Anda di halaman 1dari 20

Tugas Jiwa :

1. Buatlah SOP Terapi Koginitif


2. kalian mebuat PPT dan Makalah Kesiapan peningkatan perkembangan usia Remaja.

STANDAR OPERATING PROCEDURE (SOP)

TERAPI KOGNITIF :

UJI REALITAS

1. A.    Pengertian

Salah satu teknik terapi kognitif yang merupakan tahap kedua, dimana perawat menguji
distorsi kognitif klien yang telah didapat pada tahap pertama, sampai benar-benar logis dan
rasional.

1. B.     Tujuan
1. Menetapkan distorsi kognitif klien secara logis-rasional
2. Tercapainya kata akhir, bahwa klien benar benar ingin menghilangkan distorsi
kognitif tersebut.

1. C.    Kebijakan
1. Dilakukan oleh semua mahasiswa yang telah mendapatkan teori dan terapi
kognitif perilaku.
2. Indikasi : klien dengan distorsi kognitif, baik psikotik maupun neurotic

1. D.    Persiapan Alat


1. Kursi sebagai tempat duduk klien
2. Form Uji Realitas

1. E.     Persiapan Perawat

Menyiapkan dokumen tahap pertama (distorsi kognitif)

1. Persiapan Pasien (Tidak perlu persiapan spesifik)

1. G.    Persiapan Lingkungan


1. Ruangan yang tenang dan nyaman
2. Tertutup (minimalisir stimulus)
3. H.    Prosedur Kerja
1. Menyampaikan salam
2. Perkenalan
3. Menyampaikan maksud pertemuaan
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
6. Memberi kesempatan pasien bertanya /menyampaikan sesuatu (K/P
Tindak lanjuti sementara )
7. Validasi distorsi kognitif yang telah disepakati untuk diintervensi
8. Tanyakan bukti bukti yang mendukung distorsi kognitif dan atau
keuntungan apa yang didapatnya (gunakan UJi Form Realitas)
9. Hadirkan atau tanyakan bukti bukti yang melemahkan dan atau
kerugian yang didapatkannya.
10. Mintai respon klien(seberapa besar keyakinan yang masih
dimilikinya )
11. Kesimpulan dan support
12. Memberikan follow up. Untuk mengikuti tahap III.
13. Kontrak untuk tahap III
14. Salam
 

1. I.       Unit Terkait

Semua unit dengan indikasi yang sesua

Terapi perilaku kognitif adalah salah satu jenis psikoterapi, yang mengombinasikan terapi perilaku
dan terapi kognitif. Kedua terapi tersebut bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien, dari
negatif menjadi positif.

Pola pikir seseorang terhadap sesuatu dapat memengaruhi emosi dan perilakunya. Sebagai
contoh, seseorang yang pernikahannya berakhir dengan perceraian akan berpikir bahwa
dirinya bukan pasangan yang baik, dan tidak pantas menjalani suatu hubungan. Pola pikir
tersebut akan membuatnya putus asa, kemudian memicunya menjauhkan diri dari lingkup
sosial. Bila kondisi tersebut dibiarkan, dia akan terjebak pada siklus pola pikir, emosi dan
perilaku yang negatif.

Pada terapi perilaku kognitif, pasien yang mengalami kondisi seperti di atas akan belajar cara
berpikir positif, sehingga akan menghasilkan emosi dan perilaku positif pula.

Terapi perilaku kognitif dapat dilakukan dalam sesi personal, baik bertemu langsung atau
melalui telepon dan panggilan video. Terapi juga bisa dilakukan secara berkelompok, baik
bersama anggota keluarga, maupun dengan orang yang memiliki masalah serupa. Pada
beberapa kondisi, terapi dapat dilakukan secara online melalui komputer.

Indikasi Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif dapat diterapkan pada pasien dari segala usia, yang mengalami
kondisi berikut ini:

 Depresi
 Fobia
 Gangguan bipolar
 Gangguan kecemasan
 Gangguan makan
 OCD
 PTSD
 Gangguan tidur
 Hipokondriasis atau kecemasan berlebihan terhadap suatu penyakit
 Skizofrenia
 Kebiasaan berjudi
 Kecanduan merokok atau minuman beralkohol
 Penyalahgunaan NAPZA
 Marah yang tidak terkendali
 Masalah dalam hubungan atau pernikahan
 Tidak percaya diri

Peringatan Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif akan menggali perasaan, pengalaman, dan emosi yang tidak
menyenangkan. Oleh karena itu, pasien mungkin menangis atau marah selama terapi
berlangsung.

