Anda di halaman 1dari 86

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Direktorat Jenderal Bina Marga


Direktorat Preservasi Jalan

MANUAL PELAKSANAAN
PRESERVASI JALAN
SERI 4

PEMILIHAN TEKNOLOGI
& PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
ii MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
MANUAL PELAKSANAAN
PRESERVASI JALAN

Seri 4

Pemilihan Teknologi dan


Pelaksanaan Preservasi
Jalan

© 2019
Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
Direktorat Jenderal Bina Marga
Direktorat Preservasi Jalan

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN iii


Kata
Pengantar

iv MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Guna menunjang kegiatan pemeliharaan jalan, Direktorat Preservasi Jalan, Direktorat
Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
menerbitkan panduan berjudul “Manual Pelaksanaan Preservasi Jalan”, dengan tujuan
untuk memberikan panduan terkait kegiatan preservasi jalan.

Dalam buku ini disampaikan kegiatan preservasi jalan yang meliputi konsep preservasi,
identifikasi data kerusakan, program penanganan, pemilihan teknologi dan pelaksanaan
preservasi jalan.

Semoga dengan terbitnya Manual Pelaksanaan Preservasi Jalan ini dapat dijadikan
pegangan oleh semua pihak yang melaksanakan kegiatan preservasi jalan sebagai
bahan pertimbangan dan penguatan dalam pengambilan keputusan serta solusi
permasalahan yang terjadi dalam kegiatan preservasi jalan.

Jakarta, Desember 2019

DIREKTUR PRESERVASI JALAN

IR. ATYANTO BUSONO, M.T.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN v


PRA KATA

vi MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Preservasi jalan merupakan kegiatan penanganan jalan, berupa pencegahan, perawatan dan perbaikan
yang diperlukan untuk mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi secara optimal melayani
lalu lintas sehingga umur rencana yang ditetapkan dapat tercapai. Kegiatan preservasi meliputi
pekerjaan rehabilitasi, rekonstruksi, dan pelebaran menuju standar. Dalam pelaksanaan preservasi
jalan di lapangan, sering terjadi perbedaan persepsi tentang apa yang menyebabkan kerusakan jalan,
metode survei kondisi jalan, teknologi yang dapat digunakan, serta beberapa hal yang mempengaruhi
kinerja jalan sehingga perlu disusun manual pelaksanaan preservasi jalan.

Manual Pelaksanaan Preservasi Jalan disusun dalam serangkaian panduan yang tidak terpisah, yaitu
meliputi:

Preservasi Jalan;
Identifikasi Data Kerusakan Jalan;
Pemrograman Preservasi Jalan;
Pemilihan Teknologi dan Pelaksanaan Preservasi Jalan;
Infografis Pelaksanaan Preservasi Jalan.

Seri I memberikan gambaran dan penjelasan secara umum terkait kegiatan preservasi jalan. Seri
II menjelaskan terkait kebutuhan data, metode pengumpulan data, dan identifikasi kerusakan
jalan. Seri III menjelaskan proses pemrograman preservasi jalan. Seri IV menjelaskan secara umum
mengenai cara pemilihan teknologi dan metode pelaksanaan dalam mengatasi kerusakan jalan pada
kegiatan preservasi jalan. Seri V memberikan infografis terkait pemilihan teknologi dan pelaksanaan
preservasi jalan dalam hal persiapan peralatan, mobilisasi pekerja dan peralatan, pelaksanaan pekerja,
pengawasan, demobilisasi, dan acuan kegiatan.

Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan
membantu proses penyusunan panduan ini.

Penyusun

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN vii


DA F TA R IS I
KATA PENGANTAR v

PRAKATA vii

DAFTAR ISI viii

1. Ruang lingkup 10

2. Acuan normatif 10

3. Istilah dan definisi 10
3.1 Preservasi Jalan 10
3.2 Pemeliharaan Preventif 11
3.3 Rehabilitasi Jalan 11
3.4 Rekonstruksi 11

4. Pemilihan Teknologi 11
4.1 Umum 11
4.2 Kondisi Perkerasan yang Tepat 12
4.3Identifikasi Kerusakan 12
4.3.1 Klasifikasi Kerusakan 13
4.4 Kriteria Pemilihan Teknologi Preventif 14
4.4.1 Matriks Kerusakan vs. Teknologi Preventif 14
4.4.2 Pilihan Teknologi Preventif 14
4.4.3 Prioritas Pemilihan Teknologi Preventif 14
4.5 Teknologi Preventif Perkerasan Jalan 17

5. Metode Pelaksanaan 19
5.1 Fog Seal 19
5.2 Chip Seal 22
5.3 Slurry Seal 25
5.4. Micro Surfacing 29
5.5 Thin HMA 34
5.6 Joint & Crack Sealing 39
5.7 Cross Stitching 43
5.8 Dowel Retrofit 46
5.9 Partial Depth Repair 51
5.10 Full Depth Repair 57
viii MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
5.11 Slab Stabilization and Jacking 65
5.12 Perbaikan Tanah Dasar 70
5.13 Daur Ulang (Recycling) 73
5.14 Daur Ulang Lapis Pondasi dengan CTRB 79

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Matriks Kerusakan Vs Teknologi Preventif Perkerasan Lentur 15


Tabel 2. Matriks Kerusakan Vs Teknologi Preventif Perkerasan Kaku 15
Tabel 3. Pilihan Teknologi Perkerasan Lentur 16
Tabel 4. Pilihan Teknologi Perkerasan Kaku 16
Tabel 5. Teknologi Preventif Perkerasan Jalan 17
Tabel 6. Pekerjaan Fog seal 20
Tabel 7. Pengendalian Mutu Fog seal 21
Tabel 8. Pekerjaan chip seal 22
Tabel 9. Pengendalian mutu chip seal 25
Tabel 10. Pekerjaan Slurry seal 26
Tabel 11. Pengendalian mutu slurry seal 28
Tabel 12. Pekerjaan Micro Surfacing 29
Tabel 13. Pengendalian Mutu Micro Surfacing 33
Tabel 14. Pekerjaan Thin HMA 34
Tabel 15. Pengendalian Mutu Thin HMA 37
Tabel 16. Pekerjaan Joint and crack sealing 40
Tabel 17. Pengendalian mutu joint and crack sealing 43
Tabel 18. Pekerjaan cross stitching 44
Tabel 19. Pengendalian Mutu Cross Stitching 46
Tabel 20. Pekerjaan dewel retrofit 47
Tabel 21. Pengendalian mutu dowel retrofit 50
Tabel 22. Pekerjaan partial depth repair 52
Tabel 23. Pengendalian mutu partial depth repair 56
Tabel 24. Pekerjaan full depth repair 58
Tabel 25. Pengendalian mutu full depth repair 64
Tabel 26. Pekerjaan slab stabilization and jacking 66
Tabel 27. Pengendalian mutu slab stabilization and jacking 70
Tabel 28. Pekerjaan perbaikan tanah dasar 74
Tabel 29. Pekerjaan CTRB 74
Tabel 30. Pengendalian mutu CTRB 78
Tabel 31. Pekerjaan CMRFB 80
Tabel 32. Pengendalian mutu CMRFB 84

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN ix


Manual Pelaksanaan
Preservasi Jalan

1. Ruang lingkup Pekerjaan Umum;


9. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan
Ruang lingkup Manual Pelaksanaan Preservasi Perumahan Rakyat Nomor
Jalan ini menjelaskan tentang penanganan
jalan dalam kegiatan preservasi jalan meliputi 10. 16/SE/M/2015 tentang Pedoman Penutupan Ulang
identifikasi kerusakan, kebutuhan survey, Sambungan dan Penutupan Retak pada Perkerasan
program penanganan, pemilihan tekhnologi dan Kaku;
pelaksanaan preservasi jalan. Dalam manual
preservasi jalan pada buku 5 ini menjelaskan 11. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan
Pemilihan tekhnologi dalam pelaksanaan Perumahan Rakyat Nomor
preservasi jalan tersebut.
12. 17/SE/M/2015 tentang Pedoman Perancangan

2. Acuan Normatif dan Pelaksanaan Lapis Permukaan Mikro (Micro


surfacing);

1. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang 13. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan

Jalan Perumahan Rakyat Nomor

2. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 14. 18/SE/M/2015 tentang Pedoman Perancangan

tentang Jalan; dan Pelaksanaan Lapis Penutup dengan Bubur Aspal

3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/ Emulsi (Emulsified Asphalt Slurry Seal);

PRT/M/2011 tentang Tata Cara Pemeliharaan dan 15. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan

Penilikan Jalan; Perumahan Rakyat Nomor

4. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang 16. 19/SE/M/2015 tentang Pedoman Pelaksanaan

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; Pengabutan (Fog Seal) untuk Pemeliharaan Perkerasan

5. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Beraspal;

tentang Jalan;
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/ 3. Istilah dan Definisi
PRT/M/2011 tentang Tata Cara Pemeliharaan dan
Penilikan Jalan; 3.1 Preservasi Jalan
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Kegiatan pemeliharaan jalan yang dapat diikuti
dengan rekonstruksi pada bagian-bagian jalan
Rakyat Nomor 05/PRT/M/2014 tentang Pedoman
yang terencana antara lain akibat bencana alam.
Sistem Manajemen Keselamatan dan
8. Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang

10 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Seri 01

pemeliharaan.
3.2 Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan yang dilakukan sebelum terjadinya
Beberapa keuntungan lain pemeliharaan
kerusakan.
preventif yaitu:

3.3 Rehabilitasi Jalan


a) Mengurangi kerusakan di masa mendatang;
Kegiatan penanganan pencegahan terjadinya
b) Mempertahankan atau meningkatkan
kerusakan yang luas dan setiap kerusakan
kondisi fungsional dari perkerasan;
yang tidak diperhitungkan dalam desain, yang
berakibat menurunnya kondisi kemantapan c) Memperpanjang masa layan perkerasan
pada bagian/tempat tertentu dari suatu sesuai umur rencana.
ruas jalan dengan kondisi rusak ringan, agar
penurunan kondisi kemantapan tersebut dapat Buku ini menjelaskan mengenai pengambilan
dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai keputusan terkait penggunaan teknologi
dengan rencana pemeliharaan preventif yang paling tepat
berdasarkan jenis, tingkat, dan sebaran
kerusakan pada ruas jalan tinjauan. Teknologi
3.4 Rekonstruksi
pemeliharaan preventif perkerasan jalan
Peningkatan struktur yang merupakan kegiatan
beraspal di dalam panduan ini meliputi
penanganan untuk dapat meningkatkan
pengabutan (fog seal), Chip Seal, lapis penutup
kemampuan bagian ruas jalan yang dalam
dengan bubur aspal emulsi (slurry seal), lapis
kondisi rusak berat agar bagian jalan tersebut
permukaan mikro (microsurfacing). Sedangkan
mempunyai kondisi mantap kembali sesuai
pemeliharaan preventif pada perkerasan jalan
dengan umur rencana yang ditetapkan.
beton diantaranya penutupan ulang sambungan
dan penutupan retak (joint & crack sealing),
4 . Pemilihan Teknologi penstabilan dan pengembalian elevasi pelat
beton dengan cara grouting (slab stabilization
and jacking), penjahitan melintang (cross-
4.1. Umum stitching), restorasi penyaluran beban (dowel
Lingkup kegiatan pemeliharaan berada pada ruas retrofit), penambalan dangkal perkerasan beton
jalan dengan kondisi mantap, dan khususnya bersambung tanpa tulangan (partial depth repair),
pada ruas jalan yang sudah diindikasikan dan penambalan penuh perkerasan beton
terjadi penurunan kondisi ditangani melalui bersambung tanpa tulangan (full depth repair).
pemeliharaan preventif, dalam menunda laju
penurunan kondisi perkerasan jalan. Pemeliharaan preventif untuk perkerasan lentur
banyak jumlahnya. Program pemeliharan
Hal ini dipandang lebih menguntungkan tersebut masing-masing dapat menjadi efektif,
secara biaya jika dibandingkan penanganan jika pemilihan program ditekankan untuk
reaktif, sehingga akan berdampak signifikan mengatasi atau mencegah langsun kerusakan
terhadap keseluruhan program pembiayaan perkerasan yang sesuai. Waktu berbagai

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 11


perawatan diterapkan menentukan apakah dan microsurfacings yang digunakan pada
mereka perawatan pemeliharaan preventif atau semua jenis perawatan untuk mengisi retakan,
korektif. Jenis yang paling umum dari kesusahan meningkatkan gesekan, dan meningkatkan
di perkerasan lentur meliputi: kualitas menjadi lebih tinggi

Rutting. 5. Thin Overlay.


Cracking (yaitu, kelelahan, penyusutan, dan Ini termasuk campuran gradasi terbuka dan
panas). senjang (serta daur ulang permukaan) yang
Bleeding. digunakan untuk meningkatkan kualitas menjadi
lebih baik, serta untuk mendukung drainase
Kekasaran (karena satu atau beberapa atas).
permukaan dan gesekan.
Pelapukan
Raveling
4.2 Kondisi Perkerasan yang Tepat

Berbagai jenis perawatan pemeliharaan meliputi:


Pemeliharaan preventif perkerasan jalan hanya
dapat diterapkan pada ruas jalan berpenutup
1. Crack Sealing untuk perkerasan lentur dan perkerasan kaku
.Perawatan ini digunakan untuk mencegah dalam kondisi mantap dengan tanah dasar yang
air dan puing-puing memasuki celah-celah stabil.
di perkerasan. Perawatan mungkin termasuk
routing untuk membersihkan seluruh celah dan Beberapa kondisi perkerasan yang
menciptakan reservoir untuk menahan. direkomendasikan untuk dilakukan penanganan
pemeliharaan preventif perkerasan jalan
diantaranya:
2. Fog Seal.
Sebuah aplikasi emulsi yang diencerkan (biasanya
1-1) untuk memperkaya permukaan perkerasan • Kondisi struktural masih stabil;
dan menghambat raveling dan oksidasi. Ini • Perkerasan yang telah mengalami oksidasi;
dianggap sebagai pencegahan sementara.
• Sudah mengalami pengausan;
•Sudah mengalami pelepasan butir ringan,
3. Chip Seal. atau warnanya memudar;
Perawatan ini digunakan untuk tahan air
• Sudah terjadi alur dan retak pada perkerasan
permukaan, menutup celah-celah kecil, dan
lentur;
meningkatkan gesekan. Meskipun biasanya
digunakan pada jalan dengan volume rendah, • Terjadi pumping di bawah slab dekat
juga bisa digunakan di jalan raya volume tinggi sambungan perkerasan kaku.
dan hambatan.

