Anda di halaman 1dari 21

PERAN BERFIKIR KRITIS PADA PROSES KEPERAWATAN

A. BERFIKR KRITIS

1. Pengertian Berfikir Kritis


Berfikir kritis adalah proses mental untuk menganalisa/mengevaluasi informasi. Berfikir
kritis adalah suatu kemampuan bagaimana perawat mampu berfikir dengan sistematis dan
menerapkan standar intelektual untuk menganalisis proses berfikir.
Berfikir kritis dalam keperawatan adalah suatu komponen penting dalam
mempertanggungjawabkan profesionalisme dan kualitas pelayanan asuhan keperawatan.
Pemikir kritis dalam keperawatan adalah seseorang yang mempunyai ketrampilan
pengetahuan untuk menganalisis, menerapkan standar, mencari informasi, menggunakan alasan
rasional, memprediksi dan melakukan transformasi pengetahuan.
2. Karakteristik Berfikir Kritis
Menurut Wilkinson, 1992 karakteristik berfikir kritis dalam keperawatan pada prinsipnya
merupakan satu kesatuan dari:
1. Berfikir (thingking)
2. Merasakan (feeling)
3. Melakukan (doing)
Sebelum mempelajari lebih jauh tentang model THINK, perlu dipelajari asumsi yang
menggarisbawahi pendekatan lima model tersebut, yaitu:
Asumsi pertama adalah berfikir, merasa dan keahlian mengerjakan seluruh seluruh
komponen esensial dalam keperawatan dengan bekerjasama dan saling berhubungan.
Berfikir tanpa mengerjakan adalah suatu kesia-siaan. Mengerjakan sesuatu tanpa
berfikir adalah membahayakan dan berfikir atau mengerjakan sesuatu tanpa perasaan
adalah sesuatu yang tidak mungkin. Perasaan diketahui sebagai status afektive yang
mempengaruhi berfikir dan mengerjakan dan harus dipertimbangkan saaat belajar
berfikir dan menyimpulkan sesuatu. Pengakuan atas 3 hal (thingking, feeling dan
doing) mengawali langkah praktek profesional ke depan.
Asumsi yang kedua mengakui bahwa berfikir, merasakan dan mengerjakan tidak bisa
dipisahkan dari kenyataan praktek keperawatan. Hal ini dapat dipelajari dengan
mendiskusikan secara terpisah mengenai ketiga hal tersebut. Meliputi belajar
mengidentifikasi, menilai dan mempercepat kekuatan perkembangan dalam berfikir,
merasa dan mengerjakan sesuai praktek keperawatan.
Asumsi yang ketiga bahwa perawat dan perawat pelajar bukan papan kosong, mereka
dalam dunia keperawatan dengan berbagai macam keahlian berfikir. Model yang
membuat berfikir kritis dalam keperawatan meningkat. Oleh karena itu, bukan
merupakan suatu kesungguhan yang asing jika mereka menggunakan model sama
yang digunakan setiap hari.
Asumsi yang keempat yang mempertinggi berfikir adalah sengaja berbuat sesuai
dengan pikiran dan yang sudah dipelajari.
Asumsi yang kelima bahwa pelajar dan perawat menemukan kesulitan untuk
menggambarkan keahlian mereka berfikir. Sebagian orang jarang bertanya
“bagaimana palajar dan perawat berfikir”, selalu yang ditanyakan adalah “apa yang
kamu pikirkan”
Asumsi yang keenam bahwa berfikir kritis dalam keperawatan merupakan gabungan
dari beberapa aktivitas berfikir yang bersatu dalam konteks situasi dimana berfikir
dituangkan.
Karakteristik berfikir kritis yaitu sebagai berikut:
1. Konseptualisasi adalah proses intelektual membentuk suatu konsep. Sedangkan
konsep sendiri adalah fenomena atau pandangan mental tentang realitas, pikiran-
pikiran tentang kejadian, objek, atribut dan lain-lain. Konseptualisasi adalah pikiran
abstrak yang di generalisasikan secara otomatis menjadi simbol yang disimpan di
otak.
2. Rasional dan beralasan yaitu yang diberikan selalu berdasarkan analisis dan
mempunyai dasar yang kuat dari fakta dan fenomena yang nyata.
3. Reflektif adalah seseorang pemikiran kritis tidak menggunakan asumsi dan persepsi
dalam berfikir atau mengambil keputusan tetapi akan menyediakan waktu untuk
mengumpulkan data dan menganalisis berdasarkan disiplin ilmu, fakta dan kejadian.
4. Bagian dari suatu sikap adalah pemahaman dari suatu sikap yang harus diambil
pemikir kritis selalu menguji apakah suatu yang dihadapi itu lebih baik atau lebih
lebih buruk dibanding yang lain.
5. Kemandirian berfikir adalah seseorang berfikir kritis selalu berfikir dalam dirinya
tidak pasif menerima pikiran dan keyakinan orang lain menganalisis semua isu,
memutuskan secara benar dan dapat dipercaya
6. Berfikir kritis adalah berfikir kreatif yaitu secara tradisional, profesi perawatan dan
pendidikan keperawatan termasuk kurang kreatif. Namun, saat ini telah ada
perubahan untuk membuat seorang perawat berfikir kreatif yaitu selalu menggunakan
keterampilan intelektual untuk menciptakan berdasarkan suatu pemikiran yang baru
dan dihasilkan dari sintetis beberapa konsep.
7. Berfikir adil dan terbuka adalah mencoba untuk berubah dari pikiran yang salah dan
kurang menguntungkan menjadi benar dan lebih baik.
8. Pengambilan keputusan berdasarkan keyakinan adalah berfikir kritis digunakan
untuk mengevaluasi suatu argumentasi dan kesimpulan, menciptakan suatu pikiran
baru dan alternatif solusi tindakan yang akan diambil.

