Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

AKUNTANSI SYARIAH
[Akad-Akad Lainnya]

Dosen:
SUMARLIN, SE., M.Ak

Disusun oleh:
KELOMPOK 4
ASMA NUBUWA RUMAF
SAHRUL RAMADANA (90400117006)
MUSFIRAH ADYANINGSIH (90400117026)
FARAH NUR FADHILAH (90400117032)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT serta shalawat
dan salam kami sampaikan hanya bagi tokoh dan teladan kita Nabi Muhammad
SAW. Diantara sekian banyak nikmat Allah SWT yang membawa kita dari
kegelapan ke dimensi terang yang memberi hikmah dan yang paling bermanfaat
bagi seluruh umat manusia, sehingga oleh karenanya kami dapat menyelesaikan
tugas kewirausahaan ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun maksud dan tujuan
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas yang
diberikan oleh dosen pada mata kuliah Akuntansi Syariah.
Dalam proses penyusunan tugas ini kami menjumpai hambatan, namun
berkat dukungan materil dari berbagai pihak, akhirnya kami dapat menyelesaikan
tugas ini dengan cukup baik, oleh karena itu melalui kesempatan ini kami
menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua
pihak terkait yang telah membantu terselesaikannya tugas ini.
Segala sesuatu yang salah datangnya hanya dari manusia dan seluruh hal
yang benar datangnya hanya dari agama berkat adanya nikmat iman dari Allah
SWT, meski begitu tentu tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
segala saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan
demi perbaikan pada tugas selanjutnya. Harapan kami semoga tugas ini
bermanfaat khususnya bagi kami dan bagi pembaca lain pada umumnya.

Samata, 27 Mei 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................i

Daftar Isi....................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ....................................................................................1

B. Tujuan Penulisan.................................................................................2

C. Manfaat Penulisan...............................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Akad Sharf............................................................................................3

B. Akad Wadiah........................................................................................4

C. Akad Wakalah......................................................................................5

D. Akad Kafalah........................................................................................6

E. Qardhul Hasan......................................................................................7

F. Akad Hiwalah........................................................................................9

G. Akad Rahn............................................................................................12

H. Akad Ju alah.........................................................................................15

I. Charge Card dan Syariah Card...............................................................17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan..........................................................................................22

B. Saran ...................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................23

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam Hukum Islam diperintahkan untuk bekerja sekuat tenaga untuk
mencari rizki yang halal. Dalam menjalankan usahanya dilarang melakukan
transaksi riba dan dianjurkan untuk memanifestasikan sejumlah nilai-nilai akhlaqul
karimah seperti tolong-menolong. Prinsip At Ta'âwunadalah salah satu prinsip
dalam Hukum Islam. Prinsip tolong-menolong dalam ketakwaan merupakan salah
satu faktor penegak agama karena dengan tolong menolong akan menciptakan rasa
saling memiliki di antara umat sehingga akan lebih mengikat persaudaraan. Selain
itu secara lahiriah manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian
karena manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya. Dengan tolong-
menolonglah seorang muslim dapat dikatakan sebagai seorang muslim. Tolong-
menolong yang dilakukan tidak hanya dalam lingkup yang kecil seperti antara dua
orang tapi juga dalam sebuah perkumpulan yang besar termasuk dalam bisnis yang
di dalamnya ada transaksi pembiayaan.
Salah satu bentuk aplikasi prinsip tolong menolong adalah dalam akad qardh,
yakni Qardhul Hasan. Akad Qardh merupakan salah satu perwujudan prinsip
tolong menolong dalam praktek bank syariah. Perjanjian gardh adalah perjanjian
pinjaman. Perjanjian qardh, pemberi pinjaman (kreditor) memberikan pinjaman
kepada pihak lain dengan ketentuan penerima pinjaman akan mengembalikan
pinjaman tersebut pada waktu yang telah diperjanjikan dengan jumlah yang sama
ketika pinjaman itu diberikan. Qardh ul-hasan merupakan perjanjian qardh untuk
tujuan sosial. Adalah tidak mustahil bagi suatu bank syariah yang terpanggil untuk
memberikan pinjaman-pinjaman kepada mereka yang tergolong lemah
ekonominya untuk memberikan fasilitasgardh ul-hasan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Akad Sharf?
2. Apa yang dimaksud dengan Akad Wadiah?
3. Apa yang dimaksud dengan Akad Wakalah?
4. Apa yang dimaksud dengan Akad Kafalah?