4. Thin Cold Mix Seals.


Perawatan ini termasuk Slurry Seals, Cape Seals,
12 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
4.3 Identifikasi Kerusakan harian, atau gabungan dari faktor-faktor tersebut.

Pemeliharaan preventif jalan tidak ditujukan 2) Retak melintang (transverse cracking), retak
untuk menambah kekuatan struktur perkerasan, yang terjadi pada arah lebar perkerasan dan
maka dari itu perlu diidentifikasi terlebih hampir tegak lurus sumbu jalan atau arah
dahulu agar tidak salah dalam memilih lokasi penghamparan. Retak melintang biasanya tidak
perkerasan yang akan ditangani pemeliharaan terkait dengan beban lalu lintas.
preventif. Sebagai indikator dalam kegiatan
pemeliharaan preventif pada perkerasan jalan, 3) Retak blok (block cracking), retak blok
identifikasi kerusakan permukaan jalan (baik merupakan retak saling berhubungan dan
pada perkerasan lentur maupun perkerasan membagi permukaan menjadi kotak-kotak yang
kaku) dinilai berdasarkan jenis, tingkat, dan berbentuk hampir bujur sangkar, utamanya
sebaran kerusakan yang terjadi, sehingga dapat disebabkan oleh penyusutan lapis beraspal atau
ditentukan jenis penanganan yang paling sesuai. karakteristik aspal dan temperatur, bukan akibat
beban lalu lintas.

4.3.1. Klasifikasi Kerusakan 4) Retak tepi (edge cracking), retak memanjang


yang sejajar dengan tepi perkerasan dan
Jenis Kerusakan
biasanya terjadi sekitar 0,3 m sampai 0,5 m dari
tepi luar perkerasan. Retak tepi diperparah oleh
Jenis kerusakan pada perkerasan lentur meliputi: beban kendaraan dan dapat ditimbulkan oleh
pelemahan lapis fondasi atas atau tanah dasar
a. Pelepasan butir (raveling),
5) Retak buaya (alligator cracking), retak yang
membentuk serangkaian kotak-kotak kecil yang
Lepasnya butir agregat pada permukaan jalan saling berhubungan pada permukaan perkerasan
beraspal, dapat diakibatkan oleh kandungan beraspal menyerupai kulit buaya, umumnya
aspal yang rendah, campuran yang kurang akibat keruntuhan lelah oleh beban kendaraan
baik, pemadatan yang kurang, segregasi, atau yang berulang.
pengelupasan aspal.
c. Alur (rutting),
b. Retak (cracking)
Penurunan memanjang yang terjadi pada jalur
1) Retak memanjang (longitudinal cracking), retak jejak roda kiri (JRKI) dan jejak roda kanan (RJKA),
paralel yang sejajar dengan sumbu jalan atau terutama akibat dari deformasi permanen pada
arah penghamparan yang dapat disebabkan oleh lapis perkerasan atau tanah dasar, yang biasanya
pembentukan sambungan memanjang yang disebabkan konsolidasi atau pergerakan lateral
kurang baik, akibat penyusutan lapis beton aspal bahan perkerasan akibat beban kendaraan.
yang diakibatkan oleh temperatur yang rendah
atau penuaan aspal, atau siklus temperatur

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 13


Jenis Kerusakan Perkerasan Kaku meliputi: 4.4 Kriteria Pemilihan Teknologi Preventif

a. Retak memanjang (Longitudinal crack), 4.4.1. Matriks Kerusakan Vs Teknologi Preventif


Retak yang umumnya terjadi pada tengah perkerasan
beton, sejajar sumbu jalan atau arah lalu lintas. Pemilihan teknologi preventif (lentur dan kaku)
berdasarkan kriteria jenis kerusakan, dengan
mempertimbangkan manfaat dan variabel
b. Retak melintang (Transverse crack), lalu lintas harian yang melewati ruas jalan
tinjauannya pada Tabel 1 dan 2.
Yang terjadi pada arah lebar perkerasan beton dan
hampir tegak lurus sumbu jalan.
4.4.2. Pilihan Teknologi Preventif

c. Gompal pada sambungan (joint spalling),


Pemilihan teknologi preventif yang tepat untuk
Kerusakan/pecahnya tepi slab beton di sekitar masing-masing jenis, tingkat, dan sebaran.
sambungan dan biasanya tidak membentuk bidang Kerusakan yang terjadi di ruas tinjauan, dapat
dilihat pada tabel 3 dan4.
vertikal, tetapi membentuk sudut terhadap bidang
datar.
4.4.3. Prioritas Pemilihan Teknologi Preventif

d. Pecah sudut (corner breaks),


Dalam melakukan prioritas pemilihan
Pecah yang terjadi di sudut slab beton yang memotong teknologi preventif yang tepat, Perencana
sambungan pada jarak kurang atau sama dengan % harus mengevaluasi segmen tinjauan dengan
mengutamakan kelayakan penggunaan
dari panjang slab di kedua sisi panjang dan lebarnya,
teknologi preventif terkait dengan produktifitas
diukur dari sudut pelat. peralatan. Pemilihan prioritas teknologi
preventif dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan
penanganan dominan. Untuk penanganan
e. Pumping,
perkerasan kaku, harus dilakukan survey dan
Pergerakan atau terangkatnya material di bawah investigasi terhadap kerusakan plat beton
slab beton akibat tekanan air melalui sambungan sehingga kebutuhan penanganan dapat
disesuaikan dan atau dikombinasikan antar
atau retakan. Akumulasi air dibawah slab beton akan pilihan teknologi preventif perkerasan kaku.
menekan slab keatas saat dibebani lalu lintas.

14 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Tabel 1
Matriks Kerusakan vs. Teknologi Preventif Perkerasan Lentur
Sumber SE No: 07/SE/Db/2017

Uraian Micro The HMA Overlay


Fog Seal Chip Seal Slurry Seal
Surfacing (LTBA)
Jenis Kerusakan
Pelepasan butir (raveling) √ √ √ √ √
Retak Memanjang (longitudinal crack) √ √ √ √ √
Retak Melintang (transverse crack) √ √ √ √ √
Retak tepi (edge crack) √ √ √ √
Retak blok (block crack) √ √ √ √
Retak Buaya (alligator crack) √*
Alur (rutting) √ √*

Manfaat
Friksi √ √ √ √
Oksidasi √ √ √ √ √
LHRT
< 2000 √ √ √ √ √
2000 LHRT 5000 √ √ √
> 5000 √ √ √

Keterangan* : untuk ruas jalan dengan lalu lintas rendah

Tabel 2
Matriks Kerusakan vs. Teknologi Preventif Perkerasan Kaku
Sumber SE No: 07/SE/Db/2017

The HMA Cross - Dowel Partial Depth Full Depth Slab Stabilization
Uraian
Overlay (LTBA) Stitching Retrofit Repair Repair and Jacking

Jenis Kerusakan
Retak Memanjang (longitudinal crack) √ √ √ √
Retak Melintang (transverse crack) √ √ √ √
Gompal pada sambungan √ √
(joint spalling)

Retak Sudut (corner crack) √


Retak Sudut (corner crack) √

LHRT
< 2000 √ √ √ √ √ √
2000 LHRT 5000 √ √ √ √ √ √
> 5000 √ √ √ √ √ √

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 15


Tabel 3
Pilihan Teknologi Preventif Perkerasan Lentur
Sumber SE No: 07/SE/Db/2017

Teknologi Penanganan Fog Seal Chip Seal Slurry Micro The HMA
Lentur Seal Surfacing Overlay
(LTBA)
Tingkat Kerusakan
Sebaran
Jenis Kerusakan Kerusakan R S T R S T R S T R S T R S T
< 20 % √ √
Pelepasan butir (raveling) 30 - 50 % √ √ √
> 50 % √ √ √ √
< 20 % √ √
Retak Memanjang
30 - 50 % √ √ √
(longitudinal crack)
> 50 % √ √ √ √
< 20 % √ √
Retak Melintang
30 - 50 % √ √ √
(transverse crack)
> 50 % √ √ √ √
< 20 % √ √
Retak Tepi
30 - 50 % √ √ √
(edge crack)
> 50 % √ √ √ √
Retak Buaya (alligator crack) < 20 % √
< 20 % √ √ √
Alur (rutting) 30 - 50 % √ √ √
> 50 % √

Tabel 4
Pilihan Teknologi Preventif Perkerasan Kaku
Sumber SE No: 07/SE/Db/2017

Teknologi Penanganan Joint & Cross- Dowel Partial Full Stab


Lentur Crack Stitching Retrofit Depth Depth Stabilization
Sealing Repair Repair and Jacking
Tingkat Kerusakan
Sebaran
Jenis Kerusakan Kerusakan R S T R S T R S T HIGH HIGH 4.6 mm
<5% √ √ √ √
Retak Memanjang
5 - 20 % √ √ √ √
(longitudinal crack)
> 20 % √ √
< 10 % √ √ √ √
Retak Melintang
(transverse crack) 10 - 30 % √ √ √
> 30 % √ √
Gompal Pada √
Sambungan < 25 % √ √
(joint spalling)
<4 √
Pecah Sudut 4 - 10 % √
(Corner Crack)
> 10 % √
Retak Buaya (alligator crack) - √

16 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


4.5 Teknologi Preventif Perkerasan Jalan

Lingkup kegiatan pemeliharaan berada pada ruas jalan dengan kondisi mantap, dan khususnya
pada ruas jalan yang sudah diindikasikan terjadi penurunan kondisi ditangani melalui pemeliharaan
preventif, dalam menunda laju penurunan kondisi perkerasan jalan.
Tabel 5.
Teknologi Preventif Perkerasan Jalan
Sumber SE No: 07/SE/Db/2017

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 17


18 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
5. Metode Pelaksanaan

5.1 Fog Seal

Pekerjaan fog seal diterapkan pada permukaan


perkerasan beraspal eksisting dalam kondisi baik
yang mulai terjadi retak rambut dan pengausan
(stripping)

Fog seal digunakan untuk menutup permukaan


perkerasan beraspal untuk mencegah terjadinya
pelepasan butiran agregat (raveling) pada
permukaan perkerasan beraspal. Penambahan
aspal akan meningkatkan kekedapan (water
proofing) permukaan dan mengurangi
kerentanan terhadap penuaan dengan
menurunkan permeabilitas air dan udara.

Tabel 6 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan


fog seal beserta uraiannya, meliputi peralatan
dan bahan yang digunakan, pekerja yang
dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa diatasi
oleh teknologi preservasi fog seal sesuai dengan
Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4 Pekerjaan
Preventif.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 19


Tabel 6.
Pekerjaan Fog seal

Peralatan yang Diperlukan Bahan Pekerja Jenis Kerusakan

1. Penyapu mekanis (power broom) 1. Aspal emulsi dengan 1. Mandor 1. Retak rambut
atau kompresor angin takaran pengenceran (berat 2. Pengausan (stripping)
aspal emulsi:berat air) 1:1. 2. Operator 3. Pelepasan butiran agregat (raveling)
2. Distributor aspal (kendaraan beroda Lebih detail pada Seksi 4.1
ban angin yang bermesin penggerak Divisi 4 Pekerjaan Preventif, 3.Pekerja
sendiri) terdiri dari: tachometer Spesifikasi Umum 2018
(pengukur kecepatan putaran), 4. Driver
pengukur tekanan, tongkat celup, 2. Air
thermometer, penyemprot aspal
tangan (hand sprayer), dan peralatan 3. Agregat penutup
untuk pengendalian kecepatan.

3. Grafik penyemprotan

CARA KERJA URAIAN


Langkah 1 - Persiapan
Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.
Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum pekerjaan
dimulai.
Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi pekerjaan
dan menempatkan secara tepat dan benar.
Menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk
mengatur dan mengarahkan arus lalu lintas.
Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke
lapangan.

Langkah 2 - Pembersihan Lokasi Pekerjaan


Batasi permukaan yang akan disemprot oleh setiap
lintasan penyemprotan harus diukur dan ditandai.
Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan yang cukup kedap. Penyemprotan
harus dimulai dan dihentikan di atas bahan
pelindung (kertas tebal/karton) sehingga seluruh
nosel bekerja dengan benar pada sepanjang bidang
jalan yang akan disemprot.

Jumlah aspal emulsi yang disemprotkan harus sesuai


dengan yang ditetapkan dan hasil penyemprotan
harus merata pada setiap titik

20 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Penyemprotan aspal dengan distributor aspal harus
dioperasikan sesuai dengan jarak batang penyemprot
yang dimaksud pada Pasal 4.1.4.2).d) pada Spesifikasi
Umum 2018 Div. 4 Pekerjaan Preventif dan telah
disetujui oleh Pengawas Pekerjaan. Kecepatan
pompa, kecepatan kendaraan, ketinggian batang
semprot, dan penempatan nosel harus disetel sesuai
Pasal 4.1.4.3) pada Spesifikasi Umum 2018 sebelum
dan selama pelaksanaan penyemprotan.
Bila lintasan penyemprotan dilaksanakan satu lajur
atau setengah lebar jalan maka lebar penyemprotan
harus selebar rencana ditambah 20 cm pada sisi kiri
dan kanannya sehingga ada bagian yang tumpang
tindih (overlap) selebar 20 cm sepanjang sisi-sisi lajur
yang bersebelahan. Sambungan memanjang selebar
20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan tidak boleh
ditutup oleh lapisan berikutnya sampai lintasan
penyemprotan di lajur yang bersebelahan telah
selesai dilaksanakan.
Distributor aspal harus mulai bergerak kira-kira
5m sebelum daerah yang akan disemprot dengan
demikian kecepatan lajunya sudah dapat dijaga
konstan sesuai ketentuan, dan batang semprot
mencapai bahan pelindung dengan kecepatan tetap
dan harus dipertahankan sampai melewati bahan
pelindung akhir.
Jumlah pemakaian aspal pada setiap kali lintasan
penyemprotan harus segera diukur dari volume sisa
dalam tangki dengan meteran tongkat celup.
Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata
ada ketidaksempurnaan peralatan penyemprot pada
saat beroperasi.

Sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=JVlcKZnC3Gw

Tabel 7 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan fog seal
Tabel 7.
Pengendalian Mutu Fog seal

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


a. Kuantitas yang diterima untuk pengukuran tidak boleh meliputi lokasi dengan takaran penghamparan
yang masih kurang dari yang dapat diterima atau setiap bagian yang terkelupas. Lokasi dengan kadar aspal
yang tidak memenuhi ketentuan toleransi tidak akan diterima untuk pembayaran.
b. Kuantitas yang diukur untuk pembayaran pengabutan adalah dalam satuan liter yang terhampar di
lapangan. Dihitung sebagai hasil perkalian luas hamparan dan nilai rata-rata kadar residu dari pengujian
kertas serap harian yang diterima oleh Pengawas Pekerjaan.
Nomor Uraian Satuan
Mata Pengukuran
4.1.(1) Pengabutan (Fog Seal) dengan Aspal Emulsi yang Mengikat Lambat (CSS-1h Liter
atau SS-1h)
4.1.(1) Pengabutan (Fog Seal) dengan Aspal Emulsi yang Mengikat Lebih Cepat (CQS- Liter
1h atau QS1h)

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 21


4.1.(1) Pengabutan (Fog Seal) dengan Aspal Emulsi Modifikasi Polymer yang Mengikat Liter
Lebih Cepat (PMCQS-1h atau PMQS-1h)

5.2 Chip Seal

Pekerjaan ini meliputi pelaburan aspal pada lokasi beraspal yang licin atau agregatnya sudah aus.
perkerasan yang luasnya kecil menggunakan Dengan demikian permukaaan perkerasan
baik aspal panas, aspal cair maupun aspal emulsi diharapkan menjadi kedap air, kekesatan
untuk menutup retak, mencegah pelepasan permukaan meningkat kembali sehingga dapat
butiran agregat, memelihara tambalan atau meningkatkan aspek keselamatan jalan dan
menambal lubang agar kedap air, memelihara mempertahankan umur layan perkerasan sesuai
perkerasan eksisting yang mengalami penuaan dengan yang direncanakan.
atau untuk tujuan lainnya. Pekerjaan ini harus
mencakup pelapisan dengan aspal dan butiran Tabel 8 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
agregat di atasnya (surface dressing) yang chip seal beserta uraiannya, meliputi peralatan
disebut chip seal. dan bahan yang digunakan, pekerja yang
dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa diatasi
Pemberian aspal dan chipping ini dapat dilakukan oleh teknologi preservasi chipseal sesuai dengan
berkali-kali dengan teknik dan ukuran chip yang Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4 Pekerjaan
sesuai dengan tipe chip seal yang diinginkan. Preventif.
Pelapisan ini untuk mengatasi kerusakan
minor berupa pelepasan butir (raveling),
retak-retak (cracks), permukaan perkerasan-
Tabel 8.
Pekerjaan chip seal

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1.Asphalt Sprayer/ 1. Agregat penutup sesuai SNI-03- 1. Mandor 1. Bleeding
distributor 6889-2002. Persyaratan agregat 2. Operator 2. Pelepasan Butir
2.Air compressor penutup yang akan digunakan 3. Pekerja 3. Fatigue cracking
3.Pneumatic tyre roller harus memenuhi persyaratan pada 4. Driver
4.Chip sprader table 4.2.2.1 Divisi 4, Spesifikai
5.Sweeper Umum 2018
6. Alat bantu dan rambu 2. Aspal yang digunakan adalah
pengaman aspal keras, aspal cair, dan aspal
7.Lampu/ generator set emulsi sesuai dengan Tabel 4.2.2.3
8.Perlengkapan Divisi 4, Spesifikasi Umum 2018
keselamatan kerja 3. PMB
4. PME

22 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


CARA KERJA URAIAN
Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai
Pedoman Pelaksanaan K3 nomor 04/
BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD)
sebelum pekerjaan dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar
lokasi pekerjaan dan menempatkan secara
tepat dan benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalu
lintas untuk mengatur dan mengarahkan
arus lalu lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan
material ke lapangan.

Langkah 2 – Pembersihan lokasi pekerjaan


Pembersihan lokasi kegiatan atau lokasi
pekerjaan yang akan dilakukan teknologi
chip seal dengan menggunakan sprayer
atau air compactor.

Langkah 3A – Proses Penghamparan


Tempatkan asphalt sprayer pada jalur titik
awal pekerjaan, membentuk campuran
aspal sesuai dengann garis kelandaian
serta penampang melintang.

Langkah 3B – Proses Penghamparan


Setelah aspal di hamparkan diatas lokasi
pekerjaan lalu kemudian penghamparan
yang kedua menggunakan chip sprader
untuk menuangkan chip agregat.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 23


Langkah 4 – Pemadatan
1.Lakukan proses pemadatan sesuai
spesifikasi umum divisi 6 Perkerasan Aspal
6.3.5 Gambar 6.3.5(1) dan divisi 6.3.6(4)
Pemadatan
2.Alat yang digunakan adalah pneumatic
tyre roller
3.Pemadatan dimulai dari salah satu
tepi hamparan kemudian pindah ke tepi
berikutnya lalu bergerak ketengah sampai
tepi awal dst.

Langkah 5 – Demobilisasi
1. Demobilisasikan peralatan-peralatan
berat yang digunakan
2. Angkat kembali rambu pengaman dan
peralatan lainnya.

Tabel 9 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan chip seal.

24 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Tabel 9.
Pengendalian mutu chip seal

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Bahan
a. Penyimpanan agregat harus dijaga kebersihannya dari benda asing
b. Penyimpanan aspal dalam drum harus dengan cara tertentu agar supaya tidak terjadi kebocoran
atau kemasukan air
c. Temperatur pemasan aspal harus seperti disyaratkan pada table 4.2.5.1 Div 4 Spesifikasi Umum
Kecakapan Kerja
Bilamana laburan aspal dilaksanakan setengah lebar jalan, suatu lajur semprotan aspal selebar
20 cm haras dibiarkan terbuka dan tidak boleh diberi agregat penutup agar dapat menyediakan
bagian tumpang tindih (overlap) bahan aspal bilamana lajur yang bersebelahan dilaksanakan

Lalu Lintas
Lalu lintas diizinkan melewati permukaan laburan aspal setelah beberapa jam selesai dikerjakan,
seperti yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan. Periode tipikal berkisar antara 2 sampai 4 jam
Nomor Mata Uraian Satuan Pengukuran
Pembayaran
4.2.(1) Laburan Aspal (Buras) Meter Persegi

5.3 Slurry Seal Lapis penutup bubur aspal emulsi harus


mencakup suatu campuran yang secara
Pekerjaan ini diterapkan pada jalan dengan proporsional terdiri dari aspal emulsi, agregat, air,
perkerasan beraspal dalam kondisi pelayanan bahan pengisi dan atau bahan tambahan khusus
mantap sesuai dengan lokasi yang sudah jika diperlukan, yang dicampur dan digelar
ditetapkan di dalam gambar. Penggunaan lapis merata di atas permukaan perkerasan beraspal.
penutup bubur aspal emulsi mencakup perbaikan Lapis penutup bubur aspal emulsi yang sudah
minor terhadap retakan halus, mengisi rongga, selesai harus secara homogen merekat dengan
pengausan, pelepasan butir, memperbaiki variasi baik terhadap lapis permukaan perkerasan
tekstur penampang permukaan perkerasan. beraspal yang ada.

Pelaksana pekerjaan harus menyediakan secara Tabel 10 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
lengkap seluruh tenaga kerja, peralatan, bahan, slurry seal beserta uraiannya, meliputi peralatan
pengendalian mutu, manajemen lalu lintas, dan bahan yang digunakan, pekerja yang
serta hal-hal lainnya yang diperlukan untuk dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa diatasi
melaksanakan pekerjaan lapis penutup bubur oleh teknologi preservasi slurry seal sesuai
aspal emulsi. dengan Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4 Pekerjaan
Preventif.
PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 25
Tabel 10.
Pekerjaan Slurry seal

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. 1. Kualitas agregat harus 1. 1.
Slurry paver memenuhi persyaratan Mandor Retak Rambut
2. mutu sesuai table 4.4.2.1
Air compressor Div 4 Spesifikasi Umum, 2. 2.
3. gradasi agregat sesuai Operator Pelepasan butiran agregat
Mesin pencampur dengan table 4.4.2.2 Div 4 (raveling)
4. Spesifikasi Umum 3.
Mesin penghampar Pekerja
5. 2. Bahas Pengisi (filler)
Peralatan penakaran harus memenuhi 4.
6. persyaratan SNI 03-6723- Driver
Peralatan pembersihan 2002
7.
Alat bantu dan rambu 3. Aspal emulsi
pengaman
8. 4. Air baku
Lampu/ generator set
9. 5. Emulsi modified
Perlengkapan
keselamatan kerja

CARA KERJA URAIAN


Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai
Pedoman Pelaksanaan K3 nomor 04/
BM/2006.

2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD)


sebelum pekerjaan dimulai.

3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi


pekerjaan dan menempatkan secara tepat
dan benar.

26 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


4. Menempatkan petugas pengatur lalu
lintas untuk mengatur dan mengarahkan
arus lalu lintas.

5. Persiapkan peralatan, pekerja dan


material ke lapangan.

Langkah 2 – Penghamparan lapis perekat


(bila diperlukan)
1. Penghamparan lapis perekat dilakukan
pada daerah atau lokasi kerja yang akan
dihamparkan oleh surry seal.

Ketebalan rancangan campuran lapis


penutup

Langkah 3 – Proses Penghamparan


1. Proses penghamparan dilakukan oleh
mesin slurry paver atau manual di lokasi
pekerjaan
2. Campuran slurry seal sudah lebih dahulu
dilakukan pengecekan di lab dan sesuai
dengan spesiikasi khusus interim sesksi 6.7
3. Setelah penghamparan dilakukan pekerja
meratakan slurry seal dengan menggunakan
alat bantu.

Langkah 4 – Demobilisasi
1. Demobilisasikan peralatan-peralatan
berat yang digunakan

2. Angkat kembali rambu pengaman dan


peralatan lainnya.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 27


Tabel 11 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan slurry seal
Tabel 11.
Pengendalian mutu slurry seal

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran

Bahan
Untuk memperhitungkan agregat gembur (bulking), diperlukan pemeriksaan kadar air agregat
stockpile sesuai SNI 1971:2011 dan untuk menetapkan mesin penghampar yang sesuai. Pengujian
bahan dilakukan pada benda uji (sample), untuk pengambilan contoh agregat sesuai SNI 6889:2014
dan untuk pengambilan contoh aspal sesuai SNI 06-6399-2000.
Campuran
Untuk pengendalian mutu campuran, benda uji campuran lapis penutup dengan bubur aspal emulsi
yang mewakili harus diambil langsung dari unit pencampur/penghampar. Pengujian mutu semua
bahan dan campuran harian masing-masing frekuensi pengujian selama pelaksanaan pekerjaan
harus memenuhi syarat sesuai table 4.4.2.1, table 4.4.2.2., dan table 4.4.3.1 pada Divisi 4 Spesifikasi
Umum 2018.
Hasil Penghamparan
Konsistensi campuran lapis penutup dengan bubur aspal emulsi yang tepat harus menjadi salah
satu perhatian utama.
Pengendalian Kuantitas Campuran
Dalam pemeriksaan terhadap pengukuran kuantitas untk pembayaran, campuran lapis penutup
dengan bubur aspal emulsi yang dihampar harus selalu dipantau dan direkam keluaran (output)
campran tersebut dari ruang pencampuran mesin pencampur yang tercatat secara otomatis.
Toleransi
Toleransi untuk lapis penutup dengan bubur aspal emulsi adalah sebagai berikut:
a. Setelah kadar residu aspal emulsi ditentukan dari rancangan campuran, variasi yang diizinkan
adalah ± 1% terhadap rata-rata berat benda uji agregat kering pada pengujian harian.

b.Konsistensi rata-rata benda uji campuran lapis penutup dengan bubur aspal emulsi slow setting
pada pengujian harian selama pelaksanaan pekeijaan tidak boleh berbeda lebih dari ± 0,5 cm dari
rancangan campuran.
Uraian Satuan Pengukuran
4.4.(1) Penghamparan lapis penutup bubur aspal emulsi, tipe 1, CSS-1h Meter Persegi
/ SS-1h
4.4.(2) Penghamparan lapis penutup bubur aspal emulsi, tipe 1, CSS-1h Meter Persegi
/ SS-1h
4.4.(3) Penghamparan lapis penutup bubur aspal emulsi, tipe 1, CSS-1h Meter Persegi
/ SS-1h
4.4.(4) Penghamparan lapis penutup bubur aspal emulsi, tipe 1, CSS-1h Meter Persegi
/ SS-1h
28 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
4.4.(5) Penghamparan lapis penutup bubur aspal emulsi, tipe 3, CSS-1h Meter Persegi
/ SS-1h

4.4.(6) Penghamparan lapis penutup bubur aspal emulsi, tipe 3, CSS-1h Meter Persegi
/ SS-1h

5.4 Micro Surfacing

Pekerjaan micro surfacing ini diterapkan pada campuran dari polymer-modified aspal emulsi
jalan dengan perkerasan beraspal dalam kondisi yang disetujui, agregat, air, dan bahan tambahan
pelayanan mantap, sesuai dengan lokasi yang khusus, secara proporsional, yang dicampur dan
sudah ditetapkan di dalam Gambar. Penggunaan digelar merata di atas permukaan perkerasan
lapis permukaan mikro mencakup perbaikan beraspal. Lapis permukaan mikro yang sudah
minor terhadap profil permukaan perkerasan, selesai harus secara homogen merekat dengan
pelepasan butir, perkerasan yang sudah baik terhadap lapis permukaan perkerasan.
mengalami oksidasi dengan retak rambut, alur
(rutting). Tabel 12 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
micro surfacing beserta uraiannya, meliputi
Pelaksana pekerjaan harus menyediakan secara peralatan dan bahan yang digunakan, pekerja
lengkap seluruh tenaga kerja, peralatan, bahan, yang dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa
pengendalian mutu, manajemen lalu lintas, diatasi oleh teknologi preservasi micro surfacing
serta hal-hal lainnya yang diperlukan untuk sesuai dengan Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4
melaksanakan pekerjaan lapis permukaan mikro. Pekerjaan Preventif.
Lapis permukaan mikro harus mencakup suatu
Tabel 12.
Pekerjaan Micro Surfacing

Peralatan yang Diperlukan Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan
1 1 1 1
Mesin pencampur (harus Agregat yang memenuhi Mandor Retak Rambut
dikalibrasi terlebih dahulu) persyaratan mutu, untuk 2 2.
kualitas sesuai Tabel 4.5.2.1 Operator Alur (rutting)
sedangkan untuk gradasi 3 3
sesuai tabel 4.5.2.2 Divisi 4 Pekerja Pelepasan butiran
Spesifikasi Umum 2018. 4 agregat (raveling
Driver

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 29


2. Peralatan penghampar 2.Bahan pengisi (filler) Campuran untuk lapis permukaan mikro harus
(dengan manual kalibrasi), harus memenuhi memiliki sifat-sifat yang diisyaratkan pada
harus tersedia pengendali persyaratan SNI 06-6723- table 4.5.3.1 Div 4 Spesifikasi Umum.
volume atau berat, dilengkapi 2002, bila diuji dengan
dengan kotak penghampar pengayakan sesuai SNI
(spreader box) dengan pedal ASTM C136:2012
sumbu ganda (twin shafted
paddles) atau ulir (augers spiral) 3. Aspal emulsi harus aspal
dan memiliki fitur perata akhir. emusi modifikasi polymer
yang mengikat lebih cepat
3. Sapu karet (squeegees) yg memenuhi persyaratan
tabel 4.1.2.4 Div 4
4. Sekop Spesifikasi Umum 2018.

