Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI II

“Pemeriksaan Rumple Leed”

NAMA : FITRIANI J

NIM : 18 3145 353 047

KELAS : B 2018

KELOMPOK : 2 (DUA)

PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS


FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA RESKY MAKASSAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN
Judul praktikum : Pemeriksaan Rumple Leed
Nama : Fitriani J
Nim : 18 3145 353 047
Hari/ tanggal : Jumat, 8 November 2019
Kelompok : 2 ( Dua )
Rekan kerja : 1. Muhammad Fatwa Syahputra
2. Sipra Asprilla Sidabutar
3. Selviana
4. Suci Ananda Sari
5. Wiwid Olviani Wenur
6. Zindi Devi Claudya Bunga

Penilaian :

Makassar, 19 November 2019

Disetujui oleh :

Asisten Praktikan

Rosdiana Kawaru Fitriani J.


NIM: 17 3145 353 010 NIM: 18 3145353 047
Dosen pembimbing

Arlitha Deka Yana, S.Si.,M.Kes


NIDN: 09 132087 02
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Demam Dengue disebabkan oleh virus mosquito-borne, umumnya
terdapat pada daerah tropik maupun sub-tropik dan diperkirakan dua per lima
penduduk dunia berisiko menjadi penderita demam dengue setiap tahunnya
sehingga WHO (World Health Organization) menjadikan penyakit Dengue
sebagai bagian dari penyakit yang beresiko menyebabkan PHEIC (Public Health
Emergency of International Concern) atau kegawatdaruratan kesehatan
masyarakat Diperkirakan populasi yang berisiko terhadap dengue berada di
wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Di Indonesia pada tahun 2007
dilaporkan sekitar 150.000 kasus demam dengue dan sekitar 1,66% kasus berasal
dari Jakarta dan Jawa Barat dengan persentase Case Fatality Rate (CFR) 1%,
(Muhammad. 2018. Vol.2 No.2).
Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi nasional Demam Berdarah
Dengue adalah 0,62% dan Sulawesi tenggara menjadi salah satu dari dua belas
propinsi yang diatas prevalensi nasional dan telah diketahui bahwa DBD lebih
banyak ditemukan pada pasien dewasa dengan prevalensi 0,7% dibanding pada
bayi yaitu 0,2%, 88% kabupaten/kota terkena wabah DBD dengan jumlah kasus
tertinggi di Kabupaten Kolaka dengan 761 kasus dan menjadi KLB DBD tahun
2015, (Muhammad. Vol.2 No.2. 2018).
Data awal yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota
Kendari tercatat pada tahun 2015 menempatkan DBD sebagai urutan kedua dari
sepuluh besar penyakit rawat inap dengan jumlah kasus 361 penderita dan
menempati urutan pertama pada tahun 2016 dengan jumlah kasus sebanyak 617
(25.31%) orang. Sedangkan pada tahun 2017 periode Januari tercatat 18 (7.82%)
penderita dari 230 kasus DBD, pada periode Februari tercatat 24 (12.24%)
penderita dari 196 kasus dan pada periode Maret tercatat 24 (9.48%) penderita
dari 253 kasus DBD rawat inap, (Muhammad. 2018 Vol.2 No.2).
Penanganan pasien DBD menghabiskan waktu yang lama dan biaya
kerugian yang relatif besar karena umumnya pasien DBD menghabiskan waktu
rawat inap di rumah sakit sekitar 11 hari dan durasi demamnya rata-rata 6 hari
dengan konsekuensi biaya atau kerugian langsung maupun tidak langsung bagi
pasien (Suaya, 2008). Permasalahan penyakit demam berdarah dengue
berhubungan erat dengan faktor-faktor host (pejamu) individu yang meliputi:
umur, jenis kelamin, status gizi, riwayat perdarahan sebelum dirawat, adanya
penyakit penyerta dan nilai pemeriksaan laboratorium, (Muhammad. 2018 Vol.2
No.2).
Tingginya jumlah rawat inap di rumah sakit ini menjadi beban yang
cukup besar, semakin lama masa rawat inap pasien maka semakin besar biaya
yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan, selain itu beban keluarga juga
bertambah karena pasien/keluarga terhenti dari kegiatan pekerjaannya karena
harus mendampingi pasien yang sedang dirawat, (Muhammad. 2018 Vol.2 No.2).
Adapun yang melatar belakangi kami melkauakn praktikum ini adalah
untuk melihat adanya petecki pada pasien untuk mendetesi penyakit deman
berdarah.
B. Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk menguji
ketahanan dinding pembuluh darah kapiler serta untuk melihat adanya petechia
(bercak-bercak merah) pada pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan cairan tubuh yang sangat vital bagi kehidupan manusia,
yang bersirkulasi dala jantung dan pembuluh darah. Darah membawa oksigen dan
nutrisi bagi seluruh sel dalam tubuh serta pengangkut produk-produk hasil
metabolism sel. Darah berada di dalam pembuluh darah arteri maupu vena, dan
merupakan sbagian dari sistem organ tubuh manusia. Volume darah total dalam tubuh
manusia dewasa adalah berkisar 3,4 liter (wanita) dan 4,5 liter (pria), (Firani. 2015).
Didalam darah mengandung sel-sel darah seperti cairan yang disebut plasma
darah yang berisi berbagai zat nutrisi maupun substansi lainnya. Sekitar 55% darah
merupakan komponen cairan atau plasma, sisanya yang 45 % adalah komponn sel-sel
darah. Komponen sel-sel darah yang paling banyak adalah sel darah merah atau
eritrosit yangs sejumlah 41 %, (Novi. 2015).
Darah merupakan kendaran atau medium untuk transportasi massal jarak jauh
berbagai bahan antara sel dan lingungan eksternal atau sel-sel itu sendiri. Transportasi
semacam iitu penting untuk memelihara homeostatis (keseimbangan). Darah berperan
dalam homeostatis berfungsi sebagai medium untuk membawa berbagai bahan ke sel
dan dari sel, menyangga perubahan pH, mengangkut kelebihan panas ke permukaan
tubuh , dan memperkecil kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pada pembuluh
darah, (Endro. 2016. Vol.5 No. 2)
Darah membentuk sekitar 8% berat tubuh total dan memiliki rata-rata 5 liter
pada wanita dan 5,5 liter pada pria.. Warna merah pada darah disebabkan oleh
hemoglobin, protein pernafasan (respiratori protein) yang mengandung besi dalam
bentuk heme, yang akan merupakan tempat terikatnya molekulmolekul oksigen.
Kerena darah sangat penting, harus terdapat mekanisme yang dapat memperkecil
kehilangan darah apabila kerusakan darah. Tanpa darah, manusia tidak dapat
melawan infeksi atau kuman penyakit dan bahan-bahan sisa yang dihasilkan tubuh
tidak dapat dibuang, (Editoro. 2016. Vol.5 No. 2)
Terdapat dua jenis pembuluh darah, yang mengalir darah ke seluruh tubuh,
yaitu arteri dan vena. Arteri adalah pembuluh yang membawa darah, yang
mengandung oksigen dari jantung dan paru-paru menuju ke seluruh tubuh.
Sedangkan vena adalah pembuluh yang membawa darah mengalir kembali ke jantung
dan paru-paru. Darah yang mengalir melalui kedua pembuluh tersebut terdiri atas tiga
jenis sel darah, yaitu sel darah merah(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping
darah (trombosit) yang terpendam dalam cairan kompleks. Plasma sendiri berupa
cairan, 90% terdiri dari air yang berfungsi sebagai medium untuk mengangkut
berbagai bahan dalam darah. Jumlah sel darah manusia normal, (Editoro. 2016. Vol.5
No. 2)
Darah merupakan komponen esensial mahkluk hidup yang berada dalam
ruang vaskuler, karena perannya sebagai media komunikasi antar sel ke berbagai
bagian tubuh dengan dunia luar karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru
ke jaringan dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru untuk dikeluarkan,
membawa zat nutrient dari saluran cerna ke jaringan kemudian menghantarkan sisa
metabolisme melalui organ sekresi seperti ginjal, menghantarkan hormon dan materi-
materi pembekuan darah. Darah tersusun atas dua komponen utama yaitu plasma
darah dan sel-sel darah/butir darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah, leukosit
atau sel darah putih, dan trombosit, (Ria,dkk. 2019. Vol.2 No.2).
Plasma darah adalah bahan seluler ektra yang terdiri dari, air, garam, dan
berbagai protein yang bersama dengan trombosit, yang mendorong darah untuk
membeku, ptotein dalam plasma bereaksi dengan udara dan mengeras untuk
mencegah pendarahan lebih lanjut, (Mohankrishns, dkk. 2014. Vol.2 N0.2)
Pemeriksaan rumple leede merupakan pemeriksaan dimana pembuluh darah
dibendung menggunakan spignomanometer pada tekanan tertentu selama 10 menit.
Apabila pembuluh vaskuler tidak kuat menahan tekanan yang diberikan, maka darah
akan akan keluar dari pembuluh darah dan terlihat sebagai bercak merah pada
permukaan kulit (petechia) (Gambar 66).Tekanan darah pada saat pembendungan
merupakan nilai tengah antara tekanan darah sistole dengan diastole. Contoh :
Pemeriksaan tekanan darah seorang pasien yang akan melakukan pemeriksaan rumple
leede adalah 120/80 mmHg (sistole 120 mmHg, diastole 80 mmHg), maka tekanan
spigmomanometer pada uji rumple leede =120+80 2 = 100 mmHg, (Adang, dkk.
2018).
Pada pemeriksaan rumple leede hasil positif dapat diketahui jika pada
lingkaran berdiameter 5 cm, kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti terbentuk petechia
(bercak merah) sebanyak lebih dari 10 petechia.Hasil positif juga dapat disimpulkan
apabila terdapat banyak pechia pada bagian daerah distal sekitar pergelangan tangan.
Hasil positif memperlihatkan bahwa kemampuan vaskuler pasien tidak baik ketika
terjadi tekanan pada pembuluh darah, (Adang, dkk. 2018).
Hasil negatif dapat disimpulkan apabila tidak terdapat petechia pada lingkaran
berdiameter 5 cm, kira-kira4 cm distal dari fossa cubiti. Hal tersebut memperlihatkan
bahwa kemampuan vaskuler pasien tersebut baik, ketika terjadi tekanan pada
pembuluh darah. Hasil pemeriksaan rumple leede tidak hanya dipengaruhi oleh
kemampuan vaskular, akan tetapi dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi trombosit.
Pada pemeriksaan rumple leede, pembuluh vaskuler ditekan pada tekanan tertentu
menggunakan spigmomanometer, ketika pembuluh darah tidak kuat menahan
tekanan, maka darah akan keluar dari pembuluh darah dan terlihat sebagai bercak
merah. Hal tersebut dapat dihambat apabila pasien tersebut mempunyai trombosit
dengan jumlah dan fungsi yang normal/baik, (Adang, dkk. 2018).
Ketika darah akan keluar dari pembuluh darah, maka trombosit akan
membentuk sumbat trombosit, sehingga tidak terlihat petechia pada permukaan kulit
pasien. Akan tetapi ketika jumlah ataupun fungsi trombosit tidak berfungsi normal,
maka akan lebih mudah terbentuk petechia, (Adang, dkk. 2018).
Uji rumple leede dapat positif ketika dilakukan pada pasien dengan kondisi
trombositopenia, seperti pasien demam berdarah. Uji tidak boleh dilakukan apabila
sebelum pelaksaan pemeriksaan, pasien sudah mengalami pupura atau ekimosis.
Apabila uji rumple leede dilakukan setelah pemeriksaan masa perdarahan metode Ivy,
maka waktu pembendungan dilakukan selama lima menit, (Adang, dkk. 2018).
Ptechiae adalah bintik merah kecil yang tampak pada permukaan kulit yang
disebabkan karena perdarahan kecil, atau karena bocornya pembuluh darah sehingga
darah merembes keluar membentuk titik merah. Ptechiae bisa merupakan sebagai
tanda atau akibat kekurangan jumlah trombosit (thrombocytopenia) di dalam tubuh.
Kondisi ini juga bisa timbul pada keadaan dimana jumlah trombosit dan fugsi
trombosit tidak seperti biasanya. (contohnya pada keadaan terjadinya infeksiatau
apabila kelebihan tekanan seperti pada kasus tekanan yang berlebihan pada jaringan
(seperti pada tourniquet test dipakai pada batuk yang berlebihan) , (Adang, dkk.
2018).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan tempat
1. Waktu
Adapun waktu yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu:
Hari : Jumat
Tanggal : 15 November 2019
Waktu : 01.00- 15.00 WITA
2. Tempat
Adapun tempat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu di
laboratorium patologi lantai 2 DIV teknologi laboratorium medis,
Universitas Mega Rezky Makassar.
B. Alat dan bahan
1. Alat
1) Spygmomanometer
2) Timer
C. Prinsip percobaan
Adapun prinsip percobaan dari praktikum kali ini yaitu dilakukan
pembendungan pada pembuluh darah vena, sehingga tekanan darah dalam
pembuluh darah kapiler meningkat. Dinding kapiler yang kuat akan menyebabkan
darah keluar dan merembes ke dalam jaringan sekitarnya sehingga Nampak
sebagi bercak marah kecil pada permukaaan kulit, disebut dengan petechia.
D. Prosedur kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Diperiksa tekanan darah pasien terlebih dahulu untuk menetukan tekanan
sphygmomanometer selam uji rumple leed.
3. Dipasang Spygmomanometer di atas lengan atas dan dipompa hingga nilai
tengah hasil penambahan tekanan sistolik dan diastolik.
4. Ditahan tekanan selama 10 menit
5. Dilepas ikatan Spygnomanometer setelah pembekuan darah selesai
6. Dihitung adanya petechia (bercak merah) pada lingkaran dengan diameter 5
cm, kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambar pengamatan

Alat dan bahan Pemeriksaan tekanan darah

pembendungan Hasil

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yang dilaksanakan di laboratorium patologi
Teknologi Laboratorium Medis Mega Resky Makassar pada tanggal 15
November 2019 pukul 13.00-15.00 WITA, dilakukan praktikum tentang
pemeriksaan rumple leed
Rumple leed dilakukan untuk menguji ketahanan kapiler darah
menggunakan pembendungan pada vena sehingga darah akan menekan dinding
kapiler. Jika dinding kapiler kurang kuat ,maka darah dari kapiler keluar dan
merembes dalam jaringan sekitarnya sehingga tampak bercak petechiae.
Petechiae adalah bintik-bintik merah akibat perdarahan didalam
kulit,warna terkadang bervariasi dari merah menjadi biru/ungu. Petechiae
umumnya muncul pada kaki bagian bawah tetapi bisa muncul diseluruh tubuh.
Petechiae mungkin terlihat pada pasien-pasien dengan jumlah platelet yang
sangat rendah. Petechiae terjadi kerena perdarahan keluar dan pembuluh –
pembuluh darah yang kecil sekali di bawah kulit atau selaput lender, petechiae
umumnya tidak jelas dan menyakitkan.
Pemeriksaan dilakukan dengan menahan tekanan manset atau tensi
sebesar setengah dari jumlah tekanan sistol dan tekanan diastol. Sistole adalah
bunyi yang pertama terdengar, diastole adalah bunyi yang menghilang diantara
bunyi yang berdetak cepat, atau dapat pula dikatakan bunyi yang terakhir
didengar. Kemudian tekanan manset tersebut dipertahankan selama sepuluh
menit. 
Pembendungan dilakukan pada lengan atas dengan memasang tensimeter
pada pertengahan antara tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan itu
dipertahankan selama 10 menit. Jika percobaan ini dilakukan sebagai lanjutan
masa perdarahan, cukup dipertahankan selama 5 menit. Setelah waktunya
tercapai  bendungan dilepaskan dan ditunggu sampai tanda-tanda stasis darah
lenyap. Kemudian diperiksa adanya petekia di kulit lengan bawah bagian voler,
pada daerah garis tengah 5 cm kira-kira 4 cm dari lipat siku.
Pemeriksaan dinyatakan positif bila ditemukan perdarahan atau petechiae
sebanyak 10 buah dalam waktu 10 menit. Pemerikssan dinyatakan negatif bila
dalam waktu 10 menit tidak timbul petechiae pada area pembacaan, atau timbul
petechiae kurang dari 10 buah. Bila hasil pemeriksaan dinyatakan positif, orang
yang diperiksa kemungkinan terjadi gangguan vaskuler maupun trombolik.
Adanya gangguan ini dapat menimbulkan penyakit atau keluhan tertentu, antara
lain penyakit arteri koroner yang berat, gumpalan kecil dari trombosit bisa
menyumbat arteri yang sebelumnya telah menyempit dan memutuskan aliran
darah ke jantung, sehingga terjadi serangan jantung.
Keluhan lain yaitu, mudahnya timbul memar pada kulit. Seseorang bisa
mudah memar karena kapiler yang rapuh di dalam kulit. Setiap pembuluh darah
kecil ini robek maka sejumlah kecil darah akan merembes dan menimbulkan
bintik-bintik merah di kulit (peteki) atau cemar ungu kebiruan (purpura). 
Adapun hasil yang didapatkan pada praktikum kali ini yaitu:
Nama : Nn.F
Umur : 19 tahun
Hasil : Normal
Dari data di atas dapat disimpulakan bahwa pada pasien Nn.F dalam
keadaan normal karena tidak ditemukannya patechia pada saat pembendungan.
Kesalahan sering terjadi saat pemeriksaan, kesalahan tersebut antara lain
saat membuat daerah pengamatan. lingkaran ini harus dibuat, diukur dengan
benar, sekian jari dari fossa cubiti, dengan diameter penampang sebesar 5 cm
menggunakan penggaris. Selain itu, bila dalam waktu kurang dari 10 menit
sudah tampak lebih dari 10 buah petechiae, maka percobaan dihentikan. Bila
setelah 10 menit tidak timbul peteciae, percobaan dihentikan dan tunggu selama
5 menit. Bila tak ada perubahan penilaiaannya negatif. Sebelum percobaan
dihentikan apakah ada bekas gigitan nyamuk pada daerah pembacaan, yang
mungkin menyebabkan hasil menjadi positif palsu. 
Faktor yang mempengaruhi Rumple leed :
1. Perempuan yang menstruasi
2. Post menstrual dengan sedikit hormone
3. Kulit rusak karena akan meningkatkan kerapuhan kapiler.
Walaupun percobaan pembendungan ini dimaksudkan untuk mengukur
ketahanan kapiler, hasil tes ini ikut dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi
trombosit. Trombositopenia sendiri dapat menyebabkan percobaan ini berhasil
positif.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari parktikum kali ini adalah tidak ditemukannya
petechia pada pasien Nn. F pada saat pembendungan.
B. Saran
Pada praktikum selanjutnya untuk menggunakan alat-alat yang lengkap
dan benar dan melakukannya sesuai dengan prosedur yang telah di tetapkan
untuk mendapatkan hasil yang baik serta menggunakan metode-metode yang lain
untuk memperluas wawasan.
DAFTAR PUSTAKA

Adrianto Endro. Adrianto Editoro. 2016. Pengenalan penyakit darah menggunakan


logika fuzzy. Sekolah tinggi Surabaya. Surabaya
Durachim Adang dan Dewi Astuti. Hemostasis. 2018. EGC
Firani Khila Novi. 2015. Mengenali sel-sel darah dan kelainan darah. EGC
Mohankrisna, dkk. 2014. A review on artificial blood. India.

Syawal Muhammad. 2018. Faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat inap
pasien demam berdarah dengue (DBD) dirumah sakit umum daerah kota kendari
tahun 2017. Akademi keperawatan PPNI kendari. Kendari

Wulansari,dkk. 2019. Perbedaan nilai masa pembekuan darah (clotting time) dengan
menggunakan tabung kaca dan tabung plastic metode lee dan white.Jurusan
analis kesehatan. Pontianak
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai