Anda di halaman 1dari 49

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris, yaitu negara yang mempunyai area untuk
bercocok tanam yang sangat luas. Sebagian besar penduduk Indonesia hidup dari sektor
pertanian. Pertanian memang masih memperoleh perhatian terbesar dari pemerintah
karena sektor ini memang menjadi tumpuan utama dalam pembangunan. Tetapi masih
ada persoalan yang dihadapi oleh petani baik mengenai masalah kehidupan petani
maupun mengenai produksi dan pemasaran hasil-hasil pertanian mereka (Mubyarto,
1985).
Pembangunan pertanian menitik beratkan pada proses peningkatan produktivitas
yang nantinya akan berimplikasi pada peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan
petani, dengan menggunakan teknologi yang lebih maju, peralatan dan permodalan yang
lebih baik yang diperlukan oleh para petani untuk menerapkan teknologi tersebut di
dalam pelaksanaannya.
Umumnya petani tidak pernah menghitung untung rugi usahanya. Dalam
agrobisnis petani harus berpikir mencari laba untuk dapat mengembangkan usahanya.
Ada tiga komponen yang mendasari analisis usahatani, yakni biaya produksi,
pendapatan, dan keuntungan (Sunarjono, 2003).
Ilmu usaha tani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang
mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan
memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila
petani/produsen dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki (yang dikuasai)
sebaik-baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumber daya tersebut
menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input) (Soekartawi, 2003).
Praktikum Pengkajian Sosial Ekonomi Pertanian diadakan untuk mendukung
mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian yang membutuhkan pengamatan langsung
terhadap masyarakat tani dalam menghadapi masalah pertanian, sehingga mahasiswa
dapat mengenal kehidupan pedesaaan, kehidupan para petani dan usaha taninya.
Pengenalan ini penting untuk mengenal keadaan dan masalah yang dihadapi petani
sehingga dapat menjadikan bekal mahasiswa untuk dapat lebih berkiprah dalam
membangun kemajuan bangsa melalui pembangunan pertanian pada khususnya dan
pembangunan masyarakat pedesaan pada umumnya. Selain itu mahasiswa dapat

1
membandingkan antara teori yang diperoleh dengan keadaan yang sebenarnya di
pedesaan sehingga dapat memperoleh tambahan wawasan pengetahuan.

B. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada mahasiswa dengan
memperkenalkan petani dan kehidupannya. Dalam kaitan ini mahasiswa diarahkan
untuk bisa mengkaji :
1. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki petani khususnya untuk dapat digunakan
dalam proses produksi pertanian.
2. Pengelolaan usaha tani dan pemasarannya
3. Tingkat pendapatan petani
4. Tingkat konsumsi masyarakat setempat
5. Usaha-usaha yang dilakukan pemerintah setempat untuk meningkatkan pendapatan
petani.

A. Kegunaan
1. Bagi mahasiswa, praktikum Pengkajian Sosial Ekonomi Pertanian ini berguna untuk
meningkatkan kemampuan dalam penelitian ilmiah, mulai dari pengambilan data,
pengolahan data, interpretasi data sampai pada penulisan laporan ilmiah di bidang
sosial Ekonomi Pertanian.
2. Bagi petani, hasil kajian ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai potensi
yang dimiliki dan hal-hal yang harus dikembangkan sehingga produktivitasnya
meningkat.
3. Bagi pengambil kebijakan diwilayah praktikum ini, hasil kajian ini dapat digunakan
sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

A. Metode Penelitian
1. Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam praktikum Pengkajian
Sosial Ekonomi Pertanian ini adalah dengan metode stratified random sampling, yaitu
pengambilan sampel dengan membagi populasi kedalam strata-strata, (sub populasi),
kemudian pengambilan sampel dilakukan dalam setiap strata secara random sampling.
Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah 15 sampel. Pertama kali
yang dilakukan adalah perhitungan standar deviasi. Standar deviasi dilakukan untuk

2
menentukan kriteria setiap strata. Populasi di bagi atas 3 strata berdasarkan luas lahan
yang dikelola oleh petani yaitu lahan luas, lahan sedang, dan lahan sempit. Setelah
terstrata kemudian pengambilan sampel setiap strata dilakukan pengundian dengan
memperhatikan jumlah sampel yang dibutuhkan dalam setiap strata.
2. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Teknik dasar wawancara adalah pengumpulan data pengalaman dan sikap yang
diberikan responden atas pertanyaan yang diajukan atas sejumlah variabel yang
berperan penting, khususnya kepada petani, perangkat desa dan tokoh-tokoh masyarakat
setempat.
b. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat),
pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan
melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau
kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan
untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan
balik terhadap pengukuran tersebut.
c. Pencatatan
Melakukan pencatatan data yang diperlukan dari dokumen-dokumen di kantor
pemerintah setempat. Pencatatan merupakan tugas pokok saat terjun di lapangan sebab
merupakan memori pembantu pengamatan yang paling banyak.
1. Jenis Data
Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari lembaga atau instansi yang
berkaitan dengan praktikum seperti monografi kecamatan atau buku potensi desa. Data
primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan petani sampel ataupun
melalui observasi di lokasi praktikum. Data primer terdiri dari identitas keluarga petani,
pemilikan dan penguasaan tanah, usahatani tanaman semusim, usahatani tanaman
tahunan, usahatani ternak, usaha perikanan, kegiatan luar usahatani, pemasaran hasil
dan tingkat pengeluaran keluarga.
II. KEADAAN FISIK DAERAH

A. Lokasi dan Topografi


1. Lokasi Penelitian

3
Desa Sabrang terletak di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Propinsi
Jawa Tengah. Jarak antara Desa Sabrang dengan Kantor Kecamatan Delanggu adalah 1
km. Jarak antara Desa Sabrang dengan ibukota Kabupaten Klaten adalah 15 km. jarak
antara Desa Sabrang dengan ibukota Propinsi adalah 200 km. Luas Desa Sabrang
mencapai 90,88200 ha dengan batas wilayahnya meliputi :
Utara : Desa Gatak
Selatan : Desa Karang
Barat : Desa Krecek
Timur : Desa Tlobong

2. Luas Daerah dan Bagian-Bagian Desa


Desa Sabrang Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten memiliki luas 90,88200
ha. Dari tabel 2.1. terlihat bahwa 50,25% penggunaan tanah di desa Sabrang untuk
lahan pertanian berupa sawah dan ladang.

Tabel 2.1 Penggunaan Tanah Desa Sabrang Tahun 2009


No Peruntukan Tanah Luas (ha) Persentase (%)
1 Jalan 2,5040 2,76
2 Sawah dan Ladang 45,6674 50,25
3 Bangunan Umum 21,5510 23,71
4 Pemukiman Penduduk 20,4070 22,45
5 Pekuburan 0,1631 0,18
6 Lain-lain 0,5895 0,65
Jumlah 90,8820 100,00
Sumber : Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

3. Topografi Permukaan Daerah


Desa Sabrang memiliki curah hujan 2256 mm/tahun yang merupakan curah hujan
yang tinggi. Permukaan tanahnya berupa dataran sehingga Desa Sabrang cocok untuk
daerah pertanian dan memungkinkan petani untuk menanam padi sepanjang tahun
karena kebutuhan air yang terpenuhi sepanjang tahun.
4. Pola Pemukiman Penduduk
JALAN

4
Gambar 2.1 Pola Pemukiman Penduduk desa Sabrang

Menurut Rahardjo (1999), dengan pola pemukiman line village memungkinkan


terjadinya hubungan yang intim antara warga/tetangga, kedekatan warga dengan
berbagai lembaga, kedekatan teman bermain bagi anak-anak (yang tentu berpengaruh
terhadap proses sosialisasi), memudahkan terjadinya saling tolong-menolong atau kerja
sama antara sesama warga.
Pola pemukiman penduduk Desa Sabrang adalah line village, yaitu pola
pemukiman dengan rumah penduduk berada di pinggir jalan dan lahan pertanian berada
di belakang pemukiman penduduk. Pada pola ini, selain interaksi antar penduduk lebih
besar, penduduk juga lebih mudah mendapatkan informasi dan memasarkan hasil
pertanian karena akses transportasi yang memadai.
Kegiatan pemasaran hasil pertanian dirasakan agak mudah bagi petani yang
lahan pertaniannya berada di bagian tepi jalan yang berada di sekelilingnya. Lain halnya
jika lahan pertanian tersebut berada jauh dari jalan maka biasanya ada biaya angkut
hasil panen jika proses pemanenan tersebut tidak sanggup dilakukan secara sendirian.

A. Keadaan Tanah dan Pengairan


1. Jenis Tanah dan Macam Penggunaan
Tanah adalah lapisan permukaan bumi paling luar sebagai tempat tumbuhnya
tanaman. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan induk (anorganik) dan bahan-bahan
organik dari tumbuhan dan hewan yang telah membusuk. Bahan yang menyusun tanah
terdiri atas zat padat, cair, gas, dan organisme. Pelapukan batuan induk pembentuk
tanah di daerah tropis seperti Indonesia sangat dipengaruhi faktor suhu dan kelembapan
udara. Tanah di desa Sabrang termasuk tanah regosol kelabu yang mempunyai ciri-ciri
kandungan bahan organik rendah, berbutir kasar, tekstur pasir sampai debu reaksi pH
bervariasi antara netral sampai masam dan produktivitas tanah sedang sampai tingggi.
2. Sistem Hak Penguasaan Tanah
Sistem hak penguasaan tanah di Desa Sabrang ada tiga yaitu sistem hak milik,
sistem sewa dan sistem sakap. Sistem hak milik berarti pemilik lahan yang mengelola

5
usaha taninya sendiri. Sedangkan sistem sewa, berarti pemilik lahan memberikan ijin
kepada orang lain untuk memanfaatkan tanahnya dengan tenggang waktu tertentu serta
syarat orang tersebut harus menggantinya dengan uang sesuai dengan perjanjian yang
telah disepakati. Sistem sakap adalah pemilik tanah dalam mengelola lahannya
diserahkan kepada penggarap/orang lain. Pada sistem sakap ini terdapat dua cara yaitu
sistem sakap “mrapat” (3:1), yaitu pembagian hasil seperempat untuk penggarap dan
tigaperempat untuk pemilik dengan biaya sarana produksi pertanian ditanggung oleh
pemilik lahan dan “maro” (1:1), yaitu pembagian hasil antara pemilik dan penggarap
sama masing-masing 50 % dengan biaya pengerjaan usahatani ditanggung oleh
penggarap.
3. Keadaan dan Sistem Pengairan
Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi penduduk desa Sabrang.
Sebagian besar penduduk desa Sabrang telah memiliki sumur, sehingga dapat
mengambil air untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Tanpa air yang memadai
kegiatan bercocok tanam tidak akan berjalan dengan baik. Lahan sawah di desa Sabrang
seluruhnya telah menggunakan irigasi teknis. Sistem irigasi teknis yaitu sistem irigasi
yang bentuk saluran irigasinya sudah diperkeras dengan semen dan mempunyai pintu
air.

A. Keadaan Iklim
Desa Sabrang terletak pada ketinggian 333 m diatas permukaan laut, memiliki
tingkat curah hujan 2256 mm/tahun, suhu udara rata-rata adalah 32°C.