5. Perlengkapan kontrol lalu 4. Air


lintas
5. Bahan tambah (additive)
6. Perlengkapan keselamatan
kerja 6. Sumber pasokan.

7. Peralatan pembersihan
(kompresor udara, peralatan
pembilasan air, dan mesin
penyapu (sweeping machine)

CARA KERJA URAIAN


Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai
Pedoman Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum
pekerjaan dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi
pekerjaan dan menempatkan secara tepat dan
benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas
untuk mengatur dan mengarahkan arus lalu
lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material
ke lapangan.

30 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 2 – Penyemprotan Air
Apabila diperlukan penyemprotan air, maka
perkerasan harus disemprot dengan kabut
air didepan kotak penghampar. Takaran air
yang dikabutkan harus disesuaikan dengan
temperatur, tekstur permukaan, kelembaban
dan tingkat kekeringan perkerasan.

Langkah 3 – Kelembaban Udara


Bilamana kelembaban di laboratorium
saat pengujian lebih rendah daripada
kelembaban di lapangan maka perlu
dilakukan penyesuaian rancangan campuran
karena kelembaban yang lebih tinggi
dapat memperpanjang waktu perawatan
di lapangan. Untuk mempercepat waktu
perawatan agar dapat dilalui lalu lintas maka
dapat ditambahkan bahan tambah.

Langkah 4 – Kekentalan Campuran


Pada saat keluar dari pengaduk, campuran
lapis permukaan mikro harus mempunyai
kekentalan yang memadai. Pada semua
bagian kotak penghampar harus setiap saat
tersedia campuran yang cukup, agar seluruh
permukaan dapat tertutup campuran.
Pengisian kotak penghampar yang terlalu
penuh (overloading) harus dihindari.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 31


Langkah 5 – Sambungan
Pada sambungan memanjang atau
sambungan melintang tidak boleh ada
bagian-bagian yang tertutup secara berlebih
atau tidak tertutup, atau tidak rapi (unsightly
appearance). Untuk meminimumkan
jumlah sambungan memanjang, sebaiknya
digunakan alat penghampar dengan lebar
yang memadai. Bila memungkinkan,
sambungan memanjang sebaiknya
ditempatkan pada garis lajur jalan. Tumpang
Sumber gambar : https://www.youtube.com/watch?v=iR4n8ETgXwM tindih (overlap) pada sambungan memanjang
diperbolehkan maksimum 75 mm. Perbedaan
elevasi permukaan hasil penghamparan, bila
diukur dengan menggunakan mistar 3m tidak
boleh lebih dari 6 mm.

Langkah 6 – Penggilasan
Pemadatan biasanya tidak diperlukan pada
permukaan lapis permukaan mikro. Butiran
agregat dari bubur aspal emulsi biasanya
akan lepas sampai seluruh rongga permukaan
tertutup. Untuk mengurangi jumlah agregat
yang lepas dan menghilangkan alur (rutting)
maka penggilasan diperlukan. Jumlah
penggilasan cukup satu sampai dua lintasan
atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Pengawas Pekerjaan. Penggilasan ini
memungkinkan air pada 4 - 42 SPESIFIKASI
UMUM 2018 permukaan ditekan sehingga
membantu penguapan, pengeringan dan
butiran agregat dibenamkan ke permukaan
sehingga mengurangi pelepasan butir
(raveling). Penggilasan dilakukan setelah
waktu pengikatan dan sebelum berakhirnya
waktu perawatan (curing time).

32 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 7 – Pembersihan
Lajur pejalan kaki, lubang saluran air (gutters),
dan persimpangan jalan harus dibersihkan
dari bahan sisa campuran lapis permukaan
mikro. Sisa bahan yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan ini juga harus
dibersihkan.

Tabel 13 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan micro surfacing

Tabel 13.
Pengendalian Mutu Micro Surfacing

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Bahan
Untuk memperhitungkan agregat kondisi gembur (bulking), diperlukan untuk memeriksa kadar air
agregat penimbunan dan menggunakan mesin penghampar.
Campuran
Untuk pengendalian mutu campuran, contoh campuran lapis permukaan mikro yang mewakili
harus diambil langsung dari mesin pencampur/penghampar. Jenis pengujian yang dilakukan
mencakup konsistensi dan kadar residu aspal emulsi.
Hasil Penghamparan
Beda tinggi antara lapis permukaan mikro dan sisi bawah mistar ukur (straight edge) panjang 3 m
yang ditempatkan tegak lurus terhadap sambungan, tidak boleh lebih dari 6 mm.
Nomor Uraian Satuan
Mata Pengukuran
4.5.(1) Lapis Permukaan Mikro dengan aspal emulsi modifikasi polymer Meter Persegi
PMCQS-lh atau PMQS-1h untuk Tipe 1
4.5.(2) Lapis Permukaan Mikro dengan aspal emulsi modifikasi polymer Ton
PMCQS-lh atau PMQS-1h untuk Tipe 2
4.5.(3) Lapis Permukaan Mikro dengan aspal emulsi modifikasi polymer Meter Persegi
PMCQS-1h atau PMQS-1h untuk Tipe 2
4.5.(4) Lapis Permukaan Mikro dengan aspal emulsi modifikasi polymer Ton
PMCQS-lh atau PMQS-1h untuk Tipe 4

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 33


5.5 Thin HMA (Hot Mix Asphalt) Overlay / LTBA

Pekerjaan Lapis Tipis Beton Aspal (LTBA) dan untuk pekerjaan pemeliharaan preventif yang
Stone Matrix Asphalt Tipis (SMA Tipis) ini tidak dapat ditangani dengan teknologi preventif
diterapkan pada jalan dengan perkerasan lainnya.
beraspal dalam kondisi pelayanan mantap,
sesuai dengan lokasi yang sudah ditetapkan di Tabel 14 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
dalam Gambar. Pekerjaan ini digunakan untuk thin HMA beserta uraiannya, meliputi peralatan
menanggulangi kerusakan permukaan jalan dan bahan yang digunakan, pekerja yang
seperti alur (rutting), pelepasan butir (raveling), dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa diatasi
retak, dan memiliki fungsi sebagai lapisan oleh teknologi preservasi thin HMA sesuai
fungsional serta lapis kedap air. Digunakan dengan Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4 Pekerjaan
Preventif.
Tabel 14.
Pekerjaan Thin HMA

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1.Dump truck / pick up Agregat umum, agregat kasar, 1. Mandor 1. Retak slip
truck agregat halus, dan bahan 2. Operator 2. Kegemukan
2. Flat bed truck pengisi (filler) untuk campuran 3. Pekerja 3. Alur
dilengkapi crane beraspal 4. Driver 4. Keriting
3.Excavator/cold milling 5. Sungkur
machine\ Ketentuan yang disyaratkan 6. Pelepasan butir
4. Air compressor dalam pasal 6.3.2 dengaan 7. Pengelupasan (area yang
5. Asphalt finisher gradasi yang disyaratkan luas)
6. Asphalt sprayer pada table 6.3.2.3 dan
7. Pneumatic tire roller gradasi gabungan LTBA yang
8. Tandem roller disyaratkan dalam table 4.7.2.1
9. Peralatan AMP harus berlaku masing-masing
10. Steel wheel roller pada Divisi 6 Spesifikasi Umum
11. Alat bantu dan rambu
pengaman Campuran sesuai yang
12. Lampu/ generator set diisyaratkan dalam pasal 6.3.3
13. Perlengkapan dengan sifat-sifat campuran
keselamatan kerja pada table 6.3.3.1 dan sifat-
sifat campuran LTBA-A, LTBA-B
halus, LTBA-B Kasar dan LTBA-B
Modifikasi yang disyaratkan
dalam table 4.7.3.1 Spesifikasi
Umum 2018

34 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


CARA KERJA URAIAN
Langkah 1 - Persiapan
1.Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.

2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum


pekerjaan dimulai.

3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi


pekerjaan dan menempatkan secara tepat dan
benar.

4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas


untuk mengatur dan mengarahkan arus lalu lintas.

5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke


lapangan.

Langkah 2 – Penyiapan penghamparan


1. Tempatkan dump truck didepan alat penadah
(hopper) dari asphalt finisher lalu tuangkan
campuran aspal ke dalam hopper

2. Setelah hotmix berada di dalam hopper dan siap


untuk dihamparkan segera operasikan asphalt
finisher serta nyalakan mesin fibrasi selama
penghamparan agar campuran aspal terdistribusi
secara merata
Langkah 3A – Proses Penghamparan
1. Tempatkan asphalt finisher pada jalur titik awal
pekerjaan, sebelumnya asphalt finisher diset untuk
menghampar dan membentuk campuran aspal
sesuai dengann garis kelandaian serta penampang
melintang.

2. Para pekerja meratakan campuran aspal


yang dikeluarkan dari asphalt finisher dengan
menggunakan sekop dan lacker, agar campuran
beraspal menjadi merata.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 35


Langkah 3B – Proses Penghamparan
1. Cek dan periksa kembali hasil penghamparan
dengan menggunakan alat ukur yang sederhana
misalnya tulangan yang ditandai, setelah
campuran diratakan.

2. Segera isi ulang campuran beraspal kedalam


hopper apabila campuran beraspal akan habis. Jika
tersisa campuran aspal pada hopper, suhunya tidak
boleh lebih rendah dari suhu penghamparan.

Langkah 4A – Pemadatan awal


1. Lakukan proses pemadatan sesuai spesifikasi
umum divisi 6.3.5 Tabel 6.3.5(1) dan divisi 6.3.6(4)

2. Alat yang digunakan adalah tandem roller

3. Pemadatan dimulai dari salah satu tepi


hamparan kemudian pindah ke tepi berikutnya lalu
bergerak ketengah sampai tepi awal dst.

4. Permukaan roda besi selalu basah agar aspal


tidak menempel.

Langkah 4B – Pemadatan Antara


1. Lakukan proses pemadatan sesuai spesifikasi
umum divisi 6.3.5 Tabel 6.3.5(1) dan divisi 6.3.6(4)

2. Alat yang digunakan adalah pneumatic tire roller

3. Urutan pemadatan sama dengan pemadatan


awal

4. Permukaan roda karet selalu basah.

36 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 4C – Pemadatan Akhir
1 Lakukan proses pemadatan sesuai spesifikasi
umum divisi 6.3.5 Tabel 6.3.5(1) dan divisi
6.3.6(4)

2 Pemadatan dilakukan untuk menghilangkan


jejak bekas roda karet.

3 Lakukan quality control sesuai spesifikasi


umum divisi 6.3.9

Langkah 5 – Demobilisasi
1 Demobilisasikan peralatan-peralatan berat
yang digunakan

2 Angkat kembali rambu pengaman dan


peralatan lainnya.

Tabel 15 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan thin HMA Overlay

Tabel 15.
Pengendalian Mutu Thin HMA

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran

Pengujian Permukaan Perkerasan

Permukaan perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3m, yang disediakan oleh
Penyedia Jasa, dan harus dilaksanakan tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan sesuai dengan
petunjuk Pengawasa Pekerjaan untuk memeriksa seluruh permukaan perkerasan. Toleransi harus
sesuai dengan ketentuan dalam pasal 6.3.1.4.f

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 37


Ketentuan Kepadatan

Jumlah Pengambilan Benda Uji Campuran Beraspal

38 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Nomor Uraian Satuan Pengukuran
Mata
4.7.(1) Lapis Tipis Beton Aspal Ton
- A (LTBA-A
4.7.(2) Lapis Tipis Beton Ton
Aspal - B Halus (LTBA-B
Halus)
4.7.(3) Lapis Tipis Beton Aspal Ton
- B Kasar (LTBA-B Kasar)
4.7.(4) Lapis Tipis Beton Aspal Ton
- B Modifikasi Kasar
(LTBA-B Mod Kasar)
4.7.(5) Stone Matrix Asphalt Ton
Tipis (SMA Tipis)

5.6 Joint and Crack Sealing

Pekerjaan ini bertujuan untuk mengurangi Teknik pelaksanaan ini mengacu pada Pedoman
air yang masuk ke dalam struktur perkerasan Pedoman Penutupan ulang sambungan dan
sehingga mengurangi kerusakan perkerasan penutupan retak pada perkerasan kaku.
yang ditimbulkan oleh air; serta untuk mencegah
intrusi bahan kerasa ke dalam sambungan Tabel 16 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
memanjang dan melintang (kecuali expansion joint and crack sealing beserta uraiannya,
joint), dan retak, sehingga mencegah kerusakan meliputi peralatan dan bahan yang digunakan,
akibat tegangan; seperti gompal (spalling), tekuk pekerja yang dibutuhkan, jenis kerusakan yang
ke atas (blowup atau buckling), dan kehancuran bisa diatasi oleh teknologi preservasi joint and
pelat. Penutupan retak dapat dilakukan terhadap crack sealing sesuai dengan Spesifikasi Umum
retak garis yang mempunyai tingkat keparahan 2018 Divisi 4 Pekerjaan Preventif.
rendah atau sedang lebar retak lebih kecil dari 13
mm.