Terapi perilaku kognitif dengan teknik tertentu, akan mengharuskan pasien memasuki situasi
dan kondisi yang normalnya dia hindari. Sebagai contoh, pasien yang takut ular akan diberi
motivasi agar berani memegang ular. Sedangkan pasien dengan gangguan kecemasan akan
didorong untuk berbicara di depan publik.

Pasien akan diminta untuk berpartisipasi selama dan di luar sesi terapi. Misalnya dengan
membuat catatan tentang pola pikir, emosi dan perilaku positif yang harus dilakukan.
Kerjasama antara pasien dan terapis sangat penting, agar mendapatkan hasil terapi yang
memuaskan.

Persiapan Terapi Perilaku Kognitif

Jangan ragu untuk menanyakan beberapa hal pada terapis, dalam hal ini bisa psikiater atau
psikolog, antara lain terkait metode pendekatannya, tujuan yang ingin dicapai melalui terapi,
durasi pada tiap sesi terapi, dan berapa banyak sesi yang harus diikuti. Di samping itu,
ketahui terlebih dulu biaya konsultasi untuk terapi perilaku kognitif.

Terapi perilaku kognitif umumnya merupakan terapi jangka pendek, yaitu hanya sekitar 10
sampai 20 sesi. Sebelum memulai terapi, diskusikan dengan terapis terkait jumlah sesi yang
dibutuhkan. Pada umumnya, jumlah sesi terapi tergantung kepada beberapa faktor seperti:

 Jenis gangguan dan masalah yang dihadapi


 Tingkat keparahan gejala
 Lama pasien mengalami gangguan
 Tingkat stres pasien
 Perkembangan pasien sejak memulai terapi
 Seberapa banyak dukungan dari keluarga dan orang terdekat.

Proses Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif umumnya berlangsung selama 30-60 menit dalam tiap sesinya. Pada
beberapa sesi pertama, terapis dan pasien akan sama-sama memastikan bahwa terapi perilaku
kognitif adalah terapi yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami pasien. Terapis juga
akan memastikan bahwa pasien merasa nyaman selama terapi berlangsung.

Selanjutnya, terapis akan bertanya mengenai latar belakang dan masa lalu pasien. Hal ini
penting, karena meskipun terapi lebih berfokus pada situasi saat ini, namun masalah yang
dialami pasien juga bisa terkait dengan masa lalu. Terapis juga akan menanyakan sejumlah
faktor yang mungkin terkait dengan masalah pasien, termasuk riwayat medis, peristiwa
tertentu (misalnya pernah bercerai), gejala gangguan jiwa, hingga tujuan yang ingin dicapai
melalui terapi.
Bila masalah dan pemicunya telah teridentifikasi, pasien akan diminta mengungkapkan
pemikiran dan perasaannya terkait masalah yang dihadapi. Dalam proses ini, pasien akan
diminta membuat catatan, untuk membantu memahami respons negatifnya saat menghadapi
masalah, baik dalam pola pikir, perasaan, maupun perbuatan. Kemudian, terapis akan
mendiskusikan dengan pasien dampak respons negatif tersebut pada diri sendiri dan
lingkungannya, serta bagaimana cara mengubah respons negatif tersebut menjadi positif.

Sebagai contoh, pasien dengan gangguan kecemasan cenderung menghindari situasi yang
memicu munculnya perasaan cemas atau gelisah. Dalam sesi terapi, pasien akan belajar
memahami bahwa menghindari situasi tersebut malah akan meningkatkan rasa takut. Untuk
mengubahnya, pasien akan dilatih untuk menghadapi rasa takut secara bertahap, sehingga
muncul kepercayaan dirinya saat mengalami situasi yang memicu kecemasan.

Setelah pasien memahami masalah dan respons negatif yang harus diubah, terapis akan
menyarankan pasien untuk mulai berlatih merespons sesuatu dengan positif dalam aktivitas
kesehariannya. Misalnya dengan menegur diri sendiri bila muncul pikiran negatif, dan
menggantinya dengan pikiran positif. Bisa juga dengan segera menyadari bahwa tindakan
yang akan dilakukan dapat memicu respons negatif, lalu menggantinya dengan tindakan lain.

Proses latihan di atas dilakukan di antara sesi terapi, dan akan didiskusikan pada sesi terapi
berikutnya. Bila diperlukan, terapis akan memberikan pasien contoh latihan untuk
dipraktekkan di antara sesi. Namun demikian, terapis hanya akan menyarankan bentuk
latihan yang membuat pasien nyaman.

Setelah Terapi Perilaku Kognitif

Meskipun seluruh sesi terapi telah dilewati, namun semua hal positif yang didapatkan dari
terapi harus tetap dilakukan. Hal ini penting, untuk mencegah gangguan kembali terjadi,
terutama gangguan kecemasan dan depresi.