1
5. Apa yang dimaksud dengan Qardhul Hasan?
6. Apa yang dimaksud dengan Akad Rahn?
7. Apa yang dimaksud dengan Akad Ju’alah?
8. Apa yang dimaksud dengan Charge dan Syariah Card?
C. Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat dengan tujuan selain memenuhi tugas kuliah dan dengan
tujuan agar Mahasiswa mengetahui akad-akad lainnya seperti Akad Sharf, Wadiah,
Wakalah, Kafalah, Hiwalah, Rahn, Ju’alah dan juga untuk mengetahui apa saja
dasar hukum, rukun, syarat dr akad-akad tersebut, serta untuk mengetahui apa yang
dimaksud dengan Qardhul Hasan dan Charge Card dan Syariah Card.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. AKAD SHARF
Sahrf menurut bahasa adalah penambahan, penukaran dan penghindaran atau
transaksi jual beli. Sharf adalah transaksi jual beli suatu valuta dengan valuta asing
yang lain. Transaksi ini bisa dilakukan baik dengan mata uang yang sejenis maupun
dengan mata uang yang tidak sejenis.
Sumber Hukum Akad Sharf
Ada beberapa sumber hukum sharf antara lain
1. Dari Abu Said Al-khurdi r.a, Rasulullah bersabda:
“ transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takarannya, timbangan
dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba. Perak dengan perak
harus sama takarannya, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya
adalah riba. Gandum dengan gandum harus sama takarannya, timbangan dan
tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba. Tepung dengan tepung
harus sama takarannya, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya
adalah riba.kurma dengan kurma harus sama takarannya, timbangan dan
tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba. Garam dengan garam
harus sama takarannya, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya
adalah riba..” (HR.Muslim).
2. “Juallah emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum,
syair dengan syair, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan
syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai, juka jenisnya berbeda jualah
sekehendakmu dan dilakukan secara tunai” (HR.Muslim).
3. “Rasulullah melarang menjual emas dan perak secara piutang (tidak tunai)”
(HR.Muslim)
Menurut ajaran islam uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan bukan
merupakan komoditas, tanpa didayagunakan maka uang tidak akan dapat
menghasilkan pendapatan atau pemasukan dengan dirinya sendiri.
Ada empat jenis transaksi pertukaran valuta asing yakni:
1. Transaksi Spot.
2. Transaksi Forward

3
3. Transaksi Swap
4. Transaksi Option.
Rukun dan Ketentuan syariah
1. Pelaku baik penjual maupun pembeli harus cakap dan sudah baligh.
2. Objek akad dengan ketentuan
a. Nilai tukar atau kurs harus diketahui oleh kedua belah pihak.
b. Valuta asing harus dikuasai oleh penjual dan embeli sebelum keduabelah
pihak berpisah.
c. Apabila mata uang atau valuta asing tersebut dalam jenis yang sama maka
harus sama nilainya meskipun dalam bentuk yang berbeda.
d. Dalam akad sharf tidak diperboehkan ada khiyar bagi pembeli.
e. Dalam akad sharf tidak diperbolehkan adanya tenggang waktu dalam
penyerahan mata uang. Karena akad sharf akan dikatakan syah apabila
penguasaan dilakukan dengan tunai dalam waktu maksimal 2 x 24 jam.
3. Ijab Kabul / serah terima merupakan pernyataan dan ekspresi yang saling rela
antara kedua belah pihak yang bertransaksi.
B. AKAD WADIAH
Wadiah merupakan simpanan barang atau dana kepada pihak lain yang bukan
merupakan pemiliknya untuk tujuan keamanan. Wadiah adalah akad penitipan
barang atau dana dari suatu pihak ke pihak lain dengan catatan barang atau dana
tersebut dapat diambil kapanpun oleh sang pemilik.
Jenis Akad Wadiah
Terdapat dua jenis akad wadiah menurut PSAK 59 yaitu :
1. Wadiah amanah
2. Wadiah yadh dhamanah
Sumber hukum akad wadiah terdapat dalam Al-Qur’an yaitu dalam surah An-
Nisa ayat 58 yaitu disebutkan:
“ sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada mereka yang
berhak menerimanya” (QS 4:58)
Rukun dan Ketentuan Syariah
1. Pelaku baik pemilik maupun penyimpan barang harus cakap dan baligh serta
mampu menjaga barang wadiah.

4
2. Objek wadiah merupakan barang yang akan dititipkan setelah sebelumnya
disebutkan secara jelas keadaan barang yang bersangkutan.
3. Ijab Kabul atau serah terima merupakan pernyataan kerelaan antara kedua
belah pihak.
C. AKAD AL-WAKALAH
Al Wakalah adalah akad pelimpahan pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak
kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan. Wakalah dalam pembelian
barang terjadi dimana seseorang mengajukan calon atau menunjuk orang lain untuk
mewakili dirinya dalam membeli barang. Orang yang tunjuk (agen) diperboleh
menerima komisi. Wakalah dengan komisi disebut dengan wakalah bil ujrah.
Namun agen juga diperbolehkan tidak menerima komisi.
Sumber hukum
“ maka suruhlah salah seorang diantara kalian pergi kekota dengan membawa
uang perakmu” (QS 18:19)
Rukun dan ketentuan syariah
1. Pelaku
a. Pihak yang memberi kuasa dengan syarat
1) Pemilik syah dari barang yang diwakilkan.
2) Orang mukalaf atau anak mummayiz dalam batasan-batasan tertentu.
b. pihak yang diberi kuasa dengan syarat
1) Harus cakap
2) Dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya.
2. Objek yang dikuasakan
1) Diketahui dengan jelas oleh orang yang diwakili.
2) Tidak bertentangan dengan syariah islam.
3) Dapat diwakilkan menurut syariah islam.
4) Manfaat barang atau jasa harus dapat dinilai.
5) Kontrak dapat dilaksanakan.
3. Ijab Kabul / serah terima Ijab Kabul / serah terima merupakan pernyataan dan
ekspresi yang saling rela antara kedua belah pihak yang bertransaksi.
Akad wakilah akan berakhir apabila :
1. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal.