Penutupan ulang sambungan perlu dilakukan


sesegera mungkin apabila bahan penutup
tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Gejala
tersebut ditunjukan oleh bahan penutup yang
hilang, bahan penutup yang tidak melekat pada
dinding sambungan meskipun masih tetap pada
posisinya, atau sambungan terisi bahan keras.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 39


Tabel 16.
Pekerjaan Joint and crack sealing

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Joint Plow 1. Bahan penutup, harus 1. Mandor 1. Retak memanjang atau
menggunakan salah satu dari melintang
2. Gergaji bahan-bahan penutup sebagai 2. Operator
(diamond- berikut: 2. Penutup sambung yang
bladed saw) 3. Pekerja merusak
a) Bahan penutup termoplastik
3. Concrete yang dipasang dalam keadaan 4.Driver 3. Pelepasan butiran agregat
Cutter panas (harus memenuhi ASTM (raveling)
D6690-15)
4. Sandblasting/
Airblasting b) Bahan penutup termoseting
yang dipasang dalam keadaan
5. Melters dingin (harus memenuhi ASTM
D5893/D5893M-16)
6. Pompa Silikon
c) Bahan penutup yang dibentuk
7. Aplicators (preformede joint sealant)
Jenis-jenis bahan penutup
8. Alat bantu tersebut harus sesuai persyaratan
kertas isolasi yang ditunjukan pada table
4.12.2.1 Div 4 Spesifikasi Umum
9. Rambu Lalu 2018
Lintas (16/
SE/M/2015) 2. Aspal Karet

3. Bahan Penyokong (Backer Rod)


menurut ASTM D5249-10(2016)
terbagi dalam tipe 1, 2 dan 3.
Harus lentur serta tidak menyerap
dan kompatibel

40 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


CARA KERJA URAIAN
Pra Pelaksanaan – Rancangan
Rancangan dimensi penampang bahan penutup pada
sambungan melintang (joint sealing). Faktor bentuk
yang direkomendasikan

Rancangan dimensi penampang bahan penutup pada


sambungan memanjang, dan penutup retak (crack
sealing)

1. Bahan penutup untuk retak memanjang antar pelat


beton dengan lebar sekitar 6mm (0,25 inch) harus
menggunakan bahan termoplastik atau termoseting
2. Untuk sambungan memanjang antar pelat beton
dan bahu jalan yg dilapis HMA harus menggunakan
bahan termoplastik atau termpseting dan menerapakan
konfigurasi reservoir yang dimensinya 19mm x19 mm
hingga 25mm x 25mm
3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi pekerjaan
dan menempatkan secara tepat dan benar.

Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum pekerjaan
dimulai
3.Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi pekerjaan
dan menempatkan secara tepat dan benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalulintas untuk
mengatur dan mengarahkan arus lalu lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke
lapangan

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 41


Langkah 2 - Pengupasan Bahan Sealant Lama
1. Penggergajian sambungan dengan alat cutter untuk
mengupas bahan penutup lama.
2. Pencukilan bahan penutup lama pada reservoir
sambungan menggunakan joint Plow
3. Buat Joint dengan lebar tertentu dengan
menggunakan concrete cutter

Langkah 3 – Pembentukan Ulang Sambungan


1. Penggergajian untuk mendapatkan celah (Reservoir)
sesuai dengan ukuran factor bentuk yang diinginkan

2.Pengukuran lebar dan kedalaman reservoir

Langkah 4 – Pembersihan reservoir (Joint Reservoir


Cleaning)
1. Pembersihan reservoir dengan bahan penutup lama
dengan sapu lidi
2. Pembersihan reservoir dengan alat penyemprot udara
(airblasting)
3. Pembersihan dinding reservoir dari debu dan
kotoran yang tertinggal dengan alat penyemprot udara
(airblasting)

Langkah 5 – Pemasangan Backer Rod


1. Tempatkan Backer Rod pada joint yag telah
dibersihkan dengan bantuan Pompa silikon
2. Join yang lebih lebar harus diisi dengan backer rod
yang berdiameter lebih besar

Langkah 6 – Pemasangan Lapis Penutup Baru


1. Pastikan Backer rod terpasang dengan baik
2. Pasang material lapis penutup aspal karet (Pedoman
Teknik no. 010/T/BM/1999) Menggunakan Melters dan
Aplicators
3. Lakukan Quality Control
4. Lalulintas diizinkan lewat setelah lapis penutup
kering

42 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Tabel 17 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan joint and crack
sealing
Tabel 17.
Pengendalian mutu joint and crack sealing

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Hasil pelaksanaan harus sesuai dengan rancangan dan konfigurasi bahan penutup. Permukaan
hasil penutupan retak harus rata dengan permukaan pelat beton.
Nomor Uraian Satuan Pengukuran
Mata
4.12.(1) Penutupan Sambungan Melintang (Termoplastik) Meter Panjang
4.12.(2) Penutupan Sambungan Melintang (Termoseting) Meter Panjang

4.12.(3) Penutupan Sambungan Melintang (Preformed) Meter Panjang


4.12.(4) Penutupan Sambungan Memanjang (Termoplastik) Meter Panjang
4.12.(5) Penutupan Sambungan Memanjang (Termoseting) Meter Panjang
4.12.(6) Penutupan Sambungan Memanjang (Preformed) Meter Panjang
4.12.(7) Penutupan Retak (Termoplastik) Meter Panjang
4.12.(8) Penutupan Retak (Termoseting) Meter Panjang

5.7 Cross Stitching

Pekerjaan penjahitan melintang (cross stitching) kondisi yang relatif baik. Pekerjaan tersebut
ini diterapkan pada permukaan perkerasan beton biasanya dilakukan bersama-sama dengan
semen, baik yang mengalami retak memanjang restorasi penyalur beban.
ataupun untuk pengikat sambungan memanjang
yang mengalami pemisahan. Tabel 18 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
cross stitching beserta uraiannya, meliputi
Penjahitan melintang (Cross Stiching) peralatan dan bahan yang digunakan, pekerja
Merupakan metode pemeliharaan yang yang dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa
dirancang untuk meningkatkan kekuatan diatasi oleh teknologi preservasi cross stitching
perkerasan kaku yang mengalami retak, namun sesuai dengan Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4
secara umum, perkerasan masih mempunyai Pekerjaan Preventif.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 43


Tabel 18.
Pekerjaan cross stitching

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1.Mesin bor 1.Besi Ulir 1. Mandor 1. Transferse cracking
2.Mal pelat baja
3.Alat untuk melumuri 2. Aspal Karet 2. Pekerja 2. Longitudinal cracking
lubang hasil
pengeboran 3. Bahan Penyokong (Backer
4.Rambu Lalu lintas Rod) menurut ASTM D5249-
5.Peralatan tangan 10(2016) terbagi dalam
6.Sandblasting/ tipe 1, 2 dan 3. Harus lentur
airblasting serta tidak menyerap dan
kompatibel
CARA KERJA URAIAN
Rancangan dan Tata Letak Batang Pengikat
Rancangan penjahitan melintang mencakup penentuan
berikut:

a. Dimensi dan kuantitas batang pengikat


b. Mal pelat baja untuk pengeboran dengan sudut
pengarah sesuai yg diperlukan
c. Dimensi mata bor
d. Kuantitas bahan pengisi penjahitan melintang
Harus sesuai dengan table 4.11.4.1

Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum pekerjaan
dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi pekerjaan
dan menempatkan secara tepat dan benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk
mengatur dan mengarahkan arus lalu lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke
lapangan.

44 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 2 - Pembuatan Lubang
1.Pembuatan lubang menggunakan mesin bor
dengan kemiringan yang sesuai dengan kekuatan dan
memotong retak di tengah-tengah lubang.

Langkah 3 – Penyiapan Lokasi Penjahitan


1.Bersihkan lubang menggunakan sandblasting/
airblasting untuk menghilangkan debu

2. Penuangan epoxy (Spec. 2010 pasal 5.3.2) kedalam


lubang dan sisakan ruang dalam lubang untuk
menampung batang pengikat

Langkah 4 – Proses Penjahitan


1. Masukan batang pengikat berulir yang sudah
dioleskan epoxy kedalam retak.
2. Buang kelebihan epoxy dan rapihkan permukaan
epoxy sehingga rata dengan permukaan perkerasan
disekitar lubang.
3. Lakukan Quality Control

Langkah 5 – Finishing
1. Buka perkerasan untuk lalu-lintas secepatnya setelah
epoxy benar-benar mengeras

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 45


Tabel 19 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan cross stitching

Tabel 19.
Pengendalian Mutu Cross Stitching

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Hasil pelaksanaan harus sesuai dengan rancangan dan konfigurasi bahan penutup. Permukaan hasil
penutupan retak harus rata dengan permukaan pelat beton.
Nomor Uraian Satuan
Mata Pengukuran
4.12.(1) Penutupan Sambungan Melintang (Termoplastik) Meter Panjang
4.12.(2) Penutupan Sambungan Melintang (Termoseting) Meter Panjang

4.12.(3) Penutupan Sambungan Melintang (Preformed) Meter Panjang


4.12.(4) Penutupan Sambungan Memanjang (Termoplastik) Meter Panjang
4.12.(5) Penutupan Sambungan Memanjang (Termoseting) Meter Panjang
4.12.(6) Penutupan Sambungan Memanjang (Preformed) Meter Panjang
4.12.(7) Penutupan Retak (Termoplastik) Meter Panjang
4.12.(8) Penutupan Retak (Termoseting) Meter Panjang

5.8 Dowel Retrofit

Penambahan penyaluran beban (dowel retrofit) Tabel 20 akan menjelaskan cara kerja pekerjaan
pada perkerasan beton semen merupakan dowel retrofit beserta uraiannya, meliputi
kegiatan pemeliharaan perkerasan beton semen peralatan dan bahan yang digunakan, pekerja
yang dilakukan melalui pemasangan beberapa yang dibutuhkan, jenis kerusakan yang bisa
buat batang ruji (dowel) pada sambungan atau diatasi oleh teknologi preservasi dowel retrofit
retak melintang pada perkerasan beton semen. sesuai dengan Spesifikasi Umum 2018 Divisi 4
Tujuan pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan Pekerjaan Preventif.
efisiensi penyaluran beban pada sambungan.

46 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Tabel 20.
Pekerjaan dewel retrofit

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Gergaji bergigi 1. Besi Ulir 1. Mandor 1. Tidak dilengkapi
intan dowel
2. Epoxy 2. Pekerja
2. Jackhammer 2. Dowel sudah
3. Baja polos, ukuran ruji dowel mengalami
3. Pahat dan palu panjang 450 mm dengan toleransi penurunan efisensi
9mm, diameter 32 mm
4. Compressor Pengjuan baja tulangan beton untuk
ruji (dowl) harus memenuhi BjTP 280
5. Alat pemadat sesuai dengan SNI 2052:2017 atau
manual dan alat mutu dowel memenuhi persyaratan
perata beton menurut AASHTO M31M/M31-15
Grade 40
6. Kuas
4. Mortar semen dengan bahan
7. Slump test tambah yang umum digunakan
sesuai dengan SNI 03-6825-2002
8. Mesin bor
5. Bahan Perekat Beton
9. Rambu Lalu lintas

10. Peralatan tangan

11. Sandblasting/
airblasting

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 47


CARA KERJA URAIAN
Tata letak batang ruji (dowel) Tata letak ruji (dowel) sesuai tipe
perkerasan beton semen:

i. Perkerasan beton semen


bersambung tanpa ruji (dowel) :
Pada tiap jejak roda dipasang 3
buah ruji (dowel) yang berjarak 300
mm. Posisi ruji (dowel) terluar harus
terletak pada jarak 300 mm dari
tepi luar pelat dan 600 mm dari tepi
sambungan memanjang antar slab
beton.
Dimensi celah pemasangan dowel
ii. Perkerasan beton semen
bersambung menggunakan ruji
(dowel) :

Pada lokasi ruji (dowel) yang


mengalami penurunan efisiensi
dan atau yang sudah terindikasi
mengalami kerusakan.

iii.Perkerasan beton semen


Skema rancangan celah untuk pemasangan ruji bersambung yang mengalami retak
melintang yang berada di daerah
tengah-tengah slab beton:
Tata letak ruji (dowel) seperti pada
Pasal 4.10.3.1).a).i) dari Spesifikasi
Umum 2018.

48 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi
sesuai Pedoman Pelaksanaan K3
nomor 04/BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD)
sebelum pekerjaan dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar
lokasi pekerjaan dan menempatkan
secara tepat dan benar.
4. Menempatkan petugas pengatur
lalu lintas untuk mengatur dan
mengarahkan arus lalu lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan
material ke lapangan.

Langkah 2 - Pembuatan Celah


1. Dipotong dengan concrete cutter
kemudian dibongkar jack hammer
dengan kemiringan yang sesuai
dengan kekuatan dan memotong
retak di tengah-tengah lubang
(celahnya) dengan ukuran ½ tebal
pelat beton (cek lagi di spek) dengan
lebar 65mm. Cukup dalam untuk
menempatkan dowel di tengah-
tengah pelat

Langkah 3 – Pembersihan Celah


1. Ber.sihkan celah menggunakan
sandblasting/airblasting untuk
menghilangkan debu

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 49


Langkah 4 – Proses Pekerjaan
1. Masukan dowel kedalam lubang
yang sudah dibersihkan.
2. Setelah dowel dimasukkan
lalu lakukak grouting pada lokasi
pekerjaan.
3. Pemasangan bahan tambahan
4. Pembentukan ulang sambungan
dan penutup sambungan
5. Lakukan Quality Control

Tabel 21 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan dowel retrofit

Tabel 21.
Pengendalian mutu dowel retrofit

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Hasil pekerjaan yang telah selesai harus dalam batasan toleransi elevasi antara tambalan dan
permukaan pelat beton, dan tidak ada retak susut. Perbaikan pekerjaan yang tidak memenuhi
ketentuan adalah sebagai berikut:
a. Permukaan Tambalan lebih tinggi dari batas toleransi:
Harus dilakukan penggerindaan (grinding) tambalan sampai rata denganpermukaan perkerasan
beton.

b. Hasil tambalan terjadi retak:


Tambalan harus dibongkar dan pekerjaan diulang

Nomor Uraian Satuan Pengukuran


Mata
4.10.(1) Penambahan dan/atau Penggantian Ruji (Dowel) Buah
pada Perkerasan Beton Semen dengan Epoksi

50 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


5.9 Partial Depth Repair (Penambalan Dangkal
Perkerasan Beton Semen Bersambung Tanpa
Tulangan)

Pekerjaan penambalan dangkal perkerasan


beton semen bersambung tanpa tulangan
(partial depth repair) merupakan perbaikan pada
perkerasan beton semen dengan mengganti
bagian pelat yang mengalami kerusakan
terbatas. Kerusakan yang tepat ditangani adalah
gompal atau retak dengan kedalaman tidak lebih
dari sepertiga bagian atas pelat.