3. Model Think Berfikir Kritis


Lima (5) model berfikir kritis yang dikembangkan pada praktek keperawatan yaitu:
1. Total recall
Total recall berarti mengingat fakta atau mengingat dimana dan bagaimana untuk
mendapatkan fakta/data ketika diperlukan. Data keperawatan bisa dikumpulkan dari banyak
sumber yaitu pembelajaran didalam kelas, informasi dari buku, segala sesuatu yang perawat
perolah dari klien atau orang lain, data klien dikumpulkan dari perasaan klien, instrument (darah,
urine, feses dll) dsb. Total recall juga membutuhkan kemampuan untuk mengakses pengetahuan
dengan adanya pengetahuan akan menjadikan sesuatu dipelajari dan dipertahankan dalam
pikiran. Masing-masing individu mempunyai pengetahuan yang berbeda-beda dalam pikiran
mereka. Ada sekelompok yang mempunyai pengetahuan sangat luas dan ada yang sebaliknya.
Keperawatan diawali dengan pengetahuan yang minimal tetapi kemudian secara pesat meluas
seiiring dengan adanya sekolah-sekolah keperawatan.
2. Habits (kebiasaan)
Habits merupakan pendekatan berfikir ditinjau dari tindakan yang diulang berkali-
kali sehingga menjadi kebiasaan dialami. Mereka menerima apa yang mereka kerjakan
menghemat waktu dan mudah untuk dilakukan. Manusia selalu menggambarkan sesuatu yang
mereka kerjakan sebagai kebiasaan seperti “saya mengerjakan sesuatu diluar pikiran”. Hal ini
merupakan kebiasaan dalam keperawatan karena tindakan yang dilakukan tidak menggunakan
proses berfikir. Hal ini terjadi jika proses perfikir sudah berakar dalam diri mereka dalam melihat
sesuatu atau kemungkinan yang terjadi, dibawah sadar. Habits mengikuti sesuatu yang
dikerjakan diluar metode baru setiap waktu.
3. Inquiry/ Penyelidikan
Inquiry merupakan latihan mempelajari suatu masalah secara mendalam dan
mengajukan pertanyaan yang mendekati kenyataan. Jika kita berada di tingkat pertanyaan ini
dalam situasi sosial, kita akan disebut “mendesak”. Hal ini meliputi penggalian data dan
pertanyaan, khususnya pendapat dalam situasi tertentu. Ini berarti tidak menilai dari raut wajah,
mencari faktor-faktor yang menyebabkan, keragu-raguan pada kesan pertama dan mengecek
segalanya, tidak ada masalah bagaimana memperlihatkan ketidaksesuaian. Inquiry merupakan
kebutuhan primer dalam berfikir yang digunakan untuk menyimpulkan sesuatu. Kesimpulan
tidak dapat diambil jika tanpa inquiry, tetapi kesimpulan akan lebih akurat jika menggunakan
inquiry.
Inquiry bisa diwujudkan melalui:
1. Melihat sesuatu (menerima sesuatu)
2. Mendapat kesimpulan awal
3. Mengakui keterbatasan pengetahuan yang dimiliki
4. Mengumpulkan data atau informasi mendekati masalah utama
5. Membandingkan informasi baru dengan yang sudah diketahui
6. Menggunakan pertanyaan netral
7. Menemukan satu atau lebih kesimpulan
8. Memvalidasi kesimpulan utama dan alternatif untuk mendapatkan informasi
lebih banyak lagi.
4. New idea and creativity
Ide baru dan kreativitas terdiri dari model berfikir unik dan bervariasi yang
khusus bagi individu. Kekhususan dalam berfikir ini akan selalu dibawa individu selama
hidupnya dan biasanya membentuk kembali norma. Seperti inquiry, model ini membawa sesuai
ide dari litelature. Berfikir kreatif merupakan kebalikan dan akhir dari habits model (kebiasaan).
Dari kalimat “melakukan sesuatu seperti biasa” menjadi “mari mencoba cara baru”. Berfikir
kreatif tidak untuk menjadi pengecut, tetapi salah satu kadang-kadang akan terlihat bodoh dan
tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Pemikir kreatif menghargai kesalahan yang mereka
lakukan untuk mempelajari nilai.
Ide baru dan kreatifitas sangat penting dalam keperawatan karena merupakan
dasar dalam merawat pelanggan atau klien. Banyak hal yang harus dipelajari perawat untuk
menjadi cocok terpadu dan bekerja menyesuaikan keunikan klien. Perawat mempunyai standart
pendekatan untuk menghemat waktu perawatan dan secara keseluruhan bekerja dengan baik
tetapi cara kerja perawat berbeda satu sama lain.
5. Knowing how you think
Knowing how you think merupakan yang terakhir tetapi bukannya yang paling
tidak ndihiraukan dari model THINK yang berarti berfikir tentang apa yang kita pikirkan.
Berfikir tentang berfikir disebut “metacognition”. Meta berati “diantara atau pertengahan” dan
cognition berarti “proses mengetahui”. Jika kita berada diantara proses mengetahui, kita akan
dapat mengetahui bagaimana kita berfikir.

B. PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien.

Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji
dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik,
mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap ini mencakup tiga kegiatan,yaitu
Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah kesehatan serta keperawatan.
a. Pengumpulan data

Tujuan :

Diperoleh data dan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga
dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang
menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual serta faktor lingkungan yang
mempengaruhinya. Data tersebut harus akurat dan mudah dianalisis.

Di dalam pengkajian terdapat :


1. Data Dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien,
kemampuan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil
konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya.
2. Data Fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap
kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang
dilaksanakan terhadap klien.

Jenis data antara lain:

 Data Objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan
pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit.
 Data subjekif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari
keluarga pasien/saksi lain misalnya; kepala pusing, nyeri dan mual.

- Karakteristik Data
1. Lengkap
Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu mengatasi masalah klien
yang adekuat. Misalnya klien tidak mau makan selama 3 hari. Perawat harus
mengkaji lebih dalam mengenai masalah klien tersebut dengan menanyakan hal-
hal sebagai berikut: apakan tidak mau makan karena tidak ada nafsu makan atau
disengaja? Apakah karena adanya perubahan pola makan atau hal-hal yang
patologis? Bagaimana respon klien mengapa tidak mau makan.
2. Akurat dan nyata
Untuk menghindari kesalahan, maka perawat harus berfikir secara akurat dan
nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang didengar, dilihat, diamati dan
diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang
mungkin meragukan. Apabila perawat merasa kurang jelas atau kurang mengerti
terhadap data yang telah dikumpulkan, maka perawat harus berkonsultasi dengan
perawat yang lebih mengerti. Misalnya, pada observasi : “klien selalu diam dan
sering menutup mukanya dengan kedua tangannya. Perawat berusaha mengajak
klien berkomunikasi, tetapi klien selalu diam dan tidak menjawab pertanyaan
perawat. Selama sehari klien tidak mau makan makanan yang diberikan”, jika
keadaan klien tersebut ditulis oleh perawat bahwa klien depresi berat, maka hal
itu merupakan perkiraan dari perilaku klien dan bukan data yang aktual.
Diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk menetapkan kondisi klien.
Dokumentasikan apa adanya sesuai yang ditemukan pada saat pengkajian.
3. Relevan
Pencatatan data yang komprehensif biasanya menyebabkan banyak sekali data
yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu dalam mengidentifikasi.
Kondisi seperti ini bisa diantisipasi dengan membuat data komprehensif tapi
singkat dan jelas. Dengan mencatat data yang relevan sesuai dengan masalah
klien, yang merupakan data fokus terhadap masalah klien dan sesuai dengan
situasi khusus.
- Sumber Data
1. Sumber data primer
Klien adalah sumber utama data (primer) dan perawat dapat menggali
informasi yang sebenarnya mengenai masalah kesehatan klien.
2. Sumber data sekunder
Orang terdekat, informasi dapat diperoleh melalui orang tua, suami atau istri,
anak, teman klien, jika klien mengalami gangguan keterbatasan dalam
berkomunikasi atau kesadaran yang menurun, misalnya klien bayi atau anak-
anak, atau klien dalam kondisi tidak sadar.
3. Sumber data lainnya
a. Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya. Catatan kesehatan
terdahulu dapat digunakan sebagai sumber informasi yang dapat
mendukung rencana tindakan perawatan.
b. Riwayat penyakit Pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan
merupakan riwayat penyakit yang diperoleh dari terapis. Informasi yang
diperoleh adalah hal-hal yang difokuskan pada identifikasi patologis dan
untuk menentukan rencana tindakan medis.
c. Konsultasi Kadang terapis memerlukan konsultasi dengan anggota tim
kesehatan spesialis, khususnya dalam menentukan diagnosa medis atau
dalam merencanakan dan melakukan tindakan medis. Informasi tersebut
dapat diambil guna membantu menegakkan diagnosa.
d. Hasil pemeriksaan diagnostik Seperti hasil pemeriksaan laboratorium dan
tes diagnostik, dapat digunakan perawat sebagai data objektif yang dapat
disesuaikan dengan masalah kesehatan klien. Hasil pemeriksaan
diagnostik dapat digunakan membantu mengevaluasi keberhasilan dari
tindakan keperawatan.
e. Perawat lain Jika klien adalah rujukan dari pelayanan kesehatan lainnya,
maka perawat harus meminta informasi kepada perawat yang telah
merawat klien sebelumnya. Hal ini untuk kelanjutan tindakan
keperawatan yang telah diberikan.
f. Kepustakaan. Untuk mendapatkan data dasar klien yang komprehensif,
perawat dapat membaca literatur yang berhubungan dengan masalah
