Anda di halaman 1dari 597

P

Peed
daan
ngg T
Taan
nddu
ukkN
Naaggaa
Karya : Sin Liong
Saduran : S.D.LIO NG
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
Bab 1
Tetamu maut
Hwe-sian-hong atau puncak pertemuan Dewa,
merupakan puncak yang tertinggi dari gunung Tiang-pek-
san.
Disebut puncak pertemuan Dewa, karena puncaknya
menembus awan sehingga tak tampak, Begitu pula selalu
diselimuti oleh salju putih, Empat penjuru dikelilingi jurang
yang curam dan tebing yang terjal.
Diatas segunduk karang datar seluas beberapa tombak
dari puncak Hwe-sian-hong yang dingin itu, sesosok tubuh
tengah tegak bagaikan sebuah tonggak.
Dia seorang pemuda yang baru berumur sekitar 18
tahun. Bertubuh kekar dan berwajah cakap. Wajahnya
putih segar, dimeriahkan oleh sepasang bibir yang merah
dan disemarakkan oleh sepasang biji mata yang bersinar
terang.
Dia mengenakan pakaian ringkas, pakaian yang biasa
digunakan oleh kaum persilatan. Memakai kain kepala Bu-
seng kin atau ikat kepala kaum persilatan untuk menahan
angin dan hawa dingin, diapun mengenakan sehelai mantel
berwarna kuning telur.
Bahu, punggungnya menyanggul sebatang pedang
pusaka yang aneh bentuknya. Tangkai pedang berikatkan
sutera merah yang halus seperti rambut.
Pemuda itu memandang cakrawala, wajahnya tampak
sarat dan membeku. Dia tak menghiraukan tebaran salju
yang berhamburan mendera muka dan tubuhnya.
Sesaat kemudian terdengar mulutnya menghela napas,
sarat dan panjang, Seolah sedang merenungkan sesuatu
yang penting.
Memang aneh sekali, Mengapa seorang diri dia berdiri
diatas karang yang sedang dilanda angin prahara dan hujan
salju.
Tetapi dari kerut wajah dan helaan napasnya itu, jelas
dia tentu sedang menghadapi suatu persoalan yang
menggelisahkan hatinya.
Memandang cakrawala yang tengah menaburkan hujan
salju itu, mulut pemuda itu tampak bergerak-gerak, Seperti
seorang yang tengah berdoa atau bicara seorang diri.
Dan tempat seperti itu, dia tegak seorang diri diatas
karang ? Apakah yang sedang diucapkan dalam doanya ?
Mengapa ia menghela napas sedemikian sarat ?
Sekonyong-konyong matanya memancar sinar berkilat
tajam sekali. Tetapi pada lain saat, sinar tajam itupun
lenyap. Dan kerut wajahnyapun menampilkan suatu
keputusan yang kokoh. Rasanya dia telah menentukan
suatu keputusan pada persoalan yang tengah dihadapinya.
Dia telah menemukan suatu penyelesaian....
Tiba2 dibawah tebaran salju putih yang lebat,
terdengarlah dua buah suara orang berteriak nyaring:
"Liong koko.... Liong koko..."
Teriakan itu bernada cemas dan gugup, pemuda itu
terkejut lalu berputar tubuh dan berseru keras:
"Adik Lan, aku disini...!"
Sesosok bayangan putih, bagai seekor kupu2, segera
beterbangan melintas hujan salju, meluncur kearah tempat
pemuda itu.
Pemuda itu terkejut Cepat ia lari menyongsong : "Adik
Lan, jangan kemari, disini angin keliwat besar, Berbahaya
sekali !"
Tetapi bayangan putih itu tak mengurangi laju larinya
dan beberapa saat kemudian dia sudah makin dekat
Ah, kiranya dia seorang dara cantik yang baru berumur
16-an tahun. sepasang alisnya yang melengkung seperti
bulan sabit, menaungi sepasang gundu mata yang
memancarkan sinar bening. Bibirnya yang berbentuk
sepasang kelopak bunga mawar, makin menyemarakkan
wajahnya yang berbentuk bundar telur, Kulitnya yang putih
mulus makin mulus dimahkotai rambut yang hitam legam.
Dara itu juga mengenakan pakaian ringkas warna putih
dan mantel pendek penolak angin.
Melihat dara itu lari sedemikian gopoh dan wajah cemas,
sambil pesatkan larinya, pemuda itu berseru:
"Adik Lan, apakah terjadi sesuatu dalam kuil?"
Seiring dengan kata katanya maka berhadapanlah
sepasang muda mudi itu dibawah karang.
Wajah dara itu amat pucat dan sikapnya amat gelisah,
Dengan napas terengah dan suara gemetar, ia berkata:
"Liong koko, katanya banyak sekali kojiu (jago2 sakti)
yang akan datang ke kuil sore ini, Mereka hendak memaksa
Ban Hong Liong-li Ho-cianpwe yang bertapa selama lima
tahun dalam gua Kiu-kiok-tong keluar untuk menerima
hukuman mati."
Menggigillah pemuda itu demi mendengar keterangan si
dara.
"Siapa yang bilang ?" serunya bengis.
Dara itu melonjak kaget karena mendengar suara si
pemuda yang sekeras orang membentak.
"Suhu mengatakan hal itu kepada berdua susiok-cou."
Belum dara itu selesai bicara, tiba2 pemuda itu tertawa
nyaring, Nadanya penuh getaran dari isi hatinya.
Kumandangnya jauh menyusup keatas awan.
Setelah puas menumpahkan isi hatinya dalam tertawa
yang keras dan panjang itu, tiba2 pemuda itu meraba ke
bahu punggungnya dan tring...
Sinar merah memancar tajam, menyilaukan mata, Dan
tangan pemuda itupun sudah mencekal sebatang pedang
berwarna merah, Pedang itu panjangnya hampir satu meter.
Kilatan sinar merah dari pedang itu seolah menembus
kabut tebaran salju putih, Menimbulkan suatu cahaya
bianglala yang menakjubkan pandang mata.
Dara baju putih menjerit kaget dan loncat mundur
sampai setombak jauhnya.
Sambil lintangkan pedang, pemuda itu tertawa nyaring
pula serunya:
"Selama aku, Siau Gin Liong masih berada disini, tak
mungkin kubiarkan orang akan mengacau Tiang-pek-san !"
Seiring dengan cahaya wajahnya yang menampilkan
hawa pembunuhan maka pedang itupun segera ditabaskan
pada segunduk anak bukit salju di sampingnya.
"Bum..."
Tumpukan salju yang merupakan sebuah gunduk anak
bukit itu segera terbang berhamburan ke seluruh penjuru.
Dara baju putih menjerit dan loncat mundur beberapa
langkah lagi. Sambil menuding kearah pedang yang
dipegang si pemuda, dara itu berseru gemetar:
"Liong koko itu . . . itu apakah bukan pedang Tanduk
Naga yang tergantung pada tirai besi mulut gua Kiu-kiok-
tong tempat Ban Hong Liong-li lo-cianpwe bertapa ?"
"Benar," sahut pemuda yang bernama Siau Gin Liong,"
memang inilah pedang pusaka Tanduk Naga !"
Habis berkata ia terus memasukkan pedang kedalam
kerangkanya lagi.
Tepat pada saat itu terdengar beberapa suitan nyaring
dan panjang menggema di udara, Suitan itu berasal dari
puncak disebelah muka.
Suitan itu amat kuat dan berasal dari puncak yang jauh.
walaupun salju turun lebat dapat mengumandang
sedemikian nyaring. Jelas orang itu tentu memiliki tenaga
dalam yang sakti
"Ho, biarlah aku yang akan menghadapi kawanan
pembunuh itu lebih dulu," teriak Gin Liong dengan marah,
Laksana segulung asap, dia terus meluncur kearah suara
suitan itu.
"Liong koko, kembalilah...." belum dara baju putih itu
menyelesaikan peringatannya kepada Gin Liong, tiba2 dia
tergelincir dan jatuh jungkir balik diatas tanah salju.
Gin Liong berpaling, Kejutnya bukan kepalang. Sekali
ayunkan tubuh dalam jurus Berputar-tubuh-terbang-balik, ia
berputar-putar dan lari menghampiri.
Pemuda itu bahwa tahu sumoaynya, Ki Giok Lan itu
seorang yang berbudi halus dan berbadan lemah, sering
sakit. Dalam menghadapi peristiwa yang menggoncangkan
hati, tentulah Giok Lan tak kuat dan rubuh pingsan.
Diangkatnya tubuh Giok Lan diatas pangkuannya.
Setelah diurut-urut jalan darahnya, dara itu pelahan-lahan
membuka mata, Dua butir air mata menitik turun dari
kelopaknya...
"Liong koko, jangan pergi," katanya sambil menatap
wajah pemuda itu dengan pandang meminta, "kata suhu
mereka adalah jago2 yang sakti."
Gin liong mendengus geram.
"Sekalipun mereka jago2 sakti dari delapan penjuru
dunia, aku Siau Gin Liong tetap akan menghadapi mereka."
Yok Lan gemetar pula, Dengan mata berlinang-linang, ia
memandang wajah Gin liong, serunya dengan gemetar:
"Liong koko, jangan pergi, jangan engkau pergi..."
Gin liong tahu bahwa sumoaynya itu amat sayang
kepadanya dan memikirkan keselamatan dirinya, Apabila
dia berkeras tetap pergi, kemungkinan Yok Lan tentu akan
pingsan. Terpaksa ia menekan kemarahan dan berulang kali
menganggukkan kepala, namun pandang mata tetap
berkeliaran memandang ke arah suitan itu.
Suitan sudah berhenti tetapi kumandangnya masih
bergema, jauh dibawa deru angin dingin ke ujung langit.
Setelah sukonya meluluskan tidak pergi, Yok Lan lalu
menggeliat bangun dan pelahan-lahan berdiri.
Tepat pada saat itu terdengar suara pakaian bertebaran
ditampar angin, Datangnya suara itu dari puncak disebelah
muka.
Gin liong dan Yok Lan setempat berpaling ke arah suara
itu.
Dibawah tebaran hujan salju yang lebat tampak tujuh
sosok bayangan meluncur bagai anak panah terlepas dari
busurnya.
Sepasang alis Gin Liong cepat menjungkat dan matanya
berkilat-kilat. Melihat kokonya hendak bergerak, cepat2
Yok Lan ulurkan tangan mencekal lengan Gin Liong.
Tetapi belum sempat ia membuka mulut tiba2 terdengarlah
bunyi genta raksasa yang menggema keras sehingga salju
yang hinggap diatas daun pohon2, berhamburan jatuh
kebawah.
"Hai, genta bahaya..." serempak berserulah Gin Liong
dan Yok Lan. Dan sekali ayun tubuh, kedua engkoh dan
sumoay seperguruan itu segera lari ke arah hutan pohon
siong.
Sambil berlari, Gin Liong tak lepaskan perhatiannya
kepada tujuh sosok bayangan yang menuju ke kuil di
puncak gunung.
Setelah melintasi hutan siong, badai salju agak reda, Dan
setelah beberapa saat lagi, tembok merah dari kuil Leng-
hun-si itupun mulai tampak diantara celah2 pepohonan
yang tumbuh di sekitarnya.
Selekas tiba di kuil itu, kedua anak muda itupun segera
menerobos masuk ke pintu samping.
Serangkum suara bergelak tawa segera berhamburan
menggema dari pintu depan kuil.
"Liong koko, mereka sudah tiba," kata Yok Lan agak
cemas.
Wajah Gin Liong tampak membesi. Alisnya mengerut,
dahi menampilkan hawa pembunuhan. Tanpa berkata
sepatahpun, dia terus lari ke masuk.
Kawanan paderi jubah kelabu, bergegas-gegas keluar ke
ruang muka. Gin Liong dan Yok Lan dengan gerak yang
lincah dan tak bersuara telah mencapai ujung pintu ruang
besar, Memandang ke muka ternyata di ruang besar telah
penuh dengan kawanan paderi dari berbagai tingkatan.
Kedua anak muda itu cepat2 menyelinap masuk ke ruang
samping.
Pada titian tingkat sembilan dalam ruang besar itu,
sebuah bejana pedupaan tengah menghamburkan kepulan
asap, Asap bergulung2 dihembus angin, bertebaran
memenuhi ruangan
Suasana dalam ruang besar itu sunyi senyap.
Jalan yang membentang di muka kuil telah disapu bersih
oleh paderi yang bertugas menjaga kebersihan Tetapi jalan
yang terbuat dari batu hijau mengkilap itu, sudah penuh
pula dengan salju.
Sesaat kemudian seorang paderi pertengahan umur,
bergegas melangkah masuk ke-dalam ruang besar.
Paderi pertengahan umur itu wajahnya sesuram bulan
berkabut awan. Mengenakan jubah merah berjalur kuning
emas, Tangannya mencekal sebatang hud-tim yang
tangkainya dari batu kumala.
Dengan paksakan bersenyum, ia tengah memandang ke
arah dua orang paderi yang tengah melangkah masuk dari
luar, dua orang imam dan tiga lelaki tua berpakaian ringkas,
Bergegas paderi pertengahan umur itu menyongsong
mereka.
Paderi itu bukan lain adalah Liau Ceng taysu, ketua dari
kuil Leng-hun-si digunung Tiang-pek-san. Suhu dari
pemuda Siau Gin Liong dan Ki Yok-Lan.
Gin Liong dan Yok Lan yang berada di ruang samping,
dapat melihat dengan jelas keadaan suhu mereka, walaupun
mengulum senyum tetapi jidat Liau Ceng taysu itu jelas
memantulkan keriput kegelisahan.
Dua orang paderi jubah kuning, mengikuti dibelakang
Liau Ceng taysu. Kedua paderi itu berjenggot putih tetapi
wajahnya masih tampak segar dan penuh dengan sinar
welas asih.
Kedua paderi tua itu yang seorang mencekal tongkat Ji-
ih dan yang seorang memegang kelinting. Pada wajahnya
yang serius, tersembul suatu hawa pembunuhan.
Kedua paderi tua itu adalah susiok atau paman guru dari
Liau Ceng taysu, Mereka berdua merupakan Tiang-lo atau
sesepuh dari kuil Leng-hun-si.
Kemudian masuk pula tujuh orang lelaki yang membawa
sikap dan wajah angkuh, walaupun wajahnya berbeda dan
tinggi pendeknya tidak sama tetapi ketujuh orang itu
memiliki mata yang bersinar tajam sekali. Mereka
memandang dengan pandang penuh dendam kepada Liau
Ceng taysu.
Ketujuh orang itu berjalan dengan gegas seolah hendak
saling berlomba dahulu mendahului
Yang dimuka adalah dua orang paderi gemuk dengan
jubah yang gombrong, Yang seorang memegang tongkat
Ciang-mo-jo atau Alu-penunduk-iblis, Yang seorang
menyelip sebatang golok kwat-to pada pinggangnya.
Paderi gemuk bersenjata alu Ciang-mo-joh itu memiliki
alis yang tebal mulut lebar, hidung besar. Orang
menggelarinya dengan sebutan Ik-wi-tho atau paderi jahat,
Namanya Go Ceng.
Sedangkan paderi yang membawa golok kawat-to itu,
berkepala besar, mulut dan perut besar tetapi alisnya kecil
dan mata sipit hidung mekar.
Dia bernama Go In, digelari orang sebagai Hiong-bi-lek
atau Bi-lek-hud buas.
Go Ceng dan Go In itu merupakan paderi jahat dari kuil
Tay-ceng-si digunung Ngo-tay-san. Mereka adalah sepasang
tokoh aliran hitam yang hebat.
Sedang yang bergegas jalan disebelah kiri kedua paderi
jahat itu adalah imam Bu Tim cinjin, kepala biara Sam-
ceng-kwan dipropinsi Hiaplam, pusat partai perguruan
Kiong-lay-pay.
Imam itu mengenakan jubah warna merah. Umurnya
lebih kurang 50-an tahun. Matanya kecil bundar, alis
jarang. Sedang rambut dan jenggotnya sudah bersemu
putih. sepintas memberi kesan bahwa dia tentu bukan
bangsa imam yang baik.
Ma Toa-kong bergelar Kim-piau atau Piau-emas dari
partai Tiam-jong-pay mengenakan pakaian ringkas kaum
persilatan dari sutera hitam, memelihara jenggot pendek.
Daun telinganya yang kiri sudah hilang.
Berjalan dibelakang kedua paderi jahat itu, wajah Ma
Toa-kong memancar kemarahan. Sebentar memandang ke
kanan, sebentar ke kiri seperti orang yang hendak
menyelidiki dan kuatir mendapat serangan gelap.
Setelah dua paderi, seorang tokoh biasa dan seorang
imam maka masih ada pula It Ceng tojin, paderi dari Kong-
tong-pay, Tali terbang Ui Ke Siang dari Ciong-lam-pay dan
Golok-seriti Tio Jin Beng dari perguruan Losan.
Liau Ceng taysu yang bergegas menyambut itu,
walaupun agak kecewa setelah mengetahui siapa ketujuh
pendatang itu, namun sebagai tuan rumah ia tetap bersikap
ramah.
"Omitohud," serunya seraya memberi hormat, "maafkan
pinceng karena tak cepat menyambut kedatangan toyu
sekalian."
Bu Tim cinjin ketua dari biara Sam-ceng-kwan tertawa
panjang lalu mendahului berkata:
"Adalah kami yang seharusnya minta maaf kepada taysu
karena telah masuk kedalam kuil ini dengan terburu-buru
sekali," serunya.
Liau Ceng taysu tertawa lebar.
"Sehabis melakukan perjalanan jauh, toyu sekalian tentu
lelah, Diluar turun badai salju, silahkan masuk kedalam kuil
kami."
"Badai salju telah mengacaukan cuaca sehingga tak dapat
mengetahui jam" kata Piau-emas Ma Tay Kong, "saat ini
kemungkinan sudah lewat tengah hari. Tiga perempat jam
lagi, tentulah Ban Hong liong-li, harus melaksanakan
perjanjiannya."
Ia hentikan kata-katanya untuk menyelidiki wajah Liau
Ceng taysu yang mulai berobah pucat.
"Sebaiknya Liau Ceng taysu segera mengundang Ban
Hong liongli untuk keluar dari gua pertapaannya agar
semua urusan yang lalu dapat selesai hari ini juga." kata Ma
Toa Kong pula.
Liau Ceng taysu segera menyahut:
"Maksud pinceng, hendak mohon toyu sekalian duduk
didalam ruang dulu untuk merundingkan bagaimana cara
memutuskan persoalan Ban Hong liongli...."
Ok-wi-tho Go Ceng yang bermata bundar, alis tebal dan
mulut lebar, cepat deliki mata dan mendengus geram:
"Kiongcu Hun. mengapa engkau begitu banyak rewel?
Suruh wanita hina Ban Hong liongli itu keluar agar dapat
kuremukkan kepalanya dengan pentungku ini. Tak perlu
banyak membuang waktu !"
Bluk.... dia gentakkan alu Hang-mo-ngo yang beratnya
seratus kati itu ke lantai. Lantai hancur bertebaran keempat
penjuru.
Melihat tingkah laku yang liar dari paderi jahat itu, Gin
Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi, serentak ia
terus hendak menerobos keluar....
Untunglah saat itu Liau Ceng taysu menyebut omitohud
dengan pelahan lalu berkata:
"Sejak mensucikan diri dibawah telapak sang Buddha,
pinceng sudah tak memakai nama pinceng yang dulu.
Harap Go Ceng sianyu suka menyebut pinceng dengan
nama Liau Ceng saja, peristiwa yang dulu, janganlah
dibangkitkan lagi."
Hiongbi-lek si paderi Bi-lek yang buas, tertawa mengekeh
lalu berseru mengejek:
"Siapa yang mengurus soal namamu dahulu ataupun
namamu yang sekarang? Rasanya tiada seorangpun yang
hendak mengadakan hubungan dengan engkau Kiongcu
Hun."
Habis berkata dia menengadahkan kepalanya yang besar
dan matanya yang kecil seperti mata tikus memandang ke
cakrawala lalu mendengus geram.
"Kiongcu Hun," serunya, "sudahlah, jangan banyak
bicara yang tak berguna. Kami pun tak perlu minum
hidangan tehmu, Lekas engkau bawa keluar Ban Hong
liongli dari gua pertapaannya. Habis kubelah tubuh wanita
hina itu, kamipun segera hendak pulang."
Melihat kata2 dan sikap kedua paderi jahat yang amat
sombong itu, Liau Ceng taysu tak dapat mengendalikan
kemarahannya lagi, ia menengadahkan kepala
menghamburkan kemarahannya.
Melalui tertawa yang panjang dan nyaring, lapisan salju
yang berkelompok diatas genteng, berhamburan jatuh
kebawah akibat getaran tertawa dari Liau Ceng taysu itu.
Imam jahat, paderi buas dan Ma Toa Kong bertiga,
seketika berobahlah wajahnya. Mereka serempak bersiap
untuk menghadapi setiap kemungkinan dari Liau Ceng
taysu.
Setelah berhenti tertawa, Liau Ceng taysu segera
sapukan pandang matanya ke wajah ketujuh tetamunya itu
dan berseru lantang:
"Toyu sekalian tiba di gunung ini dengan mengeluarkan
suitan panjang, sudah termasuk kurang hormat. Dan
sebelum pinceng menyambut, sicu sekalian sudah terus
masuk kedalam kuil ini. Suatu tindakan yang lebih tidak
pantas, Dan masih pula dengan sikap dan kata2 yang
congkak, toyu hendak menekan orang. Adakah toyu ini
memang sengaja hendak menganggap sepi ratusan paderi
dari kuil Leng-hun-si ini?" kata Liau Ceng taysu.
Dengan meraung keras. Ok wi-tho Go Ceng melesat
maju sambil lintangkan senjatanya alu Penunduk-iblis,
serunya:
"Apa itu segala macam kata2 kasar dan congkak tak tahu
aturan? Huh, aku tak perduli sama sekali..."
Seiring dengan kata2 yang terakhir dari Ok-wi-tho Go
Ceng itu, sekonyong-konyong sesosok tubuh dengan jubah
kuning, segera melintas keluar dari ruang samping terus
menerjang Ok-wi-tho.
Ok-wi-tho, Hiong-bi-lek dan Ma Toa Kong bertiga
terkejut sekali melihat ilmu meringankan tubuh dari
pendatang yang muncul itu. Bahkan Liau Ceng taysu
sendiri serta kedua paderi tua yang berkedudukan sebagai
tianglo pun terkesiap kaget.
Bayangan jubah kuning itu segera berhenti dibelakang
Liau Ceng taysu.
Ketika Ok-wi tho dan Hiong-bi-lek serta Ma Toa Kong
memandang dengan seksama barulah mereka mengetahui
bahwa pendatang itu tak lain hanya seorang pemuda
berparas cakap dalam pakaian warna putih perak.
"Hai, budak kecil siapa engkau ?" tegur Ok-wi-tho sesaat
setelah kejutnya reda.
Liau Ceng taysu mewakili memberi jawaban:
"lnilah muridku yang bernama Siau Gin Liong," ia
berpaling ke belakang dan memberi perintah: "Liong-ji,
lekas memberi hormat kepada berdua taysu cianpwe."
Gin Liong segera melakukan perintah suhunya. Dengan
menahan kemarahannya ia segera maju menghampiri ke
muka kedua paderi tua
Pada saat dia hendak memberi hormat, tiba2 Hiong-bi-
lek Go In deliki mata membentak: "Tunggu dulu..."
Ia melangkah maju dan menatap wajah Gin Liong
dengan matanya sipit yang berkilat-kilat seraya tertawa
mengekeh.
"Memiliki wajahmu begitu membesi, dahimu menampil
hawa pembunuhan, heh, heh, apakah engkau merasa
penasaran ?" tegurnya.
Gin Liong seorang pemuda yang masih berdarah panas,
Mendengar kata2 si paderi yang begitu congkak, tak dapat
lagi ia menahan kemarahannya, serentak ia tertawa nyaring
lalu loncat maju.
"Kalau memang sudah tahu, mengapa masih bertanya
lagi!" bentaknya dengan keras.
Mendengar itu buru2 Liau Ceng taysu membentak Gin
Liong: "Liong-ji, jangan kurang aturan ! Lekas engkau
mundur."
Liau Ceng taysu cemas kalau muridnya sampai celaka
maka ia memberi perintah supaya anak itu mundur.
Tetapi serempak dengan itu, Ok-wi-tho Go In sudah
mendahului membentak: "Bagus, budak hina, aku hendak
menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !"
Habis berkata paderi jahat itu segera memutar alu Hang-
mo-goh, Wut, angin menderu keras dan alu besi yang
beratnya 100 kati menyapu ke pinggang Gin Liong.
Seketika pucatlah wajah gurunya Liau Ceng taysu, ia
berseru keras seraya hendak menyerang dengan hudtim.
Tetapi sekonyong-konyong Gin Liong sudah menyelinap ke
belakang si paderi jahat Go Ceng.
Go Ceng menghantam dengan sekuat-kuatnya. Karena
hantamannya luput, tubuhnya terhuyung ke muka dan
hampir rubuh. setelah dapat memperbaiki diri, ia
celingukan kian kemari untuk mencari Gin Liong.
Alangkah kejutnya ketika melihat pemuda itu telah
berada di belakangnya, ia tertegun heran.
Memang Gin Liong telah menggunakan sebuah ilmu
langkah yang disebut Liong-li-biau. Hanya suhunya Liau
Ceng taysu yang tahu akan hal itu, ia tahu bahwa ilmu
pusaka itu adalah ajaran Banhong liongli.
Saat itu ternyata Gin Liong berada di belakang paderi
jahat Go Ceng, tapi berada di muka Go In. Pemuda itu
tegak membelakanginya.
Seketika timbullah suatu pikiran jahat pada Liong-si-kek
Go In. Dengan menyeringai iblis dan tak terduga-duga,
secepat kilat ia segera menampar batok kepala pemuda itu
dari belakang.
Semua orang yang melihat itu menjerit kaget.
Tetapi Gin Liong sudah siap, Dengan mendengus dingin
kembali ia menggunakan gerak Liong-li-biau, sebuah ilmu
meringankan tubuh yang hebat. Laksana sesosok hantu,
pemuda itu sudah menyelinap pula dibelakang Hong-bi-lek
Go In dan secepat kilat ia menampar kepala paderi gundul
yang gemuk itu.
Setitikpun Hiong-bi-lek tak pernah menduga bahwa Gin
Liong memiliki kepandaian ilmu ginkang yang sedemikian
luar biasa, Ketika melihat tabah pemuda itu lenyap dan
punggungnya disambar deru angin, seketika pucatlah wajah
Go In.
Namun dia memang lihay, setelah menundukkan kepala
untuk menghindari tamparan cepat ia loncat kemuka.
Tetapi Gin Liong tak mau memberi kesempatan lagi
kepada paderi itu "Plak..." seiring dengan tangan kanannya
menghantam kepala, Hong-bi-lek Go In menggeram
tertahan dan paderi yang jubahnya gemuk itu, bagai sebuah
bola daging yang menggelinding ke muka ruang besar.
Terdengar jeritan kaget dari para paderi yang berada di
muka ruang. Buru2 mereka menyingkir asal jangan sampai
dilanda oleh tubuh Hiong-bi-lek.
Sesosok bayangan kuning melintas, salah seorang tiang-
lo dari kuil leng-hian-si telah ulurkan tangan untuk
menahan tubuh Hiongbi-lek yang menggelinding itu.
Dengan menggerung keras, Hiong-bi-lek melenting
bangun, Ketika berdiri, ia masih rasakan kepalanya pening
dan mata berkunang-kunang. Tring . . . . cepat ia mencabut
golok kwat-to lalu celingukan memandang kian kemari
mencari Gin Liong.
Bu Tim cinjin, Piau-emas Ma Toa Kong dan Tali terbang
Ui Ke Siang biasanya memang tak begitu memandang mata
kepada kedua paderi jahat itu. Melihat Go In mendapat
kopi pahit dari seorang anak muda, bukan ikut marah,
kebalikannya mereka malah tertawa gelak-gelak.
Kuatir akan menimbulkan kemarahan para tetamu dan
terjadi hal2 yang tak diingini, Liau Ceng taysu membentak
kepada muridnya:
"Liong-ji, mengapa engkau cari onar? Hayo, lekas masuk
!"
Melihat suhunya marah, Gin Liong mengiakan dengan
hormat lalu hendak berputar tubuh menurut perintah.
Tetapi tiba2 kedua paderi jahat itu menggembor keras,
Mereka berhamburan menyerang Gin Liong dengan senjata
alu dan golok.
Tetapi Gin Liong tak gentar, ia mendengus dingin dan
hentikan langkah.
Tiba2 sesosok tubuh melesat kemuka dan berseru :
"Harap taysu berdua berhenti dulu..."
Ok-wi-tho Go Ceng dan Hiong-bi-lek Go In tertegun.
pendatang itu bukan lain adalah imam tua yang
punggungnya menyanggul pedang atau It Ceng tojin ketua
Kong-tong-pay.
"Apa-apaan engkau melarang aku ?" teriak kedua paderi
jahat itu dengan deliki mata.
"Tidak apa2" sahut It Ceng tojin yang bergelar Bu-song-
kiam atau Pedang tiada keduanya, "hanya ingin
memperingatkan kalian bahwa tiga perempat jam lagi
mungkin kalian belum selesai bertempur."
Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong terbeliak, Cepat
mereka mencurah pandang kearah Liau Ceng taysu seraya
berseru:
"Kiongcu Hun, apakah engkau berani mengulur waktu
lagi ?"
Menderita perlakuan kasar beberapa kali dari pendatang2
itu. Liau Ceng taysu marah, ia tertawa nyaring.
"Baru beberapa detik toyu sekalian datang ke kuil kami
dan baru beberapa patah kata toyu bercakap-cakap,
mengapa menuduh pinceng mengulur waktu ?" serunya
marah.
Kedua paderi jahat Go Ceng dan Go In tak dapat
menjawab.
Tiba2 Liau Ceng taysu berputar tubuh ke arah ruang
besar lalu berseru nyaring:
"Cobalah lihat kearah alat pertandaan waktu itu,
sekarang jam berapa ?"
Seorang paderi jubah kelabu yang berdiri pada titian
ruang segera lari masuk ke dalam ruang besar.
Saat itu sekalian orang tegang regang, suasana hening
sunyi Hanya deru angin yang meniup tajam diluar kuil.
Dalam menunggu laporan tentang jam saat itu, tampak
wajah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong bertiga gelisah
sekali.
Liau Ceng taysu tampak tenang, Sejam yang lalu dia
sudah duduk didepan alat waktu itu, Di-pandangnya alat
waktu itu dengan cemas. Diam2 ia bersyukur kepada Thian
bahwa saat itu turun badai salju yang lebat.
Tetapi rasa girang itu segera terhapus lenyap manakala ia
melihat sosok2 tubuh yang berlarian mendaki ke puncak,
Mereka ialah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong serta
beberapa tokoh yang memusuhi Ban Hong liong-li, jelas
harapannya bahwa pada salju itu akan menghalangi
perjalanan mereka ternyata gagal.
Beberapa saat kemudian terdengar derap orang berlari
dari dalam ruang besar, paderi yang diperintah untuk
melihat waktu telah muncul, seketika suasana berobah
tegang.
Tiba di mulai titian, paderi itu memberi hormat ke
halaman dan berseru nyaring:
"Saat ini, menunjukkan waktu tepat tengah hari..."
Ok-to Go Ceng, Hiong-ceng Go In dan Ma Toa Kong
sekalian serempak menyambut dengan gelak tawa yang
gembira sekali.
Liau Ceng taysu hanya dingin2 saja memandang kearah
ketujuh tetamunya yang jumawa itu.
Gin Liong kerutkan dahi, ia mengertek geraham
menahan kegeraman Keringat dingin pun segera
membasahi tubuhnya.
Tiba2 terdengar bunyi tajam macam naga meringkik.
Datangnya dari punggung Gin-Liong. Dan sesaat kemudian
cret. . . pedang Tanduk Naga yang berada di punggung
anak muda itu mencelat keluar dari kerangkanya.
Sinar merah yang memancar dari batang pedang pusaka
itu, menyilaukan pandang mata sekalian orang.
Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan kawan2, hentikan
tertawa dan menggigil melihat keperbawaan pedang anak
muda itu.
Demikian pula dengan kedua tiang-lo dan paderi2 dari
setiap paseban kuil Leng-hun-si.
"Omitohud!" seru Lian Ceng taysu, "Pedang pusaka
memberi peringatan datangnya bahaya, pembunuhan segera
akan terjadi Mayat menganak bukit, darah mengubang
sungai . . ."
Tepat pada saat Liau Ceng taysu selesai berkata maka
cuaca yang gelap tiba2 memancar sinar terang benderang
dan menyusul terdengarlah letusan halilintar yang
menggelegar dahsyat
Setelah halilintar meletus, angin berhenti, saljupun reda,
Genta dan gendang raksasa yang berada diruang, Tay-
hud-tian berguncang-guncang keras sehingga berbunyi
sendiri,
Dua ratusan paderi yang berada dimuka ruang,
terbelalak menengadahkan kepala memandang ke langit,
Kedua tianglo dari kuil Leng-hun-si agak pejamkan mata
dan mengucap doa dengan bisik2.
Liau Ceng taysu pejamkan mata merangkapkan kedua
tangan kedada dan bibirnya berkomat-kamit, Rupanya ia
sudah mempunyai firasat bahwa dunia persilatan akan
mengalami pembunuhan besar-besaran,
Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan lain2 kawannya,
tertegun menyaksikan pemandangan aneh itu. Wajah
mereka pucat, keringat dingin mengucur.
Halilintar dahsyat itu telah menggoncang hati seluruh
orang yang berada di muka ruang Tay-hud-tian.
Diantara mereka hanya Gin Liong seorang yang
mempunyai pemikiran lain, Tiba2 ia seperti disadarkan dan
teringat akan suatu hal yang penting,
Cepat ia sarungkan pedang kedalam kerangkanya lagi
lalu secepat kilat menyelinap diantara barisan paderi, lari
keruang samping terus menuju kepuncak di belakang kuil.
Diluar hanya badai yang berhenti, sedang salju masih
turun lagi.
Ternyata Gin Liong bergegas lari menuju ke gua Kiu-
kiok-tong. Tiba di puncak belakang terdengar sebuah suitan
nyaring dan tajam. Menyusul terdengar ledakan keras yang
berkumandang sampai jauh kesegenap penjuru.
"Celaka," teriak Gin Liong, "Liong-li locianpwe hendak
pergi . . . ."
Ia cepatkan larinya dan selekas tiba di tepi sebuah karang
buntung diatas puncak gunung, dia terus hendak enjot
tubuh melompat kemuka.
Tetapi ketika ia menunduk memandang ke bawah,
jurang yang memisahkan karang disitu dengan karang
dimuka, tertutup kabut salju yang tebal sehingga tak dapat
melihat lebih dari lima tombak ke bawah.
Siau Gin Liong diam2 sering datang ke tempat dua buah
karang buntung itu. Kedatangannya itu selalu pada malam
hari untuk belajar silat Maka dalam badai dan salju yang
hebat, ia masih mencapai tempat itu, sebuah karang nonjol
yang ditumbuhi pohon siong yang condong.
Sejenak menenangkan pikiran, Gin Liong segera
ayunkan tubuh melayang ke bawah dan tepat hinggap
diatas celah2 selebar satu meter dari sebuah gunduk karang,
Ternyata setelah berada di jurang pemisah antara kedua
karang buntung, angin agak berkurang, saljupun tak begitu
deras, Kini dia berhadapan jalan yang merupakan celah2
dari gundukan karang, jalan itu sempit dan licin sekali serta
berkeluk-keluk, jika tidak memiliki ilmu ginkang yang lihay,
jangan harap dapat melintasi jalan itu.
Berkat faham tempat itu, dapatlah dalam waktu yang
singkat Gin Liong mencapai ujung jalan yang merupakan
segunduk karang seluas tiga tombak, Diatas karang itulah
biasanya Gin Liong berlatih silat.
Di sekeliling karang itu tumbuh beberapa batang pohon
Bwe, Dahan dan rantingnya tumbuh meliar, bunganya
subur, Warnanya merah dan putih menyedapkan mata.
Diatas gunduk karang itu terdapat sebuah gua selebar
dua meter, Dalam gua gelap pekat dan sunyi senyap.
Secepat melayang keatas karang, dengan wajah tegang
Gin Liong terus menerobos masuk. Tiba di muka pintu
terali besi, ia tertegun,
Terali besi yang besarnya sama dengan lengan bayi telah
dihancurkan oleh suatu tenaga sakti, Kutungan terali besi
itu bertebaran dimuka gua,
Dengan terlongong-longong Gin Liong memandang
terali besi, Airmatanya berderai-derai membasahi pipinya.
"Ah, Liong-li locianpwe telah pergi," katanya seorang
diri dengan penuh keharuan, "pergi tanpa memberi
kesempatan kepadaku untuk mengucapkan terima kasih
dan selamat jalan, Lima tahun aku menerima budinya
mendapat pelajaran silat, akhirnya tak dapat bertemu lagi”
Sambil berkata pelahan-lahan ia melangkah maju
kedalam gua, Ruang gua gelap dan menyeramkan sekali,
Angin dingin berdesis-desis menampar muka. menambah
keseraman suasana,
Dalam mengayunkan langkah itu masih Gin Liong
mengandung harapan semoga Ban Hong Liong-li masih
berada dalam gua,. Maka berserulah dia dengan pelahan:
"Lo-cianpwe . .. . locianpwe..."
Dari sebelah dalam gua segera memantulkan gema suara
Gin Liong yang berkumandang sampai lama,
Melangkah maju beberapa tindak lagi, ruang itu
membiluk ke kiri, Gelapnya makin pekat sehingga tak dapat
melihat jari tangannya sendiri.
Gin Liong hentikan langkah dan mengerahkan pandang
matanya, Tetapi ia tak dapat menembus kegelapan itu.
Paling2 hanya dapat memandang sampai setombak
jauhnya,
Ketika berjalan lagi, kakinya berbunyi keresekan. Buru2
ia berjongkok dan meraba dengan tangannya. Ah, ternyata
setumpuk rumput kering yang halus, Makin meraba
kemuka, tumpukan rumput itu makin tebal.
"Ah, mungkin disinilah tempat peristirahatan locianpwe,
"katanya seorang diri.
Sekonyong-konyong tangannya menyentuh benda yang
menyerupai rantai besi Cepat ia menariknya, ah, ternyata
rantai itu telah dipaku pada dinding gua.
Gin Liong marah. Dilemparkannya rantai itu lalu
berseru keras : "Penjahat, mengapa kalian begitu kejam
memperlakukan Liong-li lo-cianpwe? Mengapa ? Mengapa
"
Dia menangis sedih dan meraung-raung marah sekali
setelah menyaksikan keadaan Ban Hong Liong-li selama
ini. Dia benci kepada musuh2 yang telah menganiaya Ban
Hong Liong-li diluar batas kemanusiaan Diikat dengan
rantai seperti binatang buas.
Raung Gin Liong kembali menerbitkan gema suara yang
berkumandang jauh, Suatu pertanda bahwa ruang gua Kiu-
kiok-tong itu masih dalam sekali.
Saat itu Gin Liong baru menyadari mengapa selama lima
tahun ini, Ban Hong Liong-li tak pernah melangkah
mendekati pintu tera1i.
Diapun teringat bagaimana dalam memberikan pelajaran
silat kepadanya itu. Ban Hong Liong-li hanya
menyampaikan secara lisan saja. Selama lima tahun, Gin
Liong hanya mendengar suara tetapi tak pernah melihat
orangnya, Ah. tak kira kalau Ban Hong Liong-li telah
dirantai orang . . .
Serentak timbul rasa heran dalam hati Gin Liong,
Dengan kesaktiannya Ban Hong Liong-li mampu
memutuskan tali rantai tetapi mengapa selama lima tahun
ia mandah dirinya diikat dengan rantai, Mengapa dia tak
mau lekas2 meloloskan diri ?
Siapakah yang mengikat lo-cianpwe itu ? Apakah Liau
Ceng taysu, gurunya itu ?
Ataukah kawanan Ok-wi-tao Go Ceng, Hiong-li-lek Go
In, Piau emas Ma Toa Kong dan kawan-kawannya itu ?
Jika mereka mampu merantai Ban Hong Long-Li
mengapa tidak segera saja saat itu dibunuh ? Mengapa
harus menunggu sampai lima tahun?
Mengapa pula Ban Hong Liong-li harus di penjara di
gunung Tiang-pek-san dan tidak di gunung Kiong-lay-san
atau di gunung Ngo-tay-san?
Tadi Ma Toa Kong mengatakan bahwa setelah tiga
perempat jam lewat tengah hari, Ban Hong Liong-li harus
melaksanakan janjinya sendiri janji apakah itu ?
Dan teringat pula Gin Liong bahwa setiap kali
membicarakan tentang diri Ban Hong Liong-li, wajah
gurunya (Liau Ceng taysu) tentu berobah gelap, Dan setiap
kali ia bertanya, suhunya tentu akan memberi jawaban
menghindar.
Pernah dan bahkan berulang kali Gin Liong
memberanikan diri untuk menanyakan riwayat hidup
kepada Ban Hong Liong-li, tetapi wanita sakti itu hanya
menjawab dengan helaan napas panjang.
Kemarin malam ketika menyerahkan pedang kepadanya,
Ban Hong Liong-li dengan samar2 mengatakan bahwa
hanya guru Gin Liong atau Liau Ceng taysu yang tahu
tentang asal usul dirinya, wajahnya dan semua riwayat
hidupnya yang menyedihkan itu.
Dengan nada penuh duka, Ban Hong Liong-lipun
mengatakan bahwa lewat tengah hari nanti dia akan pergi
ke suatu tempat yang jauh, Tiada seorangpun yang akan
bertemu lagi dengannya.
Adakah tempat jauh itu dimaksudkan sebagai alam baka
karena Ban Hong Liong-li akan dihukum mati oleh
kawanan pendatang itu ?
Sambil berlutut diatas tumpukan rumput kering, Gin
Liong dilanda oleh berbagai pertanyaan Namun soal2 itu
makin direnungkan makin sukar dijawab dan bertambah
banyak
Tiba2 sinar mata Gin liong berkilat, Dilihatnya diatas
tumpukan rumput kering itu sesosok bayangan hitam,
seketika tergetarlah hatinya dicengkam kejut kegirangan
serentak ia berseru:
"Lo-cianpwe, engkau.. engkau belum pergi ?" serta merta
Gin Liong terus duduk bersila Airmatanya kembali
berderai-derai membanjir keluar Airmata keharuan tetapi
haru kegirangan
Tetapi sosok tubuh itu tak memberi suatu reaksi apa2.
Suatu bayang2 yang ngeri, segera melintas dalam pikiran
Gin Liong, Dengan beringsut-ingsut ia merangkak maju
lalu ulurkan tangannya yang gemetar menjamah benda
hitam itu.
Ah ... ternyata benda hitam itu tak lain hanya segulung
permadani bulu.
"Lo-cianpwe . . . . lo-cianpwe . . . . !" serentak Gin Liong
melenting bangun dan berteriak keras-keras.
Ia duga Ban Hong Liong-li tentu belum berapa lama
tinggalkan gua itu. Kemungkinan masih berada diatas
puncak gunung, ia segera lari keluar dan ketika tiba di pintu
yang berterali besi, tiba2 ia dikejutkan oleh beberapa gelak
tawa yang bermacam-macam nadanya, Suara tawa itu
terdengar tak jauh di luar gua.
Tergetarlah hati Gin Liong. ia tahu bahwa suara tertawa
itu tentu berasal dari rombongan Go Ceng, Go In dan Ma
Toa Kong yang sedang berlari menuju ke gua Kiu-kiok-
tong.
Gin Liong menyurut mundur Setelah memeriksa ke
kanan kiri, ia dapatkan pada kedua samping dinding gua itu
terdapat banyak sekali cekungan yang cukup dimasuki
tubuh orang.
Secepat ia menyusup bersembunyi kedalam sebuah
cekung, diluar gua segera terdengar kibaran pakaian yang
dihembus angin.
Gin liong lekatkan tubuh rapat2 ke dinding gua seraya
mengeliarkan pandang mata ke mulut gua. Dari tempat
persembunyiannya itu ia melihat suatu pemandangan yang
indah, Gunduk karang yang berada diluar gua sedang dihias
dengan salju putih dan bunga Bwe yang tengah mekar
dalam warna merah dan putih yang indah.
Tetapi ia tak sempat menikmati pemandangan itu.
Hatinya tegang sekali menantikan kedatangan kawanan
pendatang yang hendak menghukum Ban Hong Liong-li.
Pada lain saat sesosok tubuh dengan pakaian yang
gombrong, meluncur ke udara dan tegak diatas gunduk
karang dimuka gua.
Gin Liong tergetar hatinya, Cepat ia dapat mengetahui
bahwa yang muncul itu adalah Ok-wi-tho atau si Paderi
jahat Go Ceng.
Menyusul berhamburan melayang ke gunduk karang itu
imam tua It Ceng, Bu Tim cinjin, Hiong-bi-lek Go In,
Golok-sayap-walet Tio Jim-beng dan Tali terbang Ui Ke
Siang,
Gin Liong mendengus geram, Darahnya mendidih dan
napasnya segera menghamburkan hawa pembunuhan
Ketujuh tokoh itu segera tegak dimuka gua, memandang
celingukan kedalam dan sibuk berbicara.
Dari pandang mata ketujuh orang itu, jelas
mengunjukkan suatu perasaan gelisah, cemas dan gentar.
Tiba2 diluar gua terdengar suara pakaian berkibar tertiup
angin, Menyusul muncul pula tiga sosok bayangan
Ketika Gin Liong mencurahkan pandang mata ke luar,
kejutnya bukan kepalang sehingga sampai menggigil.
Ketiga pendatang itu bukan lain adalah suhunya sendiri,
Liau Ceng taysu dan kedua susiok-cou atau paman - kakek
guru. Sudah tentu Gin Liong bingung sekali. Apabila
suhunya tahu bahwa dia bersembunyi dalam gua itu,
bukankah suhunya akan marah ?
Ah, tetapi dia sudah terlanjur bersembunyi disitu, Tak
dapat ia meloloskan diri lagi, Terpaksa ia hanya
memandang 1ekat ke mulut gua untuk menunggu apa yang
akan terjadi,
Tampak Liau Ceng taysu berjalan dengan gegas sekali.
Langsung ia menuju ke mulut gua, Setelah memeriksa pintu
terali besi hancur berantakan ia segera keluar lagi dan
berkata dengan wajah sarat:
"Pintu terali besi telah hancur, kemungkinan Ban Hong
Liong-li sudah tak berada dalam gua lagi."
Ketujuh orang itu terbeliak kaget, Ma Toa Kong deliki
mata dan berteriak marah:
"Saat ini masih pagi dan batas waktu perjanjian masih
belum tiba. Wanita hina itu mengapa ingkar akan janjinya
lima tahun yang lalu ?" ia menanya It Ceng tojin dan Ui Ke
Siang, terus melangkah maju ke mulut gua, Dengan mata
berkilat-kilat, ia memandang ke arah dalam.
Gin Liong terkejut Cepat2 ia lekatkan tubuh rapat sekali
pada dinding gua.
Sesaat kemudian, Ma Toa Kong berputar tubuh dan
menggeram kepada Liau Ceng taysu:
"Ban Hong Liong-li masih berada dalam guna . . ."
Karena disindir oleh Ma Toa Kong, rupanya It Ceng
tojin tak puas, Saat itu ia merasa mendapat kesempatan
untuk membalas, Dengan tertawa mengekeh, cepat ia
menukas kata2 Ma Toa Kong:
"Apakah Ma sicu melihat sendiri Ban Hong Liong-li
berada dalam gua?"
Ma Toa Kong tahu bahwa It Ceng tojin dari Kong-tong-
pay itu seorang tokoh yang licin dan licik. walaupun dia
tahu kalau dirinya akan dicelakai oleh imam itu, tetapi ia
tetap harus menjaga gengsi, Sekali sudah mengatakan kalau
Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua, ia harus
mempertahankan kata-katanya itu.
Dengan deliki mata memandang It Ceng, ia mendengus
marah: "Benar, memang kulihat wanita busuk itu masih
berada dalam guna !"
Mendengar itu tokoh2 yang lain tampak tegang dan
berobah wajahnya, Mereka berhamburan maju ke mulut
gua dan memandang dengan seksama ke arah dalam.
Sudah tentu Gin Liong makin gelisah sekali Dia tak
menyangka bahwa mata Ma Toa Kong amat tajam sekali.
Tentu Ma Toa Kong melihat gulungan permadani bulu
yang terletak diatas tumpukan rumput kering dan
menyangkanya sebagai tubuh Ban Hong Liong-li.
Gin Liong cepat menyusup lebih dalam ke dalam cekung
dinding gua, Kini dia hanya menggunakan sebelah mata
untuk memandang ke mulut gua.
It Ceng tojin berdiri agak jauh dibelakang beberapa tokoh
itu, Mulut tersenyum menyeringai dan sengaja dengan
suara keras ia berseru:
"Karena Ma sicu sudah melihat Ban-Hong Liong-li
masih didalam gua, rasanya tak perlu sicu sekalian
memeriksa lagi, Saat ini belum tiba waktunya, Kurasa Ban
Hong Liong-li tentu tak mau ingkar janji, Maka sebaiknya
kupersilahkan Ma sicu masuk kedalam gua menyeret Ban
Hong Liong-li keluar, silahkan Ma sicu memotong daun
telinga Ban Hong Liong-li yang kiri, untuk membalas
dendam Ma sicu yang kehilangan daun telinga itu."
Sudah tentu Ma Toa Kong tahu bahwa dirinya diejek
habis-habisan oleh imam dari Kong-tong-pay itu. Dengan
mata berapi-api ia deliki mata memandang It Ceng cinjin.
Wajah merah padam dan tubuh gemetar keras karena
dilanda kemarahan.
Bu Tim cinjin ketua biara Sam-Ceng kwan, rupanya juga
mengagulkan supaya Ma Toa Kong masuk kedalam gua.
Maka iapun segera mendukung pernyataan It Ceng cinjin:
"Apa yang dikatakan It Ceng toyu memang benar,"
katanya. "sekarang saat perjanjian belum tiba, kiranya Ma
sicu boleh masuk saja kedalam guna ini."
Dada Ma Toa Kong serasa meledak dan memekiklah ia
sekeras kerasnya: "Huh, engkau kira aku Ma Toa Kong tak
berani masuk ?"
Dengan sikap pura2 menghormat, It Ceng cinjin berseru:
"Ah, tidak, tidak. Mana aku mempunyai anggapan begitu,
Piau-emas dari Ma sicu tiada tandingannya dan Ma sicu
seorang jantan yang berani, Masakan tak berani memasuki
gua itu."
Ma Toa Kong benar2 tak dapat menahan ledakan
kemarahannya lagi, secepat berputar tubuh ia terus
melangkah kedalam gua.
Jelas dilihat oleh Gin Liong bahwa Ma Toa Kong itu
sedang masuk. Diam2 Gin Liongpun merapatkan tubuh ke
cekung dinding seraya kerahkan tenaga dalam bersiap-siap
menghadapi setiap kemungkinan.
Tetapi baru melintasi pintu terali besi, tiba2 Ma Toa
Kong berhenti.
Saat itu Gin Liong tak dapat melihat jelas lagi bagaimana
kerut wajah Ma Toa Kong saat itu. Tetapi dia masih dapat
melihat sinar kedua mata Ma Toa Kong yang berapi-api
menyeramkan sekali.
Tampak pula Ma Toa Kong mengambil sebatang kim-
piau dari pinggangnya. Digenggamnya senjata rahasia itu
erat2. Kaki dan tangannyapun mulai tampak gemetar.
Menyusupkan pandang ke luar gua, Gin Liong melihat
kawanan tetamu2 itu tampak tegang sekali, Mata mereka
mencurah ruah ke dalam gua dan kearah Ma Toa Kong
yang tegak di pintu terali besi.
Gin Liongpun sempat pula memperhatikan sikap suhu
dan kedua paman kakek gurunya. Dengan wajah sarat,
ketiga tokoh itu berdiri ditepi batu karang, Mereka tak
mencegah tindakan Ma Toa Kong, Mungkin mereka sudah
menduga bahwa Ban Hong Liong-li tentu sudah tak berada
dalam gua.
Sekonyong-konyong Ma Toa Kong berseru nyaring:
"Ban Hong Liong-li, hari ini hukumanmu sudah habis,
Lewat tengah hari nanti engkau harus keluar untuk
menerima hukuman mati dari sekalian enghiong (ksatrya).
Hayo, unjukkan diri-mu, jangan main bersembunyi seperti
tikus, Apakah engkau tak sayang pada kemasyhuran
namamu yang pernah menggetarkan dunia persilatan
dahulu ?"
Dari dalam gua segera menggema kumandang suara Ma
Toa Kong itu. Lama dan mengiang2 memekakkan telinga.
Sebenarnya Gin Liong sudah tak kuasa menahan
kemarahannya lagi, Tetapi karena suhunya berada diluar,
dia tak dapat berbuat apa2 dan tak tahu apa yang harus
dilakukan.
Selekas kumandang suara Ma Toa Kong itu sirap maka
Ma Toa - Kong kembali berseru dengan nyaring lagi:
"Wanita hina, apakah engkau hendak main mengulur
waktu ? Tempatmu sudah kuketahui, kalau tak percaya,
inilah buktinya . .. ."
Sring . . . .
Sepercik sinar emas yang diiringi oleh deru angin tajam
segera melayang kearah tempat Gin Liong bersembunyi.
Sudah tentu Gin Liong terkejut sekali,
Sebenarnya dia sudah cepat2 menyusupkan kepalanya ke
cekung dinding karang tetapi dia tak menyangka bahwa Ma
Toa Kong sudah mengetahui dirinya.
Tring
Senjata rahasia yang bersinar kuning emas itu meluncur
dan hinggap pada dinding gua disisi tempat Gin Liong,
Piau jatuh ke tanah, mengeluarkan bunyi gemerincing yang
berkumandang nyaring.
Dinding gua berhamburan menebar tubuh Gin Liong,
Pemuda itu marah sekali. ingin rasanya ia loncat keluar
untuk membunuh orang jahat itu. Tetapi karena suhunya
berada diluar gua, terpaksa ia tak dapat melaksanakan
keinginannya itu.
Tiba2 Hiong bi-lek Go In tertawa gelak2. Dan pada lain
saat iapun mencabut golok kwat lo dipinggangnya. Sambil
tertawa mengejek, ia melangkah masuk kedalam gua.
"Wanita hina itu masih berada didalam guha," teriak Ma
Toa Kong.
Tetapi Go In tak mempedulikan, Dia tetap lari ke dalam.
"Kurang ajar," damprat Ma Toa Kong dalam hati,
"mungkin karena mendengar gema suara jatuhnya kim-
piauku tadi, dia tahu kalau Ban Hong Liong li sudah tak
berada dalam gua maka dengan tingkah kegagah-gagahan
dia berani menyerbu kedalam."
Gin Liong menahan napas kencang2, Suara tertawa
berhenti tetapi derap lari Go In masih tetap melaju.
Ruang gua makin gelap dan makin gelap karena
dipenuhi oleh bayang2 tubuh Go In. suasana di dalam dan
diluar gua sunyi senyap.
Beberapa saat kemudian, menilik dari bayang2 yang
tampak, Gin Liong dapat memperhitungkan bahwa Hiong-
bi-lek Go In saat itu sudah dekat sekali dengan tempatnya,
Paling banyak hanya tinggal satu tombak, Bahkan diapun
dapat mendengar suara napas si paderi yang terengah-
engah, Dan pada lain saat pula, bahkan iapun dapat melihat
pancaran sinar golok dari paderi itu.
Gin Liong makin tegang, Seluruh tenaga dalam telah
dihimpun ke lengan kanannya dan mulai pelahan-lahan
diangkat.
Rupanya paderi itu dapat menangkap suara gerak tangan
Gin Liong. Dia berhenti
"Wanita hina, mengapa tak lekas keluar ? Aku sudah
dapat mendengar debur jantungmu !" teriaknya, Tiba2 ia
hantamkan goloknya.
Segera terdengar gema suara yang dahsyat ketika dinding
karang hancur berantakan karena tabasan golok itu.
Paderi itu tertawa gelak2 :
"Wanita hina, apakah engkau tetap tak mau keluar ? Aku
sudah melihat engkau duduk, apakah harus menunggu aku
sampai turun tangan ? Ha, ha, bersikaplah sedikit ksatrya
dan lekaslah keluar !"
Sambil berkata ia ayunkan langkah lagi seraya tertawa
keras :
"Wanita hina, dengarkanlah Saatnya sudah hampir tiba .
. . engkau harus melaksanakan janjimu sebelum itu, engkau
tak, boleh membunuh orang . . . ."
Demikian sambil berjalan, paderi itu tertawa dan
mengoceh dengan suara keras,
Gin Liong makin tegang, Saat itu dia sudah melihat
golok si paderi dan pada lain saat bahkan tangan paderi itu
lalu perut yang buncit,
"Wanita hina, ha, ha. tahukah engkau bahwa tengah hari
segera tiba, Engkau harus melaksanakan janjimu, Aku
sudah melihat engkau duduk . . . .”
Walaupun mulut berkata garang tetapi tangan dan tubuh
Ma Toa Kong agak menggigit Dan makin lama dia makin
mendekati ke tempat Siau Lo Seng.
"Ha, ha," Go In tertawa dan berseru keras: "tengah hari
segera tiba, Wanita busuk, engkau harus menetapi janji, ha,
ha . . . . engkau tak boleh membunuh orang..."
Dalam pada berseru itu, paderi itu lambatkan langkah.
sekalian orang tahu bahwa gerak gerik Go In itu
menandakan rasa takut dan gelisah.
"Wanita hina itu berada disekitar celah2 dinding gua,"
seru Ma Toa Kong.
Hiong-bi-lek Go In mendengus dan hentikan langkah.
Gin Liong terkejut sekali, Pada saat mendengar Go In
berhenti, secepat kilat ia terus ayun tubuhnya melayang
keluar.
Wut . . . . karena kaget Go In memekik keras dan
kibaskan goloknya. Tetapi Gin Liong sudah bersedia.
Secepat ayunkan tubuh ia sudah berada dibelakang paderi
itu. secepat itu pula ia segera menghantam belakang
tengkuk kepala Go In.
Terdengar jeritan yang ngeri dan nyaring memancar dan
mulut Go In. Batok kepalanya pecah dan jatuhlah tubuh
paderi itu terjungkal ke belakang.
Sebuah bentakan keras mengering sesosok bayangan
hitam menyerbu Gin Liong, Untung pemuda itu dengan
sigap sudah menghindar ke samping. Ketika melihat siapa
penyerangnya itu, ternyata Ok-wi-tho Go Ceng yang
menyerang dengan Hang-mo-goh, alu yang beratnya
seratusan kilo,
Marahlah Gin Liong, Sekali lingkarkan kedua
lengannya, melangkah setengah tindak kemuka, ia segera
mendorong dengan kedua tangannya.
Terdengar jeritan ngeri di susul oleh tubuh Ok-wit-ho Go
Ceng yang terlempar keluar dari mulut gua. sekalian orang
terkejut Tetapi bukan menolong, kebalikannya mereka
malah buru2 menghindar ke belakang,
Karena tiada orang yang menolong, tubuh paderi jahat
itupun terlempar ke bawah jurang yang dalamnya ratusan
meter.
Sesungguhnya Liau Ceng taysu sudah berusaha untuk
menyambar tubuh paderi jahat itu, Tetapi sayang karena
rasa kejut dan tegun atas peristiwa itu, ia agak terlambat
bergerak sehingga Ok-wit-ho Go Ceng tetap meluncur
kebawah jurang.
Gin Liong itu juga kesima melihat hasil pukulannya.
setitikpun ia tak menyangka bahwa pukulannya ternyata
mengandung suatu tenaga sakti yang begitu dahsyat.
Cepat ia berputar memandang ke belakang. Dalam
kegelapan gua ia hanya melihat bahwa kecuali si Hiong-bi-
lek Go In yang terkapar menjadi mayat, tiada lain orang
lagi.
Ketika berpaling memandang ke maka lagi, hampir saja
ia menjerit kaget dan tubuhnya pun menggigil
Liau Ceng taysu, gurunya, saat itu sedang menjerit dan
tubuhnyapun gemetar. Hal itu disebabkan tak lain karena
dia melihat suhunya. Liau Ceng taysu, sedang melangkah
masuk kedalam gua.
Karena tegang dan gugup, Gin Liong cepat2 menyusup
lagi kedalam cekung dinding gua.
Tenang sekali sikap dan langkah Liau Ceng taysu.
Dengan memegang kebut Kim-si-hud-tim dia berjalan
dengan santai, Sudah tentu Gin Liong heran. Adakah
suhunya tak kuatir kalau Ban Hong Liong-li akan
menyerangnya ?
Tetapi dia tak sempat berpikir lebih lanjut karena saat itu
ketegangan hatinya makin memuncak. Dilihatnya setiap
kali melewati cekung dinding gua yang lebar dan
diperkirakan cukup dimasuki tubuh orang, suhunya tentu
berhenti dan menghamburkan pandang memeriksa,
Keringat dingin mulai mengucur deras pada tubuh Gin
Liong, Akhirnya ia memutuskan Daripada dipergoki oleh
suhunya, lebih baik ia bertindak lebih dulu,
Setelah meregangkan napas, secepat kilat ia terus melesat
lari kebagian gua yang lebih dalam Tiba di persimpangan
sebelah kiri dari ujung gua, ia berhenti Ketika mencari
kesempatan untuk berpaling ke belakang, dilihatnya
suhunya sedang menghampiri ke tempat mayat Hiong bi lek
Go In, Setelah memindahkan mayat paderi itu ke pinggir
Liau Ceng taysu lanjutkan perjalanan kedalam gua lagi,
Setiap tiba pada cekung dinding gua, ia tentu berhenti dan
mengucapkan beberapa patah kata yang tak jelas.
Gin Liong makin heran, Apakah yang diucapkan
suhunya itu ? Karena ingin tahu, ia kerahkan alat
pendengarannya untuk menangkap suara suhunya.
"Wulanasa, Wulanasa . . . ."
Mendengar itu, ketegangan hati Gin Liong bertambah
dengan suatu rasa keheranan Wulanasa ? Apakah artinya
Wulanasa itu ?
Sesungguhnya banyak sekali soal yang hendak
dipecahkannya, Tetapi saat itu dia tak mempunyai
kesempatan lagi. Saat itu Suhunya makin mendekat ke
tempat persembunyiannya.
Karena bingung, tiba2 Gin Liong loncat ke atas
tumpukan rumput kering disebelah kiri, sret . .. .
Walaupun hanya pelahan tetapi suara tertimpanya
tumpukan rumput kering dengan tubuh Gin Liong telah
menimbulkan gema suara yang berkumandang.
Gin Liong makin terkejut jantungnya mendebur keras, ia
ingin menyurut mundur tetapi kuatir akan menimbulkan
suara. Kalau tidak mundur, ia takut ketangkap basah oleh
suhunya.
Karena tegang dan gelisah, napasnya terengah2 keras. ia
kepalkan kedua telapak tangannya yang basah dengan
keringat.
Mendengar suara berkeresek tadi, Lian Ceng taysu
hentikan langkah dan berseru pelahan:
"Wulanasa, mengapa engkau tak pulang ke kampung
halamanmu . . . ."
Gin Liong tegak berdiri diatas tumpukan rumput kering
dan mendengarkan dengan penuh perhatian, Dia tak berani
mengisar kepala untuk melihat dimana suhunya berada.
Tetapi menilik suaranya, ia duga suhunya tentu berada
dekat dari tempatnya, Paling jauh hanya dua tiga tombak.
Timbul pertentangan dalam hati Gin Liong, Dia takut
tetapipun ingin tahu, Dia ingin lari tetapipun ingin
mengetahui hubungan apakah sesungguhnya yang terjalin
antara suhunya dengan Ban Hong Liong-li itu,
Tiba2 Liau Ceng taysu kembali berkata bisik2:
"Wulanasa, kuharap janganlah engkau keras perangai
seperti dahulu, jangan membawa kemauan . . ."
Dengan mengerahkan seluruh perhatian, Gin Liong
berusaha untuk menutup pernapasan dan menyatukan
semangat untuk mendengarkan sekonyong-konyong sebuah
benda tajam macam ungkit, menusuk tulang punggungnya,
seketika tubuhnya menggigil dan pingsanlah ia.
Entah berselang berapa lama, Gin Liong tersadar dari
suatu penderitaan sakit yang amat nyeri itu, ketika
membuka mata, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah
tempat yang gelap gulita dan berangin dingin.
Sejenak memperhatikan sekelilingnya ia dapatkan
dirinya masih menggeletak di tumpukan rumput. Tempat
itu segera mengingatkan ia akan peristiwa yang dialaminya.
Ia pusatkan segenap indera pendengarannya Kecuali
hanya angin dingin mendesis-desis, tiada lain suara yang
dapat didengarnya lagi.
Serentak diapun teringat akan suhunya dan kawanan Ma
Toa Kong, Dimanakah mereka saat itu ?
Dia ingin duduk, Tetapi baru hendak menggerakkan
tubuh, sakitnya bukan alang kepalang sehingga ia sampai
meringis dan kucurkan keringat dingin.
Untunglah kesadaran pikirannya masih terang. Dia
masih ingat, pada saat akan pingsan, didengarnya suhunya
berseru : "Wulanasa, pergilah, Kiongcu Hun seumur hidup
akan . . . . "
Kelanjutan dan bagaimana yang terjadi kemudian, ia tak
dapat mengetahui karena keburu pingsan.
Ia hendak gerakkan kepala berpaling kesamping, ah,
kepalanya terasa amat berat sekali, ia ingin menggerakkan
tangannya untuk meraba-raba sekelilingnya tenaganya
terasa lemah lunglai tak bertenaga sama sekali.
Dalam keadaan yang tak dapat berbuat apa2 itu akhirnya
iapun jatuh tidur lagi.
Pada saat ia bangun untuk yang kedua kalinya, kejutnya
bukan kepalang, Tempatnya yang gelap, saat itu terang
benderang. Seluruh gua terang seperti pagi hari. Keadaan
gua itu dapat dilihatnya dengan jelas bahkan sampai pada
bagian2 lekuk dan cekungnya,
Tiba2 timbullah keinginannya untuk bangun. Dan
serentak iapun menggeliat, hai . . . . mengapa tubuhnya
ringan sekali, Cepat ia kerahkan pernapasan dan dapatkan
tenaga murni dalam tubuhnya lancar sekali.
Segera ia lontarkan pandang ke arah mulut gua. Suhunya
dan mayat Hong-bi-lek Go In sudah tak tampak lagi,
Lanjutkan pandang matanya keluar gua, tampak batu
karang yang menonjol di muka gua tertutup salju putih,
Bunga2 Bwe yang tumbuh ditepi karang tengah mekar
dengan indahnya.
"Ah, hari sudah terang." serunya gembira Dan secepat
kilat ia ayunkan tubuhnya loncat ke mulut gua.
Bum . ,. .
Tiba2 ia berseru keras dan dorongkan kedua tangannya
ke batu karang di muka gua. Dan segera ia terlongong-
longong heran. Salju yang menutup permukaan batu karang
itu berhamburan bercampur dengan keping2 hancuran
karang, Tiga batang pohon bwe yang tumbuh di tepi batu
karang berhamburan gugur jatuh kedalam jurang,
Gin Liong benar2 tak menyangka bahwa saat itu ia
memiliki tenaga yang amat sakti, Dari jarak tujuh delapan
tombak jauhnya, ia masih dapat melepaskan hantaman
yang sedemikian dahsyatnya,
Menengadah ke langit, tampak mentari pagi sudah mulai
mengintip di puncak gunung, Diam2 ia heran. sebelum
pingsan, udara amat buruk, Salju turun deras, angin
menderu-deru keras. setelah sadar dari pingsan, hari sudah
cerah.
Makin melanjutkan keluar pandang matanya, tampak
puncak gunung tertutup salju putih, sepintas pandang
menyerupai lautan awan putih,
Gin Liong terkesiap dalam hati, ia merasa matanya jauh
lebih terang dan beberapa saat tadi, sebelum pingsan, Bukan
saja dapat menghadapi sinar kemilau dari cahaya salju, pun
dapat juga menerobos melihat beberapa tombak ke dalam.
Diam2 ia girang sekali, Cepat ia melayang keatas jalan
kecil lalu apungkan tubuh ke puncak karang, Dari tempat
itu ia terus lari menuju ke hutan siong disebelah muka.
Saat itu ingin sekali ia berada di kuil Leng hun-si. ia
hendak menceritakan perobahan dirinya itu kepada suhu
dan sumoaynya,
Sesaat tiba di kuil ia terus loncat melampaui pagar
tembok dan melayang ke ruang belakang.
Tetapi sesaat kakinya menginjak lantai, segera ia
merasakan sesuatu yang tak wajar, Biasanya di ruang
belakang kuil itu tentu penuh dengan kawanan paderi yang
mondar mandir mengurus pekerjaan masing2. Tetapi
anehnya, saat itu sama sekali tiada seorang paderi yang
kelihatan bayangannya,
Setelah mencurahkan pendengaran barulah ia dapat
mendengar bahwa di ruang muka kuil itu sayup2 terdengar
suara kelinting sembahyangan.
Kembali Gin Liong merasa girang. Ia tahu bahwa
telinganya makin bertambah tajam.
Ia lepaskan perhatian ke ruang belakang dan pusatkan
pendengarannya ke arah ruangan muka, Tetapi diapun
kurang memperhatikan bahwa saat itu sebenarnya
sembahyang pagi para paderi kuil sudah selesai pada dua
jam yang lalu.
Dengan hati gembira ia segera melangkah ke ruang
tengah untuk mendapatkan suhunya, ia terkejut ketika
melihat pintu ruang tempat kediaman suhunya terkancing
rapat Menandakan bahwa suhunya tak berada di dalam,
Berpaling ke ruang samping tempat tinggal sumpaynya,
pintunya tertutup tetapi daun jendela terbuka separoh.
Maka Gin Liongpun ayunkan langkah menghampiri
Begitu dekat pada ruang itu, kejut Gin Liong tak terkira,
ia mendengar suara erang kesakitan dari dalam ruang itu. ia
duga sumoaynya tentu sakit.
Melangkah ke muka pintu segera ia mendorong lalu
menerobos masuk.
Ki Yok Lan, sumoaynya yang masih dara itu, rebah
diatas tempat tidur, rambutnya terurai kusut dan tubuhnya
dibungkus selimut.
Gin Liong bergegas menghampiri Ketika memeriksa,
menggigillah tubuhnya, Yok Lan tampak pucat sekali
wajahnya dan tampaknya seperti orang limbung,
Halaman 59-60 Hilang
........... dari guanya."
Mendengar itu Yok Lan terkejut girang sekali.
Matanyapun berlinang-linang dan dengan suara tergetar ia
berseru: "Ah, akhirnya Liong-li lo-cianpwe telah bebas . . "
Tiba2 Gin Liong teringat akan peristiwa yang dialaminya
ketika berada dalam gua Ban Hong Liong li. Peristiwa yang
aneh dimana punggungnya seperti ditusuk oleh benda tajam
sehingga ia pingsan.
"Lan-moay, kemungkinan Liong-li locianpwe masih
berada dalam gua", serunya sesaat kemudian.
"Benarkah itu ?" seru Yok Lan girang," Liong koko, aku
hendak mendapatkan beliau !"
Habis berkata dara itu terus hendak turun dari tempat
tidurnya, Gin Liong terkejut, cepat2 ia memegang bahu
sumoaynya:
"Lan-moay, penyakitku belum sembuh betul, tak baik
mengeluarkan tenaga untuk berjalan. Aku hanya
mengatakan bahwa kemungkinan Liong-li lo-cianpwe
masih berada dalam gua. Adakah hal itu benar, aku juga tak
tahu."
Karena ketegangan hati tadi, Yok Lan telah mengurangi
tenaga murni yang mulai pulih dalam tubuhnya. ia
terengah-engah, keringat dingin bercucuran dan wajahnya
pun pucat lagi,
Gin liong terkejut, buru-2 ia membantu sumoaynya tidur
lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Setelah napasnya agak tenang, sambil memandang ke
wuwungan rumah, dara itu terkenang akan peristiwa yang
lampau.
"Tahun yang lalu, diam2 aku telah menuju ke gua Kiu-
kiok-tong, Baru melayang ke atas batu karang, segera
terdengar Liong-li locianpwe menegur: "Apakah engkau
sumoay dari Gin Liong ?"
"Ah," Yok Lan berkata seorang diri, "begitu ramah dan
penuh kasih sayang nada suara Liong-li lo-cianpwe, Aku
seorang gadis yang sudah sebatang kara, merasa bahwa
kata2 beliau itu penuh rasa kesayangan seorang ibu
terhadap putri2-nya. Aku tak dapat. menahan derai air
mataku yang bercucuran turun . . . ."
"Tetapi, sesaat kemudian dia memperingatkan supaya
aku jangan melanjutkan langkah menghampiri ke guanya,
Dan beliaupun melarang aku tak boleh datang ke tempat itu
lagi, Dan lagi melarang aku jangan mengganggu pedang
pusaka beliau yang tergantung pada pintu berterali besi itu .
. ,."
Berkata sampai disitu tiba2 mata Yok Lan berkilat terang
seperti teringat sesuatu ia berpaling memandang Gin Liong.
"Liong koko, dimanakah pedang pusakamu dan baju
bulu burung itu ?"
Gin Liong terbeliak, Dia segera teringat bahwa pedang
pusaka dan baju bulu burung itu masih ketinggalan di gua,
walaupun ia masih ragu2 tentang tempat kedua benda itu
tetapi ia harus mencarinya sampai ketemu.
"Karena bergegas hendak menengok engkau dan suhu
maka kedua benda itu kutinggal di gua, Harap engkau
beristirahat, aku hendak mengambil kedua benda itu dulu,
Aku pasti segera kembali kemari lagi," katanya kepada sang
sumoay.
Selekas keluar dari kamar, ia menuju ke halaman lalu
enjot tubuh melayang keatas genteng dan terus lari menuju
ke gunung di belakang kuil.
Pada saat melintasi hutan pohon siong, ia melihat
sesosok bayangan orang melesat di puncak gunung dan
pada lain kejap sudah lenyap, Bayangan itu luar biasa
cepatnya.
Gin Liong terkejut sekali. Puncak gunung di belakang
kuil itu, penuh dengan jurang dan tebing karang yang
curam sekali, Kecuali harus mengambil jalan dari muka
puncak gunung itu, tiada lain jalan lagi yang dapat
ditempuh.
Siapakah orang itu? Suhunya ataukah kedua paman
kakek gurunya?
Tetapi pada lain kilas cepat ia membantah dugaannya
sendiri, Karena bukankah mereka masih membaca doa di
ruang besar ?
Ia segera pesatkan larinya dan terus melayang keatas
batu karang di muka gua, Karena melihat sosok bayangan
aneh tadi, ia tak berani gegabah terus masuk kedalam gua.
Baru setelah menunggu beberapa saat tak tampak sesuatu
yang mencurigakan akhirnya ia melayang turun dan
melangkah ke dalam gua,
Gin Liong teringat akan pengalaman yang diderita
Hiong-bi lek Go In. ia tak berani terus langsung masuk
melainkan melangkah dengan pelahan dan memperhatikan
setiap cekung dinding gua.
Makin ke dalam makin gelap.
Tiba di ujung tikungan sebelah kiri, ia hampir berteriak
girang. pedang pusaka Tanduk Naga dan baju bulu burung
masih menggeletak di tumpukan rumput kering, Cepat ia
memungut kedua benda itu. Tetapi serentak iapun segera
teringat akan Ban Hong Liong-li.
Karena pedang pusaka dan baju bulu burung masih tetap
berada di dalam gua, jelas sosok bayangan tadi tentu tidak
masuk kesitu.
Setelah menyelipkan pedang dan mengenakan baju bulu
burung, kembali timbul bermacam pikiran dalam benaknya.
Pertama, ia mengira Ban Hong Liong-li masih berada
dalam gua. pada saat paderi Go In berteriak masuk kedalam
gua, Ban Hong Liong-li mungkin bersembunyi tak jauh dari
tempatnya.
Gin Liong percaya bahwa dengan kepandaian yang
dimilikinya, tanpa dibantu wanita sakti itu, tentu tak
mungkin sekali hantam dapat melemparkan tubuh paderi
Go In sampai tujuh delapan tombak keluar dari gua.
Dan ketika suhunya masuk kedalam gua, tak henti-
hentinya berseru memanggil "wulanasa " Mungkin kata2 itu
merupakan nama dari Ban Hong Liong-li ketika masih
gadis.
Gin Liong makin keras menduga bahwa diantara
suhunya dengan Ban Hong Liong-li, dahulu tentu
mempunyai hubungan yang istimewa.
Ban Hong Liong-li tampaknya kuatir orang lain atau
para anak muda mengetahui riwayat hidupnya. Pada saat
suhunya berbicara dengan Ban Hong Liong-li, Wanita sakti
itu tentu segera memeluknya (Gin Liong) sehingga pingsan
agar jangan dapat mendengar pembicaraan mereka.
Ia duga benda tajam yang menusuk punggungnya itu
tentulah ujung jari dari Ban Hong Liong-li.
Tetapi ada sebuah hal yang ia tak mengerti. Mengapa
suhunya waktu itu tak mau menolong dirinya ?. Adakah
saat itu suhunya memang tak mendengar suaranya ataukah
Ban Hong Liong-li lo cianpwe memindahkannya ke lain
tempat ?
Terlintas sesuatu dalam benaknya dan iapun
memandang ke muka, Lima tombak disebelah muka, gua
itu membiluk ke kanan.
Segera ia menuju ke tempat itu. Melongok kebawah,
ternyata sebuah jurang yang tak kelihatan dasarnya, Namun
Gin Liong sudah terlanjur tertarik hatinya, ia melayang
turun, Makin kebawah, hawanya makin dingin sekali,
Ketika tiba di dasar lembah, ia berhadapan sebuah gua
besar yang kedua dindingnya penuh dengan batu2 runcing.
Gin Liong maju menghampiri
Tiba2 ia terkejut karena mendengar suara jeritan seram
dari bagian dalam gua itu. ia hentikan langkah, Ketika
mendengarkan dengan seksama, kecuali suara benda jatuh,
tiada kedengaran apa2 lagi.
Teringat sesuatu, Gin Liong segera lari memburu
kedalam, Lorong gua berkelak-keluk, naik turun. Setelah
melintas enam buah tikungan, tibalah dia disebuah tempat
berbentuk empat persegi, panjangnya kira2 sepuluhan
tombak,
Gin Liong hentikan langkah, Memandang kemuka,
kejutnya bukan kepalang. Lima tombak disebelah muka,
terkapar sesosok tubuh yang kecil kurus.
Cepat ia loncat menghampiri. Ah, ternyata orang itu
memang seorang wanita. Rambutnya sudah usai,
mengenakan pakaian kembang potongan suku Biau,
Kepalanya pecah, wajahnya rusak mengerikan sekali.
Gin Liong menduga mayat itu tentulah Ban Hong Liong-
li. serentak meluapkan kemarahannya, ia menghamburkan
tertawa keras sekali sehingga menggetarkan suluruh gua.
Puas menumpahkan kemarahannya dalam tawa yang
ngeri, serentak ia berlutut disamping mayat itu dan
menangis tersedu sedan.
"Liong-li locianpwe. murid memang berdosa besar
karena tak lekas datang sehingga lo-cianpwe sampai
dicelakai orang. Murid bersumpah, dengan pedang Tanduk
Naga pemberian lo-cianpwe itu, akan menuntut balas
kepada musuh2 lo-cianpwe itu, walaupun harus memburu
mereka sampai di ujung langit."
Sekonyong-konyong terdengar gemericik suara air
mengalir Gin Liong serentak berdiri dan berseru : "Siapa itu
!"
Ia menghimpun tenaga dalam, siap untuk menghantam,
Tetapi ketika memandang kemuka, menggigillah sekujur
tubuhnya, Cepat ia loncat mundur sampai tiga tombak,
Pada ujung gua didepan, sayup2 seperti muncul seperti
sinar yang menembus ke puncak gua. . Cahaya itu
memancarkan sinar tujuh warna. Kilau kemilau
menyilaukan mata.
Sebuah kepala binatang yang menyerupai ular naga,
bergemercikan timbul dari dalam air lalu perlahan-lahan
merayap keatas tanah.
"Makhluk ajaib..." teriak Gin liong dengan tegang sekali.
Ia menyalangkan mata memandang dengan seksama.
Kepala binatang aneh itu berwarna hijau, tanduk merah,
sepasang matanya menyerupai bola api, hidungnya
menghambur buih dan mulutnya mendesis-desis. Dan
ketika badannya ikut terangkat tulang punggungnya
seruncing mata golok penuh dengan sisik, Mungkin karena
mendengar Gin liong tertawa keras, makhluk aneh itu
merangkak keluar dari sarangnya.
Sekonyong-konyong makhluk aneh itu meraung,
mengangkat kepala, membuka mulut lebar2, lalu meluncur
kearah mayat Ban Hong hong-li.
-ooo0dw0ooo-

