Anda di halaman 1dari 11

Tugas Individu

Manajemen Risiko

Disusun oleh:

Syach Frialdo (4516030061)

Dosen Pembimbing :

Kadunci, SE, M.Si

Program Studi Adminsitrasi Bisnis Terapan

Jurusan Administrasi Niaga

Politeknik Negeri Jakarta


Rangkuman Aplikasi Manajemen Resiko

Pada pembahasan aplikasi manajemen risiko ini memberikan gambaran prinsip


manajamen risiko yang baik dan sebelum membicarakan prinsip tersebut, terlebih kita
membahas kasus-kasus kegagalan perusahaan/organisasi mengelola risiko berikut adalah
contohnya.

Kasus Bausch & Lomb

Perusahaan yang bergerak dibidang lensa kontak dan kacamata yang bisa memenuhi
target penjualannya selama 4 tahun berturut-turut yang dilakukan oleh divisi lensa
kontak. Tahun 1993, divisi tersebut tidak dapat memenuhi targetnya sehingga
menawarkan diskon dan kredit secara signifikan kepada distributornya untuk mendorong
penjualan yang melebihi target pada kuartal ketiga. Pada kuartal keempat perusahaan
melakukan tindakan yang sama kepada distributor dengan iming-iming bahwa distributor
akan digunakan oleh B&L jika mengambil sisa barang yang tidak terjual untuk
memenuhi target pada kuartal keempat karena suplai yang berlebihan menimbulkan efek
negatif berakibat pada penjualannya yang kecil dari perkiraan. Perusahaan B&L ketahuan
bahwa menjual barang dengan harga bantingan yang berbeda dari harga normal sehingga
konsumen yang membeli dengan harga mahal menuntut B&L untuk ganti rugi dan pada
tahun 1996 B&L mengganti rugi sebesar $68 juta. Akhirnya tindakan divisi tersebut
terungkap dan dilakukan investigasi oleh Security Exchange Commission dan harus
mengakui kerugiannya sebesar $22 juta. Pada tahun 1997 The Asian Pasific Division
juga ikut terlibat dalam melakukan penjualan sehingga perusahaan B&L harus
mengurangi pendapatan sebesar $17,6 juta dan membayar &42 juta untuk menyelesaikan
gugatan dari nasabah.

Morgan Grenfell Asset Management (MGAM)

MGAM adalah Perusahaan yang bergerak dibidang keuangan yang berhasil dalam
mengelola aset pensiun dan mengalami peningkatan pada tahun 1994. Pada tahun 1995,
manajer investasinya membeli saham secara diam-diam dan dalam jumlah besar dan
saham yang dibeli tidak akan disetujui oleh komite investasi atau peraturan perusahaan,
salah satu sahamnya yaitu Solv-Fx yang tidak memiliki apa-apa. Tahun 1996, manajer
investasi tersebut membeli saham perusahaan tersebut dalam jumlah yang besar. Hal ini
melanggar aturan dari Dewan Investasi yang membeli saham melebihi aturan yang
ditetapkan dan berakibat pada nilai asset MGAM. Perusahaan ditutup dan harus menggati
asset yang diragukan dan berdampak pada ketidakpercayaan investor dan membayar
ganti rugi kepada 80.000 investor dan didenda oleh regulator London

Baring Bank

Baring Bank adalah salah satu bank yang dikenal konservatif dengan umur sekitar
233 tahun dengan salah satu nasabahnya yaitu Ratu Elizabeth. Pada tahun 1995, seorang
tradernya yaitu Nick Leeson membangkrutkan bank tersebut secara individual. Nick
Leeson membawahi dua fungsi sekaligus yaitu fungsi pencatatan dan fungsi trading. Ia
mencatat trading dan melakukan tradingnya. Jika untung, maka ia akan mencatat
keuntungan tersebut, namun jika rugi ia akan menyembunyikan kerugiannya tersebut.
kerugian yang dialaminya tidak ada yang mengawasi dan tidak terkendali yang melebih
modal Bank Baring sehingga Bank Baring mengalami kerugian.

