Anda di halaman 1dari 15

0

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL


BIOSISTEM

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Instrumentasi dan Kontrol


Biosistem Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember

Oleh:

Nama : Yunus Kindi Prakoso


NIM : 151710201081
Kelas : TEP A
Acara : Acara 3 (Pengukuran Tegangan Pada Bebera
Konfigurasi Penguat Dengan Menggunakan
Operasional Amplifier)
Asisten : Ahmad Haris/161720101006

LABORATORIUM ENERGI, OTOMATISASI, dan


INSTRUMENTASI PERTANIAN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Operasional amplifier (Op-Amp) adalah suatu penguat berpenguatan tinggi
yang terintegrasi dalam sebuah chip IC yang memiliki dua input inverting dan non-inverting
dengan sebuah terminal output, dimana rangkaianumpan balik dapat ditambahkan untuk
mengendalikan karakteristik tanggapan keseluruhan pada operasional amplifier (Op-Amp). Pada
dasarnya operasional amplifier (Op-Amp) merupakan suatu penguat diferensial yang memiliki 2
input dan 1 output. Op-amp ini digunakan untuk membentuk fungsi-fungsi linier yang
bermacam-mcam atau dapat juga digunakan untuk operasi-operasi tak linier,dan seringkali
disebut sebagai rangkaian terpadu linier dasar. Penguat operasional (Op-Amp) merupakan
komponen elektronika analog yangberfungsi sebagai amplifier multiguna dalam bentuk IC.
LM -741 adalah salah satu IC (Integrated Circuit) op-amp yang memiliki 8 pin IC op-
amp ini terdapat 2 jenis bentuk , yaitu tabung (Lingkaran) dan kotak (persegi), tetapi yang umum
adalah yang berbentuk persegi. Op-amp banyak digunakan dalam sistem analog komputer,
penguat video gambar, penguat audio, osilator, detektor, dan lainnya. LM-741 biasanya bekerja
pada tegangan positif negatif 12 Volt, dibawah itu IC tidak akan bekerja. Setiap pin/kaki-kaki
pada IC LM-741 mempunyai fungsi yang berbeda-beda (Rashid, 1998).
Contoh penggunaan operasional penguat adalah untuk operasi matematika sederhana
seperti penjumlahan dan pengurangan terhadap tegangan listrik sehingga dikembangkan kepada
penggunaan aplikatif seperti komparator dan osilator, dan distorsi rendah serta pengembangan
alat komunikasi. Selain itu, aplikasi pemakaian op-amp juga meliputi bidang elektronika audio,
pengatur tegangan DC, tapis aktif, penyearah presisi pengubah analog ke digital presisi, kendali
optik, komputer analog, elektronika nuklir (Sutrisno, 1986).
Praktikum Pengukuran Tegangan Pada Beberapa Konfigurasi Penguat
Dengan Menggunakan Operasional Amplifier dilakukan bertujuan agar praktikan
mengetahui beberapa karakter penguat amplifier dan bagaimana cara merangkai
beberapa penguat amplifier.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut.
2

1. Untuk mengetahui beberapa karakter penguat operasi.


2. Untuk mengetahui cara merangkai beberapa penguat operasi.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh yaitu sebagai berikut.
1. Agar dapat mengetahui karakter beberapa penguat operasi
2. Agar dapat mengetahui bagaimanacara merangkai beberapa penguat operasi
3

BAB 2. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum acara pengukuran tegangan pada beberapa konfigurasi penguat
dengan menggunakan operasional amplifier dilakukan pada Hari Sabtu, 04
November 2017 pukul 12.00 WIB hingga selesai. Praktikum ini bertempat di
Laboratorium Instrumentasi Gedung Workshop Jurusan Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.

