Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PERAN PERAWAT DALAM DALAM PEMENUHAN ASUHAN

KEPERAWATAN HIV/AIDS

Disusun Oleh :

Kelompok 3

1. Mahkota Yoga Riza

2. Monika Aulia Yasandi

3. Marsya Fauziah

4. Maya Febrianti

5. Nabilah Anggi Darmanti

6. Nadia Abde Pertiwi

7. Mila Pranata

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH

PADANG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan serta

kelancaran dalam terselesainkan tugas ini dengan tepat waktu dan sesuai dengan judul ‘’

peran perawat dalam pemenuhan askep HIV/ AIDS ” Makalah ini disusun sebagai tugas

mata kuliah HIV/AIDS.

Penyusun mendapat beberapa literatur yang berhubungan dengan pokok

pemasalahan. Kritik serta saran selalu kami tunggu guna kesempurnaan makalah

selanjutnya.

Padang, Maret 2020

Kelompok 3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Tingkat pertumbuhan penderita AIDS di Indonesia cukup tinggi. Departemen

Kesehatan (DEPKES) memprediksi pada tahun 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan

menjadi pandemi. Peningkatan infeksi HIV pada penyalahguna narkoba terjadi secara

signifikan. Pada tahun 1999, peningkatannya mencapai 15%, tahun 2000 membengkak

menjadi 40%, dan dua tahun kemudian, tepatnya 2002, telah mengembung menjadi

47,9%. Sementara itu, infeksi HIV pada donor darah secara nasional memperlihatkan

besaranya kurang dari dua setiap per 10.000 kantong darah di awal 2001. Pada tiga

tahun terakhir antara 1997-2000 infeksi HIV pada donor darah di Indonesia meningkat

hingga sepuluh kali lipat.

Pada awal mula penyakit ini berkembang di Indonesia, kelompok pengidap

penyakit ini adalah orang-orang yang memiliki perilaku berganti-ganti pasangan dalam

berhubungan seks. Kebanyakan penderita AIDS adalah mereka yang melakukan

perilaku seks tidak sehat, yang dalam hal ini melanggar norma-norma yang berlaku

dalam masyarakat. Kemudian, AIDS juga banyak diderita oleh pemakai narkoba yang

menggunakan jarum suntik karena adanya kebiasaan menggunakan jarum suntik secara

bergantian. Kenyataan ini menimbulkan stigma pada masyarakat yang menyebutkan

bahwa HIV/AIDS muncul sebagai akibat penyimpangan perilaku seks dari nilai, norma,

dan agama, penyakit pergaulan bebas, atau penyakit kaum perempuan nakal. Bahkan

lebih parah lagi adanya stigma bahwa HIV/AIDS merupakan kutukan Tuhan karena

perbuatan-perbuatan menyimpang itu.


Adanya stigma dalam masyarakat ini menimbulkan masalah psikosial yang rumit

bagi penderita AIDS. Pengucilan penderita dan diskriminasi tidak jarang membuat

penderita AIDS tidak mendapatkan hak-hak asasinya. Begitu luasnya masalah sosial

yang berkaitan dengan stigma ini, karena diskriminasi terjadi di berbagai pelayanan

masyarakat bahkan tidak jarang dalam pelayanan kesehatan sendiri. Untuk lebih

jelasnya kami kami akan membahas di bab selanjutnya.

1.2 Rumusan masalah

1. Apakah definisi dari HIV ?

2. Bagaimanakah cara penularan HIV/ AIDS ?

3. Bagaimana cara pencegahan HIV/ AIDS ?

4. Apa peran perawat dalam HIV/ AIDS ?

5. Bagaimana prinsip etika HIV/ AIDS ?

6. Bagaimana stigma dan diskriminasi pada penderita HIV/ AIDS ?

7. Apa saja masalah psikososial pada penderita HIV/ AIDS ?

8. Apa saja upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban psikososial

penderita HIV/ AIDS ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui peran perawat dalam pemenuhan askep HIV/ AIDS serta

masalah psikososial pada penderita.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mengetahui definisi dari HIV

