Anda di halaman 1dari 6

Kontrak / Perjanjian Pemborongan

A. Pengertian Kontrak
Istilah kontrak berasal dari bahasa latin Contractus yang berarti perjanjian. Dalam
buku III Bab 2 KUH perdata berarti perjanjian yang menimbulkan kewajiban bagi mereka
yang membuatnya. Dalam perkembangannya istilah kontrak telah diberi arti yang lebih
khusus yaitu perjanjian tertulis, dengan demikian istilah kontrak selalu mengandung arti
perjanjian dan tulisan.
Berdasar pasal 1313 KUH Perdata, perjanjian diartikan sebagai suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya pada satu orang atau lebih
lainnya. Berarti bahwa perjanjian harus selalu ada dua pihak yang membuatnya
(bilateral), yang masing-masing pihak dalam perjanjian memegang hak dan terbeban
kewajiban.

B. Syarat-Syarat Kontrak / perjanjian


Agar perjanjian dapat dianggap sah dan dapat diakui secara hokum (legally
concluded contract) perjanjian harus memenuh syarat-syarat sebagaimana ditentukan
dalam Pasal 1320 KUH Perdata, antara lain :
1. Kesepakatan antara kedua belah puihak yang melakukan perjanjian.
2. Kecakapan para pihak yang membuat perjanjian.
3. Suatu hal tertentu.
Yaitu merupakan objek dari suatu perjanjian, berupa barang atau perbuatan.
4. Suatu sebab yang halal.
Apabila hal atau objek yan diperjnjikan tidak bertentangan dengan undang-
undang, ketertiban umum maupun kesusilaan. Dipertegas dalam pasal 1337 KUH
Perdata.
Apabila syarat objektif suatu perjanjian dilanggar atau tidak dipenuhi, maka
perjanjian tersebut batal demi hukum (null and void). Perjanjian dianggap tidak pernah
ada, dan para pihak tidak dapat menuntut pihak lawan untuk memenuhi isi perjanjian.

Sekti Aryo
L2A006122 Page 1
Apabila syarat subjektif yang dilanggar, perjanjian tersebut menjadi dapat untuk
dibatalkan (voidable). Pembatalan ini dapat dituntut oleh pihak yang tidak dapat berbuat
bebas.

C. Azas-azas Dalam Kontrak/ perjanjian


Menurut KUH perdata dalam membuat perjanjian didasarkan pada beberapa asas,
yaitu:
1. Asas kebebasan berkontrak.
Kebebasan dibatasai oleh undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan.
2. Asas konsesual.
Diatur pada buku III KUH perdata pasal 1458, yaitu perjanjian sudah lahir secara
sah dan mengikat sejak terjadinya kesepakatan. Pengecualian diatur oleh
undang-undang.
3. Asas kekuatan mengikat.
Perjanjian yang dibuat mengikat seprti undang-undang dan tidak dapat ditarik
lagi secara sepihak.

D. Unsur-Unsur Perjanjian
Perjanjian dibagi dalam dua unsur, yaitu
1. Unsur pokok (essensialia)
Merupakan bagian dari perjanjian yang mutlak harus ada. Tanpa bagian ini maka
perjanjian tersebut tidak memenuhi syarat sebagai perjanjian yang bersangkutan.
2. Unsur bukan pokok (naturalia dan aksidentalia)
Unsur naturalia merupakan bagian perjanjian yang oleh undang-undang ditentukan
sebagai peraturan yang bersifat mengatur. Sedangkan unsure aksdidentalia bagian
yang oleh para pihak ditambahkan ke dalam perjanjian karena tidak ada aturannya
dalam undang-undang.

E. Bentuk, Macam Perjanjian / Akta


Berdasar pasal 1867 KUH Perdata, dapat diketahui ada dua bentuk akta. Yaitu kata
otentik dan akta (tulisan) di bawah tangan.