Tabel 2.2. Tabel Derajat Kebasahan Bulan


Tahun Rerata CH BB BK BL
2000 147 6 5 1
2001 115 6 5 1
2002 128 6 6 0
2003 124 5 7 0
2004 178 8 3 1
2005 140 6 6 0
2006 190 7 5 0

6
2007 166 7 4 1
2008 168 7 5 0
2009 162 8 4 0
Jumlah 1.520 66 50 4
Rerata 152 6,6 5,0 0,4
Sumber: Dinas DPU Wilayah Delanggu, 2009

Mohr melakukan klasifikasi berdasarkan curah hujan dengan melihat kebasahan


suatu bulan. Derajat kebasahan suatu bulan dibagi menjadi :
a) Bulan Basah (BB) : Curah Hujan > 100 mm
b) Bulan Lembab (BL) : 60 mm ≤ Curah Hujan ≤ 100 mm
c) Bulan Kering (BK) : Curah Hujan < 60 mm
Harga BB, BL, BK diperoleh dari rerata jumlah curah hujan bulanan selama minimum
10 tahun, dengan mengemukakan 5 golongan iklim.
Golongan 1 : Daerah basah, yaitu daerah dimana hampir tidak ada satupun bulan yang
hujannya kurang dari 60 mm,
Golongan 2 : Daerah agak basah, dengan periode kering yang lemah. Terdapat 1 bulan
kering,
Golongan 3 : Daerah agak kering, dimana jumlah bulan kering 3-4 bulan,
Golongan 4 : Daerah kering, dimana jumlah bulan-bulan kering jauh lebih banyak,
sampai 6 bulan,
Golongan 5 : Daerah sangat kering, dengan kekeringan panjang dan kuat.
Berdasarkan Tabel 2.2 Desa Sabrang termasuk golongan 4 pada klasifikasi iklim
menurut Mohr yaitu daerah kering dengan jumlah bulan-bulan kering jauh lebih banyak,
sampai 6 bulan.
Klasifikasi Schmidt dan Ferguson didasarkan pada adanya bulan basah dan
bulan kering seperti yang dikemukakan oleh Mohr. Hanya ada perbedaaan dalam
penentuan derajad kebasahan bulan dan cara perhitungannya. Jumlah bulan basah dan
bulan kering menurut metode Schmidt dan Ferguson dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Berdasarkan rumus tersebut, Schmidt dan Ferguson menggolongkan iklim dalam
8 golongan:
Golongan A : 0 ≤ Q < 0,143, daerah sangat basah, vegetasi hutan hujan tropis
Golongan B : 0,143 ≤ Q < 0,333, daerah basah , vegetasi hutan hujan tropis

7
Golongan C : 0,333 ≤ Q < 0,600, daerah agak basah, vegetasi hutan rimba,
diantaranya ada vegetasi yang gugur daunnya pada musim kemarau, misalnya tanaman
jati.
Golongan D : 0,600 ≤ Q < 1,000, daerah sedang, vegetasi hutan musim
Golongan E : 1,000 ≤ Q < 1,670, daerah agak kering, vegetasi hutan belantara
(sabana)
Golongan F : 1,670 ≤ Q < 3,000, daerah kering, vegetasi hutan sabana
Golongan G : 3,000 ≤ Q < 7,000, daerah sangat kering , vegetasi hutan ilalang
Golongan H : Q ≥ 7,000, daerah luar biasa kering
Secara umum klasifikasi ini banyak digunakan di bidang perkebunan dan kehutanan.
Berdasarkan data pada Tabel 2.2 diperoleh nilai Q sebesar
Q= = = 0,758
RerataBK 5
RerataBB 6,6

Nilai Q sebesar 0,758 terletak 0,600 ≤ Q < 1,000, yang mengindikasikan bahwa
kecamatan Delanggu termasuk iklim golongan D (daerah sedang). Dari kesimpulan
yang ada terlihat bahwa kecamatan Delanggu merupakan daerah yang memiliki iklim
kering dengan curah hujan sedang.

Grafik 2.1 Grafik Rerata Curah Hujan vs Tahun (2000-2009)

Ketinggian tempat erat kaitannya dengan temperatur yang ada di suatu daerah.
Semakin naik ketinggiannya maka suhu akan semakin berkurang. Temperatur udara
dapat dihitung dengan rumus Brakks :
T = (26,3-0,61h)°C
Keterangan:
T = Temperatur udara rata-rata
h = Ketinggian tempat dalam hm
Desa Sabrang terletak pada 200-600 meter dpl, maka temperatur rata-rata
hariannya adalah :
T= °C = = 24,29°C
{ 26,3 − ( 0,61×330m )} { 26,3 − ( 0,61×3,3hm)}

8
Sehingga Desa Sabrang memiliki temperatur normal yang berkisar antara
24,29°C.

III. KEADAAN PENDUDUK

Komposisi penduduk yaitu pengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria


(ukuran) tertentu. Dasar untuk menyusun komposisi penduduk yang umum digunakan
adalah umur, jenis kelamin, mata pencaharian, dan tempat tinggal. Pengelompokkan
penduduk dapat digunakan untuk dasar dalam pengambilan kebijakan dan pembuatan
program dalam mengatasi masalah-masalah di bidang kependudukan (Anonim, 2010).
A. Struktur Penduduk
1. Struktur Penduduk Berdasar Umur

Tabel 3.1. Struktur Penduduk Menurut Umur Desa Sabrang Tahun 2009
No. Kelompok Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 00 – 03 tahun 0 0,00
2 04 – 06 tahun 56 14,28
3 07 – 12 tahun 140 35,71
4 13 – 15 tahun 157 40,05
5 16 – 18 tahun 13 3,32
6 19 – keatas 26 6,63
Jumlah 392 100,00
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Tabel 3.2. Struktur Penduduk Menurut Kelompok Tenaga Kerja Desa Sabrang Tahun
2009
No. Kelompok Tenaga Kerja Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 10 – 14 tahun 249 9,33
2 15 – 19 tahun 271 10,15
3 20 – 26 tahun 398 14,90
4 27 – 40 tahun 617 23,11
5 41 – 56 tahun 733 27,45
6 57 – keatas 402 15,06

9
Jumlah 2.670 100,00
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

P( < 14) + P( ≥ 57)


BDR = x10000 00
P(14 − 56)

Keterangan:
BDR : Beban ketergantungan
P : Jumlah penduduk dalam kelompok umur

Nilai BDR untuk Desa Sabrang adalah:

249 + 402
BDR = x1000 0 00
2019

= 322,44
0
00

Nilai BDR di atas berarti bahwa setiap 1000 orang penduduk produktif harus
menanggung 322 orang penduduk non produktif.
Piramida penduduk merupakan lukisan komposisi penduduk menurut umur dan
jenis kelamin bagi suatu wilayah. Bentuk piramida penduduk banyak ditentukan oleh
keadaan natalitas dan mortalitas. Tanpa migrasi ataupun ada denan jumlah yang relatif
sedikit maka penambahan atau pengurangan penduduk hanya terjadi melalui kelahiran
dan kematian. Dibandingkan mortalitas, pengaruh dari turunnya natalitas lebih nyata
jika dibuktikan dengan bentuk piramida penduduk.
Piramida penduduk menyajikan lukisan komposisi menurut umur dan jenis
kelamin di suatu daerah. Piramida penduduk menggambarkan komposisi penduduk
berdasarkan umur dan jenis kelamin. Menurut Anonim (2010) ada 3 macam bentuk
piramida penduduk, yaitu:
1. Ekspansif
Sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Hal ini terdapat
di daerah-daerah dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat akibat tingginya
angka kelahiran dan sudah mulai menurunnya tingkat kematian.
2. Konstruktif

10
Penduduk yang berada dalam kelompok umur termuda jumlahnya sedikit. Hal
ini terdapat di daerah-daerah yang tingkat kelahirannya turun dengan cepat dan tingkat
kematiannya rendah.
3. Stasioner
Banyaknya penduduk dalam tiap kelompok umur hampir sama, kecuali pada
kelompok umur tertentu. Hal ini terdapat di daerah-daerah yang mempunyai tingkat
kelahiran yang rendah.
Berdasarkan pada Tabel 3.2 penduduk usia produktif merupakan penduduk yang
terbesar jumlahnya menurut kelompok usia tenaga kerja, sehingga di Desa Sabrang
termasuk dalam piramida penduduk bertipe konstruktif. Struktur penduduk yang
demikian akan menghasilkan tingkat pertambahan angkatan kerja yang relatif tinggi.
Piramida penduduk Desa
249402 2.019

< 14 tahun
14-56 tahun
≥ 57 tahun

Gambar 3.1. Piramida Penduduk Desa Sabrang

1. Struktur Penduduk Berdasar Jenis Kelamin


Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki
dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Data mengenai
rasio jenis kelamin berguna untuk pengembangan perencanaan pembangunan yang
berwawasan gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-
laki dan perempuan secara adil. Misalnya, karena adat dan kebiasaan jaman dulu yang
lebih mengutamakan pendidikan laki-laki dibanding perempuan, maka pengembangan
pendidikan berwawasan gender harus memperhitungkan kedua jenis kelamin dengan
mengetahui berapa banyaknya laki-laki dan perempuan dalam umur yang sama.
Informasi tentang rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh para politisi, terutama
untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam parlemen.

Tabel 3.3. Komposisi Penduduk Desa Sabrang Menurut Jenis Kelamin Tahun 2009
No. Jenis Kelamin Jumlah (jiwa)
1 Laki-laki 2.220

11
2 Perempuan 1.983
Jumlah 4.203
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Berdasarkan struktur penduduk berdasar jenis kelamin maka dapat dihitung rasio
jenis kelamin (sex ratio). Sex ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:

jumlah penduduk laki − laki


SR = x100%
jumlah pendudukperempuan

2220
SR = x100% = 111,95%
1983

Berdasarkan nilai sex ratio suatu masyarakat, maka akan diketahui keadaan
tenaga kerja menurut jenis kelaminnya. Makin besar nilai rasio seksnya berarti jumlah
penduduk laki-laki makin besar dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.
Dari perhitungan yang dilakukan besarnya nilai sex ratio tidak menunjukkan perbedaan
yang mencolok. Nilai rata-rata sex ratio Desa Sabrang pada tahun 2009 sebesar
111,95%. Ini berarti setiap 100 jiwa penduduk perempuan diimbangi dengan penduduk
laki-laki sebanyak 112 jiwa.
2. Struktur Penduduk Berdasar Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap keadaan sosial
ekonominya (Asmara, 2004). Di daerah desa, semakin tinggi tingkat pendidikan yang
telah ditempuh oleh seseorang, biasanya semakin tinggi pula keadaan sosial
ekonominya. Berbeda halnya dengan penduduk di kota, tingkat pendidikan belum bisa
dijadikan jaminan untuk hidup dengan keadaan ekonomi yang tinggi. Hal ini
dipengaruhi oleh ketrampilan dan pengalaman masing-masing orang. Untuk mengetahui
struktur penduduk berdasarkan pendidikan di Desa Sabrang dapat dilihat pada Tabel
3.4.

