Anda di halaman 1dari 7

MANAJEMEN RISIKO

Disusun Oleh:

Syach Frialdo

4516030061

Dosen Pengajar:

Kadunci, SE, M.Si

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS TERAPAN

2020
SOAL:

1. Jika anda diminta membuat program manajemen risiko bank, bagaimana anda
memulainya ? jelaskan langkah-langkah anda
2. Kenapa modal dikaitkan dengan risiko? Kaitan dengan konsep expected loss dan
unexpected loss.
3. Jelaskan konsep perhitungan modal berbasis risiko berdasarkan basel 1!
4. Jelaskan kerangka basel II
5. Kenapa pengukuran kinerja SVA bisa mengurangi pertumbuhan aset dalam konteks
Chase Manhattan Bank ?
6. Jelaskan perhitungan VAR dan stress test yang dilakukan oleh Chase Manhattan
Bank!

Jawaban:

1. Berikut adalah langkah-langkah membuat program manajaemen risiko bank yang


saya terapkan:
1. Lingkungan internal, proses pertama ini berkaitan dengan lingkungan perusahaan
beroperasi. Mulai dari risk-management philosophy, integrity, risk-perspective,
risk-appetite (penerimaan risiko), ethical values, struktur organisasi, hingga
pendelegasian wewenang yang dilakukan oleh perusahaan.
2. Penentuan sasaran, langkah selanjutnya adalah penentuan tujuan dari organisasi
agar risiko dapat didentifikasi, diakses, dan dikelola sesuai dengan tujuan tersebut.
Objective ini bisa kita klasifikasikan menjadi dua yaitu strategic objective yang
berfokus pada perwujudan visi-misi dan activity objective yang bertujuan pada
aktivitas seperti operasi, reportasi, dan kompliansi.
3. Identifikasi peristiwa, berikutnya adalah mengidentifikasi kejadian-kejadian
potensial yang memengaruhi strategi atau pencapaian tujuan dari organisasi.
Kejadian tidak pasti tersebut bisa berdampak positif (opportunities), namun dapat
pula sebaliknya yang lebih sering kita sebut sebagai risiko (risk).
4. Penilaian risiko, langkah ini menilai sejauh mana kejadian atau keadaan tadi dapat
mengganggu pencapaian tujuan. Besarnya dampak dapat dianalisis melelui dua
perspektif, yaitu likelihood (kecenderungan atau peluang) dan
impact/consequence (besaran dari terealisirnya risiko).
5. Tanggapan risiko, setelah itu organisasi harus menentukan sikap atas hasil
penilaian risiko. Tanggapan ini dapat berupa menghindari (avoidance) risiko,
mengurangi (reduction) risiko, memindahkan (sharing) risiko, dan menerima
(acceptance) risiko, tergantung dengan risiko yang dihadapi.
6. Aktivitas pengendalian, proses ini berperan dalam penyusunan kebijakan-
kebijakan dan prosedur-prosedur untuk menjamin risk response terlaksana dengan
efektif. Aktivitas pengendalian ini berupa pembuatan kebijakan dan prosedur,
pengamanan kekayaan organisasi, delegasi wewenang dan pemisahan fungsi, serta
supervisi atasan.
7. Informasi dan komunikasi, fokus dari langkah ini adalah menyampaikan informasi
yang relevan kepada pihak terkait melalui media komunikasi yang sesuai dan
tepat. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi dan
komunikasi adalah kualitas informasi, arah komunikasi, dan alat komunikasi.
8. Pemantauan, langkah terakhir adalah monitoring, baik yang dilaksanakan secara
terus menerus (on-going) maupun terpisah (separate evaluation). Pada proses
monitoring, perlu dicermati adanya kendala seperti reporting deficiencies, yaitu
