Anda di halaman 1dari 2

9. SYEKH ABU YAQUB YUSUF AL HAMADANI.

Syekh Abu Ya’qub Yusuf ibn Ayyab ibn Yusuf ibn al-Husayn al-Hamadani lahir di
Buzanjird, daerah Hamadan, sekitar tahun 404 H. Setelah menempuh pendidikan awal di
tanah kelahiran, pada usia 18 tahun beliau pindah ke Baghdad. Beliau mendalami fiqh
mazhab Syafi’i kepada Syekh Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuzabadi. Beliau juga berguru
dan bersahabat dengan Syekh Abu Ishaq as-Shirazi, seorang ulama besar di sana. Karena
kecerdasannya, Syekh Yusuf menjadi rujukan bagi banyak ulama. Namanya terkenal hingga
ke Isfahan, Bukhara, Samarqand, Khwarazm dan sebagian besar kawasan Asia Tengah.
Tetapi kemudian beliau meninggalkan popularitasnya dan lebih memilih uzlah untuk
mujahadah dan menjalani riyadhah spiritual yang ketat. Beliau bergabung bersama beberapa
sufi seperti Syekh Abdullah Ghuwayni dan Syekh Hasan Simnani. Beliau juga berguru
kepada Syekh Abu Ali al-Farmadhi. Berkat ketekunannya beliau akhirnya mencapai
kedudukan Ghauts, Sang Penolong, sebuah kedudukan yang tinggi dalam kewalian. Beliau
kemudian menetap di Merv dan sejak saat itu banyak karamah yang diperlihatkannya.
Selain mengajar ilmu fiqh dan ilmu lainnya, Syekh Yusuf Hamadani sering
mengemukakan beberapa ajaran rohani yang langsung diperolehnya dari khazanah ilmu
Tuhan. Namun dalam hal ini beliau lebih sering menggunakan kiasan untuk menjelaskan
rahasia-rahasia yang pelik, yang hakikatnya hanya bisa diketahui oleh para Wali Allah.
Menurutnya, sebagian dari Wali Allah mendengar langsung firman-Nya melalui kesaksian,
sebagian Wali Allah lainnya mendengar melalui wahdaniyya, sebagian lagi melalui
Kekuasaan-Nya, dan sebagian lagi melalui Rahmat-Nya. Melalui keterbukaan inilah Awliya
Allah mendapat pesan Tuhan, mendapat ilmu ladunni dan kabar-kabar baik dari hadirat Ilahi.
Mereka memahami makna terdalam pesan-pesan Ilahiah. Sebagian mereka tenggelam dalam
keabadian (baqa) kerahasiaan (sirr). Allah menjadikan saksi atas mukasyafah hamba-hamba-
Nya yang terpilih, Awliya Allah, dan Allah menghiasi mereka dengan amal salih dan
memberi karunia sifat-sifat-Nya kepada mereka.
Syekh Ya’qub memiliki banyak karamah, dan yang terkenal adalah karamah yang
bersumber dari asma Allah Al-Qahhar. Dalam riwayat dikisahkan bahwa suatu ketika datang
dua ulama fiqh yang mengkritik Syekh Yusuf Hamadani dengan kasar: “Diamlah kamu,
karena engkau melakukan bid’ah.” Syekh Yusuf menjawab, “Jangan bicara perkara yang tak
engkau pahami. Lebih baik kalian mati ketimbang hidup.” Begitu beliau selesai
mengucapkan kalimat ini, dua ulama zahir itu jatuh meninggal dunia.
Syekh Yusuf Hamadani juga terkenal bisa berada di beberapa tempat sekaligus, dan
beliau bisa datang ke tempat manapun yang beliau kehendaki dalam waktu singkat. Beliau
bisa membaca pikiran dan hati orang lain. Beliau bisa memprediksi nasib orang dengan tepat.
