Anda di halaman 1dari 4

17.

ALA’UDDIN AL-BUKHARI AL-ATTAR QS

Beliau meninggalkan semua warisan ayahnya kepada kedua saudaranya dan


mengabdikan dirinya untuk belajar di Bukhara. Beliau menjadi ahli di segala bidang seni,
khususnya dalam Pengetahuan mengenai Sufisme dan Pengetahuan mengenai Islam. Beliau
melamar putri Syekh Naqsyband, memintanya untuk menikah dengannya. Jawaban Syekh
Naqsyband baru muncul di suatu hari, lewat tengah malam, ketika beliau terbangun dari
tidurnya di Qasr al-'Arifan, dengan segera beliau pergi ke Bukhara di mana Syekh Alauddin
tinggal. Di sana beliau melihat semua orang tertidur, kecuali Alauddin, yang tetap terjaga
dengan membaca al-Qur‟an diterangi cahaya dari sebuah lampu minyak yang kecil.
Beliau mendatanginya dari belakang dan menepuk pundaknya tetapi Syekh Alauddin
tidak memberi respons. Beliau mendorongnya lebih keras, tetapi tetap tidak ada reaksi.
Melalui pandangan spiritualnya, Syekh Naqsyband mengerti bahwa Syekh Alauddin tidak
berada di sana tetapi sedang berada dalam Kehadirat Ilahi. Beliau lalu memanggilnya secara
spiritual dan dengan segera Syekh Alauddin menoleh dan berkata, “Oh Syaikhku.” Syekh
Naqsyband berkata, “Aku bermimpi bahwa Rasulullah saw telah menerima lamaranmu
kepada putriku. Dengan alasan itulah, Aku datang sendiri ke sini, di tengah malam, untuk
menyampaikan kabar gembira ini.” Syekh Alauddin berkata, “Wahai Syaikhku, Aku tidak
punya apa-apa yang bisa dibelanjakan baik oleh putrimu maupun diriku sendiri, karena Aku
sangat miskin, seluruh warisan ayahku telah kuberikan kepada saudara-saudaraku.” Syekh
Naqsyband menjawab, “Wahai anakku, apa pun yang telah dituliskan Allah kepadamu di
Hari Perjanjian akan tetap menjadi milikmu. Jadi jangan khawatir, Allah akan
menyediakannya.”
Beliau berkata, “Suatu hari seorang Syekh bertanya kepadaku, „Bagaimana hatimu?‟
Aku berkata, „Aku tidak tahu bagaimana keadaan hatiku.‟ Syekh itu berkata, „Aku tahu
hatiku, dia bagaikan bulan di sepertiga malam.‟ Aku lalu menceritakan hal ini kepada Syekh
Naqsyband dan beliau berkata, „Dia berkata berdasarkan keadaan hatinya.‟ Ketika beliau
mengatakan hal ini, beliau meletakkan kakinya di atas kakiku dan menekannya. Tiba-tiba
Aku meninggalkan tubuhku dan melihat bahwa segala yang ada di dunia ini dan seluruh alam
semesta berada di hatiku. Ketika aku terjaga dari keadaan tidak sadar itu, beliau masih berdiri
di atas kakiku, dan berkata, „Jika hati seperti itu, maka tak seorang pun yang dapat
melukiskannya. Sekarang bagaimana menurutmu hadits yang berbunyi, „Bumi dan langit
tidak dapat memuat diriku, tetapi Aku berada dalam hati orang-orang yang beriman.‟ Ini
adalah salah satu rahasia yang harus kalian pahami.”
Selanjutnya Syekh Naqsyband bertanggungjawab sepenuhnya atas dirinya. Beliau
mengangkatnya dari satu tingkat pengetahuan ke tingkat lainnya dan mempersiapkannya
untuk hadir dalam Kehadirat Ilahi dan untuk mendaki menara Pengetahuan Spiritual yang
agung dan meninggalkan segala macam kebodohan untuk mencapai tingkat hakikat. Selama
hidupnya Syekh Naqsyband memerintahkannya untuk memberi pencerahan kepada para
pengikutnya yang lain. Begitu pula dengan Syekh Muhammad Parsa yang menulis bahwa dia
mendengar dari Syekh Alauddin , “Aku diberi kekuatan oleh Syaikhku, Syekh Naqsyband
,sedemikian rupa sehingga bila Aku ingin memfokuskan setiap orang di alam semesta ini,
Aku akan mengangkat mereka semua ke tingkat ihsan.”