Metallgesellschaft

Perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan, logam dan teknik yang memiliki
15 anak perusahaan besar salah satunya yaitu MG Corp AS. Pada tahun 1993
Mettallegesellschaft mengalami krisis yang mengakibatkan kerugian sebanya $1 milyar
pada kontrak futures minyak. Hal ini terjadi karena anak perusahaan MG Corp AS yaitu
MG Refining dan Marketing (MGRM) melakukan kontrak dengan Castle Energy untuk
membeli minyak sebanyak 46 juta barel pertahun dengan margin tetap selama 10 tahun
dan MGRM menjual dengan harga tetap ke ritel. Kontrak tersebut berakibat pada risiko
perubahan harga minyak yang akan merugikan MGRM. MGRM melakukan hedging
untuk mengurangi risiko tetapi MGRM dihadapi risiko baru yaitu risiko basis. MGRM
tidak dapat menghadapi risiko tersebut dan akhirnya MGRM membeli kontrak futures
yang lebih banyak dan tidak optimal. MGRM pun menghadapi risiko baru yaitu
berspekulasi dari kelebihan kontrak tersebut. Sebanyak 158 juta barel dari kontrak
futures, 86 juta hedge murni dan 68 juta merupakan spekulasi. Pada waktu harga minyak
turun, MGRM mengalami kerugian. Untuk kerugian posisi spekulasi tidak ada gantinya.
Jika kerugian semakin besar, perusahaan akan menghadapi margin calls dan terjadi
kepada MGRM dan mengharuskan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Akhirnya
manajemen memutuskan untuk menutup kontrak futures dan menanggung kerugiannya
dan berakibat penjualan aset, pemecatan direktur dan terjadi reorganisasi.

Serangan Teroris 11 September 2001

Serangan teroris hari Selasa, 11 September 2001, merupakan rangkaian serangan


teroris terhadap Amerika Serikat. Sekitar 19 pembajak mengambil alih empat pesawat
komersial domestic AS. Dua pesawat ditabrakkan ke World Trade Center di Manhattan,
New York City. Masing-masing ditabrakkan ke gedung kembar, dengan jeda waktu
sekitar 18 menit. Dalam dua jam, kedua gedung tersebut ambruk. Pesawat ketiga
ditabrakkan ke gedung Pentagon, di Arlington County, Virginia. Pesawat keempat jatuh
di lading pertanian di Sommerset County, Pennsylvania, AS. Nampaknya ada penumpang
pesawat yang melawan teroris. Korban resmi mencapai 2.986, termasuk 19 pembajak.

