Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN KERJA PRAKTEK (KP)

TINJAUAN PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN TOL DENGAN


MENGGUNAKAN BOX CULVERT DAN WING WALL PADA RUAS
JALAN KAYU AGUNG-JAKABARING-PALEMBANG KAPB SEKSI 1A
(STA 9+000 s/d STA 13+400)

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Strata 1 (S-1)


Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Prof. Dr. Hazairin, S.H
Bengkulu

Dosen Pembimbing :
Yudhia Pratidina P., S.T., M.ENG.
Disusun Oleh :
Nama : Catur Heang Barokah
NPM : 16100033

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI STRATA SATU (S-1) TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS PROF. DR. HAZAIRIN, S.H. BENGKULU
TAHUN 2019
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTEK LAPANGAN

Bengkulu, Juli 2019


Diperiksa dan disetujui oleh : Disusun oleh:

Yudhia Pratidina P., S.T., M.T. Catur Heang Barokah


Dosen Pembimbing Kerja Praktek NPM : 16100033

Diketahui oleh :

H. Sazuatmo, S.T., M.T.


Ketua Prodi Teknik Sipil

ii
LEMBAR PENGESAHAN
KERJA PRAKTEK LAPANGAN

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI STRATA SATU (S-1) TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS PROF. DR. HAZAIRIN, S.H. BENGKULU
TAHUN 2019

Palembang, Mei 2019


Pembimbing Proyek Ka. Prodi Teknik Sipil Unihaz

Taufiq Hadi Setiawan H. Sazuatmo, S.T., M.T.

Diketahui oleh :
Dekan Fakultas Teknik

Ir. H. Narlis Natsir, M.T.

iii
PERNYATAAN KEASLIAN ISI
LAPORAN KERJA PRAKTEK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Catur Heang Barokah
NPM : 16100033
Program studi : Teknik Sipil S-1
Judul KP : TINJAUAN PELAKSANAAN
PEKERJAAN JALAN TOL DENGAN
MENGGUNAKAN BOX CULVERT DAN
WING WALL BOX CULVERT PADA
RUAS JALAN KAYU AGUNG
JAKABARING-PALEMBANG KAPB
SEKSI 1A (STA 9+000 s/d STA 13+400)

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Laporan Kerja Praktek yang


telah saya buat ini merupakan hasil karya sendiri, dan bukan merupakan duplikasi,
serta tidak mengutip karya orang lain, kecuali yang telah disebut sumbernya.

Bengkulu, Juli 2019


Penyusun

Catur Heang Barokah


16100033

iv
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr,Wb.
Puji serta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-nya sehinga penulis dapat menyelesaikan laporan
Kerja Praktek (KP) pada “Proyek Pelaksanaan Pekerjaan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung (KAPB)” selama kurang lebih 90 hari.
Selanjutnya dalam kesempatan ini penulis menyampaikan hasil kerja
praktek dalam bentuk laporan. Untuk melengkapi salah satu syarat dalam
menempuh ujian sarjana (Strata 1) pada Jurusan Teknik Sipil Universitas Prof. Dr.
Hazairin, SH Bengkulu.
Terlaksananya Kerja Praktek dan penyusunan laporan ini tidak terlepas
dari bantuan, baik moril maupun materil serta bimbingan dan kerjasama dari
berbagai pihak yang telah membantu penulis. Selama kerja praktek ini, penulis
mendapat lebih banyak ilmu yang bisa menambah wawasan dalam dunia Teknik
Sipil yang tidak penulis dapatkan dibangku kuliah. Dengan adanya kerja praktek
ini dapat menjadi bekal ketika penulis terjun dalam dunia kerja sesuai dengan
bidang yang digeluti.
Dalam penyusunan laporan dan pelaksanaan Kerja Praktek ini penyusun
dibantu dan didukung oleh berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kesehatan dan
kesempatan sehingga saya bisa melaksanakan dan menyelesaikan laporan kerja
praktek ini.
2. Orang tua saya yang telah mengizinkan untuk pergi ke Kota Palembang
Provinsi Sumatera Selatan untuk melaksanakan Kerja Praktek ini.
3. Bapak Ir. H. Narlis Nasir, M.T., selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan
Teknik Sipil Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH.
4. Bapak H. Sazuatmo, S.T., M.T., selaku Ketua Prodi Teknik Sipil Universitas
Prof. Dr. Hazairin,SH.

v
vi

5. Bapak Yudhia Pratidina P., S.T.,M.Eng., selaku Dosen Pembimbing Kerja


Praktek yang dalam kesibukannya telah bersedia menyempatkan waktu untuk
memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan laporan kerja praktek
ini.
6. Pimpinan beserta seluruh Karyawan PT. Waskita Sriwijaya Tol Divisi VI
KAPB Seksi 1A.
7. Selanjutnya penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah ikut serta memberikan motivasi, inspirasi, dan bantuan, terutama rekan-
rekan mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2016 Universitas Prof. Dr.
Hazairin,SH. Semoga bantuan dan kerjasamanya mendapat balasan yang
setimpal dari Allah SWT.
Akhir kata penulis menyadari bahwa Laporan Kerja Praktek ini masih
terdapat banyak kekurangan, maka dengan senang hati penulis menerima kritik
dan saran yang bersifat membangun, demi kesempurnaan laporan ini. Harapan
penulis semoga laporan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan semua pihak
yang membaca laporan ini pada umumnya.

Bengkulu, Juli 2019


Penyusun

Catur Heang Barokah


16100033
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN KP ............................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN KP ................................................................. iii
PERNYATAAN KEASLIAN ISI LAPORAN KP ...................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... v
DAFTAR ISI ................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix
BAB 1 : PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2. Maksud dan Tujuan Kerja Praktek ............................................. 2
1.3. Manfaat Kerja Praktek ................................................................ 2
1.4. Batasan Masalah ......................................................................... 3
1.5. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ................................................. 3
1.6. Sistematika Penulisan ................................................................. 3
BAB 2 : GAMBARAN UMUM PROYEK ................................................... 4
2.1. Latar Belakang ............................................................................ 4
2.2. Uraian Proyek ............................................................................. 5
2.3. Data Proyek ................................................................................. 6
2.4. Lokasi Proyek ............................................................................. 8
2.5. Struktur Organisasi Proyek ......................................................... 9
2.6. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Proyek........................................ 13
2.7. Persyaratan Umum, Administrasi dan Teknis Proyek ................ 16
BAB 3 : TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 17
3.1. Pengertian Drainase .................................................................... 17
3.2. Pengertian Box Culvert ............................................................... 19
BAB 4 : HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK ............................ 47
4.1. Tinjauan Umum .......................................................................... 47
4.2. Tinjauan Khusus ......................................................................... 61
4.3. Kendala dan Permasalahan ......................................................... 70
4.4. Alternatif dan Solusi ................................................................... 71
BAB 5 : SIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 73
5.1. Simpulan ..................................................................................... 73
5.2. Saran ........................................................................................... 74
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 75
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. 76

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Peta Lokasi Proyek Jalan Tol KAPB ............................................. 8


Gambar 2.2. Bagan Pola Hubungan Kerja Proyek Jalan Tol KAPB .................. 9
Gambar 2.3. Struktur Organisasi Proyek Pembangunan Jalan Tol KAPB ......... 10
Gambar 3.1. Box Culvert yang Telah Dipasang.................................................. 20
Gambar 3.2. Wing Wall yang Telah Dipasang .................................................... 23
Gambar 4.1. Rencana Pekerjaan Tanah .............................................................. 25
Gambar 4.2. Pekerjaan Timbunan Tanah dan Pemadatan Tanah ....................... 26
Gambar 4.3. Agregat Kelas B yang Telah Dihamparkan.................................... 27
Gambar 4.4. Agregat Kelas A yang Telah Dipadatkan....................................... 28
Gambar 4.5. Ilustrasi Tahapan Pekerjaan Aspal ................................................. 29
Gambar 4.6. Pelaksanaan Prime Coat................................................................. 30
Gambar 4.7. Pelaksanaan Pekerjaan Lapisan AC-Base ...................................... 31
Gambar 4.8. Pelaksanaan Pekerjaan AC-BC ...................................................... 32
Gambar 4.9. Pelaksanaan Hamparan Tack Cout ................................................. 33
Gambar 4.10. Pelaksanaan Pekerjaan Lapisan AC-WC ..................................... 34
Gambar 4.11. Mini Pile yang Telah Dipancang .................................................. 35
Gambar 4.12. Pengangkatan Mini Pile ............................................................... 36
Gambar 4.13. Proses Pemancangan Mini Pile .................................................... 37
Gambar 4.14. Detail Pembesian Box Culvert 2,5m x 2m ................................... 39
Gambar 4.15. Ilustrasi Bekisting untuk Box Culvert Precast ............................. 40
Gambar 4.16. Pengecoran Box Culvert Precast .................................................. 40
Gambar 4.17. Pengangkatan Box Culvert Precast .............................................. 41
Gambar 4.18. Pemasangan Box Culvert Precast ................................................ 42
Gambar 4.19. Pekerjaan Pembesian Wing Wall .................................................. 45
Gambar 4.20. Pengecoran Wing Wall ................................................................. 46
Gambar 4.21. Pelaksanaan Slump Test ............................................................... 46

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Dokumentasi Pelaksanaan Pekerjaan Proyek Jalan Tol KAPB Seksi 1A .......... 54


Shop Drawing atau Gambar Kerja ...................................................................... 59
Surat Izin Kerja Praktek ...................................................................................... 69
Surat Pengambilan Data Kerja Praktek ............................................................... 70
Surat Keputusan (SK) Kerja Praktek .................................................................. 71
Sertifikat Kerja Praktek ....................................................................................... 75
Absensi Kerja Praktek ......................................................................................... 76

ix
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kerja Praktek merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa
Universitas Prof.Dr.Hazairin,SH dalam menyelesaikan pendidikan Strata 1 (satu).
Bobot mata kuliah kerja praktek adalah 2 (dua) sks. Dengan syarat mahasiswa
yang bersangkutan telah lulus mata kuliah minimal 100 sks, telah lulus mata
kuliah yang berhubungan dengan judul kerja praktek yang diambil dan telah
mengikuti coaching Kerja Praktek. Kerja praktek ini dilaksanakan pada
perusahaan yang memiliki manajemen baik, serta dapat memberikan informasi-
informasi yang dibutuhkan.
Kerja Praktek ini dilakukan pada proyek Pembangunan Jalan Tol Kayu
Agung-Palembang-Betung (KAPB) Seksi 1A, yang berlokasi di Kayu Agung,
Palembang - Indonesia. Pembangunan jalan tol ini dipercayakan oleh PT Waskita
Sriwijaya Tol, selaku owner kepada PT Waskita Karya, yang bertindak sebagai
kontraktor pelaksana. Pembangunan Jalan Tol KAPB menghabiskan dana proyek
sebesar Rp. 14,435,000,000,000,- (Empat Belas Triliun Empat Ratus Tiga
Puluh Lima Milliar Ribu Rupiah), dengan jangka waktu pelaksanaan adalah Juli
2016 s/d Agustus 2019.
Proyek pembangunan ini dilatar belakangi karena masalah umum yang
terjadi, yaitu peningkatan pertumbuhan volume kendaraan yang sangat tinggi. Hal
ini dapat dilihat dari keresahan masyarakat terhadap banyaknya titik kemacetan
yang terjadi di seluruh daerah terutama di wilayah Sumatera Selatan.
Dengan maksud yang tertera diatas, maka penulis dengan referensi buku yang
ada dan dibantu dari pembimbing dari PT. WASKITA SRIWIJAYA TOL ingin
membahas perkerasan jalan lentur (flexible pavement) dan cermaton atau mini pile
sebagai tinjauan umum dan membahas pekerjaan box culvert dan wing wall box
culvert sebagai tinjauan khususnya pada Pelaksanaan Pekerjaan Jalan Bebas
Hambatan Ruas Jalan Kayu Agung-Jakabaring-Palembang dengan harapan dapat
di gunakan dan bermanfaat bagi penulis dan orang yang membaca laporan ini.