Tabel 3.4. Struktur Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Sabrang Tahun 2009
No. Kelompok Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 TK 223 10,69
2 SD 365 17,49
3 SMP 675 32,37
4 SMA 715 34,28

12
5 Akademi / perguruan tinggi 108 5,17
Jumlah 2.086 100,00
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Tabel 3.4 menunjukkan kelompok pendidikan menurut jejang pendidikan adalah


tingkat TK ada 223 jiwa (10,69%), SD ada 365 jiwa (17,49%), SMP ada 675 jiwa
(32,37%), SMA ada 715 jiwa (34,28%), sedang akademi / perguruan tinggi ada 108
jiwa (5,17%). Penduduk yang mengenyam pendidikan hingga SMA tampak
mendominasi (34,28%), ini menunjukkan tingkat pengetahuan penduduk Desa Sabrang
sangat baik dalam menerima berbagai informasi yang berkembang, terutama terhadap
masalah yang menyangkut pertanian.
3. Struktur Penduduk Berdasar Mata Pencaharian

Tabel 3.5. Struktur Penduduk Menurut Mata Pencaharian Desa Sabrang Tahun 2009
No. Kelompok Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 Pegawai Negeri Sipil 204 17,63
2 ABRI 46 3,97
3 Swasta 101 8,73
4 Wiraswasta / Pedagang 174 15,04
5 Petani 163 14,09
6 Pertukangan 74 6,40
7 Buruh Tani 170 14,69
8 Pensiunan 210 18,15
9 Jasa 15 1,30
Jumlah 1.157 100,00
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Tabel 3.5 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Sabrang


merupakan pensiunan (18,15%) dan 17,63% bermatapencaharian sebagai Pegawai
Negeri Sipil. Di sektor pertanian hanya 14,09% sebagai petani dan 14,69% sebagai
buruh tani. Jadi di sektor pertanian umumnya penduduk Desa Sabrang adalah buruh
tani yang menggarap lahan milik orang lain.
4. Struktur Penduduk Berdasar Agama/Penghayatan Terhadap Tuhan YME
Struktur penduduk menurut Agama / Penghayatan terhadap Tuhan YME dapat
digunakan untuk mengetahui kepercayaan yang dianut oleh sebagian penduduk di desa
tersebut.

13
Tabel 3.6. Struktur Penduduk Berdasarkan Agama
No Kelompok Agama Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 Islam 3.465 81,41
2 Kristen 486 11,42
3 Katholik 293 6,88
4 Budha 10 0,25
5 Hindu 2 0,04
Jumlah 4.256 100,00
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa kepercayaan yang dianut masyarakat desa


Sabrang pada umumnya adalah agama Islam (81,41%). Adanya kegiatan pengajian rutin
dan tahlillan di desa Sabrang merupakan cerminan dari kepercayaan yang dominan.

B. Perkembangan Penduduk
Perkembangan penduduk merupakan keadaan yang menggambarkan perubahan
jumlah penduduk disuatu daerah. Selain itu, perkembangan penduduk diperlukan untuk
melihat mobilitas penduduk disuatu daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Bedasarkan hal tersebut dapat dibuat perkiraan keadaan sosial ekonomi penduduk Desa
(Mubyarto, 1991).
Perkembangan penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat
kelahiran (natalitas), tingkat kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk
(mobilitas).

Tabel 3.7. Perkembangan Penduduk Desa Sabrang Tahun 2009


Jumlah
Keterangan
Laki-laki Perempuan Total
Penduduk awal tahun 2.220 1.983 4.203
Lahir 30 28 58
Meninggal Dunia 15 16 31
Penduduk masuk (datang) 20 15 35
Penduduk keluar (pergi) 15 11 26
Penduduk akhir tahun 2.240 1.999 4.239
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Mobilitas penduduk dapat dihitung dengan menggunakan pendekatan Pertumbuhan


Geometri yang dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

14
Pt =
Po(1 + r ) t

Keterangan:
Pt : Jumlah penduduk pada tahun tertentu
Po : Jumlah penduduk pada tahun dasar
r : Tingkat pertumbuhan penduduk
t : Jangka waktu
Pertumbuhan penduduk Desa Sabrang yang dihitung dari tahun 2008-2009
adalah sebagai berikut:
4.239 = 4.203 (1 + r)t
(1 + r)1 =
4.239
4.203

r = 1,0086 – 1
= 0,0086
Maka hal ini dapat mengindikasikan bahwa pertumbuhan penduduk di Desa
Sabrang rata-rata 0,86 % setiap tahun.
Selanjutnya untuk mencari tingkat kelahiran kasar (CBR), tingkat kematian
kasar (CDR) dan tingkat pertambahan penduduk maka perlu diketahui jumlah penduduk
pada pertengahan tahun. Jumlah penduduk pada pertengahan tahun dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut:
Pm =
P0 + Pt
2

Keterangan:
P0 : Jumlah penduduk awal tahun
Pt : Jumlah penduduk akhir tahun
Nilai jumlah penduduk pertengahan tahun dari Desa Sabrang pada tahun 2009 adalah:
Pm =
4.203 + 4.239
= 4.221
2

1. Tingkat Kelahiran Kasar/Crude Birth Ratio (CBR)

15
Suatu kelahiran disebut lahir hidup, apabila pada waktu lahir terdapat tanda-
tanda kehidupan seperti jantung berdenyut dan sebagainya. Apabila tidak ada tanda-
tanda kehidupan pada waktu kelahiran disebut dengan lahir mati, di dalam demografi
tidak dianggap sebagai peristiwa kelahiran (Anonim, 1990).

B
CBR = x10000 00
Pm

Keterangan:
CBR : Tingkat kelahiran kasar
B : Jumlah kelahiran pada tahun tertentu
Pm : Penduduk pertengahan tahun tertentu
Nilai CBR dari Desa Sabrang pada tahun 2009 adalah:
CBR = = 13.74
58 0
00
x 1000 0 00
4.221

Nilai CBR sebesar 13,74 menunjukkan setiap 1000 penduduk terdapat 14


0
00

kelahiran.
2. Tingkat Kematian Kasar/Crude Death Ratio (CDR)

D
CDR = x1000 0
00
Pm

Keterangan:
D = jumlah kematian pada tahun tertentu
Pm = Jumlah penduduk pertengahan tahun
Nilai CDR dari Desa Sabrang pada tahun 2009 adalah:
CDR =
31
x 1000 0
00
4.221

= 7,34
0
00

Berdasarkan nilai CDR di atas berarti bahwa setiap 1000 orang penduduk terdapat 7
orang penduduk yang meninggal dunia. Nilai ini termasuk nilai yang cukup rendah. Hal

16
ini bisa dijadikan sebagai salah satu indikator bahwa desa Sabrang mempunyai tingkat
kesehatan yang cukup baik.
3. Tingkat Pertambahan Penduduk
a. Tingkat Pertambahan Penduduk Alami/Natural Population Increase
Tingkat pertambahan penduduk alami (Natural Population Increase/NPI) adalah
pertambahan penduduk yang disebabkan oleh kelahiran dan kematian saja. Tingkat
pertambahan penduduk alami dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
NPI =
B−D
× 1000 0 00
Pm

Maka, tingkat pertambahan penduduk alami di Desa Sabrang adalah :


NPI =
58 − 31
x 100 0 0 00
4.221

= 6,39
0
00

NPI sebesar 6,39 artinya pertambahan penduduk Desa Sabrang secara alami
0
00

pada tahun 2009 dalam 1000 jiwa sebesar 6 jiwa.

b. Tingkat Pertambahan Penduduk yang Sebenarnya/Population Increase


Tingkat pertambahan penduduk yang sebenarnya (Population Increase/PI) yaitu
pertambahan penduduk yang tidak hanya disebabkan oleh kelahiran dan kematian saja
tetapi juga oleh adanya imigrasi dan emigrasi. Tingkat pertambahan penduduk yang
sebenarnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

PI = NPI + Migrasi netto

Migrasi netto dapat dihitung dengan menggunakan rumus :


Migrasi netto =
I−E
× 1000 0 00
Pm

Keterangan:
I : Jumlah imigrasi pada tahun tertentu

17
E : Jumlah emigrasi pada tahun tertentu

Maka, PI di Desa Sabrang adalah:


PI = 6,39 +( x 1000 )
0
00 35 − 26 0
00

4.221

= 8,52
0
00

Nilai PI sebesar 8,52 berarti pertambahan penduduk yang sebenarnya di


0
00

Desa Sabrang dalam 1000 jiwa adalah 9 jiwa.


1. Gambaran Mobilitas Penduduk
Mobilitas penduduk merupakan bagian integral dari proses pembangunan secara
keseluruhan. Mobilitas telah menjadi penyebab dan penerima dampak dari perubahan
dalam struktur ekonomi dan sosial suatu daerah. Oleh sebab itu, tidak terlalu tepat untuk
hanya menilai semata-mata aspek positif maupun negatif dari mobilitas penduduk
terhadap pembangunan yang yang ada, tanpa memperhitungkan pengaruh kebaikannya.
Tidak akan terjadi proses pembangunan tanpa adanya mobolitas penduduk. Tetapi juga
tidak akan terjadi pengarahan penyebaran penduduk yang berarti tanpa adanya kegiatan
pembangunan itu sendiri.
Di Desa Sabrang jumlah penduduk yang datang lebih besar daripada penduduk
yang pindah. Penduduk yang datang umumnya adalah orang kota yang ingin memiliki
rumah di pedesaan sedangkan penduduk yang pindah atau pergi umumnya mereka yang
ingin mencari pekerjaan di kota dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih besar
daripada bertani.

C. Kepadatan Penduduk
1. Kepadatan Penduduk Kasar
Kepadatan penduduk kasar sering juga disebut dengan Kepadatan Penduduk
Geografis. Menurut Undang-Undang No. 56 tahun 1960 kepadatan penduduk kasar
dapat digolongkan menjadi 4 yaitu:
a. tidak padat : 0 – 50 jiwa/ km2
b. kurang padat : 51 – 250 jiwa / km2

18
c. cukup padat : 251 – 400 jiwa / km2
d. sangat padat : > 400 jiwa /km2

Nilai kepadatan penduduk geografis dapat dicari dengan persamaan:


Kepadatan Penduduk Kasar =
Jumlah pendudukdi suatu wilayah
Luas wilayah

jiwa/ km2
4,203
KPK =
0,90882

= 4625 jiwa/ km2


Berdasarkan nilai kepadatan penduduk kasar di atas, Desa Sabrang terdapat
4625 jiwa yang menetap setiap 1 km2. Ini menunjukkan bahwa Desa Sabrang termasuk
desa yang sangat padat penduduknya.
2. Kepadatan Penduduk Fisiologis
Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan jumlah penduduk suatu
wilayah terhadap luas lahan perrtanian.
(jiwa/ha)
Jumlah PendudukSuatu Wilayah
KepadatanPendudukFisiologis =
Luas Tanah Pertanian

jiwa/ha
4.203
KPF =
63,6674

= 66 jiwa/ha
Nilai tersebut di atas menunjukkan bahwa setiap 1 ha lahan pertanian rata-rata
dikerjakan 66 jiwa penduduk yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar lahan
pertanian tersebut.
3. Kepadatan Penduduk Agraris
Kepadatan penduduk agraris yaitu jumlah petani yang menempati tiap satuan
luas tanah pertanian, dapat dirumuskan:
(jiwa/ha)
Jumlah Petani Suatu Wilayah
KPA =
Luas Tanah Pertanian

19
(jiwa/ha)
333
KPA =
63,6674

= 5 jiwa/ha
Ini berarti tiap lahan pertanian seluas 1 ha rata-rata terdapat petani berjumlah 5 jiwa.
4. Tekanan Penduduk
Besarnya angka tekanan penduduk terhadap lahan pertanian dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
TP = xkxr
a
L

