Anda di halaman 1dari 24

 

LAPORAN KASUS

BRONKOPNEUMONIA

Disusun oleh:
dr. Muna

Pembimbing:
dr. Laily Noviyani

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA
KABUPATEN BANJAR
JUNI 2020

1
BAB I
LAPORAN KASUS

I. Identitas pasien
Nama : An. ZJ
Umur : 3 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Martapura
No. Reg : 43-26-81
MRS : 18 Mei 2020

II. Subjektif
Dilakukan alloanamnesi dengan pasien di IGD Ratu zaecha pada jam 00.30 WITA

a) Keluhan utama
Demam
b) Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluhkan demam 3 hari SMRS, demam naik turun ,demam tidak
terpengaruh oleh waktu. Demam bisa terjadi pagi sian g atau malam. kejang (-) ,
mimisan (-), bintik merah (-), batuk (+) sejak 3 hari smrs batuk selama 3 hari ini,
batuk terus menerus dan memberat hari ini . Batuk muncul tanpa diprovokasi
apapun. Batuk berdahak, dahak berwarna putih kekuningan, darah dan warna
coklat disangkal, Sesak nafas sejak 2 hari smrs sesak terasa memberat hari ini
disangkal oleh pasien, pasien mengeluhkan nyeri bagian dada kanan dan kirinya
akibat batuk yang sering.. Mual ada, muntah tidak ada, bab normal ,bak terakhir
jam 10 malam, Pasien tidak ada mengeluhkan adanya benjolan ditubuhnya.
Riwayat kontak dengan penderita Tbc disangkal.
Riwayat pengobatan: pasien berobat ke puskesmas dan diberi antibiotic dan
penurun panas tapi tidak ada perbaikan.
Riwayat perjalanan (-)

c) Riwayat Penyakit Dahulu


 Asma (-)

2
d) Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien mengaku menderita penyakit bronchitis sejak hamil anak ke II,
sudah berobat, tetapi tidak pernah kontrol lagi setelah obat habis
e) Riwayat Alergi
 Tidak ada
f) Riwayat paparan asap rokok
 Riwayat paparan asap rokok (-)

III. Objektif
Dilakukan pemeriksaan fisik tanggal 18 Mei 2020 jam 00.30 WITA di IGD
Keadaan umum
 Kesan sakit : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos mentis, GCS: E4V5M6
 Kesan gizi : Kurang

a) Tanda vital & antropometri :


 Nadi : 120 x/menit, regular kuat
 Pernapasan : 32x/menit
 Suhu : 38,7 ˚C
 SpO2 : 95% tanpa O2
 Berat Badan : 10 kg

b) Pemeriksaan Fisik
Kepala
 Ekspresi : Normal
 Simetris muka : Simetris kiri = kanan
 Deformitas :-
 Rambut : Hitam dan lurus

Mata
 Eksopthalmus/enopthalmus :-
 Gerakan : Bebas
 Tekanan bola mata : Dalam batas normal
 Kelopak mata : Edema palpebra (-)
 Konjugtiva : Anemis (+)
 Kornea : Jernih
 Sklera : Ikterik (-)
 Pupil : Isokhor, Ø 3 mm D=S, RCL +/+, RCTL +/+

Hidung

- Pernafasan cuping hidung (+/+)


- Deformitas (-/-)

3
Telinga
 Pendengaran : dbn
 Tophi : (-)
 Nyeri tekan prosessus mastoideus : (-)
Mulut
 Bibir : kering (-)
 Tonsil : T1/T1
 Gigi geligi : lengkap
 Farings : hiperemi (-)
 Gusi : edema (-)
 Lidah : lidah kotor (-)
Leher
 Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
 Kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
 DVS : R+1 cmH2O
 Pembuluh darah : tidak ada kelainan
 Kaku kuduk : (-)
 Tumor : (-)
Dada
Inspeksi
 Bentuk : Normothorax, simetris kiri=kanan
 Retraksi : (+/+) subcostal
 Pernafasan : thorako-abdominal
Paru
Palpasi
 Fremitus raba : tidak dievaluasi
 Nyeri tekan : (-)
Perkusi

 Paru kiri : sonor


 Paru kanan : sonor
 Batas paru hepar : ICS V dextra anterior
 Batas paru belakang kanan : tidak dievaluasi
 Batas paru belakang kiri : tidak dievaluasi
Auskultasi