pelaporan yang tidak lengkap atau bahkan berlebihan (tidak relevan).
2. Penerapan manajemen risiko pada bank berperan dalam meningkatkan shareholder
value, memberikan proyeksi mengenai potensi kerugian dimasa mendatang bagi
pengelola bank, selain itu pula untuk menentukan modal yang diperlukan untuk
menutup risiko yang dibandingkan dengan potensi pendapatan yang dihasilkan.
Expected loss atau anticipated loss adalah kerugian yang sudah diantisipasi oleh bank
dalam aktivitas bisnis. Kerugian yang diperkirakan perbankan dapat menyimpang dan
itu belum diperhitungkan dalam cadangan biaya yang disebut Unexpected loss. Untuk
menutup risiko tersebut, bank meyediakan modal untuk menutup risiko kredit, risiko
pasar dan risiko operasional. Kebutuhan penyediaan modal minimum (KPMM) diatur
oleh regulator dan juga disebut sebagai Capital Adequacy Racio (CAR), yaitu rasio
yang membagi modal dengan asset tertimbang menurut risiko (ATMR).
3. Basel I merupakan hasil usaha pertama The Basel Committee on Banking Supervision
(BCBS) dalam menciptakan metodologi standar untuk menghitung besarnya risk-
based capital yang harus dimiliki Bank.
BCBS didirikan pada tahun 1974 oleh gubernur bank sentral dari the Group of Ten
(G10) untuk menfokuskan pada regulasi perbankan dan praktik supervisi. G10
mempunyai 11 negara anggota, yaitu Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Italia,
Belanda, Swedia, Swiss, Inggris, Amerika, dan Jepang. Anggota BCBS terdiri atas
perwakilan bank sentral dan supervisor dari G10 + Spanyol + Luxemburg (total ada
13 anggota).
Basel I hanya mencakup risiko kredit dan keterkaitan antara risiko dan modal masih
kasar (kurang sensitif). Di Basel I, target rasio modal ditetapkan sebesar 8% (Basel II
tetap memakai rasio modal 8% ini).
BCBS memiliki tiga tujuan utama dalam mengembangkan Basel I, yaitu:
- Memperkuat keandalan dan stabilitas dari sistem perbankan internasional.
- Menciptakan kerangka yang adil dalam mengukur kecukapan modal bank
internasional.
- Mengembangkan kerangka yang dapat diimplementasikan secara konsisten
dengan tujuan untuk mengurangi persaingan yang tidak seimbang di antara bank
internasional.
Perhitungan permodalan berbasis resiko dalam basel 1 perhitungan CAR (capital
adequacy ratio) secara sederhana yaitu:
MODAL (tier 1+ tier 2) ATMR (eksposur, tingkat resiko) (aktiva tertimbang menurut
resiko), dan hasil pembagian tersebut minimal 8% Pada basel 1 modal dibagi menjadi
2:
a) (Tier 1) Modal inti yang benar-benar disetorkan ke bank dalam bentuk ekuitas
dan cadangan yang dilaporkan dalam bentuk retained earning yang
ditampilkan di laporan keuangan bank.
b) (Tier 2) Modal yang didapat dari ekuitas tapi bersifat supplementary capital :
1. Cadangan yang tidak dilaporkan tetapi tetap diketahui oleh pengawas
sector perbankan.
2. Revaluasi asset sesuai standar akuntansi di negaranya c. Cadangan untuk
potensi kredit macet.
3. Modal dalam bentuk instrument pasar.
4. Pinjaman dalam jangka lebih dari 5 tahun Sedangkan ATMR nya
ditentukan oleh BI berdasarkan subjektivitas BI, cth: jika bank membeli
obligasi pemerintah tingkat resikonya 0, tetapi jika membeli obligasi
swasta resikonya 1 inilah yang tidak baik dari basel 1 karena ATMR nya
hanya didasarkan atas penilaian subjektivitas semata dari BI.