klien. Memperoleh literatur sangat membantu perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat.
- Adapun focus dalam pengumpulan data meliputi :

 Status kesehatan sebelumnya dan sekarang


 Pola koping sebelumnya dan sekarang
 Fungsi status sebelumnya dan sekarang
 Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan
 Resiko untuk masalah potensial
 Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien

b. Analisa data

Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir rasional


sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.

c. Perumusan masalah
Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan.
Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan Asuhan Keperawatan
(Masalah Keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan
medis. Selanjutnya disusun Diagnosis Keperawatan sesuai dengan prioritas. Prioritas
masalah ditentukan berdasarkan kriteria penting dan segera.

Penting mencakup kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan


komplikasi, sedangkan Segera mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang
tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang
lebih parah atau kematian.

Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut


Maslow, yaitu : Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam
kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan keperawatan.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status
kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga
status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000).

Perumusan diagnosa keperawatan :

 Actual : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
 Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak dilakukan
intervensi.
 Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan
masalah keperawatan kemungkinan.
 Wellness : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga atau masyarakat dalam
transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
 Syndrom : diagnose yang terdiri dar kelompok diagnosa keperawatan actual dan resiko
tinggi yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.

3. Rencana keperawatan

Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status
kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan
(Gordon,1994).

Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. Rencana perawatan terorganisasi


sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan.
Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi konyinuitas asuhan
perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai
kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten.
Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam
laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka
panjang(potter,1997)

4. Implementasi keperawatan

Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap
pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders
untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang
spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan
klien.

Adapun tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :

 Tahap 1 : persiapan

Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi
pada tahap perencanaan.

 Tahap 2 : intervensi

Focus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari
perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan
meliputi tindakan : independen,dependen,dan interdependen.

 Tahap 3 : dokumentasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat
terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

5. Evaluasi

Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan


keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses
dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan
membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat
kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya.

Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut:

 Proses asuhan keperawatan, berdasarkan criteria/ rencana yang telah disusun.


 Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan criteria keberhasilan yang telah di rumuskan
dalam rencana evaluasi.

Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mecapai tujuan. Hal ini
bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien
terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan:
1. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan)
2. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan untuk mencapai
tujuan)
3. Meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih lama
untuk mencapai tujuan)

Hasil Evaluasi

Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :

1. Tujuan tercapai,apabila pasien telah menunjukan perbaikan/ kemajuan sesuai


dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2. Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal,
sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya.
3. Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan/kemajuan
sama sekali bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk
mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa,
tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak
tercapainya tujuan.

