Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu

pada tanah dan/atau mediatumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah

dan memasarkan bareng dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu

pengetahuan dan teknologi, permodalan sertamanajemen untukmewujudkan

kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat. Sedangkan menurut

Peraturan Menteri Pertanian, Perkebunan adalah segala kegiatan pengelolaan sumber

daya alam, sumber daya manusia, sarana produksi, alat dan mesin, budi daya, panen,

pengolahan, dan pemasaran terkait tanaman perkebunan. Berdasarkan jenis

tanamannya, perkebunan dapat dibedakan menjadi perkebunan dengan tanaman

musim, seperti perkebunan tembakau dan tebu, serta perkebunan tanaman tahunan,

seperti perkebunan kelapa sawit, karet, kakao, kopi, cengkeh, dan pala.

Tanaman karet (Havea Brasiliensis) merupakan salah satu tanaman

perkebunan yang potensial. Hal ini dikarenakan produk tanaman karet (lateks)

merupakan salah satu bahan baku penting yang digunakan dalam industri karet. Satu

siklus tanam yang dihitung dari saat menanam di lapangan sampai peremajaan

memakan waktu kurang lebih 25 tahun. Hal ini berarti bahwa pemilihan bahan

tanam/bibit tanaman dilakukan sekali dalam 25 tahun. Pemilihan bahan tanam harus

dipertimbangkan secara cermat karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan


tanam akan sangat berdampak negatif terhadap perkebunan tanaman karet dan

terhadap usaha karet alam nasional.

Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting baik untuk

lingkup Indonesia maupun bagi internasional. Indonesia pernah menguasai produksi

karet dunia dengan mengungguli produksi negara-negara lain. Tanaman karet

merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting

sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia.Tanaman karet memiliki prospek

yang sangat cerah sehingga upaya peningkatan produktivitas usaha tani karet terus

dilakukan, terutama dalam bidang teknologi budidaya. Sumber devisa ini tentunya

harus dikembangkan melalui peningkatanefisiensi pengolahan dan optimalisasi

pemanfaatan sumber daya alam, tenaga, modal,dan teknologi yang tersedia tentang

karet.

Perbanyakan secara generatif merupakan salah satu teknik yang digunakan

dalam proses pembiakan tanaman. Melaui perbanyakan generatif, biji yang telah

memenuhi syarat ditanam hingga menghasilkan tanaman baru yang lebih banyak.

Biji yang ditanam tersebut merupakan organ tanaman yang terbentuk dalam buah

sebagai hasil dari pendewasaan bakal biji yang dibuahi. Keuntungan

perkembangbiakan generatif diantaranya adalah biaya yang relatif murah,

penyimpanan dalam waktu lama memuaskan, daya hidupnya tetap tinggi bila

disimpan dalam lingkungan yang menghindari kondisi favorable untuk untuk

respirasi dan kegiatan enzimatik, serta memungkinkan untuk memulai tanaman yang

bebas penyakit, khususnya penyakit tertular biji (seedborne). Meskipun demikian

terdapat pula kelemahan pembiakan generatif, seperti adanya segregasi sifat untuk
tanaman-tanaman heterozigot, sehingga dihasilkan beberapa tanaman keturunan

yang sifatnya tidak sama dengan induknya.

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) saat ini merupakan salah satu

jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting disektor pertanian

umumnya, dan sektor perkebunan khususnya, hal ini disebabkan karena dari sekian

banyak tanaman yang menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang

menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektarnya di dunia.Melihat pentingnya

tanaman kelapa sawit dewasa ini dan masa yang akan datang, seiring dengan

meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minyak sawit, maka perlu dipikirkan

usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kelapasawit secara tepat agar

sasaran yangdiinginkan dapat tercapai. Salah satu diantaranya adalah pengendalian

hama dan penyakit.