Keterangan:
TP : Tekanan penduduk terhadap lahan
a : Luas lahan minimal yang dimiliki oleh suatu keluarga petani untuk dapat hidup
layak (0,48 ha)
L : luas total lahan pertanian yang dimiliki petani disuatu daerah
k : proporsi jumlah petani dengan penduduk total
r : pertumbuhan penduduk
Tekanan penduduk kasar dibedakan menjadi 3 kriteria, yaitu:
a. TP > 1 artinya terdapat tekanan penduduk terhadap lahan pertanian
b. TP = 1 artinya tidak terdapat tekanan penduduk terhadap lahan pertanian
c. TP < 1 artinya lahan pertanian masih mampu mendukung
Tekanan penduduk terhadap lahan pertanian di Desa Sabrang:
TP = x x 0,0013
0,48ha 333jiwa
63,6674ha 4.203jiwa

= 7,7755 x 10-7
Jadi TP <1, berarti dengan luas lahan yang dimilikinya, penduduk dapat memberikan
penghidupan yang layak bagi anggota keluarganya

IV. KEADAAN PERTANIAN

20
A. Tata Guna Lahan
Tata guna lahan merupakan usaha untuk mengatur dan menata pemanfaatan
lahan dan sumber dayanya agar dapat dimanfaatkan sebesar–besamya untuk
kesejahteraan masyarakat. Penggunaan tanah perlu diusahakan agar sejauh mungkin
tanah dilindungi dari cara–cara penggunaan yang kurang benar dan mencegah erosi,
diawetkan bahkan pengawetan tanah dan kesuburannya perlu ditingkatkan sehingga
dapat dimanfaatkan secara lestari untuk generasi dimasa yang akan datang.
Lahan adalah sumberdaya alam yang berkaitan erat dengan kegiatan pertanian,
jenis lahan dapat antara lain (Anonim, 2007):
1. Bidang lahan adalah suatu. hamparan milik/dikuasai seseorang dan dibatasi oleh
penguasaan Whan orang lain ataupun batas–batas alam lainnya seperti sungai, jalan
umum, hutan, selokan dan semacamnya.
2. Petak lahan adalah bagian dari bidang lahan yang dibatasi oleh saluran dan atau
galengan, tanaman maupun batas–batas lainnya.
3. Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak–petak dan dibatasi oleh pematang
(galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi
sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status tanah tersebut.
Termasuk di sini lahan yang terdaftar di Pajak Hasil Bumi, luran Pembangunan
Daerah, lahan bengkok, lahan serobotan, lahan rawa yang ditanami padi dan
lahanlahan bukaan baru (transmigrasi dan sebagainya).
4. Lahan bukan sawah adalah semua lahan selain lahan sawah seperti lahan pekarangan,
huma, ladang, tegalan/kebun, lahan perkebunan, kolam, tambak, danau, rawa, dan
lainnya. Lahan yang berstatus lahan sawah yang sudah tidak berfungsi sebagai lahan
sawah lagi, dimasukkan dalam lahan bukan sawah.
Tanah desa Sabrang yang ada sebagian hesar dipergunakan untuk lahan
pertanian dan ditanami tanaman pangan yakni padi. Hal ini dikarenakan dari segi
keadaan lingkungan untuk menanam tanaman tersebut sangat memungkinkan.

A. Pola Penguasaan Lahan


Pola penguasaan lahan merupakan tata urutan/gambaran lahan yang dikuasai,
terdiri dari:
1. Milik : Lahan yang memiliki surat sah atas bukti pemilikan

21
2. Sakap : Menggarap lahan milik orang lain (bagi hasil)
3. Sewa : Menyewa lahan milik orang lain
4. Gadai : Memperoleh sebagai jaminan.
Dalam penguasaan lahan dikenal adanya tanah komersial yang memiliki nilai
guna dan dapat dikomersialkan, yaitu tanah bengkok dan tanah kas desa. Tanah
bengkok adalah tanah yang dimiliki bersama oleh masyarakat desa, tetapi digunakan
untuk tujuan tertentu yaitu digunakan oleh kepala desa dan pamong desa lainnya
sebagai pengganti gaji selmna mereka menjabat. Sedangkan tanah kas desa adalah tanah
yang dimiliki bersama oleh masyarakat desa tetapi digunakan sebagai sumber
pendapatan desa. Luas lahan tanah bengkok di desa ini, menurut data monografi tahun
2009 adalah 10,7455 ha.
Di desa Sabrang, penguasaan lahan sebagian besar merupakan tanah milik.
Sebagian lahan memiliki pola penguasaan lahan sewa dan sebagian lagi memiliki pola
penguasaan sakap. Banyaknya tanah milik di desa ini dapat ditunjukkan oleh data
monografi desa Sabrang pada tahun 2009 yang tercatat ada 2076 buah sertifikat hak
milik.
Selain diolah sendiri, lahan petani juga ada yang disewakan. Hal ini biasanya
disebabkan oleh letak lahan pertanian yang dimiliki berada jauh dari rumah tempat
tinggalnya. Jarak yang cukup jauh mengharuskan dikeluarkannya ongkos untuk biaya
transportasi. Faktor lain yang menyebabkan lahan pertanian yang dimiliki disewakan
kepada orang lain yaitu tidak cukupnya tenaga kerja untuk mengolah lahan yang
dimiliki.
Pola penguasaan lahan yang lainnya adalah sakap. Dalam sistem sakap,
pembayaran atau bagi hasil ditentukan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak,
yaitu antara pemilik lahan dengan penggarap lahan. Misainya, jika dalam pengetolaan
lahan si petani pemilik lahan tidak mengeluarkan biaya produksi, maka pembagian hasil
panen adalah sepertiga untuk petani pemilik dan dua pertiga untuk petani penggarap
sebagai imbalan alas pengetuaran biaya produksi yang telah ditanggungnya.
A. Pemakaian Lahan untuk Pertanian
Di desa Sabrang sebagian besar lahan adalah lahan sawah dan ladang, sisanya
adalah pemukiman, bangunan umum, pekuburan dan lain – lain. Penggunaan lahan
kering di desa Sabrang tidak hanya sebagai pekarangan tetapi juga sebagai tegalan.
Berdasarkan data monografi desa Sabrang pada tahun 2009, tercatat luas tegalan sebesar
0, 1890 ha. Sedangkan untuk pekarangan adalah 36,6907 ha. Penggunaan lahan untuk

22
tanah sawah sebesar 63,6907 ha dari luas lahan desa Sabrang secara kewluruhan. Semua
lahan sawah yang ada di desa Sabrang menggunakan sistem pengairan irigasi teknis.
Pada lahan sawah ditanami tanaman padi pada setiap musimnya dengan varietas
antara padi IR 64 dan padi ciherang. Untuk lahan pekarangan dan tegalan pada
umumnya para penduduk setempat tidak memanfhatkan secara maksimum dengan
menanam tanaman buah–buahan atau tanaman lain. Hal ini dikarenakan lahan
pekarangan ataupun tegalan digunakan penduduk untuk keperluan lain, sedangkan
penanaman tanaman buah–buahan ataupun yang lainnya tidak menghasilkan hasil yang
maksimal, sehingga penduduk menjadi tidak tertarik untuk menanam kembali.

B. Produksi Pertanian
Produksi pertanian meliputi proses yang dimulai dari penanaman, pemeliharaan,
panen dan pasca panen. Produksi pertanian ditentukan oleh faktor produksi yaitu lahan,
tenaga kerja, bibit, pestisida dan keahlian (skill). Pemanfaatan faktor produksi secara
optimal dapat meningkatkan produksi pertanian.
Lahan berpengaruh terhadap produksi suatu komoditas. Lahan yang subur akan
berproduksi cukup tinggi, sehingga produktivitas lahan dapat meningkat. Luas lahan
dengan luas tanam mempunyai hubungan yang erat dalam menentukan tinggi rendahnya
produksi suatu lahan. Lahan yang luas akan mendorong bertambahnya luas tanam,
sehingga produksi juga akan meningkat. Sedangkan hubungan antara luas tanam dengan
produksi akan menentukan produktivitas suatu lahan pertanian.
Intensitas pemakaian lahan merupakan perbandingan antarajumlah luas panen
dalam satu tahun dengan jumlah luas lahan pertanian, dapat dihitung dengan rumus:
IMC = luas panen dalam setahunluas lahan pertanianx 100%

Maka, nilai intensitas pemakaian lahan di desa Sabrang adalah:


IMC = 4663,6674x 100%
IMC = 72,25%
Dalam pemasaran basil pertaniannya, petani di desa Sabrang mengunakan sistem
tebasan yaitu pedagang datang langsung ke petani untuk membeli basil pertanian berupa
padi dan merupakan penaksiran secara langsung. Selain itu sistem lain yang digunakan
adalah bagi basil atau sering disebut dengan sistem sakap, yaitu pembebanan biaya
saprodi dan pembagian basil produksi tergantung dari kesepakatan kedua pihak yaitu
pihak pemilik laban dan pihak penyakap. Untuk sistem bawon dan ijon di desa Sabrang

23
tidak dilakukan.

C. Tenaga Kerja Pertanian


Dalam melakukan usaha pertanian mulai dari pengolahan tanah sampai dengan
pemanenan hasil, senantiasa memerlukan tenaga kerja baik itu dari dalam keluarga
maupun dari luar keluarga. Kegiatan pemupukan dan pemeliharaan umumnya dilakukan
sendiri oleh petani dengan dibantu oleh tenaga kerja dalam dan sedikit tenaga luar.
Tenaga kerja dari dalam ini meliputi istri petani sendiri, anak petani maupun sanak
saudara dari petani tersebut. Tenaga kerja dari dalam ini umumnya tidak dibayar.
Sedangkan tenaga luar keluarga adalah pekerja yang dibayar untuk mengerjakan
kegiatan di dalam usaha tani. Nilai tenaga kerja luar untuk daerah Desa Sabrang adalah
sebesar Rp 20.000 dengan jam kerja pukul 06.30 hingga pukul 11.00 kemudian
dilanjutkan pukul 13.00 hingga pukul 16.00. Akan tetapi nilai tenaga kerja tersebut
sering tidak diaplikasikan karena kebanyakan petani membayar tenaga kerja atau buruh
tani dengan sistem upah borongan.

