Anda di halaman 1dari 37

KEPERAWATAN ANAK

LAPORAN PENDAHULUAN PADA ANAK YANG MENGALAMI


VENTRICULAR SEPTAL DEFECT (VSD)

Fasilitator:
Sulastri, S.Kep.,Ns.M.Tr.Kep.

Oleh:
Malihatus Syarifah (1120019171)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunianya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
laporan praktik Keperawatan Anak ini yang alhamdulillah dengan tepat waktu.
Laporan ini berisikan tentang informasi “Teori Asuhan Keperawatan Pada Anak
yang Mengalami Ventricular Septal Defect (VSD)”.
Laporan ini di tulis dengan bahasa yang sederhana berdasarkan berbagai
literatur tertentu dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman mengenai teori
yang dibahas. Kendati demikian, tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari
bahwa dalam laporan ini terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu
penulis terbuka dengan senang hati menerima kritik dan saran yang konstruktif
dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan laporan ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak.

Lamongan, 15 Juni 2020

Penulis
BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep VSD
1. Pengertian
VSD adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang
memisahkan ventrikel kanan dan ventrikel kiri. (Heni et al, 2001; Webb GD
et al, 2011; Prema R, 2013; AHA, 2014).
VSD adalah kelainan jantung berupa tidak sempurnanya penutupan
dinding pemisah antara kedua ventrikel sehingga darah dari ventrikel kiri ke
kanan, dan sebaliknya. Umumnya congenital dan merupakan kelainan jantung
bawaan yang paling umum ditemukan (Junadi, 1982; Prema R, 2013; AHA,
2014).
Vertikel septal defek adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang
pada septum interventrikuler, lubang tersebut hanya satu atau lebih yang
terjadi akibat kegagalan fungsi septum interventrikuler sesama janin dalam
kandungan. Sehingga darah bisa menggalir dari ventrikel kiri ke kanan
ataupun sebaliknya (Nurarif, 2015).
VSD adalah kelainan jantung bawaan berupa tidak sempurnanya
penutupan dinding pemisah antar ventrikel. Kelainan ini paling sering
ditemukan pada anak-anak dan bayi dan dapat terjadi secara congenital dan
traumatic (I wadyan Sudarta, 2013: 32).
2. Etiologi
Sebelum bayi lahir, ventrikel kanan dan kiri belum terpisah, seiring
perkembangan fetus, sebuah dinding/sekat pemisah antara kedua ventrikel
tersebut normalnya terbentuk. Akan tetapi, jika sekat itu tidak terbentuk
sempurna maka timbullah suatu keadaan penyakit jantung bawaan yang
disebut defek septum ventrikel. Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan
belum dapat diketahui secara pasti (idopatik), tetapi ada beberapa faktor yang
diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit
jantung bawaan (PJB) yaitu :
a. Faktor prenatal (faktor eksogen):
1) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubela
2) Ibu alkoholisme
3) Umur ibu lebih dari 40 tahun
4) Ibu menderita penyakit DM yang memerlukan insulin
5) Ibu meminum obat-obatan penenang
b. Faktor genetik (faktor endogen)
1) Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
2) Ayah/ibu menderita PJB
3) Kelainan kromosom misalnya sindrom down
4) Lahir dengan kelainan bawaan yang lain
5) Kembar identik
(Prema R, 2013)
Kelainan ini merupakan kelainan terbanyak, yaitu sekitar 30% dari
seluruh kelainan jantung (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Dinding
pemisah antara kedua ventrikel tidak tertutup sempurna. Kelainan ini
umumnya congenital, tetapi dapat pula terjadi karena trauma. Kelainan VSD
ini sering bersama-sama dengan kelainan lain misalnya trunkus arteriosus,
Tetralogi Fallot. Kelainan ini lebih banyak dijumpai pada usia anak-anak,
namun pada orang dewasa yang jarang terjadi merupakan komplikasi serius
dari berbagai serangan jantung (Prema R, 2013; AHA, 2014).
3. Klasifikasi
Klasifikasi VSD berdasarkan pada lokasi lubang, yaitu:
a. Perimembranous (tipe paling sering, 60%) bila lubang terletak di daerah
pars membranaceae septum interventricularis.
b. Subarterial doubly commited, bila lubang terletak di daerah septum
infundibuler dan sebagian dari batas defek dibentuk oleh terusan jaringan
ikat katup aorta dan katup pulmonal.
c. Muskuler, bila lubang terletak di daerah septum muskularis
interventrikularis.
(PDPDI, 2009)
4. Manifestasi Klinis
a. Pada VSD kecil: biasanya tidak ada gejala-gajala. Bising pada VSD tipe
ini bukan pansistolik,tapi biasanya berupa bising akhir sistolik tepat
sebelum S2.
b. Pada VSD sedang: biasanta juga tidak begitu ada gejala-gejala, hanya
kadang-kadang penderita mengeluh lekas lelah, sering mendapat infeksi
pada paru sehingga sering menderita batuk.
c. Pada VSD besar: sering menyebabkan gagal jantung pada umur antara 1-
3 bulan, penderita menderita infeksi paru dan radang paru. Kenaikan
berat badan lambat. Kadang-kadang anak kelihatan sedikit sianosis
d. Gejala-gejala pada anak yang menderitanya, yaitu; nafas cepat,
berkeringat banyak dan tidak kuat menghisap susu. Apabila dibiarkan
pertumbuhan anak akan terganggu dan sering menderita batuk disertai
demam, muntah saat menyusu, dan clubbing finger.
(Webb GD et al, 2011; Prema R, 2013; AHA, 2014).
5. Gambaran Klinis
Menurut ukurannya, VSD dapat dibagi menjadi:
a. VSD kecil
1) Biasanya asimptomatik
2) Defek kecil 1-5 mm
3) Tidak ada gangguan tumbuh kembang
4) Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising peristaltic yang
menjalar ke seluruh tubuh pericardium dan berakhir pada waktu
distolik karena terjadi penutupan VSD
5) EKG dalam batas normal atau terdapat sedikit peningkatan aktivitas
ventrikel kiri
6) Radiology: ukuran jantung normal, vaskularisasi paru normal atau
sedikit meningkat
7) Menutup secara spontan pada umur 3 tahun
8) Tidak diperlukan kateterisasi
b. VSD sedang
1) Sering terjadi symptom pada bayi
2) Sesak napas pada waktu aktivitas terutama waktu minum,
memerlukan waktu lebih lama untuk makan dan minum, sering tidak
mampu menghabiskan makanan dan minumannya
3) Defek 5- 10 mm
4) BB sukar naik sehingga tumbuh kembang terganggu
5) Mudah menderita infeksi biasanya memerlukan waktu lama untuk
sembuh tetapi umumnya responsive terhadap pengobatan
6) Takipneu
7) Retraksi bentuk dada normal
8) EKG: terdapat peningkatan aktivitas ventrikel kiri maupun kanan,
tetapi kiri lebih meningkat. Radiology: terdapat pembesaran jantung
derajat sedang, conus pulmonalis menonjol, peningkatan
vaskularisasi paru dan pemebsaran pembuluh darah di hilus.
c. VSD besar
1) Sering timbul gejala pada masa neonatus
2) Dispneu meningkat setelah terjadi peningkatan pirau kiri ke kanan
dalam minggu pertama setelah lahir
3) Pada minggu ke2 atau 3 simptom mulai timbul akan tetapi gagal
jantung biasanya baru timbul setelah minggu ke 6 dan sering
didahului infeksi saluran nafas bagian bawah
4) Bayi tampak sesak nafas pada saat istirahat, kadang tampak sianosis
karena kekurangan oksigen akibat gangguan pernafasan
5) Gangguan tumbuh kembang
6) EKG terdapat peningkatan aktivitas ventrikel kanan dan kiri
7) Radiology: pembesaran jantung nyata dengan conus pulmonalis yang
tampak menonjol pembuluh darah hilus membesar dan peningkatan
vaskularisasi paru perifer
(PDPDI, 2009; Webb GD et al, 2011; Prema R, 2013)
6. Pathway
Terlampir
7. Patofisiologi
Ventricular Septal Defect (VSD) terjadi akibat adanya kebocoran di
septum interventrikular. Kebocoran ini terjadi karena kelambatan dari
pertumbuhannya. Biasanya terjadi di pars muskularis atau di pars
membranasea dari septum. Defek tersebut dapat terletak dimanapun pada
septum ventrikel, dapat tunggal atau banyak dengan bentuk dan ukuran yang
bervariasi. Kebocoran di pars muskularis biasanya kecil. Kebocoran ditempat
lainnya mempunyai ukuran bermacam-macam.
Pada defek yang berukuran tidak lebih dari 1 cm, terdapat perbedaan
tekanan antara ventrikel kanan dan kiri. Tekanan ventrikel kiri yang lebih
besar menyebabkan arus kebocoran berlangsung dari kiri ke kanan (L to R
Shunt). Volume darah dari ventrikel kiri ini setelah melalui defek lalu masuk
ke dalam arteri pulmonalis bersama-sama darah yang berasal dari ventrikel
kanan. Biasanya pada defek yang kecil ini tidak terjadi kebocoran, dengan
demikian ventrikel kanan tidak mengalami beban volume dan tidak
menjadi dilatasi. Jumlah darah yang mengalir melalui arteri pulmonalis akan