Bab 2
Katak salju
Gin Liong terkejut Tetapi sesaat kemudian iapun marah
sekali, Dengan menggembor keras cepat ia mencabut
pedang pusaka, seketika berhamburan sinar merah dari
pedang Tanduk Naga itu.
Binatang aneh itu panjangnya tiga tombak. keempat
kakinya tajam seperti cakar, Melihat sinar merah dari
pedang Tanduk Naga, mayat wanita yang sudah digigit itu,
segera dilepasnya lagi. sepasang bola matanya yang
mencorong seperti lentera, tiba2 pudar dan binatang itupun
pelahan-lahan menyurut mundur.
Gin Liong pelahan-lahan mendesak maju. Melihat itu
binatang anehpun makin mempercepat gerak mundurnya.
Tampaknya dia ketakutan sekali.
Pada saat melalui mayat, Gin Liong menunduk dan
memandangnya. Alangkah kejutnya ketika melihat baju
kembang potongan wanita Biau yang dikenakan wanita itu
sudah hancur digigit binatang aneh tadi.
"Binatang, serahkan jiwamu !" Gin Liong marah dan
loncat membabat tanduk merah binatang itu. Binatang
itupun meraung keras dan meluncur mundur cepat sekali
kedalam air.
Gin Liong berhenti dan berdiri di tepi air, Kiranya
tempat itu merupakan sebuah rawa seluas lima tombak,
dikelilingi empat dinding karang hijau. Ditengahnya
terdapat dua buah guha seluas satu tombak. Separoh bagian
dari guha itu terendam air.
Binatang aneh yang menyerupai naga itu masuk kedalam
guha sebelah kiri. Dari permukaan air masih tampak kedua
bola matanya yang bersinar tajam.
Gin Liong maju menghampiri ke tepi rawa, Binatang
itupun pelahan-lahan menyelam kebawah rawa.
Tiba ditepi rawa, airpun segera memancar sinar pedang
Tanduk Naga berwarna merah.
Rawapun pelahan-lahan tenang lagi. permukaan airpun
tidak beralun, Tetapi dari dasar rawa seperti memancar
sinar warna pelangi yang menyembul ke permukaan rawa.
Tergerak hati Gin Liong, Menunduk kebawah,
dilihatnya dari dasar rawa bagian yang paling dalam,
tampak melambung sebuah benda putih macam batu
pualam bersih.
Besarnya sama dengan kepalan tangan, Benda putih itu
makin melambung ke permukaan air. sinarnya makin
terang.
Ketika memandang dengan seksama barulah Gin Liong
tahu bahwa benda putih itu seekor katak putih atau katak
salju.
Sesaat katak salju itu mengapung di permukaan air,
maka tubuhnya memancar sinar putih yang gilang
gemilang. Ketika beradu dengan sinar merah dari pedang
Tanduk Naga, maka timbullah suatu pancaran sinar yang
amat serasi dan menyilaukan mata.
Seketika Gin Liong menyadari bahwa katak salju itu
tentu termasuk sejenis binatang yang ajaib. Cepat ia
selipkan pedangnya lalu berjongkok di tepi rawa dan
ulurkan tangan hendak menangkap binatang itu.
Tiba2 air berombak keras dan muncullah binatang aneh
yang menyerupai naga tadi, Gin Liong terkejut, Cepat ia
ayunkan tubuh melayang mundur beberapa tombak.
Memang mahluk yang menyerupai naga itu merangkak
naik ke daratan lagi, sepasang matanya memandang Gin
Liong dengan berapi-api.
Gin Liong sudah mempunyai pengalaman bahwa
binatang aneh itu takut pada sinar atau mungkin pada sinar
kemilau dari pedang Tanduk Naga. Maka dia segera
mencabut pedang pusaka itu, sambil menggembor keras.
terus menerjangnya .
Binatang yang mirip naga itu amat waspada sekali. Pada
saat sinar pedang Tanduk Naga memancar tiba, cepat2
binatang itupun segera menyurut mundur masuk kedalam
guha.
Beberapa saat kemudian permukaan telaga pun tenang
lagi airnya, Katak salju itupun kembali mengapung di
permukaan air.
Gin Liong tancapkan pedangnya ke tepi telaga, lalu
berjongkok dan ulurkan kedua tangannya untuk menangkap
katak mustika itu, Dalam pada itu perhatiannyapun tak
pernah lepas ke arah binatang mirip naga yang mungkin
akan meluncur keluar dari sarangnya.
Sepasang mata katak salju itu berkilat-kilat terang,
memandang dengan sorot marah kepada Gin Liong.
Katak yang badannya seputih salju itu, segera bergerak-
gerak menghampiri ke tempat pedang Tanduk Naga.
Begitu mendekati tepi, secepat kilat Gin Liong segera
menyambarnya dan berhasillah ia.
Tetapi suatu peristiwa yang tak terduga-duga telah
terjadi. Ketika menggenggam katak salju itu, seketika kedua
tangan Gin Liong membeku dingin, lengannya serasa mati-
rasa dilanda oleh hawa yang luar biasa dinginnya sehingga
menyusup masuk ke ulu hati.
Gin Liong terkejut sekali, cepat ia letakkan katak salju itu
diatas bulu-bulu burung.
Ketika memandang kedalam air, dilihatnya binatang
yang menyerupai naga itu tengah mementang kedua
matanya lebar2. Dari hidungnya menghembuskan
hamburan hawa yang bergulung-gulung dalam air.
Gin Liong tahu bahwa mahluk seperti naga itu tentu
marah sekali, Tetapi karena takut pada pedang Tanduk
Naga maka walaupun katak salju telah dirampas Gin
Liong, binatang itu tak berani berbuat apa2.
"Ah, lebih aku cepat2 pergi," kata Gin Liong lalu hendak
menjemput katak salju lagi, Tetapi ketika memandangnya,
kejutnya bukan alang kepalang.
Katak salju yang semula sebesar kepalan tangan, saat itu
tiba2 berobah menyusut kecil tak lebih dari dua inci
besarnya, Dan ketika dipegang, tubuh katak itu putih
bening seperti air.
"Katak salju, ya, tentu inilah katak salju," tiba2 ia berseru
tergetar.
Dengan mencekal katak salju ditangan kiri dan pedang
Tanduk Naga, di tangan kanan, Gin Liong segera bergegas
pergi.
Saat itu hati Gin Liong girang bukan kepalang, Sambil
berlari pesat, pandang matanya selalu mencurah kearah
katak salju itu, Diam2 ia merenungkan tentang khasiat yang
luar biasa dari binatang itu.
Katak salju merupakan suatu jenis binatang yang jarang
terdapat di dunia, Seperti halnya dengan senjata pusaka,
kitab pusaka, pun katak salju itu merupakan benda yang
menjadi incaran setiap kaum persilatan.
Apabila katak salju itu direndam dalam arak dan
diminum maka khasiatnya bagi orang yang berlatih silat,
seolah tulang-tulangnya berganti baru, tenaga dalamnya
bertambah kokoh. Bagi orang biasa, dapat menyembuhkan
segala penyakit dan menambah panjang umur.
Kegirangan Gin Liong mendapatkan katak mustika itu
bukan karena ia hendak memakannya sendiri melainkan
hendak diberikan kepada Ki Yok Lan yang sedang
mengidap penyakit itu. Apabila sumoaynya minum katak
itu, tentulah penyakitnya akan sembuh dan tubuhnya akan
sehat kuat.
Tiba di tikung kiri pada mulut guha, tiba2 Gin Liong
terkesiap, jenazah Ban Hong Liong-li yang tadi
menggeletak di tempat itu, ternyata lenyap !
Ke manakah jenazah itu ?
Tak pernah dia menyangka bahwa di guha yang setinggi
lima tombak itu, akan muncul seseorang yang membawa
pergi mayat wanita itu, Dan dia pun tak pernah
membayangkan bahwa orang itu memiliki kepandaian yang
hebat sekali.
Dia hanya terkejut atas peristiwa aneh itu maka setelah
dengan hati2 memasukkan kotak salju kedalam baju, ia
segera tingkatkan kewaspadaan siap sedia menghadapi
sesuatu yang tak diinginkan.
Tiba2 ia mendengar suara tertawa dingin pelahan dan
berasal dari belakangnya, Sudah tentu dia terkejut sekali,
Secepat kilat ia mencabut pedang Tanduk Naga dan
berputar tubuh menabas.
Ia percaya bahwa gerakan berputar seraya menabas
secepat kilat itu tentu akan mengenai sasarannya, Tetapi ah,
hanya angin belaka yang ditabasnya.
Ia tersipu-sipu malu sendiri, Mengeliarkan pandang
kesekeliling, ternyata guha itu sunyi senyap, kosong
me!ompong.
Tetapi dia merasa penasaran, jelas tadi ia mendengar
suara orang tertawa dingin. Tiba2 terlintas sesuatu dalam
benaknya dan secepat itu ia segera menengadahkan muka
memandang keatas,
Ah, ternyata dugaannya tepat pada puncak guha setinggi
tiga tombak itu, terdapat sebuah guha yang cukup lebar.
Karena gelap dan menjulang ke atas maka tak dapat di
ketahui berapa tombak tingginya.
Kini Gin Liong menyadari bahwa orang yang melepas
tertawa dingin tadi tentu sudah meluncur dari puncak guha
itu.
Mengenangkan akan nasib Ban Hong Liong-li yang
begitu mengenaskan dibunuh lalu mayatnya masih
dilarikan Gin Liong menumpahkan kemarahannya dengan
sebuah tertawa seram
Acungkan pedang pusaka Tanduk Naga ke-atas ia segera
enjot tubuh melambung kearah guha diatas puncak guha
itu.
Memang pedang pusaka Tanduk Naga benar2 sebuah
pedang pusaka yang hebat. Lorong guha yang gelap itu
segera terpancar sinar merah. Dengan setiap kali menginjak
dinding guha yang menonjol, dapatlah Gin Liong mencapai
ketinggian tujuh tombak dan tibalah dia di puncak paling
atas.
Ia berhenti seraya lintangkan pedang dan mengeliarkan
pandang ke sekeliling. Kiranya guha di puncak itu
lorongnya berkeluk-keluk macam ular, Sebuah guha yang
menjulang condong ke-atas.
Guha itu gelap gulita, anginnya keras, Tak tampak
barang seorang manusiapun disitu, Gin Liong masih
penasaran. Di amati keadaan guha itu dengan lebih cermat,
Tiada tampak barang sebuah cekungan yang dapat
dijadikan tempat per sembunyian orang, Maka dengan
siapkan pedang ditangan kanan, ia segera menyusur lorong
guha.
Hati-2 sekali ia berjalan. Setiap keluk dan cekung, tentu
ia berhenti dan mengamati dengan cermat.
Makin menuju ke atas, hawa makin dingin dan lorong
guhapun makin sempit, Dan tak berapa lama tibalah ia di
mulut guha. Disitu keadaannya tidak lagi gelap melainkan
terang benderang.
Kini dia berhadapan dengan sebuah guha berbentuk
bundar, menjulang lurus keatas, Tingginya hampir
sepuluhan tombak, pada mulut guha yang bundar seperti
mangkuk, tampak langit yang biru. Dan dekat di mulut
guha, terdapat lapisan salju.
Gin Liong kerutkan dahi. ia sangsi adakah ia mampu
loncat melambung ke mulut guha setinggi itu, Dan orang
yang tertawa tadi, adakah juga keluar dari guha diatas itu ?
Tiba2 muncul suatu pertanyaan dalam hati Gin Liong,
Benarkah Ban Hong Liong-li telah dipenjara selama lima
tahun dalam guha itu ?
Seingatnya, selama lima tahun itu dikala Ban Hong
Liong-li memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, ada
kalanya suruh dia datang lima hari sekali. Tetapi ada
kalanya tiga hari bahkan sebulan dua bulan baru
disuruhnya datang.
Waktu itu ia tak tahu apa sebabnya, Tetapi kini setelah
menemukan jalanan keluar dari puncak guha, dia menduga
keras, selama lima tahun itu Ban Hong Liong-li tentu tidak
terus menerus berada dalam guha. ia percaya dengan
kesaktian yang dimiliknya, Ban Hong Liong-li tentu mudah
sekali keluar masuk mulut guha itu.
Ada lagi sesuatu yang mengherankan Gin Liong, jika
benar Ban Hong Liong-li dapat bergerak bebas dalam guha
itu mengapa selama lima tahun itu tak pernah ia
diperbolehkan melihat wajahnya ? Adakah Ban Hong
Liong-li berwajah buruk sehingga malu dilihat orang ?
Saat itu yang paling menyedihkan hati Gin Liong ialah
keadaan jenazah Ban Hong Liong-li, Mukanya hancur lebur
sukar dikenali lagi sehingga sukar dinilai adakah dia
seorang wanita cantik atau buruk.
Dan sesaat teringat akan kematian yang mengenaskan
dari Ban Hong Liong-li itu, darah Gin Liong segera meluap,
ia memutuskan akan mencapai puncak mulut guha itu dan
melihat bagaimana keadaan yang sesungguhnya.
Sekali enjot sang kaki, tubuh Gin Liongpun melambung
kearah mulut guha yang tingginya beberapa tombak, Dalam
dua tiga kali gerakan melambung, akhirnya berhasil juga ia
tiba ditepi mulut guha.
Ketika memandang ke sekeliling, ia tertegun, Empat
penjuru keliling dari guha itu merupakan gerumbul pohon
siong yang penuh diselimuti salju. Dan yang mengejutkan
Gin Liong, ternyata pada jarak beberapa tombak dari
tempat itu sudah merupakan dinding tembok merah dari
kuil Leng-hun-si. Dan Gin Liongpun dapat melihat ruang
kuil itu, diantaranya ruang tempat kediaman suhunya.
"Hah, apakah mulut guha ini bukan yang dikatakan
sebagai Sumur mati dibelakang kuil ?" tiba2 ia teringat
Segera ia berpaling kebelakang untuk memeriksa mulut
guha tadi lagi, Tetapi ketika berputar tubuh, bukan
kepalang kejutnya sehingga ia sampai memekik kaget dan
loncat mundur dua tombak.
Di depan sumur mati yang berada di belakangnya itu,
tegak seorang wanita cantik dalam pakaian yang indah dan
mantel bulu burung dari beludru merah.
Wanita cantik itu kira2 berusia 26-27 tahun, kulitnya
merah segar, sepasang alisnya melengkung panjang sampai
ke pelipis rambut. Dan sepasang matanya bersinar bening
bagai batu zamrud.
Kecantikan wanita itu memiliki pesona yang memikat
hati orang. Sayang wajahnya menampil kerut hawa
pembunuhan dingin.
Gin Liong terkesiap, ia duga wanita muda itu tentu yang
menyerang Ban Hong Liong-li. seketika meluaplah
kemarahannya.
"Wanita jahat, engkau harus mengganti jiwa
locianpweku..." secepat kilat ia enjot tubuh melampaui dua
batang pohon siong lalu menyerang, menusuk bahu wanita
muda itu dengan pedangnya.
Tenang2 saja wanita muda itu melihat gerak gerik Gin
Liong- Pada saat ujung pedang Gin Liong hampir
mengenai, barulah dia menggeliat mundur, bergerak-gerak
dan tahu2 lenyap.
Gin Liong terkejut. Cepat ia hentikan terjangannya,
Dengan jurus Harimau-buas-mengibas-ekor, ia taburkan
pedang Tanduk Naga menyapu ke belakang.
Krak, bum... sebatang pohon siong segera terbabat
rubuh, menimbulkan letupan yang keras ketika
menghantam tanah, Salju yang menutupi daun pohon,
berhamburan keempat penjuru,
Memandang kian kemari, Gin Liong tak melihat wanita
muda itu, Cepat ia berputar ke belakang, ah, wanita muda
itu ternyata berdiri dibelakangnya.
Gin Liong tergetar hatinya, setitikpun ia tak menyangka
bahwa wanita muda itu menguasai juga tata langkah Liong-
li-biau yang pernah diajarkan Ban Hong Liong-li kepadanya
Tenang2 saja wanita muda itu memandang Gin Liong,
wajahnya menampilkan kerut keresahan dan putus asa.
"Jika dapat menguasai tata gerak Liong-li-biau, wanita
ini tentu mempunyai hubungan dengan Liong-Li
locianpwe," pikir Gin Liong.
Menimang demikian, menurunlah kemarahan Gin
Liong. Segera ia menyimpan pedang lalu maju
menghampiri dan memberi hormat:
"Mohon tanya siapakah nama yang mulia dari cianpwe
ini ? Mengapa berada di belakang kuil Leng-hun-si ? Maaf
atas tindakanku yang kurang adat karena menyerang
cianpwe tadi."
Wajah wanita muda itu agak berobah. Sinar matanyapun
berobah lembut ia kerutkan alis dan tiba2 menghela napas.
Kali ini Gin Liong lebih terkejut lagi. Helaan napas
wanita muda itu benar2 mirip sekali dengan helaan napas
yang sering dilakukan oleh Ban Hong Liong-li selama
berada lima tahun dalam guha.
Melihat wajah anak muda itu pucat dan tegang serta
memandang dirinya penuh keheranan, wanita muda itu
segera berseru:
"Liong-ji, engkau benar2 seorang anak yang baik. Benar,
aku memang tak menyangka bahwa kecerdasanmu jauh
melebihi aku ketika masih muda, Demikian juga hatimu
pun lebih keras."
Mendengar nada suara yang tak asing lagi itu, tak
kuasalah Gin Liong menahan luapan hatinya. Airmatanya
berderai-derai membanjir turun, Selekas membuang
pedang, ia bergegas melangkah dan jatuhkan diri berlutut
dihadapan wanita itu seraya berkata dengan terisak-isak:
"Lima tahun lamanya Gin Liong telah menerima
pelajaran. Selama itu siang dan malam Gin Liong ingin
sekali melihat wajah cianpwe. Tadi tanpa sengaja, aku telah
berlaku kurang hormat, mohon locianpwe sudi
memaafkan."
Wanita muda itu berlinang-linang dan menghela napas
rawan, serunya:
"Liong-ji, bangunlah, Aku tak menyalahkan engkau
melainkan memang diriku. Wulanasa sendiri yang bernasib
malang, dipenjara selama lima tahun dalam guha, Adalah
karena beberapa alasan maka selama itu aku tak dapat
mengunjukkan diri menemui orang."
Habis berkata wanita muda itu segera mengangkat
bangun Gin Liong yang masih berlutut di tanah.
Waktu berdiri, Gin Liong tundukkan kepala tak berani
memandang wanita itu. ia tak mengira bahwa Ban Hong
Liong-li yang dipenjara selama lima tahun dalam guha -itu,
ternyata seorang wanita cantik yang baru berusia sekitar
dua-puluhan tujuh tahun.
Dengan berlinang - linang Ban Hong liong-li suruh Gin
Liong mengambil pedang pusaka itu, Gin Liongpun segera
melakukannya dan menyimpan pedang itu kesarungnya
lagi.
Ban Hong Liong-li sejenak memandang ke-sekeliling
cakrawala, Saat itu matahari sudah mulai condong ke barat,
Segera ia berkata dengan rawan:
"Liong-ji, saat ini aku harus pergi, tak dapat lebih lama
tinggal disini lagi."
Tergetar hati Gin Liong, seketika wajahnya berobah.
"Lo . . . locianpwe hendak kemana ?" tanyanya gopoh.
Dalam menyebut nama Ban Hong Liong-li itu, memang
Gin Liong agak kikuk, Wanita yang semuda itu, apakah
harus disebut "locianpwe". Tetapi karena selama lima tahun
sudah biasa memanggil begitu, diapun tak dapat berganti
dengan lain sebutan lagi.
Agaknya Ban Hong Liong-li tak menghiraukan soal
sebutan itu, .
"Aku harus segera kembali ke kampung halamanku di
gunung Supulawa. Dan selanjutnya aku akan tinggal di
daerah Biau sampai akhir hayatku, Aku takkan menginjak
ke Tionggoan lagi."
Gin Liong mengembang air mata, serunya gegas:
"Mengapa locianpwe tak mau tinggal beberapa hari lagi
disini ?"
Ban Hong Liong-li memandang ke langit lagi dan
gelengkan kepala pelahan-lahan lalu menghela napas.
"Kenangan yang lampau bagaikan asap, Hanya
kehampaan yang kutemui dalam mengarungi ke ujung
langit. Menyebabkan orang putus asa, walaupun kutunggu
sampai sepuluh tahun lagi, apakah gunanya ?"
Dalam pada mengucap itu. airmatanya berderai-derai
membasahi kedua pipi dan akhirnya kerongkongannyapun
terasa tersumbat tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.
"Keinginan apakah yang locianpwe belum dapat
melaksanakan itu, harap memberitahukan kepadaku...."
akhirnya Gin Liong memberanikan diri untuk berkata.
Tetapi cepat Ban Hong Liong-li menukas tertawa rawan:
"Ah, hal itu sudah tiada harapan lagi. tiada gunanya
kukatakan."
Namun Gin Liong tetap mendesak: "Mohon locianpwe
suka tinggal disini beberapa hari lagi, Liong-ji tentu akan..."
Ban Hong Liong-li gelengkan kepala, menukas:
"Tidak. demi menambah tenaga dalammu, aku sudah
menunda perjalanan selama tujuh hari, sekarang aku harus
menempuh perjalanan itu siang dan malam agar lekas tiba
di daerah Biau."
Tiba2 Gin Liong teringat akan mayat wanita dalam
pakaian suku Biau yang rebah di dalam gua tadi.
"locianpwe, siapakah mayat wanita yang berada dalam
guha itu ?" tanyanya serentak.
Ban Hong Liong-li terkesiap, wajahnya berobah seketika.
Sesaat kemudian berkata dengan nada geram:
"Kebahagian hidupku, selama ini berada ditangannya,
Tak kukira kalau dia akan datang dari Biau-ciang dan
hendak membunuh aku secara menggelap."
Berhenti sebentar, Ban Hong Liong-li mendengus geram
dan melanjutkan pula:
"Apabila kali ini kulepaskan dia lagi, mungkin jiwa Cu
Hunpun sukar terjamin keselamatannya."
Gin Liong terbeliak kaget.
"locianpwe, siapakah wanita yang mengenakan pakaian
suku Biau itu ? permusuhan apakah yang terjalin antara dia
dengan suhuku ?" seru pemuda itu.
Agak tersipu merah Ban Hang Liong-li menerima
pertanyaan itu. Sesaat kemudian ia menghela napas rawan.
"Liong-ji, tanyakanlah sendiri kepada suhumu, sekarang
aku akan pergi !"
Habis berkata ia berputar tubuh.
"locianpwe, harap tunggu dulu," buru2 Gin Liong
berseru, meminta, seraya loncat kehadapan Ban Hong
Liong-li.
"locianpwe, maukah locianpwe memberitahu tempat
kediaman locianpwe kepada Liong-ji ?"
Ban Hong Liong-li merenung.
"Daerah Biau, gunung Supulawa, puncak Paklu, lembah
Naga-beracun," akhirnya meluncurlah beberapa patah kata
dari mulut Ban Hong Liong-li, memberitahukan alamatnya.
Diam2 Gin Liong mencatat dalam hati. Kemudian ia
bertanya pula:
"locianpwe, benarkah aku telah tidur selama tujuh hari
dalam guha?"
Ban Hong Liong-li mengangguk:
"Benar, kalau aku tak merawat dan tak mengurut-urut
jalan darahmu, paling sedikit engkau harus tidur sepuluh
hari lagi."
Gin Liong terkejut.
"Mengapa aku jadi begitu ?" serunya.
"Karena engkau telah makan pil Tok-liong-wan (pil naga
beracun) milik ibuku yang diambilnya dari perut ayahku."
Menggigillah seluruh tubuh Gin Liong mendengar
keterangan itu.
"Apa ? Pil itu berasal dari perut ayah locianpwe ?"
serunya terkejut.
Ban Hong Liong-li terpaksa tertawa: "Liong-ji. apakah
engkau merasa heran?"
Gin Liong berulang-ulang mengangguk kepala.
Ban Hong liong-li menghela napas pelahan.
Katanya pula: "cerita itu panjang sekali kalau
diceritakan, Lebih baik setelah aku pergi, engkau tanyakan
kepada suhumu !"
Gin Liong gelengkan kepala.
"Suhu tentu tak mau memberitahu kepada Liong-ji.
Mohon locianpwe saja yang memberitahu hal itu."
Ban Hong Liong-li kerutkan alis, Ketika hendak
membuka mulut tetapi ia berpaling kearah kuil Leng-hun-si
dan membentak: "siapakah yang berada dalam tembok itu
?"
Gin Liong terkejut dan berpaling, Dilihatnya Ki Yok Lan
dengan rambut kacau tengah melompat keatas pagar
tembok kuil dan terus hendak melayang turun.
Gin Liong terkejut sekali, ia tahu sumoay-nya itu masih
sakit maka buru-2 ia berseru:
"Lan-moay, jangan...."
Tetapi sudah terlambat, Ki Yok Lan sudah terlanjur
melayang turun. Gin Liongpun cepat membentak dan
loncat menyongsong.
Juga Ban Hong Liong-li terkejut, serentak ia ayun
tumbuh melesat kearah Yok Lan. Dengan kedua tangan ia
menyambut tubuh nona itu,
Ketika Gin Liong tiba, ia melihat Sumoay-nya telah
pingsan, Anak muda itu bingung dan airmatanya
bercucuran.
"Bagaimana, lo cianpwe".
"Dia pingsan !"
Ban Hong Liong-li kerutkan dahi. Memandang Yok Lan
yang berada dalam pelukannya, ternyata wajah dara itu
pucat lesi, kedua matanya meram. Bang Hong Liong-li
menghela napas: "Ah, tak kira anak ini bertubuh lemah
sekali."
"Memang sumoay sedang sakit, sudah tujuh hari
lamanya..." cepat Gin Liong memberi keterangan.
Tiba2 mata Ban Hong Liong-li bersinar dan cepat
menukas : "Katak salju itu ? Lekas keluarkan !"
Gin Liong terbeliak tetapi cepat ia menyadari bahwa
selama ini ternyata Ban Hong Liong-li telah mengikuti
gerak geraknya, Segera ia mengeluarkan katak mustika itu.
Ban Hong Liong li meletakkan Yok Lan di tanah,
kepalanya disandarkan pada dadanya, ia mengambil sebuah
mangkok batu kumala hijau lalu suruh Gin Liong
masukkan katak salju ke dalam mangkuk dan suruh pula
pemuda itu lekas mengambilkan sejemput salju yang bersih.
Gin Liong buru2 melakukan perintah, "Masukkan salju
kedalam mangkuk, perintah Ban Hong Liong-li pula, Begitu
salju dimasukkan, terdengar suara mendesis pelahan ketika
salju itu lumer menjadi air.
"Liong-ji. tahukah engkau khasiat katak salju ini ?" tanya
Ban Hong Liong-..
"Tahu," jawab Gin Liong.
"Segala apa memang sudah takdir." kata Ban Hong
Liong-li. "tak boleh diminta dengan kekerasan. Liong-ji,
engkau mempunyai rejeki besar, kelak engkau harus
menjaga dirimu baik2 agak menjadi seorang pendekar yang
berguna."
Serta merta Gin Liong menghaturkan terima kasih,
Memandang ke langit, kembali alis yang hampir
menyusup ke tepi rambut dari Ban Hong Liong-li berkerut
pula, Gin Liong segera tahu bahwa wanita itu tentu
bergegas hendak segera turun gunung. Dia bingung tetapi
tak tahu bagaimana harus mengatakan.
Saat itu salju sudah menjadi air. Diatas tubuh katak
salju, air itu seperti mendidih, mengeluarkan butir2
gelembung kecil. Begitu pula, tubuh katak itupun
memancarkan sinar tujuh warna yang kilau kenalan
Ban Hong Liong-li menundukkan kepala untuk meniup
mulut Yok Lan. Tubuh nona itu agak menggeliat dan
menghembus napas panjang lalu membuka mata.
Dengan wajah berhias senyum ramah. berkatalah Ban
Hong Liong-li: ”Lan-ji, minumlah air salju ini !"
Ia segera menuangkan tepi mangkuk kemulut dara itu.
Gin Liongpun cepat2 mendekati sumoay nya dan memberi
keterangan
"Lan moay, yang memeluk engkau ini adalah Liong-li
locianpwe."
Wajah Ki Yok Lan pucat lesi seperti mayat Sinar
matanyapun redup dan kesadaran pikirannya limbung,
Mendengar dirinya di peluk Liong-li locianpwe, seketika
wajahnya memancarkan sinar kejut dan girang.
"Lan-moay, minumlah air salju yang diberikan Liong-li
locianpwe penyakitmu tentu sembuh," kata Gin Liong pula.
Rupanya dara itu tak mendengar jelas apa yang
dikatakan suhengnya, Sepasang matanya memandang lekat
pada Ban Hong Liong-li.
Ban Hong Liong-li hanya tersenyum dan berkata pula:
"Lan-ji. lekaslah minum,"
Yok Lan pelahan-lahan membuka mulutnya tetapi
matanya tetap memandang tak berkedip ke wajah Ban
Hong Liong-li. Airmatanya berderai-derai mengalir
membasahi pipi.
Setelah air salju itu habis diminum, maka dari mulut Yok
Lan terbaur hawa harum yang sejuk.
Ban Hong Liong-li segera menyerahkan mangkuk
kumala dengan katak salju kepada Gin Liong, Setelah itu ia
menghapus airmata Yok Lan dengan ujung baju dan
dengan penuh kasih sayang menghiburnya.
"Lan-ji, jangan bersedih. Pulang dan tidur lah lagi,
engkau tentu sudah sembuh."
Ban Hong Liong-li lalu mengemasi rambut sidara yang
kusut.
Ki Yok Lan masih terlongong-longong memandang
wajah Ban Hong Liong-li. Rupanya ia masih bersangsi
adakah wanita cantik dihadapannya itu benar2 Liong-li
locianpwe. Tetapi menilik nada suaranya yang tak pernah
dilupakan, akhirnya ia mau percaya juga.
"locianpwe. apakah engkau belum pergi ?" tanyanya
sesaat kemudian.
Ban Hong Liong-li tersenyum rawan : "Lan-ji, jika tadi
engkau tak muncul, saat ini aku tentu sudah berada di kaki
puncak Hwe-siau-hong."
Habis berkata wanita itu memandang ke cakrawala pula,
Dengan wajah gelisah ia berkata kepada Gin Liong:
"Liong-ji. bawalah sumoaymu ini pulang agar
beristirahat sekarang aku harus pergi."
Pelahan-lahan ia mengisar tubuh Yok Lan. Gin
Liongpun cepat menyambuti tubuh sumoay-nya.
"locianpwe. apakah engkau sungguh2 hendak
meninggalkan kami ?" seru Yok Lan dengan wajah sedih.
Ban Hong Liong-li menghela napas dan mengangguk:
"Nak, sesungguhnya aku tak ingin meninggalkan kalian,
Tetapi aku terpaksa harus pergi."
Memandang Gin Liong, wanita itu menunjuk pada
mangkuk kumala, katanya:
"Liong-ji, mangkuk kumala hijau itu, termasuk salah
sebuah benda pusaka dari suku Biau. Aku sudah tak
memerlukannya dan kuberikan kepadamu. Harap jaga
baik2 jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat."
"locianpwe sudah menghadiahkan pedang pusaka
Tanduk Naga, Bagaimana Liong-ji temaha untuk menerima
pemberian locianpwe lagi ?" kata Gin Liong.
Sedangkan Yok Lan hanya memandang Ban Hong
Liong-li dengan air mata bercucuran.
Dengan berlinang-linang, Ban Hong Liong-li berkata:
"Nak, pulanglah. Beritahukan suhumu bahwa Liong-li
locianpwe sudah pergi, Dia tak akan melihat Wulanasa
lagi."
Berkata sampai disitu, airmata wanita itupun bercucuran.
Tiba2 ia berputar tubuh dan sekali ayun kaki, ia sudah
melayang kedalam hutan.
Hampir Gin Liong dan Yok Lan serempak menangis:
"locianpwe, harap suka menjaga diri baik2. Kami tak dapat
mengantar locianpwe..."
Tetapi saat itu Ban Hong Liong-li sudah lenyap diantara
gerumbul pohon siong.
Sambil masih terisak-isak, berkatalah Yok Lan :
"Mengapa Liong-li locianpwe tak mau bertemu muka
dengan suhu sendiri..."
Setelah menyimpan mangkuk kumala dan katak salju.
Gin Liong menghapus airmatanya dan berkata:
"Biarpun suhu marah tetapi aku tetap hendak mohon
kepada beliau supaya suka menceritakan tentang riwayat
Liong-li locianpwe."
Yok Lan gelengkan kepala.
"Ah, tak mungkin suhu mau memberitahu hal itu,"
katanya.
"Aku tentu akan memintanya mengatakan." kata Gin
Liong berkeras, Kemudian ia memandang wajah
sumoaynya. "sumoay. bagaimana penyakit-mu sekarang ?"
"Seluruh tubuhku seperti dialiri hawa panas. Aku merasa
letih sekali," sahut Yok Lan.
Gin Liong tahu bahwa khasiat katak salju sudah mulai
bekerja dalam tubuh sumoaynya.
"Kalau begitu mari kubawamu kembali kedalam kamar
tidur, Liong-li locianpwe mengatakan, setelah tidur barang
satu jam saja, engkau tentu sudah sembuh."
Ia terus memondong tubuh Yok Lan, loncat ke pagar
tembok lalu melayang turun, lari menuju keruang kediaman
suhunya.
Dalam pelukan sukonya, hati Yok Lan mendebur keras,
pipinya bertebar warna merah. walaupun bukan sekali itu ia
dipondong, tetapi setiap kali berada dalam pelukan
sukonya, hatinya tentu berdebar dan mukanya merah.
Saat itu ia rasakan tubuhnya disaluri aliran hawa yang
hangat, merasa ngantuk dan pikiran kabur Entah apakah
yang diminumkan Liong-li cianpwe kepadanya ?
"Liong koko, tadi Liong-li locianpwe memberi aku..."
Tiba2 Gin Liong berhenti Saat itu mereka sudah tiba di
pintu ruang kuil, Dan pemuda itu mencurah pandang
kearah pintu kamar suhunya.
"Liong koko, mengapa berhenti ?" bertanya Yok Lan
dengan bisik2.
Gin Liong terbeliak lalu menjawab : "Ah, tak apa2.
Kuantarkan engkau kedalam kamarmu."
Dengan bergegas pemuda itu segera menerobos masuk
kedalam ruang. Yok Lan makin heran mengapa sukonya
begitu tegang tampaknya.
Setelah meletakkan Yok Lan ditempat tidur dan
menyelimutinya, Gin Liong segera bertanya:
"Apakah hari ini suhu datang menjenguk kemari ?"
Begitu rebah di tempat tidur, mata Yok Lan sudah
kepingin tidur, ia paksakan menyahut sambil gelengkan
kepala: "Sudah tujuh hari, suhu tak pernah datang kemari."
Habis berkata dara itu terus tertidur. Mendengar
keterangan itu seketika berobahlah wajah Gin Liong. ia
makin tegang, serunya: "Lan moay, tidurlah aku akan
keluar sebentar."
Ia menepuk kedua bahu sumoaynya lalu melesat keluar
dan loncat ke pintu kamar suhunya, sekali dorong,
terbukalah pintu itu.
Permadani tebal yang menjadi alas tempat tidur, entah
bagaimana, saat itu ditutup dengan kain warna kuning.
Sudah tentu Gin Liong heran, Sejak dahulu tak pernah ia
melihat hal semacam itu.
Pun pedupaan dari tembaga kuno yang terletak diatas
meja, tiada mengepulkan asap lagi. Tetapi ruang itu masih
terdapat sisa asap dupa yang tipis.
Melihat keadaan itu Gin Liong seperti mendapat firasat
yang tak baik. Cepat ia keluar, mengunci pintu lalu lari
keluar ke halaman, Tiba di ruang belakang, keadaannyapun
sunyi2, tiada dijumpainya barang seorangpun.
Lari ke ruang tengah, hanya bertemu dengan dua orang
paderi kecil. Dengan wajah cemas, kedua paderi kecil itu
tengah menambahi minyak pada lampu.
Melihat Gin Liong, kedua paderi bocah itu segera
menangis dan berseru:
"Liong suko, lekaslah engkau menuju ke lapangan Ki-
lok-jang di muka gunung !"
Menggigillah Gin Liong, wajahnyapun membesi Tanpa
bertanya lebih lanjut, ia terus lari keluar dan menuju ke
ruang besar Tay-hud-tong.
Yang disebut lapangan Ki-lok-jang itu, adalah tempat
kuburan dari para ketua dan Tianglo kuil Leng-hun-si yang
telah meninggal Apabila seluruh paderi Leng-hun-si
berkumpul di tanah pekuburan itu, tentu menghadiri
pemakaman dari paderi Leng-hun-si yang berkedudukan
Tiang-lo ke-atas.
Suatu bayang2 yang menyeramkan segera melintas pada
benak Gin Liong, Betapa tidak ! Sudah tujuh hari lamanya
Liau Ceng taysu tidak kembali ke kuil Leng-hun si. Adakah
suhunya itu telah dicelakai oleh Ma Toa-kong dan kawan-
kawannya ?
Teringat akan hal itu, terhuyung-huyunglah tubuh Gin
Liong sehingga hampir rubuh. Untung dia cepat2 dapat
menenangkan diri lalu menuju ke sudut ruang Toa-hud-
tong.
Didalam ruang Toa-hud -tian tampak asap dupa
berkepul-kepul. Seorang paderi tua yang kurus sambil
membawa seikat api tengah melangkah pelahan-lahan
keluar ruang.
Gin Liong makin gelisah sekali. Tanpa berkata apa2, ia
terus lari melampaui paderi tua itu, langsung menuju ke
pintu kuil.
Rupanya paderi tua itu mendengar kesiur angin dari
pakaian orang yang menghampirinya, Tetapi ketika
memandang orang itu, ternyata Gin Liong sudah melesat
keluar pintu kuil.
Saat itu, mentari sudah silam dibalik gunung. Cuaca
menjelang rembang petang. Puncak gunung-pun sudah
mulai bertaburan kabut Cakrawala mulai menebarkan
selimut hitam.
Gin Liong lari seperti orang kalap. Sinar matanya berapi-
api, dahinya bercucuran keringat.
Memandang kemuka, lapangan Ki-lok-jang sudah
kelihatan. Pagoda2 kecil tempat jenazah yang berjajar-jajar
berpuluh-puluh di makam itu, makin jelas diantara
gumpalan kabut.
Seluruh paderi Leng-hun-si dengan jubah warna kelabu
serempak berkumpul dimuka sebuah makam yang baru.
Mereka tegak berdiri menghadap makam baru itu.
Nyanyian duka dan mantra2 kematian, sayup2 terdengar
dibawa hembusan angin.
Melihat itu Gin Liong makin kalap, Diluar
kesadarannya, ia segera menumpahkan kegelisahan hatinya
dalam sebuah suitan panjang yang bernada sedih.
Gema suitan itu menembus awan, menimbulkan
kumandang yang bergemuruh di langit dari puncak Hwe-
sian-hong.
Doa- kematian di tanah makam Ki-lok-jang berhenti
seketika, Seluruh paderi serentak berpaling memandang
kedatangan Gin Liong,
Seiring dengan berhentinya suitan, Gin Liong pun sudah
tiba di tepi hutan, melayang turun terus lari menghampiri.
Dalam pada berlari itu mata pemuda itu tetap melekat
kearah rombongan paderi.
Tiba2 diantara rombongan paderi Leng-hun-si itu tampil
seorang paderi berjubah merah.
Seketika berobahlah wajah Gin Liong dengan seri
kegirangan yang menyala-nyala.
"Suhu...." ia berteriak girang dalam hati seraya pesatkan
larinya.
Tetapi rasa kegirangan itu segera berobah pula rasa
kesiap yang besar, Kiranya paderi jubah merah itu bukan
suhunya melainkan ji-susiok-cou atau paman kakek guru
yang kedua.
Menggigillah hati Gin Liong, Diam2 ia bertanya dalam
hati, kemanakah suhu dan paman kakek guru yang ketiga ?
Serentak mata Gin Liongpun mencurah kearah makam
pagoda yang baru itu...
Saat itu seluruh paderi Leng hun-si tahu bahwa yang
menghambur suitan nyaring dan yang tengah lari
mendatangi itu, adalah Gin Liong yang telah menghilang
selama tujuh hari.
Kawanan paderi itu terkejut dan berlinang-linang
airmata, Merekapun tak pernah menyangka bahwa murid
dari kalangan orang biasa dari ketua mereka, ternyata
memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian mengejutkan.
Tiang-lo jubah merah yang memegang tongkat Giok-ji-
ih, dengan wajah duka dan kerutkan alis memandang
kedatangan Gin Liong Diapun diam2 terkejut melihat
kepandaian Gin Liong.
Pada saat sekalian paderi masih kesima, Gin Liongpun
sudah tiba dan sekonyong-konyong ia lari menghampiri
makam pagoda yang baru dibangunkan itu seraya menjerit:
"Suhu..."
Hanya sepatah kata yang dapat diucapkan karena tubuh
anak muda itu terhuyung-huyung lalu rubuh ke tanah yang
tertutup salju. Setelah dua kali berguling-guling. iapun
pingsan.
Gemparlah sekalian paderi Leng-hun-si. Mereka hiruk
pikuk berhamburan menghampiri. Tetapi tianglo jubah
merah cepat melesat dan mengulurkan tangan mengangkat
tubuh Gin Liong supaya duduk, Diurut-urutnya jalan darah
anak itu lalu perlahan-lahan menepuk-nepuk punggungnya.
Gin Liong membuka mata. Airmatanya segera
membanjir turun, Dengan menggembor keras ia melonjak
bangun terus hendak menelungkupi makam pagoda yang
baru itu.
Tiang-lo jubah merah terkejut Cepat ia menyambar
tangan Gin Liong: "Liong-ji..."
"Huak...." Gin Liong muntahkan segumpal darah segar.
Tanah yang bertutup salju putih segera bertebaran warna
merah.
Gin Liong berlutut dihadapan makam baru.
Sambil memegang meja sembahyang, ia memandang ke
arah makam yang berisi jenazah Liau Ceng taysu, suhunya
yang dicintai itu. Dengan kalap ia berteriak-teriak
memanggil suhunya.
Airmatanya bercucuran seperti banjir, Mulutnyapun
berlumuran darah, Matanya merah seperti terbakar.
Melihat pemandangan itu, tiang-lo jubah merahpun
hanya berdiri dibelakang Gin Liong. Dia tak kuasa juga
menahan cucuran airmatanya.
Juga seluruh paderi Leng-hun-si segera mendekap muka
dengan ujung lengan jubah dan menangis tertahan.
Cuaca makin gelap, Kabut dingin makin tebal.
Dilapangan makam Ki-lok-jang masih berkumandang suara
isak tangis.
Tiba2 Gin Liong hentikan tangisnya, Dengan heran ia
memandang kearah sebatang kimto (golok emas) yang
terletak diatas meja sembahyang, Kim-to itu panjangnya
tiga-puluhan senti, lebarnya satu setengah inci. Batangnya
memancarkan sinar keemasan yang menyilaukan
"Liong-ji, suhumu telah binasa oleh golok emas itu...."
tiba2 tiang-lo jubah merah berseru.
Gin Liong tegak berdiri lalu mengambil kim-to itu dan
memeriksanya, Seketika menggigil keraslah tubuhnya.
"Wulanasa..." tanpa disadari mulutnya berseru tertahan.
Seluruh paderipun berhenti menangis. Mereka serempak
memandang kearah Gin Liong dengan heran.
Demikian tiang-lo jubah merah, Bergegas ia maju dua
langkah, menunjuk golok emas dan bertanya:
"Liong-ji, tahukah engkau arti dari keempat huruf pada
batang golok itu ?"
Gin liong tak menyahut melainkan memandang ke
cakrawala dengan terlongong-longong. Mulutnya mengigau
seorang diri:
"Wulanasa... apakah yang membunuh suhu itu mungkin
Liong-li locianpwe?"
Mendengar kata2 "Liong-li", tergetarlah hati tianglo
jubah merah. Segera ia berteriak marah:
"Liong-ji, apakah golok emas itu milik Ban Hong Liong-
li ?"
Tiba-2 Gin Liong menghambur tawa keras yang sedih.
Kumandangnya jauh menebar ke seluruh penjuru hutan.
Seketika berobahlah wajah seluruh paderi Leng-hun-si.
Mereka merasa darahnya bergolak keras, jantung
mendebur.
Tiang-lo baju merah terkejut. Tujuh hari menghilang,
mengapa mendadak Gin Liong memiliki tenaga dalam yang
sehebat itu.
Berhenti tertawa, Gin Liong segera berteriak keras2:
"Mengejar locianpwe, tentu dapat mengetahui siapakah
pembunuh suhu itu !"
Kata2 itu ditutup dengan sebuah loncatan ke udara.
Sekali loncat, ia sudah melayang turun sampai beberapa
tombak jauhnya, ia lari kearah jalan yang ditempuh Hian
liong Liong-li.
Segenap paderi Leng-hun-si tercengang menyaksikan
tindakan anak muda itu. sekonyong-konyong tiang-lo jubah
merah berteriak memanggil : "Liong-ji, kembali !"
Tetapi Gin Liong tak menghiraukan lagi, ia terus lari
menuju ke hutan pohon siong. Begitu masuk kedalam
hutan. keadaannya gelap sekali tetapi serempak dengan itu
golok emas yang dicekalnya itu memancarkan sinar
gemilang sampai seluas dua tombak.
Gin Liong terkejut ia baru menyadari bahwa golok emas
itu ternyata sebuah pusaka, ia teruskan larinya. Setelah
melintas keluar dari hutan, ia berhadapan dengan sebuah
puncak karang, Memandang kebawah, ia terlongong-
longong.
Dibawah puncak merupakan sebuah jurang yang tak
diketahui berapa dalamnya karena permukaannya tertutup
oleh kabut tebal, Yang tampak hanya puncak pohon siong
dan batu yang menonjol.
Gin Liong bingung dan gelisah, ia bernafsu sekali untuk
mengejar Ban Hong Liong-li dan menanyakan siapakah
yang membunuh suhunya.
Keinginan yang meluap-luap itu menyebabkan dia lupa
bahaya, serentak ia ayun tubuh melayang turun ke bawah.
Karena kabut dan hari sudah gelap, maka ia lambaikan
layang tubuhnya.
Sekonyong-konyong pada saat kakinya menginjak
sebatang pohon siong, ia rasakan dadanya sakit dan hawa
murni dalam pusarnya naik sehingga pandang matanyapun
berkunang -kunang.
Gin Liong terkejut sekali wajahnya berobah pucat dan
keringat dingin mengucur deras, Tubuhnyapun makin laju
meluncur turun. jaraknya masih kurang beberapa meter dari
pohon siong. Dengan paksakan diri dan tahan kesakitan ia
bergeliatan, menghambur teriakan dan cepat tancapkan
golok emas ke pohon-pohon.
Cret
Golok emas itu luar biasa tajamnya. Sekali tabas, seperti
menabas tanah liat. Batang pohon sebesar paha orang,
segera terbabat hampir putus.
Gin Liong terkejut, karenanya tubuhpun meluncur turun
lagi, ia menjerit nyaring seraya menyambar sebatang dahan
pohon yang menjulai ke bawah.
Pohon siong itu berderak-derak jatuh ke bawah. Dan
ketika Gin Liong memandang kebawah, ia melihat
segunduk karang salju seluas satu tombak. Cepat ia
mendapat akal. Selekas lepaskan dahan pohon, ia terus
bergeliatan melayang turun ke atas karang salju itu.
Tetapi tepat pada saat hampir menginjak karang es itu,
pohon siong tadipun meluncur menimpah kearahnya. Cepat
ia bergelindingan kedalam karang es itu.
Bum, batang pohon siong menghantam permukaan
karang es lalu mencelat ke bawah lagi beserta hamburan
salju.
Tempat Gin Liong menyusup masuk itu, merupakan
sebuah cekung karang es yang luasnya hanya satu meter.
Hampir saja tempat itu hancur karena tertimpa batang
pohon.
Setelah menenangkan diri, rasa sakit pada dadanya
terasa lagi, ia menyadari bahwa tadi karena dirangsang
luapan amarah, hawa dalam tubuh telah menyerang ke ulu
hati. Dan karena dipergunakan untuk lari kencang, luka itu
makin berat.
Disekelilingnya gelap gelita, Kabut tebal sekali sehingga
ia tak tahu masih berapa tombakkan dalam dasar jurang itu.
Ia menyadari pula bahwa tiada gunanya untuk terburu
nafsu, Lebih dulu ia harus menyembuhkan luka dalamnya.
Tiba2 pula ia teringat akan katak salju yang disimpan dalam
bahunya.
Pada waktu menjamah tubuh katak, air es yang
merendam binatang itu hampir tumpah, ia tak berani
gegabah memegangnya.
"Jika katak salju itu kukulum dalam mulut entah apakah
dapat mengobati lukaku ?" pikirnya.
Maka dengan hati2 sekali ia segera mengambil katak
salju itu lalu pelahan-lahan dimasukkan kedalam mulut.
Begitu masuk kedalam mulut, Gin Liong rasakan suatu
hawa yang harum menebar dalam mulutnya, ia menelan
hamburan air dari tubuh katak salju itu, seketika dadanya
terasa hangat dan rasa sakitpun hilang.
Gin Liong terkejut. Tak pernah ia menyangka bahwa
hawa katak salju itu dapat menebarkan khasiatnya
sedemikian cepat sekali, Hawa hangat itu cepat menyalur
keseluruh anggauta tubuhnya, Tetapi iapun merasa ingin
tidur sedemikian keras rasa kantuk itu sehingga ia pejam
mata dan tertidur.
Entah selang berapa lama, ketika bangun Gin Liong
melihat kabut sudah menipis. Cuaca gelap, dilangit penuh
bertaburan bintang kemintang.
Tiba2 ia teringat akan katak salju yang dikulum dalam
mulut tadi.
"Hai. kemanakah katak salju itu ?" serunya terkejut
seraya mencabut golok emas dan duduk.
"Bum...." tiba2 salju yang dipijaknya berhamburan
hancur sehingga ia terjerumus meluncur ke bawah.
Kejut Gin Liong bukan kepalang, Dengan menggembor
keras ia gunakan jurus Burung-rajawali-hinggap-didahan.
Kepala berjungkir kebawah, kaki diatas.
Dia terus meluncur kesamping sebuah sebatang pohon
siong, Kurang satu tombak dari pohon siong itu, ia
menekuk kedua kaki dan melintang tangan.
Dengan gaya itu berhasillah ia menginjak dahan pohon
dengan sekali sehingga tak menimbulkan suatu getaran
pada dahan pohon.
Setelah menghapus keringat dingin dan menenangkan
pikiran, ia mulai teringat akan katak salju. Kemanakah
gerangan katak itu?. Apakah binatang itu meluncur
kedalam perutnya atau ketika ia tertidur, binatang itu
meluncur keluar dan mulutnya.
Ah, aneh benar. Memandang keatas, karang es tadi
sudah tak tampak lagi, Sedang ketika memandang
kebawah, ternyata dia masih memegang golok emas tadi.
Golok emas itu segera mengingatkan dia akan peristiwa
kematian suhunya. Pikiran untuk mencari katak salju segera
hapus dan saat itu ia hanya memikirkan bagaimana
mengejar jejak Ban Hong Liong-li untuk menanyakan siapa
pembunuh suhunya.
Cepat disimpannya golok emas itu lalu ia ayunkan tubuh
meluncur ke bawah, Dibawah dasar lembah itu terdapat
banyak pohon siong dan tumbuh-tumbuhan rotan, Dengan
ketangkasan macam seekor kera, ia berpindah dari satu
kelain pohon dengan cepat sekali, Akhirnya berhasillah ia
tiba di kaki puncak.
Hentikan langkah memandang keempat penjuru,
dilihatnya lembah yang penuh salju itu masih berkilau-
kilauan memancarkan cahaya putih mengkilik.
Setelah puas memandang, ia segera menentukan arah
menuju ke barat daya, ia memutuskan untuk menempuh
perjalanan siang dan malam agar cepat dapat menyusul Ban
Hong Liong-li.
Entah berapa banyak lembah dan jurang, gunung dan
hutan yang telah dilintasinya dengan cepat.
Setelah lari beberapa waktu, ketegangan hatinyapun
mulai mengendap. Serempak banyak persoalan yang
memenuhi benaknya...
Bagaimana peristiwa pembunuhan suhunya itu sampai
terjadi ? Apakah didalam kuil atau didalam kamarnya atau
di guha Kiu-kiok-tong ?
Yang mampu membunuh suhunya tentu seorang yang
tinggi kepandaiannya dan ilmu ginkangnya tentu amat
sempurna. Tetapi siapakah pembunuh itu ?
Dan lagi, mengapa sam-susiokcou atau paman kakek
guru yang ketiga juga tak tampak pada pemakaman di
lapangan Ka-lok-jang ? Ataukah orang tua itu juga dicelakai
orang ?
Tetapi mengapa di makam Ki-lok-jang hanya didirikan
sebuah makam baru untuk suhunya. Mengapa tidak
didirikan lagi sebuah makam untuk paman kakek gurunya
yang ketiga ?
Seketika timbul rasa sesal mengapa ia tak minta
keterangan dulu kepada paman kakek guru yang kedua.
Bagaimana keadaan suhunya ketika berada dalam guha
tempo hari ? Kawanan Ma Toa-kong itu kemana saja
perginya?
Dan siapakah wanita Biau yang mati dalam guha itu ?
Sesungguhnya ia ingin pulang ke kuil untuk minta
keterangan kepada suhunya, Tetapi ternyata suhunya telah
dibunuh orang, lalu satunya orang yang dapat memberi
keterangan hanialah Ban Hong Liong-li.
Dia tak percaya kalau Ban Hong Liong-li yang
membunuh suhunya, Tetapi Ban Hong Liong-li tentu tahu
tentang golok emas itu dan siapa pemiliknya...
Teringat akan kematian suhunya, hati Gin Liong makin
tegang dan ingin sekali lekas2 menyusul Ban Hong Liong-li.
Dia ingin berteriak sekuat-kuatnya tetapi ia kuatir Ban
Hong Liong-li sudah berada seratusan li jauhnya.
Setelah melintasi beberapa puncak gunung salju dan
beberapa hutan belantara, iapun berpaling kebelakang,
puncak Hwe-sian-hong tampak tegak menjulang ke langit
dengan megah dan perkasa.
Teringat juga ia bahwa pada saat itu tentulah paderi kuil
Leng-hun-si sudah tidur. Sedang paman kakek guru yang
ke-dua mungkin masih mondar mandir di halaman kuil.
Sumoaynya yang bertubuh lemah tentu akan berduka sekali
apabila mengetahui suhunya telah terbunuh dan dia (Gin
Liong) sedang melakukan pengejaran kepada Ban Hong
Liong-li.
Ah, apabila teringat akan hal itu, berlinang-linanglah
airmata Gin Liong, Dia tak mau mengingat hal itu, tak
mau.
Sekonyong-konyong pandang matanya gelap dan angin
dingin berhembus. Ketika memandang ke depan ternyata
dia harus melintasi sebuah hutan pohon siong lagi.
Menghampiri hutan itu tiba2 hatinya tergetar, hentikan
langkah dan terlongong. Memperhatikan dengan seksama,
tampak dalam hutan pohon siong yang pendek tumbuhnya,
terdapat sebuah rumah pondok kecil. Pondok itu
memancarkan sinar penerangan yang terang.
Kemudian ia melihat pula ditengah hutan pohon siong
itu terdapat dinding rumah yang puing runtuhan dinding,
Diatas tanah masih bertebaran kutungan ranting pohon.
Heran Gin Liong di buatnya. Mengapa ditempat hutan
belantara yang jarang dijelajah manusia, terdapat sebuah
rumah pondok kecil yang memancarkan sinar penerangan
terang sekali.
Melongok dari jendela, penerangan api itu mantap
sekali, sedikitpun tidak bergoyang-goyang. Rupanya tentu
bukan dari lampu atau lilin. Didalam ruang pondok, sunyi
senyap tiada kedengaran suara apa2.
Timbullah keinginan tahu dalam hati Gin Liong, Setelah
melengkapi kedua tangan dengan saluran tenaga dalam,
pelahan2 segera ia ayunkan langkah menghampiri.
Kerucuk . . . . terdengar suara macam orang meneguk
air, Suara itu memancar diri samping Gin Liong.
Dengan terkejut Gin Liong berputar tubuh seraya
luruskan kedua tangan kemuka dada. Dan serempak
pandang matanya mengeliat kearah suara orang minum air
tadi, seketika ia hampir memetik kaget.
Dibawah sebatang pohon siong yang tak berapa tinggi
lebih kurang terpisah beberapa meter dari tempat ia berdiri
seorang pengemis tua tampak duduk sembari minum arak.
Dia mengenakan pakaian yang kumal, rambutnya putih,
pipi kempot dan tubuh kurus kering seperti tulang
terbungkus kulit, sepasang mata yang berbentuk segitiga,
memancarkan sinar yang berkilat-kilat tajam, sepasang
tangannya yang kotor tengah mencekal sebuah buli2 arak
yang besar, selesai minum seteguk, bau arak yang harum
segera berhamburan dibawa angin ke empat penjuru.
Sudah tentu Gin Liong tak pernah menyangka bahwa
ditempat yang sesunyi itu terdapat seorang pengemis tua.
seketika teganglah hati pemuda itu. Diam2 diapun bersiap-
siap untuk menghadapi setiap gerakan pengemis tua yang
akan mencelakai dirinya.
Setelah minum seteguk, pengemis yang kakinya
telanjang tak bersepatu itu, menyumbat kembali mulut buli2
arak. Sambil setengah pejamkan kedua matanya, tangannya
menggosok-gosok kotoran busuk yang melekat pada sela2
jari kakinya, sedikitpun dia tak mengacuhkan Gin Liong
yang berada dihadapannya.
Melihat pengemis itu bertelanjang kaki mampu
menempuh tempat yang penuh bertutup salju dingin,
timbullah dugaan Gin Liong bahwa pengemis itu tentu
memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.
Tiba2 ia teringat akan urusannya mengejar Ban Hong
Liong-li, maka segera Gin Liong hendak berputar tubuh
tinggalkan tempat itu. ia tak mau menunda waktu hanya
karena ingin mengetahui siapa pengemis tua itu.
Tetapi baru ia berputar tubuh, kejutnya makin besar
sehingga ia sampai menyurut mundur dua langkah.
Pada bayangan gelap dari ujung dari sisa puing2 tembok
rumah pondok itu, lebih kurang hanya setombak jauhnya
dari tempat ia berdiri, tampak menggunduk sebuah
bayangan hitam yang bulat bentuknya.
Setelah tenangkan ketegangan hati dan memandang
dengan seksama, barulah Gin Liong mengetahui bahwa
gunduk bayangan hitam itu bukan lain adalah seorang
paderi bertubuh gemuk, telinga besar, mulut persegi, hidung
mekar, mata besar dan kepala bundar seperti kepala
harimau.
Paderi gemuk itu tengah duduk bersila, Kain jubahnya
yang berwarna kelabu telah menutup kedua kakinya,
sepasang matanya, berkilat2 memandang Gin Liong dengan
sorot yang dingin.
Tetapi Gin Liong mempunyai kesan bahwa walaupun
tampaknya paderi itu menyeramkan sekali tetapi dari sorot
matanya, jelas tak mengandung maksud jahat kepadanya.
Sebagai gantinya, kini timbullah rasa heran dalam hati
Gin Liong mengapa ia bertemu dengan seorang pengemis
dan seorang paderi yang pada waktu tengah malam buta,
duduk ditempat hutan belantara yang sedemikian sunyi
senyap.
"Adakah kedua orang itu tengah mengadu kesaktian
ditempat ini ?" diam2 timbul pertanyaan dalam hati Gin
Liong, iapun menduga bahwa salah satu dari kedua orang
itu mungkin pemilik dari rumah pondok itu.
Memikirkan rumah pondok, tanpa terasa matanyapun
beralih mencurah ke sebelah muka. Dilihatnya bahwa
penerangan benderang yang menembus keluar dari jendela
rumah pondok itu, kini berhias dengan warna kabut yang
lemah.
Makin terperanjatlah hati Gin Liong, "Adakah didalam
rumah pondok itu terdapat suatu benda pusaka ?" pikirnya.
Teringat akan soal benda pusaka, segera ia menduga
bahwa jika benar demikian, tentu disekitar rumah pondok
itu akan terdapat beberapa orang lagi, Bukan hanya paderi
gemuk dan pengemis tua itu saja.
Untuk membuktikan dugaannya, iapun segera keliarkan
pandang matanya kesekeliling sekitar rumah pondok.
Dan dugaannya memang benar, Pertama-tama dia segera
melihat seorang nenek tua yang buta kedua matanya.
Nenek buta itu mengenakan baju dari kain blacu,
panjang sampai menutupi kedua lututnya, celananya
terlampau besar bagi kedua kakinya yang kecil, Nenek itu
memegang sebatang tongkat Thiat-ho-ciang atau tongkat
yang tangkai menyerupai bentuk burung bangau, terbuat
daripada besi. Warnanya hitam mengkilap.
Nenek itu berdiri diam dibawah tembok rumah pondok
yang sudah separoh rubuh.
Lalu dibawah sebatang pohon siong yang aneh
bentuknya dan tumbuh kira2 lima tombak dari rumah
pondok itu, tampak pula seorang lelaki berumur sekitar 40-
an tahun. Dia memakai kopiah kulit warna hitam dan
mantel kulit yang masih berbulu. Mukanya penuh dengan
brewok, Tubuhnya yang tinggi besar, tengah disandarkan
pada pohon siong itu.
Diapun setengah memejamkan mata, mulutnya yang
agak perot, menimbulkan kesan yang menyeramkan orang,
Sinar matanya berkilat-kilat mencurah pada Gin Liong.
"Masih ada pula beberapa orang lagi, Tetapi karena
bersembunyi dibalik pohon yang gelap, sukarlah untuk
mengetahui bagaimana wajah mereka yang jelas.
Makin meningkatlah keheranan Gin Liong. Gerangan
benda apakah yang berada dalam rumah pondok itu
sehingga mengundang kedatangan sekian banyak orang2
persilatan kesitu.
Mau tak mau timbul juga rasa ingin tahu dalam hati Gin
Liong.
Sejak turun gunung, memang belum pernah Gin Liong
berkelana dalam dunia persilatan. Dan sudah tentu pula ia
tak bagaimana berbahayanya suasana dunia persilatan itu.
Ia menurutkan suara hatinya saja, Apa yang diinginkan
terus dikenakannya saja, Maka setelah bersiap-siap
mengeluarkan tenaga-dalam ke lengan dan menenangkan
semangat, dengan langkah pelahan segera ia menuju ke
rumah pondok itu.
Tindakan Gin Liong cepat menimbulkan suara berisik di
empat penjuru sekelilingnya. Suara berisik yang berhadapan
rasa takut. entah berapa puluh pasang mata, pun mencurah
ruah kepada dirinya.
Bahkan dengan serempak pula, paderi gemuk, pengemis
kurus dan lelaki tinggi besar serta nenek buta itu mulai
menggerakkan tubuh mereka.
Dua kemungkinan menyebabkan mereka mulai bergerak
itu. Pertama, mereka gelisah karena tindakan Gin Liong
hendak menghampiri rumah pondok itu. Kedua, terkejut
karena melihat ilmu kepandaian Gin Liong yang
sedemikian hebatnya.
Gin Liongpun mendengar "juga" akan suara berisik
bernada terkejut itu. Demikian pula iapun dapat
memperhatikan betapa dirinya telah dipandang dengan
sorot mata heran2 kejut dari orang2 yang bersembunyi
ditempat gelap itu.
Makin keras dugaan Gin Liong bahwa dalam rumah
pondok itu tentu terdapat sesuatu yang berbahaya.
Tetapi setitikpun ia tak menyadari bahwa langkah
kakinya pada tanah bertutup salju ditempat itu, hanya
meninggalkan bekas2 telapak yang hampir tak kelihatan.
Hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki
ilmu ginkang tinggi.
Namun Gin Liong tak mengacuhkan, sambil siapkan
kedua tangan, ia lanjutkan langkahnya menuju ke rumah
pondok itu, Langkah kakinya sedikitpun tak menimbulkan
suara apa2.
Suasana sekeliling tempat itu sunyi senyap, tiada tampak
suatu gerak yang mencurigakan yang hendak merintangi
langkah Gin Liong.
Lelaki muka brewok, tidak lagi sandarkan diri pada
batang pohon tetapi sudah berdiri tegak, Nenek buta
miringkan kepala hendak mencurahkan pendengarannya.
Pengemis kurus dan paderi gemuk sama menyalangkan
mata kejut memandang kearah Gin Liong.
Keheranan Gin Liong makin besar dan makin keras
keinginannya untuk menghampiri rumah pondok dan
melihat apakah yang sesungguh berada dalam rumah itu.
Setelah melintasi sebuah runtuhan dinding tembok, tiba2
menggigillah hati Gin Liong dan serempak iapun hentikan
langkah.
Dengan pandang terkejut, perhatiannya mencurah
kearah dua sosok benda hitam yang rebah terkapar di muka
jendela.
Dan ketika memandang dengan seksama, ternyata kedua
sosok benda hitam itu adalah dua sosok mayat manusia,
Yang sebelah kiri, mayat seorang lelaki tua berambut putih.
Tubuhnya miring menghadap ke dalam rumah sehingga
wajahnya tak kelihatan jelas.
Sedang yang sebelah kanan, seorang imam tua bertubuh
kurus kering, Alis mengernyit, mata mendelik dan mulut
menganga, wajahnya pucat kekuning-kuningan. Ujung
mulutnya mengumur darah merah warna hitam.
Keadaannya mengerikan sekali.
Menilik bahwa kedua sosok mayat itu ditimbuni lapisan
salju, tentulah mereka sudah mati pada beberapa hari yang
lalu.
Sekonyong-konyong dari samping kiri yang gelap,
menghambur serangkum tawa dingin bernada mengejek.
Gin Liong merasa bahwa tertawa mengejek itu ditujukan
pada dirinya. seketika meluaplah kemarahannya, Dengan
tegakkan kepala dan busungkan dada, ia segera melampaui
kedua sosok mayat itu. langsung menuju kemuka jendela
rumah pondok.
Tempat2 gelap disekeliling penjuru rumah itu, tampak
bayang2 hitam bergerak-gerak dan percikan sorot mata
menghambur
Rupanya mereka terkejut, menyaksikan keberanian anak
muda itu sehingga mereka serempak berdiri tegak dari
tempat persembunyiannya.
Tiba di muka jendela dan melongok ke dalam ruang
pondok, kembali hati Gin Liong bergoncang keras.
Diatas sebuah ranjang batu yang berada dalam ruang
pondok itu, duduk bersila dengan mata menunduk
kebawah, seorang tua bertubuh kurus kering, dia
mengenakan jubah warna hitam.
Rambut orang tua itu kusut masai, kumisnya hanya
beberapa lembar. Dibawah hidung yang tegak menjulang
keatas bernaung sebuah mulut yang agak perot, pipinya
yang kempot mengulum tawa dingin. Wajahnya dingin
menakutkan, angkuh dan bengis.
Dimuka ranjang orang tua itu, terdapat sebuah meja
kecil yang diberi sebuah cermin bundar sebesar piring nasi,
Ternyata penerangan yang memancar ke luar jendela itu,
berasal dari kaca cermin tersebut.
Gin Liong memperhatikan cermin itu, sinarnya
menyilaukan mata, silang gemilang sekali, ia tak tahu
apakah cermin itu terbuat daripada tembaga gosok atau
perak ataukah air raksa.
Meja kecil itu terpisah dua meter dari tempat Gin Liong
berdiri, Asal ulurkan tangan, ia tentu dapat meraih cermin
aneh itu. Walaupun merasa heran tetapi setitikpun Gin
Liong tak mempunyai keinginan untuk mengambil nya.
Kemudian memperhatikan orang tua kurus itu, Gin
Liong mengerut dahi, orang tua itu seperti sebuah patung
yang tak bernyawa, sedikitpun tak bergerak, Bahkan
napasnya pun tak terdengar.
Melihat itu diam2 Gin Liong menghela napas rawan.
"Ah orang tua itu sudah tak bernyawa," katanya dalam
hati.
Sekonyong-konyong kedua kelopak mata orang tua itu
pelahan-lahan terbuka, Gin Liong terkejut sekali sehingga
menyurut mundur setengah langkah.
Gerakan menyurut mundur dari Gin Liong disambut
dengan beberapa pekik kejut tertahan dari tokoh2 yang
bersembunyi disekeliling pondok itu.
Dengan sorot mata yang lembut, orang tua kurus itu
memandang sejenak kepada Gin Liong lalu pejamkan
matanya lagi.
Tatapan pandang mata orang tua itu, menghilangkan
rasa takut Gin Liong. Kecemasannyapun lenyap.
Gin Liongpun sempat pula menyambar kesan bahwa
pada wajah orang tua yang sedingin es itu ternyata
memancarkan sinar mata yang penuh welas asih.
Dan saat itu Gin Liongpun menyimpulkan dugaan
bahwa orang2 yang mengepung secara bersembunyi di
sekeliling rumah pondok itu tentulah kawanan orang
persilatan yang tamak, yang rakus untuk memburu
keuntungan jelas mereka tentu mengatur siasat hendak
merampas kaca cermin yang terletak diatas meja dihadapan
orang tua itu.
Menilik kedua mayat yang terkapar di depan jendela itu,
Gin Liong menduga bahwa orang tua dalam pondok itu
tentu seorang sakti. Hal itu makin diperkuat dengan
kenyataan bahwa orang2 persilatan yang mengepung
pondok itu tak berani gegabah mendekati rumah pondok
tersebut.
Siapakah gerangan orang tua itu.
Gin Liong menggali ingatannya, tetapi sepanjang yang
diketahuinya, diantara sekian banyak orang2 aneh yang
sakti dalam dunia persilatan seperti yang dituturkan
suhunya, rasanya tiada terdapat orang tua kurus seperti
yang berada dalam pondok itu.
Walaupun tak tahu apakah khasiat dari kaca didepan
orang tua itu, namun Gin Liong berani memastikan
tentulah kaca itu sebuah pusaka yang tak ternilai harganya,
jika tidak demikian masakan sampai menggerakkan
perhatian sekian banyak tokoh2 persilatan ?
Serentak timbullah rasa muak terhadap orang2 persilatan
yang berada disekeliling rumah pondok itu.
Serentak Gin Liong berputar tubuh untuk mengamati
dengan seksama orang2 yang mengepung pondok itu.
Diam2 ia darat menghitung bahwa mereka itu tak kurang
dari dua puluh orang jumlahnya.
Tiba-tiba timbul keputusan dalam hati Gin Liong,
Karena dia tak mempunyai selera untuk merampas kaca
dan tak perlu membantu orang tua menghadapi kawanan
orang persilatan itu maka lebih baik ia cepat2 tinggalkan
tempat itu saja.
Setelah berpaling memandang sejenak kearah orang tua
dalam ruang pondok, iapun segera pesatkan langkah
menuju keluar hutan.
Tiba2 dari belakang terdengar suara orang membentak :
"Kembali !"
Gin Liong terkejut. Dia tahu yang dipanggil itu adalah
dirinya, Serentak ia berhenti. Dilihatnya wanita tua buta itu
tengah menghadap kearahnya. Kedua kelopak matanya
membalik sehingga tampak biji matanya yang keputih-
putihan tengah menengadah memandang ke langit.
Rupanya dia tengah mencurahkan pendengaran.
Pengemis kurus, paderi gemuk dan lelaki brewok serta
beberapa orang yang bersembunyi di kegelapan itu, tampak
tertawa menyeringai dan memandang nenek buta itu.
Rupanya bukan gerak gerik Gin liong yang hendak
didengarkan nenek buta, Tongkat kepala burung hong yang
dipegangnya, tiba2 digentakkan ke tanah dan berserulah ia
sekeras-kerasnya:
"Kusuruh engkau kembali, dengar tidak !"
Melihat wajah nenek buta itu tampak membengis dan
galak, diam2 Gin Liong tak senang, Tetapi mengingat
nenek itu sudah berusia tua dan kedua matanya buta, maka
iapun bersikap sabar.
"Nenek, apakah engkau memanggil aku ?" tegurnya.
Rupanya nenek buta itu tahu bahwa dari nada suaranya,
Gin Liong itu seorang pemuda.
Tiba2 wajah nenek yang membengis itu tampak reda,
Setelah sejenak tertegun, ia berkata pula:
"Ya, memang kusuruh engkau kembali !"
"Nenek mempunyai keperluan apa kepadaku?" tanya
Gin Liong dengan nada ramah.
Mendengar nada perkataan Gin Liong seperti enggan
kembali, nenek itu berseru marah lagi:
"Kusuruh engkau kembali, engkau harus kembali, perlu
apa banyak tanya !"
Kata2 yang kasar itu tak dapat diterima lagi oleh Gin
Liong. ia tak kuasa menahan kemarahannya.
"Kalau mau bilang apa2, bilang saja, Perlu apa harus
suruh aku kembali !"
Wajah nenek buta itu seketika berobah. Matanya yang
buta seperti berkilat-kilat dan tubuhnya gemetar keras
karena marah. ia tertawa dingin tak henti-hentinya.
Gin Liong menyadari bahwa tiada gunanya untuk cari
perkara dengan nenek buta buruk muka itu. Dengan
mendengus geram ia terus berputar tubuh hendak pergi.
Tetapi baru berputar tubuh, tiba2 nenek buta itu
membentaknya: "Budak, berhenti !"
Seiring dengan teriakannya itu. tubuh nenek tua yang
buta itu sudah melayang kehadapan Gin liong.
Gin Liong terkejut sekali. Cepat ia berhenti, ia tak
menyangka bahwa nenek buta itu ternyata mahir dalam
ilmu Thing-hong-pian-wi atau Mendengar-angin-
menentukan-tempat. Bukan saja mahir tetapi dapat
menguasainya dengan hebat sekali.
Tetapi Gin Liong tetap tak puas atau sikap si nenek yang
begitu garang dan tak memandang orang, Maka Gin
Liongpun kerutkan alis dan menegur:
"Tanpa sebab apa2, mengapa engkau menghadang
jalanku ?"
Sambil tudingkan ujung tongkat ke rumah pondok,
nenek buta itu memberi perintah:
"Ambilkan cermin kaca dalam pondok itu !"
"Hak apa engkau hendak memerintah aku ?" teriak Gin
Liong marah sekali.
Nenek buta itu deliki mata dan membentak bengis:
"Kalau tidak mengambilkan kaca itu, serahkan jiwamu !"
Nenek itu menutup kata-katanya dengan menyabat
pinggang Gin Liong. Sabetannya secepat angin menderu,
sederas hujan mencurah.
Gin liong mendengus geram, Dengan bergeliatan tubuh
iapun sudah menyelinap ke belakang nenek buta itu.
"Tetapi nenek buta itu seperti mempunyai mata terang.
Sebelum kaki Gin liong tegak dibelakangnya, secepat kilat
iapun sudah berputar tubuh seraya menghantamkan
tongkatnya kepada Gin Liong.
Gerakan nenek dan tongkatnya itu benar2 mengejutkan
sekali, Cepat, ganas dan dahsyat.
Gin Liong benar2 terkejut sekali, Cepat ia gunakan tata-
langkah Liong-Li-biau ajaran Ban Hong Liong-li untuk
meluncur tiga tombak jauhnya.
Tetapi nenek buta itu memang lihay sekali, secepat
menarik pulang tongkatnya ia terus membentak:
"Hai, hendak lari kemana engkau budak !" Oh-liong-jut-
tong atau Naga-hitam-ke-luar-sarang, adalah jurus yang
digunakan si nenek buta untuk mengiringkan gerakan
tubuhnya yang menerjang Gin Liong.
"Berhenti !" tiba2 terdengar suara orang membentak
nyaring, sesosok tubuh melayang dan lelaki bermuka
brewok itupun sudah melayang tiba.
Nenek itu bergegas menarik tongkatnya, ia deliki mata
kearah pendatang itu:
"Brewok, engkau hendak menganggu urusanku lagi ?"
Tongkat kepala burung ho diangkat keatas lalu dengan
jurus Thay-san-ya-ting atau gunung-Thaysan-menindih-
puncak, ia menghantam kepala lelaki brewok itu.
Gin Liong yang berada tiga tombak dari tempat kedua
orang itu, kerutkan dahi, ia merasa nenek buta itu terlalu
buas, tiap orang hendak dihajarnya.
Lelaki brewok menyurut mundur dan berseru marah:
"Nenek buta, siapa yang sudi mengurusi urusanmu. Aku
hendak bertanya kepada budak kecil itu..."
Nenek buta hanya mendengus. Tanpa menunggu orang
selesai bicara, ia segera putar tongkatnya dan menyerang
lelaki brewok itu lagi.
"Biarpun engkau hendak berputar lidah memberi seribu
alasan tetapi aku tetap tak percaya !" serunya.
"Nenek buta, jangan andalkan kepandaianmu untuk
menindas orang, Aku si Brewok terbang Li Tek-gui tak
takut pada siapapun juga !"
Habis berkata ia gerakkan kedua tangannya menyerang
nenek buta itu.
Nenek buta itu memperdengarkan tertawa aneh dan tak
henti-hentinya menggeram:
"Bagus, bagus, hendak kusuruh engkau si Brewok-
terbang kenal akan kelihayanku."
Tiba2 gerakan tongkatnya berobah, Batang tongkat yang
berwarna hitam mengkilap malang melintang menyambar-
nyambar seperti petir memecah angkasa.
Brewok-terbang Li Tek-gui tak mau mengalah, ia maju
menyerang seraya memekik-mekik. Makin lama makin
gencar serangannya.
"Hai, budak, apakah engkau hendak ngacir pergi ?" tiba2
dari tempat gelap terdengar seruan orang.
Gin Liong tenang2 mengikuti pertempuran itu. Dia tak
tahu, kepada siapakah orang itu menegurnya, Segera ia
keliarkan pandang mata kian kemari.
"Ah... ternyata nenek buta itu dengan melengking keras,
menyerangnya. Karena terkejut, Gin Liong menyurut
mundur setengah langkah.
Telinga nenek buta itu memang luar biasa tajamnya,
walaupun sedang bertempur tetapi ia masih dapat
menangkap langkah kaki Gin Liong. Tahu bahwa pemuda
itu hanya mundur setengah langkah, nenek buta itu
menyadari kalau ia telah tertipu oleh si Brewok-terbang.
Karena marahnya, tubuh nenek buta itu sampai gemetar
keras.
Bluk, ia hantamkan tongkat burung hong ke tanah lalu
berseru keras:
"Hai, kawanan tikus manakah yang berseru tadi ? engkau
berani mengacau ?"
Nenek buta itu menengadahkan kepala, memasang
telinga, siap untuk menyerbu orang yang berseru tadi.
Tetapi sekeliling penjuru sunyi senyap tiada suara sama
sekali.
Saat itu Gin Liongpun menyadari bahwa seruan itu
ternyata ditujukan pada dirinya, Marahlah dia seketika.
Segera ia curahkan pandang mata kearah suara tadi.
Tampak di tempat itu beberapa sosok bayangan manusia
tegak dengan mata berkilat-kilat, Entah siapakah diantara
mereka yang berseru tadi.
Sekonyong-konyong dari arah tiga tombak jauhnya
terdengar suara orang tertawa gelak2. Nadanya amat
menghina.
Cepat Gin Liong memandangnya, Tampak Li Tek-gui
merentang kedua tangan, menengadahkan kepala dan
tertawa keras, sehingga janggutnya yang penuh brewok itu
ikut berguncang2. Entah mengapa dia begitu gembira
sekali.
Nenek buta berputar tubuh, deliki mata seraya
lintangkan tongkat burung hong ke muka dada, serunya:
"Brewok-terbang, jangan gembira dulu. Pada suatu hari
aku tentu akan mencabut jiwamu anjing itu !"
Nenek itu kerutkan alis dan membalikkan kelopak mata,
Gerahamnya menggemerutuk keras tetapi dia tak
melakukan gerakan menyerang, Rupanya ia lebih kuatir
kalau Gin Liong sampai pergi.
Brewok-terbang Li Tek-gui hentikan tawanya lalu
berseru dengan nada sarat:
"Nenek buta, aku menertawakan ilmu pendengaranmu
yang begitu tinggi tiada tandingnya dalam dunia persilatan
Sekali bertempur dengan orang, engkau tentu segera
mengerti akan jurus permainan lawanmu. Pada hal gerakan
tubuh dari budak kecil yang hendak engkau tahan itu,
adalah ajaran dari musuh bebuyutanmu, wanita hina Ban
Hong Liong-li.
"Tutup mulutmu !" seketika Gin Liong membentak
marah dan terus secepat kilat menerjang Brewok terbang Li
Tek-gui.
Pada saat Gin Liong menyerbu Li Tek-gui, si nenek
butapun meraung dan menyapu tubuh pemuda itu dengan
tongkatnya.
Gin Liong belum sempat berdiri tegak. Terpaksa ia
berlincahan menghindar dan berputar tubuh, setelah
menghindari tongkat sinenek buta, ia lanjutkan serangannya
kepada Li Tek-gui.
Tongkatnya menghantam angin, si nenek buta itu
tertegun kaget, beberapa sosok bayangan, berhamburan
keluar dari tempat persembunyiannya, Mereka berteriak
kaget juga.
Melihat pemuda itu dapat menghindari tongkat nenek
buta dan terus menyerbu kepadanya, Li Tek-gui gugup.
Pada saat loncat menerjang itu. Gin Liong segera
mengangkat tinjunya, menghantam kearah Li Tek-gui
hendak menghindar
Tetapi pada saat itu juga, terdengarlah kesiur angin
mendesing kearah muka Gin Liong.
Gin Liong mendengus geram, Selekas mengisar langkah
kesamping ia terus menghantam tangan kanan Li Tek-gui
dan tahu2 jarinyapun bergerak untuk menjepit senjata
rahasia yang hendak menabur ke mukanya itu.
Ah, ternyata senjata rahasia itu sebatang Liu-yap-hui-to
atau golok terbang setipis daun Liu. Dan golok tipis itu
dilumuri pula dengan racun.
Cepat ia mengangkat muka memandang ke arah tempat
gelap yang menjadi tempat bersembunyi orang yang bicara
tadi, Tampak sesosok tubuh orang sedang membungkuk ke
tanah.
Gin Liong kerutkan dahi, ia duga tentu orang itu yang
melepas senjata rahasia beracun kepadanya. Ada ubi ada
talas. Ada budi harus dibalas.
Setelah mengerahkan tenaga-dalam, segera pemuda itu
taburkan Liu-yap hui-to kembali kepada pemiliknya.
Pada lain saat terdengarlah jeritan ngeri dari tempat
persembunyian gelap itu. Nadanya sama dengan suara
orang yang bicara tadi, Gin Liong terkesiap. Hampir ia tak
percaya bahwa golok Liu-yap-hui-to yang setipis itu, dapat
ia lontarkan dengan kekuatan yang sedemikian dahsyatnya.
Sosok2 bayangan hitam yang bersembunyi ditempat
gelap, hening lelap tiada suaranya, rupanya mereka kesima
menyaksikan kepandaian Gin Liong.
Tiba2 Li Tek-gui melangkah maju dan dengan
menggembor keras ia terus menghantam Gin Liong yang
masih termangu-mangu itu.
Serangan itu dilakukan tak terduga-duga dan jaraknya
amat dekat. Pada saat Gin Liong menyadari bahaya,
ternyata pukulan sudah tiba dimuka dadanya.
Dalam gugup, pemuda itu terus buang tubuh melayang
mundur sampai tiga tombak dan berada dimuka segunduk
runtuhan tembok.
Baru kakinya berdiri tegak, dari sudut tembok itu muncul
seseorang dan segera menghantam tengkuk anak muda itu.
Gin Liong marah sekali, masakan dia selalu diserang
secara menggelap, seketika hawa pembunuhan segera
tampil pada dahinya.
Dengan menggembor keras, ia berputar-putar deras dan
ayunkan tangan menghantam.
Orang itu menjerit dan muntah darah, pukulan Gin
Liong tepat mendarat pada punggung orang itu sehingga dia
rubuh dan berguling-guling sampai dua tombak jauhnya.
Setelah muntah darah lagi, dia menggelepar-gelepar
meregang jiwa.
Pada saat orang itu terguling-guling, Brewok-terbang Li
Tek-guipun sudah loncat ke muka Gin Liong, Dengan
diiringi gemboran keras, ia hantamkan kedua tangannya,
Anginnya dahsyat sekali.
Karena sudah terlanjur membunuh orang, kesadaran Gin
Liongpun sudah hilang, Dengan menggeram marah, diapun
songsongkan kedua tangannya yang telah disaluri tenaga
penuh.
Darrr . . . .
Terdengar letupan keras, Puing2 tembok beterbangan
keempat penjuru, saljupun berhamburan ke udara.
Sekeliling tempat gelap, sosok2 bayangan hitam
bergerak-gerak mundur dengan mengeluarkan teriakan
kejut.
Bahkan pengemis kurus, paderi gemuk yang selama itu
tetap duduk dibawah pohon di sudut tembok juga terkejut
dan mundur sampai tiga tombak.
Tubuh Li Tek-gui yang tinggi besar, terbang melayang
kearah nenek buta yang berada lima tombak jauhnya.
Kembali Gin Liong tertegun. Seketika ia teringat akan
peristiwa di guha Kiu-kiok-kiong dimana dengan sekali
dorongkan kedua tangannya ia berhasil melemparkan Ok-
wi-tho Go Ceng paderi yang jahat itu kedalam jurang.
Demikian pula pada saat itu, ia memandang hampir tak
percaya kepada tubuh Li Tek-gui yang terlempar karena
pukulannya tadi.
Adakah sekarang ia memiliki tenaga yang luar biasa
saktinya ?
Tampak nenek buta deliki mata dan wajahnya berobah
membesi.
"Kawanan tikus, engkau hendak mencelakai aku lagi !"
bentaknya bengis, seraya ayunkan tongkatnya ke tubuh Li
Tek-gui.
"Bluk..."
Seketika menjeritlah Li Tek-gui ngeri sekali, Tubuhnya
yang besar itupun terbanting sekeras-kerasnya ke tanah.
Mendengar jeritan ngeri dari Li Tek-gui itu, nenek buta
segera perdengarkan suara lengking tawa yang aneh.
Menusuk telinga dan menyeramkan perasaan.
Ketika memandang ke arah pohon, Gin Liong
memperhatikan bahwa pengemis kurus, paderi gemuk dan
sosok2 bayangan yang bersembunyi ditempat gelap itu
menahan napas dan memandang nenek buta.
Mereka terkejut dan ngeri, jelas mereka mendapat kesan
bahwa nenek buta itu seorang nenek yang sakti tetapi amat
ganas.
Berhenti tertawa, nenek buta itu menengadahkan
mukanya yang buruk dan balikkan matanya yang putih lalu
mengekeh:
"Heh, heh, Brewok-terbang, akhirnya dapat juga kucabut
jiwamu !"
Gin Liong hanya memandang tingkah laku nenek buta
itu dengan kerutkan alis, Tiba2 terdengar ayam hutan
berkokok sahut menyahut Gin Liong gelagapan. Dia
menyadari kalau sudah terlalu lama tertunda ditempat itu.
Dia harus lekas2 pergi.
Sekali enjot tubuh, Gin Liongpun terus lari sekencang
angin menuju keluar hutan, Tetapi nenek buta itu tiba2
melengking geram dan bagaikan segulung asap, iapun
segera melayang menghadang jalan Gin Liong.
"Siapa engkau !" bentaknya marah.
Melihat nenek buta itu berkali-kali menghadang jalan,
Gin Liongpun balas membentak keras: "Bukan urusanmu !"
Nenek buta itu balikkan matanya yang putih lalu
menggembor:
"Ho, ternyata engkau tak mau mengambil kaca itu,
jangan harap engkau dapat hidup lagi!"
Gin Liong kerutkan alis, Hawa pembunuhan meluap dan
berhamburan tawa geram:
"Jangan lagi hanya seorang nenek buta seperti engkau.
sekalipun sampai sepuluh nenek buta lagi, tak mungkin
mampu menghalangi aku !"
"Budak kecil bermulut besar Jika tak kuberimu sedikit
hajaran engkau tentu belum tahu rasa." seru nenek buta
seraya memutar tongkat kepala burung hong bagaikan
hujan mencurah ke pinggang Gin Liong.
Wut, tiba2 Gin Liong tertawa keras dan melambung
beberapa tombak ke udara, Begitu di udara, ia segera
mencabut pedang pusaka Tanduk Naga, seketika
memancarlah sinar merah yang gilang gemilang
menyilaukan mata, Tanah berkabut itu seluas sepuluhan
tombak berubah kemerah-merahan warnanya.
Tempat2 gelap segera terang sehingga orang2 yang
bersembunyi itu memekik kaget.
Diantar dengan sebuah gemboran keras, Gin Liong
memutar pedangnya dalam jurus Liong li-hui-hoa atau
Puteri-naga-menebar-bunga. Begitu percikan sinar merah
segera berhamburan menumpah ke kepala nenek buta.
Nenek buta itu tak gentar bahkan menghambur suara
tawa yang aneh, Rambutnya yang putih mengkilap
meregang tegak, matanya yang putihpun membalik.
Tongkat kepala burung hong segera pecah berhamburan
menjadi beratus percik sinar, menyongsong curahan sinar
pedang Gin Liong.
Tring, tring, tring . . . .
Terdengar dering gemerincing suara keras saling beradu
beberapa kali, disusul dengan percik bunga api dan
kutungan besi yang bertebaran kemana-mana.
Kejut nenek buta itu bukan alang kepalang sehingga
wajahnya seperti tak berdarah. Dengan memekik aneh ia
menyurut mundur sampai tiga tombak.
Gin Liong melayang turun ke tanah dan tegak berdiri
lintangkan pedang, Dia tak mau mengejar.
Nenek buta itupun berdiri tegak, sepasang kelopak
matanya yang putih membeliak: Tangannya menahan
tangkai tongkatnya. Kepala burung-burungan hong sebesar
kepalan tangan telah lenyap.
Nenek buta itu gemetar marah sekali. "Budak hina.
dengan mengandalkan pedang pusaka wanita hina itu
engkau berani memapas senjataku."
Mendengar Ban Hong Liong marah sekali: "Tutup
mulutmu,!" bentaknya, "sekali lagi engkau berani menyebut
"wanita hina", aku tak dapat mengampuni jiwamu lagi."
Nenek buta itu menyeringai seram lalu melengking
geram.
"Budak hina yang sombong, aku akan mengadu jiwa
dengan engkau !"
Kata2 itu ditutup dengan putaran tongkat yang luar biasa
cepat dan dahsyatnya menyerang Gin Liong.
Gin Liong tak gentar, ia mainkan pedang Tanduk Naga
untuk menyongsong. Dan terjadilah pertempuran yang
amat seru antara Gin Liong dengan nenek buta itu.
Gerakan kedua orang itu bagai sepasang ular yang
bergeliatan menyusup kedalam air, senjata mereka
menderu-deru bagai petir memecah angkasa. Angin
sambaran senjata mereka berhamburan dalam lingkungan
seluas sepuluh tombak.
Sinar pedang Tanduk Naga memancarkan warna merah
yang menyilaukan mata dan hawa dingin yang menusuk
tulang.
Sedang tongkatpun menderu-deru sedahsyat gunung
rubuh.
Walaupun gerak permainan ilmu pedang Gin Liong itu
sangat aneh tetapi pemuda itu tak mau dituduh merebut
kemenangan karena mengandalkan pedang pusaka, ia
hendak mengalahkan lawan dengan ilmu permainan, bukan
dengan pedangnya. Tetapi karena itu, gerakannya
terpancang dan sering dikuasai lawan.
Nenek buta itu ternyata seorang tokoh yang sakti dan
banyak pengalaman. Tongkat kepala burung hong, jarang
mendapat tanding. Makin lama, malah makin perkasa. Dan
karena sudah bertekad hendak mengadu jiwa, maka
permainan tongkat nenek buta itu luar biasa dahsyatnya.
Saat itu malam makin larut. Angin makin dingin dan
kabutpun mulai bertebaran. Sayup2 ayam hutan berkokok
sahut menyahut.
Gin Liong mulai gelisah, Kalau ia terus menerus dilibat
dalam pertempuran oleh nenek buta itu, tentu ia tak dapat
cepat2 menyusul jejak Ban Hong Liong-li.
Diam2 ia memutuskan untuk menggunakan ilmu
pukulan Hoan-hun-ciang (Awan bayangan) Sebuah ilmu
pukulan istimewa ajaran suhunya yang dahulu pernah
mengangkat nama suhunya menjadi termasyhur.
Dengan menggembor keras, mulailah ia menggunakan
kedua tangannya, Tangan kanan memainkan pedang
pusaka Tanduk Naga, tangan kiri melancarkan ilmu
pukulan Hoan-hun-ciang.
Telah disebut diatas bahwa nenek buta itu memang kaya
akan pengalaman. Telinganya luar biasa tajamnya sehingga
melebihi pandang mata. Dia seorang tokoh yang ganas dan
tergolong aliran Hitam.
Saat itu segera ia merasakan tekanan lawan makin
berlipat ganda kerasnya, wajahnya berobah seketika.
Teringat ia akan Giok-bin-su-seng atau Pelajar-berwajah-
kumala Kiong Cu-hun.
Pada saat ia hendak bertanya, tiba2 lawan menggembor
keras dan seketika ia rasakan lengan kanannya kesemutan
sakit sekali sehingga tongkat-pun tak dapat ia kuasai lagi,
Tongkat itu terbang melayang dan tangannya.
Sudah tentu nenek buta itu terkejut bukan kepalang,
Dengan melengking keras, ia kebutkan kedua lengan
bajunya seraya menyurut mundur sampai lima tombak.
Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuh.
Mengingat bahwa sekalipun buta tetapi nenek itu masih
dapat meyakinkan ilmu kepandaian yang begitu sakti,
diam2 Gin Liong merasa kagum dan sayang, Maka setelah
dapat menghantam lepas tongkat, iapun tak mau
menurunkan tangan jahat lagi.
Sambil lintangkan pedang ia berseru lantang:
"Mengingat usiamu sudah tua dan kedudukanmu sebagai
seorang cianpwe persilatan kuharap persoalan kita ini habis
sampai disini saja, Carilah tempat yang sunyi untuk
melewatkan sisa hidup yang tenang, Sampai jumpa...!"
Habis berkata ia terus melambung ke udara. Tetapi pada
saat ia bergeliatan hendak meluncur keluar hutan, tiba2
kakinya disambar angin tajam dari senjata rahasia.
Gin Liong terkejut cepat ia mementang kedua tangan,
menekuk kedua kaki dan dengan gerak Te-hun-tong atau
mendaki Tangga-awan, tubuhnya melambung dua tombak
lagi ke atas.
Begitu menunduk kebawah, ia terkejut lagi. Dari dua
ranting pohon yang tumbuh di ujung runtuhan tembok, di
lihatnya dua buah gerombolan senjata rahasia yang
mengkilap kebiru-biruan, meluncur ke arah nenek buta yang
masih tegak terlongong-longong.
Gin Liong seorang pemuda yang berhati perwira dan
benci pada kejahatan. Dia marah orang hendak menyerang
secara menggelap kepada nenek buta, sekalipun nenek buta
itu benci kepadanya.
Dengan menggembor keras, ia segera memutar pedang
dan meluncur kebawah.
Tetapi ternyata terlambat Ketika tiba di tanah, terdengar
nenek buta itu menjerit ngeri dan rubuh berguling-guling
ketanah. Sesaat kemudian, nenek buta itu tak berkutik lagi.
Rupanya dia telah mati.
Tepat Gin Liong lari menghampiri ketempat si nenek
buta, Begitu memandang keadaan nenek buta itu, seketika
menggigillah tubuh pemuda itu.
Mayat si nenek buta penuh dengan taburan hui-to, gin-
tan (peluru perak) yang tak terhitung jumlahnya. Hampir
mayat nenek itu bersimbah darah semua.
Gin Liong kerutkan alis, matanya memancarkan sinar
kilat dingin. Mulutnya menyeringai marah. Sambil
lintangkan pedang Tanduk Naga ia berseru lantang:
"Siapa yang menggunakan kesempatan selagi nenek itu
lengah perhatiannya, telah melepaskan senjata gelap ?
silahkan keluar ! Aku Siau Gin liong, akan meminta
pertanggungan jawab dari saudara2 itu !"
Gin Liong memutar tubuh pelahan-lahan seraya sapukan
pandang mata ke sekeliling penjuru.
Tetapi empat penjuru tempat itu sunyi senyap, tiada
penyahutan sama sekali.
Pengemis kurus tenang2 duduk di tanah sambil mencekal
buli2 arak dan tangannya yang satu mengutik-utik lumpur
dalam cela2 kakinya. sepasang matanya yang berbentuk
segitiga, memandang tak berkesiap ke arah Gin Liong.
Paderi gemukpun tetap duduk di tempatnya semula.
Alisnya yang tebal mengerut, matanya yang bundar
menyalang lebar. wajahnya mengerut kemarahan,
memandang Gin Liong.
Saat itu hari sudah menjelang terang tanah. Kabut
malampun mulai menipis. Dari tempat2 yang gelap,
memancar berpuluh sorot mata kepada pemuda itu. Kini
tiada seorangpun yang menaruh perhatian ke rumah
pondok itu.
Melihat sikap pengemis dan paderi itu, marahlah Gin
Liong. Segera ia maju menghampiri ke tempat mereka.
Pengemis kurus itu berobah tegang wajahnya, Sepasang
matanya berkilat-kilat tajam. Sedang paderi gemuk,
matanya berkeliaran kian kemari. sikapnya amat tegang
sekali.
Gin Liong makin mencurigai kedua orang itu. Setelah
tiba setombak dari tempat mereka, ia segera balikkan
genggaman pedangnya, Memandang kepada kedua orang
itu, ia sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat.
"Taysu tentu mengikuti apa yang terjadi di tengah
gelanggang, Kiranya tentu tahu siapakah yang telah
membunuh nenek itu secara pengecut tadi !"
Dengan wajah membesi, paderi itu gelengkan kepala,
menyahut dengan nada sarat:
"Pinceng tak memperhatikannya." Gin Liong menahan
kemarahannya, ia tertawa dingin lalu berpaling kearah
pengemis kurus, memberi hormat dan bertanya:
"Lo tui!"ko, mohon tanya, Karena terus
"Lo-tian-be sejak tadi duduk disini. Tentulah tahu siapa
penyerang pengecut itu ?"
Sepasang mata segitiga dari pengemis kurus memandang
lekat2 pada Gin Liong, ia tak menyahut melainkan
gelengkan kepala laki pejamkan mata.
Sikap pengemis itu benar2 hampir membuat dada Gin
Liong meledak karena marah, ia hendak menghardik lagi
tetapi sekonyong-konyong ia mendengar sebuah suara
orang mendengus geram dari bawah pohon sebelah kiri.
Tergerak hati Gin Liong seketika, Dengan gunakan gerak
Liong-li-biau, tiba2 ia meluncur kearah tempat itu.
Lima tombak jauhnya ditengah gerumbul pohon2
pendek, tampak membujur sesosok bayangan yang panjang.
Setelah menghampiri dekat, Gin Liong berhenti dan
memandang dengan seksama, Ah, seorang tojin atau imam
yang berjubah kelabu, Hidungnya mancung, dahi lebar dan
memelihara jenggot yang bagus, Dengan sepasang matanya
yang bersinar terang, imam itu memberi kesan yang
menyenangkan Mengundang rasa hormat orang.
Gin Liong segera menyimpan pedangnya lalu memberi
hormat:
"Wanpwe Siau Gin Liong, mohon hendak bertanya
kepada totiang. Apakah lotiang mengetahui orang yang
telah melepaskan senjata gelap kepada nenek itu ?"
Habis berkata kembali Gin Liong membungkuk tubuh
memberi hormat, Tetapi ketika ia mengangkat muka dan
memandang ke depan, kejutnya bukan kepalang.
Imam jenggot indah itu sudah lenyap dari pandang mata.
Sebelum tahu apa yang telah terjadi, tiba2 dari arah
belakang terdengar dua buah jeritan ngeri.
Gin Liong cepat berputar tubuh. Cepat pandang matanya
menuju kearah kearah pengemis kurus dan paderi gemuk
tadi. ia segera menghampiri ke tempat mereka.
Ketika mendekati, kejut Gin Liong seperti disambar
petir.
Pengemis kurus itu masih tetap duduk diam tetapi batang
lehernya telah terbenam kedalam dada. Demikian pula
dengan paderi gemuk, seolah-olah kepalanya melekat tanpa
leher diatas bahunya.
Keduanya masih menggenggam beberapa batang huito
dan beberapa butir gin-tan.
Gin Liong tegang sekali hatinya, jelas kedua orang itu
telah dibunuh dengan tenaga-dalam yang sakti sekali. Cepat
ia keliarkan matanya. Ternyata sinar penerangan dalam
rumah pondok itu sudah padam.
Tergetar hati Gin Liong. Cepat ia loncat ke-muka jendela
dan melongok ke dalam, Ah, ternyata ruang pondok itu
gelap gulita dan diatas tempat tidurpun tiada orang tua itu
lagi. juga diatas meja, kaca cermin itupun sudah lenyap.
Serta merta ia berpaling kebelakang, Ternyata sekeliling
rumah pondok itu sudah tak tampak barang sesosok
bayangan manusiapun jua.
Hati Gin Liong setegang orang berpacu, Dia benar2
kesima mengalami peristiwa seaneh ini.
Tiba2 terdengar siulan nyaring dan panjang,
Kumandangnya bergema sampai ke awan, Makin lama
makin dekat
Tetapi begitu menyusup ke telinga Gin Liong, pemuda
itu girang sekali. Cepat ia melambung ke udara dan
melontarkan pandang mata ke sekeliling penjuru.
Pada padang salju yang jauhnya beberapa li, segunduk
bayangan merah bergulung-gulung laksana segumpal awan
merah, melintasi jalan di puncak gunung dan dengan pesat
menuju ke tempat Gin Liong.
Menyaksikan benda itu, girang Gin Liong bukan
kepalang, ia tak menyangka sama sekali bahwa Ban Hong
Liong-li akan kembali. Maka sambil bergeliatan di udara, ia
segera berseru sekeras-kerasnya :
"Lo - cianpwe, Liong.-ji berada disini . . . ."
-ooo0dw0ooo-