Osama Bin Laden pada mulanya mengaku tidak bertanggung jawab terhadap
serangan tersebut. Pada bulan November 2001, pasuka AS menemukan videotape dari
rumah yang hancur di Jalalabad, Afganistan, dimana seseorang yang ternyata adalah
Osama Bin Laden berbicara kepada Khaled al-Harbi. Dalam tape tersebut, Osama Bin
Laden mengakui telah merencanakan serangan tersebut. Tape tersebut kemudian
disiarkan di media pada bulan Desember 2001. Sebelum pemilihan presiden AS pada
tahun 2004, Bin Laden mengakui bahwa Al-Qaeda terlibat dalam serangan tersebut. Dia
mengakui bahwa dia mempunyai kaitan langsung dengan serangan tersebut. Dia
mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan karena “Kita adalah orang merdeka, yang
tidak menerima ketidakadilan, dan kita ingin memperoleh kebebasan Negara kita”.
Serangan tersebut dimulai dari pembajakan pesawat terbang, yang membawa sekitar
24.000 gallon (91.000 liter) bahan bakar. Dengan kapasitas semacam itu, pesawat terbang
tersebut praktis bisa menjadi bom yang terbang. Pembajak mengambil alih pesawat
dengan menggunakan pisau untuk membuka kotak boks untuk membunuh pramugari,
dan setidaknya satu orang pilot. Bahan kimia seperti gas air mata atau semprotan cabe
(pepper spray) nampaknya juga digunakan oleh pembajak. Ancaman bom juga
nampaknya digunakan di beberapa pesawat tersebut.
Serangan teroris 11 September tersebut merupakan salah satu kejadian yang paling
penting di abad 21 ini, yang berdampak ke banyak segi kehidupan di Amerika Serikat,
khususnya isu keamanan. Serangan tersebut mempunyai dampak yang signifikan
terhadap ekonomi AS dan dunia. Bursa New York Stock Exchange, American Stock
Exchange, dan Nasdaq tutup selama tanggal 11 tersebut, dan baru dibuka kembali pada
tanggal 17-September 2001. Fasilitas di NYSE tidak terganggu, tapi fasilitas dari
perusahaan sekuritas lain banyak yang rusak karena fasilitas terletak di dekat WTC,
sehingga mengganggu komunikasi. Ketika pasar modal dibuka kembali pada tanggal 17
September 2001, indeks Dow Jones jatuh 684 poin atau 7,1%, menjadi 8920. Penurunan
tersebut merupakan penurunan paling besar dalam satu hari. Pada akhir minggu, ineks
Dow Jones turun 14,3% (1369,7 poin), penurunan satu minggu yang paling besar dalam
sejarah AS. Saham kehilangan nilainya sekitar $1,2 trilyun untuk satu minggu tersebut.
Penerbangan di Amerika Utara tutup selama beberapa hari sesudah serangan tersebut.
Perjalanan udara menurun secara signifikan pada waktu penerbangan dibuka kembali.
Serangan tersebut menurunkan kapasitas penerbangan sekitar 20%, dan memperparah
masalah ekonomi AS yang memasuki tahap resesi pada tahun tersebut.

Berdasarkan kunjungan tersebut, Fidelity Investment kemudian meluncurkan


beberapa inisiatif pada level unit bisnis dan perusahaan (corporate). Inisiatif tersebut
termasuk ‘risk college’ atau universitas risiko, proses review kejadian dan kerugian,
mem-follow up hasil kunjungan ke perusahaan lain. Global Risk Management juga
memberikan konsultasi internal untuk unit bisnis. Unit bisnis tersebut bisa mengurangi
penurunan kerugian tahunan sebesar 85% sejak diluncurkan risk event log (salah satu
program dari manajemen risiko). Setiap kerugian yang melebihi ambang batas tertentu
akan dicatat dalam log tersebut, kemudian direview oleh komite manajemen risiko, yang
diketuai oleh manajer unit bisnis, untuk melihat akar permasalahan dan mengembangkan
prosedur pencegahannya.
Karakteristik manajemen risiko yang baik

1. MEMAHAMI BISNIS PERUSAHAAN


2. FORMAL DAN TERINTEGRASI
3. MENGEMBANGKAN INFRASTRUKTUR RISIKO
4. MENETAPKAN MEKANISME KONTROL
5. MENETAPKAN BATAS (LIMITS)
6. FOKUS PADA ALIRAN KAS
7. SISTEM INSENTIF YANG TEPAT
8. MENGEMBANGKAN BUDAYA SADAR RISIKO

