Anda di halaman 1dari 76

Kolektor E-book (https://www.facebook.

com/groups/Kolektorebook/) 0

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 1

PEDANG JANG
MENGGETARKAN
SUNGAI TELAGA

SADURAN : OKT

DJILID : 2

PENERBIT :
U.P. MATAHARI DJAKARTA

Telah diteliti No. Pendaft.: 012/P KOMDAK VII DJAYA

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Scan & OCR: Mukdhan
Distribusi & Arsip : Yon Setiyono

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 2

PEDANG JANG
MENGGETARKAN SUNGAI TELAGA
SADURAN : OKT

Djilid 2

Ketika Lim Pek Houw bersama Ngo Pak Yan kembali dari
rumah Kee Eng dengan membawa berita bahwa Kee Eng nekad
melindungi Njonja Tio dan anaknja, Tjui Hoa tertawa dingin dan
katanya pintoo datang ke Selatan ini buat melakukan
penangkapan terhadap pemburon, ini melulu disebabkan
perhubungan pribadi diantara pintoo dan Gui Siangsie.
Sebenarnja pintoo ingin bekerdja sebat, langsung menjerbu
sipemburon dan membekuknja, supaja mereka tidak sempat
berdaja, sajang Ngo Suhu memikir lain, ia masih mengingat
persahabatannja dengan orang she Beng itu, ia mau mentjoba
berdaja supaja Kee Eng menjerahkan sipemburon. Sekarang ia
gagal. Ini pula bagaikan suatu kisikan buat pemburon itu kabur
pula. Pintoo pernah pesiar di wilajah Tionggoan, pernah pintoo
mendengar namanja Tiat Pit Tin Pat-hong Beng Kee Eng jang
pipudji karena liehaynja dia punja ilmusilat Bun-tjiang-pit dan
dua puluh empat panah Pek Ie Tjian. Pastilah dia djumawa dan
tak melihat mata kepada undang-undang negara. Karena itu, ingin
pintao menempurnja dengan kebutanku ini!"
Berkata begitu, imam itu tertawa tawar, matanja melirik Pak
San.
Sebagai seorang laki-laki sedjati, Pak San gusar. Ia tahu
imam itu menghina padanja. Sjukur ia dapat menguasai dirinja, ia
tidak mau melayani si imam. Iapun ingat, kalau ia bentrok de
imam itu, mungkin tiga muridnja jang bekerja di kantor Heng-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 3

pou bisa mendapat susah. Sekarang ia mau bekerdja sama


disebabkan niatnja membantu ketiga muridnja itu, jang telah
minta pertolongan
Setelah itu, Tjui Hoa Toodjin mengatur daya upajanja.
Demikianlah ia menjuruh Lim Pek Houw bersama Ngo Pak San
membawa delapanbelas orang polisi berkuda pergi memasang
mata ditempat penting, buat memegat, mengedjar atau
menanangkap andaikata pemburon kena dipergoki sedang kabur.
Ia sendiri bertindak lain. Jalah ia menugaskan tigapuluh tukang
panah mengurung dan djagai Hui Hong Kok, jang ia hendak
geledah, telah memikir, kalau restoran itu kosong, baru mau
mengadjak pasukannja menjusul rombonga Lim Pek Houw.
Sebaliknja, kalau Beng Kee masih bersembunji, ialah jang bakal
memperoleh hasil bagus. Njatalah terkaannja itu tepat.
Ketika Tjui Hoa Toodjin sampai di Hui Hong Kok, habis
mengatur orang-orangnja, dia melompat naik keatas sebuah
pohon yangliu jang besar, untuk dari situ mengintai kerumahnja
Kee Eng segera mendapat kenjataan rumah itu tidak kosong. Ia
lantas mendjadi girang sekali. Ia bangga sendirinja jang
terkaannja tepat. Tapi ia tidak mau segera turun tangan, ia mau
menanti sampai Eng sendiri jang masuk dalam perangkap. Ia
punjai kesabaran untuk menunggu.
Demikianlah Kee Eng menanti tibanja malam. Ia keluar
bersama-sama djiehudjin dan In Hiong. Tapi baru satu tindak ia
muntjul dalam pagar, anak-anak panah sudah menjambarnja.
sendjata terbang itu telah mendahului memperdengarkan suaranja
jang berisik. Ia mendjadi kaget dan gusar. Mengertilah ia bahwa
orang telah mendjebaknya. Dalam gusarnja itu, ia mendamprat:
"Oh, kawanan andjing dorna, kamu sangat djahat! Bagaimana
kamu hendak menghabiskan keluarga setia?”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 4

Dengan kedua tangannja, djago ini menghalau setiap batang


anak-panah, setelah itu ia lompat madju, untuk menghadjar roboh
dua tukang panah jang terdekat, jang disebelah kiri, ketika ia mau
menghadjar pula musuh jang disebelah kanan, tiba-tiba ia
mendengar tertawa njaring ja ng berkumandang ditengah udara,
menjusul mana dari atas pohon jangliu jang tinggi melompat
turun satu bajangan anusia. Diterangnja sinar rembulan, ia
menjaksikan orang mahir sekali ilmu ringan tubuhnja, hingga
djadi kagum berbareng terkedjut.
Segera djuga terlihat djelas, bajangan itu sedang imam jang
berkopiah dan berdjubah kuning, ia mendjadi kuatir djiehudjin
dan It Hiong terantjam bahaja maka ia lantas mengambil
tindakan, turun tangan terlebih dahulu. Maka djuga ia mulai
menjerang, menotok si imam pada djalan darah hoan-tiauw-hiat
diiga sebelah kiri.
Tjui Hoa Toodjin sudah bersiap sedia, tak kena ia ditotok,
malah sebaliknja, ia bisa lantas membalas menjerang, maka
disitu, keduanja segera bergebrak.
Pertarungan mendjadi sangat seru walaupun baru lima
djurus.
Djusteru itu sekonjong-konjong terdengar ta-gisan Tio
Kongtju. Djiehudjin dan anaknja itu antas kembali masuk
kedalam selekasnja datang serangan gelap tadi terhadap Beng
Kee Eng. Kee Eng kaget, ia menerka kepada bahaja jang
mengantjam si njonja atau puteranja itu, karenanja lantas ia
mendesak lawan, setelah mana, ia lompat mundur, buat lari
masuk kedalam pagar.
Tjai Hoa Toodjin lompat menjusul, tapi segera dirintangi tiga
batang panah Pek-ie-jang dilepaskan Kee Eng untuk menghadan
Karena itu, ia mendjadi repot akan mengha djatuh dahulu anak-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 5

anakpanah itu. Kebutan bentrok dengan udjung panah hingga


menerbitkan latu api dan memperdengarkan suara njaring.
Biar bagaimana, si imam tua toh tertjengang sedjenak.
Selagi si imam berdiam, Kee Eng lari ke dalam rumahnja,
tapi ia lantas mendjadi kaget karena didepan pintu ia melihat It
Hiong lagi menangis sambil memeluk tubuh ibunja, ibu mana
rupanja tadi telah ditubruk puteranja itu.
Sesudah melihat lebih tegas, darahnja Beng Kauw bergolak.
Djiehudjin bermandikan darah, disebabkan dua batang anak-
panah menantjap didadanja.
"Enso!" ia berseru.
Djiehudjin membuka kedua matanja, ia berkata kata lemah:
"Saudara, aku sudah tidak berdaja lagi ..... lekas kau adjak It
Hiong menjingkir!”I
Berkata begitu, njonja ini menggunakan ke tangannja
memegang gagang anak-panah, bukan buat ditjabut, hanja dengan
sekuat tenaganja, ia djust menusukkan lebih dalam. Hingga ia
mengeluarkan djeritan tertahan, djeritan terachir, sebab segera
telah putus djiwa.
It Hiong mendjerit. Ia mendekam pula di buh ibunja itu, air-
matanja mengutjur deras bagaikan hudjan.
Kee Eng djuga kaget dan berduka bukan kepalang, kembali
darahnja bergolak. Djusteru ia bukannja dia menangis, dia bahkan
tertawa keras dan lama. Mendadak dia berhenti tertawa. Tiba-tiba
dia melihat barang berkilau berkelebat turun menjambar
kearahnja. Kaget dan gugup, ia menjambret It Hiong, buat ditarik
ke sisinja. Lalu tepat sekali, sendjata itu—sebuah golok tadjam—
menancap di mukanja djiehudjin, hingga muka itu petjah,
terbelah dua berikut kepalanja!

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 6

Darahnja si njonja muntjrat berhamburan!


Hebat pemandangan itu!
Kee Eng berpaling dengan segera. Maka ia melihat Tjui Hoa
Toodjin lagi berdiri dipagar bambu tengah mengawasi kearah
mereka. Karena imam ituah jang menimpuk dengan golok jang
didjadikan sebagai sendjata rahasia itu.
Hampir Beng Kauw kalap, sjukur mendadak ia ingat It
Hiong. Keselamatan si anak jang paling utarna.
Anak itupun menangis dan berkata: "Paman, tidak mau pergi,
aku hendak menunggui ibu!..."
Entah disebabkan pemandangan hebat itu, setahu bagaimana,
imam dari Kauw Louw San itupun berdiri tertjengang sadja. Hal
itu memberikan kesempatan baik kepada Kee Eng, jang sadar
akan tugasnja, tanggung-djawabnja, jang besar luar biasa.
Maka sambil mengertak gigi, mendadak ia menotok It Hiong,
buat membikin anak itu pingsan, sesudah mana ia menjambar dan
mengempitnja, buat dibawa kabur. Dengan Bun-tjiang-pit ia
menjerang jui Hoa jang hendak merintangi padanja.
Selandjutnja bertempurlah mereka berdua jampai, disaat
djago ini hampir putus asa, Hoay Giok muntjul, untuk
membantunja, buat menghalangi si imam, hingga ia berhasil
kabur terus. Ia sadar muridnja bukan lawan imam itu tetapi ia
makan hati, terpaksa ia mesti korbankan muridnja
Kee Eng kabur terus sampai lebih dari sepuluh lie, ketika ia
melihat tidak ada pengedjar dibelakangnja, baru ia berhenti
berlari-lari. Melegakan napas sesudah meletakkan It Hiong
rumput dan menotok menjadarkannja. Ia menengadah kelangit, ia
memandang kelilingan. Es memenuhi bumi, sedangkan rembulan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 7

bagaika gantung diangkasa. Angin bertiup halus membuat orang


merasa njaman.
Didalam kesunjian djago ini mendjadi sangat berduka.
Ketika Tio Kongtju mendusin, ia lantas buka matanja. Iapun
lantas bergerak bangun, dengan airmata bertjutjuran, ia lompat
menuju Beng Kauw.
"Paman, mana mama?" teriaknja. "Tanpa mama tak mau aku
ikut paman ..."
Seterusnja, anak itu lantas menangis.
Bukan main sulitnja Kee Eng. Ia berduka dan berkuatir,
iapun bingung. Bagaimana mengurus botjah ini? Ia mendjadi
ingat hal ichwalnya dahulu, semasa ia sedang terluka dan Tio
Taydjin merawat dia sebagai saudara dan Hudjin sering
mendampinginja, merawat dan menghiburnja Semua itu
berbajang didepan mat Djiehudjin djuga memperlakukan ia baik
sekali, sekarang, djusteru njonja itu datang berlindung kepadanja,
didepan matanja sendiri, tak dapat membelanja .....
Djago ini djago sedjati tetapi toh ia me tjurkan airmata .....
Sekonjong-konjong Kee Eng berseru, hingga seruannja itu
berkumandang disekitarnja, di djagat jang sunji-senjap itu .....
"Oh, Thian!" ia mengeluh. "Thian jang kuasa, hidupnja Beng
Kee Eng tanpa tjatjat tak disangka bahwa malam ini aku mesti
menanggung dosa seperti ini ... . Sekalipun aku mesti mati seratus
kali, tak sanggup aku menebusnya …!”
Habis mengeluh, djago ini menarik napas pandjang. Ia
membanting-banting kaki. Kemudian ia meogempo It Hiong.
"Anak, djangan menangis," katanja menghibur. "Tangisanmu
bagaikan tusukan pedang kepada dadaku. Pertjaja aku, akan aku

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 8

balaskan sakit-hatinja ibumu! Sekarang, anak, mari kau turut aku


ke Kiu Hoa San, guna mentjari guru silat jang pandai! Nanti,
setelah kau pandai, tidak sadja kau akan dapat membalas sakit-
hati ibumu ini tetapi djuga kau harus membasmi semua orang
Kang-Ouw djahat itu jang membantu dorna!"
Mendengar suara itu, benar-benar Tio Kongtju berhenti
menangis, dengan mata bersinar luar biasa, dia menatap
penolongnja, kemudian dia mengangguk.
"Baik, aku tak akan menangis lagi!" sahutnja, bagaikan ia
seorang dewasa. "Aku akan beladjar silat, sesudah aku besar dan
pandai, akan aku binasakan semua orang Kang Ouw jang busuk!"
"Bagus, anak," kata Kee Eng, jang terus menghibur anak itu.
Kata-katanja itupun bagaikan andjuran, maka djuga kemudian,
banjak peristiwa berdarah berlaku dalam dunia Lok Lim, Rimba
Hidjau .....
– oOo –

Gunung Kiu Hoa San terletak di Selatan propinsi Anhui,


gunungnja tinggi dan banjak puntjaknja, setiap hari penuh dengan
mega dan kabut, di musim semi tersebarkan bunga, dimusim
rontok gundul daun daunnja. Taklah heran kalau didalam hutan
lebat diatas gunung itu terdapat djuga banjak binatang buronan
dan berbisa. Pay In Nia adalah salah sebuah puntjak kemana
Beng Kee Eng bawa It Hiong pergi .....
Sesudah melakukan perdjalanan duapuluh hari lebih barulah
Kee Eng bersama It Hiong sampai dikaki gunung, karena kuda
kereta tak dapat memandjat naik, mereka terpaksa berdjalan kaki
selama dua hari mereka masih suka bertemu pemburu atau tukang
pentjari kaju, masih ada ru rumah jang berdiri mentjil sendiri,
habis itu, mereka tak bertemu siapa djuga.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 9

It Hiong masih ketjil tetapi dia kuat berdjalan. Darah kim-lin-


boan membuat tubuhnja kuat ulat, hingga dia tak mudah
mendjadi letih. Hi dia dapat menjaingi keulatan Kee Eng, paman
angkatnja itu. Lagipula, selama dua hari pertama tertarik dengan
keindahan rimba digunung itu, banjak pohon aneh-aneh, hingga
dia sering menanya ini dan itu kepada Kee Eng. Disitupun sering
nampak tjurug dan solokan dengan airnja jang djernih. Kadang-
kadang angin besarpun bergemuruh diantara dahan-dahan dan
daun-daun pohon tjemara.
Sjukur Kee Eng kenal djalanan, djadi tak usah dia mendapat
kesulitan karena tersesat ditengah daerah pegunungan itu. Dia
dapat menuju langsung ke Pay In Nia.
It Hiong telah minum darah belut, tak urung dia bermandikan
keringat dan pakaiannja basah kujup, napasnja memburu, tetapi
hatinja kuat, mengertak giginja dan berdjalan terus mengngikuti
Kee Eng. Karena itu, dimana jang perlu, djago singgah untuk
meluruskan pernapasan merek tak tega melihat penderitaan si
botjah tetapi ia mengagumi hati orang jang keras dan kuat,
tubuhnya jang ulet.
"Anak," kata Kee Eng, "biar bagaimana, ini tak dapat kita
sampai dipuntjak Pay In Nia jang masih djauh disana, ditengah-
tengah gunung ini. Di depan situ djalananpun sukar dan
berbahaya pula sekarang ini, hari sudah tak siang lagi. Mari kita
mentjari tempat berlindung, besok pagi kita melandjutkan
pendakian kita ini."
Anak itu berdiam, ia mengawasi keatas gunung.
“Paman," katanja kemudian, "sebenarnja aku lelah sekali,
tetapi karena aku kuatir paman mengatakan aku tidak punja guna,
aku berdiam sadja …”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 10

Baru si botjah mengatakan demikian, tiba-tiba [tubuhnja


terkulai.
Kee Eng kaget sekali, ia lantas menubruk, buat mengasih
bangun. Ia menjesal jang ia kurang memahami kekuatan botjah
itu. Memang tadi, selain djalan djauh, ia telah berdjalan tjepat
sekali, selama mana It Hiong selalu mengintilinja.
Lekas-lekas djago ini mentjari air, untuk dikasih minum
kepada anak itu, jang iapun berikan obat Pek-tjoan Toan Hun Tan
buatan Tek Tjio Siang-djin, kemudian ia merebahkannja diatas
sebuah batu lebar.
Selang beberapa saat, It Hiong sudah sadar dari pingsannja,
lantas dia mengawasi paman itu, yang lagi mendelong
mengawasinja. Tiba-tiba dia tertawa.
“Paman, bukankah benar aku tidak punja guna?" tanjanja.
"Lihat sadja, paman tidak mengeluarkan peluh tetapi aku, aku
letih sekali ... "
Kee Eng mengawasi. Ia sangat kagum. "Kau hebat, anak,"
katanja didalam hati. 'Lihat, kalau kau sudah beladjar silat pada
Tek Tjio Siangdjin, entah berapa pesat kemadjuanmu nanti ..."
It Hiong telah hilang lelahnja, bahkan parasnja nampak
bersemu merah. Dia tampan sekali matanja tjeli, bibirnja merah
dadu. Mestinja, seorang berbakat baik, dia sangat tjerdas.
Untuk melewati sang malam, Kee Eng lantas bekerdja. Ia
memasang tenda dari kain minyak supaja malam itu mereka tak
sampai basah ketimpa embun.
Besoknja pagi-pagi, dua orang ini sudah lantas melandjutkan
perdjalanan mereka. Kee Eng dapati kesehatan si botjah sudah
pulih. Walau demikian, kali ini ia memperhatikannja. Tak ia
membuat orang terlalu letih seperti kemarin.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 11

