Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

APLIKASI BIOTEKNOLOGI
BIDANG KESEHATAN

KELOMPOK 1 :

1. Wa Salma Kaimudin (2014-78-003)


2. Maisitha Mutmainah Madany (2014-78-022)
3. Imanuella Elizabeth Yanis (2016-78-003)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat
tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

    Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.

    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                      

Ambon, 3 April 2018

                                                                                             Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH

Biotekhnologi adalah terapan biologi yang melibatkan disilin ilmu mikrobilogi, biokimia, genetika,
dan biologi monokuler. Definisi bioteknologi secara klasik atau konvensional adalah teknologi yang
memanfaatkan agen hayati atau bagian-bagiannya untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala industri
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan jika ditinjau secara modern, bioteknolofi adalah pemanfaatan
agen hayati atau bagian-bagian yang sudah direkayasa secara in vitro untuk mrenghasilkan barang dan
jasa pada skala industri.
Bioteknologi dikembangkan untuk meningkatkan nilai bahan mentah dengan memanfaatkan kemampuan
mikroorganisme atau bagian-bagiannya misalnya bakteri dan kapang. Selain itu bioteknologi juga
memanfaatkan sel tumbuhan atau sel hewan yang dibiakkan sebagai bahan dasar sebagai proses industri.
Penerapan bioteknologi pada umumnya mencakup produksi sel atau biomassa dan perubahan atau ransformasi
kimia yang diinginkan.
Dewasa ini, penerapan bioteknologi sangat penting diberbagai bidang, misalnya di bidang
kedokteran, pengolahan bahan pangan, farmasi, pengolahan limbah dan pertambangan.

RUMUSAN MASALAH

Bagaimana pemanfaatan Biotekhnologi dalam bidang Kesehatan atau medis ?

TUJUAN MAKALAH
Memudahkan pemahaman tentang bioteknologi bidang medis atau kesehatan

MANFAAT MAKALAH
Menambah pengetahuan tentang implementasi bioteknologi dalam bidang kesehatan
BAB II

PEMBAHASAN

Bioteknologi juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya dalam pembuatan antibodi
monoklonal, pembuatan vaksin, terapi gen dan pembuatan antibiotik. Proses penambahan DNA asing pada
bakteri merupaka prospek untuk memproduksi hormon atau obat-obatan di dunia kedokteran. Contohnya pada
produksi hormon insulin, hormon pertumbuhan dan zat antivirus yang disebut interferon. Orang yang menderita
diabetes melitus membutuhkan suplai insulin dari luar tubuh. Dengan menggunakan teknik DNA rekombinan, insulin
dapat dipanen dari bakteri. Beberapa penyakit menurun atau kelainan genetik dapat disembuhkan dengan cara
menyisipkan gen yang kurang pada penderita, cara ini dikenal dengan istilah terapi gen.

Untuk lebih jelasnya, dapat kami uraikan sebagai berikut:

A. Antibody Monoklonal

Antibodi monoklonal adalah antibodi monospesifik yang dapat


mengikat satu epitop saja. Antibodi monoklonal ini dapat dihasilkan
dengan teknik hibridoma. Sel hibridoma merupakan fusi sel dan sel.

Pembuatan sel hibridoma terdiri dari tiga tahap utama yaitu


imunisasi, fusi, dan kloning. Imunisasi dapat dilakukan dengan imunisasi
konvensional, imunisasi sekali suntik intralimpa, maupun imunisasi in
vitro. Fusi sel ini menghasilkan sel hibrid yang mampu menghasilkan
antibodi seperti pada sel limpa dan dapat terus menerus dibiakan seperti sel
myeloma. Frekuensi terjadinya fusi sel ini relatif rendah sehingga sel induk
yang tidak mengalami fusi dihilangkan agar sel hasil fusi dapat tumbuh.

Antibody Monoclonal drug adalah sebuah obat inovasi baru dalam usaha manusia melawan kanker.
Namun cara penggunaan obat ini agar memberikan hasil yang terbaik sampai saat ini belumlah diketahui
secara pasti.

