Anda di halaman 1dari 5

MATA KULIAH ENTERPRENEUSHIP KEPERAWATAN

PROFIL PERAWAT ENTERPRENEUSHIP

HELMET SITOMPUL (OZORA HOMECARE)

OLEH :

NADIA ABDE PERTIWI

161010504

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH

PADANG
HELMET SITOMPUL, OZORA HOMECARE BERMITRA DENGAN

RUMAH SAKIT

 Awal Usaha

Berbekal ilmu dan pengalaman sebagai ahli fisioterapi yang

sering homevisit untuk memberi terapi pasien di rumah, tahun 2007 lalu, Helme

Sitompul (30) dan suaminya, Bernard Timothy (30), merintis usaha perawatan

pasien di rumah, yang di luar negeri lazim dikenal dengan sebutan homecare.

Layanan homecare sendiri mulai booming di Indonesia sejak awal tahun 2000-an dan

Helme melihat bisnis ini cerah karena kesehatan adalah kebutuhan utama dan  makin

banyak pasien yang lebih memilih dirawat di rumah jika memungkinkan.

“Pasien pastinya lebih memilih dirawat di rumah, dekat dengan keluarga,

daripada di rumah sakit. Selain secara psikis mendorong penyembuhan pasien,

perawatan di rumah juga dapat menghemat biaya sewa kamar di rumah sakit yang

bisa mencapai Rp1 juta - Rp1,5 juta sehari,” tutur Helme. Selain harga kamar yang

mahal, biasanya rumah sakit juga akan membebankan biaya tambahan untuk

penggunaan beberapa  alat medis. Selain ingin dekat dengan keluarga, pertimbangan

penghematan itulah yang mendorong orang untuk memilih layanan homecare.

Bernard yang saat itu masih bekerja di bank, akhirnya setuju menjalankan

usaha mereka di bidang layanan homecare plus penyewaan hospital equipments yang

diberi nama OZORA Homecare. “Usaha ini saling melengkapi. Pasien yang memilih

dirawat di rumah tentu membutuhkan alat medis sesuai standardisasi rumah sakit.

Begitu juga  pasien yang membutuhkan alat medis elektronik, akan butuh tenaga

medis untuk pengoperasiannya,” ujar Bernard.


Dengan modal awal sebesar Rp20 juta -  Rp30 juta, pasangan ini pun mulai

menyicil stok peralatan kesehatan yang akan disewakan. “Awalnya kami

membeli hospital bed dulu, baru kemudian membeli monitor dan oksigen. Begitu

dapat pesanan, kami langsung membeli barang,” kenang Bernard. Bernard selalu

membeli alat-alat yang baru dari beberapa supplier alat kesehatan, kecuali alat

elektronik seperti syringepump, infusionpump, ventilator. Maksudnya, agar usia

pemakaiannya lama. Ozora kemudian mengutip biaya sewa sebesar 10%-20% dari

harga barang. Misalnya, hospital bed, ia sewakan seharga Rp1,7 juta sebulan, atau

ventilator yang harganya Rp200 juta - Rp250 juta, disewakan sebesar Rp17 juta per

bulan.

Lama-kelamaan usaha yang ditekuni secara sambilan ini kian berkembang.

Setelah dua tahun ‘merayap’ membangun bisnisnya, mereka berhasil mengumpulkan

tambahan modal hingga Rp250 juta. Bernard akhirnya berani melepas pekerjaannya

di bank untuk terjun sepenuhnya mengurus bisnis ini. “Sekarang zamannya kita yang

mengantarkan layanan medis ke rumah,” tutur Bernard, sambil tersenyum.

Kini, selain menyewakan hospital equipment dan layanan homecare, Bernard

dan Helme melengkapi bisnisnya dengan layanan evakuasi berupa penyediaan

ambulans dan menjual alat-alat kesehatan yang kecil, seperti tensimeter, alat cek gula

darah, masker, sarung tangan, tongkat, dan kursi roda secara online dan di tokonya

yang terletak di seberang Rumah Sakit Pondok Indah dan Ciputat, Jakarta.  

 Tantangan

Tidak mudah mengembangkan bisnis ini di awal. Sebab, kebanyakan orang

Indonesia belum familiar dengan layanan homecare atau perawatan pasien di rumah.

Kebanyakan masih berpikir bahwa tenaga pendamping yang


disediakan homecare bukan tenaga profesional dan mengasosiasikannya seperti

layanan babysitting semata. Padahal, tenaga yang dipekerjakan Ozora adalah tenaga

medis berpengalaman kerja selama beberapa tahun di rumah sakit. Tak kehabisan

akal, Bernard pun menggandeng beberapa rumah sakit besar untuk bermitra

dengannya.

“Mitra kami merekomendasikan layanan homecare kepada pasien yang

membutuhkan layanan perawatan lanjutan di rumah berikut jasa sewa alat medis.

Rekomendasi mitra bisnis meyakinkan calon klien dalam memilih homecare yang

sesuai dengan standardisasi perawatan di rumah sakit,” papar

Bernard. OZORA menawarkan kerja sama dalam bentuk referralfee dan insentif

kepada mitra bisnisnya. 

Tantangan lainnya adalah menciptakan tenaga medis yang andal. Untuk

kebutuhan tenaga medis, seperti dokter, perawat, asisten perawat, ahli fisioterapi,

terapis wicara, dan okupasi, Helme mendapatkannya melalui proses rekrutmen

selektif. Ozora pun mengadaptasi sistem dan cara perawatan rumah sakit ke dalam

layanan homecare-nya lewat observasi langsung di rumah sakit dan pengalaman para

tenaga medisnya. 

Selain itu,  minimal sebulan sekali, Helme mengadakan evaluasi kerja dan

training refreshment bagi 10 perawat tetap dan 10 tenaga medis freelance  yang

dipekerjakannya agar ilmu mereka tetap uptodate. Berkat profesionalisme kerja

timnya, jasa homecare-nya  makin dipercaya dan dicari orang lewat mulut ke mulut. 

 Profit

Kebanyakan pasien yang meneruskan perawatan di rumah yang menggunakan

jasanya adalah pasien-pasien kronis yang telah dirawat lebih dari 20 hari dengan
kondisi stabil, seperti pasien diabetes, stroke, kanker, atau pasien pasca ICU. Dalam

sebulan, Bernard bisa mendapatkan 10-15 pasien di Jabodetabek yang

direkomendasikan rumah sakit mitranya. “Masing-masing pasien kebutuhannya

berbeda. Untuk penyakit yang ringan, biasanya mereka hanya menyewa

layanan homecare tanpa sewa peralatan medis,” kata Bernard. 

Untuk layanan homecare, Bernard menetapkan biaya layanan medis sebesar

Rp.600.000 per hari atau Rp.18 juta sebulan, sudah termasuk pendampingan 2

perawat. Sementara, harga layanan medis plus paket alat medis bisa mencapai Rp25

juta sebulan. Alat-alat medis yang disewakan dalam paket antara lain monitor detak

jantung, syringepump, infusionpump, hospital bed, suction, dan nebulizer. Dari bisnis

ini, dalam sebulan Bernard berhasil mengeruk omzet rata-rata sekitar Rp.180 juta

dengan kisaran profit sebesar 30%.