yang

dilakukan Go-Pay seperti memberikan diskon/cashback besar-besaran, memasuki

ranah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), juga dibidang layanan jasa

transportasi.

Berdasarkan hasil pra penelitian yang dilakukan penulis kepada 76 responden,

93,2% responden mengetahui layanan Go-Pay, 4,1% tidak mengetahui dan sisanya

menyatakan ragu-ragu. Meskipun sebagian besar responden mengaku mengetahui

Go-Pay, Namun hanya 17,3% yang menggunakan Go-Pay kembali sebagai alat

pembayaran dalam bertransaksi, 66,7% mengatakan tidak , sisanya mengatakan ragu-

ragu sebanyak 16%. Mengenai penggunaan fintech lain 64,4% mengaku

menggunakan OVO sebagai pilihan dalam bertransaksi, 15,1% menggunakan Flazz,

12,3% tidak menggunakan fintech lain dan sisanya lain-lain sebanyak 8,2%. Hal ini

menunjukkan fenomena meskipun sebagian besar mengetahui namun belum tentu

7
8

minat untuk menggunakan layanan Go-Pay. Dari fenomena Go-Pay dalam persaingan

bisnis, sebagian besar responden menggunakan lebih dari satu layanan fintech dalam

hal ini responden menggunakan layanan transaksi OVO. Dilihat dari statistik

pertumbuhan OVO (Tirto, 2018) OVO memang mengalami pertumbuhan signifikan

terutama sejak menggandeng Grab dan Tokopedia.

Beberapa masalah juga terjadi seiring perkembangan Go-Pay. Terdapat

fenomena dimana pengguna Go-Pay seringkali ditolak oleh pengemudi saat

membayar menggunakan Go-Pay karena pengemudi lebih membutuhkan uang tunai

untuk membeli bensin karena saat ini belum tersedianya pembayaran melalui

transaksi Go-Pay di Pom Bensin, beberapa mengaku mengalami hal tak mengenakan

dari pengemudi karena membayar layanan Go-jek menggunakan Go-Pay

(www.tribunnews.com, 2017). Belum lagi jika terjadinya error pada mesin-mesin

pembayaran Go-Pay yang mengakibatkan tidak dapat digunakannya layanan Go-Pay

dimana pengguna pada akhirnya harus membayar secara tunai sehingga hal tersebut

bisa menjadi faktor yang mengurangi minat masyarakat dalam menggunakan Go-Pay.

Selain itu, Go-Pay juga perlu memperhatikan masyarakat pengguna layanan

transaksi digital sebagai konsumen. Mengingat tengah terjadinya transisi atau

perubahan sistem lama (transaksi tradisional) ke sistem baru (fintech) dimana transisi

ini perlu memerlukan proses yang bagi banyak pengguna menimbulkan konflik dan

kecemasan terhadap risiko-risiko yang mungkin dihadapi jika menggunakan layanan

Go-Pay dalam proses adaptasinya. Kondisi ini sesuai dengan apa yang dinyatakan

oleh Compeau dan Higgins (1995) bahwa tahapan kritis dalam penerapan sebuah

8
9

sistem teknologi informasi adalah kondisi dimana kehadiran sistem tersebut diterima

atau ditolak oleh calon pengguna.

Mengacu pada teori Technlogy Acceptance Model (TAM), keefektifan e-

money dapat dilihat dari tingkat sikap penggunanya. Menurut Davis (1989) TAM

mempunyai 2 faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan penggunaan terhadap

teknologi yaitu persepsi pengguna terhadap manfaat dari teknologi dan persepsi

kemudahan dalam menggunakannya. Persepsi manfaat adalah tingkatan sejauh mana

seseorang berkeyakinan bahwa menggunakan sistem tertentu akan meningkatkan

prestasi kerjanya, sedangkan persepsi kemudahan mengacu pada tingkatan sejauh

mana seseorang percaya bahwa menggunakan sistem tertentu akan menjadikan lebih

ringan (Davis, 1989: 320).

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat ulang penggunaan terhadap layanan

Go-Pay dilihat dari model TAM adalah berdasarkan persepsi manfaat dan persepsi

kemudahan. Penulis melakukan pra penelitian terhadap 76 responden. Hasilnya

berdasarkan persepi manfaat apakah Go-Pay bermanfaat terhadap kehidupan sehari-

hari hasilnya adalah 61,3% mengatakan ya, 5,3% mengatakan tidak, sedangkan

sisanya 33,3% mengatakan ragu-ragu, kemudian mengenai persepsi kemudahan

ketika responden ditanya mengenai apakah responden dapat mengoperasikan layanan

Go-Pay dengan mudah 84% responden menjawab ya, 4% menjawab tidak, sedangkan

sisanya 12% menyatakan ragu-ragu. Meskipun berdasarkan persepi manfaat dan

persepsi kemudahan menyatakan hasil yang positif namun berdasarkan hasil pra-riset

yang sama dalam pertanyaan apakah responden akan menggunakan Go-Pay kembali

9
10

saat melakukan transaksi pembayaran hanya 17,3% yang menjawab ya, 66,7%

menjawab tidak, sisanya mengatakan ragu-ragu sebanyak 16%.

Berdasarkan pra-riset ini dapat disimpulkan suatu fenomena dimana terjadi

gap antara teori dengan kenyataan. Penelitian terdahulu Ahmad dan Bambang (2014)

menyimpulkan bahwa persepsi manfaat menjadi faktor utama dalam minat ulang

nasabah untuk menggunakan layanan Internet Banking BRI, atau dapat dikatakan

semakin baik nilai manfaat dari layanan Internet Banking BRI maka semakin

menguatkan minat nasabah untuk menggunakan kembali layanan ini. Namun dalam

pra-riset ini justru menunjukan meskipun Go-Pay mempunyai nilai manfaat belum

tentu konsumen mempunyai minat ulang dalam menggunakan Go-Pay sebagai

pilihan untuk bertransaksi.

Kemudian berdasarkan persepsi kemudahan penggunaan, Har dan Eze (2011)

dalam penelitiannya memberikan hasil bahwa persepsi kemudahan berpengaruh

positif terhadap niat pembelian ulang secara online. Hasil tersebut menunjukkan

semakin baik persepsi kemudahan maka akan semakin positif niat pembelian ulang

secara online. Namun dalam pra-riset ini penulis kembali menemukan gap antara

teori dengan kenyataan. Meskipun responden mengakui kemudahan dalam

menggunakan layanan transaksi Go-Pay namun belum tentu menggunakan kembali

Go-Pay sebagai pilihan dalam bertransaksi.

Selain itu persepsi risiko juga merupakan faktor yang bisa mempengaruhi

minat penggunaan ulang konsumen dalam menggunakan Go-Pay. Pada tanggal 18

Maret 2019 sistem Go-Pay mengalami kendala teknis yang menyebabkan saldo

10
11

pengguna tidak bertambah setelah dilakukannya top-up (Jakarta.tribunnews.com,

2019). Ini merupakan risiko finansial yang mungkin terjadi jika menggunakan sistem

dalam melakukan transaksi. Keterlambatan masuknya merugikan pengguna sekaligus

pihak Go-Pay. Keterlambatan masuknya saldo sehingga tidak dapat digunakan untuk

melakukan pembayaran, memungkinkan pengguna pada akhirnya menggunakan

transaksi pembayaran lain termasuk menggunakan layanan transaksi pesaing Go-Pay.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tho, N. X., Lai, M.-T., & Yan, H.

(2017) menunjukkan bahwa risiko yang dirasakan pasar telekomunikasi Vietnam

berpengaruh signifikan dan negatif terhadap niat pembelian kembali. Temuan ini

konsisten dengan penelitian sebelumnya di industri lain (Schiffman & Kanuk, 2010;

Tho & Tuu, 2012; Zhang et al., 2012), yang telah menunjukkan bahwa pelanggan

sekali mendapat persepsi risiko dari suatu produk atau layanan, mereka tidak akan

berniat untuk membeli lagi. Dengan kata lain, semakin konsumen merasa berisiko,

semakin kecil kemungkinan konsumen akan melakukan pembelian atau memiliki niat

untuk membeli kembali barang atau jasa tersebut.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis akan melakukan

penelitian untuk mencari pengaruh faktor –faktor yang mempengaruhi terhadap minat

penggunaan ulang layanan teknologi finansial Go-Pay dengan memasukan variabel

berdasarkan model TAM yaitu persepsi manfaat, persepsi kemudahan ditambah

dengan variabel persepi risiko.

11
12

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti merumuskan masalah

sebagai berikut :

1. Bagaimana persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, persepsi risiko

dan repurchase intention pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay

di Kota Bandung.

2. Bagaimana pengaruh persepsi manfaat terhadap repurchase intention pengguna

dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

3. Bagaimana pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap repurchase

intention pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota

Bandung.

4. Bagaimana pengaruh persepsi risiko secara terhadap repurchase intention

pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

5. Bagaimana pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, persepsi

risiko secara simultan terhadap repurchase intention pengguna dalam

menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

1.3 Maksud & Tujuan Penelitian

Adapun maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai

berikut:

12
13

1.3.1 Maksud Penelitian

Penelitian ini mempunyai maksud sebagai berikut :

1. Maksud Teoritis

Penelitian ini untuk memperoleh data atau informasi yang relevan dengan

variabel-variabel penelitian sesuai dengan judul penelitian ini “Analisis Pengaruh

Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan Penggunaan, Persepsi Risiko Terhadap

Repurchase Intention Pengguna Dalam Menggunakan Layanan Financial Technology

(Studi Kasus Layanan Go-Pay “Gojek” Di Kota Bandung)“

2. Maksud Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi manajemen Go-Jek

dalam meningkatkan minat penggunaan ulang layanan Go-Pay berdasarkan persepsi

manfaat, persepsi kemudahan dan persepsi risiko layanan fintech Go-Pay “Go-Jek” di

kota Bandung.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan,

persepsi risiko dan repurchase intention pengguna dalam menggunakan

layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

2. Untuk mengetahui pengaruh persepsi manfaat terhadap repurchase intention

pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

13
14

3. Untuk mengetahui pengaruh kemudahan penggunaan terhadap repurchase

intention pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota

Bandung.

4. Untuk mengetahui pengaruh persepsi risiko terhadap repurchase intention

pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

5. Untuk mengetahui pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan

penggunaan, dan persepsi risiko secara simultan terhadap repurchase intention

pengguna dalam menggunakan layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

1.4 Kerangka Penelitian

Perceived Usefulness (persepsi manfaat) didefinisikan sebagai suatu tingkat

atau keadaan dimana seseorang yakin bahwa dengan menggunakan sistem tertentu

akan meningkatkan kinerjanya. Wibowo (2008:10-20) dalam Shomad dan

Purnomosidhi (2012) menjelaskan bahwa persepsi kegunaan merupakan persepsi

terhadap kemanfaatan yang didefinisikan sebagai suatu ukuran yang mana

penggunaan suatu teknologi dipercaya akan mendatangkan manfaat bagi orang yang

menggunakannya. Pengukuran konstruk manfaat (usefulness) menurut (Davis 1989)

terdiri dari: 1). Menjadikan pekerjaan lebih cepat (work more quickly), 2).

Bermanfaat (useful), 3). Menambah produktivitas (increase productivity), 4).

Meningkatkan efektivitas (enchance efectiveness), dan 5). Mengembangkan kinerja

pekerjaan (improve job performance).

14
15

Menurut Adiyanti (2015) manfaat produk baru yang banyak akan

meningkatkan minat pengguna dalam bertransaksi menggunakan e-money, ketika

produk baru tersebut sangat bermanfaat dalam penggunaannya, maka akan banyak

pengguna yang semakin minat dan tertarik dalam menggunakan produk baru ini, baik

yang dikeluarkan oleh perbankan maupun non-bank. Hasil ini didukung oleh Shomad

dan Purnomosidhi (2012), Indriastuti dan Wicaksono (2014), dan Yutadi dan Haris

(2014) yang menunjukkan bahwa persepsi manfaat menjadi faktor yang

dipertimbangkan pada pelanggan untuk menggunakan e-money.

Davis (1989) mendefinisikan persepsi kemudahan penggunaan sebagai

bentuk di mana orang percaya bahwa teknologi informasi dapat dengan mudah

dipahami. Davis (1989) juga memberikan kemudahan penggunaan sistem informasi

yang meliputi: mudah dipelajari dan mudah dioperasikan, mudah bekerja dengan apa

yang diinginkan oleh pengguna, dan menambah keterampilan dari klien atau

pelanggan. Dengan demikian, setiap biaya layanan e-money dirasakan mudah

digunakan oleh konsumen, maka biaya layanan kemudian akan diadopsi oleh

pelanggan dalam suatu transaksi.

Dengan demikian, setiap biaya layanan e-money yang dirasa mudah

digunakan oleh konsumen, maka biaya layanan kemudian akan diadopsi oleh

pelanggan dalam suatu transaksi. Seperti yang diungkapkan Davis dalam Jogiyanto,

(2007: 115) jika seseorang merasa atau meyakini bahwa sistem teknologi informasi

mudah digunakan maka ia akan menggunakannya. Sebaliknya, apabila seseorang

merasa atau percaya bahwa sistem teknologi informasi tidak mudah digunakan, ia

15
16

tidak bisa menggunakannya. Hal ini sesuai dengan analisis yang dilakukan oleh

Adiyanti (2015) dan Priambodo dan Prabawani (2016) untuk menunjukkan bahwa

kemudahan penggunaan merupakan faktor yang dipertimbangkan pelanggan untuk

menggunakan e-money.

Persepsi risiko merupakan suatu persepsi tentang ketidakpastian dan

konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan dari menggunakan produk atau

layanan. Pavlou (2003) menjelaskan bahwa terdapat dua bentuk ketidakpastian dalam

bertransaksi online, yaitu ketidakpastian perilaku dan ketidakpastian lingkungan.

Beberapa indikator yang yang digunakan untuk mengukur persepsi risiko menurut

Pavlou (2003:77) sebagai berikut: 1) Berupa adanya risiko tertentu, 2) Mengalami

kerugian, 3) Pemikiran bahwa berisiko (Priambodo and Prabawani 2016). Hasil

wawancara mendalam juga mempertimbangkan keamanan dan risiko sebagai salah

satu alasan mengapa mereka menggunakan e-money. Variabel ini diteliti sebagai

salah satu faktor yang mempengaruhi sikap konsumen terhadap penggunaan e-money

(Miliani, Purwanegara, and Indriani 2013).

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa persepsi risiko

berpengaruh negatif terhadap minat individu dalam menggunakan e-money, di

antaranya penelitian yang dilakukan oleh Miliani, Purwanegara, dan Indriani (2013),

Priambodo dan Prabawani (2016), dan Priyono (2017).

Penelitian ini menggunakan Model TAM yang dikemukakan oleh Davis

(1989) sebagai dasar dari penelitian. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu

persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, dan persepsi risiko dengan

16
17

variabel independen yaitu repurchase intention. Untuk lebih jelasnya pengaruh antara

variabel independen dengan variabel dependen dapat dilihat pada gambar paradigma

penelitian berikut :

Gambar 1.3
Paradigma Penelitian

Berdasarkan paradigma pada gambar 1.3, maka hipotesis yang diiajukan adalah:

H1 : Terdapat pengaruh positif dan signifikan persepsi manfaat terhadap

repurchase intetion layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

H2 : Terdapat pengaruh positif dan signifikan persepsi kemudahan penggunaan

terhadap repurchase intetion layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

H3 : Terdapat pengaruh positif dan signifikan persepsi risiko terhadap

repurchase intetion layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

17
18

H4 : Terdapat pengaruh positif dan signifikan persepsi manfaat, persepsi

kemudahan penggunaan dan persepsi risiko terhadap repurchase intetion

layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.

1.5 Jadwal Penelitian

Penelitian dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan setiap siklus, dan

pembuatan laporan. Rencana jadwal penelitian dimulai minggu pertama pada tanggal

04 Maret sampai tanggal 01 bulan Mei 2019 di Kota Bandung.

Tabel 1.1
Jadwal Penelitian
No Kegiatan Maret April Mei
1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan √ √
Pelaksanaan
siklus I √
a. Perencanaan √
Tindakan
2 b.Pelaksanaan √
Tindakan √
Dan observasi
c. Analisis dan √
refleksi
Pelaksanaan
siklus II √
a. Perencanaan √
Tindakan
3 b. Pelaksanaan √
Tindakan
Dan observasi √
c. Analisis dan √
refleksi
Pembuatan
4 laporan √ √
Penelitian √ √ √ √ √ √ √

18
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 TAM (Technology Acceptance Model)

Technology Acceptance Model (TAM) TAM adalah teori sistem informasi

yang memodelkan penerimaan dan penggunaan teknologi. TAM yang dikemukakan

oleh Davis (Davis, 1989) merupakan perluasan dari Theory of Reasoned Action

(TRA) dan Theory of Planned Behavior (TPB). TAM mengajukan dua konstruk

teoritis, yaitu persepsi manfaat (PU) dan persepsi kemudahan penggunaan (PEOU)

sebagai penentu fundamental penerimaan pengguna dari suatu sistem informasi.

Tujuan TAM adalah untuk menjelaskan faktor-faktor utama dari perilaku pengguna

terhadap penerimaan pengguna teknologi. Secara lebih terinci menjelaskan tentang

penerimaan teknologi informasi dengan dimensi-dimensi tertentu yang dapat

mempengaruhi diterimanya

Gambar 2.1
Technology Acceptance Model (TAM)
Sumber: Google Picture

19
20

Fatmawati (2015) dan Handayani (2017) Konsep Technology Acceptance

Model (TAM), merupakan sebuah teori yang menawarkan landasan untuk

mempelajari dan memahami perilaku pemakai teknologi dalam menerima dan

menggunakan teknologi yang ditawarkan. Model TAM dikembangkan dari teori

psikologis, yang menjelaskan perilaku pengguna teknologi dengan berlandaskan

pada kepercayaan (belief), sikap (attitude), keinginan (intention), dan hubungan

perilaku pengguna (user behavior relationship).

2.1.1 Persepsi Manfaat

Persepsi manfaat adalah persepsi yang menjelaskan tentang tingkatan

sejauh mana pengguna dapat percaya bahwa dengan menggunakan sebuah

teknologi akan meningkatkan kinerjanya Davis (1989). Persepsi manfaat

(perceived usefulness) merupakan salah satu penentu yang kuat terhadap

penerimaan untuk menggunakan suatu teknologi dan perilaku para pengguna.

Kegunaan didefinisikan sebagai probabilitas subyektifitas individu yaitu, bahwa

dengan menggunakan teknologi tertentu akan meningkatkan kinerja pengguna.

Wibowo (2008) menjelaskan bahwa persepsi kegunaan merupakan

persepsi terhadap kemanfaatan didefinisikan sebagai suatu ukuran dimana

penggunaan suatu teknologi dipercaya akan mendatangkan manfaat bagi orang

yang menggunakannya.

Maka dapat disimpulkan bahwa persepsi manfaat adalah untuk mengukur

sejauh mana sejauh mana tingkat penerimaan untuk menggunakan suatu teknologi

tertentu akan meningkatkan kinerja atau manfaat bagi yang menggunakannya.

20
21

2.1.1.1 Indikator Persepsi Manfaat

Dalam model TAM, persepsi manfaat digunakan untuk mengukur

seberapa besar seorang pelanggan merasa bahwa suatu teknologi dapat berguna

bagi dirinya. Konsep ini juga menggambarkan manfaat teknologi bagi

pemakainya yang berkaitan dengan, berikut adalah indikator dari persepsi manfaat

(Davis,1989) :

1. Productivity Artinya dengan menggunakan teknologi akan meningkatkan

produktivitas kerja .

2. Work More Quickly artinya dengan menggunakan teknologi akan

mempercepat pekerjaan.

3. Job Performance artinya dengan menggunakan teknologi akan

meningkatkan performa (kinerja).

4. Effectiveness Artinya dengan menggunakan teknologi akan lebih

meningkatkan efektifitas.

5. Make Job Easier artinya dengan menggunakan teknologi maka akan

membuat suatu pekerjaan lebih mudah untuk dikerjakan .

6. Usefullness artinya teknologi sangat bermanfaat untuk digunakan.

Sebuah sistem dengan persepsi manfaat yang tinggi, dipercaya pelanggan

dapat memberikan hubungan “use-performance” yang positif. Chin dan Todd

(1995) mengemukakan beberapa indikator tentang kebermanfaatan (usefulness) TI

yang dibagi kedalam dua kategori, yaitu:

1. Kebermanfaatan dengan estimasi satu faktor meliputi dimensi:

a. Menjadikan pekerjaan lebih mudah

21
22

b. Bermanfaat

c. Menambah produktivitas

d. Mempertinggi efektivitas

e. Mengembangkan kinerja pekerjaan

2. Kebermanfaatan estimasi dua faktor meliputi dimensi :

a. Kebermanfaatan, meliputi dimensi:

- Menjadikan pekerjaan lebih mudah

- Bermanfaat

- Menambah produktivitas

b. Efektivitas, meliputi dimensi:

- Mempertinggi efektivitas

- Mengembangkan kinerja pekerjaan

2.1.2 Persepsi Kemudahan Penggunaan

Davis (1989) menyatakan bahwa persepsi kemudahan penggunaan

(perceived ease of use) merupakan sebuah tingkatan dimana seseorang percaya

bahwa penggunaan sistem tertentu, mampu mengurangi beban usaha dirinya

dalam mengerjakan sesuatu. Kemudahan Penggunaan diartikan sebagai

kepercayaan individu dimana jika mereka menggunakan sistem tertentu maka

akan bebas dari upaya (Mathieson, 1991).

Persepsi kemudahan penggunaan juga didefinisikan sebagai sejauh

mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas

dari usaha (Jogiyanto, 2007:115). Maka apabila seseorang percaya bahwa

suatu teknologi mudah untuk digunakan maka orang tersebut akan

22
23

menggunakannya. Sehingga variabel kemudahan ini memberikan indikasi

bahwa suatu sistem dibuat bukan untuk mempersulit pemakainya, namun

justru suatu sistem dibuat dengan tujuan memberikan kemudahan bagi

pemakainya. Frekuensi penggunaan dan interaksi antara pengguna (user) dengan

sistem juga mampu menunjukkan kemudahan penggunaan. Sistem yang lebih

sering digunakan menunjukan bahwa sistem tersebut lebih dikenal, lebih mudah

dioperasikan dan lebih mudah digunakan oleh penggunanya. Dengan demikian,

seseorang yang menggunakan suatu sistem tertentu akan bekerja lebih mudah

jika dibandingkan dengan seseorang yang bekerja secara manual.