Jangan mengharapkan hasil yang cepat, karena penanganan gangguan kejiwaan bukan
merupakan hal yang mudah. Adalah suatu hal yang wajar bila pasien merasa tidak nyaman
pada beberapa sesi terapi pertama. Butuh beberapa sesi terapi sampai pasien merasakan
perkembangan di dirinya.

Bicarakan pada terapis bila Anda merasa tidak ada perkembangan setelah menjalani beberapa
sesi terapi. Anda dan terapis dapat mendiskusikan terapi dengan pendekatan lain.

Terakhir diperbarui: 30 November 2018

BAB I

PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang


Didalam makalah ini akan menjelaskan konsep dari mekanisme koping dengan

menggunakan terapi koping. Terapi kognitif dikembangkan pada tahun 1960-an oleh Aaron

Beck dan berkaitan dengan terapi rasional emotif dari Albert Ellis. Terapi kognitif akan lebih

bermanfaat jika digabung dengan pendekatan perilaku. Kemudian terapi ini di disatukan dan

dikenal dengan terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy). Terapi ini

memperlakukan individu sebagai agen yang berpikir positif dan berinteraksi dengan

dunianya.

Individu membentuk sudut pandang dan keyakinan serta memiliki afek atau perasaan

mengenai apa yang dianggap benar bagi diri sendiri, lingkungan, dan mengenia pikiran serta

perasaannya pada interaksi yang luas dengan perilaku atau tindakan dalam rangkaian

interaksi. Setiap interaksi memperngaruhi interaksi lain.

Berdasarkan kognisi dan pengalaman masa lalu, individu membentuk pandangan dan

skema kognitif yaitu cara berpikir atau perspektif kebiasaan mengenai diri sendiri, dunia dan

masa depan. Misalnya, individu mengembangkan pandangan psimistis mengenai cara

mengontrol takdirnya sendiri atau merasa takdirnya mampu dikontrol oleh orang lain dan

tidak mampu mengontrolnya sendiri. Dalam situasi tersebut, individu mengembangkan

pandangan negative serta merasa tidak berharga (disebut pikiran otomatis negative) yang

dapat menimbulkan stress, emosi, kecemasan dan depresi. Individu cenderung mengolah

keyakinan yang tidak masuk akal tentang kemampuan dan berhubungan dengan orang lain.

Hasil persepsi dan distorsi yang salah ini ditandai oleh harapan yang tidak realistis terhadap

diri sendiri dan orang lain, metode koping yang tidak efektif, dan pandangan tentang diri

sendiri sebagai orang yang tidak mampu.

B.            Rumusan Masalah

Menjelaskan tentang mekanisme koping: terapi kognitif.

C.           Tujuan
Tujuan disusun makalah ini adalah  agar mahasiswa mampu memahami tentang

mekanisme koping: terapi kognitif dan mahasiswa mampu menerapkan kepada klien.

BAB II

PEMBAHASAN

MEKANISME KOPING: TERAPI KOGNITIF

A.           Pengertian Terapi Kognitif

Kognisi adalah suatu  tindakan atau proses memahami. Terapi kognitif menjelaskan bahwa

bukan suatu peristiwa yang menyebabkan kecemasan dan tanggapan maladaptif melainkan

harapan masyarakat, penilaian, dan interpretasi dari setiap peristiwa ini. Sugesti bahwa

perilaku maladaptif dapat diubah oleh berhubungan langsung dengan pikiran dan keyakinan

orang (Stuart, 2009).

Secara khusus, terapis kognitif percaya bahwa respon maladaptif muncul dari distorsi

kognitif. Distorsi kognitif merupakan kesalahan logika, kesalahan dalam penalaran, atau

pandangan individual dunia yang tidak mencerminkan realitas. distorsi dapat berupa positif

atau negatif. Misalnya, seseorang yang secara konsisten dapat melihat kehidupan dengan cara

yang realistis positif dan dengan demikian mengambil peluang berbahaya, seperti

menyangkal masalah kesehatan dan mengaku sebagai "terlalu muda dan sehat untuk serangan

jantung". distorsi kognitif mungkin juga negatif, seperti yang diungkapkan oleh orang yang

menafsirkan semua situasi kehidupan disayangkan sebagai bukti kurang lengkap diri. Distorsi

kognitif umum tercantum dalam tabel di bawah ini (Stuart, 2009)

Tabel Bentuk Distorsi Kongnisi (Stuart, 2009)