5
2. Pekerjaan yang diwakilkan sudah selesai.
3. Pemutusan oleh pihak yang diwakilkan
4. Wakil mengundurkan diri.
5. Orang yang diwakilkan tidak memiliki status kepemilikan atas suatu yang
diwakilkan.
D. AKAD AL-KAFALAH
Akad Al Kafalah merupakan perjanjian jaminan yang diberikan oleh
penanggung kepada pihak ke tiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau
pihak yang ditanggung.
Sumber hukum
“ Dan Dia (Alloh) menjadikan Zakaria sebagai penjaminnya (Maryam).” (QS.
3:37)
Rukun dan Ketentuan Syariah
1. Pelaku yang terdiri dari
a. Pihak penjamin dengan syarat
1) baligh dan berakal sehat
2) berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan
rela dengan tanggungan kafalah tersebut.
b. Pihak yang berutang dengan syarat:
1) Sanggup menyerahkan tangguangannya kepada penjamin.
2) Dikenal oleh penjamin.
c. Pihak orang yang berpiutang
1) Diketahui identitasnya.
2) Dapat hadir dalam waktu akad.
3) Berakal sehat.
2. Objek penjaminan
1) Merupakan tanggungan pihak yang berutang.
2) Bisa dilaksanakan oleh penjamin.
3) Harus merupakan utang yang mengikat
4) Harus jelas nilai jumlah dan spesifikasinya,
5) Tidak bertentangan dengan syariah islam.

6
3. Ijab Kabul atau serah terima merupakan pernyataan dan ekspresi yang saling rela
antara kedua belah pihak yang bertransaksi.
Berakhirnya akad kafalah
1. Utang telah diselesaikan.
2. Kreditor melepaskan utangnya kepada pihak yang berutang tidak pada
penjamin.
3. Ketika utang tersebut telah dialihkan.
4. Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui abritase dengan
kreditur.
5. Kreditur telah mengakhiri kontrak kafalah walaupun pihak penjamin tidak
menyetujuinya.
E. QARDHUL HASAN
Qardhul Hasan adalah pinjaman tanpa dikenakan biaya (hanya wajib
membayar sebesar pokok utangnya). Pinjaman uang seperti inilah yang sesuai
dengan ketentuan syariah (tidak ada riba). Pinjaman qardh bertujuan untuk diberikan
pada orang yang membutuhkan atau tidak memiliki kemampuan finansial,untuk
tujuan sosial atau untuk kemanusiaan.
Cara pelunasan dan waktu pelunasan pinjaman ditetapkan bersama antara
pemberi dan penerima pinjaman. Walaupun sifat utang ini sangat lunak tidak berarti
pihak yang berhutang dapat semaunya sendiri, karena dalam Islam, utang yang tidak
dibayar akan menjadi penghalang dia di hari akhir nanti walaupun ia gugur dalam
jihad di medan perang yang pahalanya sudah dijamin bahkan rasul tidak bersedia
menshalatkan jenazah yang masih memiliki utang.
Rukun dan Ketentuan Syariah
Rukun Qhardhul Hasan ada 3 yaitu :
1. Pelaku yang terdiri dari pemberi dan penerima pinjaman.
2. Objek akad, berupa uang yang dipinjamkan.
3. Ijab Kabul/serah terima
Ketentuan syariah, yaitu :
1. Pelaku, harus cakap hukum dan baliqh
2. Objek akad
a. Jelas nilai pinjamannya dan waktu pelunasannya.