bertambah, demikian pula vena-vena pulmonalis isinya akan bertambah dan
mengalirkan darah ke atrium kiri. Kelebihan darah ini menyebabkan dilatasi
dari atrium kiri. Ventrikel kiri, disamping volume darahnya yang bertambah,
juga harus bekerja keras sehingga terjadi hipertrofi. Dengan kata lain arteri
pulmonalis, atrium kiri, dan ventrikel kiri yang mengalami kelainan pada saat
ini, sehingga jantung kiri yang membesar. Bila defek itu makin besar, maka
volume darah yang mengalir ke ventrikel kanan juga bertambah. Dengan
bertambahnya volume darah ini, maka ventrikel kanan manjadi dilatasi, dan
arteri pulmonalis juga bertambah lebar. Selama sirkulasi ini berjalan lancar,
tidak ada peningkatan tekanan di dalam arteri pulmonalis.
Selanjutnya seperti pada kelainan ASD, lambat laun pada penderita ini
pun akan terjadi perubahan-perubahan pada pembuluh darah paru-paru, yaitu
penyempitan dari lumen arteri-arteri di perifer. Hipertensi pulmonal lebih
cepat terjadi pada VSD. Dengan adanya hipertensi pulmonal ini, ventrikel
kanan menjadi besar karena darah yang mengalir ke dalam arteri paru-paru
mengalami kesulitan. Dengan adanya resistensi yang besar pada arteri-arteri
pulmonalis, maka atrium kiri yang semula dilatasi kini berkurang isinya dan
kembali normal. Pada saat ini yang berperan dalam kelainan ini adalah
ventrikel kanan, arteri pulmonalis dengan cabang-cabangnya yang melebar
terutama bagian sentral. Jadi sekarang yang membesar terutama adalah
jantung kanan. Keadaan ini mirip dengan kelainan ASD dengan Hipertensi
pulmonal.
Defek pada septum yang besar menyebabkan keseimbangan antara
tekanan pada kedua ventrikel. Ada kalanya defek itu sangat besar sehingga
kedua ventrikel itu menjadi satu ruangan (Single Ventricle). Arah kebocoran
pada keadaan ini tergantung pada keadaan dari arteri pulmonalis dan aorta.
Bila tekanan di dalam arteri pulmonalis tinggi karena adanya kelainan pada
pembuluh darah paru maka darah dari ventrikel kanan akan mengalir ke
dalam ventrikel kiri. Bila di dalam aorta terdapat tekanan yang tinggi,
kebocoran berlangsung dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan (L to R Shunt).
Darah arterial dari atrium kiri masuk ke atrium kanan. Aliran tidak
deras karena perbedaan tekanan atrium kiri dan kanan tidak besar (tekanan
atrium kiri lebih besar dari tekanan atrium kanan. Beban pada atrium kanan,
atrium pulmonalis kapiler paru, dan atrium kiri meningkat, sehingga
tekanannya meningkat. Tahanan katup pulmonal naik, timbul bising sistolik
karena stenosis relatif katup pulmonal. Juga terjadi stenosis relatif katup
trikuspidal, sehingga terdengar bising diastolik. Penambahan beban atrium
pulmonal bertambah, sehingga tahanan katup pulmonal meningkat dan terjadi
kenaikan tekanan ventrikel kanan yang permanen. Kejadian ini berjalan
lambat
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Kateterisasi jantung menunjukkan adanya hubungan abnormal antar
ventrikel
b. EKG dan foto toraks menunjukkan hipertropi ventrikel kiri
c. Hitung darah lengkap adalah uji prabedah rutin
d. Uji masa protrombin ( PT ) dan masa trombboplastin parsial ( PTT ) yang
dilakukan sebelum pembedahan dapat mengungkapkan kecenderungan
perdarahan
e. MRI
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000; PDPDI, 2009; Webb GD et al, 2011;
AHA, 2014
9. Komplikasi
a. Gagal jantung kronik
b. Endokarditis infektif
c. Terjadinya insufisiensi aorta atau stenosis pulmonar
d. Penyakit vaskular paru progresif
e. Kerusakan sistem konduksi ventrikel
(PDPDI, 2009; Webb GD et al, 2011)
10. Penatalaksanaan
a. Pada VSD kecil: ditunggu saja, kadang-kadang dapat menutup secara
spontan. Diperlukan operasi untuk mencegah endokarditis infektif.
b. Pada VSD sedang: jika tidak ada gejala-gejala gagal jantung, dapat
ditunggu sampai umur 4-5 tahun karena kadang-kadang kelainan ini
dapat mengecil. Bila terjadi gagal jantung diobati dengan digitalis. Bila
pertumbuhan normal, operasi dapat dilakukan pada umur 4-6 tahun atau
sampai berat badannya 12 kg.
c. Pada VSD besar dengan hipertensi pulmonal yang belum permanen:
biasanya pada keadaan menderita gagal jantung sehingga dalam
pengobatannya menggunakan digitalis. Bila ada anemia diberi transfusi
eritrosit terpampat selanjutnya diteruskan terapi besi. Operasi dapat
ditunda sambil menunggu penutupan spontan atau bila ada gangguan
dapat dilakukan setelah berumur 6 bulan.
d. Pada VSD besar dengan hipertensi pulmonal permanen: operasi paliatif
atau operasi koreksi total sudah tidak mungkin karena arteri pulmonalis
mengalami arteriosklerosis. Bila defek ditutup, ventrikel kanan akan
diberi beban yang berat sekali dan akhirnya akan mengalami
dekompensasi. Bila defek tidak ditutup, kelebihan tekanan pada ventrikel
kanan dapat disalurkan ke ventrikel kiri melalui defek.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000; PDPDI, 2009; Webb GD et al, 2011;
AHA, 2014)
11. Prognosis
Kemungkinan penutupan defek septum secara spontan cukup besar,
terutama pada tahun pertama kehidupan. Kemungkinan penutupan spontan
sangat berkurang pada pasien berusia lebih dari 2 tahun dan umumnya tidak
ada kemungkinan lagi di atas usia 6 tahun. Secara keseluruhan, penutupan
secara spontan berkisar 40-50%. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000; Webb
GD et al, 2011).
Beberapa pasien akan berkembang menjadi penyakit vaskuler
obstruktif berupa hipertensi pulmonar akut, Eisenmenger syndrome pada saat
terapi referal diberikan serta terjadinya peningkatan sianosis secara progresif.
Penggunaan opsi bedah saat ini memilki mortalitas kurang dari 2% pada
pasien isolasi. Mungkin juga akan ditemukan pasien yang memerlukan
transplan paru atau jantung dan paru (Prema R, 2013).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Nama, tanggal lahir, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, alamat, nama
ayah, tanggal MICU, tanggal MRS, tanggal pengkajian, diagnosa medis,
no.register, sumber informasi.
b. Keluhan Utama
Keluhan orang tua pada waktu membawa bayinya ke dokter tergantung
dari jenis defek yang terjadi baik pada ventrikel maupun atrium, tapi
biasanya terjadi sesak, pembengkakan pada tungkai dan berkeringat
banyak.
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Bayi mengalami sesak nafas berkeringat banyak dan pembengkakan
pada tungkai tapi biasanya tergantung pada derajat dari defek yang
terjadi.
2) Riwayat kesehatan lalu
a) Prenatal History
Diperkirakan adanya keabnormalan pada kehamilan ibu (infeksi
virus Rubella), mungkin ada riwayat pengguanaan alkohol dan
obat-obatan serta penyakit DM pada ibu.
b) Intra natal
Riwayat kehamilan biasanya normal dan diinduksi.
c) Riwayat Neonatus
(1) Gangguan respirasi biasanya sesak, takipnea
(2) Bayi rewel dan kesakitan
(3) Tumbuh kembang anak terhambat
(4) Terdapat edema pada tungkai dan hepatomegali
(5) Sosial ekonomi keluarga yang rendah
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Adanya keluarga apakah itu satu atau dua orang yang
mengalami kelainan defek jantung
b) Penyakit keturunan atau diwariskan
c) Penyakit congenital atau bawaan
d. Sistem yang dikaji :
1) Pola Aktivitas dan latihan
Keletihan/kelelahan, Dispnea, Perubahan tanda vital, Perubahan
status mental, Takipnea, Kehilangan tonus otot
2) Pola persepsi dan pemeriksaan kesehatan
Riwayat hipertensi, Endokarditis, Penyakit katup jantung
3) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
Ansietas, khawatir, takut, Stress yang b/d penyakit
4) Pola nutrisi dan metabolik
Anoreksia, Pembengkakan ekstremitas bawah/edema
5) Pola persepsi dan konsep diri
Kelemahan, Pening
6) Pola peran dan hubungan dengan sesama
a) Penurunan peran dalam aktivitas sosial dan keluarga
e. Pemeriksaan Fisik
1) B1 (Breath)
a) Inspeksi: gambaran bentuk dada, simetris, adanya insisi, selang
di dada atau penyimpangan lain. Gambarkan pengunaan otot-
otot pernafasan tambahan: gerakan cuping hidung, retraksi sub
sterna dan interkostal atau sub clavia. Tentukan rata-rata
pernafasan dan keteraturannya. Bila diintubasi catat ukuran pipa
endotrakeal, jenis dan setting ventilator. Ukur saturasi oksigen
dengan menggunakan oximetri pulse dan analisa gas darah.
b) Palpasi: Pemeriksaan fokal fremitus, pergerakan retraksi dada
ada krepetasi atau tidak. Pergerakan dada simetris.
c) Perkusi: ada suara sonor atau hipersonor saar dilakukan perkusi.