1
2

1.2. Maksud dan Tujuan Kerja Praktek


Adapun maksud dan tujuan kerja praktek di proyek pembangunan jalan bebas
hambatan Kayu Agung-Palembang-Betung adalah :
1. Memenuhi salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan Pendidikan
Tinggi Program Studi Strata 1 (S-1) Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Prof. Dr. Hazairin, S.H Bengkulu
2. Memperkenalkan kepada mahasiswa Prodi Teknik Sipil khususnya, tentang
seluk beluk dunia kerja yang nantinya akan dihadapi setelah menyelesaikan
pendidikan formal di Perguruan Tinggi.
3. Sebagai sarana aplikasi dan perbandingan antara teori yang diterima dibangku
perkuliahan dengan praktek yang dilakukan di lapangan.
4. Memberikan pengalaman untuk meningkatkan wawasan kepada mahasiswa
tentang teknis pelaksanaan serta manajemen proyek yang diterapkan dalam
suatu proyek dan mempelajari cara mengambil keputusan yang baik dan
benar dalam menghadapi masalah yang timbul di lapangan.
5. Menerapkan pola berfikir dilapangan untuk dapat membuat gagasan serta ide
secara konstruktif dalam merencanakan sebuah pekerjaan konstruksi, dengan
melihat seluruh aspek yang ada, baik dari pengguna jasa, engineering,
maupun kontraktor serta pihak-pihak yang terlibat dalam pekerjaan
konstruksi.

1.3. Manfaat Kerja Praktek


Adapun manfaat yang diharapkan dari kerja praktek ini adalah :
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara pelaksanaan pekerjaan jalan tol atau jalan
bebas hambatan (JBH) yang nyata di lapangan.
2. Mengetahui pengetahuan teknik pekerjaan perkerasan jalan lentur, cermaton
atau mini pile, dan box culvert dan wing wall box culvert serta cara
pelaksanaan dan monitoring dalam proses pekerjaan tersebut.
3. Mengetahui kendala-kendala yang terjadi di lapangan saat melaksanakan
kegiatan kerja praktek.
3

1.4. Batasan Masalah


Adapun yang menjadi tinjauan dalam pelaksanaan pekerjaan yang ditemui di
lapangan pada pekerjaan perkerasan jalan lentur dan cermaton atau mini pile
sebagai tinjauan umum dan box culvert serta wing wall box culvert sebagai
tinjauan khususnya pada jalan tol KAPB selama 3 bulan di lapangan, serta
berpedoman pada gambar kerja dan lampiran-lampiran lainnya.

1.5. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan selama 3 bulan pada proyek jalan tol
KAPB Seksi 1A di Kota Palembang yang dimulai pada tanggal 11 Maret 2019
sampai tanggal 11 Juni 2019.

1.6. Sistematika Penulisan


Sub bab ini memaparkan sistematika pembahasan yang menjadi pedoman
dalam penyusunan laporan kerja praktek yang terdiri dari :
BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini menguraikan tentang latar belakang proyek dan tujuan dilakukan
proyek tersebut, maksud dan tujuan dilakukan kerja praktek, ruang lingkup kerja
praktek, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.
BAB 2 : GAMBARAN UMUM PROYEK
Pada bab ini menguraikan tentang lokasi proyek, data umum proyek, data
struktur proyek, fungsi dan fasilitas bangunan, manajemen proyek, pelelangan,
kontrak dan struktur organisasi.
BAB 3 : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini menguraikan materi yang mendukung pelaksanaan pekerjaan box
culvert dan wing wall box culvert.
BAB 4 : HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK
Pada bab ini menguraikan tentang pelaksanaan pekerjaan proyek di lapangan
selama proses kerja praktek berlangsung dan sesuai batasan masalah yang ada.
BAB 5 : SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini menguraikan tentang simpulan dan saran dari hasil pengamatan
yang diperoleh selama proses kerja praktek berlangsung
BAB 2
GAMBARAN UMUM PROYEK

2.1. Latar Belakang


Didirikan pada 1 Januari 1961 Waskita karya adalah salah satu BUMN
terkemuka di Indonesia yang memainkan peran utama dalam pembangunan
negara. Berasal dari perusahaan Belanda bernama volker maatschappij NV
Aannemings, yang diambil alih berdasarkan Keputusan pemerintah No.62/1961,
Waskita Karya semula berpartisipasi dalam perkembangan air yang terkait
termasuk reklamasi, pengerukan pelabuhan dan irigasi.
Sejak 1973, status Hukum Waskita Karya telah diubah menjadi “Persero” PT.
Waskita Karya, dengan lebih familiar memanggil “Waskita” sejak saat itu,
perusahaan mulai mengembangkan usahanya sebagai kontraktor umum terlibat
dalam jangkauan yang lebih luas dalam kegiatan kontruksi termasuk jalan raya,
jembatan, pelabuhan, bandara, bangunan, tanaman pembuangan limbah, pabrik
semen, pabrik dan fasiltas industri lainnya.
Pada tahun 1980, waskita mulai melakukan berbagai proyek yang melibatkan
teknologi canggih. Transfer teknologi dilakukan melalui aliansi bisnis dalam
bentuk operasi bersama dan joint venture dengan perusahaan asing terkemuka.
Prestasi signifikan dan beredar yang menjadi kebanggaan nasional adalah
Soekarno-Hatta, Siwabessy Reaktor Serbaguna, dan Muara Karang Coal Fired
Plant di Jakarta.
Memasuki tahun 1990 Waskita telah menyelasaikan banyak bangunan
bertingkat dengan reputasi baik diterima seperti BNI City (Bangunan tertinggi di
Indonesia), Bank Indonesia Bangunan Kantor, Graha Niaga Tower, Mandiri
Plaza Tower, Shangri-La Hotel dan beberapa apartemen bertingkat bangunan di
jakarta dan kota kota lainnya di Indonesia.
Waskita telah mencapai kinerja dalam pembangunan jembatan beton bentang
panjang dengan menggunakan sistem kantilever bebas dan berhasil menyelesaikan
tiga jembatan: Raja Manda, Rantau Berangin, Barelang Ivprestasi besar
menggunakan teknologi serupa terbentuk dalam pembangunan jalan layang
“Pasteur-Cikapayang-Surapati” dan jembatan cable stayed di Bandung. Kisah

4
5

sukses yang sama juga dicapai dalam pembangunan bendungan besar beberapa
seperti Pondok, Grongkak, Tilong, Gapit, dan Sumi, yang telah selesai lebih cepat
dari jadwal dengan kualitas memuaskan.
Dalam upaya selalu mengutamakan kualitas terdepan apa pun telah
memungkinkan Waskita dalam memperoleh sertifikasi ISO 9002:1994 Pada bulan
November 1995; yang menjadi pengakuan internasional menyakinkan tentang
Sistem manajemen Mutu ISO dilaksanakan oleh perusahaan dan titik awal menuju
era global kompetisi. Pada bulan juni 2003, Waskita telah berhasil memperbaruhi
sistem manajemen Mutu dan mampu mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000. Ini
menjadi indikasi yang kuat tentang bagaimana perusahaan memahami dan selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhan spesifik pelanggan.

2.2. Uraian Proyek


Jalan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat
yang bertempat tinggal di desa maupun di kota. Oleh karena itu, jalan tol Kayu
Agung-Palembang-Betung dibuat agar perjalanan masyarakat lebih cepat tanpa
hambatan dan sebagai penunjang pertumbuhan perekonomian.
Pada setiap pembangunan selalu dihadapkan pada masalah tidak terkecuali
jalan yang kaitannya dengan masalah kerakteristik, klasifikasi dan daya dukung
tanah. Kekuatan dan struktur tanah sebagai hal yang sangat penting sebagai
pendukung pembangunan jalan tol sacara keseluruhan.
Untuk itulah dalam membangun suatu jalan diperlukan pengetahuan
mengenai karakteristik tanah agar dapat membantu metode apa yang akan
dilakukan. Sehingga diperoleh bangunan yang efektif, efisien ekonomis dan tahan
lama sesuai dengan fungsi yang diharapkan.
Keamanan maupun kenyamanan merupakan hal yang mutlak harus
diperhatikan dalam aktivitas yang harus disediakan, maka dari itulah
dilaksanakannya pembangunan proyek jalan tol Kayu Agung-Palembang-Betung
yang salah satu tujuannya adalah untuk memberikan keamanan ada kenyamanan
bagi para pengguna kendaraan bermotor agar kemacetan yang sering terjadi dapat
dikurangi.
6

2.3. Data Proyek


Adapun rincian data jalan tol Kapal Betung itu meliputi, Kayu Agung–
Jakabaring sekitar 33,50 km (seksi I), Jakabaring–Musilandas sekitar 33,90 km
(seksi II) dan Musilandas–Betung sekitar 44,29 km (seksi III).

2.3.1. Data Umum Proyek


Berikut data umum proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung (KAPB), yaitu :
Nama Proyek : Proyek Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung (KAPB)
Lokasi Proyek : Sumatera Selatan (KAPB)
Lokasi Pekerjaan : Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumsel
Jenis Pekerjaan : Pekerjaan Jalan
Tipe Proyek :A
Tanggal Kontrak : Mei 2016
Waktu Pelaksanaan : Juli 2016 s/d Agustus 2019
Nilai Kontrak : Rp 14,435 Triliun
Jenis Kontrak : TURNKY`
Sumber Dana : APBN Tahun Anggaran 2016 s/d 2017
Pemilik Proyek : PT. WASKITA SRIWIJAYA TOL
Pemberi Tugas : PT. SRIWIJAYA MARKMORE PERSADA
Konsultan Perencana : PT. MULTI PHI BETA
Konsultan Pengawas : PT. PERENTJANA DJAYA
Konsultan PMI : PT. VIRAMA KARYA
Kontraktor Pelaksana : PT. WASKITA KARYA (PERSERO) TBK.
Berikut data umum proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung (KAPB) Seksi 1A, yaitu :
Pekerjaan : Proyek Pembangunana Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung (KAPB) Seksi 1A
Lokasi : Kayu Agung s/d Jakabaring
Pemilik Proyek : PT. WASKITA SRIWIJAYA TOL
Pemberi Tugas : PT. SRIWIJAYA MARKMORE PERSADA
Konsultan Perencana : PT. MULTI PHI BETA
7

Konsultan Pengawas : PT. PERENTJANA DJAYA


Konsultan PMI : PT. VIRAMA KARYA
Kontraktor Pelaksana : PT. WASKITA KARYA (PERSERO) TBK.
Waktu Pelaksanaan : Juli 2016 s/d Agustus 2019

2.3.2. Data Teknis Proyek


Adapun uraian dari data teknis proyek pembangunan Jalan Tol Kayu
Agung-Palembang-Betung (KAPB), yaitu :
Panjang Trase :111,69 km (STA. 0+000 s/d 111+690)
Metode Perbaikan Tanah : Soil Replacement, PVD + Preloading, PVD
+ Vacuum & Slab On Pile
Jenis Perkerasan : Rigid, Flexible serta Rigid & Fleksibel
Kec. Rencana : 100 km/jam
Jumlah Lajur : 2 x 2 lajur
Lebar Jalur : 3,6 m
Lebar Bahu Jalan : 1,5 m (bahu dalam)
: 3 m (bahu luar)
Lebar Median : 80 cm
Masa Konsensi : 40 tahun (sejak SPMK)
Volume Lalu Lintas : 20.931 kend/hari (th 2018)
Jumlah Underpass : 16 buah
Jumlah Overpass : 34 buah
Jumlah Overpass JPO : 18 buah
Jumlah Jembatan : 4 buah
Jumlah Toll Gate : 2 buah
Jumlah Interchange : 9 buah ( IC Siran Pulau Padang, IC Jejawi, IC
Kramasan, IC Sungai Ren Gas, IC Musi
Landas, IC Pulorimo, IC Pangkalan Balai
& Betung)
Data teknis proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-
Betung (KAPB) Seksi 1A, yaitu :
Panjang Jalan Utama : 23,5 km (STA 9+000 s/d STA 13+400)
8