7
b. Peminjam diwajibkan membayar pokok pinjaman pada waktu yang telah
disepakati, tidak boleh diperjanjikan akan ada penambahan atas pokok
pinjamannya. Namun peminjam dibolehkan memberikan sumbangan secara
sukarela.
c. Apabila memang peminjam mengalami kesulitan keuangan maka waktu
peminjaman dapat diperpanjang atau menghapuskan sebagian atau seluruh
kewajibannya. Namun jika peminjam lalai maka dapat dikenakan denda.
3. Ijab Kabul/serah terima adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela di antara
pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal,tertulis,melalui
korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.
Perlakuan Akutansi Qardhul Hasan
Pelaporan qardhul hasan disajikan tersendiri dalam laporan sumber dan
penggunaan dana qardhul hasan karena dana tersebut bukan aset perusahaan. Oleh
sebab itu, seluruhnya dicatat dengan akun dana kebajikan dan dibuat buku besar
pembantu atas dana kebajikan berdasarkan jenis dana kebajikan yang diterima atau
yang dikeluarkan.
a. Bagi Pemberi Pinjaman
1. Saat menerima dana sumbangan dari pihak eksternal, jurnal :
Dr. Dana Kebajikan-kas xxx
Kr. Dana Kebajikan-Infak/sedekah/hasil wakaf xxx
2. Untuk penerimaan dana yang berasal dari denda dan pendapatan non halal,
jurnal :
Dr. Dana Kebajikan-kas xxx
Kr. Dana Kebajikan-denda/pendapatan Non-halal xxx
3. Untuk pengeluaran dalam rangka pengalokasian dana qardh hasan,jurnal :
Dr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produkstif xxx
Kr. Dana Kebajikan-Kas xxx
4. Untuk penerimaan saat pengembalian dari pinjaman untuk qardhul hasan,
jurnal :
Dr. Dana Kebajikan-kas xxx
Kr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif xxx
b. Bagi Pihak yan Meminjam

8
1. Saat menerima uang pinjaman, jurnal :
Dr. Kas xxx
Kr.Utang xxx
2. Saat pelunasan, jurnal :
Dr. Utang xxx
Kr.Kas xxx
F. AKAD AL-HAWALAH
Hawalah secara harfiah artinya pengalihan, pemindahan,perubahan warna kulit
atau memikul sesuatu di atas pundak. Objek yang dialihkan dapat berupa utang atau
piutang. Jenis akad ini pada dasarnya adalah akad tabaruu’ yang bertujuan untuk
saling tolong menolong untuk menggapai ridho Allah. Jika yang dialihkan utang
maka akad hawalah merupakan akad pengalihan utang dari satu pihak yang berutang
kepada pihak lain yang wajib menanggung (membayar ) utangnya.
Secara teknis, pihak yang berutang ( muhil ) meminta pihak lain (muhal’alaih)
untuk membayarkan terlebih dahulu utangnya pada pihak lain (muhal). Setelah akad
hawalah dilakukan pihak yang berutang (muhil) akan membayar kepada pihak yang
telah menanggung utangnya (muhal’alaih) atau hak penagihan berpindah menjadi
hak muhal’alaih. Dalam hal ini pihak yang mengambil alih utang harus yakin pihak
yang diambil alih utangnya dapat memenuhi kewajibannya di kemudian hari. Jika
yang dialihkan piutang maka akad hawalah merupakan akad pengalihan piutang dari
satu pihak yang berpiutang kepada pihak lain yang berkewajiban menagih
piutangnya.
Sedangkan pihak yang berpiutang ( muhil ) meminta pihak lain untuk
mengambil alih (muhal’alaih) piutang yang dimilikinya,dengan pengambil alihan ini
pihak yang berpiutang akan menerima uang dari yang mengambil alih piutang,
sementara pihak yang berhutang (muhal) akan membayar pada pihak yang telah
mengambil alih piutang.
Dasar Hukum
Imam bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah
saw,bersabda yang artinya : “ Menunda pembayaran bagi orang yang mampu
adalah suatu kezaliman. Yang mampu atau kaya, terimalah hawalah itu”.

9
Pada hadits tersebut, Rasulullah memberitahukan kepada orang yang
mengutangkan, jika orang yang berutang menghawalahkan kepada orang kaya atau
mampu, hendaklah ia menerima hawalah terseebut dan hendaklah ia menagih
kepada orang yang dihawalahkan (muhal alaih). Dengan demikian haknya dapat
terpenuhi.
Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah untuk menerima hawalah dalam
hadits terseebut menunjukkan wajib. Oleh sebab itu, wajib bagi yang mengutangkan
(muhal) menerima hawalah. Adapun mayoritas ulama brpendapat bahwa perintah itu
menunjukkan sunnah. Jadi, sunnah hukumnya menerima hawalah bagi muhal.
Rukun dan Syarat
1. Pelaku dengan syarat
a. Baligh dan berakal sehat
b. Berhak penuh melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan rela
dengan pengalihan utang piutang tersebut.
c. Diketahui identitasnya.
2. Objek akad
a. Bisa dilaksanakan oleh pihak yang mengambil alih utang atau piutang.
b. Harus merupakan utang / piutang yang mengikat
c. Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya.
d. Tidak bertentangan dengan syariah.
3. Ijab Kabul / serah terima merupakan pernyataan dan ekspresi yang saling rela
antara kedua belah pihak yang bertransaksi.
Macam-macam Hawalah
a. Dalam pelaksanaannya, hawalah ada dua yaitu:
1. Hawalah mutlaqoh adalah seseorang memindahkan utang pada yang lain tanpa
memberikan keterangan bahwa orang tersebut harus membayar utangnya dari
utang yang ada padanya.
2. Hawalah muqayyadah adalah seseorang memindahkan pembayaran utangnya
pada orang lain, dari utangnya yang ada pada orang tersebut.
b. Ditinjau dari segi obyeknya hiwalah dibagi 2, yaitu :
1. Hawalah al-Haqq (pemindahan hak)