Suatu ketika para ulama di Bukhara mempunyai beda pendapat mengenai kemungkinan
melihat Allah di dunia ini. Sebagian dari mereka menyangkal kemungkinan itu sementara
yang lain merasa yakin. Mereka semua adalah murid Syekh Alauddin. Mereka
mendatanginya dan berkata, “Kami minta engkau menjadi juri dalam hal ini.” Beliau berkata,
“Di antara kalian yang menyangkal kemungkinan untuk melihat Allah dalam kehidupan ini,
ikutlah bersamaku selama 3 hari dengan tetap menjaga wudhu dan diam.” Beliau menjaga
mereka selama 3 hari, mengarahkan kekuatan spiritualnya kepada mereka, sampai mereka
semua memperlihatkan keadaan yang sangat kuat yang menyebabkan mereka menjadi lemah
lunglai. Ketika mereka sadar kembali, mereka mendatanginya dengan menangis, amanna wa
saddaqna (“Kami percaya dan kami yakin bahwa hal itu benar!”) sambil mencium kakinya.
Mereka berkata kepadanya, “Kami menerima apa yang engkau katakan, melihat Allah dalam
hidup ini adalah suatu hal yang tidak mustahil.” Mereka mengabdikan diri mereka kepadanya
dan tidak pernah meninggalkannya. Mereka juga menjadikan kebiasaan untuk mencium
ambang pintunya. Mereka menggubah syair berikut: Karena buta mereka bertanya,
“Bagaimana kami mencapai Tuhan?” Menempatkan lilin kemurnian di tangan mereka.
Mereka akan tahu bahwa kemungkinan untuk melihat tidaklah mustahil. Syekh Alauddin
sangat disayang dan diistimewakan oleh Syekh Naqsyband , sebagaimana Nabi Yusuf yang
sangat disayang oleh ayahnya, Nabi Yacqub as.
Beliau berkata, Niat dalam berkhalwat adalah untuk meninggalkan segala hubungan
duniawi dan mengarahkan diri kepada Kebenaran Surgawi.Dikatakan bahwa para pencari
dalam pengetahuan eksternal harus memegang teguh Tali Allah, sedangkan para pencari
pengetahuan Tasawuf harus terikat kuat kepada Allah. Ketika Syah Naqsyband mendapat
pakaian baru, beliau akan memberikannya kepada orang lain untuk dipakai. Setelah mereka
memakainya, beliau akan meminjamnya kembali.
Ketika Allah membuatmu lupa akan kekuatan duniawi maupun Kerajaan Surgawi, itu
adalah Kefanaan yang Mutlak. Dan Jika Dia membuatmu lupa akan Kefanaan yang Mutlak
itu, itu adalah Inti dari Kefanaan yang Mutlak. Kalian harus berada pada tingkat yang sesuai
dengan orang-orang di sekitarmu dan menyembunyikan keadaanmu yang sebenarnya dari
mereka, karena Rasulullah bersabda, Aku telah diperintahkan untuk berbicara kepada orang-
orang sesuai dengan apa yang bisa dimengerti oleh hati mereka.
Waspadalah dalam menyakiti hari para Sufi. Jika engkau menginginkan persahabatan
mereka, pertama kalian harus belajar bagaimana bertingkah laku di hadapan mereka. Kalau
tidak kalian akan menyakiti diri sendiri, karena jalan mereka adalah jalan yang paling lembut.
Disebutkan bahwa, Tidak ada tempat di Jalan Kami bagi orang-orang yang tidak mempunyai
perilaku yang baik. Jika kalian berpikir bahwa kalian telah berperilaku baik berarti engkau
salah, karena memandang dirimu baik adalah suatu kesombongan.
Manfaat yang dapat dipetik dari ziarah ke makam Syaikh kalian tergantung dari
pengetahuanmu tentang mereka. Berada di dekat makam orang-orang yang shaleh
mempunyai pengaruh yang baik terhadap dirimu, walaupun lebih baik untuk mengarahkan
dirimu kepada jiwa mereka adalah dan itu bisa membawa pengaruh spiritual yang tinggi.
Rasulullah bersabda, Kirimkanlah do‟a kepadaku di mana pun engkau berada. Ini
menunjukkan bahwa kalian dapat mencapai Rasulullah di mana pun kalian berada, dan itu
juga berlaku untuk semua Walinya, karena mereka mendapat kekuatan dari Rasulullah .
Adab, atau perilaku yang benar dalam berziarah adalah dengan mengarahkan dirimu
kepada Allah dan membuat jiwa-jiwa ini sebagai jalanmu (wasilah) menuju Allah ,
merendahkan hatimu kepada Ciptaan-Nya. Kalian merendahkan hati secara eksternal kepada
mereka dan secara internal kepada Allah. Menunduk di hadapan orang lain tidak diizinkan
kecuali kalian memandang mereka sebagai perwujudan Tuhan. Dengan demikian kerendahan
hati itu tidak diarahkan kepada mereka, tetapi diarahkan kepada Tuhan yang tampak dalam
diri mereka, dan itulah Tuhan. Jalan untuk berkontemplasi (merenung) dan meditasi lebih
tinggi dan lebih sempurna daripada berzikir dengan kalimat la ilaha illallah.
Para pencari, melalui kontemplasi dan meditasi (muraqabat), dapat meraih pengetahuan
internal dan mampu memasuki Kerajaan Surgawi. Dia akan diberi kekuasaan untuk melihat
Makhluk Allah dan mengetahui apa yang terlintas dalam benak mereka, bahkan gosip atau
bisikan terkecil pun dapat diketahuinya. Dia akan diberi kekuasaan untuk mencerahkan hati
mereka dengan cahaya inti dari inti tingkat Ke-Esaan.
Diam adalah keadaan terbaik, kecuali dalam tiga kondisi: kalian tidak boleh berdiam
diri dalam menghadapi gosip buruk yang menyerang hatimu, kalian tidak boleh berdiam diri
dalam mengarahkan dirimu untuk mengingat Allah , dan kalian tidak boleh berdiam diri
ketika pandangan spiritual dalam hatimu memerintahkan untuk bicara. Melindungi hatimu
dari pikiran jahat sangatlah sulit, dan Aku melindungi hatiku selama 20 tahun dengan tidak
membiarkan ada satu godaan pun yang memasukinya. Amalan terbaik dalam Thariqat ini
adalah menghukum godaan dan gosip di dalam hati.
Aku tidak senang terhadap beberapa murid karena mereka tidak berusaha untuk
menjaga keadaan pandangan spiritual yang muncul kepada mereka. Jika hati para pengikut
(murid) dipenuhi dengan cinta terhadap Syekh, maka cinta ini mengalahkan semua cinta
dalam hatinya, kemudian hati itu dapat menerima transmisi Pengetahuan Ilahi, yang tidak
berawal dan tidak berakhir. Murid harus menceritakan semua keadaannya kepada Syekh nya,
dan dia harus merasa yakin bahwa dia tidak akan mencapai tujuannya kecuali melalui
kepuasan dan cinta Syekhnya. Dia harus mencari kepuasan itu dan dia harus tahu bahwa
semua pintu telah terkunci, internal dan eksternal, kecuali satu pintu, yaitu Syekh nya. Dia
harus mengorbankan dirinya demi Syekhnya.
Walaupun dia telah mempunyai pengetahuan tertinggi dan mujahada (kapasitas untuk
berusaha) yang paling tinggi, dia harus meninggalkan semuanya dan sadar bahwa dia tidak
ada artinya di hadapan Syekh nya. Para pencari harus memberikan otoritas penuh kepada
Syaikh dalam segala urusannya, baik religius maupun duniawi, sedemikian sehingga dia tidak
mempunyai keinginan selain keinginan Syekhnya. Tugas Syekh adalah melihat aktivitas
murid sehari-hari, memberi nasihat dan memperbaiki dirinya dalam kehidupan dan agamanya
serta menolong mereka untuk menemukan jalan terbaik untuk mencapai realitasnya.
Mengunjungi Awliya adalah suatu Sunnah Wajib, yaitu suatu kewajiban setiap pencari,
paling tidak setiap hari, atau setiap hari lainnya, sementara menjaga batas dan kehormatan
antara dirimu dengan Syaikh. Jika jarak antara kalian dengan Syekh cukup jauh, kunjungilah
beliau paling tidak sekali sebulan atau dua bulan sekali agar hubungan kalian tidak terputus.
Jangan hanya tergantung pada koneksi antara dirimu dengan hati mereka. Aku memberi
jaminan kepada setiap pencari dalam thariqat ini, jika dia meniru Syekh dengan hati yang
tulus, pada akhirnya dia akan menemukan realitasnya. Syekh Naqsyband memerintahkan
Aku untuk meniru beliau dan apa pun yang Aku lakukan untuk meniru beliau dengan segera
Aku memetik hasilnya.