Panjang Jalan Akses : ± 7 km


Kec. Rencana : 100 km/jam
Jumlah Lajur : 2 x 2 lajur
Lebar Jalur : 3,6 m
Lebar Bahu Jalan : 1,5 m (bahu dalam)
: 3 m (bahu luar)
Lebar Median : 80 cm
Masa Konsensi : 40 tahun (sejak SPMK)
Volume Lalu Lintas : 20.931 kend/hari (th 2018)
Jenis Perkerasan : Fleksibel Pavement
Jumlah Underpass : 6 buah
Jumlah Overpass : 2 buah
Jumlah Overpass JPO : 1 buah
Jumlah Interchange : 1 (IC Jejawi)

2.4. Lokasi Proyek


Lokasi proyek pembangunan Proyek Tol Kayu Agung-Palembang-Betung
Paket II Seksi 1A terletak dari Kayu Agung sampai Jakabaring Palembang. Proyek
tol Kayu Agung-Palembang-Betung Paket II terbagi menjadi 8 seksi, yaitu seksi 1,
1A, 1B, 2, 2A, 3, 3A, dan 3B.
Berikut peta lokasi proyek jalan tol Kayu Agung-Palembang-Betung Paket II
Seksi 1 dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1. Peta Lokasi Proyek Jalan Tol KAPB


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
9

2.5. Struktur Organisasi Proyek


Struktur organisasi proyek merupakan susunan yang terdiri dari fungsi-fungsi
dan hubungan-hubungan yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai
suatu sasaran. Penggambaran suatu organisasi dapat dibuat dalam bentuk bagan.
Adapun struktur organisasi kegiatan pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung Seksi 1A dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Struktur Organisasi Kegiatan Pembangunan Jalan Tol KAPB


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
10

Adapun struktur organisasi dari proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3. Struktur Organisasi Proyek Pembangunan Jalan Tol KAPB


(Sumber : PT. WASKITA SRIWIJAYA TOL)
11

2.5.1. Kepala Proyek


Kepala proyek bertanggungjawab untuk perencanaan, manajemen,
koordinasi dan kontrol keuangan dari proyek konstruksi.
1. Melakukan analisis, penilaian dna kontrol terhadap resiko.
2. Memastikan bahwa semua tujuan proyek terpenuhi dan memastikan
standar kualitas terpenuhi.
3. Bertanggungjawab penuh pada kegiatan sera terima pekerjaan kepada
klien.
4. Melakukan koordinasi internal (tim proyek, manajemen, dll) dan eksternal.
5. Melaksanakan dan mengontrol operasional proyek, sehingga operasi
proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana.
6. Mengidentifikasi dan menyelesaikan potensi masalah yang akan timbul
agar dapat diantisipasi secara dini.
7. Mengkomunikasikan dalam bentuk lisan dan tertulis (Laporan Kemajuan
Pekerjaan).
8. Siap ditempatkan diseluruh area kerja perusahaan.
9. Mengkoordinir pembuatan master schedule dan breakdown aktivitas
bulanan dan mingguan.
10. Mengkoordinir pembuatan laporan progres pelaksanaan proyek.

2.5.2. Kepala Teknik


Kepala teknik adalah seseorang yang bertugas mengontrol semua kegiatan
yang berkaitan dengan pengadaan dan perawatan atau pemeliharaan infrastruktur.

2.5.3. Quality Control Supervisor


Quality control supervisor adalah seseorang yang diberikan tugas dalam
sebuah perhimpunan perusahaan sebagaimana ia mempunyai kuasa dan wewenang
untuk mengeluarkan perintah kepada rekan kerja bawahannya.

2.5.4. Safety manager


Safety manager adalah orang yang ditunjuk oleh project manager untuk
melaksanakan kebijakan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) di
suatu proyek.
12

2.5.5. Logistik
Logistik adalah seseorang yang bertugas mencatat setiap pemasukan dan
pengeluaran barang-barang atau material yang diperlukan proyek dan memeriksa
apakah persediaan barang-barang atau material tersebut masih cukup atau tidak.

2.5.6. Surveyor
Surveyor adalah seseorang yang bertanggungjawab kepada koordinator
lapangan.

2.5.7. Quality surveyor


Quality surveyor adalah sesorang yang bertugas melakukan pengecekan
setiap permintaan pembelian barang agar sesuai RAB (Rencana Anggaran Biaya).

2.5.8. Drafter
Drafter adalah sesorang yang bertugas untuk membantu arsitek
merealisasikan hasil rancangan pengembangan kawasan, sehingga dapat berfungsi
sesuai dengan keinginan semua pihak.

2.5.9. Peralatan
Bagian peralatan merupakan bagian yang berperan dalam persiapan
peralatan yang akan digunakan dalam pembangunan suatu proyek dan
bertanggungjawab atas pemeliharaan peralatan yang ada agar peralatan selalu siap
sehingga tidak menghambat proses pekerjaan.

2.5.10. Driver
Tugas dari seorang driver adalah :
1. Mengantarkan pimpinan proyek dan pimpinan lainnya untuk kepentingan
proyek.
2. Mengantarkan logistik dalam pembelian barang.
3. Menjamin kelancaran transportasi yang dibutuhkan proyek.
4. Bertanggungjawab kepada administrasi proyek.
13

2.5.11. Security
Tugas pokok security adalah menyelenggarakan keamanan dan ketertiban
di lingkungan obyek pengamanan khususnya pengamanan fisik yang bersifat
preventif.
Mengamankan suatu aset, instansi, proyek, bangunan, properti atau tempat
dan melakukan pemantauan peralatan, pengawasan, pemeriksaan dan jalur akses,
untuk memastikan keamanan dan mencegah kerugian atau kerusakan yang
disengaja.
1. Melakukan tindakan preventif keamanan.
2. Kontrol lalu lintas dengan mengarahkan driver.
3. Melengkapi laporan dengan mencatat pengamatan, informasi, kejadian,
dan kegiatan pengawasan.
4. Mempertahankan lingkungan dengan memantau dan pengaturan bangunan
dna kontrol peralatan.
5. Menjaga stabilitas dan reputasi organisasi dengan memenuhi persyaratan
hukum.

2.5.12. Gudang
Tugas seorang pengawas gudang adalah :
1. Menyimpan dalam gudang dan membukukan bahan bangunan yang
datang.
2. Menjaga atau memelihara keawetan bahan yang ada dalam gudang.
3. Bertanggungjawab keluar masuknya bahan bangunan yang diminta oleh
bos borong setelah diketahui oleh pelaksana lapangan.
4. Menghitung dengan benar barang yang keluar dan masuk.
5. Bertanggungjawab kepada logistik.

2.6. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Proyek


Jadwal pelaksanaan didalam proyek diperlukan untuk memperoleh
gambaran durasi proyek yang meliputi waktu proyek dimulai dan waktu proyek
selesai, serta gambaran mengenai pekerjaan yang saling berkaitan satu dengan
yang lainnya. Pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang-Betung dimulai pada Juli 2016 dan dijadwalkan selesai pada Agustus
14

2019. Pembagian area pekerjaan sebanyak 8 seksi dan pada seksi 1A terbagi
menjadi 4 zona yang telah dilakukan untuk mempercepat proses konstruksi dari
proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung Seksi 1A.

2.6.1. Unsur Pelaksanaan Proyek


Dalam pembangunan proyek, terdapat beberapa tahapan kerja mulai dari
tahapan perencanaan, survei lapangan kemudian pelaksanaan proyek. Agar
pelaksanaan dan pembangunan suatu proyek berjalan dengan baik, maka
dilibatkan berbagai pihak dalam pelaksanaan proyek tersebut. Secara umum unsur
pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung
Seksi 1A ini ada pemberi tugas, kontraktor pelaksana, konsultan perencana dan
konsultan pengawas.

2.6.2. Pemberi Tugas (Owner)


Pemberi tugas (owner) adalah pihak yang memiliki dana yang digunakan
untuk membuat suatu bangunan yang diinginkan untuk dibangun. Owner berupa
perseorangan, badan, instansi, atau lembaga dari pemerintah maupun swasta.
Dalam proyek pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung Seksi 1A
ini selaku pemilik proyek sekaligus pemberi tugas adalah PT. SRIWIJAYA
MARKMORE PERSADA. Tugas dan wewenang dari owner, meliputi :
1. Menyediakan dana pembangunan proyek.
2. Menunjuk penyedia jasa (konsultan dan kontraktor).
3. Melakukan perizinan yang diperlukan dalam pembangunan proyek
konstruksi tersebut.
4. Memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang diperlukan untuk
kelancaran pekerjaan.
5. Mengadakan pembayaran dari pekerjaan yang telah dilaksanakan sesuai
dengan kontrak.
6. Mengesahkan perubahan dalam pekerjaan.
7. Memberikan keputusan dan instruksi pada perubahan pekerjaan, waktu,
dan biaya.
15

2.6.3. Kontraktor Pelaksana


Kontraktor pelaksana adalah orang atau badan yang menerima pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan biaya yang telah diteteapkan, sesuai dengan gambar
rencana, dan syarat-syarat yang ditetapkan. Kontraktor pelaksana harus
bertanggungjawab atas terlaksananya suatu pembangunan yang lancar dan
memenuhi persyaratan administratif dan teknis. Dalam proyek pembangunan Jalan
Tol Kayu Agung-Palembang-Betung Seksi 1A ini selaku kontraktor pelaksanaan
adalah PT. WASKITA KARYA (PERSERO) TBK. Tugas dan wewenang dari
kontraktor pelaksana meliputi :
1. Perencanaan alokasi tenaga kerja, peralatan, dan material.
2. Membuat gambar-gambar pelaksanaan yang telah disahkan oleh konsultan
pengawas sebagai wakil dari pengguna jasa.
3. Koordinasi di lapangan dan pencatatan.
4. Membuat laporan hasil dari pekerjaan meliputi laporan harian, mingguan,
dan bulanan.
5. Mengajukan usulan perubahan atau perbaikan gambar rencana.
6. Menyediakan alat keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi seperti yang
diwajibkan dalam peraturan untuk menjamin keselamatan pekerjaan dan
masyarakat.

2.6.4. Konsultan Perencana


Konsultan perencana adalah pihak yang bergerak dibidang jasa, yang
mempunyai kemampuan dalam merancang, merencanakan dan memberikan
konsultasi kepada pemilik bangunan untuk terciptanya suatu rancangan yang
sesuai dengan keinginan owner. Dalam proyek pembangunan Jalan Tol Kayu
Agung-Palembang-Betung Seksi 1A adalah PT. MULTI PHI BETA. Tugas dan
wewenang dari konsultan perencana meliputi :
1. Membuat perencanaan dengan lengkap dari gambar rencana, rencana kerja
serta hitungan struktur.
2. Membuat gambar rancangan atau basic drawing yang kemudian
dilanjutkan menjadi shop drawing oleh pihak kontraktor.
3. Memberikan konsultasi dan pertimbangan kepada pemilik mengenai
rancangan yang akan dibuat.
16

4. Memberi penjelasan kepada kontraktor mengenai hal-hal yang kurang jelas


terkait dengan rencana kerja, gambar rencana, dan syarat-syarat.
5. Menghadiri rapat koordinasi pengelolaan proyek.

2.6.5. Konsultan Pengawas


Konsultan pengawas adalah perusahaan atau badan hukum yang ditunjuk
oleh pemilik atau owner untuk melakukan pengawasan pekerjaan di lapangan
selama kegiatan pelaksanaan dalam suatu proyek berlangsung. Konsultan
pengawas digunakan agar pelaksanaan pekerjaan di lapangan tidak menyimpang
dari perencanaan yang telah ditetapkan. Dalam proyek pembangunan Jalan Tol
KAPB Seksi 1A ini selaku konsultan pengawas yaitu PT. PERENTJANA DJAJA.
Tugas dan wewenang dari konsultan pengawas meliputi :
1. Melakukan pengawasan secara rutin dalam pelaksanaan proyek.
2. Memeriksa setiap material yang dipakai dalam proyek agar sesuai dengan
spesifikasi yang tertera dalam kontrak.
3. Mengawasi serta menguji setiap mutu bahan yang digunakan dalam
proyek.
4. Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek dan melaporkan ke owner.