N Kelainan Kongnisi Pengertian Contoh
o
1 Overgeneralization Mengrkan Seseorang mahasiswa
kesimpulan secara yang gagal dalam satu
menyeluruh segala ujian mengatakan :
sesuatu berdasarkan “kayaknya saya enggak
kejadian tunggal. akan lulus dalam setiap
ujian”.
2 Personalization Menghubungkan “ atasan saya
kejadian diluar mengatakan
terhadap dirinya produktivitas perusahaan
meskipun hal tersebut sedang menurun tahun
tidak beralasan. ini, saya yakin kalau
pernyataan ini ditujukan
pada diri saya”.
3 Dichotomus Berfikir ekstrim, “ Bila suami saya
thinking menganggap segala meninggalkan saya, saya
sesuatunya selalu pikir saya lebih baik
sangat bagus atau mati”.
buruk.
4 Catastrophizing Berfikir sangat buruk “saya lebih baik tidak
tentang orang dan mengisi formulir
kejadian. promosi jabatan itu,
sebab saya tidak
menginginkan dan tidak
akan nyaman dengan
jabatan itu”.
5 Selective abstraction Berfokus pada detail, Seorang istri percaya
tetapi tidak relavan bahwa suaminya tidak
dengan informasi mencintainya sebab ia
yang lain. datang terlambat dari
pekerjaannya, tetapi ia
mengabaikan
perasaannya, hadiah dari
suaminya tetap diterima
dan libur bersama tetap
direncanakan.
6 Arbitary inference Menggambarkan Teman saya tidak pernah
kesimpulan yang lama menyukai saya
salah tanpa didukung sebab ia tidak mau
data. diajak pergi.
7 Mind reading Percaya bahwa Mereka pasti berfikir
seseorang mengetahui bahwa dirinya terlalu
pemikiran orang lain kurus atau terlalu
tanpa mengecek gemuk.
kebenarannya.
8 Magnification Exaggregating the Saya telah meninggalkan
importance of events. makan malam saya, hal
ini menunjukkan betapa
tidak kompetennya saya.
9 Externalization of Menentukan tata nilai Saya sudah berusaha
self worth sendiri untuk untuk kelihatan baik
diterapkan pada setiap waktu tetapi
orang lain. teman-teman saya yang
tidak menginginkan saya
berada di sampingnya.
Terapi kognitif merupakan terapi jangka pendek terstruktur berorientasi terhadap masalah

saat ini dan bersifat individu. Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan

terstruktur, aktif, direktif dan berjangkan waktu singkat, untuk menghadapi berbagai

hambatan dalam kepribadian, misalnya ansietas atau depresi (Singgih, 2007).

B.            Tujuan Terapi Kognitif

Menurut Setyoadi, dkk (2011) beberapa mekanisme koping dengan menggunakan terapi

kognitif adalah sebagai berikut:

1.    Membantu klien dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menentang keakuratan kognisi

negative klien. Selain itu, juga untuk memperkuat persepsi yang lebih akurat dan mendorong

perilaku yang dirancang untuk mengatasi gejala depresi. Dalam beberapa penelitian, terapi ini

sama efektifnya dengan terapi depresan.

2.    Menjadikan atau melibatkan klien subjek terhadap uji realitas.


3.    Memodifikasi proses pemikiran yang salah dengan membantu klien mengubah cara berpikir

atau mengembangkan pola piker yang rasional.

4.    Membentuk kembali pikiran individu dengan menyangkal asumsi yang maladaptive, pikiran

yang mengannggu secara otomatis, serta proses pikir tidak logis yang dibesar-besarkan.

Berfokus pada pikiran individu yang menentukan sifat fungsionalnya.

5.    Menghilangkan sindrom depresi dan mencegah kekambuhan. Tanda dan gejala depresi

dihilangkan melalui usaha yang sistematis yaitu mengubah cara berpikir maladaptive dan

otomatis. Dasar pendekatannya adalah suatu asumsi bahwa kepercayaan-kepercayaan yang

mengalami distorsi tentang diri sendiri, dunia, dan masa depan yang dapat menyebabkan

depresi. Klien menyadari kesalahan cara berpikirnya. Kemudian klien harus belajar cara

merespon kesalahan tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Dengan perspektif kognitif,

klien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran dan harapan-harapan

negative. Cara lain adalah dengan membantun klien mengidentifikasi kondisi negative,

mencari alternative, membuat skema yang sudah ada menjadi lebih fleksibel, dan mencari

kognisi perilaku baru yang lebih adaptif.

6.    Membantu menargetkan proses berpikir serta perilaku yang menyebabkan dan

mempertahankan panik atau kecemasan. Dilakukan dengan cara penyuluhan klien,

restrukrisasi jognitif, pernapasan rileksasi terkendali, umpan balik biologis, mempertanyakan

bukti, memeriksa alternative, dan reframing.

7.    Menempatkan individu pada situasi yang biasanya memicu perilaku gangguan obsesif

kompulsif dan selanjutnya mencegah responsnya. Misalnya dengan cara pelimpahan atau

pencegahan respons, mengidentifikasi, dan merestrukturisasi distorsi kognitif melalui

psikoedukasi.

8.    Membantu individu mempelajari respons rileksasi, membentuk hirarki situasi fobia, dan

kemudian secara bertahap dihadapkan pada situasinya sambil tetap mempertahankan respons
rileksasi misalnya dengan cara desensitisasi sistematis. Restrukturisasi kognitif bertujuan

untuk mengubah persepsi klien terhadap situasi yang ditakutinya.

9.    Membantu individu memandang dirinya sebagai orang yang berhasil bertahan hidup dan

bukan sebagai korban, misalnya dengan cara restrukturisasi kognitif.

10.     Membantu mengurangi gejala klien dengan restrukturisasi system keyakinan yang salah.

11.     Membantu mengubah pemikiran individu dan menggunakan latihan praktik untuk

meningkatkan aktivitas sosialnnya.

12.     Membentuk kembali perilaku dengan mengubah pesan-pesan internal.

C.           Indikasi Terapi Kognitif

Menurut Setyoadi, dkk (2011) terapi kognitif efektif untuk sejumlah kondisi psikiatri yang

lazim, terutama:

1.    Depresi (ringan sampai sedang).8

2.    Gangguan panic dan gangguan cemas menyeluruh atau kecemasan.

3.    Indiividu yang mengalami stress emosional.

4.    Gangguan obsesif kompulsif (obsesessive compulsive disorder) yang sering terjadi pada

orang dewasa dan memiliki respon terhadap terapi perilaku dan antidepresan – jarang terjadi

pada awal masa anak-anak, meskipun kompulsi terisolasi sering terjadi.

5.    Gangguan fobia (misalnya agoraphobia, fobia social, fobia spesifik).

6.    Gangguan stress pascatrauma (post traumatic stress disorder).

7.    Gangguan makan (anoreksia nervosa).

8.    Gangguan mood.

9.    Gangguan psikoseksual

10.     Mengurangi kemungkinan kekambuhan berikutnya.

D.           Teknik Terapi Kognitif


Menurut Yosep (2009) ada beberapa teknik kognitif terapi yang harus diketahui oleh

perawat jiwa. Pengetahuan tentang teknik ini merupakan syarat agar peran perawat jiwa bisa

berfungsi secar optimal. Dalam pelaksanaan teknik-teknik ini harus dipadukan dengan

kemampuan lain seperti teknik komter, milieu therapy dan counseling. Beberapa teknik

tersebut antara lain: 

1.    Teknik Restrukturisasi Kongnisi (Restructuring Cognitive)

Perawat berupaya untuk memfasilitasi klien dalam melakukan pengamatan terhadap

pemikiran dan perasaan yang muncul. Teknik restrukturasasi dimulai dengan cara

memperluas kesadaran diri dan mengamati perasaan dan pemikiran yang mungkin muncul.

Biasanya dengan menggunakan pendekatan 5 kolom. Masing-masing kolom terdiri atas

perasaan dan pikiran yang muncul saat menghadapi masalah terutama yang dianggap

menimbulkan kecemasan saat ini.

Tanggal Situasi emosi Pikiran otomatis Respon rasional hasil


Tanggal 1.      kejadian nyata yang
1.      Pikiran otomatis yang
1.      Tulis respon
1.      Tulis kembali tingkat
saat menyebabkan muncul khususnya rasional terhadap
kepercayaan terhadap
masalah ketidaknyamanan sedih, cemas, marah. pemikiran otomatis
persentase pikiran
dirasakan emosi. 2.      Skala emosi dalam yang muncul
2.      Pokok pikiran, rentang 0% - 100 % 2.      Tuliskan otomatis 1-100%
khayalan yang persentase
menyebabkan kepercayaannya
ketidaknyamanan dalam rentang 0-
emosi. 100%
Perawat jiwa dapat memberikan blanko restructuring cognitive, untuk kemudian diisi oleh

klien. Setelah mendapat penjelasan seperlunya, maka hasil analisa klien dan blanko yang

sudah terisi dibahas secara bersama.

2.    Teknik Penemuan Fakta-Fakta (Questioning the evidence)

Perawat jiwa mencoba memfasilitasi klien agar membiasakan menuangkan pikiran-pikiran

abtraknya secara konkrit dalam bentuk tulisan untuk memudahkan menganalisanya. Tahap
selanjutnya yang harus dilakukan perawat saat memfasilitasi kognitif terapi adalah mencari

fakta untuk mendukung keyakinan dan kepercayaannya. Klien yang mengalami distorsi

dalam pemikirannya seringkali memberikan bobot yang sama terhadap semua sumber data

atau data-data yang tidak disadarinya, seringkali klien menganggap data-data itu mendukung

pemikiran buruknya. Data bisa diperoleh dari staf, keluarga atau anggota lain dalam

masyarakat sebagai support dalam lingkungan sosialnya. Lingkungan tersebut dapat

memberikan masukan yang lebih realistik kepada klien dibanding dengan pemikiran-

pemikiran buruknya. Dalam hal ini penemuan fakta dapat berfungsi sebagai penyeimbang

pendapat klien tentang pikiran buruknya. Berdasarkan data-data yang bisa dipercaya klien

bisa mengambil kesimpulan yang tepat tentang perasaanya selama ini.