Berdasarkan definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kepercayaan

suatu individu dimana bila mereka menggunakan teknologi tertentu maka akan

bebas dari segala usaha (effortless).

2.1.2.1 Indikator Persepsi Kemudahan Penggunaan

Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing indikator persepsi

kemudahan penggunaan (perceived ease of use) menurut Davis (1989) dan

Noviarni (2014):

a. Mudah dipelajari/dipahami (ease of learn) artinya konsumen dapat dengan

jelas memahami bagaimana mempelajari suatu teknologi.

b. Dapat dikontrol (controllable) artinya fasilitas dan fitur yang disediakan

dalam suatu teknologi berfungsi dengan baik.

c. Jelas dan dapat dipahami (clear and understandable) maksudnya fasilitas

atau fitur suatu teknologi sesuai dengan kegunaanya, fitur yang disajikan

lengkap dan tidak menimbulkan persepsi lain.

23
24

d. Fleksibilitas (flexible) adalah teknologi dapat dilakukan dengan tanpa

hambatan dan dapat dilakukan kapan saja tanpa terbatas oleh tempat dan

waktu.

e. Mudah dioperasikan/digunakan (easy to use) maskudnya melalui suatu

teknologi, semua dapat dilakukan dengan mudah dan dinamis, tidak

menimbulkan kesulitan dalam prosesnya.

2.2 Persepsi Risiko

Risiko yang dirasakan (perceived risk) adalah persepsi pelanggan

mengenai ketidakpastian hasil yang berkaitan dengan pencarian dan pemilihan

informasi mengenai produk atau layanan sebelum membuat keputusan

pembelian, apabila pelanggan menemukan perbedaan antara pengalaman

pembelian dan tujuan pembelian maka tingkat risiko yang dirasakan akan

semakin tinggi sehingga pelanggan dapat mengurangi bahkan menghentikan

konsumsi terhadap produk atau layanan tersebut (Kesharwani dan Bisht, 2012).

Schiffman dan Kanuk (2010) mendefinisikan risiko sebagai ketidakpastian

yang di hadapi oleh konsumen ketika mereka tidak dapat meramalkan dampak

dari keputusan pembelian mereka.

Beberapa konsumen cenderung merasakan tingkat risiko yang tinggi pada

berbagai situasi konsumsi; konsumen lain cenderung merasakan risiko yang kecil.

Risiko didefinisikan sebagai perkiraan subyektif konsumen untuk menderita

kerugian dalam menerima hasil diinginkan (Pavlou, 2001 : 58)

24
25

Berdasarkan beberapa definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa

persepsi risiko adalah persepsi karena ketidakpastian konsumen berkaitan dengan

keputusan pembelian namun hanya subyektifitas karena tingkat risiko antara

konsumen satu dan yang lain bisa berbeda.

2.2.1 Indikator Persepi Risiko

Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) di dukung oleh Hoyer, MacInnis,

dan Pieters (2013), dapat disimpulkan bahwa tipe risiko adalah sebagai berikut:

1. Physical risk yaitu adanya risiko yang mengancam kondisi fisik atau

keamanan atas pembelian produk/ layanan tersebut (contoh: lingkungan

properti merupakan lingkungan yang kurang aman/ berbahaya).

2. Performance risk yaitu risiko yang berkaitan dengan realita kinerja

produk/ layanan yang dibeli tidak sesuai dengan harapan. Maciejewski

(2012) menggunakan indikator kualitas pelayanan yang kurang baik dan

kurang puas terhadap kualitas produk.

3. Psychological risk yaitu risiko munculnya emosi negatif yang

mempengaruhi keadaan mental seseorang atas pembelian produk. Yeung

(2009) menggunakan indikator kemungkinan merasa stress dan khawatir

akibat risiko keselamatan yang mungkin menimpa konsumen. Indikator

tersebut juga digunakan oleh Jalilvand dan Samiei (2012), yaitu konsumen

khawatir akan keselamatan dan mengalami kekhawatiran yang berlebihan.

4. Financial risk yaitu risiko adanya kerugian finansial atas pembelian

produk/ layanan tersebut.

25
26

5. Time-loss risk yaitu risiko adanya waktu yang terbuang percuma akibat

proses pembelian produk.

6. Social risk adalah risiko akibat pembelian produk yang dianggap buruk

oleh lingkungan sosial konsumen, sehingga mengancam kedudukan sosial

konsumen. Jalilvand dan Samiei (2012) mengukur variabel social risk

melalui indikator keputusan pembelian yang dilakukan meningkatkan

harga diri/ tidak membuat orang lain memandang rendah.

2.3 Repurchase Intention

Niat beli ulang (repurchase intention) adalah keputusan konsumen untuk

terlibat dalam aktivitas di masa depan dengan seorang penyedia produk atau jasa

dan bentuk aktivitas tersebut di masa depan. Niat beli ulang juga dapat

didefinisikan sebagai hasil dari sikap (attitude) konsumen terhadap performa

barang atau jasa yang dikonsumsinya (Hume et al, 2007).

Tjiptono (2014:98) Niat beli ulang (repurchase intention) adalah

dimana konsumen akan berbelanja atau menggunakan lagi barang/jasa dalam

suatu perusahaan. Minat beli ulang adalah perilaku yang muncul sebagai

respon terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk

melakukan pembelian ulang (Kotler dan Keller, 2016:27).

Peter & Olson (2005) berpendapat bahwa intensi membeli suatu produk

didasari oleh sikap seseorang terhadap perilaku membeli produk tersebut.

Jika konsumen loyal terhadap suatu produk maka konsumen akan

mempunyai niat untuk melakukan repurchase intention, sebaliknya jika

26
27

konsumen tersebut tidak loyal maka konsumen tersebut tidak mempunyai niat

untuk melakukan repurchase intention (Kania,2015). Konsumen mengalami

moment of truth dalam pengalamannya melakukan pembelian untuk pertama

kali. Pada saat itu konsumen dapat secara mudah merasakan dan membedakan

kualitas yang diberikan suatu perusahaan terhadap suatu barang/jasa. Secara sadar

maupun tidak sadar, konsumen akan menilai apakah mereka ingin merasakan lagi

pengalaman tersebut atau tidak.

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa repurchase intention

adalah minat ulang pengguna untuk membeli suatu barang maupun jasa yang

muncul sebagai sikap di masa depan setelah melalui pengalaman saat pertama kali

membeli.

2.3.1 Indikator Repurchase Intention

Niat untuk membeli kembali (Repurchase Intention) suatu produk atau

jasa akan muncul ketika pelanggan merasa bahwa barang maupun jasa yang

pelanggan terima bisa memberikan kepuasan terhadap diri pelanggan tersebut.

Bila konsumen puas pada pembelian pertama, maka pada pembelian berikutnya

atau pembelian ulang, pengambilan keputusan tidak lagi memerlukan poses yang

rumit karena konsumen telah mengetahui secara mendalam mengenai merek,

(Tatik 2013:14).

` Menurut Hasan, Ali (2013:131), repurchase intention dapat diidentifikasi

melalui indikator sebagai berikut:

a. Minat transaksional: yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli

produk.

27
28

b. Minat referensial: yaitu kecenderungan seseorang untuk

mereferensikan barang/jasa yang telah digunakan kepada orang lain,

dengan referensi pengalaman konsumsinya.

c. Minat preferensial: yaitu minat yang menggambarkan perilaku

seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk, preferensi ini

hanya dapat diganti bila terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.

d. Minat eksploratif: minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang

selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan

mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk

yang sama.

2.4 Definisi Financial Technology (Fintech)

Menurut Kalmykova, Ekaterina dan Ryabova (2016), fintech merupakan

perpaduan antara teknologi dan fitur keuangan atau dapat juga diartikan inovasi

pada sektor finansial dengan sentuhan teknologi modern.

Berdasarkan Dorfleitner, Hornuf, Schmitt, & Weber (2017), fintech

merupakan industri yang bergerak dengan sangat cepat dan dinamis dimana

banyak model bisnis yang berbeda.

Berdasarkan Hsueh (2017), Teknologi Keuangan disebut sebagai fintech,

merupakan model layanan keuangan baru yang dikembangkan melalui inovasi

teknologi informasi. Maka menurut penulis, fintech adalah layanan yang

menggabungkan teknologi dan layanan finasial sebagai inovasi bisnis dari

teknologi modern.

28
29

2.4.1 Jenis-Jenis Fintech

Walaupun sering disebut sebagai ancaman bank dan lembaga keuangan

lainnya (Apriyani, 2016)., namun sebenarnya terdapat perbedaan fokus dari

keduanya. Dengan demikian, adanya fintech dirasa membawa dampak positif bagi

perekonomian secara makro. Acting Head of Financial Technology Bank

Indonesia (BI) Junanto Herdiawan mengungkapkan bahwa dengan semakin

membesarnya industri fintech, dibutuhkan klasifikasi dan regulasi yang

menaunginya. Dengan tujuan melindungi masyarakat dan memitigasi risiko,

Junanto menambahkan bahwa telah dibentuk BI Fintech Office sebagai bentuk

dukungan dan membuat kebijakan bagi industri muda tersebut.

Berikut adalah klasifikasi fintech menurut BI berdasarkan peraturan Bank

Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017:

1. Crowdfunding dan Peer to Peer (P2P) Lending

Klasifikasi pertama ini merupakan marketplace yang menjadi sarana

pertemuan pencari modal dan investor di bidang pinjaman. Dengan adanya

portal pinjaman yang mudah diakses kapan saja dan dimana saja, fintech bisa

menjangkau peminjam dan investor di seluruh Indonesia.

Crowdfunding dan Peer to Peer (P2P) Lending adalah konsep finansial yang

menggunakan bantuan teknologi informasi untuk menghadirkan layanan

pinjam meminjam uang dengan mudah, dimana penyedia hanya menyediakan

sarana yang memungkinkan pendana dan peminjam untuk melakukan proses

pinjam meminjam secara online.

29
30

Disebut Peer to Peer (P2P) karena sarana pinjam meminjam uang ini

disediakan bagi sesama pengguna awam. Dengan demikian jelas bahwa disini

fintech membantu menjangkau masyarakat yang belum terjangkau oleh

produk pinjaman dari bank. Oleh karena itulah, ini bisa disebut sebagai solusi

dari permasalahan keuangan konvensional. Kini industri fintech yang satu ini

sudah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga

aman dan nyaman untuk digunakan.

Adapun contoh perusahaan fintech dalam bidang ini antara lain adalah

Kredivo, Pinjam.Co, dll.

2. Market Aggregator

Market aggregator merupakan portal yang mengumpulkan dan mengoleksi

data finansial untuk disajikan kepada pengguna. Berbagai data finansial

tersebut dapat dibandingkan untuk memilih produk keuangan terbaik. Sebagai

contoh, saat ingin mencari produk KTA, pengguna bisa membandingkan

beberapa produk KTA untuk melihat kelebihan dan kekurangannya.

Dengan memanfaatkan jasa pembanding produk keuangan ini, pengguna bisa

mengambil keputusan finansial dengan lebih baik. Adapun beberapa contoh

situs yang mengutamakan jasa pembanding produk keuangan ini antara lain

adalah CekAja, Cermati dll.

3. Risk and Investment Management

Risk and Invesment Management merupakan perencana keuangan dalam

bentuk digital. Dengan kata lain, pengguna akan dibantu untuk mengetahui

kondisi keuangan serta melakukan perencanaan keuangan secara mudah dan

30
31

cepat. Disini pengguna tidak perlu lagi menghubungi perencana keuangan,

namun hanya perlu membuka aplikasi di smartphone dan mengisi data-data

terkait untuk mengetahui rencana keuangan yang tepat sesuai kebutuhan.

Beberapa contoh perusahaan fintech yang bergerak dalam bidang risk and

investment management adalah Jojonomic, Finansialku, NgaturDuit.

4. Payment, Settlement, and Clearing

Payment, settlement, dan clearing berada dalam ranah Bank Indonesia. Portal

pembayaran ini bertujuan untuk memudahkan dan mempercepat proses

pembayaran atau transaksi via online. Dengan demikian, masyarakat dalam

melakukan pembayaran melalui satu portal saja, misalnya via smartphone.

Beberapa contoh perusahaan fintech yang bergerak dalam bidang payment,

settlement, dan clearing adalah Go-Pay, OVO, Dana, LinkAja.

2.5 Hubungan Antar Variabel

Menurut Suryabrata (2013), variabel penelitian adalah faktor yang

berperan dalam peristiwa dan gejala-gejala yang akan diteliti. Dalam penelitian

ilmiah mencari hubungan antara variabel adalah sesuatu hal yang sangat penting

misalkan saja hubungan antar variabel bebas (Independen/pengaruh) dengan

variabel terikat (Dependen/terpengaruh).

2.5.1 Hubungan Antara Persepsi Manfaat dengan Repurchase Intention

Persepi Manfaat yang dirasakan oleh konsumen seperti menawarkan

berbagai produk akan membawa niat positif untuk membeli kembali (Bireswar,

2016) . Hasil penelitian ini juga konsisten dengan penelitian oleh Lee, Y.H. dan

31
32

Chang, E. (2011) dan Yulihasri (2011) yang menyimpulkan bahwa persepsi

manfaat adalah faktor penting dalam pembelian ulang secara online.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa konsumen yang mendapatkan

manfaat positif dari pembelian produk atau jasa cenderung melakukan pembelian

kembali di masa depan (Setyorini et al, 2017)

2.5.2 Hubungan Antara Persepi Kemudahan Penggunaaan Dengan

Repurchase Intention

Semakin konsumen merasa mudah (effortless) dalam menggunakan suatu

teknologi maka tingkat minat pemakaian ulang konsumen akan semakin tinggi.

Hal ini diperkuat dengan penelitian sebelumnya oleh Rezaei dan Amin (2013)

yang menyatakan kemudahan dalam penggunaan suatu sistem akan secara positif

dan signifikan dapat meningkatkan minat konsumen untuk melakukan

pembelian/pemakaian ulang. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Chong

(2013), Adiutama dan Santika (2014) serta Apriyani dan Suharti (2017) yang

menyatakan bahwa persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif dan

signifikan terhadap repurchase intention.

2.5.3 Hubungan Antara Persepsi Risiko Dengan Repurchase Intention

Persepsi risiko yang dirasakan adalah ketidakpastian konsumen ketika

tidak bisa melihat konsekuensi dari keputusan pembelian. Menurut Dewi dan

Rastini (2016:8070-8071) menyatakan bahwa jika semakin tinggi persepsi resiko

yang dirasakan konsumen, maka akan menurunkan niat pembelian ulang, akan

tetapi sebaliknya jika semakin rendah persepsi resiko maka akan meningkatkan

32
33

niat pembelian ulang pada produk tersebut. Hal tersebut diperkuat dengan

penelitian yang dilakukan Devita (2015) yang menyatakan persepsi risiko

berpegaruh langsung terhadap minat beli ulang konsumen.

2.6 Penelitian Terdahulu


2.1 Tabel
Penelitian Terdahulu

No Nama Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian


Terkait
1 Irnami Lianis Pengaruh, Kepercayaan Persepsi Persepsi Manfaat berpengaruh
(2016) Konsumen dan Persepsi Manfaat positif dan signifikan terhadap
Manfaat terhadap Minat Minat Pembelian Ulang dan
Pembelian Ulang Secara Online Per-sepsi Manfaat merupakan
di BukuKita.com variabel yang paling ber-
pengaruh terhadap re-purchase
intention dibandingkan variabel
Word Of Mouth dan
Kepercayaan Konsumen
Cindy Regina The Influense of Perceived Ease Persepsi Persepsi manfaat tidak
Oroh (2015) Of Use, Perceived Usefulness Manfaat memiliki pengaruh signifikan
2 and Trust On Repurchase terhadap mempengaruhi re-
intention of Lion Air E-Ticket. purchase intention Lon Air E-
tiket.
Cindy Regina The Influense of Perceived Ease Persepsi Perceived Kemudahan
Oroh (2015) Of Use, Perceived Usefulness Kemudaha Pengguna-an tidak memiliki
3 and Trust On Repurchase n pengaruh sig-nifikan terhadap
intention of Lion Air E-Ticket. Penggunaa mempengaruhi repurchase
n intention tiket Lion Air.
Made Ayu Peran Customer Satisfaction Persepsi Variabel persepsi kemudahan
4 Swari Oktarini Memediasi Pengaruh Perceived Kemudaha penggunaan berpengaruh positif
dan Made Ease Of Use Dan Perceived n dan signifikan terhadap variabel
Wardana Enjoyment Ter-hadap Penggunaa repurchase intention.
(2018) Repurchase Intention (Studi n
Kasus Traveloka).
5 Sieny Andhika Peran Green Trust Memediasi Persepsi Persepsi Risiko berpengaruh
Dewi dan Ni Green Perceived Value Dan Risiko ne-gatif dan signifikan terhadap
Made Rastini Green Perceived Risk Terhadap repurchase intention.
(2016) Green Repurchase Intention.
6 Tho, N. X., The Effect of Perceived Risk on Persepsi Persepsi risiko memiliki
Lai, M.-T., & Repurchase Intention and Word Risiko pengaruh negatif yang
Yan, H. – of – Mouth in the Mobile signifikan terhadap repurchase
(2017) Telecommunication Market: A intention.
Case Studyfrom Vietnam

33
34

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono (2017:2) metode penelitian merupakan cara ilmiah

untuk mendapatkan suatu data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Jenis

penelitian yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah pendekatan

kuantitatif. Pendekatan Kuantitaif adalah metode penelitian yang berlandaskan

pada filsafat positivisme digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel

tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data

bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah

ditetapkan (Sugiyono, 2017:8).

Dalam penelitian ini menguji pengaruh antara persepsi manfaat, persepsi

kemudahan penggunaan dan persepsi risiko terhadap repurchase intention. Data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan

melalui survei, kuesioner atau jajak pendapat (self-administered survey) dan

dikuantitatifkan melalui skala Likert (1-5).

3.1.1 Variabel Penelitian

Operasionalisasi variabel adalah suatu atribut seseorang atau obyek, atau

kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017:39). Dari definisi

diatas dapat disimpulkan bahwa operasionalisasi variabel diperlukan untuk

menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam

34
35

penelitian, sehingga pengujian hipotesis dapat dilakukan secara benar sesuai dengan

judul penelitian. Maka terdapat dua variabel yang akan diukur, yaitu:

1. Variabel Independen

Menurut Sugiyono (2017:39) mendefinisikan variabel independen adalah

variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya

variabel dependen. Dalam penelitian ini yang termasuk variabel independen adalah

Persepsi Manfaat (X1) diukur dengan indikator Productivity, Work More Quickly,

Job Performance Effectiveness, Make Job Easier. Kemudian Persepsi Kemudahan

Penggunaan (X2) dengan indikator Easy to learn, Controllable, Clear &

Understable, Fleksibel, Easy to Become Skillfull, Easy to Access. dan Persepsi Risiko

(X3) dengan indikator Physical Risk, Performance Risk, Financial Risk, Time-Loss

Risk.

2. Variabel Dependen

Menurut Sugiyono (2017:39) variabel dependen adalah variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel

dependen dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian konsumen yang diberi

symbol (Y). Dalam penelitian ini yang termasuk variabel dependen adalah

Repurchase Intention (Minat Beli Ulang) dengan indikator Minat Transaksional,

Minat Referensial, Minat Preferensial, Minat Eksploratif.

3.1.2 Operasionalisasi Variabel

Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
VARIABEL KONSEP / DEFINISI INDIKATOR
PERSEPSI MANFAAT (X1) Suatu keyakinan dari seseorang
bahwa dengan menggunakan 1. Work More Quickly
sebuah sistem teknologi informasi 2. Job Performance
tertentu akan meningkatkan 3. Effectiveness
kinerja pekerjaannya. 4. Make Job Easier
Davis (1989) 5. Usefullness
Davis (1989)
36

PERSEPSI KEMUDAHAN (X2) Sejauh mana seseorang percaya 1. Easy to learn


bahwa dengan menggunakan 2. Controllable
suatu teknologi dapat 3. Clear & Understable
terbebaskan dari usaha 4. Fleksibel
(effortless) yang berdampak pada 5. Easy to Access
perilaku seseorang. Davis (1989)
Davis (1989)

PERSEPSI RISIKO (X3) Ketidakpastian yang dihadapi oleh


konsumen ketika mereka tidak 1. Performance risk
dapat meramalkan dampak dari 2. Financial risk
keputusan pembelian mereka. 3. Time-loss risk
Schiffman dan Kanuk (2010)
Schiffman dan Kanuk
(2010)
REPURCHASE INTENTION (Y) Minat beli ulang adalah dimana
seseorang atau konsumen
merasa puas akan suatu produk 1. Minat Transaksional
yang sesuai antara ekspektasi 2. Minat Referensial
dengan performa yang ia 3. Minat Preferensial
harapkan, akan menciptakan
suatu kepuasan yang Hasan, Ali (2013:131)
mendorong terciptanya
pembelian ulang atas produk
atau merek yang sama di
kemudian hari dan akan
menceritakan mengenai hal yang
baik atas produk tersebut.
Kotler dan Keller (2012:172)

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Menurut Arikunto (2013: 173) populasi adalah keseluruhan dari subjek

penelitian. Jadi yang dimaksud populasi adalah individu yang memiliki sifat yang

sama walaupun presentase kesamaan itu sedikit, atau dengan kata lain seluruh

individu yang akan dijadikan sebagai obyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini

tidak diketahui jumlahnya.

3.2.2 Sample

Arikunto (2013: 174) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian atau wakil

populasi yang diteliti. Karena jumlah populasi tidak diketahui, maka digunakan

teknik penentuan sampel untuk populasi tidak terhingga menurut Widiyanto (dalam

Agusli& Kunto, 2013:174).