Memahami Bisnis Perusahaan

1. Memahami bisnis perusahaan merupakan salah satu kunci keberhasilan


manajemen risiko perusahaan. Tanggung jawab tersebut tidak hanya ada dipundak
direksi atau manajer, tetapi juga semua anggota organisasi. Semuanya harus
menyadari bahwa pekerjaannya akan berpengaruh terhadap risiko organisasi, dan
pekerjaannya berkaitan dengan fungsi lainnya dalam suatu organisasi.
2. Pemahaman mendalam terhadap bisnis perusahaan dan keunikannya akan
menghasilkan pelaksanaan manajemen risiko yang berbeda dari satu perusahaan
ke perusahaan lain. Sebagai contoh, di suatu perusahaan, manajemen risiko
berangkat dari departemen audit (yang selalu menguji kepatuhan organisasi
terhadap standar-standar yang ada), yang kemudian bergeser menjadi pendekatan
yang lebih aktif (evaluasi diri atau self-assessment) berkaitan dengan manajemen
risiko. Perusahaan lain akan menekankan pada struktur organisasi manajemen
risiko yang kuat (misal komite manajemen risiko yang kuat) dan menggunakan
tehnik kuantitatif untuk analisis risiko. Dengan kata lain, model manajemen risiko
tidak bisa diterapkan sama untuk semua situasi.
3. Harus ada peneyesuaian-penyesuaian terhadap karakteristik unik perusahaan.
A. Formal dan Terintegrasi
1. Untuk pengelolaan risiko yang efektif, perusahaan harus membuat
manajemen risiko yang formal, yang merupakan upaya khusus, yang
didukung oleh organisasi (manajemen puncak).
2. Secara singkat, manajemen risiko formal tersebut mencakup:
1) Infrastruktur keras: ruang kerja, struktur organisasi, komputer,
model statistic, dsb
2) Infrastruktur lunak: budaya kehati-hatian, organisasi yang
responsive terhadap risiko, dsb
3) Proses Manajemen Risiko: identifikasi, pengukuran, dan
pengelolaan risiko.

B. PARADIGMA BARU: TERINTEGRASI

Tabel 1. Perbandingan Paradigma Lama dan Baru Manajemen Risiko


Paradigma Lama Paradigma Baru
1. Pengelolaan risiko dilakukan secara 4. Terintegrasi: manajemen risiko
terpisah oleh masing-masing dikoordinasikan oleh eksekutif level
departemen atau fungsi. Perhatian puncak, setiap orang melihat
lebih pada akuntansi, audit internal manajemen risiko sebagai bagian
dari pekerjaan mereka
2. Ad-hoc: manajemen risiko 5. Terus menerus: manajemen risiko
dilakukan jika manajer merasa perlu merupakan proses yang
untuk melakukannya berkelanjutan
3. Fokus yang lebih sempit: terutama
memfokuskan pada risiko yang 6. Fokus Luas: semua risiko bisnis dan
diasuransikan dan risiko keuangan kesempatan bisnis diperhatikan