D. Tanaman Pekarangan
Pekarangan ialah sebidang tanah yang terletak langsung di sekitar rumah, jelas
batasbatasnya ditanami dengan satu atau berbagai jenis tanaman dan masih memiliki
hak pemilikan dan atau fungsional dengan rumah yang bersangkutan (Soemarwo et.al.,
1976). Pekarangan petani di desa Sabrang, umumnya kurang dimanfaatkan untuk
menanam tanaman tahunan misalnya buah–buahan, sehingga tidak ada pendapatan
tambahan dari petani lewat lahan pekarangannya.
E. Peternakan
Usaha peternakan yang ada di desa Sabrang hanya sebagai pekerjaan sampingan
di luar kegiatan bercocok tanam. Jenis yang dipelihara oleh penduduk desa Sabrang
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jenis temak kecil dan unggas. Jenis temak kecil
yang dipelihara adalah kambing. Pemilihan jenis temak yang diusahakan berdasarkan
mudah tidaknya pemeliharaan, ketersediaan bahan makanan di desa tersebut serta hasil
yang akan didapat. Sedangkan unggas yang dipelihara adalah ayam kampung dan itik.
Jumlah temak yang ada di desa Sabrang dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.1. Rerata Jumlah Temak di desa Sabrang Tahun 2009

24
No. Jenis Ternak Rerata Jumlah Persentase (%)
1. Ayam 2,46 36,12
2. Itik 3,20 46,99
3. Kambing 1,15 16,89
Jumlah 6,81 100,00
Sumber: Analisis Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Ternak yang dipelihara oleb petani dapat memberikan manfaat lebih bagi petani,
terutama untuk mendukung kegiatan pertanian yang diusahakan. Temak yang dipelihara
dapat menghasilkan kotoran yang kemudian dapat digunakan sebagai pupuk kandang.
Pupuk kandang yang diperoleh dapat dijual untuk memperoleh penghasilan tambahan
atau digunakan untuk kegiatan pertanian. Walaupun tidak seluruh kebutuhan pupuk
dapat terpenuhi, tetapi pupuk kandang yang dihasilkan temak cukup membantu. Petani
harus membeli pupuk untuk mencukupi kebutuhan pupuk. Pada saat–saat tertentu,
seperti hari raya idul fitri ataupun idul adha, hewan temak yang dipelihara dapat dijual
ataupun dikonsumsi sendiri.
Selain sebagai penghasil pupuk kandang, hewan temak bagi beberapa petani
mempunyai beberapa fungsi lain, yaitu untuk mengolah sawah dan sebagai tabungan
(aset). Tetapi fungsi untuk pengolahan sawah, kini tidak begitu dimanfaatkan karena
sudah digantikan dengan keberadaan mesin traktor yang dapat mengolah lahan dalam
waktu singkat dan biaya yang cukup murah.

F. Perikanan
Sektor perikanan kurang diminati oleh penduduk di desa Sabrang. Hal ini dapat
terlihat dari data monografi desa Sabrang tahun 2009 di sektor perikanan, bahwa sama
sekali tidak ada produksi ikan di desa ini. Penduduk Desa Sabrang lebih banyak
memanfaatkan sektor pertanian khususnya pada lahan sawah saja tanpa memanfaatkan
sektor perikanan seperti pemanfaatan perikanan air payau ataupun perikanan air tawar.

25
V. KEADAAN INDUSTRI PERDAGANGAN DAN JASA

A. Industri dan Kerajinan


Industri diartikan sebagai suatu unit produksi yang terletak pada suatu tempat
tertentu yang melakukan kegiatan untuk mengubah barang baik secara kimia atau
mekanik, sehingga menjadi barang baru yang sifatnya lebih dekat dengan konsumen
terakhir. Definisi tersebut mencakup kerajinan rumah tangga dan kerajinan bengkel.
Industri rumah tangga atau industri kecil dijadikan altematif pilihan bagi penduduk desa
yang tidak bekerja karena tidak menuntut keahlian tinggi. Industri ini juga bisa
menambah atau meningkatkan pendapatan (Amang, 1995).
Menurut biro statistik, industri dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah tenaga
kerjanya sebagai berikut:
1. Industri kerajinan rumah tangga, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja antara 1–

26
4 orang.
2. Industri kecil, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja 5–19 orang.
3. Industri sedang, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja 20–99 orang.
4. Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga ke~a lebih dari 100 orang.
Industri merupakan salah satu sektor non pertanian di Indonesia yang banyak
menyerap tenaga kerja. Dalam suatu industri dilakukan kegiatan untuk mengubah suatu
barang mentah menjadi barang atau produk baru yang siap pakai. Jenis industri di Desa
Sabrang dapat dilihat pada tabel 5. 1.

Tabel 5. 1. Jenis Industri di Desa Sabrang Tahun 2009


No. Jenis Industri Jumlah Persentase
(%)
1. Sedang 2 14,28
2. Kecil 12 85,72
Jumlah 14 100,00
Sumber : Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Hanya terdapat industri sedang dan kecil di desa Sabrang sedangkan industri
besar dan rumah tangga tidak ada. Banyak keluarga tani, terutama anak dan istri petani
yang ikut dalam industri kecil untuk menambah penghasilan keluarga.

A. Perdagangan
Pertukaran dan perdagangan mula–mula adalah sebagai akibat langsung dari
sifat alam, yaitu perbedaan–perbedaan dalam macam tanah, iklm, pengairan dan
kekayaan alam atau sumber lainnya (Mubyarto, 1991).
Sektor perdagangan di desa Sabrang merupakan salah satu sektor vital karena
dengan adanya perdagangan, maka, penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari–hari. Kegiatan perdagangan di desa Sabrang dialokasikan dalam bentuk pasar
(pasar kota, dan pasar lingkungan), toko, warung, dan kaki lima. Toko dan warung
biasanya menyediakan barang kebutuhan rumah tangga baik berupa sayuran, buah,
bumbu dapur, ataupun barang kelontong lainnya. Keberadaan toko dan warung
memudahkan penduduk desa dalam mendapatkan barang kebutuhan rumah tangga
mereka, karena akses ke pasar relatif jauh. Bila dilihat dari macam perdagangan yang
ada di desa tersebut sudah tergolong daerah yang maju, hal ini ditunjukkan dengan
banyaknya usaha–usaha dagang yang ada sehingga memudahkan masyarakat sekitar

27
dalam pemenuhan kebutuhan sehari–harinya. Selain itu, juga sudah dapat dijumpai
adanya supermarket di desa ini, sehingga penduduk desa Sabrang sama sekali tidak
mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhannya sehari–hari. Sektor Perdagangan
yang ada di desa Sabrang dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Sektor Perdagangan di.desa Sabrang Tahun 2009


No. Jenis Perdagangan Jumlah Kios Persentase
(%)
1. Pasar Lingkungan 1 12 9,38
2. Pasar Kota 2 50 39,06
3. Toko 30 30 23,44
4. Warung 20 20 15,63
5. Kaki Lima 15 15 11,71
6. Supermarket 1 1 0,78
Jumlah 69 128 100,00
Sumber : Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

B. Jasa
Di daerah desa Sabrang juga terdapat beberapa lembaga jasa yang dapat
membantu penduduk desa Sabrang dan sekitamya. Lembaga jasa yang ada di desa
Sabrang dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3 Keadaan Jasa di Desa Sabrang Tahun 2009
No. Jenis Jasa Banyaknya (buah) Presentase (%)
1 Bank 3 30,00
2 Travel Biro 7 70,00
Jumlah 10 100,00
Sumber : Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

Adanya lembaga jasa dalam bentuk Bank dapat membantu penduduk sekitar
khususnya desa Sabrang di bidang ekonomi sedangkan Travel Biro dapat memudahkan
masyarakat untuk melakukan pedalanan.

28
VI. ANALISIS SOSIAL PETANI

A. Sumber Informasi Pertanian


Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi, apalagi di
zaman sekarang yang teknologinya telah maju, informasi pertanian tidak hanya berasal
dari penyuluhan oleh pemerintah ataupun lembaga – lembaga lain di bidang pertanian.
Informasi dapat didapatkan dari media komunikasi dan informasi seperti televisi, radio
maupun surat kabar. Adanya pendekatan sosial sehari – hari juga dapat digunakan
sebagai sarana memperoleh informasi khususnya di bidang pertanian. Kegiatan
penyuluhan pertanian merupakan bentuk pendidikan non-formal. Tujuan utamanya
adalah untuk menambah kesanggupan petani dalam usaha taninya. Diharapkan melalui
penyuluhan ada perubahan perilaku petani, sehingga petani dapat memperbaiki cara
bercocok tanam, menggemukkan ternak, agar meningkatkan penghasilan dan taraf
hidupnya.
Informasi dan penyuluhan pertanian merupakan hal yang penting dalam
perkembangan pertanian. Penyebaran informasi yang cepat dan tepat, maka

29
transformasi teknologi dan pengetahuan baru akan cepat sampai pada petani, sehingga
petani akan lebih maju dalam mengolah lahannya dan mampu meningkatkan
produktivitas lahannya.

Tabel 6.1. Urutan Sumber Informasi Pertanian Desa Sabrang


No Sumber Informasi Rerata skor Persentase (%)
1 Radio 0,933 10,00
2 TV 0,067 0,72
3 Surat kabar/majalah 0,467 5,00
4 Leaflet/Folder 0,333 3,57
5 Kelompok Tani 2,8 30,00
6 PPL 3,733 40,00
7 Tetangga 0,267 2,86
8 Pedagang 0,733 7,86
Sumber : Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Sumber informasi utama yang dapat diperoleh oleh petani di desa Sabrang
adalah dari PPL serta dari kelompok tani yang ditunjukkan oleh persentase pada tabel
diatas yang mencapai 40% dan 30%. Hal ini menandakan cukup seringnya penyuluhan
yang dilakukan oleh PPL di desa Sabrang serta baiknya kegiatan yang dilakukan oleh
kelompok tani di desa Sabrang. Selain itu terdapat pertukaran informasi melalui
kegiatan sosial sehari – hari para petani dengan tetangganya serta dari pedagang. Media
massa juga berperan sebagai mediator informasi bagi petani di desa Sabrang khususnya
dari radio.

B. Peran Kelompok Tani dan Penyuluhan Pertanian


Peran petugas penyuluh lapangan (PPL) dan kelompok tani adalah sebagai
fasilitator informasi yang dapat membantu para petani khususnya petani-petani yang
tergabung dalam kelompok tani dalam usaha pertaniannya. Berdasarkan hasil
wawancara, ternyata sumber informasi pertanian yang sering didapatkan oleh para
petani adalah melalui petugas penyuluh lapangan (PPL). Sedangkan urutan kedua
adalah melalui kelompok tani.
Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara tersebut dapat dikatakn
bahwa peran PPL dan kelompok tani di desa Sabrang cukup optimal. Kelompok tani di
desa Sabrang sangat bermanfaat bagi petani dalam menjalankan usaha taninya. Di
dalam pertemuan rutin yang dilakukan oleh kelompok tani tersebut, para petani dapat

30
saling bertukar informasi dan pengalaman mengenai usaha tani yang telah mereka
lakukan, selain itu permasalahan yang dialami oleh para petani dapat dicarikan solusi
atau jalan keluar secara bersama-sama.. Dengan adanya dukungan fasilitator berupa
PPL, petani akan mendapatkan teknik – teknik yang lebih baik serta lebih termotivasi
untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk usaha taninya.
Pertemuan yang rutin setiap 2 minggu diselenggarakan oleh kelompok tani
cukup membantu para petani menangani masalah yang dijumpai di lapangan. Dalam
pertemuan tersebut, hal yang paling sering dibacrakan adalah mengenai teknik
budidaya, selain itu dibicarakan pula mengenai keadaan kelompok, masyarakat serta
pemasaran produksi. Selain itu, penyuluh cukup sering memberikan penyuluhan serta
membantu masalah petani di desa Sabrang.

