Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1. Definisi dan Pengertian Bioteknologi


Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, bioteknologi telah mengalami perkembangan
sangat pesat. Di beberapa negara maju, bioteknologi mendapatkan perhatian serius dan
dikembangkan secara intensif dengan harapan dapat memberi solusi untuk mengatasi berbagai
permasalahan yang dihadapi manusia pada saat ini maupun yang akan datang yang menyangkut;
kebutuhan pangan, obat-obatan, penelitian, yang pada gilirannya semuanya bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia.
Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘Bio’ yang berarti mahluk hidupdan ‘Teknologi’
yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan kalimat tersebut dapat
diartikan bahwa bioteknologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan mahluk
hidup (bakteri, fungi, virus dan lain-lain) maupun produk dari mahluk hidup (enzim, alcohol)
dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan
bioteknologi tidak hanya didasari oleh biologi semata, tetapi juga ada ilmu-ilmu terapan dan
murni lain, seperti biokimia, computer, biologi, molecular, mikrobiologi, genetika, kimia,
matematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan terapan
yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun lalu. Sebagai
contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun keju yang sudah dikenal
sejak abad ke-19, pemulian tanaman untuk menghasilkan varietas-varietas baru dibidang
pertanian, serta pemulian dan reproduksi hewan. Dibidang medis, penerapan bioteknologi pada
masa lalau dibuktikan antara lain dengan ditemukannya vaksin, antibiotik,dan insulin walaupun
masih dalam jumlah yang terbatas akibat proses fermentasiyang tidak sempurna. Perubahan
secara signifikan terjadi ketika ditemukanya bioreactor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini,
produksi antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang pesat. Kemajuan ini ditandai dengan
ditemukannya berbagai macam teknologi seperti rekayasa genetika, kulturjaringan, DNA

1
rekombinan, perkembangbiakan sel induk, cloning, dan lain-lain dimana sebelumnya. Kemajuan
di bidang bioteknologi tak lepas dari berbagai kontroversi yang meliputi perkembangan
teknologinya. Sebagai contoh, teknologi cloning dan rekayasa genetika terhadap tanaman pangan
mendapat kecaman dari bermacam-macam golongan. Bioteknologi secara umum berarti
meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut
dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambah gen dari organisme lain
atau merekayasa gen pada organisme tersebut.
Bioteknologi sendiri terbagi menjadi dua berdasarkan tingkat penguasaan ilmu yaitu
bioteknologi tradisional atau konvensional dan bioteknologi modern. Bioteknologi tradisional
adalah bioteknologi yang bersifat sederhana dengan menggunakkan jasad renik (mikroba) alami
yang pada mulanya penggunaanya bersifat untung-untungan belum berdasarkan ilmiah.
Bioteknologi modern adalah bioteknologi yang menggunakan organisme hasil rekayasa genetik
melalui perlakuan yang mengubah landasan penentu kemampuan hidup, dengan mengubah
tatanan genyang menentukan sifat spesifik suatu organisme, sehingga dalam proses pengubahan
dapat berlangsung secara lebih efisien dan efektif. Selain itu juga bioteknologi modern dituntut
oleh hasil yang komersial, yaitu produknya harus dapat bersaing dalam harga, dengan
menggunakan metode alternatif pembuatan produk yang sama.
Untuk mengetahui bagaimana organisme itu dapat dimanfaatkan dan apakah yang dapat
dilakukan oleh bioteknologi modern, perlu diketahui senyawa kimia yang menjadi dasar dalam
kehidupan, yaitu protein, khususnya mengenai struktur dan fungsi protein sebagai penyusun
material genetika yang dapat dikenal nama DNA. Tidak ada senyawa yang demikian penting
seperti DNA, karena di dalamnya terbawa informasi turun-temurun yangmenentukan struktur
protein. DNA adalah molekul utama kehidupan. Instruksiyang mengatur pertumbuhan dan
pembelahan sel disandikan oleh DNA, demikianpula dengan pesan yang menimbulkan
diferensiasi, sehingga telur yang telahdibuat berkembang menjadi banyak sekali sel khusus yang
diperlukan untuk keberhasilan fungsi tumbuhan dan hewan yang tingkat tinggi. Jadi,
bioteknologi merupakan teknologi yang dalam pengembangan dan penerapannya menggunakan
mahluk hidup baik itu mikroorganisme kebutuhan misalnya persilangan, mahluk hidup
senantiasa berkembang biak sehingga merupakan sumber daya alam yang dapat dipulihkan.

2
2. Dampak Positif dan Negative Bioteknologi
Adapun dampak positif dan negatif bioteknologi sebagai berikut:
1. Dampak positif bioteknologi
Beberapa dampak positif bioteknologi adalah:
 Meningkatnya sifat resistensi tanaman terhadap hama dan penyakit tanaman, misalnya
tanaman anggrek menjadi kebal hama.
 Meningkatnya produk-produk (baik kualitas maupun kuantitas) pertanian, perkebunan,
peternakan maupun perikanan dengan adanya temuan bibit unggul.
 Meningkatnya nilai tambah bahan makanan. Seperti air susu menjadi
yogurt, mentega, keju.
 Membantu proses permunian logam dari bijihnya pada pertambangan logam
(biometalurgi).
 Membantu manusia mengatasi masalah-masalah pencemaran lingkungan, seperti bakteri
pemakan plastic dan parafin, bakteri penghasil plastic biodegradable.
 Membantu masalah manusia akan kebutuhan sumber daya energy.
Misalnya dengan adanya bioethanol , biogas.
 Membantu dunia kedoteran dan medis untuk mengatasi berbagai penyakit tertentu.
Misalnya : penyakit kelainan genetis dengan terapi gen , hormone insulin, antibiotic,
vaksin.
 Mengatasi permasalahan species langka dan hamper punah dengan teknologi
transplantasi nucleus hewan/tumbuhan langka bisa dilestarikan dan sebagainya.
2. Dampak negatif bioteknologi
 Munculnya pencemaran biologis, berupa penyebaran organism transgenic yang
terkendali..
 Gangguan keseimbangan ekosistem akibat perubahan dinamika populasi
 Kerusakan tatanan sosial masyarakat, ketika cloning pada manusia tak terkendali.
 Tersingkirnya berbagai plasma nutfa alami/lokal. Flora dan fauna local “terdersak” oleh
kehadiran flora dan fauna transgenic.
 Menimbulkan pertentangan berkepanjangan antara tokoh ilmuwan bioteknologi dengan
tokoh-tokoh kemanusian dan agama.

3
 Timbulnya reaksi alergi pada manusia yang mengkonsumsi
3. Hutan
Hutan, seiring dengan perkembangan aspek-aspek kehidupan manusia, telah mengalami
penyusutan luas. Eksploitasi hutan dengan tujuan ekonomi telah menyebabkan hilangnya
sebagian besar hutan.Untuk mencegah laju penyusutan luas hutan atau deforestrasi yang semakin
besar diperlukan adanya usaha global untuk memasukan tumbuhan-tumbuhan hutan penghasil
kayu ke dalam era modern pemuliaan tanaman (plant breeding).
Penggunaan bioteknologi dalam bidang kehutanan perlu ditingkatkan sampai pada aspek
molekular. Hal ini sangat penting diperhatikan mengingat tumbuhan-tumbuhan hutan akan
menjadi target utama dalam rekayasa genetik dan pemuliaan molekuler (molecular breeding).

4. Peran bioteknologi dalam bidang kehutanan


Laju penghilangan hutan akibat pembalakan liar (illegal loging) telah mencapai taraf amat
mengkhawatirkan. Laporan Bank Dunia pada 2002 menyebutkan penyusutan hutan Indonesia
mendekati angka 3,6 juta hektar per tahun. Ini berarti, setiap 12 detik terjadi penghilangan hutan
yang setara dengan luas satu lapangan bola. Laporan dari Departemen Kehutanan menyebutkan,
pembalakan liar menyebabkan sekitar 59,2 juta hektar hutan gundul. Dari jumlah itu, 40 juta
hektar di antaranya merupakan hutan lahan kosong tanpa pepohonan, atau 13 persen dari luas
hutan saat ini. Maka hutan Indonesia sangat perlu untuk direhabilitasi segera demi kelangsungan
kehidupan kedepannya.

1.2 PERMASALAHAN
Bagaimana aplikasi bioteknologi dalam bidang kehutanan?

1.3 TUJUAN
Mengetahui aplikasi bioteknologi dalam bidang kehutanan.

4
BAB II
ISI

II.1 Aplikasi Bioteknologi di Bidang Kehutanan


1) Kultur Jaringan
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti
sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian
tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali. Teknik
kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari
teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam
kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini
sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti "di dalam kaca"
karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu.
Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa setiap
bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-
jaringan hidup. Oleh karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan
memiliki sifat yang sama persis dengan induknya.
Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan
jaringan yang dibiakkan. Hal yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril.
Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung
kehidupan jaringan. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk
hidup dan memperbanyak dirinya. Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan
media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana nutrisi
dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat
bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan. Komposisi media yang
digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi media dapat
mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in
vitro.

5
Gambar 1. Kultur Jaringan

Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh pada jaringan parenkim dapat
mengembalikan jaringan ini menjadi meristematik kembali dan berkembang menjadi jaringan
adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. Proses ini
dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Dediferensiasi ditandai dengan peningkatan aktivitas
pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan.
Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu
melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan
embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus. Ada
beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan.
Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah
(meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini
biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium
batang. Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman
muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut
6
adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi
sebagai tempat cadangan makanan.
Pendekatan bioteknologi melalui teknik kultur invitro (invitro culture) yang paling umum
dikenal saat ini adalah kultur jaringan (tissue culture). Metode ini menggunakan bagian organ
tanaman tertentu, seperti: daun, kulit batang, akar, embrio, endosperm, anther dan atau kalus
sebagai explant (bahan tanaman). Explant yang bisa diproses untuk berkembang biak adalah
bergantung pada jenis tanaman, bagian organ tanaman, komposisi media tumbuh dan konsentrasi
zat-zat penghambat pertumbuhan tunas baru seperti fenol, terpen dan lain-lain.
Beberapa penelitian terakhir menunjukan bahwa hanya dengan 100 gram pucuk daun
tanaman seperti Meranti (Shorea sp) dapat menghasilkan 50 – 100 anakan (Suoheimo, et al
2001), Jati (Tectona grandis) menghasilkan 100 – 250 anakan (Nadgauda, 2001) dan Akasia
(Acasia mangium) menghasilkan 70 anakan (Nadgauda, 2001). Seluruh proses kerja dari
persiapan material kultur jaringan sampai aklimatisasi tanaman hasil kultur jaringan, secara
umum hanya membutuhkan waktu 2 – 3 bulan (bergantung jenis tanaman). Hal ini berarti
pendekatan kultur jaringan sangat cocok untuk membantu mempercepat proses penyediaan bibit
tanaman dalam jumlah dan waktu yang singkat. Selain itu keuntungan lain dari metode ini adalah
sifat dan karakter genetik pohon induk dapat diwariskan 100 % kepada keturunan atau anak baru
yang dihasilkan.
Dalam bidang kehutanan kultur jaringan dapat juga berperan meningkatkan produksi bibit
unggul tanaman hutan tanpa tergantung oleh musim. Penerapan kultur jaringan dapat menjawab
kebutuhan konservasi jenis, khususnya tumbuhan yang terancam punah karena faktor jumlah
individu yang sedikit di alam dan atau perbanyakan jenis secara generatif yang sulit dilakukan.
Berikut ini keuntungan menggunakan teknik kultur jaringan dalam budidaya suatu
tumbuhan/tanaman:
 Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari
satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000
planlet/bibit)
 Bibit yang dihasilkan seragam
 Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
 Jumlah yang dihasilkan banyak, tidak terbatas
 Perbanyakan tumbuhan/kultur jaringan dapat dilakukan secara cepat dan hemat waktu

7
 Pengadaan bibit tidak tergantung musim
 Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak
 Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah

Adapun kekurangan menggunakan teknik kultur jaringan sebagai berikut:


 Beberapa pandangan menilai cara kultur jaringan mahal dan sulit
 Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bagunan (laboratorium khusus),
peralatan dan perlengkapan
 Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan
agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan
 Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh

2) Rekayasa genetic
Rekayasa genetika (Inggris: genetic engineering) dalam arti paling luas adalah penerapan
genetika untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau
tanaman melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Demikian pula penerapan mutasi
buatan tanpa target dapat pula dimasukkan. Walaupun demikian, masyarakat ilmiah sekarang
lebih bersepakat dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik biologi
molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi
genetik yang diarahkan pada kemanfaatan tertentu. Obyek rekayasa genetika mencakup hamper
semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat
tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan.

8
Gambar 2. Rekayasa Genetika

Ilmu terapan ini dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu
rekayasa (keteknikan). Dapat dianggap, awal mulanya adalah dari usaha-usaha yang dilakukan
untuk menyingkap material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketika
orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan terwariskan itu
(disebut gen) maka itulah awal mula ilmu ini. Tentu saja, penemuan struktur DNA menjadi titik
yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian dapat menentukan bagaimana sifat dapat
diubah dengan mengubah komposisi DNA.
Penggunaan metode transfer DNA antar spesies tanaman. Secara ilmu pengetahuan kita
mengetahui bahwa dalam sel tanaman terdapat inti sel, dan didalam inti sel terdapat kromosom.
Selanjutnya dalam kromosom terdapat gen, dan gen berisi salah satu bahan kimia terpenting bagi
kehidupan manusia yaitu DNA (Deoksiribose Nuclead Acid). Dibawah mikroskop elektron DNA
nampak berbentuk pita dan menggumpal seperti coil, tetapi jika gumpalan tersebut dibuka maka
panjang pita DNA organisme hidup dapat mencapai kira-kira 1 m dengan lebar dan tebal pita
kira-kira 0.0001 mikron. Didalam pita ini tersusun secara rapi semua informasi tentang sifat
keturunan suatu organisme. Karakter terpenting dari pada DNA adalah dapat membelah dan

9
memperbanyak diri, dan bahkan dapat mampu berdifrensiasi untuk menghasilkan suatu
pertumbuhan individu yang baru.
Kemajuan penelitian dibidang biologi molekuler telah memberikan hasil bahwa DNA
ternyata dapat dipisahkan dari pada inti sel suatu organisme dan kemudian dapat dipotong dan
disambung dengan DNA organisme lain. Penemuan enzim-enzim seperti selulase, endonuklease
restriksi dan ligase telah mendorong kemajuan pemanfaatan DNA sebagai bahan terpenting
dalam menghasilkan organisme dengan sifat yang diinginkan.
Contoh konkrit aplikasi bioteknologi terkait bagaimana mengatasi masalah kesuburan
tanah, yaitu telah dikembangkan teknik baru melalui pemanfaatan mikro-organisme tanah. Jenis
mikro-organisme tanah yang paling dikenal adalah jamur mikorhiza dan bakteri Rhizobium.
Kedua jenis organisme ini sedang dipelajari secara detail melalui pendekatan bioteknologi
modern. Mikorhiza adalah jenis jamur yang banyak dijumpai pada tanah-tanah dibawah tegakan
hutan Pinus dan Dipterocarpus (kelompok jenis meranti). Selain jamur ada bakteri Rizhobium
yang paling banyak ditemukan pada tanah-tanah dibawah tegakan leguminose (kelompok jenis
tumbuhan dengan tipe buah polong-polongan) seperti Lenggua, Salawaku dan Kayu besi. Jenis
bakteri ini mampu mengambil Nitrogen dari udara dan menyediakannya bagi akar sehingga
tanaman Leguminose jarang kekurangan unsur hara Nitrogen.
Melalui bioteknologi telah ditemukan sandi genetik dari gen yang bertanggung jawab
untuk membangun kerja sama antara bakteri Rhizobium dan tanaman leguminose, yang disebut
gen NiF (nitrogen fixation gene). Gen NiF (nitrogen fixation gene) merupakan yang
dienkodekan enzim yang terlibat dalam fiksasi nitrogen diudara, Gen nif- ternyata dapat pula
dipindahkan dari bakteri Rhizobium ke bakteri lain yang hidup pada tanah-tanah dibawah
tumbuhan bukan leguminose (tanaman jenis kacang-kacangan). Percobaan transfer DNA dari
gen nif-pada leguminose ke gen tanaman tembakau telah dilakukan di Belanda dan memberikan
hasil yang memuaskan, sehingga tembakau mampu melakukan fiksasi Nitrogen dari udara
seperti leguminose.

10
BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
Aplikasi bioteknologi di bidang kehutanan meliputi:
1. Kultur jaringan yang merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman
seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga
bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap
kembali. Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara,
yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas
adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap
pembentukan kalus.
2. Rekayasa genetika (Inggris: genetic engineering) dalam arti paling luas adalah penerapan
genetika untuk kepentingan manusia. Kemajuan penelitian dibidang biologi molekuler
telah memberikan hasil bahwa DNA ternyata dapat dipisahkan dari pada inti sel suatu
organisme dan kemudian dapat dipotong dan disambung dengan DNA organisme lain.
Penemuan enzim-enzim seperti selulase, endonuklease restriksi dan ligase telah
mendorong kemajuan pemanfaatan DNA sebagai bahan terpenting dalam menghasilkan
organisme dengan sifat yang diinginkan.

11