 Bunyi pernapasan : vesikuler


-
 Bunyi tambahan :Wh /-, Rh - -
- -
+ +
Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
 Perkusi : Pekak
 Auskultasi : BJ I/II reguler, bising (-)

4
Perut
 Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
 Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
 Palpasi : Supel, defans muscular (-), Massa tumor (-),
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Ginjal : Tidak teraba
Punggung
 Palpasi : tidak dievaluasi
 Nyeri Ketok : tidak dievaluasi
 Auskultasi : tidak dievaluasi
 Gerakan : Ikut gerak napas
 Lain-lain : (-)
Alat Kelamin : (tidak dilakukan pemeriksaan)
Anus dan rektum : (tidak dilakukan pemeriksaan)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 3 detik, edema -/-
c) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Darah Rutin dan Kimia Klinik
(18 Mei 2020)
Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan
HEMATOLOGI
Darah lengkap
Leukosit 11 3.2-10 10e3/µL
Trombosit 352 170 – 380 10e3/µL
Eritrosit 4.91 3.8-5.0 10e6/µL
Hemoglobin 10 12-16 g/dL
Hematokrit 29.1 35-45 %

MCV 59.2 81 – 99 fL
MCH 18 21 – 34 pg
MCHC 30.4 32 – 36 gr/dL
Hitung jenis
Basofil 0.6 0-1 %
Eosinofil 0.7 0-5 %
Neutrofil 47.6 40-70 %
Limfosit 36.8 20-40 %
Monosit 4.8 2-8 %
CRP 24 0-6 Mg/i
Pemeriksaan Radiologi (18 Mei 2020)

5
IV. Assessment
 Bronkopneumonia

V. Planning
Medikamentosa
- 02 nc 1 lpm
 IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro
 Inj. Antrain 3 x 100 mg
 Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp
 Inj cefotaxime 3 x 350 mg
 Inj Gentamicin 1x 50 mg IV
 Inj dexametason 3 x ¼ amp

VI. Prognosis
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

VII. Follow up
Tanggal (Jan) 18 19 20
Subjektif
Batuk + < <
Sesak - - -
Muntah/ Mual -/+ -/< -/-
Demam - - -
Lemas + < <
Ma/Mi </+ </+ +/+
Objektif
HR (x/m) 110 100 102
RR (x/m) 32 24 20
Temp 38,5 c 36.5 36.7
CA / SI +/- -/- -/-

6
Paru: ves/ rh/ wh +/+/- +/+/- +/</-
Abdomen: supel/ +/+/- +/+/- +/+/-
BU/ nyeri tekan
Ekstremitas: akral + + +
hangat
Assessment
bronkopneumonia 1. Bronkopneumonia
Planning
 IVFD D5 1/2 ns 10 tpm  IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro
makro  Inj. Antrain 3 x 100 mg
 Inj. Antrain 3 x 100 mg  Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp
 Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp  Inj cefotaxime 3 x 350 mg
 Inj cefotaxime 3 x 350 mg  Inj Gentamicin 1x 50 mg IV
 Inj Gentamicin 1x 50 mg IV  Inj dexametason 3 x ¼ amp
 Inj dexametason 3 x ¼ amp
BLPL

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. BRONKOPNEUMONIA
1. Pengertian Bronkopneumonia
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai
parenkim paru dimana asinus terisi dengan cairan radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi
dari sel radang ke dalam interstitium. Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu
peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), bahan
kimia, radiasi, aspirasi, obat-obatan dan lain-lain. Pneumonia yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk. Sedang keradangan paru yang disebabkan oleh
penyebab non infeksi (bahan kimia, radiasi, obat-obatan dan lain- lain) lazimnya disebut
pneumonitis.1,2
Bronkopneumonia merupakan radang dari saluran pernapasan yang terjadi pada
bronkus sampai dengan alveolus paru. Saluran pernapasan tersebut tersumbat oleh eksudat
yang mukopurulen, yang membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang berdekatan.
Penyakit ini bersifat sekunder yang biasanya menyertai
penyakit ISPA (Infeksi Salurann Pernapasan Atas), demam infeksi spesifik dan
penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh. Sebagai infeksi primer biasanya hanya
dijumpai pada anak-anak dan orang tua. 1,2
Secara anatomis pneumonia dibagi 3, yaitu :
a. pneumonia lobaris
b. pneumonia intertitialis (bronkiolitis)
c. pneumonia lobularis (bronkopneumonia)
WHO memberikan pedoman klasifikasi pneumonia, sebagai berikut :
1. Usia kurang dari 2 bulan
a. Pneumonia berat
- Chest indrawing (subcostal retraction)
- Bila ada napas cepat (> 60 x/menit)
b. Pneumonia sangat berat
- tidak bisa minum
- kejang
- kesadaran menurun
- hipertermi / hipotermi