2.2 Alat dan Komponen yang Digunakan


Alat dan komponen yang digunakan dalam praktikum pengukuran
tegangan pada beberapa konfigurasi penguat dengan menggunakan operasional
amplifier adalah sebagai berikut.
a. Power suplay DC
b. AVO meter digital atau AVO meter analog
c. Resistor fixed (10KΩ dan 100KΩ)
d. Wise board atau kit percobaan
e. Potensiometer
f. IC 741
g. Jumper

2.3 Prosedur Kerja

Mulai

Menyiapkan alat dan2komponen praktikum

Merangkai konfigurasi penguat operasional sesuai gambar

A
4

Mengukur dan mencatat tegangan input

Mengukur dan mencatat tegangan output

Mencatat hasil pengamatan pada tabel

Mengulangi prosedur pengukuran diatas untuk penguat operatif


inverting, non-inverting, differensial, dan summing

Laporan

Selesai

Gambar 2.1 Diagram Alir Pegukuran Tegangan Pada Beberapa Konfigurasi Penguat
Ra=10K Rd=500K R2=100K
Ra=10K Rd=500K R4=200K
+5V
+5V
R1=100K +12
R1=100K +12
2 _
7 6 2 _ 7
V1 6
Vin Vout
3 + 3 Vout
4 +
V2 4
-12
R3=20K R2=100K -12
R3=200K

R4=20K

INVERTING AMPLIFIER
DIFFERENTIAL AMPLIFIER

(a) (b)

Gambar 2.2 (a) Rangkaian Inverting Amplifier; (b) Rangkaian Differensial Amplifier
5

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil dan Pembahasan Pengukuran Tegangan Pada Beberapa


Konfigurasi Penguat
Tabel 3.1 Data hasil pengukuran tegangan pada beberapa konfigurasi penguat
R1 R2 R3 R4 Vs Vin (Volt) Vout (Volt)
No Konfigurasi Kondisi
(KΩ) (KΩ) (KΩ) (KΩ) (Volt) 1 2 Ukur Teori
1 1 0,32 x -0,56 -0,64
2 2 1,98 x -4,14 -3,96
3 Inverting 3 100 100 22 22 5 2,40 x -5,08 -4,80
4 4 3,26 x -6,70 -6,52
5 5 4,05 x -8,48 -8,10
6 1 0,62 x 1,87 1,86
7 2 0,86 x 2,62 2,58
8 Non-Inverting 3 10 20 x x 5 1,48 x 4,53 4,44
9 4 1,94 x 6,00 5,82
10 5 2,99 x 9,45 8,97
11 1 4,98 5 4,92 0,04
12 2 4,90 5 4,26 0,20
13 Differensial 3 100 100 200 200 5 4,91 5 3,52 0,18
14 4 4,92 5 2,82 0,16
15 5 4,93 5 1,98 0,14
16 1 0,45 5 -5,83 -5,90
17 2 0,96 5 -6,88 -6,92
18 Summing 3 100 200 200 x 5 1,10 5 -7,17 -7,20
19 4 1,37 5 -7,74 -7,74
20 5 1,72 5 -8,46 -8,46

Berikut ini adalah persamaan Vout dari masing-masing konfigurasi


Operational Amplifier:
a. Inverting Amplififier
Vout = [(R3 + R4) / R4] * [(R2 / R1) * Vin]
b. Non-Inverting Amplifier
Vout = [1 + (R2 / R1)] * Vin
c. Differensial Amplifier
Vout = [(R1 + R4) / (R2 + R3) * (R3 / R2) * Vin-2] – [(R4 / R1) * Vin-1]
d. Summing Amplifier
Vout = - (Rf / R1) * Vin-1 – (Rf / R2) * Vin-2
Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan maka hasil dari masing-
masing pengamatan penguat operasional disajikan dalam gambar di bawah ini.
6

3.1.1 Grafik Pengukuran Tegangan pada Inverting Amplifier

Hubungan Antara Vinput dengan VOutput pada Konfigurasi


0
Inverting Amplifier
-1 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
f(x) = − 2.11
2 x +x0+ 0.07
-2 Ukur
Output (Vout(V))

R² = 1
-3 Linear
-4 (Ukur)
-5 Teori
-6
-7 Linear
-8 (Teori)
-9
Input (Vin(V))