C. Matriks Kelembagaan Masyarakat


Terdapat beberapa kelembagaan yang ada di desa Sabrang. Dari lembaga di
bidang sosial, ekonomi, sosial – ekonomi serta birokrasi – pemerintahan. Lembaga-
lembaga tersebut ada yang masih secara tradisional serta ada yang modern. Berikut
merupakan bentuk kelembagaan yang terdapat di desa Sabrang :

Tabel 6.2. Bentuk Kelembagaan Desa Sabrang


Bidang Tradisional Modern
Sosial Gotong royong Posyandu, Karang Taruna
Ekonomi - Koperasi
Sosial - Ekonomi Arisan Kelompok tani
Birokrasi - pemerintahan - RT, RW
Sumber: Data Monografi Desa Sabrang Tahun 2009

D. Analisis Kelembagaan Masyarakat


Jenis kelembagaan yang ada di desa Sabrang adalah kelompok tani. Lembaga ini
didirikan pada tahun 1999 yang bertujuan untuk memajukan serta membantu para
pekerja di bidang pertanian di desa Sabrang sehingga diharapkan petani di desa Sabrang
menjadi petani yang modern. Kelompok tani di desa Sabrang tersebut berfungsi sebagai
mediator dari berbagai informasi yang mungkin didapatkan sehingga memudahkan para
petani di desa Sabrang dalam proses produksi ataupun dalam pemasaran hasil
produksinya.

31
Mekanisme dan tata kelola lembaga ini berpusat pada ketua kelompok tani
tersebut. Ketua kelompok yang dipilih oleh semua anggota kelompok tani tersebut
menjadi mediator utama untuk memeperoleh informasi serta menjalankan organisasi
tersebut. Untuk masalah perekrutan anggota pada kelompok tani ini adalah dengan data
petani yang berada di desa Sabrang secara otomatis telah masuk sebagai kelompok tani
ini.
Kewajiban serta wewenang dari pengurus kelompok tani ini adalah sebagai
mediator antar anggota dan mediator informasi dari luar lembaga yang mungkin
didapatkan serta sebagai penjalan organisasi. Sedangkan anggota memiliki hak untuk
mendapatkan informasi dari kelompok tani tersebut baik melaui penyuluhan ataupun
rapat rutin. Dalam kelompok tani ini tidak terdapat sanksi yang formal ataupun tertulis.
Jika ada masalah, biasanya diselesaikan secara kekeluargaan. Dalam keorganisasian
kelompok tani ini cukup baik karena pengurus cukup terbuka kepada anggota serta
adanya pertemuan rutin membuat suasana diantara anggota menjadi lebih kekeluargaan
serta informasi yang didapatkan oleh seluruh anggota kelompok tani sudah cukup baik.
VII. ANALISIS EKONOMI PETANI

A. Identitas Keluarga Petani


Dalam menjalankan proses produksi pertanian, petani memiliki lima fungsi
pokok, yaitu sebagai kepala keluarga, petani sebagai juru tani, petani sebagai
masyarakat, petani sebagai tenaga kerja dan petani sebagai manajer. Sebagai kepala
keluarga petani berkewajiban mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Oleh karena itu petani selalu berusaha untuk memperoleh keuntungan yang besar dari
produksi usahataninya (Mubyarto, 1985).
Pelaksanaan usahatani memerlukan beberapa faktor produksi. Salah satu faktor
produksi yang dimaksud adalah faktor manusia, meliputi petani beserta keluarganya.
Faktor manusia sangat penting karena merupakan subyek penggerak suatu usahatani.
Kualitas subyek penggerak suatu usahatani sangat mempengaruhi keberhasilan
usahatani yang dilaksanakan.
Kualitas subyek penggerak usahatani dapat diukur melalui:
1. Umur
2. Tingkat pendidikan
3. Ketrampilan
4. Pengetahuan.

32
Pada umumnya, petani dibantu oleh anggota keluarganya dalam melaksanakan
usahatani. Keluarga petani adalah sekumpulan orang yang mempunyai hubungan darah
yang hidup dalam satu rumah dan memperoleh pendapatan dari usahatani. Keluarga
petani mempunyai peranan yang sangat penting bagi usaha pertanian karena dapat
menyediakan tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dengan
memberikan dukungan moral kepada petani sehingga petani dapat bekerja dengan lebih
baik sebagai tanggung jawab atas keluarganya (Landsberger, 1981).
Keluarga meliputi kepala keluarga dan anggota keluarga. Dalam melakukan
usahataninya, petani dibantu anggota keluarganya. Dalam prakteknya anggota keluarga
petani merupakan tenaga kerja yang tidak dihitung sebagai biaya dari hasil usahataninya
sehingga hal ini perlu diperhatikan dalam analisis sosial ekonomi petani.

1. Identitas keluarga petani menurut umur dan jenis kelamin

Tabel 7.1. Rerata Keluarga Petani Menurut Umur dan Jenis Kelamin di Desa Sabrang
Tahun 2009
Jenis 0-14 thn 15-65 thn > 65 thn
No. Total (jiwa) Persentase (%)
Kelamin (jiwa) (jiwa) (jiwa)
1 Laki-laki 0,40 0,80 0,00 1,20 51,28
2 Perempuan 0,07 1,07 0,00 1,14 48,72
Jumlah 0,47 1,87 0,00 2,34 100,00
Sumber: Analisis data primer tahun 2009

Pada praktikum kali ini diambil 15 responden keluarga petani di desa Sabrang.

Dari 15 keluarga petani terdapat 50 jiwa penduduk, ini berarti pada setiap keluarga

terdapat rata-rata 3-4 anggota keluarga. 51,28% diantaranya adalah laki-laki.

BDR =
P(0 − 14 tahun) + P( > 65 tahun)
x1000 0 00
P(15 − 65tahun)

=
0,47 + 0,00
x1000 0 00
1,87

33
= 251,34
0
00

Rasio beban ketergantungan (Burden Dependence Ratio) sebesar 251,34 ,


0
00

yang berarti 1000 orang usia produktif di desa Sabrang mempunyai tanggungan 251
orang non produktif.
Menurut data primer desa Sabrang, diketahui rerata penduduk laki-laki dalam
keluarga sebanyak 1,20 jiwa dan perempuan sebanyak 1,14 jiwa, sehingga nilai sex
ratio sebesar:

Jumlah PendudukLaki - laki


SR = × 100%
Jumlah PendudukPerempuan

1,20
SR = × 100%
1,14

= 105,26 %
Nilai rata-rata sex ratio desa Sabrang pada analisis primer tahun 2009 sebesar
105,26 %. Ini berarti setiap 100 jiwa penduduk perempuan diimbangi dengan penduduk
laki-laki sebanyak 105 jiwa. Artinya, dapat dikatakan bahwa banyaknya penduduk laki-
laki hampir seimbang dengan penduduk perempuan. Keadaan ini menimbulkan dampak
pada tenaga kerja bidang pertanian, tidak ada perbedaan perlakuan dalam mengolah
lahan pertanian. Baik perempuan maupun laki-laki mengerjakan perkerjaan yang sama.

2. Identitas keluarga petani menurut tingkat pendidikan


Pada umumnya keadaan pendidikan penduduk desa Sabrang sangat rendah
setara dengan pendidikan dasar. Dari data penduduk desa Sabrang dapat dilihat bahwa
44,93% berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Penduduk yang berpendidikan setara
dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 26,09%, setara dengan Sekolah
Menengah Atas (SMA) sebesar 25,60% dan setara dengan sarjana 3,38%. Tingkat
pendidikan keluarga petani ditunjukkan dalam tabel 7.2 berikut

Tabel 7.2. Rerata Keluarga Petani Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Sabrang
Tahun 2009
No. Pendidikan Jiwa Persentase (%)

34
1. SD 0,93 44,93
2. SMP 0,54 26,09
3. SMA/SMK 0,53 25,60
4. Perguruan Tinggi 0,07 3,38
Jumlah 2,07 100,00
Sumber: Analisis Data Primer Tahun 2009

Kendala petani dengan tingkat pendidikan dapat menjadi kendala pembangunan


pertanian di daerah tersebut. Namun kendala tersebut dapat diatasi dengan penambahan
pendidikan non formal seperti kursus dan pelatihan-pelatihan baru. Sebuah metode yang
dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dapat berupa pendampingan petani
melalui sekolah lapangan. Melalui kursus, pelatihan dan sekolah lapangan diharapkan
dapat meningkatkan wawasan petani sehingga dapat meningkatkan kualitas
usahataninya.

3. Identitas petani memurut mata pencaharian


Mata pencaharian adalah pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan (sumbu
atau pokok), pekerjaan/pencaharian utama yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari.
Dengan kata lain sistem mata pencaharian adalah cara yang dilakukan oleh sekelompok
orang sebagai kegiatan sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan, dan menjadi
pokok penghidupan baginya. Tabel 7.3 menunjukkan distribusi penduduk desa Sabrang
berdasarkan mata pencahariannya:

Tabel 7.3. Rerata Pekerjaan Pokok dan Pekerjaan Sampingan Keluarga Petani di Desa
Sabrang Tahun 2009
Pekerjaan Pokok Pekerjaan Sampingan
No. Jenis Pekerjaan
Jiwa Persentase (%) Jiwa Persentase (%)
1 Tani 0,20 25,65
2 Buruh tani 0,06 7,69 0,06 50,00
3 Dagang 0,20 25,64
4 Buruh Bangunan 0,20 25,64
5 Karyawan 0,06 7,69
6 Pegawai Negri 0,06 7,69
7 Buruh serabutan 0,06 50,00
Jumlah 0,78 100,00 0,12 100,00
Sumber : Analisis data primer tahun 2009

35
Pada Tabel 7.3. terlihat bahwa mata pencaharian pokok penduduk desa Sabrang
umumnya adalah bertani dengan presentase 25,65%. Lahan yang berada di desa
Sabrang masih cukup luas sehingga masyarakat cenderung memilih untuk bertani.
Selain itu juga karena di desa ini terletak dekat dengan jalan utama maka ada sebagian
yang bermata pencaharian sebagai pedagang. Bagi masyarakat yang tidak memiliki
lahan umumnya memilih untuk bekerja sebagai buruh bagunan sebagai pekerjaan
pokok. Pekerjaan sampingan yang umum di desa Sabrang adalah sebagai buruh tani dan
lainya.

A. Kegiatan Usahatani
Kegiatan usahatani adalah seluruh proses atau usaha manusia untuk
meningkatkan produksi pertanian untuk tiap-tiap konsumen yang diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan dan produktivitas pertanian dengan meningkatkan modal,
tenaga kerja, dan ketrampilan.
Kegiatan usahatani meliputi:
1. Luas usahatani dan macam komoditasnya.
2. Biaya produksi tanaman semusim.
3. Nilai produksi tanaman semusim.
4. Pendapatan usahatani semusim.
5. Pendapatan usahatani tanaman tahunan.
6. Pendapatan usahatani ternak.
7. Pendapatan usahatani perikanan.
8. Pendapatan usahatani keseluruhan.

1. Luas Usahatani dan Macam Komoditasnya


Luas usahatani yang diusahakan petani desa Sabrang dapat dilihat dalam tabel
7.4 berikut:

Tabel 7.4. Rerata Penguasaan Lahan Petani Desa Sabrang Tahun 2009
Status lahan Sawah (Ha) Tegalan (Ha) Pekarangan (Ha)
Milik sendiri 0,1200 0,0013 0,0008
Menyewa 0,0400 0 0
Menyakap 0,3066 0 0
Jumlah 0,4466 0,0013 0,0008
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

36
Dari Tabel 7.4 dapat dilihat bahwa penguasaan lahan pertanian terbesar yang
dimiliki oleh penduduk desa Sabrang adalah berupa sawah. Sawah yang mereka olah
merupakan sawah yang subur dan kebutuhan airnya tercukupi sepanjang tahun. Pada
umumnya rumah penduduk langsung berbatasan dengan jalan dan dibuat menyesuaikan
jalan sehingga hanya sedikit yang memiliki pekarangan. Begitu juga dengan lahan
pertanian berupa tegalan,hanya sebagian penduduk yang memiliki lahan ini. Pada
umumnya lahan pertanian di desa Sabrang merupakan lahan sakap dengan perbandingan
1:1 atau 3:1.

