Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PENGANTAR NEMATOLOGI TUMBUHAN

“Morfologi Nematoda Tylenchulus spp. (Tylenchulus semipenetrans)”

Oleh :

ABD WAHID RAMADHAN


NIM. D1F1 18 034
PTP-B

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas karunia-NYA yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah Pengantar Nematologi Tumbuhan yang berjudul
“Morfologi Nematoda Tylenchulus spp. (Tylenchulus semipenetrans)”.

Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari dukungan beberapa pihak yang
telah membantu penulis dan dukungan yang diberikan kepada penulis seperti
motivasi, baik materi maupun moril. Oleh karena itu, penulis bermaksud
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu agar makalah
ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini belum mencapai


kesempurnaan yang maksimal, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini. Terima
kasih.

Kendari, 1 Juni 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i

DAFTAR ISI....................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................... 2

1.3 Tujuan...................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3

2.1 Morfologi Tylenchulus semipenetrans..................................................... 3

2.2 Faktor,tanaman inang,gejala dan pengendalian....................................... 4

BAB III PENUTUP............................................................................................ 12

3.2 Kesimpulan.............................................................................................. 12

3.2 Saran........................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA
BAB. I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nematoda merupakan salah satu jenis organisme pengganggu tumbuhan


(OPT) penting yang menyerang berbagai jenis tanaman utama di Indonesia dan
negara-negara tropis lainnya. Kehilangan hasil akibat serangan nematoda di seluruh
dunia dapat mencapai US$ 80 milyar per tahun (Price, 2000). Meskipun demikian di
Indonesia, kerusakan tanaman karena nematode parasit, kurang disadari baik oleh
para petani maupun para petugas yang bekerja di bidang pertanian. Hal ini mungkin
disebabkan oleh gejala serangan nematoda yang sulit diamati secara visual karena
ukuran nematoda yang sangat kecil. Selain itu gejala serangan nematode berjalan
sangat lambat dan tidak spesifik, mirip atau bercampur dengan gejala kekurangan
hara dan air, kerusakan akar dan pembuluh batang.
Serangan nematoda dapat mempengaruhi proses fotosintesa dan transpirasi
serta status hara tanaman (Evans, 1982; Melakeberhan et al., 1987). Akibatnya
pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun kuning klorosis dan akhirnya tanaman
mati. Selain itu serangan nematoda dapat menyebabkan tanaman lebih mudah
terserang patogen atau OPT lainnya seperti jamur, bakteri dan virus. Akibat serangan
nematoda dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi produktivitas, dan
kualitas produksi.
Tylenchulus semipenetrans (Citrus nematode, Citrus root nematode) adalah
spesies nematoda patogen tanaman dan agen penyebab penurunan lambat jeruk. T.
semipenetrans ditemukan di sebagian besar area produksi jeruk dan beragam tekstur
tanah di seluruh dunia. Strategi pemberian makan mereka bersifat semi-endoparasit
dan memiliki kisaran inang yang sangat sempit di antara tanaman yang umumnya
ditanam. Nematoda ini dianggap sebagai nematoda parasit-tanaman utama karena
dapat menyebabkan kerugian 10-30% dilaporkan pada pohon jeruk. Mereka juga
parasit host lain seperti zaitun, anggur, kesemek dan ungu.
Nematoda yang menyerang akar tanaman hingga dapat menimbulkan
kerusakan mekanis. Nematoda yang menyebabkan kerusakan pada tanaman hampir
semuanya hidup didalam tanah, baik yang hidup bebas didalam tanah bagian luar akar
dan batang didalam tanah bahkan ada beberapa parasit yang hidupnya bersifat
menetap didalam akar dan batang. Konsentrasi hidup nematoda lebih besar terdapat
didalam perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju reproduksinya
yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup dan tertariknya nematoda
oleh zat yang dilepaskan dalam rizosfir awalnya, telurtelur nematoda diletakan pada
akar - akar tumbuhan di dalam tanah yang kemudian telur akan berkembang menjadi
larva dan nematoda dewasa. Berkumpulnya populasi nematoda disekitar perakaran ini
mendorong nematoda menyerang akar dengan jalan menusuk dinding sel. Nematoda
dewasa terus-menerus bergerak tiap detik, tiap jam, tiap hari dan menetap di sekitar
akar, dalam gerakan - gerakan tersebut nematoda menggigit dan menginjeksikan air
ludah pada bagian akar tumbuhan, menyebabkan sel tumbuhan menjadi rusak. Gejala
kerusakan pada akar akibat gigitan nematoda ditandai dengan adanya puru akar (gall).
Luka akar, ujung akar rusak dan akar akan membusuk apabila infeksi nematoda
tersebut disertai oleh bakteri dan jamur patogen.
Kerugian lain yang disebabkan oleh nematoda, adalah tidak dapat
dimanfaatkannya unsur hara yang diberikan kepada tanaman dalam upaya
meningkatkan produksi. Tanaman terserang nematoda sistem perakarannya rusak,
sehingga tanaman tidak mampu menyerap hara dan air meskipun keduanya tersedia
cukup di dalam tanah. Menurut Wallace (1987), kerusakan akar karena nematoda
menyebabkan berkurangnya suplai air ke daun, sehingga stomata menutup, akibatnya
laju fotosintesa menurun.
Berdasarkan uraian diatas maka penting untuk membahas mengenai morfologi
nematoda dan peranan nematoda Tylenchulus semipenetrans  terhadap tanaman
budidaya.
1.2. Rumusan Masalah