Namun demikian beliau juga memperingatkan, Para Guru dalam thariqat kita tidak
dapat dikenali kecuali dalam Maqam yang Penuh Warna dan Perubahan (Maqam at-Talwin).
Siapa pun yang meniru tingkah laku mereka dalam maqam itu, dia akan berhasil. Namun
demikian, barang siapa yang meniru tingkah laku mereka dalam Maqam Ihsan, maqam yang
penuh kesempurnaan, dia akan tersesat. Dan dia hanya akan selamat dari penyimpangan itu
jika gurunya memberi rahmat dan mengungkapkan Realitas dari Maqam itu kepadanya. Apa
yang beliau maksudkan, dan sesungguhnya Allah Mahatahu, adalah bahwa para pencari tidak
dapat meraih Kesempurnaan sampai dia disempurnakan.
Maqam yang Penuh Warna dan Perubahan adalah tempat di mana para pencari
berjuang keras dengan puasa, ibadah, khalwat, dan dengan mempertahankan cinta dan
penghormatannya kepada gurunya dari satu kesulitan kepada kesulitan yang lain. Meniru
gurunya dalam tahap ini akan mendatangkan keberhasilan, karena gurunya sangat ahli dalam
semua urusan ini. Namun, jika dia meniru gurunya ketika sedang berada dalam Maqam
Kesempurnaan, dia akan berada dalam bahaya, seperti halnya ketika dia ingin terbang tanpa
mengembangkan sayapnya lebih dahulu.
Penting sekali bagi para pencari untuk mendaki gunung sebelum dia menikmati
pemandangan di puncak. Untuk mendaki gunung, para pencari harus melakukan perjalanan
dari dunia yang rendah menuju Kehadirat Ilahi. Dia harus menempuh perjalanan dari dunia
ego yang penuh realitas sensual menuju kesadaran jiwa akan Realitas Ilahi. Untuk membuat
kemajuan dalam perjalanan ini, para pencari harus membawa gambaran mengenai Syaikhnya
(tasawwur) ke dalam hatinya, karena itu merupakan jalan terkuat untuk melepaskan
seseorang dari genggaman rasa. Dalam hatinya Syekh menjelma menjadi cerminan dari Inti
yang Mutlak. Jika dia berhasil, keadaan ghayba atau “absen” dari dunia yang penuh rasa akan
tampak pada dirinya. Untuk mengukur bahwa keadaan ini semakin meningkat dalam dirinya,
ketertarikan terhadap rasa duniawi akan melemah dan hilang lalu pada dirinya mulai tampak
Maqam Kehampaan Mutlak untuk Merasakan yang Lain selain Allah.
Tingkat paling tinggi dari maqam ini disebut Maqam Pemusnahan (fana'). Syekh
Naqsyband menasihati muridnya, “Ketika Aku mengalami keadaan tanpa kesadaran,
tinggalkanlah Aku sendiri dan serahkan dirimu pada keadaan itu dan terimalah haknya atas
diri kita.”
Mengenai perjalanan ini, Syekh Alauddin berkata kepada muridnya,“Jalur terpendek
menuju sasaran kita, yaitu Allah adalah saat Allah menghilangkan sekat dari Inti Wujud Ke-
Esaan-Nya yang tampak pada semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan hal ini dengan
Maqam Penghapusan (ghayba) dan Peleburan dalam Ke-Esaan-Nya yang Mutlak (fana'),
sampai Inti Kemegahan-Nya mulai tampak dan menghilangkan kesadaran akan segala hal
selain Dia. Ini adalah akhir dari Perjalanan Mencari Allah dan awal dari Perjalanan yang lain.
Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Keadaan yang Penuh Daya Tarik muncullah Keadaan
Tanpa Kesadaran dan Pemusnahan. Inilah yang menjadi target semua ummat manusia
sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur‟an, “Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Ibadah di sini maksudnya Pengetahuan Yang Sempurna
(Ma'rifat).”
Pada tanggal 2 Rajab 802 H, Syekh Alauddin berkata, “Aku akan meninggalkan kalian
menuju kehidupan yang lain dan tak seorang pun yang dapat menghentikan Aku.” Beliau
wafat pada tanggal 20 Rajab 802 H dan dimakamkan di kota Jaganyan, salah satu bagian dari
Bukhara. Beliau meneruskan rahasianya kepada satu di antara sekian banyak khalifahnya,
yaitu Syekh Yaqub al-Charkhi