Perbaikan mutu dan kualitas benih diupayakan disaat pembibitan. Pembibitan

merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya kelapa sawit. Pembibitan

memberikan kontribusi yang nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan

tanaman. Pembibitan dilakukan kerena tanaman kelapa sawit memerlukan perhatian

yang tetap dan terus menerus pada umur 1 – 1,5 tahun pertama (Djojosuwito, 2002).

Pembibitan merupakan kegiatan menumbuhkan dan merawat kecambah

hingga menjadi bibit yang siap untuk ditransplanting ke lapangan. Tujuan dari

pembibitan adalah untuk memastikan secara seksama bahwa bibit yang ditanam di

lapangan adalah bibit yang sesuai dengan standar dan prosedur manajemen kebun.

Fairhust dan Rankine (2009) menyatakan tujuan pembibitan kelapa sawit adalah

untuk menghasilkan bibit berkualitas tinggi yang harus tersedia pada saat penyiapan

lahan tanam yang telah selesai. Pembibitan yang terdiri dari 2 tahap, tahap pertama
adalah tahap pembibitan awal (Pre Nursery) dan tahap kedua pada pembibitan utama

(Main Nursery).

Faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan bibit

adalah kesuburan media tanam atau komposisi media tanam. Kesuburan media

tanam yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bibit tergantung

pada komposisi media tumbuh. Media tumbuh yang baik adalah media tumbuh yang

porous sehingga akar dapat memperoleh udara dan air yang cukup, serta mampu

menyediakan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman.

B. Tujuan Pratikum

1. untuk menyelesaikan tugas mandiri mata kuliah teknologi produksi tanaman

perkebunan 1.

2. Unuk mengetahui dan mempelajari tentang tanaman karet dan kelapa sawit

pre-nursery dan main-nursery.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada beberapa jenis

tumbuhan, dengan ciri umumnya yaitu berwarna putih. Karet pertama kali dikenal di

Eropa, yaitu sejak ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Columbus pada

tahun 1476. Orang Eropa yang pertama kali menemukan ialah Pietro Martyre

d’Anghiera yang dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul De Orbe Novo (Edisi

1530). Pada tahun 1730-an, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan

(karet) tersebut, hingga akhirnya Charles Goodyear pada tahun 1838 menemukan

cara dengan dicampurkannya belerang kemudian dipanaskan maka karet tersebut

menjadi elastis dan tidak terpengaruh lagi oleh cuaca. Sebagian besar ilmuwan

sepakat untuk menetapkan Charles Goodyear sebagai penemu proses vulkanisasi.

Penemuan besar proses vulkanisasi ini akhirnya disebut sebagai awal dari

perkembangan industri karet

Di Indonesia sendiri, tanaman karet pertama kali diperkenalkanpada waktu

masih jajahan belanda oleh Hofland pada tahun 1864. Awalnya, karet ditanam di

Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi dan selanjutnya dikembangkan menjadi

tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah. Jenis yang pertama kali diuji

cobakan adalah species Ficus elastica atau karet rembung. Jenis karet Havea

brasiliensis baru ditanam di Sumatera bagian timur pada tahun 1902 dan di Jawa

pada tahun 1906. (Tim Penebar Swadaya, 2008).


Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut Divisi :

Spermatophyta, Sub divisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Keluarga :

Euphorbiaceae, Genus : Hevea, Spesies : Hevea brasiliensis.

Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup

besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh

lurus dan memiliki percabangan yang tinggi. Beberapa pohon karet ada kecondongan

arah tumbuh agak miring. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal

dengan naman lateks (Setiawan dan Andoko, 2000).

Daun karet berwarna hijau. Apabila akan rontok berubah warna menjadi

kuning atau merah. Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak

daun. Panjang tangkai daun utama sekitar 3 - 20 cm. Panjang tangkai anak daun

sekitar 3-10 cm. Biasanya terdapat 3 anak daun pada setiap helai daun karet. Anak

daun karet berbentuk elips, memanjang dengan ujung yang meruncing, tepinya rata

dan tidak tajam (Marsono dan Sigit, 2005).

Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam malai

payung yang jarang. Pada ujungnya terdapat lima taju yang sempit. Panjang tenda

bunga 4 - 8 mm. Bunga betina berambut, ukurannya sedikit lebih besar dari bunga

jantan dan mengandung bakal buah beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahi

dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah. Bunga jantan mempunyai sepuluh

benang sari yang tersusun menjadi suatu tiang. Kepala sari terbagi dalam 2 karangan

dan tersusun lebih tinggi dari yang lain (Marsono dan Sigit, 2005). Tanaman karet

dapat diperbanyak secara generatif (dengan biji) dan vegetatif (okulasi). Biji yang
akan dipakai untuk bibit, terutama untuk penyediaan batang bagian bawah harus

sungguh-sungguh baik (Setyamidjaja, 1993).

Buah karet mempunyai garis tengah antara 3-5 cm, dengan bagian ruang

yang berbentuk setengah bola;  biji besar, berbercak/bernoda (khas dan

beracun). Masak buah yang normal sekitar 5 bulan, buah masak pecah dengan kuat

menurut ruang.

Daerah yang cocok adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU, dengan

suhu harian 25 – 30oC. Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara

2.000- 2.500 mm/tahun dengan hari hujan berkisar 100 s/d 150 HH/tahun. Lebih

baik lagi jika curah hujan merata sepanjang tahun. Sebagai tanaman tropis, karet

membutuhkan sinar matahari sepanjang hari, minimum 5- 7 jam/hari dan Kecepatan

angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk penanaman karet.

(Tim Karya Tani Mandiri, 2010)

Suhu harian yang dinginkan tanaman karet rata-rata 15-300 C. Apabila dalam

jangka waktu panjang suhu harian rata-rata kurang dari 200 C, maka tanaman karet

tidak cocok ditanam di daerah tersebut. Intensitas sinar matahari adalah hal amat

dibutuhkan tanaman karet. Bila terjadi penyimpangan terhadap faktor ini, maka

mengakibatkan turunnya produktivitas dan (PTPN VII, 1993).

Lahan untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih

memperhatikan sifat fisik dibandingkan dengan sifat kimianya. Berbagai jenis tanah

dapat kita sesuaikan dengan syarat tumbuh tanaman karet, baik tanah vulkanis muda

dan tua maupun pada tanah gambut < 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika
yang cukup baik, terutama struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi dan

drainasenya. Namun, secara umum sifat kimianya kurang baik karena kandungan

haranya rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisiknya, terutama

drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tahan berkisar antara pH 3,0 – pH 8,0

tetapi tidak sesuai pada pH < 3,0 dan > pH 8,0 (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Penanaman bibit karet yang paling mudah adalah dengan cara menanam biji,

kebanyakan pohon-pohon karet yang berumur sampai berpuluh-puluh tahun,

pohonnya menjadi sangat besar dan kuat, bibitnya berasal dari biji. Pohon karet yang

dari biji mempunyai akar tunggang yang kuat dan menjalar ke segala arah sampai

puluhan meter panjangnya. Semua biji yang dipersiapkan sebagai benih harus dipilih

dari buah yang benar-benar sudah masak. Usaha pembibitan dengan menggunakan

biji masih tetap diperlukan dan masih banyak dirasakan manfaatnya terutama untuk

kepentingan bibit okulasi dan grafting, sebagai batang bawah (Winarno, dkk 1990).

Beberapa keuntungan perkembangbiakan karet secara generatif yaitu kondisi

tanaman dari biji biasanya perakarannya relatif lebih kuat, sehat dan berumur

panjang. Perlakuan perbanyakan generatif lebih mudah dan murah serta dapat

diperoleh varietas baru yang baik bahkan biji poliembrionik dapat menghasilkan

tanaman yang sama dengan sifat induknya. Beberapa kelemahan pengembangbiakan

karet secara generatif tidak cepat berbuah dan varietas baru yang muncul belum tentu

mempunyai sifat yang baik seperti induknya. Untuk mengetahui kualitasnya

membutuhkan waktu yang cukup lama, dan juga dengan ketahanannya terhadap

penyakit. (Danoesastro, 2003).


B. Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)

Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) merupakan tumbuhan tropis yang

diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan di

hutan belantara Negara tersebut.Kelapa sawit pertama masuk ke Indonesia pada

tahun 1848,dibawa dari Mauritius Amsterdam oleh seorang warga Belanda.Bibit

kelapa sawit yang berasal dari kedua tempat tersebut masing-masing berjumlah dua

batang dan pada tahun itu juga ditanam di Kebun Raya Bogor. Hingga saat ini, dua

dari empat pohon tersebut masih hidup dan diyakini sebagai nenek moyang kelapa

sawit yang ada di Asia Tenggara.Sebagian keturunan kelapa sawit dari Kebun Raya

Bogor tersebut telah diintroduksi ke Deli Serdang (Sumatera Utara) sehingga

dinamakan varietas Deli Dura (Hadi, 2004).

Memasuki masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami

kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas

lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit di Indonesia hanya mencapai 56.000

ton pada tahun 1948/1949, padahal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000

ton minyak sawit. Pada tahun 1957, setelah Belanda dan Jepang meninggalkan

Indonesia, pemerintah mengambil alih perkebunan.Luas areal tanaman kelapa sawit

terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya

permintaan akan produk olahannya. Ekspor minyak sawit CPO Indonesia antara lain

ke Belanda, India, Cina, Malaysia dan Jerman, sedangkan untuk produk minyak inti

sawit Palm Karnel Oil (PKO) lebih banyak diekspor ke Belanda, Amerika Serikat

dan Brasil (Pahan, 2008).


Klasifikasi Tanaman kelapa sawit dapat diuraikan sebagai berikut; Kingdom :

Plantae; Divisi : Tracheophyta; Sub divisi : Pteropsida; Kelas : Angiospermae;

Ordo : Arecales; Familia: Arecaceae; Genus: Elaeis; Spesies: Elaeis guineensis Jacq

(Lubis, 1992).

Tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian

vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif kelapa sawit meliputi akar, batang

dan daun, sedangkan bagian generatif yang merupakan alat perkembangbiakan

terdiri dari bunga dan buah (Fauziet al., 2008).

Kelapa sawit yang sudah dewasa memiliki akar serabut yang membentuk

anyaman rapat dantebal. Sebagian akar serabut tumbuh lurus ke bawah/vertikal dan

sebagian lagi tumbuh menyebar ke arah samping/horizontal (Sastrosayono, 2003).

Susunan akar kelapa sawit terdiri dari akar serabut premier yang tumbuh vertikal ke

dalam tanah dan horizontal ke samping dan bercabang menjadi akar sekunder ke atas

dan kebawah dan ahirnya cabang – cabang ini pun bercabang lagi akar tersier dan

seterusnya. Akar kalapa sawit dapat mencapai 8 meter dan 16 meter secara

horizontal.Akar primer berdiameter 7-9 mm, keluar dari batang dan menyebar

horizontal.Akar sekunder berdiameter 2-4 mm, keluar dari akar primer.Akar tersier

berdiameter 0.7-1.2 mm, keluar dari akar sekunder, dan akar kuartener keluar dari

akar tersier yang berdiamter 0.1-0.3 mm (Lubis, 1992).

Daun kelapa sawit merupakan daun majemuk.Daun berwarna hijau tua dan

pelapah berwarna sedikit lebih muda.Susunan daun kelapa sawit mirip dengan

kelapa (Nyiur), yaitu membentuk daun menyirip. Letak daun pada batangmengikuti

pola tertentu yang disebut filotaksis. Daun yang berurutan dari bawah keatas
membentuk suatu spiral dengan rumus daun 1/8. Terdapat dua pola filotaksis yang

secara sederhana dapat dikatakan yang satu berputar ke kiri tidak berbeda dengan

yang kanan dan produktivitas pohon dengan kedua pola ini pun tidak berbeda nyata

(Lubis, 1992). Daun terdiri atas tangkai daun yang pada kedua tepinya terdapat dua

baris duri. Tangkai daun bersambungdengan tulang daun utama yang jauh lebih

panjang dari tangkai dan pada kiri-kanannya terdapat anak-anak daun.Tiap anak

daun terdiri atas tulang anak daun dan helai daun. Anak daun yang terpanjang (pada

pertengahan daun) dapat mencapai 1,2 meter. Jumlah anak daun dapat mencapai

250-300 helai per daun. Jumlah produksi daun adalah 30-40 daun per tahun pada

pohon-pohon yang berumur 5-6 tahun, setelah itu produksi daun menurun menjadi

20-25 daun per tahun (Soepadiyo, 2005).

Tanaman kelapa sawit bersifat monoecious atau berumah satu.Bunga jantan

dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman, namun tandan bunga jantan terpisah

dengan tandan bunga betina dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga

sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri.Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan

panjang, betina terlihat lebih besar apalagi saat sedang mekar (Lubis, 1992).

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah

tergantung bibit yang digunakan.Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari

tiap pelapah.Minyak dihasilkan oleh buah.Kandungan minyak bertambah sesuai

kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas

(FFA = free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terkumpul di dalam tandan.Dalam satu tandan terdapat sekitar 1.600 buah.
Tanaman normal akan menghasilkan 20 - 22 tandan per tahun. Jumlah tandan buah

pada tanaman tua sekitar 12–14 tandan per tahun (Lubis, 1992).

Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan

kelapa sawit. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di

sekitar lintang Utara-Selatan 12 derajat pada ketinggian 0-500 m diatas permukaan

laut (dpl). Beberapa unsur iklim yang penting dan saling mempengaruhi adalah curah

hujan, sinar matahari, suhu, kelembapan udara, dan angin (Fauzi et al, 2008).

Curah hujan yang ideal bagi kelapa sawit yakni 2.000 – 2.500 mm pertahun

dan tersebar merata setiap tahun. Musim kemarau selama tiga bulan ataulebih dapat

menurunkan produksi kelapa sawit.Sedangkan curah hujan yang tinggi tidak

berpengaruh buruk terhadap produksi kelapa sawit, asalkan drainasedan penyinaran

matahari cukup baik (Sastrosayono, 2003).

Selain curah hujan dan matahari yang cukup, tanaman kelapa sawit

memerlukan suhu yang optimum sekitar 24-28º C untuk tumbuh dengan baik.

Meskipun demikian, tanaman masih bisa tumbuh pada suhu terendah 18º C dan

tertinggi 32º C. Beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendah suhu adalah lama

penyinaran dan ketinggian tempat. Makin lama penyinaran atau makin rendah suatu

tempat, makin tinggi suhunya. Suhu berpengaruh terhadap masa pembungaan dan

kematangan buah. Tanaman kelapa sawit yang ditanam lebih dari ketinggian 500 m

dpl akan terlambat berbunga satu tahun jika dibandingkan dengan yang ditanam

didataran rendah (Sianturi, 1991).


Kelembaban udara dan angin adalah faktor yang penting untuk menunjang

pertumbuhan kelapa sawit. Kelembaban optimum bagi pertumbuhan kelapa sawit

adalah 80%. Kecepatan angin 5-6 km/jam sangat baik untuk membantu proses

penyerbukan. Angin yang kering menyebabkan penguapan lebih besar. Mengurangi

kelembaban, dan dalam waktu lama mengakibatkan tanaman layu. Faktor-faktor

yang mempengaruhi kelembaban adalah suhu, sinar matahari, lama penyinaran,

curah hujan, dan evapotranspirasi (Fauzi et al , 2008).

Anda mungkin juga menyukai