2.7. Persyaratan Umum, Administrasi dan Teknis Proyek


Persyaratan umum dalam suatu proyek merupakan persyaratan yang harus
dipenuhi antara pemilik proyek dan kontraktor yang terdapat hal-hal umum
tentang rencana kerja, peraturan pelaksanaan dan syarat-syarat penawaran yang
telah dibuat dalam bentuk-bentuk pasal.
Persyaratan administrasi terdiri dari dua hal, yaitu persyaratan dalam
pelaksanaan pekerjaan dan persyaratan dalam penawaran. Persyaratan pelaksanaan
pekerjaan meliputi ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan suatu proyek yang
disesuaikan dengan peraturan yang berlaku. Persyaratan dalam penawaran
meliputi kriteria yang ditentukan.
Persyaratan teknis merupakan persyaratan mengenai ruang lingkup
pekerjaan yang dilaksanakan dalam proyek yang harus disesuaikan dengan kriteria
yang telah ditentukan oleh perencana.
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Pengertian Drainase


Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem
guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan kompenen penting dalam
perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya).
Drainase juga dapat diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air
tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan salah satu
cara pembuangan kelebihan air yang tidak di inginkan pada suatu daerah, serta
cara-cara penaggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.
Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari perasana
umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota
yang aman, nyaman, bersih, dan sehat.

3.1.1. Macam-Macam Drainase


1. Menurut Sejarah Terbentuknya
a. Drainase Alamiah (Natural Drainase)
Drainase yang terbentuk secara alami dan tidak terdapat bangunan-
bangunan penunjang seperti bangunan pelimpah, pasangan batu atau beton,
gorong-gorong dan lain-lain. Saluran ini terbentuk oleh gerusan air yang bergerak
karena grafitasi yang lambat laun membentuk jalan air yang permanen seperti
sungai.
b. Drainase Buatan (Arficial Drainase)
Drainase yang dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu sehingga
memerlukan bangunan – bangunan khusus seperti selokan pasangan batu/beton,
gorong-gorong, pipa-pipa dan sebagainya.
2. Menurut Letak Bangunan
a. Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainase)
Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi
mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open
chanel flow.

17
18

b. Drainase Bawah Permukaan Tanah (Subsurface Drainase)


Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan
melalui media dibawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan
tertentu. Alasan itu antara lain Tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah
yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan
sepak bola, lapangan terbang, taman dan lain-lain.
3. Menurut Fungsi
a. Single Purpose
Yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan, misalnya
air hujan saja atau jenis air buangan yang lainnya seperti limbah domestik, air
limbah industri dan lain – lain.
b. Multi Purpose
Yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air buangan baik
secara bercampur maupun bergantian.
4. Menurut Konstruksi
a. Saluran Terbuka
Yaitu saluran yang lebih cocok untuk drainase air hujan yang terletak di
daerah yang mempunyai luasan yang cukup, ataupun untuk drainase air non-hujan
yang tidak membahayakan kesehatan atau mengganggu lingkungan.
b. Saluran Tertutup
Yaitu saluran yang pada umumnya sering dipakai untuk aliran kotor (air
yang mengganggu kesehatan atau lingkungan) atau untuk saluran yang terletak di
kota atau permukiman.

3.1.2. Fungsi Drainase


1. Untuk mengurangi kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga
lahan dapat difungsikan secara optimal.
2. Sebagai pengendali air kepermukaan dengan tindakan untuk memperbaiki
daerah becek, genangan air atau banjir.
3. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
4. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
5. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehinga tidak terjadi banjir.
19

3.1.3. Sistem Drainase


Sistem drainase pada prinsipnya terdiri dari :
1. Kemiringan melintang pada pada perkarasan jalan dan bahu jalan.
2. Selokan samping.
3. Gorong-gorong.
4. Saluran penangkap.

3.1.4. Prinsip-Prinsip Umum Perencanaan Drainase


1. Daya guna dan hasil guna (efektif dan efisien)
Perencanaan drainase haruslah sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas
drainase sebagai enampung, pembagi dan pembuang air dapat sepenuhnya
berdaya guna dan berhasil guna.
2. Ekonomis dan aman
Pemilihan dimensi dari fasilitas drainase haruslah mempertimbangkan
faktor ekonomis dan faktor keamanan.
3. Pemeliharan
Perencanaan drainase haruslah mempertimbangkan pula segi kemudahan
dan nilai ekonomis dari pemilihan sistem drainase tersebut.

3.2. Pengertian Box Culvert


Box culvert merupakan material beton yang banyak digunakan untuk
keperluan saluran air sehingga ia banyak digunakan untuk bangunan-bangunan
sungai yang membutuhkan kosntruksi ini. Bentuk box culvert berbentuk kotak
atau persegi sesuai dengan nama yang diberikan. Ternyata box culvert tidak hanya
dicetak dengan bentuk persegi saja pada pabrik beton precast, ada pula pabrik
beton yang memproduksi box culvert dengan bentuk bulat bahkan trapesium
sesuai dengan permintaan konsumen. Untuk ukurannya, telah dicetak sesuai
standar kebutuhan saluran air pada umumnya.
20

Gambar 3.1. Box Cluvert yang Telah Dipasang


(Sumber : https.//www.hudsoncivil.com)

3.2.1. Manfaat dan Fungsi Box Culvert


Ada banyak fungsi yang bisa kita ketahui dari box culvert, berikut ini
beberapa manfaat serta fungsi pengaplikasian box culvert pada suatu proyek:
1. Material Konstruksi Bawah Tanah
Box culvert merupakan material yang digunakan dalam proses konstruksi
bawah tanah dan hanya digunakan menjadi saluran air atau drainase saja. Box
culvert dapat diaplikasikan pada pembangunan gorong-gorong kereta api,
jembatan, terowongan dan masih banyak lagi. Satu hal yang perlu diperhatikan
adalah penggunaan box culvert ini dikhususkan untuk konstruksi yang lebih
pendek seperti konstruksi pembuatan jembatan pendek dan terowongan yang
pendek.
2. Kedap Air
Sifat dari box culvert adalah kedas terhadap air tanah maka dari itu sangat
cocok digunakan untuk konstruksi bawah tanah terutama untuk saluran air. Ada
dua jenis sambungan yaitu soket dan spigot memiliki peran menjaga posisi dari
box culvert agar tetap menyatu pada setiap sisinya dan tidak terpengaruh atas
pergeseran tanah.
3. Mempercepat Proses Konstruksi Bangunan
Menggunakan box culvert sebagai material dalam pembangunan akan
sangat mempercepat proses konstruksi tersebut secara keseluruhan karena
pemasangan dari box culvert ini cukup mudah dan juga cepat. Pemasangannya
21

cukup sederhana dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Tidak seperti
proses pengecoran box yang dilakukan secara manual yang tentunya akan sangat
memakan waktu dan juga dapat mengganggu lingkungan sekitar konstruksi
pembangunan tersebut.

3.2.2. Metode Pemasangan Box Culvert


Box culvert yang berbentuk persegi kriteria pemasangan yang sudah
disesuaikan, yaitu kedalaman dan ketinggiannya yang dibatasi, membutuhkan
ruang saluran yang cukup lebar dan dangkal serta dapat menangani arus sesuai
dengan yang diperlukan.
Pengaplikasian box culvert yaitu sebagai gorong-gorong jalan raya, gorong-
gorong kereta api dan juga jembatan jalan raya yang pendek. Proses pemasangan
pada box culvert terbilang cukup simpel dan mudah untuk diaplikasikan pada
proyek pembangunan.
Pada proses pengaplikasian nya tidak membutuhkan galian tanah yang
dalam sehingga hal tersebut cukup memudahkan pekerja. Berikut ini cara
pemasangan box culvert atau gorong-gorong yang dilakukan pada suatu proyek:
1. Ekskavasi Area Jalan
Langkah pertama yaitu pembuatan Parit yang ukurannya sudah disesuaikan
dengan kebutuhan. Kedalaman nya mengikuti kedalaman minimal yang sudah
diberi syaratkan oleh pabrik beton pracetak pembuatan produk tersebut. Lebar dari
Parit juga harus diperhatikan dari lebar box untuk memudahkan pemasangan dan
meletakkan box tersebut. Area penggalian yang sudah tidak diperlukan perlu
untuk segera ditutup kembali dan dipadatkan kembali. Untuk pengurukan
kemiringan saluran air juga harus diperhatikan sesuai dengan perencanaan.
Apabila pada Parit terdapat air atau memang diletakkan pada air maka harus
dilakukan dewatering terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan agar box culvert
tidak mengapung.
2. Pelapisan Tanah
Proses kedua yang dilakukan setelah Parit terbentuk yaitu peletakan
pelapisan untuk box culvert. Material ini disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu alas
tidak perlu material yang kasar karena bisa merusak box. Diperlukannya
pengalasan karena agar material box culvert tidak mudah mengalami pergeseran
22

ke bawah. Ketinggian alat tersebut tidak kurang dari 75 mm, jika area terdiri dari
tanah yang keras dan bebatuan maka pelapisan nya diperkirakan yaitu 150 mm.
3. Pemasangan Box Culvert
Tahap selanjutnya yaitu proses pemasangan yang langkah awalnya
membuat barisan dari box di mana diletakkan box pertama yang akan menentukan
kelulusan penempatan box selanjutnya. Peletakannya pun harus sesuai dengan
ketinggian dan kemiringan yang sudah di persyaratan pada perencanaan.
Peletakan dari box culvert dengan menempatkan spigot untuk lidah di hilir dan
socket untuk di hulu.
4. Penyambungan Box Culvert
Hal yang perlu dilakukan selanjutnya yaitu pengaplikasian sealant guna
menghindari migrasi tanah dan air terhadap box culvert. Bahan dasar dari sealant
yaitu bitumen atau aspal yang dapat diaplikasikan di bagian atas dan bagian dalam
dinding dengan ketebalan kurang lebih 300 mm. Box culvert yang sudah ditata
perlu disambung dengan box pengisi. Sebelum meletakkan box Parit harus dicek
terlebih dahulu apa kondisinya sudah sesuai dengan rencana. Antara box harus
disatukan dengan rantai atau menggunakan derek rantai dan diikatkan secara
bertahap hingga box menyatu.
5. Pengurukan Area Kerja Kembali
Setelah semua proses selesai dan sudah dipasang dengan baik maka tahap
selanjutnya yaitu pengurukan kembali. Pemadatan dan pengurutan tidak boleh
sampai merusak atau merubah kedudukannya.

3.2.3. Alasan Menggunakan Box Culvert


Box culvert memiliki keunggulan yakni proses pemasangan yang lebih
ringan, lebih mudah, dan lebih cepat. Jenis juga ukurannya sangat bervariasi serta
dapat mengikuti kebutuhan elevasi saluran yang anda perlukan. Penggunaan beton
pracetak juga dinilai bisa mempercepat pekerjaan atau mereduksi durasi
pelaksanaan proyek. Hal tersebut merupakan solusi yang sangat tepat dalam
mengatasi permasalahan crossing jalan yang pada umumnya menggunakan box
agar dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan karena renovasi atau
pembangunan jembatan.
23

Bagi Bentang lebar nya sendiri, box culvert dirancang untuk multi cell. Box
tersebut juga dapat digunakan untuk akses crossing under pass pada jalan
raya/jalan tol. Apabila anda menggunakan produk box culvert beton pracetak,
maka pekerjaan yang harus dilakukan di lapangan hanyalah pekerjaan galian
tanah dan juga pengecoran lantai kerja. Pekerjaan tersebut pastinya tidak akan
overlapping dengan pekerjaan struktur pracetak yang dapat dilaksanakan di lokasi
tertentu. Hal tersebut tentunya dapat menghemat waktu dibandingkan dengan
proses konstruksi beton konvensional.