10
Hawalah haqq adalah pemindahan piutang dari satu piutang kepada
piutang yang lain atau pemindahan hak untuk menuntut hutang. Dalam hal ini
yang bertindak sebagai muhil adalah pemberi hutang dan ia mengalihkan
haknya kepada pemberi hutang yang lain sedangkan orang yang berhutang
tidak berubah atau berganti, yang berganti adalah piutang. Ini terjadi piutang
A mempunyai hutang kepada piutang B.
2. Hawalah ad-Dain (pemindahan hutang)
Hawalah ad-dain adalah pemindahan hutang kepada orang lain yang
mempunyai hutang kepadanya. Ini berbeda dari hiwalah haqq, karena
pengertiannya sama dengan hawalah yang telah diterangkan di depan yakni
yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang.
Perlakuan Akutansi Hiwalah (ED PSAK 110)
1. Akutansi Pihak yang Mengalihkan Utang / Muhil
- Ketika pengambil alihan utang dimana muhal’alaih membayar utang muhil
pada muhal, jurnal :
Dr. Utang –A (muhal) xxx
Kr. Utang –B (muhal’alaih) xxx
- Jika utang yang dialihkan harus dilunasi dalam jangka pendek maka ujrah
(fee) yang dibayarkan diakui pada saat terjadinya, Jurnal :
Dr. Beban hawalah xxx
Kr. Kas xxx
- Jika utang yang dialihkan harus dilunasi dalam jangka panjang maka ujrah
(fee) yang dibayarkan diakui sebagai beban tangguhan, Jurnal :
Dr. Beban Tangguhan hawalah xxx
Kr. Kas xxx
- Kemudian beban diakui melalui amortisasi beban tangguhan secara garis
lurus, jurnal :
Dr. Beban hawalah xxx
Kr. Beban Tangguhan Hawalah xxx
- Biaya transaksi hawalah seperti biaya legal dan biaya administrasi diakui
sebagai beban pada saat terjadinya,jurnal :
Dr. Beban hawalah xxx

11
Kr. Kas xxx
- Pelunasan utang oleh muhil pada muhal’aliah, jurnal :
Dr. Utang-B (muhal’alaih) xxx
Kr. Kas xxx
2. Akutansi Pihak yang Menerima Pengalihan Utang/Muhal’alaih
- Pada saat pembayaran kepada pihak muhal sebesar jumlah utang yang
diambil alih, jurnal :
Dr. Piutang – C (muhil) xxx
Kr. Kas xxx
- Jika piutang dari muhil akan dilunasi dalam jangka pendek, jurnal :
Dr. Kas xxx
Kr. Pendapatan Hawalah xxx
- Jika piutang dari muhil akan dilunasi dalam jangka panjang, ketika
muhal’alaih menerima feel ujrah sekaligus, jurnal :
Dr. Kas xxx
Cr. Pendapatan diterima dimuka xxx
- Pendapatan diakui melalui amortisasi pendapatan diterima dimuka secara
proposional dengan jumlah piutang yang tertagih, jurnal :
Dr. Pendapatan diterima dimuka xxx
Cr. Pendapatan hawalah xxx
- Ketika menerima pelunasan piutang, jurnal :
Dr. Kas xxx
Cr. Piutang C xxx
G. AKAD AL-RAHN
Secara harfiah Rahn adalah tetap,kekal,dan jaminan. Secara istilah rahn adalah
apa yang disebut dengan barang jaminan,agunan,cagar, atau tanggungan. Rahn yaitu
menahan barang sebagai jaminan atas utang. Akad Rahn juga diartikan sebagai
sebuah perjanjian pinjaman dengan jaminan atau dengan melakukan penahanan
harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya
Akad Rahn bertujuan agar pemberi pinjaman lebih mempercayai pihak yang
berutang. Apabila barang gadai dapat diambil manfaatnya, misalnya mobil maka
pihak yang menerima barang gadaian boleh memanfaatkannya atas seizin pihak

