Anda di halaman 1dari 1

Kejahatan dan Pelanggaran dalam KUHP

Istilah kejahatan berasal dari kata “jahat”, yang artinya sangat tidak baik, sangat buruk,
sangat jelek, yang ditumpukan terhadap tabiat dan kelakuan orang.
Kejahatan berarti mempunyai sifat yang jahat atau perbuatan yang jahat(Pipin
Syarifudin,2000:93).Perbuatan-perbuatan pidana menurut sistem KUHP di bagi atas
kejahatan (misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen) dimana Buku II KUHP (Pasal 104
KUHP - Pasal 488 KUHP) mengatur mengenai kejahatan dan Buku III KUHP (Pasal 489
KUHP – Pasal 569 KUHP) mengatur tentang pelanggaran.
Terdapat dua cara pandang dalam membedakan antara kejahatan dan pelanggaran
(Moeljatno,2002:72), yakni pandangan pertama yang melihat adanya perbedaan antara
kejahatan dan pelanggaran dari perbedaan kualitatif. Dalam pandangan perbedaan kualitatif
antara kejahatan dan pelanggaran dikatakan bahwa kejahatan adalah “rechtsdeliten”, yaitu
perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak ditentukan dalam undang-undang, sebagai
perbuatan pidana, telah dirasakan sebagai onrecht, sebagai perbuatan yang bertentantangan
dengan tata hukum. Pelanggaran sebaliknya adalah “wetsdeliktern”, yaitu perbuatan-
perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui setelah ada wet yang
menentukan demikian (Moeljatno,2002:71).Pandangan kedua yakni pandangan yang
menyatakan bahwa hanya ada perbedaan kuantitatif (soal berat atau entengnya ancaman
pidana) antara kejahatan dan pelanggaran.Selain daripada sifat umum bahwa ancaman pidana
bagi kejahatan lebih berat daripada pelanggaran, perbedaan antara kejahatan dan pelanggaran
yaitu (Moeljatno,2002:74) :
1. Pidana penjara hanya diancamkan pada kejahatan saja.
2. Jika menghadapi kejahatan maka bentuk kesalahan (kesengajaan atau kelapaan) yang
diperlukan di situ, harus dibuktikan oleh jaksa, sedangkan jika menghadapi pelanggaran hal
itu tidak usah. Berhubung dengan itu kejahatan dibedakan pula dalam kejahatan yang dolus
dan culpa.
3. Percobaan untuk melakukan pelanggaran tak dapat dipidana (Pasal 54 KUHP). Juga
pembantuan pada pelanggaran tidak dipidana (Pasal 60 KUHP).
4. Tenggang daluwarsa, baik untuk hak menentukan maupun hak penjalanan pidana bagi
pelanggaran adalah lebih pendek daripada kejahatan tersebut masing-masing adalah satu
tahun dan dua tahun.
5. Dalam hal pembarengan (concursus) pada pemidanaan berbeda buat pelanggaran dan
kejahatan. Kumulasi pidana yang enteng lebih mudah daripada pidana berat.