Jenis Evaluasi terdiri dari Evaluasi Sumatif dan Evaluasi Formatif

  Evaluasi berjalan (sumatif)


Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisan format catatan perkembangan
dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai
adalah format SOAP.
 Evaluasi akhir (formatif)
Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan
dicapai. Bila terdapat kesenjangaan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam
proses keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data, masalah atau rencana
yang perlu dimodifikasi

Setelah seorang perawat melakukan seluruh proses keperawatan dari pengkajian sampai dengan
evaluasi kepada pasien ,seluruh tindakannya harus didokumentasikan dengan benar dalam
dokumentasi keperawatan.
STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL
A. Definisi Standar Praktik Keperawatan
Norma atau penegasan tentang mutu pekaryaan seorang perawat yang dianggap baik,
tepat dan benar yang dirumuskan sebagai pedoman pemberian asuhan keperawatan serta
merupakn tolok ukur dalam penilaian penampilan kerja seorang perawat.
Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia, praktik keperawatan adalah tindakan
pemberian asuhan perawat profesional baik secara mandiri maupun kolaborasi, yang disesuaikan
dengan lingkup wewenangdan tanggung jawabnya berdasarkan ilmu keperawatan. Standar
praktek keperawatan adalah batas ukuran baku minimal yang harus dilakukan perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan. Standar praktek keperawatan ini digunakan untuk
mengetahui proses dan hasil pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien sebagai fokus
utamanya.

B. Praktek keperawatan profesional mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


· Otonomi dalam pekerjaan
· Bertanggung jawab dan bertanggung gugat
· Pengambikan keputusan yang mandiri
· Kolaborasi dengan disiplin lain
· Pemberian pembelaan
· Memfasilitasi kepentingan pasien

C. Klasifikasi Standar Praktk Keperawatan


1. Perawat dan Pelaksana Praktek Keperawatan
Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standart praktek
keperwatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai dengan standart pendidikan Keperawatan.
Perawat sebagai anggota profesi, setiap saat dapat mempertahankan sikap sesuai dengan standart
profesi keperawatan.

2. Nilai-nilai Pribadi dan Praktek Profesional


Adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi pada ruang lingkup praktek keperawatan dan
bidang teknologi medis akan mengakibatkan terjadinya peningkatan konflik antara nilai-nilai
pribadi yang memiliki perawat dengan pelakasana praktek yang dilakukan sehari-hariselain itu
pihak atasan membutuhkan bantuan dari perawat untuk melaksanakan tugas pelayanan
keperawatan tertentu , dilain pihak perawat mempunyai hak untuk menerima atau menolak tugas
tersebut sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka.

D. Standar praktik keperawatan


Karena keperawatan telah meningkat kemandiriannya sebagai suatu profesi, sejumlah standar
praktek keperawatan telah ditetapkan. standar untuk praktek sangat penting sebagai petunjuk
yang obyektif untuk perawat memberikan perawatandan sebagai kriteria untuk melakukan
evaluasi asuhan ketika standar telah didefinisikan secara jelas, klien dapat diyakinkan bahwa
mereka mendapatkan asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi, perawat mengetahui secara
pasti apakah yang penting dalam pemberian askep dan staf administrasi dapat menentukan
apakah asuhan yang diberikan memenuhi standar yang berlaku

E. Standar Perawatan
Menguraikan tingkat asuhan keperawatan yang kompeten seperti yang diperlihatkan oleh proses
keperawatan yang mencakup semua tindakan penting yang dilakukan oleh perawat dalam
memberikan perawatan dan membentuk dasar pengambilan keputusan klinik:
1) Pengkajian: Perawat mengumpulkan data kesehatan pasien
2) Diagnosa: Perawat menganalisis data yang diperoleh melalui pengkajian untuk menentukan
diagnosa
3) Identifikasi hasil: Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan secara individual pada
pasien
4) Perencanaan: Perawat membuat rencana perawatan yang memuat intervensi-intervensi
untukuntuk mencapai hasil yang diharapkan
 
5) Implementasi: Perawat mengimplementasikan intervensi-intervensi yang telah diidentifikasi
dalam rencana perawatan
6) Evaluasi: Perawat mengevaluasi kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil

F. Standar Kinerja Profesional


1) Kualitas perawatan: perawat secara sistematis mengevaluasi kualitas dan keefektifan praktik
keperawatan
2) Penilaian kinerja: Perawat mengevaluasi praktik keperawatan dirinya sendiri dalam
hubungannya dengan standar-standar praktik profesional dan negan peraturan yang relevan
3) Pendidikan: Perawat mendapatkan dan mempertahnkan pengetahuan sekarang dalam praktik
keperawatan
4) Kesejawatan: Perawat memberikan kontribusi pada perkembangan profesi dari teman sejawat,
kolega dan yang lainnya
5) Etik: Keputusan dan tindakan perawat atas nama pasien ditentukan dengan cara etis
6) Kolaborasi: Perawat melakukan kolaborasi dengan pasien, kerabat lain, dan pemberi
perawatan kesehatan dalam memberikan perawatan pada pasien
7) Riset: Perawat menggunakan temuan riset dalam praktik
8) Penggunaan sumber: Perawat mempertimbangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan
keamanan.
 