C. Mengembangkan Infrastruktur Risiko


Manajemen risiko yang efektif membutuhkan infrastruktur risiko yang
mendukung (dalam hal ini adalah struktur organisasi). Perusahaan menggunakan
infrastruktur yang bervariasi. Sebagai contoh, Chase Manhattan Bank
menggunakan komite risiko yang cukup kuat, yang terdiri dari lima sub-komite
yang mencakup lima risiko yaitu risiko kredit, pasar, modal, operasi, dan fidusia
(fiduciary). Kelima sub-komite tersebut melapor kepada komite eksekutif yang
memberikan pandangan strategis dan integratif terhadap manajemen risiko.
Komite manejemen risiko mempunyai otoritas dan tanggung jawab berkaitan
dengan manajemen risiko organisasi. Melalui komite tersebut, struktur
manajemen risiko dengan berbagai tugas yang lebih detil bisa dikembangkan lebih
lanjut.
D. Menetapkan Mekanisme Kontrol
Manajemen risiko yang efektif harus mempunyai sistem pengendalian yang baik,
dimana mekanisme saling mengontorol bisa terjadi. Dengan mekanisme tersebut,
tidak ada orang yang mempunyai kekuasaan yang berlebihan untuk mengambil
risiko atas nama perusahaan. Mekanisme control yang baik juga memastikan tidak
adanya pemusatan kekuasaan pada satu dua orang saja. Pemusatan tersebut akan
menghalangi mekanisme check and balances. Salah satu contoh kegagalan
mengelola risiko yang terkenal adalah kasus Bank Baring. Bank Baring
mengalami kebangkrutan pada pertengahan tahun 1990-an karena satu orang
tradernya (Nick Leeson) membawahi dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi
pencatatan (back office function) dan fungsi trading (front-office function).
Dengan kata lain, ia melakukan trading dan juga mencatat trading-nya. Jika ia
mengalami keuntungan, ia akan mencatat keuntungan tersebut. Tetapi jika ia
mengalami kerugian, ia akan menyembunyikan kerugian tersebut. Akibatnya
kerugian yang dialaminya tidak ada yang mengawasi, sampai akhirnya kerugian
tersebut tidak terkendali (melebihi modal Bank Baring). Karena ia melakukan
trading atas nama Bank Baring, maka bank tersebut terpaksa mengalami
kebangkrutan.
E. Menetapkan batas (limits)
Penentuan batas (limits) merupakan bagian integral dari manajemen risiko.
Manajer harus diberitahu kapan bisa/harus jalan dan kapan harus berhenti.
Keptusan bisnis bisa diumpamakan sebagai gas, sedangkan manajemen risiko bisa
diumpamakan sebagai rem. Jika manajemen risiko tidak berfungsi sebagaimana
mestinya, maka perusahaan bisa diumpamakan seperti mobil yang melaju kencang
tanpa ada rem. Penetapan batas akan tergantung dari tipe risikonya. Sebagai
contoh, untuk risiko pasar, batas risiko barangkali VAR maksimum tertentu,
pembatasan pada jenis instrument yang bisa diperdagangkan, kualifikasi trader,
durasi, batas untuk stop-loss (jika kerugian mencapai batas tertentu, maka posisi
dijual, untuk mencegah kerugian yang semakin membesar). Untuk risiko kredit,
pembatasan mencakup antara lain, konsentrasi kredit pada nasabah, sektor
tertentu, atau negara tertentu, tingkat risiko dari calon nasabah.Untuk risiko
operasional, batas risiko mencakup antara lain standar kualitas minimum (misal
jumlah maksimum kesalahan yang bisa ditolerir) untuk operasi, sistem, dan
proses. Penetapan batas bisa diperluas untuk mengendalikan risiko bisnis. Sebagai
contoh, perusahaan bisa menetapkan prosedur dan mekanisme fungsi-fungsi
perusahaan, seperti menetapkan prosedur yang standar untuk rekrutmen
(kualifikasi minimum, investigasi latar belakangnya, dsb), disclosure
(pengungkapan) produk, hukuman dan kompensasi jika pegawai perusahaan
melakukan pelanggaran atau menerapkan perilaku manajemen risiko tertentu.
F. Fokus Pada Aliran Kas
Aliran kas yang seharusnya menjadi perhatian perusahaan. Banyak kejahatan atau
pelanggaran yang pada dasarnya ingin mengambil kas dari perusahaan. Karena itu
manajemen risiko yang baik harus bisa melakukan pengawasan yang memadai