8
- napas lambat / tidak teratur
2. Usia 2 bulan-5 tahun
a. Pneumonia
- bila ada napas cepat
b. Pneumonia Berat
- Chest indrawing
- Napas cepat dengan laju napas
 > 50 x/menit untuk anak usia 2 bulan – 1 tahun
 > 40 x/menit untuk anak > 1 – 5 tahun
c. Pneumonia sangat berat
- tidak dapat minum
- kejang
- kesadaran menurun
- Malnutrisi.9,10
2. Patofisiologi Bronkopneumonia
Bronkopneumonia dimulai dengan masuknya kuman melalui inhalasi, aspirasi,
hematogen dr fokus infeksi atau penyebaran langsung. Sehingga terjadi infeksi dalam alveoli,
membran paru mengalami peradangan dan berlubang-lubang sehingga cairan dan bahkan sel
darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk ke dalam alveoli. Dengan demikian
alveoli yang terinfeksi secara progresif menjadi terisi dengan cairan dan sel-sel, dan infeksi
disebarkan oleh perpindahan bakteri dari alveolus ke alveolus. Kadang-kadang seluruh lobus
bahkan seluruh paru menjadi padat (consolidated) yang berarti bahwa paru terisi cairan dan
sisa-sisa sel.2
Bakteri Streptococcus pneumoniae umumnya berada di nasopharing dan bersifat
asimptomatik pada kurang lebih 50% orang sehat. Adanya infeksi virus akan memudahkan
Streptococcus pneumoniae berikatan dengan reseptor sel epitel pernafasan. Jika
Streptococcus pneumoniae sampai di alveolus akan menginfeksi sel pneumatosit tipe II.
Selanjutnya Streptococcus pneumoniae akan mengadakan multiplikasi dan menyebabkan
invasi terhadap sel epitel alveolus. Streptococcus pneumoniae akan menyebar dari alveolus
ke alveolus melalui pori dari Kohn. Bakteri yang masuk kedalam alveolus menyebabkan
reaksi radang berupa edema dari seluruh alveolus disusul dengan infiltrasi sel-sel PMN.2,

Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium yaitu :


1. Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)

9
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung
pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah
dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan
mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan
cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin.
Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama
dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan
peningkatan permeabilitas kapiler paru.

Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium


sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan
cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh
oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling
berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

2. Stadium II (48 jam berikutnya)


Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat
dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi
peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan
leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan
seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga
anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48
jam.
3. Stadium III (3 – 8 hari)
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi
daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh
daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di
alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit,
warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV (7 – 11 hari)
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan
mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga
jaringan kembali ke strukturnya semula.2

10
Sebagian besar pneumonia timbul melalui mekanisme aspirasi kuman atau
penyebaran langsung kuman dari respiratorik atas. Hanya sebagian kecil merupakan akibat
sekunder dari bakterimia atau viremia atau penyebaran dari infeksi intra abdomen. Dalam
keadaan normal mulai dari sublaring hingga unit terminal adalah steril. Dalam keadaan sehat,
tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh adanya
mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh,
mikroorganisme dan lingkungan, maka mikroorganisme dapat masuk, berkembang biak dan
menimbulkan penyakit.1,2
Paru terlindung dari infeksi dengan beberapa mekanisme :
 Filtrasi partikel di hidung
 Pencegahan aspirasi dengan refleks epiglottis
 Ekspulsi benda asing melalui refleks batuk
 Pembersihan kearah kranial oleh mukosiliar
 Fagositosis kuman oleh makrofag alveolar
 Netralisasi kuman oleh substansi imun lokal
Drainase melalui sistem limfatik.2

3. Tanda dan Gejala


DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran
nafas akut bagian atas. Gejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus-menerus,
sesak, kebiruan sekitar mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada bayi), dan nyeri

11
dada. Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. Pada bayi muda sering
menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi, penurunan kesadaran, kejang atau
kembung. Anak besar kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen disertai
muntah.2,3

2. Pemeriksaan Fisik
Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok umur
tertentu. Pada neonatus sering dijumpai takipneu, retraksi dinding dada, grunting, dan
sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih besar jarang ditemukan grunting. Gejala yang
sering terlihat adalah takipneu, retraksi, sianosis, batuk, panas, dan iritabel.2
Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah demam, batuk (non
produktif / produktif), takipneu dan dispneu yang ditandai dengan retraksi dinding
dada. Pada kelompok anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai panas, batuk (non
produktif / produktif), nyeri dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi.2,3

3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah pada pneumonia umumnya didapatkan Lekositosis hingga >
15.000/mm3 seringkali dijumpai dengan dominasi netrofil pada hitung jenis. Lekosit >
30.000/mm3 dengan dominasi netrofil mengarah ke pneumonia streptokokus. Trombositosis >
500.000 khas untuk pneumonia bakterial. Trombositopenia lebih mengarah kepada infeksi
virus. Biakan darah merupakan cara yang spesifik namun hanya positif pada 10-15% kasus
terutama pada anak- anak kecil.2

4. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologis
Foto toraks (AP/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan
diagnosis. Foto AP dan lateral dibutuhkan untuk menentukan lokasi anatomik dalam paru.
Infiltrat tersebar paling sering dijumpai, terutama pada pasien bayi. Pada bronkopneumonia
bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau beberapa lobus. Jika difus (merata) biasanya
disebabkan oleh Staphylokokus pneumonia.3

12
Gambar 3 : Foto toraks PA pada pneumonia lobaris: tampak bercak-bercak infiltrat pada paru
kanan.

B. Pengobatan Bronkopneumonia
Tatalaksana pasien pneumonia meliputi terapi suportif dan terapi etiologik.
Terapi suportif yang diberikan pada penderita pneumonia adalah :
1. Pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui kateter hidung atau nasofaring. Jika
penyakitnya berat dan sarana tersedia, alat bantu napas mungkin diperlukan terutama
dalam 24-48 jam
2. Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat. Cairan yang diberikan mengandung gula
dan elektrolit yang cukup.
3. Koreksi kelainan elektrolit atau metabolik yang terjadi.
4. Mengatasi penyakit penyerta.
5. Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer bukan merupakan tata laksana rutin yang
harus diberikan. 2

Tatalaksana pneumonia sesuai dengan kuman penyebabnya. Namun karena berbagai


kendala diagnostik etiologi, untuk semua pasien pneumonia diberikan antibiotik secara
empiris. Walaupun sebenarnya pneumonia viral tidak memerlukan antibiotik, tapi pasien
tetap diberi antibiotik karena kesulitan membedakan infeksi virus dengan bakteri. 2

Usia Rawat jalan Rawat Inap Bakteri Patogen


0-2 minggu 1. Ampisillin + - E. Coli
Gentamisin - Streptococcus B
2. Ampisillin + - Nosokomial

13
Cefotaksim Enterobacteria
>2-4 1. Ampisillin + - E. Coli
minggu Cefotaksim atau - Nosokomial
Ceftriaxon Enterobacteria
2. Eritromisin - Streptococcus B
- Klebsiella
- Enterobacter
- C. trachomatis
>1-2 bulan 1. Ampisillin + - E. Coli and other
Gentamisin Enterobacteria
2. Cefotaksim atau - H. influenza
Ceftriaxon - S. pneumonia
- C. trachomatis
>2-5 bulan 1. Ampisillin 1. Ampisillin - H. influenza
2. Sefuroksim 2. Ampisillin + - S. pneumonia
sefiksim Kloramfenikol
Sefuroksim
Ceftriaxon
>5 tahun 1. Penisillin A 1. Penisillin G - S. pneumonia
2. Amoksisilin 2. Sefuroksim - Mycoplasma 9
Eritromisin Seftriakson
Vankomisin

Antibiotik parenteral diberikan sampai 48-72 jam setelah panas turun, dilanjutkan
dengan pemberian per oral selama 7-10 hari. Bila diduga penyebab pneumonia adalah S.
Aureus, kloksasilin dapat segera diberikan. Bila alergi terhadap penisilin dapat diberikan
cefazolin, klindamisin, atau vancomycin. Lama pengobatan untuk stafilokokkus adalah 3-4
minggu. 2

C.Komplikasi
Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari penyebaran bakteri dalam rongga thorax
(seperti efusi pleura, empiema dan perikarditis) atau penyebaran bakteremia dan hematologi.
Meningitis, artritis supuratif, dan osteomielitis adalah komplikasi yang jarang dari
penyebaran infeksi hematologi.
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah : (4,5)

14
1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps
paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.

2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga


pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.

3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.

4. Infeksi sitemik

5. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.

6. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak

D. Diagnosa Banding
a. Covid 19
b. Bronkiolitis
c. Aspirasi pneumonia
d. Tb paru primer

E. Prognosis
Sembuh total, mortalitas kurang dari 1 %, mortalitas bisa lebih tinggi
didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan datang
terlambat untuk pengobatan. Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah
lama diketahui. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan melalui asupan makanan
dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi ringan
memberikan pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi. Kedua-duanya
bekerja sinergis, maka malnutrisi bersama-sama dengan infeksi memberi dampak
negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan
malnutrisi apabila berdiri sendiri. (5,6)

Prognosis tergantung oleh faktor resiko pneumonia antara lain : (4,5,6)

1. Faktor yang meningkatkan resiko berjangkitnya pneumonia

a. Umur dibawah 2 bulan

15
b. Jenis kelamin laki-laki

c. Gizi kurang

d. Berat badan lahir rendah

e. Tidak mendapat ASI memadai

f. Polusi udara

g. Kepadatan tempat tinggal

h. Imunisasi yang tidak memadai

i. Defisiensi vitamin A

2. Faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat pneumonia

a. Umur dibawah 2 bulan

b. Tingkat sosial ekonomi rendah

c. Gizi kurang

d. Berat badan lahir rendah

e. Tingkat pendidikan ibu rendah

f. Tingkat pelayanan kesehatan rendah

g. Imunisasi yang tidak memadai

h. Menderita penyakit kronis


F. Pencegahan
Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak
dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat
dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh kaita terhadap berbagai
penyakit saluran nafas seperti : cara hidup sehat, makan makanan bergizi dan teratur,
menjaga kebersihan , beristirahat yang cukup, rajin berolahraga dan lai-lain.(7)

Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan


terinfeksi (Vaksinasi Pneumokokus) : (8)

● Vaksin Pneumokokus Polisakarida (PPV 23) diberikan pada:

16
- Lansia di atas 65 tahun

- Anak > 2 tahun yang mempunyai risiko tinggi IPD yaitu anak dengan
asplenia (kongenital atau didapat), penyakit sickle cell, splenic dysfunction
dan HIV. Imunisasi diberikan 2 minggu sebelum splenektomi

- Anak > 2 tahun dengan imunokompromais yaitu HIV/AIDS, sindroma


nefrotik, multiple mieloma, limfoma, penyakit Hodgkin dan transplantasi
organ

- Anak > 2 tahun dengen imunokompetensi yang menderita penyakit kronis


yaitu penyakit jantung kronis, penyakit paru atau ginjal kronis, diabetes

- Anak > 2 tahun dengan kebocoran cairan serebrospinal

Catatan: pasien risiko tinggi tersebut seyogyanya mendapat imunisasi PCV 7 sesuai
umur dan penanggulangan imunisasi PPV 23 setelah 3-5 tahun.

● Vaksin Polisakarida Konjugat (PCV 7) direkomendasikan pada:

- Semua anak sehat usia > 2 bulan sampai 5 tahun

- Anak dengan resiko tinggi IPD termasuk anak dengan asplenia baik
kongenital atau didapat, termasuk anak dengan penyakit sickle cell,
splenic dysfunction dan HIV. Imunisasi diberikan 2 minggu sebelum
splenektomi.

- Pasien dengan imunokompromais yaitu HIV/AIDS, sindroma nefrotik,


multiple mieloma, limfoma, penyakit Hodgkin dan transplantasi organ

- Pasien dengan imunokompetensi yang menderita penyakit kronis yaitu


penyakit jantung kronis, penyakit paru atau ginjal kronis, diabetes

17
- Pasien dengan kebocoran cairan serebrospinal

- Selain juga dianjurkan pada anak yang tinggal di rumah yang uniannya
padat, lingkungan merokok, di anti asuhan dan sering terserang akut otitis

Catatan: anak yang tergolong imunokompeten hanya perlu 1 dosis sedangkan dengan
imunokompromais harus mendapat 2 dosis dengan jarak minimal 2 bulan, diikuti dengan pemberian
PPV 23 2 bulan kemudian

media

● Perbedaan PPV 23 dan PCV 7

PPV 23 PCV 7
- Polisakarida bakteri - Konyugasi polisakarida dengan
protein difteri
- T-independent antigen - T-dependent
- Tidak imunogenik pada anak < - Imunogenik pada anak < 2 tahun
2 tahun, rekomendasi untuk ≥
2 tahun
- Imunitas jangka pendek, tidak - Imunitas jangka panjang, ada respon
ada respon booster
Booster
- Mengandung 23 serotipe: - Mengandung 7 serotipe:

14, 6B, 19F, 18C, 23F, 4, 9V, 4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F, 23 F

19A, 6A, 7F, 3, 1, 9N, 22F, (Prevenar)

18B, 15C, 12F, 11A, 18F, 33F,

10A, 38, 13 (Pneumo-23)

18
● Dosis dan cara pemberian
- Vaksin PCV 7 diberikan pada bayi umur 2,4,6 bulan dan diulang pada
umur 12- 15 bulan

- Pemberian PCV 7 minimal umur 6 minggu

- Interval antara 2 dosis 4-8 minggu

- Paling sedikit diberikan 2 bulan setelah dosis PCV ketiga


● Apabila anak datang setelah umur > 7 bula, diberikan jadwal dan dosis PCV 7

Umur datang pertama kali Dosis vaksin yang diberikan


7-11 bulan 3 dosis*
12-23 bulan 2 dosis#
≥ 24 bulan sampai 5 tahun 1 Dosis
Keterangan:

*Dosis 1 dan 2, interval 4 minggu

Dosis 3 diberikan setelah 12 bulan (paling sedikit 2 bulan setelah


dosis kedua) #Dosis 1 dan 2, interval 2 bulan

● Imunisasi untuk anak resiko tinggi


● Meskipun data terbatas namun kesempatan untuk memberikan vaksin
dengan serotipe yang lebih banyak menjadi dasar pemikiran pemberian
kombinasi ini. Setelah pemberian imunisasi PCV 7, diberikan imunisasi
PPV 23.anak yang mendapat imunisasi PCV 7 lengkap sebelum umur 2

19
tahun, pada umur 2 tahun diberikan PPV 23 1 dosis, dengan selang waktu
suntik ≥ 2 bulan setelah PCV 7 terakhir.

20
BAB III
PEMBAHASAN

Telah dilaporkan seorang anak berusia 3 tahun yang dirawat di RS Ratu Zalecha
dengan diagnosis Bronkopneumonia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan pasien
mengeluhkan demam selama 3 hari SMRS.demam dirasakan turun naik selain itu pasien
juga mengeluhkan batuk selama beberapa hari terakhir., batuk terus menerus dan memberat
hari ini frekuensi nya. Batuk muncul tanpa diprovokasi apapun. Batuk berdahak, dahak
warna putih kekuningan, darah disangkal, dan warna coklat disangkal. Sesak nafas
disangkal oleh pasien, Pasien mengaku badan terasa lemas karena nafsu makan menurun.
Pasien megatakan badan terasa kurus namun pasien tidak pernah menimbang berat
badannya. Pasien tidak ada mengeluhkan adanya benjolan ditubuhnya. Riwayat kontak
dengan penderita Tbc disangkal. Riwayat pengobatan tidak pernah, pasien hanya berperiksa
ke Mantri diberikan obat namun tidak pernah sembuh.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran compos mentis, dengan hemodinamik
pasien stabil. Conjuntiva anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada. Pemeriksaan paru
berbetuk simetris, ada retraksi, perkusi sonor, pada auskultasi ditemukan suara tambahan
ronki di lapang paru kiri dan kanan. Pemeriksaan jantung S1, S2 single, murmur tidak ada,
gallop tidak ada. Abdomen supel, tidak ada distensi, tidak ada hepatosplenomegali. Akral
teraba hangat, capillary refill time kembali cepat namun tidak ada pitting edema.
Pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil anemia dengan Hb 10 g/dl, peningkatan
CRP 24 mg/i. Leukosit meningkat 11000 sel/ul dengan limfosit 36,8%. Neutrophil 47,6 %.
Pemeriksaan radiologis ditemukan kesan bronkopneumonia.
Bronkopneumonia merupakan radang dari saluran pernapasan yang terjadi pada
bronkus sampai dengan alveolus paru. Saluran pernapasan tersebut tersumbat oleh eksudat
yang mukopurulen, yang membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang berdekatan.
Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran
nafas akut bagian atas. Gejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus-menerus, sesak,
kebiruan sekitar mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada bayi), dan nyeri dada. Biasanya
anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. Pada bayi muda sering menunjukkan gejala
non spesifik seperti hipotermi, penurunan kesadaran, kejang atau kembung. Anak besar
kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen disertai muntah.2,3

21
Sebagian besar pneumonia timbul melalui mekanisme aspirasi kuman atau penyebaran
langsung kuman dari respiratorik atas. Hanya sebagian kecil merupakan akibat sekunder
dari bakterimia atau viremia atau penyebaran dari infeksi intra abdomen. Dalam keadaan
normal mulai dari sublaring hingga unit terminal adalah steril. Dalam keadaan sehat, tidak
terjadi pertumbuhan mikroorganisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh adanya
mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh,
mikroorganisme dan lingkungan, maka mikroorganisme dapat masuk, berkembang biak dan
menimbulkan penyakit.1,2
Pemeriksaan diagnostic Bronkopneumonia dapat melalui pemeriksaan laboratorium
dan radiologis. Pemeriksaan darah pada pneumonia umumnya didapatkan Lekositosis
hingga > 15.000/mm3 seringkali dijumpai dengan dominasi netrofil pada hitung jenis.
Lekosit > 30.000/mm3 dengan dominasi netrofil mengarah ke pneumonia streptokokus.
Trombositosis > 500.000 khas untuk pneumonia bakterial. Trombositopenia lebih mengarah
kepada infeksi virus. Biakan darah merupakan cara yang spesifik namun hanya positif pada
10-15% kasus terutama pada anak- anak kecil.2
Foto toraks (AP/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan
diagnosis. Foto AP dan lateral dibutuhkan untuk menentukan lokasi anatomik dalam paru.
Infiltrat tersebar paling sering dijumpai, terutama pada pasien bayi. Pada bronkopneumonia
bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau beberapa lobus
Pengobatan pada pasien bronkopneumoni pada pasien ini diberikan beberapa obat
antara lain yaitu antrain atau metamizol yang berfungsi sebagai anti piretik pada pengobatan
pasien. Pasien ini juga diberikan antibiotik berupa cefotaxime dan gentamicin.yang
berfungsi sebagai obat utama untuk pengobatan bronkopneumoni. Pasien juga mendapatkan
obat dexametason yang berfungsi sebagai anti inflamasi.pasien juga diberikan ranitidine
yang berfungsi sebagai obat pelindung lambung untuk mencegah efek samping mual muntah
pada penggunaan obat antibiotik..

22
BAB IV
PENUTUP

Telah dilaporkan seorang anak berusia 3 tahun yang dirawat di RS Ratu Zalecha
dengan diagnosis Bronkopneumonia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pasien dirawat di RS Ratu Zalecha selama 3
hari di Ruang Anak dan BLPL, kontrol kembali ke Poli Anak RS Ratu Zalecha dengan
mendapatkan pengobatan obat Bronkopneumoni

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Alberta Medical Association. 2001. Guideline for The Diagnosa and Management of
Community Acquired Pneumonia Pediatric. http:/www.albertadoctor.org.

2. Alsagaff, Hood dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian Ilmu Penyakit Paru
dan Saluran Napas FK Unair : Surabaya.

3. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi.
Surabaya.

4. Murray,nedel’s. Text Book of Respiratory Medicine,Edisi 1,Volume1. United State of


America :Elseiver Saunders. 2005.

5. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15,Volume 2.Jakarta :EGC. 2000

6. Pneumoni. Available at: http://www.news-medical.net/health/Pneumonia.aspx .


Accessed at 15 April 2013.

7. Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,Volume I.Jakarta : EGC.


2000.

8. Zul Dahlan. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2000.

24