2. Mengetahui cara penularan HIV/ AIDS


3. Mengetahui cara pencegahan HIV/ AIDS

4. Mengetahui peran perawat dalam HIV/ AIDS ?

5. Bagaimana prinsip etika HIV/ AIDS

6. Mengetahui stigma dan diskriminasi pada penderita HIV/ AIDS

7. Mengetahui masalah psikososial pada penderita HIV/ AIDS

8. Mengetahui upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban psikososial

penderita HIV/ AIDS


BAB I1

PENDAHULUAN

2.1 Defenisi

Menurut Green. CW (2007). HIV meripakan singkatan dari Human

Immunnedeficiency Virus. Disebut human (manusia) karena virus ini hanya dapat

menginfeksi manusia, immuno-deficiency karena efek virus ini adalah melemahkan

kamampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan segala penyakit yang menyerang

tubuh, termasuk golongan virus karena salah satu karakteristiknya adalah tidak mampu

memproduksi diri sendiri, melainkan memanfaatkan sel-sel tubuh. Sel darah putih

manusia sebagai sel yang berfungsi untuk mengendalikan atau mencegah infeksi oleh

virus, bakteri, jamur, parasit dan beberapa jenis kanker diserang oleh Hiv yang

menyebabkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terserang penyakit.

AIDS singkatan dari Acquired Immuno Defeciency Syndrome. Acquired berarti

diperoleh karena orang hanya menderita bila terinfeksi HIV dari orang lain yang sudah

terinfeksi. Immuno berarti sistem kekebalan tubuh, Defeciency berarti kekurangan yang

menyebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh dan Syndrome berarti kumpulan gejala

atau tanda yang sering muncul bersama tetapi mungkin disebabkan oleh satu penyakit

atau mungkin juga tidak yang sebelum penyebabnya infeksi HIV ditemukan. Jadi AIDS

adalah kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan system kekebalan tubuh

yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Gallant. J 2010).

2.2 Cara Penularan

AIDS dikelompokkan dalam Penyakit Menular Seksual (PMS) karena paling

banyak ditularkan melalui hubungan seksual (90%). Cairan tubuh yang paling banyak
mengandung HIV adalam semen (air mani) dan cairan vagina/serviks serta darah, cairan

mani yang keluar melalui penis pada laki-laki dan vagina pada perempuan sebagai

perantara yang paling tinggi menularkan penyakit HIV karena bagian penis dan vagina

memiliki struktur lapisan epitel skuamukosa tipis yang mudah ditembusi oleh kuman

HIV sampai ke dalam jaringan ikat yang kaya pembuluh darah dan darah sehingga

penularan utama HIV adalah melalui 3 jalur yang melibatkan cairan tubuh tersebut

yaitu:

a. Transseksual atau jalur hubungan seksual (Homoseksual/ heteroseksual).

b. Transhorisontal atau jalur pemindahan darah atau produk darah seperti :

transfusi darah, melalui alat suntik, alat tusuk tato, tindik, alat bedah, dokter

gigi, alat cukur dan melukai luka halus di kulit, jalur transplantasi alat tubuh.

c. Transvertikal atau jalur transplasental : janin dalam kandungan ibu hamil

denga HIV positif akan tertular (Infeksi transplasental) dan infeksi perinatal

melalui ASI atau virus HIV dapat ditemukan dalam air liur, air mata tetapi

penularan melalui bahan ini belum terbukti kebenarannya karena jumlah

HIV-nya sangat sedikit. HIV juga tidak menular lewat jabat tangan, bercium

pipi, bersin/batuk dekat penderita AIDS, berenag bersama dalam satu kolam

renang, hidup serumah dengan pengidap HIV tanpa hubungan seksual,

hewan seperti nyamuk, kutuk busuk dan serangga lainnya belum terbukti

dapat menularkan HIV.