3.    Teknik penemuan alternatif ( examing alternatives)

Bayak klien melihat bahwa masalah terasa sangat berat karena tidak adanya alternative

pemecahan lagi. Khususnya pada pasien depresi dan percobaan bunuh diri. Latihan

menemukan dan mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah klien bisa dilakukan antara

klien dengan bantuan perawat. Klien dianjurkan untuk menuliskan masalahnya. Mengurutkan

masalah-masalah paling ringan dulu. Kemudian mencari dan menemukan alternatifnya. Klien

depresi atau klien klien gangguan jiwa lain menganggap masalahnya rumit karena akumulasi

berbagai masalah seperti: listrik belum dibayar, suami selingkuh, anak sakit, genteng bocor

dan lain-lain. Bila diurutkan dari yang paling ringan biasanya klien bisa menemukan

alternatif – alternatif yang bisa dilakukan. Sebagai contoh alternatif listrik belum dibayar

klien boleh memikirkan tentang : mungkin perlu surat keterangan tidak mampu, menerima

pemutusan sementara, mengganti dengan alat penerangan lain, gabung dengan tetangga,

bermusyawarah dengan keluarga yang lebih mampu dan sebagainya. Disini penting sekali

bagi perawat jiwa untuk merangsang klien agar berani berfikir “lain dari yang biasany “ atau

berani “berpikir beda”.


4.    Dekatastropik (decatastrophizing)

Teknik dekatastropik dikenal juga dengan teknik bila dan apa ( the what-if then ). Hal ini

meliputi upaya menolong klien untuk melakukan evaluasi terhadap situasi dimana klien

mencoba memandang masalahnya secara berlebihan dari situasi alamiah untuk melatih

beradaptasi dengan hal terburuk debngan apa-apa yang mungkin terjadi.

Pertanyaan – pernyataan yang dapat diajukan perawat adalah:

“ apa hal terburuk yang akan terjadi bila…”

 “ apakah akan gawat sekali bila hal tersebut memang betul-betul terjadi…?”

“ tindakan pemecahan masalah apabila hal tersebut benar-benar terjadi…?”

Tujuannya adalah untuk menolong klien melihat konsekuensi dari kehidupan. Dimana

tidak selamanya sesuatu itu terjadi atau tidak terjadi. Sebagai contoh klien yang tinggal

dipantai harus berani berfikir : “ apa yang akan saya lakukan bila tsunami tiba-tiba datang?;

gempa tiba-tiba melanda?; suami tiba-tiba tenggelam?; dan sebagainya.

5.    Reframing

Reframing adalah strategi dalam merubah persepsi klien terhadap situasi atau perilaku.

Hal ini meliputi memfokuskan terhadap sesuatu atau aspek lain dari masalah atau mendukung

klien untuk melihat masalahnya dari sudut pandang saja. Perawat jiwa penting untuk

memperluas kesadaran tentang keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian dari masalah.

Hal ini dapat menolong klien melihat masalah secara seimbang dan melihat dalam prespektif

yang baru. Dengan memahami aspek positif dan negatif dari masalah yang dihadapi klien

dapat memperluas kesadaran dirinya. Strategi ini juga dapat memicu kesempatan pada klien

untuk merubah dan menemukan makna baru, sebab begitu makna berubah maka akan

berubah perilaku klien. Sebagai contoh, PHK dapat dipandang sebagai stressor tetapi setelah

klien merubah makna PHK, ia dapat berfikir bahwa PHK merupakan kesempatan untuk
belajar bisnis, menemukan pengalaman baru, banyaknya waktu bersama keluarga, saatnya

belajar home industry dan meraih peluang kerja yang lainnya.

6.    Thought Stopping

Kesalahan berpikir sering kali menimbulkan dampak seperti bola salju bagi klien.

Awalnya masalah tersebut kecil, tetapi lama kelamaan menjadi sulit dipecahkan. Teknik

berhenti memikirkannya ( thought stoping ) sangat baik digunakan pada saat klien mulai

memikirkan sesuatu sebagai masalah. Klien dapat menggambarkan bahwa masalahnya sudah

selesai. Menghayalkan bahwa bel berhenti berbunyi. Menghayalkan sebuah bata di dinding

yang digunakan untuk menghentikan berpikir dysfunctional. Untuk memulainya, klien

diminta untuk menceritakan masalahnya dan mengatakan rangkuman masalahnya dalam

khayalan. Perawat menyela khayalan klien dengan cara mengatakan keras-keras “berhenti”.

Setelah itu klien mencoba sendiri untuk melakukan sendiri tanpa selaan dari perawat.

Selanjutnya klien mencoba menerapkannya dalam situasi keseharian.

7.    Learning New Behavior With Modeling

Modeling adalah strategi untuk merubah perilaku baru dalam meningkatkan kemampuan

dan mengurangi perilaku yang tidak dapat diterima. Sasaran perilakunya adalah memecahkan

masalah-masalah yang disusun dalam beberapa urutan kesulitannya. Kemudian klien

melakukan observasi pada seseorang yang berhasil memecahkan masalah yang serupa dengan

klien dengan cara modifikasi dan mengontrol lingkungannya. Setelah itu klien meniru

perilaku orang yang dijadikan model. Awalnya klien melakukan pemecahan secara bersama

dengan fasilitator. Selanjutnya klien mencoba memecahkannya sendiri sesuai dengan

pengalaman yang diperolehnya bersama fasilitator. Sebagai contoh pada klien yang memiliki

stressor kesulitan ekonomi, klien bisa ikut magang dulu sambil belajar bisnis atau berdagang

dengan orang lain, setelah mendapat pengalaman klien bisa melakukannya sendiri.

8.    Membentuk Pola ( shaping )


Membentuk pola perilaku baru oleh perilaku yang diberikan reinforcement. Misalnya anak

yang bandel dan tidak akur bdengan orang lain berniat untuk damai dan hangat dengan orang

lain, maka pada saat niatnya itu menjadi kenyataan, klien diberi pujian.

9.    Token Economy

Token economy adalah bentuk reinforcement positif yang sering digunakan pada

kelompok anak-anak atau klien yang mengalami masalah psikiatrik. Hal ini dilakukan secara

konsisten pada saat klien mampu menghindari perilaku buruk atau melakukan hal yang baik.

Misalnya setiap berhasil bangun pagi klien mendapat permen, setiap bangun kesiangan

mendapat tanda silang atau gambar bunga berwarna hitam. Kegiatan berlangsung terus

menerus sampai suatu saat jumlahnya diakumulasikan.

10.     Role Play

Role play memungkinkan klien untuk belajar menganalisa perilaku salahnya melalui

kegiatan sandiwara yang bisa dievaluasi oleh klien dengan memanfaatkan alur cerita dan

perilaku orang lain. Klien dapat menilai dan belajar mengambil keputusan berdasarkan

konsekuensi-konsekuensi yang ada dalam cerita. Klien biasa melihat akibat-akibat yang akan

terjadi melalui cerita yang disuguhkan. Misalnya klien melihat role play tentang seorang

pasien yang tidak mau makan obat, tidak mau mandi dan sering merokok

11.     Social skill Training.

Teknik ini didasari oleh sebuah keyakinan bahwa keterampilan apapun diperoleh sebagai

hasil belajar. Beberapa prinsip untuk memperoleh keterampilan baru bagi klien adalah:

a.    Feedback

Sebagai contoh bagi klien pemalas ( abulia ), dapat diajarkan keterampilan membersihkan

lantai, perawat mendemonstrasikan cara membersihkan lantai yang baik, selanjutnya perawat

mengupayakan agar klien mempraktikkan sendiri. Perawat melakukan feedback dengan cara

menilai dan memperbaiki kegiatan yang masih belum selesai harapan.


12.     Anversion Theraphy

Anversion theraphy bertujuan untuk menghentikan kebiasan-kebiasan buruk klien dengan

cara mengaversikan kegiatan buruk tersebut dengan sesuatu yang tidak disukai. Misalnya

kebiasaan menggigit penghapus saat boring dengan cara membayangkan bahwa penghapus

itu dianggap sebagai cacing atau ulat yang menjijikan. Setiap klien kegemukan melakukan

kebiasaan ngemil makanan, maka ia dianjurkan untuk membayangkan kotoran kambing yang

dimakan terus.

13.     Contingency Contracting

Contingency contracting berfokus pada perjanjian yang dibuat antara therapist dalam hal

ini perawat jiwa dengan klien. Perjanjian dibuat dengan punishment dan reward. Misalnya

bila klien berhasil mandi tepat waktu atau meninggalkan kebiasaan merokok maka pada saat

bertemu dengan perawat hal tersebut akan diberikan reward. Konsekuensi yang berat telah

disepakati antara klien dengan perawat terutama bila klien melanggar kebiasaan buruk yang

sudah disepakati untuk ditinggalkan.