3.2.4. Wing Wall


Box culvert dilengkapi dengan konstruksi dinding sayap atau Wing wall,
biasanya wing wall berada disetiap sisi kanan dan sisi kiri pada box culvert. Wing
wall sebenarnya sangat berfungsi pada box culvert karena dapat membuat arah
aliran air menjadi lebih teratur. Wing wall juga dapat mengatur debit air lebih
stabil jika debit air pada box culvert meningkat. Selain sebagai pengatur arah
aliran air dan menstabilkan debit air yang meningkat, wing wall juga dapat
menahan beban yang diberikan dibagian sisi-sisinya. Beban yang ditahan oleh
wing wall bisa berupa tanah timbunan yang diletakkan pada bagian sisi-sisinya.
Proses pemasangan wing wall ke box culvert dilakukan dengan cara
disambungkan dibagian sisi kanan dan sisi kiri box culvert yang sudah diletakkan
pada daerah yang telah direncanakan.

Gambar 3.2. Wing Wall yang Telah Dipasang


(Sumber :http.//www.lhvprecast.com)
BAB 4
HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

4.1. Tinjauan Umum


Metode Pelaksanaan merupakan cara atau langkah-langkah yang ditempuh
suatu perusahaan kontraktor agar proyek tersebut berjalan dengan lancar, dan
menghasilkan mutu produk yang sangat memuaskan pemilik proyek (owner)
sesuai dengan perjanjian dalam kontrak yang telah disepakati oleh kedua pihak.
Langkah-langkah awal yang ditempuh oleh kontraktor setelah menandatangani
SPK adalah pekerjaan persiapan yaitu membuat shop drawing, memeriksa kondisi
lapangan secara seksama untuk menentukan tahapan-tahapan pekerjaan yang
sesuai dengan kondisi dilapangan, dan dilanjutkan dengan persiapan peralatan
yang sesuai dengan pekerjaan dilapangan.
Setelah SPK (Surat Perintah Kerja) di tanda tangani dan diserahkan kepada
kontraktor dari pemilik proyek, kontraktor mengadakan pekerjaan persiapan yang
terdiri dari membuat shop drawing, memeriksa kondisi lapangan, dilanjutkan
dengan persiapan peralatan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan,
material dan sumber daya manusia.
Pada pembahasan tinjauan umum ini penulis menjelaskan tentang
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan apa yang diamati oleh penulis di lapangan
selama 9 minggu. Pekerjaan yang diamati oleh penulis pada proyek pembangunan
Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung (KAPB) Seksi 1A Ruas Jalan Kayu
Agung-Jakabaring-Palembang Stasioning 0+000 s/d 9+000.

4.1.1. Pekerjaan Tanah


Pekerjaan tanah meliputi segala pekerjaan penggalian, pemuatan,
pengangkutan dan penempatan atau pembuangan tanah atau batu atau material
lainnya dari atau ke badan jalan atau sekitarnya, untuk pembuatan badan jalan,
saluran air, parit, untuk pemindahan material tak terpakai, pemindahan tanah
longsoran, yang semua sesuai dengan garis, ketinggian, penampang melintang
yang tampak dalam gambar atau ditentukan oleh konsultan pengawas.

24
25

Gambar 4.1. Rencana Pekerjaan Tanah


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
Adapun alat dan material yang digunakan dalam pekerjaan tanah adalah
excavator, dumptruck, bulldozer, vibro roller, grader, water tank, borrow
material,, peralatan pemadatan dan alat bantu

Proses pekerjaan
an tanah terbagi menjadi 2, yaitu pekerjaan persiapan dan dan
pekerjaan timbunan tanah.

1. Pekerjaan Persiapan
a. Pada tahap awal adalah mempersiapkan personil, peralatan yang akan
digunakan, dan bahan tanah timbunan yang diperlukan dari borrow
area.
b. Dilakukan setting out dan pengukuran untuk membuat gambar kerja
dan perhitungan kuantitas pekerjaan.
c. Pemeriksaan dan inspeksi dari Direksi/Pengawas/Konsultan untuk
persetujuan.
d. Bila hasil percobaan pemadatan disetujui Direksi/Pengawas/Konsultan,
maka hasil dari percobaan
percobaan pemadatan dijadikan acuan/dasar pada
pelaksanaan pekerjaan timbunan yang sebenarnya.
2. Pekerjaan Timbunan Tanah
a. Proses penghamparan dan pemadatan dilakukan layer per layer setebal
20 cm sepanjang badan jalan.
b. Melakukan trial compaction untuk menentukan jumlah passing perlayer
c. Setiap layer dilakukan test kepadatan tanah untuk pemeriksaaan
terhadap acuan yang telah ditentukan dalam spesifikasi teknis, yaitu
26

kepadatan minimum pada kondisi tanah kering atau sesuai dengan SNI
17420: 2008 atau AASHTO T99-15(2015). Bila tidak sesuai maka
pemadatan harus dilakukan ulang.
d. Pekerjaan dilakukan layer per layer sampai mencapai elevasi yang
ditentukan sesuai Final Subgrade.
e. Selanjutnya dilakukan trimming/pembuatan plengsengan (saluran rata
yang dimiringkan) pada sisi miring/slope sisi kiri kanan agar terlihat
rapi dan kokoh bila diperlukan sesuai dengan instruksi konsultan.

Gambar 4.2. Pekerjaan Timbunan Tanah dan Pemadatan Tanah


(Sumber : Foto Pribadi)
27

4.1.2. Pekerjaan Base B


Pekerjaan base B atatu LPB (Lapis pondasi bawah) adalah lapisan struktur
yang menggunakan agregat kelas B. Material yang digunakan adalah agregat kelas
B, agregat ini merupakan campuran gradasi material batu pecah dengan sirtu atau
selected. Batu pecah tersebut terdiri dari beberapa fraksi ukuran yang berbeda.
Diperlukan sebuah Job Mix Formula untuk mendapatkan mutu yang diinginkan
sesuai dengan mutu kelas B. Alat yang digunakan yaitu vibro smooth, grader,
tangki air, dump truck, dan keperluan lainnya. Penghamparan serta pemadatan
layer 1 setebal 32 mm gembur dan layer 2 setebal 27 cm gembur. Tes pemadatan
LPB harus mencapai 95% γ di lapangan sesuai dengan spesifikasi proyek KAPB.
Apabila CBR sudah memenuhi 95% dengan cara tes sandcone di lapangan maka
bisa dilanjutkan dengan lapisan struktur selanjutnya.

Gambar 4.3. Agregat kelas B yang Telah Dihamparkan


(Sumber : Foto Pribadi)

4.1.3. Pekerjaan Base A


Pekerjaan base A atau LPA (Lapis pondasi atas) adalah lapisan struktur
pondasi yang berhubungan langsung dengan aspal karena tepat di bawah aspal.
Material yang digunakan adalah agregat kelas A yang tersusun dari campuran
material batu pecah dengan abu batu yang diatur sedemikian rupa, sehingga bisa
dikatakan sebagai kelas A. Batu pecah yang digunakan terdiri dari beberapa fraksi
ukuran yang berbeda. Pembuatan aggregat A harus menggunakan Job Mix
Formula yang disetujui oleh konsultan. Alat yang digunakan yaitu vibro smooth,
grader, tangki air, dump truck, dan keperluan lainnya. Penghamparan serta
28

pemadatan layer 1 setebal 32 mm gembur dan layer 2 setebal 27 cm gembur. Tes


pemadatan LPB harus mencapai 95% γ di lapangan sesuai dengan spesifikasi
proyek KAPB. Apabila CBR sudah memenuhi 95% dengan cara tes sandcone di
lapangan maka bisa dilanjutkan dengan lapisan struktur selanjutnya.

Gambar 4.4. Agregat kelas A yang Telah Dipadatkan


(Sumber : Foto Pribadi)

4.1.4. Pekerjaan Perkerasan Asphalt (Flexible Pavement)


Pekerjaan perkerasan aspal ini meliputi pengadaan, pengangkutan,
penghamparan dan pemadatan di lokasi bahu luar dan bahu dalam pada main road
dan pada lokasi lain yang ditentukan oleh gambar.
1. Lingkup pekerjaan perkerasan aspal adalah :
a. Bitumous prime coat
b. Bitumous tack coat
c. Asphaltic treated surface (AC-Base)
d. Asphaltic concrete binder course (AC-BC)
e. Asphaltic concrete wearing course (AC-WC)
2. Peralatan yang digunakan pada pekerjaan perkerasan aspal adalah :
a. Asphalt mixing plant (AMP)
b. Asphalt finisher
c. Dump truck
d. Tandem roller
e. Pneumatic tired roller
f. Sprayer asphalt
g. Water tank
29

3. Tahapan pekerjaan perkerasan aspal

Gambar 4.5.
4.5 Ilustrasi Tahapan Pekerjaan Aspal
(Sumber : PT. WASKITA KARYA)

a. Pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Prime Coat


pengik (prime coat) merupakan lapisan ikat aspal cair
Lapis resap pengikat
yang diletakkan di atas lapis pondasi agregat kelas
las A. Lapis resap pengikat
biasanya dibuat dari aspal dengan penetrasi 80/100 atau penetrasi 60/70
yang dicairkan dengan minyak tanah.
Pelaksanaan pekerjaan prime coat adalah sebagai berikut :
1) Pemasangan prime coat dilaksanakan setelah permukaan pada base A
a compressor, sehingga tekstur perkerasan base A
dibersihkan dengan air
menjadi bersih dan terlihat jelas.
2) Penyedia jasa sebelum dilakukan penyemprotan, batas permukan yang
akan disemprot harus diukur dan ditandai. Pelaksanaan penyemprotan
lapis resap pengikat dan lapis perekat menggunakan alat asphalt
distributor.. Asphalt distributor adalah truk atau kendaraan lain yang
dilengkapi dengan aspal, pompa, dan batang
batang penyemprot. Umumnya
truk juga dilengkapi dengan pemanas untuk menjaga temperatur aspal.
Apabila diizinkan oleh direksi pekerjaan, pelaksanaannya dapat
menggunakan alat penyemprot tangan (
(hand sprayer). Hand
sprayersering
sering digunakan untuk daerah-daerah
daerah yangg sulit dijangkau
dengan Asphalt Distributor. Agar memperoleh hasil merata, sebaiknya
30

pelaksanaanya dikerjakan oleh operator terampil dan telah teruji coba


dengan baik.
3) Prime coat hanya disemprot saat kondisi permukaan base A yang sudah
dibersihkan dalam keadaan kering, dan tidak boleh dikerjakan saat
angin kencang, hujan atau akan terjadinya hujan.

Gambar 4.6. Pelaksanaan Prime Coat


(Sumber : Foto Pribadi)

b. Pekerjaan AC-Base
Laston Atas atau lapisan pondasi atas (AC-Base) merupakan pondasi
perkerasan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan
perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas.
Lapisan ini terletak di bawah lapis pengikat (AC-BC), perkerasan tersebut
tidak berhubungan langsung dengan cuaca, tetapi perlu memiliki stabilitas
untuk menahan beban lalu lintas yang disebarkan melalui roda kendaraan.
Lapis Pondasi (AC-Base) berfungsi untuk memberi dukungan lapis
permukaan, mengurangi regangan dan tegangan, menyebarkan dan
meneruskan beban konstruksi jalan di bawahnya (sub grade).
Metode pelaksanaan pekerjaan AC-Base meliputi penyiapan bahan di
base camp AMP, pencampuran bahan agregat dengan aspal, pengiriman
sampai lokasi pekerjaan, penghamparan dan pemadatan. AC-Base dibuat di
base camp AMP sesuai dengan spesifikasi kemudian dituangkan diatas
dumptruck lalu hasil penuangan ditutup dengan terpal untuk menahan suhu
AC-Base tetap stabil lalu dikirim ke lokasi pekerjaan yang telah siap
peralatan mekanik seperti finisher alat penghampar dan alat-alat pemadat.
Pelaksanaan pekerjaan AC-Base dilaksanakan setelah permukaan base A
31

dilapisi dengan prime coat, agar lapisan AC-Base lebih mengikat dengan
lapisan base A. Bahan dituang ke bak finisher dari dumptruck, finisher
menghampar campuran aspal panas ke permukaan lapis pondasi pada
ketebalan diatas rata-rata ketebalan padat dan hasil penggelaran didiamkan
pada suhu yang telah ditetapkan kemudian dipadatkan dengan mesin gilas
roda besi, penggilasan sedemikian rupa hingga mendapatkan kerataan dan
kepadatan yang ditetapkan dan akhir pemadatan menggunakan mesin gilas
roda karet, demikian seterusnya pekerjaan dilakukan atas arahan dari direksi
pekerjaan serta tentunya telah mengajukan hasil pengujian bahan campuran
aspal panas serta ijin kerja kepada konsultan pengawas dan direksi
lapangan.