12
yang menggadaikan sebaliknya ia berkewajiban memelihara barang gadaian. Untuk
barang gadai berupa emas tentu tidak ada biaya pemeliharaan, yang ada adalah
biaya penyimpanan. Pada saat jatuh tempo yang berhutang berkewajiban untuk
melunasi utangnya. Apabila ia tidak dapat melunasinya maka barang gadaian dijual
dan kemudian hasil penjualan bersih digunakan untuk melunasi utang dan biaya
pemeliharaan yang terutang, jika ada kelebihan maka selisih diserahkan kepada
yang berutang tetapi apabila ada kekurangan maka yang berutang tetap harus
membayar sisanya.
Selain akad rahn pada tahun 2008 MUI mengeluarkan fatwa tentang Rahn
Tjlisi dalam rangka mengurangi kendala yang timbul sehubungan dengan masalah
jaminan khususnya pada masalah pemeliharaan dan pemanfaatan jaminan. Rahn
Tajlisi sama dengan akad Rahn biasa namun berbeda dalam persyaratannya. Adapun
syarat Rahn Tajlisi agar sesuai dengan syariat islam adalah sebagai berikut:
1. Biaya pemeliharaan harus ditanggung oleh pihak yang menggadaikan namun
besarnya biaya tidak boleh dihubungkan dengan besarnya pembiayaan.
2. Pihak penerima barang jaminan dapat menyimpan bukti kepemilikan barang
sedangkan barang masih dapat di manfaatkan oleh pemilik atas seijin oleh
penerima gadai.
3. Apabila terjadi eksekusi jaminan maka barang dapat di jual atas seijin oleh
pemilik barang.
Sumber Hukum
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalahntidak secara tunai) sedang kamu
tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang
dipegang oleh yang berpiutang.”(QS. 2:283)
Rukun dan Ketentuan
1. Pelaku akad yang terdiri dari pihak yang menggadaikan dan pihak yang
menerima gadai. Keduanya harus cakap dan baligh.
2. Objek akad berupa barang yang digadaikan dan utang. Sarat barang gadai adalah
barang dapat dijual dan nilainya seimbang, harus bernilai dan dapat
dimanfaatkan, harus jelas dan dapat ditentukan secara spesifik, tidak terkait
dengan orang lain. Sedangkan utang dengan syarat yaitu peminjam wajib

13
mengembalikannya pada pemberi utang , utang dapat dilunasi dengan barang
gadai, serta utang harus jelas.
3. Ijab Kabul atau serah terima.
Perlakuan Akutansi Rahn
a. Bagi Pihak yang Menerima Gadai (Murtahin)
Pada saat menerima barang gadai tidak dijurnal tetapi membuat tanda terima
atas barang.
1. Pada saat menyerahkan uang pinjaman,jurnal :
Dr. Piutang xxx
Kr. Kas xxx
2. Pada saat menerima uang untuk biaya pemeliharaan dan penyimpanan,jurnal:
Dr. Kas xxx
Kr. Pendapatan xxx
3. Pada saat mengeluarkan biaya untuk biaya pemeliharaan dan
penyimpanan,jurnal :
Dr. Beban xxx
Kr. Kas xxx
4. Pada saat pelunasaan uang pinjaman, barang gadai dikembalikan dengan
membuat tanda serah terima barang,jurnal :
Dr. Kas xxx
Kr. Piutang xxx
5. Jika pada saat jatuh tempo, utang tidak dapat dilunasi dan kemudian barang
gadai dijual oleh pihak yang menggadaikan.penjualan barang gadai, jika
nilainya sama dengan piutang, jurnal :
Dr. Kas xxx
Kr. Piutang xxx
b. Bagi Pihak yang Menggadaikan
Pada saat menyerahkan aset tidak dijurnal, tetapi menerima tanda terima atas
penyerahan aset serta membuat penjelasan atas catatan akutansi atas barang yang
digadaikan.
1. Pada saat menerima uang pinjaman,jurnal :
Dr. Kas xxx

14
Kr. utang xxx
2. Bayar uang untuk biaya peeliharaan dan penyimpanan,jurnal :
Dr. Beban xxx
Kr. Kas xxx
3. Ketika dilakukan pelunasan atas utang,jurnal :
Dr. Utang xxx
Kr. Kas xxx
4. Jika pada saat jatuh tempo, utang tidak dapat dilunasi sehingga barang gadai
dijual pada saat penjualan barang gadai, jurnal :
Dr. Kas xxx
Dr. Akumulasi penyusutan (apabila aset tetap) xxx
Dr. Kerugian (apabila rugi) xxx
Kr. Keuntungan (apabila untung) xxx
Kr. Aset xxx
5. Pelunasan utang atas barang yang dijual pihak yang menggadai,jurnal :
Dr. Utang xxx
Kr. Kas xxx
H. AKAD JU ALAH
Ju’alah berasal dari kata ja’ala yang memiliki banyak arti : jumlah imbalan,
meletakkan, membuat, menasabkan, menurut fiqih diartikan sebagai suatu tanggung
jawab dalam bentuk janji memberikan hadiah tertentu secara sukarela terhadap
orang yang berhasil melakukan perbuatan atau memberikan jasa yang belum pasti
dapat dilaksanakan atau dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan.
Ju’alah dapat juga dianalogikan sebagai sayembara, imbalan, upah atau
perlombaan. Menurut Az-Zuhaili dalam maksum (2008), perbedaan antara akad
ju’alah dengan upah bekerja (ijarah dalam tenaga kerja) adalah :
1) Ju’alah diberikan jika pekerjaan telah selesai, sedangkan upah sesuai dengan
ukuran tertentu.
2) Ju’alah tidak dibatasi oleh waktu, sedangkan upah ditentukan batas waktunya.
Walaupun Mazhab hambali dan Syafii membolehkan menentukan batas waktu.
3) Ju’alah tidak bisa dibayar dimuka, sedangkan upah bisa dibayar dimuka