1. Menjelaskan morfologi dari nematoda Tylenchulus semipenetrans?


2. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit, tanaman inang dan
gejala penyakit serta pengendaliannya?

1.3. Tujuan

Tujuan dari makalah ini untuk mengetahui morfologi dan faktor-faktor yang
mempengarughi penyakit, tanaman inang dan gejala penyakit serta pengendaliannya
Tylenchulus semipenetrans terhadap tanaman budidaya.
BAB II. PEMBAHASAN

2.1. Morfologi Nematoda Tylenchulus semipenetrans

KLASIFIKASI :
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Class : Secernentea
Ordo : Tylenchida
Family : Tylenchulidae
Genus : Tylenchulus
Spesies : Tylenchulus semipenetrans

Morfologi nematoda Tylenchulus semipenetrans adalah satu-satunya spesies


Tylenchulidae yang secara ekonomi penting bagi pertanian. Rentang nematoda jeruk
mulai dari 0,25-0,35 mm. Betina mengandung ovarium tunggal dan vulva bersifat
subterminal, betina akan bertelur hingga 100 telur yang disimpan dalam matriks agar-
agar yang dikeluarkan dari pori ekskresi didekatnya. Sedangkan pada nematoda
jantan telah secara signifikan mengurangi kerongkongan dan stilet.
Nematoda jeruk betina adalah 6-8 minggu, sedangkan nematoda jeruk jantan
hanya hidup selama sekitar 7-10 hari. Nematoda ini bereproduksi dengan amfimixis
dan partenogenesis. Remaja tahap pertama (J1) menjalani satu pergantian bulu
sementara masih dalam telur. J1 tidak memiliki stilet. Remaja tahap kedua (J2)
menetas dari telur dan jenis kelaminnya dapat dibedakan pada tahap ini. J2 jantan
pendek dan gemuk. Remaja akan menjalani dua mol lagi ke dalam J3 dan J4 sebelum
menjadi dewasa muda. Nematoda jantan jeruk diperlukan untuk reproduksi dengan
betina ketika ujung posteriornya terpapar pada permukaan akar. Laki-laki J2 memiliki
stilet sementara J3 dan J4 memiliki stilet yang lebih lemah. J2 betina lebih panjang
dan lebih tipis dari jantan dan mereka tidak berganti kulit sampai situs makan
ditetapkan. Remaja perempuan mulai memberi makan ektoparasit pada sel-sel akar
epidermis. Tidak sampai nematoda jeruk betina menjadi dewasa muda, ia menjadi
tahap infektif. Ujung anterior betina muda menembus ke dalam korteks akar dan
mulai memakan 3-6 sel perawat. Pemberian makanan yang intens oleh betina dewasa
akan menyebabkan ujung posterior membesar di luar akar dan mulai menghasilkan
telur. Setelah pembuahan, betina bertelur di luar akar dalam matriks agar-agar
diekstrusi dari pori ekskretoris yang terletak di dekat vulva.

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Inang, Gejala dan


Pengendaliannya
Kepadatan populasi tinggi nematoda jeruk dapat menyebabkan kerusakan
parah pada pohon jeruk. Beberapa gejala di atas tanah dapat diamati seperti
penekanan pertumbuhan pohon jeruk, kurangnya kekuatan atau penurunan gejala,
menguningnya dedaunan dan ukuran buah yang kecil. Betina dewasa muda
menembus ke dalam sel korteks, menjadi menetap dan membentuk beberapa sel
'perawatan'. Pemberian nematoda dari sel-sel perawat ini mengurangi jumlah air dan
nutrisi yang tersedia untuk tanaman yang sedang tumbuh. Untuk gejala di bawah
tanah, akar yang terinfeksi lebih tebal, lebih gelap, membusuk dan tampak kotor. Hal
ini disebabkan oleh partikel tanah yang menempel pada matriks agar-agar yang telah
dikeluarkan oleh betina. Sistem akar yang terinfeksi karena kerusakan nematoda
kehilangan kemampuan untuk menyerap cukup air dan nutrisi untuk pertumbuhan
normal. Menguningnya dedaunan, keriting daun dan dieback adalah konsekuensi dari
perkembangan akar yang tidak mencukupi dan akar muda yang membusuk.
Menurut Chon 1969, 4000 remaja/g root adalah ambang kerusakan untuk
penyakit penurunan yang lambat diisrael. Sementara di California, nematicide harus
diterapkan jika lebih dari 400 nematoda betina /g akar diambil sampelnya pada bulan
februari hingga april atau 100 betina/g akar pada bulan mei dan juni. Namun, usia dan
kekuatan pohon jeruk, kepadatan populasi nematoda didalam tanah, agresivitas
nematoda, karakteristik tanah, dan faktor lingkungan lainnya dapat memengaruhi
tingkat serangan oleh nematoda jeruk.
Nematoda yang makan akar tanaman dari luar, mungkin akan menyebabkan
matinya sel-sel yang terdapat di permukaan jaringan. Keadaan ini selanjutnya akan
mengakibatkan terjadinya perubahan warna pada bagian tersebut. Apabila populasi
nematoda yang menyerang tinggi dapat menyebabkan matinya sel-sel epidermis,
sehingga akar-akar yang masih muda akan berubah warnanya menjadi kekuningan
sampai kecoklat-coklatan. Contoh Aphelenchoides parietinus menyerang Cladonia
fimbriata (lumut kerak) dan Tylenchuluss semipenetrans menyerang tanaman jeruk.
Konsentrasi hidup nematoda lebih besar terdapat didalam perakaran tumbuhan
inang terutama disebabkan oleh laju reproduksinya yang lebih cepat karena
tersedianya makanan yang cukup dan tertariknya nematoda oleh zat yang dilepaskan
dalam rizosfir awalnya, telurtelur nematoda diletakan pada akar - akar tumbuhan di
dalam tanah yang kemudian telur akan berkembang menjadi larva dan nematoda
dewasa. Berkumpulnya populasi nematoda disekitar perakaran ini mendorong
nematoda menyerang akar dengan jalan menusuk dinding sel. Nematoda dewasa
terus-menerus bergerak tiap detik, tiap jam, tiap hari dan menetap di sekitar akar,
dalam gerakan - gerakan tersebut nematoda menggigit dan menginjeksikan air ludah
pada bagian akar tumbuhan, menyebabkan sel tumbuhan menjadi rusak. Gejala
kerusakan pada akar akibat gigitan nematoda ditandai dengan adanya puru akar (gall).
Luka akar, ujung akar rusak dan akar akan membusuk apabila infeksi nematoda
tersebut disertai oleh bakteri dan jamur patogen.
Gejala kerusakan pada akar biasanya selalu diikuti oleh pertumbuhan tanaman
yang lambat dikarenakan terhambatnya penyerapan unsur hara oleh akar yang
akhirnya terjadi defisiensi hara seperti daun menguning, layu pada cuaca kering dan
panas, sehingga produktifitas dan kuantitas hasil panen menurun bahkan untuk
tanaman-tanaman tertentu mengakibatkan tanaman tidak dapat panen sama sekali
(puso), menurun dan kualitasnya jelek.
Tumbuhan inang nematoda pada umumnya setiap jenis tanaman nematoda
yang hidup pada tanaman tersebut akan berbeda, karena pada dasarnya setiap
nematoda sudah menyesuaikan tempat hidupnya. Hal ini didasari oleh berbagai
bentuk nematoda yang menyesuaikan diri terhadap struktur jaringan tumbuhan. Inang
pada nematoda Tylenchulus semipenetrans adalah tanaman jeruk.
Pengendalian nematode Tylenchulus semipenetrans yaitu: Beberapa
Komponen Pengendalian Nematoda Terpadu Pengendalian nematoda secara terpadu
dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa komponen pengendalian ke dalam
suatu sistem. Komponen-komponen utama pengendalian nematoda terpadu adalah
teknik budidaya (varietas tahan atau toleran, pergiliran tanaman, tanaman perangkap,
bahan organik), agen hayati, pestisida (nabati dan kimia), dan karantina.

 Varietas tahan atau toleran Umumnya, kehilang-an hasil akibat serangan


nematoda, dapat ditekan melalui pergiliran tanaman. Tanaman yang sangat peka
hanya boleh ditanam sekali dalam 2—8 tahun.
 Pergiliran tanaman dan tanaman perangkap Di beberapa negara maju,
khususnya di Eropa diharuskan melaksanakan pergiliran tanaman untuk
mengendalikan G. rostochiensis (Schots, 1988). Solanum sisymbriifolium sejenis
tomat liar, dilaporkan efektif untuk mengendalikan G. rostochiensis. Tanaman
tersebut mempercepat penetasan telur nematoda, setelah dewasa dan menggerogoti
akar tomat liar tersebut, siklus hidup nematoda terputus.
 Bahan organik Penambahan bahan organik ke dalam tanah meningkatkan
daya tanah menahan air dan kesuburan tanah, sehingga pertumbuhan tanaman
meningkat dan tanaman lebih tahan terhadap serangan nematoda.
 Agen hayati Pemanfataan agen hayati (musuh alami) telah terbukti efektif
untuk mengendalikan nematode.
 Pestisida nabati Berbagai jenis tanaman yang mengandung senyawa toksik
terhadap nematoda sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pestisida nabati. Di
antara tanaman tersebut adalah mimba, tagetes (T. erecta, T. minuta), srikaya, jarak,
serai wangi, serai dapur, lempuyang pahit.
 Pestisida kimia Penggunaan pestisida kimia harus merupakan alternatif
terakhir apabila tehnik pengendalian yang lain dinilai tidak berhasil dan harus
dilakukan secara bijaksana.
2.3. Gambar Tylenchulus semipenetrans/ gambar tulis tangan

BAB III. PENUTUP


3.1. Kesimpilan

Tylenchulus semipenetrans (Citrus nematode, Citrus root nematode) adalah


spesies nematoda patogen tanaman dan agen penyebab penurunan lambat jeruk.
Morfologi nematoda Tylenchulus semipenetrans adalah satu-satunya spesies
Tylenchulidae yang secara ekonomi penting bagi pertanian. Rentang nematoda jeruk
mulai dari 0,25-0,35 mm. Nematoda Tylenchulus semipenetrans yang makan akar
tanaman dari luar, mungkin akan menyebabkan matinya sel-sel yang terdapat di
permukaan jaringan. Keadaan ini selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya
perubahan warna pada bagian tersebut. Tylenchuluss semipenetrans menyerang
tanaman jeruk yang merupakan tanaman inangnya. Cara pengendaliannya
yaitu : Rotasi tanaman, Menerapkan pola tanam campuran/tumpangsari (polikultur),
Menggunakan bibit bebas nematoda, Sanitasi, misalnya dengan membersihkan sisa-
sisa tanaman terinfeksi, Pengolahan lahan yang baik dan benar, Penggunaan pestisida
nabati ekstrak mimba, tagetes dan jarak, Penggenangan lahan jika memungkinkan
(bisa dilakukan pada lahan sawah) dan Aplikasi pestisida kimia (nematisida).

3.2. Saran

Saran dalam makalah ini yaitu makalah ini masih banyak terdapat kekuran
maka dari itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Cohn E. 1969. Nematoda Jeruk, Tylenchulus semipenetrans Cobb sebagai hama jeruk
di Israel. Jurnal Prosiding Simposium Jeruk Internasional Pratama. 2: 1013-
1017.
Lucas VS. Mckenry M. 2004. Manajemen Citrus Nematode, Tylenchulus
semipenetrans. Jurnal Nematologi. 36: 424-432
Mustika I. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman
Perkebunan di Indonesia. Perspektif  ejurnal.litbang.pertanian.go.id. 4(1):20 –
32.