Bab 3
Sepasang Iblis
Mendengar teriakan Gin Liong, suitan nyaring itupun
berhenti, Bayangan merah itu memancar sinar mata yang
tajam ke arah Gin Liong. Dengan kecepatan laksana anak
panah terlepas dari busur, bayangan merah itu terbang
meluncur ke arah Gin Liong.
Melihat bayangan merah yang disangka Ban Hong
Liong-li itu lari menuju ke tempatnya, girang sekali hati Gin
Liong. Diapun pesatkan larinya menyongsong. seraya
acungkan tangan berseru keras2:
"Lo-cianpwe ... lo-cianpwe . .. .!"
Saat itu dia sudah masuk ke dalam sebuah lembah yang
berkabut salju, Dalam kabut yang memenuhi seluruh
lembah itu, samar2 ia melihat beberapa sosok bayangan
imam sedang lari keluar lembah.
Menduga bahwa orang2 itu tentu habis dari rumah
pondok tadi, Gin Liong tak mengacuhkan mereka dan terus
lanjutkan larinya.
Setelah melintasi lembah salju, kini ia berhadapan
dengan sebuah karang es yang tingginya sampai belasan
tombak. Karang es itu merentang panjang entah sampai
berapa li.
Setiba di muka karang es, Gin Liongpun segera enjot
tubuh melambung ke udara, Berhenti sebentar untuk
menjejakkan kakinya kebawah dan dengan meminjam
tenaga jejakan itu tubuhnya melambung naik lagi. Dengan
dua tiga kali gerakan itu, dapatlah ia mencapai puncak
karang es.
Ternyata permukaan karang es itu merupakan sebuah
dataran es yang amat luas sekali.
Dalam pada itu bayangan merah tadipun makin dekat
kan dengan jelas ia dapat mendengarkan kibaran
pakaiannya didebar angin.
Tiba2 Gin Liong kendorkan laju larinya, ada sesuatu
yang mencurigakan hatinya. Mau lari ke muka, kecurigaan
Gin Liong itu berobah menjadi rasa kecewa, Serentak ia
hentikan larinya.
Jelas sudah baginya bahwa bayangan merah yang lari
menghampiri itu, walaupun seorang wanita yang
mengenakan pakaian orang persilatan dan menyandang
mantel warna merah, tetapi dia bukan Ban Hong Liong-li.
Pada punggung wanita baju merah itu menonjol tangkai
pedang berpita merah, sepasang sepatunyapun merah
darah, Rambutnya yang indah dan panjang diikat dengan
tali merah. Dalam hembusan angin, tampak rambut itu
berkibar-kibar memikat mata.
Pada saat Gin Liong berhenti dan tegak terlongong-
longong, segulung sinar merah diantara deru angin keras,
segera menjelang tiba ke hadapannya.
Gumpalan sinar merah itu berputar-putar sekali
melingkari Gin Liong. Setelah itu baru tegak berdiri
hadapan anak muda itu.
Melihat pendatang itu, hati Gin Liong mendebur keras,
Orang yang berada dihadapannya itu menggunakan
pakaian serba merah yang menyilaukan pandang mata, Gin
Liong sampai tak berani memandang lekat2.
Kiranya dia seorang nona muda, berumur dua puluhan
tahun. wajahnya cantik jelita, sepasang alis yang
melengkung bagai bulan tanggal muda, menaungi dua buah
gundu mata yang bundar dan tajam. Raut wajahnya yang
menyerupai buah semangka dibelah dua, dihias sebuah
mulut yang kecil mungil,
Sambil bercekak pinggang, jelita itu menatap lekat2 pada
Gin Liong, Bibirnya yang semerah delima, mengulum
senyum yang memikat jiwa.
Gin Liong merah wajahnya, Darahnya memandang
keras, pendatang yang memiliki ilmu ginkang hebat itu
ternyata seorang nona yang cantik jelita.
Rupanya karena melihat Gin Liong terlongong kesima,
nona cantik itu tertawa mengikik, Sambil goyangkan
pinggang, ia berseru: "Adik, apakah tadi engkau yang
memanggil aku ?"
Mendengar nona itu menegur dengan kata2 yang ramah,
merahlah wajah Gin Liong. Segera ia tersipu-sipu memberi
hormat:
"Karena menempuh perjalanan siang malam, pandang
mataku sudah kabur. Dan karena kabut yang tebal, aku
telah keliru memanggil nona, Harap nona suka maafkan
kekhilafanku."
Kembali nona cantik itu tertawa mengikik, sambil
mengambil sikap seperti pohon liu tertiup angin, dengan
ramah sekali ia tertawa, serunya:
"Ah, tak apa, tak apa. Harap adik jangan pikirkan soal
sekecil itu. Tapi tak marah kepadamu."
Habis berkata dengan mengulum senyum manis, ia
menatap Gin Liong sambil ayunkan langkah maju
menghampiri.
Wajahnya yang cantik memikat potongan tubuhnya yang
langsing ramping, langkahnya yang jinak2 merpati, benar2
mempesonakan setiap pria yang memandangnya.
Melihat nona cantik itu sangat genit tingkahnya, Gin
Liong merasa muak. Tak seharusnya dia berdekatan dengan
nona semacam itu, ia harus lekas2 menyingkir.
Dengan wajah gelap, Gin Liong berseru:
"Karena masih ada lain urusan yang harus kukerjakan,
terpaksa aku tak dapat lama2 disini..."
Pada saat Gin Liong bicara, nona genit itupun hentikan
langkah dan tertawa:
"Apakah adik hendak mengejar seorang locianpwe yang
berpakaian merah itu ?"
Tergetar hati Gin Liong sehingga wajahnyapun berobah.
Buru2 ia bertanya:
"Apakah ketika melintasi gunung, nona melihat seorang
pendekar wanita berumur lebih kurang dua-puluh tujuh
tahun, berpakaian serba merah ?"
Nona cantik itu kenakan alis dan melengking:
"Seorang locianpwe yang masih begitu muda belia itu ?
Uh, mengelabuhi setan !"
Mendengar nada nona itu mengandung hinaan terhadap
Ban Hong Liong-li, seketika marahlah Gin Liong.
"Kalau nona tak berjumpa, akupun hendak berangkat
sekarang."
Ia ayunkan langkah melewati samping si nona lalu lari
pesat. Tetapi nona cantik itu cepat melesat dan
menghadang di muka Gin Liong.
"Engkau mau apa?" teriak Gin Liong dengan marah.
Nona genit itu melonjak kaget karena suara bentakan
Gin Liong yang menggeledek itu sehingga ia menyurut
mundur selangkah.
"Ih, galak sekali, Benar2 hampir aku mati kaget !"
serunya, seraya mengusap-usap buah dadanya seperti orang
yang hendak menenangkan dadanya yang berombak keras.
Tanpa melihatnya lagi, Gin Liong terus lanjutkan
larinya, Tetapi nona genit itu tersenyum, Sekali tubuhnya
berayun, tahu2 ia sudah menghadang di depan Gin Liong
lagi.
Kali ini Gin Liong terkejut sekali. Namun ia lebih
dirangsang kemarahan daripada rasa heran atas kepandaian
si nona. Setelah berputar melingkar, iapun lanjutkan larinya
lagi.
Tetapi nona genit itu hanya mendengus ia ayunkan
tubuh menghadang di muka Gin Liong lagi seraya berseru
angkuh:
"Adik, apabila hari ini kubiarkan engkau lari, Mo lan
Hwa selama-lamanya takkan memakai gelar Swat-te-biau-
hong !"
Swat-te-biau-hong artinya Tanah-salju merekah-merah.
Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi,
Dengan bengis ia membentak lagi:
"Menyisihlah, siapa yang engkau panggil sebagai adikmu
itu !"
ia menutup katanya seraya menampar bahu nona genit
itu dan terus menyelinap hendak loncat.
Salju-merekah-merah Mo kan Hwa tidak marah malah
tertawa mengikik. Tubuhnya berputar-putar menghindari
tamparan Gin Liong dan dengan sebuah gerakan yang
indah serta cepat, ia sudah merintangi gerak loncatan si
anak muda lagi.
Gin Liong hentikan gerakannya. wajahnya membesi dan
menggeram:
"Kalau nona hendak menghambat perjalananku lagi,
jangan salahkan kalau aku bertindak kurang ajar !"
Sambil kicup-kicupkan sepasang matanya yang bundar,
Mo Lan Hwa berseru:
"lh, mengapa engkau begitu tak tahu adat ? Siapa yang
memanggil suruh aku datang tadi ?"
Merahlah wajah Gin Liong, serentak ia berseru dengan
suara bengis:
"Telah kukatakan bahwa aku khilaf maka akupun sudah
menghaturkan maaf kepada nona..."
"Huh," cepat Mo Lan Hwa menukas, "apa guna
menghaturkan maaf?"
Gin Liong hendak meledak kemarahannya "Kalau maaf
tak berguna, lalu apa kemauanmu ?" serunya dengan geram.
Salju-merekah-merah Mo Lan Hwa mendengus marah
dan melengking:
"Hm, tidak semudah itu membiarkan engkau ngacir pergi
!"
"Coba saja kalau mampu merintangi aku !" teriak Gin
Liong makin marah. Bahkan karena sudah tak kuat
menahan kemarahannya, Gin Liong terus menampar muka
nona genit itu.
"Hm, lihat saja apakah engkau mampu melarikan diri."
seru Mo Lan Hwa seraya menangkis dengan jurus Giok-hi-
hui-soh atau Bidadari-melempar-tali.
Terdengar sebuah orang pelahan dan tubuh nona genit
itu terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah.
Gin Liong menggunakan tiga bagian dari tenaganya
untuk menampar tetapi hanya dapat membuat Mo Lan
Hwa menyurut tiga langkah saja. Segera ia tahu bahwa ilmu
tenaga dalam dan ilmu ginkang nona itu memang hebat.
Ia kerutkan dahi memandang nona genit itu dengan
tajam dan berseru:
"Jika engkau masih tetap mengganggu, jangan salahkan
aku tak kenal kasihan !"
Habis berkata ia terus berputar tubuh dan angkat kaki.
"Berhenti !" Mo Lan Hwa melengking gugup, "sebelum
kita ada yang mati salah satu, tak seorangpun boleh
tinggalkan tempat ini."
Ia menutup kata-katanya dengan sebuah terjangan,
sepasang tangannya berhamburan menghajar seperti orang
kalap.
Gin Liong sudah hilang kesabarannya, serentak ia
berputar tubuh dan membentak keras: "Baik, kalau engkau
minta mati, akan kuantarkan engkau ke akhirat!"
Pemuda itu segera ayunkan tangan kanan menghantam.
Seketika menderulah angin pukulan yang dahsyat Salju di
tanah berhamburan ke udara sehingga mirip dengan
suasana badai dimusim salju.
Nona genit itu terkejut. Seketika pucatlah wajahnya,
serentak berhenti, dia terus songsongkan kedua tangannya
untuk menangkis.
Terdengar sebuah lengking jeritan yang ngeri dan
nyaring diiring dengan tubuh Mo Lan Hwa yang terlempar
sampai tiga tombak ke udara lalu melayang jatuh sampai
lima tombak jauhnya.
Gin Liong tertegun. Walaupun marah, tetapi ia hanya
menggunakan lima bagian dan tenaga dalamnya, Tetapi
akibatnya benar2 diluar dugaan.
Tetapi ia seorang pemuda yang baik hati, sebenarnya ia
tak kenal dan mempunyai dendam permusuhan terhadap
nona itu, Mengapa ia harus mencelakainya ?
Cepat ia enjot tubuh nona itu. Dilihatnya, sepasang mata
Mo Lan Hwa meram, wajahnya merah padam, dada
berombak keras dan napasnya terengah-engah.
Melihat keadaan nona itu tak sadarkan diri, Gin Liong
bingung juga, Tetapi menilik wajahnya yang merah itu,
jelas kalau Mo Lan Hwa tak menderita suatu luka dalam
yang berbahaya.
"Ah, kalau kugunakan tujuh atau delapan bagian tenaga
dalam pukulanku tadi, dia tentu akan muntah darah,"
diam2 Gin Liong merasa bersyukur karena tak melakukan
tindakan begitu.
Segera ia meletakkan tubuh nona itu ke tanah lalu mulai
menguruti jalan darah ditubuhnya, Tetapi diluar dugaan,
makin diurut, napas nona itu makin lemah Sudah tentu Gin
Liong terkejut sekali sehingga keringat dingin bercucuran
membasahi tubuhnya
In hentikan pengurutannya dan mulai merenung ilmu
urut yang telah dipelajarinya, ia merasa bahwa cara
pengurutan itu memang sudah benar.
Lalu ia mulai mengurut lagi dengan hati2 dan pelahan-
lahan, tak berapa lama, Mo Lan Hwa tampak membuka
mata, Gin Liong girang dan hentikan urutannya. Sambil
mengulap keringat ia bertanya:
"Nona bagaimana keadaanmu ?"
Tetapi nona itu pejamkan mata lagi, Gin Liong terkejut,
ia merasa terlalu cepat menghentikan pengurutannya maka
buru2 ia lekatkan tangan kanannya ke jalan darah Gi-hay
diperut si nona, ia menunggu dengan penuh perhatian
perobahan air muka nona itu.
Tetapi Gin Liong makin gelisah, wajah nona itu makin
merah seperti bara dan napasnya makin terengah-engah.
Bibirnyapun mulai agak terbuka. Karena gugup, Gin Liong
menambahkan tenaga- murninya seraya bertanya:
"Nona, bagaimana engkau rasakan ?"
Dengan masih pejamkan mata, nona itu menyahut
lemah: ”Dingin... mati kedinginn..."
Gin Liong keliarkan mata memandang kesekeliling, ia
mengharap dapat melihat sebuah guha atau cekung karang
es yang dapat dibuat membaringkan nona itu.
Karena perhatiannya tertumpah pada empat penjuru, ia
tak tahu bahwa saat itu diam2 Mo Lan Hwa sudah
membuka mata dan tersenyum. Ia memandang dagu
pemuda cakap yang memikat hatinya itu.
Gin Liong yang polos hati, segera melihat bahwa hutan
dimana terdapat rumah pondok tadi, berada diatas puncak
sebelah muka dari lembah salju, Saat itu matahari sudah
terbit dan kabutpun menipis, Rumah pondok di puncak
salju itupun segera tampak jelas.
"Orang tua kurus itu sudah tak berada dalam pondok,
lebih baik kuangkut nona ini ke pondok itu," pikirnya.
Kemudian ia mengangkat tubuh Mo Lan Kwa lalu
dibawanya lari menuju ke pondok, pikirannya hanya tertuju
untuk menolong jiwa si nona yang terkena pukulannya,
setitikpun ia tak mengandung pikiran yang tak senonoh.
Rupanya Mo Lan Hwa yang sesungguhnya sudah
siuman, berseru:
"Engkau . . . hendak membawa aku kemana?"
Gin Liong tersentak kaget, Saat itu juga baru ia
menyadari bahwa nona itu mengelabuhinya, jelas nona itu
tak menderita luka apa2 dan tak pingsan. Kesemuanya tadi
hanya pura2 saja.
Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong.
"Pergi !" ia lemparkan tubuh Mo Lan Hwa ke tanah.
Tindakan Gin Liong itu diluar dugaan Mo Lan Hwa, ia
menjerit kaget ketika tubuhnya terbanting ke tanah.
Gin Liong marah sekali, Tanpa melihat keadaan nona
itu ia terus berputar tubuh dan lari kearah tenggara.
Setelah tenang, Mo Lan Hwa segera melenting bangun,
Melihat anak muda itu lari, ia bingung, Cepat iapun
gunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar seraya berteriak
sekuat-kuatnya:
"Hai, manusia kayu ! Engkau benar2 sebuah patung !"
Gin Liong mendongkol sekali, ia tak sudi melihat nona
genit itu lagi, Tetapi ternyata Mo Lan Hwa itu memang
sakti dalam ilmu ginkang sehingga dia mendapat gelaran
sebagai Tanah-salju-merekah-merah, Karena cepatnya ia
berlari, tubuhnya berobah seperti segumpal asap merah
yang menebar diatas salju.
Tampak dua sosok bayangan, yang satu kuning dan yang
lain merah, sedang berkejaran diatas puncak gunung yang
tertutup salju putih.
Gin Liong lari mati-matian, Mo Lan Hwa mengejar
sepenuh tenaga. Rupanya nona genit itu tak mau
melepaskan anak muda yang cakap itu.
Tiba2 dari arah puncak sebelah muka, terdengar dua
buah suitan yang nyaring, Menyusul dua buah bayangan
hitam, bagaikan bintang jatuh dari udara, dari atas puncak
meluncur kebawah.
Mo Lan Hwa terkejut dan cepat2 berteriak memanggil
Gin Liong : "Manusia kayu, berhentilah ! Manusia kayu
berhentilah!"
Sambil berteriak, nona genit itu gunakan jurus Jay-hong-
hi-ci atau Cenderawasih-hinggap-dipohon, melayang ke
udara. ia berjumpalitan, dengan kaki diatas dan kepala di
bawah, menukik menyambar Gin Liong.
Rupanya karena sedang berlari cepat, pemuda itu tak
memperhatikan kesiur angin dari gerakan Mo Lan Hwa.
Dia tetap lari sekencang-kencangnya.
Kedua sosok bayangan hitam yang meluncur dari
puncak tadi segera tegak di tengah jalan untuk menghadang
Gin Liong.
Pada saat itu Mo Lan Hwa sudah berhasil mencapai
jarak tiga tombak di belakang Gin Liong,
"Manusia kayu, mengapa tak mau berhenti. Yang
menghadangmu disebelah muka itu adalah Sepasang iblis
dari luar perbatasan !" teriak nona itu dengan nada cemas.
Gin Liong mendengus dalam hati, Peduli apa dengan
sepasang iblis itu. Bukankah ia tak kenal mereka ?
Dalam pada berpikir itu, Gin Liongpun berpaling
kebelakang, Astaga . . . . ternyata Mo Lan Hwa sudah
ulurkan tangan hendak mencengkeram bahunya.
Kejut Gin Liong bukan alang kepalang sehingga ia
sampai kucurkan keringat dingin. Dengan gerak Liong-li-
biau, cepat ia menghindar kesamping sampai tiga tombak
jauhnya lalu lanjutkan lari lagi.
Mo Lan Hwa terperanjat sekali, Tangannya yang sudah
hampir berhasil mencengkeram bahu anak muda itu tiba
hanya menemui angin kosong.
Cepat ia hentikan gerakan tubuh dan berpaling.
Ah, ternyata Gin Liong sudah berbalik lari ke arah barat
Serempak pada saat itu. dari sebelah muka terdengar
suara orang tertawa gelak2. Nyaring dan menusuk telinga.
Mo Lan Hwa berpaling dan terkejut! Ternyata kedua
iblis dari luar perbatasan itu pun telah berputar diri dan
meluncur untuk menghadang Gin Liong lagi.
Cepat Mo Lan Hwa melayang ke udara seraya berseru
gopoh: "Manusia kayu, lekas berhenti! Mereka itu sepasang
iblis dari luar perbatasan..."
Sambil berseru, nona itu tetap mengejar Gin Liong, Gin
Liong benar2 mendongkol sekali dan ingin lepaskan diri
dari libatan nona genit itu muka ia teruskan larinya dan tak
menghiraukan kedua orang yang di sebut sepasang iblis dari
luar perbatasan itu.
Tetapi ia ingin juga mengetahui dimana nona genit itu.
Begitu berpaling, ia terkejut lagi Ternyata nona itu tengah
melayang diudara dan meluncur kearahnya.
Diam2 Gin Liong mengeluh, Ternyata nona genit itu
memang sakti sekali ilmu ginkang nya, Rasanya tak mudah
untuk lepaskan diri dari kejarannya.
Sesaat tiba di tanah, Mo Lan Hwa cepat berseru gopoh:
"Awas, disebelah muka..."
Gin Liong terkejut dan memandang kemuka lagi, "Ah.
ternyata kedua orang itu sudah tiba dihadapannya,
"Sumoay, biarlah suheng mewakili engkau meremukkan
budak ini...." teriak salah seorang dan kedua iblis itu seraya
menyerang Gin Liong.
Saat itu Gin Liong baru berpaling kemuka, Sebelum tahu
bagaimana wajah orang itu, tiba2 dia sudah diserang,
Dengan menggeram marah, cepat ia loncat menghindar
sampai dua tombak jauhnya.
Dalam pada itu, Mo Lan Hwapun berteriak dan
menghantam kearah serangan orang itu.
"Bum . . ."
Gumpalan salju muncrat berhamburan ke empat
penjuru, Mo Lan Hwa dan orang yang melepaskan pukulan
itu, masing2 terhuyung mundur sampai tiga langkah.
Saat itu Gin Liong dapat melihat jelas bahwa kedua
sosok bayangan hitam itu adalah dua orang lelaki
pertengahan umur yang mengenakan pakaian ringkas orang
persilatan warna hitam. Keduanya masing2 menyanggul
pedang pada punggungnya.
Lelaki yang berdiri di sebelah kiri berwajah persegi alis
lebar mata sipit dan memelihara kumis tipis. Dia
memandang dengan mata berkilat-kilat ke wajah Mo Lan
Hwa.
Dia adalah Say-pak-jin-mo atau Manusia iblis dari
Saypak (Perbatasan Utara). Dia pula yang hendak
menyerang secara menggelap kepada Gin Liong.
Lelaki yang disebelah kanan, berwajah segi-tiga, kumis
jarang, mata bundar kecil seperti mata tikus dan alisnya
berbentuk menurun, pipinya yang kempot menyungging
senyum menyeringai.
Dia dikenal oleh kaum wanita sebagai Say-pak-ceng-mo
atau iblis Cabul dari Saypak.
Kedua iblis itu tertawa mengekeh.
"Beberapa tahun tak bertemu, ternyata sumoay sekarang
semakin cantik. Terutama dalam ilmu ginkang. sumoay
makin mencapai kemajuan yang mengejutkan. Semalam
aku bersama lo-toa berpencaran mengejar, tetapi masih tak
mampu mengejar sumoay," seru Ceng Mo dengan tertawa
sinis.
Jin Mo juga tertawa dingin, Sebelum Ceng Mo selesai
berkata, ia sudah menggeram: "Tak kira kalau sumoay ke
daerah salju untuk mencari budak muka putih itu."
Habis berkata kedua iblis itu serempak berpaling
memandang Gin Liong, pemuda itu masih tegak berdiri
melihat gerak gerik ketiga orang itu.
Mo Lan Hwa merah wajahnya.
"Tutup mulutmu !" teriaknya geram, "aku melakukan
perintah toa-suheng untuk menyelidiki asal usul orang tua
yang membawa kaca cermin itu, jangan kalian bicara tak
keruan begitu !"
Berhenti sejenak melontarkan pandang kemarahan
kepada kedua iblis, Mo Lan Hwa melanjutkan pula:
"Sudah lama kalian putus hubungan dengan
perguruanku. Kalian melanggar pesan suhu, melakukan
perbuatan yang tercela di luaran. Sejak suhu menutup mata,
kalian makin menggila. Jika Ji-suheng tak mengingat
pernah sama2 menjadi saudara seperguruan, masakah
kalian saat ini masih bernyawa ? Berulang kali kalian
menghadang aku dan mengucapkan kata2 yang tak
senonoh, apakah maksud kalian ? Katakanlah sekarang ini.
Kalau tetap bertingkah seperti itu, jangan kalian sesalkan
aku tak mau mengingat pernah sama2 dalam satu
perguruan."
Rupanya Mo Lan Hwa marah sekali kepada kedua iblis
yang ternyata pernah menjadi suhengnya.
Wajah kedua iblis itu tampak memberingas tak sedap
dipandang, tiba2 keduanya tertawa gelak2 untuk
menghamburkan kemarahan mereka.
Setelah mendengar percakapan itu, barulah Gin Liong
tahu akan hubungan Mo Lan Hwa dengan kedua iblis itu,
Serentak ia merasa bahwa Mo Lan Hwa itu bukan seorang
nona yang cabul melainkan seorang gadis yang lincah dan
binal.
Seketika berkurang kesan buruknya terhadap nona itu.
Semula ia hendak tinggalkan mereka selagi Mo Lan Hwa
tengah bertengkar dengan kedua bekas suhengnya, Tetapi
setelah tahu persoalannya, dia batalkan rencananya. Dia
harus ikut membantu Mo Lan Hwa apabila nona itu
mendapat kesulitan dari kedua iblis.
Setelah puas, kedua iblis itu hentikan tawanya. Wajah
mereka tampak membesi. Matanya berkilat-kilat buas.
Jin Mo deliki mata dan berteriak marah: "Budak
perempuan yang tak punya mata ! Besar sekali nyalimu
berani memberi nasehat kepada kami berdua saudara, Lebih
baik engkau ikut kepada kami, Jangan kuatir kami tentu
takkan mengecewakan keinginanmu, Kalau tidak, heh,
heh...."
Karena marah, tubuh Mo Lan Hwa sampai menggigil
keras. Cepat ia menukas:
"Kalau tidak, mau apa engkau ?"
Ia menutup kata-katanya dengan kebutkan lengan kanan
dan tiba2 tangannya sudah bertambah dengan sebatang
pedang yang berkilat-kilat memancarkan hawa dingin.
Melihat itu Ceng Mo tertawa hina, Matanya yang seperti
mata tikus itu, segera memandang ke-arah Gin Liong yang
berdiri pada jarak dua tombak jauhnya.
"Tidak mudah engkau hendak melarikan diri bersama
budak laki itu !" serunya.
Gin Liong tertegun. Mengapa dirinya dibawa-bawa
dalam persoalan Mo Lan Hwa. Dia tak kenal Mo Lan Hwa,
tak tahu kedua iblis itu.
Karena marahnya, ia hamburkan tertawa dingin. Mo
Lan Hwapun merah mukanya, ia mencuri kesempatan
untuk melontar senyum kepada pemuda itu lalu
melambainya:
"Adik, kemarilah ! Masakan kita berdua tak mampu
menghajar kedua manusia jahat ini!"
Mendengar itu makin marahlah kedua iblis. Mereka iri
dan cemburu kepada Gin Liong karena Mo Lan Hwa yang
cantik itu lebih suka kepada Gin Liong daripada kepada
mereka.
Mereka tergila-gila dengan kecantikan Mo Lan Hwa.
Dan rasa iri itu segera meningkat dan meledakkan
kemarahan mereka.
"Dadaku mau meletus nih !" seru mereka seraya
berhamburan menerjang Mo Lan Hwa.
Jin Mo menggunakan jurus Ji-hung-hi-cu atau Sepasang-
naga bermain-mustika, menutuk kedua mata si nona. Ceng
Mo gunakan jurus Koay bong-bi tong atau Ular naga-
mencari-sarang. Dia tusukkan jarinya ke bawah buah dada
si nona, serangan itu dilakukan dengan kecepatan yang luar
biasa.
Ma Lan Hwa tertawa dingin. Setelah menghindar ke
samping dari tutukan jari Ceng Mo, segera ia taburkan
pedangnya untuk membabat tangan Jin Mo yang hendak
menutuk matanya.
Menghindar seraya menyerang itu, dilakukan Mo Lan
Hwa dalam saat dan gerak yang hampir serempak sehingga
kedua iblis itu menjerit kaget dan hentikan serangannya.
Bahkan Gin Liong sendiripun terkejut dan kagum
melihat gerakan si nona yang sedemikian lihaynya, Tanpa
disadari, ia berseru memuji : "Bagus...."
Mendengar pujian anak muda itu, girang Mo Lan Hwa
bukan kepalang, ia mencuri kesempatan untuk memandang
Gin Liong dengan senyum mesra.
Kebalikannya kedua iblis itu makin marah, Wajah
mereka berobah membesi bengis lalu menghampiri Gin
Liong, Dengan mengertek geraham sehingga terdengar
suara giginya saling bergosok keras, kedua iblis itu
membentak:
"Budak hina. rasanya engkau memang sudah bosan
hidup. Maka lebih dulu hendak kucabut nyawamu baru
nanti membereskan budak perempuan yang tak tahu malu
itu !"
Kemudian sambil menyalurkan tenaga-dalam pada
lengannya, mereka mulai maju menghampiri Gin Liong.
Melihat itu Mo Lan Hwa cepat berseru: "Adik, hati-
hatilah ! Lekas cabut pedangmu, Mereka sakti sekali,
engkau bukan lawannya!
Tanpa sebab dirinya telah dipukul oleh Jin Mo tadi,
sebenarnya Gin Liong sudah marah. Kini melihat kedua
iblis itu hendak menyerangnya lagi, dia segera tertawa
menghina.
Sengaja ia hamburkan sebuah tertawa yang nyaring dan
panjang sehingga kumandangnya bergema jauh sampai ke
awan.
Mo Lan Hwa terkejut Saat itu ia rasakan darahnya
mendebur keras demi tergetar oleh nada tertawa pemuda
itu. setitikpun ia tak mengira bahwa pemuda yang berwajah
cakap itu ternyata memiliki tenaga dalam yang sedemikian
dahsyat
Kedua iblis itu adalah tokoh2 yang berpengalaman
dalam dunia persilatan Mendengar hamburan tawa Gin
Liong, seketika berobahlah wajah mereka mereka.
Dengan kerahkan seluruh tenaga mereka serempak
menghantam. Angin pukulan mereka menimbulkan desus
prahara dan deru yang dahsyat, berhamburan melanda Gin
Liong.
Melihat serangan kedua bekas suhengnya itu, Mo Lan
Hwa terkejut dan tanpa disadari ia menjerit kaget.
Gin Liong memang baru pertama kali itu keluar dari
gunung, Walaupun ia sudah mendapat pengalaman dari
latihan berkelahi, tetapi ia tak tahu akan keadaan dunia
persilatan yang penuh bahaya.
Cepat ia hentikan tawanya lalu gerakkan kedua
tangannya menyongsong serangan lawan.
Tetapi sebelum tenaga pukulannya berkembang, pukulan
dahsyat dari kedua iblis itu sudah melandanya. Bum . . . .
angin menderu dahsyat, salju bertebaran keempat penjuru.
Gin Liong terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke
belakang. Tiba2 Ceng Mo loncat menerjang hamburan salju
dan dengan menggembor sekuatnya, ia menghantam lagi
Gin Liong yang belum berdiri tegak.
Bum ., . .
Terdengar letupan keras dan kedua orang itupun tercerai,
terhuyung-huyung. Melihat itu Jin Mo-pun tak mau
memberi kesempatan ia enjot tubuhnya kemuka dan
lontarkan sebuah hantaman kepada Gin Liong.
Dengan menggeram marah, Gin Liong cepat loncat
mundur sampai tiga tombak jauhnya.
Mo Lan Hwa melengking kaget. Cepat ia memutar
pedang untuk menusuk tengkuk Jin Mo.
Pada saat Jin Mo terkejut karena sosok bayangan kuning
(Gin Liong) yang berada di hadapannya itu menghilang,
tiba2 dari belakang ia merasa disambar oleh setiap angin
yang dingin. Cepat ia memekik dan tundukkan kepala lalu
berjongkok ke tanah.
Sret . . . . mantel hitam dari Jin Mo telah tertusuk robek
oleh ujung pedang Mo Lan Hwa.
Jin Mo terkejut. Dengan gunakan jurus Keledai-malas-
bergelundungan, dia terus berguling-guling ke tanah sampai
dua tombak jauhnya. Kemudian cepat ia melenting bangun
lagi, wajahnya pucat lesi, keringat dingin bercucuran.
Ceng Mo yang beradu pukulan dengan Gin Liong dan
terhuyung-huyung pun segera berdiri tegak. Kedua iblis
saling bertukar pandang lalu serempak mencabut pedang
dan terus menyerang Mo Lan Hwa.
"Bunuh dulu budak perempuan ini, baru budak laki itu !"
seru mereka.
Jin Mo gunakan jurus Pok-hun-kiau-jit atau Menyibak-
awan-melihat-matahari. pedangnya berhamburan mencurah
ke arah leher si nona.
Sedang Ceng Mo memainkan jurus Hok ie-jong-liong
atau Naga - hitam-mendekam - ditanah, Ujung pedangnya
melilit-lilit, menusuk kaki Mo Lan Hwa.
Mo Lan Hwa melengking seraya ayunkan pedangnya ke
kanan kiri, membentuk sebuah lingkaran sinar untuk
menyambut serangan kedua lawan.
"Berhenti !" tiba2 dari arah tiga tombak jauhnya
terdengar suara bentakan menggeledek.
Jin Mo terperanjat dan buru2 hentikan serangannya
seraya menyurut mundur beberapa langkah.
Kedua iblis itu serempak berputar tubuh ke belakang lalu
memandang ke muka. Mereka terkesiap ketika melihat
wajah Gin Liong memancar hawa pembunuhan dan tengah
melangkah menghampiri. Tangan pemuda itu mencekal
sebatang pedang bersinar merah berkilau, Mirip dengan
senjata pusaka dari Ban Hong Liong-li dahulu.
Ternyata yang berseru menyuruh kedua iblis itu berhenti,
bukan lain adalah Mo Lan Hwa sendiri. Melihat pedang
Gin Liong, walaupun tak tahu asal usul pedang itu tetapi ia
percaya tentu sebuah pusaka yang hebat.
"Kawanan tikus buduk, menyerang secara gelap bukan
laku seorang gagah . . . . " sambil melangkah maju, Gin
Liong memaki.
Kedua iblis itu berobah wajahnya, Tubuh mereka
gemetar keras, cepat mereka menukas dengan menghambur
tawa kemarahan. Tawa yang disaluri dengan tenaga dalam
hebat sehingga Mo Lan Hwa sampai mendekap telinganya.
Gin Liong hentikan langkah, membentak: "Dihadapanku
engkau berani bertingkah sedemikian congkak ? Hm, lekas
siaplah menyambut seranganku."
Gin Liong menutup kata-katanya dengan taburkan
pedangnya, Seketika pedang Tanduk Naga berkembang
menjadi suatu lingkaran sinar merah yang gilang gemilang
menyilaukan mata.
Sepasang iblis dari luar perbatasan itu segera hentikan
tawanya, Mereka deliki mata dan mengertak gigi:
"Budak tak tahu malu, kalau tak diberi hajaran, engkau
memang belum tahu kelihaian sepasang iblis dari luar
perbatasan !"
Mereka segera melepaskan pengikat lehernya serta
melemparkan mantel hitamnya ke tanah.
Melihat itu Mo Lan Hwa tertawa, ia tahu bahwa kedua
iblis itu sudah ketakutan. Kalau tidak tentu takkan
membuka mantel. Karena bertempur dengan membuka
mantel berarti kurang sopan atau mengandung keputusan
untuk mengadu jiwa.
"Sudah, jangan banyak tingkah, hayo kalian boleh maju
semua !" seru Gin Liong.
Kedua iblis itupun segera menjawab dengan memutar
pedang, menyerang Gin Liong. Jin Mo di kanan dan Ceng
Mo di kiri.
Gin Liong hanya mendengus geram. Dengan jurus Jit-
gwat-kau-hui atau Matahari-rembulan-saling-bertemu, dia
langsung membabat pedang kedua lawannya.
Sepasang iblis itu melengking aneh, nantikan langkah
menarik pedangnya. Jika yang satu maju, yang lain
berhenti. Yang satu diam. Mereka menyerang secara
bergilir. Mencari-cari lubang kesempatan dan berusaha
untuk menghindari benturan dengan pedang anak muda itu.
Gin Liong tertawa dingin. Tiba2 ia merobah gaya
permainannya dalam jurus Jiu-cui-heng-cou atau Air-
musim rontok-menghadang-sampan. Dalam bentuk seperti
sebuah busur, sinar pedang Tanduk Naga segera membabat
dada orang.
Jin Mo tertawa mengekeh. Cepat ia menarik pulang
pedang dan loncat mundur sampai dua tombak!
Tiba2 Gin Liong menarik pedang lalu tubuhnya
berputar-putar menyelinap ke belakang Ceng Mo. Lalu
dengan sebuah bentakan menggeledek, ia robah pula
pedangnya dalam jurus Heng-soh-cian-kun (membabat-
ribuan-laskar), Sring . . . . pedangpun melayang ke pinggang
Ceng Mo. Cepat dan dahsyatnya bukan buatan.
Serasa terbanglah semangat Ceng Mo dilanda serangan
itu. Karena kejutnya ia sampai memekik lalu berputar tubuh
dan tangkiskan pedangnya dalam jurus Hoa-te-kau-ping
atau Menggurat-tanah-mengatur-tentara.
"Tring..."
Terdengar bunyi menggerincing tajam dan putuslah
pedang Ceng Mo menjadi dua. Tiba2 Ceng Mo menjerit
keras sekali dan rubuh ke tanah.
Gin Liong tertawa dingin lalu maju menghampiri dan
mengangkat pedangnya untuk menyelesaikan nyawa iblis
itu.
Melihat itu, Jin Mo terkejut, cepat ia ayunkan tubuh,
menggembor keras dan menusuk dada Gin Liong.
Gin Liongpun mengisar langkah ke samping, memutar
pedang dalam jurus Gong jiok-gui-peng atau Burung-gereja-
membuka-pintu. menyongsong serangan lawan.
Rupanya Jin Mo tahu bahwa pedang lawan itu sebuah
pusaka yang tiada tara tajam nya. Mengendapkan pedang
ke bawah, ia ayunkan tangan kiri menghantam muka Gin
Liong.
Tetapi terlambat, serempak dengan bunyi
menggemerincing keras, pedangnyapun telah terpapas
kutung oleh pedang Tanduk Naga.
Kali ini Jin Mo yang terbang semangatnya, Dia tak
sempat memikir untuk melukai Gin liong lagi, ia segera
jatuhkan diri berguling-guling di tanah dalam jurus Kiu-te-
sip-pat-kun atau Delapan-belas kali-berguling ditanah.
"Hai tinggalkan nyawamu !" teriak Gin Liong seraya
loncat dan membabat kedua kaki Jin Mo.
Pada saat itu tiba2 Mo Lan Hwa menjerit keras sehingga
Gin Liong terkejut dan berpaling.
Sebuah benda yang berkilat-kilat meluncur deras kearah
Gin Liong, Gin Liong menggeram, Berkisar tubuh ke
samping, ia menghindari luncuran benda itu. Ketika
mengamatinya, ternyata benda itu adalah kutungan pedang
dari Ceng Mo telah menaburkan pedangnya yang hanya
tinggal separoh itu kearah Gin Liong, demi menolong Jin
Mo.
Gin Liong marah, Dengan menggembor keras. ia hendak
memburu Ceng Mo tetapi tiba2 belakang tengkuk
kepalanya disambar angin tajam.
Gin Liong tahu bahwa kali ini tentu Jin Mo yang
menyerangnya dari belakang dengan melontarkan kutungan
pedangnya, Cepat pemuda itu tundukkan kepala dan
melayanglah kutung pedang itu melalui atas kepala pemuda
itu.
Gin Liong benar2 marah sekali terhadap kedua iblis yang
licik itu, Ketika mengangkat kepala, ternyata kedua iblis itu
sudah terbirit-birit melarikan diri, jaraknya sudah berada
sepuluhan tombak jauhnya.
"Adik, lekas kejar ! jangan biarkan mereka lolos, Kalau
tidak, jangan harap engkau dapat hidup dengan tenang."
Habis berkata nona itupun terus ayunkan langkah
mengejar lebih dahulu.
Gin Liong memang tak mau memberi ampun kepada
kedua iblis itu, sebenarnya ia hendak mengejar mereka
tetapi demi mendengar kata2 Mo Lan Hwa, ia malah tak
mau ikut mengejar.
"Ho, aku memang sengaja hendak melepaskan manusia
itu. Akan kulihat, mereka dapat berbuat apa terhadapku,"
serunya geram.
Mendengar itu, Mo Lan Hwa hentikan larinya dan
berpaling kearah Gin Liong, ia marah sehingga wajahnya
merah, Ketika mulutnya hendak meluncurkan kata2, tiba2
terdengar sebuah suara tawa yang nadanya rawan dan
aneh.
Gin Liong terkejut Menurutkan arah suara tawa itu,
dilihatnya dari belakang bukit yang jaraknya diantara empat
puluhan tombak, muncul sesosok bayangan menghadang
kedua iblis tadi.
Ketika Gin Liong mencurahkan perhatian memandang
ke muka, ternyata yang muncul itu seorang kakek tua renta
berumur delapan puluhan tahun, Rambut pendek tetapi
jenggotnya dipelihara panjang, putih mengkilap seperti
salju.
Alisnya tebal mata bundar dan kepala besar.
Mengenakan ma-kwa ( pakaian mancam ) yang menutup
kaki.
Kakek itu mencekal sebatang pipa huncwe yang
panjangnya sampai satu setengah meter, Kepala huncwe
sebesar kepalan tangan orang.
Berhadapan dengan kakek itu, seketika gemetaran kedua
iblis tadi. Serempak mereka jatuhkan diri berlutut
dihadapannya.
Gin Liong kerutkan dahi, Dia merasa pernah kenal
dengan kakek itu. Kalau tak salah dahulu suhunya pernah
mengatakan bahwa kakek itu bernama Hok To-Beng
bergelar Kim-yan-tay atau Tabung-tembakau-emas.
Dia salah seorang tokoh dari Swat-Thian Sam-yu atau
Tiga Sahabat dari langit salju, Dia lah yang memiliki ilmu
ginkang sakti Menginjak-salju-tanpa-meninggalkan-jejak.
Baru Gin Liong berpikir sampai disitu, tiba2 Mo Lan
Hwa berteriak nyaring:
"Toa-suheng, mereka berdua telah menghina aku !"
Dan nona itupun terus lari menghampiri Hok To Beng.
Saat itu tergeraklah pikiran Gin Liong. Su-heng dari Mo
Lan Hwa atau kakek Hok To Beng itu kemungkinan tahu
siapakah kakek kurus dalam pondok itu. Paling tidak, Hok
To Beng tentu tahu siapakah orang tua jenggot indah yang
berwibawa sebagai seorang dewa itu.
Dengan memiliki harapan itu, Gin Liong sarungkan
pedangnya lalu bergegas menghampiri ketempat Hok To
Beng.
Belum tiba ditempat itu, Gin Liong sudah mendengar
kedua iblis membela diri:
"Sudah banyak tahun siaute berdua tak pernah
berkunjung untuk menghaturkan selamat kepada toa-
suheng. Sungguh hati kami amat menyesal. Tadi siaute
berdua bertemu dengan Mo sumoay. Belum sempat siaute
menanyakan keadaan toa-suheng, Mo sumoay sudah
marah2 dan mendamprat.
Mo Lan Hoa deliki mata dan melengking marah:
"Tutup mulutmu ! jangan ngaco belo tak keruan jual
kebohongan. Apa yang kalian bicarakan ketika semalam
berada dalam kota ? Apakah kalian pernah menanyakan
kesehatan toa-suheng ? Dan tadipun, apa saja yang kalian
ocehkan dihadapanku ?"
Kemudian nona itu menunjuk kearah Gin Liong yang
sedang mendatangi katanya pula:
"Tanyakanlah kepada adikmu itu, apakah kalian tadi
pernah bertanya tentang diri toa-suheng ? Hm..."
Orang tua rambut pendek kerutkan dahi, ia gerakkan
pipa huncwe untuk menyentuh lembut Mo Lan Hwa seraya
berkata:
"Sudahlah, sudahlah. Katakan lebih dulu urusanmu baru
nanti giliran mereka !"
Kemudian Hok To Beng acungkan pipanya kearah Gin
Liong yang saat itu sudah tiba dan berada satu tombak
jauhnya, bertanya pula kepada Mo Lan Hwa:
"Kapan engkau mendapatkan seorang adik laki budak itu
? siapakah she dan namanya ? Dimana tempat tinggalnya
dan berapakah umurnya ? Cobalah engkau terangkan lebih
dahulu."
Habis mencurahkan hujan pertanyaan, orang tua rambut
pendek itu menengadah memandang langit dan pasang
telinganya untuk mendengarkan keterangan Mo Lan Hwa.
Sama sekali tak mengacuhkan kepada kedua iblis yang
masih berlutut di tanah itu.
Gin Liong mendapat kesan bahwa rambut pendek Hok
To Beng itu seorang tua yang tak mempedulikan segala adat
peraturan Dengan mempunyai seorang toa-suheng
semacam itu, sudah tentu Mo Lan Hwa menjadi seorang
nona yang suka membawa kemauan sendiri dan bebas
tingkah lakunya !
Tampak Mo Lan Hwa melongo, wajahnya merah
jengah. Sepasang biji matanya yang besar, berkeliaran
Tiba2 ia tertawa lalu melambai Gin Liong.
"Adik, kemarilah," serunya "cobalah engkau tuturkan
satu demi satu kepada toa- suheng."
Gin Liong terpaksa tertawa walaupun seperti orang
meringis, Demi hendak mengetahui asal usul orang tua
kurus dan orang tua jenggot indah itu, terpaksa ia tebalkan
muka menghampiri.
Melihat perawakan Gin Liong dan sepasang matanya
yang bundar bersinar, diam2 orang tua rambut pendek itu
terkejut.
"Bakat yang luar biasa bagusnya. Kelak anak ini tentu
menjadi tokoh persilatan yang cemerlang di angkasa
persilatan," diam2 Hok Tek Bong menimbang dalam hati.
Tetapi karena melihat wajah toa-suhengnya mendadak
berobah, berdebarlah hati Mo Lan Hwa. Tetapi ia bersikap
setenang mungkin.
Berhenti pada jarak lima langkah dari orang tua rambut
pendek, Gin Liongpun memberi hormat.
"Siau Gin Liong menghaturkan hormat kepada
locianpwe," serunya disertai dengan membungkuk tubuh.
Tiba2 Hok Tek Beng tertawa gembira, Nada tawanya
amat sedap didengar setelah berhenti tertawa, dia mengelus-
elus jenggotnya yang putih dan berseru gembira:
"Saudara, apakah engkau adik lelaki dari siaumoay ku ?
Aku adalah toa-suhengnya Mengapa engkau menyebut lo
cianpwe kepadaku ? Yang benar, engkau sebut saja lo-
koko."
Habis berkata ia tertawa gelak2.
Sudah tentu Mo Lan Hwa girang sekali,
Dia tahu kalau toa- suhengnya suka pada pemuda itu.
Muka segera ia berkata kepada Gin Liong:
"Adik, lekaslah engkau ceritakan apa yang terjadi tadi..."
"Toa-suheng tiba2 kedua iblis yang masih berlutut di
tanah mendahului membuka suara," budak itu bukan adik
lelaki dari Mo sumoay ..."
"Tutup mulut !" bentak orang tua rambut pendek.
Suaranya seperti halilintar menyambar sehingga Gin
Liongpun sampai tergetar jantungnya.
Seketika kedua iblis itu pucat wajahnya dan keringat
dinginpun bercucuran membasahi tubuh mereka, Dengan
pandang mata penuh dendam, mereka memandang Mo Lan
Hwa dan Gin Liong.
orang tua rambut pendek itu melanjutkan kata-katanya:
"Segala tingkah lakumu yang tak senonoh di luaran aku
tahu semua. Sebelum menutup mata, suhu telah memberi
pesan kepadaku supaya mencabut ilmu kepandaian kalian,
Tetapi sampai sebegitu jauh, aku masih belum sampai hati."
Habis berkata ia kiblatkan pipanya ke muka kedua orang
itu sehingga mereka pejamkan mata, gemetar dan kucurkan
keringat dingin. Mereka diam mematung tak berani
berkutik sama sekali.
"Sudah banyak kali aku menerima teguran dari beberapa
kawan yang menuduh aku sengaja memelihara murid
khianat dan tak mau memikirkan keselamatan dunia
persilatan. Hm, hari ini, sekali lagi kuberi kalian ampun..."
Mendengar itu menjeritlah Mo Lan Hwa seraya lari ke
samping toa-suhengnya. Memegang lengan orang tua itu
dan berseru dengan gopoh:
"Toa-suheng, kali ini janganlah memberi ampun mereka,
Kalau tidak, bagaimana engkau hendak memberi
pertanggungan jawab kepada Hong dan Cui berdua lo-koko
nanti..."
Gin Liong cepat dapat menduga bahwa yang disebut
Hong (Gila) dan Cui (pemabuk) lo-koko oleh Mo Lan Hwa
itu tentulah kedua tokoh yang lain dari Swat-san Sam-yu,
Lengkapnya mereka bernama Hong-lian-sian dan Cui-sian-
ong.
Dan Gin Liongpun cepat dapat menduga bahwa orang
tua rambut pendek yang berada dihadapannya itu pasti
Kim-yan-tay atau Tabung-tembakau-emas yang paling aneh
wataknya diantara Swat-thian Sam-yu.
Memang ketiga tokoh dari Swat-thian Sam-yu itu gemar
berkelana keseluruh penjuru. Mereka termasyhur dengan
ilmu ginkangnya yang sakti.
Serentak Gin Liongpun teringat akan nyanyian yang
tersebar dalam dunia persilatan.
Dalam ilmu ginkang. Swat-thian Sam-yu paling
menjagoi
Hong-tian-siu Kakek Gila, terbang diatas rumput.
Kim-yan-tay si Tabung-tembakau-mas menginjak salju
tanpa bekas.
Cui-sian-ong si Dewa Pemabuk, melintas sungai dengan
sebatang rumput ilalang...
Teringat akan syair itu, tergetarlah hati Gin Liong.
Sedang Mo Lan Hwa tetap mencekal lengan toa-suhengnya,
menghendaki supaya toa-suhengnya jangan melepaskan
kedua iblis.
Kim-yan-tay Hok To Beng bungkam. Hanya matanya
yang berkilat-kilat memancar sinar. Rupanya dia masih
ragu2 untuk mengambil keputusan.
Pipa tabung tembakau yang berada ditangannya,
pelahan-lahan bergerak di muka kedua iblis, Asal orang tua
itu sekali menutuk, kedua iblis itu pasti akan rubuh
berlumuran darah.
Kedua iblis itu berlutut tegak. Wajahnya tegang dan
cemas. Matanya berkilat-kilat mengikuti pipa tabung
tembakau. Keringat dingin bercucuran deras membasahi
mukanya.
Tiba2 Hok To Beng menggeleng kepala dan menghela
napas pelahan. Rupanya ia merasa tak enak untuk menarik
kembali ucapannya tadi.
"Kalian boleh pergi." katanya dengan nada berat "kalau
kelak masih berani melakukan kejahatan lagi, jangan
sesalkan aku tak ingat pernah menjadi saudara seperguruan
dengan kalian."
Kemudian jago tua itu menengadah memandang langit,
Tampaknya ia seperti minta maaf kepada arwah suhunya
yang berada di alam baka karena tak melakukan
perintahnya.
Melihat toa- suhengnya benar2 melepaskan kedua iblis
itu, karena marah, Mo Lan Hwa sampai menggigil keras.
Kedua iblis itupun segera meniarap ketanah dan
serempak berseru:
"Terima kasih atas kemurahan hati toa-su-heng. Siau-te
berdua mohon diri."
Setelah bangun, kedua iblis itu masih menyempatkan diri
untuk memandang dengan sorot mata penuh dendam
kepada Gin Liong, Mo Lan Hwa dan Hok To Beng.
Gin Liong terkejut. Menilik muka dan sorot mata kedua
iblis itu, rupanya mereka masih penasaran Gin Liongpun
tak mau melepaskan pandang matanya kearah langsung
kedua iblis itu.
Sekonyong-konyong, baru setombak kedua iblis itu
melangkah, mereka berhenti dan secepat kilat berputar
tubuh seraya mendorongkan kedua tangan sekuat-kuatnya.
Serentak angin pukulan yang dahsyat melanda kearah
Gin Liong bertiga, Tetapi karena Gin Liong sudah
memperhatikan gerak gerik kedua orang itu, maka cepat
iapun segera menggembor keras:
"Kawanan tikus, kalian hendak cari mampus..."
Kata2 itu diserempaki dengan menyongsongkan kedua
tangannya kemuka. Dalam pada itu Hok To Bengpun
kebaskan sepasang lengan bajunya, menggembor keras dan
melambung ke udara.
"Bum . . ."
Terdengar letupan dahsyat dan deru angin
menghamburkan salju, Disusul dengan derap kaki
terhuyung-huyungpun susul menyusul terdengar.
Ketika Gin Liong memandang seksama, dilihatnya
Menginjak-salju-tanpa-bekas Hok To Beng sudah melayang
di udara dan bagaikan burung garuda dia menukik kearah
kedua iblis yang terhuyung-huyung kebelakang itu.
"Manusia berhati serigala kalian ini..." teriak Hok To
Beng. Sinar emas berkelebat dan terdengarlah dua buah
jeritan yang menyeramkan. Darah berhamburan ke udara
dan rubuhlah kedua iblis itu ke tanah untuk selama-
lamanya.
Ketika Gin Liong berpaling, ia terkejut sekali Ternyata
Mo Lan Hwa telah rubuh di tanah salju, Cepat ia loncat
menghampiri dan mengangkat tubuh nona itu, Dilihatnya
wajah nona itu pucat seperti kertas mata meram napas
lemah.
Gin Liong tahu bahwa kali ini, Mo Lan Hwa memang
benar2 pingsan sungguh, ia bingung, lalu merogoh kedalam
bajunya.
Saat itu Hok To Bengpun sudah melayang tiba dan
berjongkok memeriksa, Setelah meraba dada sumoaynya,
Hok To Beng agak tenang.
Mengangkat muka, dilihatnya Gin Liong sedang sibuk
merogohi bajunya.
"Eh, cari apa engkau ?" tegurnya.
"Katak salju," sahut Gin Liong.
Hok To Beng terkesiap, serunya gopoh: "Engkau taruh
dimana ?"
"Entah bagaimana, tahu2 binatang itu jatuh," sahut Gin
Liong hambar.
"Jatuh dimana ?" Hok To Beng makin tegang.
Gin Liong segera menerangkan:
"Semalam aku menderita luka, karena tak dapat
mengambil air, katak salju itu terpaksa kumasukkan dalam
mulut..."
"Tolol engkau," Hok To Beng tertawa, "sudah tentu
binatang itu meluncur masak kedalam perutmu, Ai,
mengapa dicari lagi ?"
Gin Liong terbeliak, Saat itu baru ia menyadari apa
sebab tenaga dalamnya tiba2 berobah hebat sekali, Sekali
dorongkan tangan ia mampu membuat si Jenggot terbang
mencelat sampai beberapa tombak.
"Sudahlah, siau-hengte," Hok To Beng menghiburnya,
"siaumoay-ku hanya pingsan karena menderita rasa kejut
yang berasal dari angin pukulan kedua iblis itu. Asal engkau
mau menyalurkan tenaga-dalam dengan telapak tangan
pada perutnya, dia tentu akan siuman."
Merah wajah Gin Liong tetapi apa boleh buat. Terpaksa
ia melakukan hal itu juga. Sesaat tangan Gin Liong melekat
pada perut Mo Lan Hwa. nona itu segera terdengar
menghela napas panjang dan membuka mata.
Melihat dirinya berada dalam pelukan Gin Liong,
merahlah wajah nona itu. Jantungnya mendebur keras,
sepasang matanya memandang mesra pada wajan pemuda
tampan itu. Mulutnyapun merekah senyum manis, rupanya
ia mengharap agar pemuda itu jangan melepaskan
tangannya.
Darah Gin Liong-pun menggelora keras, jantung
berdebar-debar, Pada saat ia hendak mendorong tubuh si
nona supaya bangun, tiba- nona itu memekik dan terus
melenting berdiri.
Gin Liong terkesiap, Ah, ternyata Mo Lan Hwa dengan
wajah tersipu-sipu malu tengah lari menghampiri Hok To
Beng yang berdiri setombak jauhnya dari tempat mereka.
Ternyata sejak tadi Hok To Beng mengawasi kedua anak
muda itu sambil mengelus-elus jenggot dan tersenyum
simpul.
Gin Liongpun cepat berbangkit.
Sambil menubruk dada Hok To Beng, Mo Lan Hwa
menggentak-gentakkan kaki dan memekik-mekik manja:
"Toa-suheng tak suka kepadaku..."
Sambil memegang bahu nona itu Hok To Beng tertawa
gelak2.
"Jangan ribut, jangan ribut, Siapa bilang aku tak sayang
kepadamu ?"
"Tadi aku pingsan mengapa engkau tak menolong ?"
masih nona itu menjerit manja.
Hok To Beng tertawa gelak2 pula.
"Sudah ada seorang adik yang menolong, mengapa toa-
suheng harus ikut campur ?"
Mendengar itu merahlah selembar wajah Mo Lan Hwa.
Cepat ia susupkan kepalanya ke dada Hok To Beng.
"Kalau aku mengurus dirimu, kedua manusia berhati
serigala itu tentu dapat melarikan diri," kata Hok To Beng
menghiburnya.
Mendengar itu baru Mo Lan Hwa lepaskan diri dari
dada toa-suhengnya dan memandang ke-arah mayat kedua
iblis, ia bersyukur karena iblis perusak wanita itu sudah
mati.
Karena hari sudah petang, Hok To Beng menyerahkan
pedang milik Mo Lan Hwa kepada nona supaya
disimpannya.
Gin Liong menghampiri memberi hormat kepada Hok
To Beng, Tetapi pada saat ia hendak membuka mulut, Mo
Lan Hwa tertawa geli.
Gin Liong terkesiap sehingga kehilangan kata2 yang
hendak diucapkan Melihat itu Lan Hwa makin tertawa geli.
"Mau apa engkau ini ? Mengapa tampaknya begitu resmi
itu ?" seru si nona.
Hok To Beng tertawa gelak2, serunya:
"Rupanya sian-hengte tentu berasal dari perguruan yang
termasyhur sehingga dia masih kukuh dengan tata cara,
membedakan yang tua dengan muda. Tidak seperti lo-koko
yang begini liar. Mau bilang apa terus bilang, mau berbuat
apa, pun terus berbuat saja. Asal sesuai dengan garis
kebenaran, aku tak peduli dengan segala macam peraturan
raja."
Berhenti sejenak tiba2 ia bertanya: "Siau-hengte, maukah
engkau memberi tahu nama perguruanmu ?"
Walaupun tahu bahwa memang tokoh2 aneh dalam
dunia persilatan itu tak menghiraukan soal tata cara adat
istiadat tetapi ia belum tahu benar akan peribadi Hok To
Beng, Maka ia tak berani sembarangan berkata, Setelah
memberi hormat ia berkata:
"Wanpwe..."
"Ih, apa-apaan itu wanpwe ? Lo-koko tetap lo-koko,
harus dipanggil lo-koko. Siau-hengtepun tetap harus disebut
siau-hengte, Mengapa engkau masih berkukuh menyebut
cianpwe dan wanpwe begitu macam ?" tiba2 Lan Hwa
melengking.
Mendengar itu merahlah muka Gin Liong, ia hendak
balas menyemprot nona itu tetapi tiba2 Hok To Beng
menukas dengan tertawa gelak-gelak:
"Siau-hengte, bersikaplah wajar saja. Tak perlu terlalu
menghormat Lo-koko tak mempersoalkan urusan begitu."
Teringat Gin Liong akan pesan suhunya. Bila
berhadapan dengan tokoh2 aneh dalam dunia persilatan
harus hati2 dan menghormat Paling baik turuti saja mereka.
"Baiklah, lo-koko," serunya sesaat kemudian, "siaute
akan menurut perintah lo-koko."
Hok To Bengpun tertawa gelak2, ia puas melihat sikap
Gin Liong yang cepat dapat menyesuaikan keadaan.
Bukan kepalang girang Mo Lan Hwa. Karuan bibir
merekah tawa maka tampaklah baris giginya yang putih
seperti untaian mutiara,
"Adik, beritahukan nama perguruanmu kepada lo-koko,"
segera ia berseru.
Dengan wajah serius, berkatalah Gin Liong.
"Aku menerima pelajaran silat dari guruku Liau Ceng
taysu, kepala kuil Leng-hun-si di puncak Hwe-sian-hong !"
Menginjak-salju-tanpa-bekas Hok To Beng kerutkan alis,
merenung, Pipa huncwenya bergetar2. Rupanya jago tua itu
sedang menggali ingatan tentang diri Liau Ceng taysu.
Melihat wajah toa-suhengnya, tahulah Mo Lan Hwa
bahwa suhu dari Gin Liong jitu tentu seorang paderi yang
tak terkenal. Apabila memang seorang tokoh terkenal tentu
dengan mudah toa-suhengnya dapat mengenali. Karena
boleh dikata, hampir semua tokoh2 persilatan yang
ternama, Hok To Beng itu mengenalnya, Apalagi hanya
didaerah puncak Hwe-sian-hong gunung Tiang-pek-san
yang begitu dekat.
Kuatir kalau Gin Liong gelisah, cepat2 Mo Lan Hwa
berseru: "Toa-suheng, aku sudah teringat."
Hok To Beng terkesiap, serunya: "Siapa ?"
"Toa-suheng, mengapa makin tua engkau makin
linglung," seru Mo Lan Hwa dengan nada sok tahu,
"apakah engkau lupa ketika naik ke Hwe sian-hong,
bertemu dengan seorang paderi tua yang mengenakan jubah
?"
Sesungguhnya Gin Liong tak peduli ketika melihat kedua
orang itu tak kenal kepada suhunya. Tetapi demi
mendengar ucapan Mo Lan Hwa, hampir ia tak dapat
menahan gelinya.
"Ih, ada2 saja nona itu. paderi tentu memakai jubah,
masakan pakai pakaian makwa seperti orang biasa,"
pikirnya.
Mo Lan Hwa memang hendak membingungkan pikiran
toa-suhengnya agar jangan melanjutkan pemikirannya
untuk mengingat-ingat nama Liau Ceng taysu itu.
"Ah, aku benar2 tak ingat lagi," seru Hok To seraya
gelengkan kepala.
Ucapan toa-suhengnya itu benar2 membuat si nona
bingung, ia tahu bahwa Gin Liong memandangnya lekat2
sehingga ia tak leluasa memberi isyarat mata kepada toa-
suhengnya.
"Ah, makin tua engkau memang makin limbung,"
akhirnya sekenanya saja nona itu berkata, "apakah engkau
lupa akan lo-siansu yang wajahnya merah segar, alisnya
tebal dan mata jernih, memelihara jenggot yang begini
panjang ...."
Nona itu segera ulurkan tangannya, ditempelkan ke
dadanya sendiri seakan menunjukkan ukuran panjang
jenggot lo - siansu atau paderi tua itu.
Gin Liong terpaksa tertawa, Cepat ia menyeletuk: "Ah,
mungkin yang kalian jumpai itu su-siokcou-ku..."
Hok To Beng tak marah karena diolok-olok sinona. ia
malah tertawa sambil mengurut2 jenggotnya. Kemudian
berseru kepada Gin Liong: "Ya, ya, lo-koko memang sudah
tua sehingga tak tahu siapakah gurumu itu."
Gin Liong hanya tertawa saja.
Tiba2 Hok To Beng berpaling dan bertanya kepada Mo
Lan Hwa: "Siau-moay, apakah engkau sudah memperoleh
kabar?"
"Sebelum tiba di tempatnya, aku sudah dihadang kedua
iblis itu." Mo Lan Hwa bersungut-sungut.
"Kalau begitu, baiklah kita sama2 pergi kesana," Hok To
Beng tersenyum. Lalu berpaling kearah Gin Liong.
"Siau-hengte, pernah engkau mendengar bahwa lebih
kurang sebulan yang lalu, dirumah pondok dalam tanah
lapang disebelah depan itu, muncul seorang tua membawa
kaca cermin ? tanyanya.
Gin Liong menyahut: "Belum, tetapi..."
"Kalau begitu, ayolah kita sama2 melihat ke sana !"ajak
Hek To Beng.
"Tidak, semalam aku sudah kesana..."
Hek To Beng terkesiap. Lalu bergegas tanya:
"Bagaimana caramu pergi ke sana ?"
"Sebenarnya aku tak sengaja ke tempat itu. Aku tak tahu
bahwa tempat itu merupakan sebuah tanah lapang yang tak
terurus. Dan tak tahu bahwa disitu terdapat sebuah rumah
pondok berisi seorang tua membawa cermin, Karena
kebetulan jalan melalui hutan kecil itu, baru kutahu tentang
pondok dan orang tua kurus itu," Gin Liong memberi
keterangan.
"Ih, ketahuilah." seru Mo Lan Hwa terkejut, "tiga
tombak sekeliling pondok itu, sangat berbahaya sekali.
orang tua pembawa kaca itu dapat melepaskan pukulan
maut."
Gin Liong gelengkan kepala.
"Terdorong oleh keinginan tahu, aku tetap menghampiri
jendela pondok, Tetapi ternyata tak mendapat bahaya
apa.2" kata Gin Liong,
Rupanya Hok To Beng kurang percaya, Tetapi ia
percaya Gin Liong itu bukan seorang pemuda yang suka
bohong, Maka bertanialah ia untuk menyelidik:
"Siau-hengte, apa lagi yang engkau lihat dalam pondok
itu ?"
Tanpa ragu2 Gin Liong menjawab. "Diatas meja yang
berada dihadapan orang tua kurus itu, terdapat sebuah
cermin yang gilang gemilang menyilaukan mata !"
"Adik tolol," tiba2 Mo Lan Hwa menyeletuk," itulah
kaca wasiat Te-kia (Kaca Bumi) dari seorang paderi sakti
yang hidup tiga ratus tahun yang lalu, Segala benda pusaka
yang tertanam di tanah, asal pada malam hari disorot
dengan sinar kaca wasiat itu, tentu benda dalam tanah itu
akan memancarkan sinarnya keluar, jika engkau sudah
menghampiri ke jendela, mengapa engkau tak mengambil
kaca wasiat itu ?"
Gin Liong tersenyum dan geleng2 kepala.
"Siau-hengte," Hok To Bengpun ikut berkata, "kalau saat
itu engkau mengambilnya, tentu saat ini engkau, mendapat
julukan adik tolol dari tacimu itu."
Mo Lan Hwa merah mukanya, ia hanya cibirkan
bibirnya dan tak berkata apa2 lagi.
"Lo-koko. siapakah orang tua kurus itu ?" tiba2 Gin
Liong bertanya.
Hok To Beng gelengkan kepala: "Selama belum melihat
sendiri orang itu, aku tak berani memastikan dirinya siapa,
Nanti apabila sudah melihatnya, baru kita ketahui orang
itu, Tetapi kurasa tak mungkin paderi sakti pemilik kaca
itu."
Gin Liong kecewa.
"Ah, semalam dia sudah pergi."
"Benarkah begitu, adik ?" teriak Mo Lan jiwa dengan
nada tegang.
Gin Liong mengangguk.
"Apa yang dikatakan siau-hengte kemungkinan benar,"
kata Hok To Beng, "ketika aku datang kemari, diatas
puncak disebelah muka itu aku bertemu dengan beberapa
tokoh persilatan. Tampak mereka lagi bergegas-gegas
menuju keluar gunung."
"Toa-suheng, kita akan meninjau ke pondok itu atau
tidak ?" tanya Mo Lan Hwa.
"Sekarang tiada gunanya," Hok To Beng gelengkan
kepala, kemudian ia memandang ke langit, katanya pula,
"sekarang hampir tengah hari" Dengan ilmu lari cepat yang
kita miliki, kiranya kita masih dapat mencapai kota kecil di
bawah gunung untuk makan siang."
Karena kuatir Gin Liong akan pergi maka cepat2 Mo
Lan Hwa berseru: "Ya, baiklah, aku memang hendak
berlomba lari dengan adik."
Gin Liong tertawa hambar.
"Ilmu ginkang taci sudah termasyhur di Say-gwa (luar
perbatasan). Sedang, Sedang ilmu ginkang lo-koko tiada
tandingnya dalam dunia persilatan. Mana aku mampu
menandingi ? Ah, aku menyerah saja."
Mendengar dirinya dipanggil taci, hampir Mo Lan Hwa
tak percaya pendengarannya.
"Adik, engkau menyebut aku taci ?" serunya menegas.
Gin Liong terkesiap lalu menyahut: "Engkau memanggil
aku adik, apakah tak selayaknya aku menyebutmu taci ?"
Mo Lan Hwa mengangguk gembira, serunya:
"Ya, memang selayaknya begitu."
Rupanya karena dilanda luap kegembiraan, nona- itu tak
tahu harus berkata apa. Tiba2 ia berputar tubuh dan
mencekal lengan kanan Hok To Beng dan diguncang-
guncangnya.
"Toa-suheng, layak atau tidak kalau adik itu menyebut
aku taci ?"
Hok To Beng juga gembira sekali, ia tertawa gelak2: "Ya,
ya, memang selayaknya."
"Toa-suheng, mari, kita cepat ke kota itu. Nanti engkau
boleh minum beberapa cawan lagi, "seru Mo Lan Hwa.
"Bagus. hari ini aku boleh mabuk lagi," Hok To Bengpun
tertawa girang, Tiba2 ia enjot tubuhnya sampai beberapa
tombak di udara, sekali mengebut lengan baju, diapun
meluncur pesat sekali.
Melihat bagaimana dengan dua kali gerakan saja, Hok
To Beng sudah berada dimuka lembah salju, diam2 Gin
Liong memuji.
"Ah, tak kecewa dia mendapat gelaran nama yang indah
"Menginjak - salju - tanpa - jejak, ilmu ginkangnya memang
luar biasa hebatnya."
"Adik tolol, mengapa diam saja ? Lekaslah kejar, kalau
terlambat sedikit saja. engkau pasti takkan melihat
bayangan lo-koko lagi," tiba2 Mo Lan Hwa menegur Dan ia
sendiripun terus meluncur kemuka, cepatnya seperti anak
panah terlepas dari busur. Yang tampak hanya segulung
asap merah yang. bertebaran diatas permukaan salju tanah,
juga nona itu layak mendapat gelar nama sebagai Swat-te-
biau-hong atau Tanah-salju-bertebar-merah.
"Hm, jika saat ini tak kucoba ilmu ginkang Angin-
meniup-petir-menyambar ajaran suhu, apabila turun
gunung aku tentu tak mempunyai kesempatan untuk
mencobanya lagi, diam2 Gin Liong menimang.
Setelah mengerahkan seluruh hawa murni, segera ia
meluncur kemuka, pikirannya hanya tertumpah pada ilmu
lari itu dan sesaat kemudian ia mendengar angin menderu-
deru disisi telinganya.
Karena kuatir Gin Liong akan tertinggal jauh maka Mo
Lan Hwa sengaja tak mau pesatkan larinya. Tak henti-
hentinya ia berpaling. Tetapi setiap kali berpaling ia terkejut
karena Gin Liong telah mengejarnya dengan pesat.
Melihat itu Mo Lan Hwa segera menambah
kecepatannya. Saat itu segera ia melihat dibawah kaki
bukit, melingkar-lingkar seperti ular panjang, Orang
berjalan hilir mudik.
Melihat Mo Lan Hwa menambah kecepatan, Gin
Liongpun tersenyum. Tetapi ketika memandang Hok To
Beng, ia agak terbeliak, Tubuh Hok To Beng sudah
meluncar turun ke kaki bukit.
Sebagai seorang pemuda sudah tentu Gin Liong masih
berdarah panas, seketika timbul nafsunya untuk
memenangkan perlombaan itu. jika tadi ia menggunakan
gerak ilmu lari Angin meniup, saat itu segera ia robah
menjadi gerak Petir-menyambar
Tubuh pemuda itu segera berobah seperti segulung asap
yang meluncur seperti terbang. Ada suatu ciri aneh dalam
gerak lari Petir-menyambar itu. Bahwa sepasang kaki Gin
Liong mengeluarkan suara desis mirip kumandang petir.
Mo Lan Hwa yang tengah lari se-kencang2 nya terkejut
ketika mendengar dari arah belakang seperti bunyi
mendesis-desis, ia berpaling dan kejutnya makin bertambah
ketika melihat segumpal asap warna kuning tengah
meluncur terbang.
Karena heran ia memandang dengan seksama, Tetapi
tiba2 gumpalan asap kuning itupun sudah lenyap dari
pandang mata.
Mo Lan Hwa memandang kemuka lagi- Ah. hampir ia
tak percaya pada matanya ketika dilihatnya gumpal asap
kuning itu sudah mengejar di belakang tua suhengnya.
Hok To Bengpun mendengar juga suara mendesis itu.
Dia terkejut dan cepat berpaling kebelakang. Ah, ternyata
Gin Liong sudah berada di belakangnya Diam2 ia
meragukan diri tokoh yang menjadi suhu dari Gin Liong.
Segera ia pindahkan pipanya ke tangan kiri dan diam2
kerahkan tenaga, siap dihantamkan ke belakang.
Saat itu Gin Liong makin mendekati jaraknya dengan
Hok To Beng tidak lagi ratusan tombak tetapi hanya
puluhan tombak saja, juga dengan jalanan di kaki bukit
hanya terpisah tak sampai satu li.
Gin Liong tersenyum dan makin mendekati Hok To
Beng.
Gerakan dari Gin Liong yang menimbulkan suara desis
itu makin terdengar jelas oleh Hok To Beng, Sekonyong-
konyong setelah memperhitungkan jaraknya, Hok To Beng
meggembor keras dan secepat kilat mencengkeram siku
lengan kanan Gin Liong,
Gin Liong terkejut Segera ia gunakan gerak Liong-li-
biau, menghindar dan terus melanjut turun kebawah
gunung, cengkeramannya luput, Hok To Beng. makin
terkejut, serunya: "Siau hengte, engkau memang...."
Dia terus loncat menerkam. Demikian keduanya segera
seperti orang terkam menerkam, jaraknya hanya satu meter,
Sekilas pandang menyerupai dua ekor burung rajawali yang
tengah bertarung hebat, meluncur dari udara.
Menilik nada teriakan Hok To Beng itu, tahulah Gin
Liong bahwa tokoh itu tidak mengandung perasaan dengki
terhadapnya Ketegangan hatinyapun mereda.
Mo Lan Hwa yang masih berada pada jarak seratusan
tombak tampak pucat wajahnya ketika melihat gerak gerik
toa-suhengnya.
"Toa-suheng, jangan..." ia tak dapat melanjutkan kata-
katanya karena tersumbat oleh air-mata yang bercucuran
Mendengar teriakan nona itu, Sin Liong terkesiap, ia
lambatkan larinya dan membiarkan bahunya dijamah oleh
Hok To Beng.
Setelah keduanya berdiri tegak, dengan wajah
keheranan, Hok To Beng berulang menepuk-nepuk bahu
Gin Liong.
"Siau hengte, bilanglah sejujurnya..." Tiba2 Hok To Beng
tak melanjutkan kata-katanya karena dilihatnya Gin Liong
berpaling memandang ke lereng gunung dan seketika
wajahnya berobah lalu berteriak: "Taci, pelahan lahan
saja..."
Gin Liongpun terus menyelinap lari keatas lereng. Hok
To Beng terkejut dan ikut berpaling, Kejutnya bukan
kepalang Mo Lan Hwa yang lari secepat angin tidak mau
mengurangi kecepatannya ketika saat itu tiba di kaki bukit.
Gin Liongpun sudah melayang tiba lalu dengan
apungkan tubuh melambung dan menyambar pinggang Mo
Lan Kwa terus dibawa turun dari lereng.
Hok To Beng maju menyambuti dengan hati2 sekali.
Melihat toa-suhengnya, Mo Lan Hwa segera susupkan
kepala ke dada Hok To Beng dan menangis manja.
Hok To Beng mengelus-elus kepala sumoay-nya dengan
perasaan cemas. ia duga tentu terjadi sesuatu dengan Mo
Lan Hwa, Tetapi pada lain kilas, ia menyadari apa yang
menyebabkan sumoay-nya menangis. Segera ia tertawa
gelak2.
Gin Liong terbeliak mematung. Dia merasa tadi Mo Lan
Hwa amat gembira ketika ia memangginya dengan sebutan
taci, Tetapi kini setelah ia memberi pertolongan agar nona
itu jangan sampai menderita bahaya, mengapa malah tak
senang dan menangis.
Tiba2 pula Gin Liong teringat sumoaynya yang ketika
ditinggali pergi masih sakit dan tidur di pembaringan.
Teringat akan diri Ki Yok Lan mengganggu hatinya, Diam2
ia berjanji kepada dirinya sendiri, tak boleh sekali-kali salah
langkah sehingga mencelakai orang, Dan selagi belum
berlarut-larut, ia harus segera meninggalkan Hok To Beng
dan Mo Lan Hwa.
Saat itu Hok To Beng berhenti tertawa lalu pelahan-
lahan mendorong Mo Lan Hwa kesamping, mengusap
airmata gadis itu dan menghiburnya:
"Siaumoay, apakah engkau kuatir kalau aku akan
mencelakai adikmu itu ? Ha, moay tolol, aku bertiga
dengan engkohmu si Gila dan engkohmu si pemabuk itu,
tak boleh mengganggu bocah itu!"
Mo Lan Hwa girang sekali, Sejenak memandang Gin
Liong, ia tertawa gembira.
Gin Liong tersipu-sipu merah dan terpaksa ikut tertawa,
Melihat itu Hok To Bengpun tertawa gelak2. Kemudian
menatap Gin Liong dan berseru dengan serius:
"Siau hengte, bilanglah terus terang, jangan membohongi
lo-koko. siapakah sesungguhnya gurumu itu ?"
Dengan wajah serius, Gin Liongpun menjawab:
"Masakan aku berani membohongi lo-koko. Guruku
memang benar2 kepala dari kuil Leng-hun-si..."
"Aku maksudkan seseorang, apakah siau hengte tentu
tahu !" tukas Hok To Beng.
"Jika tahu masakan aku tak mau mengatakan," kata Gin
Liong,
Sejenak memancarkan sinar kilat pada pandang
matanya, Hok To Beng menatap lekat2 pada wajah Gin
Liong yang cakap, Rupanya ia hendak menyelidiki apakah
Gin Liong itu bohong atau tidak.
"Seorang tunas muda yang menggemparkan dunia
persilatan dengan nama Pelajar-wajah-kumala Kiong Cu
Hun, tahukah siau-hengte ?"
Seketika berobahlah wajah Gin Liong. Air-matanya
berderai-derai turun. Lalu dengan nada menghormat ia
berkata:
"Memang dia adalah guruku."
Hok To Beng mengelus-elus jenggotnya dan tertawa
gelak2.
"Seorang jago muda yang cemerlang, karena
berkecimpung dalam dunia yang penuh debu2 dosa
akhirnya masuk kedalam biara, seharusnya aku si manusia
tua yang tak mati2 ini, harus mengikuti jejaknya masuk
kedalam biara untuk mensucikan diri."
Kemudian ia berkata pula kepada Gin Liong, "Dengan
gurumu sudah hampir sepuluh tahun tak bertemu, Lusa aku
tentu akan memerlukan berkunjung..."
Tiba2 Hok To Beng tak melanjutkan kata-katanya,
karena ia melihat Gin Liong masih berlinang-linang
airmata. Cepat ia menghiburnya: "Siau-hengte..."
Rupanya Gin Liong tak kuasa menahan luapan
kesedihannya, Dengan airmata bercucuran ia berkata:
"Beberapa hari yang lalu, guruku telah dibunuh oleh
orang jahat, Lo-koko takkan bertemu lagi selama-lamanya."
Bukan kepalang kejut Hok To Beng mendengar
keterangan itu. Seketika seri wajahnya berobah tegang,
serunya:
"Siapakah seorang yang memiliki ilmu sedemikian
saktinya, sekalipun empat serangkai Bu-lim-su ih yang
termasyhur itu, juga sukar untuk mencelakai gurumu."
Hok To Beng berhenti sejenak lalu melanjutkan kata-
katanya pula:
"Siau-hengte, kurasa pembunuh itu tentu orang yang
dekat dengan suhumu. Entah siapakah yang menyaksikan
peristiwa itu dan apakah terdapat bukti2 yang dapat
menjadi bahan mencari jejak pembunuh itu, harap siau-
hengte mengatakan dengan terus terang, Mudah mudahan
aku dapat membantu untuk memecahkan jejak rahasia dari
pembunuh gelap itu."
Tiba2 Mo Lan Hwa mengambil sapu dan mengusap
airmata Gin Liong, Pemuda itu merasa sungkan sekali.
Tiba2 ia mencabut sebatang badik emas yang terselip
dalam pinggangnya, katanya:
"Inilah senjata yang ditinggalkan oleh pembunuh gelap
itu."
Menyambuti badik emas itu, wajah Hok To Beng agak
berobah.
"lnilah badik Kim-wan-to yang dapat memotong besi
seperti memotong tanah, Rambut yang ditiup kearah mata
badik itu tentu putus, Yang menggunakan badik semacam
ini kebanyakan orang2 persilatan dari daerah Biau."
Gin Liong tergetar hatinya, Dia baru sadar bahwa Hok
To Beng, pendekar yang aneh dalam dunia persilatan itu,
memang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang
amat luas.
Mo Lan Hwa yang ikut memeriksa, segera menuding
kearah empat buah huruf pada batang badik golok emas itu,
serunya:
"Toa-suheng, lihatlah, apa artinya keempat huruf itu?"
Hok To Beng kerutkan dahi dan berkata: "Mungkin
nama dari seorang wanita Biau." Kembali hati Gin Liong
tergetar keras, Dia makin kagum atas penilaian yang tajam
dari Hok To Beng.
Tiba2 Mo Lan Hwa melengking gembira: "Ooo,
Wulanasa, sungguh sebuah nama yang indah !"
Segera Sin Liong memberi keterangan:
"ltulah Ban Hong liong-li lo cianpwe..."
Mendengar itu Hok To Beng berobah wajahnya, serunya
gopoh:
"Ban Hong Liong-li ? Kemarin sebelum mata hari
terbenam aku masih berjumpa dengan dia di kota kecil
muka itu. Budak itu memang tergila2 dengan Kwan Cu-hun
tetapi karena cinta dia menjadi dendam..."
Mendengar itu memancarkan mata Gin Liong, cepat ia
menukas:
"Lo-koko, apakah saat ini Ban Hong liong-li masih
berada dikota kecil itu ?"
"Entah apa masih disitu...." Terhadap urusan Gin Liong,
Mo Lan Hwa menaruh perhatian istimewa.
"Sudahlah, asal kita tiba di kota kecil itu tentu dapat
mengetahui," cepat ia menyelutuk, lalu melanjutkan lari.
Gin Liong ingin sekali cepat2 tiba di kota kecil itu, Maka
iapun segera berputar tubuh dan lari.
Sambil menyerahkan badik emas kepada Gin Liong, Hoa
To Beng menyusul dan berkata:
"Siau-heng-te, Ban Hong liong-li itu tahun ini paling
banyak baru berusia 28-29 tahun, Mengapa engkau
memanggilnya sebagai locianpwe ?"
"Karena sejak pertama aku dan sumoayku Ki Yok Lan
selalu menyebut locianpwe kepadanya, sekarang sukar
untuk merobah sebutan itu," Gin Liong menjelaskan.
Mo Lan Hwa yang berada di muka ketika mendengar
Gin Liong mempunyai seorang sumoay, diam2 hatinya
mencelos. Sekali menyehatkan tubuh, diapun sudah
melayang ke jalan.
Gin Liong yang polos, mengira Mo Lan Hwa hendak
buru2 mengejar perjalanan, Maka diapun segera berpaling
dan berseru kepada Hok To Beng:
"Lo-koko, mari kita agak cepat berlari !" sebagai seorang
tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan,
tahulah Hok To Beng akan gerak gerik sumoaynya, ia
hanya gelengkan kepala dan terus mengikuti Gin Liong lari.
Tepat pada saat itu terdengarlah ringkik suara kuda yang
terkejut. Suara itu asalnya dari belakang mereka.
Ketika Gin Liong bertiga berpaling, tampak beberapa li
jauhnya, dua ekor kuda sedang mencongklang pesat di
sepanjang jalan, Mereka lari menghampiri kearah Gin
Liong.
Kedua ekor kuda itu cepat sekali larinya, sebaiknya kita
menyingkir saja," kata Gin Liong.
"Ya." kata Hok To Beng, "kuda itu memang luar biasa
cepatnya." iapun terus menyingkir ketepi jalan.
Tetapi Mo Lan Hwa malah mendengus dan tak ambil
peduli, Dengan cibirkan bibir dan santai, ia berjalan
seenaknya di tengah jalan.
Gin Liong kerutkan dahi dan tak mengerti maksud nona
itu.
Tiba2 terdengar suara kuda meringkik keras, Ketika Gin
Liong berpaling, dilihatnya dua ekor kuda bulu hitam
mulus yang bertubuh tinggi besar, tengah meluncur pesat
sekali. Saat itu hanya terpisah setengah li.
Penunggangnya juga dua lelaki bertubuh tinggi besar,
kepala besar dan jidat lebar. Mulutnya penuh ditumbuhi
kumis dan jenggot yang lebat, sepasang matanya berkilat-
kilat amat tajam. Merekapun mengenakan jubah warna
hitam terbuat daripada kulit, Sepintas pandang kedua
penunggang kuda itu memang amat menyeramkan sekali.
"Tar, tar, tar . ..."
Kedua penunggang tinggi besar itu menghardik dan
mengayunkan cambuknya ke udara. Kuda hitam tegar
itupun segera melaju keras, Mereka tak mempedulikan
orang yang berada di tengah jalan.
Riuh rendah derap kedua kuda hitam itu menabur jalan,
jalan yang dilalui tentu meninggalkan hamburan salju yang
lebat dan deru angin yang keras.
Mereka melarikan kuda kearah Gin Liong.
-ooo0dw0ooo-