Gambar 3.1 Grafik pengukuran tegangan pada inverting amplifier

Berdasarkan grafik yang dihasilkan (Gambar 3.1) dengan menggunakan real


value Vinput sebagai sumbu x terlihat bahwa kedua metode (pengukuran dan teori)
menunjukkan hasil yang sedikit berbeda. Perbedaan tersebut berada pada
penguatan ukur = -2,1093 kali, dan Penguatan teori = -2 kali; dan konstanta ukur
= -0,0746, dan konstanta teori = 0.
Perbedaan ini mungkin disebabkan karena pada waktu praktikum terjadi
kesalahan pada saat pengukuran, kurangnya ketelitian praktikan saat membaca
ataupun mengoprasikan multimeter digital, dapat juga adanya pengaruh ketelitian
AVO meter atau kalibrasi dari alat tersebut.
Persamaan yang dihasilkan dari grafik menunjukkan bahwa penguatan yang
dipergunakan sebesar 2,1093 kali, dapat diterima secara teoritis. Karena
berdasarkan persamaan Vout = - [(R3 + R4) / R4] * [(R2 / R1) * Vin] , diperoleh
penguatan sebesar - [(R3 + R4) / R4] * (R2 / R1) , jika dimasukkan nilai tahanannya
menjadi – [(22K+22K)/22K] * (100K/100K) = - 2. Nilai konstanta teori sebesar 0
berarti nilai penguatan tidak ada noise. Sedang pada hasil pengukuran nilai
konstanta -0,0746 cukup kecil dan bisa diabaikan.
7

3.1.2 Grafik Pengukuran Tegangan pada Non Inverting Amplifier

Hubungan Antara Vinput dengan VOutput pada


Konfigurasi
10 Non Inverting Amplifier

Output (Vout(V))
8 f(x)
f(x) =
= 3.2
3 x x− −
0 0.15 Ukur
6 R² =
R² = 11 Linear
4 (Ukur)
2 Teori
0 Linear
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 (Teori)
Input (Vin (V))

Gambar 3.2 Grafik pengukuran tegangan pada non inverting amplifier

Berdasarkan grafik yang dihasilkan (Gambar 3.2) dengan menggunakan real


value Vinput sebagai sumbu x terlihat bahwa kedua metode (pengukuran dan teori)
menunjukkan hasil yang sedikit berbeda. Perbedaan tersebut berada pada
penguatan ukur = 3,195 kali, dan Penguatan teori = 3 kali; dan konstanta ukur =
0,1478 dan konstanta teori = 0. Perbedaan ini mungkin disebabkan karena pada
waktu praktikum terjadi kesalahan pada saat pengukuran, kurangnya ketelitian
praktikan saat membaca ataupun mengoprasikan multimeter digital, dapat juga
adanya pengaruh ketelitian AVO meter atau kalibrasi dari alat tersebut.
Persamaan yang dihasilkan dari grafik menunjukkan bahwa penguatan yang
dipergunakan sebesar 3,195 kali, dapat diterima secara teoritis. Karena
berdasarkan persamaan Vout = [1+(R2 / R1)]* Vin, diperoleh penguatan sebesar
[1+(R2 / R1)], jika dimasukkan nilai tahanannya menjadi [1+(20/10)] = 3. Nilai
konstanta teori sebesar 0 kemungkinan disebabkan karena nilai pembulatan pada
saat perhitungan.
8

3.1.3 Grafik Pengukuran Tegangan pada Differensial Amplifier

Hubungan Antara Vinput dengan VOutput pada


6
Konfigurasi Differensial Amplifier
Output (Vout(V)) 5 Ukur
4 Linear
f(x) = 14.07 x − 65.85 (Ukur)
3 R² = 0.14 Teori
2 Linear
1 (Teori)
0 Linear
f(x) = − 2 x + 10
89 4.9 R²91 92 9 3 9 4 9 5 96 97 9 8 9 9 (Teori)
4. 4. =41. 4. 4. 4. 4. 4. 4. 4.
Input (Vin(V))

