Anda di halaman 1dari 1

15. SYEIKH SAYYID AMIR KULAL IBN AS-SAYYID HAMZA Q.

Beliau dilahirkan di desa Sukhar, dua mil dari Bukhara. Keluarganya adalah sayyid,
keturunan Rasulullah. Ibunya berkata, “Ketika Aku mengandung nya, setiap kali tanganku
ingin mengambil makanan yang meragukan, Aku tidak bisa memasukkannya ke dalam
mulutku. Hal ini sering kali terjadi. Aku tahu bahwa bayi yang berada di rahimku adalah
seseorang yang istimewa. Oleh sebab itu Aku sangat berhati-hati dan memilih makananku
dari makanan yang terbaik dan halal."
Di masa kanak-kanaknya, beliau adalah seorang pegulat. Beliau sangat suka
mempelajari berbagai macam aliran gulat, sehingga beliau menjadi pegulat yang terkenal di
masanya. Seluruh pegulat akan berkerumun dan belajar darinya. Suatu hari, ada seseorang
yang menyaksikannya bergulat. Terbersit dalam benaknya, "Bagaimana mungkin seseorang
yang merupakan keturunan Rasulullah yang sangat menguasai syari’at dan thariqat,
melakukan latihan seperti itu?” tiba-tiba dia tertidur dan bermimpi kalau dia berada di Hari
Pembalasan. Dia merasa dirinya berada dalam kesulitan dan akan tenggelam. Kemudian
Syaikh Sayyid Amir al-Kulal muncul di hadapannya dan menyelamatkannya dari air. Ketika
terbangun, dia mendapati Sayyid Amir al-Kulal di dekatnya dan berkata, “Apakah kamu telah
menyaksikan kekuatanku dalam bergulat dan kekuatanku dalam memberi perantaraan?”
Suatu ketika seseorang yang akan menjadi Syaikhnya, yaitu Syaikh Muhammad Baba
as-Samasi , melewati arena gulat bersama para pengikutnya. Beliau berhenti dan berdiri di
sana. Setan berbisik kepada salah satu pengikutnya dengan berkata, “Bagaimana seorang
Syaikh berdiri di arena gulat seperti ini?” Dengan segera Syaikh melihat muridnya itu dan
berkata, “Aku berdiri di sini demi seseorang. Dia akan menjadi seorang yang luas
pengetahuannya. Setiap orang akan mendatanginya untuk meminta bimbingan dan melalui
dia orang bisa meraih posisi tertinggi dari Kecintaan Allah dan Kehadirat Ilahi. Aku
bermaksud untuk membawa orang itu di bawah pengawasanku.” Pada saat itu Syaikh Amir
Kulal menoleh kepadanya, dia merasa tertarik, lalu meninggalkan gulatnya. Beliau mengikuti
Syaikh Muhammad Baba As-Samasi ke rumahnya. Syaikh Samasi mengajarinya zikir dan
prinsip-prinsip thariqat yang paling mulia ini, dan berkata kepadanya, ”Sekarang engkau
adalah anakku.”
Syaikh Kulal mengikuti Syaikh Samasi selama 20 tahun menghabiskan waktunya
dengan berzikir , khalwat, ibadah, dan melakukan penyangkalan diri sendiri. Tidak ada yang
melihatnya dalam kurun waktu 20 tahun itu kecuali bersama Syaikhnya. Beliau akan
mendatangi Syaikhnya di Samas setiap hari Senin dan Kamis, meskipun jaraknya 5 mil dan
perjalanannya sangat berat, sampai beliau mencapai keadaan tidak tersekat (mukashafa). Pada
saat itu ketenarannya mulai tersebar ke mana-mana sampai beliau meninggalkan dunia ini.
Beliau mempunyai empat orang anak, as-Sayyid al-Amir Burhanuddin, as-Sayyid al-Amir
Hamza, as-Sayyid al-Amir Syah, dan as-Sayyid al-Amir Umar.
Beliau juga mempunyai empat orang khalifah, tetapi beliau meneruskan rahasianya
hanya kepada satu orang di antara mereka, Guru dari para Guru, yang paling tahu di antara
yang tahu, seorang Busur Perantara yang Terbesar (al-Ghawts al-A’zam), Sultanul Awliya
Muhammad Baha’uddin Syah Naqsyband,. Syaikh Sayyid Amir Kulal wafat di desa yang
sama dengan tempat beliau dilahirkan, Sukhar, pada 8 Jumadil Awwal, 772 H.