Bab 4
Empat tokoh aneh
Gin Liong terkejut sekali menyaksikan kecepatan kedua
kuda hitam itu. Tetapi ia marah karena melihat tingkah
kedua penunggang kuda yang tetap melarikan kudanya
sekencang-kencangnya walaupun tahu di tengah jalan
terdapat seorang nona.
"Taci, menyingkirlah ke tepi jalan. kedua kuda itu pesat
sekali larinya !" cepat ia berseru memberi peringatan kepada
Mo Lan Hwa.
Tetapi nona itu tak mau mengacuhkan. Dengan
mendengus ia berseru:
"Hm, kecuali engkau loncat sejauh lima tombak, baru
engkau terbebas dari hamburan salju di jalan !"
Nona itu tetap berjalan santai di tengah jalan.
Gin Liong kerutkan dahi. Berpaling ke belakang,
dilihatnya kedua ekor kuda hitam itu makin dekat.
Bulu surai kuda meregang tegak, mulut meringkik-
ringkik, kakinya seperti terbang, menerjang maju dengan
dahsyat sehingga saat itu jaraknya hanya tinggal dua
puluhan tombak.
Gin Liong marah sekali. Pada saat ia hendak berseru
mencegah, sebuah gelombang asap tebal telah melanda
mukanya, sudah tentu pemuda ini menyedot juga dan
batuk2. Ketika berpaling ternyata asap itu berasal dari pipa
Hok To Beng.
Tampaknya orang tua itu tenang2 saja seperti tak terjadi
suatu apa. Seperti tak tahu bahwa dia akan diterjang dari
belakang oleh dua ekor kuda tegar.
Hok To Beng memandang Gin Liong dengan tertawa
hambar dan serunya santai:
"Kedua orang itu kebanyakan tentu berasal dari padang
Taliwang di Mongolia !"
Baru Hok To Beng berkata sampai disitu, derap lari kuda
makin jelas. Sebelum kuda melanda datang, anginnya
sudah menderu.
Gin Liong makin terkejut. Berpaling ke belakang,
dilihatnya kedua ekor kuda hitam yang tinggi perkasa sudah
tiba di belakang Mo Lan Hwa.
Nona itu kerutkan alis, Tiba2 dengan diiringi teriakan
melengking, ia berputar tubuh seraya dorongkan kedua
tangannya, Seketika itu meluncurlah dua gelombang angin
dahsyat yang membawa debu dan salju, menerjang kedua
ekor kuda tegar itu.
Mo Lan Hwa telah menumpahkan kemarahannya dalam
pukulannya itu. Seketika terkejutlah kedua penunggang
kuda, Mereka menggembor keras dan meloncatkan
kudanya diatas kepala Mo Lan Hwa dan meluncur sampai
tiga tombak jauhnya.
Gin Liong hendak memburu ke tempat Mo Lan Hwa.
Tetapi nona itu sudah melambung ke udara, bergeliatan dan
meluncur turun kearah kedua penunggang kuda.
Dan serempak pada saat itu. Hok To Beng pun ayunkan
tubuh melayang ke muka kuda.
"Kembali !" bentaknya seraya taburkan pipanya ke
udara, menyongsong kedua kuda, Taburan pipa itu
menghamburkan asap tebal sehingga kuda meringkik kaget
dan berontak. Sebelum kedua penunggang tahu apa yang
terjadi, tiba2 sesosok bayangan melayang, membentak dan
menabur asap. Dan tahu2 kedua kuda itu berdiri tegak di
udara.
Menjeritlah kedua penunggang kuda karena kaget dan
buru2 mereka berusaha untuk menguasai tunggangannya.
Tetapi kuda itu sudah kalap. Setelah berputar-putar deras
lalu melayang jatuh ke tanah, membanting kedua
penunggangnya.
"Bum, bum . . . ."
Kedua penunggangnya kuda rontok giginya, mulut
pecah, kepala pusing tujuh keliling.
Saat itu Mo Lan Hwapun meluncur dari udara, maju dua
langkah, membentak dan ayunkan tangan kanannya.
Melihat itu, salah seorang penunggang kuda cepat
meneriaki kawannya: "Ciliwatu, hati - hati, awaslah !"
Dia sendiri terus melenting bangun dan menghantam.
Orang yang disebut Ciliwatu itu rupanya sudah tahu
kalau dirinya diserang si nona. Pada saat kawannya
bergerak, dengan jurus Ikan Leihi melenting, diapun
melambung ke udara sampai dua tombak, lalu dengan gerak
bergeliatan, dia melayang turun.
Bum . . . .
Ketika terjadi benturan antara pukulan Mo Lan Hwa
dengan penunggang kuda yang seorang, keduanya
terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah.
Ciliwatu terkejut. Cepat ia bergeliat dan meluncur ke
tanah, Hampir tiada suaranya ketika kakinya menginjak
tanah.
Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa kedua
penunggang kuda dari Mongol itu, walaupun bertubuh
besar tetapi memiliki gerak yang lincah dan gesit sekali,
"Alihapa," cepat Ciliwatu berkata kepada kawannya,
"anak perempuan baju merah itu jauh lebih cantik dari
anak2 perempuan di sarang kita. Hayo kita bawa pulang
untuk kita berdua !"
Habis berkata ia terus mengeluarkan sebuah rantai yang
ujungnya merupakan semacam gembolan, mirip pukul besi,
Besarnya menyamai kepalan tangan, diikat dengan rantai
sepanjang hampir satu tombak.
Gembolan besi itu dihias dengan duri2 besi mirip gigi
serigala, Ditingkah sinar matahari gembolan itu tampak
hitam mengkilap.
Karena terhuyung mundur tiga langkah, merahlah wajah
Alihapa. Alisnya mengernyit, mata mendelik dan mulut
menyeringai buas, Tangannya yang penuh bulu segera
merogoh kedalam pinggang baju dan mengeluarkan
sebatang ruyung sembilan ruas, terbuat dan rantai perak.
Segera ia tertawa aneh dan dengan geram berseru:
"Anak perempuan tenagamu hebat juga. Awas jangan
sampai tanganmu patah !" ia ayunkan langkah
menghampiri Mo Lan Hwa.
Wajah Mo Lan Hwa tampak pucat dan tubuhnya
menggigil ketika mendengar dirinya disebut "anak
perempuan", hampir dadanya meledak. Dengan cepat ia
mencabut pedang terus ditusukkan kearah orang Mongol
itu.
"Sring. . . ."
Alihapa kebaskan ruyung-sembilan-ruas. Bagaikan
seekor naga bercengkerama di atas laut, ruyung itupun
segera bergemerlapan melibat pedang Mo Lan Hwa.
Cepat si nona turunkan pedangnya, berputar tubuh dan
melancarkan jurus Cay-hong-canki atau Burung-
cenderawasih-merentang-sayap, pedang berobah menjadi
segelombang sinar pelangi dan secepat kilat memapas
lengan kanan Alihapa.
"Bagus !" seru Alihapa, Ruyung perak segera diganti
dalam gerak putaran deras sehingga mengembangkan
ratusan sinar ruyung, menyelubungi tubuh Mo Lan Hwa.
Segera tampak suatu pemandangan yang menyilaukan
mata, sinar perak bergemerlapan, diiringi sambaran ruyung
yang menderu-deru. Sinar pedang selebat hujan mencurah,
memancarkan sinar gemilang yang amat kemilau.
Ciliwato dengan siapkan rantai bandulan ditangan,
mengikuti pertempuran itu dengan penuh seksama. Setiap
saat, ia siap turun tangan membantu kawannya.
Tetapi Gin Liongpun diam2 melewatkan perhatiannya
kepada Ciliwato untuk menjaga jangan sampai dia
melepaskan senjata gelap kepada Mo Lan Hwa.
Pertempuran makin seru dan dahsyat. Mo Lan Hwa
memiliki kelincahan tubuh yang tinggi dan ilmu pedang
yang aneh, Alihapa memiliki tenaga yang gagah perkasa
dan ilmu permainan ruyung yang sempurna.
Cepat sekali tiga puluh jurus telah berlalu. Keduanya
masih tetap berimbang, belum tampak siapa yang lebih
unggul.
Tiba2 Gin Liong teringat Kemanakah Hok To Beng ?
Mengapa sejak tadi tak kedengaran suaranya ?
Ketika Gin Liong mengeliarkan pandang, dilihatnya Hok
To Beng sedang naik keatas punggung salah seekor kuda
hitam, tubuh merebah ke muka. Mulutnya tengah
menghembuskan asap dari pipa. Sedang tangan kiri
menjamah kepala kuda yang lain, memandang acuh tak
acuh kearah gelanggang. Rupanya dia tak begitu
memikirkan tentang siaumoay nya yang tengah bertempur
seru itu.
Melihat Gin Liong memandangnya Hok To Bengpun
mengangguk tertawa lalu menghembuskan lagi segulung
asap tebal.
Diam2 Gim Liong mengeluh dalam hati, Pendekar aneh
yang sudah tua itu memang aneh tingkah lakunya.
Masakan sumoaynya bertempur dia malah enak2
menguasai kedua ekor kuda musuh. Dan memang tak
berapa lama kemudian, ia berhasil membuat kedua ekor
kuda itu jinak.
Tiba2 terdengar lengking teriakan nyaring disusul dengan
bentak kemarahan.
Gin Liong cepat berpaling. Serentak berkobarlah
kemarahannya, Dengan menggembor keras, ia segera
lepaskan sebuah hantaman
Gelombang angin dahsyat yang menderu-deru segera
menghambur kearah Kiliwato yang menyerang gelap pada
Mo Lan Hwa dengan rantai gembolannya.
Ciliwato berteriak kaget. Cepat ia menarik pulang rantai
gembolannya dan terus menggembor keras seraya loncat
menghindar sampai dua tombak.
Begitu berdiri tegak, ia segera memutar rantai gembolan,
menyerang Gin Liong, Pemuda itu hanya tertawa dingin,
Selekas menggeliatkan tangan kanan, ia sudah mencekal
pedang Tanduk Naga.
Tepat pada saat itu terdengarlah jeritan yang ngeri
melengking di udara, Sebuah benda macam ular perak
meluncur ke udara, Ternyata ruyung perak dari Alihapa
telah dibabat mencelat ke udara oleh pedang Mo Lan Hwa.
"Tring”
Rantai gembolan yang diluncurkan Ciliwato, pun disabat
putus oleh pedang Tanduk Naga, Gembolan melayang ke
udara dan meluncur ke-muka Hok Tok Beng.
Tetapi Hok To Beng diam saja. Begitu gembolan hampir
mengenai mukanya, barulah ia gerakkan pipanya untuk
menyongsong. Tring, gembolan besi itupun meluncur ke
belakang kuda. Karena kaget, kedua ekor kuda berpencar
melonjak ke samping.
Tiba2 Hok To Beng menggembor keras lalu melambung
ke udara dan meluncur turun ke jalan.
Karena tak mengerti apa yang terjadi. Gin Liong
berpaling Ah, ternyata kedua orang Mongol tadi telah
melarikan diri sekencang kencangnya. Sedang Mo Lan Hwa
masih tegak berdiri dengan mengulum tawa, ia memandang
kedua orang Mongol itu tetapi tak mau mengejar.
"Hai, budak, apa enak2 saja engkau hendak pergi ?"
teriak seseorang.
Ternyata yang berteriak itu Hok To Beng, Sambil
meluncur dari udara, pipanya yang masih berapi itu
dihujamkan kebelakang tengkuk Ciliwato.
Karena kesakitan terbakar api, Ciliwato menjerit-jerit
dan mempercepat larinya, Demikian Alihapa. Dengan
bercucuran keringat dingin ia lari secepat-cepatnya.
Begitu berlari di tanah, Hok To Bengpun tertawa gelak2.
Mo Lan Hwa segera menghampiri dan melengking marah:
"Toa-suheng, mengapa engkau gemar membakar
tengkuk kepala orang dengan pipamu ? Kalau sampai
membakar tengkuk orang apakah tidak berbahaya ?"
Hok To Beng tertawa gelak.
"Ilmu Menyorong-api-kepada-tetamu" ini sudah
berpuluh-puluh tahun kugunakan dan belum pernah
membakar tengkuk orang!"
Kemudian ia berganti nada serius: "Terhadap manusia
yang kasar dan liar semacam mereka, harus digunakan cara
untuk mematahkan kesombongannya. Sedikit menyuruh
mereka merasa sakit pada kulit rasanya tidak menjadi soal
jangan sampai melukai atau membunuh jiwanya. Kau harus
memberi kesempatan agar mereka mau sadar."
Sejenak memandang kepada kedua orang Mongol itu,
Hok To Beng melanjutkan pula:
"Sudah tentu terhadap manusia yang kejam dan jahat,
tak boleh diberi ampun."
Habis berkata pipanya menjulai ke tanah dan serentak
terdengarlah rentetan bunyi mendesis. Salju yang menutup
tanah pun telah luluh.
Gin Liong dan Mo Lan Hwa tertawa geli, "Setiap kali
toa-suheng melancarkan ilmu Menyongsong-api-kepada-
tetamu, orang tentu akan lari tunggang langgang," kata Mo
Lan Hwa.
Hok To Beng tertawa gelak2. Tiba2 dari jauh terdengar
segelombang ringkik kuda yang nyaring dan panjang.
Ah, ternyata kedua ekor kuda hitam itu berada pada
jarak seratusan tombak. Kedua binatang itu ternyata tak
mau menyusul tuannya yang melarikan diri.
"Ho, kedua manusia kasar itu tak mau lagi dengan
kudanya," Hok To Beng tertawa, Memandang kearah
kedua orang Mongol yang sudah beberapa li jauhnya itu,
dia berkata pula, ah kita terpaksa harus mengembalikan
kepada mereka lagi."
Habis berkata dia terus songsongkan pipanya kepada
kuda itu seraya bersuit. Entah bagaimana kedua ekor kuda
itu meringkik keras dan lari pesat menghampiri. Begitu Hok
To Beng mengangkat pipanya keatas, kedua kuda itupun
lambatkan larinya, Ketika tiba di tempat Hok To Beng
kedua binatang itu berputar dua kali mengitari Hok To
Beng lalu berhenti didepannya.
Hok To Beng menyarungkan pipa ke belakang
tengkuknya lalu pelahan-lahan mengelus-elus leher kuda
itu. Kedua itu tampak jinak dan menurut sekali.
Gin Liong ingin juga meniru. ia mengajak Mo Lan Hwa
untuk mengelus-elus leher kuda yang seekor Tetapi si nona
takut.
"Siaumoay, jangan takut, masak jangan memegang
pantatnya, kuda itu takkan menyepakmu." seru Hok To
Beng. Ia memberikan kuda hitam yang keempat kakinya
putih kepada Mo Lan Hwa dan kuda yang hitam mulut
kepada Gin Liong, serunya:
"Cobalah kalian mengelus-elus, kalau sudah
dikembalikan pada yang empunya, kalian tak mempunyai
kesempatan lagi."
Kedua anak muda itu memberanikan diri untuk
mengelus-elus kuda tegar itu.
"Lo-koko, mereka sudah tak kelihatan bayangannya lagi,
Kita harus lekas mengejar supaya jangan kehilangan jejak
mereka.
"Jangan kuatir." Hok To Beng tertawa, "tak sampai
seperempat jam mereka tentu dapat tersusul."
Kemudian ia menerangkan bahwa kuda hitam berkaki
putih itu disebut Oh-hun-kay-swat atau Awan hitam
menutup salju, Sedang kuda hitam mulus disebut Oh-yan-
ma atau kuda Hangus hitam. Kedua kuda itu merupakan
kuda yang jarang terdapat diantara ratusan ribu kuda.
"Larinya cepat dan tenang. Duduk dipunggung mereka
dengan membawa cawan berisi air, airnya takkan
menumpah." kata Hok To Beng.
"Ah, sayang sebagus ini jatuh ditangan manusia yang
tolol," seru Mo Lan Hwa.
"Eh, jangan memandang rendah kepada kedua orang
Mongol itu, seru Hok To beng. "menilik mereka tentu
tersohor tokoh Lan-cut (kepala penternakan) di daerah
padang Taiiwo. Tokoh silat kelas satu dewasa ini, tak
mudah untuk mengalahkan mereka berdua."
Saat itu Gin Liong tak mempunyai selera lagi untuk
mendengarkan ocehan Hok To Beng. Melihat matahari
sudah berada di tengah suatu tanda kalau sudah tengah
hari, ia gelisah.
"Siau-hengte, apa engkau kuatir tak dapat menyusul
kedua orang Mongol itu ?" tegur Hok To Beng.
"Bukan," sahut Gin Liong, "yang kucemaskan kalau
Liong-li locianpwe sudah pergi dari kota kecil itu."
"Baik, mari kita berangkat," kata Hok To Beng "kalian
boleh masing2 naik kedua ekor kuda itu dan aku akan
mengikuti dari belakang."
Gin Liong masih meragu, Tiba2 Mo Lan Hwa sudah
loncat ke atas punggung salah seekor kuda dan entah
dengan gerak bagaimana, Hok To Beng-pun sudah
melambung dan berdiri diatas pantat kuda hitam kaki putih
atau kuda Gin-hun-kay-swat.
Terpaksa Gin Liongpun terus menceplak kuda yang
seekor. Hok To Beng memutar pipa dan berseru pelahan
maka kedua ekor kuda itupun terus lari.
Diatas kuda, Gin Liong masih gelisah, Apakah ia dapat
menyusul kedua orang Mongol dan apakah Liong-li
locianpwe apakah masih berada dalam kota. Pikirnya,
apabila bertemu dengan Ban Hong Liong-li, tentu ia dapat
mengetahui siapakah pembunuh suhunya itu, Begitu pula
tentang kawanan paderi jahat dan pertempuran dalam gua
itu, tentu akan jelas semua."
"A, ti-ti-ti, hu . . ." tiba2 terdengar Hok To Beng berseru
keras dan pada lain kejap kuda hitam kaki putih yang
dinaiki Mo Lan Hwa secepat angin telah melampau kuda
Gin Liong, Pada hal kuda hitam kaki putih itu pantatnya
memuat Hok To Beng yang berdiri jejak.
Gin Liong terkejut Cepat ia menekan kendali kudanya
dan kuda hitam mulus itupun segera meluncur pesat
melampaui kuda hitam kaki putih.
Mo Lan Hwa menjerit-jerit memerintahkan kudanya
supaya mengejar kuda hitam mulus, Melihat perlombaan
itu, Hok To Bengpun tertawa gembira.
Saat itu disebelah depan terbentang sebuah hutan lebat,
Gin Liong seperti terbang rasanya, Ketika berpaling
dilihatnya Mo Lan Hwa tertinggal tiga-puluhan tombak
dibelakang walaupun mengerti ilmu naik kuda dan sudah
beberapa kali naik kuda tetapi belum pernah ia naik kuda
yang sepesat angin itu cepatnya.
Setelah melintasi hutan ternyata di jalan sebelah muka,
bayangan Alihapa dan Ciliwato tak tampak lagi. Segera ia
lambatkan kudanya, tiba2 kuda hitam kaki putih dari Mo
Lau Hwa sudah melampauinya. Hok To Beng enjot
tubuhnya bergeliatan di udara dan melayang turun diatas
pantat kuda Gin liong.
"Siau-hengte, kepraklah kudamu !" seru Hok To Beng.
"Mengapa kedua orang itu tak tampak ?" tanya Gin
Liong.
"Nanti kita bicara lagi di kota, Memang gerak-gerik
kedua orang itu luar biasa," sahut Hok To Beng.
Begitu tiba di pinggir kota, agar jangan mengejutkan
orang, Hok To Bengpun loncat turun, Gin Liong dan Mo
Lan Hwapun mengikuti kemudian mereka bertiga berjalan
kaki menuju ke tengah kota.
Kota itu tak berapa besar, jalannya cukup lebar dan
penuh dengan rumah2 penduduk. Selain kaum pedagang,
juga tak sedikit orang2 persilatan yang berjalan.
"Lo-koko, dimanakah engkau melihat Liong-li cianpwe
?" tanya Gin Liong.
"Di hotel itu," kata Hok To Beng seraya menunjuk
sebuah rumah penginapan.
Rumah penginapan itu satu2 nya hotel di kota itu.
Bangunannya terdiri dua tingkat.
Dari diloteng atau tingkat kedua dari rumah makan itu
tampak suara orang tertawa dan bicara dengan gembira.
Macam sedang menghadiri suatu perjamuan makan.
"Biasanya yang tiba di kota kecil ini hanya pedagang2.
Tetapi sejak munculnya si orang tua membawa kaca wasiat
itu, banyaklah kaum peralatan yang datang ke sini," kata
Hok To Beng.
Pada saat Gin liong keliarkan pandang mata, ia memang
memperhatikan bahwa diantara beberapa orang yang
tengah memandang kepadanya itu adalah orang2 yang
pernah dilihatnya berada di tanah lapang sekeliling rumah
pondok di hutan itu.
"Toa-suheng, kita cari kamar yang tersendiri sajalah,"
kata Mo Lan Hwa, "diatas loteng terlalu berisik sekali."
Begitu tiba di muka rumah penginapan itu, dua orang
pelayan segera menyambut. Yang seorang menuntun kedua
ekor kuda hitam mereka terus hendak dibawa ke istal kuda.
Dan yang seorang segera memberi hormat kepada Hok To
Beng.
"Loya, mau minum arak atau ingin bermalam disini?"
tanyanya.
"Ada kamar besar ?" tanya Hok To Beng. Jongos itu
mengatakan ada dan lalu membawa ketiga tetamu menuju
kesebuah kamar besar. Hok To Beng setuju. Tak lama
kemudian seorang jongos mengantar minuman teh.
"Bung, apakah ada dua orang tinggi besar, mengenakan
pakaian kulit warna hitam, berkopiah warna hitam yang
menginap disini ?" tanya Hok To Beng.
Jongos menyatakan tak ada. Hok To Beng heran dan
memandang Gin Liong serta Mo Lan Hwa dengan pandang
bertanya,
"Tolong tanya," kata Gin Liong kepada jongos itu pula,
"apakah ada seorang nona berpakaian warna merah, umur
lebih kurang 26-27 tahun yang datang kemari?"
"Ya, ada, ada," kata jongos.
"Dia tinggal di kamar mana ?" Gin Liong cepat
mendesak.
"Semalam li-hiap (pendekar wanita) baju merah itu
tinggal di kamar sebelah, Setelah makan malam dia terus
pergi."
Gin Liong kecewa sekali, Hok To Beng segera minta
jongos itu membawakan hidangan. Sesaat kemudian jongos
itu pergi maka bertanialah Hok Tu Beng kepada Gin Liong.
"Siau-hengte. apakah engkau tak menuduh bahwa yang
membunuh suhumu itu Ban Hong Liong-li sendiri ?"
"Tidak, Ban Hong liong-li locianpwe tentu takkan
berbuat begitu."
"Tetapi mengapa dia begitu terburu-buru sekali sampai
menyewa hotel hanya makan terus pergi ?"
Gin Liong menerangkan: "Liong-li cianpwe pernah
mengatakan kepadaku bahwa dia harus menempuh
perjalanan siang malam..."
"Adik engkau pernah melihatnya ?" Mo Lan Hwa
terkejut.
"Bukan saja pernah melihat bahwa siau-hengte ini
pernah menerima pelajaran silat dari dia." tukas Hok To
Beng.
"Hai, bagaimana toa-suheng tahu ?" Mo Lan Hwa makin
heran.
Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Tadi sewaktu
turun tangan, apa engkau tak melihat aku telah gagal
menyambar tangan siau hengte, karena siau-hengte
menggunakan gerak Liong-li -biau ?"
Pada saat itu jongospun datang membawa hidangan
Mereka bertiga segera menyantapnya.
Mo Lan Hwa sibuk melayani, menuangkan arak untuk
toa-suheng dan Gin Liong. Dia sendiripun minum juga.
Setelah habis dua cawan, tampak pipinya kemerah-merahan
seperti bunga mawar, bibir makin segar dan sepasang bola
matanya tampak bersinar, Nona itu makin bertambah
cantik sekali.
Gin Liong terlongong-longong.
Melihat dirinya dipandang oleh anak muda itu, Mo Lan
Hwa tundukkan kepala. Hatinya amat bersuka cita.
Rupanya Gin-Liong menyadari bahwa perbuatannya itu
kurang senonoh, Maka diapun segera beralih memandang
Hok To Beng.
Hok To Beng tengah menggerogoti sebuah paha ayam
panggang. Dia tak mengacuhkan apa2 lagi.
Tiba2 terdengar derap langkah orang bergegas menuju ke
dalam kamar sebelah. Brak, terdengar suara meja ditampar.
"Bagaimana, mengapa kalian begitu cepat sudah
kembali?" seru seseorang dari kamar sebelah.
Seorang lelaki bernada kasar menyahut marah: "Ketika
kami pergi, rumah kecil itu sudah kosong, orangnya sudah
pergi."
"Huh, kemarin sore masih kudengar orang mengatakan
bahwa ditempat itu penuh dikerumuni orang." kata orang
yang pertama tadi.
Orang yang bernada kasar, menyahut: "Memang benar
tetapi mereka tinggal mayat yang berserakan disana sini."
"Hai, siapa saja mereka itu ?" Lelaki bernada kasar itu
menerangkan: "Pengemis jahat - kaki- telanjang Jenggot-
terbang, Nenek-buta- tongkat-burung-hong, paderi Hoa,
Lima-ular-berbisa, Kuku-garuda, seorang imam tua dan
masih terdapat pula seorang kakek tua."
Berhenti sebentar, ia berkata pula dengan gopoh: "Mari
kita pergi, mereka sudah menunggumu diluar hotel."
Terdengar langkah kaki orang bergegas keluar dari
kamar dan tidak lama lenyap di halaman.
Mendengar nama pengemis kaki telanjang dan paderi
gemuk yang ikut terkapar sebagai mayat, serentak
teringatlah Gin Liong akan imam jenggot indah yang
berwibawa itu.
"Lo-koko, apakah kenal dengan seorang to-tiang yang
wajahnya mirip seorang dewa?" segera ia bertanya kepada
Hok To Beng.
"Coba terangkan imam itu." kata Hok To Beng.
Setelah mendengar keterangan dari Gin Liong, Hok To
Beng tertawa gelak2, serunya:
"Ho sungguh tak kira kalau imam hidung kerbau itu juga
tergerak nafsunya, Dari ribuan li dan melintasi gunung,
menyebrang laut, dia perlu kan juga datang ke Tiang-pek-
san !"
"Lo-koko, siapakah lotiang itu ?"
Sambil mengelus-elus jenggot, Hok To Beng menatap
Gin Liong, serunya:
"Siau-hengte, pernahkah engkau mendengar tentang
keempat tokoh Bu-lim Su-ik ?"
Gin Liong mengangguk.
"Suhu pernah menceritakan kepadaku," katanya,
"keempat Bu-lim Su-ik dan lo-koko bertiga Swat-thian Sam-
yu itu merupakan tujuh tokoh dunia persilatan yang disebut
Ih Iwe-jit-ki."
Hok To Beng terbahak-bahak : "Ah, hal itu sudah usang.
sesungguhnya aku tak layak termasuk dalam Jit-ki (tujuh
tokoh aneh) itu."
"Toa-suheng, imam itu apakah bukan yang toa-suheng
katakan sebagai Hun Ho totiang dari pulau Hong-lay-to itu
?" Lan Hwa menukas.
"Siapa lagi kalau bukan imam hidung kerbau itu." Hok
To Beng mengangguk.
"Adakah lo-koko pernah bertemu dengan Thian-lam Ji-gi
?"
Hok To Beng tersenyum: "Mungkin tak berjodoh karena
sudah dua kali aku ke selatan tetapi tak pernah berjumpa
dengan kedua tokoh sakti dari Thian-lam itu."
Gin Liong kerutkan dahi: "Lo-koko, apakah engkau tak
menganggap bahwa kakek yang membawa kaca wasiat itu
bukan salah seorang dari Thian Lam Ji-gi ?"
Hok To Beng merenung sejenak, "Sukar untuk
mengatakan secara pasti," katanya sesaat kemudian," tetapi
peristiwa itu sudah menggemparkan dunia persilatan.
Kurasa peristiwa itu tentu akan segera terungkap !"
Kemudian ia menanyakan apakah Gin Liong dan Lan
Hwa sudah selesai makan.
"Baik, mari kita segera mencari kedua kutu busuk itu,"
kata Hok To Beng setelah kedua anak-muda itu
mengangguk.
Segera mereka bertiga keluar dari kamar seorang jongos
segera menyambut dan menanyakan apakah ketiga tetamu
itu hendak keluar jalan2.
"Hari masih sore, kita akan melanjutkan perjalanan lagi,"
sahut Hok To Beng. Kemudian ia membayar rekening dan
ongkos memberi makan kedua kuda.
Pada saat mereka bertiga baik kuda, tiba2 jongos
bergegas keluar menghampiri Hok To Beng.
"Tuan, kedua kawan tuan itu sudah berlalu," kata jongos
itu.
"Siapa ?" Hok To Beng heran.
"Yang tuan tanyakan kedua tetamu tinggi besar,
memakai jubah dan kopiah kulit, mata besar dan mulut
lebar tadi..."
Melihat gerak-gerik si jongos, Hok To Beng tertawa,
sehingga jongos itu melongo.
"Kemanakah perginya kedua orang itu ?" tegur Lan
Hwa.
"Ke barat sana !" si jongos menunjukkan jarinya ke barat
"Hayo kita berangkat," seru Hok To Beng setelah
menghaturkan terima kasih kepada jongos itu.
Banyak sekali orang persilatan yang datang dan pergi
dari kota itu. Setiba diluar kota, Hok To Beng berpaling dan
hendak bicara tetapi ketika melihat wajah Gin Liong dan
Lan Hwa mengerut kegelisahan, ia tahu apa yang
dipikirkan kedua anak muda itu.
"Siau-hengte." seru Hok To Beng tertawa," jangan kuatir
kalau tak dapat mengejar Liong-Ii locianpwe itu, Setiap
orang yang hendak menuju ke selatan, tentu harus berhenti
di teluk Taylian menunggu perahu, Kalau kita agak cepat
berjalan, kemungkinan kita dapat tiba lebih dulu disana."
Kemudian Hok To Beng berkata pula kepada Gin Liong:
"Kalau Ban Hong Liong-li tak berada di Taylian, akan
kuminta tacimu untuk menemani engkau ke Kanglam."
Mendengar itu Lan Hwa tertawa gembira, Kebalikannya
diam2 Gin Liong kerutkan dahi.
"Adik, mari kita melanjutkan perjalanan lagi," kata Lan
Hwa seraya loncat kepunggung kudanya. Gin Liongpun
juga loncat keatas kudanya, sedangkan Hok To Beng-pun
sudah berdiri di pantat kuda.
Kedua kuda tegar itu segera mencongklang pesat, Tetapi
tiba2 mereka mendengar suara gemuruh dari belakang,
Ketika berpaling dilihatnya berpuluh-puluh orang persilatan
yang menunggang kuda, menerobos keluar dari kota,
Mereka berteriak-teriak hendak menangkap pencuri kuda.
Di jalan itu tiada tampak lain orang lagi kecuali Gin
Liong bertiga, Sudah tentu dia marah mendengar teriakan
kawanan penunggang kuda itu, ia hentikan kudanya,
Melihat itu Lan Hwapun hentikan kuda dan berputar ke
belakang.
Tiba2 terdengar desing tajam dari sebatang anak panah
pertanyaan yang meluncur ke udara.
Melihat itu Hok To Beng tertawa, katanya kepada Gin
Liong:
"Siau-hengte, mereka adalah anak buah dari Macan-
tertawa Oh Thian Pa dari gunung Thian-po-san. Berhati-
hatilah dengan Kau-kin-tiang-pian (cambuk dari urat naga)
mereka."
Waktu memandang dengan penuh perhatian, Gin Liong
memang melihat berpuluh kawanan penunggang kuda itu
masing2 mencekal sebatang cambuk sepanjang satu tombak
lebih.
Saat itu kawanan penunggang kuda membentuk diri
dalam bentuk seperti busur, dan lari kencang menyerbu ke
arah Gin Liong bertiga. Sambil berdiri diatas pantat kuda
hitam mulus, Hok To Beng melambaikan pipa ke udara dan
berseru nyaring:
"Saudara dari markas Som-lim-say, dengarkanlah ! Aku
Hok To Beng, suruhlah pemimpin barisanmu tampil bicara
dengan aku."
Saat itu kawanan penunggang kuda hanya terpisah dua-
puluhan tombak, Tampaknya mereka tak mempunyai
pemimpin.
Melihat itu Gin Liong dan Lan Hwa segera mencabut
pedang. Tetapi saat itu berpuluh-puluh penunggang kuda
sudah mengepung, Wajah mereka memberingas dan
serempak mengayunkan cambuknya kearah Gin Liong
bertiga.
"Tring, tring, tring. . . . dengan tangkas Gin Liong dan
Lan Hwa segera memutar pedang untuk membabat
berpuluh-puluh cambuk itu. Ketika beradu dengan pedang
Tanduk Naga, berpuluh-puluh Kau-kin-tiang-pian atau
cambuk-urat-naga berhamburan putus..
Sedang Hok To Beng dengan tertawa gelak2
mengayunkan pipanya untuk menyapu serangan cambuk.
Terdengar pekik jeritan kejut. dan kesakitan dari
berpuluh-puluh penunggang kuda itu ketika cambuk mereka
terlempar jatuh, Dan menyusul terdengar beberapa tubuh
mereka terjungkal dari kuda.
Kembali dari arah kota kecil itu menggemuruh suara
kuda berlari, Hampir seratus penunggang kuda menerobos
keluar dan mencongklang pesat.
Dua ekor kuda berbulu hijau dan merah, dan berada
paling depan dinaiki oleh sepasang lelaki perempuan yang
mengenakan pakaian ringkas atau pakaian orang persilatan
warna kuning emas.
Dibelakang kedua orang itu, empat lelaki berpakaian
warna putih perak menunggang empat ekor kuda putih.
Rupanya keenam penunggang kuda itulah yang menjadi
pemimpin dari barisan kuda yang jumlahnya hampir seratus
ekor.
Melihat itu Hok To Beng bahkan tertawa gelak2 dan
berseru: "Hai, berhentilah kalian, lihatlah pemimpin kalian
suami isteri telah datang!"
Sambil berkata Hok To Beng ayunkan pipanya dan
rubuhlah seorang lawannya lagi, terjungkal jatuh dan
kudanya.
Berpuluh-puluh penunggang kuda yang menyerang Gin
Liong bertiga itu, sesungguhnya sudah kewalahan. Melihat
saycu atau pemimpin mereka datang, timbullah
semangatnya lagi.
Yang sudah kehilangan cambuk, berteriak-teriak
memberi bantuan semangat kepada kawan-kawannya yang
masih mencekal cambuk, serangan merekapun makin
gencar.
"Tring, tring, tring . . . ."
Terdengar dering benda keras beradu. Gin-Liong terkejut
dan berpaling. Dilihatnya seorang lelaki tua bermata bundar
bibir tipis, pakaian compang camping, tengah mengobat-
abitkan sebatang tongkat bambu wulung, menghantam
kawanan penunggang kuda yang tengah menyerang Gin
Liong bertiga.
Seketika gemparlah kawanan penunggang kuda. Mereka
menjerit dan memekik, berhamburan menyingkir pergi.
"Hong koko, orang2 itu memang menjengkelkan sekali.
Hajarlah mereka !" tiba2 terdengar Lan Hwa berseru.,
Gin Liong terkejut. Segera ia mengetahui bahwa lelaki
tua yang berpakaian seperti pengemis itu adalah Hong-tian-
siu atau si Gila yang bergelar Keng-joh-hui-heng atau
Terbang-diatas-rumput.
Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Gila, jangan
keliwat keras yang memukul, tuh Oh Thian-Pa sudah
datang !"
Tepat pada saat itu terdengarlah suara seseorang berseru
gopoh: "Harap lo-cianpwe berdua suka berhenti. Wanpwe
Oh Thian Pa akan menghaturkan maaf."
Suara itu diserempaki dengan tibanya dua penunggang
kuda, Oh Thian Pa yang bergelar Siau-bin-hou atau si
Macan-tertawa, bertubuh tinggi besar dan mengenakan
pakaian kuning emas. Alisnya tebal, mata besar, wajah
empat persegi, kulitnya putih bersih tiada tumbuh kumis.
Seorang yang memberi kesan baik.
Isteri dari Oh Thian Pa bernama Toknio-nio atau
Wanita-beracun, Mengenakan pakaian kuning emas dan
membawa pedang emas. wajahnya cantik.
Sedang keempat ekor kuda putih yang mengiring
dibelakang, masih berada tiga-puluhan tombak jauhnya,
Seratus ekor barisan kuda itu, berhenti dan berjajar-jajar.
Begitu tiba dihadapan Hok To Beng dan Hong-tian-soh,
suami isteri Oh Thian Pa segera loncat turun dari kudanya.
Gin Liong dan Lan Hwapun menyimpan pedang lalu
turun dari kuda dan berdiri di belakang kedua jago tua.
"Wanpwe suami isteri Oh Thian Pa dan Pik Li-hoa
menghaturkan hormat kepada locianpwe berdua, Entah
anak buah kami melakukan kesalahan apa terhadap lo
cianpwe berdua, wanpwe mohonkan maaf."
Mendengar pemimpinnya minta maaf, kawanan
penunggang kuda itu serentak berjongkok ditanah dan
minta ampun kepada kedua pemimpin mereka,
"Ah, Oh saycu terlalu merendah diri." kata Hok To
Beng, "peristiwa ini hanya suatu kesalahan faham saja..."
"Oh Thian Pa, jangan pura2 tak tahu," cepat Hong-tian-
soh menukas, "anak buahmu hendak merebut kedua ekor
kuda dari Setan Asap dan adik perempuannya !"
Melihat gelagat kurang baik, cepat2 Hok To Beng
memukulkan pipanya ke tongkat bambu wulung Hong-tian-
soh.
"Mengapa ?" si Gila terkejut.
"Hong koko, kedua ekor kuda ini kemungkinan memang
milik mereka." cepat Lan Hwa mendahului.
"Sekalipun kuda mereka tetapi mengapa mereka begitu
ngotot turun gunung mengejar sampai kemari ?" tukas
Hong tian-soh.
Gin Liong kerutkan dahi, ia merasa Hong- tian-soh itu
lebih gila lagi wataknya dari Hok To Beng.
Tetapi ternyata bukan saja tak marah, kebalikannya Oh
Thian Pa dan Pik Li-hoa tertawa.
Kemudian Oh Thian Pa membentak anak buahnya yang
masih bersimpuh di tanah itu suruh mereka lekas
menggabung dalam barisannya berpuluh-puluh penunggang
kuda tadi, pun segera berbangkit dan menuntun kudanya
menuju kedalam barisan.
"Sungguh berwibawa! Sungguh menyeramkan!" seru
Hong-tiah- soh.
Macan-tertawa hanya ganda tertawa dan mengucapkan
beberapa kata merendah. Kemudian ia memandang kearah
kedua kuda dari Gin Liong dan Lan Hwa.
Gin Liong tahu bahwa kedua ekor kuda hitam mulus dan
hitam berkaki putih itu sebenarnya milik Oh Thian Pa yang
dicuri oleh kedua orang Mongol tadi. Maka segera ia
mengatakan kepada Hok To Beng supaya kuda itu
dikembalikan saja kepada Oh Thian Pa.
Hok to Beng setuju tetapi Lan Hwa menentang: "Salah
mereka mengapa sampai dicuri orang, Dan kita
mengambilnya dari pencuri itu."
Tiba2 Hong-tian-soh deliki mata:
"Apa? Kalau memang kita merampas dari pencuri itu,
kuda itu milik kitalah !"
Tok-mo-cu atau Wanita-berbisa Pik Li-hoa agaknya
mempunyai kesan baik terhadap Mo Lan Hwa, Maka
berkatalah ia kepada suaminya:
"Karena nona itu merebut dari si pencuri kuda, biarlah
kuda itu diambinya."
Oh Thian Pa setuju dan menyerahkan kuda itu kepada
Gin Liong serta Lan Hwa, Lan Hwa memandang Pik Li-
hoa dengan tertawa.
"Dihadiahkan atau diberi sama saja, Kelak siaumoay
sudah bosan, akulah yang akan mengembalikan kuda itu
kepada pemiliknya," kembali Hong-tian-soh menyeletuk.
Pun Hok To Beng juga menambahkan bahwa apabila
urusan sudah selesai, kedua kuda itu tentu akan
dikembalikan lagi kepada Oh Thian Pa.
Setelah peristiwa itu selesai, Oh Thian Pa minta agar
Hok To Beng bertempat singgah di markas gunung Thian-
po-san. Tetapi Hok To Beng mengatakan lain kali saja. Oh
Thian Pa pun membawa anak buahnya pulang ke gunung.
Hok To Beng memperkenalkan Gin Liong kepada Hong-
tian-soh. Gin Liong memberi hormat kepada kakek gila itu.
Melihat Gin Liong seorang pemuda cakap dan gagah,
kemudian memandang ke arah Lan Hwa, Hong-tian-
sohpun tertawa gembira.
"Aha, siau-hengte ibarat mustika dari dalam telaga dan
siaumoay sebagai mutiara dari dalam laut, Sungguh
merupakan pasangan yang serasi sekali...." Hong-tian-soh
menyeletuk lagi.
Melihat si Gila itu hendak mengoceh tak keruan, cepat2
Hok To Beng menukas:
"Gila, tahukah engkau bahwa guru dari siau-hengte ini
tokoh angkatan muda yang kepandaiannya lebih tinggi dari
kita berdua ?"
"Siapa ?"
"Pelajar-berwajah-kumala Kiong Cu Hun!"
Hong-tian-soh agak terbeliak kaget dan memandang Gin
Liong lekat-, Tiba2 ia teringat sesuatu, serunya:
"Setan-asap, semalam aku bertemu dengan Ban Hong
Liong-li yang tergila-gila pada Kiong Cu Hun itu !"
"Dimana?" serentak Gin Liong berseru.
Hong-tian-soh kerut dahi, ia heran mengapa Gin Liong
begitu tegang, Hok To Beng segera menerangkan:
"Siau-hengte hendak mencari Ban Hong Liong-li."
"Huh, kalau mau kejar, cepat-cepat sajalah, Budak itu
luar biasa ilmu ginkangnya..."
"Hong koko, dimanakah engkau berjumpa dengan
Liong-li locianpwe itu ?" Gin Liong makin tegang.
"Dia tengah berlari sekencang-kencangnya. Heran,
mengapa dia menempuh perjalanan pada waktu tengah
malam," berhenti sejenak, Hong-tian-soh melanjutkan pula:
"Asal sebelum matahari terbenam engkau dapat
mencapai Hong-shia, mungkin engkau dapat mengejar Ban
Hong Liong-li"
Saat itu matahari sudah condong ke barat Gin Liong
makin gelisah.
"Toa-suheng, mari kita berangkat !" seru Lan Hwa.
"Kalau mau berangkat, silahkan berangkat dulu. Aku
dan Setan Arak berjanji pada toa-su-hengmu untuk bertemu
disini," sahut Hongtian-soh.
Hok To Bengpun mengatakan bahwa setelah urusan
selesai, ia bersama Hong-tian-soh tentu segera menyusul.
"Disepanjang jalan, tinggalkan tanda rahasia Pipa-emas."
"Atau tanda tongkat pemukul anjing itu juga boleh,"
Hong-tian soh menyelutuk, "bukankah seratus orang yang
melihat diriku tentu akan mengatakan kalau aku seorang
tukang peminta nasi."
Diam2 Mo Lan Hwa girang karena kedua tokoh itu tak
ikut pergi, Demikian keduanya segera naik kedua ekor kuda
hitam, Dalam waktu yang singkat mereka sudah melintasi
sebuah daerah pegunungan salju.
Sejam kemudian mereka sudah melalui beberapa desa
dan saat itu disebelah depan tampak jalan besar yang
menuju ke kota Hong-shia.
Penuh orang berjalan di jalan besar itu. Kebanyakan
mereka adalah pedagang2. Saat itu matahari sudah
condong kearah barisan puncak gunung disebelah barat.
"Adik, tahukah engkau gunung apa itu ?" tanya Lan
Hwa.
Sambil memandang ke gunung yang menjulang tinggi ke
angkasa, Gih Liong gelengkan kepala, mengatakan tak
tahu.
Lan Hwa kerutkan dahi. Dia heran mengapa Gin liong
tak tahu apa2 sama sekali. Bagaimana akan mencari orang
ke Kanglam yang begitu luas.
"ltulah puncak Mo-thian-ni. Benggolan kaum Hitam
diluar perbatasan yakni ketujuh saudara Tio, bersarang di
gunung itu," Lan Hwa menerangkan.
"Adik, pelahan dulu," sesaat kemudian Lan Hwa berseru
ketika melihat pada jarak satu li di sebelah muka tampak
mendatangi belasan penunggang kuda yang berpakaian
seperti orang persilatan. Karena debu amat tebal maka
sukar diketahui wajah mereka.
Rupanya kawanan penunggang kuda itu tahu juga akan
Gin Liong dan Lan Hwa. Penunggang kuda yang menjadi
pemimpin rombongan itu segera hentikan kudanya. Dan
saat itu Gin Liongpun sudah tiba didepan mereka.
Tanpa berkata apa2, seorang penunggang kuda
menerobos dari rombongannya dan terus lepaskan pukulan
jarak jauh kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu
terkejut dan cepat condongkan kepala kudanya lalu balas
menghantam.
"Bum . . . ."
Terdengar dengus orang tertahan, orang itu dibawa
mundur oleh kudanya dan terpelanting jatuh ke tanah,
berguling-guling dan menjerit-jerit. . .
Rombongan penunggang kuda itupun cepat mencabut
senjatanya hendak menyerang. Tetapi kuda hitam kaki
putih dari Lan Hwa tiba2 meringkik berloncatan melingkar-
lingkar dengan garang sekali.
Belasan ekor kuda dari rombongan itu terkejut dan
meringkik ketakutan lalu lari berserabutan keempat penjuru.
Tetapi sebagai gantinya, Gin Liong dan Lan Hwa segera
melihat seorang penunggang kuda melintang di tengah
jalan. Penunggangnya seorang lelaki berwajah hitam,
mukanya penuh brewok, hidung dan mulut besar, alis tebal
menaungi sepasang mata yang bundar besar.
Orang itu dingin2 memandang kedua anak.
"Adik, dia adalah Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago
nomor empat dari ketujuh saudara Tio," bisik Lan Hwa.
Tiba2 dari samping kanan dan kiri terdengar teriakan
gempar dan menyusul rombongan penunggang kuda tadi
segera mengepung Gin Liong, Lan Hwa dan Bong-kim-
kong.
Gin Liong makin gelisah, Dia hendak cepat2
melanjutkan perjalanan. Tak mau dia terlihat dalam
pertempuran yang tak berguna itu.
"Minggirlah !" serunya seraya mencongklangkan kuda
menerjang Bong-kim-kong dan ayunkan tangan kanannya
menghantam.
Bong-kim kong atau Malaekat-buas Tio Tik Lok tertawa
gelak2. ia kepitkan kedua kakinya ke perut kuda dan
melambungkan kuda itu loncat sampai satu tombak
tingginya lalu ayunkan tongkat Long-ya-pang menghantam
pantat kuda Gin Liong.
Pukulannya luput, Gin Liong terkejut. Cepat ia memacu
kudanya loncat ke muka.
Melihat Gin Liong terancam bahaya, Lan Hwapun
segera membalutkan pedangnya ke pinggang Malaekat-
buas, Tetapi jago keempat dari Tujuh saudara Tio itu
tertawa keras, lintangkan kuda seraya balikkan tongkatnya
ke pinggang nona itu.
"Budak, karena engkau tahu namaku, maka serangan ini
takkan mencabut nyawamu !"
Lan Hwapun terkejut karena serangannya gagal. Cepat ia
menyadari bahwa ketujuh penjahat dan gunung Mo-thian-
nia itu memang pandai sekali bertempur dengan
menunggang kuda. Kalau mau menundukkan Malaekat-
buas, lebih dahulu harus memaksanya turun dari kuda.
Begitu tongkat Long - ya - pang tibu, nona itupun loncat
turun ke tanah.
Segulung sinar merah berkelebat membabat kaki depan
dari kuda Bong-kim-kong, Bong kim-kong menjerit kaget,
menarik kendali sehingga kuda berdiri tegak menjulangkan
kaki depannya ke atas, Lalu dengan jurus Menjolok-bulan-
didasar-laut, Bong-kim-kong menyodokkan tongkat ke
pedang Lan Hwa.
Melihat babatannya tak berhasil Lan Hwa marah sekali,
ia memutar pedang untuk memapas siku lengan kanan
lawan.
Bong-kim,-kong terkejut dan tegakkan lagi tubuhnya.
Kudanya ikut berputar-putar sehingga menghampiri ke
tempat Gin Liong.
"Hayo, engkaupun harus turun !" tiba2 Bong-kim-kong
membentak dan menyapukan tongkatnya ke tubuh Gin
Liong.,
Wut. pemuda itu ayun tubuhnya melambung ke udara
sampai beberapa tombak, Sambil bergeliatan di udara ia
berseru: "Taci, menyingkirlah agak jauh !"
Serempak dengan teriakan itu. segulung sinar merah
yang menyilaukan mata segera berhamburan memancar di
udara, Belasan rombongan penunggang kuda begitu melihat
sinar itu serentak memekik keras.
Bong-kim-kong pucat seketika, ia tak sempat berbuat
apa2 lagi kecuali buang tubuh berguling jatuh dari kudanya.
Gin Liong tak mau melukai kuda orang, ia loncat turun
dari kudanya, Melihat itu dengan menggerung keras, Bong-
kim-kong loncat menghantamkan tongkat long-ya-pang
kearah kepala Gin Liong.
Baru saja kaki Cin Liong menginjak tanah atau tahu2
kepalanya sudah terancam. ia marah sekali, Dengan sebuah
gerak berputar, ia sudah menyelinap di samping Bong-kim-
kong lalu secepat kilat membabatkan pedang Tanduk Naga
ke lengan orang.
Serasa terbanglah semangat Bong-kim-kong melihat
gerak yang luar biasa dari anak muda itu. Cepat ia lepaskan
long-ya-pang lalu enjot tubuhnya sampai dua tiga meter ke
belakang, Dan karena kuatir pemuda itu akan
menyerangnya lagi maka lebih dahulu ia songsongkan
kedua tangannya kearah Gin Liong.
Gin Liong makin panas, ia balas menghantam dengan
tangan kiri, Bum . . . . Debu berhamburan angin menderu-
deru dan tubuhpun tertatih-tatih, Bong-kim-kong Tio Tik
Lok, jago nomor empat dari persaudaraan Tio yang
menguasai gunung Mo-thian-nia, saat itu terhuyung-huyung
beberapa langkah ke belakang dan jatuhlah ia terduduk di
tanah. ia gagal untuk menguasai keseimbangan tubuhnya,
Serentak terdengarlah pekik kejut dari belasan anak buah
Bong-kim-kong yang serempak mengangkat senjata
masing2. Tetapi tak seorangpun yang berani menolong
Bong-kim-kong. karena tempat Bong-kim-kong duduk di
tanah itu hanya terpisah dua meter dari Mo Lan Hwa yang
tegak berdiri sambil lintangkan pedangnya.
Tampak jago keempat dari persaudaraan Tio itu duduk
lunglai di tanah dan pejamkan mata menunggu ajal.
Melihat sikap berpuluh anak buah Bong-kim-kong yang
memberingas itu, marahlah Lan Hwa. ia merasa terhina
karena dipandang oleh belasan anak buah Bong kim-kong.
Dia menafsirkan pandang mata anak buah Bong-kim-kong
itu menuduh bahwa ia (Lan Hwa) seorang nona yang licik
dan curang karena hendak membunuh seorang lawan yang
sudah tak berdaya.
"Huh," ia mendengus lalu masukkan pedangnya kedalam
sarung dan sekali menggeliat ia sudah tiba di samping Gin
Liong.
Gin Liongpun sarungkan pedang dan mengajak nona itu
segera melanjutkan perjalanan lagi. Keduanya segera loncat
ke kuda masing2, Tetapi baru hendak melarikan kudanya,
tiba2 belasan anak buah Bong-kim-kong itu bersorak sorai
dengan gembira.
Ketika Gin Liong dan Lan Hwa memandang kedepan,
ternyata lebih kurang dua li jauhnya tampak berpuluh puluh
penunggang kuda tengah mencongklang cepat sekali, Orang
yang sedang berada di jalanan, buru2 lari ketakutan
menyingkir ke tepi jalan.
Yang didepan tiga ekor kuda bulu hitam putih dan
merah. Penunggangnya seorang lelaki dan dua orang
perempuan. Ketiga ekor kuda lari secepat angin dan
beberapa kejab mereka sudah berada setengah li dari tempat
Gin Liong.
Penunggang kuda hitam, seorang lelaki mengenakan
pakaian dan mantel hitam. Bertubuh perkasa, muka lebar,
dada bidang tetapi kulit hitam seperti pantat kuali,
pinggangnya menyanding sepasang pukul besi berbentuk
segi-delapan. Warnanya kuning emas dan beratnya tak
kurang dari berpuluh-puluh kati.
Rupanya dia tengah memberingas marah sehingga
tampaknya makin menyeramkan.
Penunggang kuda putih seorang nona cantik berumur
dua-puluhan tahun. wajahnya bulat telur alis melengkung
seperti busur. Bibirnya merah semerah bunga mawar,
Rambutnya yang panjang menjulai diatas bahu,
Mengenakan baju dari sutera warna biru, demikian juga
celana kun, Diatas seekor kuda putih, nona itu tampak
makin menonjol kecantikannya.
Sedang yang naik kuda bulu merah, seorang dara
berumur lima belasan tahun. Mata bundar, wajahnya
kemerah-merahan segar Rambutnya dibelah dua kuncir.
Mengenakan pakaian warna merah, sikapnya masih
kekanak-kanakan dan sepintas pandang memberi kesan
bahwa dia seorang bujang.
Rombongan anak buah Bong-kim-kong tadi makin
menggemuruh soraknya, Melihat itu Lan Hwa segera
berkata bisik2 kepada Gin Liong:
"Adik, hati-hatilah, penunggang kuda hitam itu adalah
jago nomor lima dari persaudaraan Tio. Namanya Tio Tek
Piu bergelar Thia-lo-han (Arhat besi). Seorang limbung
yang keras kepala sekali."
Berhenti sejenak, Lan Hwa melanjutkan:
"Dan nona yang naik kuda putih itu adalah saudara
ketujuh dari persaudaraan Tio, ilmu pedang dan ilmu
ginkangnya, cemerlang sekali, ilmu kepandaiannya lebih
unggul dari keenam engkoh2-nya. Orang memberi gelaran
kepadanya Mo-thian-giok-li (Bidadari dari gunung
Mothian), Namanya Tio Li Kun dan baru berumur dua-
puluh empat tahun."
Sengaja Mo Lan Hwa memberi tekanan dengan nada
keras waktu mengucap umur 24 tahun itu.
"Budak diatas kuda merah itu, centil dan ketus sekali,
Orang memberinya nama Cabe Rawit Siau Hoan
kepadanya."
Saat itu ketiga kuda itupun sudah hampir tiba. Bidadari-
gunung-Mo-thian Tio Li Kun yang naik kuda putih,
menatap Gin Liong dengan lekat.
Begitu ketiga ekor kuda itu tiba, maka kuda hitam Gin
Liong dan kuda hitam kaki putih dari Mo Lan Hwa segera
meringkik keras sehingga ketika kuda pendatang itu terkejut
berputar-putar.
Melihat engkohnya nomor empat Bong-kim-kong duduk
di tanah, secepat kilat si cantik Tio Li Kun terus apungkan
tubuh melayang kearah Bong-kim-kong.
Gin Liong terkejut Gerakan si cantik Li Kun itu
menyerupai sekali dengan ilmu lari cepat Angin-meniup-
kilat-menyambar yang dimilikinya.
"Siapa yang memukul jatuh engkohku ini ?" teriak
sebuah suara kasar.
Ketika berpaling, Gin Liong dapatkan si limbung Thiat-
lo-han memandangnya dengan mata berapi-api sambil naik
seekor kuda hitam dan tak henti-hentinya berputar, Sret, dia
terus mencabut sepasang palu besi dan dibolang-balingkan
dengan keras.
Gin Liong tertawa dingin, Sesaat ia hendak membuka
mulut tiba2 si Cabe rawit Siau Hoan menuding kearahnya:
"Ngo-ya, itulah orangnya...."
"Tutup mulutmu, Siau Hoan," tiba2 terdengar sebuah
bentakan halus.
Gin Liong dan Mo Lan Hwa berpaling. Ternyata si nona
cantik yang tengah berjongkok menolong Bong-kim-kong,
deliki mata dan membentak bujang Siau Hoan.
Ketika melihat Gin Liong berpaling memandangnya,
muka si cantik Li Kun tersipu-sipu merah dan cepat dan
cepat2 tundukkan kepala, mengangkat bangun Bong-kim-
kong.
"Budak, engkaupun harus turun dari kuda !" Gin Liong
terkejut Ketika berpaling, dilihatnya Thiat-Lo-han hendak
menyerangnya.
Kuda hitam meringkik dahsyat Mengangkat kaki depan
keatas tegak berdiri sambil berputaran dengan indah
terhindarlah binatang itu dari hantaman Thiat-lo han Tio
Tik Piu.
Jago kelima dari persaudaraan Tio terkejut sekali ketika
serangannya luput. Tetapi pada saat ia hendak menyerang
lagi, tiba2 Gin Liong sudah melontarkan sebuah hantaman
dahsyat sehingga senjata Thiat-lo-han terlempar lepas dari
tangannya, melayang sampai tiga tombak jauhnya.
Thiat-lo-han memekik-mekik seperti orang kebakaran
jenggot Betapa ingin ia dapat meraih senjatanya itu,
Sesosok bayangan merah berkelebat dan dengan gerak
yang indah sekali, Mo-thian-giok-li Tio Li Kun telah
menyambar tangkai pukul besi itu lalu dilemparkan kepada
engkohnya: "Terimalah !"
Seketika terdengarlah sorak sorai yang menggemuruh
dari sekalian anak buah gunung Mo-thian-nia.
Menyambuti senjata pukul besinya, Thiat-lo-han tertawa
gelak2.
Melihat peristiwa itu marahlah Gin Liong, Segera ia
kerahkan seluruh tenaga ke lengan-nya.
"Lo ngo, menyingkirlah!" tiba2 terdengar Bong-kim-kong
membentak keras.
Thiat-lo-han Tio Tek Lok memandang kearah
engkohnya nomor empat dan adik perempuannya nomor
tujuh lalu kisarkan kudanya ke samping untuk memberi
jalan.
Keenam penunggang kuda yang menghadang di tengah
jalan pun buru2 menyingkir. Demikian pula dengan
kelompok anak buah yang datang bersama Thiat-lo-han dan
Mo-thian-giok-li tadi, pun menyingkir ke-tepi jalan.
"Taci, mari kita berangkat !" Gin Liong berseru kepada
Lian Hwa. kedua muda mudi itupun segera
mencongklangkan kudanya dengan pesat.
Mendengar Gin Liong menyebut Lan Hwa dengan
panggilan "taci", seketika merekah setitik harapan dalam
hati Mo-thian-giok-li Tio Li Kun. ia tersenyum girang.
Saat itu matahari sudah condong ke barat dan tertutup
oleh puncak gunung Mo-thian-san yang menjulang tinggi.
Sekonyong-konyong hidung Gin Liong terbaur
serangkum angin wangi, ia tergetar dan berpaling, Tampak
ditepi sebelah kiri jalan, tengah berjajar sekelompok barisan
kuda dari gadis cantik. Mereka mengenakan pakaian merah
semua dan menyanggul pedang di punggung.
Kuda hitam mulus meringkik terus menerjang ke muka,
Barisan nona2 cantik itu cepat menyingkir ke samping
jalan.
Tak berapa lama disebelah muka tampak tembok dari
kota Hong-shia. Seperminum teh lamanya, tibalah Gin
Liong berdua di pintu kota itu.
Pintu kota yang besar dan tinggi dijaga oleh beberapa
prajurit Mereka terkejut melihat kedatangan Gin Liong dan
Lan Hwa. Saat itu lampu2 rumah dan jalan mulai dipasang.
Sambil menunggang kuda, Gin Liong memandang kian
kemari, ia berharap dapat melihat Ban Hong Liong-li
berada diantara orang2 yang berada di jalan itu.
"Adik, marilah kita cari rumah penginapan dulu, Baru
nanti kita menyelidiki jejak Ban Hong Liong-Ii locianpwe,"
kata Lan Hwa.
Gin Liong setuju.
Tiba2 dari kerumunan orang disebelah belakang
terdengar sebuah lengking teriakan:
"Liong koko, Liong koko !"
Gin Liong terkejut dan berpaling, Beberapa puluh
tombak jauhnya, tampak seorang dara baju putih dan
punggung menyelip pedang, tengah menerobos dari
kerumun orang dan bergegas menghampiri Gin Liong.
Melihat dara itu bukan kepalang girang Gin Liong,
serentak ia berseru gopoh:
"Adik Lan !" serunya seraya memutar kuda
menyongsongnya.
Orang2 yang berada di jalan terkesiap memandang kedua
muda mudi itu. Ada yang menduga kalau keduanya engkoh
dan adik, ada pula yang menyangka tentu sepasang kekasih.
Begitu tiba, Gin Liong terus loncat turun dari kuda dan
mencekal tangan sumoaynya, Ki Yok Lan.
"Lan-moay, bilakah engkau tiba disini ?" tanyanya.
Melihat Gin Liong, serentak teringatlah Yok Lan akan
suhunya yang telah meninggal dicelakai orang itu. Air
matanya bercucuran membasahi kedua pipi. Betapa ingin ia
rebahkan kepala ke dada sukonya dan menangis sepuas-
puasnya.
"Siang tadi," sahutnya, seraya mengeluarkan sapu dan
menghapus airmatanya.
"Pada hari itu setelah siuman aku segera lari ke ruang
depan mencarimu. Aku bertemu dengan ji-susiokcou dan
seluruh paderi yang sudah pulang dari makam, Saat itu
baru kuketahui bahwa suhu telah meninggal dunia dan
engkau turun gunung..."
Bercerita sampai disitu, airmata Yok Lan membanjir
deras.
Gin Liongpun berlinang-linang namun ia kuatkan hati
untuk mencegah airmatanya.
Pada saat ia hendak berkata menghibur su-moaynya,
tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga Yok Lan
melonjak kaget, Ketika mengangkat muka, baru ia tahu
kalau orang2 yang berada disekitar tempat itu tengah
memandang dirinya dan Gin Liong, Yok Lan tersipu-sipu
merah wajahnya.
Memandang ke arah Gin Liong, dilihatnya sukonya itu
tengah memandang kian kemari seperti mencari orang.
Serentak teringatlah Yok Lan akan nona baju merah yang
menunggang kuda hitam berkaki putih tadi.
"Liong koko, kemanakah nona yang berjalan bersama
engkau tadi ?" serunya bertanya.
Merah wajah Gin Liong mendengar pertanyaan itu.
segera ia menerangkan bahwa nona itu bernama Mo Lan
Hwa yang digelari orang sebagai Salju-merekah- merah.
"Aneh, mengapa tiba2 ia lenyap," kata Gin Liong seraya
mengusap airmatanya.
"Liong koko, mungkin dia mengambek," kata Yak Lan.
Seketika Gin Liongpun tersadar. Tentulah Lan Hwa
pergi dengan marah. Seketika ia teringat akan janjinya
bertemu dengan Hok To Beng dan Hong-tian-soh di
penyeberangan Taylian (Dairen). Bagaimana nanti akan
mengatakan kepada kedua orang itu apabila Lan Hwa tak
ikut serta.
Melihat sukonya gelisah, Yok Lan tak enak hati,
serunya: "Liong koko, kutunggu kau di hotel Ko Liong,
Susullah nona itu, ia tentu marah kepadamu."
Sesungguhnya tak enak perasaan hati Gin Liong
terhadap Yok Lan. Tetapi karena saat itu tak sempat
memberi keterangan maka ia menyetujui saran sumoaynya,
"Baiklah sumoay, kau tunggu saja di hotel itu, aku akan
menyusulnya," serunya lalu melarikan kudanya ke utara.
Walaupun sangat gopoh tetapi Gin Liong tak berani
melarikan kudanya keras2. Setelah keluar dari pintu utara.
malampun makin gelap, Rembulan mulai muncul.
Beberapa saat kemudian, ia masih belum melihat
bayangan Lan Hwa. Yang tampak disebelah muka hanya
gunduk2 perumahan dan pedesaan, Diam2 ia meragu
apakah keliru arahnya.
Tiba2 ia mendengar suara ringkik kuda dari sebelah barat
kota Hong-shia. serentak berserulah ia: "Kuda hitam kaki
putih...!"
Serentak ia larikan kuda hitam mulus kearah tempat itu,
Beberapa waktu kemudian, ia tiba dijalan yang merentang
kearah barat.
Jalan itu sunyi senyap, Kuda hitam mulus jari secepat
angin, Kota Hong-shiapun sudah tertinggal jauh beberapa li
dibelakang.
Memandang ke muka, tampak gunung Mo-thian-san
menjulang tinggi ke langit Diam2 Gin Liong heran
mengapa Mo Lan Hwa mendaki ke gunung itu.
Setengah jam kemudian, kaki gunung Mo-thian-san
sebelah timur hanya sejauh tiga li jauhnya.
Dikaki gunung itu terbentang sebuah hutan batu yang
berbentuk aneh. Pohon siong yang pendek dan pohon2 lain
yang gundul daunnya. Tetapi Lan Hwa tak tampak sama
sekali.
Menyadari bahwa gunung Mo-thian-san itu menjadi
sarang dari ketujuh persaudaraan Tio, diam2 Gin Liong
meningkatkan kewaspadaan.
Jalanan menyusur sepanjang kaki gunung, melingkar ke
selatan. Kuda bulu hitam masih keras larinya dan tak
tampak letih.
Tiba2 di sebelah muka jalan. muncul beberapa benda
hitam.
"Apakah kawanan anak buah Mo thian-nia sedang
meronda !" pikir Gin Liong.
Ketika terpisah setengah li, barulah Gin Liong tahu
bahwa benda2 hitam ini ternyata beberapa orang yang
tengah bergegas menempuh perjalanan. Mereka orang2
desa yang hendak menuju ke kota.
Gin Liong hentikan kuda, bertanya seraya memberi
hormat.
"Tolong tanya, apakah paman sekalian berpapasan
dengan seorang nona baju merah menunggang seekor kuda
bulu hitam ?"
Orang2 itu menggelengkan kepala, Salah seorang yang
berumur tua, menjawab: "Kami orang desa setiap pagi tentu
pergi ke kota. Sejak tadi tak pernah melihat nona itu."
"Aneh, kemanakah gerangan perginya ?" gumam Gin
Liong seorang diri.
Tiba2 angin malam sayup2 seperti mengantar lengking
bentakan orang marah, Dan sesaat kemudian terdengar
gemerincing suara senjata beradu.
Gin Liong cepat berpaling memandang ke-arah suara itu.
Tetapi kaki gunung sebelah timur tetap sunyi senyap,
Hanya pohon2 siong yang bergoncang tertiup angin.
"Apakah karena hendak bersembunyi nona itu telah
kesasar masuk kedaerah terlarang dari kawanan gunung
Mo-thian-nia dan kepergok dengan anak buah mereka lalu
bertempur ?" kembali Gin Liong menimang-nimang.
Segera ia larikan kudanya menyusur jalan kearah suara
itu. Tiba2 ia mendengar ringkik kuda berkumandang makin
jelas, Asalnya dari kaki gunung sebelah timur laut.
Gin Liong segera memacu kudanya dan larilah kuda
hitam mulus itu secepat angin.
Dari ujung gunung sejauh beberapa li, seekor kuda hitam
mencongklang menuju kearah Gin Liong.
Melihat kuda hitam itu, kuda Gin Liong serentak
melonjak keatas lalu mencongklang lebih cepat, Gin Liong
girang sekali karena tahu bahwa kuda hitam yang
mendatangi itu adalah kuda Kay-swat atau kuda hitam kaki
putih.
Cepat ia hendak berteriak memanggil Lan Hwa tetapi
secepat itu pula ia batalkan maksudnya karena melihat
bahwa yang berada diatas kuda hitam kaki putih itu jelas
bukan Lan Hwa.
Beberapa saat kemudian kedua kuda itu makin
mendekati Tahu bahwa Lan Hwa telah tertimpa bencana,
Gin Liongpun bersiap-siap,
Saat itu Gin Liongpun melihat sebuah jalan kecil yang
mencapai dimuka gunung, Segera ia menduga bahwa dari
jalan kecil itulah Lan Hwa telah menyelinap dan masuk ke
daerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-san.
Tiba disebuah hutan, kuda hitam meringkik dan
berputar-putar tak mau berlari lagi. Gin Liongpun segera
hentikan kudanya, Memandang kemuka, ia melihat di
tengah jalan kecil ditengah hutan, melintang beberapa tali
kendali kuda. Dan diatas puncak pohon dipasang jaring.
Saat itu hutan sunyi senyap, Kuda bulu hitam kaki putih
yang tiada penunggangnya itupun meringkik dan berputar-
putar ketika tiba di muka hutan.
Gin Liong menduga, tali kendali dan pelana kuda Lan
Hwa tentu telah dirampas orang, Gin Liong marah.
Mencabut pedang Tanduk Naga, ia memutarnya seraya
menerjangkan kuda kemuka.
Begitu menerobos keluar dari hutan, sebatang anak
panah mendenging tiba, Gin Liong cepat menabas anak
panah itu dengan pedang Tanduk Naga.
Kembali anak panah yang kedua meluncur di udara dan
tepat tiba dibelakang kedua kuda. Kuda hitam mulus dan
kuda hitam berkaki putih lari makin pesat dan tak berapa
lama tiba di jalanan batu, Jalan dan batu itu mendaki keatas
dan terus masuk kedalam lembah.
Kedua samping jalan batu itu merupakan lereng gunung
yang curam. Sedang diatasnya penuh dengan batu2 yang
aneh bentuknya, Makin masuk ke dalam makin berbahaya
keadaannya.
Gin Liong tetap larikan kudanya masuk kedalam lembah
sempit itu. Segera terdengar suitan nyaring berkumandang
di udara, Dan menyusul turunlah hujan anak panah yang
deras kearah Gin Liong dan kudanya.
Gin Liong makin marah melihat cara2 yang licik dan keji
itu. ia memutar pedang Tanduk Naga sederas hujan, sedang
kedua ekor kuda lari seperti terbang.
Kira2 berpuluh tombak jauhnya, terdengar pula suitan
nyaring dan kembali hujan anak panah gelombang kedua
mencurah kearah Gin Liong. Tetapi dengan pedang Tanduk
Naga dan kedua kuda sakti itu, dapatlah Gin Liong
terhindar dari bahaya dan saat itu telah memasuki lembah.
Jalanan makin sempit dan makin berbahaya Kali ini
terdengarlah suara tambur dari lamping gunung. Lalu
terdengar pula suara menggemuruh.
Gin Liong hentikan kudanya dan menengadah
memandang keatas, diatas karang tinggi pada lamping
gunung, tampak sosok2 bayangan hitam berhamburan kian
kemari dan pada lain saat terdengarlah suara yang sangat
gemuruh. Beratus-ratus batang pohon besar berhamburan
menggelinding dan lamping gunung.
Kali ini Gin Liong terkejut Demi menjaga keselamatan
jiwanya terpaksa ia larikan kuda kembali keluar dari
lembah.
Penjaga pos pada kedua lamping gunung ditepi jalan,
berteriak gempar ketika melihat Gin Liong muncul keluar,
Ternyata di mulut lembah saat itu tampak berpuluh puluh
orang sedang meletakkan beberapa tali kendali kuda.
Begitu melihat Gin Liong muncul, mereka serempak
menghunus senjata dan menghadang di tengah jalan.
Dengan menggembor keras. Gin Liong putar pedang
Tanduk Naga, membabat putus tali kendali yang direntang
ditengah jalan itu.
Ketika para penjaga hendak menyerbu, kuda bulu hitam
mulus sudah meluncur berpuluh tombak jauhnya, Kuda
hitam kaki putihpun mengikuti jejak kawannya.
Melihat kuda kaki putih itu, serentak timbul pula
kegelisahan Gin Liong karena mencemaskan nasib Lan
Hwa, ia memutuskan untuk menyerbu ke gunung.
Diamatinya keadaan lembah gunung itu memang
berbahaya sekali, ia memperhitungkan bahwa pada tempat2
yang berbahaya tentu tak begitu dijaga ketat, Maka ia
segera larikan kudanya di sepanjang kaki gunung menuju ke
barat laut.
Tiba disebuah tempat yang berbahaya, ia berhenti dan
turun dari kudanya. Saat itu baru ia mengetahui bahwa
kedua ekor kuda itu seperti mandi keringat, Gin Liong
sayang kepada kuda itu, Dielus-elus kepalanya beberapa
kali dan kedua ekor kuda itupun seperti mengerti bahasa
manusia, terus lari menuju ke gundukan batu yang tinggi.
Saat itu rembulan sudah ditengah Cakrawala terang
benderang Mo-thian-hong atau puncak gunung Pencakar
Langit, menjulang tinggi menyusup ke dalam awan.
Bermandikan cahaya rembulan, gunung itu tampak
perkasa.
Dengan beberapa loncatan, Gin Liong tiba dimuka
sebuah karang yang tegak melandai, sepanjang karang itu
penuh dengan pohon rotan dan batu2 yang menonjol.
serentak ia enjot tubuh melambung ke udara.
Dengan setiap kali hinggap pada batu karang atau pohon
untuk menggunakannya sebagai landasan melambung lagi
ke atas, akhirnya berhasillah ia tiba di puncak karang.
Tetapi belum lagi ia berdiri tegak, tiba2 terdengar sebuah
bentakan keras:
"Hai, siapa itu !"
Sebatang anak panah segera meluncur. Gin Liong
terkejut. Untung ia masih dapat miringkan tubuh
menghindari anak panah itu.
Lima tombak disebelah muka, muncul seorang lelaki
baju biru yang memutar golok dan lari menyerbu Gin
Liong, Sedang seorang lelaki mencekal anak panah dan
busur tengah tegak berdiri dimuka sebuah genderang
tembaga.
Gin Liong segera menyongsong penyerbu itu, Setelah
menghindari tabasan golok, secepat kilat ia menyelinap
kebelakang dan menutuk punggung orang itu, Bluk, golok
terlepas dan orangnyapun rubuh.
Cepat pula Gin Liong loncat menyerang penyerang
bergolok itu, menjerit dan rubuh, Gin Liong tertawa dingin,
Secepat kilat ia menyerbu kearah orang yang bersenjata
panah.
Orang itu terkejut, cepat ia hendak memukulkan busur
pada genderang, Gin Liong cepat menerkam lengan orang
itu. Tetapi pada saat ia mencengkeram lengan orang
busurpun sudah membentur genderang dan menimbulkan
bunyi yang berkumandang nyaring.
Gin Liong marah. Sekali ayunkan kaki, tubuh orang
itupun terlempar sampai dua tombak jauhnya.
Tetapi genderang telah terlanjur berkumandang dan pada
lain saat sebatang panah api meluncur ke udara, panah api
itu berarti dari sebuah puncak di sebelah muka. Di udara
anak panah api itu meletup dan menghamburkan bunga api.
Dalam beberapa kejap, terdengarlah suara pekik teriakan
yang dahsyat, menyusul tampaklah seratusan buah lentera
bergerak-gerak disegenap penjuru gunung.
Gin Liong tahu bahwa jejaknya telah diketahui, namun
dia tetap tertawa dingin dan lari menuju ke puncak.
Pos penjagaan segera mengetahui gerak gerik Gin Liong,
sebatang anak panah berapi meluncur ke udara dan
muncullah tiga orang menghadang jalan.
Gin liong berputar arah menuju ke sebuah puncak lain,
Tetapi kembali melayang sebatang panah berapi dan
muncul empat orang menghadang jalan.
Gin Liong menggeram. Dengan sekuat tenaga ia berlari
kearah puncak yang tertinggi.
Suara teriakan berhenti, lentera2-pun tak lagi
berguncang-guncang. Tujuh orang yang sedianya
menghadang Gin Liong, terpaksa hentikan langkah.
Rupanya seluruh anak buah gunung Mo-thian-nia
tercengang melihat ilmu ginkang Gin Liong yang luar biasa,
Tiba2 terdengar suitan orang. Sesosok tubuh berpakaian
gerombyong, muncul dari puncak yang pendek tadi dan
berlarian menuju ke arah Gin Liong.
Gin Liong terkejut ia duga orang itu tentu salah seorang
anggauta dari persaudaraan Tio. Ketika Gin Liong tiba di
sebuah jalan melintang, orang itupun sudah tiba di tanah
lapang sebelah muka.
Dibawah sinar rembulan, dapatlah Gin Liong
mengetahui bahwa pendatang itu seorang tua berumur
antara tujuh puluhan tahun, Gin Liong duga orang itu tentu
lotoa atau saudara yang tertua dari persaudaraan Tio.
Saat itu Gin Liong sudah tiba di tanah lapang
demikianpun dengan orang tua itu.
Berpuluh-puluh orang baju biru bersorak-sorai membawa
lentera dan mengepung tanah lapang.
"Hai, budak liar dari mana itu berani tengah malam buta
masuk ke gunung ini !" seru orang tua itu seraya
menghantam," terimalah dulu pukulanku ini!"
Begitu tiba, orang tua itu harus gunakan jurus Lat-biat -
hoa - san atau Menghantam-gunung Hoa-san, menghantam
kepala Gin Liong.
Gin Liong cepat menghindar dan menyelinap ke
belakang orang itu. Tetapi orang tua itupun dengan tangkas
berputar tubuh dan menghantam bahu kiri Gin Liong.
Gin Liong marah sekali, ia tangkiskan tangan kiri, Bum,
orang tua itu terhuyung-huyung sampai tiga langkah
kebelakang.
Sekalian anak buah gunung Mo-thian-san tercengang
menyaksikan peristiwa itu. Bahkan Gin Liong sendiri juga
kesima mengapa persaudaraan Tio yang begitu termasyhur,
ternyata hanya begitu saja kepandaiannya.
"Budak, sambutlah sekali lagi !" seru orang tua itu seraya
menghantam lebih dahsyat.
Kembali Gin Liong menangkis dengan tangan kiri, Bum,
kembali orang tua itu terhuyung.
"Bunuh!" terdengar pekik sorak dari sekeliling lapangan
dan serempak para anak buah kawanan baju biru itu
serempak mencabut senjata dan siap menyerbu.
Bluk, lelaki tua itu jatuh terduduk di tanah, Tiga sosok
bayangan menerobos keluar dari barisan baju biru, lari
menghampiri si orang tua.
Tetapi sejenak menyalurkan napas, orang tua itupun
segera melonjak bangun. Lalu tertawa gelak2.
Ketiga orang tadi terkejut dan buru2 balik kembali
kedalam barisannya.
Tiga ratus anak buah gunung Mothian-nia yang saat itu
sudah mengepung Gin Liong, bersorak gembira ketika
melihat orang tua itu tak kurang suatu apa.
Orang tua itu hentikan tertawanya, mencabut tongkat
besi yang terselip pada pinggangnya dan berseru nyaring:
"Aku situa ini. Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. sudah
berpuluh-puluh tahun mengembara dalam dunia persilatan,
belum pernah ada orang yang mampu membuat aku jatuh
terjungkir balik...."
Ia tertawa gelak2 lagi dan berseru kepada Gin Liong:
"Budak, engkaulah orang yang pertama..." ia menutup
kata dengan sebuah loncatan kemuka seraya memutar
tongkatnya menghantam pinggang Gin Liong.
Mendengar nama orang tua itu bukan dari persaudaraan
Tio, Gin Liong tak mempunyai selera untuk menempurnya
lagi. serentak ia loncat menyingkir tiga tombak dan berseru:
"Berhenti, lekas panggil saycu keluar !"
"Apabila engkau mampu menangkan tongkat-ku ini,
saycu pasti akan keluar," sahut orang tua Gu itu, ia terus
memutar tongkat dan maju menyerang Gin Liong.
Gin Liong marah. Ia bergeliatan menyusup kedalam
gulungan sinar tongkat.
Di bawah penerangan seratus buah lentera, tiba2
terdengar Gin Liong berseru:
"Lekas panggil saycu-mu !"
Bentakan itu disusul dengan melayangnya tongkat
kearah kawanan anak buah gunung Mo-thian-nia. Dengan
sebuah pukulan, Gin Liong berhasil menghantam tongkat
Cu Ceng Hian sehingga terlepas dari tangannya.
Ketika kawanan anak buah itu hiruk pikuk menyingkir
dari ancaman tongkat, beberapa sosok tubuh lari
menghampiri ke gelanggang pertempuran. Kembali
terdengar sorak sorai menyambut kedatangan orang itu.
Tetapi Cu Ceng Hian sudah tak menghiraukan suatu
apa. Seperti orang gila, dia segera menyerang Gin Liong
dengan tangan kosong.
"Cu Ceng Hian berhenti. Aku hendak menghadapi budak
itu lagi!" seru pendatang itu.
Gin Liong cepat dapat mengenali orang yang loncat
kehadapannya itu sebagai si Thiat-lo han.
Saat itu Gin Liong berhasil mencengkeram tangan
Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. Tetapi orang tua itu
masih penasaran, Tiba2 ia ayunkan kaki menendang bawah
perut Gin Liong.
Melihat orang tua itu begitu keras kepala, Gin Liong
marah lalu mendorongnya ke muka. Cu Ceng Hian
terhuyung-huyung seperti layang2 putus tali dan tepat
menyongsong kedatangan Thiat-lo-han.
"Celaka...." teriak Thiat-lo-han yang kasar dan
berangasan Tetapi benturan tepat tak dapat dihindarkan,
Bluk, kembali Cu Ceng Hian harus terbanting ke tanah lagi.
"Huh, salahmu, salahmu, bukankah aku sudah suruh
engkau menyingkir Nah, akhirnya kita benturan sendiri !"
seru Thiat-Io-han bersungut-sungut.
Melihat itu Gin Liong hampir tak kuat menahan gelinya.
Kali ini Cu Ceng Hian benar2 menderita. Tubuhnya
gemetar, keringat dingin mengucur dan ia terduduk di tanah
tak dapat bangun,
"Cu tua," seru Thiat-lo-hian simuka hitam sambil
menyeringai" jangan engkau penasaran kepadaku tetapi
salahkan budak itu karena telah mendorong tubuhmu
begitu deras, Lihatlah, akan kupukulnya untuk
membalaskan penasaranmu !"
Habis berkata si muka hitam Thiat-lo-han terus berputar
tubuh dan berseru nyaring:
"Budak liar, apa engkau tak mengerti aturan
menghormat orang tua ? Mengapa engkau mendorong si
tua Cu ?"
Tring ia benturkan sepasang senjatanya yaitu pukul besi
segi-delapan, lalu melangkah ke tempat Gin Liong.
Tiba2 dari luar gelanggang terdengar derap lari empat
orang menuju ke tempat pertempuran itu, serentak suasana
hening karena berpuluh-puluh anak buah Mo-thian-san itu
tak berani buka suara lagi.
Si limbung Thiat-lo-han hentikan langkah dan berpaling.
Demikianpun Gin Liong, Segera ia melihat empat orang,
tiga lelaki dan seorang wanita, tegak berdiri pada jarak lima
tombak dari gelanggang.
Lelaki yang berdiri ditengah, berumur sekitar 45-46
tahun, Mengenakan jubah warna emas dan topi dari kulit
harimau tutul. Alis melengkung seperti pedang, mata
menyala, hidung pesek, bibir tipis dan jenggotnya menjulai
sampai ke dada, sepintas pandang menyerupai seorang
hartawan, bukan orang persilatan
Dia adalah pemimpin dari golongan tokoh2 silat aliran
hitam dari Saywa (luar perbatasan), bernama Tio Tok Beng,
gelar Siau-yau-ih-su atau pertapa bebas.
Berdiri disebelah kirinya, seorang lelaki beralis lebat,
mata tajam, hidung panjang dan jenggotnya tebal menjulai
ke dada. Umurnya sekitar 41-42 tahun. Berpakaian ringkas
warna hijau, kopiah kulit bajing, punggungnya menyanggul
sepasang senjata Hou-jiu-kong-kau atau sepasang kait baja.
Dia adalah jago nomor tiga dan persaudaraan Tio,
bernama Tio Tok Giam gelar Say-ni-tun. Sepasang kaitnya
sangat dimalui oleh seluruh kaum Lioklim atau Rimba
Hijau, istilah untuk menyebut dunia penyamun.
Dibelakang kedua orang itu adalah Mo-thian-giok-li atau
Bidadari dari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun.
Disampingnya, adalah engkohnya si Bong-kim- kong.
Melihat bahwa yang menyelundup keatas gunung itu
bukan lain pemuda cakap siang tadi, Tio Li Kun tertegun
dan memandang lekat pada Gin Liong.
"Toako," seru si limbung Thiat-lo-han demi melihat Tio
Tek beng, "yang memukul suko santai jatuh dari kuda
adalah budak ini !"
Su-ko yang dimaksud ialah engkoh nomor empat atau
Bong-kim-kong. Sudah tentu Bong-kim-kong merah
mukanya dan cepat berseru marah: "Toako sudah tahu!"
Melihat engkohnya marah, si limbung Thiat-lo-han
menyengir dan tak berani buka suara lagi.
Gin Liong segera mengetahui bahwa yang disebut toako
itu tentulah lelaki yang dandanannya mirip orang hartawan
itu. Cepat ia memberi hormat, serunya:
"Aku yang rendah ini Siau Gin Liong bersama Hoa cici
kebetulan melalui gunung ini. Karena kuda membinal Hoa
cici sampai dibawa kedaerah terlarang dan jatuh dalam
perangkap anak buah markas Mo-thian-nia. Mengingat
kami tak sengaja telah memasuki daerah terlarang dan
gunung ini, maka kumohon saycu suka membebaskan taci
itu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih."
Tampak Tio Tek Beng agak tertegun seperti tak tahu
akan peristiwa itu. Kemudian ia berpaling memandang
kearah Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah, serunya:
"Dimana taci siauhiap telah terjatuh dalam perangkap ?"
"Sebelah timur dari mulut lembah ini," sahut Gin Liong.
Tio Tek Giam, jago ketiga, segera berseru: "toako,
menurut laporan dari pos timur bukit, seorang dengan naik
kuda hitam telah masuk kedalam lembah, Karena barisan
panah tak mampu merintangi, terpaksa dilakukan hujan
balok..."
"Yang masuk kedalam lembah itu, adalah aku sendiri !"
seru Gin Liong.
Tio Tek Giam kerutkan dahi, serunya. "Tanpa menurut
peraturan kaum persilatan terus menerobos masuk ke
markas. Tidak menghiraukan segala peringatan yang
diberikan . . ."
Mendengar itu Tio Li Kun gelisah, Kuatir kalau sampai
terbit salah faham, maka cepat2 ia menukas ucapan
engkohnya:
"Sam-ko, kuda dari Siau sauhiap itu seekor kuda
istimewa yang luar biasa pesatnya, Mungkin Siau sauhiap
hendak buru2 menghadap toako..."
"Kuda memang tak kenal aturan, tetapi masakan
demikian juga penunggangnya !" dengus Tio Tek Giam.
Tio Li Kun terkejut ia kuatir Gin Liong tentu marah.
Dan memang benar, Gin Liong berteriak keras seraya
loncat ke muka dan menuding Tio Tek Giam:
"Tutup mulutmu ! Siapa yang engkau katakan tak tahu
aturan itu ?"
Tio Tek Giam jago ketiga dari gunung Mo-thian-san
deliki mata dan membentak:
"Memukul suteku sampai jatuh dari kuda, tengah malam
menyelundup ke gunung, melukai saycu dari puncak timur,
jelas bukan hendak mencari orang tetapi hendak mencari
onar."
Ia berhenti dan tertawa mengekeh: "Kalau saat ini tak
mau mengatakan terus terang, jangan harap engkau dapat
tinggalkan tempat ini."
Mendengar itu Gin Liong menengadahkan kepala dan
menghamburkan kemarahannya dalam sebuah tertawa
yang nyaring dan panjang.
Para anak buah terkesiap bahkan Bong-kim-kong dan
Thiat-lo hanpun tergetar hatinya lalu bersiap-siap turun
tangan.
Diantara kelima persaudaraan Tio yang berada disitu,
hanya Tio Li Kun seorang yang berobah cahaya mukanya,
Dia bingung melihat toakonya diam saja. Padahal ia tak
tahu bahwa sebenarnya toakonya itu sedang
memperhatikan dengan tajam anak muda yang gagah itu.
"Jangankan ratusan anak buah kalian, pun semua alat2
perangkap dari gunung Mo-thian-san ini, tak mungkin
mampu menahan kepergianku." seru Gin Liong.
"Budak bermulut besar...!" teriak Tio Tek Giam seraya
dorongkan kedua tangannya yang telah disaluri dengan
tenaga penuh,
Gin Liong pun menggembor dan ayunkan tangannya
menghantam.
Terdengar suara benturan keras dan tubuh jago ketiga
dari gunung Mo-thian-nia itu terhuyung-huyung beberapa
langkah kebelakang. Tio Li Kun melengking dan loncat
menyanggupi tubuh engkohnya. Dipandangnya Gin Liong
dengan sorot mata tajam.
Tio Tek Beng saudara tertua dari ketujuh jago gunung
Mo-thian-san terkejut, Dilihatnya Gin Liong masih tegak
berdiri dengan wajah tenang.
Ia tak mengira sama sekali bahwa hanya dengan pukulan
sebelah tangan, pemuda itu dapat melemparkan Tio Tek
Giam.
Tio Tek Giam sendiri cepat2 menyalurkan napas, Tetapi
ia dapatkan dirinya tak terluka sama sekali, Mau tak mau ia
memandang jitmoaynya Tio Li Kun dengan terlongong,
"seperti hendak mengatakan: "Eh, mengapa aku tak
menderita luka apa2 !"
"Budak, terimalah palu besiku ini lagi !" tiba2 si limbung
Thiat-lo-han berseru seraya loncat dan menghantam dengan
kedua palu besinya.
Yang kiri menghantam lambung Gin Liong, palu besi
yang kanan menghantam kepala pemuda itu. sekaligus ia
lancarkan dua jurus serangan.
Gin Liong hanya tertawa dingin, Sekali bergeliat ia
sudah menyelinap dibelakang orang limbung itu. Tetapi dia
tak mau menyerangnya.
Si limbung Thiat-lo-han terlongong-longong karena
sasarannya tiba2 hilang. Dia baru terkejut ketika engkohnya
nomor empat yakni Bong-kim-kong berteriak: "Lo Ngo,
dibelakangmu...!"
Thiat-lo-han gelagapan dan cepat memutar sepasang
palu besi dihantamkan ke belakang, seraya berseru angkuh:
"Aku memang sudah tahu...."
Tetapi alangkah kejutnya ketika Gin Liong tak berada
dibelakang.
"Kurang ajar, engkau sembunyi di belakang lagi...." kali
ini dia tak mau berputar tubuh melainkan lontarkan palu
besi sebelah ke belakang.
Entah bagaimana terhadap orang limbung itu Gin Liong
tak sampai untuk turun tangan, Begitu ia loncat ke belakang
si limbung dan baru saja berdiri tegak, tiba2 palu besi sudah
menyambar ke mukanya. Dalam kejut Gin Liong pijakkan
kaki ke tanah dan melambung sampai tiga tombak ke udara.
Mo thian-giok-li Tio Li Kun berteriak kaget.
Seluruh anak buah gunung Mo-thian sanpun memekik
gempar.
Masih di tengah udara, Gin Liong sempatkan diri untuk
melihat apa yang terjadi, Ternyata palu besi yang dilontar si
limbung Thiat-lo-han tadi karena luput mengenai Gin
Liong, melayang kearah Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian
yang masih duduk ditanah.
Tongkat-halilintar mendelik ketika melihat mukanya
akan disambar palu besi. Cepat ia gunakan ilmu Kiu-te-sip-
pat-kun atau Delapan belas kali berguling guling di tanah.
Dia berhasil bergelundungan sejauh tiga tombak, Lalu
hantamkan kedua tangannya ke tanah dengan meminjam
tenaga pukulan itu tubuhnya melambung dua tombak ke
udara. Berhasillah ia menghindar palu besi dengan indah
sekali.
Bum . . . . palu besi itu tepat menghantam tempat bekas
diduduki Cu Ceng Hian tadi. Tanah muncrat, pasirpun
berhamburan ke empat penjuru.
Ketika melayang turun ke tanah, Cu Ceng Hian berdiri
dengan wajah pucat, keringat mengucur deras.
Mendengar teriakan gempar tadi, si limbung Thiat-lo-han
mengira kalau timpukan palu besinya mengenai Gin Liong.
Cepat ia berpaling dan . . .
"Hua, hua, hua . . . ." si limbung memekik-mekik seperti
orang kalap ketika melihat apa yang terjadi.
"Lo-naynay datang !" tiba2 kelompok anak buah Mo-
thian-san sebelah selatan berseru. serentak merekapun
menyingkir kesamping untuk memberi jalan.
Siau-yau-ih-su Tio Tek Beng, Say-ni-tun Tio Tek Giam
serentak terkesiap, Thiat-Io-hanpun berhenti memekik-
mekik. Tio Li Kun dan Cong-kim-kong lari menyambut!
Gin Liong hanya memandang dengan penuh keheranan,
jauh di sebelah selatan, tampak tiga sosok bayangan berlari
pesat seperti terbang.
Yang dimuka, seorang wanita tua berumur 80-an tahun,
wajahnya ramah, memegang sebatang tongkat perak.
Dibelakangnya, seorang pemuda berumur 26-27 tahun,
berwajah cakap dan mengenakan pakaian sutera putih.
Pemuda itu adalah engkoh keenam dari Tio Li kun.
Namanya Tio Tek Cun bergelar Siau-bun-hou.
Sedang yang seorang lagi seorang budak perempuan
yang lincah dan masih kekanak-kanakan Berpakaian warna
merah tua.
Begitu wanita tua itu tiba maka ratusan anak buah
gunung Mo- thian-san segera bersorak riuh: "Lo-naynay,
terimalah hormat kami..."
Wanita tua itu tersenyum seraya mengangkat tangannya
memandang ratusan anak buah Mo-thian-san, lalu memberi
anggukan kepala.
Tio Li Kun dan Bong-kim kong serta merta berseru :
"Mah . . ."
Demikian pula dengan Tio Tek Beng dan Tio Tek Giam.
Mereka bergegas menghampiri dan memberi hormat
kepada mamahnya dan Cu Ceng Hian demikian juga.
Si Limbung Bong-kim kong lalu menghampiri wanita tua
itu dan berseru: "Mah mengapa engkau tak membaca kitab
saja tetapi datang kemari ?"
Wanita tua itu berpaling memandang puteranya yang
tolol, tertawa ramah:
"Kudengar kalian sedang ribut2 dengan orang, Maka
kuajak adikmu Tek Cun dan Siau Hoan menjenguk
kemari."
Kemudian wanita itu berpaling dan bertanya kepada
puteranya yang paling tua:
"Beng-ji, apakah yang terjadi disini?" Tio Tek Beng
segera memberi keterangan bahwa malam itu seorang nona
telah tersesat masuk ke daerah terlarang gunung Mo-thian-
san dan tertangkap, sekarang adiknya datang ke sini.
"Mah, itulah Siau sauhiap," cepat Tio Li Kun menukas
seraya memeluk tubuh ibunya dan menunjuk Gin Liong.
Gin Liong mempunyai kesan baik terhadap wanita tua
yang berwajah ramah itu. Waktu dirinya ditunjuk Tio Li
Kun, ia terus berjalan menghampiri wanita tua itu.
Terkesiap wanita tua itu demi melihat seorang pemuda
berwajah cakap dan terang, menghampiri ke tempatnya. ia
mempunyai kesan baik lalu memandang Tio Li Kun, puteri
tunggalnya, Dilihatnya puterinya tersipu-sipu merah
mukanya. Diam2 wanita tua itu girang hatinya, ia
tersenyum.
"Budak perempuan, bukan saja engkau, tetapi mamah
pun ingin lekas2 melaksanakan harapanmu," katanya dalam
hati.
Rupanya Tio Tek Beng tahu akan gerak-gerik adik
perempuannya, segera ia berpaling dan mengisiki Tongkat-
halilintar Cu Ceng Hian. Orang she Cu itu mengangguk
lalu melangkah masuk ke-dalam barisan anakbuahnya.
"Boanpwe Siau Gin Liong menghaturkan hormat
kehadapan locianpwe," seru anak muda itu manakala sudah
tiba dihadapan wanita tua.
"Ah, harap Siau sauhiap jangan pakai banyak
peradatan," kata wanita tua seraya tertawa gembira.
Kemudian mata nyonya Tio tua itu menelusuri tubuh
Gin Liong dengan penuh perhatian, seolah-olah seperti
seorang mertua yang sedang menaksir-naksir seorang
menantu.
Si limbung Thiat lo-han maju selangkah dan berkata:
"Mah, yang memukul suko jatuh dari kuda adalah
pemuda ini."
Melihat dirinya dilaporkan pada mamahnya, sudah tentu
Bong-kim-kong marah. ia mendengus geram: "Hai. sute,
mana palu besi milikmu!"
"Huh, inilah," seru si limbung seraya menunjukkan
kedua palu besinya. Tetapi ketika melihat palu besinya itu
berlumuran lumpur, baru2 ia membersihkan dengan ujung
bajunya seraya menggerutu: "Huh, si Cu tua itu hanya
mengambilkan palu besi ini tetapi tak mau membersihkan."
Melihat tingkah laku dan ucapan si limbung, Gin Liong
tak kuasa menahan gelinya.
Tio Li Kun tersipu-sipu malu, ia mengira Gin Liong
menertawakan dirinya karena pemuda itu sudah dapat
mengetahui isi hatinya.
Rupanya nyonya Tio tua amat sayang kepada puteranya
yang limbung itu, ia tak mau mendampratnya melainkan
berpaling memandang Gin Liong lagi.
"Siapakah nama yang mulia dari suhu Siau sauhiap ?"
tanyanya,
Dengan sikap menghormat Gin Liong memberitahu
nama gurunya, Karena nyonya Tio tua itu sudah
mengundurkan diri dari keramaian hidup dan tekun
membaca kitab suci, ia girang mendengar guru Gin Liong
itu juga seorang paderi, Liau Ceng taysu.
Tiba2 Gin Liongpun teringat akan kematian yang
mengenaskan dari suhunya. Ingin sekali ia cepat2 menuju
ke Hong-shi untuk menemui Ban Hong Liong-li.
Serentak ia menyatakan kepada nyonya Tio tua bahwa ia
masih mempunyai suatu urusan penting sehingga tak dapat
tinggal lebih lama disitu. ia minta agar Mo Lan Hwa
dibebaskan.
"Setelah urusan selesai, boanpwe tentu akan
mengunjungi gunung ini lagi untuk mengaturkan hormat
kepada locianpwee dan minta maaf kepada para saycu
disini." katanya. Sebagai penutup, ia membungkukkan
tubuh memberi hormat.
Mendengar sikap Gin Liong begitu berduka atas
kematian suhunya tahulah nyonya Tio bahwa pemuda itu
seorang yang berbudi luhur. Diam2 wanita tua itu makin
puas.
Demi mendengar Gin Liong hendak buru2
menyelesaikan urusannya, walaupun tahu Tio Li Kun tentu
akan kecewa, tetapi nyonya Tio tak mau mempersulit
pemuda itu.
"Beng ji, dimanakah taci Siau sauhiap sekarang ?"
tanyanya kepada Tio Tek Beng.
"Mah, soal itu harus ditanyakan kepada Cu hun-saycu.
Toako tak tahu nona Siau berada di mana," tiba2 Tio Li
Kun menyeletuk.
Mendengar itu Gin Liong tampil ke depan dan
menjelaskan: "Taci Hoa itu bukan orang she Siau. Dia she
Mo, namanya Lan Hwa."
Mendengar itu Tio Tek Cun yang sejak datang tak
pernah buka suara, serentak maju ke muka dan berseru:
"Siau sauhiap, Mo Lan Hwa itu apakah bukan siau -
sumoay dari Pipa-emas Hok To Beng?"
"Ya, benar memang nona itu," seru Gin Liong berseri
girang.
Tetapi ketujuh saudara Tio serentak berobah mukanya,
Tio Tek Cun serentak berpaling mencari Cu Ceng Hian,
Kebetulan orang she Cu itu tengah bergegas muncul dari
barisan anakbuahnya.
"Mo Lan Hwa?" seru Tio Tek Cun.
Cu Ceng Hian tertegun.
"Nona yang keliru memasuki daerah terlarang itu adalah
siau-sumoay dan Pipa-emas Hok To Beng ialah nona Mo
Lan Hwa..." seru nyonya Tio tua pula.
Cu Ceng Hian tenangkan diri dan memberi keterangan:
"Tadi ji-saycu Tin Kwun Tong kebetulan datang ke gunung
timur, Demi melihat nona itu berada dalam jaring, ia
berteriak menyebut "siau-moay" lalu membuka jaring itu
sendiri dan mengajak si nona pulang ke markas.
"Mah, aku hendak pulang memeriksanya," bergegas Tio
Tek Cun berkata lalu lari menuju ke puncak di sebelah
muka.
Melihat ke tujuh saudara Tio itu agak gugup ketika
mengetahui Mo Lan Hwa itu adik seperguruan dari Pipa-
emas Hok To Beng, Gin Liong segera memberi penjelasan:
"Adalah karena kudanya binal maka taci Hwa sampai
masuk daerah terlarang dan terjerumus dalam jaring
perangkap, Soal itu tak dapat menialahkan siapa2..."
"Mungkin Siau sauhiap belum jelas akan keadaan yang
sebenarnya. Nona Mo itu sangat disayang sekali oleh ketiga
tokoh Swat-thian Sam-yu. Mereka menurut saja apa yang
nona itu minta. Apabila peristiwa ini sampai terdengar oleh
Swat-thian Sam-yu, wah, runyam juga, Pipa-emas dan
Kakek Pemabuk, masih dapat dilayani, Tetapi si gila Hong-
tian-soh itu paling sukar dihadapi. Dia paling sayang
kepada siau-sumoaynya nona Mo Lan Hwa," Siau-yau ih-
su Tio Tek Beng cepat menjelaskan.
"Maka setiap orang yang tahu akan hubungan mereka,
tak ada yang berani mengganggu nona Mo," ia
menambahkan pula.
Gin Liong termenung. Tiba2 ia melihat wajah Tio Li
Kun tidak senang tadi, Iapun mendapat kesan bahwa nona
jelita itu lebih anggun wajahnya dari Ki Yok Lan.
Rupanya si limbung Thiat-lo-han tak puas mendengar
keterangan toakonya, ia membenturkan sepasang palu
besinya dan mendengus marah:
"Hm, apa itu Pipa-emas, Pipa-perak dan Swat-thian Sam-
yu. Begitu berjumpa dengan aku si Thiat-lo-han ini tentu
akan kuhajar dengan sepasang palu besiku ini !"
"Tolol, jangan menggila. Mari kita lekas pulang untuk
menjenguk nona Mo itu. Sudahlah, apabila peristiwa ini
terdengar Swat-thian San-yu akulah yang akan
menghadapinya," kata nyonya Tio tua.
Kemudian dengan wajah yang ramah, nyonya tua itu
mengajak Gin Liong ke markas karena Mo Lan Hwa sudah
berada disana.
Gin Liong meragu. ia teringat akan sumoaynya, Ki Yok
Lan. yang menunggu di hotel dalam kota Hong-shia.
"Apakah Siau sauhiap masih ada urusan lain lagi ?"
tanya Tio Tek Beng.
Dengan terus terang Gin Liong menerangkan tentang
sumoaynya yang menunggu di hotel kota Hong-shia,
Apabila besok pagi2 ia tak datang, sumoaynya tentu
gelisah.
"Menginap di hotel apakah sumoay Siau sauhiap itu ?"
tanya Tio Tek Giam.
"Hotel Ko Liong." sahut Gin Liong.
Mendengar itu Tio Tek- Giam segera minta kepada
toakonya supaya melepas burung dara pembawa surat,
memberitahu kepada ketua cabang di kota Hong-shia
supaya besok pagi2 mengirim orang menemui nona Ki dan
memberitahukan bahwa Siau Gin Liong berada di markas
persaudaraan Tio di gunung Mo-thian-san.
Tio Tek Beng menyetujui Gin Liong menghaturkan
terima kasih kepada persaudaraan Tio atas bantuan mereka.
Demikianlah nyonya Tio dengan diiringi oleh putera
puterinya dan seluruh anak buah gunung Mo-thian-san
segera membawa Gin Liong menuju ke markas besar.
Markas itu terletak dalam lembah. Terdiri dari beberapa
bangunan gedung yang indah, setelah melalui beberapa
bangunan dan lorong akhirnya masuklah mereka kedalam
sebuah gedung. Disitu telah menunggu para menantu dari
nyonya Tio tua.
Ternyata memang Mo Lan Hwa sudah menunggu dalam
ruang itu. pertemuan itu amat menggembirakan sekali.
Tengah mereka bercakap-cakap, tiba2 masuklah si
limbung Thiat-lo-han terus langsung menunjuk kepada Mo
Lan Hwa:
"Mah, nona ini mengendarai kuda menerobos penjagaan
anak buah kita, Kelak dia tentu akan menjadi seorang
nyonya gila !"
"Lo Ngo, mengapa engkau begitu kurang adat terhadap
nona Mo !" seru nyonya Tio tua seraya gentakkan
tongkatnya ke lantai, "hayo, lekas minta maaf kepada nona
Mo !"
Melihat mamahnya marah, si limbung Thiat-lo-han
termangu-mangu. ia segera minta maaf kepada Mo Lan
Hwa.
Nyonya Tio tuapun segera menyuruh menyediakan
hidangan untuk menghormat kedua tetamunya.
Gin Liong tahu bahwa nyonya Tio tua itu dahulu adalah
pendekar wanita Lok-yang li-hiap yang termasyhur ia
makin menaruh hormat kepada nyonya tua itu.
Demikian pula dengan nyonya Tio tua. Tahu bahwa Gin
Liong itu murid dari Pelajar-muka-tertawa Kiong Cu Hun,
ia semakin berkenan dalam hati.
Diam2 putera2 juga tahu bahwa mamahnya itu amat
setuju dengan Gin Liong. Bahkan si limbung Thiat-lo-han
yang suka bicara secara blak-blakan pun tahu kalau
mamahnya suka kepada pemuda itu.
"Mah, kulihat engkau malam ini sangat gembira sekali,
mulut terus terbuka tertawa-tawa saja. Kalau memang suka,
mengapa tak memungut budak laki itu sebagai putera
angkat ?"
Mendengar itu gemparlah suasana perjamuan. Semua
mata mencurah kearah si limbung.
Si limbung melongo.
Sekonyong-konyong dengan muka berseri tawa, Gin
Liong berbangkit dan melangkah kehadapan nyonya Tio
tua lalu memberi hormat:
"Mah, terimalah hormat dari Liong-ji," katanya seraya
terus berlutut dan menghaturkan hormat sampai empat kali.
Nyonya Tio tua sangat gembira sekali sehingga ia
tertawa mengucurkan airmata.
Nyonya itu segera minta Gin Liong bangun dan berdiri
disampingnya. Putera2nya gembira sekali dan memberi
selamat kepada mamahnya.
Demikian upacara pengangkatan putera itu berlangsung
dalam suasana yang menggembirakan.
Saat itu hari sudah menjelang terang tanah dan Gin
Liongpun segera minta diri hendak kembali ke kota Hong-
shia.
"Ah, engkau masih muda belia, belum berpengalaman
dalam dunia persilatan. Aku sungguh kuatir engkau seorang
diri berkelana dalam dunia persilatan itu." kata nyonya Tio
tua.
"Mah, sudah lama aku tak keluar dari gunung. Aku ingin
menemani Liong-te turun ke dunia persilatan," tiba2 si
cantik Tio Li Kun berkata.
Tio Tek Beng segera mendukung: "Jika demikian mamah
baru legah pikirannya."
Mendengar itu nyonya Tio tua mengangguk setuju.
"Mah, aku juga kepingin bersama-sama Liong te..." seru
si limbung Thiat-Io han.
Tetapi nyonya Tio menolak.
Mendengar mamahnya setuju, Tio Li Kun girang sekali.
Segera ia suruh pelayan menyediakan kuda.
"Adik Liong, turunlah dulu mencari kedua ekor kuda
kita, Aku dan taci Li Kun akan menunggumu di mulut
lembah," kata Mo Lan Hwa.
Tiba2 Tio Tek Cun masuk dengan membawa sehelai
kertas, serunya: "Toako, celaka !"
"Mengapa, Liok-te?" seru Tio Tek Beng.
Tio Tek Cun menyerahkan surat kepada toa-konya lalu
berpaling kearah Gin Liong:
"Liong-te, sumoaymu itu apa bukan dara yang berumur
17 tahun."
"Ya, kenapa?" tanya Gin Liong.
Sambil menunjuk kearah surat yang dipegang toakonya,
Tio Tek Cun berkata cemas:
"Menurut surat dari ketua cabang kita di Hong-shia,
semalam seorang dara baju putih yang bermalam di hotel
Ko Liong telah berkelahi dengan Hun-tiap Sam-long, salah
seorang tokoh dari kedelapan Thiat-san Patkoay, Pagi tadi
jongos hotel mengatakan bahwa dara baju putih sudah
menghilang."
Setelah selesai membaca surat, berkatalah Tio Tek Beng:
"Rupanya nona Ki tentu ditawan oleh penjahat cabul itu."
Mendengar itu merah padamlah muka Gin Liong,
Segera ia menghampiri ke harapan nyonya Tio dan mohon
diri.
Setelah memberi hormat, ia terus melesat keluar.
"Liong-te, tunggu," seru Tio Tek Beng, Gin Liong
hentikan langkah, "Harap Liong-te jangan gegabah, Thiat-
san itu sangat berbahaya, Kedelapan Thiat-san Pat-koay
itupun teramat ganas sekali..."
"Baiklah, harap toako jangan kuatir," kata Gin Liong,
"sekalipun Thiat-san itu sebuah neraka, aku tentu dapat
mengobrak abriknya."
Habis berkata Gin Liong terus melesat pergi "Liong-ji,
hati-hatilah," nyonya Tio seraya menyuruh Tio Li Kun
segera menyusul pemuda itu, "lekas kalian berdua
menemani Liong ji."
Tio Li Kun dan siau Hoan girang sekali. Sambil menarik
tangan Mo Lan Hwa, Tio Li Kun berseru kepada Tio Tek
Cun : "Liok-ko, mah kita segera berangkat."
Mereka bertiga segera melesat keluar.
Melihat liong-te dan jit-moaynya pergi, si limbung Thiat-
Io hanpun minta ijin kepada mamahnya.
Karena kuatir Gin Liong tak cukup tenaganya. nyonya
Tiopun mengijinkan si limbung Thiat-lo-han ikut.
Tek Cun naik kuda merah dan sijelita Tio Li Kun naik
kuda putih, Sedang Mo Lan Hwa mengikuti dibelakang
kuda putih itu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya
Gin Liong pun tiba dengan naik kuda hitam dan kuda
hitam kaki putih.
Mereka segera berangkat turun gunung, Rupanya Gin
Liong terburu-buru sekali hendak mengetahui berita
sumoaynya, ia mencongklangkan kuda hitamnya dan
meninggalkan ketiga kawannya di belakang.
Tiba di kota Hong-shia. Mo Lan Hwa bertiga tak melihat
bayangan Gin Liong lagi, Mereka segera mencari rumah
penginapan Ko Liong.
Ternyata Gin Liong memang sudah berada disitu, Gin
Liong menerangkan bahwa laporan kepala cabang itu
memang benar, Ki Yok Lan sudah lenyap.
Mereka berempat segera meninggalkan kota Hong-shia.
Tetapi mereka dikejutkan oleh munculnya si limbung Thiat
lo-han. Si limbung tertawa-tawa girang sekali karena dapat
bertemu dengan keempat anak muda itu.
"Hai, siapa yang suruh engkau menyusul ?" tegur Tio Li
Kun.
"Mamah," sahut si limbung, "bukankah kalian hendak
menuju ke gunung Thiat-san ? Hayo, aku yang menjadi
penunjuk jalan."
Tengah hari mereka tiba di Pak-kwan. Si limbung
menggerutu panjang pendek karena perutnya lapar,
Akhirnya Gin Liong setuju untuk beristirahat mengisi perut
disebuah rumah makan.
Si Limbungpun segera pesan beberapa macam hidangan
yang lezat. Dalam pada itu Gin Liong memperhatikan
bahwa para tetamu rumah makan itu kebanyakan adalah
orang2 persilatan dan kaum pedagang.
"Orang tua itu memang aneh sekali. Beberapa hari yang
lalu katanya berada di sebuah lembah gunung Tiang-pek-
san, kemarin sudah lari lagi ke Tay-sip-kiau . .. ." kata
seorang tetamu.
Gin Liong tertarik perhatiannya dan melirik. Disebelah
meja di tengah ruangan, penuh diduduki orang2 persilatan.
Ada yang tua ada yang muda. Dan yang bicara itu adalah
seorang lelaki pertengahan umur, berwajah merah.
"Keadaan orang tua itu memang aneh, Asal jangan
mengganggu cermin pusakanya, dia pun diam saja. Tetapi
kalau cermin itu di ganggu, baru dia akan membunuh."
Kemudian orang itu berkata kepada siorang tua: "Tio
lopeh, kalau pergi ke sana kita hanya melihat-lihat saja,
jangan sekali2 ikut turun tangan."
Yang dipanggil paman Tio itu tertawa : "Peristiwa itu
sebenarnya sudah diketahui oleh dunia persilatan. Hanya
saja, sampai saat ini belumlah seorangpun yang tahu siapa
sesungguhnya orang tua pembawa cermin itu. Yang mati
tempo hari ialah si Pengemis-jahat-kaki-telanjang, paderi
Hoa dan nenek buta Tongkat-burung-bangau."
Ia menghela napas, kemudian melanjutkan "Kabarnya
saat ini Kim-piau Ma Toa Kong dari partai Tiam-jong-pay,
Bu Tim cinjin dari Kiong-lay-pay dan seorang lotiang dari
Kong-tong-pay menuju ke Tay-sip-kiau."
Tertarik hati Gin Liong akan percakapan itu. Asal
menuju ke Tay-sip-kiau, ia tentu dapat menemukan orang
itu, Tetapi saat itu ia harus ke gunung Thiat-san untuk
membebaskan sumoay nya.
Pembicaraan orang2 yang berada di meja tengah itu,
kebanyakan berkisar tentang diri orang tua pembawa
cermin Gin Liong dapatkan Mo Lan Hwa dan kawan2,
juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Hanya si
limbung Thiat-lo-han yang masih enak2 melahap ayam
panggang dan arak.
Tiba- Gin liong terkejut karena melihat Siau-bun-hou Tio
Tek Cun tengah memandang kebelakang tubuhnya dengan
mata berapi-api. Ketika Gin Liong berpaling dilihatnya tak
jauh dari tempat duduknya, dua orang paderi dan imam
sedang duduk menghadapi pinggang dan cawan arak yang
sudah kosong, Rupanya mereka sudah kenyang makan
minum.
Si paderi mengenakan jubah hitam, punggungnya
menyanggul sebatang senjata macam sekop yang diikat
dengan gelang. Alis tebal mata besar, Matanya berkilat-kilat
jahat.
Si imam mengenakan jubah bersulam patkwa,
menyanggul pedang pada punggungnya, Sepasang matanya
yang jelalatan menandakan dia seorang yang licik dan
ganas.
Kedua paderi dan imam itu memandang tak berkedip
kearah Mo Lan Hwa. Mulutnya berkomat-kamit seperti
menelan air liur.
Sudah tentu Gin Liong marah tetapi karena ia tak ingin
menimbulkan onar, maka memberi isyarat mata kepada
Tek Cun supaya bersabar.
"Hm..." walaupun menurut tak urung Tek Cun
mendengus geram untuk menyalurkan kemarahannya.
Mendengar itu Thiat-lo-han berpaling, Tetapi saat itu
Gin Liong cepat menuang arak pada keempat kawannya.
Melihat arak, Thiat lohan lupa malah. Segera ia
menyambar dan terus meneguknya
Tio Tek Cun serta mertapun segera menghaturkan arak
kepada Mo Lan Hwa. Nona itu diam2 memperhatikan
sikap Tek Cun yang begitu hangat dan mesra kepadanya.
Diam2 Gin Liongpun memperhatikan bahwa sejak
kemarin malam, memang Tek Cun sangat menaruh
perhatian istimewa terhadap Lan Hwa, ia membayangkan
bahwa kedua muda mudi ini memang merupakan sejoli
yang amat cocok sekali. Apabila keduanya dapat terangkap
jodoh, wah, iapun ikut gembira.
Memikir sampai disitu, diam2 Gin Liong seperti terlepas
dari suatu tindihan asmara.
Bidadari-Mo thian-san Tio Li Kunpun memperhatikan
betapa mesra engkohnya Tek Cun itu bersikap terhadap
Lan Hwa. Pun ia memperhatikan bahwa dalam soal itu
ternyata Gin liong malah mendukung. Dengan demikian
timbullah harapan makin besar hati bidadari dari gunung
Mo-thian-san itu terhadap Gin Liong.
Tetapi dikala membayangkan betapa girang Gin Liong
memikirkan sumoaynya, diam-diam hati Tio Li Kun agak
rawan.
Setelah seusai makan dan membayar rekening, mereka
dapatkan kedua paderi itu sudah pergi.
"Kedua paderi dan imam itu tentu murid2 perguruan
agama yang bejat," kata Gin Liong.
"Kita masih mempunyai urusan penting yang harus
dikerjakan lebih baik, jangan cari perkara lain,"
"tiba2 si jelita Tio Li Kun menyeletuk.
"Hai, urusan apa ?" tiba2 si limbung Thiat-lo-han
berseru.
"Bukan urusanmu !" tukas Tio Li Kun.
Gin Liong segera mengajak kawan-kawannya berangkat.
Kelima kuda mereka lari secepat angin. Baru melintasi dua
buah puncak gunung, kuda hitam yang dinaiki Gin Liong
meringkik keras. Ternyata tak jauh di sebelah muka,
tampak dua ekor kuda sedang berjajar menghadang jalan.
Siapa lagi kalau bukan kedua paderi dan imam yang makan
di rumah makan tadi.
"Kedua manusia itu rupanya memang sudah bosan
hidup," kata Tek Cun.
"Aku saja yang mengantar mereka pulang ke akhirat,"
tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru, mencabut sepasang
palu besi.
Paderi dan imam itu tertawa gelak2, serunya: "Aha,
ternyata Budha telah memberi kemurahan kepada kami
berdua untuk mendapatkan apa yang kita ingini"
Mereka mencabut senjata dan memutar-mutar jual
kegarangan.
Kuda hitam, kuda hitam kaki putih dan kuda putih tiba2
meringkik keras dan menerjang kemuka dan wut, wut, wut,
ketiga ekor kuda itupun loncat ke udara melayang
melampaui kepala kedua paderi dan imam,
Kedua paderi dan imam itu pucat wajahnya menjerit dan
tundukkan kepala, Keringat dingin mengucur deras.
"Hai, lihatlah pusakaku !" teriak si limbung Thiat-lo-han
seraya melemparkan kedua palu besi kearah kedua orang
itu.
Paderi dan imam makin menjerit kaget dan loncat dari
kuda, berguling-guling ke tepi jalan.
Bum, sepasang palu besi itu menghantam tanah,
menimbulkan debu dan pasir yang menutupi pemandangan.
Tar, tar . . . . kembali terdengar cambuk menggelegar di
udara, Kedua paderi dan imam itu terkejut tetapi mereka
tak dapat menghindar dari cambuk lagi. Cambuk si limbung
Thiat-lo-han dan Tek Cun masing2 telah menghajar kepala
kedua paderi dan imam itu sehingga mereka berkunang-
kunang matanya, menjerit-jerit lari menghampiri kuda, lalu
melarikan diri.
Tetapi kembali mereka harus berhadapan dengan dua
orang penghadang. Hanya saja, kali ini mereka tidak
terkejut ketakutan melainkan tertawa gembira sekali.
Kedua penghadang itu bukan lain adalah Mo Lan Hwa
yang naik kuda hitam kaki putih serta Tio Li Hwa yang
naik kuda putih. Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun memainkan
pedangnya dengan gencar dan tengah mengancam kedua
paderi dan imam itu.
Jika tadi dalam rumah makan mereka begitu bernafsu
sekali melihat Mo Lan Hwa yang cantik, Saat itu mereka
rontok nyalinya ketika melihat ilmu permainan pedang
kedua jelita yang begitu hebat.
"Li-posat, ampunilah jiwa kami . . . ." belum selesai
mereka berkata, dua sinar pedang melayang dan menjeritlah
mereka karena kepala mereka terbang dari tubuhnya.
"Ho, mereka sudah pulang ke akhirat, tetapi kita belum
tahu namanya. Bagaimana kalau kelak kita akan
menyambangi mereka?" sambung Thiat-lo-han menggerutu.
"Sudahlah ngo-ko," seru Tek Cun, "lain kali jangan
mengeluarkan pusakamu lagi, jangan sekali-kali suka
melemparkan senjatamu. Kalau lawan dapat menghindar
dan menyerangmu, bukankah engkau akan menghadapi
kesulitan ?"
Si limbung turun dari kuda, memungut sepasang palu
besinya dan tanpa berkata terus lompat keatas punggung
kudanya lagi.
Dikala baru saja matahari terbenam, mereka tiba di desa
Ban hok-cung.
Walaupun sebuah desa, tetapi Ban-hok-cung amat ramai.
Demikian pula pada waktu malam, ramai sekali.
Tek Cun memilih sebuah rumah penginapan besar dan
memilih tiga buah ruang, Ruang tengah ditempatinya
bersama Gin Liong, Kamar samping kanan oleh Tio Li Kun
dan Lan Hwa. Sedang kamar kiri ditempati si limbung
Thiat-Io-han sendiri.
Malam itu mereka berlima tidur dengan kenangan
masing2.
Gin Liong gelisah memikirkan pembunuh suhunya,
keselamatan sumoaynya dan tempat beradanya Ban Hong
Liong-li.
Siau-bun-hou Tio Tek Cun gelisah dirangsang getar2
asmara. Sudah dua tahun ia memendam asmara kepada Mo
Lan Hwa.
Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun gulak-gulik
tak enak tidur karena memikirkan Gin Liong, pemuda yang
telah mencuri hatinya, kini pemuda itu berada dekat sekali
tetapi bagaimanakah ia dapat mengutarakan perasaan
hatinya.
Mo Lan Hwapun menyesali nasibnya, Dia marah karena
Gin Liong bersikap dingin kepadanya, Karena dendam
cemburu, maka ia sampai hati merancang rencana sehingga
sidara cantik Ki Yok Lan jatuh ke tangan orang jahat, Kini
ia menyesal dan menangis.
Keesokan harinya ketika melihat mata Mo Lan Hwa
membendul bekas menangis, Gin Liong heran dan tak enak
hati.
Tek Cun ingin menghibur tetapi tak tahu bagaimana cara
memulai kata-katanya. Demikian pula dengan Tio Li Kun.
Waktu makan pagi hanya si limbung Thiat-lohan yang
kurang tidur nyenyak semangatnya segar, makan paling
banyak sendiri.
Singkatnya, mereka telah tiba di gunung Thiat-san. Tiga
penjuru gunung itu merupakan laut sehingga sukar untuk
mendaki keatas. Secara terang-terangan datang berkunjung
melalui pintu muka, tentu sukar diterima. Dan hal itu
hanya akan mengejutkan lawan saja. Maka diputuskan
akan naik pada waktu malam, Setelah menolong Ki Yok
Lan, baru nanti membasmi kawanan penjahat gunung itu.
Untuk menghilangkan kecurigaan musuh, mereka
mereka mengambil jalan kecil di sebuah desa. Petang hari
mereka sudah tak jauh dari kaki gunung. Dan pada waktu
malam itu mereka memasuki sebuah desa kecil yang terdiri
hanya beberapa buah rumah. Saat itu sepi sekali, penduduk
disitu sudah tidur. Mereka berhenti di sebuah rumah batuan
dan mengetuk pintu. Seorang kakek tua berumur 70-an
tahun membuka pintu. Tok Cun menyatakan bahwa dia
bersama beberapa saudaranya hendak minta tolong
meniupkan kuda.
Melihat kelima tetamunya itu bersikap sopan dan
menghormat, orang tua itu mempersilahkan mereka masuk.
Lima orang pemuda muncul dengan membawa lentera.
"Bawalah kelima ekor kuda tetamu kita ini ke belakang
dan beri makan secukupnya," kata orang tua itu.
Setelah menghaturkan terima kasih, kelima pemuda
itupun segera pergi dalam malam gelap, Setelah berunding
sejenak, mereka segera gunakan ilmu lari, dan tak berapa
lama tiba di kaki gunung sebelah utara.
Gunung Thiat-san mempunyai bentuk seperti seorang
raksasa hitam. Sejenak merenung, diam2 Gin Liong
teringat akan peringatan Swan yau-ih-sa Tio Tek Beng
bahwa gunung Thiat-san itu amat berbahaya sekali.
Kemudian mereka mulai mendaki. Gin Liong dan Tek
Kun di muka, Lan Hwa dan Li Kun di tengah, sedang si
limbung Thiat-Io-han di belakang.
Mereka tiba disebelah karang terjal yang menjulang
tinggi. Udara berselimut kabut tebal sehingga sukar melihat
diatas jarak empat puluh tombak.
Untuk menghindari serangan senjata gelap, mereka satu
demi satu melambung ke atas puncak. Pertama tama yang
enjot tubuh ke udara adalah Gin Liong. Karena
pengalaman di gunung Mo-thian-nia, begitu tiba dipuncak
karang itu segera ia bersembunyi dibalik segunduk batu.
Baru tiba dibelakang batu, hidungnya sudah terdampar
bau yang harum, Ketika berpaling ternyata si jelita Tio Li
Kun sudah berada di sampingnya Keduanya saling
mengangguk tertawa.
Setelah itu baru Mo Lan Hwa. Tek Cun dan terakhir si
limbung Thiat-lo-han.
Sampai pada jarak dua-puluhan tombak di sebelah muka,
hanya gunduk2 batu yang aneh bentuknya, suara ombak
mendebur yang terdengar.
Mereka segera berjalan ke muka, Li Kun tetap mengikuti
di belakang Gin Liong, Tek Cun mengikuti di belakang Mo
Lan Hwa dan si limbung yang mengekor di belakang
sendiri.
Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah puncak
kecil. Mendaki puncak itu, suasana amat menyenangkan.
Penuh dengan pohon2 hijau, kabut berair yang
menyegarkan muka, Makin masuk ke depan, keadaan
gunung makin berbahaya dan makin terdengar jelas debur
ombak laut.
Karena malam gelap, tanpa sengaja mereka telah tiba
disebuah lembah. Lembah itu penuh dengan rumput dan
bunga2 tintan. Rupanya telah dibangun oleh kawanan
gunung Thiat-san menjadi sebuah tempat yang indah.
"Liong-te." kata Tek Cun, "kalau tak salah kita sudah
berada di tengah2 gunung Thiat-san. Rasanya markas
mereka sudah tak berapa jauh."
"Liong-te." tiba2 pula si jelita Li Kun berkata,"
mungkinkah terjadi suatu perobahan dalam markas mereka
?"
Belum Gin Liong menjawab, Tek Cun sudah
mendahului: "Kurasa tidak, Selama dalam perjalanan kita
tak melihat bekas2 pertempuran."
Mo Lan Hwa mendengus tak puas: "Tetapi mengapa
selama dalam perjalanan kita tak bertemu barang seorang
manusia ?"
Karena tubuhnya tinggi besar dan ilmu ginkangnya agak
rendah, maka begitu tiba, napasnya terengah-engah dan
keringat bercucuran deras.
"Keparat, Thiat-san Pat-koay mungkin sudah mampus !"
ia mengomel panjang pendek.
Tek Cun berempat terkejut ia hendak memberi
peringatan agar engkohnya kelima itu jangan bicara Keras2.
Tetapi tiba2 terdengar suara tertawa seram, mengalun di
udara.
Jika Gin liong terkejut dan marah karena merasa
jejaknya telah diketahui musuh, tidaklah begitu dengan si
limbung Thiat-lo-han yang malah menantang:
"Ngo-ya telah datang, hayo suruh Pat-Koay keluar
menerima kematiannya !"
Malam sunyi, suara teriakan Thiat-lo-han itu
berkumandang jauh, sampai ke langit Tiba2 terdengar suara
orang tertawa gelak2. Gin liong berlima terkejut. Jelas dari
nada tertawanya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki
ilmu tenaga-dalam yang hebat. Tentu salah seorang
anggauta dari kedelapan Pat-koay.
"Budak, kalian datang terlambat ?" Rajawali-gundul-
lengan-besi sudah lama menunggu disini!" seru orang itu
pula lalu tertawa.
Tring, karena marah, si limbung benturkan sepasang palu
besinya dan berteriak: "Kalau sudah lama menunggu,
mengapa tak lekas keluar !"
"Budak bermulut besar, apa engkau kira kami Pat-koay
ini sungguh2 takut kepada kalian bertujuh?" sahut orang itu
lalu berseru memberi perintah: "Barisan obor kanan kiri..."
Dari samping kanan dan kiri segera terdengar gelombang
teriakan yang menggemparkan. Menyusul hampir seratus
buah obor segera menyala.
Lebih kurang tiga-puluh tombak disebelah kanan dan
kiri, tampak beratus-ratus anak buah gunung Thiat-san yang
mengenakan pakaian hitam. Yang seratus orang memegang
obor dan sisanya mencekal senjata golok.
Dan ketika Gin Liong berlima memandang ke muka,
ternyata diantara gunung2 batu sejauh tiga-puluh tombak,
tegak delapan lelaki berwajah seram. Ada yang berkepala
gundul, yang berambut panjang berwajah pucat, bertubuh
gemuk, kurus kering dan tinggi pendek serba menyeramkan.
Dibelakang berpuluh tombak dan kedelapan manusia
aneh atau Pat-koay itu, tampak dinding tembok markas
mereka yang tinggi.
Dengan mata berapi-api buas, kedelapan orang itu secara
pelahan-lahan maju menghampiri ke tempat Gin Liong
berlima.
"Liong-te, mereka itulah Pat-koay." Li Kun melesat ke
samping Gin liong dan membisiki.
Yang didepan dari rombongan Pat-koay itu kepalanya
gundul, rambut putih, hidung bengkok, umurnya 70-an
tahun, mengenakan jubah yang panjang sampai menyapu
tanah. Dia adalah Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se
Leng, jago pertama dari Pat-koay.
Dibelakang dua orang, yang satu rambut dan jenggotnya
kelabu, matanya tinggal satu, alis panjang mengenakan
pakaian warna kelabu, namanya Li Ko Ceng bergelar Tok-
gan-liong atau Naga-mata-satu, Dan yang satunya adalah
seorang paderi bermata besar, alis tebal, dada penuh rambut
lebat Toa To hwesio atau paderi perut Besar demikian
nama gelarannya.
Dua orang di belakangnya lagi, yang satu bermuka
pucat, mengenakan baju dari kain kasar, Dia adalah jago
keempat dari Pat-koay. julukannya Hwat-kiang-si atau
Mayat Hidup, Dan yang seorang, beralis naik, mata cekung
mengenakan pakaian hitam. Dia adalah Ngokoay atau jago
kelima, bergelar Hek-bu-siang atau setan hitam.
Disamping kiri dari kelima Pat-koay itu, seorang lelaki
yang rambutnya terurai ke belakang, pakaian compang
camping, Dia adalah Lak-pian-seng atau Manusia Kotor.
Sebelah samping kanan, seorang wanita yang dandanannya
menyolok selain Hoa-ciau-hong atau Bunga-mengundang-
kumbang demikian gelaran wanita cabul itu.
Dan paling belakang sendiri seorang lelaki berumur 30-
tahun lebih, mengerjakan pakaian warna meraih mukanya
berbedak, rambut kelimis, tubuhnya kurus. Dia adalah
Hun-tiap-sam-long atau pemuda Kupu-berbedak, yang baru
dua jam berselang kembali ke gunung.
Demi melihat Gin Liong dan Mo Lan Hwa yang pernah
dilihatnya didalam kota Hong-shia seketika berobahlah
wajah Hun-tiap Sam-long, ia segera tahu maksud
kedatangan kelima pemuda itu. Maka dia tak berani unjuk
diri di muka melainkan berada di belakang rombongannya.
Saat itu rombongan Pat-koay sudah tiba pada jarak tujuh
tombak. Serentak Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li
Kun menunjuk ke arah Hun-tiap Sam-long.
"Liong-te, yang dibelakang sendiri itu adalah Hun-tiap
Sam-long . . ."
Gin Liong serentak berteriak gusar: "Penjahat cabul,
serahkan jiwamu . . . ." - ia terus meluncur maju untuk
menyerang.
"Liong-te, jangan . . . ," teriak Tio Li Kun. Tetapi
terlambat, Gin Liong sudah menyerbu diantara Hek - bu -
siang dan wanita cabul Hoa -ciau-hong.
Yang dipandang sebagai lawan berat oleh Pat-koay,
hanialah Tek Cun dan si jelita Li Kun dari ke tujuh
persaudaraan Tio. Gin Liong dan Mo Lan Hwa tak
dipandang mata.
"Budak, berhenti . . . !" bentak Rajawali-gundul-lengan-
besi. Tetapi saat itu Gin Liong sudah berada di depan Hek -
bu - siang dan Hoa-ciau-hong.
Hek-bu-siang cepat tutukkan jarinya yang kurus ke
pinggang Gin Liong. Tetapi tanpa menghiraukannya, Gin
Liong menyelinap dan meneruskan serbuannya kepada Hun
tiap Sam long.
Apabila Hek-bu-siang tercengang adalah Hoa-ciau-hong
sudah menghantam muka Gin Liong.
"Enyah !" bentak Gin Liong segera balas menghantam
bahu kiri wanita itu, Dan serempak iapun terus menyelinap
ke arah Hun-tiap Sam-long.
Melihat gerakan yang begitu tangkas dari Gin Liong,
Hun-tiap Sam-long menjerit dan buru2 loncat ketempat Toa
To hweshio, Tetapi Gin Liong lebih cepat Sekali loncat ia
ayunkan tangannya ke ubun2 kepala orang.
"Liong-te, jangan dibunuh !" teriak Tio Li Kun.
Rupanya Gin Liong tahu apa yang dimaksud si jelita itu.
Cepat ia turunkan tangan untuk mencengkeram dada Hun-
tiap Sam-long.
Paderi Perut Besar mengurung dan cepat menghantam
punggung Gin Liong. Tetapi pemuda itu hanya tertawa
dingin, mendorong tubuh Hun-tiap Sam-long lalu berputar
tubuh dan mendorongkan tangan kanannya.
Terdengar letupan keras diiring oleh jeritan aneh ketika
tubuh dari paderi itu terlempar berguling sampai tiga
tombak jauhnya.
Tek Cun berempatpun sudah loncat ke belakang Gin
Liong Sedang si Manusia - kotor segera lari menghampiri
Toa To hweshio paderi itu duduk sandarkan tubuh pada
kaki Manusia-kotor, Pandang matanya berkunang2, mulut
menganga terengah-engah keras.
Suasana serentak sunyi senyap, Thiat-san Pat-koay
terkejut memandang Gin Liong, Mereka tak menyangka
kalau pemuda tak terkenal itu memiliki tenaga-dalam yang
sedemikian saktinya. Hanya sekali hantam, Toa To
hweshio, pemimpin ketiga dari kawanan Pat-koay telah
terlempar sampai tiga tombak.
"Penjahat cabul yang tak tahu malu. Lekas bilang,
dimana sumoayku engkau sembunyikan !" bentak Gin
Liong seraya menuding Hun-tiap Sam-long..
Rajawali-gundul bertambah angkuh:
"Budak bermulut tajam, jelas engkau hendak jual jiwa
bekerja pada persaudaraan Tio untuk merampok gunung
ini, mengapa engkau cari alasan segala macam . . ."
"Bangsat tua, tutup mulutmu !" bentak Tek Cun,
mencabut trisula pendek terus menyerang.
Serangan Tek Cun itu cepat disambut oleh Hua - ciau -
liong yang sejak tadi marah melihat tingkah laku Gin Liong
dan Tek Cun. Tetapi wanita cabul itupun segera disongsong
oleh Mo Lan Hwa yang membabat lambungnya Tiba2 Toa
To hweshio loncat berdiri terus menggerung dan menyerang
Gin Liong. Melihat Tek Cun sudah melayani Hoa-ciau-
hong, Mo Lan Hwa segera beralih menyerang kepala Toa
To hweshio.
Tetapi paderi perut Besar itu tak mau menangkis atau
menghindar melainkan tetap ulurkan tangannya hendak
meraih leher Mo Lan Hwa.
"Tring..."
Mo Lan Hwa terkesiap, Ternyata gundul Toa To
hweshio itu sekeras baja, Dan dalam pada itu tangan si
paderipun hampir tiba di leher si nona.
-ooo0dw0ooo-