Tiba ditempat dimana It Hiong tak dapat mendaki lebih


djauh, Kee Eng berkata kepadanya "Anak Hiong, mari aku
gendong kau!" Ia berkata sembari tertawa.
It Hiong tidak membantah, ia terus gemblok dipunggung
pamannja itu.
"Peluk aku erat-erat, anak," kata Kee "Kau berhati-hatilah!"
Selekasnja ia menutup mulutnja, Kee En sudah berlari-lari
mendaki gunung. Ia menggun Keng Sin Sut, ilmu ringan tubuh,
jang pernah ia jakinkan selama duapuluh tahun. Karena itu ia
bagaikan berlompatan naik. Ia menggunakan kaki dan tangannja,
hingga gerak-geriknja mirip seekor kera. Setelah melintasi dua
buah puntjak, dahinya sudah penuh peluh. Ia masih berdjalan
terus, hingga tiba didepan sebuah djurang dibawah mana
terdengar suara air mengguruh keras. Disitu ia berhenti bertindak,
atau ia akan terdjeblos kedalam tempat tjuram itu. Ia mengawasi
kedalam djurang dan melihat solokan jang dalamnja lima tombak
lebih.
"Selewatnja solokan ini," kata ia pada It riiong, "sesudah
melewati dua puntjak itu, tibalah jah kita ditempat tudjuan, jakni
puntjak Pay In Nia. Untuk turun disini, orang mesti menggunakan
pek Houw Kang, Ilmu Tjetjak, jaitu berdjalan melapai seperti
binatang merajap itu. Kalau aku sendirian, dapat aku segera
turun, tetapi kita berdua, aku harus berhati-hati. Kau duduk disini,
djangan pergi kemana-mana, aku hendak mentjari rotan.”
Kee Eng lantas berlalu, tetapi ia kembali dengan lekas. Ia
membawa segulung rotan basah. Terus ia bekerdja menjambung-
njambung rotan itu, jang kemudian ia turunkan merojot kebawah,
kedalam djurang, sedangkan bongkotnja, jang ia pe-gangi, ia
lantas tambat kokoh-kuat pada sebuah pohon besar.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 12

"Sekarang, anak, mari kita turun!" katanja kemudian kepada


It Hiong, botjah mana ia lantas pondong, untuk digendong.
"Rangkullah aku erat-erat!"
It Hiong menurut. Maka dengan digendong itu, ia dibawa
turun. Kee Eng menggunakan kedua tangan dan kakinja melapai
turun didadung rotan itu. Dalamnja djurang itu mungkin seratus
tombak lebih. Tak terlalu lama, tibalah mereka didasar djurang.
Disitu Kee Eng menaruh kaki.
"Anak Hiong, apakah kau takut?" ia tanja puteranja Siu Pok
almarhum.
“Tidak!" sahut anak itu, tertawa. "Tjuma paman jang terlalu
letih!"
Kee Eng tertawa pula. Senang ia mendengar djawaban itu.
Itulah bukti dari njali besar. Kemudian ia mengawasi solokan,
jang merupakan sebuah kali lebar empat tombak lebih. Tak
sanggup ia melompati itu, apapula dengan membawa It Hiong.
Maka ia lantas berpikir. Ketika ia melihat dadung rotan, lantas ia
mendapat djalan. Ia putuskan rotan itu beberapa tombak
pandjangnja, udjung ia ikatkan batu, terus ia melemparkannja
keseberang kali, untuk disangkutkan pada batu. Ujung jang
lainnja ia tambat pada sebuah batu besar, maka djadilah
djembatan istimewa, dari seutas rotan.
"Nah, anak, mari kita menjeberang!" katanja pada It Hiong.
Berdjalan diatas rotan, Kee Eng menggunakan "Tjauw Siang
Hui,” ilmu "Terbang Di Rumput." Seperti tadi, It Hiong
digembloki dipunggungnja. Tak sulit buat mereka sampai dilain
tempat.
Didepan masih ada djalan mendaki pula. Kee Eng mesti
bermandikan peluh akan dapat naik, tiba diatas, mereka berhenti
dahulu, buat beristirahat sambil menangsal perut. Setelah itu,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 13

mereka melandjutkan perjalanan. Achirnja, diwaktu lohor tiba,


sudah mereka dikaki puntjak Pay In Nia. Disini Kee Eng hendak
beristirahat satu malam. Tak buru akan mendaki puntjak itu.
Disaat ia mau, mengadjak It Hiong mentjari tempat berlindung,
tiba-tiba matanja malihat sesuatu benda putih berkelebat di
atasannja, diatas puntjak. Ia mengawasi hingga ia mendapat
kenjataan itulah seekor kera putih besar jang lagi berdjalan turun.
Hingga iapun djadi ingat: "Bukankah itu keranja Tek Tjio Si
djin? Mungkinkah Siangdjin telah mengetahui datangan kami
berdua?"
Tjepat sekali kera itu sudah sampai, hingga nampak tegas
matanja jang bersinar tadjam.
"Tidak salah, dialah “Giok Nouw!" pikir Eng, jang segera
menjapa: "Giok Nouw, apa kau dititahkan Siangdjin menjambut
kami paman dan keponakan?"
Aneh binatang itu. Dia membuka mulut untuk tertawa dan
mengangguk. Kemudian dia ngangkat tangannja menundjuk It
Hiong.
Bukan main girangnja Beng Kauw. Ia berpaling kepada anak
sunbu itu dan berkata sembari tertawa: "Anak Hiong, djangan kau
takut terhadap kera ini, tetapi kaupun djangan memandangnja
ringan. Dia sangat tjerdas dan disajangi Siangdjin. Dia akan
mendjadi kakak seperguruanmu!”
Mulanja lt Hiong djeri djuga meskipun setelah melihat kera
itu, ia lantas merasa suka, sekarang, mendengar keterangannja
sang paman, Ienjap segera rasa takutnja itu. Bahkan ia mendjadi
berani sekali, ia menghampiri sang kera, buat diusap-usap
punggunpnja!

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 14

Sang kera membuka mulutnja lebar-lebar. Dia tertawa pula.


Kemudian dia berpaling keatas dan mengangkat-angkat
tangannja. Rupanja dia mau menundjukkan berapa tingginja
puntjak gunung itu.
It Hiong tidak mengerti. Kee Engpun bingung.
Melihat orang berdiam sadja, Giok Nouw mengangkat It
Hiong, buat dibawa berlompat. Anak itu mandah sadja, ia tak
takut sedikit djuga. Kee Eng terus mengawasi saking herannja. Ia
tahu, kera itu mengikuti Tek Tjio Siangdjin sudah tigapu-luh
tahun, dia bertenaga besar, dia dapat mengikuti orang berilmu itu
beladjar silat. Sajang dia tidak bisa bitjara, sedangkan dengan dia,
ia tidak pernah bergaul hingga ia tak tahu tanda-tanda atau
(isjaratnja buat bitjara dengan binatang itu. Heran! Kenapa kera
itu nampak demikian gembira?
Tengah Giok Nouw berlompatan bersama It iong, mendadak
dia berhenti sendirinja. Dengan tiba-tiba dia memperdengarkan
pekik sangat njaring dan lama, jang berkumandang ditanah
pegunungan itu. It Hiong terkedjut, apalagi ia lantas dikasih
turun. Menjusul pekiknja itu, kera itu berlompat kearah kiri di
mana ada sebuah tikungan.
Kee Eng heran. Ada apakah?
"Anak, djangan bergerak!" ia pesan kepada keponakannja.
"Akan ....."
Belum habis suaranja djago itu, dari tikungan kemana si kera
tengah menudju mendadak muncul seekor harimau jang besar,
maka kedua binatang itu lantas berhadapan satu dengan lain.
Sang kera segera menubruk. Harimau itu berkelit, tapi, bukan dia
lari, dia djusteru berbalik, untuk melawan, maka keduanja lantas
bertarung. Keduanja gesit sekali.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 15

Belum lama, kembali Giok Nouw berpekik njaring, hanja


kali ini dia sekalian lompat kepunggungnja si harimau, tangan
kirinja memegang kulit kepala harimau itu, tangan kanannja
menjambar keekor binatang itu, untuk ditarik, sedangkan kedua
kakinja dipakai mendjepit dengan keras.
Harimau itu meronta-ronta, dia meggereng betulang-ulang,
kemudian bagaikan kalap, dia mendaki puntjak, tapi ketika dia
sudah lari seratus tindak lebih, lantas dia kembali. Itulah karena si
kera memutar kepalanja, membuatnja lari balik.
Berlari-lari pergi-pulang itu diulangi sampai kira-kira
sepuluh kali lebih, paling belakang siharimau dikendalikan untuk
lari kearah It Hiong!
Kee Eng terkedjut, segera ia lompat kedepan botjah itu,
untuk menghadang.
Sang harimau lari mendekati tiga kaki mendadak dia
berhenti. Sang kerapun sudah melompat turun dari punggung
harimau itu, jang tubuhnja terus ditolak keras hingga mundur
setobak lebih.
Kembali terdjadi hal jaug aneh. Harimau itu lantas
mendekam, kepalanja diarahkan kepada Nouw, mulutnja bersuara
perlahan.
Giok Nauw membuat main mulutnja, lagi-lagi ,ja tertawa.
Lalu dia menghampiri harimau itu, untuk menarik kupingnja—
ditarik ke hadapan si botjah. Kemudian dia mengawasi It Hiong
sambil menepuk-nepuk punggung radja hutan itu.
It Hiong heran. Ia mengawasi. Ia mengerti, Giok Nouw
memberi isjarat buat ia naik menunggang harimau itu. Sekarang
ia tidak takut higi. ganja berdiam sedjenak, lantas ia lompat
menaiki sang harimau.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 16

Kee Eng terkedjut. Ia takut binatang itu mengganas. Tanpa


bersangsi pula, iapun melompat kepunggung sang harimau, buat
duduk di sebelah, belakangnja sikeponakan. Keduanja
berpegangan dengan keras.
Sampai disitu, Giok Nouw berpekik pula. Sang harimau
menggeram, terus dia lari.
Atas itu, sang kera lari menjusul.
Bukan main pesatnja sang harimau berlari lari, dia mendaki
puntjak.
Sementara itu hari sudah remang-remang, tanpa terasa, telah
tiba saatnja lampu dinjalakan. Tetapi, waktu sang harimau dan
dua orang penunggangnja sampai diatas puntjak, puntjak itu dan
sekitarnja masih terlihat tegas, banjak pepohonannja, tebal
rumputnja, indah pemandangan alamnja.
Diufuk timur, si Puteri Malam sudah mulai mengintai .....
Puntjak itu lebar kira-kira tiga bahu, sekitarnja ditumbuhi
pohon-pohon tjemara jang bertjampuran dengan batu-batu besar.
Bagian tengahnja bersih dari segalanja ketjuali beraneka ragam
pohon bunga, jang warnanja merah dan putih, jang baunja harum.
Disebe'ah utara tampak sebuah rumah bambu tutup atap.
Sambil memondong It Hioug, Kee Eng melompat turun dari
punggung harimau.
Giok Nouw mengawasi sang harimau, terus ia berpekik, atas
mana radja hutan itu bangkit buat terus kabur turun dari puntjak!
Dilain pihak, dari pepohonan bambu jang lebat didekat situ,
niuntjul bajangan satu orang, bergerak tjepat kearah Kee Eng dan
keponaka hingga Tiat Pit Tin Pat-hong terperandjat. Ia tahu
ketjuali Tek Tjio Siangdjin dan Giok Nouw si putih, Pay In Nia

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 17

tidak mempunjai penghuni lainnja. Maka itu, siapakah orang itu,


jang bertu ketjiI dan gesit nampaknja? Terang dia buka tuan
rumah dari puntjak ini .....
Mungkinkah ada orang Kang Ouw atau Bu Lim jang
menjatroni Pay In Nia?
Kee Eng mengambil kesempatan akan melindungi Giok
Nouw. Ia melihat kera itu membuka mulutnja, memperdengarkan
tawa jang beda dari biasanja. Tampak gigi putih dari binatang itu.
Tengah ia ragu-ragu itu, Kee Eng melihat orang sudah tiba
didepannja sedjarak lima kaki. Selelah melihat tegas, ia mendjadi
berdiri me Hak. Sebab orang itu adalah seorang botjah wanita
jang rambutnja terdjalin turun, badjunja badju hidjau muda dan
potongannja ringkas. Usia anak itu baru sebelas atau duabelas
tahun, tubuhnya langsing, gerak-geriknja halus halus lintjah.
Wadjah si nona tak tampak tegas tetapi menurut raut mukanja,
mestinja dia tjantik ....."
Belum lagi Beng Kauw sempat menjapa, nona tjilik itu sudah
mendahului. Sembari mendjura nona itu berkata merdu: "Guru
kami menerka ini bakal datang tetamu agung maka ia telah
mengutus Giok Nouw melakukan penjambutan dan In-djie
dititahkan untuk memimpin kegubuknja untuk In-djie
menjuguhkan teh ....."
Habis berkata lagi-lagi si nona, jang membahasakan diri 'In-
djie’, atau ‘anak In’, menara dalam. Njata ia tahu adat dan
bitjaranja rapih sekali.
Kee Eng lekas-lekas membalas hormat. "Maaf," katanja,
"malam-malam aku si orang she Beng lantjang mendaki puntjak
hingga aku mengganggu ketenteraman Siangdjin, sudah bagus
gng aku tidak dipersalahkan dan ditegur, nonapun telah diutus

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 18

untuk menjambut kami, karena itu, malu sekali, aku sangat


bersjukur ..."
Nona tjilik itu tertawa manis. "Tapi Beng Loo-hiapsu adalah
seorang jang bernama besar di empat pendjuru lautan," kata pula
ia. “Sering In-djie mendengar guruku menjebut-njebut nama
loohiapsu, maka dengan kedatang-loohiapsu ini, Pay In Nia kami
mendapat kehormatan besar! Maaf, loohiapsu, perkenankanlah
In-djie memimpin kalian ..."
Nona tjilik itu menghargai tetamunja, jang ia lalu
membahasakan "loo-hiapsu," jalah "Orang gagah (jang telah
berusia landjut)." Setelah itu ia menoleh kepada Giok Nouw si
kera putih, dan berkata: "Giok Nouw Suheng, hari ini kau bekerja
berat! Sekarang sudah tak ada lagi tugasmu."
Ia memanggil "su-heng" (kakak seperguruan) pada binatang
itu, jang sifatnja luar biasa.
Giok Nouw mengerti maksud orang, atas kata-kata si nona,
dia tertawa lebar, tertawa dalam suaranja sendiri, habis itu dia
lompat berdjumpalitan, terus dia lari kabur, hingga sedjenak
kemudian, dia sudah menghilang.
Nona In lantas memimpin tamu-tamunja melintasi halaman
rumput, untuk memasuki tempat yang lebat dengan pepohonan
jang mirip rimba ketjil, di mana djalanan berbelok-beiok ke kiri
kanan. Terang itulah djalan jang bersifat "ngo seng kek," jakni
lima unsur jang saling mempengaruhi (saling
menghidupkan/memusnahkan, lima unsur itu—ngo heng —
jalah: emas, air, api dan tanah).
Nona itu mengenal baik djalanan jang istimewa itu, dia dapat
berdjalan dengan tjepat sekali.
Beng Kauw terus mengikuti hingga ia melihat sebuah rumah
bambu tiga ruang dibelakang mana tampak sebuah djurang jang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 19

terdjal, jang berdinding batu litjin. Dari dalam djurang terdengar


suara mengerotjoknja hingga berguruh air kali atau selokan besar.
Dengan menolak sebuah pintu, sinona mengundang tamunja
memasuki sebuah thia, halaman dalam jang mempunjai tiga buah
ruang atau kamar jang semua terbuat dari kaju tjemara dan
rumput, lengkap dengan medja bambu dan kaju. Disitu ia
mempersilakan tamunja untuk duduk di kursi dekat djendela
dimana terdapat dua medja.
"Silakan menanti sebentar, In-djie akan ambil air teh," kata si
nona sambil tertawa kecil, sesudah mana, ia terus mengundurkan
diri.
Kee Eng melongok kedjendela. Ia dapat lihat djurang dan
beberapa puntjak bagaikan saling susun. Karena Pay In Nia
mendjadi puntjak tinggi, tak heran waktu dari situ tampak
pelbagai puntjak lainnja. Djadi dari situpun orang memandang
seluruh panorama.
Tengah djago itu terkagumi pemandi alam malam jang indah
itu, Nona In sudah kembali dengan nampan kaju termuatkan
tjawan-tjawan teh. Dia tersenjum manis, terus dia meletakkan
tjawan-tjawan teh itu diatas medja. Diapun membawa sebatang
lilin jang besar, jang apinja membuat kamar mendjadi terang.
Lilin itu diletakkannya diatas medja ketjil.
"Silakan minum, loo-hiapsu!" ia mempersilakan.
Beng Kauw menjambut tjawan teh sambil Lengutjap terima
kasih. Sekarang ia bisa melihat Par„as wadjah si nona jang lintjah
dan manisbudi to, Jang P'P'nJa dan bibinya dadu segar, alisnja
en'tik, hidungnja bangir, sedangkan matanja jang andar dan besar,
djeli sekali. Dia tjantik aju dan mestinja dia tjerdas sekali.
Usianjapun ditaksir baru sebelas atau duabelas tahun.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 20

"Hebat anak ini," pikirnja. "Kalau dia sudah dewasa, dia pasti
bakal djadi tjantik luar biasa!"
Sedangnja si djago tua kagum itu, si nona udah menjuguhkan
teh pada It Hiong.
"Saudara ketjil, mari minum!" ia berkata dengan manis,
sambil tersenjum.
Tio Kongtju menjambuti tjawan seraja mengangkat
kepalanja, maka sepasang matanja bagaikan bentrok dengan sinar
matanja nona itu. Keduanja saling mengawasi.
Melihat kedua botjah itu, Kee Eng berkata idalam hatinja:
"Ketjuali It Hiong, mungkin sukar untuk mentjari pasangan untuk
nona ini ....."
It Hiong menghirup tehnja, lantas ia meletakkan tjawannja.
"Terima kasi, entji," katanja perlahan. "Sebenarnja Hiong-
djie tak terlalu berdahaga." Ia memanggil "entji," — kakak —
dan iapun membahasakan dirinja Hiong-djie—-anak Hiong.
Paras si nona bersemu merah karena dipanggiI kakak, itu,
tetapi ia tidak djengah, bahkan ia tertawa.
"Minumlah habis," katanja, "inilah air teh bidji tjemara jang
umurnja sudah seratus tahun, tjang dapat membuat hai (e teram."
Iapun angsurkan pula nampan' j i.
It Hiong minum pula. kali ini hingga ai rja habis.
"Lagi?" si nona tanja.
"Terima kasih, entji, tjukup!" sahut putera gubernur ini seraja
kembali mengutjapkan terima kasih.
Dan kembali pipi si nona bersemu merah.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 21