G. Manfaat Standart Praktek Keperawatan


a) Praktek Klinis
Memberikan serangkaian kondisi untuk mengevaluasi kualitas askep dan merupakan alat
mengukur mutu penampilan kerja perawat guna memberikan feeedbeck untuk perbaikan.
b) Administrasi Pelayanan Keperawatan
Memberikan informasi kepada administrator yang sangat penting dalam perencanaan pola staf,
program pengembangan staf dan mengidentifikasi isi dari program orientasi.
c) Pendidikan Keperawatan
Membantu dalan merencanakan isi kurikulum dan mengevaluasi penampilan kerja mahasiswa.
d) Riset Keperawatan
Hasil proses evaluasi merupakan penilitian yang pertemuannya dapat memperbaiki dan
meningkatkan kualitas askep.
e) Sistem Pelayanan Kesehatan
Implementasi standar dapat meningkatkan fungsi kerja tim kesehatan dalam mengembangkan
mutu askep dan peran perawat dalam tim kesehatan sehingga terbina hubungan kerja yang baik
dan memberikan kepuasan bagi anggota tim kesehatan.

H. Lingkup Standar Keperawatan


a. Lingkup dari definisi keperawatan
b. Falsafah dan tujuan keperawatan
c. Fungsi pelayanan keperawatan
d. Organisasi pelayanan keperawatan
e. Proses keperawatan
f. Tindakan keperawatan independen
g. Catatan askep, meliputi cara, isi dan format-format yang digunakan
h. Kualifikasi tenaga keperawatan
i. Peran dan fungsi keperawatan
j. Administrasi pelayanan dan keperawatan

I. Kerangaka kerja pengembangan standar praktek keperawatan


1.  Struktur
a. Falsafah, tujuan
b. Lingkup, konsep keperawatan, peran dan fungsi, kualifikasi
c. Organisasi dan administrasi pelayanan keperawatan
d. Fasilitas fisik dan perlengkapan
e. Insentif profesional dan finansial

 
2.  Proses
Asuhan keperawatan: Pengkajian, Perencanaan, Implementasi, Evaluasi
3.  Hasil
– Pengaruh/efek dan kemajuan askep:
     a. Status kesehatan
     b. Kegiatan
     c. Tingkat pengetahuan
– Kepuasan klien
– Kepuasan perawat

J. Metode dan Implementasi Standar Praktek Keperawatan


Metode yang digunakan untuk menyusun standar keperawatan, yaitu:
1) Proses Normatif: Standar dirumuskan berdasarkan pendapat ahli profesional dan pola praktek
klinis perawat di dalam suatu badan/institusi tertentu.
2) Proses Empiris: Standar dirumuskan berdasarkan hasil penilitian dan praktek keperawatan
yang dapat dipertanggung jawabkan.

K. Hubungan Standar dan Legislasi


Legislasi diperlukan untuk menopang, melaksanakan, membina dan memberi pemantauan
Standar Praktek Keperawatan untuk melindungi pasien dan perawat.

IMPLIKASI PROSES KEPERAWATAN TERHADAP PRAKTIK KEPERAWATAN


PROFESIONAL MENDATANG
Praktik keperawatan dimasa mendatang harus dapat berorientasi pada pelayanan kepada
klien. Hal ini berdasarkan pada trenn perubahan dan persaingan yang semakin ketat saat ini. Oleh
karena itu dimasa mendatang nanti peerawat diharapkan dapat mendefinisikan,
mengimplementasikan dan mengukur perbedaan tentang praktik keperwatan yang seharusnya
berperan sebagaai indukator atas terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan
yang profesional.
Sementara itu, karena kualitas pelayanan keperawatan dimasa mendatang belum jelas,
maka perawat profesional nantinya harus dapat memberikan dampak yang positif terhadap
kualitas sistem pelayanan kesehatan, yaitu :
1) Memahami dan menerapkan peran perawat.
2) Komitmen terhadap identitas keperawatan
3) Perhatian terhadap perubahan dan tren pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
4) Komitmen dalam memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan kesehatan melalui upaya
kreatif dan inofati.