Bab 5
Lima nyonya menantu
Gin liong terkejut Cepat ia meluncur maju menyambar
siku lengan paderi itu:
"Bangsat gundul, engkau cari mati . . . "
Tay To hweshio atau paderi perut Besar terkejut juga
melihat serangan anak muda itu. Dengan nekad ia
tundukkan kepala lalu membentur dada Gin Liong.
Dalam kesempatan itu Mo Lan Hwapun segera
menggeliat ke tempat Li Kun yang tegak dengan pedang
melintang.
Tetapi Gin Liong tak mau melayani kenekadan paderi
itu, Cepat ia menyelinap kesamping dan menyusup ke
belakang si paderi lalu mengirim sebuah tendangan.
Karena serudukannya luput, paderi itu meluncur ke
muka, Dan kaki Gin Liong mempercepat laju tubuhnya
menyusur ke tempat Thiat-lo-han.
Si limbung Thiat-lo-han menyengir Cepat ia mengangkat
tinjunya yang besar untuk dihantamkan kebatok kepala
paderi itu.
Hwat-kiang-si dan Hek-bu-siong terkejut sekali, Dengan
memekik keras mereka serempak hendak menerjang Thiat-
Io-han.
Prakk . . . .
Terlambat Tinju si limbung yang besarnya hampir sama
dengan buah kepala, telah terlanjur menimpali kepala Tay
To hweshio, Batok kepala paderi Perut Besar yang keras,
akhirnya hancur berantakan juga terhunjam tinju si limbung
Thiat-lo-han.
Rubuhlah paderi itu. sepasang tangannya yang berbulu
lebat mencengkeram tanah keras2. Rupanya paderi itu
tengah meregang jiwa dengan penasaran.
Sudah tentu Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se Leng,
kepala dari Pat-koay, marah sekali. Dengan menggerung
keras ia segera menerjang Thiat-lo-han.
Tetapi serempak dengan itu, terdengar pula jeritan ngeri.
Rajawali-gundul terkejut dan berpaling. Ah . . .
Tampak Siu-bun-hou Tek Cun dengan mencabut
trisulanya yang pendek dari dada wanita cabul Hoa ciau -
ling. Bluk, wanita cabul itu lepaskan pedang dan terkulai
rubuh, Darah mengalir dari dadanya
Melihat itu bukan kepalang marah Hun tiap sam long,
dengan meradang dahsyat ia telah menerobos dari sela2
Tok-gan liong serta menerjang Tek Cung.
Tetapi cepat2 Gin Liong menyambar lengan Hun tiap
sam long sehingga dia menjerit kesakitan.
Melihat itu Rajawali gundul Gui Se Liang segera
lepaskan pukulan Lat hiat Hoa-san atau menghantam
gunung Hoa san kepada Gin Liong, sedang tangan kirinya
serempak menyambar siku lengan pemuda itu.
Sekaligus ketua dari Pat-koay itu melancarkan serangan
yang dahsyat.
Bidadari dari gunung Mo-thian, Tio Li Kun terkejut,
buru2 ia loncat menusuk Rajawali gundul.
Lak pian-seng atau si Manusia kotor kebutkan lengan
bajunya dan sebuah kipas besi telah menyembul di
tangannya. Secepat ditaburkan, secepat itu pun ia terus lari
menerjang Tio Li Kun.
Setelah dapat menangkap si penjahat cabul Hun-tiap
sam-long, sudah tentu Gin -Liong tak mau melepaskannya.
Cepat ia loncat membawa Hun-tiap sam long sampai dua
tombak jauhnya.
Pada saat Gin liong tegak itulah, sebuah pekikan dahsyat
dari sesosok bayangan biru sudah menerjangnya.
Gin Liong terkejut dan berpaling. Tampak Pat-koay
nomor dua ialah Naga-mata-satu, rambutnya meregang
tegak, biji matanya yang tinggal satu bersinar buas, golok
hian-to yang berkilat-kilat tajam mendesing kearahnya.
Dalam pada itu pukulan Rajawali-gundul tadipun
mengancam kearah kepala Gin Liong.
Melihat itu memancarlah hawa pembunuhan pada dahi
Gin Liong, Dengan membentak keras ia mendorong tubuh
Hun-tiap-sam-long. Kemudian cepat berputar tubuh,
membentak keras seraya menangkis pukulan Rajawali-
gundul yang termasyhur memiliki Thiat pi atau lengan besi.
Tiba2 terdengar jeritan melolong yang amat ngeri sekali
Ternyata karena tubuh Hun-tiap-sam-long didorong
ketempat Naga-mata-satu, si Naga-mata-satu tak sempat
lagi untuk menarik atau menghentikan gerakan goloknya
yang hendak disabetkan padat Gin Liong.
Golok bunto adalah sebuah golok yang amat tipis dan
tajam luar biasa. Tak ampun lagi tubuh Hun-tiap-sam-long
telah terbelah menjadi dua, darah menyembur dan isi
perutnyapun berhamburan keluar.
Krak...
Saat itu terjadilah benturan antara tangan Gin Liong dan
tangan Rajawali-gundul.
Sepasang bahu Gin Liong bergetar tetapi Rajawali-
gundul tergempur kuda2 kakinya sehingga terhuyung-
huyung mundur sampai tiga langkah.
Terdengar pekik melengking segumpal asap merah
meluncur dan Mo Lan Hwa menghadang si Naga-mata
satu, Pat-koay nomor dua yang telah salah tangan
membunuh Hun-tiap-sam-long.
Gin Liong menyempatkan diri untuk memandang ke
sekeliling, Dilihatnya si limbung Thiat-lo-han tengah
bertempur melawan Hek-bu-siong. Si jelita Tio Li Kun
tengah melayani Lak-pian-seng si Manusia-kotor, Tek Cun
bertanding lawan Hi-kiang-si atau si Mayat-hidup. Keenam
orang yang bertempur dalam tiga partai itu, tampak sedang
bertempur mati-matian.
Sedangkan beratus-ratus anak buah Pat-koay tampak
berjajar-jajar di sekeliling gelanggang bertempur dengan
membawa obor, Mereka terlongong-longong menyaksikan
pertempuran yang dahsyat itu.
Tiba2 dari tengah lereng gunung disebelah muka,
terdengar lima buah letusan bunga api. Percikan bunga api
itu menimbulkan pemandangan indah di malam yang gelap.
Tetapi lokoay Rajawali - gundul serentak berobah seri
wajahnya, Beratus - ratus anak buahnyapun segera bersorak
nyaring lalu berhamburan lari menuju ke gunung di muka
itu.
Gin liong segera tahu bahwa tentu ada pula kawanan ko-
jiu (tokoh sakti) yang menyerbu gunung.
Tiba2 Rajawali gundul tertawa nyaring dan seram.
Selekas berhenti, ia menghardik sekeras-kerasnya :
"Berhenti semua !"
Serentak pertempuranpun berhenti, Hek-bu siong, Hwat-
kiang-si, Lak-pian-seng dan Naga-mata-satu segera
berhamburan loncat ke belakang Rajawali-gundul. Wajah
mereka tampak tegang sekali dan memandang ke arah
gunung disebelah muka.
Pun Tek Cum, Thiat-lo-han. Tio Li Kun dan Mo lan
Hwapun segera meluncur ke muka Gin Liong, Mereka tat
tahu apa yang terjadi.
Dengan mata berkilat-kilat, Rajawali-gundul membentak
Tek Cun:
"Siau bun-hou, kami dari gunung - Thiatsan tak merasa
mempunyai dendam permusuhan kepadamu Tetapi
mengapa ketujuh saudaramu malam ini menyerang gunung
kami? Apa maksudnya, katakanlah !"
Tek Cun kerutkan dahi dan menyahut marah sekali:
"Kedatangan kami bersaudara bersama Siau sauhiap
kemari, tak lain hendak meminta kembali nona Ki yang
telah dirampas Hun-tiong-sam-long di rumah penginapan
kota Hong-shia ...."
"Kalau mau minta orang mengapa tak secara terang-
terang datang ke gunung ?" tukas si Naga-mata-satu dengan
marah.
Karena dirinya tak di tanya. Thiat-lohan merasa terhina.
ia marah. sebelum Tek Cun menyahut ia sudah mendahului
membentak dengan deliki mata:
"Ke gunung mau cari siapa ? sepanjang jalan aku tak
ketemu dengan seorang manusiapun juga. Kukira sekalian
sudah mati semua." .
Naga-mata-satu tak dapat menjawab, dari malu ia
menjadi marah, bentaknya:
"Budak kecil yang bermulut besar..." golok bian-to
berhamburan mencurah kearah Thiat-lo-han.
Tahu kalau engkohnya yang nomor lima tak dapat
menandingi kesaktian Naga-mata-satu. Bidadari-gunung-
Mothian Tio Li Kun segera melengking seraya taburkan
pedangnya menyongsong golok bianto.
Naga-mata-satu tertawa gelak2 :
"Bagus, bagus ! Dengan membunuh kalian bertujuh Jit-
hiong, tentu bakal menjadi enghiong (jago)!"
Tiba2 permainan golok bian-to dirobah, Golok itu
bergeliat membolak-balik seperti seekor ular, Naga-mata-
satu telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya
untuk menyerang
Si cantik Tio Li Kun hanya tertawa dingin. ia salurkan
hawa murni ke batang pedang dan menggunakan cara
kekerasan untuk menangkis dan adu benturan senjata. Dia
sengaja tak mau menghindar maupun menarik pedangnya.
Dengan kelincahannya yang mengagumkan, si cantik Tio
Li Kun dengan pedangnya itu benar2 menyerupai seorang
bidadari yang sedang bermain-main dalam taman bunga.
Lama kelamaan mata si Naga-mata-satu yang tinggal
sebuah itu mulai berkunang-kunang. Makin lama ia makin
merasa gentar, Saat itu baru ia membuktikan bahwa si jelita
Tio Li Kun yang disohorkan memiliki kepandaian silat dan
ilmu pedang sakti itu, ternyata memang benar.
Lak-pian-seng atau si Manusia-kotor yang menyaksikan
pertempuran itu dari samping, diam2 pun merasa gentar
dalam hati. Saat itu baru ia menyadari bahwa tadi ternyata
si cantik itu memang sengaja tak mau mendesak kepadanya.
"Jite, mundurlah !" melihat Naga-mata-satu tak dapat
bertahan, cepat Rajawali-gundul berseru memangginya.
"Jit-moay, mundurlah !" Thiat lo-han si limbung pun tak
mau kalah suara, ia menyuruh adiknya yang nomor tujuh.
Mendengar teriakan itu, kedua pihakpun berhenti
bertempur.
Sementara di gunung sebelah muka, terdengar letusan2
keras dan pekik jeritan pembunuhan.
"Siau bun-hou, sebenarnya berapa banyak orangmu yang
datang kemari ?" teriak Rajawali-gundul Gui Se Ling
kepada Tek Cun.
Tek Cun mendengus marah.
"Sekali lagi kukatakan, bahwa kami hanya datang
berlima. Orang2 yang di gunung sebelah muka itu, bukan
orang kami."
Melihat sikap dan wajah kelima pemuda itu, Rajawali-
gundul percaya bahwa mereka memang tak bohong, Segera
ia berpaling memberi perintah kepada Hwat kiang si dan
Hek bu-siong supaya lekas ke gunung disebelah muka.
Kedua orang itupun segera lari pesat menuju ke gunung
disebelah mula, Mereka bercuit aneh dan nyaring. Segera
terdengar teriak sambutan dari gunung di muka, Rupanya
mereka girang karena mendapat bala bantuan.
Pun lebih dari separoh anak buah gunung Thiat- san
yang segera tinggalkan tempat itu menuju ke gunung di
muka.
Melihat itu Gin Liong makin gelisah, ia mencemaskan
Ki Yok Lan
Rupanya Mo Lan Hwa tahu apa yang dipikirkan Gin
Liong, Segera ia menuding Rajawali-gundul dengan ujung
pedang dan berseru:
"Lekas bawa kami ketempat nona Ki. Kalau tidak,
jangan sesalkan aku bertindak kejam."
Rupanya sejak kalah dengan Tio Li Kun tadi, si Naga-
mata-satu tetap malu dan mendongkol, Melihat Mo Lan
Hwa berani menuding dan membentak Rajawali-gundul, ia
tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Tutup mulutmu, budak hina . . . "
"Sejak berumur delapan tahun terjun kedunia persilatan,
sampai sekarang belum pernah ada orang yang berani
memaki aku, Salju-bertebar-merah seorang budak hina !"
Ia menutup kata-katanya dengan tebarkan pedang kearah
Naga-mata-satu.
Mendengar nona itu ternyata Salju-bertebar merah Mo
Lan Hwa, seketika Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan
Lak-pian-seng berobah wajahnya.
"Harap nona suka berhenti," cepat Rajawali gundul
berseru.
Mo Lan Hwapun hentikan pedangnya, "Jite, mari lekas
pergi, yang datang di gunung sebelah muka itu mungkin
Swat-thian Sam-yu !"
Ketua Pat-koay itu terus melambung ke udara dan
melayang sampai beberapa tombak jauhnya, ia hendak
menuju ke gunung di muka.
Mendengar nama Sam-yu, Naga-mata-satu dan Lak-
pian-seng tergetar hatinya. Segera keduanya mengikuti jejak
Rajawali-gundul, menuju ke gunung di muka.
Demikian keadaan dalam lembah pun tampak sibuk
sekali. Anak buah gunung Thiatsan berbondong-bondong
menyerbu ke gunung di sebelah muka.
Keadaan di gunung itu makin kacau, Jerit lolong, pekik
teriak, susul menyusul memecah kesunyian malam.
Gin Liong sibuk juga. Dia tak menghiraukan apa yang
terjadi di gunung sebelah muka. Yang penting ia harus
menyelamatkan sumoaynya.
"Liongte," tiba2 Tek Gun berkata, "selagi mereka kacau
balau, mari kita masuk kemarkas mereka."
Tetapi ketika memandang kearah markas gunung Thiat-
san, mereka terkejut.
"Markas Thiat-san dibakar orang !" serempak mereka
berseru kaget.
Markas kawanan Pat-koay telah dimakan api. anak
buahnya menjerit dan berteriak-teriak kacau balau.
"Celaka, apakah nona Ki masih berada dalam markas
mereka," tiba2 Mo Lan Hwa berseru cemas,
Gin Liong terkejut, Tetapi karena Hun-tiap-sam-long
sudah mati, sukar untuk mencari keterangan.
Saat itu letusan2 terdengar makin meluas, Hampir
seluruh lembah dan gunung telah dimakan api.
Tiba2 dari arah belakang terdengar suitan nyaring yang
penuh bernada kemarahan. Cepat Gin Liong berlima
berpaling kebelakang. Tampak Rajawali gundul. Naga-
mata-satu dan Lak pian-seng berlari-lari mendatangi seperti
orang gila. Rambut mereka terurai kusut, pakaian lusuh.
Mereka lari menuju ke markas yang tengah dibakar api.
Seorang lelaki pun tengah berlari mengejarnya. Rupanya
dia adalah penyerang dari gunung di sebelah muka.
"Adik Liong, mari kita ikuti mereka, Mungkin nona Ki
masih berada dalam markas," kata Mo Lan Hwa.
Gin Liong mengangguk. Mereka berlima segera
mengejar dibelakang mereka.
Markas seperti berobah menjadi lautan api. Keadaan
sekitar gunung itu terang benderang seperti siang hari.
Dinding tembok markas dibangun setinggi lima tombak,
terbuat dari batu yang kokoh, Diatas tembok dipasangi
pagar kayu yang ujungnya diberi pisau tajam.
Tetapi kelima pemuda itu tak menjumpai rintangan apa2
ketika mereka loncat keatas pagar tembok itu. Tampak
markas itu penuh dengan bangunan2 rumah, Yang paling
besar, sebuah bangunan bertingkah Di tengahnya terdapat
sebuah ruang besar.
Api berasal dari belakang markas dan saat itu tengah
meranggas kebagian muka.
Setelah melihat keadaan markas itu sunyi senyap, Gin
Liong memberi isyarat untuk bergerak, ia mendahului
melayang turun, Tetapi baru kakinya tiba di tanah, tiba2
terdengar Mo Lan Hwa menjerit tertahan.
Gin Liong terkejut dan cepat berpaling, Ternyata Mo
Lan Hwa dan Tio Li Kun sudah menyerbu kederetan
rumah disebelah kiri.
Bekas tempat yang ditempuh kedua nona itu tampak tiga
anak buah Pat-koay sedang terkapar tidur nyenyak.
Si limbung Thiat-Io han yang sudah loncat turun
bersama Tek Cun, terus langsung menghampiri ketiga anak
buah itu dan mencongkel tubuh mereka dengan kakinya,
Tetapi rupanya ketiga orang itu tidur pulas sekali.
"Ah, mungkin mereka telah ditutuk jalan darahnya oleh
orang yang melepas api," kata Gin Liong.
Tek Cun segera membuka jalan darah mereka. Seketika
menjeritlah dan melonjak bangunlah ketiga orang itu.
Bahkan terus hendak menabas dengan goloknya,
Tetapi ketika melihat sikap kelima pemuda itu tenang2
saja, merekapun tertegun.
"Apakah kalian bertemu dengan orang sakti?" tegur Gin
Liong.
Melihat Gin Liong seorang yang cukup sopan, ketiga
orang itupun segera memberi keterangan: "Entahlah, kami
hanya merasa dihembus angin dan tahu2 rubuh tak
sadarkan diri lagi."
Gin Liong berlima diam2 terkejut, jelas malam itu
markas gunung Thiat-san telah kedatangan seorang tokoh
yang sakti.
"Apakah paman bertiga mengetahui jit-saycu Hun-tip
sam-long dikala pulang ke gunung, membawa apa saja ?"
tiba2 Mo Lan Hwa bertanya.
"Kami tak melihat Jit saycu pulang," kata mereka.
Rupanya percuma saja bertanya dengan ketiga orang itu.
Gin Liong dan kawan-kawannya segera loncat ke atas
rumah dan lari menuju ketempat kebakaran.
Saat itu api makin besar, Anak buah Pat-koay
berbondong-bondong menuju ke markas belakang.
Gin Liong berunding dengan keempat temannya dan
memutuskan untuk menangkap beberapa anak buah markas
yang tahu tentang keadaan Hun-tiap-sam-long.
Mereka segera menuju ke markas belakang. Tampak
beratus-ratus anak buah "Thiat-san hanya berteriak-teriak
kalap menyaksikan lautan api tanpa dapat berbuat apa2.
Demikian pula Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan Lak-
pian-seng hanya bingung tak keruan menyaksikan
markasnya dimakan api.
Tiba2 dari jendela tingkat kedua dari sebuah bangunan
disebelah kiri, tampak menyala terang.
Gin Liong tertarik Cepat ia lari menuju ke rumah tingkat
itu. Tek Cun berempat pun segera mengikuti Gin Liong
loncat ke atas wuwungan sebuah rumah tetapi masih
kurang tujuh tombak tingginya dari tempat yang menyala
itu. Setelah mengempos semangat, Gin Liong segera enjot
tubuhnya ke udara. Ditengah udara ia bergeliatan
merentang kedua tangan dan langsung melayang ke-arah
jendela ruang bertingkat itu.
Tiba2 jendela terbuka dan dua kepala wanita muda
menyembul keluar, Gin Liong pun menuju ke jendela itu.
Dalam pada itu karena takut terjadi apa2 pada Gin Liong,
Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun menyusul.
Kedua wanita itu terkejut dan melarikan diri karena
takut Gin Liong cepat mengejar mereka, Kedua wanita itu
segera jatuhkan diri berlutut dan menangis.
"Jangan takut, kami hendak bertanya kepada kalian,"
Mo Lan Hwa berkata dengan ramah, ia tahu kedua wanita
itu tak mengerti ilmu silat.
Dengan tubuh gemetar mereka mengangguk
"Kali ini Hun-tiap-sam-long jit-saycu pulang dengan
membawa seorang gadis. Tahukah kalian dimana nona
itu?" tanya Mo Lan Hwa.
"O, nona Ki tidak berada dalam markas," sahut salah
seorang yang lebih tua.
"Dimana ?" seru Gin Liong.
Wanita itu menghampiri jendela lalu menunjuk sebuah
puncak gunung di sebelah tenggara dan memberi
keterangan:
"Karena takut pada li-saycu Hoa-ciau-hong, maka jit-
saycu Hun-tiap-sam-long telah menempatkan nona Ki di
puncak itu. Salah seorang kawan kami ditugaskan untuk
membujuk agar nona Ki mau meluluskan menikah dengan
jit-saycu."
Gin Liong girang, Setelah menghaturkan terima kasih
segera ia ajak kedua nona melayang turun lagi ketempat
Tek Cun dan Thiat-lo-han menunggu, Mereka berlima
segera menuju ke puncak itu.
Tetapi tiba2 pada saat itu Rajawali-gundul, Hek-bu-siong
dan Lak-Pian-seng berlima menghadang jalan.
"Serahkan jiwa kalian berlima !" teriak Rajawali- gundul
seraya menyerang dengan kalap.
Karena hendak cepat2 menuju ke puncak di sebelah
tenggara, Gin Liong tak bernafsu untuk melayani lebih
lama. Segera ia songsongkan kedua tangannya, Terdengar
letupan keras dan Rajawali-gundulpun terhuyung-huyung
mundur. Atap rumah yang dipijaknya berhamburan pecah.
Naga mata-satu cepat loncat untuk memapaki tubuh
Rajawali-gundul.
Beberapa anak buah Thiat-sanpun segera berdatangan ke
tempat itu. Tetapi pada lain saat dari pagar tembok markas
yang tinggi, meluncur lima sosok tubuh kecil yang terus lari
menghampiri ke tempat Gin Liong.
Gin Liong terkejut. Kelima sosok tubuh kecil itu tak lain
adalah kelima ensoh atau taci ipar dari Tek Cun. Mereka
mengenakan pakaian ringkas dan masing2 menyanggul
pedang pada belakang bahunya.
Toasoh atau taci ipar yang paling besar, mengenakan
baju warna kuning muda. Ji - soh atau yang nomor dua
mengenakan baju biru, ensoh yang ketiga baju wungu
muda, yang ke empat baju hijau. Sedang isteri si limbung
Thiat-lo han yang juga ikut datang, memakai baju hijau tua.
Jika Gin Liong heran, tidaklah demikian dengan Thiat-
Io-han yang tertawa karena melihat isterinya datang.
"Ensoh sekalian, mengapa kalian kemari ?" tegur Tio Li
Kun.
"Mamahlah yang menyuruh kami menyusul karena tak
tega dan kuatir kalian akan mendapat kesulitan dari Pat-
kuay," sahut ensoh yang tertua.
"Hai, Siau Bun hou, apakah wanita2 busuk itu tak
mempunyai hubungan dengan engkau ?" teriak Rajawali
gundul marah.
Mendengar ensohnya dihina, Tek Cun marah dan terus
hendak menyerang tetapi tiba2 ensoh yang nomor tiga
sudah mendahului:
"Bangsat tua, engkau memang sudah bosan hidup !"
Wanita baju wungu muda itu mencabut pedang lalu
menusuk dada Rajawali-gundul.
"Perempuan busuk, aku akan menerima beberapa jurus
seranganmu lagi !" Hek-bu siong cepat loncat menyongsong
dengan gunakan senjata Kou-hun-pay atau perisai
pemburu-jiwa untuk menangkis.
"Ho, engkau berani maju lagi ?" wanita itu
menggelincirkan pedang ke samping lalu membabat lutut
Hek-bu-siong.
Setitikpun Hek-bu-siong tak mengira wanita itu memiliki
permainan pedang yang sedemikian cepat dan aneh,
Dengan memekik aneh ia segera menyurut mundur sampai
setombak.
Sam-soh tidak mau mengejar melainkan memandang
Hek-bu-siong seraya mendampratnya:
"Tadi di gunung sebelah muka sudah kuampuni jiwamu,
sekarang engkau masih berani unjuk tingkah lagi."
Kemudian wanita itu beralih memandang pada Rajawali-
gundul dan berseru:
"Ah, tak kira Pat-koay dari gunung Thiat-san yang begitu
termasyhur ternyata hanya kawanan manusia yang tak
berguna !"
Lo-koay Rajawali-gundul pucat wajahnya, Karena
menahan kemarahan gerahamnya sampai bergemerutukan.
sedangkan ji-koay si Naga-mata-satu menengadahkan
muka, tertawa geram:
"Perempuan hina yang bermulut lancang, aku hendak
menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !"
Habis berkata ia terus putar golok bianto dan menyerang
maju.
"Jite, kembalilah !" cepat Rajawali-gundul mencegah. ia
tahu bahwa kekuatan pihak lawan lebih unggul.
Naga-mata-satu hentikan langkah, Dengan mendengus
geram ia memandang kearah Gin Liong dan kawan-
kawannya.
Toa-soh atau taci ipar yang paling besar, tertawa hambar,
serunya: "Lo-koay, mengapa engkau begitu marah, Kalau
tidak karena beberapa saudaramu bermata keranjang
merampas wanita, sekalipun engkau mengirim undangan,
belum tentu kami akan datang ke gunung Thiat-san ini,
apalagi bermaksud hendak merebut markasmu."
Lo-koay atau Pat-koay nomor satu, deliki mata: "Siapa
yang kami rampas ? Apa buktinya ? Dimanakah orang itu ?"
"Mau bukti? ikutlah aku !" teriak Gin Li-ong yang tak
kuasa lagi menahan kemarahannya ia terus mendahului lari
kemuka, Tio Li Kun dan kawan segera mengikutinya.
Melihat itu terpaksa Lo-koay dan kawan-kawannyapun
segera menyusul.
Saat itu api makin besar sehingga langit seolah berobah
merah warnanya. Anak buah gunung Thiat-san menjerit-
jerit hiruk pikuk namun tak berdaya untuk menolong
hancurnya lima deret bangunan gedung besar dari bahaya
api.
Setelah keluar dari markas, Gin Liong lari menuju ke
tenggara dan dalam beberapa kejab tiba dibawah puncak
gunung, ia segera mendaki ke atas puncak.
Lo-koay berlima berusaha untuk mendahului mencapai
puncak, Mereka hendak menggerakkan alat2 rahasia untuk
mencelakai kawanan anak muda itu, Tetapi ternyata kalah
cepat. Gin Liong dan kawan2 sudah tiba lebih dulu di
puncak yang merupakan hutan pohon siong dan hutan
bambu, Hutan2 itu pun telah dimakan api. Gin Liong, Tio
Li Kun dan Mo Lan Hwa menerjang ke hutan itu, Pada
sebuah batu besar, mereka menemukan lima orang baju
hitam terkapar malang melintang di tanah.
Gin Liong terkejut, Diam-2 ia menduga tempat itupun
telah didatangi oleh tokoh sakti yang belum diketahui itu.
Ketika menghampiri ternyata kelima orang itu bukan mati
melainkan tidur mendengkur keras.
Memandang ke muka Gin Liong melihat didalam hutan
siong seperti memancar sepercik api penerangan ia segera
mengajak kedua nona untuk menuju ke tempat itu.
Sebuah rumah batu berbentuk persegi panjang lampunya
terang benderang, pintu terbuka tetapi dalam rumah itu
tampak sunyi. Pada ujung sebelah kiri dari rumah itu,
terdapat dua orang baju hitam lagi yang terkapar tidur di
tanah.
Gin Liong melangkah masuk. ia terkesiap heran karena
dalam rumah itu hanya terdapat sebuah meja dan sebuah
tempat tidur, lampu masih menyala terang di atas meja.
Sedang tempat tidur tampak acak-acakan. Seorang
perempuan muda tampak tidur dilantai muka ranjang itu.
Gin Liong makin gelisah karena tak dapat menemukan Ki
Yok Lan.
Saat itu Tek Cun dan saudara-saudaranya pun tiba,
Mereka juga tertegun melihat keadaan rumah itu.
Tak lama kemudian Lo-koay berlimapun tiba, Bermula
Lo-koay menduga pasti ketujuh saudara Tio atau Jit-hiong
yang membakar markas gunung Thiatsan. Tetapi saat itu
setelah melihat sikap Gin Liong dan kawan-kawannya serta
perempuan muda yang tertidur di lantai, iapun ikut
terkesiap.
Li Kun membangunkan perempuan muda itu dengan
membuka jalan darahnya yang tertutuk.
"Mengapa engkau berada disini !" bentak Rajawali-
gundul kepada perempuan muda itu.
Pucatlah wajah perempuan itu melihat Lo-koay marah,
Dengan gemetar ia memberi keterangan bahwa Jit-koay
Hun-tiap-sam-long yang menyuruhnya jaga disitu.
Tiba2 Naga-mata-satu membentak: "Jangan ngaco belo,
perempuan hina !" - ia terus loncat ke muka perempuan itu
dan hendak menghantamnya.
"Bangsat, engkau cari mati !" teriak Gin Liong seraya
ayunkan tangannya, Segelombang angin keras segera
melanda dada Naga-mata-satu.
Naga-mata-satu mendengus geram, Cepat ia balikkan
tangan untuk balas menghantam. Terdengar letupan dan
diiring dengan jeritan ngeri tubuh Naga-mata-satupun
terlempar keluar pintu.
Hwat-kiang-si loncat hendak menolong tetapi tak keburu,
Naga-mata-satu terlempar tiga tombak dan jatuh di hutan
bambu, Huak, ia muntah darah. sejenak meregang jiwa,
akhirnya putuslah napasnya.
"Aku hendak mengadu jiwa dengan engkau budak!" Lo
koay Rajawali-gundul dengan marah serentak
mendorongkan kedua tangannya kearah Gin Liong.
Gin Liongpun marah. Dengan menggembor keras ia juga
dorongkan kedua tangannya. Angin yang timbul dari kedua
gerakan tangan Rajawali-gundul dan Gin Liong
menimbulkan getaran yang dahsyat sehingga genteng terasa
berguncang keras, semua orang menahan napas.
Rajawali-gundul terdampar ke dinding, kepala pecah dan
napasnyapun berhenti. Melihat itu, Hek-bu-siong dan Lak-
pian-seng segera melarikan diri. Demikian pula Hwat-kiang-
si. Mereka tahu percuma saja melawan kawanan anak
muda itu.
Gin Liong terlongong-longong sendiri. ia tak mengira
bahwa dua kali pukulannya telah menimbulkan akibat yang
sedemikian mengerikan ia heran mengapa sekarang
tenaganya begitu dahsyat.
Dalam pada itu Mo Lan Hwa memberi pertolongan
kepada perempuan tadi, Ternyata perempuan itu menderita
luka parah, Setelah diurut jalan darahnya perempuan
itupun dapat memberi keterangan walaupun suaranya amat
lemah sekali: "Nona Ki telah dibawa oleh seorang imam !"
"Imam yang mana"?" teriak Gin Liong, Tetapi bujang
perempuan itu makin pucat wajahnya, Melihat itu Gin
Liong cepat bertanya pula: "Apakah seorang imam berjubah
kelabu, berjenggot panjang ?"
Bujang itu paksakan diri membuka mata dan
memandang Gin Liong, Tetapi ia tak dapat berkata lagi
karena kepalanya segera melentuk dan putuslah jiwanya.
Dari pandang mata bujang perempuan itu Gin Liong
mendapat kesan kalau bujang itu mengiakan
pertanyaannya.
"Rupanya yang kuduga itu memang benar." katanya
sesaat kemudian,
"Liong-te, kenalkah engkau kepada imam itu ?" tanya
Tek Cun.
"Ya." sahut Gin Liong, "aku pernah berjumpa
dengannya di sebuah lembah salju di gunung."
"Engkau maksudkan Hun Ho siantiang ?" seru Mo Lan
Hwa.
Kukira dalam dunia persilatan dewasa ini seorang imam
berjenggot bagus dan berjubah kelabu, kecuali Hun Ho
siantiang rasanya tak ada lain orang lagi," sahut Gin Liong.
Tiba2 Tio Li Kun berseru girang: "Jika benar demikian,
nona Ki bakal mendapat rejeki besar, ilmu pedang Hun Ho
siantiang menjagoi dunia persilatan, apabila nona Ki dapat
menerima pelajaran dari Hun Ho sian tiang, tentu kelak dia
akan menjadi seorang pendekar pedang wanita yang
cemerlang."
"Kalau begitu marilah kita lekas tinggalkan tempat ini.
Kalau sebelum terang tanah kita dapat mencapai tempat
penyeberangan di Dairen, kemungkinan kita akan dapat
berjumpa dengan Hun Ho sian-tiang bersama ketika koko-
ku, "Mo Lan Hwa juga gembira.
Demikian mereka segera beramai-ramai turun gunung,
Ternyata kuda dari kelima nyonya menantu keluarga Tio
ditambatkan di hutan. Kesepuluh orang itu segera naik
kuda menuju ke sebuah desa yang terletak sepuluh li
jauhnya.
Saat itu hampir menjelang dini hari, Ayam mulai
berkokok bersahut-sahutan. Cepat sekali mereka tiba di desa
itu. Hanya Tek Cun dan Thiat-Io-han yang masuk ke desa,
sedang yang lain menunggu diluar desa.
"Jit moay." kata Toa-soh kepada Tio Li Kun. "mamah
sudah rindu dengan Ngo-te, setelah urusan disini selesai,
suruhlah dia pulang."
Tetapi Tio Li Kun mengatakan sebaiknya toa-sohnya itu
mengatakan sendiri kepada Ngo-ko atau si Thiat-lo-han.
Gin Liong merasa tak enak dalam hati. Adalah karena
urusannya sampai merepotkan sekian banyak orang.
Andaikata ia tak berjumpa dengan Mo Lan Hwa tentu saat
itu ia sudah dapat menyusul Ban liong liong-li.
Melihat wajah pemuda itu mengerut, kedua gadis cantik.
Mo Lan Hwa dan Tio Li Cun, serempak bertanya:
"Adik Liong, apakah ada suatu yang hendak engkau
katakan?"
Dengan terbata-bata Gin Liong menjawab: "Kurasa
urusan ini memang sudah selesai, Karena urusanku....
sesungguhnya tak harus membikin repot saudara2
sekalian...."
Mendengar itu kelima ensoh segera menghampiri dan
toasohpun serentak berkata:
"Liong-te, engkau adalah adik kami yang paling bungsu.
Sudah seharusnya kami membantumu. Apalagi mamah tak
tega kalau engkau berkelana seorang diri."
Tengah mereka bicara dari arah desa tampak Tek Cun
dan Thiat-lo-han mengendarai kuda dengan diikuti oleh
ketiga ekor kuda yakni kuda hitam bulu mulus, kuda hitam
berkaki putih dan kuda Siau-pik milik Tio Li Kun.
"Hayo, kita lekas berangkat !" teriak si limbung Thiat-lo-
han dengan bersemangat.
Toa-soh tertawa, serunya: "Aya, sudahlah, jangan
mengurusi mereka, Mari kita pulang..."
Thiat-lo-han terbelalak dan menggerung: "Siapa yang
suruh ?"
"Mamah !"
Thiat-lo-han lemas seperti gelembung karet yang habis
anginnya, ia memandang Gin Liong, Mo Lan Hwa, Tio Li
Kun dan Tek Cun dengan pandang kecewa.
Kelima pemuda itu segera naik kuda dan ber seru: "Ngo-
ko dan kelima ensoh, selamat tinggal."
Demikian mereka segera mencongklangkan kudanya dan
tak sampai sejam kemudian tibalah di kota penyeberangan.
Begitu masuk ke kota, Mo Lan Hwapun menjerit kaget
seraya menunjuk kesebatang pohon besar : "Ah, lo-koko
sudah tiba di sini."
Memang pada pohon itu terukir sebuah lukisan pipa
emas, Segera mereka menuju ke selatan. Di tempat
penyeberangan penuh orang, Barang2 menumpuk di tepi
laut, Di tengah laut tampak beberapa kapal dan perahu2.
Pada tumpukan peti setinggi tujuh tombak Gin Liong
melihat sebuah lukisan pipa yang menghadap ke arah
selatan.
"Ah, rupanya lo-koko sekalian sudah datang dan sudah
menyeberangi lautan" katanya.
Mo Lan Hwa bersungut-sungut: "Mengapa mereka tak
mau menunggu kita ?"
Tek Cun mengatakan hendak menyewa sebuah perahu
besar karena hari itu anginnya besar. Tetapi Gin Liong
mencegahnya, ia mengatakan hendak menyelidiki ke dalam
kota dulu barangkali ada Ban Hong liongli. Bahkan
mungkin ketiga suheng dari Mo Lan Hwa.
Mo Lan Hwa juga mempunyai pikiran begitu. ia
mengusulkan akan pergi bersama Tio Li Kun kedalam kota
sedang Gin Liong yang melakukan penyelidikan disekitar
tempat penyeberangan
"Dan engkoh Tek Cun yang menyewa perahu" katanya,
"dengan begitu kita dapat menghemat waktu."
Mendengar si cantik menyebutnya "engkoh Tek Cun"
diam2 Tek Cun girang sekali.
Demikian mereka segera membagi tugas, Dengan naik
kuda bulu hitam, Gin Liong menuju ke tempat
penyeberangan. Tiba2 ia mendengar orang ramai
membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Pusaka dunia persilatan hanya layak berada di tangan
orang yang berbudi luhur. Orang tua yang tangannya
berlumuran darah semacam itu, tak seharusnya memiliki
cermin pusaka Te-kin . . "
Gin Liong terkejut Ketika memandang dengan seksama
ia melihat enam orang persilatan dengan pakaian ringkas
dan membekal senjata tengah mengobrol. Yang bicara
adalah seorang tua berumur lima puluhan tahun.
Kawannya yang beralis tebal berseru dengan suara
nyaring:
"Belum satu bulan saja sudah berpuluh-puluh jago- silat
baik dari aliran Hitam maupun Putih yang mati di tangan
orang tua itu. Kabarnya di Tay sik-kiau dia telah
membunuh tokoh Bu Tim cinjin dari partai Kiong-lay-pay
dan sepasang tokoh Bu-siang-kiam dari partai Kong-tong-
pay."
Gin Liong terkejut entah apakah Ma Toa Kong masih
berada di Tay-sik-kiau. Kalau dia juga sudah mati,
bagaimana keadaan guha Thian-kiu jiok baru dapat ia
ketahui setelah ia pulang ke kuil Leng-hun-si.
Lanjutkan perjalanan ke muka, dari kerumunan orang di
sebelah kiri, tampak beberapa orang persilatan juga tengah
membicarakan tentang orang tua yang membawa cermin
pusaka itu.
"orang tua itu sering berpindah tempat, entah apakah
maksudnya?" kata seorang lelaki pertengahan umur yang
menyanggul pedang.
"Dua hari dua malam meninggalkan Tay-sik-kiau dia
lalu lari ke gunung Hoksan di seberang laut ini."
Memang Gin Liong sendiri juga heran. Siapakah
sesungguhnya orang tua bertubuh kurus itu ? Apakah dia
memang hendak mencuri pusaka ataukah hanya hendak
mempermain-mainkan orang persilatan saja ?
Seorang tua berambut putih berkata: "Soal ini memang
sudah menarik perhatian para ketua partai persilatan.
Mereka pun telah mengirim para ko-jiu (jago sakti) untuk
mengikuti jejak orang tua itu dan menyelidikinya. Kabarnya
Tujuh-tokoh-aneh-dari-dunia (lh-Iwe-jit-ki) yang sudah
lama tak muncul di dunia persilatan, juga diam2 ikut
campur dalam peristiwa itu"
Makin tergerak hati Gin Liong, Pikirnya, apakah bukan
karena orang tua pembawa cermin pusaka itu maka lo-koko
Hok To Beng bergegas menyeberangi laut ini ?
Tiba2 terdengar suara kuda meringkik. Ternyata Tek
Cun dengan mengendarai kuda bulu coklat tengah
mendatangi.
Karena sampai sekian lama tak memperoleh keterangan
tentang Hun Ho sian-tiang dan Ban Hong liong-li. akhirnya
Gin Liongpun tinggalkan tempat itu dan larikan kudanya
menyongsong Tek Cun.
Saat itu kedua gadis Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun
juga muncul dan mendatangi.
"Memang benar, tua-suheng bersama kedua lo-koko
sudah melintasi laut," seru Mo Lan Hwa agak gopoh, "dan
menurut keterangan seorang jongos hotel, memang ada
seorang wanita muda cantik lewat dimuka hotel terus
menuju ke tempat penyeberangan Wanita itu tidak singgah
makan Entah apakah dia Ban Hong lo cianpwe atau bukan
?"
"Ya, ya, memang Ban Hong lo cianpwe," kata Gin
Liong, "ah, tak kira dia begitu cepat sekali Kemungkinan
dia menempuh perjalanan siang malam untuk pulang ke
daerah Biau."
Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun menghibur pemuda itu
supaya tak perlu cemas, Tentu mereka akan dapat
menyusul Ban Hong liong-li.
Ternyata Tek Cun sudah dapat menyewa sebuah perahu
besar yang lengkap menyediakan makanan dan minuman.
Anak perahu memandang sepasang muda mudi itu
dengan rasa kagum. Tak lama seorang tua berambut putih
bergegas keluar dari pintu ruang perahu dan
mempersilahkan keempat anak muda itu naik.
Keadaan perahu itu amat bersih, Juga makanan yang
dihidangkan cukup lezat, Setelah makan mereka mandi lalu
masing2 masuk kedalam kamar untuk beristirahat.
Walaupun berbaring ditempat tidur tetapi Gin Liong tak
dapat tidur, ia masih memikirkan su-moaynya. walaupun
sudah ditolong oleh Hun Ho sian-tiang tetapi untuk
mengambil dan mengantarkannya, tentu makan waktu. Hal
itu berarti harus menangguhkan perjalanan untuk menyusul
Ban Hong liongli.
Pada malam hari, angin bertambah kencang sehingga
perahu agak bergoncang keras, Gelombang mendampar
hampir masuk ke geladak perahu. Gin Liong bangun dan
melakukan pernapasan Ternyata ia merasa sehat tak sampai
mabuk laut, Tetapi dari kamar sebelah ia mendengar suara
orang merintih. Cepat ia keluar dari kamar dan ternyata Tio
Li Kun yang mengeluarkan suara rintihan sakit itu. ia
hendak masuk tetapi agak ragu, Lebih baik ia meminta Mo
Lan Hwa saja yang masuk, tetapi berulang kali dipanggil,
Mo Lan Hwa tetap tak menyahut, kamarnya sunyi senyap.
Mencari ke kamar lain, ternyata Tek Cun juga tak ada, pada
hal Li Kun makin merintih keras, akhirnya terpaksa Gin
Liong memberanikan diri masuk.
"Cici, engkau kenapa ?" tegurnya. Melihat Gin Liong,
diam2 berdeburlah hati si jelita, wajahnya yang pucat
bertebar warna merah
"Ah, tak apa2...." katanya, lalu berusaha duduk.
"Cici tak enak badan, tak perlu duduk," Gin Liong
mencegahnya.
Si jelita membuka sepasang matanya yang indah dan
menatap Gin Liong dengan gelengkan kepala: "Aku hanya
merasa pening dan ingin muntah...."
Tiba2 kata2 Li Kun itu terputus oleh setiap gelombang
besar yang mendampar perahu. Perahu oleng dan Li
Kunpun sampai terperosok jatuh ke lantai.
Gin Liong terkejut, Cepat ia memeluk tubuh jelita itu, ia
dapatkan tubuh Li Kun lemas sekali seperti tak bertulang.
Diluar dugaan, kedua tangannya yang memeluk tubuh Li
Kun itu tepat menjamah dibagian dada sijelita. Gin Liong
seperti terbang semangatnya.
"Cici, engkau bagaimana ?" tegurnya, Tetapi jelita itu
diam saja, Ketika memandang kebawah ternyata mata Li
Kun mengatup rapat, mulut yang mungil dan sepasang
alisnya yang melengkung bagai bulan tanggal satu, makin
mempercantik wajahnya yang saat itu seperti orang tidur.
Gin Liong makin bingung, ia kira Li Kun tentu pingsan.
Terpaksa ia lekatkan telinganya ke hidung si jelita, Ternyata
pernapasan Li Kun kedengaran lemah, Bibirnya merekah
merah, pipinya yang halus menyiarkan bau harum,
menampar hidung Gin Liong.
Rambut yang indah, bertebaran hinggap di pipi Gin
Liong sehingga membuat pemuda itu benar2 terbang
semangatnya, jantungnya mendebur keras, darah tersirap
serasa berhenti Kedua tangan yang memeluk tubuh jelita
itupun gemetar.
Memandang wajah si nona, tampak jelita itu makin
cantik, Serentak terbayang, bagaimana mesra sekali Tio Li
Kun bersikap kepadanya, betapa cantiklah gadis itu
sesungguhnya . . . .
Tiba2 terlintas wajah Ki Yok Lan pada pelupuknya, Gin
Liongpun tergetar hatinya, Dan serentak itu iapun segera
malu dalam hati, semangatnya tenang kembali. Segera ia
meletakkan Tio Li Kun keatas ranjang pula.
Tiba2 si jelita mengerang pelahan dan memeluk Gin
Liong, susupkan kepalanya kedada pemuda itu dan terisak-
isak. Sudah tentu Gin Liong makin gugup. ia belas
memeluk Li Kun dan duduk disampingnya.
"Cici, engkau...?" serunya tetapi ia tak tahu bagaimana
harus menghiburnya.
"Adik Liong..." hanya sepatah kata yang Li Kun dapat
mengatakan karena ia terus memeluk pemuda itu makin
erat.
Gin Liong makin resah, Bukan ia tak tahu bagaimana
perasaan si jelita kepadanya, tetapi bayangan sumoaynya
yang halus pendiam bagai seorang dewi, selalu memenuhi
kalbunya, Tak pernah sedetikpun ia dapat melupakan.
Apalagi suhunya pernah memberi pesan bahwa asal usul
Ki Yok Lan itu sangat menyedihkan sekali maka Gin Liong
supaya berusaha melindunginya. Begitu pula berulang kali
suhunya secara halus memberi petunjuk kepada Ki Yok
Lan bahwa hendaknya Ki Yok Lan kelak dapat
menganggap sebagai suami isteri dengan Gin-Liong.
Teringat akan hal itu, tergetarlah hati Gin Liong, ia
menunduk memandang wajah Tio Li Kun Tampak wajah
jelita itu berlinang airmata sehingga menimbulkan rasa
sayang, Tanpa terasa Gin Liong segera mengusap airmata
nona itu, Tetapi airmata sijelita laksana sumber air yang
terus menumpah tak henti-hentinya.
Saat itu pikiran Gin Liong sudah sadar, ia tak boleh
menyiksa perasaan Li Kun lebih lanjut Tetapi ia tak sampai
hati untuk menolaknya secara getas, ia tak ingin menjadi
pembunuh hati anak gadis.
Akhirnya ia memutuskan hendak memberi penjelasan
secara halus, Bahwa ia sangat mengindahkan Tio Li Kun
tetapi terpaksa tak dapat menerima cintanya, Pada saat dia
hendak mengatakan tiba2 ia kehilangan faham tak tahu
bagaimana harus memulai.
Tetapi pada saat itu Tio Li Kun sudah tak kuat menahan
gejolak hatinya . . Pelahan-lahan ia ajukan kepalanya,
menyongsongkan sepasang bibir yang semerah bunga
mawar.
Gin Liong gugup: "Cici, jangan . . " Tiba2 mulut Gin
Liong tak dapat melanjutkan kata2 karena mulutnya
tertutup oleh sepasang bibir si jelita, semangat Gin Liong
serasa terbang melayang-layang ke suatu alam yang belum
pernah ia nikmati sepanjang hidupnya.
Demikian sepasang muda mudi yang sedang dimabuk
asmara itu telah terbuai dalam lautan sari madu, Keduanya
telah tenggelam kedasarnya....
Badai dan gelombang masih mengamuk dilautan.
Bahkan makin dahsyat, sedahsyat itu pula badai yang
melanda kehangatan cinta- dan kedua muda mudi itu.
Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar suara helaan
napas, Gin Liong terkejut, Segera ia meletakkan tubuh Li
Kun terus loncat keluar ruang. Tetapi keadaan di perahu itu
tetap sunyi senyap Kamar Mo Lan Hwa dan Tek Cun tetap
kosong tiada orangnya.
Gin Liong terus menuju ke geladak, Tiba- ia hentikan
langkah dan merapat pada papan.
ia melihat Mo Lan Hwa dan Tek Cun berdiri pada pintu
ruang perahu dan tengah memandang ke laut, Tek Cun
kerutkan alis dan menengadah memandang kelangit.
Tiba2 kedengaran Mo Lan Hwa menghela napas serunya
rawan:
"Engkoh Tek Cun, harap jangan bersedih Mo Lan Hwa
takkan melupakan perasaan hatimu yang tertumpah
kepadaku, Sejak saat ini aku pasti akan menganggapmu
sebagai engkohku sendiri."
Tek Cun juga menghela napas.
"Kuharap engkaupun jangan bersedih. Kurasa Liong-te
pasti akan mencintaimu dengan segenap hati."
Mo Lan Hwa gelengkan kepala.
"Ah, tak mungkin, Dalam pandangannya, aku ini
seorang gadis yang manja dan liar, Kesan yang kuberikan
kepadanya memang kurang baik", katanya.
"Sekarang adalah karena aku maka nona Ki sampai
menderita kesulitan, Adik Liong tentu akan membenciku.
Engkoh Cun, apakah engkau tak memperhatikan betapa
dingin sikapnya kepadaku?"
Airmata bercucuran membasahi pipi Mo Lan Hwa.
"Jangan engkau berbanyak hati". kata Tek Cun, "saat ini
dia sedang gelisah memikirkan keselamatan sumoaynya.
Apabila nona Ki sudah dapat diketemukan dan sudah
memperoleh keterangan dari Ban Hong liong-li cianpwe
serta menghimpaskan dendam kematian suhunya, dia pasti
akan memperhatikan engkau."
"Setelah ia berhasil membalas sakit hati suhunya, aku
akan segera meninggalkannya dan mengasingkan diri di
sebuah kuil dipegunungan sunyi. Seumur hidup aku akan
mengabdi Buddha sampai pada akhir hayatku.."
Mendengar kata2 itu Tek Cun ikut terharu dan tak dapat
mengeluarkan kata2 lagi, ia lalu mengajak jelita itu masuk.
Gin Liong terkejut. Cepat ia masuk kedalam kamar dan
terus rebah di tempat tidur, Benar2 dia seperti orang yang
kehilangan diri, Mo Lan Hwa mencintainya dengan
segenap jiwa raga,Tio Li Kun telah menyerahkan
kehangatan bibirnya dan Ki Yok Lan tetap menunggunya
dengan penuh harapan. ia benar2 bingung, Bagaimana
nanti kalau ia berjumpa dengan Ki Yok Lan.
Entah selang berapa lama, ia mendengar derap langkah
orang di geladak, Ah, ternyata hari sudah pagi, Anak buah
perahu sibuk melakukan pekerjaannya.
Tek Cun sudah berdiri di geladak ketika Gin Liong
keluar Tak lama kemudian Mo Lan Hwa dan Tio Li
Kunpun menyusul keluar.Kedua jelita itu sama
mengenakan pakaian baru. Li Kun berbaju biru muda,
celana kembang dan mantel biru benang perak, menyanggul
sebatang pedang, mengulum senyum berseri.
Sedang Mo Lan Hwa mengenakan pakaian serba merah
sehingga wajahnya yang cantik makin tampak menonjol.
Rambutnya terurai panjang, menyanggul sebatang pedang.
Kedua jelita itu berjalan seiring. sekalian anak perahu
terbeliak dan terlongong-longong memandangnya.
Mereka seperti melihat sepasang bidadari turun dari
khayangan, Yang seorang bagai sekuntum mawar yang
gemilang.
Melihat Li Kun, agak merah wajah Gin Li-ong. Tetapi
ketika melihat Lan Hwa, ia tersipu2 rawan.
Sambil menunjuk ke deretan puncak gunung Li Kun
bertanya kepada anak perahu: "Gunung apakah itu?"
"Gunung Hok-san."
Gin Liong terkejut ia meminta keterangan benarkah
untuk menuju ke pulau Hong-lay-to harus melalui
pegunungan Hok-san itu.
"Benar." sahut pemilik perahu, "harus melalui puncak
Hok-san yang sebelah utara, walaupun luasnya hanya 30-an
li tetapi gunung itu berbahaya sekali keadaannya Tak dapat
menggunakan kuda tetapi harus jalan kaki."
Karena terlambat selangkah, Mo Lan Hwa tak dapat
melihat orang tua pemilik cermin pusaka ketika berada di
gunung Tiang-pek-san. Kali ini ia tak mau melewatkan
kesempatan lagi.
"Karena sudah melewati Hok-san. mengapa kita tak
melihat-lihat keadaannya," kata nona itu.
Gin Liong diam saja dan Tek Cunpun tak membeli suatu
tanggapan sedang Tio Li Kun, asal Gin Liong pergi,
sekalipun ke sarang naga, ia tetap akan mengikuti.
Tak berapa lama, perahu berlabuh dan ke-empat pemuda
itupun turun bersama kudanya, Mereka hanya berhenti
makan dikota Mopeng, setelah itu terus melanjutkan
perjalanan ke Hoksan, Tengah hari merekapun sudah tiba
di puncak Hok-san sebelah utara.
"Liok-ko. menilik keadaannya, memang tak mungkin
kita mendaki dengan naik kuda," kata Gin Liong setelah
memandang kepuncak itu.
"Kita mendaki dulu, kalau memang tak dapat dengan
naik kuda, kitapun jalan," kata Mo Lan Hwa.
Ternyata keempat ekor kuda mereka itu kuda yang hebat
semua. Setelah melalui beberapa tempat yang penuh batu
aneh, akhirnya mereka tiba di sebuah lembah yang terletak
dibawah kaki gunung.
Jalan kearah lembah itu sempit dan lembah penuh
dengan gunduk2 batu yang tinggi dan runcing serta rumput
yang subur.
"Mungkin disebelah muka itu adalah mulut lembah, kita
turun saja disini." kata Gin Liong.
Setelah turun, kuda mereka dilepaskan di sebuah aliran
air kecil Dan keempat pemuda itupun segera menuju ke
mulut lembah sempit.
Keadaan dalam lembah memang berbahaya dan sulit
dilalui penuh dengan batu2 yang aneh dan runcing serta
rumput, rotan yang lebat, Gin Liong ragu2 tetapi Tek Cun
mengatakan bahwa lembah itu memang yang disebut Hiut-
koh atau lembah sempit
Mereka lalu gunakan ilmu lari cepat untuk memasuki
lembah, Lembah itu tak kurang dari lima enam li
panjangnya Kedua samping dinding karangnya setinggi
ratusan tombak, Makin kebagian dalam makin berbahaya.
Tiba-2 dari balik segunduk batu aneh di tengah gerumbul
pohon siong pendek, muncul tiga sosok tubuh, Sekali loncat
mereka melayang kearah Gin Liong berempat Dalam
sekejab mata mereka sudah tiba hanya terpisah sepuluhan
tombak dari tempat Gin Liong.
Ketiga orang itu terdiri dari seorang tua berumur lebih
kurang tujuh puluh tahun dan dua orang lelaki pertengahan
umur yang berpakaian ringkas.
Ketiga lelaki itu tampak marah. Tanpa melihat pada Gin
Liong berempat, mereka terus lari keluar lembah.
Gin Liong heran melihat gerak-gerik ke tiga orang itu.
Tetapi iapun tak mau menghiraukan dan mengajak
kawannya melanjutkan masuk kedalam lembah.
Pada saat tiba disebuah gerumbul hutan yang penuh
dengan batu2 aneh, sekonyong-konyong terdengar suara
orang berseru Bu-liung siu-hud. Dan muncullah enam orang
imam. Yang tiga berjubah kelabu, yang tiga berjubah hitam.
wajahnya angkuh, masing2 menyanggul pedang dibelakang
bahunya.
Yang dimuka dua orang imam tua, rambutnya putih,
umur diantara lima puluh tahun, sebelah kirinya seorang
imam tua, bertubuh kurus mengenakan jubah hitam.
Sebelah kanan juga seorang imam tua berjubah kelabu,
bermuka bopeng, Dibelakang mereka, dua orang imam
pertengahan umur yang berwajah seram.
Imam tua jubah hitam segera berseru.
"Pinto bernama Biau liang, menerima perintah dari
kedua tianglo perguruan kami untuk membawa murid
perguruan kami Jing Hun dan Jing Gwat, Hian Leng
totiang dari partai Kiong-lay-pay beserta Kong Beng dan
Ceng Beng berdua toyu..."
Sejak ke enam imam itu muncul dengan jual lagak, Mo
Lan Hwa sudah mengkal, Mendengar si imam tua Biau
Liang jual omongan garang, Lan Hwa segera
membentaknya:
"Kalau mau mengatakan apa2, lekaslah katakan, jangan
jual nama dan gelaran !"
Imam tua berwajah bopeng tertawa dingin:
"Li-pohsat ini, masih muda usia tetapi keras sekali
ucapannya, berani omong sembarangan terhadap Biau
Liang lotiang dari partai Kong-tong-pay"
"Siapakah engkau ? Mengapa engkau berani banyak
mulut" bentak Tek Cun.
Merahlah muka imam tua itu.
"Pinto adalah Hian Leng lotiang dari Kiong lay-pay,"
serunya dengan marah.
"Hm, kiranya kawanan manusia yang tak ternama," Mo
Lan Hwa mendengus.
Karena marahnya, imam tua itu menengadahkan muka
dan menghambur tertawa keras.
Imam tua Kong Beng yang berada dibelakang Hian Leng
totiang, segera memekik keras dan maju menghantam si
nona.
"Kawanan tikus, engkau cari mampus" teriak Tek Cun
seraya maju dan mendahului untuk menyambar tangan
imam Kong Beng.
Tujuan Gin Liong kelembah itu adalah hendak mencari
Ma Toa Kong dan sekalian mencari tahu apakah Swat-
thian Sam Yu juga datang ke lembah itu. Untuk mengejar
waktu, ia tak mau terlibat dalam perkelahian.
"Liok-ko, jangan melukainya," cepat ia mencegah Tek
Cun.
Tetapi Tek Cun sudah terlanjur mencengkeram lengan
imam itu. Mendengar permintaan Gin liong ia segera
mendorong imam itu: "Enyah !"
Imam Kong Beng terhuyung-huyung beberapa langkah
dan jatuh terduduk di tanah.
Hian Leng dan Biau Liang terkejut Tak kiranya hanya
sekali bergerak, pemuda itu telah mampu mendorong rubuh
imam Kong Beng, murid pilihan dari partai Kiong-lay-pay.
Kedua imam itu tak berani memandang rendah kepada
kawanan pemuda itu lagi.
"Sicu sekalian ini dari perguruan mana dan siapakah
nama suhu sicu yang mulia ? Harap lekas katakan, siapa
tahu kemungkinan antara perguruan kita masih terdapat
hubungan," cepat Biau Liang berseru dengan nada sarat.
Karena harus mengejar waktu, Gin Liong mengatakan
kalau dirinya dan kawan2 itu tidak termasuk murid dari
suatu partai persilatan.
"Kami mohon tanya, mengapa totiang menghadang
perjalanan kami " tanyanya kemudian
Imam Biau Liang tertawa dingin, tubuhnya gemetar
karena menahan kemarahan.
"Perguruan pinto dan partai Kong-tong-pay masing2
telah mengutus dua orang tiang-lo untuk memimpin para
murid datang kemari mencari jejak orang tua pemilik
cermin pusaka, Untuk menghimpaskan dendam kematian
dari Bu Tim sute serta kedua Bu-song-kiam It Jeng toyu dari
partai Kong-tong-pay. Pinto bersama Biau Liang toyu telah
ditugaskan menjaga tempat ini, siapapun juga, baik dari
kalangan Hitam maupun Putih, tak dibenarkan masuk ke
dalam lembah Hiap-koh sini. Jika ada yang berkeras masuk,
heh, heh..." seru imam Hian Leng dari Kiong-lay-pay.
"Kalau berkeras masuk, lalu bagaimana ?" akhirnya Gin
Liong geram juga atas sikap kawanan imam yang
mengandalkan jumlah banyak itu.
"Berarti hendak bermusuhan dengan partai Kong-tong-
pay dan Kiong-lay-pay" seru Biau Liang seraya deliki mata.
Tring, Mo Lan Hwa cepat mencabut pedang dan
melengking: "Sebagai alasan hendak membalas dendam
tetapi pada hakekatnya kalian hendak mengincar cermin
pusaka itu sendiri dan mencegah lain2 partai persilatan tak
dapat masuk dalam lembah ini."
Berhenti sebentar untuk tertawa, si cantik berseru pula:
"Kalian hanya dapat menggertak orang yang bernyali
kecil, Tetapi kalian sial telah bertemu dengan aku. Coba
saja hendak kulihat sampai di mana kemampuan kalian
hendak merintangi rombonganku !"
Imam Ceng Hun yang berada di belakang imam Biau
Liang mencabut pedang dan loncat ke muka seraya berseru
keras:
"Besar sekali mulutmu, budak perempuan ! Akupun
ingin menguji sampai di mana tingginya ilmu pedangmu
sehingga engkau berani bermulut sebesar itu !"
Tek Cun cepat mencabut trisula pendek dan membentak:
"Kawanan kunang2, engkau berani menerjang api, huh,
sungguh tak tahu diri."
Pemuda itu terus gerakkan senjatanya untuk
menyongsong pedang imam Ceng Hun.
Imam itu belum pernah mengenal kelihayan senjata
trisula, Cepat ia merobah gerak pedangnya dalam jurus
Toa-peng-can-ki atau Burung rajawali merentang-sayap,
membabat lengan Tek Cun.
Pemuda itu tertawa dingin, kebaskan trisula melingkar,
ia membentak: "Lepaskan !"
Tring, terdengar gemerincing tajam diiringi pancaran
sinar kemilau ke udara, Pedang dari imam Ceng Hun telah
terlepas dari tangannya.
Ceng Hun terkejut semangatnya serasa terbang dan cepat
ia membuang tubuh ke belakang, berguling sampai
setombak jauhnya.
Kuatir Tek Cun akan menyusuli serangan, imam Ceng
Gwatpun membentak dan menyerang anak muda itu.
Kini Mo Lan Hwa yang menghadang. Ujung pedang
nona itu segera menusuk ke bahu Ceng Gwat, Imam itu
marah sekali, Dengan mendengus dingin, ia menghindar
lalu balas menusuk dada si nona,
Mo Lan Hwa tersipu-sipu merah, Cepat ia membentak
dan secepat kilat tubuhnya berputar, pedang menabas,
Terdengar jeritan ngeri. Sambil menyurut mundur, imam
Ceng Gwat mendekap telinganya yang berdarah, Ternyata
sebelah daun telinga kiri imam itu telah hilang.
Wajah Biau Liang si imam dari Kong-tong-pay, pucat
seperti kertas, Tiba2 ia tertawa keras, mencabut pedang lalu
bergegas lari menuju ketempat Mo Lan Hwa.
Gin Liong menyadari bahwa tak mungkin lagi ia dapat
menghindari pertempuran ia memutuskan untuk
mengakhiri pertempuran itu secepat mungkin.
"Telah lama kudengar bahwa ilmu pedang dari partai
Kong-tong-pay itu tiada tandingannya dalam dunia
persilatan. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat
berjumpa dengan totiang, Sukalah totiang bermurah hati
untuk memberi pelajaran kepadaku," serunya dengan
tertawa hambar, serentak ia mencabut pedang.
Ditingkah sinar matahari, pedang itu memancarkan sinar
warna merah, Pedang Tanduk Naga kembali muncul
hendak mengunjuk kesaktian.
Seketika pucatlah wajah Biau Liang tojin, ia cepat dapat
mengenal pedang itu sebagai pedang Tanduk Naga. pedang
pusaka yang termasyhur dari daerah Biau, ia hentikan
langkah.
Walaupun tahu bahwa Gin Liong itu memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi, tetapi selama ini belum pernah Tio
Li Kun melihat pemuda itu bertempur dengan orang, Maka
cepat ia loncat kesisi Gin Liong dan berkata dengan bisik2:
"Liong-te, harap menyingkir ke samping, biar aku saja
yang menghadapinya."
Habis berkata jelita itu terus mencabut pedangnya.
Imam Hian Leng dan Biau Liang kembali terkesiap,
Mereka tahu bahwa pedang pendek yang berada di tangan
nona cantik itu tentu juga sebuah senjata yang hebat.
Saat itu Tio Li Kunpun sudah melangkah maju
menghampiri imam Biau Liang.
Sebagai sute dari Biau It cinjin ketua partai Kong-tong-
pay, Biau Liang sangat dihormati oleh anak murid Kong
tong-pay. Dengan ilmu pedangnya yang sakti. Biau Liang
selalu bersikap angkuh tak memandang mata pada orang.
Sudah tentu saat itu ia tak mau unjuk kelemahan
terhadap seorang nona, Apalagi dilihat oleh imam Hian
Leng dari partai Kiong-lay-pay dan dua orang muridnya.
"Jika li-sicu berminat hendak adu ilmu pedang dengan
pinto, pintopun bersedia melayani" kata imam Biau Liang,
"tetapi pedang itu tak bermata, Begitu melancar tentu tak
dapat terhindar dari melukai orang, jika terjadi peristiwa
semacam ini, harap jangan mengatakan pinto menghina
orang yang lebih muda."
Tio Li Kun hanya tertawa hambar dan tetap melangkah
maju, sedikitpun ia tak mengacuhkan peringatan tokoh
Kong-tong-pay itu.
"Huh, batang kepala sendiri belum tentu dapat
melindungi masakan masih sibuk mengurus lain orang,"
dengus Mo Lan Hwa.
Mendengar itu serasa meledaklah dada imam Biau
Liang, Serentak pedang ditaburkan dalam tebaran sinar
yang segera menimpali tubuh Mo Lan Hwa.
Melihat ilmu permainan imam dari Kong-tong pay itu,
Tek Cun dan Mo Lan Hwa diam-diam terkejut Ternyata
imam Kong-tong-pay itu memiliki ilmu pedang yang hebat
sekali jauh lebih lihay dari imam Ceng Hun, Ceng Gwat
berdua.
Tetapi si jelita Li Kun tetap tenang saja. Tubuhnya
bergeliatan dengan lemah gemulai dan berlincahan seindah
kupu2 terbang diatas kuntum bunga. Tiba2 ia memekik
nyaring sehingga kumandangnya sampai menembus jauh
kedalam awan.
Pandang mata Biau Liang serasa kabur dan serangan
pedangnyapun menemui angin kosong, Serentak ia
mendengar pekik si jelita yang berada di belakangnya, ia
berteriak kaget dan cepat balikkan tangannya menabas
kebelakang, sedang tubuhnya meluncur deras ke muka.
Ternyata hilangnya Tio Li Kun itu karena ia melambung
ke udara. ia memang tak bermaksud hendak melukai orang.
Gerakannya itu hanya sekedar untuk menggertak saja.
Ketika Biau Liang meluncur ke muka iapun segera
bergeliatan di udara dan mengejar di belakang lawan.
Setelah mencapai tiga tombak, cepat2 Biau Liang cinjin
berputar tubuh ke belakang, Sepasang matanya berkilat-kilat
mencari tempat beradanya lawan.
Tetapi pada saat ia berputar tubuh tadi Tio Li Kunpun
sudah melayang kebelakangnya, Sudah tentu Biau Liang
tak melihat nona itu. Tetapi cepat ia menyadar, apa yang
terjadi. Dengan memekik keras ia balikkan pedang
menghantam ke belakang.
Melihat Biau Liang masih berkeras kepala, marahlah Li
Kun. Dengan bersuit nyaring ia gunakan jurus Hay te-jui-
ciam atau didasar laut mencari jarum. Cepat laksana kilat ia
membabat pedang siimam.
Tring, terdengar dering yang tajam sekali diiringi dengan
pekik kejut dari Biau Liang yang terus loncat mundur
setombak jauhnya. Ternyata pedangnya telah terbabat
kutung oleh pedang si jelita.
Sebelum imam itu sempat menenangkan diri, Mo Lan
Hwapun sudah melesat dan secepat kilat menutuk tubuh
imam itu.
Biau Liang masih tercengang karena pedangnya putus,
atau sudah diserang lagi oleh Mo Lan Hwa. ia tak keburu
menghindar lagi, bluk, jatuhlah ia ke tanah.
Melihat itu imam Hian Leng cepat membentak dan maju
menerjang, Demikian pula dengan keempat imam yang
lain, Mereka menggembor kalap dan terus lari menyerbu.
Tetapi Gin Liong, Lan Hwa dan Tek Cun sudah siap
menyambut.
Tek Cun menghadang imam Ceng Hun dan Ceng Gwat,
Mo Lan Hwa mencegat imam Kong Beng dan Ceng Beng.
Sedang Gin Liong segera menyerang imam Hian Leng.
Tio Li Kun masih berdiri tiga tombak di luar gelanggang,
Sambil lintangkan pedang ia memandang langit. Tiba2 ia
berseru memberi peringatan kepada kawan-kawannya
bahwa hari sudah menjelang petang dan lembah masih
belum diketahui berapa dalamnya.
Tio Li Kun cepat bergerak, Tring, terdengar dering
senjata yang keras disusul dengan suara erang tertahan
imam Hian Leng lepaskan pedang dan terjungkir tujuh
langkah ke belakang.
Gin Liongpun cepat menutuk jalan darah imam tua itu,
Kemudian kedua muda mudi itu menghampiri ke tempat
Lan Hwa dan Tek Cun.
Melihat Hian Leng dan Biau Liang tojin kena tertutuk,
buyarlah semangat keempat imam yang lain, Berputar
tubuh mereka terus melarikan diri.
Gin Liong berempat tak mau melepaskan Mereka
berhamburan melayang ke udara dan terus meluncur
menghadang di muka keempat imam itu. Keempat itu
makin gugup, Mereka berputar dan lari balik, Tetapi
dengan cepat Gin Liong dan kawan2 telah dapat menutuk
rubuh mereka.
Keenam imam itu dibawa ke belakang sebuah batu besar
dan diletakkan disitu, Setelah itu Gin Liong dan kawan2
segera hendak melanjutkan langkah masuk kedalam
lembah. Tetapi alangkah kejut mereka ketika melihat di
muka sebuah hutan, lebih kurang tiga-puluh tombak dari
mulut guha, telah penuh dengan rombongan orang
persilatan yang terdiri tak kurang dari empat lima puluh
orang. Tua. muda, imam dan paderi, Mereka memandang
terkejut kearah Gin Liong.
"Tak perlu menghiraukan mereka," kata Tek Cun seraya
menyarungkan trisula, Merekapun melanjutkan masuk
kedalam lembah, Ketika berpaling kebelakang, Gin Liong
melihat rombongan orang persilatan tadipun berhamburan
lari masuk kedalam lembah.
Setelah melewati dua buah hutan bambu, lembahpun
berkelok kesebelah kiri, Dan setelah melalui ujung puncak,
mereka melihat sebuah air terjun raksasa yang mencurah
kedasar lembah, membentuk sebuah telaga kedalam 30-an
tombak.
Ada suatu pemandangan yang cepat menarik perhatian.
Bahwa air telaga itu ternyata memantulkan sinar yang
gilang gemilang menyilaukan mata.
Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa sinar kemilau
itu adalah sinar cermin yang ditingkah cahaya matahari.
"Hai lihatlah, itulah cermin pusaka dari si orang tua !"
teriak Gin Liong seraya menunjuk ke muka, Kemudian ia
memandang kesekeliling tetapi tak melihat orang tua itu.
Cermin itu diletakkan diujung atas dari batu runcing
yang tepat berada di tengah2 curahan air terjun, Entah
bagaimana cara orang tua itu meletakkannya.
Gin Liong dan kawan2 hentikan langkah dan
memandang ke sekeliling. Tiba2 mereka terkejut sekali
ketika melihat diantara gerumbul semak dan batu yang
berada di sebelah muka, terkapar malang melintang belasan
sosok mayat manusia.
Keadaan mayat2 itu menyedihkan sekali. Ada yang
kakinya hilang, lengan buntung, mulut berlumuran darah,
Mereka terdiri dari orang tua, rahib wanita ada pula yang
dandanan seperti sasterawan.
Diam2 Gin Liong nyeri melihat keganasan orang tua
pemilik cermin itu.
"Hm, sungguh kejam sekali orang tua itu," Mo Lan Hwa
juga penasaran, "huh, kemanakah dia bersembunyi ? Biar
dia bagaimana saktinya, tetapi aku ingin menempurnya
juga !"
"Cici, jangan marah, "seru Gin Liong," turut yang
kulihat ketika didalam rumah gubuk yang lalu, dia hanya
memiliki cermin pusaka itu saja dan tak punya senjata
lainnya".
Berpaling ke belakang, ia melihat rombongan orang
persilatan itu pun berhenti padat jarak tiga-puluhan tombak,
Dia heran mengapa mereka tak mau melanjutkan maju ke
muka lagi.
"Liongte, menurut keterangan imam Hian Leng dan Biau
Liang tadi, mereka masih ada empat orang tianglo yang
berada disini, tetapi mengapa tak kelihatan ?" tiba2 Tio Li
Kun berkata.
"Hm, mungkin sudah mampus," gumam Mo Lan Hwa.
Tetapi serempak dengan ucapan nona itu tiba2 dari balik
sebuah batu besar di sebelah kiri terdengar suara orang
tertawa mengekeh.
"Siapa !" bentak Tek Cun, terus melayang ke tempat itu.
"Liok-ko, jangan..." cepat Gin Liong mencegah karena ia
tahu akan kesaktian orang tua pemilik cermin pusaka, iapun
segera loncat menyusul Tek Cun, Mo Lan Hwa dan Tio Li
Kun juga mengikuti.
Baru tiba dimuka batu besar dan belum lagi dapat berdiri
tegak, seorang imam tua telah loncat keluar dari balik batu
itu dan terus lepaskan hantaman.
Walaupun sudah bersiap tetapi jarak begitu dekat dan
pukulan dilancarkan secara tiba tiba sekali, Tek Cun
terkejut dan cepat cepat dorongkan tangannya kemuka.
Gin Liong terkejut ketika melihat kesaktian tenaga
pukulan imam tua itu. ia kuatir Tek Cun tak mampu
bertahan. Dengan menggembor keras, iapun segera
menghantam.
Tetapi tepat pada saat Gin Liong lepaskan pukulan, dari
balik batu besar itu muncul pula seorang imam tua lagi yang
sambil berteriak keras juga lantas lepaskan hantaman
kearah pukulan Gin Lang.
Terdengar letupan keras diiring dengan debu dan batu
bertebaran dihembus angin, imam tua kurus yang pertama
muncul tadi serta Tek Cun sama2 terhuyung-huyung
mundur, imam kurus itu termakan pukulan Gin Liong
sehingga terhuyung ke belakang, punggungnya membentur
batu besar itu.
Mo Lan Hwa menjerit kaget seraya loncat menyambar
tubuh Tek Cun pemuda itu muntahkan segumpal darah
segar. Tio Li Kunpun menghampiri lalu membawa
engkohnya duduk ditanah.
Gin Liong melihat peristiwa itu.
"Hm, terimalah pukulanku sekali lagi..!" serunya seraya
maju tiga langkah lalu ayunkan tangannya.
Imam tua yang muncul belakang itu mempunyai raut
muka seperti kuda, ia tahu pemuda itu memiliki tenaga
yang sakti, Cepat ia kerahkan tenaga-dalam dan
menyongsong dengan pukulan juga.
Terdengar letupan lagi dan langkah kaki si imam
bermuka kuda yang terhuyung-huyung kebelakang. Setelah
muntah darah, iapun rubuh terkapar.
Pada saat itu dua sosok tubuh loncat ke luar lagi dari
balik batu besar. Dua orang imam tua berambut putih itu
segera menolong imam bermuka kuda.
Yang mengenakan jubah hitam dan berumur enam
puluhan tahun, berwajah persegi, alis tebal dan mata tajam
segera loncat menghampiri ketempat si imam kurus yang
terluka tadi.
Gin Liongpun juga memandang kearah Tek Cun.
Dilihatnya pemuda itu kerutkan dahi, pejamkan mata.
wajahnya pucat lesi, mulut masih membekas noda darah,
Mo Lan Hwa memberinya minum sebutir pil warna hijau,
Sedang Tio Li Kun duduk di belakang engkohnya,
melekatkan telapak tangannya ke punggung Tek Cun
hendak memberi saluran tenaga-dalam.
Makin meluaplah kemarahan Gin Liong. ia marah
kepada kawanan imam tua yang dalam kedudukan sebagai
tiang-lo telah menyerang seorang anak muda tanpa
bertanya suatu apa lebih dulu,
Tiba2 pula Gin Liong teringat mengapa orang tua
pemilik cermin pusaka itu tak tampak ? Apakah orang tua
itu juga sudah mati dibunuh keempat imam tua yang ganas
itu ? Dan jangan2 korban2 yang jatuh berserakan di tanah
itu juga keempat imam itu yang membunuhnya.
Gin Liong memandang sesosok mayat yang berada di
dekatnya,
"Hai, Ma Toa Kong !" serentak ia memekik kaget dan
terus loncat menghampiri Ternyata perut Ma Toa Kong
telah robek sepanjang delapan inci, ususnya berhamburan
keluar.
Gin Liong cepat beralih memandang ke arah empat
imam tua itu dan membentak: "Kim-piau Ma Toa Kong,
apakah kalian yang membunuh ?"
Imam tua berjubah kelabu yang berada di samping imam
bermuka kuda, pelahan-lahan berbangkit dan deliki mata
lalu tertawa dingin:
"Ya. memang toya yang menyempurnakan ia engkau
mau apa ?"
Gin Liong tertawa keras untuk menghamburkan
kemarahannya.
"Bagus, akupun akan menyusulkan engkau ke akhirat."
serunya seraya mencabut pedang Tanduk Naga. Tiba2 ia
mendengar suara erang pelahan. Ah. ternyata suara itu
berasal dari mulut Ma Toa Kong.
Gin Liong cepat berjongkok dan memegang pergelangan
tangan Ma Toa Kong. Ternyata detak jantungnya masih
berjalan lemah.
Segera ia menutup luka Ma Toa Kong dengan
pakaiannya lalu lekatkan telapak tangan ke-perutnya untuk
memberi penyaluran tenaga dalam, Walaupun wajahnya
pucat seperti kertas tetapi bibir Ma Toa Kong mulai
bergerak-gerak.
"Ma lo cianpwe, bagaimana engkau rasakan ?" seru Gin
Liong.
Ma Toa Kong hendak mengucap kata2 tetapi tenaganya
lemas sekali, ia pejamkan mata lagi, Tak berapa lama
terbuka lagi dan bibirnyapun bergerak-gerik. Beberapa saat
kemudian kedengaran ia dapat menghela napas dan
memandang Gin Liong:
"Ah . . . tak kira . . . bukan di . . . guha Kiu-kiok-tong . . .
. tetapi . . . aku mati disini . . ."
"Ma lo cianpwe bagaimana meninggalkan guha Kiu-
kiok-tong ?" seru Gin Liong cepat.
Dengan napas terengah-engah Ma Toa Kong paksakan
diri berkata:
"Pada waktu itu . . . gurumu masuk guha, . . lama tak
keluar . . . pertama It Ceng . . . kuatir Ban Hong liong-li
keluar . . . . yang pertama-tama lalu . . . kemudian . . . .
semua pergi . . . ."
Tiba2 dari jauh terdengar suara orang berseru memanggil
: "Ma susiok . . . ." Nampak sosok bayangan berlarian
mendatangi ketempat Ma Toa Kong. Mereka dua lelaki
berpakaian hitam, bertubuh gagah perkasa dan masing2
menyanggul golok besar.
Gin Liong duga kedua orang itu tentu orang Tiam-jong-
pay- Mungkin karena mendengar ia menghardik keempat
iman tua tadi, kedua orang itupun segera bergegas
mendatangi.
"Ma susiok, siapakah yang membunuh engkau ?" kedua
orang itu menangis.
Dua butir airmata menitik dari pelupuk mata Ma Toa
Kong, kemudian berkata : "Hong Tim. .. dan . . . Ceng . . .
." - ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena saat
itu lidahnya kaku.
Melihat itu Gin Liong cepat salurkan tenaga-dalam lagi
ke tubuh Ma Toa Kong, Tetapi percuma, Ma Toa Kong
telah putus jiwanya, Gin Liong meluap darahnya.
Berpaling ke belakang dilihatnya Mo Lan Mwa berdiri
dengan lintangkan pedang menjaga Tio Li Kun dan Tek
Cun yang tengah duduk menyalurkan pernapasan. Sedang
imam tua bermata tikus, berada dua tombak dari mereka,
imam tua berjubah hitam pun tengah berjalan
menghampiri.
Gin Liong segera dapat menduga apa yang telah terjadi.
Ketika Tio Li Kun sedang merawat engkohnya yang terluka
dan dia sedang menolong Ma Toa Kong, kedua imam itu
tentu berusaha hendak turun tangan.
Segera ia berseru nyaring : "Hai, siapakah diantara kalian
yang bernama Hong Tim lo-to, lekas kemari terima
kematian !"
Sambil berkata, pemuda itu loncat ke tengah gelanggang,
imam yang bermata kecil seperti mata tikus dan bermuka
persegi segera berhenti terkejut melihat ilmu meringankan
tubuh dari Gin Liong yang begitu hebat.
Gin Liong berhenti setombak dihadapan kedua imam itu
dan menghardik lagi: "Siapa? Siapa yang bernama Hong
Tim ?"
Setelah tenangkan semangat kedua imam itu
menguarkan pandang kearah jago2 persilatan yang berada
dalam lingkungan dua puluh tombak disekelilingnya.
Merahlah muka mereka, Kemudian menatap Gin Liong,
kedua imam itu tertawa dingin.
Tiba2 kedua orang yang menangis disisi mayat Ma Toa
Kong tadi, serentak berbangkit mencabut golok dan
menggerung: "Keparat Hong Tun, bayarlah jiwa susiokku !"
Keduanya melalui Gin Liong dan terus langsung
menyerbu siimam mata tikus, Gin Liong terkejut ia tahu
kedua orang itu tentu bukan tandingan Hong Tim, Tetapi ia
tak leluasa untuk mencegah kedua orang yang hendak
membalaskan dendam kematian susioknya.
Ternyata imam bermata seperti mata tikus itu memang
Hong Tim. Segumpal jenggotnya yang putih tampak
berguncang-guncang dibawa tertawanya. Tahu2 dia sudah
loncat melayang dua tombak jauhnya.
"Tikus2 kecil, kalian berdua cari kematian sendiri, jangan
salahkan aku Hong Tim toya berhati kejam !" habis berkata
imam tua itu terus mencabut pedangnya.
Melihat sikap siimam yang begitu congkak, marahlah
Gin Liong, Segera ia berseru menyuruh kedua orang itu
berhenti
Tetapi sudah terlambat. Kedua orang itu tak mau
menghiraukan lagi dan terus menyerbu laksana harimau
melihat darah
Tiba2 seorang imam tua berjubah hitam, loncat
menyongsong dan lepaskan hantaman kearah kedua orang
itu:
"Tikus kecil, terimalah pukulanku dulu."
Melihat itu Gin Liong marah sekali. Cepat ia ayunkan
tangannya kearah imam jubah hitam atau imam tua Ceng
Hian.
Terdengar jeritan ngeri dan tubuh imam tua Ceng Hian
itupun terlempar sampai empat tombak jauhnya,
membentur sebuah batu besar.
Melihat itu imam kurus yang baru saja selesai
menyilangkan tenaga cepat loncat untuk menanggapi tubuh
Ceng Hian, Tetapi ketika memeriksanya ternyata imam tua
Ceng Hian sudah putus nyawanya.
Pada saat itu berpuluh jago2 silat yang berada dua puluh
tombak dari tempat Gin Liong berdiri, tiba2 bersorak keras.
Gin-Liong berpaling dan tampak wajah jago2 silat itu
terkejut memandang kearah belakangnya. Menurut arah
pandang mereka, Gin Liong segera mengetahui bahwa
lelaki berpakaian ungu tadi sudah dibelah dua oleh pedang
imam tua Hong Tim. Dan saat itu Hong Tim meneruskan
pedangnya ke arah lelaki berpakaian hitam.
Saat itu Gin Liong menyadari bahwa teriakan jago2 silat
tadi adalah sebagai peringatan kepadanya bahwa kedua
orang murid keponakan dari Ma Toa Kong terancam
bahaya.
Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Serentak ia mencabut pedang Tanduk Naga dan terus
loncat membabat Hong Tim.
Melihat kedahsyatan gerak Gin Liong dan pedang
Tanduk Naga, imam tua Hong Tim terkejut sekali, Buru2 ia
loncat mundur beberapa langkah.
Tetapi Gin Liong sudah terlanjur diamuk amarah,
Terutama setelah tahu bahwa imam tua Hong Tim itulah
pembunuh dari Ma Toa Kong, Dengan mengaum laksana
harimau melihat darah, ia menerjang maju dan menusuk
perut Hong Tim.
imam kurus meletakkan mayat imam Ceng Hian lalu
loncat menerjang Gin Liong: "Bangsat, kembalikan jiwa ji-
suhengku..."
Serangan imam kurus itu disertai dengan hud tim atau
kebut pertapaan yang berbulu kawat perak, menyabet
lambung Gin Liong.
Lelaki baju hitam yang hendak diserang Hong Tim tadi
karena melihat kawannya, lelaki baju ungu mati begitu
mengenaskan, marah dan kalap, ia segera menyerang imam
kurus dengan sebuah tabasan golok.
Dengan demikian serangan imam kurus kepada Gin
Liongpun tertahan, Dan Gin Liong dapat melanjutkan
tusukannya keperut Hong Tim.
Hong Tim cepat menangkis dengan pedang tetapi begitu
berbentur dengan pedang Tanduk Naga, pedangnyapun
putus, Sebelum Hong Tim sempat menghindari ujung
pedang Tanduk Naga sudah bersarang di perutnya.
Darah mengucur deras, Hong Tim lepaskan pedangnya,
mendekap perut dan terhuyung-huyung kebelakang dan
rubuh ke tanah. Ususnya berhamburan, kematiannya
sengeri kematian Ma Toa Kong.
Setelah berhasil membunuh Hong Tim, Gin Liongpun
berpaling. Dilihatnya imam kurus sedang bertempur seru
dengan lelaki baju hitam, imam kurus dengan permainan
kebut hud-timnya yang cepat dan dahsyat dapat mendesak
lawan sehingga orang itu mandi keringat, permainan
goloknyapun makin kacau, Tetapi rupanya dia sudah kalap
dan hendak mengadu jiwa, Dengan nekad ia balas
melakukan serangan sehingga mampu juga mendesak imam
kurus.
Dalam pada itu, imam tua bermuka seperti kuda yang
tengah pejamkan mata memulangkan tenaga tadi,
membuka mata dan dengan menggerung ia ayunkan kedua
tangannya.
Benda halus macam sutera perak mendesis-desis kearah
Siau-bun-hau Tek Cun yang saat itu masih pejamkan mata
memulangkan tenaga.
Mo Lan Hwa menjerit kaget dan cepat loncat ke samping
Tek Cun seraya memutar pedangnya dalam sebuah
lingkaran untuk melindungi anak muda itu.
Melihat itu Gin Liong marah sekali, sambil meraung ia
loncat ke udara dan bergeliatan untuk meluruskan tubuh.
Ketika ia hendak melepaskan hantaman tiba2 Mo Lan Hwa
menjerit kaget pedangnya terpental jatuh dan nona itupun
jatuh terjungkir balik ke belakang.
Gin Liong terkejut, ia tahu bahwa nona itu tentu terkena
senjata rahasia berbentuk seperti sutera perak tadi. Cepat ia
ayunkan kaki keatas dan berjumpalitan Dengan kaki di atas
dan kepala di bawah ia melayang ke arah tempat Mo Lan
Hwa.
Pada saat ia hendak menyambar tubuh Mo Lan Hwa
tiba2 matanya terpancar oleh cahaya keras yang
dipancarkan dari kaca wasiat tadi. Seketika pandang
matanya silau, ia tak dapat melihat benda disekelilingnya
lagi, Empat penjuru terasa gelap gelita,
Untung Gin Liong masih sadar pikirannya. ia bergeliatan
dan melayang turun ke tanah, Tetapi ia terkejut sekali
ketika matanya tetap gelap tak dapat melihat apa2.
Serempak pada saat itu ia mendengar pula suara
mendesis-desis halus menuju ketempatnya, ia tahu bahwa
musuh telah menyerangnya dengan senjata rahasia, Cepat
ia putar pedang Tanduk Naga dan berhasil membuyarkan
benang2 perak itu jatuh ke tanah.
Tiba2 para jago silat diluar gelanggang kembali berteriak
pula, Gemuruh dan gempar. Bahkan mereka bukan
melainkan bersorak tetapi pun menyisih ke belakang,
membuka sebuah jalan.
Gin Liong cepat berpaling untuk melihat. Tetapi ia tetap
tak dapat melihat apa2, matanya tetap gelap, ia hanya
mendengar di antara suara hiruk pikuk itu samar2 terdengar
suara kibaran pakaian beberapa orang yang tengah
mendatangi.
Imam bermuka kuda, karena melepaskan senjata rahasia
sutera perak yang selembut bulu kerbau. telah kehabisan
tenaga-dalam, Luka dalamnya kambuh lagi, berulang kali ia
muntah darah
Saat itu terdengar si cantik Tio Li Kun melengking kaget,
Rupanya setelah selesai menyalurkan tenaga, Tio Li Kun
tahu apa yang terjadi pada diri Mo Lan Hwa. Cepat ia
loncat memeluk tubuh Mo Lan Hwa, Wajah Mo Lan Hwa
pucat lesi, matanya meram dan dahinya mengerut menahan
kesakitan. Memandang kesebelah muka, hati Tio Li Kun
makin tergetar keras. Dilihatnya Gin Liong terlongong2
memandang kearah jago2 silat yang tengah hiruk dan sibuk
menyisih kesebelah samping.
Tio Li Kun segera hendak menegur tetapi tiba2
dilihatnya tiga orang tua lari menerobos ke luar dari
kerumun jago2 silat itu- Yang paling depan umurnya lebih
kurang delapan puluh tahun, berambut pendek berjenggot
panjang, putih seperti perak, wajahnya lebar, alis tebal mata
bundar. Mengenakan pakaian dari kain kasar, Tangannya
mencekal sebatang pipa hun-cwe, gembung pula sebesar
kepalan tangan orang, memancarkan sinar keemas2 an.
Di sebelah kiri dari orang tua itu, seorang tua yang
sikapnya seperti orang sinting, Dia membawa sebatang
tongkat bambu wulung dan pakaiannya compang-camping
seperti pengemis.
Di sebelah kanan orang tua tadi, juga seorang lelaki tua
berumur lebih kurang delapan puluh tahun, Rambut dan
jenggotnya putih, matanya kuyu seperti seorang pemabok.
Mulutnya besar dan lebar sekali, Mengenakan pakaian
warna kelabu yang memanjang menutupi kedua kakinya,
punggungnya memanggul tiga buah buli2 arak yang
berkilat-kilat menyilaukan.
Ketiga orang tua itu lari pesat sekali, Tio Li Kunpun
cepat mengenali ketiga orang itu sebagai Swat-thian Sam-
yu. Maka ia segera menggolek-golekkan kepala Lan Hwa
dan memberitahu: "Adik Hwa, adik Hwa, lihatlah, ketiga
suhengmu datang."
Mendengar itu Mo Lan Hwa paksakan diri membuka
mata. Setelah melihat memang ketiga suhengnya datang, ia
pejamkan mata pula.
Saat itu pandang mata Gin Liongpun sudah sembuh. ia
dapat melihat kedatangan Swat-thian Sam-yu itu, Cepat2 ia
berseru : "Lo-koko berdua, harap segera kemari !"
Melihat Gin Liong, Hok To Beng dan Hong-tian-soh
(siorang tua sinting) tertawa gelak2. Tetapi wajah mereka
cepat mengerut gelap ketika melihat Mo Lan Hwa
menggeletak ditanah dipeluk Tio Li Kun. Cepat mereka lari
menghampiri. Lebih terkejut pula mereka ketika memeriksa
keadaan sumoaynya itu.
Hok To Beng sibuk memanggil-manggil sumoaynya
tetapi nona itu tetap diam saja. Didapatinya lengan Mo Lan
Hwa membengap, jelas nona itu tentu terkena senjata
rahasia yang amat beracun.
"Siapa yang berani mencelakai sumoay dengan senjata
rahasia beracun itu !" Hong-tian-soh berbangkit dan
berteriak keras.
Sebelum Gin Liong memberi keterangan, Mo Lan
Hwapun paksakan diri membuka mata dan menuding
kearah siimam potongan muka kuda.
Menurutkan arah yang ditunjukkan si nona, Hong-tian-
soh segera membentak keras:
"Hai, kurcaci tua dari mana berani menggunakan senjata
rahasia yang begitu ganas !"
Dengan mengangkat tongkat bambu wulung, Hong-tian-
sohpun segera lari kearah siimam muka kuda yang masih
duduk di tanah.
Ketika Cui-sian-ong atau Dewa Pemabuk merentang
mata, segera ia berseru: "Hai, sinting, jangan menghajar, dia
Ih Tim tianglo dari partai Kiong-lay-pay."
Hong-tian-soh sudah terlanjur angot gilanya. Sudah tentu
ia tak menghiraukan peringatan Dewa Pemabuk.
"Tak peduli dia tianglo dari partai mana, yang penting
harus dihajar dulu !" seru orang sinting itu, ia tetap
lanjutkan larinya ketempat imam tua itu.
Mendengar keterangan Dewa Pemabuk, Hok To Beng
terkejut dan berpaling ikut mencegah: "Sinting . ... "
Tetapi terlambat Terdengar suara bambu menghantam
benda keras disusul dengan jeritan ngeri. Batok kepala dari
Ih Tim tianglo partai persilatan Kiong-lay-pay telah hancur
lebur, berhamburan keempat penjuru.
Baik Hok To Beng maupun Dewa Pemabuk berobah
wajahnya seketika. Mereka menganggap peristiwa
pembunuhan itu, akan menimbulkan akibat besar, Partai
Kiong-lay-pay pasti akan mencari balas kepada Swat-thian
Sam-yu.
Tidak demikian dengan Gin Liong. pemuda itu tak puas
melihat kekuatiran kedua tokoh itu. Sejenak ia keliarkan
pandang kearah sosok2 mayat yang menjadi korban
keganasan keempat imam tua dari Kiong-lay-pay itu.
Baru ia hendak berkata, tiba2 Hong-tian-sohpun sudah
berteriak keras lagi: "Hai, masih ada seorang kurcaci tua
lagi !"
Habis berkata ia terus mengangkat tongkat bambunya
hendak dikemplangkan ke kepala imam kurus yang tengah
bertempur dengan orang yang berpakaian hitam tadi.
Kali ini Hok To Beng berbangkit dan berteriak marah:
"Hai, sinting, itu Ceng Cin tianglo dari Kong-tong-pay !"
Mendengar itu imam kurus terkejut Cepat menggembor
keras dan menyelinap ke samping. Ketika berpaling
kejutnya bukan kepalang, Cepat2 ia ayunkan kebut hud-
timnya.
"Bagus, ha, ha, ha," teriak Hong-tian-soh yang tanpa
merobah gerak jurusnya, tetap ayunkan tongkat bambu
mengemplang kepala imam itu.
Waktu mengetahui bahwa yang menyerangnya itu si
sinting dari Swat-thian Sam-yu, berobahlah wajah Ceng Cin
tianglo, ia tahu bahwa jurus Pang-ta-lian-hoa yang
dimainkan tokoh sinting itu penuh perobahan yang sukar
diduga. Dengan menggembor keras. Ceng Cin segera buang
tubuhnya bergelundungan ke tanah dengan ilmu Kiu-te-sip-
pat-kun.
Rupanya Hong-tian-soh tak mau mengejar Berpaling
memandang kearah lelaki baju hitam yang masih tegak
terlongong. ia membentak :
"Karena bertempur mati-matian di tempat ini, engkau
tentu bukan manusia baik !"
Habis berkata orang sinting itu terus ayunkan tongkat
bambunya, ke pinggang orang.
Karena hendak diserang, lelaki baju hitam itupun
menangkis dengan goloknya, Melihat itu Gin Liong cepat
berteriak:
"Hong koko, dia bukan..."
Tetapi belum selesai Gin Liong berseru, golok lelaki baju
hitam itupun sudah mencelat ke udara, Untung karena
mendengar peringatan Gin Liong, Hong-tian-soh segera
hentikan tongkatnya, Memandang kepada orang itu ia
tertawa mengekeh lalu berputar tubuh dan melangkah ke
tempat Mo Lan Hwa lagi dan berjongkok. Rupanya sayang
sekali dia akan sumoaynya.
Saat itu Dewa pemabuk berhasil mendapat sebuah botol
kecil dari kumala putih, Setelah menuangkan pil dari botol
itu, terus disusupkan ke mulut Mo Lan Hwa.
Tek Cunpun sudah kuat berdiri tetapi semangatnya
masih lelah, Dalam kesempatan itu Hok To Beng suruh Gin
Liong berkenalan dengan Dewa Pemabuk, Demikian pula
dengan Tio Li Kun dan Tek Cun.
Ternyata Swat-thian Sam-yu juga naik perahu bersamaan
waktunya dengan Gin Liong, Tetapi karena penumpangnya
banyak, perahu agak pelahan jalannya hingga Gin Liong
dan rombongannya tiba lebih dulu setengah jam.
Jago2 persilatan dari berbagai aliran makin banyak tiba
di tempat itu, Tetapi mereka tak berani mendekat dan
hanya berdiri dua-puluh tombak jauhnya, Mereka kasak
kusuk dengan kawan2nya. Dengan munculnya Swat-thian
Sam-yu di tempat itu, tak seorangpun yang berani
melanjutkan perjalanannya ke muka.
Sejenak memandang kesekeliling, Hok To Beng kerutkan
dahi, lalu bertanya kepada Gin Li-ong: "Orang tua itu
mengapa tak tampak ?"
Memandang kearah cermin pusaka di tengah telaga, Gin
Liong juga menyatakan keheranannya: "Sejak kami datang,
orang tua itu tak pernah kelihatan."
"Lalu siapa yang membunuh korban2 itu ?" seru Hong-
tian-soh seraya memandang sosok2 mayat yang berserakan
di tanah,
Gin Liong kerutkan alis, Tiba2 ia teringat akan kematian
Ma Toa Kong.
"Kemungkinan mati di tangan keempat imam tua itu !"
akhirnya ia menyahut.
Sudah tentu Swat-thian Sam-yu terkejut. Mereka
mendesuh dan serempak berpaling ke arah imam tua Ceng
Cin.
Tampak imam tua Ceng Cin tengah memondong mayat
Ceng Hian dibawa lari keluar dari lembah itu.
"Hm, hari ini kurcaci tua itu mendapat kemurahan,"
dengus Hong-tian-soh geram.
Mo Lan Hwa sudah dapat bangun.
"Bagaimana ? Apakah lenganmu sudah tak sakit ?" seru
ketiga Swat-thian Sam-yu.
Dengan manja sekali Mo Lan Hwa mengatakan kalau
sudah sembuh, ia singsingkan lengan baju dan tampaklah
sebatang sutera perak selembut bulu kerbau menyusup
kelengan nona itu.
Dewa Pemabuk mengambil buli2 araknya meneteskan
dua tetes arak ke bulu perak itu lalu mencabutnya.
"Untung Ih Tim loto sudah menderita luka-dalam,
sehingga tenaganya berkurang, Kalau tidak sutera perak itu
tentu akan menyusup lebih dalam lagi ke tulang," kata Tio
Li Kun.
Dewa Pemabuk merentang mata dan bertanya siapakah
yang melukai Ih Tim loto itu.
Gin Liong mengaku bahwa dialah yang melukai imam
tua itu karena melihat imam itu mengganas Tek Cun
dengan pukulan yang dahsyat ia menunjuk ke arah Tek Cun
yang wajahnya masih pucat.
Dewa Pemabuk mendesis, Rupanya ia seperti kurang
percaya kalau seorang anak semuda Gin Liong mampu
melukai Ih Tim yang berkepandaian tinggi.
"Lalu siapakah yang membunuh Ceng Hian loto ?"
tanyanya pula.
"Juga siaute" kata Gin Liong, "karena dia berlaku curang
menyerang dari belakang.
Sudah tentu Dewa Pemabok makin terkejut Dengan
matanya yang redup menatap Gin Liong.
"Siau-hengte" serunya dengan sikap serius, "begitu keluar
dari perguruan, engkau sudah mengikat permusuhan
dengan dua partai persilatan. Kemungkinan engkau akan
menghadapi bermacam macam kesulitan nanti."
Gin Liong hanya tertawa hambar, "Dalam terjun
kedunia persilatan siaute hanya berpijak pada kebenaran
dan keadilan Memberantas yang lalim dan jahat, menolong
yang lemah dan benar. Apapun bahaya yang akan
menimpali pada diri siaute, siaute tak dapat menghindari
lagi."
Dewa Pemabuk terkesiap, Setelah berbicara beberapa
saat lagi, diam2 ia mengagumi pendirian dan sikap Gin
Liong yang perwira.
"Bagus, bagus, siau-hengte." bahkan Hong-tian-soh si
Sinting menepuk-nepuk bahu Gin Liong "tak kecewa
engkau menjadi adik dari aku si Sinting ini Hong-tian-soh.
Berani dan perwira, Tak gentar menghadapi ancaman, tak
menindas yang lemah dan tak melakukan pekerjaan yang
melanggar hukum Allah, Aha, aku si sinting Hong-tian-soh,
sekarang sudah mempunyai adik sealiran."
Habis berkata tokoh sinting itu tertawa gelak2 dengan
gembira sekali.
Walaupun menahan sakit karena ditepuk-tepuk bahunya
itu, terpaksa Gin Liong harus tersenyum.
Tio Li Kun dan Tek Cun tergerak hatinya mendengar
pernyataan si sinting yang begitu perwira. Mereka tak
mengira kalau tokoh yang tampak seperti orang sinting
ternyata mempunyai pendirian seorang pendekar besar.
Melihat Gin Liong tertawa meringis, Mo Lan Hwa
berseru : "Hong koko, engkau boleh saja bergembira tetapi
dengan menepuk-nepuk bahu begitu, orang harus meringis
kesaktian untuk memuaskan kegembiraan hatimu."
Hong-tiang-soh menyadari dan cepat hentikan
tangannya.
Tiba2 terdengar suitan nyaring dari arah puncak gunung
yang jauh dari situ, Gin Liong terkejut Demikian pula
dengan sekalian tokoh yang berada disitu. Mereka
serempak memandang kearah suara suitan itu.
Suitan itu seolah menembus udara, memenuhi lembah
dan makin lama makin dekat ke lembah.
Sekonyong-konyong dari arah dua-puluh tombak
jauhnya terdengar suara orang berteriak keras: "Lekas- lari,
orang tua pemilik kaca wasiat itu datang !"
Mendengar itu para jago silat yang berkumpul diluar
lembah segera desak mendesak berebut lari. Mereka seperti
akan diserang bencana.
Gin Liong kerutkan alis, Dari berbagai tempat yang jauh
mereka datang, bukankah karena hendak melihat orang tua
pemilik kaca wasiat itu ? Mengapa sekarang orang tua itu
datang, mereka malah melarikan diri ? Pikir Gin Liong
penuh keheranan.
Suitanpun berhenti dan beberapa jago silat yang sudah
membiluk di puncak gunung sebelah muka itupun berhenti
Mereka berpaling memandang ke telaga, cemas dan sangsi.
Tiba2 sebuah suara suitan yang aneh dan parau,
mengiang di telinga Gin Liong. Gin Liong terkejut dan
cepat berpaling.
Hong-tian-son meregang rambutnya, muka menengadah
dan mulut ternganga, Tengkuk lehernya menjulur ke muka.
Ah, dialah yang bersuit aneh itu.
Luka Tek Cun baru saja baik, Mendengar suitan aneh
itu, wajahnya pucat dan keringat dinginpun mengucur lagi,
Melihat itu Gin Liong, Tio Li Kun cepat loncat ke samping
Tek Cun dan serempak memegang punggung Tek Cun.
Tampak Hok To Beng dan Dewa pemabuk serius sekali
wajahnya. Kedua tokoh itu tengadahkan muka untuk
menanti jawaban dari suitan aneh yang dipancarkan Hong-
tian-soh tadi.
Memandang ke puncak gunung sebelah muka, Gin
Liong tak melihat lagi rombongan jago2 silat yang berdiri
disitu, Rupanya karena mendengar suitan Hong-tian-soh,
mereka ketakutan melarikan diri.
Setelah bersuit, Hong - tian - soh merentang mata dan
memandang ke puncak sebelah muka, Tiba2 suitan nyaring
tadi terdengar pula, jelas berasal dari balik puncak gunung
yang tingginya beratus-ratus tombak, Menyusul muncul dua
sosok tubuh warna kelabu dan putih meluncur turun bagai
dua buah bintang jatuh dari langit.
Baik Gin Liong maupun Swat-thian Sam-yu terkesiap
melihat kesempurnaan ilmu meringankan tubuh dan kedua
pendatang itu.
Seiring dengan suitan berhenti, kedua sosok tubuh itupun
sudah mencapai tengah2 lereng gunung. Tetapi kumandang
suitannya masih berkumandang jauh ke angkasa.
Saat itu Gin Liong dapat melihat bahwa kedua
pendatang itu terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita.
"Sepasang lelaki dan wanita," serunya, Swat-thian Sam-
yu terkejut Mereka sendiri belum dapat melihat jelas kedua
pendatang itu. Terutama Dewa Pemabuk, Dia sampai
mendesuh kejut karena heran atas ketajaman mata anak
muda itu.
Dalam pada itu kedua pendatang itupun sudah tiba di
kaki gunung dan lari menghampiri kearah lembah.
Swat-thian Sam-yu memperhatikan bahwa walaupun
tampaknya pelahan tetapi sesungguhnya kedua pendatang
itu lari cepat sekali
Pada lain saat tiba2 Gin Liong berteriak kaget: "Sumoay,
sian-suang . .. . !" iapun terus loncat dan lari menyongsong
kedatangan bayangan putih itu.
Mendengar itu berdebarlah hati si jelita Tio Li Kun.
Apabila tokoh yang disebut sian-tiang telah datang, dia
tentu dapat membuka rahasia siapa sesungguhnya suhu dari
Tio Li Kun itu.
Beda dengan engkohnya, Tek Cun, Pemuda itu gembira
sekali, ia merasa hari itu benar2 luar biasa sekali karena
dapat berjumpa dengan empat tokoh dari Ih-lwe-jit-ki atau
Tujuh tokoh aneh dalam dunia.
Sedangkan Mo Lan Hwa merasa cemburu karena
mendengar Gin Liong begitu girang sekali menyambut
kedatangan sumoaynya.
Saat itu Swat-thian Sam-yu dapat mengetahui jelas
bahwa salah seorang pendatang itu bukan lain adalah Hun
Ho sian-tiang bersama seorang gadis cantik baju putih yang
umurnya sekitar 16-17 tahun, Ketiga tokoh itu segera dapat
menduga bahwa gadis baju putih itu tentu sumoay dari Gin
Liong, Mereka tertawa ikut gembira atas pertemuan itu.
Terpisah tujuh tombak jauhnya, Gin Liong berhenti dan
memberi hormat kepada Hun Ho sian tiang.
"Liong koko . . " teriak gadis baju putih dengan penuh
haru. ia berlinang-linang airmata melihat Gin Liong.
"Harap siau-sicu tak memakai banyak peradatan," begitu
tiba di hadapan Gin Liong, Hun Ho siantiang mencegah
anak muda yang hendak membungkuk tubuh
menghaturkan hormat ia ulurkan tangan untuk mencekal
tangan Gin Liong, Seketika Gin Liong merasa seperti
terangkat ke atas dan terus melayang kearah Swat-thian
Sam-yu.
"Bertahun-tahun tak berjumpa, toheng bertiga masih
segar bugar seperti yang lalu" seru Hun Ho sian-tiang yang
menyusul tiba di hadapan Swat-thian Sam-yu.
Hok To Beng dan Dewa pemabuk tertawa dan serempak
menegur: "Imam hidung kerbau, angin apakah yang
meniup engkau sampai ke lembah ini ?"
"Bukan angin tetapi keinginan nafsu hati yang serakahlah
yang membawanya kemari" tiba2 Hong-tiang-soh
menyelutuk tertawa.
Sambil mengurut-urut jenggotnya, Hun Ho sian-tiang
tertawa:
"Ah, Hong toheng masih gemar berolok-olok. Ketika
pergi ke gunung Tiang-pek-san mencari tanaman obat,
kebetulan kita saling bertemu dan secara kebetulan pula
berjumpa dengan orang tua pemilik kaca wasiat tadi bukan
sengaja khusus mencarinya . . . "
"Dan kali ini ? Apakah kedatanganmu kemari juga
hendak mencari daun obat ?" tukas Hong-tian-soh.
"Tadi kalau tak mendengar suitan yang memecah
angkasa dari mulut Hong to-heng, mungkin saat ini aku
sudah tinggalkan gunung Hok-san ini sahut Hun Ho sian-
tiang.
Swat-thian Sam-yu dan Gin Liong tertawa, Dalam pada
itu si cantik Tio Li Kun, Mo Lan Hwa dan Tek Cunpun
menghampiri dan memberi hormat kepada Hun Ho sian-
tiang,
Melihat Tio Li Kun, Hun Ho sian-tiang segera tertawa:
"Nona Tio, apakah suhumu Ceng Hun suthay baik2 saja
?" tegurnya.
Merah wajah Li Kun, Dia gugup mendapat pertanyaan
itu tetapi karena tak dapat ditutupi lagi akhirnya ia
menyahut juga.
"Berkat restu sian-tiang, suhu tak kurang suatu apa."
Swat-thian Sam-yu terkesiap, Mereka memang pernah
mendengar kabar orang bahwa kepandaian si cantik Li Kun
jauh di atas saudara2 nya, Saat itu baru mereka mengetahui
bahwa suhu dari si cantik itu ternyata rahib Ceng Hun,
murid pewaris dari Bong-.san loni atau rahib tua dari
gunung Bong-san salah seorang dari Bu-lim Su-ik atau
Empat-luar-biasa dalam dunia persilatan.
Jangankan Swat-thian Sam-yu, bahwa Tek Cun engkoh
nomor enam dari si jelita Li Kun sendiri, juga terlongong-
longong heran. walaupun sebagai saudara tua, tetapi ia tak
tahu bahwa adiknya itu ternyata murid dari rahib tua Bong-
san lo ni. Dia kira kalau kepandaian adiknya itu berasal dari
mamahnya.
Karena lama tak berjumpa maka pertemuan antara Swat-
thian Sam-yu dengan Hun Ho sian-tiang itu amat
menggembirakan sekali Mereka ber cakap2 dengan riang
dan asyik.
Melihat Ki Yok Lan. Tek Cun benar2 terkesiap, ia tak
menyangka bahwa sumoay yang sering diucapkan oleh Gin
Liong itu ternyata seorang gadis yang agung dan cantik,
wajahnya yang cantik berseri, makin memancarkan
kecantikan yang syahdu dalam pakaiannya yang berwarna
putih. Sepintas pandang menyerupai seorang bidadari.
ia memperhatikan bahwa adiknya, Mo Lan Hwa dan Ki
Yok Lan dalam waktu yang singkat tampak akrab sekali,
Tetapi diam2 iapun memperhatikan juga bahwa pada wajah
adiknya, Tio Li Kun tampak memancarkan sinar cemburu.
Sedang wajah Mo Lan Hwa mengunjuk rasa putus asa.
Sedang Ki Yok Lan sendiri tampak tenang dan wajar.
Secara tak disadari, ia telah membuat perbandingan
untuk menilai ketiga gadis cantik itu.
Ki Yok Lan, berwajah agung cantik dan alim. Memberi
kesan bahwa dia seorang dara yang berhati bersih dan suci.
Mo Lan Hwa cantik berseri, meriah dan gagah sehingga
orang tak berani main2 kepadanya Seorang dara yang
bersemangat
Adiknya, Tio Li Kun, cantik laksana sekuntum bunga
mekar di pagi hari, Memiliki sikap yang berwibawa, cerdas
tetapi angkuh.
Diam2 Tek Cun mencemaskan adik perempuannya itu.
jika Tio Li Kun tak mau berlapang dada, menerima dan
memberi dalam soal asmara, dikuatirkan dia akan
menderita.
Tiba2 suara tertawa gelak2, menghentikan pikiran Tek
Cun yang tengah melamun itu. Ah, ternyata Hun Ho sian-
tiang bersama Swat-thian Sam yu telah menuju ke tepi
telaga.
"Liok-ko, mari kita kesana juga," tiba2 Gin Liong
mengajak, Tek Cun mengiakan dan segera kedua pemuda
itu menuju ke tepi telaga juga, Melihat itu ketiga gadispun
mengikuti pula.
Rombongan Swat-thian Sam-yu beristirahat di sebuah
tempat yang jauh dari hamburan air terjun.
"Imam hidung kerbau" tiba2 Hong-tian-soh bertanya,
"apakah engkau tak menduga bahwa orang tua pembawa
kaca wasiat itu bukan salah seorang dari Thian lam Ji-gi ?"
Hun Ho sian-tiang gelengkan kepala pelahan sahutnya:
"Kedua tokoh Thian-lam Ji-gi itu sudah lama menutup
pintu tak mau bertemu orang. Tahun muka baru mereka
menyudahi persemedhiannya"
Berhenti sejenak, Hun Ho siantiang melanjutkan pula:
"Ketika Siau sicu hendak memberi hormat kepadaku di
tanah lapang lembah salju gunung Tiang pek-san, dari
rumah pondok itu tiba2 memancar sepercik sinar dan
menyusul segulung asap putih melintas di atas kepala si
pengemis jahat dan Hoa hweshio, Kedua orang itu menjerit
ngeri. Ketika kuburu keluar hutan. ternyata asap itu sudah
lenyap."
"Imam hidung kerbau" Dewa Pemabuk tak percaya,
"jangan membual, Dengan ilmu meringankan tubuh Ki-
hong-hui-heng-sut yang sakti itu, masakan orang tua
pembawa kaca wasiat itu mampu lolos dari pengawasanmu
?"
Hun Ho sian-tiang menghela napas panjang, "Ketika aku
melambung ke udara, kulihat berpuluh sosok tubuh kaum
persilatan yang bersembunyi di sekeliling hutan itu,
berhamburan lari ke segenap penjuru, Sukar bagiku untuk
mengejar yang mana."
Hok To Beng memandang kearah kaca wasiat di telaga
dan bertanya:
"Menurut pandanganmu apa maksudnya orang tua itu
meletakkan kaca wasiat di tempat yang sedemikian
berbahaya ?"
Hun Ho sian-tiang kerutkan alis.
"Rupanya orang tua itu bermaksud hendak membunuh
orang yang berhati temaha, Sejak dia muncul, entah sudah
berapa banyak jiwa kaum persilatan yang binasa di
tangannya."
Berhenti sejenak Hun Ho sian-tiang melanjutkan pula:
"Menurut dugaanku, dengan menaruh kaca wasiat di
tengah telaga, dia bermaksud hendak memancing nafsu
keinginan orang agar jago2 silat itu saling bunuh
membunuh sendiri dan dunia persilatan berkurang
jumlahnya manusia2 yang berhati temaha."
"Huh, apakah itu bukan berarti hendak menciptakan
suatu pembunuhan besar-besaran ?" teriak Hong-tian-soh
tak puas, "jika tiada kaca wasiat itu orang tentu takkan
timbul nafsu temahanya."
Kemudian tokoh sinting dari Swat-thian Sam yu itu
menggeram: "Lebih baik menghancurkan kaca itu agar
jangan menimbulkan peristiwa berdarah !"
Habis berkata ia terus menjemput sebuah batu kecil dan
hendak dilontarkan. Sudah tentu Hok To Beng, Dewa
Pemabuk terkejut, membentak dan mencengkeram tangan
si sinting.
-ooo0dw0ooo-