15
4) Ju’alah dapat dibatalkan meskipun upaya telah dilakukan asalkan belum selesai,
sedangkan upah tidak dapat dibatalkan karena mengikat
Upah lebih luas ruang lingkupnya dari ju’alah.
Rukun dan Ketentuan Syariah
- Rukun Ju’alah ada 4 yaitu :
1. Pihak yang membuat sayembara/penugasan (al aqid/al ja’il)
2. Objek akad berupa pekerjaan yang harus dilakukan (al maj’ul)
3. Hadiah yang akan diberikan(al ji’l)
4. Ada sighat dari pihak yang menjanjikan (ijab)
- Ketentuan syariah, yaitu :
1. Pihak yang membuat sayembara: cakap hukum, baligh dan dapat juga
dilakukan oleh orang lain.
2. Objek yang harus dikerjakan :
a. Harus mengandung manfaat yang jelas
b. Boleh dimanfaatkan sesuai syariah
3. Hadiah yang diberikan harus sesuatu yang bernilai (harta) dan jumlahnya
harus jelas.
4. Sah dengan ijab saja tanpa ada kalbu
Perlakuan Akuntansi Ju’alah
a. Bagi Pihak yang Membuat Janji
Saat membuat janji tidak diperlukan pencatatan apa pun karena belum pasti
hasil atas sayembara tersebut.
Setelah sayembara itu terpenuhi maka jurnal :
Dr. Beban ju’alah xxx
Kr. Kas/aset Nonkas Lain xxx
b. Bagi Pihak yang Menerima Janji
Saat medengar janji tidak diperlukan pencatatan apa pun karena belum
pasti hasil atas sayembara tersebut.
Setelah sayembara itu terpenuhi maka jurnal :
Dr. Kas/Aset Nonkas Lain xxx
Kr. Pendapatan ju’alah xxx

16
I. CHARGE CARD DAN SYARIAH CARD
Charge Card dan Syariah Card merupakan salah satu produk dari perbankan
syariah, sedangkan akad yang digunakan adalah kombinasi dari akad-akad yang
telah dijelaskan. Charge Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh
pemegang kartu (hamil al-bithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan uang tunai
pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang
memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditetapkan.
Syariah Card adalah kartu yang berfungsi sebagai kartu kredit yang hubungan
hukum (berdasarkan sistem yang sudah ada) antara para pihak berdasarkan prinsip
syariah.
Kedua jenis kartu tersebut merupakan pola pembiayaan seperti halnya kartu
kredit dan kartu debit di bank konvensional. Hanya saja, charge dan syariah card
tidk mengenakan bunga,tetapi mengenakan fee atas keanggotaan dan transaksi yang
dilakukan.
Rukun dan Ketentuan Syariah
Mengingat transaksi ini merupakan implementasi dari gabungan akad, maka
rukun dan ketentuan syariahnya akan merujuk pada rukun dan ketentuan syariah
dari akad kafalah, ijarah dan qardh hasan.
Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 42/DSN-
MUI/V/2004 tentang Syariah Charge Card.
1. Bahwa untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi
nasabah dalam melakukan transaksi dan penarikan tunai diperlukan charge card
2. Bahwa fasilitas charge card yang ada dewasa ini masih belum sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah.
3. Bahwa agar fasilitas tersebut dilaksanakan sesuai dengan Syari'ah, Dewan
Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut
untuk dijadikan pedoman.
Dasar Hukum
- Firman Allah SWT, antara lain:
QS. al-Ma'idah [5]: 1
"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...".
QS.Yusuf [12]: 72:

17
"Penyeru-penyeru itu berseru: 'Kami kehilangan piala Raja,. dan barang
siapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan
(seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya."
QS. al-Ma'idah [5]: 2:
"Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran..."
QS. al-Furqan [25]: 67
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
herlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di
tengah-tengah antara yang demikian."
QS. Al-Isra' [17]:
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan
syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."
- Hadist-hadist Nabi SAW, antara lain:
Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, Nabi s.a.w.
bersabda:
"Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum kecuali perjanjian yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum
muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."
Hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, al-Daraquthni, dan yang lain, dari Abu
Sa'id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:
"Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain."
Hadis Nabi riwayat Bukhari dari Salamah bin al-Akwa':
"Telah dihadapkan kepada Rasidullah s. a.w. jenazah seorang laki-laki untuk
disalatkan. Rasulullah bertanya, "Apakah ia mempunyai hutang?" Sahabat
menjawab, `Tidak'. Maka, beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan
lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya, Apakah ia mempunyai hutang?'
Mereka menjawab, `Ya'. Rasulullah berkata, 'Salatkanlah temanmu itu'
(beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, `Saya

