Anda di halaman 1dari 1412

Cin Cu Ling

Karya : Tong Hong Giok Saduran : Gan KL


Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewi-kz.info/


http://kangzusi.info/ http://cerita-silat.co.cc/

Cuaca cerah, udara terang, tiada badai, tidak ada ombak di


tengah sungai atau danau, namun de mikian gelombang omba k
tetap mendampar, yang di belakang mendorong ke depan, air tetap
menga lir tak ter-putus2. Demikian pula suasana Kangouw (sunga i-
telaga), mengejar na ma, berebut rejeki, yang kuat mencaplok yang
le mah kelaliman, kesadiaan kejahatan tetap merajalela, liku
kehidupan dunia persilatan penuh diliputi muslihat, kapan insan per-
silatan pernah mengenya m kehidupan a man dan da mai?
Sepanjang musim se mi tahun ini suasana Kangouw atau dania
persilatan me mang agak tenteram, na mun keadaan ini tida k
bertahan lama, karena kabar yang mengejutkan tiba2 me mbikin
keadaan yang aman tenteram menjadi ge mpar dan bergolak.
Kabar pertama yang mengejutkan ada lah lenyapnya Tong-Thian-
jong, tertua keluarga Tong di Sujwan yang terkenal dengan ilmu
senjata rahasia dan racunnya. Kabar kedua yang mengge mparkan
adalah hilangnya Un It-hong, tertua keluarga Un di Ling la m yang
terkenal dengan obat bius dan wewangian yang memabukkan,
Keduanya menghilang secara beruntun tak keruan parannya .
Konon periatiwa ini terjadi pada permulaan tahun lalu, soalnya
keluarga yang kehilangan ketuanya ini tutup mulut dan
merahasiakan hal itu sehingga urusan baru bocor setelah berselang
tiga bulan ke mudian, sudah tentu berita ini menjadi topik
pembicaraan setiap insan persilatan.
Keluarga Tong di Sujwan berada di utara, se-mentara keluarga
Un di Ling-la m ada di selatan- Sebetulnya kejadian hilangnya ketua
dari kedua keluarga ini betapapun tiada sangkut pautnya satu sama
yang lain- Soalnya peristiwa ini berlangsung sebelum dan sesudah
tahun baru, sehingga orang mau tidak ma u menganggap kejadian
itu suatu kebetulan, apalagi kabar yang tersiar luas di dania
persilatan bersimpang siur sehingga umum merasa urusan ini agak
miaterius.
Kabarnya setelah kedua tokoh ini hilang secara aneh, orang2 dari
kedua keluarga ini mene mukan sebutir mutiara sebesar kacang di
bawah bantal mereka. Menemukan mutiara di bawah bantal
sebetulnya bukan suatu hal yang aneh, cuma mutiara yang mereka
temukan ini terukir sebuah huruf "LING" (perintah atau firman)
sebesar kepala lalat bewarna merah menyolok. Dan karena adanya
huruf "LING" yang terukir di atas mutiara inilah menjadikan urusan
menarik perhatian orang banyak.
"cin-cu-ling" (firman mutiara), hampir setiap insan persilatan
tiada yang pernah dangar nama ini di Kangouw. Lambang
seseorang ataukah golongan?
Soal ini simpang siur dan tiada scorangpun yang bisa
menje laskan secara ga mblang dan pasti. .
Yang terang cin-cu-ling menyebabkan dua orang tertua dari
keluarga besar yang tersohor di dania persilatan lenyap. Kini tiga
bulan sudah lalu, soal ini masih ra mai dibicarakan orang, namun
kejadian masih terselubung, bagai batu kece mplung laut, sejauh itu
masih menjadi teka-teki.
Yang terang orang2 dari kedua ke luarga ini masih terus mencari
dan menyelidiki.
cin-cu-ling me mang me nimbulkan ge lombang besar di dania
persilatan untuk beberapa la manya tapi la mbat laun ha l inipun
dilupa kan orang.
Thay goan-tang merupakan pegadaian terbesar di kota Kayhong,
letaknya dijalan besar di timur kota. Huruf "Tang" (gadai ) bagai
poster raksasa menghias tembok tinggi yang me lintang di depan
rumah setinggi dua tombak. Begitu masuk, pintu angin lebar dari
papan tebal mengadang dijalan- pintu angin inipun dihiasi huruf
gadai yang melebihi besar manusia sehingga keadaan di dalam tida k
kelihatan dari luar. Me mangnya siapa yang tidak malu
menggadaikan barang miliknya kalau tidak kepepet karena
"tongpes" alias kantong ke mpes?
Hari sudah lewat lohor, keadaan rumah gadai Thay-goan sudah
sepi, pada saat itulah seorang pemuda me masuki pintu pegadaian
itu. Pemuda ini berjubah hijau, usianya likuran tahun, mukanya
cakap. alia tegak. mata besar bersinar taja m, sikap-nya ra mah dan
halus mirip seorang pe lajar, tapi sebuah buntalan panjang tiga kaki
me lintang di punggungnya, tidak mirip payung, mungkin senjata
yang selalu dibawanya untuk me mbela diri.
Pemuda jubah hijau langsung menuju ke loket terdekat, sebentar
dia berdehe m, lalu bersuara le mbut. "Mana petugasnya"
Seorang laki2 tua berkaca mata berlari2 dari sebelah dala m,
sekilas diawasinya pemuda jubah hijau ini, lalu berseri tawa sambil
menyapa: "Siangkong (tuan) henda k menggada i barang apa."
Pemuda jubah hijau manggut2, tangan mero-goh kantong dan
menge luarkan sebutir mut iara terus diangsurkan- Mutiara ini
sebesar telur burung puyuh, lapat2 berse mu kuning, sinarnya
mencorong benderang, orang awampun tahu bahwa benda ini
adalah barang mestika yang tak ternila i harganya.
Petugas tua ini menerima serta di-timang2 di telapak tangan, lalu
tanyanya: "Mau digada ikan berapa, Siang kong?"
"Lima ribu tahil perak." sahut pe muda jubah hijau.
Sebetulnya nilai mutiara ini sedikitnya la ksaan tahil, tapi petugas
ini tak berani se mbarangan bertindak, dengan seksama dia a mat2i
mut iara serta memeriksanya dengan lebih teliti. Akhirnya ditemukan
sebuah ukiran huruf "LING" warna merah di atas mutiara yang
menguning terang itu Seketika jantungnya berdetak keras seperti
hendak meloncat keluar dari rongga dadanya.
Sekilas ta mpak berubah air muka petugas tua ini, Tapi kejap lain
rona mukanya berobah pula seperti kegirangan- sudah tentu semua
perubahan ini tak lepas dari pengamatan si pe muda jubah hijau.
Tapi pe muda itu anggap tidak tahu saja.
Sengaja petugas tua ini me meriksa dan menimang2 sekian
la manya, habia itu baru berkata dengan tertawa lebar: "Mutiara
Siangkong ini tak ter-nila i harganya, hanya digadai lima ribu tahil
saja...."
"Ya, baiklah kugadaikan," ujar pe muda jubah hijau.
"Tapi lima ribu tahil juga bukan jumlah yang kecil, ma ka ........."
"Lho, kenapa, kau t idak mau terima?"
"Tida k. tidak. kami buka pegadaian, mana tidak terima gadai?
Soalnya lima ribu tahil, ka mi tiada uang kontan sebanyak itu, dan
lagi mutiara ini harus di unjukkan dulu kepada majikan ka mi."
"Boleh saja," ujar si pe muda, "silakan undang majikanmu."
"Sebagai langganan, mari silakan Siang kong duduk didala m dan
minum secangkir teh, segera kusuruh orang mengundang majikan,"
sembari bicara dia me mbuka pintu di ujung sana, lalu menya mbut
dengan munduk2: "sila kan duduk. Siang kong."
Si pe muda tidak sungkan dengan tegap ia masuk ke dala m.
Petugas tua menyilakan duduk. seorang kacung menyuguhkan
secangkir teh.
Petugas tua menge mbalikan mutiara dengan ke dua tangannya,
katanya. "Siangkong, simpan dulu mutiara ini, setelah berhadapan
dengan majikan boleh kau perlihatkan kepada beliau." lalu ia bisik2
kepada si kacung sekian la manya, kacung itu mang-gut2 terus
berlari keluar.
"Majikan tinggal di pintu selatan, sebentar be-liau akan datang,
Entah siapakah she Siang kong"
"Aku she Ling" sahut si pe muda. "Siangkong kelahiran mana?"
"Ing-ciu," aga knya dia sungkan bicara, maka jawabannya
pendek2 saja.
"Te mpat bagus," ujar si petugas tua. Si pe muda hanya
tersenyum saja.
Pembicaraan terputus sampai se kian saja, sipetugas lalu
menge luarkan pipa cangklong dan mengiaap te mbakaunya. Kira
setanakan nasi kemudian, tampak dari luar datang seorang laki2
setengah baya berpakaian ketat warna biru, laki2 ini beralis tebal,
mukanya kasar kereng, badannya tegap kuat. Kacung cilik tadi
tampak ber-lari2 di belakangnya.
Lekas si petugas tua menurunkan pipa sambil berdiri, serunya
tertawa: "Nah, sudah datang." Si Pe muda ikut berdiri.
Sementara laki2 setengah baya sudah beranjak masuk. matanya
langsung menatap si pemuda jubah hijau, sekedar menyapa pada si
petugas, katanya: "Apakah saudara ini yang hendak
menggadaikan?"
Si petugas manggut2, sahutnya: "Ya, ya inilah Ling-s iangkong
dari Ing-ciu." Kepada si pe muda segera ia me mperkena lkan: "Inilah
murid terbesar majikan ka mi The Si- kiat The-toaya, belakangan
majikan jarang menca mpuri urusan perusahaan, semuanya The-
toaya inilah yang me mberes-kannya."
" Kiranya The-ya," si pe muda me mberi sala m.
The Si- kiat me mbalas hormat, katanya: "Tidak berani, cayhe
diperintahkan guru ke mari untuk mengundang saudara ke sana
untuk bicara."
" cayhe hanya menggadai barang saya," sahut si pe muda.
Umumnya gadaian hanya mengenal barang tanpa kena l orang,
kalau harganya cocok boleh di bayar, kalau tidak boleh ditolak.
The Si- kiat tertawa, ujarnya: " Guruku berkata, mutiara yang tak
ternilai harganya hanya digadai lima ribu tahil, menurut aturan,
jumlah ini merupakan nilai yang besar, maka kedua belah piha k
perlu bicara langsung, oleh karena itu harap saudara sudi terima
undangan ini."
Si pe muda tertawa tawar, katanya: "Kalau de mikian, terpaksa
aku terima undangan ini."
"Marilah, kutunjukkan jalannya," ujar The Si-kiat terus melangkah
keluar lebih dulu. Si pemuda mengikut di belakang meninggalkan
rumah gadai ini.
Mereka jalan beriring, The Si- kiat me mbawa-nya berputar
menyusuri dua jalan raya panjang dan ramai. Kira2 setengah li
ke mudian, mereka me m-belok ke sebuah lorong lebar yang beralas
batu besar dan bersih mengkilap. pohon2 tua dan tinggi berderet di
kedua pinggir jalan-.
Entah sengaja atau tidak The Si-kiat seperti hendak menjajal si
pemuda, begitu me masuki lorong ini langkahnya tiba2 dipercepat,
kelihatannya langkahnya lambat tidak ter-gesa2, namun tubuhnya
bergerak bagai terbang, orang biasa umpa ma berlari sekencang2nya
juga takkan biaa menyusulnya.
Pemuda jubah hijau mengikut di belakang, langkahnya juga
la mban saja seperti tidak ingin berlomba lari, berlangsung seperti
tidak terjadi apa2, na-mun jaraknya dengan The Si-kiat tetap sama,
hanya beberapa kaki, sedikitpun tak pernah ketinggalan-
Jalanan batu mengkilap ini panjangnya ada dua li, sepanjang
jalan ini The Si-kiat melangkah dengan amat pesatnya, hanya
sekejah saja sudah tiba di depan sebuah gedang besar dan
berhenti. Dia kira sipe muda tentu ketinggalan jauh dibelakang, tak
tahunya waktu dia berpaling, ternyata si pemuda dengan sikap
wajar juga berhenti di bela kangnya, -Keruan ia kaget, batinnya: "Di
antara murid Siau-lim-pay dari kaum pre man, aku diberi julukan Sin-
hing thay-po (malaikat jalan pesat), kecuali orang mengerahkan
tenaga dan menggunakan Ginkang, rasanya tidak sembarang orang
bisa menyusul diriku, tapi bocah ini a mat lihay juga Ginkangnya.
sedikitpun tidak mau ketinggalan di belakang." Segera dia menghe la
napas panjang serta berkata dengan tertawa: "Sudah sa mpai"
Si pe muda angkat kepala, dilihatnya gedang besar memakan
tanah yang amat luas, rumahnya ber-lapia2 me manjang ke
belakang, bentuknya megah serta mewah. Kedua pintu besar yang
bercat hitam sudah terbentang lebar, di depan pintu berdiri dua
laki2 muda berpaka ian jubah hijau, sikapnya gagah dan kereng.
Kiranya adalah Kim-ing-ceng yang tersohor di kalangan persilatan-
Locengcu atau pemilik perka mpungan tua ini bernama Kim Kay-
thay, dia pula yang menjabat ciangbunjin dari murid pre man Siau-
lim-pay. Kaum persilatan sa ma me manggilnya Kim- ting, Kim loyacu.
"Kim-ting" (hianglo e mas te mpat dupa) adalah julukan Kim
loyacu, konon dulu dua dijuluki It-kun-cui-kim-ting (seka li pukul
menghancurkan Hianglo), tapi karena kelima huruf ini kurang enak
dibaca, maka orang lebih suka me manggilnya Kim-ting saja. Dan
lagi Kim-ting secara kiasan juga mengandang arti dapat dipercaya
katanya.
Di bawah iringan The Si-kiat, si pe muda terus me masuki pintu
besar, melewati pekarangan luas dan panjang, me masuki pintu
kedua, di sini terjaga oleh dua pemuda baju hijau. begitu The Si-kiat
datang, segera mereka me mbungkuk hormat dan menyapa: "Suhu
sudah menunggu di ruang barat, sila kan Toasuheng bawa ta mu ke
kamar barat."
The Si-kiat mengiakan saja terus me mbelok ke arah kiri, setelah
menyusuri serambi panjang yang ber-belok2, mereka tiba di ka mar
di sebelah barat.
Itulah sebuah ka mar tersendiri yang berjendela kaca, sekeliling
kamar dipagari tanaman bunga aneka warna, gunung2an dan kolam
ikan, pajangan di sini sangat perma i, terang ditangani seorang ahli.
Undak2an di depan pintu ka mar berdiri pula dua laki2 jubah
hijau, kiranya mereka ada lah murid Kim- loyacu.
Mengikuti langkah The Si-kiat, si pe muda langsung me masuki
kamar bunga itu, tampak di atas sebuah kursi besar me mbe lakangi
dandang sebelah timur sana duduk seorang laki2 tua berkepala
botak. berjenggot putih bermuka merah, sorot matanya bersinar
tajam. begitu melihat muridnya me mbawa si pemuda masuk. segera
dia unjuk tawa serta berdiri menya mbut.
Setelah dekat The Si-kiat berhenti serta berkata pada tamunya:
"Inilah guru ka mi."
Si Pe muda maju me langkah, kedua tangan terangkap me mberi
hormat, katanya lantang: "Sudah lama kudengar na ma besar Kim-
loyacu, atas undangan ini, Wanpwe amat bersyukur dan
beruntung." Lekas The Si-kiat berkata lirih kepada gurunya: "Suhu,
inilah Ling-siangkong . "
Kim Kay-thay bermata panjang, dengan seksama dia awasi
pemuda jubah hijau ini, sudah tentu yang menarik perhatiannya
adalah buntalan panjang di belakang punggung si pe muda, bagi
seorang ahli tentu segera tahu bahwa buntalan ini berisi pedang
panjang.
Sambil mengawasi orang, tangan kanan Kim- loyacu terangkat
sambil berkata: "Ta mu agung, tamu agung Silakan duduk. Sila kan
duduk"
Si pe muda juga tida k sungkan2, dia duduk di kursi depan orang.
Seorang pemuda la in berbaju hijau lantas menyuguhkan minuman-
Kim Kay-thay berdehem kecil, lalu berkata dengan tertawa:
"Ling-siangkong, siapakah na ma leng-kapmu .........."
"cayhe bernama Kun-gi."
"Tinggal di ma na?"
"Di Ing- Ciu," sahut si pe muda a lias Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay manggut2, katanya: "Lohu dangar Ling-s iangkong
punya sebutir mutiara hendak digadaikan lima ribu tahil perak?
Bolehkah kuperiksa?"
Ling Kun-gi merogoh kantong dan mengeluar-kan mutiara yang
terikat benang e mas dan di- angsurkan-
Kim Kay-thay menerimanya serta menga mati-nya dengan teliti,
katanya kemudian: "Lohu ingin mohon sedikit keterangan dari Ling-
siangkong, entah sudikah menerangkan?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, ujarnya: "Kim-loyacu ingin tanya soal
apa?"
Tajam tatapan mata Kim Kay-thay, katanya: "Apakah Ling-
siangkong tahu asal-usul mutiara ini?"
"Inilah barang peninggalan leluhur ka mi," jawab Ling Kun-gi. Jadi
mut iara itu adalah warisan leluhurnya.
"Siapakah na ma ge laran ayah Ling-siangkong?" tanya Kim Kay-
thay.
"Ayah almarhum sudah meningga l sejak beberapa tahun, Kim-
loyacu tanya soal ayah, apa-kah beliau ada sangkut pautnya dengan
mut iara ini?"
"Lohu hanya tanya sambil lalu saja, Ling-kongcu me mbekal
pedang ke mana2, tentunya kaupun dari ka langan persilatan?"
"cayhe hanya belajar beberapa jurus pukulan dan ilmu pedang,
baru saja mula i berkecimpung di Kangouw."
Sekilas terpancar sinar terang dari kedua biji mata Kim Kay-thay
yang sipit, katanya sambil manggut2: "Ling-siangkong gagah dan
cakap. tentunya dari keluarga persilatan ternama juga."
"Ayah almarhum dan ibu sama2 tak mahir ilmu silat, kepandaian
rendah yang cayhe miliki kuperoleh dari didikan guru."
"o, entah siapa na ma crelaran guru Ling-s iangkong?"
"Guruku tidak punya gelaran, namanya juga tidak ingin diketahui
orang lain."
Kim Kay-thay mengelus jenggot, katanya: "Guru Ling-s iangkong
mungkin seorang tokoh persilatan lihay dan aneh tabiatnya."
"Dari mutiara wariaan keluarga ka mi ini, Kim- loyacu tanya asal-
usul dan riwayat hidupku, apakah engkau menaruh perhatian atau
curiga terhadap mu-tiara milikku ini"
Sejenak Kim Kay-thay melengak. katanya ke-mudian sa mbil
tertawa: " Ling-siangkong jangan salah paha m."
"Apa yang ingin Kim- loy acu ketahui sudah kujawab terus
terang. kini cayhe juga ingin tanya satu hal, entah Kim- loy acu sudi
me mberi penjelasan t idak?"
Kim Kay-thay tetap tersenyum simpul, katanya: "Boleh Ling-
siangkong katakan."
"Kukira Kim- loyacu tentu pernah melihat mu-tiara yang mirip
dengan mutiara milikku ini?" kata Ling Kun-gi.
Sedikit berubah air muka Kim Kay-thay, ka-tanya tertawa: " Ling-
siangkong adalah kaum persilatan, tentunya juga sudah mendangar
peristiwa cin-cu-ling di kalangan Kangouw?"
"Ya, cayhe datang ke Kayhong memang ingin cari tahu tentang
cin-cu-sing yang mengge mparkan dania persilatan itu."
Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya:
"Apakah Ling-siangkong sudah tahu?"
Menegak alis Ling Kun-gi, katanya sambil ter-tawa keras. "Itu
terserah kepada Kim- loyacu. apakah sudi mengunjukkannya kepada
cayhe"
Tak urung berubah juga roman muka Kim Kay-thay, katanya: "
Ucapan Ling-siangkong tida k beralasan, darimana lohu biaa
me mpunyai cin-cu-ling itu?"
"Waktu cayhe berangkat, sudah kudangar bahwa Lok-san Taysu,
pimpinan ruang Yok-ong-tian di Siau lim-si mendadak hilang, di
tempatnya tertinggalkan sebutir cin-cu-ling, Hongt iang ketua Siau-
lim-si sudah serahkan cin cu-ling itu kepada Kim-loyacu,
me mangnya kabar ini hanya berita angin be laka?"
Dingin sikap Kim Kay-thay, katanya: "Semula kukira guru Ling-
siangkong adalah tokoh aneh yang mengasingkan diri dan jarang
berkecimpung di dunia persilatan- .... "jelas nadanya penuh
sindiran-
Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Guruku me ma ng suka
menca mpuri urusan tetek-bengek, sejak tiga puluh tahun yang lalu
sampai sekarang, tabiat ini tak pernah berubah."
Sekilas terpancar perasaan aneh pada wajah Kim Kay-thay,
tanyanya prihatin: "Siapakah sebetulnya gurumu?"
"Tadi sudah cayhe jelaskan, guruku tidak punya gelar, kalau Kim-
loyacu ingin tahu, boleh selidiki dari perma inan beberapa jurus
pukulanku"
Kim Kay-thay naik pitam, katanya kereng: "Jadi maksud
kedatanagnmu bukan ingin me nggadai mutiara mu itu?"
"Sa ma2," ujar Ling Kun-gi tertawa: "Kim-loyacu mengundangku
ke mari, tentunya juga bukan ingin bicara soal nilai gada i mutiaraku,
bukan?"
"Sombong benar kau ana k muda" dangus Kim Kay-thay. Sudah
banyak tahun tiada orang berani bertingkah dihadapan Kim-loyacu,
tak heran dia naik pita m.
Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Setua umur guruku,
selamanya tak ada yang terpandang olehnya, cayhe adalah ahli
waris guruku satu2nya, me mangnya siapa pula yang bisa
terpandang dalam mataku?"
Berubah gusar wajah Kim Kay-thay, serunya tertawa: "Bagus
sekali, Lohu ingin tahu murid siapa kau sebetulnya?" lalu ia letakkan
mut iara itu diatas meja, katanya pula: "Kalau Ling siangkong tida k
menggadaikan mutiara ini, silahkan a mbil ke mbali."
"Me mang betul ucapan Kim-loyacu." Kata Ling Kun-gi, segera
tangan di ulur menga mbil mutiara itu terus dimasukkan ke kantong
bajunya. Berkilat biji mata Kim Kay-thay, serunya berat: "Si-kiat"
"Tecu siap" sahut The Si-kiat me mbungkuk.
Kim Kay-thay berpesan: "Tujuan Ling-siang-kong adalah gurumu,
boleh kau minta belajar beberapa jurus padanya, dari permainannya
nanti, mungkin aku bisa mengenal perguruannya. "
"Tecu mengerti," sahut The si- kiat, lalu dia menjura kepada Ling
Kun-gi, katanya: "Ling-siangkong ingin me mberi petunjuk. mari
silakan bergebrak di luar, di sana lebih luas."
"Menjajal kepanda ian bukanlah main tombak di atas kuda, cukup
dua-tiga langkah saja cukup, kalau bergebrak di sini Kim- loyacu
tentu bisa dapat menyaksikan lebih jelas."
The Si-kiat tertawa dingin, katanya: "Kalau Ling-s iangkong
berpendapat demikian, bolehlah gebrak di sini saja." ke mba li dia
menjura serta mena mbahkan: "Sila kan Ling-siangkong me mberi
pelajaran,"
Sambil mengawasi orang Ling Kun-gi mengulum senyum lebar,
katanya: "Selamanya cayhe tidak pernah menyerang lebih dulu,
harap The-ya tidak usah sungkan-" terang dia sangat meremehkan
The Si-kiat.
The Si-kiat adalah murid tertua Kim-t ing Kim-loyacu, di antara
murid2 pre man Siau-lim-pay, dia merupakan jago yang
berkepandaian tinggi, kini ia dipandang hina sede mikian rupa oleh
Ling Kun-gi yang masih muda belia dan pupuk bawang lagi, sudah
tentu hatinya geram setengah mati, namun dia hanya mendengus,
katanya: "Baiklah bila a ku berlaku kasar" dia m2 dia menghirup
napas panjang dan mengerahkan tenaga, tangan kanan melindungi
dada, serangan segera siap dilancarkan.
"Si-kiat," tiba2 Kim Kay-thay me mbentak. "tunggu sebentar."
Lekas The Si-kiat me mbatalkan dan menarik kuda2nya, sahutnya
me mbungkuk: "Ada pesan apa, suhu?"
"Betapapun Ling siang kong adalah ta mu kita, jangan se-kali2
berlaku kasar padanya," kata sang guru.
Berlaku kasar artinya tidak boleh mencabut nyawanya tapi boleh
kau beri ajaran setimpal biar kapok.
"Tecu mengerti," sahut The Si-kiat. ia membalik badan dan
telapak tangan kiri terbuka, kepalan tangan kanan melingkar di
depan dada, serunya: " Ling-siangkong, hati2lah" begitu telapak
tangan kiri bergerak. tahu2 kepalan tangan kanan mendahului
menggenjot pundak Ling Kun-gi, yang dilancarkan adalah ilmu coan-
hoa-kun (pukulan menyelinap bunga)... .
Ling Kun-gi pun tidak menyingkir, ia tunggu kepalan The si- kiat
hampir mengenai pundaknya, mendadak sedikit miringkan badan,
kaki kiri me langkah setengah tindak. di ma na tangan kiri terangkat,
dia tepuk pundak kanan The si-kiat, serangan balasan ini datang
lebih dulu ma lah. Justru yang dimainkan ini aneh dan lucu
tampaknya, walau tepukannya enteng seperti tidak mengguna kan
tenaga, tapi pukulan The Si-kiat mengenai te mpat kosong,
gerakannya sukar dihentikan lagi, dia terhuyung ke depan lima
langkah.
Berubah air muka Kim Kay-thay karena gerakan Ling Kun-gi mirip
sekali dengan Tui-liong-jip-hay (dorong- naga masuk laut), salah
satu jurus cap-ji-kim-liong jiu dari perguruannya, cuma Ling Kun-gi
me lancarkan jurus ini dengan tangan kiri, jadi berlawanan dengan
kebiasaan-
cap-ji-kim-liong-jiu (dua belas jurus tangkap naga) adalah salah
satu dari 72 ilmu silat Siau-lim-pay. Termasuk 12 tingkatan teratas
dari deretan ilmu lihay Siau-lim-pay, ilmu ini diciptakan oleh cika l
bakal Siau-lim-pay yaitu Bodhi Dharma setelah dia menyela mi Ih
Kin-keng, kecuali murid2 Hou-hoat atau pe mbela biara, ilmu ini tida k
pernah di ajarkan kepada murid2 pre man-
Sebagai murid tertua dan berkepandaian paling tinggi di antara
murid2 Kim Kay-thay, ternyata dalam gebrak permulaan saja dirinya
sudah kecundang, sudah tentu The Si-kiat malu bukan main, mulut
menggerung, tiba2 badannya berputar cepat, berbareng kedua
tangan menyerang secara me mbadai.
Karena sudah kecundang, maka jurus perma inan selanjutnya
tidak kepa lang tanggung lagi, ia me lancarkan Ha k hou cio hoat (ilmu
pukulan penakluk harimau) dari Siau lim-pay. Ilmu ini cukup
terkenal dala m bu-lim dengan kekuatan dan kekasarannya, begitu
dike mbangkan perbawanya ternyata bukan olah2 hebatnya, setiap
gerakan jurus tangannya membawa deru angin kencang seperti
badai menga muk, kekuatannya cukup menghancurkan pilar batu.
Tak tahunya Ling Kun-gi melayaninya seperti tidak terjadi apa2,
sikapnya adem aye m, kedua kaki tetap berdiri di te mpat tak
bergeser sedikitpun, hanya badannya saja yang bergontai kian
ke mari, namun setiap serangan lawan dapat dihindarinya dengan
mudah.
Dirangsang a marah, tentu saja serangan The Si-kiat sema kin
bersemangat dan tumple k seluruh kepandaian silatnya, jurus ketiga
adalah Jiu kip-pau-tan (tangan merogoh ulu harimau), jari2nya
berbalik merogoh ke bawah dari bawah pergelangan tangan yang
lain, bagai kilat tahu2 serangannya mengincar ulu hati Ling Kun-gi.
Begitu cepat dan ganas serangan ini. Jarak keduanya dekat lagi,
pula badan Ling Kun-gi masih miring ke sa mping karena
menghindari jurus kedua tadi, gerakannya jadi sukar berubah dan
tak mungkin berkelit lagi. Dia m2 The Si- kiat mendengus hina,
tenaga dia kerahkan ketangan kanan, gerakanpun dipercepat.
Tatkala jari tangannya menyentuh baju Ling Kun gi itulah,
mendadak terasa pergelangan tangan kanan mengencang sakit,
tahu2 tangan orang sudah mencengkera m pergelangan tangannya.
keruan hatinya mencelos kaget, baru saja dia hendak meronta,
namun sudah terla mbat.
Kejadian berlangsung begitu cepat dalam sekejap saja, Ling Kun-
gi tetap mengulum senyum. sedikit dia gerakkan tangan kiri. badan
The Si-kiat yang tinggi tegar itu tiba mencelat dan terbanting jatuh..
Sebagai murid pre man angkatan kedua dari Siau-lim-pay.
kepandaian The Si-kiat sebetulnya tidak le mah, di tengah udara dia
sempat mengarahkan Jian-kin-tui, kedua kakinya hinggap di atas
tanah dan berhasil me mpertahankan diri. Sehingga tidak jatuh
namun mukanya yang sudah merah ke la m menjadi se ma kin ge lap
seiring malu, katanya dengan tertawa tawa: " Ling-siangkong
me mang hebat." Segera dia hendak menubruk maju lagi.
Betapa tajam pandangan Kim Kay-thay, dari jurus kedua yang
dimainkan Ling Kun-gi ini dia sudah yakin bahwa ilmu itu adalah cap
ji-kim-liong-Ciu, tipu yang dinamakan Ih-kim-ko-Yong (henda k
ditangkap sengaja menurut saja), cuma bedanya dia tetap
me lancarkan jurus secara terbalik, dengan tangan kiri, keruan
hatinya terkesiap. diam2 ia me mbatin: "Mungkinkah dia murid
beliau?" Tanpa menunggu The Si-kiat bergerak lebih lanjut, cepat ia
me mbentak: "Si-kiat berhenti"
Mendangar seruan gurunya, lekas The Si-kiat meluruskan kedua
tangan, sahutnya mengangkat kepala:
"Suhu, ini ......". dia ingin bilang "Tecu belum kalah."
Namun Kim Kay-thay segera menyela: "Tak usah dilanjutkan, kau
bukan tandingan Ling-lote. "
The Si-kiat tak berani banyak bicara, namun batinnya tidak
terima dan penasaran sekali.
Kim Kay- thay tidak hiraukan sikap muridnya, ia berdiri dengan
muka berseri ia berkata kepada Ling Kun-gi: " Ling-lote, sila kan
duduk."
Dari Ling-siangkong mendadak dia menyebutnya Ling-lote
(saudara Ling), nadanyapun jauh lebih ra mah dan hormat.
Dia m2 The Si-kiat menggerutu dala m hati, na mun dia juga dapat
mengira gurunya berpengalaman luas, dari dua gebrakan tadi, tentu
beliau sudah tahu asal-usul Ling-siangkong ini.
Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, tanpa bicara ia ke mbali ke
tempat duduk se mula.
Mengawasi Ling Kun-gi, berkatalah Kim Kay-thay dengan tulus:
"Ingin kutanya suatu hal, entah sudikah Ling-lote me mberitahu?"
Dari nada ucapannya jelas berubah jauh sekali pandangannya
terhadap anak muda ini, walau dirinya lebih tua, sedikitpun ia tak
berani angkuh lagi. "Kim-loyacu ingin tanya apa?" jawab Ling Kun
gi.
"Gurumulah yang ingin kutanyakan, apakah beliau seorang
beribadat?"
Ling Kun-gi hanya tertawa, katanya: "Tadi sudah kukatakan,
guruku tidak punya gelar dan tidak mau disebut na manya, terpaksa
tak bisa kujawab pertanyaan Kim loyacu."
"Tida k apa, kalau Ling-lote tidak mau me mberitahu, akupun tidak
me ma ksa," sebentar Kim Kay-thay merandek lalu bertanya pula
dengan tatapan tajam: "Jadi Ling-lote ke mari lantaran cin-cu-ling
itu"
"Betul," Ling Kun-gi mengangguk.
"Bolehkah Ling-lote bicara sedikit lebih je las?"
"Baiklah akan kujelaskan- Akhir tahun yang lalu, secara
mendadak ibuku menghilang. ."
"o," Kim Kay-thay bersuara kaget, "apa-kah ibumu juga orang
persilatan?"
"Tida k. ibu sedikitpun t idak mahir ilmu silat."
"lbumu tidak bisa silat?" seru Kim Kay-thay penuh keheranan.
"Aneh sekali, jadi Ling-lote, kira hilangnya ibumu ada sangkut
pautnya dengan cin-cu-ling?"
"Aku sendiripun tidak tahu, tapi begitulah kata guruku. Loh-san
Taysu, pimpinan Yok-ong-tian di Siau-lim-si mendada k lenyap. di
tempatuya konon ditinggalkan sebutir cin-cu-ling, ma ka cayhe
disuruh ke sini mene mui Kim-loyacu untuk mencocokkan apa kah
cin-cu-ling itu mirip dengan mutiara warisan ke luargaku atau tida k?"
"Peristiwa hilangnya Loh-san suheng amat dirahasiakan, hanya
beberapa orang saja dari pihak Siau-lim-si yang mengetahui, boleh
dikatakan tiada seorang kangouwpun yang tahu, bahwa Ling-lote
ke mari atas perintah gurumu, baiklah tak perlu kumain sembunyi
lagi, Waktu Loh-san Suheng hilang, di tempat tingga lnya me mang
ditemukan sebutir cin-cu-ling, karena para paderi Siau-lim-si jarang
yang keluyuran di Kangouw, maka tugas mencari jejak Loh-san
Suheng ini oleh ciangbun Hong-t iang diserahkan kepadaku, ma ka
mut iara itupun kini berada ditanganku"- Sa mpa i di sini dia berdiri
dan menambahkan, "Harap Ling-lote tunggu sebentar, biar
kua mbilkan mutiara itu."
"Kim- loyacu boleh sila kan," sahut Ling-Kun gi sa mbil berdiri. .
Bergegas Kim Kay-thay masuk ke dala m, tak lama ke mudian
keluar pula sa mbil menenteng sebuah bungkusan kain warna
kuning, ia duduk ke mbali di kursinya terus me mbuka bungkusan
kain kuning itu, isinya adalah sebuah kotak persegi kecil dari kayu.
Dengan hati2 dia buka kotak kecil itu, lalu mengeluarkan sebutir
mut iara sebesar telur burung dara, katanya: " Ling-lote, inilah cin-
cu-ling itu." Ling - Kun-gi menerimanya serta meng-amat2i dengan
seksama, mutiara inipun bolong tengahnya dan disisipi benang
emas, sebelah atasnya ada ukiran huruf "Ling" warna merah
menyolok, bentuknya mirip seka li dengan mutiara warisan
keluarganya, cuma besar kecilnya saja yang berbeda, sampaipun
ikatan benang emas itu satu sama lain juga sama. Ling Kun-gi
angkat kepala dan bertanya:
"Apakah Kim- loyacu sudah mendapatkan hasil penyelidikan yang
diharapkan?"
Kim Kay-thay menggeleng kepala, katanya tertawa getir: " Walau
Ling-lote tidak mau katakan asal-usul perguruan, bahwa gurumu
suruh kau ke Kayhong untuk mene muiku, itu pasti ada hubungan
intim ada diantara kita. maka biarlah kuterus terang, anak murid
preman Siau-lim si tersebar luas di-mana2, dan banyak diantaranya
yang membuka Piaukiok, cabang kitapun tersebar ke segala
pelosok. dalam jangka tiga bulan ini sudah kuberi instruksi kepada
mereka untuk menyelidikinya secara ketat. di samping mengada kan
sergapan bila mana yang dianggap mencurigakan, na mun bukan saja
jejak Loh-san Suheng tetap tidak dite mukan, soal cin-cu-ling inipun
nihil hasilnya, cuma aku jadi ingat a kan suatu hal"
Sambil mengelus jenggotnya, tiba2 dia berhenti.
"Kim loyacu ingat akan hal apa?" tanya Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay tidak segera menjawab, dia merenung sebentar,
lalu ba las bertanya: "Apakah ibumu pandai mengguna kan racun?"
Ling Kun-gi tertegun, sahutnya tertawa: "Tadi sudah kukatakan,
ibu bukan kaum persilatan, sudah tentu beliau tidak bisa
menggunakan racun."
"Kalau de mikian apakah ibumu pandai tata rias atau..
pengobatan?"
Tanpa pikir Ling Kun-gi menjawab, "ibu t idak tahu soal obat2an-"
"Aneh kalau begitu," Kim Kay-thay, "sebetulnya tiada alasan
mereka menculik ibumu."
Ling Kun-gi ta mpak bingung, tanyanya: "cayhe tidak tahu, apa
maksud ucapan Kim-loyacu."
"Itu dasarnya pada analisa dari tiga peristiwa yang baru2 ini
terjadi di Kangouw. Tapi ibumu bukan kaum persilatan, tidak tahu
obat2an, juga tidak mengerti soal racun, na mun juga lenyap tak
keruan parannya, kini gurumu suruh kau ke mari mene muiku pula,
kalau gurumu anggap soal ini ada sangkut pautnya dengan cin-cu-
ling, tentu urusan tidak akan me leset sama seka li analisaku tadi
menjadi harus diragukan-"
"Bagaimana analisa Kim-loyacu, bolehkah diterangkan?" tanya
Ling Kun-gi.
"Setelah Loh-san Suheng lenyap. tersiar pula berita di kalangan
Kangouw bahwa ketua keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di
Lingla m juga lenyap secara aneh, keluarga mereka juga mene mu-
kan cin-cu-ling di ka marnya, ini me mbuktikan bahwa ketiga orang
ini pasti dikerjai orang dari suatu golongan-"
"Kenapa mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling dikala ibuku
lenyap?" tanya Ling Kun-gi.
"Tiga orang yang lenyap itu, keluarga Tong di Sujwan adalah ahli
dibidang ilmu senjata rahasia dan racun, ke luarga Un di Ling la m
tersohor karena obat2 bius, sedang Loh-san Suheng menguasai ilmu
obat2an, karena itu aku menduga, bahwa ketiga orang ahli dibidang
masing2 ini sengaja diculik dan tidak terlepas dari dua kemungkinan
. ... ..."
"Dua ke mungkinan apa?" tanya Ling Kun-gi tak sabar.
"Pertama, di antara komplotan orang2 itu pasti terdapat salah
seorang tokoh penting yang terluka oleh sesuatu racun jahat,
mungkin sudah diobati berbagai maca m obat dan tetap tak
sadarkan diri. oleh karena itu terpaksa mereka menculik kedua ahli
racun dan obat bius dari keluarga Tong dan Un itu, demikian pula
Loh san Suheng yang ahli dala m bidang pengobatan, dugaan ini
menjurus pada darma bakti de mi kesela matan jiwa orang, jadi
mereka diculik untuk menolong jiwa ma nusia."
"Lalu bagaimana dugaan yang menjurus ke kejahatan?"
"Itulah dugaan kedua, komplotan ini me mpunyai maksud2
tertentu dengan ambisi besar, bahwa ketiga orang ini diculik untuk
alat pemeras kepada keluarga Tong dan Un agar menyerahkan
catatan rahasia dari ilmu masing2 yang sudah turun te murun seja k
leluhur mereka."
"Lalu apa pula tujuan mereka menculik Loh--san Taysu?" tanya
Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay menghela napas, katanya: "Kak-tam-wan buatan
Siau-lim-si dapat mengobati segala maca m racun, resep
pembuatannya sudah turun temurun sejak ratusan tahun lumanya,
hanya pimpinan di Yok-ong-thian saja yang tahu akan resep ini,
bahwa Loh-san suheng juga mereka culik, tujuannya sudah tentu
untuk me mbuat Kak-ta m-wan. Ini sih urusan kecil, sebab kecuali
tiga orang ini bukan mustahil mereka juga menculik tokoh2 lain
yang ahli da la m bidang ini? Ha l inilah jauh lebih mengerikan-"
" Kenapa?" Ling Kun-gi menegas.
"Ini me mbuktikan bahwa komplotan ini sedang merancang suatu
muslihat yang besar. Mereka khusus menculik orang2 ahli di bidang
racun, obat bius dan obat2an, tujuannya tentu hendak- me mbuat
suatu obat yang mengerikan untuk mencela kai jiwa kaum
persilatan" Sampa i di sini nadanya jadi lebih tandas: "Gerak-gerik
komplotan ini serba misterius dan sangat rahasia, kalau mereka
tidak meningga lkan cin-cu-ling, bukankah kita lebih sukar lagi untuk
menyelidiki hal ini?" mendadak sorot matanya menjadi berkilau,
tanyanya: "Apakah Ling-lote tahu asal-usul dari mutiara warisan
keluarga mu itu?"
"Entah, sejak kecil mutiara ini sudah selalu berada dibadanku,"
Ling Kun-gi me njelaskan-
"Gutumu juga tida k pernah menjelaskan"
"Tida k." jawab Ling Kun-gi, tiba2 dia berdiri serta menjura:
"Terima kasih atas petunjuk dan kete-rangan Kim- loy acu, sekarang
cayhe mohon diri saja."
"Harap Ling-lote duduk lagi sebentar, masih ada suatu hal perlu
kusa mpaikan-"
"Kim-loyacu masih ada petunjuk apa?."
"Menurut apa yang kuketahui, kecuali keluarga Tong dan Un, di
kalangan Kangow masih ada satu keluarga yang pandai dan ahli
juga menggunakan racun- ........"
" Ke luarga mana," tanya Ling kun-gi.
"Llong-bin-san-ceng (perka mpungan gunung naga tidur), tapi
mereka jarang bergerak di ka langan Kangouw), maka jarang orang
tahu akan kehadiran mereka, menurut apa yang kuketahui,
komplotan cin-cu-ling agaknya belum bertindak terhadap Liong-bin-
san-ceng, tidak ada ruginya Ling-lote me mperhatikan juga soa l ini."
"Terima-kasih atas petunjuk ini" habis menjura Kun-gi panggul
buntalannya serta melangkah Keluar. Ter-sipu2 kim Kay-thay
mengantar sampai undakan. lalu dia suruh The si-kiat antar
tamunya sampai diluar pintu. Sudah puluhan tahun The Si kiat
mendapat bimbingan gurunya, dia tahu bahwa pemuda she Ling ini
punya asal usul yang bukan se mbarangan, setelah Ling Kun-gi
pergi, lekas dia kembali keka mar dan bertanya pada gurunya:
"Suhu, apakah engkau sudah tahu asal usulnya?"
Prihatin air muka Kim Kay-thay, katanya sungguh2 "Dua jurus
yang dia tunjukan tadi adalah tipu2 dari cap-ji-kim-liong-jiu, cuma
dia bergerak secara kidal, kalau dugaan gurumu tidak me leset,
ke mungkinan dia adalah ......."
The Si-kiat terperanjat, serunya: "Maksud suhu, dia murid
Susiokco?" Kim Kay-thay tidak bicara lagi, dia hanya manggut2.
Konon 50 tahun yang lalu pernah muncul seorang ma ling
pendekar. Maling pendekar maksudnya dia mencuri untuk piha k
yang lemah, bukan saja dia me mberantas kelaliman dan kejahatan,
iapun me mbantu kaum miskin dan le mah melawan yang kuat dan
batil, karena dia bekerja secara terbuka dan terang2an, ilmu silatnya
teramat tinggi lagi, biasanya jejaknya sukar ditemukan, hanya
sering mendengar na manya tapi tidak pernah melihat orangnya,
sudah tentu jarang ada orang yang tahu asal-usulnya. Maka orang
banyak lantas memberi julukan It-tin-hong (angin la lu) kepadanya.
Maksudnya dia pergi datang seperti angin lalu.
It-tin-hong punya tabiat aneh, yaitu dia pandang kejahatan
sebagai musuh kebuyutan, pejabat korup dan kikir, buaya darat dan
tuan tanah yang me meras rakyat jelata semua disikatnya habis2an.
Kaum persilatan dari golongan hita m yang sudah berlepotan darah
kedua tangannya karena kejahatan yang kelewat batas juga
diganyang olehnya, mending ka lau hanya dipunahkan ilmu silatnya,
bagi yang berdosa di luar batas, kalau tidak terluka parah tentu jiwa
me layang.
Entah bagaimana ke mudian jejaknya menghilang dari kalangan
Kangouw, It tin- hong lenyap tak karuan paran, ternyata ia telah
cukur ra mbut dan menjadi pendeta di kuil Siau-lim-si di Hoala m,
setelah jadi Hweslo ge larannya adalah Tay-thong.
Sekejap mata 20 tahun telah berlalu, umumnya ajaran agama
menguta makan we las asih dan bijaksana, setelah dia insyaf tindak
kekerasannya dan patuh kepada ajaran agama, tak terduga pada
suatu hari seorang musuh yang pernah dipunahkan ilmu silatnya
dapat mengenali dia bahwa Tay-thong Hwesio adalah It-tin-hong.
Tata tertib siau lim si a mat keras, begitu para Hweslo da la m kuil
agung itu tahu bahwa Tay-thong Hweslo adalah It-tin-hong yang
dosanya bertumpuk2, mereka anggap kehadirannya dibiara besar
itu menodai dan merusak kesucian aga ma mereka, maka t imbul
keributan dan pertentangan, ada yang mengusulkan supaya
punahkan saja ilmu silatnya serta mengusirnya pergi dari kuil. sudah
tentu Tay-thong Hweslo marah, katanya:
"Kalau sang Budha tidak meluluskan aku me letakkan golok
pembunuh, akupun tidak pingin menjadi seorang Budhis lagi, tapi
ilmu silat yang kumiliki tidak melulu kupelajari dari siau-lim-si saja,
kalian tidak berhak me munahkan ilmu silatku. Soal apa yang pernah
kupelajari di Siau- lim-si ini, setelah meninggalkan Siau-lim-s i pasti
tidak akan kugunakan lagi."
Begitulah akhirnya Tay-thong Hweslo meninggalkan Siau- lim-si.
Sudah tentu ada juga para Hweslo yang ingin menahan dan
merintangi kepergiannya, tapi selama dua puluhan tahun
mengge mbleng diri di biara agung itu, pelajaran silat yang
diyakinkan sudah tera mat tinggi, tiada seorangpun yang ma mpu
menahannya.
Sejak itu, muncul pula di kalangan Kangouw seorang pende kar
aneh yang menyebut dirinya Tay-thong Hwesio, sifanya tidak
pernah berubah, kejahatan dipandangnya sebagai musuh, ilmu silat
yang dima inkan sudah tentu ada yang berasal dari Siau-lim-pay,
cuma setiap jurus yang dia gunakan dengan tangan kiri, jadi jurus
permainannya terbalik dan berlawanan dengan silat Siau-lim-pay.
Maka orangpun me mberinya na ma Hoan-jiu-ji-lay (Buddha Kidal).
Itulah peristiwa tiga puluh tahun yang la lu. Maka bicara soal
tingkatan, Hoan jiu-ji-lay masih terhitung Susiok dari It-wi Taysu,
Hongtiang siau-lim-si sekarang, juga dengan sendirinya Susiok dari
Kim-ting Kim Kay thay.
Hari belum ge lap. namun rumah2 penduduk Kayhong sudah
sama pasang la mpu. Lalu lintas masih ra ma i dija lan raya. Tampak
diantara sekian yang mengayun langkah itu ada seorang pemuda
baju hijau me manggul buntalan panjang melintas jalan menuju ke
ujung jalan sana, di mana terdapat sebuah gang kecil yang se mpit,
di mulut gang sempit ini berdiri seorang, tak terlihat wajahnya.
Umumnya orang2 yang berdiri di mulut gang kalau bukan begal,
tentu juga bukan orang baik2 yang sedang mengincar mangsanya.
Begitu me lihar pe muda jubah hijau mengha mpiri orang itu segera
me me luk kedua tangan di depan dadanya, kedua biji matanya
dengan nanar mengawasi gerak-geriknya, lekas sekali si pe muda
sudah mende kat dan lewat di mulut gang, dala m se kejap orang
itupun sudah mene mukan apa2 yang diincar dari badan pe muda
jubah hijau, ternyata pemuda jubah hijau mengenakan ikat
pinggang atau sabuk yang terbuat dari kain sutera warna kelabu. .
tepat di ujung kiri pinggangnya dihiasi sebutir mutiara dengan
seutas benang mas. Mut iara itu sebesar telur burung dara.
Maka orang itu tidak sangsi lagi, bergegas dia melompat keluar
serta mengejar dua langkah, katanya sambil unjuk tawa lebar:
"Siangkong, inilah surat untukmu."
Si pe muda me lengak dan berhenti, dengan tajam ia menatap
muka orang di depannya.
Dengan gugup orang itu menyetahkan sepucuk surat kepada si
pemuda terus tinggal pergi dengan langkah tergopoh2.
Pemuda jubah hijau ini ialah Ling Kun-gi, sekian la manya ia
me longo mengawasi sa mpul surat ditangannya, walau merasa
heran, akhirnya dia buka sa mpul itu dan me mbaca isi surat yang
tertulis di atas secarik kertas kuning, bunyinya demikian: "Serahkan
kepada si mata satu di luar Ho-sing-bio di He k-kang."
Ling Kun-gi tertegun me mbaca surat ini, cepat otaknya berpikir:
"Jelas surat ini salah ala mat, mungkin orang tadi salah mengenali
aku." Waktu ia angkat kepala, orang yang menyerahkan surat tadi
sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.
Mau tak mau tergerak juga hati Ling Kun-gi, batinnya: " Dari
nada surat ini, agaknya seorang persilatan hendak mengirim
sesuatu barang. Memangnya aku sedang menyelidiki cin cu-ling,
kenapa tidak kupergi ke Hek-kang menunggu di luar Ho-sio-bio
untuk me lihat apa yang akan terjadi di sana"
Tapi segera dia berpikir pula:" Dala m surat sudah dijelaskan
untuk menyerahkan entah barang apa kepada seorang yang buta
sebelah matanya di luar Ho-sin-bio. Liu apa gunanya ku pergi ke
sana. toh aku tidak punya barang yang dimaksud? Sedangkan surat
pengantar ini sudah terjatuh ke tanganku, orang yang harus
menyerahkan barang tak mungkin menuju ke ala mat yang
ditentukan tanpa me mbawa surat ini."
Sampa i di sini tiba2 dia menduga kalau orang tadi telah salah
menyerahkan sampul surat ini kepada dirinya, pasti orang yang
seharusnya menerima sampul surat ini berperawakan mirip dirinya,
kenapa tidak kutunggu saja di sini, kalau nanti ada orang yang mirip
diriku datang ke mari? Bukankah lebih ba ik kalau dia yang
menyerahkan barang itu ke Ho-sin-bio?
Dengan bibirnya dia basahi sampul surat serta menutup rapat
pula sampul surat itu, kini ganti dia yang berjaga di ujung gang
sempit tadi, buntalan panjang dipunggungnya dia turunkan dan
diletakkan di kaki te mbok yang gelap. Tak lupa dia meraih
segenggam tanah kering lalu mengusap muka sendiri dengan debu
tanah itu lalu ia berdiri bertopang dinding dan menunggu dengan
sabar.
Tak la ma ke mudian, betul juga dari ujung jalan raya sebelah
barat sana muncul sesosok bayangan orang, ternyata iapun
me manggul sebuah buntalan panjang, perawakannya tinggi lencir,
karena jarak masih jauh, tak terlihat jelas wajahnya. Langkahnya
tampak tenang2, tidak gugup dan mantap, se-akan2 dijalan raya itu
hanya dia sendiri yang berjalan-
Sekejap saja si baju biru ini sudah tiba di ujung gang. Kini Ling
Kun-gi dapat me lihat jelas, laki2 ini berusia e mpat- lima likuran,
wajahnya me mang cakap. cuma sikapntya angkuh, dingin dan kaku.
Ling Kun-gi tunggu orang berjalan sa mpa i di mulut gang dan
segera me mburu maju serta berkata: "Siangkong, inilah surat
untukmu" Dengan kedua tangan dia angsurkan sa mpul tadi.
Langkah si baju biru merandek. dengan sebe lah tangan dia
terima sampul itu tanpa berpaling, sekenanya tangan yang lain tiba2
menggablok ke be lakang.
Tak pernah terpikir oleh Ling Kun-gi orang akan menyerang
dirinya dengan cara ganas ini, ada niat menangkis, tapi cepat sekali
otaknya bekerja, pikirnya: "Dia ingin me mbunuhku untuk menutup
mulutku, ma ka aku jangan menangkis."
Dia m2 ia kerahkan hawa murni untuk me lindungi Hiat-to dan
terima pukulan keras orang.
"Blang", walau tidak berpaling, namun gerakan tangan orang
mengincar sasaran secara tepat, pukulannya tepat mengenai dada
Ling Kun-gi. Dengan mengeluarkan keluhan tertahan Ling Kun-gi
terjengkang roboh. Tanpa berhenti atau meneliti korbannya si baju
biru terus beranjak ke depan tanpa menoleh.
Dia m2 Ling Kun-gi tersirap darahnya setelah menerima pukulan
keras laki2 baju biru ini, pikirnya: "Tak nyana pukulannya ini
mmggunakan Jong-jiu-hoat dari aliran Lwekeh."
Sudah tentu tak pernah terpikir oleh si baju biru kalau ada orang
menguntit dirinya, dengan langkah berlenggang dia terus beranjak
ke depan, setiba di pintu utara, di depannya mengadang tembok
kota yang beberapa tombak tingginya.
Sekali kaki menutul, si baju biru segera melayang naik la ksana
luncuran anak panah ke atas tembok kota yang tinggi, sekali kaki
menutul pula dengan enteng, badannya me layang turun ke luar
tembok kota.
Dari tempatnya Ling Kun-gi dia m2 kaget me myaksikan
kepandaian orang, batinnya: "Bagi jago kosen Bulim bukan soal
untuk melompat setinggi e mpat-lima tombak, tapi orang ini masih
begini muda, namun sudah me miliki kepandaian setinggi ini" Karena
merasa curiga, bertambah besar pula hasratnya untuk menguntit
laki2 baju biru untuk me-nyaksikan barang apa pula yang hendak di
antar ke Ho-sin-bio
Segera iapun melayang ke atas tembok kota, dari tempat
ketinggian dilihatnya sesosok bayangan meluncur di kejauhan sana
secepat terbang, arahnya ke utara. Ling Kun-gi tidak berani ayal, dia
menghirup napas panjang dan melayang turun sa mbil
menge mbangkan Ginkang terus menguntit laki2 baju biru dari
kejauhan-
Kira sepuluh li ke mudian, di depan sana adalah sebuah bukit
kecil, kiranya itulah Hek-kang atau bukit tandus hitam. Setiba di
bawah bukit, gerakan la ki2 baju biru menjadi la mbat, ke mbali dia
berjalan dengan langkah lebar, lambat tapi mantap. terus menanjak
ke atas bukit.
Dla m2 Ling Kun-gi geli, pikirnya: "Orang ini pandai berpura2 dan
ber-muka2, sungguh terlalu angkuh dan sombong." Setelah tiba di
Hek-kang, sudah tentu sebentar lagi akan sa mpai di Ho sin-bio.
Ingin Ling Kun-gi mengetahui barang apa yang hendak
diserahkan kepada orang buta satu itu? Maka jaraknya tidak boleh
terlalu jauh. Untung se makin dekat puncak bukit, tetumbuhan
pohon juga lebih lebat, sebat sekali Ling Kun-gi menyelinap masuk
ke dala m hutan, dari balik bayang2 pohon dengan cepat dia
me luncur ke atas bukit. cepat sekali dilihatnya bayangan tembok
merah dan ujung wuwungan, sebuah kelenteng terselubung di ba lik
lebatnya pepohonan di atas sana, ternyata dirinya berada di
belakang kelenteng, jadi Ho sin-bio ini di bangun menghadap utara.
Ling Kun-gi t idak tahu siapa dan bagaimana asal-usul orang buta
sebelah yang akan menerima barang, maka dia tidak berani
gegabah, dengan menge mbangkan Ginkang dia berlompatan di
pucuk pohon terus berputar dari arah kanan me nuju ke depan-
Ho-sin-bio terdiri dari tiga lapis bangunan ke-lenteng, waktu Ling
Kun-gi tiba di sebelah kanan, betul juga dilihatnya seorang tua buta
sebelah mata berpakaian hitam telah berdiri menunggu dengan laku
hormat di luar ke lenteng. . Tak lama ke mudian laki2 baju birupun
muncul dengan langkah pelan2.
Ter-sipu2 laki2 tua mata satu menyongsong ma ju, sambil
munduk2 dia menyambut dengan tawa lebar, katanya: "Atas
perintah Ho-sin-ya, sejak tadi ha mba sudah me nunggu disini"
Laki2 baju biru berkata dingin: "Mata kirimu picaku ternyata mata
kananmu masih awas"
Si mata satu munduk2 lagi, katanya tertawa: "Ya, ya, hamba
picak mata kanan bukan mata kiri."
"Bagus sekali" kata si baju biru, tangan merogoh kantong dan
menge luarkan sebuah bungkusan kertas terus diangsurkan,
katanya: "Barang ini a mat penting, kau harus ber-hati2"
Si mata satu menyambut dengan kedua tangannya, sahutnya
tetap munduk2: "Ya, hamba tahu"
"Baiklah, setiba kau di Hoay-yang, ada orang memberi petunjuk
padamu ke mana kau harus antar barang ini."
"Ha mba mengerti" orang tua mata satu menjawab.
Laki2 baju biru mendengus kereng, dimana dia jejak kedua
kakinya, tlba2 badannya mela mbung tinggi ke udara, bayangan
tubuh secepat kilat meluncur turun ke bawah bukit.
Ling Kun-gi se mbunyi di te mpat yang cukup dekat, maka
percakapan mereka di dengarnya dengan jelas, batinnya " Entah
apa isi bungkusan kertas itu. begitu besar perhatian mereka, sampai
harus dikirim secara rahasia lagi, si mata satu adalah pesuruh,
namun dia sendiri juga belum tahu ke mana dan kepada siapa dia
harus serahkan barang itu?" lalu dia berpikir lebih lanjut: "Ka lau
laki2 baju biru tadi tidak menerima surat rahasia dariku tadi, iapun
tak tahu ke mana dan kepada siapa dia harus serahkan barang yang
terbungkus di kertas itu?"
Dari sini lebih mudah diraba, kalau bukan barang pusaka yang
tak ternilai harganya, tentu bungkusan itu berisi suatu barang yang
amat rahasia dan penting artinya. Setelah hati merasa curiga, sudah
tentu Ling Kun gi tida k abaikan kejadian ini, dia bertekad
menyelidiki hal ini sa mpai terang duduk persoalannya meski harus
mene mpuh bahaya dan maca m2 kesulitan-
Di kala dia menerawang tinda k lanjut diri sendiri, sementara si
mata satu sudah beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Dari langkah orang Ling Kun-gi dapat menila i kepandaian silat
orang ini tidak seberapa tinggi, kalau dibanding la ki2 baju biru tadi,
jaraknya terlampau jauh. Untuk menguntit seorang keroco seperti
laki2 tua mata situ ini bagi Ling Kun-gi merupa kan kerja sepele.
Tapi Ling Kun-gi cukup cerdik dan teliti, dari penga la man mala m
ini yang penuh liku2 dia ingat bahwa komplotan orang ini serba
misterius, diduganya bungkusan itu sangat penting dan a mat besar
artinya, teramat ganjil kalau diserahkan dan dipercayakan kepada si
mata satu yang berkepandaian silat begitu rendah, maka ia
menduga secara sembunyi pasti masih ada orang la in yang
berkepandaian tinggi melindunginya. oleh karena itu dia tidak berani
gegabah, setelah si mata satu pergi jauh dan me nelit i sekelilingnya
me mang t iada orang lain yang berse mbunyi, barulah dia berkelebat
keluar hutan, menyusul ke bawah gunung.
Si mata satu menempuh perjalanan dengan langkah cepat, Ling
Kun-gi tetap menguntit dari kejauhan- Supaya tidak menimbulkan
perhatian orang, maka mut iara yang dia ikat dipinggang kiri seperti
pesan gurunya dia simpan da la m kantong baju.
Mala m itu si mata satu mene mpuh tujuh li perjalanan, setelah
hari terang tanah, ia sa mpai di Kip-sian dan langsung masuk kota.
Tak jauh di be lakangnya Ling Kun-gi juga ikut masuk kota,
agaknya si mata satu sudah apal jalanan dalam kota ini, di pinggir
jalan dia minum dulu se mangkuk bubur kacang serta makan
beberapa kue untuk mengganjal perut, lalu menuju ke ujung ja lan
dan me masuki hotel Hin-liong, sebuah penginapan kecil.
Setelah sema la m suntuk mene mpuh perjalanan, Ling Kun-gi duga
orang perlu istirahat, maka ia-pun masuk ke warung yang letaknya
di seberang hotel, disini dia sarapan pagi. Dia m2 dia perhatikan
setiap orang yang hilir mudik, dilihatnya seorang laki2 yang bertopi
bulu dengan pakaian abu2 datang dari sana dan langsung masuk ke
dalam hotel Hin-liong. Dari langkahnya yang enteng, Ling Kun-gi
tahu kalau orang ini adalah seorang jagoan, kalau hari sudah
seterang ini baru masuk penginapan, tentu diapun mene mpuh
perjalanan di waktu ma la m.
Berdegup jantung Ling Kun-gi, pikirnya: "Mungkinkah orang ini
sekomplotan dengan si mata satu?"
Setelah perut kenyang dan membayar rekening makanan, Ling
Kun-gi juga masuk ke hotel Hin-liong di seberang, biasanya yang
menginap di hotel sekecil ini adalah tukang kereta atau kuli
angkutan yang me mbawa barang dari te mpat jauh, begitu hari
terang tanah mereka lantas berangkat, maka keadaan hotel
sekarang terasa sepi.
Melihat ada ta mu datang, pelayan menyambut dengan sikap
hormat: "Tuan ta mu, kau akan..."
"Menginap." sahut Ling Kun-gi.
Pelayan kegirangan, katanya sambil munduk2: "Ya, ya, silakan
tuan ikut ha mba." lalu ia bawa Ling Kun-gi ke dala m.
Sambil jalan Ling Kun-gi bertanya kepada si pe layan: " Hotel
kalian ini apa ra ma i dikunjungi tamu."
"Tarip hotel ka mi murah, maka ra ma i juga tamu2 yang suka
menginap di sini," sahut pelayan- "Kalau setiap pagi ada tamu
masuk hotel seperti tuan sekarang. penghasilan hotel ka mi tentu
bertambah besar."
Sementara itu mereka sudah sa mpa i di depan sebuah ka mar,
pelayan me mbuka pintu serta bertanya sambil me langkah masuk: "
Kamar ini bagaima na tuan?"
Sebentar Ling Kun-gi celingukan, lalu menjawab: "Ya, bolehlah.
Biasanya apakah jarang ta mu yang menginap di pagi hari?"
"Orang yang menginap pagi tentu semalam suntuk mene mpuh
perjalanan, belakangan ini kea manan dijalan banyak terganggu,
sudah tentu jarang orang mau mene mpuh perjalanan ma la m hari
......" mendadak dia ce kikikan, serta menambahkan: "Pagi hari ini,
termasuk Siang kong ka mi telah kedatangan tiga ta mu"
Ling Kun-gi mengiakan secara tak acuh tanyanya seperti tidak
ambit perhatian: "Mereka tinggal ka mar mana?"
"Hotel ka mi hanya me miliki ena m ka mar, diseberang sana adalah
ruang umum, ka mar tuan nomor t iga, dua tamu yang lain
mene mpati ka mar satu dan dua."
Ling Kun-gi me mbatin: "Jadi si mata satu mene mpati ka mar ke
satu, lelaki baju abu2 tinggal di ka mar nomor dua."
Sementara itu pelayan telah keluar dan kembali me mbawa sepoci
air teh, katanya tertawa sam-bil menyuguh: ."Tuan, sila kan
minum?"
Sengaja Ling Kun-gi menggeliat dan menguap. katanya: "Aku
ingin t idur, tutuplah pintu dari luar, tak usah kau layani aku lagi."
Pelayan mengiakan terus keluar sa mbil merapatkan pintu.
Ling Kun-gipasang kuping sebentar, didengarnya laki2 baju abu2
di sebelah agaknya belum tidur, pikirnya: "Kalau orang ini bukan
sekomplotan dengan si mata satu, tentu iapun seperti diriku sedang
menguntit si mata satu."
Setelah meneguk habis secangkir teh, tanpa buka pakaian dia
rebahkan diri. Dengan be kal kepandaian silatnya, umpa ma dia tidur
pulas, asal kedua orang di ka mar sebelah ada sedikit ulah pasti tida k
dapat mengelabui kupingnya, karena untuk keluar hotel mereka
harus lewat depan ka marnya betapapun derap langkah mere ka
tetap bisa didengarnya. Maka dengan hati lega ia pejamkan mata
sebentar saja sudah pulas.
Tak terduga belum la ma dia tertidur, tiba2 didengarnya orang di
kamar sebelah mengumpat marah2: " Keparat, cukup licin juga
kau."
Kata2nya tidak keras, menyerupai orang berguman, tapi cukup
mengejutkan Ling kun-gi dari pulasnya, bergegas dia duduk serta
pasang kuping, didengarnya laki2 di ka mar sebelah mendorong
jendela terus melompat keluar . . .. "Mungkinkah si mata satu sudah
merat?" de mikian batin Ling Kun-gi.
Ketiga ka mar berjajar in masing2 ada jendela belakang, waktu
masuk ka mar tadi Ling Kun-gi sudah me meriksanya, di luar jende la
adalah sebuah gang sempit, agaknya lelaki baju abu2 sudah
mengejar lewat gang dibelakang itu.
Bergegas Ling Kun-gipun turun dari ranjang dan buka jendela, ia
me lompat keluar, betul juga dilihatnya jendela di kedua ka mar
sebelah sudah terpentang lebar, jadi si mata satu sudah merat dan
dikejar lelaki baju abu2. Dia m2 Ling Kun-gi ma lu diri, ka lau le laki
baju abu2 tidak mengumpat, diri-nya tentu juga kena dikelabui, dari
sini terbukti bahwa pengala man dirinya masih terlalu cetek untuk
bekal kelana di Kangouw.
Lekas dia ke mbali ke ka mar menje mput buntalannya terus buka
pintu. Melihat Ling Kun-gi keluar, lekas si pelayan menyongsong
maju, tanyanya keheranan: " Katanya tuan mau tidur, kenapa buru2
berangkat ma lah?"
"Sudan tidur sejenak. masih ada urusan- Nah, inilah uang
rekeningku, masukkan juga rekening ka mar ke satu," ternyata
sebelum pergi le laki baju abu2 di ka mar kedua meningga lkan uang
di atas meja, tapi si mata satu menginap dengan gratis.
Karena sudah dengar si baju biru berpesan "Ada orang
menunggumu di Hoay-yang," ma ka Ling Kun-gi t idak perlu buru2,
dari sini ke Hoay-yang sudah dekat, maka dia me ne mpuh perjalanan
ke selatan dengan langkah seenaknya. Kira2 tengah hari ia tiba di
Liong-ki.