Tabel 7.5. Macam Komoditas Tanaman Semusim dan Rerata Luas Usahatani Desa
Sabrang Tahun 2009
Musim
No. Komoditas Luas lahan (Ha) Persentase (%)
Tanam
1. MK I Padi 0,48 16,67
2. MK II Padi 0,48 16,67
3. MH Padi 0,48 16,66
Jumlah 2,88 100,00
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Dari Tabel 7.5 dapat dilihat bahwa komoditas pertanian yang paling utama
diusahakan di desa Sabrang adalah padi. Varietas padi yang sering ditanam oleh petani
di desa Sabarang adalah varietas Ciherang dan IR-64. Sepanjang tahun petani di desa
Sabrang hanya menanam komoditas padi saja.

2. Biaya Produksi Tanaman Semusim


a. Biaya Tenaga Kerja
Biaya produksi usahatani tanaman semusim meliputi biaya saprodi, biaya tenaga
kerja dan biaya lain-lain. Biaya saprodi meliputi bibit, pupuk dan pestisida. Biaya
tenaga kerja meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan biaya tenaga kerja
luar keluarga (TKLK).

37
Penggunaan tenaga kerja luar keluarga biasanya dilakukan pada saat pengolahan
tanah, penanaman dan panen (bagi petani yang tidak menggunakan mekanisme tebasan)
yang membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak. Sedangkan pada saat persemaian,
pemeliharaan (pemupukan, penyiangan dan pengendalian hama serta penyakit tanaman)
pada umumnya dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga.
Tenaga kerja dalam keluarga adalah petani dan anggota keluarga tani yang
bekerja di lahan mengelola usahataninya. Tenaga kerja dalam keluarga ini bisa petani
itu sendiri, istri, dan anak. Tenaga kerja yang secara intensif mengelola lahan adalah
petani itu sendiri, sedangkan anggota keluarga yang lain hanya bersifat membantu.
Tenaga kerja dalam keluarga ini tidak digaji, namun akan diperhitungkan untuk
mengetahui besarnya keuntungan usahatani. Kebutuhan tenaga kerja dalam berusahatani
dapat dilihat pada tabel 7.6

Tabel 7.6. Rerata Biaya Tenaga Kerja Luar dan Dalam Keluarga Tanaman Semusim di
Desa Sabrang tahun 2009
Rerata Tenaga Kerja
N Ketera Macam Manusia Mesin Total
o. ngan Komoditas HKO HKM Total (Rp)
Total (Rp)
DK LK DK LK (Rp)
1 MK I Padi 10,79 6,61 529.167 0 1,00 199.733 728.900
2 MK II Padi 10,79 6,61 529.167 0 1,00 199.733 728.900
3 MH Padi 11,66 7,27 548.500 0 1,43 217.067 765.567
Jumlah 33,24 20,49 1.606.834 0 3,43 616.533 2.223.367
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Berdasarkan Tabel 7.6 dapat dilihat bahwa rerata tenaga kerja dalam keluarga
yang harus dipenuhi dalam setahun adalah 33,24 HKO dan rerata tenaga kerja luar
keluarga adalah 20,49 HKO dengan total biaya Rp 1.606.834. Penggunaan tenaga kerja
luar relatif sedikit jika dibandingkan dengan penggunaan tenaga dalam. Tenaga dalam
keluarga lebih banyak digunakan karena lahan yang diusahakan rata-rata sempit. Selain
itu penggunaan alat bantu berupa mesin traktor sangat membantu pekerjaan petani. Pada
musim hujan biaya tenaga kerja lebih tinggi karena di musim hujan memerlukan waktu
yang lebih lama untuk pengolahan lahan.

b. Biaya Sarana Produksi

38
Selain biaya tenaga kerja, biaya yang juga harus dikeluarkan oleh petani adalah
biaya sarana produksi, seperti benih, pupuk dan pestisida. Besarnya kebutuhan saprodi
dalam mengusahakan masing-masing komoditas dapat dilihat pada tabel 7.7

Tabel 7.7. Rerata Biaya Sarana Produksi Tanaman Semusim di Desa Sabrang Tahun
2009
Musim Rerata Biaya Saprodi (Rp) Total Biaya
No. Komoditas
Tanam Bibit Pupuk Pestisida (Rp)
1 MK I Padi 152.253,3 486.167 152.000 790.420,3
2 MK II Padi 152.253,3 486.167 152.000 790.420,3
492.166,
3 MH Padi 804.553.3
152.253,3 7 160.133,3
Jumlah 2.385.393,9
Sumber : Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Pada Tabel 7.7 terlihat bahwa biaya yang paling banyak dikeluarkanoleh petani
adalah untuk biaya pupuk. Petani tidak hanya mengunakan satu macam pupuk saja.
Pupuk urea sebagai dasarnya kemudian ada pemberian pupuk Sp-36 dan pupuk
phonska. Pupuk diberikan dengan maksud agar tanah menjadi subur, dapat menambah
unsur-unsur hara di tanah, serta memperbaiki sifat fisik tanah.
Penggunaan pestisida jarang sekali dilakukan karena serangan hama tidak cukup
membahayakan. Biaya yang dikeluarkan apabila menggunakan pestisida akan jauh lebih
besar. Kegagalan panen akibat hama hampir tidak pernah ditemui.

c. Biaya Penyusutan

Tabel 7.8 Rerata Biaya Penyusutan Alat Pertanian Tahun 2009


No. Jenis alat pertanian Biaya penyusutan (Rp) Persentase (%)
1 Cangkul 11.127 36,87
2 Sprayer 7.894 26,16
3 Sabit 9.449 31,31
4 Sorok 1.709 5,66
Jumlah 30.179 100,00
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Berdasarkan Tabel 7.8 dapat diketahui bahwa biaya penyusutan peralatan yang
banyak dikeluarkan oleh petani Desa Sabrang adalah untuk cangkul dan sabit yaitu

39
sebesar Rp 11.127,- dan Rp 9.449,-. Hal ini disebabkan karena alat pertanian yang
banyak dimiliki oleh petani di Desa Sabrang adalah cangkul dan sabit. Satu petani bisa
memiliki lebih dari satu cangkul atau sabit. Selain itu, alat pertanian yang juga dimiliki
oleh petani Desa Sabrang antara lain adalah sorok dan sprayer. Sprayer tidak banyak
dimiliki karena harganya yang relatif mahal.

d. Biaya Lain-lain
Biaya yang harus dikeluarkan oleh petani tidak hanya biaya tenaga kerja luar
dan saprodi saja, namun ada biaya lain-lain. Biaya lain-lain meliputi pajak tanah,
perbaikan alat pertanian, sewa tanah (bagi petani penyewa), dan hasil bagi sakap. Tidak
ada iuran air karena sepanjang tahun air mengalir dan untuk pembersihan saluran irigasi
dengan bergotong royong. Berikut di bawah merupakan biaya lain-lain selama produksi
pertanian :

Tabel 7.9 Rerata Biaya lain-lain Usahatani Tanaman Semusim Tahun 2009
No. Macam biaya Jumlah (Rp) Persentase (%)
1 Pajak Tanah 13.800 0,15
2 Bagi hasil sakap 9.298.333 97,56
3 Sewa tanah 210.000 2,20
4 Perbaiakan alat pertanian 8.800 0,09
Jumlah 9.530.933 100,00
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

1. Nilai Produksi Tanaman Semusim


Nilai produksi merupakan hasil kali antara kuantitas produksi fisik dan harga
tiap unit produksi. Namun karena petani menjual hasil panen secara tebasan maka harga
tiap unit tidak ada. Nilai produksi tanaman semusim di desa Sabrang secara terperinci
disajikan pada tabel 7.10.

Tabel 7.10 Rerata Nilai Produksi Tanaman Semusim Petani Desa Sabrang Tahun 2009
No. Macam Komoditas Bentuk Hasil Nilai Produksi
1 MK I Padi Tebasan 7.370.000
2 MK II Padi Tebasan 7.233.333
3 MK III Padi Tebasan 6.453.333
Jumlah 21.056.666
Sumber: Analisis data primer Desa Sabrang Tahun 2009

40
Dari tabel 7.10 dapat dilihat bahwa nilai produksi yang tanaman padi adalah Rp
21.056.666,-. Petani bertanam padi sebanyak 3 kali yaitu pada musim hujan, musim
kering I dan musim kering II. Pada musim panen padi dijual dengan sistem tebasan
sehingga hasilnya dapat berbeda-beda.

2. Pendapatan Usahatani Tanaman Semusim


Pendapatan usaha tani merupakan besarnya nilai produksi dikurangi dengan
biaya besarnya biaya usahatani. Pendapatan usahatani petani di desa Sabrang terdapat
pada tabel 7.11.
Tabel 7.11 Rerata Pendapatan Tanaman Semusim di Desa Sabrang Tahun 2009
No. Keterangan Nilai (Rp)
1 Nilai produksi (A) 21.056.667
2 Biaya-biaya (B)
Tenaga kerja 2.186.700
Saprodi 2.214.300
Penyusutan alat 30.455
Lain-lain 9.530.933
3 Pendapatan (A-B) 7.094.278
Data : Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Pada Tabel 7.11 diketahui bahwa total pendapatan usahatani tanaman semusim
sebesar Rp 7.154.278,00. Pendapatan tersebut berasal dari usaha tani petani dengan
menanam padi selama satu tahun dengan 3 kali musim panen. Pengeluaran terbesar
petani adalah biaya lain-lain yang berupa bagi hasil sakap, sewa tanah, pajak tanah, dan
perbaikan alat pertanian.

3. Pendapatan Usahatani TanamanTahunan


Tanaman tahunan yang diusahakan oleh penduduk desa Sabrang yaitu tanaman
mangga yang hanya ditanam di pekarangan rumah. Buah-buahan yang ditanam di desa
Sabrangi ini yang paling dominan adalah pohon pisang, dari berbagai macam pisang
seperti pisang raja, pisang kepok, pisang koja, pisang ambon, dan pisang bandung.
Berikut di bawah akan disajikan pendapatan petani di desa Sabrang dari hasil tanaman
tahunan:

41
Tabel 7.12. Rerata Pendapatan Usahatani Tanaman Tahunan Petani Desa Sabrang
Tahun 2009
Bentuk Nilai
No. Komoditas Biaya (Rp) Pendapatan (Rp)
produksi produksi (Rp)
1 Mangga Kg 45.000 0 45.000
2 Pisang Tandan 11.200 0 11.200
Jumlah 56.200 0 56.200
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang 2009

Pendapatan bersih tanaman tahuan di desa Sabrang adalah sebesar Rp 56.200,-.


Ada sebagian dari hasil produksi mangga dan pisang untuk dikonsumsi sendiri. Pohon
mangga dan pisang yang ada di pekarangan atau lahan tegal dibiarkan begitu saja tanpa
dilakukan pemupukan atau pemeliharaan yang lain sehingga biaya pemeliharaannya
tidak ada.

4. Pendapatan Usaha Peternakan


Ada berbagai macam usahatani ternak yang dikembangkan di desa Sabrang,
seperti ternak kambing, ayam, dan itik. Pada umumnya di desa Sabrang petani yang
memelihara ternak hanya untuk kegiatan sampingan. Berikut tabel 7.13. menyajikan
nilai produksi, biaya dan pendapatan petani di bidang peternakan.

Tabel 7.13. Rerata Pendapatan Usaha Ternak Petani Desa Sabrang Tahun 2009
Rerata Nilai produksi
No. Ternak Biaya (Rp) Pendapatan (Rp)
Jumlah (Rp)
1 Ayam 2,46 22.666,67 6.666,67 16.000,00
2 Itik 3,20 23.600,00 20.000,00 3.600,00
3 Kambing 1,15 53.333,33 11.000,00 53.333,33
Jumlah 100.600,00 37.666,67 62.933,33
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang 2009

Dari Tabel 7.13 terlihat bahwa usaha ternak kambing merupakan usaha yang
menghasilkan pendapatan tertinggi karena nilai jual kambing juga tinggi. Kambing yang
diternakkan di desa ini hanya 1 sampai 3 ekor saja untuk tiap petani yang
mengusahakan. Sedangkan usaha ternak itik merupakan usaha ternak yang
menghasilkan pendapatan terkecil. Petani dalam beternak kambing hanya memberi
pakan berupa rerumputan dengan mencarikan atau melepas kambing di padang rumput.

42
Pakan ayam hanya menggunakan nasi sisa dan sedikit bekatul sedangkan pakan itik
berupa bekatul dan diberi vitamin.

5. Total Pendapatan Usahatani


Total pendapatan petani berasal dari tanaman semusim, tanaman tahunan,
peternakan. Pendapatan usahatani dapat dilihat pada Tabel 7.14.

Tabel 7.14. Rerata Pendapatan Usahatani Petani Desa Sabrang Tahun 2009
Nilai Produksi
No. Usahatani Biaya Produksi (Rp) Pendapatan (Rp)
(Rp)
Tan.Semusi 7.154.278,0
13.962.389
1. m 21.116.667 0
2. Tan.Tahunan 56.000 0 56.000,00
3. Peternakan 100.600 26.666,67 72.933,33
Jumlah 7.283.211,33
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang 2009

Berdasarkan Tabel 7.14 diketahui bahwa sumber pendapatan petani terbesar berasal
dari tanaman semusim. Hal ini disebabkan karena sebagian besar lahan petani berupa
sawah yang ditanami tanaman semusim.

A. Pendapatan Petani

Tabel 7.15. Rerata Pendapatan Petani Desa Sabrang Tahun 2009


No Persentas
Pendapatan Nilai (Rp)
. e (%)
1. Dalam Usahatani
Tan.Semusim 7.154.278,00 25,98
Tan.Tahunan 56.000,00 0,20
Peternakan 72.933,33 0,27
Jumlah : 7.283.211,33 26,45
2. Luar Usahatani
Buruh Tani 240.000,00 0,87
Buruh non-pertanian 3.590.666,67 13,04
Dagang 1.053.333,00 3,83
PNS/ABRI/POLISI 1.600.000,00 5,81
Jumlah : 6.483.999,67 23,55

43
Jumlah Pendapatan 13.534.422,00 100,00
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang 2009

Dari tabel 7.15, terlihat bahwa pendapatan dari usahatani lebih besar daripada
pendapatan dari luar usahatani. Hal ini karena petani lebih suka menggarap lahan milik
sendiri atau dengan menyakap. Dan ini menunjukkan bahwa sebagian besar mata
pencaharian penduduk desa Sabrang adalah sebagai petani.

Pendapatan Per Kapita


Penghitungan pendapatan per kapita per tahun penting dilakukan untuk melihat
tingkat kesejahteraan petani ditinjau dari sudut ekonomi. Pendapatan per kapita per
tahun (Rp/kapita/tahun) dari penduduk desa Sabrang =
= = Rp. 8.343.746
jumlah pendapatandalamsatu tahun Rp 27.534.422
rerata jumlah anggotakeluarga 3,3

B. Pengeluaran Petani
Pengeluaran petani merupakan merupakan besarnya uang yang dikeluarkan oleh
petani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran petani dapat dikategorikan
menjadi dua, yaitu:
1. Kebutuhan pangan (bahan makanan), yaitu biaya yang dialokasikan oleh petani
untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan, misalnya beras, gula, rokok, dan lain-
lain.
2. Kebutuhan non pangan (selain bahan makanan), yaitu besar pengeluaran yang yang
sengaja dikeluarkan keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan
makanan, misalnya kesehatan, pendidikan, kegiatan sosial, dan lain-lain.

44
Tabel 7.16. Rerata Pengeluaran Petani Desa Sabrang Tahun 2009
N Persentas
o. Pengeluaran Pangan Nilai (Rp) e (%)
1.161.6
1. Beras 67 11,24
475.33
2. Lain-lain (camilan) 3 4,60
2.526.3
3. Lauk, sayur, bumbu 00 24,43
583.06
4. Minuman 7 5,64
4.746.36 45,91
Jumlah pangan 7
N Pengeluaran Non-
o. Pangan
Pakaian (selain 222.66
1. seragam sekolah) 7 2,15
251.66
2. Kesehatan 7 2,43
335.33
3. Keperluan sehari-hari 3 3,24
431.33
4. Kegiatan sosial 3 4,17
1.869.2
5. Listrik/bahan bakar 67 18,08
6. Air 8.000 0,08
1.315.5
7. Pendidikan 33 12,72
143.82
8. Pajak 5 2,64
190.00
9. Komunikasi 0 1,84
1 464.03
0. Rokok 3 4,49
1 Lain-lain (servis 231.73
1. motor, renovasi) 3 2,24
Jumlah non pangan 5.592.76 54,09 54,09

45
7
10.339.1 100,00
Jumlah 33
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang Tahun 2009

Berdasarkan hasil analisis pengeluaran petani desa Sabrang tahun 2009, nampak
bahwa pengeluaran non bahan pangan lebih besar daripada bahan pangan. Rerata
pengeluaran non bahan pangan sebesar Rp 5.592.767 dan rerata pengeluaran bahan
pangan sebesar Rp 4.746.367. Pengeluaran non bahan pangan lebih besar karena ada
sebagian responden yang merokok dan membiayai sekolah anak-anak mereka.

Pengeluaran Per Kapita


Pengeluaran per kapita per tahun (Rp/kapita/tahun) dari penduduk desa

Banjaroya = = = Rp 3.133.070,61
jumlah pengeluaran dalamsatu tahun Rp.10.339.133
rerata jumlah anggotakeluarga 3,3

A. Taraf Hidup Petani Berdasarkan Tingkat Kemiskinan


Garis kemiskinan Sayogyo mencakup konsep nilai ambang kecukupan pangan
yang merupakan batas kebutuhan pangan yang harus dikonsumsi orang dalam satu
tahun tertentu. Lebih lanjut Sayogyo menjelaskan bahwa garis kemiskinan ini biasanya
dinyatakan dalam bentuk setara dengan nilai tukar beras (kg/orang/tahun).
1. Mayoritas miskin = 320-480 kg beras/th
2. Miskin = 240-320 kg beras/th
3. Miskin sekali = 200-240 kg beras/th
Tingkat kesetaraan dengan beras =
pengeluaran per kapita
hargaberasper kilogram

46
= = 626,61 kg
3.133.070,61
5.000

Dengan harga beras per kilogram sebesar Rp. 5000,00 maka dapat dihitung
tingkat kesetaraan dengan beras dan diketahui kondisi kesejahteraan keluarga menurut
Sayogyo. Sebagian besar tingkat kehidupan penduduk yang berprofesi sebagai petani di
desa tersebut berdasarkan garis kemiskinan Sayogyo adalah berada di tingkat sejahtera,
karena tingkat kesetaraan beras sebesar 626,61 kg.

B. Keadaan Tempat Tinggal dan Aset Petani

Tabel 7.17. Analisis Keadaan Rumah Desa Sabrang Tahun 2009


No. Keadaan Rumah Persentase (%)
1 Dinding Tembok 100,00
Jumlah 100,00
2 Lantai Keramik 6,67
Tegel 6,67
Semen 86,67
Jumlah 100,00
3 Atap Genteng 100,00
Jumlah 100,00
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang 2009

Dari Tabel 7.20 terlihat bahwa keadaan penduduk di desa Sabrang sudah cukup
baik. Umumnya rumah-rumah penduduk telah menggunakan tembok dan beratapkan
genteng. Namun masih terlihat kesederhanaan di desa Sabrang yaitu penggunaan lantai
berupa semen yang masih mendominasi. Dari analisis di atas dapat dikatakan bahwa
rumah petani di desa Sabrang sudah layak huni.

Tabel 7.18. Rerata Aset Petani Desa Sabrang Tahun 2009


No. Aset Nilai (Rp)
1. Rumah 120.333.333
2. Tabungan 753.333
3. Perhiasan 1.738.000
4. Alat Transportasi 5.863.333
5. Elektronik 1.580.000
6. Ternak tidak dijual 342.000

47
Jumlah 130.609.999
Sumber: Analisis Data Primer Desa Sabrang 2009

Tabel 7.21. menggambarkan aset yang dimiliki oleh petani. Umumnya mereka
telah mempunyai rumah sendiri yang rata-rata merupakan warisan dari leluhur. Pada
umumnya petani tidak . Alat elektronik yang dimiliki oleh petani adalah televisi, radio,
dan vcd player. Sedangkan alat transportasi yang dimiliki rata-rata berupa sepeda motor,
sepeda.

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Keadaan tanah dan iklim di Desa Sabrang sangat sesuai dengan usahatani
tanaman semusim, khususnya padi (Oryza sativa).
2. Penggunaan lahan di Desa Sabrang ada dua, yaitu lahan basah digunakan
sebagai sawah untuk usahatani tanaman semusim (padi) dan lahan kering
digunakan sebagai pekarangan untuk usahatani tanaman tahunan, antara lain
pisang dan mangga.
3. Pola pemukiman di Desa Sabrang adalah line village.

48
4. Pendapatan petani di Desa Sabrang berasal dari usahatani tanaman semusim,
usaha tani tanaman tahunan, usaha tani peternakan, dan usaha tani perikanan.
5. Pemasaran hasil pertanian dilakukan cara tebasan dan dijual ke pedagang.
6. Menurut konsep Sayogyo, petani di desa Sabrang di atas garis kemiskinan
sebesar 60%.
B. Saran
1. Sebaiknya pemerintah memberikan akses dan kemudahan bagi petani untuk
dapat memasarkan hasil pertaniannya.
2. Sebaiknya kegiatan kelompok tani lebih diaktifkan sehingga permasalahan
petani dapat segera diketahui dan dipecahkan secara bersama-sama.
3. Sebaiknya perlu adanya pembinaan dari Dinas Pertanian berupa
penyuluhan/pelatihan sehingga petani dapat memperoleh informasi mengenai
segala hal yang berkaitan dengan peningkatan produksi lahan mereka agar
kesejahteraan petani dapat meningkat.

49