Setelah membenahi tjawan teh, nona itu kata kepada Beng


Kee Eng: "Maaf, loohiapsu sukakah loohiapsu menanti sebentar.
Guruku ada didalam kamar obat tengah membuat obat sekarang
hendak aku pergi mengabarkannja, sebentar aku akan kembali."
"Silakan, nona," kata Beng Kauw.
Nona itu menoleh pada It Hiong, ia tersen terus ia pergi. Tapi
belum berselang lama, ia sudah kembali, wadjahnja tersungging
senjum berseri la menghampiri Kee Eng dan berkata: "Loohiapsu
guruku mengatakan bahwa loohiapsu bukan orang luar. maka itu
silakan loohiapsu mengiku kekamar obat."
Kee Eng mengangguk.
"Baik, nona," sahutnja.
Nona itu mengangguk, ia memutar tubuh.
"Mari, loohiapsu!" ia mengundang. Terus bertindak.
Kee Eng mengikuti dituruti It Hiong.
Dari halaman dalam itu, Nona In pergi keluar melintasi
pagar, untuk menudju ketepi djurang, djurang jang bagaikan tak
nampak dasarnja.
"Loohiapsu, mari ikut aku!" berkata si nona jang terus sadja
berlompat turun kedalam djurang itu!
Kee Eng terkedjut hingga ia berlompat ke tepian djurang,
buat melongok kebawah. Buat kelegaan hatinya, ia melihat nona
itu berdiri diatas sebuah batu yang besar dan lebar dan tangannja
tengah menggapai kepadanja. Djarak batu itu dan tepian jurang
kira-kira satu tombak.
"Beng Loohiapsu, tolong kau pondong padanya!" terdengar
suara si nona, tertawa. Terang ia maksudkan It Hiong. Habis
berkata, tubuhija lantas bagaikan menghilang.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 22

Dua kali pernah Kee Eng berkundjung ke-ay In Nia tetapi ia


tak tahu dimana letak nja kamar obat, maka itu, ia mendjadi
heran. Iapun kagum buat kelintjahan si nona jang hatinja besar
itu, jang gerakan tubuhnja pesat-pesat halus seperti kupu-kupu
terbang melajang.
"Dia masih begini muda tetapi tubuhnja sudah begini ringan
dan gesit," pikirnja. "Kalah aku yang telah beladjar silat duapuluh
tahun lamanja... Oh, aku harus malu sendiri!"
It Hiong sebaliknja berdiri melangak.
Kee Eng mengawasi botjah itu.
"Mari!" katanja seraja terus ia memondongnja. "Mari kita
turun! Djangan kau takut!"
Seperti si nona barusan, djago ini lantas lompat turun kebatu
tadi. Kalau ia salah indjak batu itu atau terpeleset ..... Sjukur ia
tepat menaruh kakinja. Maka ia melihat dihadapannja berpetanja
sebuah tangga batu jang menandjak naik, jang berliku-liku.
Kesitulah si nona barusan melenjapkan diri. Dari itu, iapun lantas
bertindak ditangga itu, jang tjukup lebar buat dua orang djalan
berendeng, tangga jang gelap disinari hanja tjahaja rembulan,
hanja, makin kedalam, terowongan makin suram dan achirnja
mendjadi gelap, sampai lima buah jeridji tanganpun tak tampak.
Baiknja dinding di kedua belah pihak dapat diraba-raba, dengan
begitu, dapat Kee Eng berdjalan terus. Karena tangga tjuma satu,
ia bisa tidak kesasar. Tjuma, karena liku-likunja, ia mesti
berdjalan perlahan. Disebelah depan, iapun kualir nanti kakinja
terdjeblos .....i
Tengah berdjalan itu, tiba-tiba Kee Eng melihat tjahaja
terang didepannja. Itulah si nona In, muntjul dari tikungan
dengan sebatang obor dingannja. Dia tertawa dan berkata:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 23

"Loohiapsu tidak kenal djalanan, jang juga gelap sekali, maka itu
aku pergi mengambil obor. Silakan loohiapsu turut aku!”
Lantas si nona mengangkat tinggi-tinggi obornja dan
berdjalan mendahului.
Kee Eng mengikuti. Sekarang tak lagi ia tampak kesukaran.
Lagi sesaat, beradalah mereka itu di tempat terbuka. Didepan
mereka terlihat sebuah pintu bundar.
"Setelah pintu ini, itulah kamar obat!" kata si nona. Kembali
dia tertawa. "Disana guruku tengah menantikan loohiapsu Silakan
masuk!”
Nona itu memadamkan obornja. Maka sekarang terlihat, dari
dalam pintu itu tampak terang kehidjau-hidjauan. Pula dari dalam
itu terdengar suara njaring dari Tek Tjio Siandjin "Datangnja
tamu-tamu terhormat dari tempat djauh membuat puntjak sunji ini
mendjadi bercahaja! Maaf, karena pintoo tengah membuat obat
tak dapat ku'keluar menjambut sendiri!"
Kee Eng mengenali suaranja tuan rumah, lantas ia
mempertjepat tindakannja untuk membuka pintu, hingga lekas
djuga ia tiba di dalam. Ia lalu bertekuk lutut memberi hormat
sambil berkata "Bertahun-tahun Kee Eng merantau, perkara-
perkara kutuk melibat dirinja hingga dia djarang datang untuk
menghundjuk hormat, maka itu Kee mohon ..... ."
Tek Tjio Siangdjin memegat suara oran ngan berkata:
"Pintoo adalah orang jang mengasingkan diri, dengan berdiam di
puntjak sunji pintoo tak tahu-menahu tentang urusan dunia jang
rumit maka itu kalau kau mau bitjara, bangkitlah berdiri!”
Sebagaimana biasanja kaum imam (toosu) pengikut Too
Kauw (Agama Too), Tek Tjio Siangdjin membahasakan dirinja
"pintoo" imam jang miskin. Setelah itu ia menegur ke ambang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 24

pintu: "In-djie, eh budak, mengapa kau melupakan tugasmu


melayani tetamu?"
Menjusul itu muntjullah si nona jang berbadju hidjau, tangan
kanannja menampa nampan batu hidjau diatas mana terdapat dua
buah-merah sebesar tjangkir arak, buah mana menjiarkan bau
harum, tangan kirinja memegangi rambutnja jang terdjalin,
embari menghampiri dia mendjawab merdu: "Suhu, In-djie sudah
siap !"
Kee Eng sudah lantas bangkit. Ia tahu, memang Tek Tjio
Siangdjin tidak menjukai adat-istiadat jang umum. Selagi bangkit
itu, ia menggunakan kesempatan akan melihat sekitar kamar obat
atau lebih kenar kamar tempat membuat obat. Seluruh dinding
terbuat dari batu hidjau, jang mendatangkan tjahaja terang hidjau
djuga, maka kamar itu djadi adem-menjegarkan. Dapur obat
berada disebelah selatan-barat, diatas itu ada kwalinja, Tek Tjio
Siangdjin duduk disamping dapur, kedua tangannja bersedakap,
kedua matanja dipedjamkan. Dengan djubah putihnja warna
gwee-pee, hidjau muda, ia tampak sutji dan agung, sebagai
seorang pertapa. Ia memiliki rambut, kumis dan djenggot putih.
Ia bermuka merah sehat dan alisnja pandjang.
Kemudian Kee Eng mundur dua tindak, buat duduk diatas
sebuah kursi batu.
Sementara itu It Hiong telah berlutut semenjak ia memasuki
kamar obat, selama itu tak berani ia mengangkat kepala atau
mukanja. Tuan rumah sebaliknja tak melihat padania.
In-djie menghampiri Kee Eng, buat menjuguhkan buah itu,
kemudian ia menghampiri Tio Kongtju untuk menjapa perlahan:
"Saudara ketjil, bangunlah. Suhu tak menjukai tjara ini."
Baru berhenti suaranja si nona, atau Tek Tjio Siangdjin telah
membuka kedua matanja, memandang tadjam kepada kedua

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 25

orang tamunja. sekelebatan, ia lantas menghela napas dan berkata


dengan nada berduka: "Pembalasan, oh, pembalasan! Anak In,
lekas suruh dia bangkit dan duduk!”
Dengan "Pembalasan" Tek Tjio Sian maksudkan dalam
hubungan reinkarnasi, penjelmaan pula manusia dengan segala
timbal-baliknya.
In-djie girang mendengar perintah guru itu. Ia bagaikan
mempunjai djodoh istimewa terhadap Tio Kongtju. Lantas ia
mengulur tanga akan memimpin bangun botjah itu, buat disuruh
duduk disisi Kee Eng dimana ada sebuah batu lainnja, kemudian
ia menjuguhi buahnja berkata perlahan: "Makan ini! Inilah buah
dari lamhay!"
"Tjulay" adalah buah per merah, dari Lam Hay — Laut
Selatan.
It Hiong membuka lebar matanja, ia djemput buah itu. Sinar
matanja menandakan bahwa ia berterima kasih kepada si nona.
In-djie tertawa perlahan, lantas dia menghampiri gurunja,
untuk berdiri disamping guru itu.
Sedjenak itu tan-sit, jaitu kamar obat, djadi sunji.
Kee Eng dan kawannja dahar buah dengan tjepat, kemudian
ia mendjura kepada tuan rumah dan berkata: “Inilah kundjungan
jang ketiga dari Kee Eng dan kali ini melulu untuk ini dan Kee
Eng mohon — karena dialah turunan seorang keturunan menteri
setia dan bidjaksana —supaja sudilah Siangdjin berbelas-kasihan
dan menerimanja sebagai murid, agar dia memperoleh
kepandaian jang sempurna. Dengan demikian tidak tjuma Kee
Eng jang akan sangat menerima budi dan bersjukur tetapi juga
arwahnja Tio Sunbu serta Tio Hudjin dialam baka …"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 26

Berkata begitu, tak kuat Kee Eng menahan kesedihannja,


airmatanja meleleh turun dan suaranja pun mendjadi sember,
akan tetapi dia menguatkan kati, menahan kesedihannja itu, terus
ia menuturkan hal-ichwalnja It Hiong. bagaimana ajahnja, berikut
dua ibunja, telah terbinasa ditangan dorna djahat, jang mau
membasmi tiong-sin — pembesar Setia — sampai keakar-
akarnja.
Mendengari tjeritanja Kee Eng, It Hiong menangis
sendirinja, sampai suaranja tak kedengaran.
In-djie si nona ketjil turut terharu, ia sampai mengutjurkan
air mata.
Tek Tjio Siangdjin mengawasi ketiga orang itu, dari jang
satu kepada jang ketiga, sinar matanja bertjahaja. Ia nampak alim
dan agung berbareng.
"Mati dan hidup, itulah takdir!" katanja selang sedjenak.
"Dunia berputar, musim berganti, keluarga Tio telah
meninggalkan namanja, jang dunia hormati, karena itu sekarang,
buat apakah kamu menangis?"
Kata-kata itu sangat berpengaruh. Lantas saja ketiga orang
itu tidak menangis lebih djauh.
Kee Eng lantas berkata: "Tio Kongtju menjadi jatim-piatu
dalam usia begini muda, ia harus 'dikasihani, lebih-lebili karena
sekarang ia tidak mempunjai orang jang dibuat andalan hidupnja.
Menurut pemandangan Kee Eng, dialah seorang anak jang
bakatnja sangat baik. Sedjak dia minum darah belut, nampak
tegas keuletannja napasnja pandjang sekali. Buat dunia Bu Lim,
sangat sukar buat mentjari orang jang berbakat seperti dia. Oleh
karena itu, Siangdjin, Kee Eng mohon dengan sangat supaja
Siangdjin suka menolongnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 27

Kemudian Kee Eng menambahkan, katanya, "Dengan


pertolongan si orang beribadat, It djadi akan mendapat tempat
meneduh, bahw katnja lak akan tersia-sia, sedang setelah peladj
nja sempurna, dia bakal mendjadi djago Bu L Rimba Persilatan
— jang berarti ..."
"Dan," tambahkan Tek Tjio Siangdjin, alisnja terbangun, lalu
terapatkan mendjadi "dia bakal membawakan pintoo tak sedikit
kesulitan dan kepusingan, hingga Pay ln Nia jang semula tenang
dan tenteram-sedjahtera ini akan diliputi mega mendung jang
tebal, sedangkan tubuhku bersih selama beberapa puluh tahun
bakal terlibat dalam angkara-murka kaum Kang Ouw jang gemar
akan pertempuran dan pembunuhan! Dan inilah bawaan dari
kundjungan kehormatan mu jang sesudjut-sudjutnja ! ....."
Kee Eng terkedjut, peluh dingin lantas bahasahi tubuhnja.
Segera ia melompat bangun untuk berlutut didepan orang berilmu
itu.
"Maaf, siangdjin," katanja, hatinja tak tenang "Kee Eng ada
seorang sembrono, dia tak dapat mikir djauh, dia tjuma ingat
untuk berbuat kebaikan sesama manusia jang tengah menderita,
tak maksud’ku lainnja. Kasihan dia jatimpiatu, rumah tangganya
telah musnah telah musnah. Kee Eng bersjukur andaikata dapat
diterima sekalipun untuk mendjadi kacung tukang menjalakan api
dapur obat ini ....."
Berkata begitu, djago inipun mengangguk ulang-ulang.
It Hiong turut berlutut, airmatanja berlinang-ijiiang.
"Kasihan anak Hiong," katanja. "Rumah-tangga ludas, ajah
dan ibupun mati terbinasa secara bebat dan menjedihkan .....
Siansu, tolong siansu menolong kepada anak jang bertjelaka
ini..."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 28

Kata-kata itu terhenti karena anak itu lantas penangis


sesegukan.
In-djie turut mendjadi sangat bersedih, tanpa perasa ia
mendjatuhkan diri, berlutut di sisi gurunya, dengan air mata
mengetes-ngetes dan tangan penarik udjung djubahnja sang guru,
ia berkata susah, "Suhu, kasihanilah dia ..."
Tek Tjio Siangdjin duduk diam, matanja ditajamkan. Dialah
seorang berilmu, dia dapat melihhat djauh, tetapi dia
membutuhkan ketenangan untuk menenteramkan hatinja, guna
menenangkan diri. Ia sudah tahu apa jang ia mesti lakukan, itulah
sebabnja kenapa ia idjinkan Kee Eng dan It iong memasuki
kamar obatnja, jang biasanja mendjadi tempat terlarang untuk
orang luar.
Kamar sunji ketjuali oleh sesegukannja si botjah jatim-piatu
itu.
Melihat gurunja diam sadja, In-djie menangis keras. Ia
menghormati gurunja, tapi iapun rada dimandjakan. Inilah karena
ia tahu benar, gurunya sangat menjajangi padanja. Karena
diantara sang guru dan ajahnja ada persahabatan jang sangat erat.
Tengah sang orang beribadat itu berdiam dan p orang lainnja
menangis, mendadak sadja dari 'ar tansit terdengar satu suara
keras dan njaring "gaikan guntur: "Hai, imam hidung kerbau,
bagus benar ja! Kau menjebut dirimu manusia pandai, tapi
kenapa kau tak punja rasa-kasihan sedikit pun djuga? Djikalau
Bodhisatwa mengetahuinja, tentunja dari siang-siang kau sudah
digusur masuk ke neraka jang delapanbelas lapis itu!"
Menjusul kata kata itu, angin bersiur lantas terlihat berlompat
masuknja seseorang, pakaiannja banjak tambalannja, jang
pinggangnja terikat sabuk ketjil warna putih, jang kakinja tertutup
dengan tjauw ee, sepatu rumput, sedang rambut kepalanja pendek

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 29

dan kusut dan mukanya berminjak. Diapun memelihara djanggut


ubanan jang pandjangnja tjuma satu dim. Dan, selekasnya berada
didalam tansit, dia djuga segera menuding tuan rumah!
"Eh, hidung kerbau, kamar obatmu ini dituli sengkakkan
dengan tangisan jang hebat dahsyat, kenapa kau terus berlagak
tuli dan berpura gagu?” demikian tegurnja keras. "Dengan tjara
begini kau hendak menjiksa seorang anak jang belum apa-apa?
Beginikah tjaranja seorang pertapa Agama Too? Memangnja,
apakah tjela-tjelanja ini? Kau boleh tjari orang seperti dia sampai
se besimu petjah, mungkin kau tak akan menemukan. Kenapa
sekarang kau berkeras hati begini matjam. Kenapa kau tak sudi
menerima dia sebagai muridmu? Eh, hidung kerbau, kalau benar
kau tak menerimanja, baiklah, akulah jang akan mengambil dia!
Hanja ingat, djangan nanti dibelakang kau menjesal-keduhung!"
Habis berkata begitu, orang asing ini berpaling kepada Beng
Kee Eng, untuk berkata: "Katanja kaulah murid-ahliwaris dari
Liauw In Hweeshio! kesempatan tahun jang lampau aku berada
di gunung Kun Lun San, disana aku bertemu dengannja, dia telah
menjebut-njebut kau. Pendeta tua dalam seumurnja, tjuma
menerima kau sebagai murid satu-satunja, aku menerka kau pasti
tak ditjela, siapa tahu kau djusteru ada machluk begini tak
berguna! Kau membawa anak orang kegunung untuk menderita
hebat begini! Aku tidak pertjaja ketjuali si hidung kerbau dari Pay
In Nia ini, di kolong langit ini tidak akan dapat ditjari guru
lainnja. Bukannja kau berpikir dan berdaja untuk mentjarikan si
botjah seorang guru lainnja, kau justeru bertekuk lutut disini
untuk memohon dan meratap-ratap!"
Ia berhenti sedjenak, lantas ia meneruskan: "Sudah, kamu
djangan pada menangis! Hajo bangun semua! Seorang tjalon
murid jang bakatnja baik, dia tak usah kuatir jang dia tak akan
ada jang menerimanja!"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 30

Hebat suaranja orang itu, seorang pengemis. Sekedjap sadja,


berhenti sudah tangisan di dalam Lmar obat itu.
Dengan air mata memenuhi mukanja, In-djie menghampiri si
pengemis, sembari memberi hormat Sengan mendjura dalam, ia
berkata: "Maaf, In Su-Liok, In-djie tidak ketahui kundjungan
susiok ini, tak dapat aku menjambut sebagaimana lajaknja, harap
aku'tak dipersalahkan ..."
Pengemis itu tertawa kepada si nona, jang emanggilnja
susiok—paman guru.
"Sudah, sudah!" katanja, tertawa gembira. 'Memang aku si
pengemis tua, dimana sadja aku tiba, aku tak menerima
penjambutan jang menjenangkan, ketjuali kau, anak, kau ada
sedikit djodohnja denganku! Sudah, djangan berlutut, kau
angunlah!"
Sembari berkata-kata itu, si pengemis melirik It Hiong. Ia
mempunjai sinar mata jang tadjam uar biasa. Ia tentu sadja
melihat orang berlinangan airmata dan sepasang alisnja jang
tadjam me-ernpel satu dengan lain.
"Sungguh seorang anak jang sangat berbakat!" atanja pula.
"Eh, hidung kerbau, kau benar-benar keras hati!"
Sekonjong-konjong sadja Tek Tjio Siang jang sekian lama
itu berdiam sadja, mementang kedua belah matanja. lapun
mengangguk-angguk
'Memang dia berbakat baik," katanja. sudah begitu, diapun
dibantu Thian! Dengan kebetulan, dia dapat minum darah belut
emas, hingga tak sulit buat dia nanti menjempurnakan
peladjarannja. Hanjalah dia — dia ditawungi berlapis kutukan
pembunuhan, maka djuga dibelakang entah dia akan menghadapi
berapa banjak tjaman petaka besar! Pintoo ada seorang beribadat
tak ingin pintoo membuatnja djatuh terlebih dalam dalam kutukan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 31

itu! Djuga sekarang ini, dalam dunia Kang Ouw, dosa telah
berlapis-lapis—baik salah maupun jang benar, orang telah pada
bangun partai sendiri, orang liehay tak sedikit djumlahnja, maka
djuga orang jang takdirnja bagai dia, tak sulit dia menimbulkan
kerumitan. Memang dapat aku membantu dia, akan tetapi
kesudahannja, siapakah jang dapat memastikan, dapat
menerkanja? Maka itu kalau aku terima aku djusteru
mentjelakainja, bahkan bukan mustahil jang pintoo sendiri djuga
bakal mendjadi seperti batu dan kemala terbakar bersama! Kau,
pengemis bangkotan, kau memang tukang menimpakan bentjana
untuk lain orang! Djikalau kau mau ambil dia sebagai muridmu,
kau ambillah, tak nanti menjesal!"
Mendengar kata-kata si imam, mendadak pengemis tua
tertawa melenggak, suaranja njaring sekali.
"Oh, hidung kerbau!" katanja, keras, tak usah kau
memantjing kemarahanku! Memang anak ini tertakdirkan
kutukan pembunuhan berlapis-lapis akan tetapi, menurut
penglihatanku, dia bukan seorang anak jang bakal pendek
umurnja! Memang selama beberapa tahun ini, aku si pengemis
tua telah melihat gelagat jang mendatang nanti, bahwa suasana
sangat mengantjam. Dimana-mana para hantu pada bermuntjulan,
semua berbuat jang tidak-tidak, didalam tempo sepuluh tahun,
pasti bakal terdjadi suatu perubahan besar. Aku merasa, semua itu
bakal ada hubungannja dengan anak ini. Sahabatku, kau telah
melatih ilmu pedang kesajanganmu, Khie-bun Patkwa Kiam serta
ilmu lompat tinggi Tee In Tjiong, sudah selajaknja kedua ilmu
kepandaian itu dipertontonkan dalam Dunia Kang Ouw,
sedangkan aku si pengemis tua, aku tak mau berlaku pelit, tak
nanti aku sembunji-an kepandaianku, maka suka aku mewariskan
ilmu-pukulan tangan kosong Tjit-tjap-sie Hang Liong Hok Houw
Tjiang serta ilmu sendjata rahasia paku Yan-bwee Twie Hun
Teng. Kelak dikemudian hari, kalau benar seperti katamu anak ini

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 32

bakal terantjam bahaja, maka aku si pengemis tua, bersedia aku


untuk bertanggung-djawab! Nah, sekarang telah aku berikan kata-
kataku, bukankah kau bersedia menemanja? Djikalau masih
main-main sadja, uniuk mempersulitkannja, demi detik djuga aku
akan membawanja pergi! Aku tidak pertjaja dikolong langit ini
ketjuali kau si hidung kerbau, tak akan ada orang lain jang bakal
djadi gurunja lagi!''
Menjaksikan sikapnja sipengemis tua, Tek Tjio Siangdjin
tertawa. Dia memang memantjing kemarahan orang, buat
memantjing keluar djandji bantuan itu, supaja sipengemis suka
mengudak kepandaiannja serta memberikan tanggungan
djawabnya guna melindungi si botjah.
"Hai siluman bangkotan!" katanja. "Kau sudah tua begini,
hatimu masih sadja panas-membara seperti api! Djikalau kau
berniat menolong dan menjempurnakan dia, akupun tak sudi
ketinggalan dari kau! Pengemis bangkotan, Hang Liong Houw
Tjiang dan Yan-bwee Twie Hun Teng itu tak bakal diwariskan
setjara sia-sia sadja! djandji ada bagaikan seribu tahil emas, maka
ingat kalau nanti terdjadi sesuatu atas diri anak ini kau tidak dapat
melepaskan tanganmu untuk mengurusnja!"
Demikian dua orang berbitjara sambil bergurau, karena
memang sudah biasanja, si pengemis memanggil "hidung
kerbau," dan si imam njebutnja "pengemis tua bangka" atau
"machluk bangkotan."
Kembali sipengemis tua tertawa bergelak.
"Hai, hidung kerbau!" katanja njaring. "Jangan kau memaksa
memakaikan kopiah atas laku! Murid toh tetap muridmu! Tapi
aku sipengemis tua, aku tidak akan menjangkal djandji, tidak
akan menganglap! Ingatlah selama lima puluh tahun aku
merantau-mendjeladjahi dunia Kangouw belum pernah aku

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 33

mendusta dihadapannja seorang botjah tjilik! Kau tahu sendiri


Pat-Pie Sin-Kit Ie Gwa Sian bukannja siorang pengetjut!"
Beng Kee Eng terperandjat mendengar pengemis itu
menjebut gelaran nja itu.
Kiranja orang berpakaian butut-rombeng adalah itu orang
jang mendjadi djago jang aneh jang didjerikan kaum Lok Lim
atau Rimba Hijau. Pantaslah dia bitjara besar demikian. Dia
memang sudah tersohor sedjak tigapuluh tahun jang jang lalu
jang menggemparkan kalangan darat dan air Kanglam, Wilajah
Selatan sungai besar. Dia aneh sbab: Kalau dikata telengas, tak
mudah dia bunuh orang. Djika dibilang dia baik-hati, itupun
tepat. Karena kalau dia memergoki orang djahat pastilah dia
meninggalkan, tanda-mata, seperti dia menjapat sebelah telinga
orang atau mengutungkan sebuah djaritangan, tak sembarang dia
memberi ampun. Karena berdandan sebagai pengemis itu, ia
memperoleh gelarnja itu jalah Pat Pie Sin Kit (Pengemis Sakti
Berlengan Delapan). Selama dua puluh tahun, belum pernah dia
nampak kegagalan. Hanja, selama sepuluh tahun lebih jang
belakangan ini, tak pernah orang melihatnja "bergelandangan"
dimuka umum dimana djuga, hingga orang menjangka dia sudah
mendjadi "malaikat" alias mcnutup mata. Kee Eng pun tjuma
pernah densar namanja, belum pernah dia melihat rupanja, baru
sekarang ini, diatas Pay In Nia, dia menemuinja. Kiranja
beginilah wadjahnja pengemis aneh itu, bahkan setjara luar biasa,
dia mendesak Tek Tio Siangdjin untuk menerima It Hiong
sebagai murid!
Lantas Kee Eng berpaling kepada puteranja almarhum Tio
sunbu.
It Hiong sangat tjerdas. Dia sudah lantas bertekuk-lutut
dihadapannja In Gwa Sian, sembari Mengangguk, dia berkata:
"Ajah-bundaku terbinasa litangan orang djahat, sekarang aku

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 34

hidup sebatang-kara dan terlunta-luata, karena itu loodjinkee, kau


kasihanilah aku, tolong terimalah Hiong-djie sebagi anak-
pungutmu!"
Melihat kelakuan anak itu, mendengar kata-katanja, In Gwa
Sian tertawa lebar.
"Hai, aku sipengemis melarat-miskin, mana dapat aku
mendjadia ajah-angkat kamu puteranja seorang berpangkat
besar?" katanja, tertawa pula. Lagipula masih mendiadi satu soal,
itu si hidung kerbau belum tentu dia kesudian mendjadi besan
denganku! ..."
Tek Tjio Siangdjin menjela sebelum suara jang berbenti
berdengung.
"Eh, machluk aneh!" demikian tegurnja “Memang paling
pandai mendodja orang! Asal urusan menjangkut dirimu, lantas
kau main tolak dengan segala alasan konjolmu! Murid adalah kau
paksakan aku terima, sekarang buat djadi ajah angkat, kau
menampik! Takkah kau merasa terhadap anak ini? Hajo,
djanganlah kau ganggu dan membuatnja menderita!"
Biar bagaimana, It Hiong melihat orang bersungguh-
sungguh, orang hanja bergurat legalah hatinja. Tidak ajal lagi ia
paykui, beri mendjura tiga kali kepada Pat Pie Sin Kit sambil ia
memanggil "Gie hu !"
Bukan main senangnja si pengemis, hingga tertawa sampai
mulutnja sukar lantas dirapatka pula. Dia merasakan manisnja
panggilan itu— Gie hu, ajah-angkat. Karena sekarang djadilah di
ajah-pungut! Lantas ia membungkuk, akan mebangun anak-
angkat itu.
"Sudah!" katanja, "kau sudah berlutut ngah hari! Kau
bangun, untuk bersedia nanti djalankan upatjara jang resmi!
Ingat, buat mengangkat guru, tak dapat kau berlaku begini

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 35

sembarangan seperti mengangkat ajah-pungut! — Nah, kau anak


In, lekaslah kau pimpin ini suteemu jang ketjil untuk dia
mendjalankan kehormatan mengangkat guru kepada gurumu!"
Kata-kata jang belakangan ini ditudjukai pada In Djie, si
anak In, jalah si nona murid Tek Tjio Siangdjin. "Su-tee" itu
berarti adik seperguruan jang ketjil, jang muda.
"Djangan kesusu!" pegat Tek Tjio Siangjin sambil tertawa.
"Aku di Pay In Nia ini bukanlah suatu partai, bun atau pay, aku
djuga buka tjiangbun, ketua partai, maka tak usahlah dipakai
segala niatjam aturan itu! Aku telah memberikan kata-kataku
menerima murid, itu artinja dia sudah hitung muridku! Kau
tentunnja takut aku menjangkal kalau dia tidak mendjalankan
aturan!"
Si pengemis tertawa.
"Bagus ja!" serunja. "Tak kusangka kau dapat merelakan
aturan seperti tjaramu ini! Djarang ada orang sematjam kau
sedangkan kau banjak seekali membatja kitab!—Benar-benar
kaulah seorang berilmu jang luar biasa!"
"Sungguh tjepat suaramu berubah!" tegor Tek Tjio Siangdjin.
"Baru sadja kau menjela dan mengatakan aku, machluk
tuabangka, sekarang kau berlaku baik hati, kau memudji aku!
bukankah dengan begitu berarti kau menggaplok mukaku
sendiri?"
Pengemis itu tertawa. Tak peduli dia jang orang telah
membalikinja.
Demikian kedua orang sahabat itu bergurau, sementara mana
It Hiong sudah lantas bertekuk lutut didepan gurunja, buat
mendjalankan kehormatan paykui tiga kali.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 36

"Sudah, tjukup!" berkata guru itu. "Sekarang kalian semua


keluarlah! Untuk memasak obat, aku membutuhkan tempo
seratus hari, djadi tak dapat kalian berdiam lebih lama pula disini.
Kau, pengemis tua, kau sudah berdjandji akan mendjadi ajah-
angkat muridku, sekaranglah waktunja buat kau mengadjarkan
dia ilmu silat. Karena itu, terpaksa aku menahan kau berdiam di
Pay In Nia ini. Sedangkan kau, Beng Tayhiap, baik sekali apabila
kau dapat berdiam bersama disini. Tentang hal dimana adanja
gurumu sekarang, baiklah kau minta pengemis tua jang tolong
mentjaritahu atau mendegar-dengarnja. Kau, anak Ih, kau
adjaklah sutemu ini kegubuk kita untuk dia beristirahat dahulu.
Ilmusilat Hang Liong Hok Houw Tjiang dari Paman In-mu ini
adalah ilmu-silat tunggal dunia Rimba Persilatan, maka itu kau
sekalian sadja beladjar bersama-sama suteemu ini!"
Begitu dia berkata itu, begitu Tek Tjio djin memedjamkan
matanja, terus ia duduk bersila dengan mulutnja dirapatkan, maka
tansit itu tas mendjadi sunji-senjap. Hingga ia tampak seperti
seorang dewa jang alim.
Diam-diam Pat Pie Sia Kit mengagumi sahabatnja itu, tanpa
terasa ia memberi hormat sambil mendjura, setelah mana ia
mengadjak Beng Kee Eng dan Tio It Hiong mengundurkan diri,
dipimpin keluar oleh In-djie, si anak In, untuk keluar kerumah
gubuk. Ia sudah lantas menjediakan kamar buat si pengemis dan
Kee Eng, begitupun It Hiong.
Baru tiga hari berdiam diatas gunung Hda San, Beng Kee
Eng sudah menjatakan keinginannja buat berangkat pergi. Ia
hendak mentjari Whie Hoay Giok, muridnja itu jang tak tahuan
dimana adanja dan bagaimana dengan keselamatannja. Sebab
mereka berpisah selagi bahaya mengantjam mereka masing-
masing. Biar bagaimana, tak dapat ia melupakan muridnja itu.
Benar Pat Pie Sin Kit berdjandji akan mentjari-tahu tentang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 37

gurunja, jaitu Liauw In Taysu, tetapi entah kapan pengemis ini


meninggalkan Pay In Nia, karena dia mesti mengadjari dahulu It
Hiong ilmu silat.
Sementara itu, tak dapat Kee Eng meninggalkan Tek Tjio
Siangdjin guna pamitan. Selagi membuat obatnja, imam itu mesti
berdiam terus didalam tansit. Djangan kata It Hiong dan si orang
she Eng, sekalipun si anak In dan In Gwa Sian djuga dapat
memasuki kamar itu. Buat makannja orang berilmu ini ada Giok
Nouw jang setiap hari membawakan dia bebuahan, barang
makanan dan minuman.
In Gwa Sian tidak mentjegah djago she Beng itu berangkat,
malah sambil tertawa dia berkata : “Aku sipengemis tua bersjukur
kepadamu jang sudah membikin aku memperoleh anak-angkat!
Biasanja aku tidak pernah berhutang kepada siapa dju-ga, karena
itu tunggulah nanti, lagi sepuluh tahun akan aku balas budimu
ini!"
Mendengar itu, Kee Eng menghaturkan terima kasih sambil
memberi hormat. Ia mau berlutut letapi si pengemis
mentjegahnja, sambil mengulapkan tangan kepada It Hiong, dia
mengisjaratkan anak-angkat ini mengantarkan pergi pamannja
itu...
In-djie jang mengantarkan mereka keluar, buat turun gunung.
It Hiong mengintil sambil mengeluarkan air-mata. Berat buat
ia berpisahan dengan paman itu, penolongnja jang berdjasa besar
terhadapnja. Kalau tidak ada Kee Eng, pastilah ia telah turut
terbinasa ditangan musuh. Maka sambil menangis itu, ia menekuk
lutut didepan sang paman, ia menghaturkan terima kasih dan
selamat djalannja.
Kee Eng memimpin bangun anak itu. Dia tertawa.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 38

"Bangunlah, anak Hiong!" katanja. "Diko-long langit ini,


tidak ada pesta jang tidak bubar, kau sebaliknja sangat beruntung,
karena kau telah pendapatkan seorang guru jang pandai dan baik.
Selandjutnja, baiklah kau beladjar dengan sungguh-sungguh dan
radjin, supaja kau tidak menjia-njiakan tjapai lelah dan
pengharapannja gurumu. Kau mesti mendjadi seorang djago Bu
Lim, supaja dengan tanganmu sendiri nanti kau berhasil
membalaskan sakit-hati ajah-bundamu. Lain waktu, apabila telah
tiba waktunja, apabila kita berdjodoh, maka. tengok padamu
disini. Sudah, djangan kau menangis, pergilah kau kembali
kepada gurumu!”
Habis berkata kepada putera sunbu itu Kee Eng berpaling
kepada In-djie, sambil terus berkata: "Tiga hari aku dapat
berdiam di puntjak ini, aku sangat girang dan bersjukur. Terima
kasih nona, kau banjak berabe. Mengenai anak Hiong aku harap
sudi apalah kau melihat-lihat!"
Begitu dia berkata, begitu Kee Eng memutar tubuh, buat
berlompat turun, akan meninggalkan Kiu Hoa San sambil berlari-
lari, akan tetapi tengah berlari itu, ia masih mendengar suaranja si
jatim-piatu: "Paman, djalan perlahan-lahan si Anak Hiong akan
mendengar kata, tak aka siasiakan pesan dan pengharapanmu!"
It Hiong berdiri dipuntjak, berdiri tertegun sampai Kee Eng
lenjap dari pandangan matanya. Tanpa terasa, ia mengutjurkan
airmata. Baru sekarang ia merasa bahwa ia berada sebatangkara
tanpa ajahbunda, tanpa sanak saudara, tanpa sahabat, jang ada
hanja orang-orang baru .....
Tengah berdiam laksana patung itu, tiba-tiba botjah ini
tersadarkan karena ia melihat sehelai putangan diangsurkan
kedepan matanja diantar oleh sebuah tangan jang putih-halus,
sedangkan telinganja mendengar satu suara halus-merdu: “Adik

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 39

Hiong, djangan menangis! Kau susutlah airmata, mari kita


pulang! Sekarang sudah tiba saatnja kau berlatih ..."
Ketika ia menoleh dengan agak terperanjat Hiong melihat In-
djie, si anak In, jang dengan matanja jang bundar dan djeli tengah
mengawasi padanja. Ia menjambuti saputangan itu, buat dipakai
menjusut air-matanja, lalu ia mengangguk mudian, sambil
mengembalikan saputangan, ikut si nona berdjaIan Pergi
meninggalkan puntjak itu.
Setengah tahun lamanja Pat-Pie Sin-Kit In Gwa Sian berdiam
dipuntjak Pay In Nia. Dia telah mewakili Tek Tjio Siangdjin buat
sementara waktu, guna mengadjarkan silat kepada It Hiong,
botjah mana mesti beladjar dari permulaan lagi karena ia
mendapat guru baru. In-djie beladjar bersama, nona itu
menggunakan kesempatan menerima pengadjaran dari si
pengemis luar biasa.
Karena ia telah mempunjai dasar, karena ia berbakat bagus,
ditambah dia telah minum darah belut emas, It Hiong
memperoleh kemadjuan pesat sekali. Otaknja jang tjerdas
membuatnja mudah mengingat baik-baik segala peladjaran jang
diberikan gurunja. Sudah ia beladjar radjin, gurunjapun
mengadjarinja dengan sungguh-sungguh. In Gwa Sian gembira
melihat bakat dan ketekunannja itu. Ia diadjari ilmu pernapasan,
guna memperkuat tenaga-dalamnja. Tenaga-dalam kokoh berarti
tubuh kuat. In Gwa Sian djuga puas terhadap In-djie. Anak-anak
itu bagaikan sepasang Kim Tong dan Giok Lie, katjung-katjung
dewa.
Ketika kemudian telah habis waktunja Tek Tjio Siangdjin
membuat obat, tempo ia keluar dari tansit dan melihat anak-anak
itu madju pesat, ia girang sekali. Kata ia pada sahabatnja: "Eh,
machluk aneh, sungguh tak kusangka! Tabiatmu aneh, biasanja

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 40

kau tak dapat berdiam disatu tempat delapan atau sepuluh hari,
tetapi kali ini luar biasai" Berkata begitu, imam ini tertawa.
Pat Pie Sin Kit djuga tertawa.
"Hidung kerbau, djangan kau mengumpak-umpak
mengangkatku!" tegurnja. "Selama seratus hari ini, kau tahu,
bukan main aku tersiksa! In-djie lain, dia telah mendapat
petundjukmu, dia madju pesat, tidak demikian dengan Hiong-
djie, dia masih baru, dia belum tahu apa-apa. Akupun tak djandji
mengadjari dia ilmu Tong-tju Kun Goan Kie-Kang jang membuat
ia tetap mendjadi botjah utuh, sebab dialah puteranja seorang
sunbu, jang kelak kemudian hari perlu dengan turunan. Karena
belu tiba waktunja, aku djuga belum mewariskan Liong Hok
Houw Tjiang dan ilmu sendjata rahasia paku Yan-Bwee Twie
Hun Teng. Tenaganya belum tjukup kuat, bakatnja tak dapat
dirusak. Kau lagi repot dengan obatmu, tak dapat mengganggumu
dengan berita keteranganku ini maka aku mesti menanti sampai
sekarang. Sebaliknya anak itu madju pesat dalam peladjaran
pokok silat dan tenagadalam, bahkan madjunja terlalampau
tjepat. Didalam tempo selengah tahun, dia sudah punjai dasar
ilmu pernapasan. Tinggallah pendidikan lebih djauh untuk dia
dapat menggunakan itu dengan seksama dan sempurna. Tak dapat
aku mengadjari dia terlebih djauh, tjoba kau tidak muntjul,
mungkin aku akan meninggalkan Pay In Nia ini ! ... "
Mendengar sahabat itu, jang bitjara sunguh-sungguh, Tek
Tjio Siangdjin tidak bergurau pula. Bahkan menghela napas.
"Kalau begitu sungguh kau sangat baik hadap anak-
angkatmu itu!" katanja. "Memang tak dapat kau adjari dia
Tongtju Kun Guan Khie, karena itu dapat memutuskan
turunannja, walaupun sebenarnja kepandaian itu sangat berguna
untuknja ..... "
Imam ini menengadah kelangit, mendadak tertawa.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 41

"Inilah jang dibilang takdir!" kemudian tanja njaring.


"Biarlah aku lakukan apa jang bisa, menurut sebagaimana
adanja ....."

– ooOoo –

Empat

In Gwa Sian heran. Kata-kata si imam tidak djelas baginja.


"Eh. hidung kerbau, apakah katamu?" tanjanja, alisnja
berkernjit. "Djangan kau bikin aku bingung tidak keruan! Aku
bitjara terus terang! Aku idak pertjaja segala hantu gunung dan
setan sungai dapat mengganggu anak itu! Bukankah iimu
pedangmu mendjadi djago tunggal dalam dunia Bu Lim dan
Kang Ouw? Pat Pie Sin Kit tak melihat mata pada mereka itu!
Selama aku masih bernapas, aku akan aku biarkan sadja padanja!
Asal kau wariskan ilmu pedangmu Khie Bun Pat Kwa Kiam serta
ilmu ringan tubuh Keng-kang Tee Tjiong Sut! memang aku
mendjadi ajah angkatnja tetapi kau harus ingat, dia tetaplah
muridmu, maka, andaikata kemudian anak itu roboh ditangannja
seseorang, kaulah jang paling dulu akan ditjatji sebagai guru
bangpak, sedangkan aku, paling-paling djuga dinamakan ajah-
angkat tak punja guna! Aku masih mempunjai urusan jang
melibat diriku, nanti, selang lima tahun, aku akan datang pula
kemari guna meriskan Hang Liong Hok Houw Tjiang dan Yan-
bwee Twie Hun Teng kepadanja!"
Begitu habis dia berkata, begitu si pengemis memutar
tubuhnja untuk berlalu.
"Eh, machluk aneh, tunggu!" Tek Tjio Sin djin berseru.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 42

"Bagaimana, eh?" tertawa si pengemis "Apakah kau berniat


membelebat-mengikat aku si pengemis tua diatas puntjak Pay In
Nia ini?"
Tuan rumah tertawa.
"Pay In Nia tempat bersih dan sutji, d menempatkan Tio It
Hiong seorang sadja menjebabkan timbulnja hawa pembunuhan!'
katanya, "Kau tahu, awan kedukaan dan kabut kesedihan sudah
meliputi puntjak ini ! Maka bagaimana lagi kalau aku
membiarkan kau si machluk bangkotan jang kedua tangannja
berbau darah? Pastilah aku si imam mesti masuk keneraka untuk
aku menjesal dan menebus dosa! ....."
Pat Pie Sin Kit tertawa terbahak.
"Eh, hidung kerbau, djangan kau bitjara padaku tentang
takdir dan bau darah! Aku tak pedulikan soal pendjelmaan dan
timbal-baliknja, djuga perihal hutang darah dibajar dengan darah.
Aku tidak mengerti, dan aku memang tidak mengerti! Aku tjuma
kenal kepantasan dan keadilan, aku lakukan apa jang pantas dan
adil ! Memang aku si pengemis tua, sudah beberapa tahun aku
mendjeladjah dunia Sungai Telaga benar djuga tanganku telah
berlepotan darah dan karenanja mendjadi berbau anjir, akan tetapi
aku tjajat betul bahwa tak pernah aku melukai seorang baik-baik!
Aku hanja berlaku kedjam pada si kedjam dan membunuh siapa
jang memang harus binasakan! Aku tak takut kepada
delapanbelas lapis neraka, kepada gunung golok dan kuali minjak
panas ! Hatiku tetap tenang-tenang sadja!"
Tek Tjio Siangdjin Sien Hiauw Hong tertawa.
"Manusia itu dasarnja baik, pengemis tua katanja. "Karenanja
tak ada perlunja buat ka lakukan pembunuhan ....."
Baru berkata begitu, si imam merandak. Hanja sebentar, ia
sudah melandjutkan. "Memang di dalam dunia ini terlalu banjak

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 43

manusia diahat," demikian tambahnja. "Tak dapat aku sesalkan


kau kalau kau berlaku telengas. Sudahlah, tak mau aku mengadu
lidah denganmu, hanja satu hal jang hendak aku pesan, untuk kau
mengurusnja."
"Apakah itu? Kau sebutkan sadja. Asal jang ku sanggup, tak
nanti si pengemis tua menolak!''
"Sebenarnja inilah bukannja bal jang sukar. kau tahu ajahnja
In djie bukan, jalah Hui Thian Long Tjio Hay Auw? Semedjak
dia tjatjat lengan irinja, dia telah tawar hatinja, dia menganut
agama Buddha, dia telah mendjadi pendeta di kuil Thay Hoa Sie
di gunung Ngo Tay San di propinsi Shoasay. Didalam kuilnja itu
terdapat banjak pendeta sesamanja, kuil djuga mendjadi tempat
sutji, jadi tak leluasa buat ia membawa-bawa anak perempuan
tinggal bersamanja disana, maka djuga ia embawa putrinja ke Pay
In Nia ini untuk dititipkan kepadaku. Maka dalam perdjalanan
kau ini, tak ada halangannja buat kau mampir di Shoasay, akan
menemui ia di kuilnja itu. Kau sampaikan sadja bahwa sahabat-
kekal nja Tek Tjio akan melakukan apa jang bisa guna
melindungi dan mendidik puteri tunggalnja itu, hanja karena
tenaga manusia tak apat melawan takdir, selewatnja sepuluh
tahun nanti, kutukan asmara sudah tertanam didalam dirinja, asal
pendeta itu tak djeri akan kerumitan, sahabatnja akan tak
menampik memikul tanggung-jawab karenanja ....."

In Gwa Sian tertjengang.


"Ah, imamku jang baik," katanja kemudian, heran, "Hari ini
kau terserang penjakit otak tak beres matjam apakah? Kenapa kau
mengutjapkan kata-kata jang aku si pengemis tak dapat tangkap
artinja? Bitjaramu makin lama makin ngatjo-ngawur!”
Tek Tjio tertawa pula.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 44

"Orang sering membilang dia mengerti, sebenarnja dia


gelap !" katanja. "Djikalau kau mengerti, itu berarti keruwetan
bagimu ..."
"Ah, gila !" berseru si pengemis. Ketika hendak melandjuti
berkata pula, mendadak dia berdiam. Disana, tampak In-djie, si
anak In, mendatangi bersama Hiong-djie, si anak Hiog datangnja
sambil bergandengan tangan, sembait lari-lari berlompatan .. .
Selekasnja anak-anak itu lihat gurunja, m perkeras lari
mereka dan setibanja didepan gu itu, keduanja lantas
mendjatuhkan diri berlutut guna memberi hormat, habis itu
barulah mereka memberi hormat djuga kepada Pat Pie Sin Kit In
Sian, sang paman guru dan ajah-angkat.
Menjaksikan kedua botjah itu mendjalankan kehormatan,
tiba-tiba si pengemis tua ingat sesuatu, maka ia lantas menoleh
kepada Tek Tjio Sian untuk berkata: "Kaulah si imam berilmu,
kau harus berdaja membereskan kutukan asmara didalam dunia
ini! Aku si pengemis tua, sifatku bagai burung djendjang hutan
jang biasa melajang-lajang diatas awan, aku tak mengenal soal
asmara, tahu dalam pertemuan di Pay In Nia ini, aku kembali
terlibat dibuatnja! Baiklah kau ketahui, kalau kelak dikemudian
hari terdjadi sesuatu, akan aku sediakan djiwa tuaku ini, tak akan
aku membiarkan tempatmu jang bersih dan sutji ini mendjadi
berbau darah!"
Berkata begitu, lenjap tawanja pengemis tukang gujon ini,
tiba-tiba sadja dia mendjura di terhadap Tek Tjio Siangdjin, siapa
sebaliknja ia berpaling kepada muridnja untuk berkata bagaikan
membentak: "Eh, anak tolol jang tak tahu apa-apa, kenapa kau
tidak lekas-lekas menghaturkan terima kasih kepada ajah
angkatmu jang sangat mentjintai dan memperhatikan dirimu?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 45

Hebat suara itu hingga It Hiong terkedjut, akan tetapi dia


sadar, maka dengan tesipu-sipu dia lantas mendjatuhkan diri
dihadapannja In Gwa Sian, untuk mengangguk berulang-ulang.
"Anak, kau bangunlah," kata sang ajah-angkat, sembari
menghela napas. "Seperginja aku, kau harus radjin dan tekun
beladjar, djangan kau nanti menjia-njiakan adjaran dan
pengharapannja gurumu yang baik hati! Nanti, selewatnja lima
tahun, aku akan datang pula ke Pay In Nia ini untuk melihat
dirimu.
"Suhu, giehu," berkata si anak sambil mendekam terus — ia
memanggil si pengemis sebagai guru berbudi dan ajah-angkat
berbareng— tjintamu bagiku tak ubahnja dengan tjinta-kasih
ajahku endiri, pasti anak Hiong tak akan menjia-njiakannja, aku
berdjandji akan beladjar dengan sungguh-sungguh guna
membalas ketjintaanmu itu !"
In Gwa Sian memimpin bangun anak angkat tu, kemudian
dia berkata pula kepada Tek Tjio Siiangdjin: "Aku si pengemis
tua mirip dengan si batu bandel jang dapat menganggukkan
kepalanja, dengan ini aku berdjandji, selandjutnja aku memalasi
diri sekuat tenagaku akan memantang membunuh, sedangkan kau
orang beribadat, aku harap semoga kau dapat menggunakan
tenagamu guna entjegah anak-anak ini nanti menjesal seumur
hidupnja ..."
Sien Hiauw Hong mengangguk, ia tertawa.
"Bagus, siluman tua, kau dapat menukar tulangmu!" katanja.
"Memang, tjintakasih dia guru dan murid bagaikan kasih-sajang
diantara dan anak. Kau pertjaja, aku si orang diluar umum, aku
pun tak dapat memisahkan atau memutuskan tjinta kasih dan
kasih-sajang orang. Hay Auw di Ngo Tay San itu memakai nama
Go Hui, bila kau bertemu dengannja, bilang bahwa aku Sien

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 46

Hiauw Hong memudjikan dia memperoleh kemadjuan, bahwa


puterinja In-djie telah me oleh kemadjuan pesat djuga ....."
Tanpa menanti kata-kata orang lenjap di udara In Gwa Sian
sudah memotong: "Tak nanti aku pengemis tua menggagalkan
pesanmu ini! ....." Dan belum berhenti suaranja itu, dia sudah
berlompat untuk lari pergi dengan gerakan ringan tubuh "Hui Yan
Liang Po" (Walet terbang menjambar gelombang). Mirip angin
tjepatnja, dia keluar rumah.
In-djie dan Hiong-djie lari menjusul, setiba mereka diluar,
paman guru atau ajah angka sudah tak nampak bajangannja
sekalipun, djuga mereka djadi berdiri mendjublak didepan pintu.
Selekasnja dia sadar, It Hiong mendjatuhkan diri berlutut
didepan pintu itu, untuk memberi hormat ke udara seraja ia
berkata: "Giehu, anak Hiong memudjikan semoga giehu sehat-
walafiat didalam perdjalanan!"
Baru si botjah memberi hormatnja itu telah mendengar suara
gurunja: "Kalian berdua kemari!"
In-djie memutar tubuh buat lari ke dalam Hiong-djie
menjusul padanja. Didalam merek melihat guru mereka
bersenjum manis, lalu ke muridnja jang baru, ia mengangguk dan
berkata sambil tertawa: "Kau begini berbakti dan menghormati
ajah-angkatmu, tak sia-sialah jang dia sangat menjajangimu!"
Kemudian guru ini memandang In-djie untuk berkata djuga
kepada murid wanita ini: "Telah aku pesan paman In-mu itu
menjampaikan kabar baik kepada ajahmu, djikalau kelak ajahmu
ingin menemui kau, sembarang waktu ia dapat datang kemari.
Kau djangan terlalu memikirkan ajahmu itu, djangan kau
berduka, supaja kedukaan hatimu itu tidak merintangi
peladjaranmu."
"In-djie tahu, suhu," berkata murid wanita itu hormat.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 47

Kemudian guru ini tanja kedua muridnja tentang peladjaran


mereka selama setengah tahun dididik In Gwa Sian, dan mereka
itu menuturkan dengan djelas.
"Bagus!" guru itu memudji, puas. Diapun tertawa pula. "Tak
kusangka, selagi aku repot membuat obat, si machluk aneh sudah
baik hati dan telah memberi peladjaran kepada kamu dengan
sungguh-sungguh hati! Hari ini kalian beristirahat, esok kalian
akan mulai beladjar lebih djauh, pagi beladjar silat, sore beladjar
surat, dan malam berlatih bernapas, beladjar ilmu tenaga dalam."
Habis berkata, guru itu memedjamkan matanja. In-djie tahu
gurunja tengah bersemadhi, melatih apa jang dinamakan "Hian
Bun Sin-kang," maka tanpa bersuara, dia menarik tangan badju It
Hiong, buat diadjak mengundurkan diri dari dalam kamar.
Mereka lari keluar, bukan buat beristirahat, hanja buat bermain-
main. Langsung mereka mentjari Giok Nouw, si kera putih, buat
bermain bertiga bersama-sama.
Kera itu diam sadja didjaili si nona, jang memakaikan dia
kopiah jang terbuat dari matjam-matjam bunga, bahkan dia
berdjingkrakan, kemudian dia pergi—pergi djauh—tatkala dia
kembali, dia membawa banjak buah persik, jang dia berikan
kepada si nona.
In-djie sangat memperhatikan It Hiong, Ia pilihkan jang
besar dan putih, jang ia berikan pada sutee, adik seperguruan itu.
Memang, setelah setengah tahun, ia telah mendjadi seperti inan
ngasuh dari sutee itu—ia senantiasa mengurusi pakaian dan
makanan orang, hingga sang sutee puas sekali, hingga dia ini
memandang, menanggapnja, sebagai kakak sendiri.
In-djie berusia lebih tua, ia beladjar lebih dulu, maka itu, ia
terlebih pandai daripada si sutee. Ia mendjadi kakak, tetapi ia
sabar sekali; kalau satu kali It Hiong tidak dengar kata, ia bukan
marah, menegur atau mentjatji, ia djusteru masgul dan duduk

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 48

bersedih seorang diri dibawah tjemara, sampai si sutee insjaf dan


menghampirinja, untuk memohon maaf, baharu ia senang dan
dapat tertawa pula.
Dilihat dari djauh, mereka merupakan pasangan kekasih tjilik
.....
Merekapun tak sadar bahwa bibit tjinta sutji murni mulai
tertanam dan tumbuh dengan perlahan-lahan dalam hati mereka
masing-masing.
Paling senang mereka itu bermain-main dengan Giok Nouw
jang sabar, jang menurut sadja diperintah melakukan sesuatu .....
– oOo –
Air mengalir terus, tahun-tahun berlalu djuga. Sang waktu
lewat pesat bagaikan anak panah. Pendek rasanja, tetapi Tio It
Hiong sudah berdiam empat tahun lamanja di puntjak Pay In Nia,
gunung Kiu Hoa San. Ketjerdasan membuatnja madju pesat,
darah belut memperkokoh tubuhnja dangkan guru jang pandai
membikin ia umpama kata "Satu hari madju seribu lie." Bahkan
dengan perlahan, ia mulai menjusul In-djie. Usia mereka juapun
bertambah, hingga dari tak tahu apa-apa, mereka mulai mengerti
banjak hal penghidupan.
Beda daripada umumnja, mereka berdua tak ‘menjingkir’
satu dari lain, mereka tetap bergaul akrab. Memang diatas puntjak
itu tidak ada lain orang kecuuali guru mereka dan Giok Nouw,
sedangkan pelajaran mereka, silat dan surat, seperti
mengharuskan mereka mesti selalu bersama, tak siang tak malam.
Giok Nouw mendjadi kawan jang akrab, hingga kera ini djuga
mengerti ilmu silat karena dia selalu menghadapi orang tengah
berlatih. Tjoba ia bisa bitjara, dia tentu mengerti surat djuga.
Tatkala itu In-djie sudah berusia tudjuhbelas tahun, dari
botjah tjilik ia telah mendjadi seorang nona remadja, sudah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 49

tjerdas, iapun tjantik sekali, tjantik-aju bagaikan bunga. Bahkan,


diam-diam, hatmja clah dititipkan kepada It Hiong.
Tek Tjio Siangdjin dapat melihat sifat dan gerak-gerik kedua
muridnja itu, ia membiarkan sadja karena tak tega hatinja buat
memisahkan mereka, bahkan didepan mereka itu, ia berpura buta.
Adalah, ketika ia berada seorang diri, ia suka mengeleng kepala
dan menarik napas. Tapi ia tak putus asa, hendak ia berbuat
sebisanja agar kedua murid itu tidat mendjadi korban asmara,
supaja achirnja mereka berdua mendiadi pasangan jang bahagia.
Hanjalah, ia sendiri belum beroleh kepastian ...
Pesat madjunja peladjaran In-djie dan It Hiong, makin erat
pula pergaulan diantara keduanja. ln-jie telah menggunakan
kesempatan akan menuturkan tentang keluarganja. Ajahnja
adalah seorang gagah Kang Ouw jang namanja terkenal pada
dua-puluh tahun jang lalu, dikenal didalam wilajah Kanglam
sebagai Hui-Thian-Liong Tjio Hay Auw (Naga Terbang ke
Langit), dimalui kaum Rimba Hidjau. Baharu empat tahun
terlahirnja ln-djie ibunja menutup mata dikarenakan sakit. Saking
susah hati, hatinja Hay Auw lantas mendjad tawar. Ia ingat,
mungkin kematian isterinja jang tjinta itu disebabkan takdir,
karena akibat segala perbuatannja. Maka ia lantas mengundurkan
diri berdiam dirumah sadja merawati puteri tungganya.
Djusteru djago ini sudah insjaf dan menguntji diri dirumah
itu, djusteru seorang musuhnja datang menjateroninja guna
mentjari balas. Musuh datang berkawan. Dia menantang. Hay
Auw menerima baik tantangan itu, ia pergi ketempat jang
djandjikan. Ia merendahkan diri, ia mohon supaya sakit hati
dihabiskan sadja. Musuh bersikeras. Akhirnja ia habis daja,
sambil tertawa menengada langit, ia berkata keras: "Aku tahu
akan segala akibat perbuatan-perbuatanku dahulu, tak heran, tak
dapat disesalkan jang kalian datang mentjari aku! Djika kalian tak

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 50

sudi akur, baiklah, terserah kepada kalian. Hanja hendak aku


djelaskan, telah aku berdjandii didepan kuburan isteriku bahwa
aku tan akan berkelahi lagi, maka itu sekarang, aku melajani
kalian tanpa aku membalas menjerang kalian bebas untuk
menjerang dan mem' aku sesenang kalian. Apa jang aku minta
jalah supaja kalian mengasih ampun kepada anak
perempuanku . .."
Salah seorang musuh, jang bernama Hui Thay Khiu Thian
Seng si "Tikus Terbang." Dia bertjuriga, dia menjangka Hay Auw
berpura-pura sadja. Maka dia lantas madju, untuk membatjok. Di
tak berlaku sungkan. Dia pikir, Hay Auw pasti menangkis atau
berkelit. Njata terkaannja keliru. Hay Auw tetap berdiri
mematung, matanja dirapatkan.
Seorang musuh lainnja tiba-tiba mendapat perasaan banwa
Hay Auw tak lagi berlagak pilon.
Dia melompat untuk mentjegah kawannja membatjok itu.
Dia berlompat madju sambil menggunakan senjatanja jang
berupa gaetan menjambar golok Khiu khian Seng. Sajang dia
terlambat. Goloknja Thian Seng tjuma terbentur sedikit, karena
mana, sendjata itu djadi menahas hanja sebelah lengannja Hay
Auw hingga lengan itu terputus-kutung.
Sekarang sadarlah semua musuh bahwa Hay Auw bukannja
berpura-pura. Mereka mendjadi terharu. Mtereka sesalkan Thian
Seng terlalu sembrono. Lantas mereka meno'ong membalut
lukanja Hay Auw dan kemudian mengantarkannja pulang.
Ketika itu In-djie sudah berumur sepuluh tabun, ia kaget dan
gusar melihat ajahnja terluka hingga sebelah tangannja buntung
itu, dalam murkanja ia hendak menjerang musuh-musuhnja. Akan
tetapi ajahnja mentjegah dan membudjukinja.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 51

Para musuh mendjadi sangat terharu dan menjesal, semuanja


lantas menghaturkan maaf, kemudian mereka ngelojor pergi.
Dua bulan setelah itu, Hay Auw sembuh dari lukanja, hanja
sekarang dia mendjadi seorang tapadaksa. Sekarang dia tak
kerasan lagi berdiam di umahnja, ditempat kediamannja itu, maka
dia megadjak puterinja, jang sebenarnja bernama Kiauw In, pergi
mengembara. Ditahun ke-dua, dia pesiar ke kuil Tay Hoa Sie
digunung Ngo Tay San. Di dalam kuil ia bertemu dengan Hoat
Beng Taysu, Hengthio, atau pendeta kepala, dari wihara itu. Satu
malam suntuk mereka pasang omong, lantas dia ngambil
keputusan buat mensutjikan diri. Kareanja dia terus pergi ke Kiu
Hoa San untuk menitipkan puterinja kepada Tek Tjio Siangdjin,
sahabat kekalnja, kemudian dia kembali ke Thay Hoa Sie, untuk
mendjadi pendeta bersama-sama Beng Taysu dengan dia
memakai nama sutji Go Hui. Walaupun apa jang telah terdjadi
atas dirinja itu, Hay Auw tidak memberitahukan puterinja tentang
she dan nama dari musuh-musuhnja karena dia kuatir dibelakang
hari Kiauw In pergi melakukan pembalasan atas dendam kesumat
itu. Maka djuga sang puteri tjuma tahu malam itu ajahnja pulang
dengan terluka lengannja, lain tidak. Bahkan ajah ini terpaksa
mendustai puterinja bahwa dia sengadja membatjok lengannja.
Puteri itu bertjuriga tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Djadi,
ketika ia bertjeritera kepada It Hiong, hanja sekian sadja
keterangannja.
Dilain pihak, It Hiong djuga menuturkan wajat hidupnja jang
penuh bahaja, jang mengerikan, karena mana, keduanja djadi
merasa bahwa peruntungan mereka sangat mirip satu dengan
lainnya bahwa mereka senasib …!
Dengan lewatnja sang tempo, It Hiong ingat akan musuh-
musuhnja. Sering ia menengadah kelangit sambil menghela napas
pandjang, kadang-kadang ia berseru njaring. Dengan ia

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 52

melegakan hatinja jang pepat. Atau dilain saat ia duduk atau


berdiri diam seperti patung, terdjadi demikian, selalu Kiauw In
jang menjadarkannja, membudjuknja supaja berlega hati; karena
kata sinona, dengan berduka, dia dapat naengganggu
kesehatannja, bahwa gangguan kesehatan itu merusak usahanja
beladjar silat.
It Hiong sangat terharu buat kebaikan Kwan In, ia bersjukur
hingga ia menganggap si nona sudah bagai anggauta keluarga
sendiri, hingga sering likat-likat ia mendekam dalam rangkulan
nona itu menangis sedu-sedan. Apabila terdjadi demikian si nona
membiarkannja sadja, sampai tangisan orang reda sendirinja,
baharu ia membudjuk sampai achirnya si anak muda tertawa .....
Demikianlah sebagai saudara-saudara seperguruan, bagaikan
kakak-beradik, kedua anak itu Lna-sama besar di puntjak Pay In
Nia, sampai dengan sendirinja, tumbuhlah bibit asmara dalam
hati mereka masing-masing. It Hiong bagaikan tak dapat
ketinggalan dari sang entjie, kakak seperguruan itu, sampai sering
dia membantu entjie itu pjentjutji beras atau memotong sajur
didapur .....
Aneh dan lutju adalah Giok Nouw. Binatang ini seperti
ketahui bahwa itu sutjie dan sutee bagaikan pasangan suami-
isteri, kalau dia menjuguh bebuahan, selalu dia memilih
sepasang, dan ia jang membagikan sendiri.
Tek Tjio Siangdjin, jang telah dapat meramalkan segala
sesuatu, membiarkan kedua muridnja itu bergaul bebas, asal sadja
mereka tak melalaikan peladjaran mereka. Maka djuga bebaslah
In-djie dan Hiong-djie mendjeladjah gunungnja, hal mana perlu
djuga sebab mereka djadi sekalian melatih ilmu ringan tubuh,
agar mereka mendjadi kuat dan ulet dan bernapas pandjang,
supaja tubuh mereka ingan, gesit dan pesat.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 53

Pada tahun jang ke-lima maka It Hiong telah memasuki usia


limabelas tahun. Didalana usia itu ia telah mendjadi seperti
seorang dewasa, tubuhnja besar dan kekar, wadjahnja tampan dan
gagah, sedangkan In-djie, dalam usia delapanbelas tahun, telah
mendjadi seorang nona jang tjantik-djelita, lemah-lembut tetapi
pun gagah .....
Sesudah bertambah usia itu, sekarang muda-mudi mendjadi
sama besarnja, hingga mereka merupakan pasangan jang sangat
setimpal. Sampai itu waktu, tetap mereka bebas-merdeka, dapat
bergaul erat seperti masa-masa ketjilnja, dan guru mereka
membiarkan mereka memandangi keindahan Kiu Hoa San dan
menjedot hawa udaranja segar, membiarkan djuga mereka berdua
memasang omong dengan asiik .....
Pada suatu magrib, habis pesiar, setibanja dalam rumah,
Kiauw In dan It Hiong melihat mereka tengah duduk bersila
diatas pembaringan jang terbuat dari kaju tjemara. Disisi
pembaringan ada sebuah penerangan jang berupa lilin minyak
tjemara djuga. Hanja, beda daripada biasanja, kali ini kedua
matanja guru itu bersinar tadjam mengawasi murid muridnja,
sikapnja pendiam tetapi keren.
Saking heran, In-djie dan Hiong-djie menjadi terperandjat.
Segera keduanja menghampiri, untuk berlutut memberi hormat,
untuk mendekam didepan guru itu.
Tek Tjio Siangdjin mengawasi sekian baru ia menghela
napas.
"Kalian berdua," katanja kemudian, "Bakat kalian buat
beladjar silat sama-sama dasarnja, apa jang harus disajangi jalah
batas-batasnja berlainan, hingga kalian tak akan berhasil madju
bersama. Anak In tjerdas dan sebat tenaganja kurang, anak Hiong
tjukup semuanja terutama disebabkan ia telah minum darah belut,
hingga buat ianja tinggal ketenangan dan perjalanan lebih djauh.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 54

Oleh karena itu, anak-anak, mulai besok, aku akan membimbing


kalian setjara berlainan supaja selandjutnja kalian memperoleh
kemajuan masing-masing, supaja ketekunan kalian tak terintang
dikarenakan hati atau pikiran kalian te terpetjah. Waktu beladjar
kalian akan diubah, pisahkan. Anak Hiong, besok kau turut aku
kebelakang puntjak, kedjurang buntu, untuk berdiam disana
menutup diri. Dan kau, anak In, kau berdiam disini."
Begitu habis berkata, begitu guru itu memeramkan matanja.
Hingga ia djadi berduduk diam seperti semula tadi, tak bergerak,
tak berbitjara.
Kedua sutjie dan sutee itu mengangguk ke-pada guru
mereka, lantas mereka mengundurkan diri. Tiba diluar, keduanja
berdiri diam, mata mereka mendelong sadja. Banjak jang mereka
pikirkan
Tetapi tak ada jang diutarakan.
"Sutee," kata In-djie sesaat kemudian, "besok kita akan
berpisah, walaupun buat waktu jang tertentu, meskipun berpisah
tempat jang sangat dekat. Ini dia jang dibilang dekat-dekat djauh,
dekat tetapi djauh! Sebab aturan suhu sangat keras, tanpa titahnja,
tak dapat kita saling bertemu. Aku sebenarnja menguafirkan kau
tinggal bersendirian di djurang itu, kau tak ada jang rawati ....."
Alisnja It Hiong merapat, sinarmatanja memain. Ia tergerak
hati buat kebaikannja kakak seperguruan itu, ia bersjukur. Tapi ia
tertawa ketika ia berkata: "Entjie In, aku sangat berterima kasih
jang selama berdiam disini selalu kau memperhatikan padaku,
tetapi sekarang aku sudah besar, tak apat entjie
memperhatikannja terus-menerus. Entjie tidak bisa merawat aku
buat selama-lamanja? ..." Mulanja si nona bersenjum mendengar
kata-r ata si pemuda, tetapi diachirnja, ia berdiam, wadjahnja
suram, ia terus mengeluarkan suara jang tidak tegas, setelah mana
ia mengangkat kaki memasuki kamarnja.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 55

Menampak demikian, si anak muda mengheia apas. Ia


menerka si nona masgul sekali karena akal perpisahannja itu.
Untuk tidak mengganggu nona itu, iapun masuk kekamarnja
sendiri.
In-djie didalam kamarnja duduk bersendirian dengan pikiran
kusut. Ia berduka, iapun berkuatir. Ia memikirkan kata-katanja It
Hiong jang paling belakang. Apakah pemuda itu tak mentjintai Ia
ingat bagaimana ia merawatnja sedjak sute baru datang,
bagaimana ia telah membantu budjuk gurunja menerima dia
sebagai murid. Selain itu, tak pernah mereka berpisah, selalu
bersama, manis dan erat sekali pergaulan mereka.
Tengah si nona berduka dan ruwet itu, tiba ia mendengar
suara gurunja: "In-djie, sudah djauh malam, kenapa kau masih
belum tidur?" Ia terperandjat. Tidak ajal lagi, ia mengulapkan
tangannja, meniup api lilin. Didalam gelap melihat sinar si Puteri
Malam. Ia menerka jam dua. Djadi ia sudah bergadang lama
sekali. Dengan lesu ia naik keatas pembaringannja. Tapi, dapat ia
lekas-lekas pulas? Bahkan semalam suntuk ia tak tidur sekedjab
djuga. . .
Dihari ke-dua, begitu lekas terang tanah In-djie bangkit, buat,
turun dari pembaringan. Ia tjoba buat tidak memikirkan It Hiong
lagi, tetapi, kakinja telah bertindak ke kamar orang, ambang
pintu, ia berdiri mendjublak. Pintu kamar terpentang, kasur dan
selimut tidak ada, tidak djuga penghuninja. Bahkan pedang
didinding tiada. Ia mendjadi ketjele dan menjesal. Tahulah ia jang
sang sutee sudah ikut gurunja pergi lakang puntjak. Iapun
mendjadi menjesal jan malam ia berpenasaran sendiri,
berpenasaran tak keruan ...
“Kenapa ia pergi tanpa menemui aku?” pikirnja kemudian.
Kiauw In memasuki kamar, ia bagaika hilangan sesuatu,
kesempatan kemudian ia memutar tubuh, melihat keluar kamar, ia

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 56

terkedjut sendi Dimuka pintu tampak gurunja lagi berdiri


awasinja. Entah kapan tibanja guru itu.
Tek Tjio Siangdjin berdiri tegak bagaikan serang dewa.
janggutnya jang pandjang seperti memain bersama djubahnja
jang tertiup angin gunung pagi jang sedjuk. Ia menggendong
kedua tanganja, wadjahnja tenang. Tjuma sinarmatanja tetap
tadjam.
Nona In djengah sendirinja. Tapi ia memaksa diri untuk
bertindak menghampiri gurunja itu, untuk memberi hormat.
"Selamat pagi, suhu!" sapanja. Ia mendjatuh-kan diri untuk
berlutut, airmatanja berlinang-linang. Tak berani ia mengangkat
kepalanja.
Guru itu memimpin muridnja bangun. "Anak tolol!" katanja.
"Benarkah kau sebelum sampai di sungai Hong Hoo, hatimu tak
akan padam? Kau tahu, karena perputaran karma, sebab laut
asmara jang luas, gurumu mendjadi terlibat urusan kalian anak-
anak ....."
Kiauw In bagaikan tengah lupa daratan, tak dapat ia
menangkap artinja kata-kata samar dari gurunja itu. Ia tjuma bisa
menerka, lain tidak. Karena kedukaannja, airmatanja mengalir
semakin deras.
Dengan sabar Tek Tjio memegang lengan kanan anak itu,
untuk dipimpin bangun.
Diantara airmatanja, In-djie melirik muka gurunja. Ia melihat
satu wadjah jang tenang, jang penuh sifat kasihsajang. Lega djuga
hatinja. Guru itu tidak gusar.
"Suhu, aku ..." katanja, tertahan. "Djangan bitjara terus!"
guru itu menjela. Aku mengerti maksudmu. Pergi ambil
pedangmu, lalu menjusul aku keluar. Mari kita berlatih."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 57

Guru itu bertindak keluar, muridnja lari ke kamarnja, akan


mengambil sendjatanja, buat dilain saat lari menjusul. Mereka
memutari pagar bambu, sampai disebuah pekarangan terbuka.
Itulah tempat latihan, jang luas bundar lima tombak.
Biasanja disitu It Hiong dan Kiauw In selama dua djam, tapi
kali ini, si nona harus ladjar seorang diri. Segala sesuatu tetap
ada, tiada jalah si adik seperguruan. Maka djuga kosonglah
hatinja kakak ini .....
"Inilah ilmu pedang Wat Lie Kiam" berkata Tek Tjio, jang
mengambil pedang dari tangan muridnja. "Kau perhatikan gerak
gerakanku." dengan perlahan, guru itu mulai bersilat.
'Wat Lie Kiam" berarti '"Gadis Negara Wat gadis itu—
didjaman dahulu—tersohor sebagai ahli pedang. "Wat" jalah
sebuah negara bagian didjaman dahulu itu (dan sekarang ini:
Fukien dan Chekiang. Ilmu pedang itu terdiri dari seratus
duapuluh-delapan djurus, maka djuga selang satu djam barulah
itu selesai mendjalankannja. Inilah sebab didjalankan,
dipetakannja, setjara lambat sekali. Djusteru karena itu, sang
murid bisa melihat dengan tegas dan mudah dia mengingat-
ingatnja.
"Ilmu pedang ini didasari keringanan tubuh dan kegesitan,"
kata sang guru kemudian tersenjum. "Dan setiap perubahannja
membutuhkan kesebatan. Inilah ilmu pedang jang paling tepat
untuk wanita. Kau harus mempeladjarinja dengan perlahan-
perlahan, sesudah ingat betul, baharu mulai mempertjepatnja.
Perlahan berarti ketenangan dan kekokohan, setelah itu, kau akan
bergerak tjepat dan bebas, pedangmu akan dapat digunakan
menurut sesuka hatimu. — Nah mulailah!"
Tek Tjio menjerahkan pedang kepada muridnja, setelah
Kiauw In menjambuti dan mulai beladjar, ia mendampingi untuk

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 58

saban-saban memberi petundjuknja. Lewat lagi satu djam, baru


mereka pulang kegubuk mereka.
Semendjak hari itu, Tek Tjio Siangdjin mendidik muridnja
bergantian. Dengan tertentu ia pergi ke djurang, akan melongok
dan mendidik It Hiong.
In-djie beladjar tekun, ia toh tidak bisa melupakan Hiong-
djie, asal temponja luang, pikirannja melajang kepada adik
seperguruan itu. Sulit buat ia menenangkan hatinja, maka dengan
lewatnja sang hari, tubuhnja tampak kurus, makin kurus.
Tek Tjio Siangdjin dapat melihat kedukaannja murid itu, ia
masgul, ia merasa terharu, akan tetapi ia melegakan hati. Ia mesti
mengutamakan peladjarannja It Hiong, djuga peladjarannja In-
djie sendiri. Maka djuga, ia latih si anak muda dengan keras
sekali, hingga muridnja itu merasa bahwa gurunja ini mendjadi
beda sekali. Kalau perlu, sang gurupun menegur muridnja.
Ilmu pedang Khie-bun Patkwa Kiam dari Tek Tjio Siangdjin
mendjadi ilmu tersendiri, tak berdasarkan dari partai mana djuga.
Ia mentjiptakannja sesudah ia memahami, mengamat-amati, ilmu
pedangnja pelbagai partai. Ia pilih dan ambil mana jang istimewa,
ia gabung dan persatukan itu. Karena itu, ia memakai nama
patkwa — delapan diagram, kotak atau garis. Sedangkan dalam
ilmu meringankan tubuh — keng sin sut—ia mengadjari "Tee In
Tjiong," ilmu "Tangga Mega Terbang," supaja muridnja itu bisa
lompat djauh dan tinggi dengan kepesatan luar biasa. Ia baru
mulai memberikan peladjarannja sesudah murid itu ditempatkan
tiga bulan digubuk dalam djurang itu, sedangkan mulanja ia
melandjutkan mendidiknja dalam ilmu tenaga-dalam, guna
menguatkan tubuhnja serta menebalkan semangatnja.
Keras hatinja putera dari Tio Sunbu almarhum, dapat ia
beladjar dengan sungguh-sungguh. Ia tidak menghiraukan sikap

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 59

keras dari gurunja, karena ia insjaf itulah untuk kepentingannja


sendiri. Karena itu, ia madju terus dengan pesat.
Diam-diam Tek Tjio puas sekali. Tak sia-sialah adjaran dan
pengharapannja. Hanja kada sadja ia masgul. Inilah sebab ia tahu
It Hiong bakal terlibat asmara, bahwa ia mesti mengalami banjak
pertempuran jang menumpahkan darah meminta djiwa.
Disamping ilmu silat dan ilmu surat, iapun mesti mendidik agar
muridnja ini ngenal dirinja, dapat membatasi diri, dapat
menguasai hatinja. Itulah baharu berarti keselamatan jiwa dan
raganja .....
Baru setengah tahun, It Hiong telah berhasil menguasai
Khiebun Patkwa Kiam, jang semuanja terdiri dari seratus tiga
puluh-enam djurus, itupun ditjiptakan sesudah Tek Tjio Siangdjin
meneliti pelbagai ilmu pedang kaum persilatan Selatan Utara,
jang ia ambil bagian-bagiannja jang istimewa sadja, seperti ia
mentjiptakan Wat Lie . untuk Tjio Kiauw In si murid wanita.
Buat It Hiong tinggallah pengalaman terhadap lawan-lawan
sesungguhnja.
Segera setelah mendapat kenjataan murid sudah baladjar
tjukup, Tek Tjio Siangdjin mengadjaknja pulang, hingga dilain
saat, It Hiong telah dapat bertemu pula dengan Kiauw In, hingga
dua-duanja — terutama si nona — girang luar biasa, Hanja
didepan gurunja, mereka itu tjuma saling ngawasi dan bersenjum,
tentang perasaan hati tjuma mereka sendiri jang mengetahuinja.
Tek Tjio Siangdjin dapat menerka hatinja dua murid itu, ia
tertawa dan berkata: "Setengah tahun aku memisahkan kalian,
sekarang kalian telah memperoleh kemadjuan pesat, maka djuga
hari ini aku berikan perkenan istimewa kepada kalian untuk pergi
berburu, bahkan kalianpun akan dapat minum arak. Kalian bebas
selama dua hari!"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 60

Bukan alang-kepalang girangnja kedua murid itu, hampir


mereka lompat berdjingkrakan. Lantas keduanja mendjatuhkan
diri, berlutut didepan guru menghaturkan terima kasih mereka
jang hangat, habis itu, berdua mereka lantas keluar dari rumah,
terus berlari-lari pergi kepinggang puntjak. Kiauw In didepan, It
Hiong menjusulnja.
Tiba di bawah sebuah pohon tjemara tua, Tjauw In berdiri
menjender pada pohon itu. Ia menoleh kepada It Hiong, lantas ia
tunduk. Ia tidak membuka mulutnja.
Tadipun selama berlari-lari, keduanja terus membungkam.
"Entjie!" menjapa It Hiong sembari mendekati ketika ia
melihat sutjie itu berdiam sadja. Ia bjtjara dengan perlahan sekali.
Ia menerka kakak itu akan mendjawab ia dengan "Adik Hiong!"
seperti biasanja. Maka ia mendjadi heran ketika ia mendapati
sang kakak seperguruan masih tetap berdiam, tjuma kedua tangan
halus kakak itu membuat main pita merah dari rambutnja jang
hitam-mengkilat jang terdjalin rapih, rambut mana merojot turun
di bahunja.
Setelah menanti sedjenak sambil mengawasi terus sutjie itu
masih berdiam terus, It Hiong bertindak mendekati, memasang
mulutnja di telinga orang.
'Entjie !" sapanja pula.
Nona itu tetap berdiam, tjuma kedua bahunja tampak
bergerak-gerak.
Habislah sabar si adik, ia memegang kedua bahu orang,
untuk diputar sedikit tubuh sutjie itu, hingga muka mereka djadi
berhadap-hadapan. Ia mendjadi kaget selekasnja ia melihat muka
nona itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 61

Kiauw In menangis, airmatanja berlinang-li-nang! Sepasang


alis si nona djuga rapat satu dengan jang lain. Tampaknja dia
sangat berduka. Tapi kemudian dia mementang matanja jang
djeli, mengawasi sang adik seperguruan, mengawasi dengan
bengong sadja .....
"Kau nampaknja berduka, entjie..." It Hiong habis sinarmata
mereka beradu.
Tiba tiba si nona menjela. Katanja: "Aku dari keluarga
rendah, mana dapat aku direndeng dengan puteranja satu keluarga
berpangkat? tak dapat aku mendjadi seorang entjie ..... Maka
menjesal atas perkenalan kita ini ..... Sudah, It Hiong, tak usah
kau menanja apa-apa lagi pada"
Habis berkata si nona melepaskan dirinja rus ia lari turun
bukit!
It Hiong tertjengang saking heran.
"Entjie!" serunja sambil lari menjusul. " apakah artinja kata-
katamu ini? Entjie, aku tidak ngerti !"
Kiauw In lari terus. Memangnja ia dapat keras.
It Hiong menjusul, sampai ia mesti menggunakan ilmu
ringan tubuh "Teng Peng Touw Sui" (menjeberang dengan
mengindjak kapu-kapu). Dengan begitu, ia tidak menghiraukan
djalanan sulit sukar, jang dapat membuat orang tjelaka kalau
terpeleset .....
Dengan hanja beberapa endjotan, dapat Hiong menjusul dan
melampaui si nona, maka lekas berhenti berlari, memutar
tubuhnja, untuk memegat nona itu.
"Entjie, tahan !" katanja. "Mari kita bicara! Selama beberapa
tahun entjie telah merawat aku, kita hidup bagaikan kakak-
beradik, tetapi masih muda, kalau aku berbuat salah, aku mohon

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 62

entjie suka memberi maaf. Lebih baik lagi kalau entjie dapat
mendjelaskan kesalahanku, supaja dapat mengubahnja. Sekarang
ini tak tahu aku akan kekelijruanku. Apakah karena aku anaknja
seorang berpangkat maka entjie mau meninggalkan aku? jka
benar, kenapa tadi-tadinja entjie sangat memperhatikan aku?
Enijie, perlakuanmu ini membuat hatiku hantjur rasanja ....."
Mendengar suara orang dan melihat si adik berduka, hatinja
Kiauw In berubah, hatinja itu bagaikan es beku jang berubah
mendjadi air. Ia pula tidak dapat mendjelaskan kesalahan orang.
Karenanja ia mendjadi berdiam sadja, tjuma matanja melibat ke
sekitarnja.
Disisi mereka ada selokan gunung jang dalam, kesana Kiauw
In bertindak, sampai ia dekat tepian, tubuhnja tampak limbung.
It Hiong kaget, ia lompat menubruk tubuh nona itu.
"Entjie, kau kenapa?" teriaknja.
Nona Tjio tunduk, sendirinja ia tersenjum. Ia telah memikir,
dapat ia menenangkan diri. Maka ia lantas main sandiwara.
Sengadja ia membuat tubuhnja lemah.
It Hiong mempepajang, membawa si nona kembali kepohon
tjemara, untuk dikasih duduk. Ia melihat wadjah orang. Apamau,
ia melihat senjuman si nona, sisa tertawanja .....
"Hm!" bersuara ia didalam hati. Ia lantas dapa menerka
kenakalan sutjie itu.
Angin gunung datang meniup, membuat main rambut didahi
dan sisi telinga si nona, jang memedjamkan matanja, sedangkan
tubuhnja dibiarkan bersender kepada dada si sutee . ..
It Hiong mengawasi wadjah orang. Ia melihat raut muka jang
tjantik, alis jang lentik, hidung jang bangir, bibir jang merah
dadu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 63

"Entjie In, sungguh kau tjantik!" tiba-tiba berkata si sutee,


njaring, lalu mendadak ia menempel bibirnja kepada bibir orang!
Kiauw In terperandjat, hingga ia melompat bangun.
"Kau berani?! ..... " tegurnja, mukanja merah dadu.
Lekas-lekas It Hiong mendjura.
"Aku salah, entjie," katanja tjepat.
Kiauw In menggigit bibirnja, ia menatap. "Djangan takut,"
katanja, kemudian, aku main-main sadja..." Dan ia mentjekal
lengan orang, buat ditarik. "Mari duduk!" tambahkannya.
It Hiong membiarkan tangannja ditarik, hi ga ia duduk
berendeng dengan nona itu.
Hanja lewat sedjenak, keduanja sudah la bitjara dengan asjik,
saling menutur pengalaman masing-masing sedjak mereka
berpisah setengah tahun, jang rasanja lama bukan buatan. Selang
satu djam, barulah mereka pergi berburu, menangkap beberapa
ekor kelintji, jang terus dibawa pulang Tiba dirumah, Kiauw In
lantas bekerdja di dapur dan It Hiong membantui padanja.
Magrib itu, kedua murid dan gurunja du dibatu jang besar
dan lebar diatas mana banjak hidangan disadjikan. bertiga mereka
bersantap sembari minum sambil memandangi puteri malam jang
mulai muntjul.
Malam itu, udara bersih, rembulan indah
Sembari minum, Tek Tjio Siangdjin bertje mengenai sesuatu
dunia Kang Ouw, perihal on Bu Lim jang luar biasa. Tjerita itu
perlu untuk menambah pengetahuannja kedua murid itu, jang
mendengarkannja dengan penuh perhatian. Mereka menanja ini
dan itu dan sang guru mendjawab dengan djelas. Untuk
pengalaman mereka nanti semua itu perlu sekali.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 64

Kiauw In saban-saban menambah isi tjawan Ljija itu, jang


berbitjara dengan lebih gembira daripada biasanja, ini rupanja
disebabkan murid-muridnya itu telah madju pesat dalam
peladjarannja.
Tengah mereka asjik itu, tiba-iiba terdengar pekik kera jang
njaring, jang memetjah kesunjian sang malam. Mulanja It Hiong
terperandjat, hendak ia mentjaritahu, sebab itulah suaranja Giok
Nouw, atau mendadak mereka menampak satu bajangan orang
jang berlari-lari bagaikan terbang ke arah mereka. Hanja
sekedjap, tiba sudah bajangan itu dihadapan mereka bertiga.
"Hahahaha!" demikian bajangan itu tertawa tebar, suaranja
njaring bagaikan genta, berkumandang dilembah-lembah. Tatkala
tawa itu berhenti, terus disusul dengan kata-kata ini: "Hai, hidung
terbau, sungguh kau gembira! Lihat, malam ini kembali si
pengemis datang mengganggumu!"
Memang, dialah Pat-Pie Sin-Kit In Gwa Sian! Begitu
mengenali ajah-angkatnja, It Hiong bangkit menjambut, ia lantas
bertekuk-lutut mendekam ditanah. -
"Oh, giehu!" serunja. "Maaf, tak tahu Hiong-djie akan
kedatangan giehu hingga aku lambat menyambut ..."
Pengemis tua itu tertawa pula. Ia sambar tangan anak-angkat
itu, untuk dikasih bangun. "Dasar kau, hidung kerbau!" tegurnja
pada tuan rumah. "Kau memubat muridmu banjak adat-peradatan
sebagai dirimu sendiri! Aku si ajah angkat, si orang kasar, aku tak
mengenal segala aturan begini! Anak, mari!"
Dan ia manarik tangan anak itu, buat di-Njak duduk bersama.
Ia tidak memberi hormat Pada Tek Tjio Siangdjin, siapapun tidak
menghunjuk hormat kepada nja. Si imam tjuma menjambut
dengan senjuman.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 65

Kiauw In memberi hormat pada paman itu, sesudah mana, ia


mengambilkan sebuah tjawan arak, untuk menuangkan hingga
penuh. Ia kenal tabiatnja paman guru ini jang djenaka, jang
sangat gemar gujon.
In Gwa Sian mentjegluk isi tjawannja jang pertama, lalu dia
tuangi lagi, sampai tiga tjawan semuanja dia tenggak kering.
"Malam ini hari baik apa ja?" tanjanja tawa. "Kenapa kau si
guru hidung kerbau bolehnja bermurahhati bagaikan jang mulia
Bodhisatva? … ”
Tek Tjio Siangdjin memotong kata-kata orang. "Siluman tua,
djangan kau ngotjeh tidak keruan. Kau tahu kau membuat orang
bertjatjat tersia-siakan seorang diri ditepi djurang! ..."
Tiba-tiba paras si pengemis berubah, terus menghela napas.
"Hidung kerbau," katanja, sabar, "Seumur hidupku, aku tidak
menjerah kepada siapa djuga tjuma terhadap kau, sesungguhnja
aku takluk. Terus dia berpaling kearah luar, untuk meneriakkan:
"Eh, pendeta tua, sudah, djangan kau sembunji-sembunji lebih
lama pula! Kau tahu, si hidung kerbau telah dapat
melihatmu! ....."
Belum berhenti suara si pengemis, sesosok tubuh sudah
berkelebat; diantara sinar rembulan, nampaknja bagaikan
bajangan hitam. Hanja sekedjap tiba sudah bajangan itu didepan
tuan rumah beramai.
It Hiong segera mengawasi. Ia mendapati orang pendeta jang
bertubuh besar dengan djubah sutjinja dan sepatu rumput,
kepalanja gundul, ada tanda sulutannja. Djubahnja itu berwarna
abu-muda, tangan badjunja jang kiri gerombongan, memain
diantara sampokan angin. Dia mempunyai muka jang putih dan
alis jang pandjang, matanja bundar, mulutnja lebar. Dia
meluntjurkan hanja sebelah tangannja jang kanan. Katanja

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 66

tertawa: “Aku si orang tjut-kee-djin, tubuhnja jang bertjatjat


terkutuk bersusun-susun, seharusnja aku memisahkan diri dari
dunia umum, mestinja aku menjekap diri digunung jang dalam,
apamau sukar buatku memutuskan hubungan tulang dan daging,
hatiku teringat pula kepada penghidupan dunia, pintunja Sang
Budha lebar tetapi pintu itu masih sulit buat dilewati aku si
manusia biasa ....."
Tek Tjio Siangdjin merangkap kedua belah tangngannja
kepada pendeta itu, jang menjebut dirinja "tjut-kee-djin," orang
jang mensutjikan diri.
"Sang Buddha tjuma ada dihati!" katanja. "Pendeta, mengapa
kau mengeluh? ..."
Menjusul kata-kata tuan rumah itu, mendadak In-djie
berseru: "Ajah, anakmu sangat kangen!" Lantas dia lompat
kedepan si pendeta, untuk memberi hormat sambil paykui.
Pendeta itu mengulur tangan tunggalnja, untuk mentjekal
lengan si nona seraja berkata sabar: "Enam kali musim panas dan
musim dingin telah bertukar, kau sekarang telah mendjadi besar,
anakku! Inilah pertanda dari budi jang sangat besar dari
sahabatku. Karenanja, apakah budi itu tak usah di balas?"
Berkata begitu, si pendeta lantas memberi hormat pada tuan
rumahnja.
Pat Pie Sin Kit mengawasi kedua orang beribadat itu.
"Ah, kamu, si pendeta dan si imam!" katanja, alisnja
dikerutkan, "Hari ini kamu telah mendjadi siutjay-siutjay jang
bertingkahpola lemah-lembut! Dari mana datangnja segala adat-
peradatan Kalian ini? Hajolah minum! Mari minum!"
Mendengar begitu, si pendeta terus duduk sedangkan tuan
rumahpun duduk pula.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 67

In Gwa Sian sengadja menjebut orang sebagai siutjay,


mahasiswa tingkat satu, karena tuan rumah dan tetamunja itu
berlaku sungkan satu dengan yang lain sedangkan mereka adalah
sahabat-sahabat karib.
Si pendeta minum kering araknja Tek Tjie Siangdjin, arak
jang terbuat dari sari buah persik. Sajurnja, ia tidak raba sama
sekali. Kemudi bangkit dan berkata kepada si nona: "Telah aku
mengeluarkan kata-kata akan bersemadhi se limabelas tahun,
karena itu sudah seharusnja belum dapat aku datang kemari
mendjengukmu, akan tetapi tak dapat aku menampik adjakannja
Paman In-mu ini. Hendak aku berdiam disini selama satu malam,
akan bitjara dengan gurumu, habis itu, hendak pergi pula, siapa
sangka sekarang aku telah lantas bertemu denganmu. Inilah
diluarsangkaku. Aku telah berdjandji, aku mesti bersemadhi,
pantang bagiku untuk memikir jang lain-lain, tempo Iima belas
tahun bakal lekas tiba, itu waktu pasti ajah dan anak akan
bertemu pula. Karena itu sekarang, aku larang kau
mengerembengi aku!".
Begitu habis ia berkata, pendeta itu bangkit tubuhnja terus
mentjelat keluar, waktu Kiaw In berseru memanggilnja, ia sudah
terpisah setombak djauhnja, hingga dibawah sinar rembulan
tampak bajangannja sadja. Anak ini hendak menjusul tapi gurunja
mentjegahnja, maka ia terus menjatuhkan diri, tunduk sambil
menangis .....
In Gwa Sian tidak puas menjaksikan gerak-gerik pendeta itu,
ia mengawasi sampai oran lenjap, kemudian ia menggeleng
kepala dan berkata "Tjio Hay Auw mensutjikan diri sesudah dia
pernah hidup dalam dunia Kang Ouw, tak kusangka dia dapat
berkeras hati seperti ini, sampai dia melupakan anak gadisnya!
Aku tidak pertjaja bahwa Agama Buddha tidak menghendaki lagi
adanja tjinta kasih ajah dan kebaktiannja anak ..."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 68

Tek Tjio Siangdjin mengangguk, sembari tertawa ia berkata:


"Go Hui baharu mulai mensutjikan-diri, tak heran dia djadi
demikian keras hati, tetapi djandjinja limabelas tahun itu untuk
bersemedhi nanti akan membuatnja insjaf. Sekarang ini memang
tak ada perlunja semadhinja itu dirusak oleh soal bakti
anaknja ....."
Sampai di situ, mereka berhenti membitjarakan soal sikapnja
Go Hui itu, sedang Tiauw In dinasehati dan dihibur, maka
selanjutnja, mereka bitajara dari hal lain. Sampai kira-kira jam
empat, barulah mereka bubar.
Sedjak itu Pat Pie Sin Kit berdiam di puntjak Pay In Nia,
untuk menepati djandjinja akan memberi peladjaran silat kepada
It Hiong dan Kiauw In akan mewariskan dua rupa kepandaiannja
jang istimewa, jaitu ilmusilat tangan kosong ‘Hang Liong Hok
Houw Tjiang’ (Menaklukkan naga menundukkan harimau) dan
sendjata rahasia 'Yan-Bwee Twie Hun Teng’ (Paku mengedjar
arwah si ekor walet).
Kembali sepasang muda-mudi itu mesti memusatkan
perhatiannja buat dua matjam peladjaran ini, hanja, walaupun
demikian, mereka masih memanjai kesempatan buat terus bergaul
dengan erat.
Melihat pergaulannja kedua orang muda itu, In Gwa Sian
diam-diam berunding dengan Tek Tjio Siangdjin mengenai
djodoh mereka itu. Ia pikir sebaiknya mereka itu ditunangkan
satu dengan lain. “Itulah urusan anak-anak, urusan mereka sendiri
mendjawab si imam. "Buat mereka, itulah penting sekali, karena
itu baik biarkan sadja mereka sendiri jang mengurusnja. Kalau
terdjadi sesuatu perubahan, itulah hebat."
Si pengemis tua heran, akan tetapi karena pertjaja betul
kepandaian si imam, jang dapat mikir djauh, ia suka mengalah, ia
tak memaksa pendapatnja itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 69

Satu tahun In Gwa Sian tinggal di Pay In Nia, selesai sudah


It Hiong dan Kiauw In menerima warisan kedua matjam ilmu
silatnja itu, maka itu, ia dapat meninggalkan Kiu Hoa San. Ia
hanja memesan untuk murid-muridnja itu menggunakan pakunja
dengan seksama, artinja, kalau sudah sangat perlu.
Berat atau tidak, It Hiong dan Kiau membiarkan ajah-angkat
dan pamanguru itu berangkat pergi, sebab si pengemis adalah
seorang bebas-merdeka jang tak dapat berdiam terlalu lama di
satu tempat.
Lewat dua bulan semendjak perginja In Sian, pada suatu hari
Tek Tjio Siangdjin memanggil It Hiong kehadapannja, dan
berkata kepadanya, "Sekarang ini kau telah mewarisi lima atau
enam bagian dari ilmu silatku, maka itu sudah seharusnja kau
muntjul didalam dunia Kang Ouw untuk mentjari pengalaman,
guna melatih segala pelajaranmu itu. Besok kau sudah boleh
mulai berangkat. Aku sendiri karena satu urusan, aku mesti
meninggalkan gunung kita ini sekarang djuga. Mengenai urusan
sakithati ajah-bundamu, kau boleh bertindak sebagaimana
mestinja, aku tidak mau merintangimu, tjuma hendak aku pesan,
aku tidak ingin kau semberono melakukan pembunuhan. Kau
bilang anak In bahwa dia buat sementara waktu harus berdiam
terus dipuntjak ini, nanti sekembalinja aku akan aku atur sesuatu
mengenai dirinja."
Benar-benar, habis dia berkata, guru itu lantas berangkat
pergi.
It Hiong heran, karena guru itu sampai tak mau menemui
sendiri Kiauw In, muridnja. Iapun djadi berpikir keras, terutama
ketika ia ingat sakit hati ajah-bundanja jang telah tersimpan
bertahun-tahun itu. Ia mendjadi bersemangat sekali, ia merasa
girang. Tapi, ketika ia ingat In-djie, muntjullah keragu-raguannja.
Ia mesti berpisah dari kawan itu. Akan tetapi, biar bagaimana,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 70

Kiauw In perlu diberitahukan tentang kepergian guru mereka itu,


Maka djuga dengan pikiran rada kusut ia lantas mentjari si nona.
Langsung ia menjampaikan berita luar biasa itu.
Benar-benar Kiauw In terperandjat, walaupun ia kenal baik
sifat-tabiat gurunja itu. Biar bagaimana, ia heran akan
keberangkatan demikian kesusu dari gurunja, bahwa It Hiongpun
dititahkan berangkat besok. Mukanja mendjadi putjat, tubuhnja
menggigil. Sedjenak itu tak dapat ia bitjara, karena hatinja
menangis, sebab hatinja mentjetos.
Lama nona itu berdiam, baharulah ia bisa «dikit
menenangkan dirinja.
"Apakah suhu menjebut hal lainnja menge- -ai aku ? ....."
tanjanja kemudian sambil tunduk.
"Suhu tjuma mengatakan bahwa buat semen-ira waktu entjie
tetap berdiam disini," sahut It iong. "Entjie harus menanti sampai
suhu pulang, baharu suhu akan mengatur tentang entjie ....."
"Apakah kau tahu suhu pergi kemana?" si ona tanja pula.
It Hiong menggeleng kepala. "Suhu berangkat tergesa-gesa
sekali, entah kemana perginja."
Tiba-tiba si nona mengangat mukanja, hingga nampak
mukanja itu penuh airmata.
"Kau ..... " tanjanja, suaranja menggetar, “Apakah kau sudah
menetapkan hari keberangkatanmu?"
Hati Tio Kongtjupun bimbang, tak dapat segera mendjawab.
Ia pula tidak dapat bitjara langsung.
"Aku," katanja selang sesaat, "aku hendak memberitahukan
entjie ..."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 71

Nona ini mengutjurkan airmata, akan tetapi melihat sikap si


adik Hiong, ia toh tertawa. Katanja: "Suhu telah memberi waktu
buat kau berangkat, tak ada alasan untukku menahan kau
walaupun buat setengah hari! Besok pagi kau berangkatlah!
Aku ..... akan ..... mengantarkan kau …..”
Tak dapat Kiauw In melandjutkan kata-katanja, sesegukanaja
mentjegahnja.
Hati It Hiong bagaikan hantjur, ia turut ngutjurkan airmata.
Ia menghampiri si nona dekat sekali, untuk mentjekal kedua
tangannja, hingga mereka djadi berdiri berhadapan.
''Entjie, djangan nangis pula ..." kata "Memang suhu
memerintahkan aku pergi turun gunung, tetapi dilain pihak,
lambat atau tjepat, toh bakal pergi djuga. Kau tahu sendiri,
kepergianku ada berhubung dengan soal menuntutl sakit-hati
ajah-bundaku. Aku ingin lekas-lekas lampiaskan dendam hatiku
itu. Selekasnja aku berhasil, entjie, aku segera akan kembali."
Nona Tjio tertawa menjeringai. Kesedihan hatinja tak dapat
segera dilenjapkan.
"Apa jang kau pikir itu memang baik, tetapi kau harus tahu
bahwa setiap urusan ada kemungkinan perubahannja," katanja.
"Semoga kau berhasil dengan tjepat, supaja kau pergi dan pulang
dengan tak kurang suatu apa. Adik Hiong, akan tunggui kau buat
selama-lamanja ... !"
Nona itu menangis pula, hingga It Hiong mesti turut
menangis djuga.
Sekian lama mereka itu mengutjurkan airmata, hati mereka
berat. Mereka sampai tidak merasakan tibanja sang malam.
Lalu si nona memaksakan diri tertawa.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 72

"Kau mesti berangkat besok pagi, malam ini perlu kau


beristirahat," katanja. "Mari aku antar kau kekamarmu ...!"
Adik seperguruan itu mengangguk.
"Sang waktu berdjalan tjepat sekali," bilangnja "Entjie djuga
perlu beristirahat."
Kiauw In memaksa mengantarkan kekamar Lang, jang ia
rapihkan kasur dan seprenja, habis mana ia mengundurkan diri
dengan wadjah suram.
Malam itu, dua-duanja muda-mudi itu tak dapat tidur. Hati
mereka sama-sama risau. It Hiong rebah terlentang dengan mata
terbuka lebar, pikirannja bekerdja keras. Kiauw In duduk
mendjublak di kursi menghadapi medja diatas mana apinja telah
dipadamkan . ..
Ketika sang pagi tiba, baru sadja It Hiong turun dari
pembaringan, Kiauw In dengan tindakan perlahan sudah
memasuki kamarnja, terus noia ini merapihkan sebuah pauwhok,
buntalan pakaian. Iapun tak melupakan pedangnja si anak mula.
Habis itu ia menuntun tangan orang, buat diadjak pergi bersantap.
Tak ada napsu dahar mereka, barang makanan diselak masuk
dengan terpaksa ke dalam kerongkongan mereka. Kemudian,
dengan menenteng pauwhok, si nona keluar bersama sianak
muda. Ia hendak mengantarkan turun gunung.
Pagi itu, pagi musim rontok, sang angin menghembuskan
hawa dingin sekali. Sang angin membawa es terbang
berhamburan. Seluruh gunung penuh dengan benda dingin itu.
Mereka berdjalan turun dengan melawan angin. Ketika mereka
sudah sampai dibawah dan menoleh keatas, puntjak
berselubungkan es seluruhnja.
Mereka melewati beberapa puntjak. Dimana ditanah
pegunungan itu, es memutih segalanja. Sampai siang, mendekati

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 73

tengah hari, masih belum berpisahan. Mereka singgah di sebuah


batu besar, untuk duduk bersama.
Kiauw In mengeluarkan dua buah bungkusan ketjil, ia
angsurkan itu pada It Hiong.
"Adik Hiong," katanja, tertawa, "inilah rangsum kering jang
aku sengadja buat untukmu karena aku pertjaja, dalam satu-dua
hari ini tentunja belum bisa mentjari warung nasi singgah dan
berdahar. Kau bekallah ini!"
It Hiong menjambuti sekalian ia menggenggam tangan
orang.
"Entjie, kau baik sekali," katanja. ''Kau telah melepas banjak
budi kepadaku, seumurku tak dapat aku membalasnja. Entjie, aku
sebenarnya ingin bitjara padamu tetapi aku tak berani
mengutjapkannja ....."
Kiauw lu mengawasi. Sebegitu djauh ia telah paksakan diri
bersenjum atau tertawa, kali ini toh ia tampak muram.
"Adik Hiong..." katanja, perlahan lalu mendadak ia memeluk
tubuh orang. Hingga disaat itu, lupalah ia akan segala apa, tinggal
djantung jang berguntjang keras. "Adik, bilanglah apa jang
hendak kau katakan itu ..." Ia mengangkat muka memandang si
adik seperguruan, matanja bening indah.
It Hiong menghela napas.
"Entji, aku ingin selalu berada bersama kau ....." katanja,
perlahan.
Mendadak si nona berdjingkrak. Iapun tertawa.
"Tio It Hiong aku mengerti kau!" katanja. menjela.
"Tubuhnja Tjio Kiauw In ini bukan milikku. Aku tak akan
menjia-njiakan kau, tak akan aku mengetjewakanmu. Sepuluh

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 74

tahun, seratus tahun, aku tidak bertemu dengan mu, tubuhku akan
tetap putih-bersih sebagai wanita sedjati. Aku djusteru kuatir kau
nanti melupakanku ....."
It Hiong melempangkan tubuhnja.
"Entjie, djangan kuatir!" katanja. "Tio It Hiong bukannja
seorang manusia jang tak berhati, yang tak berbudi! Begitu lekas
selesai aku mentjari balas, begitu lekas djuga aku akan kembali
menjengukmu, kemudian aku akan merantau mentjari ajah-
angkatku, buat minta ia jang mohonkan perkenan kepada suhu
buat merekoki kita berdua. . ."
Demikian djandji muda-mudi jang polos itu, yang tak dapat
berbitiara dengan bermadu, habis mana sambil berendeng dan
berpegangan tangan, mereka memandangi gunung Kiu Hoa San
jang Mati itu. Sesudah itu, dengan masing-masing mengeluarkan
airmata, keduanja mengambil selamat perpisahan.
Mulanja It Hiong berkata: “Entji, sudah tak siang lagi, aku
mesti berangkat!”
Dan Kiauw In berkata: "Adik Hiong, hatiku telah diserahkan
kepadamu, maka itu mudah-mudahan m kembali, djangan kau
membuat aku hanja dapat memandangi Pay In Nia ....." Lalu,
kembali i berada dalam rangkulan adik Hiong itu ... .
Tengah keduanja saling rangkul, mendadak ereka
dikedjutkan pekik njaring dibelakang mereka, mereka lantas
menoleh, maka mereka melihat Giok Nouw lagi berdiri di bawah
pohon tak djauh dari situ, tengah mengawasi mereka. Mau atau
tidak, mereka djengah sendirinja, muka si nona mendjadi merah
djambu.
It Hiong melepaskan tangannja dari tangan Kauw In, ia
mendjemput pauw-hok dan pedangnja, terus ia menoleh kepada si
nona seraja berkata:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan
Kolektor E-book (https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/) 75

"Entjie, kau baik-baiklah dirumah!" Kemudi mengulapkan


tangan pada Giok Nouw, terus memutar tubuh, dan bertindak
pergi.
Nona Tjio lekas-lekas naik atas puntjak, mengawasi
kekasihnja itu, jang dengan tjepat lenjap dibalik sebuah puntjak,
hingga semangatnja bagaikan dibawa terbang, airmatanja turun
meleleh. Waktu ia menoleh kepada Giok Neuw, kera itu telah
naik keatas sebuah pohon, matanja memandang terus kearah
lenjapnja si pemuda.
"Giok Nouw, mari pulang!" achirnja si nona memanggil.
Kera itu menundjuk kearah It Hiong, ia menundjuk kepada si
nona, kepalanja digojang-gojang, kemudian ia berlompat turun,
menghampiri nonanja.
Maka dilain detik, bersama-samalah keduanya berdjalan
pulang .....

(Bersambung ke Djilid 3)

Background :
https://www.facebook.com/kiraranpya/

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya Distribusi & arsip : Yon Setiyono
Scan & Djvu : Mukhdan