4. BASEL II adalah sebuah pendekatan kerangka dalam manajemen risiko khususnya


terhadap penilaian risiko bank dan aspek keuangan lain. Tujuan dari BASEL II
adalah:
- Meyakinkan bahwa alokasi capital lebih sensitive terhadap risiko
- Memisahkan risiko operasional dari risiko kredit dan mengkuantifikasi keduaya
- Berusaha mensejajarkan kapital ekonomi dan peraturan secara lebih dekat untuk
mengurangi ruang lingkup pengadilan peraturan
Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan, dengan
menitikberatkan pada perhitungan permodalan yang berbasis risiko, supervisory
review process dan market discipline. Kerangka Kerja Basel II disusun berdasarkan
forward-looking approach yang memungkinkan untuk dilakukan penyempurnaan dan
penyesuaian dari waktu ke waktu. Hal ini untuk memastikan bahwa Kerangka Kerja
Basel II dapat mengikuti perubahan yang terjadi di pasar maupun perkembangan-
perkembangan dalam manajemen risiko.

Basel II mempunyai tingkat kerumitan dan mensyaratkan suatu prakondisi yang


cukup berat bagi dunia perbankan. Namun hal ini akan memberi manfaat bagi
perbankan itu sendiri, yaitu penghematan modal untuk menutup resiko yang
diambilnya. Selain itu, bagi perbankan yang telah menerapkan Basel II akan lebih
mudah untuk diterima oleh pasar global karena Basel II itu sendiri merupakan standar
yang diakui secara internasional.
BASEL II telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi acuan bagi
perbankan maupun para praktisi mengenai bagaimana menjaga ketahanan modal dan
praktik-praktik terbaik dalam menjaga risiko dengan konsep 3 pilar yaitu :

Pilar I: Kebutuhan modal minimum


1. Risiko Kredit
Komite BASEL menggunakan pendekatan risiko tertimbang untuk menghitung
kebutuhan modal. Meskipun demikian, risiko tertimbang harus disesuaikan
berdasarkan rating yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat atau lembaga
penilaian kredit seperti Standard & Poor’s atau Moody’s. Berbagai teknik seperti
kredit derivative, netting agreement, warranties akan menjadi sesuatu yang
penting dalam menentukan level risiko baik itu untuk sekarang maupun risiko
yang terkait dengan fluktuasi harga pasar.
2. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko kehilangan yang terjadi karena kondisi pasar seperti
bunga, imbal hasil dan kurs mata uang.
3. Risiko Operasi
Didefinisikan sebagai risiko yang dihasilkan dari kesalahan proses bisnis dalam
perusahaan, manusia, dan kejadian-kejadian luar, termasuk risiko hukum.
Pengecualian dari risiko ini adalah strategi dan risiko reputasi.

Pilar II: Proses Pengawasan


Pilar yang kedua berfokus kepada aspek kegiatan pengawasan yang dilakukan
sebuah badan dewan pengawas nasional yang bertanggung jawab terhadap
penilaian dari kualitas sistem manajemen risiko perbankan. Tugasnya antara lain:
1. Melakukan monitoring terhadap kepatuhan terhadap persyaratan minimum,
termasuk pengungkapannya
2. Memberikan proses pengembangan dan teknik dalam manajemen risiko
3. Meneragamkan kualitas penilaian risiko internal dan pencapaian kecukupan
permodalan
4. Mencegah dan mendeteksi ketika terjadi penurunan permodalan

Empat kunci utama dari sebuah bentuk pengawasan kepada perbankan yaitu :
1. Bank wajib menilai keseluruhan kebutuhan permodalannya
2. Supervisor menilai dan mengevaluasi penilaian permodalan
3. Bank harus menjalankan aturan minimum rasio permodalan
4. Pengawasan awal dari supervisor
Pilar III: Displin Pasar
Tujuan dari pilar III ini adalah untuk memastikan bahwa disiplin terhadap pasar
menjadi pendukung terhadap pilar-pilar lainnya. Pengungkapan risiko data akan
memberikan umpan balik mengenai informasi yang akan didapatkan di dalam
institusi. Untuk hal itu, sudah menjadi kewajiban bagi semua bank untuk
mengungkapkan kebijakan dan aturan yang di setujui oleh direksi.
5. Chase meluncurkan program SVA sebagai bagian dari manajemen risiko bank. Chase
ingin mengkomunikasikan konsep manajemen risiko yang tidak terlalu kompleks,
mudah dipahami oleh semua tingkatan dalam organisasi. SVA pada dasarnya
merupakan konsep residual income yaitu menghitung laba dengan pengurangan beban
untuk modal dari pendapatan operasional dengan rumus sebagai SVA = pendapatan
operasional – beban untuk modal. Metode SVA digunakan untuk mengevaluasi
kinerja unit pemberian kredit. Melalui metode SVA manajer unit kredit akan melihat
risiko dari kredit yang akan diberikan sehingga mereka akan berhati-hati dalam
mengambil keputusan pemberian kredit.
6. Chase menggunakan beberapa ukuran risiko pasar, yaitu Value At Risk (VAR),
stress-testing, dan ukuran non-statistik lainnya. Ketiga ukuran tersebut diharapkan
memberikan gambaran risiko pasar yang komprehensif yang dihadapi oleh Chase.

Chase menggunakan VAR harian dengan confidence level 99%. Chase menghitung
VAR dengan metode histories, yaitu dengan menggunakan data satu tahun terbaru
untuk indikator pasar seperti tingkat bunga, perubahan kurs, harga pasar saham dan
komoditas, dengan asumsi indikator tersebut bisa memprediksi kondisi di masa
mendatang. Metode simulasi data histories digunakan dengan menggunakan nilai
indikator harian pada saat pasar tutup. Chase menghitung VAR untuk setiap posisi
individu, dan agregat berdasarkan tipe bisnis, geografis, valuta asing, dan tipe risiko.
Tentu saja Chase juga menyadari bahwa validitas model tersebut tergantung dari
kualitas data yang dipakai, karena itu Chase juga melakukan back-testing untuk
melihat akurasi model VAR tersebut.