Bab 6
Tiga durjana
Hun Ho sian-tiangpun berkata dengan wajah serius:
"janganlah Hong toheng bertindak gegabah. Kaca wasiat itu
adalah benda peninggalan seorang paderi suci pada jaman
dulu. Benar2 sebuah benda pusaka dalam dunia persilatan,
kegunaan kaca itu bukan melainkan hanya mencari benda2
pusaka yang tertanam dalam tanah saja..."
"Kemungkinan orang tua itu bersembunyi di sekeliling
tempat ini !" tiba2 Hok To Beng menyelutuk.
Hong-tian-soh keluarkan biji matanya dan
menggentakkan tongkat bambunya ke tanah lalu berseru
keras2:
"Tindakanku tadi, bukankah suatu siasat untuk
memancing supaya dia keluar dari tempat
persembunyiannya ?"
Tetapi sekeliling penjuru tenang2 saja, Tiada
penyahutan, Keadaan itu memberi kesan kepada sekalian
orang bahwa orang tua pemilik kaca wasiat itu memang tak
berada di sekeliling situ. Kalau tidak, dia pasti akan keluar
untuk menemui Hong-tian-soh.
Akhirnya Hun Ho sian-tiang menghela napas "Karena
jelas toheng sekalian tak menginginkan kaca itu, lebih baik
kita lekas2 tinggalkan tempat ini agar terhindar dari
kekeruhan."
Sekalian orang termenung diam, Saat itu matahari sudah
condong ke barat. Di telaga itu secara kebetulan, Gin Liong
telah menemukan Ma Toa Kong, berjumpa dengan Swat-
thian Sam-yu dan bertemu pula dengan sumoaynya Ki Yok-
lan serta Hu Ho sian-tiang. Dia gembira sekali.
Kini tinggal satu tujuan lagi ialah mengejar jejak Ban
Hong liong-li untuk meminta keterangan siapakah
sesungguhnya yang telah membunuh suhunya.
Setitikpun Gin Liong tak mengandung hasrat untuk
memiliki kaca wasiat itu, ia masih mempunyai lain tugas
penting, Ketika ia hendak menghaturkan terima kasih
kepada Hun Ho sian-tiang yang telah menolong
sumoaynya, tiba2 orang tua itu menengadahkan
memandang ke langit.
"To-heng" katanya, hari sudah menjelang petang, mari
kita pergi"
Swat-thian Sam-yu mengangguk dan mengikuti langkah
Hun Ho sian-tiang. Gin Liong berlima baru mengetahui
bahwa Hun Ho sian-tiang mengundang Swat-thian Sam-yu
ke pulau Hong-lay-to.
Sambil mengurut jenggotnya yang indah, Hun Ho sian-
tiang berkata kepada Ki Yok Lan:
"Lan-ji, kebetulan sekali ditempat ini engkau dapat
menemukan suhengmu, Lebih baik kalian pergi bersama-
sama."
Kemudian dengan wajah serius, tokoh itu memberi
pesanan kepada Yok Lan: "Harap engkau ingat baik2
pelajaran itu dan berlatihlah dengan tekun, Kelak tentu
berhasil."
Dengan berlinang-linang airmata, Ki Yok Lan segera
berlutut menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan
orang tua sakti itu.
"Bangunlah !" seru Hun Ho siantiang seraya kebutkan
dengan jubahnya, Tahu2 tubuh Yok Lan terangkat berdiri.
Melihat itu diam2 Gin Liong girang sekali, ia tahu
bahwa sumoaynya telah diterima sebagai murid tak resmi
oleh Hun Ho sian-tiang.
Swat-thian Sam-yu juga memberi pesan kepada Gin
Liong dan Yok Lan agar berhati-hati dan waspada dalam
perjalanan ke selatan itu.
Demikian keempat tokoh sakti itu segera berpisah
dengan rombongan anak muda dan menuju ke puncak
gunung sebelah kiri.
Setelah mereka lenyap dari pandang mata, Gin Liong
pun bertanya kepada Tek Cun:
"Liok-ko, apakah engkau masih kuat untuk
menggunakan ginkang ?"
Tek Cun mengatakan hendak mencobanya. Tetapi ketika
berjalan, Yok Lan cepat dapat melihat bahwa pemuda itu
terlalu maksa diri.
"Liok-ko," seru Yok Lan," biarlah aku bersama Liong
koko memapahmu berjalan, Lukamu baru sembuh, tak
boleh terlalu banyak menggunakan tenaga."
Tetapi Tek Cun menolak: "Lebih baik kucobanya dulu,
Apalagi diluar lembah masih ada kuda kita, Asal jangan
terlalu cepat, aku masih dapat mengimbangi kalian."
Pada saat itu Tek Cun mendapatkan dalam diri Yok Lan
sifat2 kehalusan budi, kesungguhan hati, kejujuran dan
kepolosan. Suatu sifat yang tak dimiliki adiknya, Tio Li
Kun.
Waktu berjalan, Gin Liong menyempatkan diri untuk
berpaling. Di tengah telaga tampak sinar kaca wasiat itu
masih memancar terang.
Kemudian waktu tiba ditempat pertempuran antara Hian
Leng dan Biau Liang, ternyata ke-enam imam tua yang
ditutuk jalan darahnya itu sudah tak kelihatan berada disitu
lagi.
"Hm, kawanan imam hidung kerbau itu memang tak
tahu diri. Kepandaiannya begitu rendah tetapi berani
menghadang kita," Mo Lan Hwa mendengus.
Gin Liong hanya tertawa ketika mendengar jelita itu juga
menggunakan sebutan "imam hidung kerbau" seperti yang
dilakukan Swat thian Sam-yu terhadap Hun Ho sian tiang.
Huak, tiba2 Tek Cun muntahkan segumpal darah segar
dan terhuyung-huyung rubuh ke tanah. Mo Lan Hwa yang
berada paling dekat, cepat loncat menyanggupinya. Tek
Cun gemetar tubuhnya dan lunglai tak bertenaga.
Sudah tentu Gin Liong beramai-ramai sibuk memberi
pertolongan Mereka membantu supaya Tek Cun yang saat
itu rebah dipangkuan Mo Lan Hwa dapat duduk tegak,
kemudian Gin Liong segera menyalurkan tenaga-dalam ke
pinggang Tek Cun, sedang ketiga gadis itu menjaga
disamping kanan kirinya.
Setelah wajah Tek Cun tampak merah barulah Tio Li
Kun menyuruhnya supaya menyalurkan pernapasan untuk
menyambut saluran tenaga-dalam dan Gin Liong.
Tiba2 terdengar suara langkah orang berlari dari arah
lembah. Li Kun, Yok Lan terkejut dan serentak berpaling.
Tiga sosok tubuh muncul dari bagian dalam lembah dan
dengan gerak yang amat cepat mereka telah melintasi hutan
menuju kearah rombongan anak2 muda itu.
"Taci Kun, kurasa mereka tentu bermaksud tak baik,"
kata Lan Hwa.
"Bagaimana tandanya ?" tanya Li Kun seraya berbangkit
dan memandang kearah ketiga pendatang itu.
Lan Hwa sejenak memandang dengan seksama lalu
berkata lagi : "Taci Kun, lihatlah sinar mata mereka yang
begitu berkilat-kilat seperti mencari sesuatu..."
"Ya, lebih baik kita berhati-hati," kata Li Kun, "menilik
sinar mata dan ginkang mereka, tentulah bukan jago silat
sembarangan Apabila sampai bertempur, supaya hati2."
Kemudian ia minta Lan Hwa dan Yok Lan menjaga Tek
Cun. Dia sendiri yang akan menghadapi ketiga pendatang
itu.
Ketiga sosok bayangan itu dengan cepat telah tiba,
sebenarnya Li Kun sudah mau duduk kembali dan
menghiraukan mereka tetapi tiba2 mereka berseru: "Hai,
berhenti !"
Karena disekeliling tempat itu tiada lain orang lagi, Li
Kun dan Lan Hwa tahu kalau seruan orang itu ditujukan
kepada mereka berdua, Kedua nona itu marah dan cepat
berputar tubuh.
Ternyata ketiga pendatang yang lari mendatangi itu
terdiri dari orang lelaki yang berbeda umurnya satu sama
lain.
Yang disebelah tengah, seorang tua berambut dan
jenggot putih, beralis panjang menjulai ke bawah. Matanya
hanya satu dan mulut perot, Mengenakan pakaian warna
biru dan memegang sebatang tongkat berkepala naga.
Sambil memerotkan mulut, matanya yang tinggal satu itu
berkilat2 memandang rombongan anak2 muda.
Yang sebelah kanan berumur empat puluh lima - empat
puluh enam tahun. rambut dan jenggotnya kelabu,
mulutnya lancip, hidung besar dan kedua telinganya hilang,
wajahnya hitam, mata bundar mengenakan kain hitam dan
memegang sebatang kait baja yang dilumuri racun. Seram
dan menakutkan orang.
Yang sebelah kiri seorang lelaki berumur tiga-puluhan
tahun lebih, Alisnya seperti daun liu, mata seperti bunga
tho dan kulitnya putih seperti salju, Rambutnya berminyak,
pipi berbedak dan rambut memanjang sampai ke bahu,
Mengenakan baju sutera kembang dan menyanggul
sebatang pedang pedang bengkok, sepintas menyerupai
seorang banci, menimbulkan kesan yang memuakkan.
Ketiga pendatang itu dengan wajah gusar memandang
kedua nona Lan Hwa dan Li Kun.
"Cici, ketiga orang itu mungkin Ce-tang Sam sat"
"Bagaimana engkau tahu ?" tanya Li Kun.
"Pernah kudengar dari toa-suheng tentang pakaian,
wajah dan umur mereka, Apalagi tokoh yang ketiga, laki2
bukan, perempuanpun bukan.
Saat itu Ce-tang Sam-sat sudah tiba tiga tombak di depan
mereka,
Toa-sat atau tokoh kesatu dari Ce-tang Sam sat yang
bergelar Boan-liong-kun atau Tongkat-naga melingkar,
tertawa mengekeh,
"Heh, heh. menilik pakaianmu, kalian ini tentu datang
dari Kwan-gwa..."
Mendengar itu Mo Lan Hwa marah dan cepat menukas:
"Tutup mulutmu ! Apa pedulimu dengan asal usulku ?"
Ji-sat atau tokoh nomor dua yang bergelar Toh-beng-kau
atau Kait-pencabut nyawa, menyeringai lalu membentak
keras:
"Budak hina, jangan banyak omong ! Lekas serahkan
kaca wasiat itu agar jangan menimbulkan kemarahanku."
Sudah tentu Li Kun dan Mo Lan Hwa marah bukan
main, Gin Liong yang tengah duduk bersila pejamkan
mata, pun sejenak membuka mata memandang ketiga
pendatang itu lalu pejamkan mata lagi.
Ki Yok Lan serentak bangun dan terus menyahut:
"Kalian salah alamat, Kaca wasiat itu berada di atas batu di
tengah telaga"
Belum Yok Lan selesai bicara, ketiga durjana itu sudah
tertawa gelak2: "Ha, ha, kalau menilik wajahmu, engkau ini
seorang budak perempuan yang halus tapi tak kira kalau
mulutmu begitu tajam."
Merah wajah Yok Lan. Baru pertama kali itu ia
mendengar orang memaki dirinya, Mo Lan Hwa tak kuasa
menahan kemarahannya lagi, Sambil menuding pada Ban-
liong-kun ia memaki:
"Engkau anjing tua, jelas bermulut tajam. tak tahu malu
dan berkulit tebal!"
Toa-sat Ban-liong-kun marah dan membentak "Budak
hina, engkau berani memaki aku . ." Tetapi sebelum dia
bertindak, Sam-sat atau tokoh nomor tiga yang seperti
orang banci itu segera melesat maju dan melengking:
"Budak hina, kalau tak mau menyerahkan kaca wasiat,
kalian tentu akan kucincang."
Habis berkata ia terus melepaskan sebuah hantaman
kearah Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa membentak dan
menangkis. Tetapi seketika itu wajahnya pucat dan menjerit
kaget. Pada lain saat ia terhuyung2 ke belakang sambil
mendekap dadanya Huak . . ia muntah darah.
Peristiwa itu berlangsung cepat sekali sehingga Li Kun
tak sempat menolong, Yok Lan cepat loncat untuk
menyanggupi tubuh Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah
tak kuat berdiri lagi, ia duduk bersila dan dengan paksakan
diri menuding kedadanya, Yok Lan dapat menangkap
maksudnya. ia segera mengambil pil dari baju Lan Hwa dan
dimasukkan ke mulut nona itu.
Tiba2 terdengar suara gemuruh disusul batu-batu dan
pasir bertebaran, asap dan debu bergulung2.
Memandang kemuka, Yok Lan dapatkan Li Kun dan
Sam-sat masing2 mundur tiga langkah, Wajah si jelita
tampak membeku dingin dan dahinya memancar hawa
pembunuhan. Dengan melengking ia segera mencabut
pedang dan pelahan2 maju menghampiri kearah ketiga
durjana itu.
Sam-sat tertawa mengikik.
"Nona kecil, kalau engkau mampu menangkan aku,
kepalaku boleh engkau potong, Tetapi kalau engkau kalah,
engkau harus menurut kuajak pulang menjadi isteriku"
Sam-sat atau tokoh ketiga yang bergelar Go kau-kiam si
Pedang-bengkok segera mencabut pedang go-kau-kiam.
"Kawanan tikus, engkau cari mati...!" bentak Li Kun
seraya loncat menyerang dengan jurus Tiang-ho-hong-ping
atau sungai Tiang-ho menutup salju... segulung sinar perak
segera membabat ke dada Sam-sat.
Sam-sat tahu kalau ilmu pedang nona jelita itu lihay.
Dengan tertawa ia mengisar langkah ke samping lalu
tusukkan ujung pedang ke pinggang sinona.
Pada saat itu dengan tertawa mengekeh, toa-sat Boan-
liong-kiam dan ji- sat Toh-beng-kau masing2 lari
menghampiri Gin Liong dan Tek Cun.
Melihat itu berobahlah wajah Yok Lan. Gin Liong dan
Tek Cun sedang menyembuhkan lukanya, jangan lagi
diserang, cukup di dorong pelahan2 dengan tongkat saja,
kedua anak muda itu tentu akan rubuh, mungkin akan
terjadi suatu akibat yang berbahaya dalam penyaluran
napas mereka.
"Berhenti, atau akan kupaksa kalian mundur." bentaknya
kepada kedua durjana itu, seraya mencabut pedang Ceng-
kong-kiam.
Tetapi Boan-liong- kiam dan Toh-beng-kiam tertawa
gelak2. Mereka tak mengacuhkan peringatan Yok Lan lagi
dan tetap melangkah maju.
Li Kun terkejut mendengar suara tertawa mereka ia
menyempatkan diri untuk berpaling. Tetapi walaupun
terdesak, sam-sat Go-kau-kiam tak mau melepaskan si
jelita. Li Kun marah sekali, Dengan melengking ia
lancarkan tiga buah serangan pedang sehingga sam-sat
kelabakan.
Tetapi pada saat itu tiba2 toa-sat dan ji-sat hentikan
tawanya, Yang satu mengangkat tongkat dan yang satu
mengangkat kait untuk mengemplang Gin Liong dan Tek
Cun.
Melihat itu Yok Lan pun bertindak. Dengan sebuah
loncatan ia segera lancarkan jurus Liong-hok-song-hou atau
Naga-mendekam-sepasang-harimau. Pedang berhamburan
menjadi beratus2 sinar perak bagai seekor naga marah.
Keatas menghantam tongkat boan-liong-kiam, kebawah
menangkis toh-hun-kau. Ujung pedang menusuk tangan
kedua lawan.
Toa-sat dan Ji-sat banyak pengalaman dalam
menghadapi musuh2 tangguh, Entah sudah berapa banyak
jago2 lihay yang jatuh ditangan mereka. Tetapi selama itu
belum pernah mereka melihat ilmu pedang seaneh dan
sedahsyat yang dimainkan Yok Lan. Mau tak mau kedua
durjana itu berteriak keras dan menyurut mundur.
Yok Lan sendiripun terkejut dalam hati, ia melancarkan
salah sebuah jurus ilmu pedang ajaran Hun Ho siantiang,
Hasilnya ternyata sedemikian hebat.
Begitu kedua durjana itu mundur, Yok Lan pun tak mau
mengejar Tampak kedua durjana itu pucat wajahnya,
keringat dingin bercucuran membasahi tubuh mereka,
Mereka memandang sinona dengan terkejut heran. Mereka
benar2 tak menyangka bahwa seorang nona yang masih
begitu muda belia ternyata memiliki ilmu pedang yang
sedemikian luar biasa. Kecongkakan dari kedua durjana itu
lenyap seperti awan dihembus angin, Tampak wajah
mereka seperti kunyuk kepedasan.
"Cici, jangan membunuh." tiba2 Yok Lan berteriak,
Tetapi terlambat Terdengar jeritan ngeri disertai dengan
hamburan darah dari sam-sat yang lepaskan pedang dan
rubuh ketanah.
Melihat itu, toa-sat yang nyalinya sudah pecah, timbul
pula kemarahannya Dengan menggembor keras ia dan ji-sat
terus lari menyerbu Li Kun. Tetapi jelita itu tak gentar
Dengan melengking keras, ia segera menyambut kedua
durjana itu.
"Berhenti" tiba2 terdengar bentakan sedahsyat halilintar.
Yok Lan tergetar dan berpaling, Tampak dengan wajah
gusar Gin Liong sudah berdiri disamping. Toa-sat, ji-sat dan
Li Kunpun terkejut mendengar bentakan keras itu. Mereka
serempak berpaling,
Melihat Gin Liong sudah selesai menyalurkan tenaga-
dalam, Li Kun serta merta loncat ke hadapannya, katanya:
"Mereka bertiga adalah Ce-tang-sam-sat yang
bersimaharajalela, mengganas dan melakukan perbuatan2
jahat jangan kita biarkan mereka lolos."
Habis berkata ia terus menyimpan pedang dan bersama
Yok Lan menghampiri ke tempat Mo Lan Hwa yang masih
duduk bersila di tanah.
Melihat sam-sat mati kedua durjana itu marah. Lebih-2
ketika mendengar kata2 Li Kun mereka seperti orang
kebakaran jenggot Kedua durjana itu tertawa keras.
"Tutup mulut kalian!" bentak Gin Liong seraya maju.
Toa-sat dan ji-sat tergetar sehingga menyurut mundur,
Sambil menuding, Gin Liong berseru : "Apakah maksud
kalian menyerang rombonganku? Kalau tak mau bilang
sejujurnya, jangan harap kalian mampu tinggalkan tempat
ini !"
"Budak sombong !" teriak toa-sat seraya maju
menghantam bahu pemuda itu, Gin Liong tertawa dingin,
ia gerakkan tangan kiri untuk menangkis. Krak, toa-sat
mendengus tertahan dan mundur sampai tiga langkah,
Sedang Sin Liong tetap berdiri tegak di tempat
Melihat itu ji-sat terlongong-longong, Tetapi rupanya
Toa-sat masih belum jera, Begitu berdiri tegak ia terus
mencabut tongkat boan liong-kun terus diayunkan kearah
kepala Gin Liong.
Gin Liong mendengus, Dengan gerak yang luar biasa ia
sudah menyelimpat ke belakang lawan. Toa-sat ayunkan
tongkatnya menghantam kebelakang, tetapi Gin Liong
sudah loncat keudara dan turun dibelakangnya lagi.
Melihat itu ji-sat segera memutar kaitnya, menyambar
Gin Liong yang baru saja berdiri, Yok lan yang berada di
sisi Mo Lan Hwa selalu mengikuti pertempuran itu, ia
menjerit kaget ketika melihat Gin Liong terancam bahaya.
Mendengar jeritan itu, Gin Liong terkejut, secepat kilat
ia mendekam ke tanah dan senjata kait itupun meluncur di
atas punggungnya.
Gin Liong makin marah. setelah menekuk ke dua lutut ia
melambung ke belakang ji-sat, Sekali membentak ia
menyerempaki dengan menghantam punggung orang itu,
duk . .
Seketika ji-sat muntah darah dan terus melesat kemuka
toa-sat. Toa-sat buru2 menarik tongkatnya dan melangkah
maju. Tetapi ji-sat sudah terhuyung2 dan muntah darah
lagi, lepaskan senjata kaitnya dan terus rubuh ke tanah,
Kedua kakinya menelikung dan jiwanyapun melayang.
Melihat itu toa-sat menjerit kalap: "Aku akan mengadu
jiwa dengan engkau . . " tongkat boan-liong-kun diputar
laksana hujan mencurah, maju menyerang Gin Liong,
Melihat kekalapan toa-sat, Yok Lan ngeri dan serentak
berbangkit. Tetapi Gin Liong tak gentar ia mainkan tata-
langkah Liong-li-biau untuk menghindar lalu mencabut
pedang pusaka Tanduk Naga.
Toa-sat, sudah terlanjur diamuk kekalapan. ia tak peduli
lagi bagaimana pedang yang berada di tangan anak muda
itu. Dengan menggembor keras ia tetap menyerang.
Tring, tring, tring, terdengar beberapa kali dering senjata
beradu keras, diiring dengan hamburan bunga api dan
kutungan baja berterbangan ke udara. Walaupun tahu kalau
tongkatnya telah terpapas kutung namun toa-sat tetap tak
hentikan serangannya, ia menyerang dengan jurus Ko jiu-
boan-kin atau pohon-tua-melingkar- akar, menyerang lutut.
Tring, kembali pedang Tanduk Naga berkelebat
memapas kutung tongkat itu. Namun toa-sat tetap nekad
dan menusuk perut Gin Liong. Tetapi kembali pedang
Tanduk Naga membelah tongkat lawan menjadi dua
kutung, Keadaan toa-sat saat itu benar2 seperti orang gila,
wajahnya makin menyeramkan, matanya yang tinggal satu
itupun merah berdarah, rambutnya yang putih meregang
tegak dan napasnya terengah-engah keras.
Gin Liong tegak ditempatnya sambil lintangkan pedang
didada untuk melindungi diri. Rupanya ia tak mau
membunuh orang tua mata satu yang sudah tak berdaya itu.
Ditangan toa-sat kini hanya tinggal memegang kutungan
tongkat sepanjang setengah meter, Dia berdiri dimuka Gin
Liong pada jarak tujuh langkah, Dia memandang Gin
Liong dengan mata kemerah-merahan.
Beberapa saat kemudian ia mendengus marah dan
berseru geram: "Budak, karena engkau mengandalkan
pedang pusaka, aku masih penasaran dan tak mau
menyerah."
Gin Liong kerutkan alis dan menggeram: "Engkau
hendak mengajak bertanding dengan cara apa, aku bersedia
melayanimu semua !"
Toa-sat rentangkan matanya yang tinggal satu lebar2,
serunya menggeledek:
"Aku hendak mengajakmu bertanding ilmu pukulan."
Habis berkata ia terus melontarkan tongkatnya yang
tinggal dua jari ke tanah, Setelah mengejang kedua
tangannya, iapun pelahan lahan maju menghampiri Gin
Liong.
Yok Lan pernah merasakan betapa kuat tangan toa-sat
tadi. Ketika melihat durjana bermata satu itu hendak
mengadu kepalan dengan Gin Liong, iapun gelisah.
Tiba2 Li Kun dan Lan Hwa loncat ke sisi Yok Lan.
Ternyata Lan Hwa sudah sembuh. Sekarang ketiga nona
jelita itu berdiri berjajar Demi melihat keadaan di
gelanggang pertempuran, Li Kun merasa heran mengapa
Gin Liong tak mau cepat2 menyelesaikan toa-sat.
Saat itu toa-sat sudah tiba lima langkah dihadapan Gin
Liong, Dia berhenti dan memandang Gin Liong dengan
pandang berkilat-kilat Gerahamnya bergemurutukan keras
menahan kemarahannya yang meluap-luap.
Tetapi Gin Liong tetap tenang2 saja. Tetapi diam2 iapun
kerahkan tenaga-dalam ke lengan kirinya.
Melihat sikap si anak muda yang begitu tenang, diam2
toa-sat memaki dalam hati: "Bangsat engkau terlalu
memandang rendah diriku !"
Tetapi ia masih memegang gengsi, sebelum menyerang
ia masih menegur: "Hai, mengapa eng kau tak bersiap ?"
"Silahkan engkau turun tangan sajalah !" sahut Gin
Liong dengan nada tawar.
Toa-sat segera mengiakan Setelah bersiap, lalu dengan
menggembor keras ia dorongkan kedua tangannya.
Gin Liong tahu akan kelihayan orang. ia tak berani
memandang rendah, pada saat toa-sat bergerak iapun agak
mengendapkan tubuh kebawah dan tangan kirinya yang
sudah disiapkan tadipun segera menyongsong kemuka.
Jarak amat dekat maka pukulan kedua orang itupun
hampir berbenturan Bum, terdengar bunyi letupan keras
diiringi deru angin yang menghamburkan batu, debu dan
pasir keempat penjuru, Dalam kepulan debu yang
bergulung debu yang tebal terdengar berulang suara
mengerang tertahan.
Tubuh toa-sat bergelundungan ke tanah sampai tiga
tombak jauhnya, sedangkan lengan Gin Liong bergetar
keras dan tubuh ikut bergoncang sampai beberapa saat baru
ia dapat berdiri tegak lagi. Ketika menggerakkan tangan
kirinya, ia rasakan agak sakit.
Terkena pukulan sakti dari Gin Liong, toa-sat berguling-
guling sampai tiga tombak lebih, baru berhenti, Secepat
kilat ia terus melenting bangun dan duduk. Pakaian
compang camping, berlumuran tanah, Maya berbinar-binar,
kepala pusing, segala benda diempat penjuru dirasakan
berputar-putar, Lama sekali baru ia dapat melihat jelas Gin
Liong masih tegak berdiri ditempat semula.
Dengan paksakan diri segera ia berseru: "Hai budak
kecil, tinggalkan namamu dan perguruanmu. Asal masih
belum mati, kelak aku tentu akan mencarimu untuk
menghimpas hutang hinaan yang engkau berikan kepadaku
hari ini..."
Gin Liong tertawa dingin, serunya:
"Aku Siau Gin Liong, tak punya perguruan tak punya
partai persilatan, Siapa suhuku, engkaupun tak perlu
bertanya, Kapan saja engkau hendak mencari balas
kepadaku, asal engkau sebarkan berita di dunia persilatan,
aku tentu akan menemui mu."
Habis berkata ia terus melangkah menghampiri ketempat
Li Kun bertiga.
Dengan paksakan diri pula, mulut toa-sat mengiakan lalu
pejamkan mata untuk menyalurkan napas, Tetapi tiba2 ia
terjungkal kebelakang dan tak sadarkan diri.
Gin Liong tak menghiraukan. Setelah tiba di tempat Li
Kun dan Yok Lan, ia memandang ke arah Tek Cun dan
Lan Hwa yang masih duduk pejamkan mata.
"Rupanya luka yang diderita liok-ko dan cici Lan tak
dapat sembuh dalam waktu singkat. Kita harus membawa
mereka ke tempat yang aman. Kalau kita melanjutkan
perjalanan, lukanya tentu kambuh dan akibatnya sukar
dilukiskan." kata Gin Liong. Memandang ke langit,
ternyata matahari sudah berada di belakang puncak barat
dan lembahpun sudah meremang gelap.
Li Kun mengusulkan untuk mencari sebuah desa. Dan
Yok Lanpun serempak mengatakan dia dan Li Kun yang
memapah Lan Hwa. Gin Liong yang memapah Tek Cun
Demikian ketika tiba di luar lembah, Gin Liong bersuit
keras. Beberapa saat kemudian terdengar suara kuda
meringkik.
"Bagus, kuda bulu hitam patuh sekali kepadamu" seru Li
Kun.
"Ah, aku hanya coba2 saja, tak kira kalau kuda itu begitu
menurut" kata Gin Liong.
Tetapi belum sempat mereka menuju ketempat suara
kuda itu tiba2 terdengar suara derap kuda lari yang
gemuruh, Empat ekor kuda mencongklang pesat kearah
lembah. Gin Liong cepat memeluk tubuh Tek Cun,
demikian pula Li Kun dan Yok Lan segera memondong
Lan Hwa. Rupanya Tek Cun lebih parah, ia terus menerus
pejamkan mata.
Ternyata yang berlari mendatangi itu empat ekor kuda
milik mereka, Kuda hitam berkaki putih yang dinaiki Lan
Hwa, kuda merah milik Tek Cun, kuda hitam mulus milik
Gin Liong dan kuda bulu kuning dari Li Kun.
Kuda bulu merah terus menghampiri Tek Cun dan
menjilat-jilat pakaian tuannya seperti ikut sedih karena
tuannya terluka, Melihat itu tergeraklah hati Yok Lan. ia
mengelus-elus kepala kuda itu.
Sumoay, kuda merah ini memang lebih halus sifatnya,
engkau naik dia sajalah," kata Gin Liong yang terus
membawa Tek Cun bersama naik kuda bulu hitam.
Demikian setelah sama naik kuda, mereka pun segera
berangkat Dalam waktu singkat mereka telah melintasi dua
buah puncak gunung lalu mulai mendaki sebuah gunung
yang membujur luas.
Dari atas lereng gunung, Gin Liong dapat melihat di
bawah kaki gunung sebelah selatan terdapat sebuah kota.
"Cici, disebelah depan kemungkinan kota Hok san-shia"
katanya kepada Li Kun.
Tio Li Kun mengiakan dan segera mengajak
rombongannya menuruni gunung menuju ke kota itu. Tak
berapa lama mereka tiba di jalan besar yang tiba dikota
Hok-san-shia.
Jalan sepi orang sehingga dengan leluasa mereka dapat
mencongklangkan kudanya, Tak berapa lama gedung2
bertingkat dari kota Hok-san-shia mulai tampak,
Tiba2 dari arah muka tampak dua penunggang kuda
mencongklang pesat, menimbulkan kepul debu yang tebal
sehingga sukar diketahui wajah mereka,
Gin Liong dan rombongannya dengan cepat dapat
mengejar kedua penunggang itu. Rupanya kedua
penunggang itu tahu kalau dibelakangnya akan dilanggar
oleh rombongan penunggang kuda maka mereka berdua
segera menyisih ke tepi jalan.
Saat itu Gin Liong sempat memperhatikan wajah
mereka, Yang naik kuda bulu kuning, seorang wanita
berumur 27 - 28 tahun, Mengenakan pakaian ringkas dari
kaum persilatan punggung menyanggul sebatang pedang,
sepasang mata yang ditaungi oleh alis yang melengkung
indah makin menonjolkan kecantikan wajahnya yang
berpotongan bulat telur dan berbedak tipis.
Sedang yang naik kuda kembang, seorang yang
dandanannya seperti sastrawan, berumur sekitar 35-an
tahun, rambut lebat alis tebal dan wajah cakap, Mencekal
cemeti kuda yang bertabur mutiara, sikapnya gagah.
Sasterawan dan wanita muda itu menarik kendali kuda
dan berpaling. Gin Liong menduga keduanya tentu
sepasang suami isteri.
Ketika rombongan Gin Liong lewat disisi mereka, tiba2
kedua penunggang kuda itu berteriak kaget : "Nona Kun,
Nona Kun !"
Tio Li Kun terkejut dan cepat hentikan kudanya,
Demikian pula Gin Liong dan Yok Lan. Sasterawan dan
wanita muda itu segera menghampiri.
Saat itu Li Kun baru mengetahui bahwa ke dua
penunggang kuda itu bukan lain adalah Hut-soh-su-Seng
atau Sasterawan-tali-terbang Suma Tiong dan isterinya Lok
Siu Ing.
"Nona Kun, mengapa liok-saycu dan nona itu ?" melihat
Tek Cun dan Lan Hwa. Suma Tiong segera menegur
cemas.
"Terluka . . " sahut Li Kun tersenyum. Lok Siu Ing
kerutkan dahi serunya:
"Kalian tak boleh melanjutkan perjalanan dan harus
lekas2 singgah di desa untuk berobat, Desa kami tak jauh
dari sini" ia menunjuk ke sebelah timur.
Lebih kurang lima li jauhnya, tampak gerumbul pohon
yang menggunduk hitam.
"Ah, harap nona jangan berkata begitu. Kalau tempo
hari tak mendapat bantuan dan engkoh nona, kami berdua
suami-isteri-tentu sudah mati di tangan musuh" kata Suma
Tiong, Sejenak memandang ke muka dan belakang, ia
segera meminta Li Kun. "Harap nona suka ikut ke desa
kami dulu baru nanti bicara lagi"
Hutan pohon liu itu merupakan kampung kediaman
Suma Tiong, Rumah2 sudah menyalakan lampu. Suma
Tiong langsung menuju ke sebuah gedung yang berpintu
hitam dan diterangi oleh empat buah lentera besar.
Beberapa orang tampak bermunculan keluar untuk
menyambut kedatangan rombongan Gin Liong.
Suma Tiong segera mengajak rombongan tetamunya
masuk ke ruang besar dan isterinya segera memerintahkan
bujang untuk menyiapkan kamar2. Demikian dengan sibuk
dan akrab kedua suami isteri itu menyambut rombongan
tetamunya dan menempatkan Tek Cun serta Lan Hwa
masing di sebuah kamar terpisah, setelah itu mereka sibuk
menjamu rombongan tetamu dengan hidangan yang lezat
dan arak wangi.
Dalam kesempatan itu mereka menjelaskan tentang hal
ihwal Tek Cun dan Lan Hwa sampai menderita luka. Pun
tentang orang tua aneh pemilik kaca wasiat juga
dibicarakan
Malamnya diputuskan Yok Lan tidur menjaga Lan Hwa
dan Li Kun menjaga engkohnya,
Waktu telentang di ranjang, pikiran Gin Liongpun mulai
gelisah lagi, ia tak tahu sampai kapan luka Tek Cun dan
Lan Hwa akan sembuh. Sejak turun gunung untuk
menyusul Ban Hong liong-li dan menanyakan tentang
pembunuh dari suhunya ia selalu mendapat rintangan dari
peristiwa yang dihadapinya.
Bila terus menerus begitu, entah sampai kapan ia dapat
menyusul jejak Ban Hong liong-li. Makin merenung makin
gelisah dan akhirnya Gin Liong memutuskan, ia tak mau
terhambat oleh urusan apa saja dan akan langsung
melanjutkan perjalanan untuk menyusul Ban Hong Liongli.
Sekonyong-konyong di tengah suasana malam yang
sunyi, terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin Liong
terkejut dan cepat bangun, Suara tertawa itu makin lama
makin dekat, ia duga tentu orang jahat hendak mengganggu
desa itu atau dirinya. Cepat ia membuka jendela, loncat
keluar dan terus ayunkan tubuh melayang keatas
wuwungan rumah.
Langit bertabur bintang kemintang, rembulan pudar dan
salju tipis mulai berhamburan mencurah dari langit. Angin
berhembus membawa hawa dingin, Empat penjuru sunyi
senyap.
Tiba2 terdengar suara orang tua yang parau
berkumandang di telinganya:
"Hai, budak, apakah engkau masih berani datang ke
lembah Hok-san lagi ?"
Gin Liong tergetar hatinya dan tanpa tersadar menyurut
mundur setengah langkah, Mengeliarkan pandang matanya
ia segera melihat diujung hutan sebelah luar desa, tegak
sesosok bayangan kurus kecil yang tengah melambaikan
tangan kepadanya.
Gin Liong tercengang, ia tak kenal siapa orang itu dan
tak tahu apa maksudnya mengapa orang itu memangginya
datang, Menilik potongan tubuhnya, orang itu menyerupai
seorang wanita. Tetapi kalau mendengar nada suaranya
yang parau seperti seorang yang sudah lanjut usianya.
Tiba2 timbul pikiran lain. Di tengah malam sepi orang
itu berani masuk ke desa dan memperdengarkan suara tawa
yang nyaring, Mengapa ? Apakah bukan karena hendak
mencari Suma Tiong suami isteri dan mengira ia itu Suma
Tiong ?
Ketika mengobarkan pandang Gin Liong terkesiap,
Lentera yang menerangi rumah2 di pedesaan itu padam
semua, sepintas pandang memberi kesan bahwa penduduk
telah mengetahui akan kedatangan musuh dan sedang
bersiap2. Tetapi mengapa mereka tak tahu sama sekali akan
masuknya orang itu ke dalam desa ? Bukankah hal itu
menunjukkan bahwa mereka tak bersiap dan berjaga2.
Setelah merenung beberapa jenak, baru Gin liong
menyadari Teringat ia bahwa panggilan orang tua
kepadanya dengan menyebut "budak kecil" dan
melambaikan tangan kepadanya jelas bukan ditujukan
kepada Suma Tiong suami isteri, melainkan kepada dirinya.
Tiba pada pemikiran, itu, seketika marahlah ia. Ketika ia
hendak berseru menegur, tiba2 telinganya terbaur pula oleh
suara tertawa dingin yang bernada menantang.
Dilihatnya bayangan tubuh kecil itu, berloncatan dengan
santai antara dahan pohon yang satu kelain dahan pohon.
sikapnya jumawa sekali.
Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi,
Seketika ia lupa pada apa yang diputuskan tadi didalam
kamar, Dengan mendengus dingin, dia segera ayun
tubuhnya ke tempat orang kecil itu.
Melihat Gin Liong lari menghampiri orang bertubuh
kecil itu berputar diri terus lari ke arah utara.
Mengejar sampai diluar desa, baru Gin Liong tersadar,
pikirnya: "Tadi dia tertawa begitu keras dan panjang, Tetapi
mengapa Suma Tiong suami isteri, Yok Lan dan Li Kun tak
tampak bergerak muncul ?"
Menyadari kalau dirinya telah terpancing ia segera
berhenti, iapun segera menyadari bahwa kata2 orang tua
yang ditujukan kepadanya tadi termasuk ilmu Menyusup
suara tingkat tinggi maka timbullah keheranannya Dalam
dunia persilatan hanya beberapa saja jumlah tokoh
persilatan yang menguasai ilmu itu. Lalu siapakah dia ?
Begitu menampakkan diri, orang bertubuh kecil itu
segera mendengus dingin, suaranya penuh bernada
mencemoh. Dan langkahnyapun mulai kendor.
Gin Liong mulai menyadari bahwa orang itu memang
sengaja hendak mempermainkan dirinya, serentak naiklah
darah mudanya, serentak ia mempercepat larinya untuk
mengejar.
Kembali terdengar orang bertubuh kecil itu tertawa
gelak2. iapun kencangkan larinya lagi menuju ke arah
gunung sebelah utara.
Gunung Hok-san makin tampak jelas, Betapa tingginya,
betapa jauhnya, Berulang kali orang bertubuh kecil
berpaling ke belakang seperti kuatir Gin Liong tak
melanjutkan pengejarannya.
Karena tak mampu mengejar, Gin Liong makin marah.
ia tambahkan tenaganya lagi untuk lari sekencang mungkin,
Tetapi beberapa waktu kemudian, tetap orang bertubuh
kecil itu masih tetap jauh dimuka sehingga sukar untuk
melihat wajahnya.
"Hm, sekalipun engkau lari ke neraka, akan tetap
kukejarmu juga !" dengus Gin Liong dalam hati, Habis itu
ia segera merobah ilmu larinya dengan suatu ilmu lari cepat
atau ginkang yang luar biasa ialah ilmu lari Angin-puyuh.
Seketika tubuhnya berobah seperti segulung asap yang
terbang menderu-deru seperti angin.
Kali ini si orang bertubuh kecil agak terkejut Cepat ia
kebutkan kedua lengan bajunya, serempak tubuhnya
terangkat beberapa jari dari tanah dan sekali berayun
kemuka, larinya seperti kilat menyambar.
Saat itu orang bertubuh kecil dan Gin Liong sama2
menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang
terdapat di dunia persilatan, Dibawah sinar rembulan
remang, yang tampak hanya dua gulung asap berkejaran,
bukan lagi sosok2 tubuh manusia.
Gin Liong terkejut juga ketika melihat kecepatan lari
orang tak dikenal itu jelas orang itupun menggunakan
imbangan dari ilmu lari yang digunakannya, Kalau ia
menggunakan ilmu lari Angin-puyuh adalah orang itu
menggunakan ilmu lari Angin-terbang-diatas-tanah, Jelas
bahwa ilmu lari cepat orang tak dikenal itu jauh melebihi
dari Hok To Beng, tokoh kesatu dari Swat-thian Sam-yu.
Tak berapa lama tibalah mereka di kaki gunung Hok-san
sebelah selatan, jarak antara kedua orang itu makin jauh.
Gin Liong makin menggeram dan makin tak tahu apa
maksud orang itu hendak memancingnya ke gunung Hok-
san. ia tak tahu pula siapakah orang itu, kawan atau lawan.
Setelah melintasi puncak bukit, orang itu terus lari masuk
kedalam hutan di pedalaman, Melihat itu Gin Liong gugup,
Kuatir akan kehilangan jejak orang itu. serentak ia bersuit
nyaring dan terus kerahkan seluruh tenaga-dalam untuk lari
lebih cepat.
Suitan itu bergema jauh sampai seperti menyeluruh ke
segenap daerah gunung dan hutan. Dan saat itu Gin
Liongpun sudah melintasi puncak bukit, terus lari kedalam
hutan, Tetapi dilihatnya, saat itu siorang bertubuh kecil
sudah tiba dipuncak yang melintang disebelah muka. Gin
Liong makin marah, Sejak turun dari gunung Hwe-sian-
hong, baru pertama kali itu ia mendapat saingan berat
dalam ilmu lari cepat.
Orang bertubuh kecil itu tiba2 berpaling ke-belakang
memandang Gin Liong dengan pandang kata berkilat-kilat
tajam sekali.
Gin Liong terkesiap. Kini ia menyadari ilmu tenaga-
dalam orang itu amat tinggi sekali, jauh melebihi kelompok
tujuh tokoh jagad atau Ih-lwe-jit-ki yang termasyhur itu.
Kini sadarlah Gin Liong bahwa ia sedang berhadapan
dengan seorang sakti, ia tak berani memandang rendah dan
harus mempertinggi kewaspadaan.
Tak berapa lama merekapun tiba di luar mulut lembah.
Orang itu terus saja masuk kedalam lembah, Kemudian
tiba2 pula orang itu tertawa gelak2. Nadanya luar biasa
keras, mengandung keangkuhan, kegembiraan dan
kecongkakan, Dan serentak pada saat berhenti tertawa
orang bertubuh kecil itupun menghilang dari pandang mata.
Gin Liong terkejut sekali, serentak ia hentikan lari dan
memandang kedalam lembah, Dalam kesunyian malam
yang ditingkah rembulan suram, tampak lembah itu makin
seram, penuh dengan barisan semak belukar, pohon2 dan
batu karang yang curam.
Angin malam yang berhembus keluar dari lembah,
bersuit-suit tajam macam barisan setan meringkik-ringkik.
Air-terjun terdengar makin bergemuruh, macam gunung
rubuh.
Melihat itu timbullah rasa gentar dalam hati Gin Liong,
ia memperhatikan dengan jelas bahwa orang bertubuh kecil
tadi telah lenyap ke!empat tadi siang ia bertempur melawan
Ce-tang Sam-sat, Timbul pertanyaan dalam hatinya,
Adakah orang itu seorang gerombolan dari ketiga Samsat
itu?
Ah, karena sudah terlanjur mengejar sampai disitu, ia
harus tetap melanjutkan pengejarannya. Dengan siapkan
tinju yang sudah disaluri tenaga-dalam, ia segera melangkah
ke dalam lembah Segenap perhatian tertumpah pada
pandang matanya yang dicurahkan kesetiap tempat yang
gelap.
Asal melihat bayangan siorang bertubuh kecil, segera ia
akan menghajarnya, Tetapi sampai sebegitu jauh, belum
juga ia melihat sesosok bayanganpun juga.
Membiluk ke tikungan puncak, air-terjun di dasar
lembah tampak seperti leburan perak yang mencurah ke
bawah tanah. Tetapi di permukaan telaga penampung air-
terjun itu, ia tak melihat lagi sinar kaca yang memancar
keudara.
Beberapa langkah lagi, butir2 air dari udara makin
gencar dan deras, Terpaksa dia hentikan langkah. Saat itu ia
baru melihat jelas bahwa kaca wasiat yang terletak di atas
batu runcing di tengah telaga sudah tak ada, ia duga siang
tadi selekas ia bersama rombongannya tinggalkan tempat
itu, orang tua aneh itupun tentu terus mengambil kaca
wasiatnya.
Buktinya, ketiga durjana Ce-tang Sam-sat menuduh
dialah tentu yang mengambil kaca wasiat itu, jika benar
demikian, tentulah orang tua aneh itu masih berada di
sekitar telaga, Tetapi mengapa ketika si sinting Hong-tiang-
soh berteriak keras merintangnya. orang tua itu tak mau
menampakkan diri ? Apakah dia takut kepada Hong-tian-
soh ?
Ah, tetapi peristiwa yang terjadi di tanah lapang dalam
hutan tempo hari, dimana tokoh2 seperti Pengemis-kaki-
telanjang, dan hweshio terbunuh mati, serta Hun Ho
siantiang yang didesak untuk segera datang, menandakan
bahwa orang itu jauh lebih sakti dari si sinting Hong-tian-
soh.
Tetapi mengapa ia tak keluar menyambut tantangan
Hong-tian-soh ? Oh, mungkinkah dia kenal dengan Hun Ho
siantiang dan bersahabat dengan salah seorang dari Swat-
thian Sam-yu sehingga dia sungkan untuk unjuk diri ?
Kalau begitu apakah dia benar2 tokoh Thian-lam Ji gi atau
sepasang pendekar budiman dari Thian-lam ? Tetapi Hun
Ho sian-tiang mengatakan bahwa Thian-lam Ji-gi saat ini
sedang menutup diri untuk memperdalam ilmunya.
Sejenak keliarkan pandang, kejut Gin Liong bukan
kepalang, Sosok2 tubuh jago silat yang terkapar di tepi
telaga tampak seperti bergerak2 kerut wajahnya.
Gih Liong pusatkan perhatian dan mengendapkan
pikirannya yang merana, Akhirnya ia menyadari bahwa apa
yang dilihatnya itu hanya pantulan sinar rembulan yang
mencurah kepermukaan telaga, berbalik menimpah muka
mayat2 itu. Bukan karena wajah mereka bergerak-gerak
masih sebagai orang hidup,
Dalam kesunyian suasana malam yang kelam, samar2
Gin Liong seperti menangkap suara pakaian ditebar
hembusan angin. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling.
Tampak lembah di sebelah belakang masih diselubungi
suasana seram seperti tadi. Keadaannya sunyi senyap tak
ada orang yang muncul disitu.
Tetapi jelas ia mendengar suara pakaian orang ditebar
hembusan angin. siapakah orang itu ?
Cepat ia tengadahkan kepala memandang ke atas dan
segera ia mendengus dingin. Diatas puncak sebelah kiri,
tampak tiga sosok bayangan tubuh orang sedang meluncur
turun. Salah satu diantaranya ialah orang bertubuh kecil
tadi, Mereka jelas meluncur ke dalam lembah.
Gin Liong tekan kemarahannya, Selekas ketika orang itu
tiba di tempatnya iapun segera membentak keras:
"Sudah lama aku menunggu disini, Apakah kalian kira
aku takut karena harus menghadapi keroyokan kalian ?"
Habis berkata ia terus maju menyerbu mereka.
Mendengar seruan Gin Liong itu, rupanya ketiga
pendatang itu terkejut Mereka serempak berhenti.
Dalam lari menghampiri itu, Gin Liong memandang
tajam kearah ketiga orang itu.
Yang berdiri ditengah, seorang tua berumur lebih dari 70
tahun. Alisnya yang sudah memutih memanjang masuk
kedalam rambut samping, Rambutnya pun sudah putih
mengkilap seperti perak, mukanya merah segar, sepasang
matanya tajam berwibawa. Tulang kedua keningnya
menonjol, menandakan betapa tinggi ilmu tenaga-dalam
yang dimilikinya.
Mengenakan pakaian tiang-shan (panjang) dari kain
belacu kasar. Ketiaknya mengempit sebatang tongkat besi
yang berkilat-kilat hitam legam. Ternyata kakinya tinggal
yang sebelah kanan, Dia berdiri dengan satu kaki itu.
Orang tua itu bukan lain adalah tokoh yang paling
termasyhur diwilayah Lulam yaitu Ik Bu It bergelar si Kaki-
Satu-bertongkat besi.
Disisi kanan kakek berkaki satu itu, ternyata seorang
nenek yang hanya berlengan satu dan mencekal sebatang
tongkat Peng thiat- ciu thau-ciang (tongkat bertangkai
kepala burung alap2). wajahnya dingin dan angkuh.
Nenek itu bukan lain adalah Tuk-pi Ban thaypoh atau si
Lengan-satu-nenek Ban yang pernah menggegerkan dunia
persilatan beberapa puluh tahun yang lalu karena dengan
tongkat berkepala burung alap2 itu, ia dapat menyapu
rubuh banyak tokoh-2 silat yang sakti.
Nenek Ban itu adalah isteri kakek Kaki-satu bertongkal
besi Ik Bu It. Kalau isterinya berlengan satu, suaminya
berkaki satu. Keduanya berjalan dengan tongkat.
Di belakang kedua suami isteri tua itu baru sosok orang
yang bertubuh kecil tadi, ialah yang memancing Gin Liong
datang ke lembah itu. Ketika Gin Liong melekatkan
pandang mata ia agak terkesiap.
Ternyata orang bertubuh kecil yang hebat ilmu larinya
itu hanya seorang dara yang berumur enam belas - tujuh
belas tahun, wajahnya berpotongan bundar telur, sepasang
alisnya melengkung seperti bulan tanggal satu.
Mata bundar terang laksana bintang kejora. Hidungnya
yang mancung menaungi sepasang bibirnya yang merekah
merah delima, Mengenakan baju warna hijau muda dengan
celana kun warna putih, Pada kedua bahunya tampak
menyanggul dua batang pedang yang bertangkai warna
hijau.
Walaupun hanya berbedak tipis sekali, tetapi kulitnya
tampak memancar warna putih halus, Dari pancaran
keningnya menunjukkan bahwa dia masih seorang anak
dara yang kekanak2an dan manja, menimbulkan kesan
bahwa dia itu seorang anak perempuan yang nakal.
Dara baju hijau itu adalah puteri satu-satunya dari kedua
suami isteri Ik Bu It.
Namanya Ik Siu Ngo.
Saat itu kedua orang tua dan anak gadisnya tengah
memandang Gin Liong dengan perasaan terkejut juga Gin
Liong bersangsi setelah melihat mereka bertiga. Ia segera
hentikan terjangannya dan tegak sejauh tiga tombak dari
tempat mereka
Melihat Gin Liong seorang pemuda yang cakap dan
gagah, makin terkejutlah hati Ik Bu It si kakek berkaki satu,
Hampir ia tak percaya bahwa anak yang masih semuda itu
ternyata memiliki ilmu tenaga-dalam yang sedemikian
hebatnya, juga tak ketinggalan rasa kejut yang
menghinggapi nenek Ban, sebaliknya ketika melihat wajah
Gin Liong, merahlah selebar muka si dara Siu Ngo.
Gin Liong berdiri dengan sikap seperti orang menyesal.
ia menyadari kesalahannya, ia mendapat kesimpulan bahwa
dara itu memang bukan orang yang memikatnya datang ke
lembah itu.
Melihat Gin Liong memandang lekat2 pada gadisnya,
marahlah si nenek Ban, ia berpaling ke belakang dan
membentak puterinya: "Budak perempuan, hayo, kasihlah
hajaran pada budak hina itu"
Siu Ngo terkesiap dan bersangsi.
Sebenarnya Gin Liong mempertimbangkan hendak
minta maaf kepada kedua suami isteri tua itu. Tetapi ketika
melihat sikap dan tingkah si nenek yang begitu angkuh,
diam.2 ia menggeram dalam hati.
Rupanya Kakek Kaki-satu-bertongkat-besi Ik Bu It tahu
bahwa Gin Liong itu seorang pemuda yang berisi. Maka ia
segera mencegah puterinya yang masih ragu2 itu: "Budak
perempuan, tunggu..."
Belum selesai kakek Ik bicara, nenek Ban
menghunjamkan tongkatnya ke tanah dan menggembor
keras: "Budak itu menurut perintahmu atau perintahku ?"
Ia memandang dengan marah kepada suaminya, Kakek
Ik merah mukanya tetapi tak mau menyahut sepatahpun
juga.
Mendengar pembicaraan itu, Gin Liong segera tahu
bahwa kedua kakek nenek itu adalah sepasang suami isteri
serta puterinya.
"Lekas, kasih sedikit hajaran pula budak liar itu !" nenek
Ban memberi perintah lagi, seraya menudingkan tongkat ke
arah Gin Liong.
Gin Liong marah karena diperlakukan begitu "Apakah
begitu mudah untuk memukul aku?" serunya seraya
menatap Ban thaypoh dan si dara cantik Ik Siu Ngo.
Ban thay-poh menggeram sedang si dara Siu Ngo sudah
terus loncat melengking dan ayunkan tangan kanan dan
kirinya, Yang satu menutuk kepala, yang lain menutuk
perut. cepatnya bukan kepalang.
Gin Liong terkejut melihat gerakan si dara cantik yang
begitu tangkas, ia tak berani memandang rendah dan cepat
menggerakkan tubuh berputar seperti angin puyuh, Tahu2
ia sudah berada di belakang si dara tetapi tak mau turun
tangan.
Walaupun sidara Siu Ngo telah mewarisi kepandaian
kedua orang tuanya tetapi ia belum sempurna latihannya
dan kurang pengalaman.
Saat itu ia merasa matanya berkunang dan pemuda yang
hendak diserangnya itu tiba2 lenyap dari hadapannya,
Karena serbuannya luput iapun terlongong.
"Burung cendrawasih berpaling kepala !" tiba2 nenek Ban
gentakkan tongkat ke tanah seraya berseru keras.
Siau Ngo tersadar. Dengan melengking cepat ia
mengeliatkan pinggangnya yang ramping berputar tubuh,
Ternyata Gin Liong memang berdiri dibelakangnya.
Kembali dara itu terkesiap, Rupanya baru pertama kali itu
ia berhadapan dengan seorang manusia yang memiliki
gerak secepat setan.
"Budak tolol !" kembali nenek Ban berteriak marah,
"pertama kali keluar sudah membikin malu. Setelah
Cendrawasih-berputar-kepala, harus dilanjutkan dengan
jurus Awan-musim semi muncul, Tangan kanan menyapu
bahu orang jari tangan kiri menutuk jalan darah di dadanya
!"
Dengan deliki mata nenek itu kembali memekik marah:
"Mengapa masih berdiri seperti patung, Hayo kembali
kemari, lihat mamah menghajarnya!"
Sudah tentu Gin Liong makin marah. Masakan dirinya
hendak dijadikan bulan2 percobaan latihan. Tetapi ia tak
sempat bertindak apa2 karena saat itu si dara sudah loncat
menerjang.
Gin Liong mendengus, Sekali bergerak ia sudah
menyelimpat ke belakang dara itu lagi, Tetapi kali ini
tidaklah ia sesantai tadi, Belum kaki berdiri tegak, terdengar
dara itu melengking dan menaburkan kedua tangannya.
Tangan kanan menutuk kepala, tangan kiri menutuk dada.
Gin Liong terkejut juga. ia merasa tindakan Siu Ngo itu
ganas tetapi tepat sekali, ia ingin hendak mencekal tangan si
dara tetapi entah bagaimana tubuhnya telah mencelat
kebelakang sampai beberapa langkah.
Melihat itu nenek Ban tertawa gelak2. Karena mendapat
hasil, Siu Ngopun menyerang lagi, Tetapi cepat nenek Ban
lintangkan tongkat mencegahnya.
"Budak, menyingkirlah, Lihat mamah akan memberinya
hajaran yang lebih keras !"
Habis berkata ia terus memutar tongkat dalam jurus
Heng-soh-cian-kun. Tongkat seketika berhamburan menjadi
segulung sinar yang menderu-deru menyambar Gin Liong.
Melihat mamahnya turun tangan, Siu Ngo pun loncat
mundur dan berdiri mengawasi. sedangkan ayahnya, kakek
Kaki-satu-bertongkat-besi pun berdiri dengan penuh
perhatian, ia tahu bahwa sekalipun istrinya turun
gelanggang, tetap takkan mampu menghajar anak muda itu.
Melihat tingkah laku si nenek, timbullah sifat dari
kanak2 Gin Liong. ia marah, iapun tahu bahwa jurus Heng-
soh-cian-kun atau Membabat-seribu-laskar yang
dilancarkan si nenek itu merupakan serangan yang sukar
dihadapi jurus itu dapat menjadi serangan yang sungguh
tetapipun dapat juga hanya sebagai serangan kosong.
Maka dengan menggembor keras, Gin Liong goyangkan
tubuh namun masih tetap berdiri ditempatnya.
Rupanya si nenek sok tahu. Melihat tubuh Gin Liong
bergerak cepat ia menyentaknya:
"Bagus budak, lihat bagaimana kupatahkan pahamu !"
serunya, Tongkat tiba2 dirobah dalam jurus Liat-biat hoa-
san atau menghantam-hancur-Hoasan, menghantam ke
belakang.
Gin Liong tersenyum, Cepat ia loncat kesamping dan
bersembunyi dibelakang sebuah batu besar.
Siu Ngo tercengang sedang ayahnya hanya berseri tawa.
Ketika belakangnya tiada orang, kejut nenek Ban bukan
kepalang. Wajahnya serentak berobah, Dengan memekik
keras, ia gunakan jurus Heng-soh-ngo gak atau Menyapu
lima-gunung, ia hantamkan tongkat ke belakang lagi.
Ketika berputar tubuh dan tak melihat Gin Liong,
mulailah ia bingung. Keringat dingin bercucuran, serentak
ia menaburkan tongkatnya dilain jurus Su- hay-tehng-hun
atau Empat-lautan timbul-awan.
Tongkat berkepala ukiran burung alap2 itu segera
menyambar2 laksana badai menderu dan mencurah
bagaikan hujan deras, Menghantam ke kanan, menyapu ke
kiri, ia merasa anak muda itu seolah mengelilinginya. Debu
dan pasir bertebaran memenuhi empat penjuru.
Melihat lsterinya ngamuk tak keruan itu, kakek Ik Bu It
segera berseru kepada puterinya. "Hai, budak perempuan,
lekas kasih tahu mamah mu, apakah budak itu masih
berada dibelakangnya?"
"Mah, dia tak berada dibelakangmu," akhirnya Siu Ngo
berseru dengan nada kekanak-kanakan.
Mendengar itu si nenek segera hentikan tongkatnya,
menuding Siu Ngo dan berseru tegang: "Dimana budak
itu?"
Nenek ini keliarkan pandang matanya ke empat penjuru,
rupanya ia hendak mencari Gin Liong, Demi melihat wajah
suaminya tersenyum gembira, ia segera deliki mata dan
membentaknya. "Tua bangka, dimana budak itu ?"
Dengan berseri tawa, kakek Ik Bu It segera menunjuk ke
sebuah batu besar kira-2 setombak jauhnya dan berseru
pelahan:
"Karena ketakutan budak itu bersembunyi dibalik batu
itu !"
Tiba2 terdengar suara tertawa gelak2 dan muncullah Gin
Liong dari balik batu itu dan melangkah menghampiri.
Melihat itu merahlah wajah si nenek, Tetapi pada lain saat
iapun ikut tertawa.
"Budak kecil, engkau sungguh nakal, Kali ini kuberimu
ampun." serunya sesaat kemudian.
Melihat mamahnya sudah tak marah lagi, si dara Siu
Ngo gembira sekali, segera ia lari menghampiri.
Kakek Ik Bu It tertawa gembira pula, serunya: "Ha, ha,
peribahasa mengatakan kalau tidak berkelahi tentu tidak
kenal. Rupanya siauhiap ini datang dari daerah Kwan-gwa
(luar perbatasan). Maukah engkau memberitahukan
namamu dan mengapa datang kemari ?"
Jika tadi Gin Liong keras kepala dan liar, saat itu tampak
ramah dan menghormat. Segera ia memberi hormat dan
memperkenalkan dirinya, ia mengatakan kalau datang dari
gunung Tiang-pek-san. Ketika tiba di gunung Hok-san,
kebetulan ia berjumpa dengan kedua suami isteri tua itu.
"Ah, kiranya kita ini orang sendiri, Siau hiap ini sahabat
dari Suma tayhiap."
"Mohon tanya nama locianpwe berdua yang mulia dan
maafkanlah tingkahku yang liar tadi." Gin Liong meminta
maaf.
Dengan terus terang kakek itu segera memperkenalkan
dirinya, kemudian isteri dan puterinya.
Gin Liong serta merta memberi hormat kepada nenek
Ban. Nenek itu tertawa gembira.
"Siau siacu, jangan enak2 memukul baru minta maaf, ya.
Tadi karena tingkahmu, aku sampai ngos-ngosan napasku."
Mereka tertawa mendengar ucapan nenek itu. Setelah
bercakap-cakap beberapa saat barulah Gin Liong tahu
bahwa ketiga ayah beranak itu haru saja tiba di tempat itu,
Gin Liong segera menuturkan tentang orang bertubuh kecil
yang telah memikatnya datang sampai disitu.
Mendengar penuturan itu, kakek Ik Bu It menyadari
bahwa orang tua pemilik kaca wasiat telah berlalu, maka
iapun memutuskan untuk kembali pulang saja.
"Apabila siau siauhiap pulang, tolong sampaikan
hormatku kepada Suma tayhiap suami isteri. Dan harap
siauhiap hati2 dalam perjalanan" kata kakek itu.
Demikian Gin Liong segera berpisah dengan kedua
suami isteri dan puterinya itu, ia lari menuju ke luar
lembah. Diam2 ia mengkal karena lelah dipermainkan oleh
orang bertubuh kecil itu.
Selepas dari tikungan puncak gunung, kembali ia melihat
suatu pemandangan yang membelalakkan matanya,
Sepuluh tombak di sebelah muka pada gunduk2 batu yang
berserakan tampak tegak siorang bertubuh kecil tadi.
Tetapi karena sudah mendapat pengalaman dari suami
isteri Ik Bu It, kali ini Gin Liong tak berani sembarangan
bertindak. Sejenak ia memperhatikan dan memang orang
itu ialah siorang bertubuh kecil yang telah memikatnya ke
dalam lembah tadi. Seketika meluaplah kemarahannya,
dengan memekik keras ia segera lari menghampiri.
Tetapi ketika hampir dekat, seketika tergetarlah hatinya
dan iapun hentikan langkahnya.
Orang bertubuh kecil yang saat itu berdiri pada jarak
setombak di sebelah muka, ternyata adalah orang tua kurus
yang dilihatnya berada dalam rumah pondok di lembah
salju gunung Tiang pek san tempo hari.
Saat itu orang tua aneh itu mengenakan jubah hitam,
rambutnya kusut masai. Pada wajahnya yang dingin dan
angkuh memancar sinar welas asih.
Setelah menenangkan semangat, Gin Liong segera maju
tiga langkah mengangkat tangan dan membungkukkan
tubuh memberi hormat.
"Murid Siau Gin Liong dengan hormat menghadap
locianpwe."
Habis berkata ia terus hendak berlutut menjalankan
penghormatan. Tetapi tiba-2 segulung hawa kuat menguap
dari bawah lutut merintangi gerakannya hendak berlutut.
Menyusul terdengar suara orang tua itu berseru dengan
nada ramah:
"Gin Liong tak usah banyak peradatan, Kita bicara
sambil berdiri saja."
Gin Liong memberi hormat pula lalu bangkit.
"Mohon locianpwe memberi petunjuk, mengapa
locianpwe memerintahkan aku datang ke lembah ini."
Wajah orang tua yang berseri ramah tiba2 mengerut
dingin dan angkuh lagi, ujarnya dengan nada serius:
"Musibah dalam dunia persilatan segera akan tiba,"
katanya, "tampaknya tugas untuk mengatasi bencana itu
terletak di bahumu. Mulai besok pagi bahkan mungkin
nanti, tentu engkau akan di hadang oleh kawanan manusia
yang berhati temaha, jika engkau dapat menghadapi dengan
selayaknya, bahaya itu tentu akan surut. Tetapi kalau
engkau tidak hati2, tentu akan menimbulkan bencana darah
yang tak terperikan akibatnya."
Habis berkata orang tua itu sejenak memandang ke arah
lembah, Mulutnya mengulum senyum. Kemudian ia
mengeluarkan kaca wasiat, seketika memancarlah sinar
gilang gemilang menerangi seluruh lembah.
Teganglah hati Gin Liong melihat kaca wasiat itu.
Dipandangnya orang tua kurus itu dengan penuh
keheranan.
Sambil memegang kaca, berkatalah orang tua kurus
dengan nada bersungguh:
"lnilah benda dari paderi sakti yang disebut Goa-po-te-
kia. Bukan saja dapat digunakan untuk menentukan letak
benda berharga dalam tanah, pun kaca wasiat ini
mengandung ilmu yang tak ternilai hebatnya."
Berhenti sejenak, orang tua kurus itu memandang Gin
Liong dan berkata pula:
"Sekarang hendak kuberikan kaca ini kepadamu, harap
engkau baik2 menjaganya jangan sampai jatuh orang jahat."
Habis berkata, sepasang matanya tampak berkilat2
tajam, Melihat wajah Gin Liong mengerut serius, wajah
orang tua kurus yang dingin segera merekah seri tertawa.
"Adakah engkau dapat menyelami ilmu yang terkandung
dalam kaca ini, tergantung sampai dimana jodoh dan
rejekimu dengan benda itu."
Orang tua kurus itu menyorongkan kedua tangannya ke
muka dada dan dengan suara bengis berseru:
"Gin Liong, mengapa tak lekas berlutut menerima kaca
wasiat dan Seng-ceng !"
Tahu bahwa menolakpun percuma saja, Gin Liong
terpaksa berlutut memberi hormat.
"Murid Siau Gin Liong dengan sungguh hati menerima
pemberian kaca dari Seng-ceng (paderi sakti), Sejak saat ini
murid akan menjalankan titah Seng-ceng untuk menyebar
kebaikan, berkelana dalam dunia persilatan, menjunjung
kebenaran membasmi kejahatan melakukan dharma
kebajikan. Kecuali terhadap orang yang keliwat jahat murid
takkan membunuh orang..."
Tiba2 orang tua kurus itu tertawa menukas: "Soal
membunuh orang, terserah pada pertimbanganmu."
"Murid akan melakukan dengan sepenuh hati." Orang
tua kurus itu menghela napas: "Hati manusia tak pernah
layu, nafsu keinginannya tak pernah puas, Sekali tersesat,
sampai mati tak mau sadar, Jika engkau menghendaki
manusia budak nafsu itu supaya sadar, mungkin akan
menghabiskan waktumu saja."
Habis berkata ia memandang sejenak kearah deretan
pohon siong yang tumbuh lima tombak jauhnya, kemudian
menyerahkan kaca wasiat kepada Gin Liong. Dengan
kedua tangan Gin Liongpun menyambuti dan
menyimpannya dalam baju.
Tiba2 terdengar suara orang tertawa seram. Asalnya dari
arah deretan pohon siong itu. Gin Liong tergetar, cepat ia
berdiri dan berputar tubuh.
Dari balik deretan pohon siong sejauh lima tombak,
muncul dua orang. Seorang tua dan seorang imam tua,
Kedua berumur delapan puluhan tahun.
Orang tua itu berwajah persegi, mulut besar alis
gompyok, sepasang bola matanya seperti kelinting, jenggot
putih menjulai sampai ke perut. Mengenakan jubah panjang
yang tepinya disalut sutera kuning emas.
Siimam tua bermuka tirus, mulut lancip, mata sipit dan
tubuh tinggi, memegang sebatang hud tim jubahnya dari
sutera biru, memakai kain pinggiran sutera kuning emas,
punggungnya menyanggul sebatang pedang.
Siimam tua dan siorang tua mulut lebar melangkah maju
sambil tertawa seram, Gin Liong kerutkan alis.
Orang tua kurus yang berada di belakang Gin Liong
tertawa gelak2, serunya:
"Yang di sebelah kiri itu kepala dari pulau Cui-leng-to.
Yang sebelah kanan Long Ya cinjin. Keduanya termasyhur
sebagai durjana jahat. Coba saja bagaimana cara engkau
hendak menasehati mereka supaya kembali ke jalan yang
benar."
Suara Orang tua kurus itu makin lama makin jauh. Dan
ketika Gin Liong berpaling ternyata orang tua kurus itu
sudah berada pada jarak dua puluh tombak jauhnya dan
pada lain saat terus menyusup ke dalam hutan bambu.
Sudah tentu Gin Liong bingung.
"Locianpwe, apakah locianpwe tak mau beritahu nama
locianpwe kepada murid ?"
Telinga Gin Liong segera terngiang suara orang tua itu:
"Tak usah memikirkan hal itu kelak engkau tentu tahu
sendiri."
Gin Liong terkesiap, Sambil memandang bayang orang
tua kurus yang lenyap ke dalam hutan bambu ia mendesah:
"Ah, orang tua itu benar2 aneh sekali."
Tetapi ia segera dikejutkan oleh suara tertawa mengekeh
dan kedua orang yang sudah tiba di belakangnya, segera ia
berbalik tubuh pula. Kedua pendatang itu sudah berada
setombak di hadapannya.
Kepala Cui-leng-to mengekeh:
"Heh, heh, budak, setan tua itu takut mati dan melarikan
diri, Sampai pecah sekalipun kerongkonganmu, tak
mungkin dia akan mendengar teriakanmu."
Long Ya cinjinpun ikut tertawa seram.
"Budak, lekas serahkan kaca wasiat itu kepadaku,
mungkin aku dapat berbuat kebaikan untuk tak
membunuhmu."
"Heh, heh, budak" kembali kepala Cui-leng-to mengekeh
lagi, "serahkan kepadaku, jangan kepada imam hidung
kerbau ini."
Ia terus ulurkan tangan kanannya yang kurus kering
mirip cakar baja ke muka.
"Berikan kepadaku" Long Ya cinjin juga ulurkan
tangannya meminta.
Melihat tingkah laku kedua orang itu, Gin Liong merasa
muak. Dan mendengar kata2 mereka yang begitu temaha,
marahlah Gin Liong.
"Atas dasar apa ?" bentaknya, Dipandangnya kedua
orang itu dengan mata berkilat-kilat.
Kepala Cui-leng-to tertawa gelak2. Tetapi Long Ya cinjin
marah dan terus menerkam dada Gin Liong, Pemuda itu
tertawa dingin, serentak ia hendak menyambar pergelangan
tangan cinjin itu tetapi tiba2 kepala Cui-leng-to atau Cui-
leng-to-cu menyentaknya.
"Anak jadah, engkau berani . ." Cepat laksana kilat dia
mendorong lengan Long Ya cinjin ke samping.
Gin Liong terkejut dan menyurut mundur selangkah,
tepat pada saat itu, kedua orang itupun menggembor keras,
Long Ya cinjin mengangkat lengannya untuk menghindari
tangan Cui-leng-to-cu, tangan kiri maju untuk
mencengkeram leher baju Gin Liong.
Cui-leng-to-cu juga menurunkan lengan kanan maju
setengah langkah dan ulurkan tangan kiri untuk
mencengkeram dada Gin Liong,
Kedua orang itu bergerak luar biasa cepatnya dan disertai
dengan tenaga penuh. Gin Liong terkejut dan segera
gunakan gerak tata langkah Liong-li-biau untuk menghindar
dan loncat sampai tiga tombak jauhnya.
Cui-leng tocu tertawa seram. Entah dengan gerak
bagaimana, ia sudah membayangi Gin Liong, sedangkan
tangan kirinya tetap mengancam lambung Gin Liong.
Long Ya cinjin lebih lihay lagi. Dengan tertawa seram ia
menyerang dari samping, kebut hud tim ditaburkan kedada
Gin Liong.
Melihat itu Cui leng-to-cu terkejut juga. Kalau Long Ya
cinjin berhasil menampar dada Gin Liong, kaca wasiat
tentu akan menumpah keluar. Dan apabila disusuli dengan
gerakan hudtim sekali lagi, kaca wasiat itu tentu akan jatuh
ke tangan cinjin itu, maka dengan menggembor keras, ia
segera menghantam bahu kiri Long Ya cinjin.
Melihat kaca yang jelas sudah akan jatuh ke tangannya
hendak digagalkan kepala pulau Cui-leng to, marahlah
Long Ya cinjin.
"Anjing tua, engkau cari mampus" bentaknya seraya
gerakkan tangan kiri untuk menangkis dan tangan kanan
untuk membabat kedua lutut kaki orang.
Tetapi Cui-leng-to-cu tertawa gelak2, sekali kebutkan
lengan jubah, tubuhnya melambung sampai tiga tombak ke
udara.
"Tua bangka buduk, engkau hendak merebut kaca wasiat
itu ? Hm, mari kita adu jiwa dulu " serunya sambil julurkan
tangan kanan untuk mencengkeram belakang kepala Long
Ya cinjin.
Long Ya cinjin marah, cepat ia balikkan tubuh dan
menampar dengan kebut hudtim, Cui-leng to-cu tertawa
gelak2. ia bergeliatan kebutkan kedua lengan baju di udara
dan gunakan ujung kaki kanan untuk mendupak kepala
orang.
Demikian kedua orang itu saling bertempur kemati-
matian sendiri, Long Ya cinjin menghantam dengan tangan
kiri dan memutar kebut hudtimnya gencar sekali,
sedangkan kepala dari pulau Cui-leng-to mainkan lengan
bajunya yang dikebutkan dan ditamparkan laksana
gelombang laut yang dahsyat sekali.
Mereka muncul bersama, menghampiri bersama dan
meminta kaca wasiat dari Gin Liongpun bersama. Akhirnya
mereka bersama pula berbaku hantam, seru dan dahsyat.
Sedangkan Gin Liong malah berada tiga tombak dari
tempat pertempuran itu, melihat kedua orang itu bertempur
mengadu jiwa, ia kesima. Tetapi pada lain saat ketika
teringat bahwa kedua orang itu hendak meminta kaca
wasiat, marahlah Gin Liong.
Tepat pada saat itu, kedua orang itupun tampak
berputar-putar dan tiba2 pula menyerbu Gin Liong.
Cui-leng-to-cu mendahului untuk mengangkat tangan
kanan dan menghantam Gin Liong. Kemudian Long Ya
cinjinpun tiba dengan tangan kiri mencengkeram dada anak
muda itu.
Gin Liong menggembor keras, Dengan jurus Liat-hun-
song-hou atau dengan-kekuatan-menyiak-sepasang-
harimau.
"Bum...." sepasang tangan yang menghantam kekanan
dan kiri itu tepat mengenai tangan kedua orang itu. Cui-
leng-to-cu menjerit kaget lalu menyurut kesamping
selangkah terus loncat lagi setombak jauhnya, Long Ya
cinjin mendesuh pelahan dan terhuyung-huyung sampai
delapan langkah ke belakang. Tetapi Gin Liong sendiri juga
bergetar bahunya, kedua lengannya terasa linu kesakitan
Cui- leng-to-cu berobah wajahnya dan terlongong-
longong, Long Ya cinjingpun tercengang. Keduanya tak
pernah menyangka bahwa pemuda itu ternyata memiliki
tenaga-sakti yang mengejutkan orang.
Tetapi Gin Liong juga kaget dalam hati, ia menyadari
bahwa kedua durjana itu memang hebat sekali
kepandaiannya, ia tak berani memandang rendah lagi.
Serentak ia segera kerahkan tenaga-dalam dan ketika
melihat kedua durjana itu masih termangu-mangu,
timbullah pikirannya untuk menyadarkan mereka supaya
kembali ke jalan yang benar.
"Kalian tentulah tokoh2 sakti yang mengasingkan diri
tinggal diseberang laut. Bukankah lebih baik menghapus
keinginan2 yang jahat dan lanjutkan tindakan kalian untuk
mencari ilmu penerangan hatin yang tinggi..."
Kedua orang itu cepat tertawa keras menukas ucapan
Gin Liong, Sudah tentu Gin Liong marah.
"Soal itu mengapa perlu engkau seorang budak kecil
yang harus memberi nasehat ? Sudah lima puluh tahun
lamanya entah sudah berapa ribu kali kudengar ucapan2
kosong semacam itu," seru kepala pulau Cui-leng-to.
Sepasang gundu mata Long Ya cinjin berkeliaran seperti
teringat sesuatu lalu tertawa parau.
"Budak kecil, ketahuilah, kenal pada gelagat dan dapat
mengetahui suasana, barulah dapat menjadi seorang gagah,
Engkau budak, jika mau mengangkat aku sebagai guru dan
menyerahkan kaca wasiat itu, kita guru dan murid dapat
bersama2 mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca
wasiat itu. Kelak tentu akan menguasai dunia persilatan..."
Belum Long Ya cinjin selesai berkata, Cui-leng-to-cu
sudah tertawa gelak2, serunya:
"Tua bangka, pikiranmu sungguh murni sekali,
ucapanmupun enak didengar. Apakah engkau tak tahu
bahwa aku memang bermaksud hendak mengambil budak
itu sebagai murid pewarisku !"
Mendengar kedua orang itu seenaknya sendiri mengoceh
tak keruan hendak mengambil dirinya sebagai murid,
marahlah Gin Liong. ia kecewa dan putus asa. Untuk
menasehatkan kedua orang itu tak ubah seperti meniup
seruling di hadapan seekor kerbau belaka.
Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong dan serentak
iapun maju menghampiri
Tanpa menghiraukan Cui-leng-to-cu lagi, Long Ya cinjin
terus berseru lagi kepada Gin Liong:
"Berhenti engkau ! Engkau harus tenang dan jangan
gugup, Kita berdua tentu dapat membasmi anjing tua dari
Cui-leng-to itu"
Sudah tentu marah Cui-leng-to-cu bukan kepalang
sehingga rambutnya meregang tegak, dengan meraung
keras ia segera menampar muka Long Ya cinjin.
Rupanya Long Ya cinjin sudah bersiap. sesaat Cui-leng-
to-cu menggerakkan tangan, iapun cepat mendahului untuk
menutuk perutnya. Oleh karena jelas kedua tokoh itu
hendak saling membasmi maka setiap gerak yang
dilancarkan tentu merupakan jurus maut yang mengerikan.
Tiba2 terdengar suara ayam berkokok, Gin Liong
menyadari bahwa hari segera akan terang tanah, ia harus
lekas2 kembali ketempat Suma Tiong, kalau tidak Yok Lan
dan kawannya tentu akan bingung mencari dirinya.
"Hari segera terang tanah, aku masih mempunyai lain
urusan tak dapat menemani kalian lagi" serunya kepada
kedua tokoh yang sedang bertempur itu, kemudian ia terus
berputar tubuh dan lari ke luar lembah.
"Hai, budak, jangan lari tinggalkan kaca itu" kedua tokoh
itu berhenti bertempur dan berteriak seraya loncat
berhamburan mengejar Gin Liong, Begitu tiba di tanah,
mereka melambung ke udara lagi dan tiba lima tombak di
belakang Gin Liong.
Ketika berpaling, terkejutlah Gin Liong. ia segera
kerahkan tenaga untuk mempercepat larinya. Tetapi kedua
tokoh durjana itu tak mau melepaskan Gin Liong,
Merekapun tancap gas untuk mengejar
Sesaat Gin Liong berpaling, tampak Long Ya cinjin
dengan memegang kabut hudtim dan pedang berputar
melayang di udara lalu meluncur kearah Gin Liong. Sambil
meluncur, cinjin itu membentak "Hai budak, tinggalkan
batok kepalamu !"
Gin Liong makin marah, ia hendak mempertunjukan
kepada cinjin itu bahwa ia dapat lari lebih cepat, ia
kerahkan tenaga-dalam lagi untuk merubah dirinya menjadi
segulung asap yang menderu-deru meluncur keluar lembah.
Long Ya cinjin terkejut dan meluncur turun, Cui-leng-
tocupun kesima, laju larinya menurun dan orangnyapun
segera berhenti. Hanya segulung asap warna kuning yang
meluncur ke mulut lembah dan pada lain saat pemuda
itupun sudah lenyap dari pandang mata.
Gin Liong menggunakan ilmu lari Angin-puyuh yang
hebat, setelah mendaki puncak dan melintasi hutan,
beberapa saat kemudian ia tiba disebuah tanah datar. Ketika
berpaling, ia tak melihat kedua pengejarnya lagi. Segera ia
percepat larinya menuju ke desa tempat kediaman Suma
Tiong,
Tak berapa lama tibalah ia dimulut desa, Desa sunyi
senyap, setelah masuk ke halaman dengan hati2 iapun
menyerupai masuk kedalam kamar, duduk bersila diatas
ranjang dan mulai menyalurkan pernapasan.
Tak berapa lama ia mendengar derap langkah orang
berjalan di halaman, Ternyata hari sudah terang tanah dan
para bujang2 sudah mulai bekerja, iapun segera turun dan
mandi kemudian menghampiri ke kamar Tio Li Kun.
Gin Liong terkejut sekali melihat wajah nona itu makin
pucat dan lemah. Melihat si anak muda terkejut, Li Kunpun
hampir mengucurkan airmata, ia segera berputar tubuh dan
menuju ke kamar Tek Cun. Gin Liong bergegas
menyusulnya.
"Taci Kun, lekaslah engkau tutuk jalan darah liok-ko,"
kata Gin Liong demi melihat keadaan Tek Cun makin
payah.
Tio Li Kun melakukan perintah, Gin Liong-pun
memeriksa luka Tek Cun. Ternyata wajahnya sudah
tampak segar dan napasnyapun teratur, sudah lebih sehat
daripada kemarin.
"Taci Kun, apakah semalam engkau tak tidur?" tegur Gin
Liong, Li Kun tak menjawab kecuali bercucuran airmata.
Gin Liong makin gugup, ia menghampiri dan menghibur
nona itu: "Sudahlah taci, jangan sedih. Beberapa hari lagi
luka liok-ko tentu sembuh."
Tiba-2 Li Kun memeluk tangan Gin Liong dan berkata
dengan rawan: "Adik Liong, kurasakan makin lama engkau
makin menjauhi aku."
Nona itu mulai terisak, jelas ia amat bersedih hati,
sesungguhnya Gin Liong seorang pemuda yang berhati
lembut. Tetapi karena dalam hatinya sudah terisi dengan
sumoaynya, apalagi suhunya telah meninggalkan pesan,
maka terpaksa ia tak dapat menerima persembahan hati Li
Kun.
Tetapi karena itu ia dipeluk si jelita, hatinyapun tergerak
dan tanpa disadari iapun membelai-belai rambut si jelita
seraya menghiburnya : "Ah, janganlah berpikir terlalu
banyak."
"Adik Liong, harapanku janganlah engkau memandang
diriku hanya sebagai pohon liu yang tumbuh di tepi jalan..."
Rupanya Gin Liong tahu bahwa Li Kun hendak
memperingatkannya tentang peristiwa yang terjadi dalam
ruang dalam perahu yang lalu. Maka cepat ia menukas:
"Kutahu taci seorang gadis yang luhur hati, hanya Thian
yang tahu bagaimana perasaan hatiku kepada taci.
Sudahlah, jangan memikir yang tidak2 dan hanya
mengganggu kesehatan taci saja."
Kemudian sambil mengelus-elus bahu si jelita, ia
menambahkan pula: "Yok Lan sudah sejak kecil belajar
ilmu bersama aku. Hati budinya halus dan lembut, harap
taci Li Kun suka melindunginya..."
"Jangan kuatir adik Liong" cepat Li Kun menukas, "aku
anak yang paling bungsu, tentu akan kuperlakukan adik
Lan sebagai adik kandungku sendiri."
Tergetar hati Gin Liong dengan rasa bahagia maka iapun
segera berbisik mesra: "Jika demikian kelak kita akan
bersama-sama menjelang hari bahagia."
"Sungguhkah itu, adik Liong ?"
Gin Liong tertawa mengangguk, ia segera mengusap
airmata Li Kun yang tak henti-hentinya mengucur itu,
Kemudian Gin Liong mengajaknya untuk menjenguk
keadaan Mo Lan Hwa.
Ketika masuk ke kamar, tampak Yok Lan menyambut
dengan wajah berseri, ia duduk di tepi ranjang menunggu
Lan Hwa ia hendak bangun untuk menyambut tetapi Li
Kun mencegahnya.
"Adik Hwa, lukamu masih belum sembuh, jangan
paksakan diri bangun" kata Li Kun.
Memperhatikan mata Li Kun membenjul bekas
menangis, Lan Hwa bertanya: "Taci Kun, engkau habis
menangis ?"
Li Kun tersipu-sipu merah, sesaat ia tak dapat menjawab.
"Apakah luka Tek Cun koko makin parah?" tanya Lan
Hwa cemas.
"Mungkin liok-ko harus beristirahat beberapa hari lagi
baru sembuh" akhirnya Li Kun memberi jawaban
sekenanya.
Yok Lan mengatakan ia ingin menjenguk Tek Cun, Gin
Liong mencegah mengatakan kalau Tek Cun sedang tidur.
Saat itu bujang muncul dengan membawa dua mangkuk
kuah Jin-som-lian-cu: "Nyonya besar mengutus hamba
mengirim kuah ini untuk Liok ya dan nona Mo."
"Taci Kun, mari kita antarkan kepada liok ko", kata Yok
Lan, Kedua nona itupun segera keluar.
Kini tinggal Gin Liong berdua dengan Lan Hwa, Melihat
luka nona itu masih payah, Gin Liong segera menghampiri,
mengangkat tubuh nona itu dan memberinya bantal yang
tinggi. Kemudian ia mengambil mangkok jin-som dan
meminumkan ke mulut Lan Hwa.
Gemetar tubuh Lan Hwa, gemetar pula hatinya karena
duduk merapat dengan Gin Liong, pemuda yang mencuri
hatinya. Tepat pada saat itu muncullah Yok Lan, Lan Hwa
dan Gin Liong tertegun. Tetapi Yok Lan seorang dara yang
polos, setitikpun ia tak cemburu atau marah bahkan segera
menghampiri dan membujuk: "Taci Hwa, kuah jin-som itu
harus dihabiskan agar taci lekas sembuh."
Terharu hati Lan Hwa mendengar kata2 dara itu, ia
segera meneguknya habis. Dalam pada itu diam2 ia
bersumpah, rela mengorbankan diri daripada
menghancurkan hati seorang dara berhati emas seperti Yok
Lan, Lan Hwa menangis dalam hati.
Setelah membaringkan Lan Hwa ditempat semula lagi,
Yok Lan segera mengikuti Gin Liong keluar untuk makan
pagi. Tak lama Li Kunpun pun datang, Tiba2 suami isteri
Suma Tiong bergegas masuk, wajahnya mereka tampak
tegang.
Begitu duduk, Suma Tiong tak menanyakan keadaan
Tek Cun maupun Lan Hwa, terus langsung berkata kepada
Gin Liong dengan wajah serius:
"Dari laporan bujang yang kembali dari kota mengatakan
bahwa dalam kota Hok-san-shia telah gempar tersiar berita
bahwa Siau siauhiap telah mendapat kaca wasiat dari Bu-
lim Seng-ceng. Benarkah itu ?"
Mendengar itu tergetarlah hati Gin Liong, ia menghela
napas: "Apakah sungguh tersiar berita begitu ?"
Li Kun kerutkan dahi dan ikut bicara: "Tentulah
perbuatan Ce-tang Sam-sat yang tertua, lari ke Hok-san-shia
lalu menyiarkan berita bohong itu untuk membalas
dendam."
"Atau memang kesalahan Liong koko sendiri. Orang
meminta kaca wasiat kepadanya, dia mengatakan kaca
wasiat itu memang ada padanya." Yok Lan menyeletuk.
"Lebih baik peristiwa ini segera diberantas", kata Lok Siu
Ing isteri Suma Tiong, "jika tidak tentu akan menimbulkan
peristiwa yang lebih berbahaya, Tokoh2 silat yang tamak
tentu berbondong-bondong mendesak Siau siauhiap."
Suma Tiong setuju pendapat isterinya.
"Harap Siau siauhiap jangan meremehkan soal ini,
Kemungkinan besar hal itu akan mendatang bahaya pada
siauhiap."
"Ah, aku tak pernah menduga sampai begitu jauh" kata
Gin Liong,
Li Kun dan Yok Lan menanyakan pendapat kedua
suami isteri itu bagaimana sebaiknya langkah yang harus
diambil.
"Sebaiknya mengirim orang untuk memberantas desas-
desus itu dan membuka kedok muslihat Ce-tang Sam-sat"
kata Suma Tiong.
Li Kun setuju dan meminta kepada Suma Tiong untuk
mengatur orang, Gin Liong gelisah dan hendak mencegah,
Rupanya Yok Lan tahu isi hati sukonya maka cepat ia
mendahului.
"Jika demikian kita harus menunggu sampai beberapa
hari lagi, Lalu kapankah kita mulai mengejar jejak Liong-li
locianpwe ?" serunya.
"Ya, kita hanya membikin repot Suma tayhiap berdua
saja." kata Gin Liong.
Tetapi Suma Tiong mengatakan bahwa hal itu memang
sudah menjadi kewajiban dalam persahabatan, iapun
mengajak isterinya keluar.
Setelah kedua suami isteri itu pergi, Li Kun setengah
menyesali tindakan Gin Liong yang telah memberi ampun
kepada Ce-tang Sam-sat.
"Ya, memang Liong suko salah," Yok Lan ikut
menyesal.
"Sekarang bukan soal desas desus itu yang harus kita
layani tetapi bagaimana dan bilakah kita segera
melanjutkan perjalanan menyusui Liong-li locianpwe."
Mendengar itu Yuk Lan segera mengajak Li Kun untuk
menjenguk keadaan Tek Cun.
"Liong koko," kata Yok Lan, "menilik luka liok-ko dan
taci Hwa, Mungkin dalam empat lima hari kemudian baru
sembuh. Aku bersama taci Kun akan menjaga mereka disini
dan engkau seorang diri boleh segera berangkat..."
"Akau kupertimbangkan," cepat Gin Liong menukas.
Setelah kedua gadis itu pergi, Gin Liong merenungkan
langkah untuk mengejar jejak Ban-liong Liong li dengan
cara bagaimana ia dapat menghindarkan diri dari libatan
tokoh-2 silat yang berhati temaha hendak merebut kaca
wasiat itu.
Tiba2 ia teringat akan orang tua pemilik kaca wasiat dan
kaca wasiat itu yang pada permukaannya tertera tulisan
tentang ilmu silat yang sakti.
Serentak timbullah keinginannya untuk meneliti kaca
wasiat itu. Segera ia masuk kedalam kamar dan
mengeluarkan kaca itu. seketika terang benderanglah kamar
karena cahaya kaca wasiat. Cepat2 Gin Liong menutup
dengan baju luarnya, ia memasang telinga, suasana diluar
sunyi senyap.
Setelah itu baru ia mulai memeriksa. Didapatinya dibalik
kaca itu terdapat beberapa huruf kecil2. Entah diukir
dengan alat apa. Setelah diteliti ternyata huruf2 itu
merupakan nama pemiliknya.
Pada baris kesatu berbunyi: Thian It lo-jin pada waktu
malam hari pertengahan musim rontok, menyerahkan kaca
wasiat ini kepada Gin-si- khek.
Melihat itu, barulah Gin Liong tahu bahwa pemilik kaca
wasiat itu bukan Bu-lim Seng-ceng tetapi Thian It lojin.
Baris kedua berbunyi: Gin-si-khek pada senja musim
semi, menyerahkan kepada Ik-wan-tay-hiap Lu Gik Tiong.
Gin Liong terus membaca sampai pada baris kelima.
Disitu tertulis: Tio Su Le pada suatu hari dingin,
menyerahkan kaca wasiat kepada Langlang-buana Gui Hin
Kiong.
Kemudian baris keenam berbunyi Gui Hin Kiong pada
hari yang cerah, menyerahkan kepada Siau Gin Liong.
Seketika itu sadarlah Gin Liong bahwa yang disebut Bu -
lim Seng - ceng atau Paderi - sakti dalam dunia persilatan
itu, bukan lain adalah Thian It lojin. Sedang orang tua
kurus yang menyerahkan kaca wasiat kepadanya itu
bernama Langlang-buana Gui Hin-Kiong. Gui Hin Kiong
merupakan orang keenam yang menerima penyerahan kaca
wasiat itu.
Tetapi sepanjang ingatannya, dalam dunia persilatan ia
tak pernah mendengar tentang nama tokoh Langlang-buana
Gui Hin Kiong. ia menarik kesimpulan bahwa Gui Hin
Kiong tentu seorang sakti yang tak mau melibatkan diri
dalam pergolakan dunia persilatan.
Selanjutnya menurut catatan itu, sudah lima belas tahun
lamanya kaca itu berada di tangan orang tua kurus Gui Hin
Kiong. Selama itu, mungkin dia sudah mempelajari ilmu
sakti yang tertera pada kaca wasiat itu.
Dari Thian It lojin hingga temurun pada Gui Hin Kiong,
diantaranya empat orang pewaris tak seorangpun yang
mempunyai nama dalam dunia persilatan. Apakah mereka
tak berhasil mempelajari ilmu sakti pada kaca wasiat itu ?
Atau mungkinkah karena mereka sudah menemukan
penerangan hatin, mereka tak mau terjun dalam dunia
persilatan ?
Akhirnya Gin Liong menarik kesimpulan, ia akan
mencontoh jejak keempat cianpwe itu, takkan menonjolkan
ilmu kepandaian yang diperoleh dari kaca wasiat itu kepada
siapapun juga.
Segera ia meneliti lebih cermat dan akhirnya
menemukan, diantara sinar pelangi yang terpancar dari
kaca itu, samar2 menyembul sebuah huruf berbunyi
"Kitab", Tetapi pada lain kilat, huruf itupun tak tampak
lagi.
Gin Liong mencoba untuk menggoyangkan kaca
pelahan-lahan. Dan benar juga, huruf merah Kitab itu
timbul lagi. Pelahan-lahan ia mengisar baju luar yang dibuat
menutup dan tampaklah tujuan buah huruf yang berbunyi:
Liong Hou liong Kau Kun Ciang Bu. Atau, kitab ilmu
pukulan Naga, harimau, burung hong, ular.
Tergerak hati Gin Liong, Girangnya bukan kepalang
sehingga tangannya gemetar, Dibawah huruf Kun-hu atau
Kitab ilmu pukulan itu, tampak pula huruf2 Hang liong
atau Ilmu-menaklukkan-naga, Hok-hou atau Harimau
Mendekam, Lin-hong atau Menangkap-cenderawasih, Pok-
kau atau menjerat ular, empat macam pelajaran ilmu
pukulan.
Setelah membaca dengan teliti, ternyata dalam tempat
macam pelajaran ilmu pukulan itu mengandung ilmu
pukulan, ilmu tebasan dan ilmu menangkap atau
menyambar
Ilmu pukulan, cepat dan dahsyat ilmu tebasan, tangkas
dan ganas, ilmu menyambar dan menangkap. luar biasa
hebatnya. Apabila digunakan keempat macam ilmu itu
merupakan gabungan tipu silat lihai penuh dengan
perobahan.
Gin Liong memiliki otak yang cerdas dan daya ingat
yang kuat. Cepat sekali ia dapat mengingat semua
pelajaran2 itu dan setelah merenungkan ia segera tahu daya-
gunanya.
Pada saat ia hendak melanjutkan membaca di halaman
terdengar langkah kaki orang. Buru2 ia menyimpan kaca itu
ke dalam baju lagi Kemudian ia keluar.
Saat itu hampir tengah hari. Suma Tiong dan isterinya
berjalan menghampiri, Gin Liong segera menyambut.
Demikian pula Yok Lan dan Li Kunpun keluar dari kamar
ikut menyongsong.
Suma Tiong suami isteri melaporkan bahwa dia sudah
mengirim dua puluh orang menuju kekota. Gin Liong
menghaturkan terima kasih atas bantuan tuan rumah.
Tak lama bujangpun segera menyiapkan hidangan siang.
Waktu makan. Li Kun mengatakan kepada tuan rumah
bahwa karena mempunyai urusan penting maka Gin Liong
akan melanjutkan perjalanan lebih dulu, sebenarnya dalam
suasana seperti saat itu, memang tak leluasa kalau Gin
Liong menempuh perjalanan seorang diri. Tetapi
dikarenakan harus merawat Tek Cun dan Lan Hwa
terpaksa Yok Lan dan Li Kun harus tinggal.
Mendengar itu Suma Tiong menyatakan kesediannya
untuk merawat kedua orang yang sakit itu dan minta kedua
nona itu menemani Gin Liong.
Karena Li Kun setuju terpaksa Gin Liong pun
menyetujui juga.
Waktu Tek Cun dan Lan Hwa diberitahu tentang
persetujuan itu, keduanyapun setuju. Demikian setelah
berkemas, Gin Liong dan kedua nona segera berangkat
siang itu juga, Gin Liong naik kuda hitam kaki putih, Yok
Lan naik kuda bulu merah milik Tek Cun dan Li Kun naik
kuda putih.
Pada saat Suma Tiong dan isteri mengantar ketiga anak
muda itu sampai keluar pintu, tiba2 seorang lelaki bergegas-
gegas masuk ke dalam desa.
"Apa yang terjadi di luar desa ?" seru Suma Tiong
kepada orang itu.
"Toaya, celaka..." seru orang itu, "dari Hok-san-shia
telah berbondong-bondong sejumlah besar penunggang
kuda menuju ke desa ini."
Mendengar itu Gin Liong seperti merasakan suatu
ancaman bahaya, serunya : "Mereka tentu akan cari perkara
disini."
"Sejak diam disini, baru pertama kali ini aku mengalami
peraturan desa ini dilanggar orang" kata Suma Tiong.
"Tak peduli siapapun yang datang, kita harus
menyongsongnya," kata Lok Siu Ing.
Kelima orang itu segera bergegas menuju ke mulut desa,
sepuluh penunggang kuda tampak sedang
mencongklangkan kudanya menuju ke desa itu. Orang2 itu
mengenakan pakaian ringkas sebagaimana dikenakan oleh
kaum persilatan dikala sedang menjalankan tugas, Saat itu
mereka sudah berada pada jarak setengah li dari desa.
"Menilik sikapnya, mereka memang hendak melakukan
sesuatu," kata Suma Tiong.
"Jika tanpa alasan, jangan beri ampun kepada mereka,"
seru Lok Siu Ing.
Pada saat rombongan pendatang itu tiba pada jarak tiga
puluhan tombak dari tempat Gin Liong, tiba2 kuda hitam
mulus meringkik keras sehingga rombongan kuda yang
datang itu terkejut dan panik, Ada yang Mengangkat kaki
depan, ada pula yang merontak kaget, Penunggangnya
berusaha keras untuk mengatasi kudanya dan melanjutkan
lari ke muka.
Penunggang yang paling depan, seorang tua bertubuh
kurus, muka hitam, brewok dan rambut memanjang sampai
ke bahu. Mengenakan pakaian warna hitam. Umurnya
diantara 60-an tahun. Di belakang punggungnya
menyanggul sebatang tongkat berkepala ular, batangnya
penuh berhias gelang besar kecil, sepasang matanya yang
bundar memancarkan sinar berkilat-kilat dingin.
Disebelah kanan dan kirinya, seorang lelaki berpakaian
kuning dan yang satu berpakaian kelabu. Keduanya
berumur lebih dari 40 tahun.
Lelaki yang berpakaian kuning itu, mukanya penuh
rambut, alis tebal mata bundar dan perawakan gagah
perkasa, punggungnya menyelip Kim-kong senjata gada
berbentuk orang-orangan. Gagah menyeramkan sekali.
Sementara lelaki yang berpakaian kelabu, mukanya
kuning pucat, jenggot tipis, mata sipit tak berbulu mata.
Tubuhnya kurus, menyanggul sebatang sayap.
Sedang ketujuh orang yang mengikuti dibelakang, terdiri
dari lelaki2 yang bertubuh gagah. Masing2 membekal
golok.
"Hm. kiranya Tiga-jahat dari Losan." geram Loh Siu Ing.
Suma Tiongpun cepat tertawa dan berserunya ringan:
"Kukira siapa, ternyata tiga pendekar dari Losan yang
berkunjung. Maaf, karena terlambat menyambut."
Sejenak berhenti ia melanjutkan pula dengan nada
nyaring: "Entah apakah maksud kedatangan saudara bertiga
ke desaku ini ?"
Rombongan penunggang kuda itu tiba pada jarak lima
tombak, Orang tua baju hitam mengangkat tangan keatas
dan kesepuluh ekor kuda itupun serentak berhenti.
Kemudian orang tua itu tertawa mengekeh.
"Kukira siapa yang tinggal didesa ini, kiranya Suma
tayhiap, Aku Tongkat - ular - bergelang In Po Tin bersama
kedua saudaraku Gada-pencabut nyawa dan Golok-
pelenyap-jiwa, memberanikan diri datang kemari, mohon
saudara suka memaafkan kelancangan kami,"
Bahkan orang tua yang merupakan tokoh pertama dari
tiga Jahat gunung Losan itu segera memberi hormat. Kedua
saudaranya hanya terlongong2 memandang Gin Liong.
Suma Tiong tertawa nyaring.
"Harap saudara suka menjelaskan apa maksud
kunjungan saudara bersama rombongan kemari. Apabila
dapat kami lakukan tentu dengan senang hati kami akan
menghaturkan bantuan."
Tongkat-ular In Po Tin tertawa juga.
"Kedatangan kami ini tak lain hanya perlu sekedar
hendak minta keterangan kepada Siau siauhiap adakah kaca
wasiat itu benar berada padanya ?" kata In Po Tin sambil
menunjuk Gin Liong.
Melihat sikap ketiga orang yang begitu congkak, si jelita
Li Kun sudah muak. Dan sesaat mendengar maksud
kedatangan mereka, serentak marahlah ia, serunya: "Sudah
makan nasi sampai berpuluh tahun mengapa dalam soal
sekecil itu saja kalian tak dapat menilai dengan tepat.
Huh..."
"Budak hina, siapa suruh engkau campur mulut !" bentak
si baju kuning Gada-pelenyap nyawa.
Mendengar itu Lok Siu Ing tak dapat menahan
kemarahannya lagi. Dengan melengking ia melompat maju
ke muka dan menuding Gada-pelenyap nyawa: "Kalau
memang berani, hayo, turunlah engkau. Hendak kuuji
sampai dimana kepandaianmu sehingga gegabah berani
menghina orang!"
Nyonya itu menutup kata2nya dengan mencabut pedang.
Dengan tertawa dingin Gada-pelenyap nyawa pun
ayunkan tubuh loncat turun dan siapkan senjatanya:
"Engkau sendiri yang cari mati, jangan salahkan aku berhati
kejam !"
Sambil tertawa mengekeh ia pelahan-lahan maju
menghampiri.
Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin ia berdiri di
samping Suma Tiong dengan tenang, Tak habis herannya
mengapa Lo-san Sam-ok atau Tiga jahat dari gunung Losan
tahu bahwa ia telah mendapat kaca wasiat itu.
"Berhenti !" cepat ia berteriak ketika Gada-pelenyap
nyawa hendak bertempur dengan Lok Siu Ing. Walaupun
pelahan teriakan itu dihamburkan tetapi telinga sekalian
orang yang berada disitu serasa mengiang-ngiang. Toa-ok
atau si jahat Kesatu In Po Tin diam2 terkejut juga. Dan
Gada-pelenyap nyawapun hentikan langkah.
"Kalian kesepuluh orang ini sudah melanggar peraturan
memasuki desa ini. Bukannya kalian bersikap sopan
kebalikannya malah mengumbar kecongkakan, jelas dapat
diketahui bagaimanapun tingkah laku kalian selama ini.
Dan jelas pula bahwa kalian hendak merebut kaca wasiat
itu."
Gin Liong berhenti sejenak menatap ketiga tokoh jahat
dari gunung Losan itu. serunya pula: "Andaikata kaca
wasiat itu berada padaku, apa dasarnya kalian hendak
merebut benda itu ?"
Gada-pelenyap nyawa jago kedua dari Losan deliki mata
dan membentak: "Budak yang sombong engkau berani cari
perkara dengan kami bertiga?"
Pah-ong-kan-san atau raja Pah-ong-mengejar gunung,
adalah jurus yang digunakannya untuk menyerang Gin
Liong, Tetapi Lok Siu Ing yang sudah sejak tadi siap, segera
menangkis dengan jurus Mengepak-rumput-memburu-ular,
ia menyabetkan pedang memapas lambung orang.
Gada-pelenyap nyawa marah. ia hentikan gerakannya
untuk menangkis pedang Lok Siu-ing, tetapi nyonya itupun
merobah gerak pedangnya untuk menusuk alis lawan.
Gerak perobahan itu dilakukan teramat cepat sekali.
Jago kedua dari Losan itu memang hebat juga. Cepat ia
songsongkan senjata tegak ke atas untuk menahan pedang
lawan. Tetapi di luar dugaan Lok Siu Ing dengan gerak
secepat kilat, telah memapaskan pedang ke celana lawan.
Cret, celana jago kedua gunung Losan telah terpapas
kutung.
Gada-pelenyap nyawa menjerit kaget dan menyurut
mundur beberapa langkah. Melihat kebawah mukanya
berubah dan keringat dingin mengucur, Kedua kaki
celananya telah robek sehingga lututnyapun kelihatan.
Lok Siu Ing tertawa dingin. "Hm, begitu tak berguna,
masih berani cari perkara, Sungguh tak tahu diri."
Toa-ok In Po Tin menggeremutukkan geraham, wajah
membesi dan tubuh gemetar. Tokoh ketiga Toat-beng to
atau golok Pencabut nyawa loncat dari kuda dan terus
memutar golok menyerang Lok Siu Ing.
Melihat itu Tio Li Kunpun loncat turun dari kuda, Tring,
iapun sudah mencabut pedang yang memancarkan sinar
berkilau-kilauan. Dan sekali bergerak, pedang itupun segera
meluncur ke muka untuk menusuk gulungan sinar golok
lawan.
"Lo-sam . . " melihat Pedang-Pencabut nyawa hendak
mengadu kekerasan dengan pedang si jelita, buru2 Toa-ok
berseru mencegah.
Mendengar itu Pedang-Pencabut nyawa terkejut, cepat
mengendapkan pedang kebawah cepat pula loncat ke
samping.
Li Kun mendengus dingin. Sekali ayun tubuh ia loncat
memburu dan taburkan pedangnya, Terdengar jeritan kejut
dan darah menyembur keluar. Tahu2 daun telinga kiri si
Pedang-Pencabut nyawa sudah terpapas hilang.
Melihat itu Gada-pelenyap nyawa menggembor keras
dan terus menyerbu Li Kun.
"Tadi sudah diberi ampun mengapa sekarang masih cari
mati lagi?" bentak Lok Siu Ing seraya tebarkan pedang dan
tahu2 ujungnya sudah melekat kedada orang itu.
"Ing-moay, jangan membunuhnya!" buru2 Suma Tiong
melarang isterinya.
Lok Siu Ingpun menurut, Tetapi dikala ia menarik
pedangnya, sekonyong konyong Gada-pelenyap nyawa
menggembor keras dan dengan jurus Tiang-menyanggah-
langit, ia menghantamkan gadanya pada pedang Lok Siu
Ing.
Nyonya itu menjerit kaget karena tangannya terasa terasa
linu lunglai sehingga pedangpun terlempar ke udara. Dan
Gada-pelenyap nyawa menyusul pula dengan menghantam
ubun2 kepala nyonya itu.
Suma Tiong dan Gin Liong serempak loncat
menghampiri, Li Kun dan Yuk Lanpun menjerit kaget.
"Lo-ji, jangan !" teriak Toa-ok In Po Tih mencegah
saudaranya, ia tahu Suma Tiong itu tak boleh dibuat main2.
Tetapi sebelum jago kedua melakukan perintah toa-ok, ia
menjerit kaget karena siku lengan kanannya dicengkeram
Gin Liong dan sekali ayun tangan, Gin Liong menampar
muka jago kedua dari Losan itu.
Tetapi karena mendengar seruan Toa-ok tadi, Gin Liong
cepat merobah arah tamparannya. Tidak pada muka tetapi
gada orang.
"Bum . . . ." tangan jago kedua dari Losan itu linu
kesemutan dan gadanyapun terlempar keudara, "Enyahlah
!" seru Gin Liong seraya mendorong.
Tubuh jago kedua dari Losan yang tinggi besar seketika
terhuyung-huyung beberapa langkah. Melihat kesaktian si
anak muda, Toa-ok Tin Po Tin terlongong pucat sehingga
ia lupa untuk menyanggupi tubuh saudaranya yang kedua.
Bluk, ji-ok Pedang-Pencabut nyawa terjatuh duduk ditanah.
Toa ok terkejut dan gelagapan, Cepat ia loncat
menolongnya. Saat itu jago kedua si Gada-pelenyap nyawa
masih berputar-putar untuk mencari daun telinganya yang
terpotong, Sedang Yok Lan dan Li Kun segera
menghampiri Lok Siu Ing yang tengah diperiksa tangannya
oleh Suma Tiong. Dibelakang mereka telah dijaga oleh
anak buah yang bersenjata golok.
Gin Liong sudah loncat kesamping untuk menjemput
pedang Lok Siu Ing yang jatuh, Tiba2 kuda bulu hitam
meringkik keras lagi. Ketika berpaling, Gin Liong melihat
empat penunggang kuda tengah mencongklang pesat datang
menghampiri jauh dibelakang keempat penunggang kuda
itu diantara kepulan debu yang gelap, samar2 masih tampak
lagi beberapa penunggang kuda.
"Aneh," gumam Yok Lan, "mengapa mereka tahu Liong
koko berada disini ?"
Setelah menolong saudaranya yang kedua, Toa-ok segera
menyahut: "Kalau tidak anak buahmu yang menyiarkan
berita itu di rumah makan, mana mereka tahu tentang soal
dirimu berada disini."
Seketika Suma Tiong tersadar persoalan telah menjadi
salah urus, sehingga malah tak keruan "Hm, mengapa
kalian tak mau berpikir, Apakah sedemikian mudah kaca
wasiat itu berada di tangan kita ?" Yok Lan melengking.
Dalam pada itu keempat penunggang kuda tadipun
sudah kira2 setengah li jauhnya, Tiga penunggang kuda
yang berjajar di sebelah kiri terdiri dari tiga imam
pertengahan umur, mengenakan jubah putih dan masing2
mencekal hudtim besi bertangkai baja.
Yang seorang bermata segitiga, mengenakan ikat
pinggang sutera wungu, Yang seorang berhidung bengkok
dan yang seorang berwajah persegi, membawa sebuah buli2
kecil. Mereka mengulum senyum sinis, sikapnya congkak
sekali.
Penunggang kuda sebelah kanan bukan lain adalah jago
kesatu dari Lo-san Sam-ok, si Tongkat ular yang telah diberi
ampun oleh Gin Liong. Sudah tentu Gin Liong marah
sekali.
Li Kun tertawa dingin, Pedang yang baru saja hendak
disarungkan cepat ditarik keluar lagi.
"Kali ini pasti takkan kuampuni jiwanya" seru geram.
Keempat penunggang kuda itu tiba dan dengan tertawa
gelak2 mereka loncat turun dari kudanya.
"Ya, budak itu ! Kaca wasiat berada di tangannya !" seru
Toa-sat seraya menunjuk Gin Li-ong.
"Anjing yang suka menggonggong kabar palsu, serahkan
jiwamu" teriak Li Kun seraya taburkan pedang menusuk
dada Toa-sat.
Toa-sat tertawa hina terus loncat ke belakang ketiga
imam itu. Melihat si jelita Li Kun yang sedemikian
cantiknya, ketiga imam itu tertawa mengekeh dan terus
merintangi.
Li Kun makin marah, Pedang dihamburkan dalam seribu
sinar dan berhamburan menusuk ketiga imam itu.
Ketiga imam terkejut bukan kepalang, mereka menjerit
kaget dan tak berani memandang rendah kepada nona jelita
itu. Kebut besi segera ia gerakkan untuk menangkis.
Karena serangannya tak berhasil, Li Kun makin meluap
kemarahannya. Dengan melengking ia gentakkan pedang,
Seketika tiga kuntum sinar pedang menusuk kearah ketiga
imam itu.
Melihat ketiga imam itu kewalahan menghadapi seorang
nona saja, gemetarlah hati Toa-sat. Ketika memandang ke
arah lain, seketika pucatlah wajahnya, Tampak Gin Liong
tengah maju menghampirinya dengan sikap yang
menyeramkan.
"Budak she Siau" serunya untuk menutupi kegelisahan
hatinya, "lekas serahkan kaca wasiat kepada ketiga toya
itu..."
Mendengar kata Toa-sat, seketika bersinarlah mata
ketiga imam itu. Mereka serempak melirik kearah Toa sat.
Tepat pada saat itu. Gin Liongpun secepat kilat loncat
menerkam bahu Toa-sat.
Suma Tiong dan isterinya serta Yok Lan, terkejut sekali
melihat Gin Liong menggunakan cara bertempur yang
paling kasar semacam itu.
Tetapi tiba2 pula ketiga imam itupun tinggalkan Li Kun
dan terus menyerbu Gin Liong, Anak muda itu membentak
keras, kedua tangan yang tengah dijulurkan kemuka untuk
mencengkeram Toa-sat sekonyong-konyong dirobah dalam
gerakan menampar. Plak, plak, plak . . . terdengar ketiga
imam itu mengerang tertahan dan terhuyung-huyung
kebelakang.
Apa yang terjadi itu benar2 mengejutkan sekalian orang
yang berada disitu, Gin Liong telah memainkan salah
sebuah jurus dari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat,
jurus itu disebut Jip-hay-pok-kau atau Menyelam-laut-
menjaring-ular.
Cepat sekali tangan Gin Liong mengenai tubuh ketiga
imam itu. Menebas, menyikut, menampar dan menutuk.
Habis menyebutkan ketiga macam, secepat kilat Gin
Liongpun mencengkeram siku lengan Toa sat dan sebelah
tangannya menampar muka Toa-sat. Toa-sat menjerit ngeri.
Tergetar hati Gin Liong, ia teringat sesuatu dan hentikan
tamparannya.
Tiba2 dari belakang Li Kun menusuk, Gin Liong hendak
mencegah tetapi tak keburu, Cepat ia membentak dan
menyiak sehingga Toa sat terhuyung-huyung ke samping,
Dengan begitu ia lolos dari tusukan pedang Li Kun. Tetapi
karena menahan kesakitan keringat dingin bercucuran
membasahi tubuh.
Li Kun tertegun, ia memandang Gin Liong dengan
pandang penuh tanya mengapa Gin Liong masih
melindungi jiwa Toa-sat.
"Taci Kun, berilah dia ampun sekali lagi, agar dia
mempunyai kesempatan untuk memperbaiki
kesalahannya." seru Gin Liong.
Hampir Li Kun tak percaya apa yang didengarnya,
mengapa aneh sekali sikap Gin Liong itu.
Bluk, karena tak dapat mempertahankan keseimbangan
tubuh, Toa sat jatuh terduduk di tanah. Sambil mendekap
siku lengan kirinya, mulutnya menyeringai kesakitan, napas
terengah-engah dan wajahnya tak menyeramkan lagi.
Empat penjuru sunyi senyap, Tetapi berpuluh
penunggang kuda yang sudah mencapai satu li jauhnya dari
desa itu masih tetap mencongklang pesat menuju ke desa.
Ternyata pendatang itu rombongan wanita yang berpakaian
indah dan membekal senjata pedang dan golok.
Gin Liong mendengus lalu berpaling kepada Toa-sat,
serunya: "Poan liong kun. kali ini kuampuni lagi jiwamu.
Kuharap engkau dapat menyadari kesesatanmu, jangan
melakukan perbuatan2 jahat dan berbuatlah amal
kebaikan."
Kemudian ia berpaling kepada ketiga imam, Muka
mereka bengap biru dan sikap merekapun tak congkak lagi.
"Dan kalian bertiga" serunya, "sebagai seorang agama
kalian harus membebaskan diri dari pergolakan urusan
dunia dan harus dapat melepaskan nafsu keinginan yang
tamak, Lekas kalian kembali ke biara dan jangan turun ke
dunia persilatan lagi."
Ketiga imam itu tak mau bicara apa2. Rupanya mereka
masih penasaran.
Hanya dalam semalam mengapa perangai Gin Liong
tiba2 berobah begitu sabar, Pikir Li Kun. Juga Yok Lan
heran mengapa dalam semalam saja, kepandaian Gin Liong
bertambah maju sedemikian hebatnya.
Memang kedua suami isteri Suma Tiong tahu bahwa dari
sinar matanya yang berkilat-kilat tajam, tentulah Gin Liong
itu seorang pemuda yang berilmu tinggi. Tetapi setitikpun
mereka tak mengira bahwa Gin Liong akan sedemikian
saktinya.
-ooo0dw0ooo-