37

Keterangan:

n : jumlah sampel

z : nilai distribusi normal pada tingkat signifikansi tertentu,

pada penelitian ini 0,05, sehingga z=1,96

moe : margin of error max, yaitu tingkat kesalahan maksimum yang dapat di

toleransi, pada penelitian ini yaitu 10%.

Dengan perhitungan diatas, maka didapat jumlah sampel yang baik dari

populasi minimal 96,04.

Kriteria pemilihan sampel yang diperlukan dan diperbolehkan mengisi kuesioner

dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Responden yang memiliki aplikasi layanan Go-Pay “Go-Jek”.

2. Responden yang pernah melakukan transaksi menggunakan layanan Go-Pay “Go-

Jek”.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :

1. Data Primer

Data primer diperoleh secara langsung oleh peneliti tanpa ada perantara. Data

diperoleh melalui 3 metode yaitu:

a. Metode observasi Menurut Sugiyono (2017:145) mengemukakan bahwa,

observasi merupakan proses yang kompleks yang tersusun dari berbagai jenis

proses biologis dan psikologis. Hal dalam terpenting dalam observasi yaitu

proses pengamatan dan ingatan untuk menyusun data-data hasil observasi.


38

b. Metode Kuesioner Menurut Sugiyono (2017), Angket atau kuesioner merupakan

tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat

pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.

c. Metode wawancara merupakan sebuah metode pengumpulan data dengan

mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui Tanya jawab, dialog

secara lisan baik langsung maupun tidak langsung.

2. Data Sekunder

Data sekunder yang digunakan adalah Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan

data dengan cara mempelajari buku, makalah, jurnal, situs website, guna

memperoleh informasi yang berhubungan dengan teori-teori dan konsep-konsep

yang berkaitan dengan masalah dan variabel yang diteliti yang terdiri dari

Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan Penggunaan, Persepsi Risiko dan

Repurchase Intention.

3.3 Analisis Data

Analisis data merupakan suatu langkah yang paling menentukan dari suatu

penelitian, karena analisa data berfungsi untuk menyimpulkan hasil penelitian.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk dapat menentukan

besarnya pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, baik pengaruh langsung

maupun pengaruh tidak langsung. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan

program SPSS. Analisis data yang digunakan adalah :

1. Uji Validitas

Uji validitas menunjukan tingkat kemampuan instrument penelitian,

mengikuti apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang

diteliti secara tepat. Menurut Sugiyono (2017:121) validitas merupakan hasil

penelitian dimana terdapat kesamaan data yang terkumpul dengan data yang
39

sesungguhna terjadi pada obyek yang diteliti. Valid berarti instrument tersebut dapat

digunakan untuk mengukur apa yang hendak untuk diukur. Pengujian validitas dan

penelitian ini menggunakan koefisien korelasi. Contoh rumusnya sebagai berikut :

Keterangan:

Rxy = Koefisien korelasi

X = Skor butir pertayaan

Y = Total Skor

n = Jumlah subyek

2. Reliabilitas

Uji reliabilitas dugunakan untuk menguji kepastian hasil pengukuran suatu

instrument. Suatu instrument dikatakan reliable jika instrument tersebut digunakan

beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan hasil yang sama

(Sugiyono, 2017:67). Reliabilitas menunjukan sejauh mana hasil pengukuran tetap

konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama.

Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan formula Alpha Cornbach dengan

rumus sebagai berikut :

Keterangan :

r = Koefisien reliabilitas

k = Jumlah butir pertayaan

σi2 = Varian butir pertayaan

σ2 = Varian skor tes


40

Instrumen dikatakan reliable bila mana konfesian reliabilitasnya mencapai

0,5.

3.4 Uji Asumsi Klasik

3.4.1 Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2013:160) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah

dalam model regresi, variabel dependen atau independen keduanya memiliki

distribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang dilakukan dalam penelitian ini

menggunakan uji Kolmogrov – Smirnov, data dapat dikatakan berdistribusi normal

apabila nilai signifikansinya > 0,05.

3.4.2 Uji Multikolinearitas

Uji multikolienaritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variable independen. Jika variable

independen saling berkorelasi, maka variable ini tidak orthogonal. Menurut Ghozali

(2013:105) variable orthogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar

sesama variabel independen sama dengan. Pengujian multikolinearitas dilakukan

dengan melihat nilai tolerance dan lawannya. Suatu model regresi dikatakan bebas

dari multikolineartitas jika nilai tolerance > 0,10 atau sama dengan VIF < 10

(Ghozali, 2013:105).

3.4.3 Uji Heterokedastisitas

Menurut Ghozali dalam Bernice (2013) uji heterokedastisitas dilakukan untuk

menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual

satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang

tidak mengandung heterokedastisitas. Untuk menguji ada tidaknya heterokedastisitas,

dalam penelitian ini digunakan Uji Gletser. Jika variable independen signifikan
41

secara statistik mempengaruhi variable dependen, maka ada indikasi terjadi

heterokedastisitas. Sedangkan dilihat dari probabilitas signifikansinya diatas tingkat

kepercayaan (> 0,05), menurut Ghozali (2013:139) dapat dikatakan bahwa model

regresi tidak mengandung heterokedastisitas.

3.4.4 Uji Autokolerasi

Uji autokorelasi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan

pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika

terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Tentu saja model regresi

yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Singgih Santoso, 2012:241).

Pada prosedur pendeteksian masalah autokorelasi dapat digunakan besaran Durbin-

Watson. Untuk menguji ada tidaknya autokorelasi, dari data residual terlebih dahulu

dihitung nilai statistik Durbin-Watson (D-W):

Kriteria uji: Bandingkan nilai D-W dengan nilai d dari tabel Durbin-Watson:

- Jika DU < DW < 4-DU maka Ho diterima, artinya tidak terjadi autokorelasi.

- Jika DW < DL atau DW > 4-DL maka Ho ditolak, artinya terjadi autokorelasi.

- Jika DL < DW < DU atau 4-DU < DW < 4-DL, artinya tidak ada kepastian atau

kesimpulan yang pasti.

3.4.5 Uji Linearitas

Uji linearitas berguna untuk mengetahui apakah pengaruh masing-masing

variabel bebas yang dijadikan prediktor mempunyai hubungan linear atau tidak

terhadap variabel terikat. Uji ini biasanya digunakan sebagai prasyarat analisis

korelasi atau regresi linear. Dua Variabel penelitian dapat dikatakan mempunyai

hubungan yang linear apabila tingkat signifikasinya kurang dari 0,05. Linearitas
42

dapat diketahui melalui uji linearitas tabel anova dengan mencari nilai deviation

from linearity dari uji F linear. Untuk menghitung hubungan linearitas digunakan

rumus (Sutrisno Hadi,2004:13)

RK g
𝐹𝑟𝑒𝑔
RK s

Keterangan :

Freg : Harga bilangan f untuk garis regresi

RKreg : Rerata kuadrat garis regresi

RKres : Rerata Kuadrat residu

3.5 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif menjelaskan tentang deskriptif penilaian responden

terhadap variabel penelitian yang terdiri dari persepsi manfaat, persepsi kemudahan

penggunaan, persepsi risiko, dan repurchase intention. Penilaian terhadap variabel ini

diukur dengan skor tertinggi 5 (sangat setuju) dan skor terendah 1 (sangat tidak

setuju).

Menentukan kriteria penilaian responden terhadap variabel penelitian

dilakukan dengan interval sebagai berikut;

= 0,80

Sehingga diperoleh batasan seperti pada tabel 3.2:

Tabel 3.2
Kriteria Penilaian

Kriteria Penilaian

Rata-
rata Persepsi
Persepsi Repurchase
Kemudahan Persepsi risiko
Manfaat Intention
Penggunaan

1.00- Sangat tidak Sangat Tidak Sangat Tidak Sangat tidak


1.80 bermanfaat Mudah Kuat berminat
43

1.81- Tidak Tidak


Tidak Mudah Tidak Kuat
2.60 Bermanfaat berminat

2.61- Cukup Cukup


Cukup Mudah Cukup Kuat
3.40 Bermanfaat berminat

3.41-
Bermanfaat Mudah Kuat Berminat
4.20

4.21- Sangat Sangat


Sangat Mudah Sangat Kuat
5.00 Bermanfaat berminat

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

3.6 Rancangan Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis adalah prosedur yang didasarkan pada bukti sampel yang

dipakai untuk menentukan apakah hipotesis merupakan suatu pernyataan yang wajar

dan oleh karenanya tidak ditolak atauhipotesis tersebut tidak wajar dan oleh karena

itu harus ditolak.

3.6.1 Analisis Regresi Linier Sederhana

Menurut Syaian (2013:301) Analisis regresi linear sederhana adalah

hubungan secara linear anatara satu variabel independen dengan variabel dependen.

Analisis ini digunakan untuk mengetahui arah hubungan variabel independen dengan

variabel dependen apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari

variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau

penurunan. Adapun rumus dari analisis regresi linier berganda menurut Syaian

(2013:301) adalah:

Y= a + b X

Keterangan:

Y = Variabel dependen

a = Harga konsta

b = Koefisien regresi

X = Variabel independen
44

3.6.2 Anlisis Regresi Linier Berganda

Menurut Syaian (2013:301)” analisis regresi linier berganda adalah alat yang

dapat digunakan untuk memperoleh permintan dimasa yang akan datang berdasarkan

data masalalu untuk mengetahui pengaruh satu atau lebih variable bebas

(independen) terhadap satu variable tak bebas (dependen)”. Adapaun rumus dari

analisis regresi linier berganda menurut (Sugiyono 2017:275) adalah :

𝑌 𝑎 + 𝑏 𝑋 + 𝑏2 𝑋2 + b3X3

Y = variable terikat

α = Harga konstan

b1 = Koefisien regresi pertama

b2 = Koefisien regresi kedua

X1 = Variabel independent pertama

X2 = Variabel independent kedua

3.6.3 Korelasi sederhana

Merupakan korelasi yang bertujuan untuk memahami hubungan antara

variabel bebas (X) dengan varabel terikat (Y) (Uhar Suharsaputra, 2014:129). Teknik

korelasi ini digunakan untuk membuktikan hubungan variabel bila data variabel

bebentuk interval atau ratio dan sumber datanya sama (Sugiyono, 2017:228). Rumus

yang digunakan dalam menghitung koefisien korelasi adalah sebagai berikut:

rx1y =

Dimana:

rxy : korelasi antara variabel X dan Y

x : (xi - x)

y : (yi - ȳ)
45

Penafsiran terhadap besar atau kecilnya koefisien korelasi yang diperoleh

dapat dilakukan dengan menggunakan pedoman pada ketentuan tertentu yang dapat

dilihat dalam tabel 3.3.

Tabel 3.3
Pedoman Pemberian Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan

≥ 0,00 - < 0,199 Sangat Rendah

≥ 0,20 - < 0,399 Rendah

≥ 0,40 - < 0,599 Sedang

≥ 0,60 - < 0,799 Erat

≥ 0, 80 - < 1,000 Sangat Erat

3.6.4 Korelasi Ganda

Korelasi ganda (multiple correlation) merupakan angka yang menunjukkan

arah dan kuatnya hubungan antara dua variabel independen secara bersama-sama

atau lebih dengan satu variabel dependen (Ridwan, 2012:238). Rumus korelasi ganda

dua variabel adalah sebagai berikut

Ry.x1x2 =

Ry.x1x2 = korelasi ganda antara variabel X1 dan X2 secara bersama-sama

dengan variabel Y

ryx1 = korelasi Product Moment antara X1 dengan Y

ryx2 = korelasi Product Moment antara X2 dengan Y

rx1x2 = korelasi Product Moment antara X1 dengan X2

3.6.5 Koefisien Determinasi

Menurut Imam Ghozali (2013:97) Koefisien determinasi (R²) pada intinya

mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel

independen. Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu. Nilai R² yang kecil
46

berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel

dependen amat terbataas. Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel

independen memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk 63

memprediksi variasi variabel dependen. Koefisien Determinasi (Kd) menurut

Ghozali (2013:97) dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Kd = R2 X 100%

Keterangan:

Kd = Besar atau jumlah koefisien determinasi

R2 = Nilai koefisien korelasi

Sedangkan kriteria dalam melakukan analisis koefisien determinasi adalah

sebagai berikut:

a. Jika Kd mendekati nol (0), berarti pengaruh variabel independen terhadap

variabel dependen lemah, dan

b. Jika Kd mendekati satu (1), berarti pengaruh variabel independen terhadap

variabel dependen kuat.

3.6.6. Uji t

Uji t digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen

yang digunakan dalampenelitian ini terhadap variabel dependen secara parsial

(Ghozali, 2013:98) langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Menentukan Hipotesis

H0 : , 2 = 0 tidak ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap

variabel terikat atau salah satunya berpengaruh.

H1 : , 2 ≠ 0 ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap

variabel terikat atau salah satunya tidak berpengaruh.


47

3.6.7. Uji F

Untuk uji simultan (bersama-sama), digunakan Uji F yang dimaksudkan

untuk menguji signifikansi pengaruh variabelvariabel independen Xi secara

keseluruhan terhadap variabel Y. Uji F ini dilakukan dengan cara membandingkan

antara nilai F yang dihasilkan dari perhitungan F hitung dengan nilai F tabel .

Hipotesis nol akan diterima atau ditolak ditentukan sebagai berikut :

1. Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-

sama (simultan) terhadap variabel terikat. Signifikan berarti hubungan yang

terjadi dapat berlaku untuk populasi. Penggunaan tingkat signifikansinya 0,05

(5%).

2. Hasil uji F dilihat dalam tabel ANOVA dalam kolom sig. Sebagai contoh,

kita menggunakan taraf signifikansi 5% (0,05), jika nilai probabilitas < 0,05,

maka dapat dikatakan terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-

sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

3. Namun, jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak terdapat pengaruh yang

signifikan secara bersama-sama antara variabel bebas terhadap variabel

terikat. Uji F bisa dilakukan dengan bantuan software SPSS BM 21.0


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Sejarah Singkat PT. Gojek Indonesia

PT. Gojek Indonesia atau dikenal dengan Gojek yang berdiri pada tahun

2011, Gojek merupakan sebuah perusahaan teknologi yang berjiwa sosial yang

bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja di berbagai sector informal di

Indonesia, pendiri Gojek adalah seorang pemuda asli Indonesia yang bernama

Nadiem Makariem dan Michaela Moran. Nadiem Makarim diketahui pernah bekerja

di sebuah perusahaan Mckinsey & Company sebuah konsultan ternama di Jakarta

dan menghabiskan waktu selama tiga tahun bekerja disana. Diketahui pula ia pernah

bekerja sebagai Co-founder dan Managing Editor di Zalora Indonesia kemudian

menjadi Chief Innovation Officer kartuku. Berbekal banyak pengalaman selama

bekerja, Nadiem Makarim memberanikan diri untuk berhenti dari pekerjaannya.

Pada saat Nadiem Makarim, bercengkrama dengan tukang ojek

langganannya. Ternyata lebih dari 70% waktu kerjanya hanya menunggu pelanggan.

Para tukang ojek pangkalan tersebut menunggu dari 8 sampai 10 jam, akan tetapi

mereka hanya mendapatkan penumpang 4 sampai 7 orang penumpang saja. Nadiem

Makarim pun langsung wawancara tukang ojek lainnya. Ternyata semuanya

mengeluh susah cari pelanggan. Apalagi di Jakarta kemacetan makin memburuk.

Jika ada layanan transport dan delivery yang cepat dan praktis, pasti akan sangat

membantu warga Jakarta. Melihat para ojek pangkalan yang hampir seharian

menghabiskan waktu dan belum tentu mendapatkan penumpang. Nadiem Makarin

bersama Michaelanglo Maron membantu para tukang ojek pangkalan untuk

mendapatkan penumpang dengan cara yang lebih cepat dan efisien yaitu dengan

mendirikan perusahaan yang diberi nama PT. Gojek Indonesia.

48
49

Awalnya Gojek melayani panggilan lewat telepon saja. Seperti panggilan

kepada taksi. Tetapi semakin kesini Gojek semakin berkembang pada awal tahun

2015 kemarin, meluncurkan aplikasi android Gojek. Inovasi ini memberikan

keuntungan lebih banyak lagi pada pendiri Gojek dan para pengemudi Gojek. Gojek

ini memang sedang sangat heboh semakin banyak penggunanya dan berkembang

terus menerus. Perusahahaan Gojek ini bermitra dengan sekitar 350.000 (tiga ratus

lima puluh ribu) pengendara ojek yang berpengalaman dan terpercaya di Indonesia,

untuk menyediakan berbagai macam layanan, termasuk transportasi dan pesan antar

makanan dan barang. Kegiatan Gojek bertumpu pada tiga nilai pokok yaitu

kecepatan, inovasi dan dampak sosial. Para driver Gojek mengatakan bahwa

pendapatan mereka meningkat semenjak bergabung sebagai mitra, mereka juga

mendapatkan santunan kesehatan dan kecelakaan, serta mendapat akses ke lebih

banyak pelanggan melalui aplikasi Gojek ini. Adapun Gojek mengusung logo yang

sangat mudah di pahami dan diingat oleh masyarakat. Logo tersebut digambarkan

dengan gambar ojek yang berwarna hijau dan tulisan tegas dan berwarna hitam.

Gambar 4.1
Logo Perusahaan
(Sumber: Google Picture)

Gojek telah resmi beroperasi di 10 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta,

Bandung, Bali, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Medan, Semarang, Palembang dan

Balikpapan. Adapun pihak perusahaan Gojek masih berencana untuk melakukan

pengembangan di kota-kota lainnya pada tahun mendatang.


50

4.1.1 Visi dan Misi

a. Visi

Pengertian Visi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa adalah suatu pandangan atau wawasan yang

dirancang oleh para pendiri perusahaan. Berikut merupakan visi dari perusahaan PT.

Gojek Indonesia:

“Membantu memperbaiki struktur transportasi di Indonesia, memberikan kemudahan

bagi masyarakat dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari seperti pengiriman

dokumen, belanja harian dengan menggunakan layanan fasilitas kurir, serta turut

mensejahterakan kehidupan tukang ojek di Indonesia baik untuk masa kini dan

kedepannya”.

b. Misi

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Tim Penyusun

Kamus Pusat Bahasa pengertian misi dalam perusahaan adalah tindakan untuk

melakukan tugas dalam mewujudkan visi yang telah dibuat oleh pendiri perusahaan.

Misi perusahaan PT. Gojek Indonesia dalam mewujudkan visinya, yaitu:

1. Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola struktur transportasi

yang baik dengan menggunakan kemajuan teknologi.

2. Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada

pelanggan.

3. Membuka lapangan kerja selebar-lebarnya bagi masyarakat Indonesia.

4. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan

sosial.
51

Visi dan Misi yang telah Gojek buat, diharapkan dapat ikut menstabilkan

perekonomian di Indonesia kedepannya juga dapat membantu mewujudkan negara

Indonesia yang lebih bermartabat.

4.2 Profil Responden

Data deskriptif merupakan data yang menunjukkan gambaran keadaan atau

kondisi dari data responden dimana data tersebut merupakan informasi tambahan

untuk memahami hasil penelitian. dalam penelitian ini responden memiliki

karakteristik. Adapun karakteristik tersebut dilihat berdasarkan jenis kelamin, usia,

pekerjaan, pendidikan terakhir, dan pengeluaran perbulan.

4.2.1 Profil Responden Menurut Jenis Kelamin dan Usia

Responden dibedakan berdasarkan karakteristik menurut jenis kelamin dan


dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis_kelamin Total
Laki- Perempuan
laki
Usia >34 Tahun 5 2 7
17-23 Tahun 12 31 43
24-27 Tahun 19 21 40
28-33 Tahun 8 4 12
Total 44 58 102
Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.1 diatas bahwa responden yang mengisi kuesioner

berjumlah 102 orang, jumlahnya relatif imbang berdasarkan jenis kelamin dengan

jumlah presentase 56,9% responden berjenis kelamin perempuan dan 43,1%

responden berjenis kelamin laki-laki . Responden terbanyak berada di rentang usia

17-23 tahun sebanyak 43 responden, disusul rentang usia 24-27 tahun sebanyak 40

responden, kemudian rentang usia 28-23 tahun 12 responden, dan >34 tahun

sebanyak 7 responden. Data ini menunjukan kecenderungan young-adult consumer


52

Usia 18-30 Tahun (Rašković et al, 2016) atau yang dikenal dengan kaum milenial

sebagai responden terbanyak dari penelitian ini, hal ini dikarenakan kecenderungan

kaum milenial yang tidak bisa lepas dari penggunaan smartphone sehingga

cenderung melakukan semua hal menggunakan smartphone termasuk pembayaran

(Rani Mutiara Hati,2019).

4.2.2 Profil Responden Menurut Pendidikan

Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang akan sesuatu hal

dalam hal ini persepsi manfaat, persepsi risiko, persepsi kemudahan penggunaan

terhadap repurchase intention Go-Pay.

Tabel 4.2
Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
D3/S1 48 47.1 47.1 47.1
S2 / S3 2 2.0 2.0 49.0
Valid
SMA / SMK 52 51.0 51.0 100.0
Total 102 100.0 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dapat dilihat pada tabel 4.2 sebanyak 51% berpendidikan SMA/SMK, 47 %

responden berpendidikan D3/S1, 2% berpendidikan S2/S3. Sehingga dapat dikatakan

bahwa sebagian besar responden di dalam penelitian ini memiliki latar belakang

pendidikan yang cukup baik.

