Anda di halaman 1dari 10

0

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL


BIOSISTEM

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Instrumentasi dan Kontrol


Biosistem Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember

Oleh:

Nama : Yunus Kindi Prakoso


NIM : 151710201081
Kelas : TEP A
Acara : Acara 4 (Rangkaian Alat Ukur Cahaya Secara
Analog)
Asisten : Ahmad Karimullah/131710201072

LABORATORIUM ENERGI, OTOMATISASI, dan


INSTRUMENTASI PERTANIAN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fotoresistor dibuat berdasarkan kenyataan bahwa sebuah kadmium sulfida
mempunyai tahanan yang besar kalau tidak terkena sinar dan tahanannya menurun
jika dikenai sinar. Fotoresistor dapat digunakan secara luas dalam sistem alarm
yang berdasarkan sinar, lampu jalanan dengan saklar otomatis yang akan menyala
pada keadaan gelap, dan masih banyak lagi. Fotoresistor sering dikenal sebagai
LDR (Light Dependent Resistor) atau resistor yang tahanannya tergantung dari
cahaya.
Rangkaian alat ukur cahaya secara analog dapat disusun dari sebuah LDR,
yang terintegrasi pada sebuah jembatan wheatstone, dan dikuatkan dengan sebuah
differensial amplifier. Pemasalahannya seringkali nilai tegangan yang dihasilkan
teramat kecil perbedaannya. Sehingga untuk mendeteksi perubahan intensitas
cahaya seringkali terjadi kesalahan. Oleh karena itu diperlukan suatu penguatan
tegangan. Dalam hal ini penggunaan differensial amplifier dapat digunakan,
sehingga perubahan intensitas cahaya yang kecil dapat terdeteksi oleh alat ukur.
Differensial amplifier merupakan salah satu konfigurasi penguat pada operasional
amplifier. Differensial amplifier akan menguatkan perbedaan antara dua input
yang diaplikasikan pada terminal inverting dan non inverting.
Praktikum Rangkaian Alat Ukur Cahaya Secara Analog dilakukan bertujuan
agar praktikan Mengetahui prinsip pembuatan alat ukur cahaya secar analog dan
Mempelajari cara merangkai alat ukur cahaya secara analog.

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan
1.4 manfaat
2

BAB 1. METODOLOGI PRAKTIKUM


1.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara rangkaian alat ukur cahaya secara analog dilakukan pada
Hari Sabtu, 04 November 2017 pukul 12.00 WIB hingga selesai. Praktikum ini
bertempat di Laboratorium Instrumentasi Gedung Workshop Jurusan Teknik
Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.

1.2 Alat dan Komponen yang Digunakan


Alat dan komponen yang digunakan dalam praktikum rangkaian alat ukur
cahaya secara analog adalah sebagai berikut.
a. Power suplay DC
b. AVO meter digital
c. AVO meter analog
d. Resistor fixed (10 Ω dan 22 Ω)
e. Wise board atau kit percobaan
f. Potensiometer
g. Sensor cahaya (LDR)
h. IC 741
i. Jumper
j. Jepit buaya

1.3 Prosedur Kerja Pengukuran Cahaya Secara Analog

Mulai

2 bahan praktikum
Menyiapkan alat dan

A
3

Merangkai alat ukur cahaya sesuai gambar, tegangan suplay 5 V

Tentukan titik intensitas cahaya maksimal TICM (intensitas cahaya


paling maksimal), atur potensio hingga VBD = 0

Mengukur dan mencatat tegangan input pada lima kondisi (intensitas


cahaya paling terang hingga intensitas cahaya yang semakin kecil

Mengukur dan mencatat tegangan output pada lima kondisi pengukuran

Melengkapi data tabel tegangan input dan output hasil pengukuran dan
teori

Melakukan pengulangan pengukuran pada dua skenario

Laporan

Selesai

Gambar 1.1 Diagram Alir Pegukuran Cahaya Secara Analog


4

BAB 2. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil Pengukuran Alat Ukur Cahaya Secara Analog


Tabel 2.1 Hasil pengukuran Alat Ukur Cahaya Secara Analog
Jembatan Wheatstone (KΩ) Penguat Operasi (KΩ) Vin Penguatan Vout (Volt)
No Scen
Ra Rb Rc Rd R1 R2 R3 R4 (Volt) (kali) Ukur Teori
1 1 0,02 2,50 0,05 0,04
2 2 0,11 2,18 0,24 0,24
Skenario I
3 3 22 22 TICM 10 10 22 22 0,24 2,21 0,53 0,53
LDR
4 4 0,37 2,22 0,82 0,81
5 5 0,55 2,55 1,40 1,21
6 1 2,12 2,19 4,64 4,24
7 2 2,08 2,18 4,54 4,16
Skenario I
8 3 22 22 TICM 1 1 2 2 2,05 2,19 4,49 4,10
LDR
9 4 2,03 2,19 4,45 4,06
10 5 2,02 2,19 4,43 4,04

Untuk menghasilkan tegangan input rangkaian disusun dengan Ra sebagai


sensor (LDR), Rd menggunakan potensio pada jembatan wheatstone (JW), dan
rangkaian dikuatkan dengan menggunakan differensial amplifier.
Perlakuan yang dilakukan pada LDR adalah intensitas cahaya semakin
dikurangi. Sehingga berdasarkan hal tersebut maka resistensi LDR akan semakin
kecil.
Penggunaan jembatan wheatstone dimaksudkan untuk mendapatkan
tegangan input yang berasal dari beda potensial antara D dengan B. Sedangkan
penggunaan potensio untuk mendapatkan TICM sebagai 0 volt (beda potensial
antara D dengan B = 0).
Berdasarkan persamaan VD=VPowerSupply*Rd/(Rd+Ra) =
VPowerSupply*1/(1+Ra/Rd), (penempatan sensor pada Ra) maka semakin besar
tahanan Ra maka semakin kecil nilai VD. Dengan kata lain jika perlakuan adalah
intensitas cahaya semakin mengecil maka Ra semakin besar dan VD akan
semakin kecil.
Keluaran VB diset sedemikian rupa dengan memberikan tahanan Fixed
sehingga akan selalu konstan. Pada skenario I,

Rc 22
VB=V power supply x =5 x =5 x 0,5=2,5 volt
Rc+ Rb 22+22
5

Nilai keluaran VDB pada titik atas (pada intensitas cahaya terbesar) diset
menjadi NOL dengan mengatur Rd (potensio). Artinya VD dibuat = VB sehingga
VDB = VD – VB = 0 volt.
Dengan demikian pada pengukuran intensitas cahaya yang semakin besar
akan membuat VDB akan semakin kecil (dengan nilai 0).
Penggunaan differensial Amplifier sebagai penguat tegangan input memiliki

R 1+ R 4 R 3 R4
persamaan Vout= [ x
R 2+ R 3 R 2
xVin2 −
R1 ][
xVin 1 . ]
Karena Vinput hanya diukur selisih tegangannya saja dan R1 = R2 = 10KΩ

dan R3 = R4 = 22KΩ, maka Vout ( 3333 x 2,2 xVin 2)− ( 2,2 xVin 1)=2,2 x ( Vin 2−Vin 1)
. Nilai ini akan sama saja dengan Vout = 2,2 xVBD atau Vout = 2,2 x (Vinput).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa penguatan differensial amplifier = 2,2.
Berdasarkan nilai true value nilai Vinput (keluaran Jembatan Wheatstone)
maka hubungan antara Vinput dengan Voutput differensial amplifier bisa digambarkan
pola grafik pada dua skenario diatas sebagai berikut ini.

2.1.1 Skenario I

Performa Input Output Rangkaian


1.6
1.4
1.2 f(x) = 2.51 x − 0.04
f(x)==0.99
R² 2.2 x − 0 Ukur
1
Vout (Volt)

R² = 1 Linear (Ukur)
0.8 Teori
0.6 Linear
(Teori)
0.4
0.2
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Vin(Volt)

Gambar 2.1 Grafik performa input output rangkaian skenario I


6

Grafik Skenario I menunjukkan hubungan tegangan input dan output yang


diolah oleh differensial amplifier, terlihat bahwa semakin kecil tegangan input
maka semakin kecil pula tegangan output. Hal ini sesuai dengan persamaan
differensial amplifier Vout=2,2 ×Vinput, kesesuaian ini ditunjukkan pula oleh
garis teori pada grafik memiliki persamaan Y = 2,5112x-0,0399.
Perbedaan pengukuran dengan teori terlihat pada faktor penguatan pada
pengukuran yang lebih besar dari teori (koefisien X = 2,5122), serta adanya
konstanta 0,0399, sehingga hasilnya tidak berhimpit.
Perbedaan antara garis ukur dengan teori dapat terjadi karena setiap alat
ukur yang digunakan dalam pengukuran dipengaruhi kalibrasi dari alat itu sendiri
yang menyebabkan ketidak akuratan hasil yang didapat sehingga terjadi ketidak
paduan antara garis ukur dan teori. Sedangkan untuk menentukan nilai Vin dan Vout
melalui teori dapat digunakan persamaan Vout=2,2 ×Vinput sehingga dari
persamaan ini akan didapatkan hasil perhitungan yang sudah pasti benar.

2.2.2 Skenario II

Performa Input Output Rangkaian


4.7
4.6 f(x) = 2.06 x + 0.27
4.5 R² = 0.99
4.4
Vout (Volt)

4.3
4.2 f(x) = 2 x + 0 Ukur
4.1 R² = 1
4
3.9
3.8
3.7
2 2.02 2.04 2.06 2.08 2.1 2.12 2.14
Vin(Volt)

Gambar 2.2 Performa input output rangkaian skenario II


Hal yang sama terjadi pada skenario II, grafik menunjukkan hubungan
tegangan input dan output yang diolah oleh differensial amplifier, terlihat bahwa
bahwa semakin kecil tegangan input maka semakin kecil pula tegangan output.
7

Hal ini sesuai dengan persamaan differensial amplifier Vout = 2 x Vin.,


kesesuaian ini ditunjukkan pula oleh garis teori pada grafik memiliki persamaan Y
=2,0606x – 0,2652.
Perbedaan pengukuran dengan teori terlihat pada faktor penguatan pada
pengukuran yang lebih besar dari teori (koefisien X = 2,0606), serta adanya
konstanta 0,2652 sehingga hasilnya tidak berhimpit.
Perbedaan antara garis ukur dengan teori dapat terjadi karena setiap alat
ukur yang digunakan dalam pengukuran dipengaruhi kalibrasi dari alat itu sendiri
yang menyebabkan ketidak akuratan hasil yang didapat sehingga terjadi ketidak
paduan antara garis ukur dan teori. Sedangkan untuk menentukan nilai Vin dan Vout
melalui teori dapat digunakan persamaan Vout =2 ×Vinput sehingga dari
persamaan ini akan didapatkan hasil perhitungan yang sudah pasti benar.

2.2 Hubungan Jembatan Wheatstone, Differensial Amplifier dan LDr


LDR (Light Dependent Resistant) merupakan suatu jenis resistor yangnilai
resistansinya berubah-ubah karena adanya intensitas cahaya yang diserap. LDR
dibentuk dari Cadium Sulfide (CDS) yang mana Cadium Sulfide dihasilkandari
serbuk keramik. Prinsip kerja LDR ini pada saat mendapatkan cahaya
makatahanannya turun, sehingga pada saat LDR mendapatkan kuat cahaya
terbesar maka tegangan yang dihasilkan adalah tertinggi ( Supatmi, Tanpa Tahun).
Hubungan antara jembatan wheatstone, differensial amplifier dan LDR
dalam rangkaian yaitu kegunaan dari jembatan wheatsone adalah merubah sinyal
dari LDR yang pemasangan LDR nya diletakkan pada R1. LDR akan merespon
perubahan intensitas cahaya menjadi perubahan tahanan dan dari perubahan
tahanan dirubah lagi menjadi sinyal tegangan. Sinyal tegangan tersebut
dikeluarkan pada titik BD, yang merupakan perbedaan potensial antara VB dan
VD. Sinyal output dari jembatan wheatstone tersebut (VBD) digunakan sebagai
sinyal input dari differensial amplifier. Sinyal input tersebut akan dikuatkan oleh
differensial amplifier sehingga dapat diukur besar nilainya dengan menggunakan
AVO meter digital ( ITB, 2013).
8

2.3 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan sebagai berikut ini.
1. Pengukuran intensitas cahaya secara analog dapat menggunakan sensor cahaya
jenis LDR dengan komponen ICM (differensial amplifier).
2. Alat ukur cahaya secara analog dapat dibut dengan mengunakan integrasi
komponen LDR, jembatan wheatstone dan differensial amplifier.
3. Perubahan sinyal yang terjadi adalah dari besaran intensitas cahaya, menjadi
perubahan menjadi perubahan tahanan, menjadi perubahan menjadi perubahan
tegangan yang dikuatkan oleh differensial amplifier (ΔT→ΔR→ΔV).
4. Hasil pengukuran menunjukkan kesalahan yang relatif kecil jika dibandingkan
dengan teori.
9

DAFTAR PUSTAKA

ITB. 2013. “Penguat Differensial”. labdasar. ee.itb.ac.id/la b/EL3109/Elektr oni


ka/2014/modul/520praktikum/Elka2 - perc2 – Penguat - Diferensial
Petunjuk-Rev.10-09-13.docx. [10 November 2017].
Supatmi, S. Tanpa Tahun. Pengaruh Sensor LDR Terhadap Pengontrolan Lampu.
Majalah Ilmiah UNIKOM. 8(2): 175-176.