Anda di halaman 1dari 1

12.

SYAIKH KHWAJA MAHMUD AL-ANJIR AL-FAGHNAWI

Dia dilahirkan di desa Anjir Faghna, tiga mil dari Bukhara. Dia adalah Guru Hikmah
(Khwajagan) yang pertama mengenal metode zikir bersuara sesuai keperluan masanya dan
sesuai kondisi para pencari. Ketika dia ditanya kenapa melakukan zikir bersuara, dia
menjawab, “Untuk membangun yang tidur.”
Suatu hari Khwaja Mahmud menghadiri perkumpulan ulama dan Shaikh Shams al-
Halwani berkata pada Shaikh Hafiz ad-Din, untuk bertanya kepada Shaikh Mahmud Fagnawi
kenapa dia melakukan Zikir bersuara. Shaikh Mahmud Faghnawi menjawab, “Ini zikir
terbaik untuk membangunkan yang tidur dan menarik perhatian yang tidak peduli sehingga
mereka mengarahkan diri ke Allah. Mengikuti sheikh yang sedang melakukan zikir,
meluruskan dirinya di Jalan, dan melakukan renungan kepada Allah dengan murni, yang
merupakan kunci ke semua kebaikan dan kebahagiaan. Kalau niat kalian benar, kalian akan
diperbolehkan melakukan zikir bersuara.”
Shaikh Hafiz ad-Din memintanya untuk menjernihkan siapa yang diberi ijin dan
diperbolehkan melakukan zikir bersuara, dengan maksud menjelaskan kepada yang
menentang. Katanya “Zikir bersuara diperuntukkan bagi siapapun yang ingin mencapai
tingkat pembersihan lidah dari bohong dan membicarakan dibelakang orang, dan
membebaskan kelakuan pribadinya dari hal-hal terlarang serta membersihkan hatinya dari
kesombongan dan cinta ketenaran.”
Suatu hari Shaikh Ali Ramitani (q), berkata bahwa seseorang melihat Nabi Khidr dan
bertanya, “Katakan dimana aku bisa mendapatkan orang yang menjaga syariat Nabi dan Jalan
Lurus, agar aku dapat mengikutinya. “Dia berkata, “Yang kau cari ialah Shaikh Mahmud al
Anjir al-Faghnawi.”
Diceritakakan bahwa Shaikh Mahmud berjalan mengikuti langkah Nabi Muhammad
pada tingkat makrifat dan dia juga mengikuti langkah Nabi Musa pada tingkat Kalimullah,
yaitu tingkatan Yang Berbicara kepada Allah.
Shaikh Mahmud menyiarkan pengetahuannya dari masjid, yang dia dirikan di desa
Wabiqni, dekat Bukhara. Dia wafat di desa Qilit, dekat Bukhara, pada tanggal 17 Rabi’ul
Awwal, tahun 717 H, dia meneruskan rahasia Jalan Sufi Naqshbandi kepada khalifahnya, Ali
ar-Ramitani (q)