Bab 7
Dewi Bayangan
Rombongan wanita cantik berkuda itupun sudah tiba.
Mereka ternyata dara2 cantik yang muda belia. Ditengah,
tampak seorang wanita cantik berumur 25-an tahun, rambut
disanggul tinggi, mengenakan perhiasan tusuk konde kin-
hong atau cendrawasih emas. pakaian dan bulu burung
yang indah, dadanya berhias tiga butir kumala dan sabuk
pinggangnya warna pelangi. Tubuhnya makin tampak
montok dalam pakaiannya yang amat ketat.
Wajahnya putih cemerlang, alisnya merebak hitam dan
bibir merah, sepasang biji matanya bening, memancarkan
sinar yang mesra sehingga orang yang melihatnya pasti
akan terpikat.
Begitu tiba nyonya cantik itu mengangkat cambuknya
keatas memberi isyarat kepada rombongannya berhenti.
Kuda meringkik, debupun mengepul tebal ketika berpuluh
nona penunggang kuda itu hentikan kuda masing-2.
Sikap dan ulah wanita cantik itu tak beda dengan
seorang ratu, Sekalian orang yang berada ditempat itu
terpesona melihatnya.
Suma Tiong kerutkan dahi, ia tahu bahwa nyonya cantik
itu memiliki senjata sapu tangan yang mengandung minyak
wangi berbius. Segera ia menyuruh isterinya memberitahu
kepada Yok Lan dan Li Kun supaya berhati-hati.
Nyonya cantik itu keliarkan matanya yang tajam. Begitu
tertumbuk papa wajah Gin Liong yang cakap dan gagah,
seketika memancarlah mata wanita itu, pipinya merah.
Tiba-2 terdengar bentakan keras: "Perempuan busuk Hi
Hoan siancu, apakah engkau masih kenal aku !" sesosok
bayangan melesat menerjang wanita cantik itu.
Kiranya orang itu adalah si Tongkat-ular In Po Tin,
tokoh kesatu dari Lo-san Sam-ok, ia menyerang dengan
tongkatnya.
Melihat si wanita yang disebut Hi Hoan siancu atau
Dewi Bayangan itu tertawa mengikik:
"Tua bangka yang tak berguna, engkau hendak
mengantar jiwamu."
Seorang dara baju hijau yang berada di belakangnya
segera ayun tubuh loncat turun dari kudanya dan
menghantam kepala In Po Tin dengan cepat.
In Po Tin menggerung marah, Dengan jurus Thian-
kiong-shia-jit atau Memanah-matahari, ia putar tongkatnya
menyerang dara itu. Tring, dengan meminjam tenaga
benturan senjata itu, si dara baju hijau melenting ke udara
lagi.
Gin Liong terkejut, hanya salah seorang bujang dari
Dewi Bayangan tetapi sudah sedemikian lihaynya. jika
demikian alangkah hebatnya kepandaian Dewi Bayangan
itu.
Begitu di udara, dara itu berjumpalitan dan melayang
turun di belakang In Po Tin, sampai dua tombak jauhnya.
In Po Tin menggerung keras dan berputar tubuh lalu
loncat menerjang lagi dengan jurus Heng-sau-ngo-gak atau
Membabat-lima-gunung di babatnya kaki si dara yang
belum berdiri tegak itu.
Si dara menjerit kaget, cepat2 ia turunkan golok
menangkis, Tring . . dara itu menjerit lagi dan goloknyapun
terlepas dari tangan.
In Po Tin tak mau memberi ampun lagi, ia segera
menutuk dada dara itu dengan jurus Koay-bong-jut-tong
atau Ular-naga-keluar-guha.
Melihat itu berobahlah wajah Dewi Bayangan. Berpuluh
dara pengiringnyapun menjerit kaget, Tetapi mereka tak
sempat berbuat apa2.
Gin Liong tak senang melihat perbuatan In Po Tin yang
main bunuh itu. Dengan menggembor keras ia ayun tubuh
ke udara seraya lepaskan sebuah pukulan. Angin pukulan
itu melanda lambung In Po Tin. In Po Tin terkejut.
Terpaksa ia tarik tongkatnya dan loncat ke samping, Tetapi
pada saat In Po Tin loncat menghindar itu, berpuluh-puluh
benda kecil menyerupai bintang emas telah berhamburan
mencurah ke arah kepalanya.
In Po Tin terkejut Cepat ia putar tongkatnya, Tring,
tring, tring . . benda2 berwarna emas itu berhamburan jatuh
ke empat penjuru.
Ternyata benda2 berwarna emas itu adalah senjata
rahasia Uang-emas yang ditaburkan Dewi Bayangan.
"Perempuan hina, hari ini kuampuni jiwamu. Tetapi
pada suatu hari aku pasti akan mengambil batang kepalamu
!" sambil menuding Dewi Bayangan, In Po Tin berteriak
marah, Matanya memancarkan sinar dendam kesumat yang
bernyala-nyala. Rupanya diantara kedua itu pernah terjadi
suatu dendam yang hebat.
Dewi Bayangan masih tetap berada di punggung kuda,
Dengan matanya yang bersinar cabul, ia tertawa santai:
"Tua bangka, engkau sendiri yang tak berguna, mengapa
engkau salahkan aku mendepakmu."
Merah padam wajah In Po Tin. Cepat ia menukas:
"Perempuan busuk yang tak tahu malu"
Rupanya tak tahan lagi In Po Tin menahan luapan
kemarahannya, Segera ia loncat menerjang Dewi
Bayangan.
Tetapi dari barisan dara pengiring Dewi Bayangan,
segera berhamburan hujan bintang-emas menyongsong In
Po Tin. In Po Tin tak berdaya mendekati Dewi Bayangan,
ia harus loncat dua tombak ke belakang.
"Perempuan busuk, apakah engkau berani bertempur
sampai mati dengan aku ?" teriaknya menantang.
Dewi Bayangan kerutkan dahi dan mencemoh "Siapa
sudi melayani seorang tua bangka seperti engkau? Hanya
mengotorkan tanganku sajalah"
Karena selalu dimaki tua bangka, gemetarlah tubuh In
Po Tin karena marahnya.
Dewi Bayangan tak menghiraukannya ia loncat turun
dari kuda dan menghampiri ke tempat Gin Liong, Gin
Liong tahu bahwa wanita yang bertingkah genit itu tentu
bukan wanita baik, ia mendengus muak melihatnya.
Tiba2 Dewi Bayangan membentak ketiga Lo-san Sam-
ok: "Enyah !"
Entah bagaimana ketiga jago jahat dari Lo-san itu hanya
deliki mata kepada Dewi Bayangan tetapi mereka tak berani
berbuat apa2 dan terus menghampiri kuda dan
mencongklang pergi.
Dewi Bayanganpun melanjutkan langkahnya ke tempat
Gin Liong.
"Siauhiap" serunya dengan nada genit, "usia mu masih
begitu muda dan tampan sekali, Kalau tak salah engkau
tentu siau Gin Liong yang mendapat kaca wasiat dari Bu-
lim Seng-ceng itu".
Melihat wajah Gin Liong mengerut kemarahan wanita
itu tertawa mengikik: "Peribahasa mengatakan manusia
tentu akan saling berjumpa, Dan kalau berjumpah itu
berarti jodoh, Perlu apa engkau memberingaskan wajahmu
yang tampan ?"
"Sungguh tak tahu malu..." si jelita Li Kun yang sejak
tadi muak melihat tingkah ulah Dewi Bayangan, sambil
membentak dia terus loncat menyerang.
Dewi Bayangan tertawa. Sekali gerakkan tubuh ia dapat
menghindari tusukan Li Kun.
Serangannya luput, Li Kun makin marah, Pada saat ia
hendak menyerang lagi, tiba2 ia rasakan dadanya terbaur
suatu angin lembut. ia terkejut dan cepat loncat mundur
sampai setombak.
"Siapa yang suruh engkau turut campur urusanku, Siau
siauhiap toh bukan suamimu." serunya.
Merah wajah Li Kun mendengar kata2 itu, ia
melengking dan menerjang lagi, walaupun tahu bahwa
pedang si jelita itu sebuah pusaka yang hebat, tetapi karena
mengandalkan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Dewi
Bayangan tak gentar.
"Engkau sendiri yang cari mampus, jangan sesalkan
Dewi Bayangan bertindak kejam," serunya seraya berputar
tubuh. seperti angin puyuh, tahu2 ia sudah berada di
belakang Li Kun.
Tetapi Li Kunpun cepat gunakan jurus Jay hong-hwe-lu
atau Burung hong-berputar-kepala, membabat ke belakang,
Kali ini Dewi Bayangan terkejut, ia tak menyangka nona
yang cantik itu memiliki gerak yang sedemikian hebat,
Sekali kebutkan lengan baju, tubuhnyapun menyurut
mundur.
Li Kunpun tak mau unjuk kelemahan sekali kaki
berayun, tubuhnya meluncur kemuka dan tahu2 ujung
pedangnyapun sudah menuju ke dada Dewi Bayangan.
Dewi Bayangan benar2 terkejut sekali, Dengan
melengking nyaring. Cepat ia geliatkan tubuh dan kebutkan
lengan baju lalu berputar putar cepat sekali.
Saat itu Li Kunpun sudah mendekat. Dengan jurus Giok-
hong-can-ki atau Burung-hong-merentang-sayap, ia segera
memapas bahu kiri Dewi Bayangan.
Beberapa kali menerima serangan yang tak terduga-duga,
kejut Dewi Bayangan makin menjadi-jadi. Dengan
melengking keras ia segera ayun tubuhnya melambung ke
udara.
Sring, pedang memapas dan menjeritkan berpuluh gadis
pengiring Dewi Bayangan, Dewi Bayangan sendiri sudah
melayang turun ke tanah. Ketika menunduk, ia melihat
ujung pakaiannya telah terpapas kutung oleh pedang Li
Kun. Keringat dingin bercucuran membasahi lehernya.
Li Kun masih penasaran. Dengan melengking ia
memburu lagi. Kali ini setelah menenangkan semangat,
Dewi Bayanganpun marah, serentak ia tertawa keras dan
berseru: "Budak kini, kalau aku tak mampu membunuh,
aku akan bunuh diri !"
Ia menutup kata-katanya dengan menggerakkan tubuh,
seketika tubuhnya berputar-putar menyerupai segulung asap
yang mengelilingi Li Kun.
Li Kun tetap memutar pedangnya dengan deras. Tetapi
setiap kali ia menusuk atau menabas, tentu hanya angin
kosong yang ditemui. Lama kelamaan, ia gugup juga,
Pandang matanya mulai berkunang-kunang, Terpaksa ia
mainkan pedang untuk melindungi diri. Tak mau ia
melancarkan serangan lagi.
Melihat itu Suma Tiong terkejut ia tahu bahwa wanita
cabul itu sedang menggunakan ilmu Hi hoan-sut atau
Bayangan kosong, yang termasyhur. Cepat ia mengeluarkan
seutas tali besi yang panjangnya satu meter.
Gin Liongpun melihat juga keadaan Li Kun yang
terdesak, Dengan menggembor keras ia terus loncat
menyerbu. Tetapi pada saat itu, Dewi Bayangan tertawa
genit dan tiba2 berputar-putar tubuh menyongsong Gin
Liong. Dan sebelum anak muda itu sempat bertindak Dewi
Bayanganpun sudah menamparkan sehelai sapu sutera
merah ke muka Gin Liong.
Karena tak menduga-duga, Gin Liong tak sempat
menghindar Sapu tangan sutera merah itu telah menampar
muka Gin Liong.
"Perempuan siluman engkau cari mampus...!" Suma
Tiong membentak dan terus menaburkan rantai besi.
Serempak dengan itu, Li Kunpun menyerang pinggang
Dewi Bayangan.
Tetapi wanita itu tak gentar ia tertawa genit lalu
melambung ke udara dan taburkan sapu ke muka Suma
Tiong.
Setitikpun Suma Tiong tak menyangka bahwa Dewi
Bayangan memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya,
serentak ia mencium bau yang luar biasa aneh dan
wanginya.
"Celaka," ia menjerit, lepaskan rantai besi dan rubuh.
Walaupun tak langsung ditampar sapu tetapi tebaran bau
harum itu tercium juga oleh Li Kun. ia terkejut dan cepat
loncat mundur sampai tiga tombak.
Tetapi suatu keanehan telah terjadi dan menyebabkan
Dewi Bayangan tercengang heran, Gin Liong yang
terdampar sapu itu tampak masih tegak berdiri, seolah tak
menderita pengaruh apa2. Bahkan Gin Liongpun heran
karena melihat Suma Tiong terjungkal rubuh. Tetapi karena
jelas yang membidikan itu Dewi Bayangan, maka Gin
Liongpun marah terus loncat menerjangnya.
Pucatlah seketika wajah wanita cabul itu. Senjata dupa
wangi Bi hun-soh-jun-hiang yang tak pernah gagal
merubuhkan lawan, ternyata tak mempan terhadap anak
muda itu. Terpaksa ia gunakan gerak Hi-hoan sut untuk
berlincahan menghindari serangan Gin Liong.
Gin Liong tertawa dingin, Setelah mengerahkan tenaga-
dalam, ia menekuk kedua lengan dan terus mendorong ke
muka.
Sebuah gelombang angin tenaga dahsyat serentak
melanda Dewi Bayangan yang tengah berlincahan laksana
seekor kupu.
Dewi Bayangan menjerit kaget Belum pernah ia melihat
pukulan yang sedahsyat itu. Cepat ia melambung beberapa
tombak ke udara, Karena tak mengenai sasaran, angin
pukulan Gin Liong tetap melanda ke muka kearah barisan
pengiring Dewi Bayangan, Rombongan gadis2 itu menjerit
kaget dan serentak berhamburan menyingkir ke samping.
Dalam pada itu Gin Liong loncat untuk mengejar Dewi
Bayangan Wanita itu makin terkejut, Cepat ia tamparkan
lengan baju untuk bergeliatan dua tombak 1agi. Tetapi Gin
Liongpun cepat genjot tubuh melayang ke udara, Dewi
Bayangan makin gugup, ia hendak meluncur turun.
Gin Liong mencoba menggunakan salah sebuah jurus
dari ilmu yang didapatnya dari kaca wasiat yang yang
disebut Leng-siau-kim-hong atau Malam-hari-menangkap-
burung hong, Tubuh bergeliatan dan sepasang tangan
mengulur menyambar siku lengan Dewi Bayangan.
Dewi Bayangan menjerit kaget semangatnya serasa
terbang, Seperti seorang anak kecil, ia menyerah saja ketika
tubuhnya dibawa melayang turun ke tanah oleh Gin Liong.
Selekas tiba di tanah, Gin Liong membentak: "Lekas
berikan obat penawar agar engkau jangan menderita
kesakitan !"
Setelah menenangkan semangat Dewi Bayangan
menghela napas.
"Ah, Bi-hun soh-jun-hiang itu tak ada penawarnya."
"Engkau mau mengeluarkan atau tidak!" bentak Gin
Liong seraya memperkeras cengkeramannya.
Wajah Dewi Bayangan pucat dan dahinya mengerut
kesakitan, Keringat dingin bercucuran, giginya
bergemerutukan keras.
Gin Liong kerutkan alis lalu membentaknya lagi: "Lekas
berikan obat itu !"
Tetapi wajah wanita itu makin membiru, napas terengah-
engah, Mulutnya tak dapat berkata lagi karena menahan
kesakitan hebat.
Dara baju hijau yang ditolong Gin Liong tadi segera
menghampiri dan memberi hormat kepada Gin Liong.
"Siauhiap, memang Dewi kami tak mempunyai obat
penawar," katanya dengan nada bersungguh.
"Lalu bagaimana cara menolong Suma tayhiap?" masih
Gin Liong tak percaya.
Merah muka dara itu. Bibirnya bergetar-getar tetapi
sampai beberapa saat tetap tak dapat mengeluarkan kata2.
"Bagaimana cara menolongnya? Apakah sudah tidak
dapat ditolong lagi !" hardik Gin Liong, Karena marah ia
telah memperkeras cekalannya.
Dewi Bayangan menjerit dan pingsan, Untung dara baju
hijau itu cepat dapat menyanggupi tubuh Dewi Bayangan
yang rubuh.
Gin Liongpun mengendorkan cengkeramannya, Li Kun
dan Yok Lan loncat kesamping Gin Liong.
"Mengapa nyonyahmu tak mau memberi pertolongan
kepada orang yang dicelakainya ?" teriak Yok Lan kepada
dara baju hijau itu.
Wajah dara itu tampak tegang dan akhirnya dengan
suara yang sarat ia berseru : "Nyonya Suma, mempunyai
obat penawarnya",
"Ngaco !" bentak Gin Liong, Tetapi Yok Lan dan Li Kun
sudah terus berputar tubuh dan Rombongan dara
pengiringpun segera mengangkut pergi Dewi Bayangan,
Gin Liong terlongong heran, Ketika berpaling, dilihatnya
dara baju hijau itu tengah berbisik-bisik kepada Lok Siu Ing,
Entah bagaimana wajah Lok Siu Ing yang tegang,
bertebaran merah.
Berpaling ke lain arah. Gin Liong tak melihat lagi ketiga
imam jahat dari Losan, Mereka diam2 sudah angkat kaki.
"Huh, sudah menang mengapa masih cemas." ketika
berjalan lewat disisi Gin Liong, dara baju hijau memandang
dan berseru pelahan.
Gin Liong termangu, ia tak tahu siapakah dara itu.
Tetapi setelah merenungkan beberapa saat, ia menyadari.
Dilihatnya Lok Siu Ingpun sudah memerintahkan beberapa
orangnya untuk membawa pulang Suma Tiong.
Diam-2 Gin Liong menyesal dalam hati, Hanya semalam
tinggal didesa itu tetapi telah membawa banyak kesulitan
Segera ia loncat hendak menghaturkan maaf kepada Lok
Siu Ing. Tetapi Lok Siu Ing malah berputar tubuh dan terus
lari.
Dalam pada itu rombongan gadis pengiring Dewi
Bayangan membawa wanita itu pergi.
"Ah, kitapun harus melanjutkan perjalanan," Kata Li
Kun. Saat itu matahari sudah condong ke barat, Gin Liong
dan kedua gadis segera mencongklangkan kuda menuju ke
selatan
Tak berapa lama, matahari sirna dan seluruh penjuru
mulai gelap, Samar2 disebelah muka tampak sebuah desa,
Beberapa rumah penduduk memancar sinar penerangan.
"Malam ini terpaksa kita menginap di desa itu," kata Li
Kun.
Masuk kedalam desa, mereka disambut dengan kawanan
anjing menyalak. Kuda hitam mulus meringkik keras dan
kawanan anjing itupun terkejut tetapi pada lain saat mereka
malah lebih keras menyalak.
Penduduk yang belum tidur berbondong-bondong keluar.
Seorang kakek menyambut dan setelah mendengar
keterangan Gin Liong, iapun menerima ketiga anak muda
itu bermalam didesa itu. Mereka bertiga di bawa kesebuah
rumah besar dan dijamu.
Masakannya enak dan ketiga anak muda itu minum juga
arak yang disuguhkan. Setelah makan, kedua nona itu
tampak lebih cantik. jika Li Kun seperti bunga tho, Yok
Lan seperti bunga mawar.
Melihat kecantikan kedua gadis itu, timbul rangsang
dalam hati Gin Liong, Dia memandang kedua gadis itu
dengan tak berkedip, Li Kun berdebar keras hatinya dan
darahnyapun meluap sukar ditindas.
Baru pertama kali sepanjang hidupnya, Yok Lan minum
arak maka cepat sekali ia menjadi mabuk.
"Liong koko, mungkin aku mabuk, Taci Kun aku hendak
tidur dulu" ia terus terhuyung-huyung masuk ke dalam
kamar.
Gin Liong dan Li Kun hanya tertawa melihat langkah
kaki Yok Lan yang terhuyung itu. Li Kun pun segera
berbangkit masuk kedalam kamar, Ketika berpaling,
hatinya berguncang keras, Karena saat itu dilihatnya Gin
Liong masih memandangnya dengan senyum hangat.
Entah bagaimana pemuda itu merasa membutuhkan
dekat dengan Li Kun. ia rasakan darahnya makin panas dan
merangsang, Teringat pula akan peristiwa bersama Li Kun
didalam perahu tempo hari, Dan tanpa disadari mulutnya
segera berseru memanggil: "Taci..."
Panggilan bagi Li Kun dirasakan suatu daya tarik yang
kuat sekali sehingga iapun menghampiri ketempat pemuda
itu. ia duduk disisi pemuda itu. Melihat sinar mata Gin
Liong yang membara, hati Li Kun makin berdebar keras,
ternyata sisa bebauan wangi yang ditaburkan Dewi
Bayangan mulai bertebar lagi.
Tetapi ia tak ingat lagi hal itu. Setelah minum arak, daya
asap wangi itu makin bergolak dan merangsang. Demikian
pula Gin Liong Karena minum arak maka khasiat dari
katak salju, mulai hilang daya tahannya.
Pada lain kejap Gin Liong segera memeluk Li Kun dan
Li Kunpun menyerah dengan serta merta. Keduanya makin
terangsang dan mulut merekapun segera saling bertaut
rapat. Mereka tenggelam dalam kehangatan bibir yang
semanis madu. Tetapi hal itupun masih tak dapat
memuaskan rangsangan yang makin meluap-luap dalam
hati kedua insan muda itu.
Pengaruh dupa wangi yang ditebarkan Dewi Bayangan
mulai bekerja. Gin Liong sudah kehilangan kesadarannya
lagi, perasaannya telah dikuasai oleh rangsangan nafsu, ia
tak puas dengan ciuman itu, Ada sesuatu yang
menghendaki kepuasan Gin Liong segera mengangkat
tubuh Li Kun terus dibawa masuk ke dalam kamar. Apa
yang terjadi adalah di luar kesadarannya, Keduanya telah
tenggelam dalam lautan madu . . .
Tiba2 Yok Lan terjaga. Rasa pening kepalanya sudah
hilang, ia segera bangun, Dilihatnya Li Kun tak berada di
ranjang sebelahnya, Samar2 ia mendengar erang pelahan
dari rasa kepuasan. Suara semacam itu belum pernah
didengarnya dan tak tahulah ia siapa yang mengerang2
penuh kenikmatan itu.
Jilid 8 Halaman 63/64 Hilang
Yok Lan terkejut dan cepat menyurut mundur lalu diam2
membaca dalam hati ilmu rahasia ajaran dari Hun Ho
siantiang yang disebut Mo-kiap-ban-wi-tmg-sim-hian-kang
atau ilmu menenangkan pikiran menghadapi ancaman dan
bujukan iblis.
Seketika hatinyapun jernih kembali Dan saat itu ia segera
mencari apa yang terjadi Tentulah karena terkena tamparan
sapu merah dari Dewi Bayangan maka Gin Liong sampai
lupa daratan dan melakukan perbuatan yang tak senonoh.
Saat itu iapun teringat akan dara baju indah yang
mengatakan kepada nyonyah Suma Tiong, bahwa obat dari
suaminya yang terluka itu hanya terdapat pada diri
nyonyah itu sendiri.
Saat itu kamarpun hening sunyi, Didengarnya Gin Liong
tidur mendengkur karena lelah dan isak tertahan dari Li
Kun, jelaslah apa yang terjadi Gin Liong seperti seekor
harimau lapar dan Li Kun terpaksa menyerah seperti seekor
kelinci.
Diam2 Yok Lanpun menggigil dalam hati, Jika ia tak
lebih dulu tidur, kelinci dalam terkaman Gin Liong itu
tentulah bukan Li Kun tetapi ia sendiri.
Merenungkan hal itu, ia segera kembali ke dalam
biliknya, ia takut Gin Liong akan mencarinya. Teringat
akan peristiwa tadi, diam2 ia menyadari bahwa Li Kun
telah menjadi korban dan mewakili dirinya. Memikir
sampai disitu, ia tak marah lagi kepada Gin Liong, bahkan
terhadap Li Kun-pun ia merasa kasihan.
Beberapa saat kemudian ia mendengar kamar disebelah
muka terbuka pintunya dan terdengar derap kaki orang
melangkah keluar, Namun ia tak berani keluar. Dari balik
selimutnya ia melihat Li Kun masuk, jelita itu mengemasi
pakaian dan rambutnya lalu mengusap airmatanya.
Yok Lan gelisah sekali, ingin ia bangun dan memeluk Li
Kun. ia memutuskan untuk berkorban dan membahagiakan
Li Kun.
Tetapi pada lain saat ia menimang, tindakan itu mungkin
akan mengejutkan dan menyinggung perasaan Li Kun.
Ketika Li Kun selesai berdandan dan masuk ke dalam
kamar, Yok Lan makin tegang dan buru2 pejamkan mata.
Li Kun lebih dulu duduk ditepi ranjang. Terdengar jelita
itu menghela napas kemudian baru naik ke ranjang dan
tidur disisinya,
Tak tahu bagaimana perasaan Li Kun saat itu, Mungkin
ia sedih dan marah terhadap tingkah laku yang liar dari Gin
Liong. Mungkin juga ia dapat memaafkannya karena tahu
bahwa Gin Liong telah terkena bubuk perangsang dari
Dewi Bayangan.
Karena tak tahan, Yok Liong membuka mata melirik Li
Kun yang tidur disisinya, Dilihatnya Li Kun tidur telentang
dengan kedua tangan ditempelkan ke dada.
Kedua matanya mengucurkan air mata, Melihat itu
ibalah hati Yok Lan. ia dapat memaafkan keadaan nona itu
dan bahkan ikut mengalirkan airmata.
Tak berapa lama, Li Kun tertidur. Dalam tekanan hatin
yang tak keruan rasanya, akhirnya Yok Lanpun tidur juga.
Entah selang berapa lama, ayampun terdengar berkokok
sahut menyahut, cuaca di luar tampak terang, Yok Lan
membuka dan melihat Li Kun masih tidur pulas. Dia segera
turun dari ranjang melangkah keluar, Di ruang depan lilin
sudah padam dan pintu terbuka. ia terkejut lalu lari ke luar.
Ia makin terkejut ketika melihat Gin Liong berdiri
dihalaman. memandang ke timur yang mulai merekah
mentari pagi, Di jalanpun sudah terdapat orang2 desa yang
berjalan menuju ke pasar dan ke sawah.
Dengan hati gundah, Yok Lan segera menghampiri Gin
Liong terkejut seraya berputar tubuh Tampak wajahnya
merah kemalu-maluan ketika melihat Yok Lan, bibirnya
gemetar hendak mengucap perkataan tetapi tak keluar.
Melihat keadaan Gin Liong yang jauh sekali bedanya
dengan kemarin, menangislah hati Yok Lan, Tetapi ia tetap
tenang, menghampiri kemuka pemuda itu dan bertanya
dengan lembut:
"Liong koko, apakah yang tengah engkau pikirkan ?"
Betapa derita hatin yang menyiksa Gin Liong sukar
dibayangkan, kalau tak mengingat masih harus melakukan
pembalasan dendam atas kematian suhunya, maulah
rasanya saat itu ia bunuh diri saja.
Apabila teringat akan perbuatannya semalam, ia hampir
tak percaya mengapa sampai dapat melakukan perbuatan
yang sehina itu. Tetapi saat itu pun ia menyadari bahwa
dirinya telah dicelakai oleh Dewi Bayangan sehingga tak
kuasa menguasai dirinya lagi, ia benci sekali kepada Dewi
Bayangan.
"Liong koko, engkau sedang memikirkan apa Mengapa
engkau tak mempedulikan aku ?" ulang Yok Lan karena
sampai lama Gin Liong diam saja.
Airmata dara itupun bercucuran.
Dengan suara sarat penuh rasa malu Gin Liong berkata:
"Aku tengah berpikir apabila aku telah melakukan suatu hal
yang berdosa kepadamu."
"Tidak, Liong koko, engkau takkan berbuat salah
kepadaku..." cepat Yok Lan menukas.
Hati Gin Liong seperti disayat sembilu.
"Lan-moay, kalau aku benar2 berbuat salah kepadamu."
"Tentulah bukan karena kehendakmu sendiri, tentu
karena terpaksa atau terkena suatu pengaruh yang sukar
engkau atasi. Dalam keadaan begitu, apapun kesalahan
Liong koko, aku takkan menyesalimu" kata Yok Lan
dengan tegas.
Hampir Gin Liong tak percaya pada pendengarannya,
semula ia kira Yok Lan tentu tak mau memaafkannya,
sekalipun begitu hatinnya tetap tersiksa.
Melihat Gin Liong mulai tegang, Yok Lan segera
mencekal kedua tangan sukonya, Tak tahan lagilah hati Gin
Liong, airmatanya bercucuran.
Tiba2 pintu terbuka, Gin Liong dan Yok Lan pun cepat
loncat masuk kedalam kamar, Yok Lan terus masuk
kedalam kamarnya sendiri. Dilihatnya Li Kun masih tidur,
Tetapi ketika menghampiri dan melihat keadaannya,
menjeritlah dara itu: "Liong koko, kemarilah lekas !"
Gin Liong terkejut dan cepat lari menghampiri
Dilihatnya mata Li Kun menutup rapat muka merah, bibir
seperti darah. Kening dan rambutnya basah kuyup dengan
keringat, tubuhnya memancarkan bau harum yang aneh.
Cepat Yok Lan membaca ilmu Hian-kang dalam hati dan
bau wangi itupun lenyap.
Gin Liong juga terkejut sekali, ia tak kira bubuk wangi
dari Dewi Bayangan itu mempunyai daya pengaruh yang
begitu hebat, Diam2 ia mengambil keputusan untuk
membasmi wanita siluman itu
Teriakan Yok Lan telah menyadarkan Li Kun Begitu
melihat Yok Lan, airmata jelita itu berhamburan keluar dan
berkata dengan nada gemetar: "Adik Lan..!"
"Taci Kun, engkau sakit !" seru Yok Lan dengan lembut.
Li Kun tak dapat berkata apa2 kecuali hanya bercucuran
airmata,
"Taci Kun, badanmu panas sekali, jangan banyak bicara,
tidurlah saja," kata Yok Lan pula.
Li Kun menghela napas, Ketika melihat Gin Liong
berdiri di muka ranjang, iapun terbeliak. Begitu pula Gin
Liong. hatinya makin tersiksa, ia merasa berdosa telah
merusak kehormatan seorang gadis yang suci, iapun merasa
tak layak menjadi seorang pendekar karena dirinya sudah
melakukan perbuatan yang serendah binatang.
Wajah Li Kun makin meraih keringat makin mengucur
deras. Tiba- Yok Lan teringat sesuatu.
"Liong koko, manakah mangkuk kumala hijau yang
tempo hari Liong-li locianpwe memberikan kepadamu itu ?"
tanyanya.
Walaupun tak tahu apa maksudnya, tetapi Gin Liongpun
segera mengambil keluar benda itu dan menyerahkan
kepada Yok Lan, Yok Lan memeriksa mangkuk itu. Sebuah
mangkuk batu kumala hijau yang memancarkan beribu
sinar, jelas mangkuk itu sebuah benda pusaka yang jarang
terdapat di dunia.
Kemudian dara itu suruh Giu Liong mengambilkan air.
Gin Liong menurut, setelah mengambil air lalu dituangkan
kedalam mangkuk kumala itu.
"Lan-moay, apakah maksudmu ?" tanya Gin Liong.
"Bukankah tempo hari Liong-li locianpwe juga memberi
minum aku katak-salju direndam air ?" balas Yok Lan.
"Ya, karena saat itu masih punya..." belum sempat Gin
Liong mengatakan "katak-salju", tiba2 air dalam mangkuk
itu mendidih dan mengeluarkan busa kecil2 lalu berobah
warnanya seperti susu.
Gin Liong terbeliak lalu bergegas menyuruh Yok Lan
segera meminumkan air itu kepada Li Kun. Yok Lanpun
segera minta Li Kun minum air dalam mangkuk kumala
itu, Tanpa ragu2 jelita itupun terus meminumnya.
Bermula ia kira air itu hanya dari pil atau obat pemunah
racun tetapi demi melihat wajah Yok Lan dan Gin Liong
begitu tegang, iapun lantas meminumnya sampai habis.
Serentak ia rasakan badannya makin dingin, Kepalanya
yang peningpun makin jernih, kesadaran pikirannya makin
terang.
Bermula Gin Liong masih cemas dan menanyakan
bagaimana perasaan Li Kun saat itu. Si jelita terus duduk
dan berseru : "Ah. sungguh obat dewa yang mujarab sekali,
Bukan saja hawa panas telah hilang, pun tubuhku serasa
segar sekali."
Mendengar itu Yok Lan tercengang, serunya:
"Aneh, tempo hari sehabis minum, badanku terasa panas
sekali, pikiranku kabur dan mataku ngantuk sekali dan terus
tidur sampai hampir dua jam, Tetapi mengapa keadaan taci
Kun berlawanan dengan aku..."
"Karena air itu direndam dengan katak-salju," Gin Liong
menjelaskan.
"Katak-salju"?" teriak Yok Lan, "mana binatang itu!"
"Kumakan !" sahut Gin Liong,
"Bagaimana engkau dapat memakannya ?" Gin Liong
segera menceritakan tentang peristiwa dilereng gunung
Hwe-sian-hong dulu.
Mendengar itu, Li Kun berkata: "Oh, itulah sebabnya
mengapa engkau mampu memukul mundur sam-ko.
Memang toako saat itu sudah menduga kalau engkau tentu
mendapat suatu penemuan yang luar biasa. Seorang
pemuda seumurmu, tak mungkin dapat memiliki tenaga
yang sedemikian saktinya."
Demikian ketiganya lalu makan, Setelah itu, pak tuapun
menyiapkan kuda mereka. Nenek tua dan gadisnyapun
berada di halaman, singkatnya Gin Liong bertiga segera
melanjutkan perjalanan lagi.
Menjelang tengah hari mereka tiba disebuah kota sebelah
timur dan kecermatan Ki-he-koan. Mereka mencari rumah
makan besar yang mempunyai tempat untuk kuda. Setelah
jongos menyambut kuda, merekapun lalu masuk.
Tak banyak tetamu di rumah makan itu. Kebanyakan
mereka hanya pedagang2 biasa, jarang tetamu orang
persilatan Gin Liong bertiga duduk di meja yang dekat
dengan jendela. Dari situ mereka dapat melihat di jalanan.
Ketika Yok Lan memandang keluar, ternyata dimuka
rumah makan itu juga sebuah rumah makan. Dan pada
meja dekat jendela ia melihat empat orang imam tua
berjubah kelabu, Yang ditengah seorang imam berumur 50
an tahun, rambutnya sudah menjunjung uban, alis gundul,
muka bopeng, sikapnya gelisah dan matanya memandang
kearah tempat Yok Lan bertiga.
Sedang ketiga imam yang lain masih sibuk membuat
perhitungan rekeningnya. Rupanya mereka bergegas
hendak meninggalkan rumah makan itu.
Yok Lan curiga lalu membisiki suko dan Li Kun:
"Cobalah kalian lihat, imam tua yang duduk di rumah
makan sebelah muka itu !"
Ketika Gin Liong dan Li Kun memandang keluar
jendela ternyata keempat imam itu sudah turun dari loteng.
"Lan-moay, apakah engkau anggap mereka
mencurigakan ?" tanya Li Kun.
Sambil memandang Gin Liong, Yok Lan bertanya:
"Apakah bukan imam tua Hian Leng dari partai Kiong-lay-
pay ?"
"Mungkin" kata Gin Liong.
"Taci Kun, mengapa kalian kenal mereka ?" tanya Yok
Lan.
Li Kun segera menceritakan peristiwa di gunung Hok-
san dimana mereka telah berjumpa dengan imam itu.
Demikian setelah selesai makan mereka bertigapun
segera melanjutkan perjalanan lagi, Dengan adanya imam
yang mencurigakan itu, mereka pun berlaku hati2.
Dengan ketiga ekor kuda yang pesat larinya, dalam
beberapa waktu saja mereka sudah mencapai 10-an li.
Disitu terdapat sebuah gunung yang hanya berpuncak satu
dan luasnya tak sampai sepuluh li.
Mereka berkuda disepanjang kaki gunung itu. Tak
berapa lama mereka melihat disebelah muka sebuah
bangunan yang merah gentengnya.
Gin Liong menghela napas dan berkata seorang diri:
"Walaupun tak tinggi tetapi gunung tentu indah
pemandangannya. walaupun tak dalam, telaga tentu ada
raganya. Membangun biara di gunung ini, setiap hari
membaca kitab suci, pikiran akan jernih, hatin pun
mendapat penerangan. Tentu tak sukar akan mendapat
kesucian dan jalan mencapai kedewaan."
Mendengar itu wajah Yok Lan serentak berobah dan
berpaling memandang sukonya dengan pandang rawan.
Juga Li Kun terkejut, matanya berlinang-linang hendak
menitikkan airmata, ia mempunyai perasaan bahwa Gin
Liong sudah jemu akan dunia yang penuh lumpur kedosaan
ini. Diam2 iapun ber janji dalam hati, Apabila Gin Liong
benar hendak masuk menjadi murid biara, iapun akan
mencari sebuah biara yang sunyi dan menjadi rahib.
Saat itu mereka tiba di muka gunung, Ternyata gunung
itu walaupun tak berapa tinggi tetapi puncaknya tak kurang
dari seratusan tombak luasnya. Gunung penuh dengan
hutan pohon siong, Biara itupun sudah terlihat pintunya.
Memandang kemuka, lebih kurang setengah li jauhnya
tampak tiga orang tegak berjajar menghadang jalan.
Ketika memandang dengan seksama Gin Liong tertawa
dingin.
Yok Lanpun tahu bahwa yang di tengah itu adalah imam
tua bermuka bopeng yang berada di rumah makan tadi,
demikian pula yang dua. Tetapi yang seorang lagi ia belum
tahu.
Gin Liong bertiga hentikan kudanya pada jarak lima
tombak dari rombongan imam itu dan berseru: "Totiang
bertiga, mengapa tiada sebab apa2 menghadang jalan kami
?"
Imam tua bermuka bopeng itu memang Hian Leng loto,
segera ia menyahut: "Pinto Hian Leng telah menerima
perintah dari kepala biara Ki-he-kwan, Tiau Ing totiang
untuk menunggu tempat ini. Harap siau-sicu bertiga suka
singgah minum teh ke dalam biara."
Karena ingin cepat2 melanjutkan perjalanan, Gin Liong
segera memberi hormat: "Aku masih mempunyai urusan
penting, tak berani membuang waktu. Harap lotiang bertiga
suku menyampaikan terima kasih kami kepada kepala biara
Ki-he-kwan atas kebaikannya".
Hian Leng totiang tertawa: "Walaupun bagaimana
penting urusan sicu, namun kalau hanya berhenti sebentar
untuk minum teh, tentu tak akan menghambat perjalanan
sicu. Apalagi sicu bertiga menaiki kuda yang hebat, dalam
waktu singkat tentu dapat mencapai kota Ki-he-koan Tua
Ing totiang sudah lama mendengar sicu memiliki
kepandaian yang tinggi dan ilmu pedang yang tiada
tandingannya."
Li Kun tahu bahwa Hian Leng totiang hendak mengulur
waktu saja, maka iapun marah dan terus membentak :
"Tutup mulutmu"
Cepat ia mencabut pedang dan mendamprat pula: "Jelas
hendak menuntut balas pada peristiwa di lembah gunung
Hok san, mengapa pakai alasan suruh singgah ke dalam
biara. Kalau mempunyai kepandaian lekaslah engkau cabut
pedangmu, tak usah banyak bicara. Kalau merasa tak punya
kepandaian lebih baik kalian menyingkir jika masih ribut,
pedang Pek-soang-kiam ditanganku ini akan mengantar
jiwa kalian ke akhirat."
Mendengar nama pedang Pek-soang-kiam atau pedang
Salju-putih, berobahlah wajah Hian Leng seketika, ia tak
sangka bahwa nona jelita itu ternyata murid dari rahib tua
Liong San loni.
Gin Liong dan Yok Lanpun baru tahu kalau Li Kun
mempunyai pedang yang disebut Pek-soang kiam. Menilik
wajah Hian Leng berubah pucat, jelas pedang itu tentu
sebuah pedang pusaka yang hebat.
Imam Kong Beng dan Ceng Beng yang berdiri disisi
Hian Leng, sudah pucat, Matanya memandang kearah biara
Ka-hian-kwan di lereng gunung.
Hian Leng tertawa mengekeh.
"Heh... heh, kalian budak2 kecil berani membunuh dua
orang tianglo kami. Dendam itu tidak mungkin kami
maafkan. walaupun kepandaianku rendah, tapi aku tetap
hendak mengadu jiwa dengan kalian. Demikian pula kepala
dari biara Ki-he-kwan itu adalah sahabatku yang tak akan
memberi jalan kepada kalian."
Habis berkata ia terus mencabut pedang, Melihat itu Li
Kun makin marah, teriaknya:
"Aku tak mempunyai waktu untuk meladeni kalian,
Ayoh, majulah saja tiga orang serempak."
Mendengar itu Hian Leng tertawa nyaring. Sebaliknya
imam Ceng Beng dan Kong Beng makin pucat. Tetapi
karena Hian Leng sudah mengeluarkan pedang, terpaksa
kedua imam itupun mencabut pedangnya.
"Kalau kalian tak lekas menyerang, akulah yang akan
menyerang" seru Li Kun, seraya loncat turun dari kuda
terus dengan jurus Yan-swat-hui-hwa atau Salju-berlebar-
bunga-berhamburan, menyerang Hian Leng.
Kong Beng dan Ceng Beng membentak dan menyerang
dari kanan kiri, Sedang Hian Lengpun segera bergerak
maju.
Yok Laupun sudah loncat turun dari kuda, ia terkejut
karena ketiga imam itu benar2 maju bertiga, Berpaling ke
belakang dilihatnya Gin Liong masih tetap duduk diatas
kudanya.
Li Kun mendengus, ia segera mainkan jurus Ce-gwat-
kiau hui atau Bulan-bintang-beradu-cahaya, berpencar
menyongsong Kong Beng dan Ceng Beng. Karena tahu
akan kelihayan pedang si jelita. kedua imam itupun
menyurut mundur lima langkah.
Saat itu pedang Hian Leng lotopun sudah tiba di muka
Li Kun, Ternyata serangan pada kedua imam tadi hanya
suatu gerak kosong untuk memikat Hian Leng, Selekas
Hian Leng benar2 menyerang, Li Kun berteriak nyaring,
menengadahkan tubuh dan secepat kilat pedang segera
diganti dengan jurus It-cut-keng-thian atau Sebatang-tiang-
menyanggah-langit.
Rupanya Hian Leng memang benar2 hendak mengadu
jiwa, Dia tak mau meroboh jurusnya, Tring, pedangnyapun
segera terpapas kutung, Tetapi sedikitpun imam tua itu tak
terkejut. Bahkan dengan meraung keras, tangannya
mengendap kebawah dan tusukkan kutungan pedang ke
perut sinona.
Dalam pada itu Kong Beng dan Ceng Beng tadipun
serempak membacok kedua bahu Li Kun, diserang dari tiga
jurusan itu, keadaan Li Kun memang berbahaya.
Gin Liong membentak keras terus loncat dari kuda,
sedang Yok Lanpun loncat menerjang.
Tiba2 Li Kun melengking keras. Tubuh condong ke
muka, menahan pedang kutung lawan dengan pedangnya
lalu dengan meminjam tenaga benturan itu, ia enjot
tubuhnya berjumpalitan kebelakang.
Gin Liong terkejut dan hentikan gerakannya Demikian
pula Yok Lan.
Karena penghindaran yang luar biasa dari Li Kun itu
maka bacokan Kong Beng dan Ceng Beng mengenai angin
kosong ,Tetapi Hian Leng tetap tak berhenti, dengan kalap
ia tetap menusuk kemuka. Sudah tentu kedua kawannya
menjerit kaget dan menangkis.
"Tring . ." mereka bertiga saling berhantam pedang
sendiri, Dan karena sama-2 menggunakan kekuatan,
benturan itu menyebabkan mata mereka berkunang-2. Dan
karena takut kalau Li Kun menyerang, cepat mereka
berputar diri lalu membolang-balingkan pedang kekanan
kiri.
Tiba2 pada saat itu dari lereng gunung terdengar sebuah
suitan nyaring, Mendengar itu semangat ketiga imam itu
bangun kembali.
Gin Liongpun memandang kearah gunung, Tampak
sesosok bayangan berlari secepat terbang menuruni gunung,
Ternyata yang datang itu seorang imam tua yang
rambutnya putih mengenakan jubah kelabu, punggungnya
menyanggul sebatang pedang.
Gin Liong cepat menduga bahwa imam itu tentulah
imam Tiau Ing, kepala dari biara Ki-he-kwan.
Pada saat imam Tiau Ing tiba di kaki gunung, dari arah
biara itupun segera muncul berpuluh imam jubah kelabu.
Saat itu Tiau Ing sudah melayang tiba di tengah Hian
Leng, Lebih dulu ia memandang muka muka Hian Leng
yang bengap karena saling bentur dengan kawannya sendiri
tadi.
"Kwan-cu", segera imam Hian Leng memberi
keterangan, "yang membunuh kedua tianglo dari
perguruanku tempo hari, ialah budak itu." ia menuding Gin
Liong yang berdiri diapit oleh dua nona.
Sejenak memandang Gin Liong bertiga, imam Tiau Ing
itu tertawa nyaring lalu berseru lantang:
"Kukira seorang manusia yang berkepala tiga berlengan
enam kiranya hanya seorang budak yang belum hilang bau
pupuknya."
Nadanya congkak sekali seolah tak memandang mata
kepada Gin Liong yang dapat merubuhkan dua orang
tianglo partai Kiong-lay-pay. Dengan sikapnya itu, orang
menduga ia tentu memiliki kepandaian yang sakti.
Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin: "Sebagai
kepala dari biara Ki-he-kwan, lotiang tentulah seorang
imam yang berilmu tinggi dan dapat membedakan
kejahatan dan kebaikan, salah dan benar. Melanggar
pantangan bagi kaum imam yakni temaha, congkak,
bohong."
Imam Tiau Ing cepat tertawa menukas.
"Budak yang tak kenal tingginya langit dalamnya lautan,
berani benar engkau menilai diriku!"
Li Kun tak sabar lagi. Tanpa menunggu imam itu
menyelesaikan kata2nya, ia terus tampil ke muka dan
menggeram, "Karena engkau memang seorang imam yang
tak mengerti nalar dan tak kenal sifat manusia, mengapa
banyak mulut. Lekas cabut pedangmu agar jangan banyak
pejalan yang keburu datang di tempat ini"
Imam tua Tiau Ing melihat bahwa di sekeliling tempat
itu memang telah banyak pejalan-2. Anak buah biara Ki-he-
kwanpun juga banyak yang datang, ia tertawa makin
angkuh.
"Sudah berpuluh tahun aku tak pernah menggunakan
pedangku Untuk melayani seorang budak perempuan
seperti dirimu, mengapa aku perlu memakai senjata"
Li Kun tak mau banyak bicara lagi. ia terus maju
menyerang Cepat dan dahsyat, dengan tertawa gelak2. Tiau
Ing kebutkan lengan jubah seraya menghindar ke samping.
Li Kun tertawa dingin. ia robah jurus ilmu pedangnya
dengan jurus Pok-coh-hun-coa atau Memukul-rumput-
mencari-ular, segulung sinar pedang segera berhamburan
menimpah lawan.
Baru kaki tegak, pedang sudah memburunya lagi, benar-
2 membuat imam tua itu terkejut.
Dengan membentak keras, ia menyurut mundur tiga
langkah, kemudian maju lagi merebut senjata lawan dengan
ilmu Gong jiu-peh-jiu atau dengan tangan kosong merebut
senjata.
Li Kun mendengus geram. Setelah menyalurkan tenaga-
dalam ke pedang, ia berturut-turut menyerang tiga kali.
Selama ini belum pernah kepala biara Ki-he-kwan itu
menyaksikan suatu ilmu pedang yang sedemikian hebatnya.
Apabila ia tak menguasai ilmu pedang dan pukulan,
mungkin saat itu perutnya sudah pecah berhamburan.
Tetapi Li Kun sendiri juga terkejut ketika tiga kali
serangannya itu musuh dapat menghindarnya, tak berani
memandang rendah lagi.
Juga Gin Liong yang terus memperhatikan pertempuran
itu, diapun juga terkejut melihat kepandaian ketua biara Ki
he-kwan itu. hanya dengan tangan kosong ia mampu
melayani serangan pedang Li Kun.
Sedangkan Yok Lan hanya tegak dengan cemas, ia kuatir
kalau imam itu menggunakan pedang, kemungkinan Li
Kun tentu kalah.
Bertempuran berjalan makin seru, bayangan pukulan
sederas hujan mencurah, sinar pedang bagaikan kilat
menyambar, walaupun dengan tangan kosong tetapi
tamparan lengan jubah Tiau Ing itu seperti gelombang
mendampar, secepat angin melanda.
Li Kunpun tak kurang gesitnya, ia berencana dengan
tangkap selincah burung sikalam Makin lama makin gagah
sehingga sukar untuk mengenali kedua orang itu.
Diam2 Yok Lan menimang bahwa setelah menghadapi
kelima imam, seharusnya beristirahat dulu, Diam2 ia
memutuskan untuk menggantikannya.
Setelah mengambil keputusan, diam2 ia segera
menghafalkan beberapa jurus ilmu pedang ajaran Hun Hu
siantiang. Setelah itu baru berseru: "Taci Kun, harap
beristirahat dulu, Biarlah aku yang menggantikan."
Sehabis berkata dengan gerak laksana burung hong, ia
melayang ke muka.
"Lan-moay, kembalilah . . .." Gin Liong berseru kaget.
Tetapi serempak dengan itu Hian Leng loto sudah
merebut pedang imam Kong Beng dan terus menerjang Yok
Lan. Nona itupun hentikan gerakannya, balikkan tangan
dan tusukkan ujung pedangnya ke batang pedang Hian
Leng.
Hian Leng mengerang tertahan karena pedangnya tersiak
ke samping. Secepat itu pula Yok Lan meneruskan
membacok siku lengan kanan lawan.
Hian Leng menjerit kaget, ia lepaskan pedang dan loncat
mundur, keringatnya bercucuran deras.
Setelah mengundurkan Hian Leng, Yok Lan-pun
lanjutkan gerakannya menerjang imam Tiau Ing. Melihat
kedatangannya, Tiau Ing tertawa gelak2.
"Ha, ha, bagus, aku hendak menguji sampai mana
kepandaian ilmu pedangmu !" serunya, ia tinggalkan Li
Kun dan lari menyongsong Yok Lan. juga seperti
menghadapi Li Kun, imam itu tetap menggunakan kibasan
lengan jubahnya.
Li Kun marah, dengan memekik nyaring ia hendak
menerjang lagi. tetapi saat itu Yok Lan malah
menghentikan permainan pedangnya, imam Tiau Ing
tertawa dingin, kedua tangannya menampar dengan cepat
kearah lengan dan bahu dara itu.
Gin Liong dan Li Kun terkejut. Keduanya serempak
menjerit kaget.
Melihat si dara tak menangkis pun tak meng hindar,
dengan mendegus geram Tiau Ing lanjutkan kedua
tangannya menjadi suatu pukulan yang sungguh2.
Dalam detik2 yang berbahaya itu, tiba2 Yok Lan
gerakkan pedang menusuk tenggorokan si imam.
Kecepatannya bagaikan kilat menyambar.
Tiau Ing terkejut sekali, Dengan gopoh ia kebutkan
lengan jubah seraya menyurut mundur. Tetapi Yok Lan tak
mau memberi kelonggaran lagi, ia loncat maju dan
menabas, cres . . . . lengan baju kepala biara Ki-he-kwan
seketika terpapas kutung.
Yok Lan hentikan serangannya dan berdiri tegak. Saat
itu baru Gin Liong dan Li Kun mengakui bahwa apa yang
diagungkan orang persilatan bahwa ilmu pedang Hun Hu
siantiang itu merajai dunia persilatan memang bukan suatu
pujian kosong.
Dua buah gerakan Yok Lan tadi, menunjukkan suatu
jurus ilmu pedang yang luar biasa, penuh perobahan yang
tak terduga, tenang laksana air telaga, cepat laksana kilat
menyambar, lincah bagai ular terkejut, ringan bagai daun
kering gugur di tanah. Sungguh suatu ilmu pedang yang
jarang terdapat didunia persilatan.
Hian Leng dan berpuluh anak murid biara Ki he-kwan,
terlongong-longong heran. Diam-2 mereka menggigil dalam
hati. Kepala biara Ki-he-kwan memiliki ilmu permainan
pedang dan pukulan yang hebat, jarang orang dapat
menandinginya.
Tetapi menghadapi seorang dara baju putih yang tak
terkenal, kepala biara itu dipaksa harus mengucurkan
keringat dingin.
Diantara orang2 yang berkerumun di jalan itu terdapat
juga orang2 persilatan. Tanpa disadari mereka berteriak
memuji.
Ketika imam Tiau Ing berdiri dan melihat jubahnya
terbabat rompal, seketika wajahnya membesi, jenggotnya
sampai gemetaran. Sepasang matanya memandang Yok
Lan dengan pandangan kejut keheranan.
Sesaat mendengar sorak sorai orang yang menyaksikan
pertempuran itu, Tiau Ing makin merah padam mukanya,
serentak ia menengadahkan kepala dan tertawa nyaring lalu
berseru dengan congkak.
"Selama aku menggunakan pedang, jarang aku bertemu
dengan orang yang mampu menandingi. Sejak berpuluh
tahun, tiada seorang yang mampu melayani pedangku
sampai sepuluh jurus."
Habis berkata ia memandang Gin Liong bertiga dan
berseru nyaring: "Diantara kalian bertiga barang siapa
mampu melayani aku sampai satu setengah jurus, kalian
bebas melanjutkan perjalanan..."
"Hm apakah engkau yakin dapat menghalangi kami"
tukas Li Kun yang marah terhadap kesombongan imam tua
itu.
Dengan mata memancar dendam, Tiau Ing memandang
ketiga anak muda itu lalu tertawa dingin. Kemudian
mengangkat tangannya dan tahu2 sudah mencabut pedang
dari bahunya.
Wajah Gin Liong berobah seketika, ia tahu bahwa
pedang imam itu sebuah pedang pusaka, ia meragu,
demikian pula Li Kun.
Tetapi Yok Lan yang sudah gemas segera menantang:
"Totiang sebagai seorang kepala biara, apa yang lotiang
ucapkan tentu dapat kita percaya. Baik, akulah yang akan
menerima pelajaran barang beberapa jurus dari lotiang . . ."
ia tersenyum-senyum sambil siapkan pedang, menunggu
serangan.
Kepala biara Ki-he-kwan sudah berpuluh tahun
meyakinkan ilmu pedang, Melihat sikap dara itu, seketika
berubah wajahnya. Dilihatnya dara itu mencekal pedang
lurus kemuka, semangat dan hawa murni telah dipusatkan
satu.
Kesemuanya itu merupakan sikap dari ilmu pedang
tingkat tinggi, Benar2 imam itu tak habis mengerti mengapa
dalam dunia persilatan telah muncul seorang dara yang
memiliki ilmu pedang sedemikian saktinya.
Diam-2 imam Tiau Ing mengeluh dalam hati karena
hilang kepercayaan pada dirinya, adakah ia mampu
memenangkan dara itu. seketika terlintas suatu pemikiran
dalam benaknya, ia tertawa gelak2, serunya:
"Jangan kuatir nona, pintu tak nanti menelan kata2 pinto
lagi. Asal engkau mampu melayani sampai sepuluh jurus,
pintu tentu akan melepaskan kalian bertiga."
Diam2 Yok Lan sudah dapat membaca isi hati lawan,
jika tadi imam itu mengatakan hanya satu setengah jurus,
sekarang dia menghendaki sepuluh jurus, tetapi sebagai
seorang dara yang masih berdarah panas, Yok Lan pun tak
menyangkal.
"Baiklah, janji telah kita sepakati, silahkan lotiang segera
mulai !"
Tiau Ing tertawa gelak, serunya: "Pinto sudah berumur
80 tahun. rambut sudah putih semua, sudah tentu tak layak
untuk menyerang lebih dulu, Engkaulah yang menyerang
lebih dulu !"
Walaupun nadanya tenang tapi wajah imam itu memang
tegang, kerut kesombongannya sudah tak terlihat lagi.
Mendengar Tiau Ing bermula menyebut diri sebagai
kwan-cu atau kepala biara kemudian turun dalam sebutan
pinto, tahulah Gin Liong dan Li Kun bahwa imam itu
sudah terdesak dalam keadaan sulit, ibarat orang naik di
punggung harimau.
Bahwa dalam sekali gebrak saja, dara baju putih itu
sudah dapat mengalahkan Hian Leng, tahulah Gin Liong
bahwa imam Tiau Ing itu sudah tak mempunyai harapan
untuk menang, ia hanya berharap tidak sampai kalah saja.
Yok Lan yang cerdas, cepat dapat mengetahui isi hati
kepala biara Ki he-kwan itu. ia tertawa hambar, sebelah
mengiakan ia terus taburkan pedangnya dalam jurus burung
hong-keluar-sarang. Dua sinar pedang sekali berhambur
mengarah kedua bahu Tiau Ing.
Kepala biara Ki-he-kwan itu menyadari bahwa hal itu ia
berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, ia tak
berani memandang rendah lagi, Diam2 ia segera kerahkan
tenaga-dalam kelengannya lalu mengalir ke batang pedang.
Dengan mengandalkan pedang pusakanya ia hendak
coba merebut kemenangan.
Selekas Yok Lan menyerang kedua bahunya, Tiau Ing
lalu gunakan jurus Hun-hoa-hud-liu untuk membabat
pedang dara itu.
Yok Lan menyaksikan selainkan cepat pun gerakan
pedang imam itu mengandung tenaga dalam yang kuat
sekali, Mau tak mau, iapun harus berhati-hati untuk
menghadapinya.
Berputar tubuh dan mengisar langkah, ia endapkan
pedang dan menabas pinggang lawan. Melihat dua buah
jurus yang dimainkan dara itu merupakan jurus biasa,
semangat Tiau Ing bangkit kembali, demikian pula dengan
kesombongannya-pun timbul.
Dengan membentak keras, tiba ia robah gerakan
pedangnya, Dengan ilmu pedang yang dipelajari selama
berpuluh tahun, ia segera melancarkan serangan yang deras
dan dahsyat. Setiap gerakan pedangnya tentu merupakan
serangan maut dan mematikan
Demikian terjadilah suatu pertempuran pedang yang
dahsyat dan mengagumkan Deru angin dan sinar pedang
yang menyilaukan mata. segera melihat tubuh Yok Lan
dalam lingkaran sinar pedang yang ketat.
Dalam kepungan sinar pedang maut itu, tak hentinya
mulut Yok Lan melengking dan menjerit mengiring
permainan pedangnya untuk menangkis, Beberapa saat
kemudian sinar pedang imam Tiau Ing itupun makin
menyurut sekalian orang yang menyaksikan pertempuran
itu terkejut sekali.
Di lain pihak pedang Yok Lan masih tetap melancar
bagaikan air bengawan yang mengalir tiada hentinya, Setiap
kali tentu terdengar suara mendering ketika ujung pedang
dara itu menutuk batang pedang lawannya.
Pedang kepala biara Ki-he-kwan itu makin lamban
gerakannya, gulungan sinarnyapun makin pudar, sambil
berlincahan ke kanan kiri, ia terus menerus terdesak
mundur Dari menyerang ia berbalik diserang habis-2 an
oleh sidara, sehingga keadaannya pontang panting tak
keruan.
Terdengar desuh dan desah disertai seruan tertahan dari
orang2 yang menyaksikan di tepi jalan Berpuluh-puluh
imam anak buah biara Ki-hian-kwan serempak berobah
pucat wajahnya dan berdebar-debar keras.
Tak kecewa kepala biara Kai-he-kwan itu sebagai
seorang jago pedang yang telah mempelajari ilmu pedang
selama berpuluh tahun walaupun terdesak dan berlincahan
menghindar mundur tetapi dia tetap dapat menutup diri
dengan ketat sedikitpun tak terpengaruh suara hiruk dari
penonton.
Tujuan Yok Lan hanialah menyelesaikan sepuluh jurus
dengan cepat. Tetapi karena lawan telah berganti dengan
sikap bertahan, maka iapun memperlambat serangannya.
Sebagai seorang jago pedang kawakan, sudah tentu
kepala biara Ki-he-kwan itu dapat mengetahui isi hati si
dara, Tetapi ia tak berdaya untuk merobah situasi karena
pedang si dara itu masih tetap melancar dengan ketat. tanpa
memberi kesempatan lawan untuk mengisi lubang
kelemahannya."
Demikian dalam beberapa kejap saja, pertempuran telah
berlangsung sepuluh jurus, Tiba-2 imam Tiau Ing tertawa
gelak2 dan terus loncat mundur sampai dua tombak.
Yok Lanpun hentikan pedangnya.
"Ilmu pedang totiang, benar2 jarang terdapat dalam
dunia, Terima kasih atas pelajaran berharga yang totiang
berikan." seru dara itu.
Puas tertawa, kepala biara Ki-he-kwan itu berseru
nyaring: "Selama berpuluh tahun, baru kali ini pinto
bertemu dengan orang yang mampu melayani pedang pinto
sampai sepuluh jurus."
Yok Lan geli dalam hati. Imam tua itu masih besar
mulut, tak menyadari bahwa sesungguhnya ia memang tak
mau menyerang lebih dahsyat lagi.
Kepala biara Ki-he-kwan berputar tubuh dan berseru
kepada anak buahnya: "Beri jalan dan pulang ke biara."
Selekas menyimpan pedang tanpa menunggu
penyahutan Yok Lan lagi, imam itu terus kebutkan lengan
jubah dan terbang lari ke lereng gunung.
Karena pemimpinnya sudah pergi, kawanan imam
itupun segera berbondong-bondong lari mengikuti.
Karena gelagatnya jelek, Hian Leng, Kong Beng dan
Ceng Beng ketiga imampun ikut rombongan mereka.
Yok Lanpun cepat mengajak Gin Liong dan Li Kun:
"Mari kita lekas pergi, orang2 berbondong-bondong
kemari."
Gin Liong dan Li Kun tertawa.
"Mereka sudah bubar, yang dari utara menuju ke selatan,
yang dari selatan menuju ke utara, Apabila lewat disini.
merekapun hanya ingin memandangmu sejenak." kata Li
Kun tertawa.
Demikian mereka bertiga segera naik kudanya pula, Saat
itu matahari sudah mulai condong ke barat, Diam-2 Gin
Liong berkata dalam hati: "Ah, mungkin akan terjadi
sesuatu lagi."
Berpaling ke belakang dilihat Li Kun berkuda di
belakang tetapi ketika memandang ke belakang lagi, ia
terkejut.
Di belakang ketiga ekor kuda mereka, tak berapa jauh
jaraknya, tampak seorang rahib menunggang seekor kuda
putih kembang. Rahib itu masih muda dan berparas cantik,
Usianya diantara dua-puluh empat - dua-puluh lima tahun,
mukanya berbentuk seperti buah tho kulit putih halus, alis
melengkung rebah seperti bulan tanggal satu, mata jeli
bersinar bening, bibir merekah merah, hidung mancung,
mulut mengulum senyum madu, menimbulkan kesan yang
memikat hati.
Rambutnya yang dikonde keatas menurut seorang rahib,
berhias dengan sebuah tusuk kundai kumala, jubahnya
berwarna kuning susu, mengenakan pakaian luar warna
jambon. Bahu menyanggul sebatang hud-tim atau kebut
pertapaan. Ia memandang Gin Liong lekat2.
Tergetar hati Gin Liong ketika beradu pandang dengan
rahib muda itu. Wajahnya bertebar merah, Buru2 ia
tenangkan hati dan berkata kepada Li Kun.
"Taci Kun, hari sudah gelap, mari kita percepat
perjalanan."
Mereka bertiga segera mencongklangkan kuda lebih
pesat. Tetapi rahib itu masih tetap mengikuti
Tiba2 Gin Liong membaui tebaran angin yang
membawa bau harum yang aneh. Li Kun yang pertama
dapat mencium bau aneh itu,ia mendengus dan deliki mata
kepada rahib itu.
Sejak tadi Yok Lan tak memperhatikan soal rahib itu,
Ketika mendengar Li Kun mendengus geram, barulah ia
melihat rahib yang terus menerus memandang Gin Liong
itu.
Entah bagaimana hati Gin Liong makin berdebar keras,
ia tak berani memandang rahib itu lagi. Li Kun heran
melihat kegelisahan Gin Liong, Demikian pula Yok Lan.
Diam-2 Yok Lan menilai rahib itu. Seorang rahib itu
seorang biarawan yang sudah mensucikan diri.
Mengenakan pakaian warna yang begitu menyolok
sudahlah tidak pantas, Begitu pula naik seekor kuda yang
begitu tegar, ia mendapat kesan bahwa rahib itu tentu
seorang murid agama yang murtad.
"Taci Kun, mari kita cepatkan kuda !" karena muak, Yok
Lan segera mengajak Li Kun. Li Kun kembali mendengus
geram lalu melarikan kudanya.
Rahib itu memandang Li Kun lalu tertawa dingin,
walaupun mendengar, tetapi Li Kun dan Yok Lan tak ambil
peduli. Demi melanjutkan perjalanan keduanya tak mau
cari urusan.
Gin Liong tak mau melihat rahib itu, pun tak mau
memandang Li Kun, ia segera memacu kudanya.
Tiba2 rahib muda itu tertawa, serunya: "Siau-siangkong,
setelah mempunyai kawan perjalanan dua nona cantik, lalu
tak kenal lagi padaku?"
Mendengar itu Gin Liong tertegun. juga Yok Lan
terkesiap, Hanya Li Kun yang tak dapat menahan
kemarahannya lalu mendampratnya. "Sungguh tak tahu
malu, siapa yang kenal padamu ?"
Rahib cantik itupun berobah wajahnya dan menjawab
dengan nada dingin: "Entah siapa yang tak punya malu,
hm, tak tahu diri."
Sudah tentu Li Kun merah padam mukanya. Dengan
menjerit keras ia segera mencabut pedang Pek song-kiam.
Rupanya rahib cantik itu juga marah, serunya: "Hm,
kalau tak diberi sedikit pelajaran, engkau tentu belum kenal
kelihayanku " Habis berkata ia terus terjangkan kudanya
kemuka.
Orang-2 dijalan yang sudah terlanjur bubar memang
terus pergi. Tetapi yang belum berapa jauh, kembali lagi
untuk melihat ramai-ramai.
Melihat rahib itu melarikan kuda kearahnya, Li Kun
hentikan kuda, lintangkan pedang untuk menunggu.
Selekas tiba, rahib cantik itu segera mencabut hud-tim
lalu ditampar kearah dada Li Kun.
Li Kun benar2 marah terhadap tingkah rahib itu. Kuda
putih dikisarkan menghindar kesamping lalu diputar
kebelakang kuda si rahib, dengan diantar teriakan
melengking, ia balas menusuk rahib itu.
Rahib itu terkejut sehingga ia loncatkan kuda kemuka.
Kuda putih yang bernama si Putih milik Li Kun itu
memang seekor kuda yang tegar, ditambah pula Li Kun
mahir mengendarainya, Cepat ia pun memacu kudanya
memburu kemuka. Dengan jurus Pek hun kian jit atau
Menyingkap-awan-memandang-matahari, ia membabat
pinggang rahib itu.
Ketika berpaling terkejutlah rahib itu, Dengan
melengking keras ia ayun tubuhnya loncat dari kudanya
dan melayang ketempat kerumunan orang2 yang
menonton. Karena orang2 itu berjumlah banyak, Li Kun
tak leluasa mengejar, ia hentikan kuda dan mendamprat:
"Cis, tak tahu malu, tak pegang kesucian . . ."
Ternyata rahib cantik itu masih berada ditengah orang
banyak, Dengan santai ia menukas kata Li Kun:
"Perempuan hina, pada suatu hari engkau pasti akan kenal
keliehayan Biau Biau sian-kho tunggu saja !"
Saat itu Yok Lan menghampiri dan meminta Li Kun tak
usah meladeni rahib semacam itu, sedangkan Gin Liong
menganggap rahib itu tentu kurang waras pikirannya. Kalau
tidak masakan memanggil-manggil orang lelaki.
Demikian mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan
lagi.
"Adik Liong, apakah rahib itu benar2 kenal padamu ?"
tanya Li Kun.
"Eh, jangan omong sembarangan aku tak pernah
melihatnya," kata Gin Liong.
"Mengapa dia tahu engkau orang she Siau ?" Gin Liong
kerutkan dahi : "Ya, aneh, mengapa dia tahu she-ku ?"
Melihat sikap Gin Liong yang heran sendiri, Li Kunpun
tak mau mendesak lebih lanjut.
Dengan cepat mereka melalui tiga buah kota. Walaupun
ketiga ekor kuda mereka sudah basah kuyup dengan
keringat tetapi kecepatan larinya masih tak berkurang.
Saat itu matahari sudah tenggelam di sebelah berat.
Kabut malam mulai bertebar, jauh disebelah muka samar2
tampak pintu kota Lay- yang-koan.
"Taci Kun, lebih baik. kita ambil jalan besar saja, Kalau
mengambil jalan mengitar tentulah akan kehilangan jejak
Liong-li locianpwe."
Kedua nona itu setuju. Begitu mereka segera menuju ke
kota Lay-yang-koan. Empat buah lentera besar tergantung
pada pintu kota.
Memang Lay-yang-koan sebuah kota yang besar dan
ramai. Tiba dipintu utara, tampak prajurit penjaga pintu
siap dengan senjatanya.
Gin Liong bertiga turun dari kuda dan masuk kedalam
pintu, Melihat ketiga anak muda itu mengenakan pakaian
orang persilatan dan menyanggul pedang, segera penjaga itu
tahu kalau mereka tentu berasal dari daerah Kwan-gwa atau
luar perbatasan.
Demikian Gin Liong dan kedua kawannya terus masuk
ke dalam kota, Kota itu memang benar2 ramai, penuh
dengan toko2 dan orang2 yang berjalan memenuhi
sepanjang jalan. Kehidupan malam, tampak meriah.
"Siau siauhiap !" tiba2 terdengar seruan seseorang.
Li Kun dan Yok Lan terkejut lalu hentikan kuda dan
berpaling kearah suara itu. Diantara kerumun orang,
tampak seorang nona baju hijau tengah melambaikan
tangan ke arah Gin Liong.
Usia nona itu baru diantara enam belas-tujuh belas
berwajah cantik dan masih bersikap seperti kanak2.
Melihat Gin Liong terkejut tetapi tak menyahut, dara itu
berseru pula dengan kurang senang: "Siau siauhiap, apakah
engkau tak kenal padaku?"
Tak pernah Gin Liong menduga bahwa di kota itu ia
bakal bertemu dengan dara yang nakal, setelah tenangkan
diri ia tertawa:
"O, kiranya nona ik, bagaimana dengan kedua orang tua
nona ?"
Dara itu memang Ik Siu Ngo. Melihat Gin Liong sudah
mengenalinya, ia tertawa. "Mereka juga disini, berada
dirumah penginapan itu" ia menunjuk sebuah hotel di
belakangnya, Kemudian bertanya: "Siau siauhiap, apakah
engkau tak mau ber temu dengan ayah-bundaku? Mamah
tetap teringat kepadamu, ia mengatakan kau nakal tetapi
menyenangkan"
Gin Liongpun teringat akan peristiwa ia bersembunyi
dibalik batu untuk mempermainkan nenek Ban atau ibu dari
Siu Ngo tempo hari, ia pun tertawa geli.
"Nona Ik, sungguh menyesal sekali, karena kami masih
mempunyai urusan penting, terpaksa kami akan
melanjutkan perjalanan. Lain hari kami tentu akan
menemui locianpwe berdua," tiba2 Li Kun menyelutuk.
Gin Liong terkesiap, Terpaksa ia minta maaf kepada Siu
Ngo agar menyampaikan salam dan hormat kepada kedua
orang tuanya."
"Eh, mengapa engkau tak memperkenalkan ke dua nona
yang naik kuda itu kepadaku ?" Siu Ngo tertawa.
Gin Liong tertawa, Menunjuk pada Li Kun dan Yok
Lan, ia memperkenalkan : "lnilah nona Tio Li Kun dari
gunung Mo-thian-san. Dan ini adalah sumoayku Ki Yok
Lan"
Kepada kedua nona itu dengan tertawa kekanakan Siau
Ngo memberi hormat Li Kun dan Yok Lanpun balas
menghormat.
"Nona Ik" kata Yok Lan, "kami hendak melanjutkan
perjalanan ke selatan Apabila kalian juga ke selatan, kelak
kita tentu masih banyak kesempatan untuk berjumpa lagi"
Siu Ngo girang: "Baik, kalau begitu kelak kita pasti
berjumpa lagi. sekarang silahkan kalau kalian hendak
melanjutkan perjalanan."
Setelah minta diri, Gin Liong bertiga menuju kepintu
selatan sekeluarnya dari pintu kota itu. mereka tiba
disebuah hutan kecil yang gelap. Sekeliling penjuru sunyi
senyap, Tetapi pada jarak belasan li disebelah muka tampak
cahaya lampu berkelipan. Tentulah sebuah rumah makan.
Karena lapar mereka segera menuju ke tempat itu.
"Kita berhenti di rumah makan ini." kata Yok Lan
setelah tiba di tempat itu. Jongos cepat menyambut kuda
mereka.
Atas pertanyaan Gin Liong jongos menerangkan bahwa
kota ini adalah Lay-yang-koan. Dua belas li disebelah
selatannya adalah kota Lay-hok-tin.
Bertanya pula Gin Liong, apakah dalam beberapa hari
ini pernah kedatangan seorang li-hiap (pendekar wanita)
yang mengenakan mantel merah.
"Tak pernah terdapat lihiap semacam itu yang lalu
disini" menerangkan jongos.
Ternyata rumah makan itu juga sebuah rumah
penginapan Gin Liong menempati sebuah kamar dan Li
Kun berdua dengan Yok Lan sebuah kamar. Selesai makan
malam, merekapun masuk kamar masing2.
Tengah tidur, tiba2 Gin Liong dikejutkan oleh kesiur
angin halus dari kibaran pakaian ia terkejut, cepat turun
dari pembaringan terus membuka jendela dan loncat
kehalaman belakang lalu melayang keatas atap dan
bersembunyi ditempat gelap.
Memandang kesekeliling penjuru, ia melihat sesosok
bayangan kecil sedang berlompatan ke atap deretan kamar
di sebelah muka, Gerak orang itu hampir tak menimbulkan
suara apa2. Gin Liong terkejut atas kelihayan ilmu ginkang
orang itu. ia duga, orang itu tentu mempunyai maksud
tertentu.
Sejenak berhenti tiba2 bayangan itu lari kearah tempat
Gin Liong bersembunyi Sudah tentu Gin Liong kaget,
Buru2 ia menyurut kebalik talang.
Ah, ternyata bayangan itu bukan lain adalah rahib cantik
Biau Biau siankho siang tadi, seketika timbullah rasa muak
dan geram dalam hati Gin Liong.
Sambil berdiri di atas tembok halaman,
Matanya memandang lekat2 pada pintu kamar. Ketika
melihat pintu belum bertutup, wajahnya berseri girang,
Cepat ia melayang turun ke halaman dan sekali loncat ia
sudah berada di muka pintu.
Rahib itu mengintip kedalam kamar, hendak masuk tapi
ragu2. Tetapi akhirnya masuk jugalah ia.
Gin Liongpun cepat melayang turun ke halaman Dari
celah jendela ia mengintai dan melihat Biau Biau sian-kho
menghampiri tempat tidur. Wajahnya penuh memancar
hawa kecabulan
Seketika Gin Liong tahu apa maksud rahib itu. ia hendak
menghajar rahib itu tetapi tiba2 ia teringat akan ikrarnya
ketika di lembah gunung Hoksan, seketika hawa
pembunuhan, pun mengendap.
Tetapi ketika mendapatkan ranjang itu kosong Biau Biau
sian-kho kecewa sekali, wajahnya segera menampil
kemarahan. Cepat ia keluar dan melayang keatas rumah
pada deretan kiri. Gin Liong tetap bersembunyi di balik
talang.
Saat itu Biau Biau sian-kho menggunakan ilmu
bergelantungan kaki dikaitkan pada tiang penglari dan
kepala menjulai kebawah untuk melihat keadaan dalam
kamar itu.
Ternyata rahib cantik itu hendak mencari Gin Liong
tetapi karena tak dapat menemukannya terpaksa
mengangkat tubuh keatas atap lagi Ketika berpaling,
kejutnya bukan alang kepalang, pemuda yang dicarinya itu
ternyata tegak dibelakangnya.
Memang tadi setelah melihat gerak gerik rahib itu,
dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Gin Liong
loncat di belakang rahib itu.
Karena kejutnya, Piau Biau sian-kho menjerit dan
menyurut mundur, Tetapi alangkah kagetnya ketika
kakinya menginjak angin, ia tahu kalau akan jatuh maka
cepat ia kebutkan lengan baju dan selekas menginjak tanah
ia melayang lagi keatas atap rumah sebelah barat lalu lari.
Saat itu Li Kun dan Yok Lan berhamburan loncat keatas
wuwungan. Melihat Gin Liong memandang kemuka
dengan marah, kedua nona itupun memandang ke muka
juga. Dilihatnya Biau Biau sian-kho sudah melewati dua
deret kamar dan tengah melarikan diri ke arah barat.
Li Kun marah. Cepat ia loncat mengejar, Gin Liong dan
Yok Lan terpaksa menyusul. Tetapi melihat dirinya dikejar,
Biau Biau sian-kho mempercepat larinya, Dalam sekejab
mata sudah tiba di luar kota.
"Liong koko, mengapa engkau tadi tak menghadang
rahib itu ?" seru Yok Lan setengah heran melihat sikap Gin
Liong.
"Tak leluasa bertempur dalam kota, lebih baik
menghajarnya diluar kota." jawab Gin Liong, ia terus
pesatkan larinya mengejar rahib itu.
Tiba2 rahib itu berhenti, melengking dan taburkan
kebutnya ke arah Li Kun yang datang paling dulu, Li Kun
mendengus dingin, ia membabatkan pedangnya kearah
kebut rahib itu.
Melihat tadi Gin Liong tak turun tangan, Biau Biau Sian-
kho mempunyai tafsiran kalau pemuda im takkan
mencelakainya. Maka besarlah nyalinya, Berputar tubuh ia
menyelinap ke belakang Li Kun dan mengebut lengan nona
itu.
Li Kun sudah terlanjur membenci setengah mati kepada
rahib cabul itu, Dengan tangkas ia segera gunakan jurus
Heng-toan-kiang-ho atau Memotong-sungai-bengawan,
menabas pinggang Biau Biau sian-kho.
Rahib itu menggeliat mundur, kebutnya ditutukkan ke
muka Li Kun, Kembali Li Kun tertawa dingin, Sambil
condongkan kepala kesamping lalu menusuk, cret . .
pakaian bagian bawah dari Biau Biau sian-kho rompal,
Rahib itu menjerit kaget dan menyurut mundur.
Li Kun mengejar, pedangnya secepat kilat menabas
batang leher Biau Biau sian-khi.
"Taci, jangan membunuhnya . . " teriak Gin Liong. Li
Kun terkejut, gerakannyapun agak lambat dan rahib itupun
tundukkan kepala menyurut mundur, Cret . . sanggul
rambut rahib itu terpapas jatuh.
Serasa terbang semangat rahib itu, ia menjerit nyaring
dan lari kearah utara, Gin Liong, Yok Lan dan Li Kun tak
mau mengejar.
"Biau Biau sian-kho, harap engkau dapat merobah
kelakuan dan kembali ke jalan yang benar." seru Gin Liong.
Dari jauh kedengaran rahib itu berseru menjawab: "Hm,
jangan kalian pura2 menjadi orang baik. Pada suatu hari
aku tentu akan mencincang tubuh kalian".
Li Kun menggeram: "Rahib itu memang sudah gelap
pikiran, Lain kali kalau bertemu lagi, aku tak mau
mengampuninya."
Saat itu sudah lewat tengah malam. Lonceng genta di
kota berbunyi tiga kali, Tiba2 dari arah barat laut terdengar
derap kuda berlari cepat sekali dan tak berapa lama samar2
tampak empat sosok bayangan hitam lari mendatangi.
"Tengah malam berkuda melintasi hutan, tentulah
kawanan orang persilatan, Lebih baik kita bersembunyi."
kata Li Kun.
Ternyata keempat kuda itu memang sangat cepat sekali,
Dalam beberapa kejab, mereka sudah tiba pada jarak
puluhan tombak.
Gin Liong memandang ke sekeliling. Sepuluh tombak
disekeliling tempat itu tiada tempat untuk menyembunyikan
diri. Selagi ia masih meragu, keempat penunggang kuda itu
sudah tampak, Untuk menyembunyikan diri jelas sudah tak
keburu lagi.
Keempat ekor kuda itu tegar dan perkasa, berbulu hitam
dan putih, Keempat penunggangnya mengenakan pakaian
ringkas kaum persilatan. Yang dimuka, seorang tua
berumur 50 tahun, pendek gemuk, muka brewok, mulut dan
hidung besar, tulang keningnya menonjol, pertanda seorang
tokoh yang tinggi ilmu lwekangnya. punggungnya
menyanggul sepasang senjata poan-koan-pit, matanya
bersinar tajam sikapnya angkuh sekali. Dia tentulah
pemimpin dan rombongannya.
Sedang yang tiga orang, mengenakan pakaian persilatan
warna biru, rata-2 berwajah bengis. Yang disebelah kiri,
bertubuh kurus, muka kuning dan menyanggul pedang.
Yang di sebelah kanan, bermuka hitam, brewok dan
menyelip sepasang kapak pada pinggangnya Sedang orang
yang dibelakang, telinga kirinya hilang, pinggang menyelip
sebatang golok bian-to.
Secepat angin keempat penunggang kuda itu melewati
tempat Gin Liong. Mereka dapat pula untuk memandang
Gin Liong bertiga.
Untuk menyingkir dari taburan debu, Gin Liong bertiga
segera menyurut mundur sampai dua tombak. Melihat itu
ketiga penunggang kuda yang dibelakang tertawa gelak. Li
Kun marah, ia segera hendak mencabut pedang, Tetapi
sesaat itu terdengar lelaki bertelinga satu berseru.
"Yu thancu, menilik pakaiannya, seperti kawanan budak
yang diceritakan orang itu," katanya.
Orang tua pendek gemuk yang berada di muka
mendengus dan berpaling, hentikan kuda lalu berputar
kembali.
Gin Liong jengkel, ia tak ingin terlibat urusan tetapi
selalu dikejar-kejar urusan saja. Sedang Li Kun diam2
gembira karena ia memang muak dengan keempat
penunggang kuda nu. Tring, ia mencabut pedang.
Lebih kurang tujuh tombak jauhnya, keempat orang itu
loncat turun dari kuda lalu menghampiri ke tempat Gin
Liong. Orang tua itu tak mengacuhkan Li Kun yang sudah
menghunus pedang, ia berjalan dengan dada membusung.
Yok Lan cepat menduga bahwa keempat orang itu tentu
bukan orang baik. Sedang Gin Liong tetap tegak dengan
tenang, Hawa pembunuhan meluap, sesaat ia lupa akan
ikrarnya.
Setelah dekat, orang tua pendek gemuk itu berseru :
"Aku adalah thancu ketiga dari perkumpulan Thian-leng
kan, namaku Yu Ting Su bergelar Gun-se-poan-koan.
Menerima perintah kaucu, aku hendak mencari jejak orang
tua pemilik kaca wasiat yang konon berada dilembah
gunung Hok-sau. Menurut kabar2 yang tersiar di kota
Hoan-san-koan, kaca wasiat itu telah diberikan oleh seorang
pemuda baju putih yang membawa pedang, pemuda itu she
Siau nama Gin Liong."
Sejenak berhenti untuk memandang wajah Gin Liong,
orang tua pendek itu bertanya:
"Menilik pakaianmu tampaknya engkau mirip dengan
pemuda itu, Benar atau tidak, lekas engkau kasih tahu
kepadaku Aku hendak lekas2 pulang melapor pada kaucu."
Gin Liong tak sabar lagi melihat sikap dan kata2 orang
tua yang begitu congkak, cepat ia menyahut : "Benar,
memang akulah Siau Gin Liong."
Tiba2 lelaki yang bertelinga satu tertawa gelak2, serunya
: Yu thancu, bukankah pandanganku tepat ? Mohon thancu
memberi ijin kepadaku untuk menangkap budak itu."
Tanpa menunggu jawaban, dia terus melangkah maju
dan mencabut golok bian-to lalu ditaburkan menjadi
segulung sinar perak yang menyilaukan mata.
"Tio Hiangcu, tunggu dulu," seru Yi Ting Su. "biarlah
dia menyerahkan sendiri pusaka itu agar kita jangan
membuang waktu harus turun tangan."
Gin Liong marah sekali, ia tertawa nyaring: "Benar, kaca
wasiat itu memang berada padaku, jika kalian mampu,
silahkan mengambil."
Berobahlah wajah Yu ling Su seketika.
"Budak yang tak tahu tingginya gunung Thaysan,
Engkau berani bersikap kurang adat dihadapanku !"
Habis berkata ia terus memberi perintah kepada lelaki
bertelinga satu untuk menangkap Gin Liong.
"Budak," seru lelaki bertelinga satu, "jika raja Akhirat
memanggilmu tengah malam, siapa yang berani menahan
engkau sampai esok hari ? Engkau cari mati sendiri, jangan
persalahkan aku Tio toaya seorang ganas, Baiklah engkau
serahkan saja kaca wasiat itu agar jangan engkau menderita,
heh, heh . . ."
"Kalian telah ditipu orang." seru Yok Lan, "cobalah
kalian pikir, jika sekian banyak jago2 silat ternama tak
mampu memiliki kaca wasiat itu, bagaimana kita dapat
memperolehnya ?"
Lelaki bertelinga satu itu deliki mata.
"Tuanmu tiada waktu untuk adu lidah, lekas engkau
menyingkir !" serunya. ia terus membabatkan dengan golok.
Li Kun yang sejak tadi muak melihat tingkah laku
keempat orang itu, segera loncat menyongsong dan
membentak: "Siapa sudi bicara dengan engkau, enyahlah."
Li Kun menutup katanya dengan taburkan pedang ke
siku lengan lelaki bertelinga satu itu, walaupun tahu
permainan pedang nona itu lihay tetapi si lelaki bertelinga
satu tak menghiraukan Dengan tertawa dingin ia
menghindar lalu secepat kilat membacok bahu Li Kun.
Li Kun cepat merapat maju menusuk muka lawan,
Lelaki bertelinga satu itu menjerit kaget, ia tak menyangka
sinona dapat bergerak begitu cepat serentak ia menyurut
mundur. Tetapi Li Kun sudah dirangsang kemarahan.
Dengan tertawa geram ia tetap memburu maju dan
menabas.
"Aduh..." terdengar lelaki itu menjerit kesakitan karena
telinganya sebelah kanan terpapas jatuh, Dengan begitu ia
tak mempunyai telinga sama sekali, Lelaki itu kucurkan
keringat dingin.
Setelah memapas daun telinga, Li Kun tak mau
menyerang lagi, ia hanya tertawa dingin.
"Hm, kantong nasi yang tak berguna, masih berani cari
perkara" serunya.
Wajah Yu Ting Su berobah seketika, setitik pun ia tak
menyangka bahwa hanya satu gebrak saja, Tio hiangcu
sudah kehilangan daun telinga lagi.
Tiba2 kedua anak buahnya berteriak keras dan hendak
maju menyerang. Tetapi cepat Yi Ting Su mencegah:
"Kembalilah, kalian"
Kedua orang itu terpaksa hentikan langkah dan mundur
kembali.
"Kita hanya diperintah untuk menyelidiki jejak orang tua
itu, bukan untuk berkelahi. Tugas kita hanya melaporkan
kepada kaucu, jangan engkau kotorkan tangan berkelahi
dengan kawanan budak tak ternama." serunya, ia terus
berputar tu huh dan mengajak ketiga kawannya
menghampiri kuda.
Li Kun tertawa dingin: "Enak saja kalian ngomong,
mengatakan pergi terus mau angkat kaki begitu saja"
"Engkau mau apa ?" tiba2 kedua lelaki berputar tubuh
dan membentak.
"Sudah tentu meminta pertanggungan jawab kalian" seru
Li Kun,
Yu Ting Su menengadahkan kepala dan tertawa nyaring:
"Benar2 seorang budak perempuan yang bermulut besar
Aku tak mau cari perkara, kalian malah cari mati. Baik,
akan kusuruh engkau tahu kelihayanku."
Segera ia menghampiri Li Kun.
"Baik, akulah yang akan mencoba sampai dimana
kelihayanmu itu" seru Gin Liong.
Ilmu pedang Li Kun, Yu Ting Su sudah menyaksikan
tapi ia belum tahu sampai dimana kepandaian Gin Liong,
Dengan deliki mata ia segera hantamkan kedua tangannya
kearah pemuda itu. segulung angin dahsyat yang mampu
menghancurkan batu, segera melanda Gin Liong.
Pemuda itu tertawa dingin lalu menghindar kesamping,
menyelinap ke belakang Yi Ting Su. Tetapi baru ia berdiri
tegak, tiba2 lelaki yang bersenjata ruyung segera hantamkan
senjatanya ke kepala Gin Liong.
Gin Liong marah. Menghindar kesamping, dengan
menggembor keras ia gunakan jurus Liong-hok-song-hou
atau Naga-mendekam-sepasang-harimau, ia hantamkan
kedua tangannya kedua orang yang menyerang itu.
Bum . . lelaki bersenjata ruyung, mengerang tertahan,
terhuyung2 beberapa langkah lalu rubuh Lelaki bersenjata
kapak menjerit kaget karena kapaknya terlempar ke udara.
Maju selangkah Gin Liong menyusuli dengan sebuah
tamparan ke muka lelaki itu, Orang itu menjerit terhuyung2
dan muntahkan segumpal darah segar.
"Hai, budak, mengapa tak berani menyambut pukulanku
?" teriak Yu Ting Su, ia lontarkan sebuah hantaman dahsyat
pula.
Gin Liong tertawa nyaring. Setelah menghimpun tenaga-
dalam kearah lengan, ia segera menghantam.
Bum terdengar letupan keras disusul dengan hamburan
debu dan percikan batu yang bertebaran keempat penjuru.
Gin Liong tersurut dua langkah ke belakang, kedua
bahunya tergetar, sedang Yu Ting Su bergeliatan
meregang2 ketika tubuhnya terlempar ke belakang. Bum,
tubuhnya yang kate dan gemuk itu terbanting ke tanah,
jatuh terduduk.
Ketiga anak buahnya walaupun tahu, tetapi tak berani
menolong. Mereka takut kepada pukulan Gin Liong.
Wajah Yu Ting Su pucat, keringat dingin bercucuran,
pejamkan mata dan berusaha untuk mengambil pernapasan
Ketika mendapatkan tubuhnya tak menderita luka, ia
tercengang, Memandang ke muka dilihatnya Gin Liong
masih tegak berdiri dengan santai.
Yu Ting Su penasaran, serentak ia loncat bangun dan lari
menghantam Gin Liong : "Aku akan mengadu jiwa dengan
engkau"
"Hm, kalau sudah bosan hidup, akan kuantarkan ke
akhirat ." Gin Liong geram sekali melihat orang tua yang
tak tahu diri itu. ia menghindar terus menyelinap ke
belakang Yu Ting Su.
Tetapi rupanya Yu Ting Su sudah bersiap, cepat ia putar
tubuh, menggembor keras dan kakinya segera menyapu.
Gin Liong juga ingin menggunakan kaki, setelah
menghindar dari kaki lawan, ia mengirim tendangan yang
tepat mengenai pantat orang. Tubuh pendek gemuk dari Yu
Ting Su seperti bola yang ditendang melambung ke udara.
ia menjerit-jerit dan meluncur ke tempat ketiga kawannya.
Ketiga orang itu terkejut lalu beramai-ramai menanggapi
tubuh Yu Ting Su. Kemudian diletakkan di tanah.
Sambil mendekap pantat, Yu Ting Su meringis, pandang
matanya serasa kabur, kepala pening.
Melihat tingkah laku si pendek gemuk itu, Yok Lan
tertawa geli,
Sambil memandang kepada Gin Liong, Yu Ting Su
berseru: "Budak, kali ini aku mengaku kalah, Tetapi
janganlah kalian bergirang dulu, Pada suatu hari kalian
tentu harus merasakan kelihayan dari partai Thian leng-
kau."
Gin Liong tertawa hambar.
"Jangankan hanya gerombolan tak ternama seperti
Thian-leng-kau. sekalipun partai persilatan besar yang
manapun juga kalau tindakannya jahat, aku tentu akan
menggempurnya !"
Yu Ting Su marah tetapi ia terpaksa menahan diri,
serunya: "Apakah kalian berani datang ke gunung Ke-kong-
san ?"
"Gunung sekecil Ke-kong-san, masakan kami takut.
Hanya kalau aku kesana, dikuatirkan kalian tentu tiada
mempunyai batang kepala lagi."
Berhenti sejenak ia berseru dengan bengis: "Lekas kalian
enyah, Paling lama dalam waktu sebulan lagi, aku tentu
akan datang ke Ke-kong-san untuk meminta batang kepala
yang kutitipkan diatas tubuhmu itu."
Hampir pecah dada Yu Ting Sun mendengar kata2 itu.
Tubuhnya menggigil keras. Tetapi ia tak dapat berbuat
apa2, kecuali deliki mata lalu ngeluyur menghampiri kuda
dan terus kabur.
"Mari kita kembali rumah penginapan lagi." kata Yok
Lan.
"Dimanakah letak gunung Ke kong-san itu?" tanya Gin
Liong.
Tetapi kedua nona itu mengatakan tak tahu.
"Baik, besok kita tanyakan pada jongos rumah
penginapan," kata Gin Liong, Merekapun segera pulang.
Keesokan harinya, Gin Liong bertanya pada jongos
tentang gunung Ke-kong-san. Jongos itu gelagapan,
rupanya dia juga tak tahu.
"Hai, siapakah yang bertanya tentang gunung Ke-kong-
san itu ?" tiba2 terdengar suara orang berseru nyaring dari
sebuah kamar.
Seorang lelaki berwajah merah, kepala besar dan
mengenakan pakaian orang persilatan warna hijau muncul
dan tegak dengan sikap congkak diambang pintu sebuah
kamar. Tubuhnya kekar, tampaknya gagah perkasa.
"O, selamat pagi, toaya," kata jongos, "tuan inilah." ia
menunjuk Gin Liong.
Setelah memandang Gin Liong beberapa saat, orang itu
berkata: "Ke-kong-san terletak di karesidenan Kong-ciu-
koan propinsi Holam, dengan naik kuda yang tegar,
setengah hari dapat mencapai gunung itu."
Habis berkata ia terus masuk lagi kedalam kamar.
"Terima kasih, toaya," seru si jongos, Kemudian ia minta
Gin Liong kembali kedalam kamar, ia hendak
mempersiapkan kuda dan makanan pagi.
Sambil makan, Gin Liong menceritakan tentang orang
lelaki tegar yang memberitahu tentang letak gunung Ke-
kong-san tadi.
Demikian telah selesai membayar rekening, Gin Liong
bertiga segera keluar. Ketiga ekor kudapun sudah siap.
Ketika hendak pergi, Giu Liong bertanya kepada jongos
apakah dalam beberapa hari yang lalu, pernah melihat
seorang wanita muda baju merah yang tiba dikota sini.
"Ada !" seru jongos," bajunya merah, umurnya diantara
26-27 tahun . . ."
"Berapa lama?" cepat Gin Liong menukas, "Pagi tadi,
Rupanya semalam dia menginap dalam kota," kata jongos.
Mendengar itu girang Gin Liong bukan kepalang.
Hampir ia tak percaya apa yang didengarnya, Kalau malam
ini tak berhasil, besok pagi tentu dapat juga menyusul
Liong-li locianpwe Pikirnya.
Ketika melanjutkan perjalanan, hari masih pagi sekali,
Beberapa li jauhnya disebuah muka, terdapat sebuah
rumah. Samar2 mereka mendengar suara orang
membentak. Kemudian disusul dengan gelak tawa yang
nyaring.
"Liong suko," kata Yok Lan, "rasanya dalam hutan itu
terjadi pertempuran dari dua tokoh yang berilmu tinggi,
Lebih baik kita berjalan mengitari saja."
Gin Liong dan Li Kun setuju tetapi sekeliling tempat itu
hanya daerah persawahan. Kasihan kalau sampai
merusakkan sawah2 petani.
Memandang ke muka, Gin Liong melihat dua sosok
bayangan tengah berhantam dahsyat. Tiba2 terdengar suara
teriakan nyaring, Segulung asap tebal berhamburan dari
hutan itu dan kedua sosok tubuh itupun tercerai, terhuyung-
huyung. Rupanya keduanya habis beradu pukulan.
"Anjing, mengapa engkau terus menerus mengikuti
perjalananku seperti seekor lalat ? Apa maksudmu ?" seru
sebuah suara.
Gin Liong terkejut ia serasa kenal dengan nada suara itu.
Tetapi ia lupa.
Kembali terdengar suara orang itu tertawa keras.
"Tua bangka, engkau hendak mencari budak itu ? Terus
terang saja. tak semudah itu, Kalau aku tak bisa
mendapatkannya, jangan harap engkau-pun
memperolehnya !"
Orang itu tertawa pula.
"Soal ini hanya kita berdua yang tahu. Agar rahasia itu
jangan sampai ketahuan lain orang, salah satu dari kita
berdua harus mati"
"Anjing tua, mengapa engkau tak mau bunuh diri dulu ?"
bentak suara yang melengking tajam penuh kemarahan.
Tiba-2 suasana dalam hutan itu diam. Mungkin karena
mendengar derap lari ketiga ekor kuda Gin Liong dan
kedua nona.
Saat itu ketiga pemuda itu hanya terpisah setengah li dari
hutan. Tiba2 terdengar suara melengking tajam lagi: "Lekas
hadang, yang datang tiga ekor kuda bagus !".
Dua sosok tubuh meluncur keluar dan hutan dan
menghadang di tengah jalan.
"Hai kedua orang itu hendak merampas kuda kita." seru
Yok Lan, Li Kunpun cepat mencabut pedangnya.
Kembali kedua orang itu saling berebut "Tua bangka,
engkau sudah memiliki pedang pusaka Oh-kim-cek-bak-
kiam. Kali ini akulah yang berhak mendapat pedang
mereka."
Melihat kedua orang itu, Gin Liong mendengus geram:
"Kedua manusia jahat itu memang sukar diperbaiki kali ini
tak dapat diberi ampun lagi."
Ternyata kedua orang yang menghadang di tengah jalan
itu seorang imam tua dan seorang lelaki tua. Si imam
berwajah monyet, mulut lancip, mata kecil, mengenakan
jubah biru, mencekal sebatang hudtim bahunya menyanggul
sebatang pedang.
Sedang orang tua itu bermuka persegi, alis gombyok,
mata bundar, jenggot bercampur uban, mengenakan
pakaian biru langit.
Saat itu Li Kun dan Yok Lan sudah tiba pada jarak tujuh
tombak dari kedua orang itu, tetapi mereka tetap tak kenal,
Tetapi Gin Liong dapat mengenali mereka sebagai kepala
dari pulau Cui-leng-to dan pertapa Long Ya cinjin, ia
memberi isyarat agar kedua nona berhenti.
Melihat Gin Liong, kedua orang itu terkesiap lalu
tertawa gembira.
"Sungguh besar sekali rejeki kita, Menyusur ujung langit
tak ketemu, tanpa banyak membuang tenaga ternyata sudah
datang sendiri, Rupanya Kaca wasiat itu memang sudah
ditakdirkan menjadi milikku." seru Long Ya cinjin. ia terus
maju menghampiri Gin Liong.
Yok Lan heran mengapa begitu melihat Gin Liong
mereka terus tahu kalau Gin Liong memiliki kaca wasiat
itu.
"Tua bangka, berhenti." seru kepala pulau Cui-leng-to,
"tahukah engkau betapa hebat ilmu Meringankan-tubuh
dari budak itu ? Hati2, jangan sampai dia lolos lagi, Lebih
baik engkau terima usulku tadi. Lebih dulu kita berserekat
untuk menangkap budak itu lalu kita adu kesaktian lagi
siapa yang berhak hidup dan siapa yang pantas mati, untuk
menentukan siapa yang harus memiliki benda pusaka itu."
Long Ya cinjin keluarkan mata dan hentikan langkah.
Rupanya ia terpengaruh juga atas ucapan kepala pulau Cui-
leng-to.
Dengan masih naik kuda, Gin Liong muak terhadap
kedua manusia itu, Percuma saja ia hendak menasehati
mereka, Lebih baik ditindak dengan kekerasan ia segera
ajukan kuda menuju ke tempat Long Ya cinjin.
Bukan takut kebalikannya Long Ya malah tertawa
gembira karena ia mempunyai kesempatan untuk
merampas kaca wasiat dari Gin Liong. Kepala pulau Cui-
leng-to tahu isi hati Long Ya cinjin, ia segera berdiri
dibelakang cinjin itu. Jika dapat biarlah Long Ya bertempur
dengan Gin Liong dulu, baru ia nanti turun tangan untuk
menyelesaikan mereka.
Yok Lan segera mencabut pedang dan berdiri di samping
Li Kun, Karena melihat sikap Gin Liong yang begitu hati2,
kedua nona itu menduga musuh tentu tokoh yang berat.
Kepala pulau Cui-leng-to hanya tahu bahwa Gin Liong
hebat dalam ilmu ginkang. Tetapi ia tak tahu sampai
dimana kepandaian silat pemuda itu. Maka iapun tak
memandang mata terhadap Gin Liong.
Gin Liong tetap ajukan kudanya ke muka. Tiba-2 Long
Ya cinjin menggerakkan kedua tangannya mendorong
kearah Gin Liong Segulung dingin pukulan yang dahsyat
segera melanda dada pemuda itu.
Gin Liong mendengus dingin, iapun segera songsongkan
kedua tangannya kemuka, sebuah gelombang angin
pukulan yang dahsyat segera meluncur. Melihat itu kepala
pulau Cui-leng-lo terkejut cepat kebutkan lengan baju dan
melayang setombak ke samping.
Bum, terdengar letupan dahsyat, disusul dengan debu
dan batu yang beterbangan ke segenap penjuru, Long Ya
cinjin dan Gin Liong sama2 terhuyung mundur sampai tiga
langkah.
Secepat kilat kepala pulau Cui-leng-to segera melangkah
maju sambil mengendapkan tubuh dan membentak:
"Budak, sambutlah sebuah pukulanku lagi . . ."
Karena melihat Gin Liong yang baru berdiri tegak sudah
dihantam lagi, Yok Lan dan Li Kun melengking kaget.
Melihat itu Gin Liong marah sekali, bentaknya: "Apa
susahnya menerima sepuluh kali pukulanmu lagi !"
Ia gerakkan kedua tangan untuk melepaskan sebuah
tamparan yang dahsyat, Kembali terdengar letupan yang
disertai dengan debu dan percikan batu yang tebal.
Kepala pulau Cui-leng-to terhuyung mundur sampai
beberapa langkah, wajahnya merah padam
Tetapi Gin Liong juga terhuyung2 ke belakang, ia
merasa tenaga pukulan kepala pulau Cui-leng-to itu lebih
hebat dari Long Ya cinjin.
"Terima sebuah lagi !", Gin Liong berteriak dan
melangkah maju, Pada saat ia hendak menghantam tiba2 ia
dikejutkan oleh jerit teriakan keras. Ketika berpaling
dilihatnya Long Ya cinjin menerjang Yok Lan.
Rupanya hendak menjadikan nona itu sebagai sandera,
Cepat Gin Liong tinggalkan kepala pulau Cui-leng-to untuk
menyerang Long Ya cinjin.
Long Ya cinjin tertawa dingin lalu enjot tubuh melayang
beberapa tombak, Rupanya ia bermaksud hendak memikat
Gin Liong ke lain tempat.
Tepat pada saat itu kepala pulau Cui-leng to menyelinap
ke belakang Li Kun, terus menerkam bahu nona itu.
Yok Lan terkejut. Dengan melengking keras ia gunakan
jurus Pek-coa-tho sin atau Ular-putih menjulur lidah,
menusukkan ujung pedangnya ke siku lengan kanan kepala
pulau itu.
Tetapi kepala pulau Cui-leng-to tertawa dingin, tangan
yang sedianya diterkamkan ke bahu Li Kun secepat kilat
diputar, dengan tiga buah jari tangan ia menjepit batang
pedang Yok Lan.
Li Kun melengking seraya melangkah maju dan Yok
Lanpun cepat menarik pulang pedangnya, Gin Liong loncat
menerjang pertapa itu, Long Ya cinjin tertawa mengekeh
dan menghindar.
Walaupun Yok Lan cepat menarik pedang tetapi masih
kalah cepat dengan kepala pulau Cui-leng-to yang lebih
dulu berhasil menjepit pedang nona itu lalu sekali kerahkan
tenaga, pedang Yok Lanpun putus jadi dua. Kemudian
dengan tertawa keras, ia taburkan ujung kutungan pedang
kemuka Gin Liong.
Gin Liong mendengus geram, ia condongkan bahu ke
samping, lontaran kutungan pedang itu luput dan
menghantam Long Ya cinjin yang berada di belakang Gin
Liong.
Saat itu Long Ya cinjin memang hendak menerkam bahu
Gin Liong dari belakang, Terkaman luput ia tak sempat
memperhatikan lontaran pedang kepala pulau Cui-leng-to.
Untung ia masih dapat miringkan kepala sehingga hanya
jenggotnya yang terpapas habis, Ketika tangan merabah,
ternyata dagunya juga berdarah ia marah sekali.
Saat itu Gin Liong sudah menyerbu kepala pulau Cui-
leng-to sehingga orang itu kelabakan dan memekik-mekik.
ia menghantam kalang kabut sekuat tenaganya, Gin Liong
enjot tubuh melambung ke udara melampau kepala lawan.
Pada saat kepala pulau Cui-leng-to menengadah
memandang ke atas. dengan suatu gerak yang cepat dan tak
terduga-duga. Gin Liong dapat menangkap kedua siku
lengan lawan. Kepala pulau Cui-leng to berontak sekuat-
kuatnya.
"Enyah !" dengan meminjam tenaga dari kepala pulau
Cui leng-to itu. Gin Liong yang sudah turun ketanah segera
mendorong sekuatnya.
Tubuh kepala pulau Cui-leng-to itupun seperti layang2
putus tali, terlempar ke tempat Long Ya cinjin.
Pertama karena ingin merebut sendiri kaca wasiat yang
berada pada Gin Liong, Kedua, karena marah jenggotnya
ditabur kutungan pedang tadi, melihat kepala pulau
melayang ketempatnya Long Ya cinjin, diam2 mencabut
pedang dan selekas kepala pulau Cui leng-to tiba
dihadapannya, ia segera menabas pinggangnya.
Terdengar jeritan ngeri, diiring dengan hamburan darah
dan rubuhlah tubuh kepala pulau Cui leng-to. Karena
terpapas kutung menjadi dua . . .
Sehabis menyelesaikan kepala pulau Cui-leng to, Long
Ya cinjin tengadahkan kepala tertawa nyaring.
Nadanya penuh dengan kebanggaan dan keganasan yang
menyeramkan. Kumandangnya sampai jauh menyusup
kelangit....
Yok Lan dan Li Kun tercengang. Karena tak menduga
dan dilakukan cepat sekali Gin Liongpun tak sempat lagi
menolong kepala pulau Cui-leng-to
Gin Liong marah melihat sikap dan tindakan Long Ya
cinjin yang ganas dan sombong. Cepat ia menggerung dan
loncat menerjang.
Long Ya cinjin terkejut. Dengan menggembor keras ia
membabatkan pedangnya kearah Gin Liong.
Anak muda itu terkejut juga, Cepat ia loncat ke samping
sampai dua tombak, sekalipun demikian mukanya terasa
perih seperti tertusuk jarum karena dilanda angin pedang
lawan.
Long Ya cinjin tertawa bangga, setelah menyelipkan
hudtim ke belakang punggung, ia terus menghampiri Gin
Liong.
Gin Liong tak mau memberi hati lagi, Serentak iapun
mencabut pedang Tanduk Naga, seketika di sekeliling
tempat itu terbaur oleh cahaya merah.
Tanduk Naga, Oh-bak dan Pek-soang-kiam, tiga buah
pedang pusaka serempak muncul di tempat itu.
Sesaat pedang Tanduk Naga keluar maka pedang Oh-
bak-kiam atau pedang Hitam-mulus yang dipegang Long
Ya cinjin segera memancarkan dering yang melengking-
lengking. seketika berobahlah wajah Long Ya cinjin. ia
mengenali pedang Tanduk Naga itu sebagai pedang pusaka
nomor satu dari suku Biau, Langkahnyapun lambat dan
matanya memandang lekat2 pada pedang Gin Liong.
Kini Gin Liongpun maju menyongsong Long Ya cinjin,
ia anggap Long Ya itu seorang manusia ganas yang wajib
dilenyapkan.
Rupanya Long Ya cinjin hendak mendahului
menyerang. Dengan jurus Liong-hi-song-cia-tau Naga-
bermain-sepasang-mutiara, pedang Oh-bak-kiam segera
ditaburkan menusuk kedua bahu Gin Liong.
Tetapi pemuda itu secepat kilat melancarkan jurus Heng-
toan-kiang-ho atau membabat-sungai-bengawan.
Long Ya cinjin terkejut, sambil mengendapkan
tangannya yang hendak diserang lawan, ia terus meluncur
mundur sampai dua meter.
Tetapi Gin Liong tak mau memberi kelonggaran lagi.
Sret, sret, sret, ia maju dan menabas tiga arah, alis, lutut
kaki dan menusuk perut. Gerakan yang dahsyat dari pedang
Tanduk Naga itu diiring dengan deru angin yang keras.
Long Ya cinjin menjerit2 seraya berlincahan menghindar
kian kemari. Tetapi ia tampak sibuk sekali dan terdesak
mundur.
Setelah dapat menguasai lawan, Gin Liong
memperkembangkan permainan pedangnya makin gencar,
Membabat, menusuk dan menabas. Gerak pedangnya tak
ubah seperti arus sungai yang mengalir tiada putus2nya.
Long Ya cinjin hanya mengandalkan kelincahan untuk
bertahan diri, kecongkakannya lenyap, tubuhnya mandi
keringat.
Saat itu kaki Gin Liong kebetulan akan membentur
mayat kepala pulau Cui-leng-to. Dia harus berkisar
kesamping, pada saat ia melakukan gerak mengitar itu,
pedangnyapun agak lambat.
Kesempatan itu tak disia2kan Long Ya cinjin, cepat ia
lancarkan serangan. Sinar pedang hitam bertaburan
mengarah dada dan perut Gin Liong.
Keduanya sangat hati2 sekali kepada pedang nya, Maka
mereka tak mau membenturkan pedang dengan pedang
lawan karena kuatir akan merusakkan pedang pusakanya.
Oleh karena itu maka Gin Liongpun terpaksa harus
mundur.
-ooo0dw0ooo-

