Anda di halaman 1dari 16

0

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL


BIOSISTEM

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Instrumentasi dan Kontrol


Biosistem Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember

Oleh:

Nama : Yunus Kindi Prakoso


NIM : 151710201081
Kelas : TEP A
Acara : Acara 2 Pengukuran Tahanan dalam
Ampere Meter dan Jembatan Wheatstone
Asisten : Ahmad Haris/161710201006

LABORATORIUM ENERGI, OTOMATISASI, dan


INSTRUMENTASI PERTANIAN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggunaan alat-alat listrik belakangan ini merambah ke
berbagai bidang kehidupan manusia, contohnya antara lain penanak nasi, penghan
gat air, bahkan kendaraan bertenaga listrik pun sedang dikembangkan. Setiap alat-
alat listrik ini memiliki komponen-komponen yang membentuk suatu rangkaian
listrik agar dapat melakukan fungsinya.
Rangkaian listrik memiliki arus, tegangan dan hambatan. Dimana besar
dari hambatan, tegangan dan arus ini mempengaruhi proses yang terjadi dalam
alat listrik tersebut. Oleh karena itu, maka performa dari alat-alat ini akan
mempengaruhi kehidupan manusia. Untuk itu penting bagi kita untuk mengetahui
nilai arus, tegangan, dan hambatan pada rangkaian.
Dalam praktikum ini, praktikan dibimbing untuk merangkai suatu
rangkaian listrik agar arus dan tegangan yang mengalir terukur oleh amperemeter.
Praktikan juga membaca nilai amperemeter untuk menentukan besar arus yang
mengalir pada rangkaian kemudian menentukan besar tahanan dalam sesuai
dengan jumlah daya yang digunakan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalahnya yaitu sebagai berikut.
1. Bagaimana prinsip kerja Amperemeter ?
2. Berapa besar tahanan dalam Amperemeter ?
3. Bagaimana prinsip kerja rangkaian Jembatan Wheatstone ?
4. Bagaimana karakteristik tahanan dan tegangan pada rangkaian Jembatan
Wheatstone ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari praktikum ini yaitu sebagai
berikut.
1. Mengetahui prinsip kerja Amperemeter
2

2. Mencari besarnya tahanan dalam Amperemeter


3. Mengetahui prinsip kerja rangkaian Jembatan Wheatstone
4. Mengetahui karakteristik tahanan dan tegangan pada rangkaian Jembatan
Wheatstone

1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas, manfaat dari praktikum ini yaitu sebagai berikut.
1. Dapat memahami prinsip kerja Amperemeter
2. Dapat menentukan besarnya tahanan dalam Amperemeter
3. Dapat memahami prinsip kerja rangkaian Jembatan Wheatstone
4. Dapat memahami karakteristik tahanan dan tegangan pada rangkaian Jembatan
Wheatstone
3

BAB 2. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum acara Pengukuran Tahanan dalam Ampere Meter dan Jembatan
Wheatstone dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Oktober 2017 Pukul 12.00 hingga
selesai. Praktikum ini bertempat di Laboratorium Instrumentasi Gedung
Workshop Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Jember.

2.2 Alat dan Komponen


2.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum acara Pengukuran Tahanan dalam
Ampere Meter dan Jembatan Wheatstone yaitu sebagai berikut.
1. Power suply DC
2. AVO meter digital
3. AVO meter analog
4. Project board
5. Tang potong

2.2.2 Komponen
Komponen yang digunakan pada praktikum acara Pengukuran Tahanan
dalam Ampere Meter dan Jembatan Wheatstone yaitu sebagai berikut.
1. Resistor Fixed (2K2Ω; 1KΩ; 100KΩ; 22KΩ)
2. Potensio (B10KΩ, B500KΩ)
3. Jepit buaya, jumper
4

2.3 Prosedur Kerja


2.3.1 Pengukuran Tahanan dalam Amperemeter
Mulai

Persiapan Alat
dan Bahan

Buatlah rangkaian seperti pada gambar 2.2 dengan


menggunakan project board

Putar P1 ketika keadaan S1 dan S2 terbuka hingga


mencapai nilai tahanan maksimum, dan P2 diatur
hingga mencapai tahanan minimum

Putar P1 ke arah tahanan minimum ketika keadaan


S1 tertutup dan S2 terbuka hingga jarum penunjuk
ampere mencapai nilai arus listrik maksimum
tertentu yang masuk dalam rangkaian

Pada keadaan S1 dan S2 tertutup arus listrik selalu


mencari lokasi yang bebas hambatan, yaitu melewati
cabang rangkaian P2, kemudian P2 diputar ke arah nilai
tahanan maksimum sampai jarum penunjuk kuat arus
mencapai setengah skala maksimum. Dalam kondisi ini
dapat dikatakan I1 = 0,5 x I dan nilai P2 diukur dengan
Ohm meter

Lakukan prosedur di atas dengan menggunakan


sumber tegangan 5, 7, 12 volt

Gunakan R1 dengan nilai 100KΩ dan 2K2Ω pada


masing-masing tegangan diatas16,25

Amati dan catat nilai hambatan pada P2 yang


didapatkan

Selesai

Gambar 2.1 Pengukuran Tahanan dalam Amperemeter


5

Gambar 2.2 Rangkaian Tahanan dalam Amperemeter


2.3.2 Pengukuran Tegangan pada Jembatan Wheatstone

Mulai

Persiapan Alat
dan Bahan

Buatlah rangkaian jembatan wheatstone dengan


menggunakan project board dengan konfigurasi tahanan
sesuai dengan tabel

Amati dan catat keluaran tegangan pada VBD, VB,


dan VB menggunakan AVO meter

Aplikasikan prosedur di atas dengan menggunakan


tegangan 5, 7, 12 volt pada rangkaian tersebut

Lengkapi tabel yang telah disediakan

Selesai

Gambar 2.3 Pengukuran Tegangan pada Jembatan Wheatstone


6

Gambar 2.4 Rangkaian Tegangan pada Jembatan Wheatstone


BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengukuran Tahanan Ohm Meter


Tabel 3.1 Pengukuran Tahanan Ohm Meter
R1(KΩ
No P1 (KΩ) ) Imax (mA) 0,5 Imax (mA) E (volt) R2=Rd (KΩ)
1 0,06 0,03 6 0,01
100
2 0,01 0,06 9 0,02
0-50
3 2,2 1,4 6 0,44
2,2
4 4,4 2,7 9 0,87

Pada tabel, terlihat bahwa hasil pengukuran tahanan dalam (Rd) dari
Amperemeter menunjukkan hasil yang menunjukkan hasil meningkat berkisar
pada 0,01 KΩ dan 0,87 KΩ. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa tahanan dalam
memiliki nilai konstan, walaupun tegangan maupun R1 yang diaplikasikan pada
rangkaian dirubah. Penyimpangan yang terjadi ada pada saat tegangan
menunjukkan nilai yang terlalu besar karena secara teori tegangan yang dihasilkan
seharusnya bernilai kecil.
Jika nilai R1 yang didapatkan dirata-rata akan menghasilkan nilai tahanan
sebesar 51KΩ sebagai tahanan Ohm Meter.
Kesalahan yang dapat terjadi ketika pengukuran kemungkinan disebabkan
oleh penancapan potensio yang kurang baik.
7

PROBLEMA 1
Persamaan matematis yang mendapatkan nilai Rd = P2 !

Berdasarkan gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut.


1. Keadaan S1 tertutup dan S2 terbuka.
Arus I mengalir pada Potensio 1 (P1), Resistor (R1), dan Amperemeter (I1).
2. Keadaan S1 dan S2 tertutup.
Arus I mengalir pada Potensio 1 (P1) dan Resistor (R1), kemudian masuk
percabangan menjadi i1 (mengalir pada Amperemeter) dan i2 (mengalir pada P2).
Berdasarkan HK. Khirchoff maka I = I1 + I2
P2 diset sedemikian rupa sehingga pada amperemeter arus i1 mengalir sebesar 0,5
I.
Maka persamaan menjadi I = 0,5 I + I2, sehingga I2 = I – 0,5 I = 0,5 I.
Dengan demikian I1 = I2.
Berdasarkan V = I / R dan tegangan yang mengalir pada suatu cabang rangkaian
paralel sama dengan cabang yang lain V1 = V2 = VC, maka :
Pada amperemeter Rd = V /0,5 I
Pada P2(RP2)= V /0,5 I
Sehingga terbukti Rd = P2

PROBLEMA 2
Jelaskan secara matematis Rd yang bagaimanakah yang diperlukan untuk
pengukuran kuat arus seperti pada gambar dibawah ini;
8

1. Gambar 1 menunjukkan arus I mengalir pada Resistor 1 (R1). Besar I = E / R1


2. Gambar 2 menunjukkan arus I’ mengalir pada Resistor 1 (R1) dan
Amperemeter (Rd).
Besar I’ = E / (R1 + Rd)
Pada Gambar 1 dan 2 jika pengukuran kuat arus benar-benar ingin didapatkan
nilai kuat arus yang sesungguhnya melewati R1 maka I’ harus sama dengan I,
sehingga untuk mendapatkan hal tersebut:
E / R1 = E / (R1+Rd)
karena nilai E sama, maka:
R1 = R1 + Rd
Jika Rd dibuat  0
R1 = R1 + 0
Sehingga didapatkan nilai Rd  0 atau diusahakan mendekati 0 (karena jika Rd
= 0 maka arus tidak mengalir).
Jadi pada pengukuran kuat arus diharapkan menggunakan amperemeter yang
mempunyai tahanan dalam yang seminimal mungkin.

PROBLEMA 3
Jelaskan secara matematis Rd yang bagaimanakah yang diperlukan untuk
pengukuran tegangan seperti pada gambar dibawah ini;

1. Gambar 1 menunjukkan arus I mengalir pada R1 dan R2.


9

Besar I = E / (R1+R2)
sehingga besar tegangan;
E pada R1 = I * (R1+R2)dan;
E pada R2 = I *(R1+R2)
2. Gambar 2 menunjukkan arus I’ mengalir pada R1 dan Rd
Besar kuat arus rangkaian 2 (I’);
I’ = E / (R1 +RC) RC = Tahanan total percabangan
I’ = E / (R1+((R2*Rd)/(Rd+R2))
Pada percabangan ; I1 + I2 = I’
Pada Gambar 1 dan 2 jika pengukuran tegangan benar-benar ingin
didapatkan nilai tegangan yang sesungguhnya melewati R2 maka I harus
sama dengan I’, sehingga tegangan pada R2 (ER2) gambar 1 sama dengan
tegangan pada R2 (ER2) gambar 2 untuk mendapatkan hal tersebut:
1. I = E / (R1+R2)
2. I’ = E / (R1+((R2*Rd)/(Rd+R2))) Untuk mendapat I = I’ maka;
E / (R1+R2 )= E / (R1+((R2*Rd)/(Rd+R2))) Karena E dan R1 sama maka;
R2 = (R2*Rd)/(Rd+R2)
R2 = (R2*Rd)/(Rd+R2) Jika Rd  ~, maka;
R2 = (R2*~)/(~+R2)
R2 = ~/~
R2 = 1
Dengan demikian arus yang mengalir pada R2 Gambar 2 akan sama
dengan arus yang mengalir pada gambar 1, sehingga nilai tegangan pada
R2 Gambar 2 akan sama dengan E = I (R1(Rd+R2)+(R2*Rd)) / (R2+Rd).
Untuk itu diperlukan pengukur tegangan dengan tahanan dalam yang
besar.
Sehingga didapatkan nilai Rd  ~ atau diusahakan mendekati ~.
Jadi pada pengukuran tegangan diharapkan menggunakan Voltmeter yang
mempunyai tahanan dalam yang besar.

3.2 Pengukuran Tegangan pada Jembatan Wheatstone


10

Tabel 3.2 Pengukuran Tegangan pada Jembatan Wheatstone

N E Tahanan (KΩ) Pengukuran (Volt)


Scen
o (Volt) R1 R2 R3 R4 VBD VD VB
6 10 22 1 2,2 0,02 5,53 5,54
1 R2=R4
9 10 22 1 2,2 0,03 8,61 8,64
6 2,2 10 1 22 4,96 0,55 5,55
2 R2=R4
9 2,2 10 1 22 8,64 0,86 8,64
6 22 10 2,2 1 1,06 0,26 1,07
3 R2=R4
9 22 10 2,2 1 1,17 0,41 1,66

Jika diperhatikan pada tabel terlihat bahwa hasil pengukuran tidak selalu
sama dengan teori, akan tetapi perbedaan yang ditunjukkan relatif kecil sehingga
tidak menimbulkan kesalahan yang besar. Kesalahan tersebut mungkin
disebabkan oleh kurangnya tingkat ketelitian praktikan, sehingga data yang
diperoleh relatif besar. Disamping itu juga, adanya pengaruh dari alat praktikum
seperti terlepasnya rangkaian, kurang tepatnya meletakkan kedua ujung kabel
multimeter terhadap resistor sehingga data yang terbaca oleh multimeter relative
besar, dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil pengamatan Nilai VBD diperoleh dari VB – VD, artinya
VBD (Vout) merupakan beda potensial antara VB dengan VD. Berdasarkan
pengamatan pada skenario nomer 2, 6, 8, 12, 14, dan 18 didapatkan nilai VBD
sebesar 0 Volt (teori). Pada saat tersebut ternyata VB = 15,88 Volt Keadaan inilah
yang dikatakan sebagai keadaan setimbang.
Keadaan setimbang Jembatan Wheatstone dimana terjadi Vout (VBD) = 0
didapatkan pada saat konfigurasi tahanan pada rangkaian Jembatan menunjukkan
R1 * R4 = R2 * R3, yaitu pada scenario nomer 2, 6, 8, 12, 14, dan 18, secara
teoritis. Jika diberikan contoh pada scenario 1 ; R1=10; R2=22; R3=1; R4=2,2.
jika dimasukkan dalam persamaan 10 * 2,2 = 22 * 1, pada tegangan ukur tertulis =
0, sehingga sesuai dengan teori. Pada pengukuran, nilai tegangan VBD pada
keadaan setimbang tidak menunjukkan nilai 0 tapi mendekati nilai nol dengan
kesalahan terbesar 8,64 V. Mengingat kondisi peralatan maka dapatlah dikatakan
bahwa hasil pengukuran cukup memadai dengan teori.
11

3.3 Hambatan Dalam


Pengukuran hambatan adalah mengukur besaran suatu nilai hambatan
penghantar dengan satuan Ohm. Hambatan yang diukur dalam pemeliharaan
generator misalnya adalah besaran nilai hambatan kumparan stator per phase
maupun hambatan penghantar kumparan rotor. Karena nilai hambatan pada
kumparan stator maupun rotor kecil, maka alat ukur Ohmmeter harus mempunyai
akurasi dan ketelitian yang tinggi.

Hambatan dalam sebuah ampermeter dapat diukur atau dicari nilainya


dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan menganggap dan memperlakukan
ampermeter sebagai sebuah hambatan beban yang kemudian diberi arus dari
sebuah sumber ggl dan kemudian diukur tegangannya seperti pada gambar 2a.
Cara kedua serupa dengan cara pertama, tetapi voltmeter pada cara pertama itu
diganti dengan sebuah hambatan yang sudah diuketahui nilainya, seperti pada
gambar 2b (Sutrisno, Tanpa Tahun).

3.4 Jembatan Wheatstone

Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel


Hunter Christie pada 1833 dan meningkat kemudian dipopulerkan oleh Sir
Charles Wheatstone pada tahun 1843. Ini digunakan untuk mengukur suatu yang
tidak diketahui hambatan listrik dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian
jembatan, satu kaki yang mencakup komponen diketahui kerjanya mirip dengan
aslinya potensiometer. Jembatan Wheatstone adalah suatu alat pengukur, alat ini
12

dipergunakan untuk memperoleh ketelitian dalam melaksanakan pengukuran


terhadap suatu hambatan yang nilainya relatif kecil sekali misalnya saja suatu
kebocoran dari kabel tanah/ kartsluiting dan sebagainya. Jembatan Wheatstone
adalah alat yang paling umum digunakan untuk pengukuran hambatan yang teliti
dalam daerah 1 sampai 100.000 Ω. Jembatan Wheatstone terdiri dari hambatan R 1,
R2, R3, dimana hambatan tersebut merupakan hambatan yang diketahui nilainya
dengan teliti dan dapat diatur (Anjaswati, 2013).

Gambar 3. Skema rangkaian Jembatan Wheatstone

Dari gambar di atas terdapat 4 cabang masing P, Q, R, dan S dimana


cabang P dan Q merupakan cabang ratio (pembanding), R adalah hambatan yang
diukur dan S adalah hambatan standard sedangkan E adalah sumber tegangan.
Untuk mendeteksi keseimbangan digunakan galvanometer (voltmeter) G (Anhar,
2012).
13

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil dan pembahasan, kesimpulan yang dapat diambil
yaitu sebagai berikut.
1. Prinsip kerja dari Amperemeter yaitu berdasarkan hasil pengukuran yang
memiliki tahanan.
2. Besarnya tahanan dalam Amperemeter dapat diketahui dengan pengukuran
kuat arus.
3. Prinsip kerja dari rangkaian jembatan Wheatstone yaitu menggunakan
ketelitian dalam melaksanakan pengukuran terhadap suatu hambatan yang
nilainya relatif kecil sekali misalnya saja suatu kebocoran dari kabel tanah/
kartsluiting dan sebagainya.
4. Jembatan Wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk
pengukuran hambatan yang teliti dalam daerah 1 sampai 100.000 Ω.
14

DAFTAR PUSTAKA

Anhar. 2012. Rangkaian Jembatan untuk Mengukur Hambatan.


http://anhar.staff.unri.ac.id/files/2012/09/TES-2104-6-2012-2013-
Compatibility-Mode.pdf. [Diakses pada Tanggal 3 November 2017].
Anjaswati, I. T. 2013. Jembatan Wheatstone. http://irmatrianjaswati-
fst11.web.unair.ac.id/artikel_detail-86000elektronika%20analog%20dan
%20Digital-rangkaian%20jembatan%20wheatstone.html. [Diakses pada
Tanggal 3 November 2017].
Sutrisno. Tanpa Tahun. Hambatan Dalam Amperemeter dan Voltmeter.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/19580107198
6031-SUTRISNO/Perkuliahan/Bahan_ajar/Penuntun_Praktikum_Fisika-
UT/Modul_8_KEGIATAN_BELAJAR_3.pdf. [Diakses pada Tanggal 3
November 2017].
15

LAMPIRAN

Gambar 1. Power suply DC Gambar 2.2 Multimeter Digital

Gambar 3. Project board Gambar 4. Resistor