Menurut Setyoadi, dkk (2011) teknik yang digunakan dalam melakukan terapi kkognitif

adalah sebagai berikut:

1.    Mendukung klien untuk mengidentifikasi kognisi atau area berpikir dan keyakinan yang

menyebabkan khawatir.

2.    Menggunakan teknik pertanyaan Socratic  yaitu meminta klien untuk menggambarkan,

menjelaskan dan menegaskan pikiran negative yang merendahkan dirinya sendiri. Dengan

demikian, klien mulai melihat bahwa asumsi tersebut tidak logis dan tidak rasional.

3.    Mengidentifikasi interpretasi yang lebih realities mengenai diri sendiri, nilai diri dan dunia.

Dengan demikian, klien membentuk nilai dan keyakinan baru, dan distress enmosional

menjadi hilang.

E.            Langkah-Langkah Melakukan Terapi Kognitif


Menurut Setyoadi, dkk (2011) terapi kognitif dipraktikan diluar sesi terapi dan menjadi

modal utama dalam mengubah gejala. Terapi berlangsung lebih kurang 12-16 sesi yang

terdiri atas:

1.    Fase awal (sesi 1-4)

a.    Membentuk hubungan terapeutik dengan klien.

b.    Mengajarkan klien tentang bentuk kognitif yang salah serta pengaruhnyan terhadap emosi

dan fisik.

c.    Menentukan tujuan terapi.

d.   Mengajarkan klien untuk mengevaluasi pikiran-pikirn yang otomatis.

2.    Fase pertegahan (sesi 5-12)

a.    Mengubah secara berangsur-angsur kepercayaan yang salah.

b.    Membantu klien mengenal akar kepercayaan diri. Klien diminta mempraktikan

keterampilann berespons terhadap hal-hal yang menimbulkan depresi dan memodifikasinya.

3.    Fase akhir (13-16)

a.    Menyiapkan klien untuk terminasi dan memprediksi situasi beresiko tinggi yang relevan

untuk terjadinya kekambuhan.

b.    Mengonsolidasikan pembelajaran melalui tugas-tugas terapi sendiri.

F.            Strategi Pendekatan

Menurut Setyoadi, dkk (2011) strategi pendekatan terapi kognitif antara lain:

1.    Menghilangkan pikiran otomatis.

2.    Menguji pikiran otomatis.

3.    Mengidentifikasi asumsi maladaptive.

4.    Menguji validitas asumsi maladaptive.

BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan

Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif, direktif

dan berjangkan waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam kepribadian,

misalnya ansietas atau depresi.  Terapi kognitif digunakan untuk mengidentifikasi,

memperbaiki gejala perilaku yang malasuai, dan fungsi kognisi yang terhambat, yang

mendasari aspek kognitif yang ada. Terapis dengan pendekatan kognitif mengajarkan pasien

atau klien agar berpikir lebih realistik gejala yang berkelainan yang ada.

Terapi kognitif di indikasikan kepada klien dengan depresi (ringan sampai sedang),

gangguan panic dan gangguan cemas menyeluruh atau kecemasan, indiividu yang mengalami

stress emosional, gangguan obsesif kompulsif (obsesessive compulsive disorder) yang sering

terjadi pada orang dewasa dan memiliki respon terhadap terapi perilaku dan antidepresan –

jarang terjadi pada awal masa anak-anak, meskipun kompulsi terisolasi sering terjadi,

gangguan fobia (misalnya agoraphobia, fobia social, fobia spesifik), gangguan stress

pascatrauma (post traumatic stress disorder), gangguan makan (anoreksia nervosa),

gangguan mood, gangguan psikoseksual, mengurangi kemungkinan kekambuhan berikutnya.

Beberapa teknik dalam terapi kognitif yaitu teknik restrukturisasi kongnisi (restructuring
cognitive), teknik penemuan fakta-fakta (questioning the evidence), teknik penemuan
alternatif (examing alternatives), dekatastropik (decatastrophizing), reframing,  thought
stopping, learning new behavior with modeling, membentuk pola (shaping), token economy,
role play, social skill training, anversion theraphy, contingency contracting.
B.            Saran

Sebagai mahasiswa dan calon tenaga medis kita mampu menerapkan mekanisme koping

dengan menggunakan terapi kognitif kepada klien sehingga jumlah kasus penderita gangguan

jiwa di Indonesia dapat menurun.

DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.

Setyoadi, dkk. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan pada Klien Psikogeriatrik. Jakarta:

Salemba Medika.

Stuart, G.W. (2009). Principle and Practice of Psychiatric Nursing. St Louis: Mosby.

Yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditamam.