Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Distosia yang secara literatur berarti persalinan yang sulit, memiliki
karakteristikkemajuan persalinan yang abnormal atau lambat. Persalinan abnormal atau
lambat umum terjadi bila ada disproporsi antara ukuran bagian terbawah janin dengan jalan
lahir. Pada presentasi kepala, distosia adalah indikasi yang paling umum saat ini untuk seksio
sesaria primer. CPD(cephalopelvic disproportion)adalah akibat dari panggul sempit, ukuran
kepala janin yang besar,atau lebih sering kombinasi dari kedua di atas. Setiap penyempitan
diameter panggul yang mengurangi kapasitas pelvis dapat mengakibatkan distosia selama
persalinan. Panggul sempit bisa terjadi pada pintu atas panggul, midpelvis, atau pintu bawah
panggul, atau umumnya kombinasi dari ketiganya. Karena CPD bisa terjadi pada tingkat
pelvic inlet,outlet dan midlet,diagnosisnya bergantung pada pengukuran ketiga hal tersebut
yang dikombinasikan dengan evaluasi ukuran kepala janin.Panggul sempit disebut-sebut
sebagai salah satu kendala dalam melahirkan secara normal karena menyebabkan obstructed
laboryang insidensinya adalah 1-3% dari persalinan.
Apabila persalinan dengan panggul sempit dibiarkan berlangsung sendiri tanpa
pengambilan tindakan yang tepat, timbul bahaya pada ibu dan janin. Bahaya pada ibu dapat
berupa partus lama yang dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi
intrapartum,ruptur uteri mengancam serta resiko terjadinya fistula vesikoservikalis, atau
fistula vesikovaginalis,atau fistula rektovaginalis karena tekanan yang lama antara kepala
janin dengan tulang panggul.Sedangkan bahaya pada janin dapat berupa meningkatkan
kematian perinatal,dan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin bahkan bisa
menimbulkan fraktur pada os parietalis.
Oleh sebab itu, penatalaksanaan keperawatan yang tepat akan sangat membantu
mengurangi dan memperbaiki masalah-masalah yang berhubungan dengan resiko tinggi
persalinan pada distosia.Dimana dengan perencanaan yang tepat akan memberikan hasil yang
lebih baik.

Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37
minggu) dan juga dimana bayi mengalami kelainan penampilan fisik.

1
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama
diantara bayi dengan badan 1500 gr atau kurang saat lahir, sehingga keduanya berkaitan
dengan terjadinya peningkatan mordibitas dan mortalitas neonatus dan sering di anggap
sebagai periode kehamilan pendek (Nelson 1988 dan Sacharin 1996)

Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan asuhan kebidanan, dimana


pada bayi prematur sebaiknya dirawat di rumah sakit karena masih membutuhkan cairan-
cairan dan pengobatan /serta pemeriksaan Laboratorium yang bertujuan untuk meningkatkan
derajat kesehatan terapi pada bayi dan anak yang meliputi peran perawat sebagai advokad,
fasilitator, pelaksanaan dan pemberi asuhan keperawatan kepada klien.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui definisi dari distosia
2. Mengetahui klasifikasi dari distosia
3. Memahami etiologi dari distosia
4. Memahami manifestasi klinis dari distosia
5. Mengetahui komplikasi dari distosia
6. Mengidentifikasi penatalaksanaan medis dan keperawatan distosia
7. Mengidentifikasi pengkajian asuhan keperawatan distosia
8. Megetahui defenisi prematur
9. Menetahui etiologi prematur
10. Mengetahui tanda dan gejala prematur
11. Mengetahui faktor dan resiko terjadinya prematur
12. Mengetauhui klasifikasi prematur
13. Mengetahui patofisiologi prematur
14. Mengetahui komplikasi prematur

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 DISTOSIA

A. Definisi Distosia

Persalinan distosia adalah persalinan yang memerlukan bantuan dari luar karena terjadi
penyimpangan dari konsep eutosia 3P (power,passage,passenger). Menurut rustam mochtar,1998
adalah kesulitan dalam jalannya persalinan.

Secara harfiah diartikan sebagai persalinan sulit yang ditandai dengan kemajuan
persalinan yang lambat (Al-fathdry,2002).

B. Klasifikasi distosia
1. Distosia karena kelainan presentasi
malpersentasi adalah semua persentasi janin selain vertex sementara malposisi adalah
posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik
referens,masalah ;janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan
menyebabkan partus lama.

Kelainan letak, persentasi atau posisi


a). Posisi oksipitalis posterior persisten

Yaitu persalinan persentasi belakang kepala

b). Presentasi puncak kepala

Bila defleksinya ringan sehingga UUB merupakan bagian terendah

c). Presentasi Muka

Dimana kepala dalam kedudukan defleksi maksimal sehingga oksiput tertekan


pada punggung.

d). Presentasi Dahi

3
Kedudukan kepala berada antara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga
dahi merupakan bagian terendah

e). Letak sungsang

Janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian
bawah kavum uteri

f). Letak lintang

Sumbu memanjang janin menyilang, sumbu memanjang ibu tegak lurus atau
mendekati 90 derajat

g). Presentasi Ganda

Keadaan dimana disamping kepala janin di dalam rongga panggul dijumpai


tangan, lengan atau kaki, atau keadaan di samping bokong janin dijumpai tangan

2. Distosia Kelainan Tenaga dan / His


a. Inersia uteri atau Hypotonic uterine countraction.
Kontraksi uterus lebih lemah, singkat dan jarang daripada normal. Keadaan umum
biasanya baik, dan rasa nyeri tidak seberapa.

b. His terlampau kuat atau Hypertonic uterine contraction (tetania uteri)


His yang terlalu kuat dan sering menyebabkan persalinan berlangsung singkat
tanpa relaksasi rahim. Hal ini dapat membahayakan bagi ibu karena terjadinya
perlukaan luas pada jalan lahir (dapat menyebabkan ruptura uteri) sedangkan bayi
bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena mendapat tekanan kuat
dalam waktu singkat.

c. Aksi uterus inkoordinasi atau uncoordinate hypertonic uterine contraction.


Sifat his yang tidak berubah dimana tidak ada koordinasi dan sinkronisasi antara
kontraksi dan bagian-bagiannya. Jadi kontraksi tidak efisien dalam mengadakan
pembukaan, apalagi dalam pengeluaran janin.

4
3. Distosia karena alat kandungan dan jalan lahir
Meliputi alat kelamin luardan dalam,adapun yang bisa mempengaruhi kemajuan
persalinan dapat dijabarkan sebagi berikut :
a. Pada vulva
 edema ditemukan pada persalinan lama yang disebabkan pasien dibiarkan
mengedan terus,jarang mempengaruhi kelangsungan persalinan.
 Stenosis pada vulva yang diakibatkan oleh radang dapat sembuh dan
meninggalkan jaringan perut sehingga mengalami kesulitan pada kala
pengeluaran sehingga diperlukan episiotomy yang cukup luas.
 Tumor dalam bentuk neoplasma.
b. Pada vagina
 Septum vagina yang tidak lengkap menyebabkan kadang-kadang menahan
turunnya kepala janin sehingga harus dipotong dahulu.
 Stenosis vagina yang tetap kaku menyebabkan halangan untuk lahirnya janin
perlu dipertimbangkan seksio sesaria
 Tumor vagina menyebabkan rintangan persalinan pervaginam,beresiko
kelancaran persalinan pervaginam.
c. Pada uterus
 Posisi anterversio uteri (posisi uterus ke depan)pada kala 1 pembukaan kurang
lancar sehingga tenaga his salah arah,ajurkan ibu untuk tidur pada posisi
terlentang.
 Kelainan uterus seperti uterus sub septus dan uterus arkuatus yang menyebabkan
terjadinya letak lintang dan tidak bisa dikoreksi.biasanya jalannya partus kurang
lancar dan his kurang lancar yang menyebabkan fungsi uterus kurang baik.
d. Kelainan pada ovarium
 Kista ovarium,jika tempatnya di daerah fundus maka persalinan dapat
berlangsung normal
 Jika kedudukan kista di pelvis minor,maka dapat menganggu persalinan dan
persalinan diakhiri dengan seksio saesaria.

5
4. Distosia karena kelainan janin
Klasifikasi :
- Distosia kepala : hydrosefalus (kepala besar,hygromonas koli / tumor leher)
- Distosia bahu : bahu janin lebar seperti anak kingkong
- Distosia perut : hydro post fetalis,asites,akardiakus
- Distosia bokong : meningokel,spina bifida dan tumor pada bokong janin
- Kembar siam (double monster)
- Monster lainnya.
a. Pertumbuhan janin yang berlebihan (janin besar )
Dikenal dengan makrosomia,atau giant baby adalah bayi dengan berat badan
diatas 4 kilogram.
b. Hydrosefalus
adalah keadaan dimana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam
pentrikel otak,sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-
sutura dan ubun-ubun.cairan yang tertimbun dalam pentrikel biasanya antara
500-1500 ml,akan tetapi kadang-kadang dapat mencapai 5 liter.hydrosefalus
seringkali disertai kelainan bawaan lain seperti misalnya spinabifida.
c. Anencefalus
Suatu kelainan congenital dimana tulang tengkorak hanya terbentuk dari bagian
basal dari os frontalis,os parietalis,dan os oksipitali,os orbita sempit hingga
Nampak penonjolan bola mata.
d. Kembar siam
Terjadi pada janin kembar ,melekat dengan penyatuan janin secara lateral.pada
banyak kasus biasanya terjadi persalinan premature.apabila terjadi kemacetan
dapat dilakukan tindakan vaginal dengan merusak janin atau melakukan section
saesaria.
e. Gawat janin
Terjadi bila janin tidak menerima cukup oksigen,sehingga mengalami hipoksia .

6
5. Distosia karena kelainan panggul
Jenis kelainan panggul (Caldwell moloy) :
- Panggul ginekoid
- Panggul anthropoid
- Panggul android
- Panggul platipeloid

Perubahan panggul menurut munro kerr

- Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intruretin


- Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang panggul dan atau sendi
- Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang
- Perubahan bentuk karena penyakit kaki

Perubahan bentuk Karena kelainan pertumbuhan intrauretin

- Panggul naegele
- Panggul Robert
- Split pelvis
- Panggul asimilasi

Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang panggul dan atau sendi :

- Rakitis
- Osteoplasma
- Neoplasma
- Fraktur
- Atrofi
- Penyakit sendi

7
C. Etiologi Distosia

Distosia dapat disebabkan oleh :

1. Distosia karena kelainan presentasi


malpersentasi adalah semua persentasi janin selain vertex sementara malposisi adalah
posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik
referens,masalah ;janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi
kemungkinan menyebabkan partus lama
2. Distosia karena kelainan posisi janin
a.letak sunsang disebabkan oleh prematuritas karena bentuk rahim relative kurang
lonjong,air ketuban masih banyak dan kepala relative besar,hidramion anak mudah
bergerak,plasenta previa Karena mengahalangi turunnya kepala kedalam pintu atas
panggul,bentuk rahim yang abnormal,kelainan bentuk kepala seperti amemsefalus
dan hidrosefalus (obsteri patologi;134)
b. letak lintang disebabkan oleh fiksasi kepala tidak ada indikasi
CPD,hidrosefalus,ansefalus,plasenta previa,dan tumor pelvis ,janin mudah bergerak
karena hidramion,multiparitas,pertumbuhan janin terhambat, atau janin
mati,gemeli,kelainan uterus,lumbar skoliosis,monster, pelvic kidney,dan kandung
kemih serta rectum penuh.

3. Distosia karena kelainan tenaga/ His


Disebabkan oleh sering dijumpai pada primigravida tua dan inersia uteri sering
dijumpai pada multi gravid,factor herediter,emosi dan kekuatan ,salah pimpinan
persalinan pada kala II atau salah pemberian obat seperti oksitosin dan obat
penenang.

4. Distosia karena kelainan alat kandungan dan jalan lahir


Berkaitan dengan variasi ukuran dan tulang pelvis ibu atau keabnormalan saluran
reproduksi yang dapat mengganggu dorongan atau pengeluaran janin

8
5. Distosia karena kelainan janin
1. Bayi besar
a. Diabetes mellitus
DM mengakibatkan ibu melahirkan bayi besar dengan berat lahir mencapai 4000-
5000 gram atau lebih
b. Keturunan
Seorang ibu gemuk berisiko 4 sampai 12 kali untuk melahirkan bayi besar
c. Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya
Bila bumil punya riwayat melahirkan bayi makrosomia sebelumnya,maka ia
berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk kembali melahirkan makrosomia
dibandingkan wanita yang belum pernah melahirkan bayi makrosomia karena
umumnya berat seorang bayi yang akan lahirv berikitnya bertambah sekitar 80-
120 gr.
2. Hydrosefalus
Terjadi penyumbatan aliran cairan serebrospinal pada salah satu tempat antara
tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikeldan tempat absorpsi dalam ruang
subaraknoid.
3. Anensefalus
Disebabkan factor mekanik,factor infeksi,factor obat,factor umur ibu,factor
hormonal.
4. Kembar siam
Terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara
sempurna.karena terjadinya pemisahan yang lambat,maka pemisah anak tidak
sempurna dan terjadi kembar siam (UNPAD 1998).
5. Gawat janin
a. Infusiensi uteruplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus plasenta dalam
waktu singkat) berupa : aktivitas uterus,yang berlebihan,dapat dihubungkan
dengan pemberian oksitosin,hipotensi ibu,kompresi venakava,posisi
terlentang,perdarahan ibu,solusio plasenta,plasenta previa.
b. Infusiensi uteruplasenter kronik (kurang aliran darah uterus plasenta dalam
waktu lama) berupa penyakit hipertensi,

9
c. Diabetes melliltus
Pada ibu penderita DM maka kemungkinan pada bayi akan mengalami
hipoglikemia karena pada ibu yg diabetes mengalami toleransi glukosa
terganggu,dan dan seringkali disertai hipoksia.
d. Isoimunisasi rh,postmaturnitas atau dismaturnitas,kompresi (penekanan)tali
pusat.

D. Manifestasi Klinis
 Dapat dilihat dan diraba,perut terasa membesar kesamping
 Pergerakan janin pada bagian kiri lebih dominan
 Nyeri hebat dan janin sulit untuk dikeluarkan
 Terjadi distensi berlebihan pada uterus
 Dada teraba seperti punggung, belakang kepala terletak berlawanan dengan letak
dada, teraba bagian – bagian kecil janin dan denyut jantung janin terdengar lebih
jelas pada dada.

E. Komplikasi

Distosia yang tidak ditangani dengan segera dapat mengakibatkan komplikasi antara lain :

a. Pada ibu akan terjadi ruptur jalan lahir akibat his yang kuat sementara kemajuan janin
dalam jalan lahir tertahan dan juga dapat mengakibatkan terjadinya fistula karena
nekrosis pada jalan lahir
b. Pada janin distosia akan berakibat kematian karena janin mengalami hipoksia dan
perdarahan

F. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


a. Fase laten yang memanjang : Selama ketuban masih utuh dan passage serta passanger
normal,pasien dengan fase laten memanjang sering mendapat manfaat dari hidrasi dan
istirahat terapeutik. Apabila dianggap perlu untuk tidur,morfin(15 mg) dapat

10
memberikan tidur 6-8 jam. Apabila pasien terbangun dari persalinan,diagnosa
persalinan palsu dapat ditinjau kembali,berupa perangsangan dengan oksitosin.
b. protraksi: Dapat ditangani dengan penuh harapan,sejauh persalinan mau dan tidak ada
bukti disproporsi sevalopelvik,mal presentasi atau fetal distress. Pemberian oksitosin
sering bermanfaat pada pasien dengan suatu kontrakti hipotonik.
c. Kelainan penghentian: Apabila terdapat disproporsi sevalopelvik dianjurkan untuk
dilakukan seksio sesarea.perangsangan oksitosin hanya dianjurkan sejauh pelviks
memadai untuk dilalui janin dan tidak ada tanda-tanda fetal distress

G. Pemeriksaan Diagnostik

 Tes Prenatal : Untuk memastikan penyulit


persalinan seperti : janin besar, malpresentasi
 Pelvimetri sinar X : Mengevaluasi arsitektur
pelvis, presentasi dan posisi janin
 Pengambilan sample kulit kepala janin :
mendeteksi atau mencegah asidosis

H. Asuhan Keperawatan Teoritis


A. Pengkajian
 DATA KLINIS
Nama : No RM :

Usia : Tanggal Masuk :

Alamat :

Pekerjaan :

Agama :

TB :

BB :

11
Suhu :

Nadi :

RR :

Penanggung jawab :

Umur :

Hubungan :

Dll.

B. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya dalam kehamilan sekarang ada kelainan seperti : Kelainan letak janin (lintang,
sunsang dll) apa yang menjadi presentasi dll.
2. Riwayat kesehatan dahulu
Yang perlu dikaji pada klien, biasanya klien pernah mengalami distosia sebelumnya,
biasanya ada penyulit persalinan sebelumnya seperti hipertensi, anemia, panggul sempit,
biasanya ada riwayat DM, biasanya ada riwayat kembar dll.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah dalamkeluarga ada yang menderita penyakit kelainan darah, DM, eklamsi dan
pre eklamsi.

C. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
rambut tidak rontok, kulit kepala bersih tidak ada ketombe
2. Mata
Biasanya konjungtiva anemis
3. Thorak
Inpeksi pernafasan : Frekuensi, kedalam, jenis pernafasan, biasanya ada bagian paru
yang tertinggal saat pernafasan

12
4. Abdomen
Kaji his (kekuatan, frekuensi, lama), biasanya his kurang semenjak awal persalinan
atau menurun saat persalinan, biasanya posisi, letak, presentasi dan sikap anak normal
atau tidak, raba fundus keras atau lembek, biasanya anak kembar/ tidak, lakukan
perabaab pada simpisis biasanya blas penuh/ tidak untuk mengetahui adanya distensi
usus dan kandung kemih.
5. Vulva dan Vagina
Lakukan VT : biasanya ketuban sudah pecah atau belum, edem pada vulva/ servik,
biasanya teraba promantorium, ada/ tidaknya kemajuan persalinan, biasanya teraba
jaringan plasenta untuk mengidentifikasi adanya plasenta previa
6. Panggul
Lakukan pemeriksaan panggul luar, biasanya ada kelainan bentuk panggul dan kelainan
tulang belakang

D. Pola fungsional Gordon


1. Pola persepsi-menajemen kesehatan
klien terkadang tidak mengetahui bagaimana penatalaksaan terhadap sakitnya ini
2. Pola nutrisi – metabolik
Biasanya pada klien terdapat penurunan nafsu makan karena sakit yang ia alami
3. Pola eliminasi
biasanya pada klien ini distensi usus atau kandung kemih yang mungkin menyertai
4. Pola latihan dan aktivitas
keadaan biasanya pada klien ini mengalami keletihan,kurang energi,letargi,penurunan
penampilan
5. Pola istirahat dan tidur
biasanya pada klien ini istriharatnya terganggu karena sakit yang dirasakan.
6. Konsep diri
merasa stress dengan keadaan penyakitnya ini.
7. Pola peran dan hubungan
biasanya ada sedikit masalah karena klien merasa rendah diri karena selalu merasa
bergantung kepada orang di sekitarnya

13
8. Pola reproduksi
uterus mungkin distensi berlebihan karena hidramnion,gestasi multipel.
9. Pola kognitif-perseptual
biasanya tidak ada masalah dengan indra.
10. Pola coping
klien biasanya tampak cemas dan keakutan
11. Pola keyakinan
pada keadaan ini klien susah menjalankan kewajibannya dalam beribadah karena
sakit yang ia alami

E. Perumusan NANDA, NOC, NIC

No Nanda Noc (outcome) Nic (intervensi)


1 Resiko  Keseimbangan  Manajemen Cairan
Kekurangan Cairan - Pantau masukan. perhatikan berat
Volume - TD normal jenis urin. Anjurkan klien untuk
Cairanb/d - Palpasi nadi perifer mengosongkan kandung kemih
hipermetabolik, normal sedikitnya sekali setiap hari 1 1/2
peningkatan - HT normal jam
kehilangan  Status Nutrisi: Intake - Pantau suhu setiap 4 jam lebih
cairan Makanan dan Cairan sering bila tinggi. Pantau tanda-
- Intake makanan dan tanda vital/ DJJ sesuai indikasi
cairan mencukupi - Beri cairan jernih dan es batu
 Hidrasi sesuai izin.
- Pengeluaran urine - Kaji praktik budaya mengenai
DBN masukan.
- Hidrasi kulit normal - Pantau kadar Hematokrit
- Kelembaban  Terapi Intra Vena
membrane mukosa - Berikan bolus cairan parentral
normal sesuai indikasi.
 Pemantauan Cairan
- Kaji tentang riwayat jumlah dan

14
tipe intake cairan dan pola
eliminasi
- Monitor warna dan kuantitas urin
- Beri cairan
2 Kerusakan  Status Respiratori:  Monitor Respiratori
Pertukaran Gas Pertukaran Gas - Monitor frekuensi, rata-rata,
resiko tinggi - Tidak ada irama, kedalaman dan usaha
terhadap janin kegelisahan bernafas
berhubungan - Tidak ada sianosis - Catat pergerakkan dada, lihat
dengan kontraksi - Mudah bernafas kesimetrisan, penggunaan
uterus yang lama otot tambahan, dan
supraklavikula dan retaksi
otot intercostal
- Monitor bising pernafasan
seperti ribut atau dengkuran
 Terapi Oksigen
- Berikan terapi oksigen sesuai
indikasi
 Pemberian Posisi
- Posisikan klien miring kiri
gunakan baji di bawah bokong
kanan bila klien terlentang atau
tinggikan klien pada posisi semi
duduk.

3 Resiko Cedera  Status Keamanan:  Peningkatan Keamanan


tinggi terhadap Cedera Fisik - Melakukan manuver leopold
janin  Kontrol Resiko untuk menemukan posisi janin,
berhubungan - Menunjukan DJJ dan berbaring dan presentasi
dengan hipoksia variasi denyut
jaringan, perdenyut dalam batas  Kontrol Resiko
penekanan
15
kepala pada normal tidak ada - Dapatkan data dasar DJJ secara
panggul, partus perubahan periodik manual dan atau elektronik.
lama, CPD. yang menyenangkan Pantau dengan sering. Perhatikan
dalam respon terhadap variasi DJJ dan perubahan
kontraksi uterus. periodik pada respon terhadap
kontraksi uterus
- Catat kemajuan persalinan
- Catat DJJ bila ketuban pecah,
kemudian setiap 15 mnt x3.
Pantau perubahan periodik pada
DJJ setelah ruptur

16
2.2 PREMATUR

A. Defenisi Prematur
Menurut WHO, persalinan premature adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang
dari 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Dengan demikian, persalainan
premature dapat terdiri dari :
1.      Persalinan premature dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat
badan janin sama untuk masa kehamilan (SMK)
2.      Persalinan premature dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat
badan kecil untuk masa kehamilan (KMK).
Nama lainnya dari golongan ini adalah
a. Small for gestational age (SGA)
b. b.Intra uteri grouth retardation (IUGRat)
c. Inta uteri grout restriction (IUGRst)
Menurut WHO, persalinan premature murni dapat digolongkan menurut usia kehamilan
dan berat badan lahir, yaitu :
1.      Sangat premature
2.      Premature sedang
3.      Premature borderline
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara
bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya
peningkatan morbilitas dan mortalitas neonatus.
American Academy Pediatric mendefinisikan prematuritas adalah kelahiran hidup bayi
dengan berat < 2500 gr. Criteria ini dipakai terus menerus secara luas, sampai tampak
bahwa ada perbedaan antara usia hamil dan berat lahir yang disebabkan adanya hambatan
pertumbuhan janin.  

B. Etiologi Premature
a. Faktor Maternal
Toksenia, hipertensi, malnutrisi / penyakit kronik, misalnya diabetes mellitus
kelahiran premature ini berkaitan dengan adanya kondisi dimana uterus tidak mampu

17
untuk menahan fetus, misalnya pada pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark
dari plasenta
b. Faktor Fetal
Kelainan Kromosomal (misalnya trisomi antosomal), fetus multi ganda, cidera
radiasi (Sacharin. 1996)

Faktor yang berhubungan dengan kelahiran premature :

Kehamilan
1)      Malformasi Uterus
2)      Kehamilan ganda
3)      TI. Servik Inkompeten
4)      KPD
5)      Pre eklamsia
6)      Riwayat kelahiran premature
7)      Kelainan Rh

Kondisi medis
1)Kondisi yang menimbulkan partus preterm

a. Hipertensi

Tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cenderung untuk mengakhiri kehamilan,


hal ini menimbulkan prevalensi persalinan preterm meningkat.

b. Perkembangan janin terhambat

Perkembangan janin terhambat (Intrauterine growth retardation) merupakan kondisi


dimana salah satu sebabnya ialah pemasokan oksigen dan makanan mungkin kurang
adekuat dan hal ini mendorong untuk terminasi kehamilan lebih dini.

c. Solusio plasenta

Terlepasnya plasenta akan merangsang untuk terjadi persalinan preterm, meskipun


sebagian besar (65%) terjadi aterm. Pada pasien dengan riwayat solusio plasenta maka
kemungkinan terulang akan menjadi lebih besar yaitu 11%.

d. Plasenta previa

18
Plasenta previa sering kali berhubungan dengan persalinan preterm akibat harus
dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Bila telah terjadi perdarahan banyak
maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena hipoksia.

e. Kelainan rhesus

Sebelum ditemukan anti D imunoglobulin maka kejadian induksi menjadi berkurang,


meskipun demikian hal ini masih dapat terjadi.

f. Diabetes

Pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka dapat dipertimbangkan
untuk mengakhiri kehamilan. Tapi saat ini dengan pemberian insulin dan diet yang
terprogram, umumnya gula darah dapat dikendalikan.

2)Kondisi yang menimbulkan kontraksi

a. Kelainan bawaan uterus

Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm


dengan kelainan uterus yang ada.

b. Ketuban pecah dini

Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada


beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti : serviks inkompeten, hidramnion,
kahamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain.

c. Serviks inkompeten
Riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dengan terjadinya
inkompeten. Chamberlain dan Gibbings menemukan 60% dari pasien serviks
inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49% mengalami pengakhiran
kehamilan pervaginam.

d. Kehamilan ganda
Sebanyak 10% pasien dengan dengan partus preterm ialah kehamilan ganda dan
secara umum kahamilan ganda mempunyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.

19
Sosial Ekonomi

1) Tidak melakukan perawatan prenatal


2) Status sosial ekonomi rendah
3) Mal nutrisi
4) Kehamilan remaja

Faktor gaya hidup

1) Kebiasaan merokok
2) Kenaikan berat badan selama hamil yang kurang
3) Penyalahgunaan obat (kokain)
4) Alcohol

C. Tanda Dan Gejala


Tanda-tanda persalinan prematur, yaitu
1) Kram seperti ketika datang bulan atau rasa sakit pada punggung.
2) Kram perut, dengan atau tanpa diare.
3)Kontraksi rahim yang teratur dengan jarak waktu sepuluh menit atau kurang dan
kontraksi ini tidak harus terasa sakit.
4) Rasa tertekan pada perut bagian bawah, terasa berat atau seperti bayi yang
mendorong ke bawah.
5) keluar air atau cairan lainnya dari vagina.

D. Faktor Resiko Kelahiran Premature


Resiko Demografik
1) Ras
2) Usia (<> 40 tahun)
3) Status sosio ekonomi rendah
4) Belum menikah
5) Tingkat pendidikan rendah

Resiko Medis

1) Persalinan dan kelahiran premature sebelumnya

20
2) Abortus trimester kedua (lebih dari 2x abortus spontan atau elektif)
3) Anomali uterus
4) Penyakit-penyakit medis (diabetes, hipertensi)
5) Resiko kehamilan saat ini :

Kehamilan multi janin, Hidramnion, kenaikan BB kecil, masalah-masalah plasenta


(misal : plasenta previa, solusio plasenta), pembedahan abdomen, infeksi (misal :
pielonefritis, UTI), inkompetensia serviks, KPD, anomaly janin.

Resiko Perilaku dan Lingkungan

1) Nutrisi buruk
2) Merokok (lebih dari 10 rokok sehari)
3) Penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya (mis. kokain)
4) Jarang / tidak mendapat perawatan prenatal

Faktor Resiko Potensial

1) Stres
2) Iritabilitas uterus
3) Perestiwa yang mencetuskan kontraksi uterus
4) Perubahan serviks sebelum awitan persalinan
5) Ekspansi volume plasma yang tidak adekuat
6) Defisiensi progesterone
7) Infeksi

E. Klasifikasi
Persalinan prematur murni sesuai dengan definisi WHO

BATASAN KRITERIA KETERANGAN


Sangat prematur -     Usia kehamilan 24-30 -  Sangat sulit untuk hidup, kecuali
minggu dengan inkubator canggih
-     BB bayi 1000-1500 g -  Dampak sisanya menonjol,terutama
pada IQ nerologis dan pertumbuhan
fisiologis

21
Prematur Sedang-     Usia kehamilan 31-36 -    Dengan perawatan cangih masih
mingu mungkin hidup tanpa dampak sisa
-     BB bayi 1501-2000 g yang berat
Premuatur -     Usia kehamilan 36-38 -    Masih sangat mungkin hidup
borderline mingu tampa dampak sisa yang berat
-     Berat bayi 2001-2499 g -    Perhatikan kemungkinan :
-     Lingkaran kepala 33 cm Ø Ganguan napas
-     Lingkaran dada 30 cm Ø Daya isap lemah
-     Panjang badan sekitar Ø tdak tahan terhadap hipotermia
45cm Ø mudah terjadi infeksi

Persalinan prematur berdasarkan pengolangan faktor penyebab

Pengolongan Criteria Keterangan


Golongan 1 dapat terjadi prematur teratur tidak kejadian persalinan
menimbulkan proses “rekuren”solusio prematur sangat jarang
plasentaplasenta berulang dengan sebab
previahidramnion/oligohidromnionkehamilan yang sama
ganda
Golongan 2 resiko kejadian persalinanprematur tidak sebagian masih dapat
dapat dikontrol oleh penderita sendirihamil diupayakan untuk
usia muda ,tua (umur kurang 18 tahun atau dikendalikananomali
diatas 40tahun ) alat reproduksi
terdapat anomali alat reproduksi sebagian sulit
dikendalikan
sekalipun dengan
tindakan operasi

22
Golongan 3 faktor yang menimbulkan pesalinan prematur Permasalahan yang
dapat dikendalikan sehinga kejadian dihadapi golongan
prematur dapat diturunkan : 111,sebagian besar
-  KEBIASAAN : beraspek sosial
Merokok ketagin obat sehingah peran nya
Kebiasaan kerja keras ,kurang tdur dan sebagai faktor pemicu
istirahat. persalinan prematur
Keadaan sosial ekonomi yang menyebabkan dapat dikendalikan:
konsumsi gizi nutrisi rendah . Kemampuan
Kenali berat badan ibu hamil yang kurang pengendalian faktor
- Anomali serviks, serviks inkompeten sosial yang berada
ditengah
masyarakat
,merupakan program
obstetr social
Keberhasilan nya akan
dapat dirasakan
masyarakan dan
mempunyai nilai
untuk meningkatkan
kemampuan
memberikan
pelayanan bermutu
dan menyeluruh ,
sebagai stategi sosial.

F. Patofisiologi

Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau
minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam
pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang

23
perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2
kali.
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus,
serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau
memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester
II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada
kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.Pasien tergolong
resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko mayor atau bila ada 2 atau lebioh
resiko minor atau bila ditemukan keduanya.

G. Diagnosis Persalinan Premature

Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm.


Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan
ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman
persalinan preterm, yaitu:

1.Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10
menit
2.Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
3.Perdarahan bercak
4.Perasaan menekan daerah serviks
5.Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan
penipisan 50-80%
6.Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
7.Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
8.Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

H. Komplikasi Premature

Masalah kesehatan yang sering dialami bayi lahir prematur:

24
1) Masalah kardiovaskular seperti PDA atau Duktus Arteriosus Paten dimana ductus
arteriosus tetap terbuka bahkan setelah anak lahir. Anak yang lahir prematur sangat
rentan terhadap masalah seperti masalah hipertensi, diabetes dan jantung di usia dewasa
mereka.
2) Penyakit paru-paru kronis dan infeksi seperti displasia bronkopulmonalis,
pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan.
3) Ada beberapa masalah neurologis seperti Ensefalopati hipoksik iskemik,
retinopati prematuritas, apnea, serebral palsi, cacat perkembangan, perdarahan
intraventrikular. Beberapa bayi cenderung mengalami pendarahan otak. Pendarahan
otak parah dapat berakibat fatal. Keterbelakangan mental adalah efek yang bisa terjadi
pada kelahiran prematur.
4) Masalah hematologi yang bisa terjadi pada kelahiran prematur adalah
trombositopenia, anemia, ikterus atau hiperbilirubinemia yang menyebabkan
kernikterus.
5) Bayi prematur menghadapi masalah pertumbuhan jangka panjang seperti tingkat
pertumbuhan di bawah rata-rata.
6) Beberapa masalah metabolik dan pencernaan yang juga bisa terjadi pada bayi
prematur seperti hernia inguinalis, hipokalsemia, rakhitis, nekrosis enterocolitis,
hipoglikemia, dll. Pengamatan yang dilakukan menemukan bahwa, bayi prematur
menghadapi kesulitan dalam menyusu, karena kurang energi untuk menghisap susu.
7) Anak yang lahir antara minggu ke-22 dan 27 lebih rentan terhadap kematian bayi
dan SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
8) Para ahli menyatakan bahwa anak-anak yang lahir prematur menghadapi masalah
reproduksi.
9) Beberapa masalah lainnya seperti sepsis, kebutaan total atau parsial, masalah
penglihatan, infeksi saluran kemih, masalah sosial dan emosional, keterampilan
mengucap yang kurang, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), masalah
koordinasi mata tangan dan IQ lebih rendah.

25
26
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Persalinan tidak selalu berjalan lancar, terkadang ada kelambatan dan kesulitan
yang dinamakan distosia. Salah satu penyebab distosia itu adalah karena kelainan his
yaitu suatu keadaan dimana his tidak normal, baik kekuatannya maupun sifatnya
sehingga menghambat kelancaran persalinan.

Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya


rencana tindakan tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Akhir dari proses keperawatan adalah ketentuan hasil yang diharapkan terhadap
perilaku dan sejauh mana masalah klien dapat teratasi. Disamping itu perawat juga
melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan ditetapkan belum berhasil/
teratasi.

Premature adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau
berat bayi kurang dari 2500 gram. Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan
asuhan kebidanan.

Faktor penyebat persalinan bayi prematur adalah adanya faktor maternal, faktor
fetal, dan faktor lain, seperti kehamilan, kondisi medis, faktor sosial ekonomi dan faktor
gaya idup

kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:

1. Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu
10 menit
2. Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
3. Perdarahan bercak
4. Perasaan menekan daerah serviks

27
5. Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan
penipisan 50-80%
6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

28
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo S.2006.Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan


neonatal.jakarta:YBP-SP

Prawirohardjo Sarwono,2002,ilmu kebidanan,Jakarta; yayasan bina pustaka sarwono


prawirohardjo

Sastrawinata,Sulaeman.obstetri fisiologis.fakultas kedokteran UNPAD:Jakarta.1987

Ladewig Patricia W.2006.asuhan keperawatanibu-bayi baru lahir.ECG : Jakarta

Pusdiknaskes.2003.asuhan antenatal.WHO-JHPIEGO

Manuaba, I.B.G, dkk.2007.Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC

http://askebkpddanpersalinanpreterm.blogspot.com/

http://khanzima.wordpress.com/2010/10/20/asuhan-kebidanan-patologi-persalinan-dengan-
partus-prematurus/

Soepardan, Suryani.2008. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC

29
KATA PENGANTAR

Puji syukurkami ucapkan kehadirat Allah yang maha kuasa atas rahmat yang telah diberika
n kepada kami untuk dapat menyusun makalah persalinan risiko” distosia dan premature” guna untu
k melengkapi tugas “Maternitas II”. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada nabi Muhammad S
AW. Karena beliau telah bersusah payah membawa umatnya dari alam yang tidak berpengetahuan ke
alam yang berilmu pada saat sekarang ini.
Makalah ini kami susun secara efektif dengan landasan pengetahuan dari berbagai sumber.
Kemudian kami buat menjadi suatu makalah.Sekiranya makalah ini masih jauh dari kata sempurna.O
leh karena itu kamimenerima saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini menjadi lebih bai
k. kamiberharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca.

Padang, April 2019

Kelompok 4

30
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1


1.2Tujuan.................................................................................................................2
BAB II. TINJAUAN TEORITIS

2.1 Distosia.......................................................................................................3

A. Defenisi Distosia..................................................................................3
B. Klasifikasi Distosia..............................................................................3
C. Etiologi Distosia..................................................................................8
D. Manifestasi Klinis..............................................................................10
E. Komplikasi.........................................................................................10
F. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan..........................................10
G. Pemeriksaan Diagnostik.....................................................................11
H. Asuhan Keperawatan Teoritis........................................................11
2.2 Prematur....................................................................................................18
A. Defenisi Prematur................................................................................18
B. Etiologi Prematur.................................................................................18
C. Tanda Dan Gejala................................................................................21
D. Faktor Resiko Kelahiran Prematur.......................................................21
E. Klasifikasi............................................................................................22
F. Patofisiologi.........................................................................................24
G. Diagnosa Persalinan Prematur..............................................................25
H. Komplikasi Prematur............................................................................25
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.......................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................30

ii
31
MAKALAH MATERNITAS II

“ASUHAN KEPERAWATAN DISTOSIA DAN PREMATURE”

Disusun oleh :

Keperawatan 16 A

Kelompok 4

1. Eka Putri Mardha T


2. Kahairun Nisa Yasmin
3. Nabilah Aanggi Darmanti
4. Nadia Abde Pertiwi
5. Rahmah Putri H
6. Sinta Yulia
7. Yelvi Kesri Yohana

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

ALIFAH PADANG

32