Menurut riwayat, Syekh Yusuf Hamadani memprediksikan ketinggian kedudukan Syekh
ABDUL QADIR AL-JAILANI. Beliau pula yang meramalkan bahwa kelak Syekh Abdul
Qadir al-Jailani akan mengucapkan kalimat yang amat terkenal, “Kakiku berada di atas bahu
semua Awliya Allah.”
Mengenai kekeramatan atau karomah beliau meramalkan tentang Syekh Abdul Qadir
seperti berikut : Ketika belajar di Baghdad, Syekh Abdul Qadir Jailani dan teman-temannya
sering mengunjungi orang-orang saleh. Pada suatu hari ia bersama dua orang temannya
mengunjungi seorang Wali Ghauts yang dapat muncul sewaktu-waktu, yaitu Syekh Abu
Ya’qub Al-Hamdani.
Sebelum mereka tiba ditempat tujuan, temannya yang bernama Ibnu Saqa’
berkata,”Aku akan mengajukan pertanyaan yang tidak akan diketahui jawabannya.”
Sementara satu temannya lagi yang bernama Abdullah bin Abi Asrun berkata,”Aku akan
mengajukan pertannyaan yang akan kulihat bagaimanakah jawabannya.”
Adapun Syekh Abdul Qadir hanya berkata,”Aku berlindung kepada Allah dari
pengajukan pertanyaan kepada beliau. Yang aku harapkan adalah berkat beliau.” Sewaktu
mereka tiba dirumah yang dituju, Syekh Abu Ya’qub tidak ada. Namun beberapa saat
kemudian, tahu-tahu beliau sudah ada dihadapan mereka. Syekh Abu Yaqub memandang
Ibnu Saqa’ dengan tajam seraya berkata,”Hai Ibnu Saqa’ apakah engkau akan menanyakan
sesuatu yang tidak akan kuketahui jawabannya? Sungguh celaka engkau! Sungguh kulihat
dimulutmu tersembul tanda kekafiran.”
Setelah itu beliau menyebut pertanyaan yang akan diajukan Ibnu Saqa’ dan sekaligus
menjawabnya. Padahal Ibnu Saqa’ belum sempat berkata sepatahpun. Kemudian Syekh
berkata kepada Abdullah, “Hai Abdullah, apakah engkau akan menanyakan persoalan untuk
kamu lihat jawabannya? Ketahuilah, kamu kelak akan diuji dengan banyaknya kekayaan
yang datang kepadamu, akibat sikapmu yang tidak sopan kepadaku.” Seperti tadi, beliau
menyebutkan pertanyaan yang ada dihati tamunya sekaligus menjawabnya.
Selanjutnya beliau menoleh kepada Syekh Abdul Qadir yamg waktu itu masih muda,
dan menyuruh agar duduk didekatnya. Syekh Abu Ya’qub lalu berkata, “Hai Abdul Qadir,
Allah dan RasulNya sangat senang dengan kesopananmu. aku seolah-olah melihat, kelak
dikota Baghdad, engkau akan duduk memberikan pelajaran agama dihadapan para santri yang
berdatangan dari segala penjuru. Akupun seolah-olah melihat, setiap wali yang ada pada
masamu, semuanya tunduk melihat keagunganmu. Ketahuilah sebenarnya kedua telapak
kakiku ini berada diatas tengkuk setiap wali Allah.” Setelah berkata demikian, tiba-tiba sang
Wali Quthub lenyap dari pandangan mata para tamunya, tanpa diketahui kemana perginya.
Kelak dikemudian hari apa yang dikatakan oleh Syekh Abu Ya’qub Al-Hamdani semuanya
menjadi kenyataan dimana Syekh Abdul Qadir Jailani menjadi pemimpin para Wali.
Dia meninggal di Khorasan, antara Herat dan Bakshur, pada 12 Rabi `ul-Awwal 535
H.Dekat makam-nya dibangun sebuah masjid besar dan sekolah. Beliau mewarisi Rahasia-
rahasia Rantai Emas kepada Abdul Khaliq al-Ghujdawani.