d) Auskutasi: gambarkan bunyi nafas, kesamaan bunyi nafas,
berkurang / tidaknya udara nafas, stidor, crakles, wheezing.
2) B2 (Blood)
a) Inspeksi: perhatikan denyut dan irama jantung, kaji warna kuku,
membrane mukosa bibir. Gambarkan warna bayi atau anak
(mungkin menunjukkan latar belakang masalah jantung,
pernafasan, darah). Sianosis, pucat juindice, mouting.
b) Palpasi: ada nyeri dada atau tidak saat dipalpasi, terutama pada
dekat sternum.
c) Perkusi: Normalnya timbul suara pekak atau sonor.
d) Auskultasi: Tentukan poin maksimum impuls, poin dimana
bunyi jantung terdengar paling keras. Kaji apakah ada bunyi
jantung murmur atau bunyi abnormal jantung lainnya.
3) B3 (Brain)
a) Inspeksi: Observasi reflek moro, sucking, Gambarkan respon
pupil pada bayi yang usia kehamilannya lebih dari 32 minggu.
b) Palpasi: Lakukan pemeriksaan babinski, plantar dan reflek lain
yang diharapkan. Tentukan tingkat respon, refleks patela, ada
nyeri atau tidak pada (kepala, vertebra torakalis)
c) Perkusi: Ada suara pekak atau sonor normalnya jika di bagian
tulang, ada suara redup pada bagian abdomen.
d) Auskultasi: tidak ada pemeriksaan auskultasi, tetapi ada
pemeriksaan rinne atau tes pendengaran. Normalnya pasien
mendengar bunyi AC dua kali lebih lama daripada ketika ia
mendengar bunyi BC (AC>BC)
4) B4 (Bladder)
a) Inspeksi: Observasi warna dan konsistensi urine normalnya
putih bening, ada lesi atau tidak pada abdomen.
b) Palpasi: Ada nyeri saat di palpasi organ ginjal. (palpasi
bimanual)
c) Perkusi: Normalnya pekak, ada cairan atau tidak pada abdomen.
(pemeriksaan unduluting fluid wafe, atau shifting dullnes)
d) Auskultasi: -
5) B5 (Bowel)
a) Inspeksi: Tentukan adanya distensi abdomen, meningkatnya
lingkar perut, kulit yang terang, adanya eritema dinding
abdomen, tampaknya peristaltic, bentuk usus yang dapat dilihat,
status umbilicus, observasi jumlah, warna, dan konsistensi feces.
b) Auskultasi: Gambarkan bising usus (ada/tidak).
c) Perkusi: Normalnya redup pada abdomen dan pekak pada area
hati, ada cairan atau tidak pada abdomen (pemeriksaan
unduluting fluid wafe, atau shifting dullnes).
d) Palpasi: Palpasi area hati
6) B6 (Bone) dan Muskuloskeletal.
a) Inspeksi: Gambarkan gerakan bayi : random, bertujuan,
twitching, spontan, tingkat aktivitas dngan stimulasi, evaluasi
saat kehamilan dan persalinan. Gambarkan sikap dan posisi
bayi/anak : fleksi atau ekstensi. Gambarkan adanya perubahan
lingkar kepala (bila ada indikasi) ukuran, tahanan fontanel, dan
garis sutura. Gambarkan respon pupil pada bayi yang usia
kehamilannya lebih dari 32 minggu.
b) Palpasi: Ada nyeri atau tidak saat ditekan pada daerah dada,
ekstremitas atas ataupun bawah. Ada suara krepetasi atau tidak
pada persendian.
c) Perkusi: Normalnya pekak atau sonor.
d) Auskultasi: -
2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan preload
b. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri
dan/vena
c. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolus-kapiler
e. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan napas
f. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan
g. Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan efek ketidakmampuan
fisik
h. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
i. Resiko perfusi serebral tidak efektif
3. Intervensi
No. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Standar Luaran Keperawatan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
1 BAB : IV Curah Jantung (L.02008) Perawatan Jantung (I.02075)
Kategori : Fisiologis
Sub Kategori : Sirkulasi Definisi: Definisi:
Kode: D. 0008 Keadekuatan jantung memompa darah untuk Mengidentifikasi, merawat dan membatasi
memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. komplikasi akibat ketidakseimbangan antara suplai
Penurunan Curah Jantung dan konsumsi oksigen miokard.
Ekspektasi: Membaik
Definisi: Kriteria Hasil: Tindakan
Ketidakmampuan jantung memompa darah untuk 1. Kekuatan nadi perifer Observasi
memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. 2. Cardiac index (CI) 1. Identifikasi tanda/gejala primer penurunan
3. Left ventricular stroke work index curah jantung (meliputi dispnea, kelelahan,
Penyebab: (LVSWI) adema, artopnea, paroxysmal noctumal dyspnea,
1. Perubahan irama jantung 4. Stroke volume index (SVI) peningkatan CVP)
2. Perubahan frekuensi jantung Keterangan: 2. Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan
3. Perubahan kontraktilitas 1 = Menurun curah jantung (meliputi peningkatan berat
4. Perubahan preload 2 = Cukup Menurun badan, hepatomegali, distensi vena jugularis,
5. Perubahan afterload 3 = Sedang palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit
4 = Cukup Meningkat pucat)
Gejala dan Tanda Mayor 5 = Meningkat 3. Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah
1. Subjektif ortostatik, jika perlu)
a. Perubahan irama jantung 5. Palpitasi 4. Monitor intake dan output cairan
1) Palpitasi 6. Bradikardia 5. Monitor berat badan setiap hari pada waktu
b. Perubahan preload 7. Takikardia yang sama
1) Lelah 8. Gambaran EKG aritmia 6. Monitor saturasi oksigen monitor keluhan nyeri
c. Perubahan afterload 9. Lelah dada (intensitas, lokasi, radiasi, durasi,
1) Dipsnea 10. Edema presivitasi yang mengurangi nyeri)
d. Perubahan kontraktilitas 11. Distensi vena jugularis 7. Monitor EKG 12 sadapan
1) Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) 12. Dispnea 8. Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)
2) Ortopnea 13. Oliguria 9. Monitor nilai laboratorium jantung (elektrolit,
3) Batuk 14. Pucat/sianosis enzim jantung, BNP, Ntpro-BNP)
2. Objektif 15. Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) 10. Monitor fungsi alat pacu jantung
a. Perubahan irama jantung 16. Ortopnea 11. Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi
1) Bradikardia/takikardia 17. Batuk sebelum dan sesudah aktivitas
2) Gambaran EKG aritmia atau gangguan 18. Suara jantung S3 12. Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi
konduksi 19. Suara jantung S4 sebelum pemberian obat
b. Perubahan preload 20. Murmur jantung Terapeutik
1) Edema 21. Berat badan 1. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi
2) Distensi vena jugularis 22. Hepatomegali oksigen >94%
3) Hepatomegali 23. Pulmonary vaskular resistance (PVR) 2. Berikan dukungan emosional dan spiritual
4) Central venous pressure (CVP) 24. Sistemic vascular resistance 3. Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres
meningkat/ menurun Keterangan: 4. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi
c. Perubahan afterload 1 = Meningkat gaya hidup sehat
1) Tekanan darah meningkat atau 2 = Cukup meningkat 5. Berikan diet jantung yang sesuai (batasi asupan
menurun 3 = Sedang kafein, natrium, kolesterol, dan makanan tinggi
2) Nadi perifer teraba lemah 4 = Cukup menurun lemak)
3) CRT >3 detik 5 = Menurun 6. Posisikan pasien semi fowler atau fowler dengan
4) Oliguria kaki ke bawah atau posisi nyaman
5) Warna kulit pucat dan atau sianosis 25. Tekanan darah Edukasi
d. Perubahan kontraktilitas 26. CRT 1. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi
1) Terdengar suara jantung s3 dan atau s4 27. Pulmonary artery wedge pressure 2. Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap
2) Ejection fraction (EF) menurun (PAWP) 3. Anjurkan berhenti merokok
28. Central venous pressure 4. Anjurkan pasien dan keluarga mengukur berat
Gejala dan Tanda Minor Keterangan: badan harian
1. Subjektif 1 = Memburuk 5. Anjurkan pasien dan keluarga mengukur intake
a. Perubahan preloud 2 = Cukup Memburuk dan output cairan harian
(Tidak tersedia) 3 = Sedang Kolaborasi
b. Perubahan afterloud 4 = Cukup Membaik 1. Kolaborasi pemberian aritmia
(Tidak tersedia) 5 = Membaik 2. Rujuk ke program rehabilitasi jantung
c. Penurunan kontraktilitas
(Tidak tersedia)
d. Perilaku/emosional
1) Cemas
2) Gelisah
2. Objektif
a. Perubahan preload
1) Murmur jantung
2) Berat badan bertambah
3) Pulmonary artery wedge pressure
(PAWP) menurun
b. Perubahan afterload
1) Pulonary vascular resistance (PVR)
meningkat/menurun
2) Systemic vaskular resistance (SVR)
meningkat/menurun
c. Perubahan kontraktilitas
1) Cardiac index (CI) menurun
2) Left ventricular stroke work index
(LVSWI) menurun
3) Stroke volume index (SVI) menurun
d. Perilaku atau emosional
(Tidak tersedia)

Kondisi Klinis Terkait


1. Gagal jantung kongestif
2. Sindrom koroner akut
3. Stenosis mitral
4. Regurgitasi mitral
5. Stenosis aorta
6. Regusgitasi aorta
7. Stenosis trikuspidal
8. Stenosis pulmonal
9. Regurgitasi pulmonal
10. Aritmia
11. Penyakit jantung bawaan
12. Regurgitasi trikuspidal
2 BAB : IV Status Sirkulasi Perawatan Sirkulasi (1.02079)
Kategori : Fisiologis
Sub Kategori : Sirkulasi Definisi Definisi
Kode: D. 0009
Pengedaran berbagai zat yang diperlukan ke Mengidentifikasi dan merawat area local dengan
Perfusi Perifer tidak efektif seluruh tubuh dan pengambilan zat yang tidak keterbatasan sirkulasi perifer.
diperlukan untuk dikeluarkan dari tubuh.
Definisi: Tindakan:
Penurunan sirkulasi darah pada level kapiler yang Ekspektasi: Membaik
dapat mengganggu mekanisme tubuh. Observasi
Kriteria hasil: 1. Periksa sirkulasi perifer (mis. Nadi perifer, edema,
Penyebab: 1. Kekuatan nadi pengisian kapiler, warna, suhu, ankle brachial
6. Hiperglikemia 2. Output urin index)
7. Penurunan kosentrasi hemoglobin 3. Saturasi Oksigen 2. Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi (mis.
8. Peningkatan tekanan darah 4. PaO2 Diabetes, perokok, orang tua, hipertensi, dan
9. Kekurangan volume cairan Keterangan: kadar kolesterol tinggi)
10. Penurunan aliran arteri dan/ vena 1 = Menurun 3. Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak
11. Kurang aktivitas fisik 2 = Cukup Menurun pada ekstremitas.
12. Kurang terpapar informasi tentang faktor 3 = Sedang
pemberat (merokok, gaya hidup monoton, 4 = Cukup Meningkat Terapeutik
trauma, obesitas, asupan garam, imobilitas) 5 = Meningkat 4. Hindari pemasangan infus atau pengambilan
13. Kurang terpapar informasi tentang proses darah di area keterbatasan perfusi.
penyakit (diabetes mellitus, hiperlipedemia) 5. Pucat 5. Hindari pengukuran tekanan darah di area
Gejala dan Tanda Mayor 6. Akral dingin keterbatasan perfusi
3. Subjektif 7. PaCO2 6. Hindari penekanan dan pemasanagn tourniquet
Tidak ada 8. Pitting edema pada area yang cedera
4. Objektif 9. Edema perifer 7. Lakukan pencegahan infeksi
e. Pengisian kapiler >3 detik 10. Hipotensi ortostatik 8. Lakukan perawatan kaki dan kuku
f. Nadi perifer menurun atau tidak teraba 11. Bunyi napas tambahan 9. Lakukan hidrasi
g. Akral teraba dingin 12. Distensi vena jugularis
h. Warna kulit pucat 13. Asites Edukasi
i. Turgor kulit menurun 14. Fatigue 10. Anjurkan berhenti merokok
Gejala dan Tanda Minor 15. Klaudikasio Intermiten 11. Anjurkan berolahraga rutin
3. Subjektif 16. Parestesia 12. Anjurkan mengecek air mandi untuk
e. Parastesia 17. Sinkop menghiindari kulit terbakar
f. Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten) 18. Ulkus ekstremitas 13. Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan
4. Objektif Keterangan: darah, antikoaglan, dan penurun kolesterol jika
e. Edema 1 = Meningkat perlu.
f. Penyembuhan luka lambat 2 = Cukup meningkat 14. Anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah
g. Indeks ankle-bracial <0,90 3 = Sedang secara teratur.
h. Bruit femoral 4 = Cukup menurun 15. Anjurkan menghindari obat penyekat beta. 16.
5 = Menurun Anjurkan melakukan perawatan kulit yang tepat
Kondisi Klinis Terkait (mis. Melembabkan kulit kering pada kaki)
1. Tromboflebitis 19. Tekanan Darah sistolik 16. Anjurkan program rehabilitasi vascular
2. Diabetes mellitus 20. Tekanan darah diastolic 17. Ajarkan program diet untuk mempaerbaiki
3. Anemia 21. Tekanan nadi sirkulasi (mis. Rendah lemak jenuh, minyak
4. Gagal jantung kongestif 22. Mean arterial pressure ikan, omega 3)
5. Kelainan jantung kongenital 23. Pengisian kapiler 18. Informasikan tanda dan gejala darurat yang
6. Trombosis arteri 24. Tekanan vena sentral harus dilaporkan (mis. Rasa sakit yang tidak
7. Varises 25. Berat badan hilang saat istirahat, luka tidak sembuh,
8. Trombosis vena dalam Keterangan: hilangnya rasa)
9. Sindrom kompartemen 1 = Memburuk
2 = Cukup Memburuk
3 = Sedang
4 = Cukup Membaik
5 = Membaik
3 Kategori : Fisilogis Pola Napas (L.01004) Manjemen Jalan Napas (1.01012)
Sub Kategori : respirasi
Kode : D0005 Definisi: Definisi:
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang memberikan Mengidentifikasi dan mengelola kepatenan jalan
Pola napas tidak efektif ventilasi adekuat napas
Ekspektasi: Membaik
Definisi : Tindakan
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak Kriteria Hasil : Observasi
memberikan ventilasi adekuat 1. Ventilasi semenit 1. Monitor jalan napas (frekuensi, kedalaman, usaha
2. Kapasitas vital napas)
Penyebab : 3. Diameter thoraks anterior-posterior 2. Monitor bunyi napas tambahan (gurgling, mengi,
1. Depresi pusat pernapasan 4. Tekanan ekspirasi wheezing, ronkhi kering)
2. Hambatan upaya napas (nyeri saat bernapas, 5. Tekanan inspirasi 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
kelemahan, kelemahan otot pernapasan)
3. Deformitas dinding dada Keterangan: Terapeutik
4. Deformitas tulang dada 1 = Menurun
5. Gangguan neuromuscular 2 = Cukup Menurun 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-
6. Gangguan neurologis 3 = Sedang tilt dan chin-lift (jhaw thrust jika curiga trauma
7. Penurunan energy 4 = Cukup Meningkat servikal)
8. Obesitas 5 = Meningkat 2. Posisikan sei fowler atau fowler
9. Posisi tubuh yang menghambat ekspensi 3. Berikan minuman hangat
paru 6. Dispnea 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
10. Sindrom hipoventlasi 7. Penggunaan otot bantu bantu napas 5. Lakukan penghisapan lender kurang dari 15 detik
11. Kerusakan intervasi diafragma (kerusakan 8. Pemanjangan fase ekspirasi 6. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan
saraf C5 ke atas) 9. Ortopnea endotrakeal
12. Imaturitas neurologis 10. Pernapasan pursed-tip 7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep
13. Cedera pada medulla spinalis 11. Pernapasan cuping hidung McGill
14. Efek agen farmakologis Keterangan: 8. Berikan oksigen, jika perlu
15. Kecemasan 1 = Meningkat
2 = Cukup Meningkat Edukasi
Gejala dan Tanda Mayor 3 = Sedang 1. Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari, jika tidak
Subjektif 4 = Cukup Menurun kontraindikasi
1. Dispnea 5 = Menurun 2. Ajarkan teknik batuk efektif
Objektif Kolaborasi
1. Penggunaan otot bantu pernapasan 12. Frekuensi napas 1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
2. Fase ekspirasi memanjang 13. Kedalaman napas mukolitik, jika perlu
3. Pola napas abnormal (takipnea, bradipnea, 14. Ekskursi dada
hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes) Keterangan: Pemantauan Respirasi (I.01014)
1 = Memburuk Definisi: mengumpulkan dan menganalisis data
Gejala dan Tanda Minor 2 = Cukup Memburuk untuk memastikan kepatenan jalan napas dan
Subjektif 3 = Sedang keefektifan pertukaran gas
1. Ortopnea 4 = Cukup Membaik
Objektif 5 = Membaik Tindakan:
1. Pernapasan Pursed-lip Observasi
2. Pernapasan cuping hidung 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya
3. Diameter thoraks anterior-posterior napas
meningkat 2. Monitor pola napas (bradipena, takipnea,
4. Ventilasi semenit menurun hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot,
5. Kapasitas vital menurun ataksik)
6. Tekanan ekspirasi menurun 3. Monitor kemampuan batuk efektif
7. Tekanan inspirasi menurun 4. Monitor adanya prosuksi sputum
8. Ekskursi dada berubah 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Kondisi klinis terkait: 7. Auskultasi bunyi napas
1. Depresi sistem saraf pusat 8. Monitor saturasi oksigen
2. Cedera kepala 9. Monitor nilai AGD
3. Trauma thoraks 10.Monitor hasil X-ray thoraks
4. Gullian barre syndrome Terapeutik
5. Multiple sclerosis 1. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi
6. Myasthenia gravis pasien
7. Stroke 2. Dokumentasikan hasil pemantauan
8. Kuadriplegia Edukasi
9. Intoksikasi alkohol 1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
4 BAB : IV Status Nutrisi (L.03030) Manajemen nutrisi (I.03119)
Kategori : Fisiologis
Sub Kategori : Nutrisi dan cairan Definisi: Definisi:
Kode : D.0019 Keadekuatan asupan nutrisi untuk memenuhi Mengidentifikasi dan mengelola asupan nutrisi yang
kebutuhan metabolisme seimbang
Defisit nutrisi Ekspektasi: Membaik Tindakan
Observasi
Definisi: Kriteria Hasil: 1. Identifikasi status nutrisi
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi 1. Porsi makanan yang di habiskan 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
kebutuhan metabolisme 2. Kekuatan otot pengunyah 3. Identifikasi makanan yang disukai
3. Kekuatan otot menelan 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
Penyebab 4. Serum albumin 5. Identifikasi perlunya penggunaan selang
1. Ketidakmampuan menelan makanan 5. Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nasogastrik
2. Ketidakmampuan mencerna makanan nutrisi 6. Monitor asupan makanan
3. Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient 6. Pengetahuan tentang pilihan makanan yang 7. Monitor berat badan
4. Peningkatan kebutuhan metabolisme sehat 8. Monitor hasil lab pemeriksaan laboratorium
5. Faktor ekonomi (mis. Finansial tidak 7. Pengetahuan tentang pilihan minuman
mencukupi) yang sehat
6. Faktor psikologis (mis. Stress,keengganan 8. Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi Terapeutik
untuk makan) yang tepat 1. Lakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu
9. Penyiapan dan penyimpanan makanan 2. Fasilitasi menentukan pedoman diet
yang aman (mis.piramida makanan)
Gejala dan Tanda Mayor 10. Penyiapan dan penyimpanan minuman 3. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang
a. Subjektif ( tidak tersedia) yang aman sesuai
b. Objektif 11. Sikap terhadap makanan / minuman 4. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah
1. Berat badan menurun minimal 10% sesuai dengan tujuan kesehatan konstipasi
dibawah rentang ideal Keterangan: 5. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
6. Berikan suplemen makanan, jika perlu
Gejala dan Tanda Minor 1 = Menurun 7. Hentikan pemberian makan melalui selang
2 = Cukup Menurun nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi
a. Subjektif 3 = Sedang
4 = Cukup Meningkat
1. Cepat kenyang setelah makan 5 = Meningkat Edukasi
2. Kram/nyeri abdomen 12. Perasaan cepat kenyang 1. Anjurkan posisi duduk, jika mampu
3. Nafsu makan menurun 13. Nyeri abdomen 2. Ajarkan diet yang diprogramkan
b. Objektif 14. Sariawan
1. Bising usus hiperaktif 15. Rambut rontok Kolaborasi
2. Otot pengunyah lemah 16. Diare
3. Otot menelan lemah Keterangan: 1. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan
4. Membran mukosa pucat (mis.pereda nyeri,antiemetic), jika perlu
5. Sariawan 1 = Menurun 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
6. Serum albumin turun 2 = Cukup Menurun jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan,
7. Rambut rontok berlebihan 3 = Sedang jika perlu
8. Diare 4 = Cukup Meningkat
5 = Meningkat Pemberian makanan (I.03125)
17. Berat badan Definisi :
Kondisi Klinis Terkait 18. Indeks massa tubuh (IMT) Memberikan asupan nutrisi melalui oral pada pasien
1. Stroke 19. Frekuensi makan yang tidak mampu makan secara mandiri
2. Parkinson 20. Bising usus
3. Mobius syndrome 21. Tebal lipatan kulit trisep Tindakan:
4. Cerebral palsy 22. Membran mukosa Observasi
5. Cleft lip Keterangan: 1. Identifikasi makanan yang di programkan
6. Cleft palate 2. Identifikasi kemampuan menelan
7. Amyotropic lateral sclerosis 1 = Menurun 3. Periksa mulut untuk residu pada akhir makan
8. Kerusakan neuromuskuler 2 = Cukup Menurun
9. Luka bakar 3 = Sedang
10.Kanker 4 = Cukup Meningkat Terapeutik
11.Infeksi 5 = Meningkat 1. lakukan kebersihan tangan dan mulut sebelum
12.AIDS makan
13.Penyakit Crohn’s Nafsu makan (L.03024) 2. sediakan lingkungan yang menyenangkan selama
Kriteria Hasil waktu makan (mis : simpan urinal, pispot agar
14.Enterokolitis 1. Keinginan makan tidak terlihat
15.Fibrosis kistik 2. Asupan makanan 3. berikan posisi duduk atau semifowler saat makan
3. Asupan cairan 4. berikan makanan hangat, jika memungkinkan
4. Energi untuk makan 5. sediakan sedotan sesuai kebutuhan
5. Kemampuan untuk merasakan makanan 6. berikan makanan sesuai keinginan
6. Kemampuan untuk menikmati makanan 7. tawarkan mencium aroma makanan untuk
7. Asupan nutrisi merangsang nafsu makan
8. Stimulus untuk makan 8. cuci muka dan tangan setelah makan
9. Kelaparan Edukasi
Keterangan: 1. Anjurkan orang tua atau keluarga membantu
memberi makan kepada pasien
1 = Memburuk
2 = Cukup Memburuk Kolaborasi
3 = Sedang
4 = Cukup Membaik 1. kolaborasi pemberian analgesik yang adekuat
5 = Membaik sebelum makan, jika perlu
2. kolaborasi pemberian antiemetil sebelum makan,
jika perlu
5 BAB : IV Toleransi Aktivitas (L.05047) Terapi Aktivitas (I.05186)
Kategori : Fisiologis
Sub Kategori : Aktivitas/Istirahat Definisi: Definisi:
Kode : D.0056 Respon fisiologis terhadap aktivitas yang Menggunakan aktivitas fisik, kognitif, sosial dan
membutuhkan tenaga. spiritual tertentu untuk memulihkan keterlibatan,
Intoleransi Aktivitas frekuensi atau durasi aktivitas individu atau
Ekspektasi: Meningkat kelompok.
Definisi:
Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas Kriteria Hasil: Tindakan
sehari-hari. 1. Frekuensi nadi Observasi
2. Saturasi oksigen 1. Identifikasi defisit tingkat aktivitas
Penyebab 3. Kemudahan dalam melakukan aktivitas 2. Identifikasi kemampuanberpartisipasi dalam
1. Ketidakseimbangan antara suplai dan sehari-hari aktivitas tertentu
kebutuhan oksigen 4. Kecepatan berjalan 3. Identifikasi sumberdaya untuk aktivitas yang
2. Tirah baring 5. Jarak berjalan diinginkan
3. Imobilitas 6. Kekuatan tubuh bagian atas 4. Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi
7. Kekuatan tubuh bagian bawah dalam aktivitas
4. Gaya hidup monoton
8. Toleransi dalam menaiki tangga 5. Identifikasi makna aktivitas rutin (mis. bekerja)
Gejala dan Tanda Mayor Keterangan: dan waktu luang
a. Subjektif 1 = Meningkat 6. Monitor respon emosional, fisik, sosial, dan
1. Mengeluh lelah 2 = Cukup Meningkat spiritual terhadap aktivitas
b. Objektif 3 = Sedang Terapeutik
1. Frekwensi jantung meningkat >20% dari 4 = Cukup Menurun 1. Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit
kondisi istirahat 5 = Menurun yang dialami
2. Sepakati komitmen untuk meningkatkan
Gejala dan Tanda Minor 9. Keluhan lelah frekuensi dan rentang aktivitas
a. Subjektif 10.Dispnea saat aktivitas 3. Kordinasikan aktivitas sesuai usia
1. Dispnea saat/setelah aktivitas 11.Dispnea saat aktivitas 4. Ffasilitasi aktifitas fisik rutin (mis. Ambulasi,
2. Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas 12.Perasaan lemah mobilisasi dan perawatan diri)
3. Merasa lemah 13.Aritmia saat aktivitas 5. Fasilitasi aktivitas motorik untuk merelaksasikan
b. Objektif 14.Aritmia setelah aktivitas otot
1. Tekanan darah berubah >20% dari kondisi 15.Sianosis 6. Tingkatkan aktivitas fisik untuk memelihara berat
istirahat badan, jika perlu
2. Gambaran EKG menunjukkan aritmia Keterangan: 7. Libatkan keluarga dalam aktivitas, jika perlu
saat/setelah aktivitas 1 = Menurun 8. Fasilitasi aktifitas motorik kasar untuk pasien
3. Gambaran EKG menunjukkan iskemia 2 = Cukup Menurun hiperaktif
4. Sianosis 3 = Sedang 9. Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam
4 = Cukup Meningkat aktivitas
Kondisi Klinis Terkait 5 = Meningkat Edukasi
1. Anemia 1. Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika
2. Gagal jantung kongestif 16.Warna kulit perlu
3. Penyakit jantung koroner 17.Tekanan darah 2. Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
4. Penyakit katub jantung 18.Frekuensi napas 3. Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial
19.EKG iskemia spiritual, dan kognitif dalam kesehatan
5. Aritmia 4. Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok
6. PPOK Keterangan:
7. Gangguan metabolik 1 = Memburuk
8. Gangguan muskuloskeletal 2 = Cukup Memburuk
3 = Sedang
4 = Cukup Membaik
5 = Membaik
6 Kategori: Fisiologis Perfusi Serebral (L.02014) Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
Sub Kategori: Sirkulasi (1.06194)
Kode: D.0017 Definisi: Ketidakadekuatan aliran darah
serebral untuk menunjang fungsi otak Definisi: mengidentifikasi dan mengelola
Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif peningkatan tekanan dalam rongga kranial
Ekspektasi: Meningkat Tindakan
Definisi Observasi:
Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke Kriteria Hasil: 1. Identifikasi penyebab peningkatan TIK (lesi,
otak 1. Tingkat kesadaran gangguan metabolism, edema serebral)
Faktor Resiko: 2. Kognitif 2. Monitor tanda/gejala peningkatan TIK (tekanan
1. Keabnormalan masa protombin dan/atau Keterangan: darah meningkat, tekanan nadi melebar,
masa tromboplastin parsial 1= Menurun bradikardia, pola napas regular, kasadaran
2. Penurunan kinerja ventrikel kiri 2= Cukup Menurun menurun)
3. Aterosklerosis aorta 3= Sedang 3. Monitor MAP (Mean Arterial Pressure)
4. Diseksi arteri 4= Cukup Meningkat 4. Monitor CVP (Central Venous Pressure), jika
5. Fibrilasi atrium 5= Meningkat perlu
6. Tumor otak 1. Tekanan Intra kranial 5. Monitor PAWP, jika perlu
7. Stenosis karotis 2. Sakit kepala 6. Monitor ICP (Intra Cranial Pressure), jika
8. Miksoma atrium 3. Gelisah tersedia
9. Aneurisma serebri 4. Kecemasan 7. Monitor CPP (Cerebral Perfusion Pressure)
10. Koagulopati 5. Agitasi 8. Monitor status pernapasan
11. Dilatasi kardiomiopati 6. Demam 9. Monitor intake dan output cairan
12. Koagulasi intravaskuler diseminata Keterangan: 10. Monitor cairan Cerebro Spinalis
13. Embolisme 1= Meningkat Terapeutik
14. Cedera kepala 2= Cukup Meningkat 1. Minimalkan Stimulus dengan menyediakan
15. Hiperkolesteronemia 3= Sedang lingkungan yang tenang
16. Hipertensi 4= Cukup Menurun 2. Berikan posisi semi fowler
17. Endocarditis infektif 5= Menurun 3. Hindari Maneuver Valsava
18. Katup prostetik mekanis 1. Nilai rata-rata tekanan darah 4. Cegah terjadinya kejang
19. Stenosis mitral 2. Kesadaran 5. Hindari penggunaan PEEP
20. Neoplasma otak 3. Tekanan darah sistolik 6. Hindari pemberian cairan IV hipotonik
21. Infark miokard akut 4. Tekanan darah diastolic 7. Atur ventilator agar PaCO optimal
22. Sindrom sick sinus 5. Refleks saraf 8. Pertahankan suhu tubuh normal
23. Penyalahgunaan zat Keterangan: Kolaborasi
24. Terapi tombolitik 1= Memburuk 1. Kolaborasi pemberian sedasi dan anti konvulsan,
25. Efek samping tindakan 2= Cukup Memburuk jika perlu
3= Sedang 2. Kolaborasi pemberian diuretic osmosis, jika
Kondisi Klinis Terkait 4= Cukup Membaik perlu
1. Stroke 5= Membaik 3. Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu
2. Cedera kepala
3. Aterosklerotik aortic Pemantauan Tekanan Intrakranial (1.06198)
4. Infark mikoard akut Definisi: mengumpulkan dan menganalisis data
5. Diseksi arteri terkait regulasi tekanan didalam ruang intracranial
6. Embolisme Tindakan
7. Endocarditis infektif Observasi
8. Fibrilasi atrium 1. Identifikasi penyebab peningkatan TIK (lesi
9. Hiperkolestrolemia menempati ruang, gangguan metabolisme, edema
10. Hipertensi serebral, peningkatan tekanan vena, obstruksi
11. Dilatasi kardiomiopati aliran cairan serebrospinal, hipertensi intracranial
12. Koagulasi intravascular diseminata idiopatik)
13. Miksoma atrium 2. Monitor peningkatan TD
14. Neoplasma otak 3. Monitor pelebaran tekanan nadi
15. Segmen ventrikel kiri akinetik 4. Monitor penurunan frekuensi jantung
16. Sindrom sick sinus 5. Monitor ireguritas irama napas
17. Stenosis karotik 6. Monitor penurunan tingkat kesadaran
18. Stenosis mitral 7. Monitor perlambatan atau ketidaksimetrisan
19. Hidrosefalus respon pupil
20. Infeksi otak (meningitis, ensefalitis, abses 8. Monitor kadar CO2 dan pertahankan dalam
serebri). rentang yang diindikasikan
9. Monitor tekanan perfusi srebral
10. Monitor jumlah, kecepatan, dan karakteristik
drainase, cairan srebrospinal
11. Monitor efek stimulus lingkungan terhadap TIK
Terapeutik
1. Ambil sampel drainase cairan serebrospinal
2. Kalibrasi tranduser
3. Pertahankan sterilitas sistem pemantauan
4. Pertahankan posisi kepala dan leher netral
5. Bilas sistem pemantaun, jika perlu
6. Atur interval pemantauan sesuai kondisi pasien
7 Kategori: Fisiologis Status Cairan (L.03028) Manajemen Hipovolemia (I.04154)
Subkategori: Nutrisi dan Cairan Definisi: kondisi volume cairan intravaskuler, Definisi
Kode: D.0023 interstisial, dan/atau intraseluler Mengidentifikasi dan mengelola penurunan volme
Hipovolemia Ekspektasi: Membaik cairan intravskuler
Definisi: penurunan volume cairan Kriteria Hasil:
intravasukuler, interstisial, dan/atau intraseluler 1. Kekuatan nadi Tindakan
Penyebab: 2. Turgor kulit Observasi
1. Kehilangan cairan aktif 3. Output urine 1. Periksa tanda dan gejala hypovolemia (frekuensi
2. Kegagalan mekanisme regulasi 4. Pengisian vena nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah
3. Peningkatan permebilitas kapiler Keterangan: menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit
4. Kekurangan intake cairan 1 = Menurun menurun, membrane mukosa kering, volume
5. Evaporasi 2 = Cukup Menurun urine menurun, hematokrit meningkat, haus,
3 = Sedang lemah)
Gejala dan Tanda Mayor 4 = Cukup Meningkat 2. Monitor intake dan output cairan
Objektif 5 = Meningkat
1. Frekuensi nadi meningkat 5. Ortopnea Terapeutik
2. Nadi teraba lemah 6. Dyspnea 1. Hitung kebutuhan cairan
3. Tekanan darah menurun 7. Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) 2. Berikan posisi modiefied trendelenburg
4. Tekanan nadi menyempit 8. Edema anasarka 3. Berikan asupan cairan oral
5. Turgor kulit menurun 9. Berat badan
6. Membrane mukosa kering 10. Distensi vena jugularis Edukasi
7. Volume urine menurun 11. Suara napas tambahan 1. Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
8. Hematokrit meningkat 12. Kongesti paru 2. Anjurkan menghindari perubahan posisi
13. Perasaan lemah mendadak
Gejala dan Tanda Minor 14. Keluhan haus
Subjektif 15. Konsentrasi urine Kolaborasi
1. Merasa lemah Keterangan: 1. Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (NaCl,
2. Mengeluh haus 1 = Meningkat RL)
Objektif 2 = Cukup Meningkat 2. Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis
1. Pengisian vena menurun 3 = Sedang (glukosa 2,5%, NaCl 0,4%)
2. Status mental berubah 4 = Cukup Menurun 3. Kolaborasi pemberian cairan koloid (albumin,
3. Suhu tubuh meningkat 5 = Menurun plasmanate)
4. Konsentrasi urine meningkat 4. Kolaborasi pemberian produk darah
5. Berat badan turun tiba-tiba 16. Frekuensi nadi
Kondisi Klinis Terkait 17. Tekanan darah Manajemen Syok Hipovolemik (I.02050)
1. Penyakit Addison 18. Tekanan nadi Definisi: mengidentifikasi dan mengelola
2. Trauma/Perdarahan 19. Membrane mukosa ketidakmampuan tubuh menyediakan oksigen dan
3. Luka bakar 20. Jugular venous pressure (JVP) nutrient untuk mencukupi kebutuhan jaringan akibat
4. AIDS 21. Kadar Hb kehilangan cairan/darah berlebih
5. Penyakit Crohn 22. Kadar Ht
6. Muntah 23. Cental venous pressure Tindakan
7. Diare 24. Refuks hepatojugular Observasi
8. Kolitis ulseratif 25. Berat badan 1. Monitor status kardiopulomonal (frekuensi dan
9. hipoalbuminemia 26. Hepatomegaly kekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP)
27. Oliguria 2. Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD)
28. Intake cairan 3. Monitor status cairan (masukan dan haluaran,
29. Status mental turgor kulit, CRT)
30. Suhu tubuh 4. Periksa tingkat kesadaran dan respon pupil
5. Periksa seluruh permukaan tubuh terhadap adanya
Keterangan: DOTS (Deformity/deformitas, Open woud/luka
1 = Memburuk terbuka, Tendemess/nyeri tekan,
2 = Cukup Memburuk Swelling/bengkak)
3 = Sedang
4 = Cukup Membaik Terapeutik
5 = Membaik 1. Pertahankan jalan napas paten
2. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi
oksigen >94%
3. Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika
perlu
4. Lakukan penekanan langsung (direct pressure)
pada perdarahan eksternal
5. Berikan posisi syok (modified trendelenburg)
6. Pasang jalur IV berukuran besar (nomor 14 atau
16)
7. Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine
8. Pasang selang nasogastrik untuk dekompresi
lambung
9. Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah
lengkap dan elektrolit

Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid 1-2
L pada dewasa
2. Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid 20
mL/kgBB pada anak
3. Kolaborasi pemberian tranfusi darah, jika perlu
8 BAB : IV Status Perkembangan (L.10101) Perawatan Perkembangan (I.10339)
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Pertumbuhan dan Perkembangan Definisi : Definisi: mengidentifikasi dan merawat untuk
Kode : D 0105 Kemampuan untuk berkembang sesuai dengan memfasilitasi perkembangan yang optimal pada
kelompok usia aspek motorik halus, motorik kasar, bahasa, kognitif,
Gangguan Tumbuh Kembang sosial, emosional ditiap tahapan usia anak.
Ekspektasi: Membaik
Definisi : Tindakan:
Kondisi individu mengalami gangguan Kriteria Hasil: Observasi
kemampuan bertumbuh dan berkembang sesuai 1. Keterampilan sesuai usia 1. Identifikasi pencapaian tugas perkembangan anak
dengan kelompok dan usianya. 2. Kemampuan melakukan perawatan diri 2. Identifikasi isyarat perilaku dan fisiologis yang
3. Respon sosial ditunjukkan bayi (mis. Lapar, tidak nyaman
Penyebab: 4. Kontak mata Terepeutik
1. Efek ketidakmampuan fisik Keterangan: 1. Pertahankan sentuhan seminimal mungkin pada
2. Keterbatasan lingkungan 1 = Menurun bayi premature
3. Respons inkonsisten 2 = Cukup Menurun 2. Berikan sentuhan yang bersikap gentle dan tidak
4. Pengabaian 3 = Sedang ragu ragu
5. Terpisah dari orang tua dan/atau orang 4 = Cukup Meningkat 3. Minimalkan nyeri
terdekat 5 = Meningkat 4. Minimalkan kebisingan ruangan
6. Defisiensi 5. Pertahankan lingkungan yang mendukung
Gejala dan Tanda Mayor 1. Kemarahan perkembangan optimal
a. Subjektif 2. regresi 6. Motivasi anak berinteraksi dengan anak lain
(tidak tersedia) Keterangan: 7. Sediakan aktivitas yang memotivasi anak
b. Objektif 1 = Memburuk berinteraksi dengan anak lainnya
1. Tidak mampu melakukan keterampilan atau 2 = Cukup Memburuk 8. Fasilitasi anak berbagi dan bergantian atau
perilaku khas sesuai kelompok usianya (fisik, 3 = Sedang bergilir
bahasa, motoric, psikososial) 4 = Cukup Membaik 9. Dukung anak mengekspresikan diri melalui
2. Pertumbuhan fisik terganggu 5 = Membaik penghargaan positif atau umpan balik atas
usahanya
Tanda dan Gejala Minor 1. Afek 10. Pertahankan kenyamanan anak
a. Subjektif 2. Pola tidur 11. Fasilitasi anak melatih keterampilan pemenuhan
(tidak tersedia) Keterangan: kebutuhan secara mandiri (misal, makan, sikat
b. Objektif: 1 = Memburuk gigi, cuci tanagn, memakai baju)
1. Tidak mampu melakukan perawatan diri 2 = Cukup Memburuk 12. Bernyanyi lagu anak anak yang disukai
sesuai usia 3 = Sedang 13. Bacakan cerita atau dongeng
2. Afek datar 4 = Cukup Membaik 14. Dukung partisipasi anak disekolah,
3. Respon sosial lambat 5 = Membaik ekstrakurikuler dan aktivitas komunitas
4. Kontak mata terbatas Edukasi
5. Nafsu makan menurun 1. Jelaskan kepada orang tua atau pengasuh tentang
6. Lesu milestone perkembangan anak dan perilaku anak
7. Mudah marah 2. Anjurkan orang tua menyentuh dan menggendong
8. Regresi bayinya
9. Pola tidur terganggu (pada bayi) 3. Anjurkan orang tua berinteraksi dengan anaknya
4. Ajarkan anak keterampilan berinteraksi
Kondisi Klinis Terkait 5. Ajarkan anak teknik asertif
1. Hipotiroidisme Kolaborasi
2. Sindrom gagal tumbuh (Failure to Thrive 1. Rujuk untuk konselling, jika perlu
Syndrome)
3. Leukemia
4. Defisiensi hormon pertumbuhan
5. Demensi
6. Delirium
7. Kelainan jantung bawaan
8. Penyakit kronik
9. Gangguan kepribadian (personality disorder)
9 BAB : IV Pertukaran Gas (L.01003) Pemantauan Respirasi (I.01014)
Kategori : Fisiologis Definisi: mengumpulkan dan menganalisis data
Sub Kategori : Respirasi Definisi : untuk memastikan kepatenan jalan napas dan
Kode : D.0003 Oksigenasi dan atau eliminasi karnondioksida keefektifan pertukaran gas
pada membran alveolus-kapiler dalam batas
Gangguan Pertukaran Gas normal. Tindakan:
Ekspektasi: Meningkat Observasi
Definisi : 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya
Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan atau Kriteria Hasil : napas
eleminasi karbondioksida pada membran alveolus 1. Tingkat Kesadaran 2. Monitor pola napas (bradipena, takipnea,
kapiler. hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot,
Penyebab : Keterangan : ataksik)
Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi 1 = Menurun 3. Monitor kemampuan batuk efektif
Perubahan membran alveolus-kapiler. 2 = Cukup Menurun 4. Monitor adanya prosuksi sputum
Gejala dan Tanda Mayor 3 = Sedang 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
a. Subyektif 4 = Cukup meningkat 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Dispnea 5 = Meningkat 7. Auskultasi bunyi napas
b. Obyektif 8. Monitor saturasi oksigen
1) PCO2 meningkat/menurun. 2. Dispnea. 9. Monitor nilai AGD
2) PO2 menurun. 3. Bunyi napas tambahan. 10. Monitor hasil X-ray thoraks
3) Tatikardi. 4. Pusing.
4) pH arteri meningkat/menurun. 5. Penglihatan kabur. Terapeutik
5) Bunyi napas tambahan. 6. Diaforesis. 1. Atur interval pemantauan respirasi sesuai
Gejala dan Tanda Minor 7. Gelisah. kondisi pasien
a. Subyektif 8. Napas cuping hidung. 2. Dokumentasikan hasil pemantauan
1) Pusing.
2) Penglihatan kabur. Keterangan : Edukasi
b. Objektif 1 = Meningkat 11. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
1) Sianosis. 2 = Cukup Meningkat 12. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2) Diaforesis. 3 = Sedang
3) Gelisah. 4 = Cukup menurun Terapi Oksigen (I.01026)
4) Napas cuping hidung. 5 = Menurun
5) Pola napas abnormal (cepat/lambat, Definisi:
reguler/ireguler, dalam/dangkal). 9. PCO2 Memberikan tambahan oksigen untuk mencegah dan
6) Warna kulit abnormal (mis, pucat, 10. PO2 mengatasi kondisi kekurangan oksigen jaringan.
kebiruan). 11. Takikardi
7) Kedasaran menurun. 12. pH arteri Tindakan
13. Sianosis Observasi
Kondisi Klinis Terkait 14. Pola napas 1. Monitor kecepatan aliran oksigen
a. Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK). 15. Warna Kulit 2. Monitor posisi alat terapi oksigen
b. Gagal jantung kongestif. 3. Monitor tanda-tanda hipoventilasi
c. Asam. Keterangan : 4. Monitor aliran oksigen secara periodik dan
d. Pneumonia. 1 = Memburuk pastikan freksi yang diberikan cukup
e. Tuberkulosis paru. 2 = Cukup Memburuk 5. Monitor efektifitas terapi oksigen (oksimetri,
f. Penyakit membran hialin. 3 = Sedang analisa gas darah,)
g. Asfiksia. 4 = Cukup Membaik 6. Monitor kemampuan melepaskan oksigen saat
h. Persistent pulmonary hypertension of 5 = Membaik makan
newborn (PPHN). 7. Monitor tanda dan gejala toksikasi oksigen dan
i. Prematuritas. atelektasis
8. Monitor tingkat kecemasan akibat terapi
oksigen
9. Monitor integritas mukosa hidung akibat
pemasangan oksigen

Terapeutik
1. Bersihkan sekret pada mulut, hidung dan trakea
2. Pertahankan kepatenan jalan napas
3. Siapkan dan atur peralatan pemberian oksigen
4. Berikan oksigen tambahan
5. Tetap berikan oksigen saat pasien ditransportasi
6. Gunakan perangkat oksigen yang sesuai dengan
tingkat mobilitas pasien

Edukasi
1. Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan
oksigen dirumah

Sirkulasi
1. Kolaborasikan penentuan dosis oksigen
2. Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas
dan/ tidur
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah atau status
kesehatan yang dihadapinya kestatus kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Ukuran intervensi
keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan lingkungan, pengobatan,
tindakan untuk memperbaiki kondisi, tindakan untuk keluarga pasien atau
tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul dikemudian hari.
Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai dengan
rencana keperawatan, perawat harus mempunyai kemampuan kognitif
(intelektual), kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan keterampilan
dalam melakukan tindakan.
Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan (Nikmatur Rohmah & Saiful Walid, 2014).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan
keadaan pasien (hasil diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat
pada tahap perencanaan (Nikmatur Rohmah & Saiful Walid, 2014). Melalui
kegiatan evaluasi, kita dapat menilai capaian tujuan yang diharapkan dan
tujuan yang telah dicapai oleh keluarga. Apabila tercapai sebagian atau timbul
masalah keperawatan baru, kita perlu melakukan pengkajian lebih lanjut,
memodifikasi rencana, atau mengganti dengan rencana yang lebih sesuai
dengan kemampuan keluarga.
Evaluasi disusun menggunakan SOAP dimana:
S : Ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara subjektif oleh
keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
O : Keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan
pengamatan yang objektif.
A : Merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan
objektif.
P : Perencanaan lanjutan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
AHA (2014). Ventricular septal defect (VSD).
https://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/CongenitalHeartDefects/
AboutCongenitalHeartDefects/Ventricular-Septal-Defect- Diakses pada
31 Januari 2014.
Kapita Selekta Kedokteran (2000). Defek septum ventrikel, Bab VI Ilmu
Kesehatan Anak Ed. III Jilid 2 Editor: Arif Mansjoer, et al. Jakarta:
Media Aesculapius FK UI hal.445-447
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
MediAction.
Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (2009). Ilmu Penyakit Dalam Ed.
V Jilid 2 Editor: Aru W.S., et al. Jakarta: FKUI
Prema R (2013). Ventricular septal defect.
http://emedicine.medscape.com/article/892980-overview#aw2aab6b2b2
Diakses pada 31 Januari 2014.
Sudarta, I Wayan. 2013. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskuler. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Webb GD, Smallhorn JF, Therrien J, Redington AN (2011). Congenital heart
disease. In: Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, Libby P, eds. Braunwald's
Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed.
Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier:chap 65.
Lampiran

Hipovolemia

Risiko
Perfusi
Serebral
Tidak
Efektif
Intoleransi
Aktivitas

Penurunan Curah
Perfusi Perifer Jantung
Tidak Efektif
Pola Napas
Defisit Nutrisi Tidak Efektif Gangguan
Pertukaran Gas

Gangguan
Tumbuh
Kembang