Anda di halaman 1dari 2

20.

SYEKH MUHAMMAD AZ ZAHID

Aku melayani syekhku selama 12 tahun sampai dia meninggal sejak dari tahun 883
hingga 895 H. penyebab bay’atku kepada beliau terjadi pada suatu hari ketika aku pergi
bersama temanku, Syekh Ni’matullah, dari Samarkan ke Herat untuk melanjutkan
pendidikan. Saat kami tiba di desa Shadiman, kami memutuskan tinggal disana selama
beberapa hari untuk beristirahat karena pada saat itu adalah musim panas. Suatu hari Syekh
Ubaydullah Al Ahrar datang ke kota yang sama, dan kami mengunjungi beliau pada waktu
Ashar. Beliau bertanya darimana asalku. Aku menjawab “dari samarkan” beliau berbicara
dengan kami dengan tata karma yang baik. Melalui pembicaraannya, beliau membuka semua
hal-hal pribadi dalam hatiku, satu per satu, sampai dia mengatakan alasan mengapa aku
melakukan perjalanan ke Herat.
Beliau berkata kepadaku “jika tujuanmu adalah mencari ilmu pengetahuan, kau dapat
mencarinya di sini, tidak perlu pergi ke Herat. Kemudian beliau membawaku ke taman
pribadinya dan kami berjalan bersama, sampai kami menghilang dari penglihatan orang-
orang.beliau menggamit tanganku dan aku memasuki keadaan penghapusan (fana) untuk
waktu yang lama. Aku memahami bahwa beliau menghubungkan aku kepada Syekhnya dan
dari Syekhnya ke Syekhnya dan darinya ke Syekhnya, seluruh Syekh hingga kepada Sang
Nabi Mulia, Nabi Muhammad saw, dan dari Sang Nabi kepada Allah Yang maha Agung dan
maha Tinggi.
Lalu beliau kembali ke tempat khalwatnya, membaca Al Fatihah untukku dan
memberikan aku ijin untuk pergi ke Herat. Aku meninggalkan tempat khalwat beliau dan
pergi ke Bukhara. Beliau mengirimiku seorang kurir dengan surat yang ditujukan untuk
Syekh Kallan, putra dari Mawlana Sa’d Ad Din Al Kashgari. Dalam surat tersebut dituliskan
“kau harus mengurus putraku yang membawa suratku ini dan menjaganya dari berkumpul
dengan ulama-ulama yang buruk.
Perjalanan ke Bukhara memakan waktu yang lama karena tunggangan ku lemah. Aku
harus berhenti setiap 1 atau 2 mil. Aku telah kehilangan 6 ekor keledai ketika tiba di Bukhara.
Akhirnya saat aku benar-benar tiba, mataku terkena penyakit dan aku tidak dapat melihat
selama berhari-hari. Ketika kondisiku membaik, aku bersiap meninggalkan Herat, aku jatuh
sakit dengan demam tinggi. Aku sangat sakit dan datang ke dalam hatiku jika dilanjutkan
maka mungkin aku akan meninggal. Aku memutuskan tidak melakukan perjalanan lebih jauh
lagi tapi kembali dan melayani sang syekh.”
Setelah tiba di Tashkent, aku memutuskan untuk mengunjungi Syekh Ilyas Al Ashaqi.
Aku meninggalkan buku-buku, pakaian dan keledaiku kepada pengurus. Salah seorang
pelayan Syekh Ubaydullah melihatku di jalan. Aku berkata “mari kita kunjungi Syekh” dia
bertanya “dimanakan hewanmu? Bawalah ke rumahku dan kemudian kita akan mengunjungi
beliau. Saat aku akan mengambil keledaiku, sebuah suara terdengar ditelingaku “hewanmu
sudah mati, dan semua barang sudah hilang”. sebuah kebimbangan besar melandaku. Aku
menyadari bahwa Syekh tidak menyukai rencanaku untuk mengunjungi Syekh Ilyas. Pikiran
datang ke hatiku, “perhatikan bagaimana Syekhku mengerahkan seluruh kekuatannya untuk
mengangkatku sementara aku memutuskan untuk mengunjungi orang lain.”
Aku memutuskan untuk tidak jadi mengunjungi Syekh Ilyas Al Ashaqi. Sebaliknya,
langsung ke Syekh Ubaydullah Al Ahrar. Ketika itu , seseorang laki-laki datang dan berkata
“kami sudah menemukan hewan milikmu dan seluruh barangmu diatasnya” aku menemui
kembali kepada orang yang akan aku titipkan menjaga hewanku dan dia memberitahuku “aku
mengikat hewanmu di sini dan ketika aku melihatnya, hewan itu menghilang. Aku
mencarinya kemana-mana. Sepertinya bumi telah menelannya. Kemudian aku kembali lagi,
dan disanalah hewan itu berada, tepat dimana aku mengikatnya pertama kali”. Aku
mengambil keledaiku dan pergi ke Samarkan menemui Syekh Ubaydullah Al Ahrar Qs.
Ketika aku datang , beliau keluar dan berkata “selamat datang, selamat datang” aku tinggal
bersama Syekh dan tidak pernah meninggalkan beliau sampai beliau meninggalkan dunia ini.
Suatu hari Syekhku jatuh sakit dan beliau memerintahkanku memanggil seorang dokter
dari Herat. Mawlana Qassim datang dan berkata kepadaku “wahai Muhammad, percepatlah
perjalanan pulang pergimu, karena aku tidak sanggup melihat Syekhku sakit terlalu lama”.
Aku melakukan perjalanan secepatnya dan kembali bersama doketr tapi aku menemukan
bahwa Syekh sudah sehat dan Mawlana Qassim meninggal dunia. Perjalananku memakan
waktu 35 hari. Aku bertanya kepada Syekhku, “bagaimana Mawlana Qassim meninggal
pdahal dia masih sangat muda?” beliau menjawab “ketika kau pergi, Mawlana Qosim datang
dan menghadap dan berkata “aku memberikan hidupku kepadamu”. Aku bertanya
kepadanya”wahai putraku,jangan berbuat itu karena begitu banyak orang yang mencintaimu”
dia berkata”wahai syekhku, aku tidak datang ke sini untuk berkonsultasi denganmu. Aku
sudah mengambil keputusan dan Allah telah mengabulkannya”. Apapun yang aku katakana,
aku tidak bisa mengubah pikiran Mawlana Qosim. Hari berikutnya dia menderita sakit. Sakit
yang sama dengan yang aku derita. Mawlana Qosim meninggal pada tanggal 6 Raobi’ul
Awal dan aku segera sembuh tanpa memerlukan seorang dokter.’
Syekh Muhammad Az Zahid wafat pada tanggal 12 Robi’ul Awal, 926 H/ 1520 M di
Samarkan. Beliau meneruskan rahasia kepada keponakan beliau, Syekh Darwis Muhammad
As Samarqandi Qs.