Sekti Aryo
L2A006122 Page 2
Berdasar Pasal 1868 KUH perdata, suatu akta otentik harus memenuhi syarat
berikut:
1. Bentuknya ditentukan oleh undang-undang.
2. Harus dibuat oleh atau dihadapan pegawai (pejabat) umum.
3. Pejabat/pegawai umum tersebut berkuasa / berwenang untuk membuatnya.
Akta otentik dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Akta yang dibuat pejabat umum (akta pejabat).
2. Akta yang dibuat dihadapan pejabat umum ( akta para pihak).
Sedangkan untuk akta di bawah tangan, berdasar Pasal 1874 KUH perdata adalah
tulisan – tulisan yang ditandatangani dan dibuat tanpa perantaraan atau bantuan
pejabat umum.

F. Fungsi Akta / Perjanjian


Fungsi akta antara lain :
1. Akta sebagai adanya sesuatu.
Sebagai dasar atau syarat formal untuk adanya suatu perbuatan atau keadaan.
2. Akta sebagai alat bukti.
Terbagi menjadi 3 jenis pembuktian dari suatu akta, yaitu :
a. Kekuatan pembuktian extern.
b. Kekuatan pembuktian formil.
c. Kekuatan pembuktian materiil.
3. Akta sebagai dasar eksekusi.

G. Kewenangan dan Kemampuan Membuat Akta/ Perjanjian


Dalam penusunan kontrak harus benar-benar diperhatikan tentang kewenangan dan
kemampuan berbuat hukum masing-masing pihak. Kesalhan dalm penyebutan pihak
dalam suatu kontrak mengakibatkan kontrak tersebut batal. Kewenangan melakukan
perbuatan hukum sangat terikat oleh asas nemo plus yang berarti orang dilarang
mengikatkan seusatu yang bukan haknya.
Dasar kewenangan berbuat hukum ada beberapa macam, yaitu:
1. Mengurus hak dan kepentingannya sendiri.

Sekti Aryo
L2A006122 Page 3
2. Perwakilan yang didasarkan pada:
a. Ketentuan-ketentuan hukum.
b. Putusan hakim.
c. Perjanjian, berupa pemberian surat kuasa.

H. Pembuatan Perjanjian / Kontrak


Pada umumnya apabila dilihat dari bentuknya maka akta terbentuk dari :
1. Awal akta (pendahuluan akta)
Berisi judul akta dan nomer akta.
2. Penyebutan pihak-pihak
Harus secara jelas dan lengkap. Secara umum penyebutan pihak dalam perjanjian
meliputi:
a. Nama dan identitas ( umur, agama, pekerjaan, alamat, kewarganegaraan dll)
b. Dasar hukum perwakilan
c. Kewenangan
d. Pihak yang diwakili
3. Premise
Memuat keterangan atau pernyataan pendahuluan yang merupakan dasar atau
pokok masalah yang akan dimuat dalam isi akta.
4. Isi akta (badan akta)
Isi akta memuat secara jelas dan rinci apa yang dikehendaki oleh para pihak
untuk dimasukkan dalam perjanjian. Pada umumnya terdiri dari :
a. Perbuatan hukum dan atau hubungan hukum.
b. Objek perjanjian
c. Hak dan kewajiban para pihak
d. Pelaksanaan hak dan kewajiban
e. Jangka waktu berlakunya perjanjian
f. Sanksi
g. Force majeur
h. Pemilihan domisili
i. Dasar eksekusi

Sekti Aryo
L2A006122 Page 4
5. Akhir akta
Merupakan penutup dari akta, biasa terdiri dari:
a. Tempat akta dibuat
b. Penanggalan akta
c. Identitas para saksi
d. Materai
e. Tanda tangan