Implikasi pelayanan keperawatan dimasa mendatang dapat dijawab dengan


menerjemahkan tuntutan masyarakat akan pelayayanan keperawatan yang profesional
berdasarkan “ profil perawat profesional dan milenium” tersebut di bawah ini.
 Perawat indonesia dimasa depan harus dapat memberikan asuhan keperawatan dengan
pendekatan proses keperawatan yang berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK  dan
tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat dituntut untuk mampu menjawab dan
mengantisipasi dampak dari perubahan. Sebagai perawat profesional, peran yang di emban harus
lebih mandiri (independen), sehingga pelaksanaanya dapat dipertanggung jawabkan dan
dipertanggung gugatkan.

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT PROFESIONAL DI MASA YANG AKAN DATANG


A. Definisi
Peran
Peran adalah tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengan
kedudukan dalam sistem, yang dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial (dari profesi atau luar
profesi) .
Perawat
Menurut UU RI NO 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, mendefinisikan Perawat adalah mereka
yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakkan keperawatan berdasarkan
ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan.

B. Peran Perawat
Peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari :
1. Pemberi Asuhan Keperawatan
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan
diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai
dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat
perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana
sampai dengan kompleks.
2.  Advokat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain
khusunya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada
pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi
hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi,
hak untuk menntukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bhkan tindakan yang diberikankan, sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi
pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat
terarah serta sesuai dengan kebutuan klien.
5. Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri
dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan
keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk
pelayanan selanjutnya.
6. Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap
informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
7. Peneliti / Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,
perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan.

Selain peran perawat berdasarkan konsirsium ilmu kesehatan, terdapat pembagian peran perawat
menurut hasil lokakarya keperawatan tahun 1983, yang membagi empat peran perawat:
1. Peran Perawat sebagai Pelaksana Pelayanan Keperawatan
Peran ini dikenal dengan peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara
langsung atau tidak langsung kepada klien sebagai individu, keluarga, dan masyarakat,
dengan metoda pendekatan pemecahan masalah yang disebut proses keperawatan.
2. Peran Perawat sebagai Pendidik dalam Keperawatan
Sebagai pendidik, perawat berperan dalam mendidik individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat serta tenaga kesehatan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Peran ini
berupa penyuluhan kepada klien, maupun bentuk desiminasi ilmu kepada peserta didik
keperawatan.
3. Peran Perawat sebagai Pengelola pelayanan Keperawatan
Dalam hal ini perawat mempunyai peran dan tanggung jawab dalam mengelola
pelayanan maupun pendidikan keperawatan sesuai dengan manajemen keperawatan dalam
kerangka paradigma keperawatan. Sebagai pengelola, perawat melakukan pemantauan dan
menjamin kualitas asuhan atau pelayanan keperawatan serta mengorganisasikan dan
mengendalikan sistem pelayanan keperawatan. Secara umum, pengetahuan perawat tentang
fungsi, posisi, lingkup kewenangan, dan tanggung jawab sebagai pelaksana belum
maksimal.
4. Peran Perawat sebagai Peneliti dan Pengembang pelayanan Keperawatan
Sebagai peneliti dan pengembangan di bidang keperawatan, perawat diharapkan mampu
mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode penelitian, serta
memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan dan
pendidikan keperawatan. Penelitian di dalam bidang keperawatan berperan dalam
mengurangi kesenjangan penguasaan teknologi di bidang kesehatan, karena temuan
penelitian lebih memungkinkan terjadinya transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi,
selain itu penting dalam memperkokoh upaya menetapkan dan memajukan profesi
keperawatan.

C. Fungsi Perawat
Dalam menjalan kan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya:
1. Fungsi Independent
Merupan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan
fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit,
pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktifitas dan lain-lain), pemenuhan
kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan
harga diri dan aktualisasi diri.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatan atas pesan atau instruksidari
perawat lain. Sehingga sebagian tindakan pelimpahan tugas yang di berikan. Hal ini
biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat primer
ke perawat pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara
tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan
membutuhkan kerja sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan
keperawatan pada penderita yang mempunyapenyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat
diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun yang lainnya.

D. Tanggung Jawab Perawat


1. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga , kelompok atau
masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat
sederhana sampai pada masalah yang kompleks.
2. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus
memperhatikan klien berdasrkan kebutuhan significan dari klien.