2.3 Cara Mencegah HIV/AIDS

Dengan mengetahui cara penularan HIV/AIDS dan sampai saat ini belum ada obat

yang mampu memusnahkan HIV/AIDS maka lebih mudah melakukan pencegahannya.

a.    Prinsip ABCDE yaitu :


A = Abstinence

Puasa Sesk, terutama bagi yang belum menikah

B = Be faithful

Setia hanya pada satu pasangan atau menghindari berganti- ganti pasangan

C = use Condom

Gunakan kondom selalu bila sudah tidak mampu menahan seks

D = Drugs No

Jangan gunakan narkoba

E = sterilization of Equipment

Selalu gunakan alat suntik steril

b.    Voluntary Conseling Testing (VCT)

VCT merupakan satu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak

terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan untuk mencegah penularan

HIV, memberikan dukungan moral, informasi serta dukungan lainnya kepada

ODHA, keluarga dan lingkungannya.

VTC mempunyai tujuan sebagai :

1)    Upaya pencegahan HIV/AIDS

2)    Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi atau

pengetahuan mereka tentang faktor-faktor resiko penyebab seseorang

terinfeksi HIV.

3)    Upaya mengembangkan perubahan perilaku, sehingga secara dini

mangarahakan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan

termasuk akses terapi antiretroviral (ARV), serta membantu mengurangi

stigma dalam masyarakat.


c.    Universal Precautions (UPI)

Universal precautions adalah tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh

seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi serta

mencegah penularan HIV/AIDS bagi petugas kesehatan dan pasien.

UPI perlu diterapkan dengan tujuan untuk :

1)    Mengendalikan infeksi secara konsisten.

2)    Mamastikan standar adekuat bagi mereka yang tidak di diagnosis atau

terlihat seperti beresiko.

3)    Mengurangi resiko bagi petugas kesehatan dan pasien.

4)    Asumsi bahwa resiko atau infeksi berbahaya.

Upaya perlindungan dapat dilakukan melalui :

1)    Cuci tangan

2)    Alat pelindung

3)     Pemakaian antiseptik

4)    Dekontaminasi, pembersihan dan sterilisasi atau disterilisasi atau desinfektan

tingkat tinggi untuk peralatan bedah, sarung tangan dan benda lain.

2.4 Peran perawat

Peran perawat pada pasien HIV/AIDS

a. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan (caregiver)

Pada peran ini dapat dilakukan perawat dengan mempertahankan

keadaankebutuhan dasar manusi ang dibutuhkan melalui pemberian

pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan

sehingga dapat ditentukan diagnosa keperawatan agar bisa direncanakan

dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat


perkemangannya. Asuhan keperawatan yang diberikan dari ha ini yang

sederhana sampai yang komplek.

b. Peran sebagai advokat

Peran perawat sebagai advokat pada pasien HIV/AIDS yaitu dapat

melakukan perawatan yang membantu pasien, keluarga dalam

menginterprestasikan sebagai informasi dari pemberi pealanyanan atau

informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan

keperawatan yangdiberikan kepada pasien, juga dapat berperan

mempertahankan dan melinungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas

pelayanan yang sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penykitna,

hak privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, dan hak untuk

menerima ganti rugi akibat kelalaian.

c. Peran sebagai educator (pendidik)

Peran perawat sebagai edukator pada pasien HIV/AIDS yaitu perawat

membantu klien dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan, gejala

penyakit bahkan tindakan pengetahuan yang diberikan, sehingga terjadi

perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

d. Peran sebagai kolaborator

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melaui tim kesehatan yang

terdiri dari : dokter, ahli gizi, farmasi, dan lainnya dengan berupaya

mengidentifikasi pelayanan kesehatan yang diperlukan termsuk diskusi

atau tukar pendapat dalam menentukan bentuk pelayanan yang

selanjutnya.

e. Peran perawat sebagai konsultan


Dalam peran ini perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah

atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini

dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan

pelayanan keperawatan yang diberikan.

Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan konseling dan

pendampingan (tidak hanya psikoterapi tetapi juga psikoreligi), edukasi yang benar

tentang HIV/AIDS baik pada penderita, keluarga dan masyarakat. Sehingga penderita,

keluarga maupun masyarakat dapat menerima kondisinya dengan sikap yang benar dan

memberikan dukungan kepada penderita. Adanya dukungan dari berbagai pihak dapat

menghilangkan berbagai stresor dan dapat membantu penderita meningkatkan kualitas

hidupnya sehingga dapat terhindar dari stress, depresi, kecemasan serta perasaan

dikucilkan.

Peran seorang perawat dalam mengurangi beban psikis seorang penderita AIDS

sangatlah besar. Lakukan pendampingan dan pertahankan hubungan yang sering dengan

pasien sehinggan pasien tidak merasa sendiri dan ditelantarkan. Tunjukkan rasa

menghargai dan menerima orang tersebut. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri

klien. Perawat juga dapat melakukan tindakan kolaborasi dengan memberi rujukan

untuk konseling psikiatri. Konseling yang dapat diberikan adalah konseling pra-nikah,

konseling pre dan pascates HIV, konseling KB dan perubahan prilaku. Konseling

sebelum tes HIV penting untuk mengurangi beban psikis. Pada konseling dibahas

mengenai risiko penularan HIV, cara tes, interpretasi tes, perjalanan penyakit HIV serta

dukungan yang dapat diperoleh pasien. Konsekuensi dari hasil tes postif maupun negatif

disampaikan dalam sesi konseling. Dengan demikian orang yang akan menjalani testing

telah dipersiapkan untuk menerima hasil apakah hasil tersebut positif atau negatif.
Mengingat beban psikososial yang dirasakan penderita AIDS akibat stigma negatif

dan diskriminasi masyarakat adakalanya sangat berat, perawat perlu mengidentifikasi

adakah sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. Perawat juga perlu mendorong

kunjungan terbuka (jika memungkinkan), hubungan telepon dan aktivitas sosial dalam

tingkat yang memungkinkan bagi pasien. Partisipasi orang lain, batuan dari orang

terdekat dapat mengurangi perasaan kesepian dan ditolak yang dirasakan oleh pasien.

Perawat juga perlu melakukan pendampingan pada keluarga serta memberikan

pendidikan kesehatan dan pemahaman yang benar mengenai AIDS, sehingga keluarga

dapat berespons dan memberi dukungan bagi penderita.

Aspek spiritual juga merupakan salah satu aspek yang tidak boleh dilupakan

perawat. Bagi penderita yang terinfeksi akibat penyalahgunaan narkoba dan seksual

bebas harus disadarkan agar segera bertaubat dan tidak menyebarkannya kepada orang

lain dengan menjaga perilakunya serta meningkatkan kualitas hidupnya

2.5 Prisip Etika dalam kaitannya dengan HIV/AIDS

Prisip etika yang harus dipegang teguh oleh seluruh komponen baik itu seseorang,

masyarakat, nasional maupun dunia internasional dalam menghadapai HIV/AIDS

adalah :

a.    Empati, ikut merasakan penderitaan, sesama termasuk ODHA (Orang Dengan

HIV/AIDS) dengan penuh simpati, kasih sayang dan kesedihan saling

menolong.

b.    Solidaritas, secara bersama-sama bahu membahu meringankan penderitaan dan

melawan ketidakadilan yang diakibatkan olah HIV/AIDS.

c.    Tanggung jawab, berarti setiap individu, masyarakat lembaga atau bangsa

mempunyai tanggung jawab untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dan


memberikan perawatan pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) (Nursalam,

2007).