terhadap kas perusahaan. Pengawasan tersebut bisa merupakan pengawasan yang
sederhana, misal adanya otorisasi untuk setiap cek yang dikeluarkan, atau untuk
transfer uang. Mekanisme pengawasan yang lain adalah pengecekan konsistensi
antara transaksi kas dengan posisi kas. Banyak contoh dimana kegagalan
mengawasi kas bisa menimbulkan masalah. Sebagai contoh, Enron mencatat laba
bersih sebesar $3,3 milyar selama lima tahun 1996-2000. Pada periode yang sama,
Enron hanya melaporkan $114 juta kas yang diterima, hanya 3 persen dari laba
bersih. Sepertinya dibutuhkan waktu yang terlalu lama bagi Enron untuk merubah
labanya menjadi kas. Periode yang terlalu lama tersebut bisa menjadi indikator
ada sesuatu yang salah yang terjadi pada perusahaan. Pada akhirnya, terbukti
bahwa Enron melakukan manipulasi catatan akuntansi sehingga penjualan yang
dilaporkan, dan laba yang diperoleh, terlalu tinggi dari yang sebenarnya.
G. Sistem Insentif Yang Tepat
Sistem insentif yang tepat akan membuat seseorang berperilaku tertentu. Sebagai
contoh, jika kita ingin mendisiplinkan karyawan, kita bisa membuat sistem
insentif yang menghargai kedisiplinan dan menghukum ketidaksiplinan.
Karyawan yang disiplin diberi bonus, karyawan yang tidak disiplin dipotong
bonusnya. Sama halnya dengan membangun perilaku kesadaran risiko. Sistem
insentif juga bisa digunakan untuk merubah perilaku seseorang agar menjadi lebih
sadar akan risiko.
Sebagai contoh, Chase menggunakan Shareholders Valua Added (SVA) sebagai
cara untuk mendorong perilaku sadar risiko. Manajer Chase akan dinilai
berdasarkan SVA yang mereka ciptakan. SVA dihitung sebagai berikut ini:
SVA = Pendapatan operasional – Beban untuk modal
Beban untuk modal dihitung berdasarkan risiko dari modal tersebut. Sebagai
contoh, jika manajer menggunakan modal untuk kegiatan yang berisiko, maka
beban modal akan lebih besar, sesuai dengan risiko yang lebih tinggi tersebut.
Melalui cara tersebut, risiko dikaitkan dengan kinerja. Jika manajer melakukan
aktivitas yang berisiko, maka ia harus bisa menghasilkan keuntungan yang lebih
besar untuk mengkompensasi risiko tersebut.
Jika manajer dibebani dengan target penjualan, tanpa memperhitungkan risiko,
maka manajer akan selalu berusaha meningkatkan penjualan. Ada kemungkinan
besar bahwa risiko perusahaan dalam situasi tersebut akan meningkat, karena
secara umum ada hubungan positif antara risiko dengan tingkat keuntungan
(termasuk penjualan). Manajer akan memasuki wilayah yang lebih berisiko karena
mengejar target penjualan tersebut. Perusahaan harus bisa memberikan target
yang realistis. Sebagai contoh, jika perusahaan menetapkan target pertumbuhan
penjualan sebesar 25% ketika rata-rata industri hanya mempunyai pertumbuhan
penjualan sebesar 5%, maka target semacam itu cenderung mendorong perilaku
yang berisiko tinggi. Sistem insentif yang tidak tepat merupakan akar
permasalahan dari banyak kasus manajemen risiko.

H. Mengembangkan Budaya Sadar Risiko


Sisi keras manajemen risiko (perhitungan kuantitatif, struktur organisasi, dan
semacamnya) perlu diimbangi dengan sisi lunak (soft side) manajemen risiko,
seperti budaya sadar risiko.

Mendorong sisi lunak tersebut bisa dilakukan melalui antara lain:


1) Menetapkan suasana keseluruhan (setting the tone) yang kondusif untuk perilaku
yang berhati-hati, mulai dari atas dengan menunjukkan komitmen dari manajemen
puncak.
2) Menetapkan prinsip-prinsip manajemen risiko yang bisa mengarahkan budaya,
perilaku, dan nilai risiko dari organisasi
3) Mendorong komunikasi yang terbuka untuk mendiskusikan isu risiko, dampak
risiko tersebut, belajar bersama dari kejadian-kejadian di perusahaan atau di
perusahaan lain.
4) Memberikan program pelatihan dan pengembangan yang berkaitan dengan
manajemen risiko
5) Mendorong perilaku yang mendukung manajemen risiko melalui evaluasi dan
sistem insentif yang sesuai