Gambar 3.3 Grafik pengukuran tegangan pada differensial amplifier

Berdasarkan grafik yang dihasilkan (Gambar 3.3) dengan menggunakan real


value Vinput sebagai sumbu x terlihat bahwa kedua metode (pengukuran dan teori)
menunjukkan hasil yang sangat berbeda. Perbedaan tersebut berada pada
penguatan ukur = 14,072 kali; dan Penguatan teori = -2 kali; dan konstanta ukur =
65,846 dan konstanta teori = 10.
Perbedaan ini disebabkan oleh dua kemungkinan, yang pertama adalah
karena kesalahan peletakan AVO meter pada saat pengukuran V in-1, pada saat
praktikum diduga kuat peletakan probe AVO meter yaitu pada rangkaian V in-2.
Seharusya, peletakan probe AVO meter diletakkan di rangkaian Vin-1 yaitu diantara
Ra dan R1. Kemungkinan yang kedua adalah kesalahan pembacaan V out AVO
meter. Jika nilai Vin-1 benar seperti yang ada pada Tabel 3.1, maka hasil V out yang
benar yaitu sesuai dengan pengukuran teori. Nilai Vout teori yang dihasilkan rata-
rata mendekati nol. Hal ini dikarenakan selisih nilai V in-1 dan Vin-2 mendekati nol
atau hampir sama.
9

3.1.4 Grafik Pengukuran Tegangan pada Summing Amplifier

Hubungan Antara Vinput dengan VOutput pada


0Konfigurasi summing Amplifier Ukur
-10.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8
Linear
Output (Vout(V))

-2 (Ukur)
-3 Teori
-4 Linear
-5 (Teori)
-6 Linear
-7 f(x) = − 2.07
2.01 x − 4.89
4.99 (Teori)
R² = 1
-8 Linear
-9 Input (Vin (V)) (Teori)

Gambar 3.4 Grafik pengukuran tegangan pada summing amplifier


Berdasarkan grafik yang dihasilkan (dengan menggunakan real value Vinput
sebagai sumbu x) terlihat bahwa kedua metode (pengukuran dan teori)
menunjukkan hasil yang sedikit berbeda. Perbedaan tersebut berada pada
penguatan ukur = -2,0734 kali, dan Penguatan teori = -2,0134 kali; dan konstanta
ukur = -4,8938, dan konstanta teori = -4,989
Perbedaan ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor yang
mempengaruhi hasil pengukuran, misalnya saja kurang telitinya praktikan ketika
melihat nilai yang tertera pada display AVO meter.
Persamaan yang dihasilkan dari grafik menunjukkan bahwa penguatan yang
dipergunakan sebesar 4 kali, dapat diterima secara teoritis. Karena berdasarkan
persamaan Vout = - (R3 / R1) Vin-1 * (R3 / R2) * Vin-2 , diperoleh penguatan sebesar -
(R3 / R1)-(R3 / R2)*Vin-2, jika dimasukkan nilai tahanannya menjadi - (200 / 100)-
(200/200) * 5 = -15 .Karena summing amplifier memberikan nilai penjumlahan
tegangan dengan penguatan terbalik maka semakin besar nilai x (V input), nilai Vout
akan semakin kecil.

3.2 Jenis-Jenis Operational Amplifier

Jenis-jenis operational amplifier sebagai berikut :

a. Inverting Amplifier
10

Rangkaian dasar penguat inverting adalah seperti yang ditunjukkan pada


Gambar 3.5, dimana sinyal masukannya dibuat melalui input inverting. Fase
keluaran dari penguat inverting ini akan selalu berbalikan dengan inputnya. Pada
rangkaian ini, umpan balik negatif di bangun melalui resistor R2.

Ra=10K Rd=500K R2=100K

+5V

R1=100K +12
2 _
7 6
Vin Vout
3 +
4
-12
R3=20K

R4=20K

INVERTING AMPLIFIER

Gambar 3.5 Rangkaian inverting amplifier

b. Non Inverting Amplifier


Prinsip utama rangkaian penguat non-inverting adalah seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 3.6. Seperti namanya, penguat ini memiliki masukan
yang dibuat melalui input non-inverting. Dengan demikian tegangan keluaran
rangkaian ini akan satu fasa dengan tegangan inputnya.

Ra=10K Rd=500K R2=20K

+5V

R1=10K +12
2 _ 7
Vin 6
3 Vout
+
4
-12

NON INVERTING AMPLIFIER

Gambar 3.6 Rangkaian non inverting amplifier

c. Integrator
Opamp bisa juga digunakan untuk membuat rangkaian-rangkaian dengan
respons frekuensi, misalnya rangkaian penapis (filter). Salah satu contohnya
11

adalah rangkaian integrator seperti yang ditunjukkan pada gambar 3. Rangkaian


dasar sebuah integrator adalah rangkaian op-amp inverting, hanya saja rangkaian
umpan baliknya (feedback) bukan resistor melainkan menggunakan capasitor C.
Secara matematis tegangan keluaran rangkaian ini merupakan fungsi
integral dari tegangan input. Sesuai dengan nama penemunya, rangkaian yang
demikian dinamakan juga rangkaian “Miller Integral”. Aplikasi yang paling
populer menggunakan rangkaian integrator adalah rangkaian pembangkit sinyal
segitiga dari inputnya yang berupa sinyal kotak.

Gambar 3.7 Rangkaian integrator

d. Differensial Amplifier
Kalau komponen C pada rangkaian penguat inverting di tempatkan di
depan, maka akan diperoleh rangkaian differensiator seperti pada Gambar 3.8
dengan analisa yang sama seperti rangkaian integrator, differensial amplifier akan
menguatkan perbedaan antara dua input yang diaplikasikan pada terminal
inverting dan non inverting dengan persamaan: Vo = (R2/R1) (V2 – V1).

Ra=10K Rd=500K R4=200K

+5V

R1=100K +12
2 _ 7
V1 6
3 Vout
+
V2 4
R2=100K -12
R3=200K

DIFFERENTIAL AMPLIFIER
12

Gambar 3.8 Rangkaian differensial amplifier

e. Summing Amplifier
Pada terminal non inverting ditanahkan dan diberikan tiga sinyal input
dengan masing-masing dihubungkan dengan resistor (seperti pada penguat
inverting), circuit akan membalik polaritas sinyal input sehingga pada output akan
tercapai persamaan: Vo = -[(Rf/R1) V1 + (Rf/R2) V2 +(Rf/R3) V3]

Ra=100K Rd=500K R3=200K

+5V

R1=100K +12
V1 2 _ 7
6
3 Vout
+
4
V2
R2=200K -12

SUMMING AMPLIFIER

Gambar 3.8 Rangkaian summing amplifier

3.3 Aplikasi Operational Amplifier Dalam Kehidupan Sehari-hari

Operational amplifier digunakan pada berbagai aplikasi yang sering kita temui
dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi tersebut yaitu :

a. Amplifier pada rangkaian radio atau penguat suara


b. Oscilator sebagai penguat gelombang
c. Regulator, berguna untuk menstabilkan tegangan
d. Penyearah tegangan sangat rendah
e. Interface komputer untuk mengubah sinyal analog menjadi digital dan
sebaliknya
13

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan sebagai berikut ini.

1. Operasional amplifier adalah rangkaian terintegrasi (IC) yang berguna dalam


teknik penguatan operasi pada elektronika
2. IC 741 merupakan IC OpAmp
3. Teknik untuk menguatkan tegangan pada OpAmp dapat dilakukan dengan
berbagai konfigurasi yang masing-masing memiliki karakteristik tertentu
4. Rangkaian penguat operatif antara lain penguatan pembalik, tak membalik,
differensial, dan penjumlah.

4.2 Saran
Diharapkan untuk praktikum Instrumentasi dan Kontrol Biosistem tahun
depan, perlatan dan komponen praktikum yang digunakan diperbaiki sehingga
tidak ada kesalahan atau ketidaksesuaian data dikarenakan alat yang sudah rusak
atau belum terkalibrasi.
14

DAFTAR PUSTAKA

Jumadi. 2010. Panduan Praktikum Lanjut (Penguat Operasi Atau Operational


Amplifier). http://www.electroniclab.com/index.php/labanalog/penguat-
operasi [12 November 2017].