18
menjamin hutangnya, ya Rasulullah'. Maka Rasulullah pun menshalatkan
jenazah tersebut."
- Kaedah Fiqh, antara lain:
a. Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil
yang mengharamkannya.
b. Kesulitan dapat menarik kemudahan.
c. Keperluan dapat menduduki posisi darurat.
d. Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang
berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari'at).
Jadi, penggunaan charge card secara syariah dibolehkan, dengan ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
 Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan:
a. Syariah Charge Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh
pemegang kartu (hamil al-bithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan
uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada
pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang
telah ditetapkan.
b. Membership Fee (rusum al-'udhwiyah) adalah iuran keanggotaan, termasuk
perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin
menggunakan fasilitas kartu;
c. Merchant Fee adalah fee yang diambil dari harga objek transaksi atau
pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah), pemasaran (taswiq) dan
penagihan (tahsil aldayn);
d. Fee Penarikan Uang Tunai adalah fee atas penggunaan fasilitas untuk
penarikan uang tunai (rusum sahb alnuqud).
e. Denda keterlambatan (Late Charge) adalah denda akibat keterlambatan
pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial.
f. Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) adalah denda yang
dikenakan karena melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa
persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial.
 Ketentuan Akad

19
Akad yang dapat digunakan untuk Syariah Charge Card adalah:
a. Untuk transaksi pemegang kartu (hamil cd-bithaqah) melalui merchant (qabil
al-bithaqahlpenerima kartu), akad yang digunakan adalah akad Kafalah wal
Ijarah.
b. Untuk transaksi pengambilan uang tunai digunakan akad al-Qardh wal
Ijarah.
 Ketentuan dan batasan (dhawabith wa hudud) Syariah Charge Card :
1. Tidak boleh menimbulkan riba.
2. Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat.
3. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan
cara menetapkan pungutan.
4. Tidak mengakibatkan hutang yang tidak pernah lunas (ghalabah al-dayn).
5. Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi
pada waktunya.
 Ketentuan Fee:
1. Iuran keanggotaan (Membership fee)
Penerbit kartu boleh menerima iuran keanggotaan (rusum al-'udhwiyah)
termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai
imbalan izin penggunaan fasilitas kartu.
2. Ujrah (Merchant Fee)
Penerbit kartu boleh menerima fee yang diambil dari harga objek
transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah),
pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil al-dayn).
3. Fee Penarikan Uang Tunai
Penerbit kartu boleh menerima fee penarikan uang tunai (rusum sahb al-
nuqud) sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya
tidak dikaitkan dengan jumlah penarikan.
 Ketentuan Denda
1. Denda Keterlambatan (Late Charge)
Penerbit kartu boleh mengenakan denda keterlambatan pembayaran yang
akan diakui sebagai dana sosial.
2. Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge)

20
Penerbit kartu boleh mengenakan denda karena pemegang kartu
melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan
penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial.
 Ketentuan Penutup
a. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara pihak-pihak terkait, maka penyelesaiannya dilakukan
melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan
melalui musyawarah.
b. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan
disempurnakan sebagaimana mestinya.

21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut terminologi hukum Islam akad adalah pertalian antara
penyerahan (ijab) dan penerimaan (qobul) yang dibenarkan oleh syariah yang
menimbulkan akibat hukum terhadap objeknya. Aplikasi dalam Perbankan
Akad qard biasanya diterapkan sebagai produk perlengkapan kepada nasabah
yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya, yang membutuhkan dana
talangan segera untuk masa yang relatif pendek. Nasabah tersebut akan
mengembalikan secepatnya sejumlah uang yang dipinjamnya itu. Hiwalah
adalah memindahkan utang dari tanggungan seseorang kepada tanggungan
orang lain. Adapun akad-akad lainnya yang dibahas dalam makalah ini yaitu:
1. Akad Sharf
2. Akad Wadiah
3. Akad Wakalah
4. Akad Kafalah
5. Qurdhul Hasan
6. Akad Hiwalah
7. Akad Rahn
8. Akad Ju’alah
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
penyempurnaan makalah ini. Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya, sekian terimakasih.

22
DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati, sri dan Wasila. 2019. Akuntansi Syariah Di Indonesia. Edisi 5. Jakarta:
Salemba Empat.

Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2013. Akuntansi Syariah Indonesia. SALEMBA EMPAT:
Jakarta

Sumber Internet:

http://hukum-islam.com/2014/06/konsep-dan-dalil-qardhul-hasan-pinjaman-lunak/

https://sharianomics.wordpress.com/2010/11/17/definisi-jualah/

http://www.ekonomisyariah.org/konsultasi-detail/detail-konsultasi/1/40

https://viewislam.wordpress.com/2009/04/15/konsep-akad-hiwalah-dalam-fiqh-
muamalah/

23