E. Peran Perawat menurut :


1. Peran perawat menurut lokakarya Nasional (1983) : sebagai pelaksana pelayanan
keperawatan, pengelola pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan
2. Menurut Doheny (1982) mengidentifikasikan beberapa elemen peran perawat
profesional sebagai berikut:
1) Sebagai pemberi asuhan keperawatan (Care giver)
Sebagai pelaku/pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan
pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien,
menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : melakukan pengkajian
dalam upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa
keperawatan berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan
sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah/cara
pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana
yang ada dan melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilakukan.
2) Sebagai pembela untuk melindungi klien (Client advocate)
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien
dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela
kepentingan klien dank lien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang
diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun profesional.
Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan
fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus
dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai advokat (pembela klien)
perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam
pelayanan keperawatan.
3) Sebagai pemberi bimbingan/konseling klien (Counselor)
Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien
terhadap keadaan sehat-sakitnya. Adanya pola interaksi ini merupakan dasar dalam
merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya. Memberikan
konseling/bimbingan kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah
kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan kepada individu/keluarga dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu, pemecahan
masalah difokuskan pada masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup kearah
perilaku hidup sehat.
4) Sebagai pendidik klien (Educator)
Sebagai pendidik klien, perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya
melalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan
medik yang diterima sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab
terhadap hal-hal yang diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat
memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi,
kader kesehatan, dan lain sebagainya.
5) Sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat bekerja sama dengan
tenaga kesehatan lain (Collaborator)
Perawat bekerjasama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam
menentukan rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi
kebutuhan kesehatan klien.
6) Sebagai koordinator agar dapat memanfaatkan sumber-sumber potensi klien
(Coordinator)
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik
materi maupun kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi
yang terlewatkan maupun tumpang tindih.
Dalam menjalankan peran sebagai koordinator, perawat dapat melakukan hal-hal
sebagai berikut :
 Mengkoordinasi seluruh pelayanan keperawatan
 Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas
 Mengembangkan sistem pelayanan keperawatan
 Memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan
keperawatan pada sarana kesehatan.
7) Sebagai pembaharu yang selalu dituntut untuk untuk mengadakan perubahan-
perubahan (Change agent)
Sebagai pembaharu, perawat menggadakan invasi dalam cara berfikir,
bersikap, bertingkah laku dan meningkatkan keterampilan klien/keluarga agar
menjadi sehat. Elemen ini mencakup perencanaan, kerjasama, perubahan yang
sistematis dalam berhubungan dengan klien dan cara memberikan perawatan kepada
klien.
8)  Sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan masalah klien
(Consultan)
Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan klien terhadap
informasi tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat
dikatakan perawat adalah sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik
klien (Ali Z.H, 2002:5-9).

3. Menurut Lokakarya Nasional (1998), peran perawat adalah :


1) Pelaksana pelayanan keperawatan
2) Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan
3) Pendidik dalam keparawatan
4) Peneliti dan pengembang keperawatan

4. Menurut Schulman (1986), peran perawat adalah hubungan perawat dan klien sama
dengan hubungan ibu dan anak, antara lain :
1) Hubungan interpersonal disertai dengan kelembutan hati dan rasa kasih sayang.
2) Melindungi dari ancaman dan bahaya
3) Memberi rasa nyaman dan aman
4) Memberi dorongan untuk mandiri

F. Fungsi perawat (Pk St. Carolus, 1983)


1. Fungsi Pokok
Membantu individu, keluarga, masyarakat baik sakit maupun sehat dalam melaksanakan
kegiatan yang menunjang kesehatn, kesembuhan, menghadapi kematian yang pada
hakikatnya dapat mereka laksanakan tanpa bantuan apabila mereka memiliki kekuatan,
kemauan dan pengetahuan. Bantuan yang diberikan bertujuan menolong dirinya sendiri
2. Fungsi Tambahan
Membantu individu, keluarga, masyarakat dalam melaksanakan pengobatan yang
ditentukan oleh dokter
3. Fungsi Kolaboratif
Sebagai tim kesehatan, bekerjasama dalam merencanakan dan melaksanakan program
kesehatan yg mencakup pencegahan, peningkatan, penyembuan dan rehabilitasi

G. Fungsi Perawat (Phaneuf,1972)


1. Fungsi dependent, yaitu malaksanakan instruksi dokter
2. Observasi gejala dan respon pasien yang berhubungan dengan penyakit dan
penyebabnya
3. Memantau pasien, menyusun dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus
menerus pada kondisi dan kemampuan pasien
4. Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien
5. Mencatat dan melaporkan keadaan pasien
6. Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan
7. Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
mental