Cara kerja antibody monoclonal dalam melawan sel kanker sebagai berikut:

1. Membuat Sel Kanker Lebih dikenali Oleh Sistem Immun.


2. Menghambat Faktor-Faktor Pertumbuhan Sel Kanker.
3. Menghantarkan Radiasi ke Sel Kanker.
Efek samping Antibody Monoklonal

Seperti semua obat, antibodi monoklonal dapat menyebabkan efek samping,


antara lain sebagai berikut:

 Efek samping umum misalnya demam, menggigil dan gejala mirip flu lainnya, seperti nyeri otot, nyeri
kepala dan rasa letih.
 Beberapa pasien mengalami mual (mual) atau muntah.
 Antibody monoclonal Rituximab dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejalanya dapat berupa:

a. Gatal atau mendadak muncul warna kemerahan


b. Batuk, mengi atau sesak napas
c. Lidah bengkak atau rasa bengkak di tenggorokan
d. Edema, atau pembengkakan karena kelebihan cairan dalam jaringan tubuh

 Antibody monoclonal sebagai terapi kanker juga mampu menimbulkan efek samping, mulai efek samping
yang ringan sampai efek samping yang menjadikan pasien dalam kondisi gawat darurat.

Efek Samping Umum: Efek Samping yang jarang terjadi:


 Reaksi alergi seperti gatal dan bengkak.  Perdarahan hebat
 Gejala seperti flu, padahal bukan flu  Gangguan jantung
 Nausea  Reaksi anafilaksis (hipersensitif)
 Diare  Penurunan jumlah hitung darah
 Pengeringan Kulit

B. Antibiotika

Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau
menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.
Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama jamur, yang dapat menghambat atau
dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.

Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi
dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja
seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah
bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan
menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.
Sejarah singkat penemuan antibiotika modern

Penemuan antibiotika terjadi secara ‘tidak sengaja’ ketika Alexander Fleming, pada tahun 1928,
lupa membersihkan sediaan bakteri pada cawan petri dan meninggalkannya di rak cuci sepanjang akhir pekan.
Pada hari Senin, ketika cawan petri tersebut akan dibersihkan, ia melihat sebagian kapang telah tumbuh di
media dan bagian di sekitar kapang ‘bersih’ dari bakteri yang sebelumnya memenuhi media. Karena tertarik
dengan kenyataan ini, ia melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kapang tersebut, yang ternyata
adalahPenicillium chrysogenum syn.P. notatum (kapang berwarna biru muda ini mudah ditemukan pada
roti yang dibiarkan lembab beberapa hari). Ia lalu mendapat hasil positif dalam pengujian pengaruh ekstrak
kapang itu terhadap bakteri koleksinya. Dari ekstrak itu ia diakui menemukan antibiotik alami pertama:
penicillin G.

Penemuan efek antibakteri dariPenicillium sebelumnya sudah diketahui oleh peneliti-peneliti dari
Institut Pasteur di Perancis pada akhir abad ke-19 namun hasilnya tidak diakui oleh lembaganya sendiri dan
tidak dipublikasi.

Macam-macam antibiotika

Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan susunan kimiawinya. Ada
enam kelompok antibiotika dilihat dari target atau sasaran kerjanya :

1. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan Cephalosporin,
misalnya ampicillin, penicillin G.
2. Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya
rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid.
3. Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide,
Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya gentamycin, chloramphenicol, kanamycin, streptomycin,
tetracycline, oxytetracycline.
4. Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin.
5. Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya oligomycin, tunicamycin; dan.
6. Antimetabolit, misalnya azaserine.
Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua.

1. Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif


terhadap bakteri.
2. Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi
bakteri.

C. Terapi Gen

Terapi gen adalah suatu teknik terapi yang digunakan untuk memperbaiki gen-gen mutan
(abnormal/cacat) yang bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu penyakit. Pada awalnya, terapi gen
diciptakan untuk mengobatipenyakit keturunan (genetik) yang terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti
penyakit fibrosis sistik. Penggunaan terapi gen pada penyakit tersebut dilakukan dengan memasukkan gen
normal yang spesifik ke dalam sel yang memiliki gen mutan. Terapi gen kemudian berkembang untuk
mengobati penyakit yang terjadi karena mutasi di banyak gen, seperti kanker. Selain memasukkan gen normal ke
dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat digunakan adalah melakukan rekombinasi homolog
untuk melenyapkan gen abnormal dengan gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik
peredaman gen, dan melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat berfungsi normal kembali.

Cara Kerja Terapi Gen

1. Menambahkan gen sehat pada sel yang memiliki gen cacat atau tidak lengkap.
2. Menghentikan aktivitas “gen kanker” (oncogenes).
3. Menambahkan gen tertentu pada sel kanker sehingga lebih peka terhadap kemoterapi maupun radiasi,
atau menghalangi kerja gen yang dapat membuat sel kanker kebal terhadap obat-obat kemoterapi.
4. Menambahkan gen tertentu sehingga sel-sel tumor/kanker lebih mudah dikenali dan dihancurkan oleh
sistem kekebalan tubuh.
5. Menghentikan gen yang berperan dalam pembentukan jaringan pembuluh darah baru (angiogenesis) atau
menambahkan gen yang bisa mencegah angiogenesis.
6. Memberikan gen yang mengaktifkan protein toksik tertentu pada sel kanker,
sehingga sel tersebut melakukan aksi “bunuh diri” (apoptosis).
D. Insulin
Insulin (bahasa Latin insula,
"pulau", karena diproduksi di Pulau-pulau
Langerhans di pankreas) adalah sebuah
hormon polipeptida yang mengatur
metabolisme karbohidrat. Selain merupakan
"efektor" utama dalam homeostasis
karbohidrat, hormon ini juga ambil bagian
dalam
metabolisme lemak (trigliserida) dan protein – hormon ini memiliki properti anabolik. Hormon tersebut juga
memengaruhi jaringan tubuh lainnya.

Insulin menyebabkan sel (biologi) pada otot dan adiposit menyerap glukosa dari sirkulasi darah
melalui transporter glukosa GLUT1 dan GLUT4 dan menyimpannya sebagai glikogen di dalam hati dan
otot sebagai sumber energi.

Insulin merupakanhasil recombinasi DNA yang digunakan secara genetis dengan memodifikasi
Escchereia Coli. Organisme ini mensintese setiap rantai insulin menjadi seperti asam amino yang sama seperti
insulinmanusia. Ikatan-ikatan kimia ini yang akhirnya menghasilkan human insulin.

Insulin merupakan sejenis hormon jenis polipeptida yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Sel yang
menghasilkan hormon insulin dalam kelenjar pankreas dikenali sebagai sel beta, iaitu sejenis sel yang terdapat
dalam kelompokan sel yang digelar pepulau (islet of) Langerhans dalam pankreas.

Fungsi utama insulin ialah pengawalan keseimbangan tahap glukosa dalam darah dan bertindak
meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel badan. Kegagalan badan untuk menghasilkan insulin, atau jumlah
insulin yang tidak mencukupi akan menyebabkan glukos tidak dapat masuk ke dalam dan digunakan oleh
sel-sel badan .

E. Interferon

Interferon merupakan sel-sel tubuh yang mampu menghasilkan senyawa kimia. Senyawa kimia
tersebut dapat membunuh virus. Interferon berguna untuk melawan infeksi dan meningkatkan sistem kekebalan
tubuh. Produksi interferon dilakukan melalui rekayasa genetika.
F. Vaksin

Pembuatan vaksin dilakukan melalui rekayasa genetika.


Vaksin dibuat dengan mengisolasi gen yang mengkode antigen
dari mikrobia yang bersangkutan. Gen tersebut disisipkan pada plasmid
yang sama tetapi telah dilemahkan. Mikrobia yang telah disisipi gen
tersebut akan membentuk antigen murni. Jika antigen ini disuntikkan
pada tubuh manusia, sistem kekebalan tubuh akan membentuk
antibodi yang berfungsi melawan antigen yang masuk ke dalam
tubuh. Juga vaksin yang dibuat dengan menerapkan bioteknologi
vaksin jenis ini tidak melalui rekayasa. Vaksin ini berasal dari
mikroorganisme yang telah dilemahkan.
BAB III

PENUTUP

Dari pembahasan diatas, dapat kami simpulkan bahwa implementasi


bioteknologi bidang kesehatan antara lain sebagai berikut:

1. Antibody Monoklonal
2. Antibiotika
3. Terapi Gen
4. Insulin
5. Interferon
6. Vaksin
DAFTAR PUSTAKA

http://blogku--inspirasiku.blogspot.com.

Amien,Moh dan Sukarno. BIOLOGI 3. Perum Balai Pustaka : 1995