Gambar 4.7. Pelaksanaan Pekerjaan Lapisan AC-Base


(Sumber : Foto Pribadi)

c. Pekerjaan AC-BC
AC-BC (Asphalt concrete Binder Coarse) adalah beton aspal yang
terletak tepat di atas LPA. Campuran beton aspal ini terdiri dari beberapa
fraksi aggregat batu pecah dengan ukuran yang berbeda, abu batu dan kadar
aspal tertentu. Yang membedakan dengan AC-WC adalah ukuran fraksi
aggregat dan kadar aspal pada AC-BC yang lebih rendah.
Metode pelaksanaan AC-BC ini meliputi penyiapan bahan di base camp
AMP, pencampuran bahan agregat dengan aspal, pengiriman sampai lokasi
pekerjaan, penghamparan dan pemadatan. AC-BC dibuat di base camp
AMP sesuai dengan spesifikasi kemudian dituangkan diatas dumptruck.
Lalu hasil penuangan ditutup dengan terpal untuk menahan suhu AC-BC
32

tetap stabil lalu dikirim ke lokasi pekerjaan yang telah siap peralatan
mekanik seperti finisher alat penghampar dan alat-alat pemadat.
Pelaksanaan pekerjaan AC-BC dilaksanakan setelah pelaksanaan pekerjaan
AC-Base yang dilapisi dengan tack coat. Bahan dituang ke bak finisher dari
dumptruck, finisher menghampar campuran aspal panas ke permukaan lapis
pondasi pada ketebalan diatas rata-rata ketebalan padat dan hasil
penggelaran didiamkan pada suhu yang telah ditetapkan kemudian
dipadatkan dengan mesin gilas roda besi, penggilasan sedemikian rupa
hingga mendapatkan kerataan dan kepadatan yang ditetapkan dan akhir
pemadatan menggunakan mesin gilas roda karet, demikian seterusnya
pekerjaan dilakukan atas arahan dari direksi pekerjaan serta tentunya telah
mengajukan hasil pengujian bahan campuran aspal panas serta ijin kerja
kepada konsultan pengawas dan direksi lapangan.

Gambar 4.8. Pelaksanaan Pekerjaan Lapisan AC-BC


(Sumber : Foto Pribadi)

d. Pekerjaan Lapis Perekat atau Tack Coat


Lapis perekat (tack coat) merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan
di atas lapisan AC-BC sebelum lapis berikutnya dihampar. Lapis perekat
berfungsi untuk memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru. Bahan
lapis perekat terdiri dari aspal emulsi yang cepat menyerap atau asapal keras
pen 80/100 atau pen 60/70 yang dicairkan dengan 25 sampai 30 bagian
minyak tanah per 100 bagian aspal. Pemakaiannya berkisar antar 0,15
liter/m2 sampai 0,50 liter /m2. Lebih tipis dibandingkan dengan pemakaian
lapis resap pengikat.
33

Gambar 4.9. Pelaksanaan Hamparan Tack Cout


(Sumber : Foto Pribadi)

Pelaksanaan pekerjaan tack coat adalah sebagai berikut :


1) Pemasangan tack coat dilaksanakan pada permukaan AC-Base dan
permukaan AC-BC yang telah dibersihkan dengan air compressor.
2) Penyedia jasa sebelum dilakukan penyemprotan, batas permukan yang
akan disemprot harus diukur dan ditandai. Pelaksanaan penyemprotan
lapis resap pengikat dan lapis perekat menggunakan alat asphalt
distributor. Asphalt distributor adalah truk atau kendaraan lain yang
dilengkapi dengan aspal, pompa, dan batang penyemprot. Umumnya
truk juga dilengkapi dengan pemanas untuk menjaga temperatur aspal.
Apabila diizinkan oleh direksi pekerjaan, pelaksanaannya dapat
menggunakan alat penyemprot tangan (hand sprayer). Hand
sprayersering digunakan untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau
dengan asphalt distributor. Agar memperoleh hasil merata, sebaiknya
pelaksanaanya dikerjakan oleh operator terampil dan telah teruji coba
dengan baik.
3) Tack coat hanya disemprot saat kondisi permukaan lapisan AC-Base
dan AC-BC yang sudah dibersihkan dalam keadaan kering, dan tidak
boleh dikerjakan saat angin kencang, hujan atau akan terjadinya hujan.
e. Pekerjaan Lapisan AC-WC
AC-WC (Asphalt concrete Wearing Coarse) adalah beton aspal yang
terletak paling atas dan menerima beban langsung kendaraan dan
menentukan nyaman tidaknya. Campuran beton aspal ini hampir sama
dengan AC-BC hanya berbeda di ukuran fraksi aggregat. Kadar aspal pada
34

AC-WC biasanya lebih tinggi karena lapis permukaan jalan harus kedap
dengan air.
Metode pelaksanaan AC-WC ini meliputi penyiapan bahan di base
camp AMP, pencampuran bahan agregat dengan aspal, pengiriman sampai
lokasi pekerjaan, penghamparan dan pemadatan. AC-WC dibuat di base
camp AMP sesuai dengan spesifikasi kemudian dituangkan diatas
dumptruck. Lalu hasil penuangan ditutup dengan terpal untuk menahan suhu
AC-WC tetap stabil lalu dikirim ke lokasi pekerjaan yang telah siap
peralatan mekanik seperti finisher alat penghampar dan alat-alat pemadat.
Pelaksanaan pekerjaan AC-WC dilaksanakan setelah pelaksanaan pekerjaan
AC-BC yang dilapisi dengan tack coat. Bahan dituang ke bak finisher dari
dumptruck, finisher menghampar campuran aspal panas ke permukaan lapis
pondasi pada ketebalan diatas rata-rata ketebalan padat dan hasil
penggelaran didiamkan pada suhu yang telah ditetapkan kemudian
dipadatkan dengan mesin gilas roda besi, penggilasan sedemikian rupa
hingga mendapatkan kerataan dan kepadatan yang ditetapkan dan akhir
pemadatan menggunakan mesin gilas roda karet, demikian seterusnya
pekerjaan dilakukan atas arahan dari direksi pekerjaan serta tentunya telah
mengajukan hasil pengujian bahan campuran aspal panas serta ijin kerja
kepada konsultan pengawas dan direksi lapangan.

Gambar 4.10. Pelaksanaan Pekerjaan Lapisan AC-WC


(Sumber : Foto Pribadi)
35

4.1.5. Pekerjaan Cermaton atau Mini pile


Ketentuan material mini pile adalah mutu beton K-450, mini pile persegi
ukuran 25 x 25 cm, strand 4, diam. 3/8", pengetesan dengan hammer test sesuai
ketentuan beton rencana sebelum dilakukan ke lokasi proyek.

Gambar 4.11. Mini Pile yang Telah Dipancang


(Sumber : Foto Pribadi)

Pelaksanaan pekerjaan mini pile adalah :


1. Tiang pancang mini pile adalah produk fabrikasi dengan spesifikasi sesuai
standard spesifikasi yang ditentukan yang pengangkutan dari pabrik ke site
dengan menggunakan truck trailer dan penurunan serta penumpukannya di
lokasi sesuai kebutuhan dan jarak yang ada dengan menggunakan crawler
crane 15 ton (Service Crane).
2. Dalam pekerjaan pengadaan mini pile hal-hal yang harus diperhatikan
adalah handling method.
3. Beton mempunyai kuat karakteristik yang sudah memenuhi untuk melawan
tegangan tekan, tapi lemah terhadap tegangan tarik dan tegangan lentur.
Tiang pancang dari beton mempunyai sifat mudah patah bila mendapat
beban yang lebih kuat daripada beban recana.
4. Prosedur pengangkatan mini pile, pengangkatan dibuat dengan 2 alau 4 titik
angkat. Dalam hal 2 titik angkat, kedudukan sling baja harus berada pada
2/10 dari total panjang dari kedua ujung tiang.
5. Cincin baja model "C" atau sickle harus digunakan pada ujung seling untuk
memegang tiang. Selain itu Alat Pengaman Diri (APD) para pekerja harus
36

diperhatikan mengingat resiko yang ditimbulkan apabila terjadi kecelakaan


sangan berbahaya.
Pelaksanaan pemancangan mini pile adalah :
1. Ketentuan Pemancangan
a. Pemancangan menggunakan Piie Driver Hammer.
b. Pemancangan dilaksanakan sesuai dengan kedaiaman rencana yang
ditunjukkan dalam gambar kerja yang telah disetujui oleh konsuitan
pengawas dan owner.
2. Peralatan yang digunakan adalah crawler crane 25 ton, Pile Driver Hammer
kapasitas minimal 2,5 ton, dan pengarah yang diletakkan di garis
pemancangan (berfungsi untuk meluruskan garis pemancangan).
3. Pekerjaan Pengangkatan
a. Wire rope (sling) baja harus lebih dahulu diperiksa secara hati-hati dan
harus layak pakai.
b. Ketika mengangkat dan menurunkan 2 titik penyangga harus sama
tinggi.
c. Tiang harus diangkat dan diturunkan secara bertahap sedemikian hingga
tidak memberikan goncangan pada tiang.
d. Posisi titik angkat pada saat erection ditentukan 3/10 total panjang tiang
dari bagian atas dan titik angkat ini harus ditandai pada tiang.
e. Pada saat erection, mini pile berada di ujung atas rig.
f. Setelah erection mini pile telah berhasil maka pekerjaan pemancangan
bisa dimulai.

Gambar 4.12. Pengangkatan Mini Pile


(Sumber : Foto Pribadi)
37

4. Metode Kerja
a. Crane diletakkan pada posisi titik pemancangan yang direncanakan.
b. Concrete pile ditarik atau diangkat sesuai dengan syarat
penarikanlpengangkatan yang diijinkan untuk ditempatkan pada posisi
yang lurus terhadap sumbu vibro hammer.
c. Pemancangan mini pile akan dimulai setelah konfirmasi posisi lurus
terpenuhi, dengan bantuan alat theodolit.
d. Eksentrisitas sumbu tersebut lidak boleh lebih dari 20 mm.
e. Penggetaran pada pemancangan pertama harus dilakukan dengan
softblow driving untuk memastikan bahwa arah pemancangan sudah
benar atau sesuai.
f. Pemancangan untuk setiap mini pile berlangsung kontinyu sampai mini
pile mencapai kedalaman tanah yang diharapkan.
g. Setiap pemancangan harus dicatat dan dilaporkan data-data
pemancangan meliputi ukuran, tipe, dan panjang mini pile yang telah
dipancang, tipe dan seri hammer, serta elevasi tanah dasar.

Gambar 4.13. Proses Pemancangan Mini Pile


(Sumber : Foto Pribadi)
38

4.2.Tinjauan Khusus
Tinjauan khusus merupakan tinjauan yang diminati oleh penyusun atau
tinjauan yang ditinjau oleh penyusun yang dipelajari secara rinci untuk
mendapatkan ilmu yang lebih dari tinjaunnya tersebut. Tinjauan khusus yang saya
tinjau adalah box culvert beserta dengan wing wall box culvert. Adapun penjelasan
secara rinci tinjauan khusus yang diamati oleh penulis adalah pekerja box culvert
dan wing wall box culvert pada Stasioning 9+000 s/d 13+400.

4.2.1. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Box Culvert Precast 2,5m x 2m


1. Alat dan Material
Adapun alat dan material yang digunakan dalam pelaksanaan box culvert
precast adalah sebagai berikut :
a. Excavator e. Sirtu padat/blinding stone
b. Crane 45 ton dan mobile crane f. Baja tulangan
c. Beton kelas c (fc’ 20 MPa) g. Bekisting
d. Bar cutter, bar bender h. Concrete vibrator
i. Alat-alat bantu lainnya
2. Proses Pekerjaan
Adapun proses pekerjaan box culvert precast adalah sebagai berikut :
a. Pekerjaan persiapan
1) Padat tahap awal, dilakukan penyelidikan pada tanah dasar atau
pengujian pada tanah dasar yang telah ada (eksisting) sampai
kedalaman tertentu yang menunjukkan qc = 8 kg/cm2 sebagai landasan
box culvert.
2) Dilakukan perbaikan tanah jika terdapat tanah yang tidak memenuhi
spesifikasi dengan soil replacement hingga mencapai daya dukung
tanah qc = 8 kg/cm2.
3) Dilakukan setting out dan pengukuran untuk mengetahui letak box
culvert yang akan dikerjakan.
b. Pekerjaan pembesian
1) Pembesian dilaksanakan di workshop sesuai desain dengan jumlah dan
jarak pembesian yang telah ditentukan.
39

2) Besi disusun sesuai bentuk, panjang, dan jumlah potongan yang akan
dibuat.
3) Selanjutnya besi dipotong dan dibengkokkan menggunakan bar cutter
dan bar bender.
4) Besi yang sudah dirangkai dilakukan pengecekan kesesuaiannya dengan
shop drawing.

Gambar 4.14. Detail Pembesian Box Culvert 2,5m x 2m


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
c. Pemasangan Formwork
1) Bekisting dipastikan rata, bersih dari kotoran sebelum dirangkai.
2) Rangkaian bekisting sesuai dengan rencana setelah terlebih dahulu
dilapisi minyak bekisting dibagian dalam.
3) Beton decking dipasang ditulangan terluar sesuai ketebalan selimut
beton.
4) Support-supprot bekisting dipasang sesuai dengan gambar rencana
(shop drawing).
40

Gambar 4.15. Ilustrasi Bekisting untuk Box Culvert Precast


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
d. Pekerjaan pengecoran
1) Pengecoran dengan beton readymix harus diperhatikan mutu beton yang
sesuai (beton kelas c, f’c = 20 MPa). Pengecoran dilakukan dengan
menuang langsung beton dari truck mixer ke concrete pump dan
dipadatkan menggunakan concrete vibrator.
2) Pengecoran dilakukan lapis per lapis untuk menghindari adanya
konsentrasi berat beton yang mengakibatkan bekisting tidak sanggup
menahan beban beton yang basah.
3) Sampel beton berupa sampel silinder dibuat dengan jumlah sesuai
dengan syarat spesifikasi jalan tol KAPB.

Gambar 4.16. Pengecoran Box Culvert Precast


(Sumber : Foto Pribadi)
41

e. Curing
Curing permukaan atas beton menggunakan karung goni basah/geotekstil
yang ditutupkan ke permukaan beton dan tetap dijaga basah selama minimal 7
hari.
f. Pengangkatan box culvert
Pengangkatan box culvert dilakukan menggunakan mobile crane melalui
lifting lug setelah box culvert precast berumur 7 hari atau apabila kuat tekan ≥
80% f’c 20 MPa. Disesuaikan juga sudut sling > 450 saat pengangkatan untuk
mengurangi resiko putusnya sling yang dapat menyebabkan rusaknya box culvert.

Gambar 4.17. Pengangkatan Box Culvert


(Sumber : Foto Pribadi)

g. Pemasangan box culvert


1) Dalam tahap awal pekerjaan struktur bawah, dilakukan penggalian
tanah sesuai dengan shop drawing.
2) Dilakukan timbunan tanah layer per layer padat hingga mencapai
elevasi rencana.
3) Setelah tanah dasar siap, dilakukan pemasangan sirtu padat atau
blinding stone dengan tebal 30 cm.
4) Lalu dilakukan pengecoran lantai kerja atau lean concrete (LC) setebal
10 cm dengan beton kelas E, f’c = 10 MPa. Permukaan rata sesuai
dengan shop drawing.
5) Box culvert precast diletakkan ke lokasi rencana menggunakan crane.
42

6) Letakkan box culvert precast di atas lapisan LC dimulai dari ujung.


7) Pastikan kelurusan antar box culvert sebelum dilakukan penyambungan.
8) Penyambungan dilakukan menggunakan material epoxy (bahan kimia
jenis resin) di setiap ujung box culvert yang akan disambung dengan
bagian box culvert lain.
9) Lubang angkur dicor dengan bahan grouting atau beton f’c 20 MPa.

Gambar 4.18. Pemasangan Box Culvert Precast


(Sumber : Foto Pribadi)

h. Pengendalian mutu
1) Pengendalian mutu bahan.
2) Ketentuan material yang digunakan.
3) Kriteria pemasangan pembesian.
4) Memastikan semua metode dan prosedur sesuai di lapangan.
5) Sampel dan hasil pengujian sesuai dengan spesifikasi
i. Proses K3L
Proses K3L dijalankan dan diimplementasikan
1) K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
a) Memastikan semua personil dan pekerja sudah diinduksi oleh
subkon tersebut dan pelaksana terkait.
b) Peralatan dan alat bantu sudah dicek terlebih dahulu.
c) Ijin kerja sesuai dengan lokasi yang dikerjakan.
d) Metode kerja sesuai dengan approval.
43

e) Inspeksi dan pengawasan terhadap norma K3 dilakukan dengan


baik dan didokumentasikan.
f) Pastikan semua yang bekerja pada lokasi tersebut sudah
dilengkapai dengan APD yang sesuai.
g) Pastikan rambu-rambu terpasang sesuai jenisnya.
2) Enviromental (Lingkungan)
a) Sebelum dan sesudah selesai bekerja, lokasi, alat, dan material
dirapikan kembali.
b) Parkir dan stand by alat dan personel di tempat yang sudah aman.
c) House keeping dan kebersihan lokasi pekerjaan terpelihara sesuai
dengan 5R.
d) Tidak ada tumpahan oli, minyak, dan grace ke dalam tanah secara
langsung.
e) Jadwal pemeliharaan dan maintenance lokasi kerja alat terlaksana
dengan baik didokumentasikan.

4.2.2. Metode Pelaksanaan Wing Wall Box Culvert


1. Alat dan Material
Adapun alat dan material yang digunakan dalam pelaksanaan wing wall box
culvert adalah sebagai berikut :
a. Excavator f. Truck mixer
b. Beton kelas c (fc’ 20 MPa) g. Besi tulangan
c. Bar cutter h. Bekisting
d. Bar bender i. Vibrator
e. Concrete pump
2. Proses Pekerjaan
Adapun proses pekerjaan box culvert wing wall adalah sebagai berikut :
a. Pekerjaan persiapan
1) Setting alat dan penentuan titik untuk mengetahui letak wing wall yang
dikerjakan.
2) Pengalihan aliran air dan dewatering (jika diperlukan).
44

3) Jalur pengalihan galian yang dibuat harus sama dengan elevasi awal
atau lebih rendah dari elevasi sebelumnya.
4) Galian tanah bisa langsung untuk membuat cofferdam.
5) Selanjutnya pembuatan cofferdam dimuka aliran air, agar air dengan
ketinggian sesuai dengan top level gorong-gorong kotak (box culcert).
6) Untuk mengeringkan lokasi pekerjaan dengan menggunakan pompa
yang bisa mengeringkan lokasi pekerjaan selama pekerjaan
berlangsung.
7) Selanjutnya pipa dari pompa air diletakkan pada lokasi aliran air,
pengalihan sehingga dapat langsung dialirkan ke sungai.
b. Pembuatan lantai kerja
Tahapan-tahapan pekerjaan pembuatan lantai kerja diterangkan sebagai
berikut:
1) Pastikan bahwa lokasi yang akan dibuat lantai kerja tersebut terdapat
urugan pasir atau blinding stone sesuai dengan yang telah disepakati di
shop drawing.
2) Membersihkan lokasi kerja dari kotoran dan sampah.
3) Memberikan patok atau leveling lantai kerja yang diperlukan sebagai
acuan untuk menentukan ketebalan.
4) Menuangkan beton dengan beton kelas E (10 MPa).
5) Beton yang dituangkan di lantai kerja diratakan dengan ketebalan sesuai
dengan shop drawing.
c. Pembesian wing wall
1) Pemotongan dan pembentukan baja tulangan dilakukan di lokasi work
shop sesuai dengan gambar yang telah disepakati.
2) Setelah proses pembentukan baja tulangan selesai, dilakukan
pengiriman tulangan yang diperlukan ke lokasi pekerjaan, baja tulangan
harus selalu dilindungi dengan slepeer untuk mencegah menyentuh
tanah dasar.
3) Setelah baja tulangan sudah dibentuk dan dipotong kirimkan ke lokasi
pekerjaan, kemudian dilakukan perakitan pembesian, pemasangan
45

pembesian wing wall untuk box culvert dilakukan sekaligus dengan


penulangan footing abutment sesuai dengan gambar yang disepakati.
4) Perakitan pembesian sisi luar diikuti dengan pemasangan beton deking
agar didapat selimut beton yang ditentukan.
5) Setelah fabrikasi dan pemasangan penulangan wing wall box culvert
selesai dilanjutkan dengan pemasangan bekisting.

Gambar 4.19. Pekerjaan Pembesian Wing Wall


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
d. Pekerjaan bekisting
1) Bekisting diukur sesuai dengan shop drawing yang telah disepakati.
2) Selalu bersihkan bekisting sebelum dipasang, adanya kotoran pada
bekisting dapat menimbulkan hasil cor tidak rapi, retak atau bahkan
kegagalan struktur.
3) Pemasangan menyesuaikan dengan garis marka yang telah dibuat.
4) Lakukan pengecekan pada bekisting apakah sudah benar-benar kuat
(posisi, ketegakan, dan kedataran).
5) Setelah itu dilanjutkan dengan pengecoran.
e. Pekerjaan Pengecoran
1) Setelah pembesian, pemasangan bekisting dan pembersihan bekisting,
surveyor memberikan tanda untuk batas level pengecoran.
2) Meminta inpeksi dari engineer untuk disetujui, segera lakukan
perbaikan apabila diinstrusikan, setelah itu request untuk inspeksi
kembali.
3) Setelah disetujui oleh engineer, dilakukan pengecoran dengan cara
menuangkan adonan beton dari truck mixer ke concrete pump yang
46

dilengkapi sunny hose (D200 mm). Tinggi maksimum pengecoran yang


diizinkan 1,5 m dan tidak boleh melebihi syarat yang diizinkan.
Konsisten beton dan spesimen tes harus dicek dan disiapkan sebelum
pengecoran.
4) Pemadatan pengecoran dilakukan dengan menggunakan elektrik
vibrator.

Gambar 4.20. Pengecoran Wing Wall


(Sumber : PT. WASKITA KARYA)
5) Beton yang datang selalu dicek slump dan diambil sampel silinder.
Nilai slump sesuai RKS untuk beton kelas C-1 adalah 7,5 ± 2,5 cm.
Pada setiap maksimum 15 m3 beton secara acak, diambil 2 sampel
beton silinder untuk diuji pada umur 7 hari dan 28 hari.

Gambar 4.21. Pelaksanaan Slump Test


(Sumber : Foto Pribadi)
47

f. Perawatan beton
Sesaat setelah pengecoran beton, segera lakukan perawatan beton,
perawatan beton menggunakan geotekstil basah atau sejenisnya yang diletakkan
diatas permukaan beton, kelembapan geotekstil harus terus dijaga selama masa
perawatan agar beton tidak rusak.
g. Pelepasan bekisting
1) Pelepasan bekisting dilakukan setelah ada persetujuan dari engineer,
pelepasan bekisting dilakukan 4 hari setelah pengecoran (kekuatan
desain mencapai 85%).
2) Setelah pelepasan bekisting harus segera dilakukan perawatan beton
dengan curing compound pada sisi yang baru dilepas bekistingnya.
3) Rapikan lokasi footing untuk dilakukan penimbunan kembali.
4) Penimbunan tanah kembali footing untuk dilakukan layer per layer
setebal 30 cm dengan menggunakan stamper.
h. Pengendalian mutu
1) Pengendalian mutu bahan.
2) Alat dan material yang digunakan harus selalu bebas dari segala kotoran
dan zat asing lainnya.
3) Pengecoran beton sesuai dengan SOP.
4) Posisi pemasangan wing wall harus dipastikan berada pada lokasi yang
benar (sesuai gambar kerja).
5) Proses pemotongan baja tulangan dan penekukan harus dilakukan
secara hati-hati agar tidak merusak baja tulangan.
6) Sisa bekisting yang sudah dipakai harus dikumpulkan dan ditumpuk
secara rapi di tempat yang telah disediakan.
7) Pembesian yang sudah dipasang harus dicek kesesuaiannya dengan
gambar kerja serta mutunya, dikontrol dengan form pemeriksanaan
pembesian.
i. Proses K3L
Proses K3L dijalankan dan diimplementasikan
1) K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
48

a. Memastikan semua personil dan pekerja sudah diinduksi oleh


subkon tersebut dan pelaksana terkait.
b. Peralatan dan alat bantu sudah dicek terlebih dahulu.
c. Ijin kerja sesuai dengan lokasi yang dikerjakan.
d. Metode kerja sesuai dengan approval.
e. Inspeksi dan pengawasan terhadap norma K3 dilakukan dengan
baik dan didokumentasikan.
f. Pastikan semua yang bekerja pada lokasi tersebut sudah
dilengkapai dengan APD yang sesuai.
g. Pastikan rambu-rambu terpasang sesuai jenisnya.
2) Enviromental (Lingkungan)
a. Sebelum dan sesudah selesai bekerja, lokasi, alat, dan material
dirapikan kembali.
b. Parkir dan stand by alat dan personel di tempat yang sudah aman.
c. House keeping dan kebersihan lokasi pekerjaan terpelihara sesuai
dengan 5R.
d. Tidak ada tumpahan oli, minyak, dan grace ke dalam tanah secara
langsung.
e. Jadwal pemeliharaan dan maintenance lokasi kerja alat terlaksana
dengan baik didokumentasikan.

4.3. Kendala dan Permasalahan


Dalam setiap pekerjaan kita akan menemukan berbagai macam
permasalahan. Namun masalah tersebut bukan untuk dihindari, tapi harus dicari
jalan keluarnya. Segala sesuatu memang tidak sempurna, kita akan selalu
dihadapkan pada suatu bentuk permasalahan, hambatan dan persoalan. Selama
pelaksanaan pekerjaan, timbul beberapa masalah yang menyebabkan
terhambatnya kemajuaan proyek tersebut. Masalah-masalah yang timbul dibagi
dalam beberapa kategori, yaitu:
49

4.3.1. Faktor Cuaca


Faktor alam yang menyebabkan terhambatnya kemajuan pekerjaan adalah
hujan. Dalam pelaksanaan pekerjaan, cukup sering mengalami turun hujan. Air
hujan dapat mengakibatkan tejadinya genangan pada lahan pekerjaan dan
memperlambat pekerjaan lainnya, misalnya galian menjadi berat saat
pengangkutan, pemaparan material, dan pengecoran tidak dapat dilakukan lebih
cepat. Selain itu faktor cuaca seperti hujan juga dapat menyebabkan berhentinya
suatu pekerjaan dengan alasan keamanan.

4.3.2. Faktor Keselamatan Kerja


Seperti pada umumnya proyek-proyek di Indonesia, keselamatan kerja para
pekerja kurang diperhatikan yang dapat dilihat dari perlengkapan perlindungan
keselamatan kerja yang tidak dipakai oleh beberapa pekerja, baik itu sepatu, helm
proyek, dan baju pekerja yang menandakan pekerja itu sendiri.
Dalam beberapa kasus, kontraktor mendapatkan beberapa teguran dari
supervisi lapangan dengan tidak mengutamakan keselamatan kerja seperti
penggunaan helm kerja, rompi pekerja atau baju pekerja khusus. Memang dalam
hal ini sudah seperti biasa dilakukan, namun cuaca yang mungkin berubah-ubah
membuat pekerja kurang nyaman nyaman menggunakan perlengkapan yang ada.

4.3.3. Faktor Peralatan


Faktor peralatan yang menyebabkan terhambatnya kemajuan proyek adalah
alat-alat pekerjaan box culvert maupun wing wall yang digunakan biasanya terjadi
kerusakan yang dapat menghambat proses pekerjaan box culvert dan wing wall
dan tidak sesuai dengan jadwal yang ada.

4.3.4. Efisiensi Penggunaan Bahan Meterial


Pada saat pengangkutan material ke zona yang akan dihamparkan material
tersebut seringkali terjadi kekurangan material yang dibawa oleh dumptruck, hal
ini dikarenakan adanya tumpahan material di sepanjang jalan yang telah dilewati.
Sopir truk kadang tidak memikirkan akan hal tersebut tetapi memikirkan agar
cepat sampai di tempat tujuan material tersebut.
50

4.4. Alternatif dan Solusi


Adanya permasalahan, selalu diusahakan untuk mencari jalan keluar yang
terbaik. Dalam hal ini ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan oleh pihak
kontraktor, antara lain:

4.4.1. Faktor Cuaca


Untuk mengatasi jam kerja yang berkurang saat hujan turun, maka jam kerja
yang terpotong akan dialihkan hingga sore hari (pemberlakuan jam lembur), atau
hari minggu, namun perlu diperhatikan, pemberlakuan jam lembur ini tidak boleh
terlalu sering dilakukan karena dikhawatirkan akan mengurangi kualitas dari hasil
pekerjaan akibat keterbatasan pengawasan maupun tenaga kerja.

4.4.2. Faktor Keselamatan Kerja


Perlunya adanya penumbuhan kesadaran pada para pekerja maupun
kontraktor akan pentingnya perlengkapan keselamatan kerja dalam setiap
pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Hal ini dapat disosialisasikan dan diawasi oleh
pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja Dan Transmigrasi.

4.4.3. Faktor Peralatan


Untuk peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan box culvert
dan wing wall sebaiknya dilakukan cadangan peralatan tersebut agar pelaksanaan
pekerjaannya tidak terhambat.

4.4.4. Efisiensi Penggunaan Bahan


Pengawasan penggunaan bahan dilapangan harus lebih ketat untuk
menangani masalah efisiensi bahan ini. Sebenarnya jika semua komponen
pelaksana yang terlibat dapat bekerja sama dengan baik, hal ini tentu dapat
diminimalkan. Akan tetapi, para pekerja sering mengambil keputusan sendiri
tanpa memikirkan material-material yang ada.
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan
Setelah melaksanakan kerja praktek (KP) yang berlangsung selama kurang
lebih 3 bulan, banyak sekali manfaat dan pelajaran yang dapat diperoleh dalam
bidang teknik sipil, baik yang menyangkut teknis dilapangan maupun manajemen
proyek. Pengalaman-pengalaman ini dapat melengkapi pengetahuan yang telah
didapat dibangku perkuliahan. Dari kerja praktek ini dapat memberikan pelajaran
bahwa terdapat perbedaan yang cukup segnifikan antara teori yang didapatkan
dibangku perkuliahan dengan pelaksanaan dan keadaan sesungguhnya di
lapangan. Adapun beberapa yang dapat penulis simpulkan selama kerja praktek
berlangsung yaitu:
1. Pelaksanaan pekerjaan dilokasi proyek cukup lancar, namun dalam
pelaksanaannya masih mengalami keterlambatan. Hal ini dikarenakan faktor
cuaca yang tidak dapat ditentukan.
2. Kualitas dan kuantitas pekerjaan pada pekerjaan ini telah memenuhi
spesifikasi teknis yang telah direncanakan.
3. Kontraktor sangat menjaga kualitas dan kuantitas pekerjaan sesuai dengan
spesifikasi teknis dan mengikuti petunjuk maupun arahan dari supervisi
lapangan.

5.2. Saran
Beberapa saran yang dapat penulis kemukakan untuk kelancaran dan
kemampuan pelaksanaan suatu proyek khususnya pekerjaan Pembangunan Jalan
Tol KAPB Seksi 1A adalah sebagai berikut:
1. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan harus ditingkatkan supaya hasil
pekerjaan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Pengendalian pekerja yang kurang disiplin dalam proses pekerjaan guna
menghindari Human Erorr.
3. Keselamatan kerja hendaknya lebih ditingkatkan seperti helm, masker,
sepatu proyek serta bimbingan keselamatan kerja sesuai tahapan-tahapan
pekerjaan untuk menghindari kecelakaan kerja.

51
DAFTAR PUSTAKA

Pedoman data-data dan gambar dari PT. Waskita Sriwijaya Tol dan PT. Waskita
Karya Divisi VI Seksi 1A dengan Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung-
Palembang Betung (KAPB) di Palembang Provinsi Sumatera Selatan, Juni
2019.
Ariyadi, R. P., 2016, Box Culvert, [Online], Website :
https://id.scribd.com/document/369149768/Makalah-Box-Culvert. [Diakses
tanggal 11-04-2018].
Badan Pengatur Jalan Tol, 2018, Tujuan dan Manfaat, [Online], Website :
http://bpjt.pu.go.id/ [Diakses tanggal 03-04-2018].
Bina Marga, 2009, Geometri Jalan Bebas Hambatan untuk Jalan Tol
No.007/BM/2009, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina
Marga, Jakarta.
Bisa, F., 2014, Pengertian dan Klasifikasi Timbunan, [Online], Website :
https://www.kumpulengineer.com/2014/09/pengertian-dan-
klasifikasitimbunan.html [Diakses tanggal 09-04-2018].
Caya, Y., 2016, Jurnal Infrastruktur Vol.1 No.02 Agustus 2016, Kementrian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta.
Jasa Marga, 1999, Pedoman Perencanaan Bangunan Fasilitas Tol, Divisi
Perencana PT Jasa Marga, Jakarta.
Pasaribu, A. P., 2009, Faktor Penyebab Terjadinya Klaim yang Mempengaruhi
Kinerja Waktu Proyek Konstruksi Jalan Tol Di Jabodetabek, Tesis, Program
Pascasarjana FT UI, Jakarta.
Putri, A., 2016, Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang - Solo Tahap II Ruas
Bawen – Solo, Jembatan Tuntang Paket 3.1 : Bawen – Polosiri, Laporan
Praktik Kerja, Teknik Sipil FT UKS, Semarang.
Republik Indonesia, 2004, Undang-Undang Republik Indonesia No. 38 Tahun
2004 Tentang Jalan, Presiden Republik Indonesia, Jakarta.
Republik Indonesia, 2005, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15
Tahun 2005 Tentang Jalan Tol, Presiden Republik Indonesia, Jakarta.

52
DOKUMENTASI PELAKSANAAN
PEKERJAAN PROYEK JALAN TOL KAPB SEKSI 1A

Gambar 1 (Proses Perataan dan Pemadatan Tanah Timbunan)

Gambar 2 (Proses Penghamparan Agregat Kelas B)

54
55

Gambar 3 (Proses Pemadatan Agregat Kelas A)

Gambar 4 (Proses Pemadatan Lapisan AC-BC)


56

Gambar 5 (Proses Pengangkatan Box Culvert Precast)

Gambar 6 (Proses Pemasangan Box Culvert Precast)


57

Gambar 7 (Proses Pengecoran Box Culvert Precast)

Gambar 8 (Proses Pengecoran Wing Wall Box Culvert)


58

Gambar 9 (Proses Pembesian Box Culvert)

Gambar 10 (Proses Pemasangan Bekisting Box Culvert)

Anda mungkin juga menyukai