2.6 Stigma dan Diskriminasi

Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk

moral/perilakunya sehingga mendapat penyakit tersebut. Orang-orang yang di stigma

biasanya dianggap melakukan untuk alasan tertentu dan sebagai akibat mereka

dipermalukan, dihindari, didiskreditkan, ditolak dan ditahan. Penelitian yang dilakukan

oleh Kristina (2005) di Kalimantan Selatan dan Cipto (2006) di Jember Jawa Timur

tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap mengenai

stigma pada orang dengan HIV/AIDS menunjukan bahwa 72% orang yang

berpendidikan cukup (SMU) kurang menerima ODHA dan hanya 5% yang cukup

menerima. Faktor yang berhubungan dengan kurang diterimanya ODHA antara lain

karena HIV/AIDS dihubungkan dengan perilaku penyimpangan seperti seks sesama

jenis, penggunaan obat terlarang, seks bebas, serta HIV diakibatkan oleh kesalahan

moral sehingga patut mendapatkan hukuman. (Kristina dan Cipto dalam Nursalam,

2008).

Diskriminasi atau perlakuan tidak adil didefinisikan oleh UNAIDS sebagai

tindakan yang disebabkan perbedaan, menghakimi orang berdasarkan status HIV/AIDS

mereka baik yang pasti maupun yang diperkirakan sebagai pengidap. Diskriminasi ini

juga dapat terjadi dibidang kesehatan antara lain dalam kerahasiaan, kebebasan, pribadi,

kelakuan kejam, penghinaan atau perlakuan kasar, pekerjaan pendidikan keluarga dan

hak kepemilikan maupun hak untuk berkumpul. ODHA menghadapi diskriminasi

dimana saja dan diberbagai negara. Membiarkan diskriminasi akan merugikan upaya

penanggulangan infeksi HIV/AIDS. (Nursalam, 2008).


2.7 Masalah psikososial

Kasus AIDS pertama kali dilaporkan pada tahun 1981 di California, sedangkan

penyebab AIDS baru ditemukan pada akhir 1984 oleh Robert Gallo dan Luc Montagner.

Laporan kasus AIDS pada tahun 1981 menunjukkan tingginya angka kematian pada

pasien yang berusia masih muda. Akibatnya timbul ketakutan pada masyarakat terhadap

penyakit ini. Sampai sekarang di masyarakat masih terdapat mitos bahwa penyakit

AIDS merupakan penyakit fatal yang tak dapat disembuhkan. Selain itu AIDS juga

dihubungkan dengan perilaku tertentu seperti hubungan seks bebas, hubungan seks

sesama jenis dan sebagainya. Odha dengan demikian dianggap merupakan orang yang

melakukan perilaku yang menyimpang dari norma yang dianut. Akibatnya Odha  sering

dikucilkan dan tidak mendapat pertolongan yang sewajarnya.  Dengan meningkatnya

pemahaman masyarakat terhadap AIDS maka diharapkan stigma mengenai AIDS akan

berkurang dan beban psikososial Odha juga akan menjadi lebih ringan.

Ketika seorang diberitahu bahwa dia terinfeksi HIV maka responsnya beragam.

Pada umumnya dia akan mengalami lima tahap yang digambarkan oleh Kubler Ross

yaitu masa penolakan, marah, tawar menawar, depresi dan penerimaan. Sedangkan

Nurhidayat melaporkan bahwa dari 100 orang yang diketahui HIV positif di Jakarta

42% berdiam diri, 35 marah, bercerita pada orang lain, menagis, mengamuk dan banyak

beribadah.. Respons permulaan ini baisanya akan dilanjutkan dengan respons lain

sampai pada akhirnya dapat menerima. Penerimaan seseorang tentang keadaan dirinya

yang terinfeksi HIV belum tentu juga akan diterima dan didukung oleh lingkungannya.