Liong-ki adalah sebuah kota kecil, hanya ada sebuah warung


bakmi yang terletak di ujung ja lan raya, maka pejalan kaki atau
orang yang menempuh perja lanan jauh suka ma mpir di warung ba k-
mi ini.
Karena saatnya orang makan, ma ka meja warung kecil ini penuh
sesak. Waktu Ling Kun-gi me masuki warung ini, sekilas dia menjadi
tercengang, maklumlah warung kecil, hanya ada enam meja dengan
masing2 empat kursi, setiap meja diduduki tiga atau empat orang.
Sekilas matanya menjelajah maka dilihatnya di meja sebelah timur
sana duduk seorang diri si mata satu, dia pesan sepoci arak dan
semangkok kuah sayur asin, dengan lahapnya dia tengah melahap
makanannya. Lelaki baju abu2 terlihat duduk di meja dekat pintu,
mungkin takut dikenali orang, maka topi bulu di atas kepalanya
ditarik serendah mungkin sa mpai menutup muka, tapi Ling Kun-gi
tetap mengenalinya.
Baru saja Ling Kun-gi masuk pintu, pelayan sudah
menya mbutnya dan menunjuk te mpat duduk yang masih kosong,
setelah menyuguh secangkir teh dia tanya mau pesan makanan apa,
Ling Kun-gi minta sepoci arak dan beberapa maca m masakan-
Setelah pelayan mengundurkan diri, Ling Kun-gi coba mengawasi
orang sekelilingnya, semua adalah kaum pedagang yang kebetulan
lewat dan mampir, hanya si mata satu dan laki2 bertopi bulu itu
termasuk kaum persilatan- Pada saat itulah dilihatnya dari luar
masuk pula seorang berjubah hijau pupus.
Perawakan orang ini tinggi kurus, kulit mukanya kuning ke
hijau2an, begitu melangkah masuk sorot matanya menjelajah ke
seluruh ruangan, akhirnya dia pilih tempat duduk dekat pintu keluar,
tiga jari tangan kirinya mengetuk meja, mulutpun berkaok keras:
"Hai, pelayan"
Kelihatan ketukan ketiga jari tangan di atas meja enteng saja,
tapi piring mangkuk yang berisi makanan diatas meja seketika
berloncatan semua.
Si baju abu2 tengah menunduk menikmati hidangannya, selebar
muka dan dadanya menjadi basah kuyup oleh kuah makanannya
sendiri yang muncrat.
Keruan tidak kepalang marah si baju abu2, topi bulu dia angkat
keatas, tangannya mengusap muka, bentaknya marah, sambil
mende lik kepada laki2 baju hijau: "Saudara tidak lihat kalau aku
sedang ma kan di sini? kenapa ma in kasar begini rupa?"
Tidak terunjuk sedikit perobahan mimik wajah laki2 baju hijau,
sahutnya dingin, "Kalau kau anggap aku kasar, kenapa tidak pindah
ke meja lain saja?"
Bukan saja tidak minta maaf malah dirinya disuruh pindah
ke meja lain, keruan si baju abu2 naik pita m?, hardiknya murka:
"Kau ma in tepuk meja, sampa i ma kanan muncrat mengotori
badanku, me mangnya aku yang salah?"
"Kusuruh kau pindah ke meja la in, me mangnya aku juga
salah?"jengek laki2 baju hijau pupus.
Mendengar ada keributan, semua tamu yang hadir sa ma
berpaling ke arah sini.
Mencorong biji mata si baju abu2, katanya tertawa lebar:
"Saudara bertingkah dan main kayu, agaknya sengaja hendak cari
perkara padaku?"
"cari perkara?" dengus laki2 baju hijau. " Kau setimpal?"
Lelaki baju abu2 berjingkrak berdiri, dari kantong kain yang
terselip dipahanya dia lolos sebilah Yap-hap-to, bentaknya: "Mari
keluar, aku ingin belajar kenal kepandaianmu."
Laki2 baju hijau tetap bersikap dingin dan menghina: "Kau berani
ma in senjata dengan aku? Me mangnya kau sudah bosan hidup?"
"Entah siapa yang bosan hidup?" jengek si baju abu2.
"Aku sudah me mperingatkan, kau sendiri yang ingin ma mpus,
maka jangan aku yang disa lahkan-" se mbari bicara tiba2 laki2 baju
hijau sedikit angkat tangan kirinya, selarik sinar hijau t iba2 melesat
ke arah tenggorokan si baju abu2, bukan saja luncurannya cepat,
tidak bersuara lagi.
Pada waktu yang sa ma, tampak dari arah samping sana
me luncur pula sebuah cangkir arak. "Tring", dengan tepat
me mbentur sinar hijau itu sehingga sinar hijau melayang ke
samping laki2 baju abu2 dan "crat" terpaku di atas te mbok.
Waktu semua hadirin berpaling ke sana, Itulah sebatang panah
kecil sepanjang dua dim berwarna hijau, dasar cangkir tertembus
bolong, dan tergantung di atas panah yang terpaku di dinding.
Beringas si baju abu2, bentaknya: "Berani kau melukai orang
dengan panah gelap." Mendadak ia menubruk maju, tangan kiri
terus mencengkeram ke pundak laki2 baju hijau.
Sibaju hijau menjenge k. sekali tangan kiri me mba lik, belum lagi
orang lain melihat gerakannya, tahu2 si baju abu2 tersentak mundur
dua langkah. punggung tangan kirinya ternyata tergores luka, darah
yang meleleh berwarna hitam, kulit dagingnya hangus berwarna
hijau. Seketika ia megap2, ternyata dia tak sanggup bwrsuara lagi,
pelan2 badannya roboh tersungkur.
Kejadian berlangsung dala m waktu yang amat singkat. tanpa
hiraukan korbannya, laki2 baju hijau ma lah me lotot dan berpaling ke
arah Ling Kun-gi, tanyanya dingin, "Kaukah yang menimpuk cangkir
itu?"
"Betul," sahut Ling Kun-gi, "aku tak senang melihat kau
me mbokong orang."
"Anak muda," laki2 baju hijau mendengus "Jangan kau turut
campur."
Ling Kin-gi berdiri pelan2, sekilas matanya me lirik kearah si baju
abu2, tanyanya: "Bagaimana keadaan saudara itu?"
"Setanakan nasi lagi, jiwanya takkan tertolong," kata laki2 baju
hijau.
"Kau mence lakai jiwanya?" tanya Ling Kun-gi gusar.
Menyeringai lebar laki2 baju hijau, jawabnya: "Betul, dia terkena
racun jahat, sudah tentu jiwanya takkan tertolong lagi."
Ling Kun-gi menarik muka, tanyanya dingin: "Mana obat
penawarnya?"
"Benar, me mang ada obat penawarnya padaku."
"Lekas keluarkan," desak Ling Kun-gi
Si baju hijau tergelak, katanya: "Sungguh lucu, kalau harus
me mberi obat penawarnya, buat apa tadi kukerjai dia?"
"Utang jiwa bayar jiwa, utang uang bayar uang setelah kau
mence lakai dia, maka harus keluarkan obat penawarnva,
me mangnya hanya karena adu mulut, kau lantas mencabut
jiwanya?"
"Dia me mang pantas ma mpus," jengek si baju hijau.
"Keluarkan obat penawarnya?" bentak Ling Kun-gi.
Laki2 baju hijau hanya melirik saja kepada Ling Kun-gi, katanya
dingin: "Janganlah kau cari kesulitan sendiri, usia mu masih muda,
kalau jiwa me layang percuma, apakah tidak sayang?"
Melotot gusar biji mata Ling Kun-gi, bentak-nya: "Jiwa manusia di
buat ma in2, hayo, keluarkan obat penawarnya." .
"Anak muda,"^ ujar laki2 baju hijau manggut2, "agaknya kau
me mang usil, ketahuilah obat penawarnya ada di dalam kantongku,
kalau kau ma mpu boleh menga mbilnya sendiri."
"Baiklah kalau begitu," pelan2 Ling Kun -gi mengha mpiri..
Laki baju hijau menyeringa i di mana tangan kanan terangkat,
"Wut" tiba2 ia layangkan kepalannya ke muka si pe muda. Tujuan
Ling Kun-gi hendak menawannya hidup2, me lihat tangan orang
menggenjot tiba, tangan kiri segera menapak maju mencengkera m
pergelangan tangan lawan- Gerakan mencengkera m ini
mengandung beberapa perubahan yang lihay, gerakan laki2 baju
hijau juga tidak kalah aneh dan lihaynya, baru kepalan kanan
sampai di tengah jalan, terus ditarik balik, sementara tangan kiri
segera ganti mencengkeram tulang iga Ling Kun-gi. Lekas Kun-gi
turunkan tangan kanan, gerakan mencengkera m dia ubah
mengebas turun- Tangan mereka segera beradu, keduanya sama
bertolak mundur selangkah.
Terasa oleh Ling Kun-gi tangan si baju hijau sekeras baja
sedingin es, pegangannya seperti mencengkera m tongkat besi yang
keras, keruan hatinya terkejut.
Begitu mundur laki2 baju hijau ternyata tidak segera merangsak
pula, katanya dingin sa mbil mengulap tangan: "Anak muda, kau
sendiri yang paksa aku turun tangan, sekarang lekas kau pulang
mengurus keberangkatanmu ke a la m baka."
"Ah, kenapa?" tanya Ling Kun-gi tak acuh-
"Hidupmu tinggal 12 jam lagi, setelah itu jiwamu bakal me layang,
sekarang masih keburu kalau kau pulang ke rumah," ujar laki2 baju
hijau.
Menegak alis Ling Kun-gi,jengeknya sambil me natap tajam: "Kau
gunakan racun atas diriku?"
"Kau sendiri yang menyentuh tanganku."
"Jadi tanganmu beracun?" sekilas mencorong sorot mata Ling
Kun-gi. "Berulang kali kau menggunakan racun mencela kai orang,
hari ini terpaksa aku tak bisa melepaskanmu pergi..." Habis
kata2nya tiba2 ia me langkah maju, ke lima jari tangan kirinya
laksana cakar terus mencengkera m bahu kanan si baju hijau.
Melihat orang sudah keracunan masih bergerak ce katan dan
menyerang, bukan kepalang kejut si baju hijau. Teruta ma usia Ling
Kun-gi masih begini muda, tapi serangan dan sikapnya begini
berwibawa seperti jagoan angkatan tua layaknya, sudah tentu dia
tidak mau lengannya terpegang, cepat ia putar tubuh sam-bil
merendahkan punda k. ia meluputkan diri dari serangan tangan kiri
Ling Kun-gi.
Ling Kun-gi tetap menggunakan tangan kiri. sementara tangan
kanan me lindungi dada, gerakan- menggunakan Kim-na-jiu
(gerakan me megang dan me muntir), yang diincar adalah Hiat-to
penting tubuh lawan, serangan aneh dan la in daripada yang lain-
Dari gerakannya yang begitu tangkas, siapapun pasti ma klum
bahwa dia pasti didikan seorang guru yang.
Beruntun laki2 baju hijau berke lit tiga kali, pikirnya setelah
merangsak beberapa jurus, racun di badan Ling Kun-gi pasti sudah
bekerja, tak perlu dia melayani orang lebih lanjut. Tapi pada jurus
ke empat ia merasa tak ma mpu berkelit lagi, terpaksa dia ulurkan
lengan kiri sendiri ma lah. Sekali pegang Ling Kun-gi lantas pencet
pergelangan tangan laki2 baju hijau, terasa yang dipegang itu
dingin dan keras, tak ubahnya me megang besi.
Waktu dia awasi, dilihatnya tangan kirinya sudah berubah warna
menjadi kehijauan, kelima jari orang setajam pisau seruncing duri
landak. nyata tangannya me mang terbuat dari besi baja. Kiranya
lengan kiri orang ini me mang tangan palsu yang terbuat dari besi,
ma lah dilumuri racun lagi.
Ling Kun-gi kerahkan tenaga dan pegang tangan besi orang,
jengeknya dingin: "Ternyata kau pakai senjata lengan besi dan
beracun lagi. sungguh kejam kau."
Si baju hijau meronta sekuatnya, namun pegangan orang
sedikitpun tidak berge ming, keruan hatinya mencelos, tanpa bicara
tangan kanannya tiba2 menggenjot ke dada Ling Kun-gi. Ta k
terduga Ling Kun-gi juga angkat kepalannya me mapak genjotan
lawan, "Blang", kepalan lawan kepalan, sibaju hijau tergentak
mundur selangkah.
Gusar dan gelisah si baju hijau, se mbari me mbentak. tubuhnya
ma lah menumbuk maju, tangan kanan bergerak turun naik, dalam
sekejap mata, tangan kanannya sudah menyerang tiga kali.
Ketiga jurus ini rapat dan cepat laksana kilat, tak urung Ling Kun-
gi terdesak mundur dua langkah, tapi pegangan tangan kirinya tetap
tidak terlepas sehingga si baju hijau ikut terseret maju dua langkah,
Mendapat sedikit kese mpatan, Ling Kun-gi segera balas
merangsak. iapun menyerang berantai tiga jurus, jari menutuk
telapak tangan menabas serangannya semua merupakan jurus2
yang me matikan, karena sebelah tangannya memegang lengan
lawan, maka kedua orang hanya bergerak dari jarak. dekat,
masing2 hanya mengguna kan sebelah langan-
Beberapa gebrak jarak dekat ini ke lihatan masing2 tidak
menunjukkan ilmu2 silat yang mengejutkan, tapi bagi seorang ahli
pasti dapat merasakan betapa hebat dan bahayanya, karena mati-
hidup hanya terpaut serambut saja. Betapa cepat serangan dan
betapa tangkas pula perubahan gerak serangan masing2, se mua
hanya berlangsung dala m sekejap mata belaka.
Mungkin karena me mandang rendah lawan, si baju hijau tak
pernah pikir bahwa lawannya yang masih begini muda ternyata
me mbe kal ilmu silat kelas tinggi. Dan yang lebih mengejutkan lagi
adalah pemuda ini tak gentar menghadapi racun jahatnya, orang
lain cukup kesere mpet saja, dalam sekejap racun akan menjalar,
tapi Ling Kun-gi masih terus me megangi lengan besinya yang
beracun tanpa kurang apa2 dan tetap segar bugar, oleh karena itu
tanpa terasa dia menjadi kerepotan dicecar oleh serangan Ling Kun-
gi yang ber-tubi2.
Untunglah pada detik gawat itu, mendadak sebuah suara dingin
kereng me mbentak. "Berhenti"
Mendengar bentakan itu, lekas sibaju hijau me mbentak tertahan:
" Lepaskan"
Ling Kun-gi me nghentikan, serangan tangan kanan, tapa tangan
kiri tetap me megang tangan besi si baju hijau, lalu tanyanya: "Siapa
itu?"
Sibaju hijau meronta sekuat tenaga, dampratnya gusar: "Le kas
lepaskan"
"Setelah kau me mberi obat penawarnya, segera kulepaskan
tanganmu."
Karena usahanya tidak berhasil, si baju hijau me njadi gugup,
"Wes" tangan kanan tiba2 menepuk ke dada Ling Kun-gi.
Ling Kun-gi berdiri tegak tanpa berge ming. na mun baju didepan
dadanya mendadak mele mbung seperti layar berkembang, maka
tepukan sibaju hijau seperti mengenai benda empuk. laksana
menepuk permukaan air, seperti kosong tapi masih berisi, seperti
mengenai sesuatu tapi mirip me ngenai te mpat kosong, hakikatnya
dia tidak kuasa mengerahkan tenaganya, keruan tidak kepalang
kejutnya.
Tiba2 Ling Kun-gl kipatkan tangan kirinya, sementara tangan
kanan tegak menabas punggung, pergelangan tangan kanan lawan,
berbareng dia me mbanting si baju hijau ke atas tanah. Sudah tentu
si baju hijau mati kutu, "Blang," dengan keras badannya terbanting
dan tidak ma mpu bergerak lagi.
Menatap sibaju hijau, Ling Kun-gi me ngan-ca m dengan nada
keren: "Serahkan tidak obat penawarnya? "
Dari kumandangnya suara bentakan "Berhenti" seseorang,
sampai si baju hijau me nyerang serta dibanting oleh Ling Kun-gi,
semua, itu berlangsung hanya beberapa detik saja. Maka
terdangarlah orang yang bersuara tadi kembali berseru me muji:
"Gerakan bagus"
Ling Kun-gi angkat kepalanya, dilihatnya se-orang berjubah biru,
entah sejak kapan sudah berdiri di a mbang pintu sambil meng
gendang kedua tangan, Usia laki2 ini sekitar 25 tahun, wajahnya
cakap bersih, me mondang buntalan panjang di punggungnya,
berdiri sa mbil bertola k pinggang, wajahnya tidak mengunjuk
sesuatu perasaan hatinya, sikapnya angkuh. Si baju biru ini ternyata
adalah orang yang pernah ditemuinya di kota Kayhong beberapa
hari yang la lu.
Sementara itu, si baju hijau sudah berdiri dengan sikap patuh dia
me mberi hormat kepada si baju biru, katanya: "Hamba me nghadap
majikan muda,"- Kiranya si baju biru adalah putera majikannya.
Si baju biru mendengus dengan suara hidang, katanya: "Kau
me mbuat onar lagi di sini?"
"Ha mba tida k berani," sahut si baju hijau ter-sipu2.
Sorot mata si baju biru me natap Ling Kun-gi, katanya dingin:
"Agaknya kita pernah berjumpa entah dimana??"
"Sela manya cayhe belum pernah berkelana di Kangouw," sahut
Ling Kun-gi.
"Siapa na ma tuan?" tanya si baju biru.
Tidak menjawab Ling Kun-gi malah balas bertanya: "Dia ini
pembantumu?"
si baju biru na ik pita m, alis menegak. wajahnya diliputi nafsu
me mbunuh, jengeknya: "Betul, nah dalam hal, apa dia berbuat
salah terhadap-mu?"
Sikap Ling Kun-gi tidak ka lah congkak, ujarnya: "Masuk rumah
makan ini, pembantumu lantas cari perkara dengan orang, main
serang dengan panah beracun lagi, untunglah kena kutimpuk
dengan cangkir sehingga tidak mengenai sasaran, tak terduga
dengan tangan besinya yang beracun dia main kasar lagi, kukira
hanya sedikit perselisihan, kenapa harus mena matkan jiwa orang
lain, bukankah perbuatannya terlalu keji, maka kuahrap dia suka
menge luarkan obat penawarnya."
cemberut dingin wajah si baju biru, katanya sambil melirik sibaju
hijau: "Apa betul de mikian halnya?"
si baju hijau tidak berani bersuara, maka si baju biru
mena mbahkan- "Lekas serahkan obat penawar kepadanya."
Tidak berani me mbangkang, lekas sibaju hijau merogoh kantong
menge luarkan botol kecil porselin gepeng, ia menuang sebutir pil
terus diangsurkan- Ling Kun gi menerimanya, lalu manggut2 kepada
si baju biru dan berkata: "Terima kasih banyak."
"Dia kawanmu?" tanya si baju biru mengawasi laki2 baju abu2
yang mengge letak di lantai.
"Sela manya belum pernah kukena l," sahut Ling Kun-gi tertawa,
lalu dia berpaling: "Pelayan, ambilkan segelas a ir putih."
cepat pelayan me mbawakan air putih yang diminta, Ling Kun-gi
lantas pencet dagu laki2 baju abu2 sehingga mulutnya terpentang,
pil itu terus dijeja lkan ke mulutnya serta dilolohkan beberapa teguk
air.
Dika la keributan berlangsung tadi, secara dia m2 si mata satu
sudah berdiri me mbayar rekening terus bergegas tinggal pergi.
Sambil mengawasi Ling Kun-gi, si baju biru berkata pula: "
Kepandaian tuan me mang hebat, entah dari perguruan aliran
mana?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, sahutnya: "cayhe, Ling Kun-gi, tidak
punya golongan atau aliran segala."
"Um," si baju biru mendengus kurang senang, tiba2 dia me mbalik
badan serta berkata: "Hayo pergi"- cepat sibaju hijau mengikut di
belakangnya.
Dala m hati Ling Kun-gi berkata: "Ternyata inilah yang melindungi
si mata satu sepanjang perjalanan ini."
Mendadak dia sadar, dirinya telah perkenalkan diri, kenapa tidak
balas tanya nama orang. Da la mpada itu si baju abu2 sudah
merangka k bangun, katanya sambil menjura kepada Ling Kun-gi:
"Terima kasih atas pertolongan Siang kong."
Ling Kun-gi balas me mberi hormat, katanya tertawa: "Saudara
tidak usah sungkan-".
Lalu si baju abu2 me manggil pe layan, katanya: "Rekening
Siangkong ini biar kubayar sekalian, siaanya bolehlah kau ambil." -
Si pelayan terima uang sembari munduk2 dan mengucapkan banyak
terima kasih.
Kembali si baju abu2 me njura, katanya: "cayhe masih ada
urusan, tidak boleh tertunda di sini, maaf aku mohon diri lebih
dulu."
orang ter-gesa2 mau pergi setelah jiwanya di tolong, tapi tidak
tanya nama penolongnya, jelas dia kuatir kalau Ling- Kun-gi balas
tanya namanya. Diam2 Kun-gi me mbatin: "Mungkin kau tidak tahu,
si baju biru dan pe mbantu2nya adalah sekomplotan dengan si mata
satu dan secara diam2 melindunginya sepanjang jalan-" - Tapi ha l
ini tak enak dia utarakan, ia hanya tertawa tawar, katanya:
"Saudara ada urusan, boleh silakan saja."
Si baju abu2 menjura pula terus putar badan dan keluar.
Mengantar kepergian bayangan punggung orang, seketika terasa
oleh Ling Kun-gi buntalan kertas yang dibawa si mata satu pasti
penting artinya. Setelah menghabiskan dua cangkir arak pula,
sementara si baju abu2 juga sudah pergi cukup jauh, maka lekas
iapun berdiri terus menuju ke luar kota. Dia tahu setelah di warung
tadi dia mende monstrasi-kan kepandaiannya, mungkin si baju biru
sudah curiga dan menaruh perhatian terhadap dirinya, ma ka gerak-
gerik dirinya selanjutnya tentu kurang leluasa, maka setelah t iba di
luar kota, tanpa pikir dia terus menyelinap masuk ke dala m hutan
dengan gerakan cepat dan enteng.
Pada saat badannya meluncur ke dala m hutan itulah, tiba2 ia
mendengar hardikan nyaring merdu: "Siapa, hayo berdiri?"
Begitu suara berkumandang, di depan muncul sesosok bayangan
hijau, berbareng hidung dirangsang bau wangi, sebuah tangan
halus putih tahu2 mendorong ke arah dadanya.
Belum lagi jelas melihat bayangan orang, secara refteks Ling
Kun-gi gerak tangan kiri menangkap pergelangan tangan yang
menyelonong ke arah dadanya ini.
"Eh" itulah teriakan kejut seorang gadis, tangan yang halus
itupun tergetar serta ditarik mundur, se mentara mulutnya lantas
menda mprat: "Bu jangan bernyali besar, hayo lepaskan" Sepatu
yang ujung-nya melengkung tahu2 menendang tanpa bersuara.
Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat sesingkat Ling Kun-
gi menerobos ke dala m hutan-
Begitu mendengar suara nyaring merdu, berbareng merasakan
tangan yang dipegangnya halus dan licin, sesaat dia melongo dan
segera lepas tangan, ber-bareng ia melompat mundur. Waktu dia
mengawasi tampa k diantara semak pohon sana berdiri seorang
gadis jelita berpakaian kuning. Kedua pipinya tampak bersemu
merah, kedua biji matanya melotot gusar lagi me mbentak sambil
menuding dirinya: "Bajingan tengik, apakah mata mu buta?"
Sesaat Ling Kun-gi terlongong mengawasi gadis je lita ini, secara
semberono terobosan di sini dan pegang tangan pula, sebetulnya
dia ingin minta maaf, serta mendengar caci maki orang, dia m2 ia
mendongkol, pikirnya: "Waktu aku menyelinap ke mari tadi tak
kelihatan bayangan orang, jadi dia menapakku waktu me lihat aku
masuk. dia sendiri yang menyerang lebih dulu baru terpaksa
kupegang tangannya, kalau tidak, bukankah dadaku terpukul
olehnya? Kalau dipikir, bukan aku yang salah?" Tanpa terasa ia
tersenyum geli sendiri
Melihat orang cengar-cengir mengawasi dirinya, hati si gadis
semakin dongkol, namun wajahnya sema kin jengah, kini diapun
dapat melihat jelas orang yang berdiri di hadapannya ternyata
seorang pemuda gagah dan berwajah cakap. cuma senyumannya
itu rada kurang ajar? Kejap la in si nona sudah ce mberut lagi,
katanya dengan bibir menyungkit:
"Bajingan kurang ajar, apa yang kau gelikan? Me mangnya kau
sudah bosan hidup?" Dingin pancaran sorot mata Ling Kun-gi,
suaranyapun kaku: "Nona me ma ki siapa?"
Si nona baju kuning bertolak pinggang, ma kinya sambil
menuding Ling Kun-gi: "Me ma kimu, sekali pandang lantas kutahu
kau ini bukan orang baik2.
Dimaki tanpa alasan Ling Kun-gi menjadi berang, jengeknya:
"Nona tahu aturan tidak? Cayhe yakin tidak pernah berbuat salah,
kau sendiri yang muncul tiba2 lantas menyerangku dan me makiku
tanpa alasan, me mangnyu aku yang salah?"
"Mau bicara soal aturan?" si nona sema kin gala k.. "Matamu tidak
buta, kenapa main terobosan ke mari?"
"Aku sudah mengalah, kuharap nona tahu sopan santun, hutan
ini toh bukan milik nona, umpa ma orang dilarang masuk,
sepantasnya kau bicara lebih dulu . . . ."
Merah muka si nona, dia makin dongkol, katanya: "Kularang kau
masuk, maka kau tidak boleh masuk,"
" Kenapa tidak boleh masuk?" Ling Kun-gi menegas. "Tidak apa2,
kau terobosan, maka kau harus kuhajar."
"cayhe tidak sepandengan nona." jengek Ling Kun- gi, ia putar
badan terus tinggal pergi.
Si nona sema kin marah, bentaknya sambit me mbanting kaki,
"Berdiri di te mpat mu"
Ling Kun gi me mbalik badan, alisnya menegak. suaranya kereng:
" Apa pula kehendak nona?"
"Kau menghinaku, lantas tinggal pergi begini saja?" da mprat si
nona.
"Siau Yan," tiba2 sebuah suara merdu bak bunyi kelintingan
berkumandang dari sebelah dalam hutan sana, "kau sedang ribut
dengan siapa?"
Si nona baju kuning Siau Yan, tampak kegirangan, serunya:
"Syukurlah engkau datang Sio-cia, lekas kemari." - Dari dala m hutan
tampak melangkah keluar sesosok bayangan semampai berpaka ian
warna merah apel, itulah seorang gadis jelita yang menggiurkan.
03
Terbeliak pandengan Ling Kun-gi, nona ini berperawakan
ramping, kulitnya putih halus, raut wajah bundar telur, alis lentik
laksana bulan sabit dengan biji mata bening ce merlang
me mancarkan sinar keagungan yang tak terlawan oleh siapapun.
Tiba2 wajah Ling Kun-gi menjadi panas jengah, baru se karang
dia maklum duduknya perkara, kenapa nona Siau Yan ini berjaga di
luar hutan, kiranya nona cantik ini sedang buang air di dala m hutan-
Setelah si nona cantik mendekat, Siau Yan me mberi hormat,
katanya aleman: "siocia, bajingan ini kurang ajar"
Si jelita menarik muka, bentaknya: "Siau Yan, jangan me maki
orang" Matanya yang bening tajam mengawasi Ling Kun-gi,
kalanya: "Aku sudah dengar, kau lebih dulu menyerang dia, betul
tidak?"
"siocia, dia .... karena dia .... " Seru Siau Yan tergagap.
"Jangan ceriwis, lekas minta maaf kepada Siang kong ini,"
perintah si je lita.
Siau Yan me lengak. wajahnya merah padam debatnya: "Siocia
dia yang menghinaku, main pegang segala .... "
"Jangan banyak omong, hayo minta maaf kepadanya"
Ber-kedip2 lagi sinar mata Siau Yan, sejenak dia awasi si nona,
lalu berpaling kepada Ling Kun-gi, akhirnya seperti menyadari apa2,
tiba2 ia cekikikan sa mbil menutup mulut dengan tangannya, lalu
mende kat ke depan Ling Kun-gi serta menjura dan berkata dengan
nada menggoda: "siocia suruh aku minta maaf kepada Siang kong."
Sebesar ini belum pernah Ling Kun-gi bergaul dengan kaum
hawa, mukanya menjadi merah dan me mbalas hormat, katanya:
"Nona tak usah kecil hati, anggap saja tak pernah terjadi."
Siau Yan ce kikikan sa mbil me lirik. katanya: "Lha ka lau sejak tadi
kau bilang de mikian, kan t idak perlu kita perang mulut."
Ling Kun-gi hanya tertawa saja, ia putar badan hendak tinggal
pergi. Tiba2 didengarnya suara merdu tadi berteriak:
"Siangkong ini harap tunggu sebentar" Senyaring bunyi
kelint ingan teriakannya. jelas yang ber-suara adalah nona jelita itu.
Tanpa terasa merandek langkah Ling Kun-gi dan me mandang ke
sana, katanya sambil merangkap kedua tangan: " Entah nona ada
petunjuk apa?"
Siau Yan segera menyela "siocia me manggilmu, sudah tentu ada
urusan-"
"Siau Yan, jangan banyak mulut," bentak sijelita, lalu berkata
pula lirih kepada Ling Kun-gi: "Kulihat Siangkong berkepanda ian
tinggi, entah siapa na ma terhormat Siang kong?"
"cayhe Ling Kun-gi" Kun-gi me mperkenalkan diri. "nona. ......."
"siocia ka mi she Bun . . .. . . ." sela Siau Yan tertawa sambil
me lirik ma jikannya.
Ling Kun-gi me mberi hormat pula, katanya " Kiranya nona Bun,
maaf cayhe kurang adat."
siau Yan ter-pingka l2, dan katanya pula "Bicaraku belum habis,
Siocia berna ma Hoan kun, jadi punya satu bagian yang sama
dengan na ma Siangkong. sungguh kebetulan bukan?"
Merah selebar muka sijelita. "Siau Yan" Seruannya seperti ingin
mencegah, tapi da la m hati se-benarnya merasa senang.
Pada saat itulah tiba2 dari tempat jauh sana berge ma lengking
suitan keras. Seketika berubah roman Bun Hoan-kun, katanya
terperanjat: "Agaknya paman sedang me manggilku, bagaimana
baiknya."
siau Yan berkata: "Mungkin Ji cengcu akan ke mari, menurut
pendapat hamba, lekas siocia dan Siangkong se mbunyi ke dala m
hutan saja."
Sudah terbuka mulut Bun Hoan-kun, tapi urung bicara, namun
matanya me mandang Ling Kun-gi penuh arti.
Kelihatan gugup dan takut2 sikap kedua nona ini, tapi Ling Kun-
gi tetap berditi ditempatnya, ta-nya: "Kenapa cayhe harus ikut
sembunyi?"
Tiba2 Bun Hoan-kun menghela napas, katanya rawan- "Tabiat
paman a mat buruk." Sorot matanya me mandang ke tempatjauh,
lalu me na m-bahkan: "Se moga pa man tidak menuju kesini."
Belum selesai bicara, suitan melengking tadi ke mbali mengalun di
udara, dari suara suitan yang keras dan meme kik telinga ini, jelas
bahwa jarak- nya sudah jauh lebih de kat.
Hilang senyuman manis yang menghias wajah Bun Hoan-kun
tadi, sikapnya tampak gugup dan takut, katanya: "Ling -s iangkong,
tiada waktu lagi, lekas ikut aku sembunyi." Segera ia berputar,
namun langkahnya tidak bergerak, ia berpaling mengawasi Ling
Kun-gi.
Sebetulnya Kun-gi merasa heran dan curiga, na mun me lihat sikap
dan mimik Bun Hoan-kun begitu gugup se-akan2 harus dikasihani,
ia menjadi tak tega hati, katanya mengangguk: "Ba iklah, biar cayhe
ikut se mbunyi sebentar di dala m hutan-"
Penuh rasa terima kasih tatapan mata Bun Hoan-kun, pipipun
bersemu merah, ter-sipu2 dia putar tubuh dengan setengah berlari
masuk ke dala m hutan. Sedikit merandek akhirnya Ling Kun-gi ikut
me langkah ke sana.. Siau Yan me ngikut di bela kang mereka.
Tidak la ma setelah ketiga orang ini menyelinap se mbunyi ke
dalam hutan, ma ka tampa k dari kejauhan datang dua bayangan
orang bagai terbang. Diam2 Ling Kun-gi me mbatin dala m hati: "
Entah siapa kedua orang ini? Dari langkah mereka yang enteng,
terang me miliki Ginkang yang luar biasa."
Tengah pikirannya melayang, tiba2 terasa telapak tangan nan
halus le mbut pelan2 menarik tangan kirinya, terdengar bisikan Bun
Hoan-kun di tepi telinganya: "Ling-siangkong, pamanku segera tiba,
lekas kau berjongkok."
Belum pernah Ling Kun gi bersentuh tubuh dengan gadis be lia,
bau harumpun merangsang hi-dung, seketika jantungnya berdebur
keras, tanpa terasa dia berjongkok ke dala m sema k2. Tapi dia tetap
mengintip keluar sana.
Itulah seorang tua kurus berjubah panjang warna kuning kela m,
berikat pinggang ka in sutera, berusia lima puluhan, roman mukanya
merah, de-ngan tulang pipi menonjol, sorot matanya tajam berkilau,
punggungnya menyandang sebilah pedang.
Di be lakang laki2 tua mengintil ketat seorang -pe muda berjubah
kuning muda, kelihatan baru ber-usia dua puluhan tahun, alis lentik,
mata berkedip bagai bintang, wajahnya sungguh cakap. bibir tipis
merah delima, sayang hidungnya sedikit bengkok. Tetapi dia benar2
terhitung laki2 yang -bagus. Di pinggang si pemuda tergantung
sebilah pedang panjang dengan hiasan ronce benang merah
diaagangnya, kelihatan gagah dan menarik sikapnya.
Di kala Ling Kun-gi mengawasi orang, terasa oleh Ling Kun-gi
bukan saja jari2 tangan Bun Hoan-kun yang menarik tangannya tadi
tidak di-lepaskan, malah pegangan orang se makin erat dan sedikit
gemetar.
Sorot mata si orang tua yang tajam berkilau menyapu pandang
keseluruh penjuru, sebelah tangannya mengelus jenggot ka mbing
dibawah dagu-nya, katanya sambil batuk2 kecil: "Bukankah Hoan-rji
berdua tadi menuju ke sini?" . . .
Hormat dan patuh sekali ta mpaknya sikap sipe muda, sahutnya:
"Betul pa man, mungkinkah adik Hoan mengala mi apa2 di tengah
jalan?" Si tua batuk2 lagi, katanya dengan tertawa:
"Keponakan tidak usah kuatir, bekal ilmu silat yang dipelajari
Hoan-ji cukup berlebihan buat Hoan-ji berkelana di Kangouw.
Mungkin mereka istirahat di dala m kota, marilah kau ikut Lohu
mencarinya di kota."
Sipe muda mengiakan penuh hormat, bayangan mereka lantas
berkelebat menuju ke arah kota di balik hutan sana.
"Agaknya kedua orang ini tengah mencari nona Bun," de mikian
batin Ling Kun-gi, " kenapa dia malah menyembunyikan diri?" Waktu
dia ber-paling, tertampak air mata ber-kaca2 di kelopak mata Bun
Hoan-kun, tentu saja se makin heran hati Kun-gi. .
Agaknya Bun Hoan-kun sadar bahwa dirinya diperhatikan, cepat
dia berdiri, mukanya merah ma lu, katanya getir: "Tadi aku
ketakutan, maaf akan sikapku yang tidak pantas, Ling-siang kong . "
Ling Kun-gi pun berdiri, sahutnya: "Nona tak usah berkecil hati."
Lalu dia tanya penuh perhatian: . "Apakah pa manmu pe mberang? "
Bun Hoan-kun menggeleng, katanya: "Biasa-nya paman sayang
padaku, cuma .... aku tidak ingin pulang ....".
"Siccia," Seru Suan Yan, sikapnya gugup, "Ji-cengcu dan Sia u-
kong cu pasti akan balik lagi, lekaslah kita pergi."
"Tak usah kau ceriwis," bentak Bun Hoan--kun, "me mangnya aku
tidak tahu, kalau aku t i-dak mau pergi, siapa bisa me ma ksaku?"
Lekas Ling Kun-gi berkata: "Kalau nona ti-dak ingin bertemu
dengan pa manmu, sebaiknya me mang lekas .pergi saja dari sini."
"Nanti sebentar lagi juga tidak jadi soal," sahutBun Hoan-kun,
"Sebetulnya bukan kuingin menghindari pa man .... " sampa i disini
dia ragu, lalu bertanya dengan sikap prihatin: " Kulihat usia Ling
siangkong masih begini muda, mungkin baru pertama kali berkelana
di Kangouw?"
Ling Kun-gi manggut2, sahutnya. "Betul, ba-ru sekali ini aku
keluar pintu."
Tiba2 berseri girang wajah Bun Hoan-kun, dia ke luarkan sebuah
kantong kecil yang terbuat dari benang sulam sutera, di dalamnya
berisi sebuah botol kecil porselin berbentuk bundar gepeng warna
putih hijau dan diangsurkan pada Kun-gi. katanya dengan tunduk
ma lu2: " Dengan Ling siang- kong baru pertama ka li ini aku
berjumpa secara kebetulan, tiada barang lain kecua li Jing-s in-tan
buatan keluarga ka mi sekedar sebagai kenangan, obat ini dapat
me munahkan segala maca m obat bius, Ling-siangkong baru mula i
berkelana di Kangouw. . perlu kau me mbawanya untuk menjaga
diri." Dia tida k menjelaskan bahwa kantong sutera itu ada lah
buatannya sendiri.
Ling Kun-gi me lengak, katanya. "Besar arti pemberian nona,
namun cayhe tak berani menerimanya. . ."
Semakin jengah wajah Bun Hoan kun, kata-nya malu2 dan
gugup: "Lekaslah terima, Ling-siang-kong, kau belum penga la man
menge mbara di Kang-ouw yang penuh bahaya ini, obat2an ini dapat
menolong kesulitanmu."
Lekas Siau Yan tampil kedepan, dari tangan majikannya dia rebut
kantong sulam itu terus dijejalkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya:
"De mi kebaikanmu, kenapa Ling-siangkong ta mpik pe mberian
siocia?"
Me megangi kantong sula m itu, merah muka Ling Kun-gi karena
ma lu, mulutnya melongo:
"Jangan ini itu lagi," tukas Siau Yan, " kantong itu sula man siocia
sendiri, setiap melihat kantong sula m itu berarti Siangkong selalu
berhadapan dengan nona."
Sudah tentu gugup dan malu bukan ma in Bun Hoan-kun,
ome lnya: "Siau Yan, siapa suruh kau ceriwis?"
"Ha mba tidak berani," sahut Siau Yan sambil menyingkir dan
me lelet lidah.
Dengan kasih mesra sekilas Bun Hoan-kun me lirik Ling Kun-gi,
lalu katanya dengan nada masgul: "Ling - siangkong jagalah dirimu
baik2, ka mi akan berangkat."
Terharu Ling Kun-gi dia menjura sa mbil me-megangi kantong
sula m itu, katanya: "Terima kasih nona, harap nona juga jaga diri
baik2."
Bun Hoan-kun tertunduk, air mata sudah berlinang, lantas ia
beranjak keluar hutan-Siau Yan mengikuti di be lakangnya, serunya
sambil berpaling: " Ling-siangkong, jangan lupa ma mpir ke Ling la m
menengok siocia."
Lambat laun bayangan mereka se makin jauh dan tak kelihatan
lagi, Ling Kun-gi masih berdiri menjublek di luar hutan-Jari2
tangannya membolak -balik kantong sula man itu, bau harum yang
me mabokkan merangsang hidungnya, masih terngiang ka-ta2 Siau
Yan sebelum berpisah tadi: "siocia sendiri yang menyula m kantong
itu, me lihat kantong seperti berhadapan dengan siocia sendiri."
Pada saat itulah tiba2 seseorang berkata dengan suara dingin:
"Barang apa yang saudara pegang itu?"
Sebetulnya kepandaian silat Ling Kun-gi cukup tinggi, kalau ada
orang mende kat masakah tidak diketahui? Soa lnya baru pertama
kali ini dia jatuh kasmaran, dia me megangi barang pemberian
sijuita. tak heran dia sampai terlongong lupa diri, Keruan kejutnya
bukan main mendengar teguran orang, waktu dia angkat kepala,
dilihatnya pemuda jubah kuning tadi sudah berdiri di depannya,
mulutnya me-nyungging senyum dingin, matanya menatap taja m
dan beringas ke arah kantong sula m yang dipegangnya. Lekas Ling
Kun-gi masukkan kantong sula m itu ke da la m bajunya.
"Nanti dulu," cegah pemuda jubah kuning, "barang apa yang kau
pegang itu?"
Dengan sikap angkuh Ling Kun-gi menjawab: "Apa kau bicara
dengan aku?"
Si pe muda jubah kuning menyeringai, katanya dingin. "Apa ada
orang ketiga di sini?"
"Sela manya kita be lum pernah kena l, ada petunjuk apa?"
Agaknya pemuda jubah kuning kurang sabar. katanya. " Kutanya
barang apa yang kau pegang tadi?"
"lnilah barangku sendiri, kenapa kau tanyakan?" jawab Kun-gi tak
acuh.
"Aku merasa kena l sekali a kan barang itu, coba keluarkan biar
kuperiksa."
"Me mang a ku harus menurut?"
Berubah roman pe muda jubah kuning, katanya menganca m
sambil me ndekat selangkah. "Keluar-kan tida k?"
Terangkat alis Ling Kun-gi, jengeknya. "Kau mau main kasar?"
Sipe muda seperti me mpertimbang apa2, maka kata Ling Kun--gi
seperti tidak didengarnya, sesaat kemudian dia baru berkata.
"Mungkinkah barang miliknya?" - "NYA" atau si dia yang dimaksud
sudah tentu adalah Bun Hoan-kun. Panas muka Ling Kun-gi,
katanya. "Kau sedang mengoceh apa?"
Mendadak sipe muda berseru keras. "Betul, me mang itu kantong
yang selalu di- bawa adik Hoan." Tiba2 dengan pandangan penuh
ke marahan dia tatap muka Ling Kun-gi, hardiknya beringas: "
Kantong sula m itu kau dapat dari mana?"
"Peduli kudapat dari mana?" jenge k Ling Kun-gi marah juga.
"Barang milik keluarga Un dari Ling-la m, bagaimana mungkin
berada di tanganmu?"
Keluarga Un dari Ling la m, jadi nona Bun itu sebetulnya she Un?
Tapi Ling Kun-gi lantas menjawab: "Aku t idak kenal keluarga Un dari
Ling-la m yang terang orang lain yang me mberi kantong ini padaku."
Berubah air muka si pemuda jubah kuning, tanyanya tak sabar:
"Siapa dia?"
"Seorang sahabat. Kau tak mungkin kena l dia."
"Katakan, dia she apa?-
"She Bun."
"Laki atau Pere mpuan?"
"Dia adalah Piaumoayku."
"Keluarkan kantong itu untuk kuperiksa, asal bukan milik adik
dari ke luarga Un segera kuke m-ba likan pada mu."
Ling Kun-gi me nggeleng, katanya: "Kau terla lu me ma ksa .........."
"Jadi kau ingin dipaksa pakai kekerasan?"
"Pakai kekerasan aku juga t idak gentar."
"Baiklah, nah rasakan-" mendadak pergelangan tangannya
bergerak. tahu2 sebuah jarinya menuding ke dada Ling Kun-gi,
sekali tutuk lantas menye-rang Hiat-to me matikan, dari sini dapatlah
dinilai orang ini berhati keja m.
Ling Kun-gi menya mbut dengan sikap pongah, "Rasakan juga
boleh" Dengan enteng tiba2 dia miringkan badan dan berkelit ke
samping.
Tapi pada saat ia bergerak itu, mendadak terasa pula sejalur
angin kencang yang tidak kelihatan me-nerjang dadanya. Untung
Ling Kun-gi sudah me-ngerahkan hawa murni pelindung badan,
walau angin pukulan ini menerjang secara mendadak tetap tertolak
oleh hawa pelindung badannya sehingga tidak ci-dera sedikitpun.
Namun hatinya kaget dan heran, batinnya: " Entah kapan dia
lancarkan angin pukulan ini, begini cepat dan tangkas?"
Waktu dia angkat kepala, dilihatnya pemuda jubah kuning
mengepal tinju tangan kanan dan kiri me lintang di depan dada,
kelihatannya tidak bergerak sedikitpun. Tapi gaya orang sudah
cukup mengejut-kan Ling Kun-gi, dia m2 ia berteriak kaget dala m
hati: "Bu sing- kun."
Melihat Bu-sing- kun (pukulan tanpa suara) yang dilancarkannya
secara diam2 jelas mengenai dada orang, tapi kenyataan lawan
tetap segar bugar seperti tak terjadi apa2, mau tak mau berubah air
muka pe muda baju kuning, pikirnya : " Kiranya dia telah
meyakinkan Hou-sin-cin-khi (hawa murni pe lindung badan)." Se mua
ini hanya berlangsung da la m sekejap.
Walau dala m hati kedua pihak sa ma kaget, namun mere ka tidak
lantas berhenti. Sambil menyeringai tinju kanan si pe muda jubah
kuning terbuka, telapak tangannya menepuk ke pundak kiri Ling
Kun-gi se mentara tangan kiri menekan turun, dua jari tangannya
secepat kilat menutuk Ki-hay-hiat di iga Ling Kun-gi.
Sedikit miringkan badan berbareng Ling Kun-- gi lancarkan jurus
No-liong-tui-hun (naga marah mendorong mega), secara terbalik dia
menapak serangan tangan kanan lawan, sementara tangan kiri
seperti menangkis tapi kelima jarinya tergenggam, yang digunakan
adalah tipu To-pan -liong- ka (menjungkir balik tanduk naga),
dengan mudah dia tangkap kedua jari pe muda jubah kuning.
Dua jurus serang menyerang ini berlangsung dalam waktu
singkat, semula terdengar suara plok. tangan kanan Ling Kun-gi
dengan telak saling ber-adu dengan telapak tangan kiri pe muda
jubah kuning. Terasa oleh pe muda jubah kuning telapa k tangan
Ling Kun-gi menimbulkan guncangan tenaga yang luar biasa besar
dan keras, tanpa kuasa dia tertolak setengah tindak ke kanan-
Berbareng terasa pula kedua jari kirinya tahu2 sudah tertangkap
Ling Kun--gi yang terus mene likungnya ke belakang.
Semula kedua orang ini berdiri berhadapan, tapi karena lengan si
pemuda jubah kuning ditelikung ke be lakang, dengan sendirinya
badannya ikut berputar, jadi dia kini me mbe lakangi Ling Kun-gi.
Dengan lutut kaki kanan Ling Kun-gi depak pantat orang serta
me lepas pegangan tangan kirinya, maka pemuda jubah kuning
tersuruk sempoyongan lima langkah ke depan, Lintg Kun-gi tida k
mengejar. katanya dingin : "Maaf, aku sih tidak suka main kasar.."
Mendadak pemuda jubah kuning me mba lik badan, wajahnya
merah pada m. "Sret", dia cabut pedang yang berkilau, hardiknya
bengis: " Keluarkan senjata mu."
Ling Kun-gi tidak acuh, ujarnya,: "Barusan cayhe menaruh
kasihan pada mu. tapi kau t idak tahu diri?"
"Hari ini ada kau tiada aku, marilah kita perang tanding pakai
senjata."
Bertaut alis Ling Kun-gi, katanya: "Apa perlu sampai demikian?"
^
Seperti dirasuk setan si pemuda jubah kuning menca k: "Jangan
cerewet, jiwamu tetap kubunuh walau tidak pa kai senjata."
"Kalau de mikian sila kan turun tangan saja".
"Baik. Hati2lah," tiba2 pedangnya menutul, batang pedangnya
menge luarkan suara mendengung, di tengah jalan tiba2 sinar
ke milau berke mbang se-perti tiga kuntum bunga yang me kar.
"Ilmu pedang bagus" Ling Kun-gi berseru me-muji. Sedikit
menarik napas, mendadak dia me nyurut mundur t iga ka ki.
Melihat lawan berke lit mundur, tapi tetap tidak mau melolos
senjata, pemuda jubah kuning, menyeringai dingin, dengan cepat
dia mendesak maju seraya mengayun pedang, beruntun dia
menyerang tiga kali. Walau hanya tiga jurus, namun sinar ke milau
pedangnya sudah me menuhi udara sekitarnya laksana deburan
omba k sa mudera yang ber-gulung2.
Ling Kun-gi berge lak panjang, tiba2 kedua tangannya bergerak
sekaligus, entah bagaimana tahu2 jari2nya mencengkera m ke
tengah tabir sinar pedang lawan, gerakannya ini sangat aneh dan
lucu.
Kepandaian pemuda jubah kuning bukan olah2 tingginya, pedang
pusaka ditangannyapun tajam luar biasa, ternyata Ling kun-gi
berani menangkap taja m pedangnya dengan tangan telanjang,
keruan pemuda jubah kuning yang biasanya tinggi hati ini menjadi
kaget.
Maklumlah biasanya dia selalu me-ngagulkan diri. na mun dia
me mang didikan dari ke luarga persilatan terna ma, pengalaman dan
pengetahuannya cukup luas dan tinggi, otaknyapun dapat hekerja
cepat, pikirnya: "Kalau bocah ini tidak me miliki kepandaian khas, tak
mungkin dia berani mengadu tangan dengan pedang pusa kaku."
Sebelum dapat menyela mi gerakan lawan- betapapun dia tidak
rela kalau pedangnya ketangkap Ling Kun-gi. Sigap seka li dia
mundur setengah langkah berbareng pergelangan tangan
menyendal, ujung pedang seketika menerbitkan sinar benang beribu
banyaknya dan mengurung rapat ke seluruh badan Ling Kun-gi.
Jurus Ban-liu-biau-si (berlaksa jalur daun liu bertaburan) yang
dilancarkan ini mengincar seluruh Hiat-to musuh bagian depan,
kalau latihan sudah mencapa i tarap tertinggi, hanya sekali tusukan
pedang saja dapat me luka i 36 hiato-to me matikan, ilmu pedang ini
merupakan sa lah satu dari tujuh ilmu khas ke luarga Siau yang
tersohor di daerah La m siang.
Baru saja sipemuda jubah kuning me lancarkan serangannya, Ling
Kun-gi mendadak menghardik keras, tangan kanan menegak terus
menabas, sementara tangan kiri secepat kilat meraih ke depan,
tangannya merebut pedang lawan- Serangan telapak tangan di
kanan dan mencengkera m dari kiri ini dilancarkan secara serentak.
Serangan telapak tangannya menerbitkan angin kencang dan
dahsyat, sehingga jurus Ban-liu-biau-si si pe muda jubah kuning
betul2 mirip dahan2 pohon liu yang tertiup angin dan tercerai berai
me layang tak keruan- Sedang kelima jarinya dengan tepat dapat
menindih batang pedang orang pula.
Mimpipun tak pernah terpikir oleh pe muda jubah kuning bahwa
Ling Kun-gi me miliki Lwe kang selihay dan setinggi ini, lekas dia
me lejit mundur beberapa kaki dengan darah tersirap. Sudah tentu ia
tak tahu bahwa gerakan telapak tangan dari men-cengkeram secara
berbareng dari serangan Ling Kun--gi ini me mang me mpunyai asal
usul yang luar biasa. Pukulan telapak tangan adalah mo-ni-in, suatu
ca-bang ilmu pecahan dari ilmu tingkat tinggi Ih-kin- king,
sedangkan cengkera man tadi adalah jit-jiu--pok-liong (tangan
kosong mengikat naga), salah satu tipu dari cap-ji-kim-Liong-jiu
(dua belas jurus penangkap naga), cuma dia melancarkan serangan
lengan tangan kiri, jadi secara terbalik dari jurus2 ilmu silat Siau-lim-
pay yang semestinya.
Pada saat pemuda jubah kuning me lompat mundur itulah
sesosok bayangan lainpun kebetulan meluncur turun di depan hutan
sana. Kedatangan orang ini tidak menimbulkan suara, belum lagi
kedua orang yang berhantam me lanjutkan gebrakannya, cepat
orang itu me mbentak: "Kalian lekas berhenti"
Ling Kun-gi berpaling, yang datang adalah laki2 tua kurus
berwajah merah, jubah panjang dengan ikat pinggang sutera, dia
inilah pa man Bun Hoan-kun ladi.
Terunjuk rasa girang pada wajah pe muda ju-bah kuning, le kas
dia menyambut dengan laku hormat, "Pa man sudah datang"
Dengan pandangan tajam si orang tua menatap Ling Kun-gi,
tanyanya: "Siapakah saudara ini? Kenapa kalian berkelahi?"
"Siautit tida k tahu siapa dia?" sahut pe muda ju-bah kuning,
"cuma tadi kulihat dia me megangi kantong sula m mirip milik adik
Hoan, maka kutanya dia peroleh dari mana? Ternyata dia tidak
menjawab dan tidak mau me ngeluarkan agar dapat kuperiksa."
" omong kosong, kantong itu pe mberian Piaumoayku, apa
sangkut pautnya dengan kau?" bentak Ling Kun-gi. Apa yang
diucapkan Ling Kun-gi me mang cukup beralasan, perempuan mana
dalam kolong langit ini yang tidak pandai menyula m, barang
kenang2an pe mberian adik misan sendiri, mana boleh ditunjukkan
kepada sembarang orang.-
Tersenyum orang tua muka merah sa mbil mengelus jenggot,
katanya: " Kalian masih sama muda dan berdarah panas, ini hanya
salah paham, kini duduk persoalan sudah terang, toh kalian tida k
ada permusuhan, buat apa harus bertempur mati2an?"
"Tapi kantong itu jelas milik adik Hoan, Siautit tidak salah lihat,"
pemuda jubah kuning, masih uring-uringan-
Ling Kun-gi mengejek: "Kau terlalu menghina orang, me mangnya
hanya keluargamu saja yang bisa menyulam kantongan (sejenis
dompet dari kain) begini?" .
orang tua muka merah ter-gelak2, katanya: "Di sinilah letak
persoalannya, kalian tidak mau menga lah, semakin debat urusan
semakin runya m. Nah marilah, kalau tida k bertempur tidak a kan
kenal, kalian sama2 muda dan gagah, bagaimana kalau Losiu (aku
yang tua) menjadi penengahnya?" Sa mpai di sini dia berpaling
kepada Ling Kun-gi dan me m-perkenalkan diri: "Losiu Un It-kiau."
lalu dia tunjuk pe muda jubah kuning dan mena mbahkan: "Inilah Lo-
llok (anak keena m) keluarga Siau dari La m-s iang, orang suka
me manggilnya Kim-hoan-lok- long Siau Ki-jing ......."
Waktu bicara secara diam2 dia mengedip mata kepada pemuda
jubah kuning yang masih ber-sungut2, kemudian dia berpaling dan
mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya, "Dan saudara? Di mana tempat
tinggalmu? Siapa oula saudara yang terhormat?"
"cayhe Ling Kun-gi dari Ing-cu," Kun-gi menjawab.
"Ling-lote berkepandaian tinggi, entah pernah apa dengan Hoan-
jiu-ji-lay, paderi sakti nomor satu yang dulu tersohor di kalangan
Bu-lim itu?" kiranya dia sudah dapat meraba asal-usul perguruan
Ling Kun-gi.
Kejut juga hati Ling Kun-gi, batinnya: "Bu-kan saja tinggi
kepandaian silat orang ini, pengala mannya ternyata juga luas,
sekilas pandang lantas tahu seluk belukku. Tapi meski kau tahu asal
usul perguruanku, me mangnya kau tahu bahwa guruku sengaja
suruh aku pa mer kepandaiannya, guru pernah berpesan:
"Tunjukkan asal usul perguruan untuk menyembunyikan asal-usul
riwayat hidupku." Tapi bagaimana riwayat hidup dirinya, Kun-gi
sendiri juga tidak tahu.
Sesaat Ling Kun-gi bimbang, jawabnya kemudian: "Be liau adalah
guruku."
Terkejut dan terpancar pula mimik aneh pada muka Un it-kiau,
katanya ter-bahak2 "Ternyata Ling-lote me mang betul murid paderi
sakti, sungguh beruntung dapat bertemu."-Tiba2 sorot matanya
menjadi tajam, katanya pula: "Jadi gurumu masih sehat walafiat,
entah di mana be liau sekarang tingga l?"
"Jejak guru tidak menentu, cayhe sendiri tidak^elas," sahut Kun-
gi.
Un It-kiau manggut2, katanya: " Waktu gurumu me nge mbara di
Kangouw dulu, jejaknya me mang seperti naga di da la m awan yang
kelihatan ekornya tapi tidak na mpak kepalanya, tadi Losiu hanya
tanya sambil la lu saja."
Lekas Kun-gi menjura, katanya: "cayhe masih punya urusan, tak
bisa berdia m la ma, maaf cayhe mohon diri."
"Ling-lote ada urusan, boleh silakan pergi," ujar Un It-kiau.
Ling Kun-gi manggut2 kepada mereka berdua terus melangkah
pergi dengan cepat.
Setelah bayangan Ling Kun-gi sudah jauh, terunjuk senyum sinis
pada wajah Un It-kiau katanya kepada Siau Ki-jing: "Mari kita kuntit
dia"
"Paman juga curiga kepada bocah itu... . " ta-nya Siau Ki-jing.
Un It-kiau sedikit manggut, katanya: "Lohu kira munculnya bocah
ini di sini tentu ada sebab-nya," tanpa menunggu Siau Kijing tanya
lebih lanjut. dia lantas mendahului berlari pergi.
Dengan langkah cepat Ling Kun-gi mene mpuh pula perjalanan
cukup jauh, mendadak dia hentikan langkahnya, matanya
menje lajah keadaan sekeliling, tiba2 dia berkelebat masuk ke dala m
hutan dipinggir jalan-
Tujuan perjalanannya ini adalah menguntit si mata satu, tapi
karena di Liong- kip tadi terpaksa dia harus mende montrasikan
kepandaiannya, mungkin laki2 yang berbaju biru sudah
me mperhatikan dirinya, jelas gerak gerik dirinya selanjutnya
menga la mi kesulitan.
Maka setelah keluar dari kota, dia cari tempat sunyi dan
tersembunyi untuk merias diri, tak tahunya dia bersua dengan Un
Hoan-kun dan pelayan pribadinya.
Gurunya Hoan-jiu-ji-lay sebelum mencukur ra mbut menjadi
Hwesic di Siau-lim-si, Hoan--jiu-ji-lay adalah maling pendekar di
kalangan kangouw, pandai tata rias, sudah tentu dalam bidang ini
Ling Kun-gi juga seorang ahli. Begitu masuk hutan dia lantas cari
tempat se mbunyi, segera ia merias dan berdandan diri.
Tak la ma ke mudian dia sudah ubah dirinya jadi seorang tua desa
dengan rambut di samping kepala sudah ubanan, jenggot kambing
menghias dagunya, setelah membereskan buntalannya. dia simpan
pedang di da la m baju, baru saja dia mau ke luar, mendada k
didengarnya dua orang mendatangi sa mbil ber- ca kap2.
Kun-gi merande k. didengarnya seorang yang muda berkata:
"Bocah itu cukup licin, jelas tadi dia menuju ke mari, kenapa jejaknya
menghilang?"
Disusul suara serak berkumandang: "Sebetulnya tidak perlu
harus mengunt it dia, Lohu hanya merasa . . . ." hanya merasa apa?
karena jaraknya semakin jauh, maka tak terdengar. Tanpa melihat
bayangan mereka Ling Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini ada lah
Un It -kiau dan Kim-hoau-llok--long siau Ki-jing.
Dia melenggong mendengar percakapan mereka. batinnya:
"Kiranya mereka sedang menguntitku, jangan anggap aku ini
muridnya Hoan-jiu-ji-lay."
Waktu dia tiba di Thay-khong, hari sudah maghrib, rumah2
sudah pasang lentera. Thay khong merupakan kota persimpangan
jalan utara dan selatan, meski kota kecil, namun suasana kota
cukup ra ma i dala m kota kecil ini terdapat tiga buah hotel.
Ling Kun-gi putar kayun sebentar dijalan raya, ia mene mukan
jejak si baju biru bersa ma pe mbantunya, mereka tengah ma kan
minum di sebuah restoran, tapi dia tidak masuk ke sana, Dengan
menghabiskan beberapa keping uang receh, dia mengorek
keterangan pelayan hotel, ternyata dengan mudah dan cepat sekali
dia menentukan te mpat di mana si mata satu menginap. .Itulah
sebuah losmen kecil yang kotor di gang yang melintang di sebe-lah
timur sana. Maka Kun-gi juga mondok di losmen kecil ini. Uang
me mang berkuasa, jangan kata manusia, setanpun doyan duit,
demikianlah pelayan losmenpun mengatur segala keperluan Ling
Kun-gi, dia dite mpatkan di ka mar seberang si mata satu.
Semala m suntuk tiada terjadi apa2, hari kedua pagi seka li
sebelum si mata satu bangun tidur, Ling Kun-gi sudah mendahului
mene mpuh perjalanan- setibanya di luar kota di sebuah te mpat.
Kun-gi ubah diri pula menjadi pedagang setengah baya.
Dari toko kelontong tadi dia se mpat me mbe li sebuah payung dari
kertas minyak, maka dia sembunyikan pedangnya di dala m payung,
payung di bungkus hingga cuma kelihatan gagangnya, orang tentu
takkan curiga ka lau dia me mbeka l senjata.
Dengan me manggul buntalannya, dia langsung menuju ke Hoay-
yang. Dari Thay-khong ke Hoay-yang jaraknya cuma tujuh li. setelah
menya mar jadi saudagar. sudah tentu dia tidak boleh jalan terlalu
cepat, dengan jalan lambat, diharap si mata satu dapat menyusul
dirinya.
Tengah hari ia istirahat di Lo-bong-kip, tak lama ke mudian
dilihatnya si mata satu lewat di depan warung dengan langkah
cepat. Kejap lain Ling Kun-gi juga sudah mene mpuh perjalanan
serta menguntit dari kejauhan-.
Sebelum petang dia tiba di Hoay- yang. Karena si mata satu
sudah sampai tempat tujuan, maka tidak berani berlaku lena, begitu
masuk kota dengan ketat dia me mbayangi gerak-gerik orang. Si
mata satu sebaliknya me mperla mbat langkah setelah berada dala m
kota, sambil berlenggang seperti tuan layaknya dia putar kayun
dijalan raya, akhirnya me masuki sebuah restoran berloteng yang
bernama Ngo hok ki.
cepat Ling Kun gi juga sudah berada di Ngo-hok-ki, sekilas
pandang, dilihatnya si mtaa satu duduk sendirian di meja timur yang
dekat jendela. maka dia me milih meja yang letaknya tidakjauh serta
pesan ma kanan-
Hari sudah gelap. tiba saatnya orang makan mala m, lenterapun
sudah dipasang terang benderang, maka ta mu2 yang mau isi perut
juga ber-duyun2 datang.
Si mata satu dengan asyiknya tenggak arak pesanannya, tapi
mata tunggalnya selalu plirak-plirik me mperhatikan setiap tamu
yang baru datang. Sudah tentu Kun gi tahu ma ksud orang, setelah
tadi putar kayun dijalan raya, kini si mata satu duduk di tempat
yang menyolok, ma ksudnya supaya menarik perhatian orang.
Karena Hoay- yang adalah tujuannya yang terakhir, entah kepada
siapa dia harus menyerahkan barang yang dibawanya?
Sudah tentu Kun-gi juga perhatikan setiap tamu yang datang,
namun para tamu sudah gant i berganti dan pergi datang, tapi
selama itu tiada satupun yang me ngadakan kontak dengan si mata
satu. Kini ta mu2 yang hadir sudah mula i berkurang, tingga l
beberapa orang saja. Agaknya si mata satu tidak sabar lagi setelah
me mbayar rekening bergegas dia turun dari loteng restoran-
Kun-gi juga bayar rekening dan menguntit dari kejauhan- Tidak
la ma mendadak si mata satu mem-percepat langkah, me mbelok dua
kali dari jalan raya yang satu kejalan raya yang lain, terus menyusur
ke arah selatan, dua li ke mudian keadaan di sini sudah mulai sepi
dan banyak belukar, tak la ma dia tiba di sebuah biara.
Tampak dia celingukan ke bela kang sebentar, mendadak dia
me lompat ke pagar te mbok terus turun di sebelah da la m. cepat
sekali Kun-gi juga menye-linap masuk ke dala m biara lewat samping
kanan, di atas tembok dia melihat si mata satu lewat pelataran terus
masuk ke da la m, sejenak dia merandek terus me masuki ruang
pendopo.
Ling Kun-gi tak berani ceroboh dan bertinda k la mbat, dengan
enteng dia mendahului merunduk masuk ke dala m ruang pendopo.
cepat matanya menje lajah sekelilingnya, segera ia melompat ke atas
besandar yang melintang tepat di tengah ruang itu. Gerak-geriknya
sungguh teramat cepat dan cekatan, ruang pendopo ini lebarnya
ada belasan tombak. Ling Kun-gi menyelinap masuk dari arah
kanan, untung kepandaian si mata satu rendah, su-dah tentu
sedikitpun dia tidak tahu.
Mungkin tadi terlalu banyak minum arak. setelah mene mpuh
perjalanan jauh, napasnya rada tersengal, maka begitu masuk
ruang pendopo, si mata satu terus menjatuhkan diri di atas meja
rebah celentang melepaskah lelah.
Tak la ma setelah dia rebah, mendada k di luar terdengar dua kali
suara jeritan rintihan tertahan- Malam sunyi senyap. maka keluhan
tertahan terdengar amat jelas, letaknya tidak terlalu jauh di luar
biara ini, mungkin orang itu kena dibokong orang dan jiwanya
terancam.
si mata satu berjingkrak kaget, lekas dia melompat bangun,
maka dilihatnya sesosok bayangan tinggi laksana setan tahu2 sudah
muncul di depan serambi ruang pendopo sana, lambat2 langkahnya,
me mburu ke ruang pendopo.
Kaget dan ketakutan si mata satu, tegurnya suara gemetar:
"Siapa ....?"
Dari tempat se mbunyinya, sebaliknya Ling Kun-gi dapat melihat
jelas bahwa pendatang ini adalah laki2 baju hijau yang lengan
kirinya pakai tangan palsu dari besi. Begitu masuk pendopo dia
lantas berhenti, suaranya dingin: " Kuantar surat untukmu, apa kau
ini si picak kanan-"
Mendengar orang datang mengantar surat, cepat si mata satu
menyongsong maju, katanya berseri ketawa: "Bukan, bukan,
hamba, ha mba picak kiri bukan picak kanan-"
Bayangan kurus tinggi mendengus sekali, dari dala m kantongnya
dia merogoh keluar sebuah sa mpul terus diangsurkan, katanya^
"Ambil"
si mata satu menerima dengan kedua tangan. Tanpa bicara lagi
bayangan kurus tinggi terus tinggal pergi.
Dia m2 Kun-gi me mbatin dite mpat sembunyinya: "cara sibaju
hijau mengantar surat mirip dengan caranya waktu me mberikan
surat kepada si baju biru kemarin mala m, surat itu tentu memberi
petunjuk ke mana harus menyerahkan barang yang dibawanya?
Mungkinkah belum sa mpai di tempat tujuan terakhir?"
Setelah terima surat, dengan sikap hormat si mata satu antar si
baju hijau pergi, setelah itu dengan seksama dia baca tulisan yang
ada di atas sampul surat itu, lalu kembali ketempat dia me-rebahkan
diri tadi "cret"., dia menyalakan api dan menyulut sebatang lilin-
Lalu dia menga mbil sebatang dupa wangi dan disulut terus
ditancapkan pula di atas Hiolo, setelah itu dengan laku hormat dia
taruh sampul itu di atas meja.
Kebetulan Ling- Kun-gi se mbunyi di atas belandar, melihat
kelakuan si buta yang aneh dan ganjil ini, dala m hati dia merasa
heran, dia pu-satkan ketajaman matanya me mandang kearah
sampul di atas meja. Lwekangnya me mang sudah tinggi, walau
jaraknya cukupjauh, namun huruf di atas sampul masih bisa
dibacanya dengan jelas. Bunyinya de mikian: "Sulut dupa di atas
Hiolo, habis sebatang baru buka sa mpul ini"
Entah apa maksud dan perma inan aneh apa pula yang dilakukan
penulis surat ini? Yang terang terasa oleh Kun-gi bahwa bungkusan
kertas yang mereka kirim dengan cara misterius ini tentu
me mpunyai arti yang a mat besar.
Dupa itu terbakar dengan cepat, asap dupa mengepul me menuhi
ruangan pendopo, tapi asap itupun cepat sekali sudah sirna tertiup
angin, tinggal bau wangi saja yang masih merangsang hidung.
Agaknya dupa wangi ini terbuat dari kayu cendana asli. Melihat
dupa sudah terbakar habis, simata satu lantas ambil sa mpul terus
dirobek.
cepat Kun-gi menunduk, dilihatnya si mata satu mengeluarkan
secarik kertas, di dalam lipatan kertas terdapat sebutir pil warna
putih, di atas kertas tertulis sebaris huruf2 yang berbunyi: "Le-kas
telan pil ini, keluar dari pintu selatan, sebelum kentongan kelima
sudah harus tiba di Liong-ong--bic"
Me megangi pil putih itu, agaknya si mata satu ragu2, mendadak
tampak tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia roboh terjungkal.
lekas dia jejal-kan pil itu ke dala m mulut, sekalian dia raih kertas itu
terus dibakar.
Pada saat itulah, bayangan seorang tiba2 terjungkal jatuh dari
belakang patung pemujaan, "Blang" roboh terkulai tak bergerak
setelah mengge linding dua ka li.
Si mata satu a mat terkejut, dia me lompat mun-dur beberapa
kaki, dengan mata me lotot dia mengawasi sosok tubuh yang
meringkal dilantai itu.
Ternyata yang terjungkal jatuh dari belakang patung adalah
seorang gadis yang berpakaian coklat, kedua matanya terpejam,
rebah tanpa bergerak sedikitpun. Di pinggangnya kelihatan terselip
sebatang pedang pendek. jelas iapun seorang persilatan-
Melihat gadis itu rebah terkulai tak bergerak lama2 bangkit
keberanian si mata satu, katanya dengan tertawa dingin: "Pantas
aku diperintah me mba kar dupa wangi baru boleh me mbuka surat
ini, ternyata me mang ada orang menguntit diriku, pihak atas
me mang ada perintah, kalau temukan orang menguntit boleh bunuh
saja habis perkara, nona cantik, jangan kau sa lahkan aku berlaku
kejam ........." dari samping tubuhnya, dia mencabut sebilah golok
terus mendekati. Mendadak seorang me mbentak keras: "Berdiri"
Terasa angin menya mber, tahu2 di depan si mata satu sudah
berdiri la ki2 setengah baya dengan wajuh kereng, setajam pisau
matanya menatap si mata satu, bentaknya pula: " Tidak lekas kau
enyah?"
Sorot matanya cukup menggetarkan nyali, bentrok dengan sorot
mata orang, tanpa terasa si mata satu bergidik, ter-sipu2 dia
mengiakan terus putar tubuh dan lari sipat kuping.
Laki2 setengah baya ini adalah samaran Ling Kun-gi, dia tidak
hiraukan si mata satu, dia coba me meriksa si nona.
Kedua mata gadis baju cokelat terpejam, bulu matanya panjang
me lengkung, wajahnya cantik tam-pak masih ke-kanak2an, pipinya
merah seperti buah apel yang masak. hidungnya mancung,
mulutnya kecil, usianya paling2 baru tujuh be lasan-
Sekirang Ling Kun-gi baru mengerti bahwa dupa yang disulut si
mata satu tadi kiranya dupa wangi yang me mbiuskan- Tapi kenapa
dirinya tidak kurang suatu apa2. Bukankah dirinya jauh lebih banyak
menghirup asap dupa di tempat yang lebih tinggi? Beberapa kejap
dia berdiri me lenggong, akhirnya dia ingat akan kantong sula m
pemberian Un Hoan-kun, bukankah di dala mnya berisi obat2an
piranti menawarkan obat bius. Lekas dia keluarkan kantong sula m
itu, setelah ikatan teratas dia buka, di dalamnya berisi sebuah botol
gepeng warna pu-tih halus.
Begitu botol gepeng dikeluarkan, bau harum yang menyegarkan
seketika merangsang hidung, ter-nyata di atas tutup botol terdapat
lima lubang kecil yang berbentuk menyerupai bunga bwe, bau
harum teruar dari lubang2 kecil2 ini. Waktu dia teliti lebih lanjut,
tepat diperut botol gepeng ini terukir tiga huruf Jing-s in-tan-, di
bawahnya terdapat sebaris huruf2 kecil yang berbunyi: "Buatan
khusus keluarga Un di Ling- la m."
cepat Kun-gi buka tutup botol kecil ini ternyata terdiri dari dua
bagian- lapisan atas berisi puyer warna kuning, lapisan kedua berisi
beberapa pil warna hitam sebesar biji kapok. Sekarang Ling Kun-gi
baru mengerti, bahwa puyer warna kuning itu adalah obat penawar
bau wangi yang me mabukkan, ma ka diatas tutup botol di beri
lubang supaya bau harum penawar ini dapat teruar keluar, oleh
karena itu botol ini harus di simpan da la m kantong benang sula m
dan digantung di atas leher, cukup mengendus bau harum yang
teruar dari tutup botol, segala obat bius yang wangi memabukan
akan menjadi tawar dengan sendirinya. Sementara pil hita m di
bagian bawah itu adalah obat penawar yang harus ditelan-
Jadi gadis baju coklat ini terbius oleh bau wangi, cukup asal botol
ini di ciumkan ke dekat hidungnya, tak usah diminumi pil tentu
sebentar akan siuman- Betul juga, kira2 sepeminum teh ke-mudian,
pelan2 gadis baju cokelat mulai me mbuka kedua mata.
Melihat dirinya rebah di lantai, di sa mpingnya berjongkok seorang
laki2 yang tak dikenalnya, ke-ruan kagetnya bukan main, lekas si
nona me mba lik tubuh dan berduduk seraya berteriak: "Siapa kau?
Kau .... apa yang kau lakukan .... " wajahnya pucat, sctelah duduk
baru dia melihat Kun-gi me megangi sebuah botol, sikapnya jelas
tidak ber-maksud jahat.
Kun-gi unjuk senyum manis, katanya: "Nona jangan takut,
barusan kau terbius oleh bau wangi, akulah yang me mberikan obat
penawarnya."
Merah kedua pipi si gadis, kedua biji mata-nya terbeliak
mengawasi Kun-gi, lekas dia me mbungkuk badan, katanya: "Jadi
paman yang meno-longku, entah bagaimana aku harus menyatakan
terima kasih."
Panggilan se kilas me mbuat Ling Kun--gi melenga k. tanpa segera
dia sadar bahwa dirinnya sedang menya mar pedagang setengah
baya, tanpa terasa dia tersenyum lebar, ujarnya sambil mengelus
jenggot pendek dibawah dagunya: "Nona jangan sungkan,
kebetulan cayhe lewat sini, kulihat si mata satu itu hendak
mence lakai nona. sudah tentu aku t idak boleh berpe luk tangan?"
04
Terbayang rasa kaget dan heran pada wajah si gadis, katanya,
"pa man bilang si matu satu itu hendak mencelakai aku? Padahal aku
tidak ber- musuhan dan tiada dendam, kenapa dia hendak
me mbunuhku?"
"Karena kuatir rahasianya bocor, membunuh nona untuk
menutup mulut," sahut Kun-gi. -kedip2 mata si gadis baju cokelat,
kata-nya ketarik: "Dia punya rahasia apa? Jahat betul orang itu."
Berhadapan dengan gadis yang lucu dan masih punya bersifat
kanak2, suaranya merdu lagi, tanpa terasa Kun-gi sampa i mela mun.
Melihat Kun-gi menatap dirinya dengan pandangan aneh, merah
pula muka si gadis, dengan lirih dia berte-riak: ....
Teriakan ini me mbuat Ling Kun-gi tersentak kaget, sadar akan
sikapnya yang tidak wajar barusan, seketika mukanya terasa panas,
dia tertawa tawa, tanyanya: "Bagaimana nona bisa sembunyi
seorang diri di sini?"
"Sering pa manku bilang, hotel bukan penginapan yang baik bagi
seorang gadis yang mene mpuh perjalanan seorang diri, katanya
bisa dihina dan dirugikan orang lain, maka aku pilih biara ini... "
Ling- Kun-gi tertawa, ujarnya: "Akhirnya kau lihat si mata satu itu
me lompat tembok masuk ke mari, maka kau lantas sembunyi di
belakang patung."
"Ya," mata si nona berputar, lalu katanya: "kini teringat olehku,
sebelum si mata satu masuk ke mari, jelas kulihat bayangan orang
berkelebat sekali terus menghilang, se mula kukira pandanganku
yang kabur, ternyata paman adanya, jadi kau menguntit si mata
satu, betul tidak?"
Dia m2 Kun-gi pikir gadis ini cukup cerdik dan pintar, ma ka
dengan tertawa dia berkata: "cayhe hanya ketarik saja dan ingin
tahu."
Bahwa Ling Kun-gi ternyata betul menguntit si mata satu, jadi
tebakkannya tepat, seketika si gadis baju coklat berjingkrak girang,
tanyanya cepat :"Ya, tadi paman bilang karena kuatir rahasianya
bocor, maka si mata satu hendak me mbunuhku, soal apa pula yang
me mbuat pa man ketarik sa mpai menguntit dia ke dala m biara ini?"
"Dia ditugaskan mengantar sesuatu benda, kulihat gerak-
geriknya aneh dan me ncuriga kan, ma ka kuikuti dia."
si gadis mendesak lagi: "Barang apakah yang dia antar-?"
"cayhe juga tidak tahu, selanjutnya tak perlu aku menguntitnya
lagi."
"tahu ke mana tujuan selanjutnya."
"Kalau t idak salah harus dikirim ke Liong--ong-Bio .... " tiba2 dia
tersentak sadar, soal ini sebetulnya jangan diberitahu kepadanya,
dunia persilatan penuh liku2, kalau gadis ini sa mpai ketarik dan ikut
menguntit si mata satu serta kebentrok si baju biru, pasti celaka lah
dia. Maka lekas dia tutup mulut, lalu alihkan pe mbicaraan,
tanyanya: "cayhe mohon tahu siapa na ma harum nona?"
"Aku she Pui....." sahutnya, pikirannya masih tidak me lupakan
barang yang diantar si mata satu, maka dia ba las bertanya pula:
"Liong ong-bio diluar pintu selatan kota, paman mari kita kuntit dia,
pasti bisa menyusulnya."
"Hanya ketarik oleh gerak-gerik si mata satu ma ka aku ke mari
untuk melihatnya. Setiap golongan dan aliran persilatan di Kangouw
umumnya punya rahasia masing2, orang dilarang mengetahui,
apalagi Licng-ong-Bio dari sini ada tujuh li jauhnya, aku punya
urusan lain, kukira nona jangan mene mpuh bahaya?"
Si gadis baju cokelat kurang senang, katanya menjengek:
"Me mangnya aku takut, paman tidak mau pergi, biar aku pergi
sendiri. Em, dia berani kerjai aku dengan dupa wangi, aku harus cari
perhitungan sa ma dia, jangan dikira aku dapat dihina dan
dipermainkan."
Lekas Ling Kun-gi me mbujuk: "Dia sulut dupa karena kuatir
orang mencuri lihat rahasianya, tujuannya bukan hendak me ncelaka i
nona, kenapa nona harus berurusan dengan orang kasar seperti dia.
Nona mene mpuh perjalanan seorang diri, tentunya punya urusan
juga, lebih baik mala m ini istirahat di sini, selesaikan dulu urusanmu
sendiri"
"Aku keluar ber-ma in2, aku tidak punya urusan apa2, paman take
mau pergi, permisi a ku mau pergi sendiri," habis berkata si nona
bangkit terus mau pergi. Tapi seperti mendadak teringat apa2, kaki-
nya berhenti serta berpaling, tanyanya mengawasi Kun-gi:
"Maaf paman, aku lupa mohon tanya nama pa man-?"
"cayhe Ling Kun-gi dari Ing-Ciu."
"Akan selalu kucatat dalam hati, sa mpai ber-te mu, pa man Ling"
Sekali bilang pergi terus pergi, keras juga tabiat nona ini, Kun-gi
jadi menyesal, kenapa tadi dia me mberitahu persoalan sebenarnya
kepadanya, se orang gadis belia, kalau sampai mengala mi bahaya,
bukankah secara tidak langsung aku yang mence-lakai dia? Ma ka
cepat dia berteriak: "Nona Pui, tunggu sebentar"
Si gadis sudah tiba di luar pintu, dia behenti dan bertanya:
"Paman Ling masih ada urusan apa lagi?"
"Kalau nona ingin pergi, baiklah bersama aku saja," ujar Kun-gi. .
Sudah tentu gadis baju cokelat kegirangan. katanya cekikan-
"Paman Ling, kau sungguh baik..." -.Tawanya segar bak sekuntum
bunga me kar, pipi-nya yang merah tersungging dua pipit di kanan
kiri. Begitu anggun me mpesonakan sa mpai Ling Kun-gi t idak berani
me lihatnya lama2, katanya sambil me lengos: "Marilah lekas
berangkat."
Gadis baju cokelat me ngangguk. mereka menuju ke pe karangan
luar, agaknya si gadis sengaja hendak pa mer, tiba2 dia meluncur
mendahului ke depan, dengan enteng ia melayang ke atas terus
hinggap di atas tembok. Gerakannya ini adalah ci-yan--liang-poh
(sarang walet mela mpaui gelombang), tangkas dan cekatan sekali
gerak geriknya.
Ling Kun-gi ikut enjot tubuhnya, katanya sambil tertawa lantang:
" Hebat benar Ginkang nona Pui." Gadis mana yang tidak senang
dipuji. Dengan ringan si gadis me luncur turun di luar te mbok, kata-
nya berpaling dengan senyum bangga: "Pa man Ling terlalu
me muji"--- Sirap kata2nya mendadak dia menjerit me lengking,
wabahnya pucat ketakutan dan ngeri.
"Nona kenapa?" tanya Kun-gi.
Si gadis tidak berani berpaling, katanya sambil menuding ke
ujung te mbok sana: "Di sana ada dua orang."
Geli Ling Kun-gi, batinnya: "Nona kecil biasanya me mang bernyali
kecil" Dengan sabar dia me mbujuk: "Nona tida k usah takut, biar
kulihat kesana." Ta mpak di kaki te mbok sana me mang meringkuk
dua bayangan orang. Betapa tajam pandangan Ling Kun-gi, sekilas
pandang dia lantas mengenali salah satu di antaranya adalah laki2
baju abu2 yang dilihatnya di warung makan di Liong-kip, seorang
lagi tentu te mannya.
Mendadak Kun-gi ingat, sebelum laki2 baju hijau muncul, di luar
ada dua kalijeritan orang, mungkinkah kedua orang ini sudah
dikerjai musuh?
Bergegas dia me lompat maju terus me meriksa de-ngan
berjongkok, tampak kedua orang ini meringka l mirip udang kering,
yang dijemur di panas matahari, kepala dan mukanya berubah
kehijauan, jelas mereka me mang kena serangan racun-
Topi bulu yang dipa kai la ki2 baju abu2 tampa k terpental jatuh,
tepat di tengah ubun-ubun kepalanya ada tanda2 bekas keselomot
dupa, kiranya dia seorang Hwesio. Tergerak hati Kun--gi, pikirnya.
Hwesio Siau lim si, mungkin barang yang diantar si mata satu ada
sangkut pautnya dengan lenyapnya Loh-san Taysu, pimpinan Yok-
ong-tian dari Siau-lim-pay? "
"Paman Ling," tanya gadis baju cokelat dari kejauhan.
"Bagaimana kedua orang itu?"
Pelan2 Ling Kun-gi berdiri, katanya: "Sudah meningga l."
"Apakah mereka terbunuh si mata satu?"
Kun-gi rnengeleng: "Bukan, pe mbunuhnya ada orang lain-".
"Apakah orang yang mengantar surat itu?" tanya gadis itu,
"tentunya untuk menyumbat mulut mereka? Kulihat dala m perist iwa
ini pasti ada latar belakang yang besar artinya."
Kuatir orang bertanya berkepanjangan, lekas Kun gi berkata:
"Marilah berangkat" Mereka berputar ke pintu selatan, setelah
me lompat ke luar dari tembok kota, terus menuju ke arah selatan
dengan langkah cepat.
Jarak enam-tujuh puluh li tidak terhitung jauh bagi mereka.
untung mala m gelap. di jalanan sepi, maka dengan leluasa mereka
dapat menge m-bangkan ilmu entengkan tubuh mene mpuh
perjalanan dengan cepat.
Betapapun Lwekang si gadis jauh lebih rendah, setelah ber-lari2
sekian la manya, pipinya sudah merah, napasnya mulai sengal2, tapi
dia masih berlari setaker kekuatannya.
Kun-gi melihat keadaan orang mulai keletihan, hatinya menjadi
tidak tega, terpaksa dia kendorkan larinya, dengan begitu barulah si
nona dapat mengimbanginya.
Agaknya sigadis tahu diri, alisnya berjengkit, katanya dengan
muka merah, "Pa man Ling, agaknya kepandaian silat mu tidak lebih
rendah dari pa manku,"
Siapa pa mannya, sudah tentu Ling Kun-gi tidak tahu?
Tanyanya dengan tersenyum: "Apakah pa manmu berkepandaian
tinggi?"
"Sudah tentu kepandaian silat paman tera mat tinggi, aku dan
Piauci sama2 belajar kepadanya, Piauciku malah lebih hebat
daripada ku, mungkin aku yang terlalu bodoh."
"Usia nona masih begini muda, me miliki ke-pandaian setingkat ini
juga sudah lumayan-"
Kata gadis baju coke lat dengan berseri lebar: "Piauci setahun
lebih tua daripada ku, bukan saja wajahnya secantik bidadari,
kepandaiannyapun jauh lebih tinggi, terus terang aku tunduk lahir
batin terhadapnya. Paman Ling, mungkin kau belum tahu betapa
anggun dan cantiknya, siapapun pasti tergila2 kepadanya."
Tanpa ditanya dia mengoceh dengan lincah dan Jenaka,
suaranya me mang merdu dan lucu, dari tingkah lakunya ini dapatlah
disimpulkan bahwa gadis ini terlalu polos, bersih dan halus budi
pekertinya. Dengan jujur dia puji Piaucinya bak bidadari segala,
yang terang dia sendiripun molek dan lincah penuh ga irah.
Begitulah se mbari mene mpuh perjalanan, mereka ngobrol
panjang lebar, setiba di Liong-ong-blo, waktu sudah mende kati
kentongan keempat. Liong--ong-Bio berada di pusat kerama ian
sebuah pasar yang terletak di selatan kota Hoay-yang, di antara
kota Sim-kiu, di dala m kota kecil ini kira2 dihuni dua ratus keluarga.
Mereka langsung menuju ke arah barat dan tiba di Liong-ong-Bio
(biara raja naga).
"Biara raja naga" ini terasa sepi, liar dan bobrok. te mbok bercat
merah, letaknya dipinggir hutar menghadap ke sunga i, dulu te mpat
ini me mang merupa kan pusat kerama ian penduduk sekitarnya, tapi
setelah sekian puluh tahun tak terurus, keadaan sudah serba bobrok
dan rusaki
Setiba mereka di depan pintu biara, tampak tak jauh sana
mengge letak sesosok tubuh orang, dalam kegelapan tampa k
meringkuk dia m tak ber-gerak.
Gadis baju cokelat kaget, langkahnya merandek. tanyanya:
"Paman Ling, menurut kau orang itu sudah mati atau masih hidup?"
Sudah tentu Kun gi juga ingin tahu, lekas dia me langkah maju
serta memba lik tubuh orang. se-ketika dia bersuara heran, katanya:
"Kiranya si mata satu" me mang mayat yang meringkuk kaku di
tanah ini betul adalah si mata satu yang mere ka kunt it.
Kulit kepala dan mukanya berwarna hitam, darah hitam meleleh
dari mulutnya, mata kirinya yang tunggal melotot keluar,
keadaannya sungguh seram menakutkan-Jelas dia mati keracunan-
Mungkinkah laki2 baju hijau pula yang me mbunuhnya? De mikian
batin Ling Kun-gi. Dengan teliti ia me meriksa, ternyata tiada bekas
luka apa-pun dibadan si mata satu. Selangkah mereka datang
terlambat, tahu2 orang sudah binasa, ini berarti sia2 menguntit
selama dua hari ini.
Si gadis berdiri jauh, melihat Kun-gi dia m saja, dia berseru tanya:
"Parnan Ling, kau kenal dia?"
"Inilah si mata satu," sahut Ling Kun-gi.
"o, dia sudah mat i?" tanya si gadis. Ling Kun-gi me ngangguk.
"Setelah barang diantar sampa i tempat tujuan, sudah tentu dia
harus dibunuh juga untuk menutup mulutnya," kata si gadis pula.. .
Tergerak hati Ling Kun-gi, cepat ia meraba dada si mata satu,
ternyata barang yang tersimpan di kantongnya sudah diambil orang.
Pelan2 dia berdiri, tanpa terasa ia menggerunde l: "Keja m juga cara
mereka bekerja."
"Apa katamu pa man Ling?" tanya si gadis.
"Dia mati keracunan, mungkin pil yang ada surat tadi juga
beracun."
"Bukankah pil itu sebagai penawar dupa wangi itu?"
"Kalau dugaanku tidak me leset, pil itu pasti terdiri dari dua
lapisar, lapisan luar me mang penawar obat bius, sedang lapisan
dalam adalah racun, ma lah waktu juga sudah diperhitungkan
dengan tepat, bila dia tiba di Liong-ong Bio baru racun akan
bekerja."
"Barang itu sudah dia mbil orang, pa man Ling, perlukah kita
meneruskan pengejaran ini?"
Karena menduga barang yang terbungkus kertas itu ada sangkut
pautnya dengan Loh-san Taysu yang lenyap tak keruan paran itu,
sudah tentu Ling Kun-gi tida k akan menghentikan usaha
penyelidik,an ini.
Si mata satu memang sudah mati, tapi barang yang ia bawa pasti
belum mencapai tujuan terakhir, karena kalau barang itu berakhir
sampai di Liong--ong-blo, tak mungkin mereka me mbiarkan mayat
si mata satu menggeletak de mikian saja dan kalau barang itu belum
berakhir sa mpai di sini, dala m wa ktu sesingkat ini orang
menga mbilnya tentu belum pergi jauh, meski tida k diketahui siapa
pula pengganti si mata satu tapi asal dia bisa mene mukan jeja k
sibaju hijau dan pe mbantunya, tidak sukar untuk mene mukan jeja k
si pengantar barang rahasia itu
Maka perasaannya menjadi longgar, katanya kemudian: "Aku
hanya ketarik saja, kalau tadi nona Pui tidak ingin ke mari, cayhe
juga tidak ingin menca mpuri urusan orang lain. Kini si mata satu
sudah mati, sumber penyelidikan sudah putus, kemana pula mencari
jejaknya?" .... lalu dia pandang si gadis serta mena mbahkan: "Nona
Pui, dunia persilatan penuh diliput i bahaya, seorang diri, umpa ma
kau berkepandaian tinggi, na mun kau be lum berpengala man, kukira
kaujangan main se lidik terhadap rahasia orang lain, kuharap nona
langsung pulang saja, aku masih punya urusan lain, tak bisa
mengiringi kau lagi, hari segera akan terang tanah kota Sim-kiu tak
jauh di depan sana, mari kuantar nona masuk kota, di sana nanti
kita berpisah."
Si gadis berkedip. katanya sambil cekikikan: "Pa man Ling, kalau
kau punya urusan boleh silahkan saja, aku toh bukan anak kecil,
bisa jalan sendiri tak perlu kau antar aku."
Tanpa menunggu jawaban Ling Kun-gi dia terus putar tubuh
serta mela mbai tangan, serunya: "Paman Ling, aku berangkat lebih
dulu."
Bayangan nona Pui akhirnya ditelan kegelapan, hati Ling Kun-gi
seperti kehilangan apa2, terasa hambar. Mendadak disadarinya
bahwa dirinya telah menyukai nona jelita berpaka ian cokelat yang
tidak diketahui na manya ini.
Hari sudah mendekati fajar, angin sepoi2 sejuk. Kun-gi
me mandang sekitarnya sejenak, mendadak tubuhnya mela mbung
tinggi la ksana burung elang, sedikit kaki menutul te mbok. badannya
mengapung lebih t inggi pula terus meluncur ke wu-wungan, dia
lewati pekarangan menuju ke belakang dan lompat turun di emper
rumah, tanpa berhenti dengan sebat dia menuju pekarangan
belakang Liong-ong-Bio ternyata terdiri dari dua bangunan te mpat
pemujaan, jadi tiada ka mar untuk tempat tinggal.
Ling Kun-gi turunkan buntalannya dan duduk diundakan batu,
otaknya bekerja menerawang situasi, dalam hati dia ber-tanya2
siapa pengganti si mata satu, lalu ke mana pula pengantar barang
dalam buntalan kertas itu? Dari sini ke barat adalah Siang- cui, ke
selatan adalah Sim-kiu dan Leng-cwan. ke timur adalah Thay-go dan
Put- yang. Sejak mulai Kay-hong. mereka menuju ke arah tenggara,
jadi kalau dirinya menuju ke Thay-ho atau Put- yang tentu tidak
akan me leset. Setelah ambil keputusan, dia menengadah melihat
cuaca, selarik cahaya emas sudah terpancar di ufuk t imur.
Lekas dia merogoh kantong, mengeluarkan sebuah kotak kecil,
inilah bahan obat2an peranti merias yang sela lu dibawanya. Dia
maklum si baju biru dan pe mbantunya sepanjang jalan melindungi si
pembawa barang secara dia m2, terpaksa dirinya harus sering ubah
bentuk dengan penya maran yang berbeda baru bisa me ngelabui
orang.
Dari dala m kotak dia ke luarkan sebutir pil untuk cuci muka,
setelah digosok ditelapak tangan terus dipoleskan kemuka sendiri
sambil berkaca mirip gadis je lita yang sedang bersolek saja, lekas
dia sudah me mbersihkan obat2an yang mengubah bentuk
wajahnya.
Kini dia sudah kemba li pada wajah aslinya sekejap dia
mengawasi wajah sendiri pada kaca bundar kecil yang dipegangnya,
lalu dia mbilnya sebiji obat bundar warna merah gelap. Baru saja dia
hendak mengusap muka sendiri mendadak didengarnya tawa cekikik
lirih tertahan diatas tembok,
Keruan Ling Kun-gi terperanjat. "Siapa?" bentaknya sa mbil berdiri
"Akulah pa man Ling" terdengar suara merdu menyahut.
Tertampak bayangan ramping me layang turun dari atas te mbok,
Ling Kun-gi me lenggong, tanyanya: "Kau belum pergi?"
Gadis baju cokelat berdiri di depannya, men-dadak dia menunduk
dengan muka jengah, kata-nya sambil me mbanting kaki: "Kiranya
kau menya mar yang kulihat tadi bukan wajah aslimu maka na ma
Ling Kun-gi yang kau sebut tadi pasti jugabukan na ma aslimu."
Ling Kun-gi menjadi kikuk. katanya malu2 "Aku me mang betul
Ling Kun-gi."
Gadis baju cokelat mencibir bibir, katanya "Siapa tahu kau ini
tulen atau palsu?"
"Terserah kalau nona tida k percaya," ujar Kun-gi.
Tiba2 gadis baju cokelat unjuk tawa manis, katanya: "Kenapa
tadi kau mengelabui aku?"
"Tiada ma ksudku menge labui nona."...
"Kalau tida k, kenapa tidak terus terang padaku, pakai menya mar
segala?" .
"Berkelana di Kangouw dengan menya mar, di perjalanan akan
jauh lebih leluasa, tidak menarik perhatian orang."
"Kulihat pasti kau menye mbunyikan sesuatu, apakah karena
menguntit si mata satu maka kau merasa perlu menya mar?"
Melihat sikap orang yang polos dan Jenaka. tidak tega Kun-gi
berpura2, katanya sambil manggut2: "Benar, aku me mang sedang
menguntil si mata satu."
Bahwa tebakannya tepat pula, sungguh senang hati si gadis,
katanya cekikikan: "Jadi kau sudah tahu barang apa yang dia
antar?"
"Aku betul belum tahu."
"Apakah kau sudah tahu mereka dari golongan ma na?"
"juga belum je las bagiku."
"Kalau kau t idak tahu apa2, buat apa kau mengunt it dia?"
Terpaksa Kun gi tuturkan pengala mannya, di Kay-hong tentang
seorang salah ala mat me mberi sepucuk surat kepadanya.
Asyik dan terbeliak si gadis mendengarkan kisahnya, katanya
sambil keplok2: "Sungguh menarik. pa man . . dia sudah biasa
me manggil pa man Ling, tanpa terasa dia hampir mengguna kan
sebutan itu pula, untung dia lekas sadar dan menghentikan
panggilannya.
"Kenapa tidak panggil pa man Ling pula ke-padaku?" goda Kun-gi.
"Siapa sudi panggil kau pa man?" jengek si gadis sa mbil me lerok.
"Usia mu beberapa tahun lebih tua belum setimpal kau jadi pa man,
kalau jadi Ling-toakosih boleh saja." Namun segera iapun sadar
telah kelepasan omong, wajahnya menjadi merah. lekas dia
mena mbahkan: "Aku juga tak sudi pang-gil kau Ling toako."
"Terserah maupanggil apa," ujar Kun-gi tertawa geli. "Hari sudah
terang tanah, tak baik kita la ma2 di sini, tunggulah sebentar setelah
aku ra mpung menyamar.".
"Kau boleh tetap menyamar, aku toh tidak mengganggumu" ujar
si gadis ale man.
Tanpa buang wa ktu, Ling Kun-gi hancurkan pil obat di telapak
tangannya terus dipoleskan ke muka sendiri. Dala m sekejap mata,
wajahnya yang halus putih dan cakap telah berubah jadi merah
gelap berusia setengah baya.
Si gadia menyaksikan dengan mata terbelalak tanpa berkedip dia
awasi muka Ling Kun-gi, kata-nya tertawa: "sungguh
menyenangkan permainan ini, tak ubahnya seperti anak perempuan
bersolek."
Ling Kun-gi tida k hiraukan ocehannya, dari kotak kecilnya dia
keluarkan pula sekeping arang, sebelah kanan pegang kaca, diaores
kedua alisnya menjadi lebih tebal, kini dia betul2 berubah jadi yang
lain-
Si nona jadi ketarik. tanyanya: "IHei, kau pandai tata rias, dari
siapa kau be lajar?"
Ling Kun gi bereskan kotak kecil dan disimpan ke dala m baju,
katanya tertawa: "Sudah tentu belajar pada Suhu."
"Siapakah gurumu?"
"Maaf, guruku pantang diketahui orang, tak bisa kujelaskan-"
Kini hari betul2 sudah terang, kuatir mayat si mata satu
ditemukan orang, maka Kun-gi mendesak: "Jangan lama2 di sini,
nona tiada urusan, boleh sila kan pergi."
lalu dia me langkah lebar ke luar biara. "E, eh, tunggu" seru si
nona mengejar.
"Nona masih ada urusan apa?" tanya Kun-gi sa mbil berpaling.
" Kenapa kau tida k menungguku?"
"Nona mau ke ma na?^
"Kau menya mar lagi, bukankah kau henda k mene mukan
pengejaranmu?"
"Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
Kun-gi tertegun, sahutnya menggeleng: "Jangan, nona cantik
dan suci, mana boleh seperjalanan ber-sa maku?"
"Kau tidak sudi jalan bersa maku, kenapa kau tuturkan se mua
kisah ini?" si gadis uring2an-
Ling Kun-gi me lenggong, alisnya berkerut, sa-hutnya: "Kan nona
yang tanya jadi kujelaskan."
"Maka itu, aku harus ikut kau."
"Tida k. Kangouw banyak diliputi kejahatan, nona jangan
mene mpuh bahaya, dan lagi tidak leluasa nona berjalan bersa maku
...."
"Tida k boleh. tidak le luasa lagi," omel si nona dongkol, "yang
terang kau tidak sudi berjalan dengan aku . . . . " tiba2 dia putar
tubuh terus berlari pergi sambil menutup muka dengan kedua
tangan-
Ling Kun-gi hanya geleng2, dengan langkah ce-pat dia berjalan
keluar. Tengah hari dia tiba di perbatasan propinsi An-hwi. Tengah
ia ayun langkah, tiba2 didengarnya dari jalanan kecil sana seorang
berteriak:
"Bakpau . . . , sic . . . . "
Seorang laki2 berpakaian celana pendek berbaju kutang
mendatangi sa mbil me ma nggul sebuah keranjang, setiba di depan
Ling Kun-gi dia berhenti dan menyapa sambil tertawa: "Tuan ini
mau beli bakpau, masih panas "
Kun-gi mengge leng, belum lagi dia buka suara, mendadak
dilihatnya selarik sinar biru berkelebat, sebatang paku beracun
me luncur ketenggorokannya. Serangan gelap ini dilakukan dala m
jarak dekat dan cepat serta tak terduga lagi. Tak pernah Kun-gi
menyangka, maka dia tidak bersiaga, tahu2 pen-jual bakpau ini
menyerang dengan senjata rahasia. dalam seribu kerepotan lekas
dia menjengkang tubuh ke bela kang, sementara jari2 tangan kanan
terus menyelentik. "Triing", dengan tepat dia selentik pa ku itu.
Hatinya marah bukan main, bentaknya: "Tan-pa sebab kau
me lancarkan serangan kejam, apa tujuanmu?"
Begitu serangannya luput, tanpa menunggu Kun-gi bicara, tiba2
orang itu dorong kedua ta-ngannya, keranjang dia lempar ke arah
Kun-gi, berbareng dia melompat mundur, kejap lain tangan
kanannya sudah melolos sebilah golok baja yang berkilau
me mancarkan cahaya biru.
Pada saat orang ini me lompat mundur, dari dala m hutan
beruntun me lompat keluar dua orang lagi, dandanan mere ka sama,
tangan merekapun bersenjata golok yang serupa, kini mere ka
berdiri segi tiga mengadang di depan Ling Kun-gi.
Begitu keranjang itu menerjang de kat baru seenaknya Ling Kun-
gi kipatkan tangan, tiba2 keranjang mental balik meluncur lebih
cepat menerjang ke arah laki2 yang berdiri di tengah. Sudah tentu
bukan kepalang kaget si penjua l bakpau, ter-sipu2 dia me lompat
menghindar. Keranjang itu hancur berantakan menumbuk pohon
sebesar paha dan seketika tumbang dan mengeluarkan suara ge-
muruh.
Berubah air muka si penjual bakpau,jengek-nya: "Ternyata tuan
berkepandaian tinggi."
Terpancar sinar dingin dari biji mata Ling Kun-gi, katanya: "Apa
maksud kalian?"
Penjual bakpau bertanya: "Tuan mau ke mana?"
"Apa mau ke mana peduli apa dengan ka lian?^
"Ka mi bersaudara mEmang sedang menunggu kedatanganmu,"
ujar si penjual ba kpau.
Menegak alis Ling Kun-gi, tanyanya dingin: " Kalian tahu aku
siapa?
"Peduli siapa tuan, kami hanya kenal barang yang ada di dalam
kantongmu" jawab penjual bakpau.
"Kalian tahu barang apa yang ada di dala m kantongku?"
"Mata kami tidak kelilipan, tuan jangan pura2" ujar penjual
bakpau tergelak.
"Kalian tidak bisa me mbeda kan baik-buruk, pakai serangan
me mbokong lagi, kini mengadang jalanku pula, ingin kutanya, apa
sih sebetulnya maksud ka lian?"
Penjual bakpau tertawa dingin: "Bagus, seorang Kuncu tidak
me lakukan kerja gelap. maksud ka mi supaya tuan meninggalkan
barang yang kau bawa itu, sudah jelas bukan?."
Tegerak hati Ling Kun-gi, batinnya: "Aku hanya me mbawa sebutir
mut iara warisan keluarga serta kantong sulam pe mberian, Un Hoan-
kun, kalau ketiga orang ini bukan me ngincar Pi-tok-cu, (mutiara
penawar racun), tentw mereka diutus Siau Ki-jing untuk merebut
kantong sula m pe mberian nona Un itu."
Maka mendadak , dia tertawa keras, katanya: "Betul, barang itu
me mang kubawa, entah.. cara bagaimana kalian henda k
menga mbilnya?"
"Tuan ingin supaya ka mi paka i kekerasan?"
"Me mangnya harus kuperse mbahkan dengan kedua tanganku?"
jengek Kun-gi.
"Bagus, keluarkan senjatamu."
"Kalian punya kepandaian apa boleh keluarkan se mua, tak perlu
aku pakai senjata."
Sadis sorot mata penjual bakpau, katanya menyeringai: "Baik,
hati2lah kau"
Mendadak kakinya bertindak selangkah, golok baja ditangannya
terayun, selarik sinar biru bagai kilat menya mber ke dada Ling Kun-
gi.
Berdiri alis Ling Kun-gi, katanya: "Kau masih terla lu jauh. Nah,
berdirilah yang betul" Badan sedikit miring, tahu2 tangan kirinya
sudah pegang pergelangan tangan penjual bakpau yang pegang
golok terus dia entakkan pula ke depan.
Penjual bakpau me njerit kaget, golok jatuh ke tanah, orang
nyapun sempoyongan mundur dan ha mpir saja terperosok jatuh.
Kedua temannya juga kaget, ditengah bentakan mereka serempa k
menubruk ma ju, dua golok me mbacok bersa ma dari kanan kiri.
Kun-gi tertawa dingin, bagai terbang tiba2 badannya berputar,
tak kelihatan bagaimana dia turun tangan, tahu2 kedua laki2
penyerang mengerang, disusul suara golok jatuh berkerontangan.
Kedua laki2 itu me lompat mundur dengan muka pucat dan
berkeringat dingin, tangan kiri pegang tangan kanan- Kiranya
tangan mereka yang pegang golok kena ditabas oleh telapak tangan
Ling Kun-gi, sakitnya bukan kepalang, walau mereka menggertak
gigi tidak sa mpa i menjerit kesakitan, na mun otot diataS jidat
kelihatan merongkol ke luar karena menahan sakit.
Seperti tidak terjadi apa2, Kun-gi berkata:
"Kalian masih ingin barang yang kubawa?" Mendadak sorot
matanya menatap penjual bakpau, muka berubah kereng, katanya
dingin: "Diantara kalian bertiga, mungkin kau adalah pimpinannya,
kau pura2 menjual bakpau, dengan senjata rahasia membokong
secara keji, main cegat dan minta bekal pula, dari senjata kalian
yang beracun itu cukup me mbuktikan bahwa setiap hari kalian pasti
kenyang melakukan kejahatan, kini kebentur ditanganku,
seharusnya akan kupunahkan kepandaianmu, tapi mungkin kalian
hanya di peralat orang lain, maka cukup sebelah lengan masing2
kubikin cacat sebagai hukuman-"
Belum lagi mereka gebrak satu jurus, tahu2 sebelah lengan
masing2 sudah dibikin cacat, keruan pucat pias muka ketiga orang,
namun sorot mata mereka menjadi buas dan denda m, kata si
penjual bakpau dengan menggreget dan me lotot: "Sebutkan
nama mu."
"Kalian belum setimpa l untuk mengetahui na maku."
Insaf kepandaian mereka bertiga terlalu jauh dibandingkan
orang, akhirnya sipenjual bakpau menggerung marah, cepat dia
bawa kedua temannya pergi. Tapi baru saja mereka putar badan,
lalu ber-diri tegak me matung dengan la ku sangat hormat.
Kiranya dari jalanan kecil di tengah hutan sana tampak
mendatangi seorang laki2 tua baju hitam. Muka orang tua yang
kurus ini hita m kering, ke-lihatannya kaku me mbeku, dingin tida k
menimbul-kan perasaan- Setelah dekat, matanya yang berbentuk
segi tiga berputar, akhirnya berhenti pada ketiga laki2 itu, suaranya
seperti keluar dari kerong-kongan jenazah: "Bagaima na? Kalian
tidak ma mpu bereskan dia, malah dia yang bereskan kalian?"
Penjual bakpau tadi me mbungkuk hormat, dia yang bersuara: "
Lapor cit-ya, bocah ini sukar di layani, lengan ka mi bertiga dibikin
cacat olehnya."
"Kalian me mang tida k becus" semprot laki2 tua kurus itu,
matanya melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya pula: "Anak muda,
siapa na ma mu?"
Dingin dan angkuh sikap Kun-gi, ia berdiri menggendong tangan
sambil me nengadah, sahutnya: "cayhe ingin tahu lebih dulu siapa
nama mu."
Terbayang rona kejam pada wajah laki2 kurus, katanya: "Bagus,
anak muda mulut mu ternyata keras juga, pernahkah kau dengar
Kwi - kian - jiu Tong cit-ya?"
"cayhe belum pernah dengar" ujar Ling Kun-gi.
Kwi- kian jiu (setanpun sedih melihatnya) Tong cit-ya
menyeringai: "Agaknya kau bocah ini baru keluar kandang."
"Kaukah yang mengutus ketiga orang ini?" tanya Kun-gi.
"Betul," sahut Kwi-kian-jiu Tong cit-ya. "Lohu suruh mereka
menunggu di sini supaya kau tinggal-kan barang yang kau bawa."
"Sayang mereka tidak berhasil."
"oleh karena itu, terpaksa Lohu susul ke mari.."
"Kau sendiri me mangnya bisa berbuat apa?"
"Pertanyaan bagus," Kwi-kian jiu Tong cit-ya ter-kekeh2. "Lohu,
boleh menjawab pertanyaanmu, kalau ingin hidup tinggalkan
barangmu itu."
"Enak betul kau bicara."
"Maksud Lohu," kata Tong cit-ya, "kau melukai ketiga orangku,
ini boleh tidak usah diperhitungkan, tapi diantara jiwa dan barang
yang kau bawa itu kau harus pilih satu."
"Setan sedih melihat mu (Kwi-kian-jiu), tapi manusia belum tentu
takut me lihat mu," Kun - gi menyindir.
"Anak muda, kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi,"
habis kata2nya tiba2 Tong cit-ya berkelebat maju, tangan kiri
bergerak secepat percikan api, pundak Kun-gi dijadikan sasaran
ceng-keraman jarinya.
cengkeraman ini me mbawa kesiur angin kencang, tapi hanya
sekali ke lebat lantas lenyap. aneh dan cepat serta lihay sekali gerak
serangan ini.
Sejak tadi Ling Kun-gi sudah siaga dan menunggu, waktu tangan
Tong cit-ya beberapa senti dari pundaknya, mendadak kaki
menggeser dan badan berkelit, cengkeraman lawan dia hindari,
berbareng tangan kiri menabas miring balas menyerang.
Bahwasanya Tong cit-ya tidak pandang sebelah mata pada Ling
Kun-gi, ia yakin Cengkera mannya yang lihay itu biar jago2 silat Bu-
lim umum-nya jarang yang ma mpu menghindarnya, apalagi lawan
hanya seorang bocah yang baru berusia dua puluhan, sekali pegang
pasti teringkus dengan mudah?
Tak Nyana lawan hanya sedikit miring dapatlah mengela k dengan
mudah, keruan ia terkejut, lekas dia kerahkan tenaga dala m, siap
untuk me lancarkan kepandaian kebanggaannya Ngo-ting-kay-san-
clo (pukulan telapak tangan gugur gunung), sekali gebrak ia ingin
bikin ma mpus bocah ini.
Kejadian berlangsung teramat cepat, dlkala timbul niat jahatnya
itu, tahu2 Ling Kun-gi sudah menepuk dengan jurus Liong gi-
hunjong (Awan bergerak mengikuti langkah naga), damparan angin
kencang tahu2 menerjang dadanya.
Betapapun Kwi-kian-jiu Tong cit-ya seorang kawakan Kangouw
yang banyak berpengalaman, melihat gaya pukulan lawan serta
merasakan terjangan angin kencang ini, lekas dia kerahkan tenaga
di lengan kanan terus didorong me mapak maju.. Dua gelombang
angin beradu di udara, maka terdengarlah suara benturan keras.
Sedikitnya Tong cit-ya telah kerahkan tujuh bagian tenaganya,
tak nyana hasil dari adu pukulan ini, pergelangan tangan sendiri
tergetar kesakitan dan kaku, "badanpun limbung hampir tak kuasa
berdiri tegak. jubah hitam yang dipakainyapun me-la mba i, tertiup
angin pukulan lawan, keruan ia terkesiap.
Kulit mukanya yang semula ka ku dingin dan sera m itu, kini
berubah kaget dan heran,
dua biji matanya mencorong bagai sinar kilat, dia pandang Ling
Kun-gi dari kepala sa mpai ke ka ki, akhirnya menyeringai dingin. "
Hebat jugakau anak muda." Tepat pada kata "muda" diucapkan,
tangan kiripun terayun, kembali telapak tangannya me mukul dada.
"Mari anak muda," ujarnya menye-ringai sadis, "sa mbutlah
sejurus pula pukulan lohu?" nadanya menantang dengan pongah,
seakan2 Ling Kun-gi tidak akan kuat menghadapi pukul-annyaini.
Ling Kun-gi masih muda, berdarah panas, sudah tentu dia tak
mau kalah? Tega k alisnya, katanya tertawa lantang: "Memangnya,
kenapa kalau kulayani pukulanmu?" Lengan kanan terangkat, dia
bergerak dengan tipu Sin-liong-to-sin (naga sakti menggerakkan
kepala), tangan diayun ke depan dari sa mping.
Gerak pukulan Tong cit-ya amat la mban, gayanya juga enteng,
tapi begitu Ling Kun-gi menggerakkan lengan kanan, gaya
pukulannya mendada k didorong maju dengan kecepatan berlipat
ganda. Pada detik2 kedua tangan orang itu hampir beradu
mendadak dia tarik tangan kanan, dengan sendirinya tenaga
pukulannyapun batal ditengah ja lan-
Gerakannya amat cepat, tapi menariknya juga tangkas, keruan
Ling Kun-gi keheranan, tapi pada saat itu pula mendadak dia
merasakan telapak tangannya kesakitan seperti ditusuk jarum,
kelima jari2nya seketika ka ku.
Didengarnya Tong cit-ya tertawa sinis, kata-nya: "Anak muda,
kau sudah terkena jarum telapak tangan Lohu, kuhitung, satu
sampai tujuh, kau a kan terjungka l roboh."
Mencelos hati Ling Kun-gi, lekas dia berusaha merogoh kantong.
Hanya dalam waktu sesingkat ini, Kun-gi merasakan sikutnya kaku
tak ma mpu bergerak lagi, keruan kejutnya bertambah besar,
pikirnya: "Entah pakai racun jahat apa orang she Tong ini, begini
lihay dan cepat bekerjanya?"
Untung dia merasakan kegawatan ini, ke lima jarinya sudah
berhasil menggengga m mut iara penawar racun di dala m
kantongnya.
Gurunya pernah me mberitahu, Pi-tok-cu harus selalu dige mbol di
atas badan, segala racun tidak akan bisa melukai dirinya, kalau
terluka oleh senjata beracun cukup me letakkan mut iara ini di te mpat
luka2 itu dan racun akan tersedot habis dengan sendirinya.
Melihat lawan merogoh kantong, Tong cit-ya kira orang hendak
menge luarkan obat, maka dia tertawa lebar dan senang, katanya:
"Jarum di telapak tangan Lohu ini hanya bisa dipunahkan dengan
obatku, anak muda, jiwa mu tak tertolong lagi."
Sementara itu, tangan kanan Ling Kun-gi meng-gengga m Pi-tok-
cu, terasa hawa dingin merembes dari telapak tangannya, rasa kaku
kelima jarinya seketika berkurang, maka legalah hatinya. Demi
mendengar kata2 Tong cit-ya, alisnya menega k. bentaknya: "cayhe
tak bermusuhan dengan kau, kenapa kau menyerang dengan jarum
beracun-"
Tong cit-ya ter-gelak2 sambil mendongak. katanya: "Selamanya
Lohu tidak suka ngobrol dengan orang yang bakal ma mpus, inilah
yang dina makan bunuh ayam menga mbil telurnya." Yang dimaksud
sudah tentu barang yang tersimpan di kantong Ling Kun-gi.
Semakin gusar hati Kun gi, sorot matanya semakin taja m,
bentaknya pula: "Bangsat tua, kau kejam, licik dan hina pula, kalau
tidak diberi ajaran, me mangnya kau kira orang lain takut terhadap
jarummu yang beracun?". Tiba2 dia berkelebat maju, berbareng
telapak tangan kiri me nghantam ke pundak Tong cit-ya.
Mimpipun tak pernah di duga Tong cit-ya bahwa seseorang yang
telah terkena jarum berbisa-nya dan racun sudah bekerja di dalam
badan masih ma mpu me nyerang dirinya dengan gerakan setangkas
dan selihay ini? Maka terdengarlah suara "plak", telapak tangan
Kun-gi dengan telak mengenai pundak kirinya.
"Huaaak" Tong cit-ya mengerang kesakitan, kerongkongan terasa
amis, mata ber-kunang2, tak tertahan mulutnya menyemburkan
darah segar, dengan sempoyongan dia terhuyung kebelakang dan
hampir terjungkal roboh. Ketiga laki2 itu kaget bukan kepalang,
serempak mere ka berlomba maju me mayang dari kanan kiri.
Pucat muka Tong cit-ya, darah berlepotan disekitar mulutnya,
matanya yang segi tiga mendelik ngeri dan keheranan, katanya:
"Anak muda, terhitung jiwamu yang mujur, jarum Lohu sela manya
tidak pernah gagal, agaknya seranganku tadi tidak mengena i
sasaran"
Pelan2 Ling Kun-gi ulurkan tangan kanan, katanya dengan sikap
pongah: "Sudah kena, tapi sebatang jarummu itu me mangnya
ma mpu melukai aku?"
Ditengah telapak tangannya me mang masih kelihatan bekas
lubang kecil warna kehitaman, jelas itulah bekas tusukun jarum
Tong cit-ya tadi.
Berubah kela m air muka Tong cit-ya, serunya kaget: "Kau . .. ..
kau.. . . .. kebal racun?"
Dengan angkuh Ling Kun-gi mengulap tangan, katanya^ " Kalian
boleh pergi, cayhe masih ada urusan" Selesai berkata dia
mendahului tingga l pergi.
Gemertak gigi Tong cit-ya, teriaknya beringas: "Anak muda,
sebutkan na ma mu" Tanpa menoleh Ling Kun-gi bersuara dingin:
"Ling Kun-gi "
Mengawasi bayangannya yang semakin jauh, Tong cit-ya
mendengus: "Anak muda, Lohu tidak akan telan kekalahan ini
demikian saja."
ooooooooooo
Karena tertunda oleh peristiwa kecil ini, sementara itu hari sudah
lewat lohor. Di pinggir jalan Ling Kun-gi beli beberapa buah bakpau
untuk isi perut, dalam hati masih terus men-duga2 siapa kiranya
pengganti si mata satu? Untuk ini dia harus mene mukan dulu si baju
biru dan pe mbantunya yang mengantar secara se mbunyi.
Sebelum petang dia tiba diThiat-ho, tak jauh setelah dia masuk
kota, secara kebetulan dilihatnya bayangan orang berkelebat di
ujung jalan sana, tahu2 seorang berbaju abu2 mendatang ke
arahnya. Sesaat lamanya orang ini mengawasi Ling Kun-gi, tiba2 dia
bersuara lirih: "Kau ini Ling-ya?"
Melengak Kun-gi, ia balas tanya: "Saudara siapa? Darimana kenal
aku?"
"Tida k keliru kalau begitu," kata laki2 itu girang. "cayhe
mendapat perintah Loy acu, sejak tadi menunggu Ling- yadi sini."
"Siapa Loy acu yang kau katakan?" tanya Kun-gi.
"Loyacu ada di Ting-sun-lau, setiba di sana Ling-ya akan tahu
sendiri," laki2 itu menerangkan-
Berkepandaian tinggi, besar juga nyali Ling Kun-gi, sambil sedikit
manggut2 dia berkata:. "Baik.. tunjukkan jalannya"
Laki2 itu mengia kan, ia putar tubuh terus berjalan pergi dengan
cepat. Kun-gi ikut di belakangnya. Setelah me mbelok dua kali
menyusuri jalan raya, tampak dipersimpangan jalan sana ternyata
betul terdapat sebuah Ting-sun-lau, restoran besar dan mewah
pelayanannya. Laki2 itu bawa Ling Kun-gi masuk dan me lewati
sebuah pekarangan.
akhirnya mereka tiba di pekarangan bela kang, di sini, terurus
dengan rapi, pohon dan bunga sama tumbuh subur dan me kar
semerbak. Laki2 baju abu2, terus me mbawanya putar kayun
me lewati jalan berbe lak-belok hingga tiba di depan sebuah ka mar
barulah berhenti, seru laki2 itu sa mbil me mbungkuk: "Loyacu, Ling-
ya sudah tiba"
Maka terdengarlah suara serak. berseru dari dalam: " Le kas
silakan masuk" Waktu pintu di buka, menyongsong keluar seorang
laki2 tua berkepala botak, wajah merah, jenggot ubanan, serunya
sambil tertawa: "Ling-lote, lekas silakan ma-suk."
Laki2 botak muka merah ternyata adalah ketua murid2 pre man
Siau-lim-pay, yaitu Kim-ting Kim Kay-thay.
Di da la m ka mar sudah duduk seorang laki2 tua berbaju panjang
ringkas, dia berdiri sa mbil tersenyum, agaknya mereka barusan
sedang ngobrol.
Lekas Kim Kay-thay berkata: "Ling-lote, mari kuperkena lkan.
Inilah Suteku, Au siok-ha m, dulu dia dijuluki To-pit-wah (lutung
banyak lengan), kini dia me njadi majikan dari Ting-sun-lau ini."
Lalu dia berkata kepada: Au siok-ha m "Inilah Ling- lote yang tadi
kuterangkan pada mu."
Dia m2 Kun gi perhatikan Au siok-ha m, wajahnya bersih dan
ramah, usianya sekitar 55 tahun, Thay-yang-hiat (pelipis) menonjol,
sorot matanya terang, sekali pandang dapat diketahui dia pasti
seorang ahli kekuatan luar-dalam. .Lekas Kun-gi menjura serta
menyapa: "Nama besar Au-ya sudah lama kukagumi, beruntung hari
ini dapat berkenalan."
"Tida k berani, tidak berani" lekas Au siok-ha m merendah hati,
"Ling lote gagah berani, tadi Kim-suheng sudah menjelaskan,
Silakan duduk"
"Kita semua bukan orang luar," ujar Kim Kay-thay "Silakan duduk
untuk bicara." Bertiga mereka lantas duduk mengelilingi meja
bundar kecil.
Lalu Kun-gi bertanya: "Kim- loy acu sampai perlu datang keThat-
ho, apakah cin-cu-ling sudah ada tanda2nya?"
Kim Kay- thay menggeleng, katanya: "Tanda me mang ada, tapi
boleh dikatakan juga tidak ada."
"Bagaimana ma ksud ucapan Kim- loy acu?" tanya Kun-gi
" Ling- lote tentu masih ingat, hari itu losiu pernah me mberitahu
bahwa kecuali ke luarga Tong di Sujwan dan ke luarga Un di Ling-
la m, di dunia Kangouw masih ada suatu ke luarga yang terkenal
mahir juga menggunakan racun?"
Ling kun-gi manggut2, katanya: " Kim- loy acu me mang pernah
menyinggungnya, yaitu Liong- bin--san- ceng . "
"Betul, Liong-bin-san- ceng, selama t iga bulan, tiga tokoh
kenamaan dari tiga cabang dan keluarga persilatan sama lenyap.
namun belum terdangar bahwa Cu cengcu dari Liong-bin-san- ceng
juga lenyap. itu berarti bahwa komplotan cin-cu-ling belum lagi
turun tangan terhadap Liong-bin-san-ceng. Dengan sendirinya kita
menduga bahwa cin--cu-ling ada hubungan dengan Liong-bin-san-
ceng, oleh karena itu tempo hari sudah kupesan kepada Ling- lote
supaya me mperhatikan hal ini."
"Pendapat Kim- loy acu me mang tepat," kata Ling Kun-gi "Waktu
itu cayhe juga sudah pikir-kan hal ini."
"Setelah kau pergi," tutur Kim Kay-thay, "beruntun Losiu
mendapat laporan dari para penyelidik bahwa di kota Kayhong
secara serentak di-temukan beberapa kelompok orang persilatan,
jejak dan gerak-gerik mereka a mat mencurigakan, malda m itu juga,
seorang murid keponakanku berna ma Liau Ngo datang dari Loh-
yang, ia melihat dua majikan dan pelayan yang menunjukkan gerak-
gerik mencurigakan, ilmu silat mereka a mat mengagum-kan,
menurut dugaan, kedua orang ini pasti erat hubungannya dengan
cin-cu-ling, dari Loh-yang kedua orang ini terus menuju ke mari,
maka dengan dia m-dia m mengunt itnya, di tengah jalan ku- utus
seorang lagi untuk me ne maninya .... "
Kun-gi tahu, dua orang yang dimaksud tentu si baju biru dan
laki2 berlengan besi. Sementara kedua murid Kim Kay-thay yang
ditugaskan me-nguntit tentu kedua orang yang jadi korban di luar
biara itu. Kim Kay-thay sedang asyik bicara, maka dia tidak ena k
menyela.
Terdengar Kim Kay-thay bicara lebih lanjut. "Tak terduga, pagi2
hari kedua, beruntun aku mendapat laporan pula bahwa beberapa
kelompok orang persilatan yang menginap di hotel pagi2 sudah
berangkat seluruhnya, arah mereka sama, maka Lo siu menduga
dalam hal ini pasti ada sebabnya yang amat penting artinya. Hari itu
juga ditemukan Un-loji dari Ling-la m dengan lima pe mbantu-nya,
setelah menginap se mala m di Kayhong secara ter-buru2 mereka
me lanjutkan ke Tan-liu. Un--leji me mang sering mondar-mandir di
Kangouw, tapi ka li ini dia mene mpuh perjalanan ke Tionggoan
secara tergesa2, Losiu duga perjalanannya ini pasti ada hubungan
juga dengan cin-cu-ling. oleh ka-rena itu Losiu berpendapat harus
ke mari untuk me lihat keadaan dari de kat."
Setelah orang habis bicara barulah Kun-gi berkata: "cayhe ada
sesuatu hal yang membingung-kan, mohon Kim- loy acu suka
menje laskan-"
" Ling- Lote jangan sungkan, kita terhitung satu keluarga, ada
pertanyaan apa, silakan katakan saja."
"sela ma perjalanan ini cayhe tiga kali menyamar dengan wajah
berbeda, entah dari mana Kim- loy acu dapat mengenali diriku?"
Kim Kay-thay ter-gelak2, katanya: "Kau diaembleng oleh seorang
cianpwe kosen, bekal kepandaian silat mu sekarang, siapa pula yang
kuat menandingi."
"Itu hanya pujian Kim- loy acu saja," Ling Kun-gi merendah diri.
"Apalagi Ling- Lote pandai menyamar dan tentu takkan
menga la mi kesulitan, cuma kau baru keluar kandang,
pengalamanmu masih terlalu cetek."
"Me mang benar, pengalaman cayhe terlalu sem-pit, cara
bagaimana Kim- loy acu dapat mengenali cayhe?"
Kim Kay-thay tertawa, katanya: "Sepanjang jalan ini tentu kau
pernah bersua dengan pihak mereka serta ketahuan jejakmu, oleh
karena itu, diluar tahumu ada orang me mberi tanda rahasia pada
buntalan bawaanmu, walau kau menya mar tiga kali bagi seorang
ahli, sekali pandang keadaanmu tetap dikenali."
Kun-gi tertegun, katanya: "Ada orang memberi tanda gelap di
kantongku?, hanya sebuah buntalan kain hijau yang sela lu di
bawanya, di dalamnya ber-isi pedang panjang yang menongol
keluar keluar adalah gagang payung, di samping itu dia me mbawa
bun-talan kecil berisi pakaian, ia coba me meriksa bun-talannya,
katanya keheranan: "Di mana, cayhe kok t idak me lihat apa2?"
Kim Kay-thay menunjuk ujung kantong bagian bawah, katanya
tertawa, "Beberappa titik putih dari kapur inilah, kau tida k
me mperhatikan sudah tentu t idak tahu."
Setelah ditunjukkan baru Kun-gi mene mukan tujuh titik putih
sekecil mata jarum di ujung kantong, keruan merah mukanya
katanya: "Tanpa mendapat petunjuk Kim- loy acu. cay tetap tidak
akan tahu walau sudah kese lomot orang ......."
Sampa i di sini percakapan mereka., terdengar dari luar ada
langkah orang, mendatangi dan berhenti di luar pintu.
"Thing-ing, ada urusan apa?" seru Au-s iok-ha m. Dari luar
berkumandang suara seorang anak muda: " Lapor Suhu, pelayan
dari Siang-goan-can mengantar surat untuk Ling- ya."
Ling Kun-gi me lengak, batinnya: -" Aku baru tiba di sini, siapa
yang mengirim surat kepadaku?"
sikap Kim Kay-thay pun ta mpak prihatin: "Masuklah" seru Au
siok-ha m.
Waktu pintu terpentang, maka masuklah seorang pe muda baju
ungu, tangannya me megan sepucuk surat
"Mana pelayan Siang-goan-can?" tanya Au siok-ha m.
"Sudah pergi," sahut pe muda itu
"Apa dia tidak me nerangkan, siapa pengirim surat ini?" tanya Au
siok-ha m.
Pemuda baju ungu me mbungkuk, sahutnya:
"Tecu sudah tanya, katanya seorang, tamu yang menyuruhnya."
Au siok -ham terima surat itu, lalu mengulap tangan
menyuruhnya pergi. Si pemuda me mberi hormat lalu mengundurkan
diri. Langsung Au siok--ha m angsurkan surat itu kepad Ling Kun-gi,
katanya: " Ling- lote, inilah suratmu."
Kim Kay-thay ikut bertanya: "Kau punya kenalan di Sian-goan-
can?"
Kun-gi terima surat itu, seraya menjawab: "cayhe seorang diri
dan baru saja tiba di Thay-hong, Kim- loy acu lantas suruh orang
menje mputku, dari mana ada kenalan di sini."
Bertaut alis tebal Kim Kay-thay, katanya: "Aneh kalau begitu."
Lalu mena mbahkan: "coba kau lihat apa isi surat itu?"
Ling Kun-gi robek sa mpulnya dan menarik secarik kertas, tampak
di atas kertas tertulis dua baris huruf2 yang berbunyi: "
Disa mpaikan kepada Ling-tayhiap. Adikmu sedang berta mu di
rumahku, harap tidak usah dikuatirkan, syukur ka lau tuan mau
datang dengan me mbawa barang yang kau simpan sebelum
matahari terbenam besok. Ka mi tunggu kedatangan tuan di depan
Pat-kong-san".
Gaya tulisannya amat kuat, tapi surat ini tidak bertanda tangan,
sekian la ma Ling Kun-gi me longo mengawasi surat ditangannya
tanpa bersuara. Surat ini bernada me meras, mereka me nahan Adik
perempuannya, dirinya harus menebus jiwanya dengan barang yang
menjadi incaran mereka. Waktu-nya ditentukan besok sore,
tempatnya di Pat-kong-san, Agaknya mereka mengincar Pi-tok-cu (
mut iara penawar racun ) warisan keluarganya, tapi dirinya sebatang
kara, selamanya pergi datang seorang diri, dari mana punya adik
perempuan?
Melihat dia dia m saja, Kim Kay-thay berdehem tanyanya: "Siapa
yang mengirim surat itu?"
Ling Kun-gi angsurkan surat itu, katanya "Silahkan Kim-loyacu
baca."
Kim Kay-thay tidak lantas menerimanya, tanyanya ragu2: "Boleh
kumelihatnya?"
"Silakan baca, nama pengirimnya tidak tertulis, mereka me nculik
orang hendak me merasku."
Terbeliak mata Kim Kay- thay mendengar istilah culik dan peras,
tanyanya heran: "Ada kejadian be-gitu?" Segera dia terima surat itu.
Hanya sebentar dia membaca dan air muka lantas berubah, katanya
mendengus- " Orang golongan mana berani bertingkah dan se-
wenang2 Au-sute, coba kau lihat, ada berapa kelompok golongan
hitam di daerah sini? Terang tujuan mereka adalah kita bersaudara."
Setelah me mbaca surat itu, berkerut kening Au siok-ha m,
katanya kemudian setelah termenung: " Menurut yang Siaute
ketahui, daerah ini tiada orang dari golongan hita m, diatas Pat-
kong-san hanya ada sebuah rumah milik keluarga Go. Go-si-siang-
hiong me mang anggota dari perkumpulan dagang, selamanya
mereka berdagang secara halal, begitu besar usaha dagang mereka
hingga di setiap ibu kota propinsi tentu ada cabang mereka, tak
mungkin mereka main culik dan peras segala ....."
"Go-si-siang-hiong," pikir Kim Kay-thay, "maksudmu Bun-bu-cay-
sin GoBun-hwi bersaudara?"
Au siok-ha m mengangguk sa mbil me ngiakan-
"Bukankah Au-sute kenal ba ik mereka? Lekas kau suruh Thing-
ing menanyakan, apakah tempat mereka di Pat kong-san sekarang
dalam keadaan kosong?"
"Kim suheng mengira bila rumah itu kosong ke mungkinan akan
dibuat menyekap adik Ling-lo-te oleh kawanan penclik itu?" tanya
Au siok ha m.
"Tentunya de mikian- ujar Kim Kay-thay.
"Kim- loy acu," sela Ling Kun-gi, "aku sebatangkara, selamanya
tidak pernah punya adik perempuan, "
Kim Kay-thay jadi heran, katanya- "Jadi perempuan yang mereka
culik bukan adikmu"
Sampa i di sini mendada k dia mena mbahkan dengan nada serius:
"Sebetulnya barang apakah yang mereka minta dari Ling- lote untuk
menebus perempuan itu?"
"Mungkin mereka mengincar Pi-tok-cu warisan keluargaku,"
sahut Kun-gi.
"Pi-tok-cu?" seru Kim -Kay-thay, " mutiara yang hendak kau
gadaikan itu?"
"Benar. mutiara itu sejak kecil me njadi barang hiasan dibadanku,
setelah ibu hilang, sebelum cayhe mene mpuh perjalanan barulah
Suhu me mberitahu bahwa mut iara ini dapat menawarkan racun."
"Dija lan apakah pernah kau perlihatkan kepada orang lain?"
tanya Kim Kay-thay.
"Tida k pernah, sejak meninggalkan Kayhong, cayhe selalu
menyimpannya di dala m kantong ...." mendadak dia teringat
peristiwa tengah hari tadi, di perbatasan propinsi pernah bentrok
dengan Kwi--kianjiu Tong cit-ya, tanpa terasa mulutnya meng-
guma m: "Mungkinkah Tong cit ya adanya?"
"Tong cit-ya?" Kim Kay-thay melenggong.
" ma ksud mu saudara ke 7 dari keluarga Tong? Bagaimana kau
bisa mengira dia?"
"Tengah hari tadi dia mencegatku diperbatasan, terpaksa aku
me lukainya," tutur Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay berkata sambil menoleh pada Au siok-ha m: "Jadi
keluarga Tong juga mengutus orang kemari, orang2 itu
bermunculan di Kangouw, tentu- nyabukan secara kebetulan." Lalu
dia bertanya pada Kun-gi: "Bagaima na kau bisa bentrok dengan
pihak keluarga Tong dari Sujwan?"
"Tiga orang suruhannya mencegat dan menyerangku, mereka
menuntut barang yang kubuwa, secara singkat Kun-gi lalu
menceritakan pengala mannya. Mendadak Kim Kay-thay ter-gelak2
katanya:
"Mungkin hanya salah paha m, Tong cit-ya mungkin salah
mengenali orang.."
"Salah mengena li orang" Kun-gi menegas.
"Bukankah Losiu tadi bilang, Liau Ngo, kepona kan muridku sejak
dari Loh-yan mengikuti dua orang, kabarnya kedua orang ini
me mbawa barang sesuatu, gerak-geriknya mencurigakan- Menurut
apa yang Lohu tahu, ada beberapa kelompok orang Kangouw yang
menguntit mereka secara sembunyi, kebetulan kau berada di sana
sehingga orang2 keluarga Tong menaruh perhatian pada mu dan
terjadi salah paha m ini."
"Terus terang cayhe juga ketarik akan hal ini, maka secara diam2
menguntitnya pula," kata Kun-gi. Bercahaya mata Kim, Kay-thay,
katanya sambil ketawa keras: "Jadi kau juga menaruh perhati-an
akan hal ini?"
"Kejadiannya di mula i dari Kayhong, waktu itu cayhe juga belum
tahu apa2, soalnya pesuruh mereka yang salah menyerahkan surat
padaku." selanjutnya dia tuturkan pengalaman sepanjang jalan ini,
cuma soal kantong sula m pe mberian Un Hoan-kun tidak dia
singgung..
"Apa yang Ling- lote ketahui kira2 sa ma dengan aku," ujar Kim
Kay-thay,
" menurut dugaan Losiu, barang itu tentu sudah diantar ke
tempat tujuan terakhir."
" Kim- loy acu me merlukan datang sendiri, tentunya sudah tahu
ke mana barang itu akan diantar?"
Kim Kay-thay manggut2, katanya tersenyum^ "Lote tidak usah
terburu nafsu, mala m ini Losiu panggil Lote ke mari, pertama karena
jejak Lote su-dah terbongkar tanpa Lote sadari, untuk berke lana di
Kangouw lebih lanjut sungguh amat berbahaya. Kedua, Losiu sudah
mengutus beberapa murid dan secara bergilir menguntit dan
mengawasi si mata tunggal yang me mbawa barang itu, maka Lote
selanjutnya tidak perlu unjukkan diri."
"Bukankah si mata satu sudah mati, di luar Liong- ong-bio?"
tanya Ling Kun-gi.
"Betul, pengganti si mata tunggal adalah si mata tunggal pula,
cuma orang yang satu ini picak mata kanannya."
"o, kiranya begitu"
Tengah bicara, tampak pe muda yang tadi datang ke mbali lagi,
dan langsung me mberi hormat kepada Au Siok-ha m, katanya:
"Suhu, hidangan sudah siap. sila kan Kim-supek dan Ling-yaini
makan-"
Au Siok-ha m segera persilakan Kim Kay-thay dan Ling Kun-gi
makan, mereka ke luar ke ruang ma kan, sebuah meja pat-sian yang
besar sudah penuh berbagai maca m hidangan yang lezat.
Ditengah ma kan minum itu, Au-Siok-ha m bertanya: "Ling-Lote,
bagaimana kau a kan menyelesaikan surat yang kau terima tadi?"
Kim Kay-thay tertawa sambil menge lus jenggot, katanya: "
Kenyataan Ling-lote tidak punya adik, kemungkinan mereka salah
menangkap orang pula. Belakangan ini orang2 keluarga Un dari
Ling-la m dan keluarga Tong sa ma muncul di wil-ayah ini, menurut
rabaanku,jika orang Kangouw mendengar kabar ini pasti akan sa ma
me luruk datang, oleh karena itu dala m beberapa hari ini mungkin
akan terjadi bentrokan besar, surat itu tidak menyebutkan na ma
pengirimnya, kukira Ling-Lote tidak usah menghiraukannya."
"Tida k!! cayhe sebaliknya berpendapat lain, surat sudah
kuterima, maka aku harus menghadapinya . "
"Tong cit-ya selamanya bertindak keja m dan culas, licik dan
banyak muslihatnya lagi, maka dia dijuluki Kwi-kian-jiu (setan sedih
me lihatnya ) Ling- lote tidak perlu ikat permusuhan dengan keluarga
Tong."
"Peduli soal ini salah paha m atau bukan, yang terang Tong cit-ya
menyerangku lebih dulu, bahwa aku hanya sedikit me luka i dia
seharusnya dia tahu diri, kesalahan bukan padaku. Kini dia menculik
orang ma in peras pula, menurut he mat cayhe walau perempuan itu
bukan adikku, jelas mereka me mang telah menculik, perbuatan
kotor dan hina ini kebentur ditanganku, tak bisa kuberpeluk tangan?
Kalau Tong cit-ya sampai kebentur lagi di tanganku, bukan saja
akan kupunahkan ilmu silatnya juga akan kubuat dia rebah setahun
la manya."
Melihat orang bicara dengan nada tegas, wajuh kereng
berwibawa, Kim Kay- thay menjublek mengawasinya, katanya
ke mudian: "Ka lau Ling- lote me maksa hendak menepati undangan,
biar kuiringi-mu ke Pat-kong-san, Losiu kenal dengan ke luarga
Tong, bahwa urusan ini lantaran salah paha m, tentu persoalan bisa
dibereskan dengan ja lan da mai."
" Urusan sekecil ini cayhe tak berani me nyusahkan Kim- loy acu,
kalau Kim- loy acu kenal mereka, biarlah nanti a ku tida k
me lukainya."
Kim Kay-thay adalah ciangbunjin murid2 pre man Siau-lim-pay,,
selamanya kata2nya dipercaya dan disegani di kalangan Kangouw,
namanya cukup beken, maka dia dijuluki Kim Ting, selama beberapa
tahun ini, tiada orang berani bicara ang-kuh dihadapannya.
Maklumlah Ling Kun-gi berusia muda dan berdarah panas, tanpa
sadar dia telah banyak buka mulut. Tapi Kim Kay-thay tidak ambil
perhatian, dia hanya tersenyum, soalnya dia tahu keluarga Tong ahli
ma in senjata rahasia beracun, dia kuatir Ling Kun-gi mengala mi
cidera. Setiap insan yang berkelana di Kangouw, sekali kena
dirugikan sekali tambah pengala man, tapi jangan sekali2 kena
dirugikan oleh piha k keluarga Tong, kerena racun yang mereka
pakai teramat jahat, kena darah lantas menyumbat pernapasan,
setelah dirugikan pengala man selanjutnya tentu mengenaskan,
salah2 tentu jiwa me layang dengan percuma.
Selesai makan minum, mereka lantas berdiri. Kun-gi segera
menjura, katanya: "Beruntung mala m ini cayhe mendapat petunjuk
yang berharga, tidak sedikit hasil yang kuperoleh, waktu sudah
mendesak, biarlah cayhe mohon diri."
Au siok-ha m tertegun, katanya: " Kapan Ling--lote bisa
berkunjung lagi ke te mpatku ini, harap menginap sema la m di sini,
besok pagi boleh berangkat, kenapa buru2?"
"Mala m ini a ku sudah kenyang makan, banyak terima kasih.
Bahwa surat itu dikirim ke mari, ini me mbuktikan bahwa jejakku
telah diikuti, ma ka kupikir mala m ini juga aku harus berangkat,
pertama supaya jejakku selanjutnya tidak mereka ketahui, kedua
aku ingin pergi ke Pat-kong-san lebih dulu, akan kuse lidiki asal-usul
mereka, apa pula tujuan mereka me nulis surat ini? Siapa pula yang
mereka culik? Daripada tidak tahu apa2, kukira perlu ku-bertinda k
cepat."
"Me mang betul," ujar Kim Kay-thay, "kalau begitu kita tidak perlu
sungkan kepada Ling-lote," lalu dia berpaling pada Ling Kun-gi,
katanya lebih lanjut, "Soal si mata satu itu, walau kita belum tahu
barang apa yang mereka antar? Tapi piha k keluarga Un dan Tong
juga menaruh perhatian, kuyakin ada sangkut pautnya dengan cin-
cu-ling. Jejak mere ka sudah berada dala m gengga manku, untuk ini
Losiu ada tiga maca m kode untuk me ngadakan kontak dengan
muridku, Ling- lote, boleh mempe lajarinya agar dijalan kau dapat
mengadakan kontak dengan murid2ku," lalu dia menerangkan
ketiga tanda2 rahasia itu.
Ling Kun-gi mengingatnya terus mohon diri, "Tunggu sebentar
Ling- lote" kata Au siok-ham "Pat-kong-san ada 200 lijauhnya, biar
kusuruh Thing- ing menyiapkan seekor kuda untukmu."
"Perjalananku ini secara dia m2, aku harus menye mbunyikan
jejak, naik kuda malah kurang leluasa," setelah pamitan dia lantas
meninggalkan Ting-sun-lau langsung menuju ke hotel Siang-goan-
can-
Tiba2 dilihatnya sepuluhan tombak di depan sana ada bayangan
seorang tengah meluncur dengan enteng danter-gesa2. Gerak- g
erik orang ini cekatan dan pesat, setelah meluncur tiba di kaki
tembok. sedikit menjejak kaki, tubuhnya terus mengapung ke atas
dan dengan ringan hinggap di atas tembok seka li berkelebat,
bayangannya tahu2 menghilang.
Melengak Ling Kun-gi, batinnya: "Entah siapa orang ini, lihay
juga Ginkangnya." Hati berpikir kaki me mpercepat larinya, setiba di
kaki te mbok, dengan gaya Pek-ho-jong-thian (bangau putih
menjulang ke langit), dia mengejar ke atas tembok, waktu dia
angkat kepala, bayangan itu sudah melayang turun keluar tembok.
dalam sekejap orang sudah me luncur dua puluhan tombak. cepat
iapun me luncur turun, dengan kencang ia me ngudak.
Gerakan bayangan hitam di depan itu secepat terbang, lekas Kun
gi menghimpun tenaga murni, iapun ke mbangkan Ginkangnya, tapi
jarak tetap dipertahankan dua puluhan tombak. Hatinya heran,
batinnya: "Ginkang orang ini agaknya lebih unggul daripada ku."
Kedua orang meluncur dengan kecepatan tinggi, se mula
menyusuri ja lan besar, bayangan di depan dua kali berpaling ke
belakang, tapi dengan sigap Kun-gi selalu menye mbunyikan
jejaknya.Jarak mereka tetap dua puluhan tombak. mala m ge lap
gulita lagi, sudah tentu sukar orang di depan itu me lihatnya.
Lomba lari ini berlangsung kira2 satu jam, tem-bok kota Po-yang
di depan sana dari kejauhan sudah kelihatan, bayangan di depan itu
mendadak meninggaikan jalan besar, me mbelok kejalanan kecil di
sebelah kiri.
Bahwa orang me miliki Ginkang setinggi itu, Kun-gi menduga ilmu
silatnya tentu juga lihay, supaya jejaknya tidak konangan, dia tida k
berani mengejar terlalu dekat. Setelah bayangan itu meluncur
sekian saat baru dia berputar dari arah lain sambil main se mbunyi di
antara bayang2 pohon-Jalanan kecil ini me mbe lok ke arah timur,
karena sedikit merandek ini, bayangan di depan tadi sudah tidak
kelihatan ke mana perginya.
Kun-gi guna kan mata kupingnya, dengan saksama dia terus
merunduk maju, kira2 setengah li kemudian, dari sebelah kirija lanan
kecil sana, di antara lebatnya pepohonan tampak me mancar
secercah cahaya lampu.
Mengikuti arah sinar la mpu Kun-gi me masuki hutan- Kira2
seratus langkah kemudian, ia mendapatkan sebuah kuil, di atas
pintu bergantungan papan na ma yang bertuliskan "Jap-hoa-bio"
(kuil tancap bunga)..
Ling Kun-gi celingukan. dilihatnya tiada bayangan orang di
sekitarnya, dengan merunduk dia melompat ke te mbok terus
sembunyi di tempat gelap. dari te mpatnya ini dia me mandang ke
dalam kuil.
Di tengah ruangan besar sana tampak menyala sebatang lilin
merah, dua orang laki perempuan tengah duduk di kursi di depan-
meja se mbahyang. Perempuan yang duduk di sebelah kiri berusia
23-24, wajahnya molek berdandan seperti puteri keraton,
pakaiannya serba putih halus sambil ber-cakap2 matanya selalu
mengerling me mpesona.
Duduk dihadapannya, di sebelah kanan adalah laki2 baju biru
yang sudah dikenalnya itu. Di serambi luar sana berdiri seorang lagi,
dialah laki2 baju hijau berlengan besi beracun- Dari gaya dan letak
duduk kedua orang ini jelas kedudukan perempuan cantik lebih
tinggi, daripada laki2 baju biru, jadi orang yang barusan dia kuntit
kiranya perempuan cantik rupawan ini?
Tengah dia men-duga2 didengarnya suara laki2 baju biru tengah
berkata lantang: "Bibi coh sa mpa i menyusul ke mari, entah GihU
(ayah angkat) ada petunjuk apa?"
Perempuan cant ik tertawa manis, katanya: "Ayahmu
menguatirkan dirimu, maka aku di suruh menyusulmu ke mari."
" Kebetulan bibi coh ke mari, ada urusan yang perlu kulaporkan-,"
kata si baju biru.
Mengerling kenes mata si perempuan cantik, tanyanya tertawa-
manis: "Kau ada urusan apa?"
"Di de kat Hoay-yang cayhe menemukan orang2 keluarga Un dari
Ling la m .... "
"Un It-kiau ma ksudmu: "
Laki2 baju biru me lengak. katanya: "Bibi coh juga melihatnya?"
"Masih ada yang lain?"
"De mikian juga orang ketiga dan ketujuh dari persaudaraan
keluarga Tong."
Perempuan cantik mengangguk. katanya cekikikan: "Ternyata
kaupun telah me lihat mereka, na mun masih ada yang la in yang
tidak ku sebutkan-"
"Masih ada orang dari golongan mana?" tanya si baju biru
me lenggong.
"Pihak Siau-lim."
"o," laki2 baju biru tertawa. " Kepala gundul itu hanya murid
kelas tiga dari Siau-lim-si, sejak dari Loh-yang dia sudah menguntit
kami, sudah kusuruh Hou Thi-jiu (si tangan besi) me mbereska m
dia." - Rupanya si baju hijau berna ma Hou Ti- jiu.
Nyonya muda cantik itu cekikikan, katanya: "Dian-toa siauya
(tuan muda Dian), kukira kau melala ikan sesuatu lagi, betul t idak?"
Si baju biru me lengak pula, katanya: "Masih ada seorang
bernama Ling Kun-gi, ilmu silatnya tinggi, sukar cayhe mene mukan
asal-usulnya."
"Ling Kun-gi?" pere mpuan cantik menepekur, "Kalau Dian-toa
siauya maksudkan ilmu silatnya tinggi, tentunya tidak salah lagi,
cuma orang apakah dia?, Be lum pernah aku melihatnya."
"Usianya baru likuran tahun, wajahnya cakap."
Berkelebat sinar aneh dan biji mata nyonya cantik itu, seperti
tidak acuh dia berkata: "Hanya seorang angkatan muda yang tida k
ternama." Mendadak dia tertawa serta menambahkan- "Yang
kumaksudkan adalah Kim Kay-thay." .
Berjingkrak si baju hitu, teriaknya: "Kim Kay-thay juga datang?"
"Dian-toa siauya tidak percaya? Sekarang dia berada diTing-sun-
lau di kota That-hao"
Terkesiap hati Ling Kun-gi, batinnya: "Lihay juga nyonya muda
ini, jejak Kim-loyacu ternyata sudah diketahui olehnya."
Si baju hijau bersungut marah, katanya: "Agaknya meluruk
ke mari lantaran aku, kalau tidak di-beri ajaran sekarang, bila sampai
ketempat tujuan mungkin bisa menggagalkan usaha kita."
"Dian-toa siauya, ketiga rombongan orang2 ini sukar dilayani,
jangan kita menghadapinya secara terang2an, Dian-toa siauya boleh
silakan tetap urus tugasmu, soal ini serahkan padaku, kutanggung
takkan terjadi apa2"
"Janji bibi coh a mat meyakinkan, tidak perlu aku berkuatir" kata
si baju biru. "Kalau t iada urusan lain, cayhe mohon diri saja."
Si baju biru me mberi hormat, lalu dengan langkah lebar keluar
dari ruang besar. . Hou Thi - jiu masih berdiri di depan sera mbi,
segera dia mengikuti langkah si baju biru.
Setelah si baju biru dan pengawa lnya pergi jauh, Kun-gi hendak
mundur secara teratur, tak terduga dalam se kejap saja si nyonya
muda yang berada di ruang besar ternyata sudah menghilang.
Keruan ia terperanjat, batinnya: " Kepandaian perempuan ini
sungguh hebat, dari tempat tinggi sini akupun tidak melihat kapan
dia berlalu? Kalau berte mu dia kelak aku harus hati2."
Pada saat itulah mendadak didengarnya seorang tertawa dingin
di belakangnya. Menyusul sebuah suara merdu bergema di tepi
telinganya: "Berdiri-lah, ada pertanyaan yang akan kuajukan
padamu."
Mendengar sutra orang, seketika mengkirik Ling Kun-gi, lekas dia
berpaling, tampak nyonya muda rupawan itu sudah berdiri di
belakangnya. Wajahnya molek bak bidadari, air mukanya dingin
seperti dilapisi saiju yang sudah me mbe ku, sorot matanya tajam
laksana pisau mengawasi dirinya.
Berdegup jantung Kun-gi, le kas dia kerahkan hawa murni
me lindungi seluruh Hiat-to dan memba lik badan, katanya sambil
tertawa tawar: "Hebat benar Ginkang nyonya."
" Kau siapa? Siapa yang mengutusmu ke sini?" dingin pertanyaan
si nyonya muda.
"cayhe kebetulan lewat," ujar Ling Kun - gi, "me lihat sinar la mpu,
maka kucari ke sini."
"Sejak dari Thay-ho kau menguntit aku, kau kira a ku tidak tahu?
Kalau Hian-ih-lo-sat secero-boh yang kau duga, mana bisa aku
berkecimpung di dunia persilatan?"
Kiranya bayangan orang yang Ginkangnya tinggi tadi adalah dia,
julukannya ternyata "Hian-ih-losat" (setan buas berbaju merah).
"Betul, cayhe me mang datang dari kota Thay--ho, kulihat
bayangan nona berkelebat di depanku, gerak-gerikmu enteng dan
cekatan, karena ketarik kususul kau ke mari, untuk kesalahan ini
mohon di maafkan,"
lalu ia menjura. Hian-ih-lo-sat mencibir, katanya: "Enak betul kau
bicara"
"Maksud nona ......" suaranya dia tarik panjang sambil
mengawasi tajam.
Mendadak Hian-ih-lo-sat unjuk senynum manis menggiurkan,
katanya: "Aku ingin kau ikut a ku."
"Ha, nona jangan berkelakar"
Hian-ih-lo-sat menarik muka, dengusnya: "Selamanya tidak
pernah aku berke lakar."
Menghadapi sikap Hian-ih-lo-sat yang sebentar tawa lain saat
dingin ini, ragu2 hati Ling Kun-gi. Pada saat dan berdiri melongo
itulah, mendadak terasa olehnya seperti ada dua orang diam2
mende kati dirinya dari belakang. Gerakan kedua orang ini amat
cepat,

waktu Kun-gi menyadari kehadiran mereka, jaraknya hanya


setombak lebih, keruan ka-getnya bukan main, secepat kilat dia
putar badan-
Sekilas dilihatnya Hian-ih-lo-sat mengulum senyum se mbari
mengulap tangan, bentaknya lirih: "Bukan urusan kalian" - Kejadian
laksana kilat berkelebat, gerak memba lik tubuh Kun gi sebetul-nya
amat cepat. Tapi setelah dia me mbalik badan, yang dilihatnya dua
sosok bayangan hitam secara bergegas berkelebat lenyap seperti
hantu.
Kembali mencelos hati Kun-gi, batinnya: " Entah siapa kedua
bayangan orang ini? Begitu cepat dan tangkas gerakannya."
Terangkat alis lentik Hian-ih-lo-sat, sekilas dia mengerling ke
arah Kun-gi. sikapnya berubah ra mah, katanya lembut: "Baiklah,
apakah kau menya mar?^
Kun-gi tidak me ladani orang, dengan congkak dia berkata: "Tiada
yang perlu kubicarakan, maaf, aku pamit saja." - Kedua kaki
menutul, tubuh terus melayang pergi.
"Tunggu sebentar," Hian-ih-lo-sat cekikikan, "pertanyaanku
belum kaujawab, kenapa terus per-gi?" Seiring dengan suaranya,
tiba2 dan ayun tangan kiri ke udara, dari lengan bajunya melesat
ter-bang seutas bayangan halus dan meluncur ke arah ka ki Kun-gi.
Kala itu badan Ling Kun-gi tengah terapung di udara, pada saat
badannya hampir mela mpaui pagar tembok. mendadak terasa
kakinya seperti di tarik orang, badan yang meluncur tiba2 tertahan
terus anjlok ke bawah tanpa kuasa. Kesiur angin berbau wangi
lantas merangsang hidung, tahu2 Hian--ih-lo-sat sudah melayang
lewat di depannya, gerak-geriknya lemah ge mulai bak tangka i
bunga tertiup angin, katanya tertawa manis. " Kenapa tidak jadi
pergi?"
Begitu berhenti dan berdiri tegak. langsung Kun--gi me meriksa
kakinya, tapi tiada sesuatu perubahan, namun jelas waktu dirinya
me lompat ke atas tadi kaki terasa ditarik turun oleh sesuatu tenaga
raksasa. Tanpa terasa dia menjengek dingin, tanya-nya: " Dengan
apa kau me mbokong a ku?"^
Bersinar biji mata Hian-ih-lo-sat, katanya cekikikan genit:
"Kuserang kakimu dengan benang sutera merah." Tiba2 tangan
kanannya terayun pula, "serrr", bayangan hitam ha lus yang ha mpir
tidak ke lihatan mendada k menya mber ke batok kepala Ling Kun-gi.
Jarak mereka a mat dekat, melihat orang mendadak turun
tangan, keruan kejutnya bukan main, tapi untuk berkelit sudah tidak
sempat lagi, maka terasa ikat rambut di atas kepalanya seperti ber-
gerak sedikit, kiranya senjata rahasia, orang telah mengena i
gelungan ra mbutnya, keruan bertambah kejut hatinya.
Terdengar Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya: "Jangan takut, kau
tanya aku menyerang dengan senjata apa bukan? Kenapa tidak kau
ambil dan periksa sendiri saja?"
Kun-gi meraba gelung ra mbut sendiri serta menurunkan
sebatang jarum sula m panjang se-tengah dim, di be lakang lubang
jarum terikat se-utas benang le mbut warna merah, ujung benang
yang lain masih terpegang di tangan Hian- ih-to sat.Jarum ini sangat
le mbut, namun seluruh batang jarum berwarna mengkilap. terang
pernah direnda m di da la m racun.
Sekali sendal benang ketarik, jarum itupun mencelat balik dan
ditangkap oleh Hian-ih-lo-sat, katanya berseri lebar: "Sudah jelas
bukan, jarumku ini mengandung racun, sedikit tertusuk saja segera
darah keracunan dan kerongkongan a kan tersumbat, tapi kau tida k
usah kuatir, tadi aku hanya me mbentur jarum pada sepatumu,
soalnya aku masih ingin bertanya padamu, maka jangan kau pergi."
"Apa yang ingin kau tanyakan?,"
Mata Hian-ih-lo-sat mengerling, katanya mesra: "Banyak sekali,
umpa manya siapa na ma mu, murid siapa ? Siapa mengutusmu
ke mari? Setelah kau jawab terus terang, kau boleh pergi."
"Tiada yang perlu kujelaskan-"
"Berani kau bande l dihadapanku? " bentak Hian-ih-lo-sat.
" Kenapa t idak berani," tantang Kun-gi.
Hian- ih-to sat ter-loroh2, katanya:. "Agaknya kau belum tahu
siapa diriku?"
"Kenapa aku tidak tahu, kau adalah Hian-ih--lo-sat."
"Siapa yang me mberitahu pada mu?"
"Kau sendiri yang bilang tadi, ka lau tidak da-rimana kutahu."
"Setelah tahu siapa diriku, tentunya kau tahu bahwa aku
bertangan gapah dan berhati keji, dan sukar dilayani."
"Sungguh menyesal, baru sekarang aku men-dengarnya."
Hian-ih-lo-sat me lenggong, mendadak dia tertawa, katanya: "O,
tampaknya kau ini masih pupuk bawang."
Merah wajah Kun-gi, katanya: "cayhe tiada tempo buat
mengobrol dengan kau."
cepat Hian-ih-lo-sat mengadang di depannya, katanya dingin.
"Sebelum kau bicara terus terang, jangan harap kau bisa pergi."
Bertaut alis Kun-gi, dia mendongak sa mbil ter-gelak2: "Kalau aku
mau pergi boleh pergi se-suka hatiku, siapapun tak dapat
menga langiku." Alis Hian-ih-lo-sat menegak. suaranya ketus: "Baik,
cobalah"
"Nona ingin berke lahi?"
"Kau bukan tandinganku."
"Belum tentu."
Hian-ih-lo-sat angkat tangannya, jari2nya tampak putih halus,
katanya: "Marilah, boleh kau coba beberapa gebrak."
"Nona ingin menjajal kepanda ianku, silakan nona turun tangan
lebih dulu."
"Begitupun baik, bila kau ma mpu menya mbut 10 jurus
seranganku, boleh segera kau pergi," berbareng tangan kiri
terangkat, dengan enteng ia menepuk ke pundak Kun-gi. Gerak
tangannya se-perti menepuk laksana mencengkera m, aneh dan
lihay, satu gerakan se-akan2 mengandung banyak perubahan-
Ling Kun-gi menggeser ke sa mping, telapak tangan terangkat, ia
siap melancarkan tipu Thian-g-wa-lay-bun (me ga tiba dari luar langit
) untuk menahan gerak serangan lawan- Tiba2 badan Hian-ih-lo-sat
menubruk maju, telapak tangan kanan menabas iga kiri Ling Kun-gi.
Gerakan belakangan menya mbung serangan tadi, sehingga tebasan
ini menimbulkan kekuatan berlipat ganda.
Tanpa pikir, punggung telapak tangan kiri Kun-gi juga me mbalik,
secepat kilat mengebas pergelangan tangan Hian-ih-lo-sat. Terpaksa
Hian--ih-lo-sat menarik ke mba li serangannya, maka telapak tangan
Kun-gi yang sempat menyelinap masuk, gerakan ini dilandasi
Lwekang tinggi, telapak tangan setajam golok dan mengeluarkan
suara menderu, perbawanya tidak kalah hebatnya.
Agaknya tak pernah terpikir oleh Hian-ih-lo-sat bahwa lawan
yang dihadapinya ini me miliki Lwekang dan kepandaian setinggi ini,
sekilas dia tertegun, sebat sekali dia berkelit mundur, mulut
menggerung gusar, teriaknya^ "Ta k nyana kau berisi juga"
Setelah bergebrak dua kali, Kun-gi insaf bah-wa Hian-ih-lo-sat
betul2 lawan tangguh, na mun Hian-ih-lo-sat juga menyadari bahwa
Ling Kun-gi me miliki ilmu silat yang tinggi diluar perhitungannya.
Begitu terpencar kedua orang terus menubruk maju lagi, tangan
mereka bergerak turun naik dengan kecepatan luar biasa, dala m
sekejap mereka telah saling serang pula tiga jurus.
Mendadak permainan Hian-ih-lo-sat berubah, gerakan tipunya
menjadi aneh dan sukar ditebak arahnya, sehingga Kun-gi terdesak
mundur ber-ulang2, hampir saja dia tak kuasa me mpertahan-kan
diri.
Meski terkejut, dia m2 Kun-gi menghimpun semangat dan
mengerahkan tenaga, sebat sekali ia balas menyerang, Lwekangnya
me mang t idak le mah, ma ka setiap gerakannya pasti menimbulkan
pergolakan angin kencang, serangannya sukar terduga juga, entah
tutukan atau pukulan telapak tangan, kadang2 keduanya
dilancarkan bersa ma, perubahan banyak ragamnya, sukar
dibendung lagi, Hlan-ih--lo-sat kena didesaknya mundur ma lah
sehingga kedudukan tetap seimbang dan sa ma kuat.
Sejak menge mbara di dunia persilatan, entah betapa banyak
pertempuran sengit pernah dia la mi IHian-ih lo-sat, namun belum
pernah dia melihat apalagi menghadapi gerak serangan tangan
kosong seaneh Kun-gi sekarang ini, sema kin te mpur se makin
terkejut hatinya,
dengan gemulai tiba2 ia mundur dua langkah, kedua tangan
me lintang bersiaga, ta-nyanya sambil mengawasi Kun-gi: "Siapa
sebetulnya gurumu?"
" Guruku tida k suka diketahui orang, aku pantang menyebut
namanya," sahut Kun-gi.
Bersungut marah Hian-ih-lo-sat, bentaknya: "Jangan bertingkah
dihadapanku, kau kira aku tida k bisa mengorek keterangan dirimu?"
Mendadak ia melompat maju, kedua tangan mencengkera m dengan
jari2 bagai cakar. Begitu le mas kedua lengannya seperti tidak
bertulang, cengkeraman-nya ini mengandung lima-enam perubahan
serangan me matikan, terutama kesepuluh ujung jarinya yang
runcing, baunya amis, warnanya merah darah me-nyolok dan
menggiriskan, bukan mustahil jari2 tangannyapun beracun
cepat Kun-gi mundur setengah langkah, telapak tangan kanan
terayun menjojoh dengan keras, tangan kiri menangkap dengan
kecepatan luar biasa sasarannya adalah tangan kanan Hian-ih-lo-sat
yang terkembang jari2nya. Hian-ih lo- sat kaget seketika, cepat dia
tarik tangannya. Tak terduga perubahan gerakan, Ling Kun-gi
teramat cepat, baru saja dia menarik tangan, kelima jari Kun-gi la k-
sana cakar besi tahu2 sudah meny amber tiba meremas tulang
pundaknya.
cepat Hiah-ih-lo-sat berkelit ke sa mping, ber-bareng telapak
kanan me mbacok punggung tangan Ling Kun-gi, terdengar suara
nyaring, tangannya berhasil menyampuk punggung tangan anak
muda itu.
Tapi pada detik2 singkat laksana percikan api itu, tiba2 terasa
oleh Hian-ih-lo-sat telapak tangan lawan telah me mbalik terus
terangkat naik. Dari telapak tangan Ling Kun-gi terdorong kekuatan
luar biasa melalui lengannya, begitu keras getaran ini sampa i
lengannya terasa kesemutan, tanpa kuasa dia tergentak mundur
tiga langkah.
Gebrakan ini berlangsung tera mat cepat dan mereka sa ma
menyurut mundur. Terunjuk secercah senyum pada wajah Hian-ih-
lo-sat, ia tatap Ling Kun-gi sekian la manya, akhirnya ia menghe la
napas pelahan tanyanya: "Kau berna ma Ling Kun-gi, betul tida k?"
Kun-gi me lengak. sebetulnya dia ingin balas tanya: "Darimana
kau tahu?" na mun dia lantas berpikir pula. "Tadi si baju biru pernah
me mberitahu bahwa diriku biasa mengguna kan tangan kiri. "
Karena itu ia tertawa, katanya: "Betul, cayhe me mang she Ling."
Berkedip sepasang mata Hian-ih-lo-sat yang me mpesona itu,
mendadak dia cekikikan, katanya: "Jangan kau anggap dirimu luar
biasa, ketahuilah, punggung tanganmu sudah tergores luka oleh
kuku jariku"
Sejak mula Kun-gi sudah tahu bahwa kuku orang rada ganjil,
ke mungkinan beracun, namun dia pura2 bodoh, katanya:
"Me mangnya kenapa kalau tergores? Kau kira telah mengalahkan
aku?"
06
Hin-ih- lo-sat angsurkan kedua tangannya, ke-sepuluh jari2nya
yang putih halus itu pelan2 ter-angkat, katanya tertawa riang. "
Lihatlah kuku jariku"
Kuku jarinya yang terpelihara ba ik itu ternyata masing2 dicat
warna berbeda, ada merah, putih, hijau, biru, ungu dan lain2,
siapapun yang menyasikannya pasti ketarik.
"Kau panda i ma in racun?" tanya Kun-gi ngeri.
"Syukurlah kalau kau tahu," ujar Hian-ih-lo-sat, "racun yang ada
dikuku jariku ini cukup menggores luka kulit daging orang, kena
pagi tidak lewat siang, kena siang tidak lewat petang,"
Tapi Kun-gi hanya mendengus: "Hm, me mang ganas, tak heran
kau berjuluk Hian-ih-lo-sat."
"Aku telah melukai punggung tanganmu, nanti pasti kuberi obat
penawar, namun .... "
"Tida k perlu, aku tida k takut segala maca m racun," tukas Kun-gi.
"Kalau begitu boleh silakan pergi."
"Baik, cayhe mohon diri," dengan beberapa lompatan dia sudah
berlari kencang menyusup ke-hutan-
Sekaligus dia menuju kejalan besar, baru saja dia ayun
langkahnya, tiba2 dibela kangnya seorang berteriak. "Anak muda,
tunggu sebentar"
Waktu Kun-gi berpaling, tidak jauh di belakangnya berlari
sesosok bayangan tinggi besar, langkahnya enteng, seperti lambat
gerakannya, namun kecepatan luncuran tubuhnya sungguh a mat
mengagumkan, se-olah2 kedua tapak kaki tidak menyentuh tanah.
Perawakan orang ini tinggi besar, wajahnya legam seperti besi,
alisnya pendek gombyok. matanya sipit, hidung singa mulut lebar,
jubah warna kuning tua sudah luntur dan sepanjang lutut, kaki
telanjang, tampang dan dandanannya sangat aneh, nyentrik. kata
orang jaman kini.
"Tuan me manggilku?" tanya Kun-gi dengan angkuh.
Bersinar taja m mata si gede menatap Kun-gi, katanya sambil
manggut2: "Ka lau bukan aku, me mangnya siapa lagi?" .
"Tuan siapa, ada perlu apa me manggil cayhe?" tanya Kun-gi.
Terkekeh si gede, katanya dengan suara rendah: "Anak muda,
besar nyalimu, menurut kebiasaan Lohu, kau hanya boleh
menjawab tapi tida k boleh bertanya, tahu tidak?"
Melihat sikap orang yang sok berlagak tua, Ling Kun-gi menjadi
geli, sikapnya semakin angkuh, katanya: "Itukan kebiasaanmu
sendiri, tuan tahu peraturanku?"
Terbeliak mata si gede, tanyanya. "Kau juga punya peraturan
segala?"
"Betul, menurut aturanku, peduli siapapun dia harus
me mperkenalkan na manya lebih dulu, setelah kupertimbangkan
apakah dia setimpa l bicara dengan aku barulah aku ma u
me ladaninya," sudah tentu omongannya ini sengaja hendak
me mancing ke marahan orang.
Tak terduga setelah mendengar uraian Kun-gi, bukan saja tidak
marah, si gede malah ter-bahak2. Gelak tawanya seperti suara
gembreng pecah, begitu keras me meka k telinga, semakin tawa
suaranya semakin tinggi dan berge ma la ksana guntur menggelegar
di le mbah pegunungan-
Sedikit berobah rona muka Kun-gi, dia berdiri tegak tidak
bergeming, na mun hatinya kaget dan me mbatin: "Lwekang orang
ini a mat tinggi."
Lenyap gelak tawanya, mata sipit si gede me lotot kereng dingin,
katanya: "Kita sama mengukuhi peraturan sendiri, nah mari kita
tentukan peraturan siapa lebih berguna ?"
Pelan2 lengan kanannya terangkat, dari lengan bajunya yang
longgar itu terjulur ke luar sebuah tangan aneh berwarna kuning
legam, kelima jarinya mene kuk laksana ca kar elang, setiap jari2
tumbuh kuku sepanjang satu dim, runcing dan tajam laksana pisau,
kiranya itulah sebuah tangan te mbaga.
Ling Kun-gi pernah me lihat tangan besi Hoa Thi-jiu, bentuknya
menyerupai cakar. gunanya seperti alat senjata tajam umumnya,
kelima jari2nya sudah tentu tidak bisa bergerak seperti jari2 tangan
manusia umumnya. Tapi tangan tembaga yang dilihatnya sekarang
ternyata tak berbeda dengan tangan manusia umumnya, kelima
jarinya dapat terkembang dan mencengkeram dengan leluasa.
Pada saat2 genting itulah, mendadak sebUnh suara merdu
berseru dipinggir telinganya: "saudara cilik, le kas mundur"
Kun-gi mengenali yang berseru me mberi peringatan itu adalah
Hian-ih-lo-sat, namun sebelum me mbukt ikan apa yang akan terjadi,
mana dia mau mundur? la berdiri tegak tidak bergerak. ia tunggu
sampai cakar te mbaga lawan yang aneh itu ha mpir mencengkera m
dirinya, mendadak ia kerahkan tenaga pada telapak tangan kanan
terus menangkis ke depan-
Gerak serangan tangan tembaga lawan me mang pelan2, sedang
tangkisan Kun-gi bergerak cepat, Tak tahunya begitu telapak
tangannya menindih pergelangan tangan lawan terasa seperti
me mbentur sebatang besi, sedikitpun tidak berge ming, cakar
tembaga orang tetap bergerak pelan mengincar punda knya.
Tangan kanan Ling Kun-gi yang menangkis terasa kesakitan, rasa
linu kesemutan sampai me njalar ke atas pundak. keruan kagetnya
bukan kepa lang, sungguh dia tida k habis mengerti bahwa sebuah
tangan tembaga bisa begini lihay, cepat dia menarik napas se mbari
me lompat mundur.
Si gede tidak mengejarnya, wajahnya menyeringai puas,
matanya melirik ke arah hutan, bentaknya: "Siapa itu di dala m
hutan? Apa yang kau katakan kepada bocah ini?"
Tiba2 terendus bau harum terbawa angin le mbut, waktu Ling
Kun-gi menoleh, tahu2 Hian-ih-lo-sat sudah berdiri di sebelahnya.
"Untuk apa kau ke mari?" se mprot si gede.
"Apa aku tidak boleh ke mari?" Hian-ih-lo-sat cekikikan, matanya
mengerling tajam, tanyanya pula: "Kau mengenalku?"
"Lohu tidak kenal," ujar si gede.
Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya: "Kau tak kenal aku, sebaliknya
aku mengenalmu."
"Kau tahu siapa Lohu?"
"Kau adalah La m-kiang-it-ki Thong-pi-thian--ong, betul tidak?"
"Thong-pi-thian-ong (raja langit lengan te mbaga) ? Tak pernah
Suhu menyinggung na ma orang ini" de mikian Kun-gi ber-tanya2
dalam hati.
Terbeliak mata Thong-pi-thian-ong, sesaat lamanya dia
menga mati Hian-ih-lo-sat, katanya ke-mudian- " Kaum persilatan di
Tionggoan ternyata ada juga yang kenal Lohu." -Sampai di sini tiba2
dia manggut2, katanya pula: "Baiklah, Lohu tida k akan berurusan
denganmu, boleh kau menyingkir."
"Kalau aku mau pergi, takkan kumuncul di sini," ujar Hian-ih-lo-
sat.
"Kau masih ada urusan apa?" Thong-pi-thian--ong menegas.
Hian-ih-lo-sat tidak menghiraukan pertanyaan orang, katanya
berseri tawa kepada Kun-gi: "Agak-nya kau me ma ng tida k gentar
pada racunku."
"cayhe tidak mati, kau merasa di luar dugaan?" ejek Kun-gi.
"Aku bermaksud baik, mengantar obat untukmu."
Merah muka Kun-gi, lekas dia menjura, katanya: "Kalau begitu,
aku yang salah paha m."
"Syukurlah," ujar Hian-ih-lo-sat, lalu mena mbahkan- "kau
me mang tidak keracunan, lekaslah pergi saja."
"Lohu tidak menyuruhnya pergi, siapa yang berani pergi?" bentak
Thong-pi-thian-ong.
Hian-ih-lo-sat cekikikan, katanya: "Me mang-nya kau tidak
dengar, aku yang menyuruhnya pergi?"
"Nyonya sudah tahu julukanku, tapi masih bertingkah
dihadapanku, me mangnya kau sudah mene lan nyali harimau."
"Betul, kalau a ku tidak punya nyali, mana berani kusuruh dia
pergi."
Lekas Kun-gi bersuara: "Kalau cayhe mau pergi segerapun bisa
pergi, peduli a mat dengan orang lain"
Hian-ih-lo-sat mengedip seraya berkata dengan Thoan-im-jip-bit
(ilmu mengirim gelombang suara): "Thong-pi-thian-ong meraja i
Lam-kiang (wilayah selatan), saudara cilik, bukan aku merendahkan
kau, tapi kau me mang bukan tandingannya, biarlah aku
mengadangnya sesaat, lekas kau pergi."
Jelilatan mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya murka: "Dihadapan
Lohu, kalian berani main bisik2, apa yang kalian perbincangkan?"
"Kudesak dia lekas pergi," ujar Hian-ih-lo-sat.
"Tida k boleh," bentak Thong-pi-thian-ong, " bocah ini akan
kutahan-"
"Untuk apa kau me nahannya?"
"Lohu ingin tanya seseorang kepadanya."
"Siapa yang kau tanyakan?" tanya Kun-gi,
"Hoan-jiu-ji-lay Di mana dia?"
"cayhe tidak tahu."
"Kau bukan muridnya?"
"Kalau benar mau apa?Jika bukan kenapa pula?"
"Waktu kau bergebrak sama dia tadi, jelas yang kau mainkan
adalah ilmu ajaran bangsat gundul itu, me mangnya Lohu sa lah
lihat?" Thong--pi-thian-ong terkekeh dingin-
Ternyata dia menyaksikan beberapa jurus gebrakan Kun-gi
me lawan Hian-ih-lo-sat tadi, maka dia mencegatnya di sini.
Kun-gi naik pita m mendengar orang me manggil gurunya 'bangsat
gundul', katanya gusar: "Me mang tidak sa lah, beliau me mang
guruku, ada urusan apa kau mencari beliau? Boleh kau bicara saja
dengan aku."
Mendengar Ling Kun-gi adalah murid Hoan-cjiu- ji-lay, tanpa
terasa Hian-ih-lo-sat mengawasi le kat2.
Thong-pi-thian-ong tergelak2, katanya: "Ternyata betul kau
murid bangsat tua itu, bagus sekali, lekas katakan, bangsat tua itu
sekarang berada di mana?"
"Jejak beliau tidak menentu, tak mungkin cayhe menjelaskan,"
sahut Kun-gi.
Thong-pi thian-ong mendesak selangkah, katanya sambil
menuding Kun-gi: "Kau murid bangsat tua itu, masakah tidak tahu
dia sembunyi di mana? Ka lau tidak berterus terang, jangan salahkan
Lohu tida k me mberi a mpun pada mu."
Kun-gi gusar, serunya: "Anggaplah aku tidak mau menerangkan,
kau bisa berbuat apa terhadap diriku?"
Thong-pi-thian-ong terkekeh2, jari2 tembaga yang runcing tajam
tiba2 mencengkera m, hardik-nya beringas: "Ma ka Lohu harus
menahanmu, ka-lau yang cilik kuringkus, masakah yang tua tida k
akan keluar dari kandangnya?"
"Nanti dulu" lekasi Hian-ih-lo-sat mencegah.
Tangan tembaga Thong-pi-thian-ong yang sudah terulur berhenti
di tengah jalan, bentaknya sa mbil berpa ling: "Ada apa kau?"
"Kau ingin mencari gurunya, kalau ma mpu pergilah cari sendiri,
nama Thong-pi-thian-ong cukup beken, me mangnya kau tidak malu
berkelahi dengan anak murid orang?"
"Sela manya Lohu tidak peduli soal tetek- bengek. sudah 30 tahun
Lohu mencari bangsat tua itu, kebetulan muridnya kebenturku di
sini, betapapun Lohu takkan melepaskan dia pergi"
"Tida k bisa,"jengek Hian-ih-lo-sat, "tadi aku sudah suruh dia
pergi, ma ka dia harus pergi."
Mendelik Thong-pi-thian-ong, dengan gusar dia tatap Hian-ih-lo-
sat, katanya ter-kekeh2: "Nyonya muda, kau berani ca mpur tangan
. ." tangan yang bergerak dan sedianya hendak me nye-rang Ling
Kun-gi tadi tiba2 bergerak pula pelan2 beralih ke arah Hian-ih-lo-sat.
Sementara itu Kun-gi sudah keluarkan pedang panjang dari
buntalannya, hardiknya: "Tahan"
"Kau mau ajak Lohu mencari gurumu?" tanya Thong-pi-thian-
ong.
Kun-gi berdiri kereng menenteng pedang, katanya: "Soal ini tiada
sangkut pautnya dengan nona ini. Tidak sukar me mbawa mu
mene mui guruku asal kau bisa menga lahkan pedang ditangan-ku
....."
Thong-pi-thian-ong coba pandang pedang di tangan Ling Kun-gi,
mendadak ia tertawa lebar, katanya dingin: "Lohu ingin menahan-
mu, sudah tentu harus mengalahkan kau lebih dulu."
"Adik cilik," seru Hian-ih-lo-sat, "kau bukan tandingannya, lekas
menyingkir."
"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nona. lekas kau pergi
saja," sahut Kun-gi.
"Anak muda, kau sudah siap?" Thong-pi--thian-ong tidak sabar
lagi, kelima jarinya terkembang terus mencengkera m ke arah Kun-
gi.
Sejak kecil Ling Kun-gi meyakinkan ilmu pedang warisan
keluarganya. cuma waktu dia henda k berangkat Suhunya pernah
berpesan wanti2, kecuali terpaksa ilmu pedangnya dilarang
sembarang ditunjukkan di depan umum. Sekarang dia menghadapi
Thong-pi-thian-ong yang berilmu silat serba aneh, lengan tembaga
dan telapak tangan tembaga pula, kerasnya laksana baja, kalau
dirinya melawan dengan bertangan kosong, mungkin untuk
me mpertahankan diri saja sukar, maka terpaksa dia keluarkan
pedangnya.
Kini melihat cakar te mbaga lawan mencengkera m tiba, secepat
kilat otaknya bekerja: " Lengan tembagamu me mangnya tidak takut
senjata tajam, tapi anggota badanmu yang la in, apa juga kebat
senjata?" Sebat sekali ia berkelebat maju, pergelangan tangan
menggentak. pedangpun menabas miring. Serangan ini dilancarkan
dengan badan miring sa mbil mendesak maju, orangnya tiba
pedangpun menganca m. Walau jurus yang dan gunakan hanya tipu
biasa Sian-niao-hoa-se (burung dewa menggores pasir), namun
dilancarkan oleh seorang ahli seperti Ling Kun-gi, bukan saja lebih
lincah dan hidup, gerakannyapun teramat cepat dan berbahaya.
Sepasang mata Hian-ih-lo-sat me mancarkan sinar terang
menyaksikan ilmu pedang yang tiada taranya ini. Selama hidup
Hoan-jiu ji-lay tidak pernah menggunakan pedang, namun murid
tunggalnya ini ternyata me miliki ilmu pedang yang tinggi dan lihay
sekali.
Kelima jari te mbaga Thong-pi-thian-ong terpentang, gerakannya
seperti amat lamban, tujuannya semula hanya mau meringkus
bocah kurang-ajar ini, tapi serta melihat gerakan pedang Ling Kun-
gi yang hebat, tiba2 ia mendengus,jari2nya malah mencengkera m
pedang yang menyamber t iba. Sungguh permainan aneh,
perubahannyapun cepat tak terduga, lengan sedikit me lint ir, tahu2
batang pedang sudah berhasil dipegangnya, sementara jari tangan
kiri berbareng menutuk ke pundak Kun-gi.
Terasa batang pedang mendada k tergetar, pergelangan tangan
anak muda itupun kese mutan, telapak tangan lecet kesakitan, tahu2
kelima jari lawan yang beruji runcing juga menyerang tiba. Keruan
bukan main kaget Kun-gi, kalau dirinya tidak lepas pedang serta
me lompat mundur, pundak sendiri pasti kena tertusuk, terpaksa dia
le mparkan pedangnya, lalu dengan gerakan Hu-kong liang-in
(cahaya mengambang me la mpaui bayangan) dia meloncat mundur
ke belakang.
Dengan mencengkera m pedang di tangan kanannya, tutukan jari
tangan kiri Thong-pi-thian--ong masih tetap mengarah ke depan,
mulutpun me mbentak: "Anak muda, robohlah kau!!"
Jarinya yang menuding ke depan tetap diacungkan, tahu2 sarung
jari tembaga yang terpasang diujung jarinya melesat ke depan
me mbawa kesiur angin kencang, sasarannya tetap tidak berubah,
pundak kiri Ling Kun-gi.
"Adik cilik, awas" Hian-ih-lo-sat berseru me mperingatkan-
Hanya sekali gebrak. pedang terampas, dikala dia merasa
bingung dan kaget, tahu2 selarik sinar kuning ke milau me lesat ke
arahnya, keruan Kun-gi ta mbah berang, serunya dengan tertawa
lantang:
"Bagus" - Tangan kiri terangkat, dia incar selong-song jari
tembaga itu terus menjentiknya sekali. Kali ini dia gunakan Tan-ci-
sin-thong (selentikanjari sakti) salah satu dari 72 ilmu silat Siau lim-
pay. "creng", selongsong jari tembaga itu kena dijentiknya mencelat
beberapa tombak jauhnya.
Selama puluhan tahun belum pernah tutukan jari terbangnya ini
menga la mi kegagalan, kini kecundang di tangan seorang muda yang
dianggapnya masih ingusan, tapi ternyata me miliki ilmu silat tinggi,
sekilas dia me lengak. dengan pandangan liar dia tatap Ling Kun-gi,
jengeknya sambil terkekeh: "Bagus, anak muda, agaknya seluruh
kepandaian si bangsat tuapun telah diturunkan pada mu."
Hian-ih-lo-sat cekikikan, selanya: "Babak ini kalian setanding alias
seri, yang satu direbut pedangnya, yang lain selongsong jarinya
terjentik jatuh, tiada pihak yang lebih unggul ."
"Omong kosong" bentak Thong-pi-thian- ong dengan mata
me lotot.
"Siapa omong kosong?" sikap Hian-ih-lo-sat tetap manis, "
me mangnya kau be lum menga ku ka lah setelah jari tembagamu
terjentik jatuh?"
Thong-pi-thian-ong menggerakkan jari2 tembaga seperti
menganca m, hardiknya gusar,
" Le kas engkau enyah dari sini"
"Ada suatu hal ingin aku berunding dengan kau, entah kau mau
tidak?" kata Hian-ih-lo-sat tetap sabar.
"Kata2ku sekukuh gunung, tiada soal berunding segala,
betapapun Lohu harus me nahan bocah ini."
"Soal yang ingin kurundingkan tiada hubungannya dengan dia."
Sebel rasa Thong-pi-thian-ong.
"Soal apa ?" tanyanya tidak sabar.
Hian-ih-lo-sat unjuk senyuman manis, ujar-nya : "Kulihat kau
me miliki ilmu silat tinggi, me miliki lengan te mbaga lagi, sungguh
mencocoki seleraku ....." tawa yang manis menggiurkan di-ta mbah
dengan gerakan badan yang bergaya menantang.
Mata sipit Thong-pi-thian-ong menjadi terbeliak, apalagi
mendengar kata2 "mencocoki selera- ku", keruan hatinya terasa
syuur, senangnya bukan main- Me mang usianya sudah setengah
abad, tapi selama ini dia tetap bujangan, sesaat dia mengawasi
Kun-gi, ingin rasanya segera menggebah-nya pergi. Tapi demi
gengsi, tadi dia menahannya, kalau sekarang mengusirnya ma lah
berarti menjilat ludah sendiri, ma ka sesaat mulutnya tak bisa bicara.
Tapi wajahnya yang tadi merah pada m sekarang ta mpak berseri
senang, katanya dengan halus: "cayhe seorang yang suka berterus
terang, Siau-nio-cu (nyonya muda) ada omongan apa, boleh sila kan
katakan saja."
Tadi dia me mbahasakan dia Lohu (aku orang tua ), sekarang
diganti cayhe (aku yang rendah), kiranya dia merasa dirinya lebih
muda beberapa tahun secara mendadak.
Hian-ih lo-sat me lerok sa mbil mencibir, katanya tertawa genit:
"Dengan adik ini kau tidak bermusuhan, biarkan dia pergi saja, nanti
kita bicara lagi."
orang suruh Kun-gi pergi, tentu saja cocok dengan ke inginan
Thong-pi- thian-ong, dia berseri tawa, katanya. "Betul Siau-nio-cu,
cayhe hanya mencari gurunya, Hoan-jlu-ji-lay, dulu aku pernah
bentrok sama dia, maka sekarang ini ingin ku bereskan perhitungan
la ma. Ha h, sebetulnya soal ini juga tidak penting, Siau-nio-cu ma u
menda ma ikan soal ini, biarlah a ku menurut saja," la lu dia berpaling
ke arah Ling Kun-gi, teriaknya: "Anak muda, kau boleh lekas enyah"
Sudah tentu Kun-gi maklum a kan watak genit Hian-ih- lo-sat,
agaknya dia sengaja hendak me mikat Thong-pi-thian-ong dengan
rayuannya, serta memperalat orang menjadi kaki tangannya.
Usia Thong-pi-thian-ong sudah setengah abad, tapi masih mata
keranjang dan suka pipi halus. naga2nya laki perempuan ini
me mang sudah sama ketagihan- Karena merasa muak dan jijik,
lekas Kun-gi je mput pedangnya, tanpa bersuara dia terus tinggal
pergi.
Sudah seperti di kili2 hati Thong-pi- thian-ong, segera dia
me langkah maju sambil me mandang Hian-ih-lo-sat lekat2 se-akan2
ingin mene lannya bulat2, katanya cengar-cengir: "Siau-nio-cu,
bocah itu sudah pergi, ingin omong apa lekas kau katakan"
Hian-ih-lo-sat gigit bibir, mata mengerling penuh arti, katanya
sambil tertawa:
"Kalau kukatakan, kau tidak marah bukan?"
Dala m jarak tiga kaki hidung Thong- pi-thian--ong sudah
mengendus bau harum yang me mabukkan, seketika jantungnya
berdegup lebih cepat. Dia m2 dia menyesali hidupnya sela ma lebih
20 tahun yang lampau secara sia2, kenapa sampai mala m ini baru
akan merasakan badan pere mpuan yang cantik dan harum
menggiurkan- Lekas dia berkata: "Boleh katakan saja, cayhe pasti
tidak akan- ..tidak akan marah."
Dengan sapu tangan menutup mulut, Hian-ih-lo-sat berkata
aleman- "Kalau kau tidak marah, biarlah aku bicara terus terang.
Kulihat lenganmu ini kalau tida k salah terbuat dari ca mpuran
tembaga dengan e mas, malah di da la mnya juga terpasang alat2
rahasia sehingga biaa digunakan secara bebas dan lincah, dibanding
12 tangan besi keluargaku je las lebih se mpurna, oleh karena itu
......."
" Karena itu apa?" tanya Thong- pi-thian-ong.
"Lengan tembaga bukankah setingkat lebih tinggi dari lengan
besi? oleh karena itu a ku ingin mengundangmu menjadi kepala dari
barisan tangan besi keluargaku .....".
Ternyata dirinya hanya akan dijadikan kepala barisan segala,
sungguh terlalu dan besar salah wesel ini. seketika beruubah kela m
air muka Thong-pi-thian-ong, dengus-nya: "Kau .....ingin Lohu
menjadi kepala barisan"
Hian-ih- lo-sat me mbetulkan letak ra mbutnya yang terurai,
ujarnya: "Eh, kau tidak mau ? Atau merasa merendahkan derajatmu
? Bicara terus terang, setiap anggota barisan tangan besi adalah
jago2 silat kelas tinggi diBu-lim, dibanding kau Thong-pi-thian-ong
rasanya tidak lebih rendah, kuangkat kau menjadi kepala barisan
mereka, karena kau punya lengan te mbaga yang lebih se mpurna, ini
berarti aku telah me ngangkat dan me nghargai dirimu?"
Naik pitam Thong-pi-thian-ong mendengar kata2 orang,
hardiknya beringas: "Pere mpuan bangsat, berani kau menggoda dan
me mperma inkan diriku?"
Mendadak berubah ka ku wajah Hian-ih lo-sat, katanya dingin:
"Aku sudah naksir lengan tembaga mu itu, maka kau harus jadi
kepala barisan lengan besi itu, kuundang kau secara hormat, kalau
tidak mau terpaksa kuguna kan kekerasan pada mu." di mana
tangannya mela mbai, tiba2 serangkum bau harum merangsang ke
muka lawan-
Betapapun Thong-pi-thian-ong juga banyakpengala man, dengan
terkesiap cepat ia melompat mundur seraya menghardik:
"Perempuan sundel ....." belum habis makiannya, tiba2 terasa di
sebelah belakang ada apa2 yang tak beres, maklumlah betapa tinggi
dan tangguh ilmu silat Thong pi-thian-ong, dala m jarak tiga tomba k
asal ada orang mendekati dirinya pasti diketahuinya.
Tapi ka li ini panca inderanya bekerja lambat, waktu dia
merasakan gejala tida k beres, orang dibelakangnya sudah dekat.
Dari suara napas orang ia tahu ada dua orang telah menganca m
dirinya dari belakang. Dia m2 dia me mbatin: " orang dapat
mende katiku da la m jarak setombak, agaknya kepandaian mereka
me mang tidak lebih rendah daripada diriku."
cemerlang sinar mata Hian-ih-lo-sat, katanya sambil tertawa:
"Baiklah, ka lian saja yang menangkapnya." Berbareng ia lantas
me lompat mundur.
Kedua orang di bela kang saling me mberi isyarat, mulut masing2
bersiul seka li, la lu me lompat maju bersa ma, kedua tangan masing2
bergerak menangkap ke tubuh Thong-pi-thian-ong .
Bukan kepa lang gusar Thong-pi-thian-ong, sambil menghardik
dia ayun lengan tembaga melayani serangan orang yang melabrak
dari kiri, berbareng badan berputar, tahu2 kaki kanan melayang
menyerampang lawan yang menubruk dari kanan-
Sekilas dilihatnya kedua orang yang melabrak dirinya adalah laki2
berbaju hijau, usianya kurang lebih 40-an, yang mengejut kan
adalah tangan kiri mereka bersemu kehijauan, kelima jari tangannya
laksana cakar yang mengkilap. kelihatan runcing taja m, dari sinar
ke milau kehijauan itu jelas bahwa lengan mereka berlumur racun
yang amat jahat.
Mau tak mau timbul rasa curiga Thong-pi-thian-ong, batinnya:
"Tadi dia bilang keluarganya punya 12 orang berlengan besi,
semuanya adalah tokoh2 Kangouw yang beken na manya,
me mangnya siapa dan bagaimana latar belakang orang2 ini?"- Hati
me mbatin, se mentara mulut menghardik: "Keparat, kalian bertiga
maju bersama juga Lohu t idak pandang sebelah mata."
"Jangan kau takabur," jengek Hian-ih-lo-sat, "kalau tiba saatnya
aku turun tangan, pasti aku akan turun gelanggang."
"Trang", suara benturan benda keras me me-kak telinga, lengan
tembaga Thong-pi-thian-ong disa mbut oleh pukulan lengan besi
orang sebelah kiri, keduanya sama terhempas mundur. Maka laki2
baju hijau di sebelah kanan mendapat peluang untuk menubruk
maju, lengan besi kirinya segera bergerak dengan tipu Hing-bok-
liong- kan (me m-belah miring ulu naga), pinggang Thong-pi-thian--
ong menjadi incaran-
Tak keburu berkelit, terpaksa Thong-pi- thian--ong kerahkan
tenaga, ia sambut pula serangan lawan dengan lengan tembaganya,
"Trang" begitu lengan tembaga, dan lengan besi beradu, la ki2 baju
hijau di sebelah sana terpental mundur tiga tindak. Thong-pi-thian-
ong sendiri juga tak kuasa menguasai diri, iapun me nyurut tiga
tindak. dia m2 batinya bertambah kejut, walau Lwekang kedua lawan
bukan tandingannya, tapi terpaut tidak jauh.
Sementara lawan di sebelah kiri sudah merangsak maju pula,
jari2 tangan besi kirinya bergerak la ksana sa mberan kilat, telapak
tangan kanan berwarna merah darah menyolok menyerang tiba
bersama, jalan mundur Thong-pi-thian-ong sudah terkurung. Sebat
sekali lawan di sebelah kananpun melompat maju pula, lengan besi
menyerang dengan jurus No liong-sip-cu (naga marah menggondol
mut iara), gerak lengannya lapat2 membawa bunyi gemuruh terus
mencakar ke batok kepala Thong-pi-thian-ong.
Thong-pi-thian-ong murka sekali, ia me mbentak keras, sambil
me loncat ke atas, di ma na lengan bajunya mengebas, segera dia
balas menyerang dengan gencar. Sebagai jago nomor satu di
daerah selatan yang dijuluki La m-kiang-it-ki, bukan saja lengan
tembaganya lihay luar biasa, kepandaian silat lainnyapun terhitung
kelas wahid di-kalangan Bu-lim. Tapi di luar dugaan bahwa ke-dua
orang baju hijau yang dihadapinya sekarang juga gembong2 aliran
hitam pilihan, ilmu silatnya sudah tentu tidak le mah.
Serang menyerang berlangsung dengan gencar, ketiganya tanpa
menggunakan senjata, tapi pertempuran ini jauh lebih berbahaya
dan sengit dari adu senjata. Gebrak dilakukan dala m jarak dekat -
semakin te mpur se ma kin sengit, sedikit lena tentu jiwa terancam,
tidak mati juga pasti terluka parah.
Dala m sekejap 30 jurus telah berlalu. Sema-kin bertempur
Thong-pi-thian ong se makin murka.. tapi juga semakin kaget, tadi
dia mengira da la m 30 jurus pasti dapat mengalahkan kedua lawan-
nya, tapi kenyataan kedua lengan besi lawan dapat bekerja sa ma
sedemikian baiknya, serangan-pun gencar dan ganas. Setelah 30-an
jurus ini ternyata dirasakan bahwa Lwekang sendiri se makin susut.
Sudah tentu keadaan ini sema kin menciutkan nyali dan
perbawanya, sekaligus menyadarkan benak-nya pula bahwa secara
tidak disadarinya tadi dirinya sudah dikerja i oleh Hian-ih-lo-sat.
Mendadak dia menggerung gusar, lengan te mbaga sebelah kanan
terayun ke atas, dari kelima ujung jari te mbaganya itu serempak
menye mperot keluar lima jalur air kuning yang deras. Kiranya
buatan lengan tembaga sebelah kanan Thong-pi-thian-ong lebih
ringan, di dalamnya ada selongsong yang berisi air beracun, asal
tekan tombolnya, air beracun akan menyemprot dari lubang di
ujung jari. Se mprotan air kuning itu dapat mencapai setomba k
jauhnya, sekali kulit badan manusia kena kese mprot, daging
seketika me mbusuk. Apalagi serangan ini sering dilancarkan secata
mendadak. ma ka ganasnya luar biasa.
Agaknya kedua laki2 baju hijau secara dia m2 telah dikisiki Hian-
ih-lo-sat dengan ilmu mengirim ge lombang suara, begitu lengan
kanan Thong-pi--thian-ong terayun ke atas, serempak dengan cepat
luar biasa mereka melompatjauh menghindarkan diri. Begitu a ir
kuning itu menyemprot bagai kabut tebal me landa ke e mpat
penjuru, kedua orang itu-pun sudah mundur setombak lebih.
Maka terdengarlah suara mendesis ra mai, air kuning itu muncrat
bertaburan di atas tanah dan seketika menimbulkan kepulan asap
kuning yang baunya teramat busuk. untunglah angin pegunungan
lekas sekali meniupnya buyar.
Melihat se mprotan air beracunnya gagal, amarah Thong-pi-thian-
ong semakin me muncak, ia menuding Hian-ih- lo-sat dan
me mbentak: "Sunde l, berani kau kerja i Lohu?"
"Baru sekarang kau tahu" jengek Hian-ih-lo-sat cekikikan-
Berkerutuk gigi Thong-pi-thian-ong, hardiknya bengis: "Keparat,
ma mpuslah kau, e mpat titik ke milau kuning laksana e mas
mendadak menjiprat ke ke luar laksana sa mbaran kilat, itulah
selongsong jari2 tembaga yang dia pasang pada ujung jari
tangannya. Maka terdengar Hian-ih-lo-sat menjerit kaget, mendadak
tubuhnya roboh ke belakang. Thong-pi thian-ong tertawa dingin,
ejeknya:
"Perempuan ja lang, sebetutulnya tiada niat Lohu, membunuhmu,
kau sendiri yang cari ma mpus, jangan sa lahkan Lohu keja m"
Sembari bicara segera ia henda k me mungut ke mbali selongsong
jari tembaga, mendadak kepalanya pusing, badan yang sudah
terbungkuk ha mpir saja jatuh terjerembab.
Pada saat yang sama, kupingnya mendengar tawa ringan merdu,
berbareng jalan darah di belakang batok kepalanya terasa sakit
tertutuk. mata menjadi ge lap. seketika dia jatuh tersungkur dan
tidak ingat diri..
Hian-ih-lo-sat berdiri di be lakang sa mbil tertawa cekikikan, di
mana tangannya mengulap. dua orang segera maju mendekat, kata
mereka sa mbil me luruskan kedua tangan: "Siancu ((dewi) ada
perintah apa."?"
Hian-ih-lo-sat mengeluarkan sebuah botol porse lin kecil serta
menuang sebutir pil warna hijau ,gelap. dianggurkannya kepada
kedua orang baju hijau, katanya: "Minumkan obat ini kepadanya."
Laki2 baju hijau sebelah kiri mengia kan, dia terima obat pil itu
serta pencet dagu Thong-pi--thian-ong, pil itu terus dia jejal ke
mulutnya. Hian-ih-lo-sat tertawa puas, katanya: "Bawa dia,
sekarang kita boleh pergi"
oooooooooo
Sepanjang jalan Ling Kun-gi ber-lari2 kencang, waktu terang
tanah dia sudah tiba di cin--siang, ia cari hotel terus masuk ka mar,
ia duduk se madi sa mpai lupa keadaan sekelilingnya.
Waktu mengakhiri se madinya, haripun sudah dekat tengah hari,
kepada pelayan ia minta diantar makanan ke da la m ka mar, setelah
kenyang dia salin pakaian, menyoreng pedang, setelah bayar
rekening terus berangkat.
Tengah hari ra mai orang yang berlalu la lang dijalan raya, sudah
tentu tak mungkin dia menge mbangkan Ginkang, tapi dari cin-s iang
sampai ke Siau-s ian, jaraknya kira2 ada 200 li, ter-paksa dia beli
kuda untuk mene mpuh perjalanan jauh ini.
Kuda dibeda l terus sampai kehabiaan tenaga dan berbuih
mulutnya, sebelum magrib dia tiba di sebuah dukuh kecil, letaknya
tidak jauh dari Pat-kong-san. Kebetulan di pinggir ja lan ada sebuah
gubug yang mengibarkan panji bertuliskan "arak", kiranya warung
arak tempat orang berteduh dari terik matahari dan sekedar
istirahat. Setelah menempuh perjalanan setengah hari, lapar dan
dahaga perut Ling Kun-gi, maka dia tambat kuda pada pohon di luar
warung terus me masuki warung arak itu.
Tampak seorang laki2 berpakaian kasar tengah me mbersihkan
meja. Kiranya hari menje lang magrib, pejalan kaki buru2
me lanjutkan perjalanan masuk kota, maka keadaan warung ini sepi.
"Pelayan, masih ada makanan apa, lekas keluarkan," begitu
masuk Kun-gi terus minta makanan serta me milih te mpat duduk.
Pelayan mengawasi Kun-gi sejenak. sahutnya: "Tuan tunggu
sebentar, makanan masih ada" buru2 dia berlari masuk.
Melihat langkah orang enteng dan gesit, diam2 tergerak hati
Kun-gi, batinnya: "Pakaian pelayan ini kelihatan kasar, gerak-
geriknya kurang me madai, langkahnya gesit lagi, tempat ini sudah
tidak jauh dari Pat-kong-san, bukan mustahil ini mata2 musuh? Aku
harus berlaku hati." De mikian dia lantas waspada.
Lekas sekali pe layan tadi sudah ke luar me m-bawa sepoci air teh
dan sebuah cangkir, katanya sambil seri tawa: "Tuan, silakan minum
dulu, bak-pau dan pangsit di warung kami me mang selalu sedia,
sebentar lagi selesai dipanasi."
Kun-gi manggut2, katanya: "Ada makanan apa pula boleh kau
keluarkan saja."
Pelayan meng ia kan terus berlari masuk pula. Walau
kerongkongan merasa kering, tapi Kun-gi tidak berani segera
minum, ia keluarkan kantong sula m pe mberian Un Hoan-kun dan
ambil sebutir Jing-sim-tan terus dikulum dala m mulut, lalu dia tuang
secangkir teh dan ditenggak habis.
Tak la ma ke mudian pelayan sudah keluar me mbawa sepiring
pangsit dan bakpau, katanya tertawa: "Tuan silakan mencicipi dulu."
Setelah meletakkan piring, matanya mengerling, dilihatnya Kun-gi
sudah menghabiskan secangkir teh, seketika wajahnya menunjuk
rasa senang. Tersipu2 dia a mbil poci serta menuang pula secangkir
untuk Kun-gi, katanya tertawa: "Tuan mene mpuh perjalanan jauh,
tentu haus, daun teh warung ka mi adalah Lo-san-teh keluaran Pat-
kong-san yang segar dan nyaman rasanya, warnanya memang tida k
sedap dipandang, tapi kental dan nikmat, cocok untuk
menghilangkan dahaga."
Melihat gerak-gerik orang serta tutur kata-nya, Kun-gi tahu di
dalam air teh pasti ditaruh apa2, namun dia sudah telan Jing-sin-
tan, tak perlu takut muslihat orang, maka dia manggut2, kata-nya
"Air teh ini me mang enak rasanya." se- cangkir penuh kembali dia
tenggak habis, lalu bak-pau dan pangsit ganti berganti dia gasak
pula.
Melihat secangkir teh habis pula, se makin riang hati pelayan,
lekas dia tuang penuh pula se-cangkir. Sekejap saja Ling Kun-gi
sudah lalap-habis sepiring bakpau dan pangsit, air tehpun entah
sudah berapa cangkir masuk ke perut, katanya sambil angkat
kepala: "Berapa duitnya?"
Habis berkata tiba2 dia pegang kepala sambil mengeluh ringan,
katanya: " celaka, kenapa kepa laku jadi pusing?"
Sejak mula pelayan berdiri di sa mping me layaninya, segera dia
unjuk seri tawa, katanya: "Mungkin tuan ter-buru2 mene mpuh
perjalanan, badan penat tentu kepala pusing."
Sambil mengawasi pelayan, Kun-gi berkata: "Tidak mungkin,
barusan aku segar bugar, kenapa mendadak. bisa pusing? Mungkin
..... kau ...... . mencampur apa2 di dala m ...... air teh?"
Beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara tidak jelas,
badan menjadi le mas, kepala tertunduk ke atas meja terus pulas.
Pelayan itu tiba2 tertawa lebar, katanya puas: "Anak muda, bila
kau sadar, tapi sudah terla mbat."
Dari dala m warung tiba2 berlari keluar seorang la ki2 pula,
serunya: "Sudah kau tundukkan bocah itu?"
Pelayan itu tertawa: "obatnya kutaruh satu lipat lebih banyak dari
biasanya, me mangnya kuat dia bertahan? Bocah ini me ma ng luar
biasa kekuatannya, orang lain seteguk saja pasti semaput, tapi dia
hampir menghabiskan sepoci dan sepiring bak-pau dan pangsit, cit-
ya bilang dia tidak takut racun, tadi juga aku kuatir kalau dia keba l
dari Tip- gau--bi (masuk mulut semaput, na ma obat bius)."
"Kau tunggu dia sebentar, aku akan lapor kepada cit-ya," kata
laki2 yang baru datang. Lalu melangkah ke luar.
Sudah tentu semua percakapan mereka didengar oleh Ling Kun-
gi. baru sekarang dia tahu duduk persoalannya, bahwa yang
mengundang dirinya ke Pat-kong-san ternyata me mang betul Tong
cit-ya adanya. Sudah tentu dia tidak berpeluk tangan me mbiarkan
laki2 itu pergi me mberi laporan- Dia m2 jari tangan kanan menjentik,
sejalur angin segera menerjang punggung laki2 yang sudah
me langkah ke-luar pintu. Seketika laki2 itu me matung kaku di
ambang pintu karena tertutuk Hiat-tonya.
Melihat te mannya berhenti di depan pintu, pelayan itu segera
mendesak: "Katanya mau lapor kepada cit-ya, kenapa tidak lekas
berangkat, kuda tunggangan bocah ini ditambat di luar pintu, apa
pula yang kau tunggu?"
Karena Hiat-to tertutuk. badan kaku tak ma mpu bergerak, sudah
tentu mulutnya juga kaku tak dapat bersuara. Keruan laki2 yang
menya mar pelayan itu menjadi heran dan menggerutu: "Hai, cui-
losam, kenapa kau?"
Baru saja selesai bicara, kupingnya tiba2 mendengar suara halus
berkata: "Losam ke masukan setan, lekas kau saja yang lapor
kepada cit-ya."
Pelayan berjingkat kaget seperti disengat kelabang, mata jelilatan
mengawasi sekelilingnya, tapi dalam warung hanya Ling Kun-gi
seorang dan tetap mendeka m di atas meja, sudah se maput minum
obat biusnya lalu siapakah yang berbicara?
Tahu ada gejala2 ganjil, dengan jeri dia ber-kata: "Siapa kau?"
Hanya dirinya yang masih segar bugar di dalam warung, tiada orang
lain, sudah tentu tiada orang yang menjawab pertanyaannya.
Dengan me mbusungkan dada me mperbesar nyail, pelayan ini
menjura kee mpat penjuru, katanya keras: "Sahabat dari mana kah
yang bicara dengan cayhe? Kami dari keluarga Tong di Sujwan, atas
perintah Tong cit-ya kami mela kukan suatu pe kerjaan di sini,
mungkin sahabat kebetulan lewat, umpama air sungai tida k
bercampur air sumur, kuharap sahabat tidak menca mpuri urusan
kami."
Kun-gi angkat kepa la serta berkata tertawa: "Aku akan me mberi
ampun pada mu, asal kau mau bicara terus terang."
Sudah tentu nelayan itu berjingkrak kaget pula, serunya dengan
terbeliak: "Kau . . . . kau tidak se maput?"- Ada niat lari, tapi entah
mengapa kedua ka kinya tida k mau turut perintah lagi.
Kun gi mengawasi orang dengan tertawa, ka-tanya, "Bukankah
tadi kau bilang cit-ya mengatakan aku tidak takut racun? Kalau
racun aku tidak gentar, apa lagi obat bius, me mangnya aku
gampang dibikin se maput?"
Grmetar badan pelayan itu, keringat dingin gemerobyos
me mbasahi badannya.
"Saudara harap tenang2 saja, dihadapanku kau tidak bisa lari
lebih t iga langkah," Kun-gi me m-peringatkan-
Laki2 itu me mang tidak berani bergerak. katanya tergagap:
"Toaya, kau .... kau tentu tahu, hamba hanya .... menjalankan
perintah .... "
"Jangan cerewet, jawab pertanyaanku, di mana cit ya sekarang?"
"cit-ya .... cit--ya sekarang berada di pat-kong- san."
"Pat-kong-san sebelah mana?"
"Di rumah keluarga Go."
"Siapa yang telah kalian culik?"
"Kabarnya seorang nona, dia adalah adik Toaya . ."
Heran hati Kun-gi, Entah nona siapa dan dari mana yang mereka
culik, tapi orang mengatakan dia adikku? Ma ka iapun manggut2,
katanya: "Baiklah, aku tidak akan menyakiti kalian, tapi kalian harus
tetap di sini."
Sekali tuding dari kejauhan dia tutuk Hiat-to pelayan serta
berkata dingin: "Hiat-to kalian hanya kututuk. setelah tengah mala m
nanti baru akan terbuka sendiri."
Dengan langkah lebar dia keluar dan ce mpla k kudanya terus
dibedal ke arah Pat-kong-san..
Lekas sekali dia sudah tiba di Pat-kong-san, tampak sebuah jalan
besar yang dialasi papan batu, rata memanjang langsung menuju ke
rumah milik keluarga Go di atas gunung.
Hari sudah ge lap. tapi mata Ling Kun-gi dapat melihat di te mpat
gelap. dilihatnya di depan ada sebuah hutan, di depan sana berdiri
empat laki2 seraga m hitam. Di sebelah belakangnya lagi adalah
laki2 tua berjubah biru, usianya lebih dari setengah abad, kepalanya
mengenakan topi yang bentuknya seperti semangka, mukanya
kurus tepos, matanya bersinar terang, Thay-yang-hiat dikedua
pelipianya menonjol, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia
seorang jago kosen me miliki kekuatan luar da la m, Tangan laki2 tua
bertopi me megang sebatang pipa cangklong panjang, sikapnya
dingin, dengan seksa ma dia mengawasi Kun-gi tanpa bersuara.
Tetap duduk dipunggung kudanya Kun-gi berkata dengan sikap
angkuh:
"Ada apa?"
Salah satu keempat laki2 seraga m hita m bersuara: "Kau siapa
dan mau ke mana ?"
"Siapa aku dan ma u ke mana, peduli apa dengan ka lian ?"
Laki2 yang bicara menarik muka, katanya: "Kau tahu menjurus
ke mana jalan ini?"
"coba katakan, ke mana?"
"Jalan besar ini hanya menuju ke gedung keluarga Go."
"Me mang a ku mau ke te mpat keluarga Go."
Agaknya laki2 tua bertopi tidak sabar lagi, dia mengulap tangan
menghentikan percakapan, kata-nya kepada Kun-gi: " Untuk
keperluan apa tuan pergi ke te mpat keluarga Go?"
Kun-gi tertawa dingin, jawabnya: " Untuk apa aku ke mari?
Kenapa kau tanya aku ma lah?"
"Kalau saudara tidak ingin kena perkara, kuharap le kas putar
balik saja," anca m la ki2 tua ber--topi.
Menegak alis Kun-gi, tatanya: Justeru seba-liknya, keluarga Tong
kalian yang sengaja cari perkara padaku."
Berubah air muka laki2 tua bertopi, katanya berat: "Setelah tahu
siapa yang bertempat tingga l di te mpat ke luarga Go sekarang, tapi
kau masih meluruk datang?"
-o0dw0o-

"Kalau aku takut kena perkara, me mangnya aku berani datang?"


ejek Kun-gi.
"Bocah sombong," ma ki laki2 tua bertopi dengan gusar. Tiba2 dia
berpaling kepada kee mpat la ki2 seraga m hita m, katanya sambil
menuding Ling Kun-gi dengan pipanya: "Siapa diantara kalian yang
berani meringkusnya?"
Dua orang segera tampil ke muka, masing2 me lolos golok di
tangan kanan dan kiri, dengan lang-kah lebar mengha mpiri Kun-gi.
Setelah dekat ke duanya sama2 angkat golok, bentaknya: "Saudara
mau turun dan terima diringkus? Atau ingin ka mi ajar?"
Dengan tenang Kun-gi tetap bercokol di atas kudanya, katanya
tertawa: "Boleh terserah apa ke-hendak kalian-"
Karena Kun-gi tetap duduk di punggung kuda, kedua orang ini
tahu untuk me mbuatnya turun terpaksa harus meluka i kudanya
dulu. Maka tanpa berjanji keduanya lantas me mbabat ke kaki kuda,
mulutpun menghardik: "Bocah, menggelinding turun"
Berkerut alis Kun-gi, bentaknya: "Ada permusuhan apa kudaku
dengan kalian?" Tiba2 ia me-mecut dengan ca mbuk di tangannya,
"tarr", dengan tepat ujung ca mbuknya me mbelit perge langan
tangan laki2 di sebelah kanan- Laki2 itu menjerit keras, goloknya
terlempar jatuh, sambil me megangi tangan dia menjerit2 sembari
berjongkok. Saking kesakitan keringat dingin sampa i ber-ketes2,
terang lukanya tidak ringan-
cambuk Ling Kun-gi ternyata bergerak hidup laksana ular, baru
saja di sebelah kanan me-nungging kesakitan, tahu2 bayangan
cambuk sudah melecut ke sebelah kiri. "Tarr", telak mengenai
pundak laki2 sebelah kiri. orang inipun menjerit kesakitan, goloknya
entah mencelat ke mana, saking kesakitan dia ber-guling2 di tanah.
Kedua temannya gusar, segera mereka me m-buru maju seraya
ber-kaok2, golok terayun terus menyerbu dengan beringas. Tapi
baru saja mereka beberapa langkah di depan kuda, tiba2 terasa
bayangan orang berkelebat, hakikatnya mereka tidak melihat jelas
bagaimana Ling Kun-gi me lompat turun dari punggung kuda, tahu2
orang sudah berdiri di depan mereka.
Selama 300 tahun turun temurun, keluarga Tong malang
me lintang di Kangouw dengan senjata rahasia beracun, tidak sedikit
orange dari golongan hitam dan putih yang menghormat dan
mengikat persahabatan dengan mereka, soalnya juga karena jeri
menghadapi senjata rahasia mereka yang beracun, maka jarang
yang berani cari perkara pada mereka.
orang2 keluarga Tong sendiri juga jarang berkecimpung di dunia
persilatan, oleh karena secara langsung menjadikan mereka t inggi
hati, berpendapat bahwa orang2 Kangouw jeri dan tidak berani cari
perkara pada keluarganya sehingga anak buah merekapun
bertingkah laku kasar dan sombong.
Melihat Ling Kun-gi maju, kedua orang itu-pun tida k banyak
cingcong, serentak golok mere-ka bergerak. sinar biru bersilang
seperti gunting ra ksasa dan me mbacok miring ke tubuh Ling Kun-gi.
Jangan kira mereka hanya kacung keluarga Tong, maklumlah
karena orang2 mereka tiada yang berkecimpung di dunia Kangouw,
daripada iseng, maka mereka menghabiskan waktu untuk melatih
diri. oleh karena itu setiap orang keluarga Tong, memiliki
kepandaian silat yang lumayan- Busu atau guru silat yang biasa
berkelana di Kangouw mung-kin hanya dala m gebrak sudah dapat
dipukul roboh oleh mereka, Tapi hari ini mereka justru menghadapi
Ling Kun-gi, seumpa ma telur me mbentur batu.
Begitu kaki hinggap di tanah, Kun-gi langsung menyongsong dua
larik sinar biru secara bersilang yang menggunting tiba, dia tertawa
lebar, katanya: " Kembali semua keroco tak berguna" mendadak dia
gerakkan kedua tangan, sepuluh jari terbuka, masing2
mencengkeram ke batang golok lawan-
Dengan tangan kosong, ternyata dia berani tangkap golok yang
tajam ma lah berlumu racun- Baru saja kedua laki2 itu melengak.
tahu2 terasa tangan mengencang, golok masing2 sudah terpegang
oleh musuh.
Sudah tentu kejut mereka bukan main, insaf menghadapi jago
kosen, lekas mereka menarik sekuat tenaga. Tak tahunya golok
mereka itu seperti terjepit tanggam raksasa, sedakitpun tak
bergeming.
Kun-gi menyeringa i dingin, dia m2 ia kerahkan Lwe kang, mela lui
batang golok dia salurkan tenaga dala mnya.
Terasa telapak tangan tergetar, mendadak lenganpun menjadi
linu, sudah tentu kedua laki2 itu tak kuasa me mpertahankan
goloknya lagi.
Dengan mudah Kun-gi mera mpas golok kedua lawannya,
mendadak golok terpencar ke kanan-kiri, gagang golok masing2
mengetuk ke arah kedua lawan- cara mengetuk dengan golok
sebetul-nya bukan gerakan tipu apa2, tapi serangan di-lancarkan
oleh Kun-gi, maka perbawanya tentu luar biasa, lain daripada yang
lain-
Dika la kedua laki2 itu melongo kebingungan karena golok
terampas lawan, mendadak lutut te-rasa kesakitan, mulut menjerit,
kontan mereka roboh ke tanah.
Gerakan Ling Kun-gi secara beruntun ini dilakukan dengan cepat
luar biasa, lompat turun dari kudanya sampai merebut golok serta
mengetuk kedua lawan hanya berlangsung dala m sekejap.
sampaipun orang tua bertopi yang berdiri menonton di sana hanya
mengawasi dengan mendelong, tahu2 keempat pe mbantunya sudah
diroboh-kan se muanya, untuk menolong juga tidak se mpat lagi.
Keruan ia kaget bercampur gusar, sungguh tak pernah terpikir
olehnya bahwa musuh yang masih begini muda me miliki kepanda ian
setinggi ini, sepasang matanya yang kelam seperti biji mata burung
hantu mengawasi Kun-gi, bentaknya dengan suara berat: "Ternyata
tuan me mang punya bobot, tak heran berani me luruk ke mari dan
me mbuat onar.."
Seenaknya Kun-gi le mpar kedua golok ra mpasannya, dengan
tertawa congkak dia berkata- "Aku datang me menuhi undangan,
bukan sengaja mau mencari onar, kalau saudara tidak ingin
me mberi pengajaran, lekaslah menya mpaikan laporan, katakan
bahwa aku orang she Ling telah datang."
Mendengar orang datang atas undangan sebetulnya si orang tua
bertopi mau tanya. atas undangan siapa dia ke mari? Tapi serta
mendengar kata2 terakhir yang bernada menantang serta mensindir
se-akan2 dirinya tidak berani me lawannya, air mukanya menjadi
gelap. katanya terkekeh di-ngin: "Bagus seka li, asal hari kau bisa
menga lahkan Lo-hu, nanti pasti akan kulaporkan."
Ling Kun-gi ter-gelak2 lantang, ujarnya: "Bagus, apa yang kau
katakan me mang mencocoki seleraku."
Laki2 tua bertopi mendengus, pipa cangklong dia pindah ke
tangan kiri, tangan kanan t iba2 ter-ayun, telapak tangannya yang
hitam lega m tahu2 menepuk ke dada lawan-.
"Hek-sat-ciang," dia m2 berteriak dala m hati Kun-gi waktu melihat
telapak tangan orang berwarna hitam..
Sudah tentu Kun-gi tida k gentar dan tidak unjuk kele mahan? Dia
kerahkan lwekang di tangan kanan terus dorong ke depan, secara
keras dia sambut pukulan lawan. Terdengar suara keras,
pergelangan tangan Kun-gi tergetar kesemutan, dia tahu pukulan
orang tua bertopi mengandung racun jahat, ma ka lekas dia
merogoh ke kantong menggengga m Pi-tok-cu.
Laki2 tua bertopi juga terhe mpas mundur tiga langkah, darah
bergolak dirongga dadanya, ia terkejut, batinnya "Bocah ini begini
muda, darima na me mperoleh Lwe kang setangguh ini?" Tapi
wajahnya yang kurus tiba2 me ngulum senyum sadis, katanya
mengulap tangan: "Bocah, lekas kau ke m-bali sana"
Ling Kun-gi berdiri tegak sa mbil bertolak pinggang, sahutnya
pura2 keheranan: "Lho, kenapa, apa cayhe kalah?"
"Anak muda," laki2 tua bertopi terkial2, "ingat ba ik2, hari ini pada
tahun depan adalah ulang tahun hari ke matianmu."
Kun gi tertawa tawar, katanya: "Kata2mu sulit kumengerti,
agaknya kau mau bilang bahwa jiwaku takkan bertahan sampai
ma la m ini?"
"Betul, me mang itulah maksudku."
"Aneh," kata Kun-gi dengan me mbadut, " kenapa cayhe
sedikitpun t idak merasakan? Kuha-rap kau lekas melaporkan
kedatanganku?"
Ternyata laki2 bertopi ini adalah cong-koan (kepala rumah
tangga) keluarga Tong yang bergelar Hek -sat-ciang Khing Su-kwi,
biasanya dia pendia m, banyak aka l muslihatnya dan keji.
Terutama Hek-sat-ciang yang dilatihnya amat ganas karena
menggunakan racun khas keluarga Tong sehingga lebih lihay
dibanding Hek-sat-ciang yang biasa di ka langan Kangouw, setiap
lawan yang terkena pukulannya dalam jangka setengah hari jiwanya
pasti melayang kalau tida k diberi obat penawar tunggal buatan
keluarga Tong pula.
Pemuda dihadapannya ini telah mengadu pukulan dengan
dirinya, biasanya racun pasti sudah merembes ketelapak tangan dan
tubuhnya, langsung menerjang jantung, bekerjanya racun juga jauh
le-bih cepat dari luka2 di te mpat lain karena pukulan yang sama.
Tapi pe muda ini tetap segar bugar, sedikitpun tida k menunjukkan
gejala2 keracunan-
Keruan rasa kejut orang tua itujauh lebih besar dibanding
terpukul mundur tiga langkah tadi. Dengan mende lik ia tatap Kun-gi
dalam hati me ngumpat: " Keparat, bocah ini tida k takut racun?"
Mendadak dia manggut2, katanya: "Baiklah, mari biar Lohu
menunjukkan jalan,"- la lu ia ber-anjak ke atas gunung melalui ja lan
yang berian-das papan batu besar2 itu.
Ling Kun-gi tertawa dengan pongah, sambil menarik tali kenda li
kudanya, dia ikut dibelakang orang. Jalan berbatu ini ternyata
lapang dan halus, walau terus menanjak ke atas, tapi orang tidak
merasakan le lah, deretan pohon2 siong dan pek yang sudah tua
berjajar disepanjang jalan menuju ke atas. Tanpa terasa, mereka
tiba dila mping gu-nung.
Disebelah depan adalah sebuah tanah lapang yang luas, cuaca
meski gelap. tapi Kun-gi masih dapat melihat jelas lapangan luas ini
sekelilingnya dipagari batu putih yang berukir, tumbuhan bunga
beraneka warnanya sedang mekar semerbak di se-panjang pagar
batu putih itu.
Disebelah depan sana adalah sebuah pintu gerbang besar dan
tinggi dibangun dari marmer hijau mengkilap. tepat diatas pintu
gerbang terukir beberapa huruf yang berwarna menyolok dari dasar
hijau berbunyi "Puri keluarga Go". Kedua pintu gerbang terpentang
lebar. Di kedua sisi pintu tergantung dua buah lampion besar, di
atas lampion ini bertuliskan huruf TONG, kiranya mereka menetap di
rumah keluarga Go untuk se mentara. Di depan pintu berdiri dua
orang laki2 baju hijau yang menyoreng golok, tegak tanpa bergerak.
tak ubahnya seperti dua patung.
Hek-sat-ciang Khing Su-kwi me mbawa Kun--gi ke tengah
lapangan- tiba2 dia berhenti dan berpaling, katanya dingin:
"Sahabat, tunggulah di sini sebentar, Lohu akan masuk me mberi
laporan- "-Lalu dia me langkah masuk ke pintu gerbang.
Ling Kun-gi menunggu dengan sabar, tak la-ma ke mudian
tampak Khing Su-kwi sudah keluar pula me mbawa seorang laki2
berusia 50-an, alis gombyok tebal, mata seperti burung hantu,
mengenakan jubah panjang warna biru, sikapnya kelihatan angkuh.
Pada saat kedua orang ini muncul, dari kiri kanan pintu gerbang
beruntun keluar pula delapan laki2 bertubuh kekar, berpakaian
ketat, pakai ikat kepala, golok besar yang mereka bawa berkilau
me mancarkan warna biru, semuanya serba biru.
Walau mereka tidak langsung mengepung Ling Kun-gi, tapi sigap
sekali mereka sudah me me ncarkan diri, dari jarak kejauhan mereka
menge lilingi tanah lapang ini. .
Sambil menggendong tangan Kun-gi berdiri di tengah lapangan,
me lirikpun tidak ke arah mereka. La ki2 jubah biru menatap dengan
tajam ke arah Ling Kun-gi, lalu bertanya kepada Khing Su-kwi,
"Bocah inikah yang kau katakan?" Khing Su-kwi me ngiakan
dengan hormat.
Menyipit mata laki2 jubah biru, tanyanya dingin: "Siapa na ma mu?
Untuk apa ke mari?"
Kun-gi tetap berdiri tegak dengan sikap angkuh, dia m saja
seperti tidak mendengar tegur sapa orang.
"Anak muda," laki2 jubah biru menarik mu-ka, "Lohu bertanya
padamu? Kau dengar tidak?"
"Tanya padaku ?" jawab Kun-gi sa mbil me-lirik, "Lebih ba ik kau
sebutkan dulu siapa diri-mu ini?"
Sedikit melenga k laki2 jubah biru, katanya: "Lohu Pa Thian-gi,
kepala congkoan dari keluar-ga Tong di Sujwan-"
Kun-gi tetap menggendong kedua tangan, sikapnya sombong
tidak hiraukan segala adat umumnya hanya mulutnya bersuara
"ooo" saja.
Amarah me mbayang muka Pa Thian-gi katanya: "Sekarang
katakan maksud kedatanganmu.."
"Kalau Pa- congkoan tidak tahu maksud kedatanganku, suruhlah
Kwi-kian jiu Tong-locit ke-luar, dia tahu siapa diriku."
Berkerut alis Pa Thian-gi, katanya: "Jadi saudara mencari cit-ya,
tapi cit-ya sedang keluar."
"Me mangnya dia takut mene mui a ku. Kalau begitu bebaskan
perempuan yang kalian culik itu," kata Kun-gi ketus.
Berjingkrak gusar Pa Thian - gi, bentaknya: "Anak sombong,
jangan kau bertingkah di sini."
Sambil menarik alis Kun-gi balas me mbentak: " orang she Pa,
orang she Ling ini datang menepati undangan, walau nona yang
kalian culik bukan adikku, tapi aku orang she Ling sudah meluruk ke
mari, maka nona itu harus kutolong, lekas suruh Tong cit-ya
me mbebaskan dia."
"Kau bocah ini me mbual apa? Terus terang kuberitahu, cit-ya
tidak di sini, le kas kau enyah saja."
" Kalian berani main culik, aku tidak peduli kalian dari ke luarga
Tong segala."
"Kau tahu ka mi dari keluarga Tong, berani kau ma in tuntut
segala, besar sekali nyalimu."
"Siang hari bolong menculik pere mpuan, me mangnya kalian
sudah lupa undang2 raja?"
Mendelik mata Pa Thian-gi saking gusar, sam-bil mendongak ia
ter-gelak2, katanya: "Bocah ini sungguh angkuh, berarti mencari
setori ke te mpat ini, hayo kalian bekuk dia."
Kata2nya yang terakhir ini me mberi perintah kepada delapan
laki2 seraga m biru yang berpencar di empat penjuru, dengan
langkah enteng dan gesit cepat mereka merubung maju. Mereka
berdiri dengan kedudukan Pat-kwa, beberapa kaki di sekeliling Ling
Kun-gi mereka berhenti, lalu dengan serentak mereka saling geser
kedudukan pula seraya mengeluarkan golok masing2 terus
me mbacok secara serabutan, Kun-gi merasakan sinar biru ber-lapis2
lak-sana gunung menindih dari bergagai arah.
Keruan kejut Kun-gi bukan ma in, dia m2 dia berpikir: "Agaknya
mereka sudah siap menghadapiku, barisan golok ini sungguh lihay
sekali." Otak bekerja tanganpun bergerak, "sret" tahu2 pedangnya
dia lolos, selarik sinar hijau t iba2 mengelilingi tubuhnya menjadi
semca m jaringan cahaya me m-bungkus badan-
Maka terdengarlah suara berdering keras dari kiri kanan, depan
danbelakang, secara berantai senjata beradu keras.
Walau dala m scgebrak dia berhasil me mben-dung delapan golok
lawan, Tapi hati sendiri juga mencelos, maklumlah barisan golok
yang dilakukan delapan orang ini agaknya merupakan barisan
tangguh yang amat dibanggakan oleh ke luarga Tong di Sujwan,
setiap orangnya masing2 me miliki kepandaian tinggi dan
dige mbleng secara khusus.
Begitu barisan golok berke mbang, maka yang kelihatan hanya
cahaya biru kemilau yang simpang siur menyamber kian ke mari,
la ma kela maan se makin ketat dan ganas, sudah tentu Kun-gi terke-
pung dan se makin se mpit ruang geraknya.
Betapapun tinggi ilmu silat Ling Kun-gi dibawah rangsakan sinar
golok lawan yang hebat ini, dia rada terdesak juga, terasa ilmu
pedang sen-diri yang lihay menjadi susah dike mbangkan- Su-dah
tentu dia tidak tahu bahwa yang dihadapinya ini ada lah Pat-kwa-to
tin ( barisan golok Pat-kwa ) ciptaan keluarga Tong di Sujwan,
walau tidak setaraf Lo-han-tin dari Siau-lim-si serta Ngo-heng-kia m--
tin dari Butong-pay, namun perbawanya juga amat mengejutkan,
jarang tokoh2 Bu-lim yang terkepung oleh barisan golok ini ma mpu
lolos dengan hidup,
Maklumlah ke luarga Tong di Sujwan terkenal dengan racun dan
alat2 senjata, bukan saja kedelapan orang ini mahir betul
me ma inkan barisan golok. senjata merekapun dilumuri racun dan
dina makan Thian-lan-hoa-hiat- to (golok langit biru peng luluh
darah), disamping itu merekapun meya-kinkan ilmu senjata rahasia
yang lihay dan banyak raga mnya. jurus terakhir dina makan Pat sian-
hian-siu (de lapan dewa merayakan ulang tahun), yaitu masing2
mende monstrasikan kepandaian ilmu senjata rahasia, delapan
maca m senjata rahasia serentak memberondong ke satu sasaran,
sebelum musuh ro-boh terkapar, serangan tidak akan usa i.
Tujuh kali gebrakan telah berlalu, terasa oleh Kun-gi barisan
golok lawan me libat dirinya sede-mikian kencang, ke mana dirinya
bergerak sinar biru selalu mengikuti gerak langkahnya, dibabat tidak
putus, ditusuk tak tembus, dibacokpun tidak pecah. Lama kela maan
Kun-gi merasa sebal dan ma ngkel ka lau dirinya selalu menjadi
bulan2an musuh, kapan perte mpuran berakhir? Tiba2 pedangnya
berputar, kaki menjejak dan tubuhpun me la mbung ke atas.
Di luar tahunya bahwa kedelapan orang ini dijuluki Tong- bun-
pat-ciang (delapan jago keluarga Tong), ilmu silat masing2 me mang
sangat tinggi, bila musuh melompat ke atas, merekapun turut me-
ngapung ke atas dan golok mereka tetap merangsak secara
bersilang dari delapan penjuru, tubuh musuh tetap menjadi sasaran-
Sejak berkelana di Kangouw, baru perta ma kali ini Ling Kun-gi
benar2 merasakan betapa dahsyat dan berat pertempuran yang
harus dihadap-inya ini. Badan yang terapung
mendadak dia bikin berat dan anjlok dengan cepat dari tangkas,
sekaligus dia hindarkan tabasan delapan golok beracun, begitu kaki
menginjak tanah selicin be lut tubuhnya berputar dan berkisar untuk
menerjang keluar kepungan barisan golok musuh.
Di luar tahunya bahwa kedelapan lawannya juga sudah
gemblengan, ilmu silat dan pikiran mereka boleh dikatakan sudah
bersatu padu, be-kerja serasi dan ketat- Begitu golok me mbacok
tempat kosong, sigap sekali merekapun turun- De liapan orang tetap
pada posisi semula, sedikitpun tida k kacau, delapan larik sinar biru
ke mbali me-nyamber.
congkoan Pa Thian-gi berdiri diundakan dengan air muka
me mbesi kereng. terdengar suaranya membentak: "Anak muda,
sekarang buang pedangmu, masih ada harapan jiwamu akan
hidup,"
Mendengar seruaa congkoan mereka, kedelapan orang itupun
ikut me mbentak^ "Anak muda, congkoan suruh kau me mbuang
pedang, lekas menyerah?"
Terkepung di tengah, Kun-gi menjadi berang, serunya lantang. "
Orang she Pa, soalnya aku tidak ingin melukai orang tanpa sebab,
kau kira barisan golok ini dapat mengurung diriku?" Di tengah
alunan suaranya pedangnya menusuk dengan jurus aneh dan lihay,
tampak se larik sinar le mbayung yang menyilaukan mata tiba2
menya m-ber ke samping terus barputar keluar.Jurus ini adalah
Liong- can- gi- ya (naga bertempur di sawah), merupakan sa lah
satu jurus dari delapan jurus ilmu pedang warisan keluarganya.
Gurunya pernah berpesan, tiga macam ilmu silat warisan keluarga-
nya tidak boleh sembarangan dipertunjukkan sela-ma menge mbara
di Kangouw, Tapi sekarang dia di-paksa oleh keadaan de mi
me mpertahankan diri.
Hanya sekejap saja, terdengar suara berde-ring keras
danpanjang secara beruntun, kedelapan laki2 baju biru hanya
merasa pandangan kabur dan silau oleh sa mberan sinar terang,
tahu2 pergelangan tangan tergetar lemas dan linu, Thian-lan--hoa-
hiat-to buyar, hampir dalam waktu yang sama golok mereka
terpental lepas dan berjatuhan mengeluarkan suara kerontangan di
atas lantai batu.
Sudah tentu kedelapan lelaki itu melenggong dan me matung
sesaat oleh serangan lihay dan tak terduga ini, tiada yang tahu cara
bagaimana golok mereka bisa terlepas sehingga mereka mende lik
saja mengawasi Ling Kun-gi.
Hebat perubahan air muka Pa Thian-gi, mendadak dia tepuk
kedua tangan, serunya: " Kalian tunggu apa lagi?"- kata2 ini berarti
aba2 pula ter-hadap kedelapan laki2 baju biru itu.
Dengan ter-sipu2 kedelapan orang itu serempak me lompat jauh
ke belakang, delapan tangan serentak terayun pula, bintik2 biru
ke milau yang tak terhitung jumlahnya sama me luncur ke arah Kun-
gi berdiri.
Tapi saat itu juga Kun-gi tahu2 sudah berada didepan Pa Thian-
gi, ujung pedang yang ke-milau telah menganca m tenggorokannya,
katanya dingin: " orang she Pa, berani kau bergerak segera kutusuk
tenggorokanmu."
Bahwa Pa Thian-gi bisa diangkat sebagai kepala congkoan
keluarga Tong, sudah tentu dia me miliki kepandaian silat yang
dapat diandaikan, tapi sekarang hakikatnya dia tidak melihat
sesuatu dan Ling Kun-gi tahu2 sudah berada di depan dan
menganca m tenggorokan-dengan pedang. Keruan wajahnya
seketika pucat berkeringat, tapi tidak berani bergerak sedikitpun.
Hek-sat-ciang Khing su-kwi berdiri di sa mping Pa Thian-gi, orang
ini lebih licik dan naka l, melihat gelagat jelek tanpa bersuara
mendadak telapa k tangannya menepuk ke iga Ling Kun-gi. Se-
rangan ini dilakukan da la m jarak dekat, dilancarkan secara
mendadak serta berusaha menolong atasan- nyalagi, sudah tentu
lihay luar biasa.
Seperti tumbuh mata dibelakang kepalanya, tanpa menoleh Kun-
gi geraki tangan kanan, dengan jurus Ji-jiu-po-llong (tangan kosong
me mbe kuk naga) cepat laksana kilat, tahu2 pergelangan tangan
Khing Su-kwi sudah terpegang terus dikipatkan ke belakang.
Tiada kee mpatan sedikitpun bagi Khing Su-kwi untuk
me mpertahankan diri, seperti orang2an ter-buat dari damen,
tubuhnya terlempar jauh ke be lakang, terbanting di tengah
lapangan- Untung ke delapan orang yang menimpuk senjata rahasia
itu sudah menghentikan serangannya karena bayangan Kun-gi
sudah lenyap secara mendadak. kalau tidak tentu badan Khing Su-
kwi yang menjadi sasaran- Gusar serta malu, tapi Pa Thian-gi tak
berani bergerak. dengan ganas ia me mbentak: "Apa keingin-anmu
saudara?"
"Tunjukkan jalan" sahut Kun-gi angkuh. Ge mobyos keringat Pa
Thian-gi, tanyanya: "Kau ...... ingin berte mu dengan siapa?"
"Sudah tentu majikanmu," sahut Kun-gi ketus.
"Kau .." gugup dan gelisah suara Pa Thian-gi.
Tanpa me mberi kese mpatan orang bicara, tiba2 Kun-gi tarik
pedangnya, katanya dingin, " orang she Pa, me mbaliklah pelan2 dan
masuk ke da la m, kuharap kau tahu diri, dihadapan orang she Ling-
menggunakan pedang atau tidak. sama saja, sedikit kau mengunjuk
gerakan mencuriga kan, selangkah-pun jangan harap kau bisa lari."
Kalau di wa ktu biasa tentu Pa Thian-gi t idak percaya, tapi kini
kata2 ini diucapkan dari mulut Ling Kun-gi, mau tidak mau dia harus
percaya dan betul2 tidak berani banyak tingkah.
Maklumlah kepanda ian silat anak muda ini sungguh a mat tinggi
dan sukar diukur, berani ber-kata tentu orang berani mela ksanakan
ancamannya. Memangnya manusia mana di kolong langit ini yang
berani me mpertaruhkan jiwa sendiri dengan maut? Tanpa bersuara
pelan2 Pa Thian-gi me mbalik tubuh, kini teng gorokan ada di depan,
tapi masih serasa seperti ada pedang yang tidak kelihatan
menganca m di lehernya.
Untung pedang tidak terasa mengancam punggungnya, maka
dengan leluasa ia berjalan masuk. ia tahu orang suka memberi
muka kepada dirinya.
Sebenarnya Ling Kun-gi tidak pandang sebelah mata pada
congkoan keluarga Tong ini. Se-baliknya bagi Pa Thian-gi, meski
dirinya digusur masuk. Tapi bagi pandangan orang lain se-olah2 Pa
Thian-gi menunjuk ja lan dan mengiringi Kun -gi masuk ke dala m.
Sudah tentu hal ini jauh lebih terhormat daripada dianca m dengan
ujung pedang.
Begitulah dia jalan di depan, sementara pe-dang Ling Kun-gi
sudah dimasukkan kedala m sarungnya, langkahnya mantap
mengikut i orang ke-dala m.
Di depanpintu terjaga pula oleh empat orang laki2 baju hitam
bergolok, melihat Pa-Congkoan masuk mengiringi ta mu, sudah tentu
mereka tida k berani merintangi. Masuk pintu ke dua terlihatlah
cahaya lampu terang benderang di ruang tengah, diantara undakan
di serambi luar sana, berjajar empat perempuan yang bersenjata
Thian-lan-tok-kia m. Usia keempat pere mpuan ini rata2 sudah lebih
40, masing2 me mbawa kantong kulit di kiri kanan pinggang, tangan
kiri semuanya mengenakan sarung tangan yang ter-buat dari kulit
menjangan-
Kerai bambu menjuntai menutupi pintu besar, terdengar suara
serak suara seorang perem-puan tua berkata dari balik kerai sana:
"Pa-cong-koan, kudengar katanya ada orang ma mpu me mecahkan
Pat-kwa-to-tin kita?"
Bergegas Pa- congkoan beranjak tiga langkah serta membungkuk
di undakan, serunya: "Hamba me mang ke mari untuk me mberi
laporan kepada Lohujin ( nyonya tua ), orang ini she Ling, dia minta
bertemu dengan Lohujin."
Melengak Kun-gi mendengar ucapan ini, batin-nya: "Yang kucari
adalah Kwi-kian-jiu Tong cit-ya, kapan aku pernah bilang hendak
mene mu nyonya tua ini?"
Terdengar perempuan tua di da la m berkata pula: "Mana
orangnya?"
Pa Thian-gi menjura pula, sahutnya: " Lapor Hujin, hamba sudah
me mbawanya ke mari."
Terdengar perempuan tua mendengus, jengek-nya: "Kalian
sudah kecundang bukan?"
Keringat dingin ber-ketes2 me mbasahi badan, Pa Thian-gi
bungka m t idak berani bersuara.
"Baiklah," suara perempuan tua lebih sabar dan lamban, "Bawa
dia masuk"
Pa Thian-gi mengia kan, cepat dia membalik, wajahnya tampak
mena mpilkan senyuman sinis, katanya^ "Saudara Ling, mari masuk
bersama ku."- La lu dia mendahului masuk ke dala m.
Ling Kun-gi tida k bersuara, dia ikuti orang naik ke undakan, dua
orang perempuan baju hitam maju dari kiri kanan menarik kerai ke
atas dan me mberi jalan kepada mereka.
Empat la mplon besar tergantung di empat penjuru ruang
pendopo besar dan luas ini, tepat di tengah tergantung pula sebuah
la mpu kaca yang berbentuk menyerupai sekuntum bunga teratai,
maka keadaan ruang pendopo terang benderang se-perti siang hari.
Sebuah kursi terbuat dari kayu cendana yang terukir indah
berduduk dengan angkernya seorang perempuan tua berbaju
kuning, wajahnya putih ber-sih, tapi kaku dingin, rambutnya sudah
ubanan di-ikat kain hitam, tepat ditengah ikal ra mbutnya ter-tancap
sebentuk mainan batu Giok yang berbentuk persis dengan
kelelawar, tangan kanan memegang sebatang tongkat berkepala
burung, usianya antara 60. Dua gadis baju hijau pelayan pribadinya
berdiri mengapit di kiri- kanan, pedang pendek tergan-tung di
pinggang masing2.
Tepat dibelakang kursi berdiri seorang nyonya muda yang cantik,
sikapnya anggun, kalau dia bu-kan menantu si pere mpuan tua,
mungkin puterinya.
Begitu me masuki ruang pendopo, langkah Pa- congkoan
dipercepat dengan sedikit munduk2, se-runya: "Hamba
menya mpaikan se mbah ba kti kepada Lohujin dan Siauhujin-"
"Pa- congkoan tidak usah banyak adat," pe-rempuan tua
mengebaskan lengan baju.
Mulut bicara, namun biji matanya yang berkilat menatap Ling
Kun-gi, lalu tanyanya dingin: "Pa- congkoan, anak muda inikah yang
mau mene muiku?"
Pa Thian-gi mengiakan sa mbil me mba lik badan, katanya pada
Kun-gi: "Saudara Ling bilang mau mene mui Lohujin, nah, beliau
inilah Lohujin-"
Pelan2 Kun-gi melangkah maju, dia me mberi hormat dan
berkata: "cayhe Ling Kun-gi, me m-beri hormat kepada Lohujin-"
"Anak muda," ujar Tong-lohujin, "katanya di luar tadi kau
berhasil menghancurkan Pat-kwa-to-tin ka mi, sungguh hebat kau
ini." Nadanya dingin, jelas hatinya mendongkol dan kurang senang,
Kun-gi tertawa, katanya. "Maaf Lohujin, demi me mpertahankan
diri terpaksa Cayhe melakukan apa saja yang bisa dilakukan, tapi
dalam hal ini a ku cukup menaruh be las kasihan, tiada seorang-pun
yang kulukai."
Sedikit berubah rona muka Tong-lohujin, "Ka lau begitu kau telah
bermurah hati, bagaimana kalau kau tidak menaruh belas kasihan?
Kau bunuh mereka se mua?" Menegak alis Ling Kun-gi, katanya
dingin:
"Mereka tidak dapat me mbedakan salah dan benar, mengepung
orang dan turun tangan dengan keji, umpama cayhe tidak
mena matkan jiwa mereka, sedikitnya pasti kukutungi lengan mereka
yang menyerang dengan senjata beracun."
"Anak muda," semprot Tong-lohujin, "takabur betul kata2 mu,
jangan kau me mandang rendah ter-hadap anggota keluarga Tong
kami."
"Kurang tepat ucapan Lohujin," ujar Kun-gi, "dala m kalangan
Kangouw hukum rimba sering terjadi, siapa le mah dia gugur dan si
kuat sering me ninda k yang le mah. cuma ke luarga Tong ka lian cukup
terkenal, seharusnya kalian bertindak menurut aturan-"
"Dala m hal apa ka mi tida k beraturan?" bentak Tong lohujin
gusar.
"Kalau Lohujin pegang aturan, coba tanya kepada Pa- congkoan,
cayhe datang atas undangan, tapi orang kalian main cegat dan
menyerang, kalau cayhe tidak ma mpu me mpertahankan diri, sejak
tadi sudah terkapar ma mpus di tengah hutan sana."
"Pa-congkoan," seru Tong-lohujin, "apa betul ucapannya?"
"Menurut laporan Khing-hucongkoan," de mikian Pa Thian-gi
menje laskan, "orang ini naik gunung mencari setori, karena sukar
dilayani, terpaksa hamba suruh mereka menghadapinya dengan
barisan golok."
"Kau tidak tanya maksud kedatangannya?" desak Tong- lohujin.
" Ha mba, sudah tanya, dia menuduh kita menculik pere mpuan
baik2, dia menuntut supaya kita me mbebaskan pere mpuan itu,"
demikian Pa-cong-koan menerangkan.
"Betulkah kalian menculik pere mpuan baik2?" desak Tong-lohujin
pula.
Gugup sikap Pa Thian-gi, sahutnya: "Harap Lohujin maklum,
mana ka mi berani melakukan perbuatan serendah ini?"
Sorot mata Tong-lohujin beralih ke arah Ling Kun-gi, tanyanya:
"Anak muda, kau minta bertemu dengan Losin (aku), maksudmu
hendak me-nuntut pe mbebasan pere mpuan itu?"
"Terus terang cayhe tidak tahu bahwa Lohujin ada di sini, jadi
tiada maksudku ingin mene mui Lohujin," sahut Ling Kun-gi terus
terang.
"Lalu kau cari siapa."
"cayhe ingin mene mui Kwi-kian-jiu Tong cit-ya. ."
"Jadi Lo-cit yang menculik pere mpuan itu?"
"Betul, dia menculik seorang pere mpuan, dia kira pere mpuan itu
adalah adikku, maka dia tan-tang aku datang ke Pat-kong-san ini,"
lalu dari sakunya Kun-gi, keluarkan surat undangan itu katanya
mena mbahkan: "Ada surat ini sebagai bukti harap Lohujin
me meriksanya . "
Seorang pelayan perempuan segera maju me-nerima surat itu
terus dipersembahkan kepada Lo-hujin.
Setelah me mbaca surat itu, Tong-hujin me ngernyitkan kening,
tanyanya^
"Kau tahu siapakah pere mpuan yang diculik Lo cit?"
"cayhe tidak punya adik, siapa pere mpuan yang dia culik, cayhe
tidak tahu, tapi dia menculik lantaran cayhe, terpaksa kudatang
ke mari menuntut pe mbebasannya."
Tong-lohujin manggut2, katanya: "Memang betul ucapanmu, lalu
barang apa yang kau bawa?"
"Hal ini cayhe sendiri juga kurang jelas, ke marin tengah hari
waktu cayhe lewat perbatasan, Tong cit- yadan anak buahnya
mencegat serta menuntut barang yang kubawa, sampai sekarang
cayhe belum tahu apa tujuannya, mencegat dan ingin mera mpas
barangku?"
Tampak marah mimik wajah Tong-lohujin, katanya kepada Pa
Thian-gi: "Pa- congkoan, apa saja yang kau urus sela ma ini? orang
datang minta bertemu dengan secara hormat, kalau Lo-cit
me lakukan kesalahan, kenapa kau be la perbuatannya? Sungguh
me ma lukan dan merendahkan derajat ke-luarga Tong kita."
Ter-sipu2 Pa Thian-gi munduk2, serunya:
"Ha mba me mang pantas mati, harap Lohujin suka me mberi
ampun-"
"Jangan banyak bicara lagi, di mana Lo cit?"
"cit-ya tidak ke mari . . . ^ "
Tong-lohujin mengetuk tongkat di atas lantai, serunya murka:
"Sekarang juga kalian pergi mencarinya dan suruh dia segera
ke mari. Keluarga Tong dari Sujwan sa mpai main culik dan peras
segala, betapa memalukan kalau sa mpai ha l ini tersiar di ka langan
Kangouw? Hayo lekas cari dia ke mari."
Tak berani ayal, cepat Pa Thian-gi berlari keluar dengan langkah
ter-gopoh2.
"Anak muda," kata Tong-lohujin ke mudian, "Kau sudah dengar,
orang2 keluarga Tong tidak seluruhnya jelek seperti dugaanmu.
Besok sebelum tengah hari kau boleh ke mari lagi, walau perempuan
itu bukan adikmu, Los in akan serahkan dia pada mu dan kau boleh
menge mba likan dia keru-mahnya, kau terima tidak?"
Ling Kun-gi menjura, serunya: "Lohujin ber-pesan, cayhe terima
dengan senang hati".
"Baik, besok sebelum tengah hari, kau boleh ke mari mene mui
Los in pula."
"Kalau begitu, cayhe mohon diri."
Setelah meninggalkan puri milik keluarga Go, segera Kun-gi
ke mbangkan ilmu ringan tubuh langsung ke mbali ke kota, setelah
me lompati te m-bok kota, dia menyelundup melalui tempat sunyi
terus berlenggang dijalan raya. Malam be lum larut, maka suasana
masih cukup rama i, setelah pu-tar kayun dijalan raya sebentar, Kun
gi me mbelok ke sebuah jalan, di sana ada sebuah hotel ber-nama
Siu-jun, keadaan di sini tenang dan tenteram di tengah kerama ian
kota.
Belum lagi Kun-gi me masuki pinto, seorang pelayan sudah
menya mbutnya munduk2 menyilakan masuk. Dengan langkah lebar
Ling Kun-gi masuk ke situ, pelayan lain me mbawanya ke sebuah
kamar kelas satu, servicenya memang cukup me mu-askan-
Setelah me mbersihkan badan dan makan ala kadarnya, Ling Kun-
gi menanggalkan pedang di atas ranjang dan duduk menyandang
secangkir teh, pikir-annya mengenang ke mbali pengala man seja k
mulai dari Kayhong waktu menguntit si baju biru, yang kini diketahui
bernama Dian-kongcu serta kejadian sepanjang penguntitan ini.
Yang terang banyak orang dari berbagai kelompok juga mengikut i
je-jaknya.
Terkenang olehnya Un Hoan-kun, si jelita yang ramah dan
anggun- Diapun tak bisa melupa-kan gadis baju cokelat yang lincah
dan berbudi halus, dia hanya tahu gadis menggiurkan ini she Pui.
Dia terkenang pada Un Hoan-kun, tapi juga rindu pada gadis baju
cokelat. Terasa kedua no-na ini bak sekuntum bunga, yang satu
merah dan yang lain kuning, sama molek dan indah, sukar dipilih
mana lebih cantik. Laki2 umumnya suka mengagumi paras cantik,
apalagi Ling Kun-gi, pemuda yang baru menanjak dewasa, pe muda
yang mula i menda mbakan jenjang asmara, Lama sekali dia
termenung sa mbil mengawasi langit2 ka mar, tanpa sadar ia
mengulum senyum manis.
Bagi Kun-gi baru pertama kali ini dia me-ngecap manisnya cinta,
belum lagi dia rasakan getirnya permainan cinta itu. Lama kela maan
dia merasa badan penat dan kepala sedikit berat, tanpa ganti
pakaian dia terus merebahkan diri di atas ranjang, tapi sekian
la manya tetap tidak bisa pulas. Tanpa terasa dari kejauhan
terdengar kentongan kedua.
Se-konyong2 didengarnya di luar jendela ada suara keresekan.
Suara lambaian pakaian yang me luncur turun serta terdengar suara
kaki hinggap di tanah, lalu mende kati jendela. orang ini jelas
menahan napas, cukup la ma dia berdiri di luar jendela.
Sudah tentu semua ini tidak dapat mengelabui Kun-gi, tapi dia
ingin tahu apa ma ksud ke-datangan orang "pejalan ma la m" ini,
maka dengan sabar dia menunggu dan pura2 tidak tahu.
Setelah menunggu sebentar dan tida k terdengar suara apa2 di
dalam ka mar, pejalan ma la m di luar itu agaknya tidak sabar lagi,
dari luar jendela dia berkata dingin: "Ling Kun-gi, ke luarlah kau"
Kata2nya tidak keras, umpama Kun-gi sudah tidur pulas, pasti
juga mendengar suara ini. Makulumlah setiap insan persilatan walau
dalam keadaan tidur nyenyak. dia tetap berlaku waspada, re-
aksinyapun sigap dan cepat, apalagi Ling Kun-gi me miliki
kepandaian tinggi, seharusnya sudah tahu akan kedatangannya ini.
Bahwa dia dia m menunggu di luar, maksudnya juga supaya Ling
Kun-gi me mburu ke luar, karena Kun-gi t idak menunjuk reaksi apa2,
terpaksa dia bersuara.
Karena orang telah menantangnya keluar, tak bisa Kun-gi
berpeluk tangan, mulutnya segera menghardik tertahan: "Siapa?"
Sekali lompat turtun ranjang, sekenanya dia mengenakan mantel
sembari meraih pedang, sekali dorong jende la, ba-gai burung
tubuhnya melayang keluar jende la. Waktu kakinya menginjak tanah
di luar pe karangan, tampak di atas wuwungan didepan sana berdiri
sesosok bayangan kecil kurus.
Melihat sikap orang yang menantang Kun-gi menjadi gusar,
sekali enjot kaki, badannya melen-ting ke atap rumah, sekali tutul
lagi dia me lesat ke arah bayangan itu.
Begitu Kun-gi menubruk datang, bayangan itupun cepat
me layang pergi, beruntun beberapa kali lompatan, pesat sekali
tubuhnya sudah melayang kewuwungan rumah yang la in, dengan
jalan main lompat di wuwungan rumah dia terus kabur laksana
terbang ke arah barat.
Karena orang tunjuk nama dan menyuruhnya keluar, sudah tentu
Kun-gi tidak mau lepas orang pergi, segera dia kerahkan tenaga,
dan mengejar dengan kencang.
Kejar mengejar terjadi, bayangan mereka me-lesat di tengah
udara. cepat sekali mereka sudah berada di tempat belukar yang
sepi di luar kota sebelah barat. Ginkang orang itu me mang tinggi,
tapi dibanding Ling Kun-gi masih kalah setingkat, maka dala m kejar
mengejar ini jarak kedua piha k sema kin dekat.. setiba di luar kota
jarak antara kedua orang hanya tingga l tiga tombak saja.
Pada saat berlari kencang itu, bayangan kecil kurus di depan
mendadak me mbalik tubuh, tangan terayun dan mulut menghardik:
"Awas serangan- Setitik bayangan langsung menerjang ke muka
Ling Kun-gi.
Tidak me ngira baka l diserang, cepat Ling Kun--gi mengerem
langkah seraya ulur tangan menangkap senjata rahasia itu, kiranya
hanya sebutir batu. Begitu dirinya berhenti, bayangan itupun sudah
ber-henti serta berpaling .Jarak kedua orang kini hanya setomba k
lebih.
Ling Kun-gi mengawasi dengan tajam, dilihat-nya orang
mengenakan topi beludru, wajahnya kuning, perawakannya kecil
kurus, pakaiannya ketat serba hitam, pedang panjang digendong
dipunggung-nya, muka ke lihatan jelek tapi sepasang matanya
sedemikian bening, cerah dan bersinar.
Di ka la dia mengawasi orang, orangpun mengawasi dirinya. Kun-
gi merasa belum pernah meli-hat orang ini. Keadaan sekeliling sunyi
senyap. tidak terlihat adanya tanda2 perangkap di sini? Dia m2 ia
heran, tak tahan Kun-gi bertanya: "Tuan me mancingku ke mari,
entah ada petunjuk apa?"
"Kau inikah Ling Kun-gi?" rendah suara si baju hitam itu.
"Betul," sahut Kun-gi, "entah siapakah tuan ini?"
"Tak perlu kau tanya siapa aku," dingin nada orang itu.
"Baiklah, sekarang coba jelaskan maksudmu?" Pe lan2 orang itu
menurunkan pedang dari punggungnya, katanya: "Kudengar kau
mengagulkan kepandaianmu yang tinggi dan konon tiada bandingan
di kolong langit ini."
Kun-gi me lenggong, katanya tertawa tawar: "Mungkin saudara
salah dengar, selamanya belum pernah aku mengagulkan ilmu
silatku, apa lagi tiada bandingan segala."
"Aku tidak peduli kau berani bilang de mikian atau tidak,
kupancing kau ke mari, ingin kujajal ke-pandaianmu, bukankah kau
me mbawa pedang pu-sa ka? Nah, marilah kita bertanding ilmu
pedang."
sekilas Ling Kun-gi pandang pedang pusaka ditangan kirinya,
katanya: "Apa perlu?"
" Kecua li kau t idak berani atau menyerah kalah kepadaku."
Menyipit mata Kun-gi, katanya tegas: "Pedang adalah senjata
tajam, kita belum saling kenal, tidak pernah bermusuhan lagi,
kenapa harus bertanding pedang?"
"Aku ingin me nentukan siapa lebih unggul di antara kita, setelah
kau berada di sini, mau atau tidak harus bertanding juga."
"Tuan dihasut orang atau atas keinginanmu sendiri."
"Tiada orang menghasutku, atas keinginanku . . ."
"Kalau de mikian silakan tuan ke mbali, maaf aku tidak bisa
me layani," habis berkata Kun-gi terus putar tubuh hendak pergi.
"Ling Kun-gi," bentak orang itu, " berdirilah ditempat mu"
"Tuan masih ada urusan la in?"
Sambil mengacung pedang orang itu berkata: "Kau mau pergi,
temanku ini yang keberatan."
Gusar Kun-gi tapi dia tetap bersabar, kata-nya: "Agaknya tuan
mahir ilmu pedang, tentunya kaupun tahu belajar ilmu pedang
bukan untuk pa mer atau buat adu kekuatan segala, tanpa sebab
cayhe tidak akan se mbarangan menggunakan pedang kau boleh
ke mbali saja."
"Tida k bisa," seru orang itu.
"Sejak cayhe belajar pedang, selamanya me m-batasi diri dan
tidak suka se mbarangan bergebrak dengan orang lain."
"Aku tidak tahu apakah itu larangan atau kebiasaan, dua
ke mungkinan kau hadapi sekarang, setelah itu baru kau boleh
pergi."
Bersinar mata Ling Kun-gi, tanyanya: "Dua ke mungkinan apa?"
"Kau mengalahkan pedangku ini atau buang pedangmu serta
menyerah ka lah."
Semakin terang sinar mata Ling Kun-gi, katanya kalem: "Kuharap
kau tahu diri, jangan menyudutkan orang sede mikian rupa."
Berkedip orang itu, katanya tertawa dingin: "Kucari kau untuk
bertanding pedang, jangan bilang ma in paksa segala."
"cayhe tadi sudah bilang tida k akan se mbarang menggunakan
pedang."
"Kalau kau tidak mau bertanding, boleh kau lempar dan
tanggalkan pedangmu di sini, kalau tidak mau menyerah, nah layani
diriku, kita tentukan siapa lebih unggul siapa asor. Kukira murid
Hoan-jiuji-lay tentu bukan kantong nasi be laka."
Me mancar terang sinar mata Ling Kun-gi, mendadak sikapnya
berubah kereng, katanya tertawa lantang: "Saudara menantang
tanpa alasan, demi me mpertahankan nama baik perguruan,
terpaksa kulayani tantanganmu." dengan tangan kanan segera dia
lolos pedangnya.
"Kau sudah siap?" tanya orang itu dengan tertawa senang.
"Tunggu sebentar," seru Kun-gi.
Kun-gi, pikirnya: " ilmu pedang apakah ini? Begini licin dan
ganas, agaknya aku terlalu pandang enteng padanya."
Sedikit menarik napas, gaya pedangnya tiba2 mengikuti gerak
lawan, pedangnya ditekan menindih pedang lawan. Sebat sekali
lawan ke mbali menarik pedangnya, tapi setelah pedang tertarik ke
belakang, tiba2 cahaya gemerlapan, sekaligus ia menusuk pula lima
kali. Kelima tusukan pedang ini boleh dikatakan dilancarkan dala m
satu gerakan, cepatnya tak terukur sehingga ta mpaknya hanya
sekali tusuk saja,
Kun-gi bergerak mengikuti gaya pedang musuh, beruntun iapUn
balas menyerang lima kali, malah kelima jurus serangan ba lasan ini
serba ragam arahnya, enteng dan cekatan, kedua pedang saling
samber dan mene mpel, tapi t idak sa mpa i menerbitkan suara.
Agaknya si baju hitam tidak menduga dibawah serangan gencar
lima ka li tusukannya tadi Ling Kun-gi masih ma mpu melancarkan
serangan balasan malah, keruan dia tertegun, serta merta dia
terdesak mundur dua langkah.
Dengan dongkol dia menggerung tertahan, tiba2 ia menubruk
maju pula, beruntun secara berantai dia lancarkan delapan kali
serangan. Begitu hebat serangan ini sehingga mata orang serasa
silau. Naga2 nya dia sudah keluarkan seluruh ke ma mpuan ilmu
pedangnya.
Sayang hari ini dia kebentur Ling Kun-gi. Anak muda itu tertawa,
katanya kalem: "Hati2lah kau." Mendadak pedang dia pindah ke
tangan kiri, tubuh bergerak laksana angin berkisar ke kiri terus
mendesak maju, mendadak sinar pedangnya berke mbang, lalu
menerjang miring laksana sinar perak. "creng" benturan keras
me me kak telinga, kedelapan jurus serangan si baju hitam seketika
sirna tanpa bekas. Karena tekanan tenaga benturan yang keras itu,
pedang di tangannya itu tak kuasa dipegang lagi dan terlepas
terbang ke belakang, menyusul terdengar jeritan kaget melengking
tajam.
Sejak tadi si baju hita m bicara dengan suara rendah dingin
sehingga sukar dibedakan dia laki2 atau perempuan, kali ini dia
menjerit melengking tanpa terduga2 dan ke luar dengan suara
aslinya, suara nyaring merdu ini terang keluar dari kerong-kongan
seorang gadis.
Begitu mendengar teriakan nyaring ini, lekas Kun-gi tarik pedang
dan melompat mundur, dengan taja m ia mengawasi orang.
Topi yang dipakai orang itu tadi sudah ditabasnya jatuh, maka
tertampaklah ra mbutnya yang panjang hita m legam terurai
dipundak. Le kas dia je mput pedangnya, dengan mendelik gusar dia
tatap Ling Kun-gi sekejap terus tinggal lari pergi.
Kun gi tida k kira bahwa lawannya pere mpuan, sesaat dia berdiri
me longo. Pada saat dia berdiri menjublek inilah, tiba2 dilihatnya tiga
titik sinar ungu me lesat tiba dengan cepat menerjang ke dadanya.
Waktu ketiga tit ik ungu itu ha mpir mengenai dada, gaya luncur yang
semula lurus itu mendadak berpencar, satu menyerang teng
gorokan, dua yang lain menerjang ke dua sisi pundak.
Betapa tajam pandangan mata Ling Kun-gi, dengan jelas dia
me lihat titik ungu timpukan pere mpuan baju hita m ini adalah t iga
ekor kumbang kecil warna ungu, lekas dia ayun pedang menabas
ketiga ekor kumbang itu. "Ting, ting, ting," be-runtun ketiga e kor
kumbang kena dipukulnya jatuh.
Mendengar suara "ting-ting" itu, ke mbali Kun-gi me lenggong,
pikirnya "Ternyata ketiga kumbang ungu ini hanyalah senjata
rahasia, tadi kukira kumbang asli."
Segera dia menje mput ketiga kumbang ungu itu, ternyata
buatannya memang hidup dan mirip sekali dengan kumbang asli,
cuma warnanya ungu, kelihatan segar dan hidup, di ujung mulutnya
terpasang sebatang jarum baja ha lus sebesar bulu kerbau,
warnanya kemilau biru, terang jarum le mbut ini beracun-
Pada saat dia berjongkok menga mbil ketiga kumbang ungu itu,
didapatinya pula secomot ra mbut hitam, le kas dia menga mbilnya
pula, terasa lembut dan halus, warnanya legam mengkilap. Iapat2
terendus bau harum, jelas ini ada lah ra mbut seorang gadis je lita.
Siapakah dia? Menggengga m potongan ra mbut itu, sementara
tangan lain menimang2 ketiga kumbang buatan, Ling Kun-gi ber-
tanya2 dalam hati: "Dari buatan ketiga kumbang yang begini
baiknya, terang perempuan ituprang dari keluarga Tong diSujwan-"
-seketika pula dia terbayang akan perempuan jelita yang berdiri di
belakang Tong-lohujin mala m tadi.
Jadi dia nyonya muda ke luarga Tong. "Hm, pasti dia, kalau tidak
buat apa dia pakai kedok segala mencari setori kepadaku? Ta k
heran dia begitu getol menantang diriku bertanding? Mungkin
karena diriku telah mengalahkan Pat-kwa-to-tin sehingga orang-
keluarga Tong penasaran, ma ka secara dia m2 dia me luruk ke mari
me mbuat perhitungan.
Besok siang aku harus mene mui Tong-lohujin pula di puri
keluarga Go, kenapa rambut dan ketiga kumbang buatan ini tida k
langsung kuke mbalikan kepadanya?" Setelah ambil keputusan, Kun-
gi simpan kedua barang itu ke da la m kantong terus. lari ke mba li ke
Hotel..
Mala m itu tak terjadi apa2 pula, Kun-gi tidur dengan nyenyak.
waktu dia mendusin hari sudah terang benderang.. Begitu bangun
segera dia bungkus ketiga kumbang buatan dan ra mbut itu dengan
kertas, lalu buka pintu me manggil pelayan. Setelah me mbersihkan
badan serta sarapan pagi, melihat hari sudah cukup siang, cepat ia
bebenah dan mau keluar bayar rekening untuk berangkat.
Tiba2 didengarnya langkah orang mendekati dari luar,
didengarnya pelayan berkata sambil tertawa ramah: "Mungkin Ling-
ya yang tuan cari mene mpati ka mar ini." - Lalu muncul dua orang di
depan ka marnya.
Dengan seri tawa lebar, pelayan berlari masuk serta berkata:
"Tuan inilah Ling-ya adanya? di luar ada seorang congkoan she Pa
hendak mencari tuan."
Pa Thian-gi yang ada diluar lantas melangkah masuk, katanya
bersoja: "Atas perintah Lohujin, aku ke mari menyambut Ling-ya ."
Kun-gi mengangguk. sapanya: "Kiranya Pa- congkoan, maaf,
cayhe tidak se mpat menyambut."
Pa Thian-gi mengawasi pelayan- Pelayan ini cukup tahu diri,
lekas dia mengundurkan diri.
Dengan berseri Pa Thian-gi segera bersoja, katanya: "Kejadian
semala m hanya lantaran salah paham, orang she Pa banyak berlaku
kasar, atas perintah Lohujin disuruh ke mari untuk menyatakan
penyesalan dan minta maaf."
Kun-gi tahu kalau orang ini licik dan banyak akalnya, diam2 dia
waspada, katanya dengan tertawa, "Pa- congkoan tidak usah
menyesal, cayhe sendiri juga bersalah"
"Sejak pagi2 tadi Lohujin suruh ke mari menyambut Ling-ya,
sayang Ling-ya belum bangun, maka kutunggu di luar, kini
kendaraan sudah tersedia, kalau Ling-ya tiada urusan la in, sila kan
berangkat."
"Baiklah, mari berangkat," ujar Kun-gi.
Tanpa sungkan2 lagi, segera dia mendahului melangkah keluar.
Seperti melayani majikan sendiri saja, dengan laku hormat Pa
Thian-gi mengikut i di bela kangnya.
Di ruang depan, Kun-gi merogoh kantong hendak bayar rekening
hotel, tapi Pa Thian-gi lantas me mburu maju, katanya: "Rekening
Ling ya sudah ka mi bayar lunas."
"Ah, mana boleh begitu?" kata Kun-gi.
"Ai, urusan sekecil ini, Ling-ya tidak usah sungkan, kami diutus
menya mbut ke mari, itu berarti Ling-ya dipandang sebagai tamu
keluarga Tong, mana ada tamu yang harus membayar rekening
hotelnya sendiri."
Hal ini sungguh di luar dugaan Ling Kun-gi, tingkah laku Pa-
congkoan sekarang jauh berubah dari sikapnya se mala m, ini betul2
me mbuatnya heran dan ragu. Tapi wajahnya tetap tenang, katanya:
"Kalau begitu Lohujin terlalu baik padaku."
"Terus terang Ling-ya , biasanya Lohujin jarang me muji
seseorang, tapi terhadap Ling-ya beliau sa-ngat ketarik, maka pagi2
kami sudah disuruh ke mari menya mbut Ling-ya," merande k
sebentar, nadanya lantas berubah, sambungnya: "Bicara
sesungguhnya, usia Ling-ya masih begini muda, jangankan ilmu silat
me mbuat orang she Pa tunduk lahir batin, bahkan sikap dan
perbawa Ling-ya juga me mbuat ka mi kagum betul2." Agaknya dia
berusaha menjilat Kun-gi.
Sudah tentu hal ini juga dirasakan oleh Kun-gi, cuma dia tidak
tahu untuk apa dan kenapa orang sampai merendah diri menjilat
sedemikian rupa? Maka dengan tertawa tawar dia berkata: "Terlalu
baik penila ian Pa- congkoan terhadap diriku."
Pa Thian-gi jadi kikuk, katanya ter-sipu2: "orang she Pa bicara
sejujurnya, bicara soal semala m Ling-ya sudah menang, tapi tidak
bersikap congka k dan takabur, kalau orang la in tentu menganca m
tenggorokanku dengan pedang untuk menunjuk jalan, tapi Ling-ya
cukup bija ksana dan percaya pada kami, jelek2 orang she Pa ini
adalah Congkoan ke luarga Tong yang disegani, ka lau sa mpai harus
menunjuk ja lan dengan anca man pedang di punggung, hidup setua
ini dika langan Kangouw aku juga punya sedikit na ma, bukankah
habis pa morku ini? Tapi Ling-ya telah me mberi muka dan
me mpertahankan gengsiku, sungguh orang she Pa merasa
bersyukur dan berterima kasih." Maklumlah, insan persilatan
umumnya me mang suka mengejar na ma, apa yang dikatakan Pa
Thian-gi me mang beralasan.
Sudah tentu lahirnya saja dia merangka i kata2 halus, bahwa dia
menjilat sede mikian rupa tentu masih ada udang diba lik batu.
Diluar pintu dua orang Busu dari keluarga Tong menuntun dua
ekor kuda, melihat Pa- congkoan keluar, lekas mereka maju
mende kat. Setelah Ling Kun-gi mence mplak ke punggung kuda baru
Pa Thian-gi naik kuda yang lain, lalu kedua Busu tadipun ikut naik
kuda mereka sendiri.
Di atas kudanya Pa Thian-gi me mberi hormat, katanya: " orang
she Pa menunjuk jalan bagi Ling-ya ." - Lalu dia mendahului bedal
kudanya. Kun-gi me ngikut di bela kangnya, disusul kedua busu itu.
Mereka langsung menuju ke Pa-kong-san. Kira2 setanakan nasi,
mereka tiba di bawah Pa-kong-san, tampak di luar hutan berbaris
delapan laki2 seragam hita m, melihat Pa- congkoan datang,
serentak mereka me mberi hormat.
Di atas kudanya Pa Thian-gi me mbalas hormat pula, katanya
tertawa: "Sebagai tamu, silakan Ling-ya berjalan lebih dulu."
"Pa-congkoan jangan sungkan, kau saja yang menunjuk ja lan,"
ujar Kun-gi.
" Ling-ya adalah ta mu, betapapun orang she Pa tida k berani
lancang."
Kun-gi tidak banyak bicara lagi, segera dia bedal kudanya ke atas
gunung, di bawah iringan Pa Thian-gi, cepat sekali mereka sudah
tiba di depan puri ke luarga Go.
Wakil congkoan Khing Su-kwi sudah menunggu di depan pintu,
segera dia suruh seorang busu disa mpingnya masuk me mberi
laporan, dua busu maju me megang kenda li kuda terus di tuntun ke
belakang.
Dengan tertawa lebar Khing su-kwi maju me-nya mbut: "Sejak
tadi ka mi ditugaskan menya mbut di sini, Ling ya tentu sudah capai,
lekas silakan masuk."
Hanya semala m saja, sikap orang2 keluarga Tong sudah berubah
seratus delapan puluh derajat, hal ini betul2 di luar dugaan Ling
Kun-gi.
Waktu mereka sa mpai di pintu kedua, tampak me nyongsong
keluar seorang pe muda berjubah sutera biru, sa mbil tertawa dia
menyapa: "Apakah ini saudara Ling? Tong Siau-khing terla mbat
menya mbut, harap dimaafkan."
Pemuda jubah biru ini berusia 25-an, wajahnya cakap. sorot
matanya tajam, kedua alisnya tebal kelihatan kereng dan
berwibawa, tapi juga ra mah dan le mbut.
Lekas Pa Thian-gi berkata: " Ling-ya, inilah Siaucengcu ( majikan
muda ) ka mi."
Lekas Kun-gi me mberi hormat, katanya: "Kiranya Tong
Siaucengcu, sejak la ma cayhe kagum, sela mat bertemu, sela mat
bertemu"
"Se mala m Siaute mendengar cerita ibunda bahwa Ling-heng
amat perkasa dan berhasil menghancurkan Pat-kwa-to-tin ka mi,
sungguh ingin rasanya cepat berhadapan dengan Ling-heng,"
tampaknya dia bicara jujur dan sesungguhnya, tidak ber-pura2.
Kun-gi unjuk rasa menyesal, katanya: "Harap. Tong-siaucengcu
suka me maafkan ke kasaran cayhe semala m."
Tong Siau-khing tertawa, katanya: "Kenapa Ling-heng bilang
demikian? Syukur se ma la m Ling-heng menaruh belas kasihan, yang
terang pihak keluarga Tong ka mi yang ma in keroyok, kesalahan
tetap berada pada pihak ka mi."
Terasa oleh Ling Kun-gi majikan muda dari ke luarga Tong ini
berwatak ramah, gagah dan sopan santun, watak ini amat
mencocoki tabiatnya sendiri, maka katanya: "Ah. semakin tak
tenang rasa hatiku mendengar ucapan Tong-s iau cengcu ini."
"Sekali kenal sudah seperti sahabat lama, kalau Ling-heng sudi,
bagaimana kalau kita saling me mbahasakan saudara saja?"
"Siaute turut saja atas kehendak Tong-heng," sahut Kun-gi.
"Dapat bersaudara dengan Ling-heng, sungguh menyenangkan
sekali"
"Tong-heng. terlalu me muji.."
Sembari bicara mereka terus menuju ke da la m, Tong Siau-khing
me mbawa Ling Kun-gi ke ruang be lakang.
Tampak Tong-lohujin duduk di sebuah kursi bersula m, dua
pelayan berdiri di bela kang sedang me mijit punggungnya. Nyonya
muda yang semala m berdiri di belakangnya kini tidak kelihatan,
mungkin karena kejadian se mala m, ma ka dia merasa rikuh tida k
berani unjuk diri.
Setelah Kun-gi merasa cocok dan sa ling me mbahasakan saudara
dengan Tong Siau-khing, maka soal ketiga ekor kumbang dan
potongan rambut yang semula henda k dikeluarkan menjadi batal.
Tong Siau-khing melangkah maju me mbungkuk hormat dan
berseru. "Bu, Ling-heng sudah t iba."
Lekas Kun-gi me mberi hormat juga, katanya: "Wanpwe
menghadap Pek bo."
Sambil tertawa Tong-lohujin angkat sebelah tangannya, katanya:
"Silakan duduk Ling-kongcu."
"Bu," kata Tong simi-khing, "anak baru bertemu lantas merasa
cocok dengan Ling-heng, maka sudah setuju untuk saling
me mbahasakan saudara."
Tong-lohujin me lirik sekejap kepada anaknya dengan wajah
welas asih, katanya. "Begini cepat kau merebutnya, kalian sama2
muda, me mang sepantasnya kalau mencocoki satu sama yang lain."
Setelah Kun-gi dan Tong Siau-khing duduk. air tehpun disuguhkan-
Sambil tersenyum le mbut Tong-lohujin mengawasi Kun-gi, katanya:
"Kejadian se mala m hanya karena salah paham, me mang tepat apa
yang sering dikatakan orang2 Kangouw, kalau tidak berkelahi tidak
akan kenal. Syukurlah kini Ling siangkong sudah me njadi sahabat
baik anak Khing, demikian juga Piaumoay Ling-s iang-kong sudah
diserahkan padaku dan kuterima menjadi puteri angkatku pula."
Heran Kun-gi, tanyanya: "Piaumoay Wanpwe?" dala m hati dia
bertanya2: "Kapan aku punya Piaumoay?"
"Begini persoalannya," Tong-lohujin menje laskan, "belakangan ini
semua orang sa ma2 mengunt it seorang misterius, konon dia
me mbawa sebuah kotak kecil, di da la mnya mungkin ada suatu
mestika, Sampaipun orang2 Siau-lim dan keluarga Un di Ling-la m
juga menguntit secara diam2, entah dari siapa Lo-cit mendapat
berita ini, dia kira Ling-siangkong adalah orang misterius itu, maka
dia salah menahan Piaumoay mu. Soal ini se mala m sudah kudengar
dari Piaumoay mu, kini kita terhitung se keluarga, Ling-s iangkong
tidak perlu merahasiakan diri pula, lekas kau cuci muka, ingin
kulihat wajah aslimu."
Tong siau-khing melenga k. serunya: "Jadi Ling-heng merias
mukanya, kenapa anak sedikit-pun tidak bisa me mbedakannya?"
Tong-lohujin tertawa., katanya: "Ling-siang-kong adalah murid
kesayangan Hoan-jiu-ji-lay, puluhan tahun Hoan-jiu-ji-lay ma lang
me lintang di Kangouw, tapi beberapa orangkah yang pernah melihat
wajah aslinya?"
Sudah tentu Kun-gi belum tahu siapa Piau-moay yang dimaksud
oleh Tong-lohujin? Tapi peduli siapa dia, kini dirinya sudah mengikat
persaudaraan, sementara Tong-lohujin menerimanya sebagai
keponakan pula, setelah kedok mukanya diketahui orang, de mi
kehormatan dirinya pula, apa boleh buat, tidak enak dia menolak.
katanya, "Perintah Pekbo t idak berani Wanpwe me nolaknya." Dari
kantong bajunya dia keluarkan sebutir obat pencuci muka, setelah
dire mas dan di-gosok2 ditelapak tangan terus diusap ke muka, lalu
dikeluarkan pula sepotong handuk kecil untuk me mbersihkan muka.
Wajahnya yang semula berwarna lega m, setelah dicuci dengan
obat, seketika Tong-lohujin, Tong Siau-khing serta kedua pelayan
terbeliak matanya.
Sungguh tak pernah mere ka bayangkan Ling Kun-gi yang
me miliki ilmu silat begini tinggi ternyata adalah pemuda ca kap
ganteng tak terhingga. Bukan saja bagus, juga le mah seperti
pemuda yang tidak panda i ma in silat.
Sebetulnya Tong Siau-khing sudah terhitung cakap. tapi sekarang
dia merasa kalah dibanding Kun-gi. Serunya ter-gelak2: " Ling-heng,
cakap benar kau ini."
Seperti mengawasi menantunya saja, semakin dipandang
semakin riang hati Tong-lohujin, dia manggut2 senang dan berkata
dengan tersenyum puas: "Ling-siangkong betul2 seorang pe muda
yang serba unggul dibanding pe muda2 umumnya," Lalu dia
berpaling serta mena mbahkan: "Jun-lan, Ling-s iangkong sudah
datang, lekas kalian suruh Toa-slocia danJi-slocia keluar."
Pelayan bernama Jun-lan mengiakan dan berlari pergi.
Kemudian Tong- lohujin bertanya: "Berapa usia Ling-siangkong
tahun ini?"
"Tahun ini Wanpwe genap 21," sahut Kun-gi sa mbil me mbungkuk
hormat.
Berseri girang wajah Tong-lohujin, sekilas dia me lirik kepada
Tong Siau-khing, katanya: " Ling-siangkong lebih muda tiga tahun
daripada mu, lebih tua dua tahun daripada adikmu." Lalu kata2nya
di-tujukan kepada Ling Kun-gi: " Kudengar ibumu juga menghilang,
apakah di culik oleh komplotan cin-cu-ling?"
"Wanpwe sendiri belum tahu, tapi Suhu suruh Wanpwe terjun ke
Kangouw, tujuannya me mang mengejar jejak cin-cu-ling, dari sini
dapatlah Wanpwe simpulkan kalau peristiwa hilangnya ibu pasti ada
sangkut pautnya dengan komplotan ini."
Tong-lohujin manggut2, katanya: "Ling-s iang-kong masih punya
keluarga la in di ruma h?"
"Tiada lagi, Wanpwe masih kecil ayah sudah meninggal, ibu yang
me mbesarkan Wanpwe."
Tong-lohujin manggut2 dan tak bicara lagi. Terdengar langkah
le mbut mendatangi, dari belakang pintu angin teruar bau harum
semerbak. la lu muncul dua gadis jelita yang me mpesonakan.
Yang sebelah kanan berperawakan t inggi se ma mpai,
mengenakan paka ian warna ungu ketat, wajahnya halus pipinya
bersemu merah, sepasang matanya nan bening ke milau
me mancarkan sinar tajam ke arah Ling Kun gi.
Seorang lagi bertubuh agak kecil ramping, mengenakan gaun
panjang warna cokelat muda dengan baju panjang warna hijau
pupus, dia bukan lain adalah nona she Pui, gadis jenaka yang lincah
itu.
Kun-gi hanya tahu nona nakal ini she Pui, na manya siapa tidak
tahu, yang terang dia suka mengenakan pakaian warna coklat.
Kejadian hanya sekejap belaka, begitu melihat Kun-gi, wajah
nona Pui yang molek seketika tertawa lebar bak bunga mekar, dia
me mburu maju seringan angin dan serunya riang: "Toa-piauko,
ternyata kau telah datang, kemarin anak buah Tong -citya menculik
aku dan minta keterangan tentang diri Piauko, me mangnya aku
tidak tahu ke mana kau sela ma ini? Se mala m Tong citya
me mbawa ku ke mari dan aku mengangkat Lohujin ini sebagai ibu
angkatku."- Mulutnya nerocos dengan nyaring dan cepat, sembari
bicara berulang kali dia mengedip kepada Ling Kun-gi, maksudnya
sudah tentu minta Kun-gi mengakui dirinya sebagai Piau-moay.
Baru sekarang Kun-gi mengerti bahwa perempuan yang diculik
Tong-cit-ya adalah gadis she Pui ini. Nona yang belum diketahui
namanya kini ternyata menjadi adiknya, sungguh brutal dan lucu.
Sudah tentu Kun-gi me lihat kedipan mata si nona dan tahu
maksudnya. Wajah nan cerah bak bunga me kar di musim se mi,
walau kelihatan malu2, tapi ta mpaknya minta dikasihani dan
mengandung permohonan yang sangat. Maka dengan tertawa
segera dia berdiri, katanya: "Surat Tong-cit-ya kemarin mengatakan
bahwa dia menculik adikku dan supaya aku menukarnya dengan
barang yang kubawa, semula a ku tidak mengerti siapa adikku yang
dia maksud? Kiranya kau yang tidak mau pulang, buat apa selalu
mengikut i diriku? Anak perempuan tidak baik ke luyuran di Kang-
ouw." Kata2nya me mang persis nada seorang kaka k me mberi
nasihat kepada adiknya.
Nona Pui tertawa riang, tawa yang manis lalu mele let lidah,
katanya: "Memangnya aku ini anak kecil, kenapa tidak boleh main2
di Kangouw? Banyak orang Kangouw yang menguntit mu sepanjang
jalan, aku hanya ingin tahu barang apa sebetulnya yang kau bawa
itu."
Sampa i di sini, dia mengeluarkan sebuah kotak perak gepeng,
lalu diacungkan di depan Ling Kun-gi, katanya sambil ce kikikan:
"inilah oh tiap-piau (piau kupu2) pemberian ibu, bila ditimpukan bisa
pentang sayap dan terbang seperti kupu2 asli, inilah salah satu dari
tiga maca m senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihay, cici
Bun-khing biasanya menggunakan ci-hong-piau (piau kumbang
ungu) .... "
Merah muka si nona baju ungu, serunya gu-gup: "Adik Ping,
jangan usil kau."
Tergerak hati Kun-gi me ndengar "cici Bun-khing biasanya
menggunakan ci-hong-piau", batin-nya: Jadi nona yang
menantangku bertanding pedang se mala m adalah nona baju ungu
ini."
Berkedip2 mata nona Pui lalu mengerling ke arah nona baju
ungu, katanya: "Piauko, hampir saja aku lupa, inilah Bun-khing cici."
lalu dia me mbalik dan berkata kepada nona baju ungu: "Inilah Toa-
piaukoku, Ling Kun-gi." Lekas Kun-gi me mberikan hormat kepada
nona Tong.
cerah wajah Tong-Lohujin, katanya: "Bun-khing, Ling-s iangkong
sudah mengikat saudara dengan engkohmu, dia bukan orang luar
lagi, kau-pun harus me manggil Ling-toako padanya."
Sekilas mata TongBun-Khing melirik. katanya malu2: "Ling-
toako"- Se mala m dia begitu keras kepala, dingin dan me nantang.
Tapi sekarang sikapnya ma lu2, suara panggilannya merdu dan
le mbut.
Me mandangi Ling Kun-gi lalu mengawasi puteri sendiri, saking
senangnya Tong-lohujin tertawa lebar, katanya: "Bun-khing, kenapa
kau ini? Biasanya kau tidak takut langit tidak gentar bumi, seperti
kuda liar yang tidak terkendali, Ling-toako kan bukan orang luar
lagi, kenapa harus ma lu2 segala?"
Nona Pui tertawa geli, katanya, "Bu, asal kaupasang tali kendali
pada diri cici pasti dia t idak a kan binal dan liar lagi "
Sudah tentu Tong Bun- khing tahu ke mana tujuan kata2 ini,
seketika dia merengut sambil menuding. "Adik Ping, kau berani
menggoda ku?" -Segera ia hendak meng-kili2 ketiak nona Pui.
cepat nona Pui menyingkir ke belakang Ling Kun-gi, katanya
cekikikan: "Aku toh bermaksud baik, kuda yang bina l harus diikat
dengan kendali yang kokoh, apakah perlu aku bantu mencarikan
seutas tali?" dia se mbunyi di bela kang Kun-gi, se mbari bicara jarinya
menuding ana k muda itu, mukanya unjuk mimik lucu dan me lelet
lidah sega la.
Malu dan gugup juga Tong Bun-khing, serunya membanting kaki:
"Me mangnya aku seperti kau, buka mulut "Piauko", tutup mulut
"Piauko" tiada henti2nya, mesra sekali."
Nona Pui bertolak pinggang, serunya sambil me mbusungkan
dada: "Memang dia Piaukoku, apa salahnya aku memanggil dia
Piauko? Nah, dengar-kan aku me manggilnya lagi. Piauko, Piauko
....."
"Piaumoay," tukas Kun-gi sa mbil mengerut kening "sebesar ini
kau masih bertingkah seperti kanak2? Me mangnya kau tida k malu
ditertawakan Tong-pekbo?"
Nona Pui mencibir, katanya bersungut: "lbu justeru tidak akan
menertawakan aku. Me mangnya kau saja yang suka ngome l."
Sementara itu dua pelayan sudah menyiapkan sebuah meja
perjamuan- Tong Siau-khing lantas berdiri, katanya: "Bu, perjamuan
sudah siap. marilah kita makan bersama."
Tong-lohujin tertawa, ujarnya: "Ling-siangkong adalah ta mu, kau
harus mengundangnya lebih dulu." Lalu dia berpesan kepada
pelayan di sa mpingnya: "Ling-siangkong bukan orang luar, kau
panggil nyonya muda keluar."
seorang pelayan lantas masuk ke bela kang.
Tak la ma ke mudian nyonya muda atau isteri Tong Siau-khing pun
keluar.
"Silakan Ling-heng," kata Tong Siau-khing.
"Mana aku berani, silakan Pe k-bo dulu," sahut Kun-gi.
Dengan ramah Tong-lohujin berkata: "Di sini meski ka mi hanya
menumpang, tapi juga terhitung tuan rumah, Ling- siangkong
silakan, tak usah sungkan-sungkan-"
"Toa-piauko," timbrung nona Pui, "hari ini kau betul2 seorang
tamu agung yang serba komplit." -Mulut bicara sementara matanya
mengerling ke arah Tong Bun-khing.
Merah wajah Tong Bun-khing, tapi hatinya senang dan mesra.
Setelah basa-basi ala kadarnya, akhirnya Tong-lohujin duduk pa ling
atas, Ling Kun-gi duduk di tempat tamu, selanjutnya beruntun Tong
Siau khing suami isteri, lalu kedua nona jelita itu. Dua pelayan
me layani mereka ma kan minum.
Tiba2 nona Pui rebut poci arak sambil berdiri, katanya: "Bu,
kuaturkan secawan padamu serta kuaturkan selamat pula.". Dia
habiskan secangkir arak.
Pelayan kemba li mengisi cangkir mereka, nona Pui tidak lantas
duduk. ia angkat cangkir dan acungkan ke arah Tong Siau-khing
suami isteri, katanya:
"Toako, Toaso, Siaumoay juga aturkan secangkir kepada kalian,"
sekali tenggak dia habiskan pula secangkir.
Dia tetap tidak mau duduk. setelah pelayan mengisi pula
cangkirnya, dia tertawa kepada Kun-gi, katanya: "Toa-piauko, kau
tahu aku tidak bisa minum arak. Tapi dala m perja muan ini, usiaku
paling muda, seharusnya satu persatu kuaturkan arak kepada kalian
semua, tapi paling banyak aku hanya sanggup minum tiga cangkir,
terpaksa kuaturkan secangkir terakhir ini kepada Toa-piauko
bersama Bun-khing cici saja." Segera ia acungkan cangkir kepada
mereka berdua terus ditenggaknya habis.
Tong-lohujin mengawasi Kun-gi lalu berpaling kepada puterinya,
kedua muda-mudi me mang pasangan setimpal kurnia Thian. Karena
hati senang, tak henti2nya dia a mbil lauk-pauk dan diangsurkan ke
mangkuk Kun-gi. Tong Siau-khing sua mi-isteri saling pandang,
keduanya tersenyum penuh arti.
Biasanya Tong Bun-khing lincah dan suka bergerak. naka l lagi,
entah kenapa hari ini dia pendiam dan malu2, tapi sering matanya
me lirik Kun-gi.
Sejam ke mudian perja muan ini telah usai, boleh dikatakan tuan
rumah dan ta mu sa ma2 senang dan puas. Setelah kenyang
langsung Kun-gi mohon diri.
"Toa-piauko," kata nona Pui, "akupun ingin pergi"
"Piaumoay," ujar Kun-gi "Kau sudah punya ibu, tinggal saja
beberapa hari lagi, aku ada urusan penting."
"Ling-siangkong juga tidak usah ter-gesa2" kata Tong-lohujin, "
urusan yang hendak kau kerjakan sudah kusuruh Lo-cit bantu
mengawasi, sele kasnya akan datang berita."
"Adik Ping, kau tidak boleh pergi," kata Tong Bun-khing.
Nona Pui me mbisikinya: "Yang benar kau melarang dia pergi
bukan?"
Malu dan gugup Tong Bun-khing, Serunya: "Eh, minta diajar kau"
tangannya segera meng-kili2 ketia k orang.
Nona Pui berjingkra k geli sa mbil cekikikan, serunya: "cici yang
baik, a mpunilah a ku."
Lalu Kun-gi berkata kepada Tong-lohujin: "Wanpwe betul2 ada
urusan, tak bisa la ma2 di sini."
"Kalau Ling-siangkong me ma ksa, Lo-sin tak enak menahanmu
lagi," lalu dia berpaling kepada pelayan, katanya berpesan: "Pergilah
kau a mbil pedangku itu"
cepat pelayan itu berlari masuk. sekejap saja dia sudah keluar
pula me mbawa sebatang pedang kuno dan dipersembahkan kepada
Lohujin-
Setelah me megang pedang berkatalah Tong-lohujin: "Tiada apa2
yang bisa kuberikan, biarlah pedang ini kuhadiahkan kepada Ling
siangkong."
Kun-gi tahu bahwa pedang ini barang mestika, belum lagi Tong-
lohujin bicara habis, lekas dia menyela, "Begini besar pemberian
Pekbo, Wanpwe mana berani menerimanya?"
"Kau sudah bersaudara dengan Siau-khing, Piaumoaymu juga
kuangkat menjadi puteriku, Lo-sin jadi terhitung orang tua mu,
pedang ini kuberikan sebagai hadiah pertemuan ini, lekaslah kau
menerima nya."
"Me mangnya kenapa kau Piauko", timbrung nona Pui, "kalau kau
tidak terima, ada orang tidak senang dan gelisah hatinya, apalagi
maksud baik ibu masa kau tolak mentah2."
" Ling-siangkong," ujar Tong- lohujin mendesak. "ka lau kau tidak
menerima nya berarti kau tidak me mberi muka kepadaku,"
Nona Pui segera ambil pedang dari tangan Tong-lohujin dan
disisipkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya lirih: "ibu nanti marah,
Toa-piauko, le kas kau aturkan terima kasih kepada ibu."
Didesak sede mikian rupa, terpaksa Kun-gi menerimanya, ia
menjura, katanya sungguh2: "Terpaksa Wanpwe terima hadiah
Pekbo ini."
Berseri wajah Tong lohujin, katanya manggut2: "Ya, beginikan
baik." entah sengaja atau ti-dal dia berpaling kepada puterinya,
katanya pula: "pedang ini dulu dibeli oleh ayah almarhum dengan
harga tinggi dari luar perbatasan, waktu itu usiaku. baru genap
setahun, menurut adat istiadat, anak2 yang genap setahun harus
dirayakan secara meriah. Hari itu, dihadapanku penuh berbagai
barang, ada pupur, gincu, pakaian, mainan dan perhiasan, ada
pedang, panah dan lain2, aku diberi kesempatan untuk me milih satu
diantaranya, tak terduga aku hanya menga mbil pedang pende k ini,
ayah almarhum waktu itu bilang anak sekecil ini sudah suka main
pedang, biarlah pedang ini ke lak menjadi mas kawinnya setelah
dewasa. Sejak itu, pedang ini sudah puluhan tahun mendampingi
aku."
Sambil melirik Tong Bun-khing, nona Pui tertawa, katanya. "o,
kiranya pedang ini mas kawin ibu di waktu muda."
Jengah wajah Tong Bun-khing, dia tida k berkata, cuma matanya
me lotot kepada nona Pui.
Kembali Kun-gi minta diri. Mendengar Kun-gi henda k pergi,
merah mata Tong Bun-khing, sakapnya yang malu2 tadi lenyap. kini
berganti rasa berat untuk berpisah.
Tong-lohujin manggut2, katanya kepada Tong Siau-khing: "Nak.
bersama adikmu antarkan Ling -siangkong dan budak nakal ini
berangkat."
Nona Pui maju kehadapan Tong-lohujin dan me mberi se mbah
sujut, katanya: "Bu, anak pergi, harap engkau orang tua jaga diri
baik2."
"Nak setiba di rumah, jangan lupa sampaikan sala mku kepada
ibumu," pesan Tong-lohujin.
"Terima kasih Bu," kata nona Pui.
"Dija lan kau harus dangar petunjuk Piauko, jangan turuti adat
sendiri, aku tahu kau sudah biasa disayang dan aleman, belum
tentu mau dengar petunjuk Piaukomu. Sepanjang jalan ini banyak
kaum persilatan yang berlalu lalang, kukira lebih ba ik Piau-komu
mengantarmu pulang lebih dulu."
Nona Pui manggut2, bersama Ling Kun-gi mereka keluar diantar
Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing. Pa Thian-gi sudah
menyiapkan dua e kor kuda.
Sambil berja lan keluar Tong Siau-khing bertanya: "Entah kapan
kita baka l berkumpul lagi?"
"Setelah urusan selesai, pasti aku pergi keSujwan menjenguk
kalian," kata Kun-gi.. Urusan sudah sejauh ini, Tong Bun- khing
me lepaskan rasa malu lagi, segera dia me nimbrung. "Ling -toako,
sebutkan saja tanggalnya, kapan kau akan ke rumah ka mi?"
Berpikir sebentar baru Kun- gi me mutuskan, "Paling cepat tiga
bulan, paling la mbat setengah tahun."
"Wah, setengah tahun apa tidak terlalu la ma," kata Tong Siau-
khing.
"Ling toako," sela Tong Bun.khing. "kukira tiga bulan sudah
cukup la ma, hari ini bulan e mpat tanggal dua be las, jadi tanggal dua
belas bulan tujuh ka mi menunggu kedatanganmu." La lu dia tanya
kepada nona Pui "Dan kau adik Ping, kapan kau juga ke rumahku?"
"Setelah aku pulang dan minta izin pada ibu, segera aku
menyusul ka lian," sahut nona Ping.
Kun-gi berdua segera cempla k ke punggung kuda, katanya:
"Saudara Tong, nona Tong, selamat tinggal." La lu dia me mberi
salam pula kepada Pa Thian-gi dan Khing Su-kwi: "Pa-congkoan,
Khing-hucongkoan, sa mpai bertemu."
Ter-sipu2 Pa Thian-gi berdua me mbalas hormat, serunya: " Ling-
ya, hati2lah dijalan, ka mi tida k mengantar."
Kun-gi bedal kudanya berlari kencang turun gunung, nona Pui
mengikut inya sambil mela mba i tangan ke bela kang.
Berlinang air mata Tong Bun-khing, iapun mela mbaikan sapu
tangan, terlaknya: "Ling-toako, tiga bulan lagi kau harus datang ... .
. .." padahal kuda sudah lari jauh,
tapi Tong Bun-khing masih berdiri me longo dengan dua ja lur air
mata me mbasahi pipi.
"Dik, hayolah masuk." kata Tong siau-khing dengan tertawa,
"jangan kuatir urusanmu serahkan padaku, tanggung beres."
Merah muka Tong Bun- Khing, katanya: "Aku tak tahu apa yang
Toako ma ksudkan?" lalu dia berlari masuk lebih dulu.
ooooooooooo
Sekejap saja kuda Ling Kun-gi sudah sa mpa i dijalan raya. "Nona
mau ke mana?" tanyanya berpaling ke bela kang.
Nona Pui me mbedal kudanya dan berjalan sejajar, katanya
tertawa geli: "Toa-piauko, dengan siapa kau bicara?"
"Sudah tentu dengan kau."
"Ya, setelah meningga ikan mereka, kau lantas tidak anggap aku
sebagai Piaumoay lagi."
"Kalau a kupunya adik selincah dan secantik kau, tentu bukan
ma in senang hatiku. cuma sayang aku punya adik yang tidak
diketahui na manya."
"Hah, jadi kau mengore k keteranganku, Tidak akan kuberitahu."
"Me mangnya pantas seorang kaka k tida k tahu na ma adiknya?"
"Kau terka sendiri saja."
"Na ma orang masa kah boleh diterka segala.."
"Tak mau terka ya sudahlah, jangan harap kuberitahu."
Berpikir sejenak Kun-gi berkata: "Na ma anak perempuan
biasanya pakai Hong, Lan, sian, Ho dan maca m2 lagi ....."
"Se mua itu bukan na maku," tukas nona Pui. "Aku belum habis
bicara, kau menimbrung saja."
"Baiklah, teruskan."
"Nona secantik kau ini, bak sekuntum bunga sehalus batu jade,
adalah ja mak kalau me miliki na ma yang indah pula."
Girang hati nona Pui karena dirinya dipuji matanya yang besar
ber-kedip2, katanya cekikikan: "Barusan sudah ada satu yang telah
kau sebut."
"Tunggu sebentar, apa yang kukatakan tadi?
Ling Kun-gi mengingat2 ke mba li, "tadi aku bilang bak bunga (Ji-
hoa) dan seperti jade (Ji-giok), apakah satu diantaranya?"
Nona Pui manggut2 sa mbil gigit bibir.
"Kudengar nona Tong me manggilmu adik Ping, cantik le mbut dan
lincah bak bunga dan seperti batu jade, lala ditambah satu huruf
Ping lagi ......... mendadak bersinar matanya, serunya tertawa: "Ji-
ping, betul tida k?"
Merah muka nona Pui, serunya kaget dan senang: "Bagaima na
kau bisa menebaknya?"
"Soalnya nama yang serasi dan cocok dengan huruf Ping hanya
huruf Ji saja.jadi kau bernama Pui Ji-ping. Nona Pui, sebetulnya kau
mau ke mana?" tanya Kun-gi.
"He, kau tida k me manggilku Piaumoay lagi?"
"Aku bicara dengan sungguh2."
"Me mangnya me manggil Piaumoay lantas tida k sungguh2?"
katanya sedih, matapun merah dan ha mpir meneteskan air mata.
sepatah kata salah diucapkan menimbulkan salah paham orang,
sudah tentu Kun-gi jadi gugup, lekas dia berkata sambil unjuk tawa:
"Tanpa sengaja kata2ku menyinggung perasaanmu, kenapa lantas
keki? Kutanya kau mau ke mana, kan berma ksud ba ik juga?"
"Peduli kan aku mau pergi ke mana?"
"Tong-lohujin sudah berpesan, aku disuruh me ngantarmu
pulang."
Monyong mulut Pui Ji-ping, jengeknya: "Memangnya pesan
mertua, sudah tentu kau harus me matuhinya."
"Apa katamu?" seru Kun-gi me lenggong bingung.
"Tida k apa2," ucap Pui Ji-ping dengan cekikikan pula, "anggaplah
kau tidak mendengar"
"Jadi kau mau pulang t idak?" -
"Se mula ingin menengok ibu, tapi se karang tidak. Aku ingin ikut
kau."
"Ikut a ku? Mana boleh"
"Kenapa tidak boleh? Kau menguntit si mata satu menyelidiki
barang yang dibawanya, aku juga mau ikut."
"Tida k boleh, nona belia seperti kau tidak boleh ke luyuran di
Kangouw yang penuh bahaya, dua kali kejadian telah kau ala mi
me mangnya belum kapok."
"Soalnya aku tidak siaga, anak buah Tong citya juga kurobohkan
semua."
"Piaumoay yang baik, kau pulang saja, kalau kau anggap aku
sebagai Piauko, kau harus turut nasihatku."
"Kenapa aku tidak boleh ikut kau?"
"Kau anak pere mpuan .... "
"Aku tahu kau sudah punya si dia, mana aku ini kau taruh dalam
hati? Mertua me mang lebih sayang kepada me nantu? Kau takut
berjalan dengan aku, kuatir diketahui oleh dia?"
"Kau ini me mbua l apa?" seru Kun-gi gugup dan ma lu.
Pui Ji-ping tertawa geli, katanya: "Memang-nya salah? Kenapa
aku tidak boleh ikut? Begini saja, besok aku akan menya mar jadi
laki2, kan beres?" Apa boleh buat, Kun-gi ma nggut2.
Pui Ji-ping berjingkra k senang, serunya: "Toa--piauko, kau
sungguh baik,"
Setiba di Siu sian, Pui Ji-ping lantas beli paka ian laki2, topi,
sepatu dan segala keperluan.
Sepanjang jalan Kun-gi tidak mene mukan tanda2 rahasia yang
ditinggalkan anak murid Kim Kay-thay, agaknya si mata satu tidak
lewat jalan ini. Ma ka dia bermaksud lekas2 balik ke Thay-ho saja.
Hari itu juga mereka meninggalkan Siu-sian, belum jauh mere ka
meninggalkan kota, di sebelah depan me mbentang hutan yang
lebat.
Pui Ji-ping permisi masuk ke hutan untuk ganti paka ian, Ling
Kun-gi terpaksa menunggu di luar hutan sambil duduk di sebuah
batu besar. Dengan cepat Pui Ji-ping sudah keluar pula dengan
berdandan laki2, mengenakan jubah hijau, sepatu kulit, tangan
me megang kipas, sambil berjalan keluar, katanya dengan tertawa
lucu: "Toa-piauko, mirip tidak?"
Kun-gi geli, katanya tertawa: "Ya, sedikit mirip. cuma
perawakanmu pendek, terlalu muda lagi."
"Asal mirip saja, kau Toako, aku Siaute." ujar Pui Ji-ping sambil
mengikik.
Kemudian Pui Ji-ping berkata pula: "Sejak kini a ku me manggilmu
Toako, dan kau panggil a ku adik,"
"Ya, kau harus she Ling juga," kata Kun-gi, "maka kau harus
bernama Ling Kun ...."
Tiba2 terbeliak mata Pui Ji-ping serunya menya mbung: "Ling
Kun-ping saja, baik tidak?"
"Baik," Kun-gi manggut2, " Kun-ping sungguh bagus na ma ini."
Pui Ji-ping bertola k pinggang, katanya dengan tertawa: "Ya,
sejak kini aku berna ma Ling Kun-ping."
Magrib hari itu mereka tiba di Cing yang-koan. Pada sudut
sebuah tembok di luar kota Kun-gi mene mukan tiga tanda segi t iga
dari goresan arang, di bawahnya lagi sebelah kanan ada satu
lingkaran pula, itulah tanda2 rahasia Kim Kay-thay yang
mengadakan kontak dengan dirinya.
Sejenak Kun-gi melongo mengawasi tanda itu, batinnya: "Kiranya
Kim-loyacu datang sendiri."
Ternyata ketiga tanda itu mengga mbarkan hiolo (berka ki tiga),
lingkaran sebelah kanan me mberitahu bahwa dia datang dari kiri,
me mbe lok ke kanan, ada sebuah tanda kepala panah pula
menuding ke selatan, itu berarti jurusannya ke selatan-
Duduk dipunggung kudanya Kun-gi menerawang keadaan dan
merancang perjalanan selanjutnya. Kim-loyacu datang dari Thiat-ho,
letaknya kebetulan di barat laut Cing yang-koan, kalau me mbelok ke
kanan jurusannya jadi ke selatan, itulah jalan besar yang menuju ke
Liok-an, jadi sekarang Kim-loyacu menuju ke arah Liok-an-
Pui Ji-ping keheranan melihat tingkah Ling Kun-gi, katanya:
"Toako, soal apa yang sedang kau pikir?"
Kun-gi tersentak sadar, sahutnya: "o, tidak apa2, mari
berangkat."
Cin-yang-koan adalah sebuah kota yang cukup rama i, hari sudah
menje lang petang, tiba saatnva cari hotel untuk bermala m, tapi
Kun-gi keprak kuda me mbedalnya kejalan besar. Terpaksa Pui Ji-
ping larikan kudanya pula, tanyanya "Toako, apa yang kau
temukan?"
"Kute mukan tanda rahasia Kim-loyacu, dia sudah menyusul
ke mari."
"Siapakah Kim-loyacu?"
"Kim-loyacu adalah pejabat Ciangbun murid2 preman Siau lim-
pay."
"Jadi kau sudah berjanji mengadakan kontak dengan dia?"
Kun-gi me ngangguk. Tanpa bicara mereka terus mene mpuh
perjalanan cepat sejauh 40-an li, setiap tiba di simpang ja lan selalu
mereka mene mukan tanda rahasia Kim-loyacu, setelah petang
mereka t iba di Ing-ho.
Ing-ho adalah sebuah dukuh kecil, umumnya orang desa biasa
tidur lebih dini, jangankan men- dapatkan te mpat untuk bermala m,
mencari warung makanpun sukar.
Terpaksa Kun-gi menghentikan kudanya di tepi jalan, mereka
duduk istirahat, Pui Ji-ping ke luarkan bekal makanan yang
dibawakan oleh keluarga Tong, me mang perut sudah lapar, dengan
lahap mereka ganyang habis dua bungkus nasi dan lauk yang lezat.
"Sudah kenyang, mari berangkat," kata Ji-ping sa mbil berdiri, "di
luar In-hiap-kip di depan sana ada sebuah rumah perabuan ke luarga
ong yang besar sekali, kita istirahat di sana saja."
"Dari mana kau tahu?" tanya Ling Kun-gi.
"Aku sering lewat jalan ini, sudah tentu apal keadaan sekeliling
sini."
Mereka mene mpuh perjalanan 20-an li lagi batu sampai di In-
hiap-kip. Waktu itu sudah kentonganpertama, mereka langsung
menuju ke arah barat kota, di sana memang terdapat sebuah rumah
perabuan marga ong.
Mereka tambat kuda di ujung te mbok sana, lalu melompat ke
dalam lewat pagar tembok, setelah menyusur pekarangan dan
sampai di ruang tengah. Biara marga ong ini agaknya dari ke luarga
besar dan bangsawan, keadaan di sini terawat bersih dan teratur.
Kun-gi me milih tempat sebelah kanan, duduk di lantai terus mulai
samadi, betapapun Pui Ji-ping adalah anak pere mpuan, nyalinya
rada kecil, dia duduk de kat Kun- gi.
Karena iseng Pui Ji-ping ajak bicara terus untuk menghilangkan
lelah, sebaliknya Ling Kun-gi merasa sebal, katanya: "Adik jangan
banyak bicara, lekaslah samadi menge mbalikan semangat dan
tenaga dalam dua hari ini mungkin bisa menyusul si mata satu lagi,
gerak-gerik mere ka begini misterius, ingin kutahu barang apa yang
mereka bawa itu?"
"Lho si mata satu kan sudah me ningga l?"
"Tida k. yang mati itu picak mata kiri, yang sekarang ini picak
mata kanannya."
Pui Ji-ping ketarik, katanya: "Kenapa mereka selalu menugaskan
si mata satu untuk tugas pengantar barang ini? Kuduga pasti ada
rahasia apa2 di ba lik persoalan ini."
Kun-gi tidak bersuara, selincah kucing tiba2 dia me lompat berdiri,
desisnya lirih: "Ssst, ada orang datang, lekas sembunyi."
Hakikatnya Pui Ji-ping t idak dengar apa2, Baru dia akan tanya,
mendadak Kun-gi menghardik tertahan: " Lekas naik." Lengan Ji-
ping dipegang terus dibawa lompat ke atas dan hinggap di belandar,
katanya lirih: "Le kas se mbunyi di belakang pigura."
Lengan dipegang orang, terasa badan mumbul seringan asap.
tahu2 sudah menyelinap ke bela kang pigura besar. Kejadian terlalu
mendadak dan berlangsung a mat cepat, jantung ji-ping sa mpa i
berdetak keras.
Belum la ma mereka sembunyi di be lakang pigura, betul juga di
luar pekarangan sudah terdengar suara percakapan orang dan
langkahnya yang mendatangi. Terdengar seorang berkata dengan
suara serak: "Silakan Siau-heng" Rupanya setiba di ruang tengah
mereka sa ling me mpersilakan masuk lebih dulu.
Maka terdengar pula suara tawa lantang, seorang lagi berkata:
"Un-jiko kenapa sungkan2 padaku." Lenyap suaranya, tampak
muncul dua orang berjajar masuk ke dala m.
Betapapun tempat pigura sempit, terpaksa nona Pui harus
mende ka m dan bersentuhan badan dengan Ling Kun-gi, baru
pertama kali ini dala m hidupnya berada dala m pelukan laki2. Kedua
orang di bawah sudah de kat, maka dia tidak berani berseru
sedikitpun. Yang terang jantungnya berdebur seperti omba k
menga muk. pikirannya melayang2 entah ke mana.
Walau mencium bau harum dan bau badan anak perawan yang
me mabukkan, tapi perhatian Ling Kun-gi tumplek ke bawah pada
dua orang yang baru datang, maka pikirannya tidak menjadi
linglung.
Mala m gelap. tapi dia dapat melihat jelas kedua orang di bawah,
yang di sebelah kiri kira2 berusia 50-an, mengenakan jubah panjang
warna hijau kebiru2an, mengenakan topi beludru warna hita m,
sepatunya berlapis kulit tebal, lima jaiur jenggot hitam menjuntai
turun menghiasi dadanya. orang di sebelah kanan berpaka ian
panjang warna kuning kela m, mengenakan ikat pinggang sutera
merah, wajahnya kereng cerah, tulang pipinya menonjol, sudah
cukup tua juga, perawakannya agak pendek. orang kedua ini pernah
dilihat oleh Ling Kun- gi, dia adalah pa man kedua nona Un Hoan-
kun, yaitu Un It-kiau dari Ling-la m.
Tiba2 didengarnya Un It-kiau bersuara heran, katanya dengan
suara serak: "Tiada orang di sini, kenapa diluar ada dua e kor kuda?"
Lalu di sa mpingnya tertawa lebar, katanya: " Keluarga ong di In-
hian-kip ini sebetulnya adalah keluarga bangsawan suku Bong,
rumah abu ini adalah te mpat umum, mena mbat kuda di luar adalah
biasa, kenapa Un-jiko curiga segala?"
Un It kiau manggut2. Dari belakang kedua orang melangkah
masuk pula seorang pe muda berpakaian warna kuning, Ling Kun-gi
juga mengenalnya, dia adalah Kim-hoan-liok-long Siau Kijing,
me lihat pe muda ini Ling Kun-gi lantas menduga bahwa orang tua,
yang mengiringi Un It-kiau pasti bapaknya, yaitu Kim- hoan-s iang-
coat Siau Hong- kang. Di be lakang siau Ki jing ikut pula dua
pembantu rumah tangganya, saat mana lilin sudah dinyalakan di
dalam ruangan, keadaan semula gelap kini menjadi terang
benderang. .
Kun-gi berdua yang mende ka m di belakang pigura t idak berani
mengintip keluar pula.
Terdengar laki2 wajah merah itu berkata, "Bukankah Un jiko juga
mengundang Thong Thian-ong, kapan dia tiba?"
"Ya, sebelum Siaute ke mari sudah kusuruh mengirim surat
kepada Tong Thian-ong, dia sudah setuju untuk me mbantu, dua
hari yang lalu ada orang pernah melihat dia muncul di sekitar Poh-
yang."
"Aneh, kalau dua hari yang lalu dia sudah tiba di Poh-yang,
sepantasnya dia sudah mengadakan kontak dengan kita," kata si
muka merah.
Kun-gi me mbatin: "Thong Thian-ong yang mereka bicarakan ini
mungkin adalah Thong-pi--thian-ong? "
"siaute juga merasa heran, sepanjang jalan ini kita sudah
me mberikan tanda2 petunjuk. seharusnya dia sudah me lihatnya."
Sambil mengelus jenggot, laki2 muka merah berkata pula:
"Watak Thong Thian-ong terlalu berangasan, mungkin terjadi apa2
di tengah jalan?"
"Wataknya me mang kasar, tapi bekal kepan-daiannya cukup
tinggi, jarang ada tandingannya di Bu-lim, mana mungkin terjadi
apa2 atas dirinya?" kata Un It-kiau tertawa.
"Sukar dikatakan," kata laki2 muka merah, "Sepanjang jalan ini
kutemukan Kim Ting Kim Kay-thay, itu ketua murid2 preman Siau-
lim-pay juga telah datang ke Thay-ho, demikian pula Lo-sa m dan
Lo-cit dari ke luarga Tong di Sujwan juga ada di se kitar sini ."
"Betul, kecuali itu ingin kuberitahukan kepada Siau-heng bahwa
masih ada pula beberapa ke lompok orang yang patut diperhatikan-"
"Siapakah yang Unjiko ma ksudkan?"
" Ke lompok pertama adalah dua orang majikan dan
pembantunya, majikannya berusia 25-an berjubah biru, mirip anak
orang berada, pembantunya me makai lengan besi, ilmu silatnya
tinggi, sejak dari Kay-hong kedua orang ini terus menguntit ke mari."
Laki2 muka merah ta mpak prihatin, tanyanya: "Adakah orang
yang pernah menyaksikan kepandaian pe mbantunya itu?
"Anak sendiri pernah menyaksikan," t imbrung Siau Ki-jing.
" Kiranya dia benar adalah Kia m-hoan-siang coat (ahli pedang
dan gelang) Siau Hong-kang," de mikian batin Ling Kun-gi.
"Kau sendiri melihat dia bergebrak?" tanya si muka merah.
Siau Ki-jing menerangkan: "Beberapa hari yang lalu, anak melihat
dia merobohkan murid pre man Siau-lim hanya dalam sekali gebrak
saja."
"Kepandaian murid2 Siau-lim ada yang kuat dan yang le mah,
kalau paderi agak lumayan, murid2 pre man kebanyakan adalab
anak2 orang berada."
"Kelompok kedua adalah seorang muda berusia likuran tahun,
bernama Ling Kun-gi, diapun menguntit sejak dari Kay-hong,
kadang muncul tiba2 lenyap. dia mengaku sebagai murid Hoan jiu
ji-lay, dari gerak-gerik dan kepandaiannya kelihatan me mang tida k
salah."
Terbelalak mata Siau Hong-kang, katanya., "Hoan jiu-ji-lay juga
sudah terima murid."
"Kelompok ketiga muncul di se kitar Sha-cap--li-but, kelihatan
seperti keluarga pejabat, kabarnya majikannya orang perempuan,
tapi pengikutnya semua berkepandaian tinggi, gerak-geriknya juga
ma in sembunyi, sampa i sekarang Siaute masih men-cari2 jejak
mereka, anak buah yang bertugas menyelidiki ternyata tiada yang
ke mbali, se mua lenyap tanpa keruan paran."
Siau Hong- kang berpikir sejenak, katanya: "Unjiko tida k tahu
asal usul kelompok terakhir ini?"
"Laporan kudapat dari dua pembantuku di Sha-cap-li-but, hanya
begitu saja laporan mere ka," sahut Un It-kiau.
"Agaknya kerama ian baka l terjadi, dari beberapa kelompok itu,
kukira kita harus mengadakan kontak dengan pihak keluarga Tong
dari su-wan ......" sampai di sini dia termenung, lalu mena mbahkan:
"orang2 Siau - lim juga terjun ke dalam kancah kerama ian ini?
Mungkin ........."
"Trak." tiba2 terdengar suara seseorang melompati pagar tembok
dan turun di tengah pekarangan-
"Siapa?" bentak Un It- kiau sa mbil angkat kepala.
"Wanpwe akan keluar me lihatnya" ujar Kim--hoan-Liok-long Siau
Ki-jing. Dengan langkah lebar dia berlari keluar. Kejap lain tampa k
dia sudah kembali, di belakangnya mengint il seorang laki2 baju
abu2.
"Un Lok." seru Un it- Kiau segera, "apa yang telah kau te mukan"
Laki2 baju abu2 yang berna ma Un Lok segera me mberi hormat,
katanya: "Lapor Ji-cengcu, disekitar ma-thau-kip. ha mba
mene mukan tanda rahasia tinggalan Thong-thian-ong."
"Ga mbar apa yang dia tingga lkan?" tanya Un It-kiau.
"Tanda gambar itu diukir pada sebatang pohon di pinggir jalan,
hamba pernah mendengar penje lasan Ji-cengcu, ma ka
mengenalnya, kini hamba telah mengupas kulit pohon itu dan
kubawa pulang," dengan hati2 lalu dia keluarkan sekeping kulit
pohon-
Menerima kulit pohon, hanya sekilas pandang air muka Un it-kiau
lantas berubah, katanya dengan terbelalak: "Di mana kau
mene mukan ga mbar ini?"
"Di sebuah persimpangan jalan di dekat Ma--thau-kip."
"Men jurus ke mana persimpangan jalan itu?"
"Simpang jalan itu menuju ke Sa m- kak si."
"Keterangan apa yang dibubuhkan pada tanda gambar ini?"
tanya Siau Hong-kang.
"Inilah tanda gawat bahwa dia mengikuti seseorang, mungkin
seorang musuh tangguh, dia me mberitahu kepadaku untuk segera
menyusulnya."
"Siaute sependapat dengan Siau-heng," kata Un it-kiau, segera
dia mengulap tangan kepada Un Lok. katanya: "Tunjukan jalannya"
Un Lok mengiakan, cepat dia berjalan pergi, -Un It-kiau dan Siau
Hong-kang lantas beranjak keluar. Cepat sekali rombongan mere ka
sudah pergi jauh.
"Mereka sudah pergi, mari turun," kata Pui Ji-ping. Setelah turun
di bawah dia mengebut pakaian me mbersihkan kotoran yang
me lekat di pakaiannya, katanya: "Toako, perlukah kita menguntit
mereka?"
"Kita punya urusan sendiri, peduli dengan urusan mereka, lebih
baik istirahat, besok pagi mene mpuh perjalanan lagi."
Pui Ji-ping tidak banyak bicara pula, mereka ke mba li ke te mpat
semula, duduk samadi sampai pagi hari. Belum sinar surya
menongol keluar mereka sudah melanjutkan perjalanan-Jalan raya
ini langsung menuju ke Liok-an, di sepanjang jalan ini me mang ada
tanda peninggalan Kim Kay-thay, mereka terus bedal kuda sampa i
hari menjelang lohor baru tiba di Liok-an.
Diluar kota Liok-an Kun-gi mene mukan tanda peninggalan Kim
Kay-thay pula, arahnya seperti menuju ke sok-seng, maka mereka
makan ala kadarnya di luar kota terus menempuh perjalanan pula.
Sore hari sa mpai di Tho-sip. di sini mere ka tidak mene mukan tanda2
peninggalan Kim Kay-thay.
Pui Ji-ping mengusulkan untuk langsung ke Sok-seng, mungkin
Kim Kay-thay sudah menunggu di sana. Tapi la in pendapat Ling
Kun-gi, ka lau Kim Kay-thay pergi ke sok-seng pasti dia
meninggalkan tanda yang menjurus ke sana, di Tho-sip mereka
sudah tidak mene mukan tanda2 lagi, itu berarti kemungkinan Kim-
loyacu mene mukan apa2 di sini sehingga tida k se mpat
meninggalkan tanda2 dan tak mungkin menuju ke sok-seng.
"Lalu bagaimana menurut pendapat Toako?" tanya Pui Ji-ping.
"Kau kenal je las keadaan di sekitar sini?"
"Aku tahu, dari sini ke t imur menuju ke Jau--ouw, ke selatan ke
sok-seng, ke utara pergi ke Hoaji-kang, Thong- keh- kang, langsung
ke Hap-pui."
Tengah mereka bicara, tiba2 didengarnya suara tapal kuda
berdetak. suaranya ringan dan cepat. Waktu mereka berpaling,
tampak dari arah utara sana membedal lari seekor keledai,
dipunggung keledai bercokol seorang tua berbaju hijau dan celana
panjang kuning luntur, badan terbungkuk, mata terpejam, dia
biarkan saja keledainya lari sesukanya.
Sekilas Ling Kun-gi pandang orang tua itu tanpa me mperhatikan
lebih lanjut. Tak terduga pada saat dia me mandang orang, entah
sengaja atau tidak- orang tua itupun melirik sekejap ke arah
mereka. Betapa tajam pandangan mata Kun-gi, sekilas saja terasa
olehnya kedua biji mata yang melirik itu hanya sebelah kiri yang
bercahaya. Hanya mata kiri yang bercahaya, bukankah itu berarti
mata kanannya picak?
Mendadak tergerak hati Ling Kun-gi, dilihatnya orang tua itu
menuju ke Sok-seng, ma ka dia berkata kepada Pui Ji-ping: "Dik, hari
sudah petang, kita harus lekas masuk kota, kalau terla mbat pintu
kota mungkin ditutup." - Se mbari bicara dia me mberi kedipan mata
kepada Pui Ji-ping.
Ji-ping merasa heran, tapi dia tahu diri, tanyanya lirih: "Me mang
benar." Kendali dia tarik ke kiri sehingga kudanya jalan merendeng
lebih dekat dengan suara lebih lirih dia bertanya pula: "Siapakah
dia? Toa ko mengena lnya?"
"Kukira dia adalah orang yang ingin kita cari, si mata satu. cuma
betul atau tidak perlu dibuktikan-"
"Asal kita kuntit dia, nanti juga pasti ketahuan-" sembari bicara
mereka jalankan kuda pelan2 dari kejauhan mengunt it ke ledai itu
masuk ke kota.
Hari sudah petang, banyak orang buru2 masuk kota, maka
suasana menjadi ramai. Berbeda dengan si mata satu kiri yang telah
ajal itu, sipicak kanan ini bergerak secara terang2an, dia berhenti di
depan warung bakmi, ia me lompat turun dan masuk dengan ter-
bungkuk2
Waktu itu me mang t iba saatnya makan mala m, setelah letih
mene mpuh perjalanan me mang perlu istirahat dan mena ngsel
perut, terutama orang yang berdandan seperti orang desa, adalah
jamak ka lau makan di warung kecil dengan tarip murah.
Melihat orang ma mpir di warung bakmi, Kun-gi berdua me masuki
warung arak di seberang jalan, letaknya kebetulan berhadapan-
Mereka me milih te mpat duduk ditepi jendela, dari sini mere ka dapat
mengawasi gerak-gerik orang diseberang.
Kun-gi me mesan makanan ala kadarnya, lalu dia berkata
setengah berbisik, "Dik, kau tunggu di sini dan a mati gera k-
geriknya, aku pergi sebentar."
"Toako ma u ke mana?" tanya Ji-ping.
"Tugasmu menjaga di bagian luar sini, aku Keh- hoa akan putar
ke belakang, kalau benar dia si picak kanan yang bertugas
mengantar barang, kemungkinan bisa merat lewat pintu belakang,
hal ini harus kita jaga sebelumnya. Kalau dia pergi lewat depan, kau
harus menguntitnya dan perhatikan ke mana atau di tempat mana
dia menginap. Di sini pula kita nanti bertemu."
Mendengar dirinya di beri tugas, riang hati Pui Ji-ping, katanya
tertawa: "Tugas seringan ini, Toako tak usah kuatir, pasti
kulaksanakan dengan ba ik,"
"Baiklah sekarang aku pergi," bergegas Kun--gi keluar menuju ke
pengkolan jalan sana, di belakang deretan rumah seberang sana
me mang terdapat sebuah lorong se mpit, cepat Kun-gi menyelinap
masuk dan menghitung ruma h ke lima, itulah pintu bela kang
warung bakmi di depan, setelah memperoleh te mpat yang gelap.
dia berdiri mepet tembok, matanya memperhatikan pintu bela kang
rumah ke lima itu.
Dengan sabar dia menunggu kira2 satu jam, betul juga dilihatnya
sesosok bayangan orang tiba2 menongol ke luar dari pintu bela kang
warung bak-mi itu, me lihat tiada bayangan orang, dengan langkah
buru2 dia berlari ke arah kiri sana.
Mata Kun-gi yang tajam dapat melihat bahwa bayangan orang itu
adalah laki2 tua berbaju hijau, punggung yang tadi bungkuk kini
sudah tegak. langkahnya ringan-
Dengan sigap seperti anjing pe lacak Kun-gi terus menguntit ke
mana laki2 tua itu pergi. Ternyata laki2 tua ini juga cukup cerdik
dan licin, agak la ma dia ber-lari2, mendadak dia menghentikan
langkah se mbari berpaling ke be lakang, betapa tangkas gerakan
Kun-gi, mana mungkin jejaknya dilihat olehnya?
Melihat tiada orang yang menguntit di be lakangnya, si tua baju
hijau ke mbali berlari ke depan, keluar dari jalan raya, dia
menyelinap ke jalan me lintang di sebe lah depan sana, langkahnya
tidak pernah berhenti, kecepatan sedang, arahnya ke selatan-Lama
kela maan dia menuju ke daerah sepi.
Tak la ma ke mudian dia sa mpa i di tempat pe mbarkaran genteng,
di sini dia berpaling pula, setelah longak- longok ke belakang,
dengan langkah cepat dia lewati tempat2 pe mba karan genteng yang
tersebar luas itu terus me masuki sebuah pekarangan yang dipagari
tembok pendek. Di depan pintu terdapat sepucuk pohon, dia
berjongkok menghitung setumpukan batu yang ada di bawah pohon
lalu me ngha mpiri pintu serta mengetuknya tiga kali.
Maka terdengarlah ada orang bertanya: "Mala m selarut ini,
siapakah yang menggedor pintu?"
Laki2 tua baju hijau unjuk tawa, sahutnya: "Belum ma la m, belum
ma la m, akulah Lo-to (bungkuk) yang me ngetuk pintu."
"Kau cari siapa?" tanya orang di dala m pintu.
"Mencari orang yang menumpuk batu di batu di bawah pohon-"
"Kau sudah menghitungnya?"
"Sudah, seluruhnya 18 biji, agaknya saudara kurang menumpuk
satu biji."
orang di dala m tidak bersuara, pelan2 daun pintu terbuka.
Tampak seorang laki2 tua yang mengikat kuncir rambutnya di atas
kepala, me mbawa pipa cangklong, menyambut keluar, katanya:
"sila kan duduk di da la m."
Si tua baju hijau tidak segera masuk, katanya mengerut kening:
"Kenapa kau tidak menyalakan la mpu di da la m?"
Laki2 tua bergelak tawa, katanya: "Saudara tidak bisa melihat
dengan jelas tidak menjadi soal, asal aku dapat menghitungnya
dengan baik saja."
Melihat kata2 rahasia yang ditanyakan terjawab seluruhnya, laki2
tua baju hijau tidak banyak bicara lagi. segera dia angkat langkah
masuk ke rumah.
Laki2 bergelung kuncir cepat menutup pintu, katanya sambil
berpaling: "Mana barangnya, boleh kau ke luarkan-"
Laki2 baju hijau merogoh kantong dan menge luarkan sebuah
buntalan kain kasar terus diangsurkan, lalu katanya: "Saudara tentu
sudah capai, ini-lah perintah dari atasan, malam ini saudara dilarang
menginap di dala m kota, kau harus segera mene mpuh perjalanan
pula."
Tertegun laki2 baju hijau, katanya, "Aku sudah menunaikan
tugas ......."
"Pihak atas menghenda ki kau segera berangkat, maaf aku tidak
bisa menolongmu lagi," tiba2 tangan kanan dia ulur, tangannya
sudah me megang sebuah bumbung hitam, "sret" segulung cahaya
biru segera menyembur ke luar dari dala m bumbung melesat ke
dada laki2 baju hijau.
"Hah" terpentang mulut si laki2 baju hijau, tapi sebelum dia
menyadari apa yang terjadi, cahaya biru itu sudah nancap ke dala m
dadanya, badannya seketika terjengkang roboh.
Laki2 bergelung kuncir menyimpan ke mbali bumbung jarumnya,
katanya menyeringai sa mbil mengawasi mayat laki2 baju hijau :
"Pihak ataslah yang me mberi perintah, jangan kau sa lahkan aku
......" sampai di sini dia bicara, tampak kepala mayat laki2 baju hijau
mengepulkan asap kuning, dengan cepat sekali jasadnya berubah,
ternyata yang disambitkan tadi adalah Hoa-hiat-sian-tong (bumbung
jarum pengluluh darah). Bergidik juga laki2 bergelung kuncir melihat
hasil karyanya sendiri, tiba2 terasa punggungnya kese mutan-
Pada saat itulah di belakangnya tahu2 sudah bertambah sesosok
bayangan orang, tangan merogoh kantongnya dan mengeluarkan
buntalan kain biru tadi.
orang ini adalah Ling Kun-gi yang menguntit laki2 tua baju hijau.
Setelah menutuk Hiat-to laki2 bergelung kuncir, segera dia buka
buntalan kain biru itu, di da la mnya
berisi kotak persegi. Setelah kotak dibuka, di da la mnya dilapisi
kain saten warna kuning, di tengah2 terjahit sebutir mutiara sebesar
kacang dengan benang merah.
Walau gelap di dala m ruma h, tapi Kun-gi dapat melihat jelas, di
tengah2 mutiara terdapat ukiran huruf "Ling". Ternyata cin-cu-ling
adanya. Mutiara ini mirip dengan yang pernah dilihatnya di tempat
Kim Kay-thay itu, "Kemanakah mereka hendak mengantar cin-cu-
ling ini?" de mikian Ling Kun-gi ber-tanya2 dala m hati.
Sejenak dia termenung, lalu menutup dan me mbungkus pula cin-
cu-ling itu seperti se mula dan dike mba likan ke kantong baju laki2
bergelung kuncir, sebelum berlalu dia me mbuka tutukan tadi dan
cepat dia menyelinap sembunyi di te mpat gelap.
Laki2 tua bergelung kuncir menguap sekali lalu menggeliat
badan, sebentar dia kucek2 mata, lalu menjura ke arah tanah,
katanya dengan tertawa getir: "Saudara mati penasaran, Tapi aku
bekerja menjalankan perintah, harap saudara tidak menyalahkan
aku." Dia sangka arwah laki2 baju hijau itu tidak menerima
ke matiannya, barusan dirinya telah ditenung sebentar, maka setelah
bicara bergegas dia berlari keluar sipat kuping.
Kun-gi mengunt itnya dari kejauhan- Laki2 tua bergelung kuncir di
kepala itu berjalan cepat sekali, tak lama kemudian dia sa mpai pada
sebuah tempat pemujaan di pinggir jalan yang dibangun
menyerupai gundukan tanah, tempat pemujaan ini bukan kuil bukan
biara, tapi hanyalah sebuah barak yang beratap rumput alang2
kering, bentuknya kecil dan pendek. di dalamnya dipuja dewi bumi
suami-isteri, tanpa meja, hanya terdapat sebuah hiolo, setiap orang
yang sembahyang menancapkan dupa di sana, keadaannya amat
sederhana.
Dengan langkah ter-gopoh2 laki2 itu me masuki barak berdinding
tanah liat itu, sejenak dia celingukan, me lihat tiada orang lain, tiba2
dia mencincing lengan baju terus ulur tangan meraba ke dala m
hiolo, akhirnya dia meraba keluar sebuah bumbung ba mbu. Setelah
me mbersihkan abu di kedua tangannya, dia membuka sumbat
bumbung dan menuang keluar gulungan secarik kertas.
Pada saat itulah Kun-gi muncul di bela kangnya pula, dengan
sekali kebas dia tutuk jalan darah penidur orang, lalu ambil
gulungan kertas itu serta merentangnya. Tampak di atas kertas ada
tulisan yang berbunyi: "Besok sebelum matahari terbenam, antarkan
kepada seorang yang membe li lima blok ka in katun di toko kain
Tek-bong di kota Thung-seng, tak usah bicara, segera
mengundurkan diri saja."
Kun-gi menggulung pula kertas itu, lalu dike mbalikan ke tangan
si orang tua, kembali ia mengebas, me mbuka Hiat-to orang. Laki2
tua bergelung kuncir bcrbangkis sekali, cepat dia masukkan
gulungan kertas itu ke dala m baju, seenaknya saja dia buang
bumbung ba mbu itu ke sema k rumput di luar pintu, dengan langkah
cepat dia mene mpuh perjalanan lagi.
Kejadian ini kira2 makan waktu setengah jam, cepat2 Kun-gi
ke mbali ke warung arak. ma kanan yang dipesannya tadi sudah
dingin se mua. Untung saat itu keadaan warung ramai dikunjungi
orang, yang hendak mengisi perut, orang mengira Pui Ji--ping
sedang menunggu seseorang, maka tiada yang me mperhatikan-
Melihat Kun-gi ke mbali, Pui Ji-ping tertawa senang, cepat dia
menyongsong sa mbil bertanya: "Toako, kenapa pergi begini la ma?"
Melihat hidangan se meja penuh belum disentuh sedikitpun,
timbul rasa prihatin Ling Kun-gi, katanya: "Dik, kenapa kau tidak
makan dulu?"
"Toako ada urusan, sudah tentu aku harus menunggumu untuk
makan bersa ma"
Ji-ping menyuguh secangkir teh kepada Kun-gi, katanya:
"Bagaimana urusannya Toako? Kau pergi begini la ma, aku tida k
me lihat dia ke luar."
Kun-gi minum seteguk, katanya, "Sesuai dugaan, dia merat
daripintu bela kang. Hasil yang kucapai a mat me muaskan-" Lalu ia
ceritakan pengalamannya secara ringkas. Heran dan kaget Pui Ji-
ping, katanya lirih:
"orang yang me mbeli lima blok kain katun di toko Tek- hong, di
kota Thung-seng?Jadi sudah sa mpa i te mpat tujuan terakhir?"
"Belum bisa diraba, kalau tidak pindah tangan lagi, itu berarti
me mang sudah mencapa i te mpat tujuan terakhir."
"Lalu bagaima na tindakan kita selanjutnya, Toako?" tanya Ji-
ping.
"Sa mpai besok sore, waktunya masih cukup panjang, aku akan
cari Kim-loyacu untuk berunding dulu dengan dia."
"Tapi di Tho-sip kita tidak mene mukan tanda2 yang dia
tinggalkan-"
"Ya, tapi di San-la m-koan a ku me lihat tanda2 Kim-loyacu," alis
Kun-gi berkerut, katanya mene-pekur: "Jelas masih ada tanda2
rahasia itu di San--la m-koan, tapi setiba di Tho-s ip tanda2 itu
lenyap, mungkinkah dia mengala mi sesuatu di se kitar Sa m--la m-
Koan..

Tengah mereka bicara, pelayan sudah antar kembali makanan


pesanan mereka. Mereka makan cepat2, setelah bayar rekening
terus keluar, dengan menuntun kuda mereka berjalan kaki cukup
jauh dijalan raya. Dalam hati Ling Kun-gi menimang2, semula
banyak orang menguntit si mata satu, tapi di Sok-seng tiada
seorangpun kaum persilatan yang kelihatan, sementara sipicak ini
tahu2 muncul dari arah Hoa-ji-kang. datang dari utara, agaknya
komplotan cin-cu-ling tahu bahwa mereka dibuntuti, entah dengan
cara apa, semua orang yang menguntit itu satu persatu dipancing
ke arah la in, De mikian pula Kim-loyacu tiba2 putus hubungan,
ke mungkinan juga terkena muslihat mereka. Maka besar tekad Kun-
untuk selekasnya menyusul ke Sa m-La m Koan.
Tengah berjalan, seorang yang berdandan pelayan hotel
mengadang mereka sa mbil munduk2, katanya tertawa: "Kongcu
berdua apa cari penginapan, hotel ka mi serba bersih dan nya man
teduh, service tanggung memuaskan, kuda kalian boleh serahkan
kepada ha mba."
Waktu Kun-gi angkat kepala, dilihatnya di depan sana me mang
ada sebuah hotel sok-seng, maka dia berpaling, katanya: "Dik, biar
kita menginap saja se mala m di sini."
Panas muka Pui Ji-ping, dia mengia kan sa mbil ma nggut sekali.
Segera Kun-gi serahkan kudanya, lalu mendahului melangkah
masuk. Pelayan lain segera datang menyambut serta antar mereka
me milih ka mar, akhirnya mereka me milih sebuah ka mar besar yang
terdiri dua ruangan berdampingan, masing2 ada sebuah ranjang,
jadi mereka t idur di dua ka mar terpisah.
Menjelang kentongan kedua Kun-gi siuman dari se madi, dia
pasang kuping, tiada suara apa2 di kamar Pui Ji-ping kecuali deru
pernapasannya yang teratur, terang si nona sudah tidur nyenyak.
Pelan2 dia berdiri me mbuka jendela terus melompat keluar, dia
tutup pula jendelanya dari luar, terus meloncat ke wuwungan
rumah.
Dengan menge mbangkan Ginkang dia meluncur dengan
kecepatan luar biasa, hanya setanakan nasi dia sudah tiba di Tho-
sip. dari sini ke San-la m-koan dia terus me meriksa dengan teliti,
namun tiada tanda2 apapun yang dia temukan, tapi pada sudut
sebuah tembok di San-la m-koan masih ada tanda peninggalan Kim-
loyacu, jelas arahnya menuju ke Tho-sip. Ini me mbuktikan bahwa
Kim-loyacu sudah meninggalkan San- la m- koan, tapi tujuannya
bukan ke Tho-sip. Lalu ke mana dia? Tiba2 tergerak pikirannya:
"Sipicak datang dari Hoaji-kang yang letaknya di sebelah utara Tho-
sip. terang mereka sengaja dipancing ke jurusan lain oleh kawan2 si
picak."
Maka dia menuju ke utara, pada setiap persimpangan jalan dia
mengadakan pene litian-Tapi dari Kang-keh-tia m, Han-siau-tia m,
Hok-ma-tia m sa mpai Thong-keh-kang, sejauh puluhan li dia terus
mengadakan pe meriksaan tanpa menemukan apa2, se-olah2 Kim-
loyacu tak pernah datang ketempat2 ini.
Dia tahu Kim-loyacu sudah banyak pengalaman dan
berpengetahuan luas, kalau dia sudah me-ningga lkan tanda2 di San-
la m-koan, umpa ma ter

Jilid 6 Hala man 5/6 Hilang


Keluar dari hutan, mereka naik kuda mene mpuh perjalanan pula.
Lewat lohor baru mereka tiba di Thong-sengJi-ping apal keadaan
kota ini, ma ka dia menunjuk ja lan, setelah membelok kejalan raya
sebelah timur sana dia menuding ke depan: "Toako, waktu masih
pagi, marilah istirahat di restoran itu?"
"Baik, rumah makan berloteng itu ternyata cukup besar
bangunannya."
"Te mpo hari bersa ma Piauci ka mi menyamar laki2 dan pernah
me lancong ke mari. Ketika itu In-congkoan juga naik ke loteng
minum teh, tapi dia t idak mengenali ka mi lagi."
"Siapakah In-congkoan?" tanya Kun-gi.
"In-congkoan berna ma In Thian-lok, kepala keluarga pa man,
katanya berilmu silat tinggi."
Waktu itu mereka sudah tiba di depan restoran, pelayan
menya mbut mereka ke loteng. ji-ping lantas menuding meja dekat
jendela: "Te mpo hari ka mi duduk di meja itu."
Setelah Kun-gi duduk. waktu dia angkat kepala, dilihatnya di
seberang jalan sana adalah sebuah toko ka in "LEK HONG".
"Kebetulan kau mencari te mpat di sini," katanya tertawa.
"Te mpo hari ka mi berbelanja juga di toka kain di depan itu,
ma la mnya kami jalan2 melihat kerama ian kota," kata Ji-ping.
"Toako, jalanan di sini aku lebih apal, nanti biar aku yang menguntit
orang yang beli lima blok ka in itu. Kau tunggu saja di sini." Ling
Kun-gi manggut2 menyetujui usulnya.
Pada saat itulah, muncul seorang dari anak tangga, dia
mengenakan topi kulit berbulu, me manggul sebuah kotak kayu
warna merah, kumisnya panjang, usianya belum 50, dandanannya
mirip penge mbara, tapi juga seperti pedagang perhiasan-.
Matanya menjelajah seke lilingnya terus mengha mpiri meja di
sebelah kanan Ling Kun-gi yang berdekatan dengan jendela, peti
kayu dia letakan di atas meja, sambil me me lint ir kumis dia duduk
me mandang ke arah toko kain di depan sana. Pelayan datang
me layani pesanannya.
Sejak orang ini masuk Kun-gi sudah lantas me mperhatikan, ma ka
dia berbisik kepada Pui Ji--ping, "Sejak kini jangan bicara soal itu
pula."
Ji-ping melengak. dia berpaling, namun yang dilihat hanya
bayangan punggung orang, segera ia bertanya sambil mende katkan
tubuh: "Siapa dia?"^
Kun-gi menggeleng, lalu dengan ilmu mengirim be lombang suara
dia berkata, "Nanti kujelaskan."
Selanjutnya mereka bergurau dan bicara panjang lebar mengenai
ini itu sa mbil me mperhatikan pria bertopi di sebelah.
Menjelang sore, terdengar suara derap kaki kuda yang ra mai
mendatang dari kejauhan, tampak lima ekor kuda berjalan ke arah
sini. orang yang duduk di kuda paling depan berperawakan besar,
alis tebal mata cekung, wajahnya kelabu, berpakaian jubah biru,
iapun nengenakan topi kecil berbulu burung, kumis di atas bibirnya
terawat baik dan rapi, wajahnya kereng berwibawa, betapa gagah
dia duduk di atas kudanya.
Di belakangnya adalah orang2 yang berpakaian serba ketat,
golok tergantung di pinggang masing2, kelihatan angker dan
bersemangat barisan lima kuda ini. orang2 yang berlalu lalang sama
minggir me mberi jalan-
Melihat la ki2 muka ke labu yang bercokol di punggung kuda ini,
tak terasa ber-gerak2 bibir Pui Ji-ping, dilihatnya laki2 muka ke labu
itu mendahului mengha mpiri toko kain Te k-heng dan berhenti.
Empat orang pengikutnya ter-sipu2 turun, seorang pegang kendali,
seorang bantu dia me lompat turun, dua orang yang lain melangkah
ke dala m toko sebagai pembuka jalan-Jelas toko kain Tek-hang hari
ini kedatangan tamu yang akan me mborong dagangannya.
Maka ributlah keadaan toko ka in itu, pelayan sibuk melayani,
pemilik toko bersa ma tuan kasir keluar menya mbut. Sudah tentu
Kun-gi dan Ji--ping me nyaksikan se mua ini dengan jelas dari
tempatnya yang tinggi di atas loteng.
Setelah laki2 muka kelabu duduk. seorang pe layan toko
menyuguhkan air teh. Tanpa sungkan2 si muka kelabu angkat
cangkir dan minum seteguk. lalu berbicara kepada tuan kasir, tuan
kasir tampak munduk2 sa mbil tertawa lebar seperti mengiakan,
cepat dia berpesan apa2 kepada pelayan di sampingnya. Beberapa
pelayan toko segera bekerja penuh semangat dan sibuk seka li,
mereka me mbawa beberapa contoh kain sutera ke hadapan si muka
kelabu.
Dengan seksama laki2 muka kelabu me milih, lalu menuding
beberapa di antaranya, barang yang terpilih itu segera di kumpulkan
di meja tersendiri. Kemba li la ki2 muka ke labu berkata kepada tuan
kasir seperti ingin me mbeli ka in cora k lain- Tuan kasir munduk2 lagi,
dia pimpin beberapa pelayan
me mbuka almari dan menge luarkan lima blok kain katun warna
hijau pupus, pelayan toko langsung membawanya keluar dan
diserahkan anak buah laki2 muka kelabu, lalu diikat di punggung
kuda.
Melihat lima blok kain katun hijau pupus ini, hampir saja Pui Ji-
ping berteriak kaget.
Laki2 bertopi di meja sebelah segera merogoh sa ku me mbayar
uang teh terus berlari turun loteng sa mbil me manggul peti kayunya.
Melihat orang pergi ter-gesa2, Ji-ping bertanya, "Toako, siapakah
dia?"
Kun-gi pandang sekelilingnya baru menerangkan dengan suara
rendah: "Dia adalah laki2 tua bergelung kuncir yang mengantar cin-
cu-ling itu, baru hari ini dia me makai topi."
"dia turun ter-gesa2, jadi mau menya mpaikan barang itu?"
"Lima blok ka in katun hijau pupus sudah diikat di punggung
kuda, itu tanda yang sudah jelas, sudah tentu dia harus lekas2
mengantarkan barangnya."
Sedang mereka bicara, tampak laki2 bertopi itu sudah
menyeberang jalan langsung menuju ke toko ka in itu.
Seorang pelayan segera menyambutnya, maksudnya supaya dia
tidak serampangan masuk toko yang sedang sibuk melayani pe mbeli
besar. Laki2 bertopi manggut2 minta maaf, dia menuding laki2
muka kelabu di dala m toko serta mengucapkan beberapa patah
kata, seperti mengatakan mau menyampa ikan sesuatu barang
padanya.
Pelayan manggut2 serta me mpersila kan dia masuk. Menjinjing
peti kayunya laki2 bertopi beranjak ke dala m, langsung dia
mende kati laki2 muka ke labu dan me mberi hormat. Si muka ke labu
hanya sedikit mengangguk dan mengajukan beberapa patah
pertanyaan- Laki2 bertopi unjuk tawa lebar sambil me langkah maju,
peti kayu dia taruh di atas meja, ia mengeluarkan anak kunci dan
me mbuka petinya itu, dari da la m kotak dia keluarkan serenceng
kalung mutiara, tusuk kundai, ke mbang berlian, gelang dan lain2
maca m perhiasan, bersama dua buah kotak kecil berlapis kain,
sutera biru, satu persatu dia aturkan ke hadapan laki2 muka kelabu,
mulutnya tak berhenti menerangkan ini itu seperti penjual perhiasan
layaknya yang memuji barang dagangannya.Jadi Cin-cu-ling yang
dibawanya itu berada di dala m kotak itu.
Seenaknya saja laki2 muka kelabu me milih delapan maca m
perhiasan, sudah tentu kedua kotak itupun dipilihnya, lalu dari
lengan bajunya dia ke luarkan sele mbar uang kertas dan diserahkan
kepada laki2 tua bertopi itu.
Berseri girang laki bertopi, setelah terima uang kertas (sebangsa
cek) itu, dia bereskan dagangannya, sambil munduk2 dan berucap
terima kasih terus keluar.
Sementara itu pelayan sudah me mbuntal beberapa blok kain
sutera lainnya di atas kuda yang la in pula.
" Toa ko, hayo lekas berangkat," tiba2 ji-ping berkata gugup,
"Mau ke mana?" tanya Kun-gi heran-
"Lekaslah, kalau terla mbat, tidak ada kesempatan lagi," desak Ji-
ping.
Cepat2 mereka turun terus larikan kuda keluar kota menuju ke
utara, di luar kota ji-ping me larikan kudanya terlebih kencang.
Semula Kun-gi kira dia hendak menguntit si tua bergelung kuncir
yang menyaru pedagang perhiasan, dari uang kertas yang dia
terima dari la ki muka kelabu itu pasti bisa dise lidiki siapa sebetulnya
laki2 muka ke labu itu. Tapi se karang dia baru menyadari bahwa
dugaannya ternyata meleset jauh. Ji-ping bukan mengejar atau
menguntit orang, tapi dia me mbedal kudanya seperti orang
kesetanan sampai lima li jauhnya, lalu me mbelok ke sebuah ja lan
kecil yang berlapis batu.
Waktu itu sudah magrib, sang surya hampir terbenam, burung2
berkicau ke mbali ke sarangnya, jauh di antara gunung gemunung di
antara lebatnya pepohonan sana tampak asap mengepul di
angkasa.
Betapapun sabar hati Kun-gi, setelah heran sekian la manya, kini
tak tahan lagi, dia bedal kudanya me mburu ke depan serta
bertanya: "Dik, hendak ke mana kau sebetulnya?"
Ji-ping berpaling, sahutnya tertawa: " Kubawa kau mene mui
seorang."
"Siapa dia?" tanya Kun-gi.
"Setelah berhadapan pasti kuperkenalkan."
"Orang ini ada hubungannya dengan tujuan perjalanan kita?"
Sambil me mecut kudanya Ji-ping me njawab: "Toako tak usah
banyak tanya, setelah tiba saatnya kau akan tahu sendiri."
Kuda mereka adalah milik keluarga Tong yang terpilih, ma ka
larinya kencang sekali, 20 li sudah mereka te mpuh, pegunungan di
sini berpanora ma indah permai, pohon Siong dan hutan bambu
me magari jalanan, ke indahan ala mnya laksana dala m impian-
Tiba2 tergeraklah hati Ling Kun-gi, dia ingat Kim Kay- thay
pernah menyinggung Liong-bin-san- ceng kepadanya, letaknya di
utara kota Thung-seng, mungkinkah Liong-bin san-ceng terletak
dipegunungan ini?
Sementara itu Pui Ji-ping di sebelah depan sudah tiba di kaki
gunung, mendadak dia belokkan kudanya ke dalam hutan serta
me mperla mbat larinya, beberapa jauhnya, dia lompat turun dengan
menuntun kuda ia menyelinap semak2 pepohonan yang lebih
dalam. Ling Kun-gi ikuti si nona, tanyanya: "Sudah sa mpai be lum?"
"Belum, kita se mbunyikan dulu kuda2 ini."
"Apa kita mau pergi ke Liong-bin-san-ceng?" tanya Kun-gi.
"Darimana Toako tahu?" ba las tanya Ji-ping kaget dan heran.
"Aku hanya menduga, gunung ini adalah Liong-bin-san (gunung
naga tidur) kecuali pergi ke Liong-bin-san-ceng, ke mana lagi?"
"Em," hanya itu suara yang keluar dari teng-gorokan J i-ping, dia
tetap menuntun kuda me masuki hutan. Akhirnya mereka mena mbat
kuda di hutan yang agak gelap dengan pepohonan lebat.
Berkata Kun-gi dengan nada serius: "Dik, me mang jarang orang2
Liong- bin-san-ceng bergerak di ka langan Kangouw, tapi kabarnya
kepandaian sang cengcu, cia m-liong Cu Bun-hoa a mat tinggi, iapun
pandai me mbangun berbagai alat perangkap. demikian pula racun
dan senjata rahasia, jangan kau se mbarangan ma in2 di sini."
"Toako t idak usah kuatir, kita tida k akan mengusik mere ka."
"Jadi siapa sebetulnya yang kau cari?"
"Toako ikuti saja diriku" Ji-ping tetap tidak mau menerangkan-
Terpaksa Kun-gi mengikut i ke ma na saja Ji-ping me mbawanya,
mereka mendaki bukit tandus di sebelah kiri, lalu menyusuri
selokan, lompat ke atas pematang dan tiba di sebuah te mpat yang
banyak pohon siong, tampak sebuah jalan besar yang dibangun dari
papan batu hijau menjurus lurus ke arah sebuah perkampungan,
agaknya letak perkampungan itu masih satu li jauhnya... Hari sudah
mulai gelap. dilihat dari kejauhan hanya kelihatan bayang2 gelap
yang bertutup genteng, itulah Liong-bin san-ceng adanya.
"Marilah kita turun," ajak Ji-ping, dia bawa Kun-gi menuruni
jalanan kecil dan berputar ke belakang gunung, mene mbus hutan,
tak lama ke mudian mereka sudah berada di kiri perka mpungan
"naga tidur." Pagar tembok yang tebal dan tinggi dari Liong-bin-san-
ceng sudah ta mpak jelas.
Ji-ping berhenti, dia menggape ke arah Kun-gi menyuruhnya
mende kat. "Ada apa dik ?" Kun-gi tanya.
Ji-ping menuding dinding, katanya: "Masuk dari sini, di balik
tembok ada sebuah jalan besar yang mengitari seluruh
perkampungan untuk masuk ke perka mpungan harus me lewati jalan
besar beralas batu hijau itu, maka penjagaan sepanjang jalan ini
amat ketat dan keras, seluruhnya ada delapan pos penjagaan,
setiap pos ada dua orang, ditambah seekor anjing pelacak yang
amat gala k. kalau kita masuk dari sini harus melewati pos perta ma
....."
"Kita a kan masuk?" tanya Kun-gi.
"Sudah tentu, buat apa sejauh ini kita ke mari."
"Untuk apa kita masuk ke sana ?"
"Untuk apa kau tidak usah tahu," kata Ji-ping, "bila kita
me lompat naik ke atas tembok, kau harus menggunakan kecepatan
luar biasa untuk menutuk Hiat-to kedua orang yang berjaga dipos
pertama, kalau anjing datang, biar aku yang menghadapi, cepat kau
harus me mbebaskan pula tutukan Hiat-to kedua orang itu, tapi
jangan sampai mereka mengetahui jejakmu, dengan kecepatan
gerakanmu, se mbunyilah di te mpat gelap. di antara deretan rumah
di seberang."
"Bagaimana kau akan menghadapi anjing gala k itu?" tanya Kun-
gi.
"Aku punya caraku sendiri," sahut Ji-ping, "be kerjalah menurut
petunjukku, urusan lain kau tidak usah turut ca mpur."
Kun-gi bingung, ia termenung : "Kelihatannya dia apal sekali
mengenai seluk-beluk Liong-bin-san-ceng ini."
Ji-ping me liriknya, katanya tertawa: "Toako, apa yang sedang
kau pikir? Lekas masuk, kalau terlambat, nanti in-congkoan keburu
pulang."
"Siapakah In-congkoan?" tanya Ling Kun-gi..
"In-congkoan adalah laki2 muka kelabu yang me mbeli lima blok
kain di toko Te k-hong itu, dia bernama In Thian-lok, Congkoan dari
Liong-bin-san-ceng ini."
"Kiranya kau kenal dia."
"Kalau tidak kenal, untuk apa kita ke mari?"
Dari kejauhan mereka sudah dengar derap kuda yang lari
kencang.
"Mereka sudah kemba li," kata Ji-ping., ia tarik tangan Kun-gi
serta mena mbahkan: "Pagar te mbok ini ada tiga tombak tingginya,
kalau aku melompat setinggi itu mungkin mengeluarkan suara, kau
harus bantu menarikku."
Berdebur jantung Kun-gi me nggandeng tangan yang halus ini.
Dengan tangan bergandeng tangan mereka keluar hutan terus
menge mbangkan Ginkang berlari secepat terbang.
Setiba di ka ki te mbok. Kun-gi berseru lirih: "Naik" badan tanpa
jongkok, kaki tidak ke li-hatan menekuk, hanya kedua lengan saja
yang bergerak. sedikit ujung ka ki menutul, dengan ringan dia
me mbawa Ji-ping mela mbung ke atas seringan kapas dan hinggap
di atas pagar tembok.
Waktu dia melihat ke dalam, ada jalan lebarnya enam kaki. Tak
jauh di ka ki te mbok sana dua orang laki2 bersenjata golok
berseragam hijau tua sedang berdiri me mbela kangi mereka. Di
bawah mereka mendeka m seekor anjing galak sebesar anak sapi,
kelihatan a mat cerdas dan tangkas, agaknya lebih sukar dilayani
dari pada manusia.
Sebelum me lompat naik tadi Kun-gi sudah menje mput dua butir
kerikil, baru saya tapak kaki hinggap di atas tembok. dua butir batu
lantas me luncur ke arah kedua orang, sementara mulutnya berseru
lirih: "Lekas turun"
Tanpa ayal Ji-ping melompat turun- Belum kakinya hinggap di
tanah, anjing pelacak itu sudah melompat bangun, bulunya berdiri,
giginya menyeringai me mburu maju.
Begitu berdiri tegak Ji-ping lantas me mbentak tertahan:. "Jangan
menyalak, aku" mendengar suara Ji-ping, anjing ga lak itu
menurunkan ekor-nya, dengan langkah pelan dia mengha mpiri Ji-
ping serta meng-endus2 tangan Ji-ping, sikapnya ra mah dan
aleman- Pui Ji-ping juga ulur tangan menepuk kepalanya, cepat dia
me langkah ke depan, anjing itu mengikut di be lakangnya.
Kun-gi melongo, pikirnya:. "Mungkin iapun sa lah seorang dari
Liong-bin-san-ceng?"
Ji-ping me mbawa anjing itu ke tempat lain, Kun-gi lantas
me lompat turun sembari me mbebas-kan tutukan Hiat-to kedua
orang tadi, segera bayangan berkelebat, tahu2 sudah lenyap di balik
kegelapan di deretan rumah sana.
Terdengar derap kaki kuda yang datang semakin dekat, agaknya
sudah sampa i di depan perka mpungan-
Waktu Kun-gi ce lingukan, dilihatnya Ji-ping sudah berkelebat
datang pula, katanya lirih: "Toako, mari ikuti aku"
Banyak tanda pertanyaan dalam hati Kun-gi, tapi tak sempat
bertanya, terpaksa dia ikuti setiap kehendak Pui Ji-ping, mereka
sembunyi di antara bayang2 kegelapan, mereka menyelundup
masuk lebih dala m.
Agaknya Ji-ping apal benar mengenai keadaan Liong-bin-san-
ceng, melewati ber-lapis2 rumah, naik ke wuwungan, me mbelok
kian ke mari, se-olah2 dia berada di rumah sendiri, cuma kali ini dia
ma in se mbunyi2.
Untung beberapa bangunan loteng sudah mereka la mpaui tanpa
konangan seorangpun, akhirnya mereka mengitari sebuah sera mbi
panjang terus me masuki sebuah hala man berbunga, Jiping bawa
Kun-gi masuk mela lui pintu kanan yang berbentuk bulan, sebelah
dalam adalah pekarangan kecil, sebuah e mpang dikelilingi tana man
bunga yang mekar se merbak.
Ada jembatan batu, di antara jalanan kecil yang berliku ke
belakang dipagari pot2 ke mbang dari berbagaijenis yang indah.
Di ujung kiri pekarangan terdapat undakan batu, di mana ada
tiga baris ka mar tulis, jadi untuk masuk ke ka mar tulis orang harus
lewat ruangan bunga, maka pintu bulan di kanan kiri jarang dibuka,
namun ena m jende la di tiap2 ka mar itu se mua terpentang lebar.
Pelan2 Ji-ping tarik lengan baju Kun-gi, mereka merunduk ke
dalam se mak2 bunga terus berjongkok. Di dala m ka mar tersulut
sebatang lilin. dari jauh terlihat ka mar itu penuh rak buku yang
berjajar rapi, lukisan me menuhi dinding, pada sebuah kursi di ujung
timur duduk seorang yang berpakaian ketat warna biru laut sedang
me mbaca buku di bawah penerangan lilin besar itu. Karena dia
duduk miring, yang kelihatan hanya setengah bayangannya, tak
jelas raut mukanya.
Kun-gi berpaling henda k tanya Pui Ji-ping, tampak sikap sinona
agak tegang, sebuah jarinya tegak di depan bibir, maksudnya
supaya dia jangan bersuara.
Pada saat itulah di luar pintu bulan sabit kedengaran langkah
ringan berhenti di depan ka mar buku, lalu terdengar suara yang
serak rendah berkata: "Cengcu, ha mba sudah ke mbali."
Dia m2 Kun-gi terkejut, pikirnya: "Ternyata orang yang me mbaca
buku itu adalah Liong-bin-san-ceng Cengcu Cu Bun-hoa adanya."
Terdengar suara lantang berkata di dala m: "Masuklah?"
Lalu seorang me mbuka pintu, langkah ringan itu masuk ke dala m
kamar. Terdengar suara serak itu berkata pula: "Mengingat musim
panas sudah menjelang, para saudara perkampungan perlu berganti
pakaian, ma ka dala m perjalanan ke kota kali ini ha mba sekalian
me mbe li lima blok kain katun."
"Barang2 permintaan Hujin dan Siocia juga sudah kau belikan?"
tanya suara lantang tadi.
"Se muanya sudah hamba beli, seluruhnya habis tiga ratus tiga
puluh dua tahil perak."
"Barang apa yang mereka minta, kenapa sampai keluar uang
begitu banyak?"
Suara serak melapor: "Tujuh blok kain sutera dan empat blok
kain satin, harganya cuma 24 tahil, di sa mping itu Siocia minta
dibelikan ke mbang berlian dan kalung mut iara, harganya sebanyak
seratus lima puluh tahil, sebelum pergi Hujin berpesan, kalau beli
harus sepasang, kalau Slocoa dibelikan, Piau-siocia juga harus
dibelikan pula . . . ."
Mendengar sampai di sini, Kun-gi me lirik ke-pada Pui Ji-ping
dibelakangnya.
"o," suara lantang itu bertanya: "Kau sudah antar ke belakang?
Lalu kabar apa yang kau dengar di kota?"
"Ha mba me mang hendak lapor kepada Ceng-cu," suara serak itu
berkata, "dari That-ho dan Ing-ciu diperoleh berita bahwa Lo-sa m
dan Lo-cit dari keluarga Tong, serta Loji dari keluarga Un, demikian
pula Kim Ting Kim Kay-thay yang jarang keluar pintu bersa ma
Thong-pi-thian-ong yang berangasan itu sama muncul di sekitar
sana ...."
"O," suara lantang itu berkata: "Tanpa berjanji mereka sama
me masuki daerah ini, sudahkah menyelidiki apa tujuan mereka?"
"Ha mba sudah utus beberapa saudara yang cekatan untuk
menyelidiki jejak mereka, sekarang me mang belum berhasil
diketahui ma ksud mereka, tapi hamba sudah mendapat laporan
anak buah yang ditugaskan ke Thung-seng . . . ."
"Berita apa yag kau peroleh?"
"Kabarnya dari Poh-yang, Ing-ciu sa mpai ke Sek-song, secara
beruntun beberapa kelompok orang itu mendadak lenyap tak keruan
paran-" Tergerak hati Ling Kun-gi, pikirnya "Masa orang2 itu lenyap
seluruhnya?."
"Apa katamu?" suara lantang itu menegas.
"Mereka hilang se muanya?"
"Ya, kabarnya mereka bergerak secara sendiri2, tapi tujuan satu,
tapi di sinilah letak aneh-nya, sebelum sampa i di Sok-seng, orang2
itu seperti mendadak a mbles ke bumi. Kini hamba sudah utus orang
untuk menyelidiki lebih lanjut."
"Bagus, sebelum je las tujuan orang2 itu, penjagaan kita di sini
harus diperketat," suara lantang berpesan-
Suara serak mengia kan, lalu bertanya- "Cengcu ada pesan lain?"
"Tiada lagi."
"Ha mba mohon diri," kata suara serak terus keluar dari ka mar
buku.
Suara serak itu sudah tentu adalah laki2 muka ke labu yang
me mbe li ka in di toko kain Te k-hong, yaitu Cong-koan Liong-bin son-
ceng In Thian-lok adanya.
Setelah dia keluar dari ka mar buku, laki2 jubah hijau itupun
berbangkit dari kursi ma las, sambil menggendong tangan dia
berjalan ke jendela, mendongak menghirup hawa segar, katanya
mengguma m: "orang sebanyak itu mendadak lenyap. ada kejadian
aneh apa yang telah mereka ala mi?"
Begitu dia dekat jendela, Kun gi dapat melihat je las wajahnya,
Liong-bin-sun-ceng cengcu yang kena maan dikalangan Kangouw ini
kelihatannya berusia 45-an, wajahnya putih, jenggot hita m
menjuntai di dada, tingkah lakunya le mah le mbut mirip seorang
sekolahan. cuma kedua alisnya tebal, kedua matanya berkilau bagai
bintang, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang ahli
Lwekang yang lihay.
Pui Ji-ping yang se mbunyi di se mak2 pohon begitu me lihat laki2
jubah hijau berdiri di depan jendela, karena hati keder, tanpa terasa
dia menarik kencang lengan baju Ling Kun-gi, sedikit gerakan ini
menyebabkan daun pohon tersentuh sehingga mengeluarkan suara
kresek, walau hanya gerakan lirih sekali, tapi kedua mata laki2
jubah hijau yang mencorong itu sudah me mperhatikan ke arah sini,
mulutpun me mbentak kereng.
"Siapa ?" wa lau suarabya tidak keras, tapi sangat berwibawa.
Terpaksa Ji-ping berdiri dan ke luar dari se mak2, sahutnya
pelahan: "Aku paman" jadi dia adalah keponakan la ki2 jubah hijau
itu.
Lalu dia me mbalik tubuh serta berkata: "Ling-toako, lekas ikut
aku." - dari sebutan Toako men-dadak dia ubah menjadi "Ling-
toako" dihadapan pa mannya sehingga kedengaran lebih wajar.
Setelah Ji-ping keluar, terpaksa Kun-gi ikut keluar, satu persatu
mereka melompati jendela masuk ke dala m dan berdiri di hadapan
laki2 jubah hijau.
Dengan tajam orang mengawasi mere ka, terutama melihat
dandanan Pui Ji-ping, seketika dia mengerut alis, katanya: "Kau ini
Ji-ping?"
Si nona tertawa, katanya. "Sudan kupanggil pa man, kalau bukan
Ji-ping, siapa lagi?" lalu ia berpaling kepada Kun-gi, dan berkata:
"Ling-toako, inilah pa manku, Cengcu dari Liong-bin-san-ceng ini."
Lekas Kun-gi me mberi hormat, katanya: "Cayhe Ling Kun-gi
me mberi sala m hormat kepa-da Cu-cengcu "
"Paman, Ling-toako telah dua kali menolong jiwa keponakanmu,
maka sengaja kubawa dia ke mari untuk mene mui pa man," demikian
tutur Ji-ping,
Tajam dan lekat pandangan Cu Bun-hoa, sejenak dia awasi Kun-
gi, katanya sedikit manggut2: "Silakan duduk saudara Ling, Ji-ping,
suruhlah orang menyuguh teh." - dala m hati dia me mbatin, "Buda k
ini ma la m2 mene mui aku, entah ada urusan apa." Sambil mengelus
jenggot, dan tatap Ji-ping, tanyanya. " Kalian ada urusan apa?"
Ji-ping menekan suaranya: "Ada urusan penting yang amat
rahasia hendak ka mi laporkan kepada pa man-"
Cu Bun-hoa me lengak dan bertanya: "Urusan rahasia apa?"
Kata Ji-ping sungguh2: "Pa man, urusan ini a mat penting dan
gawat, sekali2 tidak boleh bocor."
Melihat sikapnya yang prihatin, hati Cu Bun-hoa rada bimbang,
katanya: "Ji-ping, siapapun tanpa kupanggil t iada yang berani
masuk ke ka mar buku pa man ini, maka boleh kau terangkan
sekarang."
"Aku tahu," sahut Ji-ping, "tapi lebih baik kalau kututup jendela
ini."
"Me mangnya begitu penting?" tanya Cu Bun-hoa.
"Ya" sahut Ji-ping tertawa, "tadi kami se mbunyi di luar jendela,
bukankah percakapan paman dengan In-congkoan dapat kami
dengar semua?" - lalu iapun menutup jendelanya.
Cu Bun-hoa duduk di kursi sebelah atas, tanya-nya: "Ji-ping,
apakah Toaci (maksudnya ibu J i-ping) baik2 saja di ruma h?"
"Aku belum pulang," sahut Ji-ping menggeleng.
"Lalu ke ma na saja kau sela ma ini?"
Merah muka Ji-ping, sekilas dia lirik Kun-gi, katanya: "Di tengah
jalan kuberte mu dengan Ling-toako, la lu bersa ma dia."
Pandangan Cu Bun-hoa beralih ke arah Kun-gi, katanya tertawa:
"Aku sudah tahu, walau usia Ling-lote masih muda, tapi sorot
matanya gemilang, kepandaian silatnya tentu tidak rendah, entah
siapakah gurunya?"
Belum Ling Kun-gi buka suara, Ji-ping sudah mendahului:
"pandanganmu me mang tajam, Ling-toako adalah murid Hoan-jiu ji-
lay."
Melengak Cu Bun-hoa, katanya serius: "Jadi Ling-lote adalah
murid kesayangan paderi sakti Hoan-jiu-ji-lay, maaf aku kurang
hormat."
"cengcu terlalu rendah hati" Kun-gi berkata ra mah.
Mendengar nada pe mbicaraan kedua orang Ji-ping tahu kalau
pamannya menaruh hormat dan pe muja Hoan-jiu-ji lay, ma ka
hatinya ikut senang, katanya dengan suara hampir berbisik: "Ling-
toako ke mari untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling."
Cu Bun-hoa manggut2, katanya: "Aku pernah dengar berita dari
Kangouw bahwa keluarga Un di Ling-la m dan Tong di Sujwan
masing2 kehilangan kepala keluarganya, sanak familinya
mene mukan mutiara berukir huruf Ling di bawah bantal mereka.
Cin-Cu-ling me mang pernah mengge mparkan Kang-ouw beberapa
waktu yang lalu, tapi kejadian sudah berlarut, kini sudah mula i
dilupa kan orang, lalu bagaimana hasil penyelidikan Ling-lote?"
Ji-ping mendahului bicara pula: "Pa man, karena tiga bulan yang
lalu ibu Ling-toako juga mendadak lenyap, maka gurunya menyuruh
dia menge mbara di Kangouw untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling
itu, Langkah pertama Ling-toako pergi ke Kay-hong mene mui Kim
Ting Kim Kay-thay, karena ketua Yok-ong-tian, Loh-san Taysu dari
Siau-lim-s juga telah lenyap tiga bulan yang lalu."
Tergetar hati Cu Bun-hoa, katanya: " Ketua Yok-ong-tian Siau-
lim-si juga lenyap. kenapa aku t idak me ndengar?"
"Panjang ka lau diceritakan, Ling-toako, kau saja yang
menje laskan pada pa man-"
Maka Kun-gi bercerita tentang pengalaman belakangan ini sejak
dia mene mui Kim Kay-thay di Kayhong serta terima surat yang
serba rahasia dan misterius itu sampai sekarang.
"Ling-lote tahu, apa isi kotak sutera itu?" tanya Cu Bun-hoa.
"Paman," sela Ji-ping, "dengarkan saja dengan sabar, semuanya
akan jelas "
Kun-gi lalu ceritakan pula penculikan Pui Ji-ping oleh orang2
keluarga Tong yang dipimpin Cit-ya dan terpaksa dirinya sampa i
me luruk ke Pat-kong-san.
Cu Bun-hoa mendengus sa mbi1 menge lus jenggot: " Ke luarga
Tong juga berani main kayu terhadap keluargaku. Ji-ping, kapan2
paman juga ringkus Kwi-kianjiu itu, akan kugantung dia tiga hari
tiga mala m."
"Jangan," seru Ji-ping, "sekarang aku sudah angkat Tong-lohujin
sebagai ibu angkatku."
"o, apa pula yang telah terjadi ?" tanya Cu Bun-hoa tak mengerti.
"Waktu Ling-toako me luruk ke Pat-kong san, dia pukul hancur
Pat-kwa to tin keluarga Tong, Tong-hujin lalu menerima ku sebagai
puteri angkat. Toako, untuk selanjutnya kau saja yang bercerita."
"Seperti apa yang telah cengcu terima beritanya tadi, sejak mula
Wanpwepun terus menguntitnya sampai sini," de mikian sa mbung
Kun-gi setelah bercerita panjang lebar.
Berkerut alis Cu Bun-hoa, katanya: " Barang apakah sebenarnya
yang diantar secara marathon dengan ganti berganti tangan, sampa i
menimbulkan perhatian banyak orang."
Maka Ling Kun-gi bercerita pula akan pengala mannya sejak turun
dari Pat-kong-san, dan barang yang diantar itu sekarang
ke mungkinan sudah mencapai tempat tujuan ya terakhir.
"Ke mana mereka antar barang itu?" tanya Cu Bun-hoa ke mudian-
"Yang jelas barang itu cin cu-ling, Wanpwe sudah membuktikan
sendiri."
"Lalu bagaimana se lanjutnya menurut apa yang kau ketahui?"
"Menurut hasil penyelidikan Wanpwe, Cin-Cu-ling harus
diserahkan kepada seorang yang me mbe li lima blok kain katun di
toko kain Te k-hong di kota Thung-seng." '
Berubah air muka Cu Bun-hoa, tanyanya. "Kalian terus
menguntitnya tidak?"
"Sudah tentu," sela Ji-ping.
"Jadi kalian sudah melihat Cin-Cu-ling itu di-terimakan kepada
orang yang beli lima blok kain katun itu?"
"Ka mi me nga mati dari warung teh diseberang jalan toko Tek-
hong, semua kejadian ka mi saksikan dengan jelas," demikian Ji-ping
bercerita, "cuma pengantar barang yang semula menggelung kuncir
di atas kepala hari itu menyamar sebagai pedagang perhiasan,
dengan caranya yang lihay dia simpan C in-Cu-ling di antara
perhiasan terus dijual kepada pembeli ka in itu, orang lain yang tidak
tahu tentu menyangka dia membe likan perhiasan untuk anak
gadisnya ......"
"Jadi dia?" desis Cu Bun-hoa dengan mata terbeliak.
"Paman tidak percaya?" Ji-ping menegas.
Pelan2 mata Cu Bun-hoa tatap mereka berdua, suaranya kalem
dan rendah: "Sudah puluhan tahun In Thian-lok mengikuti aku,
biasanya amat setia dan menyelesaikan tugasnya dengan ba ik,
selamanya belum pernah me lakukan kesalahan, kalau dikatakan dia
me mpunyai maksud jahat, sungguh sukar dipercaya..... " dia
pandang Ling Kun-gi, lalu menyambung pula: "Ling lote, di atas
loteng itu kau menyaksikan dengan jelas, coba kau jelaskan pula
lebih teliti."
Terpaksa Kun-gi me nceritakannya pula lebih terperinci.
Lama Cu Bun-hoa menepekur, katanya kemudian: "Mereka
serahkan Cin-Cu-ling kepada In Thian-lok. jadi orang berikutnya
yang hendak di-culik ada lah diriku."
" Kukira de mikian adanya," kata Ji-ping.
" Waktu Cayhe meninggaikan Kayhong, Kim-loyacu juga pernah
menyinggung diri Cu-cengcu kepada cayhe."
"Apa kata Kim Kay-thay?"
"Kim-loyacu bilang, orang2 yang diculik oleh komplotan cin-cu
ling ini kebanyakan adalah ahli2 racun, obat bius dan obat2an,
dalam Bu-lim, kecuali ke luarga Tong yang pandai mengguna kan
racun dan senjata, keluarga Un ahli obat bius, katanya Cu-cengcu
juga seorang ahli dala m bidang ini ....."
Hebat perubahan air muka Cu Bun-hoa kali ini, mulutnya
menggera m sekali.
Terbelalak lebar mata Pui Ji-ping, tanyanya "kenapa tidak pernah
kudengar engkau -orang tua juga pandai ma in racun?"
Hanya sebentar perobahan air muka Cu Bun-hoa, tuturnya sambil
menghe la napas: " Keluarga cu kita sela manya belum pernah
berkecimpung di Kangouw, mungkin itu hanya berita kosong bela ka
diluaran, soalaya kakek luarmu dulu pernah menolong seorang tua
yang terluka parah dan hampir ajal di luar perka mpungan, tiga
bulan la manya orang tua itu dirawat sampai sembuh, sebelum pergi
dia meningga lkan sesuatu resep obat. Waktu itu keamanan sering
terganggu, kawanan rampok merajale la. ma in bunuh, ra mpok.
me mperkosa kaum wanita, sehingga jaman itu keadaan kacau
balau, orang tua itu pernah berpesan kepada kakek luar-mu supaya
me mbuat obat menurut resep yang di tinggalkan serta ditaburkan di
daerah tiga li di luar perka mpungan secara melingkar, kemungkinan
rampok itu tidak akan berani mengusik ke mari . . . ."
"Tentunya obat itu racun yang a mat lihay?" tanya Ji-ping.
"Betul," Cu Bun-hoa mengangguk, "tak la ma ke mudian,
sekawanan perampok me mang meluruk datang, tapi tiga li di luar
perkampungan kita kawanan perampok ini sa ma terjungkal roboh
binasa sehingga Liong-bin-san-ceng tidak terusik sedikitpun, orang
luar yang tidak tahu persoalannya menganggap ke luarga Cu kita
juga ahli da la m bidang ini, begitulah sa mpai sekarang, berita ini
makin tersiar luas di luaran-"
"Paman, resep obat itu masih ada?" tanya Pui Ji-ping.
Cu Bun-hoa tertawa tawar, ujarnya: " Kejadian ini sudah lima
enam puluh, tahun yang lalu, kakek luarmu tidak mewariskan resep
itu padaku."
"Sayang sekali," kata Ji-ping gegetun.
"Jadi komplotan ini menyogok In Thian-lok dan berusaha
menculik diriku, tujuannya tentu juga resep obat beracun itu," ujar
Cu Bun-hoa sa mbil mengelus jeng got.
"Bagaimana sikap pa man untuk me nghadapi persoalan ini?"
tanya Ji-ping.
Cu Bun-hoa naik pita m, katanya gusar: "Biar kupanggil In Thian-
lok ke mari, akan kutanya dia."
Cukup la ma Kun-gi tidak bersuara, sekarang dia menyela: "Cu-
cengcu, jangan kau menyingkap rumput mengejut kan ular malah."
"Secara berhadapan kutanya padanya, memangnya berani dia
mungkir?" ujar Cu Bun-hoa.
"Bahwa dala m perka mpungan ini ada orang yang kena sogok
oleh komplotan itu, mungkin ada mata2 lain pula yang
diselundupkan ke mari, jumlahnya tentu tidak satu dua orang saja,
cara-paman benar In Thian-lok menga ku terus terang dihadapan
Cengcu, tapi beberapa mata2 itu tetap. menjadi rahasianya,
bagaimana Cengcu bisa me mbongkar komplotan jahat itu?"
"Betul ucapan Ling-lote," ujar Cu Bun-hoa, "Ai, sudah puluhan
tahun In Thian-lok menjadi tangan kananku yang terperCaya,
ternyata dia berani menging kariku dan berkomplot dengan musuh,
kalau dipikir sungguh a mat mengerikan-"
"Sudah beberapa bulan ibu menghilang, menurut dugaan Suhu,
ke mungkinan diapun terculik oleh kawanan Cin-Cu-ling ini, ka lau
mereka sudah menyogok In Thian-lok untuk melaksana kan perintah
mut iara itu, terang tujuannya adalah menculik cengcu secara diam2,
cayhe punya pendapat bodoh, entah bisa tidak dila ksanakan?"
Bersinar mata Cu Bun-hoa, katanya. "coba jelaskan
pendapatmu."
"Menurut pendapat cayhe, untuk sementara cengcu tetap berlaku
wajar, anggap tidak tahu apa2, kita ba las menipu mereka."
Tangan mengelus jenggot, dengan tajam Cu Bun-hoa tatap muka
Ling Kun-gi, la ma dia berdia m diri,
"cayhe sedikit menggunakan tata rias, biar cayhe menyaru Cu-
cengcu dan diculik mereka, dengan cara ini sekaligus aku akan
berhasil menyelidiki sarang mereka, akupun akan berhadapan
dengan biang keladi dari perist iwa ini dan mengetahui apa
tujuannya?"
"Baik seka li tipu ini", ujar Cu Bun-hoa.
"Bagi cayhe dapat bekerja menurut keadaan untuk menolong
ibunda, bagi cengcu, secara diam2 dapat mengawasi gerak-gerik In
Thian-lok. supaya semua mata2 yang diselundupkan sini bisa
terjaring seluruhnya."
"Masuk a kal," ujar Cu Bun-hoa manggut2, "baiklah kita bekerja
menurut pendapat Ling-lote ini."
"Ling toako, kau menya mar paman masuk ke sarang musuh, lalu
aku?" tanya Ji-ping. "Tugas apa yang kau serahkan padaku?"
"Kau sudah berada di rumah pamanmu sendiri, boleh mencuci
samaranmu. tinggal saja beberapa hari di sini, keadaan Kangouw
sekarang sudah kacau balau, tidak baik kau keluyuran lagi di luar."
"Tida k keadaanku ini tida k ada yang me mperhatikan, secara
dia m2 aku bisa kuntit mereka dengan leluasa aku bisa mengirim
kabar kepada pa man-"
"Ji-ping, jangan kau naka l, tepat ucapan Ling-lote, kau seorang
perempuan, jangan keluyuran saja, tinggal saja beberapa hari di
sini, akan kusuruh orang me mberi kabar kepada ibumu."
Dihadapan pa mannya, Ji-ping tidak berani merenge k dan banyak
bicara lagi.
"Mala m ini kukira tidak akan ada kejadian, Ling-lote boleh
menginap di ka mar rahasiaku Ji-ping lekas kau cuci muka, ganti
pakaian dan ke mbali ke bela kang.
"Tida k pa man, Ling-toako besok mungkin pergi, dia sudah janji
mengajarkan ilmu tata rias padaku, sebelum dia pergi ma la m ini aku
akan belajar padanya."
"Ilmu rias mana bisa dipe lajari se mala m saja? Belum terla mbat
untuk belajar setelah Ling-lote ke mbali nanti."
Sudah tentu dia tidak tahu perhitungan Pui Ji-ping, kata nona itu:
"Tida k. ma la m ini juga aku akan belajar, meski hanya kulitnya saja.
Ling-toako sekarang juga kau ajarkan padaku?"
Apa boleh buat terpaksa Kun gi manggut2, katanya: "Boleh saja,
nanti kuajarkan yang paling ga mpang dulu."
Pui Ji-ping berjingkrak girang, katanya: "Ling-toako, ajarkan cara
merias seperti keadaanku sekarang ini."
"Kalau belajar, ajaklah Ling-lote ke ka mar rahasiaku saja," kata
Cu Bun-hoa.
Dengan keheranan Ji-ping Celingukan, tanyanya: "Paman, di
mana letak ka mar rahasia itu? Aku kok tidak tahu?"
"Ka mar itu buat latihan kakek luarmu, bibipun tidak tahu. mana
kau bisa tahu?"
"Jadi Piauci juga tidak tahu? Pa man, di ka mar itu?"
Cu Bun-hoa tersenyum sambil mengha mpiri rak buku di sebelah
timur, tangan diulur dan sedikit ditekan, dua rak buku yang se mula
rapat berjajar tiba2 bergerak pelan2, lalu muncul sebuah pintu di
belakangnya.
Pui Ji-ping menjerit senang sambil tepuk tangan dan segera dia
mendahului menerobos masuk.
"Ji-ping, berhenti" tiba2 Cu Bun-hoa me mbentak.
Baru tiga langkah Ji-ping bergerak lantas dengar seruan
pamannya, cepat ia berpaling, tanyanya: "Paman, untuk apa kau
me manggilku?"
Cu Bun-hoa melangkah ma ju, tangannya menekan dua kali di
pinggir pintu, lalu berkata, "Sekarang boleh masuk."
Melihat kelakuan orang, dia m2 Kun-gi Me mbatin: " Kabarnya Cu
Bun-hoa pandai me masang alat2 perangkap. Liong-bin-san-ceng di
mana2 banyak jebakan, orang luar yang tidak tahu seluk-beluknya
jangan harap bisa masuk ke mari, tapi sepanjang jalan masuk
bersama Ji-ping tadi sedikitpun a ku tida k me lihat tanda apa2 di
kamar ini, terang juga dipasang alat jebakan."
Dari meja di sebelah Cu Bun-hoa ambil sebuah lentera yang
terbuat dari tembaga dan diangsurkan kepada Ji-ping, katanya:
"Sulut apinya dan tunjukan jalan bagi Ling-toako."
Pui Ji-ping mengiakan terus menyulut api, katanya: "Mari Ling-
toako" Lalu dia mendahului masuk.
Kun gi segera ikut masuk, pintu di bela kang mereka lantas
menutup secara otomatis. Dengan seksama dia menga mati, ka mar
ini t idak begitu besar, namun serba rapi dan teratur bersih, sebuah
dipan kayu terukir indah mepet dinding sebelah kanan, kedua
sampingnya masing2 terdapat sebuah meja marmer yang
bergambar indah. Delapan lukisan menghias kedua dinding yang
luas itu, tepat di tengah kamar ada sebuah meja delapan segi
berukir di kelilingi empat buah kursi berpunggung. Sebuah almari
buku ada di sebelah kiri, di atasnya berjajar berbagai barang2 antik,
dilapisan tengah tertaroh botol2 obat, entah obat2 apa karena tiada
keterangan-
Melihat gelagatnya, Ciam-Liong (naga terpenda m) Cu Bun-hoa
sering meyakinkan ilmu dan sa madi di ka mar ini seorang diri.
Dasar nakal, begitu masuk Ji-ping lantas mengha mpiri dipan dan
berduduk. katanya tertawa:
"Mungkin Gwakong (kakek luar) sering latihan di atas dipan ini,
ukirannya begini indah dan hidup,"
Entah kenapa, mungkin tanpa sengaja, tangannya yang usil telah
menyentuh alat rahasia, tanpa bersuara dipan itu bergeser ke kiri, di
bawah segera tampak sebuah lubang dengan deretan unda kan
menjurus ke bawah, kiranya itulah pintu masuk ke sebuah lorong di
bawah tanah.
Karena duduk di atas dipan, Ji-ping ikut tergeser ke kiri, keruan
kagetnya bukan main, lekas dia melompat turun. Mengawasi lubang
gelap di bawah, ia heran dan kaget, katanya: "Toako, mari kita
turun melihatnya."
"Jangan, inilah ka mar rahasia pamanmu, lekas kau betulkan ke
tempat se mula."
"cuma lihat2 saja, kenapa? Diakan pa manku."
"Setiap orang pasti punya rahasianya sendiri, bibipun tidak tahu
adanya kamar rahasia ini, bahwa dia memberi ijin kita masuk
ke mari, pertanda dia percaya pada kita, lalu jangan di luar tahunya
kita mencuri lihat rahasianya? Lekas kau betulkan ketempat
asalnya."
"Aku menyentuh tanpa sengaja, entah bagaimana aku harus
berbuat untuk me mbetulkan ke mbali,"
Baru berakhir percakapan mereka, terdengarlah suara Cu Bun-
hoa dengan tertawa, "Aku punya rahasia apa? Lorong itu mene mbus
ke belakang gunung2an palsu di tengah taman sana, dulu waktu
almarhum ayahku latihan suka ber-jalan2 di ka mar, jadi tiada
rahasia apa2."
Sebelum dia selesai bicara, dipan itupun bergerak ke mbali ke
tempat asalnya.
Kun-gi cukup tahu diri, dia tahu banyak perangkap dan alat2
rahasia lainnya dalam ka mar ini, terbukti percakapan mereka
didengar jelas oleh Cu Bun-hoa di ka mar buku, secara tak langsung
kata2nya telah memberi peringatan supaya mereka tidak sembarang
bergerak atau menyentuh apa2 yang ada di da la m ka mar ini.
Maka ia lantas berkata: "Nona Pui, le kaslah ke mari, sekarang
juga mula i kuajarkan pada mu," lalu dia tarik sebuah kursi serta
berduduk. dari bajunya dia keluarkan kotak bahan2 rias dan ditaruh
di atas meja. Dengan riang Ji-ping lantas duduk di kursi sebelah
kanan Kun-gi.
Kun-gi ke luarkan obat cuci yang berwarna madu dan
menyuruhnya mengusap muka sendiri untuk me mbersihkan
wajahnya. Lalu dimulai ajaran mengga mbar alis, bagaimana
menebalkan lekuk bibir mata, bagaimana menca mpur bahan2 serta
me moleskan ke muka, di sini tebal di sana tipis, sembari me mberi
penjelasan sebelah tangan memegang kaca kecil serta bergerak
menggoles2 muka sendiri, begitu jelas dan teliti sekali
penjelasannya.
Otak Ji-ping me mang cerdas, sudah tentu sekali dijelaskan dia
lantas tahu, cepat sekali dia sudah mahir juga menggunakan alat
rias itu terus memperagakan diri, wajah sendiri dibuat percobaan
dihadapan Ling Kun-gi, bila ada yang salah Kun-gi la lu me mberi
petunjuk. muka dicuci, diulangi sekali lagi.
Mendekati kentongan kedua, pintu kamar di-ketuk orang dari
luar, suaranya lirih. Menurut kebiasaan, setiap mala m sebelum tidur
Cengcu Cu Bun-hoa menyuruh pelayan pribadinya me mbikin sop
sarang burung, Kebiasaan ini sudah berlang-sung beberapa tahun
la manya, pada hari2 biasa ketukan pintu demikian juga sudah
terlalu biasa, tapi lain dengan mala m ini, mendengar suara ketukan
pintu ini, jantung Cu Bun-hoa lantas berdetak tegang.
Sarapan pagi setiap harinya dia makan sendiri di ka mar buku ini,
dalam keadaan terang benderang, komplotan penjahat itu jelas
tidak takkan berani turun tangan. Sementara siang dan malam dia
makan bersa ma isteri dan puterinya di belakang, ada pelayan yang
me layani kebutuhan mereka, musuh terang tiada kesempatan
bekerja. Dan untuk makan mala m menjelang tidur ini, selalu diantar
dari belakang, hari sudah larut malam, seorang diri dala m ka mar
buku lagi, inilah kesempatan paling baik untuk turun tangan bagi
komplotan itu. Secepat kilat pikirannya bekerja, segera dia bersuara
dengan rendah: "Siapa?"
Terdengar suara perempuan di luar pintu, sahutnya: " Hamba
Kwi-hoa, mengantar bubur sarang burung untuk cengcu."
"Ya, bawa masuk" sera Cu Bun-hoa.
Pintu terbuka, tampak Kwi-hoa me mbawa nampan warna merah,
di mana tertaruh sebuah mangkok yang mengepulkan bau sedap.
Nampan diletakkan di atas meja, mangkok berisi bubur itu terus
diserahkan kepada Cu Bun-hoa, mulutnya berkata manis: "Sila kan
cengcu makan-" Duduk dikursi ma las, dengan pandangan tajam Cu
Bun-hoa menatap muka Kwi-hoa.
Kwi-hoa adalah nona yang berusia delapan atau sembilan be las
tahun, gadis ini a mat cekatan dan cerdik, perasaannyapun tajam,
terasa olehnya kedua biji mata sang cengcu tengah menatap dirinya
lekat2. Biasanya hal ini tidak pernah terjadi, keruan hatinya kebat-
kebit, wajah seketika merah jengah, berdiri di samping dia
menunduk tak berani bergerak.
Sambil mengelus jenggot yang terawat baik, dengan suara
tertekan Cu Bun-hoa bertanya: "Kwi-hoa, sudah berapa tahun kau
bekerja di sini?"
"Sudah tiga tahun," sahut Kwi-hoa lirih.
"Siapa yang me mbawa mu kerja di sini?"
"In-congkoan."
Geram hati Cu Bun-hoa, ternyata memang se-komplotan,
demikian batinnya, lalu tanyanya pula:
"Bagaimana kau kenal dengan In-congkoan?"
"Se mula ha mba tidak kenal In-congkoan, tiga tahun yang lalu
setelah ayah bunda wafat, tiada orang yang kubuat sandaran,
terpaksa menjual diri sebagai pelayan, kebetulan In-congkoan
lewat, mendengar logat hamba, kiranya ka mi ada lah kelahiran
sekampung, setelah tanya jelas riwayat hidup ha mba, baru In-
congkoan me mbawa ku ke mari."
Cu Bun-hoa manggut2, tangan membuka tutup mangkok lalu
mengangkatnya, pelan2 hendak menghirupnya .
Kwi-hoa yang berdiri di sa mping melirik secara dia m2, wajahnya
mena mpilkan rasa senang. Sudah tentu perubahan mimiknya tidak
lepas dari pengawasan Cu Bun- boa, seperti merasa buburnya
terlalu panas, dia urung menghirupnya, lalu ditaruh ke mba li di atas
meja pula, tanyanya: "Kau yang masak bubur ini?"
"Ya, atas petunjuk Hujin," sahut Kwi-hog.
"Waktu kau me mbawa bubur ke mari, adakah kete mu siapa?"
Sedikit berubah air muka Kwi-hoa, sahutnya: "Ti ....... tiada."
Cu Bun-hoa pura2 mende lik, suaranya kereng: " Waktu kau
me mbuat bubur, pernah kau tinggalkan sebentar?"
Kwi-hoa mula i kurang tenteram, sahutnya lirih: "Tidak."
Terpentang mata Cu Bun-hoa, katanya: " Kurasa bau bubur ini
rada ganjil."
"Tida k mungkin," sahut Kwi-hoa, berubah air mukanya,
"bahan2nya pilihan khusus, mangkok ini-pun milik cengcu pribadi,
waktu me mbuatnya hamba tidak lena, mungkin mala m ini terlalu
banyak kuahnya, sehingga rasanya agak tawar."
Cu Bun-hoa tertawa aneh, katanya: " Kuahnya terlalu banyak?
Me mangnya Lohu tidak bisa me m-beda kan bau bubur sarang
burung?"
"Kalau begitu biar hamba buatkan lagi yang lain," kata Kwi-hoa
takut2.
"Kalau me mang kau sendiri yang me mbuatnya, coba kau saja
yang makan," ujar Cu Bun-hoa.
Kaget Kwi-hoa dibuatnya, ia menyurut mundur, katanya: "Bubur
untuk hidangan cengcu, mana ha mba berani me makannya."
"Tida k apa, Lohu suruh kau ma kan-"
Pucat muka Kwi hoa, suaranya gelisah. "Hamba tidak berani
......."
Cu Bun-hoa menukas dengan suara kereng.-"Berani kau
me mbangkang kehendak Lohu?"
Mendadak dia melompat bangun, sekali raih dia Cengkeia m
tengkuk Kwi-hoa, tangan kiri menekan dagu orang, mulut
dipepetnya sampai terbuka, semangkok bubuk itu terus dia tuang ke
mulutnya.
Kejadian berlangsung teramat cepat, tidak se mpat meronta atau
bersuara sedikitpun, sebagian besar bubur semangkok itu tertuang
masuk perut Kwi-hoa, lekas sekali Hiat-topun tertutuk dan tak
ma mpu berkut ik lagi.
Pui Ji-ping me mang cerdik, hanya sctengah jam, di bawah
petunjuk Ling Kun-gi pe lajaran tata rias tingkat pertama sudah
berhasil dikuasainya dengan baik, Kini ia sudah berhasil mengubah
bentuk mukanya menjadi apa saja yang ia kehendaki, sudah tentu
senang hatinya tak terkatakan, hanya suara-nya yang sukar dia
ubah dalam waktu singkat, tapi soal suara tidak begitu penting, asal
jarang buka suara, orang tetap dapat diketahui.
Tanpa mengenal le lah serta sabar Kun-gi terus me mberi
penjelasan segala seluk beluk tentang tata rias ini, pertanyaan Ji-
ping ber-tumpuk2, ada saja persoalan yang dia ajukan.
Pada saat itulah, pintu rahasia yang tembus ke ka mar buku tiba2
terbuka, Cu Bun-hoa melangkah masuk sa mbil menge mpit seorang
perempuan di bawah ketia knya.
Lekas Ji-ping berdiri dan menyongsong maju, tanyanya: "orang
ini ... he, kau kan Kwi-hoa?"
Cu Bun-hoa turunkan Kwi-hoa di atas lantai, wajahnya tampak
serius, katanya: "Tak tersangka komplotan penjahat itu bergerak
begini cepat."
Ji-ping kaget, tanyanya: "Maksud paman Kwi-hoa sekomplotan
dengan musuh?"
"Di da la m bubur dia ca mpur obat bius, untung Lohu sudah siaga,
setelah kupancing lantas kelihatan belangnya, sebelum dia
menyadari apa2 semangkok bubur itu sudah kucekok ke mulutnya,
betul juga dia lantas kelenger."
"Lalu bagaimana pa man?" tanya Ji-ping.
"Menurut dugaan Lohu, walau musuh sudah menyelundup di
sekitar kita, sebelum Kwi-hoa keluar, mereka takkan berani
sembarang bertindak, terpaksa kau harus me nyaru Kwi-hoa,
bawalah mangkok kosong itu ke belakang, lalu Ling-lote menyaru
Lohu, sesuai dengan rencana kita."
Kun-gi manggut, katanya: "Mau bekerja janganlah me mbuang
waktu, nona Pui, lekas duduk biar kurias muka mu." Hanya
sepeminuman teh, Kun-gi sudah selesai merias Ji-ping, kini
wajahnya mirip benar dengan Kwi-hoa seperti pinang dibelah dua.
Cepat sekali Ji-ping lucuti pa kaian Kwi-hoa terus dipaka inya.
Sementara me megangi kaca Kun-gi merias wajah sendiri seperti Cu
Bun-hoa, dengan cepat sekali dia sudah berubah jadi Cu Bun-hoa,
lalu mereka saling bertukar pakaian- Tak lupa Kun-gi simpan Pi-to-
cu warisan keluarganya, kantong sula m pe mberian Un Hoan-kun
dan pedang pan-dak di da la m bajunya. Cu Bun-hoa mendesak: "J i-
ping, kau harus le kas keluar."
Mengawasi Kun-gi, berat rasa hati Ji-ping untuk berpisah,
katanya: "Ling-toako, kau a kan masuk ke sarang harimau, hati2lah."
"Nona Pui tak usah kuatir, belum setimpal komplotan jahat ini
menjadi perhatianku."
"Lalu di mana kelak aku harus mencarimu?" tanya Ji-ping. Dia
sudah me mberanikan diri mengucapkan kata2 ini dihadapan
pamannya. Seorang gadis akan mencari laki2, ke mana maksud
tujuannya iapapun sudah mengerti.
"Seorang diri jangan nona keluyuran di Kangouw, kela k setelah
berhasil menolong ibu, pasti a ku ke mari menengokmu."
Dala m hati Ji-ping berjanji, "Tidak!! aku takkan tinggal di sini, ke
ujung langitpun akan kucari dirimu." Sudah tentu kata2 ini tida k
berani dia ucapkan.
Sudah tentu Cu Bun-hoa dapat meraba perasaan keponakannya
yang sedang kasmaran ini. soalnya waktu amat mendesak, lekas dia
mendesak lagi, "Ji-ping, sudah terlalu la ma Kwi-hoa antar bubur ini,
sekarang lekas kau keluar."
Kembali Ji-ping pandang Kun-gi lekat2, la lu dengan langkah berat
ia ke luar.
Sambil mengelus jenggot Cu Bun-hoa berpesan: "Ling-lote, kau
cerdik pandai, tentu Lohu tidak perlu banyak pesan lagi, di sini Lohu
menunggu kabar baikmu, semoga kau berhasil menolong ibumu
dengan leluasa, dan jangan lupa kemari lagi me mberi kabar, jangan
pula kau bikin telantar maksud baik Ji-ping."
Merah muka Kun-gi, katanya sambil menjura: "Terima kasih akan
perhatian cengcu."
"Maaf, Ling-lote, Lohu tidak mengantar."
Tanpa bicara lagi Kun-gi beranjak ke luar, rak buku di
belakangnya segera menutup sendiri. Waktu itu Pui Ji-ping sudah
me mbawa na mpan berisi mangkok kosong ke luar ka mar.
Pelan2 Kun-gi mendekati kursi ma las lalu duduk bersandar,
pelan2 pula me mejamkan mata, diam2 dia kerahkan hawa murni
menghimpun se mangat.
Entah berapa lama lagi, terdengar langkah gugup mendatangi
dari luar pintu, Lalu terdengar suara serak In Thian-lok
berkumandang di luar: "Lapor cengcu, ada urusan penting a kan
hamba sa mpa ikan-" Sudah tentu Kun-gi dia m saja.
Sesaat kemudian, karena tidak mendengar suara cengcu, in-
congkoan berkata pula: "Apa ceng-cu sudah tidur?" Dia tahu bahwa
Cu Bun-hoa sudah menghabiskan semangkok bubur, tentu sekarang
sudah terbius pulas, tapi dia tidak berani gegabah, mulut bicara, dia
tetap berdiri dan menunggu di luar pintu.
Begitulah sesaat lamanya lagi baru In Thian-lok pura2 bersuara
heran: "Aneh, Lwekang cengcu a mat tinggi, kenapa tak terdengar
suara apa2?"
Kata2nya ini hanya alasan belaka supaya dia dapat mendobrak
pintu masuk ke dala m. Ka li ini dia keraskan suara: "cengcu,
cengcu?"
Di se keliling ka mar buku ini sudah terpendam anak buahnya,
betapapun keras suaranya dia tidak takut mengejutkan orang lain
yang tidak bersangkutan. Maka dengan leluasa dia dorong pintu
terus me mburu masuk. Sekilas mata menjelajah, dilihatnya Cu Bun-
hoa rebah telentang di atas kursi malas.
In Thian-lok pura2 kaget, dengan lagak gopoh ia mendekat ke
depan kursi dan tanya: "ceng-cu, kenapa? Lekas bangun" Lalu dia
raba dahi Cu Bun-hoa, seketika wajahnya mengulum senyum sinis
girang, mendadak kedua tangan bekerja cepat, kesepuluh jarinya
naik turun, bagai kilat delapan Hiat-to penting didada Cu Bun-hoa
telah ditutuknya.
Kun-gi sudah me mpersiapkan diri, hawa murni sudah me lindungi
badan, seluruh Hiat-to di badan-nya sudah terlindung, sudah tentu
Hiat-tonya tidak mudah tertutuk.
Tapi Cu Bun-hoa yang sembunyi di ka mar buku dapat
menyaksikan dengan jelas, sudah tentu dia tida k tahu kalau Kun-gi
sudah meyakinkan hawa murni pelindung badan ini, karuan ia
kaget, pikirnya: "In Thian-lok berasal dari golongan hitam, beka l
kepandaiannya sendiri tida k le mah, sela ma tahun2 terakhir ini
me mperoleh banyak kemajuan lagi atas petunjukku, tingkat
kepandaiannya sekarang sudah mencapai ke las wahid, delapan
tutukan Hiat-to itu a mat lihay, meski Ling-lote tidak terbius, setelah
tertutuk Hiat-tonya, tetap dia tak dapat berkutik diantar masuk ke
mulut harimau."
Sementara itu In Thian-lok mendekati jendela sebelah selatan,
kain gordin dia singkap. daun jendela dia buka, lalu menga mbil lilin
dan di-gerak2kan tiga kali di luar jendela.
Tidak la ma ke mudian terdengar suara kesiur angin, sesosok
bayangan orang menerobos masuk lewat jendela. Lekas In Thian-
lok menyongsong maju, katanya sambil menjura: "Silakan Hou-
heng"
Orang yang baru menerobos masuk berpakaian hijau bertubuh
tinggi kurus, suaranya dingin: "in-heng menyerahkan orang tepat
pada waktunya, tidak kecil pahala mu." Tergerak hati Kun-gi,
batinnya. "Orang she Hou, mungkin Hou Thi-jiu adanya?"
In Thian-lok tertawa, katanya sambil menuding "Cu Bun-hoa"
yang rebah di kursi malas: "inilah Cu-cengcu, anak buahku sudah
tersebar di sekeliling ka mar ini, bagaimana mengangkutnya keluar,
kami tunggu petunjuk Hou-heng."
"Soal ini in-heng tida k usah mencapaikan diri. cuma jalan keluar
perkampungan ini, apakah in-heng sudah mengaturnya dengan
baik?" tanya laki2 baju hijau.
"Hou-heng tidak usah kuatir, semuanya sudah beres," sahut In
Thian-lok.
"Baiklah," ujar laki2 kurus baju hijau, lalu dia me mbalik ke dekat
jendela, ia bertepuk tiga kali. Ta mpak dua bayangan orang
me layang masuk. itulah dua laki2 baju abu2, salah seorang
me manggul sebuah karung besar.
Kepada kedua laki2 yang baru datang, si baju hijau berkata
sambil me nuding Cu Bun-hoa: "Masukkan dia ke dala m karung."
Kedua laki2 mengiakan, seorang me mbuka karung dan yang lain
angkat tubuh Ling Kun-gi terus didorong masuk ke da la m karung,
lalu di ikat kencang mulut karung itu.
Kata si baju Hijau: "Kami harus segera pergi, bagaimana keadaan
di sini selanjutnya, tidak perlu kuje laskan bukan?"
In Thian-lok manggut2, sahutnya: "Siaute sudah tahu, Hou-heng
boleh silakan-"
Sibaju hijau me mberi tanda kepada kedua anak buahnya terus
mendahului me lompat keluar. Gerak-gerik ketiga orang itu ringan
dan gesit, dengan cepat sekali bayangan mereka sudah lenyap di
luar te mbok.
Percakapan mereka sudah tentu didengar je las oleh Ling Kun-gi,
terasa karung dipanggul di atas pundak. dibawa melompat turun
naik, cepat sekali sudah meninggalkan Liong-bin-san-ceng.
Beberapa kejap ke mudian, mendadak mere ka berhenti. Terdengar
suara orang bertanya di sebelah depan: "Sudah berhasil?"
Maka terdengar penyahutan orang she Hou: "Lapor Kongcu,
sudah berhasil."
Kun-gi me mbatin: "Hou Thi-jlu me manggilnya Kongcu, itulah
Dian-kongcu atau si baju biru yang berada di Kayhong te mpo hari."
"Baik seka li," ujar Dian-kongcu.
Agaknya sambil bicara Dian-kongcu terus melangkah pergi, ma ka
kedua orang yang me manggul Ling Kun-gi ikut ber-lari2 kencang.
Dari derap langkah orang, Ling Kun-gi menghitung se muanya ada
empat orang. Hanya empat orang berani me luruk ke Liong-bin-san-
ceng, menculik "naga terpendam" Cu Bun-hoa, walau mereka sudah
tanam mata2 dan kaki tangan di Liong-bin-san-ceng, tapi
keberanian mereka sungguh luar biasa.
Mereka terus ber-lari2 satu jam lamanya, di-perhitungkan sudah
puluhan li meningga lkan Liong-bin-san-ceng, rombongan e mpat
orang ini lantas berhenti. Terdengar di pinggir jalan ada suara
rendah menyapa maju: "Kongcu sudah ke mba li"
Dian-kongcu hanya mendengus, terdengar suara pintu terbuka
dan kerai tersingkap. Dian-kongcu lantas me langkah masuk, kedua
laki2 yang me manggul karungpun menurunkannya ke tanah terus
me mbuka tutupnya, dua orang baju abu2 menyeret Kun-gi ke atas
kereta.
Kun-gi tetap pejamkan mata, dia pura2 pingsan, biarkan saja apa
kehendak mereka atas dirinya, tapi terasa bahwa ruang kereta ini
cukup lebar, dirinya diseret ke lantai kereta sebelah kanan setelah
itu baru Hou Thi-jiu naik kereta dan duduk disa mpingnya .
Kereta mulai berjalan- Kusir mengayun pecut, kudapun segera
berlari kencang menimbulkan su-ara gemeretak dari roda2 kereta
yang beradu dengan batu2 dija lanan.
Semakin cepat laju kereta, goncanganpun semakin besar, walau
tidak me mbuka mata, tapi Kun-gi merasakan bahwa bentuk kereta
ini tentu dibuat khusus dan a mat mewah.
Kun-gi tahu kepandaian silat kedua orang majikan dan pelayan
ini a mat tinggi, supaya tidak menunjukkan gejala2 yang
mencurigakan, meski kereta tergoncang semakin keras dia tetap
meringkal dia m sa mbil menghimpun se mangat. Langkah perta ma
untuk menyelundup ke sarang musuh sudah tercapai, ke mana
dirinya akan dibawa, dia tidak usah peduli lagi, ma ka di tengah jalan
ini, dia tidak perlu main int ip.
Dian-kongcu dan Hou Thi-jiu yang duduk di dala m keretapun
duduk se madi, tiada yang buka suara. Kuda penarik kereta ternyata
berlari kencang sekali.
Tanpa terasa fajar telah mnyingsing, dala m keretapun mulai ada
cahaya, maka Ling Kun-gi lebih hati2 lagi, sedikitpun dia tidak berani
lena.
Lari kereta mulai la mbat, akhirnya berhenti dipinggir hutan.
Agaknya sudah ada orang menunggu di situ, terdengar orang
mende kati kereta, katanya dengan laku hormat: "Ha mba To Siong-
kiu me mberi sala m hormat kepada Kongcu."
Kepalapun tidak bergerak. Dian-kongcu hanya mendengus saja.
Suara Hou Thi-jiu terdengar dingin:
"Mana sarapan pagi yang kau siapkan untuk Kongcu? Lekas bawa
ke mari."
Orang di luar mengia kan, pintu kereta dibuka, dengan laku
hormat dia masukkan seperangkat tenong susun dua. Hou Thi-jiu
menerima nya, orang itu menurunkan kerai terus mengundurkan diri.
Sementara itu, orang la in telah mengganti kuda, sampa i pun
kusirnyapun berganti orang, jadi orang dan kuda berganti secara
bergiliran.
Kereta mulai berangkat lagi pelan2. Terdengar suara To Siong-kiu
di belakang: "Ha mba tidak mengantar Kongcu, semoga lekas tiba di
tempat tujuan-" Sudah tentu dia tidak me mperoleh penyahutan-
Dia m2 Ling Kun-gi me mbatin: "cara kerja orang2 ini ternyata
amat teliti, sampai di suatu tempat tertentu lantas ada orang yang
ganti kusir dan kuda, dengan demikian kereta ini bisa mene mpuh
perjalanan siang mala m tanpa berhenti, cuma entah di mana letak
sarang komplotan ini?"
Hou Thi-jiu sudah me mbuka tenong berisi makanan, katanya
hormat, "Silakan Kongcu sarapan pagi."
Dian-kongcu buka tutup tenong terus makan minum seorang diri
tanpa bersuara.
Kun-gi yang rebah meringka l sudah tentu juga mencium bau
makanan yang sedap. dari bau harum yang diendusnya, dia
menduga tenong itu berisi makanan daging dan se mangkok kuah.
Melihat orang ma kan, biasanya orang bisa ngiler, apa lagi kalau
perut me mang sudah lapar. Walau Kun-gi tida k me mbuka mata,
namun hidungnya dapat mencium bau makanan, maka perutnya
terasa berontak. laparnya bukan main.
Setelah melayani Dian-kongcu ma kan selesai, Hou Thi-jiu baru
angkat susun tenong yang lain, diapun makan dengan lahap. habis
makan dia le mpar tenong ke luar kereta, katanya: "Nanti siang
apakah kita perlu menyedia kan makanan untuk Cu-cengcu?"
Sambil duduk semedhi, Dian-kongcu berkata: "Dua belas jam
ke mudian baru dia akan siuman."
"celaka," de mikian ke luh Kun-gi da la m hati.
12 jam baru sadar, itu berarti dia harus kelaparan sehari
semala m.
Kereta terus laju bagai terbang, tengah hari mereka t iba di
sebuah kota, kereta berhenti istirahat di pinggir jalan. Tanpa turun
kereta sudah ada orang mengantar tenong berisi masakan yang
serba lezat, kali ini ada pula sebotol arak wangi.
Bagi kusir juga disediakan ma kanan tersendiri, dia duduk di
pinggir pohon sa mbil me lalap ma kanannya, selesai makan mere ka
me lanjutkan perjalanan pula.
Untuk pura2 se maput orang cukup me meja mkan mata dan
meringkal tanpa bergerak. semua ini adalah kerja yang mudah
sekali, siapapun bisa me lakukannya. Tapi harus meringkal dia m
tanpa bergerak selama sehari semala m dengan posisi sa ma, itulah
yang tidak gampang. Bagi orang biasa setelah berselang sekian
la ma, kaki tangan pasti merasa kese mutan dan pegal linu. Untuk ini
Kun-gi boleh tidak usah peduli.. Lwekangnya tinggi, dengan
me meja mkan mata dan menghimpun se mangat, darah tetap
berjalan lancar dan leluasa di dala m tubuh, sudah tentu dia takkan
merasa kese mutan dan pegal. Yang pa ling menyiksa dirinya adalah
perut lapar, sejak mala m tadi perutnya tidak di isi barang sedikit-
pun, mengendus makanan dan bau wangi arak lagi, sudah tentu
hampir tak tahan dia.
Setelah kenyang dan mabuk Dian-kongcu duduk mendongak
sambil se medhi lagi ditempat duduknya yang empuk dan silir. Kedua
ekor kuda menarik kereta segera angkat langkah pula mene mpuh
perjalanan-
Hari itu berlalu dengan cepat, dari siang menjadi sore, magrib
berganti mala m, dala m sehari se mala man ini, menurut perhitungan
Kun-gi, kereta ini sudah mene mpuh perjalanan 300-an li jauhnya.
Sejak magrib tadi, jalan kereta sudah bergoncang amat kerasnya,
kereta bergunjing seperti kapal dipermainkan ombak di tengah
lautan, begitu keras goncangannya, terang jalanan yang ditempuh
ini a mat jelek dan banyak berbatu, tapi kusir kereta tidak peduli,
cambuknya terus bermain me mbedal kudanya ke depan-
Terasakan guncangan kereta sedemikian keras, itu menandakan
bahwa kereta sudah me mbelok me masuki jalan pegunungan dan
sedang menuju ke suatu punca k gunung. Kira2 satu ja m la manya
kereta melewati jalanan yang jelek ini. Kini jalan kereta mula i
tenang dan angler, agaknya melalui jalan datar yang berpasir
karena roda kereta mengeluarkan suara mendesir yang rata.
Mendadak tak jauh di depan sana terdengar seorang
me mbentak: " Langit mencipta, bumi merencana"
Tergerak hati Kun-gi, pikirnya: "Mungkin sudah tiba di te mpat
tujuan, seruan itu terang adalah kode pengenal satu sa ma lain."
Maka didengarnya Hou Thi-jiu melongok keluar kereta dan
me mbentak gera m: "Keparat yang tidak punya mata, kau tidak lihat
kereta siapa ini?"
Terdengar suara beberapa orang dari kanan kiri jalan: "Ha mba
menya mbut kedatangan Coh-siancu."
"Bedebah, Kongcu yang ada di sini," bentak Hou Thi jiu gusar.
Orang2 itu kembali munduk2, serunya: "Hamba tidak tahu
kedatangan Kong-cuya, harap diberi a mpun-"
Kereta sudah mulai jalan pula. Tak lama ke mudian, lari kereta
mulai la mbat, kusir kereta melompat turun dengan gesit terus
menyingkap kerai
Dian-kongcu berpaling me mberi pesan kepada Hou Thi-jiu:
"Suruh mereka bawa Cu-cengcu ke Hwi-pin-koan ( ka mar tamu
agung ) di taman belakang, aku akan mene mui Gihu." Sekali lompat
dia turun terus berkelebat pergi.
Hou Thi-jiu juga me lompat turun, kepada dua orang laki2 baju
abu2 dia menggapai, katanya:
"Kalian gotong dia ke dala m."
Di saat Hou Thi-jiu me lompat turun tadi, Kun-gi sempat
me mbuka mata sedikit mengawasi keadaan sekitarnya. Ternyata
kereta berhenti di depan sebuah pekarangan besar dari suatu
perkampungan. Perkampungan ini dibangun di antara lekuk gunung,
sekelilingnya dipagari bukit, jelas letaknya diperut pegunungan yang
jauh dari kera maian-
Kedua laki2 itu sudah mengha mpiri, seorang melompat ke atas
kereta dan mengeluarkan secarik ka in hitam, mata Kun-gi
ditutupnya.
Tindakan ini sebetulnya berlebihan, karena orang2 yang diausur
ke mari kebanyakan telah kena bius, dalam keadaan semaput, buat
apa harus ditutup matanya lagi? Mungkin inilah aturan mereka,
dengan sendirinya Kun-gi mandah saja apapun yang dila kukan atas
dirinya, dia tetap tak bergerak.
Dengan setengah gendang dan setengah papah, kedua orang itu
menurunkan Kun-gi dari kereta, malah seorang laki2 itu berjongkok,
Kun-gi digendongnya. Mereka ikuti Hou Thi-jiu berjalan ke dala m.
Meski mata tertutup, tapi Kun-gi pasang kuping dengan seksama,
dia me mbedakan arah, jalan yang ditempuh Hou Thi-jiu bertiga
bukan pintu tengah, mereka mengitar ke kiri di mana ada sebuah
pintu samping. Setiba di depan pintu, laki2 yang lain memburu maju
mendahului Hou Thi jiu mengetuk t iga ka li di daun pintu.
"Tek", terdengar suara pelahan, seorang membuka jendela kecil
di pintu, suara serak tua me mbentak: "Siapa?"
Lekas Hou Thi-jiu mendekat, katanya: "Lo-go, inilah aku Hou Thi-
jiu."
"o", suara serak itu menjadi lunak. "mana tanda buktinya?"
Hou Thi jiu mengeluarkan sebentuk lencana, habis itu baru daun
pintu di buka, suara serak itu me mpersila kan mereka masuk.
Dengan langkah lebar Hou Thi jiu bertiga masuk ke dala m, pintu
tertutup pula. Mereka jalan beriring, langkahnya cepat, diam2 Kun-
gi men-duga2 dari langkah mereka yang putar sana be lok ini, bahwa
mereka me lewati sera mbi lika-liku serta beberapa pekarangan,
waktu Hou Thi-jiu seperti sudah tiba di satu tempat, seorang segera
tampil ke depan menggoncang dua gelang tembaga, lalu
mengundurkan diri pula ke belakang.
Waktu daun pintu terbuka, getaran keras terasa di bawah kaki
mereka, ini me mbuktikan bahwa daun pintu terbikin dari papan baja
yang berat dan tebal. Seorang telah menghadang di tengah pintu,
Hou Thi-jiu maju mengunjuk lencananya pula, baru dia memba lik
badan dan katanya: "Serahkan dia padaku"
Laki2 yang menggendang Kun-gi me ngiakan terus berjongkok,
dia baringkan Ling Kun-gi di lantai. Dengan kedua tangannya Hou
Thi-jiu menjinjing tubuh Kun-gi, katanya: "Kalian tunggu di sini"
Ia sendiri masuk dengan langkah lebar. Pintu beratpun mulai
tertutup lagi pelan2.
Dia m2 Kun-gi me mbatin: "Begini keras dan ketat penjagaan di
sini, entah di mana letak pusatnya?" Pada saat hati me-nimang2,
terasa angin menghe mbus silir2, kupingnya lantas mendengar
gesekan dedaunan yang tertiup angin- Agaknya mereka telah
berada di sebuah kebon.
Langkah Hou Thi-jiu a mat cepat, jelas dia apal jalanan di sini,
kira2 se masakan air ke mudian, hidung Kun-gi mulai mencium bau
harum bunga, bau kembang mawar, seruni dan lain2. Pada saat
itulah baru Hou Thi-jiu menghentikan langkah dan mengetuk pintu
pula. Sebelum daun pintu terbuka terdengar suara merdu bertanya
dari dala m: "Siapa?"
"Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng, kau harus melayaninya
baik2," kata Hou Thi jiu.
"Baik, bawa dia ke dala m," sahut suara merdu itu. Lalu dia
mendahului melangkah diikuti Hou Thi-jiu.
Kun-gi me mbatin pula: "Kiranya sudah sa mpai di Kwi-pin-koan."
seorang membuka daun jendela, suara merdu berkata pula:
"Taruh dia di atas dipan"
Hou-Thi-jiu lantas merebahkan Kun-gi di atas dipan yang
beralaskan kasur e mpuk.
Suara merdu itu bertanya: "Kapan cengcu ini akan sadar?."
Pertanyaan inipun a mat penting artinya bagi Ling Kun-gi.
Didengarnya Hou Thi- hou menjawab: "Kira2 kentongan kedua
nanti."
"O," suara merdu berkata pula, "kini sudah kentongan pertama,
jadi masih satu ja m lagi."
Hou Thi-jiu lantas keluar, katanya: "Cayhe mohon diri."
Suara merdu ikut melangkah ke luar dan menutup pintu,
sekemba linya dia langsung mendekati pe mbaringan, kain hita m
penutup mata Kun-gi dia copot, lalu ditariknya ke mul untuk
menutupi badan Kun-gi, dari gerak-geriknya jelas gadis ini sudah
terlatih baik menjalankan tugasnya.
Entah apa tujuan mereka menculik Cu Bun-hoa ke mari dengan
jalan ber-liku2 sede mikian rupa? De mikian Kun-gi ber-tanya2 dala m
hati, tapi dia tidak berani me mbuka mata, karena dengan jelas dia
merasakan he mbusan napas si gadis tengah berdiri di pinggir
pembaringan, mungkin orang tengah menga mati dirinya, atau
menga mati "Cia m-liong Cu Bun-hoa Cengcu" dari Liong- bin-sun-
ceng. .
Dengan telentang di atas pembaringan, kelopak matapun Kun-gi
tak berani bergerak, karena gerakan kelopak mata menanda kan
bahwa dirinya sudah siuman- Untung hanya sejenak gadis bersuara
merdu ini menga mati dirinya, lalu mengundurkan diri dia m2.
Setelah orang sampai di luar dan menurunkan kerai, dia tetap
tidak berani me mbuka mata. ia selalu ingat pesan gurunya sebelum
berangkat, beliau bilang "Muridku, dengan bekal kepandaianmu
sekarang, tiada suatu tempat di dunia Kangouw yang pantang kau
datangi, cuma berkelana di Kangouw, bekal kepanda ian hanya
sebagai cangkingan belaka, yang penting adalah kecerdikan
bertindak dan hati2, ada sepatah kata perlu gurumu berpesan dan
kau harus mengukirnya di lubuk hatimu, yaitu semakin besar
nyalimu, kau harus se makin hati2. Peduli persoalan atau kejadian
apapun yang kau hadapi, kau harus tetep tenang dan waspada."
Sementara itu gadis bersuara merdu tadi sudah berada di luar,
tapi dia tetap rebah tak bergerak. dia sedang mengerahkan tenaga
saktinya, memusatkan seluruh perhatian mendengarkan keadaan
sekelilingnya. Umpa ma di dala m ka mar masih ada orang lain, pasti
suara napasnya bisa didengarnya.
Sepeminuman teh ke mudian barulah Kun-gi yakin bahwa di
dalam ka mar betul2 tiada orang lain kecuali dirinya, pelan2 dia
me mbuka mata, walau hanya setengah mengintip saja, tapi dia
sudah melihat jelas keadaan di depannya.
Itulah sebuah kamar tidur yang amat besar, pajangannya serba
mewah, serba antik. Di bawah penerangan cahaya yang rada redup,
semua benda pajangan yang ada di da la m ka mar kelihatan indah
menarik. letaknya juga diatur sedemikian dan serasi benar
me mbuktikan hasil dari tangan seorang ahli pajang kena maan-
Sekilas pandang Kun-gi lantas pejamkan mata pula, dalam hati ia
me-nimang2 cara baga imana dia harus menghadapi situasi
selanjutnya nanti? Akhirnya dia berkeputusan dirinya harus teguh
iman, teguh pendirian, berani menghadapi segala perubahan-
Waktu berlalu dengan cepat, sejam telah berselang, langkah le mbut
mendatang dari luar pintu, Kun-gi tahu wa ktunya sudah tiba, ia
tetap rebah di pembaringan, ia pura2 menarik napas panjang
seperti baru siuman dari tidur, dengan suara kereng dia bertanya:
"Siapa di luar? Apa Kwi-hoa? Tida k kupanggil, untuk apa kau
ke mari?"
Sembari bicara dia me mbuka mata. Begitu mata terpentang
segera dia berjingkrak berdiri, ke mana sorot matanya berpancar
seketika dia berdiri tertegun. Dia sengaja berbuat demikian- Sorot
matanya yang tajam menatap gadis baju hijau yang melangkah
masuk menyingkap kerai tanpa berkedip. lalu dengan suara kaget
dia bertanya: "Siapa kau, ini . . . . tempat apa ini? Bagaimana aku
bisa rebah di sini?" seka ligus tiga pertanyaan keluar dari mulutnya,
menandakan kegugupan hatinya yang kaget dan heran-
Gadis baju hijau kira2 berumur 20-an, perawakannya tinggi
sema mpai, ramping menggiurkan, wajahnya manis dan molek. buah
dadanya menonjol besar, dadanya dihiasi sebuah ma inan kalung
besar bentuk jantung hati, semuanya terbuat dari mas murni, dua
kuncir ra mbutnya yang besar legam menjuntai di kedua sisi
pundaknya.
Gadis ini sudah tentu amat cantik, kecuali cantik juga me mpunyai
daya tarik bagi setiap lelaki yang melihatnya. Tangannya menjinjing
sebuah nampan putih, baru saja dia menyingkap kerai melangkah
masuk lantas dijumpainya Ling Kun-gi berjingkrak dengan rentetan
pertanyaan tadi. Dia lantas berhenti di ambang pintu, sepasang
matanya yang jeli me natap Kun-gi sa mbil tersenyum mekar,
tertampak barisan giginya yang putih rata bagai biji mentimun,
begitu menggiurkan senyum tawanya. Terdengar suaranya nan
merdu mengandung rasa ma lu: "Cu-cengcu sudah bangun, ha mba
Ing jun, ditugaskan meladani Cu-cengcu di sini"
Terasa oleh Kun-gi kakinya menginjak kabut tebal, ia tetap
menatap pelayan yang bernama Ing-jun dan bertanya: "Lekas nona
beritahu, tempat apakah ini? Bagaima na aku bisa sa mpa i di sini?"
Melihat sorot mata Ling Kun-gi yang bersinar mengawasi dirinya
tanpa berkedip. Ing-jun menunduk malu, dia meletakkan na mpan di
atas meja di sa mping dipan, sahutnya:
"Inilah bubur yang ha mba sengaja buatkan untuk Cengcu."
"Nona belum jawab pertanyaanku," desak Kun-gi sa mbil
menge lus jenggot.
Ing jun tetap menunduk. sahutnya, "Tempat ka mi ini adalah Coat
Sin-san-ceng, Cu-cengcu adalah tamu agung yang diundang Cengcu
kami yang telah lama mengagumimu." Sebagai pelayan yang
ditugaskan me layani tamu, sudah tentu dia panda i bicara.
Coat Sin-san-ceng? Dia m2 Kun-gi me mbatin- "Belum pernah
kudangar nama perka mpungan ini di kalangan Kangouw?" Segera ia
tanya pula, "Entah siapa she dan na ma besar Cengcu kalian-"
Sedikit angkat kepalanya, sikap Ing jun lebih hormat, sahutnya:
"Cengcu kami she Cek, tentang nama besar beliau, kami sebagai
pelayan tiada yang mengetahui." Jelas dia t idak ma u menerangkan.
Tak enak Kun-gi bertanya lebih lanjut, katanya "Lohu ingin
bertemu dengan Cengcu ka lian-"
"Betapa sukarnya Cengcu ka mi mengundang Cu-cengcu ke mari
dan dilayani sebagai ta mu luar biasa, sudah tentu nanti beliau akan
menjenguk ke mari, cuma ......"
"Cuma apa?" desak Kun-gi.
Sekilas bentrok sorot mata mereka, lekas Ing-jun tunduk kepala
pula, katanya lirih: "sekarang sudah kentongan kedua, Cengcu kami
sudah tidur."
Kehadiran Kun-gi di sini mewakili Cu Bun-hoa, sebagai duplikat
orang, tak enak dia banyak omong, apalagi tujuannya menyelidiki
jejak ibunva, maka dia manggut2, katanya: "Baiklah, terpaksa Lohu
tunggu sa mpai besok pagi batu mene mui Cek-cengcu ka lian-"
Tiba2 sorot matanya menatap tajam, tanyanya: "Dapatkah nona
jelaskan, cara bagaimana ka lian me mbawa Lohu ke mari?"
Le mbut suara Ing-jun: "Ha mba hanya tahu cengcu kami a mat
mengagumi ke mashuran Cu-cengcu, maka beliau mengundang Cu-
cengcu ke mari, tentang cara bagaimana mengundangnya, hamba
tidak tahu apa2."
"Baiklah," ujar Kun-gi dengan tersenyum, "segala persoalan
terpaksa kubicarakan besok kalau berhadapan dengan cengcu
kalian-"
"Mala m sudah larut, silakan Cu-cengcu dahar dulu sebelum
istirahat," kata Ing-jun.
Me mangnya sudah sehari sema la m kelaparan, Kun-gi tidak
menolak lagi, dengan lahapnya dia habiskan semangkok bubur
sarang burung itu, semangat seketika berbangkit, rasa lapar tadipun
lenyap.
Dengan muka jengah Ing-jun mendekat, katanya: "Cu-cengcu
silakan istirahat, biar ha mba bantu menanggalkan paka ian-"
Melihat wajah orang yang merah ma lu2 dan hendak me mbuka
pakaiannya, keruan Kun-gi menjadi kelabakan, katanya gugup: "Tak
usahlah, nona sendiri pergilah tidur."
Mendadak Ing-jun berkata dengan suara pelahan: "obat bius
yang diminum Cu-cengcu semala m tercampur obat racun yang
me mbuyarkan Lwe kang, kekuatan sekarang hanya tersisa tiga
bagian, maka hamba harap cengcu hati2 dan jangan sembarangan
bergerak."
Kun-gi me lenggong, katanya sambil mengawasi Ing-jun "Terima
kasih atas kebaikan nona."
Merah pula wajah Ing-jun, katanya lebih lirih: "Ha mba lihat cu
cengcu seorang ksatria tulen, makanya berani me mberi peringatan,
kalau nasihatku tadi terdengar oleh Cengcu ka mi, ha mba pasti akan
dihukum pancung."
Dia m2 Kun-gi tertawa dingin, batinnya: "Yang terang Cengcu
kalian sengaja suruh kau bertingkah de mikian-" Tapi lahirnya dia
tetap tersenyum, katanya mengangguk: "Terima kasih nona."
Ing-jun lantas menga mbil mang kok serta me mberi hormat
kepada Kun-gi, katanya: "Ha mba mohon diri," lalu ia menyingkap
kerai dan keluar. Waktu itu kentongan kedua baru saja lewat, saat
paling tepat dan baik bagi setiap pejalan ma la m. tapi Kun-gi tahu
perkampungan ini pasti terjaga keras, dengan susah payah dan
tersiksa sehari se mala m dirinya baru berhasil me nyelundup ke mari,
sudah tentu dia tidak berani bergerak secara semberono. Maka
setelah Ing-jun mengundurkan diri, iapun ke mbali rebah di
pembaringan, lampu dia pada mkan, terus duduk semadi di atas
ranjang.
oooodwoooo
Karena menyamar sebagai Kwi-hoa, setelah meninggalkan ka mar
buku, Pui Ji-ping langsung ke mbali ke ka mar Kwi-hoa terus tutup
pintu. Dia m2 dia a mbil keputusan dala m hati bila pamannya
diketahui lenyap, seluruh perka mpungan pasti akan geger, mala m
ini baru saja dia me mpelajari ilmu tata rias, maka tiba saatnya dia
sekarang berdandan sebagai laki2, meningga lkan Liong-bin-san-
ceng secara dia m2 dan secara dia m2 pula ia henda k menguntit
musuh.
Tapi pada saat dia siap2 hendak merias diri, di bawah jende la
mendadak seorang bersuara. "Ji-ping, lekas buka pintu"
Ji-ping tahu itulah suara pamannya, sekilas dia me lengak,
bergegas dia bereskan bahan2 obat rias terus lari membuka pintu.
Sebat sekali Cu Bun-hoa menyelinap masuk, lalu menutup daun
pintu pula Ji-ping bertanya: "Pa man, darimana kau bisa ke mari?"
Cu Bun-hoa tersenyum, katanya: "Paman datang dari lorong
bawah tanah, Kwi-hoa sudah mengaku terus terang."
"Apa yang dia katakan? Ke mana mereka hendak me mbawa
paman?" Sudah tentu yang dia perhatikan adalah Ling Kun-gi.
"Diapun tidak tahu, tugasnya hanya mendesak In Thian-lok
supaya me mbius diriku dan orang la in a kan datang me mberi
bantuan," tanpa menunggu Ji-ping bertanya dia melanjutkan pula:
"Waktu terlalu mendesak. pa man tida k bisa bicara banyak lagi
dengan kau, lekas kau ke mbali ke ka mar buku, beritahu kepada In
Thian-lok bahwa di dala m ka mar buku ada ruangan rahasia, Lok-
hun-san milik pa man disimpan di ka mar rahasia itu, kau boleh bawa
dia ke depan rak buku dan pura2 mencari tombolnya, lalu bawa dia
masuk ke dala m."
Terbelalak mata Ji-ping, tanyanya: "Apa yang dinamakan Lok-
hun-san itu?"
"Jangan tanya, bekerjalah menurut pesanku, beritahukan pada In
Thian-lok saja."
"Aku toh tidak tahu cara me mbuka alat rahasianya."
"Anak bodoh, cukup asal kau pura2 saja, paman akan bantu kau
dari dala m," lalu dia mendesak. "hayolah cepat" Habis berkata dia
tarik pintu la lu menyelinap keluar pula.
Ji-ping tak berani ayal, sekali tiup dia padamkan la mpu, dengan
langkah enteng ia lari ke depan- Baru saja dia keluar dari serambi
tengah, dilihat-nya In Thian-lok sedang menimang Cin-Cu-ling
mendatang dengan langkah gopoh. Begitu melihat "Kwi-hoa" segera
dia mengulap tangan, katanya lirih: "Sudah kubereskan se mua,
lekas kau ke mba li ke ka mar, tiada urusan nona lagi di sini "
"Tunggu sebentar," kata Ji-ping dengan suara tertahan-In Tian-
lok tertegun, tanyanya: "Nona masih ada urusan?"
Berputar biji mata Pui Ji-ping, katanya lirih: "Di sini bukan tempat
bicara, ikutlah aku ke ka mar buku." Se karang dia tahu kedudukan
Kwi-hoa lebih tinggi daripada In Thian-lok. maka sikap dan nada
bicaranya kedengaran dingin dan ketus.
Lekas In Thian-lok mengiakan, tanpa bicara dia putar tubuh
me mbuka jalan. Cepat sekali langkah kedua orang, sekejap saja
mereka sudah berada di ka mar buku. Waktu Ji-ping angkat kepala,
dilihatnya jendela sudah tertutup semuanya, agaknya In Thian-lok
me mbawa Cin cu-ling hendak me mberi laporan kepada Cu-hujin di
belakang. Cara kerja yang dia lakukan sede mikian rapi, ka lau
kejadian ini tersiar di kalangan Kangouw, tentu ceritanya adalah
pintu jendela tak terbuka dan pa mannya lenyap tanpa bekas.
Dari kejadian ini dapatlah di simpulkan bahwa lenyapnya kepala
keluarga Tong dan Un pasti dilakukan secara berkomplot oleh
orang2 dalam keluarga masing2, demikian pula mata2 sudah
menyelundup ke Siau-lim-si.
Dika la dia meng-a mat2i keadaan, In Thian-lok maju setapak dan
katanya lirih: "Ada urusan apa nona, sekarang boleh kau katakan ?"
Kuatir orang mengenali suaranya, maka Ji-ping tahan suaranya:
"Tadi aku lupa me mberitahu kepada In congkoan, pa . . . . ." ha mpir
saja dan menyebut "pa man", ia pura2 merande k. lalu ber-kata pula
sambil me nghela napas: "Yaitu . . . . " dala m gugupnya timbul
akalnya, suaranya tetap lirih: "Di ka mar buku cengcu ada sebuah
kamar rahasia, Lok-hun-san tersimpan di ka mar rahasia itu."
"Ka mar rahasia?" seru In Thian-lok me longo.
"Kenapa cayhe tidak tahu?" bersinar biji mata In Thian-lok.
tanyanya cepat: "Nona tahu di mana letak ka mar rahasia itu?"
"Aku hanya pernah melihat sekali, yaitu . . . ." sembari berkata
dia pura2 mengingat2 sa mbil mengitari ra k buku seperti mencari
apa2, lain menyambung: "Agaknya di sini." Dengan badan
terbungkuk dia meraba dan menekan rak buku, dalam hati dia
menduga2: "Entah pa man sudah ke mbali ke ka mar be lum?"
Lekas In Thian-lok mendekatinya dan berdiri di bela kang Kwi-hoa
samaran Pui Ji-ping, kata-nya lirih: "Sudah puluhan tahun aku ikut
Cu-cengcu, nona baru tiga tahun, tapi sudah berhasil sedemikian
rupa . . . . "
Ji-ping hanya mendengus. Pada saat itulah, terdengar suara
getaran lemah, dua rak buku di depannya mendadak terpisah ke sisi
samping dan muncul sebuah pintu. Dengan pura2 girang .Ji-ping
berseru: "He, kute mukan sekarang"
Mendadak didengarnya suara sang paman dengan ilmu Thoan-im
jip-bit (mengirim ge lombang suara ) mengiang dipinggir kuping: "J i-
ping, suruh In Thian-lok berjalan di depan- Ingat, sedikitnya kau
harus lima ka ki di belakangnya, jangan terlalu dekat"
Sementara itu, In Thian-lok sudah menga mbil lentera di atas
meja dan mengha mpiri mulut pintu la lu berhenti, dengan seksama
dia pasang kuping dan lepas pandang ke dala m, tapi ka mar rahasia
itu gelap gulita, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya. Agaknya dia
juga tahu bahwa Cu-cengcu sangat lihay, ma lah seorang ahli
pencipta alat2 perangkap. maka ia tidak berani sembarangan
masuk.
Melihat orang ragu2 dan jeri,Ji-ping lantas mengejek dingin: "In-
congkoan, waktu kita terlalu mendesak."
In Thian-lok menyengir, katanya: "Ya, ya, biar cayhe masuk
me lihatnya." dalam keadaan begitu, terpaksa dia keraskan kepala
dan melangkah masuk dengan hati kebat kebit.
Ji-ping tertinggal lima kaki lebih dibe lakangnya, pelan2 iapun
masuk dan pintu di bela kang mereka lantas menutup, Betapapun In
Thian-lok sudah puluhan tahun menjadi pe mbantu Cu Bun-hoa,
sedikit banyak dia juga tahu tentang segala peralatan rahasia, walau
pintu di belakang mereka menutup tanpa menge luarkan suara, tapi
nalarnya ternyata sangat tajam, reaksinyapun cepat, sigap sekali dia
me mba lik tubuh, pintu dari mana tadi mereka masuk kini sudah
menjadi sebuah dinding tebal, entah ke mana letak pintu tadi?
Keruan wajahnya yang kelam itu menjadi se makin ge lap. tangan
yang pegang lenterapun gemetar, tanyanya kepada Ji-ping "Nona
yang menutupnya?"
"Tida k." seru Ji-ping pura2 kaget dan gelisah, "aku mengintil di
belakangmu, sedikitpun tanganku tak bergerak."
In Thian-lok terbeliak, katanya: "Tak mungkin, setelah pintu ini
terbuka, tak mungkin me nutup sendiri, kecuali di da la m ka mar ini
ada orang yang menguasai alat rahasianya."
"Orang ini ternyata licik dan licin," demikian batin Ji-ping, tapi dia
tetap pura2 ketakutan, katanya: "Memangnya ada siapa pula di
dalam ka mar ini?"
Serius wajah In Thian-lok. kedua matanya jelilatan mengawasi
sekelilingnya, akhirnya ia berhenti di arah dipan yang terukir indah
itu, bentaknya kereng: "Siapa kau? Lekas bangun"- Di bawah
penerangan lentera yang dia angkat tinggi tampak di atas dipan
rebah celentang kaki seorang, badannya ditutupi kemul tipis sa mpa i
kepalanya sehingga tak diketahui siapa dia?
Me mangnya ka mar ini gelap. tahu2 melihat sesosok tubuh rebah
kaku berkerudung rapat begitu, sungguh a mat mena kutkan- Ka lau
Ji-ping tidak menduga bahwa yang rebah itu pasti paman-nya, tentu
ia sudah menjerit kaget.
Orang yang rebah itu diam saja tidak bergeming meski sudah
dihardik berulang kali oleh In Thian-lok. Keruan In Thian-lok
semakin murka, katanya geram: "Tuan tidak mau bangun, terpaksa
orang she In tidak sungkan2 lagi." tapi orang itu tetap tidak
bergerak.
Mata In Thian-lok mencorong terang laksana obor ditengah
keremangan, kelima jari tangan kiri mene kuk laksana cakar
me lintang di depan dada, mendadak dia melompat maju terus
menarik ke mul yang menutupi tubuh orang. Seketika pandangnya
yang garang buas terbeliak kaget, tubuhpun tergetar hebat.
Pui Ji-ping yang berada dibelakangnya dapat melihat jelas, orang
yang rebah di atas dipan ternyata seorang perempuan, rambut
panjang awut2an, wajah yang semula putih halus kini sudah
berubah hijau mengkilap. matanya mendelik besar ha mpir mencotot
keluar.
Warna hijau sebetulnya warna yang kalem indah, warna yang
tidak menakutkan- Tapi kulit muka manusia dan biji matanya mana
ada yang berwarna hijau? Muka hijau yang dilihatnya ini sungguh
menyerupai warna setan yang menggiriskan- Perempuan yang
rebah itu ternyata adalah Kwi-hoa. Sekali pandang sudah dapat
diketahui bahwa dia sudah mati. Mati keracunan-
Belum pernah Ji-ping menyaksikan pe mandangan yang seram ini,
kedua kaki se ketika menjadi le mas, badan ge metar.
Betapa cerdik In Thian-lok. melihat mayat yang mati keracunan
itu adalah Kwi-hoa, segera ia menyadari ganjilnya keadaan ini,
mendadak dia putar badan menatap Ji-ping, hardiknya bengis.
"Siapa kau?"
Jarak Ji-ping hanya beberapa kaki di belakang, jadi pamannya
sudah me mperingatkan supaya dia berdiri saja tanpa bergerak di
tempatnya, segera dia me mbusungkan dada, dengusnya, "coba
katakan, siapa aku?"
In Thian-lok tidak berani pandang sepele padanya, karena dia
tahu racun yang menyebabkan kematian Kwi-hoa adalah Lok-hu-
san, racun milik Liong-bun-san yang paling ganas. Bahwa dirinya
dipancing masuk ke ka mar rahasia ini, tentu orang sudah punya
cara lihay untuk menundukkan dirinya. Maka iapun tidak berani
mendesak terlalu dekat, tetap berdiri beringas ditempatnya, pelan2
dia menarik napas lalu berkata: "Kau bukan Kwi-hoa"
Belum Ji-ping me njawab mendadak sebuah suara dingin
menanggapi: "Dia me mang bukan Kwi- hoa."
Sejak masuk tadi In Thian-lok sudah yakin kecuali orang yang
rebah di pe mbaringan, ka mar ini t iada orang kee mpat. Kini sudah
jelas bahwa yang rebah dan mati adalah Kwi hoa, ini berarti tiada
orang ketiga yang masih hidup, tapi orang yang menanggapi
kata2nya ini jelas berada di dalam kamar juga, malah sela ma
puluhan tahun dia sudah sering dan apal mendengar suara orang
ini, tanpa menoleh iapun tahu siapa yang berbicara itu. Dala m
sekejap itu, laksana disamber geledek kepala In Thian-lok, darah
tersirap. dengan gugup dia berpaling ke arah datangnya suara.
Betul juga, di sa mping almari sebelah kiri sana, entah kapan
tahu2 sudah muncul satu orang. Dia berdiri menggendong kedua
tangan, wajahnya mengulum senyum, na mun kedua biji matanya
ke milau dingin, tida k kelihatan gusar, tapi wibawanya cukup
menggetar nyali In Thian-lok yang ditatapnya. Siapa lagi dia kalau
bukan cia m-liong Cu Bun-hoa adanya.
Pelan2 Cu Bun-hoa berkata: "In Thian-lok. apa pula yang ingin
kau katakan?"
Pucat pias seperti kapur wajah In Thian-lok, keringat dingin
gemerobyos, sahutnya me mbungkuk. "A mpun cengcu ......."
Sebelah tangan mengelus jenggot, tangan yang lain tetap
dibelakang punggung, dingin suara Cu Bun-hoa: "coba terangkan,
siapa yang jadi biang keladi komplotanmu ini?"
"Harap cengcu maklum, karena ceroboh...", sembari bicara
matanya melirik kearah Ji-ping, la lu meneruskan: "Kwi-hoa lah yang
menjadi biang keladinya, siapa sebetulnya orang yang berdiri di
belakang layar peristiwa ini ha mba juga t idak tahu."
"Kau sudah tahu bahwa anak Ping yang menyamar Kwi hoa,
masih berani kau mungkir menumple kkan dosa kepadanya,"
damprat Cu Bun-hoa, In Thian-lok me mang licik dan banyak
muslihatnya, jelas dia saksikan sendiri Kwi-hoa sudah mati dan
rebah di atas ranjang, jawaban itu me mang disengaja untuk
mengorek keterangan Cu Bun-hoa siapa sebetulnya orang yang
menyaru jadi Kwi-hoa ini? Se mula dia mengira puteri cengcu Cu Ya-
khim, sungguh tak diduganya bahwa Pui Ji ping yang menya mar.
Sudah tentu Ji ping juga berguna baginya, karena dia adalah
keponakan Cu-cengcu, asal dirinya berhasil me mbe kuk nona itu
sebagai sandera, dirinya tetap akan bisa lolos dengan selamat. Maka
tanpa terasa ia melirik pula ke arah Pui Ji-ping setelah mendengar
keterangan Cu Bun-hoa.
Lirikan ini dia m2 me mperhitungkan jarak kedua pihak. jarak Ji-
ping kira2 ada beberapa kaki, sementara cengcu ada di samping
almari sebelah kiri sana, jaraknya dengan dirinya ada setombak
lebih. Inilah kesempatan baik dan harus mene mpuh bahaya. Ia
cukup kenal perangai sang cengcu, jelas jiwanya takkan diampuni.
Dia m2 ia berpikir cara bagaimana harus menge labui sang cengcu
untuk secara mendadak menyergap Pui Ji-ping. Maka dengan pura2
gelisah dan jeri, berulang kali dia menjura, katanya: "Sukalah
cengcu dangarkan penjelasaan .... " mendadak tubuhnya berputar
dan melompat kesana menerka m Pui J i-ping.
Sergapan ini dilakukan secara mendadak, gerak geriknya cepat
dan gesit lagi, jelas Cu Bun-hoa tida k se mpat menolong, sementara
Ji-ping sendiri juga tak menduga bahwa orang bakal menerka m
dirinya.
Tahu2 orang sudah menubruk tiba, keruan kaget Ji-ping tidak
kepalang, secara refleks dia menjerit seraya mundur selangkah,
sementara itu tangan kanan In Thian-lok sudah berada di atas batok
kepalanya.
Pada detik2 gawat itulah mendadak didengarnya Cu Bun-hoa
bergelak tertawa, serunya:
"Anak Ping jangan takut"
Belum lenyap suaranya, terdengar dua kali "trang-trang"
beradunya barang besi. Lekas Ji-ping tenangkan diri, waktu dia
angkat kepala, tampak In Thian-lok yang menubruk ke arah dirinya
itu berdiri tanpa menggunakan ka ki, kedua tangannya terbelenggu
oleh dua gelang besi yang tiba2 turun dari langit2 rumah sehingga
tubuhnya terangkat sedikit, demikian pula kedua ka kinya
terbelenggu juga oleh dua gelang besi yang timbul dari bawah
lantai, baru sekarang dia sadar kenapa pa mannya berseru supaya
dirinya tenang dan tak perlu takut.
Karena kaki tangan terbelenggu dan tak mungkin berkutik lagi In
Thian-lok. katanya sambil menghela napas panjang, "Ha mba tahu
diri tida k sepandai cengcu, pantas segala gerak gerikku selalu di
bawah pengawasan cengcu."
Cu Bun-hoa tertawa, katanya: "Kau mengorek keteranganku,
dia m2 berniat menyergap anak Ping, kalau maksud jahatmu ini tak
bisa kuraba, memangnya Liong- bin-san-ceng bisa berdiri di
kalangan Kangouw." Setelah menghela napas, ia menambahkan:
"Tapi kalau ma la m ini anak Ping tidak keburu pulang me mberi
kabar, aku toh tetap akan terjebak olehmu."
Terpancar sorot mata aneh dari mata In Thian-lok. tanyanya
sambil mengawasi Ji-ping: "cara bagaimana Piau-slocia bisa
mengetahui?"
Pui Ji-ping tertawa dingin dengan bangga, katanya: "Ka lau ingin
orang lain tidak tahu, kecuali awak sendiri tak berbuat. Waktu aku
me lihat kelima blok kain katun yang termuat di depan toko Tek-
hong, lantas aku tahu kau adanya."
Berubah air muka In Thian-lok. dia menunduk dan tidak bersuara
lagi.
"In Thian-lok," kata Cu Bun-hoa, "sudah puluhan tahun kau
menjadi pe mbantuku, biasanya kau kerja keras dan setia terhadap
junjungan, tak pernah melakukan kesalahan pula, bagaimana kau
sampai hati timbul niat jahatmu, kalau dipikir sungguh a mat
mengecewakan- "
In Thian-lok tetap menunduk tak bersuara.
Berubah kela m air muka Cu Bun-hoa, katanya sambil
menggerung gusar: "orang lain mungkin t idak tahu, tapi kau sudah
puluhan tahun mengikutiku, tentunya sudah jelas tindakan apa yang
harus kula kukan sekarang."
Pucat muka In Thian-lok, katanya. "Selama puluhan tahun
me mbantu cengcu, ha mba banyak menerima kebaikan cengcu,
bukannya hamba berusaha me mbalas kebaikan ini, tapi ma lah
me mbantu dan diperalat orang, memang me ma lukan hidupku ini,
sekali terpeleset akan menyesal selamanya, biarlah hamba menebus
dosa ini dengan ke matian-"
"Mengingat kesetiaanmu sela ma ini, asal kau mau bertobat, Lohu
akan me mberi kese mpatan pada mu untuk menebus dosa ini."
Sedih tawa In Thian-lok, katanya: "Sudah terlambat, kalau
cengcu katakan hal ini sejak tadi mungkin masih keburu, sekarang
sudah terlambat."
Cu Bun-hoa menatap tajam muka In Thian-lok, tanyanya:
"Katakan, kenapa terla mbat?"
"Ha mba sudah menelan racun," sahut In Thian-lok.
Guram a ir muka Cu Bun-hoa, katanya: "Bahwa kau sudi diperalat
orang lain, kenapa tidak mau me mbantuku ma lah?"
"Ya, hamba akan mene mbus kesalahan ini dengan ke matian-"
Mendadak Cu Bun-hoa tanya dengan suara bengis: "Siapa pula
mata2 yang berada diperka mpungan kita ini?"
Megap2 mulut In Thian-lok, matanya melotot, tapi suaranya tidak
keluar.
Cu Bun-hoa menatap tajam, dari gerakan bibir dan lebarnya
mulut, agaknya In Thian-lok henda k mengatakan "delapan", cepat
dia tanya: "Se mua kau yang me mbawanya ke mari?"
Entah dengar atau tidak pertanyaan ini, kepala In Thian-lok
seperti mengangguk sedikit, tapi lantas lertunduk lemas tak
bergerak lagi.
"Paman, dia sudah mat i?" tanya Pui Ji-ping.
Pelahan Cu Bun-hoa mengha mpiri, ia raba dada In Thian-lok,
katanya manggut: "Ya, sudah mati"
Tiba2 kakinya menggentak lantai, terdengariah suara "cret-cret",
gelang yang me mbelenggu kaki tangan In Thian-lok tiba2 lepas,
maka tubuh In Thian-lok yang mulai dingin segera jatuh gedebukan
di lantai.
Tanpa bicara lagi Cu Bun-hoa me langkah ke sana, dari dalam
bajunya dia keluarkan sebuah botol kecil warna hijau, dia cukil
sedikit obat bubuk dengan kuku jarinya terus ditaburkan ke muka In
Thian-lok, tepat ke mulut dan hidungnya.
"Paman," tanya Pui Ji-ping, "Budak Kwi-hoa itu juga mati
menelan racun?"
"Dia mengaku bukan komplotan Cin-Cu-ling, maka secara
sukarela dia menuturkan kejadian sesungguhnya, katanya dia dibeli
seorang laki bernama Hoa Thi-jiu, lalu diselundupkan ke mari,
tugasnya mengirim kabar keluar, dia minta aku menga mpuni
jiwanya, sudah tentu dia takkan menelan racun."
"Jadi pa man yang me mbunuhnya?" tanya Ji-ping.
"Ya, kulihat dia pernah me mperoleh ge mblengan yang
meyakinkan- seorang agen yang lihay, sudah tentu takkan
kulepaskan dia .... Sekarang lekas kau ikut keluar, kita harus segera
menya mar untuk me mbuntuti jejak mereka."
Pui Ji-ping berjingkra k senang, tanyanya: "Maksud paman
hendak mengejar jejak Ling toako?"
"Ya, Kwi-hoa dan In Thian-lok tidak mau menerangkan siapa
biang keladi dari komplotan Cin-Cu-ling ini dan dimana sarangnya?
Terpaksa kita kuntit saja jejak Ling-lote secara diam2, setiba di
tempat tujuan, kita bisa me mberi bantuan kepada-nya."
"Tapi mere ka sudah pergi seja m yang lalu, ke mana kita harus
mengejarnya?"
"Paman sudah suruh orang mengejar me mbawa anjing secara
dia m2, sepanjang jalan ini mere ka pasti meningga lkan tanda
pengenal, kenapa takut tak mene mukannya? Sekarang kau ber-
siap2, aku akan bereskan mata2 yang lain, segera kita akan
berangkat."
"Bagaimana dengan kedua mayat ini, paman?" tanya Ji-ping.
Waktu dia bepa ling, seketika dia berseru kaget dan heran, hanya
sekejap saja mayat Kwi-hoa dan In Thian-lok ternyata sudah lenyap.
cairan air darah tampa k menggenang lantai.
Cu Bun-hoa berpesan- "Anak Ping, ada satu hal yang harus kau
perhatikan, jangan kau usik Piaucimu, si budak Ya-khim itu juga liar
seperti kau, kalau dia tahu, tentu dia ma u ikut."
Ji-ping mengangguk, katanya: "Pa man jangan kuatir, aku tidak
akan mengajaknya."
00oodwoo00

Fajar telah menyingsing, baru saja Kun-gi turun dari ranjang,


Ing-jun, si pe layan montok ini sudah masuk me mbawa baskom,
katanya tertawa sambil mengerling: "Cu-cengcu, sila kan cuci muka "
Sebagai tempat penginapan para tamu agung, sudah tentu semua
perabot dan peralatan yang digunakan serba baru.
Inilah hari permulaan Kun-gi datang dengan maksud tertentu,
maka sikapnya tak acuh dan dia m2 melihat gelagat saja.
Menunggu Kun-gi se lesai cuci muka, segera Ing-jun bertanya:
"Pagi ini cu-cengeu ingin sarapan apa? Ha mba akan segera
menyiapkan."
Kun-gi mendapat angin, katanya "Di tempat ini apapun yang
kuinginkan pasti akan disediakan?"
"De mi menyesuaikan se lera para tamu yang ada di sini, sengaja
cengcu mengundang koki kena maan, apapun yang diinginkan para
tamu pasti bisa disedia kan," sahut Ing-jun.
Tergerak hati Kun-gi, sambil menge lus jenggot, dia bertanya:
"Dari apa yang barusan nona katakan, jadi tamu2 yang diundang
cengcu kalian bukan hanya Lohu seorang?"
"Ha mba juga kurang jelas," sahut Ing-jun tertawa sambil
menutup mulut dengan lengan baju, "beberapa kamar di sekitar sini
me mang diperuntukkan tempat tinggal para tamu." Lalu dengan
gerakan menantang dia bertanya pula: "cengcu pesan hidangan
apa, hamba segera menyediakan."
"Licin juga budak ini," demikian batin Kuni-gi, dengan tertawa dia
lantas berkata: "Kalau pagi Lohu suka ma kan bubur."
Cemerlang biji mata Ing-jun, katanya tertawa, "Bubur selalu
tersedia, hamba akan siapkan pula beberapa lauk-pauk yang lain-"
Lalu dia putar tubuh hendak pergi.
"Tunggu dulu nona," seru Kun gi.
"Ha mba Ing-jun, harap Cu-cengcu panggil nama hamba saja,
kalau cengcu dengar hamba di-panggil nona, tentu hamba akan di
caci ma ki," tanpa menunggu Kun-gi bicara lagi, segera ia bertanya
pula: "Cu-cengcu masih ada pesan apa?"
"Setiap bangun tidur, Lohu punya kebiasaan jalan2 di kebun, apa
aku boleh ke luar?"
"Te mpat kita ini dikelilingi air, di luar air terkurung gunung lagi,
dalam kebun ada tanaman yang terus berke mbang sela ma e mpat
musim, panorama sangat permai, sebagai tamu undangan, sudah
tentu Cu-cengcu boleh pergi ke mana saja, nanti kalau Cu-cengcu
ke mbali ke ka mar, hidangan-pun sudah kuantar ke mari."
Kemanapun boleh pergi, me mangnya mereka tidak takut tamu
agung yang diundang secara paksa ini me larikan diri? Kun-gi lantas
berkata: "Baik, Lohu a kan jalan di luar."
Ing-jun menyingkap kerai, Kun-gi lantas melangkah keluar
kamar, kini dia berada di sebuab ruang tamu yang luas dan serba
mewah, pekarangan mungil di luar sana, berderet dan puluhan pot
ke mbang berbagai jenis sedang me kar se merbak, harum
me mabukkan-.
Ing-jun mendahului me mbuka pintu besar yang bercat merah,
sembari melangkah ke luar dia berkata: "Cu-cengcu baru datang,
keadaan di sini masih asing perlukah ha mba me mberi sekedar
penjelasan?" Lalu dia tuding ke tempat jauh, katanya: "Kebun ini
luasnya ada beberapa hektar, air mengelilingi te mpat ini di bagian
timur, selatan dan barat, sebelah utara adalah puncak gunung yang
terjal dan mencakar langit, tepat di sebelah selatan, di mana
bangunan gedung2 bertingkat itu adalah letak dari Coat Sin-san-
ceng, cengcu kita bertempat tingga l di sana. "
"Dari Coat Sin-san-ceng kearah timur adalah Hiat-ko-cay. Menuju
ke utara tiba di Kwi-ping-kip. di mana ada lima bilangan, tempat kita
ini adalah bilangan ketiga yang bernama Lan-wan- Dari sini ke
barat, itulah Thian-oe-tong, menuju ke selatan akan tiba di A m-
hung- ih, maju lagi adalah Goa-kia m-khe k dan Hiat-ko-cay yang
terletak secara berhadapan, tepat di tengah2 ada sebuah gunungan
palsu besar dengan puncak Kok-hun-ting, dari sini dapat melihat
pemandangan di se kitarnya, begitulah kira2 keadaan di sini."
Kun-gi manggut2 ber-ulang2, katanya tersenyum: "Terima kasih
atas petunjuk nona," Lalu dia menyusuri jalanan kecil bertabur
batu2 putih. Ta man bunga ini ternyata amat luas, di mana2
pepohonan tumbuh subur dan lebat, teratur dan terawat baik, bau
bunga semerbak, burung berkicau, suasana pagi hari ini sungguh
cerah dan segar.
Berjalan ditengah taman nan indah perma i ini, orang akan lupa
segala2nya, me mang siapa akan percaya bahwa di tengah2 taman
ini merupakan sumber kekacauan di kalangan Kangouw dan menjadi
pusat komplotan Cin-Cu-ling.
Sedikit banyak Kun-gi sudah mendapat gambaran dari
keterangan Ing jun mengenai seluk-beluk taman ini, pikirnya: "Aku
baru datang, lebih baik kupanjat gunung buatan menuju ke Ke k-
hun-ting, ingin kulihat denah dari keseluruhan ta man ini."
Langsung dia menyusuri ja lanan kecil di tengah2 itu. Tak la ma
ke mudian, betul tiba di depan gunung buatan itu.
Gunung buatan ini dibangun dari tumpukan batu2 yang diuruk
tanah, tak ubahnya seperti bukit2 umumnya, di atas gunung buatan
inipun tumbuh pepohonan, na mun yang terindah adalah pohon2
bambu kuning, berbagai jenis kembang juga tumbuh se merbak.
jauh lebih teratur dan terawat, undakan dan jalan liku2 menanja k
tinggi ke atas, untuk membangun gunung buatan yang beberapa
puluh tombak tingginya ini terang menghabiskan biaya dan pikiran
yang tidak sedikit. Tepat di puncak bukit terdapat sebuah gardu,
itulah Kek-hun-t ing, "gardu se kuntum mega ".
Dengan berlenggang Kun-gi telah menuju ke atas, lain dengan
gardu umumnya yang berbentuk petak. gardu di sini dipagari kayu2
merah setinggi pinggang yang berbela k-belok. pajangannya cukup
megah, ke arah manapun me nghadap. seluruh pe mandangan ta man
ini dapat terlihat jelas.
Begitu Kun-gi melepas pandangannya, seketika ia berdiri
me longo. Sema la m waktu turun kereta, walau kedua matanya
ditutup kain, tapi ketika dia diturunkan oleh Hou Thi-jiu, pernah dia
mengintip sebentar, kereta benar2 berhenti di depan sebuah pintu
gerbang perkampungan- Tapi te mpat sekarang dirinya berada
justeru di bangun di tengah pegunungan- Dia ingat le laki baju abu2
menggendongnya turun kereta, lalu me mbe lok ke kiri masuk pintu
seperti me lewati beberapa pekarangan dan rumah baru sa mpa i di
taman belakang. Dari pintu taman yang bersuara berat itu terang
terbuat dari besi tebal, lalu Hou Thi jiu sendiri yang menjinjing diri-
nya menyelusuri lorong berbatu ke Kwi-pin koan. Meski tida k
me lihat dengan mata terpentang, namun se mua itu diingatnya
betul2.
Menurut rekaannya, letak dari ta man bela kang ini pasti berada
paling belakang dari perka mpungan- Karena orang2 yang di
"undang" ke mari sudah di bius, malah di da la m obat bius dica mpur
obat yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga, betapapun
tinggi ilmu silat seseorang, setelah minum obat itu, kekuatannya
paling tersisa tiga bagian saja dari keadaan biasanya.
Untuk lari me lompat pagar tembok yang a mat tinggi terang
mustahil, apalagi penjagaan dari jago2 berkepandaian tinggi tentu
juga sangat ketat, yang terang setiap gerak-gerik dirinya tentu
diawasi secara dia m2.
Tapi kenyataan yang dilihat dan dihadapi Kun-gi sekarang justeru
berlainan. Apa yang dijelaskan oleh Ing-jun si pelayan tadi me mang
tidak salah, taman bunga ini di kelilingi air, hanya bagian utara
berdiri puncak gunung tinggi mencakar langit yang curam dan terjal.
Jadi perka mpungan besar sebetul-nya terletak di bagian selatan,
tapi yang dia lihat sekarang hanyalah Coat Sin-san-ceng, di selatan
Coat Sin-san-ceng adalah sungai yang lebarnya puluhan tombak
pepohonan Yang-liu tampa k me la mbai2 di seberang sana, mana ada
perkampungan besar lain?
Jelas semalam kereta berhenti di depan perkampungan dan
dirinya digusur turun, kalau letaknya terpaut sebuah sungai, cara
bagaimana kereta bisa sampai di sini? jelas dirinya melihat
bangunan tembok yang tinggi, pintu gerbang perka mpungan begitu
angker, lalu ke mana pula se karang perka mpungan besar itu?
Sejak dirinya masuk ke mari sa mpa i sekarang, keadaan dirinya
tetap segar bugar, terang tak mungkin dipindah ke te mpat lain-
Begitulah Kun-gi berdiri menjublek di te mpatnya.
Waktu dia berpaling ke utara, puncak mencakar langit yang terjal
itu seperti sudah amat dikenalnya, itulah puncak gunung tinggi yang
semala m dilihat berada di belakang perka mpungan itu. Dan di sini
letak keanehannya, perkampungan besar itu lenyap. namun punca k
tinggi ini tetap bercokol di te mpatnya. Ini me mbuktikan bahwa apa
yang dilihatnya semala m tentu tidak salah. Hati se makin heran dan
bingung, terasa pula bahwa urusan rada ganjil.
Coat Sin-san-ceng (perkampungan yang lepas dari kera maian
dan kotoran duniawi), na ma ini me mang tepat dan tidak
berkelebihan, karena tiga bagian seke lilingnya dilingkari permukaan
air yang luas, me mang merupa kan tempat yang terasing dan
terpencil dari luar.
Tujuan Kun-gi hanya ingin me lihat dan me meriksa keadaan
sekeliling, kini keadaan sudah dilihatnya dengan jelas, maka me lalui
jalan datangnya tadi dia me nuju ke Lan- wan-
Masih ada suatu hal yang membuatnya heran, di tempat ini tiada
seorangpun yang dijumpa inya, se-akan2 pemilik tempat ini tida k
merasa kuatir, sehingga tidak perlu mengutus orang mengawasi
dirinya secara dia m2.
Hal ini ma lah mena mbah rasa curiga Ling Kun-gi, dengan susah
payah, menggunakan berbagai daya upaya mengundang para tamu
agung ini ke mari, apakah ma ksud tujuannya?

oo 0dwoo
Lan-wan, sesuai dengan na manya, yang ada di tengah2
lingkungan ta man ini seluruhnya adalah bunga anggrek melulu,
ratusan pot2 bunga tersebar dan diatur begitu rapi, terbagi menjadi
kelompok dari berbagai jenis2 yang berlinan, di bawah pot bunga
ditaruh tatakan berisi air bening untuk me ncegah se mut
menggerogoti akarnya.
Tatkala itu Kun-gi berada di antara deretan rak bunga, sambil
menggendong tangan, dengan seksama dia me lihat2 bunga.
Sifatnya bebas dan rileks, se-olah2 dialah tuan rumah dari se mua
yang ada di ta man ini.
Waktu itu hari sudah menje lang lohor, tampak seorang pelayan
baju hijau sedang mendatangi dari jalanan kecil berbatu krikil sana.
Dari gerak langkahnya yang enteng, sekali pandang orang a kan
tahu bahwa pelayan ini me miliki dasar Ginkang yang a mat bagus.
Tiba di depan pintu Lan- wan, pelayan itu hanya bicara beberapa
patah kata dengan Ing-jun.
Tampak Ing-jun mengantarnya me masuki taman menuju ke arah
Ling Kun-gi. Tapi Kun-gi pura2 tidak tahu, dengan tekun dia
me meriksa tana man bunga. Setelah mereka de kat di belakangnya
baru Ing-jun bersuara: "Cu-cengcu"
"o." Kun gi bersuara sekali, pelan2 dia me mba lik tubuh.
Ing-jun berkata, "cengcu sudah menunggu di ruang depan Jun
hiang ci-ci sengaja diutus ke mari untuk mengundang Cu-cengcu ke
sana."
Jun- hiang, pelayan baju hijau, lantas maju selangkah dan
me mberi hormat, katanya: "Hamba Jun-hiang me mberi hormat
kepada Cu-cengcu."-Gadis pelayan ini ternyata berparas elok
laksana puteri kahyangan dala m lukisan-
Kun-gi manggut2, katanya: "Lohu me mang ingin me ne mui
cengcu kalian, silakan nona menunjukkan ja lan-" Jun-hiang
mengiakan, lalu dia mendahului jalan di muka.
Jalan yang menuju ke Coat Sin-san-ceng dari Lan-wan cukup
lebar beralas batu2 gunung, kedua pinggir jalan dipagari tana man
pohon yang tidak diketahui apa namanya, angin menge mbus
sepoi2, dahan pohon sama bergoyang menerbitkan paduan suara
yang mengasyikkan.
Berjalan di belakang Jun-hiang, tiba2 tergerak hati Kun-gi,
batinnya: "Se mala m wa ktu Hoa Thi-jiu me mbawa ku ke mari juga
kudengar suara lirih dari gesekan dedaunan pohon, mirip sekali
dengan keadaan sekarang yang kulewati ini, jadi jalan yang menuju
ke kebun kiranya berada di dala m Coat Sin-san-ceng. Ya, kebun ini
dikelilingi air tiga jurusan, Coat Sin-san-ceng tepat berada di selatan
kebun bunga, mungkin seka li harus mela lui lorong bawah tanah
untuk keluar masuk, ma ka pintunya harus menggunakan papan besi
yang berat."
Coat Sin-san-ceng terdiri dari lima lapis bangunan gedung yang
menghadap ke utara tanah-nya luas, bentuknya megah dan angker,
tembok dan pilar2 gedungnya bercat dan terhias dengan berbagai
warna lukisan berbagai corak. hanya di bilangan gedung besar inilah
Kun-gi merasakan adanya gaya hidup kaum persilatan-
Diatas undakan lebar setinggi puluhan t ingkat itu, di samping
empat saka merah besar berdiri e mpat laki2 yang me mbusungkan
dada dengan seragam hijau menyoreng golok.
Jun-hiang bawa Kun-gi naik ke atas undakan langsung menuju ke
serambi. Tepat di depan sebuah pendopo besar berdiri seorang
berperawakan sedang berjubah sutera.
Begitu melihat Kun-gi, segera ia bergelak tertawa sambil
menyongsong maju, katanya sambil menjura: "Sudah la ma siaute
mendengar na ma besar Cu-cengcu, hari ini dapat mengundang
ceng-cu ke mari sungguh merupakan kehormatan besar yang tiada
taranya, semala m tak se mpat menya mbut selayaknya, harap
dimaafkan dan jangan Cu-cengcu berkecil hati"
Orang ini le laki setengah baya, wajahnya bersih, tulang pipinya
menonjol, sorot matanya tajam, perawakannya sedang, tapi
suaranya keras bergema seperti genta, di antara sikapnya yang
ramah ta mpak kereng dan berwibawa.
Mendengar nada ucapannya, Kun-gi lantas tahu orang inilah
cengcu dari Coat Sin-san-ceng. Lekas dia balas menjura, katanya
tertawa: "Tuan ini tentunya Cek-cengcu pemilik te mpat ini? Berun-
tung Siaute bisa berkunjung ke sini."
Berulang kali laki2 jubah sutera me mbungkuk badan, katanya:
"Tida k berani, Siaute sendiri Cek Seng-jiang adanya."
"Tak pernah dengar seorang tokoh Bu lim yang berna ma Cek
Seng-jiang," de mikian batin Ling Kun-gi, "ka lau dia tida k
menggunakan na ma palsu, tentunya karena dia jarang muncul di
kalangan Kangouw." .
Tanpa menunggu Kun-gi buka suara, Cek Seng-jiang berseri tawa
sambil angkat tangan: "Silakan, silakan Harap Cu-cengcu duduk di
dalam."
Di bawah iringan tuan rumah, Kun-gi masuk ke ruang pendopo
yang penuh ukiran ini, dilihatnya tiga orang sudah di tengah ruang
pendopo sana. Ketiga orang ini adalah seorang paderi tua berjubah
abu2, alisnya panjang matanya sipit, usianya sekitar 60, duduk
tegak menunduk kepala, tangannya me megang serenceng tasbih.
Dua orang yang lain adalah kakek berjubah biru, alisnya tebal
matanya lebar, muka persegi kuping besar, jenggot hitam menjuntai
di depan dada, usianya mende kati setengah abad. Seorang lagi laki2
berjubah coklat, wajahnya putih, tubuhnya sedang tapi rada gemuk.
dagunya tumbuh ja mbang yang lebat, usianya lebih 50 tahun.
Waktu Cek Seng-jiang mengiringi Kun-gi me langkah masuk- sorot
mata mereka lantas menatap ke arah Ling Kun-gi. Dari sorot mata
mereka dia m2 Kun-gi tahu bahwa ketiga orang ini sebetulnya
me miliki dasar Lwekang yang tangguh, sayang sinarnya redup
buyar.
Sembari tertawa Cek Seng jiang angkat tangan, katanya: "Cu-
heng pertama kali datang, sila kan duduk di te mpat atas."
Kun-gi tidak sungkan2, dengan sewajarnya dia lantas duduk di
tempat yang di tunjuk. Cek Seng-jiang mengiringi duduk. dua
pelayan segera maju mengisi dua cangkir arak. Sa mbil me ngangkat
cangkirnya Cek Seng-jiang berkata: "Mari, silakan minum"
Setelah minum dan me letakkan cangkirnya, Cek Seng-jiang
lantas berdiri, katanya: "Tuan2 tentunya sudah lama saling dengar
nama masing2, tapi belum pernah berkenalan. Nah, marilah
kuperkenalkan satu persatu. Lalu dia menunjuk Ling Kun-gi,
katanya: "Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng. Di ka langan
Kangouw mendapat julukan cia m-liong, tentunya, tuan2 bertiga
tidak asing akan na manya."
Lekas Kun-gi berdiri seraya menjura. Ketiga orang yang duduk
segera berdiri juga dan me mbalas hormat, sorot mata mereka
me mbayangkan rasa heran dan tida k habis mengerti. Paderi tua
jubah abu2 segera bersabda: "Kiranya cu- tayhiap. sudah lama
Lolap ingin berkena lan-"
Cek Seng-jiang tuding padri tua, katanya: inilah Lok-san Taysu."
Tergetar hati Kun-gi, Katanya: "Kiranya Taysu adalah paderi sakti
Siau-lim-si."
Melihat wajah orang mengunjuk kaget dan heran, tanpa terasa
Cek Seng-jiang mengulum senyum, katanya pula sambil me nunjuk
kakek tua berjubah biru: "Inilah Tong Thian-jong, Tong-toako dari
Sujwan-" La lu dia tunjuk la ki2 Jubah coklat pula. "Yang ini ada lah
Un It- hong, Un-lauko dari Ling-la m."
"Ketiga orang ini sudah hadir di sini, lalu di mana ibuku? Pasti
berada di dala m taman ini pula," de mikian Kun-gi me mbatin.
Karena pikiran ini, mendadak berubah air mukanya, katanya
dingin menatap Cek Seng-jiang: "Jika demikian, jadi Cek-cengcu
adalah pemimpin Cin-cu-ling yang me mbikin geger dunia
persilatan?"
Cek Seng-jiang tertawa lebar, ujarnya: "Mana berani, mana
berani. soalnya kawan2 Kangouw tidak tahu duduknya perkara
sehingga timbul sa lah paha m terhadap Siaute ...."
Kata Kun-gi tegas: "La lu apa ma ksud tujuan Cek-cengcu me nculik
kami berama i ke mari?"
"Cu-heng jangan salah paha m," ujar Cek Seng jiang tertawa,
"Sudah la ma Siaute mengagumi na ma besar kalian bere mpat,
bahwa para pendekar kami undang ke mari adalah untuk
menghindarkan suatu petaka yang bakal menimpa Bu-lim, se-kali2
tiada terkandung maksud2 pribadi, soal ini panjang kalau dijelaskan-
Nah marilah, hidangan sudah tersedia, marilah sa mbil ma kan minum
kita mengobrol."
Kun-gi menge mban tugas dari gurunya untuk menyelidiki
peristiwa Cin-Cu-ling, sudah tentu dia tidak boleh bersikap keras
terhadap si tuan rumah, maka sambil mendengus dia duduk ke mbali
ke tempatnya, walau wajah masih mena mpilkan rasa gusar, tapi dia
tekan amarahnya. Sikap pura2nya me mang tepat, seperti masih
menaruh curiga terhadap Cek Seng jiang, tapi iapun ingin
mendengar penjelasannya.
Dua pelayan mengisi pula cangkir mereka dengan arak. hanya
Lok san Taysu yang minum teh. Cek Seng jiang angkat cangkirnya
lebih dulu, katanya: "Cu-heng tiba diperka mpungan kita, demi
keselamatan Bu-lim, Siaute aturkan dulu secangkir arak ini kepada
Cu-heng." Demi kesela matan Bu-lim, tidak kecil arti kalimat yang dia
ke mukakan ini.
Setelah hadirin sa ma mengeringkan cangkirnya, maka
pembicaraan selanjutnya menjurus pada soal pokok. Kun-gi buka
suara lebih dulu: "Tadi Cek-cengcu bilang bahwa Siaute diundang
ke mari de mi untuk melenyapkan petaka Bu-lim yang sudah ada di
depan mata, bagaimana duduk persoalannya, bolehkah cengcu
menerangkan saja?"
Kembali Cek Seng-jiang tenggak habis secangkir arak. katanya:
"Tanpa Cu-heng tanya juga Siaute akan menerangkan" Setelah
merandek sebentar, lalu ia menyambung: "Soal ini harus dibicarakan
dari diriku sendiri. Keluarga cek ka mi sebetulnya mengikat
persaudaraan kental sejak beberapa keturunan dengan keluarga Ui,
dulu badanku terlalu le mah, kesehatan sering terganggu, ma ka
pernah aku menye mbah guru kepada Seks-poh Lojin, beliaupun
kuangkat sebagai ayah angkat ...."
Guru Kun-gi me mang pernah bercerita bahwa ayah Ui-san
Tayhiap Ban Tin-gak bergelar sekpoh, pada tujuh puluh tahun yang
lalu pernah dijuluki Ui-san-it-kia m,jadi Cek-cengcu ini adalah ana k
angkat Sek-poh Lojin.
Sampa i di sini Cek Seng-jiang mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya:
"Permulaan tahun yang lalu, mendadak kuperoleh kabar bahwa
saudara angkatku telah wafat, tentunya Cu-heng juga dengar kabar
ini. Dia terluka oleh semaca m pukulan beracun yang jahat, akhirnya
muntah darah dan meninggal."
"o", Kung-gi pura2 mengunjuk rasa kaget.
"Sebab dari kematiannya itu lantaran dia mene mukan suatu
muslihat keji yang bakal menimbulkan malapetaka bagi kaum
persilatan .... "
"Muslihat apa?" tanya Kun-gi pura2 ketarik.
"Pada suatu tempat di sebuah pegunungan yang tersembunyi,
tanpa sengaja saudara angkatku itu mene mukan t iga ge mbong iblis
yang dulu terkenal jahat, telah mendirikan perkumpulan bersa ma
Sam-goan-hwe, mereka sedang me mpersiapkan diri dan mengirim
kartu hitam mencari hubungan dengan gembong2 aliran hita m
secara rahasia ..."
"Kartu undangan hita m?" Kun-gi menegas.
Cek Seng-jiang mengangguk sa mbil menoleh kepada tiga orang
yang lain- "Betul, di atas kartu undangan hita m itu mereka lumuri
semaca m racun, yang amat jahat dan aneh, setiap orang yang
menerima undangan pasti terkena racun, maka mereka harus
tunduk dan menyerahkan jiwa raga sendiri kepada Sam-goan-hwe
untuk menerima obat penawarnya dalam wa ktu terbatas, kalau
tidak jiwa takkan tertolong lagi."
"Apa tujuan mereka?" tanya Kun-gi.
"Mereka punya dua langkah kerja yang sempurna, pertama,
mengumpulkan semua tokoh2 aliran hita m, supaya menjadi anggota
dan terikat dengan Sam-goan hwe. Langkah kedua, mereka
me mbuat rencana jangka tiga tahun, semua aliran putih serta
tokoh2 silat siapa saja yang menentang Sam-goan- hwe akan
diracun satu persatu ......"
Setengah percaya setengah curiga Kun-gi mendengarkan cerita
ini, katanya bimbang "Betulkah ada kejadian ini?"
Lok-san Taysu sejak tadi mendengarkan sambil peja m mata tiba2
bersabda Buddha dua kali.
"Mereka telah berhasil menciptakan semaca m getah beracun
yang amat jahat, setetes saja orang kena jiwanya pasti melayang,
tiada obat yang dapat menolongnya. Mendengar muslihat keji ini,
tidak kepalang kaget saudara angkatku itu. Maka secara diam2 dia
berhasil mencuri sebotol kecil getah beracun itu, sayang pada saat
dia hendak meninggalkan te mpat, jejaknya konangan, sebetulnya
saudara angkatku cukup cerdik, tapi sepasang tangan sukar
me lawan empat kepalan, akhirnya dia terkena hantaman Bu-sing-
ciang lawan, dengan me mbawa luka2 dia me larikan diri."
Sampa i di sini dia mengunjuk rasa sedih, katanya lebih lanjut:
"Dia tahu lukanya tidak ringan, tapi mengingat sebotol getah
beracun yang dicurinya ini teramat besar artinya bagi keselamatan
kaum Bulim umumnya, tanpa menghiraukan kesela matan sendiri,
dengan luka parah akhirnya dia- berhasil mencapai te mpatku ini,
setelah habis mengisahkan pengala mannya, dia minta kepadaku
supaya getah beracun ini di kirim ke Siau-lim atau Bu-tong.
Mendadak dia muntah darah tak henti2-nya, melihat keadaannya
yang gawat, mala m itu juga aku me mbawanya pulang ke Ui-san,
tapi dia sudah tak bisa bicara, karena tiada obat, akhirnya dia
meninggal."
Hatinya tampak berduka, sesaat kemudian baru mena mbahkan:
"Sejak pulang dari Ui-san, belum berhasil kuperoleh langkah yang
tepat untuk menghadapi peristiwa ini, pertama lantaran Siaute tak
pernah muncul di Kangouw, umpa ma botol getah itu kuantar ke
Siau-lim atau Bu-tong, kukuatir ke dua aliran besar itu belum
percaya kepadaku. Kedua botol getah itu diperoleh saudara
angkatku dengan me mpertaruhkan jiwa raganya, kejadian
menyangkut seluruh Bu-lim, jiwa ribuan orang, jika ciangbunjin dari
kedua aliran tidak menaruh perhatian, bukankah sia2 saja jerih
payah saudara angkatku itu?"
Kun-gi hanya mendengarkan dengan tenang2, tidak bersuara.
"Oleh karena itu," tutur Cek Seng-jiang lebih lanjut, "kuputuskan
akan mencari sendiri obat penawarnya serta memikul tugas ini,
waktu itu Siaute lantas teringat kepada Ko-hi Ko Put-hwi dari ciong-
la m-san, dia pandai dan ahli dala m bidang obat2an, julukannya saja
Yok-su (juru obat) tapi Siaute sudah menje lajahi seluruh
pegunungan ciong - la m tanpa mene mukan jejak Ko Put- hi,
kudengar dari seorang penebang kayu bahwa Ko Put-hi telah
meninggal dunia tiga tahun yang lalu, maka perjalananku ke cong-
la m itu hanya sia2 bela ka."
Setelah meneguk secangkir arak baru dia me lanjutkan ceritanya:
"Ke mbali dari cong-la m-san Siaute lantas teringat kepada Tong-
heng dan Un-heng, yang seorang ahli racun yang lain ahli obat bius,
mungkin mereka ma mpu menawarkan getah racun itu"
"Terima kasih atas perhatian besar Cek-cengcu, tapi kami berdua
amat mengecewakan ........" Tong Thian-jong dan Un It-hong
bersuara bersama.
"Kedua saudara tidak usah merendah hati, disamping itu siaute
juga teringat kepada Lok-san Taysu dari Siau lim-si yang sudah
puluhan tahun mengetuai Yok-ong tian ...... " demikian sa mbung
Cek Seng-jiang.
"Pinceng juga a mat mengecewakan," ujar Lok-san Taysu.
Cek Seng-jiang tertawa tawar, katanya: "Sudah dengar bahwa
Cu-cengcu dari Liong-bin-san-ceng juga ahli racun ........."
Kun-gi tertawa sambil menge lus jenggot, katanya: "Mungkin Cek-
cengcu salah dengar. Dulu ayahku almarhum pernah menolong
seorang tua yang terluka sela ma t iga tahun sa mpai se mbuh,
sebelum pergi dia meninggalkan secarik resep obat, ayahku dipesan
untuk me mbuatnya menurut resep itu dan disebarkan tiga li di
sekeliling ka mpung, kawanan penjahat dapat dicegah menyerbu
kampung ka mi, tapi sejak ayah meningga l, resep obat itu tak
kutemukan lagi "
Belum habis dia bicara Cek Seng-jiang sudah menyela sa mbil
goyang tangan: "Cu-heng jangan curiga, tujuanku hanya mencari
penawar getah racun itu, bukan niatku mengincar resep obat itu."
Lalu dia melanjutkan: "Sebetulnya siaute hendak bawa getah itu
dan berkunjung ke tempat kalian bere mpat, tapi setelah ku-pikir2
lagi, bila perist iwa ini sa mpai bocor, tentu jiwa siaute bakal menjadi
incaran Sam-goan-hwe, jiwaku tidak jadi soal, kuatirnya kalau getah
racun ini tak kuasa kupertahankan lagi, maka setelah kupikir dengan
seksama, terpaksa kugunakan akal untuk me ngundang kalian
ke mari, atas kesalahan dan kekasaran mana harap Cu-heng suka
maklum dan me mberi maaf," lalu ia me mberi hormat kepada Ling
Kun-gi.
Tergerak hati Kun-gi, lekas dia ba las hormat, katanya sungguh2:
"De mi kesela matan insan persilatan umumnya, Cek-cengcu berjerih
payah sungguh Siaute amat kagum, me mang Siaute ada sedikit
mengenal sifat obat2an, tapi entah dapat tidak me mbantu kesulitan
Cek-cengcu ini."
Melihat cerita panjang lebarnya berhasil mengetuk hati Cu Bun-
hoa, sudah tentu bukan kepalang senang hati Cek Seng-jiang,
katanya ter-gelak2: "Kabarnya getah itu merupa kan kombinasi
berbagai racun jahat dari seluruh jagat ini, apakah kita bisa
mendapatkan penawar obatnya itu soal lain, yang terang Thian
punya kuasa manusia punya usaha, asal kita mau berusaha,
umpa ma tidak berhasil juga tidak mengapa, bahwa Cu-heng sudi
bekerja sama sungguh Siaute teramat senang dan berterima kasih"
"cengcu-jangan terlalu sungkan," ujar Kun-gi. Segera ia bertanya
lagi: "Kecuali ka mi bere mpat, entah adakah orang lain yang Cek-
cengcu undang ke mari?"
Tanpa pikr Cek Seng-jiang menjawab: "Tiada, terhadap soal ini
Siaute amat hati2, memang tidak sedikit ahli racun yang punya
nama di Kang-ouw, tapi kalau aku mengundang mereka se mua,
terlalu banyak orang, urusan tentu bisa bocor, oleh karena itu orang
lain t idak kuundang ke mari."
Dia m2 Kun-gi bertanya dalam hati: "Agak-nya dia tidak membual,
jadi ibu bukan terculik olehnya." Sa mbil ma nggut2 iapun berkata:
"Me mang betul ucapan Cek-cengcu."
Habis ma kan, dibawah iringan tuan rumah, mere ka ke luar dari
coat sin- san-ceng, menyusuri serambi menuju ke timur, berjalan
kira2 seratusan langkah, mereka tiba di Hiat-ko cay. Sesuai dengan
namanya, Hiat-ko-cay adalah kamar buku tempat menyimpan kitab2
kuno, di mana terdapat sebuah ruang tamu dan empat petak ka mar
baca. Letak kamar tamu di tengah, pajangannya serba antik, semua
perabot serba ukiran, tata warnanya serasi, dihias lukisan2 kuno
pula di dinding sehingga suasana tampa k se marak.
Cek Seng-jiang persilakan para tamunya masuk. lalu katanya
kepada Ling Kun-gi: "Di sinilah te mpat kalian bekerja, ruang tamu
ini tempat kalian ist irahat."
"Ruang kerja?" tergerak hati Kun-gi, batinnya: "ruang kerja yang
dimaksud te mpat untuk menyelidiki getah racun dan mencari obat
pemunahnya."
Dua pelayan lain berpakaian hijau pupus muncul me mbawa
nampan berisi masing2 dua cangkir teh.
"Leng hong dan Long-gwat," kata Cek Seng-jiang, "ke marilah
mene mui Cu-cengcu ini."
Lekas kedua pelayan itu maju ke depan Ling Kun-gi, sedikit
menekuk lutut dan me mberi hormat, sapanya dengan suara aleman,
"Ha mba menghadap Cu-cengcu."
"Mereka adalah pe layan yang ditugaskan melayani ta mu di sini,"
ujar Cek Seng jiang, "selanjutnya bila ada keperluan apa2 boleh Cu-
cengcu berpesan kepada mereka."
"Siaute mohon petunjuk Cek-cengcu," kata Kun gi, "bagaima na
keadaan sebenarnya dari cara kerja yang akan ka mi la kukan?"
"Me mang a kan kuterangkan," kata Cek Seng-jiang, "te mpat
kaliau menginap anggap saja rumah kalian se mentara, pagi bekerja
sore kembali, tempat ini hanya khusus untuk menyelidiki racun serta
mencari obat penawarnya. Siaute berpikir kerja ini ada lah tugas
luhur dan mulia bagi kesela matan jiwa kaum persilatan umumnya,
padahal getah racun itu adalah racun yang teramat ganas dijagad
ini, supaya kalian bisa saling tukar pikiran, sengaja kami sedia kan
kamar ini untuk kalian"
"Mungkin se la ma kerja kalian ini tidak suka diganggu orang,
maka ka mi sediakan pula masing2 -ka mar untuk bekerja, bukan saja
bisa saling berkunjung, bisa pula menyelidiki secara tersendiri,
semoga mencapai hasil yang ge milang, semua ini de mi
kesejahteraan insan persilatan umumnya . "
Kun-gi manggut2, katanya: "Sempurna sekali persiapan Cek-
cengcu.."
Cek Seng jiang berdiri, katanya: "Kamar Cu-heng adalah yang
pertama di sebelah kanan, mari sila kan periksa." La lu iapun
me mberi hormat kepada tiga orang yang lain, katanya: "Taysu,
Tong-heng dan Un-heng boleh sila kan-"
Ketiga orang itupun secara balas menghormat lalu
mengundurkan diri masuk ke ka mar masing2, Kun-gi coba
menga mati, ka mar Lok- san Taysu adalah paling kiri, sementara
kamar Thong Thian-jong ada di belakang sebelah kiri, sedangkan
kamar Un It-hong ada di sebelah kanan bagian depan .Jadi
kamarnya sendiri di bela kang ka marnya Un It-hong, seberang
menyeberang dengan ka mar Tong Thian-jong.
Cek Seng-jiang angkat tangan, katanya: "Di belakang ruang ta mu
ini adalah ka mar obat, di sana ada seorang pelayan bernama Hing
hoa yang menguasai dan me ngurusnya, semua obat2an yang
diperlukan di sini adalah bahan obat2an yang sengaja siaute
kumpulkan dari berbagai te mpat aslinya ......." sembari bicara
mereka sudah me masuki ka mar petak seluas dua tombak persegi
ini, tiga sisi ruangan me mang dipajang le mari dan ra k obat-obatan
Seorang pelayan baju hijau melihat kedatangan cek cungcu dan
Ling Kun-gi segera me mapa k maju dan me mberi hormat.
Cek Seng-jiang mengulap tangan, katanya: "inilah tamu agung
kita Cu-cengcu yang baru saja ku undang ke mari."
"Ha mba Hing-hoa," pelayan itu menjura kepada Ling Kun-gi,
"terimalah hormat ha mba."
Menuding le mari obat2an Cek Seng-jiang ber-kata: "Setiap petak
dari laci yang ada di sini sudah dibubuhi na ma2 obatnya, obat apa
saja yang Cu-heng perlukan boleh menga mbilnya sendiri atau boleh
juga suruh Hing-hoa me nga mbilkan, umpa ma obat2an perlu
digodok. boleh serahkan kepadanya pula, sudah tentu umpa ma cu-
cengcu punya cara tersendiri dari warisan keluarga dan tak ingin di-
ketahui orang lain, boleh silakan kerja sendiri, semua perabot dan
peralatan tersedia lengkap." Dari sini Cek Seng jiang ajak Kun-gi ke
kamar tugas, yaitu kamar di mana dia harus menyelidiki getah racun
itu, setelah me mberi penjelasan ala kadarnya, sebelum berialu dia
berkata pula : "Siaute doakan semoga Cu-heng mencapa i sukses
yang kita harapkan sehingga petaka yang menganca m jiwa kaum
persilatan dapat kita lenyapkan, mewakili berlaksa jiwa kaum
persilatan Siaute mendahului mengucapkan terima kasih. Nah, Cu-
cengcu terimalah hormatku."
Lekas Ling Kun-gi ba las menghormat, katanya tertawa: "Jangan
Cek-cengcu lupa, Siaute juga se-orang persilatan-"
Cek Seng-jiang tertawa keras, katanya: "Mendengar ucapan Cu-
cengcu ini, legalah hati Siaute:"
Setelah Cek Seng-jiang pergi, Kun-gi me mbuka sebuah almari
kecil, di mana tadi Cek Seng-jiang menunjuk sebuah cupu2 kecil
yang berisi getah beracun itu, sebentar dia me longo mengawasi
cupu2 hijau itu lalu dike mbalikan serta menutup dan menguncinya
pula. Pelan2 dia mundur lalu duduk kursi malas yang beralas kasur
empuk. terasa nyaman duduk di kursi malas ini.
"Sedemikian se mpurna segala keperluan yang disediakan bagi
para tamu yang diundang ke mari," de mikian batin Ling Kun-gi, "apa
yang dikisahkan Cek Seng-jiang sudah tentu bisa dipercaya, tapi
orang yang diculik ke mari bukan dipaksa menyerahkan resep
rahasia dari keluarga masing2, bukan dipa ksa untuk me mbikin
semaca m racun jahat lagi, tapi hanya diminta jerih payah kami
berempat untuk mene mukan obat penawar dari getah racun itu,
agaknya tiada maksud mencela kai orang, lalu di ma na letak
muslihatnya?"
"Kalau tidak mencela kai orang, sudah tentu tak bisa dikatakan
muslihat. Tapi Suhu berpesan sewaktu diriku akan berangkat bahwa
dibalik peristiwa Cin-Cu-ling ini pasti ada suatu muslihat jahat,
supaya diriku menyelidiki dengan seksama. Apa yang dikata guru
tentu tidak akan salah, lalu bagaimana tindakan diriku selanjutnya?"
inilah tugas berat dan rumit yang direnungkan Kun-gi pula..
oooodwoooo
Jilid 7 Halaman 61/62 Hilang
--ganas, dalam jangka satu ja m si korban akan se maput
keracunan, setengah jam ke mudian, ka lau tidak di obati sekujur
badan akan gatal2 dan linu sampa i ajal, kalau tidak kepepet,
kularang kau menggunakannya."
"Paman, mana obat penawarnya?" tanya Ji-ping.
"Ada di dala m kantong kulit itu, ditelan dan dibubuhkan pada
luka masing2 cukup satu butir, di sa mping itu pa man juga
menyediakan 120 batang yang lain, tersimpan pula di dala m
kantong itu."
Ji-ping kegirangan, serunya "ibu angkatku me mberi satu stel
oow-tiap-piau (piau kupu2 ), dita mbah bumbung ini, betapapun
lihaynya musuh tak perlu kutakuti lagi."
Tiba2 Cu Bun-hoa menarik muka, katanya serius: "Seperti Ya-
khim, kaupun punya cacat, yaitu tidak tahu tingginya langit dan
tebalnya bumi, betapa banyak orang2 lihay di Bu-lim, me mangnya
dengan senjata rahasiamu itu saja lantas boleh sembarangan
bertindak? berke lana di Kangouw yang penting ada lah
menye mbunyikan keaslian diri sendiri, sedapat mungkin jangan
pamer. "
"Baiklah pa man, marilah berangkat," desak Ji-ping.
"Nanti dulu pa man juga perlu berdandan ala kadarnya," lalu dia
buka ka mar rahasia serta masuk kedala m. Tak la ma ke mudian dia
sudah keluar mengenakan pakaian ketat dengan mantel segala,
kepala ditutupi topi lebar, wajahnya yang semula putih bersih
mendadak berubah ke la m dan tua penuh keriput, jenggot yang
hitam kini menjadi ubanan-
Melenggong Ji-ping, serunya. "Hah,jadi paman juga pandai
merias diri, sela ma ini kau mengelabuhi kita se mua."
"Ini hanya cara menyamar yang paling gampang, kaum
persilatan umumnya juga bisa, ka lau dibandingkan Ling-lote, jauh
sekali bedanya,." ujar Cu Bun-hoa.
Teringat kepada Ling-toako, Ji-ping menjadi gelisah, serunya
mendesak: "Pa man, hayolah le kas berangkat"
"Nanti dulu, paman masih ada pesan padamu, setelah
meninggalkan Liong-bin- san-ceng kita tidak boleh jalan bersama,
kau harus di belakangku, kuntitlah aku dari kejauhan, umpa ma
makan atau menginap di hotel, pura2 tida k kenal saja."
"He kenapa?" tanya Ji-ping.
"Menurut dugaan pa man, sepanjang jalan ini mata2 musuh pasti
tersebar di mana?, maka kita harus ber-hati2," sa mpai di sini dia
menggerakkan tangan- "Baiklah Ji-ping, sekarang kita berangkat,
akan kusuruh mengeluarkan dua ekor kuda"
"Tida k usah paman, waktu datang bersama Ling-toako aku sudah
mena mbat dua ekor kuda di luar hutan sana."
"Bagus kalau begitu," seru Cu Bun-hoa.
Sinar cemerlang mulai terpancar di ufuk timur, fajar telah
menyingsing. Cu Bun-hoa kepra k kudanya ke timur menuju ke Sau-
thian-tin.
Orang2 desa ber-bondong2 jalan cepat menuju ke kota, tapi Cu
Bun-hoa tidak masuk kota, sorot matanya bersinar tajam dan melirik
ke arah kaki te mbok dari sebuah gubuk reyot, lalu keprak kuda-nya
menuju ke arah barat.
Pui Ji-ping hanya tertinggal setengah li di be lakang, tidak la ma
setelah Cu Bun-hoa berlalu ia-pun tiba di luar kota Sau-thian-tin
terus menuju ke arah barat pula.
Daerah ini termasuk pegunungan Hoa-san, dengan pegunungan
Pak-say-san dari Tay-piat-san merupakan daerah segi tiga, tiada
tanah datar, aliran sungai bercabang lintang melintang, antara kota
dan kampung hanya dihubungi sebuah jalanan kecil, tiada jalan
raya.
Sebelumnya Cu Bun-hoa mengirim dua anak buahnya me mbawa
anjing pelacak mengejar dan mengikuti Ling Kun-gi, sepanjang jalan
ini sudah ditinggaikan tanda2 rahasia. Sesuai tanda inilah Cu Bun-
hoa mene mpuh perja lanan-
Kira2 tengah hari dia tiba di Tay-hoat-ping. Dia cukup teliti,
setelah me lakukan pengejaran setengah hari ini, a khirnya
ditemukan suatu rahasia olehnya. Yaitu sepanjang jalan yang
dilaluinya ini dia mendapatkan rumput2 liar dipinggir ja lan ada
bekas tergilas roda kereta, bekas roda kereta ini menjurus ke arah
yang sama dengan jalan yang harus dite mpuhnya ini.
Dala m wilayah ini umum mengetahui hanya ada kereta dorong
beroda tunggal selain gerobak keledai atau menunggang kuda,
jarang yang mengguna kan kereta kuda. Darinya ia kuda yang dia
temukan sepanjang jalan ini, dia dapat menganaliaa bahwa kereta
itu ditarik oleh dua e kor kuda.
Terutama diantara kampung dengan kampung banyak
persimpangan jalan, tapi bekas2 rumput tergilas roda itu terus
muncul di depan kudanya, Hakikatnya dia tidak perlu lagi mene lit i
tanda2 peninggalan kedua anak buahnya lagi, cukup asal mengikut i
bekas2 roda itu, pasti tida k akan salah lagi.
Maklumlah untuk menculik dirinya (yang disamar Ling Kun gi),
supaya tidak menimbulkan curiga orang lain, jalan paling baik
adalah dimasukan ke dala m kereta yang tertutup.
Dia berhenti dan sarapan di sebuah warung di luar kota. Warung
ini hanya dikuasai seorang la ki2 tua, setelah persilakan ta munya
duduk dia antar teh la lu bertanya: "Tuan mau ma kan apa?"
Cu Bun-hoa minta sekati arak. dimintanya pula sepiring sayur
asin dan kacang goreng, serta satu porsi mi. Baru saja pemilik keda i
mengiakan dan mengundurkan diri, segera Cu Bun-hoa mendengar
suara kelentingan kuda, cepat sekali seekor kuda berlari mendatang
ke warung kecil ini..
Semula Cu Bun-hoa kira Ji-ping telah menyusul tiba, tapi waktu
dia angkat kepa la, yang masuk adalah la ki2 berbaju ke labu
bercelana biru, golok terselip di pinggang, sebelah tangan
me megang pecut terus duduk di meja dekat jalan, seru-nya ke arah
dalam: "Hai, si tua, lekas beri rumput kepada kudaku, setelah aku
makan akan segera me lanjutkan perja lanan. "
Si tua tadi mengiakan sa mbil munduk2, bergegas dia lari keluar
menyediakan yang diminta.
Sekilas pandang Cu Bun-hoa lantas tahu, laki2 baju kelabu yang
bermuka tirus dan bermata tikus ini adalah orang yang menga mati
gerak-geriknya di Mo-cu-t ia m tadi, tadi dia berjongkok di kaki
tembok, kini ternyata berani terang2an me-nguntitnya. Diam2 Cu
Bun-hoa tertawa dingin.
Waktu itu Pui Ji-ping juga sudah datang menunggang kuda, dia
berpakaian pelajar, tangan pegang kipas, langkahnya me mang mirip
anak sekolahan, dia duduk di meja tengah, tanyanya: "Tia m-keh,
kalian jual apa? Ke luarkan yang enak2."
Pemilik kedai yang sudah tua itu lekas me-nyambut, katanya
tertawa: "Siangkong harap sabar, kami hanya menyediakan sayur
asin, daging rebus, telur pindang juga ada, kacang dan bakmi juga
lengkap. minum ada arak, teh dan wedang kacang, Siangkong
pesan yang mana?"
"Aku minta arak saja, seporsi daging rebus, usus babi dan dua
telur, satu porsi bakmi," de mikian pesan Ji-ping.
Dia m2 Cu Bun-hoa mengerut kening, pikirnya: "Anak perempuan
juga minum arak segala?"
Pemilik keda i menjadi repot lari kian ke mari me layani permintaan
ketiga tamunya, sebentar ke luar, lain kejap berlari ke dapur lagi.
Sembari minum arak. lelaki baju abu2 sering melirik ke arah Cu
Bun-hoa. Kalau dia ini komplotan penjahat, paling2 dia hanya
seorang keroco, maka Cu Bun-hoa anggap tidak tahu, sikapnya
tetap wajar dan ma kan minum seenaknya.
Tak la ma ke mudian le laki baju abu2 sudah kenyang makan
minum, sa mbil mengusap mulut, dia merogoh uang dan digabrukan
ke atas meja, serunya: "Hai si tua, hitung re keningnya"
Lekas pemilik kedai me mburu datang, katanya: "Semuanya 32
ketip."
Setelah me mbayar, dengan langkah lebar laki2 itu lantas keluar
menceplak kuda terus dikeprak pergi.
Cepat Cu Bun-hoa juga bayar rekening, kudanyapun dibedal
me mburu dengan kencang. Kuda tunggangannya se mula milik Ling
Kun-gi, pemberian keluarga Tong, merupakan kuda pilihan yang
larinya pesat, sekejap saja kuda di depannya itu sudah diausulnya.
Waktu menoleh dan me lihat Cu Bun-hoa mengejar datang, lelaki
baju abu2 segera pecut kuda-nya supaya lari lebih kencang lagi. Cu
Bun-hoa tertawa dingin, mendadak d ia jepit perut kuda dan kuda
itu segera berlari lebih cepat, tahu2 sudah menyusul beriring
diaampingnya. Secepat kilat Cu Bun-hoa ulur lengan mencengkera m
baju kuduk laki2 itu serta dijinjingnya dari punggung kuda
tunggangannya.
Menghadapi jago lihay seperti Cu Bun-hoa, sudah tentu seperti
kambing berhadapan dengan harimau, kecuali mencak2 dan
meronta, mulutpun ber-kaok2 seperti babi hendak diaembe lih,
orang itu tak ma mpu berbuat apa2.
Begitu Cu Bun-hoa kendorkan kakinya, kuda tunggangannyapun
berlari semakin la mban. Dengan tangkas Cu Bun-hoa lantas
me lompat turun, sekilas matanya memandang sekelilingnya,
kebetulan dilihatnya tak jauh di sana ada sebuah batu besar,
dengan tangan kanan menjinjing si baju abu2 dia mengha mpiri ke
sana. "Blang", laki2 itu dia banting ke atas tanah, saking keras laki2
itu sa mpai se kian la ma hanya mengge liat saja tak ma mpu bangun.
Terdengar Cu Bun-hoa yang duduk di atas batu bertanya dingin,
"Kenapa kau menguntit aku?"
Laki2 itu meringia kesakitan, katanya: "cayhe tidak tahu apa
maksud perkataanmu?"
Mendelik mata Cu Bun-hoa, desisnya: "Ya, sebentar akan
kuberitahu apa ma ksudku."
Selagi dia bicara, mendadak laki2 itu melolos golok di
pinggangnya, sembari menyeringai, goloknya terus me mbacok
kepala Cu Bun-hoa. Gerak-annya ternyata tangkas dan cepat,
"Trang", ke mbang api terpercik, Cu Bun-hoa yang duduk di atas
batu tetap tidak bergeming, tapi golok itu me mbacok lewat
disa mping badannya mengenai batu.
Keruan sibaju abu2 kaget, dia kira saking terburu nafsu sehingga
serangannya kurang mantap. mendadak dia menghardik,
pergelangan tangan me mbalik, golok menyamber pula melintang
me mbabat pundak Cu Bun-hoa. Kali ini dia sudah mengincar betul
baru melancarkan serangan, kalau sampai sasarannya kena, batok
kepala Cu Bun-hoa pasti dipengga lnya putus.
Tapi sa mberan goloknya hanya mengeluarkan deru angin bela ka
tanpa rintangan, itu berarti babatan goloknya mengenai te mpat
kosong. . Kini baru dia betul terperanjat, tapi untuk mengere m
gerakannya sudah tak sempat lagi, terasa sejalur tenaga maha
dahsyat tiba2 menindih punggung goloknya terus dibetot keluar
sehingga golok tak kuasa dipegangnya lagi, goloknya mence lat dan
jatuh ke se mak2 rumput di kejauhan sana, telapak tangan terasa
linu dan lecet.
Cu Bun-hoa tetap duduk di atas batu tanpa -bergerak. suaranya
kereng dingin: "sekarang mau percaya tidak- jatuh ke tangan Lohu,
mau lari atau adu jiwa hanya sia2, de mi jiwa mu lebih baik menyerah
dan menga ku terus terang, Siapa suruh kau mengunt it Lohu,
kepada siapa pula kau hendak laporan? Mungkin Lohu a kan
me mberi a mpun pada mu"
Si baju abu2 menjublek. sekian la ma dia mengawasi dengan
mata mendelong, sesaat kemudian baru tertawa getir, katanya,
"Tiada gunanya kalau cayhe mengaku, jiwa ku tetap takkan
selamat."
"Asal kau mengaku terus terang, Lohu pasti akan melindungi jiwa
ragamu."
Laki2 itu menggeleng, katanya: "Percuma, walau ilmu silat mu
tinggi ......"
Mendadak badannya mengejang, terus jatuh tersungkur.
Melihat keadaan orang agak ganjil. le kas Cu Bun-hoa
me meriksanya, setelah berkelejetan sebentar, laki2 itu tak bergerak
lagi, darah kental hita m me leleh dari ujung mulutnya,
Prihatin wajah Cu Bun-hoa, katanya menghela napas: "Bunuh diri
pakai racun, orang2 ini berani mati, tapi tak berani me mbeber
rahasia untuk cari hidup?" Ia mengge leng dan melompat ke sana
menje mput golok orang lalu mengga li liang dan mengubur mayat
laki2 itu, setelah selesai baru meneruskan perjalanan-
Sepanjang jalan ini tanda2 rahasia tinggalan anak buahnya masih
terus dia temukan, jalur bekas roda kereta juga masih kelihatan,
setelah melewati Lui-clok-ho, dia terus maju ke Wan-cui-ho, haripun
sudah petang. Maju lebih lanjut Cu Bun-hoa sudah akan berada di
pegunungan Tay-piat- san-
"Mungkinkah sarang penjahat ada di Tay-piat-san?" demikian ia
me mbatin.
Di Wan-cui-ho dia cari, sebuah rumah makan, cukup la ma dia
berhenti dan menunggu, tapi tidak tampak Ji-ping menyusul datang,
hati sedikit was2 tapi sepanjang jalan ini ia sudah meninggalkan
tanda2 rahasia, si nona pasti akan terus mengikuti jejaknya sesuai
petunjuk tanda2 itu. Maka dia lantas meneruskan pengejarannya ke
depan-
Menuju ke barat lagi ja lanan tidak rata, jalan kecil yang harus
ditempuhpun ber-liku2 me lingkar di antara pegunungan yang turun
naik, tat-kala itu sudah petang, di antara lebatnya hutan di tengah
pegunungan terdengar ge ma suara burung kokok beluk yang seram,
namun bagi cia m-liong Cu Bun-hoa yang berkepandaian tinggi,
semua itu bukan soal. cuma sejak keluar dari Wan-cui-ho, sejauh ini
tanda rahasia yang dia harapkan ditingga lkan oleh kedua ana k
buahnya ternyata tak kelihatan lagi, keruan ia heran dan mula i
curiga.
Me mang untuk meninggalkan tanda rahasia tak mungkin
ditempat yang terang dan menyolok mata, umumnya kalau tida k di
ujung atau di kaki tembok. akar pohon, kalanya di bawah batu atau
tempat yang agak tersembunyi. Kini hari sudah petang, tempat2
yang tersembunyi ini jadi lebih sukar dite mukan-
Tapi ini hanya bagi orang2 biasa, bagi jago silat seperti si naga
terpendam Cu Bun-hoa yang me miliki Lwe kang tinggi, walau di
tengah udara gelap. dalam jarak setombak masih dapat dilihat-nya
dengan jelas. Tapi tanda rahasia yang di tinggalkan oleh kedua ana k
buahnya yang menguntit kereta pengangkut Ling Kun-gi telah
putus, sementara bekas roda kerota itu masih tetap kelihatan jelas.
Kalau kedaan anak buahnya itu kesasar, ini tidak mungkin,
karena untuk menuju ke barat, sejak dari Wan cui-ho sudah tiada
jalan lain kecua li jalan pegunungan kecil yang melingkar turun naik
ini.
Kembali 20 li sudah dite mpuhnya, keadaan jalan sema kin
menanjak dan sukar dite mpuh. maju lebih jauh lagi dia akan tiba di
Liong-bun-kiu. Liong-bun-kiu adalah sebuah jalan pegunungan yang
sempit dan diapit batu2 cadas yang runcing dan semrawut letaknya,
kecuali pohon2 ce mara yang tersebar jarang2, hanya pepohonan
rambat saja yang me menuhi sekitarnya, jalan pegunungan se mpit
ini ada lima lijauhnya, setelah keluar dari daerah Liong-bun kin
barujalanan akan ke mbali agak datar.
Pada saat cu Bun-boa berjalan itulah, agak jauh di depan sana
kelihatan meringkuk segulung benda hita m, lari kudanya cukup
kencang, begitu dia me lihat gundukan hita m ini, se mentara kuda-
nyapun sudah berlari dekat, lekas Cu Bun-hoa tarik tali kendali
menghentikan kudanya. Waktu dia mengawasi gundukan bayangan
hitam yang menggeletak ditengah jalan itu, kiranya seekor anjing,
mengge letak tanpa bergerak.
Betapa tajam mata Cu Bun-hoa, sekali pandang dia lantas
mengenali anjing ini adalah anjing pelacak peliharaannya, seketika
dia menjublek. Lalu dia melompat turun, waktu diperiksa anjing ini
sudah dingin kaku, namun seluruh badannya utuh tidak kelihatan
luka apa2, mungkin terpukul mati oleh se macam pukulan luna k yang
maha kuat, atau mungkin juga mati terkena racun jahat.
Bahwa anjing pelacak ini sudah mati, bukan mustahil jejak kedua
anak buahnya pasti sudah konangan oleh musuh, pantas sejak dari
Wan-cui-ho sa mpai sini dirinya tidak mene mukan lagi tanda2 rahasia
peninggalan mere ka.
cepat ia Cempla k kudanya lari beberapa tombak ke depan pula,
seekor anjing yang lain dite mukan pula meringkuk di jalan, jelas
nasib anjing yang ini mirip juga kawanannya tadi, maka dia tida k
turun me meriksanya pula. Kuda dia keprak me mbeda l terus ke
depan, jarak lima li hanya ditempuh beberapa kejap saja, akhirnya
dia me masuki mulut le mbah, maka dilihatnya dila mping gunung
kira2 tiga tomba k tingginya, diatas pohon cemara kanan kiri
masing2 mengge lantung sesosok tubuh.
Waktu Cu Bun-hoa mengawasi, siapa lagi ka lau bukan kedua
Centingnya yang dia suruh mengunt it jejak musuh? Kedua tangan
mereka menjulur turun, kontal-kantil tertiup angin mala m tanpa
meronta lagi, jelas jiwa merekapun sudah me layang.
Sudah tentu tidak kepalang gusar Cu Bun-hoa, dada terasa
hampir meledak. dua anjing dibunuh dan dibiarkan mengge letak di
tengah jalan, kedua centingnya juga dibunuh dan digantung di atas
pohon, jelas musuh sengaja hendak pa mer ke kuatan dan
merupakan anca man terhadap dirinya.
Cu Bun-hoa kerahkan tenaga murni, sekali jejak dengan gaya
cia m-Liong-siang thian (naga terpendam naik ke langit), dia
me lompat tinggi ke atas dari punggung kudanya, di tengah udara
dia me lolos pedang me luncur ke kiri, dimana pedang berkelebat, tali
pengikat jenazah orang telah di babat putus, Dengan enteng
kakinya menutul dinding gunung, badannya mela mbung miring ke
sebelah kanan, di mana pedangnya bekerja, tali yang mengikat
jenazah disebelah kananpun dia tusuk putus, lalu dia anjlok ke
bawah. Gerakannya tangkas dan cepat luar biasa, waktu dia
menginjak tanah baru terdengar suara "bluk", mayat kedua
centingnya juga berjatuhan pula.
Kuda tunggangannya itu me mang kuda pilihan dari keluar Tong,
begitu merasakan penunggangnya meloncat ke atas, segera dia
berhenti sendiri tanpa diperintah, agaknya kuda ini me mang sudah
terlatih baik sekali.
Cu Bun-hoa simpan ke mba li pedangnya, dengan seksama dia
periksa keadaan mayat kedua centing, kematian mereka mirip
dengan kedua ekor anjing itu. tiada bekas luka apa2 yang
ditemukan- -cuma kulit anjing tumbuh bulu rada sukar diperiksa,
tapi kulit muka kedua centing ini berwarna kelabu, jelas mereka
mati oleh pukulan se macam Tok-sat-ciang yang lihay dan beracun,
kadar racun menyerang jantung, maka jiwapun melayang.
Di tempat itu juga dia kubur kedua centingnya, mulutnya berkata
lirih: "Lohu akan menuntut balas bagi ke matian kalian-" Segera dia
cemplak kuda dan dibeda l ke mulut le mbah.
Sejak ke luar dari le mbah se mpit, timbul kewaspadaan Cu Bun-
hoa, matanya menjelajah dengan teliti keadaan sekitarnya, tanah
berumput yang luas dan datar tampak sunyi di tengah kegelapan,
tapi bayangan orang tampa k berdiri di sana.
Semuanya ada empat orang, tak bersuara dan tak bergerak.
empat orang berseragam hitam, mereka seperti empat pucuk
pohon, se-olah2 dirinya sudah terkepung di antara mereka .Jelas
keempat orang inilah pe mbunuh kedua anjing dan kedua centing
nyaitu, dari posisi mereka berdiri, agaknya me mang sedang
menunggu kedatangan dirinya.
Agaknya mereka sudah memperhitungkan dengan cermat,
sekeluar dari lembah dirinya pasti akan menghentikan kuda di
tengah tanah berumput yang lapang ini, maka posisi berdiri mere ka
tepat mengepung sehingga dirinya tidak diberi kese mpatan untuk
me loloskan diri.
Sudah tentu belum tentu Cu Bun-hoa punya niat melarikan diri.
Keempat orang itu mengenakan jubah hita m yang kedodoran, dan
yang lebih aneh lagi, mereka sa ma me miliki wajah yang kaku
dingin, tak ubahnya muka mayat hidup. Mereka sama menjulurkan
tangan ke bawah, berdiri kaku seperti tonggak kayu.
Tampaknya mereka tida k me mbe kal senjata, tapi dari punggung
kuda Cu Bun-hoa dapat melihat jelas keempat orang tengah
mengumpulkan se mangat, mata merekapun berkilauan dite mpat
gelap. kepandaian keempat orang ini agaknya tidak kepalang
lihaynya. Ginkang merekapun tidak le mah. Di ka la Cu Bun-hoa
mengawasi mere ka, serentak keempat orang jubah hitam itu
me langkah ber-sa ma mengha mpiri, kira2 setombak disekitar dirinya
baru berhenti.
Sudah tentu Cu Bun-hoa pandang enteng keempat musuhnya ini,
dengan Celingukan seperti melihat suatu benda aneh layaknya, dia
berkata: "Kalian mencegat jalan Lohu, apa ma ksud kalian?"
Terdengar orang yang tepat di depannya bersuara dingin: "Tua
bangka, turunlah kau."
Cu Bun-hoa menjawab: "Lohu masih a kan meneruskan
perjalanan, kenapa harus turun?"
"Karena kau sudah sa mpai akhir jalanmu," ketus suara orang itu.
Sambil mengelus jenggot, Cu Bun-hoa terseyum, katanya:
"Kukira kalian keliru, ke utara aku masih bisa sa mpai Say-gong-kiu,
ke barat bisa mencapai ceng-thay-koan, kenapa kau bilang sudah
sampai di akhir jalan?"
"Maksudku kau sudah mencapai akhir hidupmu," jengek laki2
jubah hita m.
Cu Bun-hoa ngakak sa mbil menengadah, katanya: "Kalian sendiri
belum mencapai akhir hidup kalian, bagaimana tahu kalau Losiu
sudah mencapai a khir hidup?"
Tajam dingin sorot mata orang itu, dengusnya: "Nada dan sikap
bicara tuan ke lihatan bukan kaum keroco, sebutkan na ma mu."
"Di kalangan Kangouw ada pa meo yang bilang, di atas langit
masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Siapa na ma
Lohu, biar kukatakan juga ka lian tidak mengenalnya"
orang di depan ini agaknya pe mimpin rombongan, katanya
sambil me nyeringai: "Tuan me mang bermulut besar, entah
bagaimana bekal kungfumu?"
"Kalian mencegat dan mengelilingi Lohu, tentu ada maksud turun
tangan, kenapa tidak le kas coba saja?" tantang Cu Bun-hoa.
Menyipit mata orang itu, jengeknya: "Sekali ka mi turun tangan
jiwa mu pasti tamat, hanya ada satu cara untuk menghindari
ke matian atau luka2 parah."
"cara apa?" tanya Bun-hoa.
"Kutungi sendiri sebelah lenganmu, lalu ikut ka mi me ne mui
Thian-su."
"Thian-su (utusan langit)?" tergerak hati Cu Bun-hoa. "Siapakah
Thian-su kalian?"
"Setelah kau tabas lenganmu, ku bawa mu me ne mui beliau."
Lantang gelak tawa Cu Bun-hoa, ujarnya: "Suruhlah Thian-su
kalian mene muiku di sini saja."
Orang berjubah hitam sebelah kiri menggera m gusar, teriaknya:
"Jangan me mbual, tua bangka. Tak perlu kita me mbuang wa ktu
lagi, ringkus dia saja"
Cu Bun-hoa pandang sekelilingnya, katanya dengan tersenyum:
"Hanya kalian bere mpat saja, ma mpukah meringkus Lohu?"
"Berani kau me mandang enteng ka mi?" bentak orang di sebelah
kiri. Mendadak dia melompat maju seraya ulur tangan diri, secepat
kilat pundak Cu Bun-hoa dicengkera mnya.
Di atas kudanya terasa oleh Cu Bun-hoa Cengkera man orang
setajam pisau sekuat tangga m, keruan ia heran, batinnya: "Senjata
apa yang dia gunakan?" - otak bekerja, sementara tangan kanan
sudah melolos pedang terus me mbabat pergelangan tangan lawan-
Gerakan pedangnya sungguh secepat kilat, maka terdengar suara
"trang", dengan telak pedangnya me mbabat pergelangan tangan
lawan, tapi tangan orang sedikitnya tidak terluka, ma lah
menge luarkan suara keras nyaring dan me mercikkan ke mbang api.
Sudah tentu terkesiap hati Cu Bun-hoa, tapi orang berjubah
hitam itupun terpental oleh getaran pedang Cu Bun-hoa. Tapi pada
detik lain, ketiga orang yang lain juga bergerak bersama, serentak
mereka menubruk maju.
Cu Bun-hoa belokkan kudanya, pedang berputar sekeliling
menciptakan tabir sinar kemilau, maka terdengarlah suara "trang,
tang, tang," tiga kali secara berantai. Sekali gerak dia berhasil
menangkis tiga serangan musuh, tapi tangan sendiri yang
me megang pedang juga terasa kesemutan- Kini baru dia jelas
bahwa tangan keempat orang ternyata semuanya dipasang lengan
besi. Semakin kaget dan heran hatinya: "Ilmu silat keempat orang
ini a mat tinggi, entah dari aliran mana? Belum pernah terdengar
jago silat menggunakan tangan besi di tangan kirinya di ka langan
Kangouw."
Tatkala pikirannya bekerja, pada saat lawan terpental mundur,
iapun sudah me lompat turun dari kudanya serta menepuk sekali
pantat kuda. Begitu kaki menancap di tanah, Cu Bun-hoa lantas
bergelak tertawa, katanya: "Kalian mau main keroyok. nah, majulah
bersama."
Keempat orang berjubah hitam agaknya tidak mengira bahwa tua
b angka tak terna ma ini ternyata memiliki lwekang dan kepanda ian
tinggi, walau wajah mereka me mbesi kaku tidak mena mpilkan
perasaan, tapi sorot mata mereka tak urung meng- unjuk rasa kaget
dan melenggong, sekilas mereka saling pandang dan tidak lantas
turun tangan pula.
"Sebetulnya tuan dari kalangan mana?" tanya si jubah hitam
sebelah depan-
"Lohu sendiri juga ingin tanya kalian?" balas Cu Bun-hoa tak
acuh. .
"Jadi tuan tidak mau perkenalkan diri?"
"Kalian toh tak mau me mperkenalkan diri?"
"Tuan harus tahu, bukan kami gentar terhadap-mu, soalnya kami
perlu tahu siapa tuan, baru akan bertindak. menamatkan jiwa mu
atau me mbekukmu hidup,hidup,"
"Kalau begitu boleh silakan turun tangan," ujar Cu Bun-hoa
tertawa tawar.
Pemimpin berjubah hita m itu angkat sebelah tangan, matanya
yang mencorong me mandang ke-tiga kawannya, lalu berkata
dengan suara berat, "Baik, kalian dengar, tak peduli mati atau
hidup, ganyang dia" Be lum habis bicara dia sudah mendahului
menubruk maju, laksana kilat tangan kirinya mencengkeram tiba.
Tiga orang berjubah hitam yang lain sere mpak beraksi pula dengan
menubruk ma ju.
Cu Bun-hoa bergelak lantang panjang, sebat sekali pedangnya
me lingkar bundar, segera ia kembangkan ilmu pedangnya dan
me luruk sengit ke-e mpat lawannya.
Cu Bun-hoa, naga terpendam yang berkuasa di daerahnya sendiri
me mang me miliki kepanda ian yang mengejutkan seka li dan tida k
bernama kosong, pedangnya bergerak laksana naga sakt i yang
lincah dan gesit, cahaya dingin yang me mancar dari batang
pedangnya se-akan2 menaburkan bintik2 sinar ke milau ke delapan
penjuru angin.
Karena dia jarang berkelana di Kangouw, maka kee mpat
musuhnya jadi sukar dan belum dapat menyela mi ja lan ilmu
pedangnya, betapa tinggi kepandaian kee mpat orang ini dibuat
keripuhan juga, tapi kepandaian keempat orang ini me mang juga
aneh, apalagi lengan kiri mere ka semua terpasang lengan baja,
kelima jari bagai cakar tidak takut segala senjata tajam, walau
sementara Cu Bun-hoa berada di atas angin, namun dala m wa ktu
singkat terang dia tidak akan ma mpu merobohkan atau me luka i
lawan- Dengan cepat 20 jurus telah berlalu. Mau tak mau Cu Bun-
hoa mence los juga hatinya, batinnya: "Kepandaian silat kee mpat
orang ini terhitung kelas wahid di ka langan Kangouw, permainan
merekapun berlainan satu dengan yang lain, kenapa sama2
mengutungi lengan sendiri serta menggantinya dengan tangan
besi?"
Pada saat itulah, tiba2 dari kejauhan berkumandang sebuah
bentakan keras: "Kalian berhenti" Bentakan ini berge ma laksana
bunyi genta, lembah pegunungan serasa bergetar oleh bentakan
keras ini.
000dw000

Pui Ji-ping yang ketingga lan setengah li di bela kang pa mannya,


waktu Cu Bun-hoa mengompes keterangan laki2 baju abu2 dan
mene mukan bangkai anjing dan kedua anak buahnya di selat sempit
tadi, iapun menyusul tiba, sudah tentu iapun melihat se mua
kejadian yang diala mi pa mannya.
Cuma dia sela lu ingat pesan pa mannya agar diri-nya menga mbil
jarak tertentu, dilarang bicara lagi, maka kini dia hanya berdiri di
tempat kejauhan saja. Setelah Cu Bun-hoa naik kuda dan berangkat
pula baru diapun me mbedal kudanya kedepan.
Tak tahunya baru saja dia tiba di mulut le mbah, segera ia
mendengar suara beradanya senjata tajam. Lekas dia melompat
turun dari kudanya, pelan2 dia merunduk maju terus lompat ke atas
sebuah batu besar dan menyembunyikan diri serta mengintip ke
bawah.
Dilihatnya empat orang berjubah hita m tengah mengerubut
pamannya. Melihat orang2 berjubah hita m itu, tergerak pula
hatinya, pikirnya: "Hou Thi jiu juga mengguna kan lengan besi di
tangan kirinya, demikian juga keempat orang ini, terang mereka
adalah sekomplotan dengan Hou Thi-jiu."
Tak la ma ke mudian lantas didengarnya seo-rang me mbentak
keras: "..Kalian berhenti"
Kuping Ji-ping mendengung pe kak oleh bentakan keras bagai
bunyi genta itu, keruan kagetnya bukan main, lekas dia berpaling ke
sana, di-lihatnya kira2 setengah li di kejauhan sana ada dua titik
sinar seperti api setan tengah terbang turun naik menyusuri kaki
bukit berlari ke arah sini. Berta mbah besar rasa kejutnya, batinnya:
"Masih setengah li jauhnya, tapi suara orang ini dapat me mbuat
pekak kuping, kalau dia menghardik berhadapan mungkin aku bisa
jatuh semaput."
Mendengar bentakan keras ini, keempat orang jubah hitam tadi
segera melompat mundur berpencar pada posisi masing2. Dengan
pedang melintang di depan dada Cu Bun-hoa berpaling ke arah
datangnya suara, tertampak dari pegunungan sana beriring
mendatangi ena m orang berjubah hitam pula. Keena m orang ini
bukan saja berpakaian sama, wajah dan sikap merekapun sa ma.
kaku dingin tidak berperasaan- Masing2 dua orang berjajar beriring
datang, gerak langkah mereka kaku mirip mayat hidup dan seperti
tonggak berjalan-
Dia m2 kaget juga cu Bun-goa me lihat orang2 ini, dia insaf untuk
menghadapi kee mpat lawan ini sudak cukup berat, kini keta mbahan
enam orang lagi. agaknya nasib dirinya mala m ini lebih banyak
celaka daripada selamat, semoga Ji-ping jangan le kas2 menyusul ke
mari. De mikian batinnya.
Lekas sekali keena m orang ini sudah tiba di tanah berumput
sebelah kiri, mendadak ta mpak pula sesosok bayangan orang tinggi
besar berlenggang mendatangi, jangan kira gerak ka kinya kelihatan
seperti berlengang, mirip badut di atas panggung, lapi setiap
langkah kakinya mencapai jarak dua tiga tombak jauhnya, kedua
kakinya seperti tidak menyentuh tanah.
Sekali pandang Cu Bun-hoa lantas tahu bahwa kepanda ian si
gede inijauh lebih tinggi dari kawanan jubah hitam ini, ma ka dia
tumplek perhatiannya terhadap si gede ini.
Badan orang ini tingginya delapan kaki, dada lebar lengan besar,
wajahnya mengkilap mirip te mbaga, alisnya pendek. matanya sipit,
hidung besar mulut lebar, jubah sempit warna tembaga yang
dipakainya hanya sebatas di lutut, kaki telanjang me makai teKie k
tembaga.
Sebagai cengcu dari Liong-bin-san-ceng, meski jarang berkelana
di Kangouw, tapi tokoh-tokoh Kangouw kena maan pada ja man ini
tidak sedikit yang dikena lnya, paling tidak pernah mendengar na ma
atau keahlian dan keistimewaannya. Kini me lihat dandanan si gede
yang aneh ini, mendadak diingatnya seseorang, keruan hatinya
kaget bukan ma in, batinnya: "Mungkinkah dia ini La m-kiang-it-ki
Thong- pi-thian-ong?"
Jabatan atau kedudukan si gede serba tembaga ini terang jauh
lebih tinggi daripada kawanan jubah hitam, ini jelas kelihatan dari
sikap keenam orang jubah hita m yang baru datang serta cara
mereka berdiri, kelihatan me mberi peluang untuk si gede ini nanti,
tapi toh masih ada te mpat kosong lagi di sebelah mereka, hal ini
me mbuat Cu Bun-hoa men-duga2 pula bahwa kecuali si gede
agaknya pihak lawan masih ada tokoh lain pula yang berkedudukan
lebih t inggi yang belum tiba. Siapa kah orang yang be lum t iba ini?
Maklumlah si tokoh aneh dari La m-kiang (wilayah selatan) ini
biasanya merajai daerah selatan, selamanya belum pernah tunduk
terhadap orang lain, lalu siapakah yang telah ma mpu menundukkan
dia sekarang?
Begitu si gede tiba dan berdiri di samping, Cu Bun-hoa lantas
buka suara: "Yang menghentikan perte mpuran tadi apakah tuan?"
Mendelik sebesar jengkol mata si gede, bentaknya: "Diam, tak
boleh ribut" Suaranya me mang keras seperti bunyi genta.
Kini Cu Bun-hoa lebih yakin bahwa si gede me mang Thong- pi-
thian-ong adanya, tapi caranya bicara jelas dia hanya mengawa l
seseorang belaka. Sungguh luar biasa. Sema kin kejut dan heran Cu
Bun-hoa, mendadak dia mendongak sa mbil berge lak tawa, katanya:
"Dandanan dan tampang tuan ini mirip seka li dengan La m- kiang-it-
ki Thong-pi-thian-ong, entah sejak kapan tuan terima diperbuda k
orang atau jadi pengawal pribadinya"
Semakin bulat mendelik mata si gede, suara-nya menggerung
gusar: "Kusuruh kau dia m, kau harus diam, me mangnya kau tua
bangka ini sudah bosan hidup?"
Gerungannya yang dahsyat itu me mbuat Pui Ji ping yang
sembunyi di atas batu hampir pecah kupingnya,jantungnya ber-
debar2, hampir saja dia me njerit.
Tiba2 terasa dari belakang tersalur sejalur tenaga yang tidak
kelihatan me mbantu dirinya mengendalikan darah yang bergolak,
kupingpun lantas mendengar suara lirih berbisik seperti bunyi
nyamuk: "jangan bersuara Siau-sicu, itulah Kim-loh-ong yang hebat
dari Thong-pi-thian-ong. "
Heran Ji-ping, baru saja dia kendak berpaling, suara lirih seperti
nyamuk berkata pula: "Situasi ma la m ini a mat gawat dan
berhahaya, sekali2 jangan Sicu menoleh ke belakang, mata dan
kuping Thong-pi-thian-ong amat tajam. Jarakmu hanya sepuluh
tombak dengan mereka, sedikit lena, jejakmu pasti konangan."
Tatkala itu tampa k dua buah la mpion tengah mendatangi dari
jalanan gunung sana. Dua gadis belia baju hijau tengah mendatangi
dengan ge mulai sa mbil me nenteng dua la mpion-
Mala m di tengah pegunungan sudah tentu amat gelap sehingga
cahaya lampu la mpion ini terasa terang benderang. Tak jauh di
belakang kedua gadis me mbawa la mpion menyusul sebuah tandu
mewah dan indah, dan laki2 ke kar me mikul tandu mini ini, langkah
mereka enteng seperti berlari menuju ke tanah berumput ini.
Selarik ka in warna merah sutera panjang semampir di pundak
dan pinggang kedua laki2 kekar pe mikul tandu itu bertuliskan empat
huruf warna hitam yang berbunyi: "Wakil langit mengada kan
ronda".
Akhirnya tandu mini itupun berhenti dan diturunkan di tanah
berumput sebelah kanan atas. Kedua gadis pembawa la mpion
berdiri di kiri kanan tandu, di bawah sinar lampion tandu itu tampa k
indah ge merlapan, kerai menjuntai le mbut dan rapat sehingga tidak
kelihatan siapa yang duduk di dalamnya? Tapi Thong- pi-thian-ong
dan kesepuluh kawanan jubah hitam serempa k me mberi hormat lalu
berdiri tegak dengan prihatin-
Tiba2 tergerak hati, Cu Bun-hoa melihat keadaan ini, tadi dia
dengar salah seorang jubah hita m pernah menyinggung "Thiansu"
atau duta langit, setelah melihat tulisan "Wa kil langit mengada kan
ronda", jelas bahwa orang di da la m tandu adalah Thian-su yarg
dimaksud, cuma siapa dia dan tokoh maca m apa pula?
Pedang disimpan ke mbali, Cu Bun-hoa berdiri me mbusung dada
sikapnya gagah berwibawa, tapi hatinya kebat-kebit, dia m2 dia
kerahkan Lwekang-nya, me mpersiapkan diri untuk bertindak bila
menghadapi sergapan musuh.
Maka terdengarlah sebuah suara halus nyaring berkumandang
dari dala m tandu: "Thio thijiu" Suaranya bagai kicau burung kenari,
le mbut dan merdu.
Tak pernah terpikir dala m benak Cu Bun-hoa bahwa Thian-cu
atau "duta langit" ini ternyata seorang perempuan, dari suaranya
kedengaran bahwa dia adalah gadis belia pula.
Tampak salah seorang jubah hitam yang berdiri paling depan tadi
mengiakan sa mbil melangkah ke depan tandu.
Terdengar perempuan da la m tandu bertanya: "Kalian sudah
tanya asal usulnya?"
"Dia tidak mau mengatakan," sahut Thio thi-jiu.
"Bagaimana ilmu silatnya?" tanya perempuan dala m tandu pula.
"Ka mi berempat mengeroyoknya, tapi tak ma mpu mengalahkan
dia."
"Pada jaman ini. dengan kekuatan kalian bere mpat, me mangnya
siapa yang tak ma mpu ka lian kalahkan, tapi siapakah dia" kata2
terakhir a mat lirih, seperti bicara untuk dirinya sendiri.
Thio thi-jiu berdiri tegak lurus, sudah tentu dia tak berani
bersuara.
Sesaat kemudian perempuan dala m tandu berkata pula: "Baiklah,
kau boleh minggir."
Thio-thi-jiu mengia kan, lalu mundur ke te mpatnya semula.
Perempuan dala m tanda lantas berpesan kepada gadis pe mbawa
la mpion sebe lah kiri. katanya: "Mintalah orang tua itu maju ke mari,
ada pertanyaan hendak kuajukan padanya."
Gadis itu segera tampil ke depan Cu Bun-hoa, katanya setelah
me mberi hormat. "Tuan ini diharap maju kedepan, Siancu ( dewi )
kami ingin bicara dengan kau"
Cu Bun-hoa juga ingin tahu asal usul pihak sana, memangnya
siapa sebetulnya Thian-cu yang serba misterius ini? Maka dengan
menge lus jenggot dan tertawa lebar, katanya: "Lohu me mang ingin
bertemu dengan Siancu kalian." Lalu dengan langkah lebar dia
mengha mpiri, beberapa kaki di depan tandu dan berhenti, katanya
sembari me mberi hormat: "Silakan Siancu, terima kasih a kan
undanganmu, entah ada petunjuk apa?"
Perempuan dala m tandu cekikik riang, katanya: "Loyacu adalah
tokoh kosen Bu-lim, sungguh beruntung kita bertemu di sini."
Sampa i di sini tiba2 dia berseru keras: "Kenapa tidak singkap kerai
ini?"
Kedua gadis yang berdiri di kiri kanan segera menyiba k kerai
kedua sisi, kedua lampionpun di-arahkan ke depan tandu sehingga
perempuan yang duduk di dala m tandu ke lihatan wajahnya.
Ternyata "Dewi yang mewakili langit menga-dakan ronda" ini
hanyalah seorang nyonya muda belia yang berusia sekitar 25,
berpakaian serba putih, dandanannya mirip puteri keraton, tengah
tersenyum simpul me ngawasi dirinya.
Sesaat Cu Bun-hoa melenggong, dia jarang ke luar pintu, tapi
semua tokoh Kangouw yang sedikitpunya nama pasti pernah
didengarnya. Nyonya muda molek ini ma mpu menundukkan La m-
kiang-it-ki sa mpai terima menjadi pengawal pribadinya, kenapa
belum pernah dia mendengar adanya perempuan selihay ini, serba
misterius lagi da la m tindak tanduk.
Me mang otaknya cerdik, banyak akal dan pandai mengikuti
situasi, sekilas me lenggong segera Cu Bun-hoa berdehem, katanya
tertawa: "Siancu me-ronda mewakili langit tentunya kau inilah
Thian-su adanya? Entah siapakah na ma harum Siancu yang mulia?"
Jari jemari nan runcing halus dari nyonya muda itu terangkat dan
menge lus gelung kunda inya, katanya tertawa: "Agaknya tidak
sedikit yang Loyacu ketahui. aku she Coh, karena biasanya aku suka
mengenakan pa kaian serba mulus begini, maka orang me manggilku
Hian-ih-sian-cu, harap Loyacu tidak mentertawakan diriku."
"Hian-ih-sian-cu" Cu Bun-hoa tetap tidak pernah dengar na ma
julukan ini.
Mengerling biji mata Hian-ih-sian-cu, katanya sambil cekikikan
"Loyacu adalah tokoh kosen pada ja man ini, mohon tanya siapakah
nama besar Loyacu?"
Cu Bun-hoa bergelak tertawa, katanya: "Lohu Ho Bunpin, orang
liar yang hidup di gunung, mana berani disebut tokoh kosen
segala."
Hian-ih-sian-cu ce kikikan genit, katanya: "Na ma yang Loyacu
sebutkan kukira bukan na ma tulen bukan?"
"Mungkin Siancu be lum pernah dengar na ma- ku yang tidak
terkenal ini, dan lagi apa perlunya Lohu harus menye mbunyikan
nama dan asal-usul?"
"Betul," kata Hian-ih-sian-cu, "menurut penglihatanku, wajah
Loyacu juga dirias, entah betul tidak perkataanku?"
Semakin terkejut hati Cu Bun-hoa, katanya dingin: "Tidak perlu
Lohu ma in se mbunyi dengan cara me nyamar segala."
"Berkelana di Kangouw, supaya tidak menarik perhatian orang,
merias diri dan ubah wajah asli itu sudah biasa, apakah Loyacu
merias diri t iada sangkut pautnya dengan aku? cuma ingin kutanya,
Loyacu main selidik me masuki daerah Tay-piat-san ini, entah apa
maksudnya"
"Betul, Lohu juga ingin tanya kepada Siancu, tanpa sebab anak
buahmu merintangi perjalananku, apa pula maksudnya?"
"Bukankah Ho-loyacu telah saksikan sendiri? Mala m ini kebetulan
aku meronda sa mpai di sini, anak buahku me lihat Loyacu me masuki
selat gunung seorang diri, gerak-geriknya mencurigakan lagi, sudah
tentu kau harus dimintai keterangan-"
Cu Bun-hoa mendengus, katanya: "Sekarang Siancu sudah jelas
tentang keteranganku?"
"Pertanyaanku tadi sia2 belaka, karena Loyacu tidak menjawab
sejujurnya."
"Lalu apa pula kehendak siancu?"
"Silakan Ho-loyacu ikut ka mi, setelah ka mi je las menyelidiki asal-
usulmu akan kuantar kau ke luar gunung."
Terangkat alis Cu Bun-hoa, katanya: "Siancu kira orangmu
banyak. mau main keroyok terhadap-ku seorang?" Mendadak dia
mundur selangkah tangan sudah siap me lolos pedang.
"Aku tak perlu turun tangan terhadapmu," ujar Hian-ih sian-cu
sambil tertawa.
Hanya sekejap itu, Cu Bun-hoa sudah merasakan adanya gejala2
yang tidak normal pada diri sendiri. Sudah timbul pikiran Cu Bun-
hoa untuk mundur dan melolos pedang, tapi kaki tangan ternyata
tidak menurut perintah lagi, keruan kejutnya bukan ma in, air
mukapun berubah hebat, bentak-nya: "Sundel keparat .........."
Hian-ih-sian-cu tetap unjuk senyum menggiurkan, katanya riang:
"Dapat mengundang Ho-loyacu, sungguh merupakan
kebanggaanku." Lalu dia mengulap tangan dan mena mbahkan:
"Mari kita ke mbali"
Kedua gadis menurunkan kerai, pemikul tandu lalu berputar
balik, di bawah pimpinan La m-kiang-it-ki, kesepuluh kawanan jubah
hitam menggusur Cu Bun-hoa mengintil di bela kang tandu.
oooodwoooo

Hampir saja Pui Ji-ping yang sembunyi di utas batu menjerit lagi
me lihat adegan yang aneh ini. Suara le mbut bagai bunyi nya muk
mengiang pula dipinggir kupingnya "Siau-s icu harus tahan sabar,
jangan gegabah"
Mencelos hati Ji-ping, terpaksa dia tekan perasaannya, dengan
cemas dia awasi kawanan jubah hita m itu menggusur pa mannya
pergi, waktu dia menoleh, dilihatnya setombak di belakangnya
berdiri seorang Hwesio tua kurus, sorot matanya berkilauan sedang
mengawasi dirinya dengan tersenyum.
Tahu berhadapan dengan tokoh kosen, lekas Ji-ping mene kuk
lutut me mberi hormat, katanya: "Losuhu, lekas tolong pa manku"
Karena gelisah ia lupa dirinya sedang menyaru la ki2, cara me mberi
hormat seperti ana k gadis lazimnya.
Hwesio tua kurus pendek lekas merangkap kedua tangan,
katanya heran: "Sicu kiranya seorang nona, jadi yang ditawan Hian-
ih-lo-sat tadi ada lah pa manmu?"
Merah muka Ji-ping, diam2 ia sesali kecerobohan sendiri, katanya
mengangguk: "Ya, dia pa manku, apakah pere mpuan dala m tandu
itu yang Losuhu maksudkan berna ma Hian-ih-lo-sat? Jadi orang2 itu
ada hubungannya dengan Cin-Cu-ling?"
"Lolap juga be lum tahu asal-usul mereka," kata Hwesio tua itu,
"cuma menurut apa yang kuketahui, Hian ih-lo-sat ini a mat lihay,
orang2 yang terjatuh ke tangannya sudah cukup banyak, termasuk
Kwi-kian-jiu Tong- citya, Un It-kiu dari keluarga Un, suteku Kim Kay-
thay dan lain2 ....."
Ji-ping kaget, serunya: "Jadi Kim-loya cu juga tertawan oleh
perempuan siluman itu."
"Nona juga kenal Kim-sute?" tanya si Hwesio tua.
"Aku tida k kenal, Tapi Toakoku ada lah kena lan baik Kim-loyacu."
"Siapakah Toako nona?"
"Toako bernama Ling Kun-gi," sahut Ji-ping, lalu bertanya:
"Losuhu tentunya paderi sakti dari Siau-lim-si, entah siapa na ma
gelaran Taysu yang mulia?"
"Lolap Ling-san,"jawab Hwesio tua kurus, "pejabat Bun- cu- wan
dari Siau-lim-si."
Biasanya hanya paderi2 dari Lo-han-tong saja yang
diperbolehkan keluar Siau-lim-si, kini ketua Bun-cu-wan (ruangan
agama) pun terpaksa harus dikerahkan keluar, dapatlah di
simpulkan bahwa piha k siau lim me naruh perhatian besar terhadap
peristiwa Cin-Cu-ling ini.
Lekas Ji-ping menjura, katanya " Losuhu ternyata pemimpin Bun-
cu- wan, paman sudah tertawan perempuan siluman itu, aku akan
segera pergi. "
"Tunggu sebentar nona."
"Ada petunjuk apa Losuhu?"
"Bolehkah nona me mberitahu padaku, siapa sebenarnya
pamanmu itu?"
"Tak enak kumain se mbunyi atas pertanyaan Losuhu, paman
adalah cengcu Liong-bin-san-seng Cu Bun-hoa "
Bergetar tubuh Ling san Taysu, katanya: "Kiranya cu cengcu . . .
."
"Losuhu, menolong orang seperti menolong keba karan, aku
harus cepat susul mereka."
Ling-san Taysu kaget, katanya: "Hian-ih-lo-sat amat lihay,
Thong-pi-thian-ong me mbantu dia berbuat jahat, Cu-cengcupun
bukan tandingan mere ka, mana boleh nona mene mpuh bahaya
secara sia2,"
"Bukan begitu," ujar Ji-ping ce kikik geli, "aku akan sa mpaikan
kabar tertawannya Toako dan Tong- cityakepada ibu angkatku."
"Siapa pula ibu angkat nona?" tanya Ling-san Taysu.
"ibu angkatku adalah Tong-lohujin dari keluarga Tong di
Sujwan."
"Jadi Tong-lohujin juga datang?"
"ibu angkat sekarang berada di Pat-kong san"
"Baiklah silakan nona berangkat Lolap akan menguntit Hian-ih-lo-
sat lebih lanjut, akan kulihat di ma ma sarang komplotan orang2
ini?"
Ji-ping me mbatin: "Hwesio tua ini hanya berani mengunt it secara
dia m2, agaknya iapun gentar terhadap Hian-ih-lo-sat, terpaksa aku
harus cepat2 kembali kePat-kong san minta bantuan-" Tanpa
banyak bicara lagi, cepat ia lompat turun terus cemplak kuda dan
dibedal ba lik ke arah datangnya tadi.
ooo dewi ooo

Itulah hari kedua setelah Ling Kun-gi berada di Coat Sin-san-ceng


atau hari pertama mulai tugas kerjanya di Hiat-ko-cay. Pagi hari itu
setelah sarapan pagi, seorang diri dia langsung menuju ke Hiat ko-
cay, begitu tiba, Long-gwat, si pelayan segera menyambut
kedatangannya .
Long-gwat bantu me mbuka pintu kamar kerjanya, dengan
langkah tetap Kun-gi masuk serta mengeluarkan kunci me mbuka
gembok le mari kecil, dia keluarkan segala perabot keperluan
kerjanya, ada pisau, mangkok, tatakan dan cawan2 kecil serta
peralatan lain yang sukar disebut namanya, terakhir ia keluarkan
cupu2 berisi getah beracun itu. Sementara itu Long-gwat menyeduh
teh dan disuguhkan di atas meja.
Dengan hati2 Kun gi me mbuka sumbat cupu2 lalu pelan2
menuang sedikit getah di atas sebuah tatakan, kembali dia tutup
cupu2 itu serta dike mba likan ke almari.
Duduk di kursi kerjanya, sekenanya dia ambil sebatang jarum
perak. dua kali dia celupkan ke dala m getah beracun, tampak ujung
jarum yang runcing seketika berubah menjadi hita m. kadar racun ini
ternyata keras dan hebat, lalu dia mendekatkan hidang mengendus
ujung jarum-
Long-gwat berdiri di sebelahnya jadi kaget, serunya kuatir: "Awas
Cu-cengcu, racun ini a mat jahat, sedikit kena saja jiwa orang tak
dapat disela matkan."
Kun-gi tersenyum dan me mandang le kat2 pelayan itu, katanya:
"Terima kasih atas perhatian nona, Lohu hanya ingin menciumnya
apakah ada baunya?"
Merah malu Long-gwat ditatap sedemikian rupa, katanya
menunduk: "Cu-cengcu panggil Long-gwat saja, jangan
me manggilku de mikian-"
"Baiklah, Lohu akan panggil nona Long-gwat saja."
"Terinta kasih, kalau ada tugas lain ha mba di belakang, sekarang
hamba mohon diri," lalu dia dia beranjak keluar.
Sambil tetap pegang jarum perak t iba2 Kun-gi me manggilnya:
"Nona Long-gwat, tunggu sebentar."
Long-gwat berhenti di ambang pintu, tanyanya: "Ada pesan apa
lagi Cu cengcu?"
"Lohu baru datang, tidak tahu tata tertib yang ada di sini, ingin
kutanya suatu hal padamu. Di sini ada empat kamar kerja, apakah
satu sama lain boleh sa ling berkunjung?"
Long-gwat tertawa lebar, katanya: "Kalian bere mpat adalah tamu
agung undangan cengcu kami segala keperluan sudah ka mi
sediakan, sudah tentu gerak-gerik kalian juga tida k dibatasi, tempat
ini me mang khusus untuk kerja, supaya tidak terpecah perhatian
dan dapat bekerja dengan tenteram, maka masing2 diberikan satu
kamar tersendiri, me mbagi tugas untuk sa ma2 mencapai tujuan,
satu sama lain boleh saling berunding akan pene muan masing2,
Sudah tentu boleh pula sa ling kunjung me ngunjungi"
"Baiklah, getah racun ini a mat lihay, mereka datang lebih dulu,
tentunya sudah me mperoleh sedikit bahan penyelidikan, sebelum
kerja, Lohu ingin mendengar saran dan pendapat mereka bertiga."
Setelah Long-gwat keluar, Kun-gi segera buka pintu dan keluar,
dalam hati dia m2 dia menimang2, akhirnya dia berkeputusan untuk
mengunjungi Lok-san Taysu lebih dulu, setiba didepan pintu ka mar
orang, pelan2 dia mengetuk pintu. Terdengar suara Lok-san Taysu
berkata: "Siapa? Silahan masuk"
Kun-gi menjawab dengan suara lantang: "cay-he Cu Bun-hoa,
sengaja kemari mohon petunjuk Taysu." Sembari bicara dia
mendorong pintu serta melangkah masuk.
Mendengar Cu Bun-hoa yang datang, lekas Lok-san Taysu berdiri
dari kursinya, katanya sambil merangkap kedua tangan: "Maaf Lolap
terlambat menya mbut, silahkan Cu-cengcu duduk."
Ternyata Lok-san Taysu hanya duduk2 sama-dia m saja di
kursinya, tidak me lakukan kerja apa2, perabot keperluan kerja tiada
yang dia keluarkan
Setelah menutup pintu ke mbali, Kun-gi me njura, katanya,
"Sengaja cayhe ke mari mohon petunjuk Taysu."
Lok-san Taysu rendah hati, Kun-gi dipersila kan duduk di depan
meja, iapun ke mba li ke te mpat duduknya, katanya: "Entah ada
petunjuk apa kedatangan Cu-cengcu."
"Barusan cayhe sudah periksa getah beracun dari Sam-goan-hwe
itu, kukira kecua li a mat beracun, sukar diraba sebetulnya barang
beracun dari jenis apa? Taysu paham soal obat2an, selama ini juga
selalu mengadakan penyelidikan, apakah sudah berhasil
menyela minya?"- Habis berkata lalu dengan ilmu Thoa-im-jip-bit
(ilmu mengirim gelombang suara) ia mena mbahkan: "Baga imana
pendapat Taysu tentang pribadi Cek Seng-jiang?"
Lok-san Taysu berlagak merenung sebentar, yang benar dia
termenung karena mendengar pertanyaan Ling Kun-gi terakhir itu
lalu sedikit mengangguk ia menjawab: "Lolap juga a mat menyesal,
sejauh ini belum berhasil mene mukan terbuat dari bahan apakah
getah beracun ini, kalau cuma diselidiki sukar dibeda kan, obat2an
umumnya harus dicicipi dengan mulut dan diendus baunya baru bisa
dibedakan keasliannya. Tapi getah ini a mat beracun masuk mulut
jiwa me layang, hakikatnya sukar dirasakan, paling hanya bisa diraba
sesuai dengan sifatnya yang ganas, selama tiga bulan ini boleh
dikatakan hasil Lolap nol besar." Lalu ia mena mbahkan pula dengan
suara Thoa-im-jip-bit. "Menurut penga matan Lolap dala m persoalan
ini ada tersembunyi suatu muslihat besar"
Kun-gi manggut2, katanya: "Memang betul omongan Taysu,
getah ini merupakan hasil ca mpur aduk yang dlolah sede mikian rupa
sehingga sudah kehilangan bentuk aslinya, kalau beberapa jenis
racun yang sama sifatnya diaduk menjadi satu, maka kekuatan dan
keganasannya menjadi berlipat ganda pula, kalau tidak, tak
mungkin getah ini begini keras." Lalu ia mena mbahkan pula dengan
ilmu bisik2: "Apakah Taysu tahu mereka punya muslihat apa?"
"Siancai siancay" Lok-san Taysu bersabda. "Cu-cengcu benar2
seorang ahli, demikian juga pendapat Lolap, beruntung Cu-cengcu
hari ini datang, selanjutnya kita bisa saling bertukar pikiran. .... "
Lalu, iapun menjawab pe lahan: "Soa l ini Lolap belum bisa
mengatakan, yang terang tujuannya bukan untuk menghindarkan
petaka yang bakal menimpa kaum persilatan-"
"Usul Taysu baik sekali," kata Kun-gi rendah hati, "Taysu paham
ilmu pengobatan, cayhe me mang ingin mohon petunjuk." Lalu
dengan gelombang suara dan bertanya: "Apakah Taysu juga terbius
oleh mereka wa ktu diculik ke mari?"
"Me mang sudah beberapa kali Lolap mengadakan percobaan
dengan getah racun itu, tapi tiada yang kuperoleh, entah Cu-cengcu
punya pendapat apa?" Habis kata2nya lalu dia menjawab dengan
gelombang suara: "Ya, betul."
Dengan pura2 me mbicarakan penyelidikan getah beracun, kedua
orang secara diam2 tukar keterangan dengan ilmu gelombang
suara.
Kun-gi berkata lebih lanjut: "Di da la m obat mereka menca mpur
obat beracun yang membuyarkan Lwekang orang, bagaimana
Taysu?"
"Hawa murni dala m tubuh Lolap tak ma mpu dihimpun, sisa
tenaga paling2 hanya satu dua bagian dari keadaan normal, sela ma
tiga bulan ini betapapun usahaku tetap tak berhasil kukumpulkan-"
"Apakah Taysu masih ma mpu mengerahkan tenaga murni?"
tanya Kun-gi.
Terang sinar mata Lok-san Taysu tanyanya menatap Kun-gi
lekat2: "Ma ksud Cu-cengcu ."
Kun-gi tersenyum, ujarnya: "Taysu jangan tanya, jawablah dulu
pertanyaanku."
Terbayang rasa sangsi pada muka Lok- san Taysu, katanya:
"Sedapat mungkin Lolap masih bisa mengerahkan hawa murni."
Girang Kun-gi. katanya: "Itulah baik." Dia keluarkan Pi-tok-cu dan
ditaruh ke tangan Lok-san Taysu, katanya: "Genggamlah mutiara ini
pada kedua telapak tangan Taysu, pelahan2 kerahkan hawa murni
ke telapak tangan, terus disalurkan kesekujur badan”.
Betapapun Lok-san Taysu adalah orang yang cukup luas
pengetahuan dan pengala mannya dia m2 dia mengintip ke telapa k
tangan sendiri, katanya kaget dan heran, "Ini kan Le-liong-pi-tok-cu,
mut iara yang dapat menawarkan segala racun."
"Lekas Taysu merangkap tangan dan kerahkan tenaga,
lenyapkan dulu kadar racun yang mengera m da la m tubuh Taysu."
Sampa i di sini percakapan mereka me nggunakan Thoan-im-jip
bit. Lok-san Taysu sedikit mengangguk. lalu berkata: "Harap Cu-
cengcu duduk sebentar, belakangan ini Lolap sering merasa letih,
sewaktu2 harus bersamadi, harap jangan berkecil hati." Segera Lok-
san merangkap kedua telapak tangan di depan dada, pelan2
matapun terpeja m.
Kun-gi duduk di hadapannya, iapun dia m saja menunggu dengan
sabar, kira2 satu jam barulah didengarnya Lok-san Taysu menarik
napas panjang, mendadak matapun terbuka.
Begitu orang me mbuka mata, sinar matanya seketika tampak
mencorong terang dan kuat, jelas racun yang menggangu
Lwekangnya telah tercuci bersih, dalam hati dia m2 Kun-gi
bergirang, tanyanya: "Sudah agak ba ik Taysu"
Pelan2 Lok-san Taysu berdiri, katanya sambil tetap merangkap
kedua tangan: "Bikin repot Cu-cengcu menunggu la ma, kini Lolap
sudah segar ke mbali."
Sembari me mberi hormat, lekas dia angsurkan Pi tok cu pada
Ling Kun-gi, lalu berkata dengan ge lombang suara: "Terima kasih
atas bantuan Cu-cengcu, berkat kasiat Pi-tok cu, kadar racun dalam
tubuh Lolap sudah tersapu bersih, tapi karena cukup la ma Lwe kang
buyar, mungkin dala m dua-tiga hari ini baru bisa pulih seperti
sediakala."
Kun-gi terima mutiara yang dikembalikan, iapun berkata dengan
gelombang suara:
"Ku hatur-kan sela mat kepada Taysu."
"Budi dan bantuan cengcu me nyembuhkan racun yang
me mbuyarkan Lwe kangku ini takkan terlupakan sela ma hidupku,
entah apa pula rencana Cu-cengcu se lanjutnya?"
"Dala m tahap permulaan ini, rencana sih belum ada, lebih baik
kita bekerja me lihat perke mbangan selanjutnya saja".
Lok-san Taysu manggut2, katanya: "Betul ucapan Cu-cengcu,
menurut penyelidikan dan pengawasan Lolap sela ma t iga bulan ini,
Cek Seng-jiang adalah ma nusia cerdik yang licik dan licin, banyak
akal muslihatnya, terang dia bukan biang-keladi da la m peristiwa ini,
umpa ma betul ada muslihat, sekarang masih sukar dijajaki sa mpa i
di mana tujuan mereka yang sebenarnya, terutama kalau di
belakang layar peristiwa ini ada orang la in yang mengenda likan."
Berpikir sejenak. lalu Kun-gi berkata: "Bagaimana pendapat
Taysu tentang Tong Thian-jong dan Un It-hong?"
"Sela ma tiga bulan berkumpul dengan mere ka, pengalaman
merekapun sa ma seperti kita, walau Cek Seng-jiang ada maksud
merangkul mereka, segala keperluan mereka dilayani serba
berlebihan, tapi selama ini mereka tak pernah bertekuk lutut,
menurut he mat Lolap. boleh Cu-cengcu secara diam2 bantu mereka
me lenyapkan kadar racun di tubuh mereka, dengan gabungan
kekuatan kita berempat mungkin lebih gampang menyelidiki tujuan
mereka yang sebenarnya menculik kita ke mari dan dari mana asal
mula getah beracun ini."
"Pendapat Taysu me mang tepat, cayhe akan bekerja menurut
keadaan," kata Kun-gi. Untuk menjaga percakapan mereka tida k
didengar orang ma ka mereka pura2 bicara pula tentang
penyelidikan getah beracun itu, berselang agak lama baru Kun-gi
pamitan-
Kembali ke ka mar kerjanya, sengaja dia mencelup ujung jarum
ke dalam getah beracun, lalu di-a mat2i serta berpikir sambil
mengerut kening.
Betul juga belum la ma dia ke mbali ke ka mar, secara diam2 Long-
gwat sudah menarik pintu terus menyelinap masuk. dengan senyum
manis dia me mberi hormat, katanya: "Cu-cengcu tentu sudah letih,
santapan siang sudah kuantar ke mari, silakan ma kan dulu."
Dengan hati2 Kun-gi letakkan jarum perak serta getah beracun di
atas tatakan, lalu disimpan ke dala m le mari serta dikunci. Waktu dia
me masuki ka mar ma kan, hidangan me mang sudah di-persiapkan,
Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un it-hong sudah datang lebih
dulu dan sedang menunggu kehadirannya.
Ling Kun-gi, Tong Thian-jong dan Un It- hiong sa ma doyan arak
dan melalap hidangan yang tersedia dengan lahapnya, hanya Lok
san Taysu yang ciajay (makan vegetarian) dan cuma minum teh,
tapi mereka bicara amat cocok dan tak habis2 bahan yang mereka
bicarakan- Habis makan mereka duduk pula sebentar di ka mar
samping, lalu ke mba li ke ka mar kerja masing2 melanjut kan tugas
mereka.
Lewat lohor, Kun-gi istirahat sebentar, lalu keluar berkunjung ke
kamar kerja Tong Thian-jong.
Kontak pembicaraan mereka sudah tentu seperti pembicaraan
Kun-gi dengan Lok-san Taysu. cuma ka li ini Kun-gi perlihatkan
pedang pendak pemberian Tong-lohujin serta menjelaskan asal usul
sendiri secara ringkas, cara bagaimana dia menyamar cia m-Liong Cu
Bun-hoa untuk menyelundup ke sarang musuh ini. Akhirnya dia
keluarkan Pi-tok-cu, sehingga racun yang mengganggu di tubuh
Tong Thian-jong pun berhasil dicuci bersih.
Hari kedua pada waktu yang sama, dengan cara yang sama dia
berkunjung ke tempat Un It-hong serta melenyapkan racun di
tubuhnya juga.
Langkah perta ma ini dia telah berhasil dengan ba ik, sudah tentu
tetap di luar tahu Ling-hong dan Long-gwat, kedua pelayan yang
selalu mengawasi gerak-gerik mereka setiap hari, apa yang mereka
lihat dan perke mbangan apa yang terjadi pasti dilaporkan kepada
sang cengcu alias Cek Seng-jiang.
Dan Cek Seng jiang justeru menaruh curiga, ma klumlah cia m-
liong Cu Bun-hoa seorang tokoh kosen, namanya juga beken,
setelah diundang kemari dengan cara penculikan, meski dilayani
sebagai tamu agung terhormat betapapun di tempat ini dia akan
selalu kehilangan kebebasan, tak mungkin sede mikian getol dan
besar perhatiannya terhadap getah beracun serta berusaha
mene mukan obat penawarnya. oleh karena itu dia perintahkan
kepada Ling-hong dan Long-gwat yang ada di Hiat-ko-cay, serta
Hing- hoa yang ada di ka mar obat, serta ing-jun yang ada di kamar
Cu Bun-hoa, untuk lebih me mperketat pengawasan terhadap cu Bun
- hoa.
Disa mping dia suruh anak angkatnya Dian Tiong-pit bertanggung
jawab untuk me mperkuat penjagaan dan pengintipan, setiap saat
harus selalu me ngawasi gerak-gerik kee mpat "ta mu agung" itu.
Sudah tiga hari Ling Kun-gi me lakukan tugas kerja di Hiat-ko-cay.
selama tiga hari ini dia sibuk, botol2 besar kecil sama berserakan di
atas meja kerjanya, ada puyer, ada cairan obat, ada pula dedaunan,
maka ka mar kerjanya itu diliputi bau obat yang tebal.
Sudah tentu Cek Seng-jiang tidak percaya begitu saja bahwa dia
betul sedang menyelidiki obat penawar, dia berpendapat gairah
kerjanya itu justeru sedang berdaya untuk mene mukan obat
penawar Lwekang yang ada ditubuhnya. Untuk soal ini dia tida k
perlu kuatir, karena di dalam ka mar obat itu hakikatnya tiada
satupun bahan obat yang tulen untuk mera mu obat penawar racun
yang membuyarkan Lwekang mereka. Terutama "tamu" yang telah
berada di Coat Sin-san-ceng, tumbuh sayappun jangan harap bisa
terbang keluar.
Tengah hari ketiga, setelah makan siang, seorang diri Kun-gi
beranjak ke ka mar kerja sendiri, perasaannya terasa berat seperti
dibebani apa-apa. Karena selama tiga hari ini, setelah berlangsung
pembicaraan dengan Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-
hong, walau dia sudah punahkan racun di badan mere ka, namun
persoalan pelik yang mere ka hadapi dan sukar diatasi masih ber-
tumpuk2.
Umpa manya: "Kenapa Cek Seng-jiang bersusah payah dengan
berbagai muslihat mengundang mereka kemari? Sudah tentu soal
getah beracun ciptaan Sam-goan hwe yang diceritakan itu tak boleh
dipercaya, kalau tidak mau dikatakan hanya bualan belaka, tapi dari
mana sebetulnya getah beracun itu? Kenapa dia ingin cepat2
me mperoleh obat penawarnya?
Lok-san Taysu berpendapat, Cek Seng-jiang adalah orang yang
diberi tugas me ngepalai Coat Sin-san-ceng dan minta mereka
berdaya mene mukan obat penawarnya, di belakang tabir semua
persoalan ini tentu masih ada biang ke ladinya. Lalu siapa orang
yang ada dibalik tabir? Apa pula tujuannya?
Waktu datang jelas terlihat dirinya berada di depan sebuah
perkampangan di kaki bukit, kenapa kenyataan Coat Sin-san-ceng
sekarang dikelilingi air, di luar lingkaran air dipagari gunung pula?
Umpa ma mereka tumbuh sayap juga jangan harap bisa terbang
pergi.
Sudah tentu persoalan yang paling penting adalah getah beracun
itu, menurut Tong Thian jong dan Un It-hong yang ahli di bidang
racun, getah yang amat keras kadar racunnya ini sungguh sulit
untuk meramu obat penawarnya. Walau komplotan ini me mpunyai
getah beracun yang begini lihay, tapi selama obat penawarnya
belum diperoleh, mereka masih jeri dan ragu2 untuk bergerak. tapi
betapapun hal ini cukup prihatin dan besar bahayanya. Seumpa ma
seperti apa yang dikatakan Cek Seng Jiang, mereka bertindak
terhadap golongan hita m atau a liran putih dari kaum persilatan,
maka petaka yang akan menimpa setiap insan persilatan sungguh
sukar dibayangkan-
Duduk di bela kang meja kerjanya, pikiran Ling Kun-gi sema kin
butek. semakin dia pikir terasa persoalan semakin ruwet dan sukar
diraba.
Mendadak terpikir olehnya, segala persoalan yang dihadapinya
me lulu menyangkut getah beracun ini, se mua persoalan timbul juga
karena getah beracun ini, kalau obat penawarnya bisa dite mukan,
segala persoalan dengan sendirinya tiada lagi. Mengingat obat
penawar, seketika dia teringat pada Pi-tok-cu di dala m kantongnya.
Pi-tok-cu dapat menawarkan segala maca m racun di jagat ini, sudah
tentu bisa pula menawarkan kadar racun getah itu. Segera dia
merogoh keluar mutiaranya. dengan hati2 dan pelan2 dia tutulkan
mut iaranya ke atas getah yang dia taruh di tatakan- Sungguh tak
terduga hanya sedikit menutul saja, mendadak terdengar suara
"ces" yang cukup keras dipermukaan tatakan, bunyi seperti lembar
besi yang me mbara tiba2 di masukkan ke dala m air, getah beracun
yang ada di tatakan seketika mengepulkan asap kuning yang tebal.
Keruan kaget Kun-gi bukan main, le kas dia periksa Pi-tok-cu di
tangannya, untung tidak kurang suatu apa2.
Pada saat itulah, didengarnya pintu ka mar kerjanya terbuka,
Long-gwat, pelayannya secara diam2 me langkah masuk me mbawa
poci berisi air teh. Untung Kun-gi cukup ce katan, lekas dia
sembunyikan mut iara ke da la m bajunya.
Sudah tentu Long-gwat sempat melihat asap kuning yang
menguap dari tatakan, matanya mengerling Kun-gi, katanya
tertawa: "Kenapa Cu-cengcu tidak istirahat sebentar? Sibuk kerja
terus."
Kun-gi angkat kepala sambil berkata tertawa: "Saking iseng,
Lohu coba2 pakai beberapa macam obat ini untuk me ncoba kadar
racunnya."
"Se mangat kerja cu cengcu me mang menyala2 . . . . " sembari
bicara dia maju mende kati meja, baru saja dia mau menuang
secangkir teh untuk Kun-gi. Mendadak ia menjerit tertahan, cang-kir
dan poci dia taruh di atas meja, serunya kegirangan: "Cu-cengcu,
kau berhasil coba lihat, getah di tatakan ini se karang berubah
menjadi air bening."
Me mang betul, setelah asap kuning lenyap dari permukaan
tatakan, getah setengah tatakan yang semula berwarna hita m
legam kini telah berubah menjadi air bening.
Karena Long-gwat tadi masuk secara mendadak. Kun-gi sibuk
menye mbunyikan mutiara, bukan saja tidak me mperhatikan
perubahan yang terjadi di dalam tatakan, malah sekenanya dia
bilang sedang mencoba dengan beberapa maca m jenis obat. Kini
setelah mendengar teriakan Long-gwat, diam2 ia mengeluh: "Wah,
terlihat oleh dia, urusan mungkin bisa runyam?" Terpaksa dia harus
bersikap kejut2 girang. segera ia pura2 periksa a ir bening di dala m
tatakan dengan seksama, akhirnya ia bergela k tertawa.
Dengan tertawa senang Long-gwat memberi hormat kepada Kun-
gi, katanya: "Selamat cu-ceng-cu pasti akan berhasil mene mukan
obat penawarnya."
Tiba2 berubah kaku mimik tawa Kun-gi, kedua matanyapun
jelalatan kian ke mari se mentara tangan sibuk me mba lik2 botol
diatas meja yang berserakan, dengan lagak gugup tangan yang lain
garuk2 kepa la, serunya: "celaka, barusan Lohu a mbil beberapa
maca m obat terus diaduk dan diramu jadi satu, entah obat2 mana
saja tadi yang telah kugunakan untuk menawarkan getah beracun
ini?"
Long gwat tertawa, katanya: "cu-cengcu sudah berhasil
menawarkan getah beracun ini, asal dicoba lagi beberapa ka li pasti
akan berhasil dite mukan dengan mudah, ini kabar baik, sungguh
gembira, sayang cengcu kita tidak di rumah .. . ."
Tergerak hati Kun-gi, tanyanya: "Cek-cengcu pergi ke ma na?"
"Ha mba tidak tahu, semalam cengcu keluar, mungkin besok
ma la m baru pulang," lalu dia tuang secangkir teh dan berkata:
"cengcu tiada, tapi ada Kongcu yang bertanggung jawab di sini, Cu-
cengcu berhasil menawarkan getah beracun ini, ha mba harus
segera melaporkan kabar baik ini kepada Kongcu." Habis bicara
pelayan itu terus berlari keluar.
"Nona, tunggu sebentar," cegah Kun-gi.
"Cu-cengcu ada pesan apa?" seru Long-gwat berhenti.
"Kongcu yang nona katakan, tentunya anak Cek-cengcu?"
"Dian-kongcu adalah anak angkat cengcu kita."
"Entah siapakah na ma Dian-kongcu?"
"Dian-kongcu berna ma Tiong-pit."
Ling Kun-gi manggut2, katanya sambil menge lus jenggot: "Getah
beracun ini hanya secara kebetulan dapat kupunahkan, tapi belum
bisa aku mene mukan obat2 ra muan yang mana adalah penawar
yang sebenarnya, kalau dikatakan berhasil maka baru lima puluh
persen saja, perlu kucoba pula untuk beberapa kali, oleh karena itu,
kukira hal ini belum saatnya untuk dilaporkan kepada Kongcu kalian
........"
"Ha mba tahu, tapi kalau hal ini tidak kulaporkan, bisa jadi
kepalaku a kan dipenggal?" habis berkata buru2 dia berlari pergi.
Kun-gi jadi menjublek di te mpatnya, pada saat dia ragu2 dan
merancang sikap apa yang harus dia la kukan untuk menghadapi
perkembangan selanjutnya, tampak daun pintu terdorong, Ling-
hong tampak berlari masuk sa mbil berseri senang, katanya sambil
me mberi hormat: "Konon Cu-cengcu berhasil menawarkan getah
beracun, buru2 hamba ke mari menyampa ikan sela mat kepada Cu-
cengcu."
Kun-gi bergelak tertawa, katanya: "Terima kasih nona, Lohu
hanya mene mukan obat penawarnya secara kebetulan."
"Itupun berkat usaha Cu-cengcu. Konon getah beracun ini tiada
obat penawarnya di dunia ini, kini kenyataan Cu-cengcu berhasil
menawarkannya," de mikian Ling-hong.
"Ah, masih terlalu pagi untuk dikatakan berhasil," ujar Kun-gi.
Tengah bicara, tampak Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un
It-hong yang mendengar kabar itu serempak juga masuk ke
kamarnya. Lekas Ling-hong mengundurkan diri.
"omitohud" Lok-san Taysu bersabda, "Lolap dengar Cu-cengcu
berhasil menawarkan getah beracun itu, sungguh menyenangkan
dan harus diberi sela mat" Habis berkata lalu dengan Thoan-im-jip-
bit dia bertanya: "Apa yang telah terjadi?"
Untuk me mberi kesempatan Lok-san Taysu bicara dengan Kun-gi,
sengaja Tong Thian-jong tertawa keras, katanya: "Cu-heng me mang
lihay, tiga bulan kami bersusah payah tanpa berhasil, hanya tiga
hari Cu-heng datang lantas berhasil me munahkan getah beracun
ini."
"Ah, mana, mana?" ujar Kun-gi merendah hati, lalu dia jelaskan
kejadian tadi.
Un It-hong lantas menyambung "Dala m wa ktu singkat ini pasti
Cu-heng bisa mera mu obat penawar yang lebih se mpurna lagi"
Berkerut alis Lok-san Taysu, sejenak dia merenung, katanya
dengan mengirim gelombang suara: "Bahwa Pi-tok-cu dapat
me munahkan getah beracun me mang satu hal yang patut dibuat
girang, selanjutnya getah beracun ini tidak perlu ditakuti lagi, tapi
hal ini sudah telanjur terjadi, Cek Seng-jiang pasti akan
mendesakmu agar selekasnya meramu obat penawarnya yang asli,
sementara waktu mungkin kau bisa berpura2, kalau sa mpa i ber-
larut2 la ma mungkin mere ka akan curiga."
"Biarlah kita bekerja melihat gelagat saja," sahut Kun-gi, "yang
penting, sekarang kita harus selekasnya mene mukan muslihat dan
tujuan mereka? Siapa pula yang berada dibelakang layar
mengenda likan Cek Seng-jiang? Kalau sekaligus dapat kita bongkar
seluruhnya, sudah tentu baik se kali."
Sampa i di situ pe mbicaraan mereka, tampa k Ling-hong
me langkah datang dengan cepat, katanya me mberi hormat: "Lapor
Cu-cengcu, Kongcu ka mi tiba."
Terdengar langkah ringan dengan ter-buru2, cepat sekali Long-
gwat telah mendorong pintu. Tampak seorang pe muda berjubah
biru dengan gelung ra mbut berkundai e mas di atas kepala
me langkah masuk dengan bersenyum, katanya sambil menjura:
"Siautit Dian Tiong-pit me mberi sa la m hormat kepada pa man cu."
Sekarang lebih nyata bagi Kun-gi bahwa Dian Tiong-pit ini
me mang pe muda baju biru yang telah dikuntitnya sejak dari
Kayhong itu, lekas iapun me mbalas hormat, katanya: "Dian-siheng
tak perlu banyak adat."
Alis menega k. mata besar bersinar, sikap gagah dan kereng,
demikianlah keadaan Dian Tiong-pit, kini dia bersikap hormat dan
ramah, ber-turut2 ia-pun me mberi sa la m kepada Lok-san Taysu,
Tong Thian-jong dan Un It-hong, lalu berkata pula kepada Kun-gi:
"Siautit dengar katanya paman cu berhasil me munahkan getah
beracun, inilah kabar gembira, sungguh keberuntungan besar kaum
persilatan di seluruh jagat pula, sayang Gihu kebetulan keluar
rumah, sengaja Siautit kemari menyampaikan sela mat, sekaligus
mohon pa man cu da-tang ke Kia m-khe k sebetar untuk bicara."
"Khian-khek me ma ng belum pernah dikunjungi, kebetulan
sekiranya dirinya diajak kesana, lekas Ling- Kun-gi berkata: "Terima
kasih atas undangan Dian-siheng. Baiklah Lohu iringi kehendakmu."
Terunjuk rasa senang pada wajah Dian Tiong-pit, katanya: "Baik,
silahkan pa man cu"
Berkelebat rona curiga pada sorot mata Tong Thian-jong, le kas
dia berkata dengan Thoan-im-jip-bit kepada Ling Kun-gi: "Sorot
mata bocah she Dian ini agak mencurigakan, Ling-lote harus hati2."
Kun-gi me mberi hormat dan pamit sebentar kepada Lok-san Tay-
su bertiga terus keluar. Pada saat bicara, diam2 dia mengangguk
kepada Tong Thian-jong.
Dian Tiong-pitpun me mberi hormat dan mohon pa mit kepada
mereka bertiga, lalu berkata: "Marilah Siautit menunjukkan
jalannya." Lalu dia mendahului berjalan di muka.
Khia m-khek terletak bagian ujung barat, sekitarnya dikelingi air,
tepat di tengah2 air sana berderet tiga petak gardu yang dikelilingi
pagar kayu,jembatan batu yang menghubungkan darat dan ketiga
gardu itu berliku sembilan kali, letaknya kebetulan saling
berhadapan dengan Hiat-jo-cay di sebelah timur sana.
Di bawah iringan Dian Tiong pit, setelah melewati je mbatan batu
sembilan liku, langsung me nuju ke deretan tiga gardu di tengah a ir
sana, gardu ini ditabiri kerai ba mbu, kelihatan a mat hening dan
tenteram, Baru saja mereka t iba di depan gardu, seorang dayang
pakaian hijau segera menyingkap kerai dan me mbungkuk hormat
kepada Dian Tiong-pit, katanya: "Siancu sudah menunggu di dala m
gardu, harap Kongcu mengiringi Cu-cengcu ke dala m mene mui
beliau."
Dian Tiong-pit me mba lik dan menyila kan, "Silahkan pa man cu"
"Lohu baru datang, Dian-siheng jangan sungkan, sila kan tunjuk
jalannya," ujar Kun-gi. Ter-paksa Dian Tiong-pit beranjak masuk
lebih dulu.
Itulah sebuah ka mar ta mu yang kecil tapi terpajang serba
sederhana dan serasi dengan keadaan dan suasana, meja kursi
seluruhnya terbuat dari bambu kuning, pada sebuah kursi yang
terletak di sebelah atas duduk seorang nyonya muda berpakaian ala
puteri keraton, melihat Dian Tiong-pit masuk mengiringi Ling Kun-gi,
matanya me-ngerling pelan2 berdiri.
Sekali pandang, Kun-gi lantas kenal nyonya muda yang dipanggil
Siancu ini ternyata adalah Hian-ih-lo-sat.
Hal ini tidak menjadikan dia heran atau kaget, karena Hian-ih-lo-
sat me mang se komplotan dengan peristiwa Cin-Cu-ling itu.
Lekas Dian Tiong-pit maju me mberi hormat, katanya: "coh ih
(bibi coh), paman cu telah da-tang." Lalu dia berkata kepada Ling
Kun-gi: "inilah bibi coh, anggota keluarga Gihu, ayah sedang keluar,
segala urusan besar-kecil dalam Coat Sin-san-ceng ini ada bibi coh
yang mengurus dan bertanggung jawab, tadi mendapat laporan
bahwa paman cu berhasil me munahkan getah beracun, maka beliau
ingin berhadapan dengan pa man cu ma ka Siaut it diperintahkan
mengundang pa man Cu ke mari."
Pada saat Dian Tiong-pit bicara, sepasang mata Hian- ih-to sat
menatap Kun-gi lekat2 kini iapun berkata dengan tersenyum:
"Sudah la ma ku- dengar na ma besar Cu-cengcu dari Liong-bin-san-
ceng, hari ini dapat berhadapan dan ternyata memang tida k
bernama kosong."
Lalu dia melirik Dian Tiong-pit dan mengome l: "Dian-toasiauya,
Cu-cengcu adalah ta mu kita, lekas sila kan duduk"
Ter-sipu2 Dian Tiong-pit mengiakan, dan angkat tangan: "Silakan
duduk pa man cu"
Kun-gi me mberi hormat pada Hian-ih-lo-sat, katanya: "Kiranya
nona coh, beruntung dapat bertemu." Lalu dia duduk di hadapan
Hian-ih-lo-sat.
Dian Tiong-pit hanya berdiri saja di samping dengan sikap
hormat.
Pelayan masuk menyuguhkan air teh. Kata Hian-ih-lo-sat:
"Silakan minim Cu-cengcu." La lu dia berpaling pada Dian Tiong-pit
di samping: "Aku mau bicara dengan Cu-cengcu, kau boleh ke luar
saja."
Dian Tiong-pit mengiakan dan mohon diri.
Segera Kun gi berkata sambil menatap muka orang: "nona coh
mengundangku ke mari, entah ada urusan apa?"
"Dala m waktu dua hari Cu-cengcu berhasil me munahkan getah
beracun yang tiada obat penawarnya di kolong langit ini, sungguh
suatu hal yang mengge mbirakan, tapi juga agak mengherankan."
Tergerak hati Kun-gi, katanya: "Darimana nona tahu kalau getah
beracun milik Sa m-goan-hwe itu t iada obat penawarnya?"
Melenggong Hian-ih-lo-sat oleh pertanyaan yang tak pernah
diduganya ini, dia bersenyum lebar, katanya: "Paling tida k sebelum
hasil Cu-cengcu ini, racun ini tiada obat penawarnya . "
"Sebetulnya cayhe juga tidak yakin, namun kegaiban telah terjadi
secara kebetulan, sejauh ini caybe masih belum tahu kenapa maca m
obat di antaranya yang cocok dalam ra muan itu untuk mengubah
getah beracun itu menjadi air bening? Se mula kupikir sebelum
semua ini menjadi se mpurna, sebaiknya hal ini jangan diketahui
orang banyak."
"o, jadi Cu-cengcu mau menye mbunyikan kesuksesanmu ini?"
Ling Kun-gi menyengir, katanya: "Ada sesuatu yang tidak nona
coh ketahui, usahaku ini baru berhasil dala m langkah permulaan,
perlu diselidiki lebih me ndala m pula, setelah diadakan beberapa kali
percobaan pula baru akan bisa ditemukan obat penawarnya yang
benar2 tulen."
"Entah berapa lama Cu-cengcu akan mene mukan obat
penawarnya yang tulen itu?"
"Sukar dikatakan, yang terang aku a kan kerja keras."
Pembicaraan soal getah beracun berakhir sampai di sini. Tapi
Hian-ih-lo-sat kelihatannya suka ngobrol, dia unjuk senyum
menggiurkan kepada Kun-gi, lalu bertanya: "Kudengar Cu-cengcu
punya seorang puteri yang cantik, orang2 Kangouw me manggilnya
Liong- bin- it-hong, entah siapa na manya dan berapa usianya?"
Dia m2 Kun-gi menge luh dala m hati, ha l2 yang ditanyakan ini
padahal tidak pernah dia ketahui sebe lumnya, beruntung dia tahu
kalau Pui Ji-ping punya seorang Piauci, usianya sebaya meski agak
lebih tua sedikit, ka lau Pui Ji-ping berusia 19 ia yang sela ma bicara
Ji-ping tida k menyebut siapa piaucinya, kini Hian-ih-lo-sat bertanya,
otaknya yang cerdik segera berpikir kalau Piau-moay bernama Ji-
ping, bukan mustahil sang Piauci berna ma Ji-lan, maka dengan
gelak. tertawa dia menjawab: "Puteri- ku bernama Ji-lan, tahun ini
berusia 19"
Hian-ih-lo-sat tersenyum manis, katanya: "Cu-cengcu, di sini ada
seorang, entah kau mengenalnya tidak?" Lalu dia berpaling dan
berseru: "Giok-je, suruhlah Ho Tang-seng ke mari."
Seorang pelayan di luar pintu segera meng ia- kan terus berla lu.
Dia m2 Kun-gi menimang2. "Entah siapa pulia Ho Tang-seng ini?
Kenapa dia menyuruhnya ke mari? Mungkinkah dia kenal baik
dengan cu- ceng-cu? "
Cepat sekali pelayan itu sudah ke mba li dan berseru: "Lapor
Siancu, Ho Tang- seng sudah datang."
"Suruh dia masuk"
Kerai disingkap. masuklah seorang laki2, bermuka burik beralis
tebal dan berpakaian ketat warna ungu, dengan munduk2 dia
me mberi hormat serta berseru: "Hamba Ho Tang-seng menghadap
Siancu."
"Ya," Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya: "Cu-cengcu masih
mengenalnya?"
"Ho- congsu ini me mang seperti pernah kulihat entah di ma na."
Seperti tertawa tapi tidak tertawa Hian-ih-lo-sat meliriknya,
katanya. "Ho Tang seng, hayo mem-beri hormat kepada Cu-
cengcu."
"congsu tida k usah banyak adat."
Hian-ih-lo-sat Cekikan, katanya: "Kalau demikian, Cu-cengcu
tidak menyalahkan dia telah berkhianat terhadap perkampunganmu,
kini dia mondok diperka mpungan ka mi."
Dia m2 tersirap darah Ling Kun-gi, bila Ho Tang-seng betul2
orang dari Liong-bin-san-ceng. kalau anak buah saja tidak kenal,
bukankah diri-nya telah menunjukkan gejala2 kurang sehat? Untung
otaknya encer, sorot matanya menunjukkan perasaan dingin
mena mpilkan amarah yang tertekan, katanya tawar sambil
menge lus jenggot: "cay-he sendiri telah kini menjadi tawanan di
sini, apa-lagi hanya seorang anak buahku?"
Hian-ih-lo-sat tetap tersenyum, katanya, "Ho Tang-seng tiada
tempat berpijak di Liong-bin-san-ceng, maka terpaksa dia lari
ke mari, harap Cu-cengcu tidak marah " Lalu dia berpaling dan tanya
pada orang itu "Berapa tahun kau berada di Liong-bin-san-ceng?"
"Dua tahun," sahut Ho Tang-seng.
"Cu-cengcu punya seorang puteri, siapa na manya dan berapa
usianya, kau tahu?"
"siocia berna ma Ya-khim, berusia 19."
Hian-ih-lo-sat manggut2, tangannya mengulap. katanya: "Kau
boleh pergi." Ho Tang seng segera mengundurkan diri.
Rada kelam a ir muka Hian-ih-lo-sat, kata-nya menatap Ling Kun-
gi dengan nada setengah menyindir: "cu cengcu, menyebut na ma
puterimu sendiri kok salah?"
Berubah roman Kun-gi, katanya dengan gusar: "Apakah tidak
keterlaluan kata2 nona?"
"Bicara terus terang, kurasa wajah Cu-cengcu mungkin juga
dirias sede mikian rupa."
Sikap Kun-gi se ma kin garang, katanya: "Lo-hu berjalan tidak
perlu ganti na ma, duduk tidak perlu mengubah she, kenapa harus
pakai merias diri segala?"
"Me mangnya aku juga berpikir de mikian, tapi melihat
kenyataannya mau t idak ma u aku harus bercuriga."
"Maksud nona, kalian salah mengundangku ke mari?"
"Mungkin de mikian, cuma kupikir apakah kau sengaja me wakili
Cu-cengcu ke mari."
"Sengaja mewa kili Cu-cengcu?" kata2 ini betul2 menggetar
sanubari Ling Kun-gi, dia m2 ia kerahkan tenaga di tangan kiri,
mukanya kereng, katanya: "Apa, maksud nona?"
"Jangan marah Cu-cengcu, aku hanya ingin me mbongkar rahasia
hatiku sendiri, tiada ma ksud jahat terhadapmu," tanpa menunggu
Kun-gi bersuara, dia lantas mena mbahkan: "peduli Cu-cengcu tulen
atau palsu kau tetap adalah tamu agung terhormat di Coat Sin-san-
ceng ini."
Kun-gi bersikap tida k mengerti, katanya sambil menatap Hian-ih-
lo-sat: "Apa maksud nona sebenarnya?"
"Dihadapan seorang asli tidak perlu berbohong," tiba2 Hian-ih-lo-
sat cekikikan, "se mala m di Liong-bun-kin aku me nawan seorang,
kalau dibandingkan dengan kau "Cu-cengcu", dia agak sedikit
mirip."
"Agak sedikit mirip", maksudnya orang yang dibe kuknya se mala m
itu pasti adalah cia m-Liong Cu Bun-hoa yang tulen.
Semula Kun-gi masih ragu, tapi setelah dia hitung waktunya,
me mang saatnya tepat sesuai janji Cu Bun-hoa untuk me luruk
ke mari menolong dirinya dari luar, jadi kini cu Bun- boa telah
tertawan oleh musuh. Bagaimana ilmu silat Cu Bun-hoa ia sendiri
tidak tahu. Tetapi Kim Kay-thay, Un It-kiau, Lam-kiang-it-ki dan
tokoh2 silat la innya ber-turut2 menghilang, ke mungkinan se muanya
telah menjadi tawanan komplotan C in-Cu-ling, bahwa cia m-Liong
juga menjadi tawanannya, kiranya dapat dipercaya.
Cuma di ma na orang2 ini di sekap? Apakah di dala m Coat Sin-
san-ceng juga? Mendadak dia ingat pada ibunya yang telah
menghilang beberapa waktu la manya, kemungkinan beliau juga
terkurung bersa ma orang banyak ini. Bukan Mustahil di ta man
bunga ini terdapat ka mar tahanan di bawah tanah.
Melihat sekian la ma orang tidak bersuara, dengan suara lembut
Hian-ih-lo-sat berkata pula: "Kini kau sudah percaya?"
"Lohu justeru tidak percaya, di kolong langit ini mana bisa
muncul dua cia m-Liong Cu Bun-hoa sekaligus."
"Yang tulen tentu hanya satu, kalau Cu- Ceng cu punya minat,
bisa kubawa kau me lihatnya," demikian ajak Hian-ih-lo-sat.
"Baik seka li, Lohu me mang ada maksud ini."
"Bolehkah ini dina ma kan pertemuan dua naga? Dua cia m-long
bernama Cu Bun-hoa akan saling berhadapan, kisah ini tentu akan
menjadi dongeng yang mengasyikan di Bu-lim."
Ling Kun-gi berdiri, katanya: "Di mana dia?"
"Mari Cu-cengcu ikut aku," lalu Hian-ih-lo-sat menuju gardu atau
paseban sebelah.
Agaknya sedikitpun dia tidak menaruh prasangka apa2, dia
berjalan di depan me mbe lakangi Ling Kun-gi, seluruh Hiat-to di
belakangnya berarti terpampang di hadapan anak muda itu. Jarak
kedua orangpun amat dekat, asal mau ulur tangan Kun-gi pasti bisa
me mbe kuknya. Tapi Hian-ih-lo-sat berjalan dengan gemulai se-
olah2 dia yakin bahwa Ling Kun-gi tidak akan berani turun tangan
terhadap dirinya.
Kun-gi sendiri juga ragu2 dan kebat-kebit, terpaksa ia ikuti
masuk ke sebuah ka mar kecil di belakang paseban.
Waku ia awasi kamar kecil ini, tampak di sebelah timur sana, di
atas sebuah dipan kayu rebah telentang seorang. Wajahnya tampak
halus putih, alisnya tebal, jenggot hitam sebatas dada, sekilas
pandang dia lantas tahu wajah orang ini mirip sekali dengan muka
dirinya, muka asli cia m-Liong Cu Bun-hoa.
Sudah tentu Kun-gi t idak tahu bahwa orang ini cia m-Liong tulen
atau palsu? Tanpa terasa ia, mengejek: "Mirip sekali sa marannya."
Hian-ih-losat meliriknya, katanya dengan hambar: "Kau tidak
percaya kalau dia ini yang tulen?"
"Nona coh tadi mengatakan, yang tulen hanya ada satu? Kenapa
tidak kau suruh dia bangun, supaya Lohu menanyai dia"
"Me mbangunkan dia boleh saja, kalau tidak mana Cu-cengcu
mau menyerah dan tunduk lahir batin, betul tida k?" la lu dia
mena mbahkan: "cu-,cengcu yang satu ini hanya tertutuk jalan darah
penidurnya, tolong kau sendiri yang turun tangan me mbuka Hiat-
tonya, kau boleh tanya siapa dia?"
Kun-gi me ndengus sekali, kuatir dijebak orang, dia m2 ia
kerahkan tenaga di kedua lengan, pelan2 dia mende kati
pembaringan dan me mbuka Hiat-to penidur Cu Bun-hoa.
Cepat sekali Cu Bun-hoa sudah me mbuka mata dan pelan2 dia
bangkit berduduk, keadaannya seperti amat payah dan letih, namun
sorot matanya me mancarkan a marah, sekilas dia pandang kedua
orang ,dihadapannya. Waktu melihat seorang laki2 yang berparas
mirip dirinya berdiri di depan pe mbaringan, sekilas dia ta mpa k
me lenggong, bentaknya rendah: "Pere mpuan hina, kalian ma u
berbuat apa terhadap diriku?"
Begitu dia buka suara, Kun-gi lantas tahu bahwa orang ini
me mang cia m-Liong cu un-hoa yang asli, keruan ia kaget.
Hian-ih-lo-sat cekikikan, katanya: "Cu-cengcu mesti marah begini
rupa? Beginilah duduk persoalan-nya, Cu-cengcu yang kami undang
ke mari tidak percaya bahwa kau adalah cengcu dari Liong-bin-san-
ceng, maka terpaksa kuiringi dia ke mari me lihat mu, kukira kalian
satu sama lain pasti kenal, tak perlu aku me mperkenalkan kalian
lagi."
Terunjuk rasa kaget, heran serta curiga sorot mata Cu Bun-hoa,
katanya setelah mengawasi Ling Kun-gi : "Siapakah cengcu Liong-
bin-san-ceng? Lohu t idak tahu."
"Kenapa Cu-cengcu masih pura2? Sejak kutawan tadi, muka mu
sudah kucuci bersih, siapa di antara ka lian adalah Cu-cengcu tulen,
tentu kalian sendiri mengerti."
"Sedikitpun aku tidak mengerti," seru Cu Bun-hoa marah. Lalu
dia berpaling kepada Ling Kun-gi, bentaknya: "Siapa kau?"
Sekilas Kun-gi mengerut kening, tapi otaknya yang cerdik lantas
berkeputusan bagaimana dia harus bersikap katanya, ter-gelak2:
"Siapa Lohu? Kalian me mang pandai ma in sandiwara. Di dala m
bubur kalian menaruh racun, menutuk Hiat-to di dadaku lagi, dala m
hati kalian sudah tahu sendiri, kenapa tanya kepadaku ma lah?"
Kalau kepepet timbul aka lnya, secara tidak langsung kata2nya ini
me mberi mengingatkan Cu Bun-hoa yang sembunyi di ka mar
rahasia, bahwa dia pasti menyaksikan bagaima na In Thian-lok
menutuk Hiat-tonya, kalau Cu Bun-hoa dihadapannya ini samaran
pihak lawan sengaja mau menjajal dirinya, maka kata2nya itupun
tidak akan menarik perhatian pihak lawan-
Ternyata sorot mata Cu Bun-hoa tampak berubah, mendadak dia
bertanya dengan mengirim gelombang suara, "Betulkah kau Ling-
lote?" - Kini terbukti bahwa Cu Bun-hoa dihadapannya me mang
tulen.
Dengan mengelus jenggot dan manggut2 Kun-gi menjawab
dengan gelombang suara: "cayhe me mang Ling Kun-gi, bagaimana
Cu-cengcu bisa tertawan mereka?"
"Lohu terjebak dan di bokong oleh perempuan siluman itu
.........."
Keduanya saling tatap dan pura2 saling menga mati, mere ka
bicara secara diam2, tapi sampai di sini pe mbicaraan mereka tiba2
Hian-ih-lo- sat cekikikan, tukasnya: "Kalian sudah selesai bicara?"
tangannya menuding ke arah Cu Bun-hoa, katanya lebih lanjut:
"Kukira Cu-cengcu yang ini perlu istirahat pula, kami tida k
mengganggumu lagi."
Tampak Cu Bun-hoa berbangkis, kelihatan semakin loyo dan
kecapaian, pelan2 dia menjatuhkan diri dan rebah pula di atas
pembaringan-
Keruan Kun-gi terperanjat, batinnya: "Mungkin pere mpuan
siluman ini mengerja inya lagi?"
Sambil tersenyum Hian-ih-lo-sat pun angkat tangannya ke arah
Ling Kun-gi, katanya. "Silakan Cu-cengcu duduk di luar."
Kun-gi sudah waspada, me lihat tangan orang bergerak ke
arahnya, lekas dia menyurut mundur sa mbil tahan napas, katanya
sambil me njengek: "Tak tersangka ia juga ahli pe makai obat bius."
"Cu-cengcu tidak usah kuatir," ujar Hian-ih-lo-sat sambil
cekikikan genit dan mengerling, "peduli kau ini yang tulen atau
palsu, kau tetap sebagai tamu terhormat Coat Sin-san-ceng kita,
aku tidak akan menggunakan obat bius terhadapmu, mari sila kan
kita bicara di luar saja."
Entah muslihat apa di balik kera mah tamahan orang, terpaksa
Kun-gi ikut keluar. Mereka ke mbali ke ka mar tamu dan duduk di
tempat se mula.
"Nona coh masih ada urusan apa, katakan saja," kata Kun-gi.
"Kau sudah berhadapan dengan Cu-cengcu yang asli, kalau tidak
salah malah kalian sudah mengada kan pembicaraan, kini tak perlu
menyinggung siapa tulen siapa palsu, tapi satu hal perlu kutegaskan
padamu ........"
"Soal apa?"
"Mengenai obat penawar getah beracun itu."
"cayhe sudah bilang ........."
"Aku mengerti," tukas Hian-ih lo-sat, "kalau kau bisa ubah getah
hitam kental itu menjadi air bening, pasti telah menemukan obat
penawarnya, setelah kau menciptakan obat penawarnya baru kalian
yang tulen dan palsu boleh pergi dari coat-sin-san Ceng dengan
selamat."
"Kau menganca m dan me meras Lohu?"jengek Kun-gi.
"Jangan pakai istilah menganca m atau me meras segala, terlalu
menusuk telinga, katakan saja sebagai syarat imba lan-"
Bertaut alis Kun-gi, katanya: "cayhe tidak begitu yakin-"
Mendadak berubah ketus nada Hian-ih-lo-sat, katanya: "Kau
harus menyelesaikan tugasmu, kuberi wa ktu sela ma 10 hari."
"Mungkin sulit, 10 hari terlalu pende k wa ktunya, cayhe . . . . "
"10 hari sudah terlalu la ma bagiku, sebetulnya cukup lima hari."
Setelah me-nimang2 Kun-gi berkata sambil menggeleng: "10 hari
betul2 a mat . . . . "
Hian ih-lo-sat berdiri, katanya tandas: "Tak usah bicara lagi,
semoga da la m 10 hari ini kau bisa menyerahkan obat penawarnya,
kalau tida k . . . ."
Kun-gi ikut berdiri, tantangnya: "Memangnya kenapa kalau
tidak?"
"Kalau tidak kau serahkan obat penawarnya dalam 10 hari,
urusan menjadi berabe bagi kita se mua. Nah, silahkan Cu-cengcu."
Mendadak tergerak hati Kun-gi, kata2 "kita se mua" mungkin
terlanjur diucapkan- Kita se mua, yang dimaksud mungkin termasuk
dia sendiri, itu berarti orang di belakang layar itu sudah mendesak
terlalu keras, maka perintah batas waktu 10 hari tidak boleh ditawar
lagi, ma ka dirinya harus tepat waktunya menyerahkan obat
penawarnya.
Kun-gipun tidak banyak bicara lagi, setelab menjura dia berkata:
"cayhe akan bekerja sekuat tenaga."- ia menyingkap kerai dan
beranjak keluar.
Ia menyusuri je mbatan liku se mbilan menuju ke deretan kola m
bunga, sepanjang jalan ini dia melangkah la mbat2, waktu dia tiba di
depan gunung buatan, tampak Tong Thian jong tengah mendatangi
dari jalanan kecil berbatu krikil sana sambil menggendong tangan,
waktu me lihat Kun-gi segera dia menyongsong sa mbil tertawa: "Cu-
heng sudah ke mbali?"
Lekas Kun-gi me mberi hormat, katanya: "o, kiranya Tong-heng
sedang jalan2 di sini."
"Menjelang magrib ini pe mandangan ala m disekitar sini sungguh
indah," ujar Tong Thian-jong. La lu dengan ge lombang suara dia
bertanya, "Ling-lote, untuk apa bocah she Dian itu mengundangmu
kepaseban sana? Kuatir me ngala mi kesulitan, Lohu ditugaskan naik
ke atas bukit mengawasi keadaan sana, sementara Un-heng berada
di kola m bunga, di bela kang gunung buatan sana, bila perlu ka mi
akan me mberi bantuan pada mu."
Demikianlah se mbari ber-cakap2 dan bersenda gurau mereka
menyusuri kola m bunga sana, setelah celingukan tida k terlihat
bayangan orang, secara ringkas Kun-gi ceritakan pengala mannya
tadi. Tong Thian jong kaget, katanya. "Cu-heng terjatuh juga ke
tangan mereka, bagaimana ini bisa terjadi?"
Kun-gi menengadah me mandang ke te mpat yang jauh, katanya:
"Hian-ih-lo-sat menjadikan cu cengcu sebagai sandera untuk
mendesakku menyerahkan obat penawarnya dalam 10 hari,
sekarang urusan belum kasip. apa2 menolong orang boleh ditunda
sementara, sulitnya kebun ini dikelilingi air, sukar untuk terbang
keluar . . . . "
"Bukankah Ling-lote pernah bilang bahwa waktu kau datang
tempo hari, jelas perkampungan ini terletak di depan kaki gunung,
tiada air yang mengelilingi perka mpungan ini?"
"Ya,justeru di sinilah letak persoalannya yang sulit terpecahkan .
. . . " lalu dengan suara lirih dia mena mbahkan, "menurut dugaan
cayhe, lorong bawah tanah untuk keluar masuk terletak di bawah
coat- sin-san-tang ini."
Tong Thian-jong manggut2 menyatakan sependapat.
Ling Kun-gi lantas utarakan pendapatnya:
"Kim-khe k itu merupa kan sebuah paseban yang berdiri di atas
air, tapi menurut dugaanku di sanalah tempat untuk menyekap para
tawanan, kalau tidak. buat apa Hian-ih-lo-sat me manggilku kesana."
Tong Thian-jong manggut2, ujarnya: "Yaa masuk aka l"
"Kalau betul paseban itu tempat untuk menyekap tawanan, pasti
bukan Cu-cengcu saja yang ditawan di sana."
Terkesiap Tong Thian-jong, tanyanya: "Jadi Ling-lote kira Locit,
Un In ji dan la in2 juga terjatuh ke tangan mereka?"
"Mungkin saja, di antara mereka termasuk Kim Kay-thay,
ciangbunjin murid2 pre man Siau-limpay, Lam-kiang-it-ki Thong-pi-
thian-ong, Kia m hoan-siang-coat Siau Hong-kang dan puteranya dari
Lam-siang."
Berpikir sebentar, Tong Thian-jong berkata dengan menghe la
napas: "Jika benar orang2 itu terjatuh ke tangan mereka, kita
berempat mungkin bukan tandingan mere ka, masa kita ma mpu
menolong mere ka?"
"Soal menolong orang bukan urusan sulit," ujar Kun-gi, "bicara
tentang kepandaian silat sejati, kuyakin sukar bagi mereka untuk
me mbe kuk orang sebanyak itu, mereka pasti mengguna kan
muslihat dan main sergap ........"
Sembari bicara tanpa terasa mereka tiba di ujung timur kebun. Di
sini letaknya sudah dekat dengan pemukaan air sunga i, sepanjang
pinggiran sunga i dipagari kayu merah, di luar pagar sana ditanami
pula pepohonan Yang-liu. Selepas mata me mandang permukaan
seluas puluhan tombak ini begitu tenang laksana kaca, di seberang
sana pohon2 Yang-liupun berderet menjuntai dahan2nya,
pegunungan nan hijau permai melatar belakangi panora ma yang
sejuk dan nya man ini.
Berpegang pada pagar kayu, mereka me mandang ke permukaan
air, perasaan seperti tertindih barang berat. Kecuali mereka bisa
mene mukan jalan ke luar dari Coat Sin-san-ceng ini, ka lau tida k-
bukan saja sulit menolong teman, untuk menyeberang sungai inipun
tak mungkin-
Dia m2 Kun-gi me-nimang2 cara bagaimana dirinya harus
menyelidiki siapa2 yang terkurung di dalam paseban itu? Menyelidiki
di mana letak mulut jalan rahasia di bawah coat -sin-san-ceng ini?
Sem-bari berpikir, tanpa sadar dia menjemput sebuah krikil, di mana
tangan kiri terayun, batu krikil itu dia sa mbitkan ke tengah
permukaan sungai, Gerakannya ini boleh dikata acuh tak acuh atau
iseng bela ka.
Betapapun usia Kun-gi baru likuran, watak kekana kan masih
belum hilang seluruhnya, belum lagi Tong Thian- jong yang sudah
berusia lebih setengah abad, tak mungkin dia main le mpar batu
segala. Bahwa Kun-gi berkebiasaan menggunakan tangan kiri atau
kidal, me mang sudah sejak kecil berkat didikan gurunya, karena
gurunya adalah Hoan-jiu-ji-lay (siBuddha kidal) yang tersohor
menggunakan tangan kiri, oleh karena itu, ke kuatan tangan kirinya
tentu jauh lebih besar daripada tangan kanan-
Walau hanya iseng dan seenaknya saja dia sa mbitkan batu krikil
itu, tapi batu krikil itu me luncur tak ka lah cepatnya daripada anak
panah yang terlepas dari busurnya, malah mengeluarkan deru angin
kencang lagi. Tong Thian-jong sa mpa i me longo, tak dikiranya
semuda ini usia Ling Kun-gi sudah me miliki ke kuatan begini hebat.
Pada saat itulah tiba2 terjadi suatu keanehan. Batu kerikil itu
me luncur kira2 lima-ena m tombak. jadi se mestinya kerikil itu masih
me luncur di atas permukaan air sungai yang lebarnya lebih sepuluh
tombak, tak terduga tiba2 terdangar suara. "traak" yang keras.
Ternyata batu krikil itu telah me nyentuh "permukaan air" yang
tenang bening itu serta mengeluarkan suara aneh, suara benda
pecah ber-keping2.
Suara "trak" yang agak keras itu sudah tentu menimbulkan
perhatian Ling Kun gi dan Tong Thian-jong. serentak mereka
me mandang ke te mpat kejadian-.
Waktu itu me mang sudah magrib, matahari sudah ha mpir
terbenam, alam semesta mulai ditaburi keremangan, tapi jarak lima-
enam tomba k tida k terlalu jauh, keadaan masih bisa terlihat je las.
Begitu mereka tumplek perhatian me mandang ke sana,
permukaan air yang kelihatan tenang itu setelah tersentuh krikil tadi
ternyata meningga lkan bekas2 warna hitam retak sebesar buah
apel. Batu krikil timpukan Kun-gi me mbuat retak permukaan air, dan
permukaan air ternyata membuat batu kerikil itu pecah ber-keping2.
Bukankah hal ini merupa kan kejadian aneh yang t idak masuk a kal?
Semula Ling Kun-gi dan Tong Thian-jong sa ma melongo,
akhirnya saling pandang sa mbil tertawa penuh arti. Karena kejadian
ini me mbuktikan bahwa permukaan air dala m jarak lima- ena m
tombak itu, hakikatnya bukan permukaan air. Kalau permukaan air
bukan permukaan air, la lu apa?
Kedua orang ini sudah tahu sekarang, permukaan air dala m jarak
enam tombak dari daratan itu, sebetulnya adalah sebuah dinding
tembok yang tinggi. cuma pada dinding itu dilukis sede mikian rupa
sehingga menyerupai permukaan air yang tulen, demikian pula
pohon2 Yang-liu yang menjuntai menyentuh permukaan air di
seberang, setelah dita mbah ala m pegunungan menghijau di luar
tembok. selintas pandang lantas ke lihatannya mirip betul a ir sunga i
yang mengalir dengan tenang.
Apalagi di luar pagar kayu, di atas tanggul sunga i sebelah luar
ditanami pohon2 asli yang rimbun dan ber-goyang2 tertiup angin
lalu, sehingga menjadi a ling2 pandangan orang di sebelah sini,
seolah2 seorang melihat sekuntum bunga di tengah kabut, maka
sulit baginya untuk me mbedakan bahwa permukaan air disebelah
luar itu hanyalah lukisan di atas dinding be laka.
Pembuat dekorasi ini me mang lihay dan ahli betul2. Kalau Kun-gi
tidak main le mpar batu tanpa sengaja, sungguh mimpipun mereka
tidak akan menduga tadinya lukisan yang mengelabui pandangan
mata ini.
Tapi hal ini tidak menjadikan persoalan lebih mudah dise lesaikan,
meski rahasia lukisan ini sudah diketahui, permukaan air yang
semula lebar puluhan tomba k kini kenyataan hanya lima-ena m
tombak. bagi seorang ahli Ginkang, untuk me lompat sejauh lima-
enam tomba k me mang bukan pekerjaan sukar.
Sukarnya justeru di luar lima-enam tombak dari permukaan a ir ini
mereka teralang oleh pagar tembok yang begitu tinggi. Tiada
tempat berpijak lagi di kaki te mbok. manusia bukan burung yang
dapat terbang, umpama ma mpu me lompati permukaan a ir ini, cara
bagaimana akan dapat me lompati te mbok setinggi itu?
Setelah saling pandang dan tertawa, wajah Ling Kun-gi dan Tong
Thian-jong akhirnya sama2 kecut dan mengerut kening, mereka
menyadari adanya kesulitan2 yang tidak teratasi ini .Jadi walau
rahasia permukaan air ini sudah terbongkar, tumbuh sayappun
mereka tak bisa keluar, umpa ma nanti berhasil mene mukan di
bawah tanah dan menolong keluar kawan2 yang dise kap di sana,
mereka tetap harus menemukan pula jalan ke luar yang mereka
duga pasti berada di bawah perka mpungan besar ini.
Dengan tajam Tong Thian-jong pandang sekelilingnya, agaknya
tiada orang menyaksikan kejadian di sini, ma ka dengan suara lirih
dia berkata: "Ling-lote, kita masih punya waktu 10 hari, soal ini
harus dirundingkan lebih dulu, kita jangan la ma2 di sini."
Kun-gi mengangguk. seperti tidak terjadi apa2, sambil mengobrol
mereka terus ke mbali ke pondok mereka.
Makan mala m mereka biasanya disediakan di te mpat
penginapan. Cek Seng- jiang pernah mengatakan pondok ini boleh
dianggap sebagai ruma h sendiri.
Setiap kali habis ma kan mala m Kun-gi pasti ke luar jalan2 di
taman, tapi ma la m ini banyak persoalan yang bergelut dala m
benaknya, maka ma la m ini dia tida k keluar jalan2 seorang diri dia
duduk di kursi ma las di bawah jendela, bermalas2an- Tapi otaknya
terus bekerja, berdaya cara bagaimana menyelidiki kurungan bawah
tanah dipaseban air itu cara baga imana supaya mene mukan ja lan
rahasia keluar masuk Coat Sin-san-ceng ini? Kedua tugas berat ini
harus dia kerjakan tanpa diketahui orang2 coat- sin-san-ceng,
langkah kedua baru berusaha me nolong para kawan yang tertawan-
Ing-jun me mang pelayan yang telaten dan cepat meraba
keinginan dan perasaan orang, melihat Kun-gi peja mkan mata
seperti sedang me meras otak. dia tahu hari ini orang berhasil
menawarkan getah beracun, mungkin sekarang sedang me mikirkan
cara pembuatan obat penawarnya, maka dia m2 dia seduh sepoci
teh, ia taruh di meja kecil di pinggir kursi malas, katanya lirih: "Cu-
cengcu, minum teh."
Terbelalak mata Kun-gi, katanya tertawa: "Ing-jun, pergilah
istirahat, tak usah kau me layani-ku lagi."
Ing-jun tertawa lebar, katanya: "Baiklah, ha mba mohon diri, hari
ini Cu-cengcu pasti lelah, lekaslah istirahat." Lalu dia mengundurkan
diri.
Kun-gi berkeputusan mala m ini dia akan menyelidiki coat-sin san-
ceng. Sudah tentu iapun menyadari bahwa menyelidiki Coat Sin-
san-ceng berarti mene mpuh bahaya besar, tapi tanpa masuk ke
sarang harimau cara bagaimana bisa mendapatkan anak harimau?
Tanpa mene mpuh bahaya, bagai-mana bisa berhasil dala m
penyelidikannya.
Sekarang baru kentongan pertama, belum saatnya dia bertindak.
pelan2 dia teguk secangkir teh, karena Waktu masih dini, dia
padamkan lentera la lu duduk samadi di atas pe mbaringan-
Kira2 setengah jam ke mudian, tiba2 didengarnya langkah cepat
tapi ringan mendatangi di luar pintu seperti takut diketahui orang,
setiap langkahnya bergerak sedemikian enteng dan hati2. Untung
Kun-gi me miliki Lwekang tinggi, kupingnya teramat tajam, kalau
orang biasa pasti tidak akan mendengarnya.
Kaget dan heran Kun-gi, orang ini bisa masuk ke pekarangan
tanpa diketahui olehnya, setelah orang merunduk dekat pintu baru
diketahui, ini me mbuktikan bahwa Ginkangnya sudah cukup tinggi.
Dia menyelundup ke pondok para tamu, langsung menuju ke ka mar
tidurnya ini, entah kawan atau lawan? Mungkin orang Coat Sin-san-
ceng? Atau orang dari luar?
Pada saat dia men-duga2 inilah orang itu sudah berada di depan
pintu ka marnya, berhenti, gerak-geriknya sangat hati2, ditunggu
sekian la ma dan ternyata keadaan tetap tenang2 saja.
Sudah tentu Kun-gi tidak berani gegabah, dengan sabar dia
menunggu perke mbangan. Ternyata orang di luar juga a mat sabar,
sudah sekian la manya tetap tidak menunjuk gerakan apa2, hanya
berdiri tenang tanpa bergerak.
Ling Kun-gi sudah mendengar suara napasnya yang lirih, tapi
karena orang tidak bergerak. maka dia tetap sa madi di atas ranjang,
tidak bergeming juga. Begitulah kira2 satu jam la manya, mendadak
Kun-gi yang duduk dikegelapan menyengir sendiri, ia tertawa tanpa
bersuara. ia tertawa karena maklum apa yang bakal terjadi. orang di
luar tetap tidak bergerak, tapi hidung Kun-gi sudah mengendus
semaca m bebauan yang semakin keras me menuhi ruang ka marnya.
Kiranya orang di luar tak bergerak karena mempersiapkan diri untuk
menggunakan Ngo- king- hoan- bun- hian, asap wangi yang
me mbius dan me mbuat orang mabuk.
Bicara soal mengguna kan obat bius, di kolong langit ini mana ada
yang bisa menandingi keluarga Un di Ling-la m, kantong sula m
pemberian Un Hoan- kun selalu tergantung di dadanya, obat khas
bikinan keluarganya tersimpan di dala m botol, khusus untuk
me munahkan segala maca m obat bius, lalu obat bius maca m apa
yang ditakuti Ling Kun-gi sekarang?. cuma hati kecilnya merasa
heran dan tak habis mengerti.
Bahwa orang di luar mengguna kan asap bius, tujuannya tentu
me mbius dirinya, lalu apa maksud tujuannya me mbius dirinya?
Maka pelan2 tanpa banyak mengeluarkan suara akhirnya dia
sengaja menjatuhkan diri, rebah miring. Ingin dia me mbuktikan
siapa yang membius dirinya? Apa pula muslihat di balik kejadian ini?
Untuk me mbongkar teka-teki ini, terpaksa dia harus pura2 terbius.
Bau wangi dala m ka mar sema kin tebal, kira2 sepere mpat jam
telah berkelang pula, di luar pintu ke mba li terdengar derap langkah
lirih mendatangi dan berhenti di depan pintu pula .Jelas ada orang
kedua yang baru datang, maka terdengar suaranya lirih bertanya:
"Sudah kau kerja kan?"
Pendatang pertama menjawab: "Sedang berlangsung."
Orang yang datang belakangan tertawa lirih: "Dia sudah teracun
oleh obat pembuyar Lwekang mereka, tenaganya paling2 tingga l
tiga puluh persen, kenapa kau bertindak begini hati2?"
"Tugas yang harus kita laksanakan harus berhasil pantang gagal,
mau tidak mau harus hati2," sahut orang pertama, setelah
merandek dia balas bertanya: "Urusan di dalam bagaima na, sudah
beres?"
Orang yang baru datang menjawab: "Sudah beres semua,
orangnyapun sudah kubawa ke mari, obat penawarnya juga sudah
kuperoleh, hanya tunggu urusan di sini selesai, kau boleh me mberi
obat penawarnya, supaya dia lekas bangun, setelah kau pergi,
paling2 mereka curiga bahwa kaulah yang me mbebaskan dia, pasti
takkan percaya adanya main tukar menukar yang kita la kukan ini."
Mereka ber-cakap2 dengan suara lirih di luar pintu, tapi Ling Kun-
gi jelas mendengar percakapan ini, ia bertambah bingung dan tak
habis mengerti.
Siapakah kiranya kedua orang yang berada di luar pintu? orang
pertama yang menebarkan asap wangi dari luar pintu, ternyata
pelayan yang diharuskan melayapi dirinya di Lan-wan, yaitu Ing jun.
Sedang yang datang belakangan adalah pelayan pribadi Hian-ih-lo-
sat, yaitu Giok-jin adanya. Dari percakapan ini Ling Kun-gi
berkesimpulan, se-olah2 mereka menolong seseorang lalu hendak
menukar orang itu dengan dirinya, me mangnya mereka bukan
sekomplotan dengan Cin-Cu-ling? Urusan agaknya berkembang
semakin ruwet. Supaya tidak mengecutkan pihak sana, Kun-gi
berkeputusan untuk mengikuti perke mbangan selanjurnya secara
dia m2.
Asap wangi masih tebal me menuhi ka mar tidur, pelan2 pintu
kamarnya di dongkel dari luar dan terbuka, yang menerobos masuk
lebih dulu adalah Ing-jun. Wajahnya yang biasa molek kini kelihatan
agak tegang, langkah kakinya begitu ringan tanpa mengeluarkan
suara, waktu dia sampai di depan pembaringan, melihat Kun-gi
rebah miring, mata terpejam, jelas sudah terbius. Rasa tegangnya
segera berubah senyum kemenangan, pelan2 dia mengulur tangan
me mba lik ke lopak mata Ling Kun-gi, dengan seksa ma dia
me meriksa sekian la manya.
Sudah tentu Kun-gi diam2 saja tanpa bergerak. terserah apa
yang akan dilakukan atas dirinya, tapi terasa olebnya jari2 Ing-jun
yang menyentuh mukanya rada gemetar, dia m2 ia ge li. Untunglah ia
berhasil menge labui Ing jun, gadis itu me mba lik badan serta berkata
ke arah pintu: "Bolehlah gotong dia masuk ke mari."
"Dia?" dia m2 Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, entah siapa yang
hendak digotong ke mari?
Maka orang di luar segera bertepuk pelahan dua kali, tapi di
ma la m nan sunyi ini kedengaran jelas dan nyaring, jelas Giok jin
yang bertepuk tangan-
Cepat sekali kerai tersingkap. dua pelayan baju hijau
menggotong seorang masuk ke dala m ka mar, Giok jin menurunkan
kerai, cepat iapun berlari masuk.
Dia m2 Kun-gi mengintip. ia melihat orang yang dipapah masuk
kedua pelayan ini ternyata adalah ciam liong Cu Bun-hoa yang asli.
Kedua matanya terpejam, badannya lunglai jelas iapun jatuh pulas
oleh asap wangi yang me mbius.
Hal ini betul2 me mbuat Ling Kun-gi kaget dan heran, batinnya
"Cu-cengcu menjadi tawanan Hian-ih-lo-sat dan dikurung di
paseban sana, mereka menolongnya keluar lalu mengirimnya
ke mari, apa sih sebetulnya tujuan mereka?"
Maka didengarnya Ing-jun berkata: "Waktu amat mendesak.
Giok-jin cici, kalian harus le kas berangkat." Dari bajunya dia
keluarkan segulung kertas putih, katanya sambil diangsurkan: "inilah
catatan resep obat yang dibuat oleh ling-hoa ci-ci, (pelayan yang
berkuasa di ka mar obat Hiat-ko-cay), tiga kali obat2an yang diambil
cu cengcu se mua dia catat di sini, simpanlah baik2 dan jangan
sampai hilang."
Kembali Kun-gi me mbatin: "Kiranya ling-hoa di ka mar obat itu
juga sekomplotan dengan mereka, jadi para gadis cantik mole k yang
bekerja di sini agaknya dari komplotan lain yang sengaja
menyelundup ke mari."
Giok-jin terima gulungan kertas terus menyimpannya, dia
me mberi tanda pada kedua pelayan, mereka menurunkan Cu Bun-
hoa, terus mengha mpiri pe mbaringan, dengan gerakan terlatih dan
cekatan mereka angkat Ling Kun-gi beserta kemulnya. Sementara
Ing-jun desak Giok-jin angkat Cu Bun-hoa dan dibaringkan di atas
ranjang.
Baru sekarang Kun-gi mengerti. Istilah tukar-menukar yang
diperbincangkan tadi kiranya menukar Cu Bun-hoa asli dengan
dirinya. Jadi mereka berani berbuat sejauh ini, kiranya juga lantaran
dirinya berhasil menawarkan getah beracun itu. Hal ini dapat
dibuktikan oleh tiga kali catatan Hing-hoa atas obat2an yang pernah
dia mbilnya, catatan itu kini berada di tangan Giok-jin dan akan
dibawa keluar. Lalu dengan cara apa pula mereka akan mengangkut
keluar dari sini? Hal ini lantas menimbulkan persoalan lain pula
dalam benaknya. Yaitu bagaimana dirinya harus bertindak? Terus
pura2 semaput, terserah apa yang hendak mereka lakukan atau
segera me mbongkar muslihat mere ka?
Otaknya bekerja cepat sekali, setelah dia timbang antara yang
berat dan enteng, dia rasa beberapa gadis pelayan molek pasti
adalah pion dari suatu komplotan lain yang sengaja diselundupkan
ke sini, mereka sudah tersebar luas dan menduduki berbagai posisi
di dala m Coat Sin-san-ceng ini. Ka lau sekarang dia dia m saja,
terserah apa yang hendak dilakukan mereka, ke mungkinan bisa
bertemu dengan dedengkot mereka, ke mungkinan pula bisa
sekaligus me mbikin terang asal-usul Cin-Cu-ling.
Mendadak ia teringat pada Cek Seng-jiang yang pernah
menyinggung na ma Sam-goan-hwe, mungkinkah gadis mole k ini
orang2 dari Sa m-goan-hwe? Maka dia berkeputusan me mbiarkan
dirinya digotong entah ke mana, yang terang dia akan "bertamasya"
menyerempet bahaya.
Waktu itu Ing-jun sudah keluarkan sebuah karung dari bawah
kasur, Giok jin me mbantu dia me mbuka mulut karung, dua pelayan
yang lain lantas angkat Kun-gi dan didorong ke dalam karung, mulut
karung lalu diikat.
"Kebetulan malah," de mikian pikir Kun-gi, "aku diangkut ke mari
dalam karung, kini diangkut keluar pula dengan cara yang sa ma."
Setelah mulut karung terikat kencang, dengan kuku jarinya Kun-
gi me mbuat lubang kecil di atas karung.
Terdengar Giok-jin berkata: "Kita harus segera berangkat, boleh
kau beri minum obat penawar padanya, setelah bangun tentu dia
tanya tempat apakah ini? Bagaimana bisa berada di sini? Ma ka
boleh kau katakan padanya bahwa Cu-cengcu yang tinggal di sini
yang menolongnya. Dia pasti tanya pula padamu ke manakah Cu-
cengcu yang tinggal di sini? Ma ka katakanlah bahwa setelah
menolong dia, Cu-cengcu yang tinggal di sini lantas keluar dan
suruh dia bersabar, kalau dia masih mengajukan pertanyaan lain,
katakan kau t idak tahu apa2"
Ing-jun mengangguk sa mbil menjawab: "Ya, Siaumoay ingat."
"Baiklah, mari kita berangkat," kata Giok-jin,
"Dengan me mbawa karung, entah cara bagai-mana mereka akan
keluar?" de mikian batin Ling Kun-gi sa mbil mengintip ke luar.
Tampak Ing-jun dan seorang lagi beranjak ke ujung dipan lalu
mengangkatnya ke samping, mereka me nyingkap babut lalu
menyongke l ke luar dua ubin, ma ka tampa klah sebuah lubang ge lap
di bawahnya. Ternyata di bawah pembaringan ada sebuah ja lan
rahasia di bawah tanah.
Giok-jin mendahului me lompat turun, lalu me mberi tanda kepada
kedua pelayan lain, le kas kedua pe layan gotong karung ke depan
mulut lubang, seorang me lorot turun ke dala m lubang, ing-jun
segera bantu mendorong karung masuk ke lubang itu.
Ternyata lorong bawah tanah ini terlalu sempit, mereka harus
berjalan dengan merangkak. jadi karung itu terpaksa harus ditarik
dan didorong pelan2 terus me luncur ke depan-
Begitulah Kun-gi telah diselundup keluar oleh mere ka..
Pada mala m itu juga, kira2 kentongan kedua, pada jalanan yang
tembus dari Liong- bun- kin menuju ke Say-hong-kiu, muncul
serombongan orang, ada pejalan kaki ada pula yang naik kuda,
jumlah ada dua puluh orang, duduk di atas kuda yang paling depan
adalah seorang berbadan tinggi beralis hita m bermata cekung,
usianya sekitar 50-an, mengenakan jubah biru, sikapnya kelihatan
kereng dan sedikit dingin angkuh,
Di bela kangnya adalah delapan laki2 ke kar berlangkah ce katan,
kepala terikat kain biru, pakaian-pun serba biru ketat, golok besar
terpanggul dipunggung mereka. Menyusul tiga ekor kuda bagus,
yang depan ditunggangi seorang pe muda ca kap berjubah sutera
biru, di belakangnya adalah dua ekor kuda yang ditunggangi dua
gadis rupawan, yang sebelah kanan berperawakan ramping
sema mpai, dan mengena kan pakaian ungu ketat berikat pinggang
merah. Gadis sebelah kiri bertubuh agak pendek tapi cekatan dan
lincah, berpakaian serba coklat.
Di be lakang tiga ekor kuda ini adalah sebuah tandu yang dipikul
empat laki2. Di belakang tandu diiringi delapan ekor kuda pula,
penunggangnya semua berseragam hitam, berikat kepala kain hita m
pula, tapi semua penunggangnya adalah perempuan yang
menggendong pedang. Usia mere ka rata2 sudah lebih dari e mpat
puluh, kantong besar tergantung di pinggang masing2, tangan kiri
semua me makai sarung tangan terbuat dari kulit menjangan,
selintas pandang sudah je las bahwa mereka ahli mengguna kan
senjata beracun.
Rombongan cukup besar ini mene mpuh perja lanan dengan
langkah cepat, walau mala m gelap dan sunyi senyap kecuali suara
derap kuda, rombongan mereka la ksana seekor naga panjang hitam
yang menyusur ja lan pegunungan-
Kira2 setengah li mereka keluar dari Liong-bun-kiu, mendadak
dari hutan sebelah kiri berkumandang sebuah bentakan: "Langit
mencipta bumi merancang."
Laki2 paling depan yang menunggang kuda mendengus keras2,
hardiknya: "Wakil langit mengadakan ronda."
Pertanyaan tanpa juntrungnya, jawaban singkat tidak menentu
artinya. Tapi wibawa dari jawaban ini sungguh t idak terduga, ma ka
tampaklah bayangan orang bergerak. di dala m hutan puluhan laki2
berpakaian hita m berlari2 keluar la lu berbaris rapi di pinggir jalan,
mereka berdiri tegak hormat tanpa bergerak.
Seorang laki2 yang mengepala i barisan ini segera ta mpil ke
depan me mberi sala m hormat kepada kake k berjubah biru di atas
kuda: "Ha mba Kwe cit-lung t idak tahu bahwa Thian-su telah tiba . ."
Dingin kaku sikap laki2 jubah biru, tiba2 dia me mberi tanda
gerakan tangan ke belakang. Delapan Busu di belakangnya
serempak mengayun tangan kanan ke udara. Di tengah malam yang
gelap pekat itu, kecuali terlihat gerakan tangan mereka, tiada apa2
yang kelihatan lagi, tapi hanya sekejap saja, terdengarlah suara
gedebukan yang ra mai diselingi percikan api warna biru di depan
hutan, kembang api hanya berpercik sekilas lenyap. tapi puluhan
laki2 yang berbaris rapi di depan hutan di pinggir ja lan itu satu
persatu sama terjungka l roboh tanpa mengeluarkan keluhan apa2.
Kakek berjubah biru itu tida k hiraukan lagi mati hidup mereka,
ke mbali ia me mberi tanda ke belakang, lalu keprak kudanya
kedepan- Kedelapan Busu seraga m biru dibela kangnya serempa k
juga me mberi ulapan tangan ke belakang, mereka juga kepra k
kuda mengikuti langkah kakek, jubah biru.
Begitulah rombongan mereka laksana seekor naga hitam yang
me lingkar2 mene mpuh perjalanan dijalan pegunungan yang turun
naik berputar kian ke mari.Jarak antara Liong-bun-kin dengan Say-
hong kiu kira2 ada 20 an li, sepanjang jalan beruntun mereka
dicegat tujuh-delapan pos penjagaan, tapi semuanya dengan mudah
dibereskan oleh kedelapan Busu seraga m biru, semuanya roboh
binasa tersapu oleh percikan kembang api warna biru yang ganas,
sampaipun mayat dan tulang belulang merekapun lenyap menjadi
cairan darah. Maka dengan leluasa rombongan ini terus maju
menuju ke Say-hong-kiu.
Tampak dari kejauhan sebuah perka mpungan besar berdiri di
kaki sebuah gunung yang terletak di sebelah utara, perkampungan
ini berada di tanah datar yang dikelilingi gunung. Ma la m pekat, tak
terlihat setitik sinar api, tak terdengar gerakan apa2 pula dari
perkampungan besar itu.
Besar perhatian si kakek jubah biru yang berada di atas kudanya
terhadap perkampungan di depan sana, tiba2 ia angkat tangan ke
balakang, itu tanda barisan di belakang harus berhenti, tanpa
bersuara rombongan lantas berhenti di depan hutan.
Gadis lincah baju cokelat yang duduk di kuda sebelah kiri segera
keprak kudanya ke depan, tanyanya pada kakek jubah biru: "Pa-
congkoan, bagaimana keadaannya?"
Si kake k berjubah biru menggeleng dan berkala, "Tiada apa2,
cuma gelagatnya jejak kita sudah diketahui mere ka, la mpu dala m
perkampungan dipada mkan se mua, tidak menunjuk gerakan apa2
lagi, jelas mereka sudah bersiap menyambut kedatangan kita."
Nona baju ungu juga keprak kudanya ke depan, katanya sambil
mencibir bibir: "Me mangnya kenapa kalau sudah bersiap2. Kita toh
tidak akan main sergap. hayolah hadapilah secara terang2an saja."
Tengah bicara tandu yang di belakang, itupun tiba di depan
hutan, terdengar suara serak nyonya tua berkata dari dalam tandu:
"Pa congkoan, kenapa berhenti di sini?"
Ter-sipu2 kakek, jubah biru menjura di atas kudanya, sahutnya:
"Maklum Hujin, di dala m perka mpungan t iada na mpak sinar api,
mungkin mereka sudah ber-siap2, ha mba kira kita jangan bergerak
secara serampangan."
Nona baju ungu segera bicara, "Bu, kita kan henda k berhadapan
secara terang2an, tunggu apa lagi?"
Pemuda yang berjubah sutera tertawa, katanya: "Watak adik
me mang berangasan, meski kita akan berhadapan terang2an, paling
tidak harus tahu dulu gelagat dan keadaan mereka."
Nyonya tua dalam tandu tersenyum, katanya: "Kedua budak ini
me mang t idak sabaran, setiba di tempat tujuan, mana mereka ma u
menunggu lagi? Pa-congkoan-, sampaikan kartu na maku, suruhlah
majikan mere ka ke luar mene muiku."
Kakek jubah biru mengia kan, segera dia keprak kudanya ke
depan- Delapan Busu di belakangnya serempak juga me mbeda l
kuda masing2 me ngikuti langkahnya. Sembilan kuda sa ma-2
berderap ramai, mereka me lewati lapangan rumput terus menuju ke
depan perka mpungan, ketika Ka kek jubah biru tarik tali kenda li,
kuda tunggangannya yang me mang pilihan dan terlatih baik segera
berhenti tak bergerak lagi. Delapan Busu pengiringnya juga segera
menghentikan kuda mereka serta melompat turun berdiri berbaris di
belakang Kakek jubah biru.
Mala m gelap dan sunyi senyap. sudah tentu derap kesembilan
kuda itu menerbitkan suara yang gaduh dan ramai, uaranya
berkumandang sampa i beberapa li jauhnya, setiba di depan
perkampungan serentak berhenti maka keheningan ke mbah
mence ka m ala m nan ge lap gulita ini.
Seyogyanya penghuni perka mpungan ini mendengar kedatangan
kuda2 yang ramai ini, tapi suasana tetap sepi tak kelihatan reaksi
apa2. Berkilat biji mata Ka kek jubah biru, dia terke keh dingin,
katanya sambil angkat tangan kiri: "Maju dan ketok pintu."
Seorang di antara ke delapan Busu mengiakan dan ta mpil ke
depan, dengan keras dia gebrakan gelang tembaga di atas pintu
sambil berteriak keras2 "Hai, ada orang tidak di dala m?"
Sesaat lamanya baru terdengar suara serak lemah bertanya di
dalam: "Siapa di luar? Tengah ma la m buta ma in gedor segala?"
Suara orang ini seperti acuh tak acuh dan kemalas2an, pelan2 dia
buka palang pintu serta menarik daun pintu, tampak seorang laki2
tua bungkuk, tangan menenteng sebuah la mpu dan diangkat tinggi
ke atas.
Sinar la mpu me nyoroti Kakek jubah biru yang bertengger di atas
kudanya, demikian pula kedelapan Busu di be lakang si tua bungkuk
tampak bergidik, serunya gelagapan: "Toa . . . . . Toaya ...... kalian
ada ........ ada keperluan apa, aku si tua reyot .... ..hanya penjaga
pintu bela ka."
Ternyata dia kira kawanan penunggang kuda ini adalah
perampok.
Tajam sinar mata Kakek jubah biru menatap si tua bungkuk,
katanya menyeringai dingin: "Tua bangka, lekas laporkan, katakan
Tong-lohujin dari keluarga Tong di Sujwan minta berte mu majikan-"
Ternyata orang yang naik tandu itu adalah Tong-lohujin, yang
mengiring kedatangannya ada Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing
kakak beradik, demikian pula Pui Ji-ping yang me mbawa mereka
ke mari. Sementara kakek tua jubah biru adalah congkoan keluarga
Tong, yaitu Pa Thian-gi.
Si tua kucek2 matanya, katanya sambil meng-geleng: "Toaya
mungkin kesasar atau salah ala mat, tempat ini hanya rumah
istirahat cengcu ka mi, biasanya cengcu tinggal di kota,
perkampungan ini sekarang kosong tanpa penghuni, kecuali aku si
tua bangka ini, tiada orang lain-"
Sejenak Pa Thian-gi me lenggong, melihat punggung orang yang
bungkuk serta gerak-geriknya yang le mah me mang mirip seorang
tidak mahir silat, ma ka dia bertanya: "Siapa she cengcumu itu?"
"cengcu ka mi she Cek." sahut si tua bungkuk.
"Siapa na manya?" tanya Pa Thian-gi.
"Beliau bernama Seng-jiang, seorang Wang we (hartawan) di
dusun ini, sudah cukup bukan?" Ha-bis bicara, tanpa menunggu
jawaban Pa Thian-gi, dia putar tubuh terus gabrukan daun pintu
dengan keras. Mungkin hatinya dongkol sehingga si tua bungkuk ini
lupa diri, gerakan kakinya tampak gesit dan cekatan-
Sebagai congkoan keluarga Tong, betapa tajam pandangan Pa
Thian-gi, walau hanya sedikit gerakan yang tak berarti, namun tak
lepas dari penglihatannya. Seketika mencorong biji matanya,
bentaknya dengan suara keras: "Nanti dulu, tua bangka h. . . ." Tapi
si tua bungkuk sudah tutup pintu, tidak pedulikan seruannya lagi.
Lenyap kumandang bentakan pa Thian-gi, mendadak terdengar
gelak tawa seorang yang keras seperti gembreng ditabuh. "Sudah
la ma Lohu dengar na ma besar keluarga Tong yang terkenal, kalian
sudah ke mari, biar Lohu mohon pengajaran dari kalian." Suaranya
keras bergema, kuping sa mpai me ndengung:
Lekas Pui Ji-ping lari mende kati tandu, katanya lirih. "Bu, itulah
Thong-pi-thian-ang, "
Ramah suara Tang-lohujin di dala m tandu, katanya tertawa:
"Nak, tiada urusanmu, mereka bisa me mbereskan dia." Bahwa
keluarga Tong berani me luruk kesarang harimau, sudah tentu
mereka telah siap tempur.
Dari sebuah jalan kecil di sebelah kiri sana muncul seorang gede
berjubah kuning kela m, wajahnya yang kela m na mpak mengkilap.
dia me mang La m-kiang-it-ki Thong-pi-thian-ong adanya. Di
belakangnya muncul pula ena m laki2 seraga m hita m, dengan
kerudung kepala hitam pula.
Thong-pi-thian-ong me ma kai sepasang tekle k yang terbuat dari
tembaga, tapi langkahnya tetap enteng dan cepat, keenam orang di
belakangnya ternyata juga me miliki kepandaian tinggi, mereka ikut
ketat di belakang Thong- pi-thian-ong, selangkah-pun tida k
ketinggalan-
Maklumlah La m-kiang it ki, si aneh dari daerah selatan berjuluk
raja langit berlengan tembaga ini biasanya malang melintang di
daerah selatan, betapa tinggi taraf kepandaian silatnya jarang ada
tandingannya di ka langan Kangouw. Tapi e mpat di antara ena m
laki2 baju hita m di bela kangnya jelas me miliki kepandaian yang
tidak lebih rendah dari taraf kepandaian Thong- pi-thian-ong. Hal ini
dapat dibuktikan dari gerak-gerik mere ka.
Bahwa Pa Thian-gi diangkat sebagai cong-koan keluarga Tong,
sudah tentu dia me miliki pengala man dan pengetahuan yang cukup
luas, dia m2 ia kaget. namun tidak gentar, lekas dia me mberi tanda
ke belakang. . kedelapan Busu dibelakangnya segera tarik tali
kendali kuda masing2 terus berpencar menga mbil posisi suatu
barisan.
Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, wak-tu Thong-pi thian-
ong muncul, jaraknya masih sekitar 10 an tombak, tapi baru saja Pa
Thian-gi me mberi tanda kebelakang, tahu2 orang sudah berada di
depan Pa Thian-gi, terdengar suaranya keras bergenta: "Kau pernah
apa dengan keluarga Tong di Sujwan?"
Pa Thian-gi me mberi hormat, katanya. "cay-he Pa Thian gi,
pejabat congkoan keluarga Tong, entah siapa nama julukan tuan?"
Sudah tahu tapi dia sengaja bertanya.
Tong pi-thian-ong terbahak, katanya: "Sebagai congkoan
keluarga Tong, masakah siapa a ku kau tida k tahu?"
Pa Thian-gi menjura pula, katanya setengah mengejek: "cayhe
me mang kurang pengala man?"
Mendelik bundar mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya gusar: "Aku
Thong Ji-hay berjuluk Thong-pi-thian-ong, di mana Lohujin ka lian,
suruh dia ke mari menjawab pertanyaanku."
Pa Thian-gi pura2 kaget, serunya: "o, kiranya Thong-toaya, maaf
cayhe kurang hormat, Lohujin ada di luar hutan, biar cayhe segera
lapor kepada be liau."
Terdengar suara Tong lohujin berkata di kejauhan "Tak usahlah,
undanglah Thong Ji hay ke-mari saja."
Maka Pa Thian-gi me mbungkuk, katanya: "Lo-hujin mengundang
Thong-thian-ong."
Bagai ke milau obor sorot mata Thong-pi-thian-ong, sekilas dia
menyapu pandang kede lapan Busu yang terpencar itu, dari
kedudukan mereka terang sudah mengatur barisan Pat-kwa,
wajahnya yang kelam mengkilap me na mpilkan senyum hina, kata-
nya tertawa ejek: "Barisan seperti ini juga berani dipamerkan,
me mangnya ma mpu mengurung Lohu?"
"Thong-thian ong tidak pandang barisan ini dengan sebelah
mata, boleh silakan masuk saja ke da la mnya," tantang Pa Thian-gi.
"Masuk ya masuk-" jengek Thong-pi-thian-ong, "Lohu ingin
buktikan kalian dapat berbuat apa atas diriku?" Dengan langkah
lebar segera dia beranjak ke depan sudah tentu enam orang di
belakangnya serempak ikut me langkah maju pula.
Terkulum senyuman riang pada wajah Pa Thian-gi, dia putar
kudanya ikut di belakang mereka. Ke delapan Busu tadi mendadak
saling berlompatan, golok terhunus, mereka berdiri tegak di atas
pelana kuda. Kuda mereka me mang sudah terlatih baik, tanpa
dikendalikan, posisi barisan tetap tidak berubah, pelan mereka
merubung maju dari jarak beberapa tombak mengikuti langkah
Thong-pi thian-ong.
Sementara itu, delapan perempuan yang ber-gelung kain yang
semula berjajar di belakang tandu sekarang juga keprak kudanya
berpencar mengelilingi tandu. Seperti delapan Busu laki2,
merekapun menga mbil posisi berpencar, dala m jarak tiga tombak.
berkeliling mengatur barisan Pat-kwa-tin dan siap menghadapi
segala ke mungkinan. Sa ma2 Pat-kwa-tin, cuma barisan kaum
perempuan lebih kecil dari kedelapan Busu pria, jadi barisan
kedelapan Busu perempuan berada dilingkaran dala m, sedang
barisan kedelapan Busu pria berada di ka langan luar. Maka
terciptalah barisan Pat- kwa lapis dua.
Thong-pi-thian-ong terlalu takabur, tiada musuh berarti yang
terpandang olehnya, sudah tentu musuh2 di depan ini dianggapnya
tidak berarti. Dengan langkah lebar dia mengha mpiri, ena m orang
baju hitam di belakangnya mengikuti dengan ketat. tatkala mereka
me masuki lingkaran Pat-kwa-tin kecil, tandu itu tiba2 terangkat ke
atas, dari sebelah kiri muncul seekor kuda, penunggangnya pemuda
berjubah sutera biru, itulah Tong Siau-khing yang menyoreng
pedang.
Keadaan sudah memuncak tegang, tak terduga tiba2 Thong-pi
thian-ong bertujuh sama2 tersungkur roboh tanpa bersuara. Dari
dalam tandu terdengar Tong-lohujin berkata: "Pa congkoan, lekas
beri obat penawar kepada mere ka, ingat, jiwa harus dipertahankan."
Lalu dia berpesan kepada delapan Busu pere mpuan: "Sekarang
kalian yang me mbuka jalan, tak peduli siapa saja yang kesamplok
dengan kalian, bikin mereka roboh keracunan-"
Sementara itu, Pa Thian-gi sudah suruh kedelapan Busu pria
menggusur Thong-pi-thian-ong bertujuh.
Kedelapan Busu pere mpuan segera kepra k kuda mere ka
menerjang ke depan pintu gerbang perkam-pungan besar. Tong
Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping mengiring di sa mping
tandu, mereka berhenti di depan pintu gerbang.
Delapan Busu pere mpuan sudah lompat turun dan berdiri di
undakan, lekas Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping
juga melompat turun-
Dua pelayan yang mengikuti tandu segera maju menyingkap
kerai tandu, dengan berpegang tongkat berkepala burung Hong
warna emas Tong-lo-hujin me langkah ke luar, katanya sambil
menuding, dengan tongkat: "Gempur pintu, tak perlu kita sungkan
lagi terhadap mereka."
Begitu perintah dike luarkan, tampak seorang Busu pere mpuan
paling depan lantas mengayun tangan, dari telapak tangannya
me luncur setitik bayangan hitam langsung menerjang daun pintu
gerbang yang keras dan tebal berpaku baja.
"Blang," terjadilah ledakan keras, di tengah ledakan dan percikan
api serta ber-gulung2nya asap dan debu, daun pintu gerbang yang
kokoh kuat itu hancur ber-keping2.
Pui Ji-ping melelet kaget, katanya heran: "Bun-khing cici, senjata
rahasia apakah itu? Begitu hebat kekuatannya."
"Entahlah," sahut Tong Bun-khing, "a ku juga tidak tahu."
Dengan tersenyum Tong-lohujin berkata: "Itu-lah Pik-lik-cu
ciptaan Hwe-sin (malaikat api) Lo Hoan, dulu dia terkena senjata
rahasia musuh yang beracun, untung bersua dengan ayah Siau-
khing ma ka jiwanya tertolong, dia me mberi de lapan butir granat
tangan (Pik-lik-cu) itu, tak kira hari ini kita bisa menggunakannya."
Habis berkata segera dia me mberi aba2: "Hayo kita masuk"
Delapan Busu pere mpuan sudah melolos pedang mereka yang
ke milau tajam dan berpencar menjadi dua barisan, mereka
mendahului menerjang masuk pintu. Dua pelayan perempuan
menenteng la mplion me mbuka jalan di depan Tong-lohujin yang
me megang tongkat kepala burung Hong, Siau-khing, Bun-khing dan
Pui Ji ping meng-iringi di sebelah belakang.
Tiba di pintu kedua, ta mpak si tua bungkuk tadi sa mbil
menenteng la mpion berlari2 ke luar dengan napas ngos2an,
teriaknya marah2: "Kalian ini me mangnya mau berbuat apa?"
Busu pere mpuan paling depan segera me mbentak: "Minggir"
Tangan kiri segera terayun ke depan.
Si tua bungkuk ini jalannya tampak se mpoyongan, sudah reyot
dan loyo, tapi melihat tangan yang menyerang ini mengena kan
sarung tangan kulit menjangan, seketika mendelik kaget dan
berubah air mukanya, sebat sekali dia me lejit mundur. Gerakan
refleks ini justru me mbongkar kepura2annya, bukan saja dia pandai
silat, malah tarap kepandaiannya cukup tinggi, Tapi dia hanya
me lejit mundur tujuh kaki, tahu2 iapun roboh terkapar tak bangun
lagi.
Maklumlah, Thong-pi-thian-ong yang berkepandaian setinggi
itupun tahu2 roboh tanpa suara, betapapun tinggi kepandaian si tua
bungkuk ini takkan lebih tinggi daripada si gede itu.
Kiranya keluarga Tong kali ini sudah bersiap dengan segala bekal
ke ma mpuannya untuk me luruk ke mari, Tong-bun-bu-sing-san
warisan keluarga Tong sudah ratusan tahun sejak nenek moyang
mereka tak pernah diguna kan di Kangouw, hari ini telah
menunjukkan kehebatannya. Bu-sing-san merupakan obat beracun
paling ganas milik ke luarga Tong, puyer ini tanpa warna tida k
berbentuk, kena angin lantas sirna, tidak berbau lagi, dalam jarak
setombak. siapa saja asal mencium puyer racun ini pasti terjungka l
semaput, dala m jangka se masakan nasi, kalau tidak diberi obat,
korban akan mat i keracunan-
Me masuki pintu kedua, mereka tiba di sebuah halaman yang
luas, sebelah depan adalah sebuah bangsal besar. Apa yang
dikatakan si tua bungkuk tadi me mang tida k bohong,
perkampungan sebesar ini, ternyata keadaan sepi lengang, tak
tampak bayangan seorangpun.
Tangan kanan pegang pedang, se mentara tangan kiri Pui Ji-ping
me megang panah jepretannya dara langsung berlari ke dala m sana,
Tong Bun-khing tidak mau ketinggalan, bersama Ji-ping iapun
menerjang ke dala m. Kuatir kedua gadis ini mengala mi bahaya,
lekas Tong Siau-khing menyusul masuk.
Diiringi pelayan pribadinya yang menenteng lampion, pelan2
Tong-lohujin masuk ke bangsat besar itu, alisnya bertaut kencang,
katanya: "Kalian budak kasar ini, jangan kira tempat ini seperti
rumah sendiri, tanpa siaga main terjang, kalau ada perangkap di
sini, jiwa ka lian pasti terancam. "
Ji-ping cekikikan, katanya nakal: "Kau tak usah kuatir Bu, kalau
ada musuh di sini, tentu sejak tadi sudah kubereskan mereka."
Tengah bicara, Pa Thian-gi buru2 masuk. dan berkata kepada
Tong-lohujin- "Lapor Lohujin, tujuh orang yang kita tawan,
semuanya bukan musuh."
"Bukan musuh, me mangnya siapa mereka?" tanya Tong-lohujin,
"Kecuali Thong-pi thian-ong, ena m orang berkerudung itu di
antaranya ada Lo-cit . . . . . . "
"Lo cit?" seru Tong- Lohujin, "ma ksudmu di- antara enam orang
itu ada juga Lo-cit? Lalu siapa kelima orang yang lain?"
"Yang ha mba kenal adalah Kim Ting Kim Kay-thay, ciangbunjin
murid2 pre man Siau-lim-pay, Un It-kiau orang kedua dari keluarga
Un di Ling- la m, Kim-hoan siang- coat Siau Hong-kang, Locengcu
dari keluarga siau di La m-siang, masih ada dua pemuda, mungkin
anak murid mereka."
Terkesiap Tong-lohujin, katanya gemas: "Jahat betul akal keji
mereka, jelas mereka menggunakan para tawanan untuk
mengge mpur kita sehingga orang sendiri saling bunuh me mbunuh,
untunglah telah kita gagalkan ma ksud keji ini." Lalu ia bertanya:
"Mana mereka? Apakah se mua sudah siuman?"
"Belum," sahut Pa Thian-gi, "agaknya mereka terbius oleh
semaca m obat2an sehingga kesadaran mereka terpengaruh, kawan
atau lawan tak terbeda lagi, sampai sekarang mereka belum sadar
seluruhnya......."
"Ya, sementara ini biarlah mereka dala m keadaan kurang sadar
saja." ujar Tong -lohujin "Pa-congkoan, bawa saja mereka ke
bangsal ini, kita harus geledah dulu perka mpungan besar ini."
Pa Thian-gi mengia kan, segera dia pimpin ke delapan Busu pria
menggotong Thong-pi-thian-ong bertujuh ke sini. Kerudung hita m
mereka sudah di-tanggalkan- Pui Ji-ping kenal satu di antaranya,
yaitu pemuda berpakaian ketat warna hijau, yaitu putera Kiam-
hoan-siang-coat Siau Hong-kang yang bernama Kim-hoan-liok-long
Siau Kijing.
Tong-lohujin berpesan kepada Pa Thian-gi dan enam Busu
perempuan "Kalian berpencar dan adakan pemeriksaan, siapa saja
yang kesamplok boleh kalian turun tangan lebih dulu, ka lau
mene mukan apa2 henda klah me mberi tanda suitan, lekas kerjakan"
Pa Thian-gi mengiakan, kede lapan Busu pere mpuan ini biasanya
bertugas dibagian belakang, jadi tidak di bawah pimpinannya, maka
dia menjura kepada mereka, katanya: "Kita berpencar dari kiri dan
kanan saja, kami bergerak dari kiri, silakan Han-koh bergerak dari
kanan, kita bertemu di bela kang."
Han-koh adalah pe mimpin ke delapan Busu pere mpuan, dia
manggut2, katanya: "Petunjuk Pa-congkoan me mang tepat, baiklah
kita bekerja menurut petunjukmu." - Maka dua rombongan orang ini
segera mela kukan tugas masing2.
Setelah orang banyak keluar, dia m2 Tong Bun-khing me mberi
kedipan mata kepada Pui Ji-ping serta angkat dagu ke arah ibunya
Ji ping manggut2, dia tahu maksud orang, katanya sambil
mende kati Tong-lohujin- "Bu, bersa ma Bun-khing cici biarlah ka mi
juga me meriksa di luar."
"Kalian dua buda k ini me mang suka bertingkah, kita datang
terang2an, kini menduduki bangsal ini, musuh tetap
menye mbunyikan diri tanpa menunjuk reaksi apa2, bahwa mereka
ma mpu me mbekuk tokoh2 kosen itu, tentu bukan se mbarang
manusia, belum tentu mereka gentar terhadap kita, sekarang kita di
tempat terang, maka jangan kalian mencari kesulitan-" Lalu dia
tuding ke luar serta mena mbahkan: "Lihatlah, seorang diri Toakomu
berjaga2 di sana, lekaslah kalian bantu dia saja."
"Eh, me mang begitulah ma ksud ka mi," kata Ji-ping ale man-
Belum habis mere ka bercakap. Tong Siau-khing yang berdiri di
undakan mendadak menghardik. "Siapa itu?"
Tong Bun-khing tarik tangan Ji-ping, serunya: "Dik, lekas keluar."
cepat mereka berkelebat ke luar sana.
Terdengar sabda Buddha berkumandang di luar pintu kedua.
Maka muncullah tiga pederi tua berjubah abu2, me megang tongkat
besi besar, dengan langkah lebar mere ka me masuki pintu kedua.
Mata Ji-ping cukup jeli, selintas dia sudah kenal satu di antara
ketiga paderi yang berjalan ditengah, bertubuh kurus pendek adalah
Ling-san Taysu, kepala Bun-cu-wan Siau-lim-s i yang pernah ber-sua
di Liong-bun-kiu tempo hari, dengan girang segera dia berseru,
"Tong- toako, mereka adalah para paderi agung Siau-lim."
Menyusul di belakang ketiga paderi adalah sebarisan panjang
para paderi siau-lim-si yang mengena kan sepatu rumput. semuanya
me megang pentung besi atau golok besar, dengan langkah lebar
dan rapi masuk ke dala m.
Melihat Ji-ping, lekas Ling-san Taysu merangkap tangan,
katanya: "Omitohud, Li sicu sudah ber-ada di sini, tentunya Tong-
lohujin juga sudah tiba?"
Tong Siau-khing me mberi hormat, katanya: "Wanpwe Tong Siau-
khing, ibu berada di bangsal sana, silakan masuk para Taysu."
"o, kiranya Tong-siaucengcu," kata Ling-san Taysu, "Pinceng
Ling-san, pejabat ketua Bun-cu-wan di Siau-lim-s i."
Lalu dia perkenalkan Hwesio berbadan besar di sebelah kiri yaitu
Poh-san Taysu kepala dari Lo-han-tong Hwesio berperawakan
sedang di sebelah kanan ialah Tin-san Taysu, ketua Tat-mo wan.
Tong Siau-khing menjura berulang kali, lalu dia iringi ketiga
paderi tua itu memasuki bangsal itu. Mendengar tiga paderi agung
Siau-lim-si juga datang, lekas Tong-lohujin keluar menya mbutnya,
kini giliran Tong Siau-khing yang perkenalkan ke-tiga Hwesio sakt i
itu kepada ibunya.
Tengah bicara, dari luar ta mpa k masuk seorang laki2 tua kecil
berbaju lengan panjang warna hijau bercelana kencang, sepatu
tinggi, pipa cang-klong tergantung di pinggangnya, di belakangnya
ikut tiga laki2 kekar berbaju hijau pula.
Begitu dekat laki2 tua baju hijau lantas menjura kepada Ling-san
Taysu, katanya: "Siaute su-dah periksa sekeliling sini,
perkampungan ini di bangun me mbe lakangi gunung, paling
belakang adalah sebuah pagar tembok tinggi lima tomba k, di sana
agak luar biasa, di luar tembok ma lah di tumbuhi se mak2 berduri
yang subur dan lebat, orang tak mungkin bisa mende kat, kecuali itu
tiada tanda lain yang mencurigakan, tiada pos penjagaan yang
dipasang secara rahasia."
Ling-san Taysu manggut2, katanya: "Malam itu dengan mata
Lolap sendiri menyaksikan pere mpuan yang mena makan dirinya
Thian-su me mbawa Thong-pi-thian-ong dan lain2 masuk ke
perkampungan ini . . . . " sa mpai di sini dia merandek lalu berkata
pula: "oh Sute, mari kuperkena lkan, inilah Tong-lohujin dari
keluarga Tong di Sujwan." Lalu dia berkata juga kepada Tong-
"lohujin- Inilah suteku Oh Siok-ha m te man2 Bu-lim sa ma
menjulukinya To-pi-wan (lutung banyak lengan)."
Tong-lohujin tertawa, katanya: "Sudah lama kudengar na ma
besar oh-tayhiap. beruntung mala m ini bisa berte mu"
Lekas oh Siok ha m menjawab: "Tidak berani. sudah sekian tahun
aku tidak berkecimpung lagi di Kangouw."
Poh-san Taysu, ketua Lo-han-tong menimbrung: "Sepanjang
jalan me masuki perka mpungan ini apakah Lohujin t idak me ngala mi
rintangan dan sergapan?
Kata Tong lohujin dengan tersenyum: "Dari Liong-bun-kiu
me mang beberapa kali pernah bertemu dengan penjaga2 gelap.
setelah tanya jawab berlangsung, semuanya dibereskan oleh Pa-
congkoan, tapi setelah tiba di sini, mendadak muncul Thong-pi-
thian-ong me mbawa enam cs yang berkerudung, terpaksa mereka
kurobohkan, akhirnya baru diketahui bahwa ena m orang
berkerudung itu adalah orang2 kita sendiri, di antaranya ada Locit
dari keluarga ka mi, Kim Ting Kim-loyacu dari Siau-lim kalian dan
lain2."
Dia m2 terkejut Ling-san Taysu bahwa tokoh2 ternama itu kini
menjadi tawanan Tong- lohujin, katanya: "Keluarga Tong di Sujwan
me mang kena maan dengan obat beracun, bahwa Kim-sute dan
lain2 dapat ditundukkan, tentunya terkena senjata rahasia beracun
kalian-"
Bergetar badan oh Siok-ha m, tanyanya: "Di mana mereka
sekarang?"
Maklumlah Kim Ting Kim Kay thay adalah ciangbunjin murid2
preman Siau-lim-pay, bahwa sekarang dia menjadi tawanan Tong-
lohujin, hal ini menurunkan derajat dan pa mor piha k Siau-lim-pay.
Tong-lohujin tertawa ramah, katanya sambil menuding ke bawah
dinding sebelah barat, "Mereka rebah semua dilantai sana, cuma
sekarang jangan kita mengganggu mereka."
"Kenapa?" tanya oh Siok-ha m.
"Agaknya pikiran mere ka terpengaruh oleh se maca m obat bius,
tidak bisa me mbedakan kawan atau lawan, agaknya musuh
me mang sengaja mengatur muslihat keji ini supaya pihak kita saling
baku hantam sendiri, oleh karena itu terpaksa ku-turun tangan
merobohkan mereka, sementara mereka masih harus istirahat, tapi
oh-tayhiap tidak usah kuatir, dala m menggunakan racun sudah ku-
perhitungkan mere ka tidak akan ce laka karenanya."
"Siancay Siancay" sabda Ling san Taysu. "Mala m itu Lolap
sakslkan sendiri da la m beberapa kejap saja tahu2 Cu-cengcu sudah
kena dikerja i oleh pere mpuan yang dipanggil Thian-su itu, tentunya
kesadarannya juga telah terpengaruh, golongan kalian ahli dala m
menggunakan racun, apakah punya obat penawar untuk
menye mbuhkan orang2 yang kehilangan kesadarannya itu?"
"Harap Taysu tahu, setiap aliran punya cara tersendiri dalam
menggunakan obat pelenyap kesadaran orang, kalau salah paka i
obat penawar, malah bisa menimbulkan bahaya bagi sang korban,
kalau tida k diada kan pe meriksaan seksa ma, sukar ditentukan kadar
racun apa yang mereka gunakan, oleh karena itu sementara
kubiarkan mereka jatuh pulas dulu."
Tiba2 derap langkah ra mai me ndatangi. cong-koan Pa Thian-gi
tampak masuk- me lihat banyak tamu2 Hwesio di dala m, sekilas dia
me lengak heran-
"Pa- congkoan," tanya Tong-lohujin, "bagaimana hasil
pemeriksaanmu? Apa betul gedung sebesar ini tanpa penghuni?"
Pa Thian gi menjura, katanya: "Lapor Lohujin, perka mpungan ini
terdiri dari empat lapis bangunan, bersama IHan koh hamba
mengadakan pe meriksaan, di mana2 debu bertumpuk tebal,
agaknya me mang sudah la ma tidak dite mpati orang."
Belum Tong lohujin bicara, Ling san Taysu sudah mengerut a lis,
selanya: "Kukira tak mungkin? Tiga hari yang lalu Lolap menguntit
rombongan pere mpuan itu naik tandu masuk ke perka mpungann ini.
sarang mereka jelas di perka mpungan ini ........."
Belum habis dia bicara, mendadak kupingnya mendengar suara
lirih seperti bunyi nya muk me mbentak: "Hwesio cilik, sa mbutlah."
"Serrr", serangkum angin kencang t iba2 menerjang tengkuknya.
Keruan Ling-san kaget, lekas dia menunduk miring seraya ulur
tangan menyambut ke belakang Me mang tangannya berhasil
menangkap sesuatu tapi dorongan tenaga besar itu me mbuat
berdirinya menjadi goyah, tanpa kuasa dia terdorong maju dua
langkah.
Ternyata ada orang menggunakan Thoan-im-jip-bit bicara
padanya, kecuali Ling-san Taysu sendiri orang lain tidak mendengar,
samberan angin kencang itupun bagai kilat, Poh-san dan Tin-san
Taysu yang berdiri di sa mpingpun tidak merasakan apa-apa. .
Semua hadirin hanya melihat mendada k Ling-san Taysu
menunduk miring seraya ulur tangan meraup ke belakang, lalu
sempoyongan ke depan. Keruan yang paling kaget adalah Poh-san
Taysu dan Tin-san Taysu, tanpa berjanji mereka bertanya kuatir
"Kenapa Suheng?"
Kejadian berlangsung a mat cepat, sementara Ling-san Taysu
sudah berdiri tegak pula, didapati-nya yang berada di telapak
tangannya hanya segulung kertas kecil sebesar kacang tanah,
keruan hati-nya bertambah kejut.
Maklumlah Ling-san Taysu adalah jago kosen Siau-lim-pay yang
me miliki kepandaian tinggi, bahwa orang itu hanya menimpukkan
gulungan kertas sekecil itu, tapi Ling-san Taysu sampa i terdorong
sempoyongan, betapa tinggi Lwe kang penim-puk itu sungguh
sangat mengejutkan-
Ling-san Taysu sekarang sudah berusia 70 lebih, di Siau-lim-si
dia adalah seorang Tianglo yang amat dihormati, tapi orang itu
ternyata me manggilnya "Hwesio cilik."
Betapapun dia seorang paderi sakti yang saleh, mendadak
berkelebat suatu pikiran dalam benaknya bahwa orang itu pasti
seorang cianpwe yang kosen, gulungan kertas yang ditimpukkan
kepada dirinya pasti me mbawa pesan atau petunjuk yang amat
berharga. Maka tanpa menghiraukan pertanyaan pada Sutenya,
dengan laku hormat dan khit mad dia putar badan serta
me mbungkuk ke arah datangnya gulungan kertas tadi.
Melihat ke lakuan Suhengnya yang aneh itu, Poh-san dan Tin-san
Taysu hanya mengawasi saju dan tidak mengajukan pertanyaan
lagi.
setelah me mberi hormat baru Ling-san Tay-su keluarkan
gulungan kertas di telapak tangannya, kertas itu hanya sebesar
kuku jari, dengan arang kertas secuil itu tertulis sebaris huruf- kecil
yang berbunyi: "Masuk ruang berhala lapis e mpat, dorong patung
pemujaan-"
Hanya sekilas me mbaca Ling-san Taysu lantas manggut2, lalu dia
bertanya kepada Pa Thian-gi: "Barusan Pa cong-koan bilang
perkampungan ini terdiri dari e mpat lapis bangunan, apakah lapis
keempat pa ling belakang itu adalah sebuah ruang berhala?"
"Betul, me mang di gedung lapis kee mpat ada ruang pe mujaan,"
sahut Pa Thian-gi.
Ling-san Taysu tersenyum, katanya: "Tidak salah lagi, sarang
rahasia dari komplotan Cin-Cu-ling itu pasti berada di dalam ruang
berhala itu?"
Kaget dan heran oh Siok-ha m, tanyanya:
"Darimana Suheng tahu?"
Ling-san Taysu keluarkan gulungan kertas itu dan diperlihatkan
kepada orang banyak, lalu men-jelaskan kejadian barusan dengan
suara lirih, Sudah tentu orang yang memanggilnya "Hwesio cilik"
tidak diceritakannya.
"Ada orang kosen me mberi petunjuk secara dia m2 kepada kita,
hayolah jangan kita bekerja la mbat2, kita masuk bersa ma
mendobra knya," ajak Tong-lohujin-
Ling-san Taysu berkata: "Kim-sute dan la in2 masih belum
siuman, perlu ada orang jaga di sini, oh-sute, kau bersama The Si-
kiat bertiga tinggal saja di sini.."
Tong-lohujin juga perintahkan Pa Thian-gi bersa ma kede lapan
Busu seraga m biru tinggal di bangsal ini.
Maka dibawah petunjuk Han-koh be ra mai2 orang banyak lantas
menuju ke belakang. Bangunan lapis kee mpat merupakan lapisan
terakhir pula. Pohon2 tua tinggi besar tersebar di pekarangan
belakang, orang akan merasa dingin dan sera m di te mpat yang
le mbab ini.
Setelah menyusuri hala man yang penuh lumut hijau, mereka
terus naik keunda kan langsung me masuki sebuah ruangan besar
dan luas, tepat di tengah ruangan memang terdapat sebuah patung
pemujaan, yang dipuja di sini adalah mala ikat ber-tenaga raksasa.
Delapan Busu pere mpuan me langkah masuk lebih dulu terus
berjajar di dua sisi, Tong-lohujin beriring dengan Ling-san Taysu
dan lain2 ikut masuk. Ketua Lo-han-tong Poh-san Taysu jalan pa-
ling belakang, dia me mberi tanda kepada 18 muridnya untuk
bersiaga di luar pe karangan.
Ling-san Taysu maju beberapa langkah lebih dekat dan me mberi
hormat ke arah patung pe mujaan, lalu dia mundur ke mba li.
Sementara Tin-san Taysu juga maju me ndorong patung pe mujaan-
Tapi patung itu tak berge ming sedikitpun.
"Taysu bertiga harap mundur agak jauh," kata Tong-lohujin, "kita
tak tahu cara bagaimana me mbuka alat2 rahasia di sini, terpaksa
hancurkan saja Han-koh, kau saja yang turun tangan-"
Sementara itu orang banyak sudah mundur agak jauh, Han-koh
mengiakan, dari dalam kantong kulit harimau dia ke luarkan sebutir
besi bundar sebesar biji kenari, sekali ayun dia timpuk ke arah
patung-pemujaan-
"Dar", hebat sekali ledakan ini, patung pe mujuan yang tinggi
besar itu roboh ber-keping2. Ta mpa k di belakang patung pe mujaan
terdapat sebuah pintu besi, bawah tembok juga sudah berlubang,
tapi pintu besi itu tetap utuh tidak kurang sesuatu apapun, tanpa
disuruh Han-koh timpuk lagi sebutir granat tangan ke arah pintu
besi. Ledakan keras kembali menggetar ruang pemujaan, kedua
daun pintu besi kini roboh berserakan, di belakangnya adalah lorong
panjang yang gelap gulita.
"Kalian geledah ke dala m," Tong-lohujin me m-beri aba-aba
kedelapan Busu pere mpuan-
Di bawah pimpinan Han-koh kede lapan orang itu segera
menerjang ke dala m terbagi dua barisan- Bersa ma Tong Siau-khing
bertiga Tong-lohujin mengiringi Ling-san Taysu masuk lebih jauh,
Poh-san Taysu tetap berada paling belakang, dia suruh delapan
paderi berjaga di ruang pe mujaan ini, lalu kedelapan paderi yang
lain dia ajak masuk ke da la m.
Lorong gelap ini panjangnya puluhan tombak. mereka tiba di
ujung sana dan diadang dinding te mbok. Han-koh lantas timpukkan
granat lagi, debu pasir beterbangan sehingga orang banyak sukar
me mbuka mata. Tapi dinding pengadang ja lan sudah jebol. Lekas
sekali kedelapan Busu pere mpuan yang tetap berkerudung kain
hitam itu menerobos masuk lewat lubang besar itu.
Waktu Tong-lohujin dan Ling-san Taysu be-ramai keluar dari
lubang te mbok, mereka tiba di sebuah ta man bunga yang a mat
luas, mala m re mang2, tampak bayangan pohon dan gardu tersebar
di sana-sini.
Waktu orang banyak menga mati keadaan sekelilingnya, mereka
berada di depan sebuah bangunan berloteng yang dibangun megah
dan mewah, di bagian depan terdapat undakan batu me manjang
tinggi, sekarang mereka berada di tengah2 undakan batu yang jebol
oleh ledakan granat tangan tadi.
Di antara bayang2 pohon yang gelap di sekitar mereka ta mpak
bermunculan bayangan puluhan laki2 bersenjata golok, dari
kejauhan mereka merubung maju mengepung.
Pui Ji-ping yang berangasan ajak Tong Siau-khing untuk
me labrak orang2 itu. Tapi Tong-lohu-jin lantas mencegah, katanya:
"Tak perlu kalian be kerja susah payah " Tiba2 tampak orang2 yang-
mengepung mereka itu satu persatu, sama terjungka l roboh tak
bergerak lagi.Jelas semuanya terkena Bu sing-san yang lihay dan
me matikan-
Dia m2 berkerut alis Ling-san Taysu, lekas dia bersabda dan
komat-ka mit me manjatkan doa bagi arwah para korban supaya
mendapat te mpat tenteram di ala m baka.
Pada saat itulah dari arah pintu yang terbuka di depan sana
muncul di atas undakan batu dua pelayan perempuan cilik
me mbawa dua la mpion, lalu berdiri di kanan kiri. Segera terdengar
pula suara ge mericik sentuhan batu manika m dan perhiasan yang
bertaburan di tubuh seorang perempuan cantik jelita, seorang
nyonya muda berpakaian puteri keraton pelan2 beranjak keluar,
sebelah tangan terpapah dipundak seorang dayang di sebelahnya.
Yang muncul ternyata Hian-ih-lo-sat, wajahnya nan ayu
mena mpilkan rasa kaget dan heran- na mun mulutnya yang kecil
mungil mengulum senyum, katanya: "Kalian siapa? Ma la m buta
menjebol dinding ma in terjang di rumah orang, mau apa?"
Sementara itu Pui Ji-ping sudah sembunyi di belakang Tong-
lohujin serta berbisik. "Bu, perempuan siluman itulah yang
mena makan dirinya Hian-ih-lo-sat."
"Jangan ribut," Tong- lohujin manggut2, "dengar saja apa yang
dia katakan-"
Sementara itu Ling-san Taysu sudah perkenalkan diri dan
nyatakan maksud kedatangannya. Tapi Hian-ih lo-sat malah menista
bahwa kedatangannya mau mera mpok atau me mperkosa kaum
perempuan di sini. Sebagai paderi agung yang alim, sudah tentu
Ling-san me njadi gelagapan dan t idak ma mpu menjawab.
Tong lohujin tertawa dingin, bentaknya: "Nona tidak usah banyak
omong, siapa kau me mangnya ka mi tida k tahu?"
Kerlingan mata Hian-ih-lo sat me mpesonakan, katanya sambil
berpaling ke arah Tong-lohujin: "Apakah nenek tua ini juga orang
dari Siau-lim?"
"Dari keluarga Tong di Sujwan," jenge k Tong-lohujin-
Hian-ih-lo-sat pura2 tidak tahu, katanya: "Keluarga Tong di
Sujwan? Te mpat apakah itu, belum pernah kudengar."
"Itu tidak penting, satu hal perlu kuperingatkan, komplotan Cin-
Cu-ling kalian main culik orang, sekarang kita sudah berhadapan,
lekas kau bebaskan para tawanan, kalau tidak jangan menyesal
kalau ka mi turun tangan keji."
Sambil me mbetulkan sanggulnya, Hian-ih-lo-sat berkata dengan
mengunjuk rasa kaget dan heran: "Apa katamu nenek tua ? Siapa
yang harus kubebaskan?"
Pada saat itulah, ke delapan Busu perempuan yang berjaga di
sekeliling Ting- lohujin ere mpak berteriak seraya mengayun tangan
ke udara. Tapi mere ka bukan menimpukkan senjata rahasia, juga
bukan melancarkan pukulan, hanya seperti tanda gerakan tangan
aja, Sudah tentu Ling-san Taysu dan lain2 yang tidak tahu apa2 jadi
heran-
Tong-lohujin menyeringai hina, katanya: "Memang sudah kuduga
bahwa Hian-ih-lo-sat pandai menggunakan bubuk racun yang tidak
kelihatan, kepandaian rendah ini me mangnya dapat mengelabui
mataku?"
Dengan mengangkat tangan me mbetulkan sanggulnya tadi,
ternyata secara diam2 Hian-ih-lo-sat sudah menaburkan bubuk
beracun yang tidak kelihatan- Keruan kaget dan berubah air muka
para paderi Siau-lim.
Hian-ih-lo-sat sendiri juga berubah air mukanya, tapi segera dia
cekikikan, katanya: "Nenek tua, ternyata kau memang me mada i
untuk lawanku, entah bagaimana kau tahu ka lau aku Hian-ih-lo-
sat?"
"Perbuatanmu menawan Cu Cengcu secara licik di Liong-bun-kin
kusaksikan diatas batu bersa ma Ling-san Taysu ini, berani kau
mungkir?" de mikian t imbrung Ji-ping. "Ketahuilah Thong-pi-thian-
ong dan lain2 yang kau bius kini sudah sadar seluruhnya, kalian
masih ma mpu berbuat apa lagi?"
"Nona cilik," ujar Hian-ih-lo-sat cekikikan, "ma la m ini kalian
berada di atas angin, aku hanya sendirian, ma mpu berbuat apa lagi?
Tapi kalian harus ingat, Lok san Taysu berempat masih tergengga m
di tanganku, kalau terpaksa, ya apa boleh buat, jangan salahkan
aku bertangan keji."
Dia m2 kaget Tong-lohujin, katanya dengan suara geram: "Kau
berani?"
Tengah bicara tiba2 muncul e mpat bayangan orang melayang ke
depan undakan- Itulah seorang Hwesio dan tiga orang preman,
orang terdepan adalah paderi berjubah abu2, tangan menenteng
tasbih, usianya 6o-an- Mereka bukan lain adalah para tamu agung
yang diculik ke Coat Sin-san-ceng, yaitu Lok-san Taysu, Tong Thian-
jong, Un It-hong dan Cu Bun-hoa.
Melihat kedatangan Lok-san Taysu, lekas Ling-san, Po san cian
Tin-san Taysu me mburu ma ju, seru mereka: "Suheng berhasil
menjebol kurungan musuh"
Lok-san Taysu berkata: "Kami bere mpat tinggal di kebun ini,
mendengar keributan di sini segera ka mi datang kemari. Ai,
pengalaman pahit ini agak panjang untuk diceritakan"
Sementara itu, Tong-lohujin juga sudah me lihat suaminya, kejut
dan girang hatinya, serunya: "Loyacu, kau tidak apa2 bukan?"
Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing juga berseru: "Ayah"
"Masih baik," ujar Tong Thian-jong sa mbil mengelus jenggot,
"beruntung kedatangan Ling-lote, dia bantu kami me munahkan
kadar racun yang mengera m dala m tubuh ka mi, kalau tida k mala m
ini tetap takkan bisa ke mari."
Sementara itu Ji-ping sudah me mburu ke de-pan Cu Bun-hoa,
teriaknya: "Ling-toako, kau tahu di mana pa manku dikurung?"
"Ji-ping, akulah pa manmu," ujar Cu Bun-hoa.
Berkedip mata Ji-ping, serunya heran, "Lantas di mana Ling-
toako?"
"Paman terjebak oleh pere mpuan siluman itu dan dikurung di
bawah tanah, mala m tadi Ling-lote menolongku keluar, dia sudah
pergi."
"Dia tidak bilang mau ke ma na?" tanya Ji-ping gelisah.
"Waktu pa man bangun, Ling-lote sudah t iada lagi."
Mendadak Tong lohujin berseru kaget: "Wah, perempuan siluman
itu sudah merat, hayo kejar"
Melihat gelagat jelek. tahu seorang diri takkan mampu melawan
musuh sebanyak ini, pada saat orang banyak ribut bicara, diam2
Hian-ih-lo-sat kabur bersama ketiga dayangnya.
Un It-hong tida k berbicara, maka dia bertindak lebih dulu, tapi
waktu dia tiba di depan pintu mendadak ia berhentikan- Se mentara
itu Lok -san Taysu, Tong thian- bong, Tong-lohujin Cu Bun-hoa
serta yang lain juga telah me mburu ma ju. Lekas Un It- hong
mencegah: "Se mua berhenti, ada perangkap dalam ruangan-"
Waktu semua berhenti, tertampak di dalam ruangan besar itu penuh
asap hitam seperti kabut tebal sehingga sulit me mandang keadaan
di dala m. "Seperti kabut tebal," ujar Lok-san Taysu.
Tong Thian-jong tertawa dingin,jengeknya: "inilah cek-yu-tok-bu
(kabut beracun) le kas mundur" Lalu dia berpaling, tanyanya: "Hujin
me mbawa Lan ling-tan?"
"Barang2 yang diperlukan tentu kubawa seluruhnya," ucap Tong-
lohujin sambil tersenyum, lalu dia me mberi tanda ke belakang. Han-
koh segera tampil ke depan, tangan kiri terayun, tiga bintik cahaya
ke milau biru me luncur kedala m ruangan-
"Blang", terdengar ledakan keras dibarengi dengan muncratnya
ke mbang api. Bintik2 sinar ke milau biru itu segera menyala dan
berkobar waktu terkena asap hitam, terdengar suara mendesis di
tengah kabut hita m itu.
Ternyata Lan ling-tan (granat belerang biru) me mang pe munah
dari cek-yu-tok-bu atau kabut beracun itu, dalam sekejap kabut
gelap yang me menuhi ruangan segera sirna tanpa bekas. Kobaran
apipun lantas padam.
Tanpa diperintah Han-koh, pimpin anak buah-nya menerjang
masuk lebih dulu, Tong Thian-jong sua mi-isteri, Lok-san Taysu dan
lain2 bera mai2 ikut masuk, para paderi Siau-lim menyalakan obor
berada di barisan belakang. Ruang besar seketika terang
benderang, tapi bayangan Hian- ih-lo- sat sudah tak kelihatan lagi.
Berkerut alis Tong Thianjong, serunya: "Lekas periksa rumah
yang ada di sini." -Tangan kiri terayun, dia pukul roboh daun pintu
yang menutup ka mar di sebelah kiri.
Tapi hasil pe meriksaan semua orang tetap nihil, tiada bayangan
seorangpun di da la m perka mpungan sebesar ini. Bukan saja
bayangan Hian-ih-lo-sat tidak kelihatan, para kacung, pelayan dan
penjagapun tiada lagi.
"cepat juga perempuan siluman itu me larikan diri," kata Un It-
hong gusar.
Sementara itu Cu Bun-hoa masih sibuk lihat sana periksa sini,
akhirnya dia menuju ke belakang pintu angin, ia mene kan dua kaki
di-sela2 dinding, maka terdengarlah suara keresekan, lantai di
tengah ruang tiba2 a mbles ke bawah, muncul sebuah lubang bundar
yang disambung undakan menjurus ke bawah.
"Lorong bawah tanah," seru Tong Thian-jong, "Pere mpuan
siluman, itu lari dari sini."
"Lekas kita kejar," seru Un It-hong.
"Menurut pendapat Siaute," timbrung Cu Bun-hoa, "lorong ini
mungkin mene mbus keluar taman, sekarang tentu perempuan
siluman itu sudah merat jauh."
Tenaga segera dikerahkan, semua orang dibagi tiga ke lompok
mengadakan pengge ledahan, tapi hasilnya tetap nihil, terpaksa
mereka keluar dari lubang ledakan se mula dan ke mba li ke bangsal.
To-pi-wan oh Siok-ha m maju me mberi hor-mat kepada Lok-san
Taysu. Tong Thian-jong lalu periksa keadaan Thong-pi-thian-ong
bertujuh, dalam setengah jam setelah diberi obat, ketujuh orang
berturut2 siuman, melihat orang banyak merubung mereka di dala m
ruangan, mereka merasa heran-
Begitu melihat Un It-hong, Thong pi-thian-ong lantas berteriak:
"Un-lotoa, tempat apakah ini?"
Melihat Lok-san Taysu dan paderi yang lain, sudah tentu Kim
Kay-thay juga kaget dan girang, lekas ia bangkit berdiri, serunya:
"Lok-san Suheng sudah lolos."
Setelah banyak mengala mi kesukaran, panjang lebar
pembicaraan mereka. Bahwa orang2 yang hi-lang kini sudah
dikete mukan dan tertolong semuanya, hanya Ling Kun-gi saja entah
ke mana perginya, maka Pui Ji-ping menjadi masgul, seorang diri
dia menunggu di serambi luar, ia menengadah mengawasi
rembulan, guma mnya: "Ke manakah Ling-toako?"
Terdengar suara Tong Bun-khing ce kikikan di be lakang, katanya:
"Adik Ji-ping, kutahu apa yang sedang kau pikirkan-"
Merah muka Ji-ping, omelnya: "cis, kau sendiri yang me mikirkan
dia."
oood wooo
Tepat tengah hari, di depan La m-pak-ho, restoran terbesar di
kota An-khing yang terletak dija lan timur datang seekor kuda putih
yang gagah, sedemikian put ih bulunya laksana saiju, tiada bulu
warna lain di badannya. Penunggangnya seorang pemuda berjubah
hijau, usianya sekitar 19 an, wajahnya putih ha lus, bibirnya merah,
giginya putih, hidang mancung, gagah tapi juga lembut, gerak-
geriknya seperti anak sekolahan, tapi pedang tergantung
dipinggangnya sehingga ta mpak lebih perwira.
Baru saja pemuda jubah hijau melompat turun, pelayan restoran
cepat menyongsongnya, sipemuda serahkan tali kendali kudanya
kepada pelayan terus melangkah masuk langsung naik ke atas lo-
teng, dia pilih meja yang dekat jendela. Waktu itu saatnya makan
siang, tamu penuh sesak. untunglah si pe muda mendapatkan
tempat duduknya. Sambil menunggu hidangan pesanannya, dia
pandang keluar jendela me lihat pemandangan dijalan raya. Tiba2
didengarnya seorang pelayan berkata di sebelah belakang: "Siang
kong ini hanya sendirian, silahkan tuan duduk se meja saja di sana."
Waktu pemuda jubah hijau berpaling, dilihatnya pelayan
mengiringi seorang pemuda berpakaian ketat warna biru mendatang
ke arah mejanya, kursi di seberang mejanya di tarik keluar, lalu
pelayan menyilakan ta mu muda ini duduk.
Usia pe muda ini antara 27, alisnya tegak bermata besar,
wajahnya bersih kelihatan agak kurus, sebuah buntalan tergendang
di pundak. tampak gagang pedang yang beronce menongol ke luar
dari buntalannya. Sekali pandang orang tahu bahwa pe muda ini
pandai main silat, entah murid dari golongan mana dia?
Pemuda baju biru turunkan buntalannya dan taruh di pinggir
meja, katanya tertawa seraya memberi hormat pada pe muda baju
hijau : "Sungguh menyesal harus mengganggu saudara."
Pemuda baju hijau menjawab tawar: "Tidak apa2."
Pemuda baju biru lantas duduk berhadapan dengan pemuda baju
hijau, pelayan menyuguhkan pesanan pemuda jubah hyau sembari
tanya pemuda baju biru ma u pesan ma kanan apa.
Pemuda baju biru berkata, "Aku harus mengejar waktu dan
me lanjutkan perjalanan, arak jangan kau sedia kan, siapkan
makanan apa saja yang cepat, seporsi bak-pau, minum teh saja."
Pelayan mengiakan terus mengundurkan diri.
Setelah meneguk secangkir teh, pemuda baju biru berkata:
"Mohon tanya siapakah she saudara yang terhormat?"
Merah muka pe muda jubah hijau, sahutnya: "Siaute berhama Cu
Jing."
"o, kiranya Cu-heng, beruntung bertemu di sini, cayhe Ban Jin-
cun," ujar pemuda baju biru, matanya me lirik cit-sing-kia m milik Cu
Jing yang di taruh dipinggir jendela, lalu mena mbahkan dengan
tertawa: "Cu-heng me mbawa pedang, tentunya mahir bermain
pedang?"
Merah muka Cu Jing, katanya: "Siaute hanya belajar berapa jurus
cakar ayam saja, belum se mbabat dikatakan mahir."
Ban Jin-cun tertawa lebar, katanya: "Sekali bertemu rasanya
seperti sahabat lama, Cu-heng tak usah sungkan, cayhe yakin Cu-
heng bukan se mbarang orang, hari ini dapat berkenalan, sungguh
beruntung sekali . . . . " sampai di sini tiba2 sikapnya tampak
masgul, katanya: "Sayang Siaute mengala mi petaka, kalau tidak
ingin rasanya hari ini makan minum sepuasnya dengan Cu-heng . . .
."
"Ah, saudara Ban pandai bicara," ujar Cu Jing ma lu2.
Pelayan datang pula me mbawa pesanan Ban Jin-cun, ma ka
mereka lantas makan minum sendiri, begitu lahap dan bernafsu
sekali mere ka ber-santap. tanpa diaadari bahwa seseorang telah
berdiri di sa mping meja mereka. Ban Jin-cun segera menyadari
adanya seseorang disamping mereka, cepat ia angkat kepala. Cu
Jing juga sudah tahu, iapun me lirik ke atas.
Orang yang berdiri di sa mping meja mereka adalah pe muda
berusia 25-an, pakaiannya ketat, warna biru tua, mengenakan
caping ba mbu, pedang besi terselip di pinggang, alisnya tebal,
wajahnya kelam mengkilap. tulang pipinya agak menonjol, mulutnya
yang lebar terkancing rapat, sepasang matanya besar dan
me mancarkan sinar terang lagi mendelik pada Ban Jin-cun tanpa
berkedip. jelas sikapnya yang garang ini t idak berma ksud ba ik.
"Saudara cari siapa?" tanya Ban J in-cun, menghentikan ma kan-
"Kau" sahut pe muda baju biru tua, suaranya kaku dingin.
Merasa belum pernah kenal, Ban Jin-cun merasa heran,
tanyanya: "Ada petunjuk apa saudara mencariku?"
"Kau murid golongan Ui-san?" tanya pe muda baju biru tua.
Setiap murid Ui-san se mua menggunakan hiasan ronce pedang
warna kuning, soalnya tiga puluh tahun yang lalu keluarga Ban dari
Ui-san ber-turut2 pernah menjabat tiga kali Bulim-bengcu, ma ka
ronce kuning menjadi simbol kebesaran margaban dari Ui-san-dan
ini sudah diakui oleh kaum persilatan umumnya.
"Betul," sahut Ban Jin-cun, "cayhe Ban Jin-cun, entah saudara
dari aliran mana? Adakah ber-musuhan dengan pihak Ui-san ka mi?"
Pemuda baju biru tua menyeringai,jengeksnya: ."Aku datang dari
Ciok-bun, aku bernama Kho Keh-hoa."
Mendengar orang datang dari Ciok-bun, berubah hebat air muka
Ban Jin-cun, tanyanya dengan suara berat: "Pernah apa kau dengan
Liok-hap-kia m Kho cin-hoan?"
"Beliau ayahku a lmarhum," sahut Kho Keh-hoa.
Mendadak Ban Jin-cun ter-gelak2 katanya: "Ha ha, kebetulan
sekali, orang she Ban me mang-nya mau meluruk ke Ciok-bun."
Keluarga Kho dari Ciok-bun adalah marga terke muka dari Liok-
hap-bun yang sudah termashur di se luruh pelosok dunia, Liok-hap-
kia m Kho cin-hoan terkenal dengan ilmu pedangnya yang menjagoi
Bu-lim, konon tiada seorang musuh yang pernah melawannya lewat
tujuh jurus, oleh karena itu umum lantas me mberi julukan Liok-hap-
kia m (pedang ena m jurus) kepadanya.
Kho Keh-hoa terkekeh, ejeknya: "Akupun dala m perjalanan ke
Uisan untuk mencarimu."
Gemeratak gigi Ban Jin- Cun, desisnya: "Bagus sekali, hari ini kita
bertemu di sini, marilah kita cari tempat untuk menyelesaikan
pertikaian kita ini."
"Boleh kau pilih tempatnya," tentang Kho Keh-hoa.
"Lapangan latihan di pintu selatan, bagaimana?" kata Ban Jin cun
setelah berpikir sejenak.
"Boleh saja, cayhe akan berangkat lebih dulu, kalian boleh makan
minum sekenyangnya dulu," dingin dan congka k seka li kata2 Kho
Keh-hoa. Agaknya dia salah kira bahwa Cu Jing adalah teman Ban
Jin-cun, sembari bicara, dengan hina iapun melirik Cu Jing lalu
me langkah pergi.
Saking gusar muka Ban Jin-cun me mbesi hijau, ingin dia
menje laskan bahwa Cu Jing bukan temannya, tapi Kho Keh-hoa
sudah melangkah turun loteng. Ia menjadi kikuk. katanya menyesal:
"Dia kira Cu-heng adalah temanku, harap saudara cu t idak berkecil
hati."
Selamanya belum pernah Cu Jing kelana di Kangouw, tapi dia
merasakan sikap dan pembicaraan kedua orang tadi penuh dendam,
keduanya berjanji due l dilapangan latihan di pintu selatan- Sudah
tentu dia tidak tahu pertikaian apa di antara kedua orang ini? Tapi
dari sikap masing2 ia yakin bahwa permusuhan kedua orang ini
tentu amat mendala m. Maka dengan sikap tak acuh ia berkata: "Dia
telah mengundangku juga, sudah tentu aku harus me menuhi
undangannya."
"Ini. ..... ai," sikap Ban Jin-cun tampak serba salah, "soal ini tiada
sangkut pautnya dengan Cu-heng."
Cu Jing tertawa dingin: "Enteng saja saudara Ban bicara, "dia
sudah mengundangku, kalau aku t idak hadir berarti nyaliku kecil?
Ketahuilah se la manya tak pernah aku mengalah terhadap siapapun."
Ban Jin-cun melenggong, katanya tertawa: "Cu-heng me mang
belum tahu duduk persoalannya, keluargaku bermusuhan sedala m
lautan dengan keluarga Kho, hari ini kalau bukan dia yang mati
biarlah aku yang gugur, pertikaian balas me mbalas di ka langan
Kangouw ini, apalagi saudara cu orang luar, lebih ba ik engkau
jangan ikut ca mpur."
Ia rogoh uang receh serta panggil pelayan, katanya: "Rekening
saudara cu ini sekalian kubayar." Lalu ia berpaling ke arah Cu Jing
serta menjura, katanya: "Ber-hati2lah Cu-heng dala m perjalanan,
kalau aku tida k mati, kelak se moga bertemu lagi." Segera dia
panggul buntalannya terus turun loteng.
Lama Cu Jing melongo mengawasi Ban Jin-cun yang menghilang
di bawah tangga, ia berpikir: "Ban Jin-cun adalah anak didik
keturunan keluarga Ban di Ui san, sedang Kho Keh-hoa adalah
keturunan keluarga Kho di cioksbun, keduanya bukan kaum jahat,
me mangnya ada permusuhan mendala m apakah di antara kedua
keluarga besar ini ?"
Bergegas dia berdiri serta menje mput pedang terus me mburu
turun ke bawah loteng. Sementara kuda ia t itipkan kepada pelayan
restoran serta tanya di mana letak lapangan latihan di pintu selatan
itu, lalu dia cepat2 menuju te mpat yang ditunjuk.
Setiba di pintu selatan dia belok menyusuri sebuah gang dan
tibalah dia di sebuah tanah lapang berumput hijau, itulah alun2
yang cukup besar dan luas, sayang tempat ini tidak terawat, banyak
rumput liar tumbuh subur setinggi pinggang.
Tepat di tengah lapangan sana, berdiri berhadapan dua pemuda,
mereka adalah Kho Keh-hoa dan Ban Jin-cun. Karena ingin tahu
sebab musabah permusuhan kedua pe muda ini, dia m2 Cu Jing
merunduk lebih dekat, lalu sembunyi di belakang serumpun pohon
bambu yang lebih dekat dari tengah lapangan.
Terdengar Kho Keh-hoa tengah mengejek: "Kau hanya datang
sendiri?"
"Me mang cayhe hanya sendirian," sahut Ban Jin-cun.
"Lalu mana kawanmu itu?" jengek Kho Keh-hoa, "kau
sembunyikan dala m hutan untuk me mbokongku?"
"Kau menista dan me mfitnah orang," da mprat Ban Jin-cun.
"Masa salah tuduhanku?" jengek Kho Keh-hoa tak kalah
sengitnya.
Mengira jejaknya diketahui Kho Keh-hoa, dengan dongkol segera
Cu Jing melompat keluar, dengusnya: "Kau mengundangku ke mari,
me mang-nya salah bila aku hadir?"
Kurang senang ta mpaknya Ban Jin-cun, katanya: "Cu-heng,
kenapa kau-pun ikut ke mari?"
"Apa katamu? Ikut ke mari?" jawab Cu Jing, "kenapa aku harus
ikut orang? orang she Kho tadi menantangku juga, sudah tentu aku
harus ke mari."
Kho Keh-hoe ter-gelak2, serunya: "Baik seka li kau berada di sini,
anggota keluarga Ban tiada seorangpun yang a kan kulepaskan-"
Mencorong benci sorot mata Ban Jin-cun, teriaknya bengis: "Apa
yang kau katakan me mang cocok dengan maksud hatiku, setiap
insan marga Kho takkan seorangpun kua mpuni jiwanya, cuma
saudara cu ini bukan sanak keluarga Ban ka mi, kebetulan tadi ka mi
bertemu di loteng restoran, jadi tiada sangkut pautnya dengan duel
kita ini."
"Baiklah, asal dia tida k ikut turun tangan, aku tida k akan
pandang dia sebagai musuh," ujar Kho Keh-hoa. "Sreng" tiba2 dia
me lolos pedang besi yang terselip dipinggang, bentaknya:
"Sekarang kita mulai"
"Bagus sekali," seru Ban Jin-cun, pelan2 ia pun keluarkan pedang
dari buntalannya.
Sambil angkat pedangnya, berkata Kho Keh-hoa dengan
mengertak gigi: "orang she Ban dengarlah, Dengan pedang besi di
tanganku ini Kho Keh-hoa akan menagih 28 jiwa besar kecil
keluarga kho terhadap marga Ban ka lian, setiap insan she Ban
merupakan musuh bebuyutan keluarga kami, kau boleh tumple k
seluruh ke ma mpuan yang terang takkan kulepas kau pergi dengan
selamat."
Menunjuk sorot gusar pada sinar mata Ban Jin-cun, bentaknya
beringas: "Tutup bacotmu, bapakmu Kho cin-hoan yang me mimpin
segerombolan bangsat berkedok. mala m2 menggerebek
perkampungan keluarga Ban ka mi, ayah bundaku dan 19 jiwa
lainnya dibantai habis2an, aku bersumpah menuntut balas atas
ke matian keluargaku itu, kini kalau tidak kuhancur leburkan
tubuhmu, tidak terla mpias denda m kesumatku."
"Keparat kau," damprat Kho Keh-hoa, "yang terang bapakmulah
yang me mbawa gerombolan bandit menyerbu ke rumah ka mi, 28
jiwa tua muda dicacah hancur luluh, berani kau me mfitnah piha k
kami ma lah."
Kaget dan heran Cu Jing mendengar caci-maki dan saling tuduh
ini, ia me mbatin: "Kedua-nya bilang ayah mereka me mbawa
gerombolan dan ma in sergap di mala m hari, bukan mustahil dala m
persoalan ini ada latar belakangnya?"
Terdengar Ban Jin-cun berjingkrak gusar, ma kinya: "Kau kunyuk.
kau yang main tuduh dan me mfitnah."
"Perang mulut tiada gunanya, lihat pedangku" bentak Kho Keh-
hoa. "Sret", pedangnya yang pan-jang segera menusuk.
"Serangan bagus." seru Ban Jin-cun, segera ia balas menyerang.
Musuh besar berhadapan, mata sama me mbara, ma ka serangan
kedua pihak sa ma2 ganas tanpa kenal a mpun lagi, terdengar
rentetan bunyi benturan nyaring, keduanya sama menge mbangkan
ilmu pedang warisan keluarga masing2 dan saling labrak dengan
sengit.
Menyaksikan pertarungan sengit ini, berkerut kening Cu Jing,
teriaknya keras: "Hai, kalian le kas berhenti, dengarkan omonganku."
Tapi kedua pe muda ini sa ma berdarah panas, sudah kesetanan
lagi oleh denda m keluarga yang tidak terla mpias, mereka tida k
hiraukan seruan Cu Jing, malah gerakan pedang mereka semakin
gencar untuk merobohkan musuh.
Melihat seruannya dire mehkan, Cu Jing naik pitam, dengusnya:
"Patut ma mpus, kalian tida k mau dengar nasihatku, boleh sila kan
saling ganyang, mati hidup kalian me mangnya tiada sangkut
pautnya dengan aku" Karena marah, dia putar badan hendak tinggal
pergi.
Tiba2 seseorang seperti berbisik di pinggir telinganya: "Kau
ke mari sebagai penengah, belum me misah kenapa di tingga l pergi"
Cu Jing tertegun, dia berpaling dan Celingukan, tapi tiada
bayangan orang lain, keruan ia bingung dan heran- Kalau kuping
sendiri salah dengar, tapi jelas ada orang berbisik di pinggir
telinganya, tak mungkin salah lagi.
Tengah dia celingukan dengan bingung, suara itu berkata pula
"Hai, Buyung, kenapa melongo saja? Tidak lekas kau maju
me misah, satu di antara mereka mungkin bisa mati konyol."
Kali ini Cu Jing mendengar jelas, orang di belakangnya. Dengan
sigap dia me mba lik badan, tapi tetap tidak melihat bayangan
seorangpun, keruan ia terkejut, jelas orang itu bicara di
belakangnya, kenapa tidak kelihatan, dengan merinding dia
bertanya: "Siapakah kau?"
"Aku ya aku," suara itu berbisik pula.
"Masa kau tidak punya she dan na ma?" ta-nya Cu Jing.
"Betul, aku orang tua me mang tidak punya she dan nama," sahut
suara itu dengan tertawa.
Di kala orang bicara, dengan gerakan cepat Cu Jing me mbalik
badan, tapi tetap tidak melihat bayangan orang. Malah suara orang
berkumandang di telinganya: "Kau tidak usah berpaling, umpa ma
kau putar2 sampai pusing tujuh keliling juga tidak akan bisa melihat
aku orang tua."
"Me mangnya kau setan" seru Cu Jing. Tanpa terasa dia
merinding.
"Di siang hari bolong mana ada setan" seru suara itu. "Aku orang
tua ini adalah dewa hidup sungguhan, kau percaya tidak?"
Cu Jing geleng kepala, katanya: "Aku t idak percaya."
"Tida k percaya tidak jadi soa l, lekas me lerai mereka."
"Mereka lagi berhanta m sengit, bagaimana aku bisa
me misahnya?"
"Kau tidak usah kuatir, loloslah pedangmu, gunakan jurus Thian-
to-tiong-ho terus terjang ke tengah mereka, aku akan membantumu
secara diam2."
Segera bisikan suara itupun menerangkan lebih lanjut: "Thian-to-
tiang-ho adalah sejurus ilmu pedang dari Bu-tong-pay, kau bisa
ma inkan t idak? Yaitu pedang tusuk lurus ke depan, la lu ujung
pedang mendongak ke atas terus di sendal saja begitu."
"segampang itu?" seru Cu Jing tidak percaya.
"Kan ma ksudmu me misah? sudah tentu se makin ga mpang
semakin bermanfaat. Ai, buyung, jangan banyak bertanya, cukup
asal kau bergaya dan berpura2 saja, biar a ku yang me mbantumu. "
"Umpa ma berhasil me misah mereka, apakah mereka mau di
lerai?" tanya Cu Jing.
"Setelah mereka kau pisah, bekerjalah lebih lanjut menurut
petunjukku."
Dengan seksama Cu Jing dengarkan suara orang, terasa serak
dan rendah berat, ia tahu pasti seorang cianpwe kosen yang aneh
tabiatnya, maka dia manggut2, katanya: "Baiklah, aku akan bekerja
menurut petunjukmu " Setelah berpikir la lu dia bertanya pula
"Apakah nanti kau tida k akan unjukkan dirimu?"
"Kau Buyung ini mewakilkan aku bekerja kan sudah cukup,
muncul atau tida k bagiku sa ma saja. Nah, lekas maju, ingat jangan
pedulikan jurus serangan apapun yang tengah mereka lancarkan,
kau tetap gunakan jurus Thian-to-tiong-ho saja."
Dengan heran dan penuh tanda tanya Cu Jing keluarkan pedang
terus mendekati gelanggang.
Waktu itu pertempuran Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa sudah
mencapai babak genting me nentukan, pedang mereka dengan
berlomba kecepatan merobohkan lawan, lingkaran sinar pedang
laksana ke lebat kilat menyamber.
Ui-san kia m-hoat menguta makan ketenangan dan ke mantapan-
Sebaliknya Liok-hap-kia m dari keluarga Kho yang tersohor
menguta makan tusukan dan menutuk. oleh karena itu murid
didiknya semua menggunakan batang pedang yang tipis dan
panjang, begitu ilmu pedang dike mbangkan, bagai bint ik2 sinar
perak bertaburan. Konon kalau Liok-hap-kia m-hoat diyakinkan
sampai taraf tertinggi, sejurus gerakan pedang sekaligus dapat
menusuk telak 36 Hiat-to musuh, maka dapatlah dibayangkan
betapa cepat gerak serangannya.
Kira2 tujuh kaki di luar gelanggang pertempuran Cu Jing sudah
merasa silau dan tersampuk oleh angin kencang yang me mbendung
langkahnya, bayangan orang dan sinar pedang sukar dia bedakan,
sesaat ia berdiri me longo tak tahu apa yang harus dia kerjakan?
Baru saja ia merandek, suara tadi lantas mendesaknya: "Sudah
kubilang jangan kau pedulikan mereka. Nah, bersiaplah, angkat
pedangmu dan cungkil." -Begitu suara orang masuk telinga, tanpa
kuasa tangan kanan Cu J ing yang me megang pedang tiba2 bergerak
terus menyongke l ke depan-
Kalau dituturkan me mang aneh, dengan serampangan
pedangnya menyongkel, tapi justru menimbulkan kejadian aneh.
Terdengar "trang-tring" dua kali, kedua batang pedang Ban Jin cun
dan Kho Keh-hoa yang sedang saling labrak dengan sengit itu
lengket seperi tersedot oleh besi sembrani, se muanya menindih
pada ujung pedang Cu Jing tanpa bisa berge ming lagi.
Keruan kedua orang sa ma terbelalak kaget, mereka kerahkan
tenaga dan menarik sekuatnya, tapi pedang mereka seperti
me lengket di ujung pedang Cu Jing, tak kuasa mereka menariknya.
Merah mata Ban Jin-cun, serunya: "Cu-heng, aku takkan hidup
berjajar dengan dia, lebih baik jangan kau turut ca mpur."
Kho Keh-hoa juga menggerung murka, teriaknya:. "Apa2an
maksud saudara ini?"
Pada saat itulah, suara tadi mengiang pula di telinga Cu Jing:
"Buyung, sekarang beritahu mereka bahwa atas perintah gurumu,
kau disuruh me lerai perke lahian mereka."
Cu Jing merasa heran, batinnya: "Masa kedua orang ini juga
tidak me lihat bahwa di belakangku ada orang?" Maka sa mbil
menuding pedangnya ia berkata: "Kalian harap berhenti dulu, atas
perintah guru cayhe sengaja kemari untuk me lerai permusuhan
keluarga ka lian."
"Cu-heng," kata Ban Jin-cun, "Sakit hati ke matian orang tua
setinggi langit, ini bukan permusuhan biasa, buat apa Cu-heng
menca mpuri urusan ini"
"Betul,"jengek Kho Keh-hoa, "aku pantang berdiri sejajar di dunia
ini dengan dia, kalau bukan aku yang gugur, biar dia yang mampus,
tak usah orang lain melerai segala."
Cu Jing tersenyum, katanya: "Kalian sama2 menuduh ayah lawan
menyerbu rumah kalian serta me mbunuh segenap anggota
keluarganya, kukira dala m peristiwa ini ada latar bela kang ....."
Tiba2 suara tadi terke keh dipinggir telinganya, katanya: "Tepat
sekali ucapanmu Buyung."
"Me mang betul omongan Cu-heng, ayahku almarhum sudah
meninggal setahun yang la lu karena sakit, mana mungkin
me mimpin orang menyerbu ke C iok-bun segala, keparat ini hanya
me mbua l be laka."
"Kaulah yang me mbuat," maki Kho Keh-hoa, "Sudah terang
bapakmu me mbawa gerombolan penjahat menyergap rumah ka mi,
seluruh keluargaku tiada yang ketinggalan hidup, ayahku jelas
meninggal di bawah pedang bangsat she Ban, mana mungkin
me mbawa orangnya menyerbu ke Ui-san, jelas kau me mfitnah dan
cari alasan belaka untuk menista pihak ka mi, aku bersumpah takkan
hidup berda mpingan dengan keluarga Ban kalian- Keparat, lihat
pukulan"
Karena pedang mereka lengket dengan pedang Cu Jing dan tak
kuat ditarik ke mbali, saking murka Kho Keh-hoa lantas ayun kepalan
menggenjot ke muka Ban Jin- cun, Sudah tentu Ban Jin-cun tak
mau kalah, jengeknya: "Me mangnya aku takut pada mu?" iapun
ayun tangan kiri balas me nyerang.
Jarak kedua orang cukup dekat, maka kedua pihak lantas beradu
pukulan- Tapi begitu kepalan saling sentuh, seketika mereka
merasakan sesuatu yang ganjil, hakekatnya kepalan sendiri tida k
bersentuhan dengan kepalan lawan, di tengah antara mereka se-
olah2 ada lapisan lunak yang tida k ke lihatan me mbendung pukulan
mereka, musuh jelas terlihat di depan mata, tapi pukulan sukar
mencapai sasaran. Hati mereka sa ma2 mencelos, pikirnya: "Entah
siapa orang she cu ini? Usianya masih begini muda, tapi me mbeka l
Lwekang begini tinggi. "
Sudah tentu Cu Jing juga menyaksikan dengan jelas, dia tahu
bahwa tokoh di belakang dirinya yang me misah pukulan kedua
orang, dan anehnya mereka berdiri di samping dirinya, kenapa tidak
me lihat tokoh yang ada dibe lakangnya.
Maka didengarnya suara tadi berkata pula: "Nah, sekarang boleh
kau turunkan pedangmu, katakan urusan ada pangkal ujungnya,
utang bisa ditagih, ka lau mau berke lahi juga boleh setelah terang
persoalannya,"
"Harap kalian berhenti dulu," kata Cu Jing menurut petunjuk itu,
"utang jiwa bayar jiwa, utang uang harus ditagih, kalau mau
berkelahi boleh juga, tapi urusan harus dibikin terang lebih dulu."
Lalu pe lan2 dia turunkan pedangnya.
Begitu pedangnya ia tarik, kedua orang segera merasa longgar,
cepat mundur seraya menurunkan pedang .
Kata Ban Jin-cun- "cara bagaimana Cu-heng hendak me mbikin
terang urusan ka mi?"
Belum Cu Jing menjawab, suara tadi sudah berkata: "Suruh
mereka menceritakan kejadian yang menimpa keluarga mereka
masing2?"
Cu Jing lantas berkata: "Siaute ke mari atas perintah guru,
soalnya urusan kalian terlalu janggal, banyak liku2 yang
mencurigakan, sudikah kalian menuturkan dulu peristiwa yang
menimpa keluarga kalian masing2?"
Terpaksa kedua orang memasukkan pedang kedala m sarung
serta mundur lagi selangkah.
Ban Jin-cun lantas berkata: "Boleh cu- heng suruh dia men-
jelaskan lebih dulu."
Kho Keh-hoa menyeringai dingin: "Boleh saja, kenyataan
terpampang di depan mata, me mangnya kau dapat mungkir?"
"Marilah kita duduk di sini," ajak Cu Jing.
Ban Jin- Cun dan Kho Keh-hoa menurut, mereka bersimpuh di
atas rumput tanpa bicara. Terdengar suara tadi me mbisiki pula:
"Suruhlah bocah she Kho tuturkan pengala mannya."
"Kho- heng," kata Cu Jing segera, "boleh kau bercerita lebih
dulu."
Terpancar sinar beringas dari mata Kho Keh-hoa menatap Ban
Jin-cun, katanya penuh kebencian.
"Pada suatu mala m kira2 setengah bulan yang lalu, baru
kentongan pertama, tanpa sengaja pamanku kedua melihat
bayangan puluhan orang bergerak di bawah gunung dan berlari2
naik ke punca k, waktu itu jaraknya masih beberapa li dari ruma h
kami, pa man tida k tahu pendatang kawan atau lawan? cepat ia
me mberitahukan kepada ayah disa mping me mberi peringatan
kepada semua orang untuk bersiaga. Di bawah pimpinan pa man
sendiri bersa ma beberapa centeng se mbunyi di depan rumah, ka mi
ingin tahu siapakah pendatang itu ....." sekaligus bicara sampa i
disini baru ia berganti napas: "mala m itu kebetulan tanggal 14,
bulan terang benderang, baru saja aku bersama paman dan lain
menye mbunyikan diri, puluhan orang itupun sudah tiba, tampak
yang berlari paling depan adalah seorang laki2 tegap bermuka
merah berja mbang hita m, mengenakan baju hijau, menenteng
pedang beronce kuning, begitu melihat orang ini pa man lantas
bersuara heran, cepat dia melompat keluar menyongsong, serunya:
Ban bengcu ma la m2 berkunjung, Siaute Kho cin-sing terla mbat
menya mbut, harap dimaafkan- Dari seruan paman itu aku baru tahu
bahwa pendatang adalah Thok-tah-thian-ong Ban Tin- ga k. yang
dulu pernah menjabat Bu-lim Bengcu, maka akupun me lompat
keluar ikut menya mbut"
Belum orang selesai bicara tiba2 Ban Jin-cun menyengek: "Kukira
tidak benar, ayahku sudah meninggal setahun yang lalu, mana
mungkin orang yang sudah mati setahun la manya muncul di cioks-
bun?"
"Apa yang kututurkan adalah kejadian yang nyata," teriak Kho
Keh-hoa gusar. "Me mangnya aku mengarang cerita bohong?"
Terdengar suara tadi berkata: "Suruhlah bo-cah she Ban itu tidak
menyela lagi, dengarkan dulu cerita bocah she Kho sa mpai se lesai."
Cu Jing lantas berkata: "Kalian tida k usah ribut, di sinilah
kejanggalan yang kumaksud tadi, sementara harap saudara Ban
bersabar, dengarkan dulu cerita saudara Kho sa mpai habis."
Kho Keh-hoa meneruskan ceritanya: "Melihat pa manku, Ban Tin-
gak manggut2 sambil balas hormat, tanyanya: Kho ji-heng jangan
sungkan, apakah kakakmu di rumah? Pa man mengangguk sambil
berpesan padaku: Keh-hoa, lekas lapor pada Toa-ko, katakan Ban-
bengcu dari Ui-san datang. Belum lagi aku sempat mengia kan Ban
Tin-gak telah berkata pula dengan nada berat: Tak usahlah. Belum
habis dia bicara, mendadak ia melolos pedang terus menusuk
paman, karena sedikitpun tidak bersiaga dan tidak menduga, kontan
paman tertusuk mati . . . . "
"Waktu itu saudara Kho kan berdiri di be lakang pa manmu, kau
tidak se mpat turun tangan?" tanya Cu Jing.
"Waktu paman bicara padaku, aku sudah melangkah setindak.
jadi berdiri di sa mping pa man, tapi tusukan Ban Tin-gak me mang
amat cepat, apalagi kejadian teramat mendadak dan di luar dugaan,
baru saja aku mendengar suara pedang terlolos, sinar pedang sudah
berkelebat laksana kilat, tahu2 pamanpun roboh mandi darah,
keruan kagetku bukan ma in, waktu aku mendelik ke arah Ban Tin-
gak, bangsat tua itu menyeringai, kata-nya: Lohu me nga mpuni
jiwa mu, supaya keluarga Kho kalian tida k putus turunan- Menyusul
telapak tangan terayun ke arahku . . . . "
"Tanpa me mba las saudara Kbo lantas terluka?" tanya Cu Jing.
Gemeretak gigi Kho Keh-hoa. "Entah gerakan apa yang
digunakan bangsat tua itu? Hanya terasa dadaku sepeiti dipukul
godam, badan lantas mencelat tiga tombak jauhnya, pikiran masih
sadar, tapi tenaga habis badan lunglai, Lwe kang dan kepandaianku
telah punah dalam sekali pukul tadi, maka dengan mata terbelalak
aku hanya bisa mengawasi bangsat tua itu pimpin anak buahnya
menerjang ke dala m rumah, keadaan menjadi kacau-balau, suara
benturan senjata berkumandang, sungguh mengenaskan 28 jiwa
penghuni perka mpungan ka mi itu tiada satupun yang ketinggalan
hidup oleh sergapan me ndadak ini, ayah-bunda mati tertusuk
pedang . . . "
Terdengar suara tadi berkata: "Suruhlah dia berpikir cermat,
adakah bagian ceritanya yang ketinggalan?"
Cu Jing segera menurut, tanyanya, "coba saudara Kho pikir lagi
lebih se ksa ma, adakah kejadian lain yang terlepas dari ceritamu
tadi."
Kho Keh-hoa berpikir sejenak. katanya: "Tiada lagi, kerja
gerombolan itu cukup rapi, di antara 28 korban yang meninggal,
kecuali ayah bundaku yang terbunuh oleh pedang, yang lain terluka
oleh berbagai maca m senjata. ada senjata rahasia beracun lagi, tapi
tiada satupun senjata rahasia yang kute mukan, tiada pula tanda2
lain yang mencurigakan. "
Sampa i di sini, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran,
katanya sambil menuding Ban Jin-cun- "Denda m kesumat sedala m
lautan ini, kaulah yang harus melunasinya . "
Kuatir kedua orang timbul keributan lagi, lekas Cu Jing
me mbujuk: "Harap Kho-heng bersabar sebentar, sekarang giliran
Ban-heng menceritakan pengala mannya."
"Akhir musim se mi tahun yang lalu," de mikian Ban Jin-cun
mengawali ceritanya, "ayahku keluar menya mbangi sahabat, kira2
setengah bulan ke mudian be liau pulang diantar seorang pa man
angkatku, katanya dibokong orang, waktu pulang sampai rumah
sudah tak mampu bicara, akhirnya beliau meninggal karena tidak
terobati."
Terdengar suara tadi berkata kepada Cu Jing "Tanyakan Tok-tah-
thian-ong dibokong oleh siapa, di mana letak luka2nya?"
Cu Jing lantas bertanya: "Entah siapakah yang melukai ayahmu,
di bagian mana letak luka2nya?"
"Setiba di rumah ayah sudah tak bisa bicara," demikian tutur Ban
Jin-cun lebih lanjut," menurut pa man, ayah dibokong orang pada
suatu pegunungan, setelah beliau terluka dan lukanya cukup parah,
tak mungkin buru2 pulang ke rumah, ma ka beliau ber-lari ke Kim-
keh-ce, tempat kedia man pa manku itu, dia hanya bilang terkena
pukulan Bu-sing-ciang, jiwanya pasti mangkat dala m tujuh hari,
beliau minta pa man suka me lindungi ke luarganya ........."
"Siapa pa man angkat yang Ban-heng maksudkan?" tanya Cu
Jing.
"Pamanku she cek bernama Seng-jiang, kenalan turun temurun,
sejak kecil pa manku itu sudah angkat kakekku sebagai ayah angkat,
pernah dia menjabat suatu pangkat dala m pe merintahan, sekarang
dia sudah pensiun dan menikmati hari tuanya di rumah."
Terdengar suara orang tadi tidak sabar lagi, dia mendesak:
"Suruh dia lekas tuturkan persoalannya, aku masih ada urusan la in-"
"Kapankah keluar Ban-heng mengala mi sergapan musuh?" tanya
Cu Jing segera.
"Pada tanggal 16 ma la m," sahut Ban Jin-cun.
Kho Keh hoa segera menjengek: " Keluargaku mengala mi petaka
pada tanggal 14 mala m, Jadi ayahku sudah meninggal dua hari
la manya, bagaimana mungkin be liau me mbawa orang menyerbu ke
Ui-san me mbunuh keluarga mu?"
Ban Jin-cun tida k hiraukan ucapan, orang tuturnya lebih lanjut:
"Sejak ayah meninggal, ibu sangat sedih dan menangis terus
menerus, akhirnya beliau jatuh sakit dan tak bangun lagi, mala m itu
kira2 baru lewat kentongan pertama, baru saja aku keluar dari
kamar ibu hendak ke mbali ke ka marku, mendadak kudangar suara
ribut dan bentakan orang ramai serta benturan senjata, waktu aku
me mburu keluar, tampak puluhan laki2 berkerudung sedang lari
kian ke mari, melihat orang lantas bunuh, banyak korban sudah
berguguran, gerombolan itu semua berkepandaian tinggi, cara turun
tangannya juga amat keja m.
"Liok-siok (pa man keena m) Lui-kong (aki petir) Ban Liok-jay
tampak sedang berhantam dengan seorang laki2 berja mbang dan
berpedang, kudengar paman mencaci dengan murka: Kho cin-hoan,
keluarga Ban ka mi ada permusuhan apa dengan Liok-hap-bun
kalian? Tanpa hiraukan peraturan Kangouw ma la m2 kau bawa
gerombolan penjahat menyerbu ke mari, me mbantai ke luarga ka mi
......"
"Mungkin dia sedang berhanta m dengan setan," ejek Kho Keh-
hoa.
Terdengar suara tadi berkata: "Tanyakan, apakah hanya Liok-
hap-kia m Kho cin-hoan saja yang tidak berkerudung?"
Cu Jing lantas tanya: "Ban-heng melihat je las, di antara sekian
banyak : gerombolan berbaju hitam itu, hanya Liok-hap-kia m Kho
cin-hoan saja yang tida k berkedok?"
"Ya, dia tida k me ma kai kerudung."
"Suruh dia me lanjutkan," pinta suara tadi.
"Akhirnya bagaimana"" tanya Cu Jing segera,
"Sudah tentu aku a mat murka," tutur Ban J in-cun, "wa ktu aku
me lolos pedang, mendadak kudengar seorang me mbentak
disa mpingku, robohlah kau." Batok kepalaku seperti ditempeleng
sekali, kontan aku jatuh semaput, waktu aku siuman ke mbali hari
sudah terang tanah, kawanan penjahat sudah tak kelihatan
bayangannya, tapi anehnya setelah semaput setengah malaman,
waktu siuman, aku tidak kurang suatu apa2, sampai sekarang aku
masih tak habis mengerti, kenapa orang itu tida k me mbunuhku?
Sedang seluruh penghuni ruma hku se muanya mati dala m keadaan
yang mengenaskan. cepat aku lari ke ka mar ibu, kedua pelayan
pribadi ibu terbunuh dengan senjata rahasia beracun dan ibuku . . .
."
Menyinggung ibunya, tak tertahan air mata bercucuran saking
sedih, tuturnya lebih lanjut. "Beliaupun rebah kaku di atas ranjang,
darah hitam mele leh dari pundak kirinya, jelas beliaupun terbunuh
oleh senjata beracun, tapi tak kutemukan senjata rahasia apapun . .
. . akhirnya setelah pikiran agak tenang baru kudapati jari tangan
kanan ibu menggengga m kencang, ternyata dalam telapak
tangannya menggengga m sebuah senjata rahasia."
Tak tahan Kho Keh-hoa menyela: " Liok- hap-kia m sela manya tak
pernah me ma kai senjata rahasia, apalagi beracun, entah senjata
rahasia macam apakah itu?"
"Suatu benda berbentuk bintang sebesar biji melinjo, berwarna
hitam lega m."
Suara tadi berbunyi pula di telinga Cu Jing: "Tanyakan apa dia
me mbawa senjata rahasia itu, suruh dia ke luarkan supaya kulihat."
"Entah senjata rahasia itu Ban-heng bawa atau tidak sekarang?"
tanya Cu Jing.
"Selalu kubawa ke manapun aku pergi," sahut Ban Jin-cun.
"Bolehkah Ban-heng perlihatkan pada ku?" tanya Cu Jing.
"Sudah tentu boleh," ujar Ban J in-cun- Lalu di merogoh kantong
menge luarkan sebuah buntalan kecil.
Pada saat itulah, mendadak bayangan seseorang laksana burung
elang menukik dari angkasa meluncur turun cepat dan hinggap di
depan Ban Jin cun, di mana sinar berkelebat, sebatang pedang tipis
panjang tahu2 menyongkel ke depan, maka buntalan ka in di tangan
Ban Jin-cun seketika mencelat ke atas, sekali samber orang itu
menangkapnya dengan tangan lain, berbareng kedua kaki menjeja k
tanah, tubuhnya mencelat pula ke udara.
Kejadian ini terla lu mendadak, gerakan orang-pun teramat cepat
dan tangkas lagi, hakikatnya tiga anak muda itu t idak me lihat jelas
bayangan siapa orang tadi dan tahu2 buntalan ditangan Ban Jin-cun
sudah direbut orang.
Sudah tentu Ban Jin cun yang paling kaget, cepat ia me mbentak
seraya berdiri, baru saja dia hendak mengudak. tiba2 dilihatnya
bayangan orang yang sudah mela mbung ke udara itu berjumpalitan
beberapa kali di atas terus melayang turun pula dan "bluk",jatuh
dengan keras di tanah.
Baru sekarang mereka bertiga sempat melihat jelas orang itu
berpakaian hita m, bertubuh tinggi kurus, wajahnya kuning, gerak-
geriknya gesit, dengan tangkas dia melejit bangun terus henda k
me larikan diri pula, tapi baru saja dia lari beberapa tindak,
mendadak badannya bergetar terus berhenti dan mematung kaku di
tempatnya.
Sudah tentu Cu Jing bertiga menyaksikan dengan melongo
keheranan. Mendadak terdengar suara serak tua bergelak tertawa.
katanya: "Dihadapan aku orang tua, dengan sedikit kepandaianmu
ini berani kau bertingkah?" - Suara ini berge ma seperti
berkumandang dari angkasa, tapi seperti juga bicara di sa mping
mereka bertiga, keruan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa melongo
kaget. tanpa janji mereka celingukan kian ke mari, tapi mana ada
bayangan orang?
Cu Jing maklum Hiat-to la ki2 kurus baju hita m ini terang ditutuk
oleh orang tua yang sejak tadi bicara dengan dirinya itu, diam2 ia
kaget dan kagum luar biasa, bayangan orang tua ini tidak kelihatan,
entah dengan cara apa dia menundukkan orang berbaju hitam ini? .
Terdengar orang berbaju hitam mencaci ma ki dengan beringas:
"Bangsat tua, siapa kau? Ma in se mbunyi, terhitung orang gagah
maca m apa? Me mangnya kau tida k cari tahu siapa tuan besarmu
ini"
Suara serak tua itu tergelak2, ujarnya: "Kau bocah ini belum
setimpal tanya siapa aku orang tua ini. Tapi berani kau kurang ajar
padaku, ma ka kau harus kuhukum. Nah, sekarang ga mparlah
mulut mu sendiri"
Sungguh aneh, mendadak si baju hitam angkat kedua tangan
sendiri, "Plak-plok," berulang kali ia benar2 mengga mpar mukanya
sendiri.
Cu Jing bertiga yakin si baju hita m terang tak rela mengga mpar
muka sendiri, sorot matanya tampak mena mpilkan rasa kebencian,
tapi juga jeri dan tak berani bersuara lagi. Keruan ketiga anak muda
yang menyaksikan itu sa ma tertegun.
Terdengar suara serak itu berkata "Nah, urusan kedua keluarga
kalian akupun tidak perlu banyak mulut, kalian tidak perlu saling
bunuh pula, sebab musabab peristiwa yang menimpa ke luarga
kalian boleh tanyakan pada kunyuk hitam ini, aku orang tua hendak
pergi."
Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa menengadah ke atas, tanyanya
dengan hormat: "Terima kasih atas petunjuk Locianpwe, mohon
tanya siapakah gelaran engkau orang tua yang mulia?"
Tapi seke lilingnya sunyi senyap. kiranya cian-pwe kosen yang
terdengar suara tapi tak terlihat bayangannya itu sudah pergi entah
ke mana.
Ban Jin-cun lantas menjura kepada Kho Keh-hoa, katanya: "Kho-
heng, perihal permusuhan keluarga kita, berkat petunjuk Locianpwe
itu, bukan saja telah menghimpas kesalah paha man kita berdua,
beliaupun telah menawan seorang musuh, pada dirinyalah kita
harus menuntut balas dan menyelidiki siapa gerangan biang keladi
dari se mua petaka yang menimpa keluarga kita ini."
"Apa yang dikatakan Ban-heng me mang benar," ujar Kho Keh-
hoa.
Mereka lantas mengha mpiri si baju hita m, Ban Jin-cun merogoh
kantong orang menga mbil balik buntalan kainnya tadi dan dibuka,
isinya me mang benda hita m berbentuk bintang sebesar biji me linjo."
Haru dan pedih hati Ban Jin-cun, katanya berlinang air mata:
"Silakan periksa Kho-heng, inilah senjata rahasia yang kuperoleh
dari tangan ibuku.."
"Simpanlah dulu saudara Ban," kata Kho Keh-hoa, "tawanan
hidup ada di depan mata, me mang-nya berani dia tidak mengaku."
Ban Jin-cun segera bungkus lagi senjata rahasia itu dan disimpan
dalam baju.
Dengan ujung pedangnya Kho Keh hoa ancam tenggorokan
orang berbaju hitam, desisnya dengan penuh dendam: "Kau sudah
berada di tangan kami, mau hidup atau ingin mati, terserah padamu
mau tidak menjawab pertanyaan ka mi."
Waktu mereka mendekat, orang kurus berbaju hitam lantas
pejamkan mata tanpa bersuara sekecap-pun-
Dingin suara Ban Jin cun- "Apa yang dikatakan saudara Kho
sudah kau dengar bukan? Yang ingin ka mi cari adalah biang
keladinya, asaikan kau terangkan siapa perencana peristiwa ini,
kami a kan a mpuni jiwa mu."
Orang itu tetap berdiri tegak, bibirnya tetap terkancing rapat, se-
olah2 buta dan tuli, anggap tidak dengar semua pertanyaan
mereka.. .
Kho Keh-hoa naik pitam, ujung pedangnya yang mengancam
tenggorokannya bergetar, bentaknya: "Keparat, dengar tidak
pertanyaan kami?" Betapa runcing ujung pedangnya itu, sedikit
menggunakan tenaga saja kulit daging teng gorokan si baju hita m
sudah terluka, tampa k darah hita m me mbasahi dada.
Manusia umumnya berdarah merah, tapi la ki2 kurus berbaju
hitam ternyata mengeluarkan darah warna hitam, darah hita m
kental seperti tinta.
Tergerak hati Ban Jin-cun, katanya gugup: "Kho-heng, agak
ganjil keadaannya" Kho Keh-hoa melongo, tanyanya: "Apanya yang
ganjil?"
Hanya beberapa patah kata bicara, tertampak darah kental hitam
yang mengucur dari tenggorokan laki2 baju hita m itu sema kin deras
me mbasahi se kujur badan, segera hidung mereka mengendus bau
busuk. Sebetulnya tenggorokannya hanya tertusuk sedikit, tapi
dalam sekejap luka itu sudah me lebar dan me mbusuk. darah yang
me leleh keluar se makin banyak, bau busuk se makin keras dan
menja lar ke sekujur badan. Ban Jin-cun jadi curiga, tanyanya: "Kho-
heng, pedangmu kau lumuri racun?"
Kho Keh-hoa sendiri terkesima sahutnya gugup: "Belum pernah
kulumuri racun pedangku ini ..... " sembari bicara dia angkat
pedangnya, ternyata ujung pedangnya telah berwarna hitam legam.
seketika ia bersuara kaget dan heran-
Sudah tentu Ban Jin-cun juga kaget dan heran pula, mendadak
tergerak pikirannya, tanpa bicara dia angkat pedang dan menggores
pundak serta lengan la ki2 baju hita m, ke mbali darah hita m mele leh
keluar.
Ternyata ujung pedang Ban Jin-cun juga segera berubah hitam
legam, mirip dengan ujung pedang Kho Keh-hoa, seperti pernah
direnda m dala m racun- Tak kepalang kagetnya, serunya: "Racun
yang jahat sekali"
"Me mangnya dia sudah ma mpus?" tanya Kho Keh- hoa.
"Ya, mungkin tahu tiada harapan hidup, dia telan racun yang
keras sekali bekerjanya."
Kho Keh-hoa menghela napas, katanya: "Dia sudah mat i, tak
mungkin dimintai keterangan lagi."
"Dia meninggalkan sebatang pedang," ujar Ban Jin-cun, "tidak
sukar mencari tahu asal usul-nya dari senjatanya ini." Tiba2
mulutnya bersuara seperti ingat apa2, katanya pula: "Saudara cu
ke mari atas perintah gurunya untuk melerai permusuhan kita, kukira
gurunya pasti tahu siapa musuh kita bersa ma?"
Kho Keh-hoa me mbenarkan, berbareng mereka me noleh ke sana.
Selama beberapa saat itu Cu Jing tidak ikut ke mari, dikiranya dia
sudah pergi, tak tahunya dia sedang berdiri menengadah sambil
me la mun, entah apa yang sedang dipikirkan. Te mpat di mana dia
berdiri jaraknya hanya dua tombak dengan Ban dan Kho berdua,
jadi badan laki2 kurus berbaju .hita m yang mula i me mbusuk itupun
tidak dilihatnya.
Me mang dala m sekejap ini kulit daging si baju hita m bagian atas
sudah mula i jadi cairan darah dan membusuk dengan cepat sekali,
tulangnya
====================================
Jilid 10 Halaman 55/58 Hilang
====================================
--rangan tangan- Soalnya gerakan Jiau-kau-sek ini terlalu
gampang, sekali belajar siapapun pasti bisa, selanjutnya dia ulangi
jurus kedua Bak-kau-sek. tangan kiri pe lan2 terayun ringan ke
belakang, sudah tentu gerakan ini dia sudah mahir seka li.
Setelah beberapa kali dia ulangi kedua jurus ini, terasa tiada
sesuatu yang istimewa dala m ke-dua tipu silat ini? Ia heran kenapa
si orang tua berpesan sedemikian serius padanya, nadanya malah
seolah2 bila dirinya berhasil meyakinkan kedua jurus ini takkan
mendapatkan tandingan di kolong langit ini.
Tapi Cu Jing yakin si orang tua tak mungkin berdusta, bisa jadi
kedua jurus yang kelihatan sangat sederhana ini mengandang
intisari ilmu silat kelas tinggi yang tersembunyi? Mengingat hal ini,
tak tertahan dia ulangi berlatih sekali lagi kedua jurus Jiau-kau-sek
dan Bak-kau-sek tadi.
Aneh juga, semakin merasa gerakannya sederhana, semakin
lancar dan enak dilatih, tapi setelah diselami, kenyataan tidak
segampang dugaan semula. Tapi hanya sampai taraf sekian saja,
yang kalau ditanya di mana letak ga mpangnya gerakan jurus2
pemukul anjing itu ia sendiripun tak ma mpu me mberi penjelasan-
Cu Jing me mang bukan orang bodoh, otaknya encer, dari kedua
gerakan sederhana yang sebenarnya sukar disela mi ini dia se makin
yakin dugaannya pasti tidak me leset, bahwa di dalam kedua jurus
ilmu silat yang sederhana ini tersembunyi ilmu silat taraf tinggi.
Sesaat dia menengadah, me longo mengawasi langit.
Begitulah, waktu Cu Jing me mburu kesana, sementara itu yang
berbaju hitam sudah tinggal tulang yang berwarna hitam, berdiri
tegak dan seram kelihatannya, keruan dia bergidik serunya kaget:
"kenapa dia?"
"Mati minum racun," kata Kho Keh-hoa.
Ban Jin-cun sedang ambil pedang milik laki2 berbaju hitam tadi
katanya: "Pedang inipun dilumuri racun, racunnya bukan sembarang
racun, belum banyak orang2 Kangouw ya me maka i racun, seperti
ini, maka tidak sulit untuk menyelidiki asal-usulnya."
"Waktu ibunda saudara Ban meningga l, tangannya menggengam
senjata rahasia yang dilumuri racun juga, dalam Bu-lim yang
terkenal suka me ma kai racun hanya ke luarga Tong di Sujwan,
marilah kita me luruk ke Sujwan saja," ajak Kho Keh-hoa.
Karena badan sudah luluh menjadi cairan darah hitam. ma ka
sarung pedang si baju hita m yang se mula tergantung di
pinggangnya ini terjatuh di tanah dan berlumuran darah kotor, Ban
Jin-cun tidak berani menga mbilnya, maka dia tetap genggam
pedang milik si baju hita m, katanya sambil me mberi hormat pada
Cu Jing,
"Berkat usaha saudara cu yang mulia dan bijaksana sehingga
permusuhan keluarga ka mi berdua tida k sa mpai berlarut2
menimbulkan korban pula, bangsat inipun sudah mati minum racun,
tiada keterangan yang dapat kita peroleh, oleh karena itu, kumohon
Cu-heng suka menje laskan satu hal"
"Ban- heng mau tanya soal apa?" jawah Cu Jing.
"Cu-heng ke mari atas perintah guru untuk me lerai permusuhan
kedua keluarga kami, jadi mestinya tahu siapa sebetulnya musuh
keluarga ka mi bukan?"
"Wah, maaf, aku justeru tidak tahu apa2," ucap Cu Jing sambil
mengge leng,
"Cu-heng mungkin tidak tahu, tapi gurumu pasti tahu, entah
siapakah gelaran na ma gurumu?"
Merah muka Cu Jing, karena tidak biasa berbohong, terpaksa ia
berterus terang apa yang terjadi sebenarnya.
"Jadi Cu-heng juga tidak tahu siapa gerangan cianpwe kosen
itu?" tanya Kho Keh-hoa. Cu Jing mengia kan sa mbil me nggeleng.
"Aku yakin be liau pasti tahu siapa musuh keluarga ka mi, tapi
tiada harapan lagi untuk mene mukan jejak orang tua ini," de mikian
keluh Kho Keh-hoa.
"Menurut apa yang kutahu," ujar Ban Jin-cun sesaat ke mudian
setelah merenung, "banyak sekali tokoh2 kosen yang lihay dalam
Bu-lim, tapi yang memiliki kepandaian sakt i seperti orang tua itu
hanya ada seorang saja, malah dari cara beliau campur tangan tadi,
tak ubahnya seperti sepak terjang cianpwe kosen yang suka
menge mbara itu .... ..".
"Siapakah cianpwe kosen yang saudara Ban maksudkan?" tanya
Kho Keh-hoa.
"Hoan jiu ji lay," sahut Ban Jin-cun.
"Betul," tukas Kho Keh-hoa, "cuma orang tua ini mirip naga yang
hanya kelihatan eklornya dan menyembunyikan kepala, entah
ke mana saja dia pergi, cara bagaimana kita mene mukan be liau?"
Cu Jing jarang berke lana di Kangouw, dia tidak tahu siapa Hoan
jiu ji- lay yang dibicarakan ini, tapi dia ma lu untuk bertanya.
"Di atas Pak-sia m-san ada bersemayam seorang kosen bergetar
Cu-ki-cu, dia amat apal terhadap segala peristiwa yang terjadi di Bu-
lim, kejadian masa sila m dan apa yang bakal terjadi pada masa
yang akan datangpun dapat dia ramal dengan tepat, dari sini ke
Pak-sia m-san tidak jauh lagi, marilah kita ke sana dan tanya
padanya, mungkin dari mulutnya kita bisa mendapat keterangan
asal-usul racun dan senjata rahasia seperti bintang itu. Bagaimana
pendapat Kho-heng?"
"Akupun pernah dengar na ma Cu-ki-cu ini" ujar Kho Keh-hoa,
"konon sangat luas pengetahuannya dan tinggi ilmunya, mahir
me mecahkan segala kesulitan di dunia ini, tiada jele knya kita
mengadu untung dan tanya padanya."
Ban Jin-cun melirik ke arah Cu Jing, tanya-nya: "Apakah Cu-
heng, ada minat ikut bersa ma ka mi ke Pak sia m-san?"
"Aku masih punya urusan lain, maaf tak dapat mengiringi
perjalanan kalian," sahut Cu Jing.
"Baiklah kita berpisah di sini saja, semoga jaga diri baik2 dan
selamat berte mu pula," ujar Ban Jin-cun.
Kho Keh-hoe juga menjura, katanya: "Ber-hati2lah saudara cu."
Maka merekapun berpisah, Cu Jing sendiri tidak punya tujuan
pasti, dia ingat si orang tua pernah bilang "kalau se mpat pulang,
nanti ma la m kita bertemu di La m-pa k-ho," ma ka dia berkeputusan
untuk mene mui si orang tua misterius itu nanti ma la m di restoran
Lam-pak ho.
Waktu itu sudah magrib, Cu Jing langsung kemba li ke La m-pak-
ho menga mbil kuda terus cari penginapan, dia me milih ka mar yang
terletak di ujung be lakang, tempatnya nyaman dan sepi.
Setelah me mbersihkan badan, untuk me mbuang waktu, Cu Jing
tutup pintu, seorang diri dia ulangi latihan kedua jurus Jiau kau-se k
dan Bak-kau-sek itu, sekarang dia betul2 yakin, walau kedua jurus
itu namanya aneh dan lucu, ternyata mengandung ilmu silat tingkat
tinggi yang tiada tara-nya, maka kali ini dia betul2 tumple k seluruh
perhatian untuk mengulang ke mbali, gerakannya kini jauh lebih
la mban dan ma ntap.
Tak terduga setelah sekian la ma ia mengulang beberapa kali,
meski diketahui bahwa di balik gerakan sederhana itu mengandang
intisari yang mendala m, tapi se makin dianggap t inggi dan
menda la m kenyataan berbalik terasa sepele dan biasa saja, tiada
tanda2 mukjijat yang dia te mukan- Begitulah setelah dia latihan
beberapa kali, keringat sudah gemerobyos baru dia menemukan
letak rahasia sebenarnya dari kunci kesederhanaannya.
Yaitu jangan kau pandang kedua jurus sederhana ini begitu tinggi
dan mujijat, semakin mujijat yang kau tafsirkan, maka kau akan
mengerahkan hawa murni dan mengerahkan tenaga, gerakanpun
jadi la mban, itu berarti permainanmu menjadi kaku dan kurang
wajar, kurang variasi dan tiada perubahan- Tapi sebaliknya jika kau
pandang kedua gerakan sederhana ini sebagai sangat gampang dan
sepele saja, maka dengan mudah pula kau akan menguasai setiap
gerak tipunya.
Dengan penemuannya ini, tidak kepalang senang hati Cu Jing,
pikirnya: "Setengah harian aku bersusah-payah, meraba sana sini,
tak tahunya be-gini mudah dipecahkannya."
Hari sudah gelap. pelayan datang me mbawakan makan ma la m,
tapi Cu Jing menolaknya dengan alasan sudah janji makan di
restoran dengan seorang kenalan- Cu Jing lantas bawa cit-sing-kia m
dan keluar.
Sinar la mpu sudah menerangi segenap pelosok kota, orang yang
lalu lalang dijalan raya semakin ra mai, lebih berjejal dari siang hari,
banyak muda mudi yang pe lesir dan berbelanja di toko2, tapi Cu
Jing tiada minat melihat kerama ian kota, langsung ia menuju ke
Lam-pak-ho terus na ik ke loteng tingkat dua
Pelayan yang siang tadi melayani Cu Jing me milih meja dekat
jendela, kali ini Cu Jing tidak ma u banyak bicara, setelah me mesan
beberapa masakan dan melongok pe mandangan jalan raya di
bawah sana.
Pada saat dia melihat2 itulah mendada k didepan sebuah toko
kain sana berdiri seorang berbaju hita m, orang itu tengah
menengadah mengawasi ke arah dirinya. Semula dia tidak a mbil
perhatian dan melengos kejurusan lain, tapi pikirannya tiba2
tergerak, dandanan dan muka si baju hitam ini mirip benar laki2
kurus, berbaju hita m yang mati ditanah lapang tadi siang itu, lekas
dia melongok ke sana pula, tapi bayangan orang berbaju bitam itu
sudah tiada lagi, entah ke mana?
Kebetulan pelayan menyuguhkan hidengan yang dia pesan-
Dengan peja m mata Cu Jing coba menghirup seteguk arak. Kiranya
dia belum pernah minum arak. baru hari ini akan coba2 seorang diri.
Tiba2 terdengar seorang bersenandang dengan suara seperti
bambu pecah: "Hwesio kere (miskin), kere Hwesio, tak punya batok
tiada pondok. Tidak sembahyang, tidak menabuh genta, Telanjang
kaki, kelana ke-mana2. jubah koyak untuk menahan angin kencang,
demi me mbangun kelenteng bobrok. cari sedekah di rumah arak,
bertemu dengan orang berjodoh (dermawan), daging arak harap
menyuguh"
Menyusul di ujung tangga loteng lantas muncul pula seorang
Hwesio kelilingan-
Hwesio ini mengenakan kopiah rombeng, jubah ke labu yang
dipakainyapun sudah berta mbal sula m, tapi badannya gemuk putih,
alisnya nan uban menjuntai panjang ke samping, kedua tangan
terang kap didepan dada dengan cengar-cengir dia mondar-mandir
di antara tetamu yang me menuhi meja makan, lalu katanya dengan
suara lantang: "Silakan, silakan, Hwesio kere berke lana di dunia
fana, sebelum pulang ke ala m ba ka, entah tuan dermawan mana
yang berjodoh dengan sang Buddha, semoga dapat rejeki besar dan
bernasib baik. Siancay, Siancay, omitohud" sembari mengoceh
kakinya melangkah ke sana-sini, dan sepasang matanya berjelilatan
kian- ke mari.
Pada suatu meja, kebetulan dua orang tamu sedang saling
dorong menyodorkan cangkir arak, Hwesio keretiba2 berhenti di
sana, dengan kedua tangan dia jemput kedua cangkir arak itu
sembari berkata dengan tawa lebar: "Kalian tidak perlu sungkan,
kedua cangkir arak ini biar aku Hwesio kere yang minum saja" Satu
tangan satu cangkir-ganti berganti dia tenggak habis isi kedua
cangkir arak.
Sudah tentu kedua tamu itu gusar, orang disebelah kiri
menghardik murka: "Hwesio je mbe l, apa2an kau ini?"
Si Hwesio kere tertawa lucu, katanya: "De mi secangkir arak
kalian tolak sana dan dorong sini hingga muka merah pada m,
Hwesio kere orang beribadah dan suka menolong sesa ma manusia,
biarlah aku mewa kili ka lian minum arak ini, kan beres?" se mbari
bicara tahu2 tangannya, mencomot sepotong daging terus dijejal ke
mulut.
Tamu di sebelah kanan menggebrak gusar, bentaknya: "Kenapa
kau a mbil ma kanan dengan tangan telanjang?"
"Setelah minum arak harus didorong dengan daging baru arak
bisa turun ke perut." de mikian kata Hwesio itu. "Sede kah sepotong
daging ini akan Hwesio kere bawa kedunia akhirat, sebagai sangu
untuk menghadap sang Buddha, bukankah berarti kau telah
berdarma bagi sesamanya, budi kebaikanmu akan dikenang
sepanjang masa." Habis berkata, dia terus me langkah pergi
Kedua tamu itu hanya mencaci ma ki tanpa bisa berbuat apa2.
Hwesio itu tidak hiraukan kedua tamu yang mencak2 itu, kemba li
mulutnya tarik suara bersenandung pula: "Daging harus
dipanggang, arak harus dimasak, makan daging minum arak di
dunia fana. biar sepatu butut, jubah koyak ditertawakan orang,
me mangnya aku bukan manusia gede atau orang kaya"
Tenggorokannya mengeluarkan suara serak aneh dan sumbang
seperti bambu pecah, tapi dia justeru bersenandung dengan
gembira sa mbil berjoget segala.
Sembari ja lan matapun jelatatan, ia longok sana toleh sini yang
diperhatikan hanya meja para tamu, akhirnya dia menuju ke meja
yang ditempati Cu J ing, mendadak ia berhenti serta ter-gelak2
riang, katanya: "Me mang di sini lebih sunyi dan bersih"
Kepada Cu Jing dia me mberi sala m lalu berkata: "Sicu duduk
sendirian di sini, agaknya ada jodoh dengan sang Budha, hidangan
untuk Hwesio kere hari ini agaknya tidak. . menjadi kapiran-" ..
Tanpa tunggu jawaban Cu Jing, dia tarik kursi terus duduk
dihadapannya.
Tingkah laku Hwesio miskin ini kelihatan sinting, tapi kata2
senandungnya tadi me mang tepat, mau tida k mau timbul rasa
hormat Cu Jing terhadap Hwesio ini, lekas Cu Jing menjura, ka-
tanya: "Silakan duduk. Toasuhu."
Hwesio kere menyengir, katanya manggut2: "siausicu me mang
berbakat sejak kecil, kau me mang berjodoh dengan ajaran Budha,
terpaksa aku Hwesio miskin mengganggumu saja." Habis berkata
dia lantas menggebrak meja, serta menggembor keras2: "Pelayan- .
. . pelayan....."
Seorang pelayan berlari datang, serunya sambil mengerut
kening: "Hwesio, kenapa berkaok2?"
Berdiri alis panjang si Hwesio, katanya dengan mendelik:
"Pelayan, restoran ini kan me layani orang , makan minum? Bahwa
Hwesio kere sudah datang kemari juga berarti tamu, kenapa seenak
perutmu ma in panggil Hwesio segala?"
"Habis harus kupanggil apa ?" tanya sipelayan bingung..
"Lain kali kalau ada Hwesio ke mari, kau harus me manggilnya
bapak Taysu, kalau yang datang Hwesio setua diriku ini, maka kau
harus me mangilnya kakek Taysu."
"Sering kudengar orang hanya memanggil Tay-su saja, mana ada
yang memanggil bapak Taysu atau kakek Taysu?" sipelayan
menggerunde l.
"Hai jadi kau sudah tahu, lalu apa bedanya Taysu dan bapak
Taysu? Me mangnya ayahmu bukan bapakmu?"
Sipelayan tidak sabar lagi, serunya: "Sudahlah, kau ma kan apa?"
"Kau tidak me manggilku kakek Taysu, kalau sang Buddha marah,
kau akan dihukumnya terperosot jatuh."
"Sudah puluhan, tahun aku jadi pelayan di sini, belum pernah
terpeleset jatuh, lekaslah kau pesan apa?, cuma di sini tida k sedia
hidangan ciacay (vegetarian)."
"Ya, ya Hwesio kere me mang tidak pernah me mbaca mantra,
sudah tentu tak perlu ciacay segala"
"Baiklah, lalu kau pesan apa?" tanya sipelayan, dia tetap tak mau
panggil Taysu.
"Nah, dengarkan, seporsi daging e mpal, satu porsi sayap bebek.
dua kati arak. tapi suruh koki masak dulu seporsi paha aya m
panggang, semangkok besar kuah ikan, udang, jamur dan daging
babi,." seorang diri tapi santapan yang dipesan ternyata sangat
banyak.
pelayan mangiakan saja terus putar tubuh menuju ke belakang.
Tak la ma ke mudian dia sudah balik dengan tangan kosong. Tapi
sebelum dia datang ke depan si Hwesio, tiba2 kakinya keserimpet,
kontan tubuhnya terbanting jatuh. Untung dia tidak me mbawa
nampan hidangan,jatuhnya amat keras, dengan menyengir
kesakitan pelayan itu merangka k bangun, tangan meraba2 pantat
serta mengha mpiri dengan ter-pincang2.
Hwesio tadi tergelak2, serunya: "Nah, tadi Hwesio kere sudah
bilang, kau tida k mau panggil kake k Taysu. padaku, sang Buddha
kini betul2 marah serta menghukummu." Tiba2 dia bersuara kaget
dan tanya: "He, mana pesananku, kenapa tidak kau bawa ke mari?"
Dia m2 tergerak hati Cu Jing, dia duduk di depan si Hwesio,
hakikatnya dia tida k me lihat Hwesio itu menunjuk gerak apa2. Tapi
sipelayan di-buatnya jatuh bangun.
Dengan mendongkol si pelayan tertawa dingin: "Masakan yang
kau pesan se mua berharga dua tahil, bayar dulu."
Mendelik si Hwesio, teriaknya marah: "Me mangnya kau kira
Hwesio kere makan tak me mbayar?"
"Sudah sering orang gegares gratis di sini, kau seorang diri, tapi
pesan hidangan terlalu banyak. terang sengaja . . . . "
Si Hwesio berjingkra k marah, dia cengkera m dada baju sipelayan,
teriaknya gusar: "Kau kira aku mau ma kan gratis? Hwesio kere
me mang miskin, tapi kebetulan aku bertemu dengan seorang
dermawan yang ada jodoh, tanpa tanya kau lantas pandang orang
rendah dengan mata anjing, kalau aku masih muda seperti dulu,
sudah kule mpar kau ke luar jendela, tahu?" Sembari bicara, seperti
menjinjing seekor ayam dia angkat tubuh pelayan terus diulur ke luar
jendela sehingga kontal-kant il di udara.
Sudah tentu sipelayan menjerit ketakutan setengah mati,
ratapnya: "Kakek Taysu, ampunilah jiwaku, hamba ada mata tidak
me lihat gunung, kau. . . . .jangan kau lepaskan peganganmu.."
Sudah tentu semua tamu yang ada di atas loteng sama kaget
dan melongo heran melihat Hwesio ini me miliki tenaga begitu besar
serta me mpermainkan sipelayan-.
Hwesio itu ce kakakan, dia tarik tangannya dan turunkan
sipelayan di lantai, katanya: "Sejak tadi kau panggil kakek Taysu
kan beres?" Lalu dia tuding Cu Jing dan katanya pula: " Kau tanya
Sicu ini, maukah dia me mbayar semua rekeningku nanti?" saking
ketakutan, begitu diturunkan segera sipelayan mendeprok di lantai.
Lekas Cu Jing berkata: "Ucapan Taysu ini me mang tidak salah,
apa yang dimintanya boleh kau sediakan, rekeningnya aku yang
bayar."
Sudah tentu si pelayan jadi kapok betul2, le kas dia kerja kan apa
yang dipesan. Agaknya memang t idak sabar lagi, begitu arak
diantar, Hwesio itu lantas angkat poci terus tuang arak langsung
ke mulut sa mpai habis, katanya sambil seka mulut dengan lengan
bajunya yang kotor: "Sedap. Segar Hayolah Siausicu jangan
sungkan, mari, mari" paka i sumpit atau sendok segala, kedua
tangannya bekerja bergantian mencomot daging dan menggaruk
ikan ke dala m mulut, begitu lahap dia makan sambil mulut kecap2
keras seperti induk babi.
Dia m2 Cu Jing me ngerut kening melihat cara ma kan seperti
orang kelaparan itu, mulut Hwesio itu terus be kerja, belum lagi paha
ayam dilalap habis, arak sudah dituang ke mulut lagi, lalu
menyeruput semangkok kuah ikan pula, begitu sibuk dia sikat
semua hidangan dihadapannya tanpa rikuh sedikitpun- .
Me mang saatnya orang makan mala m, maka restoran ini penuh
sesak. keadaan menjadi ribut dan gaduh, Cu Jing tidak hiraukan si
Hwesio yang sibuk makan seadiri, dia Celingukan kian ke mari,
matanya sibuk me ncari si orang tua misterius yang ternyata tidak
kunjung tiba.
Sementara hidangan si Hwesio sudak dilalapnya habis satu
persatu, sambil tertawa dia me micing mata si Hwesio tepuk2
perutnya yang gendut, katanya sambil ngaka k: "Hari ini kau sudah
kenyang dan puas bukan? Semua ini berkat kebaikan Siau-sicu. ini
yang berjodoh dengan sang Buddha, me mberi sedekah dan
me mbayar rekening, tak terbalaslah luhur budinya, omitohud" Lalu
dia rangkap kedua tangan sambil mundur tiga langkah, setelah
me mberi sala m terus tinggal pergi dengan langkah se mpoyongan..
Tapi, baru tiga langkah mendadak dia berpaling katanya, sambil
pandang Cu Jing dengan sikap lucu seperti mabuk:." Siausicu tida k
perlu menunggu pula, orang yang kau tunggu mala m ini tidak a kan
datang lagi." .
Cu Jing melenga k. tanyanya "Darimana Taysu tahu ?. ."
Hwesio je mbe l tertawa lebar, ujarnya: "Yang kau tahu sudah
tentu Hwesio juga tahu, apa yang kau tidak tahu Hwesio tetap tahu,
kalau Hwesio kere tidak tahu, me mangnya siapa yang tahu?" -
Sembari bicara dengan sempoyongan dia melangkah ke arah
tangga.
Melihat tingkah orang yang angin2an itu, tiba2 tergerak hati, Cu
Jing, dia ingat apa yang pernah dikatakan Ban Jin-cun bahwa orang
tua misterius itu mungkin adalah Hoan-jiu-ji-lay, walau dia tida k
tahu siapa itu Hoan jiu ji-lay, tapi kalau dia berjuluk "Ji-lay" tentu
dia seorang Hwesio mungkinkah Hwesio kere inilah Hoan-jiu-ji-lay?.
"Tak salah lagi, kalau tidak bagaimana dia tahu aku ada janji
dengan orang, iapun tahu orang tua itu tidak akan datang lagi?
Setelah datang dan pergi dengan kenyang dan mabuk, sudah tentu
dia tidak akan datang pula, maka diriku disuruh jangan menunggu
lagi." cepat Cu Jing berdiri, teriaknya: "Pelayan, berapa
rekeningnya." Dia rogoh sekeping uang perak terus ditaruh di meja.
"Sisanya buat kau" habis berkata dengan setengah berlari dia
terus turun loteng.
Hanya beberapa detik saja jarak antara si Hwesio pergi dan dia
berlari menyusul ke bawah, tapi waktu dia tiba di bawah sana,
bayangan si Hwesio sudah tida k kelihatan lagi?
Pasar ma la m masih ra mai di luar, orang berlalu la lang berjejal, ke
mana lagi dia akan mencari si Hwesio. Pula orang sengaja tidak mau
bicara lebih lanjut, umpa ma dikejar juga orang t idak ma u
mene muinya.
Sekian la ma Cu Jing berdiri melongo me ngawasi orang2 yang
bersimpang siur dijalan raya, sesaat kemudian baru dia beranjak ke
ujung jalan sana langsung ke mbali ke tempat penginapannya .
Mala m sudah larut, para tamu yang lain sudah masuk ka mar dan
tidur, maka Cu Jing langsung menuju ke ka marnya, waktu dia
me mbuka pintu ka mar dan ha mpir me langkah masuk, tiba2 dia
tertegun dan berdiri me matung.. Dilihatnya seseorang duduk dikursi
didekat jendela sana. Lampu me mang tidak dinyalakan tapi sinar
rembulan di luar jendela cukup menerangi keadaan kamar sehingga
tertampak re mang2. .
Terlihat jelas oleh Cu Jing orang yang berada dika marnya ini
berpakaian hita m, bermuka kuning, orang ini adalah orang yang
dilihatnya berdiri di depan toko kain tadi, diam2 Cu Jing mengumpat
dalam hati, batinnya: "Kiranya dia me mang hendak- cari perkara
padaku."
Si baju hitam angkat kepala, katanya tersenuyum: "Kau hanya
berdiri di luar pintu, me mang-nya tidak berani masuk?"
Dingin suara Cu Jing: "Rasanya aku kesasar, salah masuk ke
kamar orang lain."
Pelan2 si baju hitam berbangkit, katanya: "Kau tidak kesasar."
Cu Jing beranjak masuk- katanya sambil menatap orang: "Jadi
saudara yang kesasar ke ka marku?"
"Akupun tida k kesasar," ujar si baju hita m, "Sebab aku sedang
menunggumu."
"Ada urusan apa kau menungguku" tanya Cu Jing.
Berkedip2 mata si baju hitam, katanya setelah menatap lekat2
sebentar: "Aku ingin bicara dengan kau."
Mendadak si baju hitam tertawa lebar, katanya: "Agaknya kau
curiga bahwa aku bermaksud tidak baik, terhadapmu?" Tawanya
manis sehingga kelihatan baris giginya nan putih rata dan a mat
kontras dengan kulit mukanya yang kuning. "Kalau dia seorang
perempuan, mestinya dia pere mpuan cantik, molek. sayang giginya
yang rajin dan putih itu tumbuh di mulut laki2 yang bermuka jele k
dan me muakkan-
Tapi Cu Jing tidak perhatikan senyuman yang kaku, iapun tak
pedulikan gigi orang yang putih indah, sikapnya tetap dingin,
dengusnya: "Umpa ma betul kau bermaksud jahat, me mangnya
kenapa?"
Agaknya si baju hitam me mang tidak bermaksud jahat, kemba li
ia me mandang Cu Jing,
katanya:"ini ka marmu, aku ke mari sebagai tamu, sikapmu begini
kaku, apa begini layaknya kau melayani tamu?"
Cu Jing habis sabar, katanya sambil berkerut alis: "Ada omongan
apa lekas katakan saja."
"Kukira kau tidak asing lagi dengan dandananku ini bukan2" ujar
si baju hitam: "Kutahu ke dua, temanmu sudah berangkat ke Pa k-
siam san-"
Cu Jing mendengus sambil mengawasi muka orang yang kuning
kaku itu: "Hm, agaknya kau serba tahu."
"Apa yang kutahu, belum tentu kaupun tahu," ujar si baju hita m.
"Apa pula yang kau ketahui?" tanya Cu Jing.
Kata si Baju hita m sungguh2: "Kedua te manmu itu mungkin
takkan ke mba li lagi."
"Apa katamu?" Cu Jing mende lik :"Ban Jin-cun. . . mereka
menga la mi bahaya?"
Mendadak dia maju se langkah, berbareng ta-ngan kiri
mencengkeram perge langan tangan si baju hita m, sekenanya dia
menggentak mundur ke bela kang se mbari lepas ke lima jarinya,
dalam keadaan tidak siaga dan tak terduga2 si baju hitam kena
disengkelitnya jatuh di lantai.
Karena, gugup, tanpa sadar Cu Jing melancarkan gerakan Jiau-
kau-sek. dan hasilnya betul2 di luar dugaannya. Tapi dia tida k
pedulikan keadaan si korban, "sret" dia melolos pedang serta
menganca m tenggorokan orang, bentaknya: "Lekas katakan, kalian
mengatur muslihat apa ....."
Tak tahunya bahwa kepandaian silat si baju hita m ternyata juga
cukup lihay, walau pecundang dalam keadaan tidak siaga, waktu
ujung pedang Cu Jing menganca m, cepat dia mengkeret mundur.
Selicin belut tiba2 badannya meluncur di lantai dan mundur
beberapa kaki jauhnya. Dengan tangkas dia melompat berdiri, "s
reng", iapun cabut sebatang pedang panjang, katanya dongkol:
"Kau tidak tahu diri, kalau aku mau mencela kai kau, sejak tadi
jiwa mu sudah melayang, tahu2 Seperti tidak mendengar apa yang
dikatakan orang, Cu Jing malah tertawa dingin, jengeknya: "Aku
tidak akan me mbunuhmu, katakan muslihat apa yang kalian
rencanakan untuk me ncelaka i jiwa Ban Jin-cun berdua"
Si baju hita m acungkan pedangnya, katanya dingin: "Tidak sukar
jika kau ingin tahu, pertama kau harus kalahkan dulu pedangku, hal
kedua umpa ma aku yang menang, aku akan tetap menerangkan
padamu,"
Agaknya, dia penasaran karena barusan kena disengkelit jatuh
oleh Cu Jing, ma ka setelah menang baru dia mau menerangkan
maksud kedatangannya.
Tapi Cu Jing berwatak keras, Tak mau kalah, "kalau aku kalah,
kaupun tida k perlu jelaskan-"
"Jadi kau tidak ingin tahu berita tentang temanmu itu?"
Menyinggung Ban Jin cun, entah kenapa Cu Jing jadi naik pita m,
katanya dengan mata mendelik: "Kau kira aku tidak bisa
menga lahkan kau?" tiba2 pedangnya bergetar terus, menusuk ke
depan.
Si baju hita m miringkan badan tida k mundur dia ma lah mendesak
maju, sinar pedang berkelebat, menghindari tusukan se mbari balas
menyerang. Sasarannya adalah pundak kiri Cu Jing.
Terkesiap hati Cu Jing me lihat gerakan lawan yang aneh dan
cekatan, badan setengah berputar, gerakan dipercepat, dalam
sekejap dia berturut menika m tiga kali. Ternyata permainan pedang
si baju hitam juga lincah dan gesit, tiga kali tikaman Cu Jing meleset
semua di samping tubuhnya, ujung bajupun tidak kena. Kini berbalik
sinar pedang lawan berkelebat cepat dan ganas serangannya, Hiat-
to me matikan di tubuh Cu Jing menjadi sasaran-
Namun setiap serangan ganas selalu ditarik lagi di tengah jalan,
jelas lawan sengaja mengalah..
Cu Jing jadi marah, segera ia ke mbangkan ilmu pedangnya,
gerakannya semakin gencar dan sengit, ingin rasanya sekali tika m
dia bikin ma mpus lawannya, begitulah mereka serang menyerang,
maju mundur silih berganti, belasan gebrak telah berlangsung di
dalam ka mar yang se mpit itu.
Keringat sudah me mbasahi badan Cu Jing, dia sudah keluarkan
seluruh ke mahiran ilmu pedang-nya, tapi si baju hitam tetap tak
dapat dirobohkan, keruan ia gemas dan gelisah. Mendadak tergerak
pikirannya, sengaja dia melakukan gerakan lambat dan
menunjukkan lubang ... .
Perlu diketahui pedang yang digunakan si baju hitam lebih
pendek daripada Cit-sing-kia m Cu Jing yang panjangnya tiga kaki
lebih itu, oleh karena itu baik maju mundur, menyerang atau
me mbe la drii, gerakannya selalu berpadu dengan gemulai tubuhnya
yang lincah dan licin itu, setiap ada kese mpatau tentu diterobosnya.
Kini melihat Cu Jing ada lubang kele mahan, cepat ia menyelinap
maju, pedangnya dari menabas berubah menjadi mengetuk. dengan
batang pedang dia mengetuk Hiat-to pergelangan tangan Cu Jing
yang me megang pedang.
Kalau serangannya berhasil mengenai sasaran, maka pedang cu-
Jing pasti terketuk jatuh. Tak ter-duga2 tiba2 ia merasakan
pergelangan tangan kanan sendiri kese mutan kaku, entah
bagaimana Cu Jing telah menangkap urat nadinya, berbareng ujung
pedang menganca m tenggorokannya. Terdengar Cu Jing berkata
dengan nada ke menangan dan puas: "Tak kau lepaskan
pedangmu?".
Kiranya dala m keadaan terdesak. serta merta Cu Jing
me lancarkan gerakan Jiau-kau-sek, betul juga dengan mudah dia
berhasil me mbe kuk si baju hita m. ....
Berkedip mata si baju hitam yang besar dan jeli itu, pancaran
sinarnya marah, tapi juga kagum dan me muji, na mun mulutnya
menjenge k: "Hanya gerakan begini saja ke ma mpuanmu. ."
"cukup Asal bisa me mbekukmu" jawab Cu Jing "Le mpar
pedangmu dan bicaralah terus terang."
Si baju hita m sedikit meronta, katanya: "Lekas lepaskan, baiklah
akan kukatakan, me mangnya Aku ke mari henda k me mberi kabar
padamu, ka lau tidak buat apa aku menunggumu di sini?"
"Kau henda k me mberi kabar padaku?" Cu Jing menegas. .-. . .
Terpancar rasa masgul pada sorot mata si baju hitam, katanya:
"Kau masih tidak percaya?"
"Mengapa tingkah la kunya seperti anak perempuan,?" de mikian
batin Cu Jing. Segera ia turunkan pedangnya, katanya: "Asal kau
bicara terus terang, kulepas kau pergi."
"Baiklah, lepaskan dulu tanganmu."
Yakin orang takkan bisa meloloskan diri, Cu Jing lantas lepaskan
peganannya. Si baju hitam lantas simpan juga pedangnya, lalu dia
meraih kain hita m yang mengikat kepa lanya, rambut panjang hita m
kilap seketika terurai di pundaknya. . . Cu Jing berseru kaget: "Kau
perempuan?"
Si baju hitam tertawa lebar, kembali ia menanggalkan kedok
mukanya yang tipis. Wajahnya yang tadi kuning kaku mengkilap kini
berubah seraut wajah molek seorang gadis, tampaknya ma lu2 dan
ingin bicara tapi urung.
Heran Cu Jing mengawasi orang sekian la manya, tanyanya:
"Siapakah kau sebetulnya?"
"Aku berna ma Hek-bi-kwi (ma war hita m)."
"Kalian se muanya pere mpuan?
"Bukan, mereka adalah orang2 Hek-liong-hwe (sindikat naga
hitam)."
"Kau sendiri bukan anggota Hek-liong-hwe?"
Hek-bi-kwi atau si mawar hita m mengge leng, katanya sungguh2:
"Terus terang, aku sebetulnya, orang Pek- hoa-pang, tapi bertugas
di dala m Hek-liong-hwe, kini tugasku sudah selesai, saatnya aku
harus kembali." Tanpa menunggu Cu Jing bertanya, dia
mena mbahkan lagi: "Soalnya kedua temanmu yang pergi ke Pek-
siam-san sudah diketahui oleh pihak mereka, Hek-liong-hwe sudah
mengirim berita dengan merpati pos, sebelum kedua te manmu t iba
di Pak sia m-san mereka sudah pasang jala henda k menjaringnya,
aku tak dapat membantu, terpaksa menyerempet bahaya
mengabarkan hal ini kepadamu, syukur kalau engkau bisa menyusul
mereka serta me mbujuknya agar me mbatalkan nitanya untuk
menyelidiki senjata rahasia beracun itu, kalau t idak. orang2 He k
liong- hwe pasti t idak a kan berpeluk tangan, demikian pula kau
sendiri kuberitahu supaya jangan mencampuri urusan ini .... . "
sembari bicara dengan cekatan ia sudah menggelung ra mbut serta
me mbungkusnya dengan kain hita m, katanya pula: "Sudahlah, apa
yang ingin kusa mpaikan sudah kusa mpaikan, sekarang aku mohon
diri, harap engkau jaga dirimu baik2."
Habis berkata dengan cepat dia melangkah keluar. Tapi di
ambang pintu dia berpaling serta pandang Cu Jing lekat2. Hanya
sekejap ini mukanya sudah ke mbali menjadi kuning kaku dan
mengkilap. tapi matanya yang bundar besar itu me mancarkan
perasaan berat dan kasih mesra, lalu dengan cepat ia berkelebat
keluar dan menghilang.
Dia m2 Cu Jing tertawa geli, batinnya: "Agaknya bocah ayu ini
menaruh hati kepadaku."
Si mawar hita m melompat ke atas genting terus keluar dari hotel,
seringan kapas ia me lompat turun dijalan raya yang sepi terus ber-
lari2 menpuju ke selatan- Setiba di daerah Sam-koan-tia m takjauh
di depannya dilihatnya bayangan dua orang mengadang di kiri-
kanan jalan.
Dala m kegelapan darijauh pasti tidak akan melihat dua orang di
depannya ini, untung mala m ini ada sinar bulan, maka mawar hita m
segera melihat bayangan kedua orang dari kejauhan..
Betapa cerdik si mawar hitam, me lihat dua orang berdiri di
pinggir jalan, karena kawan atau lawan sukar diraba, sudah tentu
dia tidak berani mendekat secara gegabah, segera dia berhenti
beberapa jauh dari mereka. Begitu dia berhenti, ke dua bayangan
orang itu mulai bergerak dan pelahan2 mende kati dirinya. . .
Mawar hita m tetap berdiri tak bergerak. tapi jari2, tangan
kanannya sudah menggengga m gagang pedangnya. Cepat sekali
seperti bayangan setan kedua orang itu sudah berada
dihadapannya. Kini mawar hitam me lihat jelas kedua orang ini sa ma
mengenakan seraga m hita m, mukanya juga kuning seperti mala m,
seorang lagi mukanya malah lebih legam sehingga tertampak
menyeramkan-
Kini mawar hita m dapat me lihat je las kedua orang ini teman yang
tadi bertugas bersama dirinya, yaitu dengan kode huruf kuning
nomor 27. "Bukankah mereka bertugas menguntit Ban Jin-cun dan
Kho Keh-hoa menuju ke Pak-sia m-san? Tapi kedua orang itu
mendadak muncul di sini," keruan ia kaget, lekas dia me mberi
hormat, katanya: "Hamba huruf kuning 29, menyampa ikan hormat
kepada Sincu"
Ternyata laki2 muka kuning kelabu berna ma Sin-cu "sincu adalah
suatu jabatan tertentu di dala m He k-liong-hwe.
"Nomor28," desis la ki2 muka kelabu, "Kau tahu apa dosamu?”
Bergetar hati mawar hitam, tapi dia me makai kedok, sudah tentu
perubahan air mukanya tidak -kelihatan, tapi sikapnya kelihatan
gugup, sahutnya: "Entah ha mba melanggar kesalahan apa?"
"Budak bernyali besar," damperat laki2 muka kelabu,
"dihadapanku masih berani mungkir."
"Harap Sincu periksa yang betul, ha mba betul2 tidak tahu
berbuat kesalahan apa? Memangnya melanggar peraturan
organisasi? "
si muka ke labu menjengek dingin: "Apa betul kau tida k tahu?
Baiklah, nornor 27 jelaskan padanya."
Laki2 muka lega m mengia kan, dengan menyertingai dia berkata:
"Sebelum berangkat menunalkan tugas kali ini ha mba menerima
perintah rahasia Ji tongcu, beliau merasa nomer 28 agak
mencurigakan, maka ha mba diperintahkan me mperhatikan gera k-
geriknya . . . ."
"Aku toh bukan anak buah Ji-tongcu," debat mawar hita m, "dari
mana dia tahu letak ke le mahanku sehingga menaruh curiga padaku"
"Kau adalah anak buah cui tongcu," kata laki2 muka lega m,
"sudah tentu perintah Ji tongcu ini juga setahu cui tongcu sendiri."
Lalu dia mena mbahkan: "Setelah nomor sembilan mati mene lan
racun, sengaja hamba bilang mau menguntit kedua bocah Ban dan
Ko itu, sebetulnya di Kim-sim-tun piha k kita juga ada orang,
hakikatnya tidak perlu me nguntit mereka segala, apa yang hamba
lakukan hanya untuk mengelabui nomor 28 dan mengawasi tingkah
lakunya apakah betul dia melanggar. ..."
"Me mangnya aku melanggar aturan apa?" tanya mawar hita m.
"Untuk apa ma la m ini kau pergi ke hotel Ko-seng-can?" tanya
laki2 muka lega m. .
"Karena bocah she cu itu tinggal di hotel itu maka ingin aku
menyelidiki gerak-geriknya, me mangnya maksudku ini salah?"
dengus mawar hitam.
"Apa saja yang telah kau bicarakan dengan dia?" tajam
pertanyaan laki2 muka lega m.
"Jadi kau menguntitku secara dia m2, apa yang kulakukan tentu
sudah kau sakslkan, kenapa tanya lagi?"
"Akulah yang ingin tanya padamu," sa mbung laki2 muka kelabu. .
Mawar hitam me liriknya, katanya dengan membungkuk hormat:
"Sin-cu boleh tanya nomor 27 saja, yang terang hamba yakin tida k
me lakukan kesalahan-"
"Kau tidak usah berdebat lagi, serahkan senjatamu, pulang ikut
aku menghadap Cui-tongcu"
Tanpa terasa mawar hitam menyurut mundur selangkah,
semakin kencang jari2nya me megang gagang pedang, katanya:
"Jadi Sincu juga tidak percaya padaku, baiklah aku akan menghadap
cui-tongcu sendiri"
Sorot matanya yang kelabu menatap mawar hitam, tegas suara si
muka kelabu: "28, kau berani melawan perintah?" Dari dala m
bajunya dia keluarkan seutas rantai lembut, di ujung rantai terikat
sebuah gembok kecil, "trang", dia le mpar ge mbok borgol itu ke
tanah, bentaknya bengis: "Belenggu tanganmu sendiri."
Melihat orang ke luarkan borgol, rasanya berdebat juga tak
berguna, maka mawar hita m mundur ber-siap2, katanya tertawa
dingin: "Sin-cu sendiri me ma ksa aku mela kukan pe langgaran-
Baiklah, aku akan ke mbali ke markas saja," Segera dia putar tubuh
dan lari.
"Bangsat bernyali besar" bentak si muka kelabu. "Kau mau lari?"
Tanpa diperintah laki2 muka legam melolos senjata terus
me lompat ke depan menghadang si ma-war hita m, Urusan sudah
kadung begini, terpaksa mawar hita m harus bertindak cepat,
mendadak ia menghardik keras "Minggir"
Begitu pedang terlolos dan bergerak, dengan jurus jun-seng-hwi-
hoa segera sinar pedang menggulung ke dada la ki2 muka lega m.
Agaknya orang itu tidak menduga di hadapan sincu orang berani
bergerak senekat ini ehingga si mawar hita m se mpat merangsaknya
lebih dulu, ma ka dia tidak berani menya mbut ecara keras, ia
me lompat mundur beberapa kaki. Begitu kaki turun ke tanah,
pedangnyapun udah terlolos, bentaknya.: "Perempuan keparat,
berani kau melawan?" Tiba2 ujung pedangnya bergetar, dia
menubruk ke arah mawar hita m.
Sebelum lawan menubruk tiba, mawar hita m me mbentak seraya
putar pedang dengan kencang, beruntun dia menusuk dan menika m
delapan kali, Delapan ka li serangan ini dilancarkan secara ganas,
beberapa kaki sekeliling dirinya bertaburan sinar pedangnya yang
ke milau.
Karena di dahului, si muka lega m tepaksa hanya me mbela diri
sambil mundur, ia kaget danjeri, sembari bertahan mulutnya
berkaok2. "Sincu, coba lihat ilmu pedang apakah yang dimainkan
keparat ini?"
Tujuan mawar hita m hanya me loloskan diri, sudah tentu
serangannya tak mengenal kasihan, beruntun beberapa kali
serangan pedangnya hampir saja mena matkan jiwa si muka lega m,
tapi begitu orang mundur, sebat sekali dia tutul kedua kaki terus
me la mbung setombak lebih jauhnya. Namun waktu ia henda k
mengenjot ka linya lagi, mendadak badannya bergetar, "bluk", tanpa
kuasa ia jatuh terjere mbab.
Terdengar si muka kelabu terkekeh sa mbil mengha mpiri,
suaranya sinis: "Perempuan hina, dengan sedikit ke ma mpuanmu ini,
me mangnya mau lolos dari tangan aku orang she Tin? Lekas kata-
kan, siapa yang mengutusmu menjadi mata2 di perkumpulan kita?"
dia rebut pedang dari tangan laki2 muka lega m, seka li ujung pedang
bergetar, beruntun dia tutuk tujuh kali Hiat-to di tubuh si mawar
hitam.
Karena terjatuh ke tangan musuh, mawar hita m peja mkan mata
saja tanpa bicara, dia pasrah nasib . . .
"Dihadapan orang she Tin jangan kau pura2 mampus, kau akan
menderita tanpa bisa berkutik sedikitpun," desis la ki2 muka kelabu,
mendadak ia putar balik pedangnya, dengan gagang pedang dia
mengetuk ke bawah dada mawar hita m. Ketukannya tidak berat,
tapi sasarannya telak. gerakannya-pun berbeda dengan ilmu tutuk
umumnya. Badan mawar hitam seketika mengejang, tanpa kuasa
mulutnya mengerang kesakitan-
Dengan keheranan laki2 muka legam pandang laki2 muka kelabu,
katanya: "Budak keparat ini teramat keras kepala, biar hamba
menyiksanya lebih parah . . "
Laki2 muka ke labu menyeringai: "Tak usah kau turun tangan,
dalam sepe minum teh, mustahil dia tidak mengaku."
Laki2 muka lega m mundur dengan ragu2, tapi dia tida k berani
banyak mulut lagi.
"Nah," ujar laki2 muka ke labu, "sekarang tanggalkan kedok
mukanya, kini dia sudah bukan orang kita, tak boleh mengena kan
kedok ini, nanti akan kukorek kedua biji matanya."
Laki2 muka lega m mengiakan, segera dia mendekat dan menarik
kedok si mawar hita m.
Dilihatnya wajah si mawar hita m yang mole k berubah pucat dan
basah oleh keringat dingin. Dengan hati tak tenteram ia angsurkan
kedok itu kepada atasannya.
Laki2 muka ke labu simpan kedok itu ke dala m bajunya, sikapnya
tampak tenang2, ia berjalan ke sana lalu duduk di atas batu besar
dipinggir ja lan sana.
Sementara itu wajah mawar hitam yang pucat berkerut2 itu
sudah dibasahi keringat dingin, badan mengejang dan bergetar
semakin keras, giginya berkerutuk menahan sakit. Jelas dengan
segala daya dia bertahan akan siksaan yang luar biasa ini. Tidak
merintih juga tidak menjerit, hanya giginya yang berkeriut, dia
terima siksaan ini dengan tabah dan berani. Dia tahu setelah rahasia
dirinya ketahuan, dia terima segala akibat yang bakal menimpa
dirinya.
Laki2 muka lega m sa mpai merinding menyaksikan perubahan air
muka si mawar hita m, tapi laki2 muka kelabu justeru tetap
ongkang2 duduk di sana dengan sabar, hatinya seperti terbuat dari
besi tanpa perasaan, seakan2 dia a mat puas dan senang melihat
Keadaan si mawar hitam yang begitu menderita. Dengan
terkekeh dingin tiba2 dia berdiri mengha mpiri, tetap dengan gagang
pedang, kembali dia mengetuk badan si mawar hita m. Kiranya,
ketukan ka li ini untuk me mbuka Hiat-to yang menyiksa mawar hita m
tadi. Si mawar hita m yang sejak tadi duduk bertahan kini menjadi
lungla i dan terkapar di tanah.
Dengan terkekeh dingin si muka kelabu mendelik bengis,
katanya: "Nomor 28, kau sudah rasakan, kenikmatannya?
Ketahuilah, ini baru permulaan supaya kau tahu rasa, yang lebih
enak masih bisa kau rasakan jika kau tetap me mbangkang,
ketahuilah kesabaranku juga terbatas."
"Bunuhlah a ku," teriak mawar hita m serak.
"Me mangnya begini mudah?" jengek muka ke labu. "Sebelum kau
mengaku siapa yang mengutusmu ke mari? Aku tida k akan
me mbikinmu ma mpus,"
Mawar hitam me mbuka pula matanya, mulutnya terkancing
rapat2.
"Aku tak percaya, memangnya badanmu ini berotot kawat
bertulang besi," demikian ejek si muka kelabu, "Tak mau bicara,
jangan sesalkan aku berlaku keji. ......" ia angkat pedang pula dan
pelan2 gagang pedang ke mbali henda k menutuk ke dada si mawar
hitam.
Pada saat2 genting itulah, tiba2 dari belakang pohon sebelah
kanan sana orang me mbentak nyaring: "Berhenti" - Suaranya
merdu, terang itulah suara perempuan, malah pere mpuan yang
masih muda belia.
Gagang pedang di tangan si muka kelabu yang sudah teracung
berhenti di tengah jalan, ia melirik ke arah datangnya suara, Pohon
di pinggir ja lan itu berada beberapa pelukan orang besarnya,
bentuknya menyerupai payung, Ta mpak dua bayangan orang
me lompat ke luar dari balik pohon besar itu.
Dua bayangan semampai dan ra mping, yang di depan berusia
19-an me makai gaun panjang warna hijau pupus dengan baju
panjang putih mulus, wajahnya tampak jelita dan anggun, di bawah
sinar rembulan yang remang2 kelihatannya dia seperti bidadari yang
baru turun dari kahyangan. Agak di belakang adalah seorang gadis
pula lebih muda berpaka ian serba hijau, kuncir ra mbutnya yang
hitam me njuntai turun menghias dada, dandanannya mirip pelayan,
tapi wajahnya juga cantik molek.
Melihat yang muncul hanya dua gadis ayu, si muka kelabu
tertawa lebar, katanya: "Agaknya kalian me mang sekomplotan,
kebetulan kalian akan punya kawan dala m perjalanan ke alam baka,
supaya aku tidak me mbuang wa ktu di sini"
Menjengkit a lis gadis bergaun panjang, bentaknya: "Kau
me mbua l apa? Kebetulan aku lewat di sini, tak senang kumelihat
perbuatan kejammu ini terhadap seorang gadis lemah yang tak
ma mpu melawan ini."
Si muka ke labu me micingkan matanya, desisnya tertawa:
"Me mangnya kenapa ka lian nona2 cantik ini tida k senang. Aku
justru ingin perlihatkan pada mu." gagang pedang yang sudah
teracung pelan2 bergerak turun pula.
Gadis baju hijau bertolak pinggang, bentaknya: "Kunyuk kurang
ajar, di hadapan Siocia berani kau bertingkah"
"Me mangnya kenapa tuan besarmu ini tidak berani" jenge k si
muka kelabu.
"Berani kau menyentuhnya, segera kubuntungi lengan kananmu .
. . . " ancam si nona bergaun panjang dengan gusar..
Si muka kelabu tertawa, katanya: "Budak cilik, kalau tuan
besarmu ga mpang digertak orang, aku takkan berjuluk Thian-kau
(anjing langit). Nah lihatlah"
Gerak gagang pedangnya lambat2, tapi sudah hampir menyentuh
dada si mawar hita m.
Pada saat itulah jari gadis gaun panjang tiba2 terangkat,
bentaknya: "Betul kau berani ."
Gagang pedang si muka ke labu sudah ha mpir mengenai
sasarannya, tapi mendadak dia merasa adanya sesuatu yang ganjil,
lengan kanannya itu tahu2 kaku dan pati rasa, lemas tidak me nurut
perintah lagi. Baru saja ia terkejut, segera pedang yang
dipegangnya berkelontangan jatuh di tanah.
Sudah tentu laki2 muka lega m kaget, tanyanya lirih sambil
me mburu maju: "Kenapa Sincu?"
Pucat dan ketakutan me mbayang pada wajah muka kelabu:
"Lekas pergi" Dengusnya pelahan, cepat dia mendahului berlari
pergi ..
Melihat pe mimpinnya lari me mbawa luka, sudah tentu si muka
legam tak berani tingga l la ma2, lekas iapun angkat langkah seribu.
Gadis baju hijau cekikikan, katanya:. "Tidak berguna, sekali
gertak lantas lari mencawat ekor."
Gadis majikannya berkata sungguh2: "Jangan kau pandang
ringan mereka, kepandaian mereka tinggi, kalau bertempur betul2
mungkin aku bukan tandingannya." lalu dia menambahkan- "Lekas
kau periksa luka nona itu."
Dengan langkah ringan dia mengha mpiri lalu berjongkok di
samping si mawar hita m, katanya, "Entah di mana luka nona, apa
tertutuk Hiat-to mu. ."
Dengan telentang lemas pelan2 mawar hita m me mbuka mata,
suaranya lemah tak bertenaga: "Terima kasih atas pertolongan
nona, cuma. .... keadaanku sudah payah" matanya berkedip2, tak
tertahan dua titik air mata berlinang dikelopak matanya.
"Di mana luka mu," tanya gadis gaun panjang, "lekas katakan biar
kuperiksa?"
Mawar hitam menggeleng, katanya lemah: "Jangan nona
menyentuhku, aku terkena senjata rahasia beracun keparat itu
........"
"Terkena senjata rahasia beracun?Jangan kuatir a ku me mbawa
obat mujarab, mungkin bisa menawarkan racun dala m tubuhmu."
"Tak berguna," ujar mawar hitam rawan, "racun dibadanku t iada
obat pemunahnya di kolong langit ini, bahwa aku tidak segera mati,
karena Thian-kau-sing (anjing langit) tadi menutuk Hiat-toku
sehingga kadar racun se mentara tidak me njalar ke jantung . ....."
lalu dia pandang gadis penolongnya, "nona baik hati menolongku,
ada pesan ingin kut itipkan pada mu, entah nona sudi me mbantuku
lagi t idak?"
"Pesan apa katakan saja, asal bisa kula kukan pasti kubantu
kau.". .
"Terima kasih, di dala m bajuku ada sebuah kantong kain
bersulam, barang ini jangan sa mpai terjatuh ke tangan orang2 He k
liong hwe, oleh karena itu terpaksa kutitipkan pada nona ....."
"Kantong ini tentu penting artinya, entah kepada siapa harus
kuserahkan?"
"Penting sih t idak. juga tidak perlu diserahkan kepada siapa2,
cuma tolong kau me mbakarnya saja, di dala m kantong ada sekeping
besi tipis, di tengahnya ada ukiran sekuntum bunga mawar, besok
pagi tolong adik ini suka cantolkan di mana saja asal dipojok te mbok
di pinggir jalan, harus dicantolkan terbalik ke bawah, lalu dilingkari
tinta hitam, cukup di dua-tiga tempat saja, kawan2ku tentu akan
tahu bahwa aku sudah gugur."
"Baiklah, akan kulakukan pesanmu ini."
"Soal ini a mat rahasia, waktu me mbuat lingkaran hita m jangan
sekali2 dilihat orang."
"Aku dan Siau Yan jarang berke lana di Kangouw," kata gadis
gaun panjang, "entah kau dari Pang atau Pay mana?"
"Aku tak berani mengelabui nona, aku orang Pek-hoa-pang,
harap nona tidak ceritakan peristiwa ma la m ini kepada orang lain-"
"Aku tahu, setiap Pang atau Pay di kalangan Kangouw ada
peraturan dan rahasianya sendiri, aku tidak akan beritahu kepada
orang lain-"
"Baiklah, tolong ke luarkan kantong kain dala m bajuku, waktuku
tak banyak lagi " . .
"Biar kua mbil," kata gadis baju hijau, segera ia berjongkok serta
merogoh keluar sebuah kantong kecil dari dala m baju si mawar
hitam.
Sekilas me lihat cuaca, tak tertahan air mata mawar hitam lantas
bercucuran, katanya sedih: "Masih ada satu hal hampir kulupakan,
di dala m kantong ada sebuah botol kecil warna hitam, setelah aku
mangkat, tolong enci siau Yan tuang sedikit bubuk obat dala m botol
itu ke atas mukaku."
Gadis baju hijau me mbuka kantong kecil dan mengeluarkan
sebuah botol tanyanya,
"Apakah ini?"
Mawar hitam mengangguk, katanya kepada nona bergaun
panjang: "Apa yang ingin kupesan sudah kukatakan, tolong Siocia
me mbuka Hiat-toku."
Berkerut alis si nona, katanya "Membuka Hiat-to, bukankah racun
akan segera menyerang jantung? "
"Ya, enam Hiat-to didadaku me mang tertutup, tapi setengah jam
lagi racun akan mere mbes pelan2, penderitaan waktu itu luar biasa,
lebih ba ik kau buka Hiat-toku supaya racun lekas menyerang
jantung, dengan demikian aku tidak akan menderita. Lekaslah,
harap Siocia tolong diriku."
Si gadis gaun panjang ragu2, katanya:. "Aku belum pernah
me mbunuh orang, cara bagaimana aku tega turun tangan? . . ."
"Yang me mbunuh aku adalah Thian-kau-sing. Siocia malah
menolongku, kalau Siocia tidak me m-buka Hiat-toku, karena jalan
darahku tersumbat, racun akan bekerja la mbat sehingga siksaan
yang kualami akan jauh lebih me ngerikan- Siocia, aku orang yang
hampir mati, kalau kau buka hiat-toku, aku tidak akan tersiksa, lebih
la ma lagi."
Akhirnya gadis gaun panjang manggut2, katanya. "Baiklah,
kutolong kau me mbuka Hiat-to" lambat2 dia ulur tangan, tapi
hatinya tidak tega hingga tanganpun gemetar, tanyanya lagi dengan
sedih: "Kau masih ada pesan apa?" Pilu senyuman mawar hitam,
sahutnya: "Terima kasih, tiada lagi. ."
"Aku. .... .ai, aku.. .. ..sungguh tidak tega turun tangan," kata
gadis gaun panjang sa mbil menyeka a ir mata.
Mendadak badan si mawar hita m bergetar terus mengejang dan
berkelejetan, air mukanya berubah hebat, suaranynya gemetar: "
Racun .....sudah mula i . bekerja Siocia le .. lekas . . ." Melihat
penderitaan yang hebat ini, gadis gaun panjang tidak sampai hati,
tanpa pikir ulur tangan ke dada mawar hitam, beberapa Hiat-to,
yang tertutuk tadi dibuyarkannya .
Badan mawar hita m ta mpak berkelejetan, wajahnya yang semula
pucat berkeringat seketika berubah hitam, darah kental hitampun
me leleh dari mulut hidang dan mata kupingnya.
Bergidik sera m si gadis gaun panjang, katanya menghe la napas:
"Senjata rahasia yang ganas sekali. Ai, Siau Yan, dia minta kau
menaburkan bubuk obat itu ke mukanya, lekas kau la kukan, kita
harus segera berangkat."
Siau Yan mengiakan, dengan tabahkan hati ia taburkan bubuk
obat di botol kecil itu ke muka si mawar hitam, katanya: "Siocia,
marilah le kas pulang ke hotel." wajahnya tampak pucat dan
tangannya gemetar, agaknya iapurt ketakutan- . .
Gadis gaun panjang mengge leng2, katanya: "Tadi. kita sudah
menerima pesannya yang terakhir. setelah me mbakar kantong kain
itu baru kita pulang. ."
"Diba kar di sini juga, Siocia?" tanya siau Yan. "apa jangan di
tengah jalan, kalau dilihat orang bisa dicurigai, malah bakar di
depan biara bobrok di depan sana"
Pada saat mereka bicara itulah jenazah mawar hita m se mentara
itu sudah mula i lumer, kini tinggal cairan darah kuning menggenangi
tanah sekitarnya..
"Siocia me mang lebih cermat," ujar Siau Yang, tiba2 ia menjerit
kaget me lihat ca iran darah kuning itu.
Gadis gaun panjang menoleh se kejap lalu melengos pula,
katanya. "Bubuk obat yang kau taburkan di mukanya tadi tentu
Hoa-kut-san (puyer pelebur tulang), tujuannya untuk melenyapkan
jenazah si korban, agaknya dia tidak ingin orang tahu, asal-usulnya,
maka suruh kita menaburkan puyer pelebur tulang itu pada
wajahnya supaya tidak meningga lkan be kas."
Kejap lain kedua nona ini sudah beranjak me masuki ke lenteng
bobrok yang sudah la ma tidak dihuni dan dirawat, kecuali untuk
bangunan di bagian depan masih kelihatan utuh, bagian bela kang
boleh dikatakan sudah runtuh, rumput sudah tumbuh tinggi di sana-
sini.
Dari tangan si nona baju hijau, gadis gaun panjang terima
kantong kain kecil itu serta menge luarkan isinya, ada tiga maca m
barang di da la m kantong, yaitu sekeping besi t ipis, bagian depan
terukir sekuntunt bunga mawar, sebuah kedok muka yang tipis
halus terbuat dari karet dan sebatang tusuk kundai, di ujung tusuk
kundai terdapat hiasan bunga mawar warna ungu. Keping besi itu
diberikannya kepada nona baju hijau, kata si gadis gaun panjang:
"Mungkin inilah tanda pengenal mereka, dia minta kau me mbuat
lingkaran di beberapa tempat di atas tembok di mana saja yang kau
sukai, sekarang kita bakar saja barang peningga lannya ini."
"Dia kan sudah meninggal, buat apa aku harus meninggalkan
tanda rahasia segala?" gerutu gadis baju hijau. "Memangnya siapa
akan perhatikan lingkaran hitam di dinding rumah orang?"
"Kukira orang2 Pek-hoa-pang mereka sering mondar-mandir di
sini, itulah tanda rahasia untuk me lakukan hubungan di antara
mereka, tanda yang kau buat pasti akan menimbulkan perhatian
pihak mereka" se mbari bicara dia mendekati Hiolo, lalu katanya pula
sambil berpaling: "Siau Yan ke luarkan ketikan apimu."
Pada saat itulah, dari kejauhan tiba2 berkumandang derap kaki
kuda ke arah kelenteng ini, tiba2 gadis gaun panjang me mba lik
badan, katanya lirih: "Ada orang datang"
"Lekas, Siocia bakar saja dan kita kembali ke penginapan," kata
si nona baju hijau.
Tak se mpat lagi ujar gadis gaun panjang, "aga knya mereka
me mang me luruk ke mari, lekas se mbunyi" ia celingukan, lalu Siau
Yan ditariknya menyelinap ke belakang t iga patung besar yang
dipuja di kelenteng ini.
Baru saja mereka berjongkok di bela kang patung yang penuh
gelaga dan berdebu tebal itu, suara derap kuda sudah berhenti di
depan kelenteng, dari suaranya yang ramai ke mungkinan ada
empat- lima orang penunggang kuda yang datang, entah untuk apa
mereka datang ke kelenteng bobrok pada ma la m gelap begini?
Tampak dua bayangan orang melompat masuk ke dala m
kelenteng, sinar bulan purnama di luar cukup terang, kedua orang
ini ta mpa k berperawakan sedang, semua me makai baju dan celana
setelan hijau, masing2 menggendong buntalan panjang di bela kang
punggung, kakinya mengenakan sepatu tinggi, langkahnya ringan
cekatan, jelas mereka me miliki kepandaian yang tidak rendah.
Begitu masuk ke ruang se mbayang, sorot mata mereka tampak
bercahaya terang, dengan seksama mereka me meriksa
sekelilingnya, lalu berpencar ke kanan-kiri, masuk ke arah belakang.
Entah apa yang mereka periksa dan cari, sesaat kemudian
mereka sudah putar balik, seorang yang berperawakan lebih tinggi
berkata, "Bagaimana, Poa-heng, di sini saja?". .
orang itu manggut2, katanya: "Tempat ini me mang agak sepi,
boleh saudara Siang istirahat di sini." Se mentara te mannya itu
sedang mengeluarkan ketikan api lalu menyalakan lilin, keadaan
ruang sembahyang menjadi terang.
Lekas gadis gaun panjang tarik ujung baju si nona baju hijau,
mereka mengkeret ke dala m yang lebih gelap. dari situ mengintip
keluar.
Sementara itu dua orasg telah masuk pula sa mbil menggotong
sebuah karung besar, orang di sebelah kiri bertubuh kurus aga k
pendek, lagaknya seperti anak sekolahan, sementara orang di
sebelah kanan adalah kacung pe mbantunya, karung besar yang
mereka gotong tampa k agak berat, entah barang apa yang ada di
dalamnya?.
Pelan2 dan hati2 seka li kedua orang itu gotong karung itu lalu
ditaruh di depan meja se mbahyang, pemuda sekolahan itu menarik
napas sambil menggeliat, katanya pada kedua orang yang masuk
duluan. "syukur tiba di sini, setiba di tepi sungai besok pihak atas
akan mengutus orang menyambut kita, tugas kalian berdua menjadi
selesai, dua hari ini me mbikin susah kalian saja."
"Nona terlalu me muji," kata kedua orang yang masuk duluan,
"tugas kami adalah Hou-hoa (pengawal bunga/wanita), ini adalah
tugas rutin ka mi."
Ternyata pemuda sekolahan itu adalah sa maran seorang nona.
Sementara kacung itu keluarkan sebatang lilin serta disulutnya terus
ditancapkan diatas meja.
Keruan kedua orang yang se mbunyi di belakang patung menjadi
gelisah, pikir mere ka:
"celaka, agaknya mereka hendak bermala m di sini, ka mi
sembunyi di tempat sempit dan se kotor ini, bagaimana ba iknya?"
Tengah gadis gaun panjang menimang2, tiba2 didengarnya,
derap seekor kuda tengah mendatangi pula dari kejauhan, lekas
sekali muncul seorang baju hijau dari luar kedua tangannya
me mbopong buntalan besar.
"Kau sudah me ne mui Kang-lotoa?" tanya pemuda se kolahan,
me mapak kedatangan orang itu.
Pendatang itu meletakan buntalan besar itu di depan pe muda
sekolahan, sahutnya dengan napas memburu: "Sudah kute mui.
Wah, Giok je cici, aku me ndengar sebuah berita besar . . . . "
Pemuda sekolahan itu angkat kepala, katanya:
"Berita apa, kau sa mpa i me mbedal kuda mu begitu cepat?"
Sembari bicara dia buka buntalan besar itu, Ternyata isinya adalah
makanan, ada pangsit, bakpau, sayur asin dan makanan lainnya
yang masih mengepul panas.
"Pe muda" berna ma Giok-je itu lantas berpaling dan me manggil:
"Marilah kita se mua ma kan bersa ma"
Kiranya kedua la ki2 yang masuk duluan tadi adalah Hou hoa-su-
cia, duta pelindung bunga.
mereka duduk mengelilingi buntalan berisi makanan itu serta
me lalapnya dengan lahapnya.
Si baju hijau yang baru datang duduk di samping "pe muda"
sekolahan berna ma Giokje itu, katanya: "Kabarnya Coat Sin-san-
ceng sudah bobol dan hancur."
"coat-sin san-ceng hancur" ta mpak pe muda sekolahan melengak
kaget, "darimana kau dengar kabar ini?"
"Kang-lotoa yang bilang," kata si baju hijau, "berita ini dapat
dipercaya, Kang-lotoa sudah mendapat petunjuk dari atas, dia
diperintahkan me mbantu orang2 kita yang melarikan diri bersa ma
orang2 warung teh di Hin-liong itu."
"Kau tahu siapa gerangan yang menghancurkan coat-sin-san
Ceng?"
"Konon orang Siau-lim-pay bergabung dengan Lohujin ke luarga
Tong dari Sujwan." . .
"Cek Seng-jiang me mang tiada di sana, lalu bagaimana Hian-ih-
lo-sat?"
"Melarikan diri, bagaimana keadaan yang sebenarnya, pihak luar
belum tahu je las."
"Lalu kee mpat ta mu agung yang berada di sana?"
"Kabarnya semula Hian-ih-lo-sat hendak gunakan mereka sebagai
sandera, tak tahunya racun pembuyar Lwekang di tubuh mereka
sudah punah, tatkala orang2 keluarga Tong dan para Hwesio me-
nyerbu tiba, keempat tamu agung itupun mendadak berontak.
me lihat gelagat tidak menguntungkan, Hian-ih-lo-sat lantas lari
me lalui lorong bawah tanah."
"Beberapa bulan sudah berselang, sejak Lok-san Taysu, Tong
Thian-jong dan Un It-hong dikurung di sana tak pernah terjadi suatu
apa, tak nyana setelah Cu-cengcu ini datang, racun pembuyar
Lwekang mereka lantas punah, bukan mustahil semua itu gara2,
Cu-cengcu ini."
Kedua nona yang mencuri dengar dari te mpat persembunyian
mereka tergetar hatinya, pikir mereka: "Kiranya ayah diculik
mereka."
"Giok-je cici" terdengar seorang berkata dengan suara tertahan:
"katanya orang yang kita tukar itu adalah Cu-cengcu tulen, orang
yang kita gusur keluar ini hanyalah barang tiruan be laka."
"Entah siapa dia?" ujar "pe muda" sekolahan, "dia berhasil
me munahkan getah beracun, juga me munahkan racun penawar
Lwekang di tubuh Lok-san Taysu bertiga, jelas kalau diapun seorang
ahli da la m bidang racun."
Si baju hijau cekikikan, katanya: "Bukankah kita me mang
me merlukan tenaga ahli seperti dia ini?"
Baru saja dia habis bicara, kelima orang yang duduk berke liling
itu tiba2 sama mengge liat dan menguap kantuk. tubuh merekapun
limbung dan akhirnya rebah di lantai. Gadis gaun panjang berkata:
"Siau Yan, mari turun tangan"
"Siocia, jadi kau yang merobohkan mereka?" tanya si nona baju
hijau tertawa.
Gadis gaun panjang me lompat turun mendekati karung besar itu,
ujarnya: "Aku akan me nolong seseorang."
"Menolong orang? Dima na dia?"
"Di dala m karung ini."
"Siocia tahu siapa yang ada di dala m karung ini?"
"Entahlah, tapi dia pasti orang baik2, kebetulan kita pergoki,
mana boleh me mbiarkan mereka menculiknya pergi?"
"Siocia, apakah lagi pengikat karung ini harus dipotong?" se mbari
bicara Siau Yan sudah ke luarkan sebatang golok kecil me lengkung.
Baru saja dia bergerak hendak me motong tali pengikat karung,
tiba2 didengarnya seorang berkata:
"Nona Siau Yan, jangan kau potong dengan pisau."
Nona baju hijau alias Siau Yan berjingkat kaget, tanyanya
terbelalak: "Kau bisa bicara?"
orang dalam karung tertawa, katanya: "Aku tidak bisu, sudah
tentu bisa bicara."
"Siapa kau? Dari mana tahu aku berna ma Siau Yan?"
"None Siau Yan, buka lah dulu mulut karung ini supaya aku
keluar, nanti kujelaskan-"
Gadis gaun panjang mengangguk sa mbil berkata kepada siau
Yan: "Lepaskan tali pengikatnya"
Sambil me lepaskan tali pengikat mulut karung Siau Yan, berkata:
"Aku tahu, tadi kau dengar Siocia panggil na maku, betul tidak?"
Setelah tali terlepas, dia terus me mbuka mulut karung lebar2..
Orang dala m karung pelan2 merangkak bangun dan berdiri.
Perawakan orang ini tinggi, mengenakan jubah hijau pupus
usianya sekitar 45, wajahnya putih cakap. jenggot hita m menjuntai
menyentuh dada. cuma kedua alisnya terlalu gombyok, orang a kan
merasa wajahnya berwatak kejam dan suka me mbunuh. sepasang
matanya tampak bersinar, terang seolah2 pandangannya dapat
meraba jalan pikiran orang, dan orang akan jeri beradu pandang
dengan dia.
Gadis gaun panjang jarang menge mbara di Kangouw, sudah
tentu dia tidak kenal siapa laki2 ini, tapi sekilas me lihat sorot mata
orang, dia merasa sudah apal dan mengenalnya dengan ba ik, tak
merasa jantungnya berdebar2.
Laki2 berjenggot hita m me mberi hormat, katanya tertawa:
"Sungguh cayhe tak sangka dapat berte mu dengan nona Un disini."
Melengak si gadis gaun panjang, matanya terbeliak. lekas dia
balas me mberi hormat dan berkata lirih: "Entah dimanakah cianpwe
bisa kenal diriku?"
Laki2 jenggot hitam tersenyum, katanya: "Aku sudah mengubah
wajah sudah tentu nona tida k mengena lku lagi."
Siau Yan periksa sini dan pandang sana, sekian lama dia
menatap wajah orang, la lu me nyeletuk: "Siapakah kau sebenarnya?"
"cayhe Ling Kun-gi," kata laki2 jenggot hita m.
Seketika merah jengah muka si gadis gaun panjang mendengar
nama yang disebut laki2 jenggot hitam, kaget dan girang pula
hatinya. Ling Kun-gi, me mangnya perjaka ini yang selalu menjadi
kenangan dan pujaan hatinya?.
"Kau ini Ling siangkong" teriak Siau Yan tidak percaya, "Kenapa
tidak mirip. sejak kapan Ling siangkong me me lihara jenggot?"
Ling Kun-gi tertawa, katanya "Tadi aku sudah bilang, aku telah
mengubah wajahku." Lalu dia dia merogoh keluar kantong benang
sula m serta diacungkan ke depan Siau Yan, katanya: "Sekarang
percaya tidak?"
Semakin jengah muka si gadis gaun panjang, serunya girang:
"Siau Yan, me mang betul dia, masakah suara Ling siangkong tida k
kau kena li lagi?"
"Hihi, lucu dan menarik sekali, kenapa Ling siangkong menya mar
begini?" seru Siau Yan-
"Aku sedang menya mar sebagai cia m-liong Cu Bun-hoa, cengcu
dari liong-bin-san-ceng." Lalu Kun-gi berpaling ke arah si gadis
bergaun panjang dan katanya pula: "Waktu di Coat Sin-san-ceng,
cayhe pernah berkumpul tiga hari dengan ayah nona. ..."
Ternyata gadis gaun panjang adalah Un Hoan-kun, sebelum Ling
Kun-gi bicara habis, dia sudah menyeletuk: "Bagaimana ayahku?"
"Ayahmu bersa ma Lok-san Taysu dan Lo- cengcu ke luarga Tong
dari sujwan semua berada di Coat Sin-san-ceng, mereka sama2
kena racun pembuyar Lwekang, maka kepandaian silat terganggu
banyak sekali. . . ."
Berkerut alis Un Hoan-kun, teriaknya kuatir: "Lalu bagaimana?
Me mangnya siapa penghuni Coat Sin-san-ceng itu?"
"Nona tidak usah kuatir, ayahmu bertiga sudah kuse mbuhkan,
dari pe mbicaraan orang2 ini tadi, agaknya Coat Sin-san-ceng sudah
diserbu dan bobol oleh para Hwesio Siau-lim serta Lohujin dari ke-
luarga Tong, tentunya ayahmu bertiga juga sudah bebas"
"Waktu coat- sin-san-ceng bobol, apakah Ling-siangkong tidak
berada di sana?" tanya Un Hoan-kun.
Ling Kun-gi tertawa, katanya: "cayhe sudah diselundupkan keluar
oleh mereka," Melihat bungkusan besar berisi ma kanan, perutnya
seketika keroncongan, katanya pula dengan tertawa: "Sudah dua
hari aku berada di dalam karung, perutku sudah berontak minta di
isi."
"Mereka tidak me mberi kau ma kan?" tanya Siau Yan merasa
kasihan-
"Mereka me mbiusku dengan asap wangi, beberapa Hiat-toku
ditutuk pula, seorang yang pingsan sela ma beberapa hari sudah
tentu tidak perlu makan," sembari bicara Kun-gi mende kati buntalan
makanan terus duduk bersila, tanpa sungkan dia comot bakpau dan
pangsit terus dima kan dengan lahap . .
Un Hoan-kun dan Siau Yan ikut merubung maju seperti ingat
sesuatu, Siau Yan bertanya: "Ling siangkong, kenapa tadi kau
me larang aku me motong tali itu?"
"Aku hanya ingin keluar sebentar dan mengisi perut, nanti aku
harus meringkuk dala m karung pula, kalau dipotong talinya,
bukankah a kan menimbulkan curiga mere ka?"
Un Hoan-kun me mandangnya penuh rasa mesra, tanyanya: "Ling
siangkong sengaja me mbiarkan diri di culik mereka, maksudmu
hendak menyelidik ke sarang harimau."
Ling Kun-gi manggut2, katanya: "Betul, sudah beberapa bulan
ibuku hilang, dengan menyaru cu cengcu dan menyelundup ke Coat
Sin-san-ceng tujuanku untuk mencari ibundaku."
Prihatin sikap Un Hoan-kun, katanya: "Apa Ling siangkong perlu
bantuanku?"
Haru dan terima kasih Ling Kun-gi, katanya: "Tujuanku hanya
mencari ibu, tiada niat bentrok dengan mereka, cayhe yakin tidak
akan mengala mi bahaya, maksud baik nona kuterima di dala m hati."
Menatap orang, lirih suara Un Hoan-kun: "Tapi kau a kan dibawa
ke markas pusat Pek-hoa-pang, kau seorang diri, bagaimana hatiku
takkan- . . . ." sebetulnya dia hendak mengatakan "takkan kuatir",
tapi sampai di situ dia berhenti, mukanya merah jengah dan
menunduk.
Melihat sikap orang yang malu2, tanpa terasa berdebar juga
jantung Ling Kun-gi, katanya:. "Jing sin-tan pemberian nona selalu
kubekal, Pi tok-cu warisan keluargakupun se lalu kuge mbol, aku
tidak takut obat bius, tidak gentar racun, dengan kepandaian sejati,
walau berada di kubangan naga atau sarang harimau, cayhe yakin
cukup ma mpu untuk menyela matkan diri." Sa mpai di sini dia
tertawa, lalu mena mbahkan- "Hanya satu kuharapkan bantuan
nona, yaitu setelah aku kenyang nanti, tolong ikat pula mulut
karung ini setelah aku masuk kedala mnya, jangan sampai mere ka
curiga."
"Aku tahu" ujar Un Hoan-kun manggut2.
"Syukur, mala m ini bertemu dengan nona, kalau tida k tentu aku
kelaparan entah berapa hari lagi," kata Kun-gi berdiri, dia
menghabiskan belasan pangsit dan beberapa biji bakpau. "Nona Un,
harap jaga diri baik2, cayhe mohon diri." Lalu dia masuk ke mbali ke
dalam karung. . . .
Siau Yan lantas mengikat ke mbali mulut karung dengan tali yang
ada.
Dengan suara lirih Un Hoan-kun berpesan: "Ling-siangkong harus
hati2 dan waspada, menghadapi setiap persoalan-"
"Kalau nona pergi, tolong pada mkan api lilin, lalu berikan obat
penawar pada mereka."..
"Jangan kuatir, aku bisa bekerja. tanpa meningga lkan be kas
apapun" sahut Un Hoan-kun. La lu dia berpesan kepada Siau Yan:
"Enduskan obat penawar kepada mereka, kita harus lekas pergi."
Siau Yan mengiakan, lalu berseru: "Ling-s iang-kong, ka mi pergi
ya"
"Sa mpai berte mu lagi." ujar Kun-gi di dala m karung. .
Siau Yan keluarkan obat penawar, dengan kuku jari dia selentik
sedikit bubuk kehidung orang2 itu.. Sementara Un Hoan-kun meniup
padam api lilin, cepat2 mereka berkelebat pergi dan menghilang.
Sampa i sekian la manya, kelima orang yang rebah di lantai sa ma
me mbuka mata. orang she Siang yang bertubuh sedang itu, segera
me lompat bangun, dia menyalakan api, dan menyulut lilin, ruang
sembahyang ke mba li terang.
"Sret" sementara laki2 she Phoa melolos pedang, setangkas kera
segera dia melompat ke atas wuwungan, tak kalah sebatnya orang
she Siang segera ikut me lompat keluar ke arah la in.
"Pe muda" Giokje, segera berpesan "Liau-hoa, Ping-hoa, lekas
kalian periksa apakah mulut karung pernah disentuh orang?"
Kedua orang itu mengiakan, bersama mereka mengha mpiri
karung serta me meriksa dengan teliti, la lu kata Liau-hoa: "Tida k
apa2, karung ini masih terikat kencang, tak pernah disinggung
orang."
"Aneh sekali, lalu kenapa tanpa sebab kita jatuh terpulas
bersama." ujar "Pe muda" Giok-je,
"Tadi angin bertiup kencang sehingpa lilin padam, aku hanya
merasa keadaan mendadak jadi gelap"
"mana pernah terpulas?"
"Me mangnya akupun tetap berada di sini, hanya sekejap api
padam dan Siang sucia segera menyalakan api." Sela Ping-hoa.
"Tida k mungkin- . . ." ujar Giok-je, sementara itu tampak orang
she Phoa dan she Siang telah melompat masuk.
"Ada yang aku te mukan, Phoa sucia?" tanya Giokje,
Orang she Phoa menggeleng, katanya: "Aku na ik ke wuwungan,
penduduk di sekitar sini tidak ada, sejauh beberapa li dapat kulihat,
tapi tidak ada bayangan orang." orang she Siang juga berkata:
"Bagian belakang juga tiada orang."
Ternyata mereka lalai akan buntalan ma kanan yang tertaruh di
lantai, paling tidak beberapa buah pangsit dan bakpau telah
dilangsir ke perut Ling Kun-gi. Mereka tiada menduga api yang
mendadak pada m dala m sekejap itu, siapa yang mampu mencuri
makanan mereka? Wa ktu makan tadi mere ka sedang ma kan minum,
hilang beberapa pangsit dan bakpao tentu dikira dima kan oleh
mereka sendiri.
Liau-hoa si kacung tiba2 bergidik, katanya jeri: "Giok- "cici"
mungkin di sini ada setan."
Merindang juga bulu kuduk Ping-hoa, katanya sambil celingukan:
"Ya, angin tadi terasa dingin se milir me mbuat a ku merinding"
Walau merasa curiga, tapi "Pe muda" Giok-je tak bisa berbuat
apa2, katanya: "Jangan membual, makanan sudah dingin, hayolah
dihabiskan bersa ma."
-ooo0dw0ooo-

Dari penuturan si mawar hita m Cu Jing mengetahui bahwa Ban


Jin-cun mungkin menga la mi bahaya di tengah jalan, entah kenapa
jantungnya jadi dag-dig-dug, sema la m suntuk dia gulak-gulik tak
bisa nyenyak. Untung dia menunggang kuda Giok-liong-ki, larinya
jauh lebih kencang daripada kuda biasa, walau Ban Jin-cun dan-
Kho Keh hoa sudah berangkat dulu setengah hari, tapi dia yakin,
masih bisa menyusul mereka, Baru saja hari terang tanah dia sudah
ber-siap2 terus berangkat keluar kota.
Cu Jing jarang keluar pintu, tapi jalan yang harus dite mpuhnya
ini sudah apal se kali baginya, sepanjang jalan dia bedal kudanya,
sampai tengah hari dia t iba di Tong-seng, sepanjang jalan ini tida k
dilihatnya bayangan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, hatinya semakin
murung dan gelisah.
Tanpa masuk kota dia ma mpir di warung makan di pinggir jala n
dan makan sekenyangnya. Tak lama ke mudian dia sudah congklang
kudanya melanjutkan perjalanan-
Beberapa jam ke mudian dia tiba di Sha-cap-li-poh, dipinggir jalan
ada orang menjual minuman.
Pesat sekali Cu Jing me mbedal kudanya, tapi sekilas ia melihat di
dalam barak penjual minuman ta mpak bayangan Ban Jin-cun
bersama Kho Keh-hoa yang sedang minum sa mbil istirahat, keruan
hatinya girang, lekas dia hentikan kudanya terus melompat masuk.
serunya tertawa: Ban-heng, Kho-heng, kirauya kalian berada di sini,
beruntung aku bisa susul kalian"
Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa berdiri menyambut kedatangannya.
"Silakan duduk Cu-heng" kata Kho Keh-hoa.
Cu Jing duduk di sa mping mere ka, dia minta secangkir teh.
Mengawasi Cu Jing, Ban Jin-cun bertanya: "Cu-heng menyusul
ke mari, entah ada urusan apa?"
Merah muka Cu Jing, katanya: "Kalau tida k ada urusan buat apa
jauh2 aku me nyusul ke mari?"
Tanpa tunggu pertanyaan lagi, dia balas bertanya: "Kalian tidak
menga la mi sesuatu kesukaran da la m perjalanan?"
"Tida k." sahut Ban Jin-cun heran, "Cu-heng mengala mi kejadian
apa?"
"Jadi mereka be lum bergerak" Cu J ing menghela napas lega.
"Cu-heng mendengar berita apa?" tanya Kho Keh-hoa.
"Se mala m aku berte mu seorang anggota Pek-hoa-pang,"
demikian tutur cu-Jing, "dia bilang komplotan jahat Hek-liong-hwe
mungkin henda k me lakukan pencegatan terhadap kalian- . . "
"Pek-hoa-pang?, Hek-liong-hwe?" tanya Ban Jin-cun kepada Koh
Keh-hoa. "Belum pernah kudengar na ma ini, saudara Kho tahu?"
"Aku juga belum pernah dengar," sahut Kho Keh-hoa.
"Cu-heng, apa pula yang dikatakan?" tanya Ban Jin-cun.
Sementara pemilik warung seorang kake k tua menyuguhkan
secangkir teh, Setelah orang pergi baru Cu Jing menceritakan
pengalamannya se mala m.
"Hek-liong-hwe" ujar Ban Jin-cun, "kukira suatu sindikat gelap
dari Kangouw, me mangnya punya permusuhan apa mereka dengan
keluarga kita,? Kenapa ingin main bunuh?"
"Me mangnya kita hendak cari mereka, kebetulan biar mereka
rasakan kelihayan kita" kata Kho Keh hoa.
Cu Jing mengge leng, katanya: "orang2 itu jahat dan banyak
muslihatnya, bahwa aku susul ka lian ke sini karena kuatir kalian
tidak tahu apa2 dan dikerjai mere ka tanpa sadar"
"Terima kasih atas perhatian Cu-heng" kata Ban Jin-cun.
Panas muka Cu Jing, matanya memancarkan cahaya, katanya:
"Sesama saudara, kenapa sungkan?"
"Hayolah kita berangkat, "ajak Kho Keh-hoa.
Ban Jin-cun ke luarkan uang bayar rekening, bertiga lantas keluar
menuntun kuda. Tanya Ban Jin cun. "Ka lian tahu di mana letak
tempat tinggal Cu-ki-cu di -Pa k-sia m-san?"
"Kabarnya dia bersemaya m di cit-sing-wan (ngarai tujuh
bintang)," ujar Cu Jing, "cuma aku be lum pernah ke sana."
"Asal tempat itu ada namanya, tidak sulit mene mukannya," ujar
Ban Jin-cun.
Cu Jing menuntun kuda, Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa tidak
me mbawa tunggangan, ma ka Giok-liong-ki diumbar jalan sendiri.
Untung jarak Pak-sia m-san hanya ena m-tujuh li saja, dengan cepat
mereka sudah tiba dite mpat tujuan, yang tampak hanya gunung
gemunung, entah di ma na letak cit-sing-wan itu?. . .
Dika la mereka berjalan sa mbil Celingukan, dari jalan kecil di
la mping gunung sana ta mpak seorang penebang kayu sedang
mendatangi. Ban Jin-cun lantas menapak maju, katanya sambil
me mberi hormat: "Numpang tanya pada Toako ini, entah di mana
letak cit sing- wan?"
Sekilas penebang kayu menga mati mereka lalu, menuding ke
timur, katanya: "Dari sini ketimur kira2 lima li, di sana ada Mo-thian-
hong (bukit pencakar langit) disanalah letaknya cit-sing-wan." Lalu
dia pikul kayu dan pergi.
Melihat langkah orang yang ringan dan tangkas seperti orang
biasa berlari, diam2 tergerak hati Ban Jin-cun, katanya ragu2:
"langkahnya enteng dan cekatan, agaknya seorang persilatan-"
Begitulah mereka terus menuju ke timur, Giok-liong-ki terus
mengintil di bela kang Cu Jing Jarak lima li sebentar saja sudah
mereka te mpuh, me mang di depan me ngadang sebuah punca k
yang bertengger tinggi mene mbus awan, pepohonan yang tumbuh
lebat, sungai menga lir menge lilingi bukit, pe mandangan permai,
hawa sejuk. Mereka maju terus menyusuri sungai terus menanja k
ke atas, di lamping gunung mere ka mendapatkan sebuah gubuk
beratap alang2 kering terdiri dari t iga petak berjajar.
Ban Jin-cun berhenti, katanya: "Disini hanya ada gubuk ini,
mungkin itulah te mpat se mayam Cu-ki-cu."
Tiba di bawah bukit Cu Jing lantas tepuk kudanya dan berkata:
"Giok liong-ki, kau dia m disana saja, kalau ada orang
mengganggumu, cukup kau meringkik panjang seka li saja, tahu
tidak?"
Kuda ini sudah paha m kata2 orang, matanya berkedip2 seraya
bersuara pelahan serta manggut2.
"Baiklah, mari ke atas," ajak Cu Jing.
Tiba di depan gubuk mereka berhenti, Ban Jin-cun berteriak:
"Ada orang di dala m?"
"Siapakah di luar?" ada orang me nyahut di da la m gubuk.
"Ka mi bersaudara kemari mohon berte mu dengan Cu-ki-cu
Totiang," kata Ban Jin-cun.
Daun pintu yang terbuat dari ba mbu dibuka pelan2, muncullah
seorang kakek enam puluhan, pipinya ke mpot jenggot jarang2
menghiasi dagu, me makai jubah butut warna biru yang sudah luntur
warnanya. Sorot matanya jelilatan seperti mata tikus, dengan
seksama dia a mati mereka bertiga sebentar la lu bertanya: "Kalian
cari Cu-ki-cu ada keperluan apa?"
Mendengar nada orang, Ban Jin-cun tahu bahwa orang ini pasti
Cu-ki-cu sendiri. Se mula dia me mbayangkan Cu-ki-cu yang terkenal
di kalangan Kangow tentu seorang Tojin yang berpakaian bersih,
bersikap agung, seorang pertapa yang berwibawa dan welas asih.
Tapi kake k dihadanan mereka ini berkepa la botak berjenggot
jarang, mukanya tirus lagi, sekujur badannya tinggal kulit
pembungkus tulang, keruan hatinya merasa kecewa, tanyanya:
"Apakah Lotiang ini adalah Cu-ki-cu Totiang."
Sebelah tangan mengelus jenggotnya yang jarang2, kakek itu
tersenyum, katanya: "Losiu me mang Cu-ki-cu, silakan ka lian duduk
di dala m."
"Ternyata me mang Totiang adanya," ujur Ban Jin-cun me mberi
hormat. "cayhe bersaudara sudah lama kagum akan na ma besar
Totiang, kami sengaja ke mari mohon petunjuk." bera mai mere ka
lantas masuk ke dala m gubug.
Di dala m rumah hanya ada sebuah meja kayu, empat kursi rapuh
tanpa ada perabot lainnya lagi.
Setelah silakan tamunya duduk, Cu-ki-cu batuk2 kering, lalu
berkata dengan nada menyesal.
"Lohu orang gunung, sela ma hidup jarang kedatangan tamu,
gubugku yang reyot ini tidak sesuai untuk melayani tamu, harap
kalian duduk seadanya saja," sembari bicara dia sudah mendahului
duduk di kursi paling da la m.
Ban Jin-cun bertiga lantas duduk, katanya: "Kami bersaudara
sengaja mengganggu ketenangan Tot iang, mohon Totiang suka
me mberi penerangan kepada ka mi."
"Jadi ka lian minta Losiu mera mal?" tanya cu- ki-cu
"Totiang sudah la ma terkenal, luas pengalaman dan
pengetahuan, terhadap segala peristiwa dan seluk-beluk Kangeuw
amat apal, kami bertiga ke mari mohon petunjuk satu hal kepada
Totiang."
"Tentang apa?" tanya Cu-ki-cu.
Dari dala m kantongnya Ban Jin-cun keluarkan buntalan kain kecil
terus dibeberkan di atas meja, isinya adalah sebentuk senjata
rahasia bersegi delapan, dengan kedua tangan dia angsurkan benda
itu, katanya: "Totiang luas pengalaman, entah pernahkah melihat
senjata rahasia maca m ini?"
Begitu melihat bentuk senjata rahasia itu, tampak berubah air
muka Cu-ki-cu, dia terima bersa ma ka in buntalannya, dengan
seksama dia bolak-balik me meriksanya, katanya kemudian:
"Sungguh a mat menyesal, Losiu hanya tahu senjata rahasia ini
dibubuhi racun jahat. kadar racunnya keras sekali, bentuk senjata
rahasia seperti ini me mang belum pernah kulihat."- lalu dia bungkus
ke mbali serta dike mbalikannya kepada Ban Jin-cun.
Sudah tentu Ban Jin-cun me lihat perubahan air muka orang
waktu melihat senjata rahasianya tadi, jelas orang sengaja tak mau
bicara terus terang, maka dia bertanya lebih lanjut: "Apakah Totiang
pernah dengar di kalangan Kangouw ada suatu perkumpulan gelap
yang bernama Hek-liong-hwe?"
Cu-ki-cu tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "Sudah 20
tahun Losiu mengasingkan diri di sini, jadi sudah la ma terasing dari
percaturan Kangouw, tapi Losiu dapat me mberitahu, 20 tahun yang
lalu t iada Hek-liong-hwe dikalangan Kangouw."
Ban Jin-cun menoleh kepada Kho Keh-hoa, sorot matanya
seakan2 menyatakan sia2 kedatangannya ini, mereka bertiga sama
kecewa.
Seperti dapat meraba isi hati mereka, Cu-ki-cu tertawa sambil
me megang jenggotnya, katanya.- "Lo-siuorang gunung, sejak lama
lepas dari percaturan Kangouw, tentunya mengecewakan kalian
bertiga, tapi Losiu bisa mera mal, biarlah ka lian kura mal saja,
mungkin dari ra ma lanku dapat kulihat gejaia2 yang dapat
kuberitahukan, entah bagaimana pendapat kalian."
Bahwa Cu-ki-cu pandai mera mal me mang sudah terkenal di
Kangouw, kini dia bilang mau mera mal mereka, sudah tentu sangat
kebetulan. "Harap Totiang suka me mberi petunjuk dan petuah,"
kata Ban Jin- cun.
Pelan2 Cu-ki-cu berdiri, katanya: "Kalian ikut Losiu." Lalu dia
putar masuk ka mar di sebelahnya.
Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu J ing mengikuti di be lakangnya.
Itulah sebuah ka mar yang dipisah jadi dua, bagian depan adalah
kamar prakteknya, tepat di tengah dinding bergantung sebuah
gambar Pat-kwa, ada sebuah meja, di mana ada sebuah hlolo,
bumbung ba mbu berisi batang2 bambu kecil bertulisan serta enam
keping uang te mbaga, segelas air putih, ada bak. pensil dan kertas,
sebuah kursi mepet dinding, jadi tempat luangnya hanya cukup
untuk tiga orang berdiri saja. Bagian belakang kamar tertutup kain
gordyn, agaknya kamar tidurnya.
Dengan gerakan tangan Cu-ki-cu suruh mereka berdiri jajar di
depan meja, lalu dengan gayanya tersendiri dia duduk di kursi.
Terlebih dulu dia menyalakan api menyulut tiga batang dupa wangi,
entah apa yang diucapkan, mulutnya berkomat-ka mit, la lu satu
persatu dia tancapkan dupa itu di atas hlolo, wajahnya tampak
serius dan khidmat, katanya kepada mereka bertiga: "Soal apa yang
ingin kalian tanyakan, boleh kalian berdoa menghadap gambar Pat
kwa di bela kangku ini, tapi tidak boleh bersuara."
Mereka menurut dan menghadap gambar Pat-kwa dengan sedikit
mendonga k, mata mengawasi ga mbar Pat-kwa serta berdoa di
dalam hati. Se mentara Cu-ki-cu jemput keenam keping mata uang
tembaga terus dimasukkan ke bumbung ba mbu yang lain, pe lan2
dia menggoncang bumbung itu sehingga menge luarkan suara
berisik, la lu satu persatu dia keluarkan mata uang te mbaga itu dan
dijajar di atas meja, dengan melotot dia awasi keenam mata uang.
Sesaat kemudian baru dia angkat kepala mengawasi mere ka
bertiga, sikapnya kelihatan aneh, katanya: "Sekarang kalian satu
persatu sebutkan nama masing2."
"cayhe Ban Jin cun" Ban Jin-cun mendahului bersuara. sorot
mata Cu-ki-cu menatap Kho Keh-boa. "cayhe Kho Keh-hoa."
Sorot mata Cu-ki-cu lantas beralih ke arah arah Cu Jing. "cayhe
bema ma Cu Jing."
Pada saat itulah mendadak dari bawah gunung terdengar suara
ringkik Giok-Liong-ki yang panjang dan ketakutan- Cu-ki-cu
mendadak mendelik, terbayang senyuman sadis pada mukanya,
sekali raih dia ambil bumbung ba mbu terus digabrukan keras- keras
di atas meja seraya tertawa: ."Kalian tidak segera roboh, tunggu
apa lagi?" Belum habis dia berkata, Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan
Cu Jing mendadak merasakan kepala pusing dan pandangan
menjadi gelap. kedua lutut le mas lunglai, tanpa berjanji mere ka
sama jatuh terkapar.
Ooood woooo

Ling Kun-gi meringkuk di dala m karung dan sema la m telah


berlalu.
Fajar baru menyingsing, Giok-ji segera perintahkan Liau-hoa dan
Ping hoa angkut karung besar itu ke atas kuda, tanpa membuang
waktu mereka berangkat, setelah keluar kota langsung menuju ke
sungai.
Kota An-khing terletak di utara tiang-kang, merupakan kota yang
penting di darat dan di a ir maka suasana di sini a mat ra mai. Giok-ji
berlima tidak hiraukan kera maian sekitarnya, mereka langsung
mengha mpiri sebuah perahu besar, seorang yang berpakaian kelasi
segera me mapak, katanya sambil menjura: "Ha mba menya mbut
kedatangan Hoa- kongcu "Pe muda " Giok-ji bertanya: " Kau inikah,
Kiang-lotoa?"
Sikap tukang perahu sangat hormat, sahutnya: "Ya, ya, hamba
adalah Kiang- lotoa. Perahu berada di depan sana, silakan turut
hamba."
Mereka menuju ke barat, kira2 lima puluhan meter, betul juga di
mana ada sebuah perahu besar dan t inggi.
Mereka turun punggung kuda, seorang me masang sebuah papan
besar, empat laki2 berpakaian ketat lantas keluar me mberi hormat
kepada Giok-je, kata salah seorang: "Ka mi mendapat perintah
menya mbut kedatangan Kongcu"
"Bikin repot ka lian saja," kata Giok-je, lalu ia berpaling kepada
Ping-hoa berdua: "Naikkan dulu karung itu ke atas perahu."
Kedua Hoa-hoat-su-cia segera menjura, katanya: "Semoga
Kongcu sela mat sampai di te mpat tujuan, kami berdua tidak
menghantar lebih lanjut." mereka ce mpla k kuda terus pergi.
Giok-ji bertiga naik ke atas perahu baru keempat laki2
berpakaian ketat ikut melompat naik, terakhir adalah Kiang- lotoa,
segera dia perintahkan pe mbantunya pasang layar dan melajukan
perahu ke tengah sunga i.
Daripada meringkuk di dala m karung, kini Ling Kun-gi bisa tidur
nyaman di atas kasur, ternyata setiba di atas perahu Giok-ji suruh
Ping-hoa berdua ke luarkan Ling Kun-gi serta ditidurkan di
pembaringan- Dia ke luarkan sebutir pil dan dimasukkan ke cangkir
berisi teh terus dicekokkan pada Ling Kun-gi, katanya: "Kira2
setengah jam lagi baru dia akan siuman, kalian ikut aku keluar."
pelan2 pintu ka mar lantas ditutup dari luar.
Sudah tentu Kun-gi mendengar percakapan mere ka. Setelah
mereka keluar segera dia membuka mata, ternyata dirinya
berbaring di dala m ka mar yang bersih dan sederhana, dinding
dile mbari ka in kuning, lantai papan tampak mengkilap. Kecuali dipan
dimana dia rebah, di bawah jendela sana terdapat sebuah meja
kecil persegi dan sebuah kursi. Kalau perahu ini tidak bergoyang
turun naik serta mendengar suara percikan air, orang tidak akan
mengira bahwa ka mar ini berada di dala m perahu.
Dia m2 Ling Kun-gi me mbatin: "Entah perkumpulan maca m apa
Pek-hoa-pang mereka?"
Satu hal sudah meyakinkan dia bahwa anggota Pek-hoa-pang
semua terdiri dari kaum wanita, ma lah setiap orang me makai na ma
ke mbang. inilah perjalanan serba romantis, tamasya yang aneh dan
menyenangkan-
Dari Coat Sin-san-ceng dirinya diselundup ke-luar, entah apa
tujuannya? Ke mana pula dirinya akan dibawa? Bahwa dirinya
dibawa naik perahu, me mangnya markas mereka berada di
sepanjang pesisir sungai besar ini?
Langkah pelahan me ndatang dari luar, le kas Kun-gi peja mkan
mata, waktu pintu terbuka, yang masuk hanya seorang, Kun-gi
me mbatin: "Agak-nya mereka sudah ganti pakaian perempuan- "
Setelah orang itu maju ke dekat pe mbaringan sengaja Kun-gi
mengge liat, lalu berbangkit. Pelan2 dia me mbuka mata. Pandangan
pertama hinggap pada tubuh sema mpa i menggiurkan seorang gadis
nelayan berpakaian warna hijau. Usianya enam- belasan, berwajah
bulat telur, bola matanya bundar besar dan hitam bening, pipinya
bersemu merah, sikapaya malu2. Wajahnya memang tida k begitu
cantik, na mun cukup menggiurkan hati setiap laki2:
"Cu-cengcu sudah bangun," sapa pelayan baju hijau.
Sudah tentu Kun-gi tahu gadis inilah yang bernama Liau-hoa, tapi
dia sengaja bersuara heran, katanya: "Siapa kau? Mana Ing-jun?"
ing-jun ada lah pelayan yang melayani segala keperluannya di coat-
sin-san-ceng.
"Ha mba adalah Liau-hoa," pelayan itu menekuk lutut me mberi
hormat.
"Te mpat apakah ini?" tanya Kun-gi sa mbil me nyapu pandang ke
sekitarnya. "Rasanya seperti di atas kapal?"
Liau-hoa menyilakan sa mbil menunduk. Kun-gi ta mpa k kurang
senang, katanya mendengus: "Apa yang terjadi? Kalian mau bawa
Lohu ke mana lagi?"
"Ha mba tida k tahu," sahut Liau-hoa takut2.
Kun-gi tahu orang sengaja bohong, tapi melihat sikap nona itu
jeri dan ma lu2, tak enak dia bertanya lebih lanjut.
Mengawasi Kun-gi, Liau-hoa bertanya dengan suara lembut:
"Apakah Cu-cengcu mau sarapan pagi?"
"Lohu belum lapar."
"Baiklah ha mba a mbilkan air teh saja," bergegas dia hendak
mengundurkan diri