4.2.3 Profil Responden Menurut Pekerjaan dan Jumlah Pengeluaran Perbulan

Pekerjaan dan pengeluaran perbulan responden pengguna Go-Pay dapat

dilihat pada tabel 4.3 berikut:


53

Tabel 4.3
Pekerjaan dan Jumlah Pengeluaran Perbulan

Pengeluaran_Perbulan
Rp.
Rp.1.000.001,- Total
< Rp. > 3.000.001,-
s/d
1.000.000,- Rp.5.000.000,- Rp.
Rp.3.000.000,-
5.000.000,-
Ibu Rumah
Tangga / 0 1 2 0 3
Pensiun
Jobseeker 1 0 0 0 1
Pegawai
4 7 17 20 48
Swasta
Pelajar /
7 0 1 24 32
Mahasiswa
PNS /
Pegawai 0 0 2 3 5
BUMN
Wiraswasta 1 1 5 6 13
Total 13 9 27 53 102

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa responden terbanyak merupakan

responden pegawai swasta sebanyak 48 responden, disusul pelajar/mahasiswa,

sisanya wiraswasta 13 responden, PNS/pegawai BUMN 5 responden, Ibu Rumah

Tangga 3 responden, dan 1 responden sebagai job seeker. Sedangkan dilihat dari

jumlah pengeluaran perbulan, responden terbanyak yang memiliki pengeluaran

perbulan yaitu antara Rp. 1.000.000,- s/d Rp. 3.000.000,- sebanyak 53 responden,

kemudian jumlah pengeluaran Rp. 3.000.001,- s/d Rp. 5.000.000 sebanyak 27

responden, sedangkan sisanya responden dengan jumlah pengeluaran < Rp.

1.000.000 sebanyak 13 responden, dan jumlah pengeluaran perbulan >

Rp.5.000.000,- 9 responden. Banyaknya pegawai swasta dengan jumlah pengeluaran

Rp. 3.000.001,- s/d Rp. 5.000.000 menunjukkan bahwa pengguna Go-Pay memiliki

status golongan menengah karena secara makro pengeluaran konsumsi masyarakat

berbanding lurus dengan pendapatan nasional (Maliva Farah dalam Kompasiana

2016).
54

4.3 Analisis Data

4.3.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk menguji apakah instrumen penelitian benar-

benar mampu mengukur kerangka (penelitian). Agar memperoleh nilai validitas pada

kuesioner dan data, uji validitas dilakukan dengan cara mencermati indikator-

indikator variabel.

Nilai validitas yang diperoleh menunjukkan sejauh mana perbedaan

instrumen pengukuran, hal ini juga merefleksikan kemajemukan pada objek

penelitian. Selanjutnya dilakukan pengujian validitas secara statistik dengan bantuan

program software SPSS.

Uji ini dilakukan dengan cara membandingkan angka r hitung dan r tabel. jika

r hitung lebih besar dari r tabel maka item dikatakan valid dan sebaliknya jika r

hitung lebih kecil dari r tabel maka item dikatakan tidak valid. r hitung dicari dengan

menggunakan program SPSS, sedangkan r tabel dicari dengan cara melihat tabel r

dengan ketentuan r minimal adalah 0,3.


55

Tabel 4.4
Hasil Uji Validitas X1

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan dari uji validitas persepsi manfaat (X1) pada tabel 4.4

menunjukkan bahwa nilai r hitung lebih besar dibanding nilai r tabel yakni r hitung

>0,3. Dengan hasil ini maka kuesioner yang digunakan oleh variabel Persepsi

Manfaat dinyatakan valid sebagai alat ukur variabel.


56

Tabel 4.5
Hasil Uji Validitas X2

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan dari uji validitas persepsi kemudahan penggunaan (X2) pada

tabel 4.5 menunjukkan bahwa nilai r hitung lebih besar dibanding nilai r tabel yakni r

hitung >0,3. Dengan hasil ini maka kuesioner yang digunakan oleh variabel Persepsi

kemudahan penggunaan dapat dinyatakan valid sebagai alat ukur variabel.


57

Tabel 4.6
Hasil Uji Validitas X3

Sumber:

Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan dari uji validitas persepsi risiko (X3) pada tabel 4.6

menunjukkan bahwa nilai r hitung lebih besar dibanding nilai r tabel yakni r hitung

>0,3. Dengan hasil ini maka kuesioner yang digunakan oleh variabel Persepsi Risiko

dinyatakan valid sebagai alat ukur variabel.

Tabel 4.7
Hasil Uji Validitas Y

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan dari uji validitas repurchase intention (Y) pada tabel 4.7

menunjukkan bahwa nilai r hitung lebih besar dibanding nilai r tabel yakni r hitung
58

>0,3. Dengan hasil ini maka kuesioner yang digunakan oleh variabel repurchase

intention dinyatakan valid sebagai alat ukur variabel.

4.3.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsistensi

terhadap instrumen-instrumen dalam mengukur konsep. Reliabilitas merupakan

syarat untuk tercapainya validitas suatu kuesioner dengan tujuan tertentu. Dalam

mengukur reliabilitas alat pengukuran yang digunakan adalah Teknik Alpha

Cronbach. Apabila nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,6 maka jawaban dari

para responden pada kuesioner sebagai alat pengukur dinilai reliabel. Jika

Cronbach’s Alpha lebih kecil dari 0,6 maka jawaban para responden dinyatakan

tidak reliabel.

Tabel 4.8
Hasil Uji Reliabilitas X1

Reliability Statistics

Cronbach's N of Items
Alpha

.903 8

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan hasil uji reliabilitas dalam tabel 4.7, dapat diketahui bahwa nilai

Cronbach Alpha pada variabel Persepsi Manfaat 0,903 > 0,6. Hasil tersebut dapat

disimpulkan bahwa instrumen penelitian persepsi manfaat dapat dinyatakan

reliabel/handal dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Artinya kuisioner ini

memiliki hasil yang konsisten jika dilakukan pengukuran dalam waktu dan model

atau desain yang berbeda.

Tabel 4.9
Hasil Uji Reliabilitas X2

Reliability Statistics

Cronbach's N of Items
Alpha

.885 10
59

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan hasil uji reliabilitas dalam tabel 4.9, dapat diketahui bahwa nilai

Cronbach Alpha pada variabel Persepsi Kemudahan Penggunaan 0,885 > 0,6. Hasil

tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen Persepsi kemudahan pengunaan

penelitian dapat dinyatakan reliabel / handal dan dapat digunakan untuk analisis

selanjutnya. Artinya kuisioner ini memiliki hasil yang konsisten jika dilakukan

pengukuran dalam waktu dan model atau desain yang berbeda.

Tabel 4.10
Hasil Uji Reliabilitas X3

Reliability Statistics

Cronbach's N of Items
Alpha

.685 5

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan hasil uji reliabilitas dalam tabel 4.10, dapat diketahui bahwa

nilai Cronbach Alpha pada variabel persepsi risiko 0,685 > 0,6. Hasil tersebut dapat

disimpulkan bahwa instrumen Persepsi risiko penelitian dapat dinyatakan

reliabel/handal dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Artinya kuisioner ini

memiliki hasil yang konsisten jika dilakukan pengukuran dalam waktu dan model

atau desain yang berbeda.

Tabel 4.11
Hasil Uji Reliabilitas Y

Reliability Statistics

Cronbach's N of Items
Alpha

.889 6

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan hasil uji reliabilitas dalam tabel 4.11, dapat diketahui bahwa

nilai Cronbach Alpha pada variabel repurchase intention 0,889 > 0,6. Hasil tersebut

dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian repurchase intention dapat


60

dinyatakan reliabel / handal dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Artinya

kuisioner ini memiliki hasil yang konsisten jika dilakukan pengukuran dalam waktu

dan model atau desain yang berbeda.

4.4 Uji Asumsi Klasik

Uji Asumsi klasik adalah analisis yang dilakukan untuk menilai apakah di

dalam sebuah model regresi linear terdapat masalah-masalah asumsi klasik. Uji yang

dilakukan antara lain uji normalitas data, Multikolinearitas, heterokedastisitas,

autokolerasi, dan linearitas.

4.4.1 Uji Normalitas Data

Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel residu memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang

dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogrov – Smirnov, data dapat

dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansinya > 0,05.

Tabel 4.12
Uji Normalitas Data

Unstandardized Residual
N 102
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation 3.04153933
Absolute .071
Most Extreme Differences Positive .043
Negative -.071
Kolmogorov-Smirnov Z .722
Asymp. Sig. (2-tailed) .675

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dari data tabel 4.12 terlihat nilai Asymp. Sig sebesar 0,675 >0,05 sehingga

dapat disimpulkan bahwa model regresi terdistribusi normal.


61

4.4.2 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang

tinggi seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas. Pengujian

multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan lawannya. Suatu

model regresi dikatakan bebas dari multikolineartitas jika nilai tolerance > 0,10 atau

sama dengan VIF (Variance Inflation Factor) < 10.

Tabel 4.13
Uji Multikolinearitas

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data tabel 4.13 nilai VIF untuk masing-masing variabel

independen memiliki nilai kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10

maka semua variabel dalam model tidak terkena masalah multikolinearitas. Hal ini

dapat disimpulkan bahwa semua variabel bebas tidak mempunyai korelasi yang

sangat kuat.

4.4.3 Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan

yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan tetap maka

disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi

heterokedastisitas. Cara untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas dapat dilakukan

dengan uji spearman. Uji spearman mengusulkan untuk meregresi nilai absolut

residual terhadap variabel independen. Jika variabel independen, maka indikasi


62

terjadi heterokedastisitas. Jika variabel independen tidak signifikan (sig > 0.05)

berarti model bebas dari heterokedastisitas. Adapun hasil pengujian data tersebut ada

pada tabel 4.14.

Tabel 4.14
Uji Spearman

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Hasil uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji spearman diatas

menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara variabel independen hal ini dapat

terlihat dari nilai signifikansi >0,05 atau 5%.

4.4.4 Uji Autokorelasi

Autokorelasi digunakan untuk menguji suatu model apakah antara variabel

pengganggu masing-masing variabel bebas saling mempengaruhi. Untuk mengetahui

apakah pada model regresi mengandung autokorelasi dapat digunakan pendekatan D-

W (Durbin Watson). Kriteria autokorelasi ada 3, yaitu:

a. Nilai D-W di bawah -2 berarti diindikasikan ada autokorelasi positif.

b. Nilai D-W di antara -2 sampai 2 berarti diindikasikan tidak ada autokorelasi.

c. Nilai D-W di atas 2 berarti diindikasikan ada autokorelasi negatif.

Tabel 4.15
Uji Autokolerasi

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Durbin-Watson


Square Estimate
63

a
1 .713 .508 .493 3.088 1.520

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.15 diperoleh nilai Durbin Watson 1,520 berada diantara -

2 sampai 2 yang berarti diindikasikan tidak terdapat autokolerasi.

4.4.5 Uji Linearitas

Tujuan uji linieritas adalah untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas

dan variabel terikat linier atau tidak. Metode pengambilan keputusan untuk uji

linearitas yaitu dengan signifikansi < 0,05, maka hubungan antara dua variabel linier

dan sebaliknya jika signifikansi > 0,05, maka hubungan antara dua variabel tidak

linier Priyatno (2010:46).

Tabel 4.16
Uji Linearitas X1*Y

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


Berdasarkan tabel 4.16 di atas pada kolom Linearity merupakan uji statistik

untuk menunjukan hubungan yang linier. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil

uji linearitas pada tabel 4.16 dapat diketahuhi bahwa persepsi manfaat terhadap

repurchase intention mempunyai nilai signifikasi sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya

mempunyai hubungan yang linier.

Tabel 4.17
Uji Linearitas X2*Y

Sumber: Data Yang Diolah


64

Berdasarkan tabel 4.17 di atas pada kolom Linearity merupakan uji statistik

untuk menunjukan hubungan yang linier. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil

uji linearitas pada tabel 4.16 dapat diketahuhi bahwa persepsi kemudahan

penggunaan terhadap repurchase intention mempunyai nilai signifikasi sebesar

0,000< 0,05 yang artinya mempunyai hubungan yang linier.

Tabel 4.18
Uji Linearitas X3*Y

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


Berdasarkan tabel 4.18 di atas pada kolom Linearity merupakan uji statistik

untuk menunjukan hubungan yang linier. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil

uji linearitas pada tabel 4.17 dapat diketahuhi bahwa persepsi risiko terhadap

repurchase intention mempunyai nilai signifikasi sebesar 0,000< 0,05 yang artinya

mempunyai hubungan yang linier.

4.5 Analisa Deskriptif

Analisis deskriptif menjelaskan tentang deskriptif penilaian responden

terhadap variabel penelitian yang terdiri dari persepsi manfaat, persepsi kemudahan

penggunaan, persepsi risiko, dan repurchase intention. Penilaian terhadap variabel ini

diukur dengan skor tertinggi 5 (sangat setuju) dan skor terendah 1 (sangat tidak

setuju).
65

4.5.1 Indikator Variabel Persepsi Manfaat

Dalam penelitian ini variabel persepsi manfaat diukur oleh 4 indikator Work

More Quickly, Job Performance, Make Job Easier, Usefullness yang diukur oleh 8

pernyataan.

4.5.1.1 Dengan Menggunakan Go-Pay Transaksi Pembayaran Menjadi Lebih

Cepat

Dalam skala penilaian, indikator pernyataan menggunakan Go-Pay transaksi

pembayaran menjadi lebih cepat dapat dilihat pada tabel 4.18.

Tabel 4.19
Dengan Menggunakan Go-Pay Transaksi Pembayaran Menjadi Lebih Cepat

Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju (5) 0 0
Tidak Setuju (4) 1 1%
Ragu-Ragu/Netral (3) 3 3%
Setuju (2) 46 45%
Sangat Setuju (1) 52 51%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.19 sebanyak 96% responden mengakui sangat setuju

dengan pernyataan menggunakan Go-Pay transaksi menjadi lebih cepat. Sedangkan

hanya 1% yang menyatakan tidak setuju. Ini berarti mayoritas responden mengaku

setuju bahwa Go-Pay membuat pekerjaan menjadi cepat. Hal ini tentu saja sesuai

dengan tujuan dari lahirnya fintech yaitu guna memenuhi perubahan gaya hidup

masyarakat yang serba cepat (www.Kompasiana.com).

4.5.1.2 Transaksi Menggunakan Go-Pay Tidak Bertele-Tele

Berdasarkan pernyataan transaksi menggunakan Go-Pay tidak bertele-tele

didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 4.20
Transaksi Menggunakan Go-Pay Tidak Bertele-Tele

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 0 0%
66

Tidak Setuju 1 1%
Ragu-Ragu/Netral 7 6.9%
Setuju 51 50%
Sangat Setuju 43 42.2%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dilihat dari tabel 4.20 sebanyak 92% responden menyetujui bahwa transaksi

menggunakan Go-Pay tidak bertele-tele. Hanya satu responden yang mengaku tidak

setuju dengan pernyataan tersebut. Ini berarti sebagian besar responden setuju bahwa

transaksi menggunakan Go-Pay tidak bertele-tele. Seperti yang diberitakan oleh

www.Bisnis.tempo.co fintech memutus batas-batas ketradisionalan dalam proses

bertransaksinya. Jika sebelumnya pembayaran/ pembelian harus langsung datang

keteempat Go-Pay memudahkan penggunanya untuk tetap bertransaksi meskipun

jarak jauh.

4.5.1.3 Go-Pay Memberikan Ketelitian Nominal Dalam Bertransaksi Yang

Lebih Baik

Selanjutnya hasil penilaian indikator memberikan ketelitian nominal dalam

transaksi yang lebih baik dapat dilihat pada tabel 4.21 berikut:

Tabel 4.20
Go-Pay Memberikan Ketelitian Nominal Dalam Bertransaksi Yang Lebih Baik

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 0 0%
Tidak Setuju 4 3.9%
Ragu-Ragu/Netral 11 10.8%
Setuju 56 54.9%
Sangat Setuju 31 30.4%
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data pada tabel 4.21 menunjukan bahwa sebanyak 85,3% responden

mengaku setuju, dan 3,9% mengaku tidak setuju. Transaksi menggunakan Go-Pay

sebenarnya memberikan ketelitian nominal saat bertransaksi karena biasanya saat

akan melakukan pembayaran pengguna hanya perlu scan barcode dan nominal
67

transaksinya sudah tercantum otomatis dan terpotong otomatis sehingga pengguna

tidak perlu mengetik lagi jumlah nominal. Hal ini tentu saja bisa meminimalisir

kemungkinan kesalahan nominal.

4.5.1.4 Menggunakan Go-Pay Menghemat Waktu Saya

Berdasarkan hasil penilaian penyataan Go-Pay menghemat waktu saya dapat

dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.22
Menggunakan Go-Pay Menghemat Waktu Saya

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 2 2.0
Tidak Setuju 1 1.0
Ragu-Ragu/Netral 13 12.7
Setuju 47 46.1
Sangat Setuju 39 38.2
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data tabel 4.22 sebanyak 84,3% responden mengaku setuju dengan

pernyataan menggunakan Go-Pay menghemat waktu saya hal ini sesuai dengan

pernyataan fintech lebih efektif dan efesien sehingga dalam bertransaksi dengan

sentuhan tangan lebih praktis dan dapat menghemat waktu serta tenaga tanpa

pembayaran uang tunai ( Fahri Riswal dalam Tri Inda 2018). Sedangkan sebanyak

12,7% menyatakan ragu-ragu dan 3% sisanya mengaku tidak setuju. Banyak faktor

yang mungkin mempengaruhi penilaian ini, karena meskipun menghemat waktu

karena tidak harus menghitung uang ataupun menunggu uang kembali saat

pembayaran namun saldo Go-Pay harus diisi terlebih dahulu dimana ini menambah

waktu bagi yang tidak mempunyai internet banking maupun jauh dari

minimarket/merchant yang menyediakan top-up saldo Go-Pay.

4.5.1.5 Go-Pay Mempermudah Saya Saat Bertransaksi

Penilaian dari indikator Go-Pay mempermudah saya saat bertransaksi dapat

dilihat sebagai berikut:


68

Tabel 4.23
Go-Pay Mempermudah Saya Saat Bertransaksi
Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 0 .0
Tidak Setuju 1 1%
Ragu-Ragu/Netral 8 7,8%
Setuju 45 44,1%
Sangat Setuju 48 47,1%
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data tabel 4.23 menunjukan 91,2% responden menyatakan sangat setuju dan

hanya 1% tidak setuju dengan pernyataan Go-Pay mempermudah saya saat

bertransaksi. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin menjadi dasar penilaian

responden. Salah satunya Go-Pay merupakan alat pembayaran yang mempermudah

transaksi pembayaran listrik, air, pulsa, maupun tiket bioskop yang berada dalam

satu aplikasi Go-Jek. Hal ini membuat penggunanya tidak perlu repot untuk datang

ke beberapa tempat sekaligus untuk melakukan pembayaran, cukup menggunakan

Go-Pay saja.

4.5.1.6 Go-Pay Lebih Efisien Dibanding Tunai

Penilaian Berdasarkan indikator Go-Pay lebih efisien dibanding tunai dapat

dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.24
Go-Pay Lebih Efisien Dibanding Tunai

Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 1 1%
Tidak Setuju 4 3.9%
Ragu-Ragu/Netral 19 18.6%
Setuju 35 34.3%
Sangat Setuju 43 42.2%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


69

Dilihat dari tabel 4.24 sebanyak 42,2 mengaku sangat setuju dan 1%

mengaku tidak setuju. Ini berarti banyak yang menyetujui bahwa Go-Pay lebih

efisien dibanding tunai. Go-Pay merupakan alat pembayaran tepat guna,

penggunanya tidak harus membawa uang tunai kemana-mana yang meminimalkan

tingkat risiko jatuh maupun hilang seperti saat membawa uang tunai.

4.5.1.7 Layanan Go-Pay Sangat Bermanfaat Untuk Bertransaksi

Penilaian berdasarkan indikator layanan go-pay sangat bermanfaat untuk

bertransaksi dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.25
Layanan Go-Pay Sangat Bermanfaat Untuk Bertransaksi

Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 2 2%
Tidak Setuju 1 1%
Ragu-Ragu/Netral 11 10.8%
Setuju 45 44.1%
Sangat Setuju 43 42.2%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data tabel 4.25 menunjukan 86,3% responden menyatakan setuju bahwa

layanan Go-Pay sangat bermanfaat untuk bertransaksi, sementara hanya 3% yang

mengaku tidak setuju. Ini berarti banyak responden merasakan manfaat saat

bertransaksi menggunakan Go-Pay. Manfaat yang paling dirasakan pengguna adalah

banyaknya promosi yang diberikan Go-Jek apabila pengguna bertransaksi

menggunakan Go-Pay seperti diskon/cashback.

4.5.1.8 Go-Pay Praktis Untuk Digunakan

Penilaian berdasarkan indikator Go-Pay praktis untuk digunakan dapat dilihat

pada tabel 4.18 berikut:

Tabel 4.26
Go-Pay praktis untuk digunakan
Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 0 0%
Tidak Setuju 1 1%
70

Ragu-Ragu/Netral 8 7.8%
Setuju 44 43.1%
Sangat Setuju 49 48.0%
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data pada tabel 4.26 sebanyak 48% pengguna mengaku sangat setuju dan 1%

mengaku tidak setuju bahwa Go-Pay praktis digunakan. Dizaman yang dituntut

untuk serba cepat tentu saja Go-Pay menjadi pilihan praktis yang bisa digunakan.

Selain dapat membayar tagihan, membeli tiket, makanan maupun pemesanan

transportasi kini Go-Pay pun bisa digunakan untuk membayar zakat.

Berdasarkan jawaban yang diberikan responden maka dapat dijelaskan

distribusi penilaian responden atas variabel persepsi manfaat terlihat pada tabel 4.26

berikut:

Tabel 4.27
Analisa Deskriptif Variabel Persepsi Manfaat

Hasil
No Indikator
Mean Keterangan
1 Dengan Menggunakan Go-Pay Transaksi 4.46 Sangat Bermanfaat
Pembayaran Menjadi Lebih Cepat
2 Transaksi Menggunakan Go-Pay tidak bertele-tele 4.33 Sangat Bermanfaat

3 Go-Pay Memberikan Ketelitian Nominal Dalam 4.12 Bermanfaat


Bertransaksi Yang Lebih Baik
4 Menggunakan Go-Pay menghemat waktu saya 4.17 Bermanfaat
5 Go-Pay mempermudah saya saat bertransaksi 4.37 Sangat Bermanfaat
6 Go-Pay lebih efisien dibandingkan tunai 4.13 Bermanfaat
7 Layanan Go-Pay sangat bermanfaat untuk 4.27 Sangat Bermanfaat
bertransaksi
8 Go-Pay praktis untuk digunakan 4.38 Sangat Bermanfaat
71

Rata-rata penilaian 4.28 Sangat Bermanfaat

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Hasil yang ditunjukan oleh Tabel 4.27 menunjukkan bahwa untuk nilai

tertinggi variabel persepsi manfaat terdapat pada indikator dengan menggunakan go-

pay transaksi pembayaran menjadi lebih cepat dengan rata- rata penilaian sebesar

4,33 yang masuk kedalam kategori sangat bermanfaat. Sedangkan penilaian terendah

terdapat pada indikator Go-Pay memberikan ketelitian nominal dalam bertransaksi

yang lebih baik dengan rata-rata penilaian sebesar 4,12 yang masuk kedalam

kategori bermanfaat. Hal ini dikarenakan pembayaran yang menggunakan Go-Pay

pengguna tidak perlu mengetik ulang jumlah nominal saat bertransaksi melainkan

hanya menggunakann barcode saja sehingga kecil sekali kemungkinan untuk salah

memasukan nominal. Hasil keseluruhan penilaian variabel persepsi manfaat memiliki

rata-rata penilaian sebesar 4,28 sehingga masuk kedalam kategori sangat bermanfaat,

ini berarti sebagian besar pengguna Go-Pay setuju bahwa Go-pay bermanfaat untuk

digunakan.

4.5.2 Variabel Persepsi Kemudahan Penggunaan

Dalam penelitian ini variabel persepsi kemudahan penggunaan diukur oleh 5

indikator Easy to learn, Controllable, Clear & Understable, Fleksibel, Easy to

Access yang diukur oleh 10 penyataan.

4.5.2.1 Sistem Kerja Go-Pay mudah saya mengerti

Penilaian berdasarkan indikator sistem kerja Go-Pay mudah saya mengerti

dapat dilihat pada tabel 4.27:

Tabel 4.28
Sistem Kerja Go-Pay Mudah Saya Mengerti

Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 1 1.%
Tidak Setuju 1 1.%
Ragu-Ragu/Netral 11 10.8%
Setuju 49 48%
72

Sangat Setuju 40 39.2%


Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dilihat pada tabel 4.28 terdapat 87,2% yang menyatakan setuju dan hanya 2%

yang menyatakan tidak setuju pada pernyataan sistem kerja Go-Pay mudah saya

mengerti. Ini berarti sebagian besar setuju bahwa Sistem kerja Go-Pay mudah

dimengerti. Hal ini sesuai dengan riset yang dilakukan Amar Bank dalam

www.jawapos.com (2019) salah satu faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk

menggunakan fintech adalah sistem yang mudah dimengerti dan juga menarik.

4.5.2.2 Cara Penggunaan Go-Pay Mudah Saya Pahami

Penilaian berdasarkan indikator cara penggunaan Go-Pay mudah saya pahami

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.29
Cara Penggunaan Go-Pay Mudah Saya Pahami

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 1 1%
Tidak Setuju 1 1%
Ragu-Ragu/Netral 13 12.7%
Setuju 46 45.1%
Sangat Setuju 41 40.2%
Total 102 100.0%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Data pada tabel 4.29 menunjukan 85,3% menyatakan setuju bahwa cara

penggunaan Go-Pay mudah dipahami. Hal ini juga dibantu oleh aplikasi Go-jek

karena biasanya saat pertama kali menggunakan aplikasi Go-Jek maupun Go-Pay

yakan ada bantuan dari aplikasi berupa tata cara menggunakan Go-Pay, baik itu top

up, membeli maupun membayar, tentu saja hal ini akan membantu pengguna untuk

memahami penggunaan Go-Pay secara lebih baik.


73

4.5.2.3 Go-Pay Selalu Berfungsi Dengan Baik Saat Saya Melakukan Transaksi

Pembayaran

Penilaian terhadap indikator Go-Pay selalu berfungsi dengan baik saat saya

melakukan transaksi pembayaran dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.30
Go-Pay Selalu Berfungsi Dengan Baik Saat Saya Melakukan Transaksi
Pembayaran

Frekuensi Persentase
Tidak Setuju 2 2%
Ragu-Ragu/Netral 25 24.5%
Setuju 44 43.1%
Sangat Setuju 31 30.4%
Total 102 100%
Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data pada tabel 4.30 diketahui 73,5% mengatakan setuju 24,5%

menyatakan ragu-ragu dan 2% sisanya menyatakan tidak setuju. Dalam beberapa kali

terutama saat sedang Go-Payday (tanggal-tanggal tertentu promo untuk pengguna

yang membayar menggunakan Go-Pay sering terjadi error sehingga tidak bisa

digunakan (www.cnnindonesia.com). Ini berarti Go-Pay tidak selalu berfungsi

dengan baik saat akan melakukan pembayaran namun hal ini tidak selalu tejadi

sehingga ini bisa jadi salah satu faktor mengapa cukup banyak pengguna menyatakan

ragu-ragu dengan pernyataan ini.

4.5.2.4 Menggunakan Go-Pay Mengendalikan Perilaku Saya Saat Bertransaksi

Penilaian terhadap indikator menggunakan Go-Pay mengendalikan perilaku

saya saat bertransaksi dapat dilihat pada tabel 4.30 berikut:

Tabel 4.31
Menggunakan Go-Pay Mengendalikan Perilaku Saya Saat Bertransaksi
Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 3 2.9%
Tidak Setuju 4 3.9%
Ragu-Ragu/Netral 43 42.2%
Setuju 27 26.5%
74

Sangat Setuju 25 24.5%


Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.31 sebanyak 42,2% netral atau ragu-ragu dan 2,9%

lainnya mengatakan sangat tidak setuju. Hal ini tentu berhubungan dengan

pernyataan yang dikutip dari jurnal penelitian oleh Tri Inda (2018) “Informan

mengutarakan persepsinya terhadap penggunaan fintech bahwa penggunaan jasa

fintech membuat informan boros karena mudahnya melakukan transaksi keuangan,

sehingga membuat informan menjadi loss control.” Ini berarti pengguna menyadari

bahwa Go-Pay tidak mengendalikan perilaku saat bertransaksi. Sebaliknya karena

kemudahannya pengguna justru cenderung lebih boros. Namun disisi lain Go-Pay

mempunyai history transaksi yang detail sehingga pengguna dapat melihat

pengeluaran yang telah dilakukan ketika melakukan transaksi menggunakan Go-Pay.

4.5.2.5 Go-Pay Menampilkan Setiap Menu Pada Aplikasi Dengan Jelas

Penilaian terhadap indikator Go-Pay menampilkan setiap menu pada aplikasi

dengan jelas adalah sebagai berikut:

Tabel 4.32
Go-Pay Menampilkan Setiap Menu Pada Aplikasi Dengan Jelas
Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 1 1%
Tidak Setuju 1 1%
Ragu-Ragu/Netral 20 19.6%
Setuju 40 39.2%
Sangat Setuju 40 39.2%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data pada tabel 4.32 sebanyak 78,4% menyatakan setuju

terhadap pernyataan Go-Pay menampilkan setiap menu pada aplikasi dengan jelas.

Dan 2% lainnya menyatakan tidak setuju. Hal ini menunjukan kecenderungan

pengguna untuk mengakui bahwa setiap tampilan menu pada aplikasi Go-Jek sangat

jelas. Go-Pay mempunyai tampilan yang mengelompokan pembayaran berdasarkan


75

kebutuhan, misalnya pembelian makanan, pemesanan transportasi, pembelian pulsa,

pembayaran tagihan sehingga minim terjadinya kesalahan transaksi

4.5.2.6 Saya Tahu Setiap Menu Yang Ada Pada Layanan Go-Pay

Penilaian terhadap indikator saya tahu setiap menu yang ada pada layanan

Go-Pay dapat dilihat pada tabel 4.32.

Tabel 4.33
Saya Tahu Setiap Menu Yang Ada Pada Layanan Go-Pay
Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 0 0%
Tidak Setuju 5 4.9%
Ragu-Ragu/Netral 23 22.5%
Setuju 46 45.1%
Sangat Setuju 28 27.5%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data tabel 4.33 sebanyak 72,6 % menyatakan setuju dan

4,9%,menyatakan tidak setuju. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi

penilaian tidak setuju ini adalah pengguna hanya menggunakan Go-Pay untuk

membeli atau membayar makanan ataupun hanya pada transaksi tertentu tanpa

menggunakan transaksi yang lainnya. Sedangkan 72,6% lainnya hampir melakukan

semua pembayaran maupun pembelian pada semua transaksi pembayarannya.

4.5.2.7 Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Mudah Dibawa Kemanapun

Penilaian terhadap indikator Go-Pay sebagai alternatif uang tunai mudah

dibawa kemanapun dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.34
Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Mudah Dibawa Kemanapun

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 2 2%
Tidak Setuju 1 1.0%
Ragu-Ragu/Netral 11 10.8%
Setuju 48 47.1%
Sangat Setuju 40 39.2%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


76

Berdasarkan data tabel 4.34 sebanyak 86,3% menyatakan setuju dan 3%

menyatakan tidak setuju terhadap pernyataan Go-Pay sebagai alternatif uang tunai

mudah dibawa kemanapun. Hal ini berhubungan dengan responden penelitian ini

dimana berdasarkan usia pengguna Go-Pay merupakan young-adult consumer atau

dapat disebut juga generasi milenial dimana Go-Pay adalah alat pembayaran tunai

atau dalam hal ini cashless yang sifatnya sesuai dengan karakteristik generasi

milenial yaitu segala yang praktis dan dapat dikerjakan melalui smartphone (Rani

Mutiara Hati ,2019).

4.5.2.8 Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Dapat Digunakan Kapan Saja

Penilaian terhadap indikator Go-Pay sebagai alternatif uang tunai dapat

digunakan kapan saja dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.35
Go-Pay Sebagai Alternatif Uang Tunai Dapat Digunakan Kapan Saja
Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 0 0
Tidak Setuju 2 2.0
Ragu-Ragu/Netral 14 13.7
Setuju 54 52.9
Sangat Setuju 32 31.4
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.35 sebanyak 84,3% responden mengaku setuju dan 2%

menyatakan tidak setuju pada pernyataan Go-Pay sebagai alternatif uang tunai dapat

digunakan kapan saja. Hal ini bisa dipengaruhi oleh transaksi Go-Pay yang bisa

digunakan 24/7 baik untuk pembelian pulsa, makanan, pembayaran tagihan, dan lain-

lain tanpa terikat waktu.


77

4.5.2.9 Outlet Yang Melayani Transaksi Menggunakan Go-Pay Dekat Dengan

Tempat Tinggal Saya

Berdasarkan hasil penilaian, indikator outlet yang melayani transaksi

menggunakan Go-Pay dekat dengan tempat tinggal saya didapatkan hasil sebagai

berikut:

Tabel 4.36
Outlet Yang Melayani Transaksi Menggunakan Go-Pay Dekat Dengan Tempat
Tinggal Saya
Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 3 2.9%
Tidak Setuju 5 4.9%
Ragu-Ragu/Netral 32 31.4%
Setuju 43 42.2%
Sangat Setuju 19 18.6%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data pada tabel 4.36 sebanyak 60.8% terdapat 42,2% setuju

dengan pernyataan tersebut, 31,4% ragu-ragu dan 7,8% tidak setuju. Beberapa faktor

yang mempengaruhi salah satunya adalah Go-Pay kini mulai merambah untuk

bekerjasama dengan UMKM dibeberapa kota di Indonesia. Salah satunya adalah

Bandung, kini pedagang kecil digerobak pun bisa menerima pembayaran melalui Go-

Pay sehingga dekat dengan masyarakat. Meskipun berdasarkan pengamatan peneliti,

sejauh ini UMKM yang menyediakan layanan pembayaran Go-Pay hanya berada

didaerah yang ramai seperti pusat perbelanjaan, pusat kota dan pusat jajanan. Belum

sampai ke UMKM yang letaknya didaerah sekitar rumah yang jauh dari keramaian.

4.5.2.10 Sudah Banyak Outlet Yang Menerima Transaksi Menggunakan Go-

Pay

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

sudah banyak outlet yang menerima transaksi menggunakan Go-Pay adalah sebagai

berikut:
78

Tabel 4.37
Sudah Banyak Outlet Yang Menerima Transaksi Menggunakan Go-Pay

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 2 2%
Tidak Setuju 6 5.9%
Ragu-Ragu/Netral 23 22.5%
Setuju 48 47.1%
Sangat Setuju 23 22.5%
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dilihat pada tabel 4.38 sebanyak 69,6% setuju dan 7,9% sangat tidak setuju

dengan pernyataan tersebut. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dengan

berkembangnya UMKM Go-Pay pun bekerja sama dengan lebih dari 200.000

UMKM yang tersebar diseluruh Indonesia dan jumlahnya meningkat setiap tahunnya

tentu saja ini memperbanyak jumlah outlet yang menerima transaksi menggunakan

Go-Pay.

Distribusi penilaian responden atas variabel persepsi kemudahan penggunaan

dari hasil jawaban responden dapat dilihat pada tabel 4.38 berikut :

Tabel 4.38
Analisa Deskriptif Variabel Persepsi Kemudahan Penggunaan
Hasil
No Indikator
Mean Ket
1 Sistem Kerja Go-Pay mudah saya mengerti 4.24 Sangat Mudah
2 Cara penggunaan Go-Pay mudah saya pahami 4.23 Sangat Mudah
Go-Pay selalu berfungsi dengan baik saat saya melakukan transaksi
3 pembayaran 4.02 Mudah
4 Menggunakan Go-Pay mengendalikan perilaku saya saat bertransaksi 3.66 Mudah
5 Go-Pay menampilkan setiap menu pada aplikasi dengan jelas 4.15 Mudah
6 Saya tahu setiap menu yang ada pada layanan Go-Pay 3.95 Mudah
7 Go-Pay sebagai alternatif uang tunai mudah dibawa kemanapun 4.21 Sangat Mudah
8 Go-Pay sebagai alternatif uang tunai dapat digunakan kapan saja 4.14 Mudah
Outlet yang melayani transaksi menggunakan Go-Pay dekat dengan
9 tempat tinggal saya 3.69 Mudah
10 Sudah banyak outlet yang menerima transaksi menggunakan Go-Pay 3.82 Mudah
Rata-rata penilaian 4.01 Mudah

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.38 hasil penilaian variabel persepsi kemudahan

penggunaan menunjukkan nilai tertinggi pada variabel persepsi manfaat terdapat

pada indikator sistem kerja Go-Pay mudah saya mengerti dengan rata-rata nilai 4,24
79

yang masuk dalam kategori sangat mudah, Sedangkan nilai terendah terdapat pada

indikator menggunakan Go-Pay mengendalikan perilaku saya saat bertransaksi

dengan rata-rata nilai sebesar 3,66 yang masuk kedalam kategori mudah. Kecilnya

nilai rata-rata ini disebabkan karena kemudahannya pengguna Go-Pay justru

cenderung lebih boros. Secara keseluruhan nilai memiliki rata-rata penilaian total

sebesar 4,01 sehingga masuk kedalam kategori baik. Ini berarti sebagian besar

pengguna Go-Pay menyatakan setuju bahwa Go-Pay mudah digunakan untuk

bertransaksi.

4.5.3 Indikator Variabel Persepsi Risiko

Dalam penelitian ini variabel persepsi kemudahan penggunaan diukur oleh 3

indikator performance risk, financial risk, dan time-loss risk yang indikatornya

diukur oleh 5 pernyataan.

4.5.3.1 Saya Tidak Bisa Bertransaksi Saat Layanan Go-Pay Error

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

saya tidak bisa bertransaksi saat layanan Go-Pay error dapat dilihat pada tabel 4.38

berikut:

Tabel 4.39
Saya Tidak Bisa Bertransaksi Saat Layanan Go-Pay Error
Skala Likert Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 5 4.9
Tidak Setuju 18 17.6
Ragu-ragu/Netral 28 27.5
Setuju 31 30.4
Sangat Setuju 20 19.6
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data tabel 4.39 sebanyak 50% menyatakan setuju, 27,5%

menyatakan ragu-ragu atau netral, 22,5% mengatakan tidak setuju. Hal ini bisa

dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ketika akan melakukan transaksi

menggunakan Go-Pay kemudian sistemnya error maka pengguna bisa menggunakan


80

uang tunai sehingga bisa melanjutkan transaksi, lain halnya dengan yang tidak

membawa uang tunai karena hanya ada saldo di Go-Pay mengakibatkan pengguna

tidak bisa bertransaksi.

4.5.3.2 Saya Merasa Membutuhkan Koneksi Internet Yang Stabil Ketika

Menggunakan Go-Pay

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

saya merasa membutuhkan koneksi internet yang stabil ketika menggunakan Go-Pay

dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.40
Saya Merasa Membutuhkan Koneksi Internet Yang Stabil Ketika
Menggunakan Go-Pay

Skala Likert Frekuensi Persentase


Sangat Tidak Setuju 3 2.9%
Tidak Setuju 8 7.8%
Ragu-ragu/Netral 28 27.5%
Setuju 38 37.3%
Sangat Setuju 25 24.5%
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data tabel 4.40 sebanyak 61,8% menyatakan setuju dan 10,7%

menyatakan tidak setuju. Go-Pay merupakan alat transaksi pembayaran digital yang

membutuhkan jaringan internet untuk mengaksesnya, tentu saja internet yang stabil

menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran saat bertransaksi

menggunakan Go-Pay.

4.5.3.3 Biaya Admin Go-Pay Merugikan Saya Secara Finansial

Penilaian terhadap indikator biaya admin Go-Pay merugikan saya secara

finansial dapat dilihat pada tabel 4.41.

Tabel 4.41
Biaya Admin Go-Pay Merugikan Saya Secara Finansial

Skala Likert Frekuensi Persentase


Sangat Tidak Setuju 17 16.7%
Tidak Setuju 20 19.5%
Ragu-ragu/Netral 32 31.4%
81

Setuju 16 15.7%
Sangat Setuju 17 16.7%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.41 sebanyak 31,4% menyatakan ragu-ragu/netral, 32.4%

menyatakan setuju dan 36.2% menyatakan tidak setuju. Ini berarti cukup banyak

yang mengaggap biaya admin saat pengisian Go-pay merugikan, yang lainnya

menganggap biaya admin Go-Pay tidak merugikan dan sisanya menyatakan ragu-

ragu apakah Go-Pay merugikan atau tidak. Perlu diketahui Go-Pay mengenakan

biaya admin Rp.1000,- per satu kali top-up. Jika pengguna melakukan top-up

sebanyak 10x tentu akan terkena biaya akumulatif sebanyak Rp.10.000,- hal ini

berbanding terbalik dengan kompetitor Go-Pay yang tidak menggunakan biaya

admin untuk top-up.

4.5.3.4 Saldo Go-Pay Yang Membuat Uang Saya Tertahan Dan

Menimbulkan Kerugian

Penilaian terhadap indikator saldo Go-Pay yang membuat uang saya

tertahan dan menimbulkan kerugian dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.42
Saldo Go-Pay Yang Membuat Uang Saya Tertahan Dan Menimbulkan
Kerugian
Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 17 16.7%
Tidak Setuju 24 23.5%
Ragu-ragu/Netral 39 38.2%
Setuju 14 13.7%
Sangat Setuju 8 7.8%
Total 102 100.0

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.42 Sebanyak 38,2% responden pengguna Go-Pay

menyatakan ragu-ragu/netral, 21,5% menyatakan sangat setuju dan 40.2%. Perlu

diketahui Go-Pay kini dapat melakukan transfer ke rekening bank maupun sesama
82

pengguna Go-Pay namun membutuhkan verifikasi seperti foto wajah dan upload

identitas diri (KTP), untuk beberapa pengguna hal ini membuat ragu karena

pengguna berarti memberikan identitas diri ke pihak Go-Jek dan rawannya

kebocoran data identitas diera digital (www.liputan6.com). Namun ketika pengguna

sudah melakukan verifikasi maka pihak Go-Jek akan membuka akses untuk bisa

transfer ke beberapa bank dan pengguna Go-Pay lainnya sehingga uang tidak akan

tertahan disaldo Go-Pay.

4.5.3.5 Mengisi Go-Pay Saat Akan Melakukan Transaksi Pembayaran

Menghabiskan Waktu Saya

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

mengisi Go-Pay saat akan melakukan transaksi pembayaran menghabiskan waktu

saya dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.43
Skala Likert Mengisi Go-Pay Saat Akan Melakukan Transaksi Pembayaran
Menghabiskan Waktu Saya

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 17 16.7%
Tidak Setuju 31 30.4%
Ragu-ragu/Netral 25 24.5%
Setuju 27 26.5%
Sangat Setuju 2 2.0%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dilihat dari tabel 4.43 sebanyak 47,1% responden menyatakan tidak setuju

menyatakan sangat setuju ini berarti mayoritas responden pengguna Go-Pay tidak

merasa adanya risiko waktu dari pengisian saldo Go-Pay. Terlebih sekarang sudah

tersedia internet banking dan mobile banking untuk top-up yang bisa digunakan di

smartphone yang tentu saja semakin menghemat waktu.

Distribusi penilaian responden atas variabel persepsi risiko dapat dilihat dari

hasil jawaban responden pada Tabel 4.44 sebagai berikut :


83

Tabel 4.44
Analisa Deskriptif Persepsi Risiko

Hasil
No Indikator
Mean Keterangan
Saya tidak bisa bertransaksi saat layanan Go-
1 Pay error 3.42 Sangat Kuat
Saya merasa membutuhkan koneksi internet
2 yang stabil ketika menggunakan go-pay 3.73 Kuat
Biaya admin Go-Pay merugikan saya secara
3 finansial 2.96 Cukup Kuat
Saldo Go-Pay yang membuat uang saya tertahan
4 dan menimbulkan kerugian 2.73 Cukup Kuat
Mengisi Go-Pay saat akan melakukan transaksi
6 pembayaran menghabiskan waktu saya 3.67 Cukup Kuat
Rata-rata penilaian 3.30 Cukup Kuat

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


Hasil penilaian terhadap variabel yang ditunjukan oleh Tabel 4.43 nilai rata-

rata tertinggi pada variabel persepsi risiko adalah indikator saya merasa

membutuhkan koneksi internet yang stabil ketika menggunakan go-pay dengan rata-

rata nilai 3,73 sehingga masuk dalam kategori kuat. Sedangkan hasil penilaian

terendah terdapat pada indikator biaya admin Go-Pay merugikan saya secara

finansial dengan rata-rata penilaian sebesar 2,73 yang masuk kedalam kategori cukup

kuat. Hal ini menunjukan bahwa sebagian responden setuju dengan pernyataan biaya

admin Go-Pay dianggap cukup merugikan bagi sebagian responden karena jika

melakukan pengisian secara berulang maka pengguna akan membayar biaya admin

secara berulang juga. Secara keseluruhan Persepsi risiko menunjukkan hasil total

rata-rata penilaian sebesar 3,30 yang termasuk dalam kategori cukup kuat.

4.5.4 Variabel Repurchase Intention

Dalam penelitian ini variabel persepsi kemudahan penggunaan diukur oleh 3

indikator yaitu minat transaksional, minat referensial,dan minat preferensial yang

indikatornya diukur oleh 6 pernyataan.


84

4.5.4.1 Saya Akan Menggunakan Go-Pay Kembali Saat Melakukan Transaksi

Pembayaran

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

saya akan menggunakan Go-Pay kembali saat melakukan transaksi pembayaran

dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.45
Saya Akan Menggunakan Go-Pay Kembali Saat Melakukan Transaksi
Pembayaran

Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 2 2%
Tidak Setuju 4 3.9%
Ragu-ragu/Netral 33 32.4%
Setuju 41 40.2%
Sangat Setuju 22 21.6%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dilihat dari data tabel 4.45 sebanyak 61,8% mengaku setuju dan akan

menggunakan Go-Pay kembali saat melakukan transaksi. Kemudian 5,9% mengaku

tidak setuju hal ini mungkin dikarenakan beberapa hal seperti banyaknya fintech baru

yang bermunculan atau ada fintech lain yang memberikan penawaran lebih menarik.

Yang lainnya mungkin karena terbiasa dan merasa sudah lebih mengenal Go-Pay

sehingga akan menggunakan kembali Go-Pay.

4.5.4.2 Go-Pay Merupakan Pilihan Saya Jika Saya Akan Bertransaksi Lagi

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

Go-Pay Merupakan Pilihan Saya Jika Saya Akan Bertransaksi Lagi dapat dilihat

sebagai berikut:

Tabel 4.46
Go-Pay Merupakan Pilihan Saya Jika Saya Akan Bertransaksi Lagi

Frekuensi Persentase
Tidak Setuju 5 4.9%
Ragu-ragu/Netral 37 36.3%
Setuju 37 36.3%
Sangat Setuju 23 22.5%
Total 102 100%
85

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dilihat dari data tabel 4.46 sebanyak 58,8% menyatakan setuju, 36,3% ragu-

ragu/netral dan 41,2% menyatakan tidak setuju. Hal ini bisa saja disebabkan oleh

ketidakpastian tersedianya pembayaran Go-Pay di tempat akan berlangsungnya

transaksi. Karena meskipun sudah banyak outlet yang menyediakan namun belum di

semua tempat bisa bertransaksi menggunakan Go-Pay

4.5.4.3 Saya Akan Merekomendasikan Teman/Saudara Untuk Menggunakan

Go-Pay

Penilaian terhadap indikator saldo Saya Akan Merekomendasikan

Teman/Saudara Untuk Menggunakan Go-Pay dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.47
Saya Akan Merekomendasikan Teman/Saudara Untuk Menggunakan Go-Pay
Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 1 1%
Tidak Setuju 6 5.9%
Ragu-ragu/Netral 29 28.4%
Setuju 46 45.1%
Sangat Setuju 20 19.6%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.47 sebanyak lebih dari 64,7% mengaku setuju akan

merekomendasikan teman/saudara untuk menggunakan Go-Pay hal ini mungkin

disebabkan oleh adanya promo dari Go-Jek berupa program rekomendasi teman

dimana jika 3 orang mendaftar dan melakukan transaksi menggunakan Go-Pay

melalui link yang kita bagikan maka pengguna yang merekomendasikan akan

mendapatkan saldo Go-Pay.

4.5.4.4 Saya Akan Memberitahukan Teman/Saudara Untuk Menggunakan Go-

Pay

Penilaian terhadap indikator saya akan memberitahukan teman/saudara untuk

menggunakan go-pay dapat dilihat pada tabel 4.48.


86

Tabel 4.48
Saya Akan Memberitahukan Teman/Saudara Untuk Menggunakan Go-Pay

Frekuensi Persen
Sangat Tidak Setuju 2 2%
Tidak Setuju 4 3.9%
Ragu-ragu/Netral 32 31.4%
Setuju 41 40.2%
Sangat Setuju 23 22.5%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.48 sebanyak 40,2% menyatakan setuju dan 2%

menyatakan tidak setuju. Hal ini menunjukan mayoritas responden mengaku setuju

untuk memberitahukan Go-Pay kepada teman/saudara hal ini sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Prananda Ikhsan Surya (2017) dimana responden

cenderung setuju untuk memberitahukan/ merekoemendasikan penggunaan Go-Pay.

4.5.4.5 Saya Memilih Go-Pay Sebagai Pilihan Utama Dalam Melakukan

Pembayaran Dibandingkan Tunai Maupun Financial Technology

Berjenis Payment Lainnya

Berdasarkan hasil penilaian responden pengguna Go-Pay dengan pernyataan

saya memilih Go-Pay sebagai pilihan utama dalam melakukan pembayaran

dibandingkan tunai maupun financial technology Berjenis Payment lainnya dapat

dilihat pada tabel 4.49.

Tabel 4.49
Saya Memilih Go-Pay Sebagai Pilihan Utama Dalam Melakukan Pembayaran
Dibandingkan Tunai Maupun Financial Technology Berjenis Payment Lainnya

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 1 1%
Tidak Setuju 17 16.7%
Ragu-ragu/Netral 43 42.2%
Setuju 27 26.5%
Sangat Setuju 14 13.7%
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


87

Dilihat pada tabel 4.49 sebanyak 42,2% menyatakan ragu-ragu dan 17,7%

menyatakan tidak setuju.. Beberapa hal yang mungkin mempengaruhi penilaian ragu-

ragu dari responden adalah tidak semua tempat bisa menerima pembayaran cashless

terutama Go-Pay. Masyarakat Indonesia saat ini belum sepenuhnya menjadi cashless

society sehingga kehadiran uang tunai masih diperlukan dan belum bisa

dibandingkan dengan adanya alat pembayaran digital.

4.5.4.6 Saya Akan Menggunakan Go-Pay Saat Melakukan Transaksi

Pembayaran Apapun

Penilaian terhadap saya akan menggunakan Go-Pay saat melakukan transaksi

pembayaran apapun dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.50
Saya Akan Menggunakan Go-Pay Saat Melakukan Transaksi Pembayaran
Apapun

Frekuensi Persentase
Sangat Tidak Setuju 3 2.9%
Tidak Setuju 19 18.6 %
Ragu-ragu/Netral 50 49 %
Setuju 20 19.6 %
Sangat Setuju 10 9.8 %
Total 102 100%

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Berdasarkan data tabel 4.50 sebanyak 49% menyatakan ragu-ragu/netral dan

21,5% menyatakan sangat tidak setuju. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya

meskipun sudah banyak yang bisa menerima pembayaran melalui Go-Pay tapi tidak

semua tempat bisa menggunakan Go-Pay sehingga ketidakpastian ini membuat

responden ragu-ragu/netral. Sedangkan yang sangat tidak setuju mungkin hanya

menggunakan Go-Pay untuk pembayaran tertentu atau waktu-waktu khusus sehingga

tidak akan melakukan semua pembayaran/transaksi menggunakan Go-Pay.

Distribusi penilaian responden atas variabel repurchase intention dari hasil

jawaban responden dapat dilihat pada tabel 4.51 berikut :


88

Tabel 4.51
Analisa Deskriptif Repurchase Intention

Hasil
No Indikator
Mean Ket
Saya akan menggunakan Go-Pay kembali saat melakukan
1 transaksi pembayaran 3.78 Berminat
Go-Pay merupakan pilihan saya jika saya akan
2 bertransaksi lagi 3.76 Berminat
Saya akan merekomendasikan teman/saudara untuk
3 menggunakan Go-Pay 3.76 Berminat
Saya akan memberitahukan teman/saudara untuk
4 menggunakan Go-Pay 3.77 Berminat
Saya memilih Go-Pay sebagai pilihan utama dalam
melakukan pembayaran dibandingkan tunai maupun
Cukup
financial technology berjenis payment lainnya
5 3.35 Berminat
Saya akan menggunakan Go-pay saat melakukan Cukup
6 transaksi pembayaran apapun 3.15 Berminat
Rata-rata penilaian 3.69 Berminat

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Hasil dari tabel 4.51 menunjukan nilai rata-rata tertinggi dari variabel

repurchase intention adalah indikator saya akan menggunakan Go-Pay kembali saat

melakukan transaksi pembayaran dengan nilai rata-rata 3,78 kategori berminat,

sedangkan yang terendah adalah indikator saya akan menggunakan Go-pay saat

melakukan transaksi pembayaran apapun dengan nilai rata-rata 3,15. Hal ini

menunjukan bahwa responden akan kembali menggunakan Go-Pay namun belum

tentu melakukan semua transaksi pembayaran melalui Go-Pay ini bisa saja didasari

oleh beberapa hal, salah satunya pengguna menggunakan Go-Pay untuk pembayaran

tertentu atau waktu-waktu khusus sehingga tidak akan melakukan semua

pembayaran/transaksi menggunakan Go-Pay. . Kemudian nilai total rata-rata

variabel repurchase intention menunjukkan cukup berminat, hal ini berarti rata-rata

responden akan kembali melakukan transaksi dengan Go-Pay.


89

4.6 Rancangan Pengujian Hipotesi

Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Dengan

demikian, ada keterkaitan antara perumusan masalah dengan hipotesis, karena

perumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian. Pengujian hipotesis adalah

prosedur yang didasarkan pada bukti sampel yang dipakai untuk menentukan apakah

hipotesis merupakan suatu pernyataan yang wajar dan oleh karenanya tidak ditolak

atau hipotesis tersebut tidak wajar dan oleh karena itu harus ditolak..

4.6.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis Regresi Linier Berganda dilakukan untuk menguji pengaruh lebih

dari dua variabel melalui koefisien regresinya. Pada uji analisis regresi linier

berganda ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat pengaruh persepsi manfaat,

persepsi kemudahan penggunaan, persepsi risiko terhadap repurchase intention

pengguna layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung”.

Tabel 4.52
Koefisien X1,X2,X3 Terhadap Y

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) 5.394 2.965 1.820 .072
X1 .087 .096 .092 .909 .366
1
X2 .437 .075 .596 5.860 .000
X3 -.223 .080 -.200 -2.804 .006

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Dari tabel 4.51 dapat dilihat bahwa nilai konstanta untuk variabel repurchase

intention adalah 5,394 sedangkan hasil nilai koefisien persepsi manfaat Go-Pay

adalah 0,087, persepi kemudahan 0,437 dan persepsi risiko -0,223. Dengan demikian

dapat dibuat persamaan regresi linear Y = 5,394 + 0,087 X1 + 0,437X2 - 0,223X3

dimana Ŷ adalah repurchase intention, X1 persepsi manfaat, X2 persepsi kemudahan

penggunaan, dan X3 adalah persepsi risiko.


90

Nilai konstanta sebesar 5,394 menyatakan bahwa jika nilai X1,X2,dan X3 = 0

atau variabel persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaaan, persepsi risiko

tidak ada, maka nilai variabel repurchase intention adalah sebesar 5,394. Koefisien

regresi variabel persepsi manfaat (X1) adalah 0,087 ini berarti jika persepsi manfaat

meningkat 1 poin maka minat menggunakan kembali Go-Pay akan naik sebesar

0,087 dengan asumsi X2 dan X3 tetap. Tanda positif pada nilai 0,087 mengandung

implikasi bahwa persepsi manfaat, persepskemudahan penggunaan Go-Pay searah

dengan variabel repurchase intention, dengan kata lain bahwa variabel persepsi

manfaat Go-Pay mempunyai pengaruh yang positif terhadap repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi kemudahan penggunaan (X2) adalah

0,437 ini berarti jika persepsi kemudahan pernggunaan meningkat 1 poin maka minat

menggunakan kembali Go-Pay akan naik sebesar 0,437 dengan asumsi X1 dan X3

tetap. Tanda positif pada nilai 0,437 mengandung implikasi bahwa persepsi

kemudahan penggunaan Go-Pay searah dengan variabel repurchase intention,

dengan kata lain bahwa variabel persepsi kemudahan penggunaan Go-Pay

mempunyai pengaruh yang positif terhadap repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi risiko (X3) adalah -0,223 ini berarti

koefisien negatif (berlawanan) jika persepsi risiko meningkat 1 poin maka minat

menggunakan kembali Go-Pay akan turun sebesar -0,223 dengan asumsi X1 dan X2

tetap. Tanda negatif pada nilai 0,223 mengandung implikasi bahwa persepsi risiko

Go-Pay berlawanan dengan variabel repurchase intention, dengan kata lain bahwa

variabel persepsi risiko Go-Pay mempunyai pengaruh yang negatif terhadap

repurchase intention.

Tabel 4.53
Model Summary X1,X2,X3 Terhadap Y

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate


a
1 .713 .508 .493 3.088
91

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Jika ditinjau dari tabel 4.52 nilai Adjusted R Square sebesar 0,493, artinya

49,3% repurchase intention dipengaruhi oleh variabel persepsi manfaat, persepsi

kemudahan penggunaan, dan persepsi risiko, sedangkan sebesar 50,7% dipengaruhi

oleh variabel lainnya yang tidak dianalisis pada uji hipotesis ini.

4.6.2 Uji t

Uji t yaitu pengujian koefisien regresi parsial individual yang digunakan

untuk mengetahui apakah variabel independen (X) secara individual variabel

dependen (Y). Langkah pengujiannya adalah sebagai berikut:

H0 = Jika Sig >0,05 maka hipotesis ditolak yang artinya tidak ada pengaruh

signifikan antara variabel X dan Variabel Y.

H1 = Jika Sig < 0,05 maka hipotesis diterima yang artinya terdapat pengaruh

signifikan antara variabel X dan variabel Y.

Tabel 4.54
Output Uji t

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) 5.394 2.965 1.820 .072

X1 .087 .096 .092 .909 .366


1
X2 .437 .075 .596 5.860 .000

X3 -.223 .080 -.200 -2.804 .006

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

4.6.2.1 Pengaruh Persepsi Manfaat Terhadap Repurchase Intention Pengguna

Layanan Fintech Go-Pay Di Kota Bandung

Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah: “Terdapat pengaruh positif

persepsi manfaat terhadap repurchase intention layanan fintech Go-Pay di Kota

Bandung”.

Berdasarkan data tabel 4.54 nilai signifikasi variabel persepsi manfaat (X1)

0,366 dimana nilai tersebut >0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka H0 diterima dan
92

H1 ditolak yang berarti variabel persepsi manfaat (X1) berpengaruh tidak signifikan

terhadap repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi manfaat adalah 0,087, nilai yang positif

menunjukan pengaruh positif dan searah terhadap variabel repurchase intention.

Kemudian nilai 0,087 berarti bahwa setiap penambahan 1 (satu) poin variabel

persepsi manfaat, maka akan meningkatkan repurchase intention sebesar 0,087 kali.

4.6.2.2 Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan Terhadap Repurchase

Intention Pengguna Layanan Fintech Go-Pay Di Kota Bandung

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah Terdapat pengaruh persepsi

kemudahan penggunaan terhadap repurchase intention layanan fintech Go-Pay di

Kota Bandung.

Berdasarkan tabel 4.54 nilai signifikasi variabel persepsi kemudahan

penggunaan adalah 0,000 < 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak yang berarti

terdapat pengaruh signifikan antara persepsi kemudahan penggunaan terhadap

repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi kemudahan penggunaan adalah 0,437.

Nilai yang positif menunjukan pengaruh positif dan searah terhadap variabel

repurchase intention. Kemudian nilai 0,437 berarti bahwa setiap penambahan 1

(satu) poin variabel persepsi manfaat, maka akan meningkatkan repurchase intention

sebesar 0,437 kali.

4.6.2.3 Pengaruh Persepsi Risiko Terhadap Repurchase Intention Pengguna

Layanan Fintech Go-Pay Di Kota Bandung

Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah pengaruh persepsi risiko terhadap

repurchase intention pengguna layanan fintech Go-Pay di Kota Bandung.


93

Dilihat pada tabel 4.54 variabel persepsi risiko memiliki nilai signifikasi

0,006 < 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak yang berarti terdapat pengaruh

signifikan antara persepsi risiko terhadap repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi risiko adalah -0,233. Nilai yang negatif

menunjukan pengaruh negatif dan berlawanan terhadap variabel repurchase

intention. Kemudian nilai -0,233 berarti bahwa setiap penambahan 1 (satu) poin

variabel persepsi risiko, maka akan menurunkan repurchase intention sebesar 0,233

kali.

4.6.3 Uji F

Uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel X secara simultan

(bersama-sama atau gabungan) terhadap variabel Y.Hipotesis yang digunakan adalah

sebagai berikut:

H0: Jika nilai Sig. > 0,05, maka hipotesis ditolak bahwa persepsi manfaat (X1),

persepsi kemudahan (X2), dan persepsi risiko (X3) tidak berpengaruh secara

simultan terhadap repurchase intention (Y)

H1: Jika nilai Sig. < 0,05, maka hipotesis diterima bahwa persepsi manfaat (X1),

persepsi kemudahan (X2), dan persepsi risiko (X3) tidak berpengaruh secara

simultan terhadap repurchase intention (Y)

Tabel 4.55
Output Uji F

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.


b
Regression 964.908 3 321.636 33.735 .000

1 Residual 934.347 98 9.534

Total 1899.255 101

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019


Berdasarkan Nilai Signifikansi (Sig.) dari tabel 4.55, diketahui nilai Sig.

adalah sebesar 0,000. Karena nilai Sig. 0,000 < 0,05, maka sesuai dengan dasar

pengambilan keputusan dalam uji F dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima atau
94

dengan kata lain variabel persepsi manfaat (X1), persepsi kemudahan (X2), persepsi

risiko (X3) berpengaruh secara simultan terhadap repurchase intention (Y).

4.6.4 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk mencari seberapa besar

variasi variabel independen dapat menjelaskan secara keseluruhan variasi variabel

independen. Koefisien determinasi mengukur seberapa besar pengaruh variabel

independen secara keseluruhan terhadap naik turunnya variasi nilai variabel

dependen.

Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Bila R = 0 berarti

diantara variabel bebas (independent variable) dengan variabel terikat (dependent

variabel) lemah, sedangkan bila R = 1 berarti antara variabel bebas dengan variabel

terikat mempunyai hubungan kuat.

Tabel 4.56
Output Koefisien Determinasi

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the


Estimate

1 .713a .508 .493 3.088

Sumber: Data Yang Diolah Tahun 2019

Hasil output tabel 4.56 menunjukan adjusted r square sebesar 0,493. Ini

berarti kontribusi atau sumbangan secara simultan variabel antara persepsi manfaat,

persepsi kemudahan penggunaan, persepsi risiko terhadap repurchase intention

adalah 49,3% sedangkan 50,7% sisanya ditentukan oleh variabel yang lain yang tidak

diuji dalam pengujian ini.

4.7 Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh persepsi manfaat (X1),

persepsi kemudahan (X2), persepsi risiko (X3), terhadap repurchase intention


95

pengguna Go-Pay di Kota Bandung. Pengolahan dan analisis data dengan

menggunakan software spss 21.0. Hasil analisis ini berdasarkan pada hipotesis yang

telah ditentukan bab sebelumnya.

4.7.1 Pengaruh Persepsi Manfaat Terhadap Repurchase Intention Pengguna

Fintech Go-Pay di Kota Bandung

Hasil penelitian mendukung hipotesis pertama menunjukan bahwa

variabel Persepsi Manfaat (X1) berpengaruh positif namun tidak signifikan secara

parsial terhadap repurchase intention (Y). Hal ini terlihat dari nilai signifikasi

variabel persepsi manfaat (X1) 0,366 dimana nilai tersebut >0,05 yang berarti

variabel persepsi manfaat (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap repurchase

intention.

Koefisien regresi variabel persepsi kemudahan penggunaan adalah 0,087.

Nilai yang positif menunjukan pengaruh positif dan searah terhadap variabel

repurchase intention. Kemudian nilai 0,087 berarti bahwa setiap penambahan 1

(satu) poin variabel persepsi manfaat, maka akan meningkatkan repurchase intention

sebesar 0,087 kali.

Ini menjadi fenomena dimana justru berlainan dengan teori TAM oleh Davis

(1989) dimana menurutnya persepsi manfaat (perceived usefulness) merupakan salah

satu penentu yang kuat terhadap penerimaan untuk menggunakan suatu teknologi

dan perilaku para pengguna.

Namun penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Cindy Regina

Oroh (2015) dimana Persepsi manfaat tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap

repurchase intention.
96

4.7.2 Pengaruh Persepsi Kemudahan Terhadap Repurchase Intention

Pengguna Fintech Go-Pay di Kota Bandung

Hasil penelitian mendukung hipotesis kedua bahwa variabel persepsi

kemudahan (X2) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap

Repurchase Intention Go-Pay (Y). Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikasi variabel

persepsi kemudahan penggunaan yaitu 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh

signifikan antara persepsi kemudahan penggunaan terhadap repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi kemudahan penggunaan adalah 0,437. Hal

ini menunjukan pengaruh positif dan searah terhadap variabel repurchase intention.

Setiap penambahan 1 (satu) poin variabel persepsi manfaat, maka akan

meningkatkan repurchase intention sebesar 0,437 kali.

Pengguna Go-Pay yang beranggapan bahwa layanan fintech mudah untuk

digunakan dan mudah untuk dipahami, dan mudah dijangkau dari lokasi pengguna

maka akan minat untuk menggunakan kembali (repurchase intention) sangat besar.

Sedangkan sebaliknya, jika pengguna beranggapan bahwa penggunaan layanan Go-

Pay tersebut rumit dan tidak mudah dimengerti maka akan memutuskan tidak

menggunakan layanan fintech Go-Pay.

Penelitian ini mendukung teori Venkatesh dan Moris (2000) yaitu persepsi

kemudahan penggunaan telah terbukti memiliki efek atau pengaruh pada minat

melalui dua jalur kausal, yaitu: efek langsung pada minat dan efek tidak langsung

pada minat melalui persepsi kebermanfaatan yang dirasakan. Pengaruh atau efek

langsung menunjukkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan bisa menjadi

potensial untuk meningkatkan kemungkinan penerimaan pengguna.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Nuri Apriyani dan Suharti (2017) menunjukkan bahwa persepsi kemudahan memiliki

pengaruh positif signifikan terhadap niat pembelian kembali.


97

Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian yang dilakukan oleh Nunik

Sanaji Khoriul Basyar (2016) menunjukan bahwa persepsi kemudahan memiliki

hubungan positif dan pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan.

4.7.3 Pengaruh Persepsi Risiko Terhadap Repurchase Intention Pengguna

Fintech Go-Pay di Kota Bandung

Hasil penelitian mendukung hipotesis ketiga bahwa variabel Persepsi

Risiko (X3) berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap terhadap

repurchase intention layanan Go-Pay (Y). Hal ini ditunjukan oleh variabel persepsi

risiko yang memiliki nilai signifikasi 0,006 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh

signifikan antara persepsi risiko terhadap repurchase intention.

Koefisien regresi variabel persepsi risiko adalah -0,223. menunjukan

pengaruh negatif dan berlawanan terhadap variabel repurchase intention. hal ini juga

berarti bahwa setiap penambahan 1 (satu) poin variabel persepsi risiko, maka akan

menurunkan repurchase intention sebesar 0,223 kali.

Semakin tinggi ketidakpastian dan konsekuensi-konsekuensi yang tidak

diinginkan timbul maka semakin meningkatkan persepsi risiko. Apabila persepsi

risiko yang dihadapi rendah, maka hal ini dapat menarik pengguna Go-Pay untuk

melakukan repurchase intention. Sebaliknya, apabila persepsi risiko yang akan

diterimanya tinggi dalam menggunakan layanan Go-Pay, maka seseorang pada

umumnya cenderung akan menghindarinya. Oleh karena itu, persepsi risiko dapat

mempengaruhi pengguna Go-Pay untuk melakukan repurchase intention.

Penelitian ini mendukung teori Kesharwani dan Bisht (2012) apabila

pelanggan menemukan perbedaan antara pengalaman pembelian dan tujuan

pembelian maka tingkat risiko yang dirasakan akan semakin tinggi sehingga

pelanggan dapat mengurangi bahkan menghentikan konsumsi terhadap produk

atau layanan tersebut


98

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Tho, N. X.,

Lai, M.-T., & Yan, H. (2017) bahwa terdapat pengaruh negatif signifikan persepsi

risiko terhadap repurchase intention.

4.7.4 Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan Penggunaan, Persepsi

Risiko Terhadap Repurchase Intention

Hasil penelitian mendukung hipotesis bahwa variabel persepsi manfaat,

persepsi, persepsi manfaat, dan persepsi risiko berpengaruh positif secara bersama-

sama (simultan) terhadap repurchase intention. Dihitung dengan koefisien korelasi

adalah 0,713, hal ini menunjukkan pengaruh yang erat. Koefisien regresi

variabel persepsi manfaat (X1) adalah 0,087 ini berarti jika persepsi manfaat

meningkat 1 poin maka minat menggunakan kembali Go-Pay akan naik sebesar

0,087 dengan asumsi X2 dan X3 tetap. Koefisien regresi variabel persepsi

kemudahan penggunaan (X2) adalah 0,437 ini berarti jika persepsi kemudahan

pernggunaan meningkat 1 poin maka minat menggunakan kembali Go-Pay akan naik

sebesar 0,437 dengan asumsi X1 dan X3 tetap. Koefisien regresi variabel persepsi

risiko (X3) adalah -0,223 ini berarti koefisien negatif (berlawanan) jika persepsi

risiko meningkat 1 poin maka minat menggunakan kembali Go-Pay akan turun

sebesar -0,223 dengan asumsi X1 dan X2 tetap.

Jika ditinjau dari nilai Adjusted R Square sebesar 0,493 artinya 49,3%

repurchase intention dipengaruhi oleh variabel persepsi manfaat, persepsi

kemudahan penggunaan, dan persepsi risiko, sedangkan sebesar 50,7% sisanya

dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dianalisis pada uji hipotesis ini.

Kemudian signifikasi diperoleh nilai probabilitas 0,000. Karena nilai sig.

0,000 < 0,05, maka Persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, dan persepsi

risiko berhubungan secara simultan dan signifikan terhadap repurchase intention

pengguna Go-Pay di Kota Bandung.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan analisa dan pengolahan data maka penulis membuat

kesimpulan sebagai berikut :

1. Analisa deskriptif menunjukkan bahwa variabel persepsi manfaat memiliki

rata-rata penilaian yang termasuk dalam kategori sangat bermanfaat. variabel

persepsi kemudahan penggunaan memiliki rata-rata penilaian yang termasuk

dalam kategori mudah. Kemudian variabel persepsi risiko menunjukan nilai

rata-rata yang cukup kuat. Terakhir variabel Repurchase Intention memiliki

nilai rata-rata yang menunjukan kategori berminat.

2. Variabel persepsi manfaat berpengaruh secara parsial namun tidak signifikan

secara parsial terhadap repurchase intention. Meskipun tidak berpengaruh,

variabel ini penting karena jika diuji secara simultan berpengaruh.

3. Variabel persepsi kemudahan berpengaruh secara parsial dan signifikan

terhadap pengguna Go-Pay untuk melakukan repurchase intention.

4. Persepsi Risiko berpengaruh negatif secara parsial dan signifikan terhadap

terhadap repurchase intention layanan Go-Pay.

5. Variabel persepsi manfaat, persepsi, persepsi manfaat, dan persepsi risiko

secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap repurchase

intention pengguna Go-Pay di Kota Bandung.

99
100

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Perusahaan

1. Variabel persepsi manfaat pada pernyataan Go-Pay lebih efisien

dibandingkan tunai memiliki nilai dibawah rata-rata. Ini berarti pengguna

Go-Pay belum sepenuhnya cashless. Beberapa faktor yang mungkin saja

terjadi adalah tidak tersedianya metode pembayaran Go-Pay disemua tempat

sehingga pengguna tidak bisa menggunakan layanan Go-Pay untuk

bertransaksi. Diharapkan pihak Go-Jek dapat meningkatkan jumlah merchant

yang dapat melakukan transaksi pembayaran menggunakan Go-Pay sehingga

pengguna Go-Pay bisa lebih meningkat.

2. Pada variabel persepsi kemudahaan penggunaan pernyataan menggunakan

Go-Pay mengendalikan perilaku saya saat bertransaksi memiliki nilai rata-

rata yang paling kecil. Hal ini disebabkan karena pengguna justru memiliki

kecenderungan untuk lebih boros jika menggunakan layanan financial

technology karena kemudahannya. Di harapkan Go-jek menyediakan fitur

maksimal transaksi/limit penggunaan yang bisa diatur oleh pengguna agar

bisa menjadi pengingat jumlah transaksi yang sudah digunakan dalam setiap

periode baik hari, bulan, maupun tahun.

3. Dalam penelitian ini persepsi risiko merupakan variabel yang berpengaruh

negatif, sehingga sangat mempengaruhi tingkat repurchase intention.

Diharapkan pihak Gojek dapat menekan sedikit mungkin tingkat risiko yang

dihadapi pengguna Go-Pay terutama masalah saldo dan sistem saat

berlangsungnya event Go-Payday.

4. Variabel repurchase intention dengan pernyataan Saya akan menggunakan

Go-pay saat melakukan transaksi pembayaran apapun memiliki nilai rata-rata

yang paling kecil. Meskipun Go-Pay kini dapat digunakan hampir untuk

pembayaran baik makanan, transportasi, tagihan listrik. Berdasarkan hasil


101

pengamatan penulis, pengguna Go-Pay cenderung menggunakan Go-Pay

karena banyak diskon. Sehingga semakin banyak diskon, semakin besar

kemungkinan pengguna untuk melakukan transaksi apapun yang sedang

diskon.

5. Saat penulis melakukan survey dengan menyebar kuesioner masih banyak

yang tidak bisa membedakan antara Go-Pay dengan Go-Jek bahkan tidak

tahu dan tidak pernah menggunakan Go-Pay maupun Go-Jek terutama yang

berusia diatas >35 Tahun sehingga penulis menyarankan untuk melakukan

sosialisasi atau pendekatan lebih jauh mengenai Go-Pay maupun Go-jek tidak

hanya untuk kaum milenial/muda saja tetapi juga orang dewasa/tua.


DAFTAR PUSTAKA

A. Buku
Ali, Hasan.2013. Marketing dan Kasus-Kasus Pilihan. Yogyakarta. CAPS (Center
For Academic Publishing Service)

Fandy, Tjiptono. 2014. Pemasaran Jasa. Andi : Yogyakarta

Hoyer, W., MacInnis, D., & Pieters, R. (2013). Consumer behavior 6th ed. United
States of America: South-Western Cengage Learning.

Jogiyanto, Abdillah, W. (2009). Konsep Aplikasi PLS (Partial Least Square) untuk
Penelitian Empiris. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Jogiyanto. (2007). Sistem Teknologi Keperilakuan. Yogyakarta : Andi.

Jogiyanto. (2007). Sistem Informasi Keperilakuan. Edisi Revisi.Yogyakarta: Andi.

Jusuf Soewadji, pengantar metedologi penelitian, (jakarta: mitra wacana media,


2012),50.

Kotler, P. & Armstrong, G. (2016). Principles of marketing 16th ed. Boston: Pearson

Kotler, Philip and Kevin Lane Keller, (2016): Marketing Management, 15th Edition
New Jersey: Pearson Pretice Hall, Inc

Peter, P.J & Olson, J.C. (2005). Consumer behavior and marketing strategy (7th Ed.),
Burr Ridge, IL: Irwin/McGraw-Hill

Schiffman, L.G. & Kanuk, L.L (2010). Consumer behavior (10th ed.) USA: Prentica
Hall

Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,


2017), 2, 8.

Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif: Dilengkapi Perbandingan Manual &


SPSS (Jakarta : DKU Print, 2013), 101.

Tatik Suryani. 2013. Perilaku Konsumen : Implikasi pada Strategi Pemasaran. Edisi
Pertama.

B. Jurnal dan Makalah

102
103

Adiutama, I Made Rendy Wicaksana dan I Wayan Santika. 2014. Pengaruh Persepsi
Kemudahan Penggunaaan, Kegunaan yang dirasakan, dan tingkat
pendidikan terhadap niat berbelanja kembali pada situs tokobagus.com.
E-Jurnal Manajemen Unud, 3 (10):2815-2831.

Adiyanti, Arsita Ika. 2015. “Pengaruh Pendapatan, Manfaat, Kemudahan


Penggunaan, Daya Tarik Promosi, Dan Kepercayaan Terhadap Minat
Menggunakan Layanan E-Money (Studi Kasus : Mahasiswa Universitas
Brawijaya).” Jurnal Ilmiah 2 (1):4–6.Administration (IBA) Program,
Management Department. Faculty of

Apriyani, Nuri dan Suharti. 2017. Analisis Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan,


Persepsi Kemudahan dan Kepercayaan Terhadap Minat Beli Ulang
Pengguna Smartphone Xiaomi. Jurnal Manajemen Dewantara, 1 (1):21-34.

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta. Arikunto, S. (2009). Manajemenn Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Bougie, & Sekaran. (2013). Edisi 5, Research Methods for Business: A skill Building
Approach. New York: John wiley@Sons.

Chin, W.C. dan Todd, P.A. 1995. On the Use, Usefulness and Ease of Use of
Structural Equation Modelling in MIS Research: A Note of Caution. MIS
Quarterly, Vol. 19 No. 2, pp. 237-46.

Chong, A.Y.L. 2013. Understanding Mobile Commerce Continuance Intention: An


Empirical Analysis Of Chinese Consumers. The Journal Of Computer
Information Systems, 53(4):22-30.

Cindy Regina Oroh, David P. E. Saerang, dan Farlane S. Rumokoy. 2015.


The Compeau, DR., & Higgins, C. A. 1995. Computer Self Efficacy: Development
of a measure and initial test. MIS Quarterly, 19, 189-211.
Davis, F.D. 1989. Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use and User
Acceptance of Information Technology. MIS Quarterly

Dewi, Sieny A, & Rastini, Ni M. (2016). Peran Green Trust Memediasi Green
Perceived Value Dan Green Perceived Risk Terhadap Green Repurchase
Intention. E-Jurnal Manajemen Unud, 12 (5), 8046-8078.
104

Dorfleitner, G., Hornuf, L., Schmitt, M., & Weber, M. (2017). FinTech in Germany.
Cham: Springer.

Dutta, Bireswar (2016) "Exploring the Factors of Consumer Repurchase Intention in


Online Shopping",International Journal of Computer Science and
Information Security (IJCSIS)”, Vol. 14, No. 12.Education Limited

Economics and Business, Sam Ratulangi University, Manado 95115.


Fastidianti , Kania (2015). “Pengaruh Brand Image Terhadap Repurchase
Intention:Studi Pada Zara Pondok Indah Mall”. Jurnal, Universitas
Indonesia.

Fatmawati, Endang. 2015. “Technology Acceptance Model (TAM) Untuk


Menganalisis Penerimaan Terhadap Sistem Informasi Perpustakaan”.
Jurnal Iqra 09.

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.


Edisi Ketujuh. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gunawan, Devita Megarani (2015).”Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Citra


Merek, Dan Persepsi Risiko Produk Kosmetik Sariayu Terhadap Minat
Pembelian Ulang Dengan Kepuasan Konsumen Sebagai Variabel
Mediasi;Studi Kasus Pada Pengguna Kosmetik Sariayu Di Purwokerto.

Handayani, Sri, Kusrini, M. Rudyanto Arief.2017.” Evaluasi Tingkat Penerimaan


Sistem Informasi Yudisium Menggunakan Metode Tam”. Jurnal Informasi
Interaktif Vol. 2.

Har,Lee Chai and Eze, Uchenna Cyril. 2011. Factors influence consumers’ intention
to repurchase online in Malaysia. International Journal of Electronic
Commerce Studies.Volume. 2, No.2, pp. 157- 164.

Harlan, D. (2014). Pengaruh Kemudahan Penggunaan, Kepercayaan dan Risiko


Persepsian terhadap Minat Bertransaksi Menggunakan E-Banking.Skripsi.
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Hsueh, S. C., Kuo C. H. (2017). Effective Matching for P2P Lending by Mining
Strong Association Rules. Proceedings of the 3rd International
Conference on Industrial and Business Engineering p 30-33.
105

Hume, Margee, Gillian Sullivan Mort and Hume Winzar (2007), “Exploring
repurchase intention in a performing arts context: Who comes? And why
do they come back?”

Indriastuti, Maya, and Rizki Herdian Wicaksono. 2014. “Influencers E-Money in


Banking Sector.” South East Asia Journal of Contemporary Business,
Economics and Law 4 (2):10–17.

Influence Of Percived Ease Of Use, Peceived Usefulness And Truston


International Journal of Nonprofit and Voluntary Sector Marketing, Vol. 12 No.2,
pp. 135-148.

Jalilvand, M.R. & Samiei, N. (2012). Perceived risks in travelling to the Islamic
Republic of International, Inc. Iran. Journal of Islamic Marketing, 3(2),
175-189.

Kalmykova, Ekaterina and Anna Ryabova. 2016. Fintek Market Development


Perspective. Tomsk Polytechnic University.2016. EDP Sciences Journal
(2261-2424)

Kesharwani, A., & Singh Bisht, S. (2012). The Impact Of Trust And Perceived Risk
On Internet Banking Adoption In India. International Journal Of Bank
Marketing, 30(4), 303–322.

Kesharwani, Ankit., dan Shailendra Bisht. 2012. International Journal of Bank


Marketing. The Impact of Trust and Perceived Risk on Internet Banking
Adoption in India : An Extention of Technology Acceptance Model. Vol.
30, No. 4

Khoirul Basyar, Sanaji Sanaji.2016.Pengaruh Persepsi Kemudahan Dan Persepsi


Manfaat Terhadap Niat Beli Ulang Secara Online Dengan Kepuasan
Sebagai Variabel Intervening. Vol 8, No 2

Lee, Y.H. and Chang, E. (2011), “Consumer Attitudes Toward Online Mass
Customization: An Application of Extended Technology Acceptance
Model”

Lianis, Irnami.2016.Pengaruh Word Of Mouth, Kepercayaan Konsumen, Dan


Perceived Usefulness Terhadap Minat Pembelian Ulang Secara
Online;Studi Kasus Pada Konsumen Bukukita.Com.
106

Maciejewski, G. (2012). The Meaning Of Perceived Risk In Purchasing Decisions Of


The Polish Customers. Retrieved July 7, 2017, from
https://www.researchgate.net/publication/241752080

Mathieson, K. “Predicting User Intentions Comparing the Technology Acceptance


Model with the Theory of Planned Behavior,” Information System
Research (2:3), 1991, pp.173-191.

Miliani, Lani, Mustika Sufiati Purwanegara, and Mia Tantri Diah Indriani. 2013.
“Adoption Behavior of E-Money Usage.” Information Management and
Business Review 5 (7):369–78.

Noviarni, E. (2014). Analisis Adopsi Layanan Internet Banking Oleh Perbankan di


Pekanbaru. Jurnal AlIqtishad, Vol.1, 34.

Pavlou, Fred. (2001). “Perceived Usefulnes, Perceived Ease of Use and User
Acceptance of Information Technology”,MIS Quarterly, September

Pavlou, P. 2003. “Consumer Acceptance of Electronic Commerce : Integrating Trust


and Risk wiht the Technology Acceptance Model" 7 (3): 69-103.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 Mengenai Financial Technology

Prananda Ikhsan Surya.2017.Pengaruh Sales Promotion Dan Advertising Terhadap


Niat Beli Ulang Konsumen Go-Ride di Bandung. Universitas Katolik
Parahyangan, Fakultas Ekonomi, Program Sarjana Manajemen.

Priambodo, Singgih, and Bulan Prabawani. 2016. “Pengaruh Persepsi Manfaat,


Persepsi Kemudahan Penggunaan, Dan Persepsi Risiko Terhadap Minat
Menggunakan Layanan Uang Elektronik (Studi Kasus Pada Masyarakat
Di Kota Semarang).” Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis 5 (2).

Regina Oroh, Cindy. 2015. The Influense of Perceived Ease Of Use, Perceived
Usefulness and Trust On Repurchase Intention of Lion Air E-Ticket. Jurnal
Internasional. Jurnal Berkala Imiah Efisiensi Vol 15 No. 5.

Rezaei, S and Amin, M. 2013. Exploring Online Repurchase Behavioural Intention


of University Students in Malaysia. Journal for Global Business
Advancement, 6 (2):92-119
107

Setyorini, Retno; Nugraha, Rizky Prima. The Effect of Trust Towards Online
Repurchase Intention With Perceived Usefulness As An Intervening
Variable: A Study on KASKUS Marketplace Customers. JURNAL
INTERNASIONAL, [S.l.], v. 9, n. 1, p. 1-7, mar. 2017

Shomad, Andrie Cesario, and Bambang Purnomosidhi. 2012. “Pengaruh


Kepercayaan, Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Dan Persepsi
Risiko Terhadap Perilaku Penggunaan E-Commerce.” Jurnal Mahasiswa
FEB Universitas Brawijaya 1 (2):1–20.

Tho, N. X., Lai, M.-T., & Yan, H. (2017). The Effect of Perceived Risk on Repurchase
Intention and Word – of – Mouth in the Mobile Telecommunication
Market: A Case Study from Vietnam. International Business Research,
10(3), 8. doi:10.5539/ibr.v10n3p8.

Tri Inda Fadhila Rahma,2018.Persepsi Masyarakat Kota Medan Terhadap


Penggunaan Financial Technology(Fintech).

Venkatesh, V. “Determinants of Perceived Ease of Use: Integrating Perceived


Behavioral Control, Computer Anxiety and Enjoyment into the
Technology Acceptance Model,” Information Systems Research (11:4),
2000, pp. 342-365.Venkate

Vitaloka , Dyah Ayu (2016).“Analysis The Influence Of Trust In Online Store And
Perceived Risk Towards Online Repurchase Intention”.

Wibowo, A. (2008).Kajian Tentang Perilaku Pengguna Sistem Informasi dengan


Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM).Skripsi.Jurusan Sistem
Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Budi Luhur.

Yeung, R. (2009). Tourist Perception Of Food Safety Risk And Destination Choice.
International Journal of Hospitality and Tourism, 2(1), 21-33.

Yulihasri, Islam, Md. A., Daud, K.A.K. and Yulihasri et al. (2011), “Factor that
influence customers’ buying intention on shopping online”, International
Journal of Marketing Studies, Vol. 3, No. 1.
Yutadi, Krisnu Putra, and Lutfi Haris. 2014. “Pengaruh Persepsi Privasi, Persepsi
Keamanan, Persepsi Kepercayaan, Persepsi Risiko, Persepsi Kegunaan
Dan Persepsi Kemudahan Penggunaan Terhadap Minat Penggunaan E-
108

Commerce.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya 3


(1):1– 25.
C. Website
Http://www.infobanknews.com/irwan-lubis-fintechmengancam-eksistensi-
perbankan/ diakses 25 Maret 2019.
Https://blog.mokapos.com/dampak-cashless-society-bagi-milenial

Https://www.kompasiana.com/malivafarah/57fb65cdc923bd3d1f584f08/konsumsi-

sebagai-pengukur-pendapatan-dan-pengeluaran-nasional

Http://jakarta.tribunnews.com/2019/03/21/saldo-go-pay-tak-bertambah-setelah-top-

up-ini-penjelasan-manajemen-gojek#gref

Https://finance.detik.com/moneter/d-4439195/t-cash-resmi-jadi-linkaja-siap-saingi-

go-pay-dan-ovo

Https://id.wikipedia.org/wiki/Model_penerimaan_teknologi

Https://www.jawapos.com/ekonomi/finance/19/04/2019/amar-bank-dorong-fintech-

perluas-literasi-keuangan-di-indonesia/

Https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180511163142-185-297475/gopay-

masalah-pengguna-gojek-disarankan-bayar-tunai

Https://www.liputan6.com/bisnis/read/3992442/di-era-digital-data-pribadi-rawan-

disalahgunakan
LAMPIRAN

109
KUESIONER

KETERANGAN: Penelitian ini berhubungan dengan perilaku konsumen setelah menggunakan Go-Pay

IDENTITAS RESPONDEN (beri tanda tanda silang pada nomor yang sesuai)
Jenis Kelamin : 1. Perempuan; 2. Laki-laki.
Usia : 1. 17-23 tahun; 2. 24 – 27 tahun ; 3. 28 - 33 tahun
4. >34 Tahun
Pekerjaan : 1. Pelajar/Mahasiswa 2. PNS/ Pegawai BUMN 3. Pegawai Swasta
4. Wiraswasta 5. Ibu Rumah Tangga/Pensiun
Pendidikan Terakhir : 1. SD 2. SMP 3. SMA 4. S1 5. S2/S3
Pengeluaran Perbulan : 1. < Rp.1.000.000,- 2. Rp.1.000.001,- s/d Rp. 3.000.000,-
3. Rp. 3.000.001,- s/d Rp.5.000.000,- 4. >Rp.5.000.001
Alasan Menggunakan Go-Pay :

Berikan tanda √ pada kolom yang telah disediakan pada bagian kanan dari masing-masing pernyataan, dengan
ketentuan: SS bila Anda sangat setuju, S bila setuju, N/R bila netral atau ragu-2, TS bila tidak setuju, dan STS bila
Anda sangat tidak setuju.
PILIHAN
JAWABAN/RESPON
NO PERNYATAAN
N/
STS TS R S SS
A. Persepsi Manfaat
1 Dengan Menggunakan Go-Pay Transaksi Pembayaran Menjadi Lebih Cepat
2 Transaksi Menggunakan Go-Pay tidak bertele-tele
3 Go-Pay Memberikan Ketelitian Nominal Dalam Bertransaksi Yang Lebih Baik
4 Menggunakan Go-Pay menghemat waktu saya
5 Go-Pay mempermudah saya saat bertransaksi
6 Go-Pay lebih efisien dibandingkan tunai
7 Layanan Go-Pay sangat bermanfaat untuk bertransaksi
8 Go-Pay praktis untuk digunakan
B. Persepsi Kemudahan Penggunaan
1 Sistem Kerja Go-Pay mudah saya mengerti
2 Cara penggunaan Go-Pay mudah saya pahami
3 Go-Pay selalu berfungsi dengan baik saat saya melakukan transaksi pembayaran
4 Menggunakan Go-Pay mengendalikan perilaku saya saat bertransaksi
5 Go-Pay menampilkan setiap menu pada aplikasi dengan jelas
6 Saya tahu setiap menu yang ada pada layanan Go-Pay
7 Go-Pay sebagai alternatif uang tunai mudah dibawa kemanapun
8 Go-Pay sebagai alternatif uang tunai dapat digunakan kapan saja
9 Outlet yang melayani transaksi menggunakan Go-Pay dekat dengan tempat
tinggal saya
10 Sudah banyak outlet yang menerima transaksi menggunakan Go-Pay
C.Persepsi Risiko
1 Saya tidak bisa bertransaksi saat layanan Go-Pay error
2 Saya merasa membutuhkan koneksi internet yang stabil ketika menggunakan go-pay
3 Biaya admin Go-Pay merugikan saya secara finansial
4 Saldo Go-Pay yang membuat uang saya tertahan dan menimbulkan kerugian
5 Menggunakan Go-Pay menghemat waktu saya
6 Mengisi Go-Pay saat akan melakukan transaksi pembayaran menghabiskan
waktu saya
D. Repurchase Intention
1 Saya akan menggunakan Go-Pay kembali saat melakukan transaksi pembayaran
2 Go-Pay merupakan pilihan saya jika saya akan bertransaksi lagi
3 Saya akan merekomendasikan teman/saudara untuk menggunakan Go-Pay
4 Saya akan memberitahukan teman/saudara untuk menggunakan Go-Pay
5 Saya memilih Go-Pay sebagai pilihan utama dalam melakukan pembayaran
dibandingkan tunai maupun financial technology berjenis payment lainnya
6 Saya akan menggunakan Go-pay saat melakukan transaksi pembayaran apapun

110
111

Jenis- Pendidikan Pengeluaran


kelamin Usia Pekerjaan terakhir Perbulan x11 x12 x13 x15 x16 x17 x18 x19 X1 x21 x22 x23 x24 x25 x26 x27 x28 x29 x210 X2 X31 X32 X33 X34 X35 X3 Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y
Rp.
3.000.001,-
28-33 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 49 3 3 2 2 2 14 4 4 4 5 4 4 25
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 4 4 5 5 5 4 4 36 4 4 4 5 4 4 4 4 2 3 38 2 4 3 4 2 19 4 4 2 2 4 3 19
PNS / Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun BUMN SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 49 1 1 1 1 1 6 5 5 5 5 5 5 30
Rp.
3.000.001,-
28-33 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 1 5 1 1 1 14 5 5 5 5 5 5 30
Rp.
3.000.001,-
28-33 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 5 5 1 1 1 18 5 5 5 5 5 5 30
24-27 Pegawai >
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK Rp.5.000.000,- 4 4 4 5 5 5 4 4 35 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 38 5 4 3 4 4 24 4 4 3 3 3 4 21
Rp.
PNS / 3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Perempuan Tahun BUMN SMA / SMK 5.000.000,- 5 4 4 4 4 4 4 5 34 4 4 5 4 5 5 5 5 3 3 43 3 5 3 3 2 21 5 5 4 4 4 3 25
Rp.1.000.001,-
24-27 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 4 5 5 5 4 5 3 46 4 4 3 3 3 21 3 3 3 3 3 3 18
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK 5.000.000,- 5 4 2 4 5 4 5 5 34 4 4 4 5 5 3 3 3 3 3 37 5 5 5 3 2 23 3 3 3 3 3 3 18
Rp.1.000.001,-
24-27 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 4 4 4 4 3 3 32 5 5 3 4 4 4 4 4 4 4 41 4 4 3 2 3 20 3 2 3 3 2 2 15
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 4 3 3 3 2 20 5 5 5 5 5 5 30
24-27 Pegawai >
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK Rp.5.000.000,- 5 5 4 5 5 4 5 5 38 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 48 5 4 3 1 1 19 5 5 5 5 5 3 28
24-27 Pegawai >
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK Rp.5.000.000,- 5 5 5 5 4 4 5 5 38 5 5 4 3 5 5 5 5 3 3 43 5 4 2 3 2 21 4 5 5 5 5 2 26
17-23 < Rp.
Perempuan Tahun Wiraswasta SMA / SMK 1.000.000,- 5 5 5 5 5 5 4 5 39 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 4 5 3 3 3 23 5 5 5 5 5 5 30
28-33 Pegawai < Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 1.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 4 3 3 5 4 4 3 3 4 38 4 4 4 3 2 22 4 3 3 3 3 2 18
Rp.1.000.001,-
24-27 s/d
Perempuan Tahun Wiraswasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 4 4 4 4 3 4 4 32 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 36 4 5 1 2 2 18 4 4 4 4 3 3 22
PNS / Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Perempuan Tahun BUMN D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 4 4 4 4 5 5 5 36 5 5 3 5 5 4 4 4 4 4 43 5 4 3 3 4 23 5 4 4 4 4 4 25
Rp.
3.000.001,-
17-23 Pelajar / Rp.
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK 5.000.000,- 5 5 4 3 5 2 3 5 32 2 2 3 3 3 3 4 5 5 5 35 3 3 4 3 4 21 1 2 3 3 3 3 15
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 3 3 2 3 4 2 3 3 23 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 2 2 1 1 2 11 3 3 3 3 3 3 18
112

17-23 Pelajar / < Rp.


Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK 1.000.000,- 5 5 4 5 5 4 5 5 38 4 4 4 3 5 5 5 2 3 3 38 2 4 2 3 2 17 3 3 4 3 3 3 19
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 38 3 4 1 3 2 17 4 3 4 4 3 3 21
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 48 4 4 3 3 4 23 4 4 4 4 3 2 21
Rp.
Ibu Rumah 3.000.001,-
24-27 Tangga / Rp.
Perempuan Tahun Pensiun SMA / SMK 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 46 4 4 1 3 1 18 5 3 4 2 2 16
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 4 5 5 5 4 5 38 4 4 5 3 5 4 5 5 3 5 43 3 5 1 1 1 16 5 5 5 5 3 3 26
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 3 3 4 4 2 28 3 3 4 3 3 4 4 4 4 4 36 4 3 3 4 4 22 4 4 4 4 3 3 22
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 5 5 4 5 4 5 5 37 5 5 4 5 5 5 5 4 4 4 46 3 2 2 1 2 14 5 4 4 4 4 4 25
Rp.1.000.001,-
24-27 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 3 4 31 4 4 4 3 4 3 4 4 3 3 36 3 3 2 2 3 17 4 3 3 3 2 2 17
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 4 4 4 5 4 4 4 34 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 36 3 3 2 2 2 16 3 3 4 4 2 2 18
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 48 2 3 1 1 1 13 5 5 5 5 5 5 30
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 46 4 4 5 3 4 24 4 4 4 5 4 3 24
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 4 3 3 3 3 20 4 4 4 4 4 4 24
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 2 2 2 4 3 2 3 3 21 3 3 2 1 3 2 4 4 2 2 26 5 5 4 3 4 25 2 2 3 3 3 3 16
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 3 4 4 4 31 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 3 4 4 4 4 23 3 3 3 3 3 4 19
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 3 1 1 1 1 12 5 5 5 5 5 5 30
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 3 2 4 5 4 3 29 4 5 4 2 4 4 5 5 4 4 41 5 3 1 4 3 19 3 4 3 4 4 4 22
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 3 4 4 4 4 3 5 3 30 5 5 3 5 5 5 5 5 3 5 46 5 5 5 3 4 27 3 3 3 3 3 3 18
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta S2 / S3 5.000.000,- 4 3 2 3 4 3 4 3 26 3 3 3 3 3 2 3 3 2 4 29 3 3 5 3 3 20 2 4 2 2 2 1 13
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 4 4 3 4 3 2 5 29 5 5 5 4 5 4 4 4 3 3 42 3 4 2 2 2 17 4 3 3 3 3 3 19
113

Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 4 4 5 4 4 4 4 33 4 5 3 3 4 4 4 3 3 4 37 5 4 3 3 3 22 4 4 4 4 4 3 23
24-27 Pelajar / < Rp.
Perempuan Tahun Mahasiswa D3/S1 1.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4 4 4 2 4 4 4 4 3 4 37 2 4 3 4 2 19 3 3 3 3 3 3 18
Rp.1.000.001,-
24-27 s/d
Laki-laki Tahun Wiraswasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 38 4 4 3 3 3 21 4 4 4 4 4 3 23
17-23 < Rp.
Perempuan Tahun Jobseeker D3/S1 1.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 4 4 4 4 4 24 4 4 4 4 4 4 24
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 4 3 5 5 5 5 37 3 3 4 4 5 4 5 4 3 4 39 5 5 4 2 4 23 4 5 4 4 5 3 25
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 3 5 5 38 5 5 5 1 5 5 5 5 5 5 46 1 5 1 1 1 14 5 5 5 5 3 3 26
17-23 Pelajar / < Rp.
Perempuan Tahun Mahasiswa D3/S1 1.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39 3 3 3 3 3 18 4 4 4 3 3 3 21
>33 Pegawai >
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 5 5 1 1 1 18 5 5 5 5 5 5 30
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 5 4 5 4 4 4 46 5 5 1 1 4 21 3 3 5 5 3 3 22
17-23 Pegawai >
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 Rp.5.000.000,- 4 5 5 5 5 3 4 4 35 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4 40 2 3 1 1 4 16 3 3 3 3 2 1 15
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 4 5 5 5 2 2 43 4 5 2 2 2 20 5 5 2 2 2 2 18
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 4 4 5 5 5 5 38 5 5 4 3 5 4 4 4 3 4 41 2 4 5 2 3 20 3 4 3 4 4 3 21
Rp.
3.000.001,-
17-23 Rp.
Perempuan Tahun Wiraswasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 3 5 5 5 4 4 46 2 5 2 2 2 17 5 5 5 5 2 2 24
Rp.1.000.001,-
28-33 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 4 5 4 4 5 5 5 36 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 47 5 4 2 2 1 18 5 5 5 5 5 4 29
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 5 4 4 4 4 4 4 33 4 4 3 4 4 3 5 5 4 4 40 3 4 3 3 3 20 4 3 3 3 3 3 19
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 4 5 5 5 5 5 39 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 49 3 2 5 1 2 18 5 5 5 5 4 5 29
24-27 Pegawai < Rp.
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 1.000.000,- 5 4 4 5 5 5 5 5 38 4 5 4 3 4 3 5 4 5 5 42 2 5 3 2 1 18 4 4 5 5 4 3 25
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 4 3 4 4 4 4 4 31 4 4 3 3 5 3 4 4 4 4 38 4 4 3 3 4 22 3 5 4 4 4 4 24
17-23 Pelajar / < Rp.
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK 1.000.000,- 5 4 4 5 5 4 5 5 37 5 5 5 3 3 3 5 5 5 5 44 4 5 3 3 1 21 5 5 4 4 4 4 26
17-23 Pelajar / < Rp.
Perempuan Tahun Mahasiswa D3/S1 1.000.000,- 5 5 4 4 5 5 4 4 36 4 4 3 3 5 4 4 4 4 4 39 5 5 5 5 3 26 4 4 4 4 4 4 24
Rp.
3.000.001,-
17-23 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 5 4 5 5 5 2 2 43 4 5 2 2 2 20 5 5 2 2 2 2 18
Perempuan 24-27 Wiraswasta SMA / SMK Rp. 4 4 4 3 3 3 3 4 28 4 3 3 3 5 4 4 4 3 3 36 2 2 3 3 3 16 3 3 3 3 3 3 18
114

Tahun 3.000.001,-
Rp.
5.000.000,-
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 5 5 34 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 49 1 5 3 3 3 20 4 3 4 5 5 5 26
17-23 Pegawai < Rp.
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 1.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 3 3 4 3 5 3 5 4 1 2 33 5 5 2 2 1 20 3 3 3 3 3 3 18
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 35 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 39 3 3 3 3 3 18 4 4 4 4 4 4 24
17-23 Pegawai < Rp.
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK 1.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 5 5 4 4 5 5 4 3 3 3 41 4 4 4 4 4 24 3 3 4 4 3 3 20
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 4 5 0 3 3 4 5 28 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 41 3 3 3 3 3 18 4 4 4 3 4 4 23
17-23 Pelajar / < Rp.
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK 1.000.000,- 5 5 4 4 4 5 5 5 37 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 3 3 5 3 4 21 4 4 4 4 3 3 22
Rp.
3.000.001,-
28-33 Rp.
Perempuan Tahun Wiraswasta SMA / SMK 5.000.000,- 4 5 4 4 5 5 5 5 37 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 5 4 4 4 4 26 4 4 4 4 4 4 24
Rp.
3.000.001,-
24-27 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 4 5 5 3 3 4 4 32 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 41 3 3 3 3 4 20 3 4 4 4 3 3 21
Rp.1.000.001,-
24-27 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa S2 / S3 Rp.3.000.000,- 4 4 4 5 4 5 5 4 35 5 4 4 5 5 4 5 4 4 4 44 4 4 4 4 4 24 4 3 3 3 4 4 21
Rp.
Ibu Rumah 3.000.001,-
>34 Tangga / Rp.
Perempuan Tahun Pensiun SMA / SMK 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 41 3 3 5 5 3 22 4 4 4 4 3 3 22
17-23 Pelajar / < Rp.
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK 1.000.000,- 4 4 4 4 4 5 5 5 35 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 3 3 4 5 5 25 3 3 4 4 3 2 19
>33 >
Laki-laki Tahun Wiraswasta D3/S1 Rp.5.000.000,- 4 4 4 4 4 4 5 4 33 5 5 5 4 5 4 5 5 5 5 48 3 4 5 5 4 25 3 3 4 4 2 2 18
Rp.1.000.001,-
28-33 s/d
Perempuan Tahun Wiraswasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 5 33 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 42 3 4 5 3 4 23 3 3 3 3 3 3 18
Rp.
PNS / 3.000.001,-
>33 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun BUMN D3/S1 5.000.000,- 4 4 4 3 4 4 4 4 31 4 4 4 3 4 4 5 5 4 4 41 4 4 2 2 2 17 2 4 4 4 4 4 22
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 3 4 4 4 3 4 4 30 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 39 5 5 4 3 3 21 4 4 4 4 2 3 21
Rp.
3.000.001,-
24-27 Rp.
Laki-laki Tahun Wiraswasta D3/S1 5.000.000,- 5 4 4 4 4 5 4 4 34 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 38 4 4 3 2 2 19 4 4 4 4 4 3 23
Rp.1.000.001,-
28-33 s/d
Perempuan Tahun Wiraswasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 3 4 4 3 3 4 29 3 3 4 3 2 2 1 4 3 4 29 4 3 2 1 2 16 4 4 4 4 3 3 22
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 4 4 4 5 4 4 4 34 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 36 4 4 3 3 2 20 3 3 3 3 3 3 18
24-27 Pegawai Rp.1.000.001,-
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK s/d 3 3 4 3 3 3 3 3 25 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 38 4 3 2 3 3 18 3 3 3 3 3 3 18
115

Rp.3.000.000,-
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 3 3 3 4 3 3 3 3 1 1 27 5 5 5 5 4 28 2 2 2 1 1 1 9
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 3 4 3 3 4 4 29 5 5 3 2 5 3 4 4 3 4 38 3 3 2 2 2 16 3 3 4 3 3 3 19
Rp.1.000.001,-
24-27 s/d
Laki-laki Tahun Wiraswasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 1 4 3 5 5 5 5 43 2 2 1 2 1 13 5 4 5 5 3 3 25
Rp.
3.000.001,-
17-23 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 3 4 4 5 2 3 3 28 4 4 4 3 3 4 2 2 1 2 29 4 5 5 3 2 23 3 4 3 3 2 2 17
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 5 5 3 1 2 1 1 4 22 1 1 3 3 1 2 1 4 4 1 21 1 1 3 1 2 9 4 3 1 1 4 2 15
Rp.1.000.001,-
24-27 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 4 4 4 5 4 4 4 34 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 38 3 4 3 3 2 19 4 4 4 4 3 4 23
Rp.1.000.001,-
24-27 s/d
Laki-laki Tahun Wiraswasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 3 3 4 30 4 4 3 3 4 4 3 3 3 2 33 4 4 4 3 3 22 3 3 3 3 3 3 18
Rp.
3.000.001,-
24-27 Rp.
Perempuan Tahun Wiraswasta D3/S1 5.000.000,- 4 4 3 3 4 4 3 4 29 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 33 4 4 5 4 5 26 4 4 3 3 3 3 20
Rp.1.000.001,-
28-33 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 5 5 34 5 5 5 4 4 4 5 5 5 5 47 4 4 2 2 2 19 4 4 4 4 4 4 24
Rp.
3.000.001,-
28-33 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 5 5 40 5 5 5 3 3 2 3 5 5 5 41 4 4 2 2 1 18 5 5 5 5 5 3 28
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 3 4 4 31 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 33 4 3 4 3 3 20 3 3 3 3 3 3 18
Rp.
3.000.001,-
>34 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK 5.000.000,- 5 5 4 5 5 5 5 5 39 4 4 5 3 3 4 5 5 4 5 42 4 3 1 1 1 15 4 4 5 5 4 3 25
28-33 Pegawai >
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.5.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 5 33 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 35 5 5 5 5 4 28 4 4 4 3 3 4 22
Rp.
3.000.001,-
17-23 Pegawai Rp.
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 34 2 4 3 2 2 17 4 3 4 4 2 2 19
Rp.1.000.001,-
17-23 Pegawai s/d
Laki-laki Tahun Swasta SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 3 3 4 3 4 4 29 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 34 2 2 4 5 3 19 3 3 4 4 3 3 20
Rp.
3.000.001,-
>34 Pegawai Rp.
Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 5.000.000,- 5 5 5 5 5 5 4 4 38 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 38 2 3 5 4 3 19 4 3 4 4 3 3 21
Rp.1.000.001,-
17-23 Pelajar / s/d
Laki-laki Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 5 5 4 4 5 5 4 4 36 4 4 2 2 4 4 4 4 4 4 36 2 3 5 2 2 16 4 4 4 4 2 2 20
Rp.1.000.001,-
24-27 Pelajar / s/d
Perempuan Tahun Mahasiswa SMA / SMK Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 5 5 3 3 4 4 4 4 4 4 40 3 3 4 4 4 22 3 3 4 4 2 2 18
116

28-33 Pegawai >


Laki-laki Tahun Swasta D3/S1 Rp.5.000.000,- 4 3 3 3 4 3 4 4 28 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32 2 2 2 2 4 16 3 3 4 4 3 3 20
Rp.1.000.001,-
24-27 Pegawai s/d
Perempuan Tahun Swasta D3/S1 Rp.3.000.000,- 4 4 4 4 4 4 4 4 32 5 5 3 3 4 4 4 4 4 4 40 3 3 4 4 4 22 3 3 4 4 2 2 18
Ibu Rumah
>34 Tangga / >
Perempuan Tahun Pensiun SMA / SMK Rp.5.000.000,- 4 3 3 3 4 3 4 4 28 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32 2 2 2 2 4 16 3 3 4 4 3 3 20
i