Bahkan seorang aktivis AIDS terkemuka di Indonesia Suzanna Murni mengungkapkan

bahwa beban psikososial yang dialami seorang Odha adakalanya lebih berat daripada

beban penderita fisik. Berbagai bentuk beban yang dialami tersebut diantanya adalah

dikucilkan keluarga, diberhentikan dari pekerjaan, tidak mendapat layanan medis yang
dibutuhkan, tidak mendapat ganti rugi asuransi sampai menjadi bahan pemberitaan di

media massa. Beban yang diderita Odha baik karena gejala penyakit yang bersifat

organik maupun beban psikososial dapat menimbulkan rasa cemas. Depresi berat

bahkan sampai keinginan bunuh diri.

2.8 Upaya mengurangi beban psikososial

Untuk megurangi beban psikososial Odha maka pemahaman yang benar mengenai

AIDS perlu disebar luaskan. Konsep bahwa dalam era obat antiretroviral AIDS sudah

menjadi penyakit kronik yang dapat dikendalikan juga perlu dimasyarakatkan. Konsep

tersebut memberi harapan kepada masyarakat dan Odha bahwa Odha tetap dapat

menikmati kualitas hidup yang baik dan berfungsi di masyarakat.

Upaya untuk mengurangi stigma di masyarakat dapat dilakukan dengan advokasi

dan pendamping, contoh nyata tokoh masyarakat yang menerima Odha dengan wajar

seperti bersalaman, duduk bersama dan sebagianya dapat merupakan panutan bagi

masyarakat. Untuk mengurangi beban psikis orang yang terinfeksi HIV maka dilakukan

konseling sebelum tes. Tes HIV dilakukan secara sukarela setelah mendapat konseling.

Pada konseling HIV dibahas mengenai risiko penularan HIV, cara tes, interpertasi tes,

perjalanan penyakit HIV serta dukungan yang dapat diperoleh Odha. Penyampaian hasil

tes baik hasil negatif maupun positif juga disampaikan dalam sesi konseling. Dengan

demikian orang yang akan menjalani testing telah dipersiapkan untuk menerima hasil

apakah hasil tersebut positif atau negatif. Konseling pasca tes baik ada hasil positif

maupun negatif tetap penting. Pada hasil positif konseling dapat digunakan sebagai sesi

untuk menerima ungkapan perasaan orang yang baru menerima hasil, rencana yang

akan dilakukannya serta dukungan yang dapat dperolehnya. Sebaliknya penyampaian


hasil negatif tetap dilakukan dalam sesi konseling agar perilaku berisisko dapat

dihindari sehingga hasil negatif dapat dipertahankan.  

Psikofarmaka :

Terapi psikofarmaka untuk gangguan cemas, depresi serta insomnia dapat diberikan

namun penggunaan obat ini perlu memperhatikan interkasi dengan obat-obat lain yang

banyak digunakan pada Odha.

.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

AIDS merupakan model penyakit yang memerlukan dukungan untuk mengatasi

masalah fisik, psikis dan sosial. Gangguan fisik yang berat dapat menimbulkan beban

psikis dan sosial namun stigma masyarakat akan memperberat beban psikososial

penderita. Dalam penatalaksanaan AIDS selain penanganan aspek fisik maka aspek

psikososial perlu diperhatikan dengan seksama.

3.2 Saran

Sebagai mahasiswa keperawatan hendaknya kita memahami betul tentang HIV,

sehingga kita mampu memberikan peran perawat yang tepat bagi penderita HIV/ AIDS.
DAFTAR PUSTAKA

1. Doenges, M. E. Marilyn Frances Moorhouse & Alice C. Geissler. (1999). Rencana

Asuhan Keperawatan. Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian

Perawatan Pasien. Jakarta: EGC

2. Sarwono, Sarlito Wirawan. ?Aspek Psikososial AIDS? diambil pada 10 Maret 2008

dari

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12_AspekPsikososialAids.pdf/12_AspekPsiko

sosialAids.html

3. Sudoyo, Aru W.(2006) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan

Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

4. Susiloningsih, Agus. ?AIDS: Aspek Klinis, Permasalahan dan Harapan? diambil

pada 20 Februari 2008 dari http://fkuii.org/tiki-index.php?page=halaman2