Penanganan ini akan memulihkan integritas


structural (structural integrity) serta
meningkatkan kenyamanan, sehingga dapat
mempertahankan umur pelayanan perkerasan.
Partial-Depth Repair Sebaiknya tidak digunakan
untuk spalling yang dalam atau Spalling pada
retak yang aktif. Partial-Depth Repair adalah
pemindahan daerah kecil dan dangkal dari beton
yang rusak dan pergantian dengan material
perbaikan yang sesuai. Material yang digunakan
dapat mengacu kepada Pedoman Penambalan
Dangkal Perkerasan Beton Bersambung Tanpa
Tulangan, Nomor 29/SE/M/2015.

Partial-Depth Repair sebaiknya juga


dipertimbangkan ketika menyiapkan
perkerasan untuk menerima HMA atau PCC
overlay. Kegagalan memperbaiki daerah
spalling sebelumnya dan penempatan overlay
kemungkinan berkontribusi pada kemunculan
reflected Distress yang menyebabkan Premature
Failure dari overlay. Pada proyek pengembalian
kondisi perkerasan kaku yang menyeluruh,
Partial-Depth Repair sebaiknya dilakukan setelah
under sealling dan/atau slab jacking tetapi belum
diamond-grinding dan joint sealing.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 51


Tabel 22.
Pekerjaan partial depth repair

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Gergaji bergerigi 1. Bahan tambalan beton 1. Mandor 1. Gompal/retak
intan (diamond- mengacu pada ketentuan
bladed saw) perkerasan beton semen 2. Operator 2. Pelat yang mengalami
fast track yang diuraikan kerusakan terbatas
2. Jack hammer dalam seksi 5.3 dengan umur 3. Pekerja
ringan sebagaimana yang diuraikan
pada pasal 4.8.8.2 Spesifikasi
3. Alat penyemprot Umum
pasir (sand blasting)
dan alat penyemprot 2. Bahan perekat beton
udara (air blasting) bersifat adhesif-epoxy dan
harus memenuhi persyaratan
4. Alat pencampur AASHTO M235/M235-13
beton

5. Alat pemadat
manual dan perata
beton

6. Alat untuk
pengujian bahan
tambalan Pelat yang mengalami kerusakan

7. Kuas, untuk
melaburkan bahan
perekat

8. Mistar perata

9. Alat pembuat
tekstur

10. Rambu lalu lintas

52 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


CARA KERJA URAIAN
Langkah 1 - Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai
Pedoman Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum
pekerjaan dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi
pekerjaan dan menempatkan secara tepat
dan benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas
untuk mengatur dan mengarahkan arus lalu
lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material
ke lapangan.

Langkah 2 - Membatasi Daerah Perbaikan


1. Lakukan Pembatasan Berjarak 50mm-
150mm dari Lokasi yang rusak

2. Panjang perbaikan minimum adalah


250mmx100mm
Skema penambalan untuk kerusakan gompal
dan retak

Langkah 3 – Pemotongan dan Pembongkaran


Beton
1. Lakukan pemotongan dan penghancuran
beton hingga kedalaman 50mm menggunakan
concrete cutter dan jackhammer
2. Pindahkan serpihan beton menggunakan
jackhammer dengan sudut <450 dari bagian
tengah perbaikan hingga bagian ujung.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 53


Langkah 4 – Penyiapan daerah yang akan
ditambal
1. Permukaan derah penambaalan harus
bersih dan kasar
2. Permukaan yang bersih dihasilkan memalui
penyapuan dalam keadaan kering, peniupan
dengan udara bertekanan (compresses air
blasting)

Langkah 5 – Penyiapan tempat sambungan


1. Tempatkan potongan pemecah lekatan
(bond breaker) /Polystyrene diantara beton
baru dan pelat yang bersebelahan untuk
mencegah terjadinya spalling pada sisi joint.
2. Pembersihan dapat menggunakan
sandblasting/airblasting agar bonding lebih
sempurna.

Langkah 6 – Penggunaan Bonding Agent


1. Sebelum pemasangan bahan tambalan,
daerah penambalan harus dilapisi perekat,
dan dilakukan dalam kondisi kering
permukaan jenuh
2. Permukaan harus dalam kondisi kering
dan diberi Bonding agent sesuai persyaratan
AASHTO M235/M235/13 Sebelum penempatan
campuran beton anti-susut.
3. Kelebihan campuran beton tidak di ijinkan

54 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 7 – Pemasangan Bahan Tambalan
1. Kapasitas alat pencampur beton yang
digunakan disesuaikan dengan volume bahan
tambalan yang diperlukan
2. Bahan tambalan ditimbang dan
dimasukan ke dalam kantong-kantong
sesuai hasil percobaan pencampuran, untuk
memudahkan proses pencampuran
3. Pemadatan tambalan dilakukan dengan
menggunakan peralatan manual
4. Agar bahan tambalan dapat melekat kuat
dengan perkerasan yang ada maka bahan
tambalan harus diratakan menuju sisi-sisi
daerah penambalan

Langkah 8 – Pembuatan Tekstur (grooving)


1. Gunakan stiff board untuk membuat tekstur
pada permukaan yang diperbaiki
2. Pembuatan tekstur dilakukan sebanyak 2
kali lintasan.
3. Lakukan grooving pada permukaan dengan
menggunakan grooving tool (Spec. 2010 pasal
7.1.5)

Langkah 9 – Pekerjaan Curing


1. Buat tekstur menggunakan Grooving tool
pada permukaan tambalan agar sama dengan
kondisi permukaan sekitarnya.
2. Curing dilakukan menggunakan busa basah
atau dengan penyemprotan spray untuk
memaksimalkan pencegahan susut
3. Lama waktu curing disesuaikan dengan
jenis semen yang digunakan.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 55


Tabel 23 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan partial depth
repair.
Tabel 23.
Pengendalian mutu partial depth repair

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Hasil pekerjaan harus sesuai dengan rancangan yang sudah mendapat persetujuan pengawas
pekerjaan. Elevasi perkerasan tambalan tidak boleh lebih rendah dari perkerasan eksisting dan
tidak boleh lebih tinggi > 3 mm dari perkerasan eksisting
Nomor Mata Uraian Satuan Pengukuran
Pembayaran
4.8.(1) Tambalah dangkal dengan beton semen cepat Meter Kubik
mengeras untuk pembukaan lalu lintas umur beton ≤
24 jam

4.8.(2) Tambalah dangkal dengan beton semen cepat Meter Kubik


mengeras untuk pembukaan lalu lintas umur beton
lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 hari
4.8.(3) Tambalah dangkal dengan beton semen cepat Meter Kubik
mengeras untuk pembukaan lalu lintas umur beton
lebih dari 3 hari dan kurang dari 7 hari

Sumber gambar :
http://www.cproadmap.org/publications/MAPbrief7-2.pdf

56 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


5.10 Full Depth Repair (Pekerjaan Penambalan
Penuh Perkerasan Beton Semen Bersambung Tanpa
Tulangan)

Pekerjaan penambalan penuh perkerasan beton


semen bersambung tanpa tulangan (Full Depth
Repair) merupakan perbaikan pada perkerasan
beton semen dengan mengganti bagian pelat
yang mengalami kerusakan terbatas pada
sambungan atau retak, yang tidak tersebar
di seluruh Panjang perkerasan yang ditinjau,
gompal atau retak dengan kedalaman lebih dari
sepertiga bagian atas pelat.

Full-Depth Repair dilakukan pada deteriorated


joint dan crack pada perkerasan kaku untuk
mengembalikan ride ability dari perkerasan,
mencegah deterioration lebih lanjut dari area
distress atau menyiapkan perkerasan untuk
menerima overlay. Secara khusus, Full-Depth
Repair memiliki Panjang minimum 1.8m dan
lebar satu lajur walaupun terkadang akan lebih
murah jika mengganti seluruh pelat daripada
menempatkan rangkaian Full-Depth Repair yang
pendek.

Penanganan ini akan memulihkan integritas


structural (structural integrity) serta meningkatkan
kenyamanan, sehingga dapat mempertahankan
umur pelayanan perkerasan.

Sumber Gambar:
http://overlays.acpa.org/concrete_pavement/technical/
fundamentals/Full-Depth_Repair.asp
https://www.fhwa.dot.gov/pavement/concrete/full5.cfm

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 57


Tabel 24.
Pekerjaan full depth repair

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Gergaji bergerigi 1. Bahan tambalan beton mengacu 1. Mandor 1. Gompal/retak
intan (diamond- ketentuan pasal 5.3.2
bladed saw) 2. Operator 2. Pelat yang mengalami
2. Pada ketentuan perkerasan beton kerusakan terbatas
2. Jack hammer, drop semen fast track yang diuraikan 3. Pekerja
hammer, hydraulic dalam seksi 5.3 dengan umur
ram sebagaimana yang diuraikan pada
pasal 4.9.8.2 Spesifikasi Umum
3. Bor beton untuk
penyiapan lubang ruji 3. Bahan perekat beton bersifat
adhesif-epoxy dan harus memenuhi
4. Alat penyemprot persyaratan AASHTO M235/M235-13
pasir (sand blasting)
dan alat penyemprot 4. Perlengkapan Pemindahan Beban.
udara (air blasting) Pengujian baja tulangan beton untuk
ruji (dowel) harus memenuhi mutu
5. Alat pemadat BjTP 280 sesuai dengan SNI 2052:2017
fibrator atau mutu ruji (dowel) memenuhi
persyaratan AASHTO M31M/M31-15
6. Alat pencampur Grade 40
beton

7. Alat pemadat/ Pelat yang mengalami kerusakan


stamper dan perata
beton

8. Alat untuk
pengujian bahan
tambalan

9. Kuas, untuk
melaburkan bahan
perekat

10. Mistar perata

11. Alat pembuat


tekstur

12. Rambu lalu lintas


58 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
CARA KERJA URAIAN
Pra Pelaksanaan – Penentuan lokasi dan
Jarak maksimum antar tambalan dimensi
a. Panjang minimum perbaikan perkerasan
1,8 m dalam arah memanjang harus
menggunakan ruji (dowel).

b. Jarak dari sambungan ke batas


penggergajian minimal 0,6 m.
Skema penambalan penuh
c. Bentuk perbaikan berupa persegi dan
sejajar dengan pola sambungan.

d. Tambalan harus diperluas ke sambungan


terdekat yang jaraknya kurang dari 1,8 m.

e.Jika jarak antar tambalan berdekatan


pada satu jalur maka gabungkan tambalan
menjadi satu tambalan yang lebih besar.
Tabel 4.9.4.1) memberikan pedoman untuk
menentukan jarak maksimum antara
perbaikan penambalan penuh.

Langkah 1 – Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai
Pedoman Pelaksanaan K3 nomor 04/
BM/2006.

2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD)


sebelum pekerjaan dimulai.

3. Memasang Rambu-rambu disekitar


lokasi pekerjaan dan menempatkan secara
tepat dan benar.

4. Menempatkan petugas pengatur lalu


lintas untuk mengatur dan mengarahkan
arus lalu lintas.

5. Persiapkan peralatan, pekerja dan


material ke lapangan.
PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 59
Langkah 2 – Pemotongan Beton
1. Batas-batas tambalan yang sudah
Lokasi pemotongan untuk perbaikan penambalan penuh diberi tanda dipotong secara lurus dan
vertikal dengan kedalaman sesuai dengan
rancangan.

2. Batas-batas perbaikan harus dipotong


dengan kedalaman setebal pelat.

3. Gergaji tidak diperbolehkan menembus


> 13 mm dari dasar pelat beton agar tidak
terjadi kerusakan pada fondasi.

4. Sambungan memanjang (dan bahu


beton, bila ada) harus dipotong sampai
kedalaman setebal pelat. Gambar 4.9.6.1)
mengilustrasikan pola pemotongan
tambalan penuh. Potongan miring pada
bagan bawah gambar adalah potongan
pelepas tekanan yang diperlukan untuk
mencegah pecahan dari beton yang
berdekatan pada saat pembongkaran
beton.

Langkah 3 – Pembongkaran beton


Metode pengangkutan.

Pengeboran pada beton yang rusak


minimal 4 (titik), pengkait diletakkan pada
lubang bor dan dikaitkan dengan rantai
ke ujung depan loader atau peralatan lain
yang berkemampuan untuk mengangkat
vertical pelat yang rusak. Beton tersebut
kemudian diangkat pada satu potongan
atau lebih.

60 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 4A – Penyiapan Daerah yang
akan ditambal
1. Batang pengikat harus diperiksa untuk
lokasi, kedalaman penyisipan, dan arah
tegak luru ke garis tengah dan sejajar
dengan permukaan pelat
2. Pembersihan dapat menggunakan
sandblasting/airblasting agar bonding
lebih sempurna.
3. Semen graut atau epoksi harus disetujui
dan ditempatkan pada lubang ruji (dowel)
dari belakang ke depan
4. Semua lapis pondasi yang terganggu
atau rusak harus dibuang dan diganti
untuk dikembalikan pda kondisi semula

Langkah 4B – Perbaikan Penyalur beban


1. Lubang ruji (dowel) harus dibor sedikit
Sketsa posisi dan ukuran lubang ruji
lebih besar dari diameter ruji (dowel)
untuk memberikan ruang penjangkaran
bahan dan terletak pada setengah tebal
kedalaman pelat. Jika digunakan graut
semen, diameter lubang harus 5-6 mm
lebih besar daripada diamter ruji (dowel)

2. Jika menggunakan campuran epoksi,


diameter lubang maksimal 2 mm lebih
besar dari diameter ruji (dowel), karena
bahan jenis ini dapat keluar melalui celah-
celah kecil

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 61


Langkah 5 – Pengecoran dan Penyelesaian
Beton
1. Pencapaian kepadatan dan tingkat
kerataan disamakan dengan pelat sekitar
2. Beton dipadatkan dengan vibrator dan di
sekitar tepi dari perbaikan tidak dilakukan
secara berlebihan
3. Pengecoran beton tidak diperbolehkan
bila temperatur beton pada saat
dituangkan lebih dari 32 derajat celcius
4. Untuk perbaikan yang panjangnya
kurang dari 3 m, permukaan harus
diratakan tegak lurus terhadap sumbu
jalan, tetapi untuk perbaikan dengan
panjang yang lebih dari 3m, permukaan
harus diratakan dengan screed sejajar
dengan sumbu jalan

5. Air tidak boleh ditambahkan ke dalam


truk pengangkut beton pada lokasi
pelaksanaan dengan tujuan untuk
meningkatkan workabilitas

6. Tambahan pada lokasi sambungan


harus dibentuk dengan cara pemotongan
ulang sambungan untuk mendapatkan
bentuk yg baru, kemudian dibersihkan
dengan penyemprotan udara, penyisipan
tali penyokong, serta pemasangan bahan
penutup.