Bab 8
Menaklukkan Ceng Jun sian-ki

Walaupun dalam ilmu pedang, Li Kun telah mendapat


gemblengan dari Bong-san loni tetapi ia belum pernah
menyaksikan pertempuran pedang yang sedemikian
dahsyatnya, Diam2 ia mengakui bahwa ia masih kalah
dengan Long Ya cinjin.
Sementara Yok Lan yang mengikuti jalannya
pertempuran itu, hatinya gelisah sekali sehingga tangannya
berkeringat. ia sudah dapat mengetahui kelemahan dari
ilmu pedang Long Ya cinjin jika di lawan dengan ilmu
pedang ajaran Huan Ho sian-tiang, seharusnya tangan
kanan Long Ya tadi sudah terpapas kutung, ia gelisah
karena saat itu ia tak mempunyai pedang.
Tiba2 terdengar Gin Liong memekik keras dan pedang
Tanduk Naga menghindar ke samping untuk sengaja
membuka sebuah lubang kelemahan.
Sudah tentu Long Ya cinjin tak mau mensia-siakan
kesempatan itu, bagaikan kilat menyambar, pedang Oh-bak-
kiam segera menusuk perut pemuda itu.
Gin Liong menggembor keras dan tahu2 pedang Tanduk
Naga sudah tiba dileher lawan, Gerak lingkaran pedang itu
bukan olah2 cepatnya sehingga Long Ya cinjin menjerit
kaget dan meluncur mundur.
"Cret . . . ." secarik jubah yang terbuat dari sutera biru
terbabat rompal, serentak dengan jurus Sun-cui-hui-coh
pula maka Gin Liong pun menusuk dada cinjin itu.
Kali ini Long Ya cinjin rasakan semangatnya benar2
seperti terbang. Dengan memekik keras ia tabaskan
pedangnya, Dalam keadaan terdesak seperti saat itu, ia
nekad hendak mengadu pedang.
Gin Liong tahu maksud orang, ia tertawa keras,
mengendapkan pedang Tanduk Naga dan sekonyong-
konyong terdengarlah jerit Long Ya cinjin yang nyaring dan
ngeri.
Sinar hitam dari pedang Oh-bak-kiampun lenyap, pedang
itu terlempar ke udara karena tangan kanan Long Ya
terbabat kutung.
Tetapi Gin Liong sudah terlanjur mengumbar
kemarahan. Sekali pedang Tandu Naga berputar lagi maka
batang kepala Long Ya cinjinpun terlepas dari tubuhnya,
dan darah merah yang menyembur keras.
Sambil mengawasi tubuh Long Ya cinjin yang masih
berkelejotan, teringatlah Gin Liong akan kata2 orang tua
kurus di gunung Hoksan tempo hari.
"Dalam keadaan terpaksa membunuh orang, mungkin
engkau tak dapat menghindari lagi."
"Adik Lan," tiba2 Li Kun berseru gembira, "engkau yang
ambil pedang di tegalan dan aku yang akan mengambil
kerangkanya di tubuh imam jahat itu"
Yok Lan melesat ke tegal untuk menjemput pedang Oh-
bak-kiam yang sudah menancap hampir masuk semua ke
dalam tanah.
Kemudian setelah Yok Lan kembali dengan membawa
pedang itu, Li Kunpun sudah siap dengan kerangkanya.
Ketika dipadu dengan Tanduk Naga, ternyata pedang Oh-
bak-kiam itu hampir tak ada bedanya. Hanya kalau pedang
Oh-bak-kiam itu memancarkan sinar hitam, pedang Tanduk
Naga bersinar merah.
Ketika memeriksa kerangka, ternyata kerangka pedang
itu terdapat ukiran seekor naga terbang yang ditabur dengan
batu permata.
"Benda pusaka, senjata pusaka harus dimiliki orang yang
berbudi jika pedang ini jatuh ke tangan adik Lan, barulah
mendapat pemilik yang sesuai" kata Li Kun tertawa.
Tetapi Yok Lan menolak, Kemudian sambil memandang
ke mayat Long Ya cinjin, ia berkata lebih lanjut:
"Walaupun pedang ini hebat sekali tetapi aku tak suka
memakainya."
Li Kun heran tetapi Gin Liong tertawa, serunya: "Jika
adik Lan tak mau, kasih saja padaku".
Ia segera mengambil pedang dari Yok Lan dan kerangka
dan Li Kun. Tetapi Li Kun tak puas.
"Engkau sudah punya pedang Tanduk Naga mengapa
masih menginginkan Oh-bak-kiam lagi ?" serunya.
Gin Liong tertawa: "Sudah tentu pedang Tanduk Naga
pemberian Liong-li locianpwe itu dapat kuhaturkan kepada
Lan-moay."
"Tidak, itu pemberian dari Liong-li locianpwe
kepadamu." Yok Lan menolak.
"Tetapi engkoh Liong berhak juga memberikan
kepadamu," kata Li Kun tertawa, Tanpa berkata apa2 lagi
ia terus menyambar pedang Tanduk Naga dari punggung
Gin Liong lalu hendak dicabutnya, Tetapi karena dicabut,
kain pembalut kerangka pedangpun ikut terbuka, Dan
ketiga anak muda itupun terkejut.
Sejak menerima pedang Tanduk Naga, Gin Liong tak
pernah memeriksa dan disanggulkan dibelakang bahu, Kini
baru ia mengetahui bahwa kun pembungkus kerangka
pedang itu ternyata bertabur lukisan burung cenderawasih
dari batu permata.
"Ah. rupanya sudah kehendak Thian bahwa pedang ini
harus menjadi milik adik Lan" kata Li Kun gembira. ia
mencabut pedang itu dan seketika memancarlah sinar
gilang gemilang yang menyilaukan mata, Samar2 pedang
itu seperti mengulum dering suara.
"Aaah kedua pedang ini memang dicipta berpasangan."
akhirnya Li Kun menarik kesimpulan.
Merah wajah Yok Lan mendengar keterangan itu.
"Mungkin Cici Kun benar," kata Gin Liong, "baiklah
kita nanti tanyakan kepada Liong-li locianpwe, tetapi
Liong-li locianpwe mengatakan bahwa pedang Tanduk
Naga itu merupakan pedang nomor satu dari daerah
Biau...."
"Sudah tentu yang nomor satu," seru Li Kun, "karena
kata2 Ci Hiong (betina-jantan) itu, huruf Ci yang didepan,
baru Hiong, Sejak dulu orang mengatakan Ci hiong-kiam
bukan Hiong-ci-kiam."
Gin Liong dan Yok Lan tertawa, Tiba2 Gin Liong
berseru kaget: "Hujan !"
Merekapun cepat naik kuda lagi dan terus mencongklang
kedalam hutan, Hutan itu gelap sekali, Tak berapa lama
mereka dapat melintas keluar dari hutan itu. Hujanpun
mulai berkurang.
Mereka girang karena tak berapa jauh di sebelah depan
tampak sepercik sinar api. Segera mereka menuju ke tempat
itu, Ternyata percik sinar api itu berasal dari lereng sebuah
gunung karang, Dan mereka girang sekali setelah tiba
ditempat itu, mereka berhadapan dengan halaman sebuah
rimba panjang pohon liu, akhirnya mereka tiba di sebuah
pintu besar bercat merah. Belum sempat apa-apa, hujan
mencurah keras lagi. Terpaksa mereka larikan kuda naik ke
titian, menuduh dibawah payon pintu.
Ketika sepercik kilat memancar, mereka sempat
membaca papan nama yang tergantung diatas pintu,
seketika ketiga anak muda itu terkejut sampai menyurut
mundur setengah langkah.
Empat buah huruf besar warna merah yang tertera pada
papan nama itu berbunyi: Sian Ki Lok Wan atau Taman
hiburan dari dewa dewi.
Ditengah huruf2 itu tertancap empat batang badik yang
berkilau- kilauan, Ketiga ekor kuda itu pun terus menerus
mendesus tak tenang. Juga ketiga anak muda itu tak
tenteram perasaannya.
"Liong koko," seru Yok Lan pelahan," lebih baik kita
lekas lanjutkan perjalanan lagi. Tempat ini mungkin apa
yang disebut dunia persilatan sebagai Liu-to-hun jiu...."
Liu to-hun-jiu artinya meninggalkan golok hendak
membalas dendam.
Pembunuhan dalam dunia persilatan, kebanyakan
dilakukan secara menggelap, Masing2 fihak sering
membasmi juga orang yang mengetahui rahasia dirinya.
Kita tak boleh berada disini, agar jangan terlibat. Menilik
gelagatnya, orang yang mencari permusuhan itu tak sedikit
jumlahnya." kata Li Kun.
Sambil memandang tulisan di papan itu ia menyatakan
pula. "walaupun kita tak takut tetapi tiada gunanya kita
harus terlibat urusan mereka, Apalagi kita harus lekas2
mengejar jejak Liong-li locianpwe."
"Tetapi hujan lebat sekali, bagaimana kita akan
melanjutkan perjalanan ?" jawab Gin Liong.
Kedua gadis itupun terdiam. Memang hujan lebat sekali,
sukar untuk melakukan perjalanan. Sambil memandang ke
papan nama, berkatalah Gin Liong: "Rupanya orang yang
hendak mencari permusuhan itu sudah pergi dan
meninggalkan badik pada papan nama."
Baru berkata begitu, dari atas loteng pintu besar itu
berhamburan angin berbau anyir (amis).
Gin Liong terkejut dan menanyakan kedua nona apakah
juga mencium bau darah. Kedua itu mengangguk,
Ketiganya segera menarik kesimpulan bahwa pemilik
bangunan itu tentu bukan. juga mereka melihat sepasang
thong-hoan (gelang baja).
"Kemungkinan besar orang yang mencari balas itu
apakah sudah berhasil." kata Gin Liong.
Tetapi kecuali kilat yang menyambar, di sekeliling
penjuru itu sunyi senyap, Tiba2 Li Kun berteriak: "Lihatlah
!"
Menurutkan arah yang ditunjuk nona itu. Gin Liong dan
Yok Lan melihat di ujung pintu terdapat sebuah benda dan
ketika mereka menghampiri ternyata benda itu sebuah
tangan manusia yang kutung dan masih bercucuran darah.
Mereka anggap kesimpulan Gin Liong tadi benar, orang
yang menuntut batas itu tentu sudah berhasil dan pergi.
Mereka segera memasuki pintu itu. Ternyata merupakan
sebuah lorong panjang menuju kelereng gunung, sebelah
kiri dari lorong itu merupakan sebuah taman bunga yang
merentang sampai ke gunung, Di tengah taman bunga
dihias dengan gunung2an, pagoda dan cemara kate.
Saat itu- hujan sudah berhenti dan Yok Lan segera
mengajak melanjutkan perjalanan lagi, Tetapi saat itu Gin
Liong sudah loncat ke sebuah tikungan kiri.
Li Kun dan Yok Lan melihat di sebelah muka
menggeletak sesosok tubuh manusia tanpa kepala.
Keduanya terpaksa menghampiri ketempat Gin Liong,
Kepala orang itu terhampar di luar lorong, ditingpah air
hujan, Di pagoda kecil di tengah taman itupun seperti
terbaring dua sosok mayat, Ke tiga anak muda itu segera
menghampiri. Ternyata kedua mayat itu dari dua orang
gadis yang dadanya berlubang menganga lebar, mengerikan
sekali.
"Pembunuhnya benar2 seorang manusia ganas. Bahkan
dua orang gadis yang lemah, pun dijagal begitu kejam" kata
Gin Liong.
"Jika begitu jelas kita takkan menemukan manusia yang
hidup ditempat ini" kata Yok Lan.
"Begitulah tingkah orang persilatan. Untuk membasmi
saksi hidup mereka tentu mencabut sampai ke akarnya."
kata Li Kun.
"Kita masuk kedalam bangunan ini, mungkin masih
terdapat korban yang dapat kita tolong." kata Gin Liong
terus hendak loncat keluar dari pagoda kecil itu, tetapi tiba2
beberapa percik sinar penerangan di lereng gunung itu
padam semua sehingga suasana gelap sekali,
"Cepat, penjahat itu tentu masih berada digunung" seru
Gin Liong terus lari menuju ke lereng, Kedua nona itupun
mengikutinya.
Dalam beberapa kejap mereka sudah tiba di tengah
lereng. Mereka tak berani langsung menyerbu melainkan
bersembunyi dimuka sebuah gunungan palsu.
Di sebelah muka tampak sebuah ruang besar dimuka
ruang terbentang sebuah panggung yang lebar dan
berbentuk persegi, di atas panggung dikelilingi oleh pagar
batu dan bertingkat sampai belasan titian, Titian panggung
itu menuju kesebuah pintu besar mencapai ruang besar.
Di muka ruang besar itu penuh di hias dengan lentera
model keraton yang bergoncang2 tertiup angin. Ruang
gelap gelita, hanya tampak bayang2 lentera itu, Karena
letaknya tinggi, Gin Liong bertiga tak dapat melihat
keadaan ruang itu.
Gin Liong menjemput sekeping batu kecil lalu
dilontarkan ke arah ruang besar, Bluk, batu itu jatuh ke
tubuh manusia atau mungkin pada lembar kulit tebal.
Setelah tak ada reaksi apa2, Gin Liong melesat kemuka
panggung, serentak hidungnya terbaur bau anyir dari darah
manusia yang berasal dari ruang diatas.
Mereka bertiga segera mendaki naik ke arah pintu, Gin
Liong siap dengan pedang Oh-bak-kiam, Demikian pula
dengan Li Kun dan Yok Lan.
Ketiga pedang pusaka itu memancarkan sinar berkilat
yang menerangi sekitar tempat itu. Tetapi serempak itu Li
Kun dan Yok Lan menjerit dan mundur dua langkah,
Ternyata ruang besar itu penuh dengan tumpukan mayat.
Darah mengalir sampai keluar ruang.
Gemetar tubuh Gin Liong karena marah menyaksikan
pembunuhan terkutuk itu. Ternyata mayat2 itu terdiri dari
gadis2 berpakaian indah. Hanya terdapat empat lima orang
lelaki yang mengenakan baju bersulam benang emas,
Korban2 itu kebanyakan dada dan perutnya berhamburan
dan yang lelaki tangan dan kepalanya hilang.
"Ah, tak kira didunia terdapat manusia yang begini
kejamnya," Gin Liong menggeram, ia terus melangkah
masuk kedalam ruang, Yok Lan dan Li Kun melindungi
dibelakangnya, Mereka teruskan masuk ke dalam dan
mendorong pintu tengah. Tetapi tak melihat barang seorang
manusiapun juga.
Yok Lan mendapat akal, ia menyulut sebuah lentera
ternyata minyaknya habis.
Tiba2 mereka mendengar tebaran pakaian didera angin,
Setelah diperhatikan, ternyata bunyi itu berasal dari seorang
yang memiliki ilmu ginkang hebat tengah lari keatas
gunung, Menilik suaranya tentu bukan hanya seorang saja,
Entah siapa pendatang itu, lebih baik bersembunyi dulu,
Mereka bertiga segera bersembunyi dibalik pintu tengah.
Tetapi pada lain saat Gin Liong merasa, pendatang itu
tentu akan curiga dan tentu akan mudah mengetahui
persembunyiannya. ia hendak mendorong Yok Lan keluar
tetapi terlambat, Kawanan pendatang itu benar2 cepat
sekali, Mereka sudah memasuki ruang, Terpaksa Gin Liong
batalkan maksudnya.
Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar jeritan seorang
gadis, Ternyata dalam rombongan pendatang itu terdapat
juga seorang anak perempuan yang tentu ngeri melihat
pemandangan dalam ruang itu.
Yang datang ternyata tiga orang, Terdengar mereka
berbisik2 merundingkan rencana, Gin Liong hanya dapat
menangkap pembicaraan mereka terputus-2
Seorang bersuara kering kedengaran berbisik: . . jangan
kuatir . . kepandaian tinggi , . benda itu . . bukan tandingan
.
Seorang bernada dingin rupanya penasaran : " . . apabila
. . dan tak siap . ."
Gadis tadi menangis terisak-isak.
Orang bersuara parau seperti menghibur: " , . . . jangan
menangis . . . mereka . . . tidak disini. atau . . . kelain
tempat. . ."
Orang yang bersuara dingin tadi berkata : " . . . . ke lain ..
. menyelidiki . . . dapat. . . bertemu mereka."
Tetapi gadis itu rupanya bertabiat keras kepala, ia
menangis : "Tidak, aku akan .. . . melihat... tadi . . . , ada
lentera..."
Pembicaraan mereka terhenti dan suasana diluar
ruangpun sunyi lagi.
Tuk, tuk, tuk . . . terdengar tongkat besi mendebur lantai
disertai derap langkah kaki orang, Mereka memasuki ruang,
"Korek !" kata orang yang bersuara dingin, Pada lain saat
ruang itupun terang benderang, Terdengar orang bersuara
parau menghela napas.
"Hm, Golok-terhang Ui It Liong benar2 berhati buas
sekali ?" serunya.
Gin Liong terkejut, Rasanya ia pernah kenal dengan
nada suara orang itu, ia hendak menyiak tubuh Yok Lan
untuk melongok keluar, Tetapi saat itu ruang terdebur
tongkat dan langkah kakipun berderap-derap kian kemari.
"Budak perempuan, mana budak laki itu ?" seru orang
yang bersuara dingin.
Kini tak sangsi lagi Gin Liong siapa orang itu, cepat ia
berseru: "Apakah diluar itu bukan Ik locianpwe berdua ?"
Terdengar suara orang tertawa gelak2. Dia bukan lain
adalah Kaki-tunggal-bertongkat-besi Ik Bu It yang
menggetarkan wilayah Lulam.
"Bagus budak, mengapa engkau tak keluar dari tempat
persembunyianmu ? Budak perempuan kami selalu ribut
memikirkan dirimu kalau sampai dimakan oleh siluman2
rubah disini !" seru isterinya atau nenek Ban yang berlengan
satu.
Gin Liong tertawa lalu keluar bersama Yok Lan. Li Kun
juga ikut keluar, Melihat Gin Liong bertiga, gadis yang
menangis atau Siu Ngo segera tertawa. Ketiga nona itu
saling berpelukan girang.
Gin Liong perkenalkan Yok Lan dan Li Kun kepada
kedua suami isteri Ik Bu It. Setelah kedua nona itu memberi
hormat, Ik Bu It mengatakan bahwa mereka segera akan
melanjutkan perjalanan lagi.
"Diantara tumpukan korban2 ini tak terdapat siluman
rase itu, mungkin dia masih dapat lolos atau masih belum
pulang dari pengembaraannya," kata nenek Ban, ia terus
melangkah keluar
Atas pertanyaan Gin Liong, Ik Bu It mengatakan:
"Melintasi gunung karang, tujuh delapan li lagi kami akan
tiba di tempat itu."
"Ih, apa engkau hendak mengunjungi rumah Li Ka Tun
atau Li jenggot itu ?" seru nenek Ban.
Ik Bu It mengiakan. Kemudian ia mengajak ketiga anak
muda itu,
"Siau sauhiap, kalian naik kuda dan tunggu kami di jalan
besar, Kuda kami berada di kuil bawah gunung, Kami akan
mengambilnya dulu." kata Ik Bu It. la, isteri dan anaknya
segera lari menuju ke kaki gunung.
Demikian setelah bertemu di jalan besar lagi, mereka
segera bersama-sama melanjutkan perjalanan. Kuda Ik Bu
It dilarikan sepesat angin Melihat itu nenek Ban berkata
kepada Gin Liong : "Budak, aku hendak menguji sampai
dimana tenaga kudamu !"
Nenek itu dan Siu Ngo segera menconglangkan kudanya,
Gin Liong tersenyum lalu jalankan kudanya juga diikuti
Yok Lan dan Li Kun.
Nenek Ban tertawa gembira, Tetapi alangkah kejutnya
ketika berpaling ke belakang ia melihat kuda Gin Liong
sudah berada tiga tombaK dibelakangnya.
Nenek itu menggeram. ia memacu kudanya makin cepat,
Kuda suaminya, dilaluinya juga, Siu Ngo tertinggal di
belakang.
Yok Lan dan Li Kun tertawa melihat nenek Ban masih
beradat seperti orang muda yang ingin menang.
Gin Liong saat itupun sudah menyusul Siu Ngo tetapi
karena ia sungkan melampaui Ik Bu It, terpaksa ia
lambatkan kudanya.
Ik Bu It mendongkol karena dilampaui isterinya.
"Hai, perempuan tua. engkau gila ? Hati-hati kusambar
pinggangmu !" serunya,
Tar, ia terus mencambuk kudanya, Bagai anak panah
dilepas dari busur, kuda Ik Bu It segera meluncur kearah
kuda nenek Ban.
Enam ekor kuda tegar seolah berlomba dan dalam
beberapa kejab saja mereka sudah beberapa li jauhnya dari
gunung karang itu, Beberapa li disebelah muka samar2
tampak sebuah perkampungan Tetapi kakek ik Bu It masih
ngotot melarikan kudanya. Dan belum satu li, ia sudah
dapat menyusul kuda isterinya. Ketika berpaling dan
melihat Gin Liong masih dibelakang ia tertawa.
Mereka segera memasuki perkampungan itu.
"Kepala desa disini sahabatku lama, Seorang yang jujur
dan suka blak-blakan, Karena memiliki jenggot lebat orang
menggelarinya sebagai Li Jenggot terbang . . ."
Saat itu mereka tiba di muka pintu, Nenek Ban pesan
supaya Gin Liong bertiga menunggu di luar pintu, habis
berkata nenek itu terus menghampiri pintu dan mendebur
dengan tongkatnya.
"Hai, kalau masuk semua saja masuk, jangan engkau
seorang diri saja," seru Ik Bu It seraya turun dari kuda. Siu
Ngopun mengikuti.
Begitu pintu didebur, terdengarlah suara sahutan seorang
pemuda.
"Lekas keluar menyambut kuda kami !" bentak nenek
Ban seraya menyerang dengan tongkatnya.
Rupanya pemuda baju hitam sudah tahu siapa yang
datang. Sambil menghindar ia berseru girang: "Ah, kiranya
Ik toama . . . ."
Tetapi nenek Ban sudah menyapukan tongkatnya ke
perut sehingga pemuda itu terkejut dan loncat mundur lagi.
"Li Cun koko, lekas turut perintah mamah, bawalah
kuda ke samping gedungmu !" teriak Siu Ngo kepada
pemuda baju hitam itu,
Melihat dara itu, gembira sekali pemuda baju hitam itu,
Dari dalam ruang memancar sinar lampu dan serentak
terdengar seorang nenek yang kuat nadanya : "Apakah Ban
lomoay yang datang ? hayo. lekas keluar !"
Pintu terbuka dan seorang lelaki tua berjanggut lebat dan
seorang nenek muncul keluar.
Kakek itu bermata bundar, wajah hitam dan
mengenakan pakaian warna hitam sehingga tampak
menyeramkan, sedang si nenek bertubuh kurus rambut agak
kusut.
Ik Bu It dan nenek Ban serempak tertawa gelak2:
"Malam ini akan kuperkenalkan tiga tetamu kepada kalian."
Demikian Gin Liong dan kedua nona, diperkenalkan
kepada tuan rumah, Tuan rumah mengajak tetamunya
masuk kedalam. Setelah duduk, maka si Jenggot-terbang Ki
Heng bertanya:
"Tok gan lote, mengapa pada saat begini engkau baru
datang kemari ? Apakah terjadi sesuatu di tengah jalan ?"
Ik Bu It tertawa: "Karena aku hendak memberi tahu
tentang suatu peristiwa yang mengejutkan kepadamu."
"Istana Sian-ki wan di gunung karang itu telah dibasmi
oleh Golok-terbang Ui It Liong, apakah tidak mengejutkan
?" seru nenek Ban.
"Benarkah itu ?" suami isteri Li Heng terkejut.
Gin Liong segera menuturkan peristiwa yang dilihatnya
dalam Sian-ki-wan itu. Li Heng menghela napas: "Ah,
Golok-terbang Ui It Liong memang terlalu ganas sekali."
Tiba2 pemuda baju hitam tadi muncul, Nenek Ban
segera memperkenalkan pemuda itu kepada Gin Liong
bertiga.
Sejenak memandang pemuda baju hitam. nenek Li
segera berkata dengan hati longgar: "setelah Hian-ki-wan
diobrak-abrik, Ah Cunpun tak perlu bersembunyi dalam
rumah lagi."
Gin Liong heran, ia hendak bertanya tetapi nenek Ban
sudah mendahului tertawa, serunya "Jangan bergirang dulu
kalian ini."sekalipun sarangnya diobrak-abrik, tetapi
siluman rase itu masih hidup."
"Siapakah yang Ban locianpwe sebut sebagai siluman
rase itu?" Gin Liong bertanya.
"Budak, apakah engkau benar2 tak tahu?" nenek Ban
balas bertanya.
"Siau siauhiap," seru kakek Ik Bu It, "apakah engkau tak
tahu bahwa ditiga wilayah Ik, Lu dan Wan (propinsi
Holam-Hopak, Shoatang, An-hwe) telah muncul tiga
mahluk indah ?"
Gin Liong mengatakan bahwa dia baru saja turun
gunung tak tahu pedalaman apa2.
"Ketiga mahluk cantik itu, yang satu adalah Dewi
Bayangan, yang seorang Bian sian-kho dan yang ketiga
ialah kepala dari Sian-ki-wan yakni Ceng Jun sian-ki . . .."
Melihat wajah Gin Liong agak berkerut, Ik Bu It
bertanya: " Eh, apakah Siau siauhiap sudah pernah
berjumpa dengan Ceng Jun sianki ?"
Merah muka Gin Liong, serunya: "Tidak, tetapi pernah
bertemu dengan Dewi Bayangan dan Biau Bian siankho . .
."
"Eh, budak, kalau melihat wajahmu merah, mungkin
engkau pernah menderita sesuatu dari siluman-siluman rase
itu," seru nenek Ban.
Teringat akan peristiwa Dewi Bayangan, seketika
meluaplah kemarahan Gin Liong sehingga hawa
pembunuhan menampil pada wajahnya. Suami isteri Li
Heng terkejut dan diam2 memuji anakmu itu benar2
memiliki ilmu tenaga-dalam yang hebat.
Melihat sikap Gin Liong, nenek Banpun terkejut dan tak
berani bertanya lebih lanjut.
"Siau siauhiap, dimanakah engkau berjumpah dengan
Dewi Bayangan dan Biau siankho?" tanya kakek Ik Bu It.
Gin Liong menyadari kalau ia terlanjur tak dapat
menekan emosi, maka buru2 ia menenangkan perasaannya
dan berkata: "Ketika bermalam di rumah Suma Tiong
tayhiap, aku pernah bertemu dengan Dewi Bayangan.
Karena tak tahu bahwa wanita itu banyak dosanya, maka
telah kubiarkan lolos, Dan ketika di biara Ki-he-kwan telah
bertemu dengan Biau Biau siankho . . . ."
Li Heng menghela napas.
"ilmu Bi-jin-sut (make up atau berhias) dari Biau Biau
siankho memang lihay sekali. lebih lihay dan ilmu Loan-sin
biang (harum pemabuk semangat) dari Ceng Jun sianki dan
Bi-lim-poh (sapu tangan pengikat jiwa) dari Dewi
Bayangan, Entah berapa banyak jago2 silat yang telan
terpikat oleh wanita itu sehingga hancur namanya."
"Rasanya mereka tak perlu disayangkan," kata nyonya li
Li Heng, "walaupun Biau Biau siankho memang lihay,
tetapi asal hatimu lurus dan bersih, ilmu Bi-jin-sutnya tentu
tak mempan."
Li Heng dan Ik Bu It mempunyai kelemahan yang sama.
Keduanya takut isteri.
Nenek Ban juga ikut bicara: "Biau Biau siankho ibarat
tukang pancing ikan. Siapa yang mau dipancing, itu
salahnya sendiri."
"Tetapi sampai dimanakah kelihayan dari bau wangi
Loan-sin-hiang itu ?" tanya Gin Liong.
Sebelum Ik Bu It menyahut, Li Heng sudah mendahului
memberi keterangan: "Jika kelak Siau siauhiap bertempur
dengan Ceng Jun sianki, jangan sampai siauhiap kalah
angin kalau tidak apa bila terkena racun dari Loan-sin-hiang
itu, tentulah . . "
"Tentu bagaimana ?" desak Gin Liong.
"Kesadaran pikiranmu tentu limbung dan terus
mengikuti dia, pasrah diri akan diapakan saja olehnya",
kata Ik Bu It tertawa gelak2.
Gin Liong teringat akan sapu dari Dewi Bayangan yang
membangkitkan rangsang nafsu, iapun segera berkata: "Jika
berhadapan dengan Ceng Jun sianki, kita harus menutup
pernapasan"
Li Heng dan Ik Bu It tertawa gelak2.
"Loan-sin-hiang dari Ceng Jun sianki itu tak
mengeluarkan suatu bau apa dan tak berwarna, ia
melancarkan serangan dikala engkau lengah. Asal dia
berada di atas angin atau memikat engkau dengan
pembicaraan dan senyuman, tanpa engkau sadari, dia telah
melancarkan serangan Loan-sin-hiang" kata Li Heng.
"Dengan begitu Loan-sin-hiang dari wanita siluman itu
merupakan senjata yang tiada tandingnya di dunia
persilatan ?" tanya Li Kun.
"Loan-sin-hiang itu memang aneh, terhadap kaum
wanita tidak dapat mengeluarkan khasiat, terhadap orang
tua yang sudah berumur tujuh puluhan tahunpun tak
mempan.
"Jika demikian, mengapa para cianpwe tidak bersatu
untuk membasmi kawanan siluman itu ?" tanya Yok Lan.
"Ah, nona Yok Lan belum tahu," sahut nenek Ban,
"ketiga siluman itu selain memiliki senjata lihay juga
berkepandaian tinggi sekali, Jago2 silat biasa tentu sukar
mengalahkannya, paling banyak hanya dapat melayani
sampai sepuluh jurus saja."
Sejenak melirik pada Li Kun, berkata pula nenek itu :
"Bukan aku menjunjung junjung siluman itu tetapi apabila
nona berdua bertemu mereka, baiklah menghindari supaya
jangan sampai bertempur dengan mereka saja."
Tahu bahwa nenek itu memang bersungguh hati
memberi nasihat, Yok Lanpun menghaturkan terima kasih,
Tetapi Li Kun yang berhati tinggi, wajahnya pucat dan
tubuh menggigil karena menahan kemarahan.
"Lo-moay." seru nenek li dengan cepat, "kalau engkau
mengatakan siluman rasa itu lihay sekali, mengapa kalian
bersama rombongan, Siau siauhiap berani memasuki
serangannya di Siang-ki wan ?"
Kemudian menunjuk pada Ik Bu It, ia berseru pula
dengan tertawa: "Apakah engkau tak takut milikmu yang
tua akan hilang, bukankah Tokgan be belum tujuh puluh
tahun umurnya ?"
Terdengar orang tertawa gelak2.
"Kita hanya menguatirkan Siau sihiap kalau sampai
dicelakai siluman rase itu, barulah kami bergegas-gegas
menyusulnya."
"O, kalian tidak bersama-sama Siau siauhiap ?" tanya
nyonya Li Heng.
Gin Liong lalu menuturkan pengalamannya, Tiba2 ia
hentikan penuturannya dan memberi isyarat agar sekalian
orang diam.
Saat itu terdengar sebuah suitan panjang yang berasal
dari tempat sejauh tujuh delapan li. Rupanya kumandang
suara suitan itu pelahan-lahan menuju ke rumah kediaman
Li Heng.
Li Heng segera memadamkan lampu, loncat keluar dan
terus melambung ke atas rumah. Gin Liong dan sekalian
orangpun segera menyusul tindakan tuan rumah.
Gin Liong melihat wajah suami isteri Li Heng tegang
sekali demikian pula Ik Bu It dan nenek Ban. Dan suitan itu
terus menerus berkumandang di angkasa, menghampiri ke
tempat kediaman Li Heng.
Tiba2 Gin Liong berkata kepada pemuda baju hitam:
"Saudara Li, dimanakah kuda kami ? Harap saudara bawa
kemari."
Sekalian orang terkejut dan memandang Gin Liong,
Pemuda itu menjelaskan: "Yang datang itu tentulah orang2
dari Sian-ki-wan yang setelah tahu sarangnya dibasmi
habis2an, mereka lalu mengejar kemari, Kita harus
menyongsong di luar perkampungan agar jangan
melibatkan Li locianpwe."
Sekalian orang menyetujui dan nenek Banpun segera
memerintahkan pemuda baju hitam untuk lekas2
mengeluarkan kuda mereka, Bahkan Gin Li-ong, Yok Lan
dan Li Kun segera mengikuti pemuda baju hitam itu untuk
mengambil kuda. Ik Bu It dan Siu Ngo juga menyusul.
Begitu tiba di kandang kuda, nenek Ban sudah
mencongklangkan kudanya menerobos dari rumah
belakang. Kemudian Ik Bu It dan Siu Ngo. Gin Liong
bertiga cepat loncat ke kuda masing2 dan melarikan
menyusul kedua suami isteri Ik Bu It.
Ketika Gin Liong bertiga tiba di luar desa tampak nenek
Ban sudah turun dari kudanya dan tegak berdiri di bawah
sebatang pohon, Ik Bu It pun menambatkan kuda berdiri di
dekat isterinya, sedang Siu Ngo tegak disamping ayahnya.
Saat itu suara suitan sudah berhenti. Pada saat Gin
Liong bertigapun sudah loncat dari kudanya dan
menghampiri mereka, Kini mereka berdelapan tegak
menunggu kedatangan orang yang bersuit itu dengan penuh
pertanyaan, lawankah atau kawan.
Pada saat itu segera terdengar kibaran pakaian dideru
angin, Nenek Ban serentak bersiap dengan tongkat kepala
burung hong.
Ternyata yang datang itu hanialah Li Heng dan isteri
serta puteranya. Mereka segera bertanya apakah musuh
sudah datang.
"Belum," sahut Ik Bu It, "nanti apabila terjadi
pertempuran harap saudara Li berdua dengan putera
bersembunyi di tempat gelap"
Tetapi sampai beberapa saat suasana masih tetap sunyi,
Yang terdengar hanya lolong kawanan anjing di
perkampungan.
"Oh, mungkin karena takut kepadamu, mereka tak jadi
datang kemari, "nyonyah Li Heng berseru dan tertawa
kepada nenek Ban.
Li Hengpun mengatakan bahwa karena hari sudah
hampir terang tanah, lebih baik mereka kembali ke
rumahnya untuk makan pagi. Tetapi Gin Liong dan kedua
nona menolak karena hendak melanjutkan perjalanan. Juga
Ik Bu It mengatakan memang Gin Liong mempunyai
urusan penting yang harus segera diselesaikan
"Hendak kemanakah Siau siauhiap ini ?" tanya Li Heng,
"Untuk membalas dendam kematian suhuku, aku
hendak memburu jejak seseorang, maka sukar untuk
menentukan arah yang hendak kutuju." Gin Liong memberi
keterangan Dan Li Hengpun dapat mengerti
"Nona Yok Lan, kalian hendak menempuh jalan mana
saja ?" tanya nenek Ban kepada Yok Lan.
"Lebih dulu ke Ciau-koan lalu ke gunung Cin-san,
setelah itu baru menentukan arah yang akan kita tempuh,"
sahut Yok Lan.
"Jika begitu kita seperjalanan. Kami juga pulang ke
Thay-san" seru Siu Ngo gembira.
Yok Lan tak keberatan. Demikian mereka berenam
segera berangkat Pada waktu terang tanah, mereka melihat
sebuah kota di sebelah depan, kira2 hanya beberapa li
jauhnya.
Ik Bu It menerangkan bahwa mereka lebih dulu akan
melintasi sebuah sungai, Setelah menyeberang sungai, baru
kita nanti berhenti makan.
Gin Liong walaupun tak lapar tetapi terpaksa menurut,
Setelah menyeberang sungai, mereka segera mencari rumah
makan.
"Nona, nona . . ", tiba2 terdengar suara orang memanggil
Li Kun. Li Kun berpaling dan terkejut melihat dua orang
berpakaian seperti pedagang, lari dari sebuah rumah
penginapan, menghampirinya.
"Ah, engkau Tio hiang . . Mengapa kalian disini?" tegur
Li Kun terkejut. Kedua orang itu adalah anak buah dan
keluarga Tio di gunung Thiat san.
Kedua orang itu mempersilahkan Li Kun dan
rombongannya kedalam rumah penginapan mereka.
Mereka juga menyewa kamar disitu, Ternyata Siu Ngo
sudah menyediakan air hangat dan meminta Gin Liong
serta Yok Lan cuci muka, Ketika melalui sebuah kamar di
sebelah, keduanya terkejut mendengar Li Kun menangis
dalam kamar itu. Buru2 mereka masuk menjenguknya.
Setelah didesak dan dihibur, barulah Li Kun mau
memberi keterangan bahwa kedua anak buahnya itu
memang mencarinya untuk menyampaikan berita penting.
"Hwat-kiang-si, Hek Bu Siong dan Lak-ti-seng dari
kawanan Thiat-san-pat-koay telah mengundang beberapa
tokoh silat sakti, menyiarkan berita bahwa nanti tanggal
lima bulan lima akan menghancurkan Mo-thian-nia dan
membasmi ketujuh saudara Tio.
Gin Liong terkejut. Adalah karena dirinya maka Thiat-
san-pat-koay dan ketujuh saudara Tio telah bermusuhan.
"Harap taci Kun jangan kuatir, sebelum tanggal itu aku
tentu sudah datang ke gunung Thiat-san. Taci Kun dan
Lan-moay pulang dulu ke puncak Mo thian-nia, setelah
dapat mengejar Liong-li locianpwe, aku segera kembali ke
Mo thian-nia."
Tetapi Li Kun menolak, ia akan kembali pulang sendiri
dan Yok Lan biar ikut pada Gin Liong.
Ringkasnya setelah makan, Li Kun segera berangkat
pulang dengan kedua anak buah.
Setelah itu Gin Liong meminta keterangan ke pada
suami isteri Ik Bu It tentang perkumpulan Thian-leng-kau
yang bermarkas digunung Ke-kong-san.
"Ya, memang terdapat perkumpulan itu di Ke kong-san.
Kabarnya didirikan oleh dua kakak beradik" kata nenek
Ban.
"Baru setengah tahun ini Thian-leng-kau bergerak di
dunia persilatan," kata Ik Bu It, "mereka menerima
anggauta dari kalangan hitam. Bahkan ada beberapa tokoh
hitam yang telah masuk."
"Kabarnya, kedua kakak beradik itu mempunyai
kepandaian yang luar biasa," kata nenek Ban pula, " setiap
orang yang hendak masuk, lebih dulu tentu diuji ilmu
silatnya. Siapa yang mampu mengalahkan keduanya, akan
diangkat sebagai ketua"
"O, dengan begitu tentu akan menarik perhatian tokoh2
yang temaha kedudukan tinggi" kata Gin Liong.
"Eh, apakah engkau juga hendak merebut kedudukan itu
?" seru Ik Bu It tertawa.
"Ah, mungkin kursi mereka tak enak," Gin liong tertawa,
Nenek Ban memperhatikan bahwa ada sesuatu yang
tersembunyi dalam hati Yok Lan, maka iapun bertanya:
"Apakah kalian juga hendak adu kepandaian ke sana?"
"Tidak," kata Yok Lan, "tetapi karena marah taci Li Kun
telah menerima tantangan dari seorang thaucu Thian-leng
kau untuk datang ke Ke-kong-san nanti satu setengah bulan
lagi, Walaupun taci Li Kun pulang tetapi kita akan
mewakilinya datang kesana."
Menduga bahwa kepandaian Yok Lan tentu takkan
mampu mengalahkan orang Thian-leng-kau, maka nenek
Ban segera berseru: "Ih tidak. jangan terlalu membanggakan
kepandaianmu dan gegabah membawa nona Yok Lan
kesana. Walaupun bukan sarang naga dan harimau, tetapi
markas Thian-leng-kau itu penuh dengan tokoh2 yang
sakti...."
"Ucapan seorang lelaki harus ditepati." Ik Bu It
menyelak. "sekali sudah menerima tantangan, harus
dipenuhi, Kalau engkau kuatir, mengapa engkau tidak ikut
pergi kesana ?"
Sengaja ia hendak membakar hati isterinya lagi: "Huh,
engkau sendiri bernyali kecil, pura2 memberi peringatan
kepada orang . . ."
Sudah tentu nenek Ban marah sekali. Bluk, ia gentakkan
tongkat ke lantai dan berseru:
"Hmm, sekalipun Thian-leng-kau di Hu kong-san itu
tempat Raja Akhirat, akupun tetap akan kesana."
"Bagus, bagus !" seru Ik Bu It, "aku ingin melihat engkau
menduduki kursi ketua Thian-leng-kau"
Nenek Ban deliki mata kepada suaminya dan
mendengus: "Huh, aku sih tidak kepingin kursi
perkumpulan semacam itu."
Kuatir kalau kedua orang tuanya bertengkar lebih hebat,
Siu Ngo segera alihkan pembicaraan kepada Yok Lan:
"Berapa lama taci Li Kun tiba di rumah ?"
"Kalau menempuh perjalanan siang malam, enam tujuh
hari tentu dapat" kala Yok Lan.
"Eh, dimanakah rumahnya ?"
"Puncak Mo-thian-nia gunung Thiat-san," kata Yok Lan.
"O, kiranya nona Li Kun itu salah seorang dari ketujuh
saudara Tio, bukan ?" seru Ik Bu It.
Gin Liong mengiakan.
"Oh, makanya kuperhatikan wajahnya kurang senang
ketika kuceritakan bahwa Ceng Jun sianki itu tinggi
kepandaiannya. Memang dalam ketujuh persaudaraan Tio,
ialah yang paling menonjol sendiri kepandaiannya." kata Ik
Bu It.
Demikian setelah beromong-omong beberapa waktu lagi,
mereka berlima segera masuk ke dalam kamar masing-2
untuk beristirahat.
Menggunakan kesempatan itu Gin Liong mengambil
kaca wasiat dan diperiksanya, Dalam pancaran sinarnya
yang kemilau, tampak beberapa huruf kecil2 warna merah.
Ternyata suatu pelajaran ilmu pernapasan tenaga-dalam, ia
mengisar lagi kaca itu dan melihat tulisan berbunyi Kitab
pelajaran ilmu pukulan Naga-harimau, cenderawasih-ular.
Memutarnya ke bawah ia melihat beberapa telapak kaki
warna merah yang malang melintang tak keruan. Ketika
memeriksa hurup-2 merah pada sampingnya ia terkejut.
Ternyata terdapat tulisan berbunyi Sing-hoan-cek-kiong
poh atau gerak langkah bayangan dari Istana-wungu. Tetapi
sampai lama sekali belum juga ia mengerti apa yang tertera
disitu, Setelah merenungkan dan membayangkan tentang
gerak langkah Liong li-biau ajaran Ban Hong Liong-li,
serentak ia menyadari, perhatiannya makin terpikat.
Setelah menghafalkan beberapa dalam hati, ia akan
turun dari tempat tidur, Maksudnya hendak berlatih ilmu
yang dipelajarinya itu. Tetapi alangkah kejutnya ketika
melihat Yok Lan tahu2 sudah tegak diambang pintu.
Buru-2 Gin Liong menyimpan kaca wasiat dan
melambai kearah Yok Lan: "Kemarilah, Lan-moay."
Yok Lan heran mengapa saat itu Gin Liong tampak
gembira sekali. Iapun melangkah masuk.
"Lan-moay lihatlah." seru Gin Liong seraya menyingkap
baju luarnya.
"Hai kaca wasiat!" seru Yok Lan terkejut. Menyusul ia
segera bertanya dari mana Gin Liong mendapatkannya.
Gin Liong dengan terus terang menceritakan tentang diri
orang tua aneh yang memiliki kaca wasiat itu dan telah
menyerahkannya kepadanya.
"Apakah Ik locianpwe dan Siu Ngo tahu ?" tanya Yok
Lan.
"Tidak." sahut Gin Liong, Kemudian ia membuka baju
luarnya lagi dan suruh Yok Lan memeriksa dengan teliti.
Yok Lan terkejut karena melihat tanda2 telapak kaki
yang malang melintang tak keruan.
"Liong koko, apakah ini bukan gerak langkah Cek kiong-
poh yang termasyhur dalam dunia persilatan itu ?"
Gin Liong mengiakan: "Setelah kupadu dengan ilmu
gerak langkah ajaran Liong-li locianpwe, ternyata Cek-
kiong-poh ini lebih hebat."
"Coba engkau katakan apa pelajaran dari liong-li
locianpwe itu" kata Yok Lan.
Gin Liong menurut. Tetapi ketika ia mengucapkannya,
Yok Lan menunduk untuk memeriksa kaca wasiat itu,
sikapnya seolah meremehkan ilmu gerak langkah Liong-li-
biau. Ia ulurkan tenaga hendak menyambar tubuh Yok Lan
tetapi ternyata nona itu sudah lenyap.
Gin Liong terkejut menyaksikan gerakan yang
sedemikian cepatnya dari sumoaynya. Setelah direnungkan
barulah ia tahu bahwa gerakan Yok Lan itu merupakan
langkah pertama dari ilmu langkah Cek-kiong-poh. Ia
menyimpan kaca lalu melesat keluar, Dilihatnya Yok Lan
berdiri tegak ditengah halaman, Mata terbeliak, mulut
menganga. Rupanya dia juga terkejut membaca ilmu gerak
langkah Cek-kiong-poh yang hebat itu.
Gin Liong menuding kedalam bajunya dan melambaikan
tangan kearah Yok Lan dapat menangkap artinya tetapi
ketika ia hendak menghampiri ternyata Siu Ngo muncul.
"Taci Lan, apa engkau tak beristirahat?" seru gadis itu,
"Sudah," kata Yok Lan. sementara itu Gin Liong sudah
menyusup masuk kedalam kamarnya.
Ik Bu Itpun keluar dan menanyakan kapan hendak
berangkat.
"lk locianpwe, kalau sekarang kita menyeberang sungai
apakah sebelum petang kita sudah dapat mencapai kota
Ciau-koan ?" tanya Yok Lan.
"Kota itu seratusan li jauhnya, mungkin tengah malam
baru tiba disana." sahut Ik Bu It.
Kemudian kakek itu memerintahkan Siu Ngo supaya
menyiapkan hidangan.
"Kami tahu bahwa nona berdua dengan Siau siauhiap itu
saudara seperguruan tetapi kami belum tahu siapakah
sesungguhnya suhu nona itu ?" tanya Ik Bu It.
Dengan nada sarat, Yok Lan mengatakan bahwa dia tak
mempunyai perguruan dan tak tergolong pada suatu aliran
persilatan Yang mengasuhnya hanya Liau Ceng taysu,
kepala gereja Leng-hun-si di gunung Hwe-siang-hong.
Nenek Ban kerutkan dahi dan bertanya kepada suaminya
apakah pernah mengenal Liau Ceng taysu.
Rupanya Ik Bu It dapat menangkap arti kata-kata
isterinya maka ia berkata kepada Yok Lan: "Mungkin suhu
nona itu tentu seorang paderi yang mengasingkan diri.
Apalagi kami sering pergi ke luar perbatasan sehingga tak
beruntung mengenal suhu nona, Apabila nona dapat
menyebutkan namanya sebelum menjadi paderi,
kemungkinan kami tentu tahu."
Yok Lan mengatakan bahwa sejak belajar silat, ia tahu
suhunya itu sudah menjadi paderi dan iapun tak berani
menanyakan asal usulnya.
Saat itu Gin Liong muncul bersama empat pelayan yang
membawa hidangan Mereka segera melahap hidangan
Kemudian mereka berangkat lagi, Mereka naik perahu
besar menyeberang.
Setelah tiba di seberang tepi, mereka lanjutkan
perjalanan lagi, Dalam beberapa kejap sudah mencapai
belasan Ii. Tiga li lagi mereka melihat orang2 berkerumun
melihat dua sosok bayangan bertempur.
"Ada orang bertempur, mari kita lihat," seru nenek Ban
terus larikan kuda menghampiri.
"Hai, tak perlu, jangan sampai menelantarkan urusan
Siau siauhiap," Ik Bu It mencegah.
Mendengar itu nenek Ban lambatkan kudanya. jaraknya
hanya terpisah satu li dari tempat pertempuran itu. Ternyata
kedua orang itu bertempur disebuah tanah lapang di tepi
jalan besar, Para penonton berkeliling pada jarak beberapa
tombak jauhnya, Gin Liong heran mengapa mereka harus
menyingkir sedemikian jauhnya dari tempat pertempuran.
Ternyata salah seorang yang bertempur itu seorang
wanita yang berpakaian merah menyala dan lawannya
seorang paderi tua berjubah kelabu.
Gerakan wanita baju merah itu luar biasa anehnya,
berlincahan bagai kupu2 hinggap di bunga, Dengan
sepasang tangan ia menghadapi serangan tongkat si paderi,
Tampaknya wanita itu belum mengeluarkan seluruh
kepandaiannya.
Paderi itu juga bukan tokoh yang lemah, Tongkatnya
menyambar-nyambar laksana halilintar, dahsyatnya bukan
kepalang, tetapi tetap ia tak dapat merubuhkan wanita yang
memiliki gerakan luar biasa itu.
Gin Liong mendapat kesimpulan bahwa sesungguhnya
wanita itu memang sengaja hendak mempermainkan
kawannya. Marahlah Gin Liong, ia hendak bertindak tetapi
segera ia teringat akan peringatan Ik Bu It kepada nenek
Ban tadi, Terpaksa ia tak menghentikan kudanya,
Tetapi ketika makin dekat, makin jelaslah ia siapa paderi
itu, serentak berubahlah wajahnya dan segera ia berseru
nyaring: "Berhenti!"
Kuda terus diarahkan ketempat pertempuran. Bentakan
Gin Liong amat kuat sekali sehingga kedua orang yang
bertempur itupun berhenti karena terkejut.
Yok Lanpun segera dapat mengenali paderi itu, seketika
wajahnya berubah dan terus berseru rawan: "Sam-sucou !" -
iapun larikan kudanya menghampiri.
Saat itu Gin Liong sudah tiba dan terus loncat dari kuda
lalu lari kearah paderi tua.
Melihat Gin Liong, paderi tua itu merah mukanya. ia
menuding wanita baju merah dan berseru: "Liong-ji, inilah
Ban liong liong-li yang telah membunuh gurumu."
Gin Liong hentikan langkah dan tertegun Yok Lanpun
tiba lalu lari menghampiri paderi tua itu seraya menangis
dan memangginya sebagai sam-sucou atau kakek guru yang
ketiga.
"Siau siauhiap, hati-hatilah, Wanita itu adalah Ceng Jun
sian - ki !" tiba2 nenek Ban isteri Ik Bu It berseru.
Gin Liong terkejut dan menyadari mengapa para
penonton tak berani menyaksikan dari dekat. Di lain pihak,
sam-sucounya itu belum pernah melihat Ban Hong Liong-li.
Dia tentu salah duga. Kiranya pada hari setelah Liau Ceng
taysu terbunuh, sam-sucounya menghilang dari gunung
karena marah, ia hendak menuju ke daerah Biau untuk
membuat perhitungan dengan Ban Hong Liong-li.
Sejak kecil Yok Lan memang disayang oleh sam-
sucounya. Maka dara itu menangis ketika ber temu dengan
sam-sucounya.
Saat itu Ik Bu It, nenek Ban dan Siu Ngo sudah loncat
turun dari kuda, Dan nenek Banpun segera membentak:
"Siluman rase engkau cari mampus . . !"
Ia memutar tongkat kepala burung hong lari menerjang
wanita baju merah itu.
Gin Liong cepat tersadar untuk menutup pernapasannya,
Diam2 ia kerahkan tenaga-dalam apakah telah terkena
racun. Dilihatnya pula mulut Ceng lun sian-ki mengulum
senyum, sebelah tangannya yang putih mengulap ke
janggut, sikapnya seperti hendak melepas racun.
Ceng Jun sian-ki atau Dewi Musim Semi itu baru berusia
25-27 tahun. Memiliki kecantikan wajah yang dapat
menjatuhkan iman seorang dewa dan potongan tubuh yang
menggiurkan. Dia benar2 seorang insan yang diberkahi
dengan kecantikan seperti seorang dewi, Diam2 Gin Liong
heran mengapa sam sucounya sampai salah menduganya
sebagai Bab Hong Liong-li.
Melihat nenek Ban mengamuk, Ceng Jun sianki tenang
saja, Bahkan malah tertawa mengikik,
"Hai induk kukuk-beluk, mukamu seperti ayam, matamu
seperti tikus, Benar2 menakutkan orang !" serunya, sambil
berputar-putar seperti angin puyuh.
Sudah tentu nenek Ban marah sekali sehingga
gerahamnya sampai bercaterukan: "Ketahuilah, waktu
muda aku secantik bidadari, tak kalah dengan wajahmu
yang seperti siluman rase itu"
Dihadapan umum dirinya dimaki sebagai siluman rase
marahlah Ceng Jun sian-ki : "Nenek jelek, engkau benar2
sudah bosan hidup !"
Habis berkata tangan kiri menampar dalam gerakan
kosong tangan kanan meluncurkan semacam rantai putih
yang melingkar2 melibat tongkat nenek Ban.
Ik Bu It terkejut. Dengan menggerung keras ia segera
loncat menerjang, Dengan jurus Thay-san ya-ting atau
gunung-Thaysan-menindih-puncak, ia menghantamkan
tongkat kearah Ceng Jun sian-ki.
Melihat serangan tongkat sedahsyat itu, Ceng Jun sian-ki
cepat berputar menarik tangan kanannya yang melibat
tongkat nenek Ban dan tahu-tahu sudah berada di belakang
Ik Bu It.
Sesungguhnya ilmu silat Ik Bu It itu bukan olah2
hebatnya, Pada saat Ceng Jun sian-ki berputar tubuh,
tongkatnya segera berganti dengan jurus Heng-soh-ngo-gak
atau Membabat-lima-buah-gunung menyapu tubuh Ceng
Junsian-ki.
Sebelum wanita itu sempat berdiri tegak, tongkat Ik Bu It
sudah tiba, Dalam pada itu, tongkat nenek Banpun
menusuk pinggangnya, Ceng Jun sian-ki terkejut, menjerit
dan melambung ke udara.
Karena tak mengenai sasarannya. kedua tongkat suami
isteri tua itu hampir saja saling berbentur sendiri.
Sebenarnya Ceng Jun sian-ki tahu siapa ke dua suami
isteri tua itu. Tetapi ia tak memandang mata kepada
mereka, Setelah serangan itu, baru ia tak berani
meremehkan Maka selagi melayang di udara ia kebutkan
sepasang lengan bajunya, untuk menampar bahu Ik Bu It
dan nenek Ban.
Ik Bu It dan isterinya menyadari bahwa lawan itu
seorang tokoh yang hebat, Maka mereka pun menyerang
dengan jurus yang hebat.
Gin Liong, Yok Lan dan sam-sucounya berdiri
disamping, mengikuti pertempuran itu dengan penuh
perhatian, Tetapi Siu Ngo tampak gelisah, Bahkan dahinya
sudah menghamburkan keringat dingin.
Gin liong memperhatikan gerakan Ceng Jun sian-ki dan
dapatkan bahwa sesungguhnya kepandaian wanita itu tak
jauh terpautnya dengan suami isteri Ik Bu It. Tetapi karena
ia pernah menderita dari Dewi Bayangan, maka iapun tak
berani tak mempercayai keterangan kedua suami isteri tua
tentang Loan-sin-hiang yang luar biasa hebatnya dari
wanita itu. Maka iapun tak berani gegabah turun tangan.
Yok Lan sudah dapat mengetahui isi hati Gin Liong,
iapun kuatir dirinya tak mampu menandingi wanita itu,
Maka ia juga diam saja.
Karena percaya dirinya tak mungkin terkena Loan-sin-
hiang, begitu pula lk Pu Itpun merasa umurnya sudah
cukup tua. dan kuatir kalau kalah, maka kedua suami isteri
itupun mendahului menyerang dengan jurus yang dahsyat.
Tetapi ternyata untuk mengalahkan Ceng Jun sian-ki, tak
semudah yang diperkirakan mereka.
Melihat itu akhirnya Yok Lan tak dapat menahan diri
lagi, Segera ia berseru kepada suami isteri Ik Bu It: "Harap
lo cianpwe berdua mundur dulu, biarlah wanpwe
menghadapi Ceng Jun sian ki yang termasyhur itu"
Tring, ia segera mencabut pedang Tanduk Naga dan
terus maju ke tengah gelanggang.
Tahu kalau sukar merebut kemenangan kedua suami
isteri itupun menurut untuk mundur. Dan begitu melihat
wajah Gin Liong, seketika timbul keinginannya untuk
menggaet pemuda itu. Maka iapun juga berhenti.
Ik Bu It dan isterinya terkejut melihat Yok Lan masuk
kedalam gelanggang dengan membawa pedang, Tetapi
karena Gin Liong tenang2 saja, kedua suami isteri itupun
tak mau mencegah.
"Nona Lan, harap hati2 !" seru Ik Bu It karena kuatir
nona itu memandang rendah kepandaian lawan.
Ceng Jun sian-ki luas sekali pengalamannya dalam dunia
persilatan. Sudah banyak tokoh2 sakti yang dihadapinya,
Melihat Yok Lan begitu tenang, ia duga nona itu tentu
memiliki kepandaian yang mengejutkan. Dan ketika
melihat pedang yang berada ditangan Yok Lan itu
memancarkan sinar merah, dia makin terkejut.
Beberapa penonton yang bernyali besar, segera maju
mendekat. Mereka saling berbisik-bisik menilai
pertandingan itu...
Yok Lan berhenti pada jarak setombak dihadapan Ceng
Jun sian-ki.
"Lama kudengar Sian-ki memiliki kepandaian yang
hebat, Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat
bertemu, harap Sian-ki suka memberi pelajar an barang
beberapa jurus saja . . . ." seru Yok Lan.
Ceng Jun sian-ki tahu bahwa ia sedang berhadapan
dengan seorang lawan yang tangguh, Tetapi ia tetap tenang
bahkan karena percaya akan ilmu kepandaiannya yang
tinggi. ia agak memandang rendah lawan.
"Budak hina, jangan bermulut tajam," tukasnya, "menilik
engkau seorang wajah yang cantik, mungkin dapat
kuberimu ampun dan kujadikan engkau sebagai
pengawalku, Kalau berani menolak, jangan sesalkan aku
akan bertindak kejam terhadapmu menghancurkan
wajahmu yang cantik itu."
Berhenti sejenak, diam2 ia salurkan tenaga dalam dan
tertawa dingin: "Dalam tiga jurus engkau boleh menyerang,
aku takkan membalas. Keluarkanlah seluruh kepandaianmu
!"
Sudah tentu marah juga Yok Lan mendengar
kesombongan wanita itu, ia tertawa hambar.
"Sian-ki, apabila sedikit saja engkau dapat menang angin,
aku bersedia menjadi bujangmu selama-lamanya !" seru
Yok Lan.
Sekalian penonton gempar. Mereka anggap dara itu
terlalu tekebur juga suami, isteri Ik Bu It terkejut dan saling
berpandangan.
Ceng Jun sian ki sendiri pucat wajahnya karena
menahan kemarahan. Tubuh agak gemetaran alis berkerut,
serunya:
"Budak hina, mengapa engkau tak lekas menyerang ?
Jika masih banyak mulut, aku tak dapat mengampuni
jiwamu lagi ! "
Yok Lan mengiakan Dengan jurus Jay-hong-tiau-yang
atau Cenderawasih, menghadap - surya, ia membuka
serangan pertama.
Walaupun congkak tetapi Ceng Jun sian-ki tak berani
memandang rendah lawan. Dengan melengking keras ia
berputar ke belakang Yok Lan, Yok Lan tertawa dingin.
Segera ia mainkan ilmu gerak Sing-hoan-cek-kiong-poh
yang istimewa. Tubuhnya berkelebat dan tahu2 ia sudah
berada di belakang Ceng Jun.
Ik Bu It dan nenek Ban tercengang melihat gerakan yang
luar biasa anehnya dari dara itu, juga Ceng Jun sian-ki tak
kurang kejut nya, Dan lebih terkejut lagi ketika saat itu
kepalanya seperti disambar angin dingin.
Cepat ia tundukkan kepala dan tubuh, sembari
melengking nyaring pinggangnya bergeliatan dalam jurus
Hwe-tiau-ong-gwat atau Berpaling-memandang-rembulan.
Tangan kanannya serentak menampar. Tetapi alangkah
kejutnya ketika tamparannya itu hanya menemui tempat
kosong dan ia tak melihat tubuh lawan dibelakang. Tetapi
belakang kepalanya masih tetap didera angin dingin.
Dengan menjerit kaget, Ceng Jun Sian ki segera ayun
tubuhnya loncat kemuka sampai tiga tombak. Ketika
berpaling, semangat pun serasa terbang. Saat itu ujung
pedang lawan sudah mengancam mukanya. Karena gugup,
ia kebutkan kedua lengan bajunya untuk menghalau.
Yok Lan berkisar kesamping, pedang segera melamur
menabas sepasang lengan baju lawan.
Ik Bu It tahu bahwa lengan baju wanita itu tak mempan
ditabas senjata tajam, maka cepat2 ia berseru memberi
peringatan: "Nona Lan, jangan."
Rupanya Yok Lan tahu apa yang dikandung dalam
peringatan kakek itu, Cepat ia salurkan tenaga-dalam ke
batang pedang, kemudian dengan menggunakan jurus Gui-
kim-cui-giok atau membelah-emas-menghancurkan zamrud,
ia taburkan pedang Tanduk Naga dalam lingkaran sinar
yang deras, membabat sepasang lengan baju Ceng Jun sian-
ki.
Ceng Jun sian ki tertawa sinis. Segera ia gentarkan
tangan untuk melibatkan lengan baju ke pedang Yok Lan.
Cret. . . . sepasang lengan baju Ceng Jun sianki kutung
dan berhamburan jatuh ke tanah, Sedang orangnya menjerit
kaget terus enjot tubuh melambung ke udara, lalu meluncur
ke barat hendak melarikan diri.
Yok Lan tahu bahwa dengan menderita kekalahan itu
Ceng Jun sian-ki tentu masih penasaran, ia hendak memberi
pelajaran, menghancurkan kesombongan wanita itu.
Serempak dengan melengking nyaring ia gunakan jurus
bianglala-merentang-diudara, secepat kilat tubuhnya loncat
mengejar.
Yok Lan tak mau membunuhnya melainkan hendak
menghancurkan kecongkakannya saja, ia tidak membacok
melainkan hanya menyambar diatas kepala saja.
Ceng Jun sian-ki menjerit-jerit minta ampun seraya lari
menyusup ke dalam hutan, Yok Lanpun hentikan larinya
dan berseru :
"Ceng Jun sian-ki, harap engkau suka merobah kejahatan
dan kembali ke jalan benar, jangan engkau mengecewakan
harapan suhumu yang bersusah payah memberi pelajaran
kepadamu !"
Tanpa berpaling lagi, Ceng Jun sian-ki terus lari masuk
kedalam hutan, sekalian penonton terlongong-longong
menyaksikan peristiwa yang tak terduga-duga itu, Ceng Jun
sian ki yang termasyhur telah dikalahkan oleh seorang nona
yang tak terkenal .
Demikian pula Ik Bu It dan isterinya. Keduanya sudah
berpuluh tahun terjun dalam dunia persilatan tetapi belum
pernah mereka melihat permainan ilmu pedang yang
sedemikian luar biasa seperti yang dimainkan Yok Lan.
Mereka menyadari bahwa tiada guna mereka menemani
kedua anak muda itu ke markas Thian-leng-kau karena
ternyata kedua anak muda itu sudah cukup tangguh untuk
menghadapi jago2 Thian-leng-kau.
Merekapun menyayangkan mengapa Yok Lan memberi
ampun kepada wanita yang berlumuran kejahatan itu.
Paderi tua atau sam-sucou dari Yok Lan girang bukan
kepalang ia tak tahu dari mana Yok Lan dapat mempelajari
ilmu pedang yang sedemikian hebatnya itu.
Demikian pula dengan Gin Liong, ia memang percaya
bahwa Yok Lan tentu dapat menghadapi Ceng Jun sian-ki
tetapi ia tak pernah menduga bahwa sumoaynya telah
memiliki ilmu pedang yang sedemikian mengejutkan.
Yok Lan sendiri ter-sipu2 merah wajahnya karena
sekalian orang memandangnya dengan rasa kagum Gin
Liongpun lalu memperkenalkan sam-sucounya kepada
suami isteri Ik Bu It.
Maka bertanyalah Ik Bu It mengapa paderi itu tadi telah
salah menduga Ceng Jun sian-ki se bagai Ban Hong Liong-
li.
Paderi tua itu menerangkan bahwa ketika bertemu
dengan Ceng Jun sian-ki, karena wajah dan umurnya masih
muda, ia bertanya apakah wanita itu bernama Ban Hong
Liong-li. Dan wanita itu pun mengiakan.
"Karena marah, aku segera menyerangnya," kata paderi
tua, "ternyata dia sangat lihay sekali kalau Ik sicu dan Gin
Liong serta Yok Lan tak keburu datang, entah sampai
berapa lama pertempuran itu akan berlangsung."
"Lo-siansu mengatakan bahwa Ban Hong Li ong-li itu
adalah pembunuh dari suhu Siau siauhiap dan nona Lan . .
" sebelum nenek Bun melanjutkan kata2nya, paderi tua
sudah menukas.
"Karena cinta maka Ban Hong Liong-li di rangsang
dendam kebencian dan pembunuhan. Walaupun Liau
Ceng- sutit sudah masuk menjadi paderi tetapi Ban Hong
Liong-li masih tetap tak mau melepaskannya . ."
"Jika demikian bukankah sutit dari lo-siansu itu Pelajar-
berwajah-kumala Kiong Tayhiap yang namanya
menggetarkan dunia persilatan dan pernah menundukkan
daerah Biau?" seru Ik Bu It seketika.
Sambil mengusap-usap jenggot, paderi tua itu mengiakan
Ik Bu It dan nenek Ban menghela napas.
"Memang Ban Hong Liong-li sangat mencintai Kiong
thayhiap, peristiwa itu telah diketahui oleh semua kaum
persilatan. Bahwa akhirnya harus terjadi peristiwa yang
sedemikian menyedihkan sungguh diluar dugaan orang.
Menilik kepandaian Kiong tayhiap yang begitu tinggi,
kecuali orang yang paling dekat dan karena dia lengah
maka baru dia dapat dibunuh.Dengan demikian, tak salah
lagi tentulah Ban Hong Liong-li yang telah melakukan
pembunuhan itu"
Ik Bu Itpun meminta paderi tua itu menuturkan
peristiwa2 yang terjadi dalam dunia persilatan selama ini.
Dalam pada berbicara itu orang2 yang berkerumun
menyaksikan pertandingan tadi, pun sudah bubar.
Tiba2 nenek Ban memerintahkan Siu Ngo mengambil
kutungan lengan baju Ceng Jun sian-ki.
Setelah melihat kutungan lengan baju itu, berkatalah Ik
Bu It: "Kabarnya lengan baju dari Ceng Jun sian-ki itu
terbuat dari ulat sutera yang kebal senjata tajam, Khusus
digunakan untuk melibat senjata lawan dan merampasnya."
Ternyata lengan baju itu terasa dingin dan lemas sekali.
beratnya hanya dua tail, setelah dibuka panjangnya antara
setombak lebih, Tipis dan berkilau-kilauan.
"Ah, benar2 ulat sutera yang luar biasa," kata Ik Bu It.
Gin Liong tak percaya, ia segera menabas dengan
pedangnya tetapi tak mempan.
"Ah, kini sudah jelas," seru Ik Bu It, "bahwa bukan
pedang nona Lan yang tajam tetapi adalah ilmu pedangnya
yang luar biasa itulah yang dapat memapas kutung lengan
baju Ceng Jun sianki.
Ik Bu It suruh Siu Ngo menyerahkan benda itu kepada
Yok Lan tetapi Yok Lan menolak dan minta Siu Ngo
menggunakannya sebagai pakaian yang kebal senjata.
Tetapi Siu Ngo dan nenek Ban tak mau dan tetap
menyerahkan kepada Yok Lan. Akhirnya Gin Liong
memberi isyarat supaya Yok Lan menerimanya.
Kemudian Ik Bu It menyatakan bahwa ia terpaksa tak
dapat menemani Gin Liong lebih lanjut karena ia percaya
Gin Liong berdua tentu mampu untuk menghadapi orang2
Thian-leng-kau.
Gin Liong menghaturkan terima kasih atas bantuan
kedua suami isteri itu, Demikian mereka dengan berat hati
segera berpisah, Setelah Ik Bu It dan kedua isteri serta
puterinya pergi, paderi tua menanyakan tentang hasil
pengejaran Gin Liong terhadap Ban Hong Liong-li.
Gin Liong menyatakan belum mendapat hasil apa2.
Akhirnya paderi tua itu membagi pekerjaan, ia akan
mencari ke Kiangsu dan Anhui, sedang Gin Liong dan Yok
Lan menyelidiki di daerah Ho lam dan Hopak.
"Soal Thian-leng-kau di gunung Ke-kong-san itu" kata
paderi tua itu pula, "jika dapat tak usah pergi kesana,
Kalian belum banyak mengetahui tentang tipu muslihat
berbahaya dari dunia persilatan. Tak perlu memperluas
permusuhan yang kelak hanya akan mendatangkan bahaya
saja."
Gin Liong mengiakan Kemudian ia menggunakan
kesempatan saat itu untuk menanyakan tentang keadaan
pada waktu suhunya terbunuh.
"Ketika aku sedang berada di guha" kata paderi tua itu,
Kudengar suara genta dari biara, aku segera kembali ke
biara, Ketika kutinggalkan guha Kiu-kiok-tong, suhumu
masih berada dalam guha, Demikian pula Ma Toa Kong,
Bu Tim cinjin dan lain2 orang juga masih disitu,
menerangkan paderi tua itu.
"Saat itu aku pingsan di ruang samping dan tak tahu
suatu apa," kata Yok Lan.
"Begitu tiba di biara, paderi ti-khek-ceng memberi tahu
bahwa sesosok tubuh kecil telah melenyapkan diri diruang
belakang, Dia memastikan bayangan itu tentu seorang
wanita . . . ." kata paderi tua pula.
"Apakah sam-sucou menyelidiki wanita itu ?" tanya Gin
Liong.
Paderi tua gelengkan kepala.
"Hampir seluruh biara dan puncak kujelajahi semua
tetapi tak berhasil menemukan bayangan kecil itu. Petang
hari baru aku kembali dan memberitahukan peristiwa itu
kepada ji sucou kalian Menurut dugaan ji-sucoumu, wanita
itu jika bukan orang yang datang hendak membunuh Ban
Hong Liong-Li tempo hari, tentulah Ban Hong Liong-li
sendiri."
Sejenak berhenti menghela napas, paderi tua itu
melanjutkan pula:
"Keesokan harinya, seorang murid paderi telah
mengumumkan bahwa suhumu tak dapat hadir dalam
pelajaran pagi, Saat itu baru ketahuan bahwa suhumu telah
meninggal dunia diatas tempat pembaringannya."
"Ketika aku dan ji-sucoumu datang ternyata suhumu
telah mengalami peristiwa yang menyedihkan. Sebatang
golok emas telah menancap pada perutnya, Golok itu
adalah khusus buatan suku Biau yang disebut Kim-wan-to.
Tentulah sebelum pergi, Ban Hong Liong-li telah masuk
kedalam tempat tinggal suhumu, menangis dan meratap
supaya suhumu suka kembali menjadi orang biasa lagi,
Tetapi karena suhumu tak meluluskan akhirnya baru
menggunakan kesempatan suhumu lengah, dia terus turun
tangan membunuhnya."
"Adakah sam-sucou tidak mempunyai lain dugaan
bahwa pembunuh suhu itu bukan Ban Hong Liong-li
locianpwe ?" tanya Gin Liong.
Paderi tua merenung dan sampai lama baru dapat
membuka mulut. "Siapakah kiranya orang itu?"
"Soal itu pada suatu hari aku tentu dapat menyingkap
tabir kegelapan," kata Gin Liong.
"Jika bukan dia lalu siapakah yang mampu membunuh
suhumu ? Siapa yang berlutut memeluk lutut suhumu ?"
tanya paderi tua.
Melihat sam-sucounya agak tak senang hati, terpaksa
Gin Liong hanya mengiakan dan tak berani membantah
lagi.
"Kemungkinan tentu masih terselip suatu rahasia,
Kuharap kalian dapat menyelidiki hal itu hingga dapat
diketahui siapakah sebenarnya pembunuh yang kejam itu,"
kata paderi tua pula.
"Gin Liong dan Yok lan," kata paderi tua, "setelah dapat
mengejar Ban Hong Liong-li kalian harus dapat mengetahui
siapa pembunuhnya, Setelah itu carilah dia sampai ketemu
lalu potong kepalanya untuk engkau sembahyangkan
dipusara suhumu."
Demikian setelah memberi pesan, akhirnya paderi tua
itupun segera melanjutkan perjalanan sesuai yang
direncanakan.
"Liong koko, kemanakah rencana kita sekarang ?" tanya
Yok Lan setelah sam-sucounya pergi.
"Ke Ciau-koan dulu." kata Gin Liong.
Dengan menunggang kuda, tak berapa lama mereka
sudah mencapai 30-an li. Tak berapa lama mereka melihat
sebuah puncak menara.
"Lan-moay, lihatlah, di bawah menara itu tentu sebuah
kota" kata Gin Liong,
Merekapun segera pesatkan kudanya, Setelah dua-puluh
li jauhnya, Gin Liong berkata agak kecewa: "Menilik
keadaannya kita mungkin harus melanjutkan perjalanan
lagi."
Saat itu udara mendung dan kilatpun berulang kali
memancarkan sinar, Menara itu tinggi menjulang ke
angkasa, sekitarnya ditumbuhi pohon siong kate.
Hujan mulai mencurah, Untung saat itu keduanya sudah
tiba pada jarak enam tujuh puluh tombak dari menara itu.
Cepat2 mereka larikan kudanya dan meneduh di bawah
menara itu.
Dari pancaran sinar kilat yang menyambar, seketika Gin
Liong dapat mengetahui bahwa pintu pagoda itu tingginya
dua tombak, lebar beberapa depa, Bagian bawah luasnya
hampir tiga tombak, Keadaan pagoda sudah banyak rusak,
pintunya sudah berlubang, ujung dinding penuh
bergelantungan kelelawar.
"Pagoda itu tak kurang dari seratus tahun umurnya" kata
Gin Liong setelah meninjau keadaan pagoda tua itu.
"sayang tiada orang yang merawatnya. sehingga rusak dan
terlantar."
Rupanya Yok Lan ketakutan melihat suasana di
sekeliling tempat yang begitu seram ia menanyakan berapa
lama hujan akan berhenti.
"Rasanya malam ini hujan tentu turun terus" kata Gin
Liong, Kemudian ia mengajak Yok Lan naik ketingkat atas
untuk melihat sebelah muka. Apabila terlihat suatu desa
atau kota, mereka segera akan melanjutkan perjalanan lagi.
Keadaan tingkat ketiga masih lumayan Terdapat tangga
untuk naik ketingkat keempat, Benar juga perhitungan Gin
Liong, Lebih kurang dua-puluh jauh di sebelah muka,
tampak berkerlipan cahaya lampu.
"Kemungkinan itulah kota Ciau-koan" kata Gin Liong.
Halilintar meletus dahsyat. Ruang pagoda itu berguguran
debu dan kotoran, Yok Lan makin ketakutan, ia mengepal
tangan Gin Liong erat-2, Gin Liongpun memeluk pinggang
Yok Lan dan memandang, Pada saat itu terkenanglah ia
pada empat tahun yang lampau. Saat itu ia berada dalam se
buah guha bersama sumoaynya. Diluar salju turun lebat, ia
masih ingat jelas, kala itu mereka duduk merapat dan ia
telah mencium sumoaynya . . .
Gin Liong tersentak dari lamunan, ia mengusap kepala
Yok Lan dengan lengan bajunya. Adegan tiga belas tahun
yang lampau terulang kembali, Keadaan saat itu, benar- tak
ubah seperti belasan tahun yang lampau, Bedanya dulu
yang turun salju, sekarang hujan.
Seperti dahulu, saat itu Yok Lanpun diam saja dan
membiarkan sukonya mengusap titik air hujan pada
kepalanya, Bahkan ia merasa bahwa hanya apabila dalam
pelukan sukunya ia baru merasa bahagia dan aman.
Gin Liong tak kuat menahan keinginannya untuk
mencium sumoaynya tetapi ia tak melakukan hal itu
melainkan berkata: "Lan-moay, malam ini terpaksa kita
harus menginap disini."
Yok Lan hanya mengangguk Gin Liong mengajaknya
turun untuk mengambil selimut dan per bekalan yang
ditinggalkan pada pelana kuda, Setelah itu mereka kembali
naik ke tangga pagoda, sampai ke tingkat yang keenam.
Disini ruang dan lantainya cukup bersih.
Yok Lan menyalakan koreknya habis dan Gin Liong
usulkan supaya mencabut pedang Tanduk Naga dan Oh-
bak-kiam, Ternyata kedua pedang pusaka itu dapat
memancarkan sinar yang cukup terang.
"Liong koko, mari kita pelajari lagi ilmu pusaka yang
terdapat pada cermin wasiat itu." seru Yok Lan.
Gin Liong setuju. Demikian keduanya dengan
berdampingan segera mempelajari lagi huruf2 pada kaca
wasiat yang mengandung ilmu silat yang sakti.
Beberapa saat kemudian Yok Lan berseru: "Liong koko,
mari kita berlatih gerak langkah Sing-hoan-cek-kiong-poh ?"
Ia terus loncat bangun dan segera bergerak2 diatas lantai,
Gin Liong terlongong-longong dan tanpa disadari ia telah
ulurkan tangannya.
Tiba-2 Yok Lan melengking dan loncat ke sudut seraya
berseru marah: "Liong koko, makin lama engkau makin tak
baik."
Gin Liong tertawa lalu loncat menerkamnya. Yok Lan
tertawa lalu menghindar. Demikianlah, merekapun berlatih
ilmu gerak yang luar biasa seperti yang terdapat pada kaca
wasiat
Setelah berulang kali tak dapat menangkap akhirnya Gin
Liong menyadari sesuatu, ia tertawa, Sebelah kakinya
diangkat dan dengan hanya sebuah kaki ia berputar-putar
sembari menyambar tubuh Yok Lan.
Yok Lan terkejut ketika pinggangnya tertangkap tangan
Gin Liong, ia meronta sekuatnya sehingga keduanya jatuh
ke lantai, Gin Liong segera memeluk sumoaynya.
"Liong koko, lepaskan Mari kita mempelajari ilmu sakti
pada kaca itu lagi . . "
Tetapi saat itu Gin Liong seperti kena pesona melihat
kecantikan wajah sumoaynya, ia mencium bibir Yok Lan,
Dara itupun diam saja, ia terkenang dulu ketika masih kecil,
memang sering sukonya itu mencium pipinya, Tetapi baru
saat itu mencium bibirnya, ia merasa bahagia sekali.
Gin Liong menyelimuti tubuh Yok Lan dan
keduanyapun segera tidur, Entah berapa lama ketika
membuka mata, hujanpun sudah berhenti Yok Lan juga
bangun. Ternyata saat itu hari sudah terang tanah. Mereka
lalu berkemas2 melanjutkan perjalanan lagi.
Hari masih pagi sekali, jalan masih sepi orang. Setelah
matahari terbit, merekapun memasuki kota Ciau-koan.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan lagi,
Menjelang petang mereka tiba dikota Ik-ciu.
Ketika hendak mencari rumah makan mereka terkejut
karena melihat sesosok bayangan kecil dalam pakaian
merah melesat melenyapkan diri ke luar dari sebuah rumah
makan.
Tetapi kedua anak muda itu tak menaruh perhatian,
keduanya segera masuk kerumah penginapan setelah
makan mereka keluar untuk mencari berita tentang jejak
Ban Hong Liong-li. Tetapi tak berhasil Akhirnya mereka
kembali ke rumah penginapan lagi.
"Liong koko, lihatlah ini !" tiba2 Yok Lan berseru
sembari menunjuk sebuah poci teh di meja nya.
Gin Liong terkejut ketika mendapatkan dibawah poci teh
itu tertindih secarik kertas, Ketika diambil ternyata kertas
itu berisi tulisan.
"Liong koko, kenalkan engkau pada Siok Lian suthay ?"
tanya Yok Lan seraya serahkan kertas itu kepada Gin
Liong.
Gin Liong membacanya:
"Harap segera datang ke biara Koan Im perlu bicara, Di
tepi telaga telah tersedia perahu kecil untuk menyeberang.
Siok Lian suthay."
Gin Liong cepat loncat keluar, Saat itu langit cerah,
rembulan terang, Sesosok bayangan melesat dari tempat
gelap terus lenyap, Gin Liong hendak mengejar tetapi dua
jongos, kebetulan muncul, Yok Lan mencegah sukonya
mengejar.
Gin Liong terpaksa masuk lagi.
"Liong koko, kurasa surat itu mempunyai hubungan
dengan orang yang menghilang tadi", kata Yok Lan.
Gin Liong mengiakan: "Aku tak kenal dengan Siok Lian
suthay",
"Atau sengaja hendak mempermainkan kita, atau
memang Siok Lian suthay itu tokoh dari perkumpulan
Thian-leng-kau" kata Yok Lan,
Mereka bertanya tentang biara Koan-im-yan kepada
seorang jongos, "Ya, memang ada, biara itu sangat terkenal,
jika tuan hendak berkunjung ke sana, boleh naik perahu
melintasi telaga Tok-san-ou, setengah jam saja tentu
sampai," jongos memberi keterangan
"Apakah dalam biara itu terdapat seorang rahib yang
bernama Siok Lian suthay ?" tanya Gin Liong pula.
"Ada", kata si jongos, "Siok Lian suthay adalah kepala
dari Lian-hoa-yan".
Gin Liong segera mengajak Yok Lan keluar, Mereka
menuju ke utara, Ketika tiba di telaga mereka terkejut
karena di tepi telaga telah menunggu sebuah perahu,
Sesosok tubuh kecil yang berada di haluan perahu tengah
membelah kayu bakar.
Menilik pakaiannya bercorak jubah paderi, Gin Liong
menduganya tentulah Siok Lian suthay. Orang itu
mengenakan caping dan kepalanya dibungkus dengan kain
sehingga tak kelihatan bagaimana wajahnya. Hanya yang
menonjol sepasang mata orang itu berkilat2 tajam.
Dengan memberi hormat Gin Liong menegur tetapi
rahib itu menyahut dengan nada dingin: "Si cu berdua
sungguh memegang janji", Kemudian ia mempersilahkan
Gin Liong dan Yok Lan naik ke atas perahu,
Ketika kedua anak muda itu loncat ke geladak perahu,
sedikitpun kakinya tak mengeluarkan suara apa2. Tetapi
rahib itu tak terkejut ia segera mendayung ke tengah,
sikapnya tak mempedulikan kedua anak muda itu. perahu
meluncur cepat sekali.
Pemandangan telaga di waktu malam memang indah.
Tak berapa lama disebelah muka tampak menggunduk
hitam, Ketika tiba ternyata merupakan sebuah kelompok
bunga teratai yang luasnya beberapa meter, Menilik
bentuknya menyerupai sebuah jalan diatas air, jelas bunga
teratai itu tentu dipelihara orang.
Yok Lan dan Gin Liong tertarik melihat pemandangan
itu. Dalam pembicaraan selanjutnya Gin Liong berkata:
"Jika pemandangan disini tak indah, tentulah Siok Lian
suthay takkan meninggalkan surat rahasia mengundang
kami datang ke mari !"
Baru Gin Liong berkata begitu, dari arah belakang
terdengar orang mendengus geram, dan ketika berpaling,
kedua anak muda itu terkejut sekali.
Rahib yang mukanya tertutup kain itu tidak lagi
melanjutkan mendayung melainkan tengah mengayunkan
kayuh menyerang dengan jurus Heng-soh-ngo-gak atau
Menyapu-lima-gunung, sebelum kayuh tiba, anginnya
sudah menderu-deru menyambar ke arah Gin Liong.
Peristiwa itu tak terduga2 dan jaraknya amat dekat
sekali, apalagi berada di tengah telaga.
Gin Liong dan Yok Lan berteriak kaget. Ke duanya tak
sempat lagi untuk menghindar. Dalam gugup kedua anak
muda itu loncat kedalam telaga
Rahib itu tertawa gembira sekali.
Pada saat rahib yang mukanya berselubung kain cadar
itu tertawa gembira, Gin Liong dan Yok Lan segera bersuit
nyaring, dengan gunakan ilmu tata-langkah Sing-hoan-poh,
kedua muda-mudi itu menginjak daun teratai lalu dengan
meminjam tenaga-pijakan itu keduanya melayang keperahu
lagi.
Rahib berselubung muka itu terkejut bukan kepalang,
itulah suatu ilmu meringankan tubuh yang bukan kepalang
hebatnya, Cepat ia ayunkan kayuh untuk menyapu kedua
pemuda itu.
Tetapi Yok Lan lebih gesit, Sebelum kayuh menyapu, ia
sudah tiba di haluan perahu lalu enjot tubuhnya loncat
menghindar ke sebatang teratai lagi.
Saat itu Gin Liongpun sudah tiba di buritan perahu.
serentak ia menghantam bahu kiri rahib itu.
Rupanya rahib itu juga lihay, Tahu kalau bahunya
disambar angin, ia segera memutar kayuh menghantam Gin
Liong, Gin Liong terkejut terpaksa ia loncat menghindar ke
atas.
Yok Lan loncat lagi ke perahu seraya taburkan pedang
Tanduk Naga kearah kepala rahib jahat itu, Rahib itu
menjerit kaget dan buru2 tundukkan kepala. Cret .... caping
dan rambut rahib itu terbabat pedang dan berhamburan
jatuh.
Ah... Yok Lan tertegun Rahib itu ternyata memelihara
rambut bagus, Dalam pada itu ketika masih berada di
udara, Gin Liongpun lepaskan sebuah hantaman. Tetapi
rahib itu cepat loncat ke-dalam air.
Setelah meluncur didalam perahu, Gin Liong pun
berseru : "Lan moay, celaka !"
Yok Lan tahu bahwa rahib itu tentu hendak
membalikkan perahu, ia tak pandai berenang. cepat ia
berteriak dan memegang tangan Gin Liong, Gin Liong
menggembor keras lalu menghantam sekuat-kuatnya ke
permukaan air, bum .. . . air muncrat, menimbulkan
gelombang besar dan perahu Gin Liongpun meluncur
mundur.
Setelah gelombang reda, tampak di permukaan air dua
buah tangan halus yang berenang lalu menyelam lagi.
Hantaman Gin Liong tadi telah membawa perahunya
menyurut mundur sampai beberapa tombak, masuk
kedalam gerumbul rumpun teratai, Yok Lan mendapatkan
kayuh perahu, Gin Liong meminta kayu itu, ia yang akan
mendayung.
"Liong koko, dia datang lagi!" tiba-2 Yok Lan berseru,
menunjuk ke permukaan air.
Dibawah sinar rembulan, tampak permukaan telah
tersiak keras, sesosok tubuh berenang menuju ke perahu
Gin Liong,
Gin Liong terkejut melihat kepandaian berenang rahib
berambut itu yang begitu hebat, ia terus mendayung perahu
keluar dari rumpun teratai. Saat itu rahib sudah tiba pada
jarak dua tombak dari perahu, Yok Lan berseru suruh Gin
Liong cepat mendayung.
Tetapi rahib itu lebih cepat, Saat itu sudah tinggal satu
tombak jaraknya, Tetapi Gin Liong dengan tertawa dingin
segera mendayung dan perahu itupun mundur lagi sampai
dua tombak dari rahib.
"Liong koko, dia nanti mati tenggelam," Yok Lan
mencemaskan rahib itu.
"Jangan menghiraukannya, dia dapat menyelam dalam
air selama lima hari," kata Gin Liong. la lanjutkan
mendayung perahu menuju ke tepi.
"Liong koko," kata Yok Lan, "apakah kita jadi ke kuil
Koan-im-yan ?"
Gin Liong mengangguk. Dari tepi kuil itu hanya terpisah
beberapa li, Gin Liong menerangkan lalu berpaling ke
belakang, rahib itu terpisah belasan tombak jauhnya. Tak
berapa lama merekapun tiba di tepi telaga, Sebuah hutan
bambu yang luasnya berpuluh tombak, kuil Koan-im-yan
berada didalam hutan itu.
Gin Liong dan Yok Lan terus masuk kedalam hutan itu.
Mereka menemukan sebuah jalan yang lebarnya satu
tombak dan dialas dengan batu hijau, dari tepi telaga
sampai kedalam hutan.
Sepanjang menyusuri jalan itu, keadaannya bersih, tiada
daun yang berhamburan di jalan. Tentulah para rahib kuil
yang rajin membersihkannya.
Apa yang diceritakan jongos penginapan itu memang
benar Kuil Koan-in-yan memang sebuah tempat yang indah
alamnya.
Pintu kuil itu dicat hitam dan terkancing rapat2. Grendel
pintu amat kokoh dan bersinar remang. Dimuka pintu
dihias dengan sepasang singa dari batu.
Tiba diujung penghabisan dari hutan bambu, ternyata
masih terpisah beberapa tombak dari kuil. Tiba dimuka
pintu, mereka melihat papan nama tergantung diatas pintu
dan berbunyi: Koan-im-yan.
"Liong koko, apakah kita akan melompati tembok ?"
Yok Lan.
"Tidak, kita akan masuk lewat pintu," kata Gin Liong
lalu menghampiri pintu dan mendebur. Karena tiada
penyahutan, Gin Liong hendak mendebur lagi, Tetapi tiba2
ia mendengar derap langkah kaki berlari-lari dari dalam
kuil.
Begitu pintu terbuka, muncullah seorang rahib sekira
berumur 21-22 tahun. Gin Liong dan Yok Lan terkesiap.
Ternyata rahib itu berkepala gundul tidak seperti rahib
didalam perahu tadi.
"Ada keperluan apakah sicu berdua mengetuk pintu kuil
kami ? Apakah sicu tersesat jalan. Maaf, peraturan kuil itu
tak dapat menerima tetamu pria. Harap sicu cari lain
tempat saja," kata rahib itu, terus hendak menutup pintu
lagi.
"Tunggu," seru Gin Liong, "mohon suhu suka
memberitahukan kepada Siok Lian suthay bahwa aku Siau
Gin Liong dan Ki Yok Lan datang hendak menghadap."
Rahib itu terkesiap: "Bilakah sicu berdua menerima
undangan dan suthay kami?"
"Sore tadi." kata Gin Liong.
Rahib itu makin terkejut, gumamnya: "Apa-kah mungkin
mempunyai hubungan dengan sam-suci kami yang baru
kembali . . .."
"Ya, benar, memang suhu itu," cepat Gin Liong
menukas.
Mendengar itu wajah rahib agak berobah, serunya:
"Harap sicu tunggu dulu, aku hendak memberi laporan
kepada suthay.
"Baiklah, harap sicu tunggu," kata rahib itu seraya
berputar tubuh dan melangkah masuk. Diam2 Gin Liong
memperhatikan bahwa rahib itu memiliki ilmu silat.
Tak berapa lama rahib itu bergegas keluar dari ruang
besar lagi dan mempersilahkan Gin Liong berdua masuk,
menunggu di ruang tamu. Tak berapa lama seorang rahib
muda menghidangkan minuman teh. Kemudian muncullah
seorang rahib tua berwajah segar dan ramah, mengenakan
jubah warna kelabu, tangannya memegang kalung tasbih.
Berwibawa dan menimbulkan rasa hormat orang.
Begitu masuk rahib tua itu segera meminta maaf karena
tak lekas datang menyambut, lalu menanyakan maksud
kedatangan Gin Liong berdua.
Gin Liong dan Yok Lan segera menduga bahwa rahib
tua itu tentulah Soh Lian suthay, Keduanya tersipu-sipu
memberi hormat.
Demikian setelah dipersilahkan, Gin Liong lalu
menyerahkan surat dari Soh Lian suthay yang
mengundangnya datang, Tentang rahib yang
mencelakainya di perahu, ia masih belum mau mengatakan
Melihat surat itu, Soh Lian suthay tertawa lalu berpaling
kepada rahib gundul yang berdiri disampingnya. "cobalah
tengok sam -sucimu apakah sudah berganti pakaian dan
undanglah dia kemari."
Setelah rahib muda itu pergi maka Soh Lian suthay
bertanya pula: "Apakah selama dalam perjalanan kemari,
sicu berdua tak mengalami sesuatu ?"
Terpaksa Gin Liong menceritakan pengalaman yang
dideritanya dalam perahu, Saat itu rahib gundul masuk pula
bersama seorang rahib berwajah terang, umur sekira 25-26
tahun,
"Liau In, ceritakan pengalamanmu malam tadi kepada
kedua sicu ini," kata Soh Lian suthay
Rahib muda berwajah cerah itu bernama Liau In.
Dengan agak merah mukanya, ia memberi hormat kepada
Gin Liong dan Yok Lan lalu menutur: "Menjelang sore,
pinni ke kota membeli minyak, setengah li dari pintu kota
Ik-ciu, tampak seorang rahib berjalan dengan gopoh..."
"Berapakah umur rahib itu ?" tukas Yok Lan.
Lian In merenung, ujarnya: "Saat itu cuaca sudah
petang, aku tak dapat melihat jelas, Tetapi rasanya belum
ada tiga-puluh tahun."
Berhenti sejenak ia melanjutkan: "Rupanya rahib itu
gelisah sekali, Pada saat lewat di sampingku setelah
memandangku sejenak, tiba2 ia terus menyerang. Karena
tak menduga-duga, aku kena diringkus oleh rahib cantik
itu."
Bercerita sampai disitu, wajah rahib Liau In perlebar
merah lagi, Rupanya Gin Liong dapat menduga, Waktu ia
hendak bertanya, Liau In sudah melanjutkan lagi..
"Rahib cantik itu menyeret aku ke tempat sepi lalu
menutuk jalan darahku dan melucuti pakaianku, untunglah
saat itu muncul seorang tua berilmu yang menolong aku
dan mengantarkan sampai ke tepi telaga, Tetapi perahu
yang tersedia disitu sudah tak ada."
"Apakah jubahnya berwarna kuning telur dan
mengenakan baju lengan pendek warna merah ?" seru Yok
Lan.
"Benar, dan membawa sebatang kebut Giok-hud-tim,"
seru Liau In.
"Tak salah lagi, dialah Biau Biau sian kho yang gemar
mencelakai orang," seru Gin Liong.
Mendengar nama Biau Biau sian-kho, wajah Liau In
serentak berobah lalu berpaling ke arah Soh Lian suthay.
Soh Lian suthay menyebut "omitohud" dan dengan
tenang berkata: "Sungguh tak kira kalau binatang itu lagi..."
Rahib gundul serentak melangkah maju memberi hormat
kepada Soh Lian suthay: "Mohon suthay mengiijinkan
murid ke telaga untuk menghukum murid murtad itu."
Tetapi Soh Lian suthay dengan wajah bersungguh segera
berkata: "Orang jahat tentu dibasmi orang jahat. Kejahatan
Biau Biau sian-kho sudah melewati batas, akhirnya dia
tentu akan terbasmi hanya saatnya belum tiba. jangan
engkau terperangsang sehingga kejernihan hatimu
terganggu."
Rahib gundul itu mengiakan dan segera mundur. Dalam
pada itu setelah tahu duduk perkaranya Gin Liong dan Yok
Lanpun segera minta diri.
Soh Lian suthay mencegah, mengatakan hari sudah
malam dan hendak menjamu mereka tetapi Gin Liong tetap
pamit pulang, Akhirnya Soh Lian suthay menitahkan dua
orang rahib gundul mengantar.
Dengan perahu yang lebih besar, kedua rahib itu segera
mengantarkan Gin Liong dan Yok Lan. Cepat sekali perahu
itu sudah keluar dari gerumbul taman teratai, Dan setengah
jam kemudian sudah tiba di tepi, Diam2 Gin Liong
membatin, anak murid Soh Lian suthay itu berkepandaian
tinggi, jika tidak diserang secara tiba2, tak mungkin dapat
diringkus Biau Biau sian-kho.
Gin Liong dan Yok Lan kembali ke rumah penginapan
lagi, Setelah siang, baru tetamu2 meninggalkan rumah
penginapan.
"Liong koko," kata Yok Lan, "kebanyakan tetamu yang
menginap disini, tak terburu-buru menempuh perjalanan,
Yang terburu-buru, tentu menginap di rumah penginapan
luar kota, Mari kita periksa rumah2 penginapan itu,
mungkin Liong Li locianpwe berada disana."

Gin Liong setuju. Keduanya segera menuju ke pintu kota


selatan. Setelah keluar dari pintu kota, mereka mulai
bertanya kepada setiap rumah penginapan Tetapi sampai
tiga rumah penginapan mengatakan tak ada. Terakhir pada
rumah penginapan yang paling selatan sendiri, Gin Liong
mendapat keterangan yang mengejutkan.
Jongos menerangkan bahwa memang ada seorang
wanita seperti yang dilukiskan Gin Liong itu, menginap di
rumah penginapan situ, Wanita memiliki sepasang mata
yang terang, berwarna agak kecokelat-cokelatan.
Gin Liong dan Yok Lan girang sekali, Menurut
keterangan jongos, tetamu wanita itu sudah pergi lima hari
yang lalu. Gin Liong memberi persen kepada jongos itu lalu
mengajak Yok Lan melanjutkan perjalanan Kini dia sudah
memperoleh jejak Ban Hong Liong-li.
Tiap tiba di kota, keduanya segera mencari keterangan ke
hotel2. Beberapa hari kemudian walaupun belum berhasil
menyusul, tetapi mereka sudah memperoleh keterangan
yang pasti, Tiap dua hari sekali, Bang Hong Liong-li tentu
bermalam di hotel, kebanyakan hotel2 diluar kota, jarang
Ban Hong Liong-li makan di rumah makan besar,
kebanyakan hanya di rumah makan kecil. Mungkin untuk
menghindari perhatian orang.
Gin Liong memperhitungkan bahwa Ban Hong Liong-li
tentu berada di muka, sedang rumah penginapan pada
perjalanan yang akan tiba adalah rumah penginapan Liu-
lim-tiam. Tetapi dari kota Sin-ca-koan ke Liu-lim-tian itu
harus melalui gunung Ke-kong-san, markas besar Thian-
leng-kau.
Diperhitungkan pula, bahwa cara yang terbaik untuk
menyusul Ban Hong Liong li ialah mendahului untuk
menunggu disuatu tempat yang diperkirakan Ban Hong
Liong-li akan berhenti.
Jika menuju ke Ke-kong-san untuk memenuhi tantangan
Thian-leng-kau, ia harus menggunakan waktu satu hari, itu
berarti masih setengah hari dapat lebih dulu datang ke Liu-
lim tiam daripada Ban Hong Liong-li.
Setelah dipertimbangkan akhirnya Gin Liong dan Yok
Lan memutuskan untuk memenuhi tantangan orang Thian-
leng-kau kepada Li Kun dulu.
Menjelang sore, mereka sudah tiba dikota Tiang-siu,
kira2 dua-puluh li dari gunung Ke-kong-san, Keduanya
bermalam disebuah hotel.
Di kota Tiang-siu, pun terdapat cabang Thian-leng-kau.
Kabarnya, yang menjadi kepala cabang adalah seorang
wanita muda yang cantik.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Gin Liong dan Yok
Lan duduk di serambi untuk merunding rencana perjalanan.
Tiba2 muncul dua orang menghampiri mereka, Yang satu
bertubuh gemuk, satu kurus, Keduanya berjalan dengan
sikap congkak, Setelah melihat Gin Liong dan memandang
Yok Lan, si kurus memberi hormat.
"Saudara berdua hendak ke mana, mengapa bermalam
disini, Siapa nama saudara, perguruan dan guru saudara.
Harap suka memberi tahu agar aku..."
Melihat ulah kedua orang itu, Gin Liong sudah muak,
cepat ia menukas: "Aku menuju ke seluruh penjuru,
menginap hotel dengan membayar, bukan bangsa
penyamun juga bukan pesakitan, Mengapa kalian hendak
menanyakan diri kami ?"
Si gemuk mengerut dahi lalu membentak keras: "Tutup
mulutmu, budak hina. Ketahuilah, tempat ini adalah darah
kekuasaan partai kami !" Habis berkata ia terus loncat
masuk.
"Kawanan tikus, engkau hendak cari mampus ? Hayo,
enyahlah!" Gin Liong marah dan menghantam.
"Jangan, koko," cegah Yok Lan, ia kuatir tindakan
sukonya itu akan mengejutkan orang2 Thian-leng-kau.
Tetapi tangan Gin Liong sudah terlanjur berayun,
seketika terdengar suara orang mengerang disusul dengan
derap gemuruh dari kaki yang terhuyung-huyung.
Si gemuk telah terlempar keluar. Wajahnya pucat, kedua
tangannya mendekap perut, Rupanya untuk memeriksa
pernapasannya apakah terluka, Ternyata ia tak menderita
luka. Dia terlongong-longong heran.
Yok Lan segera keluar dan berkata kepada kedua orang
itu.
"Kami hendak memenuhi undangan dari Pit-pengacau-
dunia Yu Ting-su, pemimpin ketiga dari Thian-leng kau.
Karena sudah malam, kami terpaksa menginap disini, Lalu
apa yang kalian kehendaki dari kami."
Mendengar itu si kurus segera merobah sikapnya.
Dengan hormat ia berkata: "Maaf, kami tak tahu kalau
saudara berdua sahabat dari pemimpin kami."
Saat itu jongos muncul membawa hidangan, Si kurus
meminta Gin Liong berdua supaya mengganti dengan
hidangan yang lebih mahal, semua biaya akan ditanggung
mereka, Tetapi Gin Liong menolak.
Kemudian si kurus menerangkan bahwa kepala cabang
dikota itu, Busur-emas-pelor-perak Long Ci Ing karena
sudah menuju ke markas maka tak dapat menyambut.
Gin Liong mengucapkan beberapa kata terima kasih,
Masih si kurus hendak mengunjuk jasa, menawarkan untuk
memberitahu lebih dulu ke markas besar agar dapat
menyambut kedatangan Gin Liong. Tetapi Gin Liong
menolaknya.
Masih pula si kurus menawarkan jasa untuk mengantar,
Yok Lan terpaksa menerima: "Baiklah, karena saudara
bersungguh hati hendak mengantar, baiklah besok pagi
harap datang kemari."
Keesokan harinya ternyata si kurus sudah siap
menunggu. Mereka bertiga segera naik kuda menuju ke
gunung Ke-kong-san, Tiba di kaki gunung sebelah utara, si
kurus lalu mengeluarkan bendera merah kecil dan
diacungkan keatas kepala.
Ketika mendaki ke lereng, mereka terkejut mendengar
suara gemuruh. Ketika menanyakan, si kurus menerangkan:
"Sungguh kebetulan sekali sau dara datang pada saat ini,
inilah untuk yang pertama kali Thian-leng-kau mengadakan
pertandingan pi-bu. Dan hari ini merupakan hari terakhir,
Besok sudah akan ditetapkan kedudukan dan jabatan
masing2. Jika Long thocu kami menang, aku akan ikut
pindah ke cabang di Kong-ciu."
Rupanya si kurus ingin membanggakan
perkumpulannya, ia melanjut lagi, Menerangkan bahwa
anggauta2 Thian - leng - kau rata2 memiliki ilmu tinggi
sekali. Akan mempersatukan kaum persilatan untuk diajak
menjalankan keadilan dan kebenaran, membasmi
kejahatan.

"Siapakah kiranya nama suhu dari pemimpin partai


saudara itu ?" tanya Gin Liong.
"Entahlah," si kurus gelengkan kepala, "yang kami
ketahui hanialah kaucu kami itu bernama Hong-hu Ing dan
adik perempuannya bernama Hong-hu Yan, kedua kakak
beradik itu berilmu tinggi sekali. Sampai sekarang belum
terdapat orang yang mampu melayani mereka sampai
sepuluh jurus..."
Saat itu suara sorak sorai makin bergemuruh. Si Kurus
menerangkan bahwa tentu ada orang yang menenangkan
pertandingannya.
Yok Lan kerutkan alis dan bertanya heran: "Diatas
kepala cabang hanya kaucu. Lalu siapa sajakah kepala2
cabang itu."
"Setiap orang hanya untuk sementara ditetapkan
kedudukannya, bahkan termasuk diri kaucu sendiri juga,"
kata si kurus. ia berhenti, sejenak lalu berkata pula:
"Menurut keterangan Long thocu, dibawah kaucu
terdapat tiga kepala bagian dalam, dan tiga kepala kepala
bagian luar, Setelah itu baru kelima lohu-cu dan kepala
cabang."
Baru Yok Lau hendak bertanya, tiba2 si kurus sudah
berseru: "Disebelah depan itu adalah markas besar kami!"
Memandang ke muka, tampak sebuah pintu gapura yang
tinggi besar dan sebuah bangunan luas yang dikelilingi
tembok tinggi, Dikedua samping pintu, dijaga oleh berpuluh
penjaga bersenjata golok dan mengenakan pakaian seragam
yang ringkas.
Di sebelah muka agak keluar dari pintu itu terdapat
tempat lelaki yang menuntun kuda, Salah seorang
diantaranya seorang tua baju panjang dan yang tiga
mengenakan pakaian ringkas. Mereka membawa senjata.
Thio Su demikian nama si kurus, segera menerangkan
bahwa keempat pendatang itu juga hendak ikut dalam pi-
bu. Harap saudara berdua nanti jangan bicara apa2. biarlah
aku yang menghubungi para penjaga pintu itu.
Benar juga setelah tiba di muka pintu besar, Thio Su
segera mengambil sekeping lencana tembaga dan
diserahkan kepada penjaga.
Tiba2 penjaga yang berdiri di tengah, setelah memeriksa
lencana, lalu mengembalikan kepada Thio Su, katanya:
"Walaupun kedua tuan ini sahabat dari Yu tancu tetapi Yu
thancu belum memberitahu kepada kami. Sekarang
silahkan engkau sendiri yang masuk untuk mengundang Yu
tancu keluar . . ."
Thio Su deliki mata, serunya: "Yu thancu tiap hari sibuk
melakukan tugas, kemungkinan tentu lupa memberitahu.
Tetapi beberapa hari yang lalu Yu thancu telah
memberitahu kepada Long thocu supaya menunggu
kedatangan Siau siauhiap dan diajak kemari ikut dalam
pertandingan pi-bu. Apabila sampai tertunda sehingga
pertandingan sudah bubar, siapakah diantara saudara yang
berani bertanggung jawab ?"
Penjaga2 itu saling bertukar pandang tetapi tak ada yang
menyatakan apa2. Penjaga yang di tengah tadi juga tampak
bimbang.
Saat itu dari dalam markas terdengar pula sorak sorai
yang gemuruh. Tentu ada yang menang dalam
pertandingan
"Saudara," seru Thio Su makin gugup, "pertandingan pi-
bu diantara thancu sudah mulai. Kalau saudara tak berani
bertanggung jawab, maka aku akan membawa Siau sauhiap
masuk, Segala perkara, akulah yang tanggung, takkan
melibat saudara2."
Setelah berkata si kurus mengajak Gin Liong dan Yok
Lan masuk, Penjaga2 itupun memberi jalan.
-ooo0dw0ooo-

Bab 9
Menghadiri Phibu di Thian-leng-kau
Saat itu matahari sudah naik di puncak gunung, Puncak
di sebelah kanan kiri penuh tertutup pohon siong dan rotan
liar. Ternyata markas itu merupakan sebuah lembah
gunung yang luas, penuh dengan bangunan2 dan pohon2.
Berpuluh tombak yang disebelah muka, terdapat sebuah
hutan lebat, Di tengah hutan itu tampak beberapa buah
bangunan gedung yang besar.
Sesudah masuk, Yok Lan dapatkan beberapa anak buah
Thian-leng kau masih memandang dan kasak kusuk.
"Agaknya, tiada yang mengepalai penjagaan di pos pintu
markas perkumpulan saudara," kata Yok Lan kepada Thio
Su.
Thio Su hanya mengatakan bahwa mungkin mereka ikut
dalam pertandingan pi-bu. Akhirnya mereka disebuah
gedung bangunan yang mempunyai ruangan besar sekali,
Beribu-ribu anak buah Thian-leng-kau berada ruang besar
itu dari tengah memandang ke arah halaman, sebuah
lapangan luas yang merupakan tempat adu pi-bu saat itu.
Terdengar suara gemboran keras dan disambut dengan
tampik sorak dan sekalian anak murid Thian-leng-kau.
Gin Liong bertiga tiba tak jauh dibelakang mereka,
Tampak seorang lelaki berpakaian kelabu dengan muka
merah padam sedang masuk kedalam rombongan anak
murid Thian-leng-kau. Sedang seorang lelaki lain dengan
wajah yang congkak berjalan mendatangi.
Thio Su mempersilahkan Gin Liong dan Yok Lan turun
dari kuda, kemudian mengajaknya masuk kedalam
ruangan. Banyak sekali anak buah Thian-leng-kau yang
berpaling dan memandang ketika Gin Liong bertiga tiba.
Tetapi dengan sikap yang angkuh, Thio Su berjalan paling
depan untuk menunjukkan jalan kepada kedua pemuda itu.
Tiba2 diatas titian yang akan menuju ke panggung
kehormatan dua orang penjaga dengan senjata golok di
pinggang segera tampil menghadang. Thio Su dengan
angkuh segera menunjukkan lencana dan kedua anak buah
Thian-leng-kau itu pun segera menyisih.
Ternyata panggung itu merupakan tempat duduk dari
mereka yang akan turun ke gelanggang untuk menunjukkan
kepandaiannya, Saat itu panggung penuh dengan jago2
bahkan terdapat pula paderi dan imam. Ketika Gin Liong
masuk, sekalian mata hadirin segera mencurah kepadanya,
Ada yang terkejut tetapi tak kurang yang tak mengacuhkan.
Rupanya tempat duduk diatur menurut tinggi rendahnya
kedudukan. Dibagian atas sudah penuh tetapi dibagian
bawah atau yang di muka masih terdapat tempat yang
kosong Gin Liong dan Yok Lan dipersilahkan duduk di
deretan pertama.
Saat itu di gelanggang mulai diadakan pertandingan oleh
dua orang jago.
Gin Liong dan Yok Lan mendapatkan bahwa semua
orang yang duduk di panggung itu sama memperhatikan
dirinya. Panggung dan sekeliling arena pertandingan diatur
dengan megah dan meriah. Ruang besar itu di hias dengan
indah.
Dimuka ruang disiapkan dua deret tempat duduk. Yang
ditengah-tengah, tiga buah kursi besar bercat kuning emas.
Yang tengah, duduk seorang anak muda berumur 28-29
tahun mengenakan pakaian warna biru seperti seorang
sasterawan.
Sasterawan muda itu berwajah tampan dan gagah,
alisnya tebal, mata bercahaya tajam dan mulut
menyungging senyum.
Segera Gin Liong dan Yok Lan menduga bahwa
sasterawan muda itu tentulah Honghu Ing, jago muda yang
menggemparkan dunia persilatan dan kini menjadi ketua
perkumpulan Thian-leng kau.
Disebelah kiri dari Honghu Ing duduk seorang tua
berumur 60 an tahun, Sedang disisi kanan Honghu Ing,
seorang gadis cantik berpakaian ungu muda. Dibelakang
gadis cantik itu duduk dua orang dara, berpakaian ringkas
dan menyanggul pedang di punggung, Rupanya kedua dara
itu adalah bujang pelayan dari si gadis cantik.
Gin Liong dan Yok Dan tahu bahwa gadis cantik itu
tentulah Honghu Yan, adik dan Honghu Ing. Tetapi mereka
tak tahu siapakah orang tua berjubah kuning itu.
Disebelah kanan dan kiri dari ketiga kursi kehormatan
itu, masih terdapat enam orang. Ada yang berumur 40-70
tahun, yang termuda berumur 40-an tahun, Menilik wajah
mereka yang merah segar dan tulang pelipisnya yang
menonjol keluar, jelas mereka tentu jago2 yang hebat
tenaga dalamnya.
Kemudian pada deretan kursi yang kedua, tampak diisi
oleh delapan orang, Pit-pengacau-dunia Yu Ting Su, duduk
disalah satu dari tiga kursi yang paling tengah.
Yu Ting Su mengenakan pakaian ringkas, punggungnya
menyelip sebatang poan koan-pit dan tengah memandang
dengan perhatian ke tengah gelanggang.
Dibelakang kedua deret kursi itu, penuh berdiri berpuluh-
puluh orang. Diantaranya tampak Tio hiang cu yang telah
dipotong daun telinganya oleh Tio Li Kun tempo hari.
Tiba2 beberapa jago berpakaian biru, berpaling
memandang Thio Su yang saat itu tengah menghampiri ke
tempat Yu Ting Su. Yu Ting Su berpaling dan terkesiap,
Thio Su membisiki ke dekat telinga Yu Ting Su tetapi orang
she Yu itu gelengkan kepala.
Ketika memandang ke deretan muka tempat Gin Liong
dan Yok Lan duduk, wajah Yu Ting Su serentak berobah,
ia mendorong Thio Su lalu berbangkit dan bergegas
menghampiri ke kursi ketua. sikapnya tegang sekali.
Saat itu terdengar sorak sorai bergemuruh dan kedua
orang yang bertanding, pun sudah tinggalkan lapangan.
Gin Liong berpaling ke belakang. Tampak Yu Ting Su
tengah berdiri dibelakang Honghu Ing dan membisiki
beberapa patah kata, Wajah Honghu Ing berobah serius.
Rupanya gerak gerik Yu Ting Su itu menimbulkan
perhatian segenap orang yang hadir disitu, setelah
mendapat laporan, mata Honghu Ing pun segera mencurah
kearah Gin Liong dan Yok Lan. Sekalian orangpun
mengikuti memandang kearah yang dipandang ketua
mereka, Gin Liong dan Yok Lan menjadi pusat perhatian
seluruh anak buah Thian leng-kau. .
Tatkala memandang kearah Yok Lan, Honghu Ing
terkesiap melihat kecantikan nona itu, Setelah
menenangkan hatinya barulah ketua Thian-leng-kau itu
beralih memandang Gin Liong.
Rupanya Honghu Ing tak mau suasana akan terganggu.
Segera ia membeli isyarat tangan kepada seorang lelaki baju
putih yang berdiri di ujung deretan depan, Orang itupun
mengangguk lalu melantangkan pengumuman.
"Pui Kong Cin, sesuai dengan pertandingan yang terdiri
dan tiga-puluh jurus, telah dapat mengalahkan Li Tiang Su,
maka sekarang diangkat sebagai kepala cabang di Sin-an,"
serunya.
Selesai pengumuman, lelaki baju kelabu yang berdiri di
titian bawah panggung, segera memberi hormat kepada
Honghu Ing lalu menuju ke panggung sebelah muka.
Ia menulis dalam sebuah buku, kemudian berseru
melayangkan pengumuman lagi : "Pertandingan selanjutnya
antara kepala cabang di kota Tiang-siu, Busur-emas-pelor-
perak Long thocu, lawan ke tua cabang dari Kong-ciu yang
Tongkat-besi-tua Cia thocu."
Pada deretan tempat duduk yang tak berapa jauh dari
tempat Gin Liong, bangkit seorang lelaki tua berumur 50-an
tahun, mengenakan pakaian ringkas warna abu2,
memegang sebatang tongkat besi yang berat, lalu berjalan
menuju ke lapangan.
Kemudian seorang wanita muda cantik berusia 26-27
tahun dalam pakaian ringkas warna hijau, membawa busur
warna kuning emas, segera loncat turun ke gelanggang.
Pada saat itu Yu Ting Su-pun menghampiri tempat Gin
Liong dan Yok Lan, memberi salam dan berkata dengan
tertawa: "Atas titah kaucu, saudara berdua diminta duduk
di panggung kehormatan."
Ketika Gin Liong berpaling memandang ke atas
panggung, ketua Thian-leng kau Honghu Ing dan adik
perempuannya Honghu Yan memberi anggukan kepala
kepadanya, Gin Liongpun balas mengangguk lalu mengajak
Yok Lan naik titian keatas panggung kehormatan.
Sambil menyertai, Yu Ting Su berkata: "Saudara berdua
benar2 pegang janji. Kaucu tak mengira kalau saudara akan
datang begini cepat. Lalu mana nona yang seorang itu ?"
"Ah, nona Tio terpaksa pulang dulu karena ada urusan,"
kata Gin Liong.
Selekas masuk ke panggung kehormatan, berpuluh2 jago
Thian-leng-kau serentak menyisih memberi jalan, Honghu
Ing sendiripun segera berbangkit, diikuti oleh seluruh anak
buah Thian-leng-kau.
"Aku yang rendah Honghu Ing, tak tahu kalau Siau
sauhiap dan nona Ki berkunjung kemari sehingga tak keluar
menyambut sendiri, harap suka memaafkan," kata Honghu
Ing menyambut kedua tetamunya.
Gin Liong balas menghormat seraya mengucapkan
beberapa patah merendah.
Kemudian Honghu Ingpun memperkenalkan jago2 yang
berada disitu kepada Gin Liong, Karena banyaknya, Gin
Liong tak dapat mengingat satu per satu, Hanya ia ingat,
orang tua baju kuning bernama The Hai Hin itu adalah
ayah-angkat Honghu Ing. Sedang yang lain2 adalah para
pimpinan partai Thian-leng-kau.
Selesai memperkenalkan Honghu Ing berkata pula:
"Sungguh kebetulan sekali kedatangan Siau sauhiap ini,
Saat ini merupakan hari terakhir dari pertandingan pi-bu
Thian-leng-kau. Menurut keterangan Yu thancu, saudara
berdua memiliki kepandaian yang sakti. silahkan saudara
duduk dulu, nanti apabila tiba giliran acara pi-bu untuk
memilih ketua, kami hendak mohon saudara yang menjadi
wasit."
Nona baju ungu Honghu Yanpun segera memberikan
tempat duduk yang kosong disebelahnya.
Gin Liong kerutkan alis dan berkata: "Kepandaian kaucu
sudah termasyhur di dunia persilatan. Sudah lama aku
sangat mengagumi Hari ini kedatanganku ialah hendak..."
Honghu Ing cepat menukas tertawa: "silahkan duduk,
pertandingan segera akan dimulai."
Di gelanggang tampak Tongkat-besi dan Busur-emas
tegak menunggu komando untuk mulai mengadu
kepandaian.
Melihat itu Gin Liong dan Yok Lan terpaksa duduk
dideretan muka. Mata Honghu Yan yang cantik senantiasa
mencurah kepada Gin Liong.
Gin Liong segan terlalu lama berada di markas Thian-
leng-kau, Tetapi demi menghindarkan diri bertempur
dengan orang, terpaksa untuk sementara ia harus tinggal
disitu. Demikian pula karena melihat kedua saudara
Honghu itu bersikap sopan dan tergolong kaum ksatrya,
Gin Liong memutuskan persoalan Li Kun dengan mereka.
Demikian setelah Honghu Ing dan jago2 lainnya duduk,
ketua Thian-leng kau itu segera memberi tanda supaya
pertandingan dimulai.
"Pertandingan dimulai !" seru orang baju putih yang
bertindak sebagai pembawa acara.
Kedua jago di gelanggang memberi hormat kearah
panggung kehormatan lalu melangkah ke-tengah
gelanggang.
Jago tua Tongkat-besi dengan rambutnya yang putih dan
mata berkilat kilat tajam melangkah dengan mantap,
sedangkan wanita muda Busur-emas dengan mengulum
senyum, maju sambil membawa busur. Tampaknya ia yakin
tentu dapat mengalahkan lawan.
Dengan menggembor keras, tiba2 Tongkat-besi memutar
tongkatnya dan menyerang Busur-emas Long Ci Ing.
Long Ci Ing memekik keras, bergeliatan dan
menghindari serangan tongkat lalu balas menghantam
dengan busur
Serangan pertama luput, Tongkat-besi Cia Ki segera
berputar tubuh dan menyerang lagi.
Pada saat itu Yok Lan benturkan siku lengannya kearah
Gin Liong, Pemuda itu tahu dan mengerlingkan pandang,
Dilihatnya Yu Ting Su tengah kasak kusuk dengan
beberapa jago Thian-leng-kau. Sedang beberapa jago
lainnya juga memperhatikan Gin Liong, Gin Liong hanya
tertawa dingin lalu memandang ke arah gelanggang lagi.
Pertempuran berjalan seru. Masing2 telah mencurahkan
seluruh kepandaiannya. Cia Ki memainkan tongkatnya
sederas angin puyuh.
Sekeliling tempat seluas lingkungan dua tombak, debu
berhamburan tebal. Tetapi Busur-emas Long Ci Ingpun
teramat gesit sekali, Busur diputar menjadi beratus
lingkaran sinar kuning, menyambut serangan tongkat dan
mencari kesempatan untuk balas menyerang.
Sekalian jago2 yang menyaksikan pertempuran itu
geleng2 kepala dan tak henti-hentinya memuji.
Dalam beberapa kejab saja pertempuran itu sudah
berlangsung lebih dari lima puluh jurus Gin Liong kerutkan
dahi.
Rupanya Honghu Yan tahu apa yang dipikirkan Gin
Liong, segera ia tertawa: "pertandingan itu untuk
menentukan jabatan, sebenarnya dibatasi sampai tiga-puluh
jurus, Tetapi kedua orang itu tergolong ketua cabang,
mereka bertempur sampai ada yang kalah."
Merah wajah Gin Liong karena merasa bahwa nona itu
selalu mengawasi dirinya. ia berpaling dan tertawa,
meminta keterangan: "Mohon tanya, bukankah mereka
berdua sudah menjabat kedudukan sebagai ketua cabang ?"
Dipandang oleh Gin Liong, nona cantik itu berdebar
hatinya. wajahnya bertebar merah lalu menyahut:
"Walaupun sama2 menjadi ketua cabang tetapi
tingkatannya tidak sama, Cia thocu lebih tinggi setingkat
dari Long thocu."
"Ooh, kalau begitu mereka hanya memperebutkan
tingkat saja?"
Honghu Yan tersenyum mengiakan
"Kalau misalnya Long thocu menang, apakah dia akan
dipindah sebagai ketua cabang di Kong-ciu."
"Ya, dan Cia thocu akan turun tingkat, di pindah ke
Tiang-siu," kata Honghu Yan.
"Apakah Cia thocu akan mandah menerima hinaan itu ?
Apakah dia takkan mendendam terhadap Long thocu?
Misalnya pula, sampai ada yang mati dalam pertempuran
itu, tidakkan sahabat dan anak buahnya akan melakukan
pembalasan ?" tanya Gin Liong, Honghu Yan merah
mukanya tak dapat menjawab.
Rupanya Honghu Ing mendengar percakapan itu, ia
segera bertanya: "Kalau menurut pendapat Siau sauhiap,
dengan cara bagaimanakah pertandingan yang
dimaksudkan untuk mencari kemajuan di kalangan ketua2
cabang itu, akan diatur ?"
"Menurut pendapatku," kata Gin Liong, "pertandingan
harus diberi batas, Apabila pada batas yang ditentukan,
tingkat ketua cabang yang lebih rendah itu tak dapat
dikalahkan oleh yang tongkatnya lebih atas, maka
pertandingan itu harus dihentikan dan kepada ketua cabang
yang tingkat bawah itu supaya dinaikan sama tingkatnya
dengan lawannya. Dengan demikian tanpa mengurangi
dorongan agar mereka giat berlatih, pun dapat dicegah
terjadinya salah seorang akan mati terbunuh dan timbulnya
akibat2 dendam permusuhan dikalangan mereka2 yang
bertanding. Untuk ketua cabang yang tingkatnya lebih atas
itu, boleh diberi kesempatan sekali lagi untuk bertanding
dengan lain ketua cabang yang tingkatnya lebih rendah."
Orang tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu
Ing berseru memuji pendapat Gin Liong.
Pun Honghu Ing serentak berseru kepada kedua jago
yang sedang bertempur itu: "Harap Cia thocu dan Long
thocu hentikan pertempuran !"
Mendengar itu Tongkat-besi Cia Ki dan Busur-emas
Long Ci Ing segera loncat ke belakang.
Kemudian Honghu Ing bertanya kepada pembawa-acara
baju putih: "Sudah berapa banyakkah mereka bertempur ?"
"Delapan puluh satu jurus !"
Segera Honghu Ing pertandingan sesuai seperti yang
diucapkan Gin Liong tadi dan suruh pengacara mencatat
dalam buku.
Gin Liong terkejut ia hanya mengemukakan pendapat
dan mengharap agar ketua Thian-leng-kau
mempertimbangkan lagi. Siapa tahu ternyata pendapatnya
itu keseluruhannya telah diterima dan dijadikan keputusan.
Ia hendak mengucapkan kata2 kepada Honghu Ing tetapi
orang yang mencatat dalam buku tadi sudah berbangkit dan
melayangkan pengumuman sesuai seperti yang
diperintahkan Honghu Ing tadi.
Pengumuman itu disambut dengan sorak gegap gempita
oleh sekalian anak buah Thian-leng-kun. Bagi jago2
tingkatannya lebih rendah, mereka tidak lagi kuatir akan
kehilangan jiwanya apabila bertempur dengan tokoh yang
lebih tinggi tingkatannya.
Long thancu gembira karena mendapat kenaikan tingkat,
ia segera memberi hormat kepada ketua Thian-leng-kau dan
kepada lawannya si Tongkat-besi Cia Ki.
Melihat masih ada waktu, Honghu Ing memberi isyarat
kepada pengacara baju putih bahwa pertandingan pi-bu
masih boleh dilanjutkan.
"Sekarang dimulai acara pibu antara tingkat pimpinan
dari tancu keatas, Jika tak ada yang hendak mengadu pi-bu
maka pembagian jabatan segera akan ditetapkan," seru
pengacara baju putih pula.
Orang tua yang duduk di dideretan muka dari para jago2
yang duduk dideretan kedua, serempak berbangkit dan
membenahi pakaian serta senjata masing2. Suasana
seketika berobah tegang lagi.
Tiba2 sesosok tubuh melesat dan tegak di muka ruang.
Seorang lelaki berwajah kuning, memelihara kumis pendek,
mata berkilat-kilat tajam dan pinggang bersabuk rantai besi.
Setelah memberi hormat kepada Honghu Ing dia berseru:
"menghaturkan laporan kepada kaucu, Hamba Rantai
terbang Kwan It Ceng menjabat kepala paseban keempat,
ingin mohon pelajaran beberapa jurus dari Yu thancu."
Gemuruh sekalian orang mendengar ucapan lelaki muka
kuning itu. Mereka tak menyangka dia berani menantang
Yu Ting Su yang menjagoi dalam ilmu pukulan.
Sejenak memandang si Rantai-terbang, Honghu Ing lalu
mencari Yu Ting Su tetapi ternyata jago itu tak berada di
ruang situ.
Pertandingan itu untuk menetapkan jabatan bukan untuk
kenaikan tingkat. Kaucu tak dapat menunjuk orang sebagai
wakil, Kepala Paseban ke tiga itu hanya dijabat seorang.
Tiba2 Yu Ting Su muncul dari sebelah kanan panggung
dan berlari mendatangi. Begitu tiba di muka ruang ia deliki
mata kearah Rantai-besi kemudian baru memberi hormat
kepada Honghu Ing: "Hamba akan menerima tantangan
Kwan thancu."
Honghu Ing: "Cukup asal menutuk saja, jangan sampai
ada yang terluka."
Seluruh anak buah Thian-leng-kau tegang-tegang, Tiba di
gelanggang, kedua jago itu saling berhadapan terpisah satu
tombak jauhnya, Sambil melepaskan sabuk rantai, Rantai
besi Kwan It Ceng memberi hormat.
"Sudah lama kudengar sepasang pit dari Yu thancu
teramat sakti. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat
mohon pelajaran dari thancu," serunya.
Yu Ting Su kerutkan dahi, memicingkan mata dan
tertawa dingin: "Budak, ternyata engkau memandang tinggi
kepadaku, heh..." pelahan-lahan ia mencabut sepasang pit
atau pena yang terselip pada bahunya.
"Aku hanya ingin mendapat pelajaran barang beberapa
jurus dari thancu, sama sekali tak ingin merebut kedudukan
thancu..."
"Tutup mulutmu !" bentak Yu Ting Su lalu gerakkan pit
di tangan kanan untuk menutuk batok kepala dan pit di
tangan kiri menutuk bawah perut orang. Cepat dan ganas
sekali kedua serangan itu dilancarkan.
Rantai-besi kerutkan alis lalu melesat kebelakang, setelah
menghindari kedua pit, ia segera sabetkan rantai besi ke
pinggang lawan.
Gin liong memperhatikan bahwa Yu Ting Su terlalu
ganas sekali, tidak seperti orang yang bertanding pi-bu. ia
berpaling memandang Honghu Ing tetapi ternyata Honghu
Yan duduk disisi engkohnya tengah memandang dirinya.
Tersipu-sipu Gin Liong memandang kearah gelanggang
pertempuran lagi.
Memang saat itu Yu Ting Su melancarkan serangan
ganas dengan bernapsu sekali, Tetapi Rantai - besi Kwan It
Cengpun tetap melayaninya dengan tenang. Beribu anak
buah Thian-leng-kau dan jago ko-jiu dari dua bangsal,
mengikuti pertempuran itu dengan penuh perhatian suasana
sunyi senyap.
Hanya deru angin dari sepasang pit dan mulut Yu Ting
Su yang menggembor kemarahan yang terdengar
memenuhi gelanggang, Rantai-besi Kwan It Ceng tak
mengeluarkan suara apa2.
Pelahan tetapi tertentu, serangan rantai dari Kwan It
Ceng makin keras dan gencar. Teriak kemarahan dari Yu
Ting Supun mulai mereda.
Gin Liong cepat dapat menilai. Kelemahan dari Rantai-
terbang Kwan It Ceng adalah hanya karena kurang
pengalaman. Kalau tidak, sejak tadi dia tentu sudah
menang.
Tiba2 terdengar bentakan keras, Pit ditangan kiri Yu
Ting Su menusuk rantai lawan lalu pit di tangan kanan
melakukan suatu gerak siasat seolah-olah pertahanannya
terbuka.
Melihat itu, bersinarlah mata Rantai-terbang Kwan It
Ceng, ia tak menyadari kalau lawan memang sedang
memasang perangkap, serentak rantai diayunkan untuk
menghantam bahu kiri lawan.
Melihat itu Gin Liong kerutkan alis, Orang tua baju
kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing geleng-2 kepala
dan banyak jago2 ko-jiu yang menghela napas.
Saat itu Yu Ting Su tertawa dingin, Pit ditangan kiri
cepat digerakkan melingkar sehingga rantai terkunci.
Menyadari masuk dalam perangkap, Rantai-terbang Kwan
It Ceng berteriak kaget, lepaskan rantai dan cepat loncat
mundur.
Tetapi Yu Ting Su tak memberi ampun. serentak ia
loncat memburu, sebelum Rantai-terbang sempat berdiri
tegak, pit sudah menyambar dadanya.
Rantai-terbang Kwan It Ceng tak keburu menghindar
lagi, Dengan sekuat tenaga ia miringkan tubuh, Cret . ...
bahunya sebelah kiri termakan tutukan pit, darah
menyembur keluar. Wajah Rantai-terbang berobah seketika,
ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan
hampir saja rubuh.
Yu Ting Su hentikan serangan, namun ia masih
memandang Rantai-terbang dengan geram. Kemudian
dengan pandang mata yang angkuh ia memandang
keseluruh hadirin, Tampak beribu anak-buah dan jago2
Thian-leng-kau serempak berdiri dengan wajah marah,
Rupanya perbuatan Yu Ting Su telah membangkit
kemarahan sekalian orang, Mau tak mau ia gugup juga.
Berpaling memandang ke arah Honghu Ing, dilihat ketua
Thian-leng-kau yang masih muda itu pucat wajahnya, mata
berkilat-kilat, mulut mengulum senyum dingin.
Tergetar hati Yu Ting Su. wajahnya seketika berobah,
Kakinya tak berani melangkah lebih lanjut.
Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras,
Dari samping panggung sebelah kiri, melayang turun
seorang tua berambut putih, ia terus berlari-lari ke muka
ruang.
Gin Liong dan Yok Lan segera mengetahui bahwa orang
tua itu adalah orang yang menuntun kuda dimuka markas
tadi.
Seketika suasana hening, Tiba dibawah titian panggung,
orang tua itu segera memberi hormat ke pada Honghu Ing.
"Aku siorang tua bernama Ong Gi Tiong, Mendengar
hari ini berkumpulan Thian-leng-kau menyelenggarakan
pertandingan pi-bu, maka dari Saypak kuperlukan datang
kemari, Mohon tanya kepada pangcu, apakah orang tua
seperti diriku ini diperbolehkan mohon pelajaran pada
thancu yang memenangkan pertandingan tadi ?"
Melihat Ong Gi Tiong itu bukan jago dari Thian-leng
kau, Honghu Ingpun serentak bangkit membalas hormat. .
"Atas perhatian Ong lo-enghiong yang telah sudi
memerlukan datang ke markas kami, aku dan seluruh anak
murid Thian-leng-kau menghaturkan banyak terima kasih,
Walaupun perkumpulan kami terdiri dari orang2 yang
kasar, tetapi selama ini kami merasa telah bergerak menurut
ketentuan yang tak menyimpang dari kaum hiap-gi (kaum
persilatan yang menegakkan kebenaran). persiapan2 dalam
Thian-leng-kau belum teratur sempurna oleh karena itu
apabila Ong lo-enghiong suka membantu dalam Thian-leng-
kau, kami segenap anggauta Thian-leng-kau akan
menyambut dengan gembira sekali."
Kemudian ia beralih memandang kearah Yu Ting Su
yang masih berada di gelanggang, lalu melanjutkan pula:
"Jika Ong lo-enghiong mempunyai kegembiraan untuk
mengadakan pertandingan persahabatan dengan Yu thancu,
karena pertandingan resmi sudah selesai, hal itu dapat
dilaksanakan tanpa melanggar peraturan perkumpulan
kami. Sudah tentu kami meluluskan."
"Terima kasih, jika begitu aku siorang tua ini akan
mempertunjukkan kepandaian yang jelek dihadapan
pangcu," kata Ong Gi Tiong seraya memberi hormat lalu
melangkah ke tengah gelanggang.
Pada saat itu Gin Liong segera bertanya kepada orang
tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing: "The
locianpwe, bolehkan aku mohon keterangan tentang diri
Ong lo-enghiong itu ?"
Orang tua baju kuning The Tjay Hin, mengelus jenggot
dan merenung sejenak lalu gelengkan kepala.
"Ong lo-enghiong itu tentu seorang tokoh yang sakti.
Tetapi dia tidak mau berterus terang, kemungkinan
namanya tentu juga tidak aseli, Oleh karena itu akupun tak
tahu tentang dirinya."
Gin Liong mengangguk kemudian memandang kearah
gelanggang. Saat itu Ong Gi liong sudah berhadapan
dengan Yu Ting Su. Sembari memberi hormat, jago tua itu
berkata: "Aku yang rendah siorang tua Ong Gi Tiong,
sengaja menghadap kemari untuk meminta sedikit pelajaran
dan Yu thancu."
Dengan pandang mata yang berkilat kilat Yu Ting Su
menyahut dingin: "Engkau orang tua, apakah karena
melihat aku melukai Kwan It Ceng, lalu merasa penasaran
?"
Ong Gi liong tertawa hambar.
"Itu salah dia sendiri tak memiliki kepandaian tinggi,
kurang pengalaman dan lagi terlalu bernafsu sehingga tak
sempat membela diri. Rupanya, engkau Yu thancu,
memang tak bermaksud hendak melukainya," sahut Ong Gi
Tiong.
Yu Ting Su tertawa dingin: "Sudahlah jangan banyak
cakap, silahkan engkau mencabut senjatamu !" - ia terus
bersiap dengan sepasang pit.
Sambil mengurut jenggot, Ong Gi Tiong
menengadahkan kepala dan tertawa keras.
"Sejak berkelana puluhan tahun di dunia persilatan tak
pernah aku bertempur dengan menggunakan senjata, Maka
saat ini, akupun tak mau mengenakan pengecualian dan
tetap akan menggunakan sepasang tangan untuk melayani
bermain beberapa jurus dari Yu thancu."
Ucapan Ong Gi Tiong itu telah menimbulkan
kegemparan Para jago2 ko-jiu yang mendengar kata2 itu
tergetar hatinya.
Wajah Yu Ting Su berobah seketika, Marahnya bukan
kepalang, serentak ia taburkan sepasang pit, cret, cret,
senjata berbentuk pena itu segera menancap ke tanah,
Kemudian ia tertawa nyaring.
"Tua bangka yang bermulut besar," serunya, "Aku
Pengacau-dunia Yu Ting Su, hari ini akan mencoba sampai
dimanakah kehebatan dari sepasang pukulanmu !"
Ia menutup kata-katanya dengan menekuk lengan seraya
mengendapkan badan, tiba2 tangan kanan didorongkan
kemuka- Segulung angin pukulan yang dahsyat segera
melanda orang tua itu.
Ong Gi Tiong kerutkan alis lalu tertawa gelak2. Tangan
kanan dibalikkan untuk melepas sebuah pukulan yang
dahsyat juga.
"Bum..."
Terdengar letupan disusul dengan asap dan debu
bertebaran memenuhi sekeliling. Terdengar pula derap
langkah kaki terhuyung-huyung. Ternyata Yu Ting Su yang
menjagoi dalam ilmu pukulan tangan kosong, saat itu
terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke belakang.
Sedang Ong Gi Tiong masih tegak di tempat nya, Hanya
kedua bahunya yang tampak tergetar dan pakaiannya
tertebar-tebar.
Anak buah Thian-leng-kau yang hampir mendekati
jumlah ribuan itu serentak tercengang.
Setelah tegak, Yu Ting Su merah mukanya, Tentulah ia
terkejut dan marah. Dengan merentang matanya yang sipit,
ia membentak lagi: "Tua bangka, aku hendak mengadu jiwa
dengan engkau !"
Ia terus loncat secara kalap dan menyerang Ong Gi
Tiong.
Ong Gi Tiong mengisar ke samping lalu gerakkan kedua
tangannya sehingga serangan Yu Ting Su tertahan, Yu Ting
Su terdesak mundur, Mulutnya berulang-ulang
menggembor sepasang matanya merah membara.
Tiba2 Yu Ting Su berjongkok untuk menjemput
sepasang pitnya tadi, Kemudian dengan menggerung ia
terus menyerang kalap lagi.
Melihat keganasan Yu Ting Su rupanya Ong Gi Tiong
marah juga. Cepat ia mengganti gerak pukulan dengan ilmu
meringankan tubuh untuk berlincahan menghindar
serangan lawan Dan dalam sebuah kesempatan tiba2 ia
membentak keras lalu secepat kilat menghantam dada Yu
Ting Su.
Karena terlalu bernafsu menyerang, Yu Ting Su tak
sempat menghindar. Bum .. .. ia mengerang tertahan, tubuh
terhuyung lalu jatuh, muntah darah dan tak ingat diri lagi.
Ong Gi Tiong menghampiri mengangkat Yu Ting Su
duduk lalu menepuk jalan darah di perutnya.
Wajah Yu Ting Su pucat pasi, ia membuka mata lalu
mengatupkannya lagi, Rupanya ia menderita luka yang
cukup parah."
Seketika gemuruhlah seluruh gelanggang, Tetapi bukan
suara orang bersorak, melainkan hanya hiruk pikuk, empat
orang lelaki berpakaian ringkas berlari-lari menghampiri ke
tempat Yu Ting Su dan menggotongnya keluar gelanggang.
Setelah itu Ong Gi Tiongpun kembali me