I. Pelaksanaan Perjanjian / kontrak


Pada hakekatnya perjanjian berisi kewajiban-kewajiban untuk :
1. Kewajiban untuk memberi sesuatu
2. Berbuat sesuatu atau
3. Tidak berbuat sesuatu
Dalam hukum perjanjian ketiganya disebut sebagai prestasi. Apabila perjanjian jenis
pertama (memberi sesuatu) debitur tidak melaksanakan kewajibannya, maka kreditor
dapat menuntut didepan pengadilan supaya debitor melaksanakan kewajibannya dan
jika dianggap perlu ditambah dengan hukuman membayar ganti rugi.
Sedangkan yang dilanggar adalah yang kedua (berbuat sesuatu), maka berdasar
pasal 1241 KUH Perdata kreditor dapat minta ke pengadilan agar ia sendiri dikuasakan
untuk mengupayakan terlaksananya perbuatan atas biaya debitor.
Sedangkan yang dilanggar adalah yang ketiga (tidak berbuat sesuatu), maka berdasar
pasal 1240 KUH Perdata kreditor dapat menuntut penghapusan segala sesuatu yang
telah dibuat debitor berlawanan dengan perjanjian.
Hal yang paling penting dari pelaksanaan perjanjian adalah perjanjian tersebut harus
dilaksanakan dengan itikad baik, harus diatas jalan yang benar, dilaksanakan dengan
berdasar pada norma-norma kepatutan dan kesusilaan.

J. Wanprestasi
Debitur yang tidak melaksanakan prestasi yang telah diperjanjikan dinamakan
melakukan wanprestasi. Wujud dari wanprestasi tersebut meliputi:
1. Tidak melaksanakan apa yang telh diperjanjikan untuk dilaksanakan.

Sekti Aryo
L2A006122 Page 5
2. Melaksanakan apa yang diperjanjikan tetapi tidak sama dengan isi perjanjian.
3. Terlambat dalam melakukan kewajiban perjanjian.
4. Melakukan sesuatu yang diperjanjikan untuk tidak dilakukan.
Debitur yang melakukan wanprestasi dapat dihukum untuk membayar ganti rugi,
pembatalan perjanjian, peralihan resiko atau membayar biaya perkara kalau sampai di
pengadilan.

K. Force Majeur
Force majeur atau Overmacht (bahasa Belanda) adalah keadaan yang tidak dapat di
duga yang terjadi sedimikian rupa sehingga debitur tidak dapat berbuat apa-apa terhadap
keadaan tersebut. Debitur tidak dapat dipersalahkan dan tiadk dapat dijatuhi sanksi
karena wanprestasi.
Force majeur tersebut biasanya terjadi disebabkan oleh bencana alam seperti :
gunung meletus, banjir besar, gempa bumi serta keadaan lain yang diluar batas
kemampuan manusia. Keadaan tidak terduga dan bukan kesalahan debitur tetap harus
ditanggung oleh debitur apabila debitur telah menyanggupinya atau pertanggungan itu
timbul dari sifat perjanjiannya.

L. Jenis-Jenis Perjanjian Pemborongan Bangunan


Berdasarkan cara terjadinya, dapat dibedakan menjadi :
1. Perjanjian pemborongan bangunan yang diperoleh sebagai hasil pelelangan atas
dasar penawaran yang dilakukan (competitive bid contract).
2. Perjanjian pemborongan bangunan atas dasar penunjukan.
3. Perjanjian pemborongan bangunan yang diperoleh sebagai hasil perundingan
antara si pemberi tugas dan si pemborong ( Negotiated contract).
Sedangkan apabila dilihat dari acra penentuan harganya, dapat di bedakan menjadi :
1. Perjanjian pelaksanaan pemborongan dengan harga pasti (fixed price).
2. Perjanjian pelaksanaan pemborongan dengan harga lumpsum.
3. Perjanjian pelaksanaan pemborongan atas dasar harga satuan (Unit Price).
4. Perjanjian pelaksanaan pemborongan atas dasar jumlah biaya dan upah (cost plus
fee).

Sekti Aryo
L2A006122 Page 6