62 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 9 – Screeding dan Finishing
1. Gunakan stiff board untuk membuat
tekstur pada permukaan yang diperbaiki

2. Pembuatan tekstur dilakukan sebanyak 2


kali lintasan.

3. Lakukan grooving pada permukaan


dengan menggunakan grooving tool (Spec.
2010 pasal 7.1.5)

Langkah 10 – Pengerjaan Curing


1. Buat tekstur menggunakan Grooving
tool pada permukaan tambalan agar sama
dengan kondisi permukaan sekitarnya.

2. Curing dilakukan menggunakan busa


basah atau dengan penyemprotan spray
untuk memaksimalkan pencegahan susut

3. Lama waktu curing disesuaikan dengan


jenis semen yang digunakan.
Sumber gambar: https://www.youtube.com/
watch?v=7MC4i9XYjww

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 63


Tabel 25 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan full depth repair

Tabel 25.
Pengendalian mutu full depth repair

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Pengendalian mutu untuk tambalan penuh sama dengan untuk pelaksanaan pada perkerasan beton
konvensional.. Elevasi perkerasan tambalan tidak boleh lebih rendah dari perkerasan eksisting dan tidak
boleh lebih tinggi > 3 mm dari perkerasan eksisting

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran
4.9.(1) Tambalah penuh dengan beton semen cepat mengeras untuk pembukaan Meter Kubik
lalu lintas umur beton ≤ 24 jam
4.9.(2) Tambalah penuh dengan beton semen cepat mengeras untuk pembukaan Meter Kubik
lalu lintas umur beton lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 hari
4.9.(3) Tambalah penuh dengan beton semen cepat mengeras untuk Meter Kubik
pembukaan lalu lintas umur beton lebih dari 3 hari dan kurang dari
7 hari
4.9.(4) Pemasangan Ruji (dowel) Buah
4.9.(5) Pemasangan sealant Meter
Panjang

64 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Sumber Gambar:
https://www.roadsurgeons.com.au/slab-jacking/

5.11 Slab Stabilization and Jacking (Penstabilan Dan


Pengembalian Elevasi Pelat Beton Dengan Cara
Injeksi Pada Perkerasan Beton Semen)

Pekerjaan penstabilan dan pengembalian


elevasi pelat beton dengan cara injeksi pada
perkerasan beton semen diterapkan pada jalan
yang mempunyai masalah penurunan daya
dukung karena adanya rongga di bawah pelat
beton akibat pumping, penurunan (consolidation)
fondasi bawah. Pekerjaan ini bertujuan untuk
pekerjaan penstabilan pelat dan pengembalian
elevasi pelat yang turun pada perkerasan beton
bersambung tanpa tulangan .

Slab Stabilization sebaiknya dilakukan hanya pada


joint dan retak dimana kehilangan daya dukung
diketahui berada. Agar efektif, Slab Stabilization
sangat penting dilakukan saat permulaan dari
kerusakan perkerasan agar kerusakan tersebut
tidak berkembang jadi lebih parah. Beberapa
Teknik telah dilakukan untuk menentukan
apakah kehilangan daya dukung telah terjadi
dibawah permukaan perkerasan kaku, yaitu:

• Data Visual Distress


Faulting Pada Transversejoint dan Crack, Pumping
dan corner break mengindikasikan bahwa
kehilangan daya dukung telah terjadi. Secara

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 65


ideal, Slab Stabilization sebaiknya dilakukan pada tahap ketiga, yaitu setelah pembentukan rongga
tetapi sebelum faulting dan cracking yang terlalu banyak terjadi.

• Data Lendutan
Data lendutan dapat digunakan tidak hanya menentukan apakah kehilangan daya dukung telah
terjadi, tetapi juga untuk mengestimasi kuantitas dari material grouting yang dibutuhkan untuk
mengisi secara cukup rongga-rongga yang ada.

Tabel 26.
Pekerjaan slab stabilization and jacking

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Peralatan penstabilan 1. Bahan graut berbahan dasar 1. Mandor 1. Faulting;
pelat beton semen (cement grout mixtures).
Bahan campuran graut yang 2. Operator 2. Pumping;
2. Bor dengan pegangan digunakan merupakan produk
jadi dengan ketentuan kuat 3. Pekerja 3. Penurunan/
3. Pompa injeksi positive- tekan minimum 4,1 Mpa pada consolidation
displacement umur 3 hari, tidak susut sesuai
dengan SNI 03-6430.3-2000 4. Corner Break
4. Air Compressor dan harus memenuhi ketentuan
waktu alir dengan metoda flow
5. Pneumatic Hammer cone melalui corong alir sesuai
SNI 03-6808-2002 yang sesuai
6. Grout Plant/unit dengan table 4.13.2.1
pembuat grout
2. Bahan graut cellular plastic.
7. Grout packer Bahan ini harus kuat, ringan,
tidak susut, dan mirip busa
8. Falling Weight yang digunakan sebagai bahan
Deflectometer (FWD) penstabilan dan pengembalian
elevasi pelat yang turun. Bahan
9. Balok kayu ini harus memenuhi kuat tekan
sebesar 1,0 MPa sesuai ASTM
10. Benang yang D1621-16. Polyurethane atau
berfungsi sebagai cellular plastic jenis lainnya yang
pengendali pada disetujui.
saat injeksi bahan
berlangsung 3. Air

66 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


11. Flow Cone

12. Rambu Lalu Linta s

CARA KERJA URAIAN


Pra Pelaksanaan – Penentuan lokasi dan
Perancangan pola lubang injeksi pada penstabilan dimensi
pelat beton

Identifikasi rongga atau adanya kehilangan daya


dukung di bawah pelat dengan pengamatan
langsung

Perancangan pola lubang injeksi pada pengembalian


elevasi pelat beton

Perancangan pola lubang injeksi pada


penstabilan pelat beton

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 67


Langkah 1 – Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.

2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum


pekerjaan dimulai.

3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi


pekerjaan dan menempatkan secara tepat dan
benar.

4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas


untuk mengatur dan mengarahkan arus lalu
lintas.

5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke


lapangan.

Langkah 2 – Pengeboran untuk membuat


lubang injeksi
1. Pembuatan lubang injeksi harus
menggunakan alat bor pneumatik atau
hidrolik pada lokasi pola lubang injeksi sesuai
dengan konfigurasi dalam gambar atau
rancangan yang telah disetujui Pengawas
Pekerjaan dan diberi tanda.

2. Pengeboran dilakukan sesuai dengan pola


lubang yang sudah diberi tanda.

68 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 3 – Penyiapan Bahan Graut
Siapkan bahan graut yang dipilih dan telah
disetujui Pengawas Pekerjaan, apabila bahan
graut mudah mengalir, maka jarak antara
lubang perlu diperbesar; sebaliknya, apabila
bahan graut sulit mengalir sebelum tekanan
balik maksimum dicapai, maka jarak antara
lubang perlu diperkecil dari perencanaan
sebelumnya.

1. Apabila campuran graut yang digunakan


berbahan dasar semen, maka pengaturan
proporsi, dan pencampuran semua bahan
harus menggunakan alat pencampur koloidal
(alat pencampur pompa sentrifugal atau alat
pencampur pisau geser).

2. Apabila menggunakan busa poliuretan,


maka penyimpanan, pengaturan proporsi, dan
pencampuran semua bahan harus sesuai bahan
harus sesuai dengan instruksi dan spesifikasi
yang dikeluarkan oleh produsen dan disetujui
Pengawas Pekerjaan

Sumber gambar https://www.youtube.com/watch?v=c_


U4gYkDfUw

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 69


Tabel 27 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan Slab Stabilization
and Jacking
Tabel 27.
Pengendalian mutu slab stabilization and jacking

Pengendalian Mutu dan Dasar Pembayaran


Pelaksana pekerjaan harus melakukan pengukuran lendutan pelat sebelum dan sesudah dilakukan
perbaikan penstabilan pelat dengan alat Falling Weight Deflectometer (FWD) atas persetujuan
pengawas pekerjaan untuk mengetahui apakah lendutan pelat yang telah distabilkan lebih kecil
atau tidak dari lendutan pelat sebelumnya

Apabila hasil pengujian lendutan menunjukan bahwa pelat masih kehilangan daya dukung,
maka pelat harus diinjeksi kembali melalui lubang yang baru. Hanya diizinkan tiga kali upaya
penstabilang pelat.

Jika masih tetap ditemukan rongga setelah dilakukan tiga kali, maka pekerjaan penstabilan pelat
beton tidak dapat diterima dan harus dilakukan cara penanganan yang lain; misalnya dengan
penambalan penuh (full-depth repair)

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran
4.13.(1) Pengeboran Lubang Buah
4.13.(2) Material Injeksi Berbahan Dasar Semen Kilogram

Rehabilitasi Dan Rekonstruksi

5.12 Perbaikan Tanah Dasar

Perbaikan tanah adalah kumpulan upaya- bereaksi dengan air tanah sehingga merubah
upaya yang dapat dilakukan terhadap tanah sifat tanahnya, mengurangi kelekatan dan
yang memiliki karakteristik teknis (engineering kelunakan tanah. Sifat ekspansif yang menyusut
properties) yang bermutu rendah diubah menjadi dan berkembang karena kondisi airnya akan
material yang layak digunakan sebagai material berkurang secara drastis karena butir kapur.
konstruksi (mempunyai karakteristik teknis yang Kapur yang terdiri dari ion-ion Ca, Mg dan
lebih baik). Metode perbaikan tanah yang kita sebagian kecil Na dapat digunakan untuk :
pakai adalah lime stablization.
• Mengurangi sifat mengembang dari tanah
Metode perbaikan tanah dengan kapur salah • Mengurangi plastisitas dari tanah
satu alternatif usaha perbaikan tanah yang tidak
• Meningkatkan daya dukung dari tanah
memenuhi standar sebagai lapisan tanah dasar
untuk perkerasan atau pondasi bangunan. Kapur
70 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN
Mekanisme dasar stabilisasi dengan kapur :
• Adanya ikatan ion Ca, Mg dan Na yang menyebabkan bertambahnya ikatan antara partikel tanah.
• Adanya proses sementasi (antara kapur dan tanah sehingga kekuatan geser/daya dukung tanah
menjadi naik)
• Stabilitas tanah dengan campuran kapur hanya efektif digunakan untuk tanah lempung dan tidak
efektif untuk tanah pasir
Tabel 28.
Pekerjaan perbaikan tanah dasar

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Truk pembawa 1. Kapur 1. Mandor Tanah dengan
kapur 2. Tanah 2. Operator kondisi kurang baik
3. Air 3. Pekerja
2. Roller 4. Driver
Kriteria Lime Modification
3. Truk pembawa air Tujuan: meningkatkan akses di tanah basah
(reaksi penguapan akibat campuran air dan
4. Scarifier motor kapur dalam tanah)
grader Persyaratan:
- Batas plastis meningkat
- Kuat geser bertambah
- Plastisitas berkurang
- Persentase lolos saringan 3/16 bertambah
Kriteria Lime Stabilization
Tujuan: meningkatkan material lapisan tanah
dasar, meningkatkan material lapisan pondasi
Persyaratan:
- Daya dukung bertambah
- Pengembangan berkurang
- Plastisitas berkurang
- Kuat geser bertambah

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 71


CARA KERJA URAIAN
Kandungan kapur yang disarankan

Langkah 1
Truk yang disiapkan untuk kapur yang akan
dicampur dengan tanah

Langkah 2
Proses pemberian kapur ke tanah dengan
truk pembawa kapur

Langkah 3
Proses pengadukan/pencampuran kapur
dengan tanah dengan scarifier motor grader

72 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 4
Proses pemberian air pada campuran kapur
dan tanah

Langkah 5
Proses pemadatan pada campuran kapur
dan tanah menggunakan roller

5.13 Daur Ulang (Recycling)

Salah bentuk alternative lainnya yang dapat dan adanya kelangkaan agregat sebagai bahan
digunakan untuk memperbaiki kerusakan jalan utama suatu lapis perkerasan. Inovasi daur ulang
adalah dengan teknik daur ulang perkerasan ini didasari atas pertimbangan ekonomi dan
jalan (pavement recycling). Pengembangan juga demi menjaga kelestarian lingkungan serta
teknologi recycling ini terhadap perkerasan jalan mengurangi limbah aspal dari penggarukan.
yang rusak menjadi pondasi dan stabilisasi tanah
dasar dengan semen. Pengembangan teknologi dengan metode daur
ulang ini diharapkan tidak hanya memperbaiki
Teknologi recycling ini merupakan proses lubang atau kerusakan yang terjadi tetapi juga
pencampuran aspal dengan bahan daur memperkuat struktur jalan itu sendiri. Metode
ulang dimana bahan daur ulang ini berasal ini dapat membuat kekerasan suatu perkerasan
dari pengupasan sisa perkerasan lama yang mendekati beton tetapi jalan lebih lentur
dikombinasikan dengan bahan perkerasan yang sehingga jika tanah dasarnya turun maka aspalnya
baru. Metode ini banyak diterapkan pada jalan- pun ikut turun. Teknologi ini juga mengurangi
jalan yang ada di Indonesia khususnya pulau pemakaian material baru, melestarikan sumber
Jawa, mengingat harga aspal yang cukup tinggi daya alam, dan menghemat biaya konstruksi

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 73


karena mendaur ulang material perkerasan yang material bahu jalan, aggregate base kelas-B atau
lama. saluran tepi.
Berdasarkan penggunaannya secara umum,
Replace/Recycle Lane melibatkan penghancuran proporsi ukuran agregat dari agregat pecah yang
perkerasan lama dalam gradasi, Loading diperoleh dibagi menjadi:
dan Hauling material ke crushing Plant dan
memprosesnya untuk memproduksi recycle • Granular Base
concrete aggregate dengan ukuran khusus. Size 1 : 38mm < X <76mm
Produk dari proses ini adalah aggregat yang Size 2 : < 38mm
dapat digunakan di tempat bersama dengan
agregat asli pada komponen struktur perkerasan • Perkerasan Beton
manapun. Recycled Coarse Agregate lebih Size 1 : 9mm < X < 38mm
bermanfaat daripada recycled fine aggregate Size 2 : 4.75mm < X < 9mm
karena kepipihan dan kapasitas resapan dari
recycled fine dapat memberikan efek negatif • Beton Aspal
pada workability dari hasil campuran. Agregat Size 1 : 4.75mm < X < 25mm
hasil campuran juga dapat digunakan sebagai Size 2 : < 4.75mm
Tabel 29.
Pengendalian mutu CTRB

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Road reclaimers dan 1. Semen Portland 1. Mandor 1. Alur
Pavement Recycling/ 2. Keriting
Stabilization Machine 2. Air 2. Operator 3. Sungkur
2. Dump truck 4. Amblas
3. Steel wheel roller 3. Material daur 3. Pekerja 5. Lubang
4. Smooth Drum ulang 6. Pengelupasan
Compactor 4. Driver 7. Kegemukan ( Area yang luas )
5. Motor Grader 4. Agregat Kasar
6. Water tank
7. Air compressor 5. Agregat halus
8. Alat bantu dan
rambu pengaman 6. Asphalt cement
9. Lampu/ generator
set
10. Perlengkapan
keselamatan kerja

74 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


CARA KERJA URAIAN
Pra Pelaksanaan – Rancangan
Bahan campuran untuk CTRB terdiri atas bahan
garukan perkerasan, semen, dan air. Apabila garukan
tidak memenuhi persyaratan gradasi, maka harus
ditambahkan agregat baru. Kadar semen harus
ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium dan
percobaan campuran (trial mix). Kadar air optimum
harus ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium
Direksi pekerjaan akan memberikan persetujuan
terhadap perbandingan komposisi atas dasar hasil
uji bahan-bahan dan hasil pengujian kekuatan pada
umur 7 hari, kekuatan minimum harus memenuhi
persyaratan berikut

Langkah 1 – Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum pekerjaan
dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi pekerjaan
dan menempatkan secara tepat dan benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk
mengatur dan mengarahkan arus lalu lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke
lapangan.

Langkah 2 – Pengupasan (cold milling) dan Pengerukan


1. Pengupasan lapisan perkerasan eksisting dengan
sheep foot roller/cold milling machine.

sumber gambar: https://www.youtube.com/


watch?v=T6u1hR1xchI

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 75


2. Kemudian material hasil penggarukan/pengupasan
dipindahkan sementara. Lalu siapkan material baru
3. Proses pencampuran pada mesin recycling
4. Metode: scrapping, material dipindahkan, kemudian
material baru dicampurkan lalu milling.
5. Lalu dilakukan pengerukan

Langkah 3 – Pekerjaan Penghamparan dan Pemadatan


1. Melakukan penghamparan agregat material CTRB (in-
plant) kemudian penghamparan sement diatas agregat
yang dihamparkan
2. Persiapan alat recycling yang akan digunakan
3. Alat recycle bergerak dan mencampur dengan material
lainnya yang sudah sebelumnya disiapkan
4. Lakukan penyemprotan kadar air material (CTRB
dengan semen)
5. Lalu ratakan dengan motor grader
6. Pemadatan dengan menggunakan smooth drum
vibratory roller
7. Dilanjutkan dengan steel wheel roller
8. Kemudian diikuti dengan vibratory roller dan
pneumatic tire roller
Penghamparan Semen

Proses CTRB

76 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Pemadatan dengan Pad Foot Vibrator Roller

Perataan dan Levelling dengan Motor Grader

Pemadatan dengan Menggunakan Smooth Drum


Vibrator Roller

Tes CBR

Langkah 4 – Pekerjaan Finishing


1. Finishing dan curing dengan pneumatic tire roller
2. Site quality control dengan pengambilan sample
dengan pengecekan ulang kembali untuk pengukuran
ketebalan
3. Pekerjaan lapis permukaan dengan campuran beraspal

Langkah 5 – Demobilisasi
1. Angkat peralatan dengan menggunakan flat bed truck
yang dilengkapi dengan crane
2. Angkat kembali rambu pengaman dan peralatan
lainnya.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 77


Tabel 30 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan CTRB

Tabel 30.
Pengendalian mutu CTRB

Pengendalian Mutu
Pengendalian Persiapan Lapis Permukaan
Pengambilan contoh material daur ulang harus dilakukan untuk pengujian dan menentukan
rancangan campurannya dari setiap jenis atau komposisi material daur ulang yang berbeda
disetiap bagian pekerjaan

Pengendalian Kadar Air untuk Operasi Pencampuran

1 Pengambilan contoh dan pengujian untuk pengendalian kadar air selama pencampuran
dan penghamparan akan dilakukan pada jarak-jarak tidak lebih 100 m disepanjang proyek.
2 Pemeriksaan kadar air lapangan dilakukan sebelum dan setelah proses daur ulang
menggunakan alat speedy test.
Pengendalian Pemadatan
1 Segera sebelum pemadatan dimulai, contoh-contoh campuran harus diambil dari lokasi
yang diperintahkan oleh direksi pekerjaan dengan interval satu dengan lainnya tidak lebih
dari 500 m disepanjang proyek. Lokasi yang dipilih untuk pengambilan contoh harus
bertepatan dengan penampang melintang yang dipantau, diperiksa dengan survei elevasi
permukaan maupun pengambilan contoh inti.
2 Segera setelah pemadatan setiap lapisan selesai dilaksanakan, pengujian kepadatan
lapangan harus dilaksanakan di lokasi yang diperintahkan oleh direksi pekerjaan dengan
interval tidak melebih 100 m disepanjang jalan. Setiap lokasi pengujian yang kelima harus
sama dengan lokasi pengambilan contoh sebelum penggilasan.
3 Disamping kepadatan, kekuatan, dan kadar air campuran, campuran harus diuji kadar
semen dalam campuran sesuai dengan AASHTO T 144-86
Nomor Mata Uraian Satuan Pengukuran
Pembayaran
SKh 5.6 (1a) Semen untuk CTRB Ton
SKh 5.6 (1b) Lapis CTRB Meter Kubik

78 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


5.14 Daur Ulang Lapis Pondasi Dengan CTRB (Cement
Treated Recycling Base/Lapis Pondasi Stabilisasi
Semen)

CTRB adalah suatu teknologi stabilisasi pondasi


jalan dengan system daur ulang, materi yang
didaur ulang adalah material yang sudah ada
di perkerasan lama dan digunakan sebagai lapis
pondasi atas.

Teknologi CTRB (Cement Treated Recycling


Base) merupakan teknologi daur ulang dengan
cara menstabilisasi lapis pondasi (terutama
agregat) dengan semen, daur ulang dengan
CTRB dilaksanakan pada jalan aspal/agregat/
kerikil yang perlu distabilisasi atau ditingkatkan
kemampuan daya dukungnya dengan
menambahkan semen, sebagai bahan lapis
pondasi atau lapis pondasi bawah, material yang
digunakan terdiri atas kerikil/agregat, lapisan
aspal eksisting dan semen.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 79


Tabel 31.
Pekerjaan CMRFB

Peralatan yang Bahan Pekerja yang Jenis Kerusakan


Diperlukan Diperlukan
1. Road reclaimers dan 1. Agregat Kasar Baru, 1. Mandor 1. Alur
Pavement Recycling/ sesuai ketentuan 2. Keriting
Stabilization Machine 2. Agregat Kasar (ATB) 2. Operator 3. Sungkur
2. Smooth Drum 3. Agregat kasar (AC) 4. Amblas
Compactor 4. Agregat base 3. Pekerja 5. Lubang
3. Motor Grader 5. Sirtu 6. Pengelupasan
4. Asphalt Sprayer/ 6. Agregat halus 4. Driver 7. Kegemukan ( Area yang luas )
distributor 7. Asphalt cement
5. Water tank 3000- 8. Air
4000L 9. Foam Bitumen
6. Air compressor
7. Pneumatic tyre
roller
8. Alat bantu dan
rambu pengaman
9. Lampu/ generator
set
10. Perlengkapan
keselamatan kerja

CARA KERJA URAIAN


Langkah 1 – Persiapan
1. Siapkan rencana K3 konstruksi sesuai Pedoman
Pelaksanaan K3 nomor 04/BM/2006.
2. Siapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum
pekerjaan dimulai.
3. Memasang Rambu-rambu disekitar lokasi
pekerjaan dan menempatkan secara tepat dan
benar.
4. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas
untuk mengatur dan mengarahkan arus lalu lintas.
5. Persiapkan peralatan, pekerja dan material ke
lapangan.

80 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 2 – Pengupasan dan Pembuangan (cold
milling)
1. Kupas lapis perkerasan dengan menggunakan
cold milling machine sesuai tebal rencana

2. Hasil galian/kupasan material aspal ditampung


menggunakan dump truck
3. Bersihkan daerah bekas pengupasan terlebih
dahulu dengan air compressor hingga permukaan
bersih

Langkah 3 – Pekerjaan Penghamparan dan


Pemadatan
1. Proses pembuatan foam bitumen dimana proses
pencampuran foam ditambah hasil cold milling
(agregat) lalu semen
2. Persiapan alat recycling yang akan disiapkan
3. Alat recycle bergerak dan dicampur dengan
material lainnya yang sudah disiapkan
4. Lalu ratakan dengan motor grader
5. Kemudian diikuti dengan vibratory roller dan
pneumatic tire roller

Penaburan Semen metode Manual

Pengetesan Foam Bitumen

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 81


Proses CMRFB

Pemadatan I

Griding

Pemadatan II

82 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Langkah 4 – Pekerjaan Finishing
1. Finishing dan curing dengan pneumatic tire
roller
2. Site quality control dengan pengambilan
sample dengan pengecekan ulang kembali untuk
pengukuran ketebalan

3. Dilanjutkan unjtuk pekerjaan pengaspalan

4. Site Quality Control


Sumber gambar: https://www.youtube.com/
watch?v=R64GOUcs8LQ

Langkah 5 – Demobilisasi
1. Demobilisasikan peralatan-peralatan berat yang
digunakan

2. Angkat kembali rambu pengaman dan peralatan


lainnya.

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 83


Tabel 32 menjelaskan tentang pengendalian mutu dan dasar pembayaran pekerjaan CMRFB

Tabel 32.
Pengendalian mutu CMRFB

Pengendalian Mutu
Pengujian Permukaan Perkerasan

1. Pengujian perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 meter, yang disediakan
oleh pelaksana kerja, dan harus dilaksanakan tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan.
2. Pengujian untuk memeriksa toleransi kerataan yang disyaratkan harus mulai dilaksanakan
segera setelah pemadatan awal, penyimpangan yang terjadi harus diperbaiki dengan membuang
atau menambah bahan sebagaimana diperlukan.
Ketentuan Kepadatan

1. Kepadatan hamparan yang telah dipadatkan, tidak boleh kurang dari 98% kepadatan standar
kerja (job standard density)
2. Pengambilan contoh produksi campuran untuk pengujian laboratorium agar segera dilakukan
3. Pelaksana kerja dianggap telah memenuhi kewajibannya bilamana kepadatan lapisan yang
telah dipadatkan sama atau lebih besar dari nilai-nilai table ketentuan kepadatan di bawah

Kepadatan yang di Jumlah titik Kepadatan Nilai minimun setiap pengujian


isyaratkan (% JSD) pengujian minimum rata - rata tunggal (%JSD)
(%JSD)
98 3-4 98.1 95
5 98.3 94.9
6 98.5 94.8

84 MANUAL PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN


Pengendalian Mutu secara general

Pengujian Frekuensi Pengujian


Aspal
Aspal berbentuk drum (akar pangkat tiga) Dari jumlah drum
Aspal curah Setiap tangki aspal
Jenis pengujian aspal drum dan curah : Titik lembek, penetrasi, expansion

dan half life

Bahan RAP
1. Ukuran butir / Gradasi 1000 m(pangkat)3
Agregat baru (apabila digunakan)
1. Abrasi dengan mesin Los Angeles 5000 m(pangkat)3
2. Gradasi agregat yang ditambahkan ke tumpukan 1000 m(pangkat)3
3. Gradasi bahan di Unit Produksi Campuran Beraspal 250 m(pangkat)3. (minimal 2 pengujian perhari)
4. Nilai setara pasir ( sand equivalent ) 250 m(pangkat)3

Kadar air bahan sebelum produksi


1. Kadar air RAP Min. 1 Pengujian perhari
2. Kadar air agregat baru ( bila digunakan ) Min. 1 Pengujian perhari

Campuran
1. Gradasi 1. 200 ton (Min. 2 Pengujian perhari)
2. Kadar air 2. Kadar foam bitumen diperiksa pada penujuk penggunaan foam
3. Kadar foam bitumen bitumen
4. Kepadatan ( 2 x 75 tumbukan atau kepadatan berat sesuai lalu lintas 200 ton ( Min. 2 Pengujian perhari )

rencana )
5. Campuran Rancangan ( Mix Design ) Setiap perubahan agregat/rancangan

6. ITS dan UCS 200 ton ( Min. 1 Pengujian perhari )

Lapisan yang dihampar


1. Uji kepadatan dapat dilakukan menggunakan konus pasir ( Sand Cone 50 meter panjang
) pada lokasi yang ditentukan oleh Direksi Teknis, tetapi tidak berselang
dari 50 cm
2. Uji Ketebalan dapat dilakukan dengan menggali dan mengukur 50 meter panjang
ketebalan lapisan hamparan padat pada lokasi yang ditentukan oleh
Direksi Teknis, tetapi tidak boleh berselang lebih dari 50 cm. Sebagai
alternatif, uji ketebalan ini dapat dilakukan dengan pengeboran ( Core
Drill ) setelah hamparan berusia minimum 14 hari

Toleransi Pelaksanaan
1. Elevasi permukaan, untuk penampang melintang dari setiap jalur lalu Paling sedikit tiga titik yang diukut melintang pada jarak maksimum
lintas setiap 12,5 meter memanjang sepanjang jalan tersebut

Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran


6.8 SK CMRFB Daur Ulang Campuran Meter Kubik
Beraspal Dingin
dengan Foam Bitumen
Lapis Pondasi (CMRFB-
Base)

PEMILIHAN TEKNOLOGI DAN PELAKSANAAN PRESERVASI JALAN 85


KEMENTERIAN PUPR
MANUAL PELAKSAAN
Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru
PRESERVASI JALAN
Jakarta Selatan 12110

SERI 4 Phone : Email / Informasi :


(021) 7228497 informasi@pu.go.id

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat


Direktorat